Page 14

14 Etalase

Banjarmasin Post

SELASA 12 OKTOBER 2010

Pengunjung Ejek Jaksa ■ Lihan Divonis Enam Setengah Tahun sah telah melangMARTAPURA, gar UU Perbankan, BPOST - Suasana namun terdakwa tegang terlihat di terbukti melakuruang sidang Pekan tindak pidana ngadilan Negeri penggelapan, pe(PN) Martapura. langgaran UU PerPuluhan orang bankan Syariah berdiri dan berteserta melakukan riak memanggil tindak pidana mohakim yang meBPOST GROUP/AYA ney laundering,” tunyidangkan kaLihan tur Edy. sus praktik money laundering yang dilakukan Mendengar putusan itu, Lihan, Senin (11/10). Lihan pun bangkit dari kursi terdakwa dan berbisik keKemarin majelis hakim pada pensihat hukumnya, Edy Suwanto, Merry Taat Syahrani SH. Setelah mendaAnggraesih serta Ita Widyapatkan masukan dari penaningsih, membacakan putussihat hukumnya, Lihan pun an selama 2,5 jam, menolak duduk kembali. pembelaan Lihan melalui Penasihat Hukumnya, Masdari “Saya banding,” kata LiTasmin SH. han mantap. Majelis Hakim menilai, Mendengar pernyataan Lihan terbukti melakukan itu, para pengunjung yang jutindak pidana penggelapan, ga investor Lihan pun bertepelanggaran UU Bank Syariah riak memberi dukungan. Takserta melakukan praktik mobir dan tahmid pun terdengar ney laundering. Atas tindak pidi ruang persidangan. dana yang dilakukannya terTindakan berbeda ditujusebut, Edy memutuskan Likan kepada Jaksa Penuntut han dihukum penjara selama Umu, Fadlan SH, saat yang 6,5 tahun serta denda sebesar bersangkutan hendak meRp 10 miliar atau subsider kunyampaikan sikap atas puturungan selama empat bulan. san vonis majelis hakim. “Terdakwa tidak secara Pembicaraan Fadlan pun

„ Sambungan hal 1

sempat terhenti. Setelah teriakan investor yang mengejeknya berhenti, barulah dia berbicara kembali. “Saya pikir-pikir,” ujarnya. Tak Puas Lihan yang dicegat usai persidangan mengatakan, tidak puas dengan vonis yang dijatuhkan kepadanya. Menurutnya, putusan majelis hakim tidak tepat karena semua tuduhan tidak benar. Lihan ingin majelis hakim membebaskannya dari semua tuduhan. “Harusnya tidak seperti itu. Harusnya saya bebas,”katanya. Beberapa nasabah Lihan yang dimintai pendapatnya juga merasa tidak puas. Abdurahman, investor dari Martapura misalnya, dia mengatakan putusan itu masih terlalu tinggi. Dia tidak sependapat bila Lihan dinyatakan melakukan tindak pidana sebagaimana yang dituduhkan kepadanya. “Buktinya Lihan selama ini tidak pernah lari dari proses hukum. Dia bahkan bahwa berniat mengembalikan uang investor,” katanya. (wid)

Doa Denny Terkabul KEPULANGAN Gayus Halomoan Partahanan Tambunan, ke Tanah Air dari Singapura tak lepas dari peran Sekretaris Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, Denny Indrayana. Saat mejadi saksi di sidang kasus Gayus di PN Jakarta Selatan, Senin (11/10), Denny pun menceritakan bagaimana kepergian dia bersama anggota Satgas Mas Ahmad Santosa berangkat ke Singapura hingga akhirnya berhasil membujuk Gayus pulang. Dia mengaku, sebelumnya sempat berdoa dan meminta agar dipertemukan dengan Gayus. Beruntung, doa Denny akhirnya dikabulkan. Berawal ketika Denny dan Mas Ahmad memutuskan untuk mencari kopi di food court di salah satu plasa di Orchard Road. Seketika, Mas Ahmad mengatakan kepada Denny bahwa dirinya menemukan Gayus ada di depan kasir. Tak percaya, Denny pun memastikan langsung. Tapi Denny belum yakin. Akhirnya, Denny diminta Mas Ahmad untuk tidak melihatnya dari belakang tapi dari samping. Nasihat Mas Ahmad itu dilakukannya dan Denny merasa yakin bahwa yang dilihatnya adalah benar

