Issuu on Google+


ISSN: 2337-6791 Pengarah Bambang Sukmananto Direktur Utama Perum Perhutani

Penanggung Jawab Hari Priyanto Sekretaris Perusahaan

Pemimpin Redaksi Susetiyaningsih Sastroprawiro Kepala Biro Komunikasi Perusahaan

Sekretaris Redaksi Ruddy Purnama

Redaktur Dadang Kadarsyah • Lusia Diana

Tata Usaha M. Agus • Media Indah • Adehika • Guritno

Perwakilan Kepala Seksi Humas Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah Kepala Seksi Humas Perhutani Divisi Regional Jawa Timur Kepala Seksi Humas Perhutani Divisi Regional Jawa Barat & Banten

Desain & Layout Tim Duta Rimba Art Works

Alamat Redaksi Humas Perhutani Gd. Manggala Wanabakti Blok VII Lantai 10 Jl. Gatot Subroto Senayan, Jakarta Pusat Telp: 021 - 5721 282, Fax: 021 - 5733 616 E-mail: redaksi@perumperhutani.com www.perumperhutani.com

Naskah & Advertensi DUTA RIMBA adalah majalah dua bulanan yang diterbitkan Perum Perhutani untuk berbagi informasi korporasi kepada internal dan para pihak. Redaksi menerima tulisan, artikel, naskah, dan fotofoto menarik yang sesuai dengan visi dan misi tema penerbitan DUTA RIMBA edisi berikutnya. Artikel ditulis dengan spasi ganda, maksimal lima halaman dan dikirim melalui e-mail (softcopy). Redaksi berhak melakukan editing sesuai dengan kebutuhan penerbitan. Iklan dan advertorial pada majalah DUTA RIMBA mendapatkan diskon menarik. Majalah Duta Rimba dapat diakses di www.perumperhutani.com

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

Melintasi Waktu Penuh Makna

P

embaca yang budiman. Apa kabar? Melintasi kuartal pertama 2014, kami berharap anda selalu dalam kondisi sehat wal’ afiat, sehingga bisa menjalankan tugas sehari-hari dengan prima. Sebagai insan Perhutani, kondisi prima itu sangat dibutuhkan, untuk mendukung langkah perusahaan melakukan transformasi baik secara fundamental maupun bisnis. Secara korporat, pada bulan Maret 2014, ada dua peristiwa penting yang akan menandai perjalanan Perhutani ke depan. Pertama, untuk pertama kali Perhutani melakukan public expose, kinerja keuangan dalam lima tahun terakhir ini (2009-2013) di hadapan para wartawan. Dari kinerja keuangan 2013 itu menggoreskan catatan yang menarik. Salah satunya untuk pertama kali, perusahaan membukukan keuntungan perusahaan di atas Rp 200 miliar. Untuk memberikan gambaran secara lengkap, kinerja perusahaan pada 2013, sengaja kami angkat dalam rimba utama. Melalui bahasan ini, kami berharap bisa menjadi motivasi kita semua, untuk memanfaatkan tahun 2014 ini sebagai momentum untuk melakukan lompatan besar dalam menggenjot kinerja operasional, kinerja investasi dan kinerja keuangan Kinerja keuangan yang diumumkan awal Maret itu seakan menjadi kado ulang tahun Perhutani yang ke- 53 pada 29 Maret 2014. Inilah peristiwa yang kedua. Untuk menjaga kondisi yang prima, peringatan ulang tahun Perhutani dirayakan secara sederhana, tapi penuh keceriaan. Pernak-pernik ulang tahun Perhutani baik di pusat maupun di daerah, kami sajikan dalam rubrik Lensa, yang memotret bagaimana dedikasi, prestasi dan jiwa korsa diekspresikan oleh seluruh insan Perhutani. Dari jepretan para fotografer yang tersaji dalam majalah ini, terlihat ada semangat, optimisme, komitmen yang menyeruak dalam diri insan perhutani, untuk membesarkan perusahaan. Dari Rimba Khusus, kami sajikan liputan pelaksanaan “Duta Rimba Best Readers 2014”, sebuah ajang kompetisi bagi karyawan perhutani dalam meningkatkan pengetahuannya soal pengelolaan hutan melalui bacaan majalah kesayangan kita semua, “Duta Rimba” Sementara, untuk mengetahui dahsyatnya kekuatan bumi dalam menyemburkan lumpur, pada rubrik Warisan Rimba, kami sajikan Hutan Alam Sekunder Kesongo, di Jawa Tengah. Pembaca yang budiman, tentu masih banyak lagi rubrik-rubrik lainnya yang akan bisa memberikan pengayaan kepada kita. Seperti Lintas Rimba, Rimba Daya, Wisata Rimba, Ensiklo Rimba dan lainnnya tak tak bisa disebutkan satu-persatu. Tapi, kami yakin, sajian Duta Rimba kali ini, akan bisa menjadi sahabat bagi anda yang ingin mendalami seluk-beluk pengeloaan hutan Perhutani, baik dari sisi produksi, bisnis, industri, maupun CSR. Karena itu tanpa mengurangi kelezatan sajian majalah ini, saya ucapkan selamat membaca. Salam.

Dok. Humas PHT

SALAMREDAKSI

DUTA Rimba 1


SEMAIRIMBA

SALAM REDAKSI BENAH DIRI • JUPE: Biasakan yang Benar Bukan Benarkan yang Biasa

1 4

PRIMA RIMBA • Angka Psikologis

6

10

RIMBA UTAMA Transformasi Perhutani Sudah On The Track 10 13 Angka Keberuntungan 14 45 : 55 18 Perbaikan Kinerja Perhutani Kurangi Lemak Dalam Darah 22 • Perhutani di Mata Media: Kinerja Korporat Melesat 26 • • • •

RIMBA KHUSUS Internalisasi Roap Map Transformasi Apa Kata Mereka : Sastrawan Muda Apresiasi Dewan Juri Best Reader Di Mata Mereka Perhutani Green Pen Award 2014 Lahirkan Pengarang Baru Bertalenta • Celoteh : Tergelak di Sela Penjurian DR Best Reader Award 2014 • • • • •

30 35 36 40 42 47

SOSOK RIMBA • Gatot Trihargo: Cuci Gudang Dulu, Keuangan Perhutani Membaik

LINTAS RIMBA LENSA • Jujur dan Peduli Menuju Perhutani Ekselen

30 48

48 54 62

OPINI • Quantum Leadership

68

WARISAN RIMBA • Hutan Alam Sekunder “Kesongo”

72

ENSIKLO RIMBA • Mindi Pohon Kayu Bercorak Indah

76

RIMBA DAYA • Budi Daya Gurami Sang Pendidik

80

BISNIS RIMBA • Madu Perhutani, Hai-hai Apa Kabar?

84

84

WISATA RIMBA • Keindahan yang Alami di Pantai Sowan

88

POJOK KPH • Banyuwangi Utara, KPH di Ujung Timur Pulau Jawa

92

INOVASI • Geliat Khasiat Minyak Atsiri Daun Pinus 2 DUTA Rimba

96 NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


POSRIMBA Ragu Tiket Pesawat

Tenaga PDGT

Selamat pagi PERHUTANI. Saya Vovo Wijaya dari Palembang, ada beberapa hal yg saya mau tanyakan? Apa benar Perhutani sekarang lagi

cara bergabung dalam investasi dan

Bapak atau Ibu, saya mau

aturan-aturannya.

tanya tentang PDGT apakah masih

Terima kasih

membutuhkan tenaga kerja untuk posisi

Salam,

engineering atau perawatan perbaikan

Rellyanto

Abdul Rohman

membuka lowongan pekerjaan? Karena saya mendapatkan informasi

rellyanto@yahoo.com

rohman29.ra@gmail.com>

dari media online bahwa Perhutani

Untuk informasi lebih lengkap, saudara Saat ini di Perum Perhutani belum

membuka lowongan pekerjaan dengan mengirim lamaran via email? Setelah saya mengirim lamaran, saya

bisa menghubungi bagian Pengelolaan

ada rekruitmen untuk penerimaan

dan Pengembangan Bisnis Kantor Pusat di

karyawan baru. Namun jika saudara ingin

nomor 021-5721282 ekstensi 1012.

terpilih untuk mengikuti tes di Jakarta tgl

mendapatkan informasi lebih lengkap,

10 April 2014? Yang membuat saya ragu,

silakan menghubungi Divisi PDGT di

kenapa pemesanan tiket pesawat harus ke

alamat :

Jati Stek Pucuk Asw.pak untuk jati stek pucuk yang

Jl. Pahlawan No. 15-17 Semarang

dijual dapat dipanen dalam berapa

Vovo Wijaya

Telp. (024) 8413631

tahun ? Untuk mencapai diameter 30 cm

vovowijaya@yahoo.co.id>

Fax. (024) 8443142

berapa tahun.

pihak tertentu?

Selanjutnya, info lowongan pekerjaan Redaksi telah menerima banyak e-mail yang menanyakan informasi lowongan

terimakasih

bisa dilihat di alamat website Perum

Hidayat

Perhutani di www.perumperhutani.com

hidayat.ngd@gmail.com>

pekerjaan di Perum Perhutani. Namun saat ini di Perum Perhutani belum ada

Lelang Kayu Jati

Untuk informasi lebih lengkap, silakan

rekruitmen untuk penerimaan karyawan

Kepada yth.

menghubungi bagian Pengelolaan

baru. Hati-hati pada tindak penipuan yang

KBM Jawa tengah.

Sumber Daya Hutan (PSDH) pada alamat

mengatasnamakan Perum Perhutani.

Mohon daftar tanggal dan alamat

berikut :

Selanjutnya, info lowongan pekerjaan

lelang kayu jati di Solo dan Semarang.

bisa dilihat di alamat website Perum

Perum Perhutani Kantor Pusat

Gedung Manggala Wanabakti

Raffles

Blok VII lantai 9-11

rafflesholiday@yahoo.com>

Jl. Gatot Subroto Senayan, Jakarta

Terima kasih

Perhutani di www.perumperhutani.com

10270

T: +62 21 572 1282

menghubungi bagian Divisi Komersial

Untuk informasi lebih lengkap, silakan

F: +62 21 573 3616

Kayu pada alamat berikut :

Up. Bapak Japar

Kantor Divisi Regional Jawa Tengah

Email : japar_pksdhdir@yahoo.co.id

Jl. Pahlawan No. 15-17 Semarang

(50243)

Alamat Dana Pensiun

Telp. (024) 8413631

Fax. (024) 8443142

keluarga Perhutani dari golongan pp.2.1

Up. Ibu Ririn

mau menanyakan sekaligus mohon

Mohon maaf, langsung saja kami

diberikan alamat dan nomor telp yang

Kerjasama HTI Selamat Siang,

bisa dihubungi terkait dengan dana pensiun keluarga saya.Trim’s Masguru

Saya ingin menanyakan apakah Perum Perhutani membuka kesempatan

masguruindhehoi@gmail.com

kepada masyarakat pemilik modal untuk Untuk informasi lebih lengkap, silakan

Dok. ISTIMEWA

menanamkan modalnya pada penanaman

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

hutan industri yang dikelola Perum

menghubungi Kantor Dana Pensiun

Perhutani dengan sistem bagi hasil?

Perum Perhutani di alamat :

Jika berkenan saya mohon diberikan

Jl. Villa No. 1 / Gatot Subroto 17-18

informasi lengkapnya ke email saya, dan

Jakarta 12930

jika memang ada saya mohon info tentang

Telp. (021) 5254205 / 5737936

DUTA Rimba 3


BENAHDIRI

JUPE: Biasakan yang Benar Bukan Benarkan yang Biasa

Sekalipun Perum Perhutani bukan perusahaan terbuka (Tbk), namun pengelolaan keuangan sama dengan perusahaan terbuka yang tercatat di bursa saham, termasuk dalam hal ini melaporkannya kepada publik. Tugas ini memang berat, tetapi pekerjaan ini sesungguhnya membiasakan pekerjaan secara benar. Bukan seperti selama ini yang sering membenarkan hal yang menjadi kebiasaan.

Induk dan Anak Satu Sistem Menurut saya, siap tidak siap kita

4 DUTA Rimba

harus melakukan Kita mulai dari tahun 2013. Karena perubahan-perubahan di Perhutani akan mengkoreksi sistem keuangan. Apalagi kita mau online, mau investasi, sehingga dengan susah payah kita melakukan perbaikan internal. Itu saya kira kinerja dari sisi keuangan. Ini yang harus ditingkatkan, karena Perhutani akan menghadapi persaingan. Perhutani akan melaksanakan industri manufaktur. Dimana dalam industri manufaktur pengembangannya pasti berdasarkan laporan keuangan yang mengacu pada IFRS (International Financial Report Standard). Sehingga bila kelak menjadi holding, Perhutani sudah siap. Kalau kita ingin membuat perusahaan baru sebagai anak perusahaan Perhutani sudah siap. Perhutani ke depan akan mendirikan anakanak perusahaan. Sehingga induk dan anak perusahaan itu sudah satu sistem Perhutani memang tak bisa lagi membenarkan hal yang biasa, tetapi justru harus membiasakan yang benar, sebagaimana membuat laporan kinerja keuangan dan meng-expose kepada publik . Bila dahulu, kalau ada kerugian biasanya ditutup dengan berbagai cara. Tapi era sekarang tidak bisa. Kalau ada kerugian harus dibuka, agar bisa diperbaiki. Perhutani ini akan menjadi perusahaan besar. Semua harus transparan agar bisa terkontrol. Dalam laporan kinerja keuangan 2013, juga kita laporkan kinerja keuangan mulai dari 2009-2013. Ini tentu ada maksudnya, agar rekanrekan Perhutani percaya diri. Dari Bambang Sukmananto Direktur Utama Perum Perhutani kinerja lima tahun itu yang terpenting Dok. Humas PHT

P

ada awal Maret 2014, Perum Perhutani merelease kinerja keuangan 2013. Di hadapan rekan-rekan wartawan, direksi memaparkan kinerja keuangan selama lima tahun (20092013). Dari hasil liputan media masa, saya menangkap, rekan-rekan wartawan cukup antusias mengekpose kinerja keuangan korporat. Banyak aspek yang disorot. Mulai dari tren kenaikan pendapatan, keuntungan, investasi, hingga kinerja non kayu. Dengan kinerja keuangan, pesan yang ingin saya sampaikan, bahwa Perhutani dalam menjalankan usahanya harus transparan, dan sesuai dengan Aturan. Perhutani memiliki nilai-nilai perusahaan, yaitu jujur dan peduli. Pemaparan kinerja keuangan dimaksudkan untuk mengedepankan nilai-nilai luhur perusahaan. Melalui kinerja keuangan sudah saatnya kita melakukan intropeksi. Apakah laporan keuangan itu sesuai dengan standar internasional? Selama ini laporan keuangan Perhutani belum sesuai dengan standar internasional. Karena kalau memakai standar internasional memiliki dampak yang luas. Dengan keterbukaan, hutanghutang dan aset-aset perusahaan harus jelas. Semua harus transparan, jujur dan peduli (JUPE). Tidak ada permainan di pembukuan. Laporan keuangan 2013 tentu mengkoreksi laporan-laporan keuangan sebelumnya. Kita siap atau tidak? Itu pertanyaannya.

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


ada pertumbuhan secara signifikan baik dari sisi pendapatan dan keuntungan. Juga ada trend penurunan beban biaya, yang merefleksikan efisiensi. Angka-angka tersebut untuk menunjukkan kepada rekan-rekan Perhutani agar yakin. Sekalipun perusahaan menaikan gaji, tetapi masih bisa tetap untung. Kalau kita bekerja dengan keras, Tuhan juga memberikan jalan. Dengan laporan kinerja keuangan ini, rekan-rekan Perhutani bisa bekerja keras untuk meningkatkan kinerja operasional . Transformasi Fundamental Fenomena lain yang cukup menarik dari kinerja keuangan, ada kecenderungan beban biaya, khususnya pada 2013 pertumbuhannya dibawah pertumbuhan pendapatan perusahaan. Saya kira ini wujud transformasi keuangan yang cukup fundamental . Bila selama ini Perhutani membuat perencanaan seperti APBN. Dimana bila pendapatan diproyeksikan naik 10%, maka beban biaya pun juga diproyeksikan naik 10%. Itu dari sisi rencana, realisasi bisa bisa lebih. Karena itu, perencanaan semacam itu tidak sehat. Dimana perencanaan harus dibuat renggang. Pertumbuhan biaya tidak boleh melebihi pertumbuhan pendapatan. Tujuannya agar pertumbuhan keuntungan makin meningkat untuk peningkatkan bonus dan perlengkapan pegawai. Masak setahun baju karyawan hanya ganti sekali. Seperti Polhut itu baju hijaunya warnanya lain-lain. Itu semua mestinya ada perbaikan, karena perencanaan harus diubah. Sekali pun begitu tentu harus ada prioritas. Seperti kemarin dalam perbaikan perumahan di Jawa Tengah, saya setop dulu, karena pabrik di Pemalang belum ada pagarnya. Coba saja anda bayangkan kalau ada orang masuk mencuri, kemudian terjadi kebakaran, tentu akan jauh lebih berbahaya. Pada hal pabrik di mana-mana tertutup. Kelengkapan pabrik tentu lebih penting. Pabrik itu sarana untuk menghasilkan pendapatan. Perbaikan rumah ditunda dulu. Kalau operasional pabriknya berjalan baik, tak hanya lima rumah yang diperbaiki, tetapi bisa sepuluh rumah. Sebenarnnya dalam melakukan efisiensi melakui penurunan beban biaya, bukan berarti perusahaan harus pelit. Resepnya bekerja itu fokus, karena saya tidak nekoneko. Tidak ada proyek mercu suar. Tidak ada proyek populer agar saya menjadi apa. Saya betul-betul fokus untuk perusahaan. Meski ada upaya menekan biaya, perusahaan berani meningkatkan biaya tanam dan perawatan pada 2013 dua kali lipat . Hal ini dilakukan, karena hidup matinya perusahaan dari tanaman. Persoalannya sekarang tanaman macam, dan jenis apa. Karena kita sudah punya pabrik, tentu tidak hanya jati, tetapi juga pinus.

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

Memang kita harus berani melakukan prioritas. Persoalannya dari mana dulu kita urai? Ini kan benang kusut. Saya berprinsip apa yang bisa kita lakukan dan kita konsisten. Pertama, SDM. Kedua fokus bisnis. Kita sudah fokus bisnis tak kemana-mana, usulan-usulan yang tidak feasible saya setop saja. Kita fokus bisnis yang menjadi kekuatan kita secara jelas. Kalau tidak jelas nanti dulu. Kalau bahan baku ini kan sudah jelas, seperti Gondorukem itu menjadi sumber pendapatan perusahaan. Sekarang bagaimana semua usaha dan daya adalah mengamankan industri. Mulai dari SDM, bahan baku, kalau perlu kita cari dan kita beli untuk mengamankan industri. Karena kita sudah terlanjur fokus ke Industri. Kalau sudah fokus, pikirannya jangan ke mana-mana. Kita punya industri jati kita harus fokus. Berikutnya wisata sudah dimulai. Begitu juga non kayu. Itu layar ke tiga, tetapi harus ada yang fokus ke situ juga. Selanjutnya, kita menyiapkan golden shake hand. Kalau kita sudah siap mengistirahatkan orang-orang yang sudah butuh istirahat kita segera mengistirahatkan. Kalau nanti Perhutani memerlukan lagi kita angkat lagi. Atau kalau mereka mau bisa dikembangkan koperasi. Berdasarkan kinerja tahun 2013, pada 2014 Perhutani akan menggenjot kinerja keuntungan perusahaan hingga 40%, dengan berbagai strategi antara lain meningkatkan investasi dan menggenjot produk masal. Ini sebuah tantangan yang harus dipastikan di lapangan. Saya turun ke lapangan, karena target semacam itu jangan hanya di atas kertas. Seperti kita ingin memproduksi produk masal, tetapi di lapangan masih ada keragu-raguan. Ini yang tidak boleh terjadi. Kita sudah memutuskan sesuatu harus jalan. Sekarang hambatannya apa. Hambatan itu harus kita habisi. Tahun Strugle Namanya produk masal. Tantangannya adalah persaingan, selain tentu order-order yang selama ini telah diterima. Tidak perlu memusingkan order, karena pendapatan dari order seberapa. Yang terpenting mencetak pasar. Memang Tidak mudah, tetapi bisa. Tidak ada sesuatu yang mudah, apalagi pada situasi seperti ini. Tapi kalau ada tekad bersama dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas, sehingga efisiensi pemanfaatan sumber daya hutan ini akan lebih baik. Tahun 2014 merupakan tahun struggle, karena Perhutani sudah melangkah ke industri. Tanggal 22 Maret pabrik di Pemalang sudah melakukan ekspor perdana. Ini membuktikan bahwa kita tidak bisa mundur lagi. Kinerja keuangan tentu untuk memitigasi, bahwa transformasi yang kita lakukan itu sesungguhnya sudah on the track. Amien • DR

DUTA Rimba 5


PRIMARIMBA

Angka

Dok. Humas PHT

Psikologis

6 DUTA Rimba Dok. Humas PHT

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Keberhasilan Perhutani membukukan laba perusahaan Rp 204,091 miliar untuk pertama kali pada 2013 menembus angka di atas Rp 200 miliar bisa menjadi angka spikologis untuk membangkitkan optimisme. Bila optimisme seluruh rimbawan ini bisa dijaga dan dikelola secara maksimal, tidak terlalu susah bagi Perhutani untuk menggenjot laba perusahan pada 2014 sebesar Rp 287 miliar. Ini sebuah tantangan sekaligus peluang.

K

etika penguatan rupiah terhadap dolar AS mulai meninggalkan angka Rp 12.000, banyak kalangan mulai optimis, bahwa perekonomian Indonesia tak akan stagnan. Apalagi, ketika penguatan rupiah itu mulai memasuki angka Rp 11.997, banyak kalangan menyebut rupiah penguatannya memasuki angka psikologis. Sebuah angka yang bisa mempengaruhi perasaan dan mental para pelaku usaha maupun para pengamat ekonomi. Dimana dengan rupiah tembus di angka Rp 11.000, menjadi pertanda adanya optimisme baru, bila dibanding dengan nilai rupiah di atas Rp 12.000, bahkan nyaris menyentuh Rp 13.000. Optimisme itu juga terlihat di jajaran otoritas keuangan, yang dalam enam bulan terakhir bekerja mati-matian melakukan stabilisasi rupiah. Dengan penguatan rupiah, Bank Indonesia tak perlu menaikkan suku bunga acuan. Begitu pula, pemerintah sebagai pengendali kebijakan fiskal, dengan penguatan rupiah menuju ke angka Rp 11.000, segera menguncinya bahwa nilai tukar rupiah memasuki ekuilibirum baru nilai tukar rupiah adalah Rp 11.000 per dolar AS. “Posisi Rp 11.000 itu sudah pada ekuilibirium baru ,

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

sudah pada harga fundamental,” jelas Hatta Rajasa, Menko Perekonomian. Sekalipun pemerintah menolak angka psikologis. Tapi angka Rp 11.000 itu sesungguhnya merupakan angka psikologis, yang mewakili perasaan para pelaku usaha, merupakan nilai tukar yang paling tepat terhadap dolar AS, yang akan bisa mengerek nilai rupiah terhadap dolar. Tentu yang menjadi pertanyaan, mengapa penguatan nilai rupiah ini sengaja untuk mengawali tulisan ini? Penguatan nilai rupiah ini, kiranya tidak terlalu salah bila di transform ke Perhutani, yang pada bulan Maret 2014 telah melakukan ekpos kinerja perusahaan. Banyak catatan yang menarik dari laporan kinerja perusahan selama lima tahun (2009-2013). Selain ada peningkatan pendapatan, juga ada peningkatan laba perusahaan. Bahkan di tahun berat 2013, untuk pertama kali Perusahaan ini mampu membukukan laba Rp 204,091 miliar. Dimana dalam rentang waktu lima tahun, baru pada 2013, laba perusahaan ini tembus di angka Rp 200 miliar. Setelah empat tahun laba perusahaan mengalami stagnasi di bawah angka Rp 200 miliar. Pada 2013 laba perusahaan

menjebol angka Rp 204,091 miliar. Angka sebesar itu jelas menjadi angka psikologis bagi seluruh karyawan perhutani. Angka ini menggambarkan kinerja, produktivitas, dedikasi dan profesionalitas seluruh karyawan. Angka psikologis ini tentu bukan berarti menafikan laba perusahaan pada tahun sebelumnya. Secaraumum pada lima tahun terakhir pertumbunan laba perusahaan rata-rata 8%. Dimana peningkatan laba tertinggi pada 2012 sebesar 33% dari tiga tahun berturutturut pertumbuhannya selalu minus. Tahun 2013. Pertumbuhan laba hanya sekitar 10% dari pertumbuhan laba pada 2012. Namun angkanya menyentuh di atas Rp 200 miliar. Sebuah angka psikologis. Selain merefleksikan kinerja dan produktivitas, angka di atas Rp 200 miliar itu bukanlah angka yang mudah diraih, bila dikaitkan dengan situasi perekonomian dunia yang masih melambat. Perhutani yang produknya beorientasi ekspor, tak hanya terpukul oleh penurunan harga komoditas, tetapi juga daya beli masyarakat global. Namun di tengah perekonomian global yang tidak kondusif tersebut, Perhutani juga diuntungkan oleh beberapa fakor. Pertama, Perhutani memiliki produk-produk yang unik, yang tak dimiliki oleh negara lain. Dari produk gondorukem dan terpentin, Perhutani memiliki produk yang kandungan kimianya tak dimiliki oleh negara lain. Dimana produk Gondorukem dan Terpentin itu merupakan satu-satunya produk unggulan yang cukup diminati oleh buyer di Eropa. Gondorukem dan terpentin yang unik ini adalah produk yang dihasilkan dari getah jenis pinus Merkusi. Dari getah semacam ini Gondorukem dan Terpentin produk

DUTA Rimba 7


PRIMARIMBA Perhutani memiliki unggulan komparatif bila dibanding dengan negara-negara lain seperti Brasil, China, dan Vietnam. Sekalipun perekonomian dunia tengah lesu, tapi ekspor Gondorukem Perhutani tidak terlalu terpengaruh. Kedua, stabilnya ekspor produk non kayu, termasuk Gondorukem, tentu dengan sendirinya memperkuat pundi-pundi perusahaan dengan menguatnya nilai dolar AS terhadap rupiah yang dimulai pada kuartal pertama 2013 hingga kuartal pertama 2014. Bila satu dolar sebelumnya hanya sekitar Rp 9.500. Sampai dengan akhir 2013 bergerak mencapai hampir Rp 12.000. Bahkan di awal 2014 dolar sempat menyentuh hampir Rp 13.000 Tentu bisa dibayangkan, betapa besar keuntungan yang diterima oleh Perhutani dari selisih kurs. Mereka yang tak melakukan impor bahan baku maupun bahan penunjang, tentu bisa mendapat keuntungan selisih kurs dolar, karena produk yang mereka ekspor dibayar dalam bentuk dolar. Sementara untuk produksi menggunakan uang rupiah. Apa yang terjadi di Perhutani ini merupakan kebalikan dengan apa yang terjadi di dunia industri lainnya. Umumnya industri di Indonesia, untuk memproduksi sebuah produk, bahan bakunya diimpor dari luar negeri, sementara produk akhirnya di jual di dalam negeri. Pada industri semacam ini, kenaikan dolar terhadap rupiah menjadi pukulan yang sangat berat. Ketiga, di tengah meningkatnya pendapatan usaha, Perhutani pada 2013 justru mampu menekan cost. Bila pada sebelum tahun 2013, cost perusahaan pertumbuhannya di atas pertumbuhan pendapatan. Pada 2013, pertumbuhan cost justru dibawah pertumbuhan pendapatan Dengan fakta semacam itu,

8 DUTA Rimba

selama 2013 ada usaha keras dari manajemen untuk melakukan efisiensi. Dari beban cost yang ditetapkan oleh perusahaan selama 2013, setidaknya ada 4% yang bisa dihemat. Bila total cost pada 2013 sebesar Rp 3,750 triliun. Itu artinya ada cost yang bisa dihemat sekitar Rp 150 miliar sebuah angka yang tidak terlalu jauh dari laba perusahaan. Dari gambaran di atas, laba perusahaan Rp 204,091 miliar itu memang tak hanya ditopang oleh kinerja perusahaan saja , tetapi cukup banyak variabel yang berpengaruh. Tak hanya dari sisi kinerja operasional, tetapi juga kinerja keuangan , bahkan mungkin juga investasi Idealnya, keuntungan yang besar itu ditopang oleh kinerja operasional dalam bentuk peningkatan ekspor, peningkatan penjualan dan peningkatan pendapatan dari jasa. Sehingga kalau di kemudian hari ada penguatan dolar terhadap rupiah, peningkatan kinerja itu akan terkapitalisasi, dan menghasilkan laba yang maksimal. Namun munculnya laba perusahaan sebesar Rp 204, 091 di tengah gonjang-ganjing perekonomian dunia, memberikan pelajaran yang menarik bagi Perhutani. Dimana perusahaan ini sesungguhnya memiliki fundamental bisnis yang sangat kuat untuk menghadapi gejolak perekonomian dunia antara lain, memiliki produk yang unik yang berbeda dengan produk sejenis lainnya dari negara lain. Selain itu, dari sisi manajemen, Perhutani mulai konsisten menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (GCG), sehingga bisa melakukan efisiensi. Di tengah persaingan yang makin ketat, efisiensi menjadi kata kunci untuk memenangkan persaingan.

Dari angka psikologis laba perusahaan tersebut membangkitkan optimisme baru di jajaran manajemen. Hal ini terlihat keberanian direksi untuk mematok laba perusahaan pada 2014 sebesar Rp 287 miliar

Membanjirnya produk-produk China ke seluruh dunia dengan harga murah, tentu tidak lepas dari efisiensi yang dilakukan oleh dunia industri di negeri panda ini. Dari angka psikologis laba perusahaan tersebut membangkitkan optimisme baru di jajaran manajemen. Hal ini terlihat keberanian direksi untuk mematok laba perusahaan pada 2014 sebesar Rp 287 miliar mengalami kenaikan 40% bila dibanding dengan tahun 2013. Selain akan menggenjot pendapatan hingga mencapai Rp 4,6 miliar dan menekan cost hingga mencapai Rp 4,313 triliun, manajemen ingin mencapai laba perusahaan tersebut melalui kinerja operasional. Dimana dengan hilirasi dan restrukturisasi organisasi yang telah dicanangkan pada awal 2014, kiranya akan menjadi instrumen untuk mendongkrak laba perusahaan. Dengan penguatan di sektor hilir, melalui optimalisasi pabrik-

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Dok. Humas PHT

pabrik baik kayu maupun non kayu, tentu diharapkan volume ekspor dan penjualan akan meningkat secara signifikan. Begitu pula dengan penguatan di bidang pemasaran, ekspor produk olahan baik kayu dan non kayu, kiranya sudah saatnya Perhutani akan terus mengembangkan pasar tidak hanya di pasar utama, tetapi juga pasar baru. Peluang untuk mengembangkan pasar ini sesungguhnya semakin terbuka, karena pertumbuhan ekonomi dunia, kini tak hanya di Amerika, Eropa dan Jepang yang masih stagnan. Tetapi pusat pertumbuhan kini semakin meluas dan menjangkau geografi yang sangat luas dan jumlah penduduk yang lebih besar. Pusat pertumbuhan itu ada di Asia Tengara, Asia Timur, Asia Tengah, Amerika latin, Eropa Timur, bahkan di Afrika pun juga semakin menggeliat. Bisa jadi potensi pasar di kawasan-kawasan baru tersebut

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

belum terlihat. Namun sudah saatnya pasar-pasar baru ini mulai dijajaki dan di mapping, karena kebangkitan perekonomian dunia, tak hanya ditopang oleh Amerika, Eropa dan Jepang. Tetapi justru di negera-negara emerging market kebangkitan ekonomi dunia akan digerakkan. Mengambil momentum angka psikologis Rp 204,091 miliar, kiranya tidak terlalu sulit, Perum perhutani menggenjot laba perusahaan meningkat 40%. Dari perubahan geopolitik dan geo ekonomi, masalah terberat sesungguhnya bukanlah pada faktor eksternal. Mengapa demikian? Pada 2013 di tengah perekonomian dunia yang gonjang ganjing Perhutani mampu tumbuh secara kokoh dan berkelanjutan. Kondisi demikian tentu saja bisa dipertahankan, karena Perhutani memiliki unggulan komperatif pada produk-produk yang unik yang tak dimiliki oleh negara lain. Masalah terberat untuk

menggenjot target pendapatan, justru terletak bagaimana perusahaan ini mampu melakukan konsolidasi internal. Dimana semua karyawan Perhutani harus profesional, fokus, dan berorientasi pada produktivitas. Untuk melakukan konsolidasi ini, tentu menjadi tugas bersama, khususnya di kalangan pimpinan middle manajemen. Mulai dari kepala divisi, para GM dan jajaran manajemen lainnya, menjadi ujung tombak untuk mengkonsolidasikan potensi yang ada untuk mencapai goal perusahaan Melalui cara demikian, angkaangka yang sudah ditargetkan kiranya tidak terlalu sulit untuk diwujudkan. Angka-angka yang telah ditetapkan dalam rencana kerja perusahaan, selain menjadi acuan, tentu harus dijabarkan dalam program-program konkret di lapangan. Karena itu tepat apa yang disampaikan oleh Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan, bekerja, bekerja dan bekerja. • DR

DUTA Rimba 9


RIMBAUTAMA Dari Kinerja Keuangan 2009-2013

Ruang rapat Kawah Putih, di lantai 10 Perum Perhutani, pagi itu sedikit berbeda bila dibanding hari biasa. Di koridor samping ruang rapat itu tersedia coffee break dan sarapan pagi soto ambengan. Setiap tamu yang datang bisa langsung menikmati soto dengan meracik sendiri bahan dan bumbunya, sebelum mengikuti acara inti yang digelar pagi itu.

P

agi itu, Perum Perhutani menggelar paparan mengenai kinerja perusahaan 5 tahun (2009-2013) di hadapan kalangan media massa. Direktur Utama Perhutani Bambang Sukmananto yang memimpin langsung paparan tersebut di apit oleh Morgan Syarif Lumban Batu, Direktur Keuangan di samping kanan dan Teguh Hadi Siswanto, Direktur

10 DUTA Rimba

SDM dan umum, disamping kirinya. Sementara dalam deretan lain juga hadir Tedjo Rumekso, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis; Heru Siswanto, Direktur Pengelolaan Sumber Daya Hutan; Mustoha Iskandar, Direktur Komersial Kayu dan Hari Priyanto, Sekretaris Perusahaan. Puluhan wartawan yang memenuhi ruang rapat tersebut sangat antusias dengan keterbukaan

Perum Perhutani dalam me-release kinerja perusahaan. Bagi wartawan yang sering meliput di pasar modal, keterbukaan Perhutani ini merupakan sesuatu yang baru. Selama ini hanya perusahaan terbuka (Tbk) yang mempunyai kewajiban untuk melaporkan kinerja perusahaan secara periodik kepada publik. Tapi kenapa, Perhutani juga ikut-ikutan melaporkan kinerja perusahaannya? Sebagaimana ditegaskan oleh Bambang Sukmananto, sekalipun Perum Perhutani bukan perusahaan terbuka, tapi sistem pelaporannya juga harus mengikuti sebagaimana perusahaan terbuka. “Ya ini memang berat juga, tetapi harus kita lakukan. Toh kalau kita transparan juga lebih baik.” Kewajiban BUMN baik yang sudah terbuka maupun yang belum, untuk melaporkan kinerja perusahaan makin digencarkan ketika Dahlan Iskhan menjadi Menteri Negara BUMN. Kewajiban ini yang mendorong sejumlah BUMN baik yang Tbk maupun belum Tbk melaporkan kinerja perusahaannya kepada publik. Ada yang melakukan konferensi pers dan mempublikasikan kinerjanya melalui halaman iklan media massa. Memang tidak mudah bagi Perhutani melewati tahun 2013. Sebagai perusahaan yang berorientasi ekspor, perusahaan ini juga dihadapkan dengan lesunya perekonomian dunia khususnya di Eropa dan Amerika, serta anjloknya harga komoditas di pasar dunia. Kondisi global semacam itu juga makin diperparah oleh situasi alam pada 2013 yang kurang bersahabat. Hujan yang turun pada 2013, telah membuat sadapan pinus sebagai bahan gondorukem dan terpentin juga menurun. Bila produksi getah pinus pada 2012 bertenger di angka 101.266 ton, pada 2013 turun menjadi 80.564 ton.

