GOR - UNHAS : Gelagat (K)Orupsi Rektor Universitas Hasanuddin

Page 1

KAKI

Catatan

Kaki Tangan Demokrasi dan Keadilan

GOR - UNHAS: Gelagat (K)Orupsi Rektor Universitas Hasanuddin

Dibalik Kenaikan BBM; Pemiskinan Global versus Gerakan Sosial

#2012

Juni - Juli


2

Catatan Kaki | Edisi Juni - Juli 2012

Editorial

Tim Redaksi

Melampaui Sekedar Karya Jurnalistik

Penanggung Jawab Tuhan YME Pemimpin Umum Aman Wijaya Pemimpin Redaksi Adi Editor Haidir Sulle Irsyan Layouter Haris Reporter/Kontributor Mesri Tatang Takwin Ma’ruf Haidir Irsyan Adi Dini Bulan Abhot Aman La Said Adit Sirkulasi La Said

E

nam tahun lalu, untuk pertama kalinya Idrus Patturusi dilantik menjadi Rektor Universitas Hasanuddin. Untuk periode pertama kepemimpinannya slogan “ Menuju Citra Unhas 2010” menjadi andalan. Tak ingin hanya satu periode saja. Rektor Incumbent pun melancarkan visi-misi World Class University agar dapat dipilih kembali. Seluruh konsep-konsep yang diajukan oleh Idrus menekankan pada perbaikan Infrastruktur. Pembangunan besar-besar menghiasi kampus Unhas. Bukan hanya Kampus Tamalanrea yang dipermak. Bekas Pabrik Kertas Gowa pun disulap menjadi Kampus Fakultas Teknik. Sedangkan di kampus Tamalanrea sementara dibangun Gedung Serbaguna yang diberi nama GOR Unhas, bantuan dari Pertamina. Seakan memberi bukti bahwa logika birokrasi sejatinya memang korup. Pembangunan GOR Unhas pun menuai masalah. Persoalan yang muncul diangkat menjadi cacatan utama pada edisi kali ini. S u d a h m e n j a d i wa t a k d a s a r kekuasaan. Selalu ada sesuatu yang tersembunyi dibalik kebijakan yang diambil. Entah itu dari segi pembangunan maupun segi aturan. Setelah mengangkat masalah yang muncul pada pembangunan GOR Unhas sebagai Catatan Utama. Edisi ini menuliskan ada apa dibalik aturan untuk menaikan harga BBM pada maret silam. Rubrik Catatan Khusus menjadi ruang pembahasan

Tranformasi Baru Sebuah Terbitan

“cover both side was dead

S

etelah Lama tak hadir menyapa para pembaca. Kami Tim Redaksi Catatan Kaki tampil lagi dalam bentuk berbeda. Berbeda dari beberapa terbitan sebelumnya yang dulunya dalam bentuk Newshitletter atau Bullet-teen. Kini CaKa hadir ditangan para pembaca dalam bentuk Koran. Walaupun jadwal terbit kami tak serutin media mainstream. Rangkain kata-kata yang dituliskan di CaKa, memberi suasana berbeda dalam mendapatkan informasi. Menyandarkan pusat informasi kepada media massa umum adalah sebuah ketololan. Tindakan tersebut hanya memperpanjang nafas dari arogansi kekuasaan, kediktatoran, perilaku korup, hingga melecehkan makna kehidupan.

terkait hal itu. Rapat paripurna DPR yang menghasilkan penundaan rencana kenaikan BBM paling lambat hingga September 2012 menjadi dagelan politik. Pembungkaman terhadap Gerakan Sosial yang muncul secara sporadis. Negera ini seakan menjadi panggung sandiwara. Lakon yang dimainkan oleh para elit bangsa. Resensi buku yang ditulis oleh R a h m a d M . A r s ya d , “ N e g e r i P a n g g u n g S a n d i w a r a ”, menggambarkan aktor-aktor utama dalam Panggung para elit. Masyarakat pun tinggal menjadi penonton dalam penentuan arah kehidupan yang bakal mereka jalani. Agar tak menjadi penonton dalam panggung sandiwara para politikus. Masyarakat harus membangun kesadaran tentang arti hidup yang sesungguhnya. Mengorganisir sebuah gerakan perlawanan. Menolak tunduk terhadap kebijakn Negara serta sistem kapitalisme. Semua dijelaskan secara langsung dalam opini edisi ini. Tentang cara masyarakat Pandang raya

Sedari awal Catatan Kaki muncul 17 tahun silam. Seluruh kru CaKa yang merupakan bagian integral dari Unit Kegitan Pers Mahasiswa (UKPM) Unhas, telah berdiri dalam barisan anti penindasan modern. perilaku korup birokrasi, kebijakan pemerintah yang menghancurkan tatanan hidup masyarakat, eksploitasi sistem kapitalisme terhadap kelas pekerja merupakan musuh utama kami. Bukan hanya itu kami pun mengevaluasi model perlawanan yang bersifat hirarkis. Menolak terlibat dalam front atau aliansi anti penindasan yang kaku serta kolot. Tak ingin semangat resistensi dipatokan pada kekuatan partai politik dalam semua bentuk ideologi. Entah itu agamis, nasionalis, hingga partai yang menyebut diri mereka gerakan lingkungan serta sosialis. Kami percaya bahwa solidaritas yang tumbuh dimana-mana, bakalan memberi harapan baru tentang tatanan masyarakat yang bebas dari penindasan. Catatan Kaki mengambil sedikit

mempertahankan hak hidupnya. Bukti nyata perlawanan warga biasa yang tidak menginginkan hidup mereka dirampas dan dikendalikan oleh penguasa. S e b a g a i w u j u d ra s a h o r m a t terhadap masyarakat pandang raya serta seluruh gerakan pembangkangan yang muncul seantero planet ini. Kami telah meninggalkan perdebatan usang dalam organisasi. Dalam penentuan posisi kami berdiri dalam kehidupan ini. Sebagai organisasi Jurnalistik atau organisasi gerakan? Kami pun memilih keduanya. Sebuah gerakan sosial dapat menghasilkan karya jurnalistik yang fantastis. Begitupun sebaliknya, kegiatan jurnalistik mampu menjadi pemicu gelombang gerakan sosial yang dahsyat. Keduanya memiliki hubungan kaitmengait yang tidak terpisahkan dalam hal melampaui teks jurnalistik yang biasa-biasa saja. Pilihan itu termanifestasikan pada edisi kali ini. Kami telah melampaui teks-teks jurnalistik!

ruang propaganda melalui media. Menghalau pergerakan dari sistem penindasan modern yang gencar melalui media mainstream. Masih banyak kekurangan dalam terbitan CaKa kali ini. Kami pun terus mengevalusi diri. Seperti kami meng-kritik sistem kapitalisme modern serta gagasan perlawanan yang muncul. Belajar untuk tak hentinya memperbaiki diri. Alasan itu pun membuat kami memilih bentuk Koran dalam terbitan ini. Agar dapat dinikmati masyarakat secara umum. Sebagai penutup, kami menyatakan bahwa tak ada gosip yang dituliskan dalam CaKa edisi kali ini. Kami bukan infotainment atau reality show yang menghadirkan manipulasi informasi. Sejak awal kami bergabung dengan Catatan Kaki pantangan paling utama yakni fitnah. Kami pun dituntut untuk langsung menuduh. Menuduh dengan data-data yang kami rangkai menjadi sebuah senjata; tulisan. Selamat menikmati sajian edisi ini!


