Page 1

Bundel Ejakulasi Catatan-catatan gak penting yang dipungut lagi biar berasa penting

Ditulis dan disusun saat otak dan otot lagi ngangguroleh Anugrah


Bundel Ejakulasi Oleh Anugrah Maret 2015 Dapat diunduh di http://manganugrah.wordpress.com Tidak dibatasi Hak-Cipta – Bebas unduh, bebas disebar, bebas diacak-acak, kumaha sia we lah Email: mang.anugrah@hotmail.com

1


Mukadimmah Tulisan-tulisan ini saya pungut setelah berahasil mengubek-ubek dokumen tulisan-tulisan lama saya. Terkumpullah 23 tulisan dengan tema yang sama: Rumah Belajar Sahabat Anak Jalanan. Sebenarya masih banyak tulisan dengan tema seperti itu berserakan dalam map tulisantulisan lama saya, tapi saya terlalu pengecut untuk menampilkannya disini karena tulisan-tulisan itu saya nilai terlalu alay dan buruk sekali. Hehe. Tulisan-tulisan ini pun tak luput dari kesan norak, dan berlebihlebihan.Tapi, setelah saya uji di laboratorium pribadi saya, tulisan-tulisan yang ada disini tak terlalu buruk. Jika yang membacanya muntah-muntah, maka muntahnya ga akan terlalu banyak. Begitu kira-kira. Ini mah sebenernya kumpulan curhat aku aja sih. Ada tulisan pengalaman aku bergabung bersama Rubel untuk pertama kali, ada tentang gimana relawan-relawan disana yang baik hati, anak-anak yang lucu-lucu, serta gimana sompralnya aku nge-diss tulisan Teh Ipit dengan tulisan yang aduh anjir malu-maluin. Sebagian besar ditulis karena menyangkut momen-momen yang aku pikir itu adalah sangat monumental dalam perjalananku bersama Rumah Belajar itu.Selebihnya, ditujukan untuk alasan nostalgia saja. Jabat erat, peluk hangat, dan cium manja,

Bandung Barat, Maret 2015.

Anugrah

2


3


Pokoknya Saya Mau Bercerita 18 Januari 2011 Banyak sekali kejutan yang terjadi pada diri saya, naon cing?salah satunya, saya jadi relawan di Rumah Belajar Cimahi. Gak pernah kepikiran lah saya jadi relawan.. (relawan? gak salah? kapan ngajarnya?) Kalo gak diajakin si Fajar, saya gak bakalan tahu ada rumah belajar yang menampung anak jalanan di cimahi.. Jadi gini nih (flash back!!) Waktu itu hari sabtu, saya lupa tanggalnya.Pokoknya waktu itu sedang berlangsungnya acara Djamoe, acara yang dibikin oleh mahasiswa seni rupa. Saya sama Fahmy menghadiri acara Djamoe itu, kami hadir karena kami ingin melihat penampilan band teman kami, Joe The Plumber. Sungguh disayangkan kami telat, sehingga Joe The Plumber ternyata sudah selesai manggung sebelum kami datang. Ya sudahlah ga apaapa, toh saya masih menunggu satu band yang memang ingin saya lihat ketimbang Joe The Plumber. Band rock n‘ roll yang bernama d‘Bandidas. Setelah puas nonton aksi panggung d‘Bandidas, datanglah sms dari kamerad saya, Fajar ar-rocketrase, yang isinya ngajak saya untuk ngajar anak jalanan di stasiun cimahi.Langsung saja saya balas dengan meng-iya-kan ajakannya.gak ada motivasi apaapa, (ada deng.. mengubah dunia menjadi lebih baik -alah.. lebay pisan si aing ini) cuma ingin saja, karena saya emang gini dari dulu ―kulakukan jika membuatku senang, dan kuhentikan jika bisa membunuh‖ (endank soekamti). Dan saya akan mendapat kesenangan baru jika bisa bercengkrama dengan anak jalanan (oh shit! can I? Of course I can, I’m still a volunteer in rubel). Dan setelah membalas sms Fajar, saya menemani Fahmy yang akan makan siang bareng wanitah idamannya (sebenernya lebih tepat diebut makan sore). Saya heran, kenapa Fahmy harus ngajakin saya ya?bukannya kalau berdua lebih asik? Dan saya juga khawatir kalau saya bakalan jadi kambing conge nantinya. Makan siang pun dimulai, kubiarkan saja si Fahmy ngobrol dengan wanitahnya.Setelah saya menghabiskan sepiring nasi goreng, kubakar satu linting tembakau.Mencoba menyamankan diri dari kedua insan yang sedang dinaungi kabut cinta itu. Dan ternyata wanitah si Fahmy orangnya supel, dan saya pun berbincang dengannya, membuat kekhawatiran saya akan jadi kambing conge pun sirna. (nanaonan aing nyaritakeun ieu? hahaha, nostalgia ya Fahmy? hahaha) Setelah beres itu acara makan-makanan, saya langsung minta ijin pamit mau ketemuan sama si Fajar. Saya pun pergi bersama motor kesayangan saya si ―belalang tempur‖ dan Fahmy nganterin pulang wanitah idamannya. Lebih kurang jam 5 sore, saya sampai di depan toko kue ―merdeka‖, tempat yang saya dan Fajar tentukan untuk ketemuan. Nungguin si Fajar lamanya minta ampun, katanya dia kejebak macet di pasteur. Lebih kurang jam 5.30 si Fajar dateng juga. Salaman bentar, langsung dia ngajak saya ke stasiun cimahi.Dan saya masih ingat betul kata-kata si Fajar waktu ngajak pergi ―Hayu nu, da geus beres ngajarna mah. Urang

4


ngobrol-ngobrol we diditu‖ (geblek nih si Fajar, katanya mau ngajakin ngajar anak jalanan). Berangkatlah kami dengan Fajar melaju terlebih dahulu sebagai penunjuk arah. Setibanya kami di rubel, kami langsung diserbu para anak jalanan yang waktu itu saya belum tau nama mereka. Bersalaman dan berkenalan.Saya pun berkenalan dengan seorang relawan bernama Abi, pertemuan pertama dan terakhir, karna setelah itu saya ga pernah liat dia lagi.Masih kuingat saat para anak-anak itu bernyanyi, saya yang baru masuk ke dalam ruang belajar langsung disambut oleh nyanyian mereka. (entah kebetulan atau emang niat nyambut saya, hahaha). Kulihat pula dua wanitah berkerudung yang nantinya saya tahu nama mereka Kak Santi dan Kak Dewi. Canggung, memang itu yang saya rasakan.Namanya juga baru pertama kali. Setelah shalat magrib, para relawan duduk di rel kereta depan rubel. Katanya mau rapat, ada masalah ―si babeh‖. Saya gak ngerti ada masalah apa, lha wong saya baru dateng kok disuguhin masalah, suguhin makanan kek. Di saat para relawan membicarakan tentang si babeh, karena saya kagak ngarti, saya ambil sahabat saya dari saku celana saya, ya, rokok kretek.Kuhisaplah rokok itu dan membiarkan para relawan ngobrolin si bebeh.Sampai sekarang juga saya masih samar-samar tentang si babeh itu. Gak lama setelah itu kami pulang, saya dan Fajar singgah sebentar di halte bus jalan sriwajaya.Berdiskusi sebentar, membakar rokok untuk perjalanan pulang. — Sakitu wae meuruen nya carita ti sim kuring tentang pertama kali mengenal Rumah Belajar Cimahi. Terimkasih ya Fajar..telah smsin saya untuk jadi relawan. Terimakasih juga untuk para relawan yang lain. Teh Ipit, teh Santi, Dewi, Alimin, Fahmy, Ridwan (Wan, kamana wae maneh?), Kang Ramdan, Nunik, dik Noer, Retno, Ira, Annisa dan Arya. Terimakasih juga untuk anak-anak penghuni Rubel.Mun eweuh mararaneh moal aya rubel, moal aya carita anyar di kahirupan aing.Tengkyuu all. Oiya..satu lagi nih. Sebelum si Fahmy jadi relawan, relawan yang merokok cuma saya. Aselina kasiksa..gak ada temen yang menemani saat menghisap rokok. Sendirian..di rel.

Rabu dan Sabtu 15 Agustus 2011 Sudah lama tidak nulis panjang.Sekarang aku ingin nulis panjang karena sedang rindu.Semoga Tuhan bersama orang-orang yang tidak malu mengatakan rindunya. Sudah beberapa bulan atau mungkin sudah menginjak usia tahun. Aku tidak bertemu si Rabu dan si Sabtu yang hangat.Yah, hangat karena memang ada yang menghangatkan.Tidak penuh sih hari yang disebut Rabu dan Sabtu kugauli.Hanya sore hari disaat ashar sampai selewat isya.Senja oranye disela-selanya sudah jarang mataku memandangnya.

