__MAIN_TEXT__
feature-image

Page 1

VAKSIN UNTUK GARDA TERDEPAN Harapan di Tengah Keraguan.

I

ndonesia telah kehilangan lebih dari 600 orang tenaga kesehatan akibat Covid-19. Ini merupakan kehilangan terbesar bagi bangsa Indonesia. Vaksin Covid-19 yang lahir begitu cepat menjadi sebuah harapan untuk mengakhiri pandemi sekaligus menjadi alat perang melawan virus ini untuk garda terdepan. Di tengah keraguan, akhirnya vaksinasi massal dilakukan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Tenaga kesehatan mendapat kesempatan pertama untuk memperkuat diri melawan Covid-19, dengan segala dinamika pelaksanaanya yang belum dapat dikatakan berjalan lancar.


Bahasan

E F E K T I V I TA S V A K S I N C O V I D - 1 9

S

udah lebih dari setahun Virus Corona menjadi wabah yang mengerikan bagi seluruh negara dan belum menunjukkan adanya tanda-tanda bahwa pandemi ini akan berakhir. Namun, beberapa minggu terakhir terdapat secercah harapan dengan lolosnya uji coba klinis ketiga dari beberapa vaksin untuk Virus Corona. Beberapa vaksin yang telah lolos sejauh ini mekanismenya belum terbukti mampu membuat seseorang menjadi kebal dengan Virus Corona, namun mampu mengurangi gejala simptomatik pada pasien yang terinfeksi Covid-19. Hal ini tentu menjadi harapan baru bagi dunia, disaat sebagian besar negara kesulitan mengontrol pandemi ini. Kerjasama antara COVAX, GAVI, WHO, dan Indonesia

Pandemi global ini membuat semua negara memiliki kebutuhan yang tinggi akan tersedianya vaksin Covid-19. Namun, mengingat terbatasnya kapasitas produksi pabrik vaksin, tentu ini menjadi masalah baru. Selain itu, negara berpendapatan rendah dan menengah juga nampak dirugikan karena mungkin tidak mampu membeli banyak dosis vaksin sekaligus untuk populasi di negaranya dibandingkan dengan negara yang berpendapatan tinggi. Hal inilah yang melatarbelakangi WHO menggagas COVAX Facility pada April 2020 lalu yang bekerjasama dengan GAVI (Global Alliance for Vaccines and Immunisation) dan CEPI (the Coalition for Epidemic Preparedness Innovations). COVAX memiliki tujuan utama yaitu memastikan setiap negara mendapatkan akses yang adil dan merata untuk memperoleh vaksin Covid-19. Ada beberapa hal yang dita-

2

warkan oleh COVAX, diantaranya ketersediaan dosis vaksin untuk setidaknya 20% populasi setiap negara dan pengiriman vaksin segera setelah vaksin tersedia. Langkah ini diharapkan akan mengakhiri fase akut dari pandemi yang sedang berlangsung. COVAX juga berharap ini mampu memulihkan ekonomi global dan mencegah kerugian global lebih lanjut. Kerugian ekonomi global saat ini mencapai US$375 Miliar setiap bulannya. Pada akhir Agustus 2020 telah bergabung 172 negara yang bekerja sama dengan COVAX, yang berarti COVAX akan mewadahi kebutuhan vaksin untuk 70% populasi dunia. Negara yang telah bergabung terdiri dari 80 negara berpendapatan tinggi dan 92 negara berpendapatan rendah dan menengah. COVAX AMC (Advanced Market Commitment) akan membantu 92 negara berpendapatan rendah dan menengah dengan

mensubsidi harga vaksin. Sumber dana yang digunakan adalah subsidi dengan negara berpendapatan tinggi dan donasi dari berbagai pihak seperti Serum Institute of India (SII), Bill and Melinda Gates Foundation, dan berbagai filantropis sebagai donatur pribadi. COVAX AMC menargetkan donasi sebesar US$2 Miliar untuk menyediakan lebih dari 200 Juta dosis vaksin dari AstraZeneca atau Novavax untuk negara berpendapatan rendah dan menengah dengan harga hanya US$3 per dosis. COVAX memiliki tujuan untuk mengirimkan 2 Miliar dosis vaksin yang telah teruji aman dan efektif ke seluruh negara yang telah bekerja sama dengan COVAX sebelum akhir tahun 2021. Vaksinasi yang dilakukan pada tahap awal akan memprioritaskan tenaga kesehatan dan lansia sebagai golongan yang paling rentan terhadap penularan Covid-19.


Beberapa Vaksin yang Masuk Indonesia

Teknologi dalam Pembuatan Vaksin Sinopharm dan Sinovac menggunakan teknologi lama yang telah kita kenal untuk membuat vaksin, yaitu dengan menggunakan virus inaktif. Teknologi ini telah digunakan sebelumnya pada vaksin polio, rabies, dan hepatitis A. Virus inaktif didapatkan dengan cara memaparkan virus dengan bahan kimiawi bernama beta-propiolactone dan menyebabkan virus tidak lagi mampu melakukan replikasi. Namun, protein virus masih dalam bentuk yang utuh. Vaksin ini menggabungkan virus inaktif dengan alumunium sebagai adjuvant yang berfungsi untuk menstimulasi sistem imun untuk meningkatkan respon imun terhadap protein virus tersebut.

