Page 4

NASIONAL

4

Batam Pos, Sabtu 27 April 2013

SBY: Tegakkan Hukum Instruksi untuk Kapolri dan Jakgung Terkait Eksekusi Susno JAKARTA (BP) – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turut ambil bagian dalam polemik terkait eksekusi terhadap mantan Kabareskrim Polri Komjen (pur) Susno Duadji. Namun, presiden baru mengintruksikan agar kapolri dan jaksa agung menegakkan hukum dengan seadil-adilnya. Instruksi itu disampaikan SBY sesaat setelah tiba kembali di tanah air usai kunjungan ke tiga negara ASEAN Singapura-Myanmar-Brunei, kemarin (26/4). Bertempat di Bandara Halim Perdanakusumah Jakarta, sebelumnya, presiden juga sempat menerima laporan perkembangan kasus tersebut langsung dari Jaksa

Agung Basrief Arief dan Kapolri Jenderal Timur Pradopo. “Saya mengintruksikan singkat, tegakkan hukum dengan seadiladilnya dan sebenar-benarnya,” kata SBY dalam konferensi pers di ruang VIP Bandara Halim Perdanakusumah Jakarta kemarin. Dia melanjutkan, rakyat menginginkan tegaknya hukum dan keadilan di negeri ini. Rakyat, lanjut presiden, juga menginginkan negara dan pemerintah, termasuk kepolisian dan kejaksaan agar berfungsi dan bisa jalankan tugasnya dengan baik. “Itu yang saya arahkan tadi, selebihnya Kapolri dan Kejaksaan Agung bisa menjabarkan dan melaksanakannya,” ucap SBY. Meski meminta hukum ditegakkan dengan seadil-adilnya, SBY tidak memberikan penjelasan lebih lanjut terkait polemik hukum yang terjadi dalam kasus Susno.

Khususnya, menyangkut apakah kejaksaan perlu tetap melanjutkan upaya eksekusi terhadap Susno atau tidak. Sebagaimana diberitakan, pihak Susno bersikukuh bahwa kalau yang bersangkutan tidak bisa dieksekusi. Berdasarkan intrepretasi hukum yang diyakini, para kuasa hukum Susno berpandangan kalau keputusan kejaksaan tinggi terkait eksekusi tidak memiliki dasar hukum yang kuat, bahkan cacat hukum. Saat dimintai penjelasan lebih jauh menyangkut instruksi SBY tersebut, juru bicara Presiden Julian Aldrin Pasha juga tidak menjawab secara terang. “Intinya, beliau (SBY, Red) ingin agar hukum ditegakkan dan semua dijalankan dengan proses hukum,” kata Julian yang juga menyertai dalam kesempatan konferensi pers di Bandara Halim Perdan-

akusumah. Julian menegaskan kalau Indonesia adalah negara hukum. Karenanya, siapapun harus memenuhi kewajiban setiap proses hukum. “Siapapun dan apapun itu, semua perlakuannya harus sama didepan hukum,” ujarnya. Dia juga menegaskan kalau instruksi yang disampaikan presiden bukan untuk mengintervensi persoalan hukum yang sedang berjalan. “Oh tidak ada (intervensi), semua ka nada porsi atau tugas yang memang harus dilaksanakan,” pungkasnya. Sementara itu, Jaksa Agung Basrief Arief menegaskan jika semua lini sudah siap untuk mengeksekusi Susno. Hasil koordinasi antar pimpinan saat ini sedang ditindaklanjuti oleh jajaran di bawahnya. Mekanismenya sedang disusun, dan dalam waktu dekat Susno bakal dieksekusi