Catatan Utama

Catatan Kaki | Edisi Juni-Juli 2012

GOR Unhas: Gelagat (K)Orupsi Rektor Universitas Hasanuddin Penunjukan langsung pengalihan manajemen lapangan oleh Rektor dinilai tidak sesuai aturan

L

apangan softball seukuran setengah lapangan bola sebentar lagi disulap jadi gedung raksasa. Para buruh bekerja siang dan malam menata setiap bangunan yang menjulang ke langit. Ribuan material bangunan berserakan di tanah seluas 4.200 meter persegi. Kepulan asap hitam kendaraan alat berat terus membumbung di udara menandakan proyek pembangunan GOR (Gedung Olahraga) Unhas tengah berjalan. Pembangunan proyek Gedung Olahraga Serbaguna Universitas Hasanuddin senilai Rp 10 miliar diduga menjadi 'praktek' keluarga rektor Unhas, Prof Idrus Paturusi. Proyek kerjasama Unhas-Pertamina ini melibatkan keluarga rektor dalam pelaksanaannya. Penelusuran CaKa, pelaksanaan pembangunan GOR dilakukan adik rektor, Irwan Paturusi. Irwan Patturusi mengaku ditunjuk langsung oleh rektor untuk mengambil alih proyek GOR. "Saya tidak tahu dik. Tapi ini atas penunjukan langsung pak rektor," ucap Irwan, saat CaKa menemuinya tak jauh di lokasi proyek, di lapangan softball unit kegiatan mahasiswa (UKM). Dia mengatakan, penunjukan langsung itu b e r j a l a n s e t e l a h penanggungjawab pelaksana proyek, PT. Telaga Mega Buana menunda pengerjaan selama tiga bulan. "Tiga bulan tidak ada kejelasan, kontraknya diputuskan, dan mengundurkan diri secara tertulis," katanya. PT Telaga Mega Buana memenangi proyek pembangunan GOR senilai Rp

Kasarnya, PT. Telaga Mega Buana masih digunakan namanya untuk menjaga reputasi perusahaan berskala nasional ini

10 miliar. Perusahaan jasa kontruksi ini beralamat di Jalan Mapala Blok A5/14. Perusahaan ini mengajukan tawaran terendah dari 17 perusahaan yang terdaftar d a l a m l e l a n g , s e b a ga i m a n a terdaftar di Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE). Catatan Kaki menelusuri, nilai yang ditawarkan PT Telaga Mega Buana Rp 7,6 miliar. "Tapi PT Telaga Mega Buana ini bukan dimiliki adik pak rektor, tidak ada hubungannya itu," kata Alimantu, salah seorang pejabat Unhas yang bertindak selaku Ketua Panitia Tender Proyek Pembangunan GOR Unhas. Dia menyebutkan, PT Telaga Mega Buana adalah milik seseorang bernama Sudirman T. "Jadi bukan adik pak rektor," ucapnya. Sementara itu, Sudirman selaku pemilik PT Telaga Mega Buana menyatakan, penunjukkan langsung pengalihan manajemen di lapangan oleh rektor Unhas tidak sesuai dengan aturan. “Rektor tidak punya hak melakukan penunjukan langsung pengalihan proyek kepada pihak lain. Tapi tugas rektor hanya memberikan masukan saja,” ujarnya. Pengalihan proyek pembangunan GOR dialihkan ke pihak Irwan Paturusi selaku adik kandung rektor Unhas, karena PT Te l a ga M e ga B u a n a d i n i l a i terlambat dan lalai dalam pelaksanaan proyek sesuai dengan tenggat waktu yang telah d i te n t u ka n . S e m e n t a ra i t u , Alimantu menolak dikatakan terjadi pengalihan proyek. “Yang kerja proyek tetap PT Telaga Mega Buana. Pemiliknya adalah pak Sudirman,” ujarnya saat ditemui tim redaksi Catatan Kaki. Setelah tim CaKa menelusuri informasi di lapangan (di lokasi proyek), informasi yang didapatkan tidak sesuai dengan pernyataan Alimantu. Salah seorang pelaksana proyek mengakui telah terjadi pengalihan manajemen pelaksanaan proyek di lapangan oleh Irwan Paturusi. Menurut, AB Elo, Proyek Manager Pembangunan GOR saat ditemui Tim CaKa di lokasi pembangunan proyek, mengatakan, pelaksanaan proyek telah diambil alih oleh Perusahaan milik Irwan Paturusi. AB. Elo mengakui bahwa

pekerjaan yang diambil alih oleh Irwan Paturusi tetap menggunakan bendera PT Telaga Mega Buana sebagai pemenang tender. “Kasarnya, perusahaan PT Telaga Mega Buana masih dipakai namanya untuk menjaga nama baik perusahaan berskala nasional ini,” ungkapnya. AB. Elo menambahkan, sumber dana dari pihak Pertamina sebagai perusahaan yang mendanai pembangunan ini tetap menyalurkan dananya melalui rekening PT Telaga Mega Buana. “Kita terus melakukan koordinasi dengan PT Telaga Mega Buana karena nama perusahaannya digunakan,” kata dia. Setelah proyek yang dijalankan oleh PT Telaga Mega Buana ini berjalan sekitar tiga bulan dan belum menunjukkan h a s i l ya n g b e ra r t i . P roye k kemudian dialihkan ke Irwan Paturusi melalui penunjukan langsung oleh Rektor Unhas, Idrus Paturusi. Hingga saat ini, secara administrasi, proyek masih dipegang oleh PT Telaga Mega Buana. Dana Proyek dari Pertamina juga tetap mengalir di rekening PT Telaga Mega Buana.

Asal Muasal Proyek GOR Pertamina Pengusulan pengadaan GOR Unhas dimulai sejak tahun 2006. Wakil Rektor III, Nasruddin Salam sebagai pengusul ke PT Pertamina (Persero). Pada tahun 2010 kemudian disetujui oleh pihak Pertamina. Dan, pada 21 November 2011 digelar peletakan batu pertama oleh rektor Unhas dan pihak Pertamina. Nasaruddin mengatakan, Unhas mendapatkan dana pembangunan GOR Unhas melalui dana CSR (Corporate Social Responsibility) Pertamina di bidang pendidikan. “Saya berangkat ke Pertamina pusat untuk mempresentasekan mengenai pembangunan GOR sehingga dibantulah Unhas sekarang,” katanya. Pertamina juga telah membantu pembangunan GOR dibeberapa perguruan tinggi di Indonesia. Diantaranya, Universitas Indonesia (UI), Institut Te k n o l o g i B a n d u n g ( I T B ) , Universitas Brawijaya (Unibraw),

dan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS). Bantuan dari PT Pertamina (persero) berupa dana hibah senilai Rp 10 miliar untuk pembangunan Gedung Olahraga (GOR) Unhas. GOR Unhas akan dibangun di atas lahan 4200 meter persegi. Dana sebesar Rp 10 miliar melalui anggaran Small Medium Enterprise & Sosial Rensponsibility (SME & SR) Partnership Program. Gedung multi fungsi ditaksir dapat menampung sekitar 4.500 mahasiswa. Nasaruddin, saat acara peletakan batu pertama lokasi pembangunan gedung Unhas pada 2 1 N o v e m b e r 2 0 1 1 menyampaikan proyek itu akan dirampungkan enam bulan setelah peletaan batu pertama. Setelah delapan bulan berjalan proyek ini tak nampak akan rampung. Vice President Small Medium Enterprise & Social Rensponsibility (SME & SR) PT Pertamina, Hari Subagya menyampaikan pembangunan gedung multi fungsi di Unhas diharapkan mampu menunjang segala kegiatan di 'kampus merah' ini sebagai konsorsium perguruan tinggi negeri se-Indonesia Timur. “Sebagai perusahaan milik negara Pertamina memililiki komitmen yang sangat tinggi terhadap pengembangan sumber daya manusia yang kompetitif ke depan. Oleh karena itu, Pertamina sangat mendukung pengembangan dunia pendidikan,” katanya. Bantuan Pertamina kepada Unhas bukan yang pertama kali. Hari mengatakan Pertamina juga pernah memberikan bantuan dalam bentuk peralatan sebagai penunjang kegiatan dalam bidang teknologi informasi berupa komputer. “Tahun 2011 ini kita juga telah menyalurkan beasiswa kepada anak-anak yang berasal dari daerah tertinggal seperti Provinsi Halmahera dan Papua dikuliahkan Pertamina, salah satunya ada di Unhas,” ucap Hari. Penunjukan langsung dinilai melanggar PP No. 54 Tahun 2010 Secara mekanisme tender, ketika pelaksanaan proyek gagal, maka diharuskan panitia tender untuk melakukan pelelangan kembali, sebagaimana yang tertulis dalam

3


4

Catatan Kaki | Edisi Juni - Juli 2012 Peraturan Presiden (PP) Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Dalam PP tersebut dikatakan pada Pasal 38 ayat 1 bahwa: Penunjukan langsung terhadap p e nye d i a b a ra n g / p e ke r j a a n konstruksi/jasa lainnya dapat

pelaksanaan proyek di kampus Unhas sewajarnya harus transparan. Menurut dia, indikasi keterlibatan keluarga memperlihatkan adanya unsur nepotisme. "Yang jelas, bagaimana pun mekanisme bantuannya, Unhas harus transparan, dan wajib

