Page 1

ISSN 2302-6391

JIMKI

Volume 2 No. 2 Januari - Juni 2014 JURNAL ILMIAH MAHASISWA KEDOKTERAN INDONESIA

JIMKI

INDONESIAN MEDICAL STUDENT JOURNAL


SUSUNAN PENGURUS Penasehat Prof. dr. Saleha Sungkar, DAP&E, MS, SpParK

Penanggung Jawab Andi Qautsar Syahrezo Universitas Hasannudin

Pimpinan Umum Ni Putu Ayu Astri Prana Iswara Universitas Udayana

Penyunting Ahli Prof. dr. Mohamad Sadikin, D.Sc. Universitas Indonesia

dr. Arta Farmawati, Ph.D Universitas Gadjah Mada

Dr. Dra. Sunarti, M.Kes. Universitas Gadjah Mada

dr. I Nyoman Sutarsa, MPH Universitas Udayana

dr. Luh Virsa Paradissa Universitas Udayana

Pimpinan Redaksi Tjokorda Istri Pramitasuri Universitas Udayana

Penyunting Pelaksana Matthew Billy Universitas Indonesia

Sekretaris

Made Harumi Padmaswari

Siti Arifah

Universitas Gadjah Mada

Universitas Hasannudin

Humas dan Promosi Bendahara

Afandi Charles

Fahrun Nisa’i Fatimah

Universitas Padjajaran

Universitas Airlangga

Desain Mochamad Iskandarsyah Agung Ramadhan Universitas Indonesia

Tata Letak Rachel Maya Universitas Jenderal Achmad Yani

Kharisma Ridho Husodo Universitas Brawijaya

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

i


DAFTAR ISI Susunan Pengurus ............................................................................................................................. Daftar Isi ................................................................................................................................................ Petunjuk Penulisan ........................................................................................................................... Sambutan Pimpinan Umum ...........................................................................................................

ISSN : 2302-6391

i ii iv x

Editorial Sosialisasi 4 Pilar Gizi Seimbang: Wujudkan Edukasi yang Komprehensif dengan Konsultasi Gizi Rutin Terpadu Tjokorda Istri Pramitasuri

...................................................................................................................................................................

1

Meta-Analisis Efek Hepatoprotektif Secara In Vitro Terhadap Tanaman Obat (Studi Terhadap Skripsi Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Angkatan 2001-2009) Desy Merindasari, Swandari Paramita, Sjarif Ismail ...................................................................................................................................................................................................................................

6

Penelitian Hubungan Antara Prevalensi Depresi dengan Tipe Locus of Control (LOC) Mahasiswa Kedokteran Universitas Udayana Ni Putu Ayu Astri Prana Iswara, Luh Nyoman Ananda Mahayati, Ni Made Ratih Purnama Dewi ...................................................................................................................................................................................................................................

14

Pengaruh Diatermi Terhadap Perbaikan Kualitas Nyeri dengan Menggunakan Skor VAS Pada Penderita Osteoartritis Lutut Di Instalasi Rehabilitasi Medik RSMH Palembang Benny Afriansyah, Surya Wijaya, Jalalin Nabawi, Triwani ...................................................................................................................................................................................................................................

25

Hubungan Antara Sikap dan Tingkat Pengetahuan Seputar Klinik Wisata Pada Wisatawan Domestik Maupun Mancanegara Terhadap Pemanfaatan Klinik Wisata Di Kawasan Wisata Pantai Kuta, Bali I Putu Yuda Prabawa, I Gusti Made Surya Chandra Trapika ...................................................................................................................................................................................................................................

36

Tinjauan Pustaka Potensi Psikobiotik Sebagai Terapi Alternatif Gangguan Depresif Mayor Agustinus M. Sarayar, Patrick Reteng, Richard Kowel ...................................................................................................................................................................................................................................

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

49

ii


Potensi Imunnomicelle Polimerik PLGA-PEG-MCOOH Spesifik VCAM-1 Berbasis Senyawa Capsaicin Sebagai Modalitas Mutakhir Dalam Atersklerosis I Made Yoga Prabawa, Gede Febby Pratama Kusuma, Tjokorda Istri Pramitasuri ...................................................................................................................................................................................................................................

61

Artikel Penyegar Potensi Pemanfaatan Green Tea-Derived Polyphenols (GTPS) Teh Hijau (Camelia sinensis) Sebagai Inovasi Pengembangan Terapi Adjuvan Pada Pasien Tuberkulosis Surya Wijaya ...................................................................................................................................................................................................................................

85

Petunjuk Praktis Pedoman Diagnosis Bronkiolitis Akut Surya Wijaya ...................................................................................................................................................................................................................................

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

94

iii


PETUNJUK PENULISAN Pedoman Penulisan Artikel Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia (JIMKI) Indonesia Medical Students Journal Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia (JIMKI) merupakan publikasi ilmiah yang terbit setiap 6 bulan sekali setiap bulan Mei dan Desember berada dibawah Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Dalam mempublikasikan naskah ilmiah dalam berkala ini, maka penulis diwajibkan untuk menyusun naskah sesuai dengan aturan penulisan JIMKI. Ketentuan umum : 1. JIMKI hanya memuat tulisan asli yang belum pernah diterbitkan oleh publikasi ilmiah lain. 2. Naskah dengan sampel menggunakan manusia atau hewan coba wajib melampirkan lembar pengesahan kode etik dari institusi yang bersangkutan. 3. Penulisan naskah : a.

Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dengan baik dan benar, jelas, lugas, serta ringkas.

b.

Naskah diketik menggunakan microsoft word dengan ukuran kertas A4, dua (2) spasi, kecuali untuk abstrak satu (1) spasi, dengan batas margin atas, bawah, kiri dan kanan setiap halaman adalah 2,5 cm.

c.

Ketikan diberi nomor halaman mulai dari halaman judul.

d.

Naskah terdiri dari minimal 3 halaman dan maksimal 15 halaman.

4. Naskah dikirim melalui email ke alamat redaksijimki@bimkes.org dengan menyertakan identitas penulis beserta alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

Ketentuan menurut jenis naskah : 1 Penelitian asli: hasil penelitian asli dalam ilmu kedokteran, kesehatan masyarakat, ilmu dasar kedokteran. Format terdiri dari judul penelitian, nama dan lembaga pengarang, abstrak, dan isi. 2 Tinjauan pustaka: tulisan naskah review atau sebuah tinjauan terhadap suatu fenomena atau ilmu dalam dunia kedokteran dan kesehatan, ditulis dengan memperhatikan aspek aktual dan bermanfaat bagi pembaca. 3 Laporan kasus: naskah tentang kasus yang menarik dan bermanfaat bagi pembaca. Naskah ini ditulis sesuai pemeriksaan, diagnosis, dan penatalaksanaan sesuai kompetensi dokter dan dokter muda. Format terdiri dari pendahuluan, laporan, pembahasan, dan kesimpulan. 4 Artikel penyegar ilmu kedokteran dan kesehatan: naskah yang bersifat bebas ilmiah, mengangkat topik-topik yang sangat menarik dalam dunia kedokteran atau kesehatan, memberikan human interest karena sifat keilmiahannya, serta ditulis secara baik. Naskah

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

iv


bersifat tinjauan serta mengingatkan pada hal-hal dasar atau klinis yang perlu diketahui oleh pembaca. 5 Editorial: naskah yang membahas berbagai hal dalam dunia kedokteran dan kesehatan, mulai dari ilmu dasar, klinis, berbagai metode terbaru, organisasi, penelitian, penulisan di bidang kedokteran, lapangan kerja sampai karir dalam dunia kedokteran. Naskah ditulis sesuai kompetensi mahasiswa kedokteran. 6 Petunjuk praktis: naskah berisi panduan diagnosis atau tatalaksana yang ditulis secara tajam, bersifat langsung (to the point) dan penting diketahui oleh pembaca (mahasiswa kedokteran). 7 Advertorial: naskah singkat mengenai obat atau material kedokteran dan kesimpulannya. Penulisan berdasarkan metode studi pustaka.

Ketentuan khusus : 1. Untuk keseragaman penulisan, khusus naskah Penelitian asli harus mengikuti sistematika sebagai berikut: a.

Judul karangan (Title)

b.

Nama dan Lembaga Pengarang (Authors and Institution)

c.

Abstrak (Abstract)

d.

Isi (Text), yang terdiri atas: i. Pendahuluan (Introduction) ii. Metode (Methods) iii. Hasil (Results) iv. Pembahasan (Discussion) v. Kesimpulan vi. Saran vii. Ucapan terima kasih

e.

Daftar Rujukan (Reference)

2. Untuk keseragaman penulisan, khusus naskah Tinjauan pustaka harus mengikuti sistematika sebagai berikut: a.

Judul

b.

Nama penulis dan lembaga pengarang

c.

Abstrak

d.

Isi (Text), yang terdiri atas: i. Pendahuluan (termasuk masalah yang akan dibahas) ii. Pembahasan iii. Kesimpulan iv. Saran

e.

Daftar Rujukan (Reference)

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

v


3. Judul ditulis dengan Sentence case, dan bila perlu dapat dilengkapi dengan subjudul. Naskah yang telah disajikan dalam pertemuan ilmiah nasional dibuat keterangan berupa catatan kaki. Terjemahan judul dalam bahasa Inggris ditulis italic. 4. Nama penulis yang dicantumkan paling banyak enam orang, dan bila lebih cukup diikuti dengan kata-kata: dkk atau et al. Nama penulis harus disertai dengan institusi asal penulis. Alamat korespondensi ditulis lengkap dengan nomor telepon dan email. 5. Abstrak harus ditulis dalam bahasa Inggris serta bahasa Indonesia. Panjang abstrak tidak melebihi 200 kata dan diletakkan setelah judul naskah dan nama penulis. 6. Kata kunci (key words) yang menyertai abstrak ditulis dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Kata kunci diletakkan di bawah judul setelah abstrak. Tidak lebih dari 5 kata, dan sebaiknya bukan merupakan pengulangan kata-kata dalam judul. 7. Kata asing yang belum diubah ke dalam bahasa Indonesia ditulis dengan huruf miring (italic). 8. Tabel dan gambar disusun terpisah dalam lampiran terpisah. Setiap tabel diberi judul dan nomor pemunculan. Foto orang atau pasien apabila ada kemungkinan dikenali maka harus disertai ijin tertulis. 9. Daftar rujukan disusun menurut sistem Vancouver, diberi nomor sesuai dengan pemunculan dalam keseluruhan teks, bukan menurut abjad.

Contoh cara penulisan daftar pustaka dapat dilihat sebagai berikut :

1. Naskah dalam jurnal i. Naskah standar

Vega Kj, Pina I, Krevsky B. Heart transplantation is associated with an increased risk for pancreatobiliary disease. Ann Intern Med 1996 Jun 1;124(11):980-3. atau Vega Kj, Pina I, Krevsky B. Heart transplantation is associated with an increased risk for pancreatobiliary disease. Ann Intern Med 1996;124:980-3. Penulis lebih dari enam orang Parkin Dm, Clayton D, Black RJ, Masuyer E, Freidl HP, Ivanov E, et al. Childhood leukaemia in Europe after Chernobyl: 5 year follow-up. Br j Cancer 1996;73:1006-12. ii. Suatu organisasi sebagai penulis

The Cardiac Society of Australia and New Zealand. Clinical exercise stress testing. Safety and performance guidelines. Med J Aust 1996;164:282-4. iii. Tanpa nama penulis

Cancer in South Africa [editorial]. S Afr Med J 1994;84:15. iv. Naskah tidak dalam bahasa Inggris

Ryder TE, Haukeland EA, Solhaug JH. Bilateral infrapatellar seneruptur hos tidligere frisk kvinne. Tidsskr Nor Laegeforen 1996;116:41-2.

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

vi


v. Volum dengan suplemen

Shen HM, Zhang QF. Risk assessment of nickel carcinogenicity and occupational lung cancer. Environ Health Perspect 1994;102 Suppl 1:275-82. vi. Edisi dengan suplemen

Payne DK, Sullivan MD, Massie MJ. Women`s psychological reactions to breast cancer. Semin Oncol 1996;23(1 Suppl 2):89-97. vii. Volum dengan bagian

Ozben T, Nacitarhan S, Tuncer N. Plasma and urine sialic acid in noninsulin dependent diabetes mellitus. Ann Clin Biochem 1995;32(Pt 3):303-6. viii. Edisi dengan bagian

Poole GH, Mills SM. One hundred consecutive cases of flap laceration of the leg in ageing patients. N Z Med J 1990;107(986 Pt 1):377-8. ix. Edisi tanpa volum

Turan I, Wredmark T, Fellander-Tsai L. Arthroscopic ankle arthrodesis in rheumatoid arthritis. Clin Orthop 1995;(320):110-4. x. Tanpa edisi atau volum

Browell DA, Lennard TW. Immunologic status of cancer patient and the effects of blood transfusion on antitumor responses. Curr Opin Gen Surg 1993;325-33. xi. Nomor halaman dalam angka Romawi

Fischer GA, Sikic BI. Drug resistance in clinical oncology and hematology. Introduction. Hematol Oncol Clin North Am 1995 Apr;9(2):xi-xii.

2. Buku dan monograf lain i. Penulis perseorangan

Ringsven MK, Bond D. Gerontology and leadership skills for nurses. 2nd ed. Albany (NY): Delmar Publishers; 1996. ii. Editor, sebagai penulis

Norman IJ, Redfern SJ, editors. Mental health care for elderly people. New York: Churchill Livingstone; 1996. iii. Organisasi dengan penulis

Institute of Medicine (US). Looking at the future of the Medicaid program. Washington: The Institute; 1992. iv. Bab dalam buku

Philips SJ, Whisnant JP. Hypertension and stroke. In: Laragh JH, Brenner BM, editors. Hypertension: patophysiology, diagnosis, and management. 2nd ed. New York: raven Press; 1995.p.465-78. v. Prosiding konferensi

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

vii


Kimura J, Shibasaki H, editors. Recent advances in clinical neurophysiology. Proceedings of the 10th International Congress of EMG and Clinical Neurophysiology; 1995 Oct 15-19; Kyoto, Japan. Amsterdam: Elsevier; 1996. vi. Makalah dalam konferensi

Bengstsson S, Solheim BG. Enforcement of data protection, privacy and security in medical information. In: Lun KC, Degoulet P, Piemme TE, Rienhoff O, editors. MEDINFO 92. Proceedings of the 7th World Congress on Medical Informatics; 1992 Sep 6-10; Geneva, Switzerland. Amsterdam: North-Hollan; 1992.p.1561-5. vii. Laporan ilmiah atau laporan teknis a. Diterbitkan oleh badan penyandang dana/sponsor:

Smith P, Golladay K. Payment for durable medical equipment billed during skilled nursing facility stays. Final report. Dallas (TX): Dept. of Health and Human Services (US), Office of Evaluation and Inspection; 1994 Oct. Report No.: HHSIGOEI69200860. b. Diterbitkan oleh unit pelaksana

Field MJ, Tranquada RE, Feasley JC, editors. Helath services research: work force and education issues. Washington: National Academy Press; 1995. Contract no.: AHCPR282942008. Sponsored by the Agency for Health Care Policy and research. viii. Disertasi

Kaplan SJ. Post-hospital home health care: the elderly/access and utilization [dissertation]. St. Louis (MO): Washington univ.; 1995. ix. Naskah dalam Koran

Lee G. Hospitalizations tied to ozone pollution: study estimates 50,000 admissions annually. The Washington Post 1996 Jun 21;Sect A:3 (col. 5). x. Materi audiovisual

HIV + AIDS: the facts and the future [videocassette]. St. Louis (MO): Mosby-Year book; 1995.

3. Materi elektronik i. Naskah journal dalam format elektronik

Morse SS. Factors in the emergence of infectious disease. Emerg Infect Dis [serial online] 1995 Jan-Mar [cited 1996 Jun 5]:1(1):[24 screens]. Available from: URL: HYPERLINK http://www.cdc.gov/ncidod/EID/eid.htm ii. Monograf dalam format elektronik

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

viii


CDI, clinical dermatology illustrated [monograph on CD-ROM]. Reeves JRT, Maibach H. CMEA Multimedia Group, producers. 2nd ed. Version 2.0. San Diego: CMEA; 1995. iii. Arsip computer

Hemodynamics III: the ups and downs of hemodynamics [computer program]. Version 2.2. Orlando (FL): Computerized Educational Systems; 1993.

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

ix


SAMBUTAN PIMPINAN UMUM

S

alam Sejahtera bagi kita semua,

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas terbitnya Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia (JIMKI) volume 2 nomor 2. JIMKI bukan hanya sekadar wadah publikasi ilmiah, namun JIMKI juga merupakan representatif perkembangan keilmiahan mahasiswa kedokteran di seluruh Indonesia. Pada tahun ini, JIMKI yang memasuki tahun ke-7 terus berusaha untuk mempertahankan eksistensi dan

juga kualitas artikel – artikel yang diterbitkan sehingga dapat

memberikan manfaat bagi seluruh pembaca. Dalam edisi ini, antusiasme mahasiswa kedokteran untuk bisa mempublikasikan karyanya di JIMKI sangat tinggi. Hal ini terbukti dengan meningkatnya jumlah artikel yang masuk ke bagian redaksi, yaitu 42 artikel yang kemudian diseleksi hingga terpilihlah 9 artikel. Penyeleksian dilakukan dengan bantuan mitra bebestari (MitBes) yang berasal dari tiga Universitas, yaitu UI, UGM, dan UNUD. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas dan objektifitas dari artikel yang dimuat di JIMKI. Mempublikasikan suatu karya bertujuan untuk menyebarluaskan ide dan gagasan yang kita miliki sehingga karya kita berhak mendapatkan pengakuan dan penghargaan. Di samping itu, publikasi ilmiah juga merupakan salah satu syarat kelulusan bagi S1, maka dari itu sudah seharusnya budaya menulis ilmiah semakin meningkat di kalangan mahasiswa kedokteran. Dan perlu diingat bahwa hal paling penting dari suatu tulisan adalah kebermanfaatannya bagi masyarakat. Maka dari itu, marilah berkarya demi kemajuan ilmu pengetahuan di bidang kedokteran sehingga dapat menghasilkan suatu tulisan yang berkualitas dan memiliki manfaat yang berharga bagi umat manusia. Pada kesempatan ini saya mewakili JIMKI ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dan mendukung JIMKI dari awal hingga akhir yang namanya tidak bisa saya tuliskan satu per satu. Terakhir saya ingin mengutip sebuah quote favorit saya dari Pramoedya Ananta Toer yang berbunyi,“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah�. Mari kita tingkatkan iklim menulis ilmiah di kalangan mahasiswa kedokteran Indonesia.

Cogito Ergo Sum !

Ni Putu Ayu Astri Prana Iswara Pimpinan Umum Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

x


SOSIALISASI 4 PILAR GIZI SEIMBANG: WUJUDKAN EDUKASI YANG KOMPREHENSIF DENGAN KONSULTASI GIZI RUTIN TERPADU

Editorial

Tjokorda Istri Pramitasuri

1

1

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar-Bali

Email: pramitasuri01@gmail.com

keberhasilan

masalah gizi ganda yang tidak hanya bersifat

pembangunan nasional adalah ketersediaan

kuratif dan rehabilitatif, namun juga mampu

Sumber

yang

memberikan edukasi yang mencakup informasi

berkualitas, yaitu kreatif, inovatif, serta memiliki

4 Pilar Gizi Seimbang kepada masyarakat.

Salah

satu

Daya

penentu

Manusia

(SDM)

mental yang kuat dan fisik yang prima disamping kemampuan dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mampu

Apa itu Empat Pilar Gizi Seimbang? Indonesia kini resmi menggunakan

1

bersaing dalam era globalisasi. Pencapaian suatu bangsa dalam membangun SDM dapat diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dimana IPM Indonesia menempati urutan 121 dari 185 negara pada tahun 2013 dan tergolong lebih rendah bila dibandingkan dengan

negara

lain

di

Asia

Tenggara.

2

Rendahnya IPM dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah status gizi.

kaitannya dengan faktor pengetahuan dan selain

biaya

dan

aksesibilitas.

4

Sejauh ini Indonesia telah meraih sejumlah kemajuan dalam perbaikan gizi masyarakat, namun masih ada tantangan yang harus dihadapi.

Hasil

(Riskesdas)

Riset

tahun

Kesehatan 2010

menunjukkan

5

gizi adalah 17,9%. Berbeda halnya dengan anak, masalah gizi kelompok usia diatas 18 tahun didominasi oleh kelebihan gizi, yaitu 5

Terdapatnya dua masalah yang

kontras; kekurangan dan kelebihan gizi, hal ini disebut sebagai masalah gizi ganda. Maka dari itu,

sangat

diperlukan

upaya

Indonesia dalam menghadapi masalah gizi ganda, yang sekaligus menggantikan slogan “Empat

Sehat

Lima

Sempurna�

yang

dipopulerkan pada tahun 1950. Empat Pilar Gizi Seimbang terdiri dari: 1) Mengonsumsi

perilaku

pemecahan

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

hidup

bersih

dan

sehat,

3)

Menumbuhkan kebiasaan berolahraga dan aktivitas

fisik,

serta

4)

Memantau

mempertahankan berat-badan normal.

dan

5

Belum Optimalnya Metode Sosialisasi dan Edukasi Konvensional

Dasar

prevalensi bawah lima tahun (balita) kurang

obesitas.

menyiapkan pola hidup sehat masyarakat

makanan beraneka ragam, 2) Melembagakan

3

Status gizi masyarakat sangat erat perilaku,

Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) untuk

Selama

ini,

mayoritas

metode

sosialisasi pesan gizi seimbang seperti poster, pamflet, dan iklan layanan masyarakat tentu tidak dapat memfasilitasi komunikasi dua arah dan tidak menjamin seseorang untuk disiplin dalam dengan

menjaga

pola

makannya.

berkembangnya

Seiring

teknologi,

penyampaian informasi gizi dapat diakses melalui alamat web dan jejaring sosial di internet, namun sayangnya tidak semua orang

1


masyarakat

mencapai suatu kondisi masa depan yang

dengan status ekonomi menengah kebawah

ingin ditetapkan, yaitu meningkatkan kualitas

dan yang menetap di daerah yang tidak

gizi masyarakat; baik mencegah maupun

dilengkapi dengan akses internet.

menanggulangi

dapat

mengakses,

khususnya

terjadinya

masalah

gizi.

dapat

Adapun implementasi program konsultasi gizi

disampaikan melalui kegiatan konsultasi atau

yang disarankan adalah dilaksanakan secara

konseling,

rutin (setiap bulan sekali) dan memberdayakan

Informasi

sejenis

status

namun tidak

di

gizi

Indonesia

dilakukan

berkesinambungan,

juga

kegiatan rutin

tenaga gizi Puskesmas sebagai penyedia

masyarakat

layanan kesehatan lini pertama yang terletak di

secara

sehingga

jarang untuk berkonsultasi mengenai status

setiap

gizinya

memiliki aksesibilitas yang lebih mendukung

kecuali

sudah

terkena

gangguan

kecamatan,

kesehatan. Di Indonesia, konsultasi gizi untuk

untuk

masyarakat umum saat ini telah terfasilitasi di

memantau

rumah

kecamatan tersebut.

sakit,

klinik,

maupun

klinik

gizi

memberikan

konsultasi

status

Sebagai

puskesmas, namun sifatnya masih opsional,

sehingga

gizi

Puskesmas

rutin

serta

masyarakat

upaya

di

sosialisasi

gizi

sehingga belum semua masyarakat Indonesia

seimbang sekaligus pemantauan status gizi

datang untuk berkonsultasi tentang gizi. Selain

masyarakat, Konsultasi Gizi Rutin Terpadu

itu, jangankan mengonsultasikan diri ke dokter,

dilaksanakan secara rutin setiap satu bulan

mayoritas masyarakat juga jarang bertanya

sekali

maupun mencari informasi tentang status gizi

mengimplementasikan prinsip pengelolaan gizi

mereka. Maka, alangkah lebih baiknya apabila

terpadu yang berkesinambungan, terarah, dan

diterapkan suatu konsultasi gizi terpadu yang

disesuaikan dengan 4 pilar gizi seimbang.

dilaksanakan

Kegiatan dilaksanakan di tiap kelurahan/Rukun

secara

rutin

dan

berkesinambungan di Indonesia, dalam rangka mewujudkan Empat

pemahaman

Pilar

Gizi

dan

yang

untuk

7

Pelaksana kegiatan yang disarankan dapat terdiri atas konselor yang berasal dari tenaga

komprehensif.

bertujuan

Warga(RW).

penerapan

Seimbang

yang

gizi

Puskesmas

yang

minimal

berpendidikan D1 (Asisten Ahli Gizi) dan D3 Prinsip

Dasar

dan

Rancangan

Teknis

Pelaksanaan Konsultasi Gizi Rutin Terpadu

(Ahli Madya Gizi) serta S1/D4 Gizi (Sarjana Gizi)

yang

khusus

dipersiapkan,

telah

adalah

bersertifikasi dalam Usaha Perbaikan Gizi

suatu bentuk pendekatan yang digunakan

Keluarga/Masyarakat atau sebagai tenaga

dalam asuhan gizi untuk menolong individu

profesional di bidang gizi. Subjek partisipan

dan keluarga untuk memperoleh pengertian

terdiri dari anak usia 5 tahun keatas hingga

yang

dan

dewasa dibawah 55 tahun, tidak termasuk ibu

6

hamil. Rentang usia tersebut dipilih mengingat

makna

konseling gizi untuk anak usia dibawah 5

komponen

tahun, ibu hamil, dan lansia (usia 55 tahun

Pengertian

lebih

permasalahan Prinsip

baik

konsultasi

tentang

nutrisional

keterpaduan

mengintegrasikan

gizi

dirinya

yang memiliki

seluruh

dihadapi.

masyarakat serta melibatkan upaya-upaya rasional dan berkesinambungan dalam rangka

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

8

keatas)

telah

difasilitasi

dalam

Posyandu dan KIA Puskesmas.

program

8,9

2


Pada

setiap

pertemuan,

para

Analisis

Manfaat

responden mengikuti konsultasi gizi secara

Pengembangan

bergantian,

Terpadu

dimana

alokasi

waktu

untuk

Program

masing-masing sesi yang direkomendasikan

dan

Prospek

Konsultasi

Gizi

Rutin

Konsultasi

Gizi

Rutin

adalah 10 menit untuk tiap individu, namun

Terpadu tidak hanya memiliki sifat preventif,

dapat disesuaikan dengan keperluan. Setiap

namun juga kuratif dan rehabilitatif. Penelitian

konselor akan memberikan konsultasi dibantu

Inggar

dengan

penyampaian

terdapat perubahan bermakna nilai IMT pada

informasi gizi, yaitu model makanan dari kayu

kelompok perlakuan yang diberikan konseling

yang dilabeli dengan jumlah kalori dan daftar

setiap seminggu sekali selama 8 minggu

pertanyaan terstruktur yang disusun dalam

(p=0,009) yaitu penurunan sebesar 0,8 kg/m ,

formulir food recall asupan makanan.

sedangkan pada kelompok kontrol (diberikan

beberapa

Konsultasi taking

atau

media

diawali

anamnesis

dengan asupan

history

makanan

tahun

2011

menunjukkan

bahwa

2

konseling

hanya

sekali)

tidak

terdapat

perbedaan bermakna IMT (p=0,086).

11

Hal

menggunakan kuesioner food recall, kemudian

tersebut sesuai dengan penelitian sebelumnya

konselor

total,

yang menyatakan bahwa konseling gizi pada

hasil

penderita DM dapat meningkatkan aktivitas

pemeriksaan antropometri yang dilaksanakan

fisik sehingga menurunkan IMT sebesar 0,53

sebelum

kg/m .

menghitung

dilanjutkan

jumlah

dengan konsultasi

kalori

meninjau dan

menganalisisnya.

2 11,12

Konsultasi gizi yang dilaksanakan

Apabila kalori yang dikonsumsi (calorie intake)

secara rutin juga dapat berfungsi sebagai

terukur lebih atau kurang dari seharusnya,

screening atau deteksi dini penyakit terkait

temuan tersebut akan diinformasikan kepada

defisiensi maupun kelebihan gizi sekaligus

responden,

evaluasi

sehingga

responden

dapat

status

gizi

individu.

Bukti

hasil

mengevaluasi diri dan mengatur pola asupan

penelitian para ahli tersebut mengindikasikan

makanannya di kemudian hari. Hasil temuan

bahwa konsultasi gizi lebih optimal untuk

dari anamnesis dan kekurangan/kelebihan

dilaksanakan secara rutin. Bila

kalori dicatat pada Kartu Pemantauan Status

dibandingkan

dengan

metode

hasil

konvensional seperti media cetak (poster,

pemeriksaan antropometri. Untuk selanjutnya,

artikel di majalah maupun surat kabar dan

KPSG wajib dibawa setiap konsultasi gizi rutin

koran dinding) dan media elektronik (perangkat

berlangsung agar dapat membandingkan hasil

lunak komputer, televisi, radio, dan jejaring

pemeriksaan setiap bulannya.

sosial), Konsultasi Gizi Rutin Terpadu lebih

Gizi

(KPSG)

Pada

bersama

kasus

dengan

tertentu

yang

direkomendasikan karena alasan teoritis dan

membutuhkan penanganan lebih lanjut seperti

bukti

gizi buruk dan obesitas berat, konselor dapat

dipaparkan. Namun, metode sosialisasi gizi

merujuk ke dokter spesialis gizi serta mendata

seimbang

dan

sebagai

melaporkan

ke

kepala

lingkungan

penelitian

para

konvensional program

setempat dan dinas kesehatan di daerah

ekonomis,

tersebut, sehingga dapat ditindaklanjuti.

mengeluarkan

ahli

yang

dapat

pendukung.

masyarakat biaya

digunakan Dari

tidak dalam

telah

segi perlu

mengikuti

Konsultasi Gizi Rutin Terpadu, sehingga minat

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

3


masyarakat untuk rutin berkonsultasi dapat

7. Iis Rosita, Dewi Marhaeni DH, Kuswandewi Mutyara.

ditingkatkan.

2012.

Konseling

Gizi

Sebagai simpulan, program Konsultasi

Transtheoretical Model dalam Mengubah

Gizi Rutin Terpadu efektif dan efisien secara

Perilaku Makan dan Aktivitas Fisik Pada

teoritis, didukung hasil penelitian terkait serta

Remaja Overweight dan Obesitas: Suatu

bersifat komprehensif dan aplikatif, sehingga

Kajian

direkomendasikan sebagai upaya potensial

Universitas Padjadjaran, Bandung.

dalam sosialisasi penerapan Empat Pilar Gizi Seimbang

sekaligus

mendukung

program

Literatur.

Fakultas

Kedokteran

8. Kemenkes RI. 2011. Seribu Hari Untuk Negeri (Draft) Panduan Gerakan Nasional Sadar Gizi Menuju Manusia Indonesia

perbaikan gizi masyarakat Indonesia.

