Page 1

- Edition IIAgustus - September 2016

DANUM Culture

&

H u m a n it y

Majalah dwibahasa | Bilingual magazine


FOUNDER EMMANUELA SHINTA EDITORIAL CHIEF LINA KAROLIN

01

34

Greeting

EX PLG : PROJECT OF SORROW & SUFFERING Informative

04 VISION

37

06 TREASURE HUNTER

YUSUP RONI:Not to be served, but Serving Profile

Focus

41 WISDOM OF THE ELDERS

16 WORKING UNDER THE THREAT

Program

Cover story

42

18 OPPRESSED IN HIS OWN LAND

ROOSTER THE FARMER Story telling

Cover story

21 KONFLIK AGRARIA DAN UPAYA JALAN KELUARNYA (Bahasa Only) Opinion

31 LAUNCHING NIGHT RANU WELUM News

45 Dayak Artifacts Local wisdom

46 FACES OF DAYAK FUTURE Photo Sheet

32 BUNTOI VILLAGE FESTIVAL News

Mengenal Kalimantan Lebih Dekat

A Closer Look of Kalimantan

S

T

uatu kesempatan yang ditunggu-tunggu pun tiba! Majalah DANUM edisi kedua ini kembali hadir di tangan pembaca. Sungguh menyenangkan dapat menyajikan berita dan fakta yang terjadi di pulau kita Kalimantan.

he long awaited moment has finally come!

The second edition of DANUM magazine is now in your hands. It is our delight to again present news and information about our island, Kalimantan. The livelihoods of most of the people of Kalimantan depend on its rich natural resources and variety of forest products. This third biggest island in the world has such a rich biodiversity and its forests are touted as the lungs of the world. Nevertheless, the people of Kalimantan, especially the Dayak live with limitations, and in many aspects are at a disadvantage compared to people in other provinces in Indonesia.

Kalimantan adalah pulau yang kaya akan sumber daya alam dan hasil hutan yang menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar penduduknya. Pulau ketiga terbesar di dunia ini memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kaya dan disebut-sebut sebagai paru-paru dunia karena hutannya yang masih luas. Walau demikian, penduduknya, orang Dayak secara khusus masih hidup dalam keterbatasan dan dalam banyak aspek masih jauh tertinggal dibandingkan dengan penduduk di provinsi-provinsi lain di Indonesia. KONFLIK AGRARIA DAN SUMBER DAYA ALAM DI KALIMANTAN, adalah topik utama majalah DANUM edisi kedua ini.

This second edition of DANUM is dedicated to The conflict of Agrarian and natural resources in Kalimantan, TREASURE HUNTERS. Each page of this second edition will illustrate the stories of the people of Kalimantan and their struggle. The information is written to interest and give insight so readers will get to know Kalimantan and of course bring you, the readers, closer to the lives of the wonderful people of Kalimantan.

Lembaran demi lembaran edisi kedua ini akan diwarnai dengan kisah-kisah penduduk Kalimantan dan perjuangannya. Ada pula suguhan informasi yang menarik dan membuka wawasan tentang Kalimantan dan kekayaan alamnya,yang akan membawa pembaca semakin mengenali pulau Kalimantan. Semoga tulisan-tulisan dalam edisi kedua ini akan membawa pembaca lebih dekat pada kehidupan di Kalimantan.

Photographer : Emmanuela Shinta, Ferdinandus Eko, Kristalia Juliana, David Metcalf, Lina Karolin, Karina Natalia

Design / Layout : Ferdinandus Eko, Emmanuela Shinta 1


2

3


Hi! “As powerful as the passion, enthusiasm always differentiates the extraordinary from the ordinary ones.“

Emmanuela Shinta - Founder -

O

S

ne person cannot do all things, but everyone can do at least one thing. If this principle is settled in our hearts and minds before it comes to be our actions and habits, there will be no one left to do nothing.

atu orang tidak dapat melakukan semua hal, namun semua orang dapat melakukan sedikitnya satu hal. Jikalau prinsip ini ditanamkan dalam hati dan pikiran sebelum kemudian terwujud menjadi tindakan dan kebiasaan kita, maka tidak akan ada yang berdiam diri.

The writing on these pieces of papers is not an entertainment. Honestly, we also try every effort to make you happy when read it. Thus, you will buy and this magazine production can be continued. The amount of exemplars are increased and our staffs will be able to enjoy a little of the result of their hard works. They will not need to go here and there, under the heat of the sun, knocking each door of institution or business office with a hope that they can get at least one advertisement for a half page which cost 250 IDR; enough to cover the cost of printer ink. People will come to put advertisements, not only one but wait in line for each edition. The readers will send us a letter of appreciation that state they are happy because we are exists on the earth of Kalimantan. I imagine that we will be sitting together in a café, raise a glass of coffee highly and shout, “Cheeerrsss!”, celebrate it.

Tulisan-tulisan dalam lembaran kertas ini bukanlah sebuah hiburan, walaupun jujur saja, kami mengusahakan juga agar Anda senang membacanya. Dengan demikian Anda akan membeli, dan produksi majalah ini dapat terus berjalan. Oplah meningkat dan staff kami akan dapat menikmati sedikit dari hasil kerja kerasnya. Mereka tidak lagi perlu pontang panting berpanas-panas ria di jalan dan mengetuk setiap pintu kantor dinas maupun bisnis dengan harapan bisa mendapatkan setidaknya satu buah iklan setengah halaman seharga 250 ribu yang akan menutupi biaya tinta percetakan kami. Iklan-iklan akan datang, bukan hanya satu tapi antri di setiap edisi. Pembaca mengirimkan surat tanda apresiasi dan terima kasihnya karena kami telah hadir di bumi Kalimantan. Saya membayangkan kami sedang duduk bersama di sebuah café, mengangkat gelas kopi tinggi-tinggi dan berseru, “Cheeerrss!”. Merayakannya.

Unfortunately, it is not. Rather than calling this an entertainment, I prefer to call this book as ‘hurtful truth’. That phrase is more suitable because its content always provide us the facts and stories which may many people will not want to listen. Similar to a bitter medicine that taste bad, and it is hard to put in the mouth even though we know that only by taking that medicine we will get better.

Sayangnya, kenyataan tidaklah demikian. Daripada menyebutnya hiburan, saya lebih suka menyebut buku ini ‘kebenaran yang menyakitkan’. Julukan tersebut lebih layak disematkan karena tulisan di dalamnya lebih banyak menyajikan fakta dan cerita yang mungkin kebanyakan orang tidak mau dengar. Sama seperti obat yang pahit dan berat untukmemasukkannya ke mulut, meski kita mengetahui hanya dengan memakan obat itu kita bisa sembuh.

Come on, be realistic with the situation. Although it is difficult to understand, or a bit boring, trust me that you will never regret the pieces of papers that have come out from your wallet only to get this information. This is what you need. This is what we need as human. This is what Dayak people need,and all mandkind of course.

Ayolah, realistislah dengan situasi. Meskipun sulit dimengerti, atau sedikit membosankan, percayalah bahwa Anda tidak akan menyesali lembaran yang sudah keluar dari dompet Anda untuk mendapatkan informasi dan bacaan ini. Inilah yang Anda butuhkan. Inilah yang kita butuhkan sebagai manusia. Inilah yang masyarakat Dayak perlukan, dan seluruh manusia tentunya.

We are human. Never lose humanity.

Kita adalah manusia. Jangan pernah kehilangan kemanusiaan. -Shinta-

4

5

-Shinta


G

G

eneration of age 40 must know the stories of Indiana Jones, a character that has been told as a treasure hunter in some franchise series. Raiders of the Lost Ark that produced in 1981 was the first series of Jones that described his heroic action while questing for Ark. Getting shot by Middle East gangster, surrounded by hundreds snakes, buried in the desert, and he kept alive.

enerasi umur 40n tentu tahu kisah Indiana Jones, karakter yang dikisahkan sebagai pemburu harta karun dalam beberapa serial franchise. Raiders of the Lost Ark produksi 1981 merupakan film pertama dari Jones yang mengisahkan aksi heroiknya ketika berburu tabut Perjanjian. Ditembak gangster Timur Tengah, diserbu ratusan ular, dikubur di padang pasir, dan tetap hidup.

National treasure that played by famous actor Nicholas Cage also as popular as Jones. The tremendous adventure ended with finding the golden city.

National Treasure yang diperankan oleh Nicholas Cage juga tidak kalah terkenal. Petualangan yang mendebarkan berakhir dengan penemuan kota emas.

Or we can also mention the Pirates of Carribean by Johny Depp who acted with Black Pearl ship. A quest of gold coins that caused a curse.

Atau Pirates of the Carribeannya Johnny Depp bersama kapal Black Pearl. Sebuah pencarian kepingan koin emas yang berakibat pada kutukan.

So do with kids that are accompanied by the stories of Ali Baba and Uncle Gober Duck who fight against the robbers, compete to get hidden treasure.

Alibaba dan Paman Gober Bebek juga menghiasi cerita anak-anak, bertarung melawan penyamun untuk beroleh harta terpendam.

As films, games are also designed to have a ‘treasure hunting’. The question is, how this could be very interesting? Sitting in front of television or inside a cinema and facing computer to play game, which is similar. Human likes to hunt the treasure. So do in the real world. But, hey, do not go to Atlantic Ocean to find out the sinking ship. Leave the plan going to Egypt to dig pyramid only to get Pharaoh’s bracelet. The treause is not far away. It is here.

Tidak terbatas pada film, game-game pun didesign untuk memiliki permainan ‘berburu harta’. Pertanyaannya sekarang, bagaimana bisa hal ini menjadi sangat menarik? Duduk di depan televisi atau gedung bioskop, atau di depan layar komputer untuk game, sama saja. Manusia suka berburu harta. Di dunia nyata juga sama. Namun, hey, jangan pergi ke Samudra Atlantik untuk menemukan kapal harta karun yang tenggelam. Juga jangan pergi ke Mesir dan menggali piramida untuk memperoleh gelang Firaun. Harta itu tidak jauh dari kita. Harta karun itu ada di sini.

The Rich Kalimantan! As thirs largest island in the world after Greenland and Papua, Borneo or Kalimantan has been very famous for its forest and biodiversity of nature. This place that also called A Thousand River Island once mentioned as the lung of the world, Jamrud Kathulistiwa (Emerald of equator), as a green belt that wrapped the waist of the earth.

Kalimantan Yang Kaya! Sebagai pulau ketiga terbesar di dunia sesudah Greenland dan Papua, Borneo atau Kalimantan sudah sangat terkenal di seluruh dunia. Kekayaan alam dan kehijauan pepohonannya menjadikan Pulau yang juga disebut pulau seribu sungai dikarenakan banyaknya sungai yang mangalir ini mendapat julukan paru-paru dunia, sang Jamrud Kathulistiwa, bagaikan bantalan utama sabuk hijau yang mengelilingi pinggang bumi.

Sumber : net

Let us mention it. Ulin wood from Kalimantan has been known broadly by its quality. It explains why wooden Dayak Longhouse could be last for hundreds years. Resin, rattan, ginseng as nature crops are very famous. Old rattan is made for chair, table and carpet that called lampit while the young one is cooked as traditional food called umbut (kind of soup). Even the leaves tampun, in Kalimantan can be made as hat, bag, bucket and other stuffs.

Sebut saja hasil hutannya satu persatu. Keunggulan kayu ulin dari Kalimantan sudah dikenal luas dan itu

6

7


Let us talk about the fruits. When I was a kid I loved to walk into the forest and go around only to find wild fruits. No doubt, if at that time Bolang program (TV program on kid adventure) has existed, I probably chosen as one of nominee for main actor. The fruits were plentiful! The trees whose height as skyscraper buildings in Jakarta and also small plants that spread on the ground, both whose fruits can be eaten. Have you ever seen red durian? It only can be found in Kalimantan, grow in the forest without being planted. Papuan fruit has appearance similar to Jackfruit, but it is smaller with orange color and only grow in the forest. Dragon fruit is very expensive in the shopmarket, but kid villagers that like to go around the jungle behind their school buildings must know that there was a small fruit that grow unto something like giant galangal, but tastier than dragon fruit. It is Puai.

menjelaskan rumah Betang Dayak yang terbuat dari kayu tersebut sanggup bertahan ratusan tahun. Damar, rotan, ginseng, merupakan hasil hutan yang terkenal. Kursi, meja, tikar dari rotan yang sering disebut lampit selalu terkenal. Rotan muda bisa dijadikan sayur, buahnya bisa dijadikan cemilan atau sambal. Daun tampun saja, kalau di Kalimantan bisa dijadikan topi, tas, bakul dan perabotan lainnya. Mari bicara tentang buah-buahan. Sewaktu kecil saya suka keluar masuk hutan dan berkeliling hanya untuk mencari buah-buahan. Tidak ragu lagi, seandainya saja jaman itu sudah ada program si Bolang , mungkin saya bisa masuk menjadi salah satu nominasi pemerannya. Bukannya apa, buah-buahan di hutan kala itu sangat melimpah! Mulai dari pohon yang tinggi menjulang ibarat gedung pencakar langit di Jakarta, hingga tanaman kecil yang merambat di tanah, semua buahnya bisa dimakan. Pernah lihat durian berwarna merah? Itu adalah jenis durian langka yang hanya bisa ditemukan di Kalimantan dan tumbuhnya tidak ditanam. Buah papuan (sejenis nangka namun isinya kecilkecil seukuran kelereng, berwarna oranye) harus tumbuh sendiri dihutan. Buah naga harganya mahal, namun anakanak kampung yang suka menjelajah hutan di belakang gedung sekolah mereka pasti tahu bahwa ada buah kecil yang tumbuh pada tanaman semacam lengkuas raksasa, yang memiliki rasa lebih enak daripada buah naga. Namanya buah puai.

Forest of Kalimantan is natural habitation for orang utan, bekantan (kind of apes), borneo elephant, rhino, hedgehog, deer, anteater, wild cat, lemur, hornbill, wild boar, even gorilla. Mentioning natural resources, Kalimantan surely is a heaven island of gold, silver, diamond, coal, oil and quartz, semi-precious gemstone. No doubt, Kalimantan is one of biggest contributor to this country by its natural resources. This abundant wealth is not hidden, indeed, giving a huge opportunity for those who want to explore and enjoy it. The cycling of money happens, for sure. It is a must for rich land to have rich population. Yet, before get further into a story of treasure hunting, let us read these short stories below.

Hutan Kalimantan sendiri merupakan habitat alami bagi orang utan, bekantan, gajah borneo, badak borneo, landak, rusa, trenggiling, kucing hutan, kukang, burung enggang, babi hutan, bahkan gorila. Bicara tentang hasil bumi, Kalimantan merupakan ‘surga’ emas, perak, intan, batu bara, minyak bumi dan tentu saja, batu akik.