Tim CaKa berkali-kali ke rektorat Unhas meminta data pemenang tender proyek di Unhas, tapi pihak rektorat menolak memberi. dilakukan jika terjadi keadaan t e r t e n t u . Pa s a l 3 8 aya t 4 , mengatakan kriteria keadaan tertentu yang memungkinkan dilakukan penunjukan langsung meliputi: Penanganan darurat yang tidak bisa direncanakan sebelumnya, dan waktu penyelesaian pekerjaannya harus segera/tidak dapat ditunda untuk: Pertahanan negara, keamanan dan ketertiban masyarakat, keselamatan/perlindungan masyarakat yang pelaksanaan pekerjaannya tidak dapat ditunda/ harus dilakukan segera, termasuk: Akibat bencana alam, bencana non alam, dan atau bencana sosial. Dalam rangka pencegahan bencana. Akibat kerusakan sarana/prasarana yang dapat menghentikan kegiatan pelayanan publik. Merujuk aturan yang ada, pengalihan dari PT Telaga Mega Buana ke Irwan Paturusi selaku pelaksana proyek di lapangan tidak memenuhi kriteria dilakukannya penunjukan langsung pengalihan proyek sesuai PP Nomor 54 tahun 2010. Pengamat hukum, Anwar SH menilai, aturan tender berupa pemutusan kontrak, tidak dapat dilakukan secara sepihak. Menurut dia, ada mekanisme tender sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 54 Tahun 2010. "Jadi tidak serta merta memutuskan kontrak begitu saja," kata dia. Mengacu pada peraturan pemerintah No. 54 Tahun 2010, Anwar menyebutkan, pemutusan kontrak dapat dilakukan jika terjadi keterlambatan pelaksanaan pekerjaan akibat kesalahan perusahaan konstruksi melampaui 5 persen dari kontrak. "Aturan ini ada di pasal 93 ayat satu, tentang pemutusan kontrak sepihak oleh panitia tender," katanya.

S e h a r u s ny a transparansi

a d a

Dekan Fakultas Hukum Unhas, P ro f A s wa n t o , m e n g a t a k a n

diketahui civitas akademikanya," kata dia. Transparansi, lanjut Aswanto, terkait citra Unhas di mata masyarakat. Dia mengatakan, tak ada masalah jika proyek sesuai dengan aturan. "Kalau sesuai aturan, tentu saja tidak ada masalah," ucapnya. Meski begitu dia menimpali, secara etika, pemenang tender idealnya tidak berasal dari kalangan keluarga. "Memang idealnya jangan berasal dari kalangan keluarga, apalagi jika memang kuat para pemegang proyek berasal dari keluarga rektor," ucapnya. Pembangunan infrastruktur yang marak di Unhas bisa dilacak melalui para pemenang tender. Sumber CaKa, menyebutkan, sejumlah proyek seperti pembangunan Hutan Pendidikan Unhas di Bengo-Bengo, Maros yang menelan anggaran miliaran rupiah juga dilaksanakan oleh Johan. “Banyak proyek di Unhas yang anggarannya miliaran rupiah dikelola oleh perusahaan milik Johan,” kata dia. Johan adalah adik ipar rektor Unhas, Prof Idrus Paturusi. Tak hanya itu, Johan juga diduga mengerjakan sejumlah proyek perbaikan jalan di gerbang pintu satu Unhas, dan terlibat juga dalam pembangunan rumah sakit Unhas yang menghabiskan anggaran miliaran rupiah. Gedung baru Fa kult a s Kehut a na n ya ng sementara ini dibangun juga dikerjakan oleh Johan. "Dia semua itu, dan para kroninya," kata sumber CaKa itu. Tim CaKa berkali-kali ke rektorat Unhas meminta data pemenang tender proyek di Unhas, tapi pihak rektorat menolak memberi.

Pertamina menolak berkomentar terkait pengalihan proyek GOR Setelah dikonfirmasi oleh Ca Ka , P i h a k P T Pe r t a m i n a (Persero) Pemasaran Region VII Sulawesi membenarkan telah

memberikan bantuan dalam bentuk dana hibah senilai Rp 10 miliar kepada Universitas Hasanuddin untuk pembangunan GOR Unhas. Bantuan ini sebagai bentuk kepedulian pihak Pertamina di dunia pendidikan. Menurut Laode S. Mursali, Ass. Small Medium Enterprise & Social Rensponsibility (SME & SR) PP Region Sulawesi, dana tersebut merupakan dana hibah Rp 10 miliar. “Tidak ada keterikatan dalam pemberian dana hibah tersebut,” katanya, saat ditemui di ruang kerjanya. Bukan pertama kali bagi Pertamina memberikan bantuan dana untuk pembangunan sarana dan prasarana Perguruan Tinggi di Indonesia. Sebelumnya, Pertamina telah membantu Universitas Brawijawa, Malang membangun GOR. S e te l a h b e b e ra p a b u l a n pembangunan GOR Unhas berjalan, PT Telaga Mega Buana sebagai pemenang tender dinilai tidak maksimal dalam pengerjaan proyek, sehingga pihak unhas kemudian mengalihkan pekerjaan lapangan ke pihak lain, yakni Irwan Paturusi. Mengenai pengalihan pekerjaan ke pihak lain, Laode Mursali yang dimintai konfirmasi oleh Tim CaKa di ruang kerjanya menolak berkomentar terkait hal teknis di lapangan. “Tanya saja Pak Nasaruddin (Wakil Rektor III Unhas) kalau masalah itu dik,” ujarnya. Sementara itu, Laode Mursali mengakui bahwa Pertamina Pemasaran VII wilayah Sulawesi memiliki tugas memantau dan mengevaluasi setiap perkembangan proyek pembangunan GOR Unhas. Setelah Tim CaKa menyampaikan bahwa terjadi pengalihan pelaksana proyek, pihak Pertamina tidak mengetahui pengalihan tersebut. “Saya tidak tahu itu dek. Silakan tanya pihak Unhas mengenai masalah itu,” ucap Laode Mursali. L a o d e M u r s a l i mengungkapkan, jika pembangunan GOR Unhas ada kesalahan, maka nantinya akan t e r b u k t i . B a d a n Pe m e r i k s a Keuangan akan mengaudit. “Saya tidak mau berkomentar terlalu jauh mengenai masalah pembangunan GOR, silahkan tanya saja ke Pak Nasaruddin dik,” kata dia.

Protes mengalir dari Lembaga Kemahasiswaan Unhas Sejumlah pengurus lembaga kemahasiswaan Unhas menilai

pembangunan proyek GOR Unhas adalah proyek mercusuar perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia Timur ini. “Proyek yang menghabiskan anggaran m i l i a r a n r u p i a h i n i h a nya dijadikan sebagai ladang bagi-bagi uang oleh birokrasi dan beberapa pengusaha yang sering bekerjasama dengan pihak Unhas,” kata Cikal, pengurus Senat Mahasiswa Kelautan. Hal senada juga diungkapkan oleh Ali Akbar, Koordinator Maperwa BEM Kehutanan Sylva Indonesia PC. Unhas. Dia menilai Unhas lebih senang membangun gedung-gedung megah dibandingkan melengkapi beberapa perlengkapan laboratorium yang sudah usang dan tua serta tak layak pakai. “Katanya ingin menjadi universitas berkelas dunia, tapi hal-hal yang sangat substansial seperti laboratorium dan fasilitas penunjang akademik lainnya malah terabaikan,” ujarnya. Dia mengeluhkan, pengurus lembaga kesulitan mendapatkan dana kemahasiswaan direktorat ketika ada kegiatan yang ingin diselenggarakan oleh mahasiswa. “Pihak unhas selalu mengatakan tidak ada uang. Tapi ternyata jika ingin membangun gedung megah seperti GOR Unhas, tiba-tiba uangnya ada. Sepertinya pihak rektorat Unhas jago main sulap kalau berurusan dengan uang,” kata Ali. Ketua BEM Kehutanan Sylva Indonesia PC. Unhas, Dadang Anugrah mengungkapkan kebijakan rektor Unhas yang mempersulit mahasiswa memakai fasilitas kampus. “Mahasiswa sangat sulit memakai fasilitas gedung pertemuan yang ada di Unhas saat ingin digunakan menggelar kegiatan. Beberapa t e m p a t b a h k a n d i s e wa k a n . Harusnya tidak mempersulit mahasiswa dengan menyewa gedung sendiri,” ujar Dadang. Dia menilai sebaiknya dana bantuan Pertamina yang nilainya miliaran rupiah itu dialihkan saja untuk mendanai berbagai kegiatan kemahasiswaan yang dapat meningkatkan kapasitas mahasiswa Unhas. Dibandingkan membangun gedung yang peluang anggarannya dikorupsi berjamaah sangat besar. “Sebaiknya dana miliaran rupiah itu dialihkan untuk peningkatan kapasitas mahasiswa atau untuk meningkatkan kualitas dosen yang bahan kuliahnya itu-itu terus dari zaman dulu,” katanya. (Tim CaKa)


