Page 1


ATTIC ABOUT THE TOPIC

Nyalain tv ketemunya langsung Messi lagi giring bola. Ganti channel tiba-tiba separuh aku-nya Noah membahana. Keluar rumah kena timpuk bola kasti anak tetangga. Hidup kita ternyata tak lepas dari olahraga dan seni! Tapi tau gak kalau olahraga dan seni itu ada pembahasan psikologinya? Karena itu, Bunch 2nd Special Edition kali ini akan membahas olahraga dan seni dari sisi psikologi. Beberapa diantaranya seperti psikologi dalam kompetisi, penyembuhan dengan terapi seni, self-talk yang membantu meningkatkan percaya diri, sampai mekanisme lagu dapat mempengaruhi perasaan pendengar. Menarik bukan? Akhir kata, selamat menikmati Bunch 2nd Special Edition ini. Salam olahraga dan seni! Pimpinan Redaksi

//COVER by firdha nova NUR hassanah

Redaksi Penanggung Jawab : Ekki Primanda Ramadhan Pimpinan Redaksi : M. Kautsar Ramadhan Sukin Editor : Amelia Suci Wardani Divisi Konten : Rinda Saski Kurnia Divisi Artikel : Hana Talita Margijanto Divisi Liputan : Firdha Novha Nur Hassanah Divisi Periklanan : Yulita Astriani Putri

DITERBITKAN OLEH BIRO MEDIA BEM PSIKOLOGI UI Reporter: Rinda Saski Kurnia, Amelia Suci Wardani, Hana Talita Margijanto, Yulita Astriani Putri, Firdha Novha Nur Hassanah, Sartika Annisa, Nikki Antonio Saputra, Iqbal Maesa Febriawan, Kastrat BEM Psikologi UI 2012. Desain, Tata Letak, dan Percetakan: M. Kautsar R. Sukin, Firdha Novha Nur Hassanah. Fotografer: Syed Afdhal. Marketing & sirkulasi : Yulita Astriani Putri, Amelia Suci Wardani.


BUNCH

OKT

2012

Oleh :

Amelia Suci Wardani

Menembus Batas Bersama

sumber : istimewa

Stephanie Handojo S

osoknya sebagai salah satu pembawa obor Olimpiade London lalu ramai dibicarakan. Lantas, apa yang membuatnya istimewa? Rupanya Stephanie Handojo adalah anak penyandang down syndrom yang menjadi salah satu dari 20 wakil yang dipilih UNICEF dari 12 juta anak di dunia. Stephanie yang lahir di Surabaya, 5 November 1991, tersebut memenuhi kriteria anak muda inspiratif untuk dapat terpilih menjadi salah satu pembawa obor Olimpiade London. Ditengah keterbatasannya, prestasi gemilang tak lelah ditorehkannya. Diawali dengan keikutsertaan dalam kejuaraan PORCADA (Pekan Olahraga Cacat Daerah) pada cabang renang hingga Special Olympic World Summer Games XIII di Athena 2011. Hebatnya, ia juga meraih rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) pada tahun 2009 di bidang kesenian yaitu bermain piano. Sebagai tuna grahita, ia mampu memainkan 22 lagu dengan piano secara berurut dan tanpa henti. Peran orangtua dibalik pencapaian Stephanie________________ Prof. Dr. Frieda Mangunsong M.Ed. sebagai pakar psikologi pendidikan Universitas Indonesia sekaligus pengarang buku Psikologi dan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus mengungkapkan pandangannya. Menurut beliau, prestasi yang diraih Stephanie tak lepas dari dorongan luar biasa yang diberikan orangtuanya. Selama ini mereka tidak memberikan

04

perlakuan istimewa yang berlebihan. Justru sebaliknya, mereka memberikan kesempatan yang sama bagi Stephanie untuk berkegiatan seperti anak pada umumnya. “Orangtua dengan anak berkebutuhan khusus harus cepat menangkap peluang dan memberikan kesempatan anak untuk mengembangkan potensinya�, ungkap Ibu Frieda. Tantangan bagi anak berkebutuhan khusus Meskipun telah meraih prestasi seperti anak pada umumnya, masih ada tantangan lain yang harus dihadapi Stephanie sebagai anak berkebutuhan khusus. Ibu Frieda berpandangan, “Concern belakangan ini mengenai anak berkebutuhan khusus yang berprestasi adalah kebanyakan dari mereka tidak mengerti makna dibalik prestasi yang telah diraihnya�. Dalam mengatasinya, perlu diberikan fasilitas bagi anak berkebutuhan khusus untuk mengembangkan skill-nya sendiri. Orangtua pun harus membekali dengan ketrampilan hidup yang akan bermanfaat di masa mendatang. Adanya komunitas tertentu bagi anak berkebutuhan khusus juga dapat menjadi pilihan untuk mengembangkan potensi anak, berinteraksi secara luas, serta melatih kemandirian. Pada akhirnya, berbagai usaha tersebut harus disertai dukungan dari orang-orang terdekat agar berjalan efektif. I


BUNCH

OKT

2012

Terapi Seni yang Kian Populer foto : syed afdhal

Art has no limits. Seni hadir tak hanya sebagai hiburan semata, tetapi mampu mengekspresikan pikiran, hasrat, perasaan, dan pengharapan seseorang, terutama bagi pencipta karya seni.

Oleh :

Firdha Novha

T

ak jarang seseorang sulit mengkomunikasikan pikiran maupun perasaannya secara verbal, terlebih dalam kondisi jiwa yang tertekan. Seiring dengan persoalan psikologis ini lantas berkembang pemanfaatan seni dengan ilmu psikologi sebagai art therapy atau terapi seni. Evelin Witruk, pakar terapi seni dari University of Leipzig, Jerman telah mempraktikan terapi seni melukis maupun menggambar pada anak-anak korban tsunami di Aceh dan ternyata cukup berhasil merecovery kondisi psikis mereka pasca bencana. Manfaat terapi seni juga telah dibuktikan secara ilmilah melalui studi dari University of Granada, di Spanyol dimana terapi ini mampu membantu mengatasi gangguan mental. Dalam terapi seni penting untuk memperhatikan proses pasien saat berkarya, bukan pada kemampuannya dalam menciptakan karya yang sesungguhnya. Tujuan dari terapi seni sendiri bukanlah untuk menciptakan hasil karya seni sebagaimana para seniman lainnya, tetapi agar pasien dapat mencurahkan ekspresi dan emosi mereka melalui sebuah media, sehingga membuat mereka merasa lebih nyaman terhadap diri mereka sendiri. Seni menjadi wadah yang menyediakan jalan bagi pemahaman dan memberikan pengertian tanpa harus terucap dalam kata.

pasien cenderung untuk menggambarkan sesuatu yang lebih rumit dan kompleks. Bermain peran dalam drama singkat juga merupakan salah satu terapi seni yang sudah lama digunakan dan dikenal sebagai psikodrama. Moreno sebagai salah satu penemu psikodrama mengungkapkan bahwa permainan drama tanpa naskah dapat menimbulkan suatu katarsis emosional bagi pemainnya. Selain itu, ada pula terapi foto dimana pasien diminta untuk memotret objek bebas dan potret diri dengan teknik apapun. Hasil foto pasien diinterpretasikan sebagai kondisi psikologis dan masalah yang dihadapinya. Selanjutnya, terapi musik sebagai salah satu bentuk terapi yang dekat dengan kehidupan kita. Eva Vescelius, salah satu figur terapi musik mengungkapkan bahwa objek dari terapi musik adalah penyelarasan atau harmonisasi terhadap seseorang melalui vibrasi. Begitu pula menurut Margaret Anderton, guru piano berkebangsaan Inggris yang menyatakan dalam penelitiannya bahwa efek alat musik bagi pasien berkendala psikologis adalah timbrenya yang dapat menimbulkan efek traumatik.

