Issuu on Google+

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bab dua ini akan mensurvei pendapat para penulis tentang pengertian berpuasa. Tinjauan pustaka ini dapat dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, Penerapan Lahiriah; Kedua, Penerapan Batiniah; dan Ketiga, Penerapan Lahir Batin.1 Akhirnya, sebuah rangkuman singkat menutup bab ini. Penerapan Lahiriah C. Robert Marsh Marsh mengomentari tentang pengertian berpuasa, ia mengatakan bahwa: “Puasa adalah mengesampingkan makanan untuk satu pariode waktu ketika umat percaya ingin mencari Allah dalam pengalaman yang lebih dalam.

1

Penerapan lahiriah yang dimaksud lebih menekankan tindakan konkrit atau berpuasa dari makanan dan minuman. Contoh: puasa dari memakan daging, meminum kopi, dan lain sebagainya. Sedangkan penerapan batiniah lebih menekankan berpuasa dari hal-hal yang abstrak. Sebagai contoh: melayani sesama, mengorbankan kesenangan pribadi, puasa dari berbuat dosa, menonton televisi dan lain sebagainya. Sementara penerapan lahir batin merupakan gabungan keduanya, yakni berpuasa dari makanan dan minuman, dan pada waktu yang sama berpuasa dari hal-hal rohani yang abstrak. Selanjutnya, tinjauan secara lengkap dapat dilihat di seluruh bab dua ini.

9

10

Tindakan ini harus dilakukan dihadapan Allah.”1 Dari komentar yang dinyatakan ini, Marsh menekankan puasa lahiriah, yakni berpuasa dari makanan. Don Fleming Fleming memberi komentar mengenai makna puasa, ia menjelaskan bahwa puasa tidak makan dan minum dilakukan dalam satu jangka waktu tertentu, ia berkata bahwa: Puasa adalah praktik yang biasa dilakukan diantara orang Israel baik di dunia Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Orang-orang tidak makan atau minum untuk satu jangka waktu, biasanya untuk beberapa tujuan keagamaan.2 Dari pendapatnya tadi, jelaslah bahwa Fleming juga lebih menekankan penerapan lahiriah, yakni puasa dari makanan dan minuman. Encarta Encarta menjelaskan pendapatnya bahwa makna Puasa adalah bertarak dari makanan dan juga minuman, ia menjelaskan makna puasa adalah: “Pertarakan dari makanan, dan sering juga dari minuman, lebih lama dari jangka waktu yang biasanya. Berpuasa telah dipraktikkan 1

C. Robert Marsh, “Fasting,” Holman Illustrated Bible Dictionary, ed., Chad Brand (Nashville, TN: Holman Bible Publishers, 2003), 560. 2

Don Fleming, “Fasting,” Concise Bible Dictionary (Tennessee: AMG Publishers, 2004), 131.

11

selama berabad-abad sehubungan dengan upacara keagamaan.”1 Penjelasan Encarta kembali mengindikasikan bahwa makna Puasa secara lahiriah, yakni Puasa dari makanan. George Thomas Kurian Kurian memberikan komentar bahwa berpuasa adalah pertarakan dari beberapa jenis makanan, ia berkata bahwa: Puasa bisa berarti pertarakan dari semua makanan selama seharian penuh terhadap diet khusus. Akhir-akhir ini, hanya satu kali makan, biasanya pada sore hari. Atau, bisa juga berarti pertarakan dari beberapa jenis makanan, seperti daging dan produk dari daging.2 Berdasarkan keterangan yang diberikan, Kurian lebih menekankan puasa dengan makna lahiriah, yakni berpuasa dari semua makanan. J. D. Douglas Douglas menjelaskan arti puasa sebagai partarakan dari makanan dan minuman, ia berkata: “Puasa berarti bertarak dari makanan dan minuman selama jangka waktu

Microsoft ® Encarta ® 2006. © 1993-2005 Microsoft Corporation. All rights reserved. 1

2

George Thomas Kurian, Nelson’s Dictionary of Christianity: The Authoritative Resource on the Christian World (Nashville: Thomas Nelson, Inc., 2005), s. v. “Fasting.”