Catatan Khusus

Catatan Kaki | Edisi Juni - Juli 2012

Dibalik Kenaikan BBM; Pemiskinan Global versus Gerakan Sosial

Respon atas perlawanan yang muncul di berbagai daerah Kenaikan BBM, Sebuah Manipulasi Tahun 2012 menjadi tahun pengungkapan kebenaran bagaimana sebenarnya proses produksi minyak di dalam negeri. Berdasarkan hal tersebut masyarakat dapat mengetahui bahwa sebenarnya telah terjadi manipulasi. Rekayasa pun dilakukan sehingga seolah-olah ini semua tampak alami. Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh tim Catatan Kaki. Dapat dijelaskankan sebagai berikut,

R

atusan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tengah sibuk mengoceh di Senayan untuk menggelar suatu keputusan. Keputusan yang akan menentukan nasib ratusan juta masyarakat miskin Indonesia. Kebijakan menaikkan BBM atau tidak. Sebagian fraksi partai ada yang menolak dan tak sedikit yang menyatakan menerima kenaikan BBM. Pertemuan tersebut berakhir seperti sebuah drama. Sangat berbeda yang terjadi di luar gedung DPR. Ribuan demonstran yang menolak kenaikan harga BBM dipaksa membubarkan diri oleh aparat kepolisian yang dibantu anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI). Para demonstran terdesak mundur karena tembakan gas airmata, dan

Pemerintah

tembakan air mobil water cannon aparat. Puluhan orang terluka. Kejadian yang sama terjadi di beberapa daerah di Indonesia, diantaranya Makassar dan Medan. Waktu itu 31 April 2012. Penguasa (pemerintah) negeri ini m e m p e r l i h a t k a n ketidakberpihakannya terhadap rakyat kecil. Keputusan rapat paripurna DPR terkait kenaikan BBM adalah penundaan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Rapat ini membahas perubahan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2012. Memutuskan untuk mempertahankan Pasal 7 ayat (6), dengan menambahkan Ayat (6a) yang memungkinkan pemerintah menaikkan atau menurunkan

harga BBM jika ada fluktuasi harga minyak mentah dunia sebesar 15 persen dalam enam bulan. Indonesia merupakan salah satu negara yang tergabung dalam Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Komunitas atau perkumpulan n e g a ra – n e g a ra p e n g e k s p o r minyak. Namun, pada tahun 2008 hampir bersamaan dengan ke n a i ka n B B M . p e m e r i n t a h mengundurkan diri dari perkumpulan tersebut. Alasan, keluarnya Indonesia disebabkan negara ini tidak lagi menjadi pengekspor murni minyak bumi. Melainkan telah berubah menjadi negara pengimpor. Benarkah demikian?, ataukah hal tersebut hanya menjadi akal–akalan penguasa demi satu tujuan.

dengan harga Rp. 5.944/liter Rp. 224,5691tr = Pasar internasional 25,2192 milyar liter dengan harga Rp. 5.944/liter Rp. 149,903 tr = Jumlahnya 63 milyar liter dengan harga Rp. 5.944/liter Rp. 374,4721 tr = Biaya LRT 63 milyar liter @Rp. 566 Rp. 35,658 tr Jumlah Pengeluaran Pertamina Rp. 410,13 tr HasilPendapatanPertamina 63 milyar liter @ Rp. Rp. 283,5 tr 4.500 PERTAMINA DEFISIT/TEKOR/KEKURANGAN TUNAI Rp. 126,63 tr.

Harga bensin premium yang Rp. 4.500 per liter sekarang ini ekuivalen dengan harga minyak mentah sebesar US$ 69,50 per barrel. Harga yang berlaku US$ 105 per barrel. Lantas dikatakan bahwa pemerintah merugi US$ 35,50 per barrel. Dalam rupiah, pemerintah merugi sebesar US$ 35,50 x Rp. 9.000 = Rp. 319.500 per barrel. Ini sama dengan Rp. 2009, 43 per liter (Rp. 319.500 : 159). Karena konsumsi BBM Indonesia sebanyak 63 miliar liter per tahun, dikatakan bahwa kerugiannya 63 miliar x Rp. 2009,43 = Rp. 126,59 triliun per tahun. Maka jika harga bensin premium dipertahankan sebesar Rp. 4.500 per liter, pemerintah merugi atau memberi subsidi sebesar Rp. 126,59 triliun. Uang ini tidak dimiliki, sehingga APBN akan jebol. Pengadaan BBM oleh Pertamina berdasarkan instruksi langsung dari pemerintah. Pertamina diperintahkan untuk mengadakan 63 miliar liter bensin premium setiap tahunnya. Dengan harga jual Rp. 4.500 per liter. Maka perolehan Pertamina atas hasil penjualan bensin premium sebesar 63.000.000.000 liter x Rp. 4.500 = Rp. 283,5 trilyun.

37,7808 milyar liter

Sumber: Forum Kwik Kian Gie Data di atas menunjukkan, Pertamina kekurangan uang tunai sebesar Rp. 126,63 triliun. Pemerintah menambal defisit tersebut dengan membayar tunai sebesar Rp. 126,63 triliun yang membuat jebolnya APBN, karena

uang ini tidak dimiliki pemerintah. Lihat baris paling atas dengan huruf tebal (bold), pemerintah menerima hasil penjualan minyak mentah kepada Pertamina sebesar Rp. 224,569 triliun. Jumlah

penerimaan oleh pemerintah ini tidak pernah disebut-sebut. Yang ditonjolkan hanya tekornya Pertamina sebesar Rp. 126,63 triliun yang harus ditambah pemerintah.

“

Berdasarkan data, jelas menunjukkan keuntungan pemerintah. Selama ini pemerintah terus saja berdalih telah mengeluarkan uang lebih untuk mensubsidi BBM. Data tentang surplus atau keuntungan pemerintah diperkuat dengan nota keuangan 2012 tahun anggaran 2012

“

5


6 Agenda Liberalisasi Sama halnya dengan pendidikan dan kesehatan. BBM merupakan suatu kebutuhan yang paling penting untuk khalayak. Hal tersebut termasuk kebutuhan dasar masyarakat. Dari sekian rentetan ke b i j a k a n p e m e r i n t a h d a p a t disimpulkan bahwa negara ini telah mengadopsi sistem kapitalisme. Terlihat jelas melalui kebijakan pemerintah yang berpihak pada pengusaha dan pemodal tanpa memikirkan masyarakat miskin. Kapitalisme yang telah bermetamorfosis dengan nama Neoliberalisme telah menjamur dan mengakar di negeri ini. Salah satu ide terpenting konsep neoliberalisme adalah pengurangan peran negara dalam perekonomian. Dikenal dengan istilah deregulasi. Apa yang terjadi di Indonesia saat ini terkait kenaikan harga BBM merupakan efek langsung dari sistem kapitalisme. Pada pertengahan tahun 1980an, ketika negara–negara Amerika Latin mengalami krisis ekonomi, Lembaga keuangan global seperti IMF, World Bank, dan WTO serta para ekonom Amerika Serikat yang bermaskas di Washington meracik 'obat generik' untuk diratifikasi. Suplemen tersebut oleh ekonom Johns Williamson diberi nama Konsensus Washington. Kon se n su s Wa shi n g to n dilahirkan oleh para pemikir ekonomi beraliran liberal. Awalnya konsep ini hanya diberlakukan terhadap negara–negara Amerika Latin yang terkena krisis ekonomi. Namun, belakangan konsep ini diyakini dapat berlaku di negara–negara berkembang, termasuk Indonesia. Konsensus Washington terdiri atas sepuluh elemen yang bisa diringkas menjadi tiga pilar yakni disiplin anggaran pemerintah, liberalisai pasar (market liberalitation), dan privatisasi BUMN. Tiga pilar utama Konsensus Washington tersebut dapat dijumpai dalam bentuk produk undang–undang serta kebijakan pemerintah. Contohnya kenaikan harga BBM merupakan salah satu

Catatan Kaki | Edisi Juni - Juli 2012 bentuk pengupayaan liberalisasi pasar. Tujuan utama kenaikan BBM adalah untuk memasukkan investor asing ke pasar Indonesia. Berdasarkan data tim CaKa, beberapa perusahaan asing sudah beroperasi di Indonesia diantaranya Chevron, Exxon, dan Petronas. Saat ini perusahaan transnasional itu hanya menjual pertamax. Bahan bakar seperti premium dan solar belum mereka jual. Premium dan solar harganya masih jauh di bawah harga pasar.

