Page 18

Menuju Parlemen

18

Banjarmasin Post SABTU 3 MEI 2014

Kata Pakar

ANDI TENTRI SOMPA TJAWE Direktur CEPP Kalsel

Lebih Bergaung HINGGA saat ini gaung perempuan di parlemen masih belum banyak terdengar. Kadang, Caleg perempuan yang berasal dari masing-masing parpol peserta pemilu hanya dianggap sebagai ‘pemanis’ dan sekadar pemenuh formalitas administrasi. Bisa dilihat sejak awal pencalonan sebenarnya. Seperti saat pembagian nomor urut dan lain sebagainya. Keterwakilan perempuan yang mendapat nomor urut atas masih jarang. Paling banyak ditemui justru nomor urut buntut setelah 1, 2 dan tiga. Jika melihat hasil Pemilu 2009 lalu, kontribusi perempuan di parlemen juga belum begitu terlihat. Paling banter satu atau dua orang saja yang bisa bersaing atau minimal menyamai peran dari legislator pria. Karena itulah, ke depan para perempuan ini harus bisa lebih terbuka untuk bersaing. Jangan lagi menutup diri. Tunjungan kapabilitas dan kemampuan yang dipunyai dengan mampu menyerap aspirasi masyarakat. Baik umum maupun konstituennya. Para legislator perempuan ini harus menunjukkan bahwa perbedaan gender bukan jadi halangan ketika duduk di parlemen. Antara pria dan wanita punya kans sama. Jangan sampai sisi feminim dan kelemahan kaum perempuan justru dimanfaatkan oleh kalangan pria. Banyak contoh di tingkat nasional, legislator perempuan yang justru dimanfaatkan oleh kalangan pria. Tak ayal, ujung-ujungnya berkasus hukum. Ke depan harapan besar masyarakat ada di pundak para legislator perempuan. Semoga para perempuan di parlemen ini lebih punya prinsip untuk mewakili masyarakat dan punya gaung untuk bersaing dengan yang ada. Semoga. (nic) GRAFIS/DENI

Bukan Pemanis Gedung Dewan ■ Menunggu Kiprah Anggota Perempuan DPRD BANJARMASIN, BPOST-Jumlah legislator perempuan yg meraih kursi DPRD Kalsel hanya 7 orang. Artinya keberhasilan mereka merebut simpatik dan dukungan masyarakat tidak sampai 30 persen dari jumlah kursi Rumah Banjar (gedung DPRD Kalsel,Red) yang disediakan sebanyak 55 anggota. Bahkan di level DPR, Kalsel tidak punya wakil perempuan. Karena dari sejumlah caleg perempuan yang ikut berebut ‘tiket’ ke Senayan, tidak ada satupun yang berhasil. Sedangkan di tingkatan DPD, untuk pertama kalinya seorang perempuan yang dipastikan kuat lolos yakni Antung Fatmawati. Meskipun tidak sesuai dengan apa yang diharapkan khususnya dari segi jumlah perelolehan kursi untuk perempuan, masyarakat tetap menanti kiprah dan peran kaum hawa yang sebagian besar muka baru di parlemen. Diharapakan kehadiran mereka di gedung wakil rakyat itu bukan hanya sebagai pelengkap. Tapi benar-benar memperjuangkan aspirasi masyarakat, sesuai yang dijanjikan saat kampanye. Berbagai tanggapan pun diungkapkan para Caleg perempuan yang

dipastikan melenggang ke gedung dewan, meskipun belum ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Tapi berdasarkan perhitungan, mereka memiliki peluang mendapatkan kursi. Hj Ananda, salah satunya. Caleg DPRD Kota Banjarmasin dari Partai Golkar ini berhasil meraih suara tinggi di daerah pemilihannya meski berstatus petahana. Di periode keduanya ini, runner up Putri Indonesia itu berharap perempuan yang terpilih pada Pileg ini nantinya bisa bekerja maksimal memperjuangkan apa yang menjadi kebutuhan perempuan. Dia tegas menyatakan bahwa perempuan di parlemen jangan hanya jadi pemanis di antara dominasi lakilaki. “Jangan juga hanya jadi alat untuk melakukan lobi-lobi. Yang pasti perempuan di parlemen harus punya bargaining poin yang jelas,” ucapnya, Jumat (2/5). Terlepas dari memerjuangkan perempuan nantinya, Ananda juga tetap melaksanakan tugas kedewanannya. Yakni legislasi, budgeting dan pengawasan. Senada diungkapkan Gusti Miftahul