“Once, there was a plentiful gold spread around this river in Habangoi village. We just needed to go down and get it. People here used to make gold as brooch, necklace, bracelet, earing just like royal family wore in Java kingdoms. We even used it as layer of teeth. When newcomers came from outside Kalimantan, gold started to be bartered with money. Now, nothing is left as people’s portion. All belongs to companies. They mine, dig and bring it out in tons. We are left with poverty just like today.” Granny Kuceng, 2015.

Tidak bisa diragukan, Kalimantan termasuk kontributor terbesar untuk pemasukan negara ditilik dari pendapatan sumber daya alamnya. Kekayaan tiada tara ini tidak tersembunyi, namun memberi peluang sebebas-bebasnya kepada mereka yang ingin menikmatinya. Perputaran uang pun jelas terjadi. Selayaknya, daerah yang kaya memiliki penduduk yang kaya. Namun sebelum melangkah lebih jauh ke dalam kisah perburuan harta, mari kita baca beberapa cerita berikut ini.

“It has been a long time when my friend and I got into boat to Pulau Patai for fishing. And we saw him.. a big gorilla that has lived there for years. He was the leader of other animals there. Very huge.., and flying on trees. I whispered to my friend, “ Go, quick! We will die if he sees us then attack us!” We jumped out to water, got the boat to cover our heads and walked through that small river. It was a tension but also incredible experience. That was extinct animal. Unfortunately, now government Plans to open that forest to make it land for business.” Mardiana, 2015.

“Dulu di sungai sekitar kampung Habangoi ini banyak sekali emasnya. Kami hanya tinggal turun ke sungai dan mendulang. Bahkan dulu orang-orang kampung disini memakainya sebagai bros, kalung, gelang, anting dengan bentuk lempeng besar seperti kerajaan-kerajaan di jawa. Kami dulu bahkan menggunakan emas untuk melapisi gigi. Semenjak banyak orang luar datang, emas-emas mulai ditukarkan dengan uang. Sekarang, hampir tidak ada yang tersisa. Tidak ada lagi yang menjadi bagian masyarakat. Semua menjadi milik perusahaan. Mereka menambang, menggali dan memproduksinya. Jumlahnya berton-ton. Dan kami justru hidup susah seperti sekarang ini.” Nenek Kuceng, 2015. “Sudah lama sekali, belasan tahun yang lalu, saya dan seorang teman naik jukung (perahu) ke pulau Patai untuk mencari ikan. Dan kami melihat dia, gorila besar,

8

The Hunter

yang sudah puluhan tahun disitu. Gorila itu memang penghuninya dan sepertinya pemimpin dari hewan-hewan lain di situ. Dia sangat besar, sedang bergelantungan di pohon. Saya berbisik kepada kawan saya, “Ya ampun, cepat..! kita bisa mati kalau dia sampai melihat dan menyerang!” Kami segera turun ke air, membalikkan jukung dan menyembunyikan kepala kami dibaliknya. Sambil memegangi jukung itu kami berdua berjalan dalam air, berharap gorila itu tidak melihat kami. Saatsaat itu sangat menegangkan tapi juga menyenangkan, karena makhluk itu sangat langka. Sayangnya, sekarang ada canangan pemerintah daerah yang ingin menggusur tempat itu dan menjadikannya lahan.” Mardiana, 2015.

“Until the lion learns how to write, every story will always glorify the hunter.” – African Proverb

Hutan Sumatera dan Kalimantan termasuk dalam 11 wilayah di dunia yang berkontribusi terhadap lebih dari 80% deforestasi secara global hingga tahun 2030. (WWF Indonesia)

“Jalan ke arah kecamatan Tabak Kanilan itu memang rusak. Di beberapa lokasi sudah pernah diperbaiki. Tapi jalan di sepanjang desa Dangka tetap rusak. Saya juga heran. Sudah belasan tahun, bupati ganti beberapa kali, jalan tersebut tetap sama saja. Lokasi lubangnya tetap sama, rusaknya tetap sama. Tidak pernah diperbaiki!” Huri, 2016. Aneh.

When someone or a group of people can find something from nature that gives prosperity to human in common, they will be considered as Hero. Avatar movie (2009) directed by James Cameron gave us clear example how man tried to get mineral from Pandora which was preciously giving benefit for human lives, for the earth has got crisis of energy and natural resources. They did it without realizing, or with being ignorant, there must be other party that became the victim of that prosperity. They were inhabitants of Pandora, which we called indigenous people.

Sang Pemburu ‘Sampai singa belajar bagaimana cara menulis, setiap cerita akan selalu mengagung-agungkan si pemburu.” Pepatah Afrika Ketika seseorang, atau sekelompok orang dapat menemukan sesuatu dari alam yang akan memberi kesejahteraan manusia pada umumnya, mereka akan dianggap penyelamat. Film Avatar (2009) yang disutradarai oleh James Cameron memberikan contoh yang sangat jelas, bagaimana manusia berusaha menemukan mineral dari Pandora yang bernilai mahal dan akan memberikan keuntungan bagi manusia, karena bumi sudah mengalami krisis sumber daya dan energi. Tanpa mereka sadari, atau lebih tepatnya tanpa mereka peduli, bahwa selalu ada pihak lain yang harus menjadi korban diperolehnya kesejahteraan itu. Mereka adalah sang penduduk asli Pandora, yang kita sebut masyarakat adat.

Who are the hunters? They who want the wealth, popularity, admission, or even only to fill their own ambition and satisfy themselves. Imagine that a wood company belong to foreigner cut down hundreds thousands trees from Kalimantan forest , then the owner lives richly. Meanwhile, today hundreds villagers should walk quietly in the darkness of the night to cut the trees from their own village jungle, which is often mentioned as ‘country’s forest’ , then sell it for a mouthful rice.

Siapakah para pemburu? Mereka yang inginkan kekayaan, ketenaran, pengakuan, atau bahkan hanya sekedar ingin memenuhi kehendak pribadi dan kepuasan batin saja. Bayangkanlah ini, sebuah perusahaan kayu milik orang asing memotong ratusan, ribuan, bahkan puluhan ribu pohon dari hutan Kalimantan dan hidup kaya. Sementara itu, hari ini ratusan penduduk desa harus mengendapendap dalam kegelapan malam untuk memotong kayu di rimba kampung mereka yang seringkali disebut-sebut sebagai ‘hutan negara’, dan menjualnya demi sesuap nasi.

Or, I need to tell you a true story from one corner of Kalimantan, a village where an old poor woman cut the tree in her own field and got arrested then brought to the jail.

Dilemma of Development

“Road to Tabak Kanilan district has been broken and having many holes, indeed. In some location it has been fixed. But the road along Dangka village is still the same. I wonder, it’s almost 20 years, heads of regency changed many times, but the road has no improvement. The holes are still in the same place!” Huri, 2016.

Atau, saya perlu memberitahu kisah nyata dari salah satu sudut desa di Kalimantan tentang seorang nenek yang memotong kayu jati di ladangnya sendiri dan digelandang ke kantor polisi.

Dilema Pembangunan

I still remember what my teacher in primary school taught me about development of a country.Declaration of Indonesia freedom onAUgust 17th 1945 was just a beginning. Filling that freedom with development, that is the task of next generation. In what aspects? Economy, social, culture, education, civilization. Something unseen being exists. The fact, it is always in the squeeze, between development of infrastructure and also nature.

Very strange.

Saya masih ingat apa yang diajarkan di sekolah dasar tentang

Simple example is,let us promote the wealth of Dayak 9


pembangunan. Proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 barulah permulaan. Mengisi kemerdekaan tersebut dengan pembangunan, itulah yang menjadi tugas generasi selanjutnya. Pembangunan dalam bentuk apa? Ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, peradaban. Sesuatu yang belum pernah ada menjadi ada. Faktanya, pembangunan selalu mengalami dilema, antara peradaban dan alam. Contoh sederhananya adalah, mari promosikan kekayaan alam Dayak, hutan, budaya dan pariwisatanya. Akan banyak investor yang datang dan tertarik untuk membuka ladang usaha. Mall, toko dan perusahaan bermunculan. Lapangan kerja akan bertambah. Di sisi lain, hutan akan ditebang untuk pembangunan real-estate. Akankah masyarakat Dayak yang dipakai sebagai manajer dan supervisor, atau hanya jadi kuli bangunan atau buruh kasar?

nature, forest, culture and its tourism sector. There will be more investors come and interested to open their business. Mall, shop and company building will appear. Job field will occur. On the other hand, forests will be cut to get area for real estate developing. Will Dayak people be hired as manager or supervisor, or only become labor workers?

Sulit dipercaya? Memang, tapi mari melihat secara realistis kepada kenyataan yang terjadi di sekitar kita. Pada akhirnya, kita harus berani untuk menjawab pertanyaanpertanyaan berikut.

Let palm oil companies come to Kalimantan as many as possible. Job field will increase. Sell land and you will get much money. The roads also wil be open for the access of company’s tools. In sudden, no more rubber fields or vegetable gardens for our kids and grandchildren. Rivers polluted, fishes gone. Peatland dried, fire continues to happen.

Siapa yang memilikinya?

It does not mean we are becoming an anti-development. Without cultural development, maybe today I am wear tree bark as clothes and become cannibal, as lies that spread outside about Dayaks. The point falls on the reality, people income in average, economic level and prosperity of people’s lives have not shown the wealth of Kalimantan nature that has been exploited completely! It belongs to only some people who reign and have power. If this means Indonesia as capitalist country, maybe we need to re-open the history.

Biarkan perusahaan sawit masuk sebanyak-banyaknya di Kalimantan. Lapangan pekerjaan akan bertambah. Juallah tanah sebanyak-banyaknya dan Anda akan dapat uang yang banyak. Jalan-jalan juga akan dibuka untuk akses kendaraan perusahaan. Tanpa sadar, tidak ada lagi kebun karet dan kebun sayur yang tersisa bagi anak-cucu. Sungai tercemar, ikan menghilang. Gambut mengering, kebakaran lahan terus terjadi.

hands take role. Surely, we do not want Dayak only be remembered as fossil or part of history book. Dayak and its life in Kalimantan will preserve, and never dies.

Apa kekayaan kita?

“We need to support leaders around the world who do not speak for the big polluters, but who speak for all of humanity, for the indigenous people of the world, for the billions and billions of underprivileged people out there who would be most affected by this. For our children’s children, and for those people out there whose voices have been drowned out by the politics of greed

Dimana kekayaan itu sekarang? Mengapa? Bagaimana kita akan memperlakukannya? Semua bahasan ini hanya memiliki satu tujuan. Dua puluh tahun dari sekarang, lima puluh tahun, bahkan seratus tahun lagi, Kalimantan akan tetap ada. Namun bagaimana rupa dan bentuknya, tangan kita punya andil sebagai penentu masa depan. Tentunya kita tidak ingin jika puluhan tahun ke depan Dayak diingat hanya sebagai fosil atau bagian dari catatan sejarah. Dayak dan kehidupannya di Kalimantan akan tetap lestari dan tidak akan pernah mati.

Sosialism or Capitalism? First president of Indonesia, the man of Indonesia’s freedom declaration, Sukarno always spoke about principle of Berdikari for Indonesian. Berdikari (means standing on own feet), that’s echoed by Sukarno. Freeing ourselves from old paradigm and shadows from the past colonization was not quite easy. He was realistic with the limitation of Indonesian young generation at that time to be able to manage Indoensia natural resources which was plentiful. Therefore, Sukarno sent many youth abroad to learn in other countries. His mind was on making Indonesia as prosper country. Not socialist or capitalist, but finding out the pattern in the midst of both to get a selfmanaged and standing on own feet country.

Bukan berarti pembangunan tidak boleh dilakukan. Tanpa pembangunan, mungkin saat ini kita semua masih memakai pakaian kulit kayu dan makan manusia, seperti isu yang santer diperdengarkan di luar sana tentang orang dayak. Poinnya ada pada kenyataan, taraf penghasilan, perekonomian dan kesejahteraan hidup masyarakat sama sekali tidak mencerminkan kekayaan alam Kalimantan yang telah dikeruk habis-habisan. Harta hanya menjadi milik sekelompok orang yang berkuasa. Jikalau ini artinya Indonesia adalah negara kapitalis, mungkin kita perlu kembali membuka buku pendidikan sejarah.

Sosialis atau Kapitalis? Presiden pertama Indonesia, sang proklamator, Soekarno selalu berbicara tentang prinsip berdikari rakyat Indonesia. Berdiri di kaki sendiri, itu yang selalu dikumandangkan oleh Soekarno. Melepaskan diri dari pola pikir lama dan bayang-bayang penjajahan tentunya tidak mudah. Beliau realistis dengan keterbatasan pemuda Indonesia kala itu untuk mengelola kekayaan alam indonesia yang sangat melimpah. Untuk alasan itulah, Soekarno mengirim banyak pemuda untuk belajar ke luar negeri. Pemikiran Soekarno adalah untuk menjadikan bangsa Indonesia sejahtera. Bukan sosialis atau kapitalis, namun menemukan sebuah pola di tengah-tengah keduanya untuk mencapai bangsa yang mandiri dan sejahtera.

Without being ignorant to various history and past conflicts, we could not deny that capitalism has entered Indonesia since Sukarno being casted. Freeport has been a proof that still tied into this country body as a bad wound in Papua. The fact is not only Papua, Kalimantan is made as next target. Rich, but poor. Like a chicken died in the rice barn.

Terlepas dari berbagai catatan sejarah dan konflik masa lalu, tidak dapat dipungkiri, kapitalisme masuk Indonesia setelah lengsernya Soekarno. PT Freeport adalah bukti yang masih menempel sebagai borok di Papua. Kenyataannya bukan hanya Papua, Kalimantan juga menjadi target selanjutnya. Kaya, tapi miskin. Ibaratkan ayam mati di lumbung padi.

Where is it now?

Unbelievable? Yes. However we need to look at the reality realistically. At the end, we have to be brave to answer these questions. What is our wealth? Who will inherit? Why? How do we treat it? This discussion directs only to one purpose. Twenty years, fifty years even a hundred years from now on, Kalimantan will still exist. But the shape and how it will look like, our 10

11


12

13


S

eonggok kayu kering berwarna kecokelatan Nampak menjulang di tengah-tengah jalan berdebu menuju desa Gunung Karasik, Barito Timur. “Pohon ini dulu banyak lebah dan madunya,” ungkap Ahini,salah satu warga. “Kami sering mengambil madu dari sini. Tapi sekarang sudah kering dan tidak menghasilkan apa-apa lagi.”

