Page 1

X A O H

SALAH KAPRAH INFORMASI PANDEMI

T

ahun 1918, Flu Spanyol mewabah di kota-kota besar di Pulau Jawa. Sebanyak 1,5juta jiwa menjadi korban kegana-

san virus asal daratan Eropa tersebut. Pemerintah Hindia Belanda terlambat merespon gelombang awal pandemic Flu Spanyol sehingga terlalu banyak korban berjatuhan. Mereka tidak memiliki strategi pencegahan awal dan menyamakannya dengan flu biasa. Masyarakat juga berusaha sekuat tenaga mencari jalan untuk menanggulangi wabah. Mereka bahkan rela melakukan segala cara

agar terbebas dari penyakit tersebut, mulai dari metode medik hingga klenik. Cara terakhir ini lazim dilakukan oleh kalangan bumiputera dan Tionghoa. Di tengah situasi genting dan penuh kekalutan, pemerintah dan masyarakat dibuat pusing dengan munculnya informasi-informasi palsu tentang wabah Flu Spanyol, mulai dari cara penanganan, obat-obatan, hingga sebab kemunculan virus. Sejumlah oknum memanfaatakannya untuk menyebar berita bohong agar tercipta kepanikan. Ironisnya ratusan tahun berselang, fenomena tersebut kembali terulang di tengah pandemic Covid-19. [Historia.id]


Bahasan

PILAH PILIH TES COVID

C

ovid-19 yang mulanya nampak jauh dari sekitar kita, makin lama makin merambah ke lingkungan terdekat kita. Sayangnya, masih banyak orang yang skeptis akan adanya Covid-19, tanpa memandang status sosial dan tingkat pendidikan. Hal ini menyebabkan hoax begitu mudah tersebar dan menyulitkan penanganan Covid-19 di Indonesia. Idealnya, penanganan pandemi harus dimulai dengan meningkatkan prosedur tracing pada kontak erat. Tracing harus dilakukan pada orang yang bertatap muka atau berdekatan dengan penderita terkonfirmasi Covid-19 pada jarak kurang dari

2

1 meter selama lebih dari 15 menit dan disertai kontak fisik langsung. Tracing juga harus dilakukan pada orang yang memberikan perawatan pada pasien probable atau konfirmasi Covid-19 tanpa menggunakan alat pelindung diri yang sesuai. Prosedur tracing yang baik harus menjangkau 15 orang yang berkontak erat dengan pasien terkonfirmasi positif. Melonjaknya kasus membuat kita menjadi lebih dekat pada paparan virus Covid-19 yang bisa saja didapat dari pasien maupun lingkungan sekitar. Berbagai pertanyaan muncul terutama pada dokter gigi yang masih berpraktek di pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta. Apabila pasien terkonfirmasi positif Covid-19 kapan waktu yang tepat

untuk melakukan tes? Apa yang harus dilakukan bila telah kontak dengan pasien terkonfirmasi positif? Dan kemana harus melapor? Bila seseorang berkontak erat dengan pasien terkonfirmasi positif Covid-19, dan atau mengalami gejala Covid-19, seperti demam >38o C, batuk, anosmia, ageusia atau mengalami lebih dari tiga gejala seperti sakit kepala, myalgia, fatigue, nyeri tenggorokan, hidung tersumbat, anoreksia, mual, muntah, diare, dan sesak napas, maka dianjurkan untuk segera melakukan pemeriksaan berupa RT PCR, Swab Antigen, atau sesuai dengan anjuran dokter. Berikut beberapa metode tes pemeriksaan Covid yang sering digunakan :


Bahasan Dalam melakukan tes PCR, hal yang sering menimbulkan kebingungan pada masyarakat, adalah adanya nilai normal yang tertera pada lembar hasil pemeriksaan. Nilai CT atau CT value sering dijadikan indikator oleh masyarakat, padahal nilai CT yang dianggap tinggi, tidak berarti seseorang lebih tidak infeksius dibandingkan orang yang memiliki nilai CT rendah. Hasil positif atau negatif adalah yang harus diperhatikan. Seseorang yang terkonfirmasi positif, harus segera melapor dan menjalani isolasi agar tidak menularkan pada sekitarnya, hingga dinyatakan sembuh oleh dokter yang merawat. Begitu pula saat menunggu hasil pemeriksaan tes PCR ataupun tes antigen pada orang yang mengalami kontak erat maupun bergejala, mereka dianjurkan untuk menjalani isolasi mandiri hingga hasil pemeriksaan terbit untuk mencegah penularan. Pemeriksaan Covid perlu disesuaikan dengan keadaan seseorang. Bila seseorang mengalami kontak erat, namun tidak bergejala atau mengalami gejala ringan,

