Issuu on Google+

Edisi 06 Rp. 6.000,-

Luar Bali Tambah Ongkos Kirim

Juni | Tahun 2011

Http://galangkangin.kharismamadani.com ; E-mail:tabloidgalangkangin@gmail.com

Belajar Koperasi di Negeri Singapura

KSU SIDI Bangkit dan Kokoh dari Cobaan Bertubi-Tubi halaman 4...

ilustrasi : www.matanews.com

“R Uniknya

Tas Karung Beras halaman 11...

Tato... dari Budaya ke Bisnis halaman 13...

aihlah ilmu sampai ke negeri seberang”. Petuah tua itu memang tidak sia-sia. Kita memang tak harus berhenti belajar karena merasa pintar, melainkan harus belajar terus, terus dan terus, karena ilmu tak ada habisnya dan berkembang tanpa ujung. Itu pula yang dilakukan sejumlah koperasi di Bali untuk meningkatkan kualitas diri dalam memberi pelayanan terbaik dan kesejahteraan terbaik pula, bagi anggota dan masyarakat Bali. 12 - 14 Mei 2011 lalu, sejumlah koperasi di Bali dikomandani Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali Dewa Made Patra, SH,.MH., melakukan study visit ke negara tetangga, Singapaura. Sasarannya, untuk mengetahui lebih detail bagaimana koperasi digerakkan di negara tetangga ini. Sttttt..., jangan berpikir sirik dulu. Meski melibatkan kepala dinas yang notabene lembaga pemerintah, bukan berarti kepergian ke luar negeri ini menggunakan, apalagi menghambur-hamburkan anggaran pemerintah daerah (APBD). ”Kami melakukan study visit ini dengan biaya swadaya,” ujar I Made Mudiardana, SE.,MM., Ketua KSU Citra Buana Raya , Ubud, Gianyar. Mengapa harus ke luar negeri? ”Kita perlu lompatan quantum dalam membangun gerakan koperasi. Perlu inovasi-inovasi baru dalam mengerakkan koperasi, sehingga koperasi tidak dipandang sebelah mata. Siapa lagi yang harus memulai kalau tidak orang-orang koperasi sendiri yang

harus membenahi dan mengubah dirinya. Kunjungan ke koperasi Singapura ini merupakan inspirasi baru yang sangat bermakna,” kata I Wayan Sumerta, Ketua Koperasi Mitra Rakyat (Kopmira Wisata Tour & Travel). Perjalanan untuk melihat dari dekat pengelolaan koperasi di negeri tetangga ini dikoordinir oleh Koperasi Mitra Rakyat (Kopmira) -- satu-satunya koperasi yang mempunyai Ijin Usaha Jasa Perjalanan Wisata di Bali, atau bahkan di Indonesia. Koperasi yang terlibat dalam study visit ke Singapore ini terdiri atas Koperasi Kharisma Madani (Denpasar), Koperasi (KPN) UNUD, Koperasi Sedana Luwih (Badung), Koperasi Bali Dwipa Sejahtera Provinsi Bali, Koperasi Citra Buana Raya (Gianyar), KSP KARNA (Sanur), Koperasi Karya Pemulung (Denpasar), Koperasi INKINDO Bali, Koperasi Dana Sari (Badung). Di negerinya Presiden SR Nathan dan PM Lee Hsien Loong ini, rombongan mengunjungi Singapore National Co-operative Federation (SNCF), semacam DEKOPIN-nya Indonesia. Kunjungan ini dimaksudkan untuk menelisik, bagaimana sesungguhnya koperasi di negara tetangga paling dekat ini digerakkan. Kunjungan juga dilakukan ke NTUC FairPrice Cooperative -- koperasi Singapura yang mengelola usaha hypermarket, ke NTUC Thrift and Loan Cooperative – sebuah koperasi simpan pinjam di Singapura. Sejumlah objek wisata juga tak dilewatkan rombongan ini. Seperti apa perjalanan para pengurus koperasi Bali ini di Singapura, selengkapnya baca halaman 8 – 9.


ik 2

Galang Kangin

RIAL

dy Banding,

h Relevankah?

Membangun Kinerja Melalui Hipnoterapi

ding selalu dijadikan alasan oleh anggota Dewan terhormat untuk melakukan darma wisata geri dengan biaya yang menggunakan uang al ini telah berkali-kali menjadi sorotan media, un elektronik. Bahkan ada media secara vulgar ota Dewan yang katanya sedang study banding, ik shopping di pusat perbelanjaan atau berfoto a. Biaya yang diambil dari uang rakyat tersebut enanggung bukan hanya si anggota Dewan, yertakan anggota keluarganya. Hal seperti ini an masyarakat gerah dan menyerukan agar anding dihentikan dan anggarannya dialokasikan in yang lebih menyentuh ke masyarakat bawah.

perlukah program study banding dilaksanakan?

unjungan belajar, atau yang umum disebut sungguhnya merupakan bagian dari proses ari kunjungan belajar tersebut, diharapkan terjadi huan dan para peserta mampu menyerap halemiliki sudut pandang baru serta memperluas menangani permasalahan-permasalahan yang g yang ditangani. Harapan masyarakat yang r tidak pernah dirasa terpenuhi oleh masyarakat. akuan pesertanya sendiri atau liputan media yang bang. Yang jelas masyarakat menilai bahwa tidak n yang signifikan terhadap sumber daya manusia ti program study banding tersebut. kali ini, tim redaksi Galang Kangin mengangkat n belajar ke Singapura, yang laksanakan oleh s Koperasi Provinsi Bali beserta wirakop-wirakop, ama. Tim redaksi berpendapat bahwa kunjungan merupakan hal yang tabu untuk dilakukan. bisa memberi pengaruh positif, selama dipandang sebagai proses kunjungan belajar. melihat pengelolaan koperasi serta mendapat ngsung dari orang-orang yang berkompeten di ian Singapura seperti Mr. Marcus Loh, Mr. Jasni rry Lee serta Ms. Dolly Goh, bisa membuka serta dan menularkannya kepada para wirakop program menuju Bali sebagai pulau koperasi ngejar kuantitas, namun juga dimbangi dari sisi

Tumbuh kembang suatu usaha sangat tergantung pada kualitas kinerja dari sumber daya manusia yang menjalankan roda usaha tersebut. Perekrutan dengan kriteria yang tepat menjadi salah satu faktor penting dalam upaya memperoleh tenaga kerja andal yang memiliki kompetensi serta mampu menyelesaikan tugas dengan baik. Perekrutan saja tentulah tidak cukup. Masih diperlukan pelatihan agar karyawan yang direkrut dapat memahami bidang kerja yang akan dijalani, dan memiliki kemampuan menyelesaikan masalah dengan baik. Hal ini sangat dipahami oleh Putu Sumedana Wahyu, Ketua KSU Kharisma Madani, Denpasar. Dalam rangka meningkatkan kinerja karyawannya, KSU Kharisma Madani telah bekerja sama dengan seorang praktisi Hipnoterapi, I Nyoman Gede Arimbawa, CH, CHT, untuk memberi pelatihan mental serta membangun motivasi dan kepercayaan diri. “Melalui pelatihan ini, saya ingin setiap karyawan memiliki motivasi positif baik untuk dirinya maupun koperasi tempat dia bekerja, serta tumbuh rasa percaya diri. Dengan demikian, mereka memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi, bukan saja di saat menjalankan pekerjaan, namun ketika mereka menjalani kehidupan,” ujar Putu Sumedana. Pelatihan dilangsungkan setiap hari Sabtu di salah satu kantor cabang KSU Kharisma Madani di Jalan Tukad Pakerisan, Sidakarya. Selain memberi pelatihan, I Nyoman Gede Arimbawa juga memberikan konseling dan konsultasi terhadap karyawan KSU Kharisma Madani secara individu. “Setiap orang memiliki permasalahan mereka masing-masing. Ini kemudian sering tersimpan dalam pikiran bawah sadar mereka dan bisa mengganggu saat seseorang harus mengambil keputusan. Hal ini tidak terungkap saat dilakukan pelatihan bersama. Dengan dilaksanakan program konseling ini, karyawan jadi merasa lebih terbuka. Jika memang ada hal yang mengganggu, bisa langsung dilakukan terapi,” papar Nyoman Gede Arimbawa, sang praktisi. “Di negara maju, hipnoterapi merupakan salah satu pelatihan yang sangat penting dalam menjaga dan meningkatkan kinerja karyawan,” ujarnya.

asa, selain menampilkan profil koperasi, wirakop yang menarik untuk disimak pada edisi kali ini h Gde Hariasih SH, MSi, Kepala Dinas Koperasi adya Denpasar, tentang ketahanan dari koperasi rogram-program ke depan dalam rangka ia perkoperasian dan UKM yang sehat. Beberapa jikan untuk memberi inspirasi bagi masyarakat . njaga konsistensi dari kinerja karyawan, perlu an-pelatihan. Pelatihan tidak hanya menyentuh an tetapi juga mental dan spiritual. Dalam oba memperkenalkan salah satu pelatihan oleh Kharisma Madani Holistic Center. Sebuah ersifat meyeluruh. Dan banyak lagi hal-hal a disimak pada edisi kali ini.

membaca!

g Kangin

Team Redaksi Galang Kangin

Diterbitkan oleh: KSU Kharisma Madani Badan Hukum No.36/BH/DISKOP.PKM/IV/2006 - Pembina : Prof. DR. I Ketut Rahyuda, SE, MSIE. - Pemimpin Umum : Putu Sumedana Wahyu - Pimpinan Redaksi : I Gede Sumartana - Redaktur Pelaksana : I Nyoman Gede Arimbawa - Team Redaksi : Kecuk Priambada, Nyoman Sarna, SE, I Gede Sumartana, Wayan Budiarta - Tata Letak : Galang Prayudhis, Eka Yudi - Photografi & dokumentasi : I Nyoman Sudarma, SE, Ir. I Made Sukarta - Administrasi Umum : Putu Sri Mulyani, SE - Sirkulasi & Distribusi : I Made Agus Antara, I Kadek Joni Artha, SE, I Gede Ardhi Saputra, SE, I Made Surya Dharma, Agus Gita Saputra - Administrasi Sirkulasi : Agus Gita Saputra - Teknologi informasi : I Gede Dedy Wijaya, ST, Eka Yudi Periklanan : KSU Kharisma Madani KCP Pakerisan Alamat Redaksi: Jln. Bedugul No.1XX Sidakarya - Denpasar Selatan Telp:(0361) 727734 Email: kharismamadani@gmail.com

Kritik dan Saran yang bersifat membangun bisa dilayangkan ke alamat email kami Edisi 06/JUNI 2011