Lain lagi dengan teknologi yang digunakan oleh vaksin yang dibuat oleh Biofarma dan Novavax. Kedua vaksin ini metode protein rekombinan. Vaksin protein rekombinan adalah vaksin berupa bagian protein atau polipetida yang imunogenik. Vaksin ini dibuat dengan kloning gen untuk mendapatkan produk protein yang diinginkan. Gen yang ingin diperbanyak disisipkan pada vektor DNA agar bisa masuk ke dalam inang dan mereplikasi gen yang diinginkan untuk menciptakan respon imun terhadap suatu penyakit. Teknologi dalam pembuatan vaksin yang baru, yaitu mRNA digunakan oleh Pfizer-BioNTech dan Moderna. Vaksin ini menggunakan

mRNA, yang merupakan material genetik yang dibaca sel tubuh kita untuk memproduksi protein. Molekul mRNA sangat rapuh dan akan langsung hancur oleh natural enzymes yang ada di tubuh kita jika langsung diinjeksikan begitu saja ke dalam tubuh manusia. Maka dari itu, untuk melindungi molekul mRNA, Pfizer dan Moderna melindungi mRNA dalam vaksin mereka menggunakan nanopartikel lipid. Karena rapuhnya molekul mRNA inilah, vaksin buatan Pfizer dan Moderna tidak tahan disuhu ruang. Vaksin buatan Pfizer harus disimpan disuhu -700C, sedangkan vaksin Moderna harus disimpan disuhu -200C untuk menjaga kualitasnya. [Nadia Faradiba]

3


Dentamedia tiap triwulan diterbitkan oleh Lembaga Studi Kesehatan Indonesia (LSKI) Yayasan Bale Cijulang sejak tahun 1997 ISSN 1410-4768 ALAMAT: Office & Beyond Building Jl. CImanuk 6 Bandung 40115, Kotak Pos 7785 Bandung 40122, TELEPON: 0896628366161, FAKS: (022)2502807, EMAIL: dentalmedia@gmail.com SITUS: www.dentamedia.id REKENING: Giro Pos 4000004815 a.n Lembaga Studi Kesehatan Indonesia (Penyetoran dapat dilakukan di kantor pos seluruh Indonesia) PEMIMPIN UMUM Kosterman Usri PEMIMPIN REDAKSI Messya Rachmani REDAKSI Fathin Vania Rahmadina, Nadia Faradiba KORESPONDEN Dhona Afriza (Padang), Ikhsan Dani Putra (Medan), Bertha Aulia (Palembang), Alfini Octavia (Yogyakarta), Ronny Baehaqi (Surabaya), Muhammad Andhyka Fitrianto (Malang), Putra Qodri Fath (Pontianak), Irma Chaerani Halim (Samarinda), Muhamad Ruslin (Makassar), Michael Andrea Leman (Manado), Anak Agung Istri Devi Wulandari Putra (Denpasar), Septia Indriasari (Mataram) DIREKTUR BISNIS Maryanne Susanti MANAJER PEMASARAN Joseph Gunawan MANAJER ACARA Dian Islamiyati KRU ACARA Mulia Ayu Hanifa, Varisati Nalina Vara, Sangga Tirakat, Muhammad Syahid Abdilah, Abigail Thanya Gracesheila, Andrian Fadhillah Ramadhan, Maya Adriati Pramestiningrum KEUANGAN Siti Kusdiarti DESAIN GRAFIS Benazir Amriza Dini, Irmayanti Meitrieka PRODUKSI Agus Sono TEKNOLOGI INFORMASI Anzarudin, Anggit Wirasto BIRO JAKARTA Sandy Pamadya (Kepala), Maya Mardiana, Affi Listriani, Ina Sarah Addawiah, Putu Ayu Pradnya BIRO SEMARANG Hayyu Failasufa (Kepala), Ade Ismail Berita/artikel/siaran pers/foto/surat pembaca/iklan/penawaran kerjasama untuk Dentamedia kirimkan ke e-mail ke dentamedia@gmail.com APABILA KEBERATAN DENGAN ISI DENTAMEDIA SILAHKAN KIRIMKAN HAK KOREKSI/JAWAB ANDA KE ALAMAT DENTAMEDIA

4


Bahasan

SIAPA DAPAT DIVAKSIN?

