Page 1

10

simpang ring banjar

JUMAT

13 JUNI 2014

www.tribun-bali.com

SUKRA PON MEDANGSIA ÇAKA 1936

Krama Siapkan Piodalan Pura Merajan Agung

DUA puluh orang lebih memadati Pura Merajan Agung di kawasan Banjar Sigaran, Desa Adat Mekarbuana, Abiansemal, Badung, Selasa (10/6). Orang yang terdiri dari kaum tua, muda, lelaki dan perempuan itu tengah sibuk menyiapkan sarana upakara yang akan digunakan untuk ritual piodalan. Kelian Pura Merajan Aguung, I Ketut Sadu mengatakan warga yang menyungsung pura itu berasal dari berbagai banjar. Diantaranya, dari Banjar Sigaran 30 kepala keluarga (KK), Sedang Sigaran 9 KK, Gulingan 2 KK dan 12 KK dari Sinabun, Singaraja. “Terdapat penyungsung di banjar lain, tidak terlepas dari sejarah pura yang panjang. Dulu mereka mebanjar di sini. Karena beberapa alasan, seperti menikah maupun mencari pekerjaan di luar banjar, akhirnya penyungsung di sini tersebar ke berbagai daerah,” ujarnya “Karena pura ini merupakan pura leluhurnya, maka meski tinggal jauh, tetap tidak bisa ditinggalkan begitu saja,” ujar Sadu saat ditemui di jaba tengah Pura Merajan Agung. Odalan di pura ini dilakukan

tiga kali setiap enam bulan. Saat Tumpek Wayang pengamong pura khusus melakukan prosesi ritual untuk lontar yang terdapat di sana. Sementara, saat Anggarakasih Budha Manis (besok), 41 KK itu melaksanakan prosesi upakara untuk semua Ida Bhatara yang berstana di sana. Adapun Ida Bhatara yang terdapat di pura yang memilik 17 pelinggih itu, di antaranya Ida Bhatara Ratu Besakih, Bhatara Batur, Ida Bhatara Rambut Siwi, Ida Bhatara Tengahin Segara, Ida Bhatara Dalem Peed, dan Ida Bhatara Dalem Tangkas. “Odalan saat ini, semua Ida Bhatara itu diundang untuk menyaksikan prosesi upacara,” ujar Sadu. Sebagai masyarakat yang religius, warga Bali tidak bisa lepas dari kewajiban upakara. Sebab itu, sesibuk apapun, ngayah pada Ida Bhatara Sesuhunan wajib dilakukan. Hal tersebut dikatakan oleh IPDA, I Made Oka, anggota Polisi Polda Bali. “Kebetulan saat ini sedang cuti, ya dipakai untuk bersosialisasi dengan masyarakat. Namun poin pentingnya adalah ngayah pada Ida Bhatara,” ungkapnya. (weg)

, ran t a g Si Ada a a s De rbuan ka me

TRIBUN BALI/I WAYAN ERI GUNARTA

PERSIAPAN UPAKARA - Warga Banjar Sigaran sedang sibuk membuat sarana upakara piodalan Pura Merajan Agung, Selasa (10/6).

Warga Banjar Sigaran Tak Berani Sembarang Tebang Pohon

Hanya Boleh Diambil untuk Barong Sesuhunan

TRIBUN BALI/I WAYAN ERI GUNARTA

PENJOR KREASI - Deretan penjor warga di Banjar Sigaran, Selasa (10/6)

STT Pawai Membuat Penjor Kreasi ANGGOTA Sekaa Teruna Teruni (STT) Dharma Swastika mahir membuat penjor. Mereka sering mendapat tugas membuat penjor saat odalan di Pura Kahyangan Tiga Desa Pekraman Sigaran. Belum lama ini mereka menjadi juara I Penjor Terbaik se Kecamatan Abiansemal, Badung. Wakil Ketua STT setempat, I Putu Edi (23) saat ditemui di Banjar Sigaran, Selasa (10/6) siang mengatakan, kepiawaian rekan-rekannya membuat penjor terasah setiap Galungan. Ada nuansa kompetisi saat me-

reka membuaty penjor Galungan. “Ide-ide baru sering muncul saat membuat penjor Galungan,” tandasnya. Saat Tribun Bali mendatangi banjar tersebut, semua penjor warga menggunakan hiasan gebogan, ekor kuda dan onceroncer. Meski demikian, unsur filosofis penjor, sebagai simbol upakara pada Ida Batara Gunung Agung tidak hilang. Segala jenis rempah-rempah, seperti palawija, pala gantung dan pala bungkah masing dipasang pada penjor itu. “Kami di sini paham, penjor bagus tidak akan berguna tanpa ada rempah-rempahnya,” ungkapnya. Sekaa demen yang beranggotakan 440 orang ini juga memiliki tradisi unik untuk merayakan hari kemerdekaan RI. Yakni mengadakan pawai bendera merah putih raksasa. Mereka melibatkan anakanak sekolah dasar dalam pawai tersebut. “Benderanya diarak dan diiringi

gamelan baleganjur dari batas banjar sampai Banjar Samu Sigaran,” ungkapnya. Pria yang karib dipanggil Edi itu mengatakan tujuan dilakukan pawai bendera adalah untuk membangkitkan rasa nasionalisme masyarakat Bali. Agar masyarakat tidak terjerumus ke dalam lubang egosentris, pragmatis dan subversi. “Kemerdekaan sangat sulit diraih. Sangat disayangkan bila warga saat ini melupakan bagaimana susahnya para pejuang bisa mengibarkan bendera,” ujar mahasiswa jurusan Teknik Universitas Udayana itu. Organisasi yang terbentuk 23 Agustus 1975 ini juga melestarikan perlombaan-perlombaan tempoe doeloe setiap merayakan ultah tahun STT. Seperti lomba makan kerupuk, tarik tambang dan jalan santai. “Menurut kami, itu adalah lomba paling tepat untuk menyatukan warga masyarakat. Sebab, pelaksanaan perlombaannya penuh dengan kelucuan dan sama sekali tidak terdapat suasana tegang,” ungkapnya. (weg)