IRONI KEHIDUPAN DI GUNUNG KARASIK

Irony of Fate Gunung Karasik

Ya, sejak perusahaan tambang batu bara beroperasi di sekitar desa, kehidupan warga dusun Gunung Karasik berubah total. Desa yang terletak di dataran tinggi dan lokasi paling ujung Kabupaten Barito Timur ini di apit oleh dua perusahaan tambang batu bara dan menyebabkan jalur desa tersebut terputus dari desa lainnya. Sungai Mabayoi yang selama ini digunakan warga untuk kebutuhan sehari-hari diduga kuat tercemar logam berat yang berasal dari perusahaan tambang. “Anak-anak sakit perut dan terkena gizi buruk. Para perempuan di desa kami pun kena korengan. Kami tidak berani lagi untuk menggunakan air dari sungai itu. Jangankan ikan, buaya saja sudah mati karena sungai itu sudah sangat beracun,” tutur Ahini. Mulyadi, salah satu warga juga mengisahkan kesulitan mereka untuk mencari bahan pangan. Dulu dengan mudah mereka dapat mengambil ikan dari sungai atau berburu di hutan, namun sekarang segala sesuatu menjadi susah didapatkan. Untuk air bersihpun mereka harus berjalan jauh ke anak sungai yang lain,dan itupun belum tentu steril dari pencemaran tambang. “Mau melakukan ini dan itu susah de,” tutur salah satu ibu yang ditemui tim redaksi. “Mau berladang sekarang lahannya sudah tidak banyak, belum lagi kalau kabut asap, mau bakar lahan untuk ladang juga ragu, takut ditangkap.” Dusun Gunung Karasik sendiri adalah sebuah desa kecil yang terdiri dari empat puluh kepala keluarga. Ibu Mardiana, seorang aktivis masyarakat adat menjelaskan bahwa kehidupan masyarakat sangat memprihatinkan. “Saya seringkali pergi ke sana untuk mengunjungi mereka. Bahkan ada keluarga yang hanya mampu menyediakan makan satu kali sehari untuk keluarganya. Saya seringkali menangis karena sedih dan prihatin,” tutur Mardiana.

A

dry wood lightly browned still stands tall in the middle of a dusty path toward Gunung Karasik village, Barito Timur. “It used to be a lot of bees and honey,” says Ahini, one of the residents. “We used to take honey from here. But now it is dry and does not produce anything anymore. “ Yes, since the coal mining company operated around the village, the lives of the citizens of the village of Mount Karasik changed. Village located in the plateau and the location of most tip of East Barito Regency is surrounded by two coal mining companies and causes the village was cut off from other villages. Mabayoi river which is used for daily needs of citizens allegedly polluted by strong heavy metal originating from the mining company. “Children affected by a stomach ache and poor nutrition. The women in the village got ichy and skin problems, even wounded. We are afraid to use water from the river. Don’t say about fish, even crocodile died because the river has been very poisonous,” said Ahini. Mulyadi, one of the citizens also deals with the difficulty for them to find food. It used to be very easy that they could take fish from the river or hunting in the forests, but now things are getting difficult to obtain. They have to walk miles away to get clean water, and even it is doubtful if water source is sterile from the pollution of mine. “Every thing now is getting wrong to do and confusing, “ said one mother to editorial team. “There is no much land to grow something; even now we are afraid to open the land, we want to burn to prepare the field but fear of being arrested.” Gunung Karasik village itself is a small village consisting of forty families. Mardiana, an indigenous activist explained that people’s lives are very hard. “I often go there to visit them. There is even a family that is only able to provide a one time meal a day for his family. I often cry, it is very sad, “said Mardiana. The area is rich yet poor. The folks at Mount Karasik might be described as ironic survivors, people who struggle against poverty in the midst of the natural wealth that they should enjoy.

Daerah kaya, penduduk miskin. Orang-orang di Gunung Karasik dapat disebut sebagai ironic survivors, orang –orang yang berjuang melawan kemiskinan di tengahtengah kekayaan alam yang sepatutnya mereka nikmati.

14

15


B

obi, pria berusia 23 tahun, asal desa Marang adalah seorang penambang emas tradisional yang telah bekerja sebagai penambang emas sejak ia lulus dari bangku SMP. “Karena tidak ada biaya sekolah, saya tidak melanjutkan ke SMA, saya bergabung bersama saudara- saudara saya yang lain untuk bekerja nyedot,” tuturnya kepada majalah Danum.

BEKERJA DI BAWAH ANCAMAN

WORKING UNDER THE THREAT

B

obi, a 23-year-old man, the origin of the village of Marang is a traditional gold miner that has worked as a gold miner since he graduated from junior high. “Because there was no money for school, I didn’t continue into high school, I joined my brothers and the other to work nyedot,” he said to Danum. This man claimed that working as a gold miner is no easy job. Not only because the work is arduous and the occasional ups and downs, but also because of the work he did this includes illegal by the Government due to environmental damage and called crossovers. Although they dig on the grounds of their own, nonetheless they were pursued by police. The reason, gold that is on the depth of the land is State-owned, Government-owned and not theirs. “I often too worry when work, afraid that if suddenly there are raids from law enforcement authorities, the threat of prison can be up to four years.” The week before being interviewed by the editorial team, Bobi told me that six people from the miners who worked in the same location with her freshly caught law enforcement authorities with the threat of imprisonment up to four years.

Pria ini mengaku bahwa bekerja sebagai penambang emas adalah pekerjaan yang tidak mudah. Bukan hanya kerena pekerjaannya yang berat dan terkadang pasang surut, namun juga kerena pekerjaan yang ia lakukan ini termasuk illegal oleh pemerintah karena disebut merusak lingkungan dan merugikan negara. Meskipun mereka menambang di tanah milik mereka sendiri, tetap saja mereka dikejar-kejar oleh polisi. Alasannya, emas yang ada di dasar tanah itu adalah milik negara, milik pemerintah dan bukan milik mereka. “Saya sering kuatir juga ketika bekerja, takut kalau tiba-tiba ada razia dari pihak berwajib, ancaman penjaranya bisa sampai empat tahun.” Seminggu sebelum diwawancara oleh tim redaksi, Bobi bercerita bahwa enam orang dari pekerja tambang yang bekerja satu lokasi dengannya baru saja ditangkap pihak berwajib dengan ancaman penjara maksimal empat tahun.

Bobi currently working in one of the villages in the Regency of Gunung Mas said that at low tide, he will go home hometown and work as fishermen to meet the needs of his family. However it is not an option he can take because of its low income. Although he is aware that his job is at risk, Bobi is still not thinking of quitting. “This is the only job I can do and produce enough than becoming a fisherman or other jobs,” said Bobi while hugging his son. “Maybe if my wife had graduated College, I will consider switching jobs.”

Bobi yang saat ini bekerja di salah satu desa di Kabupaten Gunung Mas mengatakan bahwa saat air surut ia akan pulang kampung dan bekerja sebagai nelayan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, namun itu bukanlah pilihan yang dapat ia ambil mengingat penghasilannya yang tidak seberapa. Walaupun ia sadar betul bahwa pekerjaannya beresiko, Bobi masih belum berpikir untuk berhenti. “Ini adalah satu-satunya pekerjaan yang bisa saya lakukan dan cukup menghasilkan dibandingkan menjadi nelayan atau pekerjaan lainnya,” ujar Bobi sambil memangku putranya. “Mungkin kalau istri saya sudah lulus kuliah, saya akan mempertimbangkan untuk beralih pekerjaan.”

In Borneo, particularly Central Kalimantan, residents who survive for their lives by working as a gold miner, either done manually or using machines suck. Rubber prices are getting low and forest fires that devastated the fields make the farmers have no other choice. Bobi is only one portrait of the thousands of Dayak society undergoing work under threats and are on the verge of starvation and law observance.

Di Kalimantan, secara khusus di Kalimantan Tengah banyak warga yang menyambung hidup dengan bekerja sebagai penambang emas tradisional, baik yang dilakukan secara manual maupun yang menggunakan mesin sedot. Harga karet yang semakin terpuruk dan kebakaran hutan yang menghancurkan ladang membuat petani tidak punya pilihan lain. Bobi hanyalah satu potret dari ribuan masyarakat Dayak yang menjalani pekerjaan dibawah ancaman dan berada di ambang ketaatan hukum dan kelaparan.

16

17


S

arapat, Barito Timur adalah desa dimana Pirman (samaran) tinggal. Bapak dari empat orang anak ini menceritakan kisahnya.

Pada tahun 2007 PT. Sawit Graha Manunggal masuk ke desa Sarapat. “Saya sama sekali tidak pernah menyerahkan tanah dan ladang saya kepada pihak perusahaan, tapi tau-tau mereka sudah mengklaim bahwa tanah itu adalah wilayah perkebunan sawit. Rupanya tanah saya sudah dijual oleh warga lain. Tentu saja saya tidak terima, saya melawan, tapi saya justru berurusan dengan polisi.”

TERTINDAS DI TANAH SENDIRI

OPPRESSED IN HIS OWN LAND

S

arapat, is a village in East Barito where Pirman (not real name) lives with his family.

In 2007, a palm oil company, PT. Sawit Graha Manunggal started to operated in their village. “I never gave my field to the palm oil company, but they claimed that my land is the palm oil area,” said this father of four children. “Lately I knew that there were some villagers who sold my field to the company. I was complained but I just dealed with the authority.” At first, the villagers rejected the palm oil company to operate in the village, but this company come and started to plant the palm oil trees. They have already dealed with the chief of the village. “I tried to get my field back, I planted vegetables, casava and rubber trees there, but the company destroyed it and planted the palm tree. My sons and I pull out the palm trees and planted another plants there. I built a cottage and put some flags as my effort to defend my field, but I threatened and depressed harder than before.”

Pada mulanya seluruh warga desa Sarapat menolak untuk menerima masuknya perusahaan sawit tersebut, namun setelah beberapa waktu perusahaan tersebut tiba-tiba telah beroperasi. Rupanya sudah ada kesepakatan lain dengan kepala desa. “Saya berusaha untuk mendapatkan kembali tanah saya. Saya tanam sayur, tanam singkong dan pohon karet di sana, tapi dibabat oleh perusahaan lalu ditanami dengan sawit. Kami cabut pohon sawit tersebut, lalu kami tanam sayur lagi di sana dan membuat pondok di ladang itu, saya pasang juga spanduk dan bendera di sana, supaya mereka tahu bahwa tanah itu adalah milik saya. Tapi saya justru ditekan makin keras.”

Two of Pirman sons arrested when they were working on the field. “My son was arrested like a civilian,” said Pirman that wore brown plaid shirt at that time. “I myself many times visited by the police and about to be arrested.”

Dua orang anak Pirman ditangkap dan ditahan polisi kerena kasus sengketa tanah tersebut, “Anak saya ditangkap di ladang seperti preman,” kisah Pirman yang saat itu menggunakan baju cokelat kotak-kotak. “Saya sendiri berkali-kali didatangi polisi dan hendak ditangkap.”

Because of the pressure and the threats he received, Pirman finally agreed to sign a letter of agreement with the company which stated that Pirman has handed over his field to the company, “Even though I never handed over my field. I told them to take all my 20 acres of field in case they have to release my son from the prison.” Pirman handed over his field to the company volunterily without any more complain but the police keep arresting his son for one and half more months.

Karena tekanan dan ancaman yang diterimanya, Pirman akhirnya menyetujui untuk menandatangani surat perdamaian. “Surat itu menyatakan bahwa saya menyerahkan lahan saya 20 hektar kepada perusahaan, walaupun pada kenyataannya tidak seperti itu. Saya bilang ‘ambil saja tanah saya, yang penting bebaskan anak saya.’ Walaupun saya telah menyerahkan tanah saya dengan sukarela dan tanpa uang ganti rugi, anak saya tetap menjalani proses hukum dan mendekam selama satu setengah bulan lagi.”

Thousands of people of Kalimantan lost their right of their land and fields, not only because of the companies but also there some people who take advantages of it.

Sampai hari ini, ribuan warga Kalimantan kehilangan hak atas lahan dan tanahnya, bukan hanya karena pihak perusahaan saja tetapi ada oknum-oknum yang mengambil keuntungan dari kasus-kasus sengketa tanah yang terjadi.

In 2013, there were 127 land conflicts between the locals and the companies. 38 people were reported to the police. Eight were sentenced to prison. -Save Our Borneo-

18

19


KONFLIK AGRARIA DAN UPAYA JALAN KELUARNYA - Arie Rompas D i r e k t u r WA L H I K a l t e n g

S

ejarah konflik , Penguasaan komoditas sejak jaman colonial !

untuk menguasai perdagangan hasil bumi di Nusantara. Pada tahun 1602 melalui VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) maskapai perdagangan yang didirikan oleh Pemerintah Kolonial Belanda menancapkan kukunya di bumi Nusantara dengan memonopoli komoditas hasil pertanian. VOC yang awalnya hanya menguasai perdagangan hasil pertanian, kemudian mulai bergeser peranannya dengan melakukan penanaman komoditas. Model Priayangan Stelsel dengan mewajibkan rakyat menanam kopi yang di awasi oleh penguasa lokal atau raja-raja pada saat itu. VOC juga menggunakan sistem penyewaan tanah dan sistem partikelir dimana pengusahapengusah dapat menarik hasil bumi dan jasa penduduk pada tanah yang disewakan oleh VOC.

Pertentangan antara kelompok-kelompok untuk saling menguasai sumber daya alam sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah peradaban dan perkembangan masyarakat di dunia, hal ini diakibatkan oleh sistem ekonomi politik yang terus berkembang yang mengambarkan corak produksi dari sistem sosial masyarakat dari waktu ke waktu. Penguasaan terhadap alat produksi dan sasaran kerja termasuk tanah oleh sekelompok orang untuk akumulasi kapital mengakibatkan pertentangan ini terus terjadi karena watak manusia yang didukung oleh kekuatan sistem yang akan terus dipertahankan oleh kelas yang dominan walaupun kelompok tersebut bukanlah mayoritas dari segi kuantitas di masayrakat.

Pada tahun 1812-1916 Pemerintah Hindia Belanda melaui Gubernur Jendral Rafless dengan menerapkan sistem pajak yang merupakan bagian integral dari gagasan pembaharuan sistem pertanahan di wilayah kekuasaan Hindia Belanda. Sistem ini merupakan tonggak awal mulai dikenalnya sistem kepemilikan tanah individu atau perseorangan. Pada tahun Gubernur Van den Bosch menerapkan sistem tanam paksa yang telah menjadi cacatan kelam sejarah bangsa dimana banyak rakyat kelaparan, namun sangat menghasilkan keuntungan bagi pemerintah kolonial yang berhasil menyumbang 871 juta gulden.