P

rogram vaksinasi Covid-19 di Indonesia akan dilakukan dalam empat tahap. Tahapan pertama akan dilaksanakan di bulan Januari - April 2021 dengan sasaran tenaga kesehatan, tenaga penunjang kesehatan, serta mahasiswa program profesi kedokteran dan kedokteran gigi yang bekerja pada fasilitas pelayanan Kesehatan. Pada program vaksinasi tahap pertama ini sebanyak 1,3 juta tenaga Kesehatan di 34 provinsi di Indonesia menjadi sasaran vaksinasi. Pada tahap selanjutnya, vaksinasi akan menyasar pada kelompok prioritas penerima vaksin yaitu petugas pelayan publik sebagai garda terdepan, seperti TNI, Polri, Satpol PP, petugas pelayan publik transportasi (petugas bandara, pelabuhan, kereta api, MRT, dll) termasuk tokoh masyarakat dan tokoh agama di seluruh Indonesia. Dalam webinar yang disiarkan pada akun youtube PB IDI, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, vaksinasi Covid-19 tahap pertama ini akan diprioritaskan kepada para tenaga kesehatan untuk memastikan bahwa mereka aman dari paparan virus ini. "Itu sebabnya kenapa pertama kali kita berikan kepada tenaga kesehatan� ujarnya. Vaksinasi ini juga diharapkan dapat menghentikan jumlah tenaga kesehatan yang gugur akibat terpapar Covid-19. Kriteria tenaga kesehatan yang menjadi sasaran penerima vaksin harus dalam kondisi sehat, pekerjaannya beresiko tinggi terhadap penularan Covid-19, tidak sedang hamil dan menyusui, tidak memiliki penyakit komorbid seperti penyakit autoimun. Dalam konferensi pers virtual 23 Januari 2021, Kementrian Kesehatan mencatat sebanyak 172.091 tenaga kesehatan telah mendaftar sebagai penerima vaksin per tanggal 23 Januari 2021. Namun 27.000 diantaranya batal vaksinasi dikarenakan kondisi kesehatan yang kurang baik, memiliki penyakit komorbid, tekanan darah yang tinggi,

telah menjadi penyintas Covid-19, atau sedang hamil dan menyusui. Gelombang pertama vaksinasi yang dimulai 14 Januari 2021 hingga akhir bulan Januari 2021 menargetkan 598.483 tenaga kesehatan. Namun, hingga 23 Januari 2021 pencapaian target baru mencapai 24,2% dengan total yang telah divaksinasi sebanyak 145.000 tenaga kesehatan. Bagi tenaga kesehatan yang belum terdaftar dalam vaksinasi Covid-19 di tahap pertama, kemungkinan akan terdaftar di kelompok penerima vaksin gelombang kedua.

Kementrian kesehatan juga menargetkan vaksinasi tercapai pada seluruh 1,47 juta tenaga kesehatan dan kelompok prioritas pada Feburari 2021 mendatang. Diharapkan seluruh tenaga Kesehatan dapat berpartisipasi dalam program vaksinasi, sehingga meminimalisir para tenaga Kesehatan Kembali gugur. [Kompas/ CNN.Messya Rachmani]

Pendataan bermasalah Kurangnya cakupan target tenaga kesehatan yang akan divaksinasi dipengaruhi dari carut marutnya data tenaga kesehatan di Kementrian Kesehatan dan sistem registrasi. Banyak tenaga kesehatan yang tidak terdaftar sebagai penerima vaksin dan kesulitan untuk mendaftar melalui website pedulilindungi.id pada saat masa registrasi awal. Kesulitan registrasi ini menjadi penerima vaksin yang berada di luar Pulau Jawa. Kendala ini akhirnya diatasi dengan pendataan penerima vaksin secara manual pada fasyankes. Hal ini dinilai lebih efisien dari sisi waktu, sehingga pada satu hari banyak tenaga kesehatan yang dapat divaksin. Kementrian kesehatan berupaya mengatasi kendala ini dengan mempermudah sistem registrasi. Caranya dengan memasukkan NIK pada sisten SISDMK (Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Kesehatan) melalui sistem primary care vaksinasi. Jika namanya terdaftar pada sistem, maka tenaga kesehatan dapat di vaksinasi.

5


Bahasan

JALAN PANJANG MENUJU

VAKSINASI

P

rogram vaksinasi Covid-19 di Indonesia sudah dimulai. Sosialisasi akan manfaat dan pentingnya vaksin terus digaungkan. Penyuntikan vaksin CoronaVac pada Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo pun ditayangkan di seluruh penjuru negeri sebagai contoh vaksinasi Covid-19 pertama di Indonesia. Selain Presiden RI, tenaga kesehatan termasuk dalam penerima vaksin pada gelombang pertama. Selanjutnya, program vaksinasi akan terus dilanjutkan hingga mencapai target yaitu 70% dari populasi di Indonesia. Hal ini diharapkan dapat membentuk herd immunity dan melindungi seluruh masyarakat, termasuk golongan yang tidak dapat menerima vaksinasi.