5


Aku sudah kepalang rindu dan tidak tahu harus berbuat apa untuk mengatasi rindu ini. Rabu dan Sabtu itu sudah tidak ada.Hilang.Aku menunggu mereka datang.Tak kunjung datang. Ah. Rest In Peace saja lah‌ Orang-orang yang pernah segaris waktu denganku tiga tahun belakangan ini pasti mengerti Rabu dan Sabtu mana yang aku maksud.Yang aku rindukan.Dan semoga saja mereka juga begitu. Aku juga tidak mengerti apa yang sedang terjadi ketika Rabu dan Sabtu ini hilang. Entah mereka pergi ataukah aku yang diam ditempat.Ehm, kemungkinannya sepertinya aku yang diam saja di rumah itu.Aku yang tidak mau pergi mencari dunia baru. Aku yang aku tidak bisa pindah ke lain hati. Aku yang terlanjur jatuh hati.Aku yang terlalu hiperbola. Aih.. Asa yang pudar dalam benakku mulai kukubur pelan-pelan.Ditutupi.Malas mencari.Malas menunggu.Biarkan saja semua bergoyang dan berdendang ikuti irama dunia. Aku bersama yang lain, yang masih satu garis waktu, yang masih bisa kupandang tanpa halangan, yang masih bisa kusentuh, yang masih bisa kupinta dan kuberi, berjalan pelan lambat santai. Sederhana apa yang dimaksud itu aku belum mengerti. Aku hanya ingin berkarya, bereproduksi. Lagi‌

littlepipit Diss 26 Agustus 2011 Aku berbicara atas nama kalian, para serdadu nakal, teman setia penuang anggur kedamaian, guru kehidupan. Tak akan pernah sudi aku mendengar kata-kata miring atas kalian. Denting dawai gitar yang kalian mainkan akan tetap mengiringi langkahku sampai mati. Kalian hebat kawan!! Biarlah orang bilang kalian hanya meraup keuntungan dari panggung yang kalian naiki. Aku tahu apa yang ada di hati setiap diri yang dengan ikhlas menghadiri undangan beramplop cuman 15 rebu perak. Kalian tinggalkan itu yang namanya jalanan tempat kalian meraup harta karun yang lebih banyak dari panggungpanggung megah itu. Tahukah kalian jika kalian telah berkorban untuk kami? Untuk menyelamatkan muka-muka kami? muka-muka sok relawan kami? Aku perlu berteriak saat ini: MEREKA TIDAK INGIN MENJADI PENGEMIS NAJIS YANG MEMINTA-MINTA PADA ORANG-ORANG YANG MENGUNDANG DAN MEMANFAATKAN MEREKA. Mereka hanya ingin dihargai layaknya kami, layaknya kita yang berpenampilan necis. Karena mereka bukan mesin penghibur. Mereka bukan penari telanjang di klub

6


malam! Mereka bukan perek tegalega yang dikasih 5000 perak garansi kondom bekas langsung ngangkang. Mereka bukan file mp3 bajakan yang diunduh dari internet. Salah satu dari mereka pernah berkata padaku di lorong masjid Al-Furqon: “Kak, urang mah teu melulu ngaharapkeun duit. Duit mah bisa diteang lamun urang ngamen. Ngan, urang mah ngan hayang dihargaan hungkul. Anak jalanan juga punya harga diri. Karunya barudak nu geus jauh-jauh datang lamun teu dihargaan mah.” Aku dan beberapa relawan jelas sadar atas keadaan mereka. Mereka lelah, capek, laleleus. Iyalah.. emangna indit-inditan unggal poe teu leleus? nya keur puasa deui! Hingga akhirnya mereka meminta untuk tidak tampil di salah satu acara yang dibikin mahasiswa. Meskipun mereka bilang mereka capek, tapi apa yang aku temukan saat aku akan mengabarkan jikalau mereka memang tak akan ditampilkan untuk acara itu adalah mereka tetap siap-siap untuk berangkat kalau-kalau mereka memang harus berangkat. Itulah pengorbanan mereka! Dan ketika saya kabarkan kalau mereka memang tidak harus berangkat, mereka hanya bilang ―Oh, ya udah kak, ga apa-apa‖ Sebelumnya salah satu anak pernah mengusulkan ide padaku: “Nya enggeus we kak, lamun barudak cararape mah urang we sorangan nu tampil. Lamun aya duitna da ku urang ge moal dihakan sorangan. Pasti ku urang bagikeun ka barudak” — Kehidupan mereka saat ini memang sedang makmur. Rejeki datang dari manamana. Apa itu membuat mereka jadi lupa daratan? Tidak!! Aku tetap melihat mereka seperti mereka yang dulu, yang lugu, yang tak meminta berlebihan pada setiap relawan yang datang. Apakah mereka masih tetap bertanya akan 10 juta yang mereka dapatkan? gak kan? apakah mereka meminta yang aneh-aneh? gak kan? Mereka tetap menghormati pada para relawan. Itu yang saya rasakan.

7


Kepada warga gimana? Tanyakeun we ka warga, aya masalah teu jeung warga? Sanyaho aing mah eweuh, bahkan si ibu warung mere baju ka barudak. Apakah mereka jadi tidak bersyukur? Mereka tetap bersyukur!!! Alhamduilillah selalu terucap dari mulut mereka. Apa sih wujud syukur yang kamu harapkan? Teu ngarti aing mah!! Apakah mereka harus manggung tiap hari tanpa bayaran? dengan mengorbankan aktivitas ngamen mereka? Rek meunang duit timana atuh!!! Rek dahar make naon atuh!! Emangna selalu aya nu daek mere rokok jeung kopi unggal poe? — Lanjut……… Iyeu deui.. nyinggung-nyinggung henpon. Emang kunaon lamun barudak boga henpon? toh itu henpon hasil keringat mereka sendiri. Malah saya mah seneng liat barudak punya henpon, saya dan barudak jadi bisa komunikasi jarak jauh. — Lanjut……… Teman-teman relawan, kita TIDAK gagal. Sadarkah kalau lem yang mereka hisap berkurang? hah? gak sadar? makanya perhatiin! Hah? pengennya mereka langsung berhenti total? Emangnya gampang!! Butuh proses coyyy. Saya aja yang ingin berhenti merokok susah sekali, apalagi yang mau berhenti ngelem. Kita harus ekstra sabar untuk membuat mereka melupakan lem. Mau tau gimana caranya menjadi orang sabar? coba deh tanya mimih atau babeh, tanya juga a adi tuh (sssttt mereka relawan juga loh. And I think, they’re the real volunteers) Sadarkah kalau mereka jadi rajin mandi? Sadarkah kalau mereka berusaha untuk berpuasa di bulan ramadhan ini? Tahukah kalau Andri geboy asal purwakarta lagi senang belajar IPS? Tahukah kalau Iwan ingin jadi mahasiswa?

8


Tahukah kalau Bayu ingin bisa berbahasa inggris? Dan tahukah kalau dia mulai bisa menangkap wejangan dari babeh dan a adi? Apakah kita akan berhenti di tengah jalan? Apakah kita akan meninggalkan teman-teman kita ini selagi teman-teman kita ini berharap banyak pada kita? SABAR COYYYY!!! KITA BERJALAN BERSAMA. BUKANKAH KITA INI KELUARGA YANG MENGHUNI SATU ATAP? Jangan lupa kalu kita punya teman. Teman selalu bisa diandalkan. Makanya ngobrol‌ santai we da moal digegel. — Oiya, setau saya barudak gak pernah diajak berdiskusi tentang acara yang akan mereka ikuti. Gak pernah ditanya mau apa enggak tampil disini? mau apa enggak datang ke sini? yang ada malah para relawan langsung memutuskan barudak harus tampil di sini, datang kesini. pernah gak kayak gini nih (kalu pernah.. ohhh sorry, berarti saya yang goblok): contoh percakapan imajiner kakak relawan dan barudak kakak: barudak, mau gak tampil/datang ke/di sini? jawaban barudak: -kemungkinan 1: mau kak!! -kemungkinan 2: enggak ah kak!! jawaban kakak atas kemungkinan 1: okey, besok kita ngumpul jam blablabla di blablabla, nanti disana kalian blablabla, dapet blablabla. Pokoknya asik dehhh!! jawaban2 kakak atas kemungkinan 2: 1. ahhh yang bener?? masa sih gak mau ikut? nanti disana ada blablabla lohhh, dapet blablabla lohh 2. ohh ya udah tanggapan barudak untuk jawaban kakak atas keumngkinan 1: siap grak!!! tanggapan barudak untuk jawaban kakak atas keumngkinan 2 nomor 1: 1. wah iya kak?? asiok dong!! hayu ah berangkat!! 2. tetep gak mau kak