Mendengar itu, spontan Solmed berkata pada Opik agar dia menjemput Uje. “Uje kan lagi sakit, jemput sana. Jangan sampai bawa motor sendiri,” kata Solmed kala itu. Rupanya itu seperti sebuah firasat. Karena ternyata Uje meninggal karena kecelakaan. Rasa sedih dan pilu juga timbul tatkala melihat anak bungsu Uje dan Pipik, Attaya Bilal Rizkillah. Selama pemakaman ayahnya, Bilal digendong oleh kerabat. Balita itu mungkin belum mengerti sepenuhnya kalau mulai hari itu dia tidak bisa melihat ayahnya lagi. Kalau kakak-kakaknya menangis, Bilal terlihat biasa saja di pemakaman. Sesekali dia tersenyum dan memainkan botol minuman yang dipegangnya. Dia bahkan berkata kepada orang yang menggendongnya,”Abi sudah dikubur. Abi sudah dikubur, ya,” ucapnya polos. Kecelakaan yang merenggut nyawa sang ustaz bermula saat Uje yang mengendarai Kawasaki ER 650 cc bernopol B 3590 SGQ pulang dari sebuah pertemuan dengan sejumlah rekannya di kawsan Kemang. Dia dan rekan-rekannya pulang beriringan menggunakan empat buah motor. Di tengah jalan, pria 40 tahun itu sempat dua kali terjatuh dari motor saat melintas di kawasan Radio Dalam. Namun, dia tetap melanjutkan perjalanan. Sekitar pukul 01.00, Uje dan rekan-rekannya melintasi kawasan Pondok Indah. Usai melewati bundaran di jalan utama perumahan elite itu, diduga Uje melajukan motornya dengan kencang. ”Melihat dampak tabrakan, kami perkirakan kecepatan motor korban saat itu di atas 70 kilometer per jam,” terang Kasatlantas Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Hindarsono. Dalam kondisi melaju kencang Uje mendapati tikungan kecil di jalan Gedung Hijau itu. Namun,

menjelang tikungan terdapat gundukan aspal. Meski tidak tinggi, gundukan itu sudah cukup membuat motor yang dikendarai uje gagal berbelok. Uje pun tidak mampu menguasai kendaraannya, dan motor tersebut menghantam pohon palem di depan rumah nomor 17. Ayah tiga anak itu pun terpelanting dari motornya sejauh lima meter usai menabrak pohon. Sementara, motor berwarna hijau itu terlempar dan terseret hingga sejauh 20 meter. Kerasnya tabrakan diungkapkan oleh Suyono, penjaga rumah yang pohonnya ditabrak Uje. “Saya di dalam rumah mendengar suara tabrakan yang keras. Saat saya keluar, korban sudah diangkat oleh rekan-rekannya dan digotong menuju taksi,” ujar pria 44 tahun itu. Dia melihat hidung dan bibir Uje terus mengalirkan darah. Helmnya terlepas dari kepala, sementara bagian depan motornya rusak parah. Uje langsung dilarikan ke RS dan tidak lama kemudian sejumlah polisi datang. Upaya rekanrekan Uje membawa dia ke RS Pondok Indah pun berakhir duka. Uje memang sempat mendapat perawatan, namun nyawanya tidak tertolong. “Dia mengalami luka di tempurung kepala sebelah kiri,” ujar Hindarsono. Menurut Hindarsono, Helm yang dipakai Uje sebenarnya merupakan helm jenis full face dan berkualitas baik. Namun, saat kejadian Uje membukanya sehingga menjadi half face. Faktor lain dalam kecelakaan tersebut adalah penerangan jalan yang lemah, sehingga jalanan di situ tampak remang. “Untuk kelengkapan berkendara tidak ada masalah. Korban sudah melengkapi diri dengan SIM dan STNK,” lanjut Hindarsono. Saat ini, motor Uje diamankan di Mapolres Metro Jakarta Barat. ***

