Issuu on Google+

Edisi 49 / Desember / 2013

1


daftar isi 3.

KONSEPSI BADAN KOORDINASI KEGIATAN KESEJAHTERAAN SOSIAL (BKKKS) JAWA TIMUR SEBAGAI SEBUAH MODEL “SOCIAL ENTREPRENEURSHIP”: MERUBAH PARADIGMA RELAWAN SOSIAL DALAM BERBISNIS Salah satu model korporasi yang menjalankan pengelolaannya berbasis social entrepreneurship di Jawa Timur adalah Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan (BKKKS) Jawa Timur. BKKKS Jawa Timur yang didirikan sejak tahun 1976 merupakan suatu korporasi dengan visi “Terwujudnya masyarakat Jawa Timur yang peduli dan berperan aktif dalam pembangunan sosial dan kesejahteraan sosial” menjalankan menejemen organisasi melalui prinsip entrepreneurship dengan karyawan sejumlah 28 orang yang didedikasikan untuk aktivitas sosial. BKKKS merupakan suatu korporasi independen non pemerintah dengan mengelola asset untuk membiayai gaji karyawan, klinik untuk kemanusiaan dan program-program kesejahteraan sosial bagi masyarakat pinggiran dan termarjinalkan. Cover

Mengenang Ibu Johana Sunarti Nasution Edisi 46 / Juni / 2012

2

warta sosial

SALAM REDAKSI • Semangat Kesetiakawanan Sosial Bangsa Indonesia 4. SOROTAN • Konsepsi Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BKKKS) Jawa Timur Sebagai Sebuah Model “Social Entrepreneurship”: Merubah Paradigma Relawan Sosial Dalam Berbisnis • Gaya Hidup Berangsur Berubah • Kemiskinan Dan Buruknya Kesehatan • Mewujudkan Kesejahteraan Sosial Kelompok Marjinal, Apakah mungkin ? 12. LIPUTAN KHUSUS • Bakti Sosial Pengurus dan Rekreasi Karyawan BKKKS Jatim Ke DIY 18 - 20 November 2013 • Acara Rekreasi Lansia Home Care Keliling Kota Surabaya 16. KRONIK • Pelatihan Otomotif Dasar Bagi Disabilitas • Peringatan Hari Disabilitas (HDI) 2013 • Peringatan Hari Pahlawan 2013 • Konferensi Nasional Kesejahteraan Sosial (KNKS) VII 2013 • Race And Care Shangri-La Hotel Surabaya 19. IN MEMORIAM • M engenang I bu Johana Sunarti Nasution 28. RENUNGAN • Kesetiakawanan Sosial untuk Indonesia Sejahtera 30. OASE • Kucintai Dikau Apa Adanya 31. INFO • Kesimpulan & Rekomendasi KNKS VII 2013 35. INFO KESEHATAN • Sambiloto Si Pahit Berkasiat Selangit 36. ucapan duka cita 37. dokumentasi kegiatan bkkks jatim 38. sponsor kegiatan sosial 2013

Mengenang Ibu Johana Sunarti Nasution

Peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2013

Bakti Sosial dan Rekreasi Pengurus dan Karyawan BKKKS Jatim Ke DIY 18 - 20 November 2013

Konferensi Nasional Kesejahteraan Sosial (KNKS) VII 2013


SALAM REDAKSI

SEMANGAT KESETIAKAWANAN SOSIAL BANGSA INDONESIA Bulan Desember bagi bangsa Indonesia adalah bulan yang banyak diperingati dengan nuansa sosial. Tanggal 3 Desember adalah Hari Disabilitas Internasional diikuti dengan tanggal 5 Desember yang merupakan Hari Tuna Grahita Nasional. Kemudian tanggal 20 Desember adalah Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional yang juga dipakai untuk menandai Hari Gerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Lalu masih ada tanggal 22 Desember yang diperingati sebagai Hari Ibu. Last but not least ditutup dengan Hari Natal yang dirayakan oleh umat Nasrani sebagai hari kelahiran Yesus Kristus yang dalam kepercayaan Islam dikenal sebagai Nabi Isa AS seorang Rasul Allah SWT yang sangat kenthal misi kenabiannya dengan masalah masalah kemanusiaan. Dipenghujung tahun 2013 dan memasuki tahun baru 2014 ternyata derap dan denyut kesetiakawanan sosial bangsa Indonesia rasanya sudah semakin kehilangan bara semangat. Konon dalam tahun 2013 dana APBD dan APBN yang dikeluarkan dengan nomen klatur Bantuan Sosial atau yang semacam itu lebih dari 110 Triliun rupiah. Namun yang benar-benar sampai kepada mereka yang berhak dan atau digunakan untuk meningkatkan fasilitas dan atau tingkat kesejahteraan sosial rakyat diperkirakan dan dirasakan sangat sedikit. Bahkan ditengarai sebagian besar dana tersebut telah “disalah gunakan dengan benar” oleh para Gubernur,Bupati dan Walikota incumbent (petahana) diseluruh Indonesia untuk membiayai kampanye politik mereka agar terpilih kembali. Dengan lain perkataan bagaimana para elit politik yang sudah ditampuk kekuasaan mempraktekkan “money politics” atas biaya APBD dan APBN. Hal ini sungguh sangat menimbulkan keprihatinan kita mengingat praktek ini justru sudah sangat berlawanan dengan semangat kesetiakawanan sosial bangsa Indonesia yang sejati. Tercatat dalam sejarah bahwa tgl 20 Desember ditentukan oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1949 sebagai Hari Sosial yang kemudian menjadi Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN)

untuk memperingati tepat satu tahun setelah “Jatuhnya Ibukota Yogyakarta” ketangan Belanda. Menyusul direbutnya Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1948 oleh pasukan payung Tentara Kolonial Belanda yang nyaris tanpa perlawanan militer dari pihak Indonesia. Pada hari berikutnya seluruh penduduk kota Yogyakarta menggalang diri bersatu padu untuk melakukan tolong menolong diantara para penduduk yang tergolong Pro Republik (Republiken). Semangat gotong royong dan kekeluargaan diantara anggota masyarakat inilah yang membuat bangsa Indonesia tangguh dan tegar dalam mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaannya. Masyarakat Yogyakarta yang pada waktu itu nyaris semuanya dalam keadaan miskin dan menderita justru masih mampu menghayati arti kemerdekaan dan siap sedia untuk berkorban dengan saling menolong dan bersetia kawan untuk sesama anak bangsa. Pertanyaan kita apakah Republik Indonesia yang sekarang masyarakatnya jauh lebih makmur dan lebih sejahtera hampir semua aspek kehidupan dan hanya menghadapi masalah kesenjangan sosial dan kemiskinan masih mempunyai semangat kesetiakawanan sosial untuk peduli dan berbagi. Surabaya akhir Desember 2013

Semangat Gotong Royong

SOSIAL WARTA

Pelindung : Ny. Hj. R. Asijah Djoemra (Ketua Umum Yayasan BK3S Jatim) Penasehat : Ny. Dra. Hj. Ami S. Poerwanto, Ny. Hj. Sri Murti Sutardjo Penanggung Jawab dan Pimpinan Redaksi: DR. H. Tjuk Kasturi Sukiadi, SE Dewan Redaksi: Prof. DR. IR. H. Soenaryo, M.Pd., DR. Pinky Saptandari W, MA., Djumadi Ramelan, SH. Redaksi Pelaksana: Drs. Sutopo Wahyu Utomo, SH, MM., Drs. Soeroso, Drs. Moch. Ghozy, DR. Asri Widjiastuti, M.Pd, Drs. Paito Staf Redaksi: Pri Handayani, Adi Saputro Tata Letak: Nafi Tata Usaha: Susanti Dewi, SE Iklan/Sponsorship: Dra. Hariyati , Farida Martarina Fotografi dan sirkulasi: Team Sekretariat

Alamat Redaksi : Jl. Raya Tenggilis Blok GG No. 10 Surabaya Telp : 031- 8411672, Fax : 031- 8498300 Website & e-mail: Website : http://bk3sjatim.org e-mail : sekretariat@bk3sjatim.org pengurus@bk3sjatim.org warta@bk3sjatim.org bk3s_jatim@yahoo.co.id

Edisi Edisi46 38//Juni Juli / 2008 2012

Ijin Terbit: ISSN No. 1410-1254 warta sosial

3


Sorotan

KONSEPSI BADAN KOORDINASI KEGIATAN KESEJAHTERAAN SOSIAL (BKKKS) JAWA TIMUR SEBAGAI SEBUAH MODEL “SOCIAL ENTREPRENEURSHIP”: MERUBAH PARADIGMA RELAWAN SOSIAL DALAM BERBISNIS Oleh: DR. Asri Widjiastuti, M. Pd (Sekretaris I BKKKS Prov. Jatim)

Kegiatan dengan Disabilitas

Lima belas tahun setelah reformasi digulirkan, masyarak at pinggiran belum merasak an dampaknya. Angka kemiskinan di Jawa Timur tidak merangkak jauh, kemiskinan absolute pada bulan September 2013 menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mencapai angka 4.865,82 ribu orang (12,73 persen) dari jumlah penduduk Jawa Timur 37,879713 orang. Orang Miskin, kata Amartya Sen mengutip pernyataan Gandhi dalam dominasi karakteristik 4 L: the Last (selalu tercecer di akhir dengan perolehan kesempatan paling akhir), the Lowest (yang terendah, baik dalam persepsi masyarakat maupun diri mereka sendiri), the Least (selalu memperoleh sesuatu yang paling sedikit, dan dengan sedikit juga cukup), and the Lost (kehilangan arah dengan respon yang tidak menentu). Persoalan kemiskinan bukan hanya sekedar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. Kondisi ini mengisyaratkan dibutuhkan pemikiran dan penanganan yang serius dan komprehensif. Namun kenyataannya penanganan yang dilakukan pemerintah masih terkesan eforia

44

Edisi 49 / Desember / 2013

warta sosial

sekedar memberikan bantuan kucuran uang tidak meletakkan mekanisme dan system yang baik. Salah satu program yang pernah digulirkan pemerintah dalam bentuk bantuan langsung tunai (BLT) adalah salah satu mekanisme yang justru merusak moral dan semangat masyarakat pinggiran untuk berdaya bukan malah dididik menjadi pengemis. Kondisi ini lebih diperparah lagi pemberikan bantuan sosial kepada masyarakat miskin yang mencapai angka triliun dibungkus dalam ajang kampanye. Masyarakat miskin masih diposisikan sebagai obyek yang secara paksa martabatnya sebagai insan sesama ciptaan Allah juga ikut terampas. Mengingat sangat kompleksnya persoalan-persoalan sosial, maka sudah waktunya bagi pekerja sosial untuk berdiri tegak dan melibatkan diri dalam naluri bisnis social entrepreneurship. Salah satu model korporasi yang menjalankan pengelolaannya berbasis social entrepreneurship di Jawa Timur adalah Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan (BKKKS) Jawa Timur. BKKKS Jawa Timur yang didirikan sejak tahun 1976 merupakan suatu korporasi dengan visi “ Terwujudnya masyarakat Jawa Timur yang peduli dan berperan aktif dalam pembangunan sosial dan kesejahteraan sosial” menjalankan menejemen organisasi melalui prinsip entrepreneurship dengan karyawan sejumlah 28 orang yang didedikasikan untuk aktivitas sosial. BKKKS merupakan suatu korporasi independen non pemerintah dengan mengelola asset untuk membiayai gaji karyawan, klinik untuk kemanusiaan dan program-program kesejahteraan sosial bagi masyarakat pinggiran dan termarjinalkan. Bagaimana BKKKS Jatim menjalankan visi dan misi untuk kemanusiaan dengan mengelola asset secara professional dan merubah paradigm para pekerja sosial - relawan sosial untuk mandiri dan berdiri tegak dalam berbisnis sosial, dipaparkan dalam BKKKS Jawa Timur sebagai model korporasi social entrepreneurship.


Sorotan

Relawan dan Pekerja Sosial Pekerjaan sosial di Indonesia merupakan profesi yang belum banyak diketahui masyarakat. Sebagian besar masyarakat masih beranggapan pekerja sosial identik dengan relawan. Padahal secara substansi antara pekerja sosial dan relawan memiliki perbedaan cara kerja dan mekanisme pertolongan kepada para penyandang masalah sosial. Relawan adalah seorang yang senantiasa melaksanakan tugas pelayanan mendasarkan atas keterpanggilan jiwa dengan landasan operasional kemauan. Tujuan pelayanan adalah menolong sesama untuk kepuasan batin melalui proses sesuai kemauan dengan pendekatan kemanusiaan. Target pelayanan tidak terbatas melalui bentuk layanan philanthropy atau dorongan amal (charity) dengan motivasi keterpanggilan. Dalam buku saku Ikatan Relawan Sosial Indonesia, relawan atau volunter (dari bahasa Inggris volunteer) adalah orang yang dengan sukarela (tanpa diwajibkan atau tanpa dipaksa) memberikan waktu, tenaga, pikiran (keahlian), uang dan harta bendanya atau gabungan semuanya untuk membantu orang lain tanpa pamrih untuk mendapat kompensasi finansial, pujian atau ganjaran lainnya. Dengan semboyan “Siap, Sukarela, Sukacita, Menolong Sesama, Sepanjang Masa dengan dan karena CINTA� Pekerja sosial adalah seorang yang melaksanakan tugas pelayanan berdasarkan pada Ilmu pekerjaan sosial, seni dan keterampilan tehnik yang menggunakan landasan operasional pendidikan profesi pekerjaan sosial dengan kompetensi lulusan pekerjaan sosial. Tujuan pekerja sosial adalah menolong klien supaya dapat menolong dirinya sendiri menggunakan metode dan teknik pekerjaan sosial yang bekerja dengan kode etik pekerjaan sosial. Menurut Undang-Undang nomor 11 tahun 2009 pekerjaan sosial merupakan semua keterampilan teknis yang dijadikan wahana bagi pelaksanaan usaha kesejahteraan sosial. Menurut Lee (2009) Keterpaduan Body-Mind-Spirit pekerjaan sosial adalah upaya untuk lebih memperluas model implementasi pekerjaan sosial yang ada dan mengintegrasikan orientasi yang lebih holistik berdasarkan filosofi Timur dan teknik terapi untuk menciptakan perubahan yang efektif, positif, dan transformatif dalam diri individu dan keluarga. Pengembangan keterpaduan pekerjaan sosial mengacu pada filsafat timur terutama teori yin-yang, Budhdhism, dan Taoisme. Fokus utama pekerjaan sosial menurut (Max Siporin, Charles Zastrow, Rex A. Skidmore dan Milton G. Thackery) adalah profesi pertolongan yang ditujukan untuk membantu orang baik individu maupun kelompok dalam meningkatkan keberfungsian sosialnya (social functioning). Keberfungsian sosial dapat dipandang dari sudut kemampuan melaksanakan peran sosial,

Para Relawan di BKKKS Jatim

kemampuan untuk memenuhi kebutuhan, dan kemampuan untuk memecahkan permasalahan sosial. Kondisi ini menunjukkan bahwa solusi untuk melaksanakan pekerjaan sosial dibutuhkan financial yang luar biasa, sekarang saatnya bagi pekerja sosial untuk merubah paradigma kemandirian dalam beraktivitas melalui kewirausahaan sosial. Pekerja sosial akan mendapatkan solusi yang kreatif untuk menjalankan fungsinya melalui bisnis sederhana dalam kewirausahaan sosial. B K K K S J a t i m S e b a g a i M o d e l Ko r p o r a s i Kewirausahaan Sosial (Social Entrepreneurship) Entrepreneurship tidak hanya dapat mengatasi pengangguran, melaink an juga mengatasi kesenjangan kaya miskin tanpa harus menggunakan uang Negara. Menurut Rhenald Kasali wirausahawan sosial diperkirakan baru sekitar 0,002 persen. Salah satu di antaranya adalah Ketua Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial Jawa Timur sekaligus sebagai Konsultan Yayasan (Dr. H. Tjuk Kasturi Sukiadi, SE) seorang ekonom dengan tangan dingin beliau melakukan reformasi dengan solusi social entrepreneurship. Beliau adalah pejuang perubahan yang tidak kenal menyerah, dengan pikiran besar beliau untuk menjadikan BKKKS sebagai korporasi yang mengedepankan kemandirian tidak tergantung pada keuangan pemerintah dan senantiasa konsisten memihak untuk kepentingan masyarakat marjinal dan terpinggirkan mencapai kesejahteraan sosial. BKKKS Jatim membangun usaha dengan mengelola asset bukan untuk mengambil deviden, melainkan untuk melakukan investasi sosial. BKKKS Jatim saat ini selain mengelola asset juga melakukan kegiatan ekonomi menjadi salah satu pemegang saham di BPR Syariah Jawa Timur agar mandiri dan berkelanjutan dalam membiayai program kegiatan kelompok kerja lansia dan perempuan, kelompok kerja disabilitas, kelompok kerja anak dan remaja, dan klinik kesehatan untuk membantu individu atau kelompok masyarakat marjinal dalam meningkatkan keberfungsian sosialnya. BKKKS Jatim juga mengembangkan jejaring dengan beberapa perusahaan dan individu untuk memanfaatkan dana-dana philantrophy dalam Edisi 49 / Desember / 2013

warta sosial

5


Sorotan

Pemberdayaan Melalui Home Care Lansia

menjalankan program kegiatan kemanusiaan dan ikut andil membantu dalam mengatasi masalah sosial yang dalam undang-undang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Pentingnya jalinan kerjasama untuk memecahkan masalah sosial dan membangun Negri Tanpa Pamrih yang bermartabat. BKKKS Jatim membangun social enterprise melalui solusi entrepreneurship senantiasa melakukan gerakan untuk merubah masalah sosial menjadi peluang, berorientasi pada pemberdayaan dan kesejahteraan masyarakat marjinal tanpa menunggu peran pemerintah, tidak mengharapkan “applause” dan nyata. Konsep kewirausahaan sosial yang dijalankan BKKKS Jatim memiliki kebermanfaatan yang luas karena tidak hanya berhadapan kepada karyawan yang menjadi mitra kerja tetapi juga masyarakat luas. Keberadaan BKKKS bermula dari prakarsa Ibu Johana Sunarti Nasution dan di Jawa Timur diprakarsai oleh dr. Soerti dan ibu Warno yang meminta Ibu Soenandar Priyosudarmo menjadi ketua Yayasan BKKKS pada 17 Agustus 1976. Tiga puluh delapan tahun kiprah BKKKS Jawa Timur semakin hari jangkauannya semakin luas dan secara volume dan kuantitas semakin besar juga semakin baik yang secara otomatis sebagai konsekuensinya untuk membiayai semua kegiatan kemanusiaan membutuhkan pembiayaan yang semakin besar. Peran jejaring melalui partisipas masyarakat luas, donasi , maupun sponsorship baik dari perusahaan swasta, BUMN, perorangan bisa membiayai kegiatan sosial BKKKS yang semakin hari secara volume, variasi, dan jangkauan yang semakin besar menjadi penting di samping mengandalkan surplus hasil kewirausahaan sosial yang dikelola oleh Yayasan. Menurut Pak Tjuk Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan menghormati para pahlawannya, dan pahlawan dari bangsa yang tidak lagi bertempur merebut kemerdekaan adalah pahlawannya adalah para relawan sosial. Beliau selalu menghimbau dengan sangat keras kepada seluruh manusia Indonesia baik yang tua, muda,

6

Edisi 49 / Desember / 2013

warta sosial

remaja, apalagi kaya yang memiliki kemampuan untuk memperhatikan masalah-masalah penyandang kesejahteraan sosial yang masih banyak perlu perhatian kita, perlu uluran tangan kita, perlu keikhlasan tangan kita untuk berjuang mengorbankan sebagian dari kepentingan diri kita membantu mereka yang kurang beruntung dibandingkan diri kita yang menyandang disabilitas, yang menyandang kekurangan di beberapa hal menyangkut sosial ekonomi untuk diajak bersama sehingga kesejangan sosial semakin menyempit dan kehidupan bangsa ini akan lebih makmur yang berkeadilan dan adil yang berkemakmuran untuk semua warga bangsa. Salah satu binaan BKKKS Jatim yang saat ini membutuhkan partisipasi dan keikhlasan tangan masyarakat untuk bersedia mengangkat ibu asuh di antara para lansia miskin yang berada dalam wadah “homecare lansia” binaan BKKKS untuk mencapai kesejahteraan sosial yang masih perlu perhatian. Program lain yang saat ini juga dijalankan adalah pemberdayaan anak-anak disabilitas rutin dilaksanakan setiap hari Jum’at juga membutuhkan relawan-relawan muda dari berbagai kompetensi vokasional agar mampu menjadikan anak-anak disabilitas berdaya dalam mencapai kesejahteraan hidupnya dan yang terpenting mendapatkan pengakuan masyarakat bahwa mereka ada dan memiliki kesetaraan dalam menjalani kehidupan di Negeri Indonesia. Program-program lainnya yang dijalankan oleh BKKKS Jatim melalui social entrepreneurship dengan tujuan untuk menjadikan masyarakat marjinal berdaya antara lain: Pendampingan dan pembekalan keterampilan daur ulang untuk anakanak terlantar; pelatihan tata boga, tata rias, tata busana dan perbengkelan otomotif dasar dan cuci motor bagi warga disabilitas, belajar berkesenian (seni rupa, menari, menyanyi, music, karawitan) bagi anak disabilitas; dan Pemberdayaan dan pendampingan lansia melalui pendampingan membuat kecap dan keset. Program rutin yang dijalankan setiap tahun sebagai sarana advokasi dan membangun kebersamaan di antara masyarakat marjinal yang juga menumbuhkan egalitarian-egalitarian pada generasi muda di antaranya: Peringatan hari disabilitas internasional (HDI) dengan menghimpun 2000 insan disabilitas di Jawa Timur, peringatan hari lansia yang menghimpun para lansia sejumlah 1500 orang lansia, buka puasa bersama dengan masyarakat tidak beruntung sejumlah 1000 orang, dan peringatan hari pahlawan yang mengajak 100 generasi muda melakukan renungan dan berdiskusi di area makam bapak pendiri bangsa Indonesia (Bung Karno) dengan tujuan melakukan refleksi bagaimana mengisi dan meneruskan perjuangan beliau di Negeri tercinta ini dengan harapan akan tumbuh kembali rasa nasionalisme di antara anak bangsa yang saat ini kehilangan model yang punya integritas dan martabat dalam membangun negeri yang berkedalian sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.


