__MAIN_TEXT__
feature-image

Page 1

NASIB CO-ASS

DI MASA PANDEMI Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim melalui SKB 4 Menteri yang diumumkan pada November 2020 resmi menargetkan sekolan dan perkuliahan tatap uka pada Juli 2021. Mahasiswa diizinkan untuk melakukan aktivitas di kampus jika memenuhi protokol kesehatan dan kebijakan Dirjen Dikti. Namun pelik bagi para mahasiswa Program Profesi Kedokteran Gigi atau Co-ass. Pembelajaran pada masa pandemi yang berubah dari tatap muka menjadi daring sangat menyulitkan para co-ass yang dituntut untuk melakukan pelayanan kesehatan kepada pasien secara langsung dalam masa pendidikannya. Perguruan tinggi pun mulai mencari berbagai inovasi dalam proses pembelajaran agar para peserta didiknya dapat lulus dengan kompeten.


Bahasan

TATAP MUKA PENDIDIKAN DOKTER GIGI, SIAPKAH?

R

encana pemerintah memulai kembali pembelajaran tatap muka mulai Juli 2021 masih menimbulkan pro dan kontra, terlebih bagi pelajar SD hingga SMA. Kesulitan pembelajaran online yang dirasakan oleh siswa dan kesulitan mengawasi proses belajar oleh orang tua, membuat Sebagian kubu menginginkan sekolah tatap muka segera dimulai. Namun, kekhawatiran akan tertularnya virus yang berbahaya ini, membuat Sebagian yang lain kontra terhadap kebijakan sekolah tatap muka. Angka Covid-19 yang masih terus melonjak, serta cakupan vaksinasi yang belum merata, membuat kekhawatiran akan sekolah tatap muka menjadi masuk akal. Tak hanya pendidikan dasar yang terdampak, pendidikan tinggi di bidang kedokteran gigi pun secara langsung ikut terdampak. Wacana sekolah tatap muka membuat penyelenggara pendidikan dokter gigi harus beradaptasi dan bersiap untuk menyelenggarakan proses pendidikan yang aman dan terstruktur. Sejak tahun 2020, AFDOKGI telah membuat kebijakan terkait requirement mahasiswa kedokteran gigi dalam masa pandemi. Relaksasi requirement diharapkan dapat mengurangi beban dan durasi mahasiswa belajar di klinik, namun tidak mengurangi kompetensi dokter gigi yang dihasilkan. ARSGMPI pun telah mengeluarkan arahan mengenai pelaksanaan teknis mahasiswa yang bekerja di klinik atau RSGM setempat. Arahan tersebut mencakup penggunaan APD level 3, penggunaan ruangan bertekanan negatif pada tindakan yang menghasilkan aerosol, dan lain-lain. Namun, realisasi persiapan kegiatan pembelajaran dan klinik pada pendidikan dokter gigi, tidak mudah dan memiliki banyak tantangan. FKG Universitas Moestopo termasuk IPDG yang merasa cukup

2

kesulitan untuk menyediakan fasilitas ideal sesuai dengan arahan ARSGMPI karena terbatasnya lahan yang tersedia. Pembelajaran tatap muka yang sudah dimulai pun saat ini diakali dengan pembagian jadwal kerja serta pembatasan jumlah mahasiswa dalam satu ruangan. Pengaturan sirkulasi udara juga mengandalkan jendela yang dibuka agar pertukaran udara berjalan baik. Lain halnya dengan Prodi Kedokteran Gigi Universitas Sriwijaya. Menyadari akan keterbatasan yang dimiliki oleh RSGM-nya, Prodi Kedokteran Gigi Universitas Sriwijaya memilih untuk bekerja sama dengan RSKGM Provinsi Sumatera Selatan untuk pelaksanaan kegiatan klinik. Pelaksanaan tindakan kepada pasien di RSUP dr. Mohammad Hoesin dan puskesmas juga ditiadakan sementara lantaran RS dan puskesmas yang dimaksud menjadi RS rujukan Covid-19. Sementara itu, Prodi Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang sudah memulai aktivitas perkuliahan luring sejak November 2020 silam, sudah memiliki sistem yang cukup terstruktur.

Dengan dukungan dari universitas, Prodi Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menerapkan protocol kesehatan ketat, salah satunya dengan harus adanya surat keterangan bebas Covid-19 dari hasil pemeriksaan swab antigen, atau Genose. UMY juga memiliki system pelaporan yang bernama ICP (Incident Command Post). Sistem ini menerima laporan harian dari tiap fakultas mengenai kegiatan apa saja yang hari itu dilakukan, durasi, hingga siapa saja orang yang terlibat (dosen, mahasiswa, dan tenaga lainnya). Semua civitas yang masuk ke kampus dan RSGM didata dengan sistem barcode. Sehingga dapat dilakukan tracing dan diketahui jumlah orang yang datang. Hal senada yang dikemukakan oleh berbagai IPDG adalah adanya relaksasi requirement sesuai anjuran AFDOKGI, serta sistem hybrid antara diskusi daring dan pelaksanaan tindakan klinis secara luring. Tindakan klinis yang dilakukan secara luring pun bervariasi, menggabungkan antara kegiatan di phantom, khususnya pada tindakan yang menghasilkan aerosol, dan ke-


Bahasan giatan klinis langsung pada pasien. Mahasiswa yang saat ini menempuh pendidikan profesi kedokteran gigi mengaku merasa khawatir akan sistem pendidikan yang tidak terjun langsung dalam perawatan pasien. Namun, semua IPDG telah mempersiapkan yang terbaik untuk menyelenggarakan pendidikan sarjana kedokteran gigi dan profesi dokter gigi agar tetap dapat berlangsung, walau penuh keterbatasan. Meski mengaku kesulitan, namun mahasiswa mendukung penuh proses pembelajaran untuk tetap berlangsung. Keinginan mahasiswa untuk menyelesaikan pendidikan dokter gigi menjadi motivasi utama mahasiswa untuk tetap berjuang menempuh pendidikan yang saat ini memiliki lebih banyak tantangan. Berbagai IPDG pun merasa kesulitan menyiapkan lingkungan klinik yang ideal bagi peserta didik, namun hal ini tak menghalangi IPDG untuk berinovasi, agar proses pendidikan kedokteran gigi dapat tetap berjalan dan menghasilkan lulusan yang kompeten. [Nadia Faradiba / Fathin Vania Rahmadhina] antara diskusi daring dan pelaksanaan tindakan klinis secara lur-

