Issuu on Google+

Bilik Sukma

Penerbit

Komisi KOMSOS Keuskupan Maumere

Pelindung/Penasehat

Bapak Uskup Maumere Sekretaris Keuskupan Maumere Vikjen Keuskupan Maumere Vikep Pastoral Keuskupan Maumere

Penanggungjawab Komisi KOMSOS Keuskupan Maumere

Pemimpin Umum Poly Sola, Pr

Pemimpin Redaksi Yoris Role Dage, Pr

Dewan Redaksi

Jacob Herin Urbanus X.L Avelandobolo Fitrinita Kristiani Kyara Christy Rini Kartini Astina Juliana Wall Abulat

Redaktur Pelaksana Gaby Mane, Pr Marsel Wera, Pr Enil Lobo, Pr Simon Weking Gerry Gobang Yani Yosepha

Redaktur Khusus

Rm. Tony Tangi, Pr P. Paul Budi Kleen, SVD Rikhard Muga Buku, Pr Viator Parera Wall Abulat

Disain Grafis & Lay Out Agustinus “Gecko�Atrius

Humas Yoli

Bendahara Olga Pawe

Distributor

Komisi Komsos

Alamat Redaksi

KOMSOS Keuskupan Maumere Jl. Soekarno Hatta, No. 07 Maumere, Flores - NTT E-mail: sukmaonline @ yahoo.com Phone: 085239468899 Rek. BRITAMA BRI Cabang Maumere a.n. Rm. Gabriel Mane, Pr No. Rek. 011901016894505z

S

alam jumpa kembali untuk semua pembaca setia majalah SUKMA. Semoga dalam keadaan sehat dan ceria selalu menjalani saban hari hidup ini. Hidup yang penuh arti adalah hidup yang selalu diisi dengan hal-hal yang berharga. Di antara hal berharga dalam hidup ini adalah membaca dan membaca.Tentu tidak sekedar sebuah aktivitas intelektual, membaca pun menjadikan kita kaya dan arif dalam memaknai hidup. Maka jangan pernah lewatkan satu hari pun tanpa waktu untuk membaca. Dengan membaca kita menjadi bijak, sebab membaca itu pangkal bijak. Hidup ini memang sepantasnya diziarahi dengan bijak. Karenanya, jadikan SUKMA sebagai salah satu yang selalu kita baca, biar sebagai umat kita senantiasa mengikuti perkembangan pastoral di keuskupan kita. Sebab orang yang tidak banyak membaca tidak akan banyak tahu. Kali ini SUKMA hadir dengan suguhan khusus seputar dunia pendidikan berkenaan dengan bulan Mei sebagai bulan pendidikan. Kita dihantar pada permenungan tentang pendidikan karakter di tengah derasnya arus zaman. Karakter kita tahu merupakan nilainilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat. Nilai-nilai inilah yang sepantasnya diintegrasikan dalam setiap proses pendidikan, bukan di sekolah saja tapi juga di rumah di tengah keluarga dan di lingkungan sosial. Sebab pendidikan karakter merupakan kunci keberhasilan setiap individu dalam hidup dan masa depannya. Selamat membaca SUKMA edisi ini, yang menjadi juga media pendidikan karakter bagi kita.

Redaksi 1


DAFTAR ISI 3 SEMUA PIHAK MEMPRIHATINKAN PEN. 6 PENDIDIKAN: MENCIPTAKAN MITOS?. 10 KETELADANAN HIDUP MEMBENTUK KARAK. 13 MENJADIKAN KELUARGA SEBAGAI BASIS .

DIDIKAN DEMI KEHIDUPAN GEREJA TER ANAK PENDIDIKAN KARAKTER

-SEMUA PIHAK MEMPR

PENDIDIKAN: MENCIPT -KETELADANAN

MENJADIKAN KELUA

15 MERENCANAKAN PELATIHAN PENGURUS .

MERENCANAKAN OMK...................................................................................

18 PERAN STRATEGIS GURU DALAM MEMBAN.

-PERAN STRATEGIS GUN PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA DI SEKOLAH .................................................. SINODE KEUSKUPAN PERSPEKTIF KANONIK PEMBERDAYAAN “YANG DIBAPTIS”: QUO VADIS ? MAUMERE IN LOVE -CATATAN LEPAS D NA .MEMBACA ...................................... DAN MENULIS: INDIKASI SEBUAH MASYARAKAT YANG MAJU PAROKI SALIB SUC RUMAH ACARA BERSAMA ORGANISASI ROHANI SE-TPAPT HALOKIKI PERAYAAN MINGGU TINGKAT KEUSKUPAN MAUMERE DI MAULOO -GERAKAN SOLID SER) KEUSKUPAN MAUMERE ................ GERAKAN SOLIDARITA KEUSKUPAN MAUMERE

25 SINODE KEUSKUPAN. 27 PEMBERDAYAAN FUNGSIONARIS PASTORAL . 33 MAUMERE IN LOVE. 36 CATATAN LEPAS DARI NEGERI ANGIN SABA. 38 MEMBACA DAN MENULIS: . 41 PAROKI SALIB SUCI KLOANGROTAT, TUAN . 43 PERAYAAN MINGGU KERAHIMAN ILAHI . 46 GERAKAN SOLIDARITAS SERIBU RUPIAH (GE. 47 GERAKAN SOLIDARITAS PENDIDIKAN.


Jantung Sukma

Semua Pihak Memprihatinkan Pendidikan Demi Kehidupan Gereja

S

etiap tanggal 2 Mei kita merayakan Hari Pendidikan Nasional (HARKIDNAS). Searah dengan kebijakan pemerintah yang amat memprihatinkan bidang pendidikan, Gereja Lokal keuskupan kita sebenarnya sudah lama bahkan sejak zaman misionaris memberi perhatian pada bidang pendidikan, dengan bulan mei ditetapkan menjadi bulan pendidikan. Penetapan ini tentu saja bermaksud supaya selama bulan Mei, kita semua lebih banyak berbicara tentang pendidikan. Pendidikan itu sesuatu yang lebih luas dengan masalah yang serba kompleks daripada cuma tentrang hasil ujian yang dilaksanakan pada kelas-kelas terahkir pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu

Mgr. G. Kherubim Pareira, SVD Uskup Maumere

Benar bahwa pendidikan menjadi satu dari aneka masalah dalam masyarakat yang penting dan selalu aktual untuk dibicarakan, didiskusikan, diseminarkan dan dicari gagasan-gagasan pemecahan masalah oleh seluruh komponen masyarakat ; baik pemerintah maupun Gereja. Gereja Lokal Keuskupan Maumere bekerjasama dengan Keuskupan Agung Ende, yang diwakili oleh 109 utusan telah menyelenggarakan Musyawarah Pendidikan Katolik (Musdikat) tahap II di Ende. Selain mengevaluasi, Musdikat itu juga banyak menemukan sejumlah masalah penting yang terus membelenggu pendidikan kita. Masalah-masalah seperti profesionalisme, penyelenggaraan, pengelola, pelaksana pendidikan rendah, sarana dan prasarana yang belum memadai, tenaga pendidik dan tenaga-tenaga kependidikan yang belum memenuhi syarat, kurikulum serta membangun jejaring dan kerjasama yang masih terasa formalitas, telah menjadi sebab rendahnya mutu pendidikan kita. Seiring dengan ujian akhir nasional yang sedang berlangsung saat ini, kita cenderung menilai mutu pendidikan kita pada output dan kuantitas, pada prosentase kelulusan, sehingga masalahnya terletak pada tinggi rendahnya prosentase kelulusan, banyak tidaknya siswa yang lulus, berapa jumlah siswa yang melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, padahal sesunggunya masalah pendidikan kita jauh lebih luas dari masalah tersebut. Sebagai Uskup saya mengajak seluruh umat beriman dan segenap komponen dan pemerhati pendidikan untuk melihat lebih jauh dan lebih luas serta mendalami masalah pendidikan.

Pendidikan Holistik Pada zaman globalisasi ini masyarakat bangsa kita sedang menghadapi masalah-masalah klasik yang tak terpecahkan seperti, korupsi, kolusi, nepotisme, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan di sekolah, kasus-kasus moral seperti pelecehan seksual dan pemerkosaan, narkoba, tawuran dan perkelahian antar sekolah, antar kelompok, suku, dan berbagai bentuk kecurangan lain dalam masyarakat. Kita bertanya mengapa semua itu terjadi? Dengan gampang orang

3


Jantung Sukma cenderung mempersalahkan lembaga pendidikan sebagai yang amat bertanggungjawab menghasilkan mutu manusia seperti itu. Saya ingin mengajak kita melihat bersama masalah ini dan mudah-mudahan mencari dan mendapatkan jalan keluarnya. Pendidikan formal kita saat ini amat cenderung menekankan aspek kogniftif (pengetahuan intelektual) yang tidak seimbang dengan aspek afektif (emosi), psikomotorik (keterampilan) maupun religiositas (kerohanian)-nya. Kalaupun ada, porsinya jauh lebih kurang. Output (tamatan) suatu lembaga pendidikan lebih ditentukan oleh prestasi akademik yang tinggi. Karena itu, orang akan berlomba dan bersaing menjadi juara, menjadi yang terbaik. Seseorang dihargai prestasi akademiknya dengan nilai tinggi dan gela-gelar kebanggaanya. Sementara itu, nilai-nilai kehidupan yang ia jalani nanti, sering tidak sesuai dengan gelar dan prestasi akademiknya. Karena, maka pendidikan nilai menjadi perlu diperhatikan oleh semua pihak baik oleh orangtua dan anggota keluarga di rumah: guru-guru di sekolah dan bahkan seluruh masyarakat.

Keluarga dan Pendidikan Nilai Bagi seorang anak manusia, tidak ada tempat dan suasana yang paling menyenangkan, sekaligus amat menentukan masa depan kehidupannya, selain rumah/ keluarga. Di rumah, dalam suasana kekeluargaan, seorang anak lahir, hidup, berkembang dan dibesarkan dalam relasi yang intens, yang mesra, dengan orang tua dan saudara-sudaranya, dengan sesamanya. Di tengah keluarga, seorang anak mulai belajar mengenal kasih sayang, belajar mendengar, menghormati dan menghargai, belajar berpikir, berkata, berbuat yang benar, yang baik dan jujur, serta taat kepada Tuhan. Seorang anak belajar nilai-nilai yang berguna bagi kehidupannya melalui pergaulan dan hidup bersama orangtua; bukan pertamatama melalui perkataan melainkan perbuatan, perilaku, keteladanan hidup. Selama 30 tahun Yesus hidup bersama orangtuanya, Yosef dan Maria, dalam keheningan di Nazareth. Pertumbuhan kepribadian Yesus tidak terjadi secara kebetulan atau secara otomatis (bahkan mungkin mukjizat karena Dia Putera Allah); melainkan melalui satu proses pembentukan yang melibatkan orang lain.Tanpa melalui sekolah, Yesus mengalami semua pendidikan itu ditengah keluarga-Nya, yang kemudian Dia ajarkan sebagai nilai-nilai Kerajaan Allah. “Dan Yesus bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya dan makin dikasihi Allah dan manusia� (Luk 2:52). Dengan demikian, jelas bagi kita bahwa mutu manusia yang menghayati nilai-nilai kehidupan secara integral terjadi mulai di dalam keluarga bersama seluruh anggota keluarga.

Sekolah dan Pendidikan Nilai Pada bangsa mana pun di dunia ini, sekolah tetap

4

dibutuhkan. Sekolah bukan hanya menjadi lembaga formal tempat kegiatan belajar mengajar terjadi, tempat guru memberi ilmu lewat seperangkat kurikulum yang tersedia dan metode yang disepakati, melainkan juga terutama menjadi tempat guru mendidik anak dan menanamkan nilai-nilai kehidupan, etika dan moral yang berguna bagi perkembangan dan masa depan anak. Tugas mendidik ini dilakukan bukan terutama lewat kegiatan belajar mengajar, melainkan terutama lewat sikap dan teladan hidup. Pandangan, pendapat dan perilaku para guru menjadi panutan bagi anak didik dalam kehidupan mereka. Nilai-nilai akan masuk ke dalam setiap diri anak didik secara perlahan, lewat pengalaman pribadinya dengan setiap guru yang mengajarkan contoh dan teladan hidup. Semua itu terjadi di sekolah. Meskipun waktu bagi anak berada di sekolah amat singkat, namun contoh dan keteladanan hidup, pola dan perilaku bapakibu guru bisa sangat efektif menanamkan nilai-nilai kehidupan yang baik bagi anak didik. Kami para uskup seluruh Indonesia dalam Sidang Tahunan KWI tahun 2008, telah secara khusus membahas tentang Pendidikan Katolik, karena menyadari arti pentingnya pendidikan dalam rangka pembentukan kepribadian dan watak seseorang. Dan, hal itu harus terjadi di sekolah. Itulah alasan mengapa dalam bulan Mei ini KWI akan menerbitkan Nota Pastoral khusus di bidang pendidikan.

Pendidikan Karakter Proses pendidikan karakter didasarkan pada totalitas psikologis yang mencakup seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, psikomotorik) dan fungsi totalitas sosiokultural dalam konteks interaksi dalam keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat. Pengkategorian nilai didasarkan pada pertimbangan bahwa pada hakekatnya perilaku seseorang yang berkarakter merupakan perwujudan fungsi totalitas psikologis yang mencakup seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, dan psikomotorik) dan fungsi totalitas sosial-kultural dalam konteks interaksi (dalam keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat. Konfigurasi karakter dalam kontek totalitas proses psikologis dan sosial-kultural dapat dikelompokkan dalam: (1) olah hati (spiritual & emotional development); (2) olah pikir (intellectual development); (3) olah raga dan kinestetik (physical & kinesthetic development); dan (4) olah rasa dan karsa (affective and creativity development). Proses itu secara holistik dan koheren memiliki saling keterkaitan dan saling melengkapi, serta masing-masingnya secara konseptual merupakan gugus nilai luhur yang di dalamnya terkandung sejumlah nilai sebagaimana dapat di wilayah masing-masing daerah.


Jantung Sukma Tugas Kita Bersama. Nilai itu sebenarnya sudah ada dalam diri setiap orang yang diciptakan Tuhan secara lengkap dan sempurna. Nilai itulah yang membuat manusia hidup. Bila dihayati akan membuat manusia lebih bergairah, merasa lebih bermartabat, berkualitas. Menabur nilai kehidupan secara benar serta menghayatinya adalah impian setiap orang. Inilah ciri khas pendidikan Katolik yaitu menciptakan lingkungan hidup bersama yang dijiwai oleh semangat Injil, kebebasan dan cinta kasih, mengembangkan dan memperdalam pengetahuan yang diperoleh tentang dunia, supaya akhirnya kehidupan dan manusia disinari oleh iman, sehingga siapa pun yang terlibat langsung dalam pendidikan itu menjadi ragi keselamatan bagi masyarakat (GE art.2) Pada awal kepemimpinan saya sebagai Uskup Maumere, saya sudah memikirkan tentang perlu adanya sebua Seminari Menengah, Seminari yang otonom dan berdiri sendiri baik asrama maupun sekolahnya. Oleh karena itu, Seminari Menengah St. Maria Bunda Segala Bangsa Maumere yang sudah ada perlu terpisah dari induknya; Seminari Mataloko maupun SMPK Frater Maumere. Maka, sebagai Uskup, saya mengajak dan mengharapkan dukungan dari semua komponen pendidikan baik pemerintah maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan pemerhati pendidikan lainnya serta seluruh umat beriman bagi bertumbuh dan berkembangnya sekolah Seminari St. Maria Bunda Segala Bangsa Maumere.

umat beriman yang dapat kita nyatakan baik lewat dana Solidaritas Pendidikan Katolik yang sudah kita kumpulkan setiap tahun selama bulan Mei, maupun aksiaksi dan Gerakan peduli Pendidikan di seminari lewat Gerakan Orang Tua Asuh Siswa Seminari (GOTAUSS). Tatkala kita menyaksikan berbagai bentuk kekerasan, manipulasi, tindakan tidak adil, tidak jujur, sikap sewewenang-wenang, yang dilakukan oleh seseorang terhadap sesamanya. Seluruh pemikiran kita terarah kepada orangtua dan keluarga dari mana anak itu berasal, pada sekolah di mana anak mendapat pendidikan, dan pada lingkungan masyarakat tempat anak itu dibentuk dan dibesarkan. Menyepelekan pendidikan nilai yang integral dengan lebih mengutamakan prestasi akademik seseorang akan membawa keluarga, masyarakat dan Gereja kepada kehancuran. Karena itu, saya mengajak mari kita mewujudkan semangat mencintai nilai-nilai kehidupan seperti, kejujuran, kesabaran, persaudaraan, kerendahan hati, ugahari, kesetaraan, persaudaraan kristiani serta semangat pengorbanan sebagai nilai yang hakiki dalam kehidupan kita. Kepada segenap orangtua saya mengajak; Investasikanlah anak-anakmu dengan pendidikan yang baik dan bermutu dan integral.Tidak terutama prestasi akademiknya (kemampuan otak) tetapi juga prestasi kepribadiannya (kepekaan hati). Untuk itu semua pihak supaya memprihatinkan pendidikan yang integral bagi anak-anak kita demi kelangsungan hidup bergereja dan bernegara.

Kita semua percaya bahwa seminari sebagai lembaga pendidikan calon imam, tidak saja menyiapkan caloncalonnya menjadi imam tetapi juga tempat pembentukan kader-kader Gereja, bangsa, dan negara setelah melewati tahap-tahap persiapan dan pembinaan yang matang. Bagaimana mewujudkan dukungan itu, saya percaya pada kuasa Roh Allah yang menjiwai hati seluruh

Misa pemberkatan minyak dan pembaharuan janji Imamat di Paroki Wairpelit, 11 April 2012

5


Telinga Sukma

PENDIDIKAN: MENCIPTAKAN MITOS? Diolah dari “What Is Education For?” by David Orr. Diunduh dari: www.davidworr.com/files Selasa, 24 April 2012

Pada umumnya orang berpikir dan mengakui bahwa belajar itu baik dan sangat berguna. Menjadi pintar harus bersekolah. Kemajuan dicapai melalui pendidikan. Dan memang kita saksikan hasil dari belajar khususnya yang belajar formal di sekolah telah menunjukkan kemajuan yang berguna tidak saja bagi orang bersangkutan tetapi mengangkat kehidupan keluarga, dan bahkan mereka telah berjasa dalam memajukan masyarakat, memerdekakan dan membangun bangsa dan negara.

P. Mikhael de Fretes, SVD Dosen STFK Ledalero

David Orr, seorang pendidik lingkungan, yang terkenal dengan projek Meadowcreeknya, sebuah pusat pendidikan lingkungan pada Fakultas Kolese Oberlin di Ohio sudah sekitar dua dekade lalu mengingatkan orang Amerika dan tentu terutama pemerintahnya karena sistem pendidikan dan khususnya karena beberapa cara dalam pendidikan ternyata telah menciptakan suatu monster. Peringatan ini disampaikan teristimewa kepada para wisudawan pada acara pemberian ijazah di Kolese Arkansas 1990. Pidato ini menyentak banyak pejabat sampai ada yang bertanya mengapa pandangan seperti ini tidak disampaikan pada tahap awal dan baru pada akhir dari pengalaman belajar di suatu penguruan tinggi. Orr, saat itu membentangkan suatu data tentang planet Bumi.Yakni bahwa Amerika (atau kita) telah kehilangan 116 m2 mil hutan hujan dan akan kehilangan 72 m2 tanah yang sedang menjadi gurun-gurun pasir. Kehilangan ini adalah sebagai hasil dari salah kelola manusia dan kelebihan pendudukan. Diperkirakan antara 40-100 spesies telah punah. Sementara itu populasi penduduk akan bertambah 250.000 orang, harus ada penambahan 2,700 ton klorofluorkarbon dan 15 juta ton karbon ke atmosfir. Dan pada malam hari Bumi akan menjadi sedikit lebih panas, airnya lebih asam, dan struktur kehidupan lebih rapuh atau usang. Kebenaran adalah bahwa pada banyak hal di mana kesehatan dan kemakmuran masa depan bergantung, berada dalam bahaya yang mengerikan. Hal-hal yang dalam bahaya yang menakutkan, termasuk kestabilan iklim, daya kenyal dan produktifitas dari sistem-sistem alam, keindahan dunia alamiah dan aneka ragam kaitan dengan biologis. Patut dicatat bahwa hasil kondisi yang mencemaskan ini bukan karya para petani dan orang-orang sederhana atau orang-orang bodoh.Agaknya, secara luas keadaan yang terjadi merupakan hasil karya dari orang-orang berijazah mulai dari D, BA, Drs/a, S1, S2, dan Ph.D. Elie Wiesel, pada musim dingin terakhir 1990 di depan forum Global di Moskow, mengemukakan pokok yang serupa ketika mengatakan bahwa perancang-perancang dan pelaksana kejahatan tindakan Holocaus (= pembakaran sekitar 6 juta orang Yahudi pada rezim Nazi) adalah para ahli waris Kant dan Goethe. 0rang-orang Jerman yang sangat terhormat dan sangat terdidik di dunia yang dikukuhkan dengan semboyan “Deutsch uber Alles” tetapi tidak menunjukkan pengabdian yang melawan kebiadaban.Apa yang salah dalam pendidikan mereka? Menurut kata-kata Wiesel:“Pendidikan menekankan

