Issuu on Google+

Tantowi Yahya berbicara tentang urgensi introspeksi dalam pemaknaan Ulang Tahun Jakarta yang makin penuh hura-hura. Sekaligus penyelamatan kebudayaan Betawi yang semakin terpinggirkan. 12

Koran Untuk Umum 16 Halaman Terbit Setiap Akhir Bulan Di Jakarta EDISI III - JUNI 2011 www.cintajakarta.com

fo ll o w

c ntajakarta

a @cinta_jakart

KUE PAHIT ILUSTRASI: NURIZA RATNO SAPUTRA /CINTAJAKARTA

ULANG TAHUN

JAKARTA Ibarat memakan kue pahit, pesta Ulang Tahun Jakarta yang ke-484 tidak sepenuhnya bisa dinikmati. Jangankan berpesta belanja di Pekan Raya Jakarta, tempat pemusatan perayaan Ulang Tahun dilakukan, sebagian warga Jakarta bahkan belum bisa menganggap kota ini manusiawi untuk ditinggali. Berbagai masalah besar dan mendasar, seperti transportasi, pemukiman, dan banjir masih menjadi pekerjaan besar. Yang paling ditakutkan, Jakarta menjadi kota yang gagal.

B

ermula dari sebuah Bandar perniagaan kecil bernama Kalapa di muara sungai Ciliwung, Jakarta memang telah menjadi tempat percampuran kebudayaan. Masyarakat dari seluruh Nusantara datang ke kota ini untuk mencoba peruntungan dan berlomba-lomba mencari kehidupan yang lebih baik. Tingkat urbanisasi yang tinggi ini kemudian menjadikan persaingan hidup juga semakin memuncak. Tak heran, sederetan semboyan buruk, seperti “Siapa suruh datang Jakarta, atau Jakarta lebih kejam dari Ibu tiri, dan ibukota itu keras” biasa ter-

dengar dan lazim diucapkan. Namun bagi Firman Lubis, sejarawan Jakarta, urbanisasi tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak bisa hidup layak di kota ini. “Jangan lupa, fungsi utama kota adalah tempat tinggal. Tempat tinggal itu adalah rumah, dan rumah itu harus nyaman.” jelasnya. Lebih jauh menurutnya, kondisi ini lebih disebabkan karena kegagalan Jakarta bertransformasi menjadi kota yang modern, dan bisa melindungi warganya. “Berar-

4

Seribu PR Di Hari Ulang Tahun Di usianya yang ke 484, masalah mendasar seperti transportasi, bencana banjir, dan kualitas pemukiman masih menjadi momok bagi Jakarta sebagai kota hunian dan Ibukota Negara.

...pembangunan yang dilakukan selama ini belum menyentuh kebutuhan warganya. ti pembangunan yang dilakukan selama ini belum menyentuh kebutuhan warga. Mungkin menyentuh

5

kepentingan perkantoran dan gedung tinggi, tapi belum ke rumah-rumah di mana warga tinggal” tukasnya. Akibatnya memang, sederetan masalah masih menjadi momok yang menakutkan. Masalah transportasi adalah salah satunya. Orang yang memiliki harta berlimpah pun belum tentu bisa melepaskan diri dari kemacetan. Belum lagi masalah banjir. Masih segar dalam ingatan kita, empat tahun

8

Jakarta Fair, Bukan Lagi Pesta Rakyat

Historiografi 484 Tahun Jakarta

Jakarta Fair seharusnya adalah pesta rakyat. Tapi itu adalah masa lalu. Jakarta Fair kini murni perayaan budaya belanja.

Hampir setengah abad usia Jakarta, banyak batu sejarah yang telah terlewati.

yang lalu 70% wilayah Jakarta tergenang air, dan sekitar 130.000 jiwa harus mengungsi. Umur tentu tidak bisa dijadikan parameter kedewasaan sebuah kota. Tapi umur Jakarta yang sudah hampir setengah abad perlu kita kaji kembali sejauh mana kota ini memberikan manfaat bagi warga kota, bukan hanya sebagian di antaranya. Tanpa manfaat tersebut, seberapa besar pun gegap gempita pesta ulang tahun, kuenya diyakini akan tetap terasa pahit. □ hmp-11

11

“22 Juni Itu Hari Duka, Bukan Hari Raya” - Ridwan Saidi


2

kilasjakarta

Edisi III - Juni 2011

Presiden Buka Jakarta Fair 2011

Mulai 2 Juli 2011, KRL Mangkrak Tiap Stasiun

P

PEKAN RAYA JAKARTA. Warga jakarta memadati Arena Jakarta Fair 2011 di kawasan Kemayoran Jakarta.

yang ke-484, dapat menyemarakkan Kota Jakarta dan menjadikan rakyat Jakarta sejahtera. Dalam kesempatan itu, SBY juga menghimbau masyarakat untuk berbelanja selama acara Jakarta Fair berlangsung. Dalam acara tersebut tampak hadir pula Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, Menteri Perekonomian Hatta Rajasa dan para duta besar negara tetangga. Seperti diketahui, dalam rangka memperingati HUT Kota Jakarta ke-484, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama dengan PT. Jakarta International Expo (JIExpo) kembali menyelenggarakan Jakarta Fair di Kemayoran. Tahun ini merupakan penyelenggaraan untuk ke-44 kalinya sejak pertama kali diselenggarakan Gubernur Ali Sadikin pada 1967. Jakarta Fair 2011 diikuti oleh 2.600 perusahaan dengan 1.300 stand dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan sektor usaha binaan dari seluruh Indonesia. Target kunjungan yang ditargetkan panitia adalah 4 juta lebih dalam 32 hari penyelenggaraan, dengan target nilai transaksi sekitar Rp. 3,5 triliun. â–Ą thp/hmp-22

Obral Diskon di Jakarta Great Sale

www.cintajakarta.com/koran

C NTA

JAKARTA

"Tahun lalu saja omzetnya sudah mencapai Rp. 7,2 triliun, jadi cukup besar. Mudahmudahan tahun ini target peningkatan sekitar 15-20 persen bisa dicapai," ujarnya. Sementara itu, Ketua Panitia Festival Jakarta Great Sale 2011 (FJGS 2011) sekaligus Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta, Handaka Santosa menjelaskan, ini adalah salah satu upaya APPBI untuk turut memeriahkan HUT DKI Jakarta sekaligus meningkatkan pergerakan perekonomian. Lebih lanjut Handaka menjelaskan, selama festival berlangsung, 68 mall peserta APPBI akan menggelar pesta diskon belanja. Potongan besar-besaran akan diberikan

CINTAJAKARTA/ TITAH PRABOWO

ISTIMEWA

JAKARTA kembali menggelar Festival Jakarta Great Sale 2011. Festival ini diselenggarakan oleh Asosiasi Pengelola Belanja Indonesia (AAPBI) DPD DKI Jakarta. Festival yang akan berlangsung dari tanggal 17 Juni hingga 17 Juli 2011 ini dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo di pusat perbelanjaan Gandaria City, Jumat lalu. Pesta diskon belanja ini diikuti oleh 68 mall yang tersebar di seluruh Jakarta. "Dalam Jakarta Great Sale ini, hampir semua pusat perbelanjaan ikut," kata Fauzi Bowo saat memberikan sambutan, Jumat 17 Juni 2011. Ia menargetkan untuk tahun ini omzet Jakarta Great Sale meningkat sekitar 15-20 persen dari tahun lalu sebesar Rp. 7,2 triliun.

Replika Digital Koran Cinta Jakarta, kini dapat anda baca di

dengan beragam fitur menarik untuk memudahkan pembaca: - membaca berita di komputer - mencari berita dengan kata kunci - sharing berita ke teman - membaca edisi sebelumnya

CINTAJAKARTA/ TITAH PRABOWO

Tarif Naik 90 Persen PT. KERETA Api Indonesia (KAI) Commuter Jabodetabek akan merubah pola operasi KRL mulai 2 Juli 2011 mendatang. Rencananya, setiap KRL akan berhenti di tiap stasiun dan tidak ada penyusulan antar KRL. Selain itu Kereta Ekspres akan dihapus dan diganti dengan Kereta Commuter Jabodetabek nonsubsidi. Dengan kebijakan baru ini, harga tiket kereta naik hampir 90 persen. Tarif Kereta Ekonomi AC Depok-Bogor yang semula Rp. 5.500 dan Kereta Ekonomi AC Serpong-Bekasi-Tangerang, yang semula Rp. 4.500 naik menjadi Rp. 8.000. Sedangkan untuk tiket kereta ekonomi tidak berubah antara Rp. 1.000 sampai Rp. 2.000, kecuali ada penyesuaian tarif. Menurut Corporate Secretary PT. KAI Commuter Jabodetabek, Makmur Syaheran, perubahan ini dilatarbelakangi oleh target yang diberikan pemerintah kepada operator untuk dapat mengangkut 1,2 juta orang per hari pada akhir 2014 dari yang sekarang sekitar 400.000 orang per hari. "Sekarang ini masih sekitar 400.000 orang yang bisa diangkut. Untuk mencapai target 1,2 juta orang tentu dilakukan penambahan unit," tuturnya. Menurutnya, untuk mengangkut 1,2 juta penumpang dibutuhkan sekitar 1.440 unit kereta. Adapun saat ini jumlah unit kereta masih sebanyak 386 unit. Menurut Makmur, rencananya tiap tahun akan dilakukan penambahan unit kereta sebanyak 150 unit hingga 2019. "Ada delapan unit kereta yang merupakan sumbangan dari pemerintah. Tahun ini, ada tambahan juga sebanyak 130 unit dan tahun 2010 sebanyak 110 unit," tambahnya. Nantinya, hanya akan ada dua jenis KRL, yakni KRL Ekonomi yang merupakan penugasan dari pemerintah dan KRL Commuter Line yang bukan merupakan penugasan dari pemerintah. Pengelolaan KRL Ekonomi dilakukan oleh PT. KAI Persero, sedangkan pengelolaan KRL Commuter Line dilaksanakan oleh PT. KAI Commuter Jabodetabek. â–Ą thp-21

RESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono secara resmi membuka Jakarta Fair 2011 pada Kamis, 9 Juni 2011 lalu. Peresmian ini ditandai dengan menekan tombol sirine yang diikuti peluncuran pesta kembang api. Helatan yang berlangsung setiap tahun ini akan berlangsung selama sebulan, dari tanggal 9 Juni sampai 10 Juli 2011 di arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran. Dalam sambutannya, SBY mengatakan acara Jakarta Fair setiap tahun memperlihatkan progres yang sangat baik. "Saya punya catatan, pada Jakarta Fair 2005 jumlah pengunjung mencapai 1,5 juta, pada 2010 meningkat menjadi 3,5 juta, sedangkan omzet penjualan dalam kurun waktu lima tahun juga memiliki kenaikan signifikan. Pada 2005 sebanyak Rp. 477 miliar, dan pada 2010 meningkat menjadi Rp. 3,1 triliun," ujar Presiden SBY dalam sambutannya di panggung utama Jakarta Fair 2011 di arena PRJ, Kemayoran, Jakarta, Kamis, 9 Juni 2011. SBY berharap dilangsungkannya kembali PRJ yang ke-44 dalam rangka HUT Kota Jakarta

untuk berbagai produk dan merk ternama. Tidak hanya diskon, tersedia pula program

belanja spesial seperti buy 1 get 1 free, extra discount, hingga midnight sale. â–Ą thp-23


JUNI 2011 CINTA JAKARTA diterbitkan oleh Gerakan Cinta Jakarta Graha Pejaten No. 8 Jalan Raya Pejaten Tel: 021-7974718, 021-70704018 Fax: 021-7974718 Email: redaksi@cintajakarta.com Online: www.cintajakarta.com

PENANGGUNG JAWAB Hasan Nasbi A.

