Dentamedia Volume 26 Nomor 2

Page 1

Perkembangan dunia kedokteran gigi di Indonesia mulai pesat dalam dua puluh lima tahun terakhir. Seiring dengan kebutuhan akan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang mulai meningkat, berbagai insitusi pendidikan kedokteran gigi mulai berdiri. tak hanya di Pulau Jawa, tetapi di luar pulau jawa. Berbagai program studi spesialis juga mulai berdiri. Ribuan mahasiswa kini telah menjadi dokter gigi. Berbagai kebijakan dilahirkan untuk meningkatkan mutu dokter gigi Indonesia serta pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Media sarana Informasi dan edukasi kini sudah sangat beragam. Seakan mengikuti perkembangan zaman, masalah dan tantangan juga datang akan selalu ada membayangi inovasi dalam bidang kedokteran gigi. Edisi khusus ini dipersembahkan untuk pembaca setia dalam rangka 25 Tahun Dentamedia menemani Dokter Gigi Indonesia.


Opini

S

ejarah pendidikan dokter gigi di Indonesia telah dimulai dari era penjajahan oleh Belanda, kemudian pendudukan oleh Jepang dan masa kemerdekaan. Telah banyak dokter gigi yang dihasilkan dari proses pendidikan dokter gigi tersebut, dan seiring dengan tuntutan pelayanan pada masyarakat dan perkembangan keilmuan maka berkembang pula pendidikan dokter gigi spesialis. Dahulu, untuk memasuki jenjang tersebut seorang dokter gigi harus menempuh pendidikan spesialisasi di luar negeri, pada periode waktu tertentu dan pengakuan bahwa telah menjadi spesialis ditunjukkan dengan brevet yang didapatkan dari universitas tersebut. Pendidikan dokter gigi spesialis di Indonesia telah dirintis oleh senior, guru besar di masing-masing bidang keilmuan dan sampai sekarang belum ada buku yang menjadi referensi sejarah dokter gigi spesialis. Pada era tahun 80 dan 90-an seorang dokter gigi yang telah mendapatkan pendidikan tambahan selama 3-4 tahun dikenal dengan sebutan ahli, misalkan bedah mulut maka gelar nya adalah ABM (ahli bedah mulut), namun sudah ada pula yang menggunakan gelar spesialis, namun belum ada keseragaman penulisan gelar spesialis. Pada perkembangannya, penulisan gelar spesialis menjadi seragam menggunakan prefiks sp didepan bidang keilmuan yang menjadi spesialisasi. Perubahan kurikulum dan perubahan kelas jabatan serta program Jaminan Kesehatan Nasional menggulirkan nuansa baru dokter gigi spesialis konsultan.Dengan makin banyaknya spesialis maka mulai terbentuk klaster sub keilmuan, yang pada akhirnya terdapat gelar konsultan tersebut mendapatkan penyetaraan kompetensi tambahan. Umumnya jenjang ini tidak didapatkan dari pendidikan sub spesialis/sp2 namun dari pengakuan oleh kolegium berdasarkan kriteria tertentu. Wacananya, tahun 2023 untuk mendapatkan gelar tersebut harus melalui proses pendidikan tambahan bukan lagi melalui program pemutihan seperti saat ini. Secara de jure, perkembangan ini sangatlah bagus namun, kenyataan dilapangan berbeda 180 derajat. Dokter gigi spesialis masih banyak

2

DILEMA DOKTER GIGI SPESIALIS DAN DOKTER GIGI UMUM Oleh : Ronny Baihaqi Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut di Surabaya

mengerjakan kasus-kasus yang menjadi kompetensi dokter gigi umum pun sebaliknya, banyak dokter gigi yang merasa pernah mengikuti suatu acara hands on mengerjakan kasus diluar kompetensinya. Akibatnya, sudah banyak aduan dari masyarakat dan sampai pada tuntutan hukum bahwa ternyata yang mengerjakan bukan spesialis. Antara dokter gigi spesialis pun banyak yang tidak menjaga marwah profesinya, misalkan seorang dokter gigi spesialis bedah mulut masih mengerjakan kasus ortodonsia dan sebagainya. Tumpang tindihnya kompetensi klinik antar spesialis yang tidak secara jelas memisahkan kompetensi satu dengan lainnya dan mungkin hal ini disebabkan karena bidang spesialis kedokteran gigi tidak seluas bidang kedokteran. Seorang dokter penyakit dalam misalnya tidak akan mungkin mengerjakan kasus pembedahan di kamar operasi. Kompetensi klinis seorang dokter gigi itupun sangat jelas, namun banyak yang masih melanggar melampaui kompetensinya seperti mengerjakan kasus odontektomi kelas 3 dan dikerjakan di kamar operasi, hasilnya ada komplikasi fraktur mandibula dan berbuah pada sengketa medis yang bisa menyeret dokter yang bersangkutan ke ranah hukum. Kasus dokter gigi spesialis yang mengerjakan kompetensi dokter gigi juga sangat banyak, dan menjadikan problematika saat memasukan koding tindakan terutama pasien asuransi jkn dan asuransi umum. Permasalahan ini dika-

renakan mindset dokter gigi spesialis menganggap dulunya juga mereka dokter gigi dan pernah serta bisa mengerjakan kasus tersebut. Seharusnya setiap dokter gigi dan dokter gigi spesialis patuh pada kompetensi dasar yang mereka dapatkan dari brevetnya, mulai menghargai antar sejawat dan tidak arogan menganggap lebih kompeten daripada sejawat. Apalagi dengan adanya kompetensi tambahan yang lebih memperdalam satu kasus spesialistik, contoh trauma maksilofasial dan temporo mandibula joint pada sub spesialis bedah mulut dan maksilofasial, maka konsentrasi lebih pada kasus tersebut daripada kasus bedah mulut pada umumnya apalagi pada kompetensi dokter gigi. Saling menghargai, saling memahami kompetensi dari masing-masing dokter gigi dan dokter gigi spesialis maka akan terjalin komunikasi rujukan kasus yang baik, meningkatkan mutu layanan kesehatan gigi dan mulut serta akan muncul penghargaan dari masyarakat bahwa dokter gigi sendiri terdapat spesialisasinya. Anggapan masyarakat sampai saat ini baik pada pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan pasien asuransi, mereka mengganggap dokter gigi itu sendiri sudah spesialis gigi. Siapa lagi yang bisa menghargai diri kita kalau bukan dimulai dari diri kita sendiri, mulai untuk bekerja sesuai kompetensinya karena tujuannya untuk keselamatan pasien yang akan berujung pada keselamatan dokter gigi serta fasilitas pelayanan kesehatannya.


Opini

SEKOLAHNYA MAHAL, SETELAH LULUS DISURUH MENGABDI Oleh : Kosterman Usri Dokter gigi di Bandung

T

ahun 1990 biaya kuliah di fakultas kedokteran gigi negeri yang saat itu disebut Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) adalah Rp. 120.000 per semester. Terdiri dari Rp.60.000 uang kuliah dan Rp. 60.000 uang praktikum. Kurs Dolar Amerika di Desember 1990 adalah Rp. 1.842, jadi biaya kuliah anak mahasiswa zaman itu adalah 65 US$ per semester. Bila dihitung per bulan maka didapat angka Rp. 20.000 atau 10,6 US$. Sebagai gambaran harga bensin saat itu adalah Rp 550 / liter, jadi biaya kuliah perbulan senilai 36 liter bensin. Bagi yang tidak mampu, jangan khawatir banyak yayasan milik orde baru yang siap memberi beasiswa, belum lagi perusahaan rokok tak ketinggalan turut rajin memberi beasiswa.

