Issuu on Google+

Terbit Dwi Mingguan

SENIN 11 Juni 2012 2012/VI/XII Rp 5000

DUA ABAD RADEN SALEH

FESTIVAL PALANG PINTU VII

SEMARAK HUT DKI JAKARTA bingkai utama - hal.2

SHAVE FOR HOPE

“AKSI SOSIAL adegan - hal.3 MENYUMBANGKAN RAMBUT”

lakon - hal.4

dalang - hal.8

AYU UTAMI

“ANTARA SASTRA DAN AGAMA”

B I N G K A I

www.bingkai.com

POLEMIK TAMAN ISMAIL MARZUKI P

usat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM) kini memiliki pemimpin baru atau Kepala Badan Pengelola, yakni Bambang Subekti menggantikan Teguh Widodo berdasarkan SK Gubernur Nomor 1841/2011 tertanggal 20 Desember 2011. Dengan terpilihnya pimpinan baru PKJ-TIM, muncul harapan dari kalangan seniman akan perubahan dalam pengelolaan pusat kebudayaan di Jakarta.

Taman Ismail Marzuki sebagai salah satu pusat kesenian dan kebudayaan di Jakarta dikelola oleh Pemda Jakarta di bawah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Pengelolaan Pusat Kesenian Jakarta TIM di bawah Pemerintah Daerah sempat menimbulkan banyak polemik, mulai dari pertanyaan akan perlunya Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) hingga esensi sejati pusat kebudayaan yang seharusnya dikelola oleh seniman, bukannya oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Keprihatinan ini muncul dari kalangan seniman, yang merasa bahwa seniman-seniman sekarang tidak mendapatkan tempat berkreasi selayaknya dulu di PKJ-TIM. Hal ini dilontarkan oleh beberapa seniman kepada Bambang Subekti sebagai pimpinan baru PKJ-TIM. Bambang Subekti sendiri menjanjikan perubahan, seperti perencanaan merenovasi Gedung Arsip Jakarta menjadi museum seni. “Kita juga akan meminta sponsor agar Galeri Cipta II yang berada di depan dibuat lebih bagus dan lebih luas lagi. Jadi kita akan fasilitasi seniman agar tidak lagi nongkrong di warung-warung nantinya,” kata Bambang. Pengelolaan TIM sebagai pusat kesenian dan kebudayaan seharusnya diberikan kepada kalangan seniman, bukan kepada Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta – itu yang sering menjadi kritik para seniman dan budayawan. Hal ini diperlukan karena dengan dikelolanya pusat kesenian kebudayaan oleh pemerintah, maka akan terjadi kecenderungan profit/ keuntungan. Pusat kesenian dan kebudayaan dikuatirkan menjadi semakin komersil, itulah yang sempat menjadi perbincangan di kalangan para seniman. Bahkan bagi seniman yang menganggap TIM sebagai “markas”nya, ada pemberlakuan biaya sewa yang cukup besar. “Kepala BP PKJ-TIM yang baru harus berpihak kepada seniman. Harus memiliki wakil-wakil dari kalangan seniman dalam menjalankan tugasnya. Apa yang terjadi sekarang ini dengan PKJ-TIM yang dianggap tidak jalan, itu karena Pemda DKI Ja-

karta tidak percaya pada seniman,” ucap seniman Sukaharjana. “Pada awalnya, TIM adalah fasilitator para seniman, namun sekarang tidak lagi. Seniman tempatnya di warungwarung dan merasa tidak punya tempat di TIM. Selama ini seniman tidak pernah diajak bicara oleh Badan Pengelola PKJTIM. Padahal keberadaan mereka sangat penting. Seniman senior maupun seniman baru perlu diajak kembali untuk berkarya di TIM,” demikian ungkap seorang seniman di TIM. Tak hanya itu, kekuatiran juga muncul dalam bentuk kondisi tumpang tindih antara PKJ-TIM sebagai penyelenggara programprogram kesenian dan kebudayaan, serta DKJ sebagai pencetus atau penggagas programprogram tersebut. Akhirakhir ini terjadi tumpang tindih kekuasaan, karena keduanya berperan sebagai pencetusdanpenyelenggarapula (Agnes Theodora)

PERKEMBANGAN SENI DAN BUDAYA?

KLIK AJA:

WWW.BINGKAI.COM


bingkai utama

B I N G K A I Senin, 11 Juni 2012

Festival Palang Pintu VII atau Festival Kemang yang diselenggarakan oleh FORKABI pada 9-10 Juni 2012 telah menjadi acara wajib tahunan dalam memperingati HUT DKI Jakarta. Bertempat di Jalan Raya Kemang, Jakarta Selatan, acara ini setiap tahunnya selalu mendapat sambutan baik dari masyarakat. Foto: Jodi Haryo D.

FESTIVAL PALANG PINTU VII

SEMARAK HUT DKI JAKARTA JAKARTA, BINGKAI - Festival Palang Pintu kini menjadi acara tahunan yang diadakan di sepanjang Jalan Kemang Raya, Jakarta Selatan. Tahun ini festival yang berkonsep pesta rakyat ini kembali diadakan mulai Sabtu (9/6) hingga Minggu (10/6). Kegiatan yang yang

digelar untuk ketujuh kalinya ini digelar dan dibuka oleh Walikota Jakarta Selatan Anas Efendi, mewakili Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, pada Sabtu (9/6) pukul 10.30 WIB. Dalam sambutannya, Anas menyatakan Festival Palang Pintu ditujukan untuk menggelar dan me-

lestarikan seni budaya Betawi. Seluruh warga Jakarta tak terkecuali dari etnis dan suku manapun diharapkan datang dan meramaikan festival yang menutup ruas Jalan Kemang Raya dari mulai sekitar Restoran Pizza Hut hingga lampu merah tak jauh dari Pendopo Kemang.

Partisipasi dari rakyat sekitar ternyata tidak hanya dari warga DKI Jakarta, tetapi juga para warga asing, baik yang menetap di DKI Jakarta maupun yang sedang berlibur di Jakarta juga datang ke acara yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Ulang Tahun ke-485 DKI Jakarta. Anas menambahkan mengenai pentingnya pelestarian budaya asli Jakarta agar tak tergerus zaman. Sesuai dengan tema ulang tahun Jakarta kali ini Majulah Jakartaku, Festival Palang Pintu yang rutin diadakan dari tahun ke tahun harus mampu berperan sebagai ajang aktualisasi para seniman kelahiran tanah Betawi. Selain acara budaya, digelar juga bazar yang terlihat meramaikan ruas jalan yang ditutup tersebut. Jejeran stan bazar seperti stan makanan, stan pakaian hingga aksesoris dan sepatu terlihat ramai dikunjungi warga karena menawarkan berbagai produk dengan harga istimewa. “Selain bazar ada juga pertunjukkan kembang api, lombalomba tari dari anak TK-SD, lomba pencak silat, pertunjukkan lenong, dan penampilan dari artis-artis seperti Naff. Acara di sini tidak hanya di satu panggung utama, di bela-

2

kang sana juga ada satu panggung lagi, jadi benar-benar ramai dan banyak acaranya,” ucap Rahman anggota Forkabi Kemang sekaligus panitia Festival Palang Pintu VII. Rasyid (27), mengaku senang dengan diadakannya acara seperti ini. Sudah dua kali sejak tahun lalu ia mendatangi festival yang tidak jauh dari rumahnya. Baginya festival seperti ini dapat menjadi warisan budaya yang patut dilestarikan ke depannya untuk generasi berikutnya. “Harga barang-barangnya juga relatif terjangkau. Selain itu di sini juga terdapat banyak barang-barang yang jarang kita temukan dan unik-unik,” ungkap pria berkacamata ini. Dengan kemasan acara yang dapat merangkul berbagai kalangan, secara tersirat festival ini memberikan banyak nilai budaya yang dapat ditanamkan dan diharapkan dapat terus bertumbuh di masyarakat. Pengenalan akan budaya tidak hanya melalui bangku sekolah. Dengan keikutsertaan pada festival ini , selain mendapatkan hiburan, pengetahuan dan wawasan juga akan bertambah dengan menyaksikan berbagai pertunjukkan yang ada. (Andika Pranata)

MENSASTRAKAN KEBANGKITAN AFTERMATH, ADA PESAN DALAM FOTO

JAKARTA, BINGKAI - Terkadang mungkin gambar lebih banyak berbicara daripada kata. Berbagai foto yang disuguhkan oleh Kemal Jufri menjadi bukti nyata kalimat tersebut. Berbagai foto pasca terjadinya bencana alam mulai dari Tsunami di Aceh, Merapi di Jogjakarta hingga lumpur di Sidoarjo -- disajikan dalam berbagai komposisi gambar. Itulah pameran tunggal fotografer Kemal Jufri yang berjudul "AFTERMATH" di galeri komunitas Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (16/5). Aftermath berarti situasi setelah bencana menampilkan foto-foto kejadian yang menyisakan perih dalam benak korban-korbannya. Pameran yang berlangsung tanggal 16-29 Mei 2012 terse-

but menarik hati para penikmat foto jurnalistik hingga masyarakat biasa. Gambar-gambar tragis yang diperlihatkan seperti membawa hadirin dalam peristiwa yang sebenarnya terjadi sesaat setelah bencana. Bagi Kemal Jufri, diadakannya pameran tersebut akan menjadi pembelajaran bagi masyarakat agar waspada terhadap kekuatan alam. Foto-foto yang ditampilkan Kemal sangat kuat akan pesan dan filosofi. Salah satunya adalah foto seekor gajah yang sedang me-

narik sebuah mobil yang terpendam dalam puing-puing reruntuhan yang disebabkan oleh tsunami, di Aceh, tahun 2006 lalu. Gajah yang ditunggangi oleh salah satu masyarakat tersebut menampilkan ekspresi lelah dan sakit ketika menarik sebuah mobil tersebut dari reruntuhan. Terlihat kuat pesan yang di dapat dalam foto ini, bagaimana manusia sangat membutuhkan kekuatan alam untuk berdamping hidup bersama. Atau sebuah gambar yang menampilkan seorang bapak tua di tengah reruntuhan tsunami, tengah memangku anaknya dengan dengan tatapan kosong. Anak yang di pangku terlihat gembira, tanpa mengetahui bahwa saudaranya baru saja meninggal dan bahwa hal itulah yang menyebabkan ayahnya tampak berpandangan kosong. Tujuan dari diadakannya pameran ini sebenarnya adalah untuk menyosialisasikan sebuah buku mengenai Aftermath. Buku yang direncanakan akan terbit akhir Juli ini akan di terbitkan dalam bahasa Inggris. Sementara, hasil dari penjualan buku tersebut akan disumbangkan untuk membantu masyarakat yang menjadi korban dalam bencana tersebut. “Kenapa menggunakan bahasa Inggris? Agar semua orang dapat mengerti. Kan, kalau bahasa Indonesia hanya masyarakat kita saja yang tahu,” tutup Kemal. (Jodi Haryo D.)