maka disarankan untuk segera melakukan tes antigen atau PCR setelah dinyatakan sebagai kontak erat. Bila hasil tes positif, tidak perlu dilakukan tes konfirmasi, dan segeralah melakukan isolasi mandiri dengan pengawasan dokter. Namun, bila hasil pemeriksaan dinyatakan negatif, segera lakukan isolasi mandiri dan ulangi pemeriksaan 5 hari setelah dinyatakan kontak erat. Pemeriksaan selang 5 hari bertujuan untuk mengonfirmasi saat virus dianggap sedang mencapai puncaknya. Bila tes konfirmasi menunjukkan hasil positif, tetap lanjutkan isolasi mandiri. Bila tes konfirmasi pasien dinyatakan negatif, maka dapat menyelesaikan isolasi mandiri, dapat pula dinyatakan discarded atau sakit, namun bukan karena Covid-19 serta tetap melakukan protokol kesehatan. Seseorang yang berkontak erat dengan pasien Covid-19 dan mengalami gejala berat khas Covid-19 yang memerlukan perawatan dari rumah sakit, maka sebaiknya segera datang ke Instalasi Gawat Darurat untuk

mendapatkan pemeriksaan. Bila didapatkan hasil tes positif, maka tidak diperlukan tes konfirmasi. Namun, bila hasil tes negatif, pasien akan dinyatakan sebagai suspek dan harus melakukan tes konfirmasi pada hari berikutnya atau sesuai anjuran dokter penanggung jawab. Cara terbaik untuk mencegah penyebaran virus ini, yaitu dengan tetap melakukan protokol kesehatan secara tertib, mengikuti aturan Program Pencegahan Infeksi pada saat merawat pasien, tidak perlu panik berlebihan, serta melakukan vaksinasi untuk membentuk kekebalan komunitas. [Ronny Baihaqi]

3


Bahasan

K U PA S T U N TA S MISINFORMASI PA N D E M I C O V I D - 1 9

B

anyaknya informasi yang beredar di masyarakat menyebabkan banyaknya misinformasi mengenai hal hal yang terjadi selama pandemi. Kami berkesempatan untuk mewawancarai dr. Sanditia yang merupakan seorang dokter Spesialis Penyakit Dalam yang telah banyak membantu menangani pasien Covid-19. Dalam wawancara ini kami mencoba meluruskan beberapa informasi keliru yang telah terlanjur beredar di masyarakat dalam kacamata seorang internist. Berikut cuplikan wawancara kami.

Sanditia Gumilang, dr., Sp.PD., M.H.Kes Dokter Spesialis Penyakit Dalam di RSUD Cikalong Wetan Kabupaten Bandung Barat, RSU Pakuwon Sumedang, dan RSB Halmahera Bandung. Alumni PPDS FK Unpad 2019

T : Apakah sebelum melakukan tindakan dental, pasien perlu melakukan pemeriksaan swab antigen, dok? J : Untuk perawatan dental di klinik gigi pemeriksaan swab antigen sebelum tindakan itu kurang efektif, karena tes swab antigen memiliki sensitifitas dan spesifitas >90%, serta masih memiliki kemungkinan 10% hasil tes false negatif. Namun, jika ditujukan untuk prosedur screening, swab antigen cukup efektif.

T : Lalu mengenai penggunaan hepa filter untuk sterilisasi ruangan klinik gigi, apakah diperlukan, dok? J : Untuk sterilisasi ruangan, terdapat penelitian terbaru yang menyebutkan bahwa hepa filter dan air purifier berguna untuk mencegah transimisi Covid-19 melalui aerosol. Namun, idealnya ruangan klinik gigi dibuat dengan ruangan bertekanan negatif atau dibuat sirkulasi udara yang baik serta tetap menggunakan APD level 3.

T : Kapan dokter gigi bisa merawat pasien atau melakukan tindakan dental pada pasien yang telah terinfeksi Covid-19 dan telah menjalani Isolasi Mandiri? J : Pada pasien dengan gejala ringan hingga sedang, berdasarkan perjalanan penyakitnya, masa infeksius virus akan berkurang setelah 8 hari, sehingga pasien yang telah menyelesaikan isolasi mandiri hingga 14 hari dapat dilakukan tindakan dental tentunya dengan tetap menggunakan APD level 3 dan situasi ruangan sesuai anjuran organisasi profesi. Pada tindakan emergensi, tindakan dental dapat dilakukan dengan menggunakan APD level 3 dan sebaiknya dilakukan pada ruangan bertekanan negatif.

T : Apakah pada saat sebelum divaksinasi sebaiknya tes antigen terlebih dahulu, dok? dan apakah penyintas Covid-19 tetap perlu divaksinasi? J : Tes antigen sebagai prosedur screening sebelum vaksinasi tidak diperlukan. screening gejala ISPA lebih diperlukan sebelum vaksinasi. Vaksinasi juga tidak memicu terjadinya infeksi atau menyebabkan seseorang menjadi positif Covid-19. Penyintas Covid-19 tetap perlu vaksinasi. Secara teori, penyintas dapat langsung divaksin setelah sembuh, namun berdasarkan aturkan Kemenkes, penyintas di Indonesia dapat melakukan vaksinasi 3 bulan setelah sembuh dari Covid-19.