9


tanggapan barudak untuk jawaban kakak atas keumngkinan 2 nomor 2: okey Saya mah pengen bilang kalau barudak juga harus dilibatkan dalam menentukan acaraacara rumah belajar tercinta ini, apanan cenah demokrasi, ya kan mahasiswa? hahaha — haaaahhh, saya nulis ini sembari masih nafsu. Astagfirullah.. maafkan bila ada kata-kata yang tidak berkenan silahkan tinggalkan komentar, mau mencaci maki juga boleh mau musuhin saya juga boleh.. bebaskan saja. saya hanya ingin kita benar-benar bersatu sebagai tim yang kokoh, sebagai keluarga yang sejahtera sentausa. Biar ga ada curiga dan buruk sangka di antara kita (makanya…. hayukita ngobrol!! ngobrol santai lahhh, sambil minum kopi) — nih ahh, saya kasih liriknya fajar ar-rocketrase yang cocok jadi soundtrack dalam episode ini: BERJALANLAH DAN TERUSLAH MELANGKAH JANGAN PERNAH ADA KATA MENYERAH BILA KAKI TLAH LELAH, SEJENAK BERISTIRAHATLAH LALU BANGKIT KEMBALI TUK TERUS MELANGKAH

Tiga L 20 September 2011 Lagu terakhir yang sempat di rekam oleh aku dan Fahmy di Rubel Cimahi, menggunakan laptop hasil minjam dari adik aku. Begini liriknya: (Naon judulna ieu teh?) Hei kawan-kawan saudara-saudari yang ada di sini (ooooooo) Lagu ini didedikasikan untuk saudaraku yang bernama ****** Hidupnya dipenuhi oleh prinsip yang tak berarti (Anjing! waduk pisan eta mah, teu baleg si fahmy ah) Prinsipnya itu sangat simpel yaitu tiga L

10


Tiga L, tiga L, tiga L (naon wae tah tiga L teh?) L yang pertama ooo ooo Luntang-linting, luntang-linting, luntang-linting yeeeee L nu kadua (eta L nu kadua) Luntang-lantung, luntang-lantung, luntang-lantung Hirupna luntang-lantung, kaditu-kadieu eweuh gawe Ka Lembang ka Cimahi bulak-balik Nganterkeun si Deni ejeung si Sandi (ooooo jam 12 peuting) Yo, L nu katilu naon? L nu katilu leuwih parah saudara-saudari kawan semua (ooo yeaaah) Nyaeta. Luca-loco Eta luca-loca teu meunang di (luca-loco) Luca-loco beak sabun di WC Sabun Harmoni (sabun harmoni) nu seungit tea beak sakali pake Luca-loco, luca-loco, luca-loco Eta Luca-loco Sakali deui ah tilu L na naon wae? L nu kahiji nyaeta Luntang-linting, luntang-linting, Garpit, Super, Bintang Buana Luntang-lantung, luntang-lantung oooo Hirupna luntang-lantung Luntang-lantung, luntang-lantung oooo Cimahi-Lembang, Cimahi-Lembang Nu ka terakhir yu naon kawan-kawan? Luca-loco, luca-loco, luca-loco beurang-peuting, beurang-peuting luca-loco (luca-loco) Luca-loco, luca-loco Don’t try this at home!

Musik Kami 25 Januari 2012

11


Menjelang maghrib tadi, aku mengunjungi rumah belajar dengan mengendarai sepeda motor milik adik ku. Di perjalanan aku berdendang lagu berjudul ―Bebaskan‖ karya Marjinal. Lagu itu menggali memoriku pada sosok anak jalanan yang sering dipanggil Ade Dekil. Ade Dekil yang memang dekil adalah sosok manusia dengan cita rasa seni yang cukup tinggi. Tidak sedikit puisi yang dia buat. Untuk seukuran anak jalanan tukang ngisep lem aibon, Ade Dekil termasuk orang jenius. Rangkaian kata dengan emosi anarkis hasil didikan Fajar Ar-Rocketrase berhasil membuat para relawan disana cukup merasa kehilangan ketika dia lama meninggalkan rumah belajar. Aku yang baru saja pulang dari masjid langsung dicolek oleh Ade ketika aku sampai di depan pintu

rumah

Sedikit

penuh

terkejut

sosoknya.

Dia

kasih

aku pun

itu.

melihat

mengambil

gitar, memainkan beberapa lagu punkrock yang sering dinyanyikan oleh

para

pengamen

jalanan.

Sesekali dia menghisap lem diselasela permainan gitarnya. Rasa rindu bermusik bersama Ade, aku lampiaskan dengan bernyanyi

bersamanya. Musik punkrock yang dibalut nada keroncong ditambah

permainan perkusi hasil olahan pipa paralon dan karet ban bekas yang dimainkan Kojen. Berbaur riuh dengan koor vokal aku, Iwan, Andri, dan para serdadu jalanan yang lain. Permainan para pengamen jalanan ini memang tidak bisa dibandingkan dengan kehebatan Slash yang bermain untuk Gun n‘ Roses, atau dentuman drum ala Travis Barker. Tapi ada satu hal yang membuat permainan mereka enak didengar oleh telingaku, jujur. Ya, kejujuran dalam bermusik menjadi kunci utama mereka dalam mengolah nada dan kata. Tanpa polesan elektrik atau software canggih, tanpa metronom, tanpa backsound yang sering dipakai penyanyi bermain lipsync di panggung Dahsyat. Mereka bermain degan gitar, ukulele dan bongo. Suara vokal mereka tidak sebagus Budi Do Re Mi atau Gamaliel Tapiheru, tapi semangat mereka dalam mencari kesengangn dalam bermain musik boleh disejajarkan dengan Rhoma Irama yang membawa dangdut pada distorsi ala musik rock, atau Beethoven yang sedang menuliskan partitur nada. Lirik cabul tidak menjadi masalah, asalkan senang sentausa. Daripada bermusik dengan lirik indah atas dasar ingin diterima pasar. Kejujuran bermusik ini menjadi sebuah alat untuk mengais kebahagiaan. Senyum dan tawa indah kala bernyanyi, suara lepas mau sumbang pun tidak masalah. Asalkan gembira!

12


Terimakasih, Kamerad! 05 Februari 2012 Sudah cukup lama aku tidak menulis di diary digital ini. Hmm, aku memang orang yang sangat tidak suka diatur. Maka, aku menulis untuk kesenangan saja. Bukan untuk mencari apa-apa. Apalagi untuk dikejar deadline, tidak sama sekali. Rasanya beda ketika aku menulis sekenanya, seenaknya. Dengan sangat mudah kata-kata mengalir dari sudut pena atau dari hasil jariku menghantam papan kunci. Dan hasilnya, hehe, teman-temanku lebih menyenangi tulisan yang aku buat secara dadakan, tanpa konsep sebelumnya. Hanya jujur saja dengan apa yang aku lakukan, dan itu membuat aku lebih nyaman. Hah, awal 2012 ini memang bukan awal tahun yang biasa. Sederet kegiatan telah aku jalani di awal tahun ini. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang biasa-biasa saja. Mungkin kegiatan ini juga biasa-biasa saja, hanya perasaanku saja yang membuat ini jadi berbeda. Pastinya dengan alasan-alasan yang membuat hari-hariku di awal tahun terasa berbeda. Perbedaan yang bisa dijadikan pembanding dan bisa dipelajari untuk ujian universitas alam semesta dengan seluruh manusia sebagai dosen dan seluruh jagat raya sebagai ruang kelasnya. Pelajaran-pelajaran di universitas alam semesta ini tidak mengenal satuan kredit semester. Jadi, bebaslah aku memilih mata kuliah yang aku senangi. Dari beribu-ribu atau bahkan berjuta-juta atau bermilyar-milyar mata kuliah yang ditawarkan, aku lagi senang mengontrak mata kuliah ―bersenang-senang‖, ―menguasai hari‖, dan ―kolektif lingkar pertemanan‖. Tiga mata kuliah yang akan selalu aku kontrak dan mudahmudahan dapat nilai A untuk semuanya. Aku selalu bersenang-senang dalam menguasai hari, dan itu aku selalu dibantu teman-temanku, dan tujuannya juga cuma satu.. ya bersenang-senang. Kesenang-senangan ini berhasil aku dapatkan ketika Januari lalu, ketika aku memutuskan untuk menghadiri pesta kawin mitra relawan rumah belajar. Pesta itu biasa saja, masih tetap ada jamuan parasmanan yang sama seperti pesta-pesta kawin pada umumnya. Cuman, aku baru kali ini memakai batik yang seragam dengan warna oranye menyala. Euh, warna yang tidak aku suka. Kulitku hitam, tambah mirip orang afrika saja ketika harus mengenakan pakaian berwarna cerah. Dan, ketika para tamu undangan makin banyak, parkiran motor mulai sesak, drummer untuk bandku telah tiba di Bandung. Senyum anak jalanan telah dipandang hal biasa saja buatku, maka aku memutuskan segera pergi menuju studio untuk merekam beberapa lagu andalan band kami, Masturbasi Distorsi.