6


Telinga Sukma teori-teori daripada nilai-nilai, konsep-konsep daripada manusia, abstraksi daripada kesadaran, jawaban-jawaban daripada pertanyaan-pertanyaan, ideologi dan efisiensi dari pada suara hati (hati nurani).” Yang sama yang dapat dikatakan adalah tentang cara pendidikan yang menyiapkan kita untuk berpikir tentang dunia alam. Ini bukanlah perkara dengan satu konsekuensi kecil di mana hanya orang yang hidup secara temurun pada planit ini untuk suatu jangka waktu yang tidak bisa membaca, seperti manusia suku tertentu yang belum mengenal sekolah. Maksudnya secara sederhana mau dikatakan bahwa pendidikan tidak menjamin kesusilaan, kebijaksanaan atau kearifan (wisdom).Agak lebih sama, dikatakan bahwa pendidikan hanya akan melipatgandakan persoalan-persoalan kita. Ini bukanlah argumen atau perbedaan pendapat akan ketidaktahuan, tetapi lebih sebagai suatu statemen bahwa nilai dari pendidikan sekarang melanggar standar-standar kesusilaan atau kelakuan yang baik dan kelangsungan hidup manusia. Inilah isu-isu kini yang terbayang tidak terlewat begitu luas di hadapan kita. Maka, bukanlah pendidikan yang akan menyelamatkan kita, tetapi pendidikan akan suatu jenis tertentu. Apa yang berjalan salah dengan kebudayaan sekarang dan dengan pendidikan? Beberapa wawasan dalam literatur menggambarkan hal ini. Christopher Marlowe’s Faust, dahulu mempertaruhkan nyawanya untuk ilmu pengetahuan dan kekuasaan; Mary Shelley Dr. Frankenstein, yang menolak bertanggung jawab atas karya ciptaannya; Kapten Ahab Herman Melville’s yang mengatakan “Segala caraku adalah waras, tetapi motif dan tujuan adalah tidak baik.” Dalam karakter-karakter seperti ini kita menemukan esensi serbuan pembasmian modern untuk menguasai alam. Menurut sejarah, Francis Bacon menawarkan penyatuan antara ilmu pengetahuan dan kekuasaan memberi pertanda aliansi kontemporer antara pemerintahan, perusahaan dan ilmu pengetahuan yang telah menempa begitu banyak kejahatan. Pemisahan Galileo akan intelek memberi pratanda kekuasaan dari pikiran analitis yang cenderung memerankan kreativitas, humor dan keseluruhan. Dan dalam epistemologi Descartes, seseorang menemukan akar-akar pemisahan radikal dari diri dan objek. Ketiga hal ini meletakkan dasar-dasar pendidikan modern, yang sekarang diabadikan dalam mitos-mitos yang harus kita terima tanpa bertanya. Mitos-mitos itu menurut, David Orr, pertama ialah bahwa ketidaktahuan (ignorance) adalah suatu masalah yang tidak dapat dipecahkan. Ketidaktahuan bukanlah suatu problem yang tidak dapat diselesaikan tetapi suatu peranan yang mutlak (tak dapat dielakkan) dari kondisi manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan selalu membawa serta penambahan beberapa bentuk

ketidaktahuan. Pada 1930, setelah Thomas Midgely Jr. menemukan CFCs (Chlorofluorocarbons?), apa yang sebelumnya merupakan hal sepele yang tak diketahui, telah menjadi suatu yang kritis, jurang ancaman hidup dalam pemahaman manusia tentang biosfer. Tidak seorang pun berpikir untuk menanyakan “untuk apakah yang substansi ini dibuat?” sampai awal 1970-an dan pada tahun 1990 CFCs telah dijadikan suatu zat enceran umum untuk lapisan ozon di seluruh dunia. Dengan penemuan CFCs ilmu pengetahuan berkembang; tetapi ketidaktahuan bertambah sama seperti mengelilingi suatu lingkaran meluas. Mitos kedua adalah bahwa dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi kita dapat mengelola planit Bumi. “Mengelola planit” berdering merdu. Kita terpesona dengan bacaan-bacaan digital, komputer-komputer digital, tombol-tombol digital dan putaran angka-angka (dials) digital.Tetapi kompleksitas Bumi dan sistem-sistem kehidupannya yang rumit tidak pernah dapat dikelola keamanannya. Ekologi tentang ketebalan bunga tanah (humus) masih secara luas tidak diketahui, sebagaimana adanya pertalian pada sistemsistem yang lebih luas dari biosfer. Apa yang mungkin bisa dikelola adalah kita sendiri: keinginan-keinginan kita, perencanaan perekonomian (penghematan-penghematan), politik (kebijakan mengurus kepentingan negeri) dan komunitaskomunitas (masyarakat dan persamaan). Tetapi perhatian kita terperangkap oleh hal-hal ini supaya menghindari pilihan-pilihan yang sulit yang dinyatakan oleh politik, moralitas, etika (tata susila) dan pikiran sehat. Seyogyanya, hal-hal ini membuat kita lebih mengerti untuk membentuk kembali diri kita untuk menjadikan sebuah planet yang terbatas daripada usaha membentuk kembali planet untuk keinginan-keinginan kita yang tak terbatas. Mitos ketiga adalah bahwa ilmu pengetahuan sedang berkembang dan ini karena implikasi kebaikan manusia. Sedang terjadi ledakan informasi, seperti bertambah laju data, kata-kata dan naskah-naskah. Tetapi ledakan ini tidak harus dikira mengembangkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, yang tidak dapat begitu mudah diukur. Yang dapat dikatakan yang sesungguhnya adalah bahwa beberapa ilmu pengetahuan sedang berkembang sementara jenis ilmu pengetahuan lain hilang. Inilah yang dinyatakan oleh David Ehrenfeld bahwa di Amerika departemen-departemen biologi menyewakan fakultas dalam bidang-bidang seperti sistematis, taksonomi (sistem klasifikasi khususnya dalam dunia tumbuhtumbuhan dan binatang), atau ornithologi (ilmu burungburung). Dengan kata lain, ilmu pengetahuan yang penting mulai menghilang karena terlalu menekankan biologi molekuler dan keahlian teknik genetik yang lebih menguntungkan, tetapi juga yang tidak kalah penting, ialah area-area penyelidikan. Kita tetap kekurangan

7


Telinga Sukma pengetahuan tentang kesehatan tanah yang Aldo Leopold telah peringatkan pada setengah abad lalu.

kita jauh lebih kaya daripada kita sebenarnya. Rata-rata per capita jauh lebih tinggi dari negara lain.

Hilangnya pengetahuan akan bidang-bidang tertentu, termasuk pengetahuan bahasa-bahasa daerah dengan logat-logatnya, kebudayaan dan kesenian-kesenian yang khas dari suku-suku tertentu, dan juga pengetahuan akan kepemilikian tempat orang berdiam. Menyangkut pokok ini Barry Lopez mengatakan bahwa ia terpaksa untuk merealisasikan sesuatu yang aneh, jika bukan berbahaya, yang sedang berjalan.Tahun demi tahun orang berpindah meninggalkan tanah asal hidup dengan kekayaannya yang pada waktunya menyebabkan mereka kehilangan pengetahuan pribadi dan lokal akan sumber asal-usul sehingga menggoncangkan ketenangan jati diri.

Kelima, ada mitos di mana tujuan pendidikan adalah memberikan Anda jalan dan cara (means) untuk bergerak naik (upwards mobility) dan sukses. Thomas Merton pernah mengidentifikasi hal ini sebagai “produksi besar-besaran dari orang yang seunguhnya tidak pantas untuk apa saja kecuali untuk mengerti sebagian tebakan tiruan yang besar dan menyeluruh”. Ketika diminta untuk menuliskan tentang kesuksesannya sendiri, Merton menjawab dengan mengatakan bahwa “jika itu terjadi demikian bahwa saya satu kali menulis buku yang paling laris, ini adalah suatu sungguh kebetulan, karena kurang perhatian dan kenaifan, dan kalau saya harus memberikan perhatian yang sangat baik, tak akan saya melakukan yang sama lagi.” Nasihatnya terhadap para mahasiswa ialah “jadilah sesuatu yang Anda inginkan, jadilah orang gila, pemabuk dan haram zadah (anak haram) dari setiap gambaran dan bentuk, tetapi bagaimanapun juga hindarilah satu hal: sukses.”

Data, informasi dan pengetahuan menciptakan kebingungan merupakan kesalahan yang mendalam karena disangka belajar akan membuat kita menjadi orang yang lebih baik. Akan tetapi, belajar, sebagaimana Loren Eiseley pernah mengatakan, adalah tidak berakhir dan “in se tidak pernah akan membuat kita menjadi orang beradab (bersusila).” Mengetahui beradab itu adalah suatu kebaikan, tetapi orang beradab dan peradaban menjadi sungguh terancam karena segala kemajuan kita yang lain. Hp, alat teknologi canggih bukti kemajuan digunakan pemiliknya menelanjangkan diri telah merusak nilai susila dan religius kehidupan bersama. Kasus-kasus pertambangan, termasuk Lapindo tentu berawal dengan suatu pertimbangan demi “kebaikan” telah menghasilkan dan mengakibatkan yang lebih merugikan dan merendahkan martabat manusia. Memang segala sesuatu dipertimbangkan, tetapi kita dalam proses menjadi, lebih tidak tahu tentang hal-hal yang seharusnya kita ketahui untuk kehidupan yang baik dan bertahan di Bumi ini. Mitos yang keempat dari pendidikan yang lebih tinggi adalah bahwa kita dapat cukup memperbaiki di mana yang kita telah bongkar. Dalam kurikulum modern kita telah membagi bumi menjadi kepingan-kepingan yang disebut disiplin dan subdisiplin. Sebagai hasil, setelah 12 atau 16 atau 20 tahun pendidikan kebanyakan mahasiswa tamat tanpa suatu pengertian yang terintegrasi luas tentang kesatuan dari semua hal itu. Konsekuensi bagi kepribadian (personhood) dan bagi planet adalah luas. Contohnya, kita secara rutin menghasilkan ekonomekonom yang kurang pengetahuan yang paling bersifat elementer tentang ekologi. Ini menjelaskan mengapa sistem-sitem akuntansi nasional kita tidak mengurangi harga-harga (biaya) dari pemiskinan biotik, aus tanah (soil erosion), racun-racun di udara atau air, dan penipisan sumber penghasilan dari GNP. Kita menambah harga dari penjualan dari satu gantang gandum terhadap GNP sementara lupa mengurangi tiga gantang dari kehilangan bunga tanah (humus) dalam penghasilannya. Sebagai hasil dari pendididkan yang tidak sempurna, kita telah memperbodohkan diri kita sendiri dalam pikiran bahwa

8

Kenyataan yang sederhana adalah bahwa planit bumi tidak butuh lebih orang yang “berhasil”. Tetapi sesungguhnya lebih dibutuhkan pendamai-pendamai penuh hati bukan pembela rekayasa, penyembuhpenyembuh penuh kasih bukan pembagi-pembagi obat, pemerhati-pemerhati empati, pembaharupembaharu simpati, pendongeng-pendongeng penidur anak, bukan pembohong-pembohong khayalan. Kita membutuhkan pencinta-pencinta setiap gambaran dan bentuk kebaikan. Dibutuhkan orang-orang yang hidup baik di tempat-tempat mereka. Dibutuhkan orang yang memiliki kemauan moral untuk ikut serta berjuang menjadikan dunia dapat dihuni dan ramah. Dan mereka yang dibutuhkan ini memiliki sedikit untuk membuatnya dengan sukses sebagaimana budaya kita telah menetapkannya. Akhirnya, ada satu mitos bahwa budaya kita menunjukkan puncak prestasi manusia: hanya kitalah yang modern, teknologis dan berkembang. Tentunya ini menggambarkan arogansi budaya orang yang paling jahat, dan suatu kesalahan besar membaca sejarah dan antropologi. Pandangan ini telah mengambil bentuk di mana Amerika memenangkan perang dingin dan bahwa kemenangan kapitalisme atas komunisme menjadi komplet. Komunisme gagal karena itu menghasilkan terlalu sedikit untuk suatu biaya yang terlalu tinggi. Kapitalisme juga telah gagal karena menghasilkan begitu banyak, tetapi membagikan terlalu sedikit, dan juga biaya yang sangat tinggi untuk anak-anak dan cucucucu. Komunisme gagal sebagai suatu moralitas asetik, sedangkan kapitalisme gagal karena itu menghancurkan moralitas sama sekali. Ini bukanlah dunia yang bahagia di mana sejumlah pemasang iklan dan para politisi gambarankan. Kita telah membangun suatu dunia


Telinga Sukma segelintir orang kaya yang hidup serba mewah dan menciptakan kemiskinan orang-orang Calcuta dan penduduk-penduduk kumuh yang bertumbuh ke kelas bawah. Yang terburuk adalah suatu dunia yang ambruk di jalan-jalan raya, kekejaman yang tak berperasaan, disorganisasi nilai personal dan sosial (anomi) negara, dan jenis kemiskinan yang sangat menyedihkan. Kenyataan adalah bahwa kita hidup dalam sebuah kebudayaan yang sedang hancur. Menurut kata-kata Ron Miller, editor dari Holistic Review,“kebudayaan kita tidak memelihara mana adalah terbaik atau termulia dalam semangat manusiawi. Kita tidak mengolah pandangan (vision), imajinasi atau sensitivitas estetis dan spiritual. Kita tidak menganjurkan kelemahlembutan, kedermawanan, kepedulian, atau perasaan kasihan. Semakin meluas di abad ini pandangan dunia ekonomis-teknokratis yang statis telah menjadi penghancur dahsyat atas apa itu cinta dan hidup kokoh dalam jiwa manusia.�

Gambaran-gambaran ini merupakan mitosmitos dari hasil pendidikan dan pengajaran. Mari kita memikirkan kembali cara pendidikan yang sedang tidak memberdayakan kita.

Pelatihan Komputer oleh Bapak Uskup dan Para Pastor Paroki

9


Telinga Sukma

KETELADANAN HIDUP MEMBENTUK KARAKTER ANAK (Asal Omong) Catatan awal Sengaja diberi dalam kurung asal omong, karena coretan ini merupakan bahan untuk sekedar diomong – omong saja; ditulis tanpa referensi kepustakaan dan penelitian Ilmiah. Coretan ini bertolak belakang dari kepingan pengalaman biasa yang sering dilewatkan begitu saja tanpa pernah direfleksikan. Mumpung edisi Sukma kali ini mengusung tema Pendidikan Karakter maka pengalaman yang biasa itu disoroti dalam kaitan dengan pembentukan karakter seseorang.

Pendidikan

Rm. Marsel Wera, Pr Pastor Paroki Magepanda

Seorang anak dilahirkan ke tengah dunia dengan tanpa membawa apa – apa, polos dan tak berdaya. Ia membutuhkan orang lain untuk kelangsungan hidupnya. Karena lemah tak berdaya maka ia amat rawan, butuh tangan dan perhatian ekstra dari orang lain. Seorang anak membutuhkan orang lain untuk merawat dan mendidiknya menjadi manusia dewasa. Mendidik tidak lain berarti pekerjaan yang dilakukan oleh orang lain untuk perkembangan seorang anak manusia. Dalam pengertian ini, maka yang disebut pendidik adalah semua orang yang telah berperan menjadikan seorang anak menjadi semakin manusiawi baik aspek rohani maupun fisik biologis. Jika demikian maka yang menjadi pendidik bukan cuma orang tua dan guru tetapi siapa saja yang berkontak dengan yang dididik. Pendidikan terjadi baik dalam situasi formil maupun terutama non formil, dalam situasi yang tak disadari dalam pergaulan sehari – hari. Pendidikan selalu berkaitan dengan perbuatan menjadikan seseorang semakin manusiawi.

Pendidikan Karakter Pendidikan karakter melekat sangat erat dengan perilaku, sifat, tabiat seseorang. Berbicara tentang pendidikan karakter berarti omong tentang bagaimana membentuk dan membangun suatu sikap, sifat dan perilaku yang baik sesuai norma yang berlaku umum. Mungkin bisa disamakan dengan pendidikan budi pekerti yang pernah menjadi kurikulum pelajaran di sekolah tempo silam. Pertanyaan yang dapat diajukan adalah mengapa sekarang orang membicarakan pentingnya pendidikan karakter? Tentu ada sesuatu yang kurang dalam kelakuan manusia. Mesti dicurigai mengapa di jaman post modern ini, ketika orang mendewa - dewakan teknologi, orang masih berbicara tentang pendidikan karakter. Mungkinkah arus informasi dan globalisasi telah melemahkan karakter seseorang? Manusia lokal terbius untuk berfikir dan bertindak global lalu mengabaikan perilaku dan tabiat yang seharusnya tidak boleh keluar dari tatanan norma moral dan adatnya sendiri. Karena itu seharusnya kita tidak cuma membiarkan diri kita tercebur dalam arus globalisasi tetapi juga mengarah haluan kepada glokalisasi. Glokalisasi dalam pengertian unsur – unsur lokal harus tetap dipertahankan dan sedapat mungkin juga menarik dan

10


Telinga Sukma

mempengaruhi unsur global yang kuat melanda dunia. Dengan demikian bisa terjadi dua pertemuan yang saling mempengaruhi dan saling memperkaya bukan saling menghancurkan dan menghilangkan. Karakter merupakan sesuatu yang melekat kepada kepribadian. Karakter ini menentukan kwalitas diri seseorang. Seseorang dikatakan baik atau jahat tergantung dari penampilan gerak – gerik dan keseluruhan sikap yang dia ekspresikan dalam tingkah laku. Dikatakan berkarakter baik kalau sikapnya sesuai norma – norma yang berlaku umum, dan sebaliknya dikatakan berkarakter buruk kalau menyimpang dari norma. Pembentukan karakter bagi seorang anak bukan saja dengan mengajarkan berbagai teori tentang etiket dan kesopanan tetapi terutama penerapan praktis dan keteladanan dari orang – orang di sekitar anak. Karakter seseorang terbentuk melalui proses penerimaan dan pengendapan semua pengalaman dan peristiwa yang dialaminya.

Keluarga dan Lingkungan Keluarga adalah panti pendidikan pertama di mana anak menerima semua pengalaman yang akan sangat menentukan kepribadiannya ke depan. Anak – anak yang dilahirkan dari hasil perkawinan resmi, karena cinta kasih suami isteri dan berdasarkan perencanaan bersama, akan bertumbuh menjadi anak yang dapat mencintai orang lain, berkelakuan baik dan lebih mudah

dididik. Sebaliknya anak yang lahir dari orang tua yang terpaksa melahirkan karena kecelakaan dan dilahirkan tanpa diharapkan cenderung bertumbuh menjadi anak yang tidak bisa mencintai orang lain dan karena itu menjadi anak yang sulit dididik, bandel, nakal dan suka membuat keonaran. Karakter seorang anak dapat dipengaruhi oleh apakah kehadiran anak tersebut sejak awal (dalam kandungan ibu) diterima oleh orang tuanya atau tidak. Dan inilah permasalahan yang dihadapi dalam pendidikan karakter bagi seorang anak. Suasana dalam keluarga memperngaruhi perkembangan kepribadian seseorang.Anak yang hidup dalam keluarga yang rukun, disiplin dan memperhatikan kehidupan doa dalam keluarga akan bertumbuh menjadi anak yang berkelakuan baik ketimbang yang dibesarkan dalam keluarga yang kurang memperhatikan kedislipinan dan mengabaikan kebiasaan doa bersama dalam keluarga. Kebiasaan – kebiasaan yang baik dalam keluarga misalnya makan bersama dan doa bersama sebelum dan sesudah makan akan membentuk mental dan kepribadian yang baik bagi anak. Seorang bapak menceritakan kebanggaannya dalam mendidik anak – anaknya. Anak – anaknya menjadi orang yang berkepribadian baik karena sejak kecil keluarganya selalu makan bersama di meja makan, diawali dengan doa bersama. Dalam makan bersama itu orang tua sering mengisinya dan memberi nasihat atau pengajaran bahkan teguran keras terhadap anak

11


Telinga Sukma – anaknya. Semua anak tanpa terkecuali mendengar didikan orang tua karena tempat dan suasananya memungkinkan untuk itu. Sebagian orang tua mengeluh tentang sikap anak – anak yang menyakitkan hati karena tidak mendengarkan mereka.Ternyata alasannya karena mereka sering menasehati anak pada tempat dan waktu yang kurang tampan. Ketika anak pulang ke rumah jauh malam, langsung dimarahi, bukannya tunggu waktu yang pas yaitu ketika sedang duduk bersama sebagai satu keluarga. Lingkungan menjadi faktor yang sangat menentukan perkembangan kepribadian dan karakter seseorang. Anak yang hidup dalam masyarakat yang berwatak keras dan kasar cenderung bersikap kasar dan keras sama seperti yang dialaminya dalam lingkungan tersebut, sebab apa yang disaksikan dan dialami itulah yang direkam dan ditanam dalam dirinya. Bagi si anak itu, kekerasan dan kekasaran merupakan hal yang lumrah dan baik karena dia melihat kebanyakan orang di sekiarnya bersikap demikian. Demikianpun sebaliknya anak yang hidup dalam lingkungan masyarakat yang halus budi pekertinya akan memiliki sikap yang sama halusnya.

Tantangan Pembentukan kepribadian manusia sering menemui kendala. Kendala pertama berasal dari dalam diri sendiri di mana anak tidak bisa menerima didikan dari luar karena ia menolaknya. Anak yang merasa bahwa dia

Perayaan Minggu Panggilan Ke-49, 29 April 2012

12

tidak dicintai, maka dia pun akan menjadi orang yang tidak bisa mencintai dan menerima orang lain termasuk didikannya. Kendala kedua berasal dari luar diri anak berupa keteladanan hidup yang tidak bisa diharapkan. Mustahil orang tua mengharapkan anaknya menjadi anak yang sopan dan berbudi luhur kalau dalam rumah sering terjadi percekcokan dan kekerasan yang diperlihatkan orang tua kepada anak – anak. Ayah yang sering kasar dan marah – marah terhadap isteri dan anak – anaknya sebenarnya telah mendidik anak untuk berlaku kasar dan marah – marah. Di sekolah, guru yang sering terlambat dan malas mengajar, sebenarnya mengajar anak untuk bersikap malas dan terlambat seperti dia. Di sebuah Sekolah Dasar, ketika apel pada hari Senin seorang guru memeriksa anak-anak yang tidak menghadiri misa pada hari minggu. Anak – anak yang tidak ke Gereja pada hari minggu diminta maju ke depan dan disuruh berlutut. Seorang anak berseru, “Tidak adil pak guru, karena pak guru sendiri juga kemarin tidak Gereja�. Inilah tantangan yang dihadapi dalam proses pembentukan kepribadian anak – anak. Pembentukan karakter tidak semata teori tetapi terlebih teladan hidup dari pendidik, baik di rumah, di sekolah atau dalam masyarakat.


