Page 20

20 Seni Budaya

Banjarmasin Post MINGGU 10 MEI 2009

Virus Minder

KaryaYieni Firnawati Ma’ruf

Chesya Rindu

Hikayat Sang Pemimpi Selaksa mimpi membelenggu kerongkongan pikir, Tetap mengawang... Kian terbayang... Menghias setiap relung imaji, Membabat habis jerami nonfiksi Selaksa mimpi kian bergelayut di dahan akal Membayang berjuta pingkal tanpa kenal sepenggal Membuang pikir tentang tangis karena penjagal Harus terpingkal... Takut penjagal.... Duh, perlukah kusadar??? Tidak!!! Aku takut, aku kalut... Biarkan senyum terus mengembang dipipi walau hanya mimpi Biarkan kesedihan tercipta tanpa pernah ada realita Karena. Aku takut sedih, aku hanya ingin senyum Tapi... Akankah hidupku terus begini? Membiarkan mengawang ke negeri awan Membayangkan berjuta pingkal tanpa sedu sedan Tidak!!! Aku bukan pengecut Yang mengharap senyum dialam mimpi Yang mengikis tangis dengan rapi COME ON TO SAD !!!!

Jerit Bidadari Sang Bidadari menangis getir Tersungkur karena petir yang datang mampir Tanpa bisa mangkir... Tanpa mampu menyodor singkir Karena raga kafir... Tetap menggempur dengan kikir Sang bidadari semakin menangis getir... Ketika semburan lumpur, tumpah ruah tanpa tafsir Bergelayut apik mengawang di sumbu bumi Membanjiri lempengan zambrut hati Yang terjebak ikat temali Sang malaikatpun menghampirinya Membisikkan untaian kata seharum misk “Akankah kau membenci sang kafir, sedang dia mengajarimu tentang makna tangis yang berbutir? Sedang dia mengenalkanmu pada sedu sedan yang menyitir?” Sang bidadari seketika menyingkap selempangan embun Panas,menyibak banjiran lahar beringas, serta menyingkirkan mendung yang ganas.. “Tidaaaaaaak!” Teriaknya melengking “Karena. Aku tak bisa membencinya!! Aku tidak bisa juga melupakannya, sebab aku tercipta... Untuk Mengenal dan mencintanya”

Terawang Terawang rindu sayang.. Perlahan dalam khidmat hingga berujung simpuh syukur Meletak kening menempel indah Mengangkat tangan menengadah Terawang rindu sayang... Menelisik tanpa bisik hingga kepalung jiwa insan, Menerobos tanpa lirik bak serunai tanpa nafas Akankah sedan tanpa bunyi.. Atau seketika meledak penuh luapan embun hangat? Terawang rindu sayang.. Bersama gamang mengeja makna penghambaan, Diselimuti dekap rindu sebuah kedekatan Terawang rindu sayang.. Ya... Kembali menerawang,bersama secawan airmata Ketika sang malaikat berbisik pelan, Jangan pernah menyangsikan keberadaan Tuhan Karena Tuhanmu, selalu ada didekatmu, menyayangimu mencintaimu serta menyematkan berjuta kenikmatan dalam hidup. Dia tak pernah meninggalkanmu. Yang seharusnya kamu pikirkan sekarang, apakah selama ini kamu sudah berusaha untuk selalu dekat dengan-Nya? Karena jika jawabannya sudah! Berarti makna kesyukuran dalam penghambaan telah berhasil kamu raih.