Sorotan

GAYA HIDUP BERANGSUR BERUBAH Oleh: Toeti Adhitama bila kekayaan itu dipamerkan atau diobral. Sekadar contoh; tugas istri kelas tinggi di sana waktu itu ‘membuang-buang waktu dan uang’ untuk meningkatkan prestise suami. Perilaku itu membuktikan suaminya memiliki kekayaan cukup besar untuk diobral. Di era itu, perempuanperempuan Barat tingkat atas, misalnya, berpakaian sedemikian rupa hingga tidak mudah bergerak cepat, apalagi mengerjakan pekerjaan kasar seperti memasak atau mencuci pakaian yang mereka anggap pekerjaan ‘rendah’ yang dapat menurunkan martabat.

Rumah Mewah (Foto Atas), Rumah Pinggir Sungai (Foto Bawah)

Setengah abad yang lalu, masyarakat tentu tidak mengira kehidupan kita akan seperti sekarang. Spirit memberikan pengorbanan demi membangkitkan rasa kebangsaan, kemudian diikuti munculnya semangat pembangunan fisik. Namun, setelah lebih setengah abad membangun, sekarang kita sebenarnya belum bisa menyebut diri The Leisure Class, sebab masih banyak warga yang serba kekurangan. Thorstein Veblen (1857-1929), sosiolog dan ahli ekonomi Amerika, menjadikan the leisure class (kelas yang menikmati hidup) sebagai tema buku The Theory of The Leisure Class (1899). Intinya, buku itu menegaskan; kekayaan dianggap memberikan prestise kepada pemiliknya

Veblen beraliran sosialis Revolusi Industri (abad ke18 dan ke-19), disusul Perang Dunia I (1914-1948), mengubah struktur sosial. Selain banyak kaum tani pindah kerja ke bidang industri, kaum perempuan pun mulai memiliki pilihan apakah tetap bekerja di rumah atau mencari jenis pekerjaan lain di luar. Ini mengakibatkan tesis Veblen sekarang tidak sepenuhnya berlaku di sana karena perempuan kalangan bawah tidak selalu bersedia bekerja sebagai pembantu. Walaupun pemborosan uang dan waktu masih terjadi karena dianggap prestise, kalangan atas yang sudah begitu nyata kaya tidak merasa perlu lagi pamer. Di zaman egaliter, pameran kekayaan malahan dianggap selera rendah, kecuali di kalangan nouveaux riches atau OKB (orang kaya baru). Di kalangan priayi Jawa, ada cerita wayang Petruk Jadi Raja yang menggambarkan OKB yang hedonistis; yang kesenangan dan kenikmatan materi menjadi tujuan hidup. Edisi 49 / Desember / 2013

warta sosial

7


Sorotan

Cerita itu mengandung pesan bahwa sikap demikian malahan menjauhkan mereka dari kelas atas murni. Persepsi elite Bila mengikuti gaya hidup masyarakat kelas atas Indonesia sekarang, ada kesan sikap hedonistis masih ada. Mungkin sisa zaman penjajahan. Gaya hidup kelompok elite yang dilukiskan para sosiolog Barat terlahir dari pengalaman dan pengamatan seseorang sejak kecil dalam lingkungan keluarga kelas atas; juga dari lingkungan pergaulan dan sekolah yang terpilih. Gaya hidup yang demikian tidak dapat semena-mena ditiru mereka yang datang dari lingkungan yang berbeda. Secara ďŹ sik, sekarang kadang-kadang perbedaan yang ada antara stratum paling atas dan berikutnya tidak kentara hingga sulit bisa dikenali, apalagi ditiru. Lingkungan membentuk pribadi manusia. JC Wright Mills, sosiolog Amerika (1961-1962), dalam karyanya The Power Elite (1956) melukiskan elite metropolitan berbeda dari kelompokkelompok lain karena latar belakang, penampilan, dan perilaku mereka. Bentuk rumah, tatanan rumah, dan cara mereka berpakaian mencerminkan posisi elite. Barang-barang yang dibeli mungkin tidak kelihatan mahal, namun berselera tinggi. Barang-barang itu pun bukan untuk sengaja dipamerkan, tetapi sudah menjadi bagian hidup mereka. Kebiasaan kita mempekerjakan pembantu rumah tangga seperti di masa lalu sebenarnya tidak sesuai lagi dengan semangat egaliter era modern. Dengan peningkatan pendidikan, kebiasaan ini pastinya akan berangsur berlalu. Pelan-pelan kelas bawah akan meningkatkan posisi. Ini terjadi di negara-negara Barat yang dulunya pun mengenal kebiasaan ini, yang kemudian terjadi, jenis pekerjaan sebagai pembantu sekarang memang masih ada di negara-negara maju, tetapi tidak ada lagi eksploitasi. Antara majikan dan pembantu ada sikap saling menghormati. Tidak ada sikap menganggap rendah. Paling tidak tere eksi dalam sistem penggajian. Gejala ini perlu mendapat perhatian. Jangan sampai kita nanti dikenal sebagai negara pengekspor tenaga kerja (TKI) terbesar di Asia hanya karena tidak mampu memberi upah memadai.

8

Edisi 49 / Desember / 2013

warta sosial

Demo Buruh Tuntut Kelayakan Upah

Sebenarnya embrio berupa demo-demo buruh bisa diangap merintis kesadaran tentang ketidakadilan yang terjadi di masyarakat. Sementara ini, mungkin mayoritas kalangan bawah kita masih belum berdaya. Tetapi peningkatan pendidikan dan pergaulan, antara lain dipicu kemajuan komuniksi yang datang dalam berbagai bentuk dari berbagai arah, akan lebih menyadarkan mereka. Sekarang pun tidak mudah lagi mencari pembantu laki-laki, misalnya. Sekalipun kurang pendidikan, mereka lebih memilih menjadi buruh bangunan, bekerja di pabrik, atau bertualang di jalanan untuk mendapatkan upah mudah seperti menjadi Pak Ogah, tukang parkir, joki, atau pengamen. Kaum muda memilih meninggalkan profesi lama sebagai petani. Mereka ingin bebas sekalipun penghasilan kurang memadai. Pragmatisme menjadi ciri modernisasi. Berapa lama proses ini akan berlangsung? Perubahan wawasan mayoritas kaum muda tentang masa depan membutuhkan penelitian dan perencanaan yang berbeda pula. Dalam rangka Pemilu 2014, fakta ini tidak bisa diabaikan dalam agenda partai-partai politik. Mungkin mendengarkan harapan-harapan kaum muda dari kalangan menengah ke bawah, yang berpendidikan tingkat menengah ke bawah, bermanfaat bagi masa depan partai karena bukan hanya masyarakat umum yang diharapkan mengantisipasi perubahan gaya hidup di era modern. Partai-partai politik, sebagai pilar-pilar negara, diharapkan selalu mengikuti perkembangan ini dan tidak segan mengadakan perubahan.


Sorotan

KEMISKINAN DAN BURUKNYA KESEHATAN Oleh: DR. H. Tjuk Kasturi Sukiadi, SE.

Kondisi Kemiskinan di Indonesia

KEMISKINAN Kemiskinan biasanya diukur dengan berapa pendapatan yang diterima oleh seseorang untuk mencukupi kehidupannya dalam sehari, seminggu, sebulan atau setahun. Bisa diukur dengan satuan per kepala atau per keluarga. Ukuran dapat dengan uang, kalori yang dikonsumsi setiap hari dan bisa juga bahan makanan pokok yang tersedia. PBB dan Bank Dunia misalnya memakai ukuran Pendapatan Perkapita Per hari setara dengan 2 Dollar AS untuk ambang batas garis kemisikinan . Namun banyak negara negara yang sedang berkembang menetapkan angka yang lebih rendah dibandingkan standard PBB dan Bank Dunia. Pemerintah Republik Indonesia misalnya lebih memilih angka 1 Dollar AS dalam menetapkan ambang batas garis kemisikinan untuk penduduknya. Alasannya tentu saja sangat rasional karena secara politik dapat pemerintah melaporkan kepada warganegaranya dan dunia bahwa jumlah orang miskin sudah banyak berkurang. Dengan demikian bisa menepuk dada dan citra politiknya naik seta mengklim bahwa program pengentasan kemiskinan yang dilakukan pemerintah telah banyak berhasil. Jika dipakai angka pendapatan perkapita 2 Dollar AS sehari maka jumlah penduduk Indonesia yang masih harus hidup dibawah garis kemiskinan masih lebih dari 100 juta. Sebuah angka yang sangat besar sekali. Dengan demikian kita akan maklum mengapa masih banyak penduduk yang dengan gagah berani menduduki tanah negara dengan mendirikan rumah dipinggir rel KA, dibantaran sungai dan berjualan dengan menggelar tenda PK-5 di trotoar kota di seluruh Indonesia. Bicara tentang fenomena kemisikinan ini penulis tidak akan lupa akan “Guyon Intelek” yang disampaikan dengan memukau oleh Almarhum Dr Syahrir (Ciil) di Kongres ISEI th 1996 yang berlangsung di Medan. Pemerintahan Orde Baru Pak Harto sedang mempersiapkan diri utk Pemilu 1997 tentu berusaha menampilkan data statistik yang cantik kepada seluruh bangsa Indonesia agar Golkar menang kembali. Nilai tukar rupiah kala itu berkisar pada besaran 2000 rupiah per Dollar AS. Angka untuk ambang batas garis kemisikinan oleh PBB dan Bank Dunia sudah ditetapkan 2 Dollar AS sehari.

Dr Syahrir dalam ceramahnya disidang pleno mengangkat kasus Mappa. Seorang gelandangan yang tinggal di emperan toko di Jalan Somba Opu Ujung Pandang (Makassar). Dengan teliti namun cara dan artikulasi yang kocak diceriterakan bahwa Mappa ini setiap hari dengan segala kesibukan ekonomi yang bisa dia kerjakan total jendral memberikan pendapatan sehari tidak kurang dari 15 ribu rupiah. Artinya setara dengan 7,5 Dollar AS. Secara teoritis pendapatan Bung Mappa ini sudah jauh diatas garis kemiskinan yang ditetapkan oleh PBB dan Bank Dunia. Akan tetapi pertanyaannya lebih lanjut adalah apakah Bung Mappa sudah dapat dikategorikan sebagai “orang yang hampir kaya?” Sambil tersenyum penuh arti Dr Syahrir menyimpulkan bahwa dengan pendapatan harian setara 7,5 Dollar AS sehari tokoh yang diangkatnya kepermukaan dengan nama Bung Mappa ini masih jauh dari sejahtera. Dia tetap saja seorang gelandangan miskin yang tidur didalam rumah kardus di trotoar Jalan Somba Opu Makasar. KONDISI TABUNGAN NEGATIF Fenomena yang bagaikan anak kembar Siam dari kemiskinan adalah buruknya kesehatan. Betapa sulitnya memisahkan antara kemiskinan dan tidak terpeliharanya kesehatan sesorang dengan baik. Oleh sebab miskin maka tidak ada uang yang dapat disisihkan secara terencana. Semua pendapatan habis untuk konsumsi pokok sehari hari. Bahkan tidak cukup. Dalam teori ekonomi mereka ini tergolong kepada kategori rumah tangga atau individu dengan kondisi “TABUNGAN NEGATIF” (Dissaving). Oleh karena itu ciri yang lain dari rumah tangga-rumah tangga ekonomi ini adalah senantiasa punya utang yang belum terbayar. Baik itu kepada sanak saudara, kepada tetangga maupun kepada lembaga keuangan formal dan atau non formal. Acapkali kondisi dissaving ini semakin memperburuk kondidi ekonomi mereka jika atas hutang tersebut harus dibayar bunga yang sangat tinggi. Karena terpaksa meminjam dari para “pelepas uang” (lintah darat). Kondisi yang semacam ini tentu saja tidak memberikan kemampuan kepada masyarakat miskin untuk menyisihkan sebagian dari pendapatan mereka untuk berjaga jaga. Berjaga jaga menghadapai “hari hujan” apalagi kalau yang datang bukan sekedar hujan biasa namun “Hujan-Badai bercampur Petir dan Halilintar!”. Menyediakan cadangan dana kesehatan untuk mengantisipasi pengeluaran untuk membayar dokter, membeli obat, biaya rawat inap di rumah sakit. Belum lagi biaya transportasi dari rumah ke rumas sakit dan biaya makan dan minum serta menginap bagi keluarga yang harus mengantarkan dan mendampingi si sakit. Edisi 49 / Desember / 2013

warta sosial

9


Sorotan DARI PUNYA GAWE BERGESER KARENA SAKIT Buku tesk ekonomi padesaan ditahun 1950-an menyebutkan bahwa penduduk pedesaan dan masyarakat kampung pinggiran acapkali menjadi miskin karena terjerat hutang sebagai akibat dari kebiasaan melakukan pengeluaran “super besar” terkait dengan kebiasaan dan atau adat istiadat/kepercayaan setempat. Mulai selamatan dalam kaitan dengan karunia keturunan,perhelatan dalam rangka khitanan, pernikahan anak sampai kepada selamatankenduri kematian. Pola pendapatan masyarakat pedesaan yang hanya bisa berharap dari panen dua tahun sekali dalam jumlah yang terbatas dihadapkan dengan pengeluaran yang begitu besar sudah barang tentu sulit untuk impas! Alhasuil mereka terpaksa harus pinjam uang. Kalau kebetulan nasib tidak mujur dan panen yang diharapkan gagal maka bisa saja si petani terpaksa menggadaikan sawahnya dan bahkan harus menjual tanahnya Alhasil si petani menjadi lebih melarat. Setengah abad berlalu entah karena kesadaran dan hasil pendidikan atau karena masyarakat semakin tidak terikat (longgarnya ikatan) oleh perilaku konsumsi yang terkait dengan adat dan kepercayaan lama maka kemisikinan karena punya gawe ini semakin kurang intensitasnya. Justru kondisinya lebih memerihatinkan karena kemiskinan disebabkan karena sesuatu yang sama sekali tidak nyaman dan tidak mengenakkan. Jika dua genmerasi yang lampau penduduk desa ada yang menjadi miskin karena telah melakukan “pesta-pora” diluar kemampuannya pada deasa ini penyebab kemiskinan karena mereka harus membayar pengeluaran yang berhubungan dengan sakit yang mereka derita. Benar - benar sesuatu yang tidak nyaman dan tidak diharapkan. Ada kasus nyata bagaimana seorang mantan PRT di Jakarta yang pulang ke desa untuk menikah kemudian karena persalinannya tidak bisa normal terpaksa harus dioperasi Caesar. Total persalinan kalau cara baheula cukup ditangani dukun bayi desa yang kemudian meningkat menjadi urusan bidan desa sekarang harus ditangani dokter ahli kebidanan yang tarip profesinya tidak murah. Alahasil mantan PRT yang suaminya hanya seorang buruh pabrik dengan upah UMR sedikit diatas satujuta rupiah sekonyong konyong harus membayar tagihan rumah sakit lebih dari 10 juta rupiah. Dunia serasa kiamat bagi pasangan muda padesaan ini. Kasus lain yang lebih tragis adalah seorang ibu disebuah desa didaeran Magetan dengan anak balita yang mengidap kelainan pada mata kirinya. Ada yang menyarankan agar anak tersebut dibawa ke sebuah rumah sakit yang paling baik di Yogyakarta. Setelah dilakukan observasi medis oleh rumah sakit disampaikan kepada orang tua si anak balita bahwa terapinya adalah operasi dan diperkirakan biaya keseluruhannya sebesar 100 juta rupiah. Tentu saja uang sebesar ini adalah sesuatu yang tak ada dalam bayangan sang ortu yang hanya keluarga muda petani miskin di desa. Singkat kata si balita yang menderita gangguan kesehatan dimata kirinya tersebut dibawa pulang kembali kedesa. Setahun kemudian penyakit mata kiri si balita laki laki ini bertambah parah. Atas rujukan Puskesmas setempat dan rumah sakit Kabupaten Magetan akhirnya sampailah si balita ke RSUD Dr Sutomo Surabaya.

10

Edisi 49 / Desember / 2013

warta sosial

Bantuan BKKKS Jatim untuk pasien gangguan mata dari Magetan

Dokter mengatakan bahwa si balita ini sangat besar kemungkinan mengidap penyakit kanker ganas di mata kirinya dan sudah agak terlambat penangannanya. Andaikan dia datang dari keluarga yang mampu mungkin sudah setahun yang lalu mendapat perawatan yang benar. Namun apa daya dia terlahir dikalangan keluarga miskin. Mungkin saja sistem BJPS yang baru dilancarkan pemerintah bisa memberikan fasilitas gratis kepadanya. Pertanyaannya sekarang pada stadium penyakit kanker mata yang sudah begitu lanjut berapa besar peluangnya untuk dapat ditolong dan matanya pulih kembali. Jika operasi matanya tidak berhasil maka anak ini akan kehilangan sebelah matanya. Dengan kemiskinan yang disandang oleh keluarganya berapa besar kemungkinan dia untuk mampu tumbuh dengan sehat, mendapat pendidikan yang paling baik dan bisa mengikuti mobilitas sosial keatas. Adakah masa depan yang selamat sejahtera, terhormat dan bermartabat bagi anak ini, ataukah dia sudah “terkutuk” untuk tetap menjadi anak miskin, tumbuh menjadi orang dewasa miskin yang bahkan selalu dalam kondisi sakit sakitan. Jauh dari kesenangan dan kebahagiaan dalam kehidupan dunia yang bagi mereka yang mampu serba gemerlap ini. Benarlah apa yang dianggap sebagai adagium Medical Poverty Trap : “ I become Sick because of my Poverty!” But on the other hand: “ Well, I become Poor because of my Sickeness!”. Adagium yeng membuat getir dihati ini saripati pengertiannya sama dengan apa yang disampaikan oleh Amartya Sen Sang Pemenang Hadiah Nobel dalam ilmu ekonomi : “Kemiskinan adalah Kekurangan yang mengakibatkan Ketidak Mampuan!” Tulisan ini ditutup dengan doa dan pengharapan agar BJPS bidang kesehatan akan memahami masalah yang dihadapi oleh masyarakat miskin Indonesia yang jumlahnya masih puluhan juta orang. Pelayanan yang birokratis dan tanpa dedikasi untuk menolong yang sakit atas dasar kemanusiaan justru akan membuat mereka yang miskin bertambah miskin dan semakin memperparah penderitaan. *) Penulis adalah Ketua Umum BKKKS Prov. Jatim


Sorotan

MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN SOSIAL KELOMPOK MARJINAL

APAKAH MUNGKIN ? keluarganya. Orang ini tidak mempunyai aset yang memadai untuk dikembangkan sehingga memberi penghasilan atau tidak mempunyai kapasitas pribadi yang dapat dijadikan faktor produksi yang dapat dikompensasikan dengan uang, atau tidak memiliki keduanya. Atau memiliki keduanya tetapi tidak dapat berfungsi karena tidak dapat menjangkau sistem sumber formal. Aset, keberdayaan, dan aksesibelitas terhadap sumber-sumber ekonomi dan atau pelayanan lainnya adalah syarat pokok agar seseorang mempunyai produktivitas yang dapat diuangkan sehingga menjadi sumber penghasilan.