CD album secara eksklusif untuk dimiliki pembeli majalah tersebut. Sedangkan melalui website, ada juga yang memberlakukan pembayaran untuk mengunduh lagu-lagu. Hal yang cukup menjadi sorotan belakangan ini adalah dengan bekerjasamanya musisi dengan gerai fast food yang sangat terkenal di Indonesia yakni, Kentucky Fried Chicken atau KFC. Awalnya penjualan melalui gerai KFC hanya dilakukan oleh beberapa artis baru yang ingin mempromosikan albumnya. Cara ini sedikit banyak dapat mendom-

pleng nama musisi yang baru tersebut dikenal di masyarakat. Penyanyi dan band baru yang promosi melalui KFC diawali oleh Indah Dewi Pertiwi dan Julliette. Namun, sekarang musisi besar yang namanya sudah terkenal di seluruh Indonesia seperti, Rossa dan Slank pun kini menggunakan cara serupa. Penjualan CD fisik hasil karya mereka ternyata laku keras setelah dibantu dijual melalui gerai-gerai KFC. Menurut pengamat musik Bens Leo, saat ini 70% CD laris dijual dari gerai KFC. Bahkan, Slank sangat bangga dan merasa sangat ber-

hasil berjualan CD melalui gerai KFC. Album Slank yang bertajuk “I Slank You” berhasil laku keras di pasaran sampai terjual menembus angka 500.000 keping dalam kurun waktu 50 hari. “Selama ini kami tidak punya tempat untuk berjualan (album). Dengan bergabung di KFC, kami bisa menjual karya kami hingga ke ujung Papua, ujung Aceh. Karena selama ini banyak Slankers mengeluh sulit mencari album Slank dan akhirnya beli yang bajakan,” ucap Bimbim, drummer band Slank. (Dimas Gityandraputra)

Penampilan budayawan senior di pertunjukan kesenian Nuansa Tradisi Menembus Globalisasi dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional di Taman Ismail Marzuki, Sabtu Foto: Dimas Gityandraputra 19 Mei 2012. JAKARTA, BINGKAI - Sastrawan dan budayawan senior dari berbagai daerah, mempertunjukkan berbagai macam bentuk kesenian dalam acara Nuansa Tradisi Menembus Globalisasi Pertunjukkan Seni Sastra Bambang Oeban, di Taman Ismail Marzuki, Sabtu (19/5). Pentas ini ditujukan untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada tanggal 20 Mei. Para pementas yang hadir diantaranya adalah Sutardji Calzoum Bachri, Bambang Oeban, Hari Leo, Arieyoko, Jose Rizal Manua, Edi Salemba, Hadi Sudibyo, dan masih banyak lagi. Adapun jenis kesenian yang ditampilkan antara lain, pembacaan puisi, teater, musikalisasi puisi, dramatisasi puisi, pertunjukkan musik, dan lain sebagainya. Para seniman tersebut ada yang tampil sendiri, adapula yang menunjukkan karya secara berkelompok. Acara dimulai pada pukul 8 malam. Pembacaan ayat AlQur’an menjadi pembuka. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,

Marie Elka Pangestu, turut hadir memberi apresiasi bagi sastrawan dan budayawan Indonesia. Secara terus terang Marie mengatakan bahwa acara seperti ini patut dilestarikan dan ia juga mendoakan agar acara ini dapat terselenggara lagi pada tahun berikutnya karena baik bagi kelestarian budaya bangsa. Berbagai pagelaran yang dipentaskan merupakan kombinasi antara satu seni dengan seni lainnya yang dikemas dengan apik dan penuh dengan kesenian yang elok. Seperti salah satu pertunjukkan yang menggabungkan antara pembacaan puisi dan tarian khas Indonesia. Sutardji Calzoum Bachri juga menampilkan pembacaan puisi “Tanah Air Mata” sambil bermain harmonika dan mengundang decak kagum dari penonton. Aksi para sastrawan itu banyak yang menyindir praktek korupsi yang kerap terjadi di negeri ini dan juga ketidakseriusan pemerintah dalam memimpin masyarakat. (Dimas Gityandraputra)

KFC, PENYELAMAT KARYA MUSISI BANGSA JAKARTA, BINGKAI - Pembajakan saat ini sedang memborbardir musisi di Indonesia. Para pekerja seni musik seakan hancur karena sangat sulit menjual karya mereka dalam bentuk fisik Compact Disc (CD). Penjualan CD saat ini sudah tidak bisa dikatakan sebagai sumber penghasilan utama musisi di Indonesia. Masyarakat lebih sering menikmati karya-karya mereka dengan tanpa mengluarkan uang sepeser pun. Hanya dengan men-download

dari internet, maka jenis lagu apapun dapat diperoleh dengan mudah. Hal ini tidak membuat para musisi berkecil hati. Fenomena ini justru menambah dan menantang kretifitas mereka dalam mendistribusikan karya-karya mereka. sebagai contoh, para musisi bekerja sama dengan provider telepon genggam dengan menjual hasil musik mereka melalui RBT (Ring Back Tone). Ada juga yang bekerja sama dengan majalah dan mengeluarkan

Foto: Jodi Haryo D.

Pameran foto Aftermath merupakan pameran foto tunggal Kemal Jufri, digelar di Salihara dari tanggal 16-29 Mei 2012. Pameran ini menampilkan kondisi beberapa tempat yang sempat dilanda bencana beberapa waktu lalu.

“Hal-hal yang terjadi setelah bencana melanda itu dinamakan Aftermath” Kemal Jufri

adegan

B I N G K A I Senin, 11 Juni 2012

Foto: Agnes Theodora

Shave For Hope untuk pertama kalinya diadakan di Indonesia pada 27 Mei 2012 di Gandaria City, Jakarta. Kegiatan sosial ini berhasil mengumpulkan donasi 1.064 kepala untuk menyumbangkan rambutnya.

Shave For Hope

Aksi Sosial Menyumbangkan Rambut JAKARTA, BINGKAI - Asian Medical Students Association Indonesia (AMSA - INA) dan Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia Community of Children with Cancer (YPKAI-C3) mengadakan kegiatan sosial bernama ‘Shave For Hope’. Kegiatan ini dilangsungkan di Gandaria City, Minggu, 27 Mei 2012 mulai pukul 10.00 hingga selesai. Aksi sosial kini tidak hanya identik dengan donasi bentuk uang yang dapat disumbangkan. Gerakan sosial yang diprakasai YP-KAI memberikan cara lain untuk berpartisipasi membantu orang lain yang membutuhkan. Seperti yang kita tahu, banyak penderita kanker yang kerap merasa diasingkan atau mengalami tekanan secara psikologis.

apalagi anak-anak. Gerakan ini mengajak kita untuk lebih peduli lagi dan tidak mengasingkan mereka yang mengidap kanker. “Secara psikologis penderita kanker khusunya anak-anak butuh dukungan lebih. Apalagi dengan segala efek pengobatan dan kemoterapi yang berdampak pada fisik mereka, seperti kehilangan rambut. Dari sanalah muncul ide

acara Shave For Hope untuk menunjukkan kepedulian kita,” ucap salah satu panitia acara, Fauzi Thamrin. Cara berpartisipasi yang dapat dibilang unik ini ternyata mendapat perhatian besar dari masyarakat. Shavees pria dipotong nyaris botak atau sekitar 1-2 mm dan shavees wanita dipotong pendek sebahu bahkan ada pula beberapa wanita yang rela dipotong 1-2 mm. Segala media publikasi yang tersebar ternyata mampu menarik 1.064 kepala yang akhirnya ikut serta menyumbangkan rambutnya. “Saya tahu dari Twitter, begitu tahu saya langsung tertarik dan daftar karena emmang tujuan acara ini baik dan mulia,” tutur Ardi salah seorang shavees pria. Selama acara Shave for Hope, ada banyak acara menarik seperti hiburan dari Tompi, 21 First Night, Abdul and The Coffee Theory, dan lain-lain. Konsep hiburan dari band ini pun dibuat unik. Ada pengumpulan donasi juga dalam bentuk lelang lagu yang kemudian band tersebut akan membuat langsung lagunya di tempat sesuai permintaan dari peserta. “Ini adalah awal dari bentuk kepedulian kita, sebagian kecil yang dapat kita lakukan bagi mereka yang membutuhkan. Dengan adanya kegiatan ini harapan saya semoga saja ini dapat mencetus lebih lagi kepedulian kita terhadap masalah yang tidak seharusnya dipandang sebelah mata, karena ini merupakan tanggung jawab sosial bagi kita untuk membantu mereka,” tukas Tompi. (Andika Pranata)

disampaikan oleh Juli Sofyan, fotografer jurnalistik yang juga aktivis seni dan budaya di Taman Ismail Marzuki (TIM), melalui pameran fotojurnalistiknya, Jalan Tak Berujung, (20/5), di Galeri Cipta III TIM. Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional,

ANAK JOGJAKARTA MENGGUNCANG JAKARTA JAKARTA, BINGKAI - Lima orang anak muda Jogjakarta yang tergabung dalam Jogja Hip hop Foundation (JHF) mengguncang Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Jum’at dan Sabtu 27-28 April 2012. Konser JHF ini diberi tema Newyorkarto: Orang Jawa nge-rap di New York, sebagai apresiasi bagi mereka karena berhasil menjadi

perwakilan dari benua Asia untuk manggung di New York, kota kelahiran aliran musik Hip hop. Newyorkarto merupakan penggabungan dari kata New York, dan Jogjakarta. Newyorkarto merupakan konser pertama di Indonesia yang mengawinkan unsur musik hip hop dengan orkestra musik gamelan. Penggabungan kedua musik ini terlihat dari gamelan yang dil-