Prima. Kementerian Kesehatan RI, Jakarta. DAFTAR PUSTAKA

9. Redaksi Kimkirana. Program Perbaikan

1. Murniningtyas, E. dan A. Atmawikarta.

Gizi

Masyarakat.

Indonesia:

Kimkirana

2006. Rencana Aksi Nasional Pangan dan

2011. [10 September 2013]. Diakses pada:

Gizi(RANPG) 2006-2010. Jakarta: Dewan

http://kimkirana.blogspot.com/2012/05/prog

Ketahanan Pangan, Departemen Pertanian,

ram-perbaikan-gizi-masyarakat-di.html

Departemen Kesehatan dan DPP PERGIZI

10. Sembiring N. 2004. Posyandu sebagai Saran Peran Serta Masyarakat dalam

Pangan. 2. UNDP. United Nations: HDI Trends 2013.

Usaha

Peningkatan

Kesehatan

pada:

Masyarakat. Medan: Bagian Kependudukan

http://hdr.undp.org/hdr4press/press/outreac

dan Biostatistik FKM Universitas Sumatera

h/figures/HDI_Trends_2013.pdf

Utara.

[1

Oktober

2013]

Diakses

3. Hadi, H. 2005. Beban Ganda Masalah Gizi

11. Inggar O.P. 2011. Pengaruh Frekuensi

Kebijakan

Konseling Gizi dan Gaya Hidup terhadap

Pembangunan Kesehatan Nasional. Pidato

Indeks Massa Tubuh, Lingkar Pinggang,

Pengukuhan Jabatan Guru Besar Pada

Tekanan Darah, dan Glukosa Darah pada

Fakultas Kedokteran UGM. Yogyakarta:

Penderita

Fakultas Kedokteran UGM.

Fakultas

Dan

Implikasinya

Terhadap

4. Budiyanto, M.A.K. 2002. Dasar-Dasar Ilmu

Penelitian

dan

Mellitus.

Kedokteran

Skripsi.

Universitas

Diponegoro. 12. Allen N.A., Fain J.A., Braun Barry, Chipkin

Gizi. Malang: UMM Press. 5. Badan

Diabetes

Pengembangan

Stuart

R.

2008.

Continuous

glucose

Kesehatan. 2010. Riset Kesehatan Dasar

monitoring counseling improves physical

(Riskesdas 2010). Jakarta: Kementerian

activity behaviors of individual with type 2

Kesehatan Republik Indonesia.

diabetes:

6. Kementerian

Kesehatan

Republik

a

randomized

clinical

trial.

Diabetes Res Clin Pract. 80(3):371-379.

Indonesia. Gizi Seimbang, Bangsa Sehat Berprestasi. [25 Februari 2014]. Diakses pada: http://www.depkes.go.id/index.php?vw=2&i d=NW.2014310002.

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

4


METAANALISIS

EFEK HEPATOPROTEKTIF SECARA IN VITRO TERHADAP TANAMAN OBAT (STUDI TERHADAP SKRIPSI MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MULAWARMAN ANGKATAN 20012009) Desy Merindasari1, Swandari Paramita2, Sjarif Ismail3 1 2 3

Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman (FK UNMUL), Samarinda, Indonesia Laboratorium Ilmu Kesehatan Masyarakat FK UNMUL, Samarinda, Indonesia Laboratorium Farmakologi FK UNMUL, Samarinda, Indonesia

Email: desymerinda@yahoo.co.id

ABSTRAK Hepatitis merupakan salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia dan kebanyakan terjadi pada tahap akut. Tatalaksana utama pada tahap ini ialah pemberian bahan-bahan yang berkhasiat hepatoprotektif yang banyak terkandung dalam tanaman obat. Penelitian ini mengumpulkan sembilan tanaman obat yang telah diuji efek hepatoprotektif secara in vitro dengan induksi CCl 4 oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman angkatan 2001-2009, kemudian dilakukan penelitian meta-analisis untuk mengetahui tanaman obat yang memiliki efek hepatoprotektif terbaik. Hasil penelitian efek hepatoprotektif tanaman obat diatas dihitung nilai konsentrasi efektif 50% (EC50) dengan regresi linier dan heterogenitas diuji dengan One Way Anova, selanjutnya diaplikasikan dalam meta-analisis. Hasil penelitian meta-analisis pada nilai EC50 Mallotus paniculatus, Koordersiodendron pinnatum, Elaeocarpus stipalaris, Piper crocatum, Omalanthus populneus, Spatolobus ferrugineus, Aristolochia papilifolia dan Coccinia grandis didapatkan nilai p<0.001 terhadap Dracontomelon dao. Hasil meta-analisis disimpulkan Dracontomelon dao memperlihatkan efek hepatoprotektif yang paling efektif. Kata kunci: Meta-analisis, Tanaman Obat, Hepatoprotektif, Hepatitis. ABSTRACT Hepatitis is one of the major health problems in Indonesia and mostly occurs in the acute phase . The main management of this phase is with giving of nutritious ingredients with hepatoprotective effect that are contained in medicinal plants . This study collected nine medicinal plants that have been tested their in vitro hepatoprotective effect with induction CCl4 by the students of the Faculty of Medicine, University Mulawarman forces 2001-2009 , then performed a meta - analysis to determine the medicinal plants that have the best hepatoprotective effect . The results of the study of hepatoprotective effects medicinal plants above was calculated its effective concentration 50 % ( EC50 ) with linear regression and heterogeneity was tested with One Way Anova , then applied in a meta â&#x20AC;&#x201C; analysis . The results of this meta- analysis at the value of EC50 show that Mallotus paniculatus , Koordersiodendron pinnatum , Elaeocarpus stipalaris , Piper crocatum , Omalanthus populneus , Spatolobus ferrugineus , Aristolochia papilifolia and Coccinia grandis has p value < 0.001 to Dracontomelon dao . The results of the meta - analysis concluded Dracontomelon dao shows the most effective hepatoprotective effects . Keywords : Meta-analysis, Medicinal plants, Hepatoprotective, Hepatitis.

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

6


1. PENDAHULUAN Hepar merupakan organ vital yang

dimaksimalkan

dengan

menjalankan fungsi metabolisme, sekresi, dan

hepatoprotektif

tanaman

menguji

efek

tersebut

dalam

6

penyimpanan dalam tubuh manusia. Gangguan

penelitian eksperimental. Uji ini telah dilakukan

fungsi hepar dapat diakibatkan oleh berbagai

di Indonesia khususnya Provinsi Kalimantan

penyebab, salah satunya adalah jejas pada sel

Timur oleh mahasiswa angkatan 2001-2009 di

1

hepar. Jejas sel hepar dapat diakibatkan oleh

Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman

proses infeksi maupun non infeksi, kedua hal ini

(diadaptasi dari data primer Bagian Akademik

mengakibatkan terjadinya stres oksidatif hingga

Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman).

peradangan

sel

hepar

atau

hepatitis.

2

Tanaman

yang

telah

melalui

uji

Berdasarkan data World Health Organization

hepatoprotektif

(WHO) tahun 2012, hepatitis mengakibatkan

Kedokteran Universitas Mulawarman dengan

kematian pada 1 juta penduduk dunia tiap tahun

menggunakan

dan sekitar 500 juta penduduk dunia mengalami

kerusakan

hepatitis kronik bisa menjadi sirosis hepar dan

Dracontomelon dao, Piper crocatum, Coccinia

kanker hepar.

3

grandis,

di

Laboratorium

CCl4 hepar

sebagai tikus

Aristolochia

Fakultas

penginduksi wistar

papilifolia,

ialah

Spatolobus

Angka kejadian hepatitis di Indonesia

ferrugineus, Mallotus paniculatus, Omalanthus

yang tinggi terjadi khususnya pada hepatitis

populneus, Koordersiodendron pinnatum, dan

tahap akut. Penatalaksanaan utama hepatitis

Elaeocarpus stipalaris. (diadaptasi dari data

akut

World

primer Bagian Akademik Fakultas Kedokteran

Gastroenterology Organisation (WGO) adalah

Universitas Mulawarman). Beberapa penelitian

terapi suportif. Tujuan terapi suportif untuk

mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas

meningkatkan kekebalan sel hepar terhadap

Mulawarman terkait uji efek hepatoprotektif

bahan-bahan yang dapat menginduksi hepatitis.

terhadap

Salah satu terapi suportif hepatitis adalah

menggunakan

pemberian

bersifat

kerusakan hepar tersebut memiliki variasi dosis

yang khususnya terkandung

ektrak tanaman antar penelitian. Penelitian-

berdasarkan

Guideline

bahan-bahan

hepatoprotektif

yang

dalam tanaman obat.4

tanaman

obat

CCl4

khususnya

sebagai

yang

penginduksi

penelitian tersebut akan digabungkan hasilnya

Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam penyediaan bahan baku tanaman

dengan menggunakan teknik statisik metaanalisis.7,8 Melalui

obat. Bahan baku tersebut tersimpan di dalam

meta-analisis

ini

penulis

hutan dan kekayaan tanaman obat Indonesia

berharap dapat memberi petunjuk mengenai

terdiri atas 30.000 jenis tanaman dari total

satu

40.000 jenis tanaman di dunia, dimana 940 jenis

hepatoprotektif secara in vitro. Meta-analisis ini

diantaranya merupakan tanaman obat, jumlah

diharap memberi petunjuk penelitian lebih lanjut

ini merupakan 90% dari jumlah tanaman obat di

terkait

kawasan Asia.

5

Potensi

tanaman

uji

terbaik

hepatoprotektif

dengan

sehingga

efek

akan

menghasilkan penelitian yang lebih baik di masa tanaman-tanaman

obat

di

Indonesia sebagai bahan hepatoprotektif dapat JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

mendatang khususnya di Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman. 7


2. METODOLOGI Rancangan penelitian ini menggunakan

Alur penelitian meta-analisis ini dimulai

metode observasional retrospektif dengan teknik

dari mengumpulkan data skripsi angkatan 2001-

statistik meta-analisis untuk membandingkan

2009 tentang efek hepatoprotektif secara in vitro

hasil penelitian efek hepatoprotektif secara in

terhadap tanaman obat, lalu menguji data

vitro antara tanaman obat Dracontomelon dao,

persentase peroksidasi lipid rata-rata

tiap

Piper crocatum, Coccinia grandis, Aristolochia

tanaman

dan

papilifolia,

menghitung nilai effective concentration 50 dari

Spatolobus

Koordersiodendron paniculatus,

ferrugineus,

pinnatum,

Omalanthus

Mallotus

populneus,

dan

obat

persamaan peneliti

dengan

yang

melakukan

regresi

didapatkan. uji

linier,

Selanjutnya

heterogenitas untuk

Elaeocarpus stipalaris. Variabel yang digunakan

mengetahui efek gabungan penelitian mana

dalam penelitian ini adalah kadar Effective

yang akan digunakan dan melakukan uji meta-

Concentration 50 (EC50) dari masing-masing

analisis untuk mengetahui efek hepatoprotektif

tanaman obat. EC50 merupakan konsentrasi

tanaman obat yang terbaik.

ekstrak tanaman obat yang dapat menginduksi

Data yang terkumpul disusun, lalu

setengah efek setelah waktu paparan tertentu.

diolah dan disajikan dengan perangkat lunak

Populasi dan sampel penelitian sesuai kriteria

komputer. Hasil analisis berbeda bermakna

inklusi dan eksklusi ditunjukkan oleh Gambar 1.

jika p<0,05.

Gambar 1. Populasi dan Sampel Meta Analisis sesuai Kriteria Inklusi dan Eksklusi Sumber: diadaptasi dari data Akademik Fakultas Kedokteran UNMUL tahun 2013 penelitian tersebut menggunakan persentase 3. HASIL PENELITIAN

peredaman lipid peroksidase sebagai indikator

Meta-analisis pada 9 penelitian aktivitas hepatoprotektif melalui

pada

beberapa

efek

hepatoprotektif.

peroksidase

persentase

tanaman

diidentifikasi

peredaman

langkah.

Kesembilan

konsentrasi ekstrak tanaman obat melalui uji

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

lipid

Analisis

terhadap

8


regresi

linier

selanjutnya

persamaan

yang

didapat digunakan untuk mendapatkan nilai Tabel 1 menunjukkan nilai EC50 atau kemampuan

ekstrak

tanaman

dalam

Effective

Concentration

50%

(EC50)

yang

tertera pada Tabel 1. penelitian Rahman (2008) yang menggunakan Dracontomelon

dao

menunjukkan

nilai

konsentrasi tertentu yang dapat menginduksi

konsentrasi yang paling efektif dibandingkan

setengah efek hepatoprotektif secara in vitro.

penelitian lainnya karena dengan dosis yang

Konsentrasi

paling kecil mampu menginduksi setengah

terkecil

EC50

dimiliki

oleh

Dracontomelon dao dan nilai terbesar dimiliki oleh

Coccinia

grandis.

Nilai

EC50

efek dari hepatoprotektif secara in vitro.

dari

Tabel 1. Hasil Perhitungan EC50 melalui Uji Regresi Mean EC50 (µg/mL) ± Standar Deviasi

Penelitian

Tanaman

Rahman, A. (2008)

Dracontomelon dao

Sari , D.T. (2010)

Mallotus paniculatus

Puspasari, F. (2011)

Koordersiodendron pinnatum

Helyani, R. (2011)

Elaeocarpus stipalaris

Eldatarina, H. (2012)

Piper crocatum

Purwanto,H. (2012)

Omalanthus populneus

Rhomadani, L.W. (2012)

Spatolobus ferrugineus

Ridwan,N.Y. (2012)

Aristolochia papillifolia

Ratri, S.R.(2012)

Coccinia grandis .

53 ± 18,87 164 ± 7,53* 172 ± 28,75* 213 ± 1,79* 334 ± 5,99* 359 ± 27,39* 369 ± 0,93* 550 ± 20,86* 609 ± 21,09* Keterangan: Persamaan regresi linier dan nilai EC50 didapat dari rata-rata 3 kali pengulangan, *memiliki perbedaan bermakna dibandingkan dengan EC50 Dracontomelon dao Sumber: diadaptasi dari data akademik Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman tahun 2013.

Langkah awal sebelum memulai meta-

Ukuran statistik yang digunakan dalam

analisis adalah dengan menguji heterogenitas

meta-analisis ini adalah beda rerata antar nilai

dari data EC50 semua tanaman obat dengan

EC50 tanaman obat.

Uji Multi Comparison

menggunakan uji Homogeneity and Variances

Tukey

nilai

test dan One Way Anova. Hasil analisa

paniculatus,

menunjukkan data antar penelitian memiliki

Elaeocarpus

perbedaan bermakna dengan nilai p<0,001

Omalanthus

dan variasi dengan nilai p=0.019 (p<0.05).

ferrugineus,

Model efek gabungan yang digunakan pada

Coccinia

penelitian meta-analisis ini adalah random

terhadap Dracontomelon dao. Hasil meta-

effect model karena data bersifat heterogen.

analisis

menunjukkan

EC50

Koordersiodendron stipalaris, Aristolochia

grandis pada

ini

pinnatum,

Piper

populneus, memiliki

Mallotus crocatum,

Spatolobus papilifolia nilai

menunjukkan

dan

p<0,001 bahwa

perbedaan bermakna yang terjadi mengarah

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

9


pada efek hepatoprotektif Dracontomelon dao

kepercayaan tidak melewati angka 0. Dengan

yang paling efektif.

demikian diketahui bahwa Hipotesa Null yang

Gambar

2

menunjukkan

efek

menyatakan bahwa tidak ada perbedaan yang

gabungan penelitian memiliki perbedaan yang

signifikan antara sampel meta-analisis ditolak

bermakna secara statistik dengan nilai efek

dan

gabungan p=0.000 (p<0.05) dan

Hipotesa

alternatif

diterima.

interval

Gambar 2. Forest Plot Hasil Meta-Analisis Keterangan: DD (Dracontomelon dao), MP (Mallotus paniculatus), KP (Koordersiodendron pinnatum), ES (Elaeocarpus stipalaris)., PC (Piper crocatum), OP (Omalanthus populneus),SF (Spatolobus ferrugineus )., AP (Aristolochia papilifolia) dan CG (Coccinia grandis)

4. DISKUSI Hasil

penelitian

mengenai

efek

hepatoprotektif tanaman obat yang menjadi

dengan konsentrasi kecil mampu menghasilkan 50% efek maksimum.

9

Salah satu cara untuk mendapatkan

sampel meta-analisis ini awalnya menggunakan peroksidase

nilai EC50 dari tiap sampel dengan melakukan

sebagai ukuran efek hepatoprotektif tanaman

uji regresi linier konsentrasi tanaman obat yang

obat dengan variasi konsentrasi tanaman obat

diuji terhadap persentase lipid peroksidase

yang besar. Satu cara terbaik untuk mengetahui

dihasilkan. Hubungan antara konsentrasi dan

potensi efek obat adalah dengan mengetahui

efek

50% efek maksimum yang mampu ditimbulkan

diumpamakan seperti garis lurus yang berati

oleh suatu obat, atau biasa disebut dengan

tingkat perubahan persentase peredaman lipid

EC50. Tanaman obat yang memiliki nilai EC50

peroksidase akan sama di setiap tingkatan

lebih kecil akan dianggap lebih kuat karena

dosis.

persentase

peredaman

lipid

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

peredaman

10

lipid

peroksidase

Garis lurus hasil uji regresi linier

10


memiliki persamaan yang dalam hal ini y

populasi, waktu, tempat, dan kondisi yang

sebagai

berbeda.

persentase

peredaman

lipid

7

peroksidase dan x sebagai dosis tanaman obat.

Random effect model yang digunakan

Melalui persamaan ini akan didapatkan nilai

sebagai efek gabungan pada meta-analisis

EC50 dari tanaman obat.

mengasumsikan bahwa efek masing-masing

Nilai tanaman yang diperoleh dari 3

penelitian bervariasi sekitar rerata efek secara 12

percobaan kemudian dijumlahkan dan dicari

keseluruhan.

rata-ratanya. Berdasarkan hasil analisis tersebut

estimasi efek gabungan bukanlah satu nilai,

didapatkan nilai EC50 dari yang paling kecil ke

melainkan rata-rata dari distribusi nilai-nilai,

besar adalah Dracontomelon dao< Mallotus

berbeda dengan fixed effect model yang

paniculatus<

Koordersiodendron

pinnatum<

memiliki satu nilai ukuran statistik yang

Elaeocarpus

stipalaris<

crocatum<

benar.13

Piper

Melalui random effect model

Random effect model

Omalanthus populneus< Spatolobus ferrugineus

digunakan

< Aristolochia papillifolia< Coccinia grandis.

apabila sedang mengumpulkan data dari

Hasil uji regresi menunjukkan nilai EC50 paling

serangkaian studi yang telah dilakukan orang

kecil

oleh

lain, sehingga hampir tidak mungkin semua

Dracontomelon dao, hal ini sesuai dengan

studi memiliki fungsi yang sama. Subyek dan

penelitian

bahwa

intervensi dalam studi ini akan berbeda dan

merupakan salah satu

berdampak pada hasil, oleh karena itu tidak

tanaman obat dengan kemampuan antioksidan

dapat berasumsi pada satu nilai ukuran. Selain

sekaligus paling Ismail

et

Dracontomelon dao

al.

yang kuat.

11

akan

meta-analisis

di

efektif

dimiliki

(2007)

Data rata-rata EC50 kemudian untuk

memperoleh

itu model ini juga dapat digunakan untuk mengeneralisasi ke berbagai populasi.13 Hasil

tanaman mana yang memiliki efek terbaik yang

dari

meta-analisis

dengan

random effect model menunjukkan bahwa

bermakna. Langkah pertama yang dilakukan dalam

perbandingan antara EC50 Dracontomelon Mallotus

paniculatus,

Koordersiodendron

pinnatum,

Elaeocarpus

penelitian yang menjadi sampel meta-analisis ini

stipalaris.,

crocatum,

Omalanthus

berskala numerik, maka yang dapat digunakan

populneus,

sebagai ukuran statistik adalah beda rerata

Aristolochia papilifolia dan Coccinia grandis

meta-analisis

adalah

menentukan

statistik yang akan digunakan.

antar kelompok.

12

ukuran

Hasil dari

7,8

dao

dengan Piper

Spatolobus

ferrugineus,

memiliki perbedaan yang bermakna. Metaselanjutnya

analisis ini menunjukkan bah\wa perbedaan

menentukan efek gabungan yang akan dipilih

yang bermakna mengarah ke nilai EC50

melalui

Dracontomelon dao yang paling efektif.

Langkah uji

meta-analisis heterogenitas.

Hasil

uji

heterogenitas menunjukkan bahwa data antar

Hasil meta-analisis yang dalam forest

penelitian bersifat heterogen sehingga efek

plot seperti pada Gambar 2 menunjukkan

gabungan yang dipilih adalah random effect

visualisasi

model.

12

Heterogenitas

antar

dari

masing-masing

penelitian.

penelitian

Kotak segi empat merupakan ukuran beda

menunjukkan bahwa prosedur yang sama

rerata, dan ukuran segi empat disesuaikan

dapat berbeda hasilnya bila dilakukan pada

dengan bobot masing-masing penelitian. Garis

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

11


horizontal pada kotak merupakan interval

tradisional yang beredar wajib memenuhi

kepercayaan dimana ujing kiri merupakan nilai

persyaratan

minimal dan ujung kanan merupakan nilai

Pemenuhan syarat keamanan dan khasiat ini

maksimal.

12

keamanan

dan

khasiat.

16

dapat terwujud dengan pengembangan uji pra

Bentuk

wajik

pada

Gambar

2

merupakan visualisasi dari efek gabungan penelitian. Titik tengah wajik merupakan nilai

klinis untuk mengetahui batas-batas dosis yang efektif dan aman dan tahap uji klinis.6 Hasil penelitian uji pra klinis secara in

interval

vitro terhadap binatang percobaan merupakan

keperyaan pada ujung kiri dan kanannya. Nilai

salah satu ketetapan yang harus dilakukan

minimum terletak pada ujung kiri dan nilai

sebelum menuju tahapan uji klinis. Keputusan

maksimum pada ujung kanan. Hasil meta-

untuk melanjutkan tahapan penelitian kearah

analisis meenunjukkan bahwa efek gabungan

uji klinis pada manusia memerlukan evidence

penelitian mengarah ke nilai Dracontomelon

based yang kuat bahwa penelitian pada uji pra

dao sebagai tanaman obat dengan efek

klinis pada binatang percobaan memiliki efek

hepatoprotektif terbaik dibandingkan lainnya.

yang bermakna. Pembuktian keilmiahan yang

Interval kepercayaan juga tidak melewati

paling baik untuk dapat menunjukkan efek

angka

EC50

bermakna dari suatu uji pra klinis adalah

Dracontomelon dao dan tanaman obat lain

dengan melakukan meta-analisis terhadap

ukuran

efek

0

gabungan

yang

dengan

berati

memiliki nilai yang berbeda.

bahwa

12

hasil-hasil penelitian terkait.

17

Dracontomelon dao merupakan salah satu tanaman di Kalimantan Timur yang berkhasiat sebagai obat. Penelitian oleh Ismail

5. KESIMPULAN Hasil

meta-analisis

et al. (2007) menunjukkan bahwa tanaman ini

menggunakan

memang memiliki efek antioksidan yang kuat

menunjukkan

melalui

diphenyl-1-picryl-

memiliki efek hepatoprotektif in vitro terbaik

hydrazil), peredaman radikal hidroksil, dan

dilihat dari nilai EC50 yang paling efektif dan

superoksida.14

bermakna.

uji

DPPH

(2,2-

Dracontomelon kemampuan

dao

toksisitas akut

juga yang

random

dengan

bahwa

effect

model

Dracontomelon

dao

memiliki sangat

6. SARAN

rendah atau lethal concentration 50 lebih dari

Meta-analisis ini dapat menjadi dasar

1.000 Âľg/mL. Kemampuan toksisitas kroniknya

yang kuat bahwa penelitian Dracontomelon

juga telah diteliti oleh Arsyad et al. (2009) yang

dao pada uji pra klinis secara in vitro pada

menunjukkan konsumsi secara oral selama 12

hepar binatang percobaan memiliki efek yang

minggu bersifat tidak toksik dan tidak merubah

bermakna

profil fungsi hati secara bermakna.

sehingga

diperlukan

tahapan

penelitian selanjutnya agar Dracontomelon

15

Data mengenai EC50 dan toksisitas

dao dapat menjadi berkembang menjadi obat

sangat penting karena berdasarkan Keputusan

herbal terstandar sampai dengan fitofarmaka

Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

dalam menangani hepatitis.

381/MENKES/SK/III/2007 tentang kebijakan obat

tradisional

nasional

bahwa

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

obat

12


DAFTAR PUSTAKA

10. Streffer, C. Low Dose Exposures in The Environment: Dose - Effect Relations and

1. Kumar, et al. Buku Ajar Patologi Edisi 7

Risk Evaluation. Germany: Springer, 2004.

Volume 2. Jakarta: EGC, 2004. 2. Kumar, C.H. “A Review on Hepatoprotective

11. Ismail, S. et al. “Eksplorasi Biotamedika

Activity in Medicinal Plants.” International

Kandungan Kimia, Toksisitas, dan Aktivitas

Journal of Pharmaceutical Sciences and

Antioksidan dan Tumbuhan Asli Kalimantan

Research , 2011 : pp. 501-515.

Timur.” Fakultas Kedokteran Universitas

3. WHO. “Prevention and Control of Viral Hepatitis Infection: Framework for Global

Mulawarman ,2007 : pp. 1-24. 12. Dahlan, M.S. Seri 12 Pengantar Meta-

Action.” World Health Organization , 2012.

Analisis:

4. Rechtman, M.M., et al. “Curcumin Inhibits

dengan 13.

menggunakan

meta-analisis

program

excel.

Borenstein,

M.,

L.

Hedges dan H.

Rothstein. “Introduction to Meta-Analysis:

Elsevier B.V. (2010): pp.2485-2490. 5. APFORGEN. “Tanaman Obat Indonesia.”

Section Fixed Effect vs. Random Effect Models.” , 2007: pp. 85-115.

Asia Pacific Forest Genetic Resources Programme News Letter Edisi 2 , 2010: pp.

14. Ismail,S.,et al. “Laporan Penelitian Hibah Pekerti Tahun II: Eksplorasi Biomedika

1-4. 6.

aplikasi

Jakarta: PT. Epidemiologi Indonesia, 2012.

Hepatitis B Virus via Down Regulation of The Metabolic Coactivator PGC-1 Alpha.”

disertai

Kamaluddin,

M.T.

Munaf.

Kandungan Kimia, Toksisitas, dan Aktivitas

“Penelitian, Pengembangan, dan Penilaian

Antioksidan Tumbuhan Asli Kalimantan

Obat.”

Timur Samarinda.” ,2006.

Sriwijaya,

Departemen

dan

S.

Staf

Pengajar

Farmakologi

Fakultas

15.

Arsyad,

H.

“Laporan

Penelitian:

Uji

Kedokteran Universitas. Kumpulan Kuliah

Toksisitas

Kronik

Farmakologi. Jakarta: EGC, 2008. pp. 66-

Cratoxylum

aumatranum

73.

Bidang Ekonomi dan Pembangunan Badan dan

Ginekologi

8. Siswanto. “Systematic Review sebagai

16.

Kepmenkes Kesehatan

RI.

“Keputusan

Republik

Indonesia

Metode Penelitian untuk Mensintesis Hasil-

381/MENKES/SK/III/2007

Hasil

Kebijakan

Penelitian

Buletin

(Sebuah

Penelitian

Sistem

Pengantar).” Kesehatan

pada

Tikus.”

Kalimantan Timur , 2009.

Fakultas

Kedokteran Universitas Padjajaran, 2005.

Etanol

Penelitian dan Pengembangan Provinsi

7. Anwar, R. Meta Analisis. Bandung: Bagian Obstetri

Ekstrak

Obat

Kementerian

Tradisional Kesehatan

Menteri Nomor tentang

Nasional.” Republik

Indonesia , 2007: pp. 1-27.

Volume 13 No.4 , 2010: pp. 326-333. 9. DiPiro, J.T., W.J. Spruill dan W.E. Wade.

17. du Sert, N.P. “Systematic Review and

“Concepts in Clinical Pharmacokinetics 5th

Meta-Analysis of Pre-Clinical Research:

edition.”

The

American

Society

of

Health

Pharmacist , 2010.

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

Need

of

Reporting

Guidelines.”

European Heart Journal , 2011: p. 2340.

13


Penelitian

HUBUNGAN ANTARA PREVALENSI DEPRESI DENGAN TIPE LOCUS OF CONTROL (LOC) MAHASISWA KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA Ni Putu Ayu Astri Prana Iswara1,Luh Nyoman Ananda Mahayati1,Ni Made Ratih Purnama Dewi1 1)

Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali

Email: astripranaiswara@gmail.com

ABSTRAK Prevalensi depresi, kelelahan dan penyakit mental pada mahasiswa kedokteran memiliki prevalensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum seusianya. Depresi ditemukan berhubungan dengan tipe Locus of Control (LOC). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara prevalensi depresi dengan tipe LOC, serta faktor risiko lain yang berhubungan dengan prevalensi depresi pada mahasiswa kedokteran Universitas Udayana. Rancangan penelitian yang digunakan adalah analitik potong-lintang (cross sectional) yang dilaksanakan dari tanggal 2 November 2013 sampai 15 Desember 2013. Sampel penelitian adalah mahasiswa program studi pendidikan dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana tahun pertama hingga ketiga pada tahun ajaran 2013-2014. Sampel dipilih menggunakan metode simple random sampling. Dari 300 sampel terpilih, 284 sampel (response rate=94,67%) telah berpartisipasi dalam penelitian ini. Ditemukan hubungan yang signifikan antara prevalensi depresi dengan tipe LOC (p<0,001). Hubungan ini tetap bermakna ketika dilihat berdasarkan tahun angkatan mahasiswa tahun pertama p<0,001; tahun kedua p=0,009; tahun ketiga p<0,001. Terdapat hubungan terbalik dengan kekuatan sedang antara skor LOC dan BDI [r=-0,4; 95%CI (-0,50) â&#x20AC;&#x201C; (-0,28)], artinya mahasiswa yang memiliki LOC tipe internal (LOC-i) cenderung tidak mengalami depresi. Sebaliknya, mahasiswa dengan LOC tipe eksternal (LOC-e) memiliki kecenderungan untuk mengalami depresi yang lebih tinggi dibandingkan tipe LOC lainnya. Kata kunci : depresi, locus of control, mahasiswa kedokteran ABSTRACT The prevalence of medical students who have depressive symptoms, tiredness, and other mental health disease is higher than other majority population at the same average of age. Depression is found to have relationship with self-controlling ability called Locus of Control (LOC). This study was conducted to assess the relationship between depression and type of LOC and other depressionrelated factors among medical students of Medical Faculty of Udayana University. An analytical cross-sectional study was conducted on first, second, and third year medical students which was held from November 2nd 2013 to December 15th 2013. Samples were chosen using simple random sampling technique. From 300 samples chosen, 284 samples were willingly participated in this study (response rate=94.67%). In this study there was significant relationship between the prevalence of depression and type of LOC (p<0.001). This relationship is still significant based on year of study (first year p<0.001; second year p=0.009; third year p<0.001). The prevalence of depression and LOC has negatively intermediate relationship r=-0,4; 95%CI (-0,50) â&#x20AC;&#x201C; (-0,28)] which means students with internal LOC (LOC-i) tend to perform no depression. Meanwhile, students with LOC-e tend to perform depression higher than the other types. Keywords: depression, locus of control, medical students

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

14


1. PENDAHULUAN

e). LOC-i menggambarkan persepsi bahwa

Depresi merupakan penyebab gangguan 1

hal positif maupun negatif yang terjadi

mental utama di dunia. Menurut WHO, depresi

merupakan konsekuensi dari apa yang telah

diprediksi akan menduduki posisi kedua kejadian

dilakukan

dan

dibawah

kontrol

kesehatan mental terbanyak di tahun 2020.