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Dok. Humas PHT

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

DUTA Rimba 11


RIMBAUTAMA

12 DUTA Rimba

Jutaan Rp

5.000.000

Laba/Rugi Tahun 2009 sd 2013

4.000.000 3.000.000 2.000.000 1.000.000 2009

2010 (Restated)

2011 (Restated)

2012 (Restated)

2013

Total Pendapatan

2.530.943

2.876.877

3.291.269

3.676.199

3.954.911

Total Biaya

2.372.564

2.720.824

3.142.932

3.479.131

3.750.820

Laba Bersih

158.380

156.053

148.337

197.068

204.091

No.

URAIAN

2009

2010

2011

2012

2013

1

2

3

4

5

6

7

1.

Pertumbuhan pendapatan

14%

14%

12%

8%

12%

2.

Pertumbuhan biaya

15%

16%

11%

8%

12%

3.

Pertumbuhan laba

-1%

-5%

33%

4%

8%

70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0%

Jutaan Rp Dok. Humas PHT

Sekalipun dalam situasi yang tidak menguntungkan, Perhutani mampu membukukan keuntungan Rp 204,091 miliar atau 105% dari rencana rugi/laba yang ditetapkan perusahaan . Jumlah itu selain yang terbesar dalam lima tahun terakhir ini, juga menembus angka psikologis diatas Rp 200 miliar. “Ya ini untuk yang pertama kali Perhutani pada 2013 mencapai keuntungan di atas Rp 200 miliar,” tegas Bambang Sukmananto. Sekalipun dalam tahun yang sulit, Perhutani pada 2013 mampu meraup pendapatan sebesar Rp 3.945 triliun atau (100%) dari rencana target perusahaan. Penyumbang terbesar pendapatan berasal dari penjualan luar negeri dari non-kayu sebesar Rp 1,339 triliun atau 137% dari rencana dan pendapatan penjualan dalam negeri hasil hutan lainnya sebesar Rp 617 miliar. Sedangkan dari kayu tebangan sebesar Rp 1,607 triliun atau 116% dari rencana. Dari anatomi pendapatan tersebut, telah mengubah komposisi pendapatan korporat. Dimana pendapatan non kayu mencapai 52% dan pendapatan dari kayu sebesar 48%. “Ini cukup bagus, karena dari sisi lingkungan dan kelestarian hutan, banyak tegakan yang tidak harus ditebang,” jelas Bambang Sukmananto. Dari anatomi pendapatan Perhutani pada 2013 tersebut terlihat, sekalipun perekonomian dunia tengah gonjang-ganjing, Perhutani masih mampu menggenjot ekspor non kayu yang cukup signifikan hingga menjadi pundi-pundi utama perusahaan. Peningkatan ekspor itu dipicu oleh produk-produk Perhutani yang unik yang tidak dimiliki oleh negara lain. Sebagaimana dicontohkan oleh Tedjo Rumekso, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis, untuk Gondorukem misalnya. Memang ada

8

KOMPOSISI PENDAPATAN

2010 (Restated) 2012 2013 Rata2

2009 No.

URAIAN

2009

2010

2011

1

2

3

4

5

1.

Pertumbuhan pendapatan

2.

Pertumbuhan biaya

3.

Pertumbuhan laba

Kayu

Rata2

63%

Non Kayu

6

56% 7

8

14%

14%

12%

8%

12%

15%

16%

11%

8%

12%

-1%

-5%

33%

4%

8%

37%

44%

beberapa negara penghasil getah pinus bahan baku gondorukem dan terpentin, seperti misalnya Brasil, China dan Vietnam. Namun getah pinus Perhutani yang dikenal Merkusi, itu memiliki kandungan kimia yang tidak dimiliki oleh negara lain, sehingga Gondorukem Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang diburu oleh buyer di luar negeri. No. URAIAN 2009 2010 2011 2012 2013 Rata2 Tingginya pendapatan ekspor ini juga dipicu oleh fluktuasi rupiah terhadap dolar. Menguatnya dolar sejak pertengahan tahun 2013, membuat pendapatan perusahaan ini juga terdongkrak. Dolar yang sebelumnya hanya pada kisaran Rp 9.500, terus meroket hingga di kisaran Rp 12.000 pada akhir 2013. Perhutani yang tidak melakukan impor bahan baku untuk mengolah gondorukem, sungguh menikmati kenaikan dolar AS terhadap rupiah. Mereka yang memproduksi gondorukem dengan rupiah, tetapi penjualannya dengan dolar. Setidaknya ada margin 25 s/d 30% dari selisih kurs dolar. 1

2

1.

Pertumbuhan pendapatan

14%

14%

12%

8%

12%

2.

Pertumbuhan biaya

3

4

15%

5

16%

6

11%

7

8%

12%

3.

Pertumbuhan laba

-1%

-5%

33%

4%

8%

8

2011 (Restated)

2012 (Restated)

2013

49%

49%

48%

51%

51%

52%

Yang menarik dari lima tahun terakhir ini, pertumbuhan pendapatan perusahaan sebesar 12%. Sekalipun pendapatan terus meningkat pertumbuhan pendapatan tahun 2012 dan 2013 lebih rendah dibanding tahun sebelumnya, karena penurunan potensi pendapatan sektor kayu, dan penurunan harga produk non kayu khususnya gondorukem dan Terpentin. Efisiensi Sementara dari sisi biaya, pada 2013 realisasinya mencapai Rp 3,750 triliun atau sekitar 96% terhadap rencana. Disini terlihat adanya efisiensi, sekalipun pada 2013, juga menaikan beberapa komponen biaya, antara lain kenaikan gaji 10%, biaya tanam dan pemeliharaan hampir dua kali lipat. Bila biaya tanam kayu jati pada 2012 sebesar Rp 2.545.000 per hektar, pada 2013 meningkat menjadi Rp 4.700.000. Begitu pula non silin dari 2.545.000 (2012) menjadi Rp 3.645.000 per hektar pada 2013. Begitu pula biaya pemeliharaan

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


sekitar Rp 515.500 per hektar (2012) dinaikkan menjadi Rp 864.000 pada 2013. Dari gambaran tersebut, tepat bila Morgan menyebut pada 2013 korporat melakukan efisiensi secara konsisten. Bila dilihat dari realisasi rencana biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan sebesar 96%, artinya ada 4% efisiensi untuk menekan cost atau sekitar Rp 150 miliar. Tentu dalam melakukan efisiensi itu Perhutani menjadi pelit dalam pengeluaran biaya? Tentu saja tidak. Sebagaimana digambarkan di atas, untuk biaya menggenjot produksi kayu, Perhutani tak segan-segan menggenjot biaya hingga sampai di atas 50%. Namun untuk biaya-biaya yang tidak perlu bisa diefisienkan Efisiensi ini dicapai dari hasil monitoring direksi turun ke berbagai daerah untuk mengetahui seberapa jauh efektifitas penggunaan biaya untuk meningkatkan produktivitas. “Jadi dalam monitoring itu untuk mengetahui sejauh mana itu effectiveness membiayai operasional perusahaan,” tegas Morgan Indikator Transformasi Begitu pula dari sisi pertumbuhan laba perusahaan dalam lima tahun terakhir rata-rata 8% dengan capaian rupiah per tahun mengalami peningkatan. Pertumbuhan minus sempat terjadi pada 2010 dan 2011. Dan pertumbuhan terdahsyat pada 2012 sebesar 33% dan 4% pada 2013 Kinerja keuangan ini jelas menjadi indikator, bahwa transformasi Perhutani tak hanya menyentuh pada aspek kultural, tetapi juga transformasi bisnis. Pergeseran komposisi pendapatan non kayu lebih besar bila dibanding dengan pendapatan kayu dalam tiga tahun terakhir ini, disamping karena alasan alamiah, tetapi juga merefleksikan transfomasi bisnis. Perhutani yang mengubah haluan bisnis yang

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

Kinerja keuangan ini jelas menjadi indikator, bahwa transformasi Perhutani tak hanya menyentuh pada aspek kultural, tetapi juga transformasi bisnis. berbasis tanaman menuju bisnis yang berbasis industri semakin on the track, ketika pendapatan perhutani bisa ditopang secara signfikan oleh pendapatan non kayu. Bila pendapatan non kayu pada 2010 dan 2011 masih stagnan pada kisaran 49 : 51 untuk kayu dan non kayu, pada 2013 telah berubah menjadi 48 :52, dimana pendapatan non kayu sudah melampui pendapatan kayu. Ini juga merefleksikan, perjalanan transformasi bisnis di Perhutani. Bila pada 2010 dan 2011, transformasi bisnis Perhutani memulai tahapan konsolidasi. Pada 2013 sudah memasuki tahapan akselerasi, sehingga bukan tidak mungkin pada tahun-tahun berikutnya komposisi pendapatan kayu dan non kayu itu akan cepat berubah, dimana pendapatan non kayu akan jauh lebih melesat seiring dengan pengoperasian dan optimalisasi pabrik-pabrik yang dimiliki oleh Perum Perhutani Lantas bagimana dengan 2014? Sebagaimana perusahaan kehutanan, Perhutani memiliki komitmen pengelolaan sumber daya hutan yang diimbangi dengan aspek konservasi sumber daya alam hayati berupa reboisasi dan rehabilitasi sumber daya hutan yang sudah menjadi komitmen dan tanggung jawab perhutani. Maju Bersama Masyarakat Sekitar Perhutani yang mengelola hutan di Jawa dan Madura seluas 2,5 juta hektar, berkomitmen menjalankan bisnis hijau (green bussiness) dengan fungsi sosial dan lingkungan secara seimbang tidak kurang dari 5.600 desa hutan berada di sekitar wilayah

kerja Perhutani yang bergantung pada usaha Perhutani di hutan. Melalui kegiatan pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM), Perhutani telah membentuk dan bekerjasama dengan 5.289 lembaga masyarakat desa hutan (LMDH). Selain memberikan bagi hasil produksi untuk LMDH yang telah dilakukan sejak tahun 2002 sebagai bentuk kerjasama dengan masyarakat, Perhutani sejak 1992 juga telah melakukan pembinaan masyarakat melalui program kemitraan. Sebagaimana dijelaskan oleh Hari Priyanto, Sekretaris Perusahaan Perhutani menjelaskan, sejak tahun 1992 sampai 2013 tercatat 14.091 mitra binaan telah mendapatkan dana bantuan Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) Perhutani dalam bentuk pinjaman berbunga rendah untuk modal kerja sebesar Rp 94.785.172.348 dan hibah sebesar 17.034.938.878. Dana pinjaman tersebut sebagian disalurkan kepada 1.851 kelompok LMDH dengan nilai Rp 17.373.750.000 untuk wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat Banten. Selain dari sisi sosial pada 2014 Perhutani menargetkan pendapatan sebesar Rp 4,603 triliun dengan target laba sebesar Rp 287 miliar atau 140 dari pencapaian 2013. Menurut Bambang Sukmananto, kenaikan kinerja keuangan pada 2014 dapat dicapai dengan meningkatkan pendapatan usaha non kayu. “Tahun ini Perhutani siap meningkatkan Bisnis industri hilir antara lain dengan beroperasinya pabrik derivatif gondorukem terpentin, sejalan dengan penataan bisnis dan proses bisnis inti,” tegas Bambang • DR

DUTA Rimba 13


Dok. Humas PHT

RIMBAUTAMA

14 DUTA Rimba

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


13 Angka

Keberuntungan

D

ari Laporan Kinerja Perum Perhutani 2009-2013 banyak menggoreskan catatan menarik yang merefleksikan buah transformasi bisnis Perum Perhutani, dari bisnis yang berbasis plantation (tanaman) menuju bisnis yang berbasis industri (hilirisasi). Bila transformasi bisnis ini bisa terus dipertahankan dan dilanjutkan bukan tidak mungkin kinerja Perusahaan ini akan mengalami akselerasi. Bila pertumbuhan bisnis Perhutani pada 2009-2013 bergerak secara deret hitung, lima tahun ke depan (20142019) bisa bergerak bagai deret ukur. Dari laporan kinerja Perum Perhutani 2009-2013, setidaknya

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

ada 13 catatan yang memperkuat transformasi bisnis, yang kiranya penting untuk tetap dipertahankan untuk 5 tahun ke depan. 13 bagi sebagian orang memang bisa menjadi angka yang dihindari. Tapi angka 13 dari catatan kinerja Perum perhutani 2009-2013 bisa saja menjadi angka keberuntungan bagi perusahaan ini. Ada pun ke 13 catatan atas laporan kinerja perusahaan yang memperkuat transformasi bisnis antara lain: 1. Pertumbuhan pendapatan Pertumbuhan pendapatan memang berfluktuasi, bahkan sempat minus 2% pada 2009. Namun sejak 2010, pertumbuhan pendapatan Perum Perhutani

DUTA Rimba 15


RIMBAUTAMA Laporan Rugi/Laba Konsolidasi 2009

URAIAN

PENDAPATAN USAHA BEBAN POKOK PENJUALAN

2010 (Restated)

2011 (Restated)

( Dalam Jutaan Rp) 2012 2013 (Restated)

2.425.691

2.787.176

3.144.313

3.555.951

3.863.183

(1.720.797)

(2.049.178)

(2.268.915)

(2.679.388)

(2.842.633) 1.020.550

704.894

737.999

875.398

876.563

(120.442) (413.641) (5.936) (540.019)

(124.957) (472.746) (1.863) (599.566)

(139.862) (669.465) (2.015) (811.342)

(151.992) (535.537) (842) (688.371)

(615.496) (150.582) (5.537) (771.614)

LABA USAHA

164.875

138.432

64.056

188.192

248.936

Pendapatan (beban) diluar usaha pokok Pendapatan Lain-Lain Beban Lain-Lain Jumlah pendapatan diluar usaha pokok

105.252 (56.586) 48.666

84.499 (17.190) 67.309

139.984 (20.911) 119.073

120.248 (44.518) 75.730

91.729 (79.818) 11.911

Laba sebelum pajak penghasilan

213.541

205.741

183.129

263.922

260.847

Manfaat (beban) pajak Pajak Kini Pajak Tangguhan

(55.381) 220

(41.057) (8.631)

(54.517) 19.725

(64.170) (2.684)

(57.623) 868

Jumlah beban pajak

(55.161)

(49.688)

(34.792)

(66.854)

(56.756)

Laba Komprehensif

158.380

156.053

148.337

197.068

204.091

157.824 555 158.380

156.045 8 156.053

149.763 (1.426) 148.337

202.150 (5.082) 197.068

205.472 (1.381) 204.091

LABA KOTOR BEBAN USAHA Beban Pemasaran Beban Umum dan Administrasi Beban Hutan Lindung JUMLAH BEBAN USAHA

Laba yang dapat didistribusikan kepada Pemilik Entitas Induk Kepentingan Non Pengendali Jumlah

cenderung meningkat dengan ratarata 12%. Memang 2012 dan 2013 pertumbuhan pendapatan lebih rendah, karena penurunan potensi pendapatan kayu dan penurunan harga gondorukem dan terpentin. Namun seiring dengan membaiknya perekonomian dunia, pertumbuhan pendapatan perhutani bisa bangkit di masa mendatang 2. Penguatan Non Kayu Dalam struktur pendapatan Perhutani, dalam tiga tahun terakhir terjadi pergeseran yang cukup signifikan. Bila pendapatan utama perusahaan ini bertumpu pada pendapatan dari kayu. Sejak 2010, pendapatan non kayu menjadi yang utama. Pada 2013 komposisinya 48 : 52, antara kayu dan non kayu. Ini menandakan hilirisasi dan

16 DUTA Rimba

industrialisasi sebagai program transformasi kini tengah berlari kencang 3. Penurunan Biaya Pertumbuhan biaya perum perhutani rata-rata tumbuh 12% mengikuti pertumbuhan pendapatan. Namun dalam 2012 dan 1013 pertumbuhan biaya dibawah pertumbuhan pendapatan sesuai dengan kebijakan efisiensi dan pengendalian biaya. Penurunan ini merefleksikan adanya transformasi bisnis secara fundamental, dimana biaya yang dikeluarkan untuk operasional perusahaan berdasarkan beban cost yang seharusnya dikeluarkan. 4. Efisiensi Di tengah gejolak perekonomian

dunia, efisiensi yang dijalankan Perhutani untuk menekan cost sangat berhasil. Pada 2013, Perhutani mampu melakukan efisiensi sebesar 4% dari target cost yang ditetapkan atau sekitar Rp 150 miliar. Efisiensi ini bisa dilakukan melalui program monitoring yang dilakukan direksi pada unit-unit usaha. Efisiensi bukanlah dilakukan secara membabi buta, tetapi didasarkan pada efektivitas cost terhadap produktivitas. Cost bisa saja dinaikkan sejauh memiliki signifikansi terhadap produktivitas. Begitu sebaliknya cost harus dipangkas, kalau tak ada signifikansinya terhadap produktivitas. 5. Laba Perusahaan Rata-rata pertumbuhan laba perusahaan mencapai 8%.

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Penjelasan Neraca

No.

URAIAN

2009

2010

2011

2012

2013

Rata2

1

2

3

4

5

6

7

8

1. Total Aset Lancar a. Jumlah (Rp. Juta) b. Pertumbuhan (%) 2. Total Aset a. Jumlah (Rp. Juta) b. Pertumbuhan (%) 3. Total Liabilitas Lancar a. Jumlah (Rp. Juta) b. Pertumbuhan (%) 4. Total Liabilitas a. Jumlah (Rp. Juta) b. Pertumbuhan (%) 5. Total Ekuitas a. Jumlah (Rp. Juta) b. Pertumbuhan (%)

1.435.240 -

1.544.592 8

1.663.051 8

1.766.156 6

1.708.207 (3)

5

1.800.705 -

1.959.242 9

2.188.009 12

2.441.012 12

2.505.322 3

9

298.448 -

309.240 4

371.399 20

479.565 29

337.684 (30)

6

431.217 -

440.014 2

525.948 20

615.174 17

475.315 (23)

4

1.369.488 -

1.519.228 11

1.662.061 9

1.825.838 10

2.030.007 11

10

Memang pada 2009, 2010 dan 2011, pertumbuhan laba perusahaan minus antara -1% s/d -5%. Laba baru melejit pada 2012 dengan pertumbuhan mencapai 33%, dan kembali turun menjadi 4% pada 2013. Dari data tersebut terlihat selama dua tahun tranformasi pertumbuhan laba perusahaan tidak minus. Bahkan kalau 2012 dan 2013 digabung dan diambil rata-rata pertumbuhannya mencapai 18,5%. Laba ini akan melesat kembali pada 2014, bila target laba bisa mencapai Rp 287 miliar, dimana pertumbuhan laba mencapai kurang lebih 40% 6. Aset Terus Meningkat Aset Perum Perhutani dalam lima tahun terakhir tumbuh 5%. Pada 2013 memang hanya tumbuh 3% dibawah rata-rata lima tahunan. Namun tren pertumbuhan aset ini juga sejalan dengan pertumbuhan pendapatan dan laba perusahaan. Bila ini bisa berjalan dan terus digenjot, dalam kurun lima tahun, Perhutani akan bisa melipatgandakan aset. 7. Investasi Peningkatan aset Perhutani cukup signifikan untuk investasi

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

pada bidang industri dan wisata. Rata-rata pertumbuhannya 9%. Ini menunjukkan ada mobilisasi pendanaan dalam mewujudkan transformasi di sektor hilir, khususnya memperkuat industri pengolahan dan jasa, sebuah bisnis baru yang tengah dimasuki oleh Perhutani 8. Meminimalkan utang jangka pendek Pertumbuhan liabilitas lancar sebesar 6%. Tahun 2013 diupayakan meminimalkan hutang jangka pendek. Langkah ini tentu sangat baik, karena dengan meminimalkan utang jangka pendek, akan menyehatkan keuangan perusahaan. Dimana cash flow perusahaan tak akan banyak terganggu untuk melunasi hutang dan pembayaran bunga. Perusahaan akan semakin lincah untuk melakukan aksi korporasi, karena didukung pendanaan internal. 9. Optimalisasi Dana Internal Total liabilitas terus ditekan, dengan melunasi hutang perusahaan di tahun 2013 atas hutang tahun 2011/2012 sebesar Rp 118 miliar dan mengoptimalkan

penggunaan dana sendiri. Langkah untuk mengoptimalkan dana sendiri tentu akan bisa terus dilakukan bila laba perusahaan terus bisa digenjot. Langkah ini jelas amat positif, apalagi kalau pemerintah tidak mewajibkan untuk menyetor deviden. Laba yang didapat perusahaan tiap tahunnya bisa dimanfaatkan untuk melakukan investasi. 10. Kekayaan Perusahaan Terus Meningkat Total Ekuitas rata-rata meningkat sebesar 10%, menunjukkan bahwa kekayaan perusahaan terus meningkat. Bila pertumbuhan perusahaan konsisten tiap tahunnya di atas 8%, dalam setiap lima tahun aset perusahaan akan mengalami peningkatan dua kali lipat, 11. Perusahaan Sehat Berdasarkan kinerja tahun 2009 -2013 berdasarkan Kepmen 100, capaian perusahaan adalah “Sehat AA” 12. Laporan Keuangan Berstandar Internasional. Sejak 2011, Perhutani telah menerapkan IFRS (International Financial Reporting Standard) secara bertahap. Mulai tahun 2013, Perhutani menerapkan IFRS secara penuh. Sehingga laporan keuangan 2013 merupakan laporan keuangan yang paling realistis 13. Kerja Keras Dari kinerja keuangan 2013 ini tentu harus menginspirasi seluruh karyawan perum Perhutani untuk bekerja keras mewujudkan tujuan dan target Perusahaan. Target perhutani 2014 untuk menggenjot pendapatan Rp 4,6 triliun dan laba perusahaan Rp 287 miliar, bukan sesuatu yang mustahil, bila karyawan bekerja keras. • DR

DUTA Rimba 17


Dok. Humas PHT

RIMBAUTAMA

18 DUTA Rimba

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


45 : 55 I

barat air mengalir, pundi-pundi Perum Perhutani terus bergeser sejalan dengan transformasi korporat yang ingin memperkuat sektor hilir. Bahkan, persegeran ini di proyeksikan semakin kencang pada 2014, setelah perusahaan membentuk Direktorat komersial Kayu dan Direktorat Komersial Non Kayu. Dari Dua direktorat inilah, Perhutani akan menggenjot pendapatan dengan komposisi yang semakin dominan pendapatan non kayu. Dominasi pendapatan non kayu ini semakin menguat pada tahun 2011. Bila pada 2010 pendapatan kayu terhadap non kayu 56 : 44. Pada 2011 terjadi perubahan cukup signifikan menjadi 49 : 51 dengan dominasi pendapatan non kayu. Pola pendapatan kayu dibanding non kayu itu terus bertahan sampai dengan 2012. Namun pada 2013 terjadi pergerakan yang cukup signifikan. Dimana pada tahun 2013 sebagaimana dijelaskan Bambang Sukmananto, Direktur Utama Perum perhutani pendapatan kayu dan non kayu bergeser 48 : 52, dari pendapatan total Rp 3.945 triliun . Dimana dari jumlah pendapatan sebesar itu berasal dari penjualan luar negeri industri non kayu sebesar

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

Rp 1,339 triliun (137% dari rencana) dan penjualan luar negeri hasil hutan lainnya sebesar Rp 617 miliar. Sedangkan dari kayu tebangan mencapai Rp 1.607 triliun atau 116% dari rencana. Fakta demikian terus membangkitkan optimisme manajemen perusahaan untuk terus menggenjot pendapatan non kayu. “Jika pada tahun lalu komposisi pendapatan perhutani antara kayu dan non kayu sebesar 48:52, maka pada tahun ini komposisi itu akan digenjot menjadi 45% kayu dan 55% non kayu,” tutur Bambang. Dengan komposisi pendapatan sebesar itu, Perhutani mematok pendapatan pada 2014 sebesar Rp 4,6 triliun, naik sekitar 15% dari pendapatan tahun sebelumnya. Begitu pula dari sisi laba, Perhutani juga telah mematok laba pada 2014 sebesar Rp 287 miliar naik 40,6% dai total laba Rp 204,9 miliar pada 2013. Untuk mengejar target pendapatan tersebut, sebagaimana dijelaskan Morgan Syarif Lumban Batu, Direktur Keuangan Perhutani, perusahaan akan menggelontorkan belanja modal (Capex) sebesar Rp 551 miliar pada 2014, naik lebih dua kali lipat bila dibanding tahun 2013sebesar Rp 262 miliar.

Pendapatan Non Kayu Tentu yang menjadi pertanyaan, bagaimana langkah perusahaan untuk menggenjot pendapatan non kayu ini. Tentu ada berbagai aksi korporasi antara lain mengoptimalkan pabrik derivatif gondorukem terpentin di Pemalang berkapasitas 24 ribu ton per tahun . Saat ini kapasitas terpakai baru 70% dan ditargetkan beroperasi penuh pada mei 2014. “Kami berharap ini yang akan mengangkat pendapatan,” jelas Bambang Selama ini, industri gondorukem menyumbang pendapatan kedua terbesar setelah kayu bulat (log). Saat ini, Perhutani adalah penghasil gondorukem terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Gondorukem yang merupakan produk olahan getah pinus adalah bahan utama untuk industri minyak, cat, tinta printer, dan industri lainnya. Selama ini, Indonesia mengekspor gondorukem dalam bentuk mentah dan industri dalam negeri mengimpornya dalam bentuk produk jadi. Produk derivatif Perhutani ini unik. Sebagaimana dijelaskan oleh Tejo Rumekso, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis, karena getah pinus yang dihasilkan berasal dari Pinus merkusii, yang kandungan

DUTA Rimba 19


RIMBAUTAMA kimianya berbeda dengan jenis pinus di negara lain. “Brasil memproduksi getah pinus, tetapi getah pinus kualitasnya berbeda dengan getah pinus Perhutani. Getah pinus mereka kandungan kimianya tidak sama dengan getah pinus merkusii,” tegas Tejo. Di non Kayu, Perhutani akan fokus untuk meningkatkan nilai tambah Gondorukem. Perhutani memiliki delapan pabrik dan satu untuk derivat terpentin. Selama ini pengelolaan pabrik ini belum maksimal, sehingga ke depan harus ditangani oleh ahli-ahli industri. Begitu terpentin, ternyata SNI ini belum mendapat respon yang positif dari pasar dunia. Untuk menangani ini agar produk terpentin ini mendapat nilai yang maksimal di pasar dunia, Direktorat Komersial Non Kayu tak segansegan menggunakan konsultan asing dari Belanda untuk meningkatkan nilai derivat. Konsultan ini untuk membantu meningkatkan kualitas terpentin sebagaimana yang dihasilkan Eropa dan China, agar nilai tambahnya maksimal. Gondorukem dan Terpentin itu yang ada di Indonesia dan Vietnam di Asia Tenggara. Selama ini kalau kita bicara Gondorukem, Perhutani hanya memanfaatkan getah-getah pinus di Jawa.” Kenapa kita tidak memanfaatkan getah-getah pinus di Aceh. Dan saya sudah mulai beli getah pinus dari Medan dan Sulawesi tahun ini ,” Tegas M Soebagja, Direktur Komersial Non Kayu. Ke depan pabrik-pabrik Gondorukem Perhutani itu akan mengolah getah-getah pinus Indonesia. PDGT ini terbesar di Asean. Tapi untuk PDGT masih mencoba untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Selama ini Indonesia masih impor dari Jerman dan China untuk pembuatan cat, lem, kertas dan alat-alat sound system.

20 DUTA Rimba

Produksi dan Rasio Pendapatan Perhutani 2010-2013

Diskripsi

2010

2011

2012

2013

Kayu (ribu m3)

889,46

962,24

928,92

955,585

Non Kayu (ribu ton)

178

227,53

231,53

193,18

Rasio (Kayu : Non kayu)

56:44

49:51

49:51

48:52

Selama ini kita mengolah getah 100.000 ton, untuk memproduksi 72.000 ton gondorukem , terpentin 14.000 ton . Ke depan seluruh pabrik itu pada 2015 harus bisa mengolah 150.000 ton getah pinus untuk memproduksi 92.000 ton gondorukem dan terpentinnya 17.500 ton. “Untuk itu, Perhutani akan memaksimalkan getah pinus dari internal Perhutani plus dari luar Jawa,” tambah Soebagja. Untuk menggenjot gondorukem dan terpentin in tidak menutup kemungkinan untuk membuka pabrik Gondorukem di luar Jawa. Dengan langkah progresif ini diharapkan gondorukem dan derivatnya itu pada 2015 bisa memasok 70% dari total pendapatan non kayu. “Sekarang Gondorukem baru memasok 65%.” Sementara untuk Optimalisasi aset (Opset),dengan dibentuknya Devisi Opset, maka ke depan juga menjanjikan pundi-pundi perusahaan . “Masak Perhutani kalah dengan PT KAI, PT Pos. Bahkan di Pos itu, Opset itu telah menjadi salah satu direktorat sendiri, menangani properti. Kalau lihat di Bandung, Kantor Pos mana yang tidak dioptimalkan asetnya,” tambah Soebagja. Peluang Perhutani untuk mengoptimalkan aset seharusnya jauh lebih prospektif. Contoh di Bojonegoro, Perhutani memiliki 40 Ha tanah, yang bisa dibuat lebih komersial. Hanya saja sebagaimana diakui Subagya, masih banyak tanah-tanah Perhutani yang belum bersertifikat. “Saya mikir sederhana saja sepanjang Banten –Jawa Timur

itu nanti ada nempel Indomaret di TPK Perhutani.” Sementara untuk Wisata tentu akan fokus di Jawa Barat. Kenapa? Karena animo untuk wisata yang lebih besar itu di Jawa Barat. Khususnya wisatawan dari Jakarta itu banyak yang lari ke Bandung. Untuk itu dalam rangka meningkatkan pelayanan, akan digenjot pembangunan infrastruktur wisata, hospitility, food and bevered, sehinga wisatawan akan merasa betah dan rindu dengan destinasi wisata Perhutani. Kelengkapankelengkapan di sebuah resort itu yang harus digenjot. Perhutani memiliki banyak destinasi wisata. Untuk resort setidaknya ada sembilan. Untuk menggenjot sektor wisata, Direktorat Komersial Non Kayu akan melakukan mapping, mau dibawa kemana wisata Perhutani ini ke depan. Jangan sampai saling membunuh antara sesama wisata Perhutani. Tetapi wisata Perhutani ini menjadi komplementer antara wisata yang satu dengan lainnya. “Kalau saya ke Cikole, saya butuh lagi harus ke Ciwidey. Jangan sampai sudah sampai ke Cikole, tidak perlu lagi ke Ciwidey. Kalau di Cikole punya A, dan Ciwidey punya B. Kurang pas kalau sudah sampai di Cikole tidak mampir ke Ciwidey,” tegas Soebagja. Direktorat Komersial Non Kayu, menargetkan pendapatan Rp 2,27 triliun itu akan ditopang 65% dari gondorukem dan Derivat, 22% dari wisata, 10,5% dari optimalisasi aset dan 2,5% dari minyak kayu putih.

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Dok. Humas PHT

“Non Kayu ini pada 2013 sudah menyumbang sekiat 51% pendapatan perusahaan,” tegas Mohammad Soebagja, Direktur Komersial non Kayu perum Perhutani Pendapatan Kayu Lantas bagaimana, skenario pencapaian target pendapatan itu bisa diperoleh. Dari Direkrtorat Kayu untuk mengenjot target penjualan, akan memetakan industri yang menggunakan kayu Perhutani. Baik industri besar, sedang maupun kecil. Berapa sesungguhnya mereka membutuhkan kayu Perhutani? “Kita tiap tahunnya kan sudah tahu, Si A sekian, Si B sekian, Si C sekian dan seterusnya. Memang disitu ada trader. Ke depan trader ini harus dikurangi. Karena banyak hal-hal yang mustahil itu terjadi di situ. Atau dia menjadi distributor saja secara resmi. Toh mereka selama ini menjadi good Father-nya pengusahapengusaha kecil,” tegas Mustoha Secara sistem sesungguhnya sudah bagus. Tetapi yang jadi masalah, bagaimana implementasinya tak ada distorsi. Ada barkot, online system, ada loket. Itu semua harus jadi dan dilaksanakan. Sementara untuk tenaga pemasaran perlu diberikan

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

insentif dalam bentuk fee marketing. Fee ini diberikan supaya mereka tidak mencari fee sendiri-sendiri. Dimana-mana orang penjualan itu ada fee-nya. Melalui sistem ini akan menciptakan karyawan-karyawan pemasaran yang berorientasi pada perusahaan, bukan pada buyer (pembeli). Sistem fee ini untuk membangun loyalitas mereka dengan memberikan insentif. Dengan sistem barkot, online, loket itu tidak memungkinkan orang main-main. “Kalau ada yang main-main, akan saya copot, “ tegas Mustoha. Saatnya karyawan Perhutani itu melayani pembeli. Bukan dilayani pembeli. Sehingga ini butuh perubahan mind side dari seluruh karyawan. Dimana pembeli itu adalah raja. Kalau makan di restoran, orang Perhutani yang harus membayar. Selain itu, juga harus ada kontrol harga. Artinya market intelijen juga harus operasional. Berapa sesungguhnya harga yang wajar harus ditetapkan. Sementara dari aspek legal, Direktorat ini juga akan membuat format kontrak baku (standar kontrak). Siapapun nanti yang menangani baik kontrak maupun perjanjian kerja sama formatnya seperti itu. “Seperti di

bank-bank itu tak bisa sembarang mengkoreksi. Kalau setuju tanda tangan, kalau tidak setuju ya tidak usah tanda tangan,” tambah Mustoha. Melalui kontrak baku ini, bila terjadi masalah, posisi Perhutani menjadi kuat. Tidak selalu dalam posisi kalah. Selain itu Direktorat Komersial Kayu akan menggandeng konsultan untuk mensurvei berapa sesungguhnya need dari demand produk-produk kayu. Mulai dari volumenya, kebutuhan kayu sepuluhdua puluh tahun mendatang. Dari situ Perhutani harus mengikuti kemauan pasar itu. Kalau butuhnya kayu A1, tentu tidak perlu menanam kayu sampai 30 tahun. “8 s/d 10 tahun saja sudah bisa menghasilkan A 1, kenapa harus menanam yang 20 tahun yang telah keduluan oleh pencuri. Kita ke depan menanam sesuai dengan permintaan pasar kan? “ tegas Mustoha. Kalau Perhutani sudah bisa mengetahui maunya pasar, maka produksi kayu baru mengikuti. Demand untuk 10-20 tahun ke depan seperti apa? Kalau tak perlu kayu-kayu yang begitu bagus, buat apa? Mungkin ada yang betul-betul berkualitas, tetapi untuk ceruk pasar. “Ya kita ambil yang daun-daunnya sudah tua itu untuk keperluan ceruk pasar. Sudah kita pelihara puluhan tahun, tetapi pasarnya tidak ada, untuk apa? 40 tahun, 60 tahun ngapain. Nanti didahului oleh pencuri. Pada hal kita sudah capek menjaga. Sepereti Jatirogo umurnya 100 tahun, ujungnnya juga dicuri juga. Capek. ” Survey kayu ini nantinya bukan hanya untuk pasar domestik, tetapi juga untuk pasar luar negeri, karena Perhutani memiliki pasar luar negeri. Pasar luar negeri itu untuk jati 10 tahun ke depan itu, seperti apa? “Kita harus ngikuti, kalau tidak buat apa kita nanam sudah puluhan tahun, tetapi tak ada pembelinya juga,” • DR

DUTA Rimba 21


RIMBAUTAMA

Perbaikan Kinerja Perhutani

Kurangi

Lemak

Dalam Darah Kinerja keuangan 2013 naik secara signifikan. Namun tak boleh membuat kita berpuas diri. Masih banyak yang harus diperbaiki. Termasuk mengikis lemak-lemak yang bisa mengganggu cash flow perusahaan

S

ecara statistik, pertumbuhan perusahaan pada 2013 memang naik secara signifikan. Dari sisi pendapatan naik 8% dan laba bersih 4% bila dibanding tahun 2012. Dengan modal tersebut, Perhutani pada tahun 2014 mematok target pertumbuhan pendapatan sebesar 15% dan laba bersih 40%. Meski secara buku, pertumbuhannya secara signifikan. Tetapi tak semua jajaran manajemen puas dengan pencapaian tersebut ”Saya kurang puas. Kenapa? Karena sebetulnya kita sudah bekerja keras, tetapi menurut saya perlu ada perbaikan di mana-mana,” tegas Morgan Syarif Lumban Batu, Direktur Keuangan Perum Perhutani Dari kinerja keuangan 2013 ada beberapa hal yang menjadi catatan. Antara lain dari sisi harga. Ada semacam involved dari harga yang normal yang cukup tinggi, karena adanya kenaikan kurs dolar terhadap rupiah. Jadi kinerja keuangan itu tidak seluruhnya hasil kerja karyawan. “Dari

22 DUTA Rimba

sisi keuangan memang sudah bagus. Tetapi sisi kinerja memang perlu terus ditingkatkan.” Sementara dari sudut pandang yang lain. Sebagai Direktur Keuangan Morgan juga terhentak bila mencermati angka-angka dalam laporan keuangan. Dari total beban biaya 2013 sebesar Rp 3,6 triliun, tapi dari sisi biaya pegawai mencapai Rp 1,13 triliun. Itu artinya sekitar 30% dari beban biaya untuk membiayahi pegawai. “Lalu pertanyaannya, bagaimana dengan hutan kita?” Dari sisi produktivitas di tahun 2013, Morgan memastikan sudah meningkat bila dibanding dengan 2012. Produktivitas itu dihitung dari kemampuan laba perusahaan dibanding dengan pendapatan. Tapi kalau laba 2013 lebih baik dari 2012, karena ada involved, kurs yang naik dari Rp 9.500 menjadi Rp 12.000, selain tentu kinerja operasional Sementara, bersamaan dengan itu juga terjadi peningkatan cost pegawai. Biaya pegawai pada 2013 itu rata-rata naik 7%. Ada 10 komponen

biaya pegawai yang meningkat. Mulai dari gaji pegawai, biaya kesejahteraan, kesejahteraan umum, upah PP, insentif, bonus, pesangon, premi produksi dan lain sebagainya.

