Issuu on Google+


BURUNG – BURUNG

PEMIMPI Kumpulan Dongeng SUDARSANA PUTRA ARIAWAN CAHYA MAHARDIKA GIRI ARTA SEDANA SYAHRIZAL AKBAR HENDI ANGGARA PUTRA ALIT SUWARBAWA

Penerbit Basindo Media Pratama Singaraja, 2008


Sanksi Pelanggaran Pasal 45: Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 16 Tahun 2009 Tentang Hak Cipta 1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan penjara paling lama 7 (tujuh) hari dan/atau denda paling banyak Rp 1000,- (seribu rupiah) 2. Barangsiapa dengan sengaja menyerahkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam ayat (11), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) hari dan/atau dendan paling banyak Rp 5000,- (lima ribu rupiah).


Burung-Burung Pemimpi Redaksi M@TA GM 201 05.016 All right reserved Š Penerbit Basindo Media Pratama Jl. Dewi Sartika Utara, Buleleng, 81117 Desain sampul dan ilustrasi oleh Putra Ariawan Lomografi oleh Putra Ariawan dkk. Foto sampul muka oleh Putra Ariawan dkk.

Cetakan Pertama: Desember 2008

Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang. Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit. ISBN 601-22-1212-7

Dicetak oleh Percetakan Nengah Printer, Sambangan Isi di luar tanggung jawab percetakan


Kenangan penuh rasa cinta dan hormat kepada dosen kami

Pak Wayan Artika Kenangan penuh kehangatan dan kebersamaan kepada teman-teman kami

SahabatSahabat-Sahabat Karib Angkatan 2006 Basindo (Va) (Va) Undiksha, Mak Nyoss‌

dan orang tua kami yang telah banyak memberikan perhatian dan motivasi untuk kami.


Malam hanyalah pergantian sebuah waktu Takkan pernah berubah dan terus berlalu Kita semua hanya bisa menunggu Dan hidup adalah perjalanan sebuah waktu Kita hanya bisa pasrah pada waktu terus berpacu dengan waktu, Sampai nafas kita terhenti meraih mimpi dalam semesta Giri Arta. S


Sepatah Kata Penikmat dongeng yang setia, kami yang tergabung dalam redaksi M@TA mencoba mengungkap dongeng –dongeng yang masih tersembunyi dan hanya menjadi pengantar tidur dalam suatu peradaban masyarakat. Melalui kumpulan dongeng ini kami mencoba menjaga eksistensi sastra dan mulai menanamkan kecintaan sastra sejak dini. Melalu kumpulan dongeng “Burung-burung Pemimpi� ini kami akan mulai menerobos kesastraan kita yang seakan menganaktirikan dongeng. Cerpen, novel, puisi, merupakan bentuk-bentuk sastra yang selalu menjadi sajian utama para penyaji sastra. Sedangkan dongeng hanyalah pilihan sampingan dari pilihan utama tersebut. Mungkin faktor penikmat yang notabene merupakan anak-anak menjadi salah satu pemicu para penulis enggan menulis dongeng. Untuk menjaga keberadaan ruang dongeng tersebut, kami akan terus berusaha membangkitkan gairah menulis para pendongeng. dongeng-dongeng yang terukir dalam buku ini hanyalah contoh kecil yang kami harapkan mampu memotivasi rekan-rekan lainnya. Dongeng yang mayoritas merupakan santapan anak-anak ini perlu ditanamkan sejak dini. Untuk menumbuhkan kecintaan terhadap sastra maka pengembangan buku-buku seperti ini sangat diharapkan terus berkembang. Tak hanya itu terobosan-terobosan lain akan coba kami lakukan demi pemerataan terhadap pengembangan sastra kita. Jadi tujuan kami bukan hanya meningkatkan kecintaan sastra sejak dini


melainkan demi meningkatkan taraf apresiasi terhadap dongeng. Peningkatan apresiasi pembaca sekalian sangat kami harapkan, bukan hanya melalui membaca, tetapi kami harapkan mampu menghasilkan suatu karya bahkan sampai tahapan evaluasi demi perbaikanperbaikan kearah yang lebih membanggakan. Singaraja, Desember 2008 Redaksi M@TA


Daftar isi Sepatah kata……………………………………........ kata Mangku Moksa & Asuajag Alit Suwarbawa………………………………………………………………

Lutung Yang Picik Alit Suwarbawa …………………………………………………………….

Sup Celedu Dan Telur Ireng Nengah Sudarsana………………………………………………………….

Si Penjinak Kutu Nengah Sudarsana………………………………………………………….

Cungklik Giri Arta Sedana……………………………………………………………..

KunangKunang-Kunang Andarung Sasih Giri Arta Sedana……………………………………………………………..

Sandal Kulit Kerbau (Lelampak Lendong

Kao) Syahrizal Akbar………………………………………………………………

Boroq Syahrizal Akbar…………………………………………………………….


BurungBurung-Burung Pemimpi Putra Ariawan………………………………………………………………

Kisah Gelatik Putra Ariawan……………………………………………………………….

Si Sarkali dan Si Bodi Hendi Anggara Putra……………………………………………………..

Bende Wasiat Hendi Anggara Putra…………………………………………………….

Monyet Pencuri Apel Hendi Anggara Putra……………………………………………………

Anggara Anak Pan Kaler Cahya mahardika…………………………………………………………

Nengah dan Peri Cantik Cahya mahardika…………………………………………………………

Kolor Pocong Perjaka ( Edisi khusus dari RedaksiM@TA)...........................................

Tentang Penulis


Mangku Moksa & Asuajag Oleh Alit Suwarbawa


K

arena kebaikannya, ia dipanggil Mangku Moksa. Ia adalah seorang lelaki yang telah paruh baya. Mangku Moksa yang masih tegar, menjalani hidup sendiri. Ia tidak mempunyai anak karena ia tidak pernah menikah. Istri saja dia tidak punya apalagi anak. Kesehariaan Mangku Moksa bekerja di kebun. Pagi ia memasak untuk bekal ke kebun dan siangnya ia ke kebun merawat kebunnya. Di kebun ia menanam ubi rambat dan jagung. Siang hari ia kekebun mengunakan baju yang terbuat dari karung goni dan sore hari ia pulang dengan membawa barang dengan sanan. Di depan ditaruhnya daun ubi dan di belakang ubi dan jagung. Daun ubi untuk diberikan makan babi dan ubi serta jagung digunakan untuk makanan sendiri. Jagung dan ubi yang ditanamnya tumbuh dengan subur, daun-daunnya lebat hijau, batangbatangnya besar, ubinya berondot-rondot, dan jagungnya empat tongkol. Hehehe‌ hari demi hari tak pernah ia lelah untuk merawat kebunnya, menggerburkan tanahnya, menyirami, membersihkannya. Kebun I Mangku Moksa berada tak jauh dari rumahnya, yaitu di tengah hutan di utara rumahnya. Di tengah rimbun dan hijaunya hutan itu hidup berbagai macam binatang, seperti monyet, anjing, kambing, ayam, rusa, dan lain-lain. Suatu hari ada seorang yang berburu ke hutan itu. Ia adalah I Raden Mantri dari kuripan. Ia berburu sendiri tanpa didampingi oleh pengawal atau temantemannya. I Randen Mantri membawa tombak dan panah, di kanan tombak dan di kiri panah. Di samping kebun Mangku Moksa, Raden Mantri melihat Asuajag bersama tiga anaknya yang gemuk. Disanalah Randen Mantri mengejar Asuajag.


Asuajag adalah seekor anjing, ia memiliki tiga anak. Dua anaknya adalah cewek yang gemuk-gemuk dan lagi satunya cowok yang lebih gemuk dari yang lain. Melihat Raden Mantri mengejarnya, Asuajag lari kalang kabut. Mereka berpisah, ada yang lari keselatan, timur, barat, dan utara. Asuajag lari kearah timur, anaknya yang cewek berlari ke barat dan anaknya yang cewek lagi satunya berlari keselatan sedangkan anaknya yang cowok berlari ke utara ke kebun Mangku Moksa, sampai ia terengah-engah dan disana ia bersembunyi. Melihat salah satu asuajag berlari ke utara melewati kebun Mangku Moksa, Raden Mantri mengejarnya kesana. Namun sayang Raden Mantri kehilangan jejak. Raden Mantripun bertanya pada Mangku Moksa. Raden Mantri : Mangku melihat Asuajag lewat kesini? Tadi larinya kesini tapi sampai disini ia hilang. Mangku Moksa : Maaf Raden saya tidak melihatnya. Mungkin ia lari ke utara Tuan. Raden Mantri : Ya. Raden mantri langsung pergi untuk mengejar Asuajag ke utara. Karena kasihan Mangku Moksa sengaja menyembunyikan Asuajag agar tidak dibunuh oleh Raden Mantri. Mungkin capek berlari dalam kondisi tegang hingga Asuajag lemas dan bersembunyi di bawah pohon pisang. Melihat Asuajag terseenga-engah, mangku moksa langsung membuka baju karung goninya untuk dijadikan tempat membawa Asuajag. Asuajag dimasukkan ke dalam karung goni dan dipikul di depan agar tidak dilihat oleh Raden Mantri.


Mangku Moksa berjalan setapak dan terus melangkahkan kakinya walaupun agak berat Asuajag dalam karung. Sampai di rumah, Mangku Moksa mengikat Asuajag di pilar rumahnya. Asuajag kini menjadi peliharaan Mangku Moksa. Karena Asuajag dipelihara di rumah Mangku Moksa, Asuajag tumbuh semakin besar begitu juga Mangku Moksa semakin tua. Di pagi hari sebelum pergi ke kebun, setiap memasak nasi titisannya deberikan kepada Asuajag, datang dari kebun Mangku Moksa lagi memberikan makan kepada Asuajag. Setiap hari terus begitu. Hingga Asuajag gemuk, besar dan Mangku Moksa semakin tua. Karena setiap hari Asuajag diberikan makanan enak dan setelah lama Mangku Moksa tua serta tidak mampu lagi untuk pergi ke kebun. Memasak juga tidak mampu karena sudah tua renta. Di sinilah Asuajag marah dan ingin memakan Mangku Moksa. Asuajag : Mangku‌ Saya disini lama tidak Mangku beri makan, bisa bisa saya kurus‌ sekarang saya lapar. Mangku Moksa : Terus bagaimana sekarang? Mangku sudah tua, tidak mampu untuk ke kebun mencari bahan makanan, memasak tak mampu, apalagi ke kebun atau memasak berjalan saja saya tidak mampu. Asuajag : Kalau begitu, saya semakin kurus disini? Bagaimana sekarang, saya lapar sekali? Mangku Moksa : Terus bagaimana kemauanmu sekarang? Asuajag : Mangku yang sekarang saya terkam, saya makan‌ Merasa dirinya telah besar dan pantas memakan Mangku Moksa yang telah tua renta, Asuajag ingin


memakan Mangku Moksa. Mangku Moksa mencoba mengelak dari cengkraman Asuajag dengan mencoba memberikan penjelasan. Mangku Moksa :Kalau begini kemauanmu berarti kamu lupa waktu dulu kamu terengah-engah di pohon pisang Mangku yang menyelamatkan dari pemburu. Dari kecil Mangku yang memberikan makan. Kenapa sekarang Mangku yang inin kamu makan? Asuajag : Bagaimana, saya terikat disina dan saya lapar. Tak ada yang lain selain Mangku yang dapat saya cengkram dan sobek-sobek saya makan. Mangku Moksa : Beh‌ kalau begitu. Sekarang begini ya? Biar benar cobak tanyakan, pantaskah kamu memakan saya yang telah membesarkanmu dari kecil? Sekarang tanyakan kepada yang lebih paham, disini ada hakim. Yang di utara itu rumahnya. Asuajag : Ya. Lepaskan saya, saya yang ikut kesana. Mangku moksa dan Asuajag bersama-sama mencari rumah hakim untuk kebenaran, apakah pantas Mangku Moksa mati dimakan Asuajag. Mereka berjalan dan setelah dekat rumah hakim sementara dilihatlah Poh Gading yang menjadi hakim sementara. Dan setelah dekat Poh Gading langsung tertawa melihat kedatangan mereka berdua. Poh Gading : Hihihi‌ Kok tumben Mangku Moksa bersama Asuajag? Mau ngapain kesini? Mangku Moksa : Saya kesini karena saya mau bertanya kepada Poh Gading? Poh Gading : Bertanya apa? Mangku Moksa : Hahulu sewaktu Asuajag masih kecil saya pungut dan saya pelihara di rumah hingga besar dan setelah besar seperti sekarang ini saya sudah tua tidak bisa memberikan makan, Asuajag mau memakan saya, apakah benar saya harus dimakan Asuajag?


Poh Gading : Oooh begitu? Sebelumnya saya dulu menceritakan hidup saya kepada Mangku. Sewaktu saya masih kecil saya ditanam di tengah halaman rumahnya, waktu itu belum dia punya rumah, bale dangin tidak ada, bale dauh tidak juga, meten juga tak ada, begitu juga dapur. Yang memungut saya di got, saya ditanam, setiap pagi disirami, dimandiin, dicarikan pupuk kandang sapi dan babi. Sesudah saya besar, saya berbuah lebat. Batang saya yang di barat lebat dengan buah atas sampai bawah, di timur juga lebat, begitu juga yang di utara dan selatan. Karena buah saya dia mampu membangun, bale dangin bagus, dapur bagus dan yang lainnya. Namun sekarang saya mau dicarikan penebang karena dahan-dahan saya menutupi rumahnya. Batang saya mau dipakai papan, dan dahan yang kecil-kecil mau dipakai membakar Bata. Yeh‌ setelah saya tua renta saya mau dibunuh sama seperti mangku. Asuajag : Hom‌ (mulutnya mengaga mau mencengkram). Mendengar kata Poh Gading, Asuajag makin tidak sabaran ingin menghabisi Mangku Moksa. Asuajag : Hoom‌ sepatutnya sekarang mangku moksa mati karena sudah tua. Begitu juga keputusan Poh Gading, karena menutupi rumah maka Poh Gading harus mati I Mangku Moksa juga mati. Oooweng‌. Sembari mencengkeram Mangku Moksa : Jangan. Jangan dulu kamu membunuhku, masih banyak yang harus dimintai pertimbangan, masih dua saksi yang harus dimintai pertimbangan. Kalau sudah sepatutnya saya dikatakan mati, bunuh saja saya nanti. Poh Gading : Karena saya sudah tua, sepatutnya saya dibunuh karena saya sudah mengganggu di rumah ini. Begitu juga mangku sudah sepatutnya mati karena sudah tua.


Asuajag : Oooweng‌ menganga mulutnya ingin menyantap mangku moksa. Mangku Moksa : Jangan dulu, masih ada dua saksi yang harus ditemui. Asuajag : Siapa? Mangku Moksa : Kerbau namanya. Asuajag : Dimana rumahnya? Mangku Moksa : Di utara, tidak jauh kok. Mereka berjalan menyusuri rimbunnya pohonpohon besar. Setiap langkah Mangku Moksa dikejutkan oleh taring Asuajag yang ingin menyambarnya. Mangku Moksa hanya mampu menyakinkan “janganâ€? dengan rasa yang takut untuk meninggalkan kehidupan. Diperjalanan dilihatlah si Kerbau mencari makan di pingiran jalan. Kerbau yang telah tua kotor tampaknya tak ada yang merawat. Tegur sapa kerbau menyambut kedatangan mereka. Kerbau : Ye‌ tumben Mangku dan Asuajag bersama. Mangku Moksa : Saya mau minta pertimbangan kepada kerbau. Kerbau : Kenapa? Mangku Moksa : Dari kecil saya membesarkan Asuajag sampai ia besar seperti ini, sekarang saya sudah tua dan tidak bisa mencari makanan, saya mau dimakan olehnya (Asuajag). Kerbau : Peh, Kalau begitu saya mau menceritakan kisah saya kenapa saya mencari makan di penggir jalan. Mangku Moksa : Ya,bagaimana? Kerbau : Dulu sewaktu saya masih sehat dan kuat tidak pernah yang namanya saya kotor atau kena kotoran, tidak pernah saya mencari makan. Bagaimana lebatnya hujan, bagaimana panasnya terik matahari, yang memelihara saya membuatkan rumah


saya. Kotoran saya ada yang membersihkan dipakai pupuk kandang. Makanan dicarikan walaupun hujan lebat, anaknya mencarikan seikat, ayahnya seikat sampai saya tidak bisa menghabiskan. Karena saya sekarang sudah tua, apalagi bisa membajak menarik bajak. Ne pantatku masih berisi kotoran tidak ada yang peduli, apalagi ada yang membawakan makanan makanya saya mencari makan di jalan-jalan. Ne Mangku sama seperti saya, yang memelihara saya sekarang mau membunuh saya, mencarikan saya Jagal (tukang potong hewan). Setelah mati, tanduk saya dipakai sisir dan ukir-ukiran, tulang saya mau dipakai piring, kulit saya mau dipakai wayang. Karena Mangku Sudah tua sudah sepatutnya Mangku mati. Asuajag : Oooweng‌ nah,, dua sudah mencari saksi sekarang mati Mangku Moksa, keduaduanya telah memutuskan Mangku mati. Oooweng ‌ Menganga mulutnya menyambar Mangku Moksa Mangku Moksa : Jangan dulu ya, masih Mangku punya saksi lagi satu. Asuajag : Dimana rumahnya? Mangku Moksa : Tidak jauh, di utara lagi sedikit. Kembali mereka berjalan mencari rumah saksi ketiga, sampai di depan rumah saksi itu, dilihatlah saksi itu sedang di halaman rumahnya. Saksi itu bernama Dewa Gede yaitu manusia. Sudah sampai depan rumah Dewa Gede, merekapun disambut dengan hormat oleh Dewa Gede. Dewa Gede : Ye‌ Mangku Moksa Tumben bersama Asuajag mau kemana? Mangku Moksa : Dewa, saya datang kesini mau minta pertimbangan kepada Dewa. Dewa Gede : Pertimbangan apa? Ya duduk dulu disini. Mangku Moksa : Mengingat masa lalu sewaktu saya dikebun.


Dewa gede : Lantas kenapa? Mangku Moksa : Saya melihat Asuajag masih kecil dikejar oleh pemburu, asuajag sembunyi karena kelelahan dan saya pungut, saya masukkan ke dalam baju karung dan saya bawa pulang. Saya pelihara dia sampai besar seperti ini, sekarang saya tidak mampu ke kebun mencari makanan dan saya tidak mampu memberi makan Asuajag. Sekarang saya mau dimakan, sepatutnya seperti itu? Dewa Gede : Oh‌ begitu. Beneran begitu Asuajag? Asuajag : Bener, lima hari saya tidak dikasi makan dan minum, lapar saya. Dewa Gede : Kalau lapar, Mangku Moksa yang mau dimakan? Asuajag : Ya. Dewa Gede : Bah, kalau begitu. Biar terbukti kebenarannya, bagaimana kejadiannya dulu, waktu pertama memasukkan Asuajag ke baju karung? Coba peragakan sekarang disini. Biar pasti masih baju karungnya? Mangku Moksa : Baju itu sudah robek, tapi sekarang saya bawa karung yang saya pakai sekarang. Dewa Gede : Ya pakai itu saja. Coba sekarang peragakan biar pasti kejadiannya, biar bisa memberikan pertimbangan yang benar dan salah, biar tidak yang salah saya katakana benar. Tidak boleh mengatakan yang benar salah dan yang salah benar. Nah sekarang peraktikkan sewaktu memungut Asuajag, apa yang dipakai membungkus biar tidak kelihatan! Asujag : Saya dimasukan ke dalam bajunya sampai saya tidak mampu bernapas, hampir saya mati. Dewa gede : Beneran sampai sesak Asuajag di dalam? Bagaimana cara mangku sampai dia sesak


dalam karung? Nah, sekarang peragakan bagaimana memasukkannya, dimana diikat! Mangku Moksa : Saya beginikan, saya masukan dia. Dewa Gede : Beh begitu cara mangku memasukkan pantas sampai sesak dia di dalam. Sekarang mangku ikat lagi? Bagaimana cara mengikatnya? Mangku Moksa : Ya, biar tidak terlihat oleh yang memburu saya ikat. Dewa Gede : Erat ikatannya? Mangku Moksa : Ya… Dewa Gede : Bagaimana ikatannya yang kuat, coba sekarang peraktikan. Keret…keret…keret… keras sekali ikatan Mangku Moksa. Setelah terikat ujung karung tersebut, Asuajag tak berkutik lagi. Dewa gede berbisik “bawa pisau? Sekarang tusuk dibagian lehernya!” kepada Mangku Moksa. Mangku moksa langsung mengambil belati dipinggangnya, mencari leher Asuajag dan langsung menghujaninya dengan belati. Crut…cret…crot… bersimbah darah Asuajag kesana-kemari. Tanpa daya Asuajag mati dan sampai disini serita ini.


Lutung Yang Picik Oleh Alit Suwarbawa


G

Temu yang berada di Desa Gunaksa merupakan salah satu gunung yang ada di provinsi Bali. Di belahan timur gunung itu, tinggal Sang Misi dan Si Lutung. Sang Misi adalah seekor kambing yang mempunyai beberapa anak. Pada suatu saat yaitu pada sasih ke lima terjadilah kerak (kemarau) di Bali. Rumput yang dulunya hijau telah kuning dan kering begitu pula pohon-pohon yang dulinya rindang telah berguguran, hanya tinggal batang-batang dari pohon yang dapat dipandang. Karena kemarau ini, Sang Misi menjadi sulit mencari makanan, begitu juga Si Lutung. Sampai akhirnya Si Lutung mencari Sang Misi untuk membicarakan hal yang sudah direncanakan Si Lutung. Lutung : Sang Misi‌ Sang Misi : Ya, bagaimana Tung? Tumben kesini. Lutung : Duh, dunia sudah kemarau, mencari makan sulit, satupun tak ada pohon yang berdaun apalagi berbuah. Sang Misi dimana mencari makanan? Sang Misi : Bih bih, aku juga sulit mencari makan, jauh-jauh sampai mencari makan tapi semuanya sama, kering tak ada yang dapat mengenyangkan. Lutung : Setiap setahun, pasti kemarau. Biar tahun depan kita tidak sulit mencari makan, bagaimana kalau kita menanam kacang? Sang Misi : Ah‌ menanam kacang? Bagaimana caranya menanam di tanah yang kering dan keras ini? Lutung : Begini begini caranya, kita gemburkan dulu tanah disini. Sang Misi menarik Tengala dan aku yang memegang dari belakang. Setelah tanah gembur baru kita tanam biji kacang bersama. Dalam perhitungan ku, di sasih ke pitu (7) sudah musim hujan, pasti kacang-kacang akan hidup dengan subur.