Selamat Jalan Uje... Sambungan dari hal 1 kedatangan jenazah Uje di kediamannya di Bukit Mas Narmada III Bintaro, Rempoa, Tangerang Sejak pagi, ratusan pelayat silih berganti datang ke rumah duka, tidak lama setelah kabar wafatnya Uje tersebar. Menjelang siang, jenazah Uje dibawa ke Masjid Istiqlal. Usai salat jumat, ribuan jamaah menyalatkan jenazah da’i bersuara merdu itu. Usai disalatkan, jenazah Uje dibawa ke TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat untuk dikebumikan. Uje dimakamkan bersebelahan dengan makam ayahnya, H. Ismalid Modal, yang sudah meninggal 21 tahun lalu. Banyak sekali orang yang datang ke TPU tersebut. Mereka semua ingin melihat dan mengantarkan Uje ke tempat peristirahatan terakhirnya. Saking banyaknya pelayat, jalanan di sepanjang Jalan K.H. Mas Mansyur macet. Di antara ribuan pelayat itu tampak sejumlah artis maupun ulama yang hadir mengantar kepergian Uje untuk selama-lamanya. Seperti Ungu, Teuku Wisnu, Opick, Nuri Maulida, dan sejumlah artis lain. Mengenai tempat pemakaman, pihak keluarga memang menginginkan agar almarhum dimakamkan disebelah makam ayahnya. Kebetulan, disitu adalah makam keluarga Uje. Selain ayah, ada juga makam kakeknya. Namun ketika tanah untuk makam Uje digali, petugas makam hanya bisa menggali hingga 1,2 meter saja. Sebab di kedalaman itu masih terlihat kain kafan milik mendiang ayah Uje. “Itu masih ada kafan almarhum ayahnya Uje. Itu terlihat kan,” kata petugas sambil menunjukkan tiga bagian yang memperlihatkan kain kafan yang sudah berwarna cokelat. Menurut petugas itu, jika digali lebih dalam lagi, dikhawatirkan makam ayahnya akan ambrol.

“Jadi bisanya segini. Nanti jenazah Uje diletakkan di sini. Agak di atas ayahnya,” lanjut petugas tersebut. Sekitar pukul 14.30 jenaZah tiba di pemakaman. Rombongan jenazah sempat kesulitan menuju liang lahat. Sebab ribuan orang sudah memadati area pemakaman. Dan banyak yang mendekat mengelilingi liang. Tenda yang menaungi liang pun sampai bergoyang mau rubuh. Setelah diperingatkan untuk mundur, barulah para pelayat ini memberikan jalan. Pipik, istri Uje, terlihat tak henti menangis. Dia bahkan pingsan setelah suaminya dikuburkan. Di rumah pun dia sempat pingsan. Dia terlihat begitu terpukul. Suami tercinta yang pergi dari rumah dalam keadaan sehat, pulang tinggal jasad. “Abi, Umi ikut. Abi, Umi ikut,” ratapnya memeluk keranda suaminya. Dia juga mempertanyakan kenapa suaminya pergi secepat ini. “Abi kan janji kita sehidup semati,” ratapnya sambil menangis. Padahal dua minggu sebelumnya, mereka sekeluarga baru saja berlibur ke Bali. Sekaligus, merayakan ulang tahun Uje yang ke-40. Ustaz Solmed memiliki firasat akan kepergian Uje. Beberapa hari sebelum kejadian, Uje memberikan cincin dan pecinya ke Solmed. “Dia bilang, nih kamu teruskan dakwah ya,” cerita Solmed. Suami dari pesinetron April Jasmine ini menerima cincin dan peci sambil menangis. “Saya memeluk Uje sambil nangis waktu itu,” katanya. Seperti yang diceritakan Fajar shidiq, adik Uje, ada niatan Uje untuk istirahat berceramah karena capek. Di malam kejadian, salah satu karyawan Uje bertandang ke rumah Ustaz Solmed. Kala itu Solmed menanyakan bagaimana kabar Uje. Karyawan yang bernama Opik itu bilang kalau Uje sedang ngopi di Kemang bersama adiknya.

Pemilik Toko Terancam Pidana Sambungan dari hal 1 kosmetik itu pun belum dapat kita temukan. Kami usahakan harus dapat,” ungkapnya. Selain itu, pemilik toko, ujar Lucky, bisa juga dijerat dengan Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan dan dapat diproses pidana. “Ancaman 15 tahun penjara denda Rp 1,5 miliar,” ujar , Lucky S Slamet, Jumat (26/4). Kosmetik ilegal yang disita dari toko Belezze itu, ujarnya mencapai dua truk dengan jumlah perkiraan

nilai Rp 881,73 juta . ”Kami akan memverifikasi dan melakukan pemberkasan sebelum dimusnahkan,” ujarnya. Sementara itu Dirjen Standarisasi dan Perlindungan Konsumen, Kementrian Perdagangan yang juga Sekretaris TPPB, Nus Nuzulia Ishak mengatakan, tujuan dibentuknya tim tersebut dalam rangka melindungi konsumen. “Karena barang yang beredar harus menjamin bahwa produk sesui dengan standar dan aman dikonsumsi,” ungkap wanita

berkerudung ini. Katanya, saat ini banyak barang ilegal yang beredar. Di antaranya berupa makanan, minuman dan kosmetik. “Bedanya ilegal ini langsung didatangkan dari luar negeri tanpa legalisasi dari BPOM dan Menkes. Sehingga tidak diketahui kandungan serta jaminan kemanannya,” ungkapnya lagi. Sementara itu, BPOM Kepri, kemarin memusnahkan 1.698 jenis obat dan makanan ilegal dalam 48.151 kemasan di Desa Air Cargo Kawasan Pengolahan