13


Setelah aku cukup puas meluapkan kerinduan bermusik dalam grup, aku berkumpul dengan teman semasa sekolah kejuruan. Kumpulan kami tidak penuh, tapi cukup untuk saling berbagi cerita. Dan kami memaklumi untuk teman-teman kami yang tidak bisa hadir. Perkumpulan itu semakin asik ketika Jepe menanggung semua pembayaran

makan

siang

kami.

Dia

melakukan

itu

untuk

merayakan

promosi

jabatannya di sebuah pabrik rokok terkemuka. Berkumpul bersama teman memang menyenangkan. Mereka bisa melupakan setiap luka yang ada di jiwa. Juga, bisa memacu ide bersenang-senang dengan gelak tawa. Serasa dunia menjadi milik kami saja. Itu juga terjadi ketika aku dan teman di era universitas ini berhasil mendaki gunung guntur. Kami menaklukan gunung yang cukup terkenal di garut itu sekitar jam delapan pagi. Ya, kami mencapai puncak tertinggi pada jam itu. Pengalaman yang luar biasa dalam menikmati keindahan alam. Itu saja yang bisa aku bagikan di sini. Sebenarnya masih banyak cerita mendetail tentang itu semua. Hanya saja aku lagi malas bercerita merangkai kata yang enak dikunyah. Hah, ini memang luapan emosi malam hari ketika telah menuntaskan semua aktivitas di saat matahari masih beraksi menerangi hari. Emosi yang tidak akan terasa sempurna ketika aku berjalan sendiri.

Belajar Musik 20 Februari 2012 Hari minggu kemarin aku habiskan sebagian waktuku untuk berada di rumah belajar. Aku sudah punya janji dengan Kak Ramdhan untuk merekam lagu-lagu yang sering dinyanyikan oleh anak-anak. Dengan alat-alat seadanya, kami berusaha merekam suara vokal dan dentingan dawai gitar. Usaha kami itu disambut baik oleh anak-anak yang memang setiap hari mereka bergumul bersama musik, ngamen. Rumah belajar (rubel) kami memang sedang sepi belajar. Belajar dalam artian menghitung dalam matematika, berbahasa dalam bahasa inggris, dan ngaji iqro. Ini memang terjadi walaupun aku berada di sana. Hah, aku memang tidak punya bakat jadi guru yang baik layaknya guru-guru di gedung sekolah. Hanya canda tawa yang aku tahu, dengan sesekali menjawab pertanyaan anakanak dengan nada seenaknya.

14


Untuk hal mengajar di rubel, aku lebih senang jika mata pelajarannya bahasa inggris. Itu memang spesialisasiku. Aku kuliah di jurusan sastra inggris, maka kosakata bahasa inggris memang sudah jadi santapan sehari-hari. Dan aku punya pikiran, akan jadi sebuah hal keren ketika anak jalanan bisa berbahasa inggris. Pelajaran bahasa inggris ala diriku ini bukan pelajaran biasa yang ada di sekolah. Aku akan selalu menjawab pertanyaan yang dilontarkan anak-anak walaupun mereka bertanya, ―kak, fuck itu artinya apa?‖. Aku tidak akan menjawab, ―hush, itu kata kasar‖, melainkan kujawab dengan memberikan arti-arti yang ada dalam kata fuck. Dan, biasanya tanpa sensor. Ups.

Selain bahasa inggris, musik merupakan mata pelajaran yang juga aku senangi. Aku tidak tahu kalau relawan yang lain itu memasukan musik dalam kategori mata pelajaran atau tidak. Yang pasti, aku selalu mengangap bermusik merupakan suatu pembelajaran. Bukankah banyak keuntungan yang bisa diambil dari bermusik? Seperti yang dikatakan buku-buku tentang otak. Dalam bermusik, aku tidak jadi guru. Anak-anak itu sudah mahir dalam memainkan dawai gitar atau ukulele. Bahkan skill mereka jauh lebih hebat dari aku. Maka yang terjadi adalah saling berbagi. Nada dan lirik kami bagi-bagi agar semua bisa

15


bernyanyi. Tak jarang aku meminta kunci gitar pada anak-anak untuk lagu yang ingin aku mainkan. — Minggu itu, Madun menjadi orang pertama yang masuk kamar rekaman. Dia take vokal untuk lagu ―Berjalanlah‖ karya Fajar. Disusul Andri yang juga ambil bagian dalam merekam nyanyian. Aku juga tidak mau kalah, empat senar teratas aku mainkan sebagai suara bass. Sandi yang biasanya asik bermelodi ternyata malah mengambil bongo sebagai alat musiknya. Ah aku merasa kehilangan seorang master. Sangat disayangkan, Josh si anak yang baru aku kenal di 11 Februari telah pergi ke lembang. Sayang, karena sesungguhnya dia jago bermelodi. Jam delapan malam Minggu kemarin Ade Dekil sedang asik membuat lagu bertema persahabatan, dibantu Kak Ramdhan yang juga asik berdendang lagu bertema hujan. Sedangkan aku juga lagi senang belajar bongo, sebuah alat musik dari paralon dan karet ban bekas yang sering aku lihat tetapi baru kali ini aku merasakan nikmatnya suara dentuman yang aku mainkan sendiri.

‌ 4 Maret 2012 Sabtu kemarin, aku tiba di rubel sekitar jam setengah dua siang. Aku datang lebih siang dari biasanya untuk menepati janjiku meminjamkan motor untuk Sandi Gitar supaya dia belajar mengendarainya. Setibanya aku disana, anak-anak tukang ngamen itu sedang tidur pulas di salah satu kamar yang dulu merupakan tempat favorit bagiku dan a Adi dalam melahirkan suatu karya (karya apa saja, musik asal atau bikin celengan atau melukis baju dengan cat besi). Mimih dan Babeh sedang tidak ada. Mereka pergi ke karawang karena ibunya mimih baru saja meninggal. Kubiarkan mereka tidur, biarkan saja tidak diganggu. Aku tahu kalau tidur diganggu itu sangat tidak enak. Maka, aku ambil gitar dan lalu mengambil satu batang rokok untuk kemudian dibakar dan dihisap. Ku mainkan gitar di teras depan sampai pada saat Andri Geboy bangun dari tidurnya dan langsung menyalamiku. Tak lama pula Sandi dan Madun datang. Aku langsung menyerahkan kunci motor pada Madun sebagai surat kuasa untuk mengajarkan Sandi mengendarai motor. Aku percayakan sepenuhnya pada Madun. Sebenarnya dia pun belum lama bisa naik motor, aku yang mengajarinya untuk pertama kali. Dan hasilnya dia sudah berani momotoran ke jalan raya. Ditinggalkanlah aku sendiri di teras depan rubel sampai pada saat Titus pulang dari ngamennya. Ketika Titus menemaniku di teras depan, sudah ada segelas kopi dan

16


langusng saja kusodorkan rokok padanya. Kami pun berbincang. Titus berbagi pengalaman akan dirinya yang pernah merasakan hidup di penjara selama satu tahun lebih satu bulan. Menarik sekali cerita dari Titus ini. Teras depan yang sepi itu tak ada apa-apanya dibanding cerita Titus yang sungguh seru sekali dan membuatku merasa bersyukur. Bersyukur atas hidupku yang walaupun aku sudah beberapa kali melakukan tindak kriminal tapi belum pernah masuk penjara. Aku pernah mencuri buku komik di Ramayana, aku pernah memukul orang, aku pernah pesta ganja dan alkohol, tetapi aku belum pernah ngebacok orang seperti yang dilakukan Titus. Waktu beranjak mendekati maghrib ketika Fajar datang. Aku menyalaminya dan berucap basa-basi balutak untuk melepas kerinduan karena sudah satu bulan lebih tidak bertemu dengannya. Dia pun mengambil gitar. Memainkannya untuk segera kuikuti dan terjadilah jamming dadakan yang ketika itu Kang Ramdhan datang untuk segera memainkan gitarnya juga. Anak-anak hanya sedikit saja yang ada di rubel. Suasana di luar rubel (di jalanan) sepertinya lebih memikat anak-anak dibanding wajah-wajah kami yang berlabel ―relawan‖. hahaha. Itu tidak apa-apa buatku setelah aku tahu kalau Sandi langsung mahir berkendara motor, anak-anak selalu siap rekaman dan siap memberi saran tentang aransemen lagu tanpa diminta, dan Okak masih menjadi raja dalam permainan catur. Apalagi ketika aku tahu kalau aku selalu dibolehkan dengan senang hati untuk menghabiskan malam sampai pagi bersama mereka. Hah.. brader.. kapan-kapan, kalian saja yang menginap di kamarku. Ada komputer dengan Pro Evolution Soccer, ada rokok, ada kopi, ada internet yang bisa dipakai facebookan, juga bisa untuk download mp3.