Penerima vaksin akan mendapatkan vaksin di Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang telah ditunjuk dan memenuhi syarat. Mengutip Keputusan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, pelayanan vaksinasi Covid-19 harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Protokol tersebut juga meliputi pengaturan ruangan, pengaturan waktu layanan, serta ketersediaan tenaga. Ruang pelayanan vaksinasi diharuskan cukup luas dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Selain itu, ruangan juga harus selalu didisinfeksi. Meja antar petugas harus berjarak 1-2 meter untuk memenuhi standar jarak aman. [Fathin Vania Rahmadina]

Cara berlangganan :

Cara pertama : 1. Snap QR Code dengan HP atau buka http://goo.gl/forms/aQy6CYBqGT 2. Isi data pembeli, klik submit / kirim 3. Lakukan pembayaran sebesar sesuai intruksi Cara kedua : 1. Transfer uang langganan (Rp. 100.000 per tahun) ke BCA No 2821430269 a.n. Siti Kusdiarti. 2. WA/SMS nama, alamat, tanggal transfer ke 08962836 6161 Biaya sudah termasuk ongkos kirim ke seluruh Indonesia

6

Alur Pelayanan Vaksinasi Covid-19 di Indonesia :


DOKTER GIGI DAPAT MENJADI VAKSINATOR COVID-19

“

Dokter gigi siap, bersedia, dan mampu untuk menyuntikan vaksin COVID-19 kepada Publik.� Ucap Tippett Whythe Presiden California Dental Association. Senin (4/1/2021), Departement of Consumer Affairs telah mengesahkan Public Health Emergency Waiver yang memperbolehkan dokter gigi menyuntikan vaksin COVID-19. Melalui emergency waiver ini, dokter gigi dapat melakukan tindakan di luar kompetensinya dalam keadaan darurat. Dokter gigi di California akan mendapatkan pelatihan yang akan diselenggarakan oleh Centers for Disease Control (CDC) sebe-

Berita lum dapat memberikan vaksin. California bukanlah negara bagian pertama yang memperbolehkan dokter gigi menyuntikan vaksin. Oregon merupakan negara bagian pertama yang memperbolehkan dokter gigi menyuntikan vaksin melalui House Bill 2220 yang disahkan oleh Gubernur Oregon, Kate Brown di tahun 2019. Di Negara Bagian Oregon, 100 orang dokter gigi, 200 mahasiswa dan staf kedokteran gigi Oregon Health & Science University telah diberikan sertifikasi untuk memberikan vaksin. OHSU memberikan sertifikasi kepada dokter gigi yang telah melalui pelatihan, serta Oregon Health Authority bertanggungjawab terhadap persyaratan tambahan. Selain itu, beberapa negara bagian di Amerika yang memperbolehkan dokter gigi menyuntikan vaksin adalah Alabama, Connecticut, Illinois, Maryland, Massachusetts, New Mexico, New York, Oklahoma, dan Washington. [CDC]

KEGAGALAN TES, LACAK, DAN ISOLASI

M

enteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengakui strategi testing yang dijalankan pemerintah selama ini untuk menangani pandemi virus corona (Covid-19) salah sasaran. "Testing tracing isolasinya ya ini. Kita tuh enggak disiplin. Cara testing-nya salah. Testing-nya banyak, tapi kok naik terus. Habisnya, yang dites orang kayak saya. Setiap kali mau ke Presiden dites. Barusan saya di-swab. Seminggu bisa lima kali swab karena masuk Istana," kata Budi dalam sebuah diskusi virtual yang ditayangkan kanal PRMN SuCi di Youtube, Rabu (20/1). Budi mengatakan seharusnya testing dalam masa pandemi tidak seperti itu. Testing, menurutnya, digencarkan kepada orang-orang

yang suspek. Diketahui, WHO menargetkan jumlah tes per minggu suatu wilayah adalah 1 banding 1.000 populasi. Dengan rasio tersebut, Indonesia harus menggelar 267 ribu tes setiap pekan. Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito sebelumnya menyebutkan jumlah tes Covid-19 yang dilakukan Indonesia telah melampaui target yang telah ditetapkan oleh WHO. "Pada tanggal 10 Januari 2021, jumlah orang yang diperiksa per minggunya sudah mencapai angka 290.764 orang atau sudah melebihi target WHO sebesar 107,69 persen," kata Wiku dalam keterangan pers daring di kanal Youtube Sekretariat Presiden, Selasa (19/1). [CNN. Foto : Detik].

Sekilas

ASOSIASI RSGM GANTI KETUA Pada Kongres VI ARSGMPI Terpilih sebagai Ketua Periode 2020-2023 Dr. Julita Hendrartini, drg., M.Kes. mengantikan Martha Juslily, drg., MBA. Julita Hendrartini saat ini adalah Direktur RSGM UGM Prof. Soedomo Yogyakarta, menamatkan pendidikan dokter gigi, magister kesehatan, dan terakhir lulus doktor dari Universitas Gadjah Mada. [Berita : Kosterman Usri, Foto : Kusuma Arbianti]