Limbah Industri (KPLI) Limbah B3 Kota Batam. Barang ilegal senilai Rp 379 juta tersebut hasil tangkapan di wilayah Kepri pada tahun 2011, 2012, dan 2012. “Ini ada juga hasil razia operasi gabungan tahun 2012,” ujar Kepala BPOM RI Lucky S Slamet. Pemusnahan barang ilegal itu juga disaksikan Kepala Bapedal Kota Batam Dendi Purnomo, Direktur Narkoba Polda Kepri, Kombes Pol Agus Rohmat, perwakilan Kejaksaan Tinggi, Perwakilan BC Batam, dan BP Batam. (hgt)

Mereka bertolak dari hotel pada pukul 06.00 WIB. Sesampainya di RSCM, mereka langsung melakukan pendaftaran. Proses administrasi itu nyatanya memakan waktu yang lama. Pun ribet. Setelah selesai mengurus administrasi, mereka masih harus menunggu lama. Antrean scanning cukup panjang hari itu. “Banyak yang sakit ternyata,” kata Katiran. Arya baru bisa bertemu dokter pukul 13.00 WIB. Setelah melakukan CT-scan selama 2 jam, mereka kembali ke kamar kos pada pukul 16.00 WIB. Kapolda Beri Bantuan Katiran mengatakan, bantuan untuk kesembuhan Arya mulai berdatangan. Yang pertama datangnya dari Kepolisian Daerah Provinsi Kepri. ”Kemarin (Kamis (25/4), red), begitu turun dari pesawat, ada yang menelepon saya,” kata Katiran mengawali cerita. Orang di seberang telepon mengaku dari Polda Kepri. Ia menyatakan keinginannya untuk menyumbang. Ia meminta nomor rekening Katiran. Tak berapa lama setelah Katiran menyebutkan nomor rekeningnya, saldo di rekening itu bertambah. Kapolda menyumbang sebanyak Rp 1 juta. Selain Polda, Dinas Kesehatan

Natuna juga telah menyumbang sebanyak Rp 5 juta. Uang tersebut telah digunakan untuk membayar biaya transportasi selama ini dari Natuna ke Jakarta. Katiran akan mempergunakan uang itu untuk keperluan membayar kos, membeli kebutuhan Arya, juga kebutuhan hidup selama di Jakarta. “Kalau untuk kebutuhan sehari-hari rasanya sudah bisa dengan uang itu,” kata Katiran. Arya Rewel Bayi Arya sempat rewel saat melakukan CT Scan. Bukan karena sakit, tapi karena kegerahan. Udara Jakarta yang panas, membuat Arya tak tahan. “Pas lagi mau di-scan, Arya rewel. Dia nangis kencang sekali,” kata Katiran. Kondisi itu diperparah, ternyata, di kamar kos itu tidak ada kipas angin. Arya berteriak-teriak. Dari ujung telepon, teriakan Arya lamat-lamat terdengar. “Ya memang dia itu rewel karena panas,” kata Katiran. Kata Katiran, kondisi tubuh Arya saat ini masih bagus. Dokter RSCM belum memberikan resep obat baru. Bayi Arya masih meminum obat dari Rumah Sakit Otorita Batam (RSOB). “Dan Arya juga masih minum ASI kok,” katanya lagi. (ceu)