Geliat

Galang Kangin

3

Siapa Bilang

B

Berwirausaha itu Susah

anyak kalangan belum mencoba dan berkecimpung di dunia usaha merasa ragu untuk memulai bahkan menggeluti dunia wirausaha. Data statistik Indonesia menunjukkan bahwa wirausaha di Indonesia masih berada di bawah 1% dari penduduk Indonesia. Ini artinya masih banyak peluang usaha yang bisa dikerjakan. Apalagi banyak negara melirik bahwa Indonesia dengan jumlah penduduk yanga besar dan daerah territorialnya yang berkepulauan, menjadi pangsa pasar yang luar biasa bagi mereka. Keraguan bahkan hambatan yang selama ini dihadapi dalam berwirausaha dapat berupa : - Kurangnya akses permodalan/ pembiayaan - Kurangnya akses pemasaran - Kurangnya pengetahuan SDM dalam pengelolaan mempertahankan dan mengembangkan usaha Tiga hal tersebut merupakan faktor utama yang sering dihadapi selain faktor-faktor lainnya. Kurangnya Akses Permodalan/Pembiayaan Setiap calon wirausahawan ataupun para wirausahawan merasa kesulitan untuk mengakses permodalan/pembiayaan ini, apalagi bagi mereka yang sama sekali belum mempunyai agunan (jaminan asset) yang bisa diserahkan kepada kreditor (pemberi pinjaman). Tips berikut bisa dilakukan bagi mereka yang masih memerlukan bantuan akses permodalan : - Meminjam dari orangtua/teman dengan kesepakatan kekeluargaan. Tunjukkan kepercayaan bahwa modal yang digunakan dimanfaatkan dengan sebaikbaiknya untuk usaha. - Masuk sebagai

anggota Kelompok Usaha Bersama (KUB) atau Koperasi yang sehat, eksis dan berbadan hukum. - Mendatangi bank-bank baik pemerintah/swasta maupun BUMN/ BUMS yang menyediakan kredit murah untuk para UMKM berupa KUR (kredit usaha rakyat maupun PKBL (program kemitraan dan bina lingkungan) - Datang ke Klinik Koperasi dan UKM Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali (Jl. DI Panjaitan No. 1 Renon, Denpasar) setiap hari Selasa dan Kamis dari pukul 09.00 – 13.00 WITA Kurangnya Akses Pasar A. Peluang Pasar Dunia Maya Kini, merupakan era informasi, dimana setiap orang dituntut untuk bekerja dengan tepat dan cepat, jika tidak mau tertinggal bahkan malah bermasalah dalam meraih pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin bervariasi. Di era teknologi informasi ini, yang dekat seakan terasa jauh dan yang jauh terasa dekat. Itulah kenyataan yang dihadapi. Demikian pula halnya dalam berwirausaha. Sejatinya banyak peluang usaha yang bisa dikerjakan di era teknologi informasi ini. Bagi yang jeli dan kreatif, semua akan terasa lebih mudah dan murah. Bisa dikerjakan dari rumah dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan teknologi informasi tersebut. Di era teknologi informasi ini pula, telah mulai tumbuh dan berkembang generasi muda yang mau berwirausaha bahkan sudah mencintai betul dunia usaha lewat dunia maya tersebut. Pasar dunia maya/internet adalah pasar yang luar biasa dan tidaka terbatas. Untuk itu akan sangat menguntungkan jika mulai sekarang dan seterusnya banyak kalangan wirausaha muda khususnya meningkatkan diri bahkan mesti terampil

memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi tersebut. Banyak cara yang bisa ditempuh: 1. Memanfaatkan jasa orang lain 2. Memanfaatkan dan mengelola sendiri dengan sarana dan prasarana yang ada Untuk cara pertama yang bisa ditempuh diperlukan tips-tips sebagai berikut : - Kenali terlebih dahulu latar belakang orang tersebut (sekolah dan pengalaman kerjanya berhubungan dengan jasa pemasaran on-line, dsb) - Cek testimony, contoh product yang sudah dimanfaatkan orang lain - Jika tidak bisa mendesign sendiri, mintalah beberapa contoh hasil design dari mereka - Tanyakan after sales service yang mereka berikan berapa lama - Pastikan di web-design ataupun bentuk lainnya ada menu/fitur feedback/data statistic pengunjung sebagai bahan evaluasi dan masukan terhadap respon pasar terhadap web kita - Cantumkan secara jelas email yang bisa dihubungi dan monitor setiap hari. - Cantumkan juga fitur chatting jika memungkinkan untuk memberikan layanan yang terbaik seperti yahoo messager, facebook dan sebagainya. B. Terlibat Beberapa Perkumpulan/ Organisasi/KUB/Koperasi Bagaimanapun juga pasar selalu identik dengan orang yang memanfaatkan hasil usaha kita. Untuk itu kita perlu secara aktif berusaha terus meningkatkan diri dalam kuantitas pertemanan kita dengan cara terlibat aktif dalam perkumpulan/ organisasi/kelompok usaha bersama/ koperasi yang bisa kita pilih sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Adapun beberapa tips yang bisa digunakan diantaranya : - Pilihlah perkumpulan/organisasi/ KUB/koperasi yang punya environment positif mendukung usaha kita. Jika itu berupa koperasi pastikan bahwa telah berbadan hukum dan melalui aturan yang berlaku. - Jika memang KUB tersebut berupa koperasi, pastikan bahwa operasional mereka benar-benar dari anggota oleh anggota dan untuk anggota, bukan untuk perseorangan/kelompok tertentu. - Banyak sekali organisasi/ perkumpulan tersebut diantaranya, GAPEKSI (untuk pengusaha ekspor), ASEPHI (asosisasi eksportir dan produsen handicraft Indonesia), IWAPI, DEKRANAS, KOPWAN dan sebagainya. C. Berkunjung ke Klinik Koperasi dan UKM Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali Sejak awal April 2011, Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali telah membuka Layanan Konsultasi informasi pemasaran setiap hari

Rabu dan Jumat dari pukul 09-00 sampai dengan 13.00 Wita. Layanan ini diberikan secara gratis dan juga tersedia perpustakaan mini yang berkaitan dengan perkoperasian dan kewirausahaan/UMKM serta bukubuku inspiratif lainnya. Kurangnya Pengetahuan SDM Terkadang kurangnya pengetahuan SDM dalam pengelolaan mempertahankan dan mengembangkan usaha, tidak disadari. Baru disadari jika telah terjadi kekurangan cash flow perusahaan. Dalam kondisi seperti ini para usahawan biasanya mencari solusi dengan menambah pinjaman modal. Terkadang hal ini secara tidak disadari akan menambah beban kewajiban dari pengusaha itu sendiri jika tidak diimbangi dengan peningkatan kecerdasan dalam pengelolaan keuangan yang ada. Tips yang bisa digunakan untuk meningkatkan kecerdasan pengetahuan SDM terutama dalam hal pengelolaan keuangan: - Sering mengikuti seminar peningkatan kecerdasan pengelolaan keuangan diantaranya laporan keuangan (neraca,l aba rugi dan cash flow) adalah cara untuk mengukur tingkat keberhasilan dalam usaha. Bagi UMKM bisa mengikuti short course tentang pembukuan sederhana dan sebagainya. - Sering berbagi dengan rekan yang telah sukses - Sering membaca literatur-literatur dengan datang ke toko-toko buku terdekat ataupun akses di internet melalu situs pencarian seperti google dan sebagainya. - Harus selalu menumbuhkan jiwa haus akan pengetahuan sehingga akan selalu berusaha untuk belajar apapun bentuknya dalam rangka meningkatkan pengetahuan tersebut. - Belajar selalu untuk focus merintis satu usaha dari awal hingga terbentuk sebuah sistem dimana perusahaan akan tetap berjalan karena sistem bukan tergantung dengan pribadi/perseorangan dalam operasional perusahaan. Dan sistem tersebut harus ada saling control satu dengan yang lainnya. Bagi Koperasi dan UKM yang berdekatan dengan Klinik Koperasi dan UKM kantor Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali yang mau berkonsultasi secara GRATIS mengenai Peningkatan SDM bisa datang langsung setiap hari Senin dan Rabu dari pukul 09-00 sampai dengan 13.00 WITA. Jadi tidak ada alasan lagi yang mengatakan bahwa berwirausaha itu susah, jika sudah ada kemauan, tekad, keyakinan, semangat pantang menyerah, untuk selalu berusaha, karena jalan terbaik akan selalu ditunjukkanNya selama kita tekun untuk menjalaninya. Ayo berkoperasi ‌, dan bangkit UMKM Indonesia. Edisi 06/JUNI 2011


4

Cermin

Galang Kangin

KSU SIDI

Bangkit dan Kokoh dari Cobaan Bertubi-Tubi SIAPA pernah menduga, di balik kegemilangan nama KSU (Koperasi Simpan Pinjam) SIDI yang pernah mengukir prestasi sebagai koperasi terbaik di tingkat nasional, ternyata ada beberapa kisah

keterpurukan. Beberapa kisah kegagalan, yang nyaris membuat koperasi mati suri. Bagaimana kisah kebangkitan koperasi, sampai mampu kembali menggores sukses?

16 November 1951 silam, KSU SIDI didirikan di Desa Intaran Sanur. SIDI adalah singkatan dari Suksmaning Idep Drana Ika. Makna yang ingin diungkapkan, tidak lain bahwa untuk mencapai suatu cita-cita, diperlukan kesabaran dan daya tahan agar berhasil dalam menjuangkannya. Saat itu, anggota yang bergabung mencapai 49 orang dengan ketua I Nyoman Naryana. Terdorong ingin menggapai keberhasilan demi kesejahteraan anggota, pengurus KSU SIDI pun bergiat merancang program, yakni simpan pinjam dan usaha toko. Sayangnya, setelah usaha berjalan dengan lancar, pada tahun 1970 – 1980, pemerintah tidak lagi memberikan fasilitas penjualan gula pasir, minyak tanah dan kain batik, sehingga perlahan-lahan usaha menjadi redup. Keadaan makin parah karena situasi perekonomian negara yang tengah gonjang-ganjing. Nilai mata uang turun dari Rp 1.000 menjadi Rp 1. Ketidaksiapan manajemen menyikapi berbagai masalah eksternal, berimbas telak pada kondisi internal koperasi. Untungnya pada November 1981, kondisi yang tidak menguntungkan ini dapat diatasi. Yayasan Pembangunan Sanur memberikan dana kepada semua warga Sanur yang menjadi anggota banjar. Di tahun inilah, semua warga Desa Sanur menjadi anggota KSU SIDI. Total jumlah anggota pun mencapai 2.025 orang. Kebijaksanaan ini, tidak lain keputusan pimpinan LKMD bersama Yayasan Pembangunan Sanur, dan disambut antusias oleh warga. Keantusiasan warga, menjadikan koperasi kembali bangkit dan meningkat dengan drastis. Pengurus bersama anggota berhasil meningkatkan beragam kegiatan koperasi. Berbagai prestasi pun berhasil diraih. Mulai dari juara di tingkat kabupaten, provinsi, hingga menjadi koperasi terbaik di tingkat nasional, yang terjadi pada tahun 1993. Tak disangka, kegemilangan prestasi yang diraih koperasi tidak

bisa dipertahankan pada tahun-tahun berikutnya. Pada tahun 2006 – 2007, karena kurang manajeman yang valid, koperasi kembali mengalami cobaan hingga mengalami kerugian Rp 243 juta. Kondisi ini membuat koperasi sempat terombang-ambing. Berdasarkan keputusan bersama, pada tahun 2008, pengurus baru pun dibentuk. Kerja sama dengan unit-unit digalakkan. Berbekal dana dari unit simpan pinjam, koperasi mulai melaju kembali. “Syukurlah, sekarang kondisi koperasi sudah mulai kondusif. Setelah toko sembako di Jalan Tukad Bilok berjalan lancar, baru-baru ini kami membuka sebuah toko sembako lagi di depan balai banjar Bet Ngandang, Sanur,” ujar I Wayan Mudana, Ketua KSU SIDI. Pertokoan yang dibangun di Jalan By Pass Sanur itu, kata Mudana, mempunyai lahan parkir yang luas sehingga konsumen merasa nyaman. Luas toko yang mencapai sekitar 13X24 m2, terlihat lapang dan menyediakan berbagai macam keperluan rumah tangga. Misalnya, aneka minuman, alatalat dapur, gula, minyak goreng, kopi dan lainnya. Diharapkan, semua anggota koperasi berbelanja agar toko di masa mendatang dapat berkembang. Selain itu, Mudana menginginkan agar KSU SIDI yang merupakan satusatunya koperasi yang dimiliki 3 desa dinas, 3 desa adat dan 27 banjar di Sanur ini, bisa mensejahterakan anggotanya. Serta mampu memberikan hasil yang terbaik dan setiap anggota memiliki perasaan memiliki. “Peranan koperasi sangat diperlukan, karena di masa mendatang, koperasi diharapkan mampu menjadi tulang punggung perekonomian daerah, khususnya Denpasar. Semoga pada saatnya nanti, KSU SIDI dapat mencapainya,” ujar alumnus Fakultas Ekonomi Undiknas ini. Edisi 05/Mei 2011