T : Bagaimana cara melakukan anamnesa pada pasien yang seringkali menutupi jika pernah mengalami gejala Covid-19 atau pernah kontak erat dalam waktu dekat sebelum perawatan gigi, dok? J : Wah, ini sulit sekali memang. Saya pun terkadang masih kesulitan. Masih banyak pasien yang belum mau jujur mengenai hal ini, karena pernah Covid dianggapnya adalah sebuah aib. Kita sebagai dokter harus lebih jeli dalam menganamnesa pasien.

T : Ada info yang beredar bahwa Covid-19 varian delta lebih cepat menular hanya dengan berpapasan, apakah benar dok? J : Virus varian delta lebih mudah menyebar. Jika orang yang terinfeksi varian delta menghasilkan droplet dan berpapasan dengan orang lain yang juga tidak memakai masker, maka dapat tertular. Maka, tetap laksanakan protokol kesehatan walaupun telah divaksinasi. [Messya Rachmani]

Dentamedia tiap triwulan diterbitkan oleh Lembaga Studi Kesehatan Indonesia (LSKI) Yayasan Bale Cijulang sejak tahun 1997 ISSN 1410-4768 ALAMAT: Office & Beyond Building Jl. CImanuk 6 Bandung 40115, Kotak Pos 7785 Bandung 40122, TELEPON: 0896628366161, FAKS: (022)2502807, EMAIL: dentalmedia@gmail.com SITUS: www.dentamedia.id REKENING: Giro Pos 4000004815 a.n Lembaga Studi Kesehatan Indonesia (Penyetoran dapat dilakukan di kantor pos seluruh Indonesia) PEMIMPIN UMUM Kosterman Usri PEMIMPIN REDAKSI Messya Rachmani REDAKSI Fathin Vania Rahmadina, Nadia Faradiba KORESPONDEN Dhona Afriza (Padang), Ikhsan Dani Putra (Medan), Bertha Aulia (Palembang), Alfini Octavia (Yogyakarta), Ronny Baehaqi (Surabaya), Muhammad Andhyka Fitrianto (Malang), Putra Qodri Fath (Pontianak), Irma Chaerani Halim (Samarinda), Muhamad Ruslin (Makassar), Michael Andrea Leman (Manado), Anak Agung Istri Devi Wulandari Putra (Denpasar), Septia Indriasari (Mataram) DIREKTUR BISNIS Maryanne Susanti MANAJER PEMASARAN Joseph Gunawan MANAJER ACARA Dian Islamiyati KRU ACARA Mulia Ayu Hanifa, Varisati Nalina Vara, Sangga Tirakat, Muhammad Syahid Abdilah, Abigail Thanya Gracesheila, Andrian Fadhillah Ramadhan, Maya Adriati Pramestiningrum KEUANGAN Siti Kusdiarti DESAIN GRAFIS Benazir Amriza Dini, Irmayanti Meitrieka PRODUKSI Agus Sono TEKNOLOGI INFORMASI Anzarudin, Anggit Wirasto BIRO JAKARTA Sandy Pamadya (Kepala), Maya Mardiana, Affi Listriani, Ina Sarah Addawiah, Putu Ayu Pradnya BIRO SEMARANG Hayyu Failasufa (Kepala), Ade Ismail Berita/artikel/siaran pers/foto/surat pembaca/iklan/penawaran kerjasama untuk Dentamedia kirimkan ke e-mail ke dentamedia@gmail.com APABILA KEBERATAN DENGAN ISI DENTAMEDIA SILAHKAN KIRIMKAN HAK KOREKSI/JAWAB ANDA KE ALAMAT DENTAMEDIA

4


Bahasan

BENARKAH VAKSIN MENYEBABKAN MUTASI VIRUS CORONA? INI KATA AHLI

T

imbul pandangan di masyarakat bahwa vaksin adalah penyebab virus corona bermutasi. Benarkah mutasi virus disebabkan vaksin? Artikel ini akan menjelaskan tentang mutasi virus dan kaitannya dengan vaksin. Virus suatu jasad renik yang berukuran sangat kecil dan hanya bisa dilihat dengan mikroskop elektron. Ukuran virus corona atau virus SARS-CoV-2 adalah 0,1 mikrometer atau setara 120 nanometer. Virus mengandung salah satu dari nukleat DNA atau RNA. Maka dari itu, virus harus masuk ke dalam tubuh manusia untuk bisa bereplikasi. Virus corona adalah virus RNA. Menurut para ahli, virus RNA adalah tipe virus yang mudah mengalami mutasi.

