Issuu on Google+

Lentera Kreatifitas

Suluh IDEALIS KREATIF RESPONSIF DIALEKTIS TRANSFORMATIF Edisi 28-Mei-2014

Sudah mahal, ada tambahan biaya pula

n

a ah

b an Tambayar Pem

UKT Konflik Jatah Anggaran, Mahasiswa Jadi Tumbal


Suluh

Konflik Jatah Anggaran, Mahasiswa Jadi Tumabal Oleh : Alexander Agus Santosa

“Kata PR 2 “Cukup”, kata Dekan “Belum Cukup”, mahasiswa bayar biar cukup”

D

ua tahun sudah Unsoed menerapkan sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT). Rektor Unsoed pada audiensi dengan Savesoedirman dua tahun silam berjanji, bila tidak ada penarikan lain kepada mahasiswa pengguna UKT. Sayangnya janji kini tinggal janji, beberapa mahasiswa di Unsoed tetap saja dimintai tarikan uang. Bukan uang sumbangan atau pembangunan gedung, justru uang praktikum. Seperti yang diungkapkan oleh Jaka Tri Septiana, Mahasiswa Biologi 2012, Ia harus merogoh kocek Rp335.000 untuk kuliah lapangan di luar kota, padahal ia sudah membayar UKT. Dekan Biologi, Yulia Sistina, mengakui bila dalam unit cost tidak ada anggaran untuk kuliah lapangan. Yulia mengatakan, jika anggaran yang diajukan ke universitas sudah memasukan cost praktikum. Setelah disetujui universitas, anggaran praktikum yang turun sangat kecil.

Sehingga tidak cukup untuk mengadakan kuliah lapangan. “Tidak tahu mengapa dana praktikum yang turun sangat kecil, jadi dialokasikan untuk praktikum di dalam kampus saja,” ujar Yulia. Lain biologi lain agroteknologi, bila jurusan biologi sejak awal memang tidak diberi jatah kuliah lapangan. Jurusan agroteknologi telah diberi jatah oleh fakultas untuk praktikum lapangan, tapi dengan jumlah yang minim. Seperti yang dikatakan Gani Hus ni Mubarok, Mahasiswa Agroteknologi 2012, Ia membayar Rp 70.000 untuk menutupi kekurangan biaya praktikum tersebut. “Iya, kemaren matakuliah ekologi tanaman ke Pangandaran, kita bayar 70.000 per mahasiswa, nanti bulan depan ke Bandung juga bayar lagi. Katanya sih kita cuma dapat Rp350.000 per mata kuliah, makanya nggak cukup untuk transportasi dan akomodasi

LPM SOLIDARITAS FISIP UNSOED |Pelindung: Pemimpin Umum LPM SOLIDARITAS | Pemimpin Umum: Syaqib Askar | Wakil Pemimpin Umum: Srie Mustika Rahayu | Pemimpin Redaksi: Alexander Agus Santosa | Pemimpin Litbang: Yoshua Abib Sinurat | Redaktur Pelaksana: Riska Yulyana Damayanti | Layouter: Candra Darmawan | Reporter: Fita Noviana, Alexander Agus Santosa, Fahri Abdillah, Yoshua Abib Sinurat | Ilustrasi: Muhammad Rizki Alawi 1 Lentera Kreatifitas//Edisi 28 - Mei - 2014

Lentera Kreatifitas//edisi 14 November 2007


Suluh praktikum di luar Purwokerto,” kata Gani. Jawaban dari pihak dekanat pertanian pun tidak jauh beda dengan jawaban dekan biologi. Adwi Herry Koesoema Ellyanto, Pembantu Dekan II, Fakultas Pertanian mengatakan bila terjadi perbedaan antara dana yang diajukan dan yang turun. Ia mengaku sudah mengajukan anggaran yang dibutuhkan kepada universitas, tapi hasilnya justru dibawah yang dianggarkan.

Ia mengakui baru mendengar kurangnya dana praktikum di beberapa fakultas. Menurutnya fakultas harus memangkas anggaran-anggaran yang tidak penting, untuk memenuhi biaya anggaran akademik. “Kalau mau ya kurangin aja anggaran jalan-jalan dosen, honor dosen dan anggaran yang tidak penting untuk anggaran akademik,” katanya. Sebab menurut Eko, pemangkasan anggaran digunakan untuk memenuhi kebutuhan prioritas untuk ya kurangin mahasiswa.