Galang Kangin Wiracarita

5

Trauma

Nasib Buruk Pedagang Acung

Ketut Sumbawa

angan pernah meremehkan latar belakang pendidikan seseorang. Tak selalu orang berpendidikan tinggi, lebih pantas ditunjuk menjadi pemimpin. Di berbagai belahan dunia, tak sedikit contoh orang yang bisa meraih sukses besar, meski dengan background pendidikan yang minim. Lihat saja seorang Ketut Sumbawa. Pria kelahiran tahun 1963 ini, sejak awal tahun 2011, terpilih menjadi ketua Koperasi Marga Ayu Pengalu (MAP), padahal ia hanya tamatan sekolah dasar di Batur. MAP adalah lembaga yang sudah berdiri sejak 9 Mei 2006, di mana mayoritas anggotanya adalah pedagang acung asal

Batur yang berjualan di hotel-hotel Denpasar. Sejak awal didirikan, Sumbawa sudah aktif bergabung sebagai anggota koperasi. Menurutnya, ia memang sangat antusias dengan berdirinya MAP, karena ingin nasib pedagang acung kian membaik. MAP didirikan dengan modal awal Rp 11.830.000 dana simpanan pokok dan Rp 2.837.500 dana simpanan wajib. Dana itu dihimpun dari 26 anggota sebagai pendiri awal. Didukung kinerja maksimal para pengurus, koperasi ini membuahkan hasil menggembirakan. Tahun lalu, MAP menerima penghargaan sebagai koperasi yang berkualitas di tingkat nasional. “Saya bersyukur dengan semua pencapaian ini. Ketika baru berdiri, unit yang ada baru simpan pinjam. Setelah saya mengetuai koperasi, saya mencoba mengembangkan unit, dengan membuka program bayar rekening listrik, mengurus samsat kendaraan dan melayani kredit motor berbunga 1% yang bekerja sama dengan Astra,” urai ayah empat anak ini. Dikejar Tramtib Sumbawa memiliki alasan tersendiri mengapa ia begitu giat berpartisipasi membentuk koperasi. Menurutnya, sejak tahun 1980 hingga sekarang, ia menjadi pedagang acung di hotel-hotel dan menjajakan baju khas Bali. Awalnya ia hanya iseng-iseng saja berjualan. Namun setelah menikah, baru ia serius menekuni pekerjaannya. Saat istrinya tengah hamil delapan bulan, Sumbawa mengalami

kejadian buruk. Ia ditangkap petugas Tramtib karena dianggap melanggar Perda karena berjualan tanpa ijin resmi. Sumbawa pun mengalami rasa traumatis yang mendalam. Setelah kejadian itu dapat diselesaikan dengan baik, terpikir olehnya bagaimana agar pedagang tidak terus-menerus dihantui ketakutan dan mengalami nasib yang gamang. “Inilah yang mendasari saya dan temanteman mendirikan Persatuan Pedagang Sovenir Kota Denpasar dan agenda utamanya mendirikan pra koperasi pada tahun 1996. Sayangnya, hanya bertahan dua tahun. Karena modal yang minim, satu persatu anggota mengundurkan diri hingga kemudian bubar dengan sendirinya,” ujar Sumbawa. Meski pra koperasi bubar, Sumbawa tak kehilangan semangat. Dengan keyakinan kuat, ia kembali menghimpun teman-temannya, sehingga pada tahun 2006, MAP pun dibuka. Belakangan, setiap tahun anggota koperasi terus bertambah hingga kini menjadi 248 anggota dan telah mempunyai 220 orang nasabah yang tersebar di Sanglah, Monang-Maning, Ubung dan Gatot Subroto bagian timur. Untuk menjaga solidaritas dan loyalitas, setiap anggota koperasi yang sakit dan harus opname, akan diberikan bantuan kemanusiaan Rp 150.000. Jika ada yang melahirkan diberikan bantuan Rp 100.000. Sementara, kalau ada anggota yang membutuhkan modal, maka bisa mendapatkan pinjaman dengan agunan kartu anggota dan memperoleh dana Rp 2,5 juta dengan bunga 2 %. Nasabah juga bisa mendapatkan pinjaman dengan agunan BPKB atau sertifikat tanah, maka akan mendapatkan pinjaman sebesar 50% dari nilai barang yang diagunkan. Bunga yang ditetapkan untuk nasabah 2,5%. “Kalau waktunya sudah tepat, saya ingin mendirikan toko sembako, karena anggotanya sudah bertambah banyak. Kalau punya toko sendiri, tentu anggota bisa dilayani membeli kebutuhan seharihari dengan harga murah. Gagasan lain, saya ingin mendirikan unit souvenir, sehingga pedagang acung dapat mengambil barang dagangan di koperasi, bukan di pasar. Cuma, ini masih berupa rencana, masih terkendala modal,” kata Sumbawa. Edisi 05/Mei 2011


6

Panggung

Galang Kangin

Ketut Dewi Suryantari

B

isnis baju adat nyaris tidak ada matinya di Bali. Setiap bulan, selalu ada rahinan, di mana biasanya para wanita ingin selalu terlihat bergaya dengan berbusana yang mengikuti tren terbaru. Kecenderungan ini, lantas mengilhami sejumlah pelaku usaha untuk berbisnis busana adat Bali demi memanjakan selera masyarakat. Salah satu pelaku usaha yang jeli melihat peluang bisnis baju adat adalah Ketut Dewi Suryantari. Seperti kata pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ungkapan ini sangat tepat untuk menggambarkan kisah wanita yang biasa disapa Dewi, yang berprofesi sebagai penjual baju adat khas Bali, menuruni bisnis dari orang tuanya. “Saya terjun di bidang bisnis karena sejak kecil, saya sudah suka berdagang. Zamannya masih di sekolah dasar, saya bisnis jambu biji,” kata Dewi memulai kisahnya. Bisnis jambu biji, dilakukan Dewi karena melihat pekarangan rumahnya di Semarapura, Klungkung, ditumbuhi pepohonan jambu merah. Saat musim berbuah, jambu-jambu sering berjatuhan karena keluarganya sudah bosan mengkonsumsi. Tak kurang akal, Dewi lantas membawa buah jambu ke sekolah dan menjajakan ke teman-temannya. Hasilnya, super laris! Menginjak kelas SLTP, jiwa dagang Dewi kian bergelora sehingga tanpa diminta, ia membantu ibunya berjualan keliling busana adat dengan cara ‘nganvas’, yakni menawarkan barang dagangan ke berbagai toko. Mulai dari Klungkung, Gianyar hingga Denpasar, dijelajahi Dewi bersama ibunya untuk menawarkan dagangan, tak jarang hingga menjelang larut malam. Pekerjaan ini dilakukan Dewi sampai ia duduk di bangku SMA. “Saat kuliah di Fakultas Ekonomi Unud, saya membawa dagangan ibu dan menjajakan ke teman-teman

Maju Tak Gentar Hadapi Persaingan

kuliah. Lagi-lagi hasilnya menggembirakan. Bahkan, bukan hanya teman-teman dari Bali yang beli. Teman dari Jawa pun banyak yang tertarik kain batik dagangan saya,” tutur wanita dari lima bersaudara ini dengan mata berbinar. Akhirnya, Dewi pun merasakan jika jalur hidupnya tidak bisa lagi dipisahkan dengan dunia dagang. Meski semula ia bercita-cita menjadi perawat, namun dorongan hatinya lebih kuat membawanya ke bisnis baju adat. Setelah memutuskan menikah dengan Nengah Niek Anantara Kusuma, tanpa berpikir panjang, Dewi pun terjun total berjualan baju adat. Bermodal tabungan, uang hasil jualan motor dan sebagian mengambil dari kredit bank, ia membuka Kios Dewi’s pada tahun 1999. “Saya sengaja memilih menyewa lokasi usaha dekat Pasar Ketapian, karena namanya pasar pasti menjadi tempat hilir-mudik orang. Ketika memulai bisnis baju adat di pasar ini, belum banyak pesaing seperti sekarang” ujar Dewi memulai cerita. Meski banyak pesaing, Dewi mengaku sama sekali tidak gentar. Sejak awal, ia sengaja menyasar kalangan menengah ke bawah dan berusaha mengisi tokonya dengan produk baju adat selengkap mungkin. Misalnya, untuk kebaya, kiosnya menyediakan jenis balon, katun dan bordir, dengan harga antara Rp 35 ribu – Rp 300 ribu. Baju sembahyang pria dipatok Rp 25 ribu – Rp 40 ribu. Udeng berkisaran harga Rp 20 ribu – Rp 40 ribu. Saput dibandrol Rp 25 ribu – Rp 75 ribu. Pada hari-hari biasa, omzet yang didapat rata-rata Rp 500 ribu. Jika mendekati Hari Raya Galungan – Kuningan, omzet melonjak hingga Rp 2 juta per hari. Bingung Kurs Dolar Walau terlihat lancar dan hasilnya selalu menggembirakan, namun Dewi pernah mengalami masa-

masa yang dianggapnya musibah. Beberapa tahun silam, salah seorang pelanggannya mengambil dagangan dengan nilai besar, namun belakangan seolah menghindar. Setelah ditagih beberapa kali dan selalu gagal, akhirnya sang suami mengajarkan Dewi agar mengikhlaskan saja. “Saya dan suami memang saling mendukung. Kebetulan suami juga menekuni bisnis yang sama. Bedanya, saya konsentrasi di kios, sedang suami lebih giat mengikuti berbagai pameran. Berkat jaringan relasi dan informasi yang digalang suami, sejak tahun 2005 kios saya bisa mengikuti PKB,” ujar ibu dari Putu Bayu Wikranta dan Kadek Bani Ananta Putra ini. Berbagai pengalaman menarik, didapatkan Dewi selama mengikuti PKB. Pernah di tengah-tengah pameran, dagangannya habis hingga ia kelimpungan. Sejak itu, jauhjauh hari ia menyediakan stok dagangan yang mencukupi. Tak hanya menyoal stok, Dewi juga sempat dibuat bingung saat seorang turis asal Malaysia berbelanja ke stand dan membayar dengan uang dolar. “Waduh, saat itu saya tidak tahu nilai kurs dolar berapa, sehingga kalang-kabut. Akhirnya saya kira-kira sendiri saja berapa nilai dolar. Benar-benar pengalaman tak terlupakan. Tapi dari pengalamanlah saya belajar,” kata Dewi dengan nada yakin. Tips sukses ala Dewi: - Jangan pernah takut dengan persaingan. Persaingan justru mendorong seseorang untuk maju dan berkembang. - Selalu ciptakan ide kreatif dalam bisnis baju adat. Berbekal ide kreatif, maka produk menjadi tidak pasaran dan selalu dicari konsumen. - Jangan pernah menyerah dengan cobaan yang datang. Edisi 06/JUNI 2011