Arya Langsung di CT-Scan Sambungan dari hal 1 di-scan. Scan-nya lama. Sampai 2 jam,” kata Katiran, ayah Arya, saat dihubungi, Jumat (26/4). Hasil CT-Scan, kata Katiran, baru keluar Senin (29/4). Inilah mengapa dokter RSCM belum berani memvonis penyakit yang diderita Arya adalah Atresia Bilier. Dokter belum memutuskan, apakah Arya akan menjalani operasi ganti hati atau tidak. Meski demikian, dokter sudah mencurigai adanya penyempitan pembuluh darah di bagian dada. Selain itu, dokter juga mencium adanya kelainan di jantung Arya. Jantung bocah asal Desa Gunung Putri, Bunguran Barat, Natuna itu bocor. Meskipun keboc-

kicauan @komar_hidayat (komaruddin hidayat) Berita kematian teman di usia muda dg meninggalkan anak2 masih kecil, membuatku tercenung, speechless. @JayaYEA (Jaya Setiabudi) Orang yg menyombongkan harta atau pencapaiannya, biasanya belum seberapa yg diraihnya atau belum pernah bangkrut.

orannya tidak besar. “Kalau dalam satu tahun ini kebocoran itu makin lebar, Arya harus ditangani intensif,” kata Katiran. Keluarga Katiran sampai di Jakarta pada pukul 15.00 WIB Kamis (25/4) lalu. Setelah beristirahat sejenak, mereka lantas bergerilya mencari kamar kos dekat RSCM. Pilihan mereka jatuh pada sebuah kamar kos di wilayah Salemba. Kamar itu tidak besar dan tidak mewah. Hanya ada kasur dan sebuah lemari kecil. Plus sebuah kamar mandi di dalamnya. Tarif kamar itu sebesar Rp 650 ribu per bulan. Katiran, langsung menyewanya selama satu bulan. “Soalnya, kata Pak Syamsu (Syamsurizal, Direktur RSUD Natuna, red), perawatan Arya ini akan lama,” katanya. Katiran sekeluarga mulai menempati kamar itu Jumat (26/4) sore sekembalinya dari melakukan CTScan di RSCM. Sebelumnya, mereka menginap di sebuah hotel bersama Syamsurizal. “Pagi-pagi sekali baru berangkat ke RSCM,” kata Katiran. Katiran, Lilik, dan Arya serta rombongan Syamsurizal dari Natuna menghabiskan satu hari penuh di RSCM, Jumat (26/4).

lagi. Tim dari JAM Pidsus, JAM Intel, Maupun Bareskrim sudah siap untuk melaksanakan eksekusi. Hanya saja, saat ditanya kapan pelaksanaan eksekusi, Basrief berkelit. “Itu kan teknis di lapangan, masa saya kasih tahu,” ujar Basrief usai meresmikan Masjid Baitul Ikhlas di komplek Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan kemarin. Entah apa yang membuat kejaksaan sulit untuk mengeksekusi Susno. Setelah gagal dieksekusi Rabu (24/4) lalu, keberadaan Susno kini tidak diketahui. Pihak Kejaksaan pun tampak tidak terlalu khawatir soal keberadaan Susno. Bahkan, hingga kini dia belum ditetapkan sebagai DPO. “Kalau dia ada di sini, ya kami eksekusi,” lanjut Basrief. Basrief memastikan, eksekusi berikutnya tidak akan gagal lagi. Sebab, semua pihak baik jaksa eksekutor maupun kepolisian sudah satu visi untuk menegakkan hukum. Apapun yang terjadi, Susno tetap akan dibui. Saat

ini pihaknya sedang mematangkan koordinasi agar kericuhan seperti yang terjadi di Bandung tidak terulang lagi. Kegagalan memalukan itu juga mendapat perhatian khusus. “Kegagalan kemarin, istilahnya, tertundanya eksekusi kemarin dievaluasi untuk dicari jalan yang terbaik,” ujar Wakil Jaksa Agung Darmono. Namun, dia enggan menjelaskan evaluasi seperti apa yang dilakukan terhadap para jaksa eksekutor. Saat ditanya di mana keberadaan Susno, Darmono menjawab singkat. “Diperkirakan antara Jakarta dan Bandung,” terangnya. Bisa saja Susno saat ini berada di Jakarta, namun bisa juga di bandung. Apakah itu berarti kejaksaan tidak bisa memastikan keberadaan Susno, Darmono hanya tersenyum. Dia menambahkan, dengan adanya komitmen Kapolri, pihaknya lebih yakin eksekusi berikutnya akan sukses. Selama polisi mengamankan jalannya eksekusi, dia memastikan prose