Macam Terapi Seni_________________________________ Salah seorang peneliti Elizaberta Perez mengungkapkan bahwa melukis dan menggambar sebagai salah satu bentuk terapi yang digunakan para pasien untuk menggambarkan keinginan terpendam, perasaan, serta emosi dari hati dan pikiran mereka. Dalam pandangan psikoanalisis, hal ini sering disebut sebagai katarsis. Berdasarkan penelitian Madani Homecare, pada penderita skizofrenia dan narkoba maka

05


BUNCH

OKT

2012 Oleh :

amelia suci wardani

Kontribusi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia di Bidang

Seni & Olahraga Kehidupan mahasiswa dituntut untuk seimbang dalam hal prestasi bidang akademik maupun bidang lainnya, termasuk seni dan olahraga. Bagaimana Fakultas Psikologi UI berkontribusi dalam mewujudkannya? Wadah untuk Menyalurkan Minat dan Bakat Seni Olahraga____________________ Seperti halnya fakultas lain di Universitas Indonesia, Fakultas Psikologi memiliki berbagai wadah untuk memfasilitasi minat dan bakat mahasiswanya dalam bidang seni dan olahraga. Beberapa diantaranya tergabung menjadi Badan Kelengkapan Badan Eksekutif Mahasiswa (BK BEM) mengingat kedudukannya secara struktural dibawah BEM. BK BEM tersebut antara lain Psychology Independent Movies Community (PSIM-C), FC 08 , dan All About Japan (AAJ). Selain BK BEM, ada pula Klub Peminatan (KP) yang berdiri secara independen seperti Pops (Fotografi), Basket, Bulutangkis, Korea, Tari, Teko (Teater), dan Gandewa. Sesuai dengan namanya, baik BK BEM maupun Klub Peminatan tersebut memiliki fokus kegiatan yang berbedabeda. PSIM-C beranggotakan mahasiswa yang memiliki kecintaan terhadap dunia film, dalam hal produksi maupun apresiasi. Kegiatan yang rutin dilakukan seputar belajar produksi video dan film pendek serta screening film maupun workshop berskala internal hingga eksternal. Workshop ‘Modus Anomali’ yang menghadirkan Joko Anwar dan Lala Timothy beberapa waktu lalu sukses menarik pengunjung dari dalam maupun luar UI. Sementara Pops merupakan wadah bagi mahasiswa yang menekuni bidang fotografi. Berbagai teknik fotografi dipelajari melalui pertemuan rutin anggotanya. Tak jarang mereka melakukan hunting hingga ke luar kota untuk sesi foto

outdoor. Pops turut menyumbangkan karyanya dalam beberapa kompetisi maupun pameran fotografi. Men sana in corporesano, di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Untuk mewujudkannya, mahasiswa dapat tergabung dalam FC 08, KP Basket, maupun KP Bulu Tangkis. FC 08 sebagai klub futsal yang berkontribusi menyumbangkan pemainnya dalam berbagai ajang kejuaraan futsal. Terakhir, FC 08 menorehkan prestasi sebagai Juara Ke-III Futsal Putra di turnamen Universitas Pancasila. Pada bulan September ini, FC 08 menggelar TROPI yang merupakan ajang futsal bagi mahasiswa aktif Universitas Indonesia dari berbagai fakultas. Tak jauh berbeda, KP Basket selain melakukan latihan rutin juga turut berkontribusi dalam berbagai kejuaraan basket baik dalam lingkup UI maupun diluar kampus. Sementara KP Bulu Tangkis, sekaligus menjadi ajang untuk mengakrabkan diri dengan dosen karena terbuka tak hanya untuk mahasiswa aktif. Ada pula KP Gandewa yang mendukung kecintaan mahasiswa pada alam dan lingkungan sekitar. Jogging yang rutin dilakukan tiap minggu bermanfaat untuk sarana olahraga sekaligus kesiapan fisik para anggotanya sebelum melakukan pendakian gunung. Baru-baru ini Gandewa melalukan pendakian ke Gunung Semeru dan Gunung Rinjani loh. Bagi yang menggemari kesenian maupun budaya di negara Jepang dan Korea, tak salah jika mengikuti kegiatan AAJ atau KP Korea. AAJ misalnya, seringkali mengadakan kelas untuk mempelajari kebudayaan Jepang seperti senjata jepang hingga membuat sushi. KP Tari tak hanya mewadahi minat dan bakat tari, namun senantiasa mengharumkan nama Fakultas Psikologi UI melalui misi budaya dan kejuaraan yang diraih. Pada tahun 2010, KP Tari telah melakukan misi budaya ke Spanyol dan Portugal, disusul tahun 2011 di Amerika Serikat. Tak mau ketinggalan, ada pula Teater Psikologi (Teko) yang sukses dengan berbagai pementasan dan selalu ramai penonton. Terakhir, pementasan ‘Suryati Turun Ke Hati’ menuai pujian positif dan dihadiri banyak


BUNCH

OKT

2012

penonton dari dalam maupun luar UI. Kegiatan bermusik pun tak luput dari perhatian. Dalam mewadahinya, hadir Bilik Musik yang mengasah kepiawaian memainkan berbagai alat musik, teknik vokal, serta harmonisasi diantara keduanya. Bilik musik rutin melakukan pementasan dalam event Tenda Purnama dan berbagai event lain di Fakultas Psikologi UI. Refreshing dan Menjalin Keakraban Melalui Psygames-Psyart____ Pada bulan April 2012 lalu, Departemen Seni, Rekreasi, Olahraga Bersama (SIGMA) menggelar Psygames-Psyart guna mewadahi kebutuhan hiburan, seni, dan ola hraga sivitas Fakultas Psikologi UI. Mengingat padatnya aktivitas akademis di Fakultas Psikologi UI, maka perlunya diadakannya aktivitas di luar akademis seperti Psygames-Psyart. Berbagai perlombaan di cabang olahraga meliputi futsal, basket, voli, bulu tangkis, atletik, tenis meja, dan fun games. Dalam hal seni, terdapat psychoidoleague yaitu lomba bernyanyi solo, vokal grup, akustik dan karaoke serta lomba desain, fotografi, dan lomba modern dance. Demi menambah keceriaan, adapula amazing race dan supporter award yang dimenangkan oleh angkatan 2010. Mengusung tema ‘Work Hard Play Harder’, event ini diikuti mahasiswa lintas angkatan, dosen, staf, hingga karyawan. Dengan demikian Psygames-Psyart tak hanya sebagai sarana refreshing, namun juga untuk menjalin keakraban dengan sivitas Fakultas Psikologi UI. Raih Prestasi Melalui Kompetisi_________________________ Tidak akan lama lagi, kampus kita juga akan mengadakan beberapa ajang kompetisi antarfakultas. Tak hanya kompetisi di bidang olahraga, melainkan juga di bidang seni. Kedua ajang tersebut adalah UI Art War atau yang sebelumnya lebih kita kenal dengan UI Festival dan Olimpiade UI. Pada tahun sebelumnya, Fakultas Psikologi menorehkan prestasi cukup membanggakan seperti menjadi Juara Umum Ke-III dalam ajang UI Festival 2011. Rahel Gracia, Wakil Kepala Departemen SIGMA memaparkan beberapa juara yang diperoleh seperti Juara I Lomba Vocal Group, Juara III Lomba Poster, Juara I Lomba Tari, dan Aktor Terbaik dalam Lomba Teater oleh Ranggih W angkatan ’09. Sementara dalam Olimpiade UI 2011, diraih emas untuk tenis meja tunggal putri, perak untuk taekwondo putri, dan perak untuk lari 1500 m putri. Fakultas Psikologi bertekad untuk terus bangkit guna mengejar prestasi di bidang olahraga. Lalu, bagaimana persiapan Fakultas Psikologi untuk maju ke kompetisi olahraga dan seni tahun ini? Melalui ajang kompetisi antarsivitas akademika Psikologi UI seperti PsygamesPsyart telah melahirkan bakat baru dalam bidang seni dan

