Issuu on Google+


DAFTAR ISI Di dalam Seni Semua Orang Adalah Setara tidak ada Hirarki Apen Makese Selayang KATAPEL Yogi S. Memeth Sajak-sajak Arther Panther Olli Sajak-sajak Arther Ilham Fahmi Sajak-sajak Arther M. Ibnu Ardy Sajak-sajak Syaidatul Fitria Malini Arimbi, Cinta Pisang Goreng Cerpen DG. Kumarsana Workshop Dance With Pavyruzz Crew Karya Siswa Sajak-sajak Arman Marjan Aku Baru Sadar bahwa Aku juga Pemalas Resensi Yogi S. Memeth Profil Guru Kepala sekolah yang tidak mau ketinggalan berkarya

1


Di dalam Seni Semua Orang Adalah Setara tidak ada Hirarki

Berbicara soal seni dan pendidikan sama seperti berbicara soal ayam dan telur. Karena merupakan hal yang sangat ambivalen jika kita menilik masing-masing secara spesifik dari kesalingterkaitannya. Keterpisahan dari keduannya merupakan kemusykilan yang menghabiskan dimensi-energi antara isi dan juga bentuk dari sesuatu yang hidup. Lalu bagaimanakah seni dalam pendidikan itu sendiri dapat bercampur? Atau, adakah motif pendidikan yang terberi dari kreasi seni yang menyatu? Ada banyak hal yang harus dikupastuntaskan, salah satunya adalah keragaman budaya Indonesia yang menyebabkan kita mempunyai berbagai ragam bentuk karya seni yang tercipta dari prespektif primordial kita masing-masing, yang jarang dimiliki bangsa lain. Namun, kita tidak dapat mengesampingkan pembicaraan seni sebagai salah satu perubah zaman. Untuk itulah kita harus mewadahi berbagai seni menjadi satu pendidikan dengan tujuan mengkaji tiap-tiap jenis dan bentuk seni di Indonesia. Untuk hal ini penulis perlu melihat peta sejarah dan kronologis arti kata seni yang dalam bahasa Sanskerta, kata seni disebut cilpa. Sebagai kata sifat, cilpa berarti berwarna, dan kata jadiannya su-cilpa berarti dilengkapi dengan bentuk-bentuk yang indah atau dihiasi dengan indah. Sebagai kata benda ia berarti pewarnaan, yang kemudian berkembang menjadi segala macam kekinian yang artistik. Cilpacastra yang banyak disebut-sebut dalam pelajaran sejarah kesenian, adalah buku atau pedoman bagi para cilpin, yaitu tukang, termasuk di dalamnya apa yang sekarang disebut seniman. Memang dahulu belum ada pembedaan antara seniman dan tukang. Pemahaman seni adalah yang merupakan ekspresi pribadi tentang bagaimana mengekspresikan keindahan masyarakat yang bersifat kolektif. Yang demikian itu ternyata tidak hanya terdapat di India dan Indonesia saja, juga terdapat di Barat pada masa lampau. Dalam bahasa Latin pada abad pertengahan, ada terdapat istilah-istilah ars, artes, dan artista. Ars adalah teknik atau craftsmanship, yaitu ketangkasan dan kemahiran dalam mengerjakan sesuatu; adapun artes berarti kelompok orang-orang yang memiliki ketangkasan atau kemahiran; dan artista adalah anggota yang ada di dalam kelompok-kelompok itu. Maka kiranya artista dapat dipersamakan dengan cilpa.

2


Ars inilah yang kemudian berkembang menjadi l'arte (Italia), l'art (Perancis), elarte (Spanyol), dan art (Inggris), dan bersamaan dengan itu isinya-pun berkembangan sedikit demi sedikit kearah pengertiannya yang sekarang. Tetapi di Eropa ada juga istilah-istilah yang lain, orang Jerman menyebut seni dengan die Kunst dan orang Belanda dengan Kunst, yang berasal dari akar kata yang lain walaupun dengan pengertian yang sama. (Bahasa Jerman juga mengenal istilah die Art, yang berarti cara, jalan, atau modus, yang juga dapat dikembalikan kepada asal mula pengertian dan kegiatan seni, namun demikian die Kunstlah yang diangkat untuk istilah kegiatan itu). Yunani yang dipandang sebagai sumber kebudayaan Eropa walaupun sejak awal sejarahnya sudah mengenal filsafat dan juga filsafat seni, ternyata tidak juga memiliki kata yang dapat disejajarkan dengan pengertian kita sekarang tentang seni. Jauh dari masa lalu sejarah, kata, pengertian tentang seni. Saat ini, seni dan pendidikan jika dimasukan ke dalam sistem nilai yang mampu mewarnai dinamika kehidupan yang mendasar, maka seni dan pendidikan harus dipandang sebagai kegiatan memperoleh dan menyampaikan pengetahuan, sehingga memungkinkan transmisi kebudayaan dari generasi ke generasi berikutnya. Konsep ini mengangkat derajat manusia sebagai makhluk budaya yang diberkati kemampuan untuk menciptakan nilai kebudayaannya. Hal ini, menekankan betapa peranan seni dan pendidikan sebagai ilmu pengetahuan untuk membina sikap mental manusia, dan dapat dijadikan postulat umum dalam menumbuhkembangkan pendidikan seni atau kebebasan seni itu sendiri, yang tidak melulu tersimpul kegiatan indoktrinasi yang secara praktis menanamkan atau mengindoktrinasikan nilai atau norma-norma tertentu. Karena pada hakikat pendidikan relatif ditentukan oleh konsep tentang sifat dan hakekat manusia itu sendiri, baik secara psikologis, kekuatan, bakat, kemampuan dan minat kepentingannya. Sehingga F Mortimer J. Adler melihat pendidikan (dan seni, pen) sebagai satu proses yang utuh, dimana semua kemampuan manusia (bakat dan kemampuan yang diperoleh) yang dapat dipengaruhi oleh pembiasaan, disempurnakan dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik melalui sarana yang secara artistik dibuat dan dipakai oleh siapa pun untuk membantu orang lain atau dirinya sendiri mencapai tujuan yang ditetapkan, yaitu kebiasaan yang baik. Namun, persoalan seni dan pendidikan memang menjadi problematika bangsa Indonesia sampai kapan pun. Problematika tersebut, tampak dari masalah visi pendidikan nasional sampai kurikulum. Dari problematika tujuan pendidikan untuk 'pendewasaan manusia' sampai kepada pendidikan yang mampu meningkatkan derajat terdidiknya anak bangsa. Tidak kalah pentingnya problematika peningkatan kesejahteraan pendidik dalam rangka profesionalisme sampai kepada peningkatan mutu pendidikan (keluasan seni) itu sendiri. Atau problematika siapa sebenarnya yang harus menanggung prosentase yang lebih besar sebagai penanggung jawab pendidikan : pemerintah, keluarga atau masyarakat? Dan beribu persoalan lainnya. Dan harus diakui, kita semua hidup dalam dunia yang seluruh logika yang mengacu pada satu hal, yakni motif keuntungan ekonomi. Akibatnya, seluruh proses hidup bersama, termasuk seni dan pendidikan pun diarahkan melulu pada motif untung rugi. Dengan demikian, membicarakan bentuk dan pertumbuhan seni, bukanlah satu hal yang mudah, disebabkan ragam kebudayaan etnis yang kita miliki. Karena di saat zaman mulai bergeser, maka segala sesuatu yang berhubungan dengan budaya pun akan ikut pula bergeser, termasuk seni itu sendiri. Tampaknya problematika seni dan pendidikan akan sama halnya dengan problematika hidup itu sendiri. Maka, sah-sah saja jika seni (misalnya sastra dan film) sebagai bentuk performansi kehidupan dalam “kata dan