P3KGB DI VIRTUAL VENUE Kegiatan P3KGB dalam Pandemi Covid-19 kini dapat diikuti dalam dalam gedung pertemuan virtual dengan penjaga yang bisa diajak komunikasi melalui chat. Peserta menuju meja registrasi dan terdapat pintu ruang pertemuan. Peserta juga dapat berinteraksi pada stan pameran untuk untuk mendapatkan informasi produk, berkomunikasi melalui chatting dan vide, serta dapat juga langsung berbelanja dengan klik ikon chart. [Berita, Foto : PDGI]

JOKOWI LANTIK MENKES BARU Budi Gunadi Sadikin menjadi menteri Kesehatan pertama di Indonesia yang tidak memiliki latar belakang di bidang kesehatan. Presiden juga melantik Dante Saksono Harbuwono, dr., Sp. PD., Ph. D sebagai Wakil Menteri dalam susunan Kabinet Indonesia Maju, Rabu (23/12/2020) di Istana Negara, Jakarta Pusat. [Berita: CNBC Foto: Detik]

7


Berita

INOVASI MASA PANDEMI KARYA ANAK NEGERI Hembusan Nafas Sekelas Swab Test Untuk Deteksi Covid-19: GeNose

U

GM telah meluncurkan inovasi inovasi pertama di Indonesia untuk pendeteksian Covid-19 melalui hembusan nafas yang aplikasinya terhubung dengan sistem cloud computing untuk mendapatkan hasil diagnosis secara real time, yaitu “GeNose”. Alat ini mampu bekerja secara cepat dan akurat mendeteksi Volatile Organic Compound (VOC) yang terbentuk karena adanya infeksi Covid-19 yang keluar bersama nafas seseorang sehingga mampu mendeteksi dan mendiagnosis infeksi Covid-19.

Hebatnya, “GeNose” juga mampu bekerja secara paralel melalui proses diagnosis yang tersentral di dalam sistem sehingga validitas data dapat terjaga untuk semua alat yang terkoneksi. Data yang terkumpul di dalam sistem selanjutnya dapat dimanfaat-

kan untuk keperluan pemetaan, pelacakan dan pemantauan penyebaran pandemi secara aktual. GeNose telah mengantongi izin edar (KEMENKES RI AKD 20401022883) dan siap dipasarkan dan didistribusikan di lokasi yang membutuhkan contohnya,

bandara, stasiun kereta, termasuk di rumah sakit. Nantinya biaya tes dengan GeNose cukup terjangkau, yakni berkisar Rp15.000 - 25.000. Hasil tes juga sangat cepat yakni sekitar 2 menit serta tidak memerlukan reagen atau bahan kimia lainnya. [UGM]

Si CePAD, Rapid Test Antigen Pertama Buatan Anak Bangsa

S

i CePAD merupakan Alat Rapid Test Antigen besutan Universitas Padjadjaran (Unpad). Pada alat tes antigen ini, yang dideteksi bukan antibodi melainkan keberadaan virus, sama seperti tes PCR. Oleh sebab itu, pemeriksaan dilakukan di bagian nasofaring di mana virus banyak terdapat. Rapid test antigen memiliki keunggulan memberikan hasil lebih cepat dibandingkan tes PCR, yaitu hanya dalam 15 menit.

Alat ini memiliki sesnitifitas sebesar 85%, spesifisitas 83%, serta akurasi 84% yang lebih tinggi dibandingkan standar WHO, yaitu sebesar >80%. Selain dapat mendeteksi virus Corona, alat tes CePAD ini juga diklaim dapat mendeteksi

mutasi virus selagi bukan protein virus yang bermutasi. Sehingga, mutasi virus dari negara lain masih bisa terdeteksi dengan alat ini. Si CePAD dipasarkan dengan harga terjangkau, Rp 120.000 rupiah per buah dan penggunaannya

harus dilakukan oleh tenaga medis. Kapasitas produksi alat ini sebanyak 500 buah per bulan dan telah disebar ke seluruh daerah Provinsi Jawa Barat termasuk fasilitas kesehatan dan Labkesda. [Unpad]

Dentpro, Inovasi APD Dokter Gigi dari Telkom University

T

im dari Telkom University mengembangkan alat pelindung bagi dokter gigi bernama Dentist Protective atau Dentpro. Alat ini digarap selama empat bulan oleh mahasiswa dan dosen dari Fakultas Teknik Elektro serta Fakultas Industri Kreatif Telkom University.

Dentpro ditujukan bagi dokter gigi sebagai alat pelindung saat menjalankan praktik sehingga dokter gigi akan terhindar dari semburan aerosol dan droplets. Dentpro dilengkapi oleh mesin vakum aerosol dan droplets yang menggunakan HEPA Filter Sterilisasi Bakteri dan Sinar UV-C Sanitizer. Sistem vakum penyedot aerosol dan droplets ini dihubungkan langsung pada rongga mulut pasien saat dokter gigi melakukan pemeriksaan. Pada mesin vakum berdaya