Bila mengacu pada kurs Dolar Amerika saat artikel ini ditulis, yaitu Rp 14.686 maka biaya kuliah 65 US$ pada tahun 1990 bila dirupiahkan menjadi Rp. 954.590. Bila dinilai dengan harga bensin saat ini yaitu Rp. 7.650/liter, maka 36 liter biaya kuliah per bulan di tahun 1990 saat ini berharga Rp 275.400 atau Rp. 1.652.400 per semester. Faktanya biaya kuliah di kampus tersebut, yang saat ini disebut Uang Kuliah Tunggal (UKT) nilai tertingginya adalah Rp. 13.000.000 per semester atau 885 US$. Bila dinilai dengan harga bensin, setara dengan 283 liter per bulan. Jadi biaya kuliah kedokteran gigi memang makin mahal, bukan naik mengikuti karena kurs rupiah bukan pula mengikuti inflasi. Ini baru hitung-hitungan di perguruan tinggi negeri, bagaimana dengan di swasta yang uang pangkalnya seharga mobil mewah terbaru, atau jalur mandi-

ri perguruan tinggi negeri yang uang masuknya sama seperti di swasta. Namun demikian masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia, nyaris tak berubah. Angka insidensi karies tak jua melandai, Indonesia bebas karies terus diulur dan dicanangkan ulang. Pemerataan tenaga dokter gigi tak pernah terwujud, alumni baru terus menumpuk di kota besar, apalagi setelah Program Wajib Kerja Sarjana (WKS) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT) tidak ada lagi. Fakta ini membuat di bangku kuliah, ajaran dan anjuran untuk mau mengabdi ke daerah –kalau perlu ke terpencil dan sangat terpencil– terus digaungkan. Tentu ini bertolak belakang dengan konsekuensi biaya kuliah yang semakin mahal. Biaya mahal menimbulkan pengharapan bahkan tuntutan agar setelah lulus para dokter gigi baru segera dapat "balik modal". Akibatnya pemerataan dokter gigi tetap akan menjadi cita cita yang tak pernah terwujud.

3


Opini

INDONESIA BEBAS KARIES 2030 Oleh : Nadia Faradiba. Content Creator Kompas.com

P

ermasalahan gigi dan mulut di Indonesia sangat serius. Dalam hasil Riset Dasar Kesehatan (Riskesdas) tahun 2018, proporsi masalah gigi dan mulut yang paling besar adalah gigi berlubang dengan persentase mencapai 45,3%. Selain itu, Riskesdas tahun 2018 juga menemukan bahwa Prevalensi karies paling tinggi terjadi pada kelompok umur 55-64 tahun sebesar 96,8%, di atas 65 tahun sebesar 95%, umur 4554 tahun sebesar 94,5%, dan pada anak usia 5-9 tahun sebesar 92,6%. Permasalahan juga dapat dilihat dari indeks DMF-T (Decay Missing Filled-Teeth). Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan indeks DMF-T di Indonesia masih cukup tinggi. Pada kelompok umur 12 tahun, indeksnya berada di angka 1,9. Setelah itu berturut-turut indeks pada kelompok umur tertentu, yaitu 2,4 pada umur 15 tahun; 6,9 pada umur 35-44 tahun; dan 16,8 pada umur di atas 65 tahun. Kondisi ini diperparah dengan rendahnya pengobatan gigi dan mulut di Indonesia. Dari penduduk Indonesia yang memiliki masalah kesehatan gigi dan mulut, sebesar 42,2% memilih untuk melakukan pengobatan sendiri dan 32,1% masyarakat memilih tidak menerima pengobatan apapun. Sedangkan yang memutuskan untuk berobat ke dokter gigi hanya 13,9%. Target Indonesia Bebas Karies 2030 ditentukan dengan target parameter indeks DMF-T anak kelompok 12 tahun mencapai 1. Hal ini selaras dengan amanat WHO untuk meningkatkan prevalensi masyarakat yang tidak memiliki masalah gigi hingga 50%, dimana saat ini di Indonesia hanya 7% orang yang tidak memiliki masalah kesehatan gigi dan mulut. Menurut prinsip “5 Level of Prevention” oleh Leavell dan Clark, untuk mencegah suatu penyakit, perlu menyelenggarakan 5 tahap pencegahan yang terbagi menjadi 3 kelompok utama. Pertama, pencegahan primer yang berisi promosi kesehatan dan upaya proteksi kesehatan yang spesifik. Kedua, pencegahan se-

4

kunder yang terdiri dari deteksi dan perawatan dini suatu penyakit serta pembatasan akibat buruk. Ketiga, pencegahan tersier yang berisi upaya pemulihan kesehatan. Untuk mewujudkannya perlu kolaborasi dari berbagai pihak, baik dari pemerintah, tenaga kesehatan, serta masyarakat itu sendiri. Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Eriska Riyanti, dr., SpKGA, target ini bisa dicapai dengan tiga strategi utama. Tiga strategi itu adalah upaya promotif dan preventif, menerapkan teknik perawatan gigi dan mulut yang mudah, dan penguatan kapasitas Sumber Daya Manusia di bidang kedokteran gigi. Selaras dengan teori sebelumnya, langkah utama yang harus menjadi langkah primer adalah melakukan berbagai upaya pencegahan karies dengan melakukan edukasi kesehatan seputar gigi dan mulut. Edukasi yang dilakukan harus menyeluruh dan menyentuh berbagai lapisan masyarakat. Dahulu, edukasi kesehatan gigi dan mulut hanya dilakukan dengan penyuluhan ke sekolah atau posyandu. Dengan perkembangan teknologi, promosi kesehatan bisa memanfaatkan berbagai media, seperti media sosial, artikel, video, atau podcast. Materi yang disampaikan harus mencakup upaya pencegahan gigi dan mulut, seperti cara menyikat gigi yang baik, penggunaan fluoride, Pada tahap ini, tenaga kesehatan harus berkolaborasi dengan berbagai pihak, misalnya dengan content creator, copywriter, dan pihak lainnya untuk menciptakan materi yang bisa dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat, serta berbagai media untuk menyebarkan materi tersebut, misalnya melalui media sosial dan media digital lainnya. Kita perlu paham bahwa setiap lapisan masyarakat memiliki kemampuan literasi yang berbeda dan perlu pendekatan khusus untuk memastikan informasi yang kita buat dapat dipahami. Pada tahap inilah kolaborasi terbesar yang melibatkan ba-

nyak pihak, termasuk orang tua yang berperan penting untuk mengajari anaknya mengenai materi yang telah disiapkan. Langkah selanjutnya mengenai pemanfaatan teknologi terkini untuk perawatan gigi dan mulut. Langkah ini bisa melibatkan dokter gigi dengan para pengembang teknologi untuk mengembangkan berbagai teknologi seperti teledentistry, layanan media augmented reality, hingga proses diagnosis awal. Peran orang tua juga penting pada tahap ini karena walaupun berbagai teknologi terkini sudah tersedia, jika orang tua tidak berperan untuk mengarahkan anaknya menggunakan teknologi tersebut, teknologi canggih ini tidak akan bisa berbuat banyak untuk menurunkan prevalensi karies di Indonesia. Tahap terakhir adalah dengan meningkatkan kualitas tenaga kesehatan di bidang kedokteran gigi di Indonesia. Pemerintah bekerja sama dengan berbagai organisasi profesi terkait terus mengembangkan berbagai kebijakan untuk mencapai target tersebut. Tujuannya adalah untuk memastikan dokter gigi yang terjun ke masyarakat memiliki pengetahuan dan kompetensi yang memadai. Selain itu, penyebaran tenaga medis yang merata juga sangat penting. Seperti yang kita ketahui, sangat sedikit dokter gigi yang bekerja di daerah yang terpencil. Oleh karena itu, salah satu kebijakan terbaru adalah penetapan internship untuk dokter gigi yang tertuang di dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Program Internship Dokter dan Dokter Gigi. Target Indonesia Bebas Karies 2030 terkesan sangat sulit dicapai, namun bukan berarti tidak mungkin dilakukan. Indonesia bisa saja mencapainya asalkan adanya kolaborasi dari semua pihak untuk melaksanakan langkah-langkah pencegahan seperti yang telah dijelaskan dalam uraian di atas. Jadi, apakah Anda siap berpartisipasi untuk mencapai Indonesia Bebas Karies 2030?