3


Semua tentu amat berharap media apapun dapat diciptakan, dihadirkan dan menghadirkan hasil karya cipta seni yang bukan hanya sebagai tontonan (spectacle) namun juga sebagai tuntunan (pendidikan) yang meuntut adanya kebaikan dan kebenaran. Dari sudut pandang ini, diharapkan juga adanya kerja kreatif pelaku seni yang sudah semestinya tidak hanya bersifat project oriented, yakni demi memenuhi selera pasar dan hiburan masyarakat untuk lari dari kondisi kesulitan hidup keseharian. Karena kerja Seni merupakan kerja karya yang merefleksikan kondisi masyarakat secara jujur dan apa adanya. Jika tidak memiliki refleksi demikian, maka karya seni tidak lagi memiliki 'ciri' spesifik sebagai media transmisi yang dimaknai sebagai ruang pembebasan dan atau sebagai perubah kejumudan masyarakat. Mungkin pemikiran pragmatis demikian masih debatable dari sudut pandang para pekerja seni, namun bagi apresiator seperti kita kelihatannya keinginan tersebut merupakan kebutuhan yang patut terus diperjuangkan. Meski akan sangat ironis ketika seni tidak pahami sebagai ruang yang memberikan pendidikan kepada masyarakat. Sehingga kerja karya seni dari pelaku seni akan selalu berbenturan dengan kondisi kultural-normatif dari masyarakat itu sendiri. Yang pada akhirnya anak-anak bangsa kembali mengadu nasib di hadapan televisi. Sarjana pendidikan kembali menemani teman-teman bermain kartu, senda-gurau, berkerumun di gardu-gardu tanpa tahu apa yang mesti dilakukan untuk menciptakan denyut kehidupan baru. Keadaan ini menyebabkan kita untuk terus mengupayakan, kalau tidak menciptakan satu karya seni baru yang dapat menjadi jawaban dari problematika nilai seni, pendidikan, sosial masyarakat itu sendiri. Misalnya (meski sudah berjalan), penyelenggaraan mata pelajaran pendidikan seni sebagai mata pelajaran muatan lokal menjadi salah satu upaya untuk menempatkan media pengembangan jiwa seni peserta didik agar menjadi lebih optimal. Oleh karenannya, pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Pendidikan dan instansi terkait dapat memasukkan program-program daerah (bidang pariwisata, seni dan budaya) sebagai materi pelajaran, seperti : kesenian tradisional daerah, objek-objek wisata budaya dan wisata alam NTB dan sebagainya. Sehingga penekanan dalam hal praktek dari setiap lembaga pendidikan formal maupun nonformal memiliki kelompok seni yang siap terjun di berbagai even yang diadakan, baik oleh lembaga sekolah maupun even lain pada umumnya. Hal ini hendaknya mendapatkan perhatian khusus pemerintah dan berbagai elemen masyarakat, karena mengingat pendidikan seni di Indonesia, sebenarnya dirasakan masih sangat kurang, bukti adanya kekurangan itu adalah ketidakseimbangan antara pendidikan intelektual dan pendidikan estetis (pendidikan seni itu sendiri) di dalam kurikulum pendidikan nasional Indonsesia. Inilah yang seharusnya menjadi “titik nadir� kesadaran manusia bahwa seni dan pendidikan adalah satu kesatuan yang menjadi arus pengubah arah dan sistem pendidikan, politik, kepemimpinan, dan segala nilai yang membelenggu kehidupan. Jelas, seni dan pendidikan merupakan “sesuatu� yang sama sekali tidak terpisah dari kehidupan manusia. Manusia sebagai pelaku seni diciptakan dengan berbagai potensi keindahan yang mewujud di dalam dirinya sendiri oleh Tuhan. Dengan sendirinya manusia sebagai makhluk harus mampu mereduksi kemampuan intuisi dan logis, yang secara mendasar, telah menjadi kodrat bagi manusia itu sendiri. Tanpa disadari pun, seni dan pendidikan melingkupi berbagai aspek. Karena seni berkembang dengan mengikuti kodrat manusia, maka seni bukan lagi sekadar alat budaya yang memainkan peranan dalam kebudayaan. Tetapi, sudah menjadi alat untuk menyampaikan segala ilmu-ilmu yang ada di dalam pendidikan formal maupun non formal. Hal ini karena pendidikan seni bisa memberikan sebuah pengalaman “rasa� pada manusia (peserta didik), dan pengalaman “rasa� itulah yang akan merangsang kemampuan berpikir dari manusia.

4


Untuk hal inilah, kita selaku manusia yang terus mendidik sekaligus menjadi peserta didik mengupayakan penyadaran terhadap seni dan pendidikan yang akan mendukung proses berkesenian suatu masyarakat agar mampu menangkap keseluruhan ilmu-ilmu yang diajarkan di tempat pendidikan yang formal atau pun tempat pendidikan yang tidak formal. Ada tiga hal, yang sesungguhnya dapat menjadikan seni agar dipahami sebagai pendidikan: petama, Seni adalah pengalaman, pengalaman itu sendiri merupakan suatu nilai-nilai yang sifatnya universal dan menjadi sumber dalam pencarian hakikat kebenaran. Dan sepanjang hayat manusia akan tetap mencari kebenaran tersebut hingga kebenaran itu bisa memunculkan satu hubungan yang indah antara manusia dengan manusia lainnya; kedua, Seni adalah penciptaan, tidak mudah untuk menciptakan sesuatu. Tapi manusia di desain untuk mencipta, karena seni dan pendidikan selalu menggali potensi dan mengeksplorasi kemampuan untuk mencipta sesuatu. Dan ini ditunjang dengan pengalaman hingga daya cipta manusia menjadi kaya akan nilai keindahan dan dinamis; ketiga, Seni adalah media aktualisasi diri, Untuk selanjutnya seni masuk kepada suatu pendidikan. Di mana bagi setiap peserta didik seni itu sebagai wadah eksistensi dirinya, menjadi refleksi dari hasil yang diciptakannya. Seni dan pendidikan merupakan satu fondasi bagi pendidikan intelektual yang terus berubah dan secara tidak langsung menjadi beban untuk segala jenis perubahan era. Karena seni atau pendidikan seni akan bisa menyesuaikan diri sekaligus mewarnai perubahan tersebut. Ke-tiga hal di atas, akan membantu masyarakat untuk lebih responsif dan interaktif dalam memaknai dinamikan kehidupannya. Disamping, seni dapat menjadi sumber kebahagiaan, yang dapat mencerahkan hidup diri terkait maupun sekitarnya. Lebih dari itu, elemen yang mampu menciptakan rasa kebahagiaan ini dapat membantu masyarakat untuk menapaki problematika pelik mereka tanpa dipengaruhi prasangka dan kecemasan yang berlebihan. Seperti yang telah banyak dipraktekkan oleh para seniman Islam dan Barat seperti di Iran, Spanyol, Russia, Parancis, Inggris, Yunani, Jerman, dan Negara lainnya. Selain itu, seni juga dapat memberikan rasa nikmat dan kebahagiaan bagi proses kritis terhadap ketidakadilan, memberikan sebentuk dialog yang atraktif, bertahan lama, dengan problem masyarakat serta kekejaman dimasa lalu, kini, dan esok. Seni mampu membuat manusia menjadi “longgar” di dalam berhadapan dengan problematika hidupnya. Begitu pula dengan masyarakat, yang akan menjadi dingin dan lebih “longgar”, ketika berhadapan dengan problematika kolektif mereka yang pelik, baik di masa lalu, masa kini, maupun masa depan. Dalam pada itu, akan lebih bagus jika pendidikan seni bukan semata menjadi pengkajian tanpa berbuat sesuatu. Kita perlu memiliki suatu pembinaan agar seni dan pendidikan; tradisional dan modern bisa sama-sama berkembang di era zaman yang terus berubah-ubah. Pendidikan dimensi-dimensi lain seperti rasa kemanusiaan dan seni, yang notabene sangatlah penting bagi penciptaan kehidupan bersama yang harmonis. Kedua hal tersebut akan bermuara pada kemampuan praktis untuk berpikir kritis, kemampuan untuk mentransendensi kesetiaan sebagai warga masyarakat, serta kemampuan untuk melihat masalah tidak sebagai anggota dari satu kelompok kecil saja, tetapi sebagai bagian “dari seluruh dunia”. Dan, yang terpenting adalah, kemampuan untuk merasa simpati melihat penderitaan orang lain, dan kemudian terdorong berbuat sesuatu untuk mengubahnya. Semua kemampuan tersebut dapat disebut sebagai “imajinasi naratif” (narrative imagination), yang membuat kita untuk dapat mengerti dengan baik keadaan orang lain, serta mengerti sungguh-sungguh apa yang menjadi gejolak emosi serta keinginan mereka. Sebab proses pengembangan simpati merupakan tugas utama pendidikan publik di negara-negara (negara-kota) Yunani Kuno, seperti 5