7

Galang Kangin Pakar Bicara

Koperasi

Harus Disertifikasi Luh Gede Hariasih, SH, Msi

S

iapa yang menyangka, koperasi yang merupakan gerakan ekonomi rakyat, ternyata bisa eksis di saat krisis. Ini terjadi saat ekonomi global sedang mengalami keguncangan, bahkan saat terjadi peristiwa bom di Bali beberapa waktu. Koperasi tetap bertahan dan tidak tergoyahkan. Setidaknya, inilah bukti bahwa koperasi yang didasarkan pada asas kekeluargaan, telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Bagaimana gerakan koperasi, target ke depan hingga menyoal UKM di Denpasar? Kepala Dinas Koperasi & UKM Kota Denpasar, Luh Gede Hariasih, SH, Msi, mengupas secara lugas. Gerakan Koperasi Koperasi adalah usaha yang bertujuan untuk memajukan kesejahteraan anggotanya. Dalam pertumbuhannya koperasi semestinya bisa meningkatkan permodalan, agar bisa mandiri dan bergantung kepada pihak lain. Namun tentu saja harus diingat, bahwa dalam meningkatkan modal, tidak boleh menggunakan cara-cara yang keluar dari jati diri koperasi. “Supaya terjadi hubungan yang berkualitas, setiap gerakan koperasi, contohnya usai menyelenggarakan rapat anggota tahunan, hendaknya hasil rapat dilaporkan ke dinas. Kalau koperasi simpan pinjam, malah setiap triwulan, semestinya menyampaikan laporan. Dengan begitu dinas akan mengetahui jika ada koperasi bermasalah dan melakukan langkah-langkah untuk pembinaan,” ujar Hariasih. Langkah pembinaan, tegas wanita kelahiran Bukit Ungasan ini, bisa dengan melakukan tinjauan ke lapangan sebanyak tiga kali. Jika tidak ada tanggapan, akan diberikan teguran secara tertulis. Setelah itu, baru dicari akar permasalahannya. Apakah dari SDM atau permodalan? Selanjutnya akan diberikan pelatihan untuk lebih meningkatkan skill, misalnya dengan mengikutkan workshop atau seminar supaya wawasannya lebih berkembang. Target ke Depan Koperasi diharapkan mampu menyejahterakan anggotanya, dengan melakukan inovasi dan kreativitas.

T:

Mohon Informasi tentang permodalan, karena  selama ini sulit untuk mengaksesnya dan juga berapa lama bisa cair. I Nyoman Sada Adi Astawa, KSU Damai Sejahtera, Tabanan

J : Untuk akses pendanaan/pembiayaan, ada

beberapa alternatif di antaranya lewat beberapa instansi BUMN seperti PNM, ASKES, LPDB KUKM yang mana tindak lanjut dari semua itu adalah melengkapi persyaratan yang telah distandarkan oleh masing-masing instansi terkait. Beberapa formulir ada di Klinik KUKM Provinsi Bali dan sudah diberikan. Terkait dengan proposal tersebut, sangat disarankan bahwa anggota-anggota koperasi yang memiliki usaha sejenis, dikelompokkan atau diklasterkan kemudian dibuatkan profil kelompok, sebagai pelengkap proposal yang telah distandarisasi di masing-masing instansi terkait. Lamanya pencairan tergantung dari kelengkapan proposal yang diajukan. Biasanya jika sudah lengkap berkisar  15 (lima belas ) hari kerja.

klinkkukmbali@gmail.com

Pada koperasi serba usaha, sah-sah saja melakukan terobosan dengan membuka berbagai pelayanan jasa. Bisa berupa pembayaran listrik, air, telepon, kredit motor dan lainnya. “Sebagai target ke depan, mudah-mudahan semakin banyak koperasi yang bisa mandiri, tidak mengandalkan bantuan dari pemerintah. Dengan kemandirian, akan terlihat kalau pengurus koperasi sudah memahami dan menerapkan administrasi dengan benar, serta mampu mengelola keuangan secara maksimal hingga koperasi terkategori sehat. Pada tahun 2014, koperasi wajib disertifikasi kompetensi. Jadi koperasi harus dalam kondisi sehat untuk mendapatkan sertifikasi,” tegas istri dari Drs. I Wayan Sudiarta, MM. UMKM Berdasar data tahun 2010, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kota Denpasar berjumlah 10.388, dengan bidang usaha perajin kayu, pande besi, kipas, hasil pertanian, kue, tenun ikat dan lainnya. Namun, tidak semua UMKM berkembang sesuai harapan. Berbagai masalah masih banyak membayangi UMKM, sehingga tidak bisa tumbuh dengan semestinya. Selama ini, kendala yang sering ditemui, antara lain, masih rendah atau minimnya produktivitas UMKM, sulitnya memperoleh bahan baku murah, kurang mampu mengakses teknologi serta terbatasnya modal yang dimiliki. Untuk melindungi UMKM dari keberadaan toko modern yang berkembang pesat di Denpasar, maka telah diberlakukan pembatasan ijin usaha toko modern. Sesuai dengan Peraturan Walikota/Perwali No. 9 Tahun 2009 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. “Sebenarnya sudah ada langkah untuk revitalisasi pasar tradisional agar tidak ditinggalkan konsumen, sehingga pasar tidak lagi becek dan jorok. Bahkan telah dikedepankan motto pasar sehat dan segar untuk Kota Denpasar, dengan cara merevitalisasi beberapa pasar tradisional, yang meliputi Pasar Sesetan, Pasar Renon, Pasar Sanur dan akan dilanjutkan pada beberapa pasar lain,” tutur wanita yang gemar berkebun ini.

Ibu Ayu, pengusaha kue keliling Denpasar

T : Permasalahan : Usaha saya sudah berjualan lama dan belum maju maju apa yang harus saya lakukan? J : Pertama ibu harus menentukan tujuan/visi usaha Ibu dulu.  Buat catatan kecil atas hasil penjualan per bulan melalui kas kecil.  Evaluasi pendapatan dan jika ingin berkembang lebih tetapkan tujuan/visi satu bulan, satu tahun dan lima tahunan.  Misalnya bulan ini memperoleh hasil usaha Rp 1 juta maka bulan depan paling tidak meningkat minimal 10% dan tahun ke depan meningkat 20% dan untuk visi lima tahunan paling tidak punya mimpi untuk membuka warung sendiri misalnya.  Tentu untuk mencapai yang sudah ditentukan itu tidak mudah.  Satu per satu mesti di telaah. Untuk meningkatkan penjualan per bulan yang perlu dievaulasi adalah  berapa keuntungan yang diperoleh per bulan? sudahkah keuntungan itu bisa ditpergunakan untuk membeli belanja bahan yang lebih banyak? Sudahkah mempunyai target/list pasar kue yang lebih banyak pula? Jika belum per banyak pertemanan dan jajagi pasar pasar di perkantoran lalu buatlah dalam daftar.  Jika sudah ada pasar yang cukup tetapi modal untuk memenuhi permintaan masih kurang coba kita jajagi dengan ikut sebagai anggota suat koperasi

misalnya atau menghubungi pihak perbankan jika memang memiliki laporan yang sudah bankable dan memiliki jaminan.  Jka tidak ada sebaiknya ikut mendaftar sebagai anggota koperasi di wilayah terdekat karena banyak manfaat yang diperoleh diantaranya dapat dengan mudah meminjam modal usaha dan menambah akses pasar terutama antar anggota koperasi beserta keluarga besar koperasi itu sendiri. Suksma

Edisi 06/JUNI 2011


8

SajianUtama

G

Galang Kangin

Go International Koperasi Perlu Inovasi dan Tanggap Situasi

o internasional merupakan langkah yang dilakukan sejumlah koperasi di Bali untuk menjawab predikat Provinsi Penggerak Koperasi di Indonesia. Sejumlah pengurus koperasi melakukan study visit ke lembaga yang menaungi koperasi di Singapura – Singapore National Co-operative Federation (SNCF), semacam DEKOPIN-nya Indonesia. Gerakan ”muhibah” koperasi di Bali ke negara tetangga ini dikoordinir oleh Koperasi Mitra Rakyat (Kopmira) -satu-satunya koperasi yang mempunyai Ijin Usaha Jasa Perjalanan Wisata di Bali, atau bahkan di Indonesia. Koperasi yang terlibat dalam study visit ke Singapore ini terdiri atas Koperasi Kharisma Madani (Denpasar), Koperasi (KPN) UNUD, Koperasi Sedana Luwih (Badung), Koperasi Bali Dwipa Sejahtera Provinsi Bali, Koperasi Citra Buana Raya (Gianyar), KSP KARNA (Sanur), Koperasi Karya Pemulung

Bulan Mei 2011 menjadi bulan yang bersejarah bagi gerakan koperasi di Bali. Betapa tidak, Bali di 2011 ini diagendakan memperoleh prestasi sebagai Provinsi Penggerak Koperasi di Indonesia. Prestasi mentereng itu harus dijawab oleh para pengelola koperasi di daerah ini dengan berbenah diri, kalau tak ingin sekadar menyandang predikat, tanpa mampu mengangkat kesejahteraan anggotanya, dan masyarakat Bali lebih jauh, tentu. (Denpasar), Koperasi INKINDO Bali, Koperasi Dana Sari (Badung). Rombongan dikomandani oleh Kepala Dinas Koperasi dan PKM Provinsi Bali, I Dewa Nyoman Patra, SH., MH. ”Sekarang eranya globalisasi. Sudah saatnya gerakan koperasi di Bali khususnya, tanggap akan situasi perekonomian yang terjadi. Karena itu go onternasional merupakan pilihan untuk mampu bersaing di era global ke depan,” kata I Wayan Sumerta, Ketua Koperasi Mitra Rakyat