ing. Tindakan klinis yang dilakukan secara luring pun bervariasi, menggabungkan antara kegiatan di phantom, khususnya pada tindakan yang menghasilkan aerosol, dan kegiatan klinis langsung pada pasien. Mahasiswa yang saat ini menempuh pendidikan profesi kedokteran gigi mengaku merasa khawatir akan sistem pendidikan yang tidak terjun langsung dalam perawatan pasien. Namun, semua IPDG telah mempersiapkan yang terbaik untuk menyelenggarakan pendidikan sarjana kedokteran gigi dan profesi dokter gigi agar tetap dapat berlangsung, walau penuh keterbatasan. Meski mengaku kesulitan, namun mahasiswa mendukung

penuh proses pembelajaran untuk tetap berlangsung. Keinginan mahasiswa untuk menyelesaikan pendidikan dokter gigi menjadi motivasi utama mahasiswa untuk tetap berjuang menempuh pendidikan yang saat ini memiliki lebih banyak tantangan. Berbagai IPDG pun merasa kesulitan menyiapkan lingkungan klinik yang ideal bagi peserta didik, namun hal ini tak menghalangi IPDG untuk berinovasi, agar proses pendidikan kedokteran gigi dapat tetap berjalan dan menghasilkan lulusan yang kompeten. [Nadia Faradiba / Fathin Vania Rahmadhina. Ilustrasi : Benazir Amriza]

3


Bahasan

TELEDENTISTRY, INOVASI YANG SEMAKIN DIMINATI

T

erbatasnya interaksi manusia akibat pandemi sejak akhir tahun 2019 silam, membuat berbagai sektor harus melakukan adaptasi. Tak ketinggalan dunia kedokteran dan kedokteran gigi. Telemedicine dan teledentistry mulai banyak mendapat perhatian dari masyarakat, meskipun sebenarnya kedua hal ini bukanlah suatu istilah baru. Salah satu praktik teledentistry yang paling awal dilakukan adalah pada tahun 1994 pada militer Amerika Serikat yang saat itu banyak tersebar di berbagai penjuru dunia. Di Indonesia, munculnya start-up dalam bidang kedokteran juga membuat praktik telemedicine dan teledentistry semakin dikenal luas Teledentistry diharapkan dapat memberikan pelayanan berupa konsultasi bagi pasien sebelum melakukan kunjungan ke dokter gigi. Sebagai langkah adaptasi masa normal baru di era pandemi Covid-19, teledentistry kini mulai dimasukkan dalam pembelajaran pendidikan kedokteran gigi. Berdasarkan surat keputusan AFDOKGI No. 30 tahun 2020 tentang panduan pendidikan program profesi dokter gigi pada masa pandemik Covid-19, teledentistry diperkenalkan kepada mahasiswa dalam kebijakan pembelajaran Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat dan Pencegahan.

4

Pedoman praktik telemedicine dan teledentistry di Indonesia pun telah dibuat dalam rangka menanggapi pandemi Covid-19. Di antaranya adalah Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia No. 74 Tahun 2020 tentang Kewenangan Klinis Praktik Kedokteran Melalui Telemedicine, Surat Edaran Menkes RI No. HK. 02.01/MENKES/303/2020 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Melalui Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19, Surat Edaran No. 2776/PB PDGI/ III-3/2020 tentang Pedoman Pelayanan Kedokteran Gigi Selamat Pandemi Virus Corona, dan Buku Panduan Dokter Gigi dalam Era New Normal PB PDGI. Dalam pedoman tersebut, disebutkan bahwa untuk mencegah penyebaran Covid-19, dokter gigi dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi berupa telemedicine dalam melakukan pelayanan kesehatan. Praktik kedokteran juga dapat dilakukan oleh dokter dan dokter gigi baik secara tatap muka, maupun melalui sistem elektronik berupa telemedicine, dengan memperhatikan komunikasi efektif. Prosedur teledentistry juga dianjurkan sebagai tahap skrining dan konsultasi awal atas keluhan pasien. Dengan adanya peraturan-peraturan ini, diharapkan masyarakat bisa mendapatkan pelayanan awal yang baik tanpa harus menghadapi risiko infeksi silang yang mungkin terjadi di tempat praktik. Pada praktik teledentistry, penting bagi dokter gigi untuk memperhatikan aspek komunikasi efektif dan terapeutik. Penggunaan kata-kata yang menenangkan dan mudah dimengerti oleh pasien, cara bicara yang jelas dan tidak terburu-buru, dokter yang tidak terdistraksi dan kontak mata melalui kamera menjadi hal-hal yang penting diperhatikan. Gunakan pula pertanyaan terbuka saat melakukan anamnesis, agar pasien dapat mengelaborasi jawabannya hingga dokter dapat menemukan kata kunci menuju diagnosis yang tepat. Berikan empati dan jawaban yang menenangkan pasien atas keluhannya, agar pasien merasa keluhannya didengar. Jangan lupa untuk menciptakan suasana yang nyaman dan hangat bagi pasien saat melakukan konsultasi. Meningkatnya penggunaan teledentistry dewasa ini, tentu diharapkan dapat menjadi angin segar dalam praktik kedokteran gigi di seluruh dunia. Selain mencegah penularan virus serta infeksi silang, teledentistry juga terbukti dapat memperluas jangkauan pasien terhadap pelayanan kesehatan gigi. Termasuk bagi pasien di daerah yang belum bisa mendapatkan akses pelayanan kesehatan gigi yang mumpuni. Meskipun tidak dapat menggantikan pelayanan kesehatan gigi secara tatap muka, namun sisi positif teledentistry dapat kita jadikan acuan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan gigi di kemudian hari, dari segi kemudahan dan aksesibilitas bagi pasien. [Fathin Vania Rahmadina]


