Page 1


Keep in touch with me. /dimas.sumargono

bit.ly/shumargono

shumargono

/in/dimassumargono/

@sumargo_

bit.ly/YTshumargono


“Karya majalah ini saya jadikan sebagai portofolio pribadi. Dalam majalah ini, saya lampirkan semua karya yang saya buat, baik fotografi, visual, layouting dan kemampuan menulis saya. Saya sangat berharap majalah ini menjadi indikator pembanding dan pandangan anda terhadap diri dan kemampuan saya.� Dimas Sumargono Author, Communcation Student. University of Padjadjaran.

ISI KONTEN

Dolan Nang Yogyakarta! Tentang LOMBOK


DOLAN NANG YOGYAKARTA INSPIRASI MEMORIA BUDAYA MODERNITAS HISTORIS KOLOSAL ATRAKSI


Menjelajah kearifan Yogyakarta dengan para sahabat yang kian hari semakin terasa intim, agaknya lebih tepat disebut sebagai keluarga. Tulisan ini dibuat untuk mengenang satu minggu penjelajahan kami di kota dengan sejuta cerita, Yogyakarta. Yogyakarta, kota bagi para pelancong yang haus akan kebudayaan namun tetap eksotis dengan campuran konsep modernitasnya. Kota yang saya amati tidak banyak berubah dari pertama kali saya berkunjung pada 2008. Satu hal yang terasa berbeda adalah semakin banyak pelancong yang menambah sesak kota ini. Yogyakarta memang menjadi kota dengan sejuta kenangan yang mampu menarik para pelancong datang kembali. Mengawali perjalanan dari Stasiun KA Bandung, sore itu kami, Saya, Haniva, Rafiani, Zaini dan Hendro, langsung menghubungi teman kami yang sudah lebih dahulu berangkat ke Yogyakarta, Haris. Malam hari

tanggal 16 Agustus 2016 tersebut kami habiskan di rangkaian kereta. Perjalanan tujuh jam kami lalui hanya dengan sedikit canda tawa dan perbincangan kecil, selebihnya terlelap dalam keheningan malam. Perjalanan tersebut kami sudahi dengan tibanya kereta di Stasiun Tugu. Namun, mentari belum siap menyambut kami yang sudah berapi-api menjelajahi kota ini. Setibanya, kami langsung menemui Haris yang sudah menunggu di luar stasiun. Ia kemudian mengantar kami bermalam di rumah pamannya di daerah Sleman. Hari sudah berganti ketika kami tiba di kota ini. Tepat 71 tahun yang lalu, Republik Indonesia memproklamasikan


Kami membentuk formasi untuk pendokumentasian penghormatan kepada sang saka Merah Putih.

kemerdekaannya. Petualangan kami pada hari kemerdekaan ini diawali dengan menjelajahi tempat wisata yang baru saja menjadi buah bibir wisatawan yang hendak melancong ke Yogyakarta, Tebing Breksi. Berkendara motor menuju lokasi tersebut hanya membutuhkan waktu 20 menit dari tempat kami bermalam. Singkatnya perjalanan kami mungkin akibat sepinya jalanan pagi hari. Selama perjalanan, kami lihat para pelajar berbaris rapi menuju suatu lapangan besar untuk melakukan upacara. Hal ini semakin mengingatkan kami pada masa sekolah lalu. Sesampainya di lokasi, sembari melihat dan mengagumi keindahannya, kami pun turut

“Cinta tanah air tidak melulu tentang prosesi ritual, tetapi juga upaya menghormati dan menjunjung NKRI pada segala situasi & kondisi.� Dimas Sumargono meluapkan rasa cinta tanah air di sana. Bendera merah putih yang berkibar di puncak tebing menjadi saksi tunggal kami dalam melakukan penghormatan kala itu. Perayaan HUT RI tersebut saya rasa sangat jauh dari kata khidmat dan menyentuh hati bila dibandingkan dengan perayaan tahun-tahun sebelumnya. Tahun-tahun sebelumnya saya lalui dengan melakukan prosesi upacara di SMA. Namun, saya pikir rasa cinta tanah air tidak melulu tentang prosesi dan


Lanskap kemegahan Candi Borobudur di Magelang yang tidak pernah sepi pengunjung.