Untuk hal inilah, kita selaku manusia yang terus mendidik sekaligus menjadi peserta didik mengupayakan penyadaran terhadap seni dan pendidikan yang akan mendukung proses berkesenian suatu masyarakat agar mampu menangkap keseluruhan ilmu-ilmu yang diajarkan di tempat pendidikan yang formal atau pun tempat pendidikan yang tidak formal. Ada tiga hal, yang sesungguhnya dapat menjadikan seni agar dipahami sebagai pendidikan: petama, Seni adalah pengalaman, pengalaman itu sendiri merupakan suatu nilai-nilai yang sifatnya universal dan menjadi sumber dalam pencarian hakikat kebenaran. Dan sepanjang hayat manusia akan tetap mencari kebenaran tersebut hingga kebenaran itu bisa memunculkan satu hubungan yang indah antara manusia dengan manusia lainnya; kedua, Seni adalah penciptaan, tidak mudah untuk menciptakan sesuatu. Tapi manusia di desain untuk mencipta, karena seni dan pendidikan selalu menggali potensi dan mengeksplorasi kemampuan untuk mencipta sesuatu. Dan ini ditunjang dengan pengalaman hingga daya cipta manusia menjadi kaya akan nilai keindahan dan dinamis; ketiga, Seni adalah media aktualisasi diri, Untuk selanjutnya seni masuk kepada suatu pendidikan. Di mana bagi setiap peserta didik seni itu sebagai wadah eksistensi dirinya, menjadi refleksi dari hasil yang diciptakannya. Seni dan pendidikan merupakan satu fondasi bagi pendidikan intelektual yang terus berubah dan secara tidak langsung menjadi beban untuk segala jenis perubahan era. Karena seni atau pendidikan seni akan bisa menyesuaikan diri sekaligus mewarnai perubahan tersebut. Ke-tiga hal di atas, akan membantu masyarakat untuk lebih responsif dan interaktif dalam memaknai dinamikan kehidupannya. Disamping, seni dapat menjadi sumber kebahagiaan, yang dapat mencerahkan hidup diri terkait maupun sekitarnya. Lebih dari itu, elemen yang mampu menciptakan rasa kebahagiaan ini dapat membantu masyarakat untuk menapaki problematika pelik mereka tanpa dipengaruhi prasangka dan kecemasan yang berlebihan. Seperti yang telah banyak dipraktekkan oleh para seniman Islam dan Barat seperti di Iran, Spanyol, Russia, Parancis, Inggris, Yunani, Jerman, dan Negara lainnya. Selain itu, seni juga dapat memberikan rasa nikmat dan kebahagiaan bagi proses kritis terhadap ketidakadilan, memberikan sebentuk dialog yang atraktif, bertahan lama, dengan problem masyarakat serta kekejaman dimasa lalu, kini, dan esok. Seni mampu membuat manusia menjadi “longgar” di dalam berhadapan dengan problematika hidupnya. Begitu pula dengan masyarakat, yang akan menjadi dingin dan lebih “longgar”, ketika berhadapan dengan problematika kolektif mereka yang pelik, baik di masa lalu, masa kini, maupun masa depan. Dalam pada itu, akan lebih bagus jika pendidikan seni bukan semata menjadi pengkajian tanpa berbuat sesuatu. Kita perlu memiliki suatu pembinaan agar seni dan pendidikan; tradisional dan modern bisa sama-sama berkembang di era zaman yang terus berubahubah. Pendidikan dimensi-dimensi lain seperti rasa kemanusiaan dan seni, yang notabene sangatlah penting bagi penciptaan kehidupan bersama yang harmonis. Kedua hal tersebut akan bermuara pada kemampuan praktis untuk berpikir kritis, kemampuan untuk mentransendensi kesetiaan sebagai warga masyarakat, serta kemampuan untuk melihat masalah tidak sebagai anggota dari satu kelompok kecil saja, tetapi sebagai bagian “dari seluruh dunia”. Dan, yang terpenting adalah, kemampuan untuk merasa simpati melihat penderitaan orang lain, dan kemudian terdorong berbuat sesuatu untuk mengubahnya. Semua kemampuan tersebut dapat disebut sebagai “imajinasi naratif” (narrative imagination), yang membuat kita untuk dapat mengerti dengan baik keadaan orang lain, serta mengerti sungguh-sungguh apa yang menjadi gejolak emosi serta keinginan mereka. Sebab proses pengembangan simpati merupakan tugas utama pendidikan publik di negaranegara (negara-kota) Yunani Kuno, seperti 6


Athena, sekaligus juga merupakan elemen kunci bagi demokrasi Yunani Kuno pada zaman dulu. Namun yang menarik, bentuk kesenian kontemporer telah banyak berubah, baik secara kebendaan atau dari segi kajian estetiknya, yang lebih menyeramkan lagi adalah perubahan landasan logika yang menjadi pijakannya. Saya sedikit memberi ilustrasi : Aturan-aturan seni yang memegang teguh kehalusan-batin dan bagaimana epistem, aksio, dan ontologi karya cipta, oleh zaman ini hal itu seolah-olah dimusnahkan, yang dulunya karya seni menyenangkan, ada pertimbangkan etika sosial, agama, budaya dan atau etika-etika lain. Saat ini, kesemuanya menjadi aturan usang/baru. Memang permasalahannya ada pada cara pandang, terjemahan, atau pemaknaan. Jika demikian, apa perlunya UU pornografi dan pornoaksi? Mungkin untuk membatasi ekspresi seni, pelaku seni atau membebaskan seni dari kejumudan karya seni dan pelaku seni itu sendiri? Kita kembalikan saja pada nurani masing-masing pelaku seni dan karya cipta seni. Mungkin kondisi ini terjadi karena seni dan seniman sudah berada pada titik jenuh dan marah terhadap pembelengguan ekspresi seni. Marah dan jenuh pada siapa? Pada lingkungan, pada perlakuan pasar, pada kapital, pada monopoli orang-orang tertentu, pada politik, pemimpin, agama, budaya, masyarakat, atau nilai seni itu sendiri?. Meminjam kata Adi Wicaksono, bahwa karya seni sebelum dinilai adalah nol, lebih dari itu adalah makna, ide, representasi, rekreasi, acuan etik, dokumentasi politik dan sejarah, perlawanan, luka, kekecawaan, paradigma, atau sekedar main-main belaka, dan lain-lain. Pada akhirnya, setiap kebudayaan memiliki titik lemahnya sendiri di dalam memandang keberagaman, yakni eksistensi kelompok, baik di dalam ataupun diluar kebudayaan tersebut, yang dipandang rendah, dan diperlakukan secara diskriminatif. Pendidikan kemanusiaan yang baik akan memilih cara mendidik yang mampu membangun pemikiran kritis terhadap kejanggalan semacam ini, dan memberikan perspektif menyeluruh yang mungkin sebelumnya tidak terlihat. Maka seni (sastra) dan pendidikan harus hadir sebagai bentuk keperdulian terhadap kondisi sekelilingnya. Ia muncul tidak dalam kekosongan budaya, begitu istilah kritikus. Seni dan pendidikan sebagai sebuah hasil estetika- imajinatif, ungkapan-ungkapan karya seni merupakan paduan antara sejarah, situasi lingkungan masyarakat, dan kondisi kejiwaan yang unik dari pelaku seni. Dalam hal ini, seorang seniman, dengan kemampuan pengalaman kerohaniannya akan mampu mengekspresikan ketiga unsur yang dipadu dengan olahan bahasa yang indah. Sehingga pelaku seni mampu membuat sejarahnya sendiri, meluaskan cakrawala berkehidupan bagi lingkungan masyarakatnya, sekaligus mampu mengkristalkan jiwa kenabian pada dirinya. Maka, karya seni menjadi karya sastra yang besar, yang tidak lagi bicara soal diri sendiri, melainkan soal manusia dan kemanusiaan. Mengutip puisi pembebasan dari Iqbal “Hidupkan gairahmu dalam hati panas cerah/Jadikan abumu membesar tugu kenangan/Gairah ialah roh dunia ini dari rona dan wewangian/�. Bagi Iqbal gairah adalah roh kehidupan (elan vital). Gairah sebagai wajah kehidupan yang memiliki kemampuan menebarkan kemaslahatan bagi sekelilingnya seperti bau wewangian. Tanpa gairah hakikatnya seseorang telah mati sebelum meninggal. Demikian. Wallahu'alam. 7


Selayang Komunitas Pelajar (KATAPEL) Lombok Timur Berawal dari pertemuanku dengan kawan lama “Cak Rur”, begitulah nama akrabnya dipanggil beberapa teman dikampung, orang yang terbilang sangat aktif di dunia berkesenian (teater) ini menggodsaya dengan beberapa pertanyaan tentang kegiatan DKLotim (Dewan Kesenian Lotim). Jelas saja saya tidak bisa menjawabnya sebab sampai saat ia bertanya, tidak ada kegiatan berjalan hanya terprogram (seperti para pejabat saja). Di lain tempat kami bertemu kembali, kali ini dengan jumlah yang lebih banyak, hal tersebut tentu membuat saya berpikir bahwa apa yang akan kami bicarakan akan lebih serius. Tak lama setelah basa-basi pertemuan, ia bercerita tentang beberapa kegiatan kesenian yang dijalankan oleh anak-anak pelajar SMA, saya pun kemudian terdiam merenung dan mencoba mencetuskan sebuah ide bernama Komunitas Teater Pelajar (KATAPEL) yang bermaksud untuk menyatukan semua jenis kesenian di sekolah, tentu saja yang diikuti oleh siswa, dari SD-SMA, hanya saja karena belum ada SD jadi kegiatan ini digabungkan hanya SMP dan SMA. Alhasil, kegiatan tersebut terjadi dengan pentas perdana mereka yang berjudul “reinkarnasi”, sebuah pentas kolaborasi antara musik, puisi dan drama “sebut saja performance art”. Selain perjalanan tersebut. Dalam perkembangannya kemudian, KATAPEL mencoba mendirikan HALTE SASTRA sebagai bukti keseriusan mereka dalam memajukan dunia kesenian yang ada di daerah khususnya lombok timur. Sebagai langkah selanjutnya, KATAPEL berencana akan menggandeng semua osis di lombok timur untuk menyatukan barisan agar kesenian lebih dihargai dan dilirik oleh orangorang yang seharusnya memang peduli dengan semua itu, kemudian rencana itu tidak akan berhenti sampai di sini, komunitas berencana untuk mengadakan festival budaya sebagai langkah awal pelestarian budaya, ide ini terlintas dari keyakinan komunitas dan rasa miris akan “anak-anak sasak yang kurang tahu, bahkan tidak tahu tentang budaya mereka sendiri”. Sebagai harapan dari komunitas ini adalah semoga saja kesenian lombok timur berhasil menggantung di dunia sampai semua orang berhasil melihat dan menangkapnya. | Yogi S. Memeth