Mutasi virus Mutasi virus adalah perubahan dalam genotip virus sehingga virus mengalami beberapa perubahan sifat. Ketika virus bereplikasi di dalam tubuh manusia, materi genetik dari virus mungkin mengalami kegagalan replikasi sehingga virus yang direplikasi berbeda dengan virus aslinya. Tipe mutasi virus Terdapat dua macam proses mutasi virus, yaitu antigenic drift dan dan antigenic shift. Antigenic shift adalah ketika virus gagal bereplikasi sehingga hasil replikasi mengalami perubahan pada permukaan protein virus atau antigen. Proses ini membuat virus seolah tampil sebagai virus lain yang baru dan tidak lagi dikenali oleh sistem imun yang pernah terinfeksi. Antigenic shift adalah proses mutasi virus yang lebih jarang terjadi dibandingkan dengan proses sebelumnya. Proses ini bisa terjadi ketika terdapat dua strain virus yang bersamaan berada di dalam satu tubuh. Kedua strain virus yang memiliki materi genetik berbeda akibat mutasi sebelumnya bisa mengalami penyatuan genom. Hal ini menyebabkan terbentuknya strain virus baru hasil percampuran RNA dari kedua strain virus tersebut. Apa pengaruh mutasi virus terhadap manusia? Mutasi virus bisa terjadi sebagai kejadian yang menguntungkan atau merugikan. Jika mutasi menyebabkan virus menjadi lebih lemah dan tidak menular, tentu ini akan men-

guntungkan bagi manusia. Lain halnya jika virus bermutasi menjadi lebih infeksius, lebih mudah menular, atau lebih tahan terhadap berbagai kondisi tubuh manusia. Tentu ini akan merugikan. Contohnya adalah mutasi virus corona varian delta yang telah mengalami mutasi sehingga lebih mudah menular ke orang lain. Betulkah vaksin menyebabkan mutasi virus? Dalam webinar bertajuk Vaksin 100% Kebal Covid? Yang diselenggarakan oleh Wakaf Salman ITB, dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K) menjelaskan penyebab mutasi virus ini. Mutasi virus adalah akibat dari kegagalan replikasi virus sehingga hasil replikasi virus mengalami perubahan. Kegagalan ini disebabkan oleh imun tubuh yang tidak optimal akibat berbagai kondisi medis. Salah satu yang paling umum menye-

babkan imun tidak optimal adalah obesitas atau kegemukan. Kegemukan dapat memicu disfungsi imunitas. Pada orang dengan obesitas, di dalam tubuhnya mengalami inflamasi ringan yang membuat sistem imun tidak lagi berfungsi dengan optimal. Itulah sebabnya, pada orang dengan kegemukan, biasanya mengalami gejala Covid-19 yang lebih parah. Jadi tidak benar bahwa vaksin menyebabkan mutasi virus, karena penyebab mutasi virus adalah sistem imun tubuh yang tidak optimal. [Kompas, Ilustrasi : Benazir Amriza Dini]

Cara berlangganan :

Cara pertama : 1. Snap QR Code dengan HP atau buka http://goo.gl/forms/aQy6CYBqGT 2. Isi data pembeli, klik submit / kirim 3. Lakukan pembayaran sebesar sesuai intruksi Cara kedua : 1. Transfer uang langganan (Rp. 100.000 / tahun) ke BCA No 2821430269 a.n. Siti Kusdiarti. 2. WA/SMS nama, alamat, tanggal transfer ke 08962836 6161 Biaya sudah termasuk ongkos kirim ke seluruh Indonesia

5


Berita

BERANTAS KETIMPANGAN MASALAH KESEHATAN LEWAT PROGRAM ‘SEJUTA SENYUM INDONESIA'

J

akarta – Indonesia merupakan negara yang memiliki kurang lebih 270 juta penduduk dan tercatat sebagai negara dengan tingkat populasi kepadatan penduduk terbanyak peringkat empat di dunia nampak belum bisa menjamin kualitas kesehatan masyarakatnya, terlebih pada sektor kesehatan gigi dan mulut seperti yang menjadi fokus lahirnya GIGI.ID Apalagi mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan yang begitu luas dan membuat beberapa wilayah cukup sulit untuk dijangkau hingga menyebabkan kurang meratanya akses ketersediaan fasilitas dan layanan.. Maka untuk mengakali permasalahan mengenai jarak yang menjuntai serta kurangnya jumlah tenaga kesehatan pada sejumlah wilayah , khususya bagian Timur Indonesia, internet dipilih GIGI.ID menjadi jembatannya. Untuk mewujudkan visinya dalam melakukan pemerataan akses kesehatan gigi dan mulut di Indonesia, GIGI.ID membuat program Sejuta Senyum Indonesia yang berlangsung pada 10 – 12 Juni 2021 lalu dan menitikberatkan wilayah Indonesia Timur tepatnya pada Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan fokus Kota Kupang dan Kabupaten Timur Tengah Selatan sebagai awalannya. Bentuk kegiatannya pun beragam, dimulai dengan melakukan penyuluhan mengenai Covid-19 dan kesehatan gigi mulut serta pemanfaatan teledentistry, hingga seminar dan pelatihan penggunaannya bagi tenaga kesehatan di Aula Universitas Citra Bangsa Kupang. Mengadakan pelatihan penggunaan teledentistry dengan pemanfaatan camera intra oral bagi Dokter Gigi dan tenaga kesehatan, hingga melakukan bakti sosial melalui program UKGS dengan memanfaatkan teknologi untuk mendapatkan potret kondisi kesehatan gigi dan mulut anak. Dengan diadakannya program Sejuta Senyum Indonesia, GIGI.ID berharap dapat membantu masyarakat dalam mendapatkan akses yang jauh lebih mudah untuk melakukan perawatan kesehatan gigi dan mulut dengan cara membentuk ekosistem yang saling terhubung karena adanya kerja sama antar berbagai pihak terkait, yang pada akhirnya akan menghasilkan pemerataan tingkat kualitas kesehatan gigi dan mulut yang tercukupi dikemudian hari. Tak hanya para peserta, kalian semua juga dapat memanfaatkan aplikasi GIGI. ID sebagai layanan aplikasi Teledentistry pertama di Indonesia. Kalian hanya perlu mendownload aplikasi GIGI. ID (PT. Sejuta Senyum Indonesia) di Appstore atau Playstore, dilanjutkan dengan pengisian data diri untuk membuat akun, dan kalian bisa menikmati berbagai fasilitas yang tersedia, mulai dari membaca berbagai artikel, melakukan konsultasi, hingga melakukan pemeriksaan gigi kepada Dokter Gigi yang sudah dijamin ahli pada bidangnya. Untuk informasi berkala, kalian juga bisa mengikuti akun Instagram kami pada @gigi.indonesia terkait kiat-kiat mengenai kesehatan gigi mulut hingga webinar gratis yang bisa kalian ikuti! [gigi.id]