olahraga. Kini, mulai dipersiapkan kontingen psikologi untuk maju ke ajang Olimpiade UI dan UI Art War demi meraih prestasi yang lebih baik. Selain itu, tim futsal FC 08 dan tim basket pun siap berlaga di kompetisi PIASTRO (Psychology in Art and Sport through Competition) yang diselenggarakan BEM Fakultas Psikologi UI. Ketua FC 08, Seswa Rara bercerita, “Persiapan kami lakukan dengan latihan lebih rutin, termasuk menambah jadwal dan materi latihan. Demi menciptakan kesolidan, kami sering melakukan sparing melawan tim lain dan team building.” Kerja keras mereka untuk mengharumkan nama Fakultas Psikologi tentu tak lepas dari dukungan kita. Jangan lupa untuk memberikan support terbaik kita nanti, GO BIRU MUDA!

Unjuk Gigi di Bidang Ilmu Pengetahuan Seakan tak mau ketinggalan, Fakultas Psikologi UI pun mengejar prestasi di bidang ilmu pengetahuan. Di tingkat Universitas, dalam waktu dekat akan berlangsung Olimpiade Ilmiah Mahasiswa (OIM). Kini sebagai bentuk persiapan, telah diselenggarakan P(Science) oleh Departemen Pendidikan dan Keilmuan BEM Fakultas Psikologi UI di tingkat fakultas untuk menyaring mahasiswa terbaik sebagai bagian dari kontingen lomba. Acara P(Science) tahun ini cukup meriah dan semoga menjadi langkah awal untuk prestasi psikologi di bidang ilmu pengetahuan! GO BIRU MUDA!

07


BUNCH

OKT

2012

PIASTRO 2012 : Openness to

Diversity P

s ych o l o gy in A r t a n d S p o r t t hro u g h Co mpet it io n (PI ASTR O ) a d a l a h sa la h sa t u acara yan g d ia d a ka n o l e h B EM Fa kul ta s Psikolo gi Unive rs itas In d o n e si a ya n g kini su d a h mulai d ike n al s e ca ra lu a s d i m a sya ra ka t . PIASTR O 2012 yan g a ka n d i se le n g g a ra ka n p ada 28 S e pt e mbe r – 7 O kto b e r 2 012 ini me ru pakan kali ke e n a m se j a k p e r ta m a ka li a ca ra ini d is e l e n gga ra ka n . PIASTR O pe rtama d i se le n g g a ra ka n p a d a ta hu n 2007, d e n gan t uju a n se b a g a i wa d a h u nj u k ba ka t ke s e nian d an o l a hra g a se r ta m e m p e re ra t hu bu n gan baik para g e n e ra si m u d a In d o n e si a khu su s nya mah as is wa d a r i fa kul ta s Psi ko l o g i d i se lu ruh In d o n e s ia. Ad a p u n ev e n t ko m p et i si ya n g dise le n ggarakan , ya i t u su a t u ko m p et i si o l a hra g a da n s e ni dari mah a si swa Fa kulta s Psi ko lo g i d i se lu ruh In d o n e s ia d a n si swa - si sw i S M A se Ja bod etabe k . S aat ini , PI ASTR O m e nj a d i sa ra n a u n tu k me mbe rikan a p re si a si ke p a d a se m a n g a t be rp re s tas i ge n e rasi m u d a , d a n j u g a u n t u k me mfas ilitas i bakat d a n ket e r ta r i ka n si swa - si sw i da lam bid an g o l ah ra g a d a n se ni . Aca ra ini j u g a dituju kan un t uk me mo t i v a si g e n e ra si m u d a u n t u k be rp re s tas i dal am ola hra g a d a n se ni m e l a lui komp et is i yan g s up o r t i f . S e l a in i t u , a ca ra ini ju ga dih arapakan da p a t d i j a d i ka n t e m p a t ya n g me nye n an gkan un t u k b e r ku m p ul d a n m e nj a lin hu bu n gan yan g baik a n ta ra m a ha si swa Psi ko l o g i di se luruh In do n e s ia.

ITP INTRODUCTION TO PSYCHOLOGY

08

S

J ika dia m a ti da ri ta h u n ke ta h u n, a ca ra ini m a k in berkem ba ng , terbu kti da ri m a k in bes a rnya a nim o pes erta , teru ta m a da ri ka la ng a n m a h a s is wa ps iko lo g i s elu ruh Indo nes ia , s erta a ntu s ia s m e da ri s ivita s Ps ikolog i UI u ntu k tu ru t m enyu k s es ka n PIASTRO. Ha l ini bu ka n ta npa bu kti, s etia p ta h u nnya PIASTRO dikena l s em a k in lu a s terbu kti da ri pes erta pia s tro ya ng s em a k in bera g a m s etia p ta h u nnya . S ela in itu , ra s a kebers a m a a n a nta ra pes erta ya ng ditu m buhka n da la m a ca ra ini s em a k in terlih a t jela s , da pa t dilih a t da ri pes a n-pes a n ya ng diting g a lka n oleh pes erta u ntu k pa nitia s etela h pia s tro u s a i. PIASTRO 2 012 m eng u s u ng tem a Opennes s to Divers ity s eba g a i tem a ya ng dia ng ka t ta h u n ini. Tem a a ca ra ini s a ng a t m endu ku ng terwuju dnya es ens i-es ens i da s a r da ri PIASTRO 2 012 . Seca ra lebih k h u s u s , keterbu ka a n terh a da p kera g a m a n a ka n m em bu a t s elu ruh pih a k ya ng terliba t di da la m PIA STRO 2 012 , dim a na kera g a m a n ya ng a da s a ng a t ba nya k ba ik da ri s eg i u nivers ita s , a s a l da era h , m a u pu n kera g a m a n kepenting a n, m a u da n tida k m enu tu p diri da ri intera k s iintera k s i lebih la nju t deng a n pih a k -pih a k la in ya ng m emilik i perbeda a n deng a n m ereka . Deng a n terwuju dnya Opennes s to Divers ity ini dih a ra pka n a ka n m em ba wa PIASTRO 2 012 m enja di lebih ka ya a ka n intera k s i, a k ra b da n m enim bulka n pertem a na n dia nta ra s elu ruh pih a k .

i a p a sih ya n g g a k ta u a ca ra ini? ITP (Introdu ction To Ps ych o lo g y) a d a la h p ro ker u ng g ula n Hu m a s BEM Ps ikolog i UI s eba g a i a j a n g p e n g ena la n Fa kulta s Ps iko lo g i UI ke s is wa SM A da n m a sya ra ka t lu a s. Aca ra ya ng berla ng s u ng s ela m a du a h a ri, pa da ta n g g a l 1 d a n 2 Septem ber la lu berla ng s u ng s a ng a t m eria h . Pa da ha r i p e r ta m a d i ada ka n s emina r peng ena la n fa kulta s , dila nju tka n d e n g a n sim ula si kela s m a ta kulia h ps ikolog i pilih a n pes erta . Ha ri ke d u a d i a d a ka n ta lk s h ow bers a m a Bona Sa rdo da n Tika Bis o no ya n g in sp ira t i f ! Aca ra ditu tu p deng a n pena m pila n da ri a rtis ya ng p o p ule e r d i youtube ya itu Boyz 2 Boyz, s eru ka n? Na h , s ia pka n d ir im u u n t u k ITP 2013 na nti. Lo ok clos er a nd it will m o re a m a zed!