Chotimah. Caleg DPRD Provinsi Kalsel dari Partai Gerindra itu mengaku dari awal punya komitmen untuk berkiprah di parlemen. Dirinya merasa terpanggil setelah melihat banyaknya perempuan atau kasus yang muncul dan kurang terperhatikan. “Melalui Garnita Malahayati, partai kami ingin agar perempuan ke depan

jadi ujung tombak dan berkiprah di lembaga. Tak hanya duduk manis saja,” ucapnya. Ke depan, pihaknya menaruh prioritas kepada para perempuan yang ada di daerah pedesaan dan daerah terpencil. “Kami akan perjuangkan melalui program-program pemberdayaan perempuan yang ada,” kata dia. (nic)

Perjuangkan Bagi Hasil Tambang SELAIN berusaha maksimal untuk peran perempuan, para calon legislatif yang terpilih juga punya tanggung jawab untuk memperjuangkan daerahnya. Hal itu pula yang akan dilakukan oleh Antung Fatmawati. Calon DPD RI asal Kalsel yang dalam perolehan suara menduduki posisi keempat itu bertekad untuk memperjuangkan keadilan bagi Kalsel dari sektor tambang. Meski sebagai perempuan, namun dirinya akan berjuang maksimal untuk

mewujudkannya. Pasalnya, hal itu pulalah yang menjadi keinginan para konstituen di Tabalong maupun Banjar yang memilihnya. “Itulah tujuan saya ke senayan. Kalsel ini perlu keadilan,” kata dia. Dari situ, dana bagi hasil itu bisa untuk sarana sekolah, pendidikan, infrastruktur dan banyak lainnya. “Sebagai wakil daerah, tentu tidak bisa berdiam diri. Semua harus diperjuangkan. Insya Allah saya siap,” kata dia. (nic)

Masih Termarginalkan

DOK BPOST

PERAN perempuan di parlemen memang sampai sekarang terlihat minim. Bahkan, wakil rakyat perwakilan Kalsel di senayan kesemuanya lelaki. Calon DPD, Yuria Wati Zai Rose, mengakui keterwakilan perempuan di parlemen belum mencukupi. Meskipun aturan keterwakilan 30 persen di parlemen sudah mencoba mengakomodasi perempuan menuju parlemen. “Kita ambil contoh di internal Parpol. Seberapa besar partai-partai menempatkan perempuan di nomor urut satu. Sangat sedikit sekali,” kata dia. Ini membuktikan bahwa perempuan di Indonesia masih termarginalkan di bidang politik. Hasil kongres muslimah menjadi titik awal kebangkitan perempuan, titik awal bersatunya perempuan untuk memotori perubahan politik menuju ke yang maju.

Titik awal bagi bersatunya perempuan untuk memperjuangkan perempuan-perempuan yang punya kompetensi dan dedikasi yang tinggi. “Serta mempunyai komitmen yang kuat untuk mecurahkan segala waktu dan pikirannya untuk mewujudkan Indonesia yang baru dan lebih baik,” kata dia. Calon DPD, Antung Fatmawati, mengakui secara kuota pencalegan memang terpenuhi. “Namun pada hasil Pemilu, apakah akan terpenuhi sesuai hasil. Kita belum tahu, tergantung hasil Pemilu mendatang,” kata dia. Dia berharap, para perempuan yang nanti duduk di parlemen dapat mewakili suara perempuan. “Mudah-mudahan perempuan-perempuan yang terpilih nanti adalah yang berkompeten, benar-benar menyerukan dan memperjuangkan hak-hak perempuan,” kata dia. (nic)