2

hal-hal

tersebut

berada

yang

mereka

miliki.

8

Depresi dapat terjadi pada setiap orang dengan

Sebaliknya, LOC-e menjelaskan bahwa hal

tidak memandang jenis kelamin, strata sosial,

positif

profesi, dan umur. Dewasa ini, penelitian di

berhubungan dengan perilaku seseorang

bidang psikiatri mulai berfokus pada kejadian

dan menganggap segala hal berada diluar

depresi di kalangan mahasiswa kedokteran

kontrol mereka miliki.8

calon dokter rentan mengalami stres. Penelitian

di

Turki

21,9%.4

sebesar

terhadap

Studi

128

pada

335

mahasiswa kedokteran di Cina menemukan 2% sampel penelitiannya mengalami depresi berat. Rentangan

prevalensi

depresi

pada

5

127

mahasiswa kedokteran di Inggris adalah sebesar 14%-24%.

6

Studi yang dilakukan pada 336

mahasiswa kedokteran di

yang

terjadi

tidak

berkontribusi terhadap prevalensi depresi,

mahasiswa kedokteran didapatkan prevalensi depresi

negatif

Ada beberapa faktor yang dicurigai

karena dianggap sebagai masa dimana para 3

dan

seperti

(p=0,044) ,

dukungan

Indeks Masa

finansial

Tubuh

(IMT)

(RR=1,48; 95%CI 1,00-2,27)11, kesulitan beradaptasi

di

lingkungan

perkuliahan

3

(p=0,002) , kebiasaan merokok (OR=1,48; 12

95%CI

1,40-1,57) ,

(p=0,05)

13,

konsumsi

alkohol

dan adanya tuntutan orang tua

untuk menjadi seorang dokter (p=0,017).14 Penelitian

India didapatkan 2

persepsi 10

ini

bertujuan

untuk

Pada

mengetahui hubungan antara prevalensi

279 sampel penelitian di Pakistan didapatkan

depresi dengan tipe LOC dan faktor lain

35,1%

yang berkaitan dengan kejadian depresi

49,1% dari mereka mengalami depresi. mahasiswa

depresi.

kedokteran

mengalami

7

pada

Kejadian depresi berhubungan dengan

Kedokteran Universitas Udayana, Bali.

mahasiswa

kedokteran

Fakultas

kemampuan untuk mengontrol diri pada tiap individu.7 Kemampuan ini berhubungan dengan

2. METODE

cara pandang individu mengenai kesuksesan

2.1 Rancangan Penelitian

dan

kegagalan.

8

Kemampuan

ini

juga

Rancangan

penelitian

yang

menimbulkan suatu persepsi yang dialami oleh

digunakan adalah studi analitik potong-

individu saat menghadapi situasi tertentu dalam

lintang (cross sectional).

hidup,

akan

diukur adalah prevalensi depresi dengan

memengaruhi motivasi, ekspektasi, harga diri,

menggunakan instrumen Beck Depression

perilaku

proses

Inventory (BDI) sebagai variabel terikat,

pengambilan keputusan individu. Persepsi inilah

sedangkan tipe kontrol diri dari instrumen

dimana

persepsi

pengambilan

tersebut

risiko,

dan

yang disebut sebagai Locus of Control (LOC).

9

Terdapat dua jenis LOC, yakni LOC tipe internal (LOC-i) dan LOC tipe eksternal (LOC-

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

Variabel

yang

LOC, persepsi dukungan finansial, kesulitan beradaptasi

dengan

gaya

pergaulan

mahasiswa kedokteran, kebiasaan merokok,

15


konsumsi alkohol, dan tuntutan orang tua

Diagnostic and statistical manual of mental

sebagai variabel bebas.

disorders, fourth edition, text revision (DSM

2.2 Populasi dan Sampel

IV-TR).15 BDI terdiri dari 21 kelompok item

Sampel penelitian adalah mahasiswa

dengan

skala

normal,

mild

mood

Fakultas

disturbance-borderline clinical depression,

Kedokteran Universitas Udayana tahun pertama

dan moderate-severe-extreme depression

hingga ketiga pada tahun ajaran 2013-2014.

(skala ini telah dimodifikasi oleh peneliti

Pengambilan dan pengolahan data dilaksanakan

dengan

dari tanggal 2 November 2013 sampai 15

interpretasi data). Nilai berkisar dari 0

Desember 2013 yang berlokasi di Fakultas

sampai 40. Sampel harus memilih satu

Kedokteran Universitas Udayana. Besar sampel

pernyataan pada tiap kelompok item yang

minimal

benar–benar

program

studi

pendidikan

dihitung

dokter

menggunakan

rumus

tujuan

untuk

menyederhanakan

mendeskripsikan

perasaan

perhitungan sampel untuk penelitian cross-

mereka

sectional analitik dengan tingkat kesalahan 5%

termasuk hari saat pengisian kuisioner.

yang berpedoman pada penelitian sebelumnya

Berdasarkan studi Beck, konsistensi internal

di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah

instrumen ini adalah α=0,91 dan reabilitas

9

selama

dua

minggu

terakhir

Mada dan didapatkan jumlah sampel minimal

pengulangan tes (14 hari) adalah r=0,93.

sebesar 54. Pengambilan sampel menggunakan

Nilai Cronbach’s alpha untuk instrumen ini

teknik simple random sampling. Dalam penelitian

sebesar 0,85.

ini dipergunakan sampel sebanyak 300 orang

Locus of Control (LOC)

yang terdiri dari 100 orang pada tiap angkatan. 2.3 Pengumpulan Data

16

Terry Pettijohn II mengembangkan variasi lain dari LOC yang sebelumnya

dalam

diciptakan oleh Rotter.17 LOC digunakan

tentang

untuk mengetahui tipe kontrol diri yang

LOC.

dimiliki sampel penelitian, yaitu tipe internal

Instrumen tersebut dipersiapkan ke dalam dua

atau eksternal. Instrumen ini terdiri dari 20

versi

dan

item dengan pernyataan T (benar) atau F

Indonesia. Instrumen berskala (BDI dan LOC)

(salah). Tiap item bernilai 0-5 dengan

merupakan referensi yang umum digunakan

rentang nilai 0-35=LOC-e, 40-60=both of

sehingga instrumen tersebut dapat langsung

internal and external LOC (LOC-b) dan 65-

digunakan.

100=LOC-i. Rata-rata nilai instrumen ini

Kuisioner Karakteristik Responden

adalah 70,9 (SD=10,9; range 40-90) dengan

Instrumen penelitian

ini

karakteristik

yang adalah

responden,

bahasa,

yaitu

digunakan kuisioner BDI,

Bahasa

dan Inggris

Kuisioner ini terdiri dari 30 item yang

nilai r=-0,39; df=282; p<0,001. Sedangkan

digunakan untuk mengetahui informasi etnis,

nilai Cronbach’s α=0,43.

aktivitas kampus, kondisi lingkungan dan alasan

2.4 Analisis Data

yang mendasari terjadinya depresi. Beck Depression Inventory (BDI)

Data

dianalisis

menggunakan

program perangkat lunak komputer. Analisis

BDI digunakan untuk mengetahui tingkat

data dilakukan secara univariat dan bivariat.

depresi sampel penelitian melalui nilai yang

Analisis univariat digunakan untuk mencari

dihasilkan.

16

Kuisioner ini telah merujuk pada

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

presentase setiap variabel dan dilanjutkan 16


dengan analisis bivariat untuk melihat hubungan

dari sampel yang berpartisipasi adalah 19,07

antara variabel terikat dengan masing-masing

tahun (SD=1,417), di mana mayoritas etnis

variabel bebas dengan menggunakan uji chi

dari sampel adalah etnis Bali, yaitu 181

square dan Pearson correlation.

(63,7%). Sedangkan perbandingan sampel

2.5 Pertimbangan Etik

penelitian dari segi jenis kelamin, yaitu laki –

Sampel telah diinformasikan terlebih

laki 116 (40,8%) dan perempuan 168

dahulu mengenai tujuan dan prosedur penelitian

(59,2%).

melalui informed consent tertulis. Partisipasi

lengkap dapat dilihat pada Tabel 1.

bersifat

sukarela

mengundurkan

dan diri

sampel tanpa

Pada

dapat paksaan.

Karakteristik

prevalensi

Gambar

depresi

sampel

secara

1

dapat

dilihat

pada

setiap

tahun

secara

angkatan (p=0,002). Sampel penelitian yang

observasional dengan menggunakan kuisioner

tidak mengalami depresi paling banyak

terstruktur yang telah dipersiapkan. Kuisioner

terdapat pada tahun ketiga, yaitu 37,4%.

yang digunakan terdiri dari tiga pengukuran,

Kategori BDI Mild Mood Disturbance –

yang akan dijelaskan lebih lanjut.

Borderline Clinical Depression (MBD) paling

Pengumpulan

data

dilakukan

banyak terdapat pada tahun pertama, yaitu 3. HASIL

46,2%.

Sedangkan

kategori

depresi

Jumlah kuisioner yang telah diisi secara

Moderate – Severe – Extreme (MSE) paling

lengkap sebanyak 284, response rate pada

banyak terdapat pada tahun pertama, yaitu

penelitian ini sebesar 94,67% (94,87% pada

52,6% diikuti tahun kedua yaitu 31,6%, dan

tahun pertama, 93,47% pada tahun kedua, dan

terendah pada tahun ketiga yaitu 15,8%.

95,60% pada tahun ketiga). Rata – rata umur

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

17


Gambar 1. Prevalensi depresi

Gambar 2. Tipe Locus of Control (LOC) Gambar 2 dapat dilihat tipe LOC setiap tahun angkatan (p=0,314). Tipe LOC-i

sampel tahun kedua dan ketiga dengan jumlah yang seimbang, yaitu 50,0%.

lebih banyak terdapat pada tahun pertama,

Hubungan antara prevalensi depresi

yaitu 35,9%. Tipe LOC-b paling banyak

dengan tipe LOC memiliki nilai p<0,001 (tahun

terdapat pada tahun pertama, yaitu 49,3%.

pertama p<0,001; tahun kedua p=0,009; tahun

Sedangkan tipe LOC-e hanya terdapat pada

ketiga p<0,001) (lihat Tabel 2). Prevalensi

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

18


depresi kategori MSE yang memiliki LOC-i

pada tahun pertama, yaitu 22,2%. Prevalensi

paling banyak terdapat pada tahun kedua,

depresi kategori MSE yang memiliki LOC-e

yaitu 4,3%. Prevalensi depresi kategori MSE

paling banyak terdapat pada tahun kedua dan

yang memiliki LOC-b paling banyak terdapat

ketiga, yaitu 100%.

Adapun nilai r dari hubungan depresi

Selain

mencari

hubungan

antara

dan LOC adalah -0,4 (negatif 0,4), kuatnya

prevalensi depresi dengan LOC, peneliti juga

hubungan adalah negatif sedang. Terdapat

mencari

hubungan yang berbanding terbalik antara

mempengaruhi terjadinya depresi, dapat dilihat

LOC dengan BDI. Semakin tinggi nilai LOC,

pada Tabel 3. Dari 11 faktor hanya 6 faktor

maka semakin rendah nilai BDI. Apabila nilai

yang memiliki hubungan signifikan(p<0,05),

LOC semakin tinggi, maka LOC sampel

yaitu persepsi terhadap dukungan finansial

semakin mengarah ke tipe internal dan BDI

(p=0,001); kesulitan untuk beradaptasi dengan

akan mengarah ke kategori normal. Begitu

gaya hidup mahasiswa kedokteran (p=<0,001);

juga sebaliknya, semakin rendah nilai LOC,

kebiasaan

semakin tinggi nilai BDI, maka LOC makin

alkohol (p=0,042); adanya tuntutan orangtua

mengarah ke tipe eksternal dan BDI akan

untuk menjadi seorang dokter (p=0,003); dan

mengarah ke kategori depresi berat.

IMT (p=0,001).

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

faktor-faktor

merokok

yang

(p=0,004);

dapat

konsumsi

19


JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

20


Gambar 3. Scatter plot antara LOC dengan BDI (kiri); IMT dengan BDI (kanan)

Dari scatter plot di atas (Gambar 3)

mahasiswa

kedokteran.

Penelitian

ini

menunjukkan bahwa hubungan antara LOC

menunjukkan semakin tinggi nilai LOC maka

dengan BDI berbanding terbalik (r=-0,4) dan

semakin kecil kecenderungan seseorang untuk

nilai p sangat signifikan (p<0,001). Sedangkan

mengalami

hubungan

antara

rendah

berbanding

lurus

IMT

dan

(r=0,213)

BDI dan

adalah nilai

p

signifikan (p<0,004).

depresi,

nilai

LOC

kecenderungan

sebaliknya maka

orang

semakin

semakin tersebut

besar untuk

mengalami depresi. Hal tersebut didukung dengan

4. DISKUSI

uji

korelasi

yang

menunjukkan

hubungan negatif sedang antara keduanya,

Prevalensi depresi tertinggi secara

dengan kata lain mereka dengan tipe LOC-i

tahun

cenderung

tidak

pertama, kedua, lalu ketiga. Hasil ini sejalan

sedangkan

mereka

dengan hasil studi yang dilakukan di Pakistan,

memiliki

Iran, dan India yang menyatakan bahwa

depresi lebih tinggi dibandingkan dengan tipe

tingkat depresi dan kecemasan semakin parah

LOC lainnya. Temuan ini konsisten dengan

pada

penelitian sebelumnya yang dilakukan di

berurutan

terdapat

mereka

pertama.

2,18,19,

pada

yang

angkatan

menginjak

tahun

Hal ini kemungkinan berkaitan

mengalami dengan

kecenderungan

Yogyakarta

dan

tipe

depresi LOC-e

untuk mengalami

Mesir.9,20

Kecenderungan

dengan adanya kurikulum yang padat, stres

depresi yang tinggi pada mereka yang memiliki

akibat lingkungan baru, beban tugas maupun

tipe LOC-e dapat dijelaskan karena LOC-e

belajar yang bertambah berat dan semakin

menimbulkan perasaan yang pesimistis dan

sedikitnya waktu luang.

2,18

persepsi bahwa suatu pencapaian merupakan

Berdasarkan hasil dari penelitian ini

hasil yang tidak dapat mereka kendalikan.

20,21

didapatkan hubungan yang signifikan antara

Seseorang dengan tipe LOC-e cenderung

prevalensi

merasa tidak berdaya dan tertekan saat

depresi

dengan

tipe

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

LOC

21


menghadapi suatu kondisi yang tidak sesuai.21

Adanya tuntutan orang tua untuk

Hal yang sebaliknya terjadi pada mereka

menjadi seorang dokter menunjukkan hasil

dengan

prevalensi

yang signifikan dengan prevalensi depresi

depresinya pun lebih rendah dibandingkan

pada sampel penelitian ini. Hasil penelitian

tipe

LOC-i

sehingga

dengan mereka yang bukan tipe LOC-i.

8,20

sebelumnya menyebutkan hal ini dapat terjadi

Pada penelitian ini ditemukan enam

karena para mahasiswa masih berumur muda

faktor lain yang masih memengaruhi hubungan

sehingga dirasa tidak cukup dewasa untuk

antara prevalensi depresi dengan tipe LOC

mengambil

yang secara signifikan berhubungan dengan

depannya, terkadang mereka harus masuk

depresi,

fakultas kedokteran dengan tidak sepenuh

yaitu

IMT,

persepsi

dukungan

finansial, kesulitan beradaptasi beradaptasi

hati.

keputusan

mengenai

masa

14

dengan gaya hidup mahasiswa kedokteran,

Nilai IMT yang tinggi pada hasil

kebiasaan merokok, konsumsi alkohol dan

penelitian ini menunjukkan hubungan yang

adanya tuntutan orang tua untuk menjadi

positif signifikan dengan prevalensi depresi.

seorang dokter.

Temuan

Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang

ini

sejalan

dengan

studi

yang

dilakukan oleh Godin et al., namun pada

signifikan antara depresi

penelitian ini dilakukan penilaian lebih jauh

dengan persepsi dukungan finansial dimana

terhadap perbedaan antara IMT laki-laki dan

mereka yang merasa dukungan finansial untuk

perempuan serta kaitannya dengan prevalensi

masa

depresi.11

perkuliahannya

terlepas

dari

belum

standar

mencukupi,

mengenai

derajat

Hal menarik lainnya yang ditemukan

ekonomi per-kapita, memiliki kecenderungan

pada penelitian ini

untuk mengalami depresi yang lebih tinggi.

hubungan yang signifikan antara jenis kelamin

Hubungan

yang

juga

dan etnis dengan prevalensi depresi. Berbeda

terdapat antara kesulitan beradaptasi terhadap

dengan studi sebelumnya yang serupa yang

gaya

menemukan

pergaulan

signifikan

adalah tidak adanya

mahasiswa

kedokteran

bahwa

dengan depresi. Hal ini kemungkinan terjadi

kecenderungan

akibat

mengalami

perbedaan 22

bahasa,

budaya

dan

masalah

mengingat sekitar 10,9% sampel

laki.

1,2,7,24

yang

depresi

wanita lebih

memiliki

tinggi

untuk

dibandingkan

laki-

Namun hasil penelitian ini sejalan

dari ketiga angkatan merupakan mahasiswa

dengan penelitian yang dilakukan oleh Yussuf

asing.

et al. Alasan dari temuan ini berkaitan dengan Perilaku

merokok

konsumsi

beberapa faktor seperti kesamaan budaya dan

alkohol memiliki hubungan yang signifikan

pemahaman yang sama antara wanita dan pria

dengan prevalensi depresi. Konsumsi alkohol

tentang

menunjukkan prevalensi yang lebih tinggi lebih

memainkan

tinggi daripada kebiasaan merokok. Menurut

Penelitian lebih lanjut sangat diperlukan untuk

Frank E. et al, hal ini merupakan akibat dari

mengklarifikasi temuan ini. Hal lain yang dapat

tekanan

fakultas

menjelaskan hal ini adalah mayoritas wanita

pemahaman

pada studi populasi penelitian ini adalah

lingkungan

kedokteran

dan

dan

belajar

kurangnya

tentang penyalahgunaan alkohol.

di 23

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

mahasiswa peranan

kedokteran

mungkin

penting

disini.18,25

perempuan etnis Bali yang sudah terbiasa 22


dengan pekerjaan yang berat sejak kanak-

Macedonia.

Bratistl

kanak sehingga saat harus menghadapi beban

2008;109(12):568-572.

Lek

Listy.

tambahan dengan bersekolah di fakultas

2. Singh A, Lal A, Shekhar. Prevalence of

kedokteran, tidak ditemukan hubungan yang

depression among medical students of a

signifikan.

private medical college in India. Online J

Namun, kelemahan dari penelitian ini adalah kondisi pengisian instrumen penelitian yang

kurang

kondusif

memengaruhi

suasana

sehingga hati

dapat

sampel

saat

Health Allied Scs. 2010;9(4):8. 3. Yusoff MSB, Rahim AFA, Yaacob MJ. The prevalence of final year medical students with

depressive

symptoms

and

its

contributing factors. Int Med J. 2011

pengisian kuisioner dilakukan.

Dec;18(4):305-309. 5. KESIMPULAN

4. Kaya M, Genc M, Kaya B, Pehlivan E.

Mahasiswa

Fakultas

Kedokteran

Prevalence

of

Depressive

Symptoms,

Universitas Udayana sebagian besar memiliki

Ways of Coping, and Related Factors

tipe

among

LOC-i.

cenderung

Mahasiswa tidak

dengan

mengalami

LOC-i depresi,

sedangkan mahasiswa dengan LOC-e memiliki

Medical

School

and

Health

Services Higher Education Students. Turk Psikiyatri Derg. 2007; 18: 137-46.

kecenderungan untuk mengalami depresi yang

5. Chan DW. Depressive symptoms and

lebih tinggi. Hubungan antara tipe LOC dan

depressed mood among Chinese medical

depresi pada studi ini masih dipengaruhi oleh

students in Hong Kong. Compr Psychiatry.

beberapa faktor lain yang juga menunjukkan

1991;32:170-180.

hubungan yang signifikan dengan depresi. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai

data

longitudinal

dasar

untuk

dalam

menilai

penelitian

secara

lebih

6. Dahlin ME, Runeson B. Burnout and psychiatric

morbidity

among

medical

students entering clinical training: a three year

prospective

questionnaire

and

mendalam hubungan antara tipe LOC dan

interview-based study. BMC Med Educ.

faktor-faktor terkait depresi lainnya dengan

2007;7:6.

mahasiswa

7. Alvi T, Assad F, Ramzan M, Khan FA.

kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas

Depression, anxiety and their associated

Udayana. Selain itu, dari hasil penelitian ini

factors among medical students. J Coll

dapat

Phys Surg Pakistan. 2010;20(2):122-126.

prevalensi

depresi

digunakan

pada

untuk

pengembangan

program intervensi terhadap depresi pada Mahasiswa Kedokteran.

8. Graffeo

1. Mancevska S, Bozinovska l, Tecce J,

Silvestri

L.

Relationship

between locus of control and healthrelated

DAFTAR PUSTAKA

LC,

variables.

Education.

2006

Sep;126(3):593-596. 9. Asthiningsih

NWW,

Marchira

CR,

Pulcevik-Gligoroska J, Sivevska-Smilevska

Sedyowinarso M. Hubungan kemampuan

E. Depression, anxiety and substance use

control diri dengan kecenderungan depresi

in medical students in the Republic of

pada mahasiswa program B PSIK FK

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

23


UGM.

Berita

Indonesia.

Masyarakat,

18. Khan MS, Mahmood S, Badshah A, Ali

3;26(3):138-143.

SU, Jamal Y. Prevalence of depression,

Kedokteran

2010

Sep

anxiety, 10. Quyen DD. Depression and Stress among the

First

Year

Medical

Students

in

University of Medicine and Pharmacy Hochiminh College

City,

of

Vietnam.

Public

their

medical

Pakistan.

J

factors

students

in

Med

Assoc.

Pak

56(12):583-586

associated

Karachi, 2006;

.

in

19. Jafari N, Longhmani A, Montazeri A.

Sciences,

Mental health of medical students in

Thesis

Health

among

and

different levels of training. Int J Prev Med

Chulalongkorn University. 2007 11. Godin O, Elbejjani M, Kaufman JS. Body

2012; Special issue S107-12.

mass index, blood pressure and risk of

20. Afifi M. Health locus of control and

depression in the elderly: a marginal

depressive symptoms among adolescents

structural model. Am J Epidemiol. 2012

in Alexandria, Egypt. East Medit Health J.

12. Mykletun A, Overland S, Aaro LE, Liabo

2007; 13(5):1043-1052.

HM, Stewart R. Smoking in relation to

21. Zamawi JA, Hamaideh SH. Depressive

anxiety and depression: evidence from a

symptoms and their correlates with locus

large population survey: the HUNt study.

of control and satisfaction with life among

Eur Psychiatry. 2008;23:77-84.

Jordanian

13. Dierker

LC,

Avenevoli

S,

Stolar

M,

Merikangas KR. Smoking and depression: an

examination

comorbidity.

of

Am

J

mechanisms Psychiatry.

of

2002;

N,

students.

Eur

J

Psychiatry. 2009;4:71-103. 22. Omodona

OO.

Depression

among

International Students. Thesis in Central Ostrobothnia

University

of

Applied

Sciences. 2012

2;159:947-953. 14. Karaoglu

college

Seker

M.

Anxiety

and

23. Frank E, Elon L, Naimi T, Brewer R.

depression in medical students related to

Alcohol

desire for and expectations from a medical

counseling behavior among US medical

career.

students:

West

Indian

Med

J.

2010;59(2):196-202. 15. Diagnostic and statistical manual of mental disorders, fourth edition, text revision th

(DSM-IV-TR). 4

ed. Washington, DC :

American Psychiatric Association. 2000

consumption cohort

and

alcohol

study.

BMJ.

2008;337:a2155. 24. Schwenk

TL,

Davis L, Wimsatt

LA.

Depression, stigma and suicidal ideation in medical

students.

JAMA.

2010;304(11):1181-1190.

16. Beck, Aarot T. Beck Depression Inventory.

25. Yussuf AD, Issa BA, Ajiboye PO, Buhari

The Psychological Corporation, Harcourt

OIN. The correlates of stress, coping

Brace and Company; United States of

styles and psychiatric morbidity in the first

America. 1996

year of medical education at a Nigerian

17. Pettijohn, Terry F. A Locus of Control Measure as a Teaching Demonstration.

university. Afr J Psychiatry. 2013; 16:206215.

Mercyhurst College in Erie, Pennsylvania. 1995 JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

24


Penelitian

PENGARUH DIATERMI TERHADAP PERBAIKAN KUALITAS NYERI DENGAN MENGGUNAKAN SKOR VAS PADA PENDERITA OSTEOARTRITIS LUTUT DI INSTALASI REHABILITASI MEDIK RSMH PALEMBANG 1

1

2

3

Benny Afriansyah , Surya Wijaya , Jalalin Nabawi , Triwani 1

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Kepala Departemen Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Muhammad Hoesin, Palembang Staff Pengajar Departemen Biologi Medik Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Email: suryawijaya_102@yahoo.com 2 3

ABSTRAK Osteoartritis (OA) adalah sekelompok kondisi heterogen yang menyebabkan timbulnya gejala dan tanda pada sendi yang berhubungan dengan defek integritas kartilago. Salah satu sendi yang paling sering diserang OA adalah sendi lutut. Nyeri adalah alasan utama pasien OA datang ke dokter untuk mendapatkan pengobatan. Diatermi merupakan pilihan terapi yang banyak digunakan pada penderita OA. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perubahan nyeri pada pasien OA lutut sebelum dan setelah diterapi dengan diatermi yang diukur dengan Visual Analogue Scale (VAS). Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan desain penelitian pretest and posttest group design. Penelitian ini melibatkan penderita OA yang memenuhi kriteria inklusi, yakni sebanyak 51 orang. Analisis data dilakukan dengan uji T berpasangan dengan program SPSS 20.0. Setelah dilakukan analisis data dengan menggunakan uji T berpasangan dengan interval kepercayaan 95 %, diperoleh nilai sig.2-tailed lebih kecil daripada nilai 0,05 (0,00< 0,05) berarti Ho dapat ditolak. Oleh karena, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbaikan rerata skor VAS yang bermakna sebelum dan sesudah diterapi dengan diatermi di Instalasi Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang. Kata Kunci: Osteoartritis, osteoarthritis lutut, nyeri, visual analogue scale, diatermi

ABSTRACT Osteoarthritis is a heterogeneous group of condition that causes signs and symptoms associated with cartilage integrity defects. One of the most affected joint is the knee joint. Pain is the main reason of patient for patients to visit physicians. Diathermy is one of widely used pain-reliever modalities in treating osteoarthritis patients. Therefore, the aim of this study was to assess the alteration of pain before and after diathermy in osteoarthritis patients by using Visual Analogue Scale (VAS). This study was an observational analytic study with pretest and posttest group design. The study includes 51 osteoarthritis patients who fulfill inclusion criteria. The collected data is analyzed by paired T test with SPSS 20.0. The data analysis with paired t test (CI 95%) showed p Scale <0,05 (0,00<0,05). It means in average, there is significant improvement of VAS Scale before and after diathermy in knee osteoarthritis patients in Medical Rehabilitation Department at Mohammad Hoesin Hospital Palembang. Keywords: Osteoarthritis, knee osteoarthritis, pain, visual analogue scale, diathermy

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

25


1. PENDAHULUAN Definisi American

osteoartritis

Rheumatism

(OA)

menurut

Association

(ARA)

wanita.

Angka

prevalensi

ini

akan

terus

meningkat seiring dengan peningkatan usia

adalah sekelompok kondisi heterogen yang

harapan

hidup

dan

berhasilnya

eradikasi

menyebabkan timbulnya gejala dan tanda pada

terhadap penyakit infeksi di Indonesia.7 OA merupakan penyebab penting cacat

sendi yang berhubungan dengan defek integritas di

fisik pada orang yang berusia lebih dari 65

bawahnya dan pada batas sendi. Osteoartritis

tahun.8 Dari data epidemiologis, OA menempati

merupakan penyakit sendi degeneratif yang

urutan pertama dari golongan penyakit reumatik.

1

Secara umum, OA menempati urutan kedua

Penyakit ini bersifat kronik, berjalan progresif

setelah penyakit kardiovaskular sebagai sebagai

lambat, tidak meradang, dan ditandai oleh

penyebab

kartilago,

dan

perubahan

pada

tulang

berkaitan dengan kerusakan kartilago sendi.

ketidakmampuan

fisik 3,7

(seperti

adanya deteriorasi rawan sendi dan adanya

berjalan dan menaiki tangga).

pembentukan tulang baru pada permukaan

sampai 2 juta orang lanjut usia di Indonesia

sendi.

Diperkirakan 1

menderita cacat karena OA.6

2

Gambaran

Osteoartritis merupakan bentuk artritis

klinis

utama

osteoartritis

yang paling umum dijumpai dengan jumlah

berupa nyeri sendi, terutama bila sendi bergerak

pasiennya melampui separuh jumlah pasien

atau menanggung beban, yang akan berkurang

2

1,7,8

artritis. Osteoartritis pun merupakan penyakit

bila penderita beristirahat.

muskuloseletal yang sering terjadi pada geriatri.

alasan yang paling sering pasien osteoartritis

Dari 40 juta penduduk Amerika, diperkirakan 70-

lutut untuk mencari pertolongan ke dokter. Nyeri

90% penderita OA adalah usia 75 tahun.

3

yang

berhubungan

Secara khusus prevalensi OA di Indonesia juga

berpengaruh

pada

cukup tinggi yaitu 5%, pada usia <40 tahun, 30%

sesesorang.

Nyeri

pada usia 40-60 tahun dan 65% pada usia >61 4,5

menurunkan

Nyeri adalah

dengan

osteoartritis

kemampuan

fungsional

pada

kualitas

pasien

hidup.

1

OA

Selain

juga aspek

Data di Indonesia, diketahui sekitar

medis, nyeri pada pasien OA berdampak pada

56,7% pasien di poliklinik Rheumatologi RSUPN

aspek psikologis. OA menimbulkan nyeri kronik.

Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta didiagnosis

Nyeri kronik ini berdampak

tahun.

menderita salah satu jenis OA.