Gayus. “Sebelum masuk food court saya bilang ya Allah mudahmudahan ada Gayus,” kata Denny. Menurutnya, apa yang dilakukannya bersama Mas Ahmad Santosa memang bertujuan untuk menjemput Gayus dan tidak direncanakan. Sebelumnya, Denny mengetahui Gayus akan ke Singapura setelah resah atas pemberitaan dirinya di media massa. “Saya hadir dengan Mas Ahmad Santosa. Saat ketemu Gayus kami bertemu kedua. Belakangan kami mengetahui ada penyidik kepolisian. Pertemuan tidak direncanakan. Dalam rangka membujuk Gayus untuk kembali ke Indonesia,” kata Denny yang asli Banua itu. Bahkan, pertemuan yang tanpa disengaja antara Satgas dan Gayus membuat Denny dan Mas Ahmad tak habis pikir. Pertemuan itu jelas tak saja menimbulkan rasa heran banyak orang tapi juga bagi Denny sendiri. “Saya dan Mas Ahmad Santosa berpikir kenapa bisa begitu.” Denny melanjutkan, perlu dua jam membujuk Gayus yang saat itu sedang membeli makanan untuk istri dan anaknya yang sedang berada

di hotel. Secara garis besar, Satgas meminta agar Gayus pulang ke Indonesia membuka kasus ini terangbenderang. Jika pun Gayus tetap bertahan di Singapura, itu tak mungkin karena paspornya sudah disita. Menanggapi kesaksian Denny, secara umum Gayus membenarkannya. “Sebagian besar (keterangan Denny) benar. Cuma waktu saya ketemu di restoran saya bukan mau bayar tapi mau pesan makan,” ujar Gayus. Jelas, pernyataan Gayus membuat pengunjung sidang terpingkal. Ketua Majelis Hakim Albertina Ho juga turut tertawa. Gayus Tambunan lari ke Singapura karena takut dijadikan tersangka. Ketakutan itu muncul usai rekannya, Andi Kosasih dijadikan tersangka oleh Mabes Polri. Gayus kabur setelah melihat berita Andi Kosasih menjadi tersangka. “Setelah pemeriksaan ketiga, saat masih menjadi saksi, Gayus pulang. Di parkiran, dia membaca berita Andi Kosasih menjadi tersangka. Dia takut dan panik, langsung pergi ke bandara pergi ke Singapura,” kata Denny. (tribunnews/yog)

Dialih Fungsi Jadi Sarang Walet „ Sambungan hal 1

“Murung Raya dan Kelayan nantinya pasti padat, makanya mendukung rencana itu harus ada perbaikan jalan,” harapnya. Dari pantauan BPost, Senin (11/10), di sepanjang Jalan Gubernur Soebarjo Lingkar Selatan memang telah berdiri beberapa bangunan ruko yang digunakan sebagai gudang. Beberapa truk terlihat terparkir dan beberapa pekerja tampak menurunkan barang bawaan truk di depan gudang tersebut. Meski beberapa telah digunakan sesuai fungsinya, tidak sedikit bangunan ruko yang dialihfungsikan oleh pemiliknya sebagai lokasi

penangkaran burung walet. Kicauan burung walet dari bagian atas ruko yang sengaja dibuat lubang kecil sebagai tempat keluar masuk burung-burung tersebut, makin menguatkan kalau ruko tersebut sengaja dijadikan rumah walet oleh pemiliknya. Kepala Dinas Tata Kota dan Perumahan (Distakorum) Kota Banjarmasin, H Hamdi, mengungkapkan pemilihan kawasan Basirih sebagai sentra pergudangan berdasarkan pertimbangan untuk mengatasi kemacetan di dalam kota, dan dekat dengan Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. “Kami juga berencana membangun jembatan Barito II untuk akses truk melewati daerah pinggiran kota,” kata-