Bahasan

P

ADAPTASI PENDIDIKAN KEDOKTERAN GIGI MASA PANDEMI

ada masa awal pandemi Covid-19 hampir seluruh negara menerapkan kebijakan lockdown, tidak terkecuali Indonesia. Semua sektor baik perekonomian, kesehatan, serta pendidikan mengehentikan dan membatasi aktivitasnya. Hal ini tentu saja berdampak pada proses belajar mengajar di Fakultas Kedokteran Gigi. Program Pendidikan Dokter Gigi yang memperlukan tatap muka pada saat perkuliahan maupun proses belajar di klinik kini sulit dilakukan. Fakultas Kedokteran Gigi mulai beradaptasi dengan mengubah pola pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh atau secara luring. Peneliti di Fakultas Kedokteran Gigi Kings College, London menggagas program pembelajaran alternatif dengan kombinasi problem based learning asynchronous fora pada seminar kecil dengan menggunakan platform MS Teams. Program belajar ini diteliti memiliki kelebihan yang memungkinkan pengalaman yang lebih terpusat pada mahasiswa. Selain itu, mahasiswa tidak melakukan tindakan langsung pada pasien, sehingga mahasiswa dapat membuat kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut, tanpa membahayakan keselamatan pasien. Di Indonesia, Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI) memberikan himbauan kepada seluruh Institusi Pendidikan Dokter Gigi (IPDG) agar dapat memodifikasi kegiatan belajar mengajar yang semula tatap muka menjadi sistem pembelajaran daring. Selain itu, kegiatan praktikum dan kegiatan klinik pada program profesi yang tidak bersifat gawat darurat dianjurkan untuk dihentikan dan diberikan kegiatan alternatif, serta tetap melakukan prinsip Universal Safety Precaution dan Protokol Kewaspadaan Pencegahan Covid-19 dalam melakukan perawatan pasien yang telah mendapatkan perawatan namun belum selesai, dan pasien gawat darurat. AFDOKGI juga memberikan pedoman bagi IPDG mengenai pemenuhan aktivitas pembelajaran atau requirement pada pendidikan profesi kedokteran gigi. Dalam pedoman ini,

beberapa cabang ilmu kedokteran gigi, seperti Ilmu Penyakit Mulut dan Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat dan Pencegahan menerapkan kebijakan pembelejaran klinik sepenuhnya secara virtual serta memanfaatkan sistem teledentistry. Sedangkan cabang ilmu lain, seperti Ilmu Konservasi Gigi, Orthodonsia, Periodonsia, dan Prostodonsia memberikan kebijakan kegiatan belajar mengajar secara darin dan untuk beberapa kasus dapat dilakukan perawatan pada phantoom di RSGM dengan sistem four handed dentistry apabila fasilitas RSGM tersebut belum siap. Namun, jika RSGM sudah memiliki fasilitas ruangan tekanan negatif, maka mahasiswa dapat mengerjakan perawatan pasien dengan menggunakan APD level 3 sesuai dengan ketentuan. Kebijakan berbeda diterapkan pada cabang Ilmu Kedokteran Gigi Anak dan Ilmu Bedah Mulut dan Maksilofasial. Pada Ilmu Kedokteran Gigi Anak, mahasiswa dituntut untuk belajar mengenai manajemen perilaku anak pada saat perawatan gigi, sehingga cukup sulit jika requirement dilakukan pada phantoom. Maka dari itu, ilmu kedokteran gigi anak memberikan kebijakan selain melakukan pembelajaran secara daring, mahasiswa juga dapat bekerja secara four-handed dentistry sebagai operator dan asisten operator. Hal ini bertujuan agar mahasiswa dapat mendapatkan pen-

galaman bekerja klinik di masa pandemi. Kegiatan stase jaga UGD RS dan observasi OK tidak dapat dilakukan secara daring, sehingga cabang Ilmu Bedah Mulut dan Maksilofasial memberikan kebijakan kegiatan tersebut dilaksanakan secara langsung di Rumah Sakit jika keadaan sudah memungkinkan. Seluruh kebijakan ini merupakan upaya dari AFDOKGI dan semua yang terlibat dalam Pendidikan Kedokteran Gigi untuk tetap mempertahankan kualitas lulusannya dalam masa pandemi. [Sagepub.

Cara berlangganan :

Cara pertama : 1. Snap QR Code dengan HP atau buka http://goo.gl/forms/aQy6CYBqGT 2. Isi data pembeli, klik submit / kirim 3. Lakukan pembayaran sebesar sesuai intruksi Cara kedua : 1. Transfer uang langganan (Rp. 100.000 / tahun) ke BCA No 2821430269 a.n. Siti Kusdiarti. 2. WA/SMS nama, alamat, tanggal transfer ke 08962836 6161 Biaya sudah termasuk ongkos kirim ke seluruh Indonesia

5


Opini

PENANGANAN COVID 19 UNTUK TENAGA KESEHATAN DI INDONESIA

S

oleh : Ronny Baehaqi dokter gigi di RSUD dr. Soetomo Surabaya

ejak diumumkan 2 Maret 2020 bahwa di Indonesia telah terjangkit infeksi virus SARS COV-2 atau yang lebih umum disebut Virus Covid-19 mengikuti puluhan negara lainnya dan telah banyak memakan korban jiwa dari kalangan tenaga kesehatan. Dokter gigi sebagai tenaga kesehatan tentu memiliki peran dalam penanggulangan pandemi ini dengan cara mengurangi transmisi Covid-19 di ruang praktik, mengendalikan infeksi, melakukan protocol kesehatan 6M, melakukan perlindungan terhadap diri sendiri dan sejawat dokter gigi, edukasi masyarakat pada bidang kesehatan gigi mulut, mematuhi protokol kesehatan serta vaksinasi. Selain itu dokter gigi harus berperan dalam pengembangan teledentistry serta selalu mengabdi kepada masyarakat melalui pelayanan kesehatan gigi dan mulut, terlibat dalam Satgas Covid-19, Satgas APD, aksi dan peduli PDGI. Dokter gigi pun tidak luput dari dampak pandemi. Sebanyak lima orang dokter gigi yang terinfeksi dan bahkan wafat di awal pandemi. Dokter gigi menjadi tenaga kesehatan yang paling rentan tertular virus ini, karena sifat virus yang bersembunyi di orofaring yang merupakan area kerja dokter gigi. Menyikapi ini, PDGI merespon cepat dengan membuat pedoman pelayanan untuk praktek dokter gigi baik untuk di Fasilitas Pelayanan Kesehatan maupun di klinik pribadi dokter gigi. Namun, belum sempat pedoman tersebut dipublikasikan, sudah ada revisi dari Kementrian Kesehatan. Sejak Maret hingga Juni 2020 PDGI mengimbau untuk stop pelayanan kecuali tindakan darurat. Setelah itu pada Bulan Juli sampai dengan September 2020 dimulai tatanan normal baru dalam kehidupan bermasyarakat, begitupula dengan bidang kedokteran gigi sudah mulai melakukan pelayanan secara terbatas pada kasus kegawatdaruratan, seleksi kasus, menggalakkan teledentistry dan melakukan prosedur rujukan. Setiap dokter gigi harus melengkapi diri dengan menggunakan Alat Pe-