situ akan berjalan lancer tanpa gangguan berarti. Sebagaimana diberitakan, kegagalan mengeksekusi Susno membuat Basrief secara mendadak menemui Kapolri Jenderal Timur Pradopo. Pertemuan itu imbas dari perlindungan yang diberikan Polda Jabar terhadap Susno. Basrief meminta komitmen Kapolri untuk mengamankan jalannya eksekusi terhadap Susno yang langsung disanggupi. Di bagian lain, langkah Kapolda Jawa Barat Irjen Tubagus Anis Angkawijaya yang terkesan melindungi Susno Duadji menjadi blunder. Kapolri Jenderal Timur Pradopo memerintah Propam melakukan penyelidikan. Jika nanti Anis dinilai melanggar prosedur, kemungkinan besar dia akan dicopot. Karopenmas Mabes Polri Brigjen Boy Rafli Amar membenarkan upaya penyelidikan gagalnya eksekusi Rabu 24 April itu. “Kita lakukan langkah-langkah penyelidikan,”katanya. (jpnn)

Blak-Blakan, Milih Beli Rokok di Warung Sambungan dari hal 1 menghadiri undangan dari Polda Kepri. Waktu itu, ia membawa serta Ustaz Solmed untuk diperkenalkan ke masyarakat Batam. Di sela-sela itu, Uje juga pernah datang ke Batam untuk mengunjungi kakak kandungnya. Saudaranya itu pernah tinggal di Batam. Di daerah Taman Sari Tiban. Di salah satu masjid di wilayah Taman Sari itulah, Uje pernah menggelar tausyiah. ”Sekarang, kakak kandungnya itu sudah kembali ke Jakarta. Di sini tinggal ada saudara sepupunya. Namanya Ustazzah Sa’diah,” katanya lagi. Uje, yang juga terkenal sebagai seorang selebritis, tak pernah neko-neko saat hendak melakukan tausyiah. Ia selalu datang dengan timnya dari Uje Centre. Tim itulah yang kemudian melakukan persiapan tausyiah. Persiapan yang paling utama adalah sound system. Uje benar-benar meminta anak buahnya untuk mengecek alat pengeras suara itu. Saking konsennya, Uje bahkan membawa microphone khusus dari Jakarta. Tausyiah Uje ternyata tak hanya di mulut saja. Syarif menceritakan, banyak hal-hal kecil yang masih dijaga Uje meski namanya sudah besar dan tenar. Seperti misalnya, menjaga sahur. Panitia Nuzulul Quran MRB menjamu Uje dan Marshanda, bintang tamu lain di acara Nuzulul Quran itu, di Restoran Golden Prawn Bengkong. Rombongan bergerak ke resto tersebut usai melaksanakan ibadah salat tarawih. Sekitar pukul 23.00 WIB. Makan di waktu selarut itu jelas akan membuat perut penuh. Iseng, Syarif bertanya pada Uje apakah ia masih akan melakukan sahur keesokan harinya. Jawaban Uje mengejutkan Syarif. Ia mengatakan tetap akan makan sahur. Alasannya, ada pahala yang terselip saat umat makan sahur. “Subhanallah sekali. Kebanyakan kita ini kan memilih untuk tidak sahur. Tapi beliau yang baru saja makan, tetap memilih sahur. Hanya untuk menjaga berkah sahur,” kata Syarif. Selain itu, Syarif juga menceritakan kedermawanan Uje. Makanan yang tersaji di Golden iKlAn