Baju Ngapain?! 18 Mei 2012 Teh Santi mention nama saya di sebuah foto pada facebook yang berempunya Rumah Kaca. Dia menanyakan ukuran baju apa yang ingin saya pesan. Bajunya khusus relawan Rumah Belajar Sahaja dengan di bagian depan baju tersablon tulisan VOLUNTEERS. Oh kawan, saya sumpah ga tertarik sama baju-bajuan kayak begini untuk dunia jalanan yang saya masuki dan saya setubuhi dengan sangat mencapai titik orgasme tingkat tinggi. Bukan karena desainnya jelek atau harganya yang melebihi 50 ribu rupiah. Bukan! tapi memang bajunya bikin hati saya ciut. Hilanglah rasa keren akan Rubel Sahaja saat saya tahu ada baju-bajuan seperti ini.

17


Saya nyemplung di rubel bukan untuk dapet baju. Bukan juga ingin dipanggil relawan sama orang lain. Saya hanya ingin bermain bersama anak-anak itu. Berguru. Memahami dan mencari kehidupan sempurna bagai Sidartha Gautama bersemedi di bawah pohon Bodhi. Hingga nantinya saya bisa sampai pada titik puncak orgasme spiritual saya. Nirwana. Ehm, saya bukan relawan.. oh.. lama-lama saya muak juga dengan kata ‗relawan‘. C‘mon man! mengapa harus berbaju? Untuk apa? Biar gaya? Biar orang tahu saya relawan? Biar ada jarak antara relawan dan anak-anak? Anjing! Gak keren! my ass… Baju itu.. baju itu! bisa merubah identitas saya! saya ga mau jadi relawan saat saya ngumpul bareng anak-anak. Saya juga ga mau jadi relawan saat Bagong, Andi, Abonk, dan teman-teman saya berkunjung ke rubel untuk bantuin rubel juga, sementara mereka tidak punya baju itu karena mereka relawan baru, Damn!. Ah anjing! baju apa sih? Pembeda? Fuck‘em all! Saya sama seperti anak-anak. Saya sama seperti Agung, Andi, Jepe, dan Abonk. Saya sama seperti kalian, hei relawan senior!

Siapa Beruntung 03 Januari 2013 Relawan-relawan yang lain adalah relawan-relawan hebat. Mereka adalah pasukan berani mati. Bagaimana mereka menghalau warga yang ngamuk karena ada kumpulan anak

jalanan

yang

dikontrakan

rumah

di

daerah

mereka,

bagaimana

mereka

menghadapi preman-preman bau alkohol, bagaimana mereka berdebat dengan satpol pp dan aparat pemerintah lainnya, bagaimana mereka menghadapi seribu tingkah polah nakal anak jalanan dan keluarganya, bagaimana mereka mengumpulkan apa yang bisa diberi bagi anak-anak jalanan dan keluarganya hingga menyekolahkan dan memberikan ilmu keterampilan………… Sepertinya itu cukup untuk menggambarkan bagaimana hebatnya relawan-relawan di Rumah Belajar Sahabat Anak Jalanan, baik itu di Ciroyom, Cimahi, Cihampelas, maupun di Cimindi. Beruntung aku mengenal mereka

18


iwandetao 26 Mei 2013 Gue ke Lembang buat ketemu Iwan sabtu malem kemaren. Ditemenin Sandi. Iwan si bangke ini katanya dibawa seorang PNS untuk belajar di BRSPP. Anjir.. udah lama banget gue ga ketemu si Iwan, niatan untuk ke Lembang udah ada jauh-jauh hari tapi yah si gue ini emang tidak terorganisir isi otaknya jadi rencana-rencana yang udah disusun itu berantakan dan ga tau keselip dimana. Kebeneran si Sandi Gitar ngajakin ke Lembang, jadinya si gue serasa diingatkan. Damn! Parah banget otak gue, sampe harus selalu diingetin. Berangkatlah gue dan Sandi ke Lembang naek motor berdua, boncengan. Tiba di BRSPP itu qobla isya, jadi gue sama sandi nemuin Iwan bentar terus Iwan harus solat berjamaah dan wiridan di Mesjid.

19


Selesai wiridan, Iwan langsung ngobrol bareng kita. Ngobrol kesana-kemari lah, seperti yang biasa kita lakukan di rumah belajar itu. Ngobrol ga jelassss! Iwan. Manusia ini pernah gabung sama anak-anak punk. Mengembara pulau jawa. Sehingga ga aneh lah kalau ensiklopedi musik dia itu lagu-lagu punk yang biasa dipake ngamen sama anak-anak punk. Sebenarnya ada satu manusia lagi di rumah belajar itu yang sering nyanyiin lagu punk. Namanya Ade

Dekil,

tapi

ketika

dia

pergi

mengembara dan tidak mau diam di rumah,

Iwan

menjadi

satu-satunya

anak yang masih setia nyanyi-nyanyi lagu

Marjinal

dan

Bunga

Hitam

ditengah anak-anak lain yang lebih senang bernyanyi ST 12 atau Wali. Mixtape, ini buat kamu Iwan bangke! Ini isinya sepuluh lagu yang sudah melekat di otak kamu! sepuluh lagu yang biasa dinyanyikan lantang di rubel! (kecuali lagu yang terkahir sih). Lagu yang terakhir itu hanya pengikat memori saja antara aku dan kamu wan! Lagu girlband korea itu pernah kita dengarkan waktu rubel masih di sriwijaya. Di kamar tea geningan.. dan kita tertawa. iwandetaw (baca: Iwan the Tao) adalah judul mixtape ini. Kenapa? karena menurut gue, iwan itu adalah satu-satunya anak jalanan yang gue kenal yang memiliki nilai-nilai taoisme dalam hidupnya. Lihat saja dia yang tidak pernah berantem, selalu tertawa, menikmati mabuknya, selalu berbagi, dan dia adalah Bob Marley dalam tubuh John Lennon yang beragama Islam.

Ekstase (?) 30 November 2013 Nah, pokoknya kalau ngomongin ekstase mah, kemaren-kemaren gue melayang kayak dewi Kwan Im di atas lautan kepualauan seribu. Iya, gue snorkeling ala para pemuda banyak duit gitu. Gue bisa ke kepulauan seribu soalnya gue bisa mengelabui para pegawai dinas sosial dan ikut meramaikan ―study tour� yang mereka bikin. Mereka kira gue adalah relawan RPA (Rumah Perlindungan Anak) SAHAJA (Sahabat Anak Jalanan) Cimahi yang baik hati, soleh dan rajin menabung. Padahal mah gue cuma sebagai kawan

20


anak jalanan doang yang doyan rokok sambil minum kopi di rumah yang katanya melindungi anak itu. Kenal dengan relawan-relawan di sana menjadi nilai tambah juga bagi gue untuk mengelabui para pegawai negeri sipil itu. Hasilnya, gue bisa merekam keindahan yang ada di sana pake kamera smartphone gue.

Misi Ratakan Perut 03 Desember 2013 Sepak bola adalah olahraga yang bener-bener gue cintai sejak SMP. Cinta nontonnya doang maksutnya. Gue ga pernah dikasih bisa maen bola, atau lebih tepatnya ga pernah dikasih suka maen bola, atau lebih tepatnya lagi ga pernah dikasih semangat buat olahraga. Damn! Tapi biarin, yang penting gue gaul, punya jersey AC Milan dan teteap jadi fan Andriy Shevchenko walaupun gue ga tau lagi dia masih maen untuk Dynamo Kiev atau kagak. Semangat Andriy Shevchenko masuk dan mengalir ke pembuluh-pembuluh darah gue di maghrib tanggal 1 Desember. Gue maen futsal sama temen-temen gue yang punya rumah seribu mimpi, nama rumahnya Rubel Sahaja Cimahi. Walaupun gue ngehek banget dalam mengolah si kulit bundar, tapi gue pede aja lari-lari kesana-kemari walaupun bola yang dikasih ke gue malah disia-siain sama gue. hehe, hampura nya barudak! :P Niat utama gue ikutan futsal itu cuman satu: bakar lemak biar perut gue kembali seksi. Gue ingin misi ratakan perut ini menjadi misi yang menyenangkan. Makanya kemaren gue ikutan futsal. Gue tahu banget temen-temen gue yang lucu-lucu, yang bikin gue ketawa-ketawa. Futsal bersama mereka adalah pilihan tepat banget buat berolahraga dalam balutan canda tawa. Pokoknya, gue ga akan berhentiin ini misi sebelum perut gue seksi. Biar nanti kalau gue maen ke pantai lagi, gue bakalan kayak cowok-cowok di serial Baywatch. Sialan memang, ketika apa-apa yang kita lakukan selalu dikaitkan dengan apaapa yang orang banyak lihat. Superstruktur di dunia ini memang tukang hipnotis paling dahsyat. Persetan dengan badan pria kotak-kotak semacam model susu elmen. Gue sama sekali ga tertarik sama otot-otot itu. Tujuan utama gue itu sederhana sekali, berolahraga supaya badan gue ga berhenti bergerak. Supaya otak gue terlalu capek buat mikirin dunia sekitar karena badan gue udah capek duluan. Rasulullah juga bergerak dalam bentuk hijrah-nya, dan gue sebagai orang yang mengaku umat-nya harus juga bergerak dan jangan melulu diem di tempat. Gue ga mau kehidupan sekitar gue mempengaruhi sebagian besar apa yang gue kerjakan. Karena si bapa Nietzsche

21


pernah bilang melalui Zaratushtra-nya, jika manusia seharusnya berpindah dari temanteman mereka untuk keluar sejenak dan mencari arti lain melalui proses lain yang ditimbulkan si manusia itu untuk menciptakan teman baru, yaitu dirinya sendiri, lalu bersama dirinya sendiri lah seorang manusia mampu berbuat sesuatu yang sebebasbebasnya selayak Manusia-Unggul. Rasulullah yang mengasingkan diri di Gua Hira jelas telah membuktikan bagaimana beliau pergi menjauh dari dunianya untuk akhirnya beliau menerima wahyu untuk pertama kalinya. Bukankah orang-orang bijak bilang kalau mau ngerubah

dunia

maka

rubah

dulu

diri

sendiri?