Opini

DOKTER GIGI BELUM MERATA, APAKAH INTERNSHIP JAWABANNYA? Oleh : Messya Rachmani Dokter Gigi Anak di Jakarta

P

elayanan kesehatan gigi dan mulut sampai detik ini masih menjadi masalah di Indonesia. Bagaimana tidak, berdasarkan data nasional dari KKI pada bulan Maret 2021 menggambarkan rasio dokter gigi per 1000 penduduk di Indonesia mencapai 0,14. Artinya, setiap 1000 penduduk Indonesia hanya dilayani oleh 14 orang dokter gigi. Angka rasio ini pun tidak merata. Rasio dokter gigi tertinggi berada di DKI Jakarta yang diikuti oleh kota-kota besar seperti DIY Jogjakarta dan Bali. Rasio terendah terdaapat di provinsi Papua, yaitu 0.03. Berdasarkan data ini saja kita sudah dapat menyimpulkan bahwa keberadaan dokter gigi di Indonesia sangat timpang sehingga tidak dapat pelayanan kesehatan gigi dan mulut dengan optimal terutama di daerah pelosok nusantara. Faktor lain yang berkontribusi dalam masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia adalah sistem kesehatan dan pendidikan kesehatan di Indonesia yang belum berjalan dengan sinergis sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan kesehatan nasional. Atas dasar pemenuhan kebutuhan kesehatan dan pemerataan dokter ini, maka Kementrian Kesehatan kemudian memunculkan program Internship bagi dokter, dan kini juga diwajibkan bagi dokter gigi. Pemerintah membuat kebijakan yang bertujuan untuk pemerataan tenaga kesehatan di daerah seperti program PTT atau Pegawai Tidak Tetap, Nusantara Sehat, serta yang terbaru Internship. Jaman dulu, program PTT atau Pegawai Tidak Tetap mewajibkan dokter dan dokter gigi yang sudah lulus dan memiliki STR untuk mengisi kekurangan tenaga medis di daerah sebagai pegawai tidak tetap. Pada masanya, program PTT ini sempat diwajibkan, namun berubah menjadi tidak wajib dan kemudian berkembang lagi sehingga muncul program Nusan-

tara Sehat. Bedanya, jika dokter gigi PTT biasanya berangkat sendiri sesuai dengan kebutuhan daerah yang dituju, program Nusantara Sehat memberangkatkan tim yang terdiri dari dokter umum, dokter gigi, perawat, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga kesehatan lingkungan, ahli gizi, dan analis laboratorium yang telah diberi pelatihan sebelumnya. Sedangkan Internship sendiri merupakan proses pemantapan mutu dan profesi dokter dan dokter gigi untuk menerapkan kompetensi yang diperoleh selama pendidikan, secara terintegrasi, komprehensif, mandiri an menggunakan pendekatan kedokteran keluarga, dalam rangka kemahiran dan penyelarasan antara hasil pendidikan dengan praktik di lapangan. Berbeda dengan program sebelumnya, internship diwajibkan bagi dokter dan dokter gigi yang telah lulus yang nantinya akan memberikan pelayanan kesehatan di daerah menggunakan STR internship selama 6-12 bulan, dan setelah lulus internship mereka kemudian akan mendapatkan STR definitif sebagai tanda registrasi. Internship dokter gigi memiliki tujuan mulia, yaitu untuk pemahiran dan pemandirian dokter gigi, penyesuaian dalam pemantapan kompetensi dokter gigi, serta pemenuhan kebutuhan dokter gigi untuk mendukung pelayanan kesehatan bagi masyarakat di fasilitas pelayanan kesehatan. Namun dengan tujuan mulia yang telah disebutkan sebelumnya, internship dokter gigi masih terus saja mendapatkan perlawanan dari mahasiswa kedokteran gigi yang tentu saja kontra terhadap kebijakan ini. Padahal waktunya lebih singkat dibandingkan internship dokter, yaitu hanya 6 bulan. Penolakan ini berdasarkan dari kekhawatiran para mahasiswa terhadap masa studinya yang dapat mencapai 6-7 tahun atau lebih untuk lulus menjadi dokter gigi. Selain itu proses

pendidikan profesi dokter gigi mengharuskan mahasiswa untuk melakukan tindakan medis ‘sendiri’ dengan pantauan DPJP di RSGM dan tentu saja meningkatkan kemampuan melakukan tindakan medis mereka dibandingkan dengan program profesi dokter karena lebih banyak mengerjakan tindakan medis saat menjadi ko-ass. Namun, ternyata Pandemi Covid-19 melanda. Pendidikan profesi dokter gigi pun terkena imbasnya. Pasien sulit datang ke RSGM sehingga banyak kurikulum yang disesuaikan oleh AFDOKGI. Beberapa tindakan disesuaikan dengan mengerjakan di phantom, atau dikerjakan bergantian antar ko-ass. Hal ini tentu saja sangat tidak efektif dan dapat mengurangi kompetensi dokter gigi dalam melayani pasien. Lalu, apakah internship dapat menjadi solusi dari kedua masalah diatas? Bisa jadi. Terlepas dari pro dan kontra masalah kelulusan dan pengajaran di fakultas kedokteran gigi masing-masing, dengan tujuan yang mulia untuk memenuhi pemerataan dokter gigi guna memberikan pelayanan kesehatan gigi mulut di daerah serta meningkatkan kemahiran lulusan dokter gigi yang lulus pada masa pandemi, tentu bisa. Namun hendaknya pemerintah melalui pemangku kebijakan di Kementrian Kesehatan harus mempertimbangkan kesiapan peserta internship, Puskesmas, RS, serta dokter gigi pendamping di daerah baik dari segi ketersediaan alat dan bahan, standar operasional prosedur, serta insentif yang akan diberikan. Selain itu, pemangku kebijakan juga harus bisa mencegah adanya praktik calo dalam pemilihan wahana seperti yang marak terjadi, agar program internship dokter gigi ini dapat berjalan lancer sesuai dengan tujuan yang telah digaungkan dan tentu saja memeratakan pelayanan kesehatan gigi dan mulut ke seluruh pelosok Nusantara.

5


Liputan

ULANG TAHUN PERAK DENTAMEDIA

M

enginjak usianya yang ke 25 Tahun, Dentamedia mengadakan berbagai acara. Talkshow yang mengangkat tema “Internship Dokter Gigi, Jadi!” menjadi acara pembuka dari seluruh rangkaian acara. Talkshow online yang diadakan mengangkat isu terkini internship bagi mahasiswa kedokteran gigi dengan mengundang pembicara baik dari pihak pembuat kebijakan serta dokter yang telah menjalankan program internship untuk berbagi pengalamannya. Talkshow ini dihadiri oleh banyak mahasiswa