REDAKTUR PELAKSANA Eko Dafid Afianto

PEMIMPIN UMUM Eko Prasetyo Galan T.

REDAKTUR Fadhli Muhammad Riad, Amir Maulana Batupahat, D. Santoso

PEMIMPIN REDAKSI Hafizhul Mizan Piliang

3

REPORTER Dasman Ashar Afandi., Anindya Ayu Sulistyani, Felicia Idama, Yan Yan Heriana, Joni, Irawan DESAIN DAN PERWAJAHAN D. Santoso

REDAKTUR FOTO Titah Hari Prabowo

SIRKULASI DAN DISTRIBUSI Felicia Idama

EDITORIAL Pesta Pasti Berakhir C NTA JAKARTA

Says

CINTAJAKARTA/ TITAH PRABOWO

KEBAKARAN. Petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api di Jalan Siaga Pejaten, Pasar Minggu. (15/6). Dalam periode 1 Januari hingga 31 Mei 2011 telah terjadi 304 kali kasus kebakaran di lima wilayah DKI Jakarta.

SUARA JAKARTA SELAMATKAN PRASARANA UMUM SEKITAR tiga tahun yang lalu saya mulai tinggal di daerah Setiabudi, yang ja-raknya tidak jauh dengan kantor saya. Tidak lama sesudah itu, didekat tempat kos saya dimulai pembangunan apartemen mewah, tepatnya dibelakang Chase. Saya mengetahui ini karena setiap hari saya harus melintas di depan proyek tersebut, sebab itu satusatunya jalan untuk mencapai kantor saya. Sayangnya, pembangunan tersebut tidak memperhatikan jalanan di depannya. Sebab sejak saat itu, jalan umum didepannya rusak parah.

SUDUT “Janganlah uang disimpan di bawah bantal, investasikanlah, spending. Belanja pada tingkat yang dibutuhkan” Soesilo Bambang Yudhoyono pada pembukaan Pekan Raya Jakarta, 9 Juni 2011. Bagi kami, belanja yang dibutuhkan itu beras, minyak goreng, dan gas Pak. Dan itu juga mahal. Gak ada kami menyimpan uang di bawah bantal (Anisa, Ibu Rumah Tangga di Pasar Minggu).

Perbaikan jalan hanya ditutupi batu-batu kerikil tanpa aspal. Kondisinya pun bolong-bolong. Menyedihkan sekali terutama ketika musim hujan. Sampai saat ini masih belum ada perubahan yang terjadi pada jalan tersebut. Padahal setiabudi

merupakan salah satu lokasi yang berada tepat di jantung ibukota. Sangat disayangkan bahwa pembangunan gedung mewah di ibukota Jakarta ini tidak mengindahkan dan menjaga prasarana umum yang menjadi

balancekeepers Jadi kalo mmg org betawi, harusnya mmperingati hari ultah jkt dgn air mata n kenangan. Bukan dgn pesta pora. @ parraziy. @cinta_jakarta dirasmaulana Bismilah semoga foto yg gue kirim ke @ cinta_jakarta bisa masuk nominasi . amin robytama Nyalain laptop cuman buka email mau download undangan dr @cinta_jakarta ƪ(ˇ▼ˇ)¬ el_yasin meski bukan resident tp tetep @cinta_ jakarta. Semoga suatu saat nanti bisa lebih bersih,lingkungan dan hati manusianya. #doapenuhharap ndrafirmansyah RT @cinta_jakarta: tanjidor juga udah jarang tampil di PRJ. kata tukang kerak telor td, "PRJ sekarang? ya bisnis.." ... http://tmi. me/bmikN NyaiKalinyamat Kalo trjebak macet, sya sgt menikmatinya, krn mobil yg sya tumpangi salah satu penyebab macet :D @cinta_jakarta Ngeluh mah manusiawi nyai :)

hak dari masyarakat sekitar. Padahal prasarana umum adalah salah satu bentuk kesejahteraan yang diberikan pemerintah bagi rakyatnya. Stefanie Kurniawati Setiabudi, Jakarta

Pajar Wiyono DIMANA BUMI DIPINJAK DISITU LANGIT DIJUNJUNG, WALAUPUN BARU TIGA TAHUN DIJAKARTA, AKU HARUS MENCINTAIMU JAKARTA...IJINKAN AKU MENCINTAIMU.. June 11 at 4:52pm

Budi Darmaone stop pembangunan mal,mending bt lahan hijau n tman2,so d jkrta dah pns bgt June 8 at 11:58am

Azam Alvino biar ga macet pake sepeda , sehat , ngurangin polusi , pak gubernur bkin jln kusus buat sepeda kuragi mobil ama spd mtor June 3 at 11:22am

Prabu Yulianto Jakarta kan lebih Indah,Bila Tak Ada Kemacetan...Tapi Itulah Jakarta,Jangan Lupa Bahasa Dan Seni Serta Budaya Ya..Harus Kudu D Kembangkan...I love Jakarta...

Kirimkan komentar, kritik, saran, foto, atau artikel ke:

Koran cintajakarta bisa dibaca juga di:

Anda juga bisa menjadi bagian dari komunitas: Gerakan Cinta Jakarta di facebook

@cinta_jakarta

redaksi@cintajakarta.com

http://cintajakarta.com/koran Follow twitter kami:

B

ULAN Juni adalah bulan paling semarak dan meriah di Jakarta. Sebab, 22 Juni adalah hari ulang tahun Ibu Kota Negara RI ini. Seperti kebiasaan yang sudah berlangsung selama puluhan tahun, ulang tahun Jakarta dirayakan selama satu bulan dengan berbagai acara dan pesta penuh suka cita. Bandar niaga yang dulu bernama Kalapa ini ditengarai telah berumur 484 tahun. Hari lahir Jakarta merujuk kepada waktu penaklukkan Kalapa oleh pasukan Kesultanan Cirebon pada tahun 1527. Kemenangan Fatahillah tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari lahirnya Kota Jayakarta, atau sekarang disebut dengan Jakarta. Memang ada perselisihan prinsipil soal hari jadi Kota Jakarta. Sebab, sebagian sejarawan justru menuding 22 Juni 1527 adalah hari pembantaian nenek moyang bangsa Betawi (waktu itu belum ada entitas etnis bernama Betawi) oleh pasukan Kesultanan Cirebon. Oleh sebab itu, merayakan hari jadi Jakarta pada tanggal ini dianggap tidak relevan. Perdebatan itu masih berlangsung, dan suatu saat harus sampai pada kesimpulan. Namun untuk sementara, kita semua, setuju atau tidak setuju, disuguhkan kepada perayaan Hari Ulang Tahun Kota Jakarta versi 22 Juni. Ulang tahun, di banyak tempat biasanya memang dirayakan dengan meriah. Tak terkecuali di Jakarta. Salah satu even yang selalu menjadi kebanggaan dalam merayakan ulang tahun Jakarta adalah Pekan Raya Jakarta. Pekan Raya Jakarta sudah berlangsung selama 44 tahun dan juga sudah berganti tempat, dari pasar malam di daerah Gambir ke kawasan Kemayoran. Namun ada satu hal yang semakin lama semakin hilang dari perayaan Pekan Raya Jakarta, yaitu makin hilangnya identitas asli Jakarta, yang diwakili oleh kebudayaan Betawi. Bahkan dalam Jakarta Fair tahun ini, kita lebih mudah menemukan badut ala Eropa daripada ondel-ondel. Atau juga kuliner khas Jakarta yang hanya menyisakan satu jenis makanan, kerak telor. Itu pun hanya di emperan atau diasong di jalanan. Apakah ini efek dari kemajuan zaman? Beradaptasi dengan kemajuan tentu penting. Namun, kehilangan ruh dan identitas asli Jakarta juga patut disayangkan. Sebab salah satu hal penting yang perlu direnungkan dalam setiap perayaan ulang tahun adalah sejarah perjalanan hidup, termasuk sejarah perjalanan hidup Jakarta. Ini bukan sekedar romantisme. Tapi lebih pada memelihara semangat kota agar tidak kehilangan identitas. Dari perenungan perjalanan hidup itu pulalah kita belajar tentang kisah kegagalan dan kesuksesan, tentang kehancuran dan kebangkitan yang pernah dilalui oleh Jakarta. Dari situ pula diharapkan hikmah dan kebijaksanaan dapat dipetik untuk melanjutkan hidup sebuah kota. Sebagai warga kota, wajar jika kita larut dalam perayaan yang hingar-bingar dan penuh suka cita. Namun kali ini harus kita tetapkan pendirian bahwa HUT Kota Jakarta lebih dari sekedar pesta. Sebab pesta pasti akan berakhir, dan kita kembali ke kehidupan nyata, Jakarta yang macet, sumpek, semrawut, penuh sampah dan berbagai persoalan lainnya. Jadi pesta ulang tahun Jakarta tidak boleh hanya sampai pada target tercapainya 4 juta pengunjung di Pekan Raya Jakarta dan transaksi senilai Rp. 3.5 triliun rupiah. Terlalu dangkal jika hanya sampai pada target jangka pendek semacam itu. Justru ini harus dilanjutkan dengan perenungan, apakah kita sebagai warga kota bisa menerima kondisi kehidupan yang semakin hari semakin turun kualitasnya? Ya, di hari jadi Jakarta yang ke-484 tahun ini kita harus meneguhkan ikrar di dalam hati masing-masing bahwa Jakarta harus bangkit dari keterpurukan. Ini bukan hanya pekerjaan pemerintah, tetapi dibutuhkan juga partisipasi warga kota. Kecintaan warga kota harus segera ditumbuhkan agar kota ini tidak dirusak oleh perbuatan-perbuatan yang tidak bertanggungjawab. Dengan Cinta kita merawat dan membangun kota ini, dan ulang tahun Jakarta kita jadikan sebagai momentum untuk Cinta Jakarta. □


4

4 84

Pemain ketoprak sebaiknya jangan coba-coba jadi calon gubernur di sini. Daripada nanti digebuki habis. – Sutiyoso

Edisi III - Juni 2011

tahun

Di Hari Ulang Tahun

MENULIS JAKARTA. Seorang anak menulis isi hatinya tentangJakarta di acara Ubeg Jakarta yang diadakan di Bundaran Hotel Indonesia hari Minggu lalu (19/6).

Di usianya yang ke-484, Jakarta masih sibuk dengan masalah-masalah mendasar sebagai kota hunian dan Ibukota Negara. Tiga masalah mendasar yang mempengaruhi kualitas hidup, yakni transportasi, bencana banjir, dan kualitas pemukiman. Ketiganya masih menjadi momok bagi Jakarta. Tak pelak, kata “berbenah dan menata” laku menjadi dagangan politik, karena ternyata pembenahan yang selama ini dilakukan belum mampu meningkatkan kualitas hidup warga.