nya. Ke depannya, transaksi perdagangan di Kota Banjarmasin ini hanya menggunakan nota saja tanpa harus membawa barang ke tengah kota. “Transaksi pedagang itu hanya menggunakan nota saja. Jika, ingin mengambil barangnya harus mengambil ke gudang yang ada di Lingkar Selatan,” harapnya. Menurut Hamdi, mereka juga memperketat izin pergudangan di dalam kota. Kalau biasanya diperpanjang setiap empat tahun, kini hanya setahun sekali. “Kalau pengusaha gudang itu tetap memilih bertahan di dalam kota, berari gudanggudang tersebut ilegal,” katanya.(jd/kk/ll)

Balalungkang „ Sambungan hal 1

karna tahan ma-arit garing napa haja,” ujar Garbus. “Ubatnya hanya samacam Bus ai, jangan bakalah dan dilawan wan hati,” ujar Palui. “Malawan wan hati itulah aku nang kada tahan, kaya apa cuntuhnya Lui?” ujar Garbus. “Umpamanya, kalu kita luka lalu badarah dan padih maka ucapakan dalam hati kada sakit, kada sakit, kada padih, kada padih, insya Allah tahan. Cuntuhnya, aku ini nah korengan dan gatalan tapi kulawan, kada sakit, kada sakit,” ujar Palui lihum. “Ikam dasar kupuji Lui ai, kada biasa kudangar ikam ba-aduh kasakitan, pasti ikam tahani. Aku ingat banar wayah kita lagi halus dahulu wayah basunat, ikam baucap disunat itu kada sakit bahkan ikam lihum imbah ditatak.

Sedangkan kami kuriakan kasakitan dan kapadihan,” ujar Garbus maungkai kisah. “Palui ini ngalih diturut karna ilmunya tinggi, tapakai ilmu urang bahari nang bangaran parcaya diri,” ujar Garbus umpat mamuji. “Umpat batakunlah Lui, ikam pina basandal hanyar pulang, padahal samalam kulihat hanyar manukar sandal kulit kanapa maka baganti wan sandal gapit ini,” ujar Tulamak maitihi sandal Palui. “Itu tandanya urang sugih Mak ai, sandal bagantiganti saban hari,” ujar Garbus. “Kalu sandal kulit itu larang haraganya Bus ai dibanding sandal gapit ini murah,” ujar Tulamak. “Kalu aku bapakaian atawa basandal tagantung kasanang hati. umpamanya, hari ini sanang sandal gapit dan isuk sanang sandal kulit dan

Gayus Jadi Tumbal

isuknya lagi sanang basipatu,” ujar Palui. “Lui, umpat malihat dan umpat marasuk satumat sandal gapit ikam itu, bisa banar ikam mamilih dan baik banar putungannya,” ujar Tulamak. “Baiknya dipandang haja Mak ai kada usah dicuba dirasuk,” ujar Palui. “Katalaluan banar ikam Lui ai kada hakun malihatakan wan kami,” ujar Garbus marabuti sandal dibatis Palui itu lalu Garbus mangalakak tatawa hahahaaa ... sambil manating sandal Palui nang balalungkang ditalapaknya. “Hahahaaa ....” ujar Tulamak umpat tatawa karna inya paham sandal gapit Palui itu baluang-luang supaya pas wan babarapa bigi tumbalbatu di talapak batisnya nang sudah puluhan tahun diaritnya kada waraswaras. emhati. (repro)