6

kedokteran gigi seluruh Indonesia dan disambut dengan baik sebagai langkah awal sosialisasi program internship. Bersamaan dalam acara pembuka ini, Dentamedia juga menyerahkan 4 buah sepeda yang diterima langsung oleh Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran untuk mendukung program Smart and Green Dentistry yang digagas oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. Selanjutnya, pada tanggal 26 Maret 2022, masih dalam rangkaian acara ulang tahun ke 25 Dentam-

edia, para anggota komunitas diundang secara istimewa untuk berkeliling sambil menambah pengetahuan sejarah tentang kota bandung menggunakan bis ikonik kota Bandung, Bis Bandros. Dalam cuaca sejuk khas Kota Bandung, para anggota komunitas diajak berkeliling kota bandung melewati Titik 0 Kota Bandung, Jalan Asia Afrika, Jalan Braga, Alun-alun Kota Bandung, Taman Vanda, Gedung Sate serta beberapa situs ikonik Kota Bandung lainnya. Acara hari ini ditutup dengan tiup lilin dan potong kue yang dilanjutkan

dengan makan malam bersama di Hotel Grand Tebu yang berlokasi di Jl. Riau. Seminar yang bertema 'Teknologi di BIdang Kedokteran Gigi' menjadi acara puncak yang dilaksanakan pada tanggal 27 Maret 2022 secara luring dan daring melalui kanal Zoom. Acara ini merupakan acara luring pertama setelah kebijakan seminar luring diperbolehkan. Dengan protokol kesehatan yang ketat, acara ini menghadirkan berbagai pembicara menarik, seperti drg. Ari Harsoputranto, drg. Safira Khairina, M. Kes, drg. Sandy Pamad-


Liputan

LOMBA PENULISAN ARTIKEL, POSTER & VIDEO EDUKASI KEDOKTERAN GIGI

S

ebagai media kedokteran gigi, Dentamedia juga menggelar lomba penulisan artikel opini, esai, serta lomba poster dan video edukasi melalui media sosial Instagram dalam rangka ulang tahun ke 25. Lomba ini berhadiah jutaan rupiah yang diikuti oleh mahasiswa kedokteran gigi serta dokter gigi di seluruh Indonesia. Semua tulisan artikel hasil karya peserta tentunya akan dimuat dalam edisi cetak Dentamedia. Berikut para pemenang lomba :

ya, Sp. RKG, serta Dr. drg. Endang Syamsudin, Sp. BM(K). aAara ini berlangsung hingga pukul 12.30 dan dilanjutkan dengan Hands On dengan berbagai topik menarik. Dentamedia jmengucapkan terima kasih

kepada seluruh prmbaca setia, para peserta seminar dan lomba, anggota komunitas, dan seluruh sponsor yang telah mendukung kemeriahan acara ulang tahun perak Dentamedia.

Kategori Opini : Christania Cornelius (Mampukan Dokter Gigi Beradaptasi di Era Media Sosial?) Kategori Esai : Denisa Aulia Rachmadani (Pendekatan Terkini untuk Mitigasi Iklim Melalui Green Dentristry : Peluang Baru untuk Kedokteran Gigi Ramah Lingkungan) Kategori Kisah : Mochamad Nur Ramdhani (Pejuang Kesehatan Gigi dan Mulut (Disabilitas) di Timur Indonesia) Juara Utama Poster Edukasi Kesehatan Gigi : Dewi Sari (Si Bogi) Juara Favorit Poster Edukasi Kesehatan Gigi : Ainun Rezky Ramadhani (Yuk Cegah Masalah Gigi dengan SMART) Juara Utama Video Edukasi Kesehatan Gigi : Hilma Andriani Juara Favorit Video Edukasi Kesehatan Gigi : Ari Tri Wandoyo Handayani

Tajuk

ULANG TAHUN PERAK

T

Oleh : Kosterman Usri

radisi peringatan ulang tahun perak sejatinya berasal dari tradisi ulang tahun pernikahan di Jerman pada masa abad kegelapan. Saat pernikahan mencapai 25 tahun, seorang suami akan memberikan istrinya karangan bunga perak (silver wreath). Hal ini kemudian menyebar menjadi tradisi di banyak perusahaan maupun produk yang dihasilkannya. Tahun 2022 ini Dentamedia merayakan ulang tahun perak karena berusia 25 tahun. Selama waktu yang merentang panjang itu banyak perubahan yang terjadi, Indonesia saja sudah lima kali ganti Presiden. Di tahun 1997, Dentamedia diproduksi dengan cara dicetak kemudian dikirim melalui pos dengan perangko Rp. 150. Saat itu belum musim penggunaan intenet apalagi telepon genggam, kurang lebih baru sebatas berita di koran perihal kehadiran kedua teknologi tersebut. Kondisi saat ini benar-benar tak terbayangkan 25 tahun yang lalu. Lompatan teknologi informasi telah membuat cara lama menjadi usang tak terpakai. Saat ini rasanya sangat jarang dokter gigi yang berlangganan koran dan majalah bahkan menonton televisi karena semua informasi sudah dengan mudah dapat diakses lewat telepon genggam setiap saat selama 24 jam. Dentamedia berupaya bertransformasi mengikuti kehendak masa kini, dengan konsep multiplatform kini dapat diakses versi digitalnya. Selain juga tersedia di media sosial facebook, twitter, instagram, line, dan telegram. Namun ternyata semuanya bukan hanya tentang penggunaan teknologi tetapi tentang nafas zaman yang berubah. Tetap sulit menghadapi zaman baru dengan pikiran orang lama, maka di tahun perak ini Dentamedia memutuskan berganti pengelola, dari mulai Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi, sampai ke para manajer diganti semua dengan kaum milenial. Semoga ini semua dapat membuat Dentamedia panjang umur dan dapat tetap sesuai dengan selera kekinian.

7


Liputan

S

KEDOKTERAN GIGI INDONESIA 25 TAHUN TERAKHIR

udah 25 tahun Dentamedia terbit menemani dokter gigi Indonesia. Berbagai peristiwa dimuat sebagai berita sepanjang masa tersebut. Tanpa disengaja Dentamedia telah menjadi pencatat sejarah perkembangan kedokteran gigi di Indonesia. Perjalanan peristiwa dalam dunia kedokteran gigi selama 25 tahun kami ringkaskan dalam halaman ini, tidak semuanya memang, tapi setidaknya dapat memberi gambaran apa saja yang pernah terjadi.

8


9


Opini

BERJUANG TERUS NAMUN TETAP DUA RIBU Oleh : Rizna Salsadila Shofwa Mahasiswi Profesi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

C

akupan kesehatan semesta atau Universal Health Coverage (UHC), menjamin seluruh masyarakat mempunyai akses untuk kebutuhan pelayanan kesehatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang berkualitas dan efektif ketika masyarakat membutuhkan tanpa kesulitan finansial. Namun hal tersebut bukan berarti akses pelayanan kesehatan yang gratis bagi setiap individu. Setiap negara mempunyai strateginya sendiri dalam mewujudkan UHC. Indonesia mewujudkan UHC lewat program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS. Di banyak negara, kesehatan gigi dan mulut tidak masuk kedalam UHC. Beruntungnya Indonesia mengakomodir pelayanan kesehatan gigi dan mulut di dalam JKN yang dikelola oleh BPJS. Beberapa pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang tercakup dalam JKN-KIS BPJS

Cara berlangganan :

Cara pertama : 1. Snap QR Code dengan HP atau buka http://goo.gl/forms/aQy6CYBqGT 2. Isi data pembeli, klik submit / kirim 3. Lakukan pembayaran sebesar sesuai intruksi Cara kedua : 1. Transfer uang langganan (Rp. 100.000 / tahun) ke BCA No 2821430269 a.n. Siti Kusdiarti. 2. WA/SMS nama, alamat, tanggal transfer ke 08962836 6161 Biaya sudah termasuk ongkos kirim ke seluruh Indonesia