Telinga Sukma

Menjadikan Keluarga Sebagai Basis Pendidikan Karakter Salah satu fenomena sosial yang terjadi saat ini yaitu munculnya perilaku remaja yang cenderung destruktif. Diantaranya adalah aksi kebut – kebutan di jalanan, tawuran pelajar antar sekolah dan juga mabuk – mabukan. Sekedar contoh, kalau kita saksikan di sepanjang ruas Jalan Eltari yang akrab menjadi tempat nongkrongan anak muda Sikka ini sering terjadi aksi kebut – kebutan dan juga mabuk – mabukan di area taman sepanjang jalan tersebut. Kegiatan yang dilakukan sampai larut malam ini sesungguhnya sering mengganggu para pengguna jalan. Selain itu perilaku tawuran pelajar juga mulai menggejala di kota ini. Apakah gejala di atas menunjukkan lemahnya kontrol orang tua atau kurangnya peran lembaga pendidikan dalam mengawal perilaku anak didiknya…..?

Debi Angelina Brbarus, SPsi Dosen Psikologi Universitas Nusa Nipa

Menyikapi fenomena sosial di atas, Dosen Psikologi Universitas Nusa Nipa ( UNIPA ), Debi Angelina Brbarus SPsi berpendapat, kenakalan remaja yang terjadi itu tidak bisa sepenuhnya kita menyalahkan lembaga pendidikan karena persoalannya sudah kompleks.. Dikatakan kompleks karena yang pertama basisnya dari keluarga ketika dari keluarga basisnya sudah hancur akan mencerminkan anak yang hancur. Misalnya anak yang nakal pasti ditanya kamu orang tuanya siapa…? Katanya. Menurut Ibu Debi, begitu ia akrab disapa, Keluarga di Sikka juga belum memerankan diri secara optimal.“Pendidikan secara formal di sekolah anak hanya menghabiskan waktu enam jam sisanya ya di tengah keluarga. Hal yang pertama kali anak belajar adalah dari keluarga, jadi kalau keluarganya sama sekali tidak mendukung maka itu akan mempengaruhi pola asuh. Komunikasi yang penting. Nah, kebanyakan keluarga itu tidak ada komunikasi. Jadi kebanyakan orang tua hanya otoriter atau permisif. Otoriter atau permisif itu yang berdampak pada anak. Otoriter, ok anak di rumah penurut tapi dia kan punya yang namanya gejolak agresifnya nah bagaimana dia harus mengekspresikannya, dia mengekspresikannya di luar, dengan cara apa, dia mengekspresikan dengan cara tawuran, mabuk – mabukan, perkelahian, itu kan agresif yang harus dikeluarkan . Remaja itu kan energinya berlebihan nah seharusnya bentengnya keluarga”, ujarnya.

Bagaimana Keluarga di Sikka harus bersikap Lebih lanjut dikatakannya, Keluarga di Sikka harus menerapkan polah asuh yang demokratis yang bertanggung jawab, artinya harus ada komunikasi yang baik. Komunikasi itu sangat kurang jadi kebanyakan itu anak – anak tertutup dan tertekan. Dengan tekanan – tekanan dari keluarga dan tekanan sosial akhirnya dia menyalurkan ke tempat yang lain. Itu kan karena kurangnya komunikasi. Kurang adanya kedekatan. Komunikasi yang baik itu ditandai dengan adanya sikap saling mendengarkan di antara orang tua dan anak. Jadi harus ada yang namanya komunikasi timbal balik.Tidak bisa orang tua menyalahkan anaknya harus begini – begini, orang tua juga harus mendengar anaknya mau seperti apa. Orang tua tidak boleh egois. Dan

13


Telinga Sukma anak juga tidak boleh seenaknya membangkang dengan apa yang dikatakan oleh orang tua. Makanya saya bilang tadi demokrasi bertanggung jawab. Jelasnya.

Perlu ada komunitas Kecil

Ibu Debi mengharapkan agar semua pihak terkait harus saling berperan secara aktif. Untuk itu perlu dibangun komunikasi dan keterbukaan antara pihak keluarga dengan sekolah dan juga dengan para pemuka agama. Jika semua simpul ini bergerak secara aktif maka permasalahan yang menggejala di atas pasti dapat dikurangi. Misalnya orang tua jangan masa bodoh terhadap pendidikan anak – anak, jangan hanya datang ke sekolah untuk mengambil raport saja, dari pihak sekolah juga jangan hanya memanggil orang tua waktu terima raport saja, jadi harus ada sosialisasi. Misalnya sebulan sekali diadakan pertemuan. Di sekolah juga harus diusahan adanya kegiatan ekstrakurikuler untuk menyalurkan energi remaja itu, di sini kan jarang sekali ada kegiatan ekstrakurikuler. Nah untuk yang di komunitas Gereja harus ada yang namanya komunitas kecil, itu kan bisa bekerjasama juga dengan sekolah–sekolah, kapan komunitas itu diadakan sehingga ada yang namanya penyegaran rohani. Penyegaran rohani itu bukan yang

Sharing TPAPT Rekoleksi Unio Bulan Mei 2012

14

monoton. Saya bilang monoton karena itu kan hanya rutinitas. Kebanyakan orang ke Gereja hanya rutinitas karena takut disebut tidak beragama, ke Gereja mereka hanya buat onar, menggosip, itu tadi karena tidak ada komunitas yang ada sharing kan. Harus ada komunitaskomunitas kecil untuk sharing, jadi apa yang kita alami hari ini dengan kita sharing kita tahu jadi dia masalahnya ini, masalahnya lebih berat dari masalah saya. Dengan adanya ruang untuk berbagi maka pastinya mampu meminimalisir terjadinya perilaku destruktif di atas. Ujarnya penuh keyakinan. Untuk mewujudkan generasi muda yang berkarakter baik memang bukanlah proses sekali jadi. Kuncinya yaitu pembinaan sikap kaum muda. Seperti yang pernah dikatakan oleh Ignatius Loyola (1491 – 1556) “ mendidik kaum muda adalah mereformasi dunia “ ( Educatio puerorum reformatio mundi ).Artinya, generasi penerus bangsa dan Gereja yang saat ini belajar pada pendidikan dasar dan menengah, bila mereka dibekali dengan pendidikan kepribadian, mendengarkan hati nuraninya, mengambil keputusan yang tepat, maka kita telah mempersiapkan perubahan Bangsa dan Negara serta Gereja kita pada 30 – 40 tahun yang akan datang.


Telinga Sukma

MERENCANAKAN PELATIHAN PENGURUS OMK

Menurut kebiasaan, masa kepengurusan OMK baik di tingkat paroki dan lingkungan berkisar 2-3 tahun. Dalam rentang waktu tersebut OMK menyelenggarakan berbagai kegiatan. Kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan ada yang berskala kecil tapi ada juga berskala besar seperti Jumpa OMK Tingkat Keuskupan pada Oktober 20012 mendatang. Kegiatan OMK bertujuan sebagai sarana belajar mematangkan kualitas pribadi baik mencakup kepemimpinan, pembuatan keputusan, pengelolaan kegiatan maupun membangun persahabatan. Semakin banyak kegiatan semakin banyak pula kesempatan belajar yang bisa diraih OMK.

Jenis kegiatan OMK

Urbanus X. L. AvĂŠlandobolo Direktur Lembaga Pelatihan AvĂŠmedia Simpul Perubahan

Ada banyak kegiatan OMK dalam satu tahun kelender. Namun kita dapat mengelompokkan kegiatan-kegiatan tersebut ke dalam empat jenis. Pertama (1) kegiatan yang bersifat liturgis, (2) kegiatan berdasarkan perayaan hari besar negara, (3) kegiatan berdasarkan keadaan atau situasi pada saat tertentu, dan (4) kegiatan pelatihan dan pengembangan SDM OMK. 1. Kegiatan liturgis yaitu kegiatan yang disesuaikan dengan kalender Gereja katolik. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain menyangkut kegiatan Tahun Baru, Bulan Maria, Bulan Kitab Suci, Natal dan Paskah. Sebagai contoh, OMK di berbagai paroki melibatkan diri dalam kegiatan Tri Hari Suci pada bulan April 2012 yang lalu. OMK Paroki St.Thomas Morus Maumere bersama ribuan umat menyelenggarakan tablo akbar . 2. Kegiatan hari besar negara adalah kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka menyambut hari-hari besar negara. Misalnya hari pendidikan nasional, 17 Agustus dan hari Sumpah Pemuda. Untuk menyambut hari pendidikan nasional misalnya OMK dapat menyelenggarakan kegiatan seminar pendidikan nasional dalam kaitannya dengan Program Geser di Keuskupan Maumere atau babong mengenai Kebangkitan Pendidikan dan kaitannya dengan ratusan bahkan ribuan Pesta Sambut Baru di berbagai paroki. 3. Kegiatan berdasarkan keadaan adalah kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan berdasarkan tuntutan atau kebutuhan pada saat-saat tertentu. Misalnya menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Sikka, OMK dapat menyelenggarakan gerakan pendidikan politik pilkada. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun wawasan berpolitik dengan mengedepankan nilai-nilai katolik menuju kebaikan bersama. Kebaikan bersama mengandung pengertian baik untuk semua bukan baik untuk suku-suku maupun agama tertentu saja. 4. Kegiatan pelatihan dan pengembangan OMK adalah kegiatan yang dirancang khusus untuk melatih dan mengembangkan kualitas OMK. Beberapa bentuk kegiatannya seperti pelatihan kepemimpinan, analisa sosial dan pendalaman Ajaran Sosial Gereja (ASG), dan pelatihan jurnalistik. Untuk mempertajam kepekaan

15


Telinga Sukma rohani diadakan berbagai rekoleksi, retret maupun latihan rohani lainnya. Pelatihan dan pengembangan OMK dapat dikatakan sebagai inti kegiatan OMK, sebab melalui kegiatan inilah OMK semakin diberdayakan dan terlatih dalam menjalankan rencana kerja tahunannya. Jika mengikuti empat jenis kegiatan di atas, kita dapat merasakan kalau kegiatan OMK itu banyak. Di awal tahun OMK sudah dihadapkan dengan kegiatan tahun baru. Pada bulan Februari kegiatan bertema hari kasih sayang, pada bulan Maret dan April OMK terlibat dalam kegiatan pra Paskah dan Paskah. Di bulan Mei OMK merayakan bulan Maria, Hari Pendidikan Nasional dan kenaikan Yesus Kristus. Di bulan Juni, Juli dan Agustus OMK sudah disibukkan dengan persiapan menjelang Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Di bulan September merayakan hari Kitab Suci Nasianal. Bulan Oktober OMK merayakan hari Sumpah Pemuda. Di bulan November dan Desember OMK mulai mempersiapkan diri dengan kegiatan-kegiatan Natal. Di selah-selah kegiatan di atas, OMK pun menyelenggarakan berbagai kegiatan situasional yang berusaha menjawab kebutuhan saat itu seperti seminar-seminar kebudayaan pesta sambut baru yang tumbuh subur di Keuskupan Maumere dan politik serta berbagai pelatihan khusus lainnya. Kegiatan OMK pun akan semakin hidup jika kegiatan tahunan dan bulanan dijabarkan menjadi kegiatan mingguan, misalnya dibuat pertemuan bagi kelompok menulis OMK. Dalam pertemuan tersebut OMK dengan minat menulis didampingi dan saling memberi masukan satu sama lain. Tujuan pendampingan adalah melatih ketrampilan menulis. OMK menulis demi kebaikan bersama. Jika demikian kita dapat merasakan betapa hidupnya dunia OMK. Memang kegiatan yang ditunjukan di atas tergolong banyak. Tapi pertanyaannya; apa perbedaan antara OMK yang menyelenggarakan banyak kegiatan dengan OMK yang hanya menyelenggarakan sedikit kegiatan atau tidak sama sekali? Jawabannya adalah pada jam terbang alias pengalaman ber-kegiatan. Penyelenggaraan kegiatan memberi pengalaman. Semakin banyak kegiatan berarti semakin banyak pengalaman yang diperoleh. Pengalaman-pengalaman tersebut mencakup kepemimpinan, kerjasama, manajemen konflik, dan pengambilan keputusan. Dalam menyelenggarakan sebuah kegiatan, OMK pun belajar menerapkan asas-asas manajemen yang meliputi proses merencanakan, mengorganisasikan, menerapkan, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan. Asas manajemen merupakan sebuah ketrampilan dasar yang harus dimiliki oleh para manajer maupun pemimpin. Ketrampilan ini sangat penting mengingat OMK adalah

16

pemimpin-pemimpin yang dipersiapkan Gereja di tengah-tengah masyarakat.

Pelatihan Pengurus OMK Jantung kegiatan OMK ada pada pengurus OMK. Untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang telah disebutkan di atas, OMK harus dipersiapkan dengan sejumlah pelatihan. Pelatihan merupakan pengajaran ketrampilan-ketrampilan khusus pada individu, ketrampilan-ketrampilan tersebut biasanya merupakan tuntutan tugas yang sedang dijalankan (William E.A:1989). Ada tiga pelatihan dasar yang perlu di-ikuti pengurus OMK. Pertama pelatihan pra jabatan, kedua pelatihan training of trainers (TOT) dan ketiga adalah rekoleksi dan retret. a) Pelatihan pra jabatan adalah pelatihan yang diberikan kepada para pengurus OMK sebagai pelatihan perdana. Pelatihan pra jabatan adalah pelatihan pertama sebelum pelatihan lainnya diberikan. Tujuan pelatihan pra jabatan adalah menyiapkan pengurus OMK dengan sejumlah ketrampilan sehingga yang bersangkutan dapat menjalankan perannya sebagai pengurus OMK. Ketrampilan tersebut antara lain; · ketrampilan manajemen kegiatan liturgis, hari besar negara, kegiatan berdasarkan situasi dan pelatihan, · penyusunan kerangka kerja kegiatan OMK, · pengarsipan kegiatan, alur birokrasi kegiatan serta · rencana dan laporan keuangan kegiatan. Kegiatan ini sebaiknya diselenggarakan selama tiga hari, · pada hari ketiga pengurus OMK menetapkan sasaran dan rencana kerja OMK selama satu tahun. Rencana kerja disusun dalam bentuk proposal sederhana. b) Pelatihan training of trainers (TOT) adalah pelatihan yang dikhususkan bagi para pemberi pelatihan. Mengapa TOT penting bagi pengurus OMK? Salah satu program penting OMK adalah kaderisasi dan regenerasi pengurus OMK. Untuk melakukan kaderisasi dan regenerasi pengurus paling tidak pengurus OMK harus memahami pengetahuan dan ketrampilan tentang pelatihan (Brooks-Harris,Stock-Ward & Susan R:1999). Dengan demikian, orang tahu siapa dan apa yang harus dilatihkan dalam kerangka kaderisasi dan regenerasi. Berikut ini materi dasar TOT. · ketrampilan analisa kebutuhan masalah (need assesment) mencakup analisis organisasi, analisis orang


Telinga Sukma dan analisis tugas-tugas pengurus OMK · ketrampilan merancang pelatihan mencakup menentukan tujuan pelatihan, materi pelatihan, menentukan metode pelatihan berdasarkan gaya belajar individu, ketrampilan mengeksekusi pelatihan dan evaluasi tingkat keberhasilan pelatihan. TOT merupakan salah satu pelatihan yang penting bagi para pengurus OMK sebab sebagian kegiatan OMK adalah mengadakan berbagai pertemuan dan pelatihan bagi sesama OMK lainnya. c) Rekoleksi dan retret adalah salah satu latihan yang menyentuh aspek rohani. Kegiatan ini merupakan penyeimbang, ibarat me-recharge kembali sisi rohani para pengurus OMK dari kesibukan yang menguras banyak pikiran dan tenaga. Melalui rekoleksi maupun retret secara berkala, semangat dan perjuangan pengurus OMK dimurnikan kembali.

Persoalan di atas adalah kejadian yang sering dijumpai di berbagai paroki. Persoalan ini muncul karena pendampingan OMK merupakan perhatian pastor-pastor tertentu daripada perhatian rencana kerja pastoral paroki. Tanggung jawab dan tugas mengembangkan OMK bukan menjadi urusan pastor semata melainkan kesatuan paroki, menjadi kebutuhan paroki. Paroki butuh mengembangkan OMKnya. Kiranya dewan paroki bersama para pastor/ biarawan/biarawati dan kaum awam menjadikan program pelatihan dan pengembangan pengurus OMK sebagai salah satu rencana kerja utama paroki. Ketika pengurus OMK berhasil dilatih dan diberdayakan, mereka akan menghimpun, menggerakan dan membantu OMK lainnya yang mana karena keterbatasan tidak mampu dijangkau oleh dewan paroki, para pastor/ biarawan/biarawati dan kaum awam pemerhati.

Kebutuhan Paroki OMK Keuskupan Maumere tersebar di 35 Paroki. Ada 35 pastor yang mendampingi OMK namun tidak semua pastor menaruh minat terhadap dunia OMK. Seringkali, mati hidupnya gerakan OMK bergantung pada pastor-pastor di Paroki. Ada OMK di paroki tertentu sangat hidup semasa pastor “A” bertugas di sana, namun ketika berganti pastor, dunia OMK mulai redup. Orang muda yang tadinya sering berkumpul dan sharing di pendopo paroki kini jarang muncul bahkan tidak pernah menampakan diri di lingkungan Gereja dan pastoran. Namun, di tempat baru dimana pastor “A” bertugas dunia OMK terasa hidup. Para pengurus OMK terus ber-kegiatan.

Sumber bacaan : * Brooks-Harris, Jeff E. & Stock-Ward, Susan R. 1999. Workshop: Designing and Facilitating Experiential Learning. London : SAGE Publications Ltd. * Arnold, William, E. 1989. Communication Training & Development. New York : HarperCollinsPublishers, Inc.

Misa kunjungan pastoral di Paroki Bloro, 10 Mei 2012

17


Spirit Sukma

PERAN STRATEGIS GURU DALAM MEMBANGUN PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA DI SEKOLAH 1. Latar belakang Bangsa Indonesia merupakan sebuah bangsa yang beradab. Keberadaban bangsa Indonesia terkandung dalam rahim Pancasila sebagai dasar negara yang melahirkan nilai-nilai luhur bagi seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun kenyataan saat ini menunjukkan bahwa ada gejala distorsi nilai-nilai luhur kemanusiaan.

Rm. Fidelis Dua, Pr, M.Th Ketua Komisi Pendidikan Keuskupan Maumere dan Kepala SMA Katolik John Paul II Maumere

Fenomena yang telah menjadi persoalan yang muncul di masyarakat seperti korupsi, kekerasan, kejahatan seksual, perdagangan manusia dan obat-obatan terlarang, perkelahian masal, kehidupan ekonomi yang konsumtif dan sebagainya menjadi indikator merosotnya nilai-nilai kemanusiaan. Selain itu, kesenjangan sosial-ekonomi dan politik yang makin lebar, kerusakkan lingkungan yang terjadi hampir di seluruh pelosok negeri, masih terjadinya ketidakadilan hukum, pergaulan bebas dan pornografi yang terjadi di kalangan remaja, kekerasan dan kerusuhan, korupsi yang menggurita pada semua sektor kehidupan masyarakat semakin menggelisahkan masyarakat. Sementara itu, kehidupan bersama semakin terancam oleh terorisme, tindakan anarkis, konflik horisontal, penuturan bahasa yang buruk dan tidak santun, dan kejahatan serta pelanggaran sosial lainnya. Masyarakat Indonesia yang terbiasa santun dalam berperilaku, melaksanakan musyawarah untuk mufakat dalam menyelesaikan masalah, kekeluargaan dan kerja sama serta bersikap toleran dan gotong royong mulai cenderung berubah menjadi kurang beradab, individualistik, fanatik dan indeferen. Semuanya itu menegaskan bahwa terjadi ketidakpastian jati diri dan karakter bangsa yang bermuara pada (1) disorientasi dan belum dihayatinya nilai-nilai Pancasila sebagai filosofi dan ideologi bangsa, (2) keterbatasan perangkat kebijakan publik dalam mewujudkan nilai-nilai esensi Pancasila, (3) bergesernya nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, (4) memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa, (5) ancaman disintegrasi bangsa, dan (6) melemahnya kemandirian bangsa. Terhadap kenyataan ini perlu segera dicarikan solusinya. Kesadaran untuk menanamkan kembali atau membangun nilai-nilai kemanusiaan dalam diri seluruh masyarakat adalah suatu upaya yang mendesak. Oleh karena itu, perlu diprioritaskan pembangunan karakter bangsa. Pembangunan karakter bangsa memiliki urgensitas yang sangat luas dan bersifat multidimensional. Sangat luas karena terkait dengan pengembangan multi aspek potensi-potensi keunggulan bangsa dan bersifat multidimensional karena mencakup dimensi-dimensi kebangsaan yang hingga saat ini sedang dalam proses “menjadi�. Merealisasi strategi pembangunan karakter, satuan pendidikan (sekolah) adalah urgen untuk menyelenggarakan pendidikan karakter. Kita mendambakan lembaga pendidikan (PAUD, SD, SMP, SMA, PT) sebagai lembaga pembentukan karakter bangsa, juga sebagai lembaga pembebas dan inspirator kemajuan, yang berperan strategis demi peningkatan kualitas SDM. Oleh karena itu, sekolah menjadi museum atau konservasi karakter, sekolah sebagai labor inovasi

18


Spirit Sukma karakter bangsa (agent of character building). Dalam membangun pendidikan karakter di satuan pendidikan (sekolah) guru mempunyai peran yang sangat urgen dengan memberi teladan dan kemampuan untuk mengintegrtasikan pendidikan karakter ke dalam mata pelajaran. Pada prinsipnya, pendidikan karakter bangsa tidak dimasukkan sebagai pokok bahasan khusus tetapi diintegrasikan ke dalam mata pelajaran. Oleh karena itu, guru perlu memiliki kemampuan mendisain Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berkarakter dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter bangsa ke dalam Silabus dan Rencana Program Pembelajaran (RPP) dan keteladanan hidup.

