Page 34

LINGGA

34

Batam Pos, Sabtu 27 April 2013

Listrik Padam Belasan Kali Sehari DEDI ARMAN, Lingga KONDISI pelayanan listrik PLN Ranting Dabo Singkep semakin parah. Belakangan ini listrik mati tiap hari. Bahkan, dalam dua hari terakhir dalam satu hari, listrik padam sampai belasan kali. “Listrik byar pet banyak kali. Kalau begini peralatan komputer gampang rusak. Usaha saya juga rugi karena tak bisa melayani pelanggan,” kata pemilik warnet di Dabo, Arif, kemarin. Tak hanya Arif, pemilik warnet lainnya, Ahmad Nasiruddin, mengeluh pelayanan PLN yang semakin hari kian memprihatinkan.

Kalau awalnya ada pengumuman pemadaman listrik, namun kini pemadaman sesuka hati. “Pelanggan warnet banyak yang kecewa dengan kondisi listrik. Jika terus-terusan begini, bisabisa orang malas ke warnet,” kata Nasiruddin. Penegasan PLN untuk memutus aliran listrik kepada pelanggan yang menunggak membayar rekening tidak sebanding dengan pelayanan. “Malah tarif dasar listrik sudah naik, janji PLN untuk meningkatkan pelayanan tidak pernah terbukti,” ujarnya. Seorang ibu rumahtangga di Sekop Darat, Andri menyebutkan,

listrik padam tak hanya siang. Tengah malam pun sering padam. Sering juga padam saat pagi. “Aktivitas mencuci atau memasak jadi terganggu. Kalau tak ada listrik, bagaimana mau bekerja. Listrik di Dabo semakin lama semakin parah pemadamannya,” kata Andri, kemarin. Pemadaman listrik, Jumat (26/4) cukup lama. Listrik padam sejak pukul 12.00 WIB dan baru menyala lagi pukul 15.30 WIB. Tengah malamnya, listrik juga beberapa kali padam. Meski kemudian menyala dan padam lagi. Durasi pemadaman tak lama. Manajer Ranting PLN Dabo, M

Hosen saat dikonfirmasi mengatakan, cuaca buruk dan angin kuat menjadi penyebab pemadaman listrik. Kondisi mesin yang telah diset sedemikian rupa, menyebabkan listrik akan otomatis padam jika terjadi benturan. “Petir dan adanya dahan kayu yang menimpa jaringan membuat listrik mati,” kata Hosen, kemarin. Petugas PLN mengatasi dahandahan yang menimpa kabel listrik sehingga listrik kembali bisa menyala. Penyebab pemadaman bukan karena mesin bermasalah. ***

Evaluasi Program Pertanian dan Perikanan LINGGA (BP) - Anggota DPRD Lingga, Agus Norman meminta Pemkab Lingga mengkaji sebelum membuat program meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sejumlah program Pemkab Lingga dibidang pertanian, peternakan, dan pariwisata tak memberikan hasil maksimal terhadap kesejahteraan masyarakat. “Selama ini tidak pernah ada evaluasi tentang program yang dilakukan. Berbagai bantuan yang terus diberikan kepada masyarakat tidak menjadi manfaat jika pemerintah tak mengawasinya,” kata Agus Norman, kemarin. Sebagai pembuat program, pemerintah juga harus bisa membimbin masyarakat yang menerima bantuan. Pemberdayaan dan bimbingan harus terus diberikan

F.RPG

Agus Norman

hingga kesejahteraan masyarakat yang menerima bantuan meningkat. “Faktanya saat ini banyak nelayan maupun petani yang menerima bantuan namun tingkat kesejahteraannya tidak meningkat,” ujarnya. Apapun program dan berapa besar anggaran yang dikucurkan tidak akan bermanfaat jika program kegiatan tidak sesuai kebutuhan dan peruntukan. Pemkab Lingga melalui instansi terkait harus banyak belajar dari daerahdaerah berhasil melakukan program dibidang yang ditetapkan. “Harus dilakukan evaluasi, apakah programnya berhasil. Jika gagal buat apa diteruskan,” tukasnya. Ia meminta, koordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat,

harus lebih ditingkatkan. Berbagai program yang ada ditingkat pusat tidak akan turun ke daerah, jika Pemkab Lingga tidak memintanya. “Namun yang paling penting adalah bantuan diberikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,”sebutnya. Sejak Kabupaten Lingga terbentuk sembilan tahun lalu, Pemkab Lingga setiap tahun menganggarkan dana untuk program di bidang perikanan kelautan, pertanian dan pariwisata. Bantuan kapal, pompong dan alat tangkap ikan diberikan setiap tahun. Hal yang juga sama dibidang pertanian, rutin diberikan bantuan bibit karet dan komoditi lain. Para petani peternak di Lingga juga diberikan bantuan sapi hampir setiap tahun. (dea)

F.DEDI ARMAN/LINGGA

LINGGA memiliki potensi galian C. Namun sayangnya belum berkontribusi maksimal bagi pendapatan asli daerah. Terlihat penggalian pasir di kawasan Gunung Muncung, Singkep, kemarin.