Menurut Denny, dengan belum terungkap sepenuhnya kasus itu, besar kemungkinan Gayus bakal menjadi tumbal. Pasalnya, perkara Gayus tidak berdiri sendiri. Ada wajib pajak dari sekian banyak perusahaan yang memakai jasanya saat menjadi pegawai negeri di Direktorat Jenderal Pajak. Itu sebabnya, baik perkara mafia pajak maupun mafia hukum, harus diungkap. Dia pun mencontohkan, untuk mafia pajak, ada beberapa nama seperti Alif Kuncoro, Imam Cahyo Maliki dan Deni. Ketiganya disebut-sebut sebagai penghubung perusahaan Grup Bakrie dalam pengurusan pajak. Demikian juga dengan penanganan perkara mafia hukum, di mana sampai sekarang dua jaksa peneliti belum dijadikan tersangka. “Kenapa jaksa penelitinya sampai sekarang satu pun belum jadi tersangka. Menurut kami ada dakwaan yang berkurang dari korupsi berubah jadi penggelapan. Juga hakimnya dan anggota-anggotanya,” tegas dia. Denny mengaku, Satgas sudah melakukan koordinasi agar kasus Gayus diungkap tuntas dengan penegak hukum agar kasus ini diseriusi dan tuntas. “Kita beberapa kali lakukan upaya itu. Komunikasi dilakukan dengan jajaran penyidik, kapolri dan jaksa agung,” imbuhnya. Dari tiga kali pemeriksaan Satgas terhadap Gayus, Denny menegaskan, keterlibatan mafia hukum dan pajak sangat kental. Misalnya, Gayus

menceritakan aliran dana yang mengalir ke koceknya sebesar 2,8 juta dolar AS. Jumlah tersebut bertambah 7 juta dolar AS dari kelompok Bakrie sehingga jumlah uang Gayus mencapai tidak kurang dari Rp 100 miliar. “Ada KPC, Bumi Resources, yang lainsaya tidak ingat. Prinsipnya ya wajib pajak. Yang lain bias, antara ingatan dan dari media,” kata Denny. Sementara terkait dugaan mafia hukum, Denny misalnya menyebutkan, Gayus memberikan banyak uang kepada bekas pengacaranya, Haposan Hutagalung, karena terpaksa. Kalau tidak, Gayus akan ditahan, dan rumahnya disita penyidik Bareskrim Mabes Polri. “Yang kami dengar dari Gayus, terpaksa untuk bebas. Kalau tidak diberikan rumah disita, ditahan dan proses hukum lebih sulit,” ujar Denny menjawab pertanyaan pengacara Gayus, Adnan Buyung Nasution. Saat itu Adnan menanyakan apakah Gayus murni memberikan uang atau karena terpaksa. Menurut cerita Gayus, ada rencana yang diatur Haposan, agar kalau uangnya cair, ada kompensasi untuk hakim Rp 5 miliar, jaksa Rp 5 miliar, Haposan Rp 5 miliar, kepolisian Rp 5 miliar dan Gayus sendiri Rp 5 miliar. “Perencanaan itu dari Haposan. Menurut Gayus, Haposan mempunyai bloknote. Ini keterangan Gayus,” lanjut Denny. Seperti diketahui uang Rp 25 miliar di rekening Gayus diblokir polisi. Namun, akhirnya polisi kembali membuka rekening itu. Saat sidang sebagai saksi dalam kasus Gayus pertengahan September

2010, Brigjen Pol Raja Erizman mengakui saat menjabat sebagai Direktur Eksus Bareskrim pernah menandatangani pembukaan uang Rp 25 miliar milik Gayus Tambunan yang telah diblokir di rekening Bank BCA maupun di Bank Panin. “Terus terang Pak Hakim pembukaan rekening tidak ada iming-iming dari Haposan, Gayus Tambunan maupun terdakwa Syahril Djohan,” ucap Raja Erizman saat sidang. Dasar hukum pembukaan rekening tersebut, dijelaskan Raja Erizman karena barang bukti tersebut tidak ada kaitannya dengan tindak pidana. Selain itu, katanya, juga adanya petunjuk dari kejaksaan ditandatangani jaksa Cirus Sinaga. Sama seperti Denny, Adnan Buyung Nasution pun menyesalkan persidangan k a s u s G a y u s Ta m b u n a n ternyata tidak sampai membongkar seluruh jaringan mafia pajak dan mafia hukum. Yang dimajukan ke sidang hanya tersangka kecil. “Padahal ini masalah besar tetapi yang dibawa ke sidang kecil-kecil. Sekarang kasusnya seperti di bonsai,” kata Buyung. Dia menegaskan, jelas sekali dalam kasus Gayus ini, kliennya dikorbankan. Bisa dilihat dari terdakwa yang diseret penyidik, mulai dari mafia pajak hingga mafia peradilan. “Kasus mafia pajak itu kecil sekali dibanding bagaimana mafia peradilan bermain. Masalah duit Rp 28 miliar itu dari mana, Gayus hanya dikorbankan, tidak dibongkar,” terangnya. Mabes Polri menegaskan,