Tunjukkan Kinerja yang Bagus SISTEM Pemilu 2014 yang memberikan porsi cukup besar terhadap perempuan, disambut gembira para calon anggota legislatif perempuan. Hal itu merupakan angin segar terhadap kaum hawa untuk bisa berkiprah lebih luas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan sebelum pemilu, mereka langsung tancap gas dan menyiapkan strategi untuk bersaing berebut dukungan dengan caleg laki-laki. Seperti yang dilakukan Caleg dari PKB, Hajah Siti Akbari. Dia mengatakan, dalam pencalegan selain untuk memenuhi kuota yang telah ditentukan partai, juga ada sejumlah program yang diusung untuk kaum perempuan. Seperti mendirikan Persatuan Wanita Mandiri. Tak sekadar program, persatuan binaannya sendiri ini sudah lama berjalan dan sampai saat ini tetap eksis. “Inilah modal utama saya mengapa mencaleg, saya ingin sekali memberikan manfaat kepada kaum perempuan khususnya kepada janda dan lansia,” ujarnya. Siti Akbari menjelaskan, program Persatuan Wanita Mandiri ini bertujuan untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan, selama ini masih kurang diperhatikan. Jauh-jauh hari sebelum dirinya mencaleg sudah menjalan program tersebut. “Saya kasian melihat lansia yang sendirian, selain itu ibuibu yang janda, dalam persatuan ini akan dibina berbagai keterampilan dan keahlian, jadi waktu tidak sia-sia,” katanya. Organisasi yang berlokasi di Jalan Mawar Cempaka 12 Nomor 2, Banjarmasin ini sehari-harinya memberikan pelatihan keterampilan seperti seperti membuat telur asin, menjahit bahkan sampai memasarkannya. “Alhamdulillah sudah 350 lansia yang ada di persatuan ini,” cetusnya. Siti Akbari pun yakin, dengan program yang telah dijalankannya tersebut dijadikan modal dirinya untuk mencaleg hingga meraih dukungan masyarakat. “Sebenarnya berat kalau perempuan itu mencaleg, tetapi karena panggilan hati dan niat membantu kaum perempuan, saya yakinkan untuk maju,” bebernya. Adapun Anisa Rahmiyanti, Caleg dari Partai Gerindra menilai Caleg perempuan harus memiliki peran dalam memajukan masyarakat. Dia mengaku melihat kondisi masyarakat terlebih dulu, kemudian melakukan pendekatan untuk menampung aspirasinya. “Kalau kita sudah tahu aspirasi mereka baru kita buat dan susun program yang diusung, jadi tidak serta merta mengusung program untuk dijadikan cara untuk meraih suara,” jelasnya. Selama ini lanjutnya, program yang dibuat menyesuaikan dengan kondisi masyarakat kemudian progran partai yang telah ditetapkan seperti pendidikan, sosial, budaya, kesehatan, serta meningkatkan kualitas masyarakat. “Hampir sejalan saja sih programnya dengan partai, selain itu juga menyesuaikan dengan aspirasi masyarakat,” katanya. Sementara itu Gina Mariyati, Caleg Partai NasDem tidak terlalu muluk-muluk dalam memasang strategi untuk bisa meraih simpatisan masyarakat. Baginya perempuan harus diberi kesempatan untuk bisa berperan dalam pembangunan daerah. “Saya selalu bilang ke masyarakat, jangan berpikiran perempuan itu tidak bisa tetapi berikan kesempatan untuk mereka, karena perempuan juga punya kapasitas yang lebih dibandingkan dengan caleg laki-laki,” ujarnya. Terutama bagi Caleg muda perempuan, selain idealis, pemikiran mereka juga fresh dan beremosional kuat terhadap persoalan yang ada dimasyarakat. “Perempuan harus bisa menunjukkan kinerja yang bagus, bahwa perempuan bisa memimpin. Saya yakinkan itu kepada masyarakat,” pungkasnya.(ee)