Makanya

Manusia-Unggul

atau Übermensch itu harus tercipta supaya jadi orang paling gaul di jagat raya dan bisa mengangkangi dunia sekitar. Dan pastinya gue bakal jadi Manusia-Unggul di pandangan mata Ummi gue, soalnya dia pengen banget gue lari-lari. Biar sehat katanya :) Sialannya lagi, Marxisme sebagai teori sastra bilang kalau karya sastra juga merupakan salah satu perwujudan superstuktur. Sadar gak sadar, gue akhir-akhir ini udah dimakan abis-abisan sama literasi berjudul Zaratushtra!

Menjelang Kebebasan Iwan 09 Desember 2013 Jumat malam kemaren Iwan bilang ke gue, kalau dia bakalan lulus dari BRSPP Lembang hari Selasa besok. Gue speechless karena gue lagi galau jumat itu, dan maaf wan, beberapa kali telponmu ga keangkat sama gue. Tapi gue pastikan bahwa gue bakalan dateng ke acara kelulusan Iwan itu. Dia sahabat gue!

Kelulusan: Lagi-lagi Tentang si Iwan 14 Desember 2013 Ada tiga hal yang bikin hati gue serasa ―nano-nano‖ akhir-akhir ini. Pertama, kelulusan Iwan dari Badan Rehabilitasi Sosial Pamardi Putra Lembang. Kedua, single terbaru Crayon Pop. Ketiga, rencana pendakian Burangrang yang akan dilakukan minggu depan. Dan ketiga hal ini bikin efek yang ga biasa di tengah kegalauan gue, man! Iya gue galau, gue galau karena: ―kenapa gue susah untuk olahraga pagi lagi?!‖ Padahal

22


minggu depan gue bakalan mendaki, tapi gue malah makin males olahraga. Semoga besok gue ga males lagi. Kelulusan Iwan yang gue hadiri itu adalah untuk kedua kalinya gue menghadiri acara kelulusan orang lain. Gue dan Fahmy memang menyempatkan utuk memberi selamat pada Iwan yang memang kami sepakat kalau Iwan ini bukan sekedar lulus dari sebuah lembaga. Iwan lulus sebagai murid binaan sekaligus lulus dalam sebagian fase kehidupannya. Di postingan sebelumnya gue udah ngenalin secara singkat siapa Iwan. Anak punk yang baik hati ini ternyata bisa juga maen saron dalam grup gamelan. Waktu itu gue menikmati sekali keahlian Iwan yang lincah memainkan kedua tangannya untuk menggebuk batang-batang kuningan saron dan menghentikan getarannya setelah digebuk. Ini suatu fenomena yang berbeda bagi gue, ini hal yang ga biasa buat gue. Entah rasa kebanggaan apa yang masuk ke diri gue, sampai-sampai gue harus merinding mendengar permainan gamelan yang terdapat Iwan didalamnya. Lambat laun air mata gue ga bisa ditahan waktu itu. Gue berkaca-kaca. Boys don’t cry Iya, gue ga mau Fahmy sampe tau kalau gue nangis. Gue usap air mata gue berkali-kali sebelum air mata gue turun ke pipi. Sampai akhirnya gue mengajak Fahmy untuk merokok – menenangkan hati gue. Iwan, gue bangga sama dia. Gue bangga sebagai temannya. Sekaligus gue malu, gue kalah. Iwan telah lulus dalam fase peralihan dari anak jalanan menjadi penjahit di konveksian. Dia mengambil jurusan menjahit. Dan kini dia lulus dengan berbekal ilmu menjahit dan seperangkat alat menjahit yang langsung dibawanya ke Karawang – kampung halamannya. Di tanggal 15 Desember – itu berarti besok, Iwan sudah mulai bekerja sebagai penjahit di suatu konveksian di daerah Parongpong. Iwan yang dulunya suka ngamen sambil ngisep lem aibon kini telah jadi tukang jahit. Setidaknya dia telah membuat sebagian besar masyrakat memandang dirinya berhasil. Jika mereka jeli, seharusnya orang-orang seperti inilah yang diperhatikan. Begitulah hasil ngoceh gue dan Fahmy sambil menunggu makan siang di parasmanan acara kelulusan itu.

Okak dan Ludruk Uji Nyali 19 Maret 2014 Seperti biasa, kemalasan adalah raja segala kebusukan yang dialami olehku akhir-akhir ini. Lampu depan motor belum diganti. Belum juga motor itu dicuci bersih. Semalas-malasnya, aku tidak akan sudi televisi menemani kemalasanku. Kesuksesanku

23


dalam memusuhi televisi memang berhasil. Kotak ajaib dengan isi gambar bergerak itu sudah lama tidak disapa. Tetapi tidak dengan acaranya. Aku kadang iseng mencari program televisi di YouTube. Indonesia Lawak Klub menjadi pilihan favoritku. Alasannya, karena aku ingin mendengar Komeng dan Cak Lontong ngoceh. Program televisi di Rubel yang tak pernah terlewatkan adalah Masih Dunia Lain. Acara yang kata Jui Purwoto adalah acara yang menyuruh kita takut melihat orang yang ketakutan. Karena seringnya nonton Masih Dunia Lain, Oyan alias Okak jadi ingin ikut uji nyali dengan alasan untuk mengambil hadiahnya yang berupa uang. Okak adalah manusia tanpa rasa takut. Pernah masuk bui. Baku hantam dijalanan sudah biasa. Tusukan dan sayatan benda tajam cukup banyak membekas di tubuhnya. Membuat kepala orang jadi bocor memang bukan perkara sulit baginya. Kalau soal hantu-hantu, setan-setan, dan klenik-klenik adalah sesuatu yang sepertinya hanya numpang lewat di benaknya. Dia percaya mistis, tapi masa bodo. Maka, acara telivisi yang seperti Masih Dunia Lain itu adalah acara yang dianggapnya sebagai sesuatu yang mudah untuk diraup hadiahnya (apalagi program televisi yang memang sudah pasti banyak bohongnya). Maka, dia meminta padaku untuk mendaftarkannya ikut uji nyali. Rencananya, kalau dia berhasil merebut hadiahnya, dia ingin kawan-kawan yang lain berpesta makan-makan. Tak diduga, sepupuku memberi info bahwa ada audisi peserta uji nyali diadakan di Bandung. Sontak saja aku teringat Okak. Segera aku menelpon Mimih untuk memberi tahu Okak. Aku berangkat ke Rubel setelahnya dan meninggalkan skripsiku yang sedang kucoba untuk dibuat keren. Sangat disayangkan. Ternyata panitia sudah menutup audisi lebih cepat dari jam yang dijadwalkan. Aku tahu itu setelah Mimih menelpon panitia sebelum aku dan Okak benar-benar berangkat ke lokasi audisi yang bertempat di jalan Braga. Sehingga, malam itu kami isi dengan ritual ngopi bareng sambil memandang spanduk berhias foto-foto kegiatan rubel dengan foto koordinatornya yang jelas dan hampir berada di tengahtengah spanduk besar itu. Niatan Okak tidak luntur, dia ingin ikut kalau ada audisi berikutnya, sehingga dia dan kawan-kawan lain bisa berpesta pora makan-makan. Aku prediksi jika itu terjadi, suasana rumah ini akan gegap gempita dengan kegembiraan mewah yang sederhana. *** Okak takluk tak berdaya jika disetrum (“Kalau dipukulin atau digencet balok besi, saya sudah biasa. Tapi kalau disetrum, saya nyerah�) dan sakit gigi.