Galian C Belum Tergali Optimal Tak Hiraukan Suara Walet PELAJAR SD berjalan di gedung yang dijadikan sarang burung walet di samping sekolahnya di Dabo, Senin (15/10). Mereka mungkin sudah terbiasa atau tak menghiraukan suara bising walet.

LINGGA (BP) - Potensi pajak galian C atau pajak mineral bukan logam dan bebatuan di Lingga sangat besar. Sayangnya, potensi pajaknya belum tergali maksimal memberikan kontribusi bagi pendapatan asli daerah (PAD). Kabid Pendapatan, Dinas Pendapatan, Pengelolaan, Kekayaan, dan Aset (DP2KA) Lingga, Mulkan Azima mengatakan, salah satu sebab pajak galian C belum tergali karena pengawasan galian C belum optimal. Salah satu contohnya pajak galian dari PT Tri Tunas Utama (TTU) yang menambang pasir di Desa Limbung, Lingga Utara. “Kita tak pernah uji kebenaran kapal yang dilaporkan petugas. Mereka berangkat kita tak tahu. Tentu yang lebih tahu Kantor Pelabuhan Senayang, berapa tonase pasir yang dibawa,” kata Mulkan. Pemkab Lingga harus terlibat IKLAN

F.YUSUF HIDAYAT / BATAM POS

Lima Titik Jadi Pilihan Sebagai Pusat Pemerintahan KKS LINGGA (BP) - Lima titik akan dipilih jadi pusat pemerintahan Kabupaten Kepulauan Singkep (KKS) jika sudah terbentuk. Tim kajian akademis dari Universitas Indonesia akan mengkaji lokasi yang cocok, memungkinkan dan strategis jadi pusat pemerintahan. Ketua Badan Pekerja Pembentukan Kabupaten Kepulauan Singkep (BP2KKS) Agus Norman mengatakan, lima titik itu terdiri dua titik di Singkep Barat, satu titik di Singkep Pesisir, dan dua titik ke arah Singkep Selatan. Pihaknya belum bisa menyampaikan nama desa yang diusulkan jadi pusat pemerintahan karena sifatnya baru usulan dan belum

dikaji. “Dalam waktu dekat tim kajian akan turun ke Singkep. Melihat kondisi langsung lapangan. Termasuk melihat lokasi yang diusulkan jadi pusat pemerintahan,” kata Agus di Kantor Camat Singkep Barat, Rabu (24/4). BP2KKS lamban bekerja. Pihaknya bukan lamban dalam mengusulkan pembentukan KKS ke Pemprov Kepri dan DPRD Kepri. Pihaknya menunggu disahkannya Kecamatan Singkep Selatan setelah kemenangan perebutan Berhala jadi bagian wilayah Kabupaten Lingga. “Syarat pemekaran kabupaten harus ada lima kecamatan. Setelah Kecamatan Selatan, berarti syarat pemekaran memenuhi syarat. Ada lima kecamatan,” ujarnya. Syarat lain, berupa dukungan kabupaten induk tak ada masalah.

Masyarakat Lingga, Lingga Utara dan Senayang mendukung Singkep memekarkan diri. “Pembentukan KKS tak membuat konflik horizontal dengan kabupaten induk. Malah Lingga memberikan dukungan penuh. Ini sesuatu yang luar biasa,” ucapnya. Ia juga menilai munculnya wadah lain dalam perjuangan KKS, seperti Forum Perjuangan Pembentukan Kabupaten Kepulauan Singkep (FP2KKS) tak perlu dipermasalahkan. Malahan, diharapkan FP2KKS bisa bersinergi dengan BP2KKS untuk menggesa pembentukan KKS. “Ibarat kapal, dua mesin. Lajunya lebih kencang. Jujur saya sama sekali tak ada masalah munculnya FP2KKS,” sebutnya. Kepala Desa Sungai Raya, Naza ruddin mengatakan, pihaknya siap menghibahkan lah-