ILUSTRASI/IVANOV

“LUH, ada salam tuch dari Nazar.” Kata Febri. Erin hanya tersenyum geli mendengar dirinya dipanggil Galuh oleh Febri. Katanya, Galuh sebutan untuk gadis Banjar. Seharusnya Nazar adalah kakak kelasnya sekarang. Namun dia pernah gak naik kelas satu tahun. Tapi sebenarnya dia cowok yang cerdas. Sekarang ia semester I kelas XI, SMU Gasan Bangsa. SMU Gasan Bangsa memang berbeda dengan SMU-SMU lain yang ada di Banjarmasin. Selain namanya yang unik, memakai bahasa daerahnya sendiri. Gasan untuk atau buat kalau diartikan dalam bahasa Indonesia. Erinta Galuh Ananda Zahira, cewek berumur 16 tahun ini, baru satu tahun tinggal di Banjarmasin. Kota yang terkenal dengan sungainya. Walau dilahirkan di ‘Kota Seribu Sungai’ itu, sejak berusia enam bulan Erin sudah di boyong tantenya ke Jember, Jawa Timur. Pernikahan Tante Zumi dan Om Toni, belum dikaruniai seorang anak dari buah cinta mereka. Padahal usia pernikahan mereka sudah memasuki tahun kelima. Oleh karena itu Tante Zumi dan Om Toni meminta pada kakaknya agar Erin kecil tinggal bersama mereka. Awalnya Erin kecil dipinjam sebagai pancingan agar tante Zumi hamil. Namun sampai Erin berusia 15 tahun, bukannya hamil Tante Zumi justru meninggal dunia karena kanker rahim yang ternyata sudah dideritanya sejak lama dan baru diketahui saat ajal menjemputnya.

Om Toni akhirnya mengembalikan Erin kepada Selvi, ibu kandung Erin. *** Kepulangan Erin ke Banjarmasin sangat tragis. Ia tak tahu kalau Om Toni membawanya ke Kalimantan justru ingin mengantarnya ke orangtua kandungnya. “Jaga dirimu baik-baik, ya sayang! Berbaktilah sama Abah dan mamah,” kata Om Toni saat akan meninggalkan Erin. Erin langsung memeluk om Toni erat. “Ja...ngan...ting...galin Erin, pa..!” Ucap Erin terbata-bata. “Erin mau ikut papa saja..!” Ugh. Erin jadi ingat papa angkatnya. Air matanya menetes dan dadanya sesak. “Papa, Erin kangen.” Ucapnya dalam hati. Karena sampai saat ini Om Toni belum pernah menengoknya. “Euy... Luh!” Erin tersentak, dia gak sadar kalau dari tadi Febri masih di sampingnya. “Kenapa menangis?” kata Febri lagi. “Oh... Aku nangis? Aku terharu, karena aku punya temen sebaik kamu, Feb.” Kata Erin berbohong. Erin berbohong karena gak mau Febri tau kesedihannya selama ini. “Oya., gimana salam Nazar, Luh?” Erin tersentak, dia gak menyangka mendapat pertanyaan itu. Erin diam, tak tau harus memberikan jawaban apa untuk. “Kok bengong? Jangan-jangan kamu suka ya sama kak Diva, anak Smuven, Jihad anak SMU Rajawali,

atau kak Reza kelas XII IPA unggulan I itu?” Mendapat ‘serangan’ bertubitubi dari Febri teman akrabnya sejak tahun lalu itu, membuat wajah Erin memerah. Erin sejak dulu memang selalu supan-supan* kalau ditanya masalah cowok. Untung bel sekolah menyelamatkan Erin dari pertanyaan Febri. *** Maafkan bila ku tak sempurna Cinta kini tak mungkin ku cegah Handphone Erin berbunyi, tanda ada pesan masuk untuknya. Ass., Erin Syg. Lg ngapain skrg? Gimana kbr Abah&Mamah? Bagai mendapat segelas air dingin saat dahaganya datang. Dan Erin langsung membalas sms itu secepat kilat sampai air matanya pun menetes lagi. Wss.Erin lg kgn sm pa2. kpn Erin bs ketemu papa lg? Sebenarnya Erin dari dulu juga sayang sama Abah dan mamahnya. Tapi karena yang membesarkannya dari kecil adalah Om Tino dan Tante Zumi, maka sampai sekarang pun Erin susah melupakan kedua orang yang telah bersamanya selama 15 tahun itu. Kalo nilai Erin semester dpn bagus, pa2 janji akn terbang Ke KLMNTN. *** “Rin, kamu bisa gak bantuin mencari sebagian hatiku yang hilang? Hatiku telah dicuri sama seorang gadis.” Hati Erin berdegub kencang saat cowok yang disukainya itu meminta