lindung Diri level 3 yang merupakan level tertinggi untuk menghadapi situasi yang infeksius. Selain itu dokter gigi juga harus melakukan perubahan pada tempat layanan atau praktek dengan menggunakan sirkulasi udara yang lebih baik ataupun membuat situasi tekanan negatif pada ruangan praktek sesuai ketentuan dari WHO. Program vaksinasi menjadi salah satu cara dalam melindungi dokter gigi dari paparan Virus Covid-19. Dokter gigi termasuk dalam sasaran tenaga kesehatan yang mendapatkan prioritas vaksinasi pada fase 1 pada bulan Januari - Maret 2021. Program vaksinasi ini bertujuan untuk membentuk kekebalan, dan menurunkan resiko terjangkit. Jika terinfeksi Covid-19 setelah vaksin, diharapkan virulensinya lebih rendah dan menurunkan angka pasien yang harus dirawat di ruang ICU. Untuk dokter gigi yang menjadi penyintas Covid-19 pun vaksin dapat diberikan 3 bulan setelah hasil PCR menunjukkan negatif Covid-19. Vaksinasi saat ini masih berjalan ditengah kontroversi beberapa vaksin dan ketersediaan vaksin ini, sehingga lebih diutama-

kan untuk tenaga medis terlebih dahulu karena menjadi orang terdepan yang menghadapi pasien Covid-19. Dokter gigi dan tenaga kesehatan lain yang belum mendapatkan vaksinasi atau sudah pernah vaksinasi namun terpapar Virus Covid-19, dapat menghubungi BNPB melalui helpline service 117 ext 3. Layanan yang diberikan meliputi bantuan evakuasi ambulans, bantuan rumah sakit rujukan, bantuan obat khusus, bantuan tindakan medis khusus, bantuan laboratorium khusus, bantuan tes PCR dan skrining, bantuan plasma konvalesens, serta bantuan konsultasi dokter ahli. Diharapkan bantuan tersebut bisa dimanfaatkan oleh dokter gigi maupun tenaga kesehatan yang terpapar infeksi virus ini. Pada Agustus 2021 diharapkan Indonesia sudah dapat mengatasi pandemi ini. Target utama pada fase ini adalah pandemic recovery, yang berarti dokter gigi sudah dapat membuka prakteknya dan melakukan tindakan kedokteran gigi secara lengkap. Fase ini tentunya menjadi idaman untuk semua masyarakat dan juga dokter gigi karena sudah bisa bekerja secara penuh tetapi tetap tidak melupakan protokol kesehatan 6M dan tetap menggunakan APD sesuai jenis tindakannya. Semoga Indonesia segera terbebas dari virus ini melalui segala upaya yang dilakukan pemerintah baik protokol kesehatan, vaksinasi, pengobatan secara komprehensif dan didukung oleh perilaku masyarakat yang patuh terhadap protokol kesehatan, mengikuti vaksinasi yang telah terjadwal. Indonesia pasti bisa! salam sehat.

Dentamedia tiap triwulan diterbitkan oleh Lembaga Studi Kesehatan Indonesia (LSKI) Yayasan Bale Cijulang sejak tahun 1997 ISSN 1410-4768 ALAMAT: Office & Beyond Building Jl. CImanuk 6 Bandung 40115, Kotak Pos 7785 Bandung 40122, TELEPON: 0896628366161, FAKS: (022)2502807, EMAIL: dentalmedia@gmail.com SITUS: www.dentamedia.id REKENING: Giro Pos 4000004815 a.n Lembaga Studi Kesehatan Indonesia (Penyetoran dapat dilakukan di kantor pos seluruh Indonesia) PEMIMPIN UMUM Kosterman Usri PEMIMPIN REDAKSI Messya Rachmani REDAKSI Fathin Vania Rahmadina, Nadia Faradiba KORESPONDEN Dhona Afriza (Padang), Ikhsan Dani Putra (Medan), Bertha Aulia (Palembang), Alfini Octavia (Yogyakarta), Ronny Baehaqi (Surabaya), Muhammad Andhyka Fitrianto (Malang), Putra Qodri Fath (Pontianak), Irma Chaerani Halim (Samarinda), Muhamad Ruslin (Makassar), Michael Andrea Leman (Manado), Anak Agung Istri Devi Wulandari Putra (Denpasar), Septia Indriasari (Mataram) DIREKTUR BISNIS Maryanne Susanti MANAJER PEMASARAN Joseph Gunawan MANAJER ACARA Dian Islamiyati KRU ACARA Mulia Ayu Hanifa, Varisati Nalina Vara, Sangga Tirakat, Muhammad Syahid Abdilah, Abigail Thanya Gracesheila, Andrian Fadhillah Ramadhan, Maya Adriati Pramestiningrum KEUANGAN Siti Kusdiarti DESAIN GRAFIS Benazir Amriza Dini, Irmayanti Meitrieka PRODUKSI Agus Sono TEKNOLOGI INFORMASI Anzarudin, Anggit Wirasto BIRO JAKARTA Sandy Pamadya (Kepala), Maya Mardiana, Affi Listriani, Ina Sarah Addawiah, Putu Ayu Pradnya BIRO SEMARANG Hayyu Failasufa (Kepala), Ade Ismail Berita/artikel/siaran pers/foto/surat pembaca/iklan/penawaran kerjasama untuk Dentamedia kirimkan ke e-mail ke dentamedia@gmail.com APABILA KEBERATAN DENGAN ISI DENTAMEDIA SILAHKAN KIRIMKAN HAK KOREKSI/JAWAB ANDA KE ALAMAT DENTAMEDIA