8


ruang sajak Sajak-sajak Arther Panther Olli Sepagi Ini Telah Berulang Kali Dia Melambaikan Tangannya Padaku Tegak saja dia berdiri Dengan seulas senyum sunyi Menggantung lemah di kering bibirnya Embun telah letih merimbun di helai rambutnya Kemarau bermusim lama di dua bola matanya Sepagi ini telah berulang kali dia melambaikan tangannya padaku Agar kutengok seonggok damba di pojok-pojok hitam harapannya Tiada suara dikirimkan Bunyi adalah desir angin yang tunda lawatan gerimis Dia bernama kalah Yang lelah bertarung sepanjang jalan kehidupan Setiap ziarahnya dia selalu saja bersua redup Seperti saat ini Ketika pagi mengatur sebuah pertemuan Hanyalah kejemuan yang kian abadi di jejak dan bayang Sepagi ini telah berulang kali dia melambaikan tangannya padaku Agar kutengok seonggok damba di pojok-pojok hitam harapannya Tiada suara dikirimkan Bunyi adalah desir angin yang tunda lawatan gerimis Dia bernama kalah Yang lelah bertarung sepanjang jalan kehidupan Setiap ziarahnya dia selalu saja bersua redup Seperti saat ini Ketika pagi mengatur sebuah pertemuan Hanyalah kejemuan yang kian abadi di jejak dan bayang Sepagi ini telah berulang kali dia melambaikan tangannya padaku Dan yang kutengok adalah wajah sang maut di pucat telapak tangannya Gorontalo, 2011

9


ruang sajak Frozen Silence Sementara di luar adalah kesunyian yang beku. Aku tak mau beranjak dari ruangan ini. Gerimis yang jatuh adalah patahan-patahan jarum perpisahan. Desahku mendadak liar ketika kian terbiar masa lalu yang hanyut di selokan-selokan mimpi. Di sini, di ruangan ini, bait-bait puisi menari perih di dinding dingin. Keinginanku yang mentah terpental ke sudutsudut entah. Aku tak cukup pintar lagi mengukur kemiringan siku hati. Belati kebencian terlalu tajam menusuk dan merobek-robek usus-usus kesabaran. Kuingin punah saja, tanpa perlu purba di kepura-puraan pelayat zaman. Sementara di luar kesunyian belum lagi mencair, ruangan yang kusesaki ini tak jua beri keriuhan penuh. Aku tetap saja menghitung jejak sepi di batas sekat-sekat kehilangan. Ingin pulang, tapi ke mana? Semua yang di luar adalah pengulangan angan yang bernama duka. Gorontalo, 2010.

Arther Panther Olii, lahir di Manado, 7 Agustus. Karya-karyanya berupa puisi dan cerpen dimuat di berbagai harian Sulut. Dan beberapa harian online nasional. Puisi-Puisinya tergabung dalam Antologi Tarian Ilalang, Antologi Puisi Kasih : Tanah, Air dan Udara, Antologi Sepuluh Kelok di Mouseland dan Bunga Rampai Cerpen dan Puisi Temu Sastrawan Ke4, Ternate 2011. Saat ini bergiat di Komunitas Sastra Tanpa Nama (KSTN) Gorontalo. Komunitas Bibir Pena dan Komunitas walekofiESA (Manado). Juga sebagai salah satu awak Tanggomo (Jurnal Kebudayaan Gorontalo). Tinggal dan berwiraswasta di Manado.

10


ruang sajak Sajak-sajak Illham Fahmi LELAKI DAN MIMPI Duduk menghempaskan lelah. Mataku menatap dua lelaki merajut mimpi, selimut tebal menghadang terpaan angin pada tubuhnya. Tidur lelap terasa pada mereka. Jarum jam tepat pada angka dua. Bunyi du kaki tak membangunkan mereka untuk memuja. Dua lelaki itu asik menikmati mimpi.

LELAKI DAN MIMPI II Mimpi memanjat langit mengambil terang pada gelap. Sebab nasib gelap pada terang membuat bangunnya mematung.

Ilham Fahmi lahir tanggal 17 Oktober 1985 di Masbagik. Kabupaten Lombok Timur Propinsi Nusa Tenggara Barat. Mengambil Study Bahasa Inggris di STKIP Hamzanwadi Selong.

11


ruang sajak Sajak-sajak M. Ibnu Ardy Perempuan Bisu Sang bocah menyingsingkan pakaian berteriak hempaskan senyuman Sementara perempuan di dekatku Hanya asyik memandang mentari Sang bocah berlari kecil Sambil memecah gelombang Sementara perempuan di dekatku memeluk lutut kedinginan Lombok Timur, 01-01-2012 Cermin Dari jauh ku lihat kelebatmu Cermin kelas itu Gemuruh memecah langit bisu Terik mentari Angin tak lagi bernyanyi Rumput yang asa Mengembang dengan nafas merdeka Awan berserakan Matahari ganas menyengat Suara menggelagar Membawa awan saling berpelukan Lombok Timur, 03/01/2012

Muh. Ibnu ardi, SS. Akrab di panggil ardhy .lahir di Dasan Tembeng Lenek Lauk Kec. Aikmel LOTIM, 24 September 1986. Usai merampungkan Madrasah Aliyah Al Istiqamah NW Suralaga , Ia menempuh kuliah di Universitas Nahdlatul Wathan Mataram, Program Studi Sastra Indonesia. dulu aktif di komunitas rumah sungai (KMRS) Lombok Timur. Selain itu penulis Aktif dalam menulis puisi dan naskah drama. Dengan hobi menulis ia mencoba menggarap novel, tenaga pengajar MA NW Lenek Lauq dan pendiri Teater Mahkota Rinjani MA NW Lenek Lauq.

12


ruang sajak Sajak Syaidatul Fitria Malini Selendang Batu Baris ombak di bawah cangkang matahari Menetaskan butir cahaya dari kandungan awan Titik hitam di gurun retinamu Membunuh wanita perokok yang memakan kepul asap di tanjung menangis Serakkan daging kau jadikan sesaji di rebo buntung Dimakan bidadari telanjang di atas selendang batu Kau genggam sirip malam Menghempaskannya pada karang angin Membelah dua aliran nadiku di pertengahan kokoh nyawa Darah mengalir dari ulu Membekukku dalam trowongan kematian Hingga nyeri sampai ke ari-ari 1 Januari 2011 SYAIDATUL FITRIA MALINI Mahasiswa STKIP Hamzanwadi Selong, aktif di Sanggar Narariawani.

13


Arimbi, Cinta Pisang Goreng Cerpen DG. Kumarsana Terlalu sulit membedakan, mana cinta sejati dan manapula sesungguhnya cinta palsu. Aku sering mendengar kata-kata cinta hanya lewat lagu doang, namun bukan menampik kenyataan sesungguhnya dalam hidupku. Kalau membedakan pisang dan singkong memang mudah. Dilihat dari bentuknya sudah jelas. Namun kalau cinta tidak bisa dilihat sebagai pisang ataupun sebagai singkong. Cinta adalah sesuatu yang………. “Hahahaha ada ada saja kamu kawan. Mana ada cinta dipandang dari sudut pisang dan singkong segala. Gila kamu!” Erlan mengumpat “Iya, kalau pisang goreng pasti ada. Mengunyahnya tidak membutuhkan cinta. Cukup dengan perut yang lapar,” Nyoman ikut-ikutan nyeletuk diikuti ketawanya yang keras. Aku lihat kedua teman karibku dengan perasaan aneh. Rasanya apa yang kupikirkan seperti apa yang ada dalam pikirannya. Hebat, wuih bener-bener hebat. Itu artinya perasaan berteman yang mendarah daging sampai merasuk ke dalam pikiran. Hingga sering kerasukan dibuatnya. Kenapa mereka memberi komentar demikian? Ah, ada-ada saja jalan pikiranku. “Lho, memangnya kalian tahu apa yang ingin aku omongkan?” “Iya jelas tahu dunk!” Keduanya serempak menjawab seperti dalam sebuah komando “Apa?” “Hehehe tentang hubunganmu yang lagi kacau dengan Arimbi kan?” Nyoman menjawab. “Cerita darimana?” Aku bertanya kaget. Begitu cepatnya berita itu menyebar. Kupikir mereka ini hanya sibuk memikirkan sekolah, sibuk beraktifitas dalam organisasi ataupun sibuk berdemo. Ternyata untuk urusan pribadipun mereka masih peduli. Ini memang benar-benar kawan yang masih memikirkan diriku, mereka adalah orang-orang yang peduli terhadap lingkungan di sekitarnya. Tapi, ah, jangan-jangan mereka nanti akan mengolok aku. Ya, bisa saja dengan cara mereka memancing bicara akhirnya aku akan bercerita banyak dalam segala hal mengenai hubunganku dengan Arimbi. Kemudian secara diamdiam mereka menyebar cerita itu ke teman-teman sekolah yang lain. Menebar dalam gossip murahan. Iya mereka akan menceritakan semuanya. Tentu saja. Cerita ini akan menghebohkan kawan-kawan yang lain. Iya pasti demikian, karena kan aku adalah tokoh yang terkenal dan sangat beken. Baru-baru ini aku memerankan tokoh Arjuna dalam sinetron tayangan televisi dengan thema ' Arjuna memburu senggeger' yang dalam cerita itu aku memerankan tokoh Arjuna si buruk rupa. Padahal dalam cerita sesungguhnya Arjuna itu orangnya ganteng, elok rupawan. Kok bisa ya sutradara merubah keadaan yang sesungguhnya? Ah. Aku ganteng kok!