pertolongan yang aneh padanya. Cowok itu, Irman. Dia kenal Irman dua minggu lalu di rumahnya. Saat itu Irman datang bersama kakak kelasnya, Jihad, yang masih tetangga Erin. Kedatangan Irman menanyakan nomor handphone Febri. Sejak itulah mereka berkenalan. Dan sejak itu pula Erin merasakan sesuatu yang berbeda dan sangat indah di ruang hatinya. “Kenapa Bengong?” kata Irman lagi. “Ehm. Siapa gadis itu?” kata Erin menahan perih. “Febri?” lanjut Erin. “Bukan!!! Kamu...,” jawab Irman penuh arti. Sontak Erin salah tingkah. Ucapan Irman itu sangat indah dan penuh makna bagi Erin. Kata itu seindah sms yang dia terima tempo hari dari Om Toni yang akan menemuinya semester depan. Erin bahagia sekali. Namun, tibatiba ada sedih yang menyusup dalam sanubarinya. “Tempo hari saat aku menanyakan nomor hp Febri itu hanya alasan agar bisa kenalan sama kamu,” kata Irman jujur. “Aku gak minta jawaban sekarang,” ucap Irman. “Tiga hari, ya!” lanjutnya. “Nggak. Sekarang saja!” sahut Erin spontan. “Tiga hari itu waktu yang cukup lama untuk sebuah jawaban TIDAK!” Entah kenapa Erin berubah pikiran. Bukankah dia juga mencintai Irman? *** Seminggu setelah kejadian ‘penembakan’ oleh Irman plus penolakan Erin, tiba-tiba Erin panik. Dia membongkar-bongkar kamar dan isi lemarinya. Sejam kemudian, “Kamu nyari apa, Luh?” tanya Febri. “Ini yang kamu cari, Luh?” Febri menunjukkan sebuah diari yang ada di tangannya ke hadapan Erin. Erin kaget bukan kepalang. “Kenapa kamu membohongi dirimu sendiri, Luh? Kenapa kamu juga membohongi aku, temanmu dan kak Irman?” kata Febri tertahan. “Aku malu, Feb! Kamu tau kan rumahku ini gimana?” Erin tak kuat menahan air matanya “Jelek. Kecil lagi,” ucapnya sesenggukan. “Beda jauh dari rumah kamu dan tetangga-tetanggaku yang bagus, besar, dan megah. Pasti rumah Kak Irman juga begitu. Soalnya mobilnya saja BMW.” Ternyata selama ini Erin juga menderita dengan rumah orangtua kandungnya yang kecil dan jelek. Beda jauh dengan rumah Om Toni dan Tante Zumi yang megah. Erin tak memberitahukannya pada siapapun diari kesayangannya. “Luh., kamu gak usah minder dengan keadaan kamu sekarang ini. Karena masih banyak yang kamu punya selain harta. Kamu cantik, cerdas, hidup berkecukupan walau rumahmu yang sekarang tak sebesar rumahmu yang Jember. Dan kamu masih beruntung mendapat kasih sayang dari orang-orang yang kamu sayangi dan menyayangi kamu,” ucap Febri. “Kamu itu orang Banjar, Luh! Seharusnya selalu bersemangat apabila kebahagiaan sudah di depan mata. Ya, sudah. Temui sana kak Irman sudah nunggu kamu di depan,” lanjut Febri. Erin kaget lagi. Kok bisa Irman ada di rumahnya? Namun dia langsung tersenyum. Dia sadar kalau kata-kata Febri itu benar semua. Dapat seratus!!! * Supan adalah bahasa Banjar yang artinya malu

INFO PENGASUH

Homepage: http//www.banjarmasinpost.co.id : PT Grafika Wangi Kalimantan : SK Menpen No. 004/SK/MENPEN/ SIUPP/A.7/1985 tgl 24 Oktober 1985 Sejak Tanggal : 2 Agustus 1971 Direktur Utama : Herman Darmo Penerbit SIUPP