(Kopmira Wisata Tour & Travel). Peserta study visit sangat antusias mengikuti rangkaian agenda, karena baru pertama kali dilakukan ke luar negeri. ”Kami rasa, semua peserta memperoleh spirit bagaimana dapat berbuat, sehingga koperasi di Bali mampu menjadikan dirinya seperti koperasi di Singapura. Untuk mewujudkan tentu perlu kerja keras. Bagaimanapun kegiatan studi visit ini paling tidak dapat menggugah setiap peserta, minimal punya semangat yang luar biasa untuk mengembangkan dan membesarkan koperasi masing-masing,” kata Putu Sumedana, Ketua Koperasi Kharisma Madani (Denpasar). Putu dengan Kharisma Madani-nya, yang memiliki produk Beras Sehat Bali Madani beranganangan suatu saat bisa masuk pasar international melalui koperasi di Singapore yakni NTUC FairPrice. Apa yang diangankan Putu mendapat dukungan dari Kadis Kopersi dan PKM Bali, Dewa Patra. ”Sesuatu yang kita angankan itu akan menjadi kenyataan jika kita

bergandengan tangan di Bali. Pokoknya, study visit Ke Singapura ini harus ada manfaatnya bagi gerakan koperasi di Bali. Paling tidak 3 bulan ke depan minimal ada MoU antarkoperasi di Bali dengan Singapura. Saya akan laporkan ini kepada Bapak Gubernur,” kata Dewa Nyoman Patra. Pihak koperasi (KPN) UNUD pun melihat manfaat yang berarti dari kunjungan ini. Ketua Koperasi (KPN) UNUD, Drs. I Komang Ardana, MM., merencanakan mengirim mahasiswa UNUD untuk dapat magang di koperasi Singapura yang sudah bagaikan perusahaan kelas dunia itu. ”Saya melihat manfaatnya. Kalau tidak bermanfaat, mana mau saya dari KPN kirim peserta paling banyak, 6 orang dari 30 peserta studi visit,” ujar Ardana. Membuat acara ini tetap menarik, di samping study visit ke koperasi Singapura, sejumlah tempat wisata di negerinya Presiden SR Nathan dan PM Lee Hsien Loong ini tak dilewatkan. Rombongan mengunjungi Pulau Sentosa, Merlion Park, Marina Bay, Mount Faber, Universal Studio, MRT (Kereta Bawah Tanah). Peserta juga memborong oleholeh di Lucky Plaza seputar Orcard Road – kawasan yang cukup populer bagi warga Indonesia yang doyan shopping. Beberaapa anggota rombongan dari Bali ini menyebut, bagaimanapun, pesona tempat-tempat wisata Bali masih lebih baik dari Singapura. Lantas kenapa Singapore dengan luas yang hanya 1/5 Pulau Bali begitu memesona? Peserta study visit kompak menjawab karena Singapore pintar menjual dirinya. Dalam arti, marketingnya dasyat. DR. Ida Bagus Panji Sedana, dosen Pasca Sarjana Universitas Udayana yang ikut serta dalam rombongan, menyebut marketing inilah yang perlu dikuatkan bagi pengembangan kepariwisataan Indonesia, dan juga Bali. ”Termasuk koperasinya,” tandas Panji Sedana. Edisi 05/Mei 2011


Galang Kangin Sajian Utama

9

Kepala Dinas Koperasi dan PKM Provinsi Bali I Dewa Nyoman Patra, SH., MH. (kiri), didampingi Mr. Jasni Bin Jamil selaku Relationship Manager dari SNCF (tengah) dan Harry Lee, Relationship & Business Development Manager SNCF

Dimanjakan Bantuan Pemerintah

Koperasi Indonesia Harusnya Lebih Maju

T Putu Sumadana Wahyu

ak dipungkiri, banyak hal menarik yang bisa dipetik dari study visit para pelaku koperasi Bali di Singapura. Putu Sumadana Wahyu, Ketua KSU Kharisma Madani (Denpasar), mengisahkan pengamatannya. Berikut penuturannya. Study visit ke Singapura yang baru saja kami lakukan bersama teman-teman memang memberi banyak hal positif sebagai pembelajaran, khususnya saya secara pribadi. Apa yang kami dapat,

setidaknya membuka wawasan kami dalam memandang koperasi sebagai salah satu bentuk bisnis yang bisa dikelola secara profesional dengan didukung sarana dan prasarana yang modern. Hal paling menarik adalah bahwa di Singapura, gerakan koperasi posisinya disejajarkan dengan swasta. Koperasi murni dipandang sebagai salah satu bentuk bisnis. Dan mereka tidak memiliki kementerian yang khusus menangani perkoperasian. Kondisi ini memaksa para pelaku koperasi mengelola koperasi secara profesional. Federasi yang dibentuk, SNCF (Singapore National Co-operative Federation) benar-benar mampu memposisikan diri sebagai wadah koperasi untuk bersuara kepada pemerintah.

Indonesia ini. Sementara terhadap perkoperasian di Singapura kondisi ini sama sekali tidak ada. Seharusnya, kondisi koperasi di Indonesia khususnya Bali jauh lebih baik dari kondisi di Singapura. Namun sayang output yang diberikan ternyata tidak bisa maksimal. Lemahnya sumber daya manusia dalam mengelola koperasi menjadi koperasi yang maju dan modern masih menjadi kendala. Di samping itu, Dekopin sebagai wadah koperasi belum bisa maksimal menjalankan fungsinya. Hal menarik lain adalah bagaimana SNCF (di Indonesia DEKOPIN) mampu menaungi seluruh koperasi yang bergerak di berbagai sektor seperti Campus Cooperative Sector (sama dengan Koperasi Mahasiswa), Credit Co-operative Sector

(sama dengan KSP), NTUC Co-operative Sector (sama dengan KSU) dan Service Co-operative Sector (sama dengan koperasi jasa). Terutama NTUC yang telah mampu merambah berbagai bidang usaha seperti usaha perawatan kesehatan anak, perumahan, pujasera, supermarket, asuransi, produk farmasi, klinik pengobatan keluarga, media cetak dan penyiaran, dan lain-lain. Seluruh bidang usaha tersebut telah mampu memenuhi dan mensejahterakan anggota koperasi. Hal inilah yang belum mampu diwujudkan oleh koperasi di Bali. Saya berharap semoga kunjungan belajar ini bisa membuka mata kita semua untuk saling bekerja sama membangun kesejahteraan anggota koperasi khususnya, masyarakat Bali pada umumnya.

Kondisi yang berbeda terjadi di tanah air. Di Indonesia pemerintah memantau dan terlibat langsung dalam pembinaan dan pertumbuhan perkoperasian di tanah air. Bahkan pemerintah memanjakan koperasi dengan menggelontor dana operasional dan berbagai bantuan juga dikucurkan untuk menggairahkan soko guru perekonomian

Mr. Marcus Loh (jas hitam) selaku Senior Manager dari SNCF berbagi pandangan-pandangannya kepada peserta study banding Edisi 05/Mei 2011


10

S

PeluangUsaha

Galang Kangin

Cantiknya Bunga Natural

iapa yang tidak ingin keindahan warna-warni bunga, menjadi penghias rumah? Kendalanya, tidak semua orang memiliki waktu memadai untuk merawat tanaman karena sibuk bekerja. Nah, ada solusi jitu jika ingin mempercantik rumah, namun tidak perlu direcoki dengan menyiram atau memupuknya. Pajang saja bunga natural! Bunga natural memiliki keindahan yang tidak kalah memikat dengan bunga asli. Malah bunga natural memiliki kelebihan tersendiri. Misalnya, tidak akan layu dan sudah pasti, bunga ini tidak perlu perawatan harian seperti layaknya memelihara tanaman hidup. Kelebihan ini yang membuat bunga natural digemari dan menjadi pilihan favorit untuk hiasan rumah. Sesuai namanya, bunga natural terbuat dari bahan-bahan natural. Seperti, daun jagung, pelepah pisang, biji lamtoro, dan masih banyak lagi. Bahanbahan itu, terlebih dahulu dibersihkan dan dikeringkan sebelumnya, akhirnya siap diolah menjadi bunga natural yang tampilannya menawan. Salah seorang yang menangkap peluang digemarinya bunga natural oleh masyarakat adalah Anak Agung Kusuma Oka, yang biasa dipanggil Gung Oka. Meski umumnya bunga identik dengan wanita, namun Gung Oka tidak keder menggelutinya dan sudah bertekad menjadikan bunga natural sebagai ladang usaha. Perkenalan Anak Agung Kusuma

Oka dengan bunga, bermula pada tahun 1983. Saat itu, kebetulan ada lomba merangkai bunga. Gung Oka, demikian ia biasa dipanggil, langsung menyertakan bunga kreasinya berupa bunga-bunga kering yang ditata dalam vas. Usai lomba, bunga ciptaannya ternyata langsung ditawar pengunjung untuk dibeli. Hal ini membuat pemuda kelahiran Dalung, Kuta Utara, itu pun tergerak untuk memiliki usaha berbasis bunga. Pada tahun 2001, ia langsung start membuka bisnis bunga dengan modal Rp 75 ribu. Bahan-bahan untuk membuat bunga natural, kebanyakan didapati dari lingkungan sekitar berupa limbah yang tidak dipakai orang. Misalnya, kulit jagung, biji lamtoro, buah kaliandra, buah turi, buah pandan dan masih banyak lagi. Bahan-bahan yang sepintas terlihat sepele itu, di tangan Gung Oka akhirnya menjelma menjadi bunga cantik dan sedap dipandang mata. Hingga kini, Gung Oka telah menciptakan lebih dari 1.000 kreasi bunga natural. “Kalau untuk menyebutkan nama satu per satu, wah … saya sudah lupa. Yang jelas, bunga-bunga ciptaan saya itu bentuknya mirip bunga-bunga yang biasa ditemui. Ada anggrek, melati, mawar atau ada pula buah nanas yang eksotik. Setiap bulan, paling tidak ada tiga kreasi jenis bunga model baru yang saya ciptakan,” urai penerima anugerah pemuda pelopor ini tanpa nada sombong. Meski tidak memiliki art shop untuk memajang hasil karyanya, tetapi Gung Oka tidak pernah sepi order.

HUMOR

rasa bangga tersirat di wajahnya. “Berapa lama sahabatku mempelajari ilmu seperti itu,” tanya sang sahabat lama kepada sang pertapa, sebuah pertanyaan yang sepertinya ditunggu-tunggu sang pertapa. “Aku menghabiskan 15 tahun waktuku dengan latihanlatihan khusus yang sulit serta hanya boleh makan makanan tertentu di sebuah tempat yang terasing,” jawab pertapa pertama sambil mengelus jenggotnya yang panjang. Rasa bangga masih tersirat di wajahnya. “Mmmm....luar biasa! Tuan habiskan waktu 15 tahun hanya untuk bisa menyeberangi sungai tanpa harus menyentuh air? Sungguh waktu yang siasia. Sementara saya perlu waktu tak lebih dari satu jam untuk mendapatkan 2.000 Rupee untuk dapat menyeberangi sungai tanpa harus menyentuh air,” sindir sang sahabat. ?????????, sang pertapa pun tersipu dan ngeloyor pergi.