6


Berita

DENTOLASER, ALAT TERAPI GIGI DENGAN TEKNOLOGI LASER SEGERA DIPRODUKSI MASSAL

B

adan Pengembangan Bisnis Rintisan dan Inkubasi Universitas Airlangga kembali mempertemukan peneliti UNAIR dengan pihak Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI) pada Jum’at (26/02). Pertemuan itu membahas produk inovasi Dentolaser. Alat Dentolaser dikembangkan oleh peneliti dan dosen Departemen Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi, Prof. Dr. Suryani Dyah Astuti, M.Si. bersama tim peneliti yakni Prof. Dr. Ernie Maduratna Setyawati, drg., M.Kes., SpPerio(K) dan Deni Arifianto, S.Si., M.T. Produk dentolaser yang akan diproduksi massal adalah instrumen medis yang bisa digunakan oleh para dokter gigi sebagai alat terapi gigi dan mulut dengan teknologi laser. “Alat ini untuk terapi gigi dan mulut, seperti periodontitis, endodontis, atau semua penyakit yang disebabkan oleh bakteri,” terang Prof. Ernie. Selain untuk dokter gigi, Dentolaser juga bisa digunakan untuk dokter umum, terutama penyakit kulit, seperti jerawat atau untuk ulkus diabetik. Menurut Prof. Dyah, produk ini harus segera diproduksi massal karena sudah keluar di e-katalog. Tim peneliti UNAIR dan pihak industri, dalam hal ini PT. Sarandi Karya Nugraha akan berkoordinasi lebih intens karena produk ini akan segera diproduksi massal. Prof. Dyah mengatakan, semua proses sertifikasi sudah selesai dan sekarang dilanjutkan dengan proses transfer teknologi ke industri, karena dalam proses produksi itu, industri harus tahu bagaimana cara kerja alat dan komponen-komponen apa saja yang dibutuhkan. “Meskipun pada saat kita pengajuan sertifikat, hak ijin edar dan ijin produksi, hal itu sudah dituliskan di sana. Tetapi kan, proses produksi tetap harus melalui transfer teknologi. Jadi hari ini kita membicarakan tentang proses transfer teknologi dari UNAIR ke pihak industri,” jelasnya. Prof. Dyah menambahkan, nantinya UNAIR akan melakukan produksi rangkaian elektronik, sebagai inti atau otak dari instrumen tersebut. Sedangkan proses assembling,

casing, dan packaging akan dilakukan oleh PT Sarandi Karya Nugraha. “Hardware dan software sistem instrumentasi dentolaser akan diproduksi di UNAIR,” ucapnya. Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh Dr. Muhammad Nafik Hadi Ryandono, S.E., M.Si., sebagai Ketua Badan Pengembangan Bisnis Rintisan dan Inkubasi (BPBRIN) dan pihak mitra industri, Presiden Direktur PT. Sarandi Karya Nugraha, Isep Gojali. Isep berharap kerjasama ini bisa berlanjut di masa depan sehingga bisa memberi banyak manfaat ke masyarakat luas. “Mudah-mudahan bisa berlanjut, jadi kita bisa membantu dokter gigi, ada manfaatnya buat masyarakat. Karena ini kan, sudah layak jual, sudah registrasi. Kita ke sini dalam rangka untuk mempersiapkan produksinya bagaimana,” jelasnya. Tenaga Kesehatan Terikat Kode Etik Ditanya terkait produksi masal produk dentolaser ini, Isep menjelaskan produksi masal ini akan dilakukan secepatnya dan sebagian prosesnya akan dilakukan di UNAIR sehingga prosesnya dapat di-

gunakan untuk teaching industry. “Mass production-nya kita kerja sama, antara UNAIR dan PT Sarandi. Assembling rangkaian elektroniknya akan dilakukan di UNAIR, sekaligus dapat digunakan untuk teaching industry agar mahasiswa juga bisa belajar tentang industri dan wirausaha,” terang Isep. Prof. Ernie menambahkan, nantinya akan ada kerja sama dengan berbagai asosiasi dokter sebagai target pengguna produk tersebut seperti IPERI dan PDGI. “Karena ini dentolaser memang fokusnya di dokter gigi, meskipun juga bisa dipakai untuk penyakit kulit,” ungkapnya. Sebelum ada produk Dentolaser, biasanya para dokter gigi mengobati penyakit gigi dan mulut dengan menggunakan antibiotik. Karena sifat antibiotik yang bisa mengakibatkan resistensi, maka produk Dentolaser ini memiliki keunggulan tersendiri, yakni tidak menimbulkan resistensi, dan bisa menjangkau tempat-tempat sulit di rongga mulut. [Unair. Ilustrasi : Benazir Amriza Dini]

7


Berita

117#3 SIAP BANTU DOKTER GIGI TERPAPAR COVID-19

T

enaga kesehatan yang terpapar Pandemi Covid-19 sering kali mengalami kesulitan untuk mendapatkan perawatan sebagaimana mestinya, untuk itu pemerintah membuka Perlindungan Nakes di nomor telepon 117 pesawat 3. Demikian disampaikan oleh dr. Mariya Mubarika dari Divisi Perlindungan Tenaga Kesehatan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 pada acara Webinar VI PB PDGI 2 April 2021. Layanan ini telah dibuka sejak 2 Februari 2021 dan telah ban-

yak membantu tenaga kesehatan yang terkena Covid-19. Lebih lanjut Mariya menyatakan Helpline ini bisa dikontak tenaga kesehatan selama 24 jam untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit, pemeriksaan laboratorium, obat-obatan, plasma konvalesen, ataupun hanya sekedar bertanya permasalahan di seputar Covid-19. Helpline 117 ext. 3 menurut Mariya adalah salah satu upaya untuk menekan dan meminimalisasi risiko keterpaparan dan kematian tenaga kesehatan akibat Covid-19. Pembicara lain dalam Webinar VI PB PDGI yaitu Dr. Sri Hananto Seno, drg., Sp.BM(K)., MM. yang juga Ketua Pengurus PDGI mengungkapkan fakta banyaknya dokter gigi yang menjadi korban Covid-19. Tercatat ada 413 dokter gigi yang dinyatakan