2. Pemahaman tentang Pendidikan Karakter Bangsa 2.1. Pendidikan karakter bangsa Pendidikan karakter bangsa adalah pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif. Pendidikan karakter dilaksanakan secara progmatik dan terknis. Secara programatik, pendidikan karakter bangsa adalah usaha bersama semua guru di sekolah, melalui semua mata pelajaran dalam membina dan mengembangkan nilai-nilai yang menjadi karakter bangsa bagi anak didik. Pembinaan dan pengembangan itu melalui proses aktif anak didik dalam belajar. Sementara itu, secara teknis, pendidikan karakter bangsa diartikan sebagai proses internalisasi serta penghayatan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang dilakukan peserta didik secara aktif di bawah bimbingan guru, kepala sekolah dan tenaga kependidikan serta diwujudkan dalam kehidupannya di kelas, sekolah dan masyarakat.

pengembangan nilai – nilai ini harus dilaksnakan secara berkelanjutan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum. Misalnya, nilai dari sejarah adalah memberikan pencerahan mengenai siapa diri bangsanya di masa lalu yang menghasilkan dirinya dan bangsanya di masa kini. Selain itu, berkaitan dengan nilai tempat diri dan bangsanya hidup adalah nilai dari geografi, nilai yang hidup di masyarakat (antropologi), sistem sosial yang berlaku dan sedang berkembang (sosiologi), sistem ketatanegaraan, pemerintahan dan politik (tatanegara/kewarganegaraan/wawasan kebangsaan), dan sebagainya. 2.3. Fungsi pendidikan karakter bangsa Fungsi pendidikan karakter bangsa adalah: ¡

Pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi pribadi berperilaku baik; yang mencerminkan budaya dan karakter bangsa (fungsi pengembangan)

¡

Memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat (fungsi perbaikan)

¡

Untuk menyaring budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat (fungsi penyaring)

2.4.Tujuan pendidikan karakter bangsa Tujuan pendidikan karakter bangsa adalah: ¡

Mengembangkan potensi nurani peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa

¡

Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius

¡

Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa

¡

Mengembangkan kemampuan peser ta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan, dan

¡

Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).

2.2. Landasan pedagogis pendidikan karakter bangsa Pendidikan adalah suatu upaya sadar untuk mengembangkan potensi peserta didik. Usaha sadar itu tidak boleh dilepaskan dari lingkungan peserta didik berada terutama lingkungan budayanya, karena peserta didik hidup tak terpisahkan dalam lingkungannya dan bertindak sesuai kaidah-kaidah budayanya. Pendidikan yang tidak dilandasi oleh prinsip itu akan menyebabkan peserta didik tercerabut dari akar budayanya. Ketika hal ini terjadi, maka mereka tidak akan mengenal budayanya dengan baik sehingga ia menjadi orang “asing� dalam lingkungan budayanya bahkan orang yang tidak menyukai budayanya. Oleh sebab itu perlu ada pijakan pedagogis bagi pendidikan karater, yaitu nilai-nilai dan kebajikan yang menjadi dasar budaya dan karakter bangsa. Proses

19


Spirit Sukma 2.5. Nilai-nilai dalam pendidikan karakter bangsa Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter bangsa diidentifikasi dari sumber-sumber berikut ini:Pertama, agama, maksudnya nilai-nilai pendidikan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama masingmasing. Kedua, Pancasila. Negara kesatuan RI ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan yang disebut Pancasila. Pendidikan budaya dan karakter bangsa bertujuan mempersiapan peserta didik menjadi warga Negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sebagai warga Negara.Ketiga, budaya. Tidak dapat disangkal bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat itu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antaranggota masyarakat itu. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan karakter bangsa.Keempat, tujuan pendidikan nasional yang memuat nilai-nilai kemanusiaan yang harus dimiliki oleh warga negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan pendidikannasional adalah sumber yang paling operasional dalam pengembangan pendidikan karakter bangsa. Berdasarkan keempat sumber nilai itu, teridentifikasi delapan belas nilai untuk pendidikan karakter bangsa melalui sekolah, yakni nilai religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cintai damai, gembar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab. Delapan belas nilai ini telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai kebijakan pembangunan nasional tentang pendidikan karakter bangsa tahun 2010-2025. Meskipun demikian, ada dua belas nilai universal yang diharapkan menjadi nilai utama yang harus dikembangkan di setiap sekolah, yaitu cinta kasih, penghargaan, kedamaian, toleransi, kejujuran, kerendahan hati, kerja sama, tanggung jawab, kesederhanaan, kebebasan, kebahagiaan, persatuan. Baik delapan belas nilai yang ditetapkan pemerintah maupun dua belas nilai universal dalam pelaksanaannya perlu diintegrasikan dan secara khusus melalui sekolah, integrasi dapat dilakukan ke dalam setiap mata pelajaran oleh guru.

3. Strategi Pembangunan Karakter Bangsa Melalui Pendidikan Pendidikan karakter adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana serta proses

20

pemberdayaan potensi dan pembudayaan anak didik guna membangun karakter pribadi dan/atau kelompok yang unik-baik sebagai warga negara. Hal itu diharapkan mampu memberikan kontribusi optimal dalam mewujudkan masyarakat yang berketuhanan yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, berjiwa persatuan Indonesia, berjiwa kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pendidikan merupakan tulang punggung strategi pembentukan karakter bangsa. Strategi pembangunan karakter bangsa melalui pendidikan dapat dilakukan dengan pendidikan, pembelajaran, dan fasilitasi (keteladanan dan pembiasaan). Dalam konteks makro, penyelenggaraan pendidikan karakter mencakup keseluruhan kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian mutu yang melibatkan seluruh unit utama di lingkungan pemangku kepentingan pendidikan nasional. Peran pendidikan sangat strategis karena merupakan pembangun integrasi nasional yang kuat. Selain dipengaruhi faktor politik dan ekonomi, pendidikan juga dipengaruhi faktor sosial budaya, khususnya dalam aspek integrasi dan ketahanan sosial. Disadari bahwa pembangunan karakter bangsa dihadapkan pada berbagai masalah yang sangat kompleks. Perkembangan masyarakat yang sangat dinamis sebagai akibat dari globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi tentu merupakan masalah tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Globalisasi dan hubungan antarbangsa sangat berpengaruh pada aspek ekonomi (perdagangan global) yang mengakibatkan berkurang atau bertambahnya jumlah kemiskinan dan pengangguran. Pada aspek sosial dan budaya, globalisasi mempengaruhi nilai-nilai solidaritas sosial seperti sikap individualistik, materialistik, hedonistik yang seperti virus akan berimplikasi terhadap tatanan budaya masyarakat Indonesia sebagai warisan budaya bangsa seperti memudarnya rasa kebersamaan, gotong royong, melemahnya toleransi antarumat beragama, menipisnya solidaritas terhadap sesama, dan itu semua pada akhirnya akan berdampak pada berkurangnya rasa nasionalisme sebagai warga negara Indonesia. Akan tetapi, dengan menempatkan strategi pendidikan sebagai modal utama menghalangi virus-virus penghancur tersebut, masa depan bangsa ini dapat diselamatkan. Secara makro pengembangan karakter dibagi dalam tiga tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi hasil. Pada tahap perencanaan dikembangkan perangkat karakter yang digali, dikristalisasikan, dan dirumuskan dengan menggunakan berbagai sumber, antara lain pertimbangan (1) filosofis: Pancasila, UUD


Spirit Sukma 1945, dan UU N0.20 Tahun 2003 beserta ketentuan perundang-undangan turunannya; (2) teoretis: teori tentang otak, psikologis, pendidikan, nilai dan moral, serta sosial-kultural; (3) empiris: berupa pengalaman dan praktik terbaik, antara lain tokoh-tokoh, satuan pendidikan unggulan, kelompok kultural, dll. Pada tahap implementasi dikembangkan pengalaman belajar dan proses pembelajaran yang bermuara pada pembentukan karakter dalam diri siswa. Proses ini dilaksanakan melalui proses pemberdayaan dan pembudayaan sebagaimana digariskan sebagai salah satu prinsip penyelenggaraan pendidikan nasional. Proses ini berlangsung dalam tiga pilar pendidikan yakni dalam satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Dalam masing-masing pilar pendidikan akan ada dua jenis pengalaman belajar yang dibangun melalui dua pendekatan yakni intervensi dan habituasi. Dalam intervensi dikembangkan suasana interaksi belajar dan pembelajaran yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan pembentukkan karakter dengan menerapkan kegiatan yang terstruktur. Agar proses pembelajaran tersebut berhasil guna, peran guru sebagai sosok panutan sangat penting dan menentukan. Sementara itu dalam habituasi diciptakan situasi, kondisi dan penguatan yang memungkinkan siswa pada satuan pendidikannya, di rumahnya, di lingkungan masyarakatnya membiasakan diri berperilaku sesuai nilai dan menjadi karakter yang telah diinternalisasi dan dipersonalisasi dari dan melalui proses intervensi. Proses pembudayaan dan pemberdayaan yang mencakup pemberian contoh, pembelajaran, pembiasaan, dan penguatan harus dikembangkan secara sistemik, holistik, dan dinamis. Pelaksanaan pendidikan karakter dalam konteks makro kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia, merupakan komitmen seluruh sektor kehidupan, bukan hanya sektor pendidikan nasional. Keterlibatan aktif dari sektor-sektor pemerintahan lainnya, khususnya sektor keagamaan, sosial, pemerintahan, komunikasi dan informasi, kesehatan, hukum dan hak asasi manusia, serta pemuda dan olahraga juga sangat dimungkinkan. Pada tahap evaluasi hasil, dilakukan asesmen program untuk perbaikan berkelanjutan yang dirancang dan dilaksanakan untuk mendeteksi aktualisasi karakter dalam diri siswa sebagai indikator bahwa proses pembudayaan dan pemberdayaan karakter itu berhasil dengan baik, menghasilkan sikap yang kuat, dan pikiran yang argumentatif.

optimal memanfaatkan dan memberdayakan semua lingkungan belajar yang ada untuk menginisiatif, memperbaiki, menguatkan, dan menyempurnakan secara terus-menerus proses pendidikan karakter di satuan pendidikan. Satuan pendidikan yang akan melakukan upaya sungguh-sungguh dan senantiasa menjadi garda depan dalam upaya pembentukan karakter manusia Indonesia yang sesungguhnya. Pengembangan karakter dibagi dalam empat pilar, yakni kegiatan belajar-mengajar di kelas, kegiatan keseharian dalam bentuk pengembangan budaya satuan pendidikan; kegiatan pengembangan diri, serta kegiatan keseharian di rumah dan masyarakat. Pendidikan karakter dalam kegiatan belajarmengajar di kelas, dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan integrasi dalam semua mata pelajaran. Khusus, untuk materi Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan – karena memang misinya adalah mengembangkan nilai dan sikap – pengembangan karakter harus menjadi fokus utama yang dapat menggunakan berbagai strategi/metode pendidikan karakter. Untuk kedua mata pelajaran tersebut, karakter dikembangkan sebagai dampak pembelajaran dan juga dampak pengiring. Sementara itu mata pelajaran lainnya, yang secara formal memiliki misi utama selain pengembangan karakter, wajib mengembangkan rancangan pembelajaran pendidikan karakter yang diintegrasikan kedalam substansi/kegiatan mata pelajaran sehingga memiliki dampak pengiring bagi berkembangnya karakter dalam diri siswa. Lingkungan satuan pendidikan perlu dikondisikan agar lingkungan fisik dan sosial-kultural satuan pendidikan memungkinkan siswa bersama dengan warga satuan pendidikan lainnya terbiasa membangun kegiatan keseharian di satuan pendidikan yang mencerminkan perwujudan karakter yang dituju. Pola ini ditempuh dengan melakukan pembiasaan dan memberikan keteladanan tentang nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah olehguru (pendidik) sebagai pemberi teladan. 4.1. Guru Memberikan Teladan Tentu yang diharapkan guru dapat menjadi teladan dalam semua nilai yang diajarkan mereka. Tetapi dalam situasi pendidikan Indonesia sekarang ini, yang sedang membangun nilai budaya demokrasi dan penghargaan terhadap manusia, ada beberapa nilai yang kiranya perlu ditekankan dalam keteladanan guru. Beberapa nilai itu antara lain sebagai berikut:

Nilai demokrasi. Guru diharapkan menjadi teladan dalam bersikap demokrasi seperti sikap tidak diskriminatif, sikap menerima usulan dari siswa, terbuka terhadap gagasan siswa, sikap menerima perbedaan pendapat dengan siswa ataupun orang lain, tidak otoriter dan Pendidikan karakter dalam konteks mikro, berpusat main kuasa, tidak melakukan penindasan terhadap siswa pada satuan pendidikan secara holistik. Satuan terutama siswa yang bersalah atau lemah. pendidikan merupakan sektor utama yang secara Nilai kejujuran. Guru diharapkan berlaku jujur

4.

Peran Strategis Guru dalam M e m b a n g u n Pe n d i d i k a n Karakter Bangsa di sekolah

21


Spirit Sukma dalam mengajar, dalam mengoreksi pekerjaan siswa, dalam memberikan nilai kepada siswa. Sikap terbuka bila siswa protes terhadap penilaian yang dianggap tidak tepat, berani menerima kesalahan bila memang bersalah dan tidak menutupi dengan main topeng atau menyalahkan siswa. Guru diharapkan jujur dalam tingkah laku terutama berkaitan dengan penggunaan uang dan harta benda sekolah dan siswa. Guru juga harus jujur dalam penelitian ilmu pengetahuan, dalam pencarian data dan analisis, tidak mencontek milik orang lain. Nilai disiplin. Guru diharapkan berlaku disiplin sendiri yang terlihat dalam ketepatan waktu mengajar, koreksi, menaati peraturan sekolah, perencanaan kurikulum dan bahan, dll. Penghargaan hak asasi orang. Guru diharapkan dapat menjadi teladan dalam menghargai orang lain baik dalam bicara maupun dalam tingkah lakunya. Hak anak dihargai, hak masyarakat dihargai. Hak anak didik untuk mendapatkan penjelasan dipenuhi; kebebasan anak didik dalam berpendapat dihargai. Teladan dalam keterbukaan dan kerjasama. Guru diharapkan juga menjadi teladan dalam sikap keterbukaan terhadap siswa, terhadap gagasan orang lain, terhadap nilai orang baru. Juga teladan dalam kerjasama dengan rekan guru ataupun siswa dan kepala sekolah. Bila guru sendiri sering terlibat konflik dan saling bersaing secara tidak fair sehingga sulit bekerjasama, maka akan mempersulit anak didik untuk saling bekerjasama dengan teman-teman. Rasionalitas. Guru juga diharapkan menjadi teladan dalam penilaian dan pemikiran rasional. Tidak mudah emosi dalam penilaian banyak kasus, tetapi tetap tenang dan rasional dengan segala alasan yang dapat diungkapkan. Pemikiran obyektif menjadi penting disini. Dalam membahas banyak kasus selalu mengetengahkan alasan yang masuk akal, obyektif dan bukan berdasarkan emosi atau rasa senang dan tidak senang yang sangat subyektif. Hidup bermoral dan beriman. Hal yang juga ingin dilihat siswa adalah apakah gurunya sungguh bermoral dan beriman akan Allah. Tindakan seperti pelecehan seksual, korupsi, penipuan, jelas tidak diharapkan terjadi pada guru. Siswa juga ingin mengerti apakah gurunya memang percaya akan Allah yang dapat dilihat dari tingkah laku mereka terhadap Sang Pencipta, sesama, dan alam semesta ini. Nilai sosial. Guru yang asosial, egois dan hanya mencari senang dan enak serta keinginan sendiri, jelas merupakan teladan yang tidak baik bagi siswa. Kepekaan guru terhadap siswa yang sakit, teman guru yang sakit, peristiwa buruk yang dihadapi masyarakat, menjadi teladan kepekaan bagi siswa juga. Bila gurunya kurang

22

memperhatikan siswa-siswanya terlebih yang menghadapi persoalan, maka akan lebih sulit mengajarkan tentang kepekaan terhadap orang kecil. Nilai tanggungjawab. Siswa akan sangat dibantu bila melihat gurunya sungguh bertanggungjawab terhadap tugasnya sebagai pendidik dan pengajar. Bila siswa dapat merasakan bahwa gurunya gurunya menyiapkan dengan baik bahan, memperlakukan siswa secara baik, ikut prihatin terhadap terhadap apa yang dialami siswa, mereka akan sangat terbantu. Bila guru lari dari tanggungjawab, siswa akan merasakan akibatnya. Nilai daya juang. Banyak siswa sekarang ini kurang daya juang. Mereka mudah menjadi putus asa bila menghadapi kesulitan dalam belajar dan dalam berteman. Guru yang punya daya juang besar, yang dapat dilihat dan dirasakan anak didik, akan membantu anak didik memperteguh daya juang mereka. Semangat untuk terus belajar. Guru perlu memberikan teladan dalam semangat untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Dengan terus belajar maka pengetahuannya akan bertambah dan ini kentara dalam proses pembelajaran membantu anak didik. Guru yang selalu mengajar sama terus akan dinilai anak didik sebagai tidak pernah belajar lagi.  Ada berbagai cara untuk mengungkapkan keteladanan guru atau bagaimana mereka dapat semakin menjadi teladan penghayatan nilai-nilai bagi siswa. Beberapa tindakan berikut dapat memperluas wacana keteladanan guru bagi siswa.Pertama, Sikap yang konsekuen dengan yang diajarkan. Guru sebelum mengajarkan suatu nilai kepada siswa perlu berefleksi bagaimana ia sendiri menjalankan nilai itu dalam hidup. Dengan berefleksimaka guru dapat melihat sendiri, apakah dia melakukan tindakan itu atau tidak dan kesulitannya dimana. Dengan demikian dia dapat membantu siswa secara nyata dan sekaligus belajar dari hidupnya sendiri untuk lebih maju. Misalnya, mau mengajarkan kejujuran. Bertanya sendiri, apakah dalam hidupnya selalu jujur? Bagaimana ia berjuang dalam kejujuran? Apakah sulit atau mudah? Apa yang menyulitkan dan bagaimana ia mengusahakan untuk terus maju? Bagaimana ia dapat konsekuen dengan nilai itu. Kedua, sikap tidak main topeng. Banyak guru main topeng berhadapan dengan siswa. Berpura-pura baik, ternyata sebenarnya tidak baik. Guru perlu berlatih untuk menerima diri apa adanya dengan segala kekurangan dan kelemahannya. Bila memang bersalah berani mengakui di depan siswa; bila tidak tahu ya bilang tidak tahu dan tidak mengatakan mengerti. Kebanyakan siswa terkesan bila gurunya berani mengakui kesalahannya di depan siswa, apalagi berani minta maaf atas kesalahan itu. Ketiga, sikap yang selalu mengembangkan


Spirit Sukma ilmu pengetahuan. Guru hanya dapat membantu siswa terus belajar mengembangkan ilmu pengetahuan, bila guru sendiri terus belajar. Hal ini nampak bila guru hanya mengajarkan yang ada di buku, dianggap tidak menambah lagi. Maka penting penambahan pengetahuan yang nampak pada masukan baru dari guru-guru.

secara terus menerus.Tentang bagaimana nilai-nilai budi pekerti dan karakter, adalah tugas moral yang harus dilakukan guru. Bagi anak didik, penanaman  nilai akhlak dan karakter adalah penting. Karena sesungguhnya, itulah pondasi untuk terbentuknya kecerdasan dan kemampuan-kemampuan yang lain.

4.2. Pengintegrasian Pendidikan Karakter Bangsa di dalam Mata Pelajaran oleh Guru

Bagi guru, sebuah pilihan profesi dalam hidupnya, adalah sebuah ikhtiar penyerahan dan pengabdian diri secara totalitas, full dedikasi dan maksimal, serta bertanggung jawab atas tugas profesi yang diembannya sebagi amanat. Dalam proses pendidikan karakter, tentu bukan tindakan sepihak. Guru adalah instrumen kunci, dalam memfasilitsi proses  pendidikan tersebut. Maka dengan demikian, sosok gurupun harus berkarakter. Bohlin (2001), menyebutkan tujuh kompetensi yang harus dimiliki oleh guru atau pendidik berkarakter yakni; (1) pendidik harus menjadikan dirinya sebagai contoh berkarakter yang baik dan komit dalam menegakkan kebenaran, (2) pendidik harus mampu menjadikan pembentukan karakter peserta didik sebagai prioritas profesionalnya, (3) pendidik harus sering mengadakan diskusi tentang  isu-isu moral dengan anak didiknya (4) pendidik harus dapat menyampaikan isu-isu tentang etika secara diplomatik,(5) pendidik harus mengajarkan empati terhadap orang lain, (6) pendidik harus mampu menciptakan suasana kelas yang bernuansa karakter dan penghormatan untuk semua dan, (7) pendidik aktif melakukan aktivitas yang mempraktekkan nilai-nilai karakter, baik di sekolah maupun di rumah. Bahwa guru adalah orang tua bagi anak didik di sekolah, juga harus dipahami secara dalam. Maka guru berkarkater, adalah guru yang selalu memberikan dan membawa angin kebaikan bagi anak didik. Dari tuntutan kewajiban pendidikan karakter dalam kontek di atas, maka seorang guru harus memperlakukan anak didiknya dengan kasih sayang yang total, adil dan hormat. Seorang guru juga harus memberikan perhatian khusus secara individual terhadap masalah setiap muridnya. Guru tidak hanya bergaul, berinteraksi dengan salah satu aspek perilaku anak didik saja, tetapi dengan keseluruhan keadaan yang dimiliki oleh anak didik baik kekurangan dan kelebihannya ataupun perbedaan antar anak didik (students defferences). Kesadaran dan kerelaan menerima kenyataan bahwa interaksi dengan anak didik sebagai suatu keseluruhan akan menumbuhkan perhatian (concern), rasa peduli (caring), rasa berbagi (sharing), dan kebaikan yang tulus (kindness) adalah sikap penting dan bijak.