Nii K N Kadek ade Dwi Yanti

Ingin Nyanyi Bareng Agnes

M

ISTIMEWA

ENYANYI adalah kegiatan yang paling disenangi Ni Kadek Dwi Yanti. Dara cantik kelahiran 23 Maret 1997 ini mengatakan, bernyanyi bisa menghilangkan stres karena kesibukan sekolah. “Saya sering bernyanyi sambil membuat tugas sekolah. Sebab, kalau tidak demikian, tentu suasana sumpek akan lebih sumpek,” ujarnya saat ditemui di rumahnya, Selasa (10/6) pagi. Penyanyi paling dipuja-puja oleh gadis yang akrab dipanggil Dwi ini adalah Agnes Monika. Menurutnya Agnes merupakan seniman vokal yang banyak kejutan. “Dia itu hebat. Kalau menyanyikan lagu sedih, pendengarnya juga ikut sedih. Kalau membawakan lagu rock, pendengarnya juga akan bersemangat. Jarang ada penyanyi seperti itu di Indonesia,” ungkap siswi SMK Kertayasa, Tebongkang, Ubud itu. Pada Tribun Bali, Dwi mengatakan memiliki keinginan besar untuk bisa duet bareng Agnes. “Semua lagunya sudah saya hafalkan. Saat ini hanya menunggu keberuntungan bisa bernyanyi sama Agnes,” ujarnya lalu tertawa kecil. Selain memiliki hobi menyanyi, Dwi juga aktif dalam kegiatan seni tari di banjarnya. “Menari adalah keharusan di sini. Sebab, setiap odalan membutuhkan penari. Karena itu, dari kecil saya bersama teman-teman di Banjar Sigaran sudah diarahkan oleh para orangtua untuk belajar menari, ungkapnya. (weg)

Pura Dalem Banjar Sigaran, Desa Adat Mekar Buana, Abiansemal, Badung dikelilingi pohon-pohon raksasa. Tak ada yang berani sembarangan menebang.

M

ESKI pohonpohon tersebut bisa mengancam bangunan pura bila tumbang, warga setempat tetap menjaganya. Bahkan warga memiliki upacara khusus setiap tumpek bubuh. I Made Suta, warga setempat, meyakini pohon raksasa yang terdiri dari pohon beringin, jabon dan sebagainya itu merupakan pohon sakral. Sehingga penebangan tidak boleh dilakukan sembarangan. Namun, apabila sudah ada pohon yang lapuk, baru ditebang bagian yang lapuk saja,” ujarnya saat ditemui di Pura Dalem setempat, Selasa (10/6) siang. Warga setempat mengatakan pohon tersebut sudah berusia ratusan tahun. Bebagai keyakinan orang Hindu Bali pada umumnya, pohon tua biasanya dijaga oleh mahkluk gaib. “Kalau pohonnya ditebang, kami rasa bukan hal yang positif didapat. Tapi malah mahkluk gaib akan mengganggu ketenteraman banjar. Karena rumahnya ditebang,” ujar seorang warga yang tidak ingin disebut namanya. Sumber Tribun Bali di lokasi itu mengatakan omongannya tidak hanya sekedar untuk menakut-nakuti. “Banyak

TRIBUN BALI/I WAYAN ERI GUNARTA

TAK BOLEH DITEBANG - Tiga orang warga sedang melintas di depan ancak saji Pura Dalem Banjar Sigaran yang dikelilingi pohon-pohon raksasa, Selasa (10/6). buktinya di Bali. Dulu, di suatu banjar di Badung, ada pohon jabon raksasa yang mau di tebang. Belum sempat dipotong, yang memotong sudah dikagetkan oleh sabda (suara tak dikenal). Akhirnya sampai saat ini, banyak warga Badung yang tidak berani sembarangan menebang pohon,” ujarnya saat ditemui di sungai dekat Pura Dalem. Pria paro baya berjenggot putih lebat, rambut diikat dan memakai pakaian serba putih itu mengatakan pohon raksasa hanya ditebang saat akan digunakan untuk membuat barong sesuhunan saja. “Kayu raksasa memiliki daya magis yang kuat. Sehingga cocok untuk membuat sesuhunan,” ujarnya halus. Di tempat lain, Wakil Ketua STT Dharma Swastika, I Putu Edi mengatakan pihaknya memiliki program menanam pohon di lingkungan Pura

Dalem itu. Namun saat ini belum bisa terlaksana karena belum melakukan musyawarah dengan anggota STT. “Itu baru rencana. Tapi

kami memiliki keinginan besar untuk menanam pohon. Agar lingkungan pura tambah asri,” ungkapnya. (i wayan eri gunarta)

1002tb1306 stan  
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you