Sebuah Kritik Teatrikal Spontan

“anarkis” telah dipelintir sedemikian rupa oleh penguasa untuk menstigmasi serta mengontrol hal-hal yang berbau anarkis. Sebenarnya anarkis merupakan suatu paham yang egaliter dan equal, paham yang mencoba untuk menekankan pada persamaan, kebebasan dan kedamaian. Pentas yang diadakan oleh kelompok teater berkonsep “Antheatropologi” ini memiliki banyak relevansi dengan kondisi pemerintahan saat ini. Mulai dari permasalahan korupsi, penipuan, spionase, dan lain lain. Ada humor-humor spontan yang diselipkan dalam pementasan ini. “Tidak ada pretensi apaapa, kita coba ngalir aja. Setiap humor-humor yang menyindir pemerintahan tadi itu terjadi secara spontan, tidak ada di naskah.” Anarkis Itu Mati Kebetulan dikemas dalam sebuah drama komedi yang cerdas, sesuai dengan taglinenya “Sandiwara kocak berotak karya peraih Nobel Sastra 1997. Dario Fo”. Pentas ini bercerita tentang korupsi di badan polisi, yang alur ceritanya ditekankan pada peran seorang pria dengan gangguan mental yang menyusup dan menyamar ke kantor polisi sebagai seorang hakim investigasi, untuk membongkar dan menelanjangi permainan korupsi polisi serta membongkar kejadian di balik kematian Gioseppe Pinelli. (Agnes Theodora)

pameran yang berlangsung hingga 28/5 ini menampilkan kumpulan foto-foto demonstrasi hasil liputan Juli Sofyan sejak zaman pemerintahan Soeharto hingga SBY sekarang. Dalam Jalan Tak Berujung, Juli ingin menyodorkan kepada masyarakat realita pemerintahan Indonesia saat ini. Ia berpendapat bahwa sejak jaman Orde Lama pun, sebenarnya sudah ada demonstrasi dimana-mana, tapi jika diperhatikan, tingkat demonstrasi paling tinggi terjadi pada era pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono sekarang. Hal ini disebabkan oleh semakin meningginya kekecewaan dan ketidakpuasan masyarakat terhadap keadaan politik dan pemerintah. “Saya ambil 80% foto demonstrasi saya dari era SBY. Karena, kita tahu di era SBY ini, kalau dipukul rata, selalu ada demo. Sehari mungkin ada satu demo, meskipun kecil,” tukasnya.

Juli juga mengatakan bahwa pameran ini adalah ekspresi kegalauannya terhadap situasi negara yang semakin memprihatinkan. Bagi pria yang tidak menyukai politik dan tidak pernah memilih dalam pemilu, Juli ingin mengekspresikan kepeduliannya terhadap negara ini melalui cara yang lain, melalui kemampuan dan profesinya. “Ayo, bangkit lagi. Apa lagi yang harus kita perbuat ke depannya seperti apa. Saya punya semangat berjuang, bahwa ayo kita bangkit dengan cara kita masingmasing, saya dengan fotografi dan jurnalistik, yang lain bagaimana?” tukasnya dengan semangat. Ia juga mengakui bahwa pamerannya itu sedikit provokatif, dengan menyajikan foto-foto unjuk rasa yang mengkritik bahkan mencaci pemerintah. Foto-foto dengan wajah tokoh-tokoh politik yang dijadikan guyonan hingga kata-kata yang menyindir dan merendahkan pemerintah, semua fotofoto yang berbau provokatif ini ada untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya sebuah revolusi. Ada satu keunikan dalam

setiap pameran fotografi Juli Sofyan. Setiap foto-foto yang ia pajang tidak pernah diberi judul. “Setiap orang bebas menilai dan mau berkata apa saja dengan karya saya. Judulnya saya biarkan muncul dari pikiran masing-masing pengunjung. Apa yang terlintas di pikiran seseorang begitu melihat karya saya, ya itulah judulnya,” ujarnya menjelaskan keunikan tersebut. Ada beberapa foto dalam pameran ini yang ia jual dengan harga berbeda-beda. Beberapa foto telah berhasil terjual dengan harga yang cukup tinggi. Foto yang ia jual dengan harga tinggi adalah sebuah foto demonstrasi dari tahun ke tahun, sejak jaman pemerintahan Soeharto hingga pemerintahan SBY. Foto-foto tersebut ia gabungkan menjadi satu, menjadi sebuah potret sejarah demonstrasi Indonesia dari jaman ke jaman. Harapan Juli adalah melihat pigura berisi foto jurnalistik dipampang di ruang tamu orang-orang, di ruang makan orang-orang, dipajang layaknya foto-foto pemandangan lain di rumah masyarakat biasa. (Agnes Theodora)

etakan berdampingan dengan alat set DJ dan laptop yang modern. Dari balik layar banyak juga orang-orang hebat yang terlibat, seperti, Agus Noor, Djaduk Ferianto, Butet Kertaradjasa, Iwa K, Saykoji dan lain-lain. Acara bermula dengan masuknya pencetus JHF, Marzuki Mohamad yang dikenal pula dengan nama Kill the DJ dan Soimah Pancawati. Mereka berdua menyanyikan lagu Asmaradhana 88 yang liriknya diambil dari novel Indonesia, Serat Centhini. Aransemen dari lagu ini bernuansa gamelan

yang dimainkan oleh Kua Etnika, grup musik yang dipimpin Djaduk. Lagu kedua dan ketiga, Sembah Raga dibawakan Janu Prihatminanto alias Ki Ageng Gantas dan Lukman Haim atau Rajapati, anggota lain JHF. Lalu, Cintamu Sepahit Topi Miring dibawakan oleh Balance Perdana Putra dan Heri Wiyoso. Dalang Ki Catur Kuncoro yang ikut memeriahkan pertunjukkan mengenalkan anggota JHF dengan wayang dan banyolan yang menghibur para penonton. Butet Kertaradjasa juga turut meramai-

kan dengan lawakan segar khasnya. JHF juga membawakan lagu-lagu andalan mereka seperti, Ngelmu Pring, Rep Kedhep dan Jala-Julo Lollypop. Iwa K dan Saykoji membawakan lagu Bebas dan Online juga dengan aransemen unik. Sebagai penutup, lagu andalan JHF pun dibawakan, Jogja Istimewa. Harapan mereka mengadakan konser di Jakarta adalah ingin menghibur para penggemarnya yang tidak hanya berasal dari masyarakat Jogjakarta tapi juga seluruh masyarakat yang ada di Indonesia. (Dimas Gityandraputra)

PAMERAN FOTOJURNALISTIK JULI SOFYAN

JAKARTA, BINGKAI - Berbagai aspek kehidupan di Indonesia sedang sakit. Mulai dari masalah hukum, ekonomi, sosial budaya, lingkungan, hingga persatuan dan kesatuan. Bagaikan jalan tak berujung, kondisi ini perlu dilalui meskipun lelah. Kira-kira itulah pesan yang ingin

PERUBAHAN YANG SAKIT JAKARTA, BINGKAI – Sebuah pementasan teatrikal berjudul Anarkis Itu Mati Kebetulan ditampilkan pada 19-20 Mei 2012 di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Lakon ini ditampilkan oleh kelompok teater Republic of Performing Arts. Mengadaptasi karya Dario Fo, seorang peraih Nobel Sastra 1997, dengan judul asli Morte Accidentale Di Un Anarchio, dan diterjemahkan Antonia Soriente dan Prasetyo Hadi, lakon ini merupakan sebuah drama yang dibuat untuk menanggapi berbagai peristiwa yang berlangsung di Italia. Drama ini terinspirasi dari kematian seorang anarkis, Gioseppe Pinelli, teknisi PJKA kota Milan yang meninggal setelah diinterogasi selama beberapa hari oleh polisi terkait pemboman sebuah bank pertanian di Milan. Dugaan penyebab kematiannya ada dua, ia mati bunuh diri dengan loncat dari gedung, atau ia mati “dilemparkan” oleh polisi. Tentu polisi menyangkal dan mengatakan bahwa kematian Pinelli karena bunuh diri/scudetto. Namun, berdasarkan pemeriksaan hakim, kematian itu dinyatakan sebagai bukan bunuh diri. Sutradara pementasan, Amien Kamil mengatakan, “Pentas ini mencoba melihat sudut pandang lain tentang anarkis.” Pentas ini bertujuan untuk meluruskan mispersepsi mengenai arti anarkis. Amien Kamil mengatakan bahwa sejak Orde Baru, kata

MENITI JALAN TAK BERUJUNG

Foto: Agnes Theodora

3


lakon

B I N G K A I Senin, 11 Juni 2012

4

DUA ABAD RADEN SALEH

JAKARTA, BINGKAI - Hormatilah Tuhan dan Cintailah Manusia. Sepenggal kalimat tersebut pernah dilontarkan oleh seorang anak bangsa bernama lengkap Raden Saleh Sjarif Boestaman, atau yang lebih dikenal dengan nama Raden Saleh. Sebagai pelukis Indonesia pertama yang mengenyam pendidikan di Eropa, ia pernah bersinggah di berbagai negara hingga dikenal oleh keluarga kerajaan. Namanya bergaung di dunia internasional, seorang putra Jawa yang mengharumkan nama bangsa. Dunia mengenalnya sebagai salah satu pelukis beraliran romantisme, Indonesia mengenalnya sebagai Bapak Modernitas Jawa. Juni 2012 ini merupakan bulan bersejarah dalam dunia seni dan budaya, karena untuk pertama kalinya, lukisanlukisan karya Raden Saleh dikumpulkan dari berbagai tempat dan dipertunjukkan kepada publik Indonesia dalam sebuah pameran monografis. Pameran ini dinamakan Raden Saleh dan Awal Seni Lukis Modern Indonesia, diadakan sejak tanggal 3-17 Juni di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Dalam mempersiapkan pameran ini dibutuhkan waktu yang tidak cepat, terutama karena pihak Goethe-Institut sebagai penyelenggara harus mengumpulkan sekitar 40 lukisan cat minyak dan banyak sketsa karya Raden Saleh yang dipinjam dari berbagai tempat – seperti Istana Kepresidenan, Perpustakaan Nasional, Agung Rai Museum of Art di Bali, hingga dari beberapa kolektor pribadi. Pameran yang dikuratori oleh Dr. Werner Kraus dari Centre for Southeast Asian Art, Passau, ini diadakan oleh Goethe-Institut Indonesia, dan berkolaborasi dengan Galeri Nasional Indonesia serta Kedutaaan Jerman di Jakarta. “Raden Saleh ini bisa dikatakan salah satu diplomat pertama yang menghubungkan antara Indonesia dengan Jerman. Jadi pameran ini merupakan salah satu bentuk apreasiasi dari Goethe,” ujar seorang sukarelawan.

