Issuu on Google+

Bungo Pos

Bungo Pos

Jawa Pos News Network (JPNN)

Minggu, 11 september 2011

3

Geliat Photography di Bungo Mulai Terlihat Pecinta dan penyuka dunia photography di Bungo dewasa ini menunjukkan geliatnya. Beberapa workshop tentang photography yang digelar beberapa waktu lalu menunjukkan geliat itu, sebab peserta yang ikut dalam kegiatan ini lumayan banyak. Tak hanya itu, di Bungo juga sudah muncu komunitas photographer. Jumlah anggotanya pun menunjukkan animo yang baus pada bidang seni melukis cahaya ini. Worshop yang digelar Sampoerna Muara Bungo beberapa waktu lalu juga sukses. Acara yang digagas Bungo Photographer Community (BPC) tersebut me-

nyedot perhatian para pecinta photography di Muara Bungo. Terbukti, puluhan photographer baik profesional maupun pemula terlihat hadir mengikuti acara. Selain menghadirkan nara sumber yang berkompetein dibidangnya, materi yang dibawakan juga sangat menarik. Tak tanggung-tanggung. BPC menghadirkan master dibidangnya dari Jakarta untuk tampil sebagai narasumber, sebut saja Ade Oktora, Doni Rudianto dan Mr.

Sam. Ketiga nara sumber ini begitu detail menyampaikan basic photography dan teknik lighting (strobist) Wokshop dibuka dengan pemaparan Mr. Sam dengan pemaparan basic photography sekitar jam 10.00. Suasana santai dan dialogis terlihat dis season ini. Dalam paparannya Mr Sam dibantu Doni menyampaikan detai Aperture, Shutter Speed serta ISO. Diseason kedua, Ade memaparkan teknik

Istilah Pada Photograhy ASA ASA atau Kecepatan film adalah istilah dalam fotografi untuk mengukur tingkat kesensitivitas atau kepekaan film foto terhadap cahaya. Film dengan kepekaan rendah (memiliki angka ISO rendah seperti ASA 100) membutuhkan sorotan/exposure yang lebih lama sehingga disebut slow film, sedangkan film dengan kepekaan tinggi (memiliki angka ISO tinggi seperti ASA 800) membutuhkan exposure yang singkat. APERTURE Aperture atau Bukaan atau rana di dalam fotografi berarti ukuran pembukaan diafragma yang mengatur banyaknya cahaya yang masuk ke dalam kamera. Biasanya dilambangkan dengan huruf f.Angka bukaan umumnya merupakan urutan 1, 1.2, 1.4, 2, 2.8, 4, 5.6, 8, 11, 16, dan seterusnya. Semakin besar angka bukaan, berarti semakin kecil diameter lubang diafragma di bagian dalam lensa. Besarnya diameter terbukanya diafragma akan membuat cahaya yang masuk menjadi lebih banyak, sehingga pajanan cahaya bertambah dan akibatnya tingkat keterangan foto bertambah, demikian pula sebaliknya. AF Autofocus, fitur optik pada alat fotografi. AUTOMATIC EXPOSURE (AE) Automatic exposure adalah sebuah pilihan setting dalam kamera otomatis di mana sistem komputer di dalam kamera akan mengontrol Exposure yang tepat (misalnya mengatur Shutter Speed dan aperture lensa) secara otomatis. CMYK Cyan Magenta Yellow Key, atau sering disingkat sebagai CMYK adalah proses pencampuran pigmen yang lazim digunakan percetakan. Tinta process cyan, process magenta, process yellow, process black dicampurkan dengan komposisi tertentu dan akurat sehingga menghasilkan warna tepat seperti yang diinginkan. Bahkan bila suatu saat diperlukan, warna ini dengan mudah bisa dibentuk kembali. DEPTH OF FIELD Depth of Field adalah istilah khusus di dalam fotografi untuk menunjukkan ruangan tertentu di dalam foto yang mendapatkan perhatian khusus oleh mata karena adanya perbedaan ketajaman (fokus). Perubahan kedalaman ruang dipengaruhi oleh tiga faktor: Jarak fokus utama dari kamera Lebar ruang tajam berbanding lurus dengan kuadrat jarak objek. Jika kita mengubah jarak antara kamera dengan objek sebesar 3x (lebih jauh – dengan menggeser kamera mundur dari posisi semula) maka lebar ruang tajam akan menjadi 9x lebar semula. Bukaan diafragma Lebar ruang tajam berbanding lurus dengan diafragma. Contoh: jika diafragma dinaikkan 2 stop dari f/8 ke f/16, maka lebar ruang tajam akan menjadi 2x lebar semula. Panjang fokus lensa yang digunakan Lebar ruang tajam berbanding terbalik dari kuadrat panjang fokus. Dengan kata lain, lebar ruang tajam akan menjadi 4x lebar semula jika kita mengubah lensa dari 100mm ke 50mm (panjang fokus lensa setengah dari semula). DEPTH OF FIELD PREVIEW Depth of field preview adalah tombol tambahan di badan kamera untuk melihat bagaiamana kedalaman ruang terbentuk di foto. Awalanya kamera SLR dirancang untuk selalu membuka lensa pada nilai bukaan sebenarnya se-

hingga kadang mempersulit fotografer untuk membidik, terutama di tempat gelap jika menggunakan bukaan kecil. Sebagai contohnya di kamera Pentax Asahi.Namun kamera berikutnya pun tidak memberi solusi yang baik dengan memberi pandangan tetap di bukaan terbesar. Sebagai akibat penggunaan sistem ini, fotografer mengalami kesulitan memperkirakan kedalaman ruang di foto nanti. Karena itu beberapa kamera SLR untuk penggunaan profesional atau semi-profesional dilengkapi dengan tombol Depth of field atau DOF preview yang jika ditekan akan membuat kisikisi diafragma pada lensa merapat sesuai dengan setelan yang dikehendaki. Akibatnya fotograferkedalaman ruang yang sesungguhnya walaupun tombol shutter belum ditekan. Contoh paling awal adalah di kamera Nikon FM. EXPOSURE Exposure adalah istilah dalam fotografi yang mengacu kepada banyaknya cahaya yang jatuh ke medium (film atau sensor gambar) dalam proses pengambilan foto. Untuk membantu fotografer mendapat setting paling tepat untuk exposure, digunakan lightmeter. Lightmeter, yang biasanya sudah ada di dalam kamera, akan mengukur intensitas cahaya yang masuk ke dalam kamera. Sehingga didapat pajanan normal. FOCAL LENGTH Focal length adalah ukuran jarak antara elemen lensa dengan permukaan film (atau sensor digital) pada kamera. Lensa dengan panjang fokal besar akan memberikan sudut pandang yang sempit sehingga sebuah objek pada jarak jauh akan nampak menjadi lebih besar di dalam foto. Sebaliknya lensa dengan panjang fokus kecil memberikan sudut pandang tangkap lebih luas dan menyebabkan objek mendapat porsi lebih kecil di dalam foto. Panjang fokal yang bisa berubah-ubah sering diistilahkan dengan zoom (perbesaran). OVEREXPOSURE Overexposure adalah istilah dalam fotografi yang mengacu kepada banyaknya cahaya yang jatuh ke medium (film atau sensor gambar) dalam proses pengambilan foto. Untuk membantu fotografer mendapat setting paling tepat untuk exposure, digunakan lightmeter. Lightmeter, yang biasanya sudah ada di dalam kamera, akan mengukur intensitas cahaya yang masuk ke dalam kamera. Sehingga didapat pajanan normal. PRIME LENS Prime lens atau fixed lens adalah lensa dengan panjang fokal tidak dapat diubah kecuali dengan bantuan lensa tambahan atau teleconverter. prime lensa berlawanan dengan lensa zoom yang memiliki panjang fokal variabel. Umumnya prime lens lebih ringan, dan banyak fotografer percaya lensa ini bisa menghasilkan gambar yang lebih tajam dan kualitas optiknya lebih baik daripada lensa zoom. Panjang focal lensa utama yang sering dijumpai pada kamera 35mm adalah 28, 50, 85, 100 dan 135mm. SHUTTER Shutter atau Rana dalam is-