BUNCH

OKT

2012

Perform

Oleh :

rinda saski kurnia

Better with

Self-Talk “I am Valentino Rossi. And I want to be a person, not an icon.” (Valentino Rossi) “I want to score in every game and win things. That’s the most important thing.” (Wayne Rooney) “I want to consistently play well and win titles. I’m only at the beginning.” (Christiano Ronaldo) “I am the greatest, I said that even before I knew I was.” (Muhammad Ali)

B

ayangkan para atlet yang disebutkan di atas mengucapkan kalimat tersebut kepada diri mereka sebelum bertanding. Mungkin akan terlihat aneh berbicara kepada diri sendiri seperti itu, apalagi jika membayangkan sosok atletis sang atlet. Secara kasat mata kita terbiasa melihat mereka sebagai sosok yang penuh percaya diri dan tanpa rasa cemas ketika bertanding. Namun pada kenyataannya, kalimat tersebut menjadi mantra yang tak jarang mereka ucapkan sebelum turun ke medan pertandingan. Kebiasaan para atlet tersebut dikenal sebagai self talk, yaitu teknik yang dilakukan para atlet untuk memotivasi diri mereka di beragam area pencapaian yang diinginkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa atlet olimpiade serta para pemain tim nasional menggunakan self talk sebagai strategi pembangun motivasi (Hardy, Gammage, & Hall, 2005), self talk untuk mempercepat penguasaan keterampilan (Landin & Hebert, 1999), untuk mengontrol fokus perhatian (Gould, Eklund, & Jakcson, 1992), dan untuk meningkatkan rasa percaya diri (Landin & Hebert, 1983). Para psikolog olahraga pun menyarankan agar para atlet selalu melakukan self talk, baik saat masa berlatih maupun saat sebelum pertandingan. Self talk sendiri terbagi menjadi tiga jenis: task-relevant selftalk, mood-related self-talk, dan positive self-affirmation statement. Task-relevant self-talk dilakukan ketika atlet melakukan self talk yang berfokus pada tugas yang tengah menjadi perhatiannya, seperti atlet yang bersiap untuk olimpiade. Mood-related self-talk dilakukan para atlet ketika

sebenarnya mereka merasa cemas namun menggunakan rasa cemas tersebut sebagai hal yang harus dilawan sehingga mereka lebih merasakan emosi positif. Terakhir, positive self-affirmation statement seperti yang dilakukan oleh Muhammad Ali. Ali mengatakan kalimat “I am the greatest” secara berulang-ulang demi merasakan hal serupa dalam belief systemnya. Berikut terdapat beberapa tips dari psikolog olahraga terkait self talk yang bisa dilakukan untuk meningkatkan performa. •Identifikasi self-talk_____________________________ Seringkali kita tidak sadar jika tengah melakukan self talk, sehingga tak jarang kalimat berkonotasi negatif pun kita ucapkan pada diri kita sendiri. Nah, ubahlah kebiasaan itu dengan menyadari setiap kalimat yang kita ucapkan kepada diri kita sendiri. •Nilai self-talk_________________________________ Apakah self-talk yang kita lakukan positif atau justru negatif? Jika negatif, tanyakan pada diri kita, seperti “Apakah ini yang akan saya katakan pada teman yang mengalami situasi yang sama? Apakah sudut pandang yang saya ambil sudah benar?” dan sebagainya. •Ubahlah self-talk_______________________________ Jika kita merasa self-talk yang sering kita lakukan masih berkonotasi negatif maka ubahlah menjadi kalimat yang lebih positif dan memotivasi.

09


BUNCH

OKT

2012

Dibalik

Kompetisi

Bagaimana seseorang seseorang dapat terpacu untuk memberikan performa yang lebih baik jika dibandingkan dengan ketika seorang diri?

B

erbicara mengenai seni dan olahraga seakan tak dapat lepas dari adanya unsur kompetisi. Pada tahun 2012 ini misalnya, kembali digelar Olympics sebagai pesta olahraga terbesar sedunia yang bertempat di London, Inggris. Bahkan di Olympics pun unsur seni kerap diperlukan, seperti dalam cabang olahraga figure skating atau senam beirama. Di tingkat nasional, berlangsung Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII di Riau yang dimeriahkan oleh atlet dari seluruh Indonesia. Tak ketinggalan, Fakultas Psikologi UI pun menyelenggarakan Psygames(art) serta Piastro (Psychology in Art and Sport Through Competition) yang tak hanya menggelar kompetisi cabang olahraga, namun juga dalam hal seni. Kedua event tersebut memiliki unsur kompetisi. Namun, apa yang dimaksud kompetisi itu? Mekanisme apa yang terlibat dalam kompetisi? Tentu terdapat perbedaan kecepatan dalam berkendara ketika seseorang bersepeda dalam suatu perlombaan dibanding ketika bersepeda seorang diri. Contoh tersebut dikemukakan oleh Norman Triplett untuk menjelaskan teori terkait kompetisi, yaitu social facilitation dimana keberadaan orang lain akan membuat seseorang terpacu untuk memberikan performa yang lebih baik jika dibandingkan ketika seorang diri. Perlu digarisbawahi bahwa performa memang dapat meningkat dengan kehadiran oranglain, namun efeknya tidak berlangsung secara permanen. Selain itu, teori ini berlaku ketika seseorang dalam kompetisi mengerjakan tugas yang relatif mudah. Ketika tantangan atau tugas semakin sulit, performa tidak akan berubah bahkan cenderung memburuk. Pada akhirnya yang terjadi justru social inhibiton.