Dari sisi penghematan, sering kali dianalogkan dengan pemotongan biaya. Padahal, di Perhutani tidak ada seperti itu. Di Perhutani yang ada effectiveness. Jadi bukan sematamata untuk menekan biaya. Tetapi yang diutamakan adalah prioritas biaya. Morgan mencontohkan effectiveness itu. Kalau kita tidak perlu rapat tiga hari, tetapi cukup dengan dua hari, kenapa tidak dua hari saja. Itulah yang dilakukan untuk menata biaya. Direksi melakukan monitoring. Kalau sudah ada pelampauanpelampauan, kita tunjukkan di mana pelampauan itu terjadi, supaya berhati-hati. Bila disimpulkan kinerja 2013 cukup cemerlang, karena dari sisi pendapatan ada involved. Tapi dari sisi biaya ada cost effentiviness. Dua variabel inilah yang punya pengaruh kuat terhadap kinerja keuangan perusahaan. “Mudah-mudahan pada 2014 akan lebih bagus lagi,” kata Morgan. Beban Piutang Tak Tertagih Efisiensi pada 2013 sekitar 4%. Itu cukup bagus. Namun catatan lain pada 2013 untuk pertama kali Perhutani menerapkan International Financial Report Standard (IFRS) secara penuh, meskipun secara bertahap telah dilaksanakan sejak 2011, agar tidak collaps Ketika IFRS dilaksanakan penuh di Perhutani, banyak beban biaya yang di-impair sebagai pengurang laba perusahaan. Sebagai contoh, bila perusahaan memiliki piutang tak tertagih tiga tahun. Nilai dari piutang itu ada. Bila kita menanam

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Dok. Humas PHT

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

DUTA Rimba 23


RIMBAUTAMA uang di bank Rp 150 itu ada nilainya berupa bunga. Di dalam sistem IFRS juga begitu. Kalau ada piutang yang tak tertagih, ada biaya dari piutang. Seandainya piutang yang tak tertagih tersebut disimpan di bank akan mendapat manfaat sekian persen. Hal yang sama juga terjadi di akuntansi. Biaya piutang yang tak tertagih itu menjadi pengurang laba rugi Impair dari piutang yang tak tertagih, dan aset yang tidak produktif menjadi pengurang laba rugi pada 2013 cukup besar bila dibanding 2012. Aset yang tidak dimanfaatkan itu ada nilai pasarnya. Seperti aset perusahaan kalau disewakan ada hasilnya. Kalau bikin gedung, kirakira pendapatannya berapa. Selisih itu namanya di-impair. Harus masuk dalam akutansi, menjadi pengurang laba rugi. Selama 2013, bila dihitunghitung impair-nya lebih dari Rp 60 miliar. Dibanding keuntungan yang diperoleh dari kenaikan kurs, jadinya impas. Bila tak ada imper, laba perusahaan pada 2013 tentu bisa lebih besar. Morgan yakin, bila perusahaan bisa menekan impair, target laba perusahaan Rp 280 miliar tentu tidaklah terlalu susah. Sementara dari sisi investasi, pada tahun 2013, perusahaan mengalokasikan anggaran Rp 771, 8 miliar, sedangkan yang terealisasikan sebesar Rp 262,4 miliar. Yang tidak terealisasikan antara lain pengadaan tanah dan kantor pusat. Begitu pula industri sagu dianggarkan Rp 70 miliar digeser ke tahun 2014. Tanaman karet yang tadinya dianggarkan dalam bentuk investasi diubah menjadi biaya.

Bila dibanding dengan tahun 2012 sebesar Rp 240 miliar, realisasi investasi pada 2013 naik menjadi 262,4 miliar. Dengan proyek yang tertunda di tahun 2013 tersebut, pada

24 DUTA Rimba

2014 perusahaan mematok investasi sebesar Rp 551 miliar. Tentu yang menjadi pertanyaan, dari mana dana sebesar itu untuk investasi? Memang ada beberapa skema investasi pada umumnya. Menggunakan dana internal maupun eksternal. Namun bila melihat cash flow perusahaan pada 2013 cukup bagus, dimana perusahaan mampu melunasi hutang BNI Rp 118 miliar, maka dana investasi itu bisa ditopang oleh kas internal perusahaan. Bila cash flow dalam kondisi bagus sebagaimana pada perusahaan umumnya, dana yang ada akan dimanfaatkan untuk investasi untuk meraih pendapatan lagi. Pertanyaannya kemana investasi itu dilakukan? Tentu secara logika. harusnya diinvestasikan kepada hal-hal yang produktif agar bisa menghasilkan pendapatan. Pembangunan kantor Perhutani Pusat dan pembangunan industri sagu, yang kemudian digeser pada 2014 itu juga mencerminkan kehati-hatian agar cash flow bisa dipertahankan dengan baik. Hal itu ditekankan Morgan, karena cash flow itu merupakan darah perusahaan. Ibarat tubuh manusia, bila darah itu ada sumbatan karena banyak lemak. Itu berbahaya, karena manusia bisa sesak nafas, penyakit jantung dan lain sebagainya. “Cash flow seperti itu.” Morgan, perlu mencontohkan darah, karena asupan makanan ke tubuh itu bila banyak lemaknya akan berakibat alirah darahnya kurang baik, karena tersumbat. Bila tersumbat harus dioperasi atau ditiup. Cash flow juga begitu. Kalau lemaknya terlalu banyak, pasti ada sumbatan di kemudian hari. Tentu yang menjadi pertanyaan, lemak-lemak cash flow itu seperti apa? Bila rapat bisa dilakukan di kantor, kenapa harus di hotel. Kalau bisa rapat sehari, kenapa harus dua hari. Kalau bisa rapat melalui

teleconference, kenapa harus rapat di daerah. Kalau hal-hal yang tidak perlu dilakukan itu dilaksanakan, namanya memakan lemak. Kalau dilaksanakan pasti ke depan akan ada flek-fleknya. Kebiasaan-kebiasaan yang tak efisien itu harus dikikis habis. Bila perusahaan sudah mengurangi lemak-lemak, itu sama artinya dengan Cost Reduction program. Mengatur mana yang penting dan mana yang tidak, supaya tidak timbul lemak. Itu Cost effectiveness. Untuk cost reduction program itu harus ada tolak ukurnya. “Contohnya pada darah. Sudah tahu ada sumbatan, kita masih makan kambing dan lemak pasti bersumbat. Kalau sudah tahu lemak bikin darah tersumbat jangan makan kambing dan daging sesuai dengan petunjuk dokter. Jangan makan yang berlemak. Ya begitulah Cost reduction program.” Sementara dalam restrukturisasi organisasi pengaruhnya terhadap pengelolaan keuangan, Morgan melihat, memang restrukturisasi telah dilakukan oleh perusahaan yang berimbas pada penataan organisasi di bawah. Seperti di unit, kini sudah dipecah menjadi divisi regional dan divisi pemasaran. Tentu ini akan membawa pengaruh terhadap pengelolaan keuangan korporat Meski demikian Morgan mengingatkan, restrukturisasi organisasi ini tujuannya untuk mempercepat pencapaian tujuan perusahaan. Kalau dulu itu dari kantor pusat ke unit, ke KPH-KPH. Sekarang dibuat organisasi baru untuk mempercepat supaya lebih baik. Bagi Morgan, perubahan itu menyebabkan pertanggungjawabannya lebih baik. “Kalau dulu saya kirim uang ke Unit. Dan unit dikirim ke KPHKPH. Sekarang ada Divre, dan divisi pemasaran. Sekarang lebih jelas. Berapa anggaran untuk pemasaran,

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Dalam pengelolaan keuangan modern, Perbankan harus bisa dijadikan kasir perusahaan. Kalau perusahaan bisa memanfaatkan orang bekerja untuk perusahaan kenapa tak dilakukan. dan untuk divre, sehingga lebih jelas. Untuk sementara memang menimbulkan biaya besar. Tapi lambat laun akan diikuti oleh cost effectiveness.” Semangat Besarkan Perusahaan Tujuan organisasi itu adalah membagi pekerjaan secara habis dan masing-masing fokus untuk menghasilkan sesuatu sesuai tujuannya, hingga lebih efektif. Kemudian, kalau lebih efektif, maka alur pembiayaannya juga lebih efektif. Ada pertanggung jawaban secara jelas, karena semua fokus. Kalau di keuangan itu ada yang mencari ada yang mengeluarkan. Ada profit center dan cost center. Hanya jangan ada seperti balon. Dipencet sini meggelembung di sana. Di organisasi itu juga sangat begitu. Direksi saat ini memiliki semangat yang sama dalam membuat Perhutani besar. Kalau kerjasama dengan pihak lain tidak menguntungkan direksi berketetapan bisnis dikelola sendiri. Kalau hanya memikirkan enaknya saja, di- KSO saja. Tapi karena memikirkan masa depan perusahaan, maka kerjasama yang tidak menguntungkan dikelola sendiri. Selain itu, transparansi sangat dikedepankan. Pertama, kita

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

menseleksi kerja sama. Kalau tidak menguntungkan putus. Kedua soal penjualan luar negeri. Kita ada agen. Ini dibentuk untuk mengakomodir kepentingan konsumen. Sehingga ke depan Perhutani itu seperti apa. Ini merupakan hal-hal yang transparan. Ke depan ada perwakilan China. “Saya kira ini menjadi hukum alam. Kalau agen itu tak bisa memberikan apaapa, yaitu kembali ke KSO. Morgan bersyukur direksi yang ada sekarang ini semangatnya sama. Dan, pengelolaan keuangan Perhutani sekarang sudah modern. Dalam mengirim uang kerja ke divre dan devisi sudah melalui electric. Begitu pula gaji dengan payrol. Semua harus menggunakan teknologi. Siapapun, termasuk penyadap harus melek perbankan. Kalau terlambat akan ditelan masa. Apalagi di Pulau Jawa, semua pasti bisa mengakses perbankan. Memang ini harus dilaksanakan bertahap, dengan pembudayaan terlebih dahulu. Cuma permasalahannya kita harus aktif memonitor, apakah uang itu sudah sampai dan digunakan untuk apa. Ini yang kita lakukan. “Saya yakin dengan pengelolaan keuangan yang lebih modern ini. Pasti terjadi efisiensi.” Tegas Morgan Dalam pengelolaan keuangan

modern, Perbankan harus bisa dijadikan kasir perusahaan. Kalau perusahaan bisa memanfaatkan orang bekerja untuk perusahaan kenapa tak dilakukan. Mereka juga mendapatkan manfaat. Sekarang perbankan sudah online. Mengirim uang permindahannya hanya hitungan menit dan sudah sampai ke kabupaten. Kita harus manfaatkan teknologi. Kalau perusahaan tak gunakan teknologi pasti terpuruk. Memang sekarang ada yang mengaku telah melakukan transformasi di bidang keuangan, hanya karena sudah mempublikasikan pengeluaran satuan kerja kepada anak buahnya. Langkah semacam itu memang perlu diapresiasi. Apalagi kalau itu inisiatif dari pimpinan di satuan kerja. Namun yang lebih mendasar, bahwa yang dihasilkan dari transaksi bisnis itu bukanlah uang “saya”, tetapi uang perusahaan. Kalau bagian pemasaran berhasil menjual, semua itu merupakan pendapatan perusahaan. Mereka tak bisa mengklaim, karena berhasil menjual, maka mereka yang paling berhak menggunakan uang tersebut. Klaim semacam itu tidak boleh terjadi. Karena pengeluaran siapapun harus dipertanggungjawabkan. • DR

DUTA Rimba 25


Dok. Humas PHT

RIMBAUTAMA

26 DUTA Rimba

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Perhutani di Mata Media:

Kinerja

Korporat Melesat Perum Perhutani Mengalokasikan belanja modal (Capex) sekitar Rp 551,9 miliar untuk pengembangan usaha tahun ini, termasuk pengembangan industri derivatif dan melepaskan ketergantungan dari produksi kayu hutan alam. (Bisnis Indonesia, 6 Maret 2014)

M

edia memang memiliki mekanisme tersendiri untuk memberikan makna terhadap suatu peristiwa. Hal ini sangat tergantung pada ideologi, kebijakan redaksi, persepsi wartawan yang menyajikan berita serta segmen pembacanya. Gabungan dari semua itu menghasilkan framing berita yang tersaji dalam halaman, laman, tayangan dan siaran media. Seperti dalam angle Bisnis

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

Indonesia di atas, merupakan salah satu bentuk bagaimana media mem-framing, ratusan, bahkan ribuan informasi yang mereka serap dalam public expose Kinerja Perum Perhutani, yang diselenggarakan pada Rabu, 5 Maret 2014 Dalam expose yang dipandu langsung oleh Direktur Utama Bambang Sukmananto, koran bisnis terbesar ini mengangkat angle berita yang menjelaskan langsung judul berita “Siapkan Capex Rp 551 Miliar Perhutani Masuk Penghiliran”. Dalam

DUTA Rimba 27


ekpose Kinerja Perhutani 2009-2013, Bisnis Indonesia memframing berita dari sisi, bagaimana perusahaan harus melakukan aksi korporasi khususnya pada 2014 Belanja modal sebesar itu akan digunakan untuk pembangunan pabrik sagu yang berlokasi di Sorong Selatan, papua Barat, senilai Rp 108 miliar. Selain itu dana tersebut akan dipakai untuk pembangunan infrastruktur berupa jalan dan jembatan, mesin dan alat berat termasuk penyertaan modal. “Sebagian ada juga sisa pembayaran untuk proyek PDGT di Pemalang, Jawa Tengah, yang baru selesai di bangun,” turut Morgan Tentu Capex sebesar Rp 551 miliar itu bukanlah sesuatu yang luar biasa. Banyak BUMN yang mengalokasikan belanja modal di atas Rp 1 triliun. Bahkan ada BUMN yang mengeluarkan Capex sekitar Rp 80 triliun. Namun yang menarik peningkatan Capex di Perhutani sangat luar biasa bila dibanding dengan tahun 2012 sebesar Rp 253,82 miliar. Kenaikan Capex Perhutani pada 2014 di atas 100% Pertumbuhan Capex di atas 100% tentu tak hanya mengundang rasa ingin tahu (Courisity) wartawan, tetapi juga kalangan pebisnis maupun investor yang menjadi pembaca utama Bisnis Indonesia. Peningkatan Capex yang cukup signifikan tersebut ternyata untuk mengejar peningkatan pendapatan sebesar Rp 4,6 triliun dari Rp 3,86 triliun pada 2013. Serta mengejar target laba bersih Rp 287 miliar dari Rp 204,9 miliar (2013) atau kenaikan laba bersih pada 2014 sebesar 40,6% Senada dengan Bisnis Indonesia, Jurnal Nasional, yang menurunkan berita dengan judul “Perhutani Bidik Pendapatan Rp 4,6 triliun”, dimana untuk mengejar target pendapatan tersebut, Perhutani akan menggelontorkan Capex Rp 551

28 DUTA Rimba

Dok. Humas PHT

RIMBAUTAMA

Senada dengan Bisnis Indonesia, Jurnal Nasional, yang menurunkan berita dengan judul “Perhutani Bidik Pendapatan Rp 4,6 triliun”, dimana untuk mengejar target pendapatan tersebut, Perhutani akan menggelontorkan Capex Rp 551 miliar. miliar. Dimana dana tersebut akan dibiayai dari kombinasi kas internal dan pinjaman perbankan. “Dua Bank BUMN yaitu Bank BRI dan BNI selalu siap dan berkomitmen membiayai setiap pengembangan bisnis Perhutani,” tegas Morgan Sharif Lumban Batu, direktur keuangan sebagaimana dikutip Jurnas. Koran ini juga menulis kenaikan kinerja keuangan pada 2014 diproyeksikan dapat dicapai dengan meningkatkan roda usaha non kayu. “Tahun ini perhutani siap meningkatkan bisnis industri hilir antara lain dengan beroperasinya pabrik derivatif gondorukem terpentin, sejalan dengan penataan bisnis dan proses bisnis inti,” ujar Bambang Sukmananto sebagai

mana dikutip Jurnas. Selama ini Perhutani banyak bergerak pada bisnis sektor hulu yang bertumpu pada hasil hutan kayu, getah pinus dan industri yang masih membutuhkan penataan. Ke depan, tentu harus dilakukan penguatan pada sektor hilir, melalui industri pengolahan dan jasa Sejalan dengan sorotan Junas, Investor Daily, Koran bisnis terbesar ke dua juga menurunkan tekad Perhutani untuk menggenjot pendapatan dari bisnis non kayu. Tahun ini perusahaan pelat merah ini menargetkan sumbangan dari bisnis non kayu sebesar 55% dari total pendapatan dan 45% disumbang oleh bisnis kayu. Langkah ini untuk mencapai target pendapatan pada

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Dok. Humas PHT

Bambang menambahkan bidang pangan bukan menjadi usaha inti karena terbatasnya kawasan hutan. Saat ini, penanaman komoditas pangan dilakukan di sela tanaman hutan.

2014 sebesar Rp 4,6 triliun dengan target laba Rp 287 miliar atau naik 40% dari 2013. Mengutip keterangan Direktur Pengelolaan Sumber Daya Hutan Perhutani Heru Siswanto, Perhutani juga turut mendukung ketahanan pangan nasional, yaitu dengan memberikan akses bagi masyarakat untuk menanam tanaman pangan di lahan perhutani Hingga saat ini, BUMN Perhutani mengelola tanaman pangan seluas 80 ribu hektar dan berkontribusi 657.559 ton per tahun berupa padi, jagung, kedelai dan sebagainya. Produktivitas padi di lahan Perhutani mencapai 4 ton per ha. “Ini juga amanat Kementerian BUMN agar kami mendukung GP3K (Gerakan Peningkatan produksi Pangan Berbasis Korporasi)” jelas Heru Luas lahan pangan Perhutani terus meningkat. Pada 2013 luasnya 116 ribu ha untuk padi, jagung dan kedelai. Tahun ini luasnya ditargetkan

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

120 ha dengan komoditas yang sama. Bidang tersebut juga menyerap tenaga kerja sebanyak 2,3 juta orang. Bambang menambahkan bidang pangan bukan menjadi usaha inti karena terbatasnya kawasan hutan. Saat ini, penanaman komoditas pangan dilakukan di sela tanaman hutan. Sayangnya petani hutan kurang perhatian dari pemerintah padahal potensinya cukup besar dalam mendukung ketahanan pangan dalam negeri. Senada dengan Investor Daily, Media indonesia yang menurunkan berita dengan judul “Perhutani Ekspor Produk Konsumsi” mengutip keterangan Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis perhutani Tedjo Rumekso, mengungkapkan perusahaan akan mengoperasikan pabrik sagu di Sorong Papua, pada April 2015. “Perhutani telah mendapatkan izin usaha seluas 16 hektar dari

Kementerian Kehutanan dan Pemerintah Daerah (Pemda),” jelasnya Investasi pembangunan pabrik sagu itu ditetapkan Rp 108 miliar dengan target kapasitas produksi 100 ton per hari atau 30 ribu ton setiap tahun. Kontribusi bagi pendapatan sekitar Rp 100 miliar per tahun. Pabrik yang mengelola area konsesi lahan 16 ribu hektare tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada April 2015. “Saat beroperasi penuh kapasitas produksi pabrik sagu ini mencapai 30 ribu ton tepung per tahun,” papar Tedjo. Perhutani menggandeng BUMN, yaitu PT Barata (Persero) untuk kontruksi pembangunan dan PT PLN (Persero) yang akan membangun pembangkit listrik berbahan bakar kulit pohon sagu. Listrik itu nantinya akan dijual secara komersial. Dari framing media tersebut memperlihatkan, adanya optimisme publik terhadap kinerja perusahaan. Dari framing media tersebut memperlihatkan positioning Perhutani cukup bagus. Sebagai entitas bisnis, Perhutani kini memang tengah berproses untuk fokus dalam mengembangkan hilirisasi. Ini sebuah terobosan dilakukan oleh sebuah perusahaan yang berbasis tanaman, untuk masuk ke bisnis industri. Disini banyak tantangan, sekaligus peluang. • DR

DUTA Rimba 29


Dok. Humas PHT

RIMBAKHUSUS

Dari Ajang Duta Rimba Best Reader Award 2014

Internalisasi

Roap Map

Transformasi 30 DUTA Rimba

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Sebuah ajang internalisasi transformasi Perhutani kepada kalangan manajemen menengah dilaksanakan melalui Duta Rimba Best Reader 2014. Ini merupakan sebuah terobosan kreatif untuk mengukur sejauh mana gong perubahan dimengerti, diresapi dan diimplementasikan jajaran manajemen. Ini sebuah rintisan, dimana ke depan akan menjadi model, tidak saja bagi Perhutani, tetapi juga korporasi lainnya untuk mengukur efektivitas penerbitan internal untuk mengubah sikap dan perilaku karyawan secara kualitatif

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

“A

da yang kenal Sadewa?” Sebuah pertanyaan yang meluncur dari juri mencairkan suasana penjurian “Duta Rimba Best Reader Award 2014” yang digelar di kantor Pusat Perhutani. Dalam penjurian Best Reader Majalah Duta Rimba, dilakukan semacam panel diskusi, atau focus Group Discussion (FGD). Dimana dalam penjurian tersebut, tim juri yang terdiri dari tiga-empat orang menguji peserta yang terdiri sekitar lima orang dalam sebuah panel. Mereka menanyakan berbagai hal materi yang termuat di

DUTA Rimba 31


Dok. Humas PHT

RIMBAKHUSUS

majalah internal Perhutani. Pertanyaan yang diajukan dewan juri tak hanya hal-hal yang beratberat, tetapi juga yang ringan-ringan, meskipun jawabannya berat juga. Seperti pertanyaan tentang sadewa, tampaknya sederhana. Dimana sadewa adalah sebuah primata Owa Jawa (Hylobates moloch) Jantan yang bersama pasangannya kiki (betina) dilepas secara bebas di hutan lindung Gunung Puntang, Pengalengan, Bandung, Jawa Barat. Pelepasliaran dua ekor Owa Jawa itu dilakukan sebagai bagian dari upaya pelestarian habitat hewan endemik Pulau Jawa yang kini terancam punah Pelepasan Owa Jawa, yang menjadi liputan utama Duta Rimba Juli-Agustus 2013, memang telah banyak dimengerti oleh peserta Best Reader. Namun ketika ditanya apa makna dibalik pelepasan Owa Jawa oleh Perhutani, beragam jawaban yang muncul dari peserta. Ada yang menjawab itu bagian dari konservasi, tanggung jawab terhadap lingkungan, dan lain sebagainya.

32 DUTA Rimba

Internalisasi nilai-nilai itu melalui ajang lomba, sekaligus membudayakan budaya baca. Jawaban beraneka macam tersebut tentu saja bisa dipahami. Karena masing-masing pembaca tentu memiliki persepsi yang berbeda-beda tergantung pada daya tangkap dan latar belakang masing-masing pembaca. Seberapa jauh pembaca menyerap sajian Duta Rimba, khususnya yang berkait dengan transformasi Perhutani, itulah yang menjadi fokus . Di era kepemimpinan Bambang Sukmananto sebagai Dirut Perhutani, Duta Rimba memang menjadi media untuk mensosialisasikan proses transformasi Perhutani. Melalui rubrik Benah Diri yang menampilkan

gagasan dan pemikiran Dirut untuk membawa Perhutani menuju Perhutani Excellence, bila dibaca secara teliti dari satu edisi ke edisi berikutnya bila ditarik benang merahnya seperti roap map transformasi Perhutani. Belum lagi dari Rubrik Benah Diri ini juga dikupas tuntas dalam Prima Rimba dan Rimba Utama, majalah ini seakan memitigasi seluruh insan Perhutani untuk terus berubah. Tidak saja dari aspek fundamental yang berkait perubahan mind set, tetapi juga bisnis Perhutani. Bila sebelumnya bisnis Perhutani berbasis pada kayu ke depan harus berbasis pada non kayu. Bila sebelumnya berbasis tanaman, ke depan harus ber basis pada industri. Demikian seterusnya, transformasi akan mengubah wajah Perhutani di masa depan, tanpa harus meninggalkan basis tanaman untuk menjamin ketersediaan bahan baku untuk industri Perhutani. Dari kerangka berfikir semacam itu, tak berlebihan, bila Duta Rimba Best Reader Award 2014 ini

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Peraih Duta Rimba Best Reader Award 2014 PEMENANG

NAMA

UNIT ORGANISASI

KATEGORI KAUR/KRPH Juara 1

Marsono

KRPH Karang Winong, KPH Telawa

Juara 2

Eko Wahyudi

Kaur Hugra, KPH Mojokerto

Juara 3

Suryatmoko

KRPH Nyuluhan, KPH Parengan

Juara Harapan 1

Joko Surpiyanto

Kaur Perencanaan, KPH Kedu Utara

Juara Harapan 2

Ismartoyo

Kaur Humas , KPH Mantingan

Juara Harapan 3

Edy Pramono

Kaur Lingkungn, KPH Mantingan)

KATEGORI KSS/ASPER Juara 1

Bima Andrayuwana

KBKPH Bluluk, KPH Mojokerto

Juara 2

Sutriswanto

KSS PHBM, KPH Mantingan

Juara 3

Sindar Pasaribu

KBKPH Wonosobo, KPH Kedu Utara

Juara Harapan 1

Roro Silvina

KSS Perencanaan, KPH Blora

Juara Harapan 2

Danu Prasetyo

KBKPH Sukanegara Utara, KPH Cianjur

Juara Harapan 3

Yusron M

KBKPH Leles, KPH Garut

dimaksudkan untuk menguji sejauh mana transformasi yang digulirkan oleh manajemen itu dimengerti, dipahami, dan diimplementasikan oleh pembaca. Meminjam teori pendidikan, program ini untuk mengetahui sejauh mana aspek cognitif, afektif dan psikomotorik transformasi Perhutani diserap oleh para pembaca. Tak salah bila, peserta Best Reader Award ini difokuskan pada pimpinan di level menengah. Mulai dari karyawan pada katagori Kepala Urusan (KAUR)/Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) dan katagori Kepala Sub Seksi (KSS)/ Kepala Bagian Pemangkuan hutan (KBKPH) yang mewakili unit kerja mereka masing-masing. Mereka ini merupakan ujung tombak bagi Perhutani untuk melakukan transformasi. Mereka yang berhubungan langsung dengan para karyawan di lapis bawah, tentu tak hanya menjadi role model, tetapi juga menjadi inspirasi untuk perubahan. Dewan Juri Duta Rimba Best

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

Reader Award ini berasal dari kalangan internal Perhutani, serta profesional Media. Dari kalangan internal Perhutani antara lain; Hary Priyanto (Sekper/Penanggung Jawab Duta Rimba), Gunawan Marga (Karyawan/Penulis Buku), Soesi Sastro (Kepala Biro Humas dan protokoler, Pemred Duta Rimba, dan sastrawan ). Sementara dari profesional media antara lain wartawan senior yang juga mantan Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Jurnal Nasional serta Hadi M Djuraid, pemimpin Redaksi BUMN Track. Para juri ini merupakan tokohtokoh kredibel yang dikenal luas oleh publik sebagai praktisi media papan atas. Bahkan di antara mereka ada yang sudah puluhan kali menjadi juri festival, penulisan, karya kreatif lainnya. Para juri ini layaknya juri Indonesia Idol terjun ke Divre untuk menjaring kandidat yang diunggulkan untuk menerima Best Reader. Pelaksanaan Duta Rimba Best Reader Award ini digeber dari awal

Melalui Duta Rimba, upaya untuk mengungkap seberapa jauh pemahaman pembaca terhadap isi materi dilakukan secara kualitatif, melalui proses dialogis.

Maret dan berakhir 28 Maret 2014. Dilaksanakan di wilayah regional masing-masing. Mulai dari Surabaya untuk wilayah Divisi Regional Jawa Timur. Semarang untuk Divisi Regional Jawa Tengah dan di Bandung untuk Divisi Regional Jawa Barat dan Banten. Terakhir diselenggarakan di Jakarta untuk karyawan kantor pusat. Untuk menyiapkan pelaksanaan DR Best Reader 2014 itu membutuhkan waktu delapan bulan. Mulai dari menyusun konsep dan filosofinya, desain penyelenggaraannya, target sasaran yang hendak dicapai, seleksi juri, menyusun indikator penilaian, dan metode penyaringan kandidat. Semua itu dilakukan, karena Duta Rimba ingin mengukirkan sejarah, meletakkan aspek fundamental internalisasi nilai-nilai transformasi sebagai prasyarat perusahaan ini mau take off menuju industrialisasi. Internalisasi nilai-nilai itu melalui ajang lomba, sekaligus membudayakan budaya baca. Tentu kerja keras yang disiapkan oleh jajaran redaksi Duta Rimba tidaklah sia-sia. Sekalipun

DUTA Rimba 33


Dok. Humas PHT

RIMBAKHUSUS

pelaksanaan lomba ini belum sempurna, tapi ajang Best Reader ini menawarkan sebuah wacana baru tidak saja di internal Perhutani, tetapi bagi eksternal Perhutani. Pembaca Duta Rimba tak hanya di diperlakukan sebagai obyek, tetapi juga subyek yang aktif, untuk menyerap, dan memaknai setiap pesan yang disampaikan oleh majalah internal ini setiap edisi penerbitan. Bila pada umumnya, mediamedia besar untuk menguji penyajian berita itu melalui survey dengan berbagai macam metode. Melalui Duta Rimba, upaya untuk mengungkap seberapa jauh pemahaman pembaca terhadap isi materi dilakukan secara kualitatif, melalui proses dialogis. Sekalipun dalam proses penilaian melalui diskusi dengan jawaban yang kadang-kadang lucu dan polos. Itu tentu tidak menjadi masalah, pada tahap awal. Namun bila Best Reader itu sudah memasuki pada tahun ke 4, hal-hal lucu dan polos itu tentu akan semakin berkurang, dan berubah menjadi proses dialog yang berkualitas, yang tentu sangat

34 DUTA Rimba

penting untuk proses pembelajaran bagi karyawan Perhutani yang akan memasuki sebuah era baru, era profesionalisme, sebagaimana tuntutan pasar bebas ASEAN. Ada 117 orang karyawan yang memperebutkan dua kategori Duta Rimba Best Reader Award 2014, yaitu Kategori kaur/KRPH dan Kategori KSS/Asper. Adapun pemenangnya dapat dilihat dalam tabel. Para Peraih Duta Rimba Best Reader 2014, mendapat piagam dan uang tunai masing-masing sebesar Rp 4 juta untuk juara 1. Juara 2 mendapat piagam dan uang tunai masing-masing Rp 2,5 juta. Juara 3 mendapat piagam dan uang tunai masing-masing Rp 1 juta. Untuk juara harapan diberikan piagam dan uang tunai Rp 750 ribu Best Reader Award ini disampaikan langsung oleh Dirut Perhutani Bambang Sukmananto pada puncak acara Peringatan Hari Jadi Perhutani di gedung Manggala Wanabhakti, Jakarta, Sabtu, 29 Maret 2014. Peraih Best Reader Award 2014 itu menambah deretan 62 karyawan terbaik yang mendapatkan penghargaan pada

Puncak peringatan hari jadi tersebut. Bambang memberikan apresiasi kepada penerima Duta Rimba Best Award 2014. Ia menilai pemilihan pembaca terbaik majalah internal perusahaan penting untuk meningkatkan pemahaman karyawan pada informasi korporasi sekaligus menggalakkan minat baca karyawan pada program-program best Practices perusahaan. Selain itu Direksi Perhutani ingin lebih mendorong sekaligus menumbuhkembangkan budaya membaca di lingkungan karyawan Perhutani. Ibarat terlanjur basah, Best Reader telah menancapkan brand tersendiri bagi proses transformasi. Program ini seyogyanya perlu terus mendapatkan penguatan, agar ke depan mampu menggugah kesadaran seluruh karyawan, bahwa bekerja tak cukup hanya sekedar membanting tulang. Untuk bisa menjadi profesional di bidang profesi pengelolaan hutan, diperlukan budaya baru membaca untuk memperkaya dan pengayaan. Tak berlebihan bila Duta Rimba Best Reader ini ke depan akan menjadi agenda tahunan dalam rangka pengembangan SDM. Amien • DR

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Sastrawan

Apa Kata

Mereka

Muda

Dok. Humas PHT

Abdurahman Budiman (Penulis)

Saya kira acara HUT Perhutani ke 53 tempo hari sangat menarik. Berbagai acara digelar. Mengakrabkan satu sama lain dan cukup menghibur. Saya terkesan dengan cara Perhutani yang mengapresiasi para rimbawan, bahkan sampai mendatangkan rimbawan dari ujung Indonesia. Saya berdoa semoga Perhutani selalu menjadi yang terdepan dalam mengelola dan menjaga hutan Indonesia, juga semoga semboyan ‘hutan adalah masa depan’ tidak sebatas semboyan. LMHCL PPGA 2014 merupakan

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

persemaian penulis muda. Sejatinya lomba dengan tema lingkungan dan hutan adalah sebuah ide brilian. Pertama, memantik kesadaran banyak orang, khususnya kaum muda, untuk peduli dengan lingkungan. Kedua, menambah banyak pihak-pihak yang peduli dengan sastra. Ketiga, memberi wacana lain bagi sastra Indonesia dengan hadirnya aliran ‘sastra hijau’. Saya berharap lomba ini menjadi lomba rutin tahunan dan tak boleh berhenti. Bagaimanapun sastra adalah media yang tepat untuk propaganda, baik propaganda baik dan buruk.

Safira Juara ke-2 Kategori B LMCHL PGPA 2014 Lomba Penulisan Cerpen ini merupakan langkah maju untuk sastra hijau. Karena itu, saya sangat mendukung kegiatan ini agar menjadi kalender tahunan bagi sastrawan untuk menguji nyali menelurkan karya karya kreatif dan menginspirasi. Menurut saya, lomba menulis cerpen hutan dan lingkungan dapat menjadi wadah bagi generasi

Dok. Humas PHT

Menulis sastra dengan tema lingkungan tak hanya untuk sastra, tetapi juga untuk kelestarian alam. Hal ini terpotret oleh pengakuan peserta lomba Cerpen yang diselenggarakan Perum Perhutani.

muda untuk lebih menghargai lingkungan dan alam sekitarnya. Acara penganugerahan bagi para pemenang juga sangat berkesan karena bersamaan dengan HUT Perhutani, sehingga saya khususnya dapat lebih mengenal kiprah Perum Perhutani dalam melestarikan hutan Indonesia. Semoga lomba seperti ini dapat terus diadakan. Salam Hijau !