Sejak tahun 2006 Kemendiknas memberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum ini memberi peluang yang besar kepada setiap satuan pendidikan untuk mendesain kurikulum sekolah. Maka ketika diserukan untuk membangun pendidikan karakter bangsa, ada ruang dalam KTSP untuk mengimplementasikan pendidikan karakter bangsa dengan pendekatan integrasi ke dalam setiap mata pelajaran. Cara yang ditempuh: — Mengkaji SK-KD — Mengkaji keterkaitan antara SK-KD dengan nilai dan indikator yang akan dikembangkan. — Mencantumkan nilai-nilai karakter bangsa dalam silabus dan diuraikan dalam RPP. — Mengembangkan proses pembelajaran — Memberikan bantuan kepada anak didik dalam menginternalisasi nilai-nilai dan prilaku. Guru, tentunya melalui suatu kagiatan pelatihan penyusunan KTSP harus memuat pengembangan nilai-nilai pendidikan karakter bangsa ke dalam setiap mata pelajaran. Upaya pengintegrasian pendidikan karakter bangsa pada setiap mata pelajaran didesain dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mempunyai indikator karakter. RPP itu digunakan dalam setiap action classroom. Untuk mengukur sejauh mana pencapaian indikator karakter bangsa yang telah ditetapkan dalam RPP, guru melakukan Penilaian Berbasis Kelas (BPK). Format penilaian pencapaian indikator karakter dalam proses pembelajaran bersifat kuantitatif bukan kualitatif yang langsung berkorelasi dengan nilai kelakuan dan kerajinan dalam rapor. Penilaian dilakukan secara terus menerus, setiap kesempatan guru berada di kelas atau di sekolah. Model anecdotal record (catatan yang dibuat guru ketika melihat adanya perilaku yang berkenaan dengan nilai yang dikembangkan) selalu dapat digunakan guru. 4.3. Sekolah membutuhkan Guru Berkarakter Pada penyelenggaraan pendidikan formal, faktor guru sangat memiliki peran central dan strategis. Sebuah upaya menghindari demoralisasi akhlak generasi bangsa, melalui pendidikan dan penanaman tentang nilai budi pekerti

Guru juga harus mampu memposisikan diri sebagi panutan dan tokoh moral bagi anak didiknya. Ketika guru mengajarkan tentang nilai  kejujuran kepada muridnya, maka sosok guru itu adalah teladan kejujuran. Artinya, dalam konteks pendidikan karakter yang tidak basabasi, guruharus lebih dahulu memahami,merasakan dan melaksnakan  nilai-nilai karakter itu dengan sebaikbaiknya.Apakah anda, guru berkarakter itu?

23


Spirit Sukma 5. Penutup Peran guru tetap tak tergantikan dalam seluruh proses pendidikan di sekolah. Dalam proses pendidikan karakter, guru adalah instrumen kunci, dalam memfasilitsi proses  pendidikan tersebut. Untuk itu, guru harus terlebih dahulu berkarakter daripada peserta didik.

Koesoema, D. A., 2007, Pendidikan Karakter : Strategi mendidik anak di zaman modern, Jakarta: PT. Grasindo. Lickona, T., 1991, Educating For Character, New York: Bantam. Munandir. (2001) Ensiklopedia Pendidikan. Malang: UM Press Pemerintah RI (2010) “Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa 2010-2025” Bahan Workshop KTSP, Pengembangan Bahan Ajar dan Media, Depdinas 2007 Wendie Razik Sutikno, MDM (2011), Pelatihan Penyususnan KTSP 22

Referensi

Langkah, Maumere.

Bahan Workshop KTSP, Pengembangan Bahan Ajar dan Media, Depdinas 2007 Bobbi DePorte & Mike Hernacki. (2000) Quantum Learning Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Kaifa. Bandung. Bokowitz, M., Caharacter education information handbook & Guide. North Carolina Dept. of Public Instruction. Lihat, http://www. ncpublicschools.org/charactereducation/handbook/pdf/content.pdf. Brooks, B. D., Mark E. Kann. 1993.“What makes Character Education Programs Works?” dalam Education Leadership,Alexandria,VA,Association for Supervision and Curriculum Development, Nov. 1993. Depdiknas. (2002) Pedoman Pembangunan Karakter Bangsa di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktoral Pendidikan Lanjutan Pertama. Jakarta. Depdiknas. (2003) Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktoral Pendidikan Lanjutan Pertama. Jakarta. Depdiknas. (2009) Draf Pedoman Pengembangan Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa . Depdiknas. Jakarta. Drost, J. 1999. Proses Pembelajaran sebagai Proses Pendidikan, Jakarta: PT. Grasindo. Hasibuan dan Moedjino. (1996) Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remadja Karya. Indonesia (2005). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Kemendiknas(Balitbang Puskur), 2010, Bahan pelatihan pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa, Jakarta.

Pencanangan Sinode I Keuskupan Maumere, di Gereja Katedral St. Yoseph Maumere, Minggu Pentekosta, 27 Mei 2012

24


Gema Sinode

SINODE KEUSKUPAN PERSPEKTIF KANONIK (Bagian 2) SINODE KEUSKUPAN DALAM PERSPEKTIF KODEKS 1983

Jacob Herin Anggota Dewan Redaksi Sukma

Kodeks Baru memiliki 9 kanon khusus yang berbicara tentang sinode keuskupan (Kan. 460-468). Dia mempertahankan beberapa ketetapan Kodeks 1917 sambil menambah beberapa elemen baru, seperti: melibatkan peran awam dan memberikan fakultas kepada Uskup diosesan untuk menetapkan waktu penyelenggaraan sinode. Namun, norma kodeks baru juga mempunyai keterbatasan, seperti: kurang menonjolkan peran tradisional sinode keuskupan sebagai organ yang membantu Uskup diosesan dalam kepemimpinan legislatif dan tidak menekankan pentingnya tahap persiapan sinode. Karena beberapa kelemahan ini, maka pada tanggal 23 Oktober 1997, Kongregasi para Uskup dan Evangelisasi Bangsa-bangsa mengeluarkan instruksi baru tentang sinode keuskupan1. Dengan demikian, meskipun perspektif dari uraian berikut terbatas pada legislasi kodeks 1983, tetapi tambahan yang signifikan dari Instruksi 1997 juga perlu disisipkan. 3.1. Hakikat dan Tujuan Sinode Keuskupan (Kan. 460) Kanon 460- Sinode keuskupan adalah himpunan imam-imam dan orang-orang beriman kristiani yang terpilih dari Gereja partikular, untuk membantu Uskup diosesan demi kesejahteraan seluruh komunitas diosesan, menurut norma kanonkanon berikut. Norma kanon 460 berbicara tentang tiga hal penting:. Pertama tentang pengertian dan jenis-jenis sinode. Sinode berasal dari kata Latin synodus yang berarti: dewan imam, sidang Gereja (para Uskup, imam), sidang para dewa2. Kata sinode ini hampir sama artinya dengan concillium (konsili), conventus (pertemuan). Karena itu, jangan heran jika di tempat tertentu, sinode keuskupan itu mengambil nama lain, seperti Musyawarah Pastoral (Muspas) atau General Assembly (Rapat Umum Keuskupan). Isi atau mekanisme Muspas atau Pertemuan Umum Keuskupan itu bisa saja sama dengan sinode keuskupan. Akan tetapi, mereka kurang berkharakter kanonik karena nomenclatura-nya tidak dikenal dan diatur dalam norma hukum kanonik. Peserta dan lokus turut menentukan tipe sinode. Jika para peserta sinode itu terdiri dari para Uskup, maka dia disebut sinode para Uskup. Dia dinamakan sinode keuskupan jika pesertanya terdiri dari para klerus dan awam dalam suatu Gereja partikular. Lokus atau ruang lingkup penyelenggaraan sinode turut melahirkan jenis sinode, seperti: sinode keuskupan, sinode para Uskup Eropa, Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Kedua tentang hakitat sinode keuskupan: Sinode keuskupan merupakan suatu himpunan atau perkumpulan umat Allah. Umat Allah yang dimaksud adalah klerus dan awam. Pemahaman ini sangat sesuai dengan paham Vatikan II tentang umat Allah dan mengenai keuskupan sebagai bagian atau porsi dari umat Allah. Dia tidak melihat sinode keuskupan sebagai perkumpulan eksklusif para klerus.

25


Gema Sinode Ketiga, tujuan sinode keuskupan: Kanon 460 secara tegas mendeskripsikan tujuan utama sinode, yakni: membantu Uskup diosesan demi kesejahteraan seluruh komunitas diosesan. Dalam konteks ini, sinode keuskupan merupakan suatu organ untuk membantu Uskup diosesan. Dia menjadi medium bagi klerus untuk menolong Uskup dan menjadi sarana konkrit bagi kaum awam untuk melaksanakan hak dan kewajibannya membangun tubuh Kristus (cf. Kan. 208), memajukan perkembangan Gereja (cf. Kan. 210), mengungkapkan keperluan-keperluan rohani mereka (cf. Kan. 212, ยง2) dan menyampaikan kepada para gembala pendapat mereka tentang hal-hal yang berpautan dengan kebaikan Gereja (cf. Kan. 212, 3). Tujuan sinode yang ditetapkan dalam kanon 460 (demi kesejahteraan seluruh komunitas keuskupan) mempunyai implikasi pastoral yang luas3. Dia kurang menekankan peran tradisional sinode keuskupan sebagai organ konsultatiflegislatif tertinggi di keuskupan. Karena penekanan pada tujuan yang terlampau luas, maka arah sinode keuskupan menjadi kabur. Di satu pihak sinode dipergunakan sebagai sarana untuk merancangkan, menetapkan strategi dan visi keuskupan dan tidak mempunyai kaitan dengan aktivitas legislasi partikular. Pada pihak lain, aktivitas sinode terlalu dikonsentrasikan (sentralisasi) pada personil keuskupan dengan komisi khusus yang menyiapkan agenda dan teks-teks final yang mengarah kepada legislasi partikular tanpa memperhatikan isu-isu sentral yang berkembang di tengah umat. Dua ekstrim ini coba dijembatani oleh Instruksi 1997 dengan mengemukakan dua arah dasar sinode keuskupan, yakni: mengimplementasikan doktrin Gereja (ajaran Vatikan II dan norma Kodeks baru) ke dalam konteks keuskupan dan mencari strategi pastoral penanganan isu-isu sentral di tengah umat. Untuk mengeksplisitasi tugas membantu Uskup diosesan dalam fungsi kepemimpinan legislatif, Instruksi tentang sinode keuskupan pada tahun 1997, mendaftarkan norma-norma umum Kodeks 1983 yang perlu diimplementasikan ke konteks Gereja partikular. Dalam bidang pelaksanaan tugas mengajar (munus docendi), diperlukan penerapan konkrit dari ketetapan mengenai ekumenisme (cf. Kan. 755, ยง2), kotbah dan homili (Kan. 772, ยง1; 764, 770, 771), katekese (Kan. 775, ยง1; 777; 780), koordinasi aktivitas missioner (Kan. 782; 790); pendidikan katolik (cf. Kan. 804, ยง1; 806), komunikasi sosial (cf. Kan. 806). Norma-norma umum berkaitan dengan tugas menguduskan (munus sanctificandi) yang perlu dijabarkan adalah: interkomuni (cf. Kan. 844),

26

penyimpanan sakramen mahakudus di rumah-rumah pribadi atau kapela-kapela (cf. Kan. 935); pentakhtaan sakramen mahakudus oleh pelayan tak tertahbis (cf. Kan. 943), prosesi (cf. Kan. 944), absolusi umum (cf. Kan. 961, ยง2), pelayanan bersama perminyakan suci untuk beberapa orang sakit (cf. Kan. 1002), pelayanan ibadat hari minggu tanpa imam (cf. Kan. 1248, ยง2). Normanorma umum berkaitan dengan tugas memimpin (munus regendi atau pascendi) yang perlu diaplikasikan pada situasi setempat, misalnya: norma-norma tentang para kanonik Gereja katedral (cf. Kan. 503; 505 dan 510,ยง3), pembentukan dewan pastoral keuskupan dan penyusunan statutanya (cf. Kan. 511 dan 513, ยง1), kura pastoral paroki-paroki tanpa pastor paroki (cf. Kan. 533, ยง3); hak dan kewajiban pastor pembantu (cf. Kan. 548); kewenangan para deken (cf. Kan. 553; 555); pembinaan lanjut para klerus (cf. Kan. 276; 279; 283), kesejahteraan para imam (cf. Kan. 281), kewajiban selibat (cf. Kan. 277); kooperasi antara para imam dalam keuskupan (cf. Kan. 275), persoalan keuangan dalam keuskupan (cf. Kan. 1262), kolekte khusus demi kepentingan Gereja (cf. Kan. 1265-1266); persyaratan khusus konstitusi dan penerimaan fundasi saleh (cf. Kan. 1304,ยง2). Sedangkan isu-isu penting di tengah umat yang perlu diupayakan strategi dan pedoman penanganan pastoralnya, seperti: kasus bunuh diri, larangan penerimaan komuni kudus bagi pasangan cerai-nikah atau bagi para koruptor publik, soal perdagangan manusia, aborsi, kasus pedofili, dan peningkatan produksi pangan lokal, dan sebagainya4. (bersambung) ______________ 1 Congregation for Bishops and Congregation for the Evangelization of Peoples, Instruction on Diocesan Synods , Origins 27 (Oktober 23, 1997),326

Dr. Th. Verhoeven, Kamus Latin Indonesia (Ende: Penerbit Nusa Indah, 1969), p. 1297 2

3 Barbara Anne Cusack, โ€˜The Internal Ordering of Particular Churches, Chapter I The Diocesan Synod, dalam John P. Beal, James A. Coriden, Thomas J. Green, New Commentary on the Code of Canon Law (Bangalore: Theological Publications in India, 2004), pp. 610- 666, khususnya pp. 610-621. 4

Instruction on Diocesan Synods, Ibid.


Inspirasi Sukma

PEMBERDAYAAN FUNGSIONARIS PASTORAL “YANG DIBAPTIS”: QUO VADIS ? Refleksi kecil atas 6 tahun KUM dan 50 tahun pasca Konsili Vatikan II

1. Pra-kata : Quo vadis? Quo vadis Domine? Kemana pergi Tuan? Pertanyaan singkat Petrus - si Wadas untuk Sang Guru. Dan kepadanya diberikan jawaban tak terduga, “Eo Romam iterum crucifigi” – “Aku mau ke Roma untuk disalibkan kedua kalinya”. Suatu jawaban tantangan, yang melahirkan pembaruan radikal bagi Petrus sang Batu Karang yang saat itu sedang ciut nyali-nya berhadapan dengan penyiksaan yang ditanggung komunitas Kristen dibawa penindasan Nero kala itu.

Rm. Yoris Role, Pr Imam Projo Keuskupan Maumere, Sedang menajalankan Studi Pastoral di Roma

Quo vadis Domine? Pertanyaan kecil di ujung setapak pelarian diri itu, lalu menghantar Petrus ke tiang salib pertobatan. Dengannya ia rela disalibkan sebagaimana Sang Guru, malah dengan lebih radikal: kepala ke bawah, menjuntai tanah. Quo vadis Domine? Mungkin juga menjadi pertanyaan bagi kripra pastoral yang sedang kita jalani. Quo vadis pemberdayaan fungsionaris pastoral kita? Sebutan atau panggilan “fungsionaris pastoral” sudah bergema di se-antero wilayah Keuskupan Agung Ende: Bajawa, Ende, Maumere, sejak tahun 2000 ketika KAE menyelenggarakan MUSPAS IV di Maumere (kala itu Maumere masih merupakan bagian tak terpisahkan dari KAE). Sebutan itu sejalan dengan gencarnya KAE menjadikan KUB (Komunitas Umat Basis) sebagai focus dan lokus karya pastoral pemberdayaan. Gaung “pemberdayaan” makin nyaring terasa ketika KAE kembali menggelar MUSPAS ke-V, 2005 di Mataloko. Dari sana berkumandang seruan “Pemberdayaan KUB dan Fungsionaris Pastoral” sebagai ujung tombak karya pastoral pembebasan integral di seluruh wilayah KAE. MUSPAS V lalu membidani kelahiran sebuah sebutan baru bagi para fungsionaris pastoral, dengan memakai imbuhan “ter-” untuk membedakan dua golongan/kelompok para fungsionaris pastoral, demi menghindari penggunaan kata “awam” yang dinilai bernuansa negatif. Maka lahirlah sebutan “Fungsionaris pastoral ter-baptis dan fungsionaris pastoral ter-tahbis.” (penulisan imbuhan “ter-” pada kalimat di atas sengaja dipisahkan untuk menunjukan perbedaan pengertiannya - red-.) Setelah kurang lebih enam tahun setelah MUSPAS V dan Maumere telah menjadi Keuskupan sendiri, mandiri, terpisah dari Ende, – meskipun “ia lahir dari ranting yang sama” – Maumere toh telah menjadi sebuah keuskupan yang otonom dengan berbagai persoalan pastoralnya sendiri. Dan KAE pun telah menyelenggarakan MUSPAS-nya yang ke-VI (tentu kali ini tanpa Maumere), sebutan fungsionaris pastoral ter-baptis dan ter-tahbis, tetap menggema di dua wilayah keuskupan ini. Pertanyaan yang kini lahir adalah apa benar pemakaian imbuhan “ter-” pada kalimat di atas bisa mengeliminasi kesan negatif pada kata “awam”? Atau malah melahirkan sebuah pemahaman yang salah kaprah tentang

27


Inspirasi Sukma makna imbuhan “ter-” di dalam kaidah berbahasa Indonesia?

2. Terminologi : Fungsionaris Pastoral Awam,Terbaptis,Tertahbis: a.

Awam :

Secara etimologis istilah awam ditujukan kepada semua orang yang disebut sebagai umat Allah.1 Umat beriman yang secara penuh telah menjadi anggota Gereja melalui baptisan, Krisma dan Ekaristi (1 Pt 2,9 10), tetapi tidak menerima tahbisan suci dan bukan klerus. Untuk menunjukan Israel sebagai bangsa kepilihan Allah, bahasa Yunani dalam Perjanjian Lama menggunakan istilah “am” terjemahan dari Septuaginta dengan “laòs” (cf. Kel. 19:3.7; Dt.7,6; 14,2). Kata ini baik dalam bahasa Yunani maupun Ibrani dapat ditujukan juga kepada semua bangsa di mana untuk membedakan dengan para pemimpin mereka dari kalangan para imam, nabi dan para tetua (cf.Yes 24:2;Yer 26:11).2 Sedangkan Kamus Pastoral Sintetik menegaskan kekayaan isi dari perkembangan sejarah dan teologi. Penggunaan istilah awam berawal pada abad ke-III untuk membedakannya dengan klerus. Awam adalah mereka yang bukan klerus, yang tidak mendapat tahbisan suci.3 Pemahaman seperti ini serentak memperlihatkan aspek negatif yakni mereka yang bukan imam. Dengan demikian melahirkan tiga golongan dalam gereja yakni Imam, Biarawan-biarawati dan awam. Dalam praktek kehidupan Gereja, term “awam” dipakai dalam dua arti. Secara teologis, awam adalah warga anggota gereja yang tidak ditahbiskan, juga meliputi biarawan/biarawati yang tidak ditahbiskan. Sedangkan secara tipologis awam adalah warga gereja yang tidak ditahbiskan dan juga bukan biarawan/biarawati. Ini berarti awam hanya termasuk orang-orang yang bukan kaum tertahbis dan bukan biarawan/biarawati. Dengan demikian, yang dimaksudkan dengan istilah awam adalah semua orang beriman kristiani kecuali mereka yang termasuk golongan imam atau status religius yang diakui dalam gereja. Kaum beriman kristiani yang berkat baptisan telah menjadi anggota tubuh kristus, terhimpun menjadi umat Allah, dengan cara mereka sendiri mengemban tiga-tugas Kristus. Tugas itu dapat dilaksanakan sesuai dengan kemampuan mereka sebagai satu bentuk perutusan umat kristiani dalam gereja dan dalam dunia. Tanggung jawab kaum awam berdasarkan panggilan khas mereka adalah untuk mencari kerajaan Allah dengan mengurus hal ikhwal keduniaan dan mengaturnya menurut kehendak Allah. Dalam gereja, setiap bentuk kehidupan secara prinsipiil berbeda satu sama lain. Perbedaan antara awam dan imam terletak pada fungsi dan jabatan, sedangkan

28

perbedaan dengan biarawan / biarawati menyangkut corak hidup. Corak kehidupan biarawan/biarawati diwarnai dengan kaul dan ikatan suci lainnya, dengannya mereka mewajibkan diri untuk hidup menurut tiga nasehat injil, yakni keperawanan, kemiskinan dan ketaatan. Yves Congar menegaskan bahwa kehidupan imam dan biarawan/biarawati secara menyolok sangat berbeda. Para imam ditandai dengan adanya fungsi sedangkan biarawan/biarawati oleh cara hidup.Walaupun demikian Konsili Vatikan II lebih menekankan unsur positif dan kebersamaan semua anggota gereja terutama partisipasi dalam tri-tugas Kristus (cf 1Ptr 2,5.9-10; Ef 4,4-16).4 b. Terbaptis – Tertahbis : pemaknaan atas imbuhan “ter-” Penggunaan imbuhan “ter-” pada frase fungsionaris pastoral ter-tahbis dan fungsionaris pastoral ter-baptis telah menggema kurang lebih enam tahun lalu di dalam wilayah dua kesukupan ini: KAE dan KUM (Keuskupan Maumere). Menyisik kaidah berbahasa Indonesia, awalan (imbuhan) “ter-” dalam bahasa Indonesia bisa mengandung arti sesuatu yang tidak diduga sebelumnya, (= terlena); sesuatu yang tidak disengaja (= terjatuh); atau sesuatu yang tidak diharapkan (= tertangkap). Ketika imbuhan (awalan) “ter-” dipasangkan pada dua kata dasar “tahbis” dan “baptis”, maka apakah tidak menjadi benar kalau maknanya bisa berarti seperti kaidah berbahasa Indonesia pada umumnya? Sehingga yang terjadi adalah: “ter-baptis” berarti : baptisannya tak diduga sebelumnya; tak sengaja dibaptis; baptisannya tidak diharapkan. Demikian pula makna awalan “ter-” pada frase “ter-tahbis”. Sampai di sini, kita tentu bisa sepakat kalau sudah saatnya kita “bertobat” dari salah kaprah terminologis selama enam tahun terakhir ini. Untuk itu mungkin baik kita menggunakan sebutan Fungsionaris Pastoral karena tahbisan (untuk yang ditahbiskan) dan Fungsionaris Pastoral karena baptisan (untuk yang dibaptis.)