Potret Kaum Marginal dI Indonesia

Siapakah Kelompok Marjinal ? Mendifinisikan kelompok marjinal sesungguhnya tidaklah mudah. Karena sangat banyak kriteria atau variabel yang dapat dikembangkan. Mungkin seluas hak-hak asasi manusia. Orang yang termarjinalkan secara politik belum tentu miskin. Sebaliknya orang miskin belum tentu termarjinalkan secara politik. Ada yang termarjinalkan karena keberadaannya pada tempat yang aksesibelitas transportasi dan komunikasi, keterjangkauan layanan umum, kontribusi dan partisipasi, hak dan kewajiban, keberdayaan dan pengembangan pribadi yang tak terwujudkan secara layak. Ada juga yang berpendapat bahwa kelompok marjinal merupakan istilah yang lebih manusiawi untuk kelompok miskin. Jika mengikuti pendapat ini, maka nama generiknya secara yuridis menurut UUD 45 kelompok marjinal ini disebut dengan fakir miskin dan anak terlantar. Selanjutnya secara lebih operasional dalam terminologi kesejahteraan sosial adalah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang macamnya ada 28. Oleh karena ruang lingkup sorotan ini adalah kesejahteraan sosial maka kerangka acuan yang dijadikan dasar penelaahan adalah nilai-nilai kesejahteraan sosial. Fakir Miskin Undang-undang nomor 13 tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin, mendefinisikan bahwa fakir miskin adalah orang yang sama sekali tidak mempunyai sumber mata pencaharian dan/atau mempunyai sumber mata pencaharian tetapi tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan dasar yang layak bagi kehidupan dirinya dan/atau

Dibandingkan unsur-unsur yang terkandung dalam kesejahteraan sosial, definisi kemisikinan ini terkesan mengurangi cakupan pengertian kebutuhan menurut definisi kesejahteraan sosial pada Undang-undang nomor 11 tahun 2009 tentang kesejahteraan sosial yang mencakup kebutuhan material, spiritual dan spiritual. Kesejahteraan Sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. Sebenarnya definisi kesejahteraan sosial menurut Undangundang nomor 6 tahun 1974 mempunyai konsep dan cakupan yang luas serta lebih komprehensif. Definisinya sebagai berikut : "Kesejahteraan Sosial adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial, materiil maupun spiritual yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan, dan ketenteraman lahir bathin, yang memungkinkan bagi setiap Warganegara untuk mengadakan usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah, rohaniah dan sosial yang sebaik-baiknya bagi diri, keluarga serta masyarakat dengan menjunjung tinggi hak-hak azasi serta kewajiban manusia sesuai dengan Pancasila. Konsep kemisikinan menurut Undang-undang nomor 13 tahun 2011 di atas hanya mencakup pemenuhan kebutuhan serba benda yang melekat pada dirinya sebagai manusia. Sedangkan kesejahteraan sosial menurut definisi yang lama melihat manusia sebagai satu kesatuan antara dirinya, keluarga, masyarakat, lingkungan hidup dan negara. Rupanya secara yuridis negara tidak ingin dibebani untuk mewujudkan kesejahteraan sosial secara komprehensif para fakir miskin. Namun pada undang-undang lainnya, termasuk didalamnya undang-undang tentang lingkungan hidup, hak azasi manusia, kesehatan, pendidikan, tenaga kerja, sistem jaminan sosial, pelayanan publik dll, programEdisi / Desember / 2013 Edisi 4949 / Desember / 2013

warta warta sosial sosial

11 11


Sorotan program yang dikembangkan berdasar undang-undang tersebut memungkinkan untuk diakses oleh para fakir miskin setelah mendapatkan layanan awal. Garis Kemiskinan Badan Pusat Statistik awal tahun 2013 menggunakan garis kemiskinan sebesar Rp. 271.626,00 per kapita per bulan. Atau lebih kurang Rp 9.000,00/hari. Jauh di bawah angka Upah Minimum Kota/Kabupaten di kota-kota besar di Indonesia. Dibandingkan dengan tahun 2012 garis kemiskinan ini naik 4,66 %, sedangkan inflasi tahun 2013 sebesar 8,38 %. Jadi secara matematis dapat dikatakan tidak terjadi kenaikan kesejahteraan yang signifikan. Selanjutnya BPS menjelaskan bahwa “Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan pada Maret 2013 tercatat sebesar 73,52 persen, kondisi ini tidak jauh berbeda dengan kondisi September 2012 yang sebesar 73,50 persen. Harga beras pada periode September 2012 sampai Maret 3013 sebesar Rp.10.414,00/ kg�, Pengeluaran untuk beras atau pangan secara keseluruhan adalah 73,52 x Rp. 10.414 = Rp. 7.656,00. Di kota nilai ini setara dengan harga se bungkus nasi yang hanya cukup sekali makan oleh satu orang.. Dapat dibayangkan bagaimana kapasitas pribadi mereka. Sisanya Rp.2.346,00. Apa yang dapat diperbuat oleh Fakir Miskin? Dengan sisa uang sebesar Rp 2.400,00-an untuk kebutuhankebutuhan lain bukan pangan, peluang apa yang dapat diperoleh untuk pengembangan diri, serta perubahan status sosialnya? Jika penghasilan mereka naik menjadi Rp.10.000,00 maka mereka sudah tidak termasuk orang miskin. Tetapi mereka sebenarnya belum bisa disebut sebagai orang yang sejahtera hidupnya. Artinya benarbenar bebas dari kekurangan pangan, kebodohan, kualitas kesehatan. Apalagi untuk berekspresi. Sedangkan orang dengan penghasilan sebesar UMK saja, banyak yang seumur hidupnya tak mengalami pergeseran vertikal. Status buruhnya terbawa sampai mati dengan meninggalkan anak-anak yang berstatus sama. Pada Perpres No. 15 Tahun 2010 ini, terdapat penekanan pada strategi percepatan penanggulangan kemiskinan yang dilakukan dengan (Pasal 3): Strategi percepatan penanggulangan kemiskinan dilakukan dengan : 1. Mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin; 2. Meningk atk an kemampuan dan pendapatan masyarakat miskin; 3. Mengembangkan dan menjamin keberlanjutan Usaha Mikro dan Kecil;

12 12

Edisi Edisi49 49//Desember Desember//2013 2013

warta sosial sosial warta

4. M e n s i n e r g i k a n k e b i j a k a n d a n p r o g r a m penanggulangan kemiskinan. Pasal 5 (1) Program percepatan penanggulangan kemiskinan terdiri dari : a. Kelompok program bantuan sosial terpadu berbasis keluarga, bertujuan untuk melakukan pemenuhan hak dasar, pengurangan beban hidup, dan perbaikan kualitas hidup masyarakat miskin; b. Kelompok program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat, bertujuan untuk mengembangkan potensi dan memperkuat kapasitas kelompok masyarakat miskin untuk terlibat dalam pembangunan yang didasarkan pada prinsip-prinsip pemberdayaan masyarakat; c. Kelompok program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan usaha ekonomi mikro dan kecil, bertujuan untuk memberikan akses dan penguatan ekonomi bagi pelaku usaha berskala mikro dan kecil; d. Program-program lainnya yang baik secara langsung ataupun tidak langsung dapat meningkatkan kegiatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat miskin. Program-program di atas masih didukung pula oleh kebijakan fiskal pro growth, pro job, pro poor, dan pro environmental. Namun sayang indeks gini kita tahun 2013 membesar. Artinya pemeratannya menjadi lebih buruk. Untungnya pertumbuhan ekonomi kita masih tinggi, nomor dua di dunia. Hebat bukan? Tetapi pelaksanaannya masih sangat memprihatinkan. Pada tingkat wacana dan gagasan semua tentu setuju dengan langkah-langkah untuk memperbaiki atau meningkatkan kesejahteraan umum. Tetapi kenyataannya setidaknya mulai Orde Baru sampai sekarang sudah lebih kurang 40 tahun orang miskin tak kunjung habis. Di tahun 2013 ini masih tersisa 28,07 juta. Ini pun dengan garis kemiskinan yang sangat rendah. Tidakkah ini dapat disebut sebagai korban bencana kebijakan? Tetapi harus diakui menggarap orang dengan kepemilikan uang Rp. 2.346,00/hari pada lokasi terpencil, tanah tandus, pendidikan rendah, aksesibelitas kurang, belum lagi jika terdapat kekurangan-kekurangan pribadi, tidak mudah. Mungkin beberapa program lama seperti desa swasembada, gerakan kembali ke desa dengan one village one product, pembangunan desa dengan perwujudan standar fasilitas umum yang memadai, industri berbasis masyarakat dengan bapak angkat, diperkuat kembali. Namun perlu diingat pelaksanaannya harus sungguh-sungguh, diikuti dengan pendampingan profesional; seperti professor/doktor masuk desa. Jangan ABRI yang masuk desa. Penulis : Drs. Sutopo Wahyu Utomo, SH. MM (Pekerja Sosial)


Liputan Khusus

BAKTI SOSIAL PENGURUS DAN REKREASI KARYAWAN BKKKS JATIM KE DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TANGGAL 18 S/D 20 NOVEMBER 2013

Foto Bersama Pengurus BKKKS Provinsi Jatim dengan Pengurus BKKKS Provinsi DIY

Kepedulian terhadap sesama secara konsisten merupakan satu program BKKKS Jawa Timur, bukan hanya diwilayah Jawa Timur saja tetapi juga dilaksanakan didaerah-daerah lain seperti bantuan Gunung Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), membantu banjir di Jakarta, Padang dan lain lain. Bakti Sosial secara konsisten selalu diadakan karena sudah merupakan program tahunan BKKKS Jawa Timur. Pada penyelenggaraan Bhakti Sosial tahun ini dilaksanakan bersamaan dengan Rekreasi karyawan dengan tujuan ke DIY. Bentuk bakti sosial pengurus BKKKS yaitu kunjungan di bidang Usaha Kesejahteran Sosial, sedangkan Karyawan Rekreasi dengan kunjungan beberapa obyek wisata Rombongan Pengurus dan Karyawan berangkat bersamasama pada tanggal 18 November 2013 pagi dari stasiun Gubeng menuju DIY. Sesampai di Yogyakarta semua rombongan menuju Ketepas (meseum Merapi), disana kita melihat tempat pengamatan gunung Merapi dan melihat gambar-gambar meletusnya gunung Merapi mulai tahun 1930 sampai sekarang dan yang terakhir pada 2010. Kemudian rombongan diputarkan film meletusnya gunung Merapi dari permulaan sampai yang terakhir yang begitu dahsyat. Dari KatePass kembali ke Yogyakarta dan baru tanggal 19 November 2013 acara terpisah, para karyawan menuju ke Borobudur berekreasi disana dan tanggal 20 November 2013 karyawan rekreasi ke Parang Tritis, kemudian bergabung lagi citytour kepusat oleh oleh wajik, tas, gendis makan siang di Resto Blangkon. Tujuan kegiatan untuk pengurus adalah untuk penyegaran kondisi lahir batin dan juga yang tidak kalah pentingnya kesempatan yang baik ini untuk mengadakan studybanding, oleh karena itu obyek dari para pengurus melihat dari dekat penanganan usaha kesejahteraan Sosial sesuai yang dilaksanakan oleh BKKKS Jatim, disamping menambah ilmu juga untuk mengembangkan model-model Usaha Kesejahteraan Sosial yang bisa diterapkan dan mungkin bisa dilaksanakan di Jatim. Obyek kunjungan dimulai ke yayasan Yakum yaitu yayasan yang bergerak dibidang Rehabilitasi dan Pelayanan kepada anak-anak Disabilitas/cacat/lansia/anak. Lokasi Yayasan tersebut di Jalan Kaliurang Desa Beci Yogyakarta. Yayasan tersebut berdiri sudah 31 tahun yaitu tanggal 16 November 1962 oleh seorang Pramuka dari Selandia Baru Mr. Culun

Alexander. Pendiri Yayasan tersebut pada tahun 1993 telah pulang ke Selandia Baru, tetapi tahun 2006 pada saat di Yogyakarta ada gempa Gunung Merapi beliau kembali dengan membawa bantuan untuk masyarakat Gunung Merapi Kegiatan Yakum sangat bagus dan pada saat ini yayasan ini dikelolah oleh seorang dokter wanita yaitu dokter Maria dengan dibantu tenaga tenaga profesional baik sebagai karyawan maupun relawan, kegiatan-kegiatan untuk anak cacat sangat teratur dan profesional : 1. Pelayanan yang diberikan yaitu : a. Penyandang disabilitas yang masih bisa direhabilitasi, amputasi seperti kaki pengkor, layu karena polio, kelainan bentuk badan sejak lahir, kerusakan tulang belakang carebel pulce (c.p) dan kecacatan lain yang masih bisa diperbaiki. b. Berasal dari kondisi tidak mampu, Berusia tidak lebih dari 40 tahun, Disabilitas yang sifatnya tetap, Disabilitas yang potensial dan belum pernah mendapat bantuan yang sama dari lembaga lain. 2. Jenis disabilitas Pelayanan : a. Rehabilitas bersumberdaya masyarakat (baik didalam maupun dari luar ) b. Pelayanan kunjungan dilapangan /home visit c. Rehabilitasi fisik. • Rawat inap • Penanganan fisioterapi dan pelayanan fisoterapi • Akupasi terapi • Memberi alat bantu gerak (brace, sepatu arthopedic, kruk, kursi roda dan prothese ) • Menanggung seluruh/sebagian biaya perawatan. 3. Psychososial (memotivasi disable). Mengembangkan sikap mental yang positif agar menjadi peduli dan mempunyaidaya juang dengan penuh tanggung jawab. a. Mengupayakan agar penyandang disabilitas dapat dan menerima kondisinya. b. Mengupayakan kesadaran Disabilitas menyesuaikan lingkungan dan merupakan kewajiban diri dari disabilitas. c. Mengupayakan mempunyai daya juang tinggi dan kerjasama. d. Mengupayakan orang tua menyadari dan menerima adanya tentang anaknya/disabilitas. e. Mengupayakan orang tua terlibat aktif mengatasi permasalahan. 4. Rehabilitas pendidikan : a. Mengupayakan pendidikan dasar bagi mereka yang belum pernah sekolah. b. Mengupayakan agar anak bisa sekolah c. Mengupayakan pendidikan dasar 9 tahun. d. Menanggung seluruh atau sebagian biaya sekolah. 5. Pemberdayaan Ekonomi : a. Mengadakan gerakan berbagai kursus untuk disabilitas. b. Menyediakan modal kerja. c. Mengupayakan pekerjaan. 6. Asrama : a. Mengadakan akomodasi bagi disabilitas selama diperawatan. b. Mengembalikan kepada orang tua selesai Rehabilitasi. 7. Advokasi dan pemberdayaan masyarakat : a. Pelatihan kader madsyarakat / relawan b. Pelatihan kader Posyandu

Edisi Edisi 4949 / Desember / Desember / 2013 / 2013

warta wartasosial sosial

13 13


Liputan Khusus c. Pelatihan keluarga d. Pendidikan masyarakat e. Stimulasi untuk akses f. Pembentukan dan penguatan organisasi Bengkel-bengkel untuk pendidikan untuk perbaikan dan untuk latihan ketrampilan disiapkan. Penggalang dana YAKUM dari bantuan dari luar negeri (Belanda, Jerman, USA, Australia, dan New Zeland) dan dalam negeri, dari masyarakat, perusahaan - perusahaan/dunia usaha serta usaha sendiri ada penginapan tempat untuk latihan, tempat rekreasi yang dilengkapi cukup bagus yang bisa disewa. Selanjutnya acara dilanjutkan ke panti sosial Abiyoso, yaitu panti sosial memberi penampungan lanjut usia terlantar. Panti sosial Abiyoso dikelola Pemerintah Daerah IstimewaYogjakarta/Dinas Sosial DIY dan memliki kegiatan yaitu : 1. Pelayanan dalam Panti 2. Pelayanan diluar Panti. a. Home care merupakan layanan diluar panti. b. Day Care Lansia tinggal dirumahnya masing - masing tetapi setiap seminggu sekali datang di panti bergaul bersama dengan lansia yang ada dipanti 3. Pelayanan indekost/pelayanan plus dalam panti biaya dibantu dari keluarga lansia setiap bulan lansia yang mampu dikenakan biaya Rp. 1.250.000,-(satu juta dua ratus lima puluh rupiah) sebagai biaya makan perawatan dan lain lain tidak termasuk obat obatan, disediakan obat-obatan yang ringan dasarnya pelayanan plus adalah peraturan daerah Yogyakarta, sistim pelayanan yaitu pelayanan plus dengan jumlah indekost + ada 10 orang. 4. Khusus Day care jumlahnya 80 orang a. Kunjungan rumah oleh pekerja sosial b. Tapi pada umumnya kegiatan dilaksanakan di Panti Abiyoso. 5. Jumlah pelayana dalam panti yaitu 120 orang lansia (dibagi 2 tempat pelayanan) Panti Abiyoso cukup bagus, cukup bersih dan terawat walaupun kepunyaan pemerintah. Sebelum acara di panti/ sasana werdha lanjut usia, rombongan pengurus singgah terlebih dahulu di gedung BKKKS DIY terletak di Badran Gg Melati JT I/704 Yogyakarta. Di BKKKS DIY diterima oleh Ketua Umum BKKKS DIY Ibu Prabukusumo dan Ketua I Bapak Drs. Tuyadi dan Ketua II Bapak Drs. Soetomo. Di BKKKS DIY saling memberi informasi tentang kegiatan kegiatan yang dilaksakan, serta masalah masalah yang urgen saat ini tentang kesejahteraan Sosial. Di infomasikan oleh Ketua Umum bahwa BKKKS DIY baru saja melaksakan Musda orsos-orsos dan KKKS di lima daerah TK II sebanyak 80 orsos. Beliau menginformasikan belum merubah nama BKKKS menjadi LKKS (Lembaga Koordinasi Kesejahtreraan Sosial) dan masih tetap namanya BKKKS DIY kerena nama yang baru belum/tidak populer. Perjalanan dilanjutkan kunjungan ke panti Sosial anak Sayap Ibu. Panti Sayap Ibu merupakan cabang dari panti Sayap Ibu di Jakarta, kliennya berasal dari masyarakat pada umumnya dan penyerahan dari orang tua dengan syarat yaitu : 1. Dari keluarga tidak mampu (terlantar) 2. Cacat fisik ganda dan dari penyerahan orang tua (unmaried mother ) yaitu lahir karena kecelakaan tidak menikah. Anak anak ada yang di panti ada juga yang antar jemput dengan jumlah cukup banyak. Untuk memperkuat kondisi jasmani anak bagi yang cacat fisik seperti CP, Polio dan cacat ganda di ajari untuk berenang. Fasilitas berenang disediakan di panti. Selain itu walaupun kecil fasilitas untuk melukis dan fasilitas lainnya diadakan di panti. Kunjungan dilanjutkan ke desa Pragan yaitu ke Pusaka