penanganan kasus terkait Gayus akan dilakukan menunggu persidangan kelar. Mabes Polri menunggu hasil putusan hakim. “Kasus displit, yang menyangkut Gayus sendiri dengan saksinya juga ada beberapa yanglain. Kita tunggu saja lebih lanjut bagaimana proses yang lain yang ditemukan di sidang,” kata Kabiro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Pol Ketut Yoga Ana. Tanyakan Harta Saat sidang, Adnan Buyung Nasution, mendesak agar Satgas Pemberantasan Mafia Hukum mempertanyakan keberadaan harta puluhan miliar rupiah milik Gayus kepada pihak Polri. Harta itu disita penyidik Bareskrim Mabes Polri setelah praktik mafia kasus terungkap. “Sebagai anggota Satgas, Anda punya kewajiban. Tanyakan apakah benar uang Rp 77 miliar disita? Harta itu di mana?” tanya Buyung kepada anggota Satgas Mas Ahmad Santosa alias Ota di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (11/10). Saat itu, Ota hadir sebagai saksi di sidang Gayus. Sebelum melontarkan desakan itu, Buyung menanyakan kepada jaksa penuntut umum (JPU) apakah ada penyitaan uang tunai milik Gayus oleh JPU. Kuntadi, salah satu JPU, menjawab, “Tidak ada.” Buyung lalu meminta kepada majelis hakim agar semua harta milik kliennya ditempatkan di suatu rekening. “Jangan ditaruh di polisi, jaksa, tapi disimpan dalam rekening yang hanya bisa dibuka oleh hakim,” tegas Buyung. (tribunews/yog/ roy/dtc/kps)

Gubernur Ditinggal Jemaah Haji „ Sambungan hal 1

Menurut prosedur tetap penerimaan jemaah calon haji yang telah dijadwalkan, pada pukul 08.30 Wita seharusnya Rudy sudah melakukan pelepasan di kabin pesawat. Para jamaah pun keheranan. Saat sudah rapi duduk di pesawat, yang terlihat hanya Bupati HSU, HM Aunul Hadi, Kakanwil Kemenag Kalsel H Abdul Halim H Ahmad Lc, Walikota Banjarbaru Ruzaidin Noor. Hingga pesawat siap take off, Rudy yang tiba di areal apron dengan mobil Kia Travello hitam nopol DA 986 AF sekitar pukul 09.00 Wita, hanya bisa memandangi kepergian pesawat tersebut dari balik jendela mobil tersebut. Kegagalan Rudy melepas keloter pertama jemaah calon haji Kalsel karena pesawat harus mengikuti jadwal keberangkatan, pukul 09.00 Wita.