6


Berita

WAJIB BUANG SIKAT GIGI USAI SEMBUH DARI COVID-19! INI ALASANNYA

P

asien Corona yang menjalani isolasi mandiri di rumah disarankan untuk sebisa mungkin tidak berbagi alat makan, minum, dan mandi. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko orang lain terpapar COVID-19. Pasien isolasi mandiri juga sebaiknya menggunakan kamar tidur dan kamar mandi yang terpisah dari keluarga agar tidak terjadi pertukaran virus. Isolasi mandiri pasien Corona tanpa gejala bisa selesai dalam 10 hari.

Bagi pasien Corona yang sudah dinyatakan sembuh, ada hal penting yang sebaiknya dilakukan untuk memastikan anggota keluarga terbebas dari risiko penularan: membuang sikat gigi "Hal yang harus dilakukan setelah pulih dari Covid-19: buang alat kebersihan pribadi Anda seperti sikat gigi dan pembersih lidah," demikian saran dari Satgas COVID-19 IDI, Prof Zubairi Djoerban dalam cuitannya yang dikutip detikcom, Rabu (13/7/2021). Tujuan membuang sikat gigi usai isoman adalah untuk melindungi penyintas dan juga anggota keluarga. Kalau perlu, buat wadah terpisah agar mengurangi penyebaran virus. Dokter gigi berpandangan bahwa seseorang yang baru sembuh dari COVID-19 harus segera mengganti sikat giginya setelah sembuh. Ini, kata

mereka, tidak hanya melindungi orang tersebut dari kemungkinan infeksi ulang tetapi juga dapat menyelamatkan orang lain yang menggunakan kamar kecil yang sama di rumah. "Jika Anda atau siapa pun dalam lingkaran keluarga dan teman Anda telah tertular COVID-19, setelah pulih, pastikan untuk mengganti sikat gigi, pembersih lidah, dll. Ini dapat menampung virus, dan sebaiknya dibuang," kata Dr Pravesh Mehra , Bedah Gigi HOD, Universitas Kedokteran Lady Hardinge, New Delhi, dikutip dari India Today. Ia menjelaskan, hal ini karena bakteri/virus yang menumpuk pada sikat gigi yang lama kelamaan diketahui dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas. [Detik, Ilustrasi : Benazir Amriza Dini]