M

pada bulan Februari empat tahun yang lalu. Ketika itu, 70% wilayah Jakarta terendam air, menewaskan 53 orang, dan menyebabkan lebih dari 150.000 penduduk mengungsi, dengan taksiran kerugian mencapai Rp. 8,8 trilyun. Banjir bukan hal baru di Jakarta. Ibarat siklus, musibah banjir seperti ini juga terjadi pada tahun 1996 dan 2002. Bahkan berdasarkan catatan Belanda, banjir sudah ada di Jakarta sejak abad 17. Di zaman VOC, banjir besar pernah melanda Batavia pada tahun 1621. Namun perlahan, siklus ini seolah bertambah cepat. Dua dasawarsa terakhir ini, ada tiga kali kejadian banjir, pada tahun 1996, 2002, dan tentunya 2007. Jakarta Kita, Kian Tertata, Kian Dicinta? Akibat masih rumitnya masalahmasalah tersebut, semboyan yang diangkat oleh PEMDA DKI Jakarta, yaitu “Jakarta Kita, Kian Tertata, Kian Dicinta dianggap sebagai pesan yang masih dalam tahap semangat. Masih jauh dari realita. Menurut Tantowi Yahya, semboyan ulang tahun Jakarta ini lebih bisa dilihat sebagai ajakan. Tantowi menjelaskan,

untuk bisa melihat Jakarta semakin tertata, ada banyak hal yang harus diukur “Apakah sudah memenuhi kebutuhan warga Jakarta?” tanyanya. “Dan makin dicinta, bisa diukur dari partisipasi aktif warga. Nyatanya ketidakdisiplinan ada di manamana. Ini dulu yang harus ditingkatkan.” sambungnya. Senada dengan Tantowi, Firman Lubis, ahli sejarah Jakarta, menilai belum tertatanya Jakarta dikarenakan pembangunan yang dilakukan belum menyentuh kebutuhan warga Jakarta. "Kita harus ingat, jati diri sebuah kota adalah sebagai tempat tinggal. Jadi tidak cukup hanya membangun gedung-gedung tinggi. Kesejahteraan rakyat, seperti kemanan, lingkungan, dan ruang publik harus diutamakan.” jelasnya. Lebih jauh Firman, yang juga penulis buku “Jakarta 1950-an” ini menilai kondisi Jakarta sekarang seperti terusan keadaan Jakarta tahun 1960-an awal, sebelum dibenahi Gubernur Ali Sadikin. “Macet, masyarakat tidak disiplin, banyak tawuran antar warga, premanisme dan tindakan beking-bekingan oleh aparat masih ada.” terangnya.

Momen Introspeksi Menurut Tantowi Yahya, dengan begitu banyaknya masalah di Jakarta saat ini, ulang tahun harus dimaknai sebagai momen introspeksi, baik dari sisi pemerintah maupun dari sisi warga. “Jadi tidak hanya

pesta belanja saja” ujarnya. Momen ulang tahun, menurut Tantowi, dapat dijadikan momen untuk menilai sejauh apa kinerja pemerintah selama satu tahun terakhir. “Apakah janji-janji politik yang sudah disampaikan Kepala Daerah dalam berbagai kesempatan sudah terealisisasi atau tidak. Jika tidak, alasannya apa?” Namun yang tak kalah penting adalah introspeksi dari sisi warga Jakarta. Tantowi menilai, pemba-

ngunan tidak akan sukses jika tidak didukung masyarakat, meski pemerintahan sudah bagus. “Kita, warga yang cinta Jakarta tidak bisa berlehaleha dengan kondisi ini. Masingmasing kita harus melihat kembali, sejauh apa kontribusi kita terhadap Kota Jakarta, rumah kita ini. Mari melihat ke belakang, hari ini, dan untuk masa depan yang lebih baik” tutupnya. □ hmp-41

CINTAJAKARTA/ TITAH PRABOWO

asalah transportasi, terutama macet adalah salah satu yang utama. Hidup di Jakarta memang belum pernah bisa lepas dari macet. Menurut inisiator Gerakan Cinta Jakarta, Tantowi Yahya, nilai kerugian yang diidap akibat macet tidak tanggung-tanggung, mencapai Rp. 40 trilyun per tahun. “Jumlah ini hampir setara dengan pembiayaan Jakarta selama dua tahun” ujarnya. Pernyataan Tantowi juga didukung Hasil Survei Media Survei Nasional (Median) belum lama ini. Median menunjukkan bahwa masalah kemacetan berada di prioritas utama (top-mind) masalah yang melilit warga Jakarta, di atas banjir. Dikhawatirkan, pertambahan kendaraan setiap harinya yang mencapai lebih dari seribu unit akan segera melumpuhkan Jakarta. Sementara itu pertambahan luas jalan tidak sampai 1% pertahun. Prediksi yang paling moderat menyatakan Jakarta akan mengalami macet total (Gridlock) dua tahun lagi, bahkan lebih cepat. Masalah mendasar lain adalah banjir. Tentu belum terlupakan, banjir besar yang melanda Jakarta

Firman juga menyayangkan ketidaktegasan penegakan hukum yang dilakukan pemerintah sekarang. “Masa Gubernur takut sama masyarakat yang bawa golok sambil protes ke Gubernur. Gubernur itu punya alat penegak hukum, tidak boleh takut sama kelompok seperti itu.” tegasnya.

CINTAJAKARTA/ TITAH PRABOWO

Seribu PR


Edisi III - Juni 2011

JAKARTA Jakarta Fair,

Bukan Lagi Pesta Rakyat

air, bahkan di Asia Tenggara, dengan target penjualan yang tinggi. Pemerintah pun tidak malumalu untuk mengakui mengeruk keuntungan adalah alasan utama diadakannya PRJ. Dalam sambutan pembukaan PRJ, Presiden SBY secara terbuka menghimbau masyarakat untuk berbelanja di Jakarta Fair. Target PRJ tahun ini sendiri tak tanggung-tanggung, yaitu mencapai target 4 juta pengunjung dalam 32 hari penyelenggaraan dengan nilai transaksi sekitar Rp. 3,5 triliun. Artinya, satu orang pengunjung harus merogoh kantong minimal sebesar Rp. 875.000. Jelas ini hanya pesta belanja untuk kelas ekonomi tertentu.

Akibatnya, pesta ini memang menjadi pesta yang cukup mahal. Sebagai contoh, parkiran resmi motor di PRJ mencapai angka Rp. 8.000, jauh melewati harga parkir normal motor yang biasanya Rp. 2.000. Belum lagi tiket masuk seharga Rp. 20 ribu sampai Rp 25 ribu. Cinta Jakarta menghitung, untuk menghabiskan brosur diskon makanan dan minuman yang ada pada tiket masuk saja, setiap pengunjung harus menghabiskan uang tidak kurang dari Rp. 125.000. Tidak hanya mahal bagi pengunjung, PRJ ternyata juga mahal bagi pedagang kelas bawah. Contohnya pedagang kerak telor, sebagai satu dari sedikit kuliner Betawi yang tersisa di PRJ. Hasan (49), pedagang kerak telor mengaku harus mengeluarkan uang sebanyak Rp. 6,9 juta selama sepuluh hari, untuk berjualan dengan gerobak kecilnya di arena PRJ. “itu pun harus rebutan” tuturnya. Sedangkan Sarwani (40), pedagang kerak telor di luar arena mengaku mengeluarkan uang sebanyak Rp. 350 ribu, tapi itu untuk biaya mangkal di luar arena, selama PRJ berlangsung.

ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDON

Bukan Lagi Pesta Rakyat Menilik kondisi ini, Ridwan Saidi, Budayawan Betawi menilai PRJ sudah kehilangan jati dirinya sebagai sebuah kebudayaan dan tradisi. PRJ sekarang menurutnya hanya mengedepankan konsumerisme tanpa mengindahkan budaya percampuran masyarakat dari ber-

bagai kelas dan golongan yang menjadi ciri pesta rakyat. “Di Jakarta Fair, masyarakat seharusnya bisa datang dan menikmati suasana tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam, gak ada lagi tuh pesta rakyat.“ tuturnya. Lebih lanjut, mantan Anggota DPR-RI 1978-1988 ini menggarisbawahi kurangnya esensi kebudayaan Jakarta yang dibawa oleh Jakarta Fair tahun-tahun belakangan ini. “Dulu ketika masih di Pasar Gambir, banyak sekali pertunjukan kesenian Betawi, mulai dari keroncong sampai silat betawi. Sekarang apa? Yang tersisa cuma kerak telor,” tukasnya. Senada dengan Ridwan Saidi, penulis buku Jakarta Tahun 1950an, Firman Lubis menceritakan bahwa kondisi komersil ini terjadi sejak Jakarta Fair dipindahkan ke Kemayoran, yang berefek pada rendahnya partisipasi masyarakat. “Karena secara historis, ini bukan lapangan rakyat, bukan tempat berkumpulnya masyarakat.” jelasnya. Dibandingkan PRJ tempo dulu, Jakarta Fair saat ini lebih terkesan hanya memindahkan mallmall ke dalam sebuah pasar malam. “Sekarang hanya jadi ajang komersial.” ungkapnya. Dulunya, kata Firman, semasa masih di Pasar Malam Gambir, Jakarta Fair memang benar-benar untuk masyarakat. “Memang ada pameran-pameran hasil industri. Tapi kesenian dan kuliner Betawi tetap

banyak. Bahkan ada juga pertunjukan oleh Waria. Ini menunjukkan pluralitas Jakarta.” kenangnya. Meski secara resmi pertama kali dihelat pada saat kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin pada tahun 1967, namun Jakarta Fair sendiri sebenarnya bukan hal yang baru. Jakarta Fair sebenarnya adalah kelanjutan Pasar Malam Tahunan yang sudah diadakan di Lapangan Gambir untuk memperingati hari lahir Ratu Belan-

CINTAJAKARTA/ TITAH PRABO WO

“Kalau tidak bekerja disini, saya tidak akan kesini.” tutur Udin, seorang petugas satuan pengamanan (Satpam) Pekan Raya Jakarta (PRJ) kepada Cinta Jakarta saat pembukaan PRJ 2011, 9 Juni lalu. Ia merasa, tidak ada yang dapat ia beli di Jakarta Fair. “Mungkin memang bukan untuk orang seperti kami, Mas. Tidak ada yang saya sanggup beli di sini, cuma dapat ngilernya doang.” sambungnya. Komentar Udin sebenarnya dapat dimaklumi. Barang-barang yang dipamerkan dan dijual di Jakarta Fair sebagian besar memang bukan barang kebutuhan masyarakat sekelas Udin. PRJ hari ini merupakan pameran multiproduk terbesar di tanah

© DYAH ESTI SIHANANI

Jakarta Fair (JF), atau Pekan Raya Jakarta (PRJ) awalnya adalah sebuah pasar malam rakyat dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Jakarta. Pada saat awal diadakan di Pasar Gambir, PRJ adalah tempat nongkrong muda-mudi, pusat jajanan rakyat, dan pusat budaya Jakarta. Waktu berjalan, Jakarta Fair yang sekarang ditempatkan di Kemayoran seolah melupakan sejarahnya. Tidak ada lagi budaya dan kesenian. Barang-barang yang dijual adalah barang lux yang juga mudah ditemukan di pusatpusat perbelanjaan. Tidak ada lagi pesta rakyat. Ini murni perayaan budaya belanja.

5

da pada zaman kolonial. “Sampai sekarang, Pasar Malam dengan budaya Jakarta itu masih diteruskan di Den Haag. Bahkan yang di Den Haag justru lebih mendekati Jakarta Fair sebagai pesta rakyat, daripada yang di Kemayoran.” jelas Firman. Lebih jauh, menurutnya Jakarta Fair harus memberikan kontribusi pada pengembangan budaya Indonesia, khususnya Betawi. “Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat harus punya perhatian mempertahankan aspek budaya selain mengejar dampak ekonominya” tutupnya. □ hmp/thp-51

ESIA

CINTAJAKARTA/ TITAH PRABOWO


6

Begitu banyak proyek yang saya bangun di Kota Jakarta ini untuk mewujudkan Jakarta sebagai kebanggaan bangsa. Yang belum terwujud yaitu mewujudkan megapolitan – Ali Sadikin

4 84

Edisi III - Juni 2011

tahun

Dalam umurnya yang mencapai 484 tahun, Jakarta telah mengalami banyak peristiwa penting. Sejarah mencatat, dua kali Jakarta terancam menjadi kota yang gagal, tidak layak menjadi tempat tinggal. Untungnya, Jakarta memiliki legenda-legenda sejarah yang menjadi penyelamat Jakarta. Dan dengan kondisi Jakarta yang dinilai semrawut sekarang, bukan tidak mungkin kita sedang menuju kegagalan ketiga.