Sesumbar Dua Sahabat Lama Dua sahabat lama berjumpa di pinggir sebuah sungai besar di India sana, setelah belasan tahun tidak bertemu. Yang satu terlihat seperti seorang pertapa dari tampilan dan pakaian yang dikenakan. Sementara sahabatnya, sepertinya orang biasa saja. Keduanya pun melepas cerita masing-masing dan berkisah kegiatan mereka, sejak berpisah dulu. Rupanya, tujuan mereka sama untuk melakukan perjalanan ke seberang sungai. Sang pertapa dengan bangga menceritakan bahwa ia bisa berjalan di atas air, menyeberangi sungai tanpa menyentuh air. Sahabat lamanya juga tak mau kalah. Ia pun mengaku bisa menyeberangi sungai dalam waktu yang sama tanpa harus menyentuh air. Sang pertapa penasaran, dan iapun berkelebat ke bibir sungai dan suiiiit…, hanya beberapa saat, ia sudah berada di seberang. Berjalan di udara dengan ilmu meringankan tubuh tanpa menyentuh sedikitpun air sungai. Sang sahabat lamanya tak mau kalah, ia pun bersuit memanggil seorang tukang perahu cepat, penyedia jasa penyeberangan yang memang banyak di sungai tersebut. Dan hanya beberapa menit, tak jauh beda dengan waktu yang dibutuhkan sang pertapa, ia sampai di seberang. Ia hanya merogoh beberapa Rupee untuk dibayarkan kepada tukang perahu. Sang pertapa menunggunya sambil tersenyum menatap sahabatnya. Tampak

Kolam Suci Penghapus Dosa Pertapawati Di sebuah gunung yang terpencil, terdapatlah sebuah pertapaan. Di pertapaan ini pertapa dan pertapawati sudah diikat sumpah untuk tidak akan menikah seumur hidup, oleh karena itu

Malahan sering menolak order kalau tidak dapat tertangani. Seperti ketika dua tahun lalu ada wisatawan asal Perancis yang ngotot ingin dikirim lima kontainer rangkaian bunga gantung, padahal Gung Oka hanya mampu menyediakan dua kontainer saja. Alhasil, dengan berat hati ia menolak order itu. Selain disukai konsumen asal Perancis, ternyata bunga natural Gung Oka juga sangat diminati konsumen dari Itali, Portugal, Jepang, Malaysia, Brunei dan sebagian besar konsumen asal Eropa lainnya. Larisnya bunga natural Gung Oka, membuatnya pernah mendapatkan omset senilai Rp 750 juta. “Tapi tidak selalu begitu sih. Itu kadang-kadang saja. Kalau keadaan normal, omset yang saya peroleh antara Rp 25 – Rp 50 juta. Dikurangi pembelian bahan baku dan uang saku karyawan yang per orangnya Rp 450 ribu per bulan, paling tidak untung bersihnya 70%,” urai Gung Oka ramah. Gung Oka memang lebih suka menyebut gaji karyawan dengan uang saku. Pasalnya, 4 karyawan yang dimiliki itu sudah diajaknya sejak mereka kecil dan diangkat jadi anak asuh. Otomatis semua kebutuhan hidup, termasuk biaya sekolah, makan, tempat tinggal hingga bonus saat hari raya, semua menjadi tanggungan Gung Oka. Ke depannya, Gung Oka tetap optimis akan menjadikan

pameran sebagai ajang mengenalkan bunga-bunga naturalnya. Tak heran, ia mengaku sudah menjelajah pameran di berbagai tempat hingga ke mancanegara. “Selain di Jakarta, saya juga pernah ikut pameran di Saudi Arabia. Sambutannya bagus sekali. makanya sampai sekarang saya selalu aktif berpameran,” kata pria yang sehari-hari ngantor di Dinas Kebudayaan ini.

tanganmu di kolam ini?” Pertapawati 2 : “SStttt jangan keras-keras.. Tadi waktu makan siang bersama para pertapa, secara tidak sengaja tangan kananku menyentuh ‘burungnya’ pertapa.. sehingga aku harus mencuci tanganku.. gitu..” Pertapawati 1 : “Waduh gawat juga yaa.. Kalo gitu aku juga harus berkumur 5 kali dong supaya dosaku terhapus…”

Pertapa Muda... tempat tinggal mereka dibuat terpisah. Rumah utara adalah tempat tinggal para pertapa (pria) dan rumah sebelah selatan adalah tempat pertapawati (cewek) Di tengah-tengah kedua bangunan itu terdapat sebuah kolam suci. Pada suatu hari seorang pertapawati sedang khusuk membasuh tangannya di kolam suci. Melihat itu seorang pertapawati lain yang baru 2 hari tinggal di situ heran lalu bertanya : Pertapawati 1 : “hei kenapa kamu membasuh tanganmu di kolam ini dengan khusuk..?” Pertapawati 2 : “Lho emangnya kamu tidak tahu yaa. Ini khan kolam suci” Pertapawati 1 : “O gitu.. trus apa khasiatnya?” Pertapawati 2 : “Khasiatnya adalah kalau secara sengaja atau tidak bagian tubuh kita menyentuh “alat kelamin” atau bagian terlarang lainnya dari lawan jenis, maka bagian tubuh itu harus dicuci di kolam ini sebanyak 5 kali supaya dosanya terhapus.” Pertapawati 1 : “Lho emangnya kamu habis berbuat apa sehingga harus mencuci

Pada suatu hari putra seorang petani melakukan pertapaan di sebuah hutan yang jarang sekali di injak oleh manusia, dia bertapa sampai 40 hari dan pada hari yang ke 40 dia bertemu dengan jin hutan tersebut dan akhirnya terjadi suatu pembicaraan. jin hutan :hai sedang apa kau ada dihutan ini putra petani :saya selama ini hidup sengsara dan mencari sesuatu yang dapat membantu hidup ku kelak jin hutan :jadi engkau mencari nomer buntut putra petani :enggak! jin hutan :oh jadi kamu pingin dapet uang dan emas yang banyak akan ku tunjuk batu2 itu dengan jariku akan menjadi uang putra petani :bukan! jin hutan :terus kamu minta apaan? putra petani :aku!!!minta!!!! jin hutan :oh aku tahu kok kamu minta wanita cantik dan kaya raya, akan ku tunjuk dengan jariku pohon2 itu menjadi wanita cantik dan seksi putra petani :bukan!!!!!!!!!!! jin hutan :terus kamu minta apaan!!!!!!!!!!!!!! putra petani :sebenernya aku nggak minta banyak kok, aku cuman minta jarimu Edisi 06/JUNI 2011


Galang Kangin Potret Usaha

11

Tas

P

engalaman kehidupan pria yang biasa disapa Vensi ini, begitu berliku. Beragam pekerjaan pernah dilakoni. Setelah menamatkan SMK Bina Kusuma Ruteng di Flores, ia meninggalkan kampung halamannya dan merantau ke Bali. Di Pulau Dewata, ia pernah menjadi tukang di berbagai proyek bangunan, sales art shop, asisten di perusahaan garmen, salesman di perusahaan Barang bekas yang dalam bahasa populer disebut kulit, sampai kemudian menjajal limbah, tak selamanya mesti dipandang sebelah peruntungan mata. Buktinya, karung beras yang di mata dengan menggeluti sebagian orang sudah harus dibuang, namun usaha tas berbahan oleh seorang Vensislaus Makur, mampu diubah karung beras. Keahlian menjadi produk tas yang elegan, bahkan disukai membuat tas dari turis mancanegara. Bagaimana perjalanan karung beras, hidupnya, hingga akhirnya berkecimpung di dipelajari Vensi bisnis yang terbilang inovatif ini? secara otodidak. Semasa masih bekerja di garmen yang memproduksi kain pantai dan sandal kulit, ia sering mengamati cara pembuatan sandal. Kebetulan sepupunya, tempatnya tinggal menumpang, memiliki mesin jahit kulit. Vensislaus pun mencoba mempraktikkan apa yang pernah dilihatnya di perusahaan garmen. Berawal dari mencoba-coba inilah, ia lantas merancang dompet pada tahun 2008 dan ternyata berhasil. Tak puas hanya sekadar membikin dompet, Vensi mengembangkan kemampuannya membuat tas. Ide membuat tas, terpicu dari perkenalannya dengan seorang turis asal Italia, yang mengaku punya usaha tas dari kain terpal. Turis itu mengajak Vensislaus bekerja sama. Sayangnya, lama-lama harga kain terpal kian naik beberapa kali lipat. Agar usaha bisa jalan terus, Vensi dan si turis pun mulai memikirkan bahan baku alternatif. Pilihannya jatuh pada karung beras. Alasannya, sekilas, karung beras mirip terpal. Selain itu, harganya murah dan mudah didapatkan di berbagai toko sembako.

Uniknya Karung Beras “Setelah mengganti bahan baku dari terpal menjadi karung beras dan mencobacoba, ternyata hasilnya tidak jauh berbeda. Ketika ditawarkan ke konsumen, sambutan mereka lumayan karena terbukti ada saja turis yang pesan,” tutur suami dari Maria Anli Setiawati ini. Agar lebih variatif, Vensi berkreasi dengan menambahkan kain batik atau payet pada tas buatannya. Harga tas didasarkan pada tingkat kerumitan pengerjaannya. Tas dengan motif batik, dipatok sekitar Rp 100 ribu. Tas berhias payet harganya mulai Rp 70 ribu – 80 ribu. Dalam sehari, Vensi yang memproduksi tas bersama kerabatnya bisa mengerjakan tas antara 50 – 100 buah, di tempat tinggalnya di Jalan Pulau Ambon Gang Marmut, Denpasar. Saat sedang ramai-ramainya order, dalam sebulan Vensi bisa meraup omzet hingga lima juta rupiah. Vensi mengungkapkan jika order produk tas buatannya, datang dari Italia dan Perancis, masyarakat lokal malah sama sekali tidak meliriknya.

Pengalaman Pahit Sayangnya, di tengah order yang bertubi-tubi, Vensi diterpa beberapa pengalaman teramat pahit. Beberapa konsumen yang memesan dan sudah dikirimi tas, mendadak menghilang padahal belum membayar. Alhasil, Vensi harus gigit jari karena menanggung kerugian jutaan rupiah untuk membeli bahan baku dan ongkos pekerja. “Pernah saya ditipu sampai lima juta rupiah. Padahal order itu saya kerjakan selama dua bulan bersama saudara saya. Saya jadi kebingungan luar biasa. Modal amblas, dan dihinggapi trauma juga. Maklum, perajin rumahan seperti saya ini modalnya sangat terbatas,” urai pria kelahiran tahun 1981 ini. Tak hanya soal ditipu, komplain dari tamu kadang-kadang membuat Vensi patah semangat. Misalnya, karena pemasangan payet yang tidak rapih atau jahitan yang kurang bagus. Namun, lama-lama Vensi mencoba mengambil hikmah dengan memperbaiki kualitas tas produknya. (vivi)

Harapan Seorang Perajin Rumahan KEMANDIRIAN tetap memerlukan uluran tangan, apakah pemerintah atau lembaga lain terkait. Sebut saja Vensislaus Makur. Di tengah laju usahanya yang sudah menemukan pasar, Vensi, begitu ia disapa, berharap agar pemerintah memberikan perhatian dengan menampung hasil karya perajin rumahan, sehingga bisa eksis. Inilah sebenarnya permasalahan utama bagi perajin rumahan, karena sering tidak memiliki akses untuk menyalurkan produk buatannya. “Syukur-syukur juga ada bantuan permodalan. Saya sebenarnya ingin sekali mengembangkan usaha. Tidak hanya membuat tas berbahan karung beras, tetapi juga menggunakan bahan karung goni atau pandan. Sekarang orang asing kan lagi tren produk berbahan alami. Mudah-mudahan kalau ada suntikan modal, keinginan saya segera terlaksana,” harap Vensi di akhir perbincangan. Tertarik Tas Berbahan Karung Beras? Hubungi: Vensislaus Makur Jalan Pulau Ambon Gang Marmut No. 12 Denpasar Telepon: 081236 544 138 Edisi 06/JUNI 2011


12

Spiritual

Galang Kangin

Tumpek Uduh Saatnya Bersahabat dengan Alam Anugerah Sang Hyang Widhi ini, tak membuat masyarakat Bali lupa diri. Ada hari tertentu, di mana umat Hindu merayakan ritual yang khusus untuk menghormati tumbuhtumbuhan. Namanya Tumpek Uduh atau Tumpek Pengatag. Sering pula disebut dengan Tumpek Wariga atau Tumpek Bubuh. Tumpek Bubuh diperingati setiap 210 hari. Pada

B

ali, begitu memikat dengan beragam budaya dan alam nan elok menawan. Di setiap bentang alam Bali, tetumbuhan terlihat menghijau.