Persoalaan konflik agraria di Indonesia merupakan sejarah panjang dari pengusaan tanah sejak jaman komunal primitif dan feodalisme dimana tanah-tanah kaum tani dan masyarakat adat di kuasi oleh raja-raja dan penguasa lokal yang selanjutanya diperkuat dengan kedatangan bangsa Eropa pada masa kolonialisme. Indonesia yang kaya akan sumber daya alam menjadi incaran bagi bangsa asing kolonialisme pada era “gold-glory-gospel” untuk mengeruk komoditas lada dan rempah-rempah di mulai dari penguasaan jalur perdagangan hingga langsung menguasai wilayah secara teritori dengan bekerja sama dengan penguasa lokal yang mengakibatkan terjadinya konflik agraria dan meninggalkan warisan konflik yang panjang dimana untuk menguasai sumberdaya alam dan wilayah akan diikuti dengan kebijakan dan aturan yang menjadi rujukan penguasa untuk merampas tanahtanah rakyat dan kaum tani dan masayarakat adat yang sebelumnya bisa di kelola secara mandiri dan merdeka.

Karena keberhasilan sistem tanam paksa tersebut mengundang kaum liberal yang didominasi oleh pengusaha swasta mendorong agar pihak swasta untuk ikut terlibat dalam usaha dibidang perkebunan. Puncaknya dengan dikeluarkannya Undang–Undang Pertanahan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1870 (Agraris Wetch). Undang–Undang tersebut mengatur pihak swasta untuk ikut secara langsung terlibat dalam usaha Perkebunan di wilayah kekuasaan Hindia Belanda dengan diaturnya hak sewa, hak erfprach, hak egindom dan lainnya, yang terus berlanjut hingga di masa kemerdekaan terjadi nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan asing yang berujung pada dikeluarkanya UU Pokok Agaria pada tahun 1960 yang merupakan salah satu tonggak perjuangan kaum tani, namun pasca jatuhnya presiden Soekarno liberalisasi terhadap tanah dan sumber-sumber agraria kemudian dijalankan pada jaman pemerintah Soeharto

Setelah lakunya komoditas rempah para penjajah ini kemudian mengembangkan sistem petanian komersial yang menggantikan sistem pertanian subsistem masyarakat di Nusantara untuk mengakumulasi keuntungan yang lebih besar. Komersialisasi pertanian diawali dengan penjelajahan yang dilakukan oleh bangsa–bangsa Eropa dari mulai Portugis, Spanyol dan puncaknya Belanda 20

21


S

ejarah konflik , Penguasaan komoditas sejak jaman colonial !

untuk menguasai perdagangan hasil bumi di Nusantara. Pada tahun 1602 melalui VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) maskapai perdagangan yang didirikan oleh Pemerintah Kolonial Belanda menancapkan kukunya di bumi Nusantara dengan memonopoli komoditas hasil pertanian. VOC yang awalnya hanya menguasai perdagangan hasil pertanian, kemudian mulai bergeser peranannya dengan melakukan penanaman komoditas. Model Priayangan Stelsel dengan mewajibkan rakyat menanam kopi yang di awasi oleh penguasa lokal atau raja-raja pada saat itu. VOC juga menggunakan sistem penyewaan tanah dan sistem partikelir dimana pengusahapengusah dapat menarik hasil bumi dan jasa penduduk pada tanah yang disewakan oleh VOC.

Pertentangan antara kelompok-kelompok untuk saling menguasai sumber daya alam sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah peradaban dan perkembangan masyarakat di dunia, hal ini diakibatkan oleh sistem ekonomi politik yang terus berkembang yang mengambarkan corak produksi dari sistem sosial masyarakat dari waktu ke waktu. Penguasaan terhadap alat produksi dan sasaran kerja termasuk tanah oleh sekelompok orang untuk akumulasi kapital mengakibatkan pertentangan ini terus terjadi karena watak manusia yang didukung oleh kekuatan sistem yang akan terus dipertahankan oleh kelas yang dominan walaupun kelompok tersebut bukanlah mayoritas dari segi kuantitas di masayrakat.

Pada tahun 1812-1916 Pemerintah Hindia Belanda melaui Gubernur Jendral Rafless dengan menerapkan sistem pajak yang merupakan bagian integral dari gagasan pembaharuan sistem pertanahan di wilayah kekuasaan Hindia Belanda. Sistem ini merupakan tonggak awal mulai dikenalnya sistem kepemilikan tanah individu atau perseorangan. Pada tahun Gubernur Van den Bosch menerapkan sistem tanam paksa yang telah menjadi cacatan kelam sejarah bangsa dimana banyak rakyat kelaparan, namun sangat menghasilkan keuntungan bagi pemerintah kolonial yang berhasil menyumbang 871 juta gulden.

Persoalaan konflik agraria di Indonesia merupakan sejarah panjang dari pengusaan tanah sejak jaman komunal primitif dan feodalisme dimana tanah-tanah kaum tani dan masyarakat adat di kuasi oleh raja-raja dan penguasa lokal yang selanjutanya diperkuat dengan kedatangan bangsa Eropa pada masa kolonialisme. Indonesia yang kaya akan sumber daya alam menjadi incaran bagi bangsa asing kolonialisme pada era “gold-glory-gospel� untuk mengeruk komoditas lada dan rempah-rempah di mulai dari penguasaan jalur perdagangan hingga langsung menguasai wilayah secara teritori dengan bekerja sama dengan penguasa lokal yang mengakibatkan terjadinya konflik agraria dan meninggalkan warisan konflik yang panjang dimana untuk menguasai sumberdaya alam dan wilayah akan diikuti dengan kebijakan dan aturan yang menjadi rujukan penguasa untuk merampas tanahtanah rakyat dan kaum tani dan masayarakat adat yang sebelumnya bisa di kelola secara mandiri dan merdeka.

Karena keberhasilan sistem tanam paksa tersebut mengundang kaum liberal yang didominasi oleh pengusaha swasta mendorong agar pihak swasta untuk ikut terlibat dalam usaha dibidang perkebunan. Puncaknya dengan dikeluarkannya Undang–Undang Pertanahan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1870 (Agraris Wetch). Undang–Undang tersebut mengatur pihak swasta untuk ikut secara langsung terlibat dalam usaha Perkebunan di wilayah kekuasaan Hindia Belanda dengan diaturnya hak sewa, hak erfprach, hak egindom dan lainnya, yang terus berlanjut hingga di masa kemerdekaan terjadi nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan asing yang berujung pada dikeluarkanya UU Pokok Agaria pada tahun 1960 yang merupakan salah satu tonggak perjuangan kaum tani, namun pasca jatuhnya presiden Soekarno liberalisasi terhadap tanah dan sumber-sumber agraria kemudian dijalankan pada jaman pemerintah

Setelah lakunya komoditas rempah para penjajah ini kemudian mengembangkan sistem petanian komersial yang menggantikan sistem pertanian subsistem masyarakat di Nusantara untuk mengakumulasi keuntungan yang lebih besar. Komersialisasi pertanian diawali dengan penjelajahan yang dilakukan oleh bangsa–bangsa Eropa dari mulai Portugis, Spanyol dan puncaknya Belanda

Grafik : Pengusaan lahan oleh grup perusahaan besar kelapa sawit di Kalimantan Tengah.

22

Soeharto dengan diterbitkanya UU Penanaman Modal Asing dan sektoralisasi sumbera daya alam menjadi tonggak penting semakin meningkatnya konflik agraria, karena hampir semua sumber penghidupan rakyat yang berbasis pada sumber daya alam dikuasai oleh segelintir orang yang berafiliasi dengan kroni Soeharto bahkan bisnis militer ikut merajalela semakin memperparah perampasan tanah dan konflik agraria. Sejarah panjang tersebut kemudian manjadi salah satu warisan yang masih terus terjadi dan mengakibatkan konflik agaria dan sumberdaya alam terus terjadi di indoensia hingga saat ini.

industri dalam negeri dalam menciptakan industrialiasi nasioanal untuk peningkatan produktivitas dan nilai lebih dari sumber daya alam yang melimpah. Pola ekonomi seperti ini mensyaratkan Indonesia, termasuk Kalimantan Tengah sedang membangun ekonomi yang rapuh karena berbasis pasar dengan menciptakan tenaga kerja buruh dan kemiskinan struktural yang berkepanjangan, semnatara masayrakat Dayak tanahanya dirampas dan harus hidup dengan konflik yang berkepanjangan.

Bagaimana di Kalimantan Tengah ?

W

Dimana Ruang dan Tanah Untuk Rakyat ? ilayah Provinsi Kalimantan Tengah dari segi luasan yang mancapai 15,3 juta hektar memang merupakan salah satu wilayah yang masih memiliki wilayah yang luas dan memiliki sumber daya alam yang melimpah, namun pada kenyataanya wilayah tersebut bukan lagi menjadi ruang hidup bagi rakyat dimana wilayah Kalimantan Tengah Telah dikontrol oleh investasi dan dikapling-kapling oleh segelintir orang dengan cara memonopoli tanah dalam bentuk perijinan untuk ijin pertambangan, HPH/IUPHK dan perkebunan monokultur skala besar seperti HTI dan Kebun Sawit. Bahkan sebuah holding perekebunan sawit yang berbasis di Singapura dan Malaysia (Wilmar Group) mampu memiliki ijin perkebunan sawit dengan mengontrol perusahaan yang memiliki areal seluas hampir 200.000 hektar di Kalimantan Tengah merupakan ketimpangan pengusaan agraria yang sangat berpotensi konflik.

S

ejarah pengerukan sumber daya alam di Kalimantan Tengah sudah terjadi sejak jaman kolonialisme Belanda dan pasca kemerdekaan, sejak dikeluarkan UU Penanam Modal oleh pemerintah Orde Baru, Kalimantan Tengah menjadi salah satu lumbung sumber daya alam terutama sektor kehutanan, khususnya hasil kayu alam yang menjadi primadona saat itu dengan di terbitkan ijin HPH. Seiring berkurangya hutan kemudian pada tahun 90-an mulai masuk industri sawit dan semakin masif aktivitasnya sejak tahun 2000 karena didorong oleh permintaan pasar dunia terhadap minyak CPO dan issue biofuel sebagai pengganti fosil fuel untuk bahan bakar nabati menjadikan Kalimantan Tengah sebagai wilayah pembukaan perkebunan sawit skala besar dan monokultur. Pada era otonomi daerah sejak tahun 2003 banyak terbit ijin usaha pertambangan khususnya tambang ekstraktif batu bara yang menjamur bak cendawan di musim hujan yang diterbitkan oleh pejabat daerah. Melihat modus pengerukannya dari waktu ke waktu menunjukan sistem investasinya tidak berubah dengan mengeruk habis sumber daya alam melalui kontrol atas wilayah dengan memonopoli kawasan sebagai basis produksinya untuk bahan komoditas eksport dalam pemenuhan komsumsi bahan baku negara luar seperti bahan baku kayu termasuk hutan tanaman industri (HTI), migas (mineral dan batubara) dan CPO yang semuanya untuk eksport. Dengan sistem yang berlanjut seperti ini menunjukan negeri ini sebagai negeri setengah jajahan dimana kita hanya menyediakan bahan baku untuk industri dan konsumsi luar negeri tanpa mampu membangun

Penguasaan lahan untuk korporasi telah mencapai + 12,862,922.00 atau setara dengan 83,76 persen sudah diberikan pengelolaan kepada korposasi melalui perijinan dalam bentuk pengusaan perkebunan, pertambangan dan kehutanan, sementara model kelola masyarakat melalui skema Plasma/Kemitraan, Hutan Desa dan Hutan kemasyarakat dan hutan Rakyat seluas 282,442 Ha atau 2,20 % dari jumlah luasan pengusaan lahan oleh koporasi yang mencapai 12,862,922 Ha, bahkan hanya 0,22 % dari total wilayah Kalalimanatan Tengah yang diberikan pengelolaanya kepada Masyarakat.

23


Konflik Agraria dan Sumber Daya Alam di Kalimanatan Tengah

masing 1 kasus. Sementara untuk kasus kriminalisasi warga yang dipicu oleh konflik agraria sepanjang tahun 2015 sebanyak 20 orang, 1 orang tewas dan 5 orang luka.

Persoalaan ketidakadilan agraria melalui penguasaan lahan oleh korporasi besar menjadi problem pokok penyebab konflik agraria. Massifnya perluasan perkebunan sawit untuk memenuhi kebutuhan minyak dunia semakin mempertinggi potensi konflik agraria di Kalimantan Tengah. Beberapa perusahaan international yang bebasis di luar negeri yang merupakan pemain bisnis terbesar untuk industri CPO memiliki penguasaan lahan melalui perijinan di Kalimantan Tengah. Seperti Wilmar dan Sinar Mas adalah 2 perusahaan raksasa yang menguasai bisnis minyak sawit dari hulu hingga hilir.

Bagaimana Jalan Keluarnya ? Dalam hal menyelesaikan konflik yang sudah mengakar ini, tentunya harus dimulai dari akar persoalanya dimana ketimpangan atas penguasaan sumber-sumber agraria harus diselesaikan oleh pemerintah tentunya dengan menghilangkan penguasaan sumber agaria oleh segelintir orang dengan secara konsisten melaksanakan reforma agraria sejati, Reforma Agraria sejati bukan saja pembagian tanah kepada kaum tani dan pengakuan Wilayah Masyarakat Adat, tepapi juga harus diikuti dengan menghentikan pemberian ijin konsensi bagi sekelompok orang dan mengatur regulasi produksi untuk menumbkan sector ekonomi di tingkat kaum tani dan masyarakat adat dengan model-model ekonomi kerakyatan sehingga sumber-sumber agraria mampu menopang perekonomian masyarakat di tingkat pedesaan dan komunitas masyarakat adat yang mandiri dan berdaulat. Sementara disisi lain pemerintah harus membuat satu badan khusus yang otonom untuk menyelesaikan konflik-konflik yang sudah dan sedang terjadi. Badan khusus ini harus mampu menyelasaikan dan mendudukan secara objektif dan berkeadilan untuk memastikan bahwa subjek dan objek konflik bisa teridentifikasi dengan baik dan bisa di selesaikan secara berkeadilan. Mekanisme konflik harus di sediakn di luar mekasnisme perdilan konvensional yang justru banyak merugikan masyarakat karena sering masyarakat tidak memiliki legalitas formil terhadap objek tanah di tambah lagi peradilan konvensional yang mudah di beli oleh pengusaha. Jika basis social monopoli tanah tidak hancur, maka konflik agraria adalah satu keniscayaaan yang akan terus ada di kehidupan rakyat kecil yang selalu tertindas.