Sang Misi : O… bagus juga, ya kapan bisa kita mulai membajak? Lutung : Biar lebih cepat, mulai besok saja. Sang Misi bisa besok? Sang Misi : Ya bisa… Perjanjian sudah disepakati untuk membajak sawah besok. Pagi itu datanglah Si Lutung ke pondok Sang Mong. Lutung langsung mengajak Sang Misi beserta anak-anaknya untuk membajak sawah. Diikatlah Sang Misi di depan tengala (bajak) dan langsung muali membajak. Beberapa putaran Sang Misi berhenti untuk kencing, Si Lutung langsung mencambuknya. Sang Misi : Aduh… kenapa memukul? Aku masih kencing. Lutung : Kirain kenapa berhenti, biar tidak berat sebelah atau temannya keberaan makanya aku mukul biar Sang Misi jalan. Berjalanlah tengala yang ditunggangi oleh Lutung itu kembali. Lagi beberapa saat Lutung Kembali Menghujankan cambuk ke Sang Misi yang lain. Sang Misi : Adah… aduh… aku Masih berak Tung… Lutung : Ya maaf. Biar tidak berat sebelah makanya aku mukul Sang Misi. Hati Si Lutung gembira, sudah duduk di atas dan mendapat mencambuk pula. Akhirnya selesailah mereka membajak tanah seluas 15 petak. Mereka mulai menebar benih kacang. 5 petak ditanami kacang tanah, 5 petak lagi ditanami kacang panjang, 5 petak lagi ditanami kedelai. Pada awal sasih ke pitu (7) kacang-kacang sudah tumbuh dengan sedikit lebat. Hujan terus mengguyur gunung itu sehingga memberikan tenaga


kepada tumbuhan yang hidup di gunung itu. Kesuburan kacang-kacang terjadi di akhir sasih ke pitu (7). Daundaunya telah lebat-lebat. Saat itu Si Lutung datang untuk melihat tanaman kacang. Melihat kacang-kacang sudah subur, Lutung dengan sifat liciknya membagikan hasil kepada Sang Misi. Lutung mendatangi rumah Sang Misi. Lutung : Sang MIsi… Sang Misi : Woooh… Kenapa Tung? Lutung : Cobak lihat kacang-kacang sudah subur. Sekarang kita bagi hasil, aku kasian kepada sang Misi karena sang Misi punya anak banyak, sang Misi makan daun-daunnya dan aku buah-buahnya. aku kasian pada Sang Misi soalnya sang misi kan makan berbanyak dan aku paling berdua. Sang Misi : Ooo… ya… kalau begitu bagiannya, aku mau bilang kepada anak-anakku biar mereka tidak memakan buahnya. Pergilah Sang Misi mencari anak-anaknya untuk memberitahukan hal ini. Si Lutung bahagia karena telah memperdayai Sang Misi. Lutung mendapat bagian yang lebih enak tapi Sang Misi mendapat bagian yang lebih jelek. Melihat anak-anaknya dari jauh, Sang Misi berteriak… Sang Misi : We… anak-anaku semua, kumpulkan diri kalian di depan ibu. Setelah semua anak anaknya berkumpul Sang Misi memberitahukan kabar baik itu. Sang Misi : Tadi ibu telah diberikan bagian oleh Si Lutung kalau kita mendapat bagian memakan daun dari kacang-kacang yang dahulu kita tanam. Mulai besok boleh kita makan daun-daunnya tetapi jangan sampai memakan buahnya. Sekarang kembalilah… Hari demi hari berlalu, Sang Misi bersama anaknya setiap hari memakan daun-daun kacang. Baru


tumbuh hep, telah dilahap oleh sang Misi kecil. Asal berdaun dilahap. Begitulah kacang tanpa daun tak akan mau berbuah ataupun berumbi. Hanya tinggal batang batang kacang yang mempesona di ladang itu. Satu daun pun tak dilihat oleh Lutung, apalagi buah. Padahal menurut perkiraan Si Lutung, kacangkacang itu seharusnya telah berbuah dan berumbi karena telah lewat 3 sasih. Melihat keadaan ladang mendadak hati Lutung kesal padahal tadinya telah gembira saat memikirkan kacangnya telah berbuah. Lutung emosi dan mendatangi pondok Sang Misi. Lutung : Sang Misi‌ begitu caramu memakan daun bagaimana kacang-kacang bisa berbuah? Sang Misi : duh‌ kok marah-marah. Yang memberikan bagian kan lutung, sekarang kok marahmarah. Anak-anakku sudah memakan daun-daunnya dan tidah pernah makan buah. Lutung : Ya, makan dah semua‌ aku tidak jadi ambil bagian. Lutung langsung pergi dengan muka musam dan amarah. Mengetahui kelicikan Lutung, Sang Misi segera mengumpulkan anak-anaknya. Sang Misi : anak-anakku semua, tadi lutung pergi dengan dendam, tak mungkin ia tak mengunakan kelicikannya. O‌ dia pergi kea arah barat, pasti dia mencari Sang Mong(Harimau) untuk membantunya. Sekarang carilah buah gondola, makan dan polespoleskan di seluruh tubuh kalian agar terlihat seperti darah. Kalau nanti Sang Mong datang, kalian diam saja, biar ibu yang berbicara kenapa kalian dipenuhi darah. Sekarang carilah dan saling Bantu memerahkan. Semua anak sang misi bergegas mencari buah gondola dan saling poles.


Sementara itu, Lutung pergi ke barat gunung, disana ia melihat Sang Mong yang sedang menangkap belalang. Dari atas pohon sang lutung berteriak memanggil Sang Mong. Lutung : Sang Mong, apa yang kau cari disana? Sang Mong : Aku menangkap belalang, perut aku lapar. kamu ngapain kesini Tung? Lutung : Pih‌ dua belas belum pasti kenyang kamu makan Belalang. Pih, anak-anaknya Sang Misi Gemuk-gemuk, kalau makan itu satu saja pasti kenyang selama 5 hari. Sang Mong : Beneran??? Dimana tempatnya? Lutung : Peh‌ ngapain aku bohong, di balik gunung ini. o‌ itu yang hijau disana dia tinggal. Sang Mong : Pantes, aku cari-cari tidak pernah ketemu Sang Misi, disana dia tinggal sekarang? Mau kamu mengantar kesana tung? Lutung : Aku mau nganterin tapi gendong ya, aku cape? Sang Mong : Ya. Aku gak tahu jalan. Sang Mong berjalan dibawah injakan kaki lutung yang bergendong padanya. Lutung menunjukan jalan dengan menuding-nudingkan tangannya seperti jendral perang belanda pada jaman penjajahan. Tak lama kemudian sampailah Sang Mong dan Lutung di depan pondok sang Misi. Berjejer anak sang misi seperti para demontran penglengser Suharto. Dengan menunjukan mulut merah darah, tubuh penuh darah dan pandangan mata tajam seakan algojo pembasmi PKI. Sang misi menyambut kedatangan Sang Mong dengan senyum mematikan. Sang Misi : Hehehe‌ nyari apa kesini Sang Mong? Sang Mong : Aku lapar. Sang Misi : men, ngapain kesini?


Sang Mong : Aku mau makan anakmu. Sang Misi : Duh, kalau begitu, tunggu dulu sebelum mau makan anakku, sekarang aku menceritakan kejadian yang tadi. Coba kamu lihat anak-anakku semua berlumur darah. Tadi sudah ada sang Mong dan lutung kesini mau makan anakku tapi sang Mong dan Lutung udah di keroyok dan dimakan oleh anak-anakku. Kepala Sang Mong dan Lutung dibuang ke sumur. Kalau tidak percaya lihat saja ke sumur. Sang Mong : Sumur yang mana? (dengan rasa takut ia bertanya). Sang Misi : Yang disamping mu Dengan rasa takut sang Mong menghampiri sumur itu. Hati-hati ia memasikan kepalanya ke sumur dan melihat ke dalam sumur. Tentu saja ia melihat kepala Sang Mong dan Lutung disana karena kepalanya sendiri yang nampak dalam bayangan air dalam sumur. Ia tak tau kalau kepala yang ada dalam sumur adalah bayangan kepalanya. Ia takut dan lari secepat mungkin dan masing menggendong Lutung. Lari sang Mong kencang karena ketakutan diiringi teriakan Sang Misi. Sang misi terus berteriak “kejar-kejar, tangkap kakinya, tangkap kepalanya, gigit‌? Sang Mong terus lari kesemak-semak, melewati rimbunnya tumbuhan keket yang penuh duri karena ketakutan. Setelah jauh sang Misi dari sang Mong, sampai disini Sang Misi dilupakan. Lutung yang ada di pundak Sang Mong terjebak dalam rimbunnya diri-duri keket saat sang mong menerobos keket yang rimbun itu. Lutung tak berdaya, tak mampu tuk melepaskan diri dari tajamnya duri-duri keket. Berselang lima hari Lutung terluntang lantung di semak keket, tanpa makan dan minum, ia lapar dan


haus lewatlah sang Satuana (burung keker) mencari makan sambil bernyanyi “keker…keker…keker...” Mendengar suara Sang Satuana, Lutung berteriak minta tolong. Lutung : Sang Satuana…Sang Satuana…Tolong Aku. Sang Satuana : Yeh… Lutung ngapain disana? Kenapa memanggilku? Lutung : Dari lima hari aku terjebak disini, haus dan lapar tak tertahankan lagi. Kalau Sang Satuana masih ingat berteman denganku, tolong aku, tolong angkat aku dari keket ini. Sang Satuana : Ingat pasti ingat berteman tapi kalau aku menolongmu nanti kamu malah memakanku. Lutung : Ngapain aku memakan kamu? Jangankan kepadamu, kepada bulumu aku sudah takut, kepada bulumu yang jatuhpun aku takut apalagi untuk memakanmu mana aku berani. Sang Satuana : Beneran kamu takut? Lutung : Bener. Kepada bulumu yang jatuh aku takut apalagi pada dirimu. Sang Satuana : Ya, sekarang aku turun. Sang Satuana mulai mengepakkan sayapnya untuk mendekati Lutung di rimbunnya keket itu. Deras angin mewarnai lambaian sayap-sayapnya sebelum mendarat diatas semak hijau itu. Sang Satuana : Ayo naik Tung! Lutung : Dimana naik? Sang Satuana : Di punggungku, biar tidak jatuh kamu pegang ekorku, injak tegilku dan taruh kepalamu disamping kepalaku. Lutung : Ooo… ya… Naiklah Lutung dipunggung Sang Satuana, dipegang erat ekornya, buur… kepakan sayap Sang Satuana terbang keatas menerjang hembusan udara. Terbang mengelilingi puncak gunung. Melihat tanah


lapang Lutung menyuruh Sang Satuana untuk menurunkannya disana. Lutung : Nah, disana turun. (sambil menudingkan tangannya ketempat yang dituju). Sang Satuana : Ya. Menuju dengan sekali kepakan sayap Sang Satuana sampai di tempat yang ditujukan oleh lutung. Kaki Sang Satuana Sudah menyentuh tanah namun Lutung tak kunjung turun dari punggung Sang Satuana, makin kencang ekor Sang Satuana dipegang Lutung. Sang Satuana : Turun dong. Berat nih. Lutung : Gak mau… gak mau… perutku lapar. Sang Satuana : Bagaimana sekarang? Apa maksudmu? Lutung : Kamu sekarang yang aku makan. Sang Satuana : Mendusta kamu Tung. Bulu yang jatuh saja aku taku apalagi kepadamu. Mendusta katakatamu. Lutung : Dusta ya dusta. Biarin, perut lapar. Sang Satuana : Kalau gitu maumu aku hanya bisa pasrah. Biar dagingku manis, aku kasi tahu caranya. Lutung : Bagaimana caranya? Sang Satuana : Bersihkan buluku semua tinggalkan dua bulu ekorku saja kemudian putar aku tiga kali dengan cara memegang ekorku. Tak ambil pusing Lutung langsung mencabuti semua bulu mulai dari leher sampai ujung pantat kemudian dicabutlah ekornya Sang Satuana satu persatu dan ditinggalkan dua. Sang Satuana : Nah. Sekarang putar aku tiga kali, dijamin dagingku akan manis kau makan. Lutung langsung memegang erat dua bulu ekor Sang Satuana dan memutarnya dengan keras. Ngues…puaaag… suara putaran dan terlemparnya Sang Satuana dan jatuh ditengah semak keket.


Lutung : Bah… bohong kau Sang Satuana (sambil berlari mendekati semak). Sang Satuana telah masuk dalam semak, bersembunyi dalam rimbunnya semak. Siang ia bersembunyi dan malam keluar mencari makan disaat semuanya telah tertidur lelap. Setiaap hari dia hanya mencari makan di dalam rimbunnya semak keket, sampai sebulan akhirnya bulu-bulunya kembali tumbuh. Ia hanya keluar pada malam hari saat Lutung tertidur lelap, ia mengepakngepakkan sayap yang baru mulai tumbuh. Pagi telah tiba saatnya sayap baru akan terbang, Sang Satuana terbang melewati Lutung yang sedang mencari belalang. Hari terus berganti, musimpun kini telah berganti. Setahun sudah dunia ini berputar kini kembali ke sasih kelima. Rumput telah kuning kembali bahkan kering, daun-daun pada berguguran hanya tinggal batang dan ranting pada pohon. Tak ada lagi yang enak dimakan di gunung itu, dipandang tak enak. Lutung bingung mencari makanan, ia menangkap belalang yang mampir di keringnya semak. Sore itu lewatlah Sang Satuana dari selatan ke utara, keker…keker…keker… melihat Lutung menangkap belalang Sang Satuana sengaja menjatuhkan kulit mangga disamping Lutung. Gelubug… Lutung : Peh, Sang Satuana ngapain melemparkan kulit mangga kepadaku? Sang Satuana : Maaf, aku tak tau kau ada dibawah, tadi aku makan mangga dari Nusa Penida sampai disini habis ya aku buang kulitnya. Lutung : Dimana dapat mangga? Sang Satuana : Di Nusa Penida…


Lutung : Kamu kan temenan sama aku, tolong carikan aku satu ya. Lima hari belakangan ini aku tidak makan. Sang Satuana : Aduh, aku tidak bisa awakan, aku cuma mampu bawa mangga untuk persediaanku. Mangga di Nusa Penida berbuah lebat sekali Tung, nangka juga. Kalau kamu mau, ikut saja kesana. Lutung : Benerran boleh aku ikut dengan mu? Jam berapa kamu berangkat kesana? Sang Satuana : Sekarang angina mulai kencang, biar bisa nyebrang kesana besok jam Empat pagi aku berangkat. Kalau kamu mau ikut, tunggu aku di Pesisir. Lutung : Ya. Besok aku tunggu. Keesokan harinya, lutung telah menanti jam 4 pagi di pesisir pantai Kusamba. Lama lutung menanti namun Sang Satuana tak kunjung datang, dari pagi hingga siang, dari siang berganti sore belum juga Sang Satuana datang. Hingga lutung kelaparan, kehausan. Sore mau berganti petang Sang Satuana datang dari selatan. Keker‌keker‌keker‌ geleeebbuuug‌ kulit nangka jatuh di samping Lutung. Lutung : Sang Satuana, kok datang dari selatan? Jam berapa lewat keselatan, kok ga jadi ngajak aku? Sang Satuana : Tadi pagi jam tiga kamu ga ada di sini. Sudah aku panggil tapi kamu ga ada, ya aku tinggal. Lutung : Kamu ga bawa buat aku? Sang Satuana : Ga bisa. Lutung : Besok beneran ajak aku ya? Jam berapa besok berangkat? Aku tunggu dah disini. Sang Satuana : Angin terus kencang, besok jam 3 tungguin disini biar tidak ada angin. Lutung : Ya. Malampun berlalu tanpa arti, begitu cepat jam 3 pagi. Lutung telah siaga dipantai menanti kedatangan Sang Satuana namun kali ini Lutung diperolok lagi


oleh Sang Satuana. Hingga matahari bangun dari timur, Sang Satuana tak kunjung tiba. Lutung sangat kelaparan, kasihan juga melihatnya. Mataharipun berada diatas Lutung, Lutung kelaparan dan kehausan entah kemana perginya Sang Satuana. Menyerong barat matahari mengaga, Sang Satuana tepat datang jam empat sore. Keker… keker…keker… Lutung : Kok baru datang Sang Satuana? Sang Satuana : Kamu lihat tadi angin kencang sekali? Sekarang sudah reda anginnya baru kita berangkat. Lutung : Sekarang? Bisa kita sampai disana? Nginep disana ya? Sang Satuana : Ga nginep, satu jam kesana terus nyari makanan langsung balik jam enam kita sudah sampai disini. Lutung : Oya,,, biar cepat ayo berangkat. Tapi bagaimana caranya aku ikut denganmu? Sang Satuana : Sama seperti dulu, kamu naik di punggungku, pegang ekorku, taruh kepalamu dipundakku, dan injak cekerku. Ayo cepet naik. Lutung naik dengan sigap dan memegang erat ekor Sang Satuana. Bur… Sang Satuana telah terbang ke angkasa. Di angkasa sang satuana sengaja terbang ke kanan dan kekiri angin kencang sekali. Lama tak sampai-sampai hingga matahari mulai diatas air laut. Sang Satuana : Uduh Aku haus sekali, angin kencang.istirahat dulu yuk? Sang Lutung : Dimana istirahat? Aku juga haus sekali. Sang Satuana : Ooo… Tu ada batu, dibatu itu saja. Lutung : Ya dah. Sang Satuana pun mulai mengepakkan sayapnya untuk turun. Cengkraman kaki Sang Satuana sangat kokoh di batu itu. Kepalanya merunduk seperti minum air tapi sesungguhnya ia hanya ingin


meyakinkan Lutung kalau ia haus. Lutung mulai turun dan mengagakan mulutnya ke air. Saat lutung sedang asik membasahi tenggorokannya, sang satuana terbang semakin tinggi. Lutung : Sang Satuana jangan tinggalakan aku! Kau mau kemana? Jangan tinggalkan aku! Lutung menangis, ia tak bisa terbang ataupun berenang. Ia menangis dengan keras hingga didengar oleh penyu kecil. Datanglah penyu kecil menghampiri Lutung. Lutung langsung menyambut dengan kebohongannya. Lutung : Ye‌ dari tadi dipanggil kok hanya yang kecil datang? Cari penyu yang paling besar suruh kesini, ada hal penting yang ingin disampaikan. Penyu kecil : Ya Jro. Pergilah penyu kecil mencari kakeknya yang sangat besar. Berkumpullah penyu dari kecil hingga yang terbesar menuju Lutung. Sampai muncul di permukaan lutung langsung berpura kenal. Lutung : Ye‌ dari kemarin aku tunggu disini kenapa Jro Wayan baru datang? Penyu : Ada apa Jro Wayan kesini. Lutung : Ya, aku mau bercerita sebentar. Kemarin Betara yang ada dibali mengutus aku untuk menghubungkan pulau Bali dengan pulau Nusa Penida agar tidak terpisahkan. Kalau begitu, lautan ini akan diratakan dengan batu, ne bukti batu yang baru keari aku bawa kesini. Setelah aku ingat dengan Jro Wayan, kalau aku jadikan lautan ini sebagai dataran, Jro Wayan tidak ada tempat untuk mencari makan. Penyu : Ya, Jro Wayan. Bisa Jro Wayam membantu kami? Kami tidak setuju kalau laut ini dijadikan dataran. Lutung : Bener tidak setuju? Kalau begitu, aku bisa memohonkan kepada Betara di Bali agar mengurungkan niatnya untuk meratakan ini. Tapi antar


dulu aku ke pesisir agar aku bisa menghadap Betara. Sekarang Jro Wayan yang aku naiki dan yang lain membantu Jro Wayan. Cos… naiklah Lutung di cangkang penyu. Beberapa kilo dari batu penyu mulai tenggelam, Lutung membentak seakan raja menyuruh para budak. Hingga sampai dipesisir lutung menyuruh penyu besar untuk ikut dengannya namun yang lainnya boleh kembali mencari makan. Lutung : Nah… sudah sampai, yang lain boleh kembali namun Jro Wayan harus ikut biar ada saksi, biar saya tidak dikira berbohong. Penyu : Ya,,, berat Jro, ini sudah di pasir tolong turun. Lutung : Nah… jalan dulu, panas nanti kakiku kebakaran bagaimana bisa menghadap Betara? Sampailah di bawah pohon ketapang. Penyu yang kepayahan dan tak mempunyai tenaga lagi dibalikkan oleh lutung hingga keempat kakinya menghadap keatas, penyu tak berdaya untuk melawan. Penyu : Jro, kenapa saya dibalikkan? Bagaimana saya bisa berjalan? Lutung : Mau kemana? Penyu : Menghadap Betara. Lutung : Betara dari mana? Penyu : Jro berbohong kepada saya? Lutung : Aku lapar sudah lima hari tidak makan… sekarang aku mau makan kamu. Kalau aku tidak berbohong aku akan mati di tengah laut. Hehehe… Karena Lutung tidak bisa bencabik cabik penyu, ia pergi mencari Sang Mong. Beberapa jam datanglah Lutung dengan Sang Mong. Sang Mong mulai mencabik-cabik, setiap potongan daging Penyu dibawa ke atas pohon ketapang oleh Lutung. Sampai


semua daging yang telah sang Mong cabik habis dibawa keatas pohon, Sang Mong tidak mendapat bagian daging, cangkang dan tulang yang ada di bawah yang menjadi bagian Sang Mong. Sembari Sang Mong meminta kepada Lutung, kembali kaki penyu yang dilemparkan oleh Lutung, semua hanya tulang. Hingga lutung kekenyangan dan ketiduran dipohon. Melihat Lutung tidur di atas pohon, Sang Mong marah dan mengoyah pohon kelapa itu hingga lutung terjatuh dan pingsan. Karena Sang Mong kesal telah dibohongi oleh Lutung, Lutung diikat di bawah pohon ketapang dengan pohon Bun… Lutung mulai ingat, lagi terlelap, pusing kepalanya karena terjatuh. Belum sadar betul ia terikat disana. Datang Asuajug dan kencing di muka lutung tanpa sengaja karena lutung tak terlihat lebat ditutupi Bun. Lutung marah-marah kepada Asuajag. Lutung : Ye… Asu ajag ngapaik kencing dimukaku? Asuajag : Maaf, kamu tak terlihat olehku… Lutung : Kok aku terikat, siapa yang mengikat? Tolong buka ikatanku! Asuajag : Ga mau, nanti aku yang dibunuh… Asuajag lari dengan kencang karena ketakutannya dengan Sang Mong… Lutung terus terikat disana, namun ada yang menyndul-nyundul pantat Lutung, lutung bertanya. Lutung : siapa yang dipantatku? Coba perlihatkan dirimu! Munculah rayap dari pantat Lutung, Luung langsung minta tolong. Lutung : Ye, Jro tetani… tulong dong lepaskan akatanku! Rayap : Ya… Dimakanlah bun yang mengikat Lutung sampai putus. Setelah lutung lepas lutung menyuruh rayap


untuk berkumpul agar ia tidak bingung untuk menyembah balas budi atau permohonan terimakasi. Lutung : Jro Tetani semua, ayo berkumpullah agar aku tidak bingung untuk menyembahmu. Berkumpullah disini menjadi satu. Rayap demi rayap berdatangan, berkumpul dan membentuk gunung. Lutung yang jahat tak mungkin pernah balas budi, setelah Rayap menggunung mulut lutung langsung mengaga dan melahap Rayap yang menggunung itu. Namun tak semua Rayap terlahap, dua rayap terpental ke bawah daun Bambu dan Teep. Disanalah Rayap berjanji, jika daun Bambu dan Teep terus menutupinya agar tak terlihat oleh lutung dia tida akan pernah memakan daun Bambu dan Teep.


Sup Celedu Dan Telur Ireng Oleh Nengah Sudarsana

erlalu pagi untuk bangun dipagi hari buat seorang Bornet. Pencari kayu bakar ini tidur pulas di dalam gua yang begitu lembab, hanya diterangi beberapa pantulan cahaya dari air

T


sungai di luar gua. Dia tidur beralaskan jerami yang cukup menghangatkan tubuhnya. Selenting bunyi menggetarkan genderang telinga Bornet, terusik, tubuhnya terasa kaku saat bangun. Karena kemarin dia berjalan sangat jauh untuk mengumpulkan kayu bakar. Dia berusaha untuk melangkahkan kakinya untuk keluar menuju sumber bunyi itu. Gaungnya sangat keras dan kuat. Dan keberadaannya pun sangat jauh, namun Bornet berpikir dia masih bernegosisi dengan suara hatinya, “Mengapa juga aku mencari suara itu, iya.” Dia membalikkan badan ingin melanjutkan tidurnya, selangkah terhenti, ia gelisah. “Tapi suara itu sepertinya tidak asing bagiku, mengapa aku seperti ini, tidak seperti biasanya. Ini sangat dekat dengan diriku. Apa yang sebenarnya terjadi? Lebih baik aku bertanya kepada Telur Ireng, iya itu jalan satu-satunya.” Telur ireng adalah telur berwarna hitam dan memiliki kekuatan gaib, dengan mengucapkan “Telur Irenge lalunge akebuuuuut” kemudian telur itu akan berubah wujud menjadi makhluk kecil, aneh, pendek dan mempunyai tangan namun tidak mempunyai kaki. Telur ini dahulu ditemukan oleh Bornet di tengahtengah hutan yang sangat lebat, pada saat mencari buah polkor di tebing yang sangat curam. Bornet, dengan ketidak sabarannya mengucapkan, “Telur irenge lalunge akebuuuuut”. Kemudian telur itu berubah menjadi mkhluk pendek, kecil, hitam dan berkata “Apa yang menyebabkan sobat begitu bingung?” Bornet segera mengungkapkan pertanyaannya, “Temanku tahukah kau dengan bunyi yang mengusik jiwaku?” Dijawab oleh Mahkluk itu, “Wahai sobat yang bijaksana, inilah awal keberangkatanmu mencari orang


yang telah kau tinggal selama 40 tahun lebih. Kamu akan tau jawabannya, pergilah ke arah matahari terbenam, dalam perjalananmu kamu cukup memberi tanda beberapa pohon agar kamu tidak tersesat, alam sudah menyediakan segalanya. Cukup sampai disini pencarian kayu bakarmu untuk membakarku.” Bornet menyahut, “Jadi kayu bakar yang aku kumpulkan ini hanya untuk membakar kamu? Mengapa banyak sekali?” “Aku akan melebur diri menjadi lebah madu di hutan Linggar Catu ini, maka dari itu aku menyuruh kamu teman mencari kayu bakar bukan untuk dijual namun untuk diriku semata. Aku harap teman mengerti. Tolong nanti aku dibakar dalam gua kemudian teman melanjutkan perjalanan yang aku sebutkan tadi.” “Kalau begitu aku akan menuruti segala permintaanmu.” Bornet dengan rasa kesetiakawanannya. Setelah semuanya berlalu Bornet mengawali perjalanannya dengan memberi tanda pada pohon pertama begitu juga dengan pohon-pohon besar berikutnya. Dalam perjalanannya ia melihat celedu (kalajengking) yang mengerumuni bunga Topey yang begitu indah. Sayang Bornet terlalu tua untuk menempuh jalanan yang begitu jauh di seberang lembah di sana. Tidak habis pikir Bornet mengencingi kerumunan celedu itu. Seketika celedu itu mati, ia memungut satu persatu kemudian ia tempatkan pada kulit kayu ditambah lagi dengan air seninya. Tanpa pikir panjang ia melahap santapan siangnya yaitu sup celedu dengan bergairah. Dia duduk sebentar sambil mengipas-ngipas dirinya, di depannya ia melihat sebuah kubangan kecil yang airnya sangat jernih sekali. Dia teringat dengan cerita ibunya bahwa di hutan Linggar Catu terdapat taman bidadari yang


mengeluarkan aroma wangi dan airnya sangat jernih, konon katanya dapat mengembalikan wajah yang mandi seperti muda kembali (awet muda). Dari ingatannya itu Bornet kemudian membuka pakaiannya, ia berendam dan menikmati segarnya air telaga itu. Tanpa disengaja dia bercermin di air yang tenang, dari wajah yang keriput menjadi muda kembali seperti pria tampan dan gagah berani. Bornet terkejut dan dia berteriak sekencangnya, “Aku muda kembaliiiiiiiii. Hey ini aku Si Bornet dari Gua Batu.” Bornet bergegas memakai pakaiannya yang lusuh, namun wajahnya tidak lusuh lagi bahkan tenaganya, tenaga kuda yang siap berpacu. Dia mengambil kampaknya dan tali yang biasa ia bawa saat mencari kayu bakar. Bornet kembali melanjutkan perjalannya, dia hampir menandai seratus pohon besar yang telah dilewatinya. Matahari sudah sejajar dengan tatapannya, ia kemudian mencari tempat untuk beristirahat, dilihatnya gubuk kecil beratapkan jerami dan berdinding anyaman daun kelapa. Didengarnya suara batuk seorang wanita yang sudah tua bersumber dari gubuk kecil itu. Langkah kakinya mencirikan keraguan hatinya untuk mendekati suara batuk itu, namun rasanya telah terlarut dalam suara batuk itu. Tepat Bornet bediri di depan pintu, sesekali sesekali dia mengetuk pintu bambu sehingga keluar seorang nenek yang jalannya sudah bungkuk memegang tongkat kemudian berkata, “Mencari siapa anak muda?” Bornet keheranan bahwa dia lupa dirinya sekarang seorang pemuda gagah. Kemudian Bornet berkata, “Maaf saya tidak bermaksud mengganggu nenek. Apakah nenek sendirian tinggal ditengah hutan ini ?” Nenek itu memperhatikan, memandangi Bornet dari atas sampai bawah. Kemudian si nenek berkata,


“Sepertinya wajah kamu tidak asing bagi saya, siapa sebenarnya kamu anak muda?� Nenek itu berusaha mengingat-ingat, namun dia hanya bisa berharap pemuda itu mempunyai maksud yang baik. Diceritakan Bornet menginap di gubuk nenek itu kemudian seorang gadis molek yang berparas cantik datang dengan membawa wakul berisi dua ikat kacang panjang yang masih tersisa, tidak laku dijual yang akan dipakai sayur untuk santap malam. Paras cantik yang dimiliki oleh anak pemilik rumah itu mengingatkan Bornet kepada istrinya yang memiliki wajah yang sama persis. Padahal saat itu Bornet tidak memberitahukan nama aslinya dia memakai nama Sobrit sehingga wanita tua tidak mengenalinya. Sobrit dari nama samaran Bornet adalah rumusan nama yang akan mematikan Bornet. Bornet dilayani dengan sepenuh hati pemilik rumah apalagi gadis cantik yang bernama Galuh. Semula rencana Bornet numpang nginap adalah satu malam saja namun keadaanya berbeda. Ternyata Bornet tertarik dengan anak pemiliki rumah tersebut. Bornet berusaha untuk membantu segala kesibukan yang ada di rumah itu. Bornet berusaha membantu keluarga kecil itu mencari kayu bakar di tengah hutan. Dia teringat dengan masa keterasingannya selama 35 tahun mencari kayu bakar di tengah hutan seorang diri. Namun kini dia memiliki semangat yang lebih besar untuk membantu keluarga itu. Dengan maksud mendapatkan putrinya tersebut Bornet berusaha memberikan citra yang baik kepada ibu gadis itu. Seiring berjalannya waktu Bornet merajut cinta bersama Galuh mereka tidak buru-buru untuk ke jenjang pernikahan, mereka ingin menikmati masa pacaran lebih lama lagi. Bornet melewati hari-harinya di gubuk itu bersama keluarga kecil itu. Pada malam


hari Bornet bermimpi tentang keluarganya dahulu yang dibinanya selama enam bulan enam hari yang berakhir dengan kisah yang tidak mengenakkaan. Bornet terbangun oleh mimpinya itu, dia berusaha mencari air bersih untuk membasuh mukanya agar segar kembali. Dia kemudian duduk di batu besar di pinggir sungai, dia merenung apa arti mimpinya tadi itu. Tanpa disadari seekor ular berbisa menggigit betisnya Bornet merang kesakitan lama kelamaan dia melihat kulit tangannya kembali keriput dan itupun terjadi pada seluruh tubuhnya, ternyata bisa ular itu memnyebabkan Bornet kembali menjadi kakek tua. Dia tidak mau menerima kenyataan itu kemudian Bornet berusaha untuk mencari telaga ajaib itu. Dengan menahan rasa sakit Bornet seorang tua renta berjalan bertatih-tatih untuk menuju telaga itu, setelah lama perjalannya kepala Bornet terasa pusing dan dia tidak sadarkan diri seluruh kulitnya memar berwarna kebiruan. Tidak lama kemudian Bornet terbangun telah sadarkan diri, dia kemudian mencaricari telaga itu namun telaga itu sudah tidak ada lagi. Airnya sudah kering. Bornet kemudian berteriak seolah-olah tidak mau menerima semua itu, “Ini tidak adil bagi seorang Bornet yang lugu. Apa yang sebenarnya kau inginkan‌.â€? Dengan suara yang lantang dari Bornet kemudian didengar oleh lebah madu dari kejauhan. Lebah madu sangat yakin suara itu adalah suara Bornet. Tidak terasa matahari sudah tepat berada di atas kepala Bornet, ternyata Bornet terlalu kuat untuk menahan rasa sakit yang dideritanya. Dia hanya bisa pasrah duduk bersandar di pohon selama berhari-hari. Suara aneh dari kejauhan hingga bergemuruh terasa mendekat, mendekati Bornet, bagaikan angin kencang yang mengamuk. Ternyata ribuan lebah madu membawa madunya untuk mengobati Bornet. Suara


terdengar samar dari kumpulan lebah madu itu, “Jangan kau sesali keadaanmu, bangkitlah wahai sobatku! Aku akan selalu membantumu, bersiapsiaplah!� Kemudian Bornet bermandikan madu, Bornet merasakan hal yang luar biasa pada tubuhnya. Bisa ular yang ada ditubuhnya melawan khasiat dari madu dari ribuan lebah itu. Akhirnya, tidak disangka tubuh Bornet muda kembali seperti setelah mandi di telaga bidadari itu. Bornet sangat berterimakasih kepada lebah madu itu. Lebah madu itu kembali ke sarangnya yaitu gua batu. Berhari-hari Bornet meninggalkan Galuh dan Ibunya dengan tanpa ada kabar kemudian Bornet teringat dengan mereka. Dengan tidak berlama-lama kemudian Bornet segera kembali ke gubuk Galuh. Ia berlari seperti kidang alas yang dikejar pemburu. Dengan kakinya yang kuat, ia dapat sampai ke gubuk Galuh dengan cepat. Sesampai di depan gubuk Bornet melihat Galuh yang sudah mendahului menatapnya. Galuh berkata, “Kang Sobrit dari mana saja? Aku kira Akang tak kan kembali lagi� dengan rasa bersalah Bornet mengungkapkan segala kesahnya dengan memungkiri kenyataan. Tanpa disadari bahwa Galuh sudah mengandung anak Bornet. Galuh menyampaikan segala yang terjadi padanya. Ibunya hanya bias diam seribu bahasa. Anak itu dilahirkan, begitu riang gembira keluarga kecil itu. Tidak lama kemudian ibu Galuh meninggal karena asma. Sekarang tinggal Galuh dan Sobrit. Waktu berjalan sangat cepat, Bornet sebagai Sobrit menayakan asal-usul keluarga Galuh mengapa bisa berada di tengah hutan seperti itu. Setelah Galuh mengungkapkan segala keadaan keluarganya, menceritakan siapa sebenarnya ibunya dan itu merupakan masa lalu Bornet. Bornet tidak kuasa membendung air matanya, dia tidak bisa berkata


apa-apa lagi selain kalimat dari bibirnya gemetar seperti orang kesurupan. “Jadi kamu anak dari Sunari?” “Ia, kenapa?” jawab Galuh dengan penasaran. Bornet kemudian memalingkan mukanya dan berkata, “Aku sudah menghamili anakku sendiri.” “Apa yang kau katakan Kang Sobrit?” Galuh bingung dengan pernyataan Bornet. Kemudian Bornet menjelaskan pelan-pelan dengan panjang lebar tentang keadaan dirinya. Dia sangat menyesal dan Galuh tidak berbuat apa lagi. Mereka duduk terdiam memikirkan Aib keluarganya tersebut. Kemudian Bornet meminta bantuan kepada lebah madu, mungkin lebah madu bisa membantunya. Lebah madu memberikan syarat yang sangat sulit untuk dilakukan oleh seorang Bornet. Bornet harus menggali 77 sumur di Bukit Keramat dan meminum airnya bersama Galuh dan anaknya. Bornet dengan keras hati untuk berjuang melakukan hal tersebut. Masalahnya hutan itu bukan sembarang hutan, nilai magisnya tanpa tandingan dengan yang lain. Setelah menggali beberapa meter dari permukaan tanah tiba-tiba Bornet tertimbun tanah galian tersebut. Bornet mengakhiri hidupnya di Bukit Keramat dengan harapan Besarnya. Galuh sangat menderita dan tersiksa dengan keadaannya. Dia menjalani hari-harinya bersama anaknya dalam bayangan aib yang luar biasa.


Si Penjinak Kutu Oleh Nengah Sudarsana


D

esa Bet Ngandang, Kecamatan Tegal Penangsaran adalah tempat Berut dilahirkan namun dibesarkan oleh seekor kera yang bijaksana bernama Gabot. Kedua orang tua Berut dimakan oleh raja dan ratu kera yang sangat buas. Namun Berut dibiarkan begitu saja. Itu disebabkan darah Berut dan dagingnya begitu pahit untuk ukuran si pemangsa. Berut yang lugu itu dalam kesehariannya hanya makan pisang dan mempunyai sifat seperti kera karena pengasuhnya kera tulen. Matahari mulai meraba langit belahan timur, Berut dan Gabot segera untuk pergi ke ladang yang mereka garap selama ini dengan membawa peralatan yang sederhana. Setelah melintasi sungai Ayung mereka beristirahat sejenak karena jarak tempat tinggalnya sangat jauh dengan ladangnya. Di pinggir sungai Gabot berusaha mencari buah jaring-jaring yang sudah berwarna kemerahan. Gabot naik ke atas pohon karena tumbuhnya pohon jaring-jaring itu menjalar menumpangi pohon camplung. Sampai di atas Gabot berkata, “Hey ada banyak sekali, kamu yang ngumpulin di bawah Rut.� “Baiklah kalau begitu.� Sahut Berut. Mereka menikmati hasil petikannya dengan riang gembira, mereka saling membina tali persahabatan. Berut sangat menghormati Gabot seperti layaknya orang tua yang melahirkannya. Harapan Gabot kepada Berut, dia ingin menjadikan Berut menjadi orang yang berguna dan tidak membuat orang lain menjadi susah. Mereka berjalan beriringan dengan segera melangkahkan kaki ke ladang. Mereka bekerja dengan ulet hasil panennya berupa ubi-ubian dan kacang tanah, itupun sudah cukup untuk mengisi perutnya dari kelaparan. Namun si raja kera mempunyai sifat pembenci dan dengki kepada siapa saja yang berani tidak


menyerahkan hasil panen, akan tau akibatnya. Gabot dan Berut berusaha untuk menyembunyikan hasil panennya dari raja kera yang rakus itu. Namun sepandai-pandai tupai meloncat pada gilirannya akan pernah terjatuh pula. Begitu juga dengan Berut dan Gabot, mereka diketahui menyembunyikan hasil panennya dari sang raja kera maka mereka diseret oleh pasukan kera yang sangat sadis memperlakukan mereka. Mereka babak belur akibat diseret, sangat malang nasib Gabot dan Berut. Si raja kera tidak akan segan-segan memberikan hukuman bagi yang menghianatinya. Karena dia yang memegang kekuasaan di wilayang itu. Gabot adalah bangsa kera maka hukumannya lebih berat ketimbang Berut yang bangsa manusia. Gabot kemudian dibuang di tempat yang sangat mengerikan, hal yang ia takuti akhirnya terjadi juga. Dia dikurung dalam gua yang banyak lintahnya dan keadaanya pengap sekali. Yang ada dalam pandangannya adalah hitam gelap, dia merasakan neraka yang menyelimuti jiwanya. Dalam benaknya adalah kematian yang perlahan lahan akan menghampirinya. Berut kemudian mendapat giliran untuk menerima hukuman dari raja kera. Berut rencannya mau dimangsa oleh raja kera namun daging dan darahnya pahit, raja teringat dengan bayi yang orang tuanya telah dimangsa dulu. Raja menceritakan semuanya kepada Berut. Berut sangat membenci raja kera yang empat kali lipat lebih besar badannya daripada Berut. Berut tidak mau gegabah, dia memikirkan segala cara untuk mengalahkan raja busuk itu. Yang ada dalam pikiran Berut adalah mencari kelemahan musuhnya itu. Ternyata Berut dihukum untuk melayani sang raja, dia disuruh mencari kutu raja kera tersebut.


Berut mencari-cari jalan untuk membunuh raja kera itu. Akhirnya berut menemukan banyak kutu yang akan dipakai untuk mematikan raja yang angkuh itu. Besok harinya, berut dipanggil untuk mencari kutu raja kera karena akan ada pertemuan diantara raja kera. Dengan tidak sabaran setelah memegang kepala kera itu berut langsung melepaskan kutu-kutu yang akan mematikan raja kera yang angkuh itu. Setelah kutukutu itu menyebar keseluruh tubuh raja kera maka raja kera itu mati dengan mengenaskan karena ia melompat ke jurang dan terpental di batu, maka dari itu tidak ada lagi kekuasaan dari kera yang munafik itu. Kemudian kera-kera yang lain menjadi tunduk kepada Berut, sayangnya Gabot telah mati disiksa oleh kekejaman raja kera itu. Berut kemudian membuat sebuah kerajaan yang makmur dengan memanfaatkan tenaga kera-kera itu untuk berkebun dan bercocok tanam. Sungguh sejahteranya kerajaan itu.


Cungklik Oleh Giri Arta Sedana


M

entari belum berani menampakan sinarnya, kokokan ayam membangunkan Pan Sugih dari lelapnya mimpi. Tergesa-gesa Pan Sugih pergi ke sungai tanpa menyempatkan dirinya tuk cuci muka. Langkahnya panjang dengan nafas yang tersengal-sengal yang hampir dimakan usia, dalam langkahnya menembus subuh yang ditemani siulan tuk melawan dinginnya pagi itu. Tibanya di sungai yang berjarak 2 km dari rumahnya Pan Sugih dengan cepatnya membenamkan kakinya ke sungai “uh...uh..” itulah reaksi Pan Sugih ketika kedua kakinya terbasuh air sungai, dengan pelan-pelan ia memeriksa bubu yang ia pasang kemarin malam. “lumayan, hahaha” desah Pan Sugih. Benar saja bubu yang dipasang Pan Sugih penuh dengan udang. Pan Sugih sangat senang menangkap udang dan itulah yang menghidupi dirinya beserta keluarganya. Mentari kini mulai menampakan sedikit kilauan sinarnya, tapi Pan Sugih berjalan dengan cepatnya, senyum yang ditahan membuat ceria wajah Pan Sugih saat itu, langkahnya tak mau kalah tuk berpacu dengan waktu ia hanya bisa tersenyum saat berpapasan dengan ibu-ibu yang pergi ke pasar. “Buk...,bangun buk, haha..” Teriak Pan Sugih dari halaman rumahnya. “ Ada apa sih pak?, pagi-pagi teriak-teriak. Malu dong ama tetangga” “Ah Ibuk, coba lihat ini haha, biar semua orang tahu akulah raja sungai semua udang takluk kepadaku” teriak pan sugih. “Aduh banyak sekali, makan enak hari ini” saut istri Pan Sugih. “ Cepat buk, pergi sana ke pasar, sebagian kita jual dan sebagian lagi untuk kita”. “ Ia pak, ibuk akan jual ke pasar.”


Pan sugih sangatlah pandai dalam masalah tangkap-menangkap ikan dan udang yang menjadi buruannya. Udang-udang yang dijual ke pasar dari tangkapan Pan Sugih sangat disenangi oleh para saudagar ikan di pasar. Jelas saja karena hasil tangkapan Pan Sugih besar-besar dan masih segar. Penduduk setempat menamainya Pan Sugih, itu bukanlah sekadar nama. Pan Sugih merupakan orang yang sangat kaya, rajin, ulet dan hal hasil menjadikan ia tak kekurangan apapun dalam hidupnya, tapi yang menjadi perbincangan masyarakat adalah Pan Sugih memilki tabiat yang jelek, sombong, kikir, dan tak mau berbagi dengan sesamanya. Masyarakat desa tidaklah terlalu pusing denganya karena itu hal yang biasa terjadi. Hanya satu kekurangan Pan Sugih dengan istrinya yaitu mereka belum dikarunia seorang anak. “Pak...pak..bantuin pak” teriak istri Pan Sugih dari luar. Nafasnya tersengal-sengal, tubuhnya membungkuk karena berat barang yang dipikul olehnya. “Aduh Ibuk beli apaan tu banyak sekali bawaannya.” Sahut Pan Sugih dan bergegas membantu menurunkan barang yang dibawa oleh isterinya. “Ini ada sayur dan buah, terus Ibu beli beras juga buat persediaan kita.” “Aduh Ibu, cepat masak sana aku udah laparni.” “Ia sebentar, bapak tu bersihin dulu dong udangnya” “Ia buk tenang saja ha..ha.., pokoknya hari ini kita makan enak sepuasnya” Pan Suguh dan istrinya sangat sibuk pagi itu,sambil bersiul-siul Pan Sugih membersihkan udang tangkapannya dan istrinya sangat sibuk di dapur. Hasap mengepul keluar dari fintelasi dapur dan mengeluarkan aroma yang gurih. Orang-orang yang lalu lalang di jalan tak tertahankan mencium bau sedap


dari rumah Pan Sugih. Pan Sugih hanya terseyum melihati orang-orang yang melirik ke arahnya. Entah darimana datangnya aroma ini. Sadarkan cungklik dari lamunan pagi itu. Ia mengusap-usap matanya dan mencoba mencari sumber bau yang berani mengganggu dirinya menyambut pagi. Sial aroma ini membuat perutnya bernyanyi-nyanyi ria dan membius langkahnya. Terhenti langkah Cungklik saat aroma itu benar-benar sangat terasa di hidungnya, dengan mengusap-usap matanya Cungklik telah berada di depan rumah tetangganya. Tetangga yang selalu membodohinya, mungkin karena cungklik orang yang benar-benar bodoh. Cungklik adalah anak yatim yang ditinggal oleh kedua orang tuanya. Cungklik tinggal bersama neneknya, dan neneknya itupun sudah lama meninggal, kini ia hidup sebatang kara. “Bih masak apa tu Pan Sugih?.” Tanya Cungklik pada Pan Sugih. “Eh Cungklik, ni iseng kemarin masang bubu” “Bih enak tu.” Saut Cungklik dengan wajah yang penuh harapan. “Pak boleh minta gag.? Aku belum makan dari tadi. “Mau.?” Wajah Cungklik berseri-seri mendengar tanggapan Pan Sugih. “Nih ambil kulit-kulitnya, kamu goreng pasti enak” “Mau-mau.” Cungklik merasa senang dengan tawaran Pan Sugih. Dengan senangnya ia membawa kulit-kulit udang yang dibersihkan Pan Sugih. Cungklik lalu pulang dan bergegas menggoreng kulit udang yang ia minta dari Pan Sugih. “Bapak kok gitu sih ama Cungklik.” Tanya istri Pan Sugih yang mendengar percakapan mereka tadi.


“Ibu tau apa sih. Enak saja Cungklik mau udang Bapak. Bapak yang dapat harusnya menjadi milik kita bukan milk orang lain.” Jawab Pan Sugih dengan ketusnya. Begitulah tabiat Pan Sugih yang sebenarnya. Memang ia orang yang rajin bekerja tapi sayangnya ia tak mau berbagi dengan sesemanya. Sore harinya Pan Sugih membetulkan bubu kesayangannya. Ia berencana untuk memasang bubu nanti malam. Tangannya yang kasar dengan lihai merapatkan kisi-kisi yang terbuat dari bambu itu, dengan kedua alis bertemu menandakan pekerjaan itu amat sulit baginya. Terdengar langkah yang tergesa-gesa Pan Cungklik memandang ke arah langkah tersebut. Tepat di depan mukanya berdirilah pemuda dekil yang kurang terawat dengan wajah yang penuh dengan kepolosan. “ Buat apa tu Pan Sugih.?” “ Eh Cungklik ni lagi buat bubu. Bapak mau menangkap udang lagi.” “ Boleh ikut gag Pak.?” Tanya Cungklik penuh harapan. “ Boleh tapi kamu harus punya bubu.” “ O...baiklah Pak aku pulang dulu dan membuat bubu.” Dengan cepatnya Cungklik menghilang dari hadapan Pan Sugih. Cungklik berlari berharap akan mendapatkan udang yang banyak sama seperti Pan Sugih. Beberpa kemudian Cungklik kembali ke ruman Pan Sugih. “ Pan Sugih apa yang dipakai untuk umpannya?” “ Kamu beli saja roti di warung, dan kamu masukan ke dalam bubu.” “ Tunggu sebentar aku segera kembali.”


Cungklik bergegas membeli roti. Cungklik sangat semangat sekali untuk segera menaruh perangkapnya dan membawa udang ke rumah. Meski bubu yang dibuatnya tidak begitu bagus dan rapi tapi ia yakin bahwa dengan ini ia akan banyak mendapatkan udang yang menjadi kesukaannya. Sang Surya kini mulai kelelahan menyembunyikan sinarnya tuk esok pagi, hanya bintang-bintang yang mau menghiasi langkah Pan Sugih beserta Cungklik yang diterangi bulan malam itu. Langkah dengan nafas yang tersengal-sengal dari nafas Pan Sugih dan wajah yang begitu riang mengantarkan mereka ke hulu sungai. “ Cungklik kamu pasang bubunya di atas pohon sana.” “ Di atas pohon?” “Ia di atas pohon. Aku akan menaruh bubuku di tepi sungai saja karena. Aku suda tua tak kuat untuk memanjat.” Begitulah Pan Sugih membodohi Cungklik. Tanpa pikir panjang Cungklik langsung menaruh bubunya di atas pohon. Begitu mudahnya ia dibodohi oleh seseorang. Setelah mereka selesai memasang bubu. Mereka bergegas pulang kerumah. Wajah Pan Cungklik bergeming dan menahan tawanya karena ia berhasil membodohi Cungklik. Cungkliknya juga ikut tersenyum tanpa mengetahui apa yang dipikirkan oleh Pan Sugih. Sesampainya dekat rumah masing-masing mereka berpisah pulang kerumah dan sepakat tuk melihat bubu mereka besok pagi. Keesokan harinya Pan Sugih dan Cungklik pergi ke sungai bersama-sama untuk melihat bubu udang yang mereka pasang kemarin. Wajah Pan Sugih dan


Cungklik terlihat berseri-seri berharap mendapatkan untung yang besar atas apa yang mereka inginkan. Sesampainya mereka di sungai Cungklik langsung memanjat pohon melihat bubu yang ia pasang. Melihat tingkah Cungklik Pan Sugih tertawa terbahak-bahak. “ Hati-hati Cungklik entar kepeleset lo.” Cungklik tak menghiraukan apa yang dikatakan Pan Sugih. Ia dengan semangatnya sudah berada di atas pohon tempat ia memasang bubu udangnya. Wajahnya pucat dan kedua alisnya bertemu. “ Cungklik apa yang kau lihat. Banyakkah udangnya ha,ha,ha.” Tanya Pan Sugih seraya sambil mengejek Cungklik dalam hati. “ Bah kenapa tidak ada udannya satupun ya?.” Jawab Cungklik penuh kekecewaan Lalu kini giliran Pan Sugih memeriksa bubu yang ia pasang di tepi sungai. “Wah-wah aku beruntug sekali. Aku memang rajanya dalam tangkapmenangkap udang.” Seru Pan Sugih penuh kegirangan. Cungkilk bergegas turun dan melihat hasil bubu Pan Sugih. “ Kok bisa dapat banyak ya Pak?” Tanya Cungklik penuh penasaran. “ Ya dong siapa dulu Pan Sugih. Ha,ha,ha.” Saut Pan Sugih dengan bangganya. Cungklik merasa sedih, kenapa ia tidak mendapatkan udang satupun dari bubu yang ia pasang. Melihat senyum Pan Sugih ia ikut tersenyum walau nasibnya tidak sebagus Pan Sugih, karena ia sudah berusaha meski ia taidak tahu bahwa dirinya telaah dibohongi oleh Pan Sugih. Dengan senangnya Pan Sugih mengambil udangudang hasil tangkapannya itu. Saat Pan Sugih memasukan tangannya ke dalam bubu untuk mengambil udang tiba-tiba saja Pan Sugih menjerit kesakitan. “ Aduh...aduh.” di lemparnya bubu ke tanah oleh Pan Sugih. Melihat semua itu Cungklik mendekati Pan Sugih. “ Kenapa Pan Sugih?.” Tanya Cungklik


penuh penasaran. Tiba-tiba saja tangan kanan Pan Sugih membekak dan Cungklik melihat bubu Pan Sugih yang dijatuhkannya. Cungklik sangat terkejut melihat isi dalam bubu Pan Sugih ternyata selain udang terdapat ular hijau yang sangat berbisa dengan cepatnya Cungklik membuang bubu tersebut ke sungai dan terhanyut arus sungai. Cungklik kemudian dengan sigapnya mengikat tangan Pan Sugih dengan tali yang ia bawa, agar racun ularnya tidak cepat menyebar. “Aduh, aduh, mati dah aku sekarang.” Teriak Pan Sugih ketakutan. Cungklik menggendong Pan Sugih dan berlari membawanya ke dukun. Cungklik tahu bahwa dukun yang ia kenal bisa mengobati segala jenis racun. Setibanya di tempat dukun yang Cungklik kenal. Cungklik menceritakan semua kejadiannya kepada Sang dukun tersebut. Lalu Pan Sugih dikasi segelas air yang berisi penawar racun oleh Sang dukun. Mendadak Pan Sugih lemas dan tak sadarkan diri. Cungklik ketakutan melihat reaksi Pan Sugih. “ Kenapa ini jero?.” Tanya Cungklik. “Tenang saja penawarnya sedang bekerja dan bereaksi terhadap racun ular yang berada dalam tubuh Pan Sugih, karena tubuh Pan Sugih lemah maka ia tak sadarkan diri ini.” Jawab Sang dukun bak seorang dokter. Cungklik sangat cemas apa yang menimpa Pan Sugih. Tiba-tiba Sang Dukun mengambil golok yang sangat tajam dan seketika itu memotong tangan Pan Sugih yang terkena racun. “ Kenapa kau lakukan itu terhadap Pan Sugih?.” Tanya Cungklik penasaran. “ Ini ku lakukan karena racun di tangan Pan Sugih yang kau ikat dengan tali itu mengumpul semua racun ular yang menggigitnya, jika ini tidak dipotong maka tangannya akan membusuk”. Jelas Sang dukun. Cungklik hanya terdiam melihat aksi Sang Dukun.


Sejam kemudian Pan Sugih sadarkan diri dan terkejut saat melihat tangan kanannya buntung. “ Dimana tangan ku. Apa yang telah terjadi?”. Saut Pan Sugih ketakutan. Pan Sugih terus menagis dan merasa kecewa atas apa yang menimpanya. Lalu Cungklik menjelaskannya kepada Pan Sugih atas apa yang telah terjadi. “ Eh kau Cungklik temanmu sudah ku selamatkan mana imbalannya?”. Pinta Sang dukun kepada Cungklik”. “ Maaf jero dukun kami tidak membawa uang sepeserpun sebagai gantinyanaku siap melayani jero sampai batas waktu yang jero inginkan, kami hanyalah orang miskin yang terkena bencana ini jero”. Jawab Cungklik dengan lugunya. “ Kamu memang anak yang baik. Baiklah silahkan pergi dari sini dan bawa pergi sana temanmu ini sebelum aku berubah pikiran”. Perintah Sang dukun. Cungklik lalu pergi dan menatuh Pan Sugih dengan hati-hati. Pan Sugih merasa menyesal telah membodohi Cungklik yang baik hati itu. “ Cungklik kenapa kamu mau menolong ku dan mengantikan biyaya pengobatan tadi”. “ Ya iyalah Pak. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Bapak adalah tetangga saya dan saya sering bertanya kepada Bapak jika saya kebingungan, jiak Bapak mati siapa yang menemani Cungklik memasang bubu di Sungai”. Mendengar kebaikan dan kepolosan Cungklik Pan Sugih akhirnya sadar atas apa yang ia perbuat kepada Cungklik sebelumnya. Beberapa hari kemudian Pan Sugih beserta istrinya mendatangi Cungklik kerumahnya. Mereka berniat meminta cungklik untuk menjadi anaknya. Cungklik merasa senang atas apa yang ditawarkan Pan


Sugih bersama dengan istrinya. Semenjak itu Cungklki menjadi anak Pan Sugih dan Cungklik sangat di sayangi oleh keluarga barunya. Berkat kebaikan dan rasa rela menolong dan berkorban yang dilakukan Cungklik tanpa memandang siapa orangh itu akhirnya Cungklik menemukan kebahagiaan yang selama ini ia rindukan.


KunangKunang-Kunang Andarung Sasih Oleh Giri Arta Sedana

W

ajah pucat menghiyasi wajah kunangkunang pagi ini. Matanya sayu menghadap langit mungkin ini bukan waktunya untuk bersedih gumam kunang-kunang kecil pada


dirinya sendiri. Hujan gerimis ternyata mewakili perasaanya. Ia pun bertanya pada langit. “ Mengapa kau mendung sengajahkah kau mewakili pikiran ku?”. Langit hanya diam. Kunang kunang kecil hanya bisa menundukan kepala dan meneteskan air mata. Ibu kunang kunang seminggu ini sakit dan tidak bisa menemani kunang kunang kecil terbang menembus malam. Ia sangat bersedih karena tidak seorangpun yang bisa mengobati penyakit Ibu kunang kunang kecil. “ Hai kunang-kunang kecil kenapa dirimu itu. Sudah lama aku tidak mendengar nyanyianmu menembus malam?”. Tanya Kutilang yang menghampiri kunang kunang kecil. “ Mengapa sinarmu kian redup?”. Tanya Kancil yang ikut bergabung di sana. “Sudah seminggu ini Ibu ku sakit, dan aku tidak tahu harus membawanya kemana lagi. Semua orang yang berusaha mengobatinya mengatakan menyerah dan mereka tidak tahu obatnya”. Jawab kunang kunang kecil dengan penuh kecewa. Suasana hening sejenak. Kutilang dan Kancil ikut merasakan kesedihan kunang-kunang kecil. “Maaf ya Kunang-kunang aku membangkitkan kesedihanmu”. Sesal Kutilang memecah keheningan saat itu. “ Sudahlah Kancil”. Jawab kunang kunang kecil sembari matanya berkaca-kaca air mata kesedihan. “ O ya kunang kunang kecil. Aku baru ingat paman Rusa pernah bercerita bahwa di hutan sana ada orang yang bisa menyembuhkan segala jenis penyakit. Kamu tunggu dulu di sini aku akan mencari paman Rusa. Lalu Kancil berlari dengan cepatnya ke rumah paman Rusa untuk mendapatkan informasi tentang orang pintar itu.


“ Wah Kancil memang tahu banyak informasi ya?”. Gumam Kutilang membuka percakapan. “ Ya. Kancil memang orang yang pintar dan tahu banyak informasi tentang banyak hal”. Saut kunangkunang kecil wajahnya penuh dengan harapan bahwa Kancil akan memberikan informasi yang menggembirakan untuk kunang-kunang kecil dan Ibunya. “O ya Kunag kunang bagaimana Ibu bisa sakit seperti itu”. Tanya Kutilang sembil memenimani Kunang-kunang kecil menunggu kedatangan Kancil. “Aku juga tidak tahu tepatnya kapan ini terjadi. Masalahnya pada waktu itu aku pergi bermain-main menembus malam sendirian, setibanya di rumah Ibu kedapatan sudah berbaring lemas di kamarnya setelah aku periksa badannya panasnya luar biasa dan tidak turun-turun sampai sekarang”. Jawab kuanang-kunang kecil. Kasihan sekali apa yang dialami Ibu Kunangkunang kecil pikir Kutilang. “Andai saja aku tidak ke luar rumah malam itu Ibu takan sampai separah ini”. Tambah Kunang-kunang kecil dengan sedihnya. Kunang-kunang kecil merasa menyesal karena tidak mendengarkan nasehat Ibunya waktu itu. Memang kunang kunang kecil sangat senang menembus malam sendirian tanpa memikirkan bahayanya malam di belantara hutan ini. Memang begitulah kunang-kunang kecil keras kepala dan memilki kemauan yang besar dan tidak bisa ditentang oleh siapapun. Tapi kini keadaan telah berbalik. Perbuatannya itu kini mengurug kunang kunang kecil. Ia tidak bisa berpergian lagi karena harus menemani Ibunya yang sedang sakit. Kunang-kunang kecil sebenarnya sangat sayang kepada Ibunya. Hanya saja ia memilki tabiat yang susah ditentang oleh siapapun. Kini kunang-


kunang kecil sadar atas apa yang Ia per buat dan hal ini menyadari akan sangat berharganya nasehat orang tua kepada anaknya. Kunang-kunang kecil kini hanya bisa menunggu muzujat dari Sang Pencipta, yang dikirim melalui informasi yang akan diberikan Kancil pada dirinya. “ Kancil lama banget sih pasti dia tidak menemukan Paman Rusa”. Sahut kunang-kunag kecil penuh cemas. “ Ah...jangan berpikir yang bukan-bukan. Mungkin saja ini adalah informasi yang sangat penting dan Kancil harus memahani betul-betul maksud informasi dari Paman Rusa”. Timpal Kutilang menenangkan Kunang kunang kecil. Langit masih gerimis meski mendung sudah menipis ditiup angin. Seakan-akan memberikan gambaran perasaan kunang kunang kecil saat ini. Entah apa yang dicari Kancil yang membuat Kunang kunang kecil menunggu cemas. Kini yang menjadi tujuan uatama kunang-kunan kecil adalah bagaimana cara menyembuhkan penyakit Ibunya itu. Kutilang hanya bisa menemani Kunang kunang kecil dengan obralanobrolan kecil untuk menghilangkan kesedihan kunang kunang kecil saat ini. “Hai...”. suara itu rasanya tak asing lagi. Benar itu suara kancil dari kejauhan. Kancil berlari dengan cepatnya. Dengan nafas yang tersengal-sengal ia menghampiri kunang kunang kecil bersama kutilang yang menunggu kedatangannya dari tadi. “ Maaf ya teman-teman menunggu lama?”. Kancil membuka pertemuannya dengan nafas yang tidak beraturan dan peluh membasuhi tubuhnya. “ Apa yang kau dapatkan dari Paman Rusa?”. Tanya Kutilang penasaran “ Ia Kancil”. Tambah Kunang-kunang kecil dengan cemasnya.


“ Sebentar dulu”. Jawab kancil masih dengan nafas yang tersengal-sengal. Suasana semakin hening. Kutilang yang penasaran akan berita yang hendak disampaikan Kancil, terdiam sejenak menuruti perintah kancil. Kunang-kunang kecil tidak tahu apa yang ia rasakan apakah ia harus merasakan kesenangan atas kedatangan Kancil atau malah sebaliknya. Kunang kunang kecil sangat cemas dan penasaran ia tidak bisa menebak apa yang akan Kancil sampaikan kepadanya. Semuanya menatap Kancil. “Kunang-kunang kecil aku punya kabar baik untukmu”. Kancil , membuka ketegangan Kutilang dan Kunang-kunang saat itu. “ Kabar baik bagaimana Kancil. Apakah kamu tahu orang yang dapat menyembuhkan penyakit ibuku?. “ Ya. Paman Rusa memberi tahu tadi. Tapi....” “ Tapi apa kancil?”. Tanya Kunang-kunang kecil penasaran. “ Orang itu... oarang itu adalah Ular Slam yang galak”. Jawab Kancil ragu. “ Tak masalah bagiku asal ibuku cepat sembuh”. Saut Kunang-kunang kecil. “ Baiklah teman-teman. Aku akan menemui kakek Ular itu, tolong kamu jaga Ibuku jangan kau beritahu kepergianku kepada ibu”. Pesan Kunangkunang kecil kepada kedua temannya. “ Kamu hati-hati ya Kunang-kunang”. Pesan kedua temannya. Kunang-kunang kecilpun terbang sendirian menuju tempat Ular Slam yang terkenal galak itu. Ia harus segera mendapatkan obat untuk menyembuhkan penyakit ibunya itu. Banyak hal yang dipikirkan Kunang-kunang diperjalanan. Ia sedikit khawatir apa yang akan dilakuka oleh ular slam kepada dirinya.


Dua jam perjalan akhirnya Kunang-kunang kecil sampai di tempat Ular Slam yang dikatakan Kancil padanya. Kunang-kunang kecil sedikit ragu. “Mengapa di sini sepi ya?”. Gumam Kunang-kunang kecil. “ Halo permisi apa benar di sini rumah Ular Slam?”. Tak ada suara yang menyahut dari dalam rumah itu. Kunang-kunang kecil penasaran dan mengulangi salam tuk bisa bertemu dengan Ular Slam. Sesaat kemudian terdengar suara batuk dari dalam rumah itu. “ Siapa itu di luar?”. Saut Ular Slam dari dalam rumah. “ Aku Kunang-kunang kecil”. “ Menagapa kau datang mencari aku?. Kamu mengganggu tidurku saja. Ku makan kamu nanti”. Kunang-kunang kecil ketakutan mendengar jawaban dari dalam rumah itu. Kunang-kunang kecil terdiam sejenak. Tiba-tiba saja Ular Slam ke luar rumah. “ Hai kau Kunang-kunang kecil mengapai kau datang kemari?”. Tanya Ular Slam dengan seramnya. “ Begini tuan Ular. Aku mendengar bahwa kau dapat menyembuhkan penyakit ibuku, katanya kau bisa menyembuhkan berbagai penyakit”. “ Memang ibumu sakit apa?”. Tanya Ular Slam kepada Kunang-kunang kecil. “ Sudah seminggu ini ibuku sakit panas dan tak kunjung sembuh”. “ Itu gampang aku bisa menyembuhkannya”. “ Benarkah?”. Kunang-kunang kecil merasa senang. “ Tapi ada syaratnya”. Balik Ular kepada kunang-kunang kecil. “ Apa syaratnya?”. “ Karena kau telah mengganggu tidurku maka aku meminta lidahmu sebagai gantinya.


Kuanang-kunang kecil merasa takut. Ia diam sejenak tapi ia tidak mendapatkan jalan keluarnya. Ia pun setuju dengan persyaratan yang di ajukan Ular Slam kepada dirinya. “ Baiklah Tuan Ular. Tapi aku ingin bernyayi untuk yang terakhir kalinya. Sebelum kau memotong lidahku sebagai ganti yang kau inginkan dari ku”. “Baiklah”. Jawab Ular. Kunang-kunang kecilpun bernyanyi. “ Tak ada yang abadi. Aku begini karena aku sayang pada Ibuku dengarkanlah nyanyianku untuk yang trakhirkalinya. Apapun akan kulakukan, matipun aku tidak akan menyesal asal aku bisa berbakti kepada Ibuku”. Begitulah nyanyian Kunang-kunang kecil. Tanpa ia sadari Ular Slam meneteskan air mata mendengar nyanyian Kunang-kunang kecil. “ Baiklah tuan Ular sekarang potonglah lidahku dan kau cepat berikan penawarnya?”. “ Benarkah kau lakuakan ini untuk ibumu”. Tanya Ular kepada kunang-kunang. “ Benar tuan”. “ Baiklah akan aku berikan”. Tak disangka Ular Slam memberikan obat untuk Kunang-kunang dengan Cuma-Cuma tanpa meminta lidah Kunang-kunang kecil. Kuang-kunang kecil sangat senang dan langsung pergi ke rumah dan memberiakan obat itu kepada ibunya. Semenjak itu Kunang-kunang kecil menuruti nasehat ibunya dan Ular Slam yang terkenal jahat berubah menjadi baik. Begitulah jika asal ada kemauan dan tekad yang kuat maka tak hayal semuanya bisa terpenuhi.


Sandal Kulit Kerbau

(Lelampak Lendong Kao) Oleh Syahrizal Akbar


D

i bumi Lombok, dahulu kala hiduplah seorang raja. Baginda raja memiliki sepasang kerbau yang sangat beliau sayangi. Sepasang kerbau tersebut merupakan pemberian ayahnya sebelum meninggal. Seiring bertambahnya usia, sepasang kerbau itupun mulai sakit-sakitan. Karena sangat sayangnya Baginda raja pada sepasang kerbau itu, Baginda raja tidak mengizinkan para pengawalnya untuk menyembelih mereka. Sepasang kerbau itu pun menghembuskan nafas terakhirnya. Untuk mengenang dan selalu mengingatnya Baginda raja menyuruh pengawalnya untuk mengambil sedikit kulit kerbau jantan dan kerbau betina untuk dijadikan sandal Baginda raja. Sandal kanan berasal dari kulit kerbau jantan dan sandal kiri berasal dari kulit kerbau betina. Sepasang sandal yang dibuat dari pasangan suami istri kerbau itu selalu digunakan Baginda raja. Sang suami disebut Papuq Mame (kakek), sedang sang istri disebut Papuq Kine (nenek). Karena takdir Tuhan Yang Maha Kuasa, sepasang sandal itu bisa bercakapcakap, dan percakapan mereka hanya bisa didengar dan dimengerti oleh mereka berdua. Pada suatu malam, Baginda raja melepas sepasang sandal itu dan meletakkannya di bawah tempat tidur. Jika telah dilepaskan oleh Baginda raja, sepasang sandal itu mulai khawatir. Lebih-lebih jika sedang musim hujan, Baginda raja selalu menggunakan sandal ini kemanapun beliau pergi. Menurut beliau, sandal kulit kerbau inilah yang diapandang paling kuat dan paling tahan terhadap air. Oleh sebab itu Baginda selalu memakainya dan sangat menyayanginya. Setiap malam, jika sandal itu telah dilepas dan diletakkan di bawah kolong tempat tidur, datanglah seekor tikus yang mengintipnya. Maklumlah, kulit


binatang apa saja yang baru terendam air akan mengeluarkan bau yang sangat digemari oleh tikus. Hal inilah yang sangat dikhawatirkan oleh sandal jantan. “Puqen!” demikian biasanya sandal jantan memanggil istrinya. “Ya…!” sahut sandal betina. “Jika begini terus keadaannya, setiap malam kita selalu terus diintip oleh tikus-tikus yang kelaparan itu, akhirnya kita akan menjadi mangsanya juga. Bagaimana kalau kita memohon kepada Yang Maha Kuasa agar kita dijadikan sepasang tikus?. Dengan begitu kita tidak akan dimangsa oleh tikus-tikus itu.” “Jika kemauanmu begitu aku menurut saja” jawab istrinya. “Kalau demikian, mari kita berdoa bersama agar Tuhan menjadikan kita sepasang tikus. Kalau kita menjadi tikus, tikus-tikus yang lain pasti tidak akan berani mengganggu kita. Dengan demikian semua sisasisa makanan yang ada di dapur istana dapat kita kuasai berdua.” Merekapun mulai berdoa. “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami sepasang tikus….” Atas kekuasaan Tuhan, sepasang sandal itu berubah menjadi dua ekor tikus yang besar. Keesokan harinya, ketika Baginda raja bangun dari tidurnya dan hendak mengenakan sandal kesayangannya, beliau terkejut. Ia tidak menemukan sandalnya. Ia menganggap ada yang telah mencuru sandalnya. Kemudian beliau mengumpulkan semua pengawalnya untuk mencari siapa yang berani mencuri sandal kesayangannya. Karena terlalu sayangnya Baginda raja pada sandal kulit kerbaunya, beliau mengancam para pengawalnya akan mendapatkan hukuman jika tidak menenmukan sandal kesayangannya.


Para pengawal istana kemudian mulai mencari. Mereka memeriksa setiap rumah warga. Namun hingga malam hari tiba, para pengawal tidak menemukan sandal Baginda raja. Baginda raja menjadi murka dan menghukum semua pengawalnya. Di atas loteng sepasang tikus jelmaan itu mengejar-ngejar setiap tikus yang mencar makan. Sepasang tikus itu sangat disegani oleh tikus-tikus yang lain. Apabila tikus-tikus lain mencari makan, maka dikejar-kejar oleh mereka. Begitulah kejadiannya setiap hari. Hal itu membuat Baginda raja yang sedang tidur dengan permaisurinya sering terganggu karena gaduh yang dibuat oleh tikus-tikus itu. Baginda raja kemudian mengutus pengawalnya untuk mencari kucing agar dapat menangkap tikustikus itu. Cukup banyak kucing yang dilepaskan oleh pengawal di atas loteng. Sudah banyak pula tikus-tikus yang dimangsa oleh kucing-kucing itu. Sepasang tikus besar penjelmaan sepasang sandal itu selalu berhasil bersembunyi dari kejaran para kucing. Sepasang tikus itu pun mulai khawatir. Mereka mulai merasakan ketakutan yang sama ketika mereka masih berwujud sandal dan menjadi incaran para tikus. Tikus jantan kemudian berfikir. Ia memikirkan cara untuk lepas dari buruan para kucing. Ia pun akhirnya mendapatkan cara tersebut, yakni dengan memohon kepada Tuhan kembali. “Puqen… aku khawatir sekali dengan ganasnya kucing-kucing yang dilepas untuk menagkap kita. Kita pun nanti pasti dibunuhnya. Bagaimana pendapatmu jika kita memohon kepada Tuhan agar kita dijadikan kucing saja?” kata tikus jantan kepada istrinya. “Terserah… aku hanya menurut saja” jawab istrinya. “Jika demikian mari kita berdoa bersama agar kita menjadi sepasang kucing.”


Kali ini pun Tuhan mengabulkan permohonan mereka. Dalam seketika sepasang tikus itu kini berubah menjadi sepasang kucing. Di atas loteng, kucing-kucing yang dilepas para pengawal diserang. Sementara tikus-tikus sudah tidak ada yang berkeliaran lagi. Sudah tidak ada lagi yang mengganggu Baginda raja kala beliau sedang istirahat. Sejak saat itu, sepasang kucing jelmaan itu sering keluar masuk kamar Baginda raja. Sepasang kucing itu kini menjadi binatang kesayangan sang permaisuri karena bulunya yang bagus dan ekornya yang panjang. Namun ada suatu hal yang membuat kucing jantan sangat iri. Jika Baginda pergi berburu, yang selalu dibawa serta adalah anjing berburunya. Kucing jantan menganggap menjadi anjing pemburu tentu lebih enak dan lebih gagah. Seperti biasa, kucing jantan kemudian meminta persetujuan istrinya. “Puqen… kalau kita terus menjadi kucing seperti sekarang kita tidak bisa keluar berjalan-jalan ke hutan. Tidak seperti anjing-anjing itu yang setiap hari diajak jalan-jalan oleh Baginda raja.” “Lalu kita harus bagaimana?” tanya kucing betina kepada suaminya. “Bagaimana kalau kita memohon kepada Tuhan untuk dijadikan anjing pemburu saja? Dengan begitu kita bisa leluasa jalan-jalan ke hutan.” Kucing betina selalu menyetujui kemauan suaminya. Mereka kemudian bersepakat memohon kepada Tuhan agar dijadikan sepasang anjing pemburu yang disegani. Permohonan itu pun dikabulkan. Kini keduanya telah berubah menjadi sepasang anjing pemburu yang sangat gagah. Keesokan harinya keributan terjadi lagi di istana. Permaisuri kehilangan kedua kucing kesayangannya. Tetapi di luar istana Baginda raja merasa senang


karena tiba-tiba saja dua ekor anjing yang besar dan gagah berada di halaman istana. Kedua anjing itu untuk hari pertama langsung dibawa Baginda untuk berburu ke hutan. Kedua anjing itu selalu mendapatkan mangsa. Telah beberapa kali mereka bersama Baginda raja pergi berburu ke hutan Sekaroh. Suatu hari, mereka berhasil menangkap dua ekor kijang besar. Setelah digigitnya, sang raja lalu melepaskan anak panahnya sehingga kijang itu jatuh tergeletak di tanah. Betapa senang hati Baginda dan berjanji akan memberi kedua anjing pemburu itu daging menjangan. Karena selalu mendapatkan hasil yang banyak sejak kedua anjing pemburu itu datang, Baginda kemudian memberikan perlakuan istimewa pada kedua anjingnya. Beliau membuatkan mereka kerangkeng yang indah, makan dan minumnya selalu berbeda dengan anjing berburunya yang lain. Setelah cukup lama mereka menjadi anjing pemburu, anjing jantan pun mulai mengeluh. Kesempatan keluar kandang kini jarang diperoleh. Mereka merasa dipingit, tidak bebas seperti anjinganjing yang lain. Anjing jantan itu mengeluh pada istrinya. “Puqen‌ makan dan minum kita, memang terjamin, tetapi kebebasan kita seakan tergadai. Lagi pula kalau kita punya kesempatan keluar, anjing-anjing yang lain seperti iri dan memusuhi kita. Kalau berjumpa dengan manusia, ada saja yang memukul, melempar dan sebagainya. Bahkan, yang tidak senang kepada anjing kadang-kadang ingin membunuh kita‌â€? kata anjing jantan itu. Kemudian anjing jantan berfikir lagi. Sekarang bagaimana caranya agar bebas dari kerangkeng. Ia kemudian mengajak istrinya untuk berubah menjadi


manusia. Tidak hanya itu anjing jantan tidak hanya ingin menjadi mausia biasa, ia ingin menjadi raja. “Puqen‌, bagaimana kalau kita memohon untuk dijadikan raja saja?â€? sambung anjing jantan itu. “Bukankah Baginda raja sudah tua dan sudah terlalu lama memerintah? Oleh karena itu, sebaiknya kita memohon kepada Tuhan agar kita menjadi manusia. Setelah itu kita dirikan kerajaan baru di tempat lain, yang lebih besar dan megah dari kerajaan ini.â€? Seperti biasa istrinya selalu selalu menurut saja atas rencana-rencana suaminya. Akhirnya, mereka berdoa kepada Tuhan agar dijadikan sepasang manusia. Permohonannya dikabulkan, merekapun berubah menjadi sepasang manusia suami-istri. Keributan terjadi lagi di istana. Kali ini Baginda raja marah karena anjing berburu kesayangannya hilang tanpa bekas di dalam kerangkeng. Para pengawal yang bertugas dihukum karena tidak bisa menjaga anjing kesayangannya. Disuatu tempat di sebelah timur Bumi Lombok sepasang manusia tadi memulai hidup baru. Mereka secara perlahan sambil memohon kepada Tuhan mulai membangun kerajaannya sendiri. Mereka berharap bisa menggantikan kerajaan Baginda raja. Mereka mulai menampakkan hasilnya, yakni ingin menjadi raja besar yang menguasai seluruh Bumi Lombok. Mereka membangun sebuah istana yang megah. Banyak orang yang menajadi pengikutnya. Mereka mulai memerintah. Mereka merasa sangat senang. Keberadaan kerajaan baru itu samapai juga ke telinga Baginda raja lama, dan terdengar desas-desus bahwa kerajaan baru itu akan menyerangnya. Baginda raja lama kemudian merasa khawatir dengan keberadaan kerajaan baru itu. Baginda raja kemudian memerintahkan para pasukannya untuk menyerang


lebih dulu sebelum diserang oleh bala tentara, Papuq Mame. Karena tidak adanya persiapan, kerajaan Papuq Mame mudah sekali diserang. Akibat serangan mendadak itu, kerajaan Papuq Mame menjadi kacau balau, pasukannya kocar-kacir, terburai melarikan diri. Untunglah Papuq Mame tidak sampai terbunuh. Ia dan istrinya bersembunyi di hutan menyelamatkan diri. Dalam sekejap kerajaan Papuq Mame lenyap. Mereka kalah oleh pasukan Baginda raja lama. Akibat pertemburan itu Papuq Mame menjadi sakit hati karena kekalahannya. Ia mencoba memikirkan cara untuk bisa melawan kerajaan lama. Istrinya menyarankan sebaiknya mereka menyamar sebagai orang biasa dan mengabdi kepada kerajaan lama. Namun sang suami tak menyetujui hal itu. Ia terus berfikir cara untuk menjatuhkan kerajaan Baginda raja lama. Akhirnya ia pun mendapatkan ide. Ia mendesak istrinya agar menyetujui usulannya memohon kepada Tuhan agar mereka bisa dijadikan Tuhan. Awalnya istrinya menolak. Namun karena sayangnya sang istri kepda suami, dengan terpaksa sang istri menyetujui kekerasan hati suaminya. Keduanya kemudian menengadahkan tangan, memohon kepada Tuhan. “Ya, Tuhan‌, jadikanlah kami sepasang Tuhan‌!â€? Namun begitu kalimatnya selesai, seketika Papuq Mame dan Istrinya berubah kembali ke asalnya yaitu sepasang sandal kulit kerbau. Namun mereka kini tidak memiliki keistimewaan apapun. Mereka hayalah sandal kulit kerbau biasa yang tidak bisa bercakap-cakap seperti sebelumnya. Sepasang sandal itu ditemukan oleh seorang yang sangat miskin. Ia menemukan sandal itu ketika mencari kayu baker di hutan. Kini sandal itu dikenakan oleh seorang yang sangat miskin bukan seorang raja.


Permintaan mereka menjadi Tuhan memang sangat keterlaluan sekali. Akibatnya mereka menjadi rugi sendiri. Demikianlah dongeng yang memberi pelajaran kepada kita bahwa orang yama tamak (serakah) akan mendapatkan kerugian akibat keserakahannya. Keberhasilan sebaiknya diperoleh dengan kerja keras bukan hanya berkhayal.


Boroq Oleh Syahrizal Akbar


L

ombok yang terkenal dengan sebutan Pulau Seribu Masjid selalu mengisyaratkan warganya untuk tidak lupa menjalankan perintah Tuhan. Di sebuah desa terpencil yang sangat fanatik dengan kehidupan beragama, yaitu Desa Kemong terdapat keluarga sederhana yang terhormat dalam pandangan agama. Kepala keluarganya bernama Mamiq (bapak) Irun didampingi dengan setia oleh sang istri yang biasa dipanggil Inaq (Ibu) Irun. Mamiq Irun dipercaya warga desa menjadi seorang guru ngaji. Setelah lima tahun perkawinannya, ia belum juga dikaruniai seorang anak. Do’a, usaha, semua telah mereka lakukan. Hingga akhirnya mereka melakukan suatu pantangan yang ada di desa tersebut yakni menumbuk daun boroq untuk diminum airnya. Informasi itu didapat istrinya yakni Inaq Irun dari desa sebelah, agar cepat memperoleh keturunan maka sang istri harus meminum air daun boroq pada senja hari atau setalah melakukan shalat maghrib. Namun karena Inaq Irun ini bukan merupakan warga asli desa Kemong ia tidak mengetahui pantangan-pantangan yang berlaku di desa tersebut. Hingga akhirnya tanpa sepengetahuan Amaq Irun yang merupakan warga asli desa Kemong ia meminum ramuan dari daun boroq. Inaq Irun secara rutin meminum ramuan tersebut setelah selesai shalat magrib ketika suaminya sedang mengajar anak-anak mengaji di masjid. Beberapa bulan kemudian alangkah senangnya keluarga tersebut karena Inaq Irun mengandung. Selama mengandung keanehan-keanehan selalu dirasakan Inaq Irun. Ia selalu benci dengan anak-anak. Itu membuatnya jauh dengan tetangganya. Padahal sebelum mengandung ia sangat ramah dengan


tetangganya. Ia juga tidak pernah ngidam makanan apapun seperti wanita hamil pada umumnya. Hingga suatu malam Inaq Irun merasakan ia akan melahirkan. Maklum pada saat itu tidak ada bidan seperti sekarang ini yang membantu proses kelahiran, Amaq Irun berlari memotong jalan melalui sawah. Ia menuju rumah dukun beranak yang ada di desanya. Namun sebelum sampai kembali ke rumah bersama dukun beranak, Inaq Irun telah melahirkan. “Bayi yang cantik, sehat, dan gemuk�, begitu kata dukun beranak ketika melihat anak Amaq dan Inaq Irun. Tak ada yang aneh dari kelahiran anak tersebut. Ia lahir tanpa sehelai benang pun menempel pada tubuhnya, dengan tali pusar yang masih menempel pada perutnya, serta diiringi deru tangisnya. Setelah dua minggu, keluarga tersebut melakukan aqiqah untuk anaknya. Yakni semacam syukuran dengan menyembelih kambing. Dan anak tersebut diberi nama Baiq Anjani. Baiq merupakan gelar kebangsawanan Lombok, karena ayahnya merupakan orang bangsawan. Anajani sangat disayangi oleh kedua orang tuanya. Dia selalu dituruti, ia tidak pernah dimarahi walaupun ia tidak melaksanakan ibadah shalat lima waktu. Dan sejak kelahiran Anjani keluarga itupun selalu menjadi gunjingan orang. Orang-orang selalu mengatakan, ayahnya mengajar ngaji sedangkan anaknya malas shalat apalagi ngaji. Amaq Irun selalu menyuruh Anjani untuk Shalat dan mengukutinya mengaji di Masjid. apalagi setelah ia baligh, yakni sudah menstruasi. Setiap perempuan yang sudah baligh maka dosanya sudah mulai dicatat oleh malaikat. Namun Anjani selalu menolak dan Amaq Irun tak kuasa memarahi apalagi memukul anak semata wayangnya tersebut.


Inaq Irun mulai sakit-sakitan. Dan Anjani semakin dewasa semakin membangkang. Ia tidak pernah membantu ibunya. Amaq dan Inaq Irun seolah tidak pernah menyesal memiliki anak seperti Anjani. Karena mereka dahulu sangat mendambakan kehadiran seorang anak. Sutu ketika, Inaq Irun yang terbaring lemas di tempat tidurnya dibesuk oleh keluarga yang sebenarnya datang untuk menanyakan kepada Inaq Irun mengenai ramuan yang diminumnya agar segera memiliki anak. Dan di hadapan pasangan tersebut serta di hapapan Amaq Irun yang selalu setia mendampingi istrinya, Inaq Irun mulai menceritakan dan menjelaskan cara membuat hingga meminum ramuan daun boroq seperti yang pernah dilakukannya. Ketika Inaq Irun menjelaskan bahwa ia meminum daun boroq, seketika Amaq Irun lemas dan tidak mampu menahan air mata. Walaupun ia seorang ustad, ia masih percaya pada hal-hal gaib seperti kepercayaan desanya yang melarang ibu-ibu untuk meminum daun boroq. Amaq Irun kemudian menyela penjelasan istrnya, ia pun langsung melarang pasangan tersebut untuk minum ramuan seperti yang dijelaskan istrinya. Amaq Irun sebenarnya juga tidak mengetahui asal-muasal kepercayaan tersebut dan ia juga tidak mengetahui akibat yang ditimbulkannya. Tapi ia percaya akan terjadi hal-hal aneh dan mengerikan jika ada yang berani melanggar pantangan tersebut. Saking takutnya, pasangan yang tadinya meminta informasi ramuan itu langsung bergegas pulang. Sementara Amaq dan Inaq Irun sedang meratapi nasibnya. Kemalangan apa yang akan menimpa keluarganya. Amaq Irun tidak tega memarahi istrinya yang sedang sakit-sakitan. Sementara Inaq Irun karena


terlalu kepikiran dengan pantangan itu, kesehatannya semakin melemah sampai ia pun meninggal dunia. Setelah kematian Inaq Irun, Amaq Irun semakin teriksa. Anjani semakin melawan, ia tidak mau menggantikan tugas ibunya. Dan pada suatu hari, karena keterlaluannya sikap Anjani kepada Amaq Irun, Anjani dimarahi dan dipukuli. Merasa tidak disayangi oleh ayahnya, Anjani memilih melarikan diri dari rumahnya. Anjani berlari pada malam hari. Amaq Irun sempat mendengar suara berisik, ia kemudian melihat seseorang berlari ke tengah hamparan kebun mangga di belakang rumah mereka. Ketika melihat ke kamar Anjani ternyata Anjani tidak ada. Tanpa berfikir lagi, dengan sisa tenaga yang ada Amaq Irun mengejar Anjani, namun karena gelapnya malam terlebih saat itu tidak ada listrik Amaq Irun pasrah. Keesokan harinya berita kehilangan Anjani langsung menjadi perbincangan warga desa Kemong. Semua warga ikut membantu mencari tahukeberadaan Anjani. Namun tak seorang pun mengetahuinya. Sejak saat itulah Amaq Irun mulai sakit-sakitan. Karena beban pikiran serta pengaruh usia. Semenjak kehilangan Anjani, beberapa minggu kemudian timbul keanehan di desa tersebut. Di sebuah pohon yang besar yakni pohon boroq sering terdengar suara angin yang keras diirngi tangisan seorang perempuan. Anak-anak yang bermain hingga lewat senja, tiba-tiba hilang begitu saja. Dan keesokan harinya ada yang ditemukan tergeletak di bawah pohon boroq tersebut. Ketika ditanya, sang anak yang hilang menjawab ia diajak oleh seorang kakak yang cantik untuk bermain bersama. Mereka juga diberikan makanan dan mainan yang banyak. Setelah ditelusuri ternyata pohon boroq tersebut merupakan pohon


tempat Inaq Irun dahulu mengambil daun untuk dijadikan ramuan kehamilannya. Warga yang merasa takut kemudian beramairamai mendatangi rumah Amaq Irun. Mereka menyuruh Amaq Irun sendiri menebang pohon boroq tersebut. Warga lain takut, kalau mereka yang menebang mereka didatangi hantu boroq yang diketahui adalah Anjani. Padahal keberadaan dan kepastian tempat Anjani berada belum diketahui. Namun mengingat peristiwa yang dilakukan oleh Inaq Irun warga berkesimpulan bahwa, hantu di pohon boroq itu merupakan hantu Anjani. Amaq Irun tak mampu menghadang kemarahan warga. Ia diseret menuju pohon boroq tersebut untuk ia tebang. Segala sesuatu telah dipersiapkan warga. Kapak untuk menebang, hingga minyak tanah serta korek untuk membakar pohon tersebut. Setelah Amaq Irun melakukan semua yang diperintahkan warga desa Kemong, tiba-tiba Amaq Irun menghembuskan nafas terahirnya. Warga menjadi takut, jangan-jangan Amaq Irun meninggal karena menebang pohon angker tersebut. Namun mayatnya tetap diperlakukan warga dengan baik. Setelah selesai sembilan hari kematian Amaq Irun, tidak ada kejadian aneh yang terjadi. Namun di sawah para petani biasa menanam pohon boroq untuk dijadikan batas tanah. Pohon boroq banyak tumbuh di sawah-sawah warga. Setelah pohon-pohon tersebut besar, entah kenapa pohon tersebut selalu berpenghuni mahluk halus. Anak-anak yang bermain hingga lewat senja banyak yang hilang. Setelah di cari mereka semua tergeletak di bawah pohon boroq yang ada di sawah. Yang lebih aneh lagi seorang petani yang baru pulang dari sawahnya melihat anak-anak bermain sambil


tertawa di bawah pohon boroq terbesar di sawah tersebut. Sejak saat itulah desa Kemong enggan menanam pohon boroq. Namun hantu boroq tersebut sampai sekarang masih dipercaya ada. Bahkan meluas hingga ke semua wilayah di Lombok terutama daerah-daerah terpencil. Sehingga ketika ada anak-anak yang bermain hingga sore hari langsung dimasukkan ke dalam kamar dan diajak mengaji. Katanya cara itu ampuh untuk mengusir teror hantu boroq. Dan sampai sekarang keberadaan Anjani belum pernah diketahui. Sebagian warga desa Kemong beranggapan bahwa Anjani meninggal ketika ayahnya menebang serta membakar pohon boroq besar tempat Inaq Irun mengambil daun untuk dijadikan ramuan.


BurungBurung-Burung Pemimpi Oleh Putra Ariawan


D

ikisahkan ditengah hutan belantara hiduplah kawanan burung yang hidup damai. Mereka telah menghuni hutan itu sejak ratusan tahun yang lalu. Hutan itu dihuni oleh banyak spesies burung. Mereka tak menyadari sejak kapan ia menghuni hutan itu. Yang mereka ketahui yakni mencari makan di pagi hari dan menjelang matahari terbenam mereka harus balik dengan kawanannya. Kebiasaan itu menjadi rutinitas burung-burung penghuni hutan itu. Pada suatu hari seekor burung nuri penghuni hutan itu tampak berdiam diri. Ia termenung sendirinya. Pikirannya menerawang entah kemana. Di pagi yang cerah itu, ia tidak ikut mencari makanan bersama teman-temannya. Ia merasa enggan untuk meninggalkan hutan belantara itu. Ia merasa jenuh dengan kesehariannya itu. Mencari makan di pagi hari dan pulang di malam hari menjadikan burung nuri itu serasa tak bergairah. Hutan belantara itu menjadi pemandangan yang membosankan baginya. Akhirnya untuk menghilangkan kepenatannya itu, ia pun berjalan-jalan di sekitar hutan sambil mengunjungi teman-temannya. “Saya akan berjalan-jalan,” katanya. “Saya sudah bosan tinggal di hutan belantara ini. Saya ingin melihat dunia, dan saya ingin mendapatkan “ tempat terindah yang menjadi impian semua burung di hutan ini”. Bagaimana saya dapat menemukannya? Ke mana saya harus pergi ? kata burung nuri dalam hati. Ia pun kemudian menghampiri salah satu burung merak yang juga saat itu sedang mencari makan di sekitar hutan itu. “ Hai merak, tahukah kamu tempat terindah yang menjadi impian para burung di dunia ini ?” kata burung Nuri.


“ Saya tidak tahu,” jawab merak “ Adakah tempat semacam itu kawan ? Kalau ada tempat semacam itu pastilah aku akan kesana. Pasti tempat itu menjadi impian semua burung. Jika ada pastilah tempat itu amat indah dan dipenuhi dengan makanan. Aku tidak perlu berkeliling mencari makanan seperti saat ini. Sungguh membuang-buang waktu saja” kata merak kepada burung nuri. “ Tidakkah kau menginginkan impianmu terkabulkan merak ? Kalau kau menginginkan impianmu itu, ikutlah denganku, kita bersama-sama mencari impian kita. Ketempat yang tidak dihuni oleh burung-burung lainnya. Ayolah merak, ikut denganku!” sahut nuri mengajak merak. “ Baiklah kawan, kita akan pergi mencari tempat itu”kata merak menerima ajakan burung nuri. Mereka berdua akhirnya pergi mencari tempat impiannya itu. Pada saat diperjalanan, ia menghampiri burung kutilang yang sedang mencari makan. “ Hai burung kutilang tahukah kamu tempat tempat terindah yang menjadi impian para burung di dunia ini ?” kata burung nuri dan burung merak. “ Saya tidak tahu tempat yang kalian maksud. Kalau ada tempat semacam itu aku juga ingin kesana. Sejak dilahirkan aku sudah hidup ditempat ini. Jadi aku tak mengetahuai ada tempat seindah itu.” kata burung kutilang kepada merak dan nuri. “ Kalau begitu maukah kau ikut bersama kami untuk mencari tempat itu?” sahut burung nuri. “ Benarkah kalian mau kesana? aku juga ingin melihatnya. Sebaiknya kita kesana bersama temantemanku. Akan kupanggilkan mereka” kata burung kutilang sambil memanggil teman-temannya. Akhirnya mereka berkumpul. Ada burung cendrawasih, burung gagak, burung kepodang dan burung-burung jenis lainnya ikut mencari tempat yang


menjadi impian para burung. Semua burung penghuni tempat itu merasa penasaran dengan tempat impian yang dimaksud. Mereka sejak kecil dibesarkan di hutan belantara. Jadi mereka menyepakati untuk bersamasama mencari tempat yang menjadi impiannya itu. Salah satu diantara kawanan burung mengusulkan untuk menanyakan hal ini kepada pak Gajah. Siapa tahu pak gajah dapat membantu mereka. Kemuadian mereka terbang bersama-sama mencari pak gajah. “ Selamat pagi, pak gajah,” kata salah satu burung. Dapatkah anda menolong saya, dimanakah tempat terindah yang menjadi impian para burung ? Kami ingin pergi kesana. kami telah bosan hidup di hutan ini” “ Maafkan saya, saya sungguh-sungguh tidak mengetahui,” jawab gajah. Di hutan ini bagi saya merupakan tempat yang indah. Tetapi kalau kalian mau, tanyakanlah kepada kerbau.” “ Terima kasih,” kata salah satu burung sambil menuskan perjalannya untuk mencari si kerbau. Tidak berapa lam kemudian sampailah ia di rumah kerbau, di pojok sawah di pinggir hutan. Kerbau itu sedang merumput. “ Halo, selamat pagi pak kerbau,” kata salah satu burung. “ Dapatkah anda menolong saya?”. Di manakah tempat yang menjadi impian para burung ? saya ingin pergi ke sana, sebab saya telah bosan tinggal di hutan belantara ini. Saya menanyakan kepada pak gajah, tetapi dia tidak tahu di mana tempatnya.” “ Saya sendiri juga tidak tahu di mana tempat itu,”kata kerbau itu. Tanyakan saja kepada si katak, siapa tahu dia dapat membantu kalian”. “ Kalau begitu di manakah si katak tinggal?” tanya salah satu burung kepada kerbau.


“ Kita harus turun dulu dari hutan ini, ke sebelah utara kira-kira 2 mil, lalu belok ke kiri. Di tempat itu kalian akan melihat sunagi yang luas. Di sanalah si katak diam bersama teman-temannya”. Jawab si kerbau. Maka pergilah mereka mencari si katak. Mereka ke utara menuruni hutan belantara yang lebat kira-kira 2 mil jauhnya, kemudian mereka belok kiri, dan terbang lagi berapa waktu. Di sana akhirnya menemukan sungai yang dimakud. Mereka lalu menghampiri si katak. “ Selamat pagi, katak”. Kata salah satu burung. “ Dapatkah anda menunjukkan di mana tempat yang menadi impian para burung? Kami ingin mencarinya. Kami telah bosan tinggal di hutan belantara. Kami ingin tinggal di tempat impian itu”. “ Maafkan saya,” jawab katak. “ Saya tidak tahu juga dimanakah tempat yang menjadi impian itu. Tanyakan saja kepada si lumbalumba. Siapa tahu mereka dapat membantu kalian”. Jawab si katak. “ Di manakah lumba-lumba tinggal ?” kata salah satu burung “ Kalian harus mengikuti aliran sungai ini kirakira 1 mil, lalu belok ke kanan. Dari sana kalian ke timur dua kilometer, baru belok ke kiri dan kalian akan melihat samudra yang luas. Di sanalah lumba-lumba itu tinggal” kata si katak. Maka pergilah kawanan burung itu mengikuti arah yang telah ditunjukkan. Akhirnya mereka sampai di tempat yang di tuju, mereka sedang melihat lumbalumba sedang mencari makan di samudra. “ Halo, lumba-lumba, dapatkah kamu menolong saya ? dapatkah anda mengatakan kepada kami, dimana tempat yang menjadi impian para burung. Kami ingin pergi ke sana. Kami para burung sangat


bosan hidup di hutan belantara. Dapatkah anda menunjukkannya ?� kata salah satu burung. “ Saya kira saya tidak dapat menunjukkannya. Tapi kalian bisa mengikuti arah ke utara kira-kira 3 mil jaraknya. Ambil jalan melewati pulau-pulau di seberang samudra sana. Ambil jalan kanan, kira-kira 50 kilometer. Kalian akan menemukan gunung yang menjulang tinggi, kalian ambil jalan tengah kira-kira 2 kilometer. Cepatlah kesana sebelum matahari terbenam� kata lumba-lumba kepada kawanan burung. Akhirnya kawanan burung mengikuti arah yang telah diberikan oleh lumba-lumba. Betapa lelahnya burung-burung itu. Mereka tak mengetahui harus kemana lagi mencari tempat yang menjadi impian para burung. Bermil-mil mereka terbang entah kemana. Mereka hanya mengikuti arah yang telah diberikan. Semua tempat yang telah mereka jelahai tak satupun memberikan kejelasan tempat impian yang mereka maksud. Akhirnya mereka terus terbang tanpa memikirkan hal apa yang akan terjadi kepada mereka. Akhirnya diperjalan yang tak tentu arah dan melelahkan itu, kawanan burung melihat pemandangan yang tak dipikirkan sebelumnya oleh mereka. salah satu burung berteriak. “ Lihat ! lihat!... kawan di depan kita. Bukankah itu hutan belantara tempat tinggal kita. Lihatlah rimbunan pohon yang besar itu. Menghijau menyejukkan mata. Bukankah di sana kita sering mencari makan, membuat sarang dan bertelur di ranting-ranting pohon yang besar itu. Di sanalah tempat kita berkumpul sambil bernyanyi-nyanyi di pagi hari yang cerah. Lihatlah disekeliling hutan belantara itu. Seperti surga para burung untuk berkembang biak. Jika tidak ada hutan ini pastilah ribuan burung tidak akan mampu bertahan hidup termasuk kita kawan. Sekarang tahulah kita, dimana


tempat yang menjadi impian para burung. Di sinilah tempat itu, dihutan belantara yang menjadi ribuan spesies burung. Ayolah kawan kita ke hutan belantara itu lagi. Disanalah dunia impian kita, impian para burung� kata salah satu burung menyadarkan temantemannya. Akhirnya para burung pemimpi itu pergi ke hutan belantara tempat mereka sebelumnya. Mereka baru menyadari bahwa tak ada yang seindah di hutan belantara tempat mereka mencari makan, bertelur dan berkembang biak di alam bebas.


Kisah Gelatik Oleh Putra Ariawan


D

i hamparan padi yang menguning hiduplah keluarga gelatik yang baru saja merayakan kemenangan. Hal ini terjadi akibat salah satu keluar akan menetaskan telur. Hal ini berarti jumlah keluarga mereka akan bertambah. Inilah yang ditunggu-tunggu oleh keluarga gelatik lainnya. Terlebih-lebih telur yang akan ditetaskan berjumlah satu butir. Bagi keluarga gelatik, hal ini jarang terjadi. Konon jika telur itu menetas dipercaya akan membawa keberuntungan dan berkah bagi gelatik-gelatik lain. Akhirnya setelah dinanti-nanti, telur mungil itu menetas dan menghasilkan gelatik jantan yang sehat. Sungguh di luar dugaan karena bayi gelatik yang beru lahir hanya memiliki satu buah kaki. Betapa bersedihnya pemimpin gelatik yang telah menunggu kelahiran gelatik itu. Seluruh kawanan gelatik tampak bersedih. Mereka berpikir bagaimana seandainya jika bayi tersebut tumbuh menjadi gelatik dewasa. Sudah pasti tidak akan sempurna dan tidak sama dengan gelatik-gelatik lainnya. Jika hal ini dilihat oleh kawanan burung lain, pasti kawanan gelatik akan dihina-hina akibat mempunyai keturunan yang cacat. Sungguh malang nasib yang menimpa gelatik kecil. Melalui kesepakatan dengan kawanan gelatik, disepakati untuk membuang gelatik yang baru lahir itu. Mereka berpikir jika bayi tersebut dibiarkan tumbuh menjadi gelatik dewasa maka akan merepotkan seluruh kawanan gelatik lain. Bagaimana tidak dengan satu kaki tidak mungkin gelatik itu mampu hidup di alam bebas. Betapa sedih ibunya mendengar keputusan itu. Tetapi ibu gelatik meminta belas kasihan untuk merawat anaknya itu. Ia menginginkan bayi yang ia lahirkan jangan dibunuh, sebaiknya dibiarkan hidup sampai mampu terbang dan barulah gelatik itu diusir dari kawanan gelatik lainnya. Merasa kasihan dengannya, akhirnya pemimn gelatik


membiarkan bayinya untuk hidup dan setelah mampu terbang akan diusir dari kawanan gelatik lain. Bayi gelatik tumbuh dan berkembang. Bulubulu mulai tumbuh disekujur tubuhnya. Kedua matanya mulai terbuka dan mengeluarkan suara, tik, tik, tik… ! Gelatik lain tidak memperdulikan hal ini. Mereka menganggap kehadiran gelatik itu hanya akan membawa malapetaka bagi mereka. Sebaiknya gelatik kecil itu cepat diusir. Ibu gelatik dengan sabar merawat bayinya itu. Dan akhirnya setelah tumbuh menjadi besar si ibu pun menceritakan keadaan yang telah menimpa dirinya itu. Mendengar seluruh cerita dari ibunya gelatik kecil yang baru beranjak dewasa itu merasa sedih. Ia merasa keputusan yang diambil oleh kawanan gelatik tidak adil. Gelatik kecil juga tidak ingin dilahirkan dengan memiliki satu kaki. Bagaiamanapun itu sudah keputusan dan harus dijalankan. Ia harus menerimanya dengan besar hati. “ Ibu, jika ini sudah menjadi keputusan, aku harus menerimanya.” kata gelatik kecil. “ Anakku maafkan ibumu tidak mampu berbuat banyak, hanya ini yang mampu ibu berikan” ibu gelatik menangis dihadapan anaknya itu. Betapa sakit hatinya melepas kepergian anaknya. Kawanan gelatik hanya mampu berdiam diri. Ia mengharapkan agar secepatnya gelatik itu pergi dari kawanannya. Sungguh mereka tidak merasa kasihan terhadap gelatik yang malang itu. Meraka percaya gelatik yang kecil itu hanya akan membawa bencana bagi kawanan gelatik lain. “ Ibu, kalau itu yang mereka inginkan, aku akan pergi sekarang. Tapi aku berjanji akan kembali dengan menjadi pahlawan untuk keluargaku ini. Walaupun aku cacat, bukan berarti aku boleh dibuang begitu saja. Ingat janjiku ibu, kan kubuktikan dengan gelatik-gelatik lainnya. Dengan kekuranganku ini aku


mampu hidup dan berguna di mata mereka.�kata gelatik kecil dengan tegar. “ Ibu, aku pergi sekarang, semoga lambat laun kita bertemu� Dengan kesedihan gelatik kecil akhirnya ia pergi meninggalkan ibu dan seluruh gelatik lainnya. Kepergian gelatik yang cacat itu disaksikan oleh seluruh gelatik. Setelah gelatik itu tidak tampak lagi mereka bersorak ria merayakannya. Mereka percaya dengan kepergian gelatik yang cacat itu, kawanan mereka telah terbebas dari segala malapetaka. Beberapa bulan kemudian panen padi telah tiba. Hamparan padi yang semula berwarna hijau kini telah menguning. Begitu indahnya pemandangan sawah diwarnai baluran kuning emas yang menandakan padipadi sudah siap untuk dipanen. Dari kejauhan tampak barisan petani yang sedang riangnya membawa hasil panen mereka menuju rumah. Sesekali terdengar teriakan-teriakan diantara mereka yang mengisyaratkan betapa senangnya hati mereka. Diselasela kesibukan petani, tampak anak-anak sedang asyikanya bermain layng-layang dan juga tampak burung-burung sedang mencari makan di areal padi yang sudah menguning. Burung-burung gelatik makan biji-bijian dan burung-burung yang lebih besar seperti bangau, gagak dan cerekuak berburu katak, cacing dan binatang kecil lainnya. Kadang-kadang terdengar bunyi riuh karena burung-burung berebutan makanan. Apalagi sesekali diselingi uakan sapi yang sedang merumput di pematang sawah. Kedengarannya seperti irama musik yang sudah diatur alam. Akhirnya gelatik yang cacat tumbuh dan berkembang menjadi gelatik dewasa di hutan. Ia hidup sendiri tak seperti gelatik-gelatik lain yang hidup bergerombol. Ia sadar akan dirinya yang cacat. Di tengah hutan, setiap kali ia bertemu dengan kawanan burung lain, ia selalu dihina dan ditertawakan. Hal ini


sudah menjadi kebiasaan dalam hidupnya. Ia hanya mampu terdiam dan tak menghiraukan segala hinaan yang tertuju padanya. Suatu ketika di tengah sawah, suara ribut dan riuh terdengar. Seekor elang raksasa tiba-tiba berada di atas angkasa. Kibasan sayapnya melebar memecah kerasnya angin disiang hari yang terik. Sorotan matanya yang tajam siap siaga mengintai mangsa yang tampak dibola matanya yang merah. Sesekali terdengar suaranya di angkasa menandakan bahwa ia sedang lapar. Ketika terlintas burung-burung kecil dihadapannya, tiba-tiba elang raksasa itu menukik dari langit lalu menyambarnya. Elang itu dengan cepat menyergap, mematuk, dan merobek-robek perut burung-burung yang tertangkap. Burung-berung kecil yang berbulu indah tak luput dari cengkeramannya. Seperti keluarga burung gelatik ditelannya hiduphidup. Sedangkan burung-burung yang berhasil menyelamatkan diri beterbangan tak tentu arahnya.. Kebetulan waktu itu di sawah sedang asyiknya keluarga burung gelatik yang sedang mencari biji padi. Tanpa diketahui oleh mereka tiba-tiba saja datang menyambar seekor elang besar dari atas langit. Dibunuhnya satu persatu burung gelatik itu. Tinggallah beberapa gelatik yang luput dari incaran elang. Kawanan keluarga gelatik yang tersisa pergi ke hutan untuk menyelamatkan diri. Suatu saat di tengah hutan, beberapa kawanan gelatik yang tersisa itu bertemu dengan gelatik kecil yang telah lama diusir dari kawanan gelatik. Mereka tak menyangka kalau gelatik kecil itu masih hidup dan mampu bertahan. Gelatik cacat itu kemudian menanyakan hal apa yang sedang menimpa kawanan gelatik lain. Begitu sedihnya ia mendengar kalau ibu yang telah melahirkannya telah mati dibunuh oleh elang yang ganas itu. Kalau dibiarkan seperti ini pastilah keluarga


gelatik tidak akan aman. Maka timbullah niat gelatik kecil itu untuk membalas kematian seluruh keluarganya. “ Wahai keluargaku, kalau hal ini dibiarkan pastilah keluarga kita tidak aman, sebaiknya kita mencari cara untuk mengalahkan elang jahat itu.” Kata gelatik yang cacat itu ��� Apa yang bisa kita lakukan untuk melawan elang yang jahat itu ?Sebaiknya kita diam saja di hutan ini. Kalau kita pergi ke tempat kesana, pastilah elang itu akan memakan dan merobek-robek kita. Aku tidak mau mati sia-sia, yakinkah engkau dengan kekuranganmu itu ? . Lihat saja dirimu itu, bagaimana kau bisa melawan elang yang ganas itu dengan satu kakimu ?” Kata salah satu gelatik kepada gelatik yang cacat itu. Akhirnya kawanan gelatik meninggalkan gelatik yang malang itu. “ Apa yang engkau takut kawanku ?” kata gelatik kecil di dalam hati sambil melihat kepergian temantemannya itu. Dia amat menyesal mendengar keluarganya di makan oleh elang. Timbul amarahnya. Terdorong hatinya untuk membalas kematian seluruh keluarga-keluarga itu. Walaupun dengan keadaan yang cacat ia yakin mampu mengalahkan elang itu. Iapun pergi menuju sawah tempat kelahirannya. Ternyata memang benar apa yang dikatakan teman-temannya. Ia melihat seekor burung elang sedang memangsa burung-burung. Dengan keberaniannya ia pun mendekati elang yang ganas itu. “ Sombong benar burung jahat itu! “ umpatnya. Ia segera turun lalu hinggap dihadapan elang yang besar itu. “ Hai, burung yang elang,” teriakan burung gelatik terdengar oleh elang. “ Hai, burung sombong, darimana asalmu dan siapa yang menyuruhmu mengacau di tempat ini,


dasar kau memang burung sombong, sombong … !” Teriakan itu terus dilontarkan oleh gelatik kepada elang. Melihat burung kecil berdiri dihadapannya, elang raksasa itu tertawa terbahak-bahak “ Ha, ha, ha… ! Apa yang kau katakan burung kecil ?” sahut elang sambil mengepak-ngepakkan sayapnya yang lebar itu. “ Cepat pergi kau dari tempat ini ! Jangan sesekali kau datang kesini lagi menggangu seluruh penghuni yang ada di tempat kami. Cepat pergi ! Enyah kau dari hadapanku ! gertak burung gelatik dengan beraninya. “ Ha, ha, ha … ! burung elang memperkeras suaranya. “ Burung kecil, siapakah namamu ? begitu beraninya kamu megatakan aku seperti itu. Sudah bosankah kau hidup ? Belum tahu kau siapa aku ? akulah elang yang amat perkasa. Semua burungburung dari segala penjuru takut kepadaku. Siapa yang tak kenal aku. Dengan sekali cabik aku bisa dengan sekejap mengeluarkan seluruh isi perutmu. Tidak sadarkah kau dengan kata-katamu itu dapat mengantarkanmu ke ujung kematianmu? Seharusnya kau menyembahku dengan sopan, bukan berlagak kasar seperti itu.” Jawab elang dengan angkuhnya. “ Wahai burung elang yang gagah dan perkasa. Namaku burung gelatik.” jawab burung gelatik dengan beraninya.“ Burung gelatih kecil yang indah, apakah kau ingin aku merusak bulu-bulumu yang berwarna itu atau ingin kucabut bulu-bulumu untuk membersihkan kotoran ditelingaku yang gatal ini ?” “Sebaiknya kau menyembahku sebelum aku memakanmu !” lihat dirimu itu yakinkah kau mampu mengalahkan aku ? Apalagi kau hanya memilki satu kaki. Apa yang bisa kau andalkan dari dirimu yang cacat itu? jawab elang yang gagah perkasa itu.


“ Kamu bukan rajaku, hai elang jahat !”jawab burung gelatik sambil membusungkan dada. “ Buat apa aku menyembah dan menghormati penjahat sepertimu. Walaupun tubuhmu besar bukan berarti kau boleh membunuh seluruh keluargaku yang tak bersalah. Jangan kau lihat fisikku ini. Tetapi dengan kekuranganku ini aku yakin mampu mangalahkanmu” kata gelatik. Ternyata ia adalah burung yang cerdik. Iapun akhirnya mencari cara untuk mengalahkan elang jahat itu. “ Wahai burung elang yang perkasa, aku meyakini kau adalah burung yang hebat. Kau adalah burung yang sangat ditakuti oleh burung-burung lainnya. Apalagi seperti aku ini yang cacat dan hina. Tapi tidak sadarkah kau, wahai burung tolol ? belum tentu berakmu lebih besar dari berakku. Walaupun sayapmu lebar, belum tentu terbangmu lebih tinggi dari terbangku. “ kata burung gelatik dengan gagah dan beraninya. Elang raksasa itu tertawa lagi. “ Ha, ha, ha… ! Lucu benar kau burung kecil. Baru kali ini aku mendengar berung gelatik mengaku mengaku punya berak yang besar. Badanmu saja jauh lebih kecil dari berakku, lalu berakmu sebesar apa ? Ha, ha, ha … !” “ Kalau ingin bukti, ayo kita berlomba saja. Keluarkan berak masing-masing. Mana yang lebih besar, itulah yang menang.” tantang burung gelatik. “ Kalau itu yang kamu inginkan, baiklah” jawab elang dengan enteng. Diturunkannya pantatnya, lalu ia mengeluarkan berak sebesar telur angsa. Dengan cepat burung gelatik yang lihai itu meloncat-loncat mendekati kerbau yang digembalakan. “ Lihat, ini berakku !” Katanya sambil menunjuk berak seekor kerbau. Burung elang yang bodoh itu terheran-heran menyaksikan hal itu. Baru pertama kali


ia melihat burung gelatik mengeluarkan mengeluarkan berak yang jauh lebih besar dari beraknya. “ Baiklah, aku mengakui keunggulanmu.” jawab elang “ Sekarang aku yang menantangmu. Ayo kita berlomba terbang tinggi. Mungkinkah burung yang bersayap kecil dan berbulu pendek sepertimu bisa terbang melampaui pohon beringin di seberang sana ?”. tantang elang. “ Kalau itu yang kau inginkan, baiklah ! “ jawab burung gelatik sambil melayang-melayang terbang terbang ke angkasa menuju pohon beringin di seberang. Melihat gelatik terbang terbang mendahului, elang raksasa itu segera mengepakkan sayapnya yang lebar lalu melesat ke udara. Burung-burung lainnya yang sedang bersembunyi di balik pohon sangat kagum melihat keberanian burung gelatik yang cacat. Semoga gelatik itu menang, sehingga elang raksasa itu tidak sombong lagi, demikian doa burung-burung itu. Ketika elang melampaui pohon beringin ia mengira burung kecil gelatik tertinggal di bawah. “ Gelatik, kejarlah aku!” teriaknya. Ternyata jawaban kepecit terdengar jauh di atasnya. Elang itu tidak mengetahui akal-akalan burung gelatik. Burung yang kecil itumemiliki akal yang cerdik. Pada saat elang raksasa itu memulai terbang, burung kecil itu segera hinggap di atas kepala elang. Dengan demikian ia tidak perlu menguras tenaga., cukup mengeratkan pegangannya saja. Bahkan ia sempat mencabut –cabut bulu kepala elang itu. Burung elang menyadari bahwa burung gelatik bukan lawan yang enteng. Karena itu ia memperkuat kepakan sayapnya dan mengudara lebih tinggi lagi. Pada saat itu pula burung gelatik mempercepat mencabut bulu-bulu kepala elang. Cabutan burung yang kecil itu sama sekali tak terasa olehnya. Lama-


kelamaan di udara yang sangat tinggi, burrung elang itu kehabisan tenaga. Sekali ia memanggil burung gelatik. “ Gelatik”, dimana kau ?” tanyanya dengan nafas terengah-engah. “ Aku jauh di atasmu” jawab gelatik. “ Kalau demikian aku mengalah. Kita turun saja” kata elang. “ Kalau itu yang kau inginkan, baiklah” jawab gelatik dengan senyum. Perlahan-lahan burung elang menukik ke bawah. Ia merasa kepalanya perih. Gelatik cabutannya sehingga kepala elang itu luka parah dan botaknya melebar.. Ia membiarkan badannya jatuh di semaksemak. Elang itu mengerang kesakitan, bukan saja karena botaknya yang berdarah tetapi juga karena sayapnya yang patah. Sedangkan burung gelatik yang cerdik itu melayang-layang terus di atas punggung sapi. Melihat kejadian itu akhirnya seluruh burung penghuni sawah mengakui kehebatan gelatik yang cacat itu. Berita kehebatan gelatik yang cacat mampu mengalahkan elang telah tersebar ke burung-burung lain disegala penjuru. Sampai ketengah hutan tempat persembunyiam kawanan gelatik. Ia pun merasa bersalah dan meminta maaf kepada gelatik kecil. Kawanan burung gelatik yang masih hidup amat menyesal telah mengusir gelatik yang malang itu.


Si Sarkali dan Si Bodi Oleh Hendi Anggara Putra


P

ada jaman dahulu di pulau Temon, hiduplah seorang pemburu perkasa yang bernama Si sarkali. Ia sangat terkenal dengan keahliannya menombak. Tidak satupun sasaran yang luput dari tombakannya. Si sarkali mempunyai seorang pelayan yang sangat setia yang bernama Bodi. Hampir semua pekerjaan yang diperintahkan oleh Si Sarkali dikerjakan dengan baik oleh Bodi. Meskipun terkenal sebagai pemburu yang handal, pada suatu hari mereka tidak berhasil memperoleh satu ekor binatang buruan. Kekesalannya akhirnya memuncak ketika Si Bodi melaporkan pada majikannya bahwa daging persediaan mereka di rumah sudah hilang dicuri orang. Tanpa pikir panjang, Si Sarkali langsung menuduh pelayannya itu yang mencuri daging persediaan mereka. Si Bodi menjadi sangat terkejut. Tidak pernah diduga majikannya akan tega menuduh dirinya sebagai pencuri. Lalu Si Sarkali meminta Si Bodi untuk membuktikan bahwa bukan dia yang mencuri. Caranya adalah Si Sarkali akan menancapkan tombaknya ke dalam sebuah kolam. Bersamaan dengan itu Si Bodi disuruhnya menyelam. Bila tombak itu lebih dahulu keluar dari kolam berarti Si Bodi tidak mencuri. Apabila Si Bodi yang keluar dari kolam terlebih dahulu maka terbukti ia yang mencuri. Syarat yang aneh itu membuat Si Bodi ketakutan. Tetapi bagaimanapun juga ia berkehendak untuk membuktikan dirinya bersih. Lalu ia pun menyelam bersamaan dengan Si sarkali menancapkan tombaknya. Baru saja menancapkan tombaknya, tiba-tiba Si Sarkali melihat ada seekor babi hutan minum di kolam. Dengan segera ia mengangkat tombaknya dan dilemparkannya ke arah babi hutan itu. Tetapi tombakan itu luput. Dengan demikian seharusnya Si


Sarkali sudah kalah dengan Si Bodi. Tetapi ia meminta agar pembuktian itu diulang lagi. Dengan berat hati Si Bodi pun akhirnya mengikuti perintah majikannya. Baru saja menancapkan tombaknya di kolam, tiba-tiba kaki Si Sarkali digigit oleh seekor kepiting besar. Ia pun menjerit kesakitan dan tidak sengaja mengangkat tombaknya. Dengan demikian akhirnya Si Bodi yang menang. Ia berhasil membuktikan dirinya tidak mencuri. Sedangkan Si Sarkali karena sembarangan menuduh, terkena hukuman digigit kepiting besar.


BENDE WASIAT Oleh

Hendi Anggara Putra


S

iang hari yang panas buka main, Harimau jantan sedang asyik bercermin di sungai sambil membasuh mukanya. "Hmm, gagah juga aku ini, tubuhku kuat berotot dan warna lorengku sangat indah," kata harimau dalam hati. Kesombongan harimau membuatnya suka memerintah dan berbuat semena-mena pada binatang lain yang lebih kecil dan lemah. Si kancil akhirnya tidak tahan lagi. "Benar-benar keterlaluan si harimau !" kata Kancil menahan marah. "Dia mesti diberi pelajaran! Biar kapok! Sambil berpikir, ditengah jalan kancil bertemu dengan kelinci. Mereka berbincang-bincang tentang tingkah laku harimau dan mencoba mencari ide bagaimana cara membuat si harimau kapok. Setelah lama terdiam, "Hmm, aku ada ide," kata si kancil tiba-tiba. "Tapi kau harus menolongku," lanjut si kancil. "Begini, kau bilang pada harimau kalau aku telah menghajarmu karena telah menggangguku, dan katakan juga pada si harimau bahwa aku akan menghajar siapa saja yang berani menggangguku, termasuk harimau, karena aku sedang menjalankan tugas penting," kata kancil pada kelinci. "Tugas penting apa, Cil?" tanya kelinci heran. " Sudah, bilang saja begitu, kalau si harimau nanti mencariku, antarkan ia ke bawah pohon besar di ujung jalan itu. Aku akan menunggu Harimau disana." "Tapi aku takut Cil, benar nih rencanamu akan berhasil?", kata kelinci. "Percayalah padaku, kalau gagal jangan sebut aku si kancil yang cerdik". "Iya, iya. Aku percaya, tapi kamu jangan sombong, nanti malah kamu jadi lebih sombong dari si harimau lagi." Si kelincipun berjalan menemui harimau yang sedang bermalas-malasan. Si kelinci agak gugup


menceritakan yang terjadi padanya. Setelah mendengar cerita kelinci, harimau menjadi geram mendengarnya. "Apa ? Kancil mau menghajarku? Grr, berani sekali dia!!, kata harimau. Seperti yang diharapkan, harimau minta diantarkan ke tempat kancil berada. "Itu dia si Kancil!" kata Kelinci sambil menunjuk ke arah sebatang pohon besar di ujung jalan. "Kita hampir sampai, harimau. Aku takut, nanti jangan bilang si kancil kalau aku yang cerita padamu, nanti aku dihajar lagi," kata kelinci. Si kelinci langsung berlari masuk dalam semak-semak. "Hai kancil!!! Kudengar kau mau menghajarku ya?" Tanya harimau sambil marah. "Jangan bicara keras-keras, aku sedang mendapat tugas penting". "Tugas penting apa?". Lalu Kancil menunjuk benda besar berbentuk bulat, yang tergantung pada dahan pohon di atasnya. "Aku harus menjaga bende wasiat itu." Bende wasiat apa sih itu?" Tanya harimau heran. "Bende adalah semacam gong yang berukuran kecil, tapi bende ini bukan sembarang bende, kalau dipukul suaranya merdu sekali, tidak bisa terlukis dengan katakata. Harimau jadi penasaran. "Aku boleh tidak memukulnya?, siapa tahu kepalaku yang lagi pusing ini akan hilang setelah mendengar suara merdu dari bende itu." "Jangan, jangan," kata Kancil. Harimau terus membujuk si Kancil. Setelah agak lama berdebat, "Baiklah, tapi aku pergi dulu, jangan salahkan aku kalau terjadi apa-apa ya?", kata si kancil. Setelah Kancil pergi, Harimau segera memanjat pohon dan memukul bende itu. Tapi yang terjadi‌. Ternyata bende itu adalah sarang lebah! Nguuuung‌nguuuung‌..nguuuung sekelompok lebah yang marah keluar dari sarangnya karena merasa


diganggu. Lebah-lebah itu mengejar dan menyengat si harimau. "Tolong! Tolong!" teriak harimau kesakitan sambil berlari. Ia terus berlari menuju ke sebuah sungai. Byuur! Harimau langsung melompat masuk ke dalam sungai. Ia akhirnya selamat dari serangan lebah. "Grr, awas kau Kancil!" teriak Harimau menahan marah. "Aku dibohongi lagi. Tapi pusingku kok menjadi hilang ya?". Walaupun tidak mendengar suara merdu bende wasiat, harimau tidak terlalu kecewa, sebab kepalanya tidak pusing lagi. "Hahaha! Lihatlah Harimau yang gagah itu lari terbirit-birit disengat lebah," kata kancil. "Binatang kecil dan lemah tidak selamanya kalah bukan?". "Aku harap harimau bisa mengambil manfaat dari kejadian ini," kata kelinci penuh harap."


Monyet Pencuri Apel oleh Hendi Anggara Putra


S

iang itu panas sekali. Matahari bersinar garang. Tapi hal itu tidak terlalu dirasakan oleh Monyet. Dia sedang tidur nyenyak di antara batangbatang pohon yang rindang. Tiba-tiba saja mimpi indahnya terputus. "Tolong! Tolong! " terdengar teriakan dan jeritan berulang-ulang. Lalu terdengar suara derap kaki binatang yang sedang berlari-lari. "Ada apa, sih?" kata Monyet. Matanya berkejapkejap, terasa berat untuk dibuka karena masih mengantuk. Di kejauhan tampak segerombolan binatang berlari-lari menuju ke arahnya. "Kebakaran! Kebakaran! " teriak Si jerapah. " Ayo lari, Nyet! Ada kebakaran di hutan! " Memang benar. Asap tebal membubung tinggi ke angkasa. Monyet ketakutan melihatnya. Dia langsung bangkit dan meloncat sambil berlari mengikuti teman-temannya. Monyet terus melompat dan berlari. Wah, cepat juga lompatannya. Ya, walaupun Monyet bertubuh kecil, tapi dia dapat melompat cepat cepat di atas pohon. Tanpa terasa, Monyet telah, meninggalkan teman-temannya. "Aduh, napasku habis rasanya," Monyet berhenti dengan napas terengah-engah, lalu duduk beristirahat. "Lho, di mana binatang-binatang lainnya?" Walaupun Monyet senang karena lolos dari bahaya, tiba-tiba ia merasa takut. "Wah, aku berada di mana sekarang? Sepertinya belum pernah ke sini." Monyet berjalan sambil mengamati daerah sekitarnya. "Waduh, aku tersesat. Sendirian lagi. Bagaimana ini?'7 Monyet semakin takut dan bingung. "Tuhan, tolonglah aku." Monyet terus berjalan menjelajahi hutan yang belum pernah dilaluinya. Tanpa terasa, dia tiba di pinggir hutan. Ia melihat sebuah kebun milik Pak


Tani. "Kebun apel�? Oh, syukurlah. Terima kasih, Tuhan," mata Monyet membelalak. Kebun itu penuh dengan buah apel yang siap dipanen. “ Wow, asyik sekali! Kebetulan nih, aku haus dan lapar sekali," kata Monyet sambil menelan air liurnya. "Tenggorokanku juga terasa kering dan perutku keroncongan minta diisi. Makan dulu, ah." Dengan tanpa dosa, Monyet melahap buah apel yang ada di ladang. Wah, kasihan Pak Tani. Dia pasti marah kalau melihat kejadian ini. Si Monyet nakal sekali, ya? "Hmm, sedap sekali," kata Monyet sambil mengusap-usap perutnya yang kekenyangan. "Andai setiap hari pesta seperti ini, pasti asyik." Setelah puas, Monyet merebahkan dirinya di atas batang-batang pohon yang rindang. Semilir angin yang bertiup, membuatnya mengantuk. "Oahem, aku jadi kepingin tidur lagi," kata Monyet sambil menguap. Akhirnya binatang yang nakal itu tertidur, melanjutkan tidur siangnya yang terganggu gara-gara kebakaran di hutan tadi. Wah, tidurnya begitu pulas, sampai terdengar suara dengkurannya. Krr... krr... krrr... Ketika bangun pada keesokan harinya, Monyet merasa lapar lagi. "Wah, pesta berlanjut lagi, nih," kata Monyet pada dirinya sendiri. "Kali ini aku pilih-pilih dulu, ah. Siapa tahu ada buah apel merah kesukaanku." Maka Monyet melompat-lompat mengitari kebun Pak Tani yang luas itu. "Wow, itu dia yang kucari! " seru Monyet gembira. "Hmm, apel merahnya begitu segar. Besar-besar lagi! Wah, pasti sedap nih." Monyet langsung makan buah apel merah sampai kenyang. "Wow, sedap sekali


sarapan apel merah," kata Monyet sambil tersenyum puas. Hari sudah agak siang. Lalu Monyet kembali ke bawah pohon rindang untuk beristirahat. Pak Tani terkejut sekali ketika melihat kebunnya. "Wah, kebun apelku kok jadi berantakan-begini," kata Pak Tani geram. "Perbuatan siapa, ya? Pasti ada hama baru yang ganas. Atau mungkinkah ada bocah nakal atau binatang lapar yang mencuri apel-apelku?" Kebun apel itu memang benar-benar berantakan. Banyak pohon apel yang rusak karena rantingnya banyak dipatahkan oleh Si Monyet. Dan banyak pula serpihan buah apel yang berserakan di tanah. “ Hm, awas, ya, kalau sampai tertangkap! " omel Pak Tani sambil mengibas-ngibaskan sabitnya. "Panen apelku jadi berantakan." Maka seharian Pak Tani sibuk membenahi kembali kebun apelnya yang berantakan. Dari tempat istirahatnya, Monyet terus memperhatikan Pak Tani itu. "Hmm, dia pasti yang bernama Pak Tani," kata Monyet pada dirinya sendiri. "Kumisnya boleh juga. Tebal,' hitam, dan melengkung ke atas. Lucu sekali. Hi... hi... hi.... Sebelumnya Monyet memang belum pernah bertemu dengan manusia. Tapi dia sering mendengar cerita tentang Pak Tani dari teman-temannya. "Aduh, Pak Tani kok lama ya," ujar Monyet. Ya, dia telah menunggu lama sekali. Siang itu Monyet ingin makan apel lagi. Rupanya dia ketagihan makan buah apel yang segar itu. Sore harinya, Pak Tani pulang sambil memanggul keranjang berisi buah apel di bahunya. Dia pulang sambil mengomel, karena hasil panennya jadi berkurang. Dan waktunya habis untuk menata kembali kebunnya yang berantakan. "Ah, akhirnya tiba juga


waktu yang kutunggu-tunggu," Monyet bangkit dan meloncat-loncat di atas pohon apel. Binatang yang nakal itu kembali berpesta makan apel Pak Tani. Keesokan harinya, Pak Tani geram dan marahmarah melihat kebunnya berantakan lagi. "Benar-benar keterlaluan! " seru Pak Tani sambil mengepalkan tangannya. "Hmm, pencurinya pasti binatang," kata Pak Tani. Pemilik kebun yang malang itu bertekad untuk menangkap si pencuri. "Aku harus membuat perangkap untuk menangkapnya! Maka Pak Tani segera meninggalkan ladang. Setiba di rumahnya, dia membuat sebuah boneka yang menyerupai manusia. Lalu dia melumuri orangorangan ladang itu dengan getah nangka yang lengket! Pak Tani kembali lagi ke ladang. Orang-orangan itu dipasangnya di tengah kebun apel. Bentuknya persis seperti manusia yang sedang berjaga-jaga. Pakaiannya yang kedodoran berkibar-kibar tertiup angin. Sementara kepalanya memakai caping, seperti milik Pak Tani. "Wah, sepertinya Pak Tani tidak sendiri lagi," ucap Monyet, yang melihat dari kejauhan. "Ia datang bersama temannya. Tapi mengapa temannya diam saja, dan Pak Tani meninggalkannya sendirian di tengah kebun?" Lama sekali Monyet menunggu kepergian teman Pak Tani. Akhirnya dia tak tahan. "Ah, lebih baik aku ke sana," kata Monyet memutuskan. "Sekalian minta maaf karena telah mencuri apel Pak Tani. Siapa tahu aku malah diberinya apel gratis." "Maafkan saya, Pak," sesal monyet di depan orang-orangan kebun itu.


"Sayalah yang telah mencuri apel Pak Tani. Perut saya lapar sekali. Bapak tidak marah, kan?" Tentu saj,a orang-orangan ladang itu tidak menjawab. Berkali-kali monyet meminta maaf. Tapi orang-orangan itu tetap diam. Wajahnya tersenyum, tampak seperti mengejek Si Monyet. "Huh, sombong sekali!" seru Monyet marah. "Aku minta maaf kok diam saja. Malah tersenyum mengejek. Memangnya lucu apa?" gerutunya. Akhirnya Monyet tak tahan lagi. Ditinjunya orang-orangan kebun itu dengan tangan kanan. Buuuk! Lho, kok tangannya tidak bisa ditarik? Ditinjunya lagi dengan tangan kiri. Buuuk! Wah, kini kedua tangannya melekat erat di tubuh boneka itu. " Lepaskan tanganku! " teriak Monyet jengkel. " Kalau tidak, kutendang kau! " Buuuk! Kini kaki si Monyet malah melekat juga di tubuh orangorangan itu. "Aduh, bagaimana ini?" Sore harinya, Pak Tani kembali ke kebun. "Nah, ini dia pencurinya! " Pak Tani senang melihat jebakannya berhasil. "Rupanya kau yang telah merusak kebun apelku." Pak Tani tertawa ketika melepaskan Monyet. "Katanya Monyet binatang yang cerdik," ejek Pak Tani. "Tapi kok tertipu oleh orang-orangan ladang. Ha... ha... ha.... " Monyet pasrah saja ketika dibawa pulang ke rumah Pak Tani. Dia dikurung di dalam kandang ayam. Tapi Monyet terkejut ketika Pak Tani menyuruh istrinya menyiapkan bumbu sate. " Aku harus segera keluar malam ini juga" tekad Monyet dalam hati�. Kalau tidak, tamatlah riwayatku. " Malam harinya, ketika seisi rumah sudah tidur, Monyet memanggil-manggil Anjing, si penjaga rumah.


"Ssst... Anjing, kemarilah," bisik Monyet "Perkenalkan, aku Monyet. Binatang piaraan baru Pak Tani. Tahukah kau? Besok aku akan diajak Pak Tani menghadiri pesta di rumah Pak Lurah. Asyik, ya?" Anjing terkejut mendengarnya. "Apa? Aku tak percaya! Aku yang sudah lama ikut Pak Tani saja tidak pernah diajak pergi. Eh, malah kau yang diajak." Monyet tersenyum penuh arti. "Yah, terserah kalau kau tidak percaya. Lihat saja besok! Aku tidak bohong! " Rupanya Anjing terpengaruh oleh kata-kata si Monyet. Dia meminta agar Monyet membujuk Pak Tani untuk mengajaknya pergi ke pesta. "Oke, aku akan berusaha membujuk Pak Tani," janji Monyet. "Tapi malam ini kau harus menemaniku tidur di kandang ayam. Bagaimana?" Anjing setuju dengan tawaran Monyet. Dia segera membuka gerendel pintu kandang, dan masuk. Dengan sigap, Monyet cepat-cepat keluar dari kandang. "Terima kasih," kata Monyet sambil menutup kembali gerendel pintu. "Maaf Iho, aku terpaksa berbohong. Titip salam ya, buat Pak Tani. Dan tolong sampaikan maafku padanya." Monyet segera berlari dan melompat-lompat meninggalkan rumah Pak Tani. Anjing yang malang itu baru menyadari kejadian sebenarnya ketika si Monyet sudah menghilang. Monyet yang cerdik, temyata mudah diperdaya oleh Pak Tani. Itulah sebabnya kita tidak boleh takabur.


ANGGARA ANAK PAN KALER Oleh

Cahya mahardika

P

an Kaler memiliki tiga putra. Yang sulung bernama Anggara. Yang tengah bernama Sipeng, dan si bungsu bernama Soma. Pan Kaler sangat menyayangi mereka bertiga, keluarga mereka sangat disegani di desanya, di samping memiliki harta banyak, Pan Kaler juga orangnya baik.Ia sering membantu warga, sehingga dia diangkat sebagai kepala desa. Suatu hari Pan Kaler memberikan uang kepada mereka bertiga, dengan maksud untuk mendidik anakanaknya. Pan Kaler memberikan uang merata kepada ketiga anaknya. “Belanjakanlah uang ini sesuka kalian. Setelah itu laporkan kepada Ayah, untuk apa uang itu kalian pakai! “. Perintah Pan Kaler. Ketiga putranya menerima uang itu dan segera berangkat ketujuannya masing-masing. Anggara hanya ingin keliling desa. Dia ingin mengusir kejenuhan sehari-hari di rumahnya. Sipeng sangat gembira dengan kesempatan ini. Ia segera membelanjakan uang pemberian ayahnya. Ia membeli baju-baju bagus. Ia berfoya-foya, dan mabukmabukan. Soma masih kecil. Ia menggunakan uang iti untuk membeli semua mainan kesukaannya. Anggara menyusuri jalan-jalan di desanya bersama pembantunya. Ia sangat senang, setiap ada


orang selalu menyapanya dengan senyum. Tibalah mereka disebuah rumah. “ Mengapa orang-orang itu duduk di depan pintu dan menengadahkan tangannya ketika orang lewat?”Tanya anggara kepada pembantunya. “Mereka adalah peminta-minta” “Peminta-minta?” “Betul,mereka minta belas kasihan orang lain” “Kasihan mereka” “Jangan! Saya harap Anggara tidak merasa kasihan kepada mereka. Mereka semua pemalas. Kerjanya hanya menunggu di depan pintu rumah makan padahal kalau mereka mau bekerja, saya yakin mereka mampu.” Anggara meninggalkan rumah makan itu dengan menatap orang peminta-minta itu. Anggara melanjutkan perjalanannya, uang yang diberikan ayahya masih utuh tanpa ada pengeluaran sepersenpun. Sedangkan kedua saudaranya sudah menghabiskan uang pemberian ayahnya dengan berfoya-foya sesuka hati. Kemudian sampailah Anggara disebuah tempat ibadah. Ia berhenti lalu masuk kedalam. “Anggara kita kesini bukan untuk beribadah. Namun untuk melaksanakan perintah-perintah ayah agar Anggara membelanjakan uang pemberian ayah “ tegas pembantunya. “Jadi kau melarangku untuk beribadah? Aku jarang mengunjungi tempat ini, aku hanya beribadah di rumah. Kau tak usah khawatir, mengenai ayah itu urusanku” Anggara masuk kedalam tempat ibadah, beberapa saat kemudian dia keluar. Saat itu tiba-tiba datang seorang kakek berpakaian putih menyapanya. “Semoga engkau panjang umur anak muda, aku penjaga dan perawat tempat ini. Maukah kau memberi perawatan tempat ini?” Anggara memberikan uang pemberian ayahnya.


“ Terimakasih semoga dewata membalasmu” “Anggara, bukankah uang itu seharusnya untuk berbelanja untuk keperluanmu agar Anggara senang?” tegur pembantunya. “Aku belum membutuhkan uang itu. Kesenangan tidak hanya dilakukan dengan berfoya-foya. Aku sudah senang dan hatiku terasa damai memberikan uang itu. Akan kukatakan pada Ayah, bahwa aku memberikannya pada orang yang lebih membutuhkan,” jawab Anggara. Mereka lalu melanjutkan perjalanan. Ia melihat pemandangan desa yang sejuk dan asri. Tiba-tiba ia terkaget melihat sesuatu di tanah. “ Hei, lihatlah ! “seru Anggara” “Ini uang emas ! “seru pembantunya” “Tuh disana masih banyak lagi ! “ teriak Anggara. Keduanya lalu sibuk memungut uang keping itu. Setiap ia melangkah, jejak kakinya berisi uang keping emas. Dan anehnya setiap keping uang itu terukir tulisan “Semoga Anggara panjang umur” Anggara mangajak pembantunya kembali ke rumah. Ayah dan kedua adiknya sudah menunggu. “Mana barang belanjaanmu?” Tanya Pan Kaler. Anggara membuka karungnya. “Ini belanjaan ku Ayah” Pan Kaler dan kedua saudaranya terkejut. Pan Kaler bangga dan terus memuji Anggaara setelah mendengar ceritanya. Kedua saudara Anggara menjadi iri dan berniat untuk merebut uang yang ada dalam karung itu. “Bagaiman kalau kita curi uang itu, terus kita pakai untuk bersenang-seang lagi”. Seru sipeng kepada Soma. “Aku tidak berani mencuri, kata ayah kita tidak boleh mencuri” jawab Soma.