12

yang lama atau sebentar, yang seringkali disebutkan di Alkitab.” Lebih lanjut ia menjelaskan lagi bahwa: “Kadang-kadang, daripada hanya satu kata ‘puasa’ frase deskriptif ‘menyengsarakan diri’ digunakan, artinya lebih kepada puasa fisik daripada penyengsaraan rohani.”1 Dari keterangan ini, Douglas juga cenderung menekankan makna lahiriah. John Muddiman Muddiman berpendapat bahwa puasa adalah pertarakan total dari beberapa jenis makanan, menurutnya: Puasa adalah pertarakan dari makanan untuk alasan keagamaan yang dilakukan dengan sengaja. Dalam bacaan Alkitabiah, puasa adalah pertarakan total, sehingga keduanya dapat dibedakan dari larangan makanan total, seperti binatang haram, dan juga dari pertarakan musiman dari beberapa jenis makanan.2 Dari pendapat Muddiman ini, maka ia juga menekankan bahwa makna lahiriah dari berpuasa adalah berpuasa dari makanan.

1

J. D. Douglas, “Fasting,” New International Bible Dictionary (Grand Rapids, MI: Zondervan, 1987). 2

John Muddiman, “Fast, Fasting,” The Anchor Bible Dictionary (New York: Doubleday, 1992), 2:773.

13

Karen Dockrey Ungkapan buah pemikiran Dockrey mengenai Puasa ialah pertarakan dari makanan dan minuman, ia menjelaskan bahwa puasa adalah: “Melakukan aktivitas tanpa makan atau minum untuk jangka waktu tertentu. Puasa dilakukan secara kelompok atau secara pribadi.”1 Dari pemikiran Dockrey ini, maka ia juga menguatkan makna Puasa dengan penerapan secara lahiriah yaitu berpuasa dari makanan dan minuman. Lawrence O. Richards Richards berpendapat bahwa makna puasa adalah berpantang dari beberapa jenis makanan khusus, ia menjelaskan bahwa berpuasa adalah: “berpantang dari daging atau jenis makanan khusus lainnya dari pada berpantang dari semua makanan.”2 Dari penjelasan yang diberikan diatas, maka ia juga lebih menekankan puasa dengan makna lahiriah.

1

Karen Dockrey, Johnnie Godwin dan Phtllis Godwin, The Student Bible Dictionary: A complete learning system to help you understand words, people, places, and events of the Bible (Ohio: Barbour Publishing, 2000), 91. 2

Lawrence O. Richards, New International Encyclopedia of Bible Words (Grand Rapids, MI: Zondervan, 1998), s. v. “Fasting.”

14

Roland K. Harrison Harrison mengomentari arti puasa sebagai pertarakan dari semua makanan, ia berkata bahwa puasa adalah: “Pertarakan dari semua makanan yang dilakukan dengan sengaja dan terus-menerus untuk jangka waktu tertentu.”1 Dengan keterangan ini, Harrison juga menekankan makna lahiriah yaitu berpuasa dari semua jenis makanan. Ronald F. Youngblood Youngblood memberikan pandangannya mengenai arti Puasa sebagai tindakan tidak makan atau tidak minum secara sukarela, ia menuliskan demikian: Puasa adalah melakukan aktivitas tanpa makan atau minum secara sukarela, biasanya untuk tujuan keagamaan. Puasa, bagaimanapun juga, bisa dilakukan untuk alasan lainnya. Kadangkadang dilakukan sebagai simbol masa kesukaran, duka cita, atau pertobatan.2 Dari pandangan yang diberikan, maka Youngblood lebih cenderung menekankan makna lahiriah.

1

Roland K. Harrison, “Fast,” The International Standard Bible Encyclopedia (Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1988), 2:284. 2

Ronald F. Youngblood, F. F. Bruce, dan R. K. Harrison, Nelson’s Student Bible Dictionary (Nashville: Thomas Nelson Publishers, 2005), 80.