10

Kehadiran orang lain membuat kita terdistraksi ?_____________ Like ants the presence of others can push us on to greater achievements, but, because we are human, it can also push us towards disaster. Tak jarang kehadiran orang lain justru membuat kita sulit konsentrasi. Teori distraction-conflict menjelaskan fenomena tersebut dimana ketika orang lain menatap kita maka akan memunculkan konflik atensi antara tugas yang kita kerjakan atau justru memperhatikan orang tersebut. Ketika tugas yang dikerjakan relatif mudah, tentu cukup mudah bagi kita untuk mempertahankan fokus. Namun, bagaimana dengan tugas yang sulit? Kerap kali atensi kita menjadi overload hingga performa pun memburuk. Terdapat beberapa hal yang dapat mempengaruhi performa kita saat berkompetisi terkait teori distraction-conflict. Pertama, bagaimana kita mengevaluasi penonton akan menentukan reaksi kita. Huguet et.al., (1999) menemukan bahwa ketika penonton menatap kita terlalu dekat akan membuat kita menjadi lebih terdistraksi dibanding penonton yang hanya menatap sekilas. Kedua, terkait dengan kehadiran penonton lawan jenis maka akan membuat performa kita lebih terdistraksi. Uniknya, pada tugas yang relatif mudah maka laki-laki akan menampilkan performa lebih baik jika ditonton oleh perempuan. Hal lain yang mempengaruhi performa dalam kompetisi Seperti halnya ketika seseorang melakukan tindakan apapun, maka kuncinya adalah motivasi. Sebelum mengikuti kompetisi


BUNCH

OKT

2012

Oleh :

foto : syed afdhal

Hana talita margijanto

apapun, maka seseorang akan berlatih. Faktor motivasi menjadi penting dalam latihan karena mendukung kelancaran latihan itu sendiri. Faktor motivasi pertama melibatkan faktor situasi sosial. Misalnya, atlet dapat mempersepsikan dua jenis situasi latihan: task-involving, yang mengacu pada pengembangan diri, proses belajar, usaha, dan ego-involving, yang lebih mementingkan kemenangan dan social comparison (Ames dalam Joesaar). Atlet yang memiliki persepsi task-involving akan puas dengan dirinya dan memiliki motivasi intrinsik untuk mengikuti latihan. Goal-nya bukan hanya kemenangan namun hingga sejauh mana dirinya berkembang dalam bidang yang dia geluti. Situasi yang membangun sebuah sense of self-mastery juga dikatakan menumbuhkan motivasi intrinsik (Deci & Ryan, dalam Joesaar). Selain itu, peran pelatih atau mentor juga dinilai signifikan. Joesaar et al menemukan bahwa atlet yang merasa diberi kebebasan berlatih dan mengembangkan oleh pelatih (tidak diberi tekanan) secara signifikan memprediksi motivasi intrinsik mereka yang tinggi. Namun, walaupun dengan motivasi serta latihan, hal tersebut tidak cukup untuk memprediksikan performa. Selain faktor seperti fatigue atau faktor situasional lainnya, ada juga faktor emosi dan ansietas sebelum dan selama performa. Hanin (dalam Jones 2003) meneliti bahwa emosi optimal dapat memicu energi yang cukup untuk memberikan performa baik, sementar emosi yang disfungsional memicu keluarnya energi yang berlebihan atau kekurangan.

performa atlet saat berkompetisi. Ekspresi emosi pelatih terhadap atletnya ternyata akan banyak berpengaruh terhadap perilaku atlet (Anshel, 1997). Kecemasan pelatih menjelang pertandingan pun dapat mempengaruhi atlet untuk menjadi makin cemas dalam bertanding. Lalu, lontaran ucapan pelatih yang kurang layak dapat dirasakan sangat menyakitkan oleh atlet sehingga dapat memberikan pengaruh negatif pada atlet dalam berlatih maupun berkompetisi Emosi juga dapat mempengaruhi aspek kognitif dan fisik. Arousal dan rasa tegang yang membarengi emosi dapat dikatakan memfasilitasi performa, khususnya gerakan motorik kasar (Gould, Eklund & Jackson, dalam Jones, 2003). Dari segi kognitif, arousal juga memfasilitasi persepsi gerak yang lebih cepat (Jones & Cale, dalam Jones 2003). Namun, di saat yang bersamaan, arousal yang terlalu yang datang bersama emosi dapat menurunkan aspek performa lain, seperti misalnya pemain golf dapat memukul bola dengan kuat namun kurang akurat (Jones, 2003). Nah, semoga paparan diatas dapat membuat kita memahami kompetisi dari sudut pandang psikologis. Berbagai informasi terkait juga dapat menambah wawasan dan membuat kita terpacu untuk memberikan performa yang lebih baik saat berkompetisi!

Terdapat fakta menarik lainnya terkait peran pelatih terhadap

11


BUNCH

OKT

foto : AMELIA SUCI W.

2012

Oleh :

Iqbal maesa febriawan

Fotografi dan Psikologi F

otografi menjadi salah satu cabang seni yang cukup digandrungi pada masa kini. Selain karena mudah (pointand-shoot only), fotografi pun hanya memerlukan kamera sebagai media berkarya. Sebuah foto memiliki beberapa aspek psikologis, antara lain selective attention, unconscious motivation, dan projection (Morgovsky, 2007). Fotografer sebenarnya bebas memilih objek apapun di sekitar dia untuk dipotret namun seringkali tertuju pada satu objek yang dianggap menarik. Fotografer pun sering tiba-tiba tertarik dan langsung menjepret tanpa memikirkan konsep atau komposisi objek yang dipotret. Hal ini paling sering tampak pada foto candid. Proyeksi dalam makna fotografi dapat memiliki makna ganda. Makna yang pertama adalah proyeksi sebagai cerminan karakter atau keadaan fotografer saat memotret dan makna lainnya adalah mental image (citra yang ada di tataran mental) sebelum memotret yang biasanya dimiliki fotografer profesional. Penelitian yang berkaitan dengan sensasi dan persepsi visual kerap menggunakan foto sebagai media dalam pelaksanaan penelitiannya. Krauss (dalam Weiser, 1988) berpendapat bahwa kita cenderung memberikan persepsi kedalaman (depth), perspektif, dan dimensi tertentu dalam memaknai foto yang berdimensi dua. Foto juga digunakan dalam terapi psikologis. Kaitan antara foto dan terapi psikologis tampak pada Photoanalysis yang dikembangkan Robert U. Akeret dan PhotoTherapy

12 06

yang ditemukan oleh Judy Weiser. Photoanalysis adalah sistem yang menggunakan foto keluarga sebagai media untuk mengenali klien dalam psikoterapi sedangkan PhotoTherapy juga menggunakan media foto keluarga sebagai katalis dalam wawancara psikoterapi (Morgovsky, 2007). Teknik PhotoTherapy dan Photoanalysis tidak bertujuan untuk menginterpretasi karakter objek foto, yang biasanya merupakan manusia, melainkan sebagai media untuk membantu proses recall (memanggil kembali ingatan). Prinsip Photoanalysis dan PhotoTherapy didasari oleh pemikiran psikodinamika yang dipelopori Sigmund Freud. Akeret (dalam Morgovsky, 2007) menyebutkan bahwa sebuah foto dapat menyampaikan dinamika interpersonal yang membentuk psyche pada masa perkembangan. Weiser (2001) berpendapat bahwa foto pribadi menyimpan momen-momen serta emosi yang tidak disadari sehingga dapat menjadi pemicu untuk membuka memori yang terlupakan atau disimpan di alam tak sadar. Dalam praktik PhotoTherapy, klien diminta untuk memberikan komentar tentang beberapa foto yang diberikan terapis. Komentar foto yang diberikan klien adalah cermin dari masalah yang sedang dialami klien. Selain diminta untuk mengomentari foto, klien juga diminta untuk memotret objek. Sesi memotret objek ini dibagi dua, memotret objek bebas dan potret diri. Klien bebas untuk memotret dengan teknik apapun. Hasil foto klien diinterpretasikan menjadi kondisi psikologis dan masalah yang dihadapi klien.