S

DHEMAS REVIANTO ATMODJO

ejak awal, Jakarta memang ditakdirkan sebagai salah satu pusat peradaban penting di Nusantara. Jauh sebelum penaklukan VOC, karena posisinya yang strategis, Jakarta sudah menjadi pusat perniagaan kerajaan-kerajaan sekitar abad ke 15. Dibelah 13 sungai, Jakarta menjadi tempat sempurna perdagangan yang dulu didominasi oleh transportasi air. Namun peradaban Jakarta sebagai kota, baru dimulai semenjak VOC menaklukkan Jayakarta waktu itu, dan mengganti nama kota tersebut menjadi Batavia. Firman Lubis, ahli sejarah Jakarta, mengungkapkan bahwa Jan Pieterzoen Coen, Gubernur Jenderal pertama VOC, sebagai tokoh yang berperan dalam transformasi tersebut. “Di sepanjang muara Ciliwung, atau sekarang kita kenal Kali Besar, dibangun pusat kegiatan bisnis, lengkap dengan pemukiman dan dinding tembok pertahanan” ceritanya. Di saat pembangunan tersebut dilakukan, secara tidak sadar Jakarta ternyata juga sedang menuju kegagalannya. Hal ini dikarenakan JP Coen memang tidak punya visi untuk mengembangkan sebuah kota besar dan hunian yang nyaman. Satu-satunya kepentingan membangun Jakarta ketika itu adalah sebagai pusat stasiun transit, yang melayani kepentingan transportasi dagang VOC. Kondisi ini akhirnya terus memburuk, puncaknya terjadi sejalan dengan kemunduran serikat dagang VOC. Kota Batavia yang waktu itu masih sebatas daerah kota tua sekarang, mengalami penurunan kualitas hidup yang sangat luar biasa. Kematian ada di manamana karena standar kesehatan penduduk sama sekali tak terjaga, terutama di bidang kebersihan, air minum, sanitasi, dan juga kegagalan kanal pencegah banjir. Menurut Ridwan Saidi, sejarawan Jakarta, hal ini juga diperburuk oleh peperangan-peperangan yang terjadi saat itu, baik itu kerusuhan akibat perang Sultan Agung dan kerusuhan dengan etnis China. “Mayat-mayat itu dibuang saja ke rawa dan sungai, itulah yang menyebabkan banyak penyakit dari

BELAJAR DARI SEJARAH:

Jakarta Dua Kali Jadi Kota Gagal rawa-rawa itu.” tegasnya. Kondisi semrawut yang dicatat sejarah sebagai kegagalan pertama Jakarta menjadi kota ini akhirnya diperbaiki secara sistematis dan terencana ketika Gubernur Jenderal Daendels memerintah. Tanpa hirau banyak waktu itu, Gubernur Jenderal yang juga terkenal dengan pembangunan jalan dari Anyer ke Panarukan ini menata Jakarta sesuai dengan visinya. Kota Tua sekarang yang sebelumnya menjadi pusat aktivitas VOC dirubuhkan semua, karena dianggap tidak sehat dan kumuh. Tempat tersebut hanya diperuntukkan sebagai bisnis dan perdagangan. Sementara pemukiman dipindahkan 15 km kearah selatan, wilayah Medan Merdeka dan sekitarnya (Weltervreden). Dengan adanya dua pusat kota ini, Jakarta menjadi kota yang jauh lebih tertata dan nyaman. Kegagalan Kedua Sejarah kegagan ternyata berulang. Jakarta terancam menjadi kota gagal kedua kalinya di masa orde lama. Saat itu adalah masa di mana jalan-jalan utama tidak bisa menampung beban kota. Jalan raya yang sempit, penuh lobang, transportasi publik yang tidak manusiawi karena alih teknologi tidak berjalan baik. Bahkan kawasan di depan Istana Negara dibiarkan semrawut. Firman Lubis mengenang waktu ini sebagai masa tanpa penegakan hukum yang mema-

dai. “Premanisme, di mana-mana, yang diperburuk tindakan bekingbekingan oleh aparat. Anak-anak berkeliaran di mana-mana karena sekolah dan fasilitas publik kurang diperhatikan.“ kenangnya. Kondisi ini baru mulai terselamatkan ketika Presiden Soekarno mengambil langkah mengangkat seorang perwira tinggi marinir bernama Ali Sadikin untuk memimpin Jakarta. Ali Sadikin, yang akrab dipanggil Bang Ali bekerja keras merombak wajah ibukota. Bang Ali memperlebar jalan-jalan

utama di tengah kota, padahal minimnya anggaran. Dia membenahi transportasi publik dengan mendatangkan bis-bis besar, membangun ketertiban warga dengan ketegasannya, serta membangun pusat kegiatan olahraga, pemuda, dan budaya agar Jakarta tumbuh jadi kota yang berbudaya. “Bang Ali benar-benar membangun. Di sinilah cetak biru pembangunan Kota Jakarta menjadi metropolitan.” terang Firman Lubis. Sejarah demi sejarah kegagalan tentu tidak diharapkan terus teru-

lang. Namun kondisi terkini dikhawatirkan banyak pihak sebagai tanda-tanda kegagalan berikutnya. “Apa yang kita lihat sekarang sebenarnya ada terusan dari kondisi tahun sebelum Bang Ali, dan ke sininya makin kelihatan” jelas Firman Lubis. “Tentunya kita tidak ingin Jakarta jadi kota yang gagal, oleh sebab itu kita harus menjaga kota ini. Dan terkait dengan pemerintah, kita harus berani bergerak. Desak pemerintah” tutupnya. □ hmp-61

Butuh Kepemimpinan Bervisi dan Tegas Sejarah Jakarta mengajarkan kita, bahwa kota ini harus dibangun dengan visi. Sekedar mengikuti keserakahan dan kepentingan modal akan menjerumuskan Jakarta dalam kehancuran. Kota yang tumbuh tanpa perencanaan hanya akan menjerumuskan warga ke dalam kemerosotan kualitas hidup. Selain visi, Jakarta harus dipimpin oleh orang yang berpikir di luar kelaziman, seperti Ali Sadikin dan Gubernur Jenderal Daendels. Jakarta butuh pemimpin yang teguh pendirian sekaligus memiliki banyak

akal untuk memecahkan persoalan, tegas dan tak hirau kepentingan. Meskipun Daendels adalah perwakilan kolonialisme, namun semangatnya dalam menata kota perlu menjadi inspirasi. Meskipun Bang Ali adalah seorang yang temperamental dan gampang marah, namun visinya dalam membangun kota dan menegakkan disiplin warga perlu diteladani. Sebab, kita butuh tindakan-tindakan luar biasa, jika tidak ingin kota ini jatuh ke kegagalan ketiga. Atau sudah? □


Edisi III - Juni 2011

JAKARTA

7 © DYAH ESTI SIHANANI

Jakarta Milik Kita Semua Jakarta seolah ditakdirkan sebagai Melting Pot kebudayaan. Sebuah tempat dimana banyak orang dari berbagai suku dan bangsa datang, dan hidup bersama para penduduk asli yang menerima mereka dengan tangan terbuka. Nilai pluralitas sangat dijunjung, Jakarta tumbuh jadi multiras, multikultur, sebuah kota yang dimiliki semua, dan untuk semua.

KIRI. Seorang peserta pawai mengusung hiasan khas betawi di Bundaran Hotel Indonesia Jakarta pada acara Ngubek Jakarta minggu(19/5). hiasan khas betawi ini jarang ditemui kecuali pada saat-saat perayaan ulang tahun jakarta.

M

CINTAJAKARTA/ TITAH PRABOWO

embicarakan sejarah Jakarta sama artinya membicarakan keberagaman, kebhinekaan, dan toleransi. Sejak mula berdiri sampai sekarang, pembangunan Jakarta memang tidak lepas dari peran dan kerjasama yang baik, antara pendatang dan penduduk asli. Pembangunan Jakarta pertama kali dengan nama Batavia oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterzoen Coen adalah salah satu contohnya. “Dia mulai membangun dengan mendatangkan orang-orang dari luar. Orang-orang ini didatangkan dari berbagai daerah. Jadi Jakarta memang dibangun tidak oleh orang asli Jakarta saja.” cerita Firman Lubis, sejarawan Jakarta. Jakarta selalu menjadi sentra sejarah peradaban Indonesia yang menjunjung tinggi keberagaman. Contoh lain juga dibeberkan oleh Firman. “Kebangkitan Nasional misalnya, yang dilakukan mahasiswa STOVIA dengan mendirikan Budi Utomo, dimulai di Jakarta. Meski adalah sekolah dokter Jawa, mahasiswanya ada yang berasal dari Minangkabau dan Manado” tutur sejarawan yang

juga Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini. “Sumpah Pemuda, yang menjadi simbol persatuan juga dicetuskan di Jakarta” tambahnya. Keterbukaan Suku Asli Kerukunan dan kemajuan Jakarta tentu tidak bisa dipisahkan dari suku aslinya. Sebagai pribumi asli, suku Betawi adalah suku yang sangat plural dan toleran. Hampir tidak ditemukan ketegangan yang mendasar antara mereka dan para pendatang.

“Gubernur Jakarta tidak harus Betawi”. Tiga orang tokoh Betawi, Ridwan Saidi, Bang Idin dan Firman Lubis, sepakat mengenai hal ini. Menurut mereka, pemimpin Jakarta tidak harus dianalogikan dengan suku dari mana mereka berasal. Lebih jauh, syarat utama yang harus dimiliki oleh Gubernur menurut mereka adalah pengertian yang mendalam terhadap ruh Jakarta dan Betawi. “Ingat, ruh Jakarta itu bukan Betawinya, tapi toleransi dan kedamaian” terang Bang Idin. Sejarah juga berbicara, legenda penyelamat Jakarta bukanlah orang Betawi. Ali Sadikin, meski diangkat menjadi suku Betawi, aslinya bersuku Sunda. Gubernur Jenderal Daendels, juru selamat Batavia dari kehancuran di zaman Kolonial, bahkan bukan orang Indonesia. Meski tidak harus orang Betawi, para tokoh ini merasa gerah jika ada yang mengaku-ngaku asli Betawi jika mencalonkan diri sebagai Gubernur Jakarta. “Ada tuh calon gubernur ngaku-ngaku Betawi, padahal dia itu Betawi palsu. Tak ada darah Betawinya. Cuma karena pernah main di sinetron saja. Dia kan tokoh drama, jangan dibawa ke dunia nyata” kecam Ridwan Saidi. □

“Nilai toleransi dan pluralitas adalah ruh dari Jakarta.” cetus Bang Idin, tokoh lingkungan Kali Pesanggrahan yang juga Jawara Betawi. Menurut Ridwan Saidi, toleransi ini menandakan kematangan Betawi sebagai sebuah suku yang terbuka. “Tidak hanya dari Nusantara, kami sudah biasa dengan bangsa Polynesia, bangsa Egypt, bangsa Arab, nggak ada soal.” ucapnya. Senada dengan Ridwan, Firman Lubis, yang juga masih memiliki darah Betawi, menambahkan bahwa kondisi ini juga dikarenakan penduduk Betawi juga sebagian berasal dari penduduk pendatang. “Ini bisa kita lihat dari toponomi kampung yang ada, seperti kampung Bali, kampung Ambon, dan lain-lain. Secara perlahan mereka berasimilasi, dan menjadi penduduk asli.” tukas sejarawan yang memiliki darah betawi ini. Dalam perkembangannya, Betawi memang tangguh dalam menembus zaman. Kemajuan Jakarta berhasil diimbangi oleh suku yang sangat kental dengan budaya Islam ini. Salah satu parameter yang jelas menurut Ridwan Saidi adalah jumlah penduduk. Dalam Sensus Belanda yang dilakukan tahun 1930, populasi penduduk Betawi berjumlah 30% dari seluruh penduduk. 80 tahun berselang, pada Sensus 2010, suku ini juga memiliki proporsi yang sama. “Kami tetap menjadi tuan rumah, tidak lapuk dimakan zaman.” tegas Ridwan. Mulai Tergerus Namun, berbanding terbalik dengan populasinya yang stabil, kebudayaan Betawi sendiri dinilai sudah