Menghargai Ciptaan PANDE KOMANG MERTHA, seorang pemangku sekaligus tukang banten dari Banjar Pande, Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Karangasem mengungkapkan, upakara yang disiapkan dalam ritual Tumpek Uduh, berupa soroan tumpang pitu. Meliputi peras, penyeneng, pengambyan, tipat dampulan, sayut, jajan, sirah nasi, buahbuahan dan tumpeng guru. Pada pohon yang dipilih, diberi set-set, gantung-gantungan dan tulung tanggeh, disertai doa pengharapan semoga pohonpohon itu akan menghasilkan buah yang berlimpah atau senantiasa dipenuhi bungabunga yang semerbak bermekaran. Pelaksanaan waktu untuk bersembahyang, bisa pagi, siang atau sore hari, yang dilangsungkan di pekarangan, sawah atau kebun. “Yang tidak boleh dilupakan, pada masingmasing bagian dari upakara itu, memakai bubur. Biasanya

yang digunakan adalah bubur beras putih yang dimasak dengan taburan gula merah dan parutan kelapa,� ujar Mangku Pande, demikian ia biasa dipanggil. Ajaran pada ritual Tumpek Uduh ini, jelas Mangku Pande, amat bernilai sehingga manusia dapat menghargai ciptaan Sang Hyang Widhi Wasa, khususnya pada tumbuh-tumbuhan. Jika manusia benar-benar menghargai tumbuhan, pasti alam Bali akan kembali menghijau. “Alangkah indahnya jika Bali bisa kembali seperti zaman dulu, di mana-mana pohon tumbuh subur, meski tidak pakai pupuk. Kalau sekarang, susah sekali menghirup udara yang bebas polusi. Semoga dengan peringatan Tumpek Uduh, manusia bisa dekat kembali dengan tumbuhan,� kata Mangku Pande.

bagi kehidupan manusia. Semestinya, perayaan tidak hanya sekadar ritual belaka, melainkan dengan tindakan riil. Seperti dengan melakukan penanaman pohon demi kelestarian lingkungan. Keberadaan memang pepohonan sangat bermanfaat. Buahnya bisa menghidupi manusia, selain itu juga menghasilkan oksigen sekaligus menyerap polusi, sehingga kehidupan menjadi seimbang. Sesungguhnya, Tumpek Uduh, bukanlah momen khusus untuk menyembah tumbuh-tumbuhan. Justru yang disembah adalah Sang Hyang Widhi Wasa, dengan harapan agar melalui tumbuh-tumbuhan manusia senantiasa diberikan karunia dan berkah di sepanjang hayat. Dilihat secara estetika,

pepohonan yang hidup segar, tentu menjadi pemandangan menarik ketimbang lingkungan yang kering dan gersang. Akar pohon juga menjadi pengikat tanah, sehingga tidak terjadi erosi. Manfaat lain yang tidak kalah berarti, pohon mampu menyimpan air sehingga bumi tidak mengalami kekeringan, sekaligus dapat menyerap air agar tidak terjadi banjir di saat hujan lebat mengguyur. Beragam fungsi pohon, memang sudah selayaknya menyadarkan manusia, betapa kehidupan ini sangat bergantung pada pepohonan, sehingga sudah selayaknya manusia bersahabat dengan alam. Tumpek Uduh, merupakan ajang refleksi yang tepat untuk bersyukur kepada Sang Hyang Widhi. Untuk memohon agar Beliau menjaga tumbuhtumbuhan sehingga terhindarkan dari serangan hama dan penyakit.

dasarnya ritual ini dilangsungkan sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Ida Sang Hyang Widi, dalam manifestasinya sebagai Dewa Sangkara, yang telah memberkahi umat manusia dengan beraneka ragam tumbuhan. Peranan tumbuhan memang amat besar dalam kehidupan manusia, untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup. Tumpek Uduh seharusnya menjadi momentum, betapa pentingnya tanaman

Edisi 05/Mei 2011


Kangin SeniGalang Budaya

13

R

Tato... dari Budaya ke Bisnis

eferensi tertulis pertama kata, “tattoo” (atau Samoa “Tataau”) muncul dalam jurnal Joseph Banks, seorang naturalis yang ikut pelayaran kapal Kapten Cook Endeavour HMS pada tahun 1769 untuk menunjukkan cara orang Samoa menandai sendiri yang tak terhapuskan, masing-masing ditandai dengan gambar figure atau simbol. Tattoo atau tato adalah tanda yang dibuat dengan memasukkan tinta ke dalam lapisan dermis kulit untuk mengubah pigmen dengan alasan dekoratif atau lainnya. Tato pada manusia adalah jenis dekoratif, sedangkan tato pada hewan yang paling sering digunakan untuk identifikasi. Praktek Polinesia ini menjadi populer di kalangan pelaut Eropa, sebelum menyebar ke masyarakat barat umumnya. Telah Dipraktekkan Berabadabad di Seluruh Dunia  Tato dikenal luas di kalangan bangsa Polinesia dan di antara kelompok-kelompok suku tertentu di Taiwan, Filipina, Kalimantan, Kepulauan Mentawai, Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Mesoamerika, Eropa, Jepang, Kamboja, Selandia Baru dan Mikronesia.  Di Taiwan, tato wajah dari suku Atayal diberi nama Badasun, digunakan untuk menunjukkan bahwa seorang lakilaki sudah cukup dewasa untuk ikut melindungi tanah airnya, dan seorang wanita sudah dewasa dan memenuhi syarat untuk menenun kain dan siap berumahtangga.

Fungsi Tato Tato pada komunitas kuno dimaksudkan sebagai ritus peralihan (transformasi) sebagai tanda status dan pangkat, simbol pengabdian agama dan spiritual, keberanian, seksual umpan dan tanda kesuburan, janji-janji cinta, hukuman, jimat keberuntungan, perlindungan, hubungan kekerabatan (klan) dan sebagainya. Sedangkan dalam perkembangannya juga dipakai untuk menandai orang buangan, budak dan narapidana. Simbolisme dan dampak tato bervariasi di berbagai tempat dan budaya.  Tato telah menjadi populer di banyak bagian dunia, khususnya di Amerika Utara dan Selatan, Jepang, dan Eropa. Pertumbuhan dalam kultur tato telah melihat dari lahirnya seniman baru ke dalam industri ini. Banyak dari mereka memiliki pelatihan teknis dan seni rupa. Ditambah dengan kemajuan di pigmen tato dan penyempurnaan berkelanjutan dari peralatan yang digunakan untuk tato, ini telah membawa perbaikan dalam kualitas tato yang dihasilkan.  Tinta Tato  Awal tinta tato diperoleh langsung dari alam dan sangat terbatas di berbagai pigmen. Saat ini, hampir tidak terbatas jumlah warna dan nuansa tinta tato. Diproduksi dan dijual di salon di seluruh dunia. Seniman tato umumnya mencampur tinta ini untuk membuat pigmen unik mereka sendiri. Berbagai pewarna dan pigmen dapat

digunakan pada tato, dari bahan anorganik seperti oksida titanium dioksida dan besi karbon hitam, pewarna azo, dan acridine, quinoline, phthalosianin olahannya naphthol, pewarna yang dibuat dari abu, dan campuran lainnya. Pigmen besi oksida digunakan dalam tingkat yang lebih besar di tato kosmetik.  Tinta tato modern adalah pigmen berbasis karbon yang memiliki kegunaan luar aplikasi tato komersial.  Ada keprihatinan tentang interaksi antara Magnetic Resonance Imaging (MRI) prosedur dan pigmen tato, dimana beberapa di antaranya mengandung jejak logam yang dapat mengacaukan hasil scanning dan dapat berakibat fatal pada kesalahan diagnosis dan therapy. Diduga, medan magnet yang dihasilkan oleh mesin MRI dapat berinteraksi dengan partikel-partikel logam, berpotensi menyebabkan luka bakar atau distorsi. Tattooist profesional mengandalkan terutama pada pigmen dasar yang sama seperti yang ditemukan pada kosmetik. Seniman tato amatir akan sering menggunakan gambar tinta seperti tinta India kelas rendah, tetapi tinta sering mengandung kotoran dan racun yang dapat menyebabkan penyakit atau infeksi.  Balinese Tato Di Bali sendiri, perjalanan tato modern sebagai kreativitas seni sudah berkembang sangat luas. Studio yang melayani pembuatan tato bahkan dapat ditemui hingga ke pelosok. Di daerah wisata seperti Kuta, Sanur, Ubud

dan lainya, bisnis ini cukup banyak yang menggeluti dan pengusaha maupun tattoist-nya mampu mencapai taraf kesejahteraan yang lumayan baik. Sementara dari sisi budaya, masyarakat Bali telah mengenal konsep rerajahan awak atau mentato diri untuk tujuan transformasi diri secara spiritual. Hanya saja dalam pelaksanaannya tidak menggunakan pigmen dan jarum tetapi menggunakan media yang disyaratkan oleh pengetahuan atau budaya spiritual yang mendasarinya, seperti penggunaan madu dan tangkai daun sirih untuk men-tato lidah dengan simbol tertentu untuk tujuan tertentu pula. Efek Psikologis Baik pada tato modern maupun rerajahan awak tradisional ala Bali, efek psikologis yang muncul ternyata identik. Kondisi kejiwaan dan mentalitas mendadak berubah selaras dengan motif tato yang dibuat atau jenis ritual rerajahan yang dilaksanakan. Umumnya sebelum seseorang memutuskan untuk men-tato diri atau melaksanakan ritul rerajahan, berangkat dari kondisi kehidupan atau mentalitas yang kurang diinginkan dan berharap agar setelah memiliki tato atau merajah diri, terjadi perubahan sesuai dengan tujuan awal masingmasing. Pilihan ditangan Anda, mau tato permanen atau rerajahan Bali...?

Edisi 05/Mei 2011


14

Rona

Galang Kangin

Kharisma Madani Holistic Center DIVISI BARU KSU.KHARISMA MADANI

KSU Kharima Madani kembali meluncurkan produk pelayanan yang ditujukan untuk karyawan dan nasabahnya serta masyarakat umum. Divisi yang diberi nama Kharisma Madani Holistic Center bertujuan untuk menjawab fenomena kecenderungan yang terjadi dimasyarakat dimana pemahaman akan pergerakan kehidupan sudah mencapai wilayah Body-Mind-Soul. Namun dalam keseharian, pemahaman yang sudah mendalam tersebut ternyata tidak diimbangi oleh aktifitas yang memadai sehingga timbul kebingungan. Holistic. Kata yang bermakna menyeluruh ini merujuk pada sebuah pola pemahaman dan pengelolaan diri untuk sebuah tujuan, dengan melihat seseorang sebagai insan yang multi-dimensional. Ini berarti bahwa solusi sebuah masalah di dimensi fisik, misalnya gangguan kesehatan, ternyata mencakup wilayah di ruang psikologis. Sehingga untuk mencapai perubahan atau kesembuhan yang diinginkan maka aktifitas transformasi kearah itu harus dilakukan diseluruh wilayah kehidupan dan akan kurang efektif jika hanya satu dimensi yang dikelola.

Pelayanan. Secara umum pelayanan yang diberikan berupa: Konsultasi Holistic: mencakup seluruh bidang kehidupan mulai dari ekonomi dan bisnis, kepribadian dan hubungan sosial hingga kesehatan fisik dan mental. Metode yang digunakan bisa cara tradisi maupun modern, tergantung dari permasalahan dan kepribadian client ( client’s oriented ). Therapy & Advokasi Holistic: menerapkan metode therapy dan pendampingan dengan menggunakan berbagai jenis dan aliran psikologi, medis dan spiritual, yang sesuai dengan kondisi keseluruhan seorang client. Life Coaching: metode terapan untuk mengeksplorasi dan membentuk kepribadian serta mental sesuai dengan tujuan hidup yang ingin dicapai. Seluruh pelayanan tersebut diberikan baik secara private (pribadi) maupun lembaga (Corporate Training­­). Kharisma Madani Holistic Center yang terletak di jalan Bedugul no 1 Denpasar Selatan, terbuka bagi siapapun yang berkeinginan untuk merubah kehidupannya menjadi lebih baik dalam segala bidang dengan hanya satu syarat yaitu berkeinginan kuat untuk berubah. Contact Person: Nyoman Bruno, 081999205013.