Zulfika Ariska (Penulis) Dengan segala kerendahan hati, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan dan apresiasi terhadap karya saya. Saya berjanji lebih tekun, lebih bersemangat, semakin fokus, dan memiliki tekad bulat untuk terus menetaskan karya. Terimakasih telah mengenalkan saya pada genre Sastra Hijau. Semoga Tuhan dan Semesta Alam memberkati kita menjaga lingkungan dan hutan melalui jalan sastra. Saya doakan pula, semoga Anda sehat selalu.

DUTA Rimba 35


RIMBAKHUSUS

Apresiasi

Dewan Juri

Dok. Humas PHT

Untuk menjadi Dewan Juri Duta Rimba Best Reader 2014, bukanlah persoalan sederhana. Mereka tak hanya sekedar menilai. Mereka juga harus membaca seluruh edisi penerbitan yang dilombakan, untuk bisa menjalankan tugasnya secara sempurna. Sebuah pengalaman baru bagi juri untuk bisa menseleksi para nominator.

36 DUTA Rimba

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


N. Syamsuddin Ch. Haesy Mantan Pemimpin Umum / Pemimpin  Redaksi Jurnal Nasional, General Manager Operasi Televisi Pendidikan Indonesia, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah PKBL Action.

Dok. Humas PHT

Dua Jempol untuk Perhutani Adalah ‘surprise’ yang saya rasakan, ketika pertama kali Bu Soesi Sastro menghubungi saya untuk menjadi juri sekaligus menyusun kriteria penjurian pemilihan Duta Rimba Best Readers Award 2014. Dari pengalaman menjadi juri di berbagai event, mulai dari Festival Sinetron Indonesia, Festival Film Indonesia, Lomba Penulisan, Lomba Baca Puisi, Lomba Vocal Group, Penilaian kompetisi kreatif, sampai penjurian Anugerah BUMN, baru kali ini ada gagasan menilai pembaca majalah internal. Ini gagasan orisinal dan pertama kali (mungkin) dalam sejarah pers Indonesia, di mana majalah internal korporasi, menjadi bagian integral di dalamnya. Karena baru pertama diselenggarakan, hal pertama yang saya apresiasi adalah inisiatif untuk menempatkan majalah Duta Rimba sebagai referensi utama bagi seluruh karyawan Perum Perhutani dalam memainkan peran dan fungsinya di tengah transformasi korporat yang sedang dikembangkan. Kemudian memahami hasrat dan tujuan penyelenggaraan kegiatan ini, paling tidak menyemai minat baca di kalangan karyawan. Kemudian mengenali resepsi dan persepsi karyawan sebagai pembaca terhadap esensi materi majalah berkala ini. Terutama karena materi majalah yang beberapa kali mendapatkan penghargaan dari Serikat Perusahaan Pers (SPS) Indonesia, dalam banyak hal memang memuat gagasan, arah, dan bleid manajemen Perum Perhutani dalam menggerakkan transformasi korporasi. Beranjak dari socio habitus masyarakat Indonesia sebagai masyarakat bertutur dan bukan masyarakat pembaca, yang pertama-tama menjadi kepedulian saya adalah bagaimana  memahami interaksi dan pemahaman pembaca terhadap materi isi (yang dikelola melalui berbagai rubrik). Kemudian, menilai bagaimana pembaca mengartikulasikan pemahaman mereka dari bahasa tekstual menjadi bahasa verbal. Lalu, bagaimana mereka mengekspresikan dan memanifestasikan apa yang

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

mereka baca dan pahami dalam kerja sehari-hari sesuai dengan fungsi mereka sehari-hari. Fokus penilaian akhirnya bertumpu pada pemahaman pemahaman pembaca terhadap kebijakan perusahaan dan rubrikasi majalah sesuai dengan tiga basis readership, yaitu: need, want, dan interest. Dari pengalaman memberikan materi quick reading dalam berbagai pelatihan, khasnya imagineering mindset training dan visioneering training, saya dengan sangat mudah dapat mengetahui kualifikasi pembaca. Setidaknya, dalam konteks Duta Rimba Best Readers Award 2014, ketika peserta dihadapkan dengan readers type, saya mendapatkan tiga kualifikasi. Pertama, textuvis readers, pembaca yang membaca secara tak sengaja, hanya karena ‘kebetulan melihat’ dan tertarik dengan bahasan materi. Kedua, impressionis reader, pembaca yang berketerusan membaca dan merasa perlu membaca setelah  mendapat kesan pertama yang bermanfaat bagi dirinya dan meresonansikan impresinya kepada lingkungan sosial pertama (staf dan sejenisnya). Ketiga, interested reader, yaitu pembaca yang memandang semua media baca (buku dan majalah) adalah sesuatu yang penting dan di dalamnya terdapat pengetahuan yang bermanfaat bagi dirinya, sekaligus menjadi referensinya dalam mengelola logika. Sebagian terbesar peserta Duta Rimba Best Readers Award 2014, masih dalam kualifikasi textuvis readers. Beberapa pembaca (meski menggunakan cara flatten reading) termasuk dalam kualifikasi yang kedua. Selebihnya, tak lebih dari 10 orang peserta lomba, termasuk dalam kualifikasi yang ketiga. Di era auvial yang bergerak dari era informasi ke era konseptual seperti saat ini, kegiatan ini patut dihargai dan diapresiasi. Selain dapat mendorong minat baca dan merupakan bagian dari upaya penyemaian karyawan yang siap ‘menguak’ cakrawala baru pengetahuan untuk memperkuat pengalaman mereka, kegiatan ini dapat menjadi bold policy untuk menyiapkan entuasis and creative people di lingkungan korporasi. Terutama, ketika aksi korporasi sedang bergerak dari corporate creative kick off menuju transformation breakthrough. Terutama karena reading habits karyawan dalam banyak hal sangat menentukan dinamika proses transformasi yang digerakkan dan dikembangkan. Bagi pengelola majalah Duta Rimba, kegiatan ini penting untuk mendapatkan gambaran konkret lapangan tentang standar, kriteria, format, dan formula manajemen redaksi, sehingga mampu menerbitkan inhouse magazine yang tepat tujuan dan sarat manfaat. Bagi manajemen Perhutani (dari top level management sampai executive level) kegiatan ini bermanfaat untuk memperoleh ‘cermin

DUTA Rimba 37


RIMBAKHUSUS pantul’ untuk mengetahui seberapa jauh kebijakan yang ditempuhnya dipahami secara menyeluruh secara internal. Selanjutnya dapat menjadi indikator untuk membaca dan memahami peta situasi obyektif karyawan (dan kemungkinannya) untuk dilibatkan dalam proses policy design. Secara umum, sebagian besar peserta terkendala oleh ketersediaan majalah yang relatif masih terbatas, terutama karena pola distribusi yang menganut pola one point drop off, tidak sampai ke sasaran pembaca yang semestinya. Kendala lainnya adalah masih terjadinya inner communication gap karena masih kuatnya orientasi struktur yang belum mengikuti pergerakan perubahan dari kultur birokrat ke kultur korporat. Apapun juga, saya memandang, gagasan direksi dan pengelola majalah ini perlu diacungi jempol: two thumb dalam menyemai reading habits di kalangan rimbawan.. !!

adalah modal penting untuk menggerakkan transformasi di Perhutani. Serangkaian nilai lebih itu menjadikan Duta Rimba sangat komprehensif untuk menjadi rujukan tentang gerak dan dinamika Perum Perhutani. Sebuah media internal yang memperkaya pemahaman dan wawasan akan visi, misi, dan kebijakan korporasi, serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para pembacanya tentang dunia kehutanan dengan segenap dinamikanya. Dalam konteks itu, Duta Rimba Best Reader Award menjadi ajang yang strategis, karena bisa memberi gambaran sejauh mana kebijakan korporasi dipahami oleh karyawan. Ajang ini sekaligus bisa menjadi tolok ukur sederhana tentang sejauh mana semangat transformasi yang digelorakan CEO dan BOD dipahami, dimengerti, dan dilaksanakan hingga ke tingkat bawah. Banyak fakta dan masukan berharga yang mengemuka di ajang ini, yang bisa menjadi masukan bagi perumusan kebijakan dan agenda ke depan.Secara pribadi saya bangga bisa ambil bagian dalam ajang ini.

Hadi M Djuraid Wartawan Utama bersertifikat Dewan Pers, Pemimpin Umum/ Pemimpin Redaksi Majalah BUMN Track. Penulis beberapa buku.

Gunawan Marga

dengan Best

Banyak yang

Reader

Lucu dan

Saya mencermati hampir semua media internal BUMN. Kesimpulan saya, Duta Rimba yang dikelola Perhutani memiliki kelebihan dibanding kebanyakan media internal BUMN lain. Duta Rimba tidak hanya mengekspose corporate activity dan corporate events, tapi juga mengulas dengan baik topik terkait corporate issue, corporate policy, dan corporate action. Kelebihan lain adalah komitmen Board of Director (BOD) terhadap majalah ini. Tidak banyak media internal yang bisa secara lugas dan gamblang menampilkan kebijakan masing-masing BOD, khususnya CEO atau direktur utamanya. Di Duta Rimba, secara ajek Direktur Utama Perum Perhutani hadir menyampaikan visi, kebijakan, dan arahan strategisnya menyangkut korporasi, sementara direksi lainnya dalam format yang berbeda secara bergiliran hadir sesuai topik yang dibahas. Kesediaan BOD, khususnya CEO, untuk berkomunikasi secara terbuka dengan seluruh jajaran ini menurut saya

38 DUTA Rimba

Karyawan Perum Perhutani, Penulis beberapa buku

Polos

Dok. Humas PHT

Dok. Humas PHT

Saya Bangga

Menjadi Juri Duta Rimba Best Reader Award 2014, secara keseluruhan merupakan pengalaman yang menyenangkan. Ada banyak sekali hal lucu dari kepolosan para peserta, terutama mereka yang dari tingkat Kepala Urusan. Mereka banyak yang polos dan lugu dalam menyampaikan sesuatu ataupun dalam melafalkan istilahistilah yang asing bagi mereka. Repotnya, kami harus membaca juga seluruh edisi Duta Rimba yang dilombakan. Pasti akan terlihat lucu kalau jurinya bertampang “bego”, pada saat peserta menjelaskan sesuatu. Hanya saja kami melihat juga manfaatnya, sebab kami jadi melihat bahwa majalah ini penting. Majalah ini adalah sarana untuk menyampaikan program-program Direksi, bagaimana bahtera yang bernama Perhutani ini bisa melaju dengan mulus, jika awak kapalnya tidak tahu tujuan berlayar? Yang

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


terakhir ingin saya sampaikan adalah rasa salut atas kegigihan peserta. Bagaimana mereka telah berusaha sungguh-sungguh agar bisa mendapatkan edisi yang belum mereka miliki. Bahkan ada yang sama sekali tidak punya Majalah Duta Rimba, ia seorang KRPH yang berpenampilan lugu dan sangat sederhana, ia berusaha mencari sendiri lewat media internet. Jelas saja hal itu cukup mengagetkan kami! Adalah benar jika kita tidak boleh menilai apapun hanya dari kulit luarnya!

delapan bulan untuk persiapan sampai realisasi.Dalam sebulan penjurian, saya menemukan sebuah unity for sound organization dari jawaban peserta lomba,saya menikmati “reading people”, melihat sebuah kinerja korporasi yang multidimensional di “baca” ditingkat operasional. Pengetahuan dan pemahaman yang benar adalah proses menuju kejujuran dan kepedulian. Memang harus berubah, socio habitus dari budaya birokrat ke korporat. Tidak ada kata tidak.

Soesi Sastro Kepala Biro Komunikasi Perusahaan, Pemimpin Redaksi Majalah Duta

Hari Priyanto

Rimba

Sekretaris Perusahaan Perum Perhutani, Penanggungjawab Duta Rimba

Tidak ada

Terobosan

Ketika Duta Rimba berturut-turut mendapatkan predikat Gold Winner Award InMA 2012 dan 2013 dari Serikat Perusahaan Pers (SPS), sebagai pemimpin redaksi Duta Rimba tentu saja senang. Senang karena ada pengakuan publik. Gelisah dan tergelitik, apakah pengakuan berkorelasi dengan pengakuan publik internal alias karyawan perusahaan. Ternyata tidak, NO! Banyak karyawan belum aware pada majalah internal ini. Selain tidak terdistribusi sampai ujung tombak (numpuk dipojok meja unit kerja), budaya membaca dan selera membaca belum cukup baik. Sehingga berita korporasi, kebijakan dan inovasi,inovasi yang ada tidak berkembang kemana-mana, meskipun redaksi juga menyiapkan Duta Rimba di website korporate. Mengeluh, merasa bersalah, dan membodohkan diri saja tidak cukup. Sebuah formula harus disiapkan. Pendekatan pola patron client relationship yang ada bisa dipoles melalui people equality relationship dimana relasi sosial dapat menghidupkan organisasi penyampaian informasi korporasi dengan baik. Yang penting adalah pesan dalam Duta Rimba sampai tujuan dengan selamat tidak diplintir dan keplintir. Walhasil formula “reward” sengaja dipilih untuk merangsang kemauan karyawan berburu Duta Rimba. Mulai dari menyiapkan siapa peserta, levelnya apa, materinya apa, mekanismenya bagaimana, lalu sopo jurine?. Gagasan Duta Rimba Best Reader Award yang diolah bersama Direktur Utama ini akhirnya butuh waktu

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

Memecah Kebuntuan

Dok. Humas PHT

Dok. Humas PHT

Kata Tidak

Dalam beberapa kesempatan rapat Direksi, saya merasa tersentil dengan kenyataan bahwa banyak hal terkait kebijakankebijakan korporasi dalam era transformasi yang tidak sampai kepada jajaran ujung tombak di lapangan. Artinya mekanisme komunikasi internal perusahaan tidak berjalan dengan baik, padahal hampir disetiap kesempatan “blusukan” Direktur Utama ke lapangan selalu disempatkan beliau untuk mengkomunikasikan kebijakan-kebijakan perusahaan. Ironisnya kebijakankebijakan korporasi selalu muncul secara rutin dalam rubrik Benah Diri dan rubrik Rimba Utama setiap edisi Duta Rimba. Ada kesenjangan informasi terutama pada level manajemen menengah ke bawah. Duta Rimba Best Reader Award adalah terobosan korporasi untuk mencoba memecah kebuntuan tersebut. Walaupun hal ini baru pertama kali dilakukan, banyak hal-hal menarik yang muncul dari interaksi antara peserta dengan dewan juri. Mulai dari persiapan peserta lomba yang seadanya sampai yang benar-benar hafal luar kepala jumlah rubrik. Namun saya merasakan bahwa ada kebutuhan informasi bagi karyawan. Sebagai penanggungjawab saya menyadari bahwa Duta Rimba belum menyapa seluruh jajaran perusahaan, ini pekerjaan rumah untuk mewujudkannya. Terima kasih kepada seluruh Dewan Juri, peserta dan pihak-pihak yang berkontribusi. • DR

DUTA Rimba 39


RIMBAKHUSUS

Di Mata Mereka Duta Rimba Best Reader Award 2014, ternyata menggoreskan catatan menarik bagi karyawan Perhutani. Apalagi bagi mereka yang sudah berdialog dan berdiskusi dengan dewan juri yang terdiri dari para profesional di Media. Berikut petikan pengakuan peserta Eko Sulistio Wahyudi

Dok. Humas PHT

Kaur Humas KPH Mojokerto

Event Duta Rimba Best Reader Award 2014 merupakan acara yang sangat bagus, dengan dewan juri yang jempolan. Kita belum terbiasa dengan acara seperti ini. Harusnya secara rutin diadakan untuk mengetahui sejauh mana persepsi karyawan di level bawah tentang kebijakan yang tertuang dalam rubrik DUTA RIMBA, khususnya rubrik benah diri dari Direktur Utama Perum Pehutani. Kita karyawan level bawah pun akan mengetahui isu-isu yang aktual dan kebijakan-kebijakan baru dari Direksi. “Maju terus Duta Rimba”...

Bayu Aman Santosa

Dok. Humas PHT

KSS Humas Perum Perhutani Divre Jatim

Biarpun saya tidak terpilih menjadi salah satu pemenang, menjadi finalis DUTA RIMBA BEST READER AWARD 2014 sudah sangat membanggakan. Terus terang saya menyukai majalah DR, sebagai salah satu media internal korporat yang resmi di Perum Perhutani. Foto-foto dan beritanya tidak monoton. Banyak pengetahuan-pengetahuan yang saya dapat dari membaca majalah ini. Rubrikasinya pun semakin oke. Mulai dari Rubrik Benah Diri sampai kuliner, semua disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami. DUTA RIMBA.... Susiiiiii... (maksudnya Susetiyaningsih Pimrednya).

M. Fadlun

Dok. Humas PHT

KSS Hukum Divre Jawa Tengah

40 DUTA Rimba

Duta Rimba enak dibaca dan perlu. Sebagai majalah internal sudah cukup bagus, akan tetapi menurut saya hanya bisa dipahami oleh beberapa orang saja, sedangkan untuk karyawan yang level bawah Mantri atau Mandor (tanpa bermaksud merendahkan mereka) bahasanya mungkin kurang populer, kurang bisa dipahami oleh mereka. Ajang pemilihan Duta Rimba Best Reader Award seharusnya menjadi ajang yang rutin dilaksanakan, untuk mengetahui sejauh mana feed back dari pembaca dengan media internal itu sendiri. DUTA RIMBA....yesss

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Subhan KSS Humas Divisi PDGT

Dok. Humas PHT

Majalah yang hebat, isinya sangat berbobot, kalau membaca isinya kayaknya untuk konsumen yang sangat terbatas. Karena banyak istilah-istilah keren dan susah dipahami oleh level mandor. Harusnya bahasanya lebih membumi. Karena sebagai media internal yang harus dipahami oleh seluruh jajaran perum perhutani. DUTA RIMBA Is The Best.

Suhartono Kaur Humas KPH Madura

Dok. Humas PHT

Kalau bisa majalah DUTA RIMBA distribusinya sampai ke karyawan level yang paling bawah. Selama ini di KPH Madura jumlah majalah yang kami terima sangat tidak mencukupi. Apalagi majalah ini juga kami distribusikan kepada masing-masing Muspida dan stake holder yang lain. Duta Rimba, Okeeee....

Kusdaryono Kaur Humas KPH Surakarta

Dok. Humas PHT

Duta Rimba merupakan jendela bagi karyawan-karyawati Perum Perhutani, dimana dalam setiap rubriknya memuat informasi terkini, terupdate dan hal-hal yang baru. Merupakan sarana komunikasi, dan mengkomunikasikan kebijakan-kebijakan Direksi Perum Perhutani sampai ke level bawah. Duta Rimba Smart.

M Faisal Kaur SIM KPH Ciamis

Dok. Humas PHT

Duta Rimba majalah yang inovatif, berkelas, dan sejajar dengan majalahmajalah BUMN yang lain, baik internal maupun BUMN Track. Duta Rimba Top Markotop.

Heny Setyowati Kepala Urusan Lingkungan KPH Tasikmalaya

Dok. Humas PHT

Majalah Duta Rimba memberikan informasi tentang keadaan terkini KPHKPH yang ada di wilyah perum perhutani. Duta Rimba Yess

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

DUTA Rimba 41


RIMBAKHUSUS Perhutani Green Pen Award 2014

Lahirkan

Pengarang Baru Bertalenta A

da Seribu Jalan menuju ke Roma, untuk menumbuhkan semangat cinta hutan dan lingkungan. Bisa secara hard, tapi bisa juga secara soft. Tergantung dari sasaran dan target yang hendak dicapai. Untuk bisa memberikan dampak langsung terhadap pesertanya, bisa dilakukan dengan pendekatan partisipatoris. Namun bila ingin mengembangkan penghayatan sekaligus menumbuhkan inspirasi, bisa dilakukan melalui kegiatankegiatan kreatif. Untuk yang terakhir inilah, tampaknya yang tengah dicoba

42 DUTA Rimba

dilakukan oleh Perhutani. Untuk menumbuhkan cinta hutan dan lingkungan, dengan membuat terobosan menyelenggarakan karya tulis sastra yang dikenal Green Pen Award 2014. Penganugerahan karya sastra ini diawali dengan melauncing “Perhutani Green Pen Award” yang digelar di perhutani bekerja sama dengan lembaga pendidikan sastra Raya Kultra di Gedung Manggala Wanabhakti Jakarta pada 21 November 2014. Dalam launcing tersebut selain mengundang sejumlah sastrawan , hadir pula para guru dan siswasiswi tingkat SD, SMP dan SMA di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya.

Animonya cukup besar. Bahkan untuk mensosialisasikan gerakan budaya dan lomba tulis cerita pendek genre sastra hijau juga disosialisasikan di semua divisi regional di bawah Perhutani. Sosialisasi tak hanya terkait lomba menulis Cerpen . Kegiatan ini juga dibarengi dengan kegiatan Workshoop “ Menulis sastra Hijau Bersama Perhutani dibawah asuhan sastrawan senior Naning Pranoto serta peluncuran kembali Buku “Seni Menulis Sastra Hijau Bersama Perhutani” untuk generasi muda dan “Fun Writing For Kids – Mencerdaskan Anak melalui menulis” untuk para pendidik anak-anak Balita yang ditulis oleh Naning Pranoto,

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Dok. Humas PHT

Sebuah gelombang besar Sastra Hijau, seakan menggelinding dan menyebar seperti sarang laba-laba. Dari satu komunitas ke kemunitas. Dari satu daerah ke daerah lainnya. Dari negara ke negara berikutnya , dari satu benua ke benua berikutnya, membentuk gugusan global sastra hijau. Dari ajang Perhutani Green Pen Award 2014, terlihat generasi baru sastra hijau mulai mekar melintasi tapal batas geografi antar negara, bahkan antar benua. Benarkah ini pertanda makin menyeruaknya sastra hijau di bumi Khatulistiwa,

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

DUTA Rimba 43


RIMBAKHUSUS Pemenang Lomba Perhutani Green Pen Award 2014

JUARA

NAMA

KETERANGAN

KATEGORI A SLTP DAN SLTA Juara 1

Amelia Nuraisyah Quinsi Jemy

Siswi SMP2 Blitar jatim

Juara 2

Joshua Timothy

Juara 3

Ghirah Madani

Unggulan 1

Astiwi safitri

Siswa SMAN 3 Pinrang Sulawesi Selatan

Unggulan 2

Wika G Wulandari

Siswi SMA Sain Averos – Sorong Papua

Unggulan 3

Abdurrahim Budiman Wicaksono

Siswa SMP Era et Labora BSD Tangerang Siswa SMPN 12 Bandung, Jabar

Siswa SMAN 1 Baturetno Wonogiri, Jateng

KATEGORI B (MAHASISWA, GURU, DOSEN, PENULIS/PENGARANG DAN UMUM) Juara 1

Sulfiza Ariska

Juara 2

Safira

Juara 3

Khoriyyah Azzahro (DIskualifikasi)

Unggulan 1

Abraham Zakky Zulhazmi

Unggulan 2

M Nur Fahrul Lukman Khakik

Unggulan 3

Nasin

Soesi Sastro dan Sides Sudyarto DS. Dari rangkaian panjang kegiatan Green Pen Award 2014, puncaknya ditandai dengan penyerahan Award kepada para pemenang pada peringatan hari jadi perhutani yang ke 53 di Jakarta, Sabtu, 29 Maret 2014. Penyerahan itu dilakukan oleh Direktur Utama Perum Perhutani Bambang Sukmananto. Adapun pemenangnya dapat dilihat dalam tabel Juara 1 masing-masing mendapatkan piala Perhutani Green Pen Award 2014, piagam dan uang tunai . Juara 2, 3 dan juara unggulan mendapatkan piagam dan uang tunai yang besarnya sesuai dengan ketentuan lomba. Dalam penyerahan penghargaan itu, Bambang Sukmananto menegaskan kembali bahwa Perhutani Green Pen Award ini akan diadakan setiap tahun sebagai

44 DUTA Rimba

Cerpenis, Yogyakarta Mahasiswa IPB, Bogor, Jawa Barat Guru, Banjarmasin, Kalsel Cerpenis, Jakarta Mahasiswa UNM Malang, jatim Dosen dan peneliti-Cimahi-Jabar.

bentuk dukungan perusahaan mencari bibit-bibit muda penulis Indonesia, sekaligus melatih kepekaan dalam upaya pelestarian sumber daya hutan dan lingkungan Bambang juga menilai, dewan juri juga cukup obyektif dalam melakukan evaluasi dan penilaian. Ini terbukti untuk katagori C dinyatakan belum memenuhi kriteria sehingga, tidak ada pemenangnya. Menulis memang tidak mudah, butuh berlatih, butuh kepekaan dan ketelatenan. Bahkan yang cukup radikal, dewan juri juga menganulir salah satu juara menulis ini, karena secara valid diketahui melakukan pelanggaran hak cipta. Terhadap masalah ini Bambang Sukmananto mendukung langkah juri tersebut, karena memang ajang lomba cerpen itu dimaksudkan sebagai proses pembelajaran. Seharusnya kepada

siapa saja yang menjadi peserta lomba ini harus menjunjung tinggi etika dan sportivitas. Tentu yang menarik dari Gren Pen Award 2014 ini, panitia menerima naskah sebanyak 2.000 judul berasal peserta dari katagori A, B dan C. Mereka berasal mulai dari Aceh hingga Papua. Selain itu naskah juga dikirim dari warna negara Indonesia yang ada di Malaysia, Hong Kong dan Taiwan. Banyaknya animo terhadap lomba menulis cerpen hutan dan lingkungan ini, menunjukkan bahwa menulis tentang lingkungan dan hutan mulai banyak diminati. “Sebagai penyelenggara , kami berharap , kegiatan ini menjadi bagian dari wujud gerakan moral , intelektual dan budaya untuk melestarikan eksistensi bumi kita melalui sastra hijau,” jelas Hari Priyanto, Sekretaris Perusahaan, yang

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Dok. Humas PHT

juga Ketua Penyelenggara PGPA 2014 Bicara tentang sastra, banyak yang menganggap rumit, padahal tidak demikian. Sastra adalah milik kita semua, ada dalam diri kita serta sekitar kita. Semua peristiwa yang terjadi setiap saat adalah kisah individu atau massa dalam alam semesta. Hal itu merupakan raw material atau bahan mentah untuk menulis sastra dalam bentuk prosa maupun puisi, hingga kita memilih cara mengolahnya. Fondasinya adalah bahasa berestetika: bahasa literer sebagai medium untuk menyajikan narasi. Sebagaimana dijelaskan Hari, memang tidaklah mudah mengubah kisah nyata menjadi sebuah kisah atau fiksi dalam bentuk cerita

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

Banyaknya naskah yang masuk ini menjadi fenomena baru bagi perkembangan sastra hijau. Sekalipun lomba ini baru pertama kali. pendek (Cerpen) yang menarik, karena untuk menulis Cerpen secara benar diperlukan beberapa elemen: plot, setting (waktu dan tempat), sudut pandang, konflik (internal dan eksternal), tokoh/ pelaku dan imajinasi. Bicara tentang

imajinasi , terkait erat dengan daya kreativitas (mencipta). Seorang yang sangat kreatif akan melakukan berbagai inovasi dalam mengolah raw materials yang biasa-biasa saja (plain) menjadi ajaib-memukau pembacanya. Apa yang ia lakukan disebut think outside of the box Banyaknya naskah yang masuk ini menjadi fenomena baru bagi perkembangan sastra hijau. Sekalipun lomba ini baru pertama kali, bisa menjadi penanda , bahwa sastra hijau itu tidaklah kering. Justru dari sini bisa terlihat bahwa sastra hijau yang mengambil tema di bidang kehutanan dan lingkungan hidup seperti bara dalam api. Setiap saat bisa menjadi kekuatan untuk menginspirasi publik dalam mencintai hutan dan lingkungannya.

DUTA Rimba 45


RIMBAKHUSUS Tidak banyak peserta Perhutani Green Pen Award 2014 yang menulis cerpen “ajaib”. Karena 60% dari peserta merupakan pengarang baru atau baru memulai mengarang. Hal ini bukan merupakan hal yang buruk. Justru merupakan pertanda yang baik. Pertanda Indonesia akan memiliki banyak pengarang unggul. Untuk menjadi pengarang, khususnya menulis cerpen , perlu mempelajari teknik menulis cerpen secara benar. Selain itu, wajib rajin membaca karya-karya bermutu. Ini memerlukan proses panjang dan harus ditekuni dengan kecintaan menulis dan terus menulis. Juga, rajin membaca buku tentang manusia dan alam, mengamati lingkungan serta pandaipandai dan jeli “membaca perilaku orang maupun mahkluk hidup

46 DUTA Rimba

lainnya. Selanjutnya yang tak kalah penting mengasah daya imaginasi , empati, simpati dan peka. Dengan demikian akan mampu mengolah peristiwa yang terjadi di sekitar kita menjadi cerita yang menarik dan ditulis dengan kaidah yang benar. Misi dan visi yang terkandung di dalamnya, merawat bumi (hutan dan lingkungan) sampai ke pembacanya untuk dilaksanakan secara meluas dan berkesinambungan. Insiatif yang dilakukan oleh Perhutani tentu dimaksudkan untuk memicu lahirnya karya-karya sastra hijau untuk menginspirasi publik agar mereka memiliki kepedulian terhadap hutan, lingkungan, budi dan sumber daya yang terkandung di dalamnya . Sebagai perusahaan yang berbasis hutan, perhutani tentu

ingin terus mendorong kesadaran penyelamatan hutan dan lingkungan sejak dini, karena masa depan bumi dan alam itu ada di tangan generasi muda, sesuai dengan misi sosial Perhutani untuk terus melestarikan lingkungan untuk kesejahteraan anak bangsa Antusiasme pelajar dan generasi muda dalam mengambil peran pada Green Pen Award ini, kiranya bisa menjadi momentum untuk membangkitkan kepedulian para sastrawan untuk melahirkan karyakarya sastra yang menginspirasi pelestarian alam dan lingkungan. Melalui karya-karya kreaktif yang menginspirasi, tentu akan semakin menggugah kesadaran publik, bahwa alam di sekitar kita harus tetap kita jaga dan kita amankan • DR.

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Celoteh

Tergelak

di Sela Penjurian

2014

Dok. Humas PHT

DR

Penjurian Duta Rimba Best Reader Award tidak setegang yang dibayangkan. Tak lama setelah wawancara dimulai, para juri dibuat saling pandang bahkan tergelak tawa. Simak saja catatan Dewan Juri (DJ) mendengar keseleonya para Peserta Lomba (PL) ini:

DJ: DR no 46/2013 memuat sosok perempuan penting, siapa dia. PL: Nyi Hujan

DJ: DR 47/2013 Dirut menyatakan Go Green Plus, apa maksudnya PL: Kita melepas Ewa Jawa

DJ: Fungsi Pusdiklat SDM Perhutani era transformasi PL: Pusdik sebagai tempat menyiapkan demo karyawan pak

DJ: DR 48/2013 memuat tentang inovasi teman di lapangan, apa nama inovasinya PL: Namanya borpori bajos, itu buagusss pak

DJ: DR 41/2013 Perhutani butuh Role Model, maksudnya apa PL: Role model itu artinya setiap lokasi ada model atau demplot uji coba

DJ: DR 46/2013 ada sebuah inovasi alat sadap, apa itu. PL: Kita tidak punya alat sadap seperti milik KPK itu pak

DJ: Perhutani juga mengurus Baron dan Jack, jelaskan. PL: Baron dan Jack itu orang mana pak

DJ: Siapa Sekretaris Perusahaan Perhutani, yang penanggung jawab DR itu PL: Mbuuhhh

DJ: DR 44/2013, 4P maksudnya apa ya PL: Saya tahu 4P itu, malah saya pernah ketemu

DJ: Budaya apa yang diharapkan berubah di Perhutani PL: Budaya birokrat ke demokrat

DJ: Direksi Perhutani mengajar, tujuannya apa ya. PL: Itu namanya Gowess to sekul pak

Selamat kepada para pemenang Lomba DR Best Reader Award 2014 • DR

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

DUTA Rimba 47


Dok. Humas PHT

SOSOKRIMBA

48 DUTA Rimba

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Gatot Trihargo

Cuci Gudang Dulu, Keuangan Perhutani

Membaik K etika temaran cahaya matahari dari arah barat memantul pada rimbunan daun taman kota tersebut, di lantai Tujuh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Deputi Bidang Jasa Gatot Trihargo Ak, M.A.F.S, menerima Duta Rimba, Rabu (23/4) secara akrab untuk melakukan wawancara sekitar kinerja keuangan BUMN. Banyak hal yang digali, kepada tokoh yang menguasai bidang akuntansi ini. Berikut petikan wawancaranya:

Mengapa BUMN non Tbk diharuskan membuat laporan keuangan seperti perusahaan Tbk? Kementerian BUMN mengejar governance, transparansi dan akuntabilitas dalam pertanggungjawaban. Dengan melakukan pelaporan secara bertangung jawab, ini merupakan bagian dari Kementerian BUMN untuk melakukan pembenahan internal mereka. Dulu assesment GCG (Good Corporate Governance) terserah mereka. Tetapi, sekarang kita wajibkan setiap 2 tahunan. Dengan cara itu pembenahan internal,

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

Dari balik jendela kaca besar lantai tujuh di kawasan Merdeka Timur, Jakarta, tampak rimbunnya daun hijau dari kawasan taman kota Monumen Nasional (Monas). Sesekali rimbunan daun itu menari-nari mengikuti terpaan angin yang berhembus kencang dari berbagai penjuru. Namun, sesekali rimbunan daun itu terhenyak, menyerupai hamparan tenda besar yang memayungi sekitar istana. Pada saat seperti itu, suasana teduh dan damai tercipta di sekitarnya. Perhutani akan lebih bagus. Begitu juga terkait laporan keuangan, kini juga banyak tuntutan. Dari segi profesi kita diminta mengadopsi konvergensi PSAK (Pernyataan Standar Akutansi Keuangan) dan konvergensi IFRS (International Financial Report Standard). Kita memulainya 2011. Pada 2011 dan 2012 melakukan pelatihan di Bandung dan memang itu terus bergulir. Dimana, BUMN harus bisa mempertanggung jawabkan laporan keuangan dengan standar yang baru. Standar akuntansi yang baru berbeda dengan standar

yang lama. Yang lama itu berasarkan role base, yang baru berdasarkan principal base. Jadi lebih subtansi yang ditonjolkan. Di internal BUMN perlu dilakukan dan dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas. Begitu pula di non Tbk, karena di internal membutuhkan semacam itu. Ini kan bisa meningkatkan reputasi perusahaan. Pertamina menjadi tepat waktu dengan berbagai anak perusahaan yang sangat banyak karena sistem informasinya memberikan informasi yang sangat cepat. Yang lain seharusnya juga

DUTA Rimba 49


SOSOKRIMBA

begitu. Memang tidak semua berjalan mulus. Karena, kita ingin mendorong SDM memahami bagaimana laporan keuangan itu disusun. Di lapangan banyak kendala, karena kita juga belum tahu. Sementara di sisi lain, akuntan publik juga banyak yang belum tahu IFRS. Terutama implementasinya masih merabaraba. Misalnya untuk penyajian dan pengungkapan keuangan itu . Misalnya piutang yang belum ditagih untuk setahun, dua tahun, bahkan tiga tahun. Dalam IFRS misalnya, Perhutani memiliki piutang tiga tahun dan jatuh tempo 23 April. Namun, begitu pengikatan utang terjadi, pengutang meninggal. Tidak perlu menunggu tiga tahun. Kalau tak bisa ditagihkan angsung di impairment .

Di maksudnya?

itu apa

Bahasanya dicadangkan. Ini memberikan gambaran bahwa laporan keuangan market value. Sehingga laporan keuangan lebih riil.

IFRS dilaksanakan secara bertahap, supaya perusahaan tidak ? Yang namanya IFRS itu konvergensi. Jadi PSAK yang lama masih berlaku, sedangkan yang baru

50 DUTA Rimba

Dok. Humas PHT

Dulu banyak lemaknya, sekarang akan lebih sehat. Larinya lebih kencang. Menunjukkan tampilan yang sebenarnya.

menyesuaikan jalan beriringan. Dan nanti dalam satu titik tertentu murni PSAK berbasis IFSR. Kalau yang sudah melaksanakan Telkom. Dia fully implemented IFRS di lapangan, karena mereka listed di New York Stock Exchange (NYSE) dan di di Bursa Efek Indonesia. Mereka punya tiga buku. Jadi yang basisnya GAAP, karena dia di Amerika. Kedua IFRS. Ketiga akuntansi indonesia. Ini termasuk konvergensi. Kalau perhutani dengan BUMN lainnya masih menggunakan akuntansi Indonesia. Belum fully.