14 14

Edisi Edisi 49 49 // Desember Desember // 2013 2013

warta sosial sosial warta

Wahyu Teratai, nama desanya Pragan Sidomulyo Bambang Limpuro Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. Pelayanan yang diberikan adalah pelayanan dikeluarga atau dimasyarakat. Jumlah yang di layanan + 84 orang lansia 60 tahun keatas. Moto dalam penanganan lansia di keluarga bahwa "para lansia yang dibina harus sehat tidak boleh sakit". lansia rata rata umurnya 60 tahun keatas. Kegiatan yang diberikan : 1. Bidang kesehatan, pemeriksaan kesehatan setiap hari minggu ditempat yang telah ditentukan yang merupakan tempat kegiatan para lansia (tempat bapak Sariyanto S.Sos merupakan ketua pusaka Wahyu Teratai). 2. Olah raga dilaksanakan jalan sehat pagi hari bagi lansia. 3. Kesenian , gamelan dan Sinden, mocapat dan lain lain aktif dalam kegiatan karawitan Laras Pertiwi. 4. Pengajian , selawatan, santapan rohani. 5. Usaha Ekonomi produktif setiap lansia dianjurkan menanam pohon pisang raja dihalamannya masing masing 2 pohon pissang hasil buahnya ditampung oleh Pusaka Wahyu teratai, untuk dijual dan sudah ada yang membeli. 6. Sedangkan bonggol pisang dibuat kripik, pemasaran oleh Pusaka Wahyu Teratai. 7. Tari Jatilan Wrenggo Pratomo dilaksanakan oleh para lansia potensial. Disamping itu juga berkebun, salak, lombok, bawang merah, bawang putih. Perlu diketahui bahwa pusaka Wahyu Teratai dibentuk hasil dari musyawarah keluarga dan desa serta berdiri sejak tahun 2008, jadi sudah berjalan 5 tahun dan nampaknya perkembangannya cukup bagus. Karena hanya dalam lingkungan desa penduduk tidak banyak jumlahnya dalam pembinaannya dan sesuai mottonya yaitu lansia tetap sehat kenyataannya para lansia baik laki-laki maupun perempuan kelihatan sehat-sehat dan senang serta dalam menabuh gamelan dengan memainkan gending Jawa cukup semangat. Selain itu dalam rangka HKSN tahun 2013 yang akan datang akan diselenggarakan di desa Prenggan dan akan hadir Ibu Inten Soeweno ketua Pusaka Wahyu Teratai Jakarta. Perjalanan pengurus dalam rangka study banding juga melihat museum Ullen Sentalu bersama karyawan dengan melihat foto-foto sejak Hamengkubuwono VIII s/d ke X, selain itu ada beberapa barang yang dipamerkan seperti gamelan, pusaka, kain batik, dan lain lain disamping itu dimuseum juga ada galery/toko untuk oleh oleh berupa tas, baju dan pernik pernik/ perhisan dari perak juga batik batik jogya/Solo. Musium Ullen Sentalu jaraknya dari Yogyakarta + 10 Km menuju Kaliurang. Hari terakhir 20 November 2013 rombongan Pengurus makan siang di yayasan Pusaka Wahyu Teratai dan menuju stasiun Tugu untuk kembali ke Surabaya. (Dra. Hj. Ami S. Poerwanto)

Pengurus dan Karyawan Foto Bersama


Liputan Khusus

ACARA REKREASI LANSIA HOME CARE KELILING KOTA SURABAYA

Para Lansia di Atas Menara Masjid Al Akbar (Foto Kiri), Seluruh Peserta & Pengurus Sebelum Berangkat (Foto Kanan)

Pelaksanaan Rekreasi lansia Home Care pada tanggal 21 Oktober 2013 dengan menggunakan 2 buah bis. Para lansia sudah mulai berdatangan ke gedung BKKKS pukul 07.00 diantar pendampingnya atau keluarganya. Tujuan kegiatan ini yaitu : 1. Agar lansia mengetahui perkembangan kota Surabaya yang tentunya jauh lebih ramai dan lebih baik dari sebelumnya, yaitu saat lansia masih muda. 2. Dengan rekreasi lansia bisa mengingat kembali nostalgia pada zamannya dulu. 3. Dengan mengingat kembali, memberi kesegaran jasmani dan rohani seolah-olah kembali muda seperti dulu hingga bisa menambah sehat tidak sakit sakitan. Pukul 07.30 para lansia dan pendamping serta para pembina sudah kumpul dan lansia sudah diabsen oleh masing pendamping, walupun sudah diabsen masih ada juga lansia yang ketinggalan bus. Tetapi lansia tersebut masih sempat ikut berangkat dengan menggunakan bis yang ke II. Dalam perjalanan mulai dari BKKKS sampai ditempat tujuan, para lansia tidak ada yang mabu. Rute yang ditempuh yaitu Tugu Pahlawan berhenti sejenak atau jalannya bus diperlambat agar pemandu lansia bisa menjelaskan, kemudian menuju Masjid Cheng Ho, tetapi tidak bisa masuk karena jalannya sempit, akhirnya perjalanan bus diteruskan melalui Grand City. Walaupun hanya lewat nampaknya para peserta cukup bisa menikmati, hal itu kelihatan dari sikap para lansia senang dan bahagia. Selanjutnya bus melewati jembatan kayun melihat sebentar kapal selam dan para lansia nyeletuk "kapan bisa melihat kapal selam yang dipamerkan dihalaman samping Surabaya Plaza/Surabaya Mall." Perjalanan kemudian diteruskan ke taman lansia, disini tidak turun hanya berhenti sebentar, ternyata ditaman ternyata di taman lansia ada batu batu yang diatur sedemikian rupa yang dipakai untuk jalan sehat bagi lansia. Dari taman lansia perjalanan menuju Taman Bungkul + jam 10.00 sampai di Taman Bungkul, banyak yang turun baik pendamping, lansia maupun panitia, melepaskan kejemuan dalam bus sambil menikmati lokasi sekitar Taman Bungkul, di taman bungkul para peserta membuka bekal yang telah dibagikan oleh panitia yaitu snack. Kegembiraan lansia bertambah setelah ada tanya jawab (kuis) baik untuk lansia maupun pendamping dengan mendapat hadiah door prise. Door prise diperoleh

dari Pembina dimana setiap pembina menyumbang 2 atau 3 bungkus door prise. Pertanyaan yang diberikan kepada peserta antara lain siapa nama pembina, pendamping yang sering bekunjung, berapa kali diberi konsumsi oleh pendamping dalam satu minggu ? Konsumsinya apa saja? dll Pada waktu membuka bingkisan door prise para lansia sangat senang karena ada yang mendapat sarung, handuk, slendang dan lain lain. Nilai dopor prise minimal Rp. 25.000,- (dua puluh lima ribu rupiah), akan tetapi ternyata ada yang harganya sampai Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah) per satuan, suasana kuis cukup ramai disamping itu juga para lansia yang bisa selawatan sepanjang jalan mengumandangkan selawatan. Perjalanan bus berlanjut ke Masjid Agung Al Akbar. di Masjid Agung para lansia, pendamping dan pembina diberi kesempatan naik ke Menara Masjid Agung, untuk melihat kota Surabaya, karena tempat untuk naik ke Menara kecil hanya memuat + 7 orang yaitu melalui lif , maka naiknya bergantian dan ini cukup lama sampai ke atas, para lansia didahulukan tetapi sebagian tidak didampingi oleh pendamping sampai diatas melihat ke bawah sebentar bergantian antri lagi untuk turun kebawah. Sampai dibawah kumpul diatur untuk bersama sama menuju ruang Aisyah untuk mendengarkan ceramah dengan pembicara bapak Drs. Rozaki, MM. Usai ceramah dilanjutkan melaksanakan Sholat Jama’ah di Masjid Agung dan makan siang yang telah disiapkan diruang Aisyah pukul 12.30 kembali ke BKKKS. Perlu diketahui tidak semua kegiatan berjalan mulus ada beberapa hal yang pada waktu rekreasi ada sedikit masalah : 1. Patwal yang sudah dijadwalkan tidak hadir tanpa informasi, hal tersebut merupakan kendala nyata dalam perjalanan walaupun tidak ada masalah berjalan dengan lancar hanya diMasjid Cheng Ho saja tidak bisa masuk. 2. Ada dua lansia pada waktu mau berangkat tertinggal sehingga tidak bisa ikut 3. Pada umumnya semua berjalan lancar. 4. Perlu diingat bila rekreasi yang akan datang lansia menjadi tanggung jawab pendamping jadi harus didampingi bukan pendamping sendiri, lansia sendiri. (Dra. Hj. Ami S. Poerwanto)

Edisi Edisi 4949 / Desember / Desember / 2013 / 2013

warta warta sosial sosial

15 15


KRONIK

PELATIHAN OTOMOTIF DASAR BAGI DISABILITAS

Suasana Pelatihan Otomotif Dasar Bagi Disabilitas

BKKKS Provinsi Jawa Timur selalu konsisten memfasilitasi insan disabilitas dalam mengembangkan kemampuannya, berbagai macam kegiatan telah dilaksanakan pada tahun 2013 dan salah satunya adalah kegiatan pelatihan otomotif dasar bagi disabilitas yang dilaksanakan pada tanggal 29 Desember 2013 bertempat di gedung BKKKS Jawa Timur. Pelaksanaan kegiatan tersebut diikuti 26 disabilitas dari wilayah Surabaya dan sekitarnya, dengan penyampaian materi teori dan praktek tentang pengetahuan otomotif dasar mengenai sepeda motor. Para peserta begitu antusias mendengarkan teori yang disampaikan oleh narasumber dari DMI Jawa Timur dan tak malu untuk bertanya. Ibu Farida Martarina selaku ketua Kelompok Kerja Disabilitas BKKKS Provinsi Jawa Timur dalam sambutannya sekaligus membuka pelatihan tersebut menyampaikan bahwa “pelatihan ini adalah keinginan dari para disabilitas dan BKKKS Jawa Timur telah mewujudkannya, jadi para peserta disabilitas harus bisa memanfaatkan pelatihan ini dengan sebaik-baiknya untuk diri sendiri dan kalayak umum�.

16

Edisi 49 / Desember / 2013

warta sosial

Dalam kegiatan tersebut para peserta selain dari kaum laki-laki, juga ada 1 orang perempuan dari Sidoarjo yang tak mau kalah untuk menimba pengetahuan tentang otomotif. Selain teori dan praktek tentang mesin sepeda motor, para peserta juga dibekali pengetahuan dasar tentang keamanan dan kenyamanan dalam berkendara khususnya bagi disabilitas yang mengendarai motor roda tiga. Dalam praktek para peserta ikut mencoba secara bergantian, salah satunya bagaimana mengganti oli sepeda motor secara benar dan mencoba hal-hal lain terkait mesin sepeda motor. Abdul Syakur selaku Ketua Penyelenggara Kegiatan mengatakan bahwa "kegiatan ini adalah pembekalan untuk para disabilitas tentang otomotif dasar dan diharapkan kedepan apabila peserta sudah mengetahui tentang otomotif dasar akan berkelanjutan untuk melaksanakan pelatihan otomotif yang lebih khusus lagi". (Redaksi)


KRONIK

PERINGATAN HARI DISABILITAS INTERNASIONAL (HDI) 2013

Peringatan Disable Day di Mal BG Junction (Foto Kiri), Suasana Gebyar HDI 2013 (Foto Kanan)

Dalam rangka peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2013, BKKKS Provinsi Jawa Timur telah menyelenggarakan serangkaian kegiatan. Kegiatan dimulai dengan pelaksanaan pameran hasil karya disabilitas dan pentas seni dari disabilitas yang diselenggarakan di mall BG Junction Surabaya pada tanggal 03 s/d 04 Desember 2013 dengan peserta berjumlah + 500 orang. Kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi para disabilitas untuk unjuk kemampuan dengan berkesenian dan mengapresiasi hasil karyanya. Kegiatan pada tahun ini sengaja diselenggarakan di mall agar kalayak umum mengetahui sejauh mana kiprah dan kreatifitas para disabilitas. Masih dalam rangka serangkaian Peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI), kegiatan dilanjutkan di komplek BKKKS Provinsi Jawa Timur pada tanggal 07 dan 08 Desember 2013.

Kegiatan di komplek BKKKS Provinsi Jatim dimulai dengan diadakan seminar pada tanggal 07 Desember 2013 pukul 08.00 - 12.00 dengan sasaran orang tua anak disabilitas sebanyak 100 orang. Tema seminar adalah“Motivasi Penguatan Orang Tua Anak Disabilitas� yang menghadirkan para ahli di bidangnya serta testimoni dari orang tua anak disabilitas. Tujuan Kegiatan ini adalah untuk memberikan motivasi kepada orang tua anak disabilitas agar selalu semangat dan mau berkumpul dengan orang tua anak disabilitas yang lain.

Seminar Motivasi Orang Tua Anak Disabilitas

Edisi 49 / Desember / 2013

warta sosial

17


KRONIK

Pada hari yang sama diselenggarakan renungan malam disabilitas yang diikuti oleh 700 disabilitas. Kegiatan tersebut bertujuan agar para disabilitas bisa berkumpul dan merenung bersama sehingga tidak merasa kecil hati dengan kondisinya. Setelah renungan malam para peserta yang berasal dari luar kota juga bermalam di komplek BKKKS Jatim.

peserta dengan penuh antusias dan atraktif bisa menaklukkan medan lomba ketangkasan yang telah disediakan dengan berbagai macam rintangan, hal cukup menarik dari kegiatan tersebut adalah peserta tidak hanya laki-laki, akan tetapi ada pula peserta perempuan yang juga cukup lihai mengikuti kegiatan tersebut. Selain lomba ketangkasan roda tiga juga diselenggarakan lomba keindahan motor roda tiga, para peserta dengan cukup atraktif menghias motor tunggangannya dengan berbagai macam hiasan. Sementara itu yang tak kalah menariknya didalam gedung BKKKS Jatim diselenggarakan pentas seni dari disabilitas dengan berbagai macam jenis tampilan, kegiatan pentas seni tersebut diikuti oleh muridmurid dari SLB dan organisasi disabilitas. Pentas seni tersebut berlangsung sangat atraktif dengan tampilan-tampilan yang menimbulkan kekaguman dari para penonton.

Suasana renungan Malam Disabilitas

Puncak acara HDI diselenggarakan pada tanggal 08 Desember 2013. Para peserta berkumpul di halaman gedung BKKKS Jatim mulai pukul 05.00 dengan mengadakan senam bersama dilanjutkan jalan sehat menempuh rute kurang lebih 3 km yang diikuti 2000 peserta. Memasuki finish para peserta makan pagi sambil menyaksikan panggung gembira dilanjutkan dengan penggundian doorprize dan hadiah utama serta kegiatan pemeriksaan dan pengobatan gratis bagi 300 peserta, dengan menghadirkan dokter dari RSUD dr. Soetomo, Klinik Pratama Yayasan BK3S Jatim dan Puskesmas Tenggilis Mejoyo. Selain itu juga dilakukan pendataan untuk kebutuhan disabilitas mulai dari prothese, orthese, hearing aid dan kursi roda.

Selain pentas seni, telah diselenggarakan bazar dari berbagai macam hasil karya disabilitas dengan membuka kurang lebih 30 stand. Hasil karya disabilitas tersebut beraneka ragam, ada yang berjualan kerajinan tangan, produk olahan, bahkan ada yang membuka pijat. Bazar tersebut merupakan wujud nyata apresiasi hasil karya disabilitas. Selain bazar panitia juga membuka pasar murah yang berisikan barang-barang layak pakai mulai dari baju, tas, sepatu dan lain sebagainya yang berasal dari sumbangan untuk para disabilitas dengan harga murah. Kegiatan yang mengambil tema “Hapus Hambatan Wujudkan Masyarakat Inklusi� pada tahun ini berlangsung sangat meriah dan harapan para peserta, BKKKS Jatim selalu menyelenggarakan kegiatan seperti ini (Redaksi)

Selain kegiatan diatas, kegiatan lainnya yaitu touring motor roda tiga yang mengikutsertakan kurang lebih 200 motor dengan rute keliling Surabaya. Misi dari kegiatan touring ini adalah mengaktualisasi diri disabilitas dengan menunjukkan bahwasannya mereka bisa berbuat dan berkreasi. Setelah touring motor disabilitas memasuki finis, para peserta langsung melaksanakan lomba ketangkasan motor roda tiga. Dalam lomba tersebut terlihat

18

Edisi 49 / Desember / 2013

warta sosial

Para Disabilitas Menunjukkan Ketrampilannya


In Memoriam Mengenang Ibu Johana Sunarti Nasution Laskar Wanita, sosok egaliter, tokoh kemanusiaan, panutan moral, kaya martabat, penyejuk hati kaum marjinal Sejarah ada karena manusia ada. Hingga akhir dunia sejarah akan tetap ada. “bekerja…., mengabdi menjadi relawan….disitulah kamu akan menjadi kaya”

sebagai sosok relawan sejati adalah setiap pekan, ibu yang mulia ini selalu meluangkan waktu untuk mencuci pakaian pantas pakai sumbangan masyarakat. Setelah dicuci, kancingkancing yag rapuh dikuatkan lagi, bagian yang robek ditisik, lalu diseterika, dan dibungkus plastik. Setelah semua rapi, barulah baju-baju itu pantas diberikan kepada mereka yang membutuhkan. "Jiwa pejuang dan kegigihan beliau yang luar biasa harus diwarisi generasi penerus demi kepentingan rakyat dan mewujudkan negeri yang lebih baik dan kembali memiliki martabat" Ibu Johana Sunarti Nasution dilahirkan di Surabaya, 1 November 1923 dari seorang ibu bernama Maria Federika Rademayer Belanda tulen dan seorang ayah bernama Sunario Gondokusumo, salah satu tokoh pergerakan nasional Indonesia. Beliau meninggal di Jakarta, 21 Maret 2010 pada usia 87 tahun. Beliau menikah pada tahun 1947 di Ciwidey dalam pengungsian dengan seorang suami bernama Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution Panglima Divisi Siliwangi dan dikaruniai 2 orang putri yakni Hendriyanti Sahara dan Ade Irma Suryani, yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 dan dikaruniai 4 cucu dan 5 cicit. Kuliah di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta mengambil bidang farmasi (1944-1946) dan beralih ke hukum pada tahun 1946-1947. Beliau selalu mengatakan “biarkan masalah datang pada saya, maka saya akan mencari penyelesaiannya”. Ibu Sunarti Nasution menurut orang-orang yang pernah dekat dengan beliau adalah sosok perempuan yang tegas, disiplin tetapi berhati sangat lembut, pemurah hati dan dermawan.

Empat tahun sudah tepatnya semenjak 21 Maret 2010 kita ditinggalkan sosok ibu yang memberikan seluruh hidupnya, hati, pikiran dan tangannya untuk orang-orang yang termarjinalkan. Menjadi istri dan pendamping pejabat yang kerap berseberangan dengan penguasa negeri ini bukanlah hal mudah. Berkali-kali ancaman kematian menguntit hidup beliau sejak zaman revolusi. Hal tragis lalu menimpa beliau. Putri bungsunya menjadi tumbal sejarah Indonesia dalam Gerakan 30 September 1965. Lepas dari nasib tragis, seorang ibu Sunarti Nasution masih terus menunjukkan ketegaran dan kekuatannya. Beliau terus membantu menanggulangi masalah sosial masyarakat yang menjadi korban pembangunan yang kejam dan tidak adil. Ibu Sunarti Nasution bersama-sama dengan banyak pihak berjuang untuk mensejahterakan orang-orang pinggiran yang tidak mampu disejahterakan negara. Aktivitas sosial adalah nafas hidupnya. Kegigihan beliau sangat luar biasa dengan rumus nekat untuk bisa mencapai tujuan mensejahterakan masyarakat yang termarjinalkan. Salah satu tauladan yang beliau berikan bagi generasi penerus

Aktivitas beliau selama hidup lebih dari setengah abad didedikasikan untuk kegiatan sosial. Di antaranya Pendiri Yayasan Ikrar Bhakti (dari Persit), Penasehat DNIKS, Pendiri dan Ketua I Yayasan Bina Wicara "Vacana Mandira", Pendiri dan Ketua Yayasan Jambangan Kasih, Pendiri dan Ketua Yayasan "Pembinaan dan Asuhan Bunda", Ketua Yayasan "Sayap Ibu" Pusat, Pendiri dan Ketua Yayasan Kasih Adik, Ketua Bidang Dana FNKTRI, Pendiri dan Ketua "Panti Usada Mulia", Pendiri dan Ketua I Yayasan Santi Rama, Ketua Raad van Gemachtigen van Deventer- Maas Stichting, Ketua Koordinator International Social Service Indonesia (ISSI). Sejumlah penghargaan dari dalam dan luar negeri telah diterima berkat jasa-jasanya. Ibu Sunarti Nasution menerima sejumlah tanda kehormatan dari pemerintah, di antaranya Satya Lantjana Kebaktian Sosial pada tahun 1971, Lencana Satya Bhakti Utama Persit Kartika Chandra Kirana, (20 Februari 1989), Bintang perjuangan Angkatan 45 (17 Agustus 1995) dan Bintang Maha Putra Utama (15 Agustus 1995). Ibu Nas juga menerima penghargaan dari luar negeri, seperti Centro Culturale Italiano Premio Adelaide Ristori Anno VIII (1976), Ramon Magsaysay Award for Public Service(1981), dan Paul Harris Fellow Award Rotary Foundation of Rotary International Amerika (1982). Edisi 46 / Juni / /2012 Edisi 49 / Desember 2013

warta wartasosial sosial

19 19


dikabulkan, beliau terus berjuang untuk mengajukan permintaan lagi bagaimana kalau BKPSA menjadi gudang pangan dan akan mendistribusikan ke Panti-panti asuhan yang membutuhkan sehingga tidak perlu lagi ada antrian. Permintaan beliau dikabulkan. Jadilah kita semua bekerja keras sampai larut malam memasukan beras ke botol-botol dan mendistribusikan ke panti yang membutuhkan.