3. Konsili Vatican II : Angin perubahan itu berhembus Sebelum Konsili Vatikan II kaum awam kurang mendapat tempat dan peranan dalam kehidupan gereja. Hal ini disebabkan oleh paham yang dianuti orang-orang pada masa itu yang sangat menekankan aspek hirarkis, organisatoris, yuridis formal mengenai gereja. Pandangan itu kemudian berubah secara radikal setelah Konsili Vatikan II. Dokumen Konsili Vatikan II


Inspirasi Sukma

Bapak Errol Jonathans, Direktur Radio Suara Surabaya bersama Ketua Komsos dan Kru Rogate FM di Depan Studio Rogate FM

Dengan adanya perbedaan antara awam dengan terutama Konstitusi Luman Gentium dan Apostolicam Actuositatem secara jelas dan tegas menekankan kelompok religius, Konsili Vatikan II tidak bermaksud menggolong-golongkan umat Allah. Sebaliknya yang mau peranan awam dalam kehidupan gereja. ditekankan adalah posisi dan peranan setiap anggota Dokumen Konsili Vatikan II Lumen Gentium bab IV gereja di dalam satu kesatuan menurut panggilan hidup secara khusus berbicara tentang awam. Lumen Gentium masing-masing. menggarisbawahi pandangan baru tentang awam sebagai Tentang kaum awam, Gaudium et spes berbicara pada berikut : bagian I, terutama pada bab IV mengenai peran gereja ÂŤYang dimaksudkan dengan awam di sini adalah dalam dunia. Sedangkan dalam bagian II berbicara tentang semua umat beriman kristen, di luar anggota tahbisan masalah-masalah yang lebih konkret dan mendesak serta suci dan status biarawan yang sah dalam gereja, yakni relevan untuk kerasulan awam eksternal. umat beriman yang digabungkan dengan Kristus oleh Gaudium et spes no. 43 secara jelas menggarisbawahi permandian, dilantik sebagai umat Allah dan mengambil bagian atas caranya dalam tugas Kristus sebagai imam, keterlibatan semua orang kristiani dalam berbagai nabi dan raja, lalu menjalankan seluruh perutusan bentuk kegiatan yang bersifat duniawi. Konsili mengajak umat kristen dalam Gereja dan dalam dunia sesuai semua orang kristiani agar menjalankan tugas-tugas duniawinya dengan setia, malah dengan dibimbing oleh tanggungannyaÂť (LG.31) semangat injil. Pandangan baru ini mengandung beberapa unsur Ad gentes juga berbicara tentang partisipasi semua penting yang mencirikan awam. Tentang siapakah kaum awam itu, secara jelas dikatakan bahwa awam adalah umat beriman dalam karya misi. Pertama-tama semua umat beriman yang memperoleh keanggotaan dalam orang kristiani harus menjadi pembawa kesaksian Gereja berdasarkan sakramen permandian. Dalam tentang iman kristianinya. Melalui baptisan yang sakramen permandian mereka memperoleh satu telah mereka terima dan kekuatan Roh Kudus yang kesatuan istimewa dengan Kristus; dalam arti bahwa mengukuhkan mereka dalam sakramen krisma, mereka dengan sakramen permandian mereka dimasukan ke menampilkan manusia baru dengan teladan hidup dan dalam gereja sebagai anggota umat Allah dengan Kristus kesaksian lisan setiap hari (AG 11). sebagai kepalanya. Lebih lanjut bapak-bapak konsili juga menggarisbawahi Unsur lain yang memberi ciri kepada kaum awam kerja sama antara semua anggota gereja dalam karya misi adalah berdasarkan persatuan dengan kristus mereka gereja di dunia. Semua anggota gereja memiliki kesadaran turut mengambil bagian dalam tugas perutusan kristus yang hidup akan tanggungjawabnya terhadap dunia; sebagai imam, nabi dan raja. Tugas perutusan itu merupakan konsekuensi dari penerimaan sakramen permandian.

29


Inspirasi Sukma membina semangat katolik sejati di dalam dirinya dan mencurahkan tenaganya dalam karya penginjilan. Untuk itu mereka mesti menghayati kehidupan kristen secara mendalam (AG 36). Para bapak konsili secara khusus menyebutkan kerja sama para awam dalam karya penginjilan dengan cara memupuk pengengetahuan dan cinta kepada usaha penginjilan baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, membangkitkan panggilan di dalam keluarga sendiri, di dalam sekolah-sekolah dan juga memberikan sumbangan bagi karya misi: mengajar di sekolah-sekolah, berperan serta dalam kegiatan paroki dan keuskupan dan memajukan berbagai bentuk kerasulan awam, agar umat beriman di gereja-gereja muda boleh berkembang. Konsili Vatikan II menerbitkan sebuah dektrit khusus tentang kerasulan awam yang disebut Apostolicam Actuositatem. Istilah yang dipakai di sini berasal dari kata bahasa Latin yaitu kata apostolus yang berarti utusan atau rasul dan dari kata actus atau actio yang berarti perbuatan, usaha atau kegiatan. Jadi secara singkat istilah Apostolicam Actuositatem dapat diartikan sebagai kegiatan merasul. Dekrtit AA diterbitkan sebagai penjelasan lanjut dari konstitusi dogmatis tentang gereja Lumen Gentium. Di dalam dektrit ini kaum awam diberi tempat yang istimewa untuk mengembangkan karya kerasulan dalam gereja dan tata dunia. Dektrit AA terdiri dari 6 bab dan 33 artikel yang menguraikan secara keseluruhan tentang kerasulan awam. Apostolicam Actuositatem no. 5, merumuskan tujuan kerasulan awam sebagai berikut: ÂŤKarena menurut kodratnya menyangkut penyelematan manusia, maka karya penebusan Kristus mencakup juga pembaharuan suluruh tata hidup duniawi. Oleh sebab itu perutusan Gereja tidak saja membawakan warta Kristus dan rahmatNya kepada manusia tetapi juga meresapi dan menyempurnakan tata dunia dengan semangat injil. Jadi para awam yang melaksanakan perutusan gereja ini, menjalankan kerasulannya baik di dalam gereja maupun di dalam dunia. Tata rohani dan tata dunia walaupun dibeda-bedakan, toh berhubungan sedemikian rupa dalam satu-satunya rencana Allah, sehingga Allah sendiri bertujuan mengangkat kembali seluruh dunia dalam Kristus menjadi ciptaan baru, dimulai di dunia ini dan sepenuhnya pada hari terakhir. Di dalam kedua tatanan ini seorang awam serentak beriman dan warga, harus dituntun terus menerus oleh satu hati nurani kristenÂť. Berdasarkan penegasan AA no.5 di atas dapatlah dikatakan secara singkat mengenai tujuan kerasulan awam itu, yakni evangelisasi dan penataan dunia. Kedua tujuan itu saling berkaitan dalam satu misi penebusan yang diemban oleh Kristus dan akhirnya diserahkan

30

kepada gereja. Karena itu karya kerasulan awam mencakup aspek rohani dan jasmani. Keduanya tidak dipisahkan tetapi saling melengkapi. Dengan demikian awam sebenarnya memiliki bidang karya misi yang sangat luas di dalam dunia.

4. Pemberdayaan Fungsionaris Pastoral: Dasar pelayanan Gereja Kaum beriman oleh karena baptisanya menjadi anggota Gereja Kristus dan mengambil bagian dalam tri-tugas perutusan Kristus sebagai imam, nabi, dan raja. Tiga tugas ini diemban oleh semua umat beriman, karena itu bagi mereka pun proses pembentukan dan pendampingan mesti terjadi secara berkelanjutan. Ini tidak terjadi sekali untuk selamanya, tetapi akan terjadi selamanya setiap kali. Kegiatan pastoral yang terjadi di dalam komunitas kristiani: keuskupan, paroki, TPAPT dan KUB pada dasarnya adalah kegiatan pendampingan dan pemberdayaan. Penyadaran dan pembentukan. Karena itu dibutuhkan kebijakan pastoral yang ekstra untuk mengorganisir “proyek� pembinaan, pendampingan dan penyadaran secara berkelanjutan dan tanpa henti. Kesibukan pastoral semestinya berpijak pada kesadaran akan peran pemberdayaan bagi kaum beriman yang dilakukan pertama-tama dari pihak para gembala-pastor yang karena tahbisannya dipanggil untuk menggembalakan kawanan dombaNya. Strategi pastoral menjadi pintu masuk yang jitu untuk memulai karya pastoral yang tepat sasar. Para fungsionaris pastoral yang menyadari makna baptisannya, menjadi titik awal untuk memulai mengembangkan karya pastoral pemberdayaan. Bagai Sang Guru yang memulai dengan sekawanan kecil para murid, demikian kita bisa memulainya dengan mereka yang berkendak baik untuk terlibat dalam karya perutusan Sang Guru. Catatan sejarah misi di tanah kita (Flores) membuktikan bahwa para pendahulu telah bekerja tanpa lelah, penuh semangat dan dedikasi, yang melahirkan kesuburan iman di Nusa Bunga. Semangat itu tentu masih melekat erat dalam nubari, ia tentu tidak hanya sekedar kenangan indah, memori masa lalu, yang menoreh tinta emas kekatolikan di Nusa Nipa dengan sebutan naturaliter Christiana:5 secara alamiah orang Flores itu Kristen. Sebutan itu kini menjadi satu tantangan baru untuk terus membangkitan semangat pemberdayakan kaum beriman untuk terlibat dalam karya pastoral Gereja. Ia menjadi api yang meletup semangat animasi bagi para fungsionaris pastoral baik karena tahbisan maupun karena baptisannya.

5. Kata Akhir : berubah untuk berbuah.


Inspirasi Sukma Studi dokumen tentang kaum beriman yang karena baptisannya mengemban tugas penting dalam kehidupan Gereja, menunjukkan kepada kita bahwa sudah selama 50 tahun pasca Konsili Vatikan II, Gereja memberikan perhatian yang sangat besar kepada kaum beriman bukan hanya klerus dan biarawan-biarawati. Kaum beriman menjadi rekan sekerja kaum klerus dalam ladangNya. Mereka menjadi mitra seperjuangan dalam medan kegembalaanNya. Seberapa jauh kesadaran ini merasuk dalam diri semua yang dibaptis pasca 50 tahun Konsili Vatican II?

Brescia 2012, 328-333. URAN, L.L., Sejarah Perkembangan Misi Flores, Nusa Indah, Ende 1988, 171. http://www.sanlucact.org/modules.php?name=Encyclopedia& op=content&tid=laico

(Footnotes) 1

=Encyclopedia&op=content&tid=laico 2

W. KASPER, Chiesa Cattolica. Essenza-Realtà-Missione,

Queriniana, Brescia 2012, 328-333. 3

Paus Yohanes XXIII pada suatu kesempatan pernah menggambarkan situasi Gereja pada masa Konsili Vatikan II seperti membuka jendela perubahan di dalam Gereja. Dan angin perubahan itu telah berhembus 50 tahun lamanya. Saatnya kini bukan hanya “jendela perubahan” yang mesti dibuka, tetapi juga “pintu pembaharuan”. Roh itu akan tetap berhembus. Membaharui, agar berubah, dalam berbuat untuk berbuah.

http://www.sanlucact.org/modules.php?name

C. FLORISTAN-J.J. TAMAYO, Dizionario Sintentico Pastorale,

Libreria Editrice Vaticana, Città del Vaticano 1998. 4 Y. CONGAR, Lay People in The Church, London, Geoffrey Chapman, 1983.3; cf. Per una teologia del laicato, Morcelliana, Brescia 1967, 19-28. 5

URAN, L.L., Sejarah Perkembangan Misi Flores, Nusa Indah, Ende

1988, 171.

BAHAN BACAAN : CONGAR Y., Lay People in The Church, London, Geoffrey Chapman, 1983.3; ___________Per una teologia del laicato, Morcelliana, Brescia 1967, 19-28. FLORISTAN C. - TAMAYO J.J., Dizionario Sintentico Pastorale, Libreria Editrice Vaticana, Città del Vaticano 1998. KASPER W., Chiesa Cattolica. Essenza-Realtà-Missione, Queriniana,

31


SELAMAT MERAYAKAN HARI PENDIDIKAN NASIONAL 2 MEI 2012 Mari kita tingkatkan pendidikan karakter untuk menghasilkan generasi harapan bangsa dan Gereja yang cerdas, beriman, berakhlak dan bermartabat

Kelurahan Wailiti Maumere

Hotel Sinar Kabor

Seminari Bunda Segala Bangsa

SDN XXV Wailiti Maumere

SMA Negeri I Maumere

SMPK Frater Maumere

SMAK Frater Maumere

TKK Binawirawan Maumere

SD II Maumere

Bpk. Ir. Blasius Pedor Parera, sekeluarga

TKK & Play Group Sang Timur Maumere

SDI Maumere

SMU Negeri II Maumere

Kelompok Bunda Hati Tersuci Maria, Maumere

SMA Budi Luhur Maumere

32


Jendela Sukma

Maumere In Love

PADUAN SPIRIT PASTORAL, AKTIVISME DAN MANAGEMENT PROFESIONAL (2)

Bekerja Secara Profesional Gagasan Maumere in Love yang digunakan sebagai tagline event sebenarnya sangat sederhana. Kalimat ini muncul karena event direncanakan buat orang muda dan menggunakan moment hari Ventine yang merupakan perayaan hari cinta kasih, di mana cinta kasih juga merupakan spirit karya Pastoral. Diperkuat lagi bahwa yang diusung dalam event adalah karya orang muda. Dimulailan menyusun strategi pemasaran dalam sebuah gelaran yang mempesona agar karya orang muda yang susah payah sudah dilakukan (apalagi tanpa dukungan dana dari pihak mana pun) mendapat ruang di hari publik. Sekali lagi ini bukan pekerjaan yang mudah karena kebiasaan di Keuskupan maupun di kelompok kerja sipil lainnya apalagi di pemerintahan menyusun sebuah event harus tersedia anggarannya.

Yuliati Umrah, S.IP Adalah Direktur Eksekutif Yayasan Arek Lintang (ALIT ) Surabaya, aktif dalam jaringan internasional penyusunan Internasional Child Protection Law, End Child Prostitution , Sex Tourism and Traffciking, Tacking Demand Trafficking in person, konsultan lepas international humanitarian works dan kontributor majalah Archipelago Merpati Airlines.

Kegamangan mulai muncul kembali di antara para peserta karena khawatir tidak ada yang mendukung gelaran MIL nantinya. Sekali lagi dengan berbekal spirit pastoral yang mengedepankan niat baik yakni cinta, kasih dan perdamaian yang dipadu dengan proses inovatif tak kenal lelah para aktivis dan para pemuda tentulah akan muncul jalan keluar. Bapak Uskup terus menerus meneguhkan kita semua bahwa spirit itulah yang akan mengantarkan kita semua dalam kesuksesan apalagi bila kerja keras tersebut terjadi dalam sebuah bingkai profesionalisme. Namun hal ini juga masih kerap menyinggahi pikiran beberapa orang yang awalnya sepakat jadi panitia akhirnya mundur ketika tahu bahwa panitia juga harus bahu-membahu mencari dana untuk realisasi event ini. Bukan sekedar menyiapkan materi acara dan membelanjakan anggaran seperti yang biasa dilakukan di Maumere. Bapak Uskup menjembatani kami (para penggiat social entreprenurship ini) dengan kelompok berspirit yang sama yakni Komunitas Sahabat Flores (KSF) yang beranggotakan para profesioanl bidang pendidikan, kesehatan dan bisnis di Jakarta yang memiliki kegelisahan yang sama dengan para pastor yang sejak awal menemani para penggiat ini. Perkenalan yang berbuah pada sebuah kerja bareng dalam menyusun MIL menjadi gelaran yang lebih elegant dan mampu memberi kesempatan bagi pihak yang lebih luas utnuk bergabung. Tidak hanya terkesan sebagai ajang dagangan belaka, namun suguhan yang menggambarkan rasa cinta, kasih dan perdamaian juga mengedepan. Kerjasama selanjutnya makin meluas, karena konsep MIL makin integral antara spirit yang indah, produk yang kompetitif dan pastilah memberikan benefit bagi calon sponsor di mana para aktivis KSF yang sangat profesional banyak memberikan input yang semakin menyemangati tim panitia termasuk mengenalkan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan yang berpotensi menjadi sponsor.

Namun ini pun juga bukan pekerjaan mudah. Karena sponsor adalah

33


Jendela Sukma perusahaan-perusahaan profitable yang sangat rigit dalam menghitung rugi laba yang dikenal dengan konsep sponsorship. Ini tantangan besar para kelompok kita untuk membuktikan bahwa kita mampu menjaring sponsor dengan segala persyaratan yang rigit tersebut karena kita adalah kelompok yang telah belajar mengenai analisa usaha. Masing-masing kelompok yang terbangun coba dichannelkan dengan sponsor peotensial. Jumlah kelompok usaha yang akan ditampilkan dalam sebuah expo tentu akan menarik bisnis perbankan untuk menyoikong karena perbankan butuh kreditur dari kelompok usaha kecil yang banyak digerojokkan saat ini. Maka tantangannnya adalah bagaimana menciptakan atmosphere expo yang menarik banyak kelompok usaha untuk bergabung (karena konkrit kelompok usaha yang kita bangun hanya 5 kelompok) tentu kurang menarik bagi perbankan. Desain expo yang cantik dari kelompok kerajinan Bambu OMK Nita menjadi gawang utama Expo MIL. Expo yang ramai pengunjung tentu saja diharapkan oleh para pengisi stand, maka berbagai jenis kegiatan pendukung musti ditampilkan. Peran kelompok fashion modelling dan workshop (asesoris, origami, beauty class) memberikan dukungan luar biasa untuk meningkatkan keramaian pengunjung. Selain lomba-lomba seperti Festival ikan bakar dan workshop Moke yang dapat dibidikkan pada sponsor produk-produk makanan. Di sini peran para pemuda Maumere dan sekitarnya menjadi poros yang amat penting. Tidak berhenti di sini saja, ternyata sponsor menginginkan agar event bisa bersifat nasional dimana benefit sponsorship bisa mereka tingkatkan. Kembali lagi panitia menemui tantangan, karena event nasional tentu saja berhubungan dengan kepesertaan yang tidak bisa hanya berasal dari lokal Maumere dan klaim nasional harus distatementkan oleh pejabat nasional. Mengtundang para pejabat daerah lain dan meminta keikutsertaan daerah selain kabupaten Sikka dilakukan melalui kerja gerilya yang tersebar di sleuruh kabupaten di daratan Flores. Mengunjungi para kepala daerah dan melobby satu-persatu para pimpinan tersebut dengan menjanjikan bahwa event ini akan membantu daerahdaerah lainnya mempromosikan potensi yangmereka punya. Tidak mudah memang karena lobby dilakukan kepada kepala daerah tanpa surat pengantar dari kepala daerah Sikka yang nyatanya Maumere berada sebagai tuan rumah. Untungnya, Maumere punya uskup yang sangat dikenal sebagai Uskup yang punya kharisma di kalangan masyarakat dimana diyakini apapun yang Uskup maumere buat pastilah berdampak positif untuk masyarakat.