dang wisatawan tanah air, tetapi juga turis dari mancanegara. Dan turis yang datang ke Jalan Surabaya ini biasanya berasal dari Korea, Jepang, Thailand, China, India, dan lain lain.. Yang dilakukan para turis tersebut di Jalan Surabaya ini pun berbeda-beda. Ada Turis asing yang datang untuk sekedar menikmati panorama Jalan Surabaya, ada pula yang datang untuk mencari cinderamata. Tetapi banyak juga yang memang merupakan kolektor barang antik, dan sengaja mengincar benda-benda kuno yang bernilai tinggi. Ada sekitar 184 kios yang berderet rapi di pinggiran Jalan Surabaya ini, dan masingmasing kios menawarkan beragam jenis benda antik yang mungkin sudah sulit didapatkan di toko manapun di Jakarta. Tak hanya benda antik yang akan memuaskan dahaga para pengunjung atau kolektor akan barang antik, ada pula sederetan rumah makan dan restoran tersedia untuk memuaskan dahaga dan lapar para pengunjung. Rumah makan serta restoran tersebut terletak di kanan jalan, menawarkan berbagai macam makanan bagi pengunjung yang mungkin ingin mengisi perut. Barang antik yang ditawarkan antara lain koleksi piringan hitam dan alat pemutarnya, senjata-senjata klasik khas portugis, kamera, lampu minyak, berbagai macam jam, patung, perlengkapan kapal, bahkan pengunjung bisa saja menemukan sebuah kios penjual perangko kuno disana. Jalan Surabaya ini merupakan tempat yang unik. Bukan hanya benda-benda yang dipajang dan dijual di sana adalah benda-benda antik, para pedangangnya pun termasuk ‘antik’ karena telah berjualan untuk kurun waktu yang lama di Jalan Surabaya ini. Pedagang-pedagang tersebut rata-rata sudah belasan bahkan puluhan tahun menjual barang antik di jalan tersebut. Sebut saja pak Abdul Gani. Pemilik kios nomor 147 ini mengaku sudah berjualan di Jalan Surabaya selama sekitar 35 tahun.

“Saya berjualan kamera, dan buku-buku tua sejak tahun 1976, tetapi banyak juga pedagang lain yang lebih lama dari saya” ujar bapak tua yang biasa di sapa Abdul tersebut. Tak lama kemudian, ia kembali sibuk menata barangbarang dagangannya yang antik serta bercengkerama dengan pengunjung yang datang. Kendati tersohor dengan dagangannya yang berbau antik, Jalan Surabaya ternyata juga menjual beragam benda lain yang tidak masuk kategori “antik” dan masih merupakan benda-benda keseharian lainnya. Misalnya, terdapat pula berbagai macam koper, peralatan olahraga, dan barang-barang sehari-hari lainnya, dan barang tersebut bisa didapatkan di ujung jalan Surabaya dekat lampu merah arah Jalan Diponegoro. Untuk masalah harga, Jalan Surabaya menawarkan harga-harga yang variatif, tergantung dari jenis cinderamata apa yang ingin Anda beli. Untuk sebuah kamera kuno, pedagang biasanya menawarkan harga yang relatif murah dari Rp.150.000 hingga Rp.1.000.000. Dan untuk koleksi seperti peralatan kapal, patung, dan benda-benda kuno khas portugis, biasanya pedagang menawarkan harga tinggi hingga puluhan juta Rupiah, karena benda-benda tersebut adalah benda koleksi bernilai tinggi yang seringkali di incar para kolektor dari mancanegara. Jalan Surabaya biasanya ramai pada akhir minggu. Ratusan wisatawan dari dalam maupun luar negeri biasanya memenuhi tempat ini. Sayangnya, Jalan Surabaya minim lahan parkir, sehingga bagi pengunjung yang membawa kendaraan besar seperti mobil, kemungkinan agak sulit untuk mendapatkan parkir. Tetapi para pengunjung tidak perlu khawatir akan hal itu. Letak Jalan Surabaya yang strategis memungkinkan para pengunjung memarkirkan kendaraannya di Komplek Megaria, ataupun Stasiun Cikini yang tidak berada jauh dari sana. (Jodi Haryo D.)

Foto: Jodi Haryo D.

Pengunjung pameran lukisan karya Raden Saleh di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (11/6). Raden Saleh memang dapat dikaitkan dengan permulaan suatu pendekatan visual baru dalam kesenian Indonesia. Melalui ia pula, Indonesia dapat dikenal dengan perspektif lain oleh dunia Eropa, yaitu melalui perspektif kesenian. Selain itu, sudah merupakan harapan bahwa pameran ini dapat menjadi ajang sosialisasi sejarah serta nilai kesenian Indonesia kepada masyarakat luas, berhubung tidak semua masyarakat mengenalnya. “Kita ke sini karena diminta sekolah,” ujar beberapa siswa SMA yang terlihat berkeliaran di Galeri Nasional untuk melihat pameran ini. Hanya beberapa dari mereka yang benarbenar mengetahui sosok Raden Saleh beserta karyanya yang beraliran romantisme. Karena itulah, adanya Pameran Raden Saleh dan Awal Seni Lukis Modern Indonesia ini diharapkan dapat menjadi kontribusi dalam proses sosialisasi terhadap masyarakat tersebut. PERAGAAN BUSANA Inspirasi bisa datang dari mana saja. Pengaruh tokoh seniman terkenal

Jalan Surabaya

SURGA KOLEKTOR BARANG ANTIK

Foto: Dimas Gityandraputra

Abdul Gani, pemilik salah satu kios yang berlokasi di Jalan Surabaya. Abdul Gani menjual berbagai aksesoris, kamera, hingga buku-buku tua. Terletak di Menteng, Jakarta Pusat, terdapat sebuah “surga” bagi para pecinta dan kolektor barang antik. Terkenal dengan nama Jalan Surabaya, sesuai nama jalannya, tempat ini tentu saja sering menjadi tempat tujuan cuci mata dari para pecinta barang antik. Di sepanjang jalan tersebut ada sederetan kios-kios yang menjual segala macam barang antik dan langka dari seluruh Nusantara. Semua yang diinginkan oleh seorang kolektor barang antik tersedia di Jalan Surabaya ini – tak terkecuali bagi orang awam yang ingin mencuci mata melihat-lihat barang yang bisa dikatakan “produk sejarah” ini. Yang menjadi salah satu kelebihan berbelanja di Jalan Surabaya, pengunjung tidak akan merasa kepanasan meskipun lokasi

seperti Raden Saleh ternyata tak hanya sebatas pada seni lukis saja, namun merambah hingga ke dunia fashion. Terbukti bahwa Raden Saleh memberi inspirasi yang luas bagi mereka yang mengenalnya. Hal ini dapat dilihat dari diadakannya sebuah peragaan busana “Raden Saleh – Pelopor Seni Lukis dan Fashion Indonesia”, (9/6). Sesuai dengan gaya berpakaian Raden Saleh, seorang putra Indonesia yang juga seorang seniman kerajaan Eropa, maka dalam peragaan busana ini pun dapat dilihat akulturasi budaya yang terjadi antara model berpakaian masyarakat Indonesia (yang diasosiasikan dengan batik) dengan gaya berpakaian masyarakat Barat. Seorang perancang busana muda yang turut berpartisipasi dalam peragaan busana Raden Saleh ini, Cynthia Kurniawan, mengaku mendapatkan inspirasi dari perasaan hati serta gairah Raden Saleh. Karya-karya yang dipresentasikannya adalah sebagai bentuk kehormatan pada Raden Saleh.

“Busana yang saya buat ditampilkan dengan aksen artistik detail, tumpuk, garis-garis asimetris dan olahan un-finish yang menggambarkan impian serta kenangan Raden Saleh akan tanah airnya, Indonesia,” tutur Cynthia, menjelaskan peragaan busananya yang ia sebut Maestro Djiwakoe. Peragaan busana ini rupa-rupanya dijadikan kompetisi, sebagai bagian dari rangkaian acara pameran lukisan Raden Saleh. Cynthia Kurniawan menjadi juara favorit, sementara juara umum diraih oleh Rini K. Konitatin, alumni STISI Bandung jurusan Kriya Tekstil dan Mode. Hadiah dari kompetisi peragaan busana Raden Saleh ini adalah kunjungan ke Berlin Fashion Week. Di Jerman. Rini K. Konitatin sebagai juara umum memiliki gaya yang berbeda lagi dalam menerapkan gaya Raden Saleh dalam mode. Ia menggunakan inspirasi dari Raden Saleh untuk membuat busana muslimah. Rancangannya yang bergaya militer ini diambil dari gaya pada zaman kolonial Belanda saat itu. “Tidak susah untuk menemukan inspirasi dari Raden Saleh, karena dari lukisannya saja Raden Saleh sudah menunjukkan suatu ciri khas tersendiri,” ujar Rini. Sumber inspirasi dan pelukis dunia yang mengharumkan nama bangsa – begitulah citra yang terkesan tentang Raden Saleh dari pameran 15 hari ini. Sesuai dengan salah satu tujuan diadakannya pameran ini, maka sangat diharapkan bahwa masyarakat dapat lebih aware terhadap tokoh-tokoh sejarah bangsa, termasuk di dalamnya seniman dan budayawan mula-mula. Di tengahtengah banyaknya masalah yang membuat masyarakat kehilangan rasa sayang dan simpati terhadap bangsa sendiri, kemunculan pameran Raden Saleh ini dapat menjadi reminder yang manis, membuat masyarakat Indonesia membuka mata dan merasakan sejumput rasa bangga terhadap sejarah bangsa. (Agnes Theodora)

kios berada di pinggir jalan, karena banyak pohon rindang yang berbaris, siap dijadikan tempat berteduh dari sengatan matahari. Kehadirannya sebagai surga barang antik telah ada semenjak tahun 1960-an, namun kios-kios di sini barulah resmi ketika Ali Sadikin sebagai mantan Gubernur DKI Jakarta meresmikannya. Jalan Surabaya ini ditetapkan sebagai salah satu objek wisata utama di Jakarta. Tempat ini sangat tersohor, bahkan presiden Amerika, Bill Clinton pun pernah mampir dan menengok-nengok barang antik di tempat ini pada tahun 1994. Jalan Surabaya memang tidak hanya dinikmati oleh masyarakat setempat. Tempat wisata yang nyaris digusur pemerintah kota DKI Jakarta Pusat ini tidak hanya mengun-