Meluangkan Waktu Untuk Terus Belajar

Mengenang sosok ibu Johana Sunarti Nasution dalam mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kemanusiaan saya beruntung bisa mewancarai ibu Ciptaningsih Utaryo, ibu Maryono, ibu Sri Soedarsono, Pak Tjuk Kasturi Sukiadi yang mewarisi dedikasi beliau di dunia kemanusiaan, dan meminta tulisan dari pak Totok Bintoro dan beberapa tulisan yang dimuat Tribunnews. Berikut beberapa petikan hasil wanwancara dan tulisan terkait sosok Bu Nas. Niat, I’tikat, nekat………. Nilai-nilai yang beliau wariskan akan memberikan tauladan kepekaan nurani dan moral. Sikap sabar, ulet, telaten, disiplin dan cermat yang merupakan entitas kebersahajaan dan kejujuran. Keteladanan yang beliau berikan senantiasa melekat dan menjadi sosok panutan seperti yang dituturkan oleh Ibu Ciptaningsih Utaryo (84 tahun) tepatnya 20 Juni 1930 yang barusan di bulan Desember 2013 mendapatkan penghargaan Hamengkubuwono IX award di acara dies ke 64 Universitas Gajahmada di bidang kemanusiaan. Menurut beliau Bu Nas adalah salah satu tokoh panutan dan yang membimbing beliau dalam berkiprah di dunia kemanusiaan sampai seperti yang dicapai saat ini. Saya bertemu untuk kali pertama dengan Bu Nas pada tahun 1963 setelah kepindahan saya dari Medan masuk ke Jakarta. Pertemuan diawali dengan permintaan pendiri Badan Kerja Sama Panti Asuhan (BKSPA), menjadi delegasi mencarikan sosok pimpinan yang jujur. Pilihan saya jatuh ke Bu. Nas karena saya mengenal sosok Pak Nas yang jujur mestinya istrinya memiliki kepribadian yang sama, yaitu “jujur”. Alhamdulillah Bu Nas bersedia untuk menjadi ketua di BKPSA. Bu Nas yang saya kenal adalah sosok yang sumrambah, banyak sahabat dan jejaring, sehingga sumbangan berdatangan banyak sekali. Pada waktu itu Jakarta dilanda kesulitan pangan, anakanak, ibu-ibu antri beras. Melihat kondisi yang demikian Bu Nas bertindak meminta kepada Gubernur anak-anak yang antri posisinya digantikan oleh pendamping dari BKSPA, sehingga anak-anak tetap bisa sekolah. Permintaan beliau

20 20

Edisi Edisi49 46//Desember Juni / 2012/ 2013

warta warta sosial sosial

Satu pelajaran lagi yang saya peroleh dari Bu Nas adalah “kalau ngurusi kemanusiaan harus nekat”. Menurut Bu Nas bekerja di kemanusiaan harus menggunakan rumus “Niat, I’tikat, dan Nekat”. Konsep ini yang saya terapkan sampai sekarang. Bu Nas yang saya kenal selama berorganisasi bersama adalah sosok teladan kejujuran, memiliki rasa kepekaan dan kepedulian yang tinggi pada sesama, dan memiliki kepedulian yang sangat tinggi dengan pendidikan untuk anak. Beliaulah yang pertama kali mendirikan sekolah bagi anak tunarungu (Yayasan Santi Rama) di Indonesia bersama Bu Conny Semiawan Rektor IKIP Jakarta menyusun kurikulum untuk anak disabilitas. Beliau berkawan dengan siapapun tidak membedakan ras, status, maupun strata, sosok ibu yang egaliter. Termasuk saya adalah berkawan dengan beliau melalui kawan kemanusiaan. Suatu kali kalau hati Bu Nas jengkel hatinya dengan penguasa yang menghalangi beliau menerima bantuan dari luar negri untuk kepentingan kemanusiaan dan ketidak beresan ngurusi persoalan sosial maka beliau akan berkata “Tanya Utari yang bawa saya ke kegiatan sosial, dan saya menyatakan yang membawa ibu ke kegiatan kemanusiaan ini adalah Allah. Pembicaraan dengan B. Utari saya akhiri, beliau yang berjuang bersama Bung Tomo sejak tahun 1946, sari dari keteladanan Bu Nas dalam hidup beliau yang senantiasa berkiprah untuk kemanusiaan dengan memberikan manfaat bagi orang-orang yang kurang beruntung sampai saat ini memiliki moto 4S: Sumarah (Ta’at dan taqwa kepada Allah); Sumeleh (menerima ujian dengan hati ikhlas); Sumringah (air muka/ raut muka selalu jernih dan tersenyum pada siapa saja); Sumrambah (banyak kawan dan jaringan yang berkesinambungan). Menerima estafet buket bunga yang sangat cantik…… siap mental menjadi jembatan Bu Nas adalah sosok guru, sahabat yang dikagumi dan panutan bagi Ibu Sri Redjeki Chasanah Soedarsono (75 tahun) yang lebih dikenal dengan sapaan Bu Dar yang lahir pada 8 Oktober 1939 dengan 5 Cicit, 13 Cucu dari 3 Putra dan 1 putri. Dua tokoh ibu yang menjadikan Bu Dar seperti sekarang adalah Ibunda beliau (Almarhumah RA Tuty Marini Citra Wardojo Habibie) dan ibu Johana Sunarti Nasution. Kenangan bersama Bu Nas seolah mengisi setiap sudut ruang hatinya dan selalu menghiasi setiap langkah beliau berkiprah untuk kemanusiaan. Bahkan waktu saya menikah yang melamar Pak Nas pada tahun 1958. Ibunda saya dengan ayah-ibu Bu Nas sudah sangat akrab. Menurut Bu Dar sosok wanita hebat di kemanusiaan mendapatkan gemblengan Bu Nas yang waktu itu menjabat ketua Persit sejak tahun 1960 dan hasilnya seperti sekarang ini tutur beliau. Beda usia 16 tahun dengan Bu Nas, tidak menghalangi persahabatan di antara keduanya. Sebelum terbentuknya DNIKS, Bu Nas selaku panitia Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan


Sosial (BKKKSS) punya peranan hingga terbentuk DNIKS saat ini. “Saat itu saya masih muda. Panitia BK3S dibentuk pada tahun 1965. Pada tahun 1967 ditarik Bu Nas untuk menjadi pengurus bagian mencari dana di Badan Pembina Wiyata Guna proyek Bu Nas dengan Departemen Sosial untuk kemanusiaan yang diambil alih karena saat itu kondisinya terbengkelai. Pada tahun 1970 diminta Bu Nas untuk menjadi pengurus bagian hubungan luar negeri dan mencari dana Yayasan Pembina Asuhan Bunda dan berbadan hukum pada tahun 1978. Yayasan yang mengayomi ibu dan anak yang kurang beruntung. Saat Bu Nas menugaskan untuk menghadiri konferensi sosial di luar negeri sambil mengembangkan jejaring ya harus diupayakan sendiri dari biaya pribadi. Bu Nas mengajarkan sisihkan waktumu untuk kegiatan kemanusiaan dan jadikan hobi. Bu Nas adalah sosok yang selalu memikirkan orang lain dan bisa merangkul semua kalangan tanpa memandang ras, agama, golongan, dan status, sosok ibu yang egaliter. Beliau mengajarkan untuk selalu low profile, jangan banyak omong, lakukan nanti orang lain yang akan menilai, siap membantu orang lain, dan harus siap menjadi jembatan orang yang kaya dan miskin, pejabat dan rakyat dan beliau menyatakan kalau siap menjadi jembatan juga harus siap mental untuk diinjak sepatu lars meskipun sakit harus siap mental. Tauladan yang sangat mendalam dengan Bu Nas, pernah suatu waktu Beliau menyatakan “Sri Estafet buket bunga yang cantik ini harus diberikan kepada orang yang mampu agar tidak rusak”. Bu Nas menggambarkan kegiatan kemanusiaan sebagai sebuah buket bunga warna warni yang sangat cantik. Hal tersebut terimplementasikan pada saat beliau harus berhenti menjadi ketua DNIKS masuk menjadi Pembina, beliau menyatakan “ okey saya berhenti tapi harus ada satu orang yang masuk di pengurus, dan orang yang harus masuk kesitu Sri Soedarsono”. Tauladan yang saya petik dari Bu Nas dalam menjalani kegiatan kemanusiaan yakni (1) beliau mau menerima dan mendengarkan saran dari yang lebih muda, (2) masalah pasti ada jalan keluarnya, (3) memberikan semangat, dan (4) tidak pernah mengatakan “NO”. Pembicaraan kami akhiri dengan cerita beliau setiap kali ziarah kubur ke suami pasti beliau sempatkan untuk menengok pusara Bu Nas dan pesan dari ibunda saya hidup jangan sombong, selalu tersenyum ke orang lain, cari kawan sebanyak-banyaknya supaya kalau ke waktunya harus dibawa ke makam tidak sendirian…..What Can I Do For You………

Acara Empat Puluh Tahun Pengabdian Pada Masyarakat

Nasionalisme sejati…… bersahaja dan selalu memperhatikan rakyat kecil

rumah beliau bangunan dan perabotan dari dulu sampai sekarang tetap sama. Saya berkesempatan berkiprah dan membukakan jalan di kegiatan sosial adalah beliau dengan memasukkan saya di organisasi BPKKS karena beliau mencari orang yang bisa bekerja dengan beliau, sebagai anak murid apa yang ditugaskan saya siap. Badan yang terbentuk sebelum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS). Pada saat saya bekerja bersama di DNIKS saya melihat Bu Nas adalah sosok yang sangat perhatian pada rakyat kecil dan beliau selalu melakukan kunjungankunjungan ke masyarakat yang kurang beruntung untuk melihat persoalan-persoalan yang terjadi. Sesampainya di kantor persoalan-persoalan yang beliau temui akan selalu dibahas dan dicarikan jalan keluar. Bu Nas selalu mengatakan masyarakat harus diberdayakan jangan hanya diberi. Saya adalah anak murid beliau di organisasi meskipun usia hanya terpaut 5 tahun. Suatu saat saya ditugaskan beliau untuk menjadi narasumber di Pontianak saya menerima sambil memikirkan apa yang akan saya katakana, akhirnya saya bertanya ke beliau “ entry pointnya apa bu” beliau memberikan solusi kail dengan mengatakan “ya cari apa saja yang terjadi dan dibutuhkan di sana”. Saya menemukan banyak persoalan terkait pertanian, peternakan, pasar, dan koperasi. Selanjutnya untuk mengatasi dan membenahi kehidupan masyarakat melalui koperasi dan pertanian beliau mendapatkan sponsor dari Canada.

Bu Nas adalah sosok sahabat dan guru bagi ibu Sumarni Maryono Idris Soenarmo (86 th) yang lebih dikenal dengan sapaan Bu Mar, lahir 23 Desember 1927 dengan 7 cicit, 7 cucu, dari 4 anak (1 alm). Bu Mar pertama kali bertemu Bu Nas saat melawat ke Inggris pada tahun 1960, yang saat itu Pak Nas menjabat menjadi Menteri Pertahanan Keamanan. Bu Nas mengatakan “kalau kamu pulang langsung bergabung dengan BKSPA ngurusi kemanusiaan”. Bu Nas yang saya kenal adalah sosok nasionalisme yang sangat kental….kata beliau sebagai orang Indonesia harus bagaimana…saat kunjunganpun selalu memikirkan keberlangsungan dan kepentingan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Pada waktu Pak Nas dikucilkan beliau Bu Nas tetap tegar dan terus menjalankan kegiatan kemanusiaan, saya tetap terus membantu karena itu memang hal yang benar. Bu Nas juga sosok kalau bekerja sosial selalu total dan sangat bersahaja dapat dilihat dari

Beliau mewariskan budaya “proses” dalam mencapai sesuatu dan selalu melihat hal-hal yang terbengkelai dan tidak terurus dengan baik di masyarakat. Beliau tunjukkan dalam perjuangan mendirikan sekolah bagi anak tunarungu melalui budaya proses dan melihat keadaan anak tunarungu yang masih terpisah-pisah dan terurus dengan baik maka beliau menggagas bersirinya Santi Rama. Dimulai pada tahun 1970 bekerja sama dengan dokter THT (Prof. dr. Hendarto Hendarmin) menggagas untuk membentuk Badan Pembina Santi Rama, suatu badan yang menangani proyek uji coba terhadap pelayanan intervensi dini dan rehabilitasi anak tunarungu, dan Santi Rama merupakan pionir atau satu-satunya yang ada di Indonesia saat itu. Bermula dari suatu kegiatan unit pelayanan dini dengan kelompok kecil, kemudian diperluas dengan jenjang-jenjang pendidikan lanjutan. Edisi 49 Edisi / Desember 46 / Juni //2012 2013

warta wartasosial sosial

21 21


Aktif Dalam Kegiatan Seminar & Lokakarya

Pembicaraan kami akhiri dengan pesan Bu Mar pada generasi berikutnya terutama ibu-ibu muda sebagai orangtua wawasan luas penting. Dari rumah harus dikenalkan peradaban dan kebudayaan luhur Indonesia dan orang tua harus bisa menjadi contoh nilai-niali luhur Indonesia, orang tua juga harus mengenalkan persoalan-persoalan sosial di sekelilingnya pada anak. Bekerja sosial harus sepenuh hati, berbhakti kepada bangsa dan sesama ya harus dikerjakan terus menerus…….Bu Mar diusianya yang sudah mencapai 86 tahun masih menunjukkan semangat tinggi di kegiatan sosial kemanusiaan, menurut beliau “selama masih mau dan mampu kenapa tidak”….. Lady Fighter, Pikiran Besar……Bangsa Indonesoa harus menjadi Bangsa Relawan Sosial Bu Nas adalah sosok nasionalis sejati yang sangat cinta pada negri ini, sejak masih belia sudah diajarkan oleh ayahandanya (Gondokusumo) pejuang pergerakan yang memiliki hubungan sangat dekat dengan Bung Karno. Kecintaan pada negeri ini dibuktikan pada waktu masih remaja putri menjadi relawan dengan berjualan korsase untuk mengumpulkan dana yang hasilnya digunakan untuk membangun Gedung Nasional Indonesia di Surabaya yang didirikan oleh ayahanda beliau. Kejadian ini adalah salah satu cerita Bu Nas pada Pak Tjuk Kasturi Sukiadi (69 tahun), lahir pada 22 Mei 1945 dari seorang ayah bernama Kasturi Hadi Winoto dengan seorang ibu bernama Sukarti. Pak Tjuk dengan kecerdasan dan tangan dinginnya berhasil memimpin dan membawa Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BKKKS) Jawa Timur dengan manajemen yang sangat baik, independen dan memiliki ruh untuk kepentingan sosial Pak Tjuk sangat cocok dengan Bu Nas karena sama-sama idealis, sangat cerdas, memiliki pemikiran besar dan sangat mencintai negri ini yang sampai saat ini dikaruniai 4 putra dengan 10 cucu (satu cucu alm). Pak Tjuk bertemu dan bergaul dalam satu organisasi dengan Bu Nas untuk kali pertama pada tahun 1999 saat terjadinya reformasi, satu-satunya orang daerah yang menjadi pengurus di DNIKS. Bu Nas adalah sosok yang saya kagumi dengan pikiran besar, sosok yang sederhana dan berkarakter orang besar ditunjukkan oleh beliau meski sudah menjadi penguasa dan menjadi kelompok elite di negri ini, kelangenan beliau pada masa kecil yang lahir dan besar di Surabaya masih tetap beliau tunjukkan dengan meminta pada saya untuk membawakan makanan khas Surabaya makanan masa kecil beliau, yaitu kepiting gembos dan ikan pe, sosok yang tidak lupa dengan akarnya.

Edisi 494946 / Desember / 2013 Edisi Edisi / /Desember Juni / 2012 / 2013

22 warta warta sosial wartasosial sosial 22 22

Dominasi darah Belanda yang mengalir ke tubuh beliau dari ibundanya menjadikan Bu Nas sangat rasional, disiplin, lugas, apa adanya, mandiri, dan tidak cengeng. Dua peristiwa beliau tunjukkan dalam hidup beliau, yaitu saat beliau meminta sang suami Pak Nas untuk menyelamatkan diri dan berani pasang badan, karena tenaga dan pemikiran Pak Nas masih dibutuhkan negeri ini meski pada waktu itu Bu Nas sebagai sseorang ibu muda menerima dan mengendong putri tercintanya Ade Irma Suryani dalam keadaan berlumuran darah karena tertembak, beliau sadar dan berpikir rasional apa yang harus dilakukan. Peristiwa kedua beliau ceritakan pada saya yang seringkali berperan menjadi ibu Negara saat melawat ke luar negeri bersama Bung Karno. Meskipun hubungan secara pribadi antara Pak Nas-Bung Karno pada tahun 60 an kurang harmonis, pada suatu waktu beliau melawat ke Eropa Timur mendampongi Pak Nas sebagai menteri Pertahanan Keamanan bersama Presiden Bung Karno, dan karena suatu hal sebelum waktu kunjungan selesai Pak Nas harus kembali ke Indonesia, Bung karno mengatakan “Nas istrimu tinggal biar mendampingi saya sebagai ibu Negara”. Bu Nas yang berkarakter rasional dan tidak cengeng, memilih untuk lebih mendahulukan kepentingan dan martabat Negara dengan tetap tinggal untuk mewakili menjadi ibu Negara. Bu Nas selalu punya pikiran besar dan mimpi besar, bangsa Indonesia harus betul-betul menjadi bangsa relawan sosial. Namun kekecewaan demi kekecewaan beliau terima, beliau tidak happy dengan penanganan masalah sosial dan kebijakan pemerintah di berbagai hal tidak sesuai dan tidak pas dengan gagasan dan mimpi beliau khususnya yang berkaitan dengan kegiatan sosial di Indonesia. Kekecewaan itu diawali pada era orde baru di era kepemimpinan Soeharto, pada waktu itu sekitar tahun 1978 Pak Nas dikucilkan dan eksistemsi dan gerakan Bu Nas sebagai aktivis sosial dibatasi, bahkan bantuan dari luar negri dari teman-teman beliau dicekal. Kondisi ini tidak menyurutkan beliau untuk selalu tegar dan berjuang untuk kepentingan masyarakat yang terpinggirkan dengan segala upaya yang beliau punya, sebagai sosok lady fighter yang mengukir sejarah kerelawanan sosial di negri ini. Ketidakpuasan beliau terbawa sampai saat ini, di era Susilo Bambang Yudonono saat kampanye tahun 2004 yang menjanjikan akan menjadi pelopor kegiatan sosial Indonesia, Bu Nas sangat berbesar harap akan menjadi kenyataan, namun janji itu tidak pernah terwujud. Harapan itu hampa sehampa harapan saya. Pemerintah condong menangani sendiri, sehingga relawan dan aktivis sosial tidak mendapatkan atmosfer yang kondusif. Aktivis dan relawan muda tidak banyak yang muncul baik di pusat maupun di daerah. Kekecewaan ini yang beliau tunjukkan kepada saya, setiap kali bertemu beliau selalu mengatakan “ Tjuk kapan reformasimu kamu bawa kemari…”. Keseharian Bu Nas yang saya kenal jauh dari kesan glamour, sangat sederhana sebagai istri seorang Jenderal dan pejabat Negara, tidak menyukai atribut-atribut, kerja, cepat, efektif, efisien, jujur, lugas, apa adanya, dan tidak suka banyak omong apalagi yang tidak masuk akal. Kesederhanaan Bu Nas tercermin saat saya sowan ke rumah beliau, serba minimalis perabotan yang apa adanya dan kita akan mendapatkan suguhan teh, tidak seperti layaknya di rumah Jenderal-Jendral yang lain.