Lebih Peka Terhadap Kondisi KEHADIRAN perempuan dalam kancah politik tidak hanya memberi warna tersendiri pada perpolitikan tanah air. Namun akan meningkatkan kinerja para wakil rakyat. Umumnya perempuan lebih peka terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat. Apalagi selama ini, kursi wakil rakyat tersebut lebih didominasi kaum adam. Termasuk para wakil rakyat dari Banua, semuanya laki-laki. Hadirnya anggota dewan perempuan, harus bisa menunjukkan kinerjanya yang lebih baik. Khususnya dengan sentuhan dan kelembutan kodratnya sebagai seorang ibu, tentu lebih baik dalam mencarikan solusi yang dihadapi warga. Seperti yang pernah diungkapkan caleg DPR RI dari Partai Demokrat, Hj Annie. Menurutnya, Pileg merupakan momentum bagi para perempuan untuk menunjukkan dedikasi dan perhatian kaum-

nya melalui program-program riil. Secara pribadi, dia menilai caleg perempuan di satu sisi ingin membuktikan kesungguhan perjuangan dalam mengangkat citra perempuan yang benar-benar mandiri dan akan memberi warna baru. “Jadi bukan hanya dijadikan pelengkap pengguguran aturan UU,” ungkapnya, Selasa (1/4). Jika menjadi wakil rakyat, memang sudah seharusnya peka terhadap kondisi masyarakat bawah. Jadi, aspirasi atau isu masyarakat itu kemudian yang diperjuangkan. “Dengan sikap perempuan, tentu sejalan jika duduk di parlemen,” kata dia. Caleg DPR dari Partai Golkar, Hj Dewi Damayanti Said, mengatakan keterwakilan perempuan yang memadai setidaknya dapat memberikan, melengkapi dan menyeimbangkan visi, misi serta operasionalisasi Indonesia

selanjutnya. “Tentunya yang objektif. Namun berempati dan berkeadilan gender,” ucapnya. Dia mengakui kompetisi di arena kampanye nanti pastinya akan cukup keras bagi caleg perempuan. “Mengingat hanya 30 persen kuotanya. Sedangkan caleg laki-laki dalam pemilihan terbuka ini tentunya sudah tidak asing di dunia publik atau politik bagi masyarakat,” kata dia. Di sinilah kepiawaian caleg perempuan diuji. Apalagi banyak daerah-daerah yang budaya patriarkhinya sangat kuat, dan daya penerimaan terhadap perempuan yang berkiprah di dunia publik sangat rendah. Oleh karena itu perempuan harus mampu menunjukkan prestasi dan keterampilan yang tinggi. “Harapan ke depannya, partisipasi perempuan dalam memajukan pembangunan makin

meningkat, seiring dengan proses pembelajaran menuju Indonesia demokratis yang sesungguhnya,” ucapnya. Tentu tidak sekadar duduk dan berjuang, namun juga mengerti dan peka terhadap isu-isu di daerah pemilihan. Caleg DPR dari PKB, Annisa Hidayati, mengatakan keterwakilan perempuan di parlemen belum mencapai angka maksimal 30 persen. Pasalnya, masih banyak pemilih yang mempercayakan suaranya kepada laki-laki. “Keterwakilan perempuan di parlemen bukan hanya membawa perubahan, tetapi mempunyai dampak yang sangat besar untuk kemajuan Indonesia,” kata dia. Dia menilai perempuan lebih banyak menggunakan perasaan ketimbang laki-laki. “Perempuan lebih bisa merasakan apa yang dirasakan masyarakat, atau apa yang dirasakan para perempuan Indonesia,” ucap Annisa.

DOK BPOST

Dengan demikian segala keputusan yang diberikan di parlemen lebih mementing-

kan kepentingan masyarakat dibanding ego pribadi. “Saatnya perempuan bangkit

membangun perubahan yang besar. Saya yakin pasti bisa!” tegas dia. (nic)

Banjarmasin Post Sabtu, 3 Mei 2014  

NO. 151443 TH XLII/ ISSN 0215-2987

Banjarmasin Post Sabtu, 3 Mei 2014  

NO. 151443 TH XLII/ ISSN 0215-2987

Advertisement