14


kisah “Ha..ha..ha, ganteng katamu? Semprul! Kamu itu menang ganteng karena ngetop Jun, “ terdengar tawa khas Nyoman yang membuyarkan lamunanku tentang tokoh Arjuna nan ganteng. Busyet! Temenku ini bisa-bisa aja. Arimbi…..Arimbi….., semudah itukah hatimu berpaling? Padahal sudah sering aku bawa kamu jalan-jalan ke mall, aku bawa kamu berenang di caprio sambil duduk-duduk lesehan maem gurami, aku traktir mack Donald, kau mencicipi oleh-oleh pizza hut setiap aku ngapel ke rumahmu. Oh, hanya gara-gara xenia kau jatuh kepelukan Sekuni. Dasar kamu cewek matre. Matreeeeeee norak! Udah berapa duit aku habiskan buat kamu. Kantongku menipis. Saldo ATMku kian menciut. Engkau, Arimbi? Uh, malah bibirmu kau berikan si Sekuni brengsek itu untuk mengecup sesuka-sukanya. Bahkan mungkin juga engkau ikut menikmati hingga jontor. Dasar wanita murahan! “Tenang, Jun. Nanti Arimbi-mu yang sudah diambil orang kita umpan pake senggeger, gimana? Pasti dia akan berpaling lagi padamu. Pasti dia akan kepincut lagi ama sadel Variomu yang benar-benar pinky hehehe. Simple comme bonjour!” Erlan memperbaiki kekalutanku yang tak mampu bersembunyi dari penglihatan mereka berdua. Oh, dasar nasib apes. Mana Vario belum lunas cicilannya. “Bah! Senggeger, lagi-lagi senggeger. Masak Arjuna seganteng aku mesti pake ilmu senggeger segala? Nggak-lah!” Aku mengelak dan menolak saran temanku itu. Aku percaya senggeger. Aku percaya ilmu pelet dan aku tahu keampuhannya. Kemarin aja Subadra aku kasi kerlingan mantap sesudahnya habis-habisan ngejar aku. Bahkan sampai ke rumah selalu diikuti. Mau berak aja sampai dia bela-belain untuk setia menunggu ikutan jongkok di depan pintu. Oh, lugunya Subadra. Untung hanya satu punya rahim. Padahal kalau sepuluh rahimnya, mungkin sepuluh kali bermukim janin-janinku yang nakal. Lha, kok bisa? Satu rahimpun cukup menghasilkan sepuluh kepala bayi. Ah, bingung aku kalau memahami soal itu. Padahal dewi Gendari sendiri nggak pernah ngurus berapa rahimnya, anaknya malah seratus. Wow! “Tuh, kan! Ngelantur lagi?” Erlan mengagetkan pikiranku yang menerawang. Iya, bener! Aku malah ngelantur. Kok malah larinya ke rahim segala. Padahal aku mengingat bagaimana kesetiaan Subadra menunggu aku berak di WC. Bah! Sesungguhnya yang ingin aku luruskan pikiranku bahwa keluguan Subadra tak beda jauh dengan keluguan Dewi Drupadi yang hingga kini masih setia mendampingiku. Selalu setia mengantarkan aku handuk manakala di kamar mandi kelupaan terlanjur tubuh terguyur air. Dan mereka biasanya berebutan mengantarkan..tok-tok-tok, berulang-ulang mengetok pintu. Seolah-olah keduaduanya berebutan ingin menerobos masuk kamar mandi…wuihhhh!! Bangga nian rasanya. Padahal aku sudah bosan melihat penampilan, gerak-gerik dan kemanjaan mereka. Karena itu aku percaya ilmu itu. Aku sangat mempercayai senggeger. Namun senggeger jaman sekarang cukup dengan mobil Jepang saja sudah mampu membuat cewek-cewek kepincut. “Eh, tetanggaku hingga kini rukun-rukun aja. Padahal dulu dia tidak menyangka bakal bisa menyunting wanita secantik itu. Wanita yang menjadi istrinya sekarang. Lihatlah lakinya, mana udah pendek, gemuk dan botak lagi! Uts! Senggeger itu mampu membuat hidupnya bahagia.” Suara Erlan kian berapi-api. Aku mengangguk-angguk. Bukan setuju dengan ucapannya. Hanya bingung. Tidak mengerti dan sangat mustahil. Masak sih senggeger yang tidak jelas juntrungnya mampu membuat hidup orang bahagia? Apa nggak kebalik. Jangan-jangan hanya terlihat luarnya

15


kisah saja yang bahagia namun sesungguhnya bagian dalam kehidupannya malah justru amburadul. Ah, kawanku sungguh lucu kata-katanya hari ini. “Terus….trus gimana ceritanya?” “Cerita apa?” “Itu, tentang tetanggamu yang botak itu” “Ya, begitulah…..” “Begitu bagaimana?” “Iya jatuh cinta menikah dan punya anak” “Maksudku apakah dalam pernikahan itu mereka bahagia?” “Iya bahagia” “Apa tidak pernah terjadi pertengkaran?” “Pernah.” “Terus?” “Ya baikan lagi, sama seperti tetanggaku Anton dan istrinya atau mbak Min dan suaminya, ya biasa-biasalah. Dan aku tahu pasangan yang lainpun pasti demikian. Masak mulus-mulus aja jalan perkawinan mereka? Pastilah sekali waktu ada perdebatan, ada ribut mulut kecil-kecilan terus ya terus ada sedikit pertempuran. Itu biasa dalam rumah tangga. Besok dilihat tetangga yang lain, ya biasa-biasa lagi.” “Bagaimana dengan yang mempergunakan jalan itu?” Arjuna melipat jidatnya. Menatap temannya. Pikirnya, temannya ini lama-lama selain pertanyaannya aneh juga sikapnya seperti menyelidik. Bukan saja membayang-bayanginya, tapi malah lebih jauh lagi. Mengurus orang-orang yang tidak ada sangkut paut dengan dirinya. Aku yang tidak ada urusan asmara dengannya juga ikut jadi terlibat. Terlibat dalam pembicaraan. Bukan melibatkan asmaranya. Aku juga tidak yakin, apakah temannku ini bisa bermain asmara atau pernah bergelut dengan asmara. Atau malah sebaliknya, seorang pemain asmara yang ulung, yang tengah menyimpan,mempersiapkan dan sewaktu-waktu membentangkan busur asmara kepada setiap pilihan yang dia suka. “Membentangkan busur asmara?” Dia berteriak sambil memandang Arjuna kalut. Arjuna tidak kaget lagi. Berarti temannya ini memang sang cenayang tangguh. Mampu membaca apa yang tengah dipikirkan. “Hmm, kalau begitu coba tolong kamu baca apa yang dipikirkan Arimbi saat ini, kenapa dia malah berpaling dariku,” Arjuna bertanya setelah berpikir sesaat. Bisa juga dimanfaatkan kemahiran dan ketrampilan temannya dalam membaca pikiran orang. “Goblok, kamu!” Arjuna kaget. Lho, kok bisa goblok gimana sih? Belum sempat merapal mantra, belum terpejam-pejam dalam kontak pikiran sudah asal memaki sembarang aja. “Iya, dasar goblok, tidak perlu dibaca pikirannya juga yang pasti Arimbi nggak pernah akan mikirin kamu.” Ujar temannya.