Perhutani mengklaim tahun 2013 itu sudah IFRS ? Yang diintensifkan adalah konfergensi IFRS. Dan, Indonesia belum fully. Tapi kalau voluntary perhutani mau itu juga boleh. Jadi PSAK itu tiap tahunnya ada yang baru, menggantikan PSAK yang lama. PSAK yang baru itu mengadopt IFRS. Kalau fully IFRS semua kita adopsi, walaupun belum ada PSAK-nya. Mungkin kalau perhutani konvergensi IFRS. Kalau

sudah di jalankan luar biasa.

Pelaksanaan IFRS itu, implemementasi , banyak mengurangi rugi laba secara signifikan. Ya. tapi ke depannya perusahaan akan sehat. Dulu banyak lemaknya, sekarang akan lebih sehat. Larinya lebih kencang. Menunjukkan tampilan yang sebenarnya. Dulu tampilannya kelihatan bagus, tapi dalamnya kosong.

Dari sisi

?

Cash flow tidak masalah. Malah lebih bagus. Jadi kalau di impair non cash transaksinya. Di cash flow tidak berpengaruh. Tetapi laba rugi pasti berpengaruh. Kita over estimate, seharusnya sudah kita impair, tetapi tidak di impair, laba kita akan overstate. Kalau Lebih besar, membayar pajaknya juga lebih tinggi Misalnya laba kita 100, tetapi karena tidak kita impair menjadi 120, sehingga membayar pajaknya akan lebih besar. Yang seharusnya tidak membayar sebesar itu karena kita

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Jadi kalau impairment itu kebijakan perusahaan supaya lebih konservatif. Untuk prinsip kehati-hatian, sehingga tampilan kinerja keuangan menunjukkan kinerja sesungguhnya.

Bagaimana Latar belakang penerapan IFRS itu? Standar itu berbeda dengan standar sebelumnya. Standar ini sudah dipakai di 120 negara. Dan merubah role base (aturan) ke principal base. Menuju ke subtanperform. Akhirnya lamalama bisa berkualitas dan bisa diperbandingkan, antar perusahaan di berbagai negara. Jadi di sini, di Singapura, Malaysia, kalau IFRS pasti sama. Kalau dulu berdasarkan role base dengan Singapura, Malaysia itu berbeda. Dan tidak bisa diperbandingkan dengan perusahaan yang sama

itu kebijakan perusahaan?

Apakah untuk memudahkan investor?

Ya kebijakan perusahaan. Ada detailnya. Berapa yang bisa ditolelir misalnya.

impair di cash of 30%

Angka 30% itu efisiensi? Oh tidak. Pajak yang di atas itu kan 30-an . Pasti kalau diatas itu cash off kita sekitar 30%. Di Perhutani itu IFRS dimulai pada 2011 tetapi secara bertahap, dan baru 2013 fully. Kalau menurut UU kita harus mengikuti peraturan. Standar akuntansi itu kan ada di UU PT. Jadi kalau di UU PT itu ada. Itu standar profesi, kenapa harus mengikuti, apa dasar hukumnya, kenapa harus mengikuti. Laba kita turun, karena riil. Jadi laporan keuangan sudah masuk ayat 2 pasal 66. Laporan keuangan harus mengacu pada standar akuntansi yang dikeluarkan standar profesi. Jadi wajib kita ikuti. Di pasal 66 ayat 3 itu, berdasarkan standar akuntansi. Yang dimaksud standar akuntansi itu, yang ditetapkan oleh standar profesi akuntan Indonesia yang diakui oleh pemerintah Indonesia. Artinya, hukumnya wajib kita taati. Lalu kalau orang-orang hukum selalu mempertanyakan kenapa harus mengikuti standar profesi. Dalam UU PT jelas dalam pasal 66 ayat 3 beserta penjelasannya itu clear.

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

itu bukan berarti kita hapuskan. Tidak diputihkan. Kita terus tagih. Ada mekanismenya direksi dan pemegang saham yang menentukan. Hapus tagih belum pernah dilakukan, kecuali perbankan. Karena mekanismenya sudah ada. Kalau perusahaan belum ada aturannya. Jadi kalau impairment itu kebijakan perusahaan supaya lebih konservatif. Untuk prinsip kehati-hatian, sehingga tampilan kinerja keuangan menunjukkan kinerja sesungguhnya. Lebih ke value.

Ini memudahkan pembaca. Dan kalau pasar modal kita bagus, untuk cari dana akan lebih mudah. Begitu juga untuk obligasi akan lebih mudah.

Apakah ada kebijakan kementerian BUMN, bahwa perusahaan yang menerapkan IFRS itu mendapat kemudahan pinjaman dari bank BUMN, misalnya. Tidak. Itu wajib, sehingga mudah untuk dibenahi. Kalau misalnya Perhutani feasible ya pasti kita pinjami

Untuk , selain piutang yang tak tertagih ada elemen lain yang bisa mengurangi rugi laba? Itu tergantung kebijakan dari masing-masing perusahaan untuk melakukan impairment. Misalnya kalau piutang dengan Pemda yang tak dianggarkan harus kita impair, karena kita meyakini, di masa mendatang tidak akan dibayar. Namun kalau dibayar menjadi pendapatan. Misalnya sekarang kita cadangkan dan setahun kemudian dibayarkan tidak apa-apa. Di impair

Di Perhutani aset yang tak produktif itu di bagaimana Pak? Contohnya, punya lahan, tetapi tak digunakan bisa mengurangi laba rugi. Kalau lahan kan tidak. Value tanah itu selalu naik.

Gedung yang mangkrak tidak disewakan bagaimana. Ya oportunity.

Aset yang tak produktif? Ya itu tangable. Khusus untuk Indonesia tidak, kecuali kalau nanti sudah ada UU Pertanahan. Semua tanah miliknya negara, tentu agak berbeda. Khusus di Indonesia itu berbeda dengan negara-negara lain. Tanah tidak turun justru naik.

dalam akuntansi yang lama ada atau tidak? Sudah ada. Kalau piutang sudah satu tahun dicadangkan 50%. Kalau 2 tahun dicadangkan 100%. Kalau sekarang 2 tahun harus 100% dicadangkan. Kalau di perbankan baru sign sekarang, besok meninggal.

DUTA Rimba 51


SOSOKRIMBA Ahli warisnya tidak ada. Tidak ada yang bayar. Uangnya sudah dibelikan bahan baku apa. Tidak perlu nunggu dua tahun harus di-impair. Ini contoh yang paling ekstrim. Untuk negara, misalnya subsidi akhir tahun harus dibayar. Ternyata anggarannya tidak ada. Kontraknya 120 dan sudah dibayar 100. Masih ada 20. Yang 20 ini dianggarkan tidak. Kalau tidak harus di-impair. Karena tahun berikutnya tidak ada jaminan akan dibayarkan. Kalau tahun berikutnya dianggarkan itu masuk dalam pendapatan lagi. Sama saja. Jadi kita ingin tampilan keuangan itu sesuai dengn kinerja yang ada. Jadi bagi pembaca laporan keuangan itu akan berlangsung secara alami. Tidak dibuat-buat. Bisa terjadi kalau KAP-nya (konsultan akuntan publik) paham IFRS. Karena tidak semua paham. Bagaimana penerjemahan ini dari internal. Kita memang agak rigit. Kalau ada IT, laporan keuangan basisnya IFRS, laporan akan sesuai itu. Tapi kalau manual minta ampun integrasinya lama, banyak salahnya, sehingga impair-nya juga problem.

Sosialisasinya ke profesi juga? Ya pada waktu itu saya ke Ikatan Akuntan Indonesia, saya katakan untuk meningkatkan kualitas SDM keuangan BUMN. Tapi kita minta tolong konsultannya juga melakukan up skiling, agar paham dua-duanya. Banyak konsultan akuntan publik di level menengah tidak paham IFRS. Mereka senior kan. Untuk belajar susah. Opo iki. Mereka susah. Tapi saya pernah mengembalikan laporan keuangan mereka. Pada 2010 dan 2012 masing-masing dua laporan. Dimana mereka masih memakai metoda yang lama. Lalu begini, saya kembalikan laporan anda, laporan bapak saya anggap belum selesai. Sebulan lagi selesai kembali kesini. Jadi kita anggap laporan belum

52 DUTA Rimba

selesai. Akuntan tua merasa profesi saya. Itu boleh. Tapi menghitungnya pakai standar yang baru dong. Sehingga laporannya jangan hanya indah, laba ruginya terus naik, padahal dalamnya keropos. Tapi kita kepingin BUMN kita sehat. Sekalipun banyak di-impair ke depannya akan sehat. Karena memang benar-benar sehat. Naiknya betul-betul sehat.

Sehat itu mencerminkan kinerja operasional? Ya, kinerja operasional seperti di RKAP targetnya bagus dan harganya pas bagus. Operasional bagus harga jeblok seperti perusahaan tambang kita rontok. Nah kalau semua in line, terbang. Kadangkadang harga bagus operasionalnya jeblok tapi laporan keuangannya bagus. Kita harus melihat duaduanya. Finansialnya seperti apa, operasionalnya seperti apa. Itu winfall, Kita duduk manis laba.

Kalau di Perhutani karena kenaikan dolar yang lumayan? Pas itu, karena momennya tepat. Tapi kalau harga bagus yang diimpair besar la ba rugi habis. Ya cuci gudang lah. Kami minta cuci gudang untuk yang seperti itu. Lebih bersih.

Maksudnya cuci gudang itu ? Ya yang perlu di impair di impair lah. Kadang ditunda lima tahun. Atau perusahaan itu pinjam obligasi. Dalam RUPO (Rapat Umum Pemegang Obligasi) itu berapa banyak laba yang dibutuhkan. Walau pun Non TBK penerbitan obligasi ada kan

Non TBK juga bisa? Bisa, terus nanti RUPO. Kalau kita RUPS. Ini RUPO. Berapa laba yang disepakati pada waktu menerbitkan prospektus. Kalau impair-nya banyak, memang dulu masih banyak yang

belum di impair.

Prakteknya di BUMN Bagaimana? Kayaknya kalau di BUMN karya sudah. Jadi kalau proyeknya gagal, karya itu banyak yang tak bayar . Atau proyek dia kalah di pengadilan. Harus di-impair. Kalau bapak lihat Adhi Karya waktu monorel di-impair, labanya langsung drop. Kita jelaskan kepada market, seharusnya karena ada impairment begini jadi sekian. Kita perlu jujur dan transparan, karena tidak ada tindak lanjut dari Pemda DKI Jakarta. Di-impair sampai dengan Rp 120 miliar sehingga keuntungannya drop. Tapi bagus untuk investor kita jujur, lugu dan tricky. Kalau memang jujur prospek bagus ke depan.

Sekarang harga sahamnya bagus. Karena cuci gudang tadi. Jadi bagus, jangan tidak dicadangkan. Kalau tak dicadangkan menjadi repot.

Bagaimana Kementerian BUMN mendorong Cost Effectivinees itu tergantung manajemen dalam melakukan efisiensi pengelolannya. Hanya jangan sampai tidak mengeluarkan biaya. Tetapi bagaimana dana yang dikeluarkan efektif dan efisien. Jadi semua BUMN harus seperti itu. Tidak hanya Perum Perhutani. Semuanya sama. Karena and the end, pada kinerja individu itu akan berlaku pada masing-masing orang. Per orang itu menghasilkan produknya berapa? Kalau dalam human capital itu ada. Artinya per orang bisa memberikan kontribusi berapa?

Apakah sampai begitu? Iya dong. Kita ingin tahu pegawai Perhutani itu produktif tidak. Nanti dihitung sampai sana.

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Nanti per bidang usaha?

keuangannya harus bagus. Saya kira Perhutani mampu.

Bisa per bidang usaha

Seperti perbankan kan berbeda produktivitasnya?

Keuangan hanya satu aspek. Lainnya operasional juga?

Betul

Ya kalau perusahaan itu operasional dan keuangannya juga. Tapi sebenarnya SDM baik di operasional dan keuangan itu meng-update diri untuk menjadi profesional. Kalau untuk pabrik jangan sampai mesin berhenti unschedule. Bagaimana caranya juga

Yang sudah diterapkan dimana? BUMN karya sudah menerapkan itu. Perbankan itu KPI-nya pribadi. Tercapai atau tidak dan sudah setiap hari. Sudan tercapai atau belum. Pakai kuning, hijau, merah. Pakai dash board. Perhutani jangan dulu.

melakukan efisiensi. Itu kan sistim shift, mesin bekerja 24 jam. Begitu pergantian shift, sebelum mulai kerja lima menit dengar catat. Berikutnya dengar catat. Besoknya lagi. Kalau suaranya berubah ada apa. Kalau mobil pagi suaranya berbeda, ada masalah. Kalau di mesin itu juga early warning system. Itu juga efisiensi. Kalau di luar negeri efisiensinya bisa 30%. Hal yang sepele kita dengar 5 menit, kita jadi tahu kondisi mesin. Itu dampaknya kemana-mana. • DR/Soe

Kalau karyawan tak kompeten di era pasar bebas ASEAN, Perhutani bisa kemasukan tenaga kerja asing? Kemasukan orang Bangladesh. Bisa bahasa inggris, bekerja keras dan upah murah. Sama seperti di Saudi. Itu ada dari Bangladesh, Pakistan. Pintar bahasa Inggris, bisa nyopir dan gaji murah. Kerja bisa 24 jam.

Ya kalau perusahaan, keuangan itu hanya bagian kecil dari wujud indikator keuangan saja. Kalau penyajian keuangan itu harus lengkap harus tunduk pada aturan PSAK yang ada. Karena itu SDM-nya dituntut untuk meningkatkan kualitas mengenai pengetahuan PSAK. Kalau dia akuntan harus komitmen dengan profesinya. Artinya begini, Kalau impair-nya sekian, harusnya bilang tidak bisa, karena kita harus menjustifikasi perusahaan akan lebih bagus seperti ini. Sehingga kualitas laporan keuangan itu secara terusmenerus, ke depannya lebih bagus. Kalau tiga-empat tahun bagus, maka kokoh fondasinya. Dan seperti itu juga di Perhutani karena stake holder-nya banyak, maka laporan

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

Dok. Humas PHT

Agar kinerja keuangan Perhutani lebih baik apa saran Bapak?

Muda Bertalenta Di kalangan BUMN, Gatot Trihargo Ak. M.A.F.S di kenal luas. Tidak saja, di lingkungan BUMN Bidang jasa, tetapi di bidang lainnya juga cukup akrab. Hal ini tidak lepas karena konsistennya untuk terus membenahi kinerja keuangan BUMN. Lulusan Sekolah Tinggi Akutansi Negara (STAN) ini tak pernah berhenti untuk terus membenahi laporan keuangan BUMN agar memiliki market value, agar mudah mendapat pendanaan di pasar modal. Deputi Bidang Jasa, penggemar madu Perhutani ini, kini tengah menyelesaikan Program Doktor di Universitas Pajajaran Bandung. Cukup getol mensosialisasikan International Financial Report Standard (IFRS), agar laporan keuangan BUMN ini lebih fair dan riil. Komisaris PT Pertamina (Persero), punya obsesi menjadikan BUMN sebagai lokomotif ekonomi nasional. Baginya, tak ada kata lelah untuk terus menggenjot kinerja BUMN, baik secara operasional, finansial dan investasi. Semoga

DUTA Rimba 53


LINTASRIMBA

Perhutani Ekspor Perdana

Dok. Humas PHT

Produk Alphapinene

Pemalang - Perum Perhutani melakukan ekspor perdana produk turunan getah pinus alphapinene ke India. Produk alphapinene yang diekspor kali ini berjumlah 13,6 ton dan memiliki kualitas kemurnian minimal 97,5 persen. Produk ekspor tersebut diproduksi oleh Perhutani Pine Chinucal Industry (PPCI), pabrik baru Perum Perhutani yang berlokasi di Pemalang, Jawa Tengah. Ekspor perdana tersebut dihadiri langsung Direktur Utama Perum Perhutani, Bambang Sukmananto. Hal ini kembali menandai era hilirisasi industri yang dilakukan Perhutani. Di dalam kesempatan itu, Bambang Sukmananto mengatakan, proses produksi Alphapinene sebenarnya teknologinya sederhana. Tetapi Perhutani justru memperoleh nilai tambah yang cukup tinggi

54 DUTA Rimba

dibandingkan jika produknya hanya sampai terpentin. Sebab, saat ini kebutuhan pasar alphapinene dan bethapinene di dunia mencapai 600.000 ton per tahun, dan di dalam negeri mencapai 19.000 ton per tahun. “Dengan bahan baku getah pinus yang ada, dengan pengolahan sampai derivatnya, maka Perhutani ke depan ditargetkan akan menjadi pelaku bisnis industri pine chemical penting di dunia,” ucap Bambang. Acara ekspor perdana produk PPCI ini merupakan salah satu mata acara dari rangkaian acara puncak peringatan hari ulang tahun ke-53 Perhutani. Seremoni acara puncaknya dilakukan di Jakarta, 29 Maret 2014. PPCI yang berlokasi di Pemalang ini merupakan pabrik baru milik Perhutani. Pabrik derivatif

gondorukem dan terpentin Pemalang ini mulai studi kelayakan tahun 2010. Rencana pembangunannya disetujui Kementerian BUMN selaku pemegang saham pada 31 Mei 2011. Menteri BUMN Dahlan Iskan pun hadir saat mencanangkan groundbreaking pembangunan pabrik tersebut bersama Direktur Utama Perhutani, Bambang Sukmananto, di calon lokasi. Dari nilai investasi sebesar Rp 208,7 Miliar, akan dihasilkan nilai tambah derivat gondorukem sebesar 20% - 30% dan derivat terpentin 50% - 60%, dengan harga produk antara USD 2.000 sampai dengan USD 4.000. Bahkan ada yang mencapai USD 15.000 per ton. Luas hutan yang dikelola Perhutani di Pulau Jawa adalah 2,4 juta Ha. Luas itu terdiri dari hutan jati 1.261.465,81 hektar (52%), hutan pinus seluas 876.992,66 hektar (36%), dan sisanya adalah damar, mahoni, akacia, sengon, kesambi, dan lainlain. Di sela acara ekspor perdana tersebut, Bambang mengatakan, sebagai urutan ketiga produsen derivat Gondorukem dan Terpentin di dunia, Perhutani baru menembus 10%, sedangkan Cina mencapai lebih dari 70% dan Brazil mencapai 11%. Maka, PPCI pun diharapkan dapat berproduksi sesuai kapasitas terpasangnya, sehingga nilai tambahnya maksimal. Pohon pinus yang disadap menghasilkan getah pinus. Getah pinus ini lalu diolah di pabrik melalui proses melting, scrubber, dan pemasakan, sehingga menghasilkan produk gondorukem atau gum rosin dan terpentin. Proses lanjutan destilasi terpentin akan menghasilkan produk turunan Alphapinene, Bethapinene, D-limonen, D-carene. Sedangkan proses lanjutan produk gum rosin melalui easterifikasi dan flacking menghasilkan glycerol dan rosin ester.

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


PPCI di Pemalang adalah satusatunya pabrik derivat terpadu, terbesar di Indonesia dan di Asia Tenggara. Menempati lahan 6,3 hektar dengan bangunan seluas 2,5 Ha, PPCI didukung oleh 80 tenaga kerja langsung. Dengan beroperasinya pabrik ini, dipastikan akan memberikan dampak sosial ekonomi positif bagi masyarakat sekitar pabrik khususnya dan Kabupaten Pemalang umumnya.

Bogor - Accor Indonesia, Senin 21 April 2014, menanam 7.500 pohon secara serentak di seluruh Indonesia. Kegiatan ini dilakukan Accor Indonesia dalam rangka merayakan tahun kedua pelaksanaan program Planet 21 yang merupakan program sosial kemasyarakatan grup usaha tersebut. Kegiatan yang dilakukan serentak karyawan hotel-hotel Accor ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat atas melakukan penghijauan secara berkesinambungan. Untuk karyawan Accor Indonesia di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bandung, penanaman pohon dilakukan di kawasan Ecopark, Cibinong, Bogor. Karyawan, staf dan jajaran manajemen Accor Indonesia menanam lebih dari 200 pohon di kawasan penghijauan yang dikelola LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) tersebut. Pohon-pohon yang ditanam itu di antaranya pohon meranti, pouteria, dan buah menteng. Kegiatan penanaman pohon oleh karyawan hotel-hotel Group Accor ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap salah satu inisiatif utama PLANET 21, yaitu plan of the plant, proyek penghijaun berkesinambungan. Melalui program yang merupakan dari corporate social responsibility (CSR) tersebut, Accor Indonesia telah berhasil menanam lebih dari 3 juta pohon di seluruh

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

Pabrik Perhutani tersebut saat ini mempunyai kapasitas bahan baku feed stock 24.500 ton per tahun getah pinus. Kapasitas produksi terpasang gondorukem (gumrosin) pabrik tersebut adalah 17.150 ton per tahun; terpentin 3.675 ton per tahun; Alphapinene 6.000 ton per tahun, Betapinene 112,5 ton per tahun; Gliserol Rosin Ester 18.000 ton per tahun; terpineol 1.800 ton per tahun. Sebelum acara ekspor perdana

tersebut dimulai, Direksi dan keluarga besar Perhutani mengadakan kegiatan bakti sosial berupa khitanan massal, pengobatan gratis, donor darah, cukur gratis, sembako gratis dan penyerahan bantuan bina lingkungan berupa rehab MCK sekolah, pembuatan MCK desa, bantuan pagar sekolah, bantuan buku anak SD Surajaya 04 di desa Surajaya, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang. • DR

Accor Indonesia menanam 7.500 pohon di seluruh Indonesia dunia sejak 2009. Dengan Program PLANET 21, Accor berkomitmen untuk melaksanakan 21 inisiatif. Masingmasing inisiatif tersebut memiliki target untuk dicapai tahun 2015 dan dikelompokkan ke dalam tujuh pilar program yaitu kesehatan, alam, karbon, inovasi, lokal, pendidikan karyawan dan dialog dengan masyarakat. Salah satu komitmen tersebut terwujud dalam program Plant for the Planet, yaitu program mengumpulkan dana penghematan biaya mencuci handuk dari hotelhotel Accor di seluruh dunia untuk membiayai berbagai proyek penghijauan. Hotel-hotel Accor di seluruh Indonesia telah berpartisipasi dalam program ini dengan cara mengimbau para tamu agar bila tidak berkeberatan, tidak terlalu sering mengganti handuk selama menginap. Formula yang diterapkan adalah “menghemat biaya cuci 5 handuk = komitmen menanam 1 pohon.” Dana penghematan biaya cuci yang terkumpul kemudian disalurkan

ke berbagai program penghijauan. Chief Operation Officer Accor Malaysia, Indonesia, and Singapore, Gerard Guillouet, mengatakan, Indonesia adalah salah satu pelopor program Plant for the Planet yang terwujud melalui kerja sama Accor dengan Perhutani (Perusahaan Hutan Negara Indonesia) berkenaan dengan Program Pengelolaan Hutan yang telah dimulai sejak tahun 2007. Lewat program ini Accor berhasil menghijaukan kembali lahan seluas lebih dari 78 hektar di Gelandang, Jawa Tengah, dengan menanam lebih dari 100.000 pohon. “Lewat program ini, Accor berhasil menghijaukan kembali lebih dari 78 hektare lahan di Jawa Tengah dengan menanam lebih dari 100.000 pohon,” jelasnya dalam rilis yang dikeluarkan Senin, 21 April 2014. Setiap tahun, seluruh hotelhotel Accor yang telah beroperasi di Indonesia merayakan Planet 21 Day pada 21 April. Perayaan yang telah dimulai sejak tahun 2012 tersebut diklaim telah berhasil menanam 20.000 pohon yang tersebar di wilayah Indonesia. • DR

DUTA Rimba 55


LINTASRIMBA

Perhutani Akan Tuntaskan

Sengketa Lahan Jakarta - Untuk menyelesaikan sengketa tanah, Perum Perhutani menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN), pertengahan Maret 2014. Penandatanganan MoU itu dilakukan antara Bambang Sukmananto, Dirut Perum Perhutani dengan Hendarman Supandji, Kepala BPPN di Kantor BPN Jakarta. Penandatanganan itu untuk mengambil alih lahan negara lewat sertifikasi. Saat ini terdapat 115 ribu hektar (ha) lahan Perum Perhutani yang bermasalah terutama terkait dengan sengketa tanah. Hal itu berkaitan pembangunan kawasan hutan yang tak sesuai dengan prosedur. “Kerjasama ini merupakan salah satu upaya penanganan permasalahan pertanahan laham hutan negara dan tanah aset yang koordinatif, sekäligus percepatan pensertifikatan tanahtanah aset milik Perhutani,” kata Direktur Utama Perhutani Bambang Sukmananto. Nota kesepakatan itu kata Bambang nantinya akan ditindaklanjuti dengan perjanjian kerjasama antara kepala kantor wilayah BPN dengan kepala divisi regional Perum Perhutani di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat, Banten.”Melalui kerjasama ini diharapkan ada sinkronisasi, identifikasi dan gelar kasus sekaligus, mediasi data penanahan terkait bidang tanah yang bermasalah, data fisik maupun data yuridis lainnya,” jelas dia. Secara yuridis, lahan tanah yang dikelola Perhutani terdiri dari dua

56 DUTA Rimba

status. Pertama, status kawasan hutan negara diatur dan tunduk terhadap UU No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Kedua, tanahtanah perusahaan diatur dan tunduk terhadap UU No. 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokokpokok Agraria. Masalah lahan ini kata Bambang, merupakan aspek penting bagi terselenggaranya kepastian usaha dan lingkungan. “Mengingat pentingnya masalah aset ini, maka Perhutani telah membentuk divisi khusus yang menangani pemanfaatan dan pengelolaan aset perusahaan,” ungkap Bambang. Luas wilayah kerja atau kawasan Perhutani mencapai 2.426.206 Ha, sekitar 17% dari luas daratan Jawa dan Madura. Wilayah itu terdiri dari kawasan hutan dikelola divisi regional Jawa Tengah seluas 630.720 Ha, sementara kawasan hutan yang dikelola divisi regional Jawa Timur seluas 1.136.479 Ha dan kawasan hutan yang dikelola divisi regional Jawa Barat- Banten seluas 659.007 Ha. Sedangkan aset Perum Perhutani berupa rurnah dinas dan bidang tanah untuk mendukung pengelolaan hutan seluruhnya 25.909.258 meter persegi, terdiri dad 4.046 lokasi. Sampai akhir 2013, di dalam kawasan hutan Perhutani ada masalah sengketa lahan sekitar 115.000 Ha. Bambang pun menyadari, untuk mengambil alih lahan tersebut bukan langkah yang mudah. Pihaknya telah berupaya untuk mengatasi masalah tersebut dengan melibatkan instansi berwenang.”Ini tugas yang berat,

peninggalan ‘Zaman Dulu,” imbuh dia. Sedangkan Kepala BPN, Hendarman Supandji mengatakan kerjasama kesepakatan ini dilakukan untuk membantu dalan rnelaksanakan sertifikat tanah dan memberikan kepastian hukum atas tanah yang dimiliki. Kasus-kasus yang dihadapi kebanyakan berupa penyerobot pengambilalihan aset oleh pihak ketiga atau klaim pihak ketiga lainnya. “Mudah-mudahan dengan kesepakatan bersama ini proses penyelesaian permasalahan tanah yang dihadapi Perhutani dapat segera kita temukan solusi terbaiknya,” kata dia. Di samping itu, lanjut dia, BPN juga memberikan pendampingan untuk meningkatkan SDM di dalam bidang hukum dari instansiinstansi tersebut. Hendarman pun tidak menampik bahwa pihaknya saat ini memiliki SDM yang terbatas, sehingga hanya mampu mensertifikat 2 juta bidang tanah per tahunnya. Saat ini, kata dia, daratan non hutan di Indonesia sekitar 85,8 juta, yang sudah bersertifikat 44,3 juta. Sedangkan sisanya 41,3 juta, belum bersetifikat. Sehingga di utuhkan waktu 21 tahun untuk mensertifikat semua kawasan non hutan. Karenanya, Hendarman berjanji akan meningkatkan proses sertifikat sebanyak lima juta bidang tanah setiap tahunnya.”Kami akan berusaha agar semua disertifikatkan 5-8 tahun,” ujar dia. • DR

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Kunjungan SMP Muhammadiyah Adiwerna Tegal – Memperingati Hari Hutan se-dunia yang jatuh pada tanggal 21 Maret 2014 , SMP Muhammadiyah 1 Adiwerna (Musawerna) mengunjungi Kantor Perhutani Kabupaten Tegal. Mereka disambut Bagas selaku Kasi Penyuluhan Kehutanan dan Didit selaku Humas. Kunjungan ini dilaksanakan di luar ruangan sehingga lebih dekat dengan alam. Pada kesempatan ini Bagas menyampaikan tentang pentingnya menjaga kelestarian alam, khususnya kelestarian hutan Indonesia. ‘’Lingkungan hutan sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia, karena hanya dengan

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

Santuni Yatim Piatu

Dok. Humas PHT

Bojonegoro - Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan Bojonegoro santuni anak Yatim Piatu pada Peringatan Hari Jadi Perhutani ke-53 dengan mengusung tema “Jujur dan Peduli Menuju Perhutani Ekselen” di Kantor Perhutani Bojonegoro. Sabtu. Administratur/KKPH Bojonegoro, Anggar Widiyatmoko, diusianya yang ke-53 tahun ini Perhutani semoga menjadi lebih baik lagi dan kita harus bertekad dan mendukung sepenuhnya  apa yang menjadi rencana dan target dari menejemen perusahaan dengan sebuah bukti. Rangkaian acara dalam peringatan hari jadi Perhutani ke-53 tahun 2014 ini diantaranya dengan mengadakan lomba kebersihan ruangan, olah raga bersama, penanaman pohon Rimba ditaman wisata Tirtawana Dander, pemberian bantuan PKBL berupa seperangkat alat sekolah kepada pelajar sekolah dasar (SD) dibeberapa sekolah yang ada disamping hutan, pemberian bantuan buku bacaan untuk perpustakaan Saka

Wanabakti sebanyak 128 Eksemplar, pemberian santunan kepada anak Yatim Piatu, Penyerahan Surat Keputusan (SK) kenaikan status dari pekerja pelaksana menjadi pegawai sebanyak 47 orang, serah terima jabatan lingkup KPH Bojonegoro, Pemberian piagam penghargaan untuk karyawan yang berprestasi

dan tasyakuran. Turut hadir dalam acara penanaman pohon Mantan Dirut Perhutani, Marsanto, MS beserta ibu, 5 orang Mahasiswa Universitas Institut Pertanian Bogor (IPB), 8 Pelajar SLTA Bojonegoro dan seluruh karyawan-karyawati Perhutani KPH Bojonegoro. • PR KPH BJN/Rafik

menjaga kelestarian hutan maka berbagai ekosistem alam yang ada di daratan bisa terselamatkan,’’ terangnya. Bahkan manusia tanpa hutan akan sangat sengsara. Karena hutan dapat menjaga keberadaan kebutuhan vital manusia yaitu air. Tanpa adanya pohon, maka air mustahil akan kita dapat. ‘’Maka jangan sampai kita seenaknya menebang pohon atau bahkan membakarnya seperti yang terjadi di daerah Kepulauan Riau,’’ tegas Bagas. Penjelasan ini rupanya menarik perhatian siswa. Terbukti banyak pertanyaan yang diajukan terkait kelestarian alam ini. Seperti Ismail, salah satu siswa kelas 8 menanyakan tentang kontribusi pelajar dalam menjaga hutan.

Juga Niken dari kelas 8, bertanya tentang apa saja hasil-hasil hutan yang di kelola oleh Perhutani. Burhanudin, salah satu guru SMP Muhammadiyah 1 Adiwerna mengungkapkan kegiatan ini bertujuan untuk melatih karakter para siswa dalam hal peduli lingkungan. ‘’Dengan mengetahui fungsi hutan maka siswa akan berhati-hati ketika di dalam hutan,’’ ungkapnya. Misalnya tidak akan membuang sampah sembarangan, menebang kayu sembarangan atau bahkan membakar hutan. Sementara Didit selaku Humas Perhutani mengaku bangga dan sangat salut terhadap siswa SMP Muhammadiyah 1 Adiwerna. ‘’Ini satu-satunya sekolah

DUTA Rimba 57


LINTASRIMBA yang mempunyai inisiatif untuk mengingatkan masyarakat tentang hari hutan se-dunia,’’ ujarnya. Ditambahkannya, saat ini Menteri Kehutanan Zulfikli tengah gencar mengajak masyarakat memperingati hari hutan sedunia. Dengan tujuan agar masyarakat terus terpanggil untuk bersama-sama menjaga kelestarian alam. Selain mendapatkan materi tentang kelestarian alam, siswa-siswi juga mendapatkan majalah Rimba dari Perhutani secara cuma-cuma. • Sumber Media

Sedekah Oksigen Menuju Rowo Bayu Banyuwangi - Dalam menunjukkan kepedulian lingkungan, Perum Perhutani Banyuwangi Barat memberikan sumbangan 750 bibit dalam aksi peduli lingkungan yang digelar White Car Community (WCC) Banyuwangi awal bulan Maret. Adapun tanamamn yang disumbangkan itu antara lain bibit Mantingan/Salam dan Trembesi. Aksi peduli lingkungan itu dilaksanakan di jalan Desa Pengantingan Rogojampi. Sebagaimana dilaporkan Radar Banyuwangi, Ketua WCC Banyuwangi, Tri Wahyudiono ST mengatakan, kegiatan lingkungan ini adalah sebagai upaya partisipasi anggota klub WCC untuk mendukung program sedekah oksigen yang digagas Bupati Abdullah Azwar Anas. Sedangkan penanaman bibit pohon ini difokuskan di kawasan sepanjang Desa Pengantigan, Rogojampi. Sebab, jalan ini adalah alur menuju salah satu tempat pariwisata Rowo Bayu. “Sehingga menurut kami, kawasan ini harus tetap hijau dan segar,” kata pemilik cuci mobil Kheevalindo ini. Sementara itu, Ketua Umum untuk pusat WCC, Burhan Ifan SE menambahkan, pihaknya sangat mengapresiasi sedekah oksigen ini.

58 DUTA Rimba

Gerakan yang sangat fenomenal ini harus didukung oleh semua kalangan.”Sedekah oksigen ini juga merupakan investasi jangka panjang untuk hajat hidup orang banyak,” ujarnya. Dalam kesempatan itu, WCC juga mengucapkan terima kasih kepada Perhutani Banyuwangi Barat yang telah memberikan bibitnya dalam acara ini. Tak lupa, ucapan terima kasih disampaikan untuk Kepala Desa Pengantigan Rogojampi, Mulyadi. “Semoga ke depan WCC Banyuwangi tetap eksis dan dapat melakukan halhal sosial untuk turut memperbaiki Banyuwangi lebih baik. • DR

Sertifikasi Bibit Jati Perhutani Randublatung - Balai Perbenihan Tanaman Hutan (BPTH) Kementerian Kehutanan melakukan pra sertifikasi bibit jati Perhutani di Persemaian milik Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan  (KPH) Randublatung. Jumat. Kasi Pengelolaan Sumber Daya Hutan dan Lingkungan Perhutani Randublatung, Rani Maharto S.Hut menyatakan bahwa dengan adanya sertifikasi bibit tersebut  saat ini sebagian besar persyaratan yang dibutuhkan oleh tim audit sudah dipenuhi hanya beberapa hal saja yang perlu diperbaiki  terutama masalah kelengkapan administrasi di lapangan. Sementara itu Petugas  fungsional dari BPTH Kementrian Kehutanan, Engkos Kosasih, menyatakan bahwa peningkatan kualitas bibit  yang dihasilkan oleh pihak yang mengelola pembibitan tanaman kehutanan diharuskan memakai sertifikat, karena dengan timbulnya sertifikat tersebut, maka konsumen bisa menilai tentang kualitas bibit yang akan dibeli sesuai dengan keinginan mereka. Sertifikasi yang dilakukan oleh

instansinya tersebut bertujuan untuk menunjang keberhasilan Perhutani dalam penyiapan bibit jati yang mempunyai kualitas yang sama mutunya baik mengenai tinggi bibit, jumlah daun yang ada, diameter bibit jati semuanya harus sama,  hal tersebut harus dipenuhi karena dengan adanya sertifikasi nantinya Perhutani bisa menjual bibit jatinya di pasar internasional.  Siapapun yang berminat membeli bibit sertifikasi  tanpa harus melalui BPTH. karena bibit yang dihasilkan telah melalui tahapan seleksi yang ketat sesuai dengan standar ilmu kehutanan. Katanya Lebih lanjut dikatakan bahwa Mengenai mutu bibit yang dihasilkan apabila sertifikasi tersebut sudah diterbitkan pada Perhutani ada dua klasifikasi mutu yang ada yaitu mutu Pertama (P) dan mutu kedua (D), kedua mutu tersebut tentunya mempunyai kualitas yang berbeda dan ini ada kaitannya dengan harga pasaran, namun untuk peningkatan mutu dari D ke mutu P bisa dilakukan dengan cara upaya perbaikan oleh penyelenggara persemaian • DR

Kode Batang Tebangan Kayu Jati Blora - Sebuah terobosan dilakukan oleh Perhutani Blora untuk menerapkan barcode (kode batang) pada tebangan kayu jati. Untuk melaksanakan program ini , perusahaan ini melakukan pelatihan di Petak 31a Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Banyuasin. Pelatihan itu diikuti kalangan rimbawan lapangan KPH Randublatung. Instruktur dengan menghadirkan Kepala Biro Pemasaran Perhutani Sudarwanto. Sudarwanto mengemukakan barcode ini merupakan sistem baru di Perhutani. Tujuannya antara lain memudahkan setiap orang melakukan pelacakan asal usul kayu yang akan dibeli.