CINTAJAKARTA/ TITAH PRABOWO

Gubernur Tidak Harus Betawi, Yang Penting Ngerti

BAWAH. Firman Lubis

mulai terancam. Contoh kecil saja, Pekan Raya Jakarta yang seharusnya menjadi pesta rakyat, identitas betawi sudah mulai diketepikan. Praktis, selain kuliner Betawi seperti kerak telor, selendang mayang, dan satu dua ondel-ondel, jarang sekali ditemukan kebudayaan Betawi. Pusat Kebudayaan Betawi-pun sekarang sudah mulai dipinggirkan. Menanggapi hal tersebut, Inisiator Gerakan Cinta Jakarta, Tantowi Yahya, menilai perlu diadakannya revitalisasi terhadap kebudayaan Betawi sebagai identitas Jakarta. “Pusat Kebudayaan Betawi yang berada di Condet, dan Jagakarsa misalnya, ha-

rus dipindahkan ke Pusat Kota, ke Balaikota. Supaya setiap tamu melihat, inilah Jakarta, dan inilah kebudayaan identitasnya.” ujarnya. Walau sementara tidak mendapatkan perhatian yang layak dari pemerintah, namun para tokoh Betawi tetap optimis kebudayaan Betawi akan terus bertahan. “Suku Betawi sudah ada di Jakarta sejak 46 abad yang lalu dan akan tetap bertahan. Ini adalah suku tua, bukan suku kemarin sore” tutur Ridwan Saidi. “Dan Betawi akan selalu menjadi Garda terdepan dalam menyelamatkan Jakarta” tambah Bang Idin. □ hmp-71


8

4 84

Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta, Jakarta Raya) adalah ibukota Negara Indonesia. Sebelumnya dikenal dengan nama Sunda Kelapa (sebelum 1527), Jayakarta (1527-1619), Batavia atau Jacatra (1619-1942), lalu Djakarta (1942-1972).

Edisi III - Juni 2011

tahun

A b a d XII 22 1 4 0 5 1513 15

Pelabuhan Sunda mulai disebut di sumbersumber China. Kerajaan Sunda dengan pelabuhannya Sunda Kalapa mulai dikenal di perniagaan Internasional.

Laksamana Zheng-Ho, utusan dari Kaisar Ming dari China, melakukan hubungan dengan Kerajaan Sunda. Catatan Laksamana Zheng-Ho membuktikan adanya jalan ke timur, tempat dimana rempah-rempah dihasilkan. Kapal Portugis yang dipimipin oleh De Alvin merapat di pelabuhan Sunda Kalapa. Kejadian ini dipercaya sebagai kedatangan perniagaan Eropa di Sunda Kelapa.

Kerajaan Sunda menandatangani perjanjian dagang dengan Portugis. Dalam perjanjian tersebut, Portugis membuatkan benteng untuk pertahanan kerajaan Sunda di Kalapa. Perjanjian itu ditanam di sebuah Padrao di Sunda Kelapa

152 7

Dari Perebutan

152 7

Kapal Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman sampai ke Jayakarta untuk pertama kalinya.

Menuliskan sejarah Jakarta ibarat mengikuti aliran darah sejarah Indonesia. Kota ini adalah miniatur lengkap sekaligus titik sentral bangsa ini. Jakarta adalah saksi setiap langkah Indonesia, mulai dari masa perdagangan, kolonialisme, kemerdekaan, revolusi, lintas rezim, sampai dengan reformasi. Sebagai pusat peradaban, Jakarta adalah sebuah cerita tentang kebhinekaan dan perjuangan yang kemudian menjadi semboyan, dan ruh sebuah bangsa yang masih lebih muda. Jauh lebih muda dari umur Jakarta itu sendiri.

610 1596 1

Perusahaan Dagang Belanda (VOC) membeli tanah kepada Pangeran Jayakarta. VOC kemudian membangun benteng di sisi timur kali Ciliwung, Benteng ini dinamakan Ciliwung Forth.

M

enceritakan sejarah Jakarta, sebenarnya tidak cukup dalam kurun waktu 484 tahun. Jauh sebelum Sunda Kelapa ditaklukkan Fatahillah, sebuah momen yang diperingati sebagai hari lahir Jakarta seka-

16 15

Inggris mulai berdagang di Batavia. Seperti Belanda, ia juga membeli sebidang tanah di sisi sungai Ciliwung, berseberangan dengan Tanah VOC.

8 161

Fatahillah (Falatehan) dari Kesultanan Banten menyerang Sunda Kelapa. Sunda Kalapa berhasil ditaklukkan dan dihancurkan. Sejarawan Ridwan Saidi mencatat, tak kurang dari 3.000 orang Betawi terbunuh ketika itu. Momen penaklukkan Fatahillah ini sekarang diperingati sebagai Ulang Tahun Jakarta. Fatahillah kemudian juga mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, anak kerajaan Kesultanan Banten. Pemimpinnya bergelar Pangeran Jayakarta.

HISTORIOGRAFI JA

Inggris berperang dengan VOC. Permintaan VOC untuk memperkuat bentengnya di Ciliwung ditolak Pangeran Jayakarta. Pangeran Jayakarta akhirnya bergabung dengan Inggris.

1619

1619

Litbang Koran Cinta Jakarta, diolah dari berbagai sumber. Infografis oleh Dipanagara Santoso

Lingkungan Batavia mulai memburuk dan tidak layak sebagai tempat tinggal.

Kota Batavia Lama makin tidak sehat. Penduduk kaya mulai pindah ke wilayah Selatan. Batavia Lama menuju kehancuran.

Prancis sebagai sekutu Belanda mengutus Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jenderal, sekaligus mempertahankan Batavia dari Inggris. Selama kepemimpinannya Daendels melakukan banyak perubahan pada Batavia. Dinilai tidak sehat dan semrawut, Batavia lama dihancurkan. Pusat kota dipindahkan ke arah selatan dan membangun istana di kawasan Weltevreden (Lapangan Banteng sekarang).

1808

Kekalahan Belanda terhadap Inggris memiliki imbas ke Hindia Belanda, khususnya Batavia. Pelabuhan Batavia diblokade oleh Armada Inggris. Batavia terasing.

169 0

Sumber

1650 1677

Kebudayaan Tionghoa mulai berkembang pesat di Batavia. Meski berkembang, VOC membatasi gerak-gerak etnis Tionghoa. Bahkan kemudian tahun 1740, sekitar 5.000 orang etnis Tionghoa dibantai.

1730

Mengerahkan lebih dari 10.000 orang prajurit, Sultan Agung menyerang VOC di Batavia atas usahanya menyatukan pulau Jawa dalam Kesultanan Mataram, namun kalah. Dalam serangan kedua tahun 1629, yang dipimpin Dipati Ukur, Mataram mengotori sungai Batavia dan mengakibatkan penyakit kolera pada penduduk Batavia. Meskipun kembali kalah dalam serangan kedua, J.P. Coen tewas karena penyakit kolera.

VOC melakukan perjanjian dengan Kesultanan Mataram. Perjanjian ini menyepakati batas timur wilayah Batavia dengan Mataram.

5 64

16 28

1 28 16

VOC dibawah kepemimpinan Jan Pieterzoen Coen berhasil menyingkirkan Inggris dan menakhlukkan Jayakarta. J. P. Coen kemudian mendirikan sebuah kota baru yang dinamakan Batavia diatas reruntuhan Jayakarta. Batavia kemudian menjadi pusat perdagangan VOC di seluruh Nusantara.

VOC memperkuat Batavia dengan membangun benteng tak kurang dari 15 Pilar Benteng Utama

rang, Jakarta telah menjadi pusat perdagangan tersendiri yang dikenal bangsa-bangsa di dunia. Faktor letak yang strategis menjadi berkah sekaligus bencana untuk Jakarta. Berkah, karena ekonomi dan budaya akan cepat berkembang. Juga bencana, darah selalu tumpah karena selalu jadi wilayah rebutan. Pada akhirnya, perebutan wilayah ini juga yang bisa membagi sejarah Jakarta dalam babak-babak tertentu. Direbutnya Sunda Kelapa oleh Fatahillah dan kemudian menamainya dengan Jayakarta pada tahun 1527 bisa dikatakan sebagai babak pertama. Ridwan Saidi, budayawan Betawi, meyakini tindakan Fatahillah lebih didorong oleh motivasi ekonomi dari Kesultanan Banten, tempat Fatahillah berasal. Proses Islamisasi yang didalilkan oleh berbagai buku sejarah dianggap isapan jempol oleh Ridwan. “Boleh tunjuk satu saja masjid yang

1796

1808

Sunda Kelapa sebagai pelabuhan lama tidak dipakai lagi, Belanda membangun Pelabuhan Baru Tanjung Priok.


Edisi III - Juni 2011

JAKARTA 2011

2012

?

sebagai tempat Gubernur Jenderal HB menggantikan Weltevreden yang dibangun oleh Daendels.

Untuk pertama kalinya dilakukan pemilihan Gubernur Jakarta secara langsung. Fauzi Bowo terpilih menjadi Gubernur hingga 2012.

197 7

19 59 19 6

4

19 66

19 66

1950

Gubernur. Gubernur pertama Jakarta adalah Sumarno.

4 Januari, Ibukota indonesia pindah ke Yogyakarta. Jakarta dikuasai oleh Belanda, namun masih memiliki pemerintahan republik, hingga akhirnya Jakarta diperintah oleh dua pemerintahan.

8 0 9 1

45 19 17 Agustus, proklamasi Republik Indonesia 28 Oktober. Para pemuda dari Nusantara berikrar persatuan Indonesia di Batavia, dikenal dengan Sumpah Pemuda.

Belanda memberlakukan sistem desentralisasi provinsi di pulau Jawa. Batavia masuk sebagai salah satu keresidenan di Provinsi Jawa Barat. 20 Mei sekelompok pelajar di Sekolah Dokter Jawa (STOVIA) mendirikan Boedi Oetomo di Batavia

Belanda memberlakukan Politik Etis, pribumi mulai diperhatikan haknya. Sekolah dan tokoh intelektual Indonesia sejak saat itu mulai bermunculan.

tumbuh menjadi ibukota yang lebih beradab dan berbudaya.

Ibukota negara kembali pindah ke Jakarta. Pembangunan Jakarta di Era Soekarno dimulai. Berbagai pembangunan dilakukan, termasuk yang monumental seperti Monas, Stadion Ikada, dan Kawasan Senayan.

2 4 9 1

19451946

Negara Republik Indonesia dengan nama Jakarta

Dalam sebuah perjanjian, Inggris berhasil merebut Batavia dari Belanda dan sekutunya. Sir Thomas Stamford Raffles diutus menjadi Letnan Gubernur Jawa. Cuma memerintah sampai 1816, Inggris menyerahkan kembali Hindia kepada Belanda, Raffles kemudian pindah ke Singapura

18 1 77 181 188 01 89 6 Istana Negara dibangun

Jakarta kini, berulang tahun yang ke 484 tahun.

