Page 1

Buletin Bledug Mrapi Edisi November 2015

BLEDUG MRAPI CHILDREN BOOK FORUM

INSPIRATIF BAGI PARA GURU, PENGASUH PAUD DAN ORANG TUA


Hal.10 Surat dari Jauh

Hal.13 Resensi Hal.10 Quotes

Hal.8 Lagu Anak

Hal.4 Sekilas BM

Hal.7 Dari Relawan

Penyelaras akhir : Primanto Kontributor : Charissa Dechene, Ellen Julie, Niken, Sasi, Yacinta Penata letak : Niken Ilustrator : Dwiki

Bledug Mrapi Nandan abhisekadipantara@gmail.com bledugmrapi.blogspot.com Kampung Nandan 4A, Sariharjo,Ngaglik, Sleman


Dari Redaksi Narahubung BM Children Book Forum : bledugmrapi.blogspot.com Bledug Mrapi Nandan bledugmrapi@yahoo.com Nandan 01/38 Sariharjo,Ngaglik Sleman

Redaksi menerima tulisan dengan panjang maksimal 3/4 halaman kuarto (A4). Tulisan bisa dikirimkan ke narahubung BM Children Book Forum sebagaimana tertera di atas

H

alo kawan-kawan! Pada bulan September, Bledug Mrapi Forum mengadakan pertemuan perdana dengan relawan-relawan baru. Beberapa diantaranya berasal dari luar Pulau Jawa dan memiliki ketertarikan terhadap bacaan anak. Teman-teman relawan telah mengerjakan beberapa kegiatan seperti meresensi buku, membuat newsletter, dan juga memperbincangkan bersama karakter-karakter buku anak dari berbagai belahan dunia. Newsletter edisi kali ini dikerjakan bersama-sama oleh tim teman relawan baru. Ada rubrik lagu anak, resensi buku, sekilas tentang sastra lisan, dan juga surat dari relawan. Selamat membaca ya kawankawan, semoga edisi kali ini bisa bermanfaat.[] 3


Foto : dok.pribadi

Sekilas BM :

Tentang Sudut Pandang Anak

4

S

etidaknya setiap satu semester sekali, forum bacaan buku anak Bledug Mrapi (BM) membuka forum volunteer. Meski bergiat di bidang sastra anak, BM justru mengundang mahasiswa atau masyarakat umum yang memiliki minat pada cerita atau media anak. Forum ini memang dibuka untuk kalangan umum yang ingin memelajari lebih detail tentang dunia anak, khususnya sudut pandang anak. Awal Oktober 2015, sekira 12 volunteer BM yang terdiri dari mahasiswa berkumpul. Obrolan seputar sastra anak, baik dunia maupun daerah, membuka agenda pertama. Satu dari sekian sastra anak dunia yang tak luput dibahas adalah Le Petit Prince atau Pangeran Kecil karya pengarang Prancis Antoine de Saint Exupery.


Buku ini berkisah tentang seorang anak yang bermaksud menggambar ular boa yang memakan gajah. Namun hasil gambarannya lebih menyerupai topi. Pun ketika si bocah menunjukkan hasil gambarnya pada orang-orang dewasa, mereka berkata, bahkan cenderung memaksakan, bahwa itu adalah gambar topi, bukan ular. Melalui kisah dalam Pangeran Kecil ini para volunteer diajak memahami sekaligus menghargai sudut pandang anak. Dalam kasus gambar ular boa makan gajah, interpretasi konvensional orang dewasa tentang gambar yang lebih mirip topi menjadi tidak tepat. Sebab dunia anak dibangun dengan imajinasi yang berbeda dari orang dewasa. Minggu-minggu setelahnya para volunteer memunyai tugas meresensi dan menerjemahkan buku-buku anak. Dari buku yang diresensi volunteer memperbanyak rujukan dan bacaan mengenai sastra anak. Melalui buku-buku anak ini, volunteer juga bisa lebih mengenal sudut pandang anak. Terutama melalui alur penceritaan, penokohan dan ilustrasi dari masing-masing buku. Volunteer juga digiring untuk