positif Covid-19, terdiri dari 207 dokter gigi Puskesmas, 63 dokter gigi rumah sakit, 40 dosen fakultas kedokteran gigi, 34 dokter gigi praktik mandiri, 23 dokter gigi Dinas Kesehatan, dan 26 dokter gigi lainnya. engan 39 diantaranya meninggal dunia. Dari 413 dokter gigi positif Covid-19 berdasarkan data PB PDGI 39 diantaranya meninggal dunia. Dokter gigi yang meninggal dunia terdiri dari 14 dokter gigi Puskesmas, 10 dosen Fakultas Kedokteran Gigi, 4 dokter gigi praktik mandiri, 4 dokter gigi rumah sakit, 3 dokter gigi Dinas Kesehatan, dan 4 dokter gigi lainnya. Menurut Hananto Seno tingkat kematian tertinggi ada dikalangan dosen fakultas kedokteran gigi yaitu 25% karena 10 dosen meninggal dari 40 yang positif Covid-19. [Kosterman Usri]

Tajuk

Sarung Tangan Sarung tangan berbahan karet dari masa ke masa punya cerita. Saat pendidikan dokter gigi di era 90-an kita hanya menggunakan handscoon saat melakukan ekstraksi gigi saja dan itupun hanya satu tangan yang memakai handscoon, diluar itu kita tidak menggunakannya. Saat itu handscoon memang terbatas jumlahnya dan kalaupun ada rata-rata digunakan berulang kali dan bukan sekali buang. Handscoon diproses dengan dicuci kemudian dikeringkan, kemudian diberi bedak talk dan dimasukkan ke dalam stoples isi tablet formalin. Zaman kini semakin berkembang dan handscoon ini sekarang seakan menjadi kebutuhan primer dan keberadaannya dicari orang. Harganya pun sudah tidak wajar dan sangat memberatkan bagi rumah sakit, dinas kesehatan, maupun klinik dokter gigi. Dalam dua tahun terakhir harga sarung tangan disposable jenis latex harganya berkisar antara Rp. 25.000 – Rp. 35.000,- namun di akhir tahun 2020 yang lalu harganya sudah naik 10 kali lipat. Rata-rata sarung tangan ini merupakan produk luar negeri, padahal bahan baku latex alias karet di Indonesia berlimpah namun karena tidak dijadikan sebuah produk dan diekspor dalam bentuk mentah. Sehingga dampaknya kita harus membayar mahal untuk bahan yang dihasilkan di negeri tercinta ini. Sarung tangan yang dahulu mayoritas digunakan oleh tenaga medis saat melayani pasien sekarang digunakan oleh masyarakat secara luas, apalagi orang Indonesia suka sekali dengan yang berbeda sendiri seperti sarung tangan jenis nitril (non powder). Karena penggunaan yang tidak tepat oleh masyarakat, maka kebutuhan akan barang ini juga meningkat dan harganyapun tidak masuk akal. Dokter gigi tidak akan menggunakannya secara berulang kali karena resiko terjadinya infeksi silang saat diproses. Mahasiswa pada institusi pendidikan membutuhkan sarung tangan yang lebih banyak pada saaat pekerjaan klinik dan pre klinik. Di dalam kamar operasi, setiap tenaga kesehatan bisa berganti sarung tangan lebih dari satu kali untuk setiap pasien, yakni sarung tangan non steril saat proses pemindahan pasien lalu sarung tangan steril pada saat tindakan kemudian sarung tangan non steril kembali saat memindahkan pasien tersebut. Pada ruang isolasi, seorang petugas kesehatan juga memerlukan beberapa sarung tangan medis dan sarung tangan panjang serta beberapa sarung tangan non-steril pada proses dofing dan doning. Kebutuhan sarung tangan ini sangat penting, sehingga jika terjadi kekurangan stok akan sangat mengganggu pelayanan kesehatan. Penggunaan sarung tangan bagi masyarakat luas saat menyajikan makanan atau barang, sebetulnya cukup dengan sarung tangan plastik daripada nitril. Fenomena ini sebetulnya dipengaruhi oleh sikap cemas berlebihan dari masyarakat yang takut tertular Covid-19.Apabila mereka memahami yang digaungkan oleh pemerintah bahwa yang diperlukan adalah kebiasaan cuci tangan, maka penggunaan sarung tangan diluar tenaga kesehatan akan berkurang sehingga rumah sakit, klinik, dan fasilitas kesehatan mendapatkan stok yang cukup untuk melayani pasien. Semoga situasi pandemi ini segera berakhir, masyarakat semakin taat protokol kesehatan serta tidak menggunakan alat pelindung diri untuk hal yang tidak perlu, serta slogan cuci tangan sesering mungkin itu yang harus selalu dikampanyekan. Salam sehat.. [Ronny Baehaqi]

8


Berita

MEDIA SOSIAL BAGAI BUAH SIMALAKAMA

A

khir-akhir ini media sosial tengah ramai akibat konten TikTok yang diunggah oleh seorang dokter pria. Konten tersebut menunjukkan seorang dokter tengah memeragakan pemeriksaan pembukaan pada pasien yang hendak melahirkan kemudian memperlihatkan eskpresi yang kurang pantas. Video tersebut mendapat reaksi keras dari netizen. Warganet mengecam aksi dokter di video tersebut yang dinilai menyalahi kode etik kedokteran. Reaksi keras juga datang dari Koalisi Masyarakat Sipil Anti Kekerasan Seksual (Kompaks). Kompaks mengatakan bahwa konten dokter tersebut berisi candaan bernuansa seksual yang merendahkan perempuan. Tak cukup sampai di situ, Kompaks meminta kepada IDI agar mencabut SIP dan keanggotaan IDI dokter yang bersangkutan. Konten media sosial yang viral dan melibatkan nakes bukan sekali ini saja terjadi. Awal Januari lalu ada pula beberapa nakes terlibat dalam video viral yang menyatakan menolak vaksin COVID-19. Penggunaan Media Sosial oleh Tenaga Kesehatan Upaya untuk menjalin interaksi sosial di jaman sekarang sangat mudah dengan didukungnya teknologi dan beragam produk teknologi informasi. Kehadiran media sosial sejatinya memiliki potensi yang amat baik untuk menjalin interaksi sosial dengan banyak orang, termasuk untuk menjalin hubungan dokter dengan pasien. Bahkan hasil survey yang dilakukan oleh Modahl, Tompsett, dan Moordhead menunjukkan bahwa 87% persen dokter menggunakan setidaknya satu situs media sosial. Salah satu media sosial yang paling banyak digunakan saat ini adalah TikTok. Platform ini mewadahi penggunanya untuk mengunggah video kreatif berdurasi pendek, serta memungkinkan untuk saling memberikan komentar. Platform untuk mengikuti perkembangan digital ini menjadi alat yang bermanfaat untuk berbagi informasi kepada masyarakat luas. Seperti yang dilakukan Ferdiriva Hamzah, seorang dokter spesialis mata, yang aktif mengunggah video