“Kalau mau Alhasil bila masih tidak ada aja anggaran jalan-jalan anggaran yang cukup, Ketika dimintai dosen, honor dosen dan baik untuk praktikum pertanggungjawaban soal anggaran yang tidak dan anggaran lain penarikan dana diluar maka UKT terancam UKT di fakultas. Ia penting untuk anggaran dinaikan seperti yang berkelit, tidak mau ikut akademik” dijelaskan oleh Yulia. campur lebih lanjut “ K i t a s u d a h terkait penarikan uang mengusulkan ke Dikti UKT tahun depan 6 praktikum di beberapa fakultas. Sehingga juta persemester,” kata Yulia menuntut. Ia fakultas dipaksa mengelola dana seadanya berharap dengan dinaikannya UKT, dapat yang di turunkan oleh universitas. “Saya mendongrak anggaran yang turun dari hanya mengesahkan saja, biar mereka (red: pusat. fakultas) saja yang menyusun,” katanya. Sedangkan Pembantu Rektor II, Eko Hariyanto, saat ditanyai tentang penarikan uang praktikum mengatakan bahwa keuangan Unsoed itu kecil, sehingga tidak sanggup memenuhi semua kebutuhan setiap fakultas. Ia juga membantah bila fakultas kekurangan anggaran, “Saya tahu betul tentang UKT, dan menurut saya itu cukup, terjangkau juga UKT-nya,” tegas PR II.

Eko juga tidak setuju bila UKT dinaikan, namun Ia menerima saja bila ada jurusan yang ingin menaikan UKT-nya. “Ya, kalau ada yang mengusulkan silahkan saja, nanti kami sampaikan ke Jakarta (red: Dikti), biar dikti yang memutuskan diterima atau tidak,” ujarnya. Seharusnya, perhitungan unit cost yang disusun sudah mencukupi segala

Lentera Kreatifitas//edisi 14 November 2007 Visit Our Web http://WWW.CAHUNSOED.COM

2


Suluh kebutuhan mahasiswa. Data tersebut pernah dipaparkan oleh Tim Riset SaveSoedirman sebelumnya. Jika anggaran dalam unit cost sudah mencukupi kebutuhan termasuk kebutuhan akademik. “Unit Cost Unsoed itu sudah lebih dari cukup,� kata Sirojudin, Tim Riset SaveSoedirman.

Kini mahasiswa lagi-lagi menjadi korban dalam penarikan dana di fakultas. Universitas enggan bertanggung jawab, malah melemparkan kepada fakultas. Sedangkan dana yang diberikan Universitas kepada fakultas kecil.

Cahunsoed.com Kuliah Bae, Kapan Sinaune lpmsolidaritas92@gmail.com Cahunsoeddotcom Cahunsoed.com

3

Lentera Kreatifitas//Edisi 28 - Mei - 2014

Lentera Kreatifitas//edisi 14 November 2007


Suluh

Komik

Lentera Kreatifitas//edisi 14 November 2007 Visit Our Web http://WWW.CAHUNSOED.COM

4


Suluh BIROKRASI UNSOED, PERMASALAHAN ALOKASI DANA BEASISWA Oleh: *Mohamad Khaidir Nurjaman Berbicara birokrasi tentu berbicara mengenai para birokrat kampus yang memegang jabatan beserta power yang di milikinya untuk menentukan segala bentuk kebijakan kampus. Birokrasi tentu berkaitan erat dengan negosiasi yang berisi dengan segala kepentingan yang berujung pada sebuah kebijakan kampus. Kebijakan yang harus di taati oleh si mahasiswa dan seluruh buruh kampus yang bekerja dalam ruangan-ruangan ber-AC. Ada juga buruh-buruh tekhnis kebijakan. Di kenal sebagai karyawan bapendik, tata usaha, dan tak lupa, dosen yang menjadi alat transformasi ilmu kepada mahasiswa termasuk buruh kampus juga. Birokrasi, bagian yang tak lepas dari sistem yang menentukan jalannya kebijakan. Ada syarat khusus dalam birokrasi yang dikatakan baik. Salah satunya adalah terbuka , transparan, serta melayani. Dalam sistem birokrasi kampus, pemegang alur kebijakan tertinggi adalah Rektor, dan jajarannya. Lalu ada pula di fakultas, hinga yang berkaitan dengan Tata Usaha, dan kemahasiswaan. Terlalu rumit, jika dijelaskan dalam satu kalimat, Njlimet, berbelit, dan jelas berbau