24


Bako Hari Ini 24 Mei 2014 Siang itu, dengan niat membeli dua bungkus bako cap Nanas si Madu, aku menyempatkan diri berkunjung ke rumah itu. Rumah doglo. Begitu kata anak-anak itu. Ada tiga orang calon dokter gigi yang sedang mempraktekan ilmunya ke gigi-gigi anak-anak itu. Tak lama, datang anak-anak lainnya dengan baju dan badan penuh adonan semen dan pasir. Mereka bekerja sebagai kuli bangunan. Satu per satu mereka menuju dapur. Mengambil nasi dengan porsi luar biasa. Berkumpul di bale-bale depan rumah. Aku ikut. Kusimpan satu bungkus bako. Obrolan pun terjadi. Tak lama, porsi mereka yang aduhai itu habis. Benar kawan, makanan enak itu adalah makanan yang dimakan saat lapar. Bako disambar. Linting-melinting terjadi. Kepulan asap keluar dari mulut-mulut. Bayu mengeluh karena dimarahi mandor terus-terusan. Madun menegarkan hatinya. ―Sabar aja, yu‖, begitu katanya. Sore nanti, mereka akan mendapatkan gaji. Mandor akan membagikannya. Iwan

bertanya,

―Tentu

saja

―mandor tidak!

Dia

gajinya

sama

lebih

besar‖,

ga

kayak

kata

yang

kita?‖ lain.

―Kenapa? Kan kita yang lebih capek kerjanya‖ Asap-asap pembakaran tembakau masih terus berlanjut.

Selamat Menikah 7 September 2014 Untuk Teh Santi, “Selamat menikah, teman. Sapalah sang mentari di ufuk baru. Kepal keras tangan, kini kau telah punya pendamping.

25


Selamat menikah, teman” (“Selamat Menikah” – Begundal Lowokwaru) Lagu Begundal Lowokwaru terputar begitu saja pada winamp setiap kali aku mendapatkan undangan dari kawan yang akan segera menikah. Sepertinya ingin sekali aku menyanyikan lagu seperti ini di sebuah resepsi pernikahan, kalau saja aku memiliki energi berlebih untuk menampilkan kepercayaan diri dalam gulungan suara sumbang dan kejelekan tampang. Maka dari itu, aku memilih jalan lain untuk mengatakan selamat padamu, teh. Beberapa hari lalu, ketika aku mendengar kabar kalau teteh akan melaksanakan pernikahan di tanggal 6 September, takdir mengawinkanku dengan kecerdasan Asep Alimin. Sial memang, ‗anak soleh bandel‘ yang sedang jatuh cinta ini memberikan ide padaku secara tidak langsung untuk memberikan sebuah hadiah di resepsi pernikahan seorang kawan. Alimin memberikan bunga edelweiss padamu, teh. Sudah diterima kan, bunganya? Terfikir olehku, kalau saja kawan-kawan semua yang mendekam di ―rumah itu‖ memberikan sebuah hadiah. Ini pasti asoy geboy. Gayung pun bersambut. Memang, kalau sudah jodoh mah ga akan lari kemana. Sialnya lagi, si gueh kudu jodoh jeung si Alimin wae da akhir-akhir ini teh. Ideku harus kawin dengan ide Alimin. Maka tercetuslah membuat hadiah yang memang sederhana ini. Sesederhana ―rumah itu‖ yang rasanya sungguh berjuta. Semoga hadiah ini pun seperti itu. Tak perlu banyak proses rumit dalam pembuatannya. Hanya butuh secuil memori dan beberapa linting tembakau. Tapi yang bikin keren adalah ketika bagaimana kawankawan melakukannya dengan tidak sesederhana yang dibayangkan. Madun merapihkan rambutnya. Rina bersikeras ingin difoto ulang dengan memakai kerudung, senada dengan Mimih yang pengen dandan dulu. Wawan paling banyak difoto dan dengan telaten memilih foto mana yang pantas dipajang. Irfan pengen hurufnya berwarna biru karena ingin menunjukan identitasnya sebagai bobotoh Persib. Yuli pun menggendong Adha agar ikutan. Lihatlah Gugun dengan segala aksesoris yang dipakainya. Okak malumalu kucing sebelum difoto, sangat bertolak belakang dengan kesangaran tampangnya. A Adi ‗mencuri‘ plastik dari toko Garuda. Fahmy berfoto didepan graffiti Al-Ikhlas sambil beratribut full Nike. Dina berfoto dengan background keindahan gunung Papandayan. Dewi dengan paras cantiknya yang aduhai rela difoto ulang setelah kuminta karena foto yang dikirim sebelumnya tidak asoy sama sekali. Dan beberapa cerita lagi yang tak kalah asoy yang jika kuceritakan akan memadati tulisan tak penting ini. Ini dari kami, teh. Dengan bingkai bikinan kami dan juga ―kanvas‖ yang kami cat sendiri. Teteh bisa menggantungnya di ruang tamu agar tamu yang datang ke rumah

26


teteh bisa melihat alangkah banyaknya orang yang mencintai teteh. Atau di kamar tidur, agar saat teteh tidur kami bermain di mimpi teteh. Atau di dapur, biar masakan teteh memiliki rasa berjuta seperti kenangan kita. Atau kamar mandi, agar menjadi hangat dan tidak akan masuk angin jika harus lama-lama di kamar mandi. Atau di gudang, agar gudang tak lagi menjadi tempat yang sepi dan lembab. Atau di garasi, atau di teras, atau di balkon, atau bahkan di memori teteh saja. Percayalah, kami memiliki magis untuk membuat teteh tersenyum saat melihat wajah-wajah kami di hadiah itu. Mungkin seperti itu pengantar hadiah yang tak seberapa ini. Sila dinikmati. Jangan lupa memberi kabar saat buah hati teteh menghirup udara bumi. Jika ada waktu luang, pintu kami terbuka lebar bagi teteh dan keluarga. Kita berbagi canda, senyuman, bercangkir-cangkir kopi dan beberapa rokok (hehehe :P ) Salam sayang dari kami, doa terbaik kami berikan. Salam buat Kang Yasir yang kata aku mirip Jokowi waktu aku liat foto prewednya yang ada di undangan. Sedaaaaap! -Anugrah

27


### 05 Desember 2014 Di rumah mimih, Wawan memintaku untuk menunjukan film My Way. Aku beritahu dia kalau subtitle film ini berbahasa inggris. Wawan tidak peduli. Si bocah kelas dua SMP ini memang sedang timbul sifat rajin belajar, khususnya bahasa inggris. Kemarin-kemarin aku sempat memberi saran padanya tentang belajar bahasa inggris yang asoy. Aku menyarankan agar dia menonton film dengan subtitle bahasa inggris. Sepertinya dia mendengarkanku. Jika saja Wawan juga mendengarkan saranku yang lain, yaitu mendengar lagu-lagu berbahasa inggris sambil membaca liriknya, aku akan senang. Tapi sepertinya, Wawan masih asik dengan lagu-lagu Ada Band dan Nidji. Biarlah, yang penting kau senang saja, Wan. Salah satu hal yang membuatku jengkel adalah: Wawan selalu saja bertanya padaku tentang terjemahan kata ini dan itu. Wan, aku memang mahasiswa jurusan bahasa inggris, tapi aku adalah mahasiswa yang buruk. Dan yang terpenting untuk kau tahu adalah: Aku bukan kamus!

Delapan Desember 2014 08 Desember 2014 Dua orang bodoh mengisi soal matematika. Wawan dan aku adalah dua orang bodoh dalam hal matematika. Aku memang sudah membencinya semenjak SMP. Brengseknya adalah, pada masa STM, aku harus masuk jurusan Rekayasa Perangkat Lunak, jurusan yang harus pandai dalam algoritma. Maka, mau tidak mau, kecerdasan matematikaku sedikit terasah oleh materi logika dalam algoritma yang kupelajari di STM. Algoritma mengajariku bagaimana kemungkinan-kemungkinan yang lebih dari satu dapat dimunculkan dalam mencapai sesuatu. Maka, ketika Wawan dengan semangat

seorang

pemuda

bebal

yang

benci

matematika

memintaku

untuk

membantunya menyelesaikan PR matematika, aku mempraktekan bagaimana algoritma seharusnya digunakan. Digunakan oleh orang bodoh, tentunya. Soal-soal kuperkosa dengan senang hati setelah Rina menyuguhkanku teh manis hangat dalam gelas berukuran besar. Kuajari Wawan bagaimana menjawab soal-soal

28


dengan merujuk rumus yang telah disediakan di lembar sebelumnya. Wawan mengaku bodoh dalam hal matematika. Dan memang, dia bodoh. Ketika si bodoh meminta bantuan pada si bodoh lainnya, maka cara bodoh pun ditempuh. Aku menamainya dengan ―rumus matematika primitif‖. Dimana seharusnya soal bisa dikerjakan melalui jalan pintas, aku kerjakan melalui jalan memutar karena aku sungguh tidak tahu jalan pintasnya. Aku tahu ada jalan pintas, tapi tak tahu dimana adanya. Terlebih, aku sudah kadung jijik dengan matematika, maka kuacuhkan saja pencarian jalan pintas. Jalan memutar tak terlalu buruk jika hasil akhir dari perhitungan menunjukkan angka yang benar. Matematika adalah pelajaran yang mendukung tentang keabsolutan kebenaran. Ini aku kutip dari guru SMP-ku yang bernama Sugih. Dia tidak menerima jawaban salah walaupun cara yang ditempuh benar. Tak ada toleransi. Maka, kupikir, jika hasilnya benar, jalan tak jadi masalah. Perlihatkan saja kotretanmu itu, pada gurumu, wan! Ah, lain kali, kau jangan suguhkan matematika padaku. Lebih baik kita belajar ilmu pengetahuan sosial saja, wan.