edukatif seputar kesehatan mata melalui akun TikTok-nya. Selain itu, ada juga Farhan Zubedi, seorang dokter umum, dan Ekida Rehan , seorang mahasiswa kedokteran, yang banyak mengunggah video-video edukatif mengenai isu-isu kesehatan melalui akun TikTok mereka. Bahkan, mereka tak lupa mencantumkan sumber referensi jurnal sebagai acuan mereka membuat konten edukatif tersebut. Namun, di balik potensi baik dalam penggunaan media sosial, terdapat pula potensi buruk jika media sosial disalahgunakan. Contoh penyalahgunaan oleh tenaga kesehatan diantaranya, pelanggaran batas pribadi profesional, pelanggaran privasi pasien, kerusakan citra profesional, hingga distribusi informasi yang kurang baik seperti kasus video viral dokter di atas. Penyalahgunaan media sosial oleh tenaga kesehatan akan menimbulkan konsekuensi rusaknya reputasi, hingga terseret ke masalah hukum. Setiap tenaga kesehatan terikat dengan Kode Etik Dokter Indonesia (KODEKI) yang diterbitkan oleh

MKEK serta sumpah dokter. Konten dokter di media sosial seringkali tak sesuai dengan KODEKI yang telah mengikat mereka. Poin kode etik yang sering dilanggar melalui media sosial, yaitu KODEKI Tahun 2012 pasal 4 yang berbunyi ‘Setiap dokter wajib menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri’, serta KODEKI Tahun 2012 pasal 3 ayat 4 yang berbunyi ‘Melibatkan diri secara langsung atau tidak langsung untuk mempromosikan obat, alat atau bahan lain guna kepentingan dan keuntungan pribadi dokter.’ Di zaman sosial media yangberkembang dengan pesat, tentunya sebagai tenaga kesehatan yang terikat dengan sumpah profesi, dan kode etik dalam menjalankan profesinya, harus sangat berhati-hati dalam memanfaatkan kecanggihan teknologi masa kini. Media sosial sebaiknya menjadi sarana untuk melakukan promosi kesehatan, edukasi ke masyarakat yang tentunya berdasarkan sumber-sumber ilmiah yang terpercaya. [Nadia Faradiba. Ilustrasi : Benazir Amriza Dini]

9


Wawasan

Sekilas

KECERDASAN BUATAN UNTUK DIAGNOSIS MEDIS LEBIH CEPAT DAN AKURAT

Unpatti Ambon Akan Buka Prodi Baru Kedokteran Gigi di 2021 Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon berencana membuka Program Studi Kedokteran Gigi pada tahun ajaran baru di 2021. "Rencana ini telah digagas sejak tahun lalu. Ada persyaratan untuk mendirikan program studi baru yang belum dapat dipenuhi, kami berupaya agar tahun ini bisa terealisasi," kata Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura Ambon, dr. Bertha J. Que pada Jumat, 19 Februari 2021. [Berita: Pikiran Rakyat]

M

achine Learning begitu nama teknologinya. Data dalam jumlah besar dihubungkan oleh sebuah algoritme. Komputer yang dilengkapi inteligensia artifisial ini belajar mengenali sklerosis multiple atau MS, dan serangan demensia pada otak. Semakin besar dan terperinci datanya, semakin tepat pula hasilnya. Perusahaan IT di Berlin itu menggunakan program inteligensia artifisial, yang sudah lebih pintar daripada dokter. Piranti lunak yang mampu belajar itu juga digunakan dalam upaya memerangi COVID-19. Misalnya dalam tes Corona untuk masyarakat luas. Dalam waktu dekat akan ada aplikasi baru, yang dengan bantuannya, tes infeksi bisa dilaksanakan hanya dengan pengenalan suara. Tes kilat audio itu tidak bisa menggantikan tes dengan sampel dari tenggorokan. Tapi ketepatannya bisa sampai 90%. Sekarang, data suara dari sebanyak mungkin orang dikumpulkan untuk melatih "software". Florian Eyben, salah satu pendiri perusahaan audEERING menjelaskan, "Lewat kerja paru-paru, misalnya saat batuk atau tertawa, diukur seberapa banyak tekanan dikeluarkan pa-

10

ru-paru. Itu hal-hal yang kami ukur lewat algoritma pengolahan sinyal. Kemudian melatih inteligensia artifisial menggunakan contoh-contoh dari kumpulan data, untuk melihat apakah seseorang positif atau negatif tertular, apakah menunjukkan simtom." Sebuah perusahaan pembuat piranti lunak di Munchen mengembangkan inteligensia artifisial yang bertujuan memperbaiki peluang hidup. Dengan sebuah software dibuat model digital paru-paru, dan disimulasikan bagaimana udara masuk. Dengan cara itu, misalnya, tekanan pada alat pernapasan bisa disesuaikan. "Sejauh ini, dokter tidak bisa melihat ke dalam paru-paru. Ia hanya melihat dari luar, apa yang ditunjukkan alat pernapasan tentang tekanan pada trakea. Dengan teknologi yang kami kembangkan, dokter bisa melihat ke dalam paru-paru. Bagaimana udara bergerak di dalamnya, di mana udara menimbulkan pembengkakan. Dan bukan itu saja. Karena ini alat digital, sebelum digunakan pada pasien, bisa diujicoba tanpa merugikan pasien." Begitu dijelaskan Dr. Jonas Biehler, manajer perusahaan Ebenbuild. [Detik]