teras

B I N G K A I Senin, 11 Juni 2012

5

KEMBALIKAN RUMAH PARA S E N I M A N Taman Ismail Marzuki merupakan tempat yang sudah sangat identik dengan seni dan budaya. Dimana ingin mencari hal yang berbau kesenian, masyarakat kota Jakarta pasti langsung dengan sendirinya berpikiran menuju tempat yang terdapat planetarium tersebut. Namun kenyataannya, kini TIM sudah menjadi tempat yang hanya mementingkan uang semata. Taman Ismail Marzuki seakan menjadi kuburan bagi idealisme para seniman. Seniman kini seakan tak lagi memiliki rumah untuk mereka berkarya. Para pengelola TIM sekarang sudah seperti manusia serakah yang hanya mementingkan kemajuan dirinya sendiri. Seniman tak lagi diberi ruang untuk berkarya. Bukankah, seharusnya seniman memiliki rumah sendiri yang nyaman tanpa perlu terusir? Namun, saat ini mereka malah kehilangan tempat yang menjadi taman bermain akal pikirannya untuk membuahkan karya. Dan juga, mereka seperti terintimiasi dengan keadaan dimana mereka tidak lagi menemukan kebebasan. Alangkah baiknya jika PEMDA mengembalikan apa yang sudah menjadi milik seniman dan budayawan. Biarkan seniman menari dengan idealisme dan jalan berpikirnya dalam membuat dan mempertunjukkan karya mereka. Pemda sebaiknya tidak lagi mengkomersialisasi rumah yang sudah menjadi hak para seniman itu untuk berpentas. Kembalikanlah kebebasan berkarya pada para seniman. Sebaiknya seniman kembai diberikan ruang. Bukankah negeri kita merupakan negeri yang kaya akan seni dan budayanya? Ratusan suku di Indonesia memiliki keseniannya masing-masing. Kembalikan agar seni di negeri kita juga turut maju dan tidak ada lagi yang mengambil dengan seenaknya. Kebebasan mereka seakan terkekang sekarang. ruang mereka mengapresiasi hasil jerih payah keringat dan otak mereka kini menjadi bahan dagangan yang menarik bagi Pemerintah Daerah. Patung Ismail Matzuki menjadi saksi bisu bagi para seniman terusir dari runah mereka

GELITIK... “Hari gini ke KFC beli Ayam.. Beli CD laah..”

“Seniman harus membayar sewa untuk mengekspresikan diri di TIM.. Dirumah sendiri kok mbayar...”

“Tari Tor-tor masuk warisan kebudayaan Malaysia, Masyarakat Indonesia mengamuk.. Kalo udah dicolong ya baru inget..”

APRESIASI JATI DIRI BANGSA Oleh Agnes Theodora

What makes us Indonesians? Dalam esainya yang berjudul Puisi Besar, Sutardji Calzoum Bachri menulis dengan menarik mengenai bagaimana puisi yang besar sesungguhnya mampu memberikan inspirasi dan hikmah bagi masyarakat dan bangsa. Ia menyebut contoh salah satu puisi besar yang pernah tercipta dalam perjalanan sejarah Indonesia. Puisi yang seharusnya ditulis dengan tambahan tanda kutip, karena statusnya yang tidak pernah dipandang sebagai puisi. ‘Puisi’ apa itu? Teks Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Kendati tidak pernah dianggap secara pasti sebagai sebuah karya literatur maupun puisi, Sutardji mengajak pembaca untuk melihat teks Sumpah Pemuda sebagai sebuah puisi yang ternyata mampu memenuhi kriteria teks puisi masa kini. Layaknya puisi pada umumnya, teks Sumpah Pemuda menciptakan sebuah imajinasi. Dunia yang masih berada dalam angan, bahwa pada saat itu, putra-putri Indonesia berbangsa satu, ber-tanah air satu, dan berbahasa satu, Indonesia merupakan in absentia, masih belum hadir dalam realitas masyarakat saat itu. Dan teks ini, sebuah karya literatur sederhana ini, berhasil meny-

ulut semangat persatuan para muda-mudi akan sebuah konsep yang masih belum hadir. ‘Puisi’ Sumpah Pemuda menjadi titik tolak gejolak perjuangan kemerdekaan di Indonesia. Sebuah puisi hanya merupakan salah satu dari begitu banyaknya ragam kesenian dan kebudayaan dari sebuah bangsa. Kebudayaan itu memiliki makna yang begitu besar bagi sebuah bangsa. Berbeda dari syarat terbentuknya negara yang meliputi wilayah, pemerintahan, hingga pengakuan— kepribadian sebuah bangsa terbentuk dari nilai-nilai lokal yang ada di masyarakat. Nilai-nilai yang kemudian berkembang menjadi kebiasaan dan menjadi kebudayaan. Sayangnya, seiring waktu dan tren yang berlalu, semakin sedikit masyarakat yang mau mengapresiasi kebudayaan lokal. Dan media, dalam hal ini, sangat berperan besar. Media membentuk kebudayaan artifisial, mengadaptasinya dari kebudayaan lain, mempublikasikannya secara luas dan mencekokinya pada masyarakat. Lepas dari pertikaian yang tak sudah-sudah dengan negara tetangga, seni sastra Indonesia merupakan sesuatu yang wajib dikonsumsi para pelajar di Malaysia. Sebut saja karya-karya Pramoedya Ananta Toer,

puisi-puisi Chairil Anwar. Apa yang di sini hanya pernah kita dengar atau selewat kita baca, di sana diapresiasi dan bahkan dijadikan bahan diskusi pelajaran yang wajib. Tak heran bahwa ketika situasi mengancam, muncul lah apa yang disebut sebagai nasionalisme semu. Kecintaan semu pada budaya lokal. Memakai baju batik menjadi usaha pembuktian diri pada dunia, bahwa setelah pergulatan dengan Malaysia, batik adalah kebudayaan Indonesia. Tentu saja tidak ada yang salah dengan membela kebudayaan kita. Hanya satu yang disayangkan, bagaimana kita baru dapat cepat bereaksi ketika gengsi bangsa mulai dipertaruhkan. Di lain waktu? Silahkan jawab sendiri, saya pun masih bergumul. Mengapresiasi kebudayaan asli Indonesia bukan hanya sekedar ekspresi cinta kita terhadap budaya bangsa. Layaknya teks Sumpah Pemuda yang mengawali kesadaran bangsa akan persatuan, kebudayaan lokal merupakan cerminan diri kita, jati diri kita sebagai sebuah bangsa, apa yang membentuk kepribadian bangsa kita. Mengapresiasi kebudayaan bangsa sendiri berarti mengapresiasi hakikat diri kita secara individual pula. Jangan biarkan jati diri kita menghilang, jangan biarkan kebudayaan kita menghilang.

ADA APA DENGAN MUSIK NEGRIKU? oleh Dimas Gityandraputra

Musik merupakan salah satu seni yang paling utama saat ini. Tak pelak, hampir semua orang yang tinggal di dunia ini menyukai musik. Berbagai genre juga ada dan tersedia sebagai pilihan bagi para insan yang tinggal di dunia. Selera setiap orang memang tidak selalu sama. Ada yang menyukai jenis musik yang santai seperti jazz atau pop. Adapula mereka yang menyenangi musik-musik yang cadas dan keras seperti rock dan metal. Namun ada pula keanehan yang terjadi. Selera karena banyak orang yang suka. Hal ini kerap terjadi di tanah air ini, Indonesia. Sering sekali terjadi di Indonesia ketika satu genre dari musik sedang meledak, maka aliran itulah yang menjadi idola para masyarakat. Mereka memberikan sambutan meriah. Tepuk tangan sampai tangan merah. Seakan bergejolak semua darah. Genre itu seakan menjadi dewa baru bagi masyarakat. Hampir setiap hari terdengar pembicaraan mengenai band-band yang membawakan aliran musik yang sedang nge-hits. Acara-acara di televisi pun tak mau kalah. Stasiun-stasiun televisi itu berlomba mengundang band ataupun orang yang nyemplung memainkan aliran musik itu. Sudah beberapa tahun ini musik di Indonesia seakan tercemar. Sempat kala itu musik dengan aliran melayu dengan nada yang mendayu dan lirik yang cengeng sempat sangat nge-tren dan menjadi pujaan masyarakat luas. Band-band melayu menjamur saat itu. seperti ST12, Radja, Kangen Band, semua band itu mendapat penghargaan yang tinggi dari masyarakat. Efek Rumah Kaca juga sempat menyindir masyarakat Indonesia yang

kala itu sempat terkena demam musik melayu dengan lagunya yang berjudul “Cinta Melulu” dengan liriknya, “Kita memang benar-benar melayu suka mendayu-dayu. Apa memang karena kuping melayu, suka yang sendu-sendu.” Dalam lirik yang dinyayikan Efek Rumah Kaca itu menjadi refleksi bagi masyarakat Indonesia yang saat itu sedang terkena serangan musik melayu. Hampir di setiap tempat, musik melayu terdengar telinga. Tak hanya itu, band-band baru pun menginvasi. Dan mayoritas beraliran melayu. HEBAT BUKAN? Badai melayu sudah lewat. Namun janganlah bergembira dulu. Karena badai susulan dari musik beraliran Korean Pop datang membuka pintu tanpa permisi. Masyarakat tak dapat lagi pergi berlari. Mereka semua harus menerima kedatangan tamu tak diundang dari Negeri Ginseng tersebut. Tidak dapat lagi dibantah bahwa demam Korea sedang menjajah dan memporakporandakan seni musik kita. Saat ini setiap hari dapat kita temui berbagai penyanyi di berbagai media, baik yang sendiri, berlima, bertujuh, bersembilan berganti-ganti menghiasi media Indonesia. Dengan penampilan yang kontras dengan budaya negeri, mereka bernyanyi dan menari tanpa henti. Acara musik televisi pagi saja sudah hampir pasti mengundang artis-artis tadi. tidak heran pagi kita selalu dihiasi genre musik yang dengan perlahan menggeser budaya bangsa. TANPA PERNAH ABSEN. Aliran musik dari korea itu rasanya sudah mengganggu. tidak hanya saat ini, tapi juga bagi masa depan anak-anak generasi bangsa ini. Lihat saja, di televisi. Saat ini ban-

yak anak-anak kecil yang berdandan ala orang tua. Dandanan menor. Pakai rok pendek. Dan lain sebagainya. Bukankah anak perempuan lebih cantik dengan tanah di pipi bekas bermain bekel sebagai make-up nya? Atau bagi anak laki-laki, luka di lutut sebagai bentuk kejantanan bukankah lebih bermakna daripada menari-nari dengan kaus kutang di televisi? Apakah kaus kutang atau dandanan menor saat ini lebih baik? Atau memang saya yang ketinggalan zaman? Tapi yang pasti saya lebih suka melihat luka di lutut atau tanah di pipi dibanding kaus kutang dan dandanan menor yang membuat saya menangis dan hati teriris. Kenapa denganmu musik Indonesia? Bukankah kita punya sendiri jati diri kita tanpa harus menjadi peniru. Mengapa harus malu dan ragu untuk menunjukkannya? Beruntungnya, tidak semua musisi di Indonesia mengalami penyakit latah dalam membuat musik. Dapat kita sebutkan beberapa pemain musik hebat seperti Slank, Efek Rumah Kaca, Iwan Fals, Dewa, Gigi, Jogja Hiphop Foundation dan lain sebagainya yang memiliki jati diri dalam musiknya. Mereka memainkan musik sesuai dengan genre mereka sendiri tanpa ikut-ikut orang lain. band-band itu juga memiliki penggemar yang banyak yang tidak pernah mengkhianati idolanya. Ketika mereka tidak laris pun penggemar mereka tidak lari pergi meninggalkan mereka. Tolong, bagi band-band besar di Indonesia yang mengaku dirinya hebat. tunjukkanlah wajah bangsa, buktikan loyalitas kepada negeri. Selamatkan musik Indonesia. Selamatkan anak-anak kita dari prematur kedewasaan. Cintai budaya khas negeri!


panggung YANG AKAN HADIR!