16


kisah Wah, ini yang dibaca pikiranku, bukan jalan pikiran Arimbi. Dari tadi dia hanya mampu membaca pikiran Arjuna, jangan-jangan dalam radius sekian kilometer temannya justru tidak mampu membaca pikiran Arimbi yang lagi enak-enak berenang di hutan Dandaka. “Yang ada dalam pikiran Arimbi itu hanyalah Bima. Bukan kamu Jun. Kok sejarah mau kau rubah seenaknya. Kamu itu iparnya, Jun. janganlah macam-macam mau merubah sejarah.” Temannya lebih detail menjelaskan. “Terus….terus…gimana dengan Sekuni?” “Lha, lagi lagi kamu ngomong Sekuni.” “Terus pisang goreng itu gimana?” Arjuna semakin bego. Teman-temannya pada ngakak ketawa. “hei, aku jelaskan ya. Kalau kau yang bawakan pisang goreng, sebaiknya buat kita-kita aja. Percuma. Kau bawakan dia. Pasti akan ditolak mentah mentah.” Arjuna menatap Nyoman dan teman-temannya yang lain dalam versi bergantian. Dalam roman tanda Tanya dan pula lewat ekspresi berharap kejelasan. “Nggak ngerti?” Arjuna menggeleng. “Gini aja deh biar simple. Variomu kau tukar dengan Xenia, lalu kau antarkan cewek kau pisang goreng hehehehe, aku jamin.” Arjuna manggut-manggut. Baru ngerti. Sekarang pikirannya bercahaya terang. Sekarang dia kagum dan benar-benar salut kalau Nyoman ini memang benar-benar seorang cenayang yang hebat. Berarti kalau dengan Xenia dan pisang goreng…. Jelas tak perlu senggeger. Iya, apa gunanya ilmu pemikat itu kalau ada senggeger buatan Jepang yang jauh lebih ampuh? Dan tak perlu baca-baca mantra segala, iya nggak? Hehehe benar juga tuh! DG. KUMARSANA, lahir di Denpasar 13 April 1965. Menulis sejak duduk di bangku SMP berupa karya-karya puisi, cerita pendek, novelet, novel, essei, prosa dan feature. Pernah ikut aktif di Sanggar Minum Kopi Bali. Pernah bergabung di sanggar sastra Persada Bali. Pernah pula tergabung dalam HPCP (Himpunan Pencinta Cerpen & Puisi) Kakilangit, Ciawi Bogor (1983). Beberapa kali tulisannya menghiasi halaman sastra setiap minggu di Bali Post dalam kegiatan sastra gradag grudug. Menjadi wartawan majalah Gema Karya yang bergerak di bidang farmasi dari tahun 1984 sampai sekarang. Pada tahun 1990 pindah ke kota Bumi Gora Mataram sebagai buruh obat dan berusaha tetap aktif menulis karya-karya fiksi hingga kini, terutama sajak, cerpen dan prosa. Tulisannya tersebar dimuat di Bali Post, Suara Tenggara, Karya Bakti, majalah Ceria Remaja, Lombok Post, majalah Ekspresi, Koran Kampung, mingguan Bali Orti edisi bahasa Bali dll.

17


Beberapa karyanya termuat dalam Majalah berkala Canang Sari dan majalah Satua edisi bahasa Bali. Puisinya termuat dalam antologi puisi penyair Nusantara V Palembang (Dewan Kesenian Sumatera Selatan, 2011). Puisi dan cerpennya juga tergabung dalam Antologi Puisi dan Cerpen Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan Mojokerto (Dewan Kesenian Mojokerto, 2010). Salah satu puisinya yang berthemakan 'Ibu' termuat dalam Antologi 100 puisi ibu (Welang Publisher). Bukunya yang telah terbit berupa kumpulan puisi berbahasa Bali ”Komedi Birokrat”. (Pustaka Ekspresi, 2010). Antologi tunggal cerita pendek berjudul ”Senggeger” (Pustaka ekspresi, 2010).

Workshop Dance With Pavyruzz Crew

Event yang diadakan pertama kali di Lombok Timur ini sangat mencuri antusias para dancer muda di Lotim. Acara ini memang sangat ditunggu-tunggu oleh para pencinta music hip hop. Diselenggarakan pada Tanggal 27-28 Januari lalu. Hal ini berawal dari kegelisahan sebuah komunitas dancer yang menamakan dirinya Pavyruzz Crew. Komunitas yang terdiri dari Dhigtsan, Zara, Anet, Fu`ad dan Sandu

(sekeluarga). Mereka berkeinginan menumbuhkembangkan dance di Lombok Timur. Sehingga dari pelatihan dance yang diadakannya ini dapat menghimpun mereka yang berbakat dan mempunyai minat serupa. Pavyruzz Crew yang bermarkas besar di Kediaman Mbak Widuri (manager) ini mengadakan latihan bersama setiap hari Sabtu dan Minggu sore. Bagi kawan-kawan yang mau bergabung, pintu masih terbuka !

18


Sajak-sajak Karya Siswa: Arman Marjan

PETANG YANG BASAH sore angin menerpa ranting nyanyian hujan yang datang aku menatap burung di sela-sela daun Angin menerpa kembali robohkan beringin tua. ketika awan berlari di tengah hujan itu 3 bocah dengan kain di kepala berlari magrib lima bocah sajadah keluar surau menyusur jalan air berwarna coklat dan bocah-bocah itu hilang dari pandanganku. 2011 KORIDOR ITU BECEK Hujan awan bisu kau rindu, menggerakkan jemari mu mengukir kataku kita pandang hujan petang kita basah hari itu Di koridor 2011 19


Saniatul Husna MATA ITU Mata itu meneteskan airnya lagi, Mungkin kelopak bola hitam putih tak mampu memendung deras derita dari segala kegundahan yang terlahir dari lara hatinya Mata itu mampu menghipnotis dan mengundang gerimis asin yang mengucur dari bola mataku mengikuti alunan syahdu yang memang nyaring terdengar Embun yang setia pada mendung kegelapan mencari rembulan tuk meneranginya ''agar kejatuhanku tak tertabrak air garam'' Embun berbisik padaku Angin yang mengipas membawa butiran salju membuat sekucur tubuhnya membeku, Ia pun mendekati ku, Aku tau maksud helusan angin itu sobat, Dan kau harus siap menyangkalnya dengan wadah lapang Dan selimut kehangatan Yang mampu mengalahkan dingin yang terselip pada angin. Kau harus siap menyangkalnya Demi keindahan pelangi yang kan kau pancarkan. Dia akhirnya mulai bisa melukiskan senyum pada kedua bibirnya, Dan aku melapangkan hati menatapnya. 2012

Arman Marjan lahir di Lendang Nangka, 15 Juni 1994. Siswa SMAN 1 Sikur Saniatul Husna lahir di Pancor Sanggeng, 1 Juni 1996. Siswi MA Mualimat Nw Pancor. Aktif di Teater Lumbung Hijau.

20


”aku baru sadar bahwa aku juga pemalas”. Inilah alasan Tuhan menciptakan manusia “dari sperma dan telur, menggumpal, membentuk diri dan mulai merayap, merangkak, berjalan, kemudian berlari” sebagai salah satu pembelajaran bahwa hidup butuh proses untuk mencapai titik temu bermuara pada satu tujuan“. Yogi S. Memeth -

-

Identitas Judul Penerbit Tebal/ jumlah halaman Penulis Tahun terbit

: Pemalas Itu: Kaya, Bahagia Dan Menikmati Hidupnya : Indie Book Corner : 150 halaman : Mas Dot : mei 2011

Orkesta malam

”Malam ini begitu pekat kawan, sepekat ampas kopi. Malam ini begitu hening kawan, tapi itu sangkamu. Cobalah dengar, cobalah dengar barang sejenak. Oo begitu merdu bukan? Itulah orkestra malam yang tak setiap orang mau mendengarnya Itulah nyanyian malam temanku menepi temukan diri” mas Dot. Ternyata suara alam itu sudah demikian dibikin merdu selaras dengan semesta, antara kebisingan-kebisingan itu ia sudah meleburkannya menjadi sunyi dalam nyanyian alam, ada saat-saat dimana ayam jantan berkokok bersahut-sahutan, kodok-kodok mendadak berlomba untuk bernyanyi, atau ngengat-ngengat yang mencapi puncak riuh dalam orkestra malamnya. Ada rahasia yang mesti ditelanjangi” kebanyakan orang menyangka pemalas itu tidak kaya dan bahagia, dan para pekerja keras adalah PEMALAS SEJATI. Takperlu menunggu esok untuk kaya, tapi kekayaan itu muncul ketika anda meyakininya” Mas Dot. Inilah hal terindah dalam sebuah perjalanan, ketika seorang anak manusia menemukan apa yang sebenarnya ia cari dan ia butuhkan. Kita perlu memahami dan menangkap segala rahasia yang tersimpan. Dalam kutipan berikut: ” langkah laju roda pedati: sudah sudahlah, kau takkan mampu mengatamkan bait bait cinta di muka muka semesta ini. Bahkan debu debu di bulu hidungmupun belum sempat kau eja makna. Kau cukup menapakkan kakimu saja. Kaki yang kau pahami sebagai kendara lajur roda pedati. Pelan pelan saja, tak perlu risau terik menekik pun gerimis yang lamis lamis. Sederhana saja. Pahami laju langkahmu, maka kaupun kan tahu jejak jejak yang dulu menyisa setepak. Jika cinta telah berubah di dadamu, tetaplah dalam langkah laju roda pedatimu. Bagikan cintamu kepada siapa saja, itu lebih menerangkan hatimu dibanding kau buat jaring laba laba. Kedewasaanmu dapat kau ukur di lingkup kerak kulit bumi yang nyata.