Kondisi ini sangat kontras dengan ketimpangan bagi masyarakat adat/lokal yang masih berjuang untuk memperoleh hak pengelolaan dan pengakuan terhadap wilayah mereka. Secara akumulatif, kasus konflik agraria yang berhasil direkam oleh Walhi Kalimantan Tengah sejak tahun 2005 hingga 2014 terdapat 265 kasus konflik agraria seluas 134.061,07 hektar tanah yang terdapat di 13 Kabupaten dan 1 kota, dan sebagian besar konflik tersebut belum diselesaikan. Konflik agararia ini hampir 80 persen berada di sektor perkebunan sawit, selanjutnya diikuti oleh pertambangan dan kehutanan. Konflik yang bersifat akumulatif atau terus menerus dan belum memperoleh penyelesaian karena mandeknya saluran untuk menyelesaikan konflik sehingga semakin tahun konflik terus bertambah. Dalam kondisi dan situasi seperti ini rakyat dipaksa untuk mencari jalan kelaur sendiri bahkan dijebak kriminalisasi sehingga sulit mendapatkan keadilan. Sementara sepanjang tahun 2015 terdapat 16 kasus konflik agraria dengan luasan sebesar 8,566.5 Hektar. Yang tersebar di 7 Kabupaten yakni Kotawaringin Timur 5 kasus, Seruyan 3 Kasus, Kapuas 3 kasus, Katingan 2 kasus, Barito Utara, Barito Timur dan Lamandau masing-

Grafik : Kasus konflik agraria per kabupaten di Kalimantan Tengah. 24

25


terkendali.

dan ditemukan mikroorganisme bermanfaat dari sekitar perakaran karamunting.

Masalah dan tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan SDA di Kalimantan adalah;

SUMBER DAYA ALAM KALIMANTAN: TANTANGAN DAN PELUANG Oleh Yanetri Asi Nion, S.P., M.Si., Ph.D.*)

M

enurut Tjilik Riwut, Kalimantan artinya adalah pulau yang mempunyai sungai yang besarbesar (kali=sungai dan mantan artinya sama dengan besar). Tanah Kalimantan mempunyai banyak kekayaan sumber daya alam seperti kekayaan alam flora, fauna, mikroorganisme, juga bahan tambang patut diperhitungkan di Indonesia. Kalimantan dikenal juga sebagai paru-paru dunia karena kekayaan alamnya sebagai salah satu sumber biodiversitas dunia dan telah menjadi magnet penelitian selama 150 tahun lebih sampai saat ini dimana masih banyak sejumlah spesies flora dan fauna yang di antaranya sangat langka, endemik dan belum teridentifikasi. Pada tahun 1990 an saja, baru ditemukan 10.000-12.000 jenis tumbuhan berkayu, sementara ada lebih 3000 jenis anggrek.

Timur, merupakan produksi nomor tiga terbesar setelah Papua. Penghasil minyak terbesar yang ada di Indonesia, salah satunya berada di Kalimantan Timur, bahkan salah satu kotanya dikenal sebagai kota minyak, yaitu kota Balikpapan, dimana terdapat beberapa lokasi pengeboran minyak bumi di propinsi ini, seperti di daerah SangaSanga, Mamburungun, Kutai dan blok Mahakam. Penyedia batu bara terbesar di Indonesia salah satunya berasal dari Kalimantan Selatan, yaitu berasal dari daerah Pulau Laut. Penduduk asli Kalimantan adalah suku Dayak. Kehidupan orang dayak pada jaman dahulu adalah selalu bersahabat dengan alam karena kehidupan mereka tergantung dan berasal dari alam, sehingga mereka berusaha untuk menjaga agar alam mereka sendiri tidak rusak. Walaupun pada jaman dulu terkenal istilah peladang berpindah, tetapi mereka sebenarnya sedang mempraktekan teori untuk mengistirahatkan tanah/ladang yang ditinggalkan, dengan membuka lahan baru, sambil menunggu lahan lama yang telah ditinggalkan kembali tumbuh menjadi hutan liar kembali dan tanahnya beristirahat dari segala bentuk budidaya. Pada umumnya mereka hanya membuka lahan dengan ukuran yang tidak terlalu besar, sehingga apabila ladang telah ditinggalkan atau dibiarkan dapat segera menjadi hutan kembali.

Menurut Heyne di tahun 1950 saja telah ditemukan bahwa ada 5000 jenis tumbuhan berguna untuk kayu pertukangan, obat-obatan, makanan, minyak nabati/resin, makan ternak dan kegunaan lain. Salah satu yang terkenal sebagai obat adalah bawang dayak (Eleutherine palmifolia) dikenal dapat menyembuhkan penyakit kanker, jantung, diabetes, melancarkan sistem peredaran darah, menyehatkan sistem pernafasan, menyehatkan organ reproduksi kewanitaan dan melancarkan sistem metabolisme tubuh. Riset mengatakan bahwa dari 507 jenis pohon Dipterocarpaeae di dunia, ada 267 jenis ada di Kalimantan, dan 155 jenis hanya ada di Kalimantan.Banyak lagi kekayaan biodiversity lainnya, seperti berbagai jenis fauna seperti berbagai jenis ikan, burung, kelelawar, kupu-kupu, berbagi jenis kera, orang utan, buaya, beruang, kodok, dan lain sebagainya yang sangat menarik untuk diteliti dan dipelajari.

Pada saat pembukaan lahan dengan cara membakar pun mereka tidak sembarangan, yaitu dengan memperhatikan musim hujan, melihat arah angin, membuat sekat bakar, ada tanggungjawab dan kerjasama dengan anggota masyarakat dalam membakar lahan untuk bersama-sama menjaga lahan dan lahan yang akan dikelola masih dalam skala kecil sehingga mudah untuk mengendalikan api. Pada saat sekarang, jaman telah berubah dimana semakin banyak penduduk yang sulit diatur, semakin banyak manusia berkeinginan untuk membuka lahan dalam skala besar dan tidak ada tanggung jawab bersama untuk mengendalikan api yang telah digunakan untuk membersihkan lahan sehingga dapat menyebabkan kebakaran hutan yang tidak

Sumber dalam alam di bidang pertambangan dan bahan galian di Kalimantan cukup besar dengan kekayaan bahan tambang seperti emas, perak, biji besi, bauksit, nikel, tembaga, batu permata, zircon, marmer, gamping, mangan, mika, kaolin, minyak bumi, gas, dan batu bara. Produksi emas di Kalimantan Tengah dan Kalimantan

4. Hukum yang kurang ditegakkan untuk menertibkan setiap pelanggaran yang dilakukan oleh oknum tertentu. Dibutuhkan petugas hukum yang berintegritas untuk menuntaskan dengan adil dan benar setiap perkara yang berkaitan dengan pengelolaan SDA.

1. Kesalahan manajemen dalam pengelolaan sumber daya alam oleh pemerintah yang tidak berorientasi untuk keberlangsungan secara kontiyu, hanya untuk kepentingan jangka pendek dan kepentingan tertentu, dan tidak berpihak kepada masyarakat yang tinggal di pulau Kalimantan.

5. Alam yang sudah berubah sehingga sulit diprediksi kapan musim penghujan dan musim kemarau. Iklim yang berubah dapat menyebabkan musim kemarau yang panjang, mempercepat terjadinya kebakaran hutan, atau musim hujan yang dapat menyebabkan banjir, dan dapat terjadi badai puting beliung secara mendadak.

Pembangunan infrastruktur masih kurang dan banyak saran dan prasarana yang belum memadai apabila dibandingkan dengan pulau di Jawa. Padahal banyak sumber minyak, gas dan batu bara justru dikirim ke pulau Jawa sedangkan ternyata di Kalimantan masih terjadi kelangkaan minyak, gas dan juga kelangkaan listrik. Mengapa hal ini dapat terjadi, di daerah penghasil sumber energi tetapi terjadi kekurangan energi sendiri? Hal ini diduga karena terjadi kekeliruan dalam hal manajemen. Siapa yang bertanggung jawab mengatur manajemen ini? Tentu saja yang bertanggung jawab mengatur distribusi manajemen ini adalah pemerintah.

Yang harus dilakukan: 1. Pemerintah dapat melakukan perencanaan, pengelolaan dan manajemen yang tepat untuk mengelola dengan baik SDA yang ada di Kalimantan dan benar-benar memikirkan sebuah perencanaan jangka panjang untuk kesejahteraan penduduk yang tinggal di pulau Kalimantan.

2. Perubahan tingkah laku masyarakat yang semakin tergiur dengan memanfaatkan alam untuk mendapatkan pendapatan yang tinggi tanpa menjaga kelangsungannya dan tanpa memikirkan kepentingan orang lain. Pembukaan lahan pertambangan dan perkebunan ilegal tanpa membuat analisis dampak lingkungan yang bagus. Misalnya melakukan ilegal loging, pembakaran hutan tidak terkendali, penambangan emas dan zircon ilegal.

2. Sarana dan prasarana serta pembangunan infrastruktur di Kalimantan perlu lebih diperbanyak, dan pendidikan lebih ditingkatkan. Pendidikan dapat merubah pola pikir penduduk untuk dapat mengelola dan memanfaatkan SDA dengan baik, dan pendidikan yang baik membutuhkan sarana dan prasaran yang baik. 3. Pemerintah mengawasi dan menegakkan peraturan dan hukum yang berlaku dengan adil, tegas dan berintegritas.

3. Masyakat yang tinggal di Kalimantan dimanjakan oleh alam, sehingga terlena, manja dan kurang menghargai dan kurang peduli untuk memanfaatkan dan menjaga alamnya. Sesuatu yang didapat dengan mudah pada umumnya kurang dihargai, tetapi sesuatu yang sulit didapat pada umumnya sangat dijaga dengan baik. Ketertarikan peneliti dari luar Kalimantan untuk menggali rahasia kekayaan alam di Kalimantan Tengah sangat besar. Berdasarkan pengamatan penulis, penelitian mengenai kalakai (Stenochlaenapalustris) selama beberapa tahun terakhir ini hanya diteliti oleh 2 staf pengajar di Universitas Palangka Raya dan itu juga hanya 1-2 kali saja, sedangkan peneliti dari luar Kalimantan ada 6 orang yang sudah mempublikasikan riset, dan bahkan ada 9 orang asing yang juga menulis tentang kalakai di Kalimantan Tengah. Orang Indonesia lebih mengarah riset kalakai untuk potensi nutrisi, mineral dan bahan obat sedangkan orang asing selain mengarah ke potensi nutrisi juga mengarah ke arah lingkungan, mikroorganisme dan status hara. Publikasi beberapa tahun terakhir (sampai tahun 2015) mencatat ada 7 orang peneliti dari luar Kalimantan (orang Indonesia), dan 8 orang asing yang telah meneliti dan mempublikasikan risetnya mengenai karamunting (Melastoma malabatrichum). Tanaman karamunting berpotensi sebagai obat, bioremediasi, bahan pewarna

4. Masyarakat yang tinggal di pulau Kalimantan sendiri juga harus aktif untuk memanfaatkan, menjaga dan memelihara SDA yang ada. Mengambil peluang yang ada, menjadi pelaku dan jawaban atas masalah yang ada, tidak hanya menyalahkan pemerintah apalagi hanya pasrah, menonton dan berpangku tangan. Kita sendiri tidak akan mendapatkan atau menikmati kesejahteraan suatu kota apabila kita tidak berusaha mengusahakannya. Kesejahteraan kota adalah kesejahteraan kita juga. Contoh kecil yang dapat kita buat adalah seperti yang dibuat oleh staf pengajar di Universitas Palangka Raya adalah dengan membuat kebun buah-buahan lokal spesifik Kalimantan yang diinisiasi sejak tahun 2014, agar kelestarian plasma nutfah buah lokal Kalimantan tidak punah. Kebun buah lokal tersebut ditangani oleh tim Green Campus yang diketuai oleh Bapak Mandarin Guntur ST, MT dan penanggung jawab kebun tersebut dikelola oleh Dr. Nyahu Rumbang. Mereka menghimbau bagi masyarakat yang mempunyai bibit langka atau biji buah lokal yang sudah langka, dapat menyumbangkan bibit tersebut untuk dapat dilestarikan. Mari bersama menjaga SDA kita.

*) staf pengajar di program studi Agroteknologi, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya. Staf pengajar di pascasarjana, program studi Biologi, Universitas Palangka Raya

26

27


Speak up for those who cannot speak for themselves, for the rights of all who are destitute Tangkiling Hill

28

29


Launching Night

P

P

Acara sendiri dimulai dengan welcoming drink reception yang diikuti dengan tarian pembuka oleh volunteer Youth Act. Sejumlah video dan film pendekpun ditayangkan, diantaranya dokumenter pendek When Women Fight yang mendokumentasikan perjalanan tim Ranu Welum dan kampanye Youth Act dalam memerangi kebakaran hutan dan kabut asap. Pada kesempatan ini, Ranu Welum juga secara resmi meluncurkan DANUM Magazine, majalah bilingual Indonesia-English pertama di Kalimantan yang berbicara tentang budaya dan kemanusiaan. Peluncuran DANUM Magazine ini sendiri disambut antusias oleh para tamu, khususnya para wisatawan yang ingin mengetahui banyak hal tentang Dayak dan kebudayaannya. “Ini sangat luar biasa, saya bahkan membeli beberapa untuk dibaca juga oleh teman kantor saya,” ungkap Suzanne Turnock dari Organisasi Outrop.

The launch started with welcoming drink reception which then followed by opening dance performed by YOUTH ACT volunteers. Videos and short films wee screened; one of them was shot documentary entitled When Woman Fight which documented the journey of Ranu Welum team and Youth Act campaign on stopping forest fire and toxic haze. At this occasion, Ranu Welum officially also launched DANUM Magazine, a first bilingual magazine Indonesia-English in Kalimantan that talks about culture and humanity. This publishing of DANUM Magazine was welcomed enthusiastically by guests, especially those who came from abroad that really want to know about Dayak and its culture. “This is quite amazing, I even bought some so my staffs also could read it,” said Suzane Turnock from Outrop.

ALANGKARAYA- Pada tanggal 16 Mei 2016 lalu ALANGKARAYA- On May 16th 2016 Ranu Welum Ranu Welum Media menggelar grand launching Media had its grand launching at Betang Mandala di Betang Mandala Wisata, Palangka Raya. Lebih Wisata, Palangkaraya. The event was attended by dari seratus tamu undangan yang terdiri atas mahasiswa, more than one hundred guests from various organization organisasi masyarakat, NGO, pengamat lingkungan, and communities. Some are students, NGOs, academic akademisi dan media menghadiri acara launching tersebut. and pers.