Gerakan Mahasiswa Maret 2012 beberapa elemen masyarakat ramai-ramai menolak rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Termasuk diantaranya adalah mahasiswa. Sebagaian besar mahasiswa dari pelosok tanah air mengekspresikan kekecewaannya dengan berbagai macam bentuk perlawanan seperti aksi teatrikal di jalan dan demonstrasi bakar ban. Salah satu gerakan perlawanan yang dinilai paling radikal datang d a r i m a h a s i s w a M a k a s s a r. Mahasiswa melakukan pemboikotan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) milik Pertamina dan membagi-bagikan BBM jenis premium secara gratis kepada masyarakat. D i M a k a s s a r, b e b e r a p a demonstrasi penolakan kenaikan BBM kebanyakan dipelopori oleh mahasiswa. Bara semangat itu dimulai dengan aksi pagelaran seni di depan pintu 1 Universitas Hasanuddian. Diikuti oleh beberapa musisi jalanan dan komunitas seni dari berbagai kampus. Mereka menggunakan seni sebagai jalur perlawanan. Aksi tersebut mampu menarik perhatian masyarakat di sekitar kampus merah. Parade seni tersebut mengunakan semboyan “Karena seni ada di jalanan bukan di gedung kesenian”. Pasca parade seni di pintu satu u n h a s , m u l a i l a h m a ra k a k s i parlemen jalanan di beberapa ruas jalan di Makassar. Mulai dari aksi 'jalan santai' sampai aksi yang dinilai 'anarkis' karena merusak fasilitas umum dan swasta serta membagikan BBM serta tabung elpiji

Penjarahan SPBU danPembagian BBM premium gratis milik Pertamina ke masyarakat. (Aksi yang 'anarkis' akan di bahas di bagian lain dari edisi ini). D e m o n s t ra s i b e r l a n g s u n g dibeberapa titik diantaranya depan pintu satu Unhas, depan kampus STMIK Dipanegara, Jl. Sultan Alauddin, Flyover, Jln. AP. Pettarani, depan kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI). Dari titik-titik aksi ini, hampir semuanya merupakan j a l a n p ro to ko l ( u t a m a ) ko t a Makassar sehingga mengakibatkan kemacetan di mana-mana. Misalnya saja di jalan Sultan Alauddin, nafas panjang perlawanan mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar membuat polisi bekerja ekstra keras. Selama sepekan mereka bentrok dengan polisi. Tak pelak, kondisi ini membuat jalan penghubung antara Gowa dan Makassar ini lumpuh total. Lain lagi halnya dengan aksi di pintu satu unhas Pada 21 Maret 2012 yang digelar oleh ratusan Mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Makassar (GRM) yang berslogan “kami marah karena kapitalisme dan negara hanya membuat masyarakat sengsara”. GRM terdiri dari Mahasiswa Unhas, UNM, UMI, STMIK dan beberapa lembaga dan kelompok gerakan di Makassar. Demonstrasi diwarnai dengan aksi pengrusakan mobil dinas, penjarahan tabung elpiji 3 kilogram, pengrusakan minimarket (Alfa Mart), pembagian BBM jenis premium di SPBU yang terletak di depan Unhas, dan pembakaran mobil Coca-Cola. Mobil yang mengangkut ribuan tabung gas elpiji berisi 3 kilogram ditahan mahasiswa dan tabung elpijinya dibagikan kepada masyarakat secara gratis. Aksi mahasiswa ini layaknya tokoh Robin Hood. Selain itu, demonstran juga menduduki SPBU dan membagikan ratusan liter BBM jenis premium ke p a d a a n gku t a n u m u m d a n beberapa masyarakat yang menggunakan sepeda motor. Aksi tersebut kemudian berakhir ricuh. Aparat memaksa membubarkan aksi tersebut menggunakan mobil water cannon dengan menyemprot meriam air ke arah demonstran. Diselingi tembakan gas air mata kebarisan massa. Akibat aksi tersebut, mobil water cannon yang berada di depan pintu satu unhas dengan posisi melintang menutupi kedua ruas jalan ditambah warga sekitar yang

menyaksikan aksi itu menyebabkan jalan perintis kemerdekaan lumpuh total. Dari beberapa aksi tersebut, dapat dilihat bahwa gerakan mahasiswa sangat dominan. Hampir tiap aksi dimotori oleh mahasiswa.

Redupnya Semangat Perjuangan Menjelang ditetapkannya UU APBN 2012 pada 31 mei 2012. Aksi penolakan massif dilakukan di kota Daeng ini. Beberapa kampus bersikeras menolak kenaikan BBM. Tapi pertanyan yang muncul kemudian adalah masihkah semangat penolakan tersebut berlanjut pasca ketukan palu sidang paripurna DPR untuk UU perubahan APBN 2012? Pada 1 April, tepat sehari setelah ditetapkannya UU APBN perubahan 2012, Aliansi Mahasiswa seMakassar yang tergabung dalam Barisan Rakyat Tertindas (Berantas) menggelar aksi penolakan kenaikan BBM di depan jalan masuk menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. Aliansi ini menilai hasil rapat perubahan UU APBN 2012, yang melakukan penundaan sementara pemangkasan subsidi BBM hanya untuk mengendurkan semangat mahasiswa. “Pemerintah yang sangat 'bersemangat' untuk menaikkan harga BBM diberikan keleluasaan untuk menaikkan jika terjadi fluktuasi sebesar 15 persen. Nantinya akan dinaikkan dengan berbagai dalih,” kata salah seorang peserta aksi. Setelah aksi Berantas, nyaris tak ada lagi suara 'sumbang' di jalan yang mengganggu pemerintah. Semangat penolakan terhadap rencana naiknya harga BBM telah hilang bagai ditelan bumi. Keputusan DPR bahkan belum memastikan bahwa harga BBM tidak d i n a i k k a n . M a l a h ke p u t u s a n tersebut memungkinkan untuk pemerintah memangkas subsidi BBM. Ada apa dengan mahasiswa? Melihat kondisi pasca 31 April, kita tidak lagi melihat gerakan mahasiswa mengawal isu kenaikan harga BBM. Dari gerakan-gerakan mahasiswa beberapa bulan terakhir, semuanya memiliki satu tujuan yaitu menolak kenaikan BBM. Apakah tujuan itu sudah tercapai? Menurut Ketua Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional


Resensi Buku

Catatan Kaki | Edisi Juni - Juli 2012

Mengungkap Panggung Belakang Politik Indonesia

N

egeri Panggung Sandiwara adalah kumpulan esai komunikasi politik yang ditulis berdasarkan rekaman kejadian bangsa Indonesia 10 tahun terakhir. Penulis, Rahmad M. Arsyad dalam buku ini mencoba melacak setiap fenomena sosial dalam kacamata komunikasi politik.

Bagaimana sebuah panggung bernama Republik Indonesia diisi oleh berbagai drama dalam lakon. Membangun imaji menjadi pencapaian utama dalam sistem politik pencitraan. D a l a m p e m b a h a s a n nya , fenomena sosial, politik, budaya, dan agama dibongkar dengan menggunakan

(HIMAHI) Unhas, Abdullah Fikri Ashri semangat untuk mengawal kenaikan BBM i t u s u d a h s u r u t . Te r k a i t d e n g a n bergabungnya HIMAHI dalam gerakan yang dibangun oleh gerakan Sekretariat Bersama (Sekber) belakangan mahasiswa yang tergabung banyak yang tidak lagi membicarakan hal itu. Dia mengatakan bahwa mayoritas massa yang tergabung di SEKBER hanya sebagai langkah taktis. “Kita hanya ingin menyelaraskan gerakan, makanya banyak organ yang diundang untuk bergabung,” Katanya. Gerakan mahasiswa yang terkesan 'momentuman' juga diamini oleh Andre Pranata, mantan Presidium Sidang BEM Sastra Unhas. Menurut dia tidak ada

Catatan Khusus

Sistem politik pencitraan menjadi pencapaian utama.

