Page 17

MINGGU 22 APRIL 2012/ 30 JUMADIL AWAL 1433 H

Smart

Women

www.banjarmasinpost.co.id

GELAK tawa dan suasana yang santai membuat para undangan terlihat menikmati sebuah acara yang dipandu Master of Ceremony (MC) Raffi Ahmad di sebuah restoran di Banjarmasin bebeberapa waktu lalu. Dengan gayanya, Raffi mampu membius pengunjung gathering hingga mereka ogah beranjak dari tempat duduk. Tak bisa dipungkiri MC memegang peran penting dalam menghidupkan suasana acara. Sehingga tak heran perlu kemampuan lebih untuk menggeluti profesi ini. Di Banjarmasin terdapat puluhan MC yang sudah dikenal khalayak ramai, di antaranya adalah Nanik Hayati dan Hj Intan Hesti Puspita. “Jika kita mampu atau pintar beriteraksi dengan audiens pasti akan ramai acaranya,” ungkap Intan yang memulai karir MCnya di Jakarta sekitar 2004 lalu. Awal keterlibatannya pada dunia MC secara tidak segaja. Saat itu seorang temannya meminta Intan untuk mengisi acara ulang tahun satu kerabatnya. “Siapa pun sebenarnya bisa jadi MC. Tapi memang menjadi MC tidak mudah, kita harus menguasai tata cara berbicara. Apalagi membawakan acara formal beda dengan nonformal,” beber ibu satu

anak ini. Tak terhitung jumlah acara yang telah dipandu Intan, baik dari instansi BUMN, swasta hingga pemerintahan. Bagi Intan, seorang MC harus banyak belajar. Selain itu menjadi MC memberikan banyak pengalaman dan pelajaran. Persaingan sesama MC? Intan mengaku memang ada namun semuanya tergantung pribadi masing-masin. Ia menilai setiap MC punya kelebihan sendiri-sendiri. Sedangkan Nanik Hayati, mengakui menjadi MC dituntut mampu membangun suasana. Seorang MC harus bisa membaca emosi audiens seperti apa. “Dengan begitu kita mudah menyentuh audiens, kita juga harus mengatur suara saat berbicara, apa harus keras atau pelan, intinya seorang MC harus bisa menciptakan suasana kebersamaan dan dialogis,” papar jurnalis ini.

Banjarmasin Post

17

Dari pengalamannya, acara formal biasanya berlangsung khidmat, serius, intonasi suara juga harus lebih diatur dan yang terpenting pemilihan kata yang akan dikomunikasikan sangat hari-hati, sopan elegan tapi tetap natural. Untuk acara nonformal biasanya speed bicaranya agak cepat, gerakan tangan lebih bebas dan spontan namun tetap elegan. Selain itu pengaturan busana juga harus disesuaikan dengan karakteristik acara jangan sampai saltum alias salah kostum. “Bila ditanya lebih sulit atau lebih mudah yang mana, saya pikir karakter setiap acara itu beda-beda tingkat kesulitannya jadi bagaimana kita bisa menghandlenya saja,” papar ibu dua anak ini. Menjadi MC memang tak mudah. Demikian pendapat Neneng Putri Ramadhan, yang saat ini mulai menekuni bidang MC. “Tidak mudah jadi MC baik formal maupun nonformal, sebagai pemandu acara, kita harus melakukannya dengan hati atau setidaknya memiliki ilmu akting yang tinggi,” ungkap Duta Wisata Persahabatan Indonesia tingkat Nasional 2011. (dwi)

Datang Lebih Awal

TTL: 20 januari 1978 Pendidikan: S1 komunikasi Alamat: Jl. Dahlia Kebun Sayur Komplek Kenanga Banjarmasin Anak: Putri Lukita (11 tahun) M Teges Alfarisi lukita (3 th) Suami: Helmi lukita Orangtua: H Supratman dan Hj Tinaini Juliati prestasi: 1. Terpilih mengikuti kursus singkat program antar negara dalam bidang jurnalis 2. meliput kedatangan Presiden Amerika Serikat George W Bush pada November 2006 di Bogor 3. Meliput pameran pariwisata terbesar kedua sedunia di Shanghai, RRC pada 2010 Organisasi : Aktif dalam bidang forum Jurnalis MDGs (millenium develovment goals), anggota Komite Kesehatan Provinsi Kalsel Bidang Media/Joint Health council (JHC), Ikatan Jurnalistik Televisi Indonesia (IJTI)

MELAKONI profesi sebagai Master of Ceremony, ungkap Nanik, haruslah mempunyai integritas yang tinggi, salah satunya adalah harus datang tepat waktu. “MC harus datang lebih awal sebelum acara berlangsung sehingga mudah beradaptasi dengan situasi acara dan audiens,” papar Nanik yang menjadi MC sejak jadi penyiar di TVRI pada 2000 lalu. Mampu berimprovisasi adalah modal menjadi seorang MC, bahkan MC juga harus bisa spontan dan cepat mengambil keputusan ketika ada something trouble dengan acara. Profesionalisme dalam dunia MC pun harus dijaga agar audiens merasa nyaman serta terhibur saat membawakan acara. Hal senada juga diungkapkan Hj Intan. Menurutnya profesionalisme dalam artian bertanggung jawab dalam menerima pekerjaan yang telah disodorkan kepada mereka “Memang kadang banyak job kita peroleh, bahkan ketika telah menandatangani kontrak ada job baru dengan bayaran lebih tinggi. Namun bagi saya yang telah mengontrak pertama itu yang harus kita layani. Harus profesional,” ungkap Intan yang mengaku baru menandatangani kontrak dengan sebuah produk elektronik Jakarta. (dwi)

BANJARMASIN POST GROUPAYA SUGIANTO

Banjarmasin Post edisi Minggu, 22 April 2012  
Banjarmasin Post edisi Minggu, 22 April 2012  

Banjarmasin Post edisi Minggu, 22 April 2012

Advertisement