Pembicaraan dengan Pak Tjuk kami akhiri dengan pernyataan beliau semakin diusia yang sekarang beliau menyadari bahwa scenario Allah itu yang terbaik dan jalan yang sangat indah buat beliau, meski banyak perjalannan yang mengakibatkan beliau dikecewakan karena merasa dikalahkan oleh ketidak adilan yang terjadi dalam system yang berjalan di negeri ini. Beliau menyadari meski dikalahkan saat fight di Jamsostek, Semen Gresik, Kebun Binatang Surabaya oleh ketidak adilan system, beliau bersyukur terhindar dan diselamatkan dari hal-hal buruk. Pesan beliau pada generasi penerus ambil kesempatan untuk bisa mewujudkan idealisme dalam kiprah menangani persoalan-persoalan sosial di negeri ini. Mudah-mudahan mimpi kita cocok dan pas dengan garis yang ditetapkan dalam scenario Allah dalam menjalani hidup yang terbaik dan berakhir khusnul khatimah….. Aku Belajar dari Bu Nas……… Menurut P. Totok Bintoro yang sangat beruntung pernah dekat dengan beliau dan menimba banyak warisan nilai-nilai luhur di tahun 90 an, Terlebih, beliaulah yang memperkenalkan dan membukakan jalan bagi saya untuk turut berkecimpung di dunia sosial berikut adalah goresan tangan Totok Bintoro seorang dosen Jurusan PLB FIP UNJ mantan Ketua Umum FNKTRI (2007-2012) pewaris nilai luhur dan menuturkan sejarah kerelawanan dan memaknai hidup ikhlas tanpa pamrih sosok ibunda Johana Sunarti Nasution Mengenang sosok yang satu ini, tidak akan pernah habis untuk diceritakan. Dialah Johana Sunarti Nasution, yang akrab dipanggil Bu Nas. Saya mengenal beliau awal tahun 1990, di saat saya mengawali sebagai pengajar muda di Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB) Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Jakarta (sekarang UNJ). Saat itu saya diperkenalkan oleh Bapak Soedjadi, Ketua Jurusan PLB FIP IKIP Jakarta waktu itu, yang sekaligus menjabat sebagai Sekretaris Kelompok Kerja PLB (KKPLB) yang diketuai oleh Prof. Dr. Conny R Semiawan. Cakupan program KKPLB antara lain adalah, merintis pendidikan terpadu, pengembangan komunikasi total melalui pengembangan system isyarat bahasa Indonesia bagi kaum tunarungu, dan berbagai program terkait dengan pendidikan khusus lainnya. Mengetahui latar belakang pendidikan saya adalah pendidikan untuk anak tunarungu, Pak Soedjadi melibatkan saya dalam kelompok pengembangan komunikasi total. Disitulah saya diperkenalkan kepada ibu Conny dan Ibu Nas, dua sosok wanita hebat yang dulunya saya hanya mengenal lewat percakapan orang atau membaca di mass media. Seiring berjalannya waktu kegiatan KKPLB lebih banyak dilakukan di Jl. Teuku Umar No. 42 Jakarta Pusat, di samping kediaman ibu Nas (saat ini Moeseum AH Nasution), menjadi rumah kedua dan sekaligus kampus kedua saya saya waktu itu. Di situlah saya belajar bagaimana menjadi bermanfaat bagi sesama. Saya sedikit demi sedikit mulai mengenal sosok Bu. Nas, Bu Nas yang senang berkomunikasi dengan bahasa Belanda. Suatu ketika, pernah secara khusus beliau memanggil saya yang waktu itu sedang sendirian berada di samping ruang kerja beliau untuk memilah-milah hasil survey tentang ragam isyarat tunarungu di Indonesia. “Totok…..ke ruang Ibu sebentar”, saya dengan agak sedikit kaku memasuki ruang kerja beliau, ruang kerja dengan meubeler lama dan sederhana. Setelah saya duduk, beliau dengan senyum wibawanya bertanya,”kamu masih muda, belajarlah dari para senior disini, di sini semua

mengabdi, untuk mereka yang kurang beruntung…., di sini bukan tempat mencari uang” kata-kata beliau terhenti dan beliau menatap mata saya, seolah membaca pikiran saya. Saya menjadi tertunduk, dan beliau melanjutkan ucapannya: carilah kepuasan batin dengan memuliakan mereka-mereka yang kurang beruntung dengan apa yang kamu miliki, di situlah kamu akan menemukan sejatinya hidup ini dan kamu akan menjadi kaya, ibu hanya punya semangat dan sahabat……” Tidaklah mudah untuk mencerna dan menghayati kata-kata Bu Nas, bekerja…, mengabdi menjadi relawan. Mengapa beliau berkata disitulah kamu akan menjadi kaya. Ternyata benar, saya yang saat itu baru lulus S1 PLB, dengan berbekal keilmuan khusus untuk pendidikan anak tunarungu yang terbatas, tidak menduga bahwa saya akan bertemu dengan orang-orang hebat, seperti Prof. dr. Hendarto Hendarmin, seorang ahli THT yang berjiwa sosial tinggi, ibu Maryono, seorang pejuang dan pekerja sosial, ibu Lami Bunawan, seorang psikolog sekaligus pakar pendidikan untuk anak tunarungu, ibu Maria, seorang ahli pendidikan untuk anak tunarungu, ditangan beliaulah guru-guru menjadi kompeten dan anak tunarungu menjadi bisa berkomunikasi menggunakan bahasa wajar, Pak Anton Widyatmiko (Alm) yang hebat seperti Bu Maria, Pak Heru Santoso yang ahli isyarat untuk anak tunarungu. Tetapi yang tidak terduga adalah, saya bertemu dengan guru besar pendidikan tunarungu dari Griffith University Australia yang secara khusus dan rutin sering diundang Bu Nas untuk membantu pendidikan tunarungu di Indonesia, Prof. Des Power dan Asst. Prof. Merv Hide. Saya banyak belajar dari orang-orang hebat tersebut, dan saya mulai menemukan dunia yang sesungguhnya. Dari sinilah saya mulai mendapatkan jawaban apa yang dipesankan Bu Nas kepada saya. Saya semakin kaya dengan pengalaman bagaimana mendidik anak-anak tunarungu dengan pendekatan dan strategi pembelajaran yang up to date, terlibat secara langsung dalam pengembangan Kamus Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI), dan melalui SIBI inilah saya sebagai dosen muda tahun 1992 untuk pertama kalinya terbang ke luar negeri. Saya bersama dengan para ahli pendidikan untuk anak tunarungu di Indonesia di fasilitasi Bu Nas untuk mengikuti Asian Pacific Regional Congress on Deafness (APRECOD) di Bangkok Thailand. Melalui SIBI dan permasalahan anak tunarungu pula saya beberapa kali dapat bertemu dan berdialog langsung dengan Mendikbud waktu itu, Prof. Dr. Ing Wardiman Djojonegoro. Ibu Nas adalah perempuan yang kokoh, sosoknya anggun, dengan rambut ikal alami yang masih hitam tebal, parasnya masih menyiratkan kecantikan, kecantikan yang berwibawa. Dengan kesederhanaannya beliau secara tidak langsung mengajarkan kepada siapa saja yang dekat dengan beliau tentang hakikat kehidupan agar menjadi bermanfaat bagi sesama. Memaknai hidup tanpa pamrih, begitu mudah dihayati jika disandingkan dengan kehidupan sehari-hari Bu Nas. Beliau kumpulkan apapun sumbangan dari para donatur, mulai dari baju bekas layak pakai, sembako, sampai ke finansial, bahkan pemikiran beliau terima, untuk disumbangkan kepada mereka yang membutuhkan. Banyak anak negeri ini yang datang dari kaum papa, kini menjadi mandiri dan bermanfaat bagi orang lain, berkat tangan dingin dan kesepenuhatian pengabdian Ibu Nas.

Edisi 46 / Juni //2012 Edisi 49 / Desember 2013

warta wartasosial sosial

23 23


Pesan Bu Nas benar, dengan belajar mengabdi, membantu mereka yang kurang beruntung dengan sepenuh hati, saya menjadi kaya, kaya hati, sahabat, pengalaman, semoga juga menambah kekayaan khasahan pengetahuan saya, dan hidup ini menjadi penuh arti. Saya semakin tahu bahwa Bu Nas mengabdikan hidupnya untuk memuliakan mereka-mereka yang kurang beruntung dengan mendirikan berbagai yayasan, antara lain Yayasan “Jambangan Kasih”, Yayasan "Pembinaan dan Asuhan Bunda", Yayasan Bina Wicara "Vacana Mandira" yang berbentuk Akademi Terapi Wicara pertama di Indonesia, Yayasan "Panti Usada Mulia", yaitu rumah sakit yang menampung pasien miskin, dan Yayasan “Santi Rama”. Di sisi lain beliau gigih membangun jejaring kemitraan dengan berbaagai institusi di luar negeri, salah satunya dengan Mass Deventer, sebuah lembaga sosial untuk mendanai negara berkembang, khususnya untuk memberikan bea siswa bagi anak-anak berprestasi tetapi kurang mampu Bu Nas, seluruh denyut nadimu adalah aktivitas sosial, engkau Ibu bagi anak bangsa ini, ibu yang telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk kemaslahatan umat tanpa pamrih, semoga sepeninggal Bu Nas, tumbuh generasi-generasi penerusmu. Selamat jalan Bu Nas... Beliau juga mewariskan nurani kepedulian bagi sesama dan selalu konsisten memperjuangkan hak hidup orang-orang yang terpinggirkan. Berikut tulisan yang dituturkan oleh Patrik Matanasi yang dimuat dalam Tribunenews (2010) suatu hari di bulan Desember 2009, saya harus mewawancarai ibu Johana Sunarti Nasution, tentang berbagai kegiatan sosialnya yang seabrek. Seperti tokoh Angkatan 45 lainnya, hari itu wanita tangguh yang rela saya sapa Ibu Sunarti, berbicara pada saya panjang lebar soal kegiatan sosialnya dengan penuh semangat. Beliau berkata pada saya ingin bercerita semuanya tentang dirinya dan apa yang dilakukannya, sebelum Tuhan memanggilnya. Kegiatan sosial dikenalkan oleh ibunya Maria Federika Rademayer yang Belanda tulen dan Sunarjo Gondokusumo salah satu tokoh pergerakan nasional Indonesia. Jadi ibu Sunarti juga bagian kecil dari dunia pergerakan Nasional. Diusianya yang kelima dia ikut hadir dalam Kongres Pemuda 28 Oktober 1928. Meski berasal dari keluarga terpandang dan berada hidup sebagai bagian dunia pergerakan nasional tidaklah terlalu menyenangkan. Selalu ada pengintai suruhan pemerintah Kolonial Hindia belanda yang sering tidak disadari. Masa mudanya, sebenarnya tergolong beruntung. Dia bisa menikmati pendidikan terbaik di zamannya. Dia pernah nikmati Lyceum (sekolah menengah elit) di Bandung sebelum Jepang datang. Lalu dia berhasil lulus ujian SMA zaman Jepang. Karena tidak bisa baca tulis huruf kanji, Ika Dai Gakku (sekolah tinggi Kedokteran) tidak menerimanya sebagai mahasiswa. Cita-citanya menjadi dokter pun pupus. Akhirnya Sunarti harus berpuas diri belajar menjadi apoteker. Zaman revolusi, Sunarti sempet belajar hukum di UGM, namun harus ditinggalkan karena salah satu pendiri Tentara Nasional Indonesia, Abdul Haris Nasution yang masih berpangkat Kolonel menikahinya. Segera Sunarti memasuki dunia para istri tentara yang kerap diliputi kekhawatiran karena suamisuami mereka pergi berperang.

24 24

Edisi 49 46 / Desember Juni / 2012/ 2013

warta sosial

Menjadi istri Nasution bukan hal mudah. Nasution kerap berseberangan dengan penguasa negeri ini. Berkali-kali ancaman kematian menguntit hidupnya sejak zaman revolusi. Hal tragis lalu menimpanya. Putri bungsunya menjadi tumbal sejarah Indonesia dalam Gerakan 30 September 1965. Lepas dari nasib tragis tadi, Sunarti masih terus menunjukkan kekuatannya. Dia terus membantu menanggulangi masalah sosial masyarakat yang menjadi korban pembangunan yang kejam dan tidak adil. Sunarti bersama-sama dengan banyak pihak berjuang untuk mensejahterakan orang-orang bernasib malang yang tidak mampu disejahterakan negara. Ibu Sunarti terus bergelut dalam dunia sosial ketika Nasution tidak lagi menjadi pejabat negara. Setidaknya dia bergelut di dunia sosial lebih dari separuh abad. Kegiatan sosial dijalani sepanjang hidupnya sejak belia. Hingga Magsaysay Award, penghargaan bergengsi dari Filipina, diganjarkan padanya beberapa dekade silam. Pada saya, ibu Sunarti mengaku, dirinya tidak melakukannya sendiri. Dia merasa apa yang dikerjakan berhasil bukan semata karena dirinya saja. Banyak pihak yang terlibat di dalamnya. Ini menjadi hal penting baginya. Betapa egalitariannya ibu Sunarti. Tanpa sadar dia telah ajarkan itu pada saya. Namun, tetap saja ada orang-orang tertentu yang ikut merusak kerja sosial. Bahkan di eselon atas sendiri. Kerja sosial menjadi semakin kacau ketika orang-orang bermotif bisnis pencari profit pribadi masuk bahkan memimpin sebuah lembaga sosial. Duka dialami dan menghambat kerja sosial ibu Sunarti di zaman orde baru. Penguasa yang tidak suka pada sang suami, begitu membatasi hubungan ibu Sunarti dengan lembaga sosial luar negeri yang bermaksud memberi bantuan pada ibu Sunarti. Bukan ibu Sunarti namanya jika dirinya berhenti begitu saja. Ibu Sunarti terus bergerak. Satu program digagalkan, Sunarti masih bergerak dengan program-program lainnya. Hanya sedikit cerita darinya yang bisa saya tulis sekarang. Kalimat ibu Sunarti yang masih terngiang di kepala saya adalah, “biarkan masalah datang pada saya, maka saya akan mencari penyelesaiannya.’ Saya bangga pernah mendengar ceritanya. Sebagai salah satu anak sejarah dia telah membuat sejarahnya juga sejarah bangsanya yang ikut diukir. Saat itu adalah saat terakhir saya bertemu dengannya. Semoga ibu Sunarti yang saya kenal pergi dalam damai. Semoga apa yang dilakukan Ibu Johana Sunarti Nasution, dapat menjadi teladan, inspirasi dan memotivasi kita semua untuk memperjuangkan dan memperhatikan sesama yang kurang mampu dan membutuhkan uluran tangan kita untuk sama – sama bangkit dan berjuang untuk kemajuan bangsa Indonesia. Seperti pesan terakhir Ibu Johana Sunarti Nasution sesuai yang dituturkan putri beliau Hendriyanti Sahara ‘Kita harus tetap berjuang untuk memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan masyarakat demi kemajuan bangsa” semoga semua yang beliau torehkan pada negeri ini menjadi , amalan yang tidak pernah putus yang senantiasa mengiringi beliau di alam akherat dan akan menjadi warisan luhur bagi generasi penerus yang akan menjadi lentera menuju jalan terang bagi orang-orang yang termarjinalkan. Oleh : DR. Asri Widjiastuti, M. Pd. (Sekretaris I BKKKS Prov. Jatim)


KRONIK

PERINGATAN HARI PAHLAWAN 2013

Kunjungan di Lapas Anak Blitar (Foto Kiri), Kunjungan di Musium Gebang (Foto Kanan)

Dalam Peringatan Hari Pahlawan Tahun 2013, penyelenggaraan kegiatan berbeda dengan tahuntahun sebelumnya. Bila tahun sebelumnya selalu dilaksanakan di Surabaya, untuk tahun ini agar lebih memantapkan penanaman nilai-nilai kepahlawanan maka kegiatan dilaksanakan di Kota Blitar. Peringatan tersebut berlangsung selama 2 hari yaitu pada tanggal 09 dan 10 November 2013, jumlah peserta sebanyak 100 orang siswa SMA/SMK dengan komposisi 50 siswa SMA/SMK dari Kota Surabaya dan 50 siswa SMA/SMK dari Kota Blitar. Kegiatan diawali dengan berkumpulnya siswa dari Kota Surabaya di halaman kantor BKKKS Jawa Timur Jl. Raya Tenggilis Blok GG No. 10 Surabaya. Para peserta terlihat begitu antusias melakukan upacara pemberangkatan dengan dikumandangkannya lagu Indonesia Raya oleh seluruh peserta dan panitia. Keberangkatan peserta dari Surabaya tersebut terlihat begitu heroik karena peserta menggunakan transportasi dari bis TNI AL sebanyak 2 bis. Tepat pukul 12.00 peserta dari Surabaya sampai di Balai Kota Blitar diterima dan dijamu makan siang oleh Pemerintah Kota Blitar dan sekaligus berkumpul bersama siswa dari Kota Blitar. Kepala Dinas Pendidikan Kota Blitar dalam sambutannya saat upacara penerimaan menyampaikan bahwa acara ini sangat bagus untuk selalu dilaksanakan karena sebagai ajang saling interaksi antar siswa dalam tukar pikiran dan pengalaman dari kota lain. Setelah upara penerimaan seluruh peserta melakukan perjalanan menuju Istana Gebang di Jl. Sultan Agung Blitar. Pada malam harinya dilanjutkan dengan pelaksanaan seminar bertempat di UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Seminar

tersebut menghadirkan narasumber dari perwakilan siswa Kota Surabaya dan Kota Blitar serta narasumber ahli dari Kepala UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Setelah pelaksanaan seminar seluruh peserta langsung melaksanakan renungan malam untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan. Kegiatan renungan malam tersebut berlangsung cukup khidmat dengan diselingi pembacaan puisi, ditambah lagi suasana yang cukup mendukung karena kegiatan dilaksanakan di Makam Proklamator Bung Karno. Pada keesokan harinya tanggal 10 November 2013, sebelum pulang ke Surabaya para peserta dari Kota Surabaya berkunjung ke Lapas Anak Kelas II Blitar dan diajak berkunjung ke Candi Penataran. Disela - sela kegiatan salah satu siswa dari SMA Muhammadiyah 2 Surabaya menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat menarik karena peserta bukan hanya dari Siswa Surabaya melainkan dari Siswa Kota Blitar, sehingga bisa saling tukar cerita dan tentunya bertambah teman di Kota lain. (Redaksi)

Foto Bersama di Kantor BKKKS Jatim

Edisi 46 / Juni //2012 Edisi 49 / Desember 2013

warta wartasosial sosial

25 25


KRONIK

konferensi nasional kesejahteraan sosial (knks) vii 2013

Suasana KNKS VII di Gedung BKKKS Jatim

Pada bulan Agustus tahun 2013, salah satu kegiatan besar di selenggarakan di Kota Surabaya, kegiatan tersebut adalah Konferensi Nasional Kesejahteraan Sosial (KNKS) VII. Kegiatan yang diselenggarakan setiap 2 tahun sekali tersebut untuk tahun ini Badan Koordinasi kegiatan Kesejahteraan Sosial (BKKKS) Provinsi Jawa Timur berkesempatan menjadi panitia pelaksana. Konferensi ini digelar selama tiga hari, yakni mulai tanggal 19 Agustus 2013 hingga 21 Agustus 2013. Konferensi yang digelar secara nasional tersebut dihadiri kurang lebih 400 peserta yang terdiri dari pekerja sosial dari seluruh Indonesia. Pada Konferensi Nasional Kesejahteraan Sosial (KNKS) VII tahun ini mengambil tema “Mewujudkan Kesejahteraan Sosial dalam era Globalisasi�. Kegiatan tersebut dibuka pada tanggal 19 Agustus 2013 di gedung negara Grahadi yang dibuka secara resmi oleh Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia Bapak Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti, MSc, PhD. Sedangkan acara lokakarya dan seminar dilaksanakan di Gedung BKKKS Provinsi Jawa Timur,Jl. Raya Tenggilis Blok gg No. 10 Surabaya.