Nostalgia Hanya Untuk Orangorang Murung 22 Desember 2014 Dengan terus menderunya suara hujan di luar sana, aku seketika rindu pada alkohol. Mungkin, ini dikarenakan obrolan kemarin antara aku, Madun, Andri, Wawan, dan Bayu. Kami menceritakan pengalaman masing-masing dari kami dalam menikmati dunia peralkoholan dalam botol yang dijual di depot-depot jamu terdekat. Terkecuali Wawan tentunya, dia anak lugu yang baik. Nostalgia tentang harga jamu Intisari yang masih sepuluh ribu rupiah sudah cukup menjadi pembuka bagaimana aku bercerita pengalamanku minum McDonald yang dapat membuat kepalaku pusing tidak enak. Aku tak cocok dengan minuman itu. Anggur merah dan anggur putih cap Orang Tua yang kini sudah tidak beredar semakin menambah bumbu nostalgia. Newport blue yang waktu itu berhadiah sloki membuat kami terpingkal karena bisa-bisanya minuman murahan yang berwarna biru seperti Pepsi blue itu memberikan hadiah promo sebuah sloki setiap pembelian satu botol. ―Kak, mabok yuk ah!‖, kata Madun yang lagi galau karena gajinya sebagai kuli bangunan belum dibayar

29


―Gak, Dun. Aku sudah lama pensiun dalam dunia perbotolan. Aku tobat, dun. Hahaha‖, kataku sembari menghisap djarum coklat ―Sekarang mah yang murah cuman tuak. Empat ribu seliter. Tapi udahnya bikin perut mules‖, kata si Andri yang kini sudah tidak bisa mabuk-mabukan di malam minggu karena dilarang sang pacar. Oh, berarti cinta lebih memabukkan daripada tuak. Setelah gelas-gelas yang berisi kopi tinggal menyisakan ampasnya saja, obrolan kami pun otomatis berakhir. Aku bergumam, ―persetan berita minuman oplosan di tivi yang bikin mati, kami tertawa dengan pengalaman mabuk kami. Sepertinya minuman yang masuk ketubuh kami tak perlu disesali, karena bisa ditertawakan dan bikin kami bahagia walau sementara. Meskipun ada ancaman kami tak bisa minum khamr di surga nanti, kami masih bisa tertawa selama hidup dan kenangan itu ada.‖ Aku pulang dengan hujan. Jas hujan dibagasi tak aku pakai. Aku lagi ingin huhujanan sambil mendengarkan Hong Jin Yong bernyanyi ―Love Battery‖ pada pemutar musik di ponselku. Karena stok rokokku habis, aku merapat ke Indomart dekat rumahku. Ada banyak minuman yang terpajang di kulkas, aku ambil Green Sands Non Alkohol rasa original. Shit! Rasanya bir banget. Sialan, aku makin rindu, karena malam yang dingin memang cocok untuk si alkohol hangat masuk dalam perut.

‫יועץ‬ 11 Februari 2015 Siang, aku mengunjungi rumah luar biasa. Tidak enak badan memang tidak enak kalau didiamkan saja. Mungkin, kepala yang sedikit pusing bisa terobati setelah menemui kawan-kawan di rumah itu. Lagi pula, aku punya janji yang harus segera kutepati, agar terselesaikan satu tanggung jawab. Aku berjanji pada Wawan untuk mempertontonkan film Gravity. Wawan lagi penasaran sama hal-hal yang berkaitan dengan angkasa luar. Saking penasarannya, dia mangacuhkan panggilan telepon dari pacarnya saat dia asyik menonton film itu. Ya, Wawan pacaran. Dan ibunya tidak suka. Ibunya meminta tolong padaku untuk menasihati Wawan kalau pacaran itu tidak baik. Sekolah saja dulu, katanya. Dia khawatir nilai Wawan akan menurun. Ibunya tahu jika aku dekat dengan Wawan, makanya dia meminta tolong padaku. Sebenarnya, ibunya Wawan sedikit salah kalau meminta tolong padaku perihal menasihati Wawan soal pacaran. Sial. Aku pernah pacaran, dan pacaran di masa muda bin tolol akan menimbulkan rasa cinta yang sungguh aduhai. Aku yakin Wawan sedang

30


dilambung oleh rasa aduhai itu. Walaupun, rasa penasaran terhadap angkasa luar ternyata mampu menjadi sebuah resistor cinta untuk sesaat. Sialnya lagi, aku menyanggupi permintaan ibunya Wawan. Biasanya Wawan akan datang padaku kalau lagi pingin curhat. Tapi dia tak kunjung curhat, kutaksir dia lagi asoy-asoynya membuai cinta. Dan aku pun merasa belum asoy untuk mendatangi Wawan dan menasihatinya. Aduh! ―Menasihati‖ adalah kata yang paling tidak cocok untuk disisipkan pada kamus kata kerjaku. Kalau kata Homicide di lagu Puritan mah, ―Gengish Kahn mana yang coba deskripsikan moral?‖ Kurasa, selama aku hidup, aku belum pernah menasihati orang. Boro-boro menasihati, diriku sendiri saja masih butuh banyak nasihat. Walaupun, seringkali kebebalan dalam diriku merasa tidak nyaman dengan nasihat-nasihat. Janji tetaplah janji. Janji bukan persoalan benar dan salah. Janji melulu tentang ditepati atau tidak, sebrengsek apapun janji itu dibuat. Otak drama romantisisku berputar: bagaimana menyutradarai lakon teater yang bertajuk ―Menasihati Wawan‖ dalam satu babak saja. Aku adalah aktor utama.

Ini Rame, Kak! 25 Februari 2015 Setelah A Adi tidak lagi mendiami rumah itu, Madun mengambil alih ―kuasa‖. Termasuk kuasa akan film-film yang ada di laptopku. Kemarin-kemarin, waktu Fahmy mengunjungi rumah itu, sepulangnya dari event kelas

inspirasi

yang

diselenggarakan

oleh

Indonesia

Mengajar,

Madun

berhasil

menghabiskan dua film: The Purge dan Leon (yang ini belum tamat sih, keburu ngantuk dianya). Aku merasa senang. Madun mulai mencerna film dengan cerita yang lebih ―berat‖. Sebelumnya, Madun hanya ingin nonton film dengan banyak adegan aksi. Kini, dia mulai menyukai film dengan konten drama didalamnya. Apalagi ketika dia mulai bergumam tentang plot yang twist di akhir film, dia cerdas – sungguh! Terakhir dia menonton film yang twist adalah film korea I Saw The Devil. Kali ini madun menagih film korea lain yang kurekomendasikan: The Man From Nowhere. Hari ini, Madun memilih untuk ngamen setelah nonton Persib, karena Yuli mengambil alih laptopku. Yuli, anak perempuan kelas enam sekolah dasar yang gemuknya asoy geboy, menyukai film horor. Sialnya adalah dia suka film horor Indonesia, yang kata aku mah

31


jelek-jelek. Untungnya, aku tak pernah punya film horor Indonesia dalam laptopku. Maka dia harus rela menonton The Exorcist dan The Conjuring demi menikmati cerita horor. ―Filmnya bagus-bagus, kak!‖, katanya. Karena stok film horor dalam laptopku hanya dua itu, kali ini Yuli harus menikmati genre film lain. Selain film horor, Yuli senang menonton sinetron di televisi. Sinetron favoritnya kali ini adalah Preman Pensiun dan sinetron di SCTV yang aku tidak tahu judulnya apa. Mungkin, karena suka sinetron, Yuli menikmati film bergenre drama seperti: Ada Apa Dengan Cinta?, Perahu Kertas, dan Soekarno. Hari ini Yuli sedang menikmati film Lari Dari Blora. Kata aku, film itu mah gak rame, walaupun dibintangi oleh mendiang W.S. Rendra dan mengangkat topik tentang kehidupan masyarakat Samin. Menurutku, ceritanya seperti sinetron-sinetron murahan di tv (dan itulah mengapa Yuli suka). Positifnya

adalah

Yuli

jadi

mengenal

tentang

masyarakat

Samin

yang

memberontak terhadap penguasa dengan ide Saminismenya. Ide tentang Saminisme-lah yang membuatku menyimpan film itu di laptopku. Sayang, Yuli tak bisa menamtkan film itu karena baterai laptopku habis dan aku lupa membawa charger-nya. ―Rame gak yul?‖, tanyaku pada Yuli perihal film Lari Dari Blora. ―Rame banget kak!‖, katanya.

32

Bundel ejakulasi  
Bundel ejakulasi  
Advertisement