Foto : dok.BM

Tatap muka antar volunteer diisi dengan diskusi ringan mengenai buku-buku yang sudah diresensi

mengenal kekhasan dari tiap buku yang diresensi. Sastra anak ternyata memiliki karakter yang beragam, baik dilihat dari daerah asal cerita, latar belakang pengarang, penerbit, ilustrator bahkan penghargaan yang pernah diraihnya. Seperti cerita-cerita yang berlatar Afrika yang sarat dengan fabel dan tradisi bangsa kulit hitam. Atau karangan pengarang berdarah Yahudi-Polandia Ezra Jack Keats yang sering menggunakan sudut pandang kaum migran. Sedangkan jika dilihat dari penghargaan yang diraihnya, penghargaan Caldecott ternyata cenderung memilih buku anak yang memuat ilustrasi yang dibuat dengan cara unik. Tak melulu demi memperkaya wawasan, pengetahuan ini juga bisa dibawa kembali ke tanah air. Dalam artian, untuk diaplikasikan pada karya sastra anak di Indonesia. Terutama untuk memahami karakter tersendiri yang dimiliki sastra anak nusantara.[] Pertemuan pertama volunteer BM yang diisi dengan perkenalan awal mengenai dunia anak dan sastra anak

5


-foto

Foto

6

.BM

: dok


Fo to

:d

ok

.B

M

aya lahir di Belitung dan besar di pulau Bangka. Sangat susah menemukan buku-buku kedua pulau itu. Buku hanya dapat dibeli di pusat kota atau di pasar-pasar saja. Terlebih buku anak berkualitas. Tidak mudah untuk membelinya karena memang tidak begitu banyak yang tersedia. Semasa kecil, saya hanya dapat menemukan majalah anakanak dan beberapa buku komik anime Jepang. Bobo menjadi bacaan rutin saya setiap minggu, dengan cerita peri Nirmala dan Bona si Gajah yang paling dapat saya ingat sampai saat ini. Semenjak mengenal taman bacaan Bledug Mrapi, pandangan saya menjadi terbuka. Banyak sekali buku anak berkualitas yang tidak pernah saya baca semasa kecil. Kisah Pangeran Kecil yang sangat jujur, dan buku cerita anak-anak Eskimo sangat layak untuk dibaca. Sayang sekali rasanya, jika masamasa perkembangan harus dilewati tanpa membaca bukubuku anak yang memberikan banyak manfaat bagi moral dan penambahan wawasannya.[]

r a j a l e B Membuka n a r i Pik llen leh E

*

Julie

O

*Penulis adalah sarjana Teknik UNY Relawan BM September 2015

7


Potong-potong roti Diolesi mentega Belanda sudah mati Indonesia merdeka Paman dari mana? Paman dari Betawi Membawa oleh-oleh Sebuah almari Almari minta kunci Kunci minta tukang Tukang minta uang Diberi oleh raja Raja minta istri Istri minta anak Anak minta susu Diberi susu sapi Sapi minta rumput, pak Ambil di sawah Sawah minta air, pak Ambil di sungai Sungai minta batu, pak Ambil di gunung Gunung minta api, pak Ambil di kompor Kompor minta wajan, pak Ambil di dapur Wajan minta minyak, pak Ambil di warung Warung minta uang, pak Ambil di bank

Ilustrasi: Dwiki 8


T

idak hanya melalui buku cerita bergambar, sastra anak juga berkembang secara lisan, yaitu yang disebarkan dari mulut ke mulut. Karenanya, seringkali tidak ada yang mengetahui pencipta pertama karya tersebut. Sastra anak lisan umumnya berupa lagu-lagu. Lirik lagu biasanya diambil dari cerita rakyat. Namun seringkali pula lirik lagu berisi kumpulan kata-kata berima atau bersajak. Lirik berima yang dimaksud adalah pengulangan bunyi yang mirip atau sama di akhir kata. Kemiripan bunyi ini bisa memudahkan anak-anak untuk menghafal kosakata. Lirik berima pada lagu anak tradisional yang bisa juga disebut sebagai nursery rhymes ini muncul pada berbagai bahasa. Termasuk bahasa Indonesia, Jawa dan bahasa daerah lain di Indonesia. Contohnya Cublak-cublak Suweng atau Pok Ame-ame. Baik muatan, lirik dan nada lagu-lagu tersebut sangat mungkin mengalami modifikasi. Lagu dengan nada yang sama, bisa jadi memiliki pilihan kata yang berbeda pada liriknya. Kemungkinan perubahan lirik terjadi karena kondisi jaman yang berbeda pula. Seperti pada lagu anak tradisional khas Kalimantan 'Ampar-ampar Pisang'. Lagu ini menceritakan proses pengolahan makanan khas Kalimantan, yaitu rimpi, yang menggunakan pisang sebagai bahan utamanya. Mengambil nada yang sama, kemudian juga muncul lagu anak yang memiliki nada sama dengan Ampar-