22-30 Juni setiap Jumat dan Sabtu Pameran Bersama Perupa Muda “JAS MERAH” Galeri Cipta III - TIM

Juni 2012

22 Juni-5 Juli Pameran Besar Seni Rupa Indonesia: MANIFESTO #3 2012

1-9 Juni Indonesian Dance Festival Gedung Kesenian Jakarta, TIM

B I N G K A I Senin, 11 Juni 2012

14 Juni-15 Juli Pekan Raya Jakarta Fair Arena PRJ Kemayoran 16-28 Juni Pameran Tunggal Karya Sri Warso Wahono “Komposisi 50” Galeri Cipta II - TIM 16 Juni Around The World With Ade Rayanti Graha Bakti Budaya - TIM Pukul 19.00

22 Juni-5 Juli Pameran Seni Rupa Karya Perupa Jawa Timur Galeri Nasional Indonesia Pukul 10.00-21.00 27 Juni Konser Musik “Main” Gedung Kesenian Jakarta Pukul 20.00 Rp 50.000, Rp 75.000 28 Juni Pentas Teater Nurbanah Gedung Kesenian Jakarta Pukul 20.00 Rp 50.000, Rp 75.000

17 Juni Komedi Betawi “Si Gobang” Arena Parkir - TIM Pukul 20.00

30 Juni-1 Juli Indonesia International Earth Concert Gedung Kesenian Jakarta Pukul 19.30 Rp 50.000, Rp 75.000, Rp 100.000

18-21 Juni Festival Budaya Betawi Lapangan Parkir -TIM

Foto: Andika Pranata

Kenyamanan. Mungkin itulah kata yang pertama kali terlintas di benak anda ketika memasuki interior café yang terdapat di kawasan Kemang Timur, Jakarta Selatan ini. Konsep café yang menitikberatkan pada kenikmatan literatur ini memang sudah jelas tersirat dari namanya. Reading Room, sebuah tempat di mana anda bisa menikmati kudapan sambil menambah wawasan. Buku-buku yang terdapat di sini mayoritas adalah buku-buku impor. Hanya segelintir saja buku-buku lokal maupun buku terjemahan bahasa Indonesia yang terdapat di café ini. Perbendaharaan bukunya cukup luas. Segala macam buku dari berbagai genre ada. Roman, antalogi sastra, biografi, dan lain lain. Buku sastra Leon Agusta, Arthur Rimbaud, hingga buku filsafat buah pemikiran Nietzche dan Dostoyevski pun ada di sini. Interiornya didominasi dengan pajangan buku-buku yang tidak hanya terdapat di rak buku, namun juga terpa-

Resensi Musik

Resensi Film

Polyster Embassy, band yang mengaku bergenre electronic rock experimental ini mengaku bahwa musik mereka ini abstrak dan buram untuk di visualisasikan di telinga. Tetapi mereka mempunyai sisi harmonis dalam menyusun gelombang virtual magnetik yang bisa menari di kepala kita. Sembilan lagu di album kedua ini adalah pertemuan antara mewabahnya musik indie rock, dengan sedikit nuansa sendu dan ramu khas psikedelika dengan irama disko khas musik elektronik. Lewat judul album ini, mereka ingin menyampaikan pesan bahwa saat ini tak ada lagi yang orisinal, semua hanya meramu ulang, merangkai aplikasi dengan nada yang sudah dibuat. Dan mereka berhasil meramu ulang semua pengaruh musikalnya dengan baik. Album ini dibuka oleh “Air” yang suasananya jika diibaratkan dalam konteks film, seperti sedang menampilkan adegan berlarian, intens, penuh ketegangan. Pada “LSD”, meskipun terdengar dominan di sisi instrumen dan

Film Indonesia mendapatkan berbagai komentar positif dan juga mendapatkan berbagai penghargaan di ajang internasional m e m b u a t film The Raid menjadi film Foto: Google.com wajib tonton bagi para penikmat film Indonesia. Di minggu awal penayangannya, masyarakat sudah menyambut positif. Berbagai ucapan-ucapan manis juga terlontar dari masyarakat yang sudah menonton film ini. Tarung, berantem dan nembak. Itu adegan yang dapat ditemukan dalam film ini. Mayoritas scene yang terlihat ketika menonton adalah hal-hal tersebut Pertarungan yang disuguhkan dalam film ini sudah sangat baik dan dapat membuka mata dunia bahwa Indonesia memiliki identitas dalam ilmu beladiri yakni, pencak silat. Adegan perkelahian dapat diapresiasi dengan baik karena memang pertarungan demi pertarungan yang dinikmati menjadi daya pikat bagi masyarakat. Pertarungan antara polisi dan para gembong penjahat dalam sebuah rumah susun menjadi daya tarik tersendiri dan memang membuat adrenalin tidak dapat berhenti. Rama, yang diperankan oleh Iko Uwais menjadi superhero yang sangat kuat dan sulit ditaklukan. Bayangkan, membersihkan satu lantai dari para penjahat, SENDI-

Foto: Google.com

POLYSTER EMBASSY Psikedelika, Rock dan Disko hanya menyisakan tak terlalu banyak bagian untuk vokal, tak ada satu instrumen yang terdengar lebih dominan dibanding yang lain. Itu jadi salah satu bukti kehebatan mereka.dalam suasana yang seperti kekacauan alias aransemen yang rumit, setiap instrumen mendapat bagian yang hampir sama. “Space Travel Rock N’ Roll” sangat mewah dan megah pas dengan judul yang diberikan. “Good Love” adalah sebuah lagu cinta yang manis. Di lagu dengan durasi paling lama (8,28 menit), “Fake/Faker”, atau sesuai dengan nama albumnya. Sang vokalis, Elang Eby terdengar berhasil memberikan presentasi audio dengan emosi khas remaja post adolescene, naik turun. Album ini adalah bukti Polyster Embassy, atas vakumnya band tersebut selama 5 tahun, tidak sia-sia. Pertautan antara bunyi synthsyzher dengan gitar menjadikan musik ini sepertinya cukup sulit untuk diterima oleh masyarakat awam. Aneka warna musik saling bertalu membentuk suatu symphony yang dapat membangkitkan semangat jika masyarakat mendengarnya. Sebenarnya, musik yang disajikan oleh Polyster Embassy tidak serumit apa yang menjadi bayangan orang-orang. Nada yang terkesan santai dan ada pula beberapa lagu yang sedikit lebih santai dan slow. Tidak semua berupa kombinasi musik disko dan psikedelika yang tidak dapat dicerna oleh masyarakat. Masyarakat patut mendengar musik yang disajikan oleh Polyster Embassy sebagai referensi musik. Dan bahwa di Indonesia ada jenis musik seperti ini dan tidak hanya melayu dan K-Pop. (Jodi Haryo D.)

Senin, 11 Juni 2012

7

THE READING ROOM, Surga Para Pecinta Buku

22-23 Juni Pertunjukkan Teater “Anak yang Dikuburkan” Teater Salihara Pukul 20.00 Rp 25.000, Rp 50.000

13-27 Juni Pameran Foto “The Unseen” Dia.Lo.Gue. Artspace, Kemang. Pukul 10.00-22.00

telusur

Resensi Destinasi

22 Juni Pertunjukkan Teater “Jomplang” Gedung Kesenian Jakarta Pukul 20.00 Rp 50.000, Rp 75.000

2-17 Juni Pameran Besar Karya Maestro Raden Saleh Galeri Nasional Indonesia Pukul 10.00-20.00

6

B I N G K A I

jang di sepanjang dinding café tersebut. Konsep dekorasi interiornya sebenarnya sudah bagus, namun ada kekurangan terutama dalam hal penataan buku. Semua buku yang terdapat di Reading Room dipajang secara acak, tanpa ada database maupun penataan buku per abjad/kategori buku. Hal ini mungkin bisa menimbulkan ketidaknyamanan bagi beberapa pembaca yang harus menghabiskan banyak waktu untuk mencari-cari buku yang ia inginkan di tengah-tengah tumpukan buku yang ada. Kekurangan kedua terletak di masalah harga. Kisaran harga untuk makanan dan minuman di café ini termasuk mahal. Sebut saja untuk segelas es teh manis dengan porsi normal dan rasa yang standar, Reading Room memberi harga Rp 15.000,oo. Begitu pula dengan cemilan atau kudapan ringan, rata-rata harganya berkisar antara Rp 20.000 ke atas. Tidak masalah jika hanya mampir sebentar, tapi bagaimana jika anda memutuskan untuk tinggal lebih lama dan menikmati buku-buku yang ada? Tanpa anda sadari, berpuluh-puluh ribu rupiah dapat anda habiskan. Lepas dari kedua hal utama di atas, tidak ada kekurangan lain yang signifikan dari destinasi kali ini. Anda disarankan untuk mencoba mengunjungi tempat ini, karena selain nyaman dan membantu memuaskan hasrat membaca, Anda juga bisa menjumpai banyak artis, seniman budayawan, sineas, hingga public figure lainnya di sini. Diskusi buku yang kerap diadakan di lantai dua tempat ini juga bisa membantu memperluas wawasan anda. Hanya saja, jangan lupakan satu hal. Pastikan kondisi dompet anda sedang sehat walafiat. Selamat membaca! (Agnes Theodora)