Prawn kala itu ternyata tak sanggup dihabiskan. Saat itu, Uje meminta makanan itu untuk dibungkus dan diserahkan ke anakanak yatim di yayasan yang dimiliki saudara sepupunya. Kejadian makan bersama di Golden Prawn itu juga memberikan kesan tersendiri bagi Darwis, pengurus LAZ di MRB. Darwis yang termasuk dalam panitia Nuzulul Quran kala itu sempat berbincang dengan Uje. Uje, waktu itu, hendak merokok. Tanpa diminta, Uje bercerita, ia tak pernah membeli rokok di mal atau supermarket. Ia selalu membeli rokok di warung-warung kecil di pinggir jalan. Alasannya sederhana. Rezeki para pemilik warung di pinggir jalan itu kan tidak tentu. Uje ingin memberi rezeki kepada para pemilik warung di pinggir jalan itu. “Alasan Uje itu benar-benar berkesan bagi saya,” kata Darwis. Uje bukanlah orang yang sombong. Sosoknya justru terekam bersahaja. Meskipun ia sudah kondang di layar kaca. Bahkan menurut Darwis, Uje itu supel. Mudah bergaul. Ia bisa berbincang dengan siapapun. Bahkan berkenan untuk berfoto dengan siapa saja. “Tidak tahu bagaimana, tapi beliau itu seperti bisa cocok ngobrol ke siapa saja,” katanya. ‘Kepergian’ Uje yang tiba-tiba itu mengejutkan banyak orang. Kepala Dinas Pariwisata Batam Yusfa Hendri mengaku sampai membuka banyak berita dari laman online tentang kematian Uje. Ia pun memantengi televisi. Sampai kemudian ia yakin, ustaz suami Pipik Dian Irawati Popon itu memang sudah kembali ke Haribaan Allah. “Saya suka baca berita online. Dan saya kaget saat pertama kali baca berita Uje meninggal,” kata Yusfa saat ditemui, Jumat (26/4). Direktur LAZ MRB Batam Syariffudin pun tak kalah kagetnya. Ia mengaku telah mendapat firasat ”kepergian” Uje ini. “Kamis (25/4) pagi kemarin, habis Subuh, saya tiba-tiba terbayang sosok Uje,” katanya. Syarif saat itu sedang berada di Wisma Sahidah di kawasan Kampus UIN Jogja. Ia baru saja menunaikan salat Subuh. Ia se-

dang mengemas barangnya, saat bayangan Uje menjejali pikirannya. Uje sedang tidak melakukan apa-apa, dalam bayangan Syarif. Uje mengenakan kaus Preview lengan pendek berwarna hitam. Scarf corak hitam-putih melingkar di leher. Peci hitam menempel lekat di kepala. Bayangan itu bertahan cukup lama. “Saya sampai berpikir kalau saya suatu saat akan bergaya macam Uje,” kata Syarif. Syarif tak mengambil pusing kejadian itu. Hingga kemudian Jumat (26/4) pagi ini ia mendapat broadcast message dari Ustaz Yusuf Mansur yang mengabarkan kematian Uje dini hari. Pesan itu datang pada pukul 03.00 WIB. “Saya lalu teringat pada kejadian Kamis pagi itu. Dan kemudian, pagi ini (Jumat (26/4), red), saya memutuskan untuk mengenakan scarf seperti Uje,” katanya. Untuk mengantarkan Uje, Masjid Raya Batam menggelar salat ghaib. Salat jenazah jarak jauh itu dipimpin oleh Ustaz Abdullah Muhid asal Malang, Jawa Timur. Sebelum masuk waktu salat, Ustaz Abdullah Muhid meminta para jamaah memanjaatkan doa untuk Uje. Sekaligus meminta keikhlasan para jamaah untuk melaksanakan salat jenazah jarak jauh usai Salat Jumat. “Setelah salat Jumat tadi, saya ikut melakukan salat jenazah untuk Uje (panggilan akrab Ustaz Jeffry, red),” kata Catur, salah satu jamaah salat Jumat MRB. Salat ini diikuti oleh ribuan orang jamaah. Di antaranya, terdapat pula pejabat Pemerintah Kota Batam dan Badan Pengusahaan (BP) Batam. Selain MRB, Masjid Al Halim Mapolda Kepri juga menggelar salat ghaib. Salat ini diikuti oleh ratusan jamaah, baik dari anggota polisi maupun masyarakat di lingkungan sekitar. Ustaz Jeffry meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan sepeda motor di Pondok Indah Jakarta Selatan, dini hari ini (26/4). Polda Metro Jaya menyatakan, Ustazz Jeffry meninggal dunia setelah menabrak pohon di Jalan Gedong Hijau 7 Pondok Indah, Jakarta Selatan. Saat itu, ia tengah mengendarai sepeda motor sport Kawasaki E650 bernomor polisi B 3590 SGQ. ***

27 April 2013  

27 April 2013

27 April 2013  

27 April 2013

Advertisement