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Menurutnya pada sistem barcode tersebut informasi kayu dimasukkan secara detail, mulai dari asal kayu hingga ukuran kayu. “Dengan begitu pembeli yakin bahwa asal usul kayu tersebut memang dari Perhutani,” ujarnya. Selain itu dengan adanya sistem barcode tersebut, petugas lapangan dalam hal ini mandor tebang maupun mandor angkut, juga akan mudah melakukan pekerjaanya. Karena tidak perlu lagi membuat beberapa jenis dokumen kayu yang akan dikirim dari hutan ke tempat penimbunan kayu (TPK) terdekat. “Awalnya memang penerapan sistem ini belum familiar. Namun perlahan tapi pasti sistem barcode ini akan mudah dilakukan di lapangan,” kata Sudarwanto. Dia menjelaskan beberapa keuntungan dengan adanya sistem barcode. Diantaranya selain kemudahan administrasi lapangan, sistem ini juga akan sangat membantu dalam melakukan pembayaran upah bagi pekerja angkutan kayu jati karena semuanya terkoneksi dalam sebuah sistem. Menurutnya pemasaran kayu jati yang akan dilakukan secara online pun melalui sistem ini. Sehingga diharapkan memudahkan pembeli untuk memilih ukuran sesuai dengan keinginan. Itu terjadi karena kayu yang akan dibeli sudah termuat informasi yang diperlukan secara komplit baik asal usul maupun volume dan mutu kayu serta harga. “Semuanya sudah tercantum dalam sebuah sistem yang terkoneksi dan bisa dilihat secara online di manapun pembeli tinggal,” katanya. Humas Perhutani Randublatung Andan Subiyantoro mengatakan dalam pelatihan itu semua peserta berupaya memahami materi pelatihan. Meski awalnya mengalami kesulitan namun dengan penjelasan gamblang, materi pelatihan akhirnya

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

dapat dipahami. “Perlu adaptasi karena sistem baru,” ujarnya. Menurutnya pelatihan penerapan barcode yang dilakukan Perhutani terhadap kalangan rimbawan lapangan di KPH Randublatung merupakan salah satu upaya peningkatan pengetahuan bagi petugas. • DR

Dewan Pengawas Baru Perhutani Jakarta - Direktur Utama Perum Perhutani menghadiri penyerahan Surat Keputusan Menteri BUMN No. 77/MBU/2014 tanggal 10 April 2014 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Dewan Pengawas Perusahaan Umum (Perum) Kehutanan Negara Perhutani oleh Muhammad Zamkhani – Deputi Bidang Usaha Industri Primer Kementerian Negara BUMN kepada  Dr. H. Akhmad Sukardi MM dan Dr. Ir. Upik Rosalina Wasrin DEA sebagai anggota Dewan Pengawas Perum Perhutani menggantikan Dr. Ir. Rasiyo dan Ir. Sarwono Kusumaatmadja, di kantor Kementerian BUMN Jakarta, Kamis (10/4).  Upiek Rosalina Wasrin sebelumnya adalah Direktur Utama PT SHS dan pernah menjabat sebagai Direktur Utama Perum Perhutani.  Pada acara tersebut Direktur Utama Perum Perhutani Bambang Sukmananto hadir bersama Direktur SDM Umum Teguh Hadi Siswanto, serta Sekretaris Perusahaan Hari Priyanto. | Compht @2014 • DR

Perhutani Serahkan Beasiswa Mojokerto – Sebanyak 17 putraputri usia sekolah SD sampai SMA di Desa Pamotan, Kab  Mojokerto mendapatkan beasiswa yang berasal dari sharing produksi kayu KPH Mojokerto tahun 2012. Beasiswa itu disalurkan melalui Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) 

Rimba Jaya,  Desa Pamotan, Kab Mojokerto yang merupakan binaan KPH Perhutani Mojokerto. Kepala Divisi Regional Jatim, Iman Sandjojo, Selasa (15/4) mengatakan,  program ini merupakan contoh inisiasi yang baik dan perlu dikembangkan di KPH-KPH lain yang merupakan bentuk sinergitas yang baik antara Perhutani dan LMDH dalam pengejawantahan kepedulian sosial Perhutani Jatim terus berkomitmen meningkatkan kinerja dalam upaya  pengembangan sumberdaya manusia. Peningkatan kompetensi, inovasi, profesionalitas karyawan saat ini dan mendatang sangat diperlukan bagi perusahaan. Sebelumnya, awal Maret lalu KPH Mojokerto telah menyerahkan dana sharing produksi  dari tebangan kayu tahun 2012 sebesar Rp321.576.835 kepada 24 LMDH se-KPH Mojokerto.  Tahun 2011, KPH Mojokerto menyerahkan dana sharing produksi kepada 24 LMDH wilayah KPH Mojokerto senilai Rp154.772.949. Nilai sharing per LMDH bervariasi. LMDH merupakan mitra sejajar dari Perhutani dengan bentuk kerjasama dengan menguntungkan baik itu secara sosial dan hukum. Perum Perhutani berkomitmen untuk membangun hutan secara berkelanjutan sebagai Life Support System yang berorientasi pada 3 P atau Planet, People dan Profit sebagai pilar utama. Dalam melestarikan hutan di Jawa ini Perhutani mengajak semua jajaran untuk ikut mensukseskan program penanaman. Selain KPH Mojokerto, KPH Jember juga telah menyerahkan dana bagi hasil produksi sebesar Rp1,6 miliar kepada 28 Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Mereka tersebar di 13 Kecamatan Kabupaten Jember. Dana sebesar

DUTA Rimba 59


LINTASRIMBA Rp1,6 Miliar merupakan akumulasi dari sharing produksi dua produk unggulan Perum Perhutani Jember. Kedua produk unggulan itu adalah kayu dan getah yang diproduksi selama tahun 2012. Nilai bagi hasil atau sharing dari sektor kayu sebesar Rp1.160.588.054 sedangkan yang dari sektor getah sebesar Rp. 488.535.696. Dibandingkan dana sharing tahun 2011 yang diserahkan pada tahun 2012. Dana yang diterima LMDH tahun ini nilainya lebih besar. Tahun 2012, KPH Jember telah melakukan penyerahan dana sharing produksi kayu sebesar Rp658  juta. Dana hasil  produksi  tebangan  kayu  selama  tahun 2011 itu diserah terimakan  kepada 30 LMDH  yang  ada  di Kab Jember. Semua LMDH itu tersebar  di 13 kecamatan. • Sumber Media

Perhutani dan UGM Tanam Padi Godo Untuk memberdayakan para petani, Perhutani bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan mengajak para petani menanam padi gogo di lahan hutan jati di KPH Ngawi. Kerja sama ini dilakukan dalam konsep pengembangan agroforestry, yang kini tengah digalakkan oleh perusahaan pelat merah ini. “Hal itu dimaksudkan untuk mendorong kesejahteraan para petani dalam pengelolaan hutan produksi,” kata peneliti Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Budiadi di Yogyakarta, beberapa waktu yang lalu. Upaya untuk mengajak para petani untuk menggarap lahan Perhutani memang telah menjadi komitmen perusahaan ikut meningkatkan kesejahteraan masyarakat lingkar hutan . Budidaya padi gogo di lahan hutan jati tersebut selain hasil panen yang lebih bernilai, masyarakat juga diuntungkan dengan

60 DUTA Rimba

menyimpan hasil panen untuk konsumsi sendiri. “Budi daya padi gogo itu merupakan program kerja sama Fakultas Kehutanan UGM dengan Perum Perhutani KPH Ngawi. Di area hutan jati itu Fakultas Kehutanan UGM akan mengembangkan sepuluh varietas padi,” katan Budiadi Memang sampai kini baru tiga varietas unggulan yang sudah dikembangkan lebih lanjut, yakni varietas Situpatenggang, Inpago 4, dan Inpari. Ketiga varietas itu yang paling bisa beradaptasi. Ia mengatakan Fakultas Kehutanan UGM saat ini sedang berusaha mengembangkan pengelolaan lahan hutan jati pada area hutan jati yang lebih luas. “Sambutan para petani lahan hutan sangat baik terhadap program agroforestry tersebut karena dari target tanam hanya empat hektare, saat ini telah mencapai 12 hektare. Rata-rata setiap hektare diolah empat orang, jumlah total petani sebanyak 48 orang,” katanya. Staf Fakultas Kehutanan UGM Wongsorejo mengatakan panen padi gogo di lahan hutan jati saat ini cukup baik. Inpari menghasilkan delapan ton per hektare, varietas Inpago 4 sebanyak 7,2 ton per hektare, dan Situpatenggang tujuh ton per hektare. “Tanaman lain seperti kedelai, jagung, dan wijen masih dibudidayakan oleh petani dengan cara sistem tumpang sari,” kata fasilitator petani itu. • Editor: Aditia Maruli

Kontrak Manajemen Administratur SURABAYA - Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Timur menyelenggarakan Penandatanganan Kontrak Manajemen Administratur dan penyerahan Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) tahun

2014 yang disaksikan oleh Direktur Utama Perum Perhutani, Bambang Sukmananto di Ruang Pertemuan Tectona Graha Kantor Divisi Regional Jawa Timur-Surabaya. Rabu. Kepala Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Timur Iman Sandjojo dengan segenap Administratur wilayah kerja Divisi Regional Jatim melakukan penandatangan Kontrak Manajemen tahun 2014, yang disaksikan oleh Direktur Utama Perum Perhutani. Hadir pula segenap Kepala Biro di Ruang Pertemuan Tectona Graha Perhutani Jatim. Dalam kesempatan tersebut diserahkan pula Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) tahun 2014 sebagai dasar pelaksanaan pekerjaan pada Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH). Direktur Utama Perum Perhutani BAMBANG SUKMANANTO dalam sambutannya menyatakan bahwa, sudah menjadi keharusan di BUMN mulai dari Bapak Menteri sampai ke bawah harus ada Pakta Integritas. Tahun ini kita sudah diberi tugas yang seharusnya kita lakukan yaitu BUMN bersih. Kita bekerja harus menganut nilai-nilai yang harus kita junjung tinggi, “Jujur dan Peduli”. Katannya. Ditambahkan tanpa ada kejujuran sangat sulit bekerja untuk semua, sedangkan 4 P artinya Peduli Perusahaan, Peduli Karyawan, Peduli Tanaman dan Peduli Sosial. Tahun ini tahun kerja, tahun kinerja, tahun penentuan untuk Perhutani kedepan. Sedangkan untuk menuju Perhutani Makin Jaya semangat kita jelas ke Industri. Dalam acara tersebut dipaparkan pula, pembahasan potret Sumber Daya Hutan oleh Kepala Biro Perencanaan, Evaluasi Kinerja Triwulan I tahun 2014 dan penyampaian konsep Rencana Jangka Panjang (RJP) oleh Kepala Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Timur. • DR

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Bombom dan Jowo

Dilepas di Hutan BANDUNG- Satu keluarga Owa Jawa (Hylobates moloch) yang terdiri dari sepasang induk jantan betina dan dua anaknya, Kamis (27/3/2014), dilepasliarkan ke habitat alami kawasan hutan Perhutani di Gunung Puntang Hutan Lindung Gunung Malabar, petak 31b RPH Logawa BKPH Banjaran KPH Bandung Selatan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pelepasliaran satu keluarga Owa Jawa itu diprakarsai oleh Perhutani dan Yayasan Owa Jawa, didukung oleh Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. Ini adalah kali kedua Perhutani dan Yayasan Owa Jawa melepasliarkan Owa Jawa, setelah pada tahun lalu, tepatnya pada 15 Juni 2013, sepasang Owa Jawa yang diberinama Kiki dan Sadewa dilepasliarkan di lokasi hutan yang sama. Direktur Utama Perum Perhutani, Bambang Sukmananto menyatakan konservasi Owa Jawa ini merupakan bagian dari upaya untuk mempertahankan kualitas kawasan hutan lindung melalui pengembangan spesies liar. Upaya tersebut diharapkan dapat menjaga keseimbangan ekosistem sumberdaya hutan. “Kawasan Hutan Lindung Gunung Malabar dipilih sebagai tempat pelepasliaran setelah melalui serangkaian survei kelayakan habitat untuk memastikan ketersediaan pohon pakan dan keamanan.” “Program ini merupakan contoh public-private partnership

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

yang dipercaya menjadi dasar pembangunan hutan berkelanjutan,” jelas Bambang, dalam keterangan tertulisnya . Dengan adanya keluarga Owa Jawa ini, lanjut Bambang, hutan lindung Gunung Malabar dapat dikembangkan sebagai salah satu kawasan wisata minat khusus yang mendatangkan manfaat langsung bagi masyarakat di sekitarnya. Bambang Sukmananto menekankan pentingnya keterlibatan sektor bisnis dalam upaya perlindungan satwa dan lingkungan. “Konservasi owa jawa di Hutan Lindung Malabar wilayah Perhutani merupakan salah satu bentuk tanggungjawab Perum Perhutani dalam melestarikan satwa kebanggaan Indonesia melalui pengelolaan hutan lestarI,” jelas Bambang. Ketua Pengurus Yayasan Owa Jawa, Noviar Andayani, menuturkan, upaya konservasi owa jawa di tengah tekanan pembangunan ekonomi Pulau Jawa bukan perkara mudah. “Dukungan semua pihak untuk menyelamatkan primata ini dari kepunahan sangat diperlukan. Program konservasi ini dapat menjadi contoh kemitraan yang kuat antara penggiat konservasi dengan sektor bisnis, pemerintah daerah dan masyarakat.” tuturnya. Pelepasliaran sekeluarga Owa Jawa yang masing-masing diberi nama Bombom (betina), Jowo (jantan), dan kedua anak mereka Yani (betina) dan Yudi (jantan), merupakan kegiatan belum pernah dilakukan dimanapun sebelumnya

untuk satu keluarga Owa Jawa. Pasangan Bombom dan Jowo berasal dari hewan peliharaan yang diserahkan oleh masyarakat dan telah direhabilitasi selama enam tahun di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Owa Jawa di Resort Bodogol, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Selama masa rehabilitasi Bombom dan Jowo, telah lahir dua individu Owa Jawa dari pasangan tersebut pada tahun 2010 dan 2013. Pada acara pelepasliaran satu keluarga Owa Jawa itu, Kepala Perhutani Divisi Regional Jawa Barat dan Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Dedi Kusnadi Thamim menandatangani perjanjian kerjasama pengamanan habitat dan Satwa di hutan lindung gunung Malabar khusus satwa Owa Jawa di kawasan hutan Gunung Puntang Perhutani KPH Bandung Selatan, sekaligus pelantikan Gibbon Patrol Unit (GPU), yaitu tim patrol gabungan dari Perhutani, Yayasan Owa Jawa dan Masyarakat sekitar. Owa Jawa (Hylobates moloch) termasuk salah satu primata yang paling terancam kepunahan terutama dari hilangnya habitat akibat  pembukaan hutan untuk berbagai keperluan.  Owa Jawa juga kerapkali ditangkap  untuk  diperjual belikan masyarakat. Organisasi konservasi  dunia  IUCN  memasukkan  Owa Jawa ke dalam kategori species terancam  (kepunahan) (EN, endangered species), dengan peluang sebesar 50%. Hewan ini akan dapat punah  dalam satu dekade mendatang.• DR

DUTA Rimba 61


JUJUR DAN PEDULI

MENUJU

PERHUTANI EKSELEN

Di balik angka penuh makna Ketika usia menginjak paruh baya Hari jadi Perhutani dirayakan sederhana dengan semangat penuh ceria

62 DUTA Rimba

NO. 51 • TH. 9 • MARET-APRIL • 2014


LENSA

Pohon jati berdaun lebar Berdekatan dengan pohon mindi Bila usaha telah melebar Alangkah indah bila terus peduli NO. 51 • TH. 9 • MARET-APRIL • 2014

DUTA Rimba 63


Diantara hembusan Angin sepoi Seorang anak manusia gigih terus meniti Membuat kehidupan lebih berarti Menyebar tali kasih penuh peduli.

64 DUTA Rimba

NO. 51 • TH. 9 • MARET-APRIL • 2014


Alam memang mulai merana Mengundang keprihatinan kita semua Bila kita ingin peduli Seribu cara bisa membuat alam tertawa NO. 51 • TH. 9 • MARET-APRIL • 2014

DUTA Rimba 65


Untuk mengobarkan jiwa korsa Kita rapatkan barisan Menggapai cita penuh makna Bagi kebesaran para rimbawan

66 DUTA Rimba

NO. 51 • TH. 9 • MARET-APRIL • 2014


Rasanya legit tape uli Bagi mereka yang berprestasi Layak mendapat apresiasi

NO. 51 • TH. 9 • MARET-APRIL • 2014

DUTA Rimba 67


OPINI

Oleh: Juni Junaedi *)

Transformasi bisnis di Perum Perhutani telah menghasilkan Quantum Leap berupa peningkatan pendapatan laba usaha . Bila pendapatan Perhutani tahun 2012 tercatat Rp 3,67triliun, pada 2013 naik menjadi Rp 3,95 triliun. Begitu labanya dari Rp 197 miliar pada 2012 menjadi Rp 204 miliar pada 2013

A

68 DUTA Rimba

berorientasi pada masa depan, dengan komitmen untuk dapat melihat, bermimpi, mengubah serta mengerakkan resources ke arah tujuan yang direncanakan. Melihat dan bermimpi (Architect Approach) bermakna, seorang pemimpin diumpamakan sebagai arsitek yang mampu membuat bangunan imajiner tentang masa depan perusahaan tetapi berpijak pada realitas (Creative Imajination

Dok. Humas PHT

pa itu Quantum Leap? Quantum berarti menggunakan energi yang “sedikit” tetapi memberikan dampak yang lebih besar. Menurut arti harafiahnya, Quantum Leap adalah lompatan atau peningkatan yang sangat tinggi. Biasanya istilah ini digunakan untuk menggambarkan lonjakan yang ekstrim dari pencapaian bisnis atau target kerja. Misalnya, pencapaian keuntungan bisnis yang semula ditargetkan hanya 500, ternyata hasilnya adalah 5.000 atau lebih. Proses transformasi bisnis di tubuh Perum Perhutani berawal dari tranformasi kepemimpinan untuk melakukan perubahan organisasi guna menjamin eksistensi Perhutani di era globalisasi. Pertanyaannya, apakah tranformasi kepemimpinan ini sudah menghasilkan Quantum Leadership? Apa pula Quantum Leadership itu? Quantum Leadership adalah konsep kepemimpinan yang

Juni Junaedi Asper / KBKPH Temanggung

Based On Reality = CIBOR). Mengubah (Mother Teresa Approach) yaitu Nurture with Respect, Love and Care (membimbing dengan hormat, cinta, dan pengertian). Artinya, mengarahkan para karyawan untuk berorientasi pada sasaran kinerja dan profesionalitas. Maka, perlu sistem pendukung berupa persuasi positif dan empati, sehingga tercipta hubungan saling menguntungkan. Menggerakkan (Golf Game Concept) yaitu mengarahkan (direction), mengukur jarak (distance), dan ketepatan (precision). Faktanya, belum semua pejabat dapat menghasilkan Quantum Leadership. Kebanyakan masih bergaya Manajer dan bukan Pemimpin. Lantas apa beda Manajer dan Pemimpin? Ada sejumlah perbedaan di antara manajer dan pemimpin. Pertama, Manajer memiliki bawahan sedangkan Pemimpin memiliki pengikut. Perbedaan bawahan dan pengikut adalah kesetiaannya.

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Pengikut akan setia kepada Pemimpin di manapun ia berada bahkan ketika sudah mati sekalipun. Sedangkan bawahan akan setia kepada Manajer manakala ia masih menjadi atasannya. Begitu Manajer pindah, putuslah kesetiaan itu. Hal yang masih mengikat adalah jiwa korsa rimbawannya. Kedua, besarnya kekuasaan seorang Manajer ditentukan oleh posisi jabatan, sedangkan kekuasaan seorang Pemimpin terbentuk dari visi kepemimpinan dan kemampuannya mengomunikasikan visi kepada pengikutnya. Persoalannya, tidak banyak pejabat Perhutani yang memiliki jiwa seorang Pemimpin, sehingga visi perusahaan sering tidak terkomunikasikan dengan baik, sehingga tak semua karyawan mengerti mau dibawa ke mana Perusahaan ini dan upaya apa saja yang harus dilakukan untuk mencapai visi tersebut. Ketiga, seorang Manajer punya kemampuan mencari stabilitas, kepastian, untuk mengontrol atau mengendalikan, sedang seorang Pemimpin mencari fleksibilitas dan perubahan. Sehingga, menurut pola pikir seorang manajer, untuk memastikan target produksi dapat tercapai serta kemajuannya stabil sesuai NPS, dilakukan pengawasan dan semua karyawan dikendalikan untuk mencapai target tersebut. Keempat, buat seorang Manajer, perubahan sedapat mungkin dihindari, dikelola, dan dikendalikan. Sedangkan bagi seorang Pemimpin, perubahan adalah hal biasa dan harus dimanfaatkan. Kelima, bagi seorang Manajer, kegagalan harus dicegah sekuat tenaga. Sedangkan untuk seorang Pemimpin, kegagalan merupakan konsekuensi logis. Keenam, seorang Manajer mengikuti prosedur dan metodologis, sedangkan seorang Pemimpin selalu

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

mencari “dobrakan baru”. Sehingga, pola pikir manajerial hanya akan menciptakan sistem dan birokrasi. Dan jika sudah terbentur birokrasi biasanya akan memakan waktu yang lama. Data untuk melayani permintaan “Bapak A”, “Bapak A” untuk melayani permintaan “Bapak k”, “Bapak k” untuk “Bapak L” dan seterusnya. Itu baru data, bagaimana dengan usul atau Project Statement? Bisa habis waktu untuk menunggu persetujuan. Di era globalisasi ini, setiap peluang butuh kecepatan bertindak. Jika perusahaan ini masih birokratis, peluang akan lewat begitu saja atau diambil orang lain. Yang dibutuhkan adalah bagaimana memangkas rantai sistem dan birokrasi itu sehingga jalannya lebih efektif dan efisien. Pola pikir yang digunakan adalah pola pikir Entrepreneur, bukan pola pikir Manajerial. Ketujuh, seorang Manajer berpikir rasional dan konkret sedangkan seorang Pemimpin berpikir strategis dan abstrak. Kedelapan, seorang Manajer berpikir dan bertindak untuk jangka pendek sedangkan seorang Pemimpin berpikir dan bertindak untuk jangka panjang. Kesembilan, seorang Manajer mengambil keputusan dan memecahkan persoalan bagi karyawan, sedangkan seorang Pemimpin memberikan pengarahan dan kebebasan dalam menyelesaikan persoalan karyawan. Dan kesepuluh, seorang Manajer bergaya analitical dan konvergen, sedangkan seorang Pemimpin bersifat Intuitif dan divergen. Jika pemimpinnya saja belum menghasilkan Quantum Leadership, bagaimana karyawannya? Oleh karena itu, dengan terciptanya Quantum Leadership diharapkan akan menghasilkan Quantum Follower. Sebab, “A good leader is also a good follower”. Diharapkan, dengan terciptanya Quantum

Di era globalisasi ini, setiap peluang butuh kecepatan bertindak. Jika perusahaan ini masih birokratis, peluang akan lewat begitu saja atau diambil orang lain. Follower akan ada kesatuan gerak, kecepatan tindakan, dan keberanian menerima tantangan. Ditambah lima komponen pendukung, yaitu strategi, komitmen, sensitivitas, kordinasi dan patisipasi, sehingga tercipta rasa tanggung jawab, keberanian untuk mendukung, serta keberanian untuk turut serta dalam transformasi. Robert E Kelly menyebut beberapa tipe Follower. Pertama, tipe domba (sheep): Tergantung, pasif dan tidak kritis, hanya menjalankan perintah tanpa bertanya untuk apa. Maka, butuh pengawasan yang ketat karena tingkat inisiatif dan komitmennya rendah. Kedua, tipe “yes people”: Selalu berada di sekitar bos, berusaha mengantisipasi setiap langkah, dan siap membukakan pintu bagi atasannya. Kurang inisiatif, ide dan inspirasi bergantung pada atasan, suka memuji dan ambil muka pada atasan. Ketiga, Alianated Follower: Independen dalam berpikir dan pasif dalam pendekatan. Mereka sering merasa kecewa karena tak memberikan seluruh tenaga dan komitmen pada pemimpin. Keempat, tipe Survivor: Dapat selamat dari segala bentuk reorganisasi dan ia selalu terpakai. Selalu dapat menyesuaikan diri, kapan harus aktif dan pasif. Kelima, Effective Follower: karakter mirip dengan karakter pemimpin. Ia aktif, mandiri, berpikir kritis, penuh semangat, dan inisiatif. Ini yang seharusnya dimiliki oleh

DUTA Rimba 69


Dok. Humas PHT

semua karyawan. Peran Quantum Leadership adalah: Direction setter (penentu jalannya perusahaan), Counselor (penasihat bagi karyawan perusahaan), Career Maker (mengelola jenjang karir agar setiap orang mendapat kesempatan yang sama untuk mengembangkan kemampuan diri), Agent of Change, Charger (baterai energi perusahaan), Confidence Builder (membangun rasa percaya diri sehingga setiap orang merasa penting dan dibutuhkan), Strategic implementator, Follower as Leader, Sources of Information, Feedback Provider, dan Friend and Partner. Untuk menghasilkan Quantum Leadership, perlu Self Preparation, Self Observation, Self Determination & Planning, Self Learning & Action, serta Self Monitoring secara berksenambungan. Self Preparation: Seseorang harus mempersiapkan diri baik fisik maupun mental untuk menerima pendapat positif maupun negatif tentang dirinya. Kadang susah untuk menerima pendapat negatif tentang

70 DUTA Rimba

dirinya, karena “boss” biasanya alergi kritik negatif. Self Observation: Mengidentifikasi secara lebih dalam derajat toksisitas yang ditunjukkan dan di area mana. Intinya harus mawas diri. Self Determination & Planning: Yakinkan diri sendiri bahwa kita dapat mencapai apa yang ingin kita capai dan merencanakan perubahan. Self Learning & Action: Belajar dari pengalaman pemimpin-pemimpin lain (role model) dan merencanakan perubahan sikap dengan konsistensi penuh. Sistem pendukung Quantum Leadership adalah: Intensitas: terus menerus belajar; Kejelasan: jelas tujuannya sehingga tidak menyimpang dari apa yang dicita-citakan; Kesatuan: kesatuan antara cita-cita dan implementasi; Equality: Pemimpin dan karyawan berkedudukan sama dalam memajukan perusahaan; Diversity: Pemimpin menghargai adanya perbedaan dalam perusahaan; Networking: Membangun jaringan dengan siapa saja; Excellence: Segala hal dilaksanakan dengan

sebaik-baiknya (business excellence); Workplace: Mengutamakan koordinasi antar setiap bagian dengan menjunjung tinggi demokrasi; Work of Fun: Bekerja dengan gembira; Communication and Fedback System: Sistem komunikasi yang terbuka dan dua arah, sehingga tidak terjadi “The king’s desease”; Participate Management: Pola kepemimpinan yang partisipatoris. Pada akhirnya kepemimpinan (leadership) dalam era bisnis global adalah kemampuan untuk merealisasikan potensi yang ada pada “pengikutnya” serta mengarahkan keterampilan, pengetahuan dan kemampuan dari kelompoknya untuk menghasilkan “sesuatu” yang pasti. Di Indonesia, konsep kepemimpinan sebagaimana diungkapkan Ki Hadjar Dewantara adalah “Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani”. Di depan memberikan teladan, di tengah membangun kekuatan dan terus berkarya, serta di belakang memberikan dorongan. *) Penulis adalah Asper / KBKPH Temanggung

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

DUTA Rimba 71


WARISANRIMBA

Hutan Alam Sekunder

Dok. Humas PHT

“Kesongo” K

awasan hutan yang memiliki nilai konservasi tinggi adalah sebuah kawasan yang secara global, regional, atau nasional, berisi konsentrasi tentang nilai-nilai keanekaragaman hayati yang signifikan. Salah satu kawasan yang termasuk Kawasan hutan bernilai konservasi tinggi itu adalah kawasan hutan Kesongo. Lokasinya di wilayah kerja Perum Perhutani KPH Randublatung. Tepatnya ia berada di Petak 141, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Padas, Bagian Kesatuan Pemangkuan

72 DUTA Rimba

Hutan (BKPH) Trembes, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Randublatung. Lokasi hutan Kesongo dapat dijangkau dari dua arah. Yang pertama, dari arah Sulursari Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan, yang jaraknya sekitar 5 km. Dan kedua, dari arah timur laut dengan cara menyusuri jalan kawasan hutan (alur) mulai alur AO, AK, dan alur I dari Petak 7 (Pos 7) masuk ke dalam melalui jalan makadam sejauh 2,3 km. Kawasan hutan Kesongo merupakan kawasan hutan alam

sekunder. Hutan alam sekunder adalah restorasi hutan alam yang berasal dari hutan-hutan yang rusak, kelas hutan berupa HLT dan TBPTH. Sebagai hutan alam, kawasan Kesongo merupakan sarang dan tempat hidup bagi 19 jenis aves. Sebagian di antara 19 jenis aves itu merupakan aves migran, antara lain burung Kuntul Putih (Bulbucus ibis), Bangau Tongtong (Leptotilos javanicus), Belibis Batu (Dendrocygna javanica), Bambangan Merah (Ixopbrychus cinnamomeus), dan Cangak Merah (Ardea purpurea). Di sana dapat juga

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Kesongo merupakan salah satu kawasan hutan bernilai konservasi tinggi di Perum Perhutani KPH Randublatung. Lokasi tersebut berada di Petak 141, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Padas, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Trembes, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Randublatung. Melihat keunikan, fenomena, dan pesona alam Kesongo, kawasan ini cocok untuk dikembangkan sebagai salah satu obyek wisata minat khusus. dijumpai beberapa jenis burung air, di antaranya belibis serta belekok yang terlihat mencari makan di kawasan rawa yang juga tedapat pada kawasan tersebut. Di sore hari menjelang saat matahari terbenam, burung-burung dari ragam jenis itu kerap berkumpul di kawasan hutan Kesongo. Selain itu, pada kawasan hutan Kesongo yang berjenis tanah margalit dengan warna coklat tersebut juga ditemukan satwa air lain, semisal ikan, katak, cacing merah, dan lain–lain. Tanaman rumput sejenis wlingi yang tumbuh juga di kawasan rawa pun melengkapi kawasan ini. Berdasarkan hasil risalah kawasan hutan yang dilakukan oleh Perhutani di akhir tahun 2011, Kesongo mempunyai luas hingga 119,1 hektar dengan pembagian savana seluas 109 hektar serta 110,1 hektar. Menurut risalah tersebut, Kesongo merupakan hamparan lumpur kering hasil dari letupan yang bersifat sporadis dengan koordinat BT 111,15’.15” dan LS 7.9’.15” dengan jenis tanah margalit coklat. Kawasan hutan Kesongo merupakan kawasan terbuka yang didominasi oleh lumpur kering serta kadang mengeluarkan lumpur panas dibarengi dengan air

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

asin dan bau gas yang menyengat. Hal ini disebabkan tekanan panas bumi yang berada ratusan meter dengan tingkat porositas yang tinggi pada lokasi tersebut. Di kawasan tersebut terdapat lahan yang sulit dilakukan penanaman. Mungkin hal itu karena udara yang sedikit mengandung gas atau karena tumpukan lapisan lumpur yang selalu bertambah. Tetapi, Perhutani tetap mengupayakan untuk melakukan penanaman terutama tanaman rimba campur (non jati) pada tepian kawasan tersebut. Dan, ternyata upaya Perhutani melakukan pengayaan dengan jenis tanaman rimba tersebut menampakkan hasil yang menggembirakan. Di luar petak 141, tanaman rimba tumbuh dengan subur sehingga kawasan ini domasukan dalam kelas hutan HAS (Hutan Alam Sekunder).

Semburan Lumpur Satu hal yang menarik dari kawasan hutan kesongo adalah lumpur. Jika sejak tahun 2006 kita sering mendengar berita tentang semburan lumpur Lapindo di Jawa Timur yang telah menjadi headline media massa hampir selama delapan tahun terakhir ini, sesungguhnya

fenomena serupa telah lebih dulu ada di tengah belantara hutan jati di Kesongo. Fenomena itu dikenal sebagai fenomena semburan lumpur Kesongo. Tetapi, tidak seperti semburan lumpur Lapindo yang terjadi akibat kesalahan manusia hingga telah menjadi bencana nasional dan terutama berdampak buruk bagi masyarakat yang tinggal di sekitar sumber semburan lumpur tersebut, semburan lumpur di Kesongo terjadi karena proses alami yang telah terjadi ratusan tahun yang lalu. Fenomena semburan lumpur Lapindo membuat Kabupaten Sidoarjo sebagai lokasi terjadinya semburan lumpur Lapindo pun menjadi terkenal dengan sebutan kabupaten Lumpur. Sebaliknya, lumpur Kesongo justeru berdampak memberikan berkah buat masyarakat sekitarnya. Semburan lumpur yang terjadi di Kesongo memang tidak sebesar semburan lumpur Lapindo yang terjadi di Sidoarjo. Namun, lokasi semburan di Kesongo berjumlah banyak dan menyebar. Proses semburan lumpur pun cukup unik, karena kejadiannya menyerupai proses muntahnya magma dari gunung berapi. Bentuk lokasi semburan lumpur Kesongo pun menyerupai bentuk miniatur dari gunung berapi. Kumpulan dari semburan lumpur ini terlihat sangat menyerupai kumpulan gunung berapi yang saling berdekatan dan semuanya seakan sedang berlomba mengeluarkan magma dari perut bumi. Di waktu tertentu, semburan lumpur di Kesongo menjadi besar dan fenomena itu terjadi sepanjang hari. Besarnya semburan lumpur tersebut kurang lebih sama dengan semburan di Bledug Kuwu Grobogan. Sesaat menjelang terjadinya ledakan besar pada Lumpur Kesongo, biasanya

DUTA Rimba 73


Dok. Humas PHT

WARISANRIMBA

lebih dulu ditandai dengan adanya suara gemuruh dan gempa kecil. Kawasan Lumpur Kesongo memiliki luas 119,1 hektar, dan terdiri dari 3 tipe habitat. Ketiga tipe tersebut adalah kawasan semburan lumpur, kawasan rawa, dan kawasan padang rumput (savanna). Tidak ada vegetasi yang bisa hidup di kawasan semburan lumpur yang merupakan kawasan yang dipenuhi oleh lumpur yang keluar dari perut bumi. Maka, selain sebagai tempat pemujaan oleh masyarakat sekitar, lokasi tempat terjadinya semburan lumpur tersebut merupakan lokasi tempat bermain dan mencari makan bagi beberapa jenis satwa yang hidup di sekitar lokasi tersebut. Sedangkan kawasan savanna merupakan kawasan yang mayoritas ditumbuhi oleh vegetasi rumput. Kawasan savanna di Kesongo memiliki luas kurang lebih 112 hektar. Masyarakat sekitar kawasan ini memanfaatkan lokasi savanna tersebut sebagai tempat untuk menggembala ternak. Selain itu, masyarakat juga mengambil rumput di savanna tersebut untuk pemenuhan kebutuhan pakan ternak yang dipelihara di dalam kandang di

74 DUTA Rimba

rumah mereka. Selain dijadikan sumber pakan ternak oleh masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan Kesongo, kawasan padang rumput Kesongo juga merupakan habitat bagi beberapa jenis burung terrestrial dan amfibi. KPH Randublatung juga menetapkan zone penyangga kawasan ini yaitu seluas 3.381,4 hektar atau 10%, yang terbagi dalam hutan alam sekunder (HAS), kawasan perlindungan setempat (KPS), tak baik untuk produksi (TBP), serta kawasan perlindungan khusus (KPKh), dari total luas kawasan hutan seluas 32.464,10 hektar. Kawasan Sumber Lumpur Kesongo sendiri merupakan daerah migrasi burung air. Savana Kesongo, Rawa Kesongo, dan Lumpur Kesongo, merupakan kawasan ekosistem alami dengan garis batas yang tidak terputus (berkesinambungan), sehingga termasuk ke dalam kategori Nilai Konservasi Tinggi (NKT). 

Asal Mula kawasan Kesongo Secara pasti, tidak ada yang mengetahui sejarah proses terjadinya semburan lumpur Kesongo. Masyarakat sekitar hanya tahu bahwa ada legenda tentang Ki Joko

Linglung yang dipercaya sebagai awal terjadinya semburan lumpur di tempat tersebut. Menurut KaUr Humas Perhutani KPH Radublatung, Andan S, konon menurut cerita yang berkembang di masyarakat Jawa, Kesongo erat kaitannya dengan Joko Linglung yang disabdakan menjadi ular raksasa. Di dalam pengembaraannya, ular tersebut muncul ke permukaan bumi yang sekarang ini menjadi Bledug kuwu. Kemudian, karena keliru untuk kembali ke rumah (istana), maka ular tersebut masuk perut bumi dan berhasil masuk kawasan istana. Oleh sang Raja Medang Kamolan yang juga merupakan sang ayah dari Joko Linglung tersebut, ular itu diperbolehkan untuk berdomisili di sebuah daerah dan bertapa di situ, dengan syarat boleh makan asal ada makanan yang masuk dalam mulutnya sendiri. Alkisah, menurut Andan, kemudian ada 10 anak yang menggembala kerbau di padang rumput tersebut. Kesepuluh anak itu kehujanan. Lalu mereka bersepuluh masuk ke dalam goa untuk berteduh. Tetapi, salah satu di antara mereka tidak diperbolehkan masuk karena si

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Mengingat keunikan dan fungsi ekologisnya yang sangat penting, Perum Perhutani Unit I KPH Randublatung bersama dengan Tropical Forest Trust (TFT) menetapkan kawasan hutan alam sekunder Kesongo ini sebagai kawasan lindung. anak tersebut terkena penyakit kudis. Justeru si anak yang tidak ikut masuk ke dalam goa itu selamat, sedangkan kesembilan anak yang masuk ke dalam goa tersebut lenyap ditelan oleh ular Joko Linglung. Sehingga, tempat tersebut kemudian terkenal di masyarakat dengan sebutan Kesongo (dalam bahasa Jawa, songo berarti sembilan, red). Kawasan yang menjadi lokasi terjadinya semburan lumpur tersebut memiliki luas kurang lebih 5 hektar. Di kawasan ini, biasanya masyarakat sekitar mengadakan ritual untuk meminta berkah kepada Ki Joko Linglung. Pada setiap pelaksanaan ritual, peziarah selalu membawa susu putih yang dituangkan ke dalam kawah lumpur tersebut, agar permohonannya terkabul oleh Ki Joko Linglung. Konon menurut masyarakat sekitar, susu putih merupakan makanan favorit dari Ki Joko Linglung.

High Conservation Value Forest Sepanjang tahun, kawasan rawa Kesongo merupakan kawasan yang selalu ditutupi air atau lumpur. Selain selalu dipenuhi oleh air, kawasan ini juga ditumbuhi oleh ilalang rawa. Selain itu, kawasan ini juga menjadi tempat habitat burung air, reptil dan amfibi.

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

Di kawasan ini terdapat beberapa jenis burung yang termasuk ke dalam jenis satwa RTE yang dilindungi oleh PP No 7 tahun 1999, IUCN dan Cites. Beberapa burung yang termasuk dalam kategori RTE yang terdapat di kawasan Hutan Alam Sekunder Kesongo adalah Cangak Abu (Ardea cinerea), Cangak Merah (Ardea purpurea), Bambangan Merah (Ixobrychus cinnamomues), Bangau Tongtong (Leptoptilos javanicus) dan Belibis Batu (Dendrocygna javanica). Keberadaan beberapa jenis burung air langka di lokasi ini, kemungkinan karena migrasi mereka dari daerah pantai dan danau yang terdapat cukup jauh dari lokasi ini. Mungkin burung-burung tersebut bermigrasi ke tempat ini karena di habitat aslinya mereka telah terdesak oleh aktivitas manusia. Kondisi kawasan Kesongo ternyata dirasakan cocok dengan kondisi habitat mereka sebelumnya, sehingga kemudian kawanan burung air ini pun membentuk koloni dan habitat baru di kawasan hutan alam sekunder Kesongo yang lebih aman dari gangguan manusia. Mengingat keunikan dan fungsi ekologisnya yang sangat penting, Perum Perhutani Unit I KPH Randublatung bersama dengan Tropical Forest Trust (TFT) menetapkan kawasan hutan alam sekunder Kesongo ini sebagai kawasan lindung. Selain itu, kawasan Kesongo juga merupakan kawasan yang teridentifikasi sebagai kawasan HCFV (High Conservation Value Forest). Di dalam kawasan Kesongo dapat teridentifikasi sebagai kawasan HCV 1 kawasan migrasi satwa (rawa kesongo), HCV 2 Habitat satwa kunci (kuntul putih / Bubulcus ibis), HCV 3 Ekosistem RTE (savanna dan rawa air tawar), HCV 5 Pemenuhan kebutauhan dasar (sumber pakan ternak/savanna), dan HCV 6 situs budaya (Kawasan sumber lumpur

kesongo). Sehingga, penetapan kawasan Kesongo sebagai kawasan lindung merupakan langkah yang tepat bagi KPH Randublatung. Untuk lebih mengoptimalkan fungsi lindung dari kawasan kesongo, KPH Randublatung berencana membuat kawasan zona penyangga (buffer zone) terhadap kawasan Kesongo. Kawasan zona penyangga Kesongo merupakan kawasan hutan yang berbatasan langsung dengan kawasan Kesongo. Demi membuat kawasan zona penyangga ini, KPH Randublatung mengorbankan kawasan produksi yang berada di dekat kawasan kesongo. Saat ini, kawasan yang akan dijadikan sebagai kawasan zona penyangga Kesongo masih merupakan kawasan hutan produksi dengan vegetasi mayoritas jati. Di masa depan, kawasan hutan produksi (Jati) tersebut akan dibentuk menjadi kawasan Hutan Alam Sekunder. Penggelolaan yang ada dalam kawasan ini nantinya berupa pengelolaan untuk mendukung terbentuknya kondisi hutan alam sebagai kawasan pelindungan biodiversity di KPH Randublatung. Hutan produksi yang fungsi dan peruntukannya akan diubah menjadi kawasan lindung adalah seluas 631,2 ha. Melihat keunikan, fenomena dan pesona alam yang dimiliki oleh kawasan Kesongo, kawasan ini sangat cocok untuk dikembangkan sebagai salah satu objek wisata minat khusus. Pengembangan obyek wisata minat khusus bertujuan agar fungsi lindung dari kawasan ini tidak mengalami gangguan yang besar dari aktifitas kegiatan pariwisata. Beberapa objek wisata yang bisa dikembangkan sebagai objek tujuan wisata adalah birds waching area, wisata religi, riset fenomena alam, dan kawasan sumber lumpur kesongo. • DR

DUTA Rimba 75


Dok. Humas PHT

ENSIKLORIMBA

D

i Indonesia, mindi juga dikenal dengan beberapa nama lain. Selain disebut dengan nama mindi, tanaman pohon dari famili Meliaceae ini juga dikenal sebagai renceh (Sumatera) dan gringging, serta cakra-cikri (Jawa). Pohon mindi atau gringging memiliki nama latin Melia azedarach L. Tumbuhan ini banyak ditanam di daerah tropis maupun subtropis. Ia merupakan jenis pohon cepat tumbuh dan selalu hijau di daerah tropis. Ciri-ciri mindi antara lain menggugurkan daun selama musim dingin, suka cahaya, agak tahan akan kekeringan, agak toleran terhadap salinitas tanah, dan subur di bawah titik beku. Pohon mindi punya ciri khas, dapat tumbuh dengan cepat. Aslinya, mindi berasal dari Cina, Burma, dan India. Di Indonesia, tumbuhan mindi

76 DUTA Rimba

banyak ditanam di daerah Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan Irian Jaya. Selain itu, di Indonesia, tumbuhan ini juga kerap ditanam di kebun-kebun dan di pekarangan rumah. Umumnya, mindi memiliki tinggi pohon mencapai 45 m. Hingga setinggi 8 - 20 m, batang kayunya bebas cabang dengan diameter mencapai 60 cm. Bertajuk ringan yang menyerupai payung, percabangan melebar, kadang menggugurkan daun. Pohon mindi termasuk jenis tumbuhan yang tumbuh dengan cepat. Batang mindi tumbuh dengan lurus. Tumbuhan ini tergolong cepat bertumbuh. Di dalam waktu 2 tahun, tinggi tumbuhan ini dapat mencapai 4-5 meter. Mindi juga berakar tunggang dalam dan berakar cabang banyak. Di umur 10 tahun, umumnya pohon mindi dapat mencapai tinggi

bebas cabang 8 meter dengan diameter sekitar 40 cm. Tetapi ada fakta yang menarik, yaitu pohon mindi berumur 10 tahun yang tumbuh di Kebun Rakyat Cimahpar, Bogor, ternyata memiliki tinggi bebas cabang sekitar 10 m dengan diameter kayu 38,20 cm. Tak terlalu sulit untuk menumbuhkembangkan pohon mindi. Sebab, pohon mindi dapat tumbuh baik di daerah dataran rendah maupun dataran tinggi, dengan ketinggian di antara 0 m sampai 1200 m di atas permukaan laut. Mindi juga dapat tumbuh di berbagai tipe tanah dengan curah hujan rata-rata per tahun 600 - 2000 mm. Mindi biasanya ditanam sebagai pohon pelindung di sisi jalan raya. Kadang-kadang mindi juga tumbuh sebagai pohon liar di daerah-daerah dekat pantai. Tetapi, secara khusus

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Mindi

Pohon Kayu Bercorak Indah Sebagai negara beriklim tropis, Indonesia kaya akan jenis tumbuh-tumbuhan. Salah satu tumbuhan unik yang dapat tumbuh di wilayah Indonesia adalah mindi. Pohon yang memiliki persebaran alami di India dan Burma serta banyak ditanam di daerah tropis dan sub tropis itu, di Indonesia banyak ditanam di daerah Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan Irian Jaya. mindi tumbuh dengan subur di tanah berdrainase baik, dengan spesifikasi tanah yang dalam, tanah liat berpasir, dan pohon ini toleran terhadap tanah dangkal, tanah asin serta basa.

Kayu Bercorak Indah Mindi adalah pohon yang bercabang banyak dan kulit batangnya berwarna coklat tua. Batangnya berbentuk silindris dan tidak berbanir. Kulit batangnya berwarna abu-abu coklat, beralur membentuk garis-garis, dan bersisik. Daunnya majemuk menyirip ganda yang tumbuh berseling dengan panjang 20-80 cm, sedangkan anak daunnya berbentuk bulat telur bergerigi dan berwarna hijau tua di bagian permukaan atas. Bunganya majemuk, dalam malai yang panjangnya 10-20 cm, yang keluar dari ketiak daun. Panjang malai 10-22 cm, dan berkelamin

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

dua, yaitu bunga jantan dan betina terletak di satu pohon yang sama. Daun mahkotanya berjumlah 5, panjangnya 1 cm, warnanya ungu pucat, dan berbau harum. Buahnya berjenis buah batu, dan jika masak warnanya coklat kekuningan. Kayu pohon mindi juga menjadi salah satu bahan baku utama untuk industri mebel. Sebagai bahan baku mebel, kayu mindi sudah terbukti berkualitas baik. Itu sebabnya, kayu mindi kerap dijadikan bahan baku utama bagi produk mebel untuk kebutuhan ekspor maupun domestik. Kayu mindi menjadi salah satu bahan baku utama produk mebel, karena dinilai memiliki sifat yang sesuai untuk mebel, yaitu kayunya bercorak indah, mudah dikerjakan, termasuk kelas kuat III-II, dan dapat mengering tanpa cacat. Mebel berbahan baku kayu mindi dapat terdiri dari kayu utuh atau

merupakan kombinasi antara kayu utuh dan panel kayu yang dilapisi vinir mindi. Produk lantai kayu biasanya berupa parket atau mozaik. Bahan baku untuk lantai mindi yang berupa parket merupakan kayu lapis indah (multipleks) dan berupa produk perekatan terdiri dari 3 lapis kayu gergajian atau bagian bawah vinir, sedangkan bagian atas dan tengah berupa kayu gergajian. Saat ini, kayu gergajian mindi setebal 5 mm dipakai untuk bagian atas lantai parket 3 lapis dan produknya di ekspor. Di sisi lain, kayu mindi yang berukuran kecil dapat juga digunakan sebagai bahan untuk membuat barang kerajinan. Semua manfaat itu tentu tak lepas dari corak kayu mindi yang memang indah. Kayu teras berwarna merah coklat muda semusemu ungu, gubal berwarna putih kemerah-merahan dan mempunyai

DUTA Rimba 77


ENSIKLORIMBA batas yang jelas dengan kayu teras. Serat lurus atau agak berpadu, serta berat jenis rata-rata 0,53. Kayu mindi tergolong kelas kuat III-II dan kelas awet IV- V. Artinya, kayu mindi setara dengan mahoni, sungkai, meranti merah,. Penyusutan dari keadaan basah sampai kering tanur 3,3% (radial) dan 4,1% (tangensial). Pengeringan alami, pada papan tebal 2,5 cm dari kadar air 37% sampai 15% memerlukan waktu 47 hari, dengan kecenderungan pecah ujung dan melengkung. Pengeringan dalam dapur pengering dengan bagan pengeringan yang dianjurkan adalah dalam kisaran suhu 60° – 80° dengan kelembaban nisbi 80-40%. Selain diambil kayunya, pohon mindi juga memberikan kegunaan yang lain. Daun dan biji mindi telah dilaporkan dapat digunakan sebagai pestisida nabati. Sebab, kandungan bahan aktif mindi sama dengan mimba (Azadirachta indica), yaitu azadirachtin, selain,  dan meliantriol. Namun, kandungan bahan aktifnya lebih rendah dibandingkan mimba, sehingga efektivitasnya lebih rendah pula. Ekstrak daun mindi dapat pula digunakan sebagai bahan untuk mengendalikan hama termasuk belalang. Selain daun, kulit mindi juga bermanfaat. Ia dipakai sebagai penghasil obat untuk mengeluarkan cacing usus. Selain itu, kulit daun dan akar mindi juga telah digunakan sebagai obat rematik, demam, bengkak, dan radang. Suatu glycopeptide yang disebut meliacin diisolasi dari daun dan akar mindi berperan dalam menghambat perkembangan beberapa DNA dan RNA dari beberapa virus misalnya virus polio.

Perjalanan Tanaman Secara morfologi, mindi memiliki batang silindris, tegak, tidak berbanir;

78 DUTA Rimba

kulit batang (papagan) abu-abu coklat, beralur membentuk garisgaris, dan bersisik. Pada pohon yang masih muda kayu mindi memiliki kulit licin dan berlentisel; kayu gubal putih pucat; kayu teras coklat kemerahan. Daun majemuk ganda menyirip ganjil, anak daun bundar telur atau lonjong, pinggir helai daun bergerigi. Bunga majemuk malai, pada ketiak daun, panjang malai 1022 cm, warna keunguan, berkelamin dua (biseksual) atau bunga jantan dan bunga betina pada pohon yang sama. Buah bulat atau jorong, tidak membuka, ukuran 2-4 cm x 1-2 cm, kulit luar tipis, licin, berkulit kering keriput kulit dalam keras, buah muda berwarna hijau, buah masak berwarna kuning, dan dalam satu buah umumnya terdapat 4-5 biji. Biji kecil 3,5 x 1,6 mm, lonjong, licin, warna coklat, biji kering warna hitam. Tanaman mindi mengalami musim berbunga dan berbuah berbeda-beda, tergantung tempat tumbuhnya. Di setiap tempat tumbuhnya, musim berbunga dan berbuah mindi jatuh di saat yang berbeda. Tanaman di Jawa Barat, berbunga di bulan Maret sampai Mei. Di Jawa Timur, mindi berbunga dan berbuah di antara bulan Juni hingga Nopember, di NusaTenggara Barat hal itu terjadi dalam bulan September dan Juni. Secara umum, buah mindi masak saat bulan Juni, Agustus, Nopember, dan Desember. Esktraksi biji dilakukan dengan merendam buah dalam air selama 1 sampai 2 hari, kemudian biji dibersihkan dan dikeringkan di tempat teduh. Dari setiap kilogram, didapat biji kering berjumlah sekitar 3000 butir. Penyimpanan biji dilakukan dengan memasukan biji ke dalam wadah yang tertutup rapat, disimpan di ruang dingin (suhu 3° - 5° C). Daya kecambahnya berkisar 80% selama satu tahun dan turun 20% setelah

lima tahun. Di Jawa Barat, musim berbunga mindi berlangsung di bulan Maret hingga Mei. Di Jawa Timur, bulan Juni sampai November menjadi musim berbunga bagi mindi. Sedangkan mindi di Nusa Tenggara Barat berbunga pada bulan Juni dan September. Sedangkan musim berbuah bagi tanaman mindi terjadi pada Juni, Agustus, November, dan Desember. Untuk pengadaan bibit mindi secara generatif (menggunakan biji), lebih dulu perlu menghilangkan dormansi kulit biji. Pola menghilangkan dormansi kulit biji yang dapat menghambat perkecambahan, dilakukan dengan cara membuang kulit dalam dari buah. Cara lain adalah dengan merendam biji di dalam air bersuhu 80° C selama 30 menit. Penaburan biji dilakukan di persemaian yang tidak dinaungi. Biji ditutup tanah atau serasah tipis. Setelah kecambah mencapai tinggi 2 – 4 cm, ia dapat dipindah ke kantong plastik berukuran 200 - 300 ml yang berisi tanah lapisan atas (top-soil). Bibit kemudian dipelihara di pesemaian sampai tingginya mencapai 20 - 30 cm. Bibit siap tanam pada umur 4 bulan sampai 6 bulan. Apabila akan menggunakan bibit yang berupa stump, pola pembibitannya dibuat dengan memotong batang dan akar tunggang, masing-masing berukuran 20 cm dan diameter leher akar stump sebaiknya antara 1 - 1,25 cm. Sedangkan perbanyakan tanaman secara vegetatif dapat dilakukan dengan membuat stek batang. Pemberian hormon indole butiric acid (IBA) dengan dosis 50 ppm pada stek mindi dapat meningkatkan keberhasilannya. Setelah pembibitan berjalan, proses penanaman menjadi rangkaian selanjutnya. Penanaman

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


dan hipertensi. Namun, kulit akar tumbuhan ini bersifat beracun dan bisa merangsang muntah. Menurut penelitian, sifat antelmintik (menghilangkan cacing) tanaman mindi bekerja lebih lama ketimbang santonin. Selain itu, infus kulit kayu tumbuhan ini membuat cacing kremi dari tikus lumpuh. Toosendanin tumbuhan ini juga menimbulkan depresi pernafasan. Manfaat lain, yaitu tanaman mindi ketika kecil sering menggantikan

mimba. Tapi, manfaat mimba sendiri lebih luas ketimbang mindi. Kandungan bahan aktif pada daun mindi adalah flavone glicoside, quercitrin, dan kaemferol. Selain itu, daun tumbuhan ini juga mengandung protein yang tinggi yang bersifat insektisidal dan bersifat penolak terhadap nematoda. Mindi kecil juga terbukti dapat menekan penyakit bengkak akar yang disebabkan oleh Meloidogyne spp pada tanaman tomat. • DR

Dok. Humas PHT

di lapangan harus dilakukan setelah areal dibuka bersih, dicangkul sampai kedalaman 30 cm. Penanaman bibit dilakukan sebatas leher akar. Bibit dibuka dari wadahnya, dengan memerhatikan agar tidak boleh ada akar yang terlipat. Jarak tanam mindi dapat berkisar pada 2 m x 2 m atau 2 m x 3 m. Setelah proses pembibitan selesai, yang selanjutnya adalah pemupukan sebagai bagian dari proses pemeliharaan tanaman yang perlu dilakukan. Penyiangan gulma dilakukan beberapa kali pada tahun pertama dan kedua. Setelah tanaman berumur 3 tahun, dilakukan penjarangan dengan meninggalkan 400 batang per hektar. Lalu ketika tanaman tersebut berusia 6 tahun, dilakukan lagi penjarangan tanaman sampai jumlah pohon setiap hektar menjadi 200 batang. Pohon mindi mudah diserang penggerek pucuk Hypsipyla robusta Moore dan batangnya kadang-kadang diserang kumbang ambrosia Xleborus ferrugineus. Hal itu mengakibatkan kualitas kayunya menurun. Maka, aneka hama itu perlu dikendalikan. Pengendalian hama penggerek pucuk dapat dilakukan dengan tindakan silvikultur, antara lain dengan menggunakan bibit tanaman yang tahan serangan hama. Dapat pula dengan membuat hutan tanaman campuran. Cara lain untuk memberantas hama adalah dengan menyuntikkan insektisida Nuvacron  20SCW, Dimecron 50 SCW, dan Gusadrin 15 WSC setelah batangnya ditakkik.

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan : Plantae

Kandungan dan Manfaat

Divisi : Magnoliophyta

Kulit batang dan kulit akar mindi kecil mengandung toosendanin, margoside, kaemferol, resin, tannin dan trirterpene kulinone. Sehingga, mindi dapat digunakan untuk menyembuhkan cacingan

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Sapindales

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

Famili : Meliaceae

Genus : Melia

Spesies : M. azedarach

DUTA Rimba 79


Dok. ISTIMEWA

RIMBADAYA

80 DUTA Rimba

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Budi Daya

Gurami

Sang Pendidik Ada kata-kata bijak yang menyebut “pada akhirnya bakat hanya berperan satu persen saja dalam menunjang keberhasilan seseorang, sembilan puluh delapan persen adalah kerja keras dan kegigihan, satu persen lagi adalah doa”. Banyak kisah sukses entrepreneur juga diwarnai cerita tentang kegigihan itu. Ini satu lagi cerita keberhasilan yang dipenuhi kegigihan dan kerja keras.

K

ebumen. Sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang secara geografis terletak pada posisi 7°27’ - 7°50’ Lintang Selatan dan 109°22’ 109°50’ Bujur Timur. Pemandangan alam di daerah ini cukup indah. Bagian selatan Kabupaten Kebumen merupakan dataran rendah, sedangkan pada bagian utara berupa daerah pegunungan. Pegunungan yang mengelilingi

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

bagian utara Kabupaten Kebumen tersebut merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan Serayu. Keindahan yang terbentuk secara alamiah di sekitar Kabupaten Kebumen juga terlihat di sekitar pantainya. Di selatan daerah Gombong, misalnya, terdapat rangkaian pegunungan kapur yang membujur hingga ke pantai selatan. Di daerah ini terdapat sejumlah gua dengan rangkaian stalagtit dan stalagmit yang memesona.

DUTA Rimba 81


Dok. Humas PHT

RIMBADAYA

Bukan hanya pemandangan alam. Kebumen juga menjanjikan peosna wisata kuliner. Banyak makanan khas Kabupaten Kebumen yang terkenal hingga ke luar daerah. Misalnya sate ambal. Banyak wisatawan lokal maupun dari luar daerah yang datang untuk mencicipi penganan yang satu ini. Selain sate ambal, hidangan Ikan Gurami dari Kebumen juga terkenal akan kelezatannya. Nah, bahan baku utama hidangan ini tentu saja ikan gurami. Jenis ikan air tawar ini banyak dipelihara penduduk sebagai salah satu mata pencaharian mereka. Dan banyak varian usaha yang lalu dikembangkan terkait peternakan ikan gurami. Salah satunya adalah usaha budi daya pembesaran ikan gurami (Osphronemus goramy). Dan salah satu peternak ikan gurami yang berhasil di Kebumen adalah Nazir. Uniknya, selain beternak ikan gurami, Nazir juga menekuni profesi yang mulia, yaitu seorang pendidik. Ia adalah guru sekolah dasar.

Mulai dari Bawah Sehari-hari, Nazir menjalani profesi sebagai guru di salah satu

82 DUTA Rimba

sekolah dasar yang letaknya cukup dekat dengan tempat wisata Gua Jatijajar, Kabupaten Kebumen. Lokasi wisata ini terkenal dengan Legenda Lutung Kasarung. Selain sebagai pengajar, Nazir juga memiliki jiwa pengusaha yang cukup kental. Hal itu ia tunjukkan dengan secara aktif menggeluti usaha budi daya pembesaran ikan gurami sejak tahun 1995. Usaha ini benar-benar ia rintis dari bawah. Bahkan bisa dikatakan dari nol. Kegigihan Nazir dalam berwirausaha membuat usaha budi daya pembesaran ikan gurami miliknya bertahan hingga bertahuntahun. Bahkan, hempasan badai krisis moneter yang melanda negeri ini di tahun 1997-1998 tak lantas menyurutkan budi daya ikan miliknya. Bapak dua putra ini juga tidak tergoda dengan usaha budi daya ikan jenis lain, meskipun hasil budi daya pembesaran ikan gurami ini baru bisa dinikmati setiap enam bulan sekali. Tetapi, hasilnya dirasakan cukup lumayan untuk menambah penghasilan. Berbekal pengalaman dan kegigihan berwirausaha, di tahun 2008 Nazir berniat lebih

membesarkan usahanya. Ia pun memberanikan diri mengajukan pinjaman Program Kemitraan ke Perhutani Kedu Selatan. Dengan menggunakan nama LMDH Mulya Jati, pinjaman modal sebesar Rp 10.000.000 (sepuluh juta rupiah) pun ia raih. Tanpa proses berbelit dan jalan yang lumayan mudah, setelah tiga bulan pengajuan dana pinjaman lunak PKBL tersebut pun cair. Modal tersebut ia gunakan untuk menambah jumlah kolam ikan dan kebutuhan lainnya. Dari uang tersebut Nazir membelikan 300 kg bibit ikan gurami untuk dikembangkan. Setelah itu, Nazir yang kebetulan juga dipercaya sebagai Ketua LMDH Mulya Jati, lalu mengajak 10 dari 150 orang anggota Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) untuk mengelola kolam ikan gurami seluas kurang lebih 200 m2.

Harga Lebih Baik Nazir sengaja memilih usaha budi daya ikan gurami karena harga jual ikan gurami dipandang masih lebih baik ketimbang harga jual ikan jenis lainnya, semisal budi daya ikan lele. Selain itu, biaya pemeliharaan

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


ikan gurami relative lebih bisa ditekan. Misalnya dari segi pakan ikan gurami, harganya relatif bisa ditekan, karena makanan pokok ikan gurami yang berupa pelet tersebut dapat dicampur dengan daun talastalasan yang banyak tumbuh liar di dalam kawasan hutan Perhutani Kedu Selatan. Hitung-hitung memanfaatkan semua sumber daya yang ada di sekeliling. Satu yang menarik, Nazir tak perlu menjajakan ikan hasil budidayanya dengan mendatangi pembeli, karena para pembeli yang datang sendiri kepadanya. Ya, Nazir mengaku tidak sempat menawarkan ikan-ikan gurami yang sudah siap panen tersebut karena justeru para pedagang dari berbagai macam kota di sekitar Kebumen yang sudah berdatangan ke tempatnya saat panen tiba. Tetapi kebanyakan pembeli ikan guraminya berasal dari Banyumas, Kebumen, dan Cilacap. Antusiasme para pembeli ikan gurami tersebut terbilang tinggi, karena ikan gurami itu termasuk jenis ikan kegemaran masyarakat sekitar. Hidangan ikan gurami dapat dikenali dari dagingnya yang terkenal dengan tekstur yang padat, duri

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

Dok. Humas PHT

Harga jual yang relatif lebih baik ketimbang ikan jenis lain membuat Nazir dapat menangguk untung lumayan besar setiap kali panen gurami.

yang besar, rasanya yang gurih, serta mudah diolah dengan campuran berbagai macam bumbu. Harga jual yang relatif lebih baik ketimbang ikan jenis lain membuat Nazir dapat menangguk untung lumayan besar setiap kali panen gurami. Nazir mengaku, setiap kali panen ia bisa mendapatkan 450 kg ikan gurami dan dari sana ia pun dapat mengantungi pendapatan bersih hingga sekitar Rp 3.000.000 sampai dengan Rp 5.000.000 setiap kali panen. Namun, bukan berarti jalan selalu mulus. Nazir mengatakan, usaha budi daya ikan gurami yang ia jalankan tak luput dari risiko. Risiko yang diakibatkan faktor cuaca, misalnya musim penghujan yang turun dengan intensitas tinggi, membuat dia terkadang mendapati ikan guraminya terjangkit penyakit kulit semacam koreng. Untuk itu, Nazir secara intensif selalu memberikan pakan pelet dengan campuran daun talas dan sayuran yang bermanfaat bagi kesehatan dan pertumbuhan ikan gurami. Serta terus memantau pertumbuhan ikanikan gurami tersebut. Selain itu, setiap kali habis panen,

dia bersama anggota LMDH yang lain rajin membersihkan lumpur yang mengendap di dasar kolam. Kemudian, sebelum diisi air, kolam diberi kapur untuk menyeimbangkan PH air sebagai bagian dari proses persiapan kolam ikan. Setelah pengisian air, masih harus menunggu hingga 15 hari baru bibit ikan gurami dimasukkan ke kolam. Hal itu untuk menumbuhkan makanan alami semisal plangton dalam jumlah yang cukup. Sesudah itu, baru kemudian bibit ikan gurami dimasukkan ke dalam kolam. Nazir mengatakan, ia sangat menikmati profesinya sebagai guru sekaligus berwirausaha. Semua ia jalani dengan suka hati. Tak heran, setiap hari setelah menjalankan tugas mengajarnya di sekolah, dia selalu menyempatkan diri untuk merawat ikan guraminya setiap hari. Toh Nazir tetap punya harapan untuk masa depan. Ia mempunyai cita-cita untuk menambah jumlah kolam ikan, sehingga akan semakin banyak jumlah anggota LMDH Mulya Jati yang dapat direkrutnya. Tak lupa, Nazir pun menyelipkan harap untuk mendapatkan pinjaman kembali dari Perhutani Kedu Selatan. Salut! • DR

DUTA Rimba 83


BISNISRIMBA

Madu Perhutani Hai-hai Apa Kabar?

Dok. Humas PHT

Apakah yakin dengan merk dagang satu ini atau "happy" banyak merk dagang di satu industri.

84 DUTA Rimba

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


S

ecara medis, madu memang tidak digolongkan sebagai obat. Tetapi, dunia kedokteran juga sepakat bahwa madu mengandung manfaat yang besar bagi kesehatan tubuh manusia. Besarnya manfaat madu bagi kesehatan manusia itu juga disebutkan dalam kitab suci. Misalnya, Al Qur’an dalam surat An Nahl ayat 69 menyebutkan manfaat madu. Sebuah hadist Nabi Muhammad SAW juga menyebutkan manfaat cairan manis yang diproses oleh lebah itu bagi kesehatan. Di Indonesia, jenis lebah yang paling banyak digunakan sebagai penghasil madu adalah Apis cerana (lebah lokal), Apis mellifera (lebah Eropa), dan Apis dorsata (lebah hutan). Di Perum Perhutani, ketiga jenis lebah itu juga dibudidayakan. Pembudidayaannya dilakukan di Pusat Perlebahan Nasional. Pusat Perlebahan Nasional lebih dikenal dengan singkatan Pusbahnas. Ia merupakan sebuah lembaga bergengsi yang didirikan tahun 1987. Saat ini, Pusat Perlebahan Nasional Perum Perhutani memiliki 60 koloni lebah madu dari tiga jenis lebah tersebut. Khususnya di Indonesia, setidaknya ada dua pusat perlebahan yang berskala nasional, yaitu Pusbahnas Perum Perhutani dan Apiari Pramuka Cibubur. Menurut Asisten Manajer Pengolahan Produksi Madu Pusbahnas Perum Perhutani, Heri Hermawan, selain sebagai pusat pembudidayaan lebah madu, Pusbahnas juga difungsikan sebagai pusat penyuluhan perlebahan untuk seluruh Indonesia. “Tetapi secara alamiah, produksi madu ini musiman. Tergantung musim. Hal itu disebabkan pakan lebah yang merupakan bunga itu juga ada musimnya. Biasanya masa panen madu ini terjadi di bulan Mei hingga

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

Oktober-November,” ujar Heri. Lokasi Pusbahnas berada di Jl Raya Parungpanjang-Bunar Km 15, Bogor, Jawa Barat. Orang sering salah menyebutkan tempat Pusbahnas ini sebagai Parung (tanpa panjang). Parung berada lebih dekat dengan Bogor. Sedangkan Parungpanjang sudah mengarah ke arah Tangerang. Untuk menuju Pusbahnas, jalan terdekat dari Jakarta dapat ditempuh lewat Bitung atau Karawaci (Tangerang), sedangkan jika dari arah Bogor, melewati jalan ke arah Darmaga Leuwiliang - Jasinga (Bunar). Produk-produk yang dikeluarkan oleh Pusbahnas Perum Perhutani adalah madu murni, madu plus, dan madu propolis super. Madu-madu tersebut diperoleh dari hasil budi daya lebah yang mereka lakukan dan hasil pembelian madu dari masyarakat. Pembelian madu dari masyarakat ini sebagai salah satu kewajiban bapak angkat di bidang pemasaran. “Madu Murni dikemas dalam kemasan berisi 650 ml dan 220 ml. Jenis madu murni ini adalah randu, kelengkeng, duwet, rambutan, bunga liar, mangga, kaliandra, madu hutan, dan lain-lain. Jenis-jenis madu itu didapat dari jenis pakan untuk lebah penghasilnya, yaitu bungabunga dari pohon-pohon tersebut. Sedangkan madu plus adalah madu yang ditambah pollen dan royal jelly. Ada dua pilihan produk madu plus, yaitu 3 in 1 Standar dan 3 in 1 Super. Dan madu propolis super adalah produk madu yang ditambah propolis, royal jelly, dan pollen,” urainya.