10

adalah administrasi pelayanan, pemeriksaan, pengobatan, konsultasi medis, premedikasi, kegawatdaruratan oro-dental, ekstraksi gigi sulung, ekstraksi gigi permanen tanpa penyulit, obat pasca ekstraksi, tumpatan komposit atau GIC, dan scaling gigi. Dalam perspektif kesejahteraan tenaga kesehatan, sistem kapitasi yang diterapkan oleh BPJS menuai banyak pro dan kontra sejak awal program JKN diluncurkan. Sistem pembayaran kapitasi berarti anggaran untuk untuk pelayanan kesehatan sudah pasti akan tersedia. Tidak hanya pada sistem pembayaran kapitasi saja tapi secara keseluruhan, sistem JKN ini memang dibuat untuk mengatasi kekhawatiran dokter dalam masalah biaya pengobatan. Selain itu, sistem pembayaran kapitasi ini juga diharapkan dapat meningkatan efisiensi serta efektifitas pelayanan kesehatan karena setiap dokter dituntut untuk dapat menangani pasien secara tepat. Namun masalah baru yang muncul dalam sistem ini apakah besaran insentif uang yang diterima sepadan dengan biaya kebutuhan dan biaya pelayanan kesehatan? Sejak awal diluncurkan program JKN hingga tahun 2022, tarif kapitasi dokter gigi termurah yang dibayarkan BPJS kepada dokter gigi praktik perorangan masih di angka dua ribu rupiah per pasien. Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo, menyatakan "Saat ini para dokter gigi yang menerima pasien BPJS hanya diberikan dana kapitasi sebesar Rp 2.000,00 per bulan per pasien BPJS dengan kepesertaan 10.000 orang, faktanya jumlah kepesertaan untuk para dokter gigi bahkan tidak pernah mencapai 5.000 peserta. Maka dari itu, tarif kapitasi sebesar Rp 2.000,00 merugikan dokter gigi.” Perhitungan Pengurus Besar Dokter Gigi Indonesia menyatakan hampir seluruh

dokter gigi yang mengikuti program BPJS mengalami kerugian. Tidak sepadannya tarif kapitasi yang diterima dokter gigi disebabkan berbagai faktor teknis di lapangan, mulai dari peserta JKN yang tidak membayar iuran, pengelompokan peserta penerima bantuan iuran (PBI) dan non-PBI yang masih tidak terseleksi dengan baik, infrastruktur dan sumber daya yang belum merata di berbagai daerah, dan tentunya pengawasan terhadap sistem. Hal ini seharusnya dievaluasi serta ditinjau setiap tahunnya agar segala pihak terkait tidak ada yang dirugikan. Walaupun dari data hingga awal Maret 2022 peserta JKN bertambah hingga 2,5 juta lebih, akan tetapi kenaikan jumlah peserta tersebut masih kurang signifikan terhadap kesejahteraan dokter gigi jika perhitungan kapitasi masih tetap menggunakan perhitungan ideal di awal peluncuran serta permasalahan di lapangan yang belum terurai. Janji dari jajaran pemerintah untuk memperbaiki sistem kapitasi dokter gigi sudah berulang kali terdengar, bahkan dalam Kongres PDGI XXVII di Balikpapan Maret lalu. Bambang Soesatyo kembali membahas potensi kerugian dokter gigi dengan adanya system kapitasi ini. Namun, solusi yang dijanjikan tak pernah datang. Jika begini, cita-cita untuk mendekatkan masyarakat dengan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang prima, akan sulit tercapai. Bagaimana pelayanan paripurna bisa didapatkan, bila sumber daya yang tersedia tidak dalam kualitas prima, dan kesejahteraan dokter gigi sebagai sumber daya manusia pun tidak diperhatikan? Sudah saatnya semua pihak berbenah dan bekerja sama. Tuntutan tenaga kesehatan harus selalu mengabdi tanpa mendapatkan hak yang wajar tak boleh terus dipelihara, agar layanan kesehatan paripurna bagi seluruh kalangan dapat terus terjaga.


Opini

TESTIMONY-BASED MEDICINE Oleh : Fathin Vania Ramadina Dokter Gigi di Kota Bogor

P

raktik kedokteran dan kesehatan idealnya mengedepankan asas ‘evidence based medicine’ atau ilmu yang berlandaskan bukti ilmiah. Paham ini bukanlah hal baru, seorang dokter maupun ilmuwan dalam segala bidang dituntut untuk bekerja dengan dasar ilmiah yang jelas. Sayangnya, paham ini tak berlaku di kalangan masyarakat awam. Memiliki peringkat rendah dalam bidang literasi, masyarakat Indonesia cenderung sulit menerapkan ‘evidence-based science’ dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam bidang kesehatan. Era digital sayangnya tak hanya memberi dampak positif bagi masyarakat, tetapi juga dampak negatif berupa semakin menurunnya keinginan membaca dan mencari sumber yang terpercaya, tampak semakin nyata dengan hadirnya konten media sosial dengan sumber yang dipertanyakan. Testimony-based medicine menjadi paham yang semakin dianut oleh masyarakat karena hadirnya media sosial. Influencer yang berasal dari kalangan berpengaruh atau tenar, menjadi ujung tombing dari paham testimony-based medicine ini. Tak lagi membutuhkan bukti ilmiah yang valid, masyarakat hanya memerlukan opini yang berasal dari para pemengaruh yang memiliki nama besar di mata masyarakat. Apa akibatnya? Informasi yang tidak berdasarkan bukti-bukti ilmiah semakin luas tersebar. Banyak orang yang mengaku seorang ilmuwan, merasa tak perlu lagi membeberkan hasil penelitiannya dengan jelas. Tak perlu melewati tahap penelitian yang njelimet, begitu pula peer review. Asal dapat mendekati dan mengambil hati para pesohor, maka hasil temuannya dengan mudah disebarluaskan dan mendapat tempat di hati masyarakat tanpa perlu dipertanggungjawabkan keabsahan informasinya. Pembodohan massal pun semakin mudah dilakukan. Sebagai contoh adalah tindakan medis yang dilakukan oleh seorang dokter yang telah dikritik habis-habis-

an oleh pakar dari berbagai bidang ilmu kedokteran, nyatanya juga tak pernah sepi mendapat dukungan dari masyarakat. Dikritik habis-habisan oleh pakar dari berbagai bidang ilmu kedokteran, namun praktiknya tanya tak pernah sepi mendapat dukungan dari masyarakat. Apa sebab? Testimoni menarik dari para klien, yang dengan mudah disorot ucapannya oleh berbagai media. Klaim keberhasilan pengobatan yang bombastis, testimoni “badan kembali sehat” dan predikat ‘karya anak bangsa’ menjadi nilai jual tinggi dari sebuah produk riset yang tak jelas analisa dan hasil penelitiannya. Sejatinya, sains tidak mengenal testimoni. Musuh terbesar sains adalah peneliti yang mengaku melakukan riset, namun tidak transparan dalam menjabarkan analisanya pada peneliti lainnya. Ilmu kedokteran, vaksinasi, dan pengobatan, sudah sewajarnya harus melalui tahapan penelitian yang jelas dan sesuai regulasi ketat karena menyangkut keselamatan manusia. Tahapan uji harus dilakukan dengan runut, sejak dari laboratorium atau praklinis, hingga uji klinis fase I, II, dan III pada manusia tidak dapat dilewati satupun sebelum dapat diberikan pada populasi manusia. Sayangnya, kaidah ini tidak diajarkan dengan baik pada masyarakat. Berdasarkan kasus-kasus pengobatan tanpa dasar ilmiah seperti pengobatan ‘alternatif’ dari batu Ponari, atau produk-produk kesehatan tanpa izin yang berhasil menggaet selebritas dan kalangan ternama sebagai key opinion leader, rakyat Indonesia seolah sengaja dididik untuk percaya pada opini dan testimoni orang terkenal. Saat ilmuwan lain mengkritisi kehadiran pengobatan tanpa dasar ilmiah tersebut, rakyat berontak. “Tak perlu bukti-bukti ilmiah, kan hasilnya sudah jelas”, atau “Beginilah Indonesia, hasil karya anak bangsa tidak dihargai”. Pernyataan-pernyataan tersebut khas menjadi senjata andalan masyarakat dalam menampik ilmu pengetahuan yang sebenarnya.