Pilihan jatuh pada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. 34

Banyak alasan kenapa kementrian ini yang dipilih panitia. Karena event ini sarat dengan orang muda yang kreatif dan event ini menampilkan banyak potensi wisata Flores yang dapat digunakan pemerintah untuk mensukseskan event mereka di tahun depan yakni Visit NTT 2013. Maka bukan tidak ada alasan kenapa ibu menteri berkenan hadir membuka acara ini.Ada banyak benefit bagi ibu Menteri bila hadir dalam event ini, karena event ini dibangun dengan spirit penuh kebaikan dan menghasilkan produk event yang melibatkan semua orang baik dengan budget yang sangat efektif. Melalui event ini ibu menteri akan banyak mendapat contoh konkrit dalam penyusunan sebuah gelaran massal nasional bahkan internasional yang dapat dipakai sebagai pola di daerah-daerah lainnya. Mendatangkan menteri juga sebuah pekerjaan yang besar, karena kita musti mempertontonkan banyak hal-hal yang sesuai dengan wilayah kerja beliau dan menyesuaikan karakter sang menteri. Kabarnya ibu menteri adalah salah seorang sosialita yang high fashion, jadi cocoklah dengan menampilkan 100 desain baju drappery oleh para modelling. Menparekraf yang dulunya adalah menteri perindustiran dan perdangangan tentulah orang yang sangat rigit memperhitungkan keuntungan dan kerugian, sehingga cocok pulalan bila bertemu dengan remaja di Sikka yang memproduksi aneka kerajinan dan tenun yang tahu betul sasaran pasar produksi mereka. Ibu menteri juga sangat nasionalis, itu pulalah yang mendorong panitia lebih banyak mengeksplor kekayaan alam dan budaya Flores untuk lebih banyak di dieksplor.Walaupun sayang sekali event gala dinner tidak menyajikan menu tradisional seperti yang ibu menteri santap saat berkunjung di paroki Sikka. Mendatangkan pejabat sama dengan menyiapkan mental para panitia untuk disiplin waktu, memahami protokoler yang menjemukan dan menjamin keamanan kelas I. Tak mudah mendidik para pemuda yang biasa Slenge’an menjadi para Laison Officer yang profesioanl, selalu tepat waktu dan musti jaga wibawa dan nama baik Keuskupan saat berhadapan dengan Polres serta protokoler kementrian untuk urusan keamanan. Untungnya pimpinan tertinggi Kabareskrim di mabes Polri sangat tahu sepak terjang ALIT selama ini, maka tidak terlalu sulit bekerja dengan polisi setingkat Polres. Kehadiran pajabat juga harus didukung dengan publikasi yang luas karena ini juga jaminan bagi sponsorship bahwa peran mereka diketahui publik yang luas selain performa kementrian juga harus terjaga apik. Pekerjaan selanjutnya adalah menjamin kehadiran para jurnalis dan fotografer kaliber nasional. Inipun tidak mudah, karena load pekerjaan mereka sangat tinggi mengingat issue nasional sarat politik kini sedang tinggi


Jendela Sukma juga. Para jurnalis pasti sangat sibuk mengurus berita politk yang sedang panas-panasnya. Berita apa yang menarik bagi jurnalis kaliber nasional mau hadir di event ini? Kalo hanya memotret menteri dan pejabat negara lainnya mereka sudah muak. Memotret pertunjukan seni di mana-mana jua sudah sering ditampilkan. Tapi....bila menonjolkan SPIRIT cinta kasih dan perdamaian yang digawangi para Pastor bersama para pemudanya di desa-desa terpencil yang tak banyak disentuh pembangunan apalagi dana dana membuat event nasional sampai-sampai membuat ibu menteri tertarik untuk hadir. Para pastor tetap teguh menyentuh umatnya dengan spirit cinta kasih dan perdamaian telah mampu melahirkan gebrakan baru dengan lahirnya event besar ini. Nah...ini baru berita nasional. Apalagi didukung dengan penyediaan News Room di kantor keuskupan yang juga dikella seorang pastor dan seluruh event yang dikawal oleh juga seorang pastor sebagai MC makin membuat event ini istimewa. Soal pengelolaan keuangan yang menggunakan dana dari berbagai sponsor haruslah akuntable, dimana keseluruhan penggunaan keuangan didasarkan pada perencanaan yang sudah disusun di proposal dan dipertanggung jawabkan penggunaannya dalam bentuk bukti pembelanjaan, kegiatannya serta laporan keuangan yang berstandart akuntan publik. Sehingga ketika laporan keuangan MIL diserahkan kepada para sponsor, maka laporan ini siap diaudit oleh auditor publik manapun. Bagi panitia yang memegang kendali kesekretariatan musti banyak belajar bagaimana mengelola keuangan sesuai rencana yang tersusun secara terbuka serta bagaimana menyusunnay dalam sebuah laporan keuangan. Kali ini,ALIT juga harus memberikan pelajaran tambahan karena ternyata standart management keuangan yang biasa digunakan auditor publik belum pernah sama sekali digunakan oleh para pastor dan panitia umumnya. Harus disaari bahwa selama ini event-event yang tergear berbasis dana yang sudah ada dari donasi beberapa pribadi atau event yang berbasis anggaran internal sehingga fleksibilitas penggunaannya lebih memadai. Namun kali ini berbeda, karena MIL melibatkan beberapa organisasi dan sponsor, sehingga management keuangan menjadi sangat sensitif.

Katholik untuk terus mendampingi moralitas umatnya dari semenjak Katholik lahir di bumi Flores hingga kini walau tanpa sokongan dana pemerintah... ...maka ini baru berita nasional yang sampai kini terus menghiasi lama-laman di dunia maya dan beberapa majalah. Kehadiran menteri, para sponsor besar dan jurnalis nasional bukanlah sebuah hadiah tapi sebuah sinergi satu sama lain yang menempatkan para pastor, pemuda Flores dan publik Flores umumnya menjadi setara dengan pihakpihak tersebut. Masyarakat Flores kini tentu dianggap sebagai masyarakat yang pantas berkompetisi dengan daerah-daerah lainnya yang danggap lebih maju. Kesukseskan MIL bukan dinilai dari kehadiran menteri, publisitas dan sokongan sponsor. Tapi kesuksesan MIL adalah bagaimana para pastor dengan spirit cinta kasih dan perdamaian menjadi spirit semua umat yang mau bekerja keras sekeras para aktivis yang tak berbayar dan menjadikan mereka sebagai kelompok profesioanal yang dapat duduk sejajar dengan sekaliber sponsor besar event ini. Karena ke depan, belum tentu ada menteri, jurnalis nasional dan sponsor ysang akan hadir di event-event serupa. Untuk itu modal ketiga hal yang penulis ungkapkan merupakan modal utama menuju perubahan masyarakat Flores yang lebih maju, mandiri dan lebih rasional seperti yang seringkali diungkapkan oleh Bp Uskup. Kini pemandangan di paroki Nita dan beberapa parokinya mulai berubah, tiap hari kita dapat saksikan orang muda sibuk berkarya, perempatan mulai sepi pemabuk. Anak-anak remaja perempuan dan para ibu makin sibuk dengan tenun mereka. Anak-anak muda Maumere punya kumpulan baru yang bernama EFAPA (empowerment for archipelago people alliance) atau aliansi pemberdayaan masyarakat kepulauan dimana mereka akan siap melangkah ke pulau-pulau lainnya selain Flores menggelindingkan semangat Meumere in Love dalam spirit cinta kasih dan perdamaian dalam bingkai kerja-kerja aktivisme yang profesional. Semoga semua proses ini mengilhami banyak kalangan untuk terus menyuarakan spirit ini. Terus berkarya dan berdoa serta ihlas memberikan ilmu yang kita punya untuk sesama adalah realisasi dari spirit ini. Surabaya, 5 Maret 2012

Akhir yang Mengesankan Bapak Uskup dengan sangat elegant menyajikan kata sambutan yang luar biasa menentramkan. Di saat bangsa ini carut marut dengan kepentingan politik, issue SARA, perdangan manusia akibat ekses pengembangan dunia pariwisata, kemiskinan, pengangguran dan politik uang serta korupsi yang memuakkan, tergantikan oleh sambutan bp Uskup tentang semangat perubahan dari para pemuda Flores yang menjadi tanggung jawab Gereja

35


Kabar Sukma

Catatan Lepas dari Negeri Angin Sabana

Seputar Training Manajemen Proyek-Audio Visual Dan Program Televisi Tambolaka, 1 – 5 mei 2012

Ternyata…Tanah Merapu sangat Wellcome (1)

J.E. Papache Anggota Komsos Keuskupan Maumere

Pkl. 15.08 menit, Pesawat Avia Star mendarat mulus di Bandara Tambolaka, tak terasa kakiku sudah berpijak di Bumi Sabana Tana Merapu Sumba Barat Daya. Selama penerbangan 30 menit bayanganku akan tanah Sumba biasa saja yah sejauh…kering, gersang, sabana dan sedikit gaya texas sesuai informasi minim yang sempat saya dapat. Panitia penjemput berdesakan di pintu kedatangan. Bersama Rm.Vincen Bata Dede, Pr anggota komsos dari Keuskupan Agung Ende, kami berdua diantar menuju rumah penginapan yaitu Rumah Rektorat SVD di Tambolaka. Kehadiran kami berdua disambut hangat oleh pimpinan rumah, P. Eman Sangu, SVD (Rektor) dan teman-teman peserta yang telah datang mendahului kami. Suasana akrab langsung terbina, maklum yang datang ini semua orang komunikasi, saling menyapa dari pintu ke pintu bahkan dari kamar ke kamar itu sudah biasa dan obrolan awal seputar kisah perjalanan yang akhirnya menjadi cerita seru karena berbagai macam versi dan dialek dari masing – masing daerah. Koq nyambung yach…kata Ibu Christine dari Bali....hebat e…. Pkl.18.00, rangkaian acara Training Management Proyek dan Produksi Audio Visual Program Televisi se-Regio Nusra dibuka, diawali dengan Misa Syukur bersama dengan tema “Media Komunikasi Sosial” Rm. Herman Yoseph Babey, Pr (Ketua Signis Regio Nusra) dalam kotbahnya mengatakan sudah saatnya komsos di regio ini maju sesuai berkembangnya teknologi komunikasi dewasa ini, tentu sesuai dengan kebutuhannya dan sangat disayangkan apabila setelah mendapat bekal lalu tidak dikembangkan di masing-masing keuskupan, ibarat memiliki sabun yang sangat wangi tapi kalau tidak dipergunakan maka wangi hanya ada pada sabun sementara tubuh sang pemilik tetap tidak harum. Dalam acara sambutan-sambutan, tuan rumah, Rm. Yustinus Guru Kedi, Pr (Ketua Komsos Keuskupan Weetabula) menyampaikan selamat datang kepada para peserta dan menggambarkan sedikit tentang keadaan Keuskupan Weetabula khususnya perkembangan Komsos sambil memperkenalkan program Radio Vox Mundi serta para awaknya. Dari pihak pemerintah yang turut hadir dalam acara pembukaan ini adalah Bupati dan Sekda Sumba Barat Daya. Bupati Sumba Barat Daya Bpk. dr. Kornelius Kodi Mete dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada panitia penyelengara dan peserta utusan orang-orang media dari keuskupan seregio Nusra yang sudah pasti pulang dan akan bercerita tentang Sumba dengan banyak julukannya yaitu Tana Marapu, Pulau Sabana Negri Sandelwood dan Pasola. Beliau menggambarkan keadaan Sumba Barat Daya dari sisi budaya, ekonomi dan tingkat pendidikan masyarakat. Beliau juga mengharapkan dengan adanya pelatihan ini dan kehadiran Komsos dapat membantu mengembangkan sumber daya manusia khusus di Sumba Barat Daya yang dalam pengakuannya masih sangat rendah sehingga butuh perhatian melalui komunikasi yang baik.

Cutt….action….Begitulah teriak sang jendral lapangan alias sutradara…

36


Kabar Sukma

Para Peserta Pelatihan Managemen Proyek dan Audiovisual/Program Televisi

saat pengambilan gambar‌.suasana hiruk pikuk begini selalu mewarnai hari-hari selanjutnya‌.para peserta yang selama ini kurang berolah raga, ketahuan dari cara menarik napas, ngos..ngos juga. Fasilitator Audio visual dan program televisi dengan pematerinya Mas C. Sulistomo dibantu bung Yan Seran sebagai operator editing, penuh kesabaran membimbing peserta yang kebanyakan pemula. Satu per satu materi dipaparkan dari cara menulis skenario/ naskah, penyutradaraan, camera sampai editing film. Walaupun cara penyajian santai dan ringan tetapi para peserta tekun mengikuti langkah demi langkah. Seperti biasa berbagai model camera dan laptop berjejer di meja peserta lalu diminta mempraktekkan sesuai teori yang diterima. Pelatihan berjalan lancar, terbukti dari 4 kelompok/crew produksi dapat menyelesaikan 4 buah hasil karya film pendek. Ini sebuah hasil yang luar biasa‌, begitulah suara Mas Sulis memberikan apresiasinya, seusai nonton bareng di ruang pendopo rumah Rektorat SVD karena kalau dilihat dari segi waktu sangat tidak

cukup tapi tim telah memaksimalkan sesuai target yang disepakati.Tentu harus adanya pembenahan lebih lanjut dengan harapan peserta ini pada training lanjutan nanti jangan berubah muka lagi supaya pelatihan meningkat. 4 film karya peserta itu terbagi, 1 film Fiksi dengan judul Selendang Sumba (Kel.Maramba Cinema) dengan tema cinta persaudaraan, kemudian 2 film dokumenter yaitu Suster Mariana (Kel.Uma Kalada Film) dengan tema penghijauan dan Ayo Bersihkan SBD-ku (Kel.Pasola Production) serta 1 film jenis doku drama yaitu Kisah Sore Itu (Kel. Niri Bonnu Production) dengan tema Kelestarian Alam.

37


Inspirasi Sukma

MEMBACA DAN MENULIS:

INDIKASI SEBUAH MASYARAKAT YANG MAJU Tanggal 3 Mei 2010, di Maumere, Kabupaten Sikka terbit sebuah Koran dengan wajah berseri–seri, bergambar warna – warni muka belakang, semarak, murah meriah. FLORES STAR, nama Koran itu. Harga ecerannya cuma Rp. 1.500,- dengan dua belas halaman yang padat berisi. Ketika pada awal Januari 2011 Flores Star dengan gamblang mengangkat ke permukaan kasus pengelolaan dana Bantuan Sosial (Bansos) oleh Pemerintah Kabupaten Sikka yang diduga telah terjadi korupsi sebesar Rp. 10,7 milliar dengan segala lika–liku teknik penggelapan uang rakyat tersebut, oplahnya terus naik meroket. Setiap hari Flores Star laris laksana jualan kacang goreng saja. Masyarakat berebutan membeli Koran itu. Mama–mama penjual sayur, ikan, pisang, ubi kayu, jagung, buah– buahan, dan lain–lain di pasar Alok, Geliting, Nita, dsb, asyik membaca berita Flores Star sambil menjajakan barang jualannya.

E.P. Da Gomez Mantan Anggota DPRD Sikka

Namun, sejak November 2011 Flores Star banting stir, tidak greget lagi memberitakan kasus dana bansos yang menarik perhatian masyarakat. Redaksinya berpaling dari minat masyarakat dan lebih suka menulis berita kriminal seperti pemerkosaan, pencurian, baku hantam antar kelompok, dsb. Serta merta pemasarannya anjlok drastis. Setiap hari para loper menghantarkan kembali Koran yang tidak laku dalam jumlah yang besar ke kantor penerbitnya di Jalan Gelora, Kelurahan Madawat. Saya tidak terkejut, tidak kaget, ketika pada 1 April 2012, Flores Star tidak terbit lagi, tapi hanya menjadi suplemen pada lembaran harian Pos Kupang dengan delapan halaman saja. Ia masuk kembali ke rahim ibu kandungnya Pos Kupang yang terbit 24 halaman dengan harga eceran tetap Rp. 3000. ********* Pada awal Januari 2011 terbit tabloid “Suara Sikka” dengan tiras 500 exemplar saja. Mingguan dengan 16 halaman itu direncanakan terbit setiap Sabtu, mukabelakang dengan polesan warna warni yang mencolok. Dengan harga ecerannya Rp. 5000. Apabila “Suara Sikka” sebagai mingguan, seharusnya dalam tahun 2011 terbit 52 edisi. Kenyataannya hanya berhasil 19 edisi saja. Sementara dalam tiga bulan pertama 2012 baru terbit satu edisi. Koran ini hidup enggan mati tak mau, meski bahasa dan gaya tutur pemberitaannya cukup menarik. Demikian kesan banyak pembacanya. Sampai kapan tabloid ini bisa bertahan? Hanya redaksi dan para pengelolanya yang bisa menjawab. ********* Menyusul pada awal Desember 2011 terbit tabloid “Maumere Pos” dengan kemasannya yang indah dan bagus sekali. Dwi mingguan ini terbit 32 halaman dengan harga eceran Rp. 10.000.Ternyata “Maumere Pos” hanya tiga edisi, yaitu

38


Inspirasi Sukma dua kali di bulan Desember 2011 dan satu kali di bulan Januari 2012. Kini sudah hilang dari pasaran. Kantor redaksi berpindah dari Komplek Puri Kimbul Permai belahan barat kota Maumere ke Kampung Kabor, Jl. Nong Meak, terletak di sebelah selatan Kantor PT Bank NTT Cabang Maumere. Hanya pindah kantor, tapi tidak terbit lagi. Di situ terpancang papan nama “Tabloid Dwi Mingguan Pos Maumere”, bukan lagi “Maumere Pos”. Kapan papan nama itu diturunkan? Hanya Dewan Redaksinya yang tahu. ********* Sejarah timbul tenggelamnya pers di NTT telah diuraikan secara luas oleh Agus Sape, wartawan Pos Kupang, dalam buku “15 Tahun Pos Kupang, Suara Nusa Tenggara Timur” (Penerbit PT Timor Media Grafika, 2007) dengan judul “Perjalanan Pers di NTT”. Juga Romo Eduard Jebarus, Pr, menulis buku “Wartawan Bicara” (Penerbit RMBOOKS, PT Wahana Semesta Intermedia, Februari 2011) dengan judul “Pers Perintis di Flores”. Pada hemat saya, sebab utama jatuh bangunnya penerbitan pers di Kabupaten Sikka khususnya, dan pada umumnya di Flores dan NTT adalah rendahnya minat baca masyarakat, berbarengnya dengan rendahnya daya beli. Hal ini telah saya tulis dalam kolom Flores Pos (5-6/05/2010) di bawah judul “Minat Membaca dan Menulis Masyarakat (Sikka) Perlu Dipacu”. Selanjutnya saya tulis lebih detail dalam buku “Hidup itu Membaca, Menulis dan Berbicara” (Penerbit Yayasan Kasimo Cabang Sikka & Yayasan Bapa Bangsa, 2011). Sepanjang pengamatan saya, banyak di antara kaum politisi, pimpinan partai politik, anggota DPRD, pejabat pemerintah dan PNS, bahkan guru kurang berminat membaca buku, menghabiskan waktu dan uang membeli rokok, minum moke, “bako wolang”, bermain kartu (judi) dan kesibukan lain atau hura–hura yang tidak bermanfaat. Fenomena ini hendaknya menarik perhatian sekolah–sekolah (mulai dari TK sampai universitas) dan berbagai lembaga seperti Gereja, LSM, dsb, untuk merancang program pendidikan minat baca dan menulis. Pemerintah dan DPRD Kabupaten Sikka harus menyediakan dana yang lebih besar dan memadai dalam APBD setiap tahun untuk membangun perpustakaan daerah dan di sekolah–sekolah, serta biaya penerbitan buku–buku. Apabila kebiasaan malas membaca dan menulis ini tidak berubah, tidak dirombak, masyarakat kita akan tetap terpuruk kemampuan intelektual dan pandangannya yang jauh ke depan dengan wawasan yang luas untuk melihat dan memecahkan masalah pembangunan dalam berbagai aspek, dimensi, dinamika dan dampaknya. Sungguh menarik pernyataan yang hebat dari Bupati Ende, Drs Don Bosco M. Wangge, M.Si, yang

pernah dimuat beberapa bulan pada halaman pertama kanan atas Flores Pos, “berhenti membaca sama dengan melestarikan kebodohan, berhenti sekolah sama dengan melestarikan kemiskinan”. Zuhairi Misrawi, penulis dan sastrawan, ilmuwan alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir (1995-2000), kini bekerja di berbagai lembaga kajian dan pengembangan Islam di Indonesia, dalam novelnya “Pelangi Melbourne, Dua Dunia satu Cinta”, antara lain menulis begini: “Untuk membedakan Negara maju dan Negara berkembang tidak telalu sulit. Di Negara berkembang, budaya yang paling mengemuka adalah talking. Mereka suka berbicara banyak hal. Jika disuruh berbuat, biasanya tidak ada yang mau.Termasuk di dalam kendaraan umum: bus, kereta api, bahkan pesawat udara sekalipun. Mereka suka dan banyak bicara. Sedangkan di Negara–Negara maju, budaya yang paling menonjol adalah much reading and less talking. Banyak membaca dan sedikit berbicara. Mereka juga suka berbicara, tapi secara umum lebih gemar membaca. Buktinya, hampir 80 % dari penumpang kereta api dan pesawat terbang menghabiskan waktunya dalam perjalanan dengan membaca buku atau koran dan majalah. Fenomena seperti ini sangat mengagumkan, karena membaca sudah menjadi budaya. Hati harus bersih. Tapi akal juga harus jernih. Nah, salah satu cara untuk menjernihkan akal adalah membudayakan kebiasaan membaca dan menulis”. ******** Para bijak dan cendikiawan mengatakan, demikian P. Dr Wilhelm Djulei Conterius, SVD, Vikjen Keuskupan Maumere, bahwa indikasi dari suatu masyarakat yang maju, pada hakekatnya berangkat dari atau apabila masyarakat gemar belajar dan terus belajar, learning society. Masyarakat belajar menggunakan berbagai metodologi dan rencana itu berangkat dari suatu masyarakat yang gemar membaca, terus membaca dan menulis, reading and writing society. Oleh karena itu, Pater Wilhelm mengajak, kalau kita ingin menjadi masyarakat yang maju, maka kita mesti berangkat atau bergerak dari suatu masyarakat yang gemar menulis, lalu akhirnya sampai pada suatu masyarakat yang berkembang dan maju. Misiolog dan dosen STFK Ledalero itu menegaskan bahwa apabila kita ingin dan bertekad mengembangkan dan memajukan masyarakat bangsa ini, maka kita dituntut dan ditantang untuk melaksanakan dua hal maha penting, yaitu pertama, pendidikan watak, dan kedua, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bangsa yang berhasil bukan hanya bangsa yang cerdas, memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi, menguasai teknologi dan rukun satu sama lain, tapi juga

39


Inspirasi Sukma yang berkarakter, berwatak yang kuat dan kokoh, yang penuh semangat, yang bijaksana dan bermoral, yang tidak gampang menyerah, yang ulet, dan yang terus berusaha mengatasi persoalan yang terpampang di hadapannya. Semua anak bangsa tanpa terkecuali, dituntut untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki kecerdasan yang memungkinkan bangsa untuk maju dan berkembang. Dalam konteks ini, peran dan fungsi buku, koran dan majalah menjadi sangat luar biasa. Benarlah, tanpa buku, koran dan majalah, kehidupan suatu masyarakat bangsa terasa kering, jauh dari inspirasi dan motivasi, tak punya jalan dan jurus–jurus jitu untuk berinovasi, untuk melakukan perubahan dan pembaharuan. Sumber kemajuan manusia dan masyarakat bangsa harus dimulai dari pendidikan awal yang disebut dengan rasa ingin tahu dan kepedulian yang tinggi. Kalau anak-anak dan generasi muda kita memiliki sikap hidup yang demikian itu, mereka pasti haus akan ilmu pengetahuan, mereka akan mau membaca buku, Koran dan majalah. Mereka bertanya, bertanya dan bertanya, mencari dan mencari sampai menemukannya. Semua itu berkaitan erat dengan dunia pendidikan, dengan masyarakat belajar dan masyarakat membaca, dengan peran buku, toko buku, taman baca dan perpustakaan.