Pemimpin Redaksi/ Wakil Pemimpin Umum: Yusran Pare Redaktur Pelaksana: Harry Prihanto, Dwie Sudarlan Sekretaris Redaksi: Umi Sriwahyuni Manajer Produksi: Agus Rumpoko Wakil Manajer Produksi: Muhammad Yamani Koordinator Liputan: Dade Samsul Rais Staf Redaksi: M Iqbal Raziffuddin, Noor Dachliyanie Adul, Sudarti, Didik Triomarsidi, Halmien Thaha, Ernawati, Yenny Yanuarita, Kaspul Anwar, Ribut Raharjo, Fikria Hidayat, Mulyadi Danu Saputra, M Royan Naimi, Hanani, Burhani Yunus, Sigit Rahmawan Abadi, Anjar Wulandari, Anita Kusuma Wardhani, Ratino Taufik, Moh Choiruman, M Rasyid Ridho, Murhan, Siti Hamsiah Biro/Perwakilan: Banjarbaru/Martapura: Syamsuddin (Kepala Biro), Herlina Lasmianti, Aries Mardiono Barabai: Khairil Rahim Tanjung: Mahdan Basuki, Pelaihari: Idda Royani, Marabahan: Ahmad Riduan, Palangka Raya: Noorjani Aseran (Kepala Biro), Sutransyah, Faturrahman Kuala Kapuas: Mustain Khaitami Jakarta: Uki Kurdi (Kepala Biro), Domuara Ambarita (Waka Biro), Murdjani, Antonius Bramantoro, Budi Prasetyo, Zulfikar W Eda, FX Ismanto, Heroe Baskoro, Johnson Simanjuntak, Rahmat Hidayat, Yulis Sulistyawan, Choirul Ariffin, Hendra Gunawan. Ilustrator/Karikaturis: Ivanda Ramadhani.

e-mail : redaksi@banjarmasinpost.co.id Pemimpin Umum : HG Rusdi Effendi AR Pendiri : Drs H J Djok Mentaya (1939-1994) Drs H Yustan Aziddin (1933-1995) HG Rusdi Effendi AR

Pemimpin Perusahaan: A Wahyu Indriyanta, Wakil Pemimpin Perusahaan/Bagian Promosi: M Fachmy Noor, Bagian PSDM/Umum: Tapriji, Bagian Iklan: Fahmi Setiadi (08115003012), Bagian Sirkulasi: Suharyanto (08115000117). Alamat Redaksi/Iklan/Sirkulasi: Gedung HJ Djok Mentaya, Jl AS Musyaffa No 16 Banjarmasin 70111, Telepon (0511) 3354370 (hunting), Fax 4366123, 3353266, 3366303 Bagian Iklan: (ext. 113, 114), Bagian Sirkulasi: (ext. 116, 117) Hotline Langganan: (0511) 3352050 Biro Jakarta-Persda: Redaksi, Jl Pal Merah Selatan No 12 Lantai II Jakarta 10270, Telp (021) 5483008, 5480888 dan 5490666 Fax (021) 5495360, Iklan/ Sirkulasi: Telp (021) 5483008, 5480008, Fax (021) 53696583 Perwakilan Surabaya: Jl Raya Gubeng No 98 Surabaya, Telp/Fax (031) 5021779, Biro Banjarbaru: Jl Wijaya Kusuma No 11 Telp (0511) 4780356, Biro Palangka Raya: Jl Tjilik Riwut Km.2,5 Palangka Raya, Telp (0536) 3242361 Tarif Iklan: zDisplay Umum: Hitam Putih (BW): Rp 17.500/mmk Berwarna (FC): Rp 35.000/mmk zDisplay Halaman 1: Hitam Putih (BW): Rp 35.000/ mmk Berwarna (FC): Rp 70.000/mmk zIklan kolom/Duka Cita: Hitam Putih (BW): Rp 10.000/mmk Berwarna (FC): Rp 20.000/mmk zIklan Baris: Rp 10.000/baris Catatan: Harga belum termasuk PPN 10%. Harga Langganan: Rp 75.000/bln Percetakan: Alma Mater Press Offset Alamat: Lianganggang Km 21 Landasan Ulin Selatan Banjarbaru. Telepon (0511) 4705900-01 isi di luar tanggungjawab percetakan.

WARTAWAN “BANJARMASIN POST GROUP” SELALU DIBEKALI TANDA PENGENAL DAN TIDAK DIPERKENANKAN MENERIMA/MEMINTA APA PUN DARI NARASUMBER.

BAGI rekan-rekan yang mengirim tulisan berupa cerpen atau puisi, kami meminta untuk melengkapinya dengan data dir/copy kartu identitasi dan nomor rekening bank anda. Honor tulisan yang dimuat akan kami transfer. Tulisan bisadikirim lewat pos ke almat Kantor Banjarmasin Post Gedung HJ Djok Mentaya Jalan AS Musyafa Nomor 16 Banjarmasin. Sudut kiri amplop ditulis Seni dan Budaya. Bisa juga kirim via email ke redaksi@banjarmasinpost.co.id atau royan.naimi@gmail.com.