Evidence-based medicine kini seperti menjadi cemoohan di Indonesia. Masyarakat kadung terbeli oleh jargon nasionalisme dan terlanjur lebih percaya pada informasi di media sosial yang tak jelas dasarnya. Saat ilmuwan dan masyarakat lain yang masih sadar akan pentingnya bukti ilmiah mencoba melawan narasi-narasi fana tersebut, kelompok ‘lurus’ akan dianggap sebagai kelompok yang anti karya anak bangsa, tidak nasionalis, atau bahkan sok pintar. Sayang seribu sayang, pemerintah pun tak berusaha meluruskan kesalahan paradigma masyarakat ini, bahkan semakin menambah bumbu pembodohan massal yang sedang terjadi. Tokoh-tokoh penting negara, anggota DPR, para pembesar, justru tampak mendukung praktik tanpa data yang jelas dan bukti empiris. Saya mengingat sebuah ucapan W. Edwards Deming, seorang ilmuwan asal Amerika Serikat. “Without data, you’re just another person with an opinion”. Tanpa data, Anda hanyalah seseorang yang beropini. Inilah sains yang sesungguhnya. Jika seorang ilmuwan tidak bernai menyajikan data hasil penelitiannya, maka yang ia temukan hanyalah sebuah opini. Dan opini tak boleh mentah-mentah dipercaya.

11


Opini

NYALANG : MASA DEPAN KEDOKTERAN GIGI MELALUI CRISPR, ARTIFICIAL INTELLEGENCE DAN FARMAKOGENOMIK Oleh : Maulana Ibnu Ramadhan Mahasiswa kedokteran gigi Universitas Hasanuddin

B

erbicara mengenai perkembangan teknologi, khususnya teknologi di bidang kesehatan tampak tak akan ada habisnya. Perkembangan ini didorong oleh keinginan manusia untuk memudahkan urusan mereka dalam mendapatkan pelayanan serta perawatan kesehatan yang paripurna. Hal ini dapat diraih melalui personalisasi perawatan agar efek samping dari perawatan tersebut dapat diminimalisasi. Sebagai buah pemikiran dari tujuan cemerlang tersebut, hadirlah berbagai teknologi futuristik, seperti CRISPR, Artificial Intelligence, dan farmakogenomik. CRISPR merupakan salah satu bentuk perkembangan teknologi yang sangat menjanjikan bagi masa depan. Secara umum, CRISPR digambarkan sebagai sebuah alat untuk melakukan penyuntingan terhadap genom makhluk hidup dengan metode genome sequencing kemudian memodifikasi fungsinya. Hal ini tentunya memiliki peranan yang potensial dalam pencegahan dan perawatan penyakit, cacat genetik, bahkan pengembangbiakan dan peningkatan kualitas dari tanaman. Dalam bidang kedokteran gigi, aplikasi klinis ini akan sangat menunjang berbagai perawatan dan pengobatan berbagai macam penyakit, seperti karies gigi, plak, kanker mulut, virus herpes, disfungsi kelenjar ludah, perkembangan gigi geligi dan palatum, dan penyakit temporomandibular. Melalui teknologi CRISPR, berbagai penyakit oral dapat diidentifikasi penyebabnya, baik itu disebabkan oleh organisme atau kesalahan gen. Dengan teknologi ini pula, penyakit-penyakit yang telah disebutkan sebelumnya dapat ditangani dengan cara mengubah dan membuang gen penyebab penyakit terkait atau modulasi. Sungguhpun demikian, metode ini masih dalam tahap penelitian dan masih dalam fase awal, tetapi memiliki potensi pengaplikasian permanen dalam bidang kedokteran gigi. Dibalik peranannya yang masif tersebut,tampaknya ada pertimbangan etis yang muncul. Pertimbangan etis ini didasarkan pada adanya mutasi di luar target yang merupakan konsekuensi dari aktivitas nonspesifik dari genom tersebut. Kejadian kegagalan akiba mutasi tersebut dapat diminimalisasi dengan pengembangan algoritma untuk mendesain gRNA dan enzim Cas genom dengan hasil berupa spesifikasi yang lebih mutakhir dan spesifik. Selain melalui metode penyuntingan genom di atas, adapula metode modern yang banyak diadaptasi oleh berbagai perusahaan teknologi, yaitu Artificial Intelligence (AI). Secara umum, AI atau kecerdasan buatan ini merupakan bentuk simulasi kecerdasan menyerupai kecerdasan manusia yang diintegrasikan dan diprogram pada sebuah mesin. Dengan AI ini, sebuah program yang dijalankan akan mampu bertindak dan “berpikir” layaknya seorang manusia. AI dalam kedokteran gigi sendiri secara umum sudah mulai menapakkan kaki pada komputasi data dan availabilitas data dengan skala masif. Dengan pengumpulan dan pengakumulasian data tersebut, diharapkan ke depannya dapat memberi opsi diagnosis yang tepat pada pasien. Keuntungan dengan hadirnya teknologi ini adalah, tidak adanya kata lelah dan jenuh dalam proses pengerjaan diagnosisnya,sedangkan bagi manusia, diperlu-

12


Sekilas

kan adanya jeda atau istirahat jika diperhadapkan dengan situasi ataupun tugas berat yang kompetitif. Beberapa dari pengaplikasian AI ini salah satunya adalah dianostik melalui radiologi. Pada pengembangan AI dalam mendiagnosis fraktur vertikal pada gigi menggunakan radiografi panoramik, didapatkan tingkat presisi sebesar 95,8%. Pada bidang ortodontik dan ortopedi dentofasial, dengan metode artificial neura network dalam menentukan ekstraksi gigi permanen menggunakan lateral cephalometric radiographs, didapatkan hasil akurasi sebesar 92%. Dari salah dua contoh aplikasi nyata dari AI tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa lampu hijau AI dalam kedokteran gigi tak dapat dipungkiri lagi. Melalui AI, peran para dokter gigi dan ilmuwan akan sangat terbantu, baik dengan peningkatan akurasi, spesifisitas, dan efisiensi perawatan hingga diagnosis, maupun pengembangan diagnosis forensik. Beberapa peneliti dan penulis artikel ilmiah bahkan mengemukakan, bahwa kerja dari AI lebih akurat daripada dokter gigi spesialis, meskipun hasil penelitian tersebut tidak membuat mereka lebih baik dari seorang dokter gigi ahli, mereka yakin bahwa AI akan sangat digunakan dalam aplikasi klinis. Sebagai penutup artikel ini, farmakogenomik menjadi topik bahasan terakhir. Fenomena alergi dan toksisitas akibat penetrasi obat ke dalam tubuh telah menjadi perhatian berbagai pemerhati kesehatan, dokter, hingga ilmuwan. Efek samping ataupun efek buruk dari penggunaan obat tersebut dapat dipicu oleh ketidakcocokan interaksi profil genom pasien dengan obat yang dikonsumsi dan tentunya efek inilah yang ingin dihindari agar tidak timbul masalah baru. Farmakogenomik pun pada akhirnya muncul sebagai solusi atas permasalahan tersebut. Farmakogenomik merupakan cabang ilmu farmakologi yang mempelajari dan menyesuaikan tindakan medis khususnya interaksi obat pada setiap orang atau populasi tertentu. Kehadiran dan perkembangan bidang ilmu ini juga didasari oleh variasi genetik setiap manusia, bahkan mutagen penyebab mutasi yang bisa saja