Hal yang spesial juga pada malam itu adalah kehadiran beberapa tamu special yang datang dari luar negeri dengan sengaja ke Palangkaraya untuk menghadiri launching. Salah satunya Sofia Blake, istri Duta Besar US untuk Indonesia yang baru saja tiba siang itu di Palangkaraya. Ada pula Wally Tham dari Big Red Button Singapore yang sengaja datang ke Palangkaraya untuk menghadiri acara launching, dan David Metcalf bersama dengan tim wisatawan yang dipandunya. Puncak dari launching ini adalah diresmikannya Ranu Welum dengan symbol penyalaan api oleh Emmanuela Shinta dalam sebuah tarian dan semburan bubuk damar. Acara kemudian dilanjutkan dengan fellowship makan dan minum seraya diiringi oleh band jazz One Day coustic yang melantunkan lagu-lagu dengan sangat indah.(Lin)

30

One special thing from that night was the attendance of some special guests who came from other countries to Palangkaraya only to join the launching. One of them was Ms. Sofia Blake, the wife of US Ambassador for Indonesia who just arrived that day in Palangkaraya. There also Wally Tham from Big Red Button Singapore, and also David Metcald who came his friends from Bali and some countries. This Ranu Welum night came to its final moment when its founder, Emmanuela Shinta, officially launch the foundation by bringing a dance and set up a fire on her hands by throwing resin. The event then end with sweet fellowship, eating and drinking while being accompanied by One Day Coustic, a jazz band that played beautiful songs along the night.

31


Buntoi Village

FESTIVAL

B

B

UNTOI- Pada tanggal 15-17 Juli 2016 diadakan sebuah festival di kampung Buntoi, Pulang Pisau, dengan tema “Dengan Mahaga Lewu, Itah Mahaga Kesah Tatu Hiang Itah”. Festival ini dimeriahkan oleh pertunjukan tarian dan musik oleh para pengisi acara baik dari Kalimantan maupun luar Kalimantan. Didik ‘Nini Towok’ dan Trie Utami pun turut hadir memeriahkan festival tersebut. Ada juga stan makanan dan stan sovenir yang memberdayakan ibu-ibu dan warga Buntoi. Festival yang berlangsung selama tiga hari ini dihadiri oleh ratusan warga, tidak hanya warga Buntoi, tetapi juga pengunjung dari kabupaten lain di Kalimantan Tengah.

UNTOI- On 15-17 July 2016 a festival was held in Buntoi village, Pulang Pisau, with the theme “By Mahaga, Put Mahaga Itah Lewu Tatu Hiang Itah”. Some dances, music and song performances were shown by performers both from Kalimantan and Borneo. Didik Nini Towok and Trie Utami were also coming to attend and perform at the festival. There is also a food booth and souvenir stands which promoting the local wisdom and as empowerment of women in Buntoi. The Festival last for three days and is attended by hundreds of citizens, not just the citizens of Buntoi, but also visitors from other districts in Central Kalimantan.

Menariknya, festival kampung ini dilakukan secara swadaya oleh warga Buntoi dan diprakarsai oleh Rayhan Sudrajat dan rekan-rekan dari Jaringan Kampung Nusantara. Pria asal Bandung ini mengaku tujuan utama diadakannya festival Kampung ini adalah untuk memberdayakan budaya handep di kalangan masyarakat Dayak yang saat ini mulai menghilang karena tergerus kemajuan zaman dan juga sikap masyarakat yang terbiasa bergantung dengan pemerintah daerah. “Alasan utama diadakannya festival ini adalah untuk melestarikan budaya yang ada di masyarakat kampung,” ujar pria yang datang pertama kali ke Kalimantan Tengah dua tahun yang lalu ini. “Selain itu, festival ini diadakan di kampung, karena kampung merupakan pilar penyangga budaya seperti seni tari, musik, sastra lisan dan budaya lain yang harus dipertahankan.”

One thing that interesting is that festival programs was initiated by Rayhan Sudrahat and team from Archipelago Village Networking, and cost by local people of Buntoi themselves. Rayhan that came from Bandung explained the ultimate purpose of this Villae festival is to preserve Handep culture in Dayak society which is now started to disappear because of globalization. “We want to support the preservation of culture among villagers,” said man who came to Kalimantan two years ago. “Besides, this festival needs to be held in the village, because village is the pillar of culture such as dance, music, oral literature and others. We need to stand for and maintain it.” During preparation of the festival, Rayhan and friends spent one and half month to work with villagers and volunteers like Titik Sugiarti and Restono, to prepare everything. The Head of Pulang Pisau regency then has announced to hold similar festival for next year. Thus, Buntoi Village Festival has succeed to be a model for a cultural-preservation event that oriented to villagers as lead actor. (Lin & Joen)

Untuk persiapan festival, Rayhan menghabiskan waktu selama satu setengah bulan di desa Buntoi dan dibantu oleh rekan-rekan lain seperti Titik Sugiarti yang menggerakkan relawan dari luar kota dan pak Restono, salah satu warga desa. Bupati Pulang Pisau sendiri telah mencanangkan untuk mengadakan festival serupa tahun depan. Demikianlah, festival kampung Buntoi telah berhasil menjadi sebuah model acara pelestarian budaya yang berorientasi kepada masyarakat desa sebagai aktor utama. (Lin&Joen)

32

SUSTAINABLE SOLUTIONS

B

B

ALI (10/6/2016)- Pada tanggal 10-11 Juni 2016 lalu, sekolah berbasis lingkungan Green School International Bali mengadakan sebuah festival lingkungan Sustainable Solution (Penyelesaian yang berkelanjutan). Festival ini dihadiri oleh lebih dari 500 orang yang berasal dari berbagai negara, orang tua murid, mahasiswa dan masyarakat setempat.

ALI (10/6/2016)-On 10-11 June 2016, schoolbased environmental Green School in Bali International held an eco- festival Sustainable Solution. This Festival lately was attended by more than 500 people from various countries consist of parents, students and the local communities. The festival itself has several programs and activities such as workshops, Speaker Series, Eco-Market, as well as live music and drama performance. Emmanuela Shinta, founder of the Foundation Welum Ranu, who also is the founder of the magazine DANUM participated as one of the five speakers Speaker Series session. With the theme Tale of AN Activist, From Challenge to Triumph, she shared about her experiences in moving as activists in Borneo, in particular regarding forest fires and smoke haze that occurred in 2015.

Festival ini sendiri terdiri dari beberapa program dan aktivitas yaitu Workshop, Speaker Series, Eco-Market, serta pertunjukan musik dan drama. Emmanuela Shinta, pendiri yayasan Ranu Welum, yang juga adalah pendiri majalah DANUM turut berpartisipasi sebagai salah satu dari lima pembicara sesi Speaker Series. Dengan tema Kisah Seorang Aktivis ‘Dari Tantangan Menuju Kemenangan’, Shinta berbagi tentang pengalamannya dalam bergerak sebagai aktivis di Kalimantan, khususnya mengenai kebakaran hutan dan kabut asap yang terjadi pada tahun 2015 lalu.

Sustainable Solution is an annual festival held the Green School that aims to share information and find solutions to environmental problems from the perspective of grassroots community. Sara Soulier as coordinator of the festival expressed her hope that next year many more people can participate and contribute to the festival. (Roro)

Sustainable Solution sendiri merupakan festival tahunan yang diadakan Green School yang bertujuan untuk berbagi informasi dan menemukan solusi bagi permasalahan lingkungan dari perspektif masyarakat akar rumput. Sara Soulier sebagai koordinator festival berharap agar tahun depan lebih banyak lagi pihak yang dapat berpartisipasi. (Roro)

33


T

Eks PLG Proyek Sejuta Nestapa -Project of Sorrow & Suffering-

N

idak banyak yang tahu tentang pembukaan lahan sejuta hektar yang diprogramkan oleh presiden Soeharto sebagai lahan pertanian pada tahun 1995. Beberapa waktu lalu Tim redaksi mewawancarai Drs. Tampung N. Saman, M.Lib seorang dosen di Universitas Palangka Raya lulusan University of Wales yang bergabung dengan CIMTROP sejak tahun 1995 dan aktif dalam kegiatan lingkungan, termasuk menjadi anggota TSA (Tim Serbu Api) pada tahun 1996 hingga 1998. Selain pak Tampung, ada pula Yulius Saden, M.Ed, lulusan Hawai’i University yang saat ini bekerja sebagai konsultan Lingkungan.

ot much is known about the opening of the land of a million hectares are added by President Suharto as agricultural lands in 1995. Some time ago editorial team interview Drs. Tampung N. Saman, M. Lib, a lecturer at the University of Palangkaraya that graduated from the University of Wales and joined CIMTROP since 1995. He is active in environmental activities, including being a member of the TSA (Fire Assault Team) in 1996 to 1998. In addition to Tampung, there is also Julius Saden, M.Ed, University of Hawai’i graduate currently working as a consultant to the environment.

Perbincangan menarik dimulai, ketika redaksi menanyakan sejarah pembukaan lahan sejuta hektar dan kanalisasi yang dilakukan oleh presiden Soeharto. “Proyek lahan sejuta hektar ini bermula dari isu menyempitnya lahan pertanian di pulau Jawa,” ujar TampungN.Saman kepada tim redaksi. “Sementara presiden Soeharto telah mencanangkan bahwa Indonesia sebagai swasembada pangan.”

Interesting discussion started, when the editor asked the million-acre land opening history and canalization conducted by President Suharto. “A million acres of land this Project originated from the menyempitnya issue of farmland on the island of Java,” said Tampung to the editorial team. “While at that time, President Suharto has declared that Indonesia stood as a food self-sufficient country.”

Beliau menuturkan bahwa pada tahun 1995 ada sekitar 70 profesor dan doktor yang terlibat dalam proyek tersebut. Mereka menyadari betul bahwa lahan gambut tidak akan mungkin bisa dijadikan sebagai lahan pertanian. “Untuk mengakalinya mereka memiliki justifikasi untuk membawa abu gunung Bromo di pulau Jawa untuk menutupi lahan gambut seluas sejuta hektar di Kalimantan, sehingga tanah gambut dapat digunakan sebagai lahan pertanian. Ini adalah ide gila, dan sampai hari ini PLG adalah proyek gagal.”

He said that in 1995 there were about 70 professors and doctors involved in the project. They realized very well that peat would not likely be used as farmland. “To solve it, they have a justification to bring the ashes of Mt. Bromo in Java to cover an area of one million hectares of peat land in Kalimantan, thus peat can be used as agricultural land. That was a crazy idea, and to this day the PLG was a project fail. “

“Gubernur Kalimantan Tengah saat itu, Warsito Rasman mengatakan bahwa ini adalah program pemerintah, siapa yang menentang disebut komunis,” tutur dosen Bahasa Inggris ini. “Almarhum pak Suwido Limin saat itu mengatakan, ‘Jika ada sebutan yang lebih buruk dari komunis silakan pak, asal jangan sampai gambut dibuka.’ Namun saat itu kebijakan presiden tidak dapat dicegah, sehingga hutan dibabat habis,” ujar pak Tampung kepada tim redaksi. “Pada awal tahun 1996 tanda-tanda kebakaran mulai terlihat, lalu pada pertengahan tahun, kebakaran hebat dimulai, dan dilanjutkan dengan kekeringan dan kebakaran hutan luar biasa sejak tahun 1997 hingga 1998, kebakaran hutan terjadi selama satu tahun penuh.” “Saat itu tidak pernah dilakukan peninjauan berapa

34

“The Governor of Central Kalimantan at that time said that it was a government program, who opposed against it then so-called communist, “said lecturer United Kingdom Language. “The late Mr. Suwido Limin said, ‘ if there’s a worse appellation than communist, Please Sir, just do not open the peat.’ But president’s policy could not be prevented, so they cut down the forests depleted, “said pak Capacity to the editorial team. “At the beginning of 1996 fire signs began to appear, then in the middle of the year, a great fire started, and continued with the drought and forest fires was incredible since 1997 until 1998. Forest fires occurred for one full year. “ “There has never been a review of how much damage and lost because of it,” said Julius Saden. “There has never been count on how many hundreds thousands orang utan and honey bear that died and lost their place of residence,

Ex PLG Project of Sorrow and Suffering Kanal yang dibangun oleh Jokowi saat kabut asap 2015

banyak kerugian yang dialami karena pembabatan hutan tersebut,” ujar Yulius Saden. “Berapa ratus ribu orang utan dan dan beruang madu yang mati dan kehilangan tempat tinggalnya, serta berapa ratus ribu burung tingang dan satwa lainnya yang mati akibat pembukaan lahan tersbut.” Kanal primer yang kita kenal sebagai Eks PLG tersebut melintasi tiga kabupaten, Pulang Pisau, Kapuas dan sedikit bagian Katingan yang memotong kubah gambut antara sungai Sebangau dan sungai Kahayan. “Akibatnya, Mangkatip di daerah Barito Selatan dan Tambak Bajai di Kapuas yang menjadi lumbung ikan bagi Kalimantan Tengah, dan desa Tumbang Nusa yang menjadi lumbung ikan bagi Kabupaten Pulang Pisau pun saat ini kekurangan ikan.” “Kebijakan kanalisasi yang dilakukan oleh Soeharto dan Jokowi sangat berbeda secara prinsip,” Yulius menambahkan. “Jika proyek Soeharto adalah membodohi rakyat, kebijakan kanalisasi Jokowi justru karena pembodohan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Dia mendengarkan informasi yang salah dari orang-orang yang juga tidak tahu apa-apa tentang gambut dan situasi di Kalimantan Tengah. Niat Jokowi memang baik, yaitu untuk membuat lahan gambut tetap basah, namun kanalisasi bukanlah perlakuan yang tepat untuk lahan gambut.”

as well as how many hundreds of thousands of hornbill birds and other wildlife die due to the opening of the land.” Primary canal which we know as Ex PLG traversed three regencies; Pulang Pisau, Kapuas and Katingan, and also cut peat dome between the Kahayan River and Sebangau. “As a result, Mangkatip in South Barito, Tambak Bajai in Kapuas and Tumbang Nusa which used to be barn fish for Central Kalimantan changed to be lack of fish now.” “Canal Policy conducted by President Suharto and President Jokowi are very different in principle,” Julius added. “If the projecs of Suharto was to fooled people, Jokowi’s policy happened because of being fooled by people who were not responsible. He listened to the wrong information from people who also don’t know anything about the peat and the situation in Central Kalimantan. Jokowi intention is indeed good/ He wants to make the peat remains wet, but canalization is not an appropriate treatment for peat. “ President Suharto or even President Jokowi may not feel the direct impact of the canalization project they performed, but thousands maybe even millions of lives, human or other living creatures have been disappearing because of the environmental damage mass gone with the destruction of forest and peat land in Kalimantan. (Lin)

Presiden Soeharto, atau bahkan Jokowi mungkin tidak merasakan dampak langsung dari kanalisasi yang telah dilakukan, namun ribuan bahkan mungkin jutaan kehidupan, baik manusia maupun makhluk hidup lainnya telah habis lenyap karena kehancuran lingkungan massal dengan dirusaknya hutan dan lahan gambut di Kalimantan. (Lin)

35


PRESS RELEASE

B U K A N D I L AYA N I , T E TA P I M E L AYA N I

Launch of new Indonesian organisation dedicated to protecting Borneo’s biodiversity

K

alimantan, Indonesia 21 July 2016 – A new Indonesian conservation organisation, dedicated to the protection of biodiversity on Borneo, was launched this week. The Borneo Nature Foundation is being created by the directors of the Orangutan Tropical Peatland Project (OuTrop), to reflect the organisation’s ambitious goals to protect more of Borneo’s natural environment and its endangered wildlife.

communities to protect their natural heritage is a key aim of BNF, which works in partnership with a number of committed stakeholders, including OuTrop’s long-term partners at the University of Palangka Raya (UPR), and Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMP). One of the first steps in realising this new vision is the establishment of the new Rungan River Orangutan Conservation Programme, aiming to protect 100,000+ hectares of critical but threatened forest; home to one of the largest populations of orangutans in Borneo found outside of protected areas. BNF will also be resurrecting the long-running Barito Ulu research station in the Heart of Borneo landscape; and undertaking a Bornean wild cat research and advocacy programme throughout Central Kalimantan.