pendekatan ilmu komunikasi. Buku yang berjudul Republik Panggung Sandiwara ini juga mengungkap segudang kebohongan para politisi yang menggurita di negeri ini. Berbagai aksi atas nama r a k y a t t e r u s dikumandangkan, tapi dibalik aksi sosial yang dilakukan hanya semata untuk memburu kekuasaan. Kebohongan-kebohongan yang terus dijajakan oleh penguasa negeri ini seakan telah menjadi kebenaran. Seperti yang dikatakan oleh Jozef Goebbles, Menteri propaganda Nazi di Zaman Hitler, bahwa Kebohongan yang diulang-ulang akan membuat publik menjadi percaya, dan kebohongan yang paling besar ialah kebenaran yang dirubah sedikit saja. Melalui buku ini, Rahmad dengan sederhana mengungkap kebohongan para lakon negeri ini dengan menggunakan teori komunikasi. Desain pencitraan maupun skenario ke ku a s a a n ya n g b e ra d a dipanggung belakang republik Indonesia juga dibongkar. Penulis menilai hubungan antara politisi dan kebohongan ibarat dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan. Politisi pandai memainkan peran antagonis dan protagonis seperti dalam sebuah cerita. Ajang Pemilukada menjadi ruang aktualisasi diri para politisi berperan sebagai wakil rakyat yang membela rakyat miskin. Namun, jika sudah

strategi khusus yang dibangun Sekber hingga keputusan DPR sah untuk menunda pemangkasan subsidi BBM. Mereka hanya menunggu perkembangan selama enam bulan ke depan. Andre menambahkan beberapa gerakan yang dibangun mahasiswa Makassar menolak kenaikan harga BBM telah merasa berhasil dengan te r t u n d a nya re n c a n a p e m e r i n t a h menaikkan harga BBM. Padahal seharusnya tujuannya melampaui itu. Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris ini mengungkapkan ada gerakan yang sekedar mau 'eksis' atau mencari popularitas saja. “Supaya orang tahu ji kalau Unhas juga menolak kenaikan BBM” ucap Andre. Namun, satu hal yang sangat

7

menduduki kekuasaan, dirinya tiba-tiba berubah menjadi peran antagonis. “Cerita politisi dinegeri ini mengingatkan kita pada bait lagu Panggung Sandiwara ciptaan Taufik Ismail “Dunia ini panggung sandiwara ceritanya mudah berubah”. Selain politisi yang senang berbohong, buku ini juga mengulas pencuri, perampok, dan penipu yang berada di setiap sudut ruang Republik ini. Yang menurut penulis Indonesia sebagai 'negara Kleptokrasi'. Tidak tanggungtanggung, politisi dan penguasa bahkan pegawai rendahan, seperti Gayus Tambunan terang-terangan mencuri miliaran rupiah. Uang negara pun dirampok secara berjamaah, seperti skandal Century. Melalui tulisannya, penulis berhasil membuka 'tirai' panggung belakang politik Indonesia sehingga apa yang tak nampak mampu diungkap. Buku yang didedikasikan untuk anak muda yang memiliki segudang mimpi di republik ini wajib dibaca oleh para politisi dan birokrat. Buku ini juga dapat menjadi konsumsi para demonstran, mahasiswa, buruh, dan pekerja kemanusiaan yang memilih jalanan sebagai arena berjuang.

dia sesalkan, informasi dari konsolidasi terkait gerakan menolak BBM tidak sampai ketataran 'bawah' organisasi, hanya orang-orang yang ikut dalam konsolidasi dan kalangan 'atas' saja yang tahu. “Sangat disayangkan ini terjadi dalam upaya membangun gerakan sosial. Pemerintah tidak akan pernah berpihak pada rakyat kecil, maka sudah sepantasnya membuat gerakan perlawanan tanpa batas terhadap pemerintah,” katanya, menambahkan. (Tim CaKa)

Pengrusakan mobil milik Pertamina


8

Opini

Catatan Kaki | Edisi Juni - Juli 2012

Anarkisme yang Berakhir Manis

*Aman Wijaya

“Sebuah perlawanan lahir karena tidak adanya jaminan akan masa depan� Apa itu anarkisme? Ke t i k a m e n d e n g a r k a t a anarkis, yang terlintas dibenak kebanyakan orang adalah kekerasan, kekacauan hingga pemusnahan. Hal ini terjadi karena media massa sangat gencar memberitakan aksi-aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu terhadap aturan pemerintah, kemudian mengkategorikan aksiaksi tersebut dengan tindakan anarkisme. lalu, pada akhirnya anarkisme pun seakan menjadi teror terhadap masyarakat. Kata “anarki� berasal dari bahasa Yunani Kuno yang berarti tidak adanya pimpinan, tidak adanya pemerintahan. Etimologi kata ini menandai hal yang khas dari anarkisme : penolakan terhadap kebutuhan akan otoritas tersentral atau negara tunggal, satu-satunya bentuk pemerintahan yang kita kenal sampai saat ini (Anarkisme, 2003 : 23). Anarkisme adalah Sebuah pemikiran yang lahir karena kaum anarkis merasa bahwa hirarki dan negara tidak dapat melegitimasi berbagai keinginan dan ide-ide masyarakatnya. Sehingga negara harus ditiadakan. Anarkisme menganggap bahwa manusia pada hakekatnya adalah mahluk yang secara alamiah memiliki kemerdekaan untuk bebas dari intervensi dan hidup secara harmonis. Dalam beberapa catatan sejarah, memang tidak sedikit kelompok-kelompok anarkis yang lebih memilih gerakan-gerakan spontan untuk menuntut penghapusan terhadap penindasan yang dilakukan oleh negara dan aparatusnya. Merusak fasilitas-fasilitas seperti mall dan

gedung-gedung yang dianggap sebagai simbol kapitalisme, hingga bentrokan dengan polisi dan militer. Namun, semua itu hanya akibat, karena jika menganalisis kejadian-kejadian itu lebih dalam, maka kita akan menemukan penyebab dari akibat tersebut. Tapi gerakan kekerasan hanyalah salah satu metode yang digunakan oleh beberapa kelompok anarkis. Lalu, mungkin yang menjadi pertanyaan dibenak banyak orang adalah, apa yang melandasi hal tersebut? Peniadaan negara hingga ke gerakan kekerasan. Oleh karena itu, mungkin akan lebih menarik jika kita membicarakan bagaimana anarkis berusaha mengubah dunia dengan senyum, darah dan air mata dan sedikit membahas bagaimana sistem ini hampir menutup semua peluang hingga kel hal-hal dasar manusia.

“Aku ingin� Disini, “aku ingin� bukanlah sebuah kata yang bermakna singkat seperti ingin tidur, ingin minum coca cola dan ingin makan KFC, tapi “aku ingin� yang melampaui apa yang telah kita rasakan saat ini. Suatu pernyataan sikap yang lahir karena adanya kesadaran bahwa kondisi yang ada tidak berpihak pada keberlangsungan hidup kedepannya. Jika saya sebagai penulis hidup di tengah kondisi dimana anarkisme terus dicerca dan dikecam, sehingga mengganggu keberlangsungan hidup saya kedepannya. Maka saya akan menciptakan kondisi dimana anarkisme tidak lagi dianggap sebagai teror.. Jadi sepertinya kita perlu sedikit berfikir radikal ketika terjadi fenomena dimana banyak kelompok yang melancarkan sebuah perlawanan. Ketika sebuah perlawanan lahir, berarti terjadi penolakan terhadap sesuatu. Mungkin hal yang biasa ketika merasakan kelaparan selama berhari-hari, karena sistem Kapitalisme memang menciptakan kelaparan. Sistem ini tidak di bentuk untuk mengayomi orang orang lapar namun hanya

untuk mengayomi orang orang yang membuat lapar. Jika hal itu benar-benar terjadi, berarti sebuah negara telah kehilangan legitimasinya. Hak-hak dasar dari tiap individu yang berkomitmen m e n c i p t a ka n ke h i d u p a n nya sendiri. Sistemnya sendiri dan mewujudkannya bersama, itulah akhir dari penderitaan yang kita rasakan. Namun bagaimana caranya sistem akumulasi modal menciptakan kelaparan? Mari kita lihat ada berapa banyak makanan yang harus kadaluarsa di berbagai supermarket tiap tahunnya. Hal ini terjadi karena kapital yang terus memproduksi nilai-nilai palsu mengemas sekian banyak makanan yang semestinya dapat dinikmati semua orang. Ikan yang dikalengkan, beras yang dikarungkan, kemudian memberikan ukuran-ukuran gizi dan mencantumkan harga untuk setiap kemasannya. Jadi secara tidak langsung untuk urusan makan saja harus ditentukan oleh si pengemas makanan. Untuk orang kaya cocoknya yang harga tinggi, kelas menengah harga yang segini, dan yang tidak punya uang tidak usah makan, tentunya.