Tajuk

Limbah yang Terlupakan Pandemi yang tidak kunjung usai kini menuai masalah baru, yaitu sampah medis. Penggunaan APD, masker, dan sarung tangan yang digunakan sekali pakai meningkat jumlahnya selama pandemi. Berdasarkan data yang dihimpun BBC, rata-rata penduduk dunia memakai 129 milyar masker dan 65 milyar sarung tangan plastik sekali pakai setiap bulannya selama pandemi ini. Hal ini meningkatkan jumlah sampah medis melebihi sampah plastik. Sampah medis tidak mudah terurai dan seringkali berujung membahayakan mahluk hidup lain baik di perairan maupun daratan. Tak jarang cross infection antar manusia juga dapat terjadi akibat pembuangan sampah medis yang kurang tepat. Indonesia menghadapi tsunami Covid-19 yang ditandai dengan tidak mencukupinya kapasitas rumah sakit. Sehingga banyak pasien Covid-19 dengan gejala ringan melakukan isolasi mandiri di rumah. Penggunaan masker medis pada pasien isolasi mandiri juga meningkat namun seringkali tidak disertai dengan pengetahuan yang cukup untuk mengelola sampah medis hasil isolasi mandiri. Hal ini tentu saja membahayakan bagi lingkungan sekitar, terutama petugas sampah. Penggunaan masker kain kini tak lagi gencar dipromosikan karena masyarakat tak lagi merasa aman hanya dengan menggunakan masker kain. Mereka kini beralih menggunakan masker sekali pakai yang tentu saja lebih praktis. Berbagai gerakan untuk mengolah sampah medis mulai banyak dilakukan. Hal ini semata-mata untuk mengurangi polusi alam dan juga mencegah cross infection dari sampah medis. Sayangnya program ini masih kalah gencar dengan sosialisasi mengenai vaksinasi dan tata cara isoman yang memang tak kalah penting. Panduan isolasi mandiri dan seruan protokol kesehatan baiknya diimbangi dengan informasi bagaimana pengolahan masker dan alat pelindung diri sekali pakai guna mencegah infeksi silang serta mencegah oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab menggunakan masker bekas pakai untuk dijual kembali. Limbah medis seperti masker sekali pakai, sarung tangan, hasil rapid tes, serta alat pelindung diri sebaiknya dipisahkan dari sampah rumah tangga. Pembuangannya juga dipisahkan dalam plastik khusus. Beberapa lembaga telah menggelar program daur ulang masker medis menjadi bata. Dengan publikasi yang baik ke masyarakat, hal ini dapat dimanfaatkan oleh pemerintah agar dapat mengurangi sampah medis. [Messya Rachmani]

7


8


Berita

SKP HO BISA DIGANTI BAKSOS PENYULUHAN

B

agi dokter gigi yang kesulitan mengumpulkan SKP kegiatan keterampilan, di masa pandemi ini dapat diganti dengan bakti sosial dengan tindakan maupun sekedar penyuluhan. Demikian tertuang dalam Surat Edaran Kolegium Dokter Gigi Indonesia (KDGI) Nomor 047/SE-PDGI/VI/2021 tertanggal 29 Juni 2021. Keringanan ini berlaku untuk pengajuan pembaharuan Sertifikat Kompetensi di Bulan Juli sampai Desember 2021. Sementara itu untuk keringanan lainnya masih sama dengan isi surat edaran sebelumnya yaitu : Maksimal kegiatan teori jarak jauh yang semula maksimal 3 SKP direlaksasi menjadi 12 SKP, kegiatan keterampilan dapat

berupa hands-on jarak jauh atau bakti sosial dengan tindakan/penyuluhan, denda SKP untuk keterlambatan pembaharuan Sertifikat Kompetensi di bawah 5 tahun ditiadakan, untuk keterlambatan lebih dari 5 tahun dapat mengikuti uji kompetensi online. Saat ini pengajuan pembaharuan Sertifikat Kompetensi jauh lebih mudah dan praktis karena dilakukan secara online melalui aplikasi e-Sertifikasi di laman www.pdgi.or.id atau laman ikatan/kolegium masing-masing. Berkas ajuan juga tidak diperlukan selama dokter gigi mengikuti kegiatan ber-SKP resmi dari PDGI. SKP telah secara otomatis masuk ke masing-masing akun anggota sehing-

ga tidak diperlukan lagi pembuktian dengan Sertifikat. Untuk foto, ijazah, KTP, dan Surat Keterangan Sehat juga tidak perlu diserahkan fotokopinya cukup diupload di akun data anggota dan tidak perlu diulang setiap kali pengajuan pembaharuan sertifikat. Pada kesempatan lain KDGI juga telah mengumumkan pergantian desain Sertifikat Kompetensi sebagai impak dari migrasi ke format online, foto tidak lagi berupa tempelan tetapi hasil print-out, kemudian disetiap sertifikat ada pengaman berupa QR Code yang bila di-scan akan merujuk ke konfirmasi keabsahan Sertifikat Kompetensi di laman KDGI. [Fathin Vania Ramadhani]

Berita

DOKTER GIGI BISA JADI VAKSINATOR COVID

D

alam mendukung pemerintah memperluas cakupan vaksinasi Covid-19, kini dokter gigi dapat menjadi tenaga vaksinator setelah mengikuti pelatihan. Melalui Surat Keputusan Bersama Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI), dan Asosiasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Indonesia (ARSGMPI) Nomor SKEP/1645/VIII/2021;754/ SKB/AFDOKGI/VII/2021; serta 011/ ARSGMPI/VIII/2021 dokter gigi dapat berperan aktif sebagai vaksina-

tor, petugas swab, dan edukator dalam rangka penangulangan wabah Covid-19. Dalam surat keputusan tersebut disyaratkan adanya pelatihan terlebih dahulu bagi dokter gigi yang akan menjadi vaksinator. Sementara itu Kolegium Dokter Gigi Indonesia (KDGI) juga telah mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 048/ SK-KDGI/VIII/2021 tentang Kewenangan Klinis Terkait Covid-19 bagi Dokter Gigi. Dalam keputusan ini selain dapat menjadi vaksinator, dokter gigi juga boleh melakukan pengambilan dan pemeriksaan sampel dalam rangka menegakan diagnosis Cov-