15

Penerapan Batiniah Adele Ahlberg Calhoun Calhoun berpendapat bahwa konsep berpuasa adalah pertarakan dari berbelanja dan menonton televisi, demikian penjelasan yang diberikannya: Puasa membersihkan dan membuka diri kita untuk sengaja mencari kehendak dan kasih karunia Allah dalam satu cara yang melebihi kebiasaan kita dalam kebaktian dan berdoa. Ketika berpuasa hanya kita sendiri berhadapan langsung dengan Allah, memberikan perhatian kita kepadaNya dari pada untuk makan-makan, berbelanja, atau menonton televisi.1 Dari pendapat yang diberikan diatas, maka Calhoun cenderung menekankan bahwa makna puasa dilakukan secara batiniah dalam arti puasa bukan dari makanan dan minuman tetapi dari hal-hal rohani dalam pribadi seseorang. Bruce B. Barton Barton memberikan pandangannya mengenai arti puasa sebagai disiplin rohani yang mengorbankan sesuatu untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik, demikian komentar yang dikutip dari buku yang ditulisnya:

1

Adele Ahlberg Calhoun, Spiritual Disciplines Handbook: Practices That Transform Us (Illinois: InterVarsity Press, 2005), 219.

16

Berpuasa adalah disiplin rohani, sebagaimana halnya berdoa dan memberi. Ketiganya mengingatkan kita akan hubungan utama – Allah dan kita. Ketiganya menuntut agar kita menyerahkan sesuatu untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik.1 Dari pandangan yang dijelaskan diatas, maka Barton pun cenderung lebih menekankan konsep puasa secara batiniah yakni berpuasa dari hal-hal rohani dan bukan dari makanan atau minuman saja. Dorothy Kelley Patterson Dalam bukunya, Patterson memberikan keterangan mengenai konsep puasa sebagai hubungan pribadi antara umat percaya dengan Allah, berikut komentarnya: Puasa adalah disiplin rohani yang semata-mata antara umat percaya dan Allah, melayani untuk membawa umat percaya itu lebih dekat kepada Allah. Yesus menekankan bahwa Allah tidak digerakkan oleh puasa itu sendiri tetapi dengan pertobatan orang percaya kepada-Nya. Puasa harus berawal dari niat yang benar, atau akan kehilangan maknanya.2 Dari keterangan diatas, maka Patterson pun lebih menekankan penerapan batiniah mengenai konsep puasa.

1

Bruce B. Barton and others, Life Application Bible Commentary: Matthew (Illinois: Tyndale House Publishers, 1996), 119. 2

Dorothy Kelley Patterson, ed., Women’s Evangelical Commentary: New Testament (Tennessee: Broadman and Holman Publishers, 2006), 41.

17

E. R. Hardy Hardy dengan tegas menjelaskan konsep berpuasa adalah pertarakan dari dosa, demikian penjelasannya: “Puasa sejati termasuk di dalamnya bertarak dari dosa, sehingga apa yang disimpan ketika melakukan puasa seharusnya mengurangi kebutuhan orang-orang miskin.”1 Dari penjelasan diatas, Hardy juga tetap menekankan bahwa konsep berpuasa harus diterapkan secara Batiniah dalam arti berpuasa dari hal-hal rohani seseorang. Gotquestions Situs Got Questions menampilkan opini mereka mengenai konsep berpuasa sebagai hubungan si pelaku puasa dengan Tuhannya, berikut ini kutipannya: Terlalu sering fokus dari puasa adalah tidak makan. Seharusnya tujuan dari puasa adalah melepaskan mata kita dari hal-hal duniawi dan berpusat pada Tuhan. Puasa adalah cara untuk mendemonstrasikan kepada Tuhan, dan kepada diri sendiri, bahwa Anda serius dalam hubungan Anda dengan Tuhan. Puasa menolong Anda untuk memperoleh perspektif baru dan memperbaharui ketergantungan pada Tuhan.2

1

E. R. Hardy, “Fasting,” A New Dictionary of Christian Ethics (London: SCM Press Ltd., 1990), 228. 2

http://www.gotquestions.org/Indonesia/puasaKristen.html

18

Dari penjelasan yang ditampilkan didalam situsnya, maka situs ini pun lebih menekankan bahwa konsep berpuasa dilakukan secara batiniah. Henry W. Holloman Holloman dalam buku yang diterbitkannya menjelaskan bahwa konsep berpuasa muncul dari gaya hidup seseorang, berikut komentarnya: Puasa tidak boleh untuk pertunjukan umum, yang adalah kemunafikan. Semua bentuk ungkapan rohani, termasuk puasa, harus timbul dari dalam, kerinduan rohani. Puasa harus muncul dari gaya hidup yang melayani Allah dan orang lain.1 Dalam penjelasan diatas, maka Holloman juga menekankan berpuasa dengan penekanan lebih secara batiniah dalam arti secara rohani. John D. Davis Davis dalam bukunya menjelaskan bahwa arti berpuasa sejati adalah pertarakan dari perbuatan salah, demikian penjelasan yang diberikan Gehman: “Puasa sejati tidak boleh dibatasi oleh keadaan luar, tetapi termasuk juga bertarak dari perbuatan salah dan

1

Henry W. Holloman, “Fasting,� Kregel Dictionary of the Bible and Theology (Grand Rapids: Kregel Publications, 2005), 146.