BUNCH

OKT

2012 Oleh :

foto : syed afdhal

Amelia Suci Wardani

What Does Your

Musical Taste Say About You? BLUES JAZZ CLASSICAL MUSIC RAP OPERA COUNTRY AND WESTERN REGGAE DANCE INDIE BOLLYWOOD ROCK/HEAVY METAL CHART POP SOUL

P

ernahkah terpikirkan oleh kita bahwa terdapat hubungan antara selera musik seseorang dengan kepribadiannya? Baru-baru ini dilakukan penelitian oleh Prof. Adrian North dari Heriot-Watt University terhadap 36.000 partisipan di seluruh dunia untuk mengetahui ada tidaknya hubungan tersebut. Dengan memanfaatkan kuesioner, partisipan diminta untuk memberikan rating terhadap 104 jenis musik dan aspek kepribadian. Penasaran untuk mengetahui kepribadianmu berdasarkan selera musik? Berikut adalah hasil penelitian yang dirilis oleh Prof. North!

High self-esteem, creative, outgoing, gentle and at ease High self-esteem, creative, outgoing and at ease High self-esteem, creative, introvert and at ease High self-esteem, outgoing High self-esteem, creative, gentle Hardworking, outgoing High self-esteem, creative, not hardworking, outgoing, gentle and at ease Creative, outgoing, not gentle Low self-esteem, creative, not hard working, not gentle Creative, outgoing Low self-esteem, creative, not hard-working, not outgoing, gentle, at ease High self-esteem, not creative, hardworking, outgoing, gentle, not at ease High self-esteem, creative, outgoing, gentle, at ease Source: Heriot-Watt University

13


BUNCH

OKT

2012

Dengar = Rasakan?

Oleh :

sartika annisa

Ketika Musik

Mempengaruhi Emosi Pernah merasa galau ketika mendengar lagu sendu yang tengah diputar? Atau pernah sengaja mendengarkan lagu berirama cepat untuk membuat diri lebih bersemangat? Ya, pasti tak jarang Anda mengalaminya, begitu pula saya.

foto : syed afdhal

D

alam kehidupan kita saat ini, nyaris mustahil jika kita tak terokupasi dengan minimal sepotong lagu setiap harinya.. Musik kian menjadi bagian dalam hidup kita seiring dengan perkembangan teknologi yang memberikan kemudahan untuk memutar musik dimana saja. Kehadiran musik pun ternyata memberikan banyak pengaruh yang kadang tak kita sadari, bahkan musik dapat membuat seorang anak berusia tujuh tahun terbangun dari keadaan koma ketika lagu dari Adele tanpa sengaja terputar di radio rumah sakit. Banyak alasan mengapa manusia tidak terlepas dari kegiatan mendengarkan musik. Chamorro-Premuzic (2011) mengungkapkan tiga tujuan umum dibalik seseorang mendengarkan musik. Tujuan pertama adalah untuk meningkatkan performa dalam berbagai tugas. Musik dapat mengurangi kebosanan kerja dan meningkatkan level atensi terhadap hal yang sedang kita lakukan. Kedua, musik dapat merangsang fungsi intelektual. Hal ini terjadi ketika kita menganalisa musik yang kita dengar. Selain itu, musik dapat memanipulasi atau mempengaruhi emosi kita hingga mencapai suatu keadaan emosi tertentu, seperti keadaan senang atau bersemangat. Fungsi terakhir inilah yang saya pikir menarik untuk dibahas. Mengapa emosi dapat dipengaruhi oleh musik? Pertanyaan ini membuat saya teringat materi kuliah Teori Emosi waktu semester enam lalu. Salah seorang tokoh psikologi emosi, Fridja, menjelaskan bahwa suatu karya seni, termasuk musik, dapat mempengaruhi emosi seseorang jika dapat menyentuh concern bagi yang menikmatinya. Ketika kita menilai musik yang kita dengarkan

14

muncul suatu emosi estetis, yaitu concern tertentu yang dapat menggerakkan individu untuk terbenam dalam karya seni tersebut. Emosi ini muncul dengan melihat keseluruhan komposisi dalam musik tersebut, baik nada, ritme, maupun jarak nada. Emosi estetis sendiri dapat bersifat penguatan emosi yang dirasakan (seperti bertambah sedih ketika mendengarkan lagu sendu pada saat patah hati) ataupun pendorong seseorang untuk merespon emosi yang disampaikan pada lagu tersebut (seperti terdorong untuk kembali gembira ketika mendengarkan lagu bernuansa riang pada saat menghadapi masalah). Dalam teori psikoanalisis juga dijelaskan bahwa musik dapat memancing keinginan-keinginan terpendam kita dalam bentuk imajinasi. Hal inilah yang memungkinkan kita merasa terbawa dengan musik yang sedang kita dengarkan. Mengapa terdapat respon yang berbeda antar individu ketika mendengar musik? Ternyata, respon emotional individu terhadap stimulus musik dapat dipengaruhi oleh pengalaman subjektif seseorang terkait dengan lagu tersebut, tempat dan waktu mendengarkan, keberadaan atau ketidakberadaan orang lain, serta kegiatan yang sedang ia lakukan ketika mendengarkan musik (Sloboda dan O’Neill,2001). Hal inilah yang menjadikan suatu lagu dapat menghasilkan emosi yang berbeda pada tiap orang. Seperti kata Plato, “Music gives a soul to the universe, wings to the mind, flight to the imagination and life to everything.� Yuk manfaatkan musik untuk menyalurkan emosi dan membuat emosi menjadi positif!


BUNCH

OKT

2012

Oleh :

yulita astriani

K

onsep psikologi dan teori terkait perilaku manusia belakangan semakin mengilhami ide cerita film bagi penulis skenario dan sutradara. Susan Krauss Whitbourne, seorang psikolog dari University of Massachusetts lantas tertarik melakukan penelitian tentang film yang memenangkan Academy Award. Hasil risetnya menunjukkan bahwa penghargaan Oscar ternyata cukup banyak diraih oleh film bergenre psikologi serta artis atau aktor yang bermain dalam film bergenre tersebut dengan presentase 25% dari keseluruhan film maupun peran pemenang Oscar. Secara spesifik, diketahui bahwa psychological disorder menjadi fenomena yang kerap memenangkan Oscar, dimana frekuensi kemenangan didominasi oleh antisocial personality disorder sebesar 23% dari

keseluruhan tema dan narcissistic personality disorder sebesar 19% dari keseluruhan tema. Beberapa film yang mengangkat fenomena antisocial personality disorder seperti The Godfather (1972), Silence of The Lambs (1991), Unforgiven (1992), Chichago (2002), The Country of Old Man (2007), Sedangkan film mengenai narcissistic personality disorder seperti Gone With The (1939), Patton (1970), Chichago (2002). Cerita seputar seni dan olahraga yang diulas dalam sudut pandang psikologi pun tak kalah populer diantara deretan film Holywood. Tertarik untuk menonton? Berikut beberapa film yang recommended.