Klinik Dokter Gigi Rancangan Mahasiswa UI Juara di IDEA 2021 Tim mahasiswa Universitas Indonesia meraih juara pertama dalam Table Clinic Competition (Dental Office Design) pada International QUEST 5.0 yang merupakan bagian dari ajang International Educationist Association (IDEA) 2021. Tim terdiri mahasiswa lintas disiplin ilmu itu mempresentasikan rancangan klinik dokter gigi yang disesuaikan untuk mengakomodasi kontrol infeksi di masa pandemi Covid-19. [Berita: Tempo]

UI Jadi Perguruan Tinggi Terbaik Nasional Bidang Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (UI) kembali menorehkan prestasi dalam pemeringkatan perguruan tinggi lewat pencapaian pada indikator penilaian tertentu. UI menempati posisi pertama di level nasional dalam subjek khusus Kedokteran Gigi (dentistry) dalam publikasi Scimago Institutions Ranking by Subject Areas 2021. [Berita: Kompas Foto:Minews]


Berita

JUKLAK COVID-19 DOKTER GIGI VERSI KEMENKES

S

etelah tahun lalu keluar pedoman pelayanan kedokteran gigi dan mulut di masa Pandemi Covid-19 dari PDGI dan asosiasi RSGM, tahun ini Kementerian Kesehatan juga mengeluarkan pedoman serupa. Pandemi COVID-19 tidak dapat dipastikan kapan berakhir, sementara masyarakat tetap membutuhkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut terutama di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Atas dasar itu, Kementerian Kesehatan RI menerbitkan petunjuk teknis (Juknis) Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama pada Masa Adaptasi Kebiasaan Baru. Data dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia menyebutkan sebanyak 39 dokter gigi meninggal terpapar COVID-19. Sampai tanggal 5 Februari 2021 dokter gigi yang terpapar COVID-19 berjumlah 396 orang, terdiri dari Puskesmas 199 orang, Rumah Sakit 92 orang, klinik 36 orang, praktek Mandiri 35 orang, dan institusi pendidikan atau Fakultas Kedokteran Gigi 13 orang. Salah satu Tim Penyusun buku Juknis Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut, Iwan Dewanto mengatakan penyusunan Juknis bertujuan mengurangi penularan COVID-19 namun masyarakat tetap mendapatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Lebih lanjut Iwan mengatakan "Dokter gigi termasuk tenaga kesehatan yang berisiko tinggi, dokter gigi bisa tertular COVID-19, salah satunya bisa terjadi apabila droplet dari pasien positif COVID-19 hinggap pada alat kerja yang digunakan dokter gigi". Selengkapnya ada ada empat tahapan skema pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang harus diterapkan di masa pandemi COVID-19. Demikian dijelaskan pada saat sosialisasi Juknis baru dari Kementerian Kesehatan ini di pertemuan virtual, Kamis 29 April 2021. Tahap I : Persiapan Dokter Gigi Dokter gigi harus mengatur ruang praktik, yakni memastikan aliran udara dan ventilasi, pengelolaan air bersih dan pengelolaan ruangan. Ventilasi harus dipastikan ada aliran udara masuk dari arah belakang ruangan dan ada aliran udara keluar ke arah depan ruangan. Exhaust Fan berada di bawah, jarak dari lantai kurang lebih 20 cm supaya aliran udara terjadi. Hindari penggunaan kipas angin atau AC yang diletakkan di langit-langit atau di depan dental unit/kursi gigi yang arah anginnya mengarah dari pasien ke operator saat melakukan prosedur. Puskesmas yang masih bekerja dengan dua dental unit yang tanpa sekat, harus disekat hing-

ga menjadi ruangan tertutup bagi masing-masing dental unit, atau dapat juga diberikan jarak 2 meter antar dental unit dengan tetap memperhatikan ventilasi udara di masing-masing dental unit. Jika keadaan tersebut tidak memungkinkan maka hanya satu dental unit yang bisa digunakan untuk merawat pasien. Tahap II : Sebelum Kunjungan Pasien Pada tahapan ini dilakukan penapisan atau skrining pada pasien. Penapisan bisa dilakukan dengan menggunakan teledentistry atau konsultasi dengan dokter gigi dengan memanfaatkan media telekomunikasi. Volume kunjungan pasien juga harus dikendalikan, pihak Puskemas harus menghitung batas maksimal volume pasien. Hal ini dapat ditetapkan berdasarkan jumlah kamar praktik dokter gigi, luas ruang praktik dokter gigi, tata letak fasilitas prasarana yang digunakan di dalam ruangan, dan waktu yang diperlukan untuk membersihkan dan mendesinfeksi prasarana tersebut. Tahap III : Saat Kunjungan Tahap ketiga adalah tahapan saat kunjungan pasien, yaitu dengan mengukur suhu kemudian meminta pengunjung untuk cuci tangan pakai sabun ditempat yang sudah disediakan. Selain itu juga pihak Puskesmas memasang imbawan protokol kesehatan dalam bentuk poster, standing banner, atau stiker. Tahap IV : Setelah Kunjungan Tahap terakhir adalah tahapan setelah selesai kunjungan pasien. Dilakukan pembersihan lingkungan kerja, disinfeksi, sterilisasi, dan untuk follow up pasien bisa digunakan teledentistry. Paling penting di dalam praktek dokter gigi saat ini harus ada zonasi yang jelas, yakni zona kuning untuk ruangan resepsionis, ruang tunggu pasien, dan ruang staf. Di zona inj semua orang harus memakai masker dan melakukan hand hygiene. Selanjutnya zona merah adalah zona infeksius. Zona ini dipergunakan untuk tindakan dan saat praktek diwajibkan memakai APD sesuai yang direkomendasikan. [Dentamedia, Foto : Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes]

11


Profile for Dentamedia

Dentamedia Volume 25 Nomor 2  

Dentamedia Volume 25 Nomor 2  

Advertisement

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded

Recommendations could not be loaded