Issuu on Google+

Kisah Shahabat Nabi yang Durhaka Kepada Ibunya Al kisah : Konon dikisahkan bahwa pada zaman Rosululloh ada seorang pemuda yang bernama Alqomah. Dia seorang pemuda yang giat beribadah, rajin sholat, banyak puasa dan suka bershodaqoh. Suatu ketika dia sakit keras, maka istrinya mengirim utusan kepada Rosululloh untuk memberitahukan kepada beliau akan keadaan Alqomah. Maka Rosululloh pun mengutus Ammar bin Yasir, Shuhaib ar Rumi dan Bilal bin Robah untuk melihat keadaannnya. Beliau bersabda : “Pergilah ke rumah Alqomah dan talqinlah untuk mengucapkan La Ilaha Illalloh.” Akhirnya mereka berangkat kerumahnya, ternyata saat iu Alqomah sudah dalam keadaan naza’, maka segeralah mereka mentalqinnya, namun ternyata lisan Alqomah tidak bisa mengucapkan La ilaha illalloh. Langsung saja mereka laporkan kejadian ini pada Rosululloh. •

Maka Rosululloh pun bertanya : Apakah dia masih mempunyai kedua orang tua ?

Ada yang menjawab : Ada wahai Rosululloh, dia masih mempunyai seorang ibu yang sudah sangat tua renta.” •

Maka Rosululloh mengirim utusan untuk menemuinya, dan beliau berkata kepada utusan tersebut : Katakan kepada ibunya Alqomah : “Jika dia masih mampu untuk berjalan menemui Rosululloh maka datanglah, namun kalau tidak, maka biarlah Rosululloh yang datang menemuimu.”

Tatkala utusan itu telah sampai pada ibunya Alqomah dan pesan beliau itu disampaikan, maka dia berkata : Sayalah yang lebih berhak untuk mendatangi Rosululloh.” Maka dia pun memakai tongkat dan berjalan mendatangi Rosululloh. Sesampainya di rumah Rosululloh, dia mengucapkan salam dan Rosululloh pun menjawab salamnya. •

Lalu Rosululloh bersabda kepadanya : “Wahai ibu Alqomah, jawablah pertanyaanku dengan jujur, sebab jika engkau berbohong maka akan datang wahyu dari Alloh yang akan memberitahukan kepadaku, bagaimana sebenarnya keadaan putramu Alqomah ?


Sang ibu menjawab : Wahai Rosululloh, dia rajin mengerjakan sholat, banyak puasa dan senang bershodaqoh.” •

Lalu Rosululloh bertanya lagi : Lalu apa perasaanmu padanya ?

Dia menjawab : Saya marah kepadanya Wahai Rosululloh.” •

Rosululloh bertanya lagi : Kenapa ?.”

Dia menjawab : Wahai Rosululloh, dia lebih mengutamakan istrinya dibandingkan saya dan dia pun durhaka kepadaku.” •

Maka Rosululloh bersabda : Sesungguhnya kemarahan sang ibu telah menghalangi lisan Alqomah sehingga tidak bisa mengucapkan syahadat.”

Kemudian beliau bersabda : Wahai Bilal , pergilah dan kumpulkan kayu bakar yang banyak.”

Si ibu berkata : Wahai Rosululloh, apa yang akan engkau perbuat ?.” •

Beliau menjawab : Saya akan membakarnya dihadapanmu .”

dia menjawab : Wahai Rosululloh , saya tidak tahan kalau engkau membakar anakku dihadapanku.” •

Maka Rosululloh menjawab : Wahai Ibu Alqomah, sesungguhnya adzab Alloh lebih pedih dan lebih langgeng, kalau engkau kepingin agar Alloh mengampuninya, maka relakanlah anakmu Alqomah, demi dzat yang jiwaku berada di Tangan Nya, sholat, puasa dan shodaqohnya tidak akan memberinya manfaat sedikitpun selagi engkau masih marah kepadanya,”

Maka dia berkata ; Wahai Rosululloh, Alloh sebagai saksi, juga para malaikat dan semua kaum muslimin yang hadir saat ini bahwa saya telah ridlo pada anakku Alqomah”. •

Rosululloh pun berkata kepada Bilal : Wahai Bilal, pergilah kepadanya dan lihatlah apakah Alqomah sudah bisa mengucapkan syahadat ataukah belum, barangkali ibu Alqomah mengucapkan sesuatu yang bukan berasal dari dalam hatinya, barangkali dia hanya malu kepadaku.”

Maka, Bilal pun berangkat, ternyata dia mendengar Alqomah dari dalam rumah mengucapkan : La Ilaha Illalloh.” Maka Bilal pun masuk dan berkata : Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kemarahan ibu Alqomah telah menghalangi lisannya sehingga tidak bisa mengucapkan syahadat, dan ridlonya telah menjadikanya mampu mengucapkan syahadat.” Kemudian, Alqomah pun meninggal dunia saat itu juga.


Maka, Rosululloh melihatnya dan memerintahkan untuk dimandikan lalu dikafani kemudian beliau mensholatinya dan menguburkannya,

Lalu, didekat kuburan itu beliau bersabda : Wahai sekalian kaum muhajirin dan anshor, barang siapa yang melebihkan istrinya daripada ibunya, dia akan mendapatkan laknat dari Alloh, para malaikat dan sekalian manusia. Alloh tidak akan menerima amalannya sedikitpun kecuali kalau dia mau bertaubat dan berbuat baik pada ibunya serta meminta ridlonya, karena ridlo Alloh tergantung pada ridlonya dan kemarahan Alloh tergantung pada kemarahannya.”

Kemasyhuran kisah ini : Kisah ini dengan perincian peristiwanya diatas sangat masyhur dikalangan kaum muslimin, para penceramah selalu menyebutkannya kalau berbicara tentang durhaka pada kedua orang tua. Kayaknya jarang sekali kaum muslimin yang tidak mengenal kisah ini. Dan yang semakin membuat masyhurnya kisah ini adalah bahwa kisah ini terdapat dalam kitab Al Kaba’ir yang disandarkan kepada Al Hafidl Adz Dzahabi. Padahal kitab Al Kaba’ir yang terdapat kisah ini bukanlah karangan Imam Adz Dzahabi, sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Syaikh Masyhur Hasan Salman dalam kitab beliau Kutubun Hadzara minha ulama’ juga dalam muqoddimah kitab Adz Dzahabi yang sebenarnya. Kisah ini juga terdapat dalam kitab-kitab yang membicarakan tentang kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua. Namun itu semua tidaklah menjadi jaminan bahwa kisah ini shohih.

Takhrij hadits ini : (1) Hadits yang menyebutkan kisah ini secara umum diriwayatkan oleh Imam Ahmad 4/382, Thobroni, Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6/197 dan dalam Dala’ilun Nubuwwah 6/205. Semuanya dari jalan Yazid bin Harun berkata telah menceritakan kepada kami Fa’id bin Abdur Rohman berkata : Saya mendengar Abdulloh bin Abu Aufa berkata : Ada seseorang yang datang kepada Rosululloh seraya berkata : Wahai Rosululloh disini ada seorang pemuda yang sedang sakarotul maut, dia disuruh untuk mengucapkan syahadat namun tidak bisa mengucapkannya.” Maka Rosululloh bertanya : Bukankah dia mengatakannya selama hidupnya ? dijawab : Ya, wahai Rosululloh.” Rosululloh kembali bertanya : lalu apa yang menghalanginya untuk mengucapkan syahadat saat akan mati ? ……. Lalu selanjutnya diceritakan tentang kisah pemuda itu yang durhaka kepada ibunya dan keinginan Rosululloh untuk membakarnya yang akhirnya ibunya meridlonya dan diapun bisa mengucapkan syahadat lalu meninggal dunia, dan akhirnya Rosululloh bersabda : Segala puji bagi Alloh yang menyelamatkannya dari api neraka.” Derajat kisah :


Kisah ini lemah sekali Sisi kelemahannya adalah bahwa kisah ini diriwayatkan hanya dari jalur Abul Warqo’ Fa’id bin Abdur Rohman dan dia adalah seorang yang ditinggalkan haditsnya dan seorang yang tertuduh berdusta. Berkata Ibnu Hibban : Dia termasuk orang yang meriwayatkan hadits-hadits munkar dari orang-orang yang terkenal, dia meriwayatkan dari Ibnu Abi Aufa dengan hadits-hadits yang mu’dhol, tidak boleh berhujjah dengannya. Berkata Imam Bukhori : Dia meriwayatkan dari Ibnu Abi Aufa dan dia seorang yang munkar hadits. Berkata Ibnu Hajar : Dia orang yang lemah, tidak tsiqoh dan ditinggalkan haditsnya dengan kesepakatan para ulama’. Oleh karena itu para ulama’ melemahkan hadits ini, diantaranya : • •

Imam Ahmad dalam musnad beliau Al Uqoili dalam Adl Dlu’afa al kabir 3/461

Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6/198

Ibnul Jauzi dalam Al Maudlu’at 3/87

Al Mundziri dalam At Targhib wat Tarhib 3/222. Karena beliau meriwayatkan kisah ini dengan lafadz : (‫ روي‬diriwayatkan). Sedangkan beliau mengatakan dalam muqoddimah kitab tersebut : Apabila dalam sanad sebuah hadits terdapat seorang pendusta, pemalsu hadits, tertuduh berdusta, disepakati untuk ditinggalkan haditsnya, lenyap haditsnya, lemah sekali, lemah atau saya tidak menemukan penguat yang memungkinkan untuk mengangkat derajat haditsnya menjadi hasan, maka saya mulai dengan lafadz (‫ روي‬diriwayatkan). Dan saya tidak menyebutkan siapa perowinya juga tidak saya sebutkan sisi cacatnya sama sekali. Dari sini maka sebuah sanad yang lemah bisa diketahui dengan dua tanda, pertama : dimulai dengan lafadz (‫ روي‬diriwayatkan), dan tidak ada keterangan sama sekali setelahnya.”

Adz Dzahabi dalam tartibul Maudhu’at no : 874

Al Haitsami dalam Majma’uz Zawa’id 8/148

Ibnu ‘Aroq dalam Tanzihusy Syari’ah 2/296

Asy Syaukani dalam Al Fawa’id Al Majmu’ah

Al Albani dalam Dlo’if Targhib


Ganti yang shohih Setelah diketahui kelemahan hadits ini, maka tidak boleh bagi siapapun untuk menyebutkan kisah ini saat membahas tentang kewajiban berbakti kepada kedua orang tua dan larangan durhaka kepadanya. Namun perlu diketahui bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah sebuah kewajiban sya’ri dan durhaka adalah sebuah keharaman yang nyata. Banyak ayat dan hadits yang menyebutkan hal ini, diantaranya: Firman Alloh Ta’ala : (QS. Al Isro’ : 23) Dari Abdulloh bin Amr bekata : Ada seseorang yang datang kepada Rosululloh seraya berkata : Saya datang demi berbaiat kepadamu untuk berhijroh, namun saya meninggalkan kedua orang tuaku menangis.” Maka Rosululloh bersabda : “Kembalilah kepada kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau membuat keduanya menangis.” (HR. Abu Dawud dengan sanad shohih, Lihat Shohih Targhib : 2481) Dari Abdulloh bin Umar berkata : saya mempunyai seorang istri yang saya cintai, namu Umar membencinya, dan dia mengatakan kepadaku : Ceraikan dia.” Sayapun enggan untuk mencerakannya. Maka Umar datang kepada Rosululloh lalu menyebutkan kejadian itu, maka Rosululloh berkata kepadaku : Ceraikanlah dia.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dan beliau menshohikannya. Berkata Tirmidzi : Hadits ini hasan shohih) Dari Abdulloh bin Amr bin Ash dari Rosululloh bersabda : “Dosa-dosa besar adalah berbuat syiik kepada Alloh, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa serta sumpah palsu.”/p> (HR. Bukhori)


Dan untuk mengetahui banyak hadis tentang pahala berbuat bakti pada kedua orang tua dan ancaman bagi yang durhaka kepada keduanya, lihatlah shohih targhib wat Tarhib oleh Syaikh Al Albani pada bab ini. Wallohu a’lam ____________________________________________ (1) Takhrij ini saya sarikan dari risalah Qoshoshun La Tatsbut oleh Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman 3/19 dan setelahnya


Kisah Shahabat Nabi yang Durhaka Kepada Ibunya