19

kesenangan haram.”1 Dari penjelasan yang diberikan, Davis menekankan konsep berpuasa secara Batiniah. Walter A. Elwell Elwell memberikan penjelasan mengenai puasa sebagaimana halnya doa harus dilakukan secara pribadi, demikian penjelasannya: Puasa harus dilakukan dalam konteks rasa syukur dan berbahagia atas hidup baru di dalam Kristus. Konteks puasa adalah doa. Puasa harus disesuaikan kepada kondisi yang sama sebagaimana halnya doa. Keheningan yang sederhana dihadapan Allah, meningkatkan rasa terima kasih, mengucapkan rasa syukur, berlandaskan iman, sebagai pertumbuhan rohani.2 Dengan demikian, Elwell juga menekankan konsep puasa secara batiniah. William D. Mounce Komentar Mounce mengenai pengertian puasa menyangkut sikap hati si pelaku puasa, berikut kutipannya: “Oleh karena itu, puasa tetap merupakan disiplin yang dapat di praktikkan oleh umat-umat Allah. Akan tetapi, sikap hati harus diperiksa, dan puasa 1

John D. Davis, “Fast,” The Westminster Dictionary of the Bible (Philadelphia: The Westminster Press, 1944), 181. 2

Walter A. Elwell, Tyndale Bible Dictionary (Illinois: Tyndale House Publishers, 2001), s. v. “Fast, Fasting.”

20

harus dilakukan secara sukarela.”1 Dengan demikian, Mounce juga menekankan penerapan puasa secara Batiniah. William Smith Smith dalam buku yang ditulisnya menjelaskan bahwa konsep berpuasa adalah mengorbankan keinginan pribadi, Smith berkata bahwa: “Pengorbanan keinginan pribadi, yang menjadikan puasa menjadi bernilai, diungkapkan dalam ungkapan lama yang digunakan di dalam hukum, ‘memenderitakan jiwa’.”2 Dari penjelasan yang diberikan oleh Smith, maka ia juga cenderung menekankan bahwa konsep berpuasa haruslah dilakukan secara pribadi, dengan kata lain Penerapan Batiniah yang lebih ditonjolkan. Penerapan Lahir Batin Arthur Wallis Wallis mengeskpresikan pendapatnya mengenai konsep puasa sebagai gabungan antara pertarakan dari 1

William D. Mounce, ed. Mounce’s Complete Dictionary of Old & New Testament Words (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2006), s. v. “Fast.” 2

William Smith, A Dictionary of the Bible: Comprising its Antiquities, Biography, Geography, and Natural History, with Numerous Illustration (New York: Fleming H. Revell Company, 1900), s. v. “Fasts.”

21

makanan dan juga hal-hal yang rohani, ia berkata bahwa: “‘Berpuasa,’ kita diberitahukan, ‘bukan sekadar bertarak dari makanan, tetapi dari apapun yang merintangi persekutuan kita dengan Allah,’”1 Dari pendapatnya diatas, maka Wallis lebih condong menekankan puasa dengan penerapan Lahir Batin. fastingprayer Sebuah situs Internet yang bernama fastingprayer menyatakan pandangan mereka mengenai konsep berpuasa sebagai puasa fisik dan juga puasa rohani, berikut kutipannya: Puasa berarti merendahkan diri kita dihadapan Allah, memberitahukan-Nya bahwa kita ingin menukar kesenangan fisik untuk mencari Dia demi perjamuan rohani! Sebagai disiplin rohani, puasa adalah tindakan pertarakan dari memberi makan tubuh untuk lebih berfokus pada pencarian wajah Allah dan memberi makan rohani. Ini adalah disiplin yang kuat dimana Roh Allah dicurahkan keatas kita sementara kita mencari Dia dengan sungguh-sungguh.2 Dari pandangannya diatas maka situs fastingprayer ini juga lebih menekankan penerapan lahir batin dalam konsep berpuasa. 1