6

psikologis

yang

pada

gangguan

disebut-sebut

sebagai

Salah satu sendi yang paling sering

penyebab dari gangguan tidur, rasa lelah

diserang OA adalah sendi lutut. Hampir 80%

yang berlebihan, frustasi, rasa cemas dan

kasus OA yang terjadi pada usia di atas 65

depresi.

tahun adalah OA lutut. Di Inggris dan Wales,

disabilitas terhadap aktivitas seharĂ­-hari dalam

sekitar 1,3 sampai 1,75 juta orang mengalami

bentuk gangguan psikososial serta isolasi. Tidak

osteoartritis, 500.000 di antaranya menderita 3

Keadaan

ini

hanya

bisa

itu,

berakhir

nyeri

pada 7,8

pada

OA

osteoartritis lutut parah. Prevelensi osteoartritis

mempunyai dampak sosioekonomik yang besar,

lutut radiologis di Indonesia cukup tinggi, yaitu

baik

mencapai 15,5% pada pria, dan 12,7% pada

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

di

negara

maju

maupun

di

negara

3

berkembang. Di Australia pada tahun 2002,

26


diperkirakan biaya nasional untuk keluhan OA,

Kombinasi intervensi Micro Wave Diathermy

terutama nyeri sebesar 1% dari GNP, yaitu

(MWD), TENS dan Ultra Sound (US) dapat

9

mencapai $Aus 2.700/orang/tahun. Selain itu, OA termasuk penyebab utama pengambilan cuti sakit

pada

industri

besar

yang

mengurangi

intensitas

spondilosis lumbalis. Penelitian

turut

nyeri

pada

kasus

15

Erwinanti

menyebabkan kurangnya produktivitas akibat

menunjukkan

nyeri yang ditimbulkannya. Nyeri pada pasien

menguntungkan dari terapi diatermi untuk pasien

OA menyebabkan hilangnya 120 juta hari kerja

OA lutut yang berobat ke Instalasi Rehabilitasi

10

bahwa

terdapat

(1999) efek

yang

Oleh karena itu, manajemen nyeri

Medik RSUP Kariadi, Semarang. Dengan terapi

pada pasien OA, khusunya OA lutut penting

SWD tanpa latihan, didapatkan perbaikan status

untuk dilakukan.

fungsional secara bermakna untuk aktivitas

per tahun.

Salah satu pengobatan yang biasa

bangkit dari duduk, berjalan 15 m, naik tangga 3

digunakan untuk mengatasi nyeri pada penderita

step, baik untuk aspek nyeri, kesulitan, dan

OA lutut adalah fisioterapi. Fisoterapi merupakan

ketergantungan (sebelum terapi dibandingkan

intervensi non-farmakologik untuk OA lutut yang

dengan setelah terapi).16 Penelitian Rahmita

direkomendasikan

(2006) menunjukkan terdapat perubahan yang

American

dan

Rheumatology

Against Rheumatism.

the 11,12

College

European

of

League

Salah satu fisioterapi

bermakna

pada

pasien

OA

sebelum

dan

17

sesudah terapi diatermi. Namun, penelitian lain

diatermi.

melaporkan tidak ada manfaat tambahan dari

Diatermi mampu memperbaiki lesi pada kartilago

SWD yang dikombinasikan terapi latihan pada

sendi sehingga mengurangi respon inflamasi.

pasien peri/pascamenopause yang mengalami

Berkurangnya respons inflamasi selanjutnya

OA lutut.

akan mengurangi impuls nyeri pada sendi yang

atas mendorong penulis untuk mengetahui lebih

terkena. Namun, sayangnya hasil terapi diatermi

lanjut

hanya bersifat transien. Pasien harus menjalani

perbaikan kualitas nyeri pada OA yang diukur

terapi secara berkala untuk mendapatkan hasil

dengan Visual Analogue Scale (VAS).

yang

banyak

digunakan

yang lebih baik.

adalah

12

18

Perbedaan data-data penelitian di

efektifitas

terapi

diatermi

terhadap

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui

Terapi diatermi telah berhasil terbukti

karakteristik sosiodemografi penderita OA lutut

berbagai

yang diterapi dengan diatermi, mengidentifikasi

penyakit, seperti nyeri punggung bawah, cervical

derajat nyeri penderita OA lutut sebelum dan

root syndrome, dan spondilosis lumbalis. Terapi

sesudah

Short Wave Diathermy (SWD) dapat mengurangi

mengetahui

nyeri pada penderita nyeri punggung bawah

kualitas nyeri yang signifikan pada penderita OA

mekanik subakut sama baiknya dengan terapi

lutut sebelum dan sesudah diterapi.

memperbaiki

kualitas

nyeri

dari

diterapi ada

dengan atau

diatermi

tidaknya

perbaikan

Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS).

13

Terapi modalitas, seperti SWD dan

terapi latihan dapat menyebabkan penurunan rasa nyeri pada pasien cervical root syndrome.

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

serta

2. METODOLOGI PENELITIAN 2.1 Jenis Penelitian

14

27


Penelitian observasional

ini

adalah

analitik

dengan

penelitian pretest

and

anggota

sampel.

Teknik

ini

juga

dipilih

berdasarkan pertimbangan untuk mendapatkan

posttest group design.

gambaran hasil pengujian suatu perlakuan

2.2

Tempat dan Waktu Penelitian

terapi, dalam hal ini terapi diatermi dengan

Penelitian ini dilaksanakan di Instalasi

memilih

Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Mohammad

subyek

tertentu yang

benar-benar

mewakili kriteria yang telah ditetapkan.

Penelitian dilaksanakan

Dalam penelitian ini, besar sampel

pada bulan Oktober 2012 sampai dengan

ditentukan berdasarkan rumus sebagai berikut.

Hoesin Palembang. Desember 2012.

2

Z PQ n  2 d

2.3 Populasi dan Sampel Penelitian Populasi penelitian ini adalah seluruh penderita OA lutut di Instalasi Rehabilitasi Medik

n

= besar sampel minimal yang diperlukan

Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang.

Z

= 1,96 (untuk level of confidence 95%)

Sampel penelitian ini adalah penderita OA lutut

P

= proporsi penyakit keadaan yang akan

di Instalasi Rehabilitasi Medik Rumah Sakit

diteliti, yaitu pasien yang menderita

Mohammad Hoesin Palembang yang memenuhi

osteoartritis genu di instalasi rehabilitasi

kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria

medik RSMH Palembang pada bulan

eksklusi.

Juli 2012 (423:2654 = 0,159)

Kriteria inklusi, yaitu pasien usia lanjut

Q

= (1-P)= 0,841

yang berusia 60 tahun atau lebih Pasien yang

d

= 0,1 (dengan tingkat ketepatan absolut

memenuhi kriteria diagnosis pada Tabel 1, tidak

90%)

mendapat terapi lain selain dari diatermi dan

Dari perhitungan rumus tersebut diperoleh

mendapat terapi diatermi dalam periode satu

hasil 51,36 (dibulatkan menjadi 51). Jadi besar

minggu yaitu sebanyak tiga kali berselang hari,

perkiraan besar sampel pada penelitian ini

masing-masing selama 15 menit, dan mengerti

adalah 51.

instruksi yang diberikan dan dapat menunjukkan

2.3 Instrumen Penelitian

nyeri yang dideritanya pada satu titik pada

Adapun teknik yang digunakan dalam

Visual Analogue Scale (VAS). Kriteria eksklusi

mengukur intensitas nyeri pada OA lutut adalah

adalah pasien yang mendapatkan terapi obat-

Visual Analogue Scale (VAS). VAS merupakan

obatan pada saat penilaian pada hari berikutnya,

alat ukur yang digunakan untuk pengukuran

pasien yang secara tiba-tiba menghentikan

intensitas dan tipe nyeri dengan menggunakan

terapi diatermi sebelum penelitian selesai, dan

garis lurus yang diberi ukuran 10 cm yang

tersedia mengikuti penelitian.

menggambarkan intensitas nyeri yang berbeda

Pada penelitian ini, pengambilan sampel dilakukan

dengan

purposive mendapatkan

sampling sampel

menggunakan dengan yang

teknik harapan

benar-benar

mewakili suatu populasi yang diambil sebagai

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

di mana pada ujung kiri diberi tanda yang berarti “tidak nyeri”, sedangkan ujung kanan diberi tanda yang berarti “nyeri yang tak tertahankan”. 2.4

Cara Pengumpulan Data

-Peneliti meminta informed consent pada pasien.

28


-Pasien yang memenuhi kriteria inklusi dijadikan

2.5 Cara Pengolahan dan Analisis Data Data sosiodemografi disajikan dalam

sebagai responden. -Pasien

diwawancarai

interview

schedule

dengan

yang

panduan

berisikan

data

bentuk tabel disertai persentase. Data derajat nyeri pasien disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisis

sosiodemografi dan garis VAS.

statistik

deskriptifnya.

Analisis

-Data sosiodemografi meliputi jenis kelamin,

mengenai perubahan nyeri yang dialami pasien

usia, pekerjaan dan alamat pasien dicatat oleh

sebelum dan setelah diterapi dengan diatermi

peneliti

dilakukan dengan uji t berpasangan (uji t

sebagai

hasil

wawancara

dengan

independent) karena skala pengukuran dalam

pasien. -Pasien diminta menandai denagan pena satu

penelitian ini adalah komparatif berpasangan

titik di garis VAS yang mewakili rasa nyeri yang

yang terdiri dari dua kelompok yakni derajat

dialami

nyeri sebelum dan sesudah diterapi dengan

pasien

pada

saat

pertama

kali

diatermi. Pengolahan data dilakukan dengan

mendapatkan terapi diatermi. -Seminggu kemudian, setelah mendapatkan

bantuan SPSS 20.0 for Windows.

terapi diatermi, lakukan pengukuran skala VAS lagi pada pasien tersebut. Tabel 1. Kriteria Diagnosis Osteartritis Lutut pada Penelitian1,8 Klinis

Klinis dan Laboratorium

Klinis dan Radiografi

Nyeri lutut disertai 3 dari 6

Nyeri lutut disertai 5 dari 9 kriteria

Nyeri lutut dan gambaran

kriteria berikut:

berikut:

osteofit disertai 1 dari 3 kriteria berikut:

-

Usia >50 tahun

-

Usia >50 tahun

-

Kaku pagi <30 menit

-

Kaku pagi <30 menit

-

Usia >50 tahun

-

Krepitus

-

Krepitus

-

Kaku pagi <30 menit

-

Nyeri tekan

-

Nyeri tekan

-

Krepitus

-

Pembesaran tulang

-

Pembesaran tulang

-

Tidak panas pada perabaan

-

Tidak panas pada perabaan

-

LED <40 mm/jam

-

RF <1:40

-

Analisis cairan sendi normal

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik sosiodemografi penderita OA lutut

3.1 Karakteristik Sosiodemografi Sampel

di Instalansi Rehabilitasi Medik RS Muhammad

Penelitian

Hoesin Palembang dapat dilihat di Tabel 2.

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

29


Tabel 2. Karakteristik sosiodemografi penderita OA lutut di Instalansi Rehabilitasi Medik RS Muhammad Hoesin Palembang (n=51) Kelompok Usia (tahun)

Jumlah (orang)

Persentase (%)

40-49

3

5.88

50-59

22

43.14

60-69

22

43.14

70-79

4

7.84

Jumlah (orang)

Persentase (%)

Perempuan

38

74.51

Laki-laki

13

25.49

Jumlah (orang)

Persentase (%)

Pegawai Negeri Sipil

17

33.33

Dosen

2

3.92

Ibu Rumah Tangga

20

39.22

Wiraswasta

1

1.96

Pensiunan pegawai

11

21.57

Jenis Kelamin

Pekerjaan Responden

Dari 51 orang responden diperoleh

Hasil penelitian di atas sesuai literatur

jumlah responden terbanyak berusia 50-59 dan

yang menyatakan risiko seseorang mengalami

60-69 tahun sebanyak 22 orang, 4 orang berusia

gejala timbulnya OA lutut dimulai pada usia 50

70-79 tahun, dan jumlah paling sedikit berusia

tahun.

30-39 tahun yaitu 3 orang. Pada penelitian ini,

penyebab peningkatan kelemahan di sekitar

didapatkan bahwa penderita OA lutut terbanyak

sendi, penurunan kelenturan sendi, kalsifikasi

berusia 50-59 dan 60-69 tahun sebesar 43,14%.

tulang rawan dan menurunkan fungsi kondrosit,

Hal ini sesuai dengan penelitian Erwinanti

yang semuanya mendukung terjadinya OA.

Proses

penuaan

dianggap

sebagai

1,8

(1999), terdapat penderita OA lutut terbanyak

Dari 51 orang responden diperoleh

pada kelompok usia 40-59 tahun dan > 60 tahun

bahwa 38 orang responden (74,51%) berjenis

(masing-masing 47%) dengan rata-rata umur

kelamin wanita, sedangkan sisanya yaitu 13

16

Hasil penelitian sesuai dengan

orang responden (25,49%) berjenis kelamin laki-

penelitian Eka (2007) yang menemukan bahwa

laki. Hasil yang serupa diperoleh pada penelitian

8

Erwinanti (1999) yang melaporkan penderita OA

Penelitian Rahmita (2006) juga menunjukkan

lutut wanita (83,7%) lebih banyak daripada laki-

bahwa dari 68 orang responden yang menderita

laki (16,3%).16 Sesuai dengan penelitian Eka

OA lutut didapatkan sebanyak 51,5% pasien

(2007), jenis kelamin perempuan merupakan

55,5 tahun.

77% pasien OA lutut berumur > 50 tahun.

osteoartritis berusia 50-59 tahun.

17

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

faktor risiko terjadinya OA lutut (nilai p = 0,043

30


dengan uji chi-square; OR = 2,14; 95% CI = 1,02

Hal ini berkaitan dengan tekanan pada sendi

â&#x20AC;&#x201C; 4,48).8 Hal tersebut diperkirakan karena pada

lutut saat seseorang melakukan aktivitas fisik

masa usia 50â&#x20AC;&#x201C;80 tahun wanita mengalami

berat tersebut.

pengurangan hormon estrogen yang signifikan.

19

Dari 51 orang responden, didapatkan

sendi

lutut

menerus

10

Tekanan pada tulang rawan

yang berlebihan secara terusakan

menyebabkan

degenerasi

bahwa pekerjaan responden yang paling banyak

meniskal dan robekan yang memicu perubahan

adalah

pada tulang rawan sendi lutut, sehingga rawan

mengurus

rumah

(20

orang

atau

20

39,22%). Responden lain memiliki pekerjaan

terjadi OA lutut.

masing-masing sebagai pegawai negeri sipil (17

3.2 Perbaikan Nyeri Pada Penderita OA Lutut

orang), dosen (2 orang), wiraswasta (1 orang),

Setelah Diterapi

dan pensiunan pegawai (11 orang). Hal ini

Skor VAS sebelum dan setelah diterapi

mungkin disebabkan ibu rumah tangga sering

dengan diatermi dibandingkan, dan dari seluruh

melakukan aktivitas fisik berat yang merupakan

responden yang termasuk dalam kriteria inklusi

faktor risiko OA lutut. Aktivitas fisik berat yang

merasa

mungkin dilakukan oleh ibu rumah tangga,

besarnya perbaikan rasa nyeri yang dirasakan

seperti berdiri lama (2 jam atau lebih setiap hari),

responden berbeda-beda. Perbedaan skor VAS

berjalan jarak jauh (2 jam atau lebih setiap hari),

sebelum dan setelah diterapi dengan diatermi

naik turun tangga setiap hari, mengangkat

dapat dilihat pada Tabel 3.

cucian yang berat, menimba air, dan lain-lain.

mengalami

perbaikan

walaupun

8

Tabel 3. Perbedaan skor VAS pada pasien OA lutut sebelum dan setelah diterapi dengan diatermi VAS sebelum

VAS setelah

diterapi

diterapi

1.

63

30

27.

52

29

2.

40

20

28.

58

40

3.

72

49

29.

78

53

4.

90

55

30.

53

31

5.

87

63

31.

65

43

6.

40

19

32.

54

28

7.

74

53

33.

38

19

8.

53

36

34.

64

40

9.

53

41

35.

54

37

10.

57

34

36.

44

31

11.

76

52

37.

43

32

12.

67

52

38.

50

28

No

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

No

VAS sebelum

VAS setelah diterapi

diterapi

31


13.

52

31

39.

63

39

14.

41

20

40.

53

25

15.

62

41

41.

42

37

16.

40

23

42.

47

28

17.

61

38

43.

38

20

18.

42

21

44.

76

42

19.

64

35

45.

55

39

20.

58

32

46.

48

30

21.

82

57

47.

80

43

22.

65

43

48.

50

42

23.

68

41

49.

60

34

24.

87

47

50.

40

19

25.

60

20

51.

42

21

26.

54

30

Dari skor VAS yang diperoleh dari

skor VAS setelah diterapi dengan diatermi paling

pasien OA sebelum dan sesudah dilakukan

banyak addalah skor 20. Varians dan standar

terapi diatermi dilakukan pengolahan statistik

deviasi data tersebut masing-masing 126,933

deskriptif. Hasil yang diperoleh adalah skor VAS

dan 11,266.

sebelum diterapi dengan diatermi paling kecil

Analisis mengenai perubahan nyeri yang

yaitu 38 dan nilai VAS sebelum diterapi paling

dialami pasien OA sebelum dan setelah diterapi

besar adalah 90 sehingga diperoleh jangkauan

dengan

data tersebut sebesar 52. Rata-rata skor VAS

berpasangan (paired t test). Sebelum dilakukan

sebelum diterapi dengan diatermi adalah 57,94,

uji t berpasangan maka dilakukan terlebih

nilai tengah data adalah 55, dan skor VAS

dahulu uji normalitas untuk dta skor VAS diatas.

sebelum diterapi dengan diatermi yang paling

Dari uji normalitas Shapiro-wilk, diperoleh nilai

banyak adalah skor 40 dan 53. Varians dan

signifikasi data skor VAS sebelum dan setelah

standar deviasi data tersebut masing-masing

diterapi dengan diatermi sebesar 0,200 (Tabel

197,056 dan 14,038.

4). Karena nilai signifikasi data, baik sebelum

diatermi

dilakukan

dengan

uji

t

Hasil yang diperoleh adalah skor VAS

maupun setelah diterapi dengan diatermi lebih

setelah diterapi dengan diatermi paling kecil

dari 0,05, data tersebut memenuhi kriteria untuk

adalah 19 dan paling besar adalah 63 sehingga

uji t berpasangan.

diperoleh jangkauan data sebesar 44. Rata-rata

Dari hasil uji t berpasangan dengan

skor VAS setelah diterapi dengan diatermi

indeks kepercayaan 95%, diperoleh bahwa nilai

adalah 35,54, nilai tengah data adalah 35, dan

thitung yang dihasilkan adalah 22,056 pada derajat

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

32


bebas 50 lebih besar daripada nilai ttabel sebesar

sampai

2,009. Nilai sig.2-tailed lebih kecil daripada nilai

dilakukan

kritik 0,05 (0,000 < 0,05) berarti H0 dapat ditolak

adanya pengurangan nyeri tekan lutut secara

(Tabel 5). Berdasarkan hasil tersebut, dapat

bermakna antara sebelum dan sesudah terapi

disimpulkan bahwa terdapat perbaikan rerata

SWD 12 kali. Hal ini sesuai dengan teori yang

skor VAS yang bermakna sebelum dan sesudah

menyatakan bahwa SWD dapat mengurangi

diterapi dengan diatermi dengan penurunan

rasa nyeri dengan cara meningkatkan nilai

derajat nyeri sebesar 20,394 sampai 19,513

ambang nyeri ujung saraf sensoris.14 Pemberian

poin.

MWD dapat berpengaruh pada pengurangan Hasil

penelitian

ini

sesuai

dengan

19,513

Erwinanti

Penelitian (1999)

lain

yang

menyimpulkan

nyeri dengan cara meningkatkan elastisitas

penelitian Rahmita (2006) menunjukkan bahwa

pembungkus

terdapat perbaikan skor VAS yang bermakna

aktivitas

sebelum dan sesudah diterapi dengan diatermi

poin.

jaringan

saraf,

neurotransmiter

rangsang saraf.

meningkatkan

serta

ambang

15

dengan penurunan derajat nyeri sebesar 15,663 Tabel 4. Uji normalitas data skor VAS pada pasien OA lutut sebelum dan setelah diterapi dengan diatermi

*Keterangan: sig. = 0.200 > 0.05 data ini memenuhi kriteria uji t berpasangan

Tabel 5. Uji t-berpasangan skor VAS pada pasien OA lutut sebelum dan sesudah diterapi dengan diatermi

*Keterangan: Berdasarkan hasil hitung dengan SPSS didapatkan hasil sig.2-tailed 0,000 < 0,05

berarti Ho

dapat ditolak dan disimpulkan bahwa terdapat perbaikan yang bermakna

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

33


4. KESIMPULAN

4. Badan

Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat

perbaikan yang bermakna

kualitas nyeri pada pasien OA lutut sebelum dan

Penelitian

Kesehatan,

dan

Depkes

Kesehatan

Dasar

Pengembangan

RI.

2008.

Riset

(RISKESDAS)

2007,

Laporan Nasional 2007

sesudah diterapi dengan diatermi di Instalasi

5. Isbagio, H. Osteoartritis dan Osteoporosis

Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Mohammad

sebagai Masalah Muskuloskeletal Utama

Hoesin Palembang.

Warga Usia Lanjut di Abad 21. Majalah Farmacia, 5(6), 60. 18 Januari 2010.

5. SARAN

6. Soenarto.

Perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh

Reumatik pada Usia Lanjut.

Dalam: Buku Ajar Boehi-Darmojo Geriatri

diatermi terhadap perbaikan kualitas nyeri pada

(Ilmu

pasien OA jenis lainnya. Selain itu, perlu

Keempat. Jakarta. Balai Penerbit FKUI.

dilakukan penelitian tentang pengaruh tipe

2010. h. 433-7.

diatermi terhadap varibel lain, seperti atrofi otot,

Kesehatan

7. Soeroso

J.

Usia

Ed.:

Adi

pada

Lanjut)

S,

Edisi

et.al.

lingkup gerak sendi, peningkatan kekuatan otot,

Glukosamin

dan perbaikan status fungsional lainnya pada

Dalam:

pasien OA lutut dan jenis lainnya.

Kedokteran Berkelanjutan XX Ilmu Penyakit

Naskah

Terapi

Peran

Osteoartritis.

Lengkap

Pendidikan

Dalam. Surabaya. Bagian SMF Penyakit DAFTAR PUSTAKA

Dalam FK UNAIR RSU Dr. Soetomo. h. 219. 8. Eka, PM. Faktor-Faktor Risiko Osteoartritis

1. Soeroso J, Harry I, Handono K, Rawan B, Riardi

P.

Ed:

Osteoartritis.

Aru

Dalam:

W.

Sudoyo,

Buku

Ajar

dkk. Ilmu

Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV. Jakarta. Pusat Penerbit Departemen IPD FKUI. 2006. h. 1195-1202. 2. Carter,

MA.

Ed:

Lutut (Studi Kasus di Rumah Sakit Dokter Kariadi

Semarang)

Pascasarjana

[Tesis].

Universitas

Program Diponegoro

Semarang: 2007. h. 1-3, 21-22, 62, 69 9. Reginster J.Y. The Prevalence and Burden of Osteoarthritis. Rheumatology, 2002; 41

Huriawati

Hartanto.

Osteoartritis. Dalam: Patofisiologi Konsep Dasar Klinis Proses-proses Penyakit Edisi 6 Volume 2. Jakarta. EGC. 2006. h. 1380-3. 3. Rachmah LA. Peran Latihan Fisik dalam Manajemen Terpadu Osteoartritis. 2006. Diunduh

dari:

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/13225 6204/Latihan%20FisikManajemen%20 Osteoartritis.pdf, diakses pada tanggal 25

(suppl 1): 3 â&#x20AC;&#x201C; 6. 10. Setiyohadi

B.

Osteoartritis

Selayang

Pandang. Dalam Temu Ilmiah Reumatologi. Jakarta, 2003: 27 â&#x20AC;&#x201C; 31. 11. American

College

of

Rheumatology

Subcommittee on Osteoarthritis Guidelines. Recommendations

for

the

medical

management of osteoarthritis of the hip and knee: 2000 update. Arthritis Rheum 2000; 43: 1905-1915.

September 2012.

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

34


12. Jordan

KM,

Arden

NK,

Doherty

M,

Muhammad

Hoesin

Bannwarth B, Bijlsma JW, Dieppe P, et al.

Palembang Sebelum dan Setelah

EULAR

recommendations

evidence

based

2003:

an

Diterapi

to

the

Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya;

approach

management of knee osteoarthritis. Report of a task force of the standing committee for international

clinical

studies

including

dengan

18. Rattanachaiyanont M, Kuptniratsaikul V. No additional benefit of shortwave diathermy over

2003;62:1145-1155.

osteoarthritis

Therapeutic Effect Between SWD and TENS

Palembang:

2006. h.

therapeutic trials (ESCISIT). Ann Rheum Dis 13. Kartadinata RT, Lanny I. Comparison of The

Diatermi.

yang

exercise

program

in

for

knee

peri-/post-menopausal

women: an equivalence trial. Osteoarthritis and Cartilage 2008; 16: 823-828.

on Relieving Pain in Mechanical Low Back

19. Felson DT, Zhang Y. An Update on the

Pain Patients. Med Hosp 2012; 1(2): 113-

Epidemiology of Knee and Hip Osteoarthritis

117.

with

14. Susilo WA. Pengaruh terapi modalitas dan

a

View

to

Prevention.

Arthritis

Rheumatology 1998; 41 : 1343 â&#x20AC;&#x201C; 1355.

terapi latihan terhadap penurunan rasa nyeri

20. Lau EC, Cooper C, Lam D, Chan VNH,

pada pasien cervical root syndrome di

Tsang KK, Sham A. Factors Associated with

RSUD dr. Moewardi Surakarta [skripsi].

Osteoarthritis of the Hip and Knee in Hong

Surakarta: Fakultas Kedokteran Universitas

Kong Chinese: Obesity, Joint Injury, and

Sebelas Maret; 2010. h. iv, 43.

Occupational Activities. American Journal

15. Sujana IG. Pemakaian Lumbal Korset pada Intervensi

Micro

Wave

Transcutaneous

Epidemiology 2000; 152 : 855 â&#x20AC;&#x201C; 862.

Diathermy,

Electrical

Nerve

Stimulation, Ultra Sound Mengurangi Nyeri Spondilosis Lumbalis. 2012. Diunduh dari http://ojs.unud.ac.id/index.php/mifi/article/do wnload/7727/ 5816, diakses pada tanggal 25 September 2012. 16. Erwinanati Osteoartritis

E. Lutut

Perbandingan Menggunakan

Terapi Short

Wave Diathermy (SWD) Dengan atau Tanpa Latihan di RSUP Dr. Kariadi Semarang [tesis].

Semarang:

Fakultas Kedokteran

Universitas Diponegoro; 1999. p. 34-63. 17. Rahmita.

Penilaian

nyeri

pada

pasien osteoarthritis lutut yang berkunjung ke Poliklinik Rehabilitasi Medik Rumah Sakit

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

35


Penelitian

HUBUNGAN ANTARA SIKAP DAN TINGKAT PENGETAHUAN SEPUTAR KLINIK WISATA PADA WISATAWAN DOMESTIK MAUPUN MANCANEGARA TERHADAP PEMANFAATAN KLINIK WISATA DI KAWASAN WISATA PANTAI KUTA, BALI I Putu Yuda Prabawa1, I Gusti Made Surya Chandra Trapika2 1 2

Mahasiswa Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

E-mail : yudaprabawa@gmail.com

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sikap dan tingkat pengetahuan seputar klinik wisata pada wisatawan domestik maupun mancanegara terhadap pemanfaatan klinik wisata yang terdapat di kawasan wisata pantai Kuta, Bali. Penelitian ini bersifat deskriptif-analitik dengan desain Cross-sectional. Pengambilan sampel menggunakan metode Consecutive sampling di kawasan wisata Pantai Kuta. Variabel yang dinilai meliputi data deskriptif dan analitik dengan Chi-square dan Pearson correlation. Hasil penelitian diperoleh bahwa wisatawan Jakarta (24%) dan Australia (22%) terbanyak. Usia 26-45 tahun serta tujuan berlibur dominan pada domestik (40%;62%) maupun mancanegara (46%;80%). Informasi diperoleh dari teman/keluarga, mengunjungi Pantai Kuta lebih dari sekali, tidak mengetahui dan tidak pernah mengunjungi klinik wisata dominan pada domestik (30%, 76%, 76%, 94%) dan mancanegara (56%, 68%, 62%, 94%). Keindahan pantainya alasan utama pada domestik (48%) dan berselancar pada mancanegara (28%). Sebagian besar wisatawan memiliki kemauan memanfaatkan klinik wisata serta mempunyai sikap dan tingkat pengetahuan yang baik: domestik (64%, 58%, 64%) dan mancanegara (66%, 62%, 62%). Terdapat hubungan serta korelasi positif kuat antara sikap dan tingkat pengetahuan (P=0,000) seputar klinik wisata terhadap pemanfaatan klinik wisata pada domestik (r=0,570; r=0,557) dan mancanegara (r=0,589; r=0,662) yang terdapat di kawasan Pantai Kuta, Bali. Kata Kunci: Wisatawan, Sikap, Tingkat Pengetahuan, Klinik Wisata, dan Pemanfaatan ABSTRACT The aim of this research to know the relation between attitudes and level of knowledge about travel clinic in domestic and and foreign tourists toward travel clinic utilization at tourism area of Kuta Beach, Bali. This is a descriptive-analytic study with Cross-sectional design. Consecutive sampling method used at tourism area of Kuta Beach. The variables in this study are descriptive and analytic with Chi-square and Pearson correlation. The results obtained travelers from Jakarta (24%) and Australia (22%) are the most. The 26-45 years age group and vacation are dominant in domestic (40%;62%) and foreign (46%;80%). Information obtained from friends/relatives, visit more than once, donâ&#x20AC;&#x2122;t know and never visited travel clinic are dominant in domestic (30%, 76%, 76%, 94%) and foreign (56%, 68%, 62%, 94%). The beautiful beach is main reason in domestic (48%) and surfing in foreign (28%). Most tourists have willingness to utilize travel clinic, having good attitude, and level of knowledge: domestic (64%, 58%, 64%) and foreign (66%, 62%, 62%). There is a relation and strong positive correlation between attitude and level of knowledge (P=0.000) about travel clinic toward travel clinic utilization in domestic (r=0.570; r=0.557) and foreign tourists (r=0.589; r=0.662) at tourism area of Kuta Beach, Bali. Keywords: Tourists, Attitudes, Level of Knowledge, Travel Clinic, and Utilization

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

36


1. PENDAHULUAN Indonesia

yakni merupakan

salah

satu

negara tropis dimana memiliki sumber daya

sebanyak

2.493.058

wisatawan

mancanegara berkunjung ke Bali, hal ini belum termasuk wisatawan domestik.2

alam yang melimpah, keanekaragaman flora

Diantara berbagai kawasan wisata

dan fauna, peninggalan sejarah, serta seni dan

yang terdapat di Pulau Bali, pantai Kuta masih

budaya

menjadi

yang

unik

dimana

hal

tersebut

primadona

destinasi

wisata

jika

menyebabkan Indonesia menjadi salah satu

dibandingkan dengan yang lainnya. Pantai

negara

tujuan

Kuta dikenal memiliki pasir putih, ombak yang

maupun

domestik

wisatawan dalam

mancanegara hal

pariwisata.

menantang untuk olahraga surfing,

serta

sektor

panorama matahari terbenam (sunset) yang

ekonomi penting di Indonesia dimana pada

begitu indahnya menyebabkan tidak salah

tahun 2009, sektor pariwisata menempati

banyak

urutan ketiga dalam hal penerimaan devisa

merupakan salah satu dari Pantai Terindah di

setelah komoditi minyak dan gas bumi serta

Indonesia.3

minyak kelapa sawit.1 Kemudian pada tahun

pantai Kuta juga terdapat banyak pertokoan,

2010 menunjukkan bahwa jumlah wisatawan

hotel, restoran dan sebagainya dimana fasilitas

mancanegara

tersebut

Pariwisata

merupakan

yang

salah

datang

satu

ke

Indonesia

pihak

mengatakan

pantai

Kuta

Disamping itu, pada kawasan

mendukung

sektor

pariwisata

sebesar 7 juta lebih atau tumbuh sebesar

tersebut.3 Maka dari itu tidak mengherankan

10,74% dibandingkan tahun sebelumnya dan

jika rata-rata lebih dari 5000 wisatawan

menyumbangkan devisa bagi negara sebesar

berkunjung ke kawasan pantai kuta setiap

7.603,45 juta dolar Amerika Serikat. Indonesia

memiliki

harinya.4

1

banyak

Wisatawan

lokasi

yang

mengunjungi

wisata yang tersebar di berbagai kepulauan

destinasi wisata biasanya kerapkali melupakan

namun diantara itu Pulau Bali dikenal memiliki

bahwa selalu ada resiko perjalanan selama

keunikan adat dan budaya serta keindahan

berwisata terutama dalam hal kesehatan.

alamnya dimana hal tersebut menyebabkan

Berwisata baik secara langsung atau tidak

banyak wisatawan memilih Bali sebagai salah

langsung dapat menyebabkan berbagai resiko

satu destinasi tujuan wisata di Indonesia.

kesehatan

Pulau Bali sebagai destinasi wisata memang

wisatawan maupun tipe perjalanannya seperti

sudah terkenal sejak lama oleh sejumlah

contohnya wisatawan mungkin terpapar secara

wisatawan,

tiba-tiba

maupun

baik

wisatawan

wisatawan

ditunjukkan

dengan

mancanegara

domestik. jumlah

Hal

ini

kunjungan

tergantung

dengan

dari

keadaan

perubahan

fisik

ketinggian,

kelembaban, suhu, dan mikroba dimana hal tersebut

dapat

menyebabkan

masalah

wisatawan ke Bali yang cenderung meningkat

kesehatan.5 Sehubungan dengan hal diatas

setiap tahunnya dimana pada tahun 2009

maka

jumlah wisatawan mancanegara mencapai

kesehatan

2

telah

tersedia khusus

fasilitas menangani

pelayanan masalah

hingga 2.229.945 wisatawan. Kemudian pada

kesehatan pada wisatawan di kawasan wisata

tahun 2010 jumlah wisatawan yang berkunjung

yang dikenal dengan nama klinik wisata

ke Bali dibandingkan dengan tahun-tahun

(Travel Clinic).5

sebelumnya

juga

mengalami

peningkatan

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

37


Klinik wisata merupakan suatu fasilitas kesehatan

dimana

sifat

pelayanan

yang

diberikan meliputi konsultasi pra-perjalanan,

mengingat diketahui bahwa resiko kesehatan serta karakteristik wisatawan berbeda antara satu tempat wisata dengan tempat 8

selama berwisata, setelah berwisata, serta

lainnya.

upaya vaksinasi dan edukasi akan resiko

bertujuan

terpapar agen infeksi dimana sebenarnya

ditemukan hasil yang serupa atau berbeda

dapat dicegah sesuai dengan prinsip ilmu

dalam hal hubungan antara sikap dan tingkat

5

Oleh

karena

untuk

itu

wisata

penelitian

mencari

tahu

ini

apakah

Travel Medicine. Dewasa ini klinik wisata di

pengetahuan seputar klinik wisata terhadap

kawasan pantai kuta terdapat dalam berbagai

pemanfaatan klinik wisata di kawasan wisata

bentuk klinik seperti dokter umum, klinik rumah

Pantai Kuta, Bali.

sakit, klinik wisata (Travel Clinic) Swasta, klinik pelabuhan/maskapai penerbangan, serta klinik

2. METODE PENELITIAN

yang terdapat pada hotel di sekitar kawasan

Penelitian ini menggunakan desain

wisata. Disamping itu, puskesmas terdekat

potong lintang (Cross-sectional) yang bersifat

kawasan

berkembang

deskriptif-analitik. Data dalam penelitian ini

perannya sebagai puskesmas wisata sejak

merupakan data primer dimana pengambilan

wisatapun

telah

6

tahun 2008. Meskipun telah tersedia fasilitas

data telah dilakukan pada tanggal 1-8 Februari

yang

2014 di kawasan wisata Pantai, Kuta Bali.

memadai

ternyata

masih

banyak

wisatawan yang belum memiliki pemahaman

Metode

dan sikap yang tepat mengenai perbedaan

kuisioner penelitian yang telah diuji validitas

peran maupun fungsi klinik wisata dengan

dan reliabilitas pada penelitian sebelumnya.9

pelayanan kesehatan primer pada umumnya

Sampel

dan ini berpengaruh terhadap sikap yang

wisatawan domestik maupun mancanegara

diambil

pelayanan

yang sedang berkunjung ke kawasan wisata

tersebut.

Pantai Kuta, Bali pada periode tersebut. Besar

Menyikapi hal tersebut maka telah pernah

sampel minimal yang diperlukan sebesar 97

dilakukan sebuah penelitian untuk mencari

orang berdasarkan rumus simple random

tahu apakah terdapat hubungan antara tingkat

sampling.10

pengetahuan dan sikap seputar klinik wisata

memudahkan pembagian antara kelompok

terhadap pemanfaatan klinik wisata pada

wisatawan domestik maupun mancanagera

wisatawan

maka

terhadap

kesehatan

pada

di

pemanfaatan klinik

wisata

kawasan

wisata

Candi 7

pengambilan

pada

menggunakan

penelitian

Namun

jumlah

data

ini

dengan

sampel

merupakan

tujuan

minimal

untuk

dibulatkan

Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Hasil

menjadi 100 orang. Metode pemilihan sampel

penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa

menggunakan metode Consecutive Sampling

tingkat pengetahuan maupun sikap wisatawan

dimana

seputar klinik wisata berhubungan erat dengan

informed consent sebelumnya. Kriteria inklusi

pemanfaatan klinik wisata di kawasan tersebut,

dalam

akan tetapi tidak ditunjukkan nilai korelasi pada

wisatawan

7

responden

telah

pengambilan yang

menandatangani

sampel

sedang

merupakan

berkunjung

di

penelitian

kawasan wisata Pantai Kuta, Bali, berusia

yang dilakukan di kawasan Pantai Kuta, Bali

minimal 18 tahun, tidak mengalami gangguan

belum

jiwa,

penelitian

sebelumnya. pernah

Namun

dilakukan

sebelumnya

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

dan

bersedia

untuk

diwawancarai.

38


Pengisian

kuisioner

penelitian

dilakukan

3. HASIL PENELITIAN 3.1. Karakteristik

secara terpimpin (guided questionnaire).

Demografis

Wisatawan

Data kuisioner yang telah terkumpul

Domestik maupun Mancanegara yang

kemudian dilakukan verifikasi dan coding

Mengunjungi Kawasan Wisata Pantai

terhadap

Kuta, Bali

pertanyaan-pertanyaan

yang

terdapat dalam kuisioner dimana mencakup 3

Wisatawan

yang

mengunjungi

hal: pertanyaan seputar data diri responden,

kawasan wisata pantai kuta berasal dari

pertanyaan umum seputar kawasan wisata

berbagai negara maupun daerah di Indonesia.

pantai Kuta, Bali, dan pertanyaan seputar

Pada kelompok wisatawan domestik diperoleh

sikap, tingkat pengetahuan, dan pemanfaatan

paling banyak berasal dari Jakarta sebanyak

klinik wisata.

12 orang (24%), kemudian diikuti dengan

pertanyaan

Nilai

yang

tentang

diperoleh

sikap

dan

pada tingkat

Makassar

(9

orang/18%),

Denpasar

dan

pengetahuan seputar klinik wisata kemudian

Surabaya (5 orang/10%),

akan diklasifikasikan secara ordinal: baik,

Malang (3 orang/6%), Balikpapan, Padang,

cukup, dan kurang. Data yang telah ditabulasi

Papua, Yogyakarta, Bogor, dan Klungkung

tersebut kemudian akan diolah menggunakan

masing-masing 2 orang (4%), serta Depok 1

program

orang (2%) (Tabel 1).

SPSS ver.

17 dimana meliputi

Semarang dan

pengolahan data secara deskriptif dan analitik.

Pada

Uji analitik yang dipergunakan adalah uji Chi-

mancanegara

square dan Pearson Correlation untuk mencari

Australia menempati jumlah terbanyak yakni

hubungan dan korelasi antara variabel bebas

11 orang (22%) kemudian diikuti dengan

(Dependent) dalam hal ini sikap maupun

Belanda (8 orang/16%), Finlandia dan Swedia

tingkat pengetahuan seputar klinik wisata pada

masing-masing

wisatawan domestik maupun mancanegara

Prancis dan Jerman masing-masing 3 orang

dengan variabel

(Independent)

(6%), Malaysia, Kanada, Singapura, Spanyol,

yakni pemanfaatan klinik wisata di kawasan

Inggris, Denmark, dan Cina masing-masing 2

wisata Pantai Kuta, Bali.

orang (4%), serta Czech, Jepang, dan Korea

tergantung

kelompok diketahui

sebanyak

wisatawan

bahwa

4

wisatawan

orang

(8%),

Selatan masing-masing sebanyak 1 orang (2%) (Tabel 1). Tabel 1. Jumlah dan Asal Daerah/Negara pada Wisatawan Domestik maupun Mancanegara yang Mengunjungi Kawasan Wisata Pantai Kuta,Bali

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

39


Karakteristik wisatawan berdasarkan jenis kelamin diperoleh bahwa baik perempuan maupun

kelompok usia >65 tahun sebanyak 3 orang (6%) (Tabel 2).

laki-laki memiliki persentase yang sama yakni 50% pada

wisatawan

domestik,

namun

pada

Berdasarkan tujuan berwisata ke kawasan wisata

Pantai

Kuta,

Bali

maka

diperoleh

responden penelitian wisatawan mancanegara

perbedaan tujuan dari segi persentase pada

diperoleh persentase sebesar 54% pada laki-laki

kelompok

dan 46% pada perempuan (Tabel 2). Berdasarkan

mancanegara. Tujuan berwisata pada kelompok

kategori usia diketahui bahwa kelompok usia 20-

wisatawan domestik didominasi untuk tujuan

25 tahun dan 26-45 tahun sama-sama menempati

berlibur (31 orang/62%), kemudian di tempat

persentase terbesar pada wisatawan domestik

kedua adalah untuk belajar (10 orang/20%), bisnis

yakni 40%. Kelompok usia <20 tahun berada di

(6 orang/12%), lain-lain (2 orang/4%), dan terakhir

tempat kedua sebanyak 8 orang (16%), kelompok

untuk tujuan kegiatan sepiritual (1 orang/2%)

46-65 tahun menempati tempat ketiga sebanyak 2

(Tabel 2). Tujuan berwisata pada kelompok

orang (4%), dan kelompok >45 tahun menempati

wisatawan mancanegara juga didominasi untuk

(Tabel 2). Pada

tujuan berlibur yakni sebanyak 40 orang (80%),

tempat terakhir yakni 0% wisatawan

mancanegara

diperoleh

bahwa

wisatawan

domestik

maupun

kemudian tujuan lain-lain menempati

tempat

kelompok usia 26-45 tahun menempati tempat

kedua yakni sebanyak 6 orang (12%), tujuan

terbanyak yakni 23 orang (46%) dimana kemudian

belajar sebanyak 4 orang (8%), dan tidak ada

diikuti oleh kelompok usia 20-25 tahun sebanyak

responden penelitian yang memiliki tujuan bisnis

11 orang (22%), <20 tahun sebanyak 7 orang

maupun

(14%), 46-65 tahun sebanyak 6 orang (12%), dan

mancanegara (0%) (Tabel 2).

spiritual

pada

kelompok

wisatawan

Tabel 2. Karakteristik Demografis dan Tujuan Berwisata pada Wisatawan Domestik maupun Mancanegara yang Mengunjungi Kawasan Wisata Pantai Kuta, Bali

3.2. Distribusi Jawaban Responden Penelitian

Pada

pertanyaan

pertama

diketahui

Seputar Pertanyaan Mengenai Kawasan

bahwa informasi mengenai kawasan wisata Pantai

Wisata Pantai Kuta, Bali

Kuta, Bali yang diperoleh dari 50 responden

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

40


wisatawan domestik antara lain sebagai berikut:

orang (14%), dan tahu hanya sebanyak 5 orang

Televisi (30%), teman/keluarga (30%), internet

(10%). Hasil serupa juga diperoleh pada kelompok

(24%), agen wisata (12%), dan majalah (4%).

wisatawan mancanegara yakni jumlah yang tidak

Sedangkan

wisatawan

tahu sebanyak 31 orang (62%), cukup tahu

mancanegara diperoleh hasil sebagai berikut:

sebanyak 13 orang (26%), dan tahu hanya

teman/keluarga (56%), internet (40%), majalah

sebanyak 6 orang (12%) (Tabel 3).

dari

50

responden

(2%), agen wisata (2%), dan televisi (0%) (Tabel 3).

Pada

pertanyaan

terakhir

untuk

mengetahui apakah wisatawan domestik maupun Dari segi jumlah kunjungan diperoleh

mancanegara pernah mengunjungi klinik wisata

mancanegara

(travel clinic) yang terdapat di kawasan wisata

sebagian besar menyatakan telah mengunjungi

Pantai Kuta, Bali diperoleh hasil bahwa sebagian

kawasan wisata Pantai Kuta, Bali lebih dari sekali

besar wisatawan tidak pernah mengunjunginya.

pada pertanyaan kedua dimana dari 50 orang

Responden penelitian dari wisatawan domestik

pada setiap kelompok didapatkan 38 orang (76%)

maupun

pada wisatawan domestik dan 34 orang (68%)

mengunjungi klinik wisata di kawasan wisata

pada wisatawan mancanegara (Tabel 3).

Pantai Kuta jumlahnya sama yakni sebanyak 47

wisatawan

domestik

Motivasi maupun

maupun

utama

mancanegara

wisatawan untuk

domestik

mengunjungi

kawasan wisata Pantai Kuta, Bali pada pertanyaan

mancanegara

3.3. Sikap, Tingkat Pengetahuan, dan Kemauan

diurutkan

Wisatawan

terbanyak

diperoleh:

pernah

mengunjungi hanya 3 orang (6%) (Tabel 3). Seputar

jumlah

tidak

orang (94%), sedangkan yang sudah pernah

nomor 3 beragam. Motivasi wisatawan domestik dari

yang

Pemanfaatan

Klinik

Domestik

pada Maupun

Keindahan pantainya (48%), panorama matahari

Mancanegara di Kawasan Wisata Pantai

terbenam (32%), diajak teman atau keluarga

Kuta, Bali

(12%), keramahan masyarakatnya (8%), dan

Hasil

penelitian

ini

secara

umum

untuk surfing (0%). Sedangkan pada wisatawan

menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan pada

mancanegara jika diurutkan dari jumlah terbanyak

wisatawan

diperoleh: Surfing (28%), keindahan pantainya

seputar klinik wisata sebagian besar memiliki

(26%), keramahan masyarakatnya (22%), diajak

tingkat pengetahuan yang baik. Dari 50 responden

teman atau keluarga (14%), dan panorama

wisatawan domestik diperoleh 32 orang (64%)

matahari terbenam (10%) (Tabel 3).

memiliki tingkat pengetahuan seputar klinik wisata

Pertanyaan ke-4 mengenai pengetahuan

domestik

maupun

mancanegara

dengan kriteria baik, 12 orang (24%) lainnya

mancanegara

memiliki kriteria cukup, dan 6 orang (12%) memiliki

terhadap keberadaan klinik wisata yang tersebar

kriteria kurang. Kemudian dari 50 responden

di beberapa lokasi kawasan wisata Pantai Kuta,

wisatawan mancanegara diperoleh 31 orang

Bali

besar

(62%) memiliki tingkat pengetahuan seputar klinik

wisatawan tidak mengetahuinya. Pada kelompok

wisata dengan kriteria baik, 11 orang (22%)

wisatawan domestik jumlah yang tidak tahu

lainnya memiliki kriteria cukup, dan 8 orang (16%)

sebanyak 38 orang (76%), cukup tahu sebanyak 7

lainnya memiliki kriteria kurang (Tabel 4).

wisatawan

domestik

diperoleh

hasil

maupun

bahwa

sebagian

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

41


Tabel 3. Hasil Jawaban Responden Penelitian pada Wisatawan Domestik maupun Mancanegara seputar Klinik Wisata dan Kawasan Wisata Pantai Kuta, Bali

Sikap

wisatawan

domestik

maupun

(28%) memiliki sikap yang cukup, dan 7 orang

mancanegara pada penelitian ini seputar klinik

(14%) memiliki sikap yang kurang seputar klinik

wisata di kawasan wisata Pantai Kuta, Bali

wisata.

sebagian besar berada dalam kriteria baik. Dari 50

mancanegara diperoleh hasil yakni 31 orang

wisatawan domestik diperoleh hasil bahwa 29

(62%) memiliki sikap yang baik, 12 orang (24%)

orang (58%) memiliki sikap yang baik, 14 orang

memiliki sikap yang cukup, dan 7 orang (14%)

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

Sedangkan

pada

50

wisatawan

42


memiliki sikap yang kurang seputar klinik wisata

wisata dan 18 orang (36%) sisanya tidak memiliki

(Tabel 4).

kemauan untuk memanfaatkan

Penilaian

kemauan

wisatawan

untuk

klinik wisata.

Sedangkan hasil serupa juga diperoleh pada

memanfaatkan fungsi dan peran klinik wisata

wisatawan

selama berwisata diperoleh hasil bahwa sebagian

wisatawan mancanegara diketahui 33 orang (66%)

besar

diantaranya

wisatawan

memiliki

kemauan

untuk

mancanegara

dimana

memiliki

dari

kemauan

50 untuk

memanfaatkan klinik wisata. Dari 50 wisatawan

memanfaatkan klinik wisata dan 17 orang (34%)

domestik diketahui 32 orang (64%) diantaranya

sisanya

memiliki kemauan untuk memanfaatkan klinik

memanfaatkan klinik wisata (Tabel 4).

tidak

memiliki

kemauan

untuk

Tabel 4. Distribusi Sikap, Tingkat Pengetahuan, serta Kemauan Seputar Pemanfaatan Klinik Wisata pada Wisatawan Domestik maupun Mancanegara di Kawasan Wisata Pantai Kuta, Bali

3.4. Hubungan Sikap dan Tingkat Pengetahuan

(P<0,05) dengan nilai r=0,662 sehingga dapat

Seputar Klinik Wisata terhadap Pemanfaatan

dikatakan bahwa terdapat suatu hubungan yang

Klinik Wisata di Kawasan Wisata Pantai Kuta,

bermakna dan korelasi positif kuat secara statistik

Bali

antara tingkat pengetahuan dengan pemanfaatan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa

terdapat suatu hubungan dan korelasi positif antara tingkat pengetahuan dan pemanfaatan

klinik wisata baik pada wisatawan domestik maupun mancanegara (Tabel 5) Sikap

seputar

klinik

wisata

pada

klinik wisata baik pada wisatawan domestik

wisatawan domestik maupun mancanegara pada

maupun mancanegara. Pada wisatawan domestik

penelitian

diperoleh nilai P pada uji Chi-square sebesar

signifikan

0,000 (P<0,05) dengan nilai r=0,557 sehingga

pemanfaatan

dapat dikatakan terdapat suatu hubungan yang

domestik diperoleh nilai P pada uji Chi-square

bermakna dan korelasi positif kuat secara statistik

sebesar 0,000 (P<0,05) dengan nilai r=0,570,

antara tingkat pengetahuan dengan pemanfaatan

sedangkan

klinik wisata (Tabel 5).

mancanegara diperoleh nilai P sebesar 0,000

ini

menunjukkan

dan

korelasi

klinik

pada

wisata.

hubungan

yang

positif

terhadap

Pada

wisatawan

kelompok

wisatawan

pada

dengan nilai r=0,589 sehingga dapat dikatakan

kelompok wisatawan mancanegara dimana hasil

bahwa terdapat suatu hubungan yang bermakna

uji Chi-square memperoleh nilai P sebesar 0,000

dan korelasi positif kuat secara statistik antara

Hasil

serupa

juga

diperoleh

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

43


sikap seputar klinik wisata dengan pemanfaatan

maupun mancanegara (Tabel 6).

klinik wisata baik pada wisatawan domestik Tabel 5. Hubungan Tingkat Pengetahuan Seputar Klinik Wisata terhadap Pemanfaatan Klinik Wisata di Kawasan Wisata Pantai Kuta, Bali

Tabel 6. Hubungan Sikap Seputar Klinik Wisata terhadap Pemanfaatan Klinik Wisata di Kawasan Wisata Pantai Kuta, Bali.

4. DISKUSI

pengetahuan maupun sikap dalam kategori cukup

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa

hingga kurang.

tingkat

Berdasarkan hasil tersebut maka dapat

pengetahuan serta sikap yang baik terhadap klinik

dikatakan bahwa tingkat pengetahuan terhadap

wisata. Sebagian besar responden penelitian baik

klinik wisata memiliki hubungan yang erat dalam

dari

maupun

hal pemanfaatan klinik wisata tersebut pada para

mancanegara yang memiliki kemauan dalam hal

wisatawan (P<0,05). Nilai korelasi positif kuat

pemanfaatan

tingkat

pada tingkat pengetahuan dalam penelitian pada

pengetahuan maupun sikap dalam kategori baik.

wisatawan domestik (r=0,557) dan mancanegara

Sedangkan

yang

(r=0,662) ini juga menunjukkan bahwa semakin

menyatakan ketidakmauan untuk memanfaatkan

tinggi atau semakin baik pengetahuan seseorang

klinik wisata merupakan kelompok dengan tingkat

terhadap sesuatu maka akan semakin baik pula

sebagian

besar

kelompok

responden

wisatawan klinik

memiliki

domestik

wisata

sebagian

kecil

memiliki lainnya

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

44


pemahaman

yang

dimiliki

terutama

dalam

mengetahui keberadaan klinik wisata.7 Hal ini

memberikan penilaian akan baik atau buruknya

menunjukkan

suatu

dengan

dipergunakan para wisatawan untuk mencari

pemanfaatan klinik wisata. Pemahaman atau

informasi kawasan wisata Pantai Kuta, Bali belum

persepsi yang baik akan membentuk perilaku baru

berjalan optimal dalam hal penyediaan informasi

seseorang

terkait klinik wisata.

hal,

khususnya

dalam

lingkungannya.

11

berkaitan

merespon

keadaan

bahwa

Informasi

Hal inipun sesuai dengan teori

media

mengenai

informasi

kawasan

yang

wisata

perilaku dimana pengetahuan secara langsung

Pantai Kuta, Bali paling besar diperoleh wisatawan

maupun tidak langsung akan mempengaruhi

domestik melalui ajakan teman atau keluarga

persepsi

(30%)

dan

dimana

selanjutnya

tersebut akan mempengaruhi perilaku.

persepsi

12,13

maupun

televisi

(30%)

serta

pada

wisatawan mancanegara diperoleh melalui ajakan

Mengetahui keberadaan serta peran dari

teman atau keluarga (28%). Berdasarkan hasil

klinik wisata dalam hal memberikan pelayanan

wawancara dan kuisioner diketahui informasi yang

kesehatan terhadap resiko perjalanan wisata

diperoleh

tentunya akan memberikan manfaat tersendiri

tersebut kerap kali terbatas akan motivasi untuk

khususnya bagi para wisatawan. Para wisatawan

mengunjungi kawasan wisata Pantai Kuta dimana

baik

motivasi

domestik

akhirnya

maupun

mancanegara

akan mengetahui

resiko

pada

kesehatan

dari

ajakan

terbesar

teman

pada

atau

keluarga

wisatawan

domestik

adalah keindahan pantainya (28%) sedangkan

maupun penanggulangannya selama perjalanan

pada

berwisata. Hal ini dikarenakan sifat dari pelayanan

keinginan untuk berselancar (surfing) (14%).

di

yakni

Padahal informasi mengenai sifat, peran, maupun

sebelum

lokasi klinik wisata yang terdapat di kawasan

setelah

wisata Pantai Kuta, Bali banyak tersedia di internet

klinik

wisata

memberikan berwisata,

bersifat

konsultasi selama

paripurna

kesehatan

berwisata,

serta

wisatawan

berwisata sehingga kemudahan informasi yang

sehingga

perlu

didapatkan akan meningkatkan kemauan para

tersebut

dapat

wisatawan dalam memanfaatkan klinik wisata.

8

mancanegara

pada

penelitian

sekiranya

lebih

layanan

dioptimalkan

kepada

informasi

penggunaannya

sehingga informasi mengenai klinik wisata dapat

Meskipun para wisatawan baik domestik maupun

mancanegara

diperoleh dengan tepat. Sebagian

ini

besar

wisatawan

yang

sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan yang

mengunjungi kawasan wisata pantai Kuta, Bali

baik seputar klinik wisata, namun sebagian besar

diketahui telah mengunjungi Pantai Kuta lebih dari

wisatawan tersebut tidak mengetahui lokasi klinik

sekali dimana sebanyak 38 orang (76%) pada

wisata yang tersebar di sekitar kawasan wisata

wisatawan domestik dan 34 orang (68%) pada

Pantai Kuta, Bali. Pada penelitian ini diperoleh

wisatawan mancanegara. Meskipun demikian hal

76% wisatawan domestik dan 62% wisatawan

tersebut

mancanegara tidak mengetahui keberadaan klinik

tersebut kemudian mengetahui maupun pernah

wisata yang tersebar di kawasan wisata Pantai,

mengunjungi klinik wisata yang tersebar di sekitar

Kuta Bali. Hasil ini berbeda dengan penelitian

kawasan

sebelumnya yang pernah dilakukan di kawasan

ditunjukkan pada hasil penelitian bahwa sebagian

Candi

besar

besar wisatawan yakni 47 orang (94%) wisatawan

mancanegara

domestik maupun 47 orang (94%) wisatawan

Borobudur

wisatawan

domestik

bahwa

sebagian

maupun

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

tidak

wisata

menjamin

Pantai

bahwa

Kuta,

wisatawan

Bali.

45

Hal

ini


mancanegara tidak pernah mengunjungi klinik

pernyataan responden terhadap

wisata yang terdapat di sekitar kawasan wisata

sedangkan secara tidak langsung dapat dilakukan

Pantai Kuta, Bali. Hasil inipun sesuai dengan

dengan membuat pertanyaan ataupun pernyataan

penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan di

hipotesis secara tertulis dalam bentuk kuisioner

9

kemudian meminta responden untuk membuat

kawasan wisata Pantai Parangtritis, Yogyakarta.

15,16

suatu objek

Sehingga dapat diasumsikan bahwa meskipun

pendapatnya sendiri.

sebagian besar wisatawan yang mengunjungi

penilaian

kawasan wisata Pantai Kuta, Bali memiliki tingkat

kelamin, lingkungan, pekerjaan, kebudayaan, dan

pengetahuan yang baik seputar klinik wisata

faktor emosional.

sikap

juga

Disamping hal tersebut dipengaruhi

oleh

jenis

15,16

Pada pernyataan seputar sikap terhadap

namun hal tersebut tidak menjamin mereka pernah mengunjungi klinik wisata tersebut. Hasil

klinik

wisata

yang

terdapat

yang dapat dilihat terbatas hanya pada kemauan

penelitian diperoleh hasil bahwa sebagian besar

untuk memanfaatkan klinik wisata pada saat

wisatawan baik domestik maupun mancanegara

diperlukan dimana 64% pada wisatawan domestik

tidak setuju untuk membeli obat di warung saat

dan 66% pada wisatawan mancanegara memiliki

mengalami

kemauan untuk memanfaatkan klinik wisata.

berwisata. Para wisatawan cenderung lebih setuju

gangguan

pada

kuisioner

kesehatan

selama

Disamping tingkat pengetahuan, faktor

untuk pergi ke klinik wisata yang terdapat di

sikap seputar kinik wisata memiliki hubungan yang

sekitar kawasan wisata Pantai Kuta, Bali apabila

signifikan terhadap pemanfaatan klinik wisata di

mengalami gangguan kesehatan. Selain faktor

kawasan wisata Pantai Kuta, Bali (P<0,05). Nilai

kesehatan para wisatawan juga menyatakan akan

korelasi positif yang didapatkan pada kelompok

mengunjungi klinik wisata jika ada dokter yang

wisatawan domestik (r=570) dan mancanegara

berjaga serta kliniknya bersih dan nyaman. Sikap

(r=0,589) pada penelitian ini menunjukkan bahwa

positif yang ditunjukkan para wisatawan tersebut

semakin baik sikap wisatawan terhadap klinik

ternyata berkaitan dengan persepsi yang baik

wisata maka akan semakin tinggi kemungkinan

akan bagaimana seharusnya fasilitas pelayanan

wisatawan

hal

dari klinik wisata tersebut bekerja. Hal inipun

di

sesuai dengan teori kualitas pelayanan dimana

memiliki

kemauan

dalam

pemanfaatan klinik wisata yang terdapat

disebutkan bahwa kualitas pelayanan merupakan

kawasan wisata Pantai Kuta, Bali. Sikap

pada

kecenderungan

dasarnya

seseorang

untuk

merupakan

kesesuaian

melakukan

memenuhi

tindakan atau perilaku tertentu dimana sikap

pelanggan.

sendiri

sesuai

sifatnya

sangat

individual.

Sebelum

antara

pengguna

kebutuhan 17

produk

dengan

untuk

kepuasan

Hasil penelitian inipun ternyata juga

dengan

penelitian

sebelumnya

yang

seseorang mengambil sikap maka akan ada

pernah dilakukan di kawasan wisata Pantai

beberapa tingkatan di dalamnya yang meliputi:

Parangtritis, Yogyakarta.9

menerima (receiving), merespon (responding), menghargai (valuing), dan kemudian terakhir bertanggung

jawab

(responsible).

14

Penilaian

5. SIMPULAN Penelitian

ini

secara

garis

besar

sikap dapat dilakukan secara langsung maupun

menunjukkan terdapat suatu hubungan antara

tidak langsung dimana secara langsung sikap

sikap dan tingkat pengetahuan seputar klinik

dapat dinilai dengan menanyakan pendapat atau

wisata terhadap pemanfaatan klinik wisata yang

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

46


terdapat di kawasan wisata Pantai Kuta, Bali.

3. Subroto B. Pantai Kuta Bali â&#x20AC;&#x201C; Pantai terindah

Disamping itu penelitian ini juga menunjukkan

di Indonesia [serial online] 2011 Maret

terdapat suatu korelasi positif kuat antara sikap

[Diakses pada 22 November 2013]. Dapat

dan tingkat pengetahuan seputar klinik wisata

dilihat pada http://carakata.org/pantai-kuta-

terhadap pemanfaatan klinik wisata. Hal tersebut

bali-pantai-terindah-di-indonesia/

mengindikasikan

bahwa

semakin

baik

sikap

4. Marcello.

Pantai

Kuta

Dipenuhi

Ribuan

maupun tingkat pengetahuan seputar klinik wisata

Wisatawan Domestik [serial online] 2009

baik

Desember [Diakses pada 22 November

pada

wisatawan

mancanegara

maka

kemungkinan

wisatawan

domestik

akan

maupun

semakin tersebut

besar

2013].

memiliki

Dapat

dilihat

pada

http://www.beritabali.com/index.php/page/beri

kemauan untuk memanfaatakan klinik wisata yang

ta/bdg/detail/2009/12/27/Pantai-Kuta-

terdapat di kawasan wisata Pantai Kuta, Bali

Dipenuhi-Ribuan-Wisatawan-

sesuai keperluannya. Meskipun demikian pada

Domestik/200912270007

penelitian ini juga diperoleh hasil bahwa sebagian

5. Mardh PA. What is travel medicine? Content,

besar wisatawan meskipun telah mengunjungi

current position, tools and tasks. J Travel

kawasan wisata pantai Kuta, Bali lebih dari sekali

Med; 2002; (9): 34-47

mengetahui

6. Swarjana, IK. Peran Puskesmas Wisata

keberadaan serta berkesempatan mengunjungi

Dalam Mendukung Visit Indonesia Year 2008.

klinik wisata yang tersebar di sekitar kawasan

Kesehatan Dalam Pariwisata. 2008:28-34

masih

banyak

yang

belum

7. Martiani N. Hubungan Tingkat Pengetahuan

wisata Pantai Kuta tersebut. maka

Oleh karena itu melihat hasil penelitian ini

dan Sikap Wisatawan Terhadap Pemanfaatan

untuk

Klinik Wisata: Studi Kasus Kawasan Wisata

dapat

meningkatkan

kemauan

Candi Borobudur. Eprints Undip. 2012: 56-63

wisatawan dalam hal pemanfaatan klinik wisata maka perlu sekiranya meningkatkan pengetahuan

8. Pakasi LS. Pelayanan Kedokteran Wisata :

serta sikap yang baik pada wisatawan seputar

Suatu Peluang. Cermin Dunia Kedokteran.

klinik wisata. Hal ini dapat dilakukan seperti

2006. 152 :65.

contohnya

dengan

meningkatkan

penyebaran

9. Nurjanatun

ND.

Hubungan

Tingkat

informasi seputar sifat dan peran klinik wisata

Pengetahuan dan Sikap Wisatawan Terhadap

secara langsung kepada wisatawan dan juga

Pemanfaatan Klinik Wisata: Studi Kasus

meningkatkan fasilitas pelayanan sesuai harapan

Pantai

wisatawan yang hendak memanfaatkan klinik

Undip. 2012: 94-99

Parangtritis,

Yogyakarta.

Eprints

10. Madiyono M. Perkiraan Besar Sampel. In:

wisata.

Sastroasmoro S, Ismael S editors. DasarDAFTAR PUSTAKA

Dasar Metodologi Penelitian Klinis Edisi ke-4. Jakarta. Sagung Seto. 2011. Hal.360-361

1. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Statistical Report on Visitor 2. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali. Jumlah

Notoatmodjo

S.

Ilmu

Kesehatan

Masyarakat, Edisi 2. Jakarta: Rineka Cipta.

Arrivals to Indonesia 2013. Perkembangan

11.

2003:127-33

Wisatawan

Mancanegara ke Bali Tahun 2006-2010. 2011

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

47


12. Becker MH. The health belief model and

16.

Wawan A, Dewi M. Teori dan Pengukuran

personal health behavior. Health Education

Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Manusia.

Monographs 1974; 2:324-473

Yogyakarta: Nuha Medika.2010:78-97

13. Strectcher V, Rosenstock IM. The health

17.

Nasution.

Total

belief model. Dalam: Glanz K, Lewis FM,

Management

Rimer BK (editor). Health belief behavior and

Ghalia. 2004:40

health

education:

theory,

research,

Jasa

Service

Management.

Terpadu.

Indonesia:

and

practice. San Fransisco: Jossey-Bass; 1997. 14. Notoatmodjo S. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Edisi 1. Jakarta : Rineka Cipta. 2003:66-81 15.

Notoatmodjo S. Ilmu Perilaku Kesehatan. Edisi 1. Jakarta : Rineka Cipta. 2010:101-120

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

48


Tinjuan Pustaka

POTENSI PSIKOBIOTIK SEBAGAI TERAPI ALTERNATIF GANGGUAN DEPRESIF MAYOR 1

1

1

Agustinus M. Sarayar , Patrick Reteng , Richard Kowel 1

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi

Email: sarayar.agustinus@gmail.com

ABSTRAK Gangguan jiwa merupakan suatu penyakit yang umum ditemukan di semua negara di seluruh dunia. Diperkirakan satu dari setiap 10 orang di dunia mengalami gangguan cemas ataupun depresi. Banyak pasien dengan depresi tidak terdiagnosis. Selain itu, hanya sekitar setengah yang akan mengalami perbaikan dengan terapi antidepresan yang ada. Psikobiotik merupakan organisme hidup yang ketika dikonsumsi dapat memberikan perbaikan kesehatan pada pasien yang menderita penyakit jiwa. Mikroorganisme dengan inang berkomunikasi melalui serangkaian signal hormonal yang disebut cross-kingdom cell-to-cell signaling. Psikobiotik ini memperbaiki hiperaktivitas aksis HPA, memperbaiki respon imunologis yang abnormal, dan mempengaruhi kadar neurotransmitter pada penderita gangguan depresif mayor. Keunggulan terapi ini dibandingkan dengan terapi antidepresan yang tersedia saat ini antara lain, konsumsi psikobiotik lebih aman dan mudah, tidak memerlukan prosedur reguler seperti penggunaan obat-obatan psikotropika, dan dapat ditoleransi dengan baik oleh tubuh manusia. Terapi alternatif menggunakan psikobiotik efektif dalam menangani gangguan depresif mayor. Kata kunci: cross-kingdom cell-to-cell signaling ABSTRACT Mental disorders is a commonly found disease around the world. It is estimated that one in every 10 people suffers from anxiety or depression disorders. Depressive patients are often underdiagnosed. In addition, only half of these patients will have improvement with the available antidepressant. Psychobiotics are living organisms that when ingested may produce health benefits in patients suffering from mental illness. Microorganisms communicate with their host through an array of hormonal signals called cross-kingdom cell-to-cell signaling. These organisms repair hypothalamicpituitary-adrenal (HPA) axis hyperactivity, abnormal immunologic response, and change in level of neurotransmitters in mayor depressive disorder patients. The benefits of using this therapy compared to common antidepressant are consuming psychobiotic is considered healthy, doesnâ&#x20AC;&#x2122;t need regular procedure as in using psychotropic drugs because psychobiotic is not metabolized by human body, and generally regarded as safe and well tolerated. In conclusion, psychobiotic is effective for major depressive disorder treatment. Keywords: cross-kingdom cell-to-cell signaling

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

49


1. PENDAHULUAN Gangguan

jiwa

merupakan

suatu

tersebut. Probiotik memiliki potensi untuk

penyakit yang umum ditemukan di semua

menurunkan

negara. Gangguan jiwa yang didominasi oleh

munurunkan stres oksidatif, meningkatkan

depresi dan gangguan mood ini memiliki

status nutrisi, dan memperbaiki keseimbangan

prevalensi yang tinggi. Diperkirakan satu dari

kehidupan mikroba usus.6 Sebuah

setiap 10 orang di seluruh dunia mengalami 1

sitokin

inflamasi

studi

sistemik,

menyatakan

bahwa

gangguan cemas ataupun depresi. Gangguan

probiotik menawarkan pengobatan alternatif

depresif mayor menyumbang 4,4% dari total

terhadap penderita depresi dan gangguan jiwa

keseluruhan beban penyakit global (global

lain. Probiotik ini dinamakan psikobiotik, yaitu

disease burden), suatu kontribusi yang setara

organisme hidup yang ketika dikonsumsi dapat

dengan penyakit jantung iskemik dan diare.

2

memberikan perbaikan kesehatan pada pasien

Banyak pasien dengan depresi tidak terdiagnosis

dengan

baik.

2,3

Selain

itu,

yang menderita penyakit jiwa. Salah satunya adalah Bifidobacterium infantis. Dalam sebuah

penderita depresi yang terdiagnosis seringkali

studi,

mendapatkan

perbaikan perilaku dan peningkatan respon

pengobatan

yang

tidak

4

adekuat. Lebih jauh lagi, di antara mereka

tikus

yang

depresif

menunjukkan

imun setelah mengonsumsi psikobiotik.7

yang mengalami gangguan depresif episode

Beberapa studi mengenai hubungan

ringan hingga berat, hanya sekitar setengah

antara probiotik dengan perilaku menunjukkan

yang akan mengalami perbaikan dengan terapi

hasil yang positif, di antaranya sukarelawan

2

antidepresan. Tidak semua pasien depresi ini

yang

responsif terhadap antidepresan yang ada dan

R0052 dengan penambahan Bifidobacterium

sebagian

pasien

longum selama 30 hari mengalami penurunan

farmakologis.

5

menolak

intervensi

menerima

Lactobacillus

helveticus

tingkat stres dibanding mereka yang menerima

Gangguan depresif mayor merupakan

plasebo. Studi lain yang melibatkan 124

5

sukarelawan dengan rerata usia 61,8 tahun

kondisi yang sangat kompleks dan heterogen.

Pasien yang menderita gangguan depresif

memperlihatkan

mayor memperlihatkan peningkatan kadar

mengkonsumsi yoghurt yang mengandung

sitokin

probiotik

proinflamasi,

peningkatan

stres

oksidatif, perubahan fungsi pencernaan, dan penurunan status mikronutrien dan asam lemak omega-3. Stres yang merupakan faktor

perbaikan

bahwa

selama

3

mood

menerima plasebo.

subyek

minggu

yang

mengalami

dibanding mereka

yang

7

Hal di atas mendukung pandangan 7

penting gangguan depresif mayor diketahui

bahwa probiotik memiliki efek psikotropik.

dapat mengubah komposisi mikroba saluran

Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengkaji

gastrointestinal, lactobacilli studi sistem

dan

menurunkan

jumlah

lebih dalam mencari hubungan antara probiotik

bifidobacterium.

Beberapa

dengan depresi serta potensi dari psikobiotik

mendapatkan bahwa bakteri pencernaan

dapat

dalam

berkomunikasi

sebagai terapi alternatif terhadap pasien yang menderita gangguan depresif mayor.

dengan sistem saraf pusat, bahkan ketika belum muncul respon imun terhadap mikroba

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

50


2. BAHASAN

mempertahankan

2.1 Tinjauan Pustaka

aktivasi sistem ini dalam waktu yang lama

2.1.1 Diagnosis dan Epidemiologi

dapat

diartikan

sebagai

perubahan suasana hati yang terjadi paling 8

efek

yang

berbahaya

terhadap tubuh manusia. Sebagai respons

Depresi mayor, atau disebut juga unipolar,

mempunyai

namun

1

Gangguan Depresif Mayor gangguan

homeostasis,

terhadap stres, sistem ini akan diaktifkan dan akan berakhir pada sekresi dari kortikosteron di kelenjar adrenal.

10,11,12

Hipotesis

Bila gejala

disregulasi HPA atau disfungsi glukokortikoid

depresi mayor ini timbul berulang, maka

menyebutkan bahwa depresi berhubungan

4

dengan gangguan terhadap aksis HPA, yang

Pasien dengan depresi mayor cenderung

berujung pada peningkatan kadar kortisol

memperlihatkan kehilangan minat terhadap

plasma.

segala aktivitas yang menyenangkan, sering

bahwa aksis HPA menjadi hipereaktif pada

terbangun pada pagi hari, dan cenderung

penderita gangguan depresif mayor.13

kurang selama dua minggu.

disebut sebagai gangguan depresif mayor.

memperlihatkan

variasi

memburuk di pagi hari). Diperkirakan

diurnal

Beberapa

dipersepsikan

ada

404

juta

orang

studi

memperlihatkan

Stres yang dialami seseorang akan

(gejala

8

10

oleh

korteks serebri,

yang

kemudian sinyal-sinyalnya akan diteruskan ke

menderita depresi di tahun 2013. Hal ini

hipotalamus.11

menyebabkan depresi menempati peringkat

stimulus tersebut hipotalamus (terutama di

1

Sebagai

terhadap

pertama dari seluruh gangguan jiwa. Hampir

daerah

15% dari populasi dunia pernah mengalami

menyekresikan

corticotropin

episode depresi mayor selama hidupnya, dan

hormone

Selanjutnya

6-8% pasien di pelayanan primer memenuhi

merangsang kelenjar pituitari, khususnya sel-

Gangguan

(CRH).

median)

akan releasing

CRH

akan

2

sel

Depresif

adrenocorticotropic hormone (ACTH) ke dalam

kriteria diagnosa untuk depresi mayor. 2.1.2 Patogenesis

eminensia

respon

Mayor

corticotroph darah.12

aliran

Menurut Zunszain dkk, mekanisme

menuju

untuk Kemudian

kelenjar

adrenal,

mensekresikan ACTH

dibawa

dimana

ACTH

yang berhubungan dengan patogenesis dari

dengan cepat akan merangsang biosintesis

gangguan

kortikosteroids

depresif

mayor

di

antaranya,

10,12

dari

kolesterol,

termasuk

disfungsi aksis hypothalamic-pituitary-adrenal

kortisol.

(HPA), defisiensi monoamin, dan gangguan

mengaktifkan mekanisme umpan balik negatif

dari inflamasi dan/ atau neurodegeneratif.

di pituitari dan hipotalamus, menurunkan

Peningkatan

produksi CRH dan ACTH (Gambar 1).10,12,13,14

sekresi

dan

reaktivitas

dari

Kortisol

Kortisol

kortisol, bersama dengan gangguan inhibisi

dalam

merupakan

darah

hormon

akan

stres

dari umpan balik merupakan abnormalitas

utama, dan mempengaruhi banyak jaringan di

HPA yang paling banyak didapat pada pasien

tubuh termasuk jaringan otak. Kortisol akan

gangguan depresif mayor.

9

berdifusi ke dalam otak, untuk kemudian

Aksis HPA merupakan suatu sistem

berikatan dengan dua macam reseptor dengan

neuroendokrin yang mengatur respons tubuh

afinitas yang berbeda yaitu: reseptor tipe 1

terhadap stres.

10

Respons ini bertujuan untuk

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

atau

reseptor

mineralkortikoid

(MR)

dan

51


reseptor tipe II atau reseptor glukokortikoid (GR).

12

Reseptor mineralkortikoid yang ada di

hipokampus berperan dalam kontrol inhibisi terhadap

HPA.12

aksis

Gambar 1. Perubahan Aksis HPA pada Penderita Depresi

11

Pada pasien dengan depresi, dapat

target, dan dapat mengakibatkan terakivasinya

terjadi beberapa perubahan pada aksis HPA

sistem imun; namun sebaliknya, inflamasi

(Gambar

ini

dapat menstimulasi aktivitas aksis HPA secara

meliputi: adanya peningkatan kadar kortisol

langsung, yaitu aksi sitokin pada otak, dan

plasma, peningkatan ukuran kelenjar pituitari

menginduksi resistensi glukokortikoid.9

anterior dan kelenjar adrenal, peningkatan

2.1.3 Kekurangan

1).

Perubahan-perubahan

kadar CRH dalam cairan serebrospinal, serta peningkatan ekspresi CRH di dalam sistem 11

Terapi

Gangguan

Depresif Mayor Terdahulu Antidepresan

digolongkan

Selain itu ditemukan juga pengecilan

berdasarkan cara kerjanya masing-masing.

ukuran hipokampus, yang mungkin diakibatkan

Beberapa golongan antidepresan antara lain

oleh berkurangnya neurogenesis oleh karena

selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI),

limbik.

tingginya kadar kortisol dalam darah.

10,11

norepinephrine reuptake inhibitor, monoamin sistem

oksidase inhibitor (MAO-I), serta antagonis

endokrin, sistem imun, dan sistem saraf,

reseptor Îą2-adrenergik, dan antagonis 5-HT2A.

Adanya

komunikasi

antara

mengakibatkan inflamasi dapat menghasilkan

Dari

penggunaan

berbagai

jenis

respon neuroendokrin, begitu pula sebaliknya.

antidepresan, hanya kurang dari separuh dari

Oleh karena itu, hiperaktivitas aksis HPA dan

penderita gangguan depresif mayor ini yang

inflamasi bisa dikatakan merupakan proses

mengalami

patofisiologi yang sama yaitu: hiperaktivitas

Murrough dkk, memperlihatkan bahwa tingkat

aksis

aksi

responsivitas terhadap antidepresan yang ada

glukokortikoid yang tidak efektif pada jaringan

hanya sekitar 54% dan data efektivitas nyata

HPA,

sebagai

penanda

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

perbaikan

gejala.2

Studi

oleh

52


di dunia menunjukan tingkat yang lebih rendah dari angka tersebut. Food

and

15

antidepresan

Studi meta-analisis oleh

fungsi mukosa, dan memodulasi respon imun

Administration

(FDA)

manusia. Probiotik yang memperlihatkan sifat

penggunaan

tahan asam dan garam empedu dengan

Drug

mendapatkan

bahwa hanya

sedikit

dibandingkan dengan plasebo.

lebih

efektfif

16

berkoloni di mukosa kolon. Probiotik tidak

Lebih dari 500 spesies bakteri hidup di saluran

cerna

tingkatan yang berbeda-beda sesuai dengan spesiesnya, mempunyai kemampuan untuk

2.1.4 Probiotik dan Psikobiotik dalam

dari patogen terhadap epitel, meningkatkan

manusia

dewasa.

dimetabolisme oleh tubuh manusia.17 Selain berbagai kegunaan terhadap gangguan sistem

Komunitas mikroba ini tidak hanya hidup

gastrointestinal,17

dengan damai dalam tubuh manusia, tetapi

menunjukkan bahwa probiotik menawarkan

juga

pengobatan

berperan

penting

dalam

kesehatan

kini

alternatif

banyak terhadap

studi penderita

7

manusia. Terdapat interaksi yang konstan dan

depresi dan gangguan jiwa lain. Studi preklinis

kompleks antara bakteri-bakteri komensal ini,

menemukan

sel-sel epitel usus, dan sistem imun.17 Menurut

dengan perubahan mikroba dalam usus.7

Dinan, pada saluran cerna orang dewasa

bahwa

Psikobiotik

depresi

berhubungan

didefinisikan

sebagai

terdapat kira-kira 1â&#x20AC;&#x201D;2 kg bakteri yang memiliki

mikroorganisme hidup yang ketika berada di

kemampuan

bahan

dalam usus dalam kuantitas yang adekuat,

kimia esensial. Individu yang tidak memiliki

akan menghasilkan perbaikan kondisi pada

pola hidup sehat memiliki keragaman dan

pasien yang menderita penyakit jiwa.

variasi bakteri yang lebih sempit dibanding

Sebagai salah satu kelas dari probiotik,

memproduksi

mereka yang sehat. Probiotik

ratusan

7

18

bakteri-bakteri ini memiliki kemampuan untuk didefinisikan

sebagai

memproduksi,

mengantarkan

substansi

mikroorganisme hidup yang ketika dikonsumsi

neuroaktif seperti gamma-aminobutyric acid

dengan jumlah yang cukup, dapat memberikan

(GABA )dan serotonin, yang bekerja pada

17

brain-gut-axis.18 Namun, dari berbagai jenis

Probiotik terdiri dari ragi dan bakteri, terutama

probiotik yang sudah lama dikenal, hanya

bakteri

efek yang menguntungkan bagi kesehatan. asam

Lactobacillus

dari

genus

sedikit yang memiliki dampak pada perilaku

Bifidobacterium,

umum

manusia

laktat. dan

Bakteri

ditemukan pada saluran cerna manusia sehat, dan merupakan agen probiotik yang paling sering

digunakan.

Terdapat

variasi

psikobiotik.

dan

dikualifikasikan

sebagai

7

Evaluasi

preklinis

pada

hewan

yang

pengerat menggambarkan psikobiotik tertentu

signifikan dalam jumlah pada berbagai sediaan

memiliki aktivitas antidepresan dan ansiolitik.

probiotik karena produksi probiotik ini belum

Efek ini dimediasi oleh nervus fagus, tulang

terstandadisasi dengan baik. Sampai saat ini,

belakang, atau sistem endokrin. Bukti-bukti

dosis yang lazim dari probiotik tertentu untuk

ilmiah menunjukkan

penggunaan

probiotik dalam mengurangi gejala depresi.

Diperkirakan, cara kerja dari probiotik

Manfaat ini diyakini berhubungan dengan aksi

penggunaan klinis spesifik belum ditentukan. adalah

manfaat

17

menekan

pertumbuhan

bakteri

antiinflamasi dan kemampuan mengurangi

patogen, mecegah penempelan atau invasi

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

53


aktivitas

hypothalamic-pituitary-adrenal

dari beberapa jenis psikobiotik.

axis

18

butyric acid (GABA), katekolamin, histamin, dan asetilkolin yang dapat bekerja pada sistem

2.1.5 Gut-Brain Axis

saraf saluran cerna dari inang bakteri tersebut

Gut-brain axis (GBA) adalah sistem

(Gambar

2).

Lebih

jauh

lagi,

mikroba

komunikasi dua arah, di mana melalui sistem

mensintesis sekaligus mempengaruhi sintesis

ini, otak memodulasi dan memonitor fungsi

beberapa

19

jenis

gas

(karbon

monoksida,

Otak berkomunikasi

hidrogen sulfida, dan nitrit oksida), yang

dengan saluran pencernaan manusia melalui

berperan dalam transmisi neurotransmitter

jalur paralel multipel, termasuk dua cabang

pada sistem saraf perifer dan pusat. Di lain

sistem saraf otonom, aksis HPA, imunologis,

sisi, sistem saraf saluran cerna diperkirakan

19,20

Interaksi otak-usus

memiliki peran dalam presentasi mikroba

ini didasari oleh mekanisme saraf, endokrin,

kepada sistem imun melalui plak peyer dan

sistem gastrointestinal.

dan jalur monoamin.

Studi dari Philip dan Cowen

sel-sel dendritik.19 Oleh karena itu, otak dan

memberikan tinjauan komprehensif mengenai

bakteri komensal saling berhubungan satu

microbe-gut-brain axis dan mendapatkan bukti

sama lain. Hal ini diperkirakan bagian dari

adanya aksi ansiolitik dan antidepresan dari

homeostasis

Bifidobacteria dan Lactobacilli pada tikus dan

hanya stabilitas dari mikroba dalam usus,

manusia setelah dikonsumsi sebagai kultur

tetapi juga berpotensi memodulasi fungsi otak

dan imunologis.

hidup.

19

7

yang

dan perilaku manusia.

mempertahankan

tidak

19

Aksi stres yang dirasakan oleh otak dapat menyebabkan perubahan komposisi mikroba di dalam usus. Di lain sisi, beberapa bukti bahwa

penelitian

terakhir

bakteri

dalam

mengindikasikan usus

dapat

mempengaruhi neurokimia otak dan perilaku.21 Hal ini dapat dilihat dari kemampuan otak untuk menyadari adanya mikroba patogen meski dalam dosis subklinik karena nuklei batang otak menjadi aktif. 19 Komunikasi antara mikroorganisme

dengan

inang

melalui

serangkaian signal hormonal. Hal yang disebut cross-kingdom melibatkan

cell-to-cell

signaling

molekul-molekul

kecil,

ini

seperti

hormon yang diproduksi oleh manusia dan bahan kimia seperti hormon yang diproduksi oleh

bakteri.22

Keterlibatan

dimediasi oleh nervus vagus.

nukleus

ini

19

Bakteri dalam saluran cerna memiliki kemampuan untuk mensekresikan substansi

Gambar 2. Mekanisme Dasar Interaksi

seperti serotonin, melatonin, gamma amino

Mikroba-otak dengan Sistem Saraf.19

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

54


Studi terbaru menunjukkan bahwa

Beberapa studi terakhir melaporkan

dengan

bahwa chronic treatment dengan probiotik

perubahan

Lactobacillus rhamnosus (JB-1) lebih dari 28

kadar dopamin. Selain itu, tikus-tikus ini

hari menghasilkan hewan coba dengan kadar

menampilkan

bermakna

rendah dari stress-induced corticosterone dan

konsentrasi serotonin prekusor triptofan dalam

mengurangi depressive behaviour pada forced

plasma dan degradasi produk asam kynureic

swim test. Pada hewan coba yang diberikan

dibanding kontrol. Lactobacilli memperlihatkan

Lactobacillus rhamnosus (JB-1) menunjukkan

peningkatan

perubahan pada mRNA GABAB1b di otak

penanganan

tikus-tikus

Bifidobacterium

menyebabkan peningkatan

aktivitas

indoleamine

2,3

dioxygenase (IDO), enzim yang terlibat dalam

dengan

katabolisme

pembentukkan

korteks

kynureic

hippocampus, amigdala, dan lokus coeruleus

senyawa

triptofan

neuroaktif

quinolinic (Gambar 2).

dan asam

dan

19

2.1.6 Mekanisme

Kerja

Psikobiotik

Efek menguntungkan dari probiotik kecemasan

dan

bersamaan

terhadap Gangguan Depresif Mayor terhadap

peningkatan

dan

depresi

dapat

dijelaskan dengan competitive exclusion dari

ekspresi

menurukan

dengan

di

bagian

ekspresi

di

menurunnya

ekspresi

27

Selain itu,

mRNA GABAAÎą2 di hippocampus.

L. rhamnosus R0011 dan L. Helveticus R0052 memperbaiki mRNA dalam otak tikus yang mengalami perubahan setelah infeksi kronis yang disebabkan oleh Helicobacter pylori.19

menurunkan

Bifidobacterium longum adalah bakteri

sitokin pro-inflamasi dan komunikasi dengan

Gram positif yang terdapat pada saluran

sistem saraf pusat lewat serat saraf sensoris

gastrointestinal

nervus vagus yang nantinya mengarah pada

Bifidobacterium longum dimasukkan sebagai

perubahan

flora

patogen

yang

fungsinya.

mengganggu,

kadar

neurotransmitter

dan

23,24,25

normal

ternyata

Pemberian probiotik dalam berbagai

manusia.28 pada

bukan

Walaupun

pencernaan

merupakan

manusia,

bakteri

yang

signifikan ada di saluran gastrointestinal pada

studi yang telah dilakukan memperlihatkan

orang

peran

anxiolytic.

jumlah yang adekuat dari bakteri ini untuk

kombinasi

mendapatkan

probiotik

Sebagai

sebagai

contoh,

Lactobacillus

agen

pemberian

helveticus

R0052

dan

Bifidobacterium longum R0175 menunjukan adanya aktivitas anxiolytic pada tikus.

26

Lebih

lanjut, suatu formulasi probiotik yang terdiri

dewasa

sehingga efek

perlu

tambahan

menguntungkan

dari

probiotik ini. Selain itu, kemampuan bakteri ini untuk

memproduksi

asam

laktat

dapat

mencegah bertumbuhnya organisme patogen lainnya yang merugikan.29

dari kombinasi Lactobacillus helveticus R0052

Strain Bifidobacterium yang lain yaitu

dan Bifidobacterium longum selama 30 hari

Bifidobacterium

menyebabkan penurunan tingkat stres pada

bakteri yang paling banyak terdapat dalam

tikus,

menerima

usus bayi dan sering digunakan sebagai

plasebo. Selain itu, mereka juga mengalami

probiotik, dapat memperbaiki aksis HPA yang

penurunan kortisol bebas dalam urin secara

hiperaktif

dibanding

signifikan.

mereka

yang

7

tikus

yang

merupakan

yang

mengalami

gangguan depresif. Lebih jauh lagi, probiotik ini

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

pada

infantis

menyebabkan

penurunan

konten

55


noradrenalin pada batang otak, peningkatan

obatan. Selain itu, penggunaan psikobiotik

pelepasan

kemungkinan

interleukin

peningkatan

kadar

(IL)-6 mRNA

perifer

dan

corticotropine

reguler

tidak

seperti 7

memerlukan

penggunaan

prosedur

obat-obatan

releasing factor pada amigdala. Pemberian B.

psikotropika.

infantis memberikan efek perbaikan defisit

dikonsumsi dan dapat ditoleransi oleh tubuh

perilaku dan kemampuan berenang pada tikus

dengan baik. Namun, beberapa jenis probiotik

yang mengalami depresi dan perbaikan respon

dikontraindikasikan

imun.

mendemonstrasikan

menderita defisiensi sistem imun atau sedang

pengaruh bifidobacterium pada fungsi neuron

menderita penyakit yang parah, di mana

dan memperlihatkan peran probiotik sebagai

terhadap pasien-pasien ini probiotik dilaporkan

terapeutik yang lebih luas dari yang sudah

dapat

Penemuan

diketahui.

ini

30

emosi

ditunjukkan

pasien

bakteremia

aman

yang

dan

17

2.2 Analisis

ditemukannya

Probiotik yang termasuk psikobiotik

hubungan antara depresi dengan elevasi dari

antara lain Bifidobacterium infantis, B. longum

IL-6, tumor necrosis factor (TNF) dan C-

R0175, Lactobacillus helveticus R0052, L.

reactive

protein.

dengan

dianggap

pada

menyebabkan

fungaemia.

Keterlibatan proses inflamasi terhadap

Probiotik

31

sitokin-sitokin

rhamnosus (JB-1), L. rhamnosus R0052. Cara

tersebut ke dalam tubuh ternyata menginduksi

kerja psikobiotik ini di antaranya adalah

terjadinya

Injeksi

gejala

dan

memperbaiki

hiperaktivitas

pencegahannya dilakukan dengan pemberian

memperbaiki

respon

antidepresan.

34

depresi

32,33

,

Hal ini memperlihatkan bahwa

antidepresan dapat menghasilkan IL-10 yang 35

dapat menekan inflamasi dan depresi. Strain Lactobacillus

dan

abnormal,

dan

aksis

HPA,

imunologis

yang

perubahan

kadar

neurotransmitter pada penderita gangguan depresif mayor.

Bifidobacterium

Seperti

yang

telah

diketahui,

melemahkan respons inflamasi atau juga

psikobiotik memiliki potensi sebagai terapi

36,37,38

alternatif pada penderita gangguan depresif

Berdasarkan penemuan ini, kedua bakteri

mayor. Terapi ini mempunyai tiga keuntungan

yaitu Lactobacillus rhamnosus R0052 dan

dibanding terapi dengan antidepresan yang

Bifidobacterium

sudah ada. Pertama adalah penggunaan

menginduksi produksi IL-10 pada tikus.

longum

R0175

memperlihatkan efek anti inflamasi pada sel manusia.

39

Dengan demikian, bakteri dapat

psikobiotik, kedua,

pasien dengan inflammatory chemicals yang

memerlukan

6

2.1.7 Keunggulan

dan

aplikasi

psikobiotik dinilai lebih mudah. Keuntungan

digunakan untuk mempengaruhi mood pada meningkat.

perkembangan,

penggunaan prosedur

psikobiotik reguler

tidak seperti

penggunaan obat-obatan psikotropika karena dan

Kekurangan

Psikobiotik

psikobiotik tidak dimetabolisme oleh tubuh. Ketiga, psikobiotik merupakan bagian dari

Secara umum, konsumsi psikobiotik

probiotik yang tergolong aman dikonsumsi dan

menyehatkan tubuh manusia. Di samping itu,

dapat ditoleransi dengan baik oleh tubuh

perkembangan dan aplikasi psikobiotik ini

manusia. Selain itu, psikobiotik dapat tersedia

dinilai lebih mudah daripada penggunaan obat-

dalam berbagai bentuk yang praktis atau

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

56


bahkan menarik, diantaranya, kapsul, bubuk,

spesifik. Selain itu, menurut studi lapangan

susu terfermentasi, atau yoghurt.

peneliti, belum tersedia psikobiotik yang sudah

Beberapa

jenis

probiotik

terbukti

bermanfaat

terhadap

gangguan

yang

depresif mayor yang beredar di pasaran

menderita defisiensi sistem imun atau sedang

Indonesia. Saat ini baru tersedia di pasaran

menderita penyakit yang parah karena dapat

antara

menyebabkan bakteremia dan fungaemia.

Bifidobacterium tanpa diketahui spesiesnya,

Kelemahan lain dari psikobiotik, sampai saat

Lactobacillus bulgarius, L. acidophilus, L. casei

ini, belum ditemukan dosis yang lazim dari

strain Shirota.

dikontraindikasikan

pada

pasien

lain

Bifidobacterium

BB12,

psikobiotik tertentu untuk penggunaan klinis 2.3 Sintesis

Gambar 3. Skema Sintesis 3. SIMPULAN

abnormal,

Dari hasil pembahasan, bisa disimpulkan bahwa terapi alternatif dengan menggunakan psikobiotik efektif dalam menangani gangguan depresif mayor. Secara sederhana, terapi ini memperbaiki

hiperaktivitas

aksis

HPA,

memperbaiki

respon

imunologis

yang

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

dan

perubahan

kadar

neurotransmitter pada penderita gangguan depresif mayor. Psikobiotik keuntungan antidepresan Keuntungan

mempunyai

dibandingkan yang

dengan

tersedia

psikobiotik

beberapa saat

diantaranya

terapi ini. lebih

57


mudah

dan

memerlukan

aman

dikonsumsi,

prosedur

reguler

tidak seperti

Study 2010. Lancet [serial online] 2013 [cited

2013

Dec

3].

Available

penggunaan obat-obatan psikotropika karena

http://dx.doi.org/10.1016/S0140-

psikobiotik tidak dimetabolisme oleh tubuh,

6736(13)61611-6.

from:

dan dapat ditoleransi dengan baik oleh tubuh

5. Dinan TG, Quigley EM. Probiotics in the

manusia. Selain itu, psikobiotik dapat tersedia

Treatment of Depression: Science or

dalam berbagai bentuk yang praktis atau

Fiction?.

bahkan menarik, di antaranya, kapsul, bubuk,

2011;45:1023-25.

Aust

N

Z

J

Psychiatry

6. Logan AC, Katzman M. Major depressive

susu terfermentasi, atau yoghurt.

disorder: probiotics may be an adjuvant 4. SARAN

therapy. Medical Hypotheses 2005;64:533-

Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan, karena belum tersedia di pasaran Indonesia,

penulis

menyarankan

dilakukan

kultur

terhadap

perlu probiotik

Bifidobacterium infantis, B. longum R0175, Lactobacillus helveticus R0052, L. rhamnosus (JB-1),

L.

rhamnosus

R0052

kemudian

dikemas dalam bentuk yang praktis dan menarik. Terapi ini sebaiknya mulai diterapkan di Indonesia karena selain menarik dan aman, psikobiotik

sudah

terbukti

efektif

dalam

mengobati gangguan depresif mayor.

38. 7. Brausser

D.

Probiotics

a

Potential

Treatment for Mental Illness. Medscape Medical News: Psychiatry [serial online] 2013 [Cited 2013 Dec 1] Available from: http://www.medscape.com/viewarticle/814 672. 8. Reus VI. Mental disorders. In: Kasper DL, Braunwald E, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, Loscalzo J, editors. Harrison’s principal of internal medicine. 17th ed. New York; McGraw-Hill Medical Publishing: 2008. 9. Zunszain PA, Anacker C, Cattaneo A,

DAFTAR PUSTAKA 1. Layard R, Chisholm D, Patel V, Saxena S. Mental illness and unhappiness. London: Centre for Economic Performance; 2013. 2. Mann JJ. The medical management of depression.

N

Engl

J

Med

3. Lyness JM. Psychiatric disorder in medical practice. In: Goldman L, Schafer AI, editors. Goldman’s cecil medicine. 24 ed. th

Philadelphia: Elsevier Saunders;2008. 4. Whiteford HA, Degenhardt L, Rehm J, Baxter AJ, Ferrari AJ, Erskine H, dkk. Global burden of disease attributable to and

substance

LA,

Glucocorticoids, abnormalities

Pariante cytokines

in

CM.

and

brain

depression.

Prog

Neuropsychopharmacol

Biol

Psychiatry

2011;35:722–729. 10. Pompili M, Serafini G, Innamorati M,

2005;353(17):1819-34.

mental

Carvalho

use

Möller-Leimkühler AM, Giupponi G, Girardi P, Tatarelli R, et al. The hypothalamicpituitary-adrenal

axis

and

serotonin

abnormalities: a selective overview for the mplications of suicide prevention. Eur Arch Psychiatry Clin Neurosci 2010;260:583600.

disorder;

findings from the Global Burden Disease

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

58


11. Belmaker RH, Agam G. Mechanism of

20. Mayer EA. Gut feelings: the emerging

disease: major depressive disorder. N Engl

biology of gut-brain communication. Nature

J Med 2008;358(1):55-68.

Reviews: Neurosciences 2011;12:453-466.

12. Andreatini

R.

the

21. Scott LV, Clarke G, Dinan TG. The Brain-

increasing

Gut Axis: A Target for treating Stress-

Neuropsychiatrica

Related Disorders. Pharmacopsychiatry.

Depression

and

hypothalamic-pituitary-adrenal the

scope.

Acta

2013;28:90-99

2012;24:1-3. 13. Falkai

P,

Malchow

B,

Schmitt

A.

22. Hughes DT, Sperandio V. Inter-kingdom

Neurobiological background of affective

signalling:

disorder. In: Schoepf D, editor. Psychiatric

bacteria and their hosts. Nature Reviews

disorders – new frontiers in affective

Microbiology 2008;6:111-120. 23.

disorder. Croatia; Intech: 2013. 14. Palazidou

E.

The

neurobiology

if

communication

between

Yan F & Polk DB (2002) Probiotic bacterium

prevents

cytokine-

induced

depression. Br Med Bull 2012;101:127-

apoptosis in intestinal epithelial cells. J Biol

145.

Chem 277;50959–65.

15. Murrough JW, Charney DS. Is There Anything

Really

Novel

on

the

24. Lammers KM, Brigidi P, Vitali B, et al. Immunomodulatory effects of

probiotic

Antidepressant Horizon? Curr Psychiatry

bacteria DNA: IL-1 and IL-10 response in

Rep 2012;14:643-49.

human

16. Piggot HE, Levethal AM, Alter GS, Boren JJ.

Efficacy

and

Antidepressants: Research.

Effectiveness

Current

FEMS

blood

Immunol

mononuclear

Med

Microbiol

2003:38;165–72.

of

25. Ramiah K, van Reenen CA & Dicks LM.

Psychosom

Surface-bound proteins of Lactobacillus

Status

Psychother

of

cells.

peripheral

plantarum 423 that contribute to adhesion

2010;79:267-79. 17. Pham M, Lemberg DA, Day AS. Probiotics:

of

Caco-2

cells

and

their

role

in

sorting the evidence from the myths. Med

competitive exclusion and displacement of

J Aust 2008;188:304-8.

Clostridium sporogenes and Enterococcus C,

Cryan

JF.

faecalis. Res Microbiol 2008:159;470–5.

Novel

Class

of

26. Messaoudi M., Lalonde R., Violle N.,

Psychotropic. Biol Psychiatry 2013;74:720-

Javelot H., Desor D., Nejdi A., et all.

26.

. Assessment

18. Dinan

TG,

Psychobiotics:

Stanton A

19. Bienestock J, Collins S. 99

th

Dahlem

properties

of

of a

psychotropic-like probiotic

formulation

Conference on Infection, Inflammatory and

(Lactobacillus

Chronic Inflammatory Disorders: Psycho-

and Bifidobacterium longum R0175) in rats

neuroimmunology

and

and

the

intestinal

microbiota: clinical observations and basic mechanisms. The journal of translational immunology. 2010;60: 85-91.

human

helveticus R0052 subjects. Br

J

Nutr

2011:105;755–64. 27. Bravo J. A., Forsythe P., Chew M. V., Escaravage E., Savignac H. M., Dinan T. G., Bienenstock J., Cryan J. F. Ingestion of Lactobacillus strain regulates emotional

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

59


behavior

and

central

GABA

receptor

34. Musselman DL, Lawson DH, Gumnick JF,

expression in a mouse via the vagus

et al.

nerve. Proc

depression

Natl

Acad

Sci

28. Schell MA, Karmirantzou M, Snel B, Vilanova D, Berger B, Pessi, et al. The by Bifidobacterium

longum reflects its adaptation to the human gastrointestinal tract. Proc Natl 29. Yuan J, Zhu LL, X Li, T Zhang, Y, Ying T, Map

and

A Proteome Reference

Proteomic

Analysis

Bifidobacterium NCC2705. Molecular

&

alfa.

N

by

high-dose

Engl

J

Med

2001:344;961–966. 35. Maes M. The immunoregulatory effects of antidepressants. Hum Psychopharmacol 2001:16;95–103. 36. Desbonnet L, Garrett L, Clarke G, et al. The probiotic Bifidobacteria infantis: an

Acad Sci 2002:99(22);14422-27. Wang B, et al.

induced

interferon

2011:108(38);16050-55.

genome sequence

Paroxetine for the prevention of

of

assessment of potential antidepressant properties in the rat. J Psychiatr Res 2008:43;164-74.

longum

37. Duncker SC, Wang L, Hols P, et al. The D-

Cellular

alanine content of lipoteichoic acid is crucial

Proteomics 2006;5(6):1105–18

for

Lactobacillus

plantarum-

30. Desbonnet L, Garrett L, Clarke G, Kiely B,

mediated protection from visceral pain

Cryan JF, Dinan TG. Effects of the

perception in a rat colorectal distension

probiotic Bifidobacterium infantis in the

model.

maternal separation model of depression.

2008:20;843–50.

Neurogastroenterol

Motil

38. Karimi K, Inman MD, Bienenstock J, et al.

Neuroscience. 2010;170:1179–88. 31. Alesci S, Martinez PE, Kelkar S, et al.

Lactobacillus reuteri-induced regulatory T

with

cells protect against an allergic airway

significant diurnal elevations in plasma

response in mice. Am J Respir Crit Care

interleukin-6 levels, a shift of its circadian

Med 2009:179;186–93.

Major

depression

rhythm,

and

is

loss

associated

of

physiological

39. Wallace TD, Bradley S, Buckley ND, et al.

clinical

Interactions of lactic acid bacteria with

implications. J Clin Endocrinol Metab

human intestinal epithelial cells: effects on

2005;90:2522–30.

cytokine

complexity

in

its

secretion:

32. Capuron L, Neurauter G, Musselman DL,

production.

J

Food

Prot

2003:66;466–72.

et al. Interferon- alpha-induced changes in tryptophan metabolism. Relationhship to depression and paroxetine treatment. Biol Psychiatry 2003:54;906-14 33. Hauser P, Khosla J, Aurora H, et al. A prospective study of the incidence and open-label treatment of interferon- induced major depressive disorder in patients with hepatitis C. Mol Psychiatry 2002:7;942– 947.

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

60


Tinjauan Pustaka

POTENSI IMUNOMICELLE POLIMERIK PLGA-PEG-MCOOH SPESIFIK VCAM-1 BERBASIS SENYAWA CAPSAICIN SEBAGAI MODALITAS MUTAKHIR DALAM PENATALAKSANAAN ATEROSKLEROSIS I Made Yoga Prabawa1, Gede Febby Pratama Kusuma1, Tjokorda Istri Pramitasuri1 1

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Email: yogaprabawa.bali@gmail.com

ABSTRAK Penyakit Kardiovaskular (PKV) masih menjadi penyebab mortalitas terbesar. Pada tahun 2008, diperkirakan 17.3 juta jiwa meninggal akibat PKV, dan lebih dari 80% kematian akibat PKV berasal dari Negara berkembang. Aterosklerosis dilaporkan sebagai penyebab utama terjadinya PKV. Modalitas terapi terbaru untuk aterosklerosis dengan menggunakan agonis dari TRPV1 sudah ditemukan. Jing Feng Zhao (2013) melaporkan bahwa senyawa agonis TRPV1, yaitu Capsaicin, yang terkandung dalam Capsicum spp; rempah termasyhur di Indonesia. Waktu paruh Capsaicin yang singkat (24 jam) dan sifatnya yang tidak spesifik terhadap lesi aterosklerotik dapat diatasi dengan mengenkapsulasi Capsaicin ke dalam polimerik immunomicelle PLGA-PEG-MCOOH spesifik VCAM1, yang dapat meningkatkan waktu paruhnya hingga 28 hari. Aktivasi TRPV1 oleh Capsaicin akan mengaktifkan kompleks LXRÎą-RXR-LXRE yang mengakibatkan terjadinya peningkatan transporter ABCA1, ApoE, dan SOAT yang secara akumulatif akan meningkatkan plasma HDL dan menurunkan tingkat makrofag sel busa sebanyak empat kali (52,5%) dan delapan kali (70,13%). Hal tersebut juga mampu menekan jumlah NF-kB (81,37%) dan p65 (87,54%), sehingga meningkatkan IkB (72,57%). Penambahan MCOOH pada immunomicelle akan menghambat ambilan oxLDL sebanyak 88%. Modalitas terbaru ini dapat direkomendasikan karena memiliki efek kuratif dan kardio protektif dengan efikasi tinggi, hanya memerlukan sekali injeksi, dan efek samping lebih rendah jika dibandingkan dengan modalitas konvensional. Kata kunci: Capsaicin, Immunomicelle, VCAM-1, Aterosklerosis.

ABSTRACT Cardiovascular diseases (CVDs) are still being major causes of mortality. In 2008, an estimated 17.3 million people died from CVDs, and over 80% of CVDs deaths take place in developing countries. Atherosclerosis was reported to be the leading cause of CVDs. A new treatment modality for atherosclerosis using agonist of TRPV1 has been found. Jing Feng Zhao (2013) reported that TRPV1 agonist compound, Capsaicin, contained in Capsicum spp; a well-known spice in Indonesia. The short half-life of Capsaicin (24 hours) and its unspecific properties to atherosclerotic lesions can be solved by encapsulating it into immunomicelle polymeric PLGA-PEG-MCOOH specific VCAM-1, that will increase its half-life until 28 days. TRPV1-induced activation by Capsaicin will activate LXRÎą-RXRLXRE complex which leads to increase of ABCA1 transporter, ApoE, and SOAT that accumulatively will upregulate plasma HDL and downregulate macrophage foam cells levels by 4-fold (52,5%) and 8fold (70,13%). It also can suppress amount of NF-kB (81,37%) and p65 (87,54%), thus upregulate IkB (72,57%). Addition of MCOOH on immunomicelle will inhibit oxLDL uptake by 88%. This novel modality may give recommendation due to its curative and cardio protective effect with high efficacy, only needs one-time injection, and less side effect if compared with conventional modalities. Keywords: Capsaicin, Immunomicelle, VCAM-1, Atherosclerosis.

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

61


1. PENDAHULUAN Penyakit

kardiovaskular

adalah

teroksidasi

oleh

radikal

bebas seperti

jenis penyakit yang menyerang jantung dan

radikal superoksida, nitrat oksida, dan

pembuluh darah. Hingga saat ini, penyakit

hidrogen peroksida yang terdapat didalam

kardiovaskular masih menjadi penyebab

tubuh, sehingga menghasilkan oksida LDL

mortalitas tertinggi di seluruh dunia. Pada

(oxLDL).9 oxLDL bersifat imunogen dan

tahun 2008 diperkirakan 17,3 juta jiwa

dapat

meninggal akibat penyakit kardiovaskular.

reseptor

Berdasarkan data WHO, lebih dari 80%

sehingga

penyakit kardiovaskular terjadi di negara-

teraktivasi

negara berkembang, termasuk Indonesia.

aterosklerotik untuk memfagosit oxLDL.

Di

Mekanisme

Indonesia

sendiri,

menurut

Survei

dikenali

oleh

makrofag pada

scavenger

makrofag,

menyebabkan dan

dapat

melalui makrofag

menginvasi

ini

lesi

menyebabkan

(SKIRT)

terakumulasinya lipid di dalam makrofag

prevalensi penyakit jantung pada kelompok

dan memicu terbentuknya sel busa (foam

usia 15-24 tahun adalah 18,3 per 100.000

cells).

penduduk. Sedangkan pada kelompok usia

mengekspresikan

45-54 tahun dan usia 55 tahun ke atas

pertumbuhan seperti IL-1 dan TNF-Îą yang

mencapai 174,6 per 100.000 penduduk dan

akan menarik makrofag lainnya ke tempat

461,9 per 100.000 penduduk. Dari berbagai

lesi sehingga meningkatkan progresivitas

etiologi

aterosklerosis

pembentukan plak. Lambat laun plak akan

merupakan penyebab tertinggi terjadinya

berkembang menjadi plak yang matur atau

Kesehatan

Rumah

yang

Tangga

ada,

penyakit kardiovaskular. Aterosklerosis

1-4

Sel

busa sitokin

kemudian dan

faktor

disebut ateroma.

adalah

Kestabilan ateroma dijaga oleh kap

penyakit dan

fibrosa (fibrous cap) yang merupakan hasil

menyerang pembuluh darah arteri dengan

dari perubahan fenotip smooth muscle cell

karakteristik disfungsi endotel, inflamasi

(SMC).

vaskular, penumpukkan lemak, kolesterol,

menurunkan tegangan stres sirkumferensial

serta debris seluler pada tunika intima di

dan mencegah kontak antara inti nekrosis

inflamasi

yang

bersifat

dinding pembuluh darah.

5-7

progresif

Prevalensi dari

Kap

fibrosa

berperan

dalam

dengan darah. Namun, makrofag pada plak

bervariasi,

aterosklerosis juga menyekresikan enzim

mulai dari 17% pada populasi yang berusia

proteolitik yaitu matrix metalloproteinases

kurang dari 20 tahun, hingga 85% pada

(MMPs) maupun nitric oxide (NO) yang

populasi yang berusia lebih dari 50 tahun.8

menghambat proliferasi sel otot polos,

aterosklerosis sendiri

cukup

Perkembangan

aterosklerosis

mendegradasi

berbagai

spektrum

terjebak di dalam arteri dan mengalami

kolagen tipe IV, fibronektin, laminin, dan

oksidasi oleh reactive oxygen species

protein

(ROS). Beberapa penelitian menyebutkan

menyebabkan ketidakseimbangan antara

bahwa

proses

secara

in

vivo

mampu

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

matriks inflamasi

seperti:

dalam

bermula ketika low density lipoprotein (LDL)

LDL

luas

protein

dari dan

proteoglikan,

kap,

sehingga

reparasi

yang

62


berakibat

pada penipisan

dinding kap

pada penipisan kap fibrosa.15 Jika hal ini terus berlangsung, dalam keadaan kronis

fibrosa. Dalam keadaan kronis, penipisan

dapat memicu terjadinya ruptur pada plak

kap fibrosa meningkatkan risiko terjadinya

sehingga

ruptur-oklusi trombotik arteri, aneurisma,

trombosis. Lokasi trombosis berkorelasi

dan emboli. Oleh karena itu, aterosklerosis

dengan efek yang ditimbulkan.

dapat

menyebabkan

terjadinya

berimplikasi

pada

Penatalaksanaan

infark

timbulnya

aterosklerosis

miokard dan iskemia di berbagai bagian

saat ini sebagian besar terkonsentrasi pada

tubuh yang merupakan kegawatdaruratan

usaha untuk menurunkan kadar lipid dalam

di bidang kardiovaskuler.

3,10-12

plasma yang dikombinasikan dengan terapi

Respon inflamasi yang diperankan

anti-inflamasi.

Metode

ini

dapat

oleh makrofag derivat monosit dan limfosit

memperlambat progresivitas aterosklerosis,

T memiliki andil besar dalam menginisiasi

namun efikasi maksimal yang dapat dicapai

aterosklerosis.

13

Monosit yang mencapai

dari metode ini hanya 30% - 40%.

16-20

tunika intima akan mengalami perubahan

Beberapa metode terapi lainnya yang

yang diakibatkan oleh macrophage colony-

sudah

diterapkan

stimulating factor (M-CSF) dan faktor-faktor

statin,

anti-platelet,

diferensiasi

Blocker, dan ACE-inhibitor, juga memiliki

lainnya

menjadi

2

jenis

seperti

penggunaan

antikoagulasi,

makrofag mayor, yaitu M1 dan M2 yang

kekurangannya

memiliki peranan antagonis dalam proses

berujung

inflamasi. M1 bersifat pro inflamasi dengan

kesembuhan.21-26 Terapi bedah juga telah

menimbulkan respon peradangan akibat

dilakukan, yaitu dengan metode angioplasti

lipopolisakarida, sedangkan M2 bersifat anti

arteri koroner.27 Namun, prosedur kerja

inflamasi yang peranannya diperantarai

yang

oleh keberadaan IL-4, IL-13, IL-1, atau

komplikasi pasca operasi menyebabkan

vitamin D3 dan secara umum menghasilkan

metode ini tidak sepenuhnya aman dalam

sejumlah

menangani kasus aterosklerosis.

scavenger,

besar

IL-10

mannose,

dan serta

reseptor

masing-masing

-

pada

sangat

yang

penurunan

berisiko

dan

angka

buruknya

27,28

Merujuk pada belum tersedianya

arginase.

Menurut sebuah studi in vitro, dimana pada

metode

lesi aterosklerosis secara umum jumlah M1

menangani aterosklerosis, maka diperlukan

lebih banyak dibandingkan dengan M2. Makrofag

juga

14

berkontribusi

terapi

yang

efektif

dalam

suatu metode terapi baru yang memiliki tingkat keberhasilan tinggi dengan risiko

terhadap pembentukan plak, penipisan kap

komplikasi

seminimal

fibrosa, dan nekrosis fokal dimana dalam

menangani

aterosklerosis.

hal ini mampu mensekresikan macrophage-

terbaru

derived matrix metalloproteinases (MMPs)

Receptor Potential Vanilloid type 1 (TRPV1)

yang menyebabkan terjadinya degradasi

memiliki

menemukan andil 29

mungkin Suatu

bahwa

besar

dalam

Transient kejadian

aterosklerosis.

intima serta mengurangi jumlah intimal

secara

myofibroblast-like SMCs yang berujung

metabolisme lipid dan respon inflamasi

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

dapat

dari

studi

jaringan ikat kolagen pada daerah tunika

umum

Aktivasi

dalam

TRPV1

mempengaruhi

63


sel.30 Hasil studi in vitro dan in vivo

makrofag foam cell.33 Oleh karena itu

menunjukkan

diperlukannya suatu pembawa yang dapat

secara

bahwa

signifikan

aktivasi

dapat

TRPV1

menurunkan

menghantarkan

senyawa

akumulasi dari lipid dan lesi aterosklerosis

tersebut

pada pembuluh darah melalui jalur reverse

mengalami lesi dan mampu mengurangi

cholesterol transport (RCT).

31

TRPV1 dapat

diaktivasi oleh senyawa agonis seperti

influks

langsung oxLDL

ke

Capsaicin

endotel

sehingga

yang

mengurangi

progresivitas aterosklerosis.

Capsaicin yang melimpah pada tanaman

Penelitian

terkini

menunjukkan

cabai (Capsicum spp.) dan di Indonesia

bahwa endotel yang mengalami inflamasi

umum digunakan sebagai bahan rempah-

pada

rempah dalam masakan.

32,33

aterosklerosis

mengekspresikan

Capsaicin

berbagai molekul adhesi seperti VCAM-1

juga mampu bertaut pada protein IkB yang

yang tidak terdapat pada pembuluh darah

berfungsi dalam menghambat translokasi

lainnya yang tidak mengalami inflamasi.

NF-kB kedalam nukleus sehingga dapat

Tidak hanya itu, makrofag teraktivasi juga

menurunkan respon inflamasi dan molekul

mengekspresikan reseptor scavenger SR-

adhesi.

34,35

38

A1 dan CD36 yang berperan dalam influks

Capsaicin vanillyl-6-nonenamide)

(trans-8-methyl-N-

oxLDL di tunika intima.39,40 Oleh karena itu,

adalah

antigen

senyawa

VCAM-1

pada

endotel

serta

tidak

reseptor SR-A1 dan CD36 pada makrofag

berwarna, dan tidak berbau, dengan rumus

berpotensi sebagai target terapi spesifik

molekul C18H27NO3. Capsaicin menyusun

dalam tatalaksana aterosklerosis. Agen

70%

yang

atau pembawa yang dapat memanfaatkan

terkandung dalam cabai, yang merupakan

potensi ini adalah imunomicelle polimerik

penyebab timbulnya rasa pedas atau panas

PLGA-PEG-MCOOH spesifik VCAM-1.41

alkaloid

yang

bersifat

senyawa

lipofilik,

Capsaicinoid

pada cabai.36 Suatu studi menemukan

Imunomicelle

merupakan

suatu

bahwa dalam suatu campuran cabai yang

micelle polimerik monolayer yang tersusun

terdiri atas 55% cabai rawit, air, gula,

atas dua bagian, yaitu bagian inti semi-solid

garam, asam asetat, dan xanthan ternyata

yang

mengandung senyawa Capsaicin sebanyak

pelindung yang bersifat hidrofilik pada

33 miligram per 30 gram campuran cabai.

37

bagian

bersifat

hidrofobik

luarnya,

sehingga 42

dan

segmen

membentuk

Capsaicin akan diserap sebanyak 95%

arsitektur core-shell.

setelah pemberian per oral dan mencapai

tersebut menyebabkan micelle polimerik

konsentrasi tertinggi dalam darah selama

mampu berperan sebagai pembawa zat-zat

satu jam setelah administrasi. Kelemahan

dari

36

Karakteristik bentuk

bioaktif (bioactive micelle), seperti protein,

penggunaan

asam

nukleat,

dan

obat-obatan

yang

senyawa Capsaicin secara langsung yaitu

bersifat hidrofobik. Bahkan micelle dapat

memiliki waktu paruh yang singkat (24 jam),

dimodifikasi

tidak

lesi

sehingga dapat dikirim menuju target sel

tidak

mampu

yang spesifik.43 PLGA dan PEG merupakan

oxLDL

kedalam

komposisi utama dimana berperan dalam

bersifat

aterosklerosis, menghambat

spesifik dan influx

pada

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

dengan

tambahan

ligan

64


endosomal

menjaga

escape,

Sebagai

stabilitas

amphiphilic

block

co-

Capsaicin sebelum mencapai sel target,

polymer, Monomethoxypolyethylene glycol-

dan melindungi dari fagositosis oleh sistem

polylactide dilarutkan dalam etanol dengan

RES dalam plasma, sedangkan gugus

suhu

karboksil

PLGA.47

MCOOH

mampu

mengalami

translokasi menuju reseptor SR-A1 dan CD36 dalam menghambat influx oxLDL. Penambahan

antibodi

VCAM-1

41

pada

o

60 C

dan

ditambahkan

Kemudian

molekul

dilakukan

sintesis

PLGA-b-PEG Co-polymer dengan gugus karboksil

terminal,

dalam

menggunakan MCOOH.

hal

ini

46,47

segmen distal dari polimerik juga berfungsi

Dari proses preparasi ini, hasil

untuk mengenali pembuluh darah yang

yang didapat adalah nanopartikel micelle

mengalami lesi sehingga modalitas yang

polimerik

diberikan dapat beredar secara spesifik

dienkapsulasi dengan senyawa hidrofobik

pada

aterosklerosis.

imunomicelle MCOOH

41

Secara

polimerik

spesifik

teoritis

PLGA-PEG-

VCAM-1

yang

2.1.2

dapat

memutuskan

dihantarkan

ke

target

Tahap

Sintesis

44-47

Senyawa

Capsaicin dari Capsicum spp

dalam mengeradikasi makrofag teraktivasi sehingga

akan

yang

menggunakan metode nanopresipitasi.

memiliki

efektivitas dan spesifisitas yang tinggi

PLGA-PEG-MCOOH

Proses sintesis in vitro diawali

rantai

dengan kultur jaringan plasenta Capsicum

aterosklerosis.

spp. Bagian yang akan disuspensi adalah

Kombinasi ini memiliki potensi tinggi dalam

plasenta karena akumulasi Capsaicin pada

penatalaksanaan

dan

plasenta Capsicum spp sepuluh kali lebih

nantinya diharapkan dapat meminimalisir

banyak, yaitu 63,96 mg/g DW dibandingkan

kasus kegawatdaruratan kardiovaskular.

biji yang hanya 5,06 mg/g DW.48-50 Setelah

pembentukan

pada

plak

aterosklerosis

Adapun permasalahan yang dikaji

dibersihkan dengan air, plasenta Capsicum

karya

meliputi

spp. dibersihkan dengan Labolene 2%

sintesis,

selama 10 menit dan dibilas dengan

tulis

mekanisme

ini

yang

konstruksi,

administrasi, mekanisme kerja, efek pasca

akuades,

terapi,

HgCl2 0,1% selama 5 menit dan kembali

dan

analisis

imunomicelle

manfaat

polimerik

MCOOH

spesifik

senyawa

Capsaicin

dari

PLGA-PEG-

VCAM-1 akan

berbasis

disterilkan

dibilas dengan akuades.

48,49

dengan

Hasil yang

didapat kemudian dikultur dan disuspensi.

dijelaskan

kemudian.

kemudian

Dari proses kultur jaringan dan cell suspension ini, didapat sel-sel yang diambil dengan cara filtrasi, kemudian dikeringkan o

2. PEMBAHASAN

dengan suhu 60 C hingga didapat massa

2.1 Mekanisme Konstruksi, Sintesis, dan

sel yang konstan.50 Sel-sel ini selanjutnya

Administrasi

diekstraksi

Imunomicelle

PLGA-PEG-MCOOH

Polimerik

Spesifik

VCAM-1

2.1.1

Tahap

Preparasi

Nanopartikel

Micelle Polimerik PLGA-PEG-MCOOH

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

10

ml

methanol,

disaring dengan membran Millipore FH 0,5 ď ­m,

Berbasis Senyawa Capsaicin

dengan

dan

terakhir

dipisahkan

dengan

Hewlett-Packard cromatograph sehingga didapatkan 1.345 ď ­g Capsaicin per 1 gram

65


plasenta Capsicum spp. pada hari ke14.49,51

2.1.4

Administrasi

Polimerik

2.1.3 Enkapsulasi Senyawa Capsaicin serta

Konjugasi

Antibodi VCAM-1 Metode

yang

mengenkapsulasi

digunakan

Capsaicin

untuk

ke

dalam

Nanopartikel Micelle Polimerik PLGA-PEGMCOOH adalah nanopresipitasi dengan prinsip

direct

dissolution.

36,37

Inti

dari

metode direct dissolution adalah ekuilibrasi substrat dan imunomicelle polimerik dalam bentuk larutan.52 PLGA-PEG-MCOOH (10 mg/ml) dan Capsaicin yang tergolong senyawa

hidrofobik

dilarutkan

PLGA-PEG-MCOOH

spesifik

VCAM-1 berbasis Senyawa Capsaicin Administrasi

ke dalam Nanopartikel Micelle Polimerik PLGA-PEG-MCOOH

Imunomicelle

secara

dipilih mengingat

bahwa

modalitas

tersebut

terapi

intravena

sasaran dari adalah

lesi

aterosklerosis yang bermanifestasi pada endotel

pembuluh

darah.

Metode

administrasi intra subkutan, intra muskular, dan intra tumoral tidak digunakan karena memicu

terjadinya

respon

pada xenograft model tikus. 2.2

Mekanisme

pendarahan

55

Kerja

Imunomicelle

Polimerik PLGA-PEG-MCOOH Spesifik VCAM-1 berbasis Senyawa Capsaicin Setelah diadministrasikan secara

dalam

pelarut polar acetonitrile sehingga didapat

IV,

bagian

antibodi

VCAM-1

dari

konsentrasi

imunomicelle

polimerik

tersebut

akan

polimer

3,3

mg/ml.

Nanopartikel kemudian diaduk selama satu

berikatan dengan reseptor VCAM-1 yang

jam, disentrifugasi selama 15 menit, dan

terdapat pada endotel yang mengalami lesi,

dicuci

hal

dengan

air

yang

telah

di-

ini

penting

dikarenakan

hanya

pembuluh darah yang mengalami lesi

deionisasi.36,37

VCAM-1

dengan antibodi monoklonal VCAM-1 yang

Pengikatan

ini

diperoleh dari imunisasi tikus terhadap

pengorganisasian kembali filamen aktin

antigen VCAM-1 mengikuti prosedur yang

serta peningkatan Ca2+ intrasel sehingga

Micelle

dipaparkan oleh Gosk.

53

Polimerik

Cyanur-PEG-PE

dapat digunakan sebagai pengait antibodi monoklonal VCAM-1. Antibodi monoklonal Rat

anti-mouse

digunakan Pemasangan

sebagai

VCAM-1 homing

dilakukan

(M/K-271) devices.

dengan

rasio

terjadi chlatrin.

endositosis

(85-92%).

38

mengekspresikan

Pemasangan

menginduksi

yang

diperantarai

56

Di dalam endotel, antibodi spesifik VCAM-1 pada imunomicelle polimerik akan didegradasi menyisakan

oleh

enzim

fragmen

protease

micelle

poimerik

1:1000 untuk protein: rasio molar lipid.54

PLGA-PEG-MCOOH

Antibodi monoklonal rat anti-mouse VCAM-

Capsaicin. Selanjutnya micelle polimerik

1 tersebut kemudian dimasukkan dalam

yang telah berada pada tunika intima akan

Micelle Polimerik pada borate buffer pH 8.8

menuju target spesifik pada makrofag foam

dan diinkubasi dalam suhu ruangan selama

cell yang mengekspresikan SR-A1 maupun

16 jam.

53,54

dengan

dan basis

CD36.57,58 Internalisasi modalitas tersebut pada makrofag tidak melibatkan mediasi dari clathrin dan setelahnya dilanjutkan

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

66


dengan

proses

polimerik

akibat

micelle

berfungsi

PLGA-PEG-

kompetitif

deprotonisasi fagositasi

untuk

menghambat

secara

pertautan

oxLDL

tempat

58

sehingga berujung terhadap penurunan

Seiring dengan menurunnya pH endosom,

ambilan oxLDL pada tunika intima kedalam

muatan polimer PLGA akan berubah dari

makrofag.58,62

negatif menjadi positif (anionik menjadi

2.2.2

MCOOH oleh endosom pada pH 5,5.

Mekanisme

dalam

Capsaicin

kationik) yang memungkinkan terjadinya

Aktivasi

interaksi

Makrofag Foam Cell melalui Peningkatan

antara

endosom.

PLGA

dan

membran

59,60

TRPV1

terhadap

Penurunan

HDL

Interaksi

ini

menyebabkan

mampu

Capsaicin

berikatan

terjadinya instabilitas lokal pada membran

dengan transient receptor potential vanilloid

endosom sehingga memungkinkan PLGA

type 1 (TRPV1) yang dikenal sebagai

dalam

reseptor

merusak

membran

endosomal

vaniloid.63

TRPV1

umumnya

sehingga terjadi pelepasan gugus MCOOH

banyak terekspresi pada neuron sensori

beserta kompartemen didalamnya yakni

nosiseptif

senyawa Capsaicin.59,60 Gugus karboksil

dengan

MCOOH

translokasi

endogen, dan stimulasi oksidatif serta

menuju SR-A (terutama SR-A1) dan CD36

beberapa agonis eksogen seperti Capsaicin

sedangkan

yang melimpah keberadaannya ditanaman

akan

mengalami

senyawa

Capsaicin

akan

primer

dan

panas,

dapat

proton,

diaktivasi

molekul

lipid

menuju reseptor TRPV1 dan protein IkB

cabai.32-34

untuk menjalankan aksinya.

melalui pertautan Capsaicin pada domain

2.2.1

Mekanisme

Kerja

Setelah

TRPV1

teraktivasi

Gugus

N-terminal melalui residu hidrofobik TM2

Karboksil MCOOH dalam Menghambat

dan TM3, maka akan terjadi influx Ca2+

Ambilan oxLDL pada Makrofag Foam Cell

intraseluler dari retikulum endoplasma yang

Makromolekul amphifilik Carboxyterminated

dengan

gugus

karboksil

berujung terhadap aktivasi gen Liver X Receptor (LXR).64-67 LXR merupakan faktor transkripsi

MCOOH pada micelle polimerik tersebut akan mampu berikatan dengan SR-A1

reseptor

nuklear

maupun CD36 dengan ikatan elektrostatik

mentranskripsi gen spesifik setelah terjadi

pada muatan positif di residu reseptornya.61

pertautan dengan agonis LXR seperti

Gugus MCOOH akan berikatan secara

evodiamine, 64,66

yang

Capsaicin,

aktif

dalam

maupun

Peran LXR sangatlah vital

spesifik pada residu kationik Lys60, Lys63

oksisterol.

and Lys66 pada SR-A1 sedangkan pada

dalam meregulasi kolesterol, asam lemak,

CD36 akan bertautan dengan asam amino

serta homeostasis glukosa. LXR terdapat 2

pada residu 155-183 (Cys243- Cys311,

jenis

Cys272-Cys333, dan Cys313-Cys322) di

LXR .

bagian N-link Glycosylation yang disinyalir

luas pada sel manusia dan terletak pada

sebagai tempat pertautan spesifik oxLDL.62

kromosom 19q13.

isoform 68,69

diantaranya

LXRÎą

dan

LXR banyak terekspresi secara 68

Pertautan pada daerah spesifik

Berbeda halnya dengan LXR ,

pada SR-A1 dan CD36 secara nyata

LXRÎą terdapat pada kromosom 11p11

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

67


serta hanya tereskpresi pada usus, hati,

translokasi

dan makrofag yang merespon timbulnya

membentuk

akumulasi

dari

lemak.

LXRÎą

69

pada

terhadap

kedalam

ekstraseluler

apoA-1

yang

pembentukan (HDL)

berujung

high

melalui

density

mekanisme

makrofag yang teraktivasi akan mengalami

lipoprotein

translokasi untuk membentuk heterodimer

reverse cholesterol transport (RCT).77,78

dengan retinoid X receptor (RXR) pada

Mekanismenya

nukleus dan selanjutnya kompleks LXRÎą-

kolesterol melalui protein ABCA1 akan

RXR akan bertautan dengan LXR response

memasuki plasma dan kemudian berikatan

70

diawali

dengan

efluks

kompleks

dengan pre- 1 HDL, suatu HDL plasma

tersebut secara aktif akan memicu aktivasi

dengan berat molekul 60-70 kDa, dan

71-75

memiliki diameter 5-6 nm dengan memiliki

Pertama, aktivasi kompleks LXRÎą-RXR-

gugus protein apoA-1 yang sebelumnya

LXRE

menginduksi

telah terbentuk melalui SOAT.77-79 pre- 1

ekspresi transporter ATP binding cassete

HDL yang telah bertaut dengan kolesterol

(LXRE).

element

Pertautan

3 gen dalam meregulasi kolesterol.

(ABC).

berperan 71,72

dalam

ABCA1

merupakan

suatu

protein regulator efluks kolesterol (CERP) pada makrofag dan dikode pada kromosom

akan bertautan pada protein apoE yang telah

terbentuk

sebelumnya

membentuk nascent HDL.

dan

78,80,81

dari

Pada tahap tersebut, pre- 1 HDL

kompleks LXRÎą-RXR-LXRE yang dapat

telah merubah konformasinya menjadi HDL

menginduksi

cakram

9.

Peran

kedua

adalah

aktivasi

pembentukan

apolipoprotein E (ApoE).

72,73

protein ApoE pada

(discoidal

penambahan

HDL)

lecithin

dan

dengan

fosfat

oleh

manusia mengandung 299 asam amino

phospholipid transfer protein (PTLP) di

dan dengan berat molekul 34,1 kDa serta

plasma,

ApoE dalam makrofag berpotensial dalam

pembentukan

sebagai akseptor kolesterol melalui proses ABCA1-dependent. Peran

73,74

disebut

berujung

HDL

nascent

paling

HDL.

80,81

terhadap

awal

yang

Keberadaan

nascent HDL akan menarik enzim lecithin-

terakhir

kompleks tersebut

sehingga

dari

aktivasi

cholesterol acyltransferase (LCAT) pada

adalah menginduksi

residu 99-186 di region pusat apoA-1

sintesis dari asam lemak yang merupakan

sehingga

substrat penting dalam pembentukan SOAT

kolesterol dan membentuk HDL3 yang kini

pada reaksi esterifikasi kolesterol dari asam

berbentuk lebih sferis (spherical shape

lemak bebas (ALB) dengan mengaktivasi

HDL) dibandingkan dengan nascent HDL.

sterol regulatory element-binding protein-1c

Suatu fakta yang menarik menyebutkan

gene (SREBP-1c).

76,77

terjadi

perpindahan

ester

Timbulnya ABCA1

bahwa HDL3 yang telah terbentuk akan

dan SOAT merupakan hal yang relevan

menuju pada scavenger reseptor B1 (SR-

serta

B1) pada makrofag foam cell untuk menarik

berperan

kolesterol

bebas

dalam dan

menurunkan

melindungi

makrofag dari efek sitotoksik.

sel

77

cell

kemudian

akan

atau

lemak

lebih

banyak

sehingga menurunkan jumlah foam cell.

Droplet asam lemak pada makrofag foam

kolesterol

mengalami

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

82-84

Hal yang sama juga terjadi pada HDL3 yang telah berataut dengan SR-B1,

68


enzim LCAT akan membantu meningkatkan memindahkan merubah

ester

HDL3

kolesterol

menjadi

dan

HDL2.

81,84

Studi

yang

dilakukan

oleh

Oyagbemi A et al menyebutkan senyawa

Selanjutnya HDL2 dalam plasma akan

Capsaicin ternyata mampu menghambat

menuju hati dan akan mengeliminasi HDL2

pertumbuhan sel kanker dengan memediasi

dalam bentuk feces melalui jalur empedu.

inhibisi translokasi NF-kB. Bukti sinergis

Hal ini secara jelas menguntungkan

juga diperlihatkan oleh Mourad Z et al

dimana aktivasi TRPV1 oleh Capsaicin

bahwa dengan memediasi inhibisi NF-kB

berujung terhadap reduksi makrofag foam

maka pembentukan molekul adhesi VCAM-

cell dengan meningkatkan kadar HDL

1,

dalam plasma.

ICAM-1,

diminimalisasi.

dan 88

ELAM-1

Mediasi

dapat pertautan

dalam

Capsaicin dengan protein IkB berlangsung

Penurunan

pada residu serin 32 dan 36.34,35 Proses

Ekspresi VCAM-1, ICAM-1, dan ELAM-1

fosforilasi oleh pH rendah dalam sitoplasma

sebagai Ateroprotektif

makrofag foam cell (pH 5,5) melibatkan

2.2.3 Inhibisi

Mekanisme NF-kB

Capsaicin

terhadap

Terkait dengan aterosklerosis, NF-

proses

kB diaktivasi oleh oxLDL yang berujung

gugus

hidroksil

terhadap proses inflamasi dimana terjadi

tersebut.

34,35

pertautan

dengan

dikarenakan dengan bertautan pada residu

protein inhibitory kappa B (IkB) pada

tersebut, proses ubikuinasi oleh proteosom

sitoplasma

tidak dapat terjadi, dengan demikian NF-kB

nuclear dan

factor

(NF)

mengalami

translokasi

menuju nukleus.85-87

metilisasi

dengan fenolik

Hal

Mekanisme Administrasi,

pada

tersebut

residu penting

tidak mengalami translokasi ke dalam nukleus (Gambar 1).

Gambar 1.

mengirimkan

Distribusi, Internalisasi,

34,35,89

dan Mekanisme kerja

Imunomicelle Polimerik PLGA-PEG-MCOOH Spesifik VCAM-1 berbasis Senyawa Capsaicin

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

69


2.3

Efek

Polimerik

Pasca

Terapi

Imunomicelle

PLGA-PEG-MCOOH

Spesifik

evodiamine (0,5µM) dan Capsaicin (10 µM) serta penambahan antagonis TRPV1 seperti capzasepine (10 µM) yang disertai dengan

VCAM-1 berbasis Senyawa Capsaicin 2.3.1 Efek Gugus Karboksil MCOOH

induksi

oxLDL (50

µg/mL) menunjukkan

dalam Inhibisi Uptake OxLDL serta Reseptor

perbedaan hasil yang signifikan. Induksi dari

SR-A1 dan CD36

evodiamine

Pada hasil penelitian yang dilakukan

kolesterol

mampu didalam

menurunkan makrofag

jumlah

foam

cell

oleh Evangelia C. et al didapatkan bahwa

sebesar 3-fold (37,5%) dan 7-fold (58,33%)

nanopartikel dengan gugus karboksil MCOOH

masing-masing pasca terpapar hanya oxLDL

menghambat ambilan oxLDL sebanyak 75%

dan oxLDL beserta capzasepine.29 Hasil serupa juga ditunjukkan oleh

dibandingkan dengan PCOOH yang hanya 34% (p < 0,05) (Gambar 2).

61

Capsaicin namun memiliki efek yang lebih karboksil

kuat jika dibandingkan dengan evodiamine.

MCOOH yakni mampu bertaut dengan ke-2

Capsaicin mampu menurunkan kolesterol

reseptor scavenger lebih baik dibandingkan

sebesar 4-fold (52,5%) dan 8-fold (70,13%)

dengan makromolekul lain seperti PEG-

pasca induksi oxLDL saja atau oxLDL dan

COOH dan PCOOH, yang hanya bertaut pada

capzasepine (* p < 0,05 dibandingkan dengan

salah satu dari 2 reseptor scavenger telah

oxLDL saja ; # p < 0,05 dibandingkan oxLDL

Kelebihan

dari

terlaporkan sebelumnya.

gugus

61

Hambatan pada

dan

(Gambar

capzasepine)

3).

Pada

kedua reseptor meningkatkan daya hambat

penelitian yang sama juga menunjukkan

penyerapan oxLDL yang mencapai 86% oleh

penurunan jumlah trigliserida pada makrofag

MCOOH (p < 0,05).61 Studi lain dari Nicole I.

foam cell yang sama antara evodiamine dan

et al juga mendukung bahwa menghambat

Capsaicin sebesar 36,36% setelah terpapar

kedua reseptor terkait proses pengambilan

oxLDL atau 63,16% setelah terpapar oxLDL

oxLDL

dan capzasepine.29

mampu

menurunkan

oxLDL mencapai 88%.

penyerapan

Penurunan

90

2.3.2 Efek Capsaicin terhadap Aktivasi TRPV1

dalam

Meningkatkan

Efluks

Kolesterol, Trigliserida, apoA-1, dan Kadar

Pada penelitian oleh Jin-Feng Zhao et al dari Department of Physiology, National University,

Taiwan

dengan

menggunakan media kultur sel Bone-marrow Derived

Macrophage

kolesterol

dan

trigliserida dalam makrofag foam cell memiliki arti positif dalam peningkatan jumlah apoA-1 dan HDL dalam plasma. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa Capsaicin

HDL dalam Plasma

Yang-Ming

jumlah

(BMDM)

yang

diinkubasikan dengan agonis TRPV1 seperti

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

mampu mereduksi jumlah foam cell dengan mengubah

kolesterol

beserta

trigliserida

menjadi HDL dengan memediasi jalur RCT. Bukti mendukung didapatkan pada penelitian yang dilakukan oleh Shing-Jong Lin et al yang menunjukkan hasil yang serupa.

70


Gambar 2. Peran dari Gugus Karboksil pada Nanopartikel dalam Menghambat Uptake oxLDL Suatu uji Dil-OxLDL Binding Assay

Republic of China pada tikus C57Bl/6J

dilakukan melalui inkubasi sel kultur BMDM

memberikan bukti relevan bahwa induksi

dengan evodiamine (125 nM, 250 nM, dan

Capsaicin dengan konsentrasi 1 µmol/L

500 nM) atau Capsaicin (2,5 µM, 5 µM, dan

selama 24 jam mampu meningkatkan

10 µM) selama 12 jam dan ditambahkan

ekspresi

larutan NBD-cholesterol 1 µg/mL pada

dengan kontrol. Pada studinya dijelaskan

suhu 60 C dalam waktu 4 jam. Pada hasil

bahwa aktivasi TRPV1 secara statistik

didapatkan

HDL

meningkatkan ekspresi ABCA1 dari 1,00 ±

maksimal terdapat pada kadar konsentrasi

0,06 menjadi 2,18 ± 0,20 (p < 0,05)

evodiamine 500 nM (57,23%) dan pada

(Gambar 5).91

peningkatan

kadar

Capsaicin lebih tinggi pada konsentrasi 10 µM (60,62%) (Gambar 4).

30,31

protein

ABCA1

dibandingkan

Hal serupa didukung pula pada pemeriksaan dengan pewarnaan Oil Red O

Peningkatan HDL berbanding lurus

yang

secara

konsisten

mendukung

dengan efluks apoA-1 sebagai promotor

timbulnya transporter ABCA1 di makrofag

terbentuknya

foam cell tikus C57Bl/6J pasca aktivasi

HDL.

Pemberian

agonis

TRPV1 seperti evodiamine dan Capsaicin pada konsentrasi yang sama secara in vitro

TRPV1. Hasil studi serupa secara konsisten

terbukti

juga didapatkan oleh Martin Tepel et al dari

Pada

Med. Klinik Nephrologie, Charite Campus

penelitian tersebut didapatkan hasil yang

Benjamin Franklin, Berlin, Germany dimana

sinergis terhadap peningkatan konsentrasi

pemberian

evodiamine

paling tinggi pada 500 nM

konsentrasi (2,5 µM, 5 µM, dan 10 µM)

sedangkan Capsaicin pada konsentrasi 10

pada tikus C57Bl/6J secara in vivo mampu

µM.

meningkatkan 3-fold protein transporter

pada

kultur

meningkatkan

2.3.3

sel jumlah

Efek

BMDM apoA-1.

Capsaicin

31

terhadap

Peningkatan Ekspresi Protein ABCA1

Capsaicin

dengan

berbagai

ABCA1 secara signifikan dan peningkatan maksimal terdapat pada dosis 10 µM.

92

Penelitian in vivo oleh Liqun M. et al dari Chongqing Institute of Hypertension,

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

71


Gambar 3. Efek Evodiamine dan Capsaicin dalam Menurunkan Jumlah Kolesterol dalam Makrofag Foam Cell

Gambar 4. Agonis TRPV1 meningkatkan Jumlah HDL dari Makrofag Foam Cell

Gambar 5. Ekspresi Transporter ABCA1 pasca Induksi Capsaicin pada Makrofag Foam Cell Tikus C57Bl/6J

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

72


Keuntungan memiliki karboksil

pemberian

efek

sinergis

MCOOH

Capsaicin

dengan

pada

gugus

imunomicelle

pembentukan

NF-kB

yang

kemudian

diberikan berbagai konsentrasi Capsaicin (2 µM,

5

µM,

dan

10

µM))

dengan

polimerik PLGA-PEG-MCOOH mengingat

menunjukkan jumlah tertinggi nilai hambat

tidak terjadi peningkatan ekspresi reseptor

pembentukan NF-kB ada pada konsentrasi

SR-A

tidak

10 µM (81,37%) pada pemeriksaan EMSA.

meningkatkan influx oxLDL pada makrofag.

Hal serupa didukung dengan peningkatan

dan

2.3.4

CD36

Efek

sehingga

Senyawa

Capsaicin

protein IkB (72,57%) pada sitoplasma dan

akibat

penurunan jumlah gen p65 (87,54%) di

Inhibisi Pembentukan NF-kB dan p65 serta

nukleus yang bertanggung jawab dalam

Peningkatan Ekspresi IkB

translokasi NF-kB pasca induksi Capsaicin

terhadap

Penurunan

VCAM-1

Studi yang dilakukan oleh Seong-

(10 µM).34

Su Han et al pada kultur sel HL-60 (1 x 106/

Penurunan NF-kB dan p65 serta

ml) secara in vitro menyebutkan bahwa

peningkatan protein IkB berujung pada

pemberian senyawa

mampu

penurunan VCAM-1, ICAM-1, dan ELAM-1

menurunkan jumlah NF-kB. Pada sel HL-60

yang relevan dengan studi dilakukan oleh

sebelumnya telah diinkubasi dengan 12-

Charalambos T et al pada sel HL-60 pasca

Otetradecanoylphorbol-13-acetate (TPA) 10

induksi TNF (10 ng/mL) dan capsaicin (0-50

nM dengan durasi 1 jam untuk menginduksi

µM) setelah 6 jam (Gambar 6).

Capsaicin

35

Median Flurescen ce Intensity (∆)

Capsaicin (µM) Gambar 6. Efek Senyawa Capsaicin dalam Menurunkan Ekspresi Molekul Adhesi VCAM-1, ICAM-1, dan ELAM-1 2.4

Analisis

Manfaat

Imunomicelle

kolesterol dalam darah yang bertujuan

Polimerik PLGA-PEG-MCOOH Spesifik

untuk mencegah terjadinya kejadian fatty

VCAM-1 Berbasis Senyawa Capsaicin

streak

dalam Penatalaksanaan Aterosklerosis

menurunkan

Modalitas

terapi

utama

dalam

penatalaksanaan aterosklerosis saat ini

akibat

hiperkolesterolemia risiko

terkena

dan

penyakit

kardiovaskuler.93 Meskipun

dapat

menurunkan

berfokus dalam mencegah terbentuknya

angka kejadian serangan jantung dan

lesi

stroke, penggunaan medikamentosa belum

dengan

cara

menurunkan

kadar

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

73


sepenuhnya menghambat progresivitas lesi

lipid intraseluler, dimana peningkatan kadar

aterosklerosis.94

HDL maksimal terdapat pada konsentrasi

Salah

satu

contohnya

adalah

10 ÂľM secara in vitro (60,62%).29,31,55

medikamentosa berbasis agonis PPAR ,

Sedangkan

sebagai

meskipun memiliki efek anti-aterogenik dan

diantaranya

adalah

anti-inflamasi, namun dapat meningkatkan

pembentukan

kerentanan

edema,

MCOOH yang mengurangi influks oxLDL

peningkatan bobot tubuh, dan risiko gagal

dan menurunkan ekspresi molekul adhesi

jantung.

pasien

mengidap

43,95-97

hiperkolesterolemia,

juga

terhadap

memiliki

progresivitas

Penelitian

peran

dapat

foam

mencegah oleh

cell

gugus

aterosklerosis.

menunjukkan antagonis

bahwa dan

TNF-Îą

Capsaicin.61

utama

penggunaan antagonis sitokin pro-inflamasi seperti

preventif

dengan inhibisi degradasi protein IkB oleh

Selain inflamasi

upaya

IL-1

Penggunaan

imunomicelle

polimerik sebagai pembawa Capsaicin lebih stabil liposom.

bila 102,103

dibandingkan

dengan

Nanopartikel basis liposom

juga memiliki kelemahan dalam kontrol

menunjukkan hasil yang memuaskan

kinetik obat pada jaringan yang dituju,

Terhadap

penurunan

progresivitas

berbeda dengan imunomicelle polimerik

aterosklerosis.

98,99

Di sisi lain, penelitian

yang memiliki kontrol pelepasan obat yang

yang menguji penggunaan antagonis pro-

baik dan spesifik.102,103 Penelitian in vivo

inflamasi

sistemik

menunjukkan

terhadap

imunomicelle

yang

meningkatkan

bersifat kerentanan

bahwa polimerik

keunggulan lainnya

adalah

komplikasi infeksi dikarenakan sitokin pro-

menjaga substrat dari inaktivasi hepatik dan

inflamasi tersebut sangatlah penting dalam

degradasi

memicu respon imun terhadap agen infeksi,

kapasitas pemuatan obat yang lebih tinggi

sehingga sifat tidak spesifiknya modalitas

8% dari liposom. Dari segi kontruksi,

sistemik ini menyebabkan penggunaannya

metode

juga menjadi terbatas. Menilik aterosklerosis

100,101

oleh

yang

memberikan

kelemahan konvensional

terapi dari

enzim

kami

serta

memiliki

rekomendasikan

beberapa

keuntungan.

Pertama, nanopresipitasi direct dissolution adalah

metode

paling

sederhana

pemaparan di atas, maka Imunomicelle

dibandingkan dengan metode enkapsulasi

Polimerik

substrat hidrofilik lainnya seperti dialisis, oil-

VCAM-1

PLGA-PEG-MCOOH berbasis

senyawa

spesifik Capsaicin

in-water

emulsion

atau

emulsifikasi,

sangat berpotensi sebagai terapi utama

modifikasi film-method, dan kompleksasi,

dalam

sehingga biaya yang dibutuhkan juga lebih

penatalaksanaan

aterosklerosis

secara kuratif maupun preventif. Dalam langkah kuratif, Capsaicin

sedikit dan berpotensi lebih besar untuk dikembangkan

secara

dapat menginduksi aktivasi TRPV1 lainnya

Kedua,

adalah peningkatan Reverse Cholesterol

dissolution

Transporter (RCT)-dependent cholesterol

toksik sama sekali sehingga aman untuk

efflux yang selanjutnya menekan akumulasi

diadministrasikan.52

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

metode

industrialisasi.52

tidak

nanopresipitasi menggunakan

direct pelarut

74


Potensi imunomicelle

pengembangan

dikonsumsi oleh pasien asma dan anak di

PLGA-PEG-

bawah 16 tahun.105 Sedangkan untuk terapi

polimerik

berbasis

imunomodulasi berbasis dendritic cell (DC),

Capsaicin di Indonesia dapat ditinjau dari

biaya yang diperlukan sekitar US$ 2.700

empat indikator yaitu harga, durasi, efek

untuk 10 kali injeksi dalam kurun waktu 4

samping, dan keunggulan modalitas terapi.

bulan.

Adapun

imunomodulasi

MCOOH

spesifik

VCAM-1

imunomicelle

PEG-MCOOH dibandingkan terapi

polimerik

spesifik dengan

antiplatelet

PLGAVCAM-1

Statin,

golongan

(Aspirin),

dan

immunomodulasi.

Dua

pertama merupakan

terapi aterosklerosis

yang

paling

Indonesia, dipilih

pembanding

karena

mentosa

dari

terapi

dibandingkan

medika

adalah

dapat

menginduksi

antibodi pasien untuk melawan respon inflamasi yang menginduksi aterosklerosis sehingga

efek

diunggulkan,

preventifnya

sedangkan

efek

lebih samping

di

yang ditimbulkan tidak terlalu signifikan

immunomodulasi

seperti demam dan muscle pain dengan

banyak

sedangkan

Keunggulan

diterapkan

merupakan

terapi

durasi maksimum 48 jam.

12

aterosklerosis yang tergolong baru dan

Dibandingkan dengan ketiga terapi

mulai banyak digunakan oleh masyarakat

sebelumnya, imunomicelle polimerik PLGA-

Eropa.

59,60

PEG-MCOOH spesifik VCAM-1 berbasis

Biaya yang dikeluarkan untuk terapi aterosklerosis

berbasis

antara

120.000,00

Rp

Statin

berkisar

hingga

Rp

Capsaicin hanya memerlukan sekali injeksi untuk memberikan efikasi tata laksana aterosklerosis

yang

signifikan,

yaitu

5.000.000,00 setiap bulan dengan durasi

degradasi trigliserida pada makrofag foam

104

cell hingga sebesar 63,16% sehingga

Keunggulan dari Statin memang dapat

pembentukan foam cell yang berkontribusi

memperbaiki profil HDL dalam waktu relatif

besar terhadap progresivitas aterosklerosis

singkat selama 1 bulan namun memiliki

dapat dihindari pada uji coba in vitro dan in

efek

vivo.

rata-rata pengobatan selama 6 bulan.

samping

berupa

gangguan

Biaya

terapi

imunomicelle

yang

penglihatan dan risiko diabetes dengan

diperlukