Page 21

Seni Budaya 21

Banjarmasin Post MINGGU 22 APRIL 2012

Masyarakat Dayak Balangan Rindu Mamanda

ISTIMEWA

PENTAS Mamanda mengobati kerinduan masyarakat Dayak Balangan

S

UDAHseminggu Badrun menempati gubuk kecil di tengah sawahku. Gubuk kecil itu biasanya kugunakan sebagai tempat istirahat untuk sekadar melepas lelah saat menggarap sawah. Meskipun Ia tidak pernah meminta izin kepadaku tetapi aku merasa tidak keberatan. Selama gubuk kecil itu ditempatinya dengan baik dan hanya untuk sementara. Lagi pula gubuk kecil itu, saat ini kubiarkan tidak berpenghuni karena masa bercocok tanam tahun ini gagal. Gagalnya masa tanam di desaku disebabkan musim kemarau yang panjang sehingga tanah persawahan kering kerontang. Bibit-bibit padi yang ditanam layu dan mati. Walaupun setiap kali berpapasan dengan Badrun, kami tidak pernah saling bicara tetapi sorot matanya yang teduh seakan-akan berkata-kata sehingga aku merasa berkomunikasi dengannya. Sikapnya yang dingin dan lembut, itulah yang menyebabkan aku merasa Badrun bukanlah orang yang berbahaya walaupun Ia tidak pernah mau berbicara dengan siapa pun, termasuk denganku. Sementara di desa Kindai Kanan, desa seberang, di desa di mana tempat Badrun berasal, warga di sana telah menganggap Badrun sudah tidak sehat lagi akal pikirannya. Seminggu yang lalu, tanpa sebab dan alasan, lelaki yang telah menduda dua tahun itu membongkar bangunan rumahnya sendiri. Padahal rumah tersebut masih sangat layak untuk dihuni karena baru didirikannya sekitar dua tahun yang lalu, tidak lama setelah Ia menikah dengan Laila, gadis cantik dari Hulu Sungai. Tanpa kesulitan, rumah yang bahan utamanya terbuat dari kayu itu dalam hitungan jam saja telah rata dengan tanah. Dan tanpa dibantu oleh siapa pun, dengan jukung tuanya Ia mengangkat bongkaran rumah tersebut dan menyeberangkannya ke wilayah desaku, Kindai Kiri dan meletakkannya di lahan tidur

di tepian sungai. Kayu dengan berbagai ukuran dari bongkaran rumahnya kemudian ditumpuknya di samping rumahku. Sebenarnya istriku agak keberatan dengan kehadiran Badrun, bukan karena Ia bermukim di areal sawah milik kami dan menumpuk bahan bongkaran rumahnya di halaman samping rumah kami tetapi istriku takut dan khawatir kalau-kalau Badrun bisa bertindak seperti lazimnya orang gila yang bisa saja membahayakan kami atau tetangga kami. Namun, Aku selalu meyakinkan istriku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Desa Kindai Kiri dan Kindai kanan, merupakan dusun kecil yang dibelah oleh sungai kecil. Kedua desa yang berseberangan ini hanya dihuni 61 kepala keluarga dan merupakan desa terpencil serta terisolir karena tidak ada sarana jalan darat. Sungai yang mengalir di desaku ini hanya sungai kecil yang merupakan anak dari sungai Barito. Jika sungai sedang pasang, segala aktivitas akan berjalan normal tetapi jika air sedang surut, maka akitivitas akan lumpuh karena jukung dan klotok akan kandas. Jika demikian, anak-anak yang sekolah pun terpaksa libur. Dahulu ada sebuah jembatan kayu yang menghubungkan antara kedua desa ini tetapi karena dimakan usia maka jembatan tersebut rusak dan tidak dapat digunakan lagi sebagai sarana penyeberangan. Sampai hari ini tidak ada upaya atau bantuan perbaikan jembatan dari pemerintah. Sebenarnya aku dan warga desa, tidak terlalu berharap dari pemerintah, sebab jangankan di kampungku yang terpencil seperti ini, di wilayah perkotaan saja banyak jembatan yang rusak parah. Sudah hampir lima bulan kemarau menggelayut desaku dan sekitarnya. Langit dan cakrawala yang membentang, bersih membiru. Gumpalan awan yang tipis putih laksana kapas berserakan diangkasa raya dan tidak tampak segumpal pun awan mendung. Matahari dengan leluasa menebarkan sinarnya yang pa-

Homepage: http//www.banjarmasinpost.co.id Penerbit SIUPP

: PT Grafika Wangi Kalimantan : SK Menpen No. 004/SK MENPEN/ SIUPP/A.7/1985 tgl 24 Oktober 1985 Sejak Tanggal : 2 Agustus 1971 Direktur Utama : Herman Darmo

UNIT Pelaksana Teknis Daerah Taman Budaya Kalsel menggelar pementasan kesenian mamanda, adat ritual perkawinan masyarakat Balangan dan tari pedalaman seperti babangsai, bakanjaran dan gintur di Lapangan/ Taman Bermain Paringin, Kabupaten Balangan pada Selasa (17/4) malam. Kegiatan ini merupakan pelaksanaan program UPTD Taman Budaya Kalsel bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Balangan dalam rangka memeriahkan HUT ke 9 Kabupaten Balangan. Mereka menampilkan tari pedalaman seperti babangsai, bakanjaran dan gintur yang merupakan seni tradisi masyarakat Dayak Meratus di Desa Pitap, Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Balangan.

Menurut Kepala UPTD Taman Budaya Kalsel, Noor Hidayat Sultan, Jumat (20/4) siang, apresiasi masyarakat setempat yang menyaksikan sangat luar biasa. “Dari 200 kursi yang disediakan, semua penuh. Belum lagi yang di dekat panggung, pokoknya yang di luar area penempatan kursi banyak penontonnya,” ungkapnya. Semula, pihaknya sempat pesimis bahwa pertunjukan ini bakal tak diminati penonton. Soalnya sebelumnya ada acara karaoke yang penontonnya sepi. Pihaknya pun sempat pesimis, kalau acara karaoke yang biasanya ramai dikerubungi penonton saja sepi apalagi pertunjukan seni tradisi. Ternyata, di luar dugaan mereka, penonton malah membludak.

“Kami sangat tidak menyangka kalau penonton bakal mencapai ratusan orang. Mereka sangat senang saat ditampilkan mamanda yang lucu. Banyak yang tertawa. Ternyata, menurut pengakuan mereka, mereka rindu ingin menyaksikan lagi mamanda,” ujarnya seraya bekata bahwa masyarakat setempat terakhir kali menyaksikan mamanda tiga tahun silam. Mamanda itu ditampilkan oleh Sanggar Seni Sanggam Paringin. Mereka membawakan mamanda berjudul Wasiat Sasangga Sanggam Buana karya Burhan yang merupakan Kepala Bidang Olahraga Disporaparbud Kabupaten Balangan. Ini juga merupakan bentuk apresiasi nyata Pemprov Kalsel dan Pemkab Balangan serta pelaku seni untuk

Malam Setelah Senja Ketiga nas menyengat. Pohon-pohon yang hijau dan rindang perlahan-lahan menggugurkan daunnya. Semak belukar dan rerumputan layu, dan mati. Jalan setapak dan persawahan kering dan retak. Debit air pasang tidak tidak melimpah seperti biasanya sehingga tidak mampu mengairi persawahan. Bahkan sudah hampir sebulan air sungai berubah rasanya menjadi asin. Keadaan seperti ini semakin menambah penderitaan hidup kami. Untuk minum dan memasak, aku dan warga terpaksa membeli air tawar dari pedagang air dadakan yang menjajakannya dengan berklotok. Penderitaan hidup kami semakin lengkap karena setiap hari, kampung kami mendapat kiriman asap pekat akibat terbakarnya hutan, semak belukar pada lahan yang tidak tergarap atau perkebunan warga yang meranggas. Udara yang kami hirup menyesakkan dada. Berbagai penyakit akibat terganggunya saluran pernapasan mulai menghinggapi warga, tidak terkecuali istri dan anakku yang masih balita. Untuk mendapatkan layanan pengobatan, kami harus menyusuri sungai selama kurang lebih dua jam agar bisa sampai ke puskesmas terdekat, di kampung tetangga. Senja tiba. Saat aku mau menutup jendela depan, tidak sengaja pandanganku tertuju kepada sesosok lelaki yang sudah tidak asing bagiku, Badrun. Ia berdiri mematung di antara barisan pohon pisang di tepi sungai. Ia tetap berdiri mematung dan tak bergeming. Pandangan matanya di arahkannya ke seberang. Mengapa Badrun berdiri di sana? Apa yang dipikirkannya? Aku tidak yakin, kalau laki-laki yang masih seumuran denganku itu akan bermaksud kembali ke seberang. Azan maghrib menggema. Kututup daun jendela. Biarlah Badrun, laki-laki yang menu-

e-mail : redaksi@banjarmasinpost.co.id Pemimpin Umum : HG Rusdi Effendi AR Pendiri : Drs H J Djok Mentaya (1939-1994) Drs H Yustan Aziddin (1933-1995) HG Rusdi Effendi AR

NET

Oleh: Muhamad Yusuf, SPd tup diri setelah istrinya kabur dengan seorang pria, tukang kredit barang kelontongan dua tahun yang lalu itu tetap berdiri dan mematung di sana, menyaksikan mentari senja ditelan kegelapan malam. Keesokan harinya. Kala senja tiba. Saat aku mau menutup jendela depan. Kulihat Si Badrun berdiri lagi di tempat yag sama dan dengan sikap yang sama pula. Ada getaran kecil dalam hatiku melihat sikapnya itu. Kala senja kembali tiba. Saat aku mau menutup jendela depan. Kusaksikan kembali Badrun berdiri di antara pohon-pohon pisang. Masih seperti kemarin, Ia berdiri mematung dengan pandangan tertuju ke seberang. Senja ini adalah senja ketiga. Aku menjadi penasaran. Entah mengapa kakiku terasa ringan melangkah dan menghampirinya. Badrun tidak bergeming padahal aku yakin bahwa Ia mengetahui kehadiranku di dekatnya. Kulempar pandanganku ke seberang, desa Kindai Kanan. Tidak ada pemandangan atau aktivitas yang

berbeda di sana. Aku menoleh ke arah Badrun. Tetapi, Aku sedikit terkejut, saat Badrun menoleh juga ke arahku. Kedua matanya basah memerah. Rupanya Ia menangis. Kulihat juga dadanya kembang kempis. Ada apa, Badrun? Tanyaku dalam hati. Seolah Badrun mendengar kata hatiku, Ia mengangkat dan mengarahkan tangan kanannya ke kampung seberang. Kulempar pandangan ke seberang tetapi semua seperti adanya. Aku benar-benar belum dapat memahami maksudnya. Tetapi dari rona wajahnya, aku dapat menerka, kalau Badrun sedang dilanda kesedihan dan kegelisahan yang teramat dalam. Kutinggalkan Badrun, karena azan maghrib kembali bergema. Kubiarkan Badrun sendirian dengan kegelisahannya karena aku sendiri tidak mampu menerjemahkan perilakunya yang aneh. Aku tersentak,terjaga dari tidurku. Demikian juga istriku. Suara jeritan dan teriakan yang begitu menyayat hati terdengar bersahutan. Bergegas aku keluar. Baru saja daun

Banjarmasin Post Group Pemimpin Redaksi: Yusran Pare Wakil: Harry Prihanto Redaktur Pelaksana: Dwie Sudarlan Pjs Manajer Peliputan: Elpianur Achmad Pjs Asisten Manajer Peliputan : R Hari Tri Widodo Manajer Produksi: M Taufik Redaktur Eksekutif: Muhammad Yamani (Banjarmasin Post), Mulyadi Danu Saputra (Metro Banjar), Irhamsyah Safari (Serambi UmmaH), Ribut Rahardjo (Online/Radio). Manajer Redaksi: Irhamsyah Safari Wakil: Agus Rumpoko Redaktur: Sigit Rahmawan A, Umi Sriwahyuni, Syamsuddin, Alpri Widianjono, Kamardi, Mahmud M Siregar, Aya Sugianto, Sofyar Redhani, M Royan Naimi, Siti Hamsiah. Asisten:Eka Dinayanti, Murhan, Anjar Wulandari, Aries Mardiono, Ernawati,Idda Royani. Staf Redaksi: Sudarti (Repoter Senior), Hanani, Burhani Yunus, AM Ramadhani, Halmien Thaha, Syaiful Anwar, Mohammad Choiruman, Anita Kusuma Wardhani, Syaiful Akhyar, Khairil Rahim, Ibrahim Ashabirin, Eko Sutriyanto, Sutransyah, Faturahman, Irfani Rahman, Jumadi, Edi Nugroho, Budi Arif RH, Doni Usman, Mustain Khaitami (Kabiro), Hari Widodo, Ratino, M Risman Noor, Salmah, George Edward Pah, Rahmawandi, M Hasby Suhaily, Helriansyah, Didik Triomarsidi (Kabiro), Nia Kurniawan, Mukhtar Wahid, Rendy Nicko Ramandha, Restudia, Yayu Fathilal, Aprianto, Frans, Nurholis Huda. Fotografer: Donny Sophandi, Kaspul Anwar. Tim Pracetak: Syuhada Rakhmani (Kepala), M Syahyuni, Aminuddin Yunus, Syaiful Bahri, Edi Susanto, Sri Martini, Kiki Amelia, Rahmadi, Ibnu Zulkarnain, Achmad Sabirin, Rahmadhani. Design grafis/illustrator: Ivanda Ramadhani. Biro Jakarta: Febby Mahendra Putra (Kepala), Domuara Ambarita, Murdjani, Antonius Bramantoro, Budi Prasetyo, Fikar W Eda, FX Ismanto, Johson Simandjuntak, Rahmat Hidayat, Yulis Sulistyawan, Choirul Arifin, Hendra Gunawan, Sugiyarto

saling bersinergi dalam mengeksplorasi karya seni, khususnya seni tradisi yang masih hidup dan terpelihara lestari di masyarakat kita. “Melalui inilah kita bisa lebih mengetahui seni dan tradisi kita, sehingga nilai-nilai kearifan lokal yang ada di dalamnya bisa terus dipelihara,” ungkapnya. Ke depan, pihaknya berusaha juga mengajukan permohonan ke pemerintah pusat untuk meminta dukungan dana karena nantinya pertunjukan seperti ini bakal digalakkan lagi. Pihaknya menargetkan pertunjukan seperti bakal digelar lagi di daerahdaerah yang dihuni oleh suku Dayak di Kalsel. Sebab, melihat antusias penonton saat di Balangan lalu sangat ramai. “Nanti, kalau permohonan kami ke pusat disetujui,” ujarnya. (ath)

Pemimpin Perusahaan: A Wahyu Indriyanta General Manager Percetakan: A Wahyu Indriyanta Pj Asisten General Manager Percetakan : Suharyanto Wakil PP (Bidang Humas dan Promosi): M Fachmy Noor Pj Asisten Manajer Iklan : Helda Annatasia (08115803012) Manajer Sirkulasi : Fahmi Setiadi - Riadi (08115003012) Alamat: Gedung HJ Djok Mentaya, Jl AS Musyaffa No 16 Banjarmasin 70111, Telepon (0511) 3354370 Fax 4366123, 3353266, 3366303 Bagian Redaksi: Ext 402-405 ; Bagian Iklan: Ext. 113, 114 Bagian Sirkulasi: Ext. 116, 117 Pengaduan Langganan: 08115000117 (0511) 3352050 Biro Jakarta-Persda: Redaksi, Jl Pal Merah Selatan No 12 Lantai II Jakarta 10270, Telp (021) 5483008, 5480888 dan 5490666 Fax (021) 5495358 Perwakilan Surabaya: Jl Raya Jemursari 64 Surabaya, Telp (031) 8471096/ 843428, Fax (031) 8471163 Biro Banjarbaru: Jl Wijaya Kusuma No 11 Telp (0511) 4780356, Biro Palangka Raya: Jl Tjilik Riwut Km.2,5 Palangka Raya, Telp (0536) 3242361 Tarif Iklan: zDisplay Umum: Hitam Putih (BW): Rp 22.500/mmk Berwarna (FC): Rp 45.000/mmk zDisplay Halaman 1: Hitam Putih (BW): Rp 45.000/mmk Berwarna (FC): Rp 90.000/mmk zIklan kolom/Duka Cita: Hitam Putih (BW): Rp 15.000/mmk Berwarna (FC): Rp 30.000/mmk zIklan Kuping: (FC) Rp 100.000/mmk zIklan Baris: (FC) Rp 20.000/baris: (BW): Rp 15.000/baris zIklan Satu Kolom : (FC)Rp 30.000/mmk, (BW): Rp15.000/mmk Catatan: Harga belum termasuk PPN 10%. Harga Langganan: Rp 75.000/bln Percetakan: PT Grafika Wangi Kalimantan Alamat: Lianganggang Km 21 Landasan Ulin Selatan Banjarbaru Telepon (0511) 4705900-01 Isi di luar tanggung jawab percetakan Setiap artikel/tulisan/foto atau materi apa pun yang telah dimuat di harian “Banjarmasin Post” dapat diumumkan/dialihwujudkan kembali dalam format digital maupun nondigital yang tetap merupakan bagian dari harian “Banjarmasin Post”. WARTAWAN “BANJARMASIN POST GROUP” SELALU DIBEKALI TANDA PENGENAL DAN TIDAK DIPERKENANKAN MENERIMA/MEMINTA APA PUN DARI NARASUMBER.

pintuku terkuak. Terpampanglah di hadapanku pemandangan yang begitu menggetarkan hati. Di desa seberang, terjadi kebakaran hebat. Warna merah menyala dapat menerangi kedua desa yang selama ini selalu gelap karena tidak pernah dialiri listrik. Di langit berterbangan ranting dan dedaunan yang terbakar, tak ubahnya kembang api yang dihamburkan. Rasa panas menyengat kulit. Seketika aku merasakan tubuhku bergetar. Kusebut asma Allah. Aku bergegas kembali ke kamar dan langsung menyambar putraku yang terlelap tidur. Pertanyaan istriku tidak kujawab. Aku cuma memintanya segera keluar rumah. Entah siapa yang memulai, aku dan warga Kindai Kiri berkumpul di halaman rumahku menyaksikan si jago merah melahap dan membakar pepohonan dan rumahrumah warga Kindai Kanan . Kobaran api yang menjulang tinggi seperti gerakan seorang penari, meliuk-liuk karena disapu angin kencang. Sesaat, aku dan yang lainnya terpaku, seolah tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Dari terang temaramnya cahaya kebakaran, kami menyaksikan pula bagaimana kepanikan warga di seberang sana. Namun, keterpakuan kami seketika pudar, saat melihat sesosok tubuh menyeberangi dan berjalan di lumpur sungai yang surut menuju tempat di mana kami berkumpul. Setelah kian mendekat, ternyata Badrun sedang