THE RAID RIAN. Seperti hal yang mustahail. Namun, ya namanya juga film apapun dapat terjadi. Selain Rama adapula tokoh yang menjadi pujaan baru, Maddog yang diperankan, Yayan Ruhian. Maddog menjadi orang yang sangat kuat dalam film ini. Sangat terobsesi dengan pertarungan satu lawan satu dan menggunakan tangan kosong. Maddog selalu berhasil menang dengan telak. Setelah adegan itu, banyak penonton yang malah seperti berkhianat dari para polisi dan membela Maddog. Seperti menonton film The Dark Knight yang bukan menampilkan keahlian Batman tapi memperlihatkan kekerenan Joker. WOW. Pertarungan yang disuguhkan memang terlihat baik ditambah dengan efek darah yang luar biasa. Namun sayang, jalan cerita yang disuguhkan jauh dari kata bagus. Selain itu, dialog yang ada juga cenderung kaku dan tidak nyaman didengar. Kekurangan lain adalah, jalan cerita juga cenderung mudah ditebak. Seperti ada salah satu kerabat dari Rama si tokoh utama yang akhirnya membantu dia keluar dari tempat itu, Andi kakak dari Rama yang diperankan Donny Alamsyah. Cerita seperti siapa penjahat yang sebenarnya juga tidak diberitahu sampai akhir dari film ini. Ada intrik apa yang terjadi dibalik penyerangan para gembong penjahat itu. semuanya tidak terungkap dalam film ini. Bagi para pecinta film yang menyukai jalan cerita, film sangatlah tidak direkomendasikan. Daripada terlanjur berekpektasi tinggi dan malah kecewa akhirnya, lebih baik bagi para pecinta cerita janganlah menonton. Namun, bagi yang menyukai action dan pertarungan, film ini menjadi tontonan yang sangat menghibur dan layak ditonton. (Dimas Gityandraputra)

Foto: Agnes Theodora

TAMAN ISMAIL MARZUKI Taman Ismail Marzuki (TIM) resmi berdiri pada 10 November 1968, diresmikan pembukaannya oleh Gubernur Jakarta saat itu, Ali Sadikin. Tempat pusat seni dan budaya yang dibangun di atas areal tanah seluas sembilan hektar ini terletak di jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat. Dahulunya merupakan kebun binatang dengan nama “Taman Raden Saleh”. Setelah kebun binatang dipindahkan ke Ragunan, tempat ini pun berubah menjadi pusat kesenian dan kebudayaan, serta menjadi tempat perkuliahan mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Dari tahun ke tahun, tempat ini telah menjadi ruang ekspresi bagi para seminam untuk menuangkan karya-karya inovatif mereka, dimana para seniman bereskperimen dengan dunia mereka, membuka pintu yang luas bagi kebebasan berpikir dan seni yang berkualitas. Taman Ismail Marzuki pun semakin berkembang dengan dibangunnya beberapa gedung teater modern, seperti Teater Kecil, hingga gedung teater terbaru yang dinamakan Teater Jakarta. Ada pula failitas lain bagi para seniman untuk mengekspresikan karya mereka dan berdiskusi mengenai kesenian, seperti Galeri Cipta II dan Galeri Cipta III, Graha Bhakti Budaya, dan lain lain. Di Taman Ismail Marzuki ini juga lah terdapat komunitas film dan bioskop kecil Kineforum, Institut Kesenian Jakarta, serta Planetarium Jakarta. Pengelolaan TIM sempat mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. TIM sempat dikelola oleh Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, hingga akhirnya pun pernah dikelola oleh Yayasan Kesenian Jakarta. Tetapi, setelah perubahan yang dilakukan oleh pimpinan dari Yayasan Kesenian Jakarta dinilai tidak begitu signifikan bagi TIM, seluruh pengurus Yayasan Kesenian Jakarta pun mengundurkan diri. Maka pada tahun 2005, TIM pun kembali menjadi badan pengelola di bawah koordinasi Pemerintah Daerah DKI Jakarta. JAKARTA, BINGKAI - Dikelolanya pusat kesenian dan kebudayaan oleh negara, seperti PKJ-TIM yang dikelola oleh Pemerintah Daerah Jakarta, menimbulkan ketidaknyamanan di kalangan seniman . Hal ini diakibatkan beberapa seniman dan budayawan merasa kehilangan “rumah” mereka. Beberapa seniman merasa bahwa seharusnya pusat kesenian dan kebudayaan dikelola oleh seniman itu sendiri. Banyak seniman yang tidak bisa berekspresi di lingkungan PKJ-TIM dikarenakan harus menyewa tempat. Bahkan ada beberapa kasus yang mana seniman dari daerah harus menyewa tempat menginap yang cukup mahal di Jakarta, sementara dulu, PKJ-TIM memiliki wisma seni, dimana setiap rombongan kesenian dari daerah bisa menginap di PKJ-TIM dengan sewa yang sangat murah. Seniman Leon Agusta mengatakan, “Kesenian itu tidak bisa diurus oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata atau oleh Pemda. Saya berharap sebaiknya kita kembali ke tahun 1968. Kesenian itu ya diurus oleh seniman. Kalau Dinas ingin mengurus kesenian seperti TIM ini, terutama mengurus Gedung Teater Jakarta, ya buat saja di luar TIM.” Pernyataan tersebut didukung juga oleh seniman serta budayawan lainnya, bahwa tugas pemerintah adalah membangun pusat kebudayaan, bukan mengelolanya. Pengelolaan harus tetap dilakukan oleh seniman. Pengelolaan pusat seni budaya oleh negara biasanya cenderung berorientasi profit dan untuk cari untung. Harus Tegas

B I N G K A I

Sementara itu, ada pula pandangan bahwa salah satu faktor degradasi pusat kebudayaan seperti TIM adalah arogansi seniman itu sendiri. Ironisnya, pandangan tersebut datang dari kalangan seniman sendiri. Seniman-seniman memiliki kecenderungan untuk memecah belah satu sama lain, dan hanya mengurusi genre masingmasing saja. Seniman Abdul Hadi WM mendukung pandangan ini, dan memberi istilah “cakar-cakaran” untuk menggambarkan situasi yang dimaksud antar seniman tersebut. Ia juga menambahkan pandangannya terkait dengan pengelolaan PKJ-TIM, bahwa harus ada ketegasan yang jelas. “Harus ada ketegasan dalam mengusut keberadaan TIM ini, mau dipegang oleh seniman atau Pemda. Kalau acuannya pada tahun 1968, maka semua saling mengisi,” tukasnya. Kisruh yang terjadi seputar pengelolaan ini sesungguhnya merupakan bentuk keprihatinan dari para seniman terhadap pusat seni budaya yang mereka sebut “rumah” – dalam hal ini berarti Taman Ismail Marzuki. Sudut Pandang Pemda Semua kritik serta ketidakpuasan yang ada dari kalangan seniman-budayawan ditampung oleh Bambang Subekti sebagai pimpinan Pusat Kesenian Jakarta (PKJ). Ia mengatakan bahwa bahwa ia akan berusaha merubah pola pikir bawahannya bahwa mereka harus melayani masyarakat seniman, bukannya ingin dilayani. Ia juga mengatakan bahwa sebagai pimpinan PKJ-TIM yang baru, ia melihat bahwa TIM sudah jauh dari harapan para seniman. Untuk mengem-

balikan harapan dari para seniman seperti sebelumnya, perlu ada perubahan dilakukan, namun secara perlahan. “Kami merasa percuma di sini jika tidak berbuat sesuatu, tidak berbuat apa-apa untuk seniman. Saya setuju jika seniman menyatakan agar TIM tidak diambil alih Pemda. Perlu diketahui, tugas kami hanya sebagai pengelola asetnya saja.” Pemda akan mengembalikan ke seniman apa yang menjadi haknya, sesuai dengan rekomendasi dari kalangan seniman, dengan melihat ketetapan Tahun 1968, dimana PKJ-TIM dikelola oleh seniman. Pemda akan mencoba mengkondisikan sesuai dengan ketetapan tahun 1968 tersebut, namun mengatakan pula bahwa perubahan dilakukan secara bertahap. Usulan Pembubaran DKJ Hubungan antara Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) TIM dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) memang sedang tidak harmonis. Bambang Subekti sebagai pimpinan PKJ-TIM yang baru mengatakan bahwa ia bisa melihat adanya komitekomite di DKJ yang memiliki kepentingan, dan masing-masing komite ini selalu berpikir proyek. Padahal, menurut Bambang, seharusnya tugas DKJ adalah mengajukan atau mengusulkan acara-acara kesenian, bukannya ikut sebagai penyelenggara. “Penyelenggara acara kesenian adalah tugas PKJTIM, bukan DKJ. Tapi sudah ada wacana kalau mereka tidak akan menjadi pelaksana program lagi,” ujar Bambang. Dewan Kesenian Jakarta dinilai tidak jelas keberadaannya, dan hanya menimbulkan tumpang tindih wewenang. Dana yang mengalir ke DKJ pun dianggap perlu dipertanyakan, karena tidak jelas digunakan untuk apa. Beberapa seniman mengusulkan agar diadakan perubahan di badan PKJ. Manajemen serta pengelolaan programprogram yang dibenahi. Namun DKJ sebaiknya dibubarkan saja. Salah seorang seniman yang juga menjadi pengurus di badan PKJ-TIM mendukung gagasan ini dengan mengatakan, “Di negara-negara yang dunia keseniannya maju, pusat kesenian itu tidak perlu lagi ada namanya dewan kesenian. Jadi untuk apa ada DKJ. Seniman bisa hidup sendiri kok, tidak perlu dewan.” Sebaliknya, seniman Leon Agusta mengatakan bahwa sesungguhnya dahulu sempat ada pembagian tugas yang baik antara PKJ dengan DKJ, dimana PKJ benar-benar bergungsi sebagai pelaksana profesional, dan DKJ menjadi penggagas yang profesional. Bahkan DKJ sempat memiliki gagasan program yang mulia, yaitu memberikan kesempatan bagi para seniman untuk berangkat menunaikan haji. Dalam periode DKJ tahun 1985-1996, ada sepuluh seniman yang berhasil diberangkatkan haji berdasarkan gagasan ini. Dewan Kesenian pada periode itu pun sempat mengusulkan penyelenggaraan berbagai kegiatan kesenian yang berkualitas baik tingkat nasional maupun internasional. (Agnes Theodora)