id-19 untuk keperluan pasien yang akan berobat ke dokter gigi semata. Terhadap dokter gigi yang terlibat dalam kegiatan vaksinasi, PDGI juga memberikan SKP Pengabdian Masyarakat yang besarnya 3 SKP bagi vaksinator dan 2 SKP bagi yang ikut tapi bukan sebagai vaksinator. Proses pengajuan SKP-nya dilakukan melalui PDGI Cabang atau PDGI Wilayah, demikian tertuang dalam Surat Keputusan Komisi Pendidikan dan Pelatihan Profesionalisme Kedokteran Gigi Berkelanjutan Nomor 375/P3KGB-SK/VII/2021. [Dentamedia, Foto : Liputan6]

9


Wawasan

Sekilas

ROBIN, ROBOT RAMAH AGAR ANAK TIDAK TAKUT KE DOKTER GIGI

P

erusahaan Expper Technologies menciptakan robot ramah anak bernama Robin. Robot ini bertujuan untuk membantu anak-anak agar tidak takut mengunjungi dokter gigi. Saat ini Robin sudah terdapat di tiga klinik gigi dan empat rumah sakit di wilayah Los Angeles, California. Robin dilengkapi empat sensor jarak ultrasonik dan sensor sentuh kapasitif yang memungkinkannya untuk memahami jika seorang anak memeluknya. Kecerdasan buatan pada Robin juga akan menafsirkan wajah anak-anak saat tersenyum atau cemberut. Robin akan menyapa anak anak ketika memasuki lobby dan mengobrol dengan riang untuk menenangkan mereka. “Robot memecahkan kebekuan dan bilang jangan gugup semuanya baik baik saja, lalu ia akan memainkan musik atau menunjukkan pada anak anak tentang cara menyikat gigi,” ujar ABC Kids Dental Group Espy Sosa dalam tayangan Metro Siang di Metro TV, Rabu, 21 Juli 2021. Robin dapat menggunakan tiga bahasa yaitu Inggris, Spanyol, dan Armenia yang merupakan bahasa pendirinya. Para psikolog bersertifikat juga bisa berbicara melalui Robin untuk memberikan dukungan sosial dan emosional. Robin ke depannya akan dilengkapi dengan lebih banyak sensor agar dapat bekerja di segala usia. Namun, saat ini Robin masih difokuskan hanya untuk anak-anak. “Saat ini mereka masih fokus untuk membuat anak anak tidak

10

takut pergi ke dokter gigi,” kata jurnalis VOA Helmi Johannes dalam tayangan Metro Siang dari Arlington, Virginia, Rabu, 21 Juli 2021. Expper Technologies bekerja sama dengan rumah sakit anak UCLA mattel untuk meneliti bagaimana teknologi ini membantu anak dan orang tua yang stress karena dirawat di rumah sakit. [Medcom. Ilustrasi : Benazir Amriza Dini]

MAHASISWA KEDOKTERAN GIGI UNAIR CETUSKAN ALTERNATIF TERAPI KANKER MULUT Tiga mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga menyabet juara dua lomba Literature Review Nasional Udayana Dentistry Scientific Competition (UDSC) 2021 dengan judul ‘Potensi Kombinasi MicroRNA dan CUR-NLC melalui Inhibitor EGFR Signaling Pathway pada Terapi Penderita Oral Squamous Cell Carcinomas (OSCC)'. Hal ini berkaitan dengan penanganan alternatif bagi penderita kanker mulut. [Medcom]

MENKES LANTIK SEKJEN BARU ASAL KEMENTRIAN KEUANGAN Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin melantik Kunta Wibawa Dasa Nugraha sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan menggantikan Oscar Primadi. Kunta merupakan kelahiran Solo, 30 November 1968. Menyelesaikan pendidikan dan memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Gadjah Mada pada 1993. [CNN Indonesia]

MAHASISWA UGM CIPTAKAN ALAT BANTU CEGAH PENULARAN COVID-19 KE DOKTER GIGI Aeroject dikembangkan oleh tim mahasiswa UGM. Alat ini memiliki fungsi ganda, yaitu dapat menyedot aerosol yang tercipta saat perawatan serta dapat pula menyedot saliva. Oleh karena itulah alat kami sangat penting demi mencegah penularan Covid-19 pada saat dokter gigi melakukan perawatan pada pasien. [Harianjogja]


Opini

RAGAM KREATIVITAS MASYARAKAT DALAM MENGHINDARI COVID-19 oleh : Fathin Vania Ramadhina, praktisi dokter gigi di Bogor.

P

andemi semakin menjadi-jadi, angka kejadian Covid-19 terus meroket sejak Mei 2021. Fasilitas kesehatan mulai kolaps, masyarakat khawatir dan panik, walau masih banyak yang tetap acuh dan tak peduli. Sering kali kepanikan yang muncul di tengah masyarakat, tidak pada tempatnya. Alih-alih memperketat protokol kesehatan individu, masyarakat mulai mereka-reka cara lain agar ‘selamat’, walau terdengar konyol dan mengundang gelengan kepala. Memakai masker rasanya adalah anjuran yang sederhana dan sangat mudah, tapi khalayak lebih memilih cara apa pun, selain protokol kesehatan. Mari kita telusuri satu per satu kepanikan masyarakat yang ramai dan fenomenal. Siapa tidak kenal susu ‘beruang’? rasanya sejak saya kecil, susu ini sudah bertengger di rak-rak pasar swalayan. Kalau saya tidak salah ingat, susu ini menjadi andalan anak-anak yang terkena demam tifoid. Konon, susu ini berkhasiat meningkatkan imunitas tubuh untuk melawan penyakit. Mungkin berbekal anggapan tersebut, masyarakat berbondong-bondong membeli susu nan sakti mandraguna ini. Katanya, susu ini dapat mencegah virus corona masuk ke tubuh kita. Saking larisnya, susu ini sempat kosong di berbagai supermarket. Bahkan, beberapa supermarket sampai harus membatasi pembelian untuk setiap orang. Usut punya usut, sebelum dibatasi, satu orang konsumen bisa membeli puluhan kaleng susu. Fantastis. Lagi-lagi seingat saya, harga susu ini tidak murah juga. Saat dibandingkan dengan susu merek lain kandungan gizinya pun hampir sama. Bahkan ada susu lain dengan kandungan gizi yang lebih lengkap. Tapi kenapa susu ini begitu mencuri hati masyarakat, ya? Tak hanya susu, masyarakat juga sibuk sekali memborong benda-ben-

da lain yang – menurut mereka, dapat mencegah infeksi virus corona. Salah satunya Ivermectin, obat cacing yang masih diteliti dan belum disetujui sebagai pilihan terapi Covid-19, ramai sekali dicari-cari masyarakat. Organisasi masyarakat dan pejabat pun sibuk keliling berbagai daerah untuk membagikan obat ini. Berbagai e-commerce juga menjual obat ini secara ilegal dengan harga selangit, dan herannya tetap laku diburu masyarakat. Alasannya, minum Ivermectin setiap hari dapat mencegah tubuh kita terpapar infeksi Covid-19. Benarkah? Sampai saat ini belum ada satu pun penelitian yang berkesimpulan demikian. Lain obat, lain vitamin. Beberapa waktu lalu, heboh sekali di media sosial anjuran meminum Vitamin C 1000 mg per 3 jam untuk menguatkan imunitas tubuh kita. Tentu ini merupakan pemahaman yang sangat keliru. Konsumsi vitamin C yang berlebihan tentu saja akan mengganggu lambung. Saya begitu heran dengan kreativitas masyarakat yang nampaknya sangat ingin terhindar dari Covid-19, namun begitu sulit mematuhi protokol kesehatan yang paling sederhana: mencu-

ci tangan, memakai masker, menjauhi kerumunan. Sering sekali kita menemui orang yang malas memakai masker, atau memakai masker tetapi diturunkan hingga ke leher, dan berbagai gaya unik masker lainnya, tapi mudah sekali mengikuti anjuran-anjuran yang tidak masuk akal. Mudah sekali masyarakat menuding Covid-19 adalah kesempatan bisnis yang dijalankan oleh tenaga kesehatan, tapi lihatlah kasus susu beruang, atau penjualan Ivermectin illegal di e-commerce dengan harga selangit. Apakah dilakukan oleh tenaga kesehatan? Tidak. Apakah laku diburu masyarakat? Ya. Saya gagal memahami jalan pikiran masyarakat yang mudah sekali percaya anjuran non-ilmiah, mudah sekali membeli benda-benda yang jelas nyata digunakan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk mencari keuntungan, namun sulit sekali percaya pada anjuran yang memiliki bukti ilmiah yang jelas. Begitu mudah, murah dan efektifnya menerapkan protokol kesehatan dalam mencegah Covid-19, namun masyarakat malah memilih jalan yang mahal dan melenceng. Dari sini kita sudah dapat melihat bahwa tingkat literasi masyarakan Indonesia yang memprihatinkan. Berkaca dari negara-negara lain yang sudah mulai melonggarkan aturan terkait pandemi, jika masyarakat masih terus saja lebih percaya pada susu beruang, Ivermetin dan meminum Vitamin C 1000 mg setiap tiga jam sekali, tentu saya rasa pandemi di Indonesia akan berlangsung lebih lama. Tenaga kesehatan memiliki tugas mulia untuk tetap mengedukasi masyarakat sembari berjuang di lini terdepan. Semoga kita tetap kuat hingga pandemi berakhir. [Ilustrasi : Benazir Amriza Dini]

11


Profile for Dentamedia

Dentamedia Volume 25 Nomor 3  

Dentamedia Volume 25 Nomor 3  

Advertisement

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded