Issuu on Google+

oleh cinthya sopaheluwakan

A

ngin kencang berhembus di bulan Oktober yang cukup dingin, dan daun-daun sudah berguguran di seputar kota Copenhagen. Suasana di awal musim gugur membuat kota Copenhagen bercahaya berwarna keemasan. Terletak di semenanjung utara Jerman berbatasan dengan laut Baltik, Denmark memiliki beberapa pulau berbagai ukuran. Kota Copenhagen, atau København dalam bahasa Danish yang berarti “merchant’s port”, terletak di pulau Sjælland dan Amager. Lokasinya yang strategis membuat Copenhagen memiliki peran penting dalam sejarah perdagangan laut di Laut Baltik dan sekitarnya. Kota ini tumbuh menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan utama serta berperan dalam sejarah perdagangan Liga Hanseatic. Copenhagen juga merupakan ibukota yang paling murah dibanding ibukota negara Scandinavia lainnya yang terkenal mahal. Saat mengunjunginya, hal pertama yang saya rasakan adalah betapa tenangnya ibukota ini. Banyak mobil dan lalu lintas, tetapi tidak mengurangi menawannya kota ini. Cara paling tepat dan murah untuk menikmati Copenhagen adalah dengan jalan kaki dan Anda dapat memulainya dari Rådhuspladsen di depan gedung Rådhus (City Hall). Semua tempat bersejarah dan pusat atraksi dapat ditempuh dengan berjalan kaki sambil menikmati suasana pusat kota lengkap dengan gedung-gedung abad pertengahan yang cantik. Lewati Tivoli Garden (taman hiburan rakyat), Rosenborg Slot, Botanical Garden, istana Amalienborg, Nyhavn, Christiansborg, Kongens Nytorv kemudian susuri bulevar Strøget hingga berakhir di Rådhuspladsen. Berbeda dengan kota besar di Eropa barat yang umumnya mengambil tokoh pahlawan perang, jendral, raja atau laksamana laut, di Copenhagen banyak sekali penulis, sastrawan dan filsuf yang diabadikan. Jalan utama di Copenhagen bernama Hans Christian Andersen, sang

50 PANORAMA EDISI XXIII

penulis cerita terkenal yang mengubah dunia anak-anak dengan dongengdongengnya seperti Si Itik Buruk Rupa atau Gadis Penjual Korek Api. Diabadikannya seorang sastrawan besar memberikan impresi kota yang humanis, dimana hasil karya para pemikir dihargai. Penggemar H.C Andersen dapat mengunjungi H.C.Andersen’s Wonderful World yang memuat hidupnya di Copenhagen. Salah satu karya H.C Andersen menjadi atraksi lokal yang selalu didatangi oleh pengunjung kota ini adalah Den Lille Hafrue atau The Little Mermaid. Patung ini merupakan ikon kota Copenhagen dan berlokasi di pinggir pelabuhan. Tempat saya menginap terletak sangat dekat dengan kuburan Assistens Kirkegaard, dimana H.C Andersen dimakamkan, dan pada hari terakhir saya menyempatkan melihatnya. Walaupun tidak sepopuler kompleks pemakaman Père Lachaise di kota Paris tempat dimakamkannya tokoh-tokoh terkenal, taman ini cukup menarik karena tidak nampak seperti kuburan tetapi lebih seperti taman kota biasa lengkap dengan gerbang besi cantik dan pepohonan asri. Letak makamnya sang pengarang legendaris agak terpencil tetapi ada beberapa tanda panah menuju makamnya. Beberapa taman yang luas menjadi paruparu pusat kota, membuat suasana teduh dan menyenangkan. Copenhagen memang salah satu kota Eropa yang paling hijau sehingga pejalan kaki merasa nyaman berada di kota ini. Bagian kota yang sangat hidup adalah Strøget, bulevar bebas mobil sepanjang 1 km yang diapit berbagai toko, restoran, dan kafe yang tertata apik. Toko-toko yang karismatik mengundang pengunjung untuk masuk atau sekedar jalan menikmati suasana juga terasa nyaman sambil berbaur dengan orang lokal serta sesama turis diselingi berbagai pertunjukan seni jalanan. Saat musim dingin restoranrestoran dan kafe-kafe menyediakan selimut untuk menghangatkan kaki jika pengunjung ingin duduk di luar. Strøget berakhir di plaza besar Kongens Nytorv, dan tidak jauh dari sana kita bisa melihat Nyhavn yang berbatasan dengan tepi laut. Terdapat dua baris rumah kayu

Halaman samping Jajaran pertokoan di Copenhagen, Denmark. Dengan para shopper dan turis di pelatarannya. Halaman ini Nyhavn, Danish pastry yang terkenal

mengapit sebuah kanal kecil dimana warnawarna merah, kuning, hijau, dan biru saling menciptakan kontras tetapi secara kesatuan sungguh memesona. Di tepi kanal juga terdapat beberapa kapal kayu yang berlabuh secara permanen. Dibangun sejak abad ke-17, Nyhavn yang berarti “pelabuhan baru” dulunya merupakan tempat para pelaut berlabuh dan menurunkan kargo. Kini bagian pelabuhan ini sudah

menjadi bagian kota yang historis dan dipertahankan menjadi distrik dengan bar, kafe serta restoran. Tidak jauh dari deretan ini terdapat rumah HC Andersen tinggal selama 18 tahun. Aura dari Nyhavn sangat khas daerah Scandinavia, dan berbeda dari bagian Eropa lainnya. Jiwa liberal kota ini terasa antara lain dengan adanya Christiania, bagian kota yang menginginkan otonomi yang lepas dari kota dan bersuasana bohemia. Awalnya kawasan ini merupakan tempat para tunawisma muda namun kemudian berkembang seiring dengan idealism free-city-nya menjadi daerah yang membebaskan penjualan dan penggunaan cannabis hingga tahun 2004. Berinteraksi dengan orang lokal di Copenhagen terasa menyenangkan. Semua orang bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Beberapa kali saya mengobrol dengan penduduk lokal, dan selain ramah menjawab pertanyaan saya, mereka juga nampak sangat bangga saat bercerita mengenai Copenhagen. Sebagai sebuah ibukota negara, Copenhagen merupakan tempat yang aman untuk didatangi. Sebagai wisatawan perempuan, kepergian saya sendirian dianggap wajar dan bukan sesuatu yang luar biasa oleh negara feminis ini. Copenhagen yang apik, terbuka, tenang, dan berkarakter kuat, humanis, dan feminis ini selalu mengundang saya untuk datang kembali lagi. PANORAMA EDISI XXIII

51


tempat terlihat plakat penanda bekas tembok Berlin. Juga yang menjadi situs peringatan adalah Checkpoint Charlie, titik bekas gerbang antara Berlin Timur dan Berlin Barat yang menjadi simbol gateway to freedom. Berlin dijuluki kota yang subur dengan seni karena Museum Island. Kawasan ini terletak di ujung Unter den Linden dan merupakan pulau kecil di tengah sungai Spree, dan memiliki 5 buah museum: Old Museum, New Museum, Old National Gallery, Bode Museum dan Pergamon Museum. Kelima museum itu menyimpan koleksi seni dan sejarah yang luar biasa. UNESCO telah menetapkan Museum Island sebagai UNESCO World Heritage Site. Berlin juga memiliki museummuseum unik seperti Museum of Broken Relationships.

oleh cinthya sopaheluwakan

J

alan panjang yang teduh sepanjang bulevar Unter den Linden yang berarti “dibawah pohon limau”, antara Brandenburger Tor dan Tiergarten hingga ke Museum Island dan Berliner Dom, menaungi para pejalan kaki dan memberikan suasana sejuk di Berlin. Patung Frederick the Great berdiri seolah-olah menjaga bulevar yang diapit oleh gedung-gedung bersejarah seperti Humboldt University, Gedung Opera, dan Neue Wache (New Guard House) yang memuat patung Mother and her Dead Son. Pemandangan ini menyambut saya di kota Berlin. Berlin merupakan kota yang sangat kaya dengan sejarah, baik sejarah dari jaman kekaisaran Prussia, hingga ke perannya di era kelam Perang Dunia II. Lokasi Berlin yang strategis di kontinen Eropa membuatnya menjadi tempat yang senantiasa diperebutkan. Ukuran kota yang besar membuat tidak semua tempat yang menarik berada di satu tempat. Bahkan tidak ada bagian old city yang biasanya terdapat di kota-kota di Eropa lainnya. Dan walau jumlah turis yang datang ke Berlin sama dengan kota besar lainnya seperti Barcelona, tetapi ukurannya yang besar membuat kotanya tidak tampak terlalu ramai.

64 PANORAMA EDISI XXIII

Sebagaimana layaknya kota kosmopolitan, Berlin dapat memenuhi semua keinginan penduduk dan pengunjungnya. Ingin sejarah Eropa klasik? Ingin melihat koleksi seni dari jaman Babylonia hingga renaissance? Ingin melihat karya arsitektur megah abad ke-20? Semua tersedia di Berlin. Kota yang menjadi tempat shooting beberapa film Hollywood seperti Bourne Supremacy dan The Pianist juga mengadakan festival film setiap tahun yang membuatnya berada di peta film dunia. Jantung kota adalah taman Tiergarten dengan berbagai lampu tamannya yang cantik. Di pusat kota juga terdapat sebuah kebun binatang dengan beruang kutub Knut yang menjadi kesayangan warga Berlin. Ikon terkenal di Berlin antara lain adalah Brandenburger Tor yang tidak hanya dipenuhi dengan turis berfoto dan ikut tur, tetapi juga menjadi pusat kegiatan demonstrasi dan berbagai protes. Reichstag, dengan kombinasi antara gedung bergaya klasik dengan struktur modern terbuat dari kaca dan gelas membuat saya teringat dengan Museum Louvre di Paris. Antrian ke tempat ini cukup panjang dan dapat memakan waktu hampir satu jam untuk masuk, namun semua terbayar dengan pemandangan kota Berlin dari atas gedung yang memikat.

Halaman samping Brandenburg Gate, buatan abad ke�18, dengan patung Dewi

Arsitektur neo-klasik gedung-gedung yang merupakan sisa jaman Prussia membuat Berlin menjadi kota yang tipikal klasik Eropa namun yang membedakannya adalah kantong-kantong yang menyimpan sejarah kelam Perang Dunia II. Tempattempat ini terpencar bahkan tidak terlihat namun mereka ada, berdampingan secara kontras dengan sisi Berlin lainnya. Tembok Berlin, potongan sejarah jaman Perang Dingin masih tersisa sebagian kecil yang masih dapat Anda lihat. Di beberapa

Hasrat untuk mengubah Berlin menjadi kota yang modern tampak jelas di berbagai sudutnya. Salah satunya adalah Potsdamer Platz yang berwarna warni dan berkesan trendi dengan beragam restoran, kafe dan bioskop serta theater imax. Area shopping di seputar Kurfürstendamm, yang oleh orang lokal disingkat menjadi Ku-Damm, serta Friedrichstraße, juga menjadi titik pusat dan surga belanja warga lokal. Berlin sungguh sebuah kota yang memikat. Sejarah dan perannya dalam Perang Dunia II membuat tenggorokan tercekat, sejarah kekaisaran Prussia membuat terkagum, modernisasi membuat Berlin atraktif. Impresi kota Berlin bagaikan sebuah permadani - kota yang memiliki

Nike di Pariser Palatz, Berlin, Jerman. Tentara dengan bendera Amerika di Checkpoint Charlie, Halaman ini Museum Bode. Museum of Broken Relationship. Pemandangan Gedung Parlemen Berlin dan Reichstag.

kombinasi yang menarik antara sejarah dan modernisme. Sedemikian magnetisnya kota Berlin hingga John F. Kennedy pernah mengatakan dalam pidato “Ich bin ein Berliner” yang terkenal bahwa “All free men, wherever they may live, are citizens of Berlin”. Dan untuk beberapa saat yang singkat, saya pun menjadi seorang citizen of Berlin.

PANORAMA EDISI XXIII

65


Copenhagen & Berlin