8

sedot tinggi tersebut, terdapat jalur yang terhubung ke beberapa kotak di dalamnya. Kotak untuk sinar UV-C Sanitizer ada dua titik, lalu terhubung ke kotak Sinar UV-C Sanitizer kedua, dan HEPA Filter sebagai filter sterilisasi bakteri di ruangan. Dentpro telah melalui tahapan uji coba di Klinik Pratama Telkom University dan Telkom Medika dan mendapatkan dukungan yang baik dari perkumpulan dokter gigi di Universitas Airlangga Surabaya. [Tempo]


Berita

BENTURAN ETIKA DOKTER GIGI SELEBGRAM

C

epatnya laju perkembangan teknologi dan teknologi informasi membuat budaya terus bergerak dan mau tak mau profesi pun ikut terkena imbasnya. Kemudahan membagikan informasi melalui platform media sosial, seperti Instagram dan Youtube, membuat munculnya selebgram atau Youtuber dari berbagai kalangan, termasuk dokter gigi. Lantas bagaimana kode etik dokter gigi memandang kehadiran influencer dari kalangan dokter gigi? drg. Rio Suryantoro, Sp.KG merupakan praktisi yang sejak lama aktif membagikan membagikan berbagai kasus yang ia tangani melalui berbagai platform media sosial, mulai dari blog, Instagram, dan Youtube. Sejak tahun 2011 ia berpraktek, beliau selalu meminta informed consent tertulis dari pasien bahwa ia akan mendokumentasikan pekerjaan pada mulut pasiennya. Dalam webinar “Sosialisasi Kodekgi 2020: Ketika Ruang Media Sosial Dibatasi Etika. Dapatkah Dok-

ter Gigi menjadi Selebgram? Do’s & Don’t’s di Media Sosial” yang diselenggarakan oleh PB PDGI dan PDGI Jakarta Pusat, dijelaskan mengenai marwah profesi mulia dokter gigi di tengah perubahan budaya dan teknologi informasi. Dr. drg. RM Sri Hananto Seno, Sp.BM(K), MM menyampaikan bahwa di era keterbukaan dan kemajuan teknologi informasi seperti sekarang, sangat memengaruhi dokter gigi dalam menerapkan kompetensinya untuk merawat pasien. Hal inilah yang melatarbelakangi perlunya dokter gigi benar-benar memahami dan menerapkan kode etik dokter gigi. Bentuk unggahan di media sosial harus diolah dengan bijak dan dilengkapi dengan penjelasan yang informatif tanpa melanggar kode etik dan mengikuti International Guidance. Beberapa contoh pel-

anggaran kode etik, yaitu mempromosikan hasil pekerjaannya agar masyarakat tertarik datang ke tempat prakteknya, membandingkan pekerjaannya dengan sejawat, dan lain sebagainya. PB PDGI juga telah mengantisiapsi berbagai dampak negatif yang mungkin muncul dari fenomena sosial media dengan melakukan penyampaian materi etika melalui mahasiswa dan P3KGB. Dalam webinar ini juga disosialisasikan Buku Pedomen Etika Kedokteran Gigi 2020 yang lebih disederhanakan dan pembaharuan penjelasan pada pasal-pasal yang dianggap fundamental dari Kodekgi 2008. Sosialiasi yang disampaikan oleh Prof. drg. Mei Syafriadi, MDSc., PhD., Sp.PM. juga memaparkan bahwa pada dasarnya kode etik kedokteran gigi di Indonesia banyak mengacu kepada pedoman Principles of Ethics & Code of Professional Conduct milik American Dental Association. Selain itu juga dibahas mengenai aspek hukum, sanksi etik, dan hak memdapatkan pembelaan untuk dokter gigi serta alur kerja MKEKG dan BPPA dalam penegakan kode etik kedokteran gigi. [Nadia Faradiba]

Wawasan

PAINLESS PARKER, EKSTRAKSI GIGI DALAM KAMUFLASE SIRKUS

P

ainless Parker adalah salah satu dokter gigi paling terkenal di awal 1900-an. Dia menggunakan kecakapan memainkan pertunjukan sirkus untuk mendapatkan perhatian dan menyamarkan rasa sakit pasien. Menggunakan kalung 357 gigi yang ia cabut dalam sehari, topi tinggi dan mantel khas pemain sirkus, bermitra dengan William Beebe, dia menciptakan Parker Dental Circus, sebuah pertunjukan kedokteran gigi keliling dengan kursi gigi di atas kereta yang ditarik kuda pada tahun 1913. Parker akan membawa orang yang sudah ditentukan sebelumnya dan berpura-pura mencabut gigi geraham, kemudian menunjukkan

kepada penonton gigi yang sudah dicabut yang dia sembunyikan sebagai bukti bahwa ekstraksi sama sekali tidak menimbulkan rasa sakit. Selanjutnya, diiringi oleh band, manusia karet dan penari wanita, pasien sungguhan akan naik ke kursi untuk prosedur yang sama. Parker akan mengetuk kakinya di tanah untuk memberi tanda kepada band agar bermain lebih keras dan disaat yang sama mencabut gigi pasien. Suara band secara efektif menenggelamkan jeritan dan tangisan pasien yang diberi wiski atau larutan kokain yang dia sebut "hidrokain" untuk mematikan rasa sakit. Dia menagih 50 sen untuk setiap ekstraksi dan berjanji bahwa jika sak-

it, dia akan membayar pasien $ 5. Ketika Parker pindah ke California, banyak pasien yang merasa tertipu. Rekan sejawatnya juga membenci Parker. American Dental Association bahkan menyebutnya sebagai "ancaman terhadap martabat profesi". [BBC]