bermutasi akibat resistensi, misalnya resistensi antibiotik. Output dari ilmu ini dikenal dengan personalized medicine (PM). PM sebagaimana yang didefinisikan oleh The National Cancer Institute adalah bentuk obat-obatan yang disesuaikan dengan profil gen seseorang untuk melakukan tindakan preventif, diagnosis, da mengobati penyakit. Contoh aplikasi dari farmakogenomik dan PM adalah, manajemen karies gigi. Fenomena yang umum ini disebabkan salah satunya oleh faktor genetik. Faktor genetik tentunya memengaruhi kariogenesis pada permukaan gigi pada gigi permanen. Manajemen dan personalisasi pasien ini bisa dilakukan dengan melakukan asesmen terhadap kondisi oral pasien serta perbedaan faktor risiko bisa digunakan untuk kustomisasi tindakan terapi pada pasien. Sebagai konklusi, ketiga perkembangan teknologi di atas akan sangat membantu berbagai praktisi dalam kedokteran gigi dalam memberikan perawatan dan pengobatan yang optimal bagi para pasien. Namun demikian, ada banyak tantangan dalam penatalaksanaan dan implikasi teknologi tersebut. Sebut saja, CRISPR yang masih harus berhadapan dengan pertimbangan etika dan metode yang masih tergolong sulit, pada AI yang memerlukan integrasi teknologi yang terbilang advanced dalam membuat program diagnosis, hingga farmakogenomik yang memerlukan basis data genom yang masif agar dapat menyesuaikan dengan profil pasien atau populasi. Tantangan berupa dukungan pendanaan dari pemerintah juga sangatlah diperlukan, mengingat berbagi eksperimen dan penelitian yang dilakukan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Hemat penulis adalah mengharapkan integrasi dan dukungan dari para ilmuwan dan lebih khusus lagi kepada pemerintah Republik Indonesia dalam meningkatkan taraf kesehatan rakyat Indonesia. Bersama kita hadapi tantangan dan berkontribusi dalam kesehatan gigi dan mulut di Indonesia.

A K H I R N YA A D A JURNAL KEDOKTERAN GIGI INDONESIA TERINDEKS SCOPUS Majalah Kedokteran Gigi Dental Journal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga menjadi jurnal kedoktertan gigi Indonesia pertama yang terindeks Scopus per 12 Februari 2022. Scopus merupakan pangkalan data yang mengumpulkan data artikel dari berbagai jurnal ilmiah untuk mempermudah pencarian hasil penelitian, proses ini disebut sebagai indexing. Scopus juga menerbitkan peringkat jurnal yang terbagi menjadi Quartile 1 (Q1), Quartile 2 (Q2), Quartile 3 (Q3), Quartile 4 (Q4); dimana Q1 adalah yang terbaik yang didasarkan pada seberapa banyak suatu jurnal dikutip selama tiga tahun terakhir. [Kosterman Usri]

WOHD 2022 DIRESMIKAN Dalam rangka World Oral Health Day (WOHD) 2022, Unilever Indonesia melalui brand Pepsodent bekerja sama dengan FDI World Dental Federation dan PDGI menginisiasi layanan teledentistry gratis melalui “Tanya Dokter Gigi by Pepsodent” (di nomor WhatsApp: 0878-8876-8880) Program ini diluncurkan secara virtual pada Selasa 22 Maret 2022. Selama periode 1 April - 30 Juni 2022, konsultasi akan diberikan oleh ribuan dokter gigi dari 100 PDGI cabang. Secara khusus, 23 PDGI cabang juga akan memberikan edukasi dan tindakan perawatan kepada masyarakat. Selain itu, 300 orang relawan dokter gigi swasta di seluruh penjuru Indonesia yang akan ditampilkan dalam Dentist Locator di situs Tanya Pepsodent juga akan ikut berpartisipasi memberikan perawatan pembersihan karang gigi ringan dalam jumlah terbatas kepada masyarakat. [PT. Unilever Indonesia, Tbk]

13


Berita

WAJAH BARU PDGI

W

ajah baru warnai Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI) Periode 2022-2025 yang dilantik di Hotel Wyndam Cassablanca Jakarta, 15 April 2022 ini merupakan kelanjutan dari Kongres PDGI di Balikpapan. Pada acara pelantikan ini, secara resmi juga diserah terimakan Pengurus Besar PDGI dari ketua lama Dr. drg. Sri Hananto Seno, Sp.BM(K) kepada ketua baru hasil kongres di Balikpapan drg. Usman Sumantri, MSc. Dalam sambutannya ketua baru mengharapkan agar pengurus dapat memaksimalkan kerja departemennya masing-masing serta mampu bekerja lintas departemen sebab tantangan PDGI semakin besar kedepannya. Pengusaha nasional sekaligus dokter gigi Prof. Dr(HC). drg. Chairul Tanjung, MBA turut hadir dan memberikan arahan pada pelantikan tersebut. Beliau berharap PDGI dapat lebih menunjukan eksistensinya serta mendorong pemerataan dokter gigi ke seluruh wilayah Indonesia. Berikut susunan kepengurusan PB PDGI Periode 2022-2025. Daftar lengkap kepengurusan PDGI Periode 2022-2025 dapat diakses pada link www.dentamedia.id/2022/04/wajahbaru-pengurus-besar-pdgi.html [Berita, Foto : Biro Humas, Data, Informasi PB PDGI]

Ketua

drg. Usman Sumantri, MSc

Wakil Ketua Bidang Organisasi

drg. Ardiansyah S. Pawinru., Sp. Ort(K) Sekretaris : drg. Hartanto Endro, Sp KG

Wakil Ketua Bidang Pendidikan

drg. Gagah Daru Setiawan., MM Sekretaris : Dr. drg. Armelia Sari Widyarman, MKes, POB

Wakil Ketua Bidang Kesejahteraan

drg. Jahja, M.Kes Sekretaris : drg. Resi Arisandi, MM., MH.

Sekretaris Jenderal

drg. Tari Tritarayati, SH. MHKes

Wakil Sekretaris Jenderal drg. Ahmad Jais, MH., MARS

Biro Umum dan Kerumah-tanggaan

Biro Perencanaan dan Keuangan

Ketua : drg. Mita Juliawati, MARS Sekretaris : drg. Yuditha Endah Prihmaningtyas, MKes

Departemen Dana dan Kesejahteraan Anggota

Departemen Organisasi dan Hubungan Antar Profesi Ketua : Dr. drg.Sri Angky Soekanto, Ph.D Sekretaris : drg. Sri Asih Gahayu, MKes., Ph.D

Usaha Departemen Pendidikan, Latihan, dan Penelitian Pengembangan

Ketua : drg. Chairul M., Sp.KG,CMC Ketua : drg. Zulkifly Nasution, MSc Sekretaris : drg. Ani Ruspitawati, MM Sekretaris : Letkol. drg.Muhammad Arifin., Sp.Ort Departemen Pembiayaan

Ketua : Dr. drg. Dewa Made Wedagama Sekretaris : Dr. drg. Tince Arniati Jovina Abrahams

Departemen Luar Negeri dan Kerjasama Sekretaris : drg. Retno Luckyatiningsih, Internasional Ketua : Dr. drg. Edi Sumarwanto, MM, Biro Hukum dna Kerjasama dan Jaminan Kesehatan Ketua : Dr. drg. Julita Hendrartini, MKes Antar Lembaga MH.Kes Sekretaris : drg. Lenie Dahliana., M.H

Biro Humas, Data, dan Informasi

Ketua : Dr. drg. Kosterman Usri, MM Sekretaris : drg. Jeck Siahaja, Sp.Pros

MARS, AAK

Departemen Alat, Bahan Kesehatan Gigi dan Kefarmasian

Ketua : drg. Jusuf Sjamsudin Sp.Ort(K) Sekretaris : Dr. Drg. Himawan Halim, DMD, SpOrt, FICD

Departemen Pengabdian Ketua : Prof. DR. drg. Decky Joesiana dan Edukasi Masyarakat Indrani, MDSc Sekretaris : drg. Budi Utomo, MARS

Ketua : Dr. drg. Wawan Suridwan Sp.Pros Sekretaris : drg. Pruput D. Mutiari Sp. BM