5

Lentera Kreatifitas//Edisi 28 - Mei - 2014

kepentingan. Namun kita lihat saja bagaimana gambaran birokrasi sehar- hari. Mereka yang berlindung di balik perisai jabatan dan kesucian pemegang kekuasaan. Berlambang spatu mengkilat, jas mewah, ditemani secangkir kopi,dan cigarette, tak lupa gadget berisikan games angry birds (maybe). Mereka memantau berjalannya kebijakan setelah kebijakan berjalan. Mengapa demikian, ini mungkin karena mereka takut di kebiri kekuasaannya, anti-kritik, sehingga halhal itu membuat mereka harus bersembunyi apabila ada yang tidak beres dengan kebijakan yang di putuskannya. Contoh realnya, ketika seorang mahasiswi jurusan Sosiologi yang tak lain teman kelas saya sendiri hendak mengambil judul mengenai permasalahan “Alokasi Dana Beasiswa Bidik Misi, BBM dan PPA� sebagai skripsi untuk menyelesaikan studi sarjananya. Namun yang terjadi, dia di kritik habis-habisan oleh pembimbingnya, yang juga pemangku kebijakan tingkat rektorat. Kelar di kritik langsung ditandas, 'Ganti judul tersebut'.


Suluh Ada sebuah kejanggalan disini, mahasiswa yang harus dituntut kritis akan berpikir dan bertanya mengapa harus di bendung langkahnya? Mengapa judul itu harus di ganti? apa yang salah? Bukan masalah penyusunan bahasa ataupun kata-kata tentunya. Melainkan judul yang hendak di bedah dan dicari informasi kebenarannya. Memang Permasalahan beasiswa menyangkut keberlanjutan mahasiswa d a l a m menjalankan studinya. Terkhusus, yang tidak kurang m a m p u membiayai pendidikan. Artinya alokasi anggaran yang dipertanyakan dalam kasus skripsi teman saya layak dipertanyakan. Teman saya sendiri mendapat beasiswa. Ia mendapat jatah beasisiwa, perolehan beasiswa dengan pembatasan tahun, Bidik Misi nama beasiswanya. Dengan Ia sebagai orang yang mendapat beasiswa, Ia pun diganjal pula beasiswanya. Jika judul skripsinya tetap dilanjut, maka beasiswanya akan dicabut. Lain lagi, ruang pelayanan bapendik pun lucu. Sebagai

elemen yang seharunya melayani, malah banyak sekali terjadi kontra pelayanan yang baik. Seperti dalam hal pemberian informasi mengenai opening pendaftaran beasiswa, pihak bapendik sering kali memainkan tanggal pembukaan dan penutupan penyerahan pendaftaran dan persyaratan pengajuan beasiswa. Pernah saya alami sendiri, juga beberapa teman-teman satu jurusan yang saya ketahui, bahwa pengumuman pendaftaran beasiswa sering kali mendadak, di tambah dengan tidak a d a n y a kejelasan mengenai persayaratan apa saja yang di butuhkan oleh pihak kampus. Contohnya, ketika itu saya dan kawan saya hendak menanyakan informasi mengenai pendaftaran beasiswa, namun pihak bapendik hanya menjawab, “belum tahu, belum ada, kalau sudah adapun biasanya kami umumkan di papan informasi�. Memang benar di umumkan ketika itu, Tapi antara waktu pembukaan pendaftaran dan penutupan penyerahan persyarat lebih sering diberikan dengan tenggang waktu sempit.

Lentera Kreatifitas//edisi 14 November 2007 Visit Our Web http://WWW.CAHUNSOED.COM

6


Suluh Belum lagi tak adanya kejelasan mengenai persayaratan apa yang harus di serahkan, karena pada saat itu deadline kurang 5 hari. Saya bergegas mempersiapkan persayaratan yang dibutuhkan, jelas cukup banyak da rumit. Sudah seperti itu, kelar urusan yang sudah ditentukan dengan ketidak jelasan info. malah .mahasiswa disalahkan. Berbelit, meminta syarat diganti atau apa lah, sampai waktu itu saya tergesa-gesa. Inilah yang terjadi senyatanya, birokrasi kampus memang lucu. Tak ada transparansi, pelayanan tak

jelas, dan lainya yang memang berteletele. Paling krusial dari Pertanyaan saya adalah, soal teman saya. kenapa sampai enggan menerima judul yang di ajukan kawan saya tentang dana. bukankah seharusnya bentukan birokrasi yang baik adalah birokrasi yang terbuka dan transparan. Lalu, apa salahnya jika seorang penerima beasiswa meneliti tentang keganjalan unsoed, Hingga mendapat ancaman di cabut Beasiswanya.

*Mahasiswa S1 Sosiologi Fisip Unsoed

Pondok Berhimpun Jl. Ryanto, Gang Kenanga 4 No.1, semampir, purwokerto utara. Cp: Wawan (089673844418 | 26EEEE2A)

Segera:

Bazar Buku 8

Waktul:Senin,2 Juni 2014

@Pendopo FISIP

Lentera Kreatifitas//edisi 14 November 2007

4


SULUH: Konflik Jatah Anggaran, Mahasiswa Jadi Tumbal