Republik Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Tidak sampai sebulan, Sutiyoso memimpin Jakarta, dan cukup mampu tepatnya tanggal 4 September 1945, Soemenyelamatkannya ketika perpindahan rezim. karno menetapkan Jakarta sebagai IbuSutiyoso juga menginovasi transportasi dengan kota republik muda tersebut. Tidak sammenjalankan Busway di Jakarta pada tahun 2004. pai setahun, pada 1946 Jakarta diserahkan kembali ke Belanda untuk mematuhi perjanjian Linggarjati. Selama empat Indonesia mencapai swasembada beras dan tahun dari 1946 sampai 1949, Djakarta kemakmuran. Jakarta pun tumbuh pesat. diperintah oleh dua walikota. Jakarta Gedung-gedung pencakar langit dan jalan baru kembali ke Indonesia pada tahun tol mulai dibangun. Soeharto membuka 1949, ketika Belanda mengakui secara pintu masuknya banyak investasi. de jure kemerdekaan Indonesia. IniAkhir pemerintahan Ali Sadikin, Jakarta lah perebutan kelima, dan keenam. bertambah luas. Luas Jakarta waktu itu adalah Hari ini, Kota Jakarta mera637 km persegi bertambah 60 km persegi, yakan ulang tahunnya yang kedari sebelumnya 1969: luasnya 577 km persegi. 484. Penguasa Jakarta silih berganti. Di tahun depan, di Kondisi Jakarta semakin memulang tahunnya yang keburuk. Untuk menyelamatkan 485, Jakarta akan kembali Jakarta, Soekarno menunjuk Ali membuka ruang munSadikin sebagai Gubernur. Ali Saculnya pemimpin baru. dikin membangun cetak biru JaSiapakah dia? SehaStatus kota Jakarta yang karta sebagai kota Metropolitan. UU No. 10 tahun 1964 rusnya siapapun dia sebelumnya hanya sebagai Ali Sadikin memperlebar jalan, menyatakan Daerah harus bisa memkotapraja dibawah provinsi Jawa melegalkan judi untuk mendapatKhusus Ibukota Jakarta bawa perubahan Barat ditingkatkan menjadi daerah kan uang, dan membangun Raya tetap sebagai Ibukota untuk Jakarta. tingkat 1 dan dipimpin oleh sarana-sarana pulbik. Jakarta

1926 1 928

8

dibangun Fatahillah. Tidak ada!� tegas Ridwan beralasan. Babak kedua adalah ketika VOC berhasil merebut Jayakarta dari Kesultanan Banten yang dibantu oleh Inggris. VOC di bawah pimpinan Jan Pieterzoon Coen kemudian membangun sebuah kota bernama Batavia di atas puing-puing Jayakarta yang telah dihancurkan. Perebutan kekuasaan tidak berhenti disitu, Sultan Agung dari Mataram pernah dua kali mencoba merebut Batavia pada tahun 1628 dan 1629, tapi gagal. Dalam perjalanannya, keserakahan menjadikan VOC bangkrut. Pada tahun 1811 Inggris dibawah pimpinan Letnan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles resmi menjadi tuan di Batavia, Meskipun pengaruhnya tidak begitu signifikan, karena waktunya begitu singkat sebelum dikembalikan ke pemerintah Belanda, cuma lima tahun, inilah perebutan ketiga kota Jakarta. Belanda menjadi tuan Batavia sampai tanggal 9 Maret 1942. Pada tanggal tersebut, Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang di Kalijati. Untuk merebut hati bangsa Indonesia, Jepang merubah nama Batavia menjadi Djakarta, yang bertahan sampai sekarang, tentu dengan perubahan ejaan. Inilah babak keempat perebutan kekuasaan Jakarta. Djakarta baru menjadi milik bangsa Indonesia kembali ketika kemerdekaan

1986 1997 2007

n ke Perebutan

Š DYAH ESTI SIHANANI

AKARTA 484 TAHUN

9

dibacakan di Jalan Pegangsaaan Timur, Djakarta. Selanjutnya tanggal 4 September, Jakarta ditetapkan sebagai Ibukota Indonesia oleh presiden Indonesia pertama, Soekarno. Ibukota tetap siaga perang.

2 194 Perang Dunia II pecah, 9 Maret, Belanda menyerah tanpa syarat pada Jepang di Kali Jati. Batavia Jatuh ke pendudukan Jepang. Untuk mengambil hati masyarakat, kemudian Jepang mengganti nama Batavia menjadi Djakarta.


10

Edisi III - Juni 2011

foto jakarta

Sebuah Restoran Tionghoa di kawasan Glodok, Batavia. Sejak dulunya daerah Glodok telah menjadi tempat usaha sekaligus pemukiman warga Tionghoa di Jakarta.

Salah satu penari Betawi di Batavia. Saat ini seni Betawi sudah mulai terancam. Tidak hany a tari, seni musik seperti Tanj idor dan Gambang Kromong pun sudah mulai langka.

Sebelum Jakarta... “Di Tanah Abang, saya sering melihat mereka mandi di kali pagi-pagi sekali. Kaum pria membuka pakaian lalu mencebur dan menyelam di kali. Ketika mereka naik, tubuhnya yang coklat tampak seperti patung-patung perunggu. Kaum wanita turun ke kali dengan cara lebih tenang. Mereka memakai kain basahan. Ibu-ibu muda membimbing anak-anak mereka ke tempat yang dangkal.� -August de Wit, Java, Facts and Fancies (1921).-

dayaan betawi yang menjadi h dianggap sebuah seni kebu Sejak dulu, Ondel-Ondel suda selamatan Hotel Mewah Des a acar pada del l-on onde ah identitas Jakarta. Foto ini adal 3. et 192 Indes di Harmoni, bulan Mar

Dari cerita August de Wit di atas, bisa kita lihat kehidupan masyarakat kota ini, saat belum bernama Jakarta. Terlepas dari faktor penjajahan, Batavia ketika itu masih menjadi wilayah dengan lingkungan yang hijau dan komunal. Dalam foto yang diperoleh Cinta Jakarta dari Arsip Nasional, terlihat warga masih bisa memanfaatkan sungai (Kali Besar) sebagai tempat mencuci. Tidak hanya itu, kebudayaan masih menjadi pertunjukan menarik bagi warga. Seperti ondel-ondel pada pesta syuku-

ran pendirian Hotel Des Indes. Meski hotel ini tergolong mewah di masanya, penyajian tarian ondel-ondel merupakan bentuk apresiasi tersendiri terhadap kebudayaan masyarakat Batavia kala itu. Alih-alih melihatnya sebagai nostalgia sejarah saja, kenangan masa lalu Jakarta bisa dijadikan semangat untuk menatanya kembali. Masa ketika nama Jakarta mengaum menjadi ikon di seantero Asia. Sebuah kota internasional secara nyata, bukan hanya sekedar jargon. â–Ą

Masyarakat Batavia mencuci pakaian di Kali Besar Harmoni (Molenvliet). Sampai tahun 195 0-an, Kali di Jakarta masih bisa dipakai untuk mencuci dan mandi.

FOTO-FOTO: ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA

dan Pekan Raya Jakarta telah ada sejak lama. Pasar Malam Gambir, yang kemudian menjadi Jakarta Fair tahun 1922. pada Gambir Malam Pasar dansa Foto ini memperlihatkan lantai


kolom pakar SISI LAIN ULANG TAHUN JAKARTA

Ridwan Saidi:

“22 Juni Itu Hari Duka, Bukan Hari Raya” Selama ini Jakarta selalu memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) pada tanggal 22 Juni. Dalam buku sejarah pada umumnya, peringatan ini dicatat dengan merujuk momen direbutnya Sunda Kelapa dari tangan Portugis oleh Fatahillah pada tahun 1527. Nama Fatahillah pun kini kemudian diabadikan sebagai nama Museum Sejarah Jakarta yang terletak di kawasan Kota Tua. Namun, sejarah memang tidak bisa dilihat dari satu sumber. Budayawan Betawi, Ridwan Saidi mengungkapkan sisi lain sejarah dari peristiwa tahun 1527 tersebut. Peristiwa ini menurutnya tidak pantas diselebrasikan sebagai ulang tahun, melainkan lembaran hitam dalam sejarah Jakarta dan Betawi. Berikut petikan wawancara kami dengan Ridwan Saidi: Sebagai budayawan Betawi, apa makna Ulang Tahun Jakarta bagi Babeh? Kaga ada! Karena ini kekeliruan, ini salah (tanggal–red). Masa ketika kami ini (Betawi-red) diusir, rumah kami dibakar, pelabuhan kami dirampas, kami harus merayakannya sebagai hari jadi? Hari ulang tahun? Bagaimana bisa salah? Hari ulang tahun Jakarta itu ditetapkan tahun 1957, zaman Walikota Sudiro. Walikota menginginkan ada suatu tanggal yang bisa diperingati

sebagai hari ulang tahun kota. Maka ditetapkan panitia yang dipimpin oleh Sukamto. Sukamto ini bukan ahli sejarah, melainkan ahli hukum adat. Data-data yang dikumpulkan adalah bahan dari Belanda, dan jelas tidak akurat. Kenapa bisa tidak akurat? Pada tahun 1527 itu belum ada Belanda. Jadi dia (Sukamto) menganggap bahwa seolah-olah ada Portugis disini. Lalu datanglah Fatahillah, atas suruhan Syarif Hidayatullah, atau Sunan Gunung Jati dari Cirebon. Fatahillah dipercaya oleh Sukamto telah menghalau Portugis. Portugis mana yang dihalau? Kagak ada Portugis disini (waktu itu-red). Jadi cerita sebenarnya seperti apa? Terus terang, sebenarnya 22 Juni itu adalah hari duka kita, bukan hari raya. Ini adalah kesalahan yang paling besar. Jika diceritakan dari awal sejarahnya, Pelabuhan Kalapa ini didirikan oleh Kerajaan Sunda pada abad 8 Masehi. Baru ramai pada abad ke 12 Masehi, menjadi pelabuhan internasional yang kemudian sejak itu, menjadi administrasi pelabuhan, istilah sekarang. Pada mulanya, adalah orangorang Betawi yang ada disana. Mereka

KITA SUDAH ISLAM KOK SEJAK BERABAD SEBELUMNYA. BUKTINYA, BANDAR WAK ITEM MEMAKAI HURUF ARAB.

membangun sebuah perkampungan, yang sekarang lokasinya di Jalan Kakap, perkampungan itu dinamakan Mandirancang, karena adanya sumur air tawar dipinggir laut, sampai sekarangpun sumur itu masih terpelihara dengan baik. Ini semua bisa dibuktikan dari catatan Portugis. Setelah jadi bagian dari Kerajaan Pajajaran makin di modernisasi, patihnya terakhir itu Mundari, orang Betawi. Betawi sudah ada disana sejak Sebelum Masehi. Lalu Portugis sendiri bagaimana? Ya, Raja Padjajaran melihat perlu pengamanan pada pelabuhan, lantas dia membuat perjanjian dengan Portugis. Portugis membangun benteng untuk keperluan Padjajaran, bukan benteng Portugis. Ini harus digarisbawahi, Portugis diupahin lada, begitu perjanjianya. Rencananya, benteng itu dibuat di Muara Cisadane, namun keburu diserbu Fatahilllah dari arah Banten dengan membawa 1500 prajurit. Bukankah Fatahillah justru membawa misi Islamisasi? Nggak ada itu. Kita sudah Islam kok sejak berabad sebelumnya. Buktinya, Bandar Wak Item memakai huruf arab. Bukan islamisasi, sama sekali bukan. Dia ga pernah mengislamkan sebiji pun orang di sini. Fatahillah itu rampok, maling! Boleh tunjuk satu saja, kalau dia bangun mesjid di Jakarta. Fatahillah membakar 3.000 rumah orang Betawi, kemudian membunuh Wak Item. Wak Item ini Syahbandar yang hanya dikawal oleh 20 orang,