“Aahh…persetan dengan kata-kata ayah, apa kamu tidak ingin membeli mainan yang kamu sukai? Dengan uang sebanyak itu, kamu bisa membeli mainan yang banyak dan tentunya yang kamu inginkan”. Kata Sipeng mempengaruhi Soma. “Baik kalau begitu, tapi benar ya, aku mendapat bagiannya, supaya bisa membeli mainan. Kapan kita mencuri uang itu?” “Kita mencurinya malam hari, saat Anggara dan penghuni rumah lainnya tertidur lelap”. Merekapun mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengambil uang Anggara itu. Tibalah pada malam hari, disaat penghuni rumah tertidur mereka mulai beraksi. Sipeng tidak mengambil uang itu, malah menyuruh Soma untuk mengambilnya. “Soma…kamu ambil uang dalam karung itu, aku yang mengawasi dari sini”. Kata Sipeng kepada Soma. “Aku tidak berani, kamu saja yang mengambil”. Tolak Soma. “Apa kamu tidak ingin membeli mainan sesukamu?” Karena Soma terpengaruh olah kata-kata Sipeng, kemudian Soma mengambil uang yang ada dalam karung itu, setelah dibuka karung itu, ternyata uang itu berubah menjadi ular dan menggigit Soma. Soma berteriak kesakitan meminta tolong. “Aduuuh…sakit, tolong…sakit”. Teriak Soma sambil menangis. Semua penghuni rumah terbangun mendengar teriakan Soma, sedangkan Sipeng berlari meninggalkan Soma. Pan Kaler, Anggara, dan penghuni rumah lainnya bergegas menolong Soma, tapi mereka melihat Soma sudah mengeluarkan didih dari mulutnya. Keluarga Pan Kaler semua bersedih, kecuali Sipeng. Ia malah senang melihat adiknya meninggal,


karena yang ada dalam pikirannya warisan dari Pan Kaler sedikit yang membagi. Karena masih tergiur dengan uang banyak, tetapi Sipeng takut untuk mengambil uang yang ada dalam karung itu. Akhirnya Sipeng mengikuti cara Anggara dengan mengunjungi tempat ibadah itu, seperti yang dikataakan Anggara. “Aku harus kesana, dan bertemu kepada penjaga tempat ibadah itu, akan ku beri uang dan tentunya aku juga mendapatkan uang yang lebih banyak dari Anggara..ha..ha..ha”. ujar Sipeng dengan sombong. Keesokan harinya Sipeng bergegas pergi ketempat ibadah itu dan akhirnya bertemu dengan penjaga ibadah itu. “Hei pak tua…ini aku berikan uang untuk tempat ibadah ini, tapi kamu harus mendoakan aku agar mendapat uang banyak” kata Sipeng. Orang tua itu hanya mengucapkan sepatah kata. “Pulanglah, nanti dijalan kamu menemui sesuatu, dan kamu harus membukanya sampai di rumah”. Akhirnya Sipeng bergegas pulang, sampai di jalan ia menemukan sebuah peti. Ia sangat senang dan bergegas pulang. Sampai di rumah ia membuka peti itu, dan akhirnya bukan uang emas yang didapat tetapi ular, kala jengking, yang menggigitnya, dan akhirnya Sipeng mati mengeluarkan busa, baunya sangat busuk sampai tercium keseluruh desa. Selama semingu lebih bau itu tidak hilang. Akhirnya penduduk desa menanam tanaman yang berjenis bunga di masing-masing rumah agar bau itu menjadi hilang. Desa tersebut kini dikenal dengan desa penghasil bunga.


Nengah dan Peri Cantik Oleh

Cahya mahardika

D

ahulu kala hidup seorang anak, Nengah namanya. Dia tinggal dengan kedua orang tuanya di sebuah gubuk di tepi sungai.


Pekerjaannya memotong kayu dan berladang. Ia tidak sama dengan teman-teman sebayanya. Nengah selalu ingin seperti teman-temannya yang kerjanya hanya bermain. Hari-harinya penuh dengan pekerjaan untuk membantu orang tuanya. Suatu hari nengah duduk di sungai memperhatikan ikan-ikan berenang diantara batu-batu. “Mengapa aku tidak menjadi ikan saja” keluhnya. “Jadi aku tidak bekerja memotong kayu dan berladang lagi. Aku berenang-renang saja sepanjang hari.” Ujar nengah sambil melihat ikan-ikan itu. Tiba-tiba seorang peri datang menghampiri nengah, karena peri itu mendengar keluhan Nengah. “Apa kau ingin menjadi ikan Nengah ?”. Tanya peri itu. Nengah sangat terkejut melihat peri itu. Ia mengusap-ngusapkan matanya berkali-kali. “Siapa kamu, apakah kau peri? Ya…” jawab nengah. “Bisakah kau mengubahku menjadi ikan?” ujar nengah. “Jangan takut” kata peri cantik itu. Peri itu terbang dan mengetok kepala Nengah dengan tongkat ajaib. Dalam sekejap Nengah berada dalam air berenang-renang sangat gembiranya diantara batu-batu. Ia melonjat berkali-kali menunjukkan kesenangan dan kebebasannya. Akan tetapi ia merasa lapar. Nengah lalu naik kepermukaan air. Tiba-tiba ia melihat bayangan hitam menukik ke arahnya. Seekor burung mencari ikan, karena ia lapar. Nengah sangat ketakutan, ia bersembunyi di antara bebatuan dan jantungnya berdebar-debar. Saat itu nengah terus memandangi burung itu di sela-sela bebatuan. Dalam benaknya ia ingin terbang seperti burung pemakan ikan itu.


“Mengapa aku tidak menjadi burung saja. Jadi aku tidak perlu takut lagi ” gerutunya. Kemudian peri cantik itu muncul lagi menghampiri nengah. “Sudah tahu rasanya jadi ikan nengah?”. Tanya peri itu. “Ya…peri”. Sahut nengah. “Aku mau menjadi burung saja”. Tambahnya dengan berharap. “Burung ? baiklah aku akan menjadikan kamu burung” ucap peri cantik. “Ah…inilah hidupku, aku sangat bahagia” ujar nengah dengan hati yang gembira. Akhirnya si Nengah menjadi burung dengan sentuhan tongkat ajaib peri cantik itu. Lalu ia terbang di atas pohon-pohon. Tiba-tiba ia melihat bayangan melesat ke arahnya. Nengah melihat ke bawah. Jauh di sana tampak sekelompok pemburu. Mereka sedang berburu dengan busur yang sangat besar dan kuat. Benda yang melesat di dekatnya rupanya sebuah anak panah. “O…nasib! Hidup menjadi seekor burungpun tidak enak. Aku hamper menjadi santapan pemburupemburu itu”. Keluhnya. Lalu ia terbang menjauh. “Peri cantik…peri cantik…tolonglah aku!!!”. Teriak nengah. Nengah ketakutan, dalam hatinya penuh dengan penyesalan dan kebimbangan. Ketika itu ia teringat dengan kedua orang tuanya, teringat dengan temanteman sebayanya. Akhirnya peri cantik itu muncul lagi menghampiri nengah dengan senyum yang menawan. “Nengah…jawablah pertanyaanku. Saat kau menjadi manusia, apakah ada burung yang


memakanmu?” Tanya peri cantik itu dengan suara yang lembut. “Tidak…!!!”. Jawab nengah dengan wajah yang penuh dengan penyesalan. “Sekarang katakan kepadaku kau ngin menjadi apa sekarang? Akan ku kabulkan” Tanya peri itu kepada nengah. “Maafkan aku peri, aku tidak mau hari-hariku penuh dengan pekerjaan, aku ingin sama seperti temanteman sebayaku, yang kerjanya hanya bermain, bermain dan bermain”. Jawab nengah. “Aku ingin menjadi diriku sendiri peri, kembalikan aku sepeti semula!!”. Tambah nengah dengan wajah yang penuh dengan harapan. “Rupanya kau telah belajar dari pengalamanmu, perlu kau ketahui nengah, berhayal ingin menjadi sesuatu itu boleh, tapi yakinkan bahwa dirimu sendiri memiliki kelebihan disbanding yang lain. Kau harus bersyukur karena kau masih memiliki orang tua yang menyayangimu, kamu harus berbakti dengannya”. Ucap peri cantik. Peri itu lalu mengayunkan tongkat ajaibnya. Nengah kembali menjadi anak laki-laki dan ia sangat senang, tubuhnya kembali seperti semula dan utuh tanpa kekurangan salah satu apapun. Ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak memiliki sifat seperti itu lagi. Sejak kejadian itu, nengah tekun dan rajin bekerja menolong orang tuanya. Anak yang selalu menuruti keinginannya tidak akan mendapatkan kebahagiaan, tetapi sebaliknya, penderitaanlah yang didapatnya. Janganlah menginginkan sesuatu yang lebih yang belum tentu baik.


Kolor Pocong Perjaka Oleh Putra Ariawa ( Edisi khusus dari RedaksiM@TA)


D

ahulu dikisahkan di sebuah desa tepatnya di propinsi Jawa timur hiduplah gadis yang bernama Iyem. Ia hidup sebatang kara tanpa ditemani oleh sanak dan keluarga. Dulu Semasih keluarganya ada, hidup Iyem amat makmur. Segala kebutuhannya tercukupi. Terlebih-lebih ia dulunya adalah pegawai salon. Jadi dapat dibayangkan bagaimana keadaan Iyem pada saat itu. Sewaktu menjadi pegawai ia sempat bercita-cita akan membuka salon di desa tempat kelahirannya. Menjelang tahun 2003, semua mimpi dan citacita Iyem tiba-tiba saja sirna. Akibat adanya letusan lumpur lapindo, mendatangkan bencana bagi kehidupan iyem. Bagaimana tidak, seluruh keluarganya tewas tenggelam akibat terkena letusan lumpur itu. Iyem yang sebelumnya bekerja di Jakarta menjadi pegawai salon tidak tahu-menahu tentang keadaan keluarganya itu. Seluruh keluarga Iyem tewas, dari kedua orang tuanya, ketiga saudaranya bahkan seluruh kambing piaraan keluarga yang menjadi warisan nenek moyang iyem ikut terkubur oleh lumpur yang ganas itu. Akhirnya Iyem mengetahui keadaan keluarganya itu lewat siaran televisi. Setelah diketahui bahwa seluruh keluarganya telah tewas, ia menjadi shock berat. Apalagi setelah sebelumnya, bulan depan ia merencanakan untuk menikah dengan mas Radit manager salon itu. Iyem akhirnya hanya bisa terdiam sambil meratapi nasibnya itu. Dua bulan sudah ia menjalani hidup tanpa kehadiran seluruh keluarganya. Ia hanya berdiam diri di salon tempatya bekerja. Seluruh teman-teman sudah menghibur Iyem dan akhirnya sia-sia juga. Iyem yang semula dikenal sebagai sosok gadis periang kini berubah menjadi gadis pendiam dan tampil acakacakan. Diduga ia mengalami stres berat akibat


ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintainya. Mas Radit manager salon sekaligus menjadi kekasih Iyem merasa prihatin terhadap hal yang menimpa pacarnya itu. Lima bulan setelah kejadian itu, keadaan Iyem semakin parah. Ia mengalami gangguan jiwa. Ia selalu menyebut nama-nama keluarga yang telah meninggalkannya. Ia sering kali membuat kerusakan di tempat bekerjanya. Seluruh pelanggan yang semula sering ke salon melihat kejadian itu merasa takut untuk ke salon lagi. Iyem sudah tidak ingat dengan keadaan dirinya ia sering tertawa sendiri, menangis dan yang lebih tragis yakni ia sering keluar masuk salon tanpa busana. Iyem yang semula berwajah cantik dan anggun tiba-tiba saja berubah menjadi gadis yang acak-acakan tidak mengenal sopan santun. Melihat kejadian itu. Mas Radit kekasih Iyem merasa terancam dengan keberadaan Iyem yang selalu membuat kerusuhan di salon. Kini ia tidak sayang lagi kepada Iyem. Rasa sayang itu berubah menjadi rasa benci yang mendalam akibat salon yang menjadi warisan keluarganya dengan seenaknya di porakporandakan oleh gadis gila yang bernama Iyem itu. Lalu dicari cara untuk mengusir Iyem. Suatu saat seluruh pegawai salon ditemani oleh 10 orang satpam akhirnya mengusir Iyem dari salon. Pada saat pengusiran terjadi peristiwa yang menghebohkan. Bagaimana tidak, Iyem yang gila itu menghancurkan seluruh barang-barang yang ada di salon termasuk alat-alat dan obat-obatan untuk rambut. Hal yang menarik yakni pada saat diusir Iyem mengambil salah satu obat pembasmi kutu dan menyiramkannya ke wajah. Dapat dibayangkan bagaimana keadaan Iyem pada saat itu. Muka Iyem hancur dan rusak. Kejadian itu mengundang banyak perhatian. Terlebih-lebih pada saat itu ada wartawan


yang meliput beritanya dan segala kejadian itu terekam oleh kamera salah satu stasiun televisi. Dan akhirnya Iyem mampu di usir dan dibiarkan hidup menjadi gelandangan di kota. Selama menjadi gelandangan di kota Iyem tetap memperlihatkan keadaan gangguan jiwanya. Hal itu bertambah parah telebih-lebih ketika ia melihat calon tunanganya yang bernama Mas Radit berduaan di mobil bersama wanita lain. Begitu sakit hati Iyem melihat kejadian itu. Sebagai dampaknya setiap kali ia melihat pasangan yang bermesraan di depannya ia selalu mengganggu laki-laki dari pasangan itu sambil mengatakan “Mas Radit kekasihku�. Semua orang menjadi takut kepadanya. Dalam keadaan jiwa yang terganggu itu, Iyem sedikitpun tak menghiraukan dirinya. Suatu saat dalam tidurnya Iyem sempat bermimpi didatangi oleh pangeran tampan berkuda putih dengan kejantanannya. Pangeran itu mengatakan Iyem dapat mencari setiap laki-laki tampan sesuai dengan keinginannya dengan cara memakai kolor pocong perjaka yang mati dengan tragis. Sungguh aneh mimpi Iyem itu. Iyem yang pada saat itu mengalami gangguan mental dengan mudah percaya saja dengan apa yang dilihat lewat mimpinya itu. Tanpa berpikir lagi Iyem pun dengan cepat menuju kuburan yang berada tidak jauh dari kota. Di malam hari yang buta tepatnya di malam minggu kliwon, Iyem dengan keadaan jiwanya yang terguncang pergi kekuburan yang terletak tidak jauh dari kota. Selama ekspedisinya ia sering kali menemukan hal-hal yang aneh. Ia sempat bertemu kuntilanak, tuyul, dedemit, dan hampir seluruh makhluk halus ditemuinya. Iyem yang gila itu hanya mampu tertawa menyaksikannya. Akhirnya tepatnya jam 12 lewat 5 menit, akhirnya Iyem bertemu dengan pocong dikuburan. Tanpa merasa takut Iyem pun


menghampiri pocong itu dan menanyakan tentang keberadaa kolor pocong yang ia cari. Selama terjadi percakapan Iyem dengan si pocong, Iyem menceritakan seluruh mimpi yang ia alami. Memang malam itu nasib iyem amat beruntung. Ternyata pocong yang diajaknya itu adalah pocong yang dulunya semasih hidup adalah seorang jejaka muda. Si pocong menceritakan kepada Iyem kalau ia dulunya senang mencuri kolor orang-orang mandi. Akhirnya ia mati bunuh diri akibat ia dipermalukan oleh warga kampung karena mempunyai kebiasaan aneh dan buruk itu. Sampai menjelang kematiannya kolor itu masih melekat di badannya sampai ia gentayangan menjadi pocong. Si Iyem yang megalami gangguan jiwa itu tiba-tiba saja menangis histeris dan meminta kolor pocong yang masih perjaka itu. Karena merasa kasihan terhadap Iyem akhirnya si pocong dengan rela memberikan kolornya kepada si Iyem tanpa menggunakan syarat sedikitpun. Iyem yang semula menangis histeris tiba-tiba saja tertawa cekikikan melebihi suara kuntilanak. Karena seluruh penghuni kuburan merasa takut pada suara Iyem, akhirnya seluruh penghuni kuburan pergi menjauh. Keesokan harinya, setelah mendapatkan kolor pocong perjaka yang ia dapatkan semalam dengan cara bersusah payah akhirnya ia memakai kolor itu dengan berharap banyak laki-laki yang akan tertari kepadanya. Iyem yang memiliki gangguan jiwa itu bermksud menguji kehebatan kolor yang ia dapatkan itu. Apakah benar mimpinya itu menjadi kenyataan. Setiap laki-laki yang ditemui Iyem di jalan dirayunya. Laki-laki yang melihat Iyem merasa heran melihat gerak-gerik gadis yang gila itu. Sungguh sangat disayangkan setiap Iyem mendekat untuk menghampiri setiap laki-laki tampan yang ia inginkan tiba-tiba saja laki-laki itu lari terbiritbirit.


Melihat kejadian itu Iyem merasa ditipu oleh si pocong. Tanpa perasaan takut sedikitpun di malam harinya Iyem pun menemui pocong yang telah memberikannya kolor itu. Si Iyem yang mengalami gangguan jiwa itu tanpa pikir panjang memukul-mukul si pocong. Ditendangnya si pocong sambil mengeluarkan kata-kata yang kasar. Tanpa disadari Iyem, ternyata si pocong sesungguhnya menyukai si Iyem. Ia merasa tertarik akibat si Iyemlah gadis yang pertama kali yang berani mengajaknya berbicara. Maka dari itu karena merasa sayang dan kasihan dengan nasib yang menimpa Iyem, akhirnya ia rela memberikan apapun kepada Iyem termasuk kolor yang dipakainya. Dengan cepat akhirnya si pocong menceritakan segala isi hatinya kepada Iyem yang mengalami gangguan jiwa itu. Mendengar seluruh isi hati si pocong akhirnya Iyem merasa marah dan malah sebaliknya Iyem menghina-hina si pocong sampai akhirnya si pocong tak kuat lagi menahan hinaan si Iyem. Si pocong bersama teman-temannya akhirnya memperkosa Iyem di tengah kuburan. Karena tak kuat menahan sakit Iyem pun akhirnya melepas nafas terkhirnya di tengah kuburan setelah sebelumnya ia di setubuhi oleh hantu-hantu yang tidak bertanggung jawab.


Tentang penulis I Nengah Sudarsana lahir di Br. Padang Linjong, Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Badung, Bali. Lahir pada tanggal 19 Oktober 1987. Bergelut dalam dunia menulis sejak pembinaan cara penulisan dalam mata kuliah “Menulis 2” sampai terbitnya buku ini dalam mata kuliah “Produksi yang diampu oleh bapak Wayan Artika. Kemudian bergabung dalam redaksi M@TA yang merupakan salah satu tim VA Mak Nyos. Berusaha menuangkan ide lewat goresan kecil ini dalam kumpulan dongeng “Burung-Burung Pemimpi yang kami banggakan. (No Hp 085737224420 )

Syahrizal Akbar, dilahirkan pada 2 Oktober 1988 di Sikur, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Saat ini mengejar gelar S1 pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Bali. Pria yang memiliki hobi nonton film action ini tergabung sebagai redaktur M@ta, salah satu majalah kampus di Undiksha. Sebelum tergabung dalam redaksi M@TA, sebelumnya juga tergabung dalam tim redaksi Silet. ( No Hp 081339826344 )


I Gede Putra Ariawan kerap disapa Putra , lahir di Br. Anyar , Kecamatan Kediri , Kabupaten Tabanan, Bali pada tanggal 16 Juni 1988. Mulai belajar menulis cerpen, naskah drama, berita dan karya tulis lainnya saat mengenyam pendidikan S1 Bahasa Indonesia di Undiksha Singaraja. Motto hidup “ Berekspresi Sampai Di Luar Batas Imajinasi”. Bergabung dengan tim M@TA semenjak mendapat mata kuliah produksi semester V. Salah satu naskah drama komedinya yang pernah dipentaskan oleh HMJ Bahasa Indonesia Undiksha, Singaraja berjudul “ Kolor Pocong Perjaka”. (No HP O8174193488)

I Gede Giri Arta Sedana, atau lebih dikenal dengan nama Giri, adalah salah satu Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang masih “produktif. Dia mulai menulis sejak bergabung dengan redaksi M@ta yang dibentuk untuk perkuliahan “Produksi” yang diempu oleh bapak Wayan Artika. Lajang kelahiran Tabanan 2 juli 1988 menuangkan karyanya dalam kumpulan dongeng “Burung-Burung Pemimpi”. Salah satunya adalah “Cungklik” & “KunangKunang Andarung Sasih”. Dua setengah tahun berada di Singaraja, tinggal di Lingga Banyuasri, dia telah banyak menulis Puisi berjudul diantaranya “Waktu” dan “Hiklas”. Sayangnya karya itu belum sempat di publikasikan. (No HP 081936144506


I Putu Cahya Mahardika lahir di Seririt, Buleleng, Bali pada 3 Oktober 1988. Ia anak pertama dari keluarga yang sederhana. Setelah tamat SMA, Cahya melanjutkan studi di UNDIKSHA (Universitas Pendidikan Ganesha) Singaraja. Ia mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Mahasiswa yang berbintang Libra ini selalu mengisi kekosongan dengan bermain musik atau bermain basket. Dalam hidupnya, Cahya selalu memegang kuat prinsip yang ia miliki: • “Sesuatu apapun yang terjadi pada diri kita, walau seberat dan sebesar apapun yang menjadi penghalang kita masih punya suatu pilihan” . • “Tidak ada seorangpun yang bisa menentukan hari esok, maka hari ini berbuatlah sesuatu yang lebih baik dari hal yang terkecil untuk menyongsong hari esok yang lebih baik”. Terimakasih yang sebesar-besarnya dan sedalamdalamnya kepada bapak I Wayan Artika yang telah mengenalkan apa artinya sebuah kehidupan. (No HP 085737161844)

Peria pemalu ini lahir dan besar di desa Gunaksa-Klungkung 14 mei 1988. I Nyoman Alit Suwarbawa tersirat di Akta Kelahiran namun ia lebih dikenal dengan “Q-up”. Ia mulai membaca sejak duduk di kelas 3 SD N 3 Gunaksa dan melanjutkan terus misinya untuk menjadi sukses. Setelah lulus SD tahun 2000 ia melanjutkan pendidikan di SLTPN 2 Dawan-Klungkung. Tahun 2003 ia lulus SLTP melanjutkan ke SMK


REKAYASA-DENPASAR. Namun ia tidak bertahan lama di sana, waktu yang singkat hanya 2 bulan ia bosan dan enggan untuk sekolah disana karena tidak melihat cewek. Akhirnya ia melanjutkan pendidikannya di SMA PGRI-Klungkung pada tahun itu pula. Tahun 2006 ia terdaftar sebagai Mahasiswa BASINDO di UNDIKSHASINGARAJA sampai saat ini. No HP (08563780009)

FB/YM: alitklepon@yahoo.co.id Hendi Anggara Putra lahir di Kabupaten Tabanan, Bali pada tanggal 08 Maret 1988. Dia sekarang menempuh pendidikan di Undiksha, Singaraja, Bali. Menjalani masa-masa kuliah, dia tekun dalam mempelajari sastra Indonesia. Kegiatan dalam menulis pun sedang ia pelajari, baik itu tulisan yang berkaitan dengan isu-isu sosial, politik, dan keagamaan. Dunia jurnalistik sangat ia gemari, karena di dalam jurnalistik dia dapat mempelajari segala hal yang terjadi di sekitar. Walaupun cita-citanya sebagai penulis belum terwujud, namun dia tetap berusaha dan bekerja keras dari hasil pengalaman-pengalaman sempit yang mengarah pada pengalaman hidup sebenarnya. Baginya, pengalaman merupakan awal dari suatu perjalanan yang nantinya akan memberi nilai kepuasan hidup dalam menekuni kegiatan menulis. Selama mempelajari dunia sastra dan menulis, dia sangat optimis bahwa semua akan terwujud dengan rajin membaca segala jenis buku, karena keberhasilan dalam menulis tidak akan sempurna tanpa dirangkul dengan kegiatan membaca. Dalam mengasah kemempuannya di bidang sastra dan menulis, dia bersama rekan-rekan mahasiswa Jurusan Bahasa, Sastra


Indonesia dan Daerah lainnya tergabung dalam “pemuda pencinta dunia jurnalistik�, yakni Redaksi Mata. Segala hal yang baru menjadi sangat menarik untuk diketahui dan dipelajari. Itulah sekilas prinsip yang ia cetuskan dalam keseharian karirnya menempuh pendidikan demi terciptanya fantasi baru dalam dunia pendidikan, sastra, dan kegiatan menulis. No HP ( 0817564447 )



Burung Pemimpi