Madu Unggul Madu adalah cairan manis yang berasal dari nectar tanaman yang kemudian diproses oleh lebah-lebah pekerja menjadi madu. Para lebah pekerja itu mengumpulkan dan

Heri Hermawan Asisten Manajer Pengolahan Produksi Madu Pusbahnas Perum Perhutani.

menyimpan madu tersebut dalam sel-sel sarang lebah. Bagi para lebah, madu digunakan sebagai sumber karbohidrat. Madu murni produksi Pusbahnas Perum Perhutani adalah madu yang memenuhi syarat mutu SNI 1994 melalui uji laboratorium, antara lain kadar air yang maksimal 22%, gula pereduksi minimal 65%, sukrosa maksimal 5%, keasaman maksimal 50 ml N.NaOH per kg, HMF maksimal 40 mg per kg, aktivitas enzim diatase minimal 3 DN. Madu mengandung beberapa komponen penyusun. Komponen penyusun madu adalah air, gula (glukosa, fruktosa, maltosa, sukrosa), mineral (Ca, Na, P, Fe, Mg, Mn), vitamin (B1, B2, B5, B6, C), dan enzim diatase. Heri Hermawan juga menyebut, rasa, aroma, dan warna, menentukan kualitas madu. Madu murni kadang bisa mengkristal atau disebut granulasi. Hal ini tergantung jenis tanaman yang diambil lebah yang bersangkutan, dan dapat semakin cepat terjadi pada suhu rendah. Tetapi, kendati telah mengkristal, kualitas madu tersebut masih terjamin. Sebab, kandungan gizi, vitamin, serta aktivitas enzimnya

DUTA Rimba 85


Dok. Humas PHT

BISNISRIMBA

masih terjadi. Pengkristalan madu murni tersebut dapat dicegah dengan menghangatkan madu pada suhu sekitar 60 derajat celcius, sambil diaduk dengan posisi tutup botol terbuka, tanpa merusak kualitas madunya. Cara lain adalah dengan langsung menyeduh madu tersebut dengan air sehingga menjadi minuman madu. Tetapi, air untuk menyeduh madu jangan terlalu panas, di atas 60 derajat celcius. Sebab, air panas di atas 60 derajat celcius justeru akan dapat merusak madu tersebut dan menghilangkan zat-zat penting yang terkandung di dalamnya. Selain meningkatkan stamina, madu sebagai makanan kesehatan juga bersifat anti bakteri dan anti cendawan. Penggunaan madu untuk kosmetika juga sangat baik untuk perawatan kulit, serta mengencangkan dan menghaluskan kulit. Produk madu yang dibudidayakan Pusbahnas Perum Perhutani dapat dikatakan sebagai produk unggul. Apalagi, madu tersebut dilengkapi oleh pollen, royal jelly, maupun propolis.

86 DUTA Rimba

Pollen adalah serbuk sari bunga yang diambil oleh kaki lebah pekerja dan diletakkan di dalam pollen basket. Pollen tersebut kemudian disimpan pada sel-sel sarang lebah sebagai sumber protein. Rata-rata komposisi pollen adalah 20% protein, 27% karbohidrat, 5% lemak, 11% air, 3% mineral, serta vitamin. Royal jelly adalah cairan berupa jelly atau krim yang disekresikan oleh lebah pekerja muda dari bahan baku madu dan pollen. Royal jelly ini digunakan oleh lebah sebagai makanan khusus bagi larva calon ratu lebah. Karena merupakan makanan bagi ratu lebah itulah asal nama royal jelly. Rata-rata komposisi royal jelly adalah 50% protein, 25% karbohidrat, 16% lemak, 2% mineral, dan R-faktor (kandungan yang lainlain) sejumlah 7 %. Royal jelly merupakan bahan katalis untuk menjaga keseimbangan metabolisme tubuh, meningkatkan kecerdasan, serta sangat baik untuk merawat kesehatan kulit dan kecantikan. Royal jelly juga bermanfaat sebagai stimulasi bagi penderita kelelahan atau depresi. Royal jelly juga sangat direkomendasikan untuk

dikonsumsi oleh wanita hamil. Sedangkan propolis adalah sejenis lem atau perekat yang berbahandasar kulit pohon atau getah pohon yang dicampur dengan air liur lebah. Propolis ini digunakan untuk menambal lubang dalam sarang lebah dan sekaligus juga untuk melindungi sarang lebah dari serangan virus, bakteri, dan jamur. Propolis mengandung bioflavonoid atau zat antioksidan yang mengandung mineral, mengandung 16 rantai asam amino esensial, dan juga mengandung semua vitamin kecuali vitamin k. Salah satu keunggulan produk madu Pusbahnas adalah sistem pengolahannya yang tidak ditemukan di tempat lain. Sehingga, produk bermerek “Madu Perhutani� yang mereka lepas ke pasaran itu dijamin benar-benar madu asli yang alami. Pusbahnas juga memberi kesempatan masyarakat yang ingin mendapatkan keterangan lebih lanjut tentang madu untuk menghubungi mereka di pesawat telepon (0251) 7163025.

Perlu Edukasi Berada di Pusbahnas dapat

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Seringkali masyarakat ragu untuk mengonsumsi madu karena khawatir madu yang akan mereka konsumsi itu tidak murni.

kita akan lebih sehat dan itu yang penting, karena nikmat kesehatan adalah rahmat yang bernilai tinggi, melebihi dari harta benda apa pun yang ada di dunia.

Dok. Humas PHT

Tren di Masa Depan

menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan. Sebab, lokasinya jauh dari kebisingan dan kepadatan lalu lintas kota. Sambil menyaksikan aktivitas para karyawan yang tengah memproses madu, minuman madu, dan lain-lain, kita akan mendengar desau semilir angin dan sesekali dengung lebah Apis cerana dan Apis mellifera. Jika tepat waktunya, kita juga akan dapat menghirup harum bunga akasia mangium. Sehingga, berkunjung ke Pusbahnas Perum Perhutani dapat menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Hal ini menjadikan Pusbahnas berpotensi juga untuk menjadi lokasi wisata edukasi untuk masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa. Di masa depan, potensi wisata edukasi tersebut layak juga untuk ditindaklanjuti. Wisata edukasi menjadi sebuah potensi tersendiri. Sebab, kendati manfaat madu sangat besar bagi kesehatan tubuh manusia, tetapi banyak masyarakat yang masih belum paham akan manfaatnya, bahkan ragu untuk mengonsumsinya. Sehingga, menurut Heri Hermawan, pasar madu produksi Pusbahnas Perum Perhutani ini menjadi segmented. Pasar madu hingga saat ini memang belum sampai menguasai segmen pasar umum.

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

Umumnya, segmentasi pasar madu adalah kalangan masyarakat yang berpendidikan. “Seringkali masyarakat ragu untuk mengonsumsi madu karena khawatir madu yang akan mereka konsumsi itu tidak murni. Sebab, harga madu seringkali bervariasi antara satu merek dengan merek yang lainnya. Sebenarnya, harga yang berbedabeda itu karena beberapa faktor. Antara lain sebabnya adalah karena panen madu ini musiman. Sehingga, ketika sedang panen harga bahan bakunya bisa murah dan sebaliknya jika sedang tidak musim panen harganya bisa mahal. Hal itu yang kerap menjadikan harga madu itu turun-naik. Selain itu, orang sering ragu untuk mengonsumsi madu karena banyak di antara masyarakat yang masih belum memahami apa saja kandungan gizi madu, sehingga belum tahu juga betapa besar manfaat madu bagi kesehatan. Nah, karena itu masyarakat memang perlu untuk diedukasi agar pemahamannya meningkat,” urai Heri. Perlu juga menjadikan perhatian bagi masyarakat bahwa membeli madu tidak selalu berarti menambah pengeluaran. Tetapi, membeli madu dapat juga berarti menghemat pengeluaran dalam jangka panjang. Sebab, dengan mengonsumsi madu

Saat ini, pemasaran madu dari Pusbahnas Perum Perhutani selain melalui agen, juga dengan membuka sendiri outlet madu. Outlet madu ini dimiliki dan dikelola sendiri (company owned company operated). Saat ini terdapat 14 outlet penjualan madu dan minuman madu Perhutani yang terdapat di wilayah Provinsi Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta. Lokasinya antara lain terdapat di Bandung, Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, Cirebon, Cianjur, dan Sumedang. Heri Hermawan menuturkan, di masa depan tren madu akan semakin meningkat. Hal itu seiring dengan kian banyaknya kompetitor Perhutani dalam hal produk madu. Baik dari dalam negeri sendiri maupun luar negeri. Misalnya Thailand yang menghasilkan banyak produk madu kelengkeng. Tren madu juga berkisar pada madu kelengkeng dan randu. Dua produk madu tersebut juga menjadi salah satu produk madu Perhutani yang unggul. Artinya, “Madu Perhutani” merupakan produk potensial yang bernilaijual tinggi. Bukan hanya penjualan produknya saja tetapi juga potensi wisata edukasinya yang cukup besar. Potensi yang besar tersebut selanjutnya perlu disikapi dengan strategi promosi yang tepat. Bidang produksi dan promosi perlu saling melengkapi satu sama lain. Ditambah dengan rumusan pola edukasi bagi masyarakat. Sehingga, semakin banyak masyarakat yang paham akan manfaat besar madu bagi kesehatan dan tingginya kualitas madu murni Perhutani. Hmm… • DR

DUTA Rimba 87


WISATARIMBA

Keindahan yang Alami

Dok. Humas PHT

di Pantai Sowan

W

anawisata Sowan merupakan lokasi wisata dengan obyek utama berupa pantai pasir putih yang alami dengan pemandangan landscape laut. Wanawisata Pantai Sowan berada di wilayah kerja Perhutani KPH Jatirogo. Luas wanawisata pantai dengan ciri khas hamparan pasirnya yang putih dan bersih itu adalah sekitar 17 hektar. Tetapi, bukan hanya pasir putih yang alami dan bersih itu saja yang

88 DUTA Rimba

bisa dinikmati di Pantai Sowan. Di sana juga terdapat pemandangan alam sekitar yang berupa hamparan rumput dan hutan trembesi, serta dinding karang yang menjorok ke laut. Sajian tersebut mengesankan pemandangan alam yang “perawan” sehingga seakan memanjakan mata wisatawan yang datang. Perhutani juga masih memertahankan alaminya pepohonan pantai. Di daerah sekitar pantai terdapat hamparan hutan akasia, klampis, dan mahoni. Kehadiran rangkaian pepohonan itu menjadikan

hawa sejuk yang tepat untuk menemani suasana santai bersama keluarga. Sehingga, setiap wisatawan yang berkunjung bisa dengan santai menikmati keindahan pantai dari bawah rindangnya pepohonan pantai, dengan menikmati semilir angin yang berhembus dari antara dedaunan di Pantai Sowan. Sungguh sebuah relaksasi tersendiri. Hamparan pepohonan yang alami di Pantai Sowan mengiringi hembusan angin laut membuat wanawisata ini tetap terasa sejuk kendati hari telah beranjak siang dan

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Nama resminya adalah Wanawisata Sowan. Nama itulah yang terpampang di pintu gerbang masuk obyek wisata pantai di Tuban, Jawa Timur, itu. Wanawisata yang akrab di kalangan masyarakat dengan nama Pantai Sowan tersebut kini mulai menjadi obyek wisata incaran para wisatawan domestik dari berbagai daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. matahari dengan terik menyorotkan sinarnya. Maka, tak heran jika banyak muda-mudi yang memilih pantai ini sebagai tempat bersantai-ria, terutama di hari Minggu. Lokasi Wanawisata Pantai Sowan terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, tepat di tepi jalur Pantura. Secara administratif, Wanawisata Pantai Sowan terletak di Dusun Sowan, Desa Bogorejo, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur. Dulunya, lokasi ini merupakan TPK Bancar, RPH Sukoharjo, BKPH Bancar, KPH Jatirogo, dengan luas baku 32,0318 hektar. Perjalanan menuju Wanawisata Pantai Sowan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi dan umum. Dari Kabupaten Tuban dan juga Kabupaten Rembang, jaraknya kira-kira 40 km. Bagi wisatawan yang menggunakan kendaraan umum, untuk mencapai lokasi Wanawisata Pantai Sowan sejauh 40 km dari Tuban itu memang cukup jauh, tetapi jarak itu bisa ditempuh dengan mudah. Sebab, kendaraan umum yang menuju lokasi wanawisata itu cukup mudah didapat. Ya, hal itu karena lokasi Wanawisata Pantai Sowan berada tak jauh dari jalur Pantura, tepatnya

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

di Jalan Raya Semarang – Surabaya, dan banyak angkutan umum yang melewatinya. Baik bus jurusan Surabaya-Semarang maupun kendaraan kecil lainnya. Ongkos kendaraan pun cukup terjangkau. Dari Tuban ongkosnya adalah Rp 7.000 dan berhenti persis di depan jalan masuk di lokasi. Sebab, aksesibilitasnya sangat mudah karena jarak dari pinggir jalur Pantura, tempat turunnya penumpang dari kendaraan umum, menuju pintu gerbang lokasi kira-kira hanya 100 meter saja. Di kanan dan kiri jalan beraspal yang dilewati wisatawan untuk sampai ke pintu gerbang itu dipenuhi rimbunnya pepohonan.

Keindahan Alami Selain pesona pantai yang alami, wanawisata ini juga punya potensi sumber daya alam berupa vegetasi yang beraneka ragam. Di antara vegetasi tersebut adalah Mahoni (Swietenia macrophylla), Jati (Tectona grandis), Akacia (Acacia sieberiana), Klampis (Acacia arabica), Kesambi (Scheichera trijuga / S. oleosa), Trembesi (Samanea saman), Mimbo (Azadirachta indica), Ketapang (Terminalia catapa), Randu (Ceiba petandra), Jaranan (Atropa curcas), Srikaya (Annona squamosa), Mangga (Mangifera indica), Kawis

(Limonia acidissima), Asem (Tamarindus indica), Waru (Hibiscus tilliacius), Lamtoro (Leucaena leucephala), Penitian Pakis (Cyathea contaminent), Sonokeling (Dalbergia pinnata), Jambu (Syzygium sp.). Selain ragam flora, menurut Petugas Pengelola Wanawisata Pantai Sowan, Lukman, kita juga dapat menemukan fauna di kawasan Wanawisata Pantai Sowan. Di antaranya adalah Burung perkutut (Gopelia striata), Burung kutilang (Pycnonotus aurigaster), Burung jalak (Leucopsar rothschildi), Burung derkuku (Cocomantis variolopus), Burung cendet (Lanius sp), Burung prenjak (Prinia subflava), Burung gereja (Passer montanus), Burung  puyuh / gemek (Coturnix coturnix), Burung cegir Burung kakak tua putih (Cacatua galerita), Burung trucukan (Pycnonotus goiavier), Burung emprit (Lonchura striata), Burung kepodang (Oriolus chinensis), Musang (Paradoxurus hermaphrodillus), UlarTrenggiling (Manis javanica), Nyambik / biawak (Varanus Indicus). Tak hanya wisata alam yang ada di Pantai Sowan. Juga ada daya tarik sosial budaya masyarakat sekitar. Sebab, masyarakat selalu melakukan tradisi sedekah laut. Tradisi yang dimaksudkan sebagai wujud rasa syukur atas rezeki (panen) yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa ini dilaksanakan setiap tahun setelah panen pada hari Rabu Pahing. Sejak 2006, Wanawisata Pantai Sowan dikelola oleh Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM) Jasa Lingkungan dan Produksi Lainnya Perhutani Jawa Timur. Sebelumnya, Wanawisata Sowan yang memiliki pantai sepanjang 1 kilometer itu dikelola KPH Jatirogo selama tiga tahun. Aktifitas yang dapat pengunjung lakukan di Wanawisata Pantai Sowan adalah sight seeing (menikmati panorama, red),

DUTA Rimba 89


WISATARIMBA

Dok. Humas PHT

Di tepi Pantai Sowan, pengunjung akan disambut oleh puluhan pohon klampis yang berderet menambah sejuk lokasi pantai. outbond, camping, berenang, dan memancing. Bagi pengunjung yang menginginkan untuk bermalam di sana, juga disediakan 2 unit villa yang dapat disewa, dengan kapasitas masing-masing 2 orang. Sedangkan sebagai pendukung kegiatan wisata, di sana disediakan ragam fasilitas, antara lain area bermain,  toilet, mushola, shelter, gerbang, loket, papan penunjuk arah, serta instalasi listrik dan air. Namun, keindahan yang tersaji di Wanawisata Pantai Sowan masih alami. Banyak kesan yang tertangkap dari pengunjung yang telah datang, bahwa pengelolaan Wanawisata Pantai Sowan masih apa adanya. Terutama menyangkut fasilitas bagi pengunjung, mulai dari tempat sholat, tempat istirahat, juga jalan masuk dari pintu gerbang sampai ke tepi pantai yang masih belum memadai. Pengunjung yang baru pertama kali datang ke wanawisata ini mungkin akan mengalami kesulitan, karena papan penunjuk bertuliskan masuk ke Wanawisata Sowan masih sangat sederhana, bahkan cenderung seadanya. Penunjuk arah tersebut berupa papan biasa yang diberi tulisan cat minyak. Berbagai fasilitas yang ada, masih memanfaatkan bangunan lama yang dulunya merupakan fasilitas

90 DUTA Rimba

penunjang lokasi tempat penimbunan kayu (TPK) produksi kawasan hutan di Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Jatirogo. Ini merupakan pekerjaan rumah yang harus segera ditindaklanjuti, agar Wanawisata Pantai Sowan dapat berkembang menjadi lokasi wisata yang kian menarik wisatawan untuk datang. Di tepi Pantai Sowan, pengunjung akan disambut oleh puluhan pohon klampis yang berderet menambah sejuk lokasi pantai. Setiba di bibir pantai, pengunjung bisa dudukduduk di bangku beton menikmati semilir angin laut, atau menikmati suasana rehat yang santai di rumah istirahat yang disediakan di lokasi setempat, sambil menikmati keindahan laut dan pantai yang alami. Pengunjung yang senang berkemah juga bisa memanfaatkan kawasan setempat sebagai lokasi berkemah. Lokasi kemah wanawisata ini menjanjikan pemandangan alam yang indah. Apalagi, di sore hari para wisatawan bisa menikmati indahnya semburat cahaya di langit saat sang mentari tenggelam ke peraduannya. Ah...

Berbeda dari Pantai Lain Pantai Sowan memang menjanjikan panorama dan suasana yang berbeda ketimbang pantai lain.

Berada di Pantai Sowan, pengunjung tidak saja bisa menikmati panorama ala pantai dengan banyak perahu dan aktifitas nelayannya. Tetapi juga menekuni kontur tanah di sekitar pantai yang bergelombang seperti bukit-bukit kecil. Apalagi, di tanah berkontur itu juga banyak terdapat pohon dengan jenis tertentu yang oleh warga setempat disebut dengan nama Tapis. Banyak warga setempat yang kerap memetik buah Tapis dengan galah. Bentuk buah Tapis itu seperti asam. Warga banyak mengambil buah Tapis, karena ternyata bisa bermanfaat sebagai campuran untuk sayuran. Caranya dengan mengumpulkan dan mengecambahkan biji Tapis yang telah kering. Kecambah biji Tapis yang disebut Ale itu kemudian dimasukkan ke dalam sayuran untuk memberi sensasi rasa tertentu yang nikmat. Ale itu sendiri biasa dijual di pasar setempat dengan harga Rp 8000 per kilogram. Di bulan-bulan tertentu, banyak warga di sekitar pantai Sowan yang turun ke bibir pantai untuk memanen tumbuhan laut semacam ganggang yang berwarna hijau. Tumbuhan laut itu dipanen untuk digunakan sebagai lalapan atau keperluan lainnya. Berbeda pula dari kebanyakan

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Dok. Humas PHT

pantai yang menjadi lokasi wisata, suasana di sekitar Pantai tampak hijau dan asri. Di tengah semilirnya hembusan angin dan di bawah naungan hijau pepohonan, para wisatawan dapat merasakan betapa sangat mengasyikkannya dapat menikmati wisata alami di pantai yang berombak tenang ini. Apalagi, di antara hampatan pasir putih di pantai ini, juga terdapat banyak bongkahan batu besar berwarna oranye yang semakin menambah pesona keindahannya. Karena pesona alam dan lingkungannya yang indah dan masih alami itu menjadikan Pantai Sowan ini tampak berbeda dengan pantaipantai lainnya, terutama yang ada di Tuban.

Terus Meningkat Belakangan, hamparan pasir putih di Wanawisata Pantai Sowan dirasakan semakin berkurang. Hal itu disebabkan penambangan pasir laut yang dilakukan masyarakat di sejumlah lokasi yang terdapat di sekitar Pantai Sowan. Hal ini hendaknya perlu juga menjadi perhatian pemerintah daerah. Sebab, sangat sayang jika lokasi wisata yang menjanjikan keindahan alamiah ini sampai tergerus akibat kesalahan segelintir pihak yang ingin

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

menangguk keuntungan pribadi. Keindahan Pantai Sowan senyatanya begitu potensial untuk terus dikembangkan. Hal itu setidaknya diakui oleh seorang wisatawan domestik asal Bojonegoro, Akhmad Jupari. Ia menyebut, pernah bersama keluarganya melakukan rekreasi di pantai tersebut. “Lokasinya indah dan suasananya sejuk. Layak untuk tempat bersantai bersama keluarga,” kata Jupari, yang juga Kepala Dinas Perhutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Pemkab Bojonegoro itu. Hal yang juga alamiah adalah, para pengunjung bisa menikmati kegiatan puluhan perahu nelayan yang berangkat melaut, serta pulang dari laut dengan membawa hasil laut. Para nelayan pulang melaut di antaranya membawa udang laut, rajungan, juga hasil tangkapan yang lainnya. Meski tampilan dan pengelolaan Wanawisata Pantai Sowan terbilang masih sederhana bahkan apa adanya, namun jumlah pengunjung obyek Wana Wisata Sowan, semakin meningkat. Pendapatan dari obyek wisata Pantai Sowan juga semakin ditingkatkan, dengan target pendapatan tahun ini mencapai Rp 154 juta atau rata-rata Rp 12 juta per bulan. Hal itu berarti meningkat

dibandingkan target tahun lalu yang hanya sebesar Rp 85 juta. Hamparan hutan yang subur menghijau dan mengelilingi Pantai Sowan tampak demikian alami, menarik minat para wisatawan untuk datang. Potensi alam inilah, yang kemudian dikunjungi wisatawan setempat atau dari berbagai kota di Jawa Timur. Mereka datang untuk melihat keindahan alam Pantai Sowan sekaligus menikmati aneka masakan laut yang ada di sana. Dari rajungan sampai kepiting hingga ikan bakar segar, semua disajikan dengan khas gaya masakan Tuban. Pedas dan sedikit asin. Apalagi, harga karcis masuk ke lokasi obyek wisata pantai ini hanya dibanderol Rp 3.000 per orang, dan untuk kendaraan roda dua biayanya Rp 1.000 per kendaraan, serta kendaraan roda empat Rp 2.000 per kendaraan. Harga karcis masuk tersebut terbilang murah meriah, dibandingkan obyek wisata lain di kota-kota besar. Perhutani Jawa Timur merencanakan, dalam waktu dekat ini Pantai Sowan akan segera direnovasi. Bahkan sarana dan prasarana yang selama ini menjadi kekurangan, juga telah diajukan untuk ditambah sebagai pelengkap tempat wisata Pantai Sowan. Untuk melakukan renovasi Wanawisata Pantai Sowan itu, rencananya akan dikucurkan anggaran sekitar Rp 300 juta sampai Rp 400 juta sebagai dana pengelolaan. Jika melihat semua potensi yang dikandungnya, sangat pantas jika optimisme pun berkembang, bahwa Pantai Sowan akan banyak mengundang peminat untuk datang berkunjung. Tentu dengan catatan, jika Pantai Sowan dikembangkan menjadi lokasi wisata modern dan profesional, yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang yang juga modern dan profesional. • DR

DUTA Rimba 91


POJOKKPH

Banyuwangi Utara

Dok. Humas PHT

KPH di Ujung Timur Pulau Jawa

92 DUTA Rimba

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyuwangi Utara adalah salah satu unit manajemen di Divisi Regional Jawa Timur. Pembentukannya berdasarkan Surat Keputusan Direksi Perum Perhutani No. 808/ KPTS/Dir/2007 tentang pembagian wilayah pengelolaan KPH Banyuwangi Utara. Luasnya 56.118,98 hektar. Letaknya di dua kabupaten yaitu Kabupaten Banyuwangi (28.134,26 hektar) dan Kabupaten Situbondo (27.984,72 hektar).

W

ilayah kerja KPH Banyuwangi Utara berada di tiga bagian hutan yaitu bagian hutan Alas Buluh-Gombeng (28.134,26 hektar), bagian hutan Bitakol dan bagian hutan Kendeng Timur Laut yang masuk Kabupaten Situbondo (27.984,72 hektar). Karyawan KPH Banyuwangi Utara berjumlah 157 orang. Pengelolaan kawasan hutan di KPH Banyuwangi Utara diorganisasikan 4 Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) dan 10 Resor Pemangkuan Hutan (RPH). Masing-masing RPH punya pelaksana lapangan untuk kegiatan tanaman, pemeliharaan, penjarangan, keamanan, pembantu penyuluh/sosial, pembantu lingkungan, dan tebangan. Secara geografis, kawasan hutan KPH Banyuwangi Utara berada di ujung timur Pulau Jawa. Tepatnya pada 7º - 41º,52 º sampai 8º - 16º,11º Lintang Selatan dan 14º - 08º,41º sampai 114º - 49º,48º Bujur Timur. Bentuk topografi KPH Banyuwangi Utara adalah Datar 3.845,66 hektar (9 %), Landai 19.422,95 hektar (35 %), Agak curam 13.557,39 hektar (24 %), Curam 19.292,98 hektar (34 %). Sesuai fungsi luas hutan dan penataan area kerja, KPH banyuwangi Utara terdiri dari kawasan produksi seluas 26.144,47

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

hektar (47%), kawasan perlindungan 29.343,29 hektar (52%), dan kawasan penggunaan lain 631,23 hektar (1%). Luas wilayah administratif pemerintahan yang termasuk dalam wilayah Hutan KPH Banyuwangi Utara  adalah 125.428,3 hektar.  Jika dibandingkan luas hutan Alasbuluh Gombeng dan Bitakol, perbandingan luas areal hutan dengan wilayah administrasi pemerintahan adalah 43%. Jenis tanah di wilayah KPH ini umumnya tanah campuran abu baru dan laterit yang terjadi oleh aliran air (Malang clay) dengan bentuk geologi (jenis batuan) Young qoartinary volcanic product dan Old qoartinary volcanic product. Wilayah KPH Banyuwangi Utara memiliki ketinggian tempat mulai dari 0 – 600 m dpl. Tipe iklim C, D, dan E (Schmidt dan Ferguson) dengan curah hujan 57,1% dimana bulan basah tertinggi dalam setahun adalah bulan Januari (256 mm) dan bulan basah terendah adalah bulan Agustus (35 mm). Sedangkan curah hujan rata-rata tahunan adalah 1.453,3 mm per tahun. Secara umum wilayah kerja KPH Banyuwangi Utara termasuk kelas perusahaan jati yaitu bagian hutan Alasbuluh - gombeng dan bagian hutan Bitakol, sedangkan bagian hutan Kendeng Timur Laut (KTL) belum ada penetapan kelas

perusahaannya karena belum ditata. Kondisi zona atas KTL sebagian adalah hutan rimba alam, sedangkan zona bawahnya terdiri dari batu padas serta campuran tanah dan kerikil. Topografinya berupa lereng berjurang cukup dalam, tegakan sangat jarang, terdiri dari jenis kelampok, jati, Acacia arabica, dan beberapa jenis lain berupa semak yang tumbuh di sela-sela batu padas. Berdasarkan luas dan volume, KPH Banyuwangi Utara memiliki potensi tegakan kayu jati, kayu pinus, dan non kayu. Potensi tegakan pinus sebagai penghasil getah terbaik di wilayah Jawa Timur adalah seluas 559 hektar. Sedangkan potensi sumber daya hutan non kayu yang sebagian besar dialokasikan untuk masyarakat, dilaksanakan melalui Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM), meliputi Tanaman Tumpangsari  (jagung, padi, kacang, cabe) pemanfaatan lahan di bawah tegakan (pisang, porang) pengambilan madu, kedawung, dan rencek (limbah tebangan). Mata pencaharian penduduk di sekitar wilayah hutan KPH Banyuwangi Utara, sebagian besar adalah petani dan buruh tani. Hal ini ditunjang oleh keadaan lahan pertanian yang subur dan  kegiatan pertanian lainnya di perkebunan– perkebunan sekitarnya. • DR

DUTA Rimba 93


INOVASI

Geliat Khasiat

Dok. Humas PHT

Minyak Atsiri Daun Pinus

94 DUTA Rimba

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014


Bermula dari pengamatan dan keingintahuan yang besar, inovasi baru pun tercipta. Dari seringnya melihat daun pohon pinus, tercetus ide untuk mengolahnya menjadi minyak atsiri. Kendati masih perlu dibuktikan khasiatnya secara ilmiah, inovasi ini layak ditepuktangani.

K

erap datang berkunjung ke rumah sakit membuat Ade Ratmana semakin tertarik memerhatikan lingkungan sekitar rumah sakit. Ade yang sehari-hari menjabat sebagai KRPH Cililin, BKPH Cililin, KPH Bandung Selatan, itu lantas melihat satu hal yang hampir selalu ia jumpai. Banyak pohon pinus ditanam di lingkungan rumah sakit. Baik rumah sakit umum maupun rumah sakit yang spesialis menangani penyakit paru-paru. Pinus adalah salah satu pohon yang tumbuh di daerah tropis dan sub tropis “Saya sering datang ke rumah sakit, mengunjungi teman atau saudara yang sakit. Di setiap rumah sakit, hampir selalu saya lihat banyak ditanam pohon pinus. Lalu saya tanya kepada kakak saya yang seorang dokter, mengapa demikian. Ternyata, jawabnya, karena pohon pinus mengeluarkan salah satu zat yang jika dihirup penderita penyakit paru-paru, bagus untuk menyembuhkan penyakitnya,” kata Ade. Ade kemudian merenung. Ia menyimpulkan, ternyata pohon pinus menyimpan potensi yang demikian besar. Dari pohon pinus ini selain menghasilkan resin, serta dari getahnya dapat dihasilkan gondorukem dan terpentin, juga dapat dikembangkan produk turunan berupa aromaterapi guna mengobati sejumlah penyakit. Dari hasil perenungannya itu, Ade mencoba merumuskan dan

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014

memetakan bagian mana dari pohon pinus yang paling potensial untuk dapat diolah dan dikembangkan menjadi produk aromaterapi. Menurut dia, daun pinus yang memiliki ciri khas berbentuk jarum tersebut adalah bagian yang dapat diolah untuk kebutuhan itu. Maka, Ade pun menyimpulkan bahwa daun-daun pinus sesungguhnya dapat disuling untuk menjadi minyak atsiri untuk kebutuhan aromaterapi. Tetapi, sebelumnya hal ini belum pernah dicoba. Ade pun menyiapkan untuk uji coba itu.

Uji Coba Minyak Atsiri Ade Ratmana pun melakukan serangkaian uji coba. Setelah melakukan banyak uji coba, ia menemukan rumusan yang pas untuk minyak atsiri daun pinus. “Dari 1 ton daun pinus, hanya dapat menghasilkan 0,6 liter minyak. Tetapi manfaatnya besar,” ujarnya. Minyak atsiri sendiri adalah kelompok besar minyak nabati yang berwujud cairan kental pada suhu ruang, namun mudah menguap sehingga menghasilkan aroma yang khas. Minyak atsiri juga dikenal dengan berbagai nama semisal minyak eterik (aetheric oil), minyak esensial (essential oil), minyak terbang (volatile oil), serta minyak aromatik (aromatic oil). Minyak atsiri merupakan bahan dasar dari wangi-wangian atau minyak gosok alami yang biasa digunakan untuk pengobatan. Di dalam dunia perdagangan, hasil sulingan atau

destilasi minyak atsiri dikenal sebagai bibit minyak wangi. Para ahli biologi selama ini menganggap minyak atsiri sebagai metabolit sekunder bagi pohon yang menghasilkannya, dan biasanya berperan sebagai alat pertahanan diri agar tidak dimakan oleh hewan atau hama. Selain itu, bagi pohon yang menghasilkannya, minyak atsiri juga berperan sebagai agensia untuk bersaing dengan tumbuhan lain dalam mempertahankan ruang hidup. Walaupun beberapa hewan semisal kesturi dari beberapa musang juga mengeluarkan baubauan, atau beberapa kepik yang kadang-kadang juga mengeluarkan cairan yang berbau menyengat, namun zat-zat tersebut tidak digolongkan sebagai minyak atsiri. Secara kimiawi, minyak atsiri tersusun dari campuran yang rumit atas berbagai senyawa, namun suatu senyawa tertentu biasanya bertanggungjawab atas terciptanya suatu aroma tertentu. Sebagian besar minyak atsiri termasuk ke dalam golongan senyawa organik terpena dan terpenoid yang bersifat larut dalam minyak (lipofil). Minyak atsiri bersifat mudah menguap karena titik uapnya memang rendah. Selain itu, susunan senyawa komponennya kuat mempengaruhi saraf manusia, terutama di hidung. Sehingga, minyak atsiri seringkali memberikan efek psikologis tertentu bagi manusia yang menghirup uapnya. Setiap senyawa penyusun tersebut memiliki efek tersendiri, dan campurannya

DUTA Rimba 95


INOVASI

dapat menghasilkan rasa yang berbeda. Pengaruh psikologis inilah yang membuat minyak atsiri merupakan komponen penting dalam aromaterapi atau kegiatankegiatan liturgi dan olah pikiran atau olah jiwa, seperti kegiatan yoga atau ayurveda. Sebagaimana minyak lainnya, sebagian besar minyak atsiri tidak larut di dalam air dan pelarut polar lainnya. Di dalam parfum, pelarut yang biasanya digunakan adalah alkohol. Di dalam tradisi dunia timur, pelarut yang digunakan itu biasanya adalah minyak yang mudah diperoleh, seperti minyak kelapa. Setelah menemukan rumusan minyak atsiri seperti yang diharapkan, Ade Ratmana lantas mencoba untuk menerapkan minyak atsiri daun pinus itu sebagai aromaterapi bagi pasien penyakit asma. Salah seorang saudaranya adalah pasien penyakit asma. Untuk saudaranya itu, Ade meramu minyak atsiri daun pinus untuk keperluan aromaterapi. Untuk digunakan sebagai terapi bagi penyakit asma, minyak tersebut dilarutkan dengan air sehingga menghasilkan cairan disinfektan. Rumusannya adalah 1 cc minyak atsiri itu dicampur dengan 1 liter air. Aroma yang dihasilkannya lalu dihisap oleh saudaranya tadi. Setelah beberapa

96 DUTA Rimba

kali melakukannya, sang saudara mengatakan telah merasakan perubahan dan kondisinya menjadi lebih baik.

Proses Penyulingan Proses pembuatan minyak atsiri daun pinus Ade Ratmana terbilang sederhana. Daun pinus dirajang dengan ukuran menyesuaikan, kira–kira sepanjang 1 cm. Lalu jemur selama 1 jam agar tidak membawa air. Kemudian daun pinus itu diaduk dengan cairan ragi tempe, lalu dibiarkan selama kira-kira 30 menit. Sementara menunggu, siapkan terpal pembungkus. Lalu bungkus dengan terpal selama lebih kurang 48 Jam atau dua hari dua malam. Lalu angkat dan masukkan ke tabung penyulingan. Selanjutnya, suling selama 8 hingga 12 jam. Lebih baik apabila dikukus.

Perlu Pembuktian Ilmiah Penelusuran dan uji coba yang ia lakukan membuat Ade Ratmana menyimpulkan, daun pinus memiliki cairan asam sulfat. Cairan ini tidak dimiliki oleh sembarang pohon. Hal itu pula yang menjadikan Ade punya optimisme besar bahwa jika dikembangkan dan dibudidayakan, minyak atsiri daun pinus hasil racikannya itu di masa depan akan memberikan kontribusi cukup besar

bagi Perum Perhutani. Masalahnya, hingga kini khasiat produk minyak atsiri daun pinus hasil racikan Ade Ratmana belum pernah diuji dan dibuktikan secara ilmiah. “Sayang saya belum bisa membuktikan khasiat minyak atsiri daun pinus ini secara ilmiah karena keterbatasan modal yang saya miliki. Walaupun secara ilmiah belum ada penelitian laboratorium, akan tetapi produk minyak atsiri ini sudah pernah dicoba oleh penderita penyakit Asma yang menghisap uap minyak daun pinus tersebut selama 2 minggu, dan ternyata sesak napasnya reda, tidak terlalu sesak lagi. Akhirnya yang bersangkutan lalu memesan khusus untuk keperluan aromaterapi dengan cara disemprotkan layaknya minyak wangi biasa,” ujarnya. Sesungguhnya peluang untuk melakukan uji coba ilmiah di laboratorium, bahkan mengembangkan produksi minyak atsiri tersebut, telah ada. Sebab, Ade Ratmana menuturkan, ia telah dihubungi sebuah perguruan tinggi di Bandung Selatan yang tertarik untuk memfasilitasi pengujian ilmiah produk tersebut. Tetapi, Ade menyatakan masih berpikir-pikir atas tawaran tersebut. Sebab, ia berharap Perhutani-lah yang menjadi pihak yang memberikan fasilitasi tersebut. • DR

NO. 51 • TH. 9 • MARET - APRIL • 2014



Duta Rimba Edisi 51 Maret-April 2014