Edisi III - Juni 2011

11

karena memang gak ada tentara di situ. Tentara Padjajaran adanya di Bogor. Menurut naskah Cirebon sendiri, jenazahnya Wak Item dibakal maen (masih disiksa walau sudah meninggal-red) Nah, bagaimana mungkin rampok ini namanya diabadikan di kota, Taman Fatahillah, Museum Fatahillah? Ini yang saya tidak bisa terima. Lalu, haruskah diubah HUT Jakarta? Ya, Pemda DKI Jakarta harus mengubah ini. Siapa pun yang mau coba-coba jadi Gubernur DKI Jakarta 2012, harus bisa meluruskan sejarah tersebut. Ukurannya bukan Betawi atau non-Betawi, yang penting paham sejarah Betawi. Tidak usah bicara sukuisme lah kita. Lalu kapan hari yang pantas menjadi hari jadi Jakarta? Yang paling pantas mungkin memang tanggal 4 September 1945. Ketika itu Bung Karno menetapkan pembentukan pemerintahan kota sementara Jakarta Raya. Menetapkan hari tersebut adalah hal yang paling aman dan logis, kita tidak perlu ribut. Dan ini dimungkinkan diubah, Jakarta bukan kota pertama yang mengubah hari ulang tahun. Bekasi dan Bandung pernah melakukannya. □ hmp-111

CINTAJAKARTA/ TITAH PRABOWO


12

Edisi III - Juni 2011

Jakarta Punya Solusi

TANTOWI YAHYA (Ketua Umum Gerakan Cinta Jakarta):

“Pusat Kebudayaan Betawi Tak Boleh di Pinggiran� Menurut Insiator Gerakan Cinta Jakarta, Tantowi Yahya, ulang tahun Jakarta memiliki makna yang dalam. Tidak hanya menjadi selebrasi yang diwujudkan dalam pesta belanja, momentum ini harus dimanfaatkan untuk introspeksi dan mengembalikan budaya Betawi sebagai corak budaya Jakarta. Simak wawancara eksklusif kami dengan Bakal Calon Gubernur Jakarta ini. Bagaimana kita harus memaknai ulang tahun Jakarta? Memperingati ulang tahun tidak bisa selalu dengan pesta dan hura-hura. Bahkan sebaliknya, ini merupakan waktu untuk kita melihat kembali ke belakang, melakukan introspeksi. Seharusnya dengan umur yang sudah makin dewasa, Jakarta makin bagus untuk masyarakatnya, ini yang perlu diintrospeksi. Pertama, dari sisi kita sebagai warga yang cinta Jakarta. Masingmasing harus melihat kembali, sejauh apa kontribusi kita terhadap Kota Jakarta, rumah kita. Usaha positif aktif apa yang telah kita lakukan guna berpartisipasi dalam menciptakan kota ini menjadi lebih baik sebagai tempat tinggal. Kedua, dari sisi pemerintah. Ulang tahun dapat juga dijadikan momentum untuk menilai sejauh mana kinerja pemerintah selama satu tahun terakhir. Apakah janjijanji politik yang sudah disampaikan kepala daerah dalam berbagai kesempatan terealisasi atau tidak.

Berapa banyak yang terealisasi dan berapa banyak yang tidak. Kalau tidak terlaksana, alasannya harus apa? Jadi perayaan itu bukan sekedar selebrasi, tetapi harus dimaknai secara mendalam. Karena tanpa itu akan sulit kita menilai kinerja, baik kinerja kita sebagai warga yang harus berpartisipasi maupun kinerja pemerintah selaku pelaksana mandat dari rakyat. Terkait selebrasi, Pekan Raya Jakarta (PRJ) tidak lagi dinilai sebagai Pesta Rakyat, pendapat Bang Tantowi? Ya, patut kita akui berbeda sekali PRJ sekarang dengan PRJ awalnya. Dulu masih bisa dikatakan sebagai pesta rakyat, kesenian-kesenian Betawi bisa terekspos dengan baik. Kondisi sekarang ini kan dia tidak lebih dari trading expo, atau pameran industri yang penuh dengan konsumerisme, yang bahkan melibatkan peserta dari luar negeri. Di satu sisi ini ada benarnya, karena dapat mendongkrak daya beli masyarakat dengan kelas tertentu. Namun ke-Jakarta-an Pekan Raya Jakarta memang harus

dikembalikan. Salah satunya dengan kebudayaan, termasuk kesenian Betawi sebagai identitas asli Jakarta. Peran serta masyarakat Betawi disitu harus semakin menonjol, tidak hanya kuliner, tapi juga hal lainnya. Sayangnya di PRJ tahun ini yang tersisa hanya kerak telor saja. Dengan begitu, PRJ sebagai Expo juga dapat dimaksimalkan, tidak hanya sebagai sentra ekonomi, juga sebagai sebuah kota yang berbudaya dan kuat identitasnya. Konkritnya, Bagaimana Mengembalikan Identitas Jakarta dengan Budaya Betawi ini? Pertama, memang harus diperlihatkan penghargaan dan niat tulus dari pemerintah untuk mengembalikan identitas itu. Pusat Kebudayaan Betawi yang ada di pinggir-pinggir kota, seperti Condet dan Jagakarsa, harus dipindah ke pusat kota. Biar setiap tamu negara melihat, Jakarta itu punya corak budaya identitas meski sifatnya plural dan terbuka. Ya budaya Betawi itu. Kehadiran masyarakat Betawi berikut kultur dan keuni-

kannya tidak cukup hanya ditampilkan dalam event Jakarta Fair, Abang-None, dan seterusnya. Namun harus ditampilkan secara lebih nyata, bukan hanya seremonial. Kemudian pakaian dan kuliner harus lebih digalakkan. Kita melihat, selain Soto Betawi hampir tidak ada restoran kuliner Betawi. Kerak telor pun hanya sebatas diperdagangkan keliling. Untuk itu, setiap restoran lokal di Jakarta harus memperkenalkan kuliner Betawi, meski cuma satu macam, dan ini wajib. Suatu upaya yang lebih nyata untuk tetap membuat Betawi lebih hadir dimasyarakat Jakarta.

ukurnya sendiri. Kalau kita bicara makin tertata, barometernya apa? Penataan itu hanya bisa dikatakan berhasil jika dirasakan oleh masyarakat. Mari kita lihat sekarang, perimbangan antara ruang komersial dengan ruang terbuka publik bagaimana? Mari kita lihat bagaimana sistem transportasi publik seperti apa. Sedangkan jika makin dicinta, maka secara mudah tingkat partisipasi warga akan meningkat. Sudahkah ada disiplin warga dalam menjaganya? Terkait tagline Pemda tadi, saya lebih melihat itu sebagai sebuah ajakan, sah-sah saja tapi belum jadi realita.

Terkait Kampanye Ulang Tahun dari Pemda, Makin Tertata Makin Dicinta, Bagaimana pendapat Abang? Itu adalah harapan sekaligus ajakan dari pemerintah. Sah-sah saja. Tapi masyarakat tentu punya alat

Sebagian Sejarawan Jakarta Menggugat Penetapan tanggal 22 Juni Sebagai Ulang Tahun Jakarta. Apa Komentar Abang? Ini tentu masalah serius. Tapi kita tidak bisa gegabah. Pertama dan paling penting, ya harus dilakukan pengkajian sejarah kembali, dengan mengumpulkan datadata historis. Jika tidak, ini bisa jadi polemik berkepanjangan. Jika memang benar buktibukti itu akurat, dan terbukti bahwa hari lahirnya Jakarta bukan tanggal 22 Juni, maka demi kemaslahatan bersama harus diganti, kenapa tidak? Sejarah adalah ukuran peradaban, ini tidak boleh direkayasa. â–Ą hmp-121

DOKUMENTASI PRIBADI


foto jakarta

Edisi III - Juni 2011

13

WISNU PRASETYO - ON FIRE

I N T RO S P E K S I JA K A RTA Ulang Tahun adalah momen yang paling pas untuk melakukan introspeksi, berkaca diri. Untuk Jakarta, Ulang Tahun bisa berarti sebagai saat untuk kembali melihat wajah Jakarta, yang kadang terlalu luas bahkan untuk dijelajahi.

Berikut kami pilihkan foto dari peserta lomba foto Cinta Jakarta, untuk melihat sedikit wajah Jakarta. Wajah-wajah ini adalah sebagian dari wajah Jakarta yang ditangkap oleh lensa kamera. Semoga dengan foto-foto ini kita bisa melaku-

kan introspeksi. Hingga hal yang bisa diperbaiki jangan malah dibiarkan, untuk kemudian dianggap sebagai sebuah kelaziman. Mari berintrospeksi diri untuk Jakarta yang lebih baik dan lebih nyaman untuk dihuni. â–Ą

SOFYAN EFENDI - MANDI BUSA DAN SAMPAH

ALI BUDIHARTO - KE JAKARTA APAPUN TERJADI

PARLINDUNGAN OMPASUNGU - GUBUKKU SETINGGI GEDUNGMU

AMSTON P - TEROBOS BANJIR

D. KRISTIYADI - REBUTAN

MUHAMMAD ARIEF PRABOWO - MENIKMATI UDARA SEGAR RUMAH SUSUN


C NTA

JAKARTA ongoing EMPAT LANGKAH MUDAH MEMBUAT LUBANG BIOPORI

1

Basahi tanah (bila kering) yang telah ditentukan untuk membuat lubang biopori dengan satu gayung air.

2

Siapkan alat bor, posisikan tegak lurus pada tanah yang telah ditentukan, gali hingga kedalaman sekitar 1 meter dengan diameter sekitar 10-30 cm.

3

Perkuat sisi-sisi lubang dengan semen tipis, hindari memperkuat lubang dengan pipa paralon.

4

Masukan sampah-sampah organik ke dalam lubang tersebut.

CINTAJAKARTA/ TITAH PROBOWO

10-30 cm

Air ±100 cm ILUSTRASI: DIPANAGARA /CINTAJAKARTA

Sampah Organik

Selamatkan Jakarta dari Banjir

1

Rumah Biopori

Jakarta sudah akrab dengan banjir sejak zaman VOC. Kadang Jakarta banjir karena takdir alam, sebab wilayahnya lebih rendah dari permukaan laut dan sekaligus menjadi muara bagi 13 sungai. Namun lebih sering Jakarta banjir karena kesalahan manusia dalam menata kota. Saluran drainase serta kanal-kanal pengendali banjir yang tidak tersedia secara optimal. Bahkan, kadang tidak terintegrasi. Itu memang tugas pemerintah. Namun sebagai warga, kita juga harus melakukan sesuatu untuk mengurangi air yang mengalir di permukaan tanah dan terbuang percuma.