Akhirnya makanan pun menjadi ko m o d i t i d a n h a nya d a p a t d i n i k m a t i o l e h o ra n g ya n g mempunyai uang. Lalu yang terjadi adalah semakin banyak orang yang melakukan diet karena kelebihan makanan. Bayangkan saja jika semua itu dibagikan kepada orang yang membutuhkan, pasti akan mengurangi tingkat kematian karena kelaparan, dan tidak perlu terbuang sia-sia di rakrak supermarket karena kadaluarsa. Bukan hanya itu, salah satu cara negara membuat kelaparan dapat kita lihat di papua. Banyak masyarakat pedalaman papua yang terpaksa harus merasakan kelaparan akibat negara menerapkan sistem pasar bebas ya n g m e m b u a t ka p i t a l i s m e semakin leluasa mengemas hutanhutan dan lahan tempat masyarakat berccocok tanam kemudian mengubahnya menjadi tambang. Sehingga membuat masyarakat papua kehilangan hutan tempat mencari makan dan lahan tempat bercocok tanam. Mengutip lagu slank untuk masyarakat lembah balim di papua, “aku nggak ngerti ada banyak tambang, yang aku tahu


9

Catatan Kaki | Edisi Juni - Juli 2012

banyak hutan yang hilang, asal ada ubi untuk di makan, asal ada babi untuk di panggang, aku cukup senang�. Mencoba menjelaskan harapan salah satu penghuni tanah papua akan kondisi papua saat ini. Jadi Jika sebuah kelompok melancarkan perlawanan, berarti kelompok tersebut menyadari bahwa kondisi saat itu tidak memihak pada keberlangsungan hidupnya, dan ingin menciptakan kondisi dimana dia dapat menciptakan sendiri pilihan-pilihan untuk keberlangsungan hidupnya ke depan. Termasuk peluang mendapatkan makanan dan kondisi dimana tidak ada lagi pengemasan makanan oleh pihak tertentu. Berarti dia telah menentukan pilihan untuk menolak sistem. Karena adanya keinginan yang tidak mampu di legitimasi oleh sistem tersebut. Ingin merebut kembali apa yang menjadi haknya Selain itu, hal terbesar yang ingin dicapai dari penolakan terhadap sebuah sistem adalah merebut kemerdekaan diri, yang terberi sejak lahir dalam setiap individu. Kemerdekaan untuk menentukan tatanan hidup, menentukan pilihan-pilihan yang akan menjadi penentu masa depan. Karena sebuah sistem/negara tidak memiliki hak untuk merebut kemerdekaan setiap individu, dan menentukan yang terberi. Jika yang terberi dalam diri setiap individu tidak memiliki jaminan akan masa depan, berarti kemerdekaan setiap individu untuk menolak yang terberi dari sebuah sistem/negara.

Penegasan terhadap “aku ingin� Sejarah telah menceritakan pada kita bahwa telah begitu banyak perjuangan yang dilakukan untuk merebut kemerdekaan, baik kemerdekaan sebuah kelompok maupun individu. Salah satu yang menarik adalah aksi yang dilakukan oleh kelompok anarkis di seattle untuk menolak perjanjian perdagangan global oleh WTO. Saat itu aksi dilakukan dengan parade musik, teater jalanan hingga pesta-pesta kaki lima. Bukan dimulai dengan pelemparan, pembakaran hingga penghancuran fasilitas-fasilitas umum. Namun mengapa anarkis kemudian di stigma sebagai perusuh dan tukang onar? Untuk menjawab itu ada baiknya kita membahas salah satu kejadian yang beberapa potongan-potongannya luput dari pena dan kamera media.

Pandang Raya dan Provokasi Polisi Perjuangan yang dilakukan oleh warga pandang raya untuk mempertahankan tempat tinggalnya dari ancaman penggusuran oleh seorang pengusaha diorganisir dengan caracara anarkis. dimana tidak ada hirarki dan pimpinan dalam gerakan tersebut, apa pun

Kontak Kami

tindakan yang akan diambil, melalui musyawarah ataupun diskusi oleh semua warga. Ketika ancaman penggusuran datang, tak pernah terbesit dipikiran warga untuk melakukan tindak kekerasan, karena sadar akan kekuatannya. Namun yang terjadi, polisi mengepung daerah tersebut dengan mobil lapis baja dan buldoser yang secara otomatis menekan psikologi warga sehingga membuat warga harus keluar dari rumahnya. Tidak hanya itu, polisi pun membentuk barisan untuk semakin mempersempit ruang gerak warga. Karena merasa tertekan dengan ulah polisi, warga menghimbau polisi agar mundur dan tidak menakut-nakuti mereka. Tetapi polisi terus memperkuat barisan dan mengintervensi dengan senjata api dan p e n t u n g a n . K a re n a m e ra s a s a n g a t ketakutan, dengan spontan warga dan massa aksi lainnya melemparkan batu agar polisi mundur dan menghentikan tindakannya. Tetapi polisi bukannya mundur, tetapi membalas dengan tembakan gas air mata. Amarah pun semakin berkecamuk dan terjadilah bentrokan antara massa aksi dan polisi. Jika menganalisis dengan baik, dari situ dapat kita lihat bagaimana pandang raya sedemikian rupa di konstruksi agar mereka marah dan bikin onar sementara yang sebenarnya polisi telah sedemikian rupa mengurung warga dan memaksakan mereka untuk keluar dari rumahnya. Artinya ada sebab yang menciptakan akibat. Jadi tindak

kekerasan adalah gerakan refleks yang muncul ketika suatu individu merasa akan adanya ancaman yang muncul dari luar dirinya.Lantas apakah kekerasan tidak diperbolehkan dalam kondisi seperti itu?. Itulah salah satu fenomena dimana kekerasan berusaha direkonstruksi agar perlawanan dapat dipadamkan. Dengan dalih kekerasan, negara dan aparatusnya akan semakin mudah mengintervensi dan mengekang setiap gerak-gerik masyarakatnya. Lalu itu juga salah satu bukti bagaimana sebuah gerakan anarkis berusaha disamakan dengan kekerasan. Kekerasan = anarkis, anarkis = kekerasan. Belum lagi rekaman media yang dengan lantang memberitakan kejadian-kejadian itu dengan aksi anarkis. Memangnya mana yang disebut kekerasan, apakah tindakan yang ingin menghilangkan tempat tinggal seseorang atau tindakan yang berusaha mempertahankan hak. Korupsi oleh negara, penembakan oleh polisi dan penggusuran. Apakah itu bukan kekerasan? Namun itu semua akan selamanya luput dari pemberitaan media. Jadi sebenarnya kekerasan sangat dibutuhkan dalam kondisi tertentu. Tindak kekerasan yang dilakukan warga pandang raya bukan tanpa alasan. Hasilnya pun berbuah manis, karena tindak kekerasan tersebut, tanah tempat tinggal mereka batal untuk digusur. Itu juga merupakan bukti bagaimana anarkisme mencoba mengubah Pandang Raya dari ketakutan menjadi senyuman walaupun sedikit memerlukan air mata dan rasa sakit.

Catatan Kaki Gedung PKM II Lt. I | Ruang Tempo Universitas Hasanuddin Jl. Perintis Kemerdekaan Km.10 | Tamalanrea Makassar ukpmcaka.unhas@gmail.com Facebook Group | http://www.facebook.com/groups/114851498587704/


10

Cerita Pendek

Catatan Kaki | Edisi Juni - Juli 2012

Bukan Akhir Cerita

E

Tak ada yang dapat menentukan sejak kapan cerita ini dimulai, namun ketika ada satu cerita yang berakhir, akan ada cerita lain yang tumbuh dan manusia tidak akan pernah tahu bahwa ini benar-benar akhir, sampai semua cerita benar-benar diakhiri Yang dapat dilakukan adalah mengisi sebuah cerita dengan suatu kebahagiaan..

ntah ada berapa karakter di dunia ini, namun secara umum manusia hanya merangkumnya dalam 4 temparamen yang dikaitkan dengan warna darah Kolerik, Plegmatis, Melankolik, Sanguin. Tapi, seandainya hanya ada 1 temperamen di dunia ini maka hambarlah dunia ini, mereka akan saling melengkapi. Dari tadi cerita ini dimulai. Anggun, Alan, Erin, Legma mereka berteman sejak hidup mempertemukan mereka di bangku SMP, tidak bertemu selama SMA dan kini mereka bertemu kembali di bangku universitas. (Anggun tersenyum sumringah ketika Alan berada tepat di depannya dan hendak berkata sesuatu sampai ia sadar bahwa Alan hanya tersenyum datar) Brok, bunyi suara pukulan Anggun pada kepala Alan sekalipun tak begitu keras. “Woi,sombong kali kau!” kata Anggun Alan kemudian tersenyum manis melihat sahabatnya itu, “Mana Erin dan Legma?” “Entahlah, Erin mungkin aksi lagi dan Legma mungkin masih di gunung.” sahut Anggun bercanda. “Makan yuk!” ajak Alan. “Ok, tapi ditraktir kan?” “Tenang, kalau kamu sendiri sih bisa, tapi kalau ditambah mereka berdua lagi, bisa apes aku.” “Asik!” Mereka pun beranjak menuju tempat makan terdekat dalam kampus mereka. A n g g u n a d a l a h s e o ra n g wanita yang sangat aktif dan ceria, padahal dia tahu bahwa dia sedang menderita penyakit kanker otak yang ganas. Ia hanya berfikir bahwa ia harus bahagia, apapun yang terjadi. “Apa yang akan kau lakukan setelah ini? Kuliah hari ini kan sudah habis.” Tanya Anggun.