OuTrop was established in 1999 following the discovery that the Sabangau Forest was home to the world’s largest orangutan population. The primary focus then was protecting Sabangau by bringing the region to the forefront of orangutan conservation efforts and working with Dr Suwido Limin and TSA Kalteng CIMTROP to stop illegal logging, fight fires and restore the peatland habitat. Since then OuTrop has grown and evolved to encompass a range of projects throughout Kalimantan in a wider range of habitat types and targeting many endangered and protected species, such as the clouded leopard and whitebearded gibbon.

OuTrop, now in its 17th year, will remain as the flagship programme of the Borneo Nature Foundation, with longterm ecological research; peatland restoration efforts and support of local firefighting teams, who put their lives on the line to stop annual fires and save forest, continuing in Sabangau.

Simon Husson, BNF Co-Director explains the reasons for creating the new foundation “We started OuTrop as a small research project with a small budget, and no full-time staff, but with a strong commitment to get the magnificent Sabangau Forest protected. Since these humble beginnings, and thanks to our many global supporters, we have grown in size, both in the scope of activities and in our conservation impact. The new name reflects our wider goals, to protect the natural environment of this wonderful island, and man’s place in it.”

“The challenges of protecting the Critically Endangered Bornean orangutan and their rainforest habitat are many and complex, and need committed, long-term actions to tackle them.” says Husson, “We aim to take what we have learnt in Sabangau and use this knowledge and experience to help protect biodiversity throughout Borneo. Our hope is for the Borneo Nature Foundation to make a real difference for conservation in the years to come.”

Borneo Nature Foundation is dedicated to protecting, restoring and managing high-priority forests in Indonesian Borneo through in situ conservation projects, conservation-orientated research, capacity building, and awareness and education initiatives. Empowering local

Contact information Suzanne Turnock, Communications Development Manager, Borneo Nature Foundation E-mail: info@outrop.com • Tel: + 62 (0) 82354633205 • Website: www.borneonaturefoundation.org • Facebook: www.facebook.com/borneonaturefoundation • Twitter: www.twitter.com/BorneoNature • Postal address: Borneo Nature Foundation, 91 Jalan Semeru, Bukit Hindu, Palangka Raya 73112, Kalimantan Tengah, Indonesia.

36

NOT TO BE SERVED, BUT SERVING

Yusup Roni is a chief of Tumbang Habangoi Village, Katingan

Regency is a young visioner Dayak leader who never forget where he comes from. With all achievements ,experiences, promises in the city to get better job and life after he graduated from Palangka Raya University, Roni, he used to be called, chose to come back to his village which is far from the urban city and lack of facilities for one purpose, to serve his people. In the midst of his busy schedule, he gave time to share his story.

W

D

ould you please to share your reason to come back to your hometown and became the chief of the village?

i tengah-tengah kesibukannya sebagai kepala desa dan juga sebagai mahasiswa S-2 Universitas Palangka Raya, Yusup Roni menyempatkan diri untuk berbagi tentsng kisahnya.

When I was in elementary school, I had a dream to develop my village with the education and knowledge that I have received. I dreamed someday that I could serve our people and develop our land. I realized that I had to start from the bottom. I need to understand my people by leading from the grassroot. Moreover, this is the time for young people to lead and make a change.

Apa alasan atau motivasi bapak kembali ke kampung halaman dan memilih menjadi kepala desa? Ketika saya masih di bangku sekolah dulu, saya bercitacita untuk kembali ke kampung halaman dan membangun desa dengan bekal pendidikan yang saya punya. Selan itu saya memiliki cta-cita dan keinginan untuk membangun serta memimpin daerah, saya menyadari bahwa saya harus memulainya dari bawah, ibarat kita sekolah, pasti dimulai dari Sekolah Dasar dulu, lalu dilanjutkan ke jenjang berikutnya, demikian pula dengan karir. Selain itu, saya menyadari bahwa inilah saatnya bagi anak muda untuk memimpin dan membangun daerahnya.

What is your opinion when people said that to be a chief of a village is not a popular choice? As long what I do is for the goodness of my people, what people say is not really matter. Criticism makes us keep moving forward. What are the challeges that you face as the chief of a village?

Apa tanggapan bapak terhadap pendapat bahwa menjadi kepala desa bukanlah pilihan yang populer, khususnya bagi anak muda?

Human resources in the village is one of the challenges that I face, especially in leading those people who have their own mind and thoughts. But those things depend on the leader. My principle as a leader, I should be able to be an example, serving my people and not to be served. I have to be able to work with them and become their friend. The other challenge is the transportation facility and the location of the village which is very far from the city where it is very diffcult to get quick information and logistics.

Bagi saya, selama kita punya niat baik dan tujuan kita adalah untuk melayani masyarakat, maka pendapat seperti apapun tidak akan menjadi masalah, justru kritikan dan masukan itulah yang diperlukan untuk sebuah kemajuan. Selama bapak menjadi kepala desa apa saja yang menjadi kendala atau tantangan bapak? Rendahnya Sumber Daya Manusia di pedesaan adalah salah satu tantangan tersendiri bagi saya, terutama dalam memimpin dan mengatur sekian banyak orang dengan pemikiran yang berbeda-beda. Namun semua itu kembali kepada diri pemimpin, bagaimana mengayomi dan bekerja sama dengan masyarakat. Prinsip saya, sebagai seorang pemimpin sayalah yang melayani dan memberi contoh kepada masyarakat di sekitar saya, bukan justru

Tumbang Habangoi is one of the villages that keeps its nature and this village has not been exposed by the companies, how do you maintain it? Tumbang Habangoi is the part of the heart of Borneo which protected by three nations, Indonesia, Malaysia

37


and Brunei Darusalam and we understand that it is also our responsibility. Together with the villagers, we protect the forest and nature arround the village. We also prohibit illegal mining and illegal fishing in our village. I myself will not give permission to the companies to operate in the village, especially palm oil company which causes many harms effect for the environment.

saya yang dilayani. Tantangan lainnya adalah lokasi desa yang jauh dari perkotaan sehingga cukup sulit untuk mendapatkan akses baik logistik maupun informasi, selain itu jalan menuju desa yang masih berupa jalan perusahaan sehingga untuk pulang pergi dari desa dan ke luar desa masih ada kendala. Desa Tumbang Habangoi adalah salah satu desa yang masih asri dan belum terekspos, bagaimana bapak mempertahankan hal ini?

Is there any anxiety if next leader of Tumbang Habangoi will not continue your vision and program? Or will you continue for the next period?

Bersama warga desa, kami sepakat untuk menjaga alam di sekitar desa. Saya secara pribadi yang didukung oleh warga tidak akan memberikan izin perusahaan masuk, terutama perusahaan perkebunan sawit yang dampaknya sangat merusak lingkungan. Selain itu kegiatan-kegiatan yang bersifat illegal dan merusak seperti illegal mining dan illegal fishing, bersama warga kami menolak keras hal itu. Desa Tumbang Habangoi masuk dalam wilayah Heart of Borneo yang dijaga oleh tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia dan Brunei Darusalam, dan ini adalah tanggung jawab kami juga sebagai warga desa.

I am so thankful for the trust that has been given to me by the villagers to serve them, but to be the chief of the village is not my main purpose. The strategic position to make and change the policies in this land is in regent or governor. My dream, someday I will be able to serve my people in Central Kalimantan from different position than today, but of course everything is depends on the trust of people who give the mandate. Can you share your programs for people in Tumbang Habangoi?

Apa saja program kerja bapak untuk masyarakat Tumbang Habangoi?

because once you fall, you will fall between the stars, it means, even you fail in one momment, another good opportunities already waiting for you.

Saat ini yang menjadi beban saya adalah untuk menyediakan lapangan pekerjaan bagi warga desa dengan penghasilan bulanan. Salah satunya adalah program koperasi seperti yang telah berjalan selama ini, seperti koperasi Habangoi Tahto dan Koperasi Puruk Mokoraja. Selain itu adalah sertifikasi tanah milik warga yang akan menjamin kepemilikan warga atas tanah.

Our conversation with Yusup Roni was over, but his spirit and his dreams for this land and for our generation ought to be our motivation as young Dayak generation to develop our homeland for better future of Kalimantan.

Apa pesan dan harapan bapak untuk generasi muda Kalimantan? Untuk warga Kalimantan, khususnya anak muda, saatnya untuk bangun dari tidur. Tidak terlena oleh arus zaman tetapi membangun kualitas, khususnya pendidikan, karena pendidikan adalah salah satu kunci kemajuan suatu bangsa. Ketika telah mendapatkan pendidikan jangan lupa asal dan kampung halaman, kembali dan bangun daerah kita. Dan yang paling penting, jangan mudah menyerah. Seperti kata Bung Karno, gantungkanlah impianmu di antara bintang-bintang di langit, karena jika kamu terjatuh kamu akan jatuh di antara bintang-bintang, artinya, sekalipun kita gagal pada suatu kesempatan, kesempatan baik lain menanti kita. Tidak terasa waktu berlalu dan berakhir pula perbincangan tim majalah DANUM dengan Yusup Roni yang saat ini masih aktif membimbing rekan-rekan muda Himpunan Mahasawa dan Pelajar Katingan yang ada di Palangka Raya. Semangat dan cita-cita kades yang terkenal sebagai pekerja keras ini hendaklah menjadi teladan bagi anak muda Kalimantan untuk membangun daerah, petak danum itah uluh Dayak.

Yusup Roni sedang mempraktekkan cara bertanam . Nampak tanah habangoi yang berwarna kuning liat.

Apakah tak ada ketakutan jika kepala desa selanjutnya tidak satu visi dengan Bapak? Apakah tidak ada niat untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa di periode berikutnya

This time, my concern is to provide work field which can give monthly income for villagers. One of the program is union for the villagers. Like Habangoi Tahto and Puruk Mokoraja union. Then, a program to certify the ownership of the villagers’ land.

Saya mensyukuri kepercayaan yang diberikan kepada saya, namun tujuan utama saya bukanlah menjadi kepala desa. Posisi yang strategis untuk membuat keputusan dan kebijakan yang berdampak bagi daerah bukanlah dipegang oleh kepala desa yang hanya memimpin beberapa ratus KK, tetapi ada di jabatan bupati atau gubernur. Harapan saya, kelak saya dapat mengabdi bagi daerah ini, namun tentu semuanya dikembalikan kepada masyarakat yang memberi mandat.

Last question, what is your suggestion and hope for young people in Kalimantan? This is our time to wake up from our sleeps, and develop ourselves, particularly in education, because education is one of the keys to develop our nation. Do not forget your root, where you come from, go back to your land and develop it. The most important thing is do not give up, as Bung Karno said, put your dream between the stars

38

Nama

: Yusup Roni

TTL

: Tumbang Jala, 27 April 1988

Pendidikan:

SDN-1 Tumbang Habangoi, SMPN-1 Sanaman Mantikei Tumbang Kaman,

SMA Kristen Tumbang Samba, S-1 PJKR FKIP Universitas Palangka Raya

Mahasiswa S-2 Magister Science Management Universtas Palangka Raya

Motto Hidup: Manusia berusaha, Tuhan menentukan (do the best, God do the rest)

Ayah: Hunjun Huke

Ibu: Terry Marlyna

Istri/Wife: Margaretha

Anak/Daughter: Hana Anastasia Putir Hunjun

Organizations:

OSIS SMPN-1 Sanaman Manikei Tumbang Kaman, Katingan

Ketua OSIS SMA Kristen Tumang Samba, Katingan

Presiden BEM Universitas Palangka Raya

Ketua DPC GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) Palangka Raya

Ketua Umum Himpunan Mahasiswa dan Pelajar Katingan

Pengurus KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) Kalimantan Tengah

Pengurus Karang Taruna Kalimantan Tengah

Ketua DPC APKASI (Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia) Kabupaten Katingan

39


WISDOM OF THE ELDERS STORY TELLING PROGRAM

S

S

tory telling is an integral part of indigenous cultures as they help to define who we are, our way of thinking, our values, beliefs and connection with the past.

tory telling atau bercerita adalah bagian yang tidak terpisahkan dari budaya suku asli yang membantu kita untuk mengenal siapa diri kita, cara berpikir, nilai-nilai kita, kepercayaan dan koneksi kita dengan masa lalu.

This wisdom through stories is held in the minds and hearts of our older generation as they remember the stories that were passed on from their ancestors.

Kearifan melalui cerita atau dongeng tersimpan dalam benak dan hati generasi di atas kita ketika mereka mengingat kisah yang diteruskan dari leluhur mereka.

So much of this is lost today, for many Dayak children growing up in towns and Villages do not have access to this any more. If these stories are not captured soon they will die with the older generation.

Sebagian besar dari kisah-kisah ini telah hilang, banyak anak-anak Dayak bertumbuh di kota maupun di pedesaan tidak memiliki akses terhadap kisah-kisah tersebut. Jika kisah-kisah ini tidak dikumpulkan segera maka mereka akan mati bersama dengan generasi di atas kita.

We simply cannot allow this to happen. Therefore the Wisdom of the elders story telling program has been launched in collaboration with Ranu Welum and Dayak Dave Metcalf.