9


Kisah

PETAKA MASKER PALSU Oleh : Mukhammad Andyka Fitrianto Samodra Putra

Saya seorang dokter gigi kontrak di sebuah Puskesmas di Kabupaten Malang. Seperti praktik dokter gigi lain, sejak Covid-19 mulai mewabah di Indonesia Maret 2020 silam, pelayanan yang saya lakukan di puskesmas tidak bisa berjalan seperti biasa. Berbagai kesulitan dan keterbatasan kami hadapi, termasuk langkanya APD di awal masa pandemi. Kelangkaan ini bahkan membuat kami pernah mendapat stok N95 palsu yang jauh dari kata layak. November lalu, saya mendapat kabar bahwa seorang rekan kerja didiagnosis positif Covid-19, dan setiap orang yang kontak erat harus menjalani pemeriksaan, termasuk saya. Malang tak dapat ditolak, seluruh keluarga saya juga terkondirmasi positif Covid-19, hanya satu keponakan saya yang berusia 12 tahun dinyatakan negatif. Rasa bersalah yang dalam menyelimuti hati saya, karena saya sadar saya yang membawa virus ini ke rumah. Setelah 14 hari isolasi mandiri, gejala yang kami rasakan akhirnya hilang dan tim dokter puskesmas menyatakan kami telah sembuh

Seketat apapun protokol kesehatan yang kita lakukan, tidak ada jaminan kita terbebas dari virus ini. Kita tidak pernah tahu di mana dan kapan virus ini menyerang kita. Namun sebagai manusia, kita wajib berusaha. Mematuhi protokol kesehatan dan menjauhi kerumunan harus menjadi prioritas.

Tajuk

G A N T I P E M A I N M E L AWA N PA N D E M I Oleh : Fathin Vania Rahmadina

R

10

eshuffle kabinet pada 22 Desember 2020 silam, ramai diperbincangkan karena Menteri Kesehatan yang sebelumnya dijabat oleh Terawan Agus Putranto, kini diisi oleh nama baru yang bukan berasal dari kalangan tenaga medis. Budi Gunadi Sadikin, adalah nama yang dipercaya memimpin Kemeterian Kesehatan saat ini. Berlatar belakang pendidikan di bidang Fisika Nuklir dari Institut Teknologi Bandung. Budi sempat ditarik menjadi Staf Khusus Menteri BUMN, dan Wakil Menteri BUMN. Latar belakang Budi tak satu pun bersinggungan dengan bidang kesehatan. Hal ini menimbulkan keraguan pada banyak kalangan akan kemampuannya memimpin Kementerian Kesehatan. Bersamaan dengan pelantikan Budi sebagai Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, seorang dokter spesialis penyakit dan ahli molekuler diabetes, ditunjuk untuk mendampingi Budi sebagai

Wakil Menteri Kesehatan. Kombinasi ini diharapkan dapat menyeimbangkan keahlian manajerial Budi. Selama pandemi, rakyat Indonesia merindukan sosok yang dapat menjelaskan permasalahan kompleks yang sedang kita hadapi bersama dan dapat memberi ketenangan bahwa saat ini negara sedang berupaya melindungi rakyatnya. Budi hadir sebagai sosok yang diharapkan rakyat Indonesia. Penjelasannya yang mudah dimengerti dan masuk akal, berhasil memenangkan hati rakyat Indonesia. Kemampuannya dalam mengakui batasan diri, anjurannya untuk bertanya pada ahli, dan bahasanya yang ilmiah, membuat kepercayaan kalangan medis tumbuh padanya. Budi mungkin bukan seorang dokter, namun masyarakat dapat melihat bahwa Budi mau belajar. Sejauh ini, Budi mau mendengarkan pendapat ahli. Budi tak memberikan keterangan nyeleneh yang menimbulkan tanya. Kehadiran

Budi dianggap bagai angin segar. Memimpin Kementerian Kesehatan bukan hal yang mudah. Perlu kemampuan manajerial yang sangat baik, dan pemahaman kondisi lapangan yang mumpuni. Budi dan Dante berhasil berpadu dengan baik. Kepercayaan rakyat terhadap pemerintah sedikit demi sedikit kembali pulih. Namun, PR Budi masih banyak. Permasalahan kesehatan di Indonesia bukan hanya pandemi Covid-19. Tanggung jawab Budi tak berhenti sampai vaksin selesai didistribusi. Perjalanan Budi dan Dante belum segera akan berhenti. Permasalahan kesehatan masyarakat, kesejahteraan tenaga kesehatan, penyakit menular, BPJS, dan lainnya masih mengantre untuk Budi dan Dante selesaikan. Kita semua tentu berharap, Budi dan Dante dapat mengukir sejarah baik dalam masa kepemimpinannya sebagai Menteri dan Wakil Menteri Kesehatan Indonesia di masa yang sulit ini.