Sementara pukul 08.50 Rudy baru tiba di VIP Room Bandara Syamsudin Noor. Agar tepat waktu pesawat Garuda Boeing 767-300 harus segera take off dan meninggalkan Rudy. “Saya agak kecewa. Ini terjadi karena kesalahan informasi yang disampaikan ke kita yakni harus kumpul pukul sembilan di VIP Room. Saya sampai 08.50 Wita. Ternyata pesawat harus sudah berangkat pukul 09.00 Wita,” ujar Rudy. Diakuinya, meski kecewa namun sangat penting agar pesawat tetap harus berangkat tepat waktu. “Tidak mungkin tunda keberangkatan, kalau ditunda bisa mengganggu secara menyeluruh. Kita hanya bisa doakan semoga jemaah keloter pertama selamat sampai tujuan,” katanya. Distrik Manager Garuda Banjarmasin, Piktor Sitohang mengatakan jadwal penerbangan memang pukul 09.00 Wita. “Penerbangan tidak bisa

kita tunda, kalau ditunda akan berdampak nanti sesampainya di Arab karena akan bermasalah dengan waktu masuk airport dan mendapatkan pelayanan,” katanya. Jika ditunda, dikatakannya lebih lanjut, pesawat tidak bisa masuk di tempat yang telah ditentukan. Bisa dialihkan dan nantinya bisa membuat jemaah repot dan kecapekan. “Saya minta maaf atas kesalahan informasi ini. Saya pun tidak bisa menahan pesawat untuk menunda take off. Untuk kenyamanan jemaah tetap harus tepat waktu,” katanya,” katanya. Tanpa kehadiran Rudy, prosesi pemberangkatan jemaah tetap berjalan lancar. Sejak pukul 07.30 Wita, satu persatu jamaah calon haji keluar dari aula Jeddah Asrama Haji menuju bus masingmasing dipandu petugas gapura angkasa, hingga masuk pesawat jemaah dalam kondisi sehat.

Untuk membawa jemaah calon haji ke Arab Saudi, Garuda menyewa pesawat Boeing 767-300 milik Thomson Airways. Setelah take off di Bandara Syamsudin Noor, pesawat akan transit di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Blangbintang, Aceh Besar, untuk pengisian bahan bakar. Selanjutnya meneruskan penerbangan ke Bandara King Abdul Azis, Jeddah, Arab Saudi. “Teknisnya tidak harus selalu di Batam, tahun ini sesuai dengan koordinasi dan teknis lapangan, akan transit di Aceh. Fasilitas lebih memadai untuk mengakomodasi pesawat boeing 767 seri 300 ini,” ujar Piktor Sitohang. Kabag Humas Kemenag Kalsel, Hidayaturahman, mengatakan jemaah calon haji keloter pertama akan mendiami pemondokkan di Syisyah, Makkah, yang berjarak sekitar dua kilometer dari Masjidil Haram. (kur/ll)

PR Unlam Lewat Seleksi „ Sambungan hal 1

Kini, dengan kembali mendasarkan pada mekanisme, kata Ruslan, tim suksesnya dan semua staf pengajar Unlam memiliki peluang sama untuk menjadi PR. Asalkan, mereka mendaftar dan memenuhi persyaratan. Persyaratan yang dimaksud Ruslan, yakni seperti tercantum dalam Permendiknas Nomor 67 Tahun 2008 tentang Pengangkatan dan Pemberhentian Dosen Sebagai Pimpinan Perguruan Tinggi dan Pimpinan Fakultas. Ruslan menampik sikapnya tidak lagi ngotot soal PR karena tekanan dari anggota senat atau pihak lain. Menurutnya, itu semata-mata karena pertimbangan mekanisme yang harus ditegakkan. “Mekanisme penempatan PR itu kan sudah diatur Permendiknas, jadi tetap meka-

nisme itu yang menjadi acuan,” ujarnya. Rapat senat pembentukan panitia seleksi calon pembantu rektor kemarin, dihadiri 40 lebih dari 50 Anggota Senat Unlam. Rapat berjalan lancar tak adaperdebatan sengit antaranggota senat yang sempat berseberangan dengan Ruslan saat pemilihan rektor lalu. Pertemuan itu menyepakati, panitia seleksi calon rektor terdiri dari ketua, sekretaris, dan anggota. Posisi ketua dipercayakan kepada Prof Dr H Athailah Mursyid, Sekretaris Prof Dr Jumadi, sementara Prof Dr Mariati Sangen, Noer Komeri SSi MSi, dan Helmi SH MH anggota. Jumadi menegaskan panitia bersifat independen. Dalam melaksanakan tugas, mereka akan mengikuti ketentuan dan tidak terpengaruh