THE ART OF GETTING BY (2011) (Freddie Highmoore) adalah seorang remaja berbakat yang tertarik di

bidang seni lukis. But apparently he’s just not that interested in any other activity, particularly her homeworks. George lebih memilih untuk membuat guratan-guratan artistik pada lembaran PR nya. Walaupun keinginan melukis sulit terbendung, ketika dihadapkan pada satu kanvas putih ternyata tidak mudah untuk seorang George menemukan objek lukisannya. The Art of Getting by memperlihatkan bagaimana George berusaha untuk jujur terhadap dirinya sendiri dan menyalurkan apa yang ingin ia sampaikan melalui sebuah lukisan yang indah. INVICTUS (2009) Invictus atau “Tak Terkalahkan” dibuat berdasarkan novel John Carlin yang berjudul

“Playing The Enemy”, mengisahkan tentang jatuh bangun Tim Nasional Rugby Afrika Selatan menuju kemenangan. Film ini berlatar waktu tahun 90an tepat setelah politik apartheid dihapuskan dan dimulainya masa kepemimpinan Nelson Mandela yang diperankan dengan apik oleh sang aktor senior, Morgan Freeman. Melalui film ini kita bisa belajar bagaimana Springboks (Tim Nasional Rugby Afrika Selatan) yang awalnya merupakan Tim yang tidak diperhitungkan, dapat memperbaiki permainannya dan muncul menjadi tim yang menjuarai perhelatan rugby tingkat dunia. Nelson Mandela yang saat itu menjabat sebagai Presiden sangat memperhatikan kemajuan tim nasionalnya dan terus memberi dukungan psikologis kepada para pemainnya. Invictus sangat menggambarkan pentingnya kerjasama dan kepercayaan diri bagi para atlet untuk dapat memberikan performa terbaiknya dalam setiap pertandingan. THE BLIND SIDE (2009) The Blind Side merupakan adaptasi dari novel The Blind Side: Evolution of a

Game karya Michael Lewis F yang diangkat dari sebuah kisah nyata. Film ini mengisahkan tentang jalan hidup seorang Michael Oher (Quinton Aaron) yang secara tidak sengaja bertemu wanita penuh kasih sayang Leigh Ann Touhy (Sandra Bullock). Melalui film ini kita dapat melihat bagaimana Michael Oher yang berbakat dalam permainan football merasa kesulitan untuk unggul dalam bermain karena karakternya yang lembut dan insting melindungi orang lain yang ia miliki. Penerapan Psikologi Olahraga dapat dilihat melalui dukungan dan motivasi yang diberikan Leigh Ann kepada Michael untuk dapat mejuarai liga-liga American football yang ia dan timnya lakoni hingga menjadikan Michael seorang pemain National Football Leigh yang sukses.

15


BUNCH

OKT

2012

OLAHRAGA

Sebagai

Salah Satu

Bentuk

PERJUANGAN

BANGSA

Oleh :

Kastrat bem psikologi ui foto : syed afdhal

Olahraga dilihat dari fungsinya dapat terbagi menjadi dua, yaitu olahraga rekreatif dan olahraga prestatif. Olahraga rekreatif lebih mengedepankan aspek kesenangan yang didapat dengan berolahraga, sedangkan olahraga prestatif bertujuan untuk meraih prestasi dalam pertandingan olahraga tertentu. Lalu, terdapat beberapa tingkat pertandingan olahraga, misalnya tingkat nasional, ASEAN, Asia, hingga dunia. Olahraga yang ditandingkan pun beragam jenisnya, ada olahraga individu maupun beregu yang dapat dimainkan berhadapan dengan lawan, misal bulutangkis, sepakbola, bola voli, maupun sendiri, misal memanah, senam, marathon. Tiap jenis pertandingan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda.

16


BUNCH

OKT

2012

Mengelola atlet dengan pendekatan ilmiah, mungkin kah?

Di Indonesia, pengelolaan olahraga—khususnya olahraga prestasi—menggunakan metode dan aturan konvensional. Salah satu contohnya dapat dilihat dari banyaknya pelatih para atlet nasional yang tidak memiliki sertifikasi sebagai pelatih. “Wah kita ketinggalan jauh kalau dibandingkan dengan negaranegara maju. Pelaksanaan di sana sudah berdasarkan scientific approach, semua diperhatikan dan dihitung secara ilmiah.” ujar Prof. Dr. M. Enoch Markum, guru besar di Fakultas Psikologi UI yang menekuni dunia olahraga dan sosial. Dengan pendekatan ilmiah ini, atlet dilihat sebagai manusia secara utuh, dari mulai aspek fisik, psikis, hingga penciptaan lingkungan yang suportif dalam memperoleh capaian prestasi. Disinilah diperlukan adanya koordinasi antara pelatih, dokter, pembina/pemerintah, dan psikolog olahraga sehingga dapat tercipta program yang tidak hanya selaras, tapi juga terintegrasi demi kemajuan prestasi bangsa. Ilmu psikologi di bidang olahraga Integrasi program dari seluruh pihak yang terlibat dalam pengelolaan atlet merupakan syarat awal bagi peningkatan capaian prestasi atlet di Indonesia. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan optimalisasi setiap peran yang ada tanpa saling dibenturkan, misalnya peran psikolog olahraga. “Selalu ada saja konflik antara pihak yang terlibat di sini, misalnya psikolog dan dokter dengan pelatih yang memberi latihan langsung pada atlet. Harusnya semua bisa bekerja sama dengan satu tujuan: kemajuan prestasi bangsa.” tutur Dra Surastuti Nurdadi M.Si, dosen dan konselor di F. Psikologi UI yang selama beberapa tahun pernah menjadi psikolog olahraga untuk atlet nasional cabang memanah. Banyak hal yang dapat dilakukan dengan bekal ilmu psikologi yang dimiliki para psikolog olahraga. Bila melihat di negaranegara lain, dapat diperhatikan bahwa prinsip yang digunakan oleh pelatih merupakan aplikasi dari teori belajar seperti observational learning, modelling, reward-punishment, dan lainnya. Pelatih bisa bekerja sama menerima usulan dari psikolog

olahraga dan didukung oleh pemerintah sebagai penyedia fasilitas. Misalnya dengan penerapan observational learning dalam latihan atlet cabang renang. Kolam renang yang dilengkapi dengan camera recorder dapat membantu atlet untuk melihat langsung posisi yang dia lakukan saat latihan sehingga pelatih dapat dengan mudah menunjukkan dan memberi feedback pada atlet-atlet yang dilatih saat itu juga. Optimalisasi peran dan pengintergrasian program dari seluruh pihak inilah yang diyakini dapat meningkatkan prestasi atlet nasional di berbagai ajang pertandingan. Kita cuma mahasiswa, kita bisa apa? Pihak-pihak yang disebutkan di atas seperti pelatih, dokter, pembina/pemerintah, dan psikolog olahraga seakan terlihat sebagai jajaran elite yang tidak terjangkau mahasiswa. Peran mahasiswa, terutama mahasiswa psikologi, rasanya terlalu jauh untuk dapat ikut membantu kemajuan bangsa di bidang olahraga. Apakah iya? Ada tiga keunggulan utama mahasiswa psikologi yang sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai celah untuk berkontribusi. Mahasiswa psikologi yang memiliki basis kuat di bidang penelitian, dapat memperbanyak dan memperdalam penelitian mengenai hal-hal seputar olahraga dan atlet, contohnya penelitian mengenai resiliensi atlet yang pernah memiliki cedera berat. Selain itu, mahasiswa psikologi yang juga memiliki kemampuan untuk melakukan konseling dan membuat pelatihan, dapat melakukan sesi konseling atau intervensi berupa mental training yang dilakukan mahasiswa psikologi secara perorangan maupun kelompok. Dengan adanya partisipasi dan dukungan konkrit seperti itu, maka jelas lah kita, mahasiswa psikologi, benar-benar mengilhami bahwa olahraga merupakan salah satu bentuk perjuangan untuk mengharumkan nama bangsa Indonesia. Kami peduli, kamu? :)