ritual semata, tetapi juga tentang upaya menghormati dan menjunjung tinggi NKRI pada segala situasi. Perjalanan kami lanjutkan pada keesokan harinya. Sejak sang mentari menyambut, kami sudah bersiap untuk melanjutkan pen-

jelajahan. Setelah sarapan di hotel, kami langsung bergegas bermotor menuju salah satu objek wisata yang sarat akan sejarah dan kebudayaan Budha, Candi Borobudur. Meski tidak berlokasi di Daerah Istimewa Yogyakarta, wisatawan kerap menyebut


keberadaannya di Jogjakarta, sebenarnya Candi ini secara geografis terletak di Magelang, Jawa Tengah. Kami membutuhkan waktu 45 menit untuk sampai ke Candi Borobudur. Tepat pukul 8.30 WIB kami tiba, namun antusiasme wisatawan

sudah memenuhi antrean loket pembelian tiket masuk. Sepertinya, Candi Borobudur masih menjadi primadona bagi wisatawan yang ingin mengetahui sisa-sisa peninggalan Budha. Langit biru dan teriknya matahari menyambut kami pagi itu. Meski belum terlalu siang, cuaca di sini cukup panas dan membakar kulit. Kemegahan sang bangunan historis berundak itu pun membelalak mata kami di tengah cuaca ekstrem. Dalam mengeksplorasi kemegahan candi ini, kami harus menaiki puluhan anak tangga untuk mencapai stupa paling atas dari candi ini. Beruntung, renovasi yang dilakukan pasca terkena dampak erupsi memudahkan kami mencapainya. Anak tangga yang terbuat dari rangka besi menjadikan pijakan kami lebih kokoh. Stupa-stupa yang berada di puncak pun kini diawasi lebih ketat oleh para petugas keamanan. Jika dulu wisatawan masih banyak yang menyentuh bagian dalamnya, kali ini peringatan larangan disebar di banyak titik. Hal tersebut dilakukan untuk tetap menjaga kondisi stupa yang tidak lagi muda.


and I redefine my standard through this portfolio.


#Tentang

LOMBOK


Mengintip Pesona Suku Sasak yang Masih Dipertahankan

Wanita suku sasak sedang menenun kain yang akan dijadikan barang dagangan untuk oleh-oleh khas Desa Sade Rambitan bagi para pelancong.

Lombok menjadi salah satu destinasi wisata yang sangat diminati baik domestik maupun internasional. Salah satu objek wisata yang kerap dikunjungi adalah Desa Adat Rembitan Sade atau lebih sering disebut sebagai Desa Sade. Desa Sade merupakan salah satu desa adat asal masyarakat Sasak Lombok yang masih terjaga dan dipertahankan. Berlokasi di sebelah tenggara Bandara Internasional Lombok (Praya,

LOP), desa ini bisa dijangkau dengan 20 menit perjalanan menggunakan mobil dari Bandara. Menurut masyarakat dan tour guide setempat, ada 700 pemuda dan 12 generasi didalamnya. Sebagian besar masyarakat di desa ini masih belum bisa memahami Bahasa Indonesia dan sangat mempertahankan Bahasa Sasak. Salah satu yang adat ini masih pertahankan dan menjadi buah bibir bagi para pelancong adalah keunikan dalam


proses melamar. Masyarakat Indonesia barangkali lebih mengenalnya dengan ‘kawin lari’. Adat ini dilakukan dengan menculik sang wanita selama 3 hari tanpa sepengetahuan orangtuanya. Memang bagi masyarakat awam tidak etis, namun menurut masyarakat Sasak, apabila dilakukan dengan maksud untuk menikahi maka menganggap hal itu sebagai jual beli anak perempuan. Setelah ‘diculik’, sang perempuan diantar kembali oleh sang laki-laki ke orangtuanya dengan iringan musik gendang dan pawai yang konon panjangnya bisa mencapai empat kilometer. Setelah mengantar kembali ke orangtua sang perempuan, sang lelaki menyampaikan niat menikahi sang wanita, apabila diterima, maka sang perempuan harus memberi satu kain songket buatannya sendiri sebagai tanda penerimaan. Songket inilah yang erat kaitannya dengan budaya dan adat suku Sasak di Lombok. Desa Wisata Sade Rembitan ini semakin hari semakin terkenal dan banyak dikunjungi wisatawan.

Seiring hal tersebut berjalan, masyarakat semakin menyadari pula akan peluang usaha yang mampu tercipta dalam desa ini. Para pemandu wisata juga turut mengarahkan kami ke kios-kios kecil yang ada sepanjang jalur wisata desa ini. Buah tangan khas suku sasak masih menjadi primadona untuk ditawarkan kepada wisatawan. Masyarakat sasak sendiri selain terbiasa membuat kain tenun songket juga terbiasa menjajakan buah tangan lainnya, seperti kopi khas sasak, taplak meja, kalung-kalung dari kulit kerang, dan masih banyak lagi. Harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari lima belas ribu rupiah hingga ratusan ribu rupiah.


Read another of mine! bit.ly/bookletbatak

Di desain dan dipublikasikan untuk Festival Budaya Fikom Unpad 2017 : Diversity and Inclusivity.


I Also

Design My Future Home!

2 Level Cluster Home Design

3 Level Cluster Home Design

Mini Shop Outlet Design


“

After this simple booklet, I can guaranteee that now you already have interest on me. Nothin’ you can do, except one, contact me. Dimas Sumargono. dimassumargono@gmail.com | ph. +6281214005769

The Port of Olio : Memori yang Terekam Lensa Kamera  

Portofolio fotografi dan jurnal perjalanan Dimas Sumargono

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you