Menelisik Tradisi Sastra Lisan Anak ampar Pisang, namun memiliki lirik berbeda. Tak memiliki judul yang pasti, lagu ini kadang dijuluki 'Paman Darimana?', mengambil salah satu baris dari lirik. Berbeda dengan Ampar-ampar Pisang yang bercerita tentang penganan tradisional, Paman Darimana? juga bercerita tentang sejarah kemerdekaan Indonesia dengan menyelipkan kata 'Belanda' dalam liriknya. Dalam baris pertamanya, Paman Darimana? menyatakan 'Belanda sudah mati, Indonesia merdeka'. Sehingga kemungkinan, lagu ini tercipta setelah penjajahan Belanda di Indonesia berakhir.[] 9


Foto-foto : dok.BM

Learning Indonesian Children Literacy Charissa Dechène

I

n June 2013 I came to Bledug Mrapi to

research and understand how children

learn to look at visual images by analysing

popular children's magazines and books.

Menyelesaikan studi master di Cultural From the second I walked in, I felt welcome Anthropology & Develompment Sociology and comfortable and was almost every week Universitas Leiden, Belanda

treated with delicious pisang goreng made by mbak Dian.

The first day I was at Bledug Mrapi I got an account and member card so I would be able to borrow books. I was very excited to find out what kinds of books, magazines and other reading material I could find on the shelves. Although the library was not like a library I was used to, the collection of Bledug Mrapi was very impressive. I found out that they had not only Indonesian books and magazines, but also international and bilingual ones! After I was invited to do my 10


religion, family and friends, hygiene and health were incorporated in the stories. This, to me underlined the idea of the two ideologies about children I was exploring in my thesis. The first 'myth' or ideology is that children have an unmediated relation with the world, that they are unique and research in the room next to the library I was set to dive into the shelves. I started by looking at two different children's

uncensored spectators of the world (around them). The second ideology is that children are active autonomous agents. However,

magazines: the originally Indonesian

“

magazine 'Bee Magazine' and the Indonesian version of the international magazine 'Bobo'. I decided to analyse the magazines by looking at three categories: the amount and content of advertisements, the used drawing styles, and the themes of

Bledug Mrapi gave me a good perspective on what kinds of visual images and stories children in Indonesia learn about

the featured stories. Later I also compared these to the 'Ruang Kita' section of Kompas. What was striking to me was the increase of advertisements over time, which

children are at the same time being confronted with and produce media images

sometimes seemed to decrease the space

which are mediated. The incorporation of the used themes in

reserved for children's submissions of their

featured stories like Bobo, Bee Magazine

drawings, poems and stories. Most of the

and the 'Ruang Kita' section of 'Kompas'

advertisements were marketed to children

seemed to want to educate their young

(candy, magazine subscriptions, drawing

readers about 'important' themes, while at

competitions, etc.). However some of the

the same time giving them a platform for

advertisements were marketed to adults, like

their own ideas of what is 'important'. It

the chance to win a car. Usually the

also shows which values are important in

advertisements would take up several pages or a part of page in the magazines. In the

Indonesian society. The books and magazines in the

newspaper the advertise-ments took up

collection of Bledug Mrapi gave me a good

almost always a quarter or a third of the two

perspective on what kinds of visual images

pages reserved for children.

and stories children in Indonesia learn

Another thing I found interesting was the ways in which the themes education,

about and I very much enjoyed learning about the worlds of Indonesian children.[] 11


resensi

Pangeran Salju Kecil: Cerita tentang Semangat dan Harapan Peresensi : Yacinta Stefila*

D

i sebuah desa nelayan di pinggir suatu negeri bernama Negeri Salju, si kecil Mariko dan abangnya Kazuo takut pada datangnya musim salju. Kakak beradik itu ditakutkan akan datangnya musim salju karena anginnya yang amat dingin. Juga setiap musim salju tiba, mereka harus berpisah dengan ayah mereka yang pergi dari desa untuk bekerja dan kembali ketika musim semi datang. 12

.net

Di suatu musim salju, Mariko dan Kazuo menemukan angsa yang terluka di tengah badai salju. Pada saat yang bersamaan, ayah mereka juga sedang dirawat di rumah sakit. Pangeran Salju kemudian mengunjungi anak-anak itu dan memberi nasihat agar apapun yang terjadi mereka tak boleh menyerah dan tak boleh berhenti mencoba.