21


Bukan dalam perut bumi, bukan dalam lautan tak bertuan. Maka jikalau kau lelah, sejak berhentilah. Mampirlah di cafe cafe yang ada dan bertapalah disana. Kau kan banyak temukan pelajaran berharga. Jika kau dapat mengerti pastilah kau kan terseyum saat jasad tak lagi mengurungmu pada dimensi ketiga ini� (mas Dot, 2011: 48), ini berarti bahwa kita butuh sebuah kepastian terhadap mimpi mana yang harus kita pilih. Dan pada setiap mimpi itu ada semak belukar, jika kaki merasa lelah tertusuk cadas, luka mesti dikeringkan dan perlu menghela nafas untuk kemudian melanjutkan langkah. Yang jelas mimpi tidak boleh berhenti. - Pembedahan Dalam buku ini, masalah yang begitu kompleks dikupas dengan sangat sederhana. Sebagai salah satu bukti dari penulis bahwa ia adalah seorang pemalas yang menyukai keindahan alam, menangkap pristiwa-pristiwa didalamnya kemudian memaknakannya. Sebuah ide �gila� dari penulis untuk merombak makna �pemalas� (pekerja cerdas), tentu sebuah kawalan yang berbeda dari kamus bahkan tidak akan pernah sama dengan kamus. Dalam tiap-tiap lembar buku itu aku baca beberapa kali sampai benar-benar isi tiap pembahasannya aku temukan maksudnya. Dalam pemaparan makna tentang pemalas dan pekerja keras mas Dot mencoba untuk membongkarnya secara apik dan menggelitik (daya humornya tinggi kayaknya) sehingga jika kita membaca isinya, kita akan menganggap enteng isi buku ini, padahal. Dalam tulisan yang sekali lagi sangat ringan dibahasakan ini, isinya sangat kental dengan perenunganperenungan. Perenungan yang membutuhkan energi bernama keseriusan dan totalitas sehingga kita benar-benar memahami apa sebenarnya yang kita cari. Penjabaran Mas Dot melalui jejak kaki di perbukitan, tentang jalur yang berkelokkelok, jalur yang terjal, kadang menanjak dan penuh dengan desau angin dan akan menjadi persoalan apabila kita belum siap dengan setiap pilihan. Sebab dalam setiap pilihan selalu saja ada resiko-resiko, tidak sedikit orang menyerah dengan resiko itu dan mereka itu adalah tipikal orang yang mengikuti asumsi masyarakat kebanyakan tentang mereka harus bekerja-bekerja dan bekerja tanpa pernah bertanya sebelumnya apakah pekerjaan itu memang mereka �wajar� berada didalamnya bukan atas dasar keterpaksaan (tuntutan dari sebuah asumsi bernama tradisi masyarakat). Sampai aku memutuskan untuk menyelesaikan tulisan ini, aku baru sadar tentang siapa diriku sebenarnya dan apa yang aku butuhkan (terimakasih mas Dot), tersesat (pinjam istilah), demikianlah keperluan setiap orang, mereka harus berani tersesat. Sebuah istilah menggelitik untuk memfokuskan masalah pada �tersesat�. Untuk tahu tentang perampok, baik kehidupan, pola fikir, dan tetek-bengeknya maka orang tersebut harus berani (bukan nekat) untuk menyelami dunia itu sendiri. Orang-orang terkadang suka (menikmati) ketersesatan pemahaman yang telah membudaya pada masyarakat itu sendiri, pemahaman turun temurun (sudah mulai bergeser dalam diriku) dari neneksampai cicitnya tentang pomeo-pomeo dari moyang mereka (jadi inget film islam KTP). 22


Agar tulisan ini tidak ngelantur, sebaiknya saya mulai membuat garis bawah terhadap statemen awal, bahwa dalam tulisan ini tidak akan membahas item-item keseluruhan dalam buku tersebut karena sesungguhnya inti dari buku setebal 250 halaman itu hanyalah 4 (empat) hal yaitu: 1) tahap pencarian, 2) tahap perenungan dan 3) upgrade, terahir 4) niat. Penulisan tiga hal ini dilakukan sengaja tidak denganbegitu mendatail, dengan maksud agar pembaca sedikit penasaran dan mau bertanya serta membuat penulis terangsang untuk mencari refrensi yang menopang tentang 3 hal tersebut. 1. Tahap pencarian (mimpi) Seorang anak manusia perlu ”mencari” dan memahami dirinya sendiri, apa sebenarnya yang ia inginkan dan ia butuhkan, bukan malanjutkan mimpi orang lain (membebek) ”istilah dalam tulisan Mas Dot”. Semua orang berhak untuk memiliki mimpi, tanpa campur tangan orang tua, seorang anak harus membangun mimpi menangkap ribuan kunang-kungan untuk ia jadikan cahaya dalam dirinya sebab, apa yang ditemukan oleh orang lain belum tentu sama dengan apa yang akan ditemuknan generasi berikutnya. Dalam tahap pencarian ini, mas Dot mengadalogikannya sebagai sebuah perjalanan menuju satu titik, titik itu ia gambarkan sebagai sesuatu yang ia sukai (pegunungan) ”pendakian adalah pencarian jalan. Seorang pendaki itu tujuannya jelas, mencapai puncak, hidup tanpa tujuan seperti pendaki yang tersesat di gunung, berarti mendekati kematian, tersesat dalam hidup berarti membunuh diri perlahan” (mas Dot: 2011: 15) pemilihan gunung sebagai salah satu titik keputusan bukannya tanpa alasan, penulis mencoba memaparkan bagaimana pencarian sebuah titik melalui apa yang menjadi hoby. Dengan tujuan agar maksud yang disampaikan menjadi sangat dekat dengan keseharian, tentu saja analogi setiap kita boleh berbedabeda untuk menemukan sebuah muara, pada titik mana kita harus mengambil keputusan bahwa ”ini jalanku”. Tidak sedikit generasi-generasi muda berpendapat ”masa muda, masa poya-poya, masa yang harus dinikmati” (boleh dong jika aku sempat menangis mendengarnya), sungguh miniatur kehancuran, sebab tidak sedikit dari anak-anak SMP ataupun sampai perkuliahan yang masih memegang faham ini. Faham hidup tanpa sebuah tujuan. Dari beberapa hasil diskusiku (anggap saja investigasi) dengan beberapa perempuan (anak SMP/ SMA sampai anak kuliahan) tidak sedikit yang melanjutkan studi hanya untuk menghilangkan asumsi/ pembicaraan masyarakat akan mengutuk mereka sebagai seorang ”sampah”, tidak berguna dan lain sebagainya, atau tak jarang juga yang ”bertujuan” hanya sekedar tak mau membatu pekerjaan orang tua mereka. Sengaja bertujuan saya berikan tanda

23


petik, karena sesungguhnya ini bukanlah tujuan melainkan pembenaran terhadap budaya ”malas” (aku lebih suka dengan gengsi) yang sudah mendarah daging di masyarakat, semua ini terjadi karena kesalahan pendidikan, kesalah fahaman terhadap konsep hidup. Wet, jangan bilang ini jauh dari pembahasan, mari coba kita fahami bahwa sering sekali orang tua memberikan kita wejangan bahwa kita harus sekolah, kemudian bekerja, menikah dan bla-bla-bla yang artinya bahwa kita tidak pernah memiliki mimpi, melainkan melanjutkan mimpi dan tak sedikit orang yang tunduk dengan semua itu atas nama rasa hormat ”hormat yang sesat”. 2. Tahap perenungan Kita mesti merenung (wah jadi inget mas Dot, jangan-jangan dia seorang petapa, hehehe) ”jika anda terlalu sibuk dengan apa yang anda lakukan, maka anda hanya akan menjadi robot bernama manusia, terlalu sibuk sampai-sampai lupa untuk apa sebenarnya kesibukan yang telah anda lakukan. Terlalu sibuk sampai-sampai tak tahu tujuan hidup, kebanyakan orang hanya menuruti persepsi masyarakat yang sudah terlanjur melekat dalam memori fikiran. Sebagian orang disibukkan untuk mencari simbol kebahagiaan, ironis karena apa yang kebanyakan orang kejar hanyalah simbol belaka” (mas Dot, 2011: 21) bahwa sesungguhnya kaya itu: bekerja, rumah mewah, mobil mewah dan wah lainnya (impian sebagian pekerja keras) pun tak sedikit orangorang ”tersesat” memiliki mimpi seperti ini. Mas Dot dan aku beda sedikit, jika mas Dot berprinsip ”pemalas” maka aku ”gila”. Suatu hari aku bertemu dengan teman-teman seniman Lombok Timur, hari itu aku diperkenalkan oleh seorang sahabat. Mereka bertanya kepadaku tujuanku masuk dunia seni, sepontan saja aku jawab ”aku ingin menjadi gila”, dengan senyum setengah purnama mereka memelukku erat dan berkata ”selamat bergabung” (potong cerita). Di kampus tempat aku tamatkan sekolahku aku dicap sebagai orang gila (tambah gila setelah membaca ”orang-orang gila yang paling waras”). Sejujurnya saat itu, aku belum menemukan titik terang tentang apa yang aku cari dan tujuanku, sampai titik mana harus menjadi bagian dalam diriku. Semua organisasi kampus aku masuki (tidak termasuk pramuka, maklum malas dan tak suka diatur) untuk menemukan sejatinya diriku, lama proses pencarian itu aku menemukan sebuah nama baru Yogi's memeth (seorang teman seniman membuang tanda abstruknya). Sebenarnya yogi s. Memeth aku gunakan sejak tahun 1995, disinilah pertama kali aku mencoba menulis (propaganda, sajak dan apapun yang bisa ditulis). Dan sampai saat itu aku belum menemukan sebenarnya diriku, sungguh sebuah perenungan panjang. Tak sedikit aku mendapat perlawanan dari lingkungan terutama keluarga, tapi satu hal yang membuatku tak mundur adalah keyakinaku bahwa ”hanya orang-orang gila yang akan berhasil menguasai dunia dan menaklukkannya”. Aku belajar menemukan potensi diriku, mengumpulkan hobi kemudian aku aduk-aduk dengan potensi itu, dan aku menemukan ”this is me” (sok Inggris) sejatinya diriku, kemauanku, hobiku dan tujuanku.