an di Air Merah untuk dijadikan pusat pemerintahan KKS. Pihaknya berharap agar BP2KKS bisa m e rangkul semua golongan masyarakat sehingga cita-cita pembentukan KKS dapat terwujud. “Idealnya wadah perjuang an satu. Masyarakat Sungai Raya mendukung pembentukan KKS. Daerah kami siap jadi pusat pemerintahan,” kata Nazaruddin. Senada, tokoh masyarakat Singkep Barat Encik Abbas juga mendukung pembentukan KKS. Namun, masyarakat banyak bertanya-tanya dengan keberadaan dua wadah perjuangan pembentukan KKS. “Ini membingungkan. Kalau satu saja bergabung, lebih bagus. Ini kesannya terpisah dan dianggap tak kompak bagi sebagian orang,”kata Encik. (dea)

Kadinkes Raih Emas Tenis Meja LINGGA (BP) - Kontingen Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) Lingga meraih satu emas, satu perak, dan dua perunggu hingga hari ketiga pelaksanaan Pekan Olahraga Korpri I di Tanjungpinang. Tim bola voli putra juga melaju ke final bertemu dengan tim Anambas. Pembina Olahraga Korpri Lingga, Junaidi Adjam mengatakan, emas pertama kontingen Lingga diraih dr Ignasius Luti yang meraih emas cabang tenis meja perseorangan putra. Di final, Kepala Dinas Kesehatan Lingga itu mengalahkan petenis

meja Bintan. “Hasil sementara Lingga sudah dapat empat medali. Cabang perak disumbangkan tenis lapangan dan dua perunggu dari tenis meja,” kata Junaidi, Kamis (25/4). Ia berharap tim putra bisa menyumbangkan medali emas cabang bola voli. Tim Korpri Lingga diperkuat pemain-pemain berpengalaman. Sementara, tim putri persaingan sangat berat. “Lingga ikut semua cabang. Target kita minimal dua medali emas bisa dibawa pulang,” ujarnya. Sementara, Ignasius Luti mengaku gembira menyumbangkan

F.DOK

Ignasius Luti

emas pertama cabang tenis meja. “Tua-tua keladi, saya sudah tua. Tapi berkat perjuangan, medali emas bisa dibawa pulang,” kata Luti. Dengan raihan prestasi ini, Ignasius Luti bakal mewakili Kepri dalam Pekan Olahraga Korpri tingkat nasional di Manado, beberapa bulan mendatang. Kontingen Korpri Lingga sendiri mengikuti lima cabang dipertandingkan. Yakni, fursal, bola voli putra putri, tenis lapangan, tenis meja, dan bulutangkis. Lingga mengirim 53 atlet dan ditambah official jadi 83 orang. (dea)

dalam pengecekan muatan tongkang. Ia menilai semestinya, pengesahan muatan itu ditangani. Tapi sayang Pemkab Lingga tak pernah dilibatkan. Sampai kini pajak galian C dari PT TTU cuma Rp 219 juta. Namun sayang, perbandingannya antara jumlah pasir yang diangkut ke luar daerah Lingga dengan setoran pajaknya belum diketahui. Sementara, Kepala Desa Limbung Andi Mulya menyatakan, PT TTU mengangkut pasir dengan tongkang dua kali sebulan. “Kita tidak tahu berapa ton muatan tongkangnya. Tak ada laporan,” kata Andi. Banyaknya potensi galian C di Lingga yang belum tergali optimal diakui DP2KA Lingga. Kabid Pendapatan DP2KA Mulkan Azima menyebutkan, pihaknya memiliki keterbatasan untuk pengawasan. Akibatnya, usaha galian C tak melapor sehingga tak

memberikan kontribusi. “Selama ini banyak yang lepas begitu saja tanpa membayar kontribusi ke daerah. Untuk ke depannya akan kita lakukan pemantauan lebih ketat dan akan kita tertibkan,” kata Mulkan. Diakuinya selama ini memang banyak penggalian pasir di Kecamatan Singkep dan Singkep Barat. Namun, kontribusi pajak dan retribusinya tak sesuai. “Kebanyakan tidak melaporkan. Setelah laporan warga, baru kita tahu. Kita akan turun ke lapangan dan berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum Lingga,” sebutnya. Koordinasinya dengan penghitungan langsung nilai setiap proyek yang menggunakan galian C (pasir). “Kita bisa langsung hitung berapa banyak pasir yang dipergunakan dalam satu item proyek. Jadi kita tidak perlu repot-repot lagi mengejar kontraktornya,” tukasnya. (dea)

27 April 2013  

27 April 2013

27 April 2013  

27 April 2013

Advertisement