menggendong dua bocah diikuti oleh seorang wanita tua. Tanpa di aba-aba, kami pun menyambut kedua bocah beserta wanita tua yang bermandikan lumpur itu, yang tidak lain adalah anak dan ibu dari ketua RT di seberang. Apa yang dilakukan oleh Badrun, membuat aku dan warga lainnya terpanggil untuk berbuat yang sama, yaitu menolong saudara-saudara kami di seberang yang sedang dilanda musibah. Tanpa pikir panjang lagi, kami pun berlarian menyeberangi sungai yang tidak berair, melintasi lumpur untuk membantu mengevakuasi anak-anak dan para wanita serta barang-barang yang dapat diselamatkan. Di ufuk timur, mentari tersenyum kecut seolah-olah tahu peristiwa yang terjadi semalam. Sisa-sisa kebakaran semalam meninggalkan kepedihan yang mendalam. Tidak satu pun rumah warga di seberang yang tersisa, termasuk perkebunan dan semak belukar. Untung saja kebakaran yang murni akibat ketidakseimbangan alam itu tidak memakan korban nyawa. Desa Kindai Kanan kini rata dengan tanah. Sisa-sisa yang terbakar menebarkan bau menyengat dan menusuk. Kepulan asap tipis masih terlihat di beberapa titik seakan bercerita kepada kami, inilah arti dari anehnya sikap Badrun akhir-akhir ini. Untuk sementara warga yang tertimpa musibah, kami tampung di rumah masing-masing, sembari menunggu datangnya bantuan. Aku berharap dalam hati, Allah berkenan mengampuni dosa-dosa kami dan tidak mendatangkan lagi bencana yang mengerikan seperti semalam. Tidak hanya aku, semua warga pun memohon dan beharap agar kemarau ini cepat berlalu. (*)

Dahaga Karya: Ferry Irawan Kartasasmita (MahasiswaTeknik Lingkungan Unlam)

Suara Adzan Ia membangunkanku dari mimpi indahku Ia membawaku kedalam ketenangan kalbu Ia mengingatkanku untuk meninggalkan sebentar dunia Ia menuntunku mencapai surga. Tapi sering kali aku tak mendengarnya Mungkin karena telinga ini terlalu sering mendengarkan kicauan dunia Hingga suara merdunya tak mampu kudengar. walaupun dari jarak sejengkal saja.

Berubah Aku ingin tobat Tapi kadang maksiat datang dengan indahnya Aku ingin sadar Tapi kadang masa lalu bersolek dengan anggunnya Aku ingin berlari Tapi kadang kebodohan menarikku dari belakang Aku ingin berubah Tapi sayang itu hanya bualan Hanya dengan bimbingan-Mu aku bisa bertobat, sadar, berlari dan berubah.

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10.

Seventeen - Menemukamnu Kotak - Apa Bisa Rumor - Butiran Debu d’Masiv - Natural Last Child feat. Giselle - Seluruh Nafas Ini Armada - Hargai Aku Latinka - Aku Bisa Mati Ello - Gak Kayak Mantanmu Raisa - Apalah Arti Menunggu Yudika - Aku yang Tersakiti

New entry Cokelat - Betapa Aku Mencintaimu Citra Scholastika - Galau Galau Galau (3G)

Kita Semua Mampu Siapa bilang orang miskin tak mampu sedekah. Sejak kapan orang merasa yakin, Kalau orang miskin hanya bisa meminta Ahh, semua orang sok tahu Mereka itu mampu! Mereka bisa memberi, minimal dengan senyuman Jika Kematian Datang Jika kematian datang Aku ingin sedang berada di Baitullah Jika malaikat maut datang Aku ingin salat dengan khusyuknya Jika kematian datang Aku ingin berdzikir mengingat Tuhan-ku Tapi sayang itu hanya inginku, Karena sekarang ketika malaikat maut datang Aku sedang minum, berzina, dan menghamburkan uang hasil korupsi.

INFO PENGASUH BAGI rekan-rekan yang mengirim tulisan berupa puisi atau cerpen, kami meminta untuk melengkapinya dengan data diri/copy kartu identitasi dan nomor rekening bank Anda. Honor tulisan yang dimuat akan kami transfer. Tulisan bisa dikirim lewat pos ke alamat Kantor Banjarmasin Post Gedung HJ Djok Mentaya Jalan AS Musyafa Nomor 16 Banjarmasin. Sudut kiri amplop ditulis Seni dan Budaya. Bisa juga kirim via email ke hamsibpost@yahoo.co.id

Banjarmasin Post edisi Minggu, 22 April 2012  

Banjarmasin Post edisi Minggu, 22 April 2012

Advertisement