Opini

VAKSINASI COVID-19 DAN KISRUHNYA DATA KITA

D

Oleh : Kosterman Usri Penulis merupakan seorang Dokter Gigi di Bandung

i sebuah Kanal Youtube, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut sudah kapok menggunakan data Kementerian Kesehatan. Beliau mengatakan akan menggunakan data Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai basis data Vaksinasi Covid-19. Penyataan ini membuktikan bahwa desas-desus kekisruhan data penerima Vaksinasi Covid-19 adalah benar adanya. Tanda-tanda kekisruhan mulai muncul saat sebagian tenaga kesehatan termasuk dokter gigi menerima pemberitahuan Vaksinasi Covid-19 melalui SMS di awal tahun 2021, sementara sebagian lagi tidak. Kemudian muncul pemberitahan agar mengecek namanya di aplikasi pedulilindungi.id. Pengecekan di aplikasi ini hasilnya beragam, ada yang mendapat SMS dan namanya terdaftar, ada yang menerima SMS tapi namanya tidak terdaftar, ada yang tidak menerima SMS namanya tidak terdaftar, serta ada yang tidak menerima SMS dan namanya tidak terdaftar. Kemudian di media sosial beredar “pendataan tenaga kersehatan yang belum terdaftar� tidak hanya satu pendataan. Ada formulir pendataan dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia, kemudian ada formulir SIS SDMK Dokter Gigi, pendataan lewat WA dengan tautan bit.ly/vaksincovidRI, dipersilahkan tulis kode USSD *199#, ada pula intruksi untuk

telepon ke 119 ext 9. Akhirnya Juru Bicara Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan tidak ada lagi SMS blast, tenaga kesehatan yang sudah terdaftar dalam sistem PPSDM Kemenkes akan otomatis memiliki tiket elektronik untuk vaksinasi. Dari semua kesimpang-siuran tersebut, faktanya sampai saat artikel ini ditulis, masih ada dokter gigi yang belum atau setidaknya tidak mengetahui apakah dirinya terdaftar atau tidak sebagai tenaga kesehatan penerima vaksinasi. Sebenarnya berapa jumlah dokter gigi di Indonesia? Sebuah pertanyaan penting untuk dapat menyusun daftar penerima vaksinasi. Jawaban pertanyaan ini beragam, tergantung data siapa yang dilihat. Menurut data Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan (PPSDM) yang katanya akan dirujuk datanya, jumlah dokter gigi 16.559 orang; data ini juga yang tersaji di Biro Pusat Statistik (BPS). Di website Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) jumlah dokter gigi adalah 36.171 orang, menurut Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) 35.476 dokter gigi dengan Surat Tanda Registrasi (STR) aktif. Kisruh data sepertinya telah menjadi masalah yang belum terpecahkan Pemerintah Indonesia, walaupun hampir semua pihak sudah tahu jalan keluarnya, yaitu Indonesia harus memiliki National Single Data

atau Data Tunggal Nasional. Jalan ke arah itu sudah dijalankan selama ini, namun lagi-lagi yang melakukannya tidak hanya satu pihak, akhirnya banyak versi data tunggal. Kementerian Dalam Negeri menyatakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dengan data didalamnya sebagai Single Indentity Number, Biro Pusat Statistik menyatakan hasil sensus penduduk merupakan pembentuk Data Tunggal Nasional, ada Satu Data yang dikelola Kementerian PPN/Bapennas, serta Indonesia National Single Window yang merupakan integrasi data 18 instansi. Akhirnya Data Tunggal Nasional tetap belum ada sampai saat ini. Kembali ke data tenaga kesehatan penerima vaksinasi, sebenarnya bila melihat tugas pokok dan fungsi aneka lembaga yang paling pas diminta data tenaga kesehatan adalah Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) untuk data dokter dan Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia (KTKI) untuk data tenaga kesehatan. Kedua lembaga tersebut berfungsi sebagai registrat dengan pembaharuan data yang dilakukan rutin oleh dokter dan tenaga kesehatan tiap lima tahun sekali sehingga tingkat keakuratan datanya akan cukup baik. Tidak ada informasi apakah data dari kedua lembaga tersebut memang digunakan atau tidak, tetapi bila digunakan sepertinya kekisruhan data tidak akan banyak terjadi.

PARTISIPASI OPINI

Kirimkan ke email : dentamedia@gmail.com dengan judul OPINI. (artikel opini maksimal terdiri dari 500 kata) sertakan nama, alamat lengkap, dan nomor telepon.


Profile for Dentamedia

Dentamedia Volume 25 Nomor 1  

Dentamedia Volume 25 Nomor 1  

Advertisement