23


”pemalas itu adalah orang-orang yang kreatif dan intuitif, ia tahu apa yang ia butuhkan dan mengerti bagaimana memanfaatkan potensi dirinya untuk memperoleh apa yang ia kejar, sedangkan orang yang rajin itu adalah orang yang selalu mengikuti persepsi masyarakat dan melakukan semua tindakan dengan pembenaran” (mas Dot, 2011: 25). Begini, jika seorang manusia benar-benar muslim sejati (bukan seorang manusia, melainkan hamba) maka ia akan merenungkan mengapa mereka harus menyebah (solat) untuk sang penguasa, padahal ia adalah segala-galanya tinggal minta selesai masalah. Di beberapa diskusiku seorang teman berkata, ”ada juga yang ga pernah berdo'a tapi kok lengkap idupnya” inilah alasan puisi tersebut aku angkat, bahwa proses kreatifnya adalah tak jarang dari diri kita yang melupakan proses hanya ingin sebuah hasil (kebiasaan kebanyakan orang) ”berharap mendapatkan sesuatu, sebelum melakukan sesuatu”. Dalam beberapa istilah mas Dot (maaf lupa halamannya dan aku ”malas mencarinya”), seorang manusia diharapkan seharusnya berkarya bukan bekerja, melahirkan bukan melanjutkan ”PR”. Mari kita kembali pada sub item ini, bahwa kita butuh merenung (olah sukma dalam teater, wah promosi lagi neh) mencari apa yang sebenarnya kita cari, kita butuhkan, kita inginkan agar kita tidak termasuk orang merugi ”sesungguhnya celakalah mereka yang hari ini tak lebih baik dari kemarin, dan kemarin tak lebih baik dari sekarang” (ucapan sang nabi). Dan demikianlah, jika kita sudah sampai pada tahap perenungan, maka kita perlu berkumpul dengan orang-orang yang sekiranya sepaham dengan jalur kita, agar pada tahap berikutnya. Kita benar-benar menyadari keputusan yang kita buat sendiri 3. Upgrade Jika mas Dot menggunakan lagu iwan fals, aku akan menggunakan puisiku sendiri yang esensinya tak jauh beda dengan lagu itu

PEREM PUAN k e jalan , tatap an k u terp ental 1 0 p erem p u an telan jan g. ia b ertan ya lu as ru an g k erja d ek at ru m ah n ya, d ek at k am pu n gn ya sam pai jalu r k o ta o ran g-o ran g cib ir taw a, p en d id ikan n ya k an d as b iaya p erem pu an telan jan g tan p a b en an g d an an ak -an ak n ya tak m am p u b erm im pi seb ab sem u a m im p i ad a b iaya 25


Jika seseorang telah melakukan sebuah perjalanan, maka ia wajib melakukan perenungan. Dalam tidak cukup sampai disitu, ia harus membuat sebuah kesimpulan dari perjalanan sampai perenungan. Dan ini adalah tahap upgrad, tahap dimana semua keinginan harus terbayar mahal, tiap jalan itu ada semak duri, karang yang cadas dan langkahmu siap deraskan getaran darah dan airmata. Tapi sebuah kepuasan setelah mencapai puncak adalah harga yang tak bisa terbayar dengan apapun. Dari dua tahap yang sejatinya akan memperkenalkan kita kepada sebuah keinginan dan impian, seharusnya perenungan itu membuat kita berani menyimpulkan sebuah keputusan, keputusan yang tentunya tak boleh di ganggu gugat dan dicampur tangani oleh siapapun. Dibutuhkan sebuah �keberanian� bukan �kenekatan�, keberanian untuk melawan segala kebiasaan yang sudah terjadi dan membabi-buta dalam masyarakat. Kita mesti memilih akan menjadi yang mana : 1) membuat suatu terjadi, 2) melihat suatu terjadi dan 3) tidak tahu sesuatu terjadi. (law of attraction) (mas Dot: 2011: 89). Intinya dalam pemilihan mimpi, seorang anak manusia haru sering melakukan perenungan. Tahap ini tidak serta merta lahir begitu saja. Katanya mas Dot (2011: 82) otak manusia itu punya empat gelombang 1) beta, 2) alfa, 3) theta, dan 4) delta - beta: gelombang otak yang memiliki frekuensi tinggi, terbentuk saat kita sadar/ saat melakukan kegiatan sehari-hari - alfa: gelombang otak saat rileks, gelombangnya lebih lambat dari beta. Terjadi saat zikir, solat dan mau tidur (alam bawah sadar) - theta: gelombang otak saat mencapai puncak ketenangan, kedamaian, ketenangan dan kebahagiaan - delta: gelombang otak ketika tidur nyenyak, dalam kondisi ini orang dapat melihat kejadian yang akan datang. Dapat juga terjadi ketika sadar, nama tepatnya intuisi/ insting. Hal yang memperkuat ini adalah teori otak kanan dan otak kiri, jadi apapun yang kita lakukan tergantung otak

26


4. Niat Kutipan ini menjadi pengantar: ”hayalkan, niscaya kamu akan dapatkan”, ”segala sesuatu itu, tergantung niatnya”, ”apa yang menjadi prasangkamu, maka begitulah yang akan kau temukan (aku sesuai prasangka hambaku)” Seseorang yang telah menyadari potensinya dan telah mengalami perenungan panjang, maka ia harus memperkuat niatnya agar setiap aral di depan degup jantungnya mampu ia lawan ”tak ada istilah buruk dalam manusia, yang ada hanyalah, ketidak siapan kita menerima pemberian Allah yang berbeda dari keinginan kita”. ”tiaptiap segala sesuatu, terlalu sering tidak kita sadari” setidaknya begitulah yang aku tangkap setelah membaca tulisan mas Dot ”Tuhan sebenarnya bukannya tidak mengabulkan semua do'a manusia, tetapi manusia itu tidak siap menerima kenyataan yang diberikan Tuhan). Waduh, apa hubungannya yah..... Begini, jika seorang anak manusia memiliki niat (totalitas) tertinggi terhadap mimpinya, maka ia harus siap dengan segala resiko yang terdapat di dalamnya, jadi kita perlu benar-benar mengkaji mimpi setelah perenungan dan memperkuat niat, agar kita tidak menjadi ”bebek” (mas Dot) yang hanya mengikuti kata orang tua, kata tetangga, sebab hidup ini bukan milik mereka, melainkan milik kita sendiri -

Bab terahir ini aku lebih suka menyebutnya kesimpulan bukan sebagai kekurangan hampir tak ada kekurangan dalam tulisan mas Dot ini, bagaimana tidak. Filsafat ia bahasakan dengan begitu ringan, budaya (bebek) orang lampau sampai detik ini ia coba tolak mentah. Sederhanananya begini, fikirkan, mimpikan, pastikan dalam hati (totalitas), maka anda akan temukan apa yang anda cari.

27


Profil Guru Pada waktu latihan teater seLombok Timur dituanrumahkan oleh SMAN 1 Sikur, suaranya terdengar begitu tegas memberikan semangat kepada Siswa-siswi yang datang menghadiri acara tersebut. Apalagi ketika dia mulai berdiri membacakan buah dari karyanya. S. Hasan,S.P.d menunjukkan bahwa dia mencintai kesenian seperti perjalanan hidup yang diberikan Tuhan kepadanya. Sebagai s e o ra n g ke p a l a s e ko l a h , s e l a i n mengurus sekian banyak berkas-berkas akademik yang menumpuk di meja kantor, dia selalu menyempatkan diri untuk berkarya. “Dari Pukul 06.00 WITA saya adalah seorang kepala sekolah, setelahnya saya sama seperti siswasiswa, lantas saya tidak mau ketinggalan dalam hal proses kreatif�, tegasnya saat berbicang-bincang dengan redaksi usai acara. Dalam perjalanan pendidikannya, beliau pernah bersekolah di Sekolah Dasar Negeri 2 Labuhan Lombok, kemudian melanjutkanstudinya ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Pringgabaya, selanjutnya di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Selong. Dan mengakhiri pendidikan S1 pada jurusan Matematika di STKIP HAMZANWADI Selong. Beliau yang dipanggil akrab oleh semua sahabat dan siswa-siswanya sebagai pak Ye' (potongan dari Sayyid) adalah salah seorang Kepala Sekolah (mungkin satu-satunya) yang masih produktif mengikuti diskusi sastra dan mengapresiasikan karya-karyanya di Lombok Timur. Kita tidak berharap semua Kepala Sekolah di Lombok Timur akan seperti Ye` Hasan. Karena itu tidak mungkin. Akan tetapi, mereka setidaknya memiliki prinsip yang sama seperti apa yang diilhami olehnya. Tentang tidak hanya menyuruh siswa berkreasi, tapi dia sendiri tidak melakukannya. (Red-kap)

28


edisi #1