Dentamedia tiap triwulan diterbitkan oleh Lembaga Studi Kesehatan Indonesia (LSKI) Yayasan Bale Cijulang sejak tahun 1997 ISSN 1410-4768 ALAMAT: Office & Beyond Building Jl. CImanuk 6 Bandung 40115, Kotak Pos 7785 Bandung 40122, TELEPON: 0896628366161, FAKS: (022)2502807, EMAIL: dentalmedia@gmail.com SITUS: www.dentamedia.id REKENING: Giro Pos 4000004815 a.n Lembaga Studi Kesehatan Indonesia (Penyetoran dapat dilakukan di kantor pos seluruh Indonesia) PENDIRI Kosterman Usri PEMIMPIN UMUM Maryanne Susanti PEMIMPIN REDAKSI Messya Rachmani REDAKSI Fathin Vania Rahmadina, Nadia Faradiba, Rizna Salsadila Shofwa KORESPONDEN Dhona Afriza (Padang), Ikhsan Dani Putra (Medan), Bertha Aulia (Palembang), Alfini Octavia (Yogyakarta), Ronny Baehaqi (Surabaya), Muhammad Andhyka Fitrianto (Malang), Putra Qodri Fath (Pontianak), Irma Chaerani Halim (Samarinda), Muhamad Ruslin (Makassar), Michael Andrea Leman (Manado), Anak Agung Istri Devi Wulandari Putra (Denpasar), Septia Indriasari (Mataram) DIREKTUR BISNIS Maryanne Susanti MANAJER PEMASARAN Joseph Gunawan (Manajer), Alia Intan Kusuma Ramadhani, Felycia Evangeli Andi Arnold ACARA Dian Islamiyati (Manajer) Mulia Ayu Hanifa, Varisati Nalina Vara, Sangga Tirakat, Muhammad Syahid Abdilah, Abigail Thanya Gracesheila, Andrian Fadhillah Ramadhan, Maya Adriati Pramestiningrum KEUANGAN Latifah Kaniadewi , Siti Kusdiarti DESAIN GRAFIS Benazir Amriza Dini, Irmayanti Meitrieka, Yuda Haditia Putra PRODUKSI Agus Sono TEKNOLOGI INFORMASI Anzarudin, Anggit Wirasto BIRO JAKARTA Sandy Pamadya (Kepala), Maya Mardiana, Affi Listriani, Ina Sarah Addawiah, Putu Ayu Pradnya BIRO SEMARANG Hayyu Failasufa (Kepala), Ade Ismail Berita/artikel/siaran pers/foto/surat pembaca/iklan/penawaran kerjasama untuk Dentamedia kirimkan ke e-mail ke dentamedia@gmail.com APABILA KEBERATAN DENGAN ISI DENTAMEDIA SILAHKAN KIRIMKAN HAK KOREKSI/JAWAB ANDA KE ALAMAT DENTAMEDIA

14


Wawasan

DOKTER GIGI TENTARA DENGAN DELAPAN BELAS GELAR

S

iapa tentara yang paling banyak gelarnya di Indonesia? Bisa jadi hingga hari ini, rekor itu masih dipegang oleh Mayor Jenderal (Purn) Moestopo. Menurut pemberitaan yang dilansir oleh sebuah koran terkemuka di Jawa Barat, saat meninggal pada 29 September 1986, Moestopo tercatat setidaknya memiliki 18 gelar. "Kalau kita meminta dia menulis namanya secara lengkap maka tanpa ragu-ragu dia akan menulis: Mayor Jenderal TNI (Purnawirawan), Profesor, Doktor, OS, ORTH, OPDENT, PROSTH, PEDO/DHE/BIOL./PANC., Bapak Publistik Ilmu Komunikasi, Bapak Ilmu Kedokteran Gigi Indonesia, Bapak Ilmu Bedah Rahang Indone-

sia, Penyandang Maha Putera Utama dan Pengawal Pancasila," tulis Pikiran Rakyat, 20 Februari 1986. Wajar saja jika sederet gelar itu didapatkan lelaki kelahiran Ngadiluwih, Kediri pada 13 Juni 1913 tersebut. Sejak usia muda, Moestopo sudah banyak aktif di berbagai bidang. Dalam usia 24 tahun, untuk kali pertama dia mendapatkan gelar sebagai dokter gigi dari Sekolah Kedokteran Gigi Surabaya. Karena kepintarannya, dia lantas diangkat sebagai asisten dari dokter gigi ternama di Surabaya saat itu yakni Prof. Dr. M. Knap. "Jika dia pergi ke luar negeri, saya selalu disuruh menggantikannya," ujar Moestopo dalam sebuah buku kecil berjudul Memperingati 100 Hari Wafatnya Bapak Prof.Dr. Moestopo. Tidak hanya melayani orang-orang kaya saja, Moestopo juga mendermakan keahliahnya kepada orang-orang miskin. Setiap hari Minggu atau hari li-

bur, Moestopo muda akan berangkat ke Gresik guna melakukan pelayanan umum di Alun-Alun kota Gresik. Tahun 1943, Moestopo diangkat penguasa militer Jepang sebagai wakil kepala pada Sekolah Tinggi Kedokteran Gigi (Shikadaigaku Ikabu) yang kala itu diketuai oleh Prof. Dr. Sjaaf. Saat itulah, Moestopo tertarik menjadi seorang militer. Pada 1944, dia kemudian memasuki Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor. Saat pendidikan akhir perwira PETA, Moestopo menulis tema makalah yang sangat menarik. Di hadapan para perwira tinggi Jepang, berhasil mempertahankan karya tulisnya yang berjudul 'Penggunaan Bambu Runcing yang Pucuknya Diberi Tahi Kuda Untuk People Defence dan Attack serta Biological War Fare'. Tidak hanya lulus dan menjadi yang terbaik, karyanya ini malah mendapatkan pujian setinggi langit dari militer Jepang saat itu. [Merdeka.com]

15


fakultas

kedokteran gigi

PROGRAM STUDI MAGISTER

ILMU KEDOKTERAN GIGI DASAR Program Studi Pendidikan Magister Ilmu Kedokteran Gigi mempersiapkan peserta didik sehingga mampu mengembangkan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran gigi yang mencakup pengembangan, penapisan dan penerapan teknologi dalam bidang Biologi Oral, Ilmu Material Kedokteran yang ino dan f. Gigi, dan Ilmu Kedokteran Gigi Forensik, serta menghasilkan luaran Masa studi pada Program Studi Pendidikan Magister Ilmu Kedokteran Gigi adalah 4 semester dengan beban studi 40-42 SKS.

PERSYARATAN

PE MINATAN Ilmu Material Kedokteran Gi gi

1

Memiliki ijazah S1 bidang kedokteran gigi dan ilmu kesehatan lainnya, atau bidang fisika, kimia, biologi, teknik material dan metalurgi dari perguruan rakreditasi / perguruan

2

Lulus seleksi ujian SIMAK UI (Tes Potensi Akademik dan Bahasa Inggris) sesuai dengan persyaratan Universitas Indonesia.

Biologi Oral Foren sik Kedokteran Gi gi

JADWAL PENERIMAAN MAHASISWA Pendaftaran

Ujian SIMAK

Pengumuman

4 Februari – 4 Maret 2022

13 Maret 2022 (metode daring)

19 April 2022

BIAYA PENDIDIKAN Program Studi Magister Ilmu Kedokteran Gigi Dasar

BOP/TF

UP/AF

Reguler

12.500.000

35.000.000

WNA

47.000.000

68.000.000

*Keterangan: Biaya Operasional Pendidikan (BOP) atau T Fee (TF), UangPangkal (UP) atau Admission Fee (AF). Biaya sewaktu-waktu dapat berubah, Biaya Pendidikan Berdasarkan Peraturan Rektor Universitas Indonesia Nomor 4 Tahun 2021Tentang Biaya Pendidikan Mahasiswa Non S1 Reguler Universitas Indonesia Angkatan Tahun Akademik 2021/2022.

/