Kesejahteraan atlet Indonesia di masa tua dipertanyakan A: Eh, kok banyak sih atlet nasional yang dulunya jagoan terus pas udah tua jadi ga berpenghasilan gitu sih? B: Iya bener! Kemaren gue baru baca koran yang ngeliput tentang atlet nasional yang pernah menang berbagai macem pertandingan eh sekarang jualan pake gerobak di sekitaran Monas. A: Tuh kan! Coba deh lo bayangin, dulu pas atlet-atlet itu ada di masa kejayaan mereka, pasti sebenernya terjamin kan kesejahteraannya. B: Nah, gue kebetulan lagi bikin penelitian tentang kesejahteraan atlet di masa tua kan ya, terus gue wawancara Bu Nuki. Beliau sempet bilang sih kalo harusnya dikasih tuh ilmu buat me-manage keuangan saat atlet berada di puncak penghasilan tertinggi. Misalnya nabung, investasi, atau mulai bisnis kecil-kecil gitu, buat bekal di masa tua mereka. Hal itu belum jadi concern pemerintah tuh buat ngedidik atlet tentang manajemen keuangan. A: Wah iya bener juga, diajarin gitu ya supaya atlet bisa ngemaksimalin pendapatan pas kariernya lagi bersinar gemilang. B: Bener banget, kan ga seumur hidup tuh fisik para atlet itu sekuat dan sehebat masa mudanya. A: Setuju! Ah gue beneran jadi tertarik bikin pelatihan buat atlet nasional nih. Gue minta nomer kontak atlet-atlet kenalan lo dong, bakal seru nih kayanya! B: Boleh, ntar gue email. Prospektif juga kan tuh buat masa depan, siapa tau jadi ada yang nyangkut ;) A: Hahahaha, bisa aja lo!

17


BUNCH

OKT

2012

Sport is Played With The Body

but Won in The Mind

“In the end, it’s that psychological difference that decides whether you win or lose” (Sven-Göran Eriksson)

M

ungkin masih banyak orang yang belum lupa bagaimana Italia secara dramatis melaju ke final Piala Eropa 2012 lewat drama adu penalti yang sangat menegangkan melawan Inggris. Orang-orang tentu saja juga tidak akan lupa bagaimana Italia berhasil keluar sebagai pemenang setelah sebelumnya sempat tertinggal dan mulai membalikkan keadaan lewat gol penalti spektakuler yang dicetak oleh Andrea Pirlo dengan teknik “panenka”. Setelah pertandingan ini begitu banyak orangorang yang memuji kehebatan mental Andrea Pirlo karena berani menendang penalti dengan cara yang tidak biasa, padahal timnya berada dalam situasi di bawah tekanan. Contoh di atas menunjukkan kepada kita bahwa dalam olahraga, faktor psikologis (mental) memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap performa atlet. Meskipun faktor fisik, teknik, dan taktik juga mempengaruhi performa atlet, namun para ilmuwan olahraga telah sepakat bahwa faktor psikologis memberikan pengaruh yang paling besar dalam menentukan kesuksesan performa atlet. Bahkan Glenn Hoddle (mantan Manajer Tim Tottenham Hotspur dan Tim Nasional Inggris) pernah berujar bahwa “Eighty percent of this game is about confidence. It’s in the mind”. Secara umum terdapat dua faktor yang mempengaruhi keadaan psikologis atlet, yaitu faktor personal dan faktor situasi. Faktor-faktor ini dapat secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi performa atlet. Salah satu faktor personal yang secara konsisten ditemukan mempengaruhi keadaan psikologis atlet dan performa adalah kekuatan mental. Menurut Clough dan koleganya (2002), kekuatan mental atlet merujuk pada kemampuan seseorang untuk bermain di bawah tekanan, baik tekanan dari diri sendiri maupun tekanan dari lingkungan. Atlet dengan mental

18

Oleh :

Nikki Antonio Saputra

yang kuat memiliki keyakinan diri yang tinggi dan percaya bahwa mereka bisa mengontrol takdirnya. Mereka berani mengeksplorasi diri, tidak takut melakukan kesalahan, dan biasanya mempersepsikan tantangan sebagai kesempatan untuk semakin berkembang, bukan sebagai ancaman. Pada contoh di atas dapat kita lihat bagaimana Andrea Pirlo secara tidak langsung berhasil “menaklukan” Inggris dengan modal kekuatan mentalnya. Sedangkan faktor situasi yang secara konsisten ditemukan mempengaruhi keadaan psikologis atlet dan performanya adalah persepsi kepaduan tim (Saputra, 2012). Dalam bahasa awam, kepaduan tim dikenal sebagai kekompakan tim. Penelitian yang dilakukan oleh Saputra (2012) terhadap 43 orang atlet sepakbola liga amatir di Indonesia menemukan bahwa atlet yang mempersepsikan timnya memiliki kepaduan tim yang tinggi menampilkan performa yang lebih baik dibandingkan atlet yang mempersepsikan timnya memiliki kepaduan tim yang rendah. Mengapa hal ini terjadi? Penjelasan sederhananya adalah persepsi kepaduan tim yang tinggi secara tidak langsung telah dibuktikan memberikan dampak yang positif terhadap kondisi psikologis atlet, mulai dari keadaan mood (Lane & Chappel, 2001), self-esteem (Julian, Bishop, & Fielder, 1966), meningkatkan keyakinan bahwa tim bisa melewati keadaan yang dapat merusak tim, (Brawley, Carron, & Widmeyer, 1988), dan dapat membantu atlet menginterpretasi kecemasan pertandingan menjadi lebih fasilitatif (Jones, 1996; Saputra, 2012). Ketika seorang atlet memiliki kondisi psikologis yang baik, maka dia akan lebih mungkin menampilkan peak performance yang dimilikinya dibandingkan ketika ketika dalam kondisi psikologis yang tidak baik.


BUNCH

OKT

2012

Did You Know ?

M

engapa kita begitu sedih ketika mendengar ‘Someone Like You’ dari Adele? Beberapa penelitian menemukan adanya ornamen musik tertentu dalam lagu tersebut yang dapat memicu reaksi emosional yang kuat, yang disebut appoggiatura. Appoggiatura berupa disonansi atau pelencengan nada seperti not yang beberapa tingkat lebih tinggi atau rendah daripada not sebelumnya.

1

J

angan ragu untuk tersenyum! Penelitian terhadap 230 pemain baseball mendapati bahwa pemain yang sering tersenyum dan memiliki senyum lebar maka berkesempatan hidup lebih panjang 4,9 tahun dibanding pemain yang sedikit tersenyum dan tujuh tahun lebih lama dibanding mereka yang sama sekali tidak tersenyum. Terlepas dari penelitian tersebut, sebuah senyuman terbukti mengeluarkan energi positif yang berkaitan dengan kondisi tubuh yang prima.

S

iapa bilang kalau laki-laki lebih sering memimpikan p e r e m p u a n . Pa d a kenyataannya, lebih dari 70% karakter pada mimpi laki-laki adalah laki-laki. Selain itu, pada umumnya laki-laki lebih sering mengalami aggressive emotions dalam mimpinya dibanding perempuan. Di sisi lain, isi mimpi perempuan ternyata seimbang mengenai karakter laki-laki dan perempuan.

3

P

ernah merasa begitu nyaman ketika mendapat pelukan dari orang terdekat? Dibalik itu, sebuah pelukan mampu menurunkan tekanan darah, tingkat stres, resiko serangan jantung, hingga meningkatkan kadar hemoglobin dalam darah. Sehingga wajar jika secara tidak langsung kita merasakan kehangatan dan menjadi rileks ketika dalam pelukan!

4

2

19


BUNCH  

You dose of Psychology

Advertisement
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you