Lagu Banjar Itu Elegan ELEGAN,kesan itulah yang dirasakan penonton pagelaran lagu Banjar bertajuk Batanam Karya Baharum Banua 2008, Jumat (6/5). Belasan lagu ka rya cipta seniman lintas generasi yang dipertunjukkan, menyingkirkan kesan lagu Banjar itu zadul (zaman dulu). Sebaliknya, lagu karya H A Thamrin, Farhan Nansri, Hamidhan AC, Fadly Zour, M Syukrie Munas, H Yurni Fani, Syarifuddin MS, Roestam Relez, Sultan, dan Ennos Karli yang malam itu diaransemen dengan sentuhan alat musik etnik Banjar yang dibalut lebih modern mampu memunculkan kesan nan elegan, mudah dicerna dan tentu saja tetap menghibur. Setidaknya inilah yang ditangkap Ovien. Warga Jakarta yang malam itu ikut menyaksikan penampilan seniman Banua dalam tema Utuh Kincir Mencari Si Jantung Hati itu. “Acaranya keren. Lagulagu Banjar itu ternyata asyik dan menurut saya elegan,” kata ibu dua putri ini. Meski, diakuinya tidak banyak yang bisa ditangkapnya dari syairsyair Banjar dalam lagu itu, ia mengaku cukup bisa menikmati lagu-lagunya.

BANJARMASIN POST/HERRY MURDY HERMAWAN

Malam Batanam Karya Baharum Banua

Hal yang sama juga diungkapkan penonton lain. Bagi kalangan tua, acara itu seolah menjadi ajang nostalgia kepopuleran lagu di zamannya. Tidak sedikit yang larut dalam koor tanpa dikomando lagu seperti Sanja Kuning, yang dinyanyikan duet oleh Wakil Gubernur Kalsel Rosehan NB dan sang maestro pencipta lagu Banjar Anang Ardiansyah. Pun, bagi kalangan muda. Mereka yang semula mengenal lagu Banjar itu dengan lirik kocak bahkan kadang agak lanji (miring). Tidak dengan malam itu. Kepala Taman Budaya Kal-

sel Drs Akhmady Soufyan mengatakan, para pencipta lagu Banjar yang malam itu dipagelarkan lagu-lagunya terbukti telah mengharumkan nama daerah lewat karya-karya mereka. Bahkan sampai lagu ini populer, go national dan disuka banyak kalangan. Jika lagu Ampar-ampar Pisang ciptaan Thamrin yang dirilis oleh Hamiedan AC, juga lagu Paris Barantai ciptaan H Anang Ardiansyah, merupakan dua lagu yang menjadi kiblat dalam mencipta lagu daerah Banjar. Hal ini karena kedua lagu inilah yang pertama kali direkam dan dikenal banyak orang.

Selain sang Maestro Lagu Banjar H Anang Ardianyah, Kalsel memiliki Hamidhan AC. Seorang pencipta yang lagu-lagunya masih dikenal hingga saat ini. Ciptaannya telah menasional dan layak dicatat dengan tinta emas adalah lagu Dunia Belum Kiamat, yang telah menjadi lagu dahsyat yang dinyanyikan oleh Titiek Sandhora bersama Muchsin Alatas dalam lagu film musikal berjudul sama yang dibintangi pasangan penyanyi ini. “Lagu Banjar kita ini tak kalah populer kalau terus dikembangkan dengan polesan. Kita punya banyak seniman yang wajib kita berikan penghargaan atas dedikasinya mengembangkan kesenian lagu Banjar,” kata seniman yang dikenal dengan nama Ennos Karli.1 Lagu dan lirik lagu Banjar menurut sang Maestro H Anang Ardiansyah berkembang dalam lagu-lagu (pantun) irama khas Banjar. “Di Kalimantan Selatan, ada tiga sumber pantun, yaitu yang berkembang di tepian sungai, di daratan, dan yang berkembang di pesisir pantai,” ujarnya. (niz)

Banjarmasin Post - Edisi Minggu, 10 Mei 2009  

Banjarmasin Post - Edisi Minggu, 10 Mei 2009

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you