Kita tidak seharusnya membiarkan hal ini terjadi. Karena alasan inilah, kearifan dari para leluhur ini telah dipublikasikan dalam Program Story Telling, yang merupakan kolaborasi antara Ranu Welum dan Dayak Dave Metcalf.

The objective is to get these stories into as many ears of Dayak people as possible through technology. Initially they will be available on the Ranu Welum website and then later for those without WI fi via Aps for tablets and smart phones.

Tujuannya adalah untuk membawa kisah-kisah tersebut kepada sebanyak mungkin orang Dayak melalui teknologi. Kisah-kisah tersebut dapat ditemukan di website Ranu Welum yang kemudian akan dapat diakses tanpa memerlukan internet pada aplikasi tablet atau smart phone.

At this stage we are gathering stories from all over Central Kalimantan so we encourage anyone who wants to help us by recording stories (they must be in Bahasa Indonesia, but could be gathered in local Dayak language but need to be translated).

Dalam kesempatan ini, kami mengumpulkan kisah-kisah tersebut dari seluruh daerah di Kalimantan Tengah, kami mendorong siapapun dari Anda yang hendak membantu kami dengan merekam kisah-kisah tersebut (akan lebih baik jika dalam Bahasa Indonesia, tetapi kami akan dengan senang hati menerima kisah dalam bentuk bahasa Dayak, namun perlu diterjemahkan terlebih dahulu).

The stories could be fiction, legends, historical, about people or the land, or villages. The storytellers should be able to express this knowledge in an interesting way. They could contain traditional music and could be funny, sad, happy, but should always reflect the richness and spirit of Dayak culture and people. Our story gatherer is Deshi Natalia or Echi based in Palangkaraya , so please contact her if you want to help. She can be contacted on PH 085249119976 .

Cerita tersebut dapat berupa fiksi, legenda, sejarah, tentang orang atau daerah atau desa. Para pendongeng haruslah dapat mengekspresikan pengetahuan ini dengan cara yang menarik. Kisah tersebut dapat berisi musik tradisional, dan bisa berupa kisah lucu, sedih atau bahagia, tetapi kisah-kisah tersebut harus dapat merefleksikan kekayaan dan spirit budaya Dayak dan orang Dayak itu sendiri.

www.ranuwelum.org

Pengumpul cerita kami adalah Desi Natalia atau Echi, Anda dapat menghubunginya untuk membantu mengumpulkan kisah-kisah tersebut melalui HP: 085249119976.

40

41


MANUK JE BAKABUN ROOSTE THE FARMER

J bua.

aman bihin melai ujung sungei, eka lewu metu, belum ije manuk, ara Kokok. Kokok iete manuk je rajin bakabun tuntang maimbul kare macam sayur tuntang

Ije andau katika, bua je imbul Kokok jadi sampai wayah kana putik bara upu. Tuh Kokok mimbit kare pahari, kula jalahan ayu mamutik bua tuntang sayur melai kabun je puna hai te. Setelah jari kana putik uras hasil kabun te, Kokok mamuat akan jukung ayu je inampa bara upak samangka. Kokok masuh kan lewu hai je tege pasar luka bajual hasil kabun te. Melai jukung sukup simpan kare macam bua je imbit Kokok tege kare bua pisang, bua kanas, bua nangka, rambutan, dahuyan, langsat dan are macam bua je beken. Kokok mambese melai sapanjang sungei dengan muatan je seret. Melai bentuk jalan, tege Bake dengan anake. “Uy Kokok,” kuan Bake bara saran tewang. “Kan kueh ikau? Tende helu hetuh, aku handak numpang kan lewu sila te,” “Handak masuh, handak bajual hasil kabunkuh,” kuan Kokok. ‘Tau bewe, takan be, kareh aku patende ikau amun jadi sampai.” Perjalanan jadi mulai kejau, Kokok hamaoh, “Handak jari sampai ndai lewu.” “Hindai,” kuan Bake. “Masih kejau, leka lewu je ngawa ah.” Dia pire katahi anak Bake manangis balaku pisang. “Anu Kokok, taulah aku baluku pisang? Pasi akem tuh.”

O

nce upon a time, in an animal village there lived a rooster called Kokok. Kokok was a farmer; he had a big farm where he planted vegetables and fruit trees. The day came when it was time for Kokok to harvest the fruit, so he called all his siblings to help him. After the harvest done, Kokok fetched his boat that was made of watermelon skin and away he sailed to the big village where he could sell his fruit. Therewere many kinds of fruit. There were bananas and pineapples; there were jack fruit, rambuta and even durian and langsat and so many other kinds of fruit. While Kokok was sailing along, in the middle of his the river, he met Monkey and her child. “Hi Kokok,” shouted Monkey. “Where are you going? May I go with you? I also want to go to a village along the way.” “I’m going to sell the harvest from my fruit orchard,” answered Kokok. “Sure you may come with me, I will stop at the village you want to go to.” They sailed further along the river, then Kokok said “We almost arrive at the village that you want to go to.” “Not yet,” said Monkey. “It is still far.” Suddenly, Monkey’s child started to cry, and ask for a banana. “May I have some bananas Kokok? My child is hungry.” “Sure, you may,” replied Kokok. Monkey and her child ate up all the bananas.

Tisa upak timun je hapan Kokok manimba Danum bara jukung.

Then, Monkey’s child began crying again. “May we have

Nangis ndai anak Bake tuh, balau manggau pangina. “Kok, laku upak timun tuh lah.”

very hungry.”

“Not yet,” sai Monkey. “It is another village.”

Tahi-tahi hindai, Kokok hamaoh, “Handak sampai lewu tuh itah Bake.”

Suddenly her child cried again, and this time asked for durian.

Makin tahi danum sasar are tame, jukung jite jadi handak lelep, separu ndai danum ka suang jukung.

“Hindai, masih lewu je ngawa,” tumbah Bake.

“May we have some durian?”

Dia pire-pire manangis anak Bake balaku dahuyan.

“Sure, you may,” said Kokok.

“Kok, taulah aku balaku dahuyan tuh? Akem jari balau.”

Monkey and her child ate all the durian till there was no more left.

Akhir ah Kokok tarawang ka saran tewang, tapi Bake tuntang anake sasar leteng, dan akhir ah mate buseng awi dia tau hananguy.

42

skin that was used as their boat. They ate Kokok’s boat. Suddenly water began to come into the boat but they could not do anything because the cucumber skin was eaten. The

Tiba-tiba danum tame ka jukung awi kana kurip gawin Bake tuntang anake. Tapi dia tau inimba awi timba ah jadi lepah kinan. “Kilen ampi tuh Kok? Danum leteng ka jukung. Tau leteng jukung itah tuh.”

Bake ewen due anake kuman pisang te sampai lepah.

Sepanjang perjalanan te, Bake selalu mander ewen hindai sampai lewu tujuan ayu dan anakke selalu manangis balaku panginan, sampai bua Kokok lepah uras dia basisa.

again. This time Monkey asked Kokok for the watermelon

Bake ewendue anak tuh kuman upak samangka, jukung Kokok.

Kokok mancoba manduhup Bake dengan anake tapi iye dia tau awi ewen due labih hai biti bara Kokok.

No matter how far they went along the river, Monkey always said that they had not yet arrived at the village. Her child kept on crying and asking for fruit till all of Kokok’s fruit was finished. There was only a cucumber skin left, which was used to empty water from the boat.

They ate the cucumber skin but Monkey’s child cried

Bake ewen dua anake kuman timba te. Dia pire limbas jite, anak Bake tuh manangis hindai balaku pangina. Bake, balaku upak samangka je akan jukung ewen te akan kinan ewen due anake.

A little while later, Kokok said, “We almost arrive at the village you said.”

Bake ewen due anak kuman dahuyan te sampai lepah.

“Sure, just take it,” said Kokok.

“Takan, duan ih.”

“Takan duan ih,” tumbah Kokok.

“Takan,” kuan Kokok sambil mambese.

the cucumber skin Kokok?” asked Monkey. “My child is

boat started to sink. “Please help us Kokok,” said Monkey. Kokok tried to help them but he could not because he was smaller than Monkey and her child. The water filled the boat and Kokok could do nothing, so away he flew to the river bank, but monkey and her child sank with the boat. So tells the sad tale of a greedy and selfish person who always wants to have more and more.

Te kisah tentang contoh uluh je serakah tuntang mikir arepe kabuat. Akhir ah, iye je mananggung akibat perbuatan ayu kabuat.

43


Rotan Rotan adalah tanaman berbatang yang merambat dan berduri dan memiliki daun hijau panjang, banyak ditemukan di hutan tropis, salah satunya di Kalimantan. Di masa lalu, sebelum harga rotan turun, rotan menjadi salah satu sumber daya alam Kalimantan yang menjadi sumber pengahasilan yang menyokong kehidupan warga, khususnya warga Kalimantan Tengah. Tanaman rotan dapat dibuat menjadi berbagai macam kerajinan tangan, seperti tikar, kursi, meja, tas, bahkan sepatu dan banyak lagi.

Sumber : net

Rattan is a trunk plant which grows in tropical forests with green long leaves, especially in Kalimantan. In the past, before the decrease in its sale price, rattan was a valuable natural resource in Kalimantan and was indeed an important income source for the people of Kalimantan, especially in Central Kalimantan. Rattan was often used to make handy crafts such as mats, chairs, tables, bags, shoes and many other useful products.

Gaharu Kayu gaharu adalah salah satu tanaman langka yang terdapat di hutan Kalimantan dengan harga jual yang cukup tinggi. Kayu gaharu memiliki berbagai macam kegunaan, seperti parfum, aksesoris, obat terapi penyakit dan minyaknya dapat digunakan untuk obat antidepresi. Di Kalimantan Tengah, Kabupaten Lamandau adalah daerah yang telah lama membudidayakan tanaman gaharu.

WADIAN

DADAS BAWO

T

ari Dadas atau yang juga disebut Balian Dadas ini adalah salah satu tarian masyarakat Dayak yang berasal dari suku Dayak Ma’anyan yang tinggal di daerah Barito. Tarian ini dilakukan oleh perempuan Dayak Maanyan dan merupakan pasangan dari tarian Bawo yang dilakukan oleh laki-laki. Dalam berbagai acara tarian ini hampir selalu dilakukan bersamaan sehingga disebut Wadian Dadas Bawo. Tarian ini dilakukan dalam berbagai ritual adat, pertunjukan seni dan upacara pernikahan. Upacara pernikahan yang melibatkan tarian Dadas Bawo disertai dengan upacara mencari pengantin perempuan, yang disebut Iwurung Jue.

Sumber : net

Damar

Ciri khas dari tari Dadas dan Bawo adalah penggunaan gelang dari kuningan yang menghasilkan suara khas. Penari perempuan mengenakan anyaman janur sebagai mahkota sementara penari laki-laki mengenakan kalung dari tulang dan manik-manik serta daun janur dan ‘rirung’ yang disematkan pada belakang punggung. Tarian ini biasa diakhir dengan atraksi Wadian Bulat.

Damar berasal dari getah pohon damar yang telah mengeras dan banyak terdapat di hutan kalimantan. Damar adalah salah satu sumber daya alam yang menjadi sumber penghasilan bagi warga Kalimantan. Kegunaan damar bermacam-macam, ada yang dijadikan korek api, bahan baku cat, vernis dan pelitur.

D

adas dance, also called Balian Dadas is one of Dayak dances that originated from the Dayak Ma’anyan tribe lived in the area of Barito. The dance is performed by women, and is a partner of the Bawo dance performed by men. In the various events of this dance is almost always done together so called Wadian Dadas Bawo. This dance is performed in a variety of custom, ritual art performances and wedding ceremonies. Wedding ceremonies involving dance Dadas Bawo is done along with a ceremony of seeking a bride, called Iwurung Jue. Main characteristic of the Bawo Dadas dance is the use of the big brass bracelet a loud yet distinctive sound. Female dancers wearing webbing janur as Crown while male dancers wearing a necklace of bones and beads and leaf janur, and rirung leaf are pinned on behind your back. The dance usually ends with a Wadian Bulat attraction.

44

Agarwood is a rare wood found in Kalimantan forests and is valued at a very high price. Agarwood is used as an ingredient in perfume, and medicine including anti-depressants. In particular agarwood is planted in the Central Kalimantan region of Lamandau Regency and thus is regarded as a source of agricultural work.

Sumber : net

Damar is the hardened resin of the damar trees found in Kalimantan forests. Damar is a natural resource which has become an income source for the people of Kalimantan. It has many uses such as in the manufacture of lighters, paint, lacquer and varnish.

45


OF S E C A F

E

DA

TUR U F K YA

46

47


- Closing K

ita telah membaca kisah demi kisah di setiap lembaran majalah ini dan itulah kebenaran yang terjadi di bumi Kalimantan di mana kita juga merupakan bagian darinya. Apa yang terjadi bukanlah dongeng atau halusinasi dari sekelompok aktivis atau penduduk asli Kalimantan, fakta dan data telah membuktikannya.

W

e have read the stories in every page of this magazine and what we read is the truth that happen in Kalimantan where we are living as part of it. What happens is not a fairy tale or hallucination of some activists or indigenous people of Kalimantan, facts and figures prove it. It is real and it happen around us.

Ini nyata dan inilah yang terjadi di sekitar kita.

As a reader we have choice to determine our act toward the information we have gotten. The changes do not start from others. It starts from us and within us. We always have choice whether we only read and keep the information as knowledge, or we react and do real action toward the information.

Sebagai pembaca, kitalah yang menentukan sikap akhir terhadap informasi yang kita terima. Perubahan tidak dimulai dari orang lain, tetapi justru dari diri sendiri. Namun kita selalu bisa memilih, apakah kita akan menjadi orang yang hanya membaca dan menyimpannya sebagai informasi dan pengetahuan atau mengetahui lalu melakukan tindakan nyata.

We are the part of the solution and the solution itself. Thank you for reading DANUM until the last page. see you on the next editions!

Kita semua adalah bagian dari solusi dan solusi itu sendiri. Akhir kata, tim redaksi mengucapkan terima kasih atas kesetiaan pembaca hingga pada halaman terakhir DANUM, sampai berjumpa di edisi-edisi sealanjutnya.

My homeland is my life, my dignity

Regard,

Tana danumku pombolumku, pongunjung tarungku.

Editorial Chief

Tabe

Lina Karolin

Pemimpn redaksi Lina Karolin

48

49


When the whole world is silent, even one voice becomes powerful -Malala Yousafzai-

DANUM Magazine 2nd Edition  

DANUM Magazine was created by Dayak youth to feature the voices of the Dayak indigenous community in Kalimantan, and their stories of cultur...