kepentingan pihak manapun. “Panitia tentu akan menjaga independensi. Kalau memang ada calon yang tidak memenuhi syarat akan dieliminasi. Sebaliknya berapa pun yang mencalonkan diri dan memenuhi syarat, itulah yang akan kami sampaikan ke rapat senat,” ujarnya. Dia pun menegaskan panitia seleksi tidak menentukan siapa yang akan menduduki posisi PR melainkan hanya membuka pendaftaran. Setelah itu memverifikasi berkas lamaran yang masuk untuk selanjutnya menyampaikan nama-nama peminat yang memenuhi syarat ke rapat senat. “Setelah diumumkan barulah nama-nama calon PR tersebut kami serahkan ke rektor. Kemudian oleh rektor akan dipilih tiga orang untuk setiap posisi PR,” ujarnya.

Tiga nama tersebut selanjutnya disampaikan ke rapat senat untuk mendapatkan pertimbangan. Dalam memberikan pertimbangan, senat meranking dengan poin bagi masing-masing kandidat. Setelah diberi ranking tiga nama itu dikembalikan ke rektor. “Setelah ada pertimbangan senat dikembalikan ke rektor. Jadi tetap rektor yang menentukan siapa yang akan dipilih sebagai PR,” tandas Jumadi. Terkait kapan kemungkinan posisi PR terisi, Ruslan menyerahkan prosesnya berjalan sesuai mekanisme. Sementara, pihak panitia, kata Jumadi, terlebih dahulu akan membuat draft tata tertib pemilihan. “Setelah tatib tersusun akan kami laporkan ke rektor. Kemudian rektor membawanya ke rapat senat. Kami akan bekerja keras agar tatib segera kelar,” ujarnya.(has/ais)

Minta Tim Sukses Ikhlas „ Sambungan hal 1

Namun, katanya, dirinya tetap akan menghormati mekanisme. “Kalau mekanismenya pertimbangan senat meranking tiga nama yang kami sampaikan. Sebaiknya ranking tertinggi yang dipilih,” ujarnya. Terkait dengan rencananya menambah satu PR dari tiga menjadi empat, Ruslan menyatakan wacana tersebut

mendapat sambutan positif dari senat. Hanya saja, terlebih dahulu dirinya diminta untuk membuat tugas pokok dan fungsi (tupoksi) PR 4. “Saya diminta membuat tupoksi untuk PR empat dulu secara tertulis, baru saya sampaikan ke rapat senat lagi. Jika disetujui akan dilakukan pemilihan. Kalau memang sempat pemilihan bersamaan dengan pemilihan PR satu, dua, dan tiga,” ujarnya.

Terpisah Sekretaris Panitia Seleksi PR Unlam, Jumadi juga membenarkan rapat senat menyambut positif wacana rektor yang akan menambah satu PR. Hanya saja, perlu diajukan secara tertulis lengkap dengan tufoksi dari PR tambahan. “Senat menyambut positif untuk pembentukan PR empat. Tapi perlu ada tupoksi lebih dulu yang dibuat rektor agar tidak terjadi overlaping

dengan tupoksi PR satu, PR dua, dan PR tiga,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Senat Unlam itu. Wacana Ruslan tersebut disambut positif rapat senat karena menurut Jumadi tugas Unlam ke depan lebih berat. Dengan begitu diperlukan orang khusus yang menangani perencanaan dan kerjasama dengan pihak lain baik dalam maupun luar negeri.(ais/has)

Banjarmasin Post Edisi Selasa 12 Oktober 2010  

Banjarmasin Post Edisi Selasa 12 Oktober 2010

Banjarmasin Post Edisi Selasa 12 Oktober 2010  

Banjarmasin Post Edisi Selasa 12 Oktober 2010

Advertisement