Maumere, tanggal 19 Januari 2012. Panitia mengundang sekitar 500 orang. Berapa yang hadir? Tidak sampai 200 orang. Suatu pertanda jelas bahwa masyarakat Sikka yang membanggakan diri sebagai “barometer berpolitik NTT” ini belum melihat buku sebagai suatu yang penting dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Masyarakat Sikka bukan masyarakat baca, melainkan masyarakat omong, ngobrol, gosip. Lebih suka meniup isu dan terjebak oleh desas – desus. Hal ini tentu menjadi satu pekerjaan rumah yang sangat berat bagi pemerintah, sekolahsekolah dan lembaga manapun yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat. Bung Hatta, salah seorang proklamator kemerdekaan Indonesia mengatakan,”Aku rela dipenjarakan, asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”. Sementara Pramudia Ananta Toer, sang sastrawan dan novelis yang terkenal itu pernah berucap, “ karena kau menulis……….. suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi sampai jauh, jauh di kemudian hari”. Nah, siapa takut?

Semangat dan motivasi ini ditandaskan oleh Pater Wilhelm ketika membawakan sambutan dalam pergelaran acara peluncuran tiga buku karya tulis saya yang berlangsung agak sepi di Aula Hotel Beng Goan III

Selamat Hardiknas 2012 Keluarga Besar Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Bidang Pelayanan Kesehatan “Revolusi KIA…Persalinan di Fasilitas Kesehatan yang memadai (Puskemas Poned dan Rumah Sakit Ponek)

Ibu Selamat Bayi Sehat!!

40


Dari Paroki

PAROKI SALIB SUCI KLOANGROTAT, TUAN RUMAH ACARA BERSAMA ORGANISASI ROHANI SE-TPAPT HALOKIKI Kamis, 19 Mei 2012, bertempat di Paroki Salib Suci Kloangrotat para anggota Organisasi Rohani se-TPAPT Halokiki (Paroki Habi, Bolawolon, Kloangrotat, Ili, Kewapante) yang berjumlah sekitar 500-an bersama dengan para pastornya dan suster menggelar acara bersama. Acara bersama ini merupakan kegiatan rutin empat bulanan para anggota Organisasi Rohani se-TPAPT Halokiki yang dilaksanakan secara bergilir dari paroki ke paroki. Acara bersama kali ini lebih istimewah dari acara sebelumnya karena sekaligus merayakan Syukuran Bersama atas rahmat Kebangkitan Kristus. Hadir juga dalam acara ini para camat dalam wilayah TPAPT Halokiki (Camat Waigete, Camat Hewokloang, Camat Kewapante, Camat Kangae). Selain itu, Para fungsionaris pastoral paroki, tokoh masyarakat dan umat Paroki Salib Suci Kloangrotat selaku tuan rumah dan sekaligus panitia penyelenggara. Tema yang dipilih dalam acara bersama ini yakni “Jadilah Saksi KebangkitanKristus”.

Kristina Wanti Ketua OMK dan Seksi KOMSOS Paroki Kloangrotat

Acara bersama ini dimulai tepat pukul 09.00 Wita, diawali dengan perayaan Ekaristi Kudus, dipimpin Rm. Martin G. Kira, Pr. (Pastor Paroki Ili) selaku selebran utama, didampingi oleh para pastor se-TPAPT, Rm Quin Galmin, Pr. (Pastor Paroki Kloangrotat), Rm. Dius Dhosa, Pr. (Pastor Paroki Habi), P. Hans Weritz, SVD (Pastor Paroki Bolawolon), P. Yerem Koten, SVD (Pastor Paroki Kewapante), P. Albert Magnus, SVD (Pastor Asitensi Mingguan Paroki Kewapante) dan Rm Paulus Bongu, Pr. (Pastor Pembantu Paroki Habi) selaku pengkhotbah. Dalam homilinya, Rm Paulus menterjemahkan kepada umat yang hadir dalam perayaan apa artinya “Jadilah Saksi Kebangkitan Kristus.” Dalam konteks seorang anggota organisasi rohani, menjadi saksi kebangkitan berarti, kita sebagai anggota organisasi rohani harus dapat memberikan kesaksian hidup yang baik dan benar di tengah hidup bersama. Yang pokok adalah kesaksian dalam hal hidup doa, baik doa pribadi dan terutama doa bersama. “Kita masuk menjadi anggota organisasi rohani justru karena kita mau membangun hidup doa yang agak lebih intens dari pada umat pada umumnya yang bukan anggota organisasi rohani”. Karena itu, Rm. Paulus mengingat dan mengajak semua. Pertama, agar jangan pernah lupa berdoa, baik doa pribadi maupun doa bersama dalam kesatuan serikat organisasi rohani kita masing-masing atau dalam kesatuan hidup berkomunitas. “Bukan lagi anggota organisasi rohani namanya kalau kita jarang atau bahkan tidak berdoa pribadi, atau seringkali tidak hadir dalam kegiatan doa bersama, entah doa dalam serikat atau dalam komunitas basis. Penting bagi kita untuk membina kebersamaan iman dalam kesatuan hidup doa. Kedua, mengingat pada kenyataan saat ini kurangnya minat dan kemauan umat untuk masuk menjadi anggota organisasi rohani, maka menjadi tugas kita untuk membuat sedemikian rupa agar mereka yang belum masuk menjadi anggota organisasi rohani dapat masuk menjadi anggota organisai rohani kita. Karena itu, lebih lanjut Rm. Paulus menegaskan bahwa penting bagi kita memberikan kesaksian hidup yang baik dan benar dalam keseharian hidup kita, tidak hanya hidup rohani (doa), melainkan juga hidup sosial kemasyarakatan. Di tengah hidup bersama, harus tampil sebagai garam dan terang bagi sesama.

41


Dari Paroki Perayaan Ekaristi berlangsung meriah. Kemeriahannya, antara lain ditandai dengan keterlibatan penuh umat dalam seluruh perayaan, khususnya terlibat dalam menyanyi dari pembuka hingga penutup, karena lagulagu yang dipakai adalah lagu-lagu kebangkitan yang sudah mengumat dari buku Madah Bakti terbitan Keuskupan Maumere, dan syair-syair lagu ditayangkan via layar lebar dalam tampilan power point yang memikat hati, menyentuh rasa, menumbuh semangat. Maka usai Ekaristi, seorang mama Santa Anna, dari Paroki Habi, yang enggan menyebut namanya, berujar dalam bahasa ibu: “ raik ngaji ganu e’kantar-kantar di du’e kain bura nora gambar kudus, ia te ngaji ganu jam rua ko telu di ita rasa ganu te menit ha” (kalau setiap kali Misa seperti ini, pakai layar lebar dengan gambar-gambar kudus, dua atau tiga jam, kita rasa baru satu menit). Usai perayaan Ekaristi, bertempat di Aula Bethania Kloangrotat dilanjutkan dengan aneka acara santai terpimpin. Utusan setiap paroki menyampaikan shering pengalaman membangun iman dalam nuansa kebersamaan organisasi rohani. Diakui bahwa ada pengalaman pasang naik dan pasang surut, suka dan duka tak terhindarkan. Juga pelaporan keadaan setiap organisasi rohani yang ada di paroki: tentang jumlah Organisasi Rohani, jumlah anggotanya, kegiatannya, hingga keadaan keuangan organisasi rohani (cara perolehan dan pemanfaatannya). Selain kegiatan shering, juga ada kesan dan pesan khusus, antara lain dari Mama Maria Rosalinda, asal Paroki Habi (Ketua Organisasi Rohani TPAPT

Halokiki, periode 2009 – 2011). Mama Rosa mengajak semua peserta untuk tak bosan-bosannya membangun KKN, yaitu membangun Kasih, Kesetiaan dan karya Nyata.Tak hanya itu, berbagai acara spontan dari peserta: menyanyi, menari, dan membaca puisi dengan berbagai macam gaya ditampilkan. Pekikan sorak-sorai bersahutan tatkala MC memberi komentar-komentar lincah dan hangat atas tampilan-tampilan spontan peserta sebagai ekspresi kegembiraan dalam kebersamaan. Di sela-sela acara rekreasi itu, para pengurus organisasi rohani paroki-paroki bersama pastornya sejenak duduk rembuk tentang rencana kegiatan bersama ke depannya dan pemilihan kepengurusan organisasi rohani TPAPT periode 2012 s/d 2014. Paroki Salib Suci Kloangrotat dipercayakan untuk menjadi pengurus. Pengurus terpilih dipercayakan kepada Bpk. Maximus Daniel (Ketua), Bpk. Ase Nong Pare (Wakil Ketua), Ibu Maria Marice Sidok (Sekretaris), dan Ibu Marselina Dua (Bendahara). Disepakati pula kegiatan serupa selanjutnya berlangsung di Paroki Renha Rosari Kewapante, pada tanggal 26 Juli 2012, bertepatan dengan Pesta Santo Yoakhim dan Santa Anna. Pada saat itu, akan dilaksanakan juga acara serah-terima dan pelantikan Kepengurusan TPAPT yang baru. Seluruh acara berakhir Pkl. 16.00 witeng. Peserta kembali ke paroki masing-masing…

Bapa Uskup Maumere di tengah umat Kloangrotat dalam satu kunjungan pastoral.

42


Dari Paroki

PERAYAAN MINGGU KERAHIMAN ILAHI TINGKAT KEUSKUPAN MAUMERE DI MAULOO PENDAHULUAN

Rm. Marsel Barus,O.Carm Pastor Paroki Salib Suci Mauloo

Tanggal 15 April 2012 yang lalu adalah hari minggu kerahiman ilahi. Untuk keuskupan maumere Perayaan Ekaristi tingkat keuskupan di Paroki Salib Suci Mauloo, berdasarkan hasil kesepakatan kordinator atau wakil tiap paroki pada waktu perayaan Minggu kerahiman tahun 2011 di Paroki Watu Baing, Talibura. Setelah ketuk palu di Watu Baing bahwa Paroki Mauloo akan menjadi tuan rumah, kami segera mengumumkan kepada seluruh umat melalui DPP paroki dan ketua stasi yang hadir dalam pertemuan bulan agustus tahun 2011. Menanggapi hasil keputusan tersebut kelompok kerahiman ilahi paroki yang terdiri dari tiga stasi: Paga, Mauloo dan Wolowiro mengawali pertemuan perdana pada tanggal 19 Pebruari 2012 sebagai persiapan interen mereka untuk dibawakan hasilnya dalam pertemuan Panitia Paroki bersama DPP dan Panitia. Pada tanggal 05 Maret 2012 utusan tiga stasi bersama DPP mengadakan pertemuan pertama untuk pembentukan panitia kegiatan Perayaan Minggu Kerahiman Ilahi tingkat Keuskupan Maumere di Mauloo. Hasil pertemuan tersebut menelurkan beberapa point untuk ditindaklanjuti pada waktu perayaan berlangsung. Hasil ini pun dimatangkan lagi dengan pertemuan panitia terakhir pada tanggal 01 April 2012 bertempat di pendopo Paroki.

PRA PERAYAAN EKARISTI Dari hasil pertemuan panitia paroki, bahwa setiap tamu yang akan masuk ke Paroki Salib Suci bila ada perayaan akbar perlu memberi penghargaan; salah satunya dengan menjemput mereka di perbatasan paroki tetangga atau bertempat di stasi paling timur dari Paroki Mauloo yaitu Stasi Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus Arawawo. Di depan Gereja baru stasi Arawawo berdiri megah gapura selamat datang, sapaan kepada tamu-tamu dari 13 paroki yang masuk dalam gabungan kelompok kerahiman ilahi. Gapura ini dibangun cukup tinggi oleh saudara-saudara kelompok doa Santo Paulus Paga, mengantisipasi truk yang berbadan tinggi mengingat posisinya berada di jalur jalan negara yang tiap hari dilewati oleh truk-truk besar. Pagi hari tanggal 15 April 2012 pukul 07:30 para peziarah kerahiman ilahi mulai berdatangan dan transit di lapangan kapela baru Stasi Arawawo untuk menanti kawan-kawan yang masih dalam perjalanan menuju tempat yang sama. Setelah semua peziarah berkumpul, sapaan adat dari bapak Juda mosalaki dari Stasi Wolowiro menyapa dengan nada ramah kepada umat Allah yang hadir berkata dengan gagah, “leja singga mena mai keli Sikka, leja ina hage ria ngaji kerahiman too’ Boganatar, PaluE, Magepanda dll, mai bhoti gha Paroki Salib Suci Mauloo, sama-sama leja ini hage Yesus suka sia leka santa Faustina pera kita dau deo negi leka kerahiman ina du liti limba. Leja ini tau weta dega kita kunu serani dau ndu ngaji lei mbeja too’ sai lei po ghale gereja Paroki Salib Suci Mauloo. Leja ini tau ndu misa hage kerahiman ilahi ina....amen”. Setelah sapaan ini bergema para tamu Allah pun mulai bergegas dengan raungan knalpot sepeda motor dan mobil menuju Rumah Allah yang berdiri kokoh megah di tanah Mbengu. Konvoi

43


Dari Paroki

yang di bawah pengamanan kapolsek Paga dan kawankawan, beriringan memenuhi jalan humalelu menuju Paga selanjutnya akan diterima lagi di depan lapangan SDK Mauloo yang menjadi tempat perhentian kedua. Di lapangan ini para penerima tamu di bawah pimpinan bapak Vinsen Lando dan corong yang dipegang ibu Gaby menggelegar menyambut para tamu pecinta Kerahiman Ilahi. Di lapangan SDK Mauloo panitia telah menyiapkan papan nama menurut nama paroki yang ikut serta dalam perayaan akbar ini. Para peziarah ini berkumpul menurut tempat yang sudah disiapkan sambil beristirahat melepas lelah setelah perjalanan jauh. Tonnnngtennnngtonnnngtennng...zrengzrengzreng.... lonceng bertalu-talu tanda kita mulai merayakan Ekaristi agung. Perarakan panjang yang dimulai dari depan SDK Mauloo yang berjarak kurang lebih seratus meter dengan Gereja paroki diawali dengan lagu bernuansa taize, “ Pujilah Tuhan, pujilah nama-Nya, Pujilah Tuhan... sumber kehidupan”. Suara para peziarah yang didominasi sopran dan alto ini menggema ke angkasa dengan langit tanpa awan, di saksikan laut selatan yang hari itu tenang bagaikan danau tak bergelombang, membuat suasana Gereja Mauloo menjadi agung dengan kemeriahan dari barisan para pecinta kerahiman ilahi ini. Berbondongbondong para devosioner kerahiman memasuki Rumah Tuhan dan menempati bangku yang sudah disiapkan menurut nama paroki.

PERAYAAN EKARISTI Setelah semua umat Allah masuk ke dalam Gereja para konselebran di bawah pimpinan Pater Vikjen Maumere, Dr. Wilhelm Djulei SVD, sebagai selebran utama, didampingi Rm. Marsel, O.Carm (Pastor Paroki Mauloo) Rm. Arnold Pr, (Pastor Paroki Bola) Rm. Gabi (Pastor Paroki Lekebai) dan Rm. Fanci (Pastor Kapelan Paroki Magepanda), barisan hamba-hamba Allah dengan para misdinar ini makin semaraknya perayaan ekaristi

44

hari ini. Gaung lagu “Marilah bersyukur dalam terang paskah” yang dilantunkan dari suara para kelompok doa kerahiman ilahi Paroki Mauloo membawa para abdi Allah melangkah maju menuju altar suci. Perayaan suci pun bergulir indah dari waktu ke waktu. Setelah sabda Allah diwartakan, renungan diganti dengan memberi kesaksian dari beberapa paroki yang menjadi kebiasaan setiap perayaan minggu kerahiman ilahi ini. Dari kesaksian yang disampaikan oleh bapa-ibu yang mewakili parokinya masing-masing, bahwa dengan mengikuti doa kerahiman ilahi mengantar mereka untuk hidup lebih tenang, damai dalam keluarga bahkan banyak mengalami mujizat penyembuhan. Benar bahwa orang yang datang kepada Yesus tidak pernah dikecewakan sebagaimana Yesus katakan sendiri, “Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya, Mat 21:22”. Bahwa setiap kali orang berdoa sebenarnya tidak pernah tidak dikabulkan bila orang memiliki iman dan kepercayaan kepada Yesus, sebab Yesus melakukan penyembuhan kepada orang yang berharap kepadanya justru oleh karena iman orang yang bersangkutan, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!” Mrk 5:34. Dari firman Tuhan ini kita mengetahui bahwa mujizat tetap nyata dalam kehidupan kita sampai saat ini sebab kita umat tidak pernah berhenti menerima ganjaran keajaiban dari Tuhan lewat mujizat-mujizat yang dialami dalam kehidupan setiap umat yang berharap kepada-Nya. Perayaan agung yang dipenuhi dengan para peziarah itu, berjalan dengan hikmat. Beberapa kata sambutan dari ketua panitia, pater vikjen, pastor paroki serta koordinator kelompok doa kerahiman ilahi. Bersykur dan berterima kasih atas kepercayaan Paroki Mauloo sebagai tuan rumah perayaan Minggu Kerahiman Ilahi tingkat Keuskupan Maumere tahun 2012, mempererat persaudaraan dalam kelompok doa ini, serta menjaring lebih banyak lagi orang untuk masuk ke dalam kelompok serta makin militan menjadi pewarta kerahiman ilahi agar devosi ini semakin luas diwartakan di Keuskupan Maumere. Juga para peziarah kerahiman untuk tetap solid dalam menjalankan doa yang sudah ditetapkan dan sudah dijalankan selama ini. Kira-kira demikian yang perlu digarisbawahi dalam kata sambutan. Setelah Perayaan Ekaristi selesai dalam Gereja, acara dilanjutkan di luar Gereja di mana tenda berukuran besar yang telah dibangun oleh kelompok doa CAS (Cinta Akan Sesama) siap menampung ribuan para peziarah yang akan melanjutkan acara yang telah disiapkan baik oleh panitia maupun dari beberapa paroki untuk menghibur para hadirin sambil menanti santap siang.Atraksi dari anak-anak sekami paroki mulai beraksi di panggung dengan lenggang-lenggok dan melantunkan beberapa lagu yang merdu. Selain itu kesaksian dari beberapa orang yang belum sempat disampaikan dalam


Dari Paroki Gereja, kembali tampil di panggung untuk memberikan kesaksian mereka karana mujizat yang telah mereka alami dari Yesus. Pada pukul 14:00 waktu Mauloo para koordinator masing-masing paroki di bawah pimpinan romo Arnold Pr, berkumpul di soto pastoran untuk mengadakan evaluasi singkat tentang perayaan hari ini sekaligus menetapkan tuan rumah perayaan tahun 2014. Dari hasil evaluasi yang cuma menyita waktu setengah jam itu pada umumnya baik dan memilih Paroki santo Martinus Bola untuk menjadi tuan rumah perayaan tingkat keuskupan tahun 2013. Bravo kepada paroki Bola yang telah bersedia menerima tugas dari Allah ini. Setelah pertemuan singkat dari koordinator, semua para peziarah yang sedang gembira dengan acara-acara bebas di panggung, tibalah saatnya untuk masuk kembali ke dalam rumah Tuhan untuk menyaksikan slide yang sudah disiapkan dengan mantap oleh Romo Arnold

Pr. Saat yang sungguh hening. Semua mata melihat dan membaca apa yang ditampilkan melalui infokus ke dinding Gereja itu. Setengah jam berlalu, pukul 15:00 semua yang tadinya sunyi tak berkata, kini kembali bersuara menyanyikan lagu pembuka memulainya doa koronka yang biasa didoakan pada jam tiga sore itu. Doa ini berjalan selama satu jam, diakhiri dengan berkat oleh Pastor Paroki Mauloo. Akhirnya perayaan akhbar Pesta Kerahiman Ilahi tingkat Keuskupan Maumere selesai. Semoga apa yang kita mulai ini akan berakhir pula dalam Tuhan, semoga perjalanan kelompok devosioner Kerahiman ilahi ini tetap berjalan di bawah payung Yesus, Tuhan memberkati.

Selamat Hardiknas 2012 SMAK Yohanes Paulus II menerima pendaftaran murid baru,Tahun Ajaran 2012/2013 45


Gesser

GERAKAN SOLIDARITAS SERIBU RUPIAH (GESER) KEUSKUPAN MAUMERE

Maumere, 15 Mei 2012

46


Gesser

GERAKAN SOLIDARITAS PENDIDIKAN KEUSKUPAN MAUMERE

Maumere, 15 Mei 2012

47


48


Majalah Keuskupan Maumere