“Pulang” jawab Alan. “Pengumpulan sore nanti, bagaimana?” “Malas” “Ini sudah hampir tahap akhir loh!” “Biarin, lagi malas aku liat muka senior kita hari ini” sahut Alan lagi. “Oh, kalau aku sih, senangsenang aja, apa lagi liat senior yang itu..hehe” kata Anggun. Alan hanya tersenyum kecil karena sudah biasa dengan tingkah genit temannya ini. Setelah makan, mereka pun berpisah. Sorenya, Anggun, Erin dan Legma ikut pengumpulan mahasiswa baru dan diumumkan bahwa pengkaderan tahap akhir itu akan dilangsungkan minggu depan di Gunung Lompobattang, gunung yang medannya cukup ekstrim. “Asik” (pikir Legma dalam hati) “Anggun, apa kamu bisa?” goda Legma. “Ya bisalah, sorry ya” sahut Anggun. Anggun memang selalu bersemangat dalam banyak hal, entah dia tahu kemampuannya atau tidak. Erin yang berada tak jauh dari barisan mereka hanya tersenyum. Setelah pengumpulan selesai Anggun menghadap senior karena namanya tak tercatat dapat ikut. Beberapa kali pengumpulan tak dihadirinya karena penyakitnya yang tiba-tiba kambuh. Senior yang berfungsi sebagai kordinator lapangan saat itu tak lantas mengizinkannya dan menyuruhnya untuk menghadap ke Senat Fakultas kemudian ke PD I I I y a n g k e m u d i a n mengizinkannya. *** (seminggu kemudian) Pengkaderan pun dilangsungkan, Erin, Legma, Alan dan Anggun, mereka semua ikut dan berada pada satu kelompok ya n g s a m a . M e re k a s e m u a mendaki dengan semangat Erin walaupun seorang wanita, dia tak selalu membutuhkan banyak bantuan dari teman pria sekelompoknya. Dia kuat, tak seperti Anggun. Anggun tak kadang menaruh kekaguman pada sahabatnya itu, dan berharap bahwa ia tak menderita penyakit seperti yang dideritanya saat ini supaya ia tak bermodel lemah seperti saat ini. Legma, seorang yang pengertian, dialah yang selalu memberikan bantuan pada Anggun terlebih lagi ini bukan kali pertama ia mendaki gunung ini. Ia tak banyak merasa kelelahan. Alan, berjalan di belakang dari mereka semua. Ia tak banyak

berbicara entah kelelahan atau apa, tapi wajahnya tak menunjukkan kelelahan berarti. Ia tampak turut memperhatikan sahabat-sahabatnya itu dari belakang, tingkah dinginnya tak lantas menunjukkan bahwa ia tak peduli. Beberapa jam perjalanan menuju puncak gunung, Anggun menunjukkan keanehan, wajahnya pucat pasi dan ia tampak menahan sakit pada kepalanya. Panas matahari yang terik pun semakin menambah sakit yang dirasakan Anggun. “Anggun, kenapa denganmu?” tanya Legma. (Erin yang berjalan di depan berbalik) “Ia sangat pucat” kata Erin. “Tidak apa-apa” Alan berjalan cepat dari arah belakang, kemudian m e m b e l a ka n g i A n g g u n d a n menawarkan diri untuk membopong Anggun. Wajah Anggun memang sudah sangat pucat tak seperti biasanya. “Naiklah, tidak lama lagi kita akan sampai” Tak dapat bereaksi banyak, Anggun lantas mendapatkan pundak Alan, kemudian mereka semua kembali berjalan. “Terima kasih, Lan, kalian tetap menjadi sahabatku hingga akhir. Sampaikan salamku pada Legma dan Erin” kata Anggun. “Istirahatlah, meskipun tak begitu nyaman berada di pundakku, kita akan menyelesaikan ini.” sahut Alan. Perjalanan pun masih terasa jauh, Alan kelelahan hingga ia tak fokus memperhatikan jalanan licin yang dilaluinya. Ia terpeleset dan jatuh, kedepan karena hendak mempertahankan Anggun dari cedera. Ia terluka banyak, Anggun yang dibopongnya tak merespon apa-apa, ia sudah tak sadarkan diri. Perjalanan pun tak dilanjutkan, Anggun dan Alan segera dilarikan oleh tim penyelamat. A k h i r nya , A l a n s e l a m a t dengan rasa bersalah yang cukup dalam, sekalipun dari hasil visum diketahui bahwa kematian Anggun dikarenakan pecahnya pembuluh darah di otak secara tiba-tiba, bukan akibat benturan maupun goncangan. Erin dan Legma tetap memberikan support kepada Alan, bahwa Anggun memang sudah ingin mengakhirinya. “Ia tak bereaksi banyak ketika dibopong olehmu, ia bahagia ketika berada di pundakmu” kata Legma. “Mungkin, ia tak ingin menjadi beban begitu banyak, sudahlah Alan” Erin turut menambahkan. ***


Puisi

Catatan Kaki | Edisi Juni - Juli 2012

Karung Bocor Rapat, sangat rapat‌ Mata ini kupejamkan agar tak melihat Tetesan air mata mereka, yang dianggap debu dirumah sendiri Tapi telingaku masih mendengar isakan isakan yang sama disela tawa yang makin membesar dari menara pencakar langit entah apa maksud tawa itu? Mungkin karena dia mendapat sebutir liat dan setetes air dari rumah ini Atau hanya tinggal itu yang tersisa Rupanya semua di tukar, tanah, air dan tuannya

Lost

Untuk karung bocor, yang tak kunjung penuh Kini sebutir beras susah, tungku pun enggan menyalah Kemana lagi perut ini harus ku bawa

kepala nyaris botak, hitam putih, berdasi

Tenggorokan saja sudah karatan

potret buruh baru ditempat yang katanya sekolah

Mengaduh ke menara itu?

linglung,,,

Menunggu peri dalam dongeng sebelum tidur

bak rusa masuk kota

Atau menggali kubur sendiri

mengundang mahluk seolah-olah malaikat muncul

Kami lapar, haus, panas, dingin

wajah lugu dirias, dan isi kepala dipreteli

Tapi siapa yang peduli

hingga mengantar menuju maut pagi, siang, sore, dan malam

Akankah jadi apa tiap butiran bening yang jatuh ?

tidur dengan kertas lusuh,

Akan jadi apa, nyanyian perut keroncongan ?

menjeritlah, lalu lupakan barcode yang kau kejar

Akan jadi apa, teriakan yang mulai parau ?

bisikan, yang aku dan mereka pahami

Akan jadi apa tarikan napas sesak ini ?

salah tempat rupanya

lagi, lagi dan lagi ditukar, demi karung bocor yang tak jua penuh

aku, kau dan dia nyasar

parasit malas melarat

ini bukan rumah pintar bukan perusahaan bergaji tinggi

begitu cacian untukku dirumah sendiri

curang, malas, dan depresi

dengan telunjuk kearahku, dan empat jari lain kearahnya

kenalan denganku disini

dengar!!!

kawanku, loper Koran tidak ada disini

penghuni menara nan malang

yang jual manisan dijalan juga tidak ada

tiap tangis, dan tawaku

sicerdas, buruh pelabuhan pun tidak

bukan suka ataupun duka

hanya ada buruh berdompet terlanjur tebal

tapi sedekah untuk karung bocor itu lagi

rupanya

semoga lekas mendapat donor hati, amien

Warning! Penghisapan di Dunia Kerja - Aditya Nugraha Batula, SE. - Istiana A.M, S.Ip - Mesri Kartika, S.Gz - Destriani, S.Gz - M. Dirga Sirajuddin, S.Ip

- Nuryana, S.Gz - Ferianti, S.Gz - Drg. M. Alfian Darmin - Ridwan Mappa, S.Ip

Selamat menempuh hidup baru..

11


PENDIDIKAN GRATIS ITU

BOHONG Penguasa selalu berusaha untuk menjadi pengontrol pendidikan dari masyarakat. Mereka menyadari kalau kekuatan mereka sepenuhnya berada di sekolah dan mereka bersiteguh untuk meneruskan monopoli mereka. Sekolah adalah sebuah instrumen dominasi dari kelas penguasa. - Fransisco Ferrer

for more ammunition: www.catatan-kaki.org


Millions discover their favorite reads on issuu every month.

Give your content the digital home it deserves. Get it to any device in seconds.