Arthur Wallis, God’s Chosen Fast (Fort Washington, Pennsylvania: CLC Publications, 1968), 15. 2

http://www.fastingprayer.com/whatisfasting/index

.html

22

James Lee Beall Beall menyatakan pendapatnya dalam buku yang ditulisnya mengenai arti puasa sebagai gabungan dari menghilangkan kesenangan tubuh dan tindakan merendahkan jiwa, ia berkata bahwa: “Berpuasa adalah menghilangkan kesenangan tubuh secara sukarela, dan merendahkan jiwa untuk maksud-maksud rohani.�1 Dalam pendapatnya diatas, dapat disimpulkan bahwa konsep puasa yang ditekankan adalah penerapan secara lahir batin. Lynne M. Baab Baab dalam bukunya yang baru diterbitkan tahun 2006 lalu menyatakan buah pikirannya mengenai konsep berpuasa bukan hanya dari makanan tetapi juga dari kesenangan pribadi si pelaku puasa, ia berkata bahwa: Berpuasa di zaman sekarang ini termasuk bertarak dari makanan, sama seperti yang dilakukan oleh orang Kristen beberapa abad yang lalu, akan tetapi berpuasa termasuk juga dari media berita, hiburan, informasi, belanja, email, Internet dan aspek kehidupan sehari-hari lainnya.2 Demikianlah penekanan lahir batin yang ditekankan Baab dalam bukunya tersebut. 1

James Lee Beall, Puasa (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2004), 15. 2

Lynne M. Baab, Fasting: Spiritual Freedom Beyond Our Appetites (Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 2006), 10.

23

Merrill F. Unger Unger berkomentar bahwa puasa makanan digabungkan dengan doa dan merenungkan perkara Illahi, ia berkata bahwa: “Puasa seringkali digabungkan dengan doa sehingga pikiran tidak terbebani oleh perkara duniawi, sehingga memungkinkan dirinya agar mengalami lebih sedikit gangguan dalam merenungkan perkara-perkara Illahi.”1 Dari pendapatnya tadi, dapat disimpulkan bahwa Unger juga cenderung menekankan konsep berpuasa dengan penekanan lebih kepada penerapan lahir batin. Ron Rhodes Komentar Rhodes dalam bukunya menerangkan bahwa sementara berpuasa dari makanan si pelaku puasa juga harus mematuhi perintah Allah, berikut kutipannya: Pada dasarnya, berpuasa adalah hari-hari penyangkalan diri dan pertobatan dari dosa. Pada waktu puasa, orang-orang seharusnya merendahkan jiwa mereka dihadapan Allah sementara berpantang dari makanan. Mereka juga harus mematuhi perintah-Nya dengan sepenuh hati.2

1

Merrill F. Unger, “Fast, Fasting,” The New Unger’s Bible Dictionary (Chicago: Moody Publishers, 2005), 402. 2

Ron Rhodes, Understanding The Bible from A to Z (Oregon: Harvest House Publishers, 2003), 119.

24

Dalam penjelasan yang diberikan tadi, Rhodes lebih bertitik pada penekanan lahir batin dalam konsep berpuasa yang sesungguhnya. Tony Evans Komentar Evans mengenai arti puasa adalah gabungan antara pertarakan kepuasan fisik untuk mencapai perkara rohani, ia berkata bahwa: “Puasa adalah pertarakan dari beberapa jenis kepuasan fisik yang dilakukan dengan sengaja, selama jangka waktu tertentu, untuk mencapai tujuan rohani yang lebih besar.�1 Dalam bukunya ini, ia pun lebih menekankan penerapan Lahir Batin dalam pengertian Puasa yang sesungguhnya. Vikler, Mark dan Patti Vikler, Mark dan Patti berpendapat bahwa berpuasa adalah tindakan membersihkan tubuh dan roh, lebih lanjut mereka menjelaskan bahwa: Berpuasa adalah membersihkan tubuh dari racun yang tidak berguna dan juga membersihkan roh sehingga lebih mudah masuk ke hadirat Allah. Berpuasa juga membantu kita untuk memiliki daya terima rohani yang lebih besar.2 1

Tony Evans, Tony Evans Speaks Out on Fasting (Chicago: Moody Press, 2000), 7. 2

Vikler, Mark dan Patti, Dialog dengan Tuhan (Jakarta: Yayasan Media Buana, 1994), 139.