26 26

Edisi 49 46 / Desember Juni / 2012/ 2013

warta sosial

Pada hari kedua kegiatan tepatnya pada tanggal 20 Agustus 2013 malam, seluruh peserta berkesempatan mendapatkan jamuan makan malam dari Walikota Surabaya di rumah kediaman. Pada akhir kegiatan tanggal 21 Agustus 2013, seluruh peserta mengikuti kegiatan kunjungan ke obyek kegiatan kesejahteraan sosial seperti Home Care lansia Tenggilis Mejoyo, Karang Werda Kota Surabaya, Posdaya Gundih Surabaya, Posdaya di Sidoarjo dan Yayasan SPMAA Lamongan. (Redaksi)

Upacara Penutupan Di Rumah Kediaman Walikota Surabaya


KRONIK

RACE AND CARE SHANGRI-LA HOTEL SURABAYA

Bapak DR. H. Tjuk Kasturi Sukiadi, SE (Ketua Umum BK3S Jatim) Bersama GM Shangri-La Hotel Suraya dan insan disabilitas (foto kiri), Suasana Lomba Lari Maraton (Foto Kanan)

BKKKS Provinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Shangrila Hotel Surabaya untuk pertama kalinya melaksanakan lomba lari maraton sejauh 10 kilometer dan 5 kilometer. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari minggu tanggal 29 September 2013 dengan start dan finis di halaman Shangri-La Hotel Surabaya dengan rute sekitar Hotel ShangriLa Surabaya. Kegiatan tersebut diikuti 500 orang terdiri dari beberapa elemen masyarakat, mulai dari TNI AL, komuunitas pecinta olahraga, perorangan dan insan disabilitas yaitu dari atlit SOIna (Special Olympics Indonesia) dan DMI (Disability Motor Indonesia). Selain pelaksanaan lomba lari maraton, kegiatan lainnya adalah membuka 50 stand basar dari berbagai macam produk, diantaranya terdapat beberapa produk hasil karya disabilitas seperti dari SLB Karya Mulya,

SLB YPAC, HWDI dengan berbagai macam produk untuk dijual dan pijat dari organisasi tunanetra yaitu PERTAMA (Persatuan Tuna Netra Alumni Malang). Tujuan utama dari kegiatan tersebut adalah penggalangan dana, yaitu setiap pendapatan dari biaya pendaftaran dan hasil 15 % dari pendapatan masing-masing stand bazar akan digunakan untuk membeli tangan dan kaki palsu bagi yang membutuhkan. General Manager Shangri-La Hotel Surabaya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut rencananya akan rutin digelar setiap tahun yang ditujukan untuk mendukung proyek sosial Shangri-La Hotel dengan sekolahsekolah lokal untuk memperbaiki kualitas pendidikan dan kesehatan anak Indonesia. (redaksi).

Edisi 49 / Desember / 2013

warta sosial

27 27


RENUNGAN

KESETIAKAWANAN SOSIAL UNTUK INDONESIA SEJAHTERA Oleh : H. M. Djumadi Ramelan, S. H. untuk mark as gerilyawan, menampung pengungsi, merawat yang sakit, menyelengarakan dapur umum, dsb; padahal waktu itu mereka sendiri dalam kondisi kesulitan. Semangat itulah yang hendak dilestarikan sehingga tanggal 20 Desember diperingati sebagai Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN).

Gotong Royong Pembangunan Mushola

Pada bulan Desember, tepatnya tanggal 20 Desember, oleh Bangsa Indonesia diperingati sebagai Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN). Peringatan HKSN dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur kehadirat Allah Swt atas pertolongan-Nya kepada Bangsa Indonesia pada peristiwa yang mengancam kedaulatan Negara RI. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 19 Desember 1948, Belanda secara mendadak melakukan agresi menyerang Yogyakarta (waktu itu, Yogyakarta adalah Ibukota Negara RI). Belanda berhasil merebut Yogyakarta, dan beberapa pemimpin Negara berhasil ditangkap serta diasingkan. Dengan keberhasilan itu, Belanda beranggapan bahwa riwayat Negara RI telah tamat. Namun di luar dugaan, berkat pertolongan Allah, bangsa Indonesia ternyata tetap tegar, peristiwa itu justru membakar semangat juang rakyat Indonesia, esok harinya (tanggal 20 Desember), rakyat bangkit bahu membahu bersama para pejuang menghadapi Belanda. Rakyat di pedesaan rela menyediakan rumahnya

28

Edisi 49 / Desember / 2013

warta sosial

Kesetiakawanan sosial adalah asas pokok dalam Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial untuk membangun Indonesia yang sejahtera. Ibarat membangun sebuah rumah dia adalah fondasinya. Untuk itu, marilah kita tumbuh kembangkan dan kita galang semangat kesetiakawanan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Insyaallah dengan pertolongan-Nya, Negara Indonesia Sejahtera yang kita cita-citakan segera terwujud. Dalam UU No 11/2009 tentang Kesejahteraan Sosial, disebutkan bahwa kesetiakawanan sosial adalah sikap kepedulian sosial untuk membantu orang yang membutuhkan pertolongan dengan empati dan kasih sayang. Semangat itulah yang harus kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari; dimulai dari sikap kepedulian sosial (yakni sikap memperhatikan/ memprihatinkan kondisi di sekitar kita), kemudian meningkat menjadi “empati� (yakni adanya keinginan yang mendalam untuk menggali permasalahan yang dihadapi oleh orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan pertolongan), Lalu kita sisihkan sebagian dari harta kita untuk membantu mereka dengan “kasih sayang�.


RENUNGAN

Membantu/memberi dengan kasih sayang itu mengandung empat unsur : Pertama, kasih sayang itu adalah sikap memberi tak harap kembali, Pemberi hanya mengharap ridho Allah semata (ihlas). Barang siapa dapat mengamalkan ini, Allah akan memberikan pahala yang berlipat ganda, dan membebaskannya dari rasa khawatir dan duka cita (QS Al Baqarah: 261262) Allah berfirman: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, seperti (menanam) sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) dan Maha Mengetahui.” “Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka; tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” Kedua, kasih sayang itu adalah memberikan sesuatu yang sesuai dengan kebutuhan orang yang dibantu bukan nuruti keinginannya. Apa yang sebenarnya mereka butuhkan akan ditemukan melalui proses empati. Ketiga, kasih sayang itu adalah memberi dengan sikap “kesetaraan”. Pemberi tidak bersikap superior dan penerima tidak perlu merasa inferior. Sikap “kesetaraan”, akan menjaga hubungan yang harmonis karena akan saling menghormati satu sama lain dan akan meredam (emosi) marah Keempat, kasih sayang itu adalah suka memberi maaf. Barang siapa dapat melaksanakan keempat hal tersebut, Allah menjanjikan ampunan dan surga-Nya (QS Ali Imran: 133 - 134) Allah berfirman: “ Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu, dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang

disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.” (yaitu) orang yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencitai orang yang berbuat kebaikan.” Agama Islam sangat menekankan pentingnya jiwa kesetiakawanan sosial, khususnya berkasih sayang dengan anak yatim dan memberi makan orang miskin. Begitu tegasnya perintah itu sehingga barang siapa yang tidak melaksanakannya, tergolong orang yang mendustakan agama (QS Al Maun) Allah berfirman: “Adakah engkau (tahu) orang yang mendustakan agama. Maka itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang yang sholat. Yaitu orang yang lalai terhadap sholatnya. Orang-orang yang mereka itu berbuat riya. Dan enggan memberi bantuan/pertolongan. Kasih sayang, mencintai sesama, merupakan salah satu substansi pokok dari keimanan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw : “Tidaklah beriman seseorang kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai diri sendiri (HR Bukhari dan Muslim) Semoga dengan membiasakan diri berbuat baik, berkasih sayang dengan sesama dan senantiasa memohon pertolongan-Nya, kita akan sampai pada Sabda Nabi tersebut dan kesempurnaan kebajikan sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam QS Ali Imran: 92 Allah berfirman: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sehingga kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai, dan apa saja yang kamu infakkan, maka sungguh Allah Maha Mengetahui. Kita memohon pertolongan Allah SWT untuk bisa melaksanakan perintah-Nya sebagaimana dicontohkan oleh Rosul-Nya.

Edisi 49 / Desember / 2013

warta sosial

29


OASE

KUCINTAI DIKAU APA ADANYA Saduran Bebas Puisi Peter Duggan Oleh DR. H. Tjuk Kasturi Sukiadi, SE Aku mencintaimu sebening pancaranSinar matamu Seyakin hatiku bahwa Wajah cantikmu adalah milikku Tiada Kata kata yang dapat menggambarkan Cintaku kepadamu Cintaku memancar Dari lubuk hati yang dalam dan suci Tahun tahun yang kujalani bersamamu adalah kehidupanku yang terbaik Seiring dengan perjalanan waktu cintaku semakin tumbuh dan berkembang Meskipun aku tahu ada saat saat yang susah untuk kumengerti Namun demikian semua itu terobati oleh besarnya rasa cintaku kepadamu Aku berdoa kepada Illahi Robbi kita akan bersama sampai ajal menjelang Cinta kita begitu benderang seakan mengalahkan sinar matahari Kita bersama telah tenggelam kedalam kebahagiaan yang sempurna Yakinlah aku akan mati tanpa harus kehilangan rasa cintaku kepadamu Tak akan ada yang bisa menyeruak menghalangi cintaku kepada dikau Karena cintaku meliputi seluruh Bumi, sedalam lautan dan kebiruannya langit Sepanjang masa seperti juga hari ini cinta ini terus bersemi dihatiku Dengan cinta didadaku marilah kita terus jalani kehidupan bersama sampai akhir hayat nanti. Judul asli sanjak Peter Duggan adalah : “I LOVE THE WAY�, dipersembahkan kepada Istri tercinta Indijati Sukiadi, SH pada peringatan Ulang Tahun yang ke 75, Surabaya 20 Desember 2013.

30 30

Edisi 46 / 2012/ 2013 49 / Juni Desember

warta warta sosial sosial


INFO

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KONFERENSI NASIONAL KESEJAHTERAAN SOSIAL KE VII TANGGGAL 19 - 21 AGUSTUS 2013, DI SURABAYA Menyimak dan memperhatikan : a. Sambutan Pembukaan Ketua Umum DNIKS, Prof DR. Haryono Suyono b. Sambutan Pelaksana Tugas Gubernur Jawa Timur, DR Rasiyo c. Sambutan Peresmian Pembukaan KNKS Ke VII, Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti MSc, PhD d. Paparan dan pembahasan makalah tentang: Keadilan Sosial, Kesejahteraan Sosial dalam perspektif Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 (Proklamasi) oleh: DR. Yudi Latif MA, PhD. e. Paparan dan pembahasan mak alah tentang “Kesejahteraan Sosial di era globalisasi ekonomi: Prof. Dr. M. Dawam Rahardjo f. Paparan dan pembahasan makalah tentang “Kemiskinan, ekonomi kerakyat an, dan negara kesejahteraan” : Prof. DR. Achmad Erani Yustika g. Paparan dan pembahasan makalah tentang:” Penanganan gaya hidup hedonis and tindakan anti sosial dalam masyarakat” Prof DR. Marlina S. Mahjudin MD. Ahli Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah. h. Paparan dan pembahasan makalah tentang “Perlindungan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia melalui pelaksanaan Sstem Jaminan Sosial Nasional,” Prof. DR. H. Bambang Purwoko, BSc(Ec), MA, (anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional) i. Paparan dan pembahasan makalah tentang “Peran dan sumbangan perusahaan Negara terhadap kesejahteraan sosial: DR. H. Sugiharto, BSc (Ec), MBA, Komisaris Utama Pertamina. j. Paparan dan pembahasan makalah tentang”Pengelolaan zakat, infak dan sodaqoh untuk kegiatan kesejahteraan sosial” H. A. Said, Direktur Utama Dompet Dhuafa. k. Paparan dan pembahasan makalah tentang Sumatra Barat, ”Peran LKKS Sumatra Barat dalam kegiatan kesejahteraan sosial melalui Posdaya” Ibu. Hj. Nevy Prayitno, istri Gubernur Sumatra Barat, Ketua BKKKS l. Paparan dan pembahasan makalah tentang pengalaman yang dipelajari: “ Peran koperasi dalam kegiatan kesejahteraan sosial” Ibu. Hj. Darmiati Sudjo no Sadjim, Ketua Kooperasi “Setia Bakti Wanita” Jawa Timur m. Paparan dan pembahasan makalah dalam lokakarya mengenai topik-topik khusus tentang dampak buruk globalsasi ekonomi dan neo-liberalisme ter hadap kesejahteraan sosial dan keadilan social dan startegi penanganannya. Konferensi Nasional Kesejahteraan Sosial Ke VII diselenggarakan pada tanggal 19-21 Agustus 2013 di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia telah menengarai, menyoroti, dan sampai kepada kesimpulan dan rekomendasi sebagai berikut, disampaikan kepada pihakpihak yang berkepentingan: Pemerintah (Presiden RI), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)-RI, Gubernur, Bupati, dan

Walikota, serta DPRD-DPRD yang bersangkutan, sektor usaha, organisasi nir-pemerintah dan masyarakat luas. 1. Kesimpulan: 1.1. Dibalik menawarkan peluang untuk persaingan global dan janji untuk perekonomian dunia yang lebih baik dengan menekankan perdagangan dan pasar bebas melalui berbagai persetujuan diantara para pemimpin dunia, seperti Kesepakatan Umum mengenai Perdagangan dan Tarif (GATT), pembentukan kawasan perdagangan bebas seperti: Kerjasama Ekonomi Eurpa (EEC), Kawasan Perdagangan Bebas Asia (AFTA), dll, globalisasi ekonomi dan neo-liberalisme tidak dapat dielakan menimbulkan dampak negative yang tidak diharapkan. Negara kapitalis kaya yang lebih siap menyangkut penguasaan modal, teknologi dan sumber daya manusia yang berketerampilan dan ternyata telah lebih diuntungkan dari pada negaranegara kurang dna sedang berkembang. Oleh karenanya, globalisasi ekonomi dan neo-liberalisme telah menimbulkan kesenjangan yang makin lebar antara negara-negara kaya dan Negara-negara miskin; dan antara negara-negara utara dan negara-negara selatan; serta telah menimbulkan sejumlah paradox dunia: yaitu paradox kelangkaan (dunia makin makmur tapi bahan makin langka; kemiskinan, katanya dunia makin makmur namun jumlah rakyat miskin makin banyak; katanya dunia makin makmur tapi pekerjaan makin langka; paradox kesehatan, katanya ilmu pengetahuan dan teknologi makin maju, namun penyakit makin banyak yang tidak dapat disembuhkan; paradox kepedulian katanya orang-orang makin makmur tapi makin pelit dan makin tidak peduli, katanya dunia makin makmur namun manusia makin sibuk kekurangan waktu. Sementara itu, seperti halnya para pendahulunya dalam hal ini, neo-klasik, ekonomi neo-liberal anti kebijakan negara kesejahteraan dan menuduhnya sebagai menghambat kompetisi, karenanya harus ditinggalkan. 1.2. Republik Indonesia dirancang (oleh para Bapak Bangsa), secara idologis dan konstitusional adalah negara kesejahteraan seperti dinyatakan secara eksplisit pada aline pertama, kedua dan keempat Pembukaan, Pasal-pasal 27, 33 dan 34 Undangundang Dasar 1945. Tetapi model system negara kesejahteraan sosial Indonesia tidak sepenuhnya dan persis sama dengan model Negara kesejahteraan di negara-negara kapitalis barat, dimana kebijakan kesejahteraan sosial berdasarkan ekonomi kaptalis sebagai lampiran terhadap sistem pasar bebas. Model sistem negara kesejahteraan Indonesia lebih komprehensif berdasarkan demokrasi ekonomi, dimana: 1) “Setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan” Edisi 46 / Juni //2012 Edisi 49 / Desember 2013

warta wartasosial sosial

31 31


INFO (Pasal 27-2); 2) “Perekonomian disusun sebagai usaha masyarakat adil makmur dan keadilan sosial bagi seluruh bersama berdasar asas kekeluargaan” (Pasal 33-1); 3) rakyat Indonesia berdasarkan demokrasi ekonomi yang “Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara diamanatkan dalam Pancasila dan Undang-undang dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Dasar 1945. Sebenarnya bukan hanya perekonomian negara (Pasal 33-2); 4) “Bumi, air dan kekayaan alam Indonesia dan negara-negara berkembang, melainkan yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara perekonomian negara-negara industri kapitalis barat untuk digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran di Eropah Barat dan Amerika Utarapun rentan dalam seluruh rakyat Indonesia (Pasal 33-3)”; 5) “ Fakir miskin lingkungan pengaruh globalisasi dan neo-liberalisme. dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara 1.4 Oleh karena itu adalah wajib bagi Indonesia kembali (Pasal 34 Undang-undang Dasar 1945). Para Bapak ke dasar kebijakan ekonomi berdasarkan demokrasi Bangsa Indonesia memandang bahwa perekonomian ekonomi seperti diamanatkan dalam Undang-undang dan kesejahteraan sosial saling tergantng ibarat dua Dasar 1945, untuk mengejar tujuan dan mewujudkan sisi dari satu mata uang, seperti tercantum dalam tujuan nasional yaitu masyarakat Indnesia yang adil dan judul Bab XIV Undang-undang Dasar 1945. Dalam makmur, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. sistem negara kesejahteraan Indonesia, demokrasi Cita-cita proklamasi kemerdekaan Indonesia dan menjadi tulang punggungnya, kesejahteraan sosial pembentukan pemerintahan Negara Indonesia adalah menjadi tanggung jawab bersama antara negara “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh (yang diwakili oleh pemerintah) dengan menguasai tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan perusahaan yang penting bagi negara dan bumi, air umum, mencerdaskan kehidupan bangsa serta turut dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya; serta dalam melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan oleh individu melalui partisi pasi warga dalam kegiatan perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Indonesia juga ekonomi melalui kooperasi, dan melalui penyediaan wajib mengarahkan kembali kebijakan ekonomi dan pelayanan sosial bagi warga masyarakat yang tidak sosialnya sehingga mengintegrasikan dan menyinergikan beruntung (diantaranya fakir miskin dan anak-anak yang ekonomi dan kesejahteraan sosial seperti digariskan terlantar). dalam Bab XIV, Pasal 33 dan 34, Undang-undang 1.3. Tetapi dalam kenyataannya, sejak awal tahun 1970an Dasar 1945. Pembangunan dan pertumbuhan sektor Indonesia telah berada dalam posisi untuk tidak dapat ekonomi dan sektor-sektor lainnya bukanlah tujuan menolak gelombang globalisasi dan perdagangan tetapi alat untuk tujuan keadilan dan kemakmuran bagi bebas, sehingga kebijakan ekonominya telah seluruh rakyat Indonesia. menyimpang dari kaidah Undang-undang Dasar 1.5 Konsep dan cita-cita Negara kesejahteraan Indonesia 1945 dan hanyut terbawa arus globalisasi dan adalah integrasi dan sinergi antara ekonomi dan perdagangan bebas. Hal itu ditunjukkan bukan hanya kesejahteraan sosial berdasar praanggapan bahwa ada oleh keterlibatan pemerintah Indonesia dalam GATT, kesaling-tergantungan yang kuat diantara keduanya. WTO dan IMF, dan dalam pembentukan kawasan Perundang-undangan dan kebijakan mengenai perdagangan bebas, tetapi juga oleh dilepasannya ekonomi (perusahaan, industri, perdagangan, keuangan, sumber-sumber alam seperti hutan dan tambang perpajakan, kooperasi dan UMKM) seharusnya dipadukan serta cabang usaha yang penting untuk dikuasai dan dan disinegrasikan dengan perundang-undangan dan dieksploitasi oleh perusahaan dan konglomerat kebijakan kesejahteraan sosial (penyediaan kebutuhan lokal, asing dan multinasional. Akibatnya, walaupun pokok : pangan, sandang, perumahan, bahan bakar, perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan air bersih; kesehatan, pendidikan, lapangan kerja, yang baik dan ajeg selama hampir tiga dasawarsa, kebudayaan, hiburan, keagamaan, transportasi umum, angka kemiskinan dan peng angguran tetap tinggi waktu senggang, pension, penghapusan kemiskinan dan kesenjangan antara yang beruntung dan yang dan pelayanan sosial). Perundang-undangan dan tidak beruntung makin lebar, sementara sumberkebijakan ekonomi dan kesejahteraan sosial yang sumber alam terkuras dan lingkungan hidup rusak berlaku sekarang, terlepas sama sekali satu sama lain, parah. Pada tahun 1998 ketika krisis moneter regional tumpang-tindih, berserakan perlu direorganisasi agar melanda Indonesia, menyebabkan Indonesia segera semuanya diarahkan kepada dan memusat kepada terpuruk dalam krisis keuangan dan ekonomi yang pencapain suatu masyarakat adil makmur bagi seluruh parah dan berkepanjangan, dimana ribuan perusahaan rakyat Indonesia. Sejalan dengan itu, Undang-undang dan pabrik bangkrut dan jutaan pekerja putus kerja, Nomor 11, tahun 2009, tentang Kesejahteraan Sosial diikuti ledakan kemiskinan dan pengangguran, disusul yang sekarang berlaku yang ternyata bukan saja sektoral, oleh kerusuhan sosial dan politik, dan diakhiri dengan tetapi juga sangat sempit hanya mengatur tugas dan jatuhnya pemerintahan. Negara dan seluruh rakyat fungsi Kementerian Sosial, sedangkan tugas dan fungsi Indonesia harus membayar harga yang sangat mahal penyelenggaraan kesjahteraan sosial tersebar di banyak untuk krisis tersebut sementara resep dan pendiktean kementerian, oleh krenanya perlu diganti. Pada waktu IMF tidak berguna, bahkan menyebabkan Indonesia yang sama, kondisi ekonomi, sosial dan politik global makin jauh terpuruk dalam krisis multi dimensi. dewasa ini diwarnai oleh perang, konflik terorisme, Situasi digambarkan menunjukkan betapa rapuh pengungsi missal, perdagangan dan penyalahgunaan dan rentannya perekonomian Indonesia dibawah narkoba dan manusia, munculnya penyakit-penyakit baru pengaruh kapitalisme global dan neo-liberalisme yang belum ditemukan pencegah atau obatnya, dan yang telah nyata-nyata menyimpang dari ideologi kesengsaraan ummat manusia lainnya yang semuanya