OWO

jir memang sudah sangat mendesak. Kendati Banjir Kanal Timur yang digadang-gadang Pemerintah DKI Jakarta sudah selesai dibangun, tidak ada jaminan banjir tidak terjadi jika curah hujan tinggi. “Apalagi daerah resapan air juga semakin banyak yang hilang karena pembangunan. Kita tentu tidak ingin banjir besar di Jakarta pada

CINTA JAKARTA/ TITAH PROB

Hal tersebut disampaikan inisiator Gerakan Cinta Jakarta, Tantowi Yahya, saat memberikan ceramah lingkungan sekaligus meresmikan pilot project “Gerakan 1 Rumah 1 Biopori” yang diluncurkan Gerakan Cinta Jakarta di RW 04 Kelurahan Warakas, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Menyelamatkan Jakarta dari ban-

tahun 2007, di mana 70% Jakarta digenangi air, dan 150.000 penduduk mengungsi, kembali terjadi” tegas Tantowi. Lubang Resapan Biopori sendiri merupakan teknologi yang dikembangkan oleh Bagian Konservasi Tanah dan Air, Institut Pertanian Bogor (IPB). Teknologi tepat guna ramah lingkungan ini diandalkan untuk dapat mengatasi dua masalah sekaligus, yakni banjir dan sampah. Manfaat yang didapatkan dari Biopori tidak main-main. Lubang Resapan Biopori yang memiliki diameter hanya 10 cm dengan kedalaman 100 cm ini dalam kondisi normal dapat menyerap air sebanyak 180 liter/jam. Jika terdapat satu juta lubang biopori di Jakarta, maka jika Jakarta diguyur hujan selama satu jam, lubang biopori dapat mengurangi air yang mengalir di permukaan tanah sebanyak 180 juta liter. Air sebanyak ini, jika ditumpahkan ke jalan, dapat menggenangi seluruh Jalan Jendral Sudirman setinggi 1,5 meter. Lumayan bukan? Dalam kegiatan ini, Tim Biopori IPB bersama Gerakan Cinta Jakarta memperkenalkan dan memberikan pelatihan kepada warga Warakas tentang pembuatan Biopori. Dalam kesempatan tersebut, Tantowi Yahya juga menyerahkan alat-alat pembuatan Biopori secara gratis kepada masing-masing RT. “Semoga dengan ini bisa jadi modal awal, menyelamatkan kampung kita masing-masing dari banjir” tutupnya. □ thp-141

Proses Pengomposan


katenye

Edisi III - Juni 2011

15

Kado Firman Muntaco

ISTIMEWA

JJ Rizal

Sejarawan Betawi

senggang Pak Camat pulang dari Cipete Bininye ngomel sekate-kate Selamat ulang taun Jakarte Semoga gak tambah semrawut kaya muke aye Kalo ngaji jangan makan sawo Gedong pakan ada di Ciawi Halo Pak Haji Fauzi Wibowo Tolong donk lestarikan budaya Betawi Si Mamat pulang dari kota Bu Mega bikin kebaya Selamat ultah kota Jakarta Semoga makin jaya dan berkarya

jadi kuat dan akrab. Apalagi dalam cerita-cerita itu, Firman Muntaco sepenuhnya mempergunakan dialek Betawi. Ilmu humornya Firman Muntaco mungkin boleh dibandingkan dengan Mahbub Djunaidi; tetapi, humor gaya Betawi ditulis Firman Muntaco dalam dialek Betawi. Hal ini berbeda dengan Mahbub yang mengungkapkan humor Betawi dengan tulisan-tulisan yang menggunakan Bahasa Indonesia yang bagus. Di hadapan peserta Seminar Betawi 21-22 Februari 1986 di Fakultas

Firman Muntaco merupakan warisan tak ternilai, sebab ia sebenarnya juga mewariskan dokumentasi sosial-budaya penting menyangkut kehidupan orang Betawi. Begitu juga anggapan S.M. Ardan, ceritacerita Firman mencerminkan masyarakat Betawi, yang baik maupun yang buruk. Ceritanya merupakan gambaran spesifik kehidupan di Jakarta, terutama kalangan kaum Betawinya, yang asli dan tersendiri serta betul-betul bersifat khusus. Kehidupan rakyat kecil Betawi memang hampir tergambar di se-

Jasa Firman yang besar adalah menampilkan humor, yang menjadi kekayaan budaya Betawi, ke dalam sastra tulis.

CINTAJAKARTA/ TITAH PROBOWO

Di hari jadi Jakarta, marilah mengenang Firman Muntaco, kampium cerita dunia rakyat kecil yang keberadaannya terus dinafikan oleh metropolitan yang dahulu bernama Kalapa. Tanpa tanda-tanda alam, selain sisa-sisa malaise yang masih melilit-lilit rakyat kecil, di Jati Petamburan, Jakarta Barat, pada 5 Mei 1935 lahirlah Firman Muntaco. Ibunya orang Lampung. Ayahnya Betawi, tuan tanah juga ekportir tembakau dan pemilik pabrik susu. Haji Muntaco namanya. Haji Muntaco tersohor di Jakarta. Menurut cerita, sebelum Sukarno berpidato menenangkan rakyat di lapangan IKADA pada 1945, putra sang fajar itu sempat mampir ke peternakan sapinya untuk minum susu. “Susu sapi Haji Muntaco berkhasiat mengendurkan syaraf yang tegang,” begitu folklor yang beredar ihwal khasiat susu Haji Muntaco. Dan Firman Muntaco mengenang kunjungan presiden pertama RI itu sebagai detik tunggal kerakyatan Sukarno yang memicu dalam jiwanya tumbuh paham nasionalisme kerakyatan. Sebab itu wajar jika banyak yang menganggap salah satu segi paling menarik dari Firman adalah sifat kerakyatannya. Semua cintanya

pada rakyat kecil tercermin dalam setiap cerita-ceritanya. Sapardi Djoko Damono, misalnya dalam sebuah seminar tentang kesusastraan Betawi bulan Maret 1991, menyatakan bahwa cerita-cerita Firman yang tergabung dalam dua jilid Gambang Djakarte (1960) adalah sebuah ruang yang menampilkan rakyat kecil di Jakarta dalam kehidupan sehari-hari. “Tokohnya benar-benar orang kecil, yang perasaan, pikiran, sikap dan kecenderungannya bukan priyayi,” tutur Sapardi. Dan yang paling mengesankan, menurut Sapardi, adalah kemampuan Firman menyampaikannya dalam genre yang paling sulit dalam sastra, yakni humor. Dalam sastra, lagi-lagi menurut Sapardi, orang kecil tidak segera disejajarkan dengan humor; lebih sering dikaitkan dengan kesusahan, penindasan, ketidakadilan, dan sebangsanya. Lalu, apakah cerita-cerita Firman itu menampilkan tokohtokoh yang terbebas dari kesulitan hidup? Sama sekali tidak. Tokohtokoh Firman adalah orang-orang kecil yang terbelit kehidupan yang sulit, seperti orang kecil manapun, namun boleh dikatakan keseluruhan ceritanya menumbuhkan suasana humor. Suasana yang muncul dalam kisah-kisahnya itu tentunya bersumber dari Firman Muntaco sendiri, penciptanya. “Bapak memang humoris dan senang bercanda, seperti karakter tulisannya,” demikian ucap Ferry anak sulungnya dari tujuh bersaudara buah perkawinan Firman dengan Farida. Dan justru humor itu yang menghidupkan cerita-cerita Firman Muntaco. S.M. Ardan dalam pengantar jilid pertama Gambang Djakarte menyatakan justru letak sukses Firman adalah pada humor yang hidup dan ceritanya yang melulu berkisar pada orang kecil. Senapas adalah pernyataan H.B. Jassin: “Justru jasa Firman yang besar adalah menampilkan humor, yang menjadi kekayaan budaya Betawi, ke dalam sastra tulis”. Dan bahasanya yang memakai bahasa percakapan membuat humor itu men-

– H.B. Jassin Sastra UI, Firman mengakui bahwa ia bukan tak pernah mencoba menulis kalangan atas Jakarta-Betawi; tapi, kehidupan kalangan itu tiada yang menarik untuk ditulis, minimal menarik hatinya sendiri. Hidup mereka penuh basa-basi sehingga sulit melahirkan humor dari situasi yang kaku itu. Lain dengan rakyat bawah Betawi, dikalangan ini humor mudah lahir, sebab pergaulan di kalangan itu lebih bebas, lebih spontan, lugu, kendati kadang-kadang terasa getir. “Di kalangan bawah inilah saya bisa mengeksplorasi ide dan mempertahankan ‘trade mark’ saya yang penuh humor,” kata Firman. Mungkin itulah sebabnya H.B. Jassin menganggap cerita-cerita

luruh cerita Firman; namun, yang nampak sangat jelas adalah dalam “Bandjir”, “Tjari Kutu”, “Pesta Jembel”, ”Kaki Lima”. Ia juga menggambarkan geger budaya dan akibat buruk modernisasi di kalangan Betawi bawah lewat “Ai Lap Ju” dan “Bob Komeng”, “Sayur Asem”, “Hujan Duit”, “Sepatu Roda”, “Pacar dan Jengki”, “Djontrot”. Dan betapa orang Betawi tergambar dalam cerita “Kembang Payung”, “Djaelangkung”, “Flu”, dan “Nujubulanin”. Dan betapa kehidupan sehari-hari Betawi tergambar dalam “Sauur!”, “Kaparindjo”, “Si Udin Disunatin”, “Pelangke”, “Tjap Gow Meh”, atau “Satu Kali Satu”. Cerita yang terakhir inilah, menurut S.M. Ardan, yang terbaik, artinya paling meng-

gambarkan kehidupan sehari-hari di kampung-kampung Jakarta. Firman Muntaco pada 19501970-an adalah tokoh yang memikat dan lincah dalam banyak lapangan, seperti teater dan musik rakyat Betawi. Tapi, ia terutama memukau dengan cerita-cerita pendek, mirip sketsa, yang ditulis dalam dialek Betawi di koran Berita Minggu. Konon, orang berebutan membeli koran Berita Minggu, hanya untuk membaca “Gambang Djakarte”—judul rubrik tempat Firman Muntaco menuliskan ceritanya. Berita Minggu yang berhenti terbit sejak 1965, pernah mencapai tiras 400.000 eksemplar berkat tulisan Firman Muntaco. Maka, jika Ben Anderson dalam “Languange of Indonesia Politics” (1966) menggambarkan perkembangan Bahasa Indonesia yang bersumber pada Bahasa Melayu itu dua arah: perkembangan ke arah “kromonisasi” dan “ngokonisasi”. Dalam kilas balik agaknya bolehlah dikatakan bahwa Firman Muntaco punya artikulasi sangat besar dalam perkembangan bahasa Betawi sebagai ngoko-nya. Total karangan Firman sampai akhir hayatnya 10 Januari 1990, menurut keluarganya, mencapai angka 5000 buah sketsa Betawi. Sayangnya yang terselamatkan dalam dokumentasi hanya 499 buah. Apakah ini menyakitkan? Sangat! Karena itu bukan saja kegagalan dalam mengarsip, lebih jauh lagi tanda ketidakpedulian pada nilai penting ihwal semangat perjuangan yang diabdi Firman Muntaco selama hidupnya, yakni bahwa jangan sampai pudar apalagi hilang ingatan, perasaan dan kecenderungan untuk mencintai rakyat kecil yang terus dinafikan kota Jakarta sejak dulu masih bernama Batavia sampai sekarang. Di tengah perkembangan Jakarta yang semakin angkuh dan hanya membangun kotanya untuk memenuhi mimpi kaum elit dan aristokrasi uang itu, tentu saja warisan nilai Firman Muntaco menjadi kado istimewa hari jadi Jakarta yang sudah mendekati setengah milenium. □

PEMENANG KUIS Tebak Tokoh Jakarta #2 Jawaban yang benar adalah: Benyamin Sueb Pemenang Hadiah Televisi Samsung 21 inch

HADI KURNIAWAN Jalan Bakti IX RT 003/06 No. 18 Cilincing Jakarta Utara, 14120. Pemenang Hadiah Lemari Es Toshiba 1 Pintu

VENNY NOPIANTI Jalan G2, no 22, RT 007/002, Kelurahan Slipi, Kecamatan Pal Merah, Jakarta Barat.

join our community

www.cintajakarta.com www.facebook.com/gentajakarta www.twitter.com/cinta_jakarta



Koran Cinta Jakarta Juni 2011