25

Dengan demikian Vikler, Mark dan Patti juga lebih bertitik pada penekanan lahir batin dalam makna puasa yang dimaksud. Walter Lewis Wilson Wilson berpendapat bahwa arti berpuasa bukan hanya pertarakan dari makanan, tetapi juga melakukan pelayanan kepada sesama dan berdoa, demikian penjelasannya: Puasa sejati bukan hanya bertarak dari makanan. Pertarakan dari makanan itu sendiri terbukti tidak terlalu bernilai dalam pandangan Allah. Adalah dengan meninggalkan tugas menyiapkan dan memakan makanan, sehingga lebih tersedia waktu untuk melayani sesama dan berdoa. Waktu ini lebih baik digunakan sekali-sekali untuk lebih mendapatkan hasil dalam pelayanan dan 1 renungan. Dari penjelasan yang diberikan, maka Wilson juga lebih menekankan penerapan lahir batin dalam makna puasa. 30-days.net Sebuah situs internet yang memberikan pandangan mereka mengenai konsep berpuasa sebagai puasa dari makanan dan minuman, tetapi juga bertarak dari

1

Walter Lewis Wilson, “Fast,� Wilson’s Dictionary of Bible Types (Grand Rapids, MI: WM. B. Eerdmans Publishing Co., 1987), 169.

26

melakukan kebiasaan buruk dan jahat, berikut penjelasan mereka: Alkitab menuliskan bahwa selain puasa dari makanan dan minuman, puasa kita juga bisa berarti bertarak dari melakukan kebiasaan buruk dan jahat. Puasa termasuk pelampiasan beban kita, dan melepaskan kuk yang kita kenakan kepada orang lain. Tidak makan membantu kita mengingat ini, tetapi puasa, seperti halnya doa, merupakan aspek rohani yang memimpin ke jalan Allah, dan dengan demikian menjadi 1 tindakan kasih. Dari penjelasan yang telah diberikan dalam kutipan diatas, maka situs ini lebih menekankan penerapan lahir batin dalam konsep berpuasa. Rangkuman Dari hasil survei terhadap pandangan para penulis tentang pengertian berpuasa, maka dapat dirangkumkan bahwa pandangan mereka terdapat tiga bagian, yaitu: Penerapan Lahiriah lebih berfokus pada berpuasa dari makanan dan minuman seperti yang dinyatakan oleh C. Robert Marsh; Don Fleming; Encarta; George Thomas Kurian; J.D. Douglas; John Muddiman; Karen Dockrey; Lawrence O. Richards; Roland K. Harrison dan Ronald F. Youngblood.

1

http://www.30-days.net/islam/fasting.htm

27

Penerapan Batiniah lebih menekankan berpuasa bukan dari makanan atau minuman, tetapi dari hal-hal rohani seperti yang dijelaskan oleh Adele Ahlberg Calhoun; Bruce B. Barton; Dorothy Kelley Patterson; E. R. Hardy; Gotquestions.org; Henry W. Holloman; John D. Davis; Walter A. Elwell; William D. Mounce dan William Smith. Penerapan Lahir Batin adalah gabungan dari kedua penerapan diatas, yakni penerapan lahiriah dan penerapan batiniah. Penerapan lahir batin ini mencakup penerapan berpuasa dari makanan-minuman dan juga dari hal-hal rohani seseorang seperti yang dikatakan oleh Arthur Wallis; fastingprayer.com; James Lee Beall; Lynne M. Baab; Merrill F. Unger; Ron Rhodes; Tony Evans; Vikler, Mark & Patti; Walter Lewis Wilson dan 30-days.net. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan di bab dua, maka penulis mendapat asumsi bahwa pandangan mereka tentang puasa terbagi tiga yaitu: Puasa Lahiriah, Puasa Batiniah, dan Puasa Lahir Batin. Berdasarkan rangkuman bab ini, selanjutnya di bab tiga penulis akan melakukan analisis Alkitabiah berdasarkan Matius 6:16-18.


Tinjauan Pustaka Puasa Alkitabiah