32

Edisi 49 / Desember / 2013

warta sosial


INFO merusak kehidupan manusia dan kesejahteraan 2.1.2. Mendesak untuk melakukan peninjauan ulang manusia sehingga perlu segera diakhiri, jika “Semua atas perundang-undangan yang ada tentang dan manusia dilahirkan bebas dan sama dalam martabat yang berkaitan dengan kesejahteraan sosial serta serta hak-hak”; “Setiap orang mempunyai hak untuk merumuskan ulang perundang-undangan baru hidup, kebebasan, keamanan manusia.”; “Setiap orang yang lebih terpadu dan komprehensif mengarah mempunyai hak akan baku mutu kehidupan yang dan memusat kepada tujuan perwujudan layak untuk kesehatan dan kesejahteraan bagi diri masyarakat Indonesia yang adil dan makmur dan keluarganya, termasuk makanan, papan, rumah, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. perawatan kesehatan serta pelayanan sosial dan hak 2.1.3. Mendesak untuk mengganti UU Nomor 11, akan perlindungan dalam pekerjaan, dalam kejadian tahun 2009, tentang Kesejahteraan Sosial dengan sakit, kecacatan, menjadi janda, berusia lanjut, atau suatu undang-undang yang lebih komperehensif tidak mempunyi kehidupan diluar kemampuannya” mencakup tugas dan fungsi banyak kementerian seperti dicantumkan dalam Pernyataan Umum Hak-hak bukan hanya tugas dan fungsi kementerian sosial. Asasi Manusia, (Pasal 1,3, dan 25-1) 2.1.4.Mendesak supaya merumskan kembali 1.6 Dalam hal IPM dan TPM, Indonesia masih tertinggal pengalokasian anggaran APBN dan APBD Propinsi dari sesama negara-negara berkembang anggota dan Kabupaten/Kota bagi program kesejahteaan ASEAN. sosial (termasuk penyediaan kebutuhan dasar: 1.7 Stabilitas dan kedamaian politik demikian pula kuatnya makanan, pakaian, perumahan, air bersih, dukungan dan komitmen politik yang kuat dari partaitransportasi umum, kesehatan, pendidikan, partai politik adalah sangat penting dan mendasar bagi lapangan kerja, pemeliharaan pendapatan, pencapaian tujuan nasional, masyarakat Indonesia dan jaminan sosial), sehingga masing-masing yang adil sejahtera dan berkeadilan sosial bagi seluruh mendapat alokasi anggaran yang proporsional rakyat Indonesia seperti tercantum dalam Pasal-pasal dan tepat, demikian pula supaya terkoordinasi 27, 33 dan 34 Undang-undang Dasar 1945. sehingga tidak terjadi kekosongan dan tumpang 1.8 Sebagian besar dari perusahaan (negara, swasta tindih. nasional, asing dan multi nasional) yang berurusan 2.1.5. Mendesak supaya pemerintah dan DPR dengan sumber daya alam belum menunjukkan memberikan perhatian kepada penyediaan pengetahuan dan pemahaman, kepedulian serta anggaran bagi organisai-organisasi masyarakat perhatiannya yang memadai terhadap tanggung sipil yang bergerak di bidang kesejahteraan jawab sosial dan lingkungan digariskan dalam Undangsosial dan pelayanan sosial sukarela bagi warga undang Nomor 40, tahun 2007, tentang Perseroan masyarakat yang tidak beruntung. Terbatas. Oleh karenanya baru sedikit diantara mereka 2.1.6. Mendesak untuk melakukan daya upaya untuk yang memenuhi kewajibannya. Selain itu, nampaknya mempercepat pencapaian target-target Undang-undang Nomor 40, tersebut perlu diubah, Pembangunan Manusia (IPM) dan tujuan sehingga mencakup bukan hanya perusahaan yang pembangunan milenium ( TPM), sehingga berurusan dengan sumber daya melainkan tetapi juga Indonesia tidak tercecer jauh oleh Negara-negara perusahaan dan pabrik yang menimbulkan polusi berkembang lainnya sesama anggota ASEAN. udara, air, tanah, dan kebisingan supaya diwajibkan 2.1.7. Mendesak untuk mengubah Pasal 74, Undangmelaksanakan kewajiban tanggung jawab sosialnya. undang Nomor 40, Tahun 2007, tentang 1.9 Terkendala oleh lemahnya organisasi, adminisitrasi Perseroan Terbatas, sehingga CSR mencakup dan manegemen, tiadanya sumber dana yang bukan hanya perusahaan yang berurusan dengan ajeg dan memadai, serta tidak tersedianya tenaga sumber daya, tetapi juga perusahaan dan professional, organisasi-organisasi masyarakat sipil pabrik yang menimbulkan polusi udara, air, yang bergerak di bidang kegiatan kesejahteraan sosial tanah, kebisingan, dan radiasi, serta melakukan dan pelayanan sosial sukarela bagi warga masyarakat pengawasan ketat atas pelaksanaannya.. tidak beruntung, belum dapat menunjukkan 2.1.8. Mendesak supaya mengembangkan, mendorong kinerjanya yang professional (efektif, akuntabel dan dan memperkuat partisipasi organsasi-organisasi tanggap) dan belum dapat memberikan sumbangan masyarakat sipil dan keagamaan dalam berbagai bermakna terhadap pencapaian tujuan nasional. kegiatan pembangunan sosial, kesejahteraan sosial, dan pelayanan sosial serta pembinaan 2 Rekomendasi: usaha kecil sukarela bagi warga masyarakat yang 2.1. Kepada pemerintah pusat (Presiden RI dan DPR-RI): tidak beruntung. 2.1.1. Mendesak untuk memulihkan judul Bab XIV UUD 2.1.9. Mendesak supaya memastikan beroperasinya 1945, dari judul menurut Perubahan Keempat secara penuh dan berkelanjutan SJSN demi Tahun 2002,”Perekonomian Nasional dan perwujudan masyarakat Indonesia yang adil dan Kesejahteraan Sosial” kepada judul aslinya, yaitu makmur. “Kesejahteraan Sosial, supaya tidak memberikan kesan dan dapat ditafsirkan bahwa perekonomian dan kesejahteraan sosial merupakan dua entitas yang terpisah.

Edisi 49 / Desember / 2013

warta sosial

33


INFO

2.2. Kepada pemerintah dan DPRD Propinsi , Kabupaten/Kota: 2.2.1. Memastikan perhatian yang memadai dan alokasi anggaran yang proporsional bagi programprogram pembangunan sosial, kesejahteraan sosial, dan pelayanan sosial di daerahnya masing-masing dalam mewujudkan masyarakat adil dan sejahtera. 2.2.2. Mensosialisasikan secara luas dan mengawasinya dengan ketat pelaksanaan CSR oleh perusahaanperusahaan didaerah masing-masing oleh perusahaan -perusahaan ybs. 2.2.3. Mengembangkan dan mefasilitasi partisipasi masyarakat lokal, dan organisasi-organisasi masyarakat sipil dan keagamaan dalam kegiatan pemba ngunan sosial, kesejahteraan sosial dna pelayanan sosial, bagi warga yang kurang beruntung. 2.3. Kepada para Ketua Umum dan elit partai politik: 2.3.1. Menyumbang kepada penciptaan dan pemantapan stabilitas dna kedamaian politik nasional, serta menahan diri dari turut menciptakan kegaduhan dan konflik politik. Supaya peduli dan konsen lebih besar tentang pencapaian tujuan nasional dari pada memusatkan perhatian kepada pemenuhan tujuan dekat dna pragmatic partai politik sendiri. 2.3.2.Menunjukkan dan memberikan dukungan dan komitmen politik yang kuat kepada perumusan ulang dan pelaksanaan perundnag-undnagan, kebijakan program serta alokasi anggaran, guna perwujudan tujuan nasional, termasuk pencapaian IPM dan TPM,pemberantasan kemiskinan, pembangunan pro-rakyat, dan perawatan bagi warga masyarakat tidak beruntung. 2.4. Kepada para pemilik dan CEO perusahaan: 2.4.1.Meningkatkan pengetahuan, pemahaman, kesadaran dan ketaatan kepada kewajiban CSR tercantum dalam Pasal 74, Undnag-undnag Nomor 40, Tahun 2007, tentang Perseroan Terbatas. 2.4.2. Memberikan perhatian, kepentingan serta menyediakan pelayanan kesejahte raan bagi karyawan sendiri dan keluarganya, dan memberikan dukungan financial dan material bagi kegiatan kesejahteraan social bagi warga masyarakat di lingkungannya. 2.5. K epada organisasi-organisasi masyarakat sipil dna keagamaan yang bergerak di bidang pembangunan social, kesejahteraan social dan pelayanan sosial: 2.5.1.Memperbaiki dan memperkuat komitmen dan kepedulian kepada pembang unan sosial, kesejahteraan sosial, dan pelayanan sosial bagi warga yang tidak beruntung; peningkatan kapasitas, kompetensi, efektifitas dan profesionalitas pelayanan. 2.5.2. Memperbaiki dan membina komunikasi, koordinasi, kerjasama, advokasi, serta jejaring kemitraan dengan sesama lembaga pelayanan, penelitian, pendidikan (pemerintah, nir-pemerintah dan keagamaan) terkait, guna men dorong pertukaran pengetahan, pengalaman dan praktik terbaik

34

Edisi 49 / Desember / 2013

warta sosial

2.6. Kepada PBB dan badan-badan internasional terkaitnya: 2.6.1. DNIKS mendukung restrukturisasi organisasi PBB sehingga lebh mewakili dan lebih efektif untuk menangani permasalahan dunia yangmengancam dan menimbulkan dampak buruk terhadap kehidupan manusia, kemanusiaan, hak asasi manusia, dan kesejahteraan manusia, seperti: perang, ketegangan dan konflik social,politik, rasial, agama, yang menimbulkan kerugian materi yang tak ternilai, ketakutan, korban jiwa dan luka di banyak bagian dunia; perekonomian dunia yang tidak pasti dan rapuh yang pada gilirannya menye babkan meraknya kemiskinan, penagngguran, dan makin lebarnya kesenjang an sosial ekonomi diantara negara-negara, kelompok, dan individu kaya dan miskin. 2.6.2 DNIKS mengimbau PBB dan badanbadan internasional terkaitnya supaya memberikan perhatian yang lebih besar kepada pnanggulangan permasalah an social konvensional (kemiskinan massal, kecacatan, keterlantaran, lanjut usa, bencana, kelaparan dan ketuna-wismaan, kekumuhan dan), serta permasalahan sosial baru(termasuk perdagangan gelap dan penyalahgunaan narkoba dan manusia, penyalahgunaan anak dan perempuan, ekerja migrant, kekrasan dalam rumah tangga, terorisme, pengungsi, orang-orang encari suaka, dll) yang semuanya menimbulkan pendeitaan ummat manusia dan merusak kesejahteraan ummat manusia. 2.7. Kepada organisasi-organisasi internasional dibidang kesejahteraan sosial, karya sosial dan pendidikan karya sosial dan cabangcabang regional mereka: 2.7.1. DNIKS mengimbau ICSW, IFSW, dan IAASW untuk memperkuat komuni kasi, konsultasi, dan kerjasama dengan serta memberikan sumbangan kepada PBB dan badan-badan internasionalnya yang terkait dalam upaya kesejah teraan sosial dan pembangunan sosial guna menanggulangi permasalahan sosial dunia. 2.7.2.Supaya mengembangkan komunikasi, jejaring, dan kerjasama dengan organisasiorganisasi pemerintah internasional yang peduli terhadap permasa lahan manusia dan permasalahan sosial, dan memasilitasi organisasi-organi sasi anggota untuk berbagi dan bertukar praktik terbaik dan pelajaran yang dipelajari dibidang kesejahteraan sosial, karya sosial, dan pendidikan karya sosial.


info kesehatan

SAMBILOTO SI PAHIT BERKHASIAT SELANGIT Pemanfaatan sambiloto di Indonesia. Ironisnya, di Indonesia sendiri, sambiloto baru dikenal secara terbatas di kalangan orang orang yang biasa mengkonsumsi jamu. Melihat khasiatnya, tentu lebih baik jika kita kembali ke alam dengan mengkonsumsi tanaman obat sambiloto, dibandingkan dengan mengkonsumsi antibiotik yang memiliki efek samping kurang baik dan harganya yang relatif mahal. Dan jika negara-negara maju seperti Skandinavia, Jepang, Cina sudah menggunakan sambiloto, tentunya tidak ada alasan lagi mengapa kita sebagai negara penghasil sambiloto tidak mengkonsumsinya? Sambiloto banyak mengandung senyawa Andrographolide, yang merupakan senyawa lakton diterpenoid bisiklik. Senyawa kimia yang rasanya pahit ini pertama kali diisolasi oleh Gorter pada tahun1911. Daun Sambiloto

Bagian yang biasa digunakan untuk obat tradisional adalah daunnya yang rasanya sangat pahit. Sebenarnya selain daunnya, batang, bunga dan bagian akar juga bermanfaat obat. Sambiloto merupakan herbal yang mempunyai efek anti-infeksi/ anti radang paling baik diantara tanaman obat lainnya. Penyakit-penyakit infeksi terutama infeksi pada jaringan mucus atau lendir, seperti infeksi tenggorokan penyebab influenza, infeksi saluran kemih,keputihan pada wanita maupun infeksi pada koreng, bisa diobati dengan sambiloto dalam bentuk rebusan daun kering, sambiloto dosis sebesar 5 gr, yang direbus bersama air 2 gelas sampai sisa 1 gelas untuk satu hari (diminum 3 x 1/3 gelas). Jika menggunakan daun segar, dosisnya adalah sekitar 30 lembar daun dengan cara yang sama seperti merebus daun kering. Dalam bentuk ekstrak, mengkonsumsi sampai dengan 1500 mg per hari masih dianggap aman. “Berdasarkan pengalaman saya, sambiloto dalam bentuk ekstrak ternyata terbukti lebih efektif mengatasi berbagai penyakit radang/infeksi” penggunaan sambiloto untuk meredakan kencing manis, juga harus disertai dengan diet rendah karbohidrat dan gula. “Kalau cuma rajin mengkonsumsi sambiloto tapi makan tetap seenaknya, ya berbahaya”. “Di padukan dengan herbal lain seperti temulawak, sambiloto jadi lebih efektif untuk mengobati penyakit saluran pernafasan bagian atas (ISPA). Sambiloto juga berfungsi sebagai imuno stimulator, dan obat herbal untuk penderita diabetes melitus, juga sebagai perangsang nafsu makan pada anak-anak”

Andrographolide memiliki sifat melindungi hati (hepatoprotektif ), dan terbukti mampu melindungi hati dari efek negatif galaktosamin dan parasetamol. Khasiat ini berkaitan erat dengan aktifitas enzim-enzim metabolik tertentu. Andrographolide juga memiliki khasiat meningkatkan kekebalan tubuh, dengan cara meningkatkan pembelahan limfosit dan produksi interleukin-2. Khasiat sitotoksik limfosit ditingkatkan oleh Andrographolide, yang membuatnya memiliki khasiat tidak langsung terhadap penghambatan sel kanker. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa di dalam daun sambiloto terdapat senyawa kimia Andrographolide yang mampu melindungi hati, melawan k anker, serta meningkatkan kekebalan tubuh. Nampaknya Andrographolide ini berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai obat. Banyak sekali manfaat dari daun sambiloto ini, diantaranya adalah untuk mengobati penyakit diabetes atau kencing manis, tifus, dan ada juga yang mengatakan daun sambiloto juga bisa untuk penyakit gatal-gatal dan mencegah kanker, mungkin karena rasa pahit yang khas dari daun ini. Namun yang sudah banyak digunakan dan diakui khasiat dari daun ini adalah untuk mencegah malaria karena itu daun ini disebut juga obat anti malaria. Selain itu ternyata daun ini juga bermanfaat untuk menjaga daya tahan tubuh atau stamina. Mungkin karena itulah daun ini banyak digunakan untuk bahan jamu godokan. Untuk tifus biasanya daun sambiloto ditambah dengan kunyit dan temulawak kemudian digodok dan air rebususannya diminumkan 3x sehari sampai yang menderita tifus sembuh. Sedangkan untuk diabetes lebih baik daun sambiloto itu dimakan atau dikunyah langsung dalam keadaan masih segar. (dr. Arijanto jososewoyo. Sp.PD. FINASIM)

Edisi 49 / Desember / 2013

warta sosial

35


36 36

Edisi 49 46 / Desember Juni / 2012/ 2013

warta sosial


KRONIK

EdisiEdisi 49 /46 Desember / 2013 / Juni / 2012

warta sosial

37


38

Edisi 49 46 / Desember Juni / 2012/ 2013

warta sosial


Edisi 46 / Juni / 2012

warta sosial

39


ALAMAT KANTOR - Kantor Pusat         : Ruko Graha Niaga Citra Blok 6-7 Lt 2 Jl. Raya Surabaya- Krian KM 29 Sidoarjo Telp. 031- 8978604 – 031-8978605 - Cabang Krian          : Ruko Graha Niaga Citra Blok 6-7 Lt1 Jl. Raya Surabaya-Krian KM 29 Sidoarjo Telp. 031- 8978604 – 031-8978605 - Cabang Sepanjang : Jl. Bebekan No.21 Sepanjang Telp. 031-7871461 - Cabang Candi         : Jl. Raya Candi No.39 Sidoarjo Telp 031-8072282

PRODUK SIMPANAN 1. Prinsip Titipan (Al-Wadi’ah) • Tabungan Wadi’ah Haji. • Tabungan Wadi’ah Qurban. • Tabungan Wadi’ah Inshada. • Tabungan Wadi’ah Qordhiyu

- Cabang Ampel      : Jl. KH Mas Mansyur No. 143 Surabaya Telp. 031-3539404, 031-3576174 - Cabang Mojokerto : Pasar Tanjung Anom Blok TG-12 Jl. Residen Pamudji- Mojokerto Telp. 0321-381557 - Cabang Mojosari     : Ruko Graha Adipura, Jl. Gajahmada G-5 Mojosari Telp 0321-596592 - Kas Wonokromo   : Stand LDKA N0.1-2 Pasar Wonokromo Surabaya Telp. 031- 8410678

PRODUK PEMBIAYAAN 1. Prinsip Bagi Hasil (Syirkah) • Pembiayaan Mudharabah • Pembiayaan Musyarakat

2. Prinsip Bagi Hasil (Syirkah) • Tabungan Mudharabah Umum • Tabungan Mudharabah Pelajar • Deposito Mudharabah jangka 1, 3, 6 dan 12 bulan • Deposito Mudharabah Muqayadah • Saham

2. Prinsip Jual Beli (Al-Bai’) • Pembiayaan Murabahah • Pembiayaan Istishna’ 3. Prinsip Sewa (Al-Ujrah) • Pembiayaan Ijarah Murni • Pembiayaan Ijarah Muntahiyyah Bit Tamlik 4. Prinsip Alih Hutang (Al-Hawalah) 5. Prinsip Pinjaman (Al-Qordh)

Situs : www.bprsyariah.com

Edisi 46 / Juni / 2012

warta sosial

1


Warta sosial edisi 49 desember 2013