tilah fotografi adalah tirai pada kamera yang menutupi permukaan atau sensor foto. Jika tirai ini terbuka maka akan terjadi exposure pada permukaan film atau sensor foto tadi. SHUTTER SPEED Shutter speed atau Kecepatan rana adalah ukuran kecepatan rana membakar medium penangkap cahaya (lebih umum disebut film atau sensor digital). VIEWFINDER Viewfinder atau dikenal juga dengan jendela pelihat, berupa jendela kecil pada kamera untuk melihat object yang akan diambil oleh fotografer, object yang tampak pada viewfinder sesuai dengan kenyataan dan hasil yang ada di viewfinder pula yang akan tercetak di film. pada kamera fotografi profesional, di dalam viewfinder juga terdapat titik fokus dan pengukuran cahaya sehingga fotografer dapat melihat apakah gambar yang dihasilkan memiliki cahaya yang cukup dan ketajaman gambar yang pas. VIBRATION REDUCTION Vibration Reduction atau VR merupakan fasilitas dari varian lensa kamera yang berfungsi mengurangi getaran karena kurang kuatnya tangan pada saat mengambil gambar. Istilah ini digunakan pada lensa-lensa dari serial kamera bermerek Nikon. Canon menggunakan istilah Image Stabilizer (IS) yang fungsinya sama dengan VR dan juga Sigma menggunakan istilah Optical Stabilizer (OS). Ketiga istilah ini pada dasarnya bekerja dengan cara yang sama, yaitu menggunakan grup tambahan di tubuh lensa yang berfungsi untuk menyeimbangkan bidikan lensa dengan cara menggerakkan grup ini ke arah yang berlawanan dari getaran tangan kita. Sistem penyeimbang di tubuh lensa ini lebih superior dari sistem penyeimbang yang terdapat di sensor kamera seperti Sony Alpha, dimana hasil yang stabil bisa dilihat langsung di optical viewfinder. Sistem ini terus dikembangkan. Pada Desember 2006, tehnologi yang terakhir bisa memberikan total 4-stop lebih lambat daripada jika kamera dipegang oleh tangan, seperti di lensa Canon EF 70-200mm f/4 IS USM. Contoh: Untuk lensa diatas, dengan mengikuti pedoman standar panjang fokal / detik, jika lensa tersebut dizoom ke 200mm dan dipegang secara handheld, maka pedoman Shutter speed yang aman adalah 1/200 detik. Dengan tehnologi ini, maka lensa yang sama bisa dipakai hanya dalam 1/12 detik. ZOOM LENS Lensa variabel atau sering disalahkaprahkan dengan lensa zoom adalah lensa khusus dengan jarak fokus yang bisa diubah-ubah

menggunakan flash atau blitz secara offkamera atau tekbik strobist. Dijelaskan dengan teknik ini, keuntungannya kita bisa memposisikan satu atau lebih flash di mana saja untuk mengatur arah, intensitas, cahaya untuk menghasilkan foto yg kita inginkan. Tak kalah menarik pula, peserta workshop tak beranjak oada sesaon kedua yang dimulai sekitar pulul 20.00 WIB ini. Sisi lain, sekilas tentang BPC, komunitas photographer non profit yang berdimisili

di Kabupaten Bungo ini berdiri tepatnya 2 Agustus 2011 yang lalu. Hingga kini sebanyak 20 photografer sudah tercatat menjadi anggota BPC. Adapun latar belakang dari lahirnya komunitas ini adalah berlatar belakang hobi yang sama yaitu di dunia photography. Adapun berdirinya komunitas ini adalah ingin memperkenalkan Bungo ke luar daerah memalui media visual. “Kita ingin memperkenalkan Bungo ke luar melalui hasil karya kita� ucap Mulyadi, Ketua BPC Bungo Sementara itu, keduapuluh anggota yang sudah tercatat diantararanya Samino Alfan Kaslim, Doni Ade octora, Mulyadi (ketua), Tri wawan, Dede, Frenky, Rifki, Edo, Yan, Dedy, Supri, Anes, Algit, Aziz, Imaldi, Yatno, Veri, Andriansyah. Sementara itu, untuk keanggotaan, BPC bersifat terbuka untuk umum yang memiliki hobi photography. Dan untuk pengguna faceebook, bisa gabung di bungo photographer community. Terkait dengan BPC, beberapa agenda rutin dilakukan komunitas ini. Hunting foto setiap akhir pekan menjadi satu kegiatan yang rutin dilakukan. (acn)


Minggu