Kharisma Madani Holistic Center Konsultasi - Motivasi - Pemberdayaan Diri Therapy. Nyoman Bruno Ch, Cht. Konsultan, Trainer & Therapist Edisi 06/JUNI 2011


Potensi

Galang Kangin

15

Bale Bengong Oleh: Nyoman Bruno

“Melajah Melali”

B Seri Membangun Diri

Mengenali Pikiran,

Membentuk Pola Pikir

A

lat kendali utama yang mengawali seluruh pergerakan kehidupan manusia ada pada pikiran. Begitu pentingnya pikiran bagi kehidupan manusia, sehingga berkembang sangat banyak pengetahuan filosofis dan aplikatif tentang pikiran. Kita tidak akan membahas keilmuan informatif tentang pikiran secara mendetail, karena tujuan penulisan ini adalah menyediakan kendaraan untuk mengawali perjalanan mengenal diri untuk digunakan dalam praktek berkehidupan. Secara garis besar pikiran terbagi atas : Pikiran Sadar atau Rasional yakni pikiran yang bertugas untuk mengamati, menganalisa, menghubungkan dan menyimpulkan seluruh informasi yang dipersepsi oleh panca indera. Perkembangan dari kemampuan dasar tersebut membuat manusia memiliki kemampuan matematis, mengorganisasikan, membuat prosedur dan sebagainya. Critical Area atau Dewan Pertimbangan yaitu mekanisme berpikir yang bekerja sebagai filter atau menyaring hasil kerja pikiran sadar yang berupa pengamatan, analisa, hubungan dan kesimpulan untuk dimasukkan ke dalam pikiran bawah sadar sebagai nilai. Pikiran Bawah Sadar adalah bank data yang memuat

informasi kehidupan manusia dalam jumlah tak terhingga dan berdasarkan informasi dari pikiran bawah sadarlah kehidupan bergerak dinamis. Dalam pikiran bawah sadar tersimpan informasi tentang karma kelahiran, sistem dasar kehidupan yang meliputi mekanisme tumbuh dan berkembang, kecenderungan bentuk dan arah perjalanan kehidupan dan sebagainya. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa kehidupan seseorang adalah refleksi dari kandungan nilai dalam pikiran bawah sadarnya yang dibentuk oleh karma kelahiran, pendidikan dan pengalaman dan kultivasi kesadarannya. Inilah yang kemudian terkenal dengan frasa “Anda adalah apa yang Anda pikirkan” ( You are what You think ). Dalam prakteknya, seluruh mekanisme berpikir tersebut bekerja secara sirkular dan saling mempengaruhi. Secara sederhana dapat digambarkan bagaimana sebuah informasi diterima oleh alat persepsi kemudian oleh critical area diterima dan dibiarkan mengalir masuk ke dalam pikiran bawah sadar dan menjadi nilai yang selanjutnya mendasari kemampuan pikiran sadar dan critical area untuk bekerja atas objek-objek terpersepsi. Contohnya : saat seorang anak kecil melihat dan tertarik pada cahaya api, tanpa ragu dia akan memegang api tersebut. Ini terjadi karena dalam pikiran

Nyoman Bruno Ch, Cht. Konsultan, Trainer & Therapist bawah sadarnya belum terdapat nilai bahwa api itu panas. Setelah pengalaman pertama ini, anak tidak akan gegabah menyentuh api, namun tetap tertarik dengan cahaya api, karena menilai bahwa cahaya api itu menarik, dan mulai mengembangkan metode menyentuh api tanpa harus merasakan panasnya. Atau anak tersebut hanya memperhatikan dari jauh atau menjaga jarak aman dengan api, karena pengalaman terkena panas api menanamkan nilai sangat tidak enak dalam pikiran bawah sadarnya. Perkembangan penelitian atas mekanisme berpikir telah menghantarkan manusia pada kesimpulan bahwa 20% pencapaian kehidupan ditentukan oleh kompetensi pikiran sadar dan 80% merupakan refleksi dari kandungan nilai dalam pikiran bawah sadar. (bersambung)

erita tentang study tour atau perjalanan dinas untuk kepentingan mencari perbandingan di luar negeri yang dilakukan anggota DPR RI yang terhormat dengan biaya dari rakyat yang masih melarat, sering sekali diberitakan di banyak media. Terlihat menarik, bagaimana dengan seluruh kehormatan yang dimiliki, mereka gunakan untuk menampilkan kekonyolan yang memalukan. Kekonyolan yang merupakan ekspresi dari kebodohan intelektual dari orang-orang berpendidikan tinggi yang menyandang berbagai gelar akademis, tentunya menjadi faktor yang meningkatkan derajat kemaluan mereka yang mendapat kepercayaan dari bangsa ini sebagai wakil untuk menyuarakan aspirasi rakyatnya. Komisi8@yahoo.com saat ini menjadi bahan olokolok bagi anggota rombongan Komisi VIII yang berkunjung ke Australia baru-baru ini. Dengan ringan dan lantang salah satu anggota rombongan menyebut kalimat tersebut sebagai eMail resmi mereka. Terlepas dari apapun alasannya menyebut alamat eMail gratisan tersebut, hal ini menunjukkan bagaimana persepsi dan apresiasi anggota dewan yang terhormat terhadap rakyatnya yang bermukim di negeri kangguru tersebut. Dengan melakukan hal itu, mereka menunjukkan bagaimana tidak penting dan bodohnya anggota masyarakat yang mereka temui di sana, sehingga dengan seenaknya menggunakan alamat eMail gratisan sebagai kontak resmi mereka. Pekak Putu dan Bli Nyoman Coblong yang dengan semangat berasap-asap (di musim penghujan tanpa jadwal tetap seperti sekarang ini, memang agak sulit membangkitkan semangat yang berapi-api), mengejar berita tersebut dari internet yang dibuka dengan “Hape” lansiran China ber-chasing Eropa dengan koneksi wi-fi gratis dari warnet tetangga berkat keahlian hacker batan waru Bli Nyoman Coblong yang berhasil merayu gadis lugu penjaga warnet, dengan iming-iming akan dibelikan kuwaci dan minuman bersoda, untuk memberikan username dan passwordnya. Namun keduanya, akhirnya, harus lumayan tersinggung dengan berita tentang komisi VIII yang mereka dapatkan dari sebuah situs jejaring sosial. “Behhhhh......!!! kalau begini rendah cara mereka menghargai bangsa sendiri, bagaimana bangsa ini bisa maju dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia?” keluh Pekak Putu. Bli Nyoman Coblong menimpali “yee....ini kan bukan satu hal yang berdiri sendiri, melainkan hasil pembodohan kolektif yang sukses membodohi dan memperbodoh yang dilakukan bangsa ini, oleh bangsa ini dan untuk bangsa ini. Jadi hal ini dari sudut pandang prinsip demokrasi adalah suatu hal yang benar.” Mimih Ratu Betaraaaa.....!!!

Edisi 06/JUNI 2011


16

Agrobis

Galang Kangin

Raup Untung Bertanam Cabai Dengan Pupuk Agrodyke

Buahnya lebih berat daripada sebelum disemprot Agrodyke

H

Penyemprotan pada tanaman cabai

arga cabai melambung, petani meraup untung. Demikian berita pada salah satu koran di Bali mengabarkan. Memang, pada musim penghujan yang baru lalu hampir sebagian besar petani cabai mengalami gagal panen, padahal rezeki sudah di depan mata. Selain karena keadaan cuaca, banyak faktor yang juga menjadi pemicunya. Nah, saat musim mendatang yang diperkirakan akan kemarau panjang, para petani bertekad untuk mencoba menanam cabai kembali. Belajar dari kegagalan untuk bisa berhasil merupakan jengah petani Bali. “Sesungguhnya, menanam cabai tidaklah terlalu sulit. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, di antaranya pemilihan bibit, cara menyemai, dan cara perawatannya,“ komentar Wayan Suarta, peramu bioagro di Banjar Latu, Mambal, Badung. Proses peramuan bio-agro dimulai tujuh hari sebelum tanam. Kompos ditaburkan di lahan sejumlah 50 % dari kebiasaan petani setempat. Selanjutnya, dilakukan sterilisasi tanah dengan dosis 2 kg pupuk Agrodyke per hektar yang dilarutkan dalam 150 liter air. Perlakuan dengan menyemprotkan larutan Agrodyke tersebut ke seluruh permukaan lahan secara merata. Tujuh hari setelah tanam, dilakukan pemupukan dasar dengan perbandingan 50 kg Urea + 1 Kg Agrodyke. Campurkan Agrodyke dengan urea sampai merata.

Lalu ditabur mengelilingi bagian pangkal tanaman dengan sistem tugal, dengan dosis 1 sendok makan (20 gram) per pohon. Setekah tanaman cabai berumur 14 hari, dilakukan penyemprotan Agrodyke dengan dosis 2 sendok makan (40 gram) per 15 liter air. Penyemprotan selanjutnya dilakukan setiap 2 minggu (14 hari), dengan dosis yang sama. Sehabis panen, juga perlu lakukan penyemprotan kembali dengan Agrodyke, dengan dosis 3 sendok makan (60 gram) per 15 liter air. Penyemprotan selanjutnya setiap 2 minggu (14 hari). Catatan : Untuk penambahan ZA, disesuaikan dengan kondisikan tanah setempat. Jika tak memiliki lahan luas, menanam caabai bisa dilakukan di pekarangan rumah. Kegiatan ini bisa dilakukan taak hanya sebagai penyaluran hobi, tetapi akan sangat membantu kebutuhan dapur. Bagaimana caranya? Gusti Lara, seorang petani menuturkan, sediakan polybag sesuaikan dengan luas pekarangan yang ada. Masukkan tanah

kompos yang telah disemprot pupuk Agrodyke ke dalam polybag. Bibit cabai dari varietas yang diinginkan dapat dibeli di toko-toko pertanian. Tebarkan benih pada lahan persemaian yang telah disiapkan sebelumnya. Selanjutnya, pada saat mulai berkecambah semprot dengan 2 sendok agrodyke + 15 liter air (disesuaikan) guna memacu pertumbuhan, dan akar tidak terputus pada saat pemindaha.“ Untuk hobi ataupun untuk kebutuhan rumah tangga, sebaiknya tidak menggunakan pupuk kimia lagi. Cukup dengan pupuk organik Agrodyke saja. Setelah tumbuh bunga (bakal buah), semprotkan 2 sendok Agrodyke per 15 liter air. Begitu pula perlakuan selama masa pemeliharaan. Selain tanaman cabai, hal yang sama juga dapat dilakukan untuk tanaman tomat, kacang panjang, buncis, dan tanaman horti lainnya. Selamat bertani dan memanfaatkan pekarangan rumah Anda untuk penyaluran hobi, sekaligus menghemat pengeluaran uang dapur!!!

Edisi 05/Mei 2011


etabliid edisi6