STAF REDAKSI: Dimas Gityadraputra, Agnes Theodora Wolkh Wagunu, Andika Pranata, Jodi Haryo Danesworo, Dimas Putra, Agnes Wolkh, Andi Prana, Jods Haryo, Gityandraput, Theodora Wagunu, Dika Nata, Hary Danes, Dim Gitra, Nata Andi, Agni Theo, Danis Heru, Odie Gitya, Theodora Agnes, Pranandika, Hary Dani, Agnata Dika, Jodi Gitya, Andines Theo, Dims Har, Jodi Putra, Agnes Pranata, Andika Theodora, Dimas Haryo, Andika Haryo, Agnes Putri, Jo Gitra, Diandra Gityandra Paramitha, Anes Dora, Cing Pranata, Jodut Haryo, BINGKAI UTAMA : Agnes Theodora, LAKON : Andika Pranata, ADEGAN : Jodi Haryo Danesworo, TERAS EDITORIAL : Dimas Gityandraputra, PANGGUNG : Dimas Gityandraputra, Jodi Danesworo, TELUSUR : Agnes Theodora Wolkh Wagunu, DALANG : Andika Pranata. KANTOR REDAKSI: Email : redaksibingkai@gmail.com Twitter : @koranbingkai Alamat : Jalan Angsana B3 no. 12, Ciputat, Tangerang Selatan Telepon : 021 – 96604463 / 0856 684 28482.


dalang

B I N G K A I Senin, 11 Juni 2012

8

AYU UTAMI

ANTARA SASTRA DAN AGAMA “Pengalaman menulis novela adalah suatu pengalaman yang sama sekali baru bagiku, dan tak terabyangkan sebelumnya. Sebab itu ia tidak sepenuhnya menurut padaku...” Siang itu terasa panas seperti biasanya. Jalan di daerah salihara, Jakarta Timur, tetap terlihat padat dan normal. Angkutan kota lalu lalang , klakson bertalu-talu, debu-debu berterbangan ikut memeriahkan suasana di sekitar jalanan itu. Terik matahari menyinari tanpa ampun menyengat di pada setiap makhluk yang melintasi daerah tersebut. Para pengendara mobil pribadi pun terlihat enggan membukakan sedikit saja jendela untuk sinar sang surya bertamu. Nampaknya, angin dari AC kendaraan beroda empat itu lebih cocok menjadi sahabat untuk menemani perjalanan dibandingkan sinar yang menyinari dunia itu. Namun, pohon-pohon rindang di dalam gedung Komunitas Salihara menjadi satria bagi insan manusia yang ada dengan mengkontra terik sinar mentari untuk tidak menusukkan panasnya. Di sela panas ditengahtengah pohon rindang yang menari-nari ditiup angin, sesosok perempuan sedang menikmati minumannya. Memuaskan dahaganya. Perempuan itu terlihat anggun dengan kaus hijau tua ditambah celana jeansnya mengesankan dirinya sedang santai menikmati hari. Senyum manisnya terasa sangat ramah menyambut kehadiran Bingkai yang ingin mewawancarainya. Perempuan tadi bernama, Justina Ayu Utami atau yang lebih dikenal dengan Ayu Utami. Penulis novel yang telah memakan asam garam kehidupan dalam bidang penulisan novel ini menceritakan berbagai keluh kesah dan pengalaman dia dalam menarikan jemarinya dalam membuat karya. “Sejauh ini, Bilangan Fu adalah novel yang paling sulit saya tulis. Setelah Bilangan Fu, menulis jadi gampang buat saya. Maka saya bisa menulis Cerita Cinta Enrico dalam dua setengah bulan, dan Soegija 100% Indonesia dalam dua minggu. Kesulitan itu demikian besarnya, sehingga sulit diceritakan lagi. Saya ingin menulis tentang pemanjat tebing yang mempunyai hubungan segitiga yang unik. Tapi saya juga ingin bercerita tentang situasi Indonesia dalam proses Reformasi: di mana alam hancur dan intoleransi merebak. Saya ingin menulis tentang pengalaman fisik pemanjat tebing, tetapi juga pengalaman religius dan spiritual.

Mengawinkan semua itu adalah hal yang rumit. Tapi, masih ada lagi satu novel yang sudah saya pikirkan sejak tahun 1998 dan sampai hari ini belum jadi. Mungkin itu akan jadi novel tersulit bagi saya, atau bisabisa tidak jadi sama sekali. Judulnya Monolog Dua Agnes. Tapi, sambil mencoba menuliskan yang sulit, saya juga menulis yang lebih gampang,” ujar Ayu Utami dengan semangat. Dalam membuat karya Ayu Utami ternyata menemui banyak kendala. Mulai dari orangtua yang tidak pernah mendukung proses kreatifnya. Hingga dirinya tidak pernah dibelikan buku sastra yang sepertinya menjadi dasar bagi dirinya untuk memutar kemudi otaknya dalam melukis kertas dengan torehan pena sastra. Orangtuanya pun tidak mendukung ketika ia ingin masuk ke fakultas seni rupa. Hingga akhirnya dia masuk ke dalam jurusan Sastra Rusia. Bagi perempuan berusia 44 tahun ini, mengenal orang lain dan memperhatikannya menjadi landasan dasar bagi tulisannya. Baginya, dengan mempelajari orang lain dapat lebih meningkatkan bahan dibandingkan terlalu mecintai diri sendiri. Baginya kenarsisan akan mematikan fantasi yang senang bermain dalam pikiran. Menelaah masyarakat sekitar membuat karakter dari tokoh yang dibuat menjadi lebih kuat dan dapat menghindari kesubjektivitasan diri. “Jika kita mengamati orang lain, sebetulnya kita menjadikan mereka obyek pengamatan kita. Kita tidak terlibat dengan mereka. Itu memang agak tidak menyenangkan buat orang lain, sebab mereka dijadikan obyek. Karena itu, berhati-hatilah ketika mengamati. Jangan sampai berbuat tidak sopan. Nah, jika memperhatikan orang lain, kita menjadikan mereka subyek. Kita mencoba memahami mereka. Kita mencoba tahu apa kebutuhan mereka, posisi mereka, kebahagiaan ataupun penderitaan mereka. Sambil memperhatikan orang lain, kita terlibat, kita membuka diri dan menyediakan diri untuk orang lain itu. Latihan memperhatikan orang lain (menjadikan mereka subyek) membangun simpati kita pada orang lain dan juga pada karakter novel kita,” cerita perempuan yang lahir di kota hujan ini. Novel-novel Ayu Utami

telah banyak yang diterbitkan. Banyak masyarakat yang merespon positf terhadap hasil buah karya Wanita ini. Namun tidak sedikit pula yang mengatakan kalau Ayu terlalu berani. Seperti “Saman”, hal tabu di negeri ini yakni, seks banyak dibahas. Selain itu dalam “Bilangan Fu” Monotheisme dan Militerisme di singgung yang membuat benyak dugaan dari para pembacanya kalau dirinya Anti-Tuhan bahkan tidak memiliki tuhan. Mengenai keagamaannya, Ayu mengatakan, bahwa ia dulu seorang yang religius. Keluarganya terbilang konservatif namun membebaskan anaknya menikah dengan beda agama, asal tidak dengan komunis. Di usia 20-an awal, Ayu mengaku mulai tak percaya agama. Alasannya, ia menyebut lebih banyak mudaratnya, patriakal, dan terkesan saling memusuhi antaragama. Ketika mahasiswa, ia bahkan memutuskan untuk menjadi seorang Agnostic. Di usia akhir 20-an, ia mulai melihat agama dengan kacamata baru: sebuah kenyataan peradaban. Bergulat dengan semua itu, yakni agama, ketidakadilan, moralitas berlebihan, akhirnya membuat Ayu diperkirakan "terjebak" untuk selalu menulis tiga tema, yakni: seks, kegilaan, dan agama.Namun, ia tidak bisa memungkiri kalau bahasa Alkitab sangat berpengaruh pada dirinya. "Meski benci agama pada satu periode, tapi agama sudah batubata dalam diriku," katanya. Itulah fakta sejarah yang tidak bisa dihilangkan Ayu Utami dalam dirinya.Di level peradaban, meski berdarah-darah, Ayu tetap tidak bisa memungkiri kalau agama juga membangun peradaban. Baginya, agama adalah energi yang bisa

membuat orang mengasihi atau membunuh orang lain. Pembelaan kaum beragama yang mengatakan kesalahan tidak pada agamanya, tapi pada orang yang menafsirkannya, dianggap Ayu sah-sah saja. Hanya saja dia tetap belum mendapat jawaban: Kenapa harus ada agama kalau tidak bisa mentransformasi orang menjadi lebih baik? Ayu Utami juga menambahkan beberapa kiat agar seseorang dapat produktif dalam membuat karya sastra dengan, banyak membaca agar mendapatkan ide, jangan narsis hanya pengen dibaca tetapi juga membaca orang lain.

Lalu, berdisiplin dengan menulis tiap hari dan bukan ketika hati dan pikiran hanya sedang mood untuk menulis. Dan yang terakhir jangan takut kalau karya tulisan kita nantinya diejek dan dihujat banyak orang, dan jangan takut menulis sendirian malam-malam. Hari pun semakin senja. Matahari mulai menunjukkan orange kepucatannya. Gelap datang menyingsing dan bulan sepertinya sudah mengintip siap menggantikan sang surya. Dengan begitu berakhir pula wawancara Bingkai dengan Ayu Utami. (Andika Pranata)

BIODATA DIRI

AYU UTAMI Nama Lengkap : Justina Ayu Utami Tempat/tanggal lahir : Bogor, 21 November 1968 Pekerjaan : Jurnalis, Penulis Novel, Seniman, Aktivis Kebangsaan : Indonesia Suku Bangsa : Sunda Pendidikan : Fakultas Sastra Universitas Indonesia Bibliography : Novel Saman, KPG, Jakarta (1998) (diterje mahkan dalam enam bahasa asing) : Novel Larung, KPH, Jakarta (2001) : Kumpulan Esai “Si Parasit Lajang”, Gagas Media, Jakarta (2003) : Novel Bilangan Fu, KPG, Jakarta (2008) : Novel Manjali dan Cakrabirawa, KPG, Jakarta (2010) : Novel Cerita Cinta Enrico,, KPG, Jakarta (2012) Penghargaan : Roman Terbaik Dewan Kesenian Jakarta 1998 : Prince Claus Award 2000


BINGKAI