Semangat mereka merawat angsa yang terluka itu sama kuatnya dengan harapan mereka agar ayah mereka lekas sembuh. Setiap perkembangan kesehatan si angsa, Kazuo dan Mariko menggambar perkembangannya dan mengirimkan gambar itu kepada orangtua mereka. Semakin angsa itu sehat, ayah mereka juga semakin sehat. Akhirnya, ketika si angsa sudah pulih dan dikembalikan ke tempat asalnya, ayah mereka juga pulih kesehatannya dan kembali berkumpul bersama Kazuo dan Mariko. Buku The Snow Country Prince dalam pertama kali ditulis dalam bahasa Jepang oleh Daisaku Ikeda. Daisaku Ikeda adalah tokoh terkenal di Jepang maupun dunia internasional. Ia banyak dikenal sebagai tokoh kemanusiaan, pendidikan, kebudayaan dan perdamaian dunia. PBB pernah menganugerahkan “Penghargaan Perdamaian,” “Penghargaan Kemanusiaan,” dan gelar “Duta Perdamaian” kepada Daisaku Ikeda atas kontribusinya dalam mempromosikan perdamaian. Latar belakang Daisaku Ikeda sendiri adalah seorang filsuf agama Buddha, penulis dan juga penyair kenamaan. Sedangkan untuk ilustrasi buku, The Snow Country Prince versi bahasa Inggris memuat karya ilustrator Brian Wildsmith..

Judul Buku : The Snow Country Prince Pengarang : Daisaku Ikeda Ilustrator : Brian Wilsmith Bahasa : Inggris Peresensi : Yacinta Selfia, Mahasiswa Fisipol UGM

Brian Wildsmith sendiri telah dipercaya menjadi illustrator cerita Pangeran dari Negeri Salju dalam berbagai versi bahasa.Brian Wildsmith dikenal sebagai pelukis dan illustrator cerita anak-anak terkemuka di dunia. Karya-karya Wildsmith ternyata banyak disukai di Jepang sehingga pada tahun 1995, ia mendirikan The Brian Wildsmith Art Museum di Izukogen, sebuah kota di selatan Kota Tokyo, Jepang. Dari situlah, Wildsmith mengenal Daisuki Ikeda dan akhirnya ia ditawari untuk menjadi illustrator dalam buku cerita karangan Ikeda.[] 13


Child is the Father to the Man -William WordsworthAnak adalah ayah bagi orang tua, demikian petikan dari puisi berjudul My Heart Leaps Up karangan penyair dunia William Wordsworth. Bait yang menyiratkan bahwa orang dewasa perlu belajar dari kesederhanaan pikir anak kecil ini termasuk petikan tentang dunia anak yang paling banyak dikutip. Tentu saja ini bukan satu-satunya. Ada beberapa kutipan yang

14

Perdamaian dunia dimulai dari anak-anak -Gandhi-

Tid yang teak ada untukrtlalu tua menjad etap i muda -Pu tri Salj

u-

ya anak pun p ia t e s juga Aku pikir iri, begitu d n e s a y asa. dunian rang dew lu o n a g n e d sela itu yang Mungkin aman salahpah e k u ic m me di Negeri -Alice Ajaib-


pojok kreatif

Kalau ada sisa potongan karton atau kertas tebal lain, jangan dibuang. kita masih bisa memanfaatkannya untuk membuat permainan Reversi ini. Oke, langsung ke meja kerjaaaa‌.

Mari kita buat gambar lingkaran menggunakan jangka. Lingkaran punya jari-jari 1,9 cm, jumlahnya 64 buah. Memotong lingkaran..sabar ini yang paling capek hehe.

Setelah jadi, kedua sisi lingkaran-lingkaran itu diberi warna yang berbeda dengan cat poster

Untuk papan permainannya, kita ambil kertas kalender dan gunakan bagian yang putih. Kemudian buat kotak ukuran 20 cm x 20 cm. Kemudian buat kotak di dalam dengan ukuran 16 cm x 16 cm.Jarak antara kotak dalam dan luar adalah 2 cm di tiap sisi.Kotak yang bagian dalam kemudian dibagi lagi menjadi 64 kotak (8x8) dengan ukuran kotak 2 cm x 2cm


Foto : Sasi

Ilustrasi : Dwiki

Buletin Bledug Mrapi  

Forum Bacaan Anak "Bledug Mrapi" (BM) menyediakan sarana dan tempat untuk belajar seputar bacaan anak. Koleksi bacaan anak BM mencapai 3000...

Buletin Bledug Mrapi  

Forum Bacaan Anak "Bledug Mrapi" (BM) menyediakan sarana dan tempat untuk belajar seputar bacaan anak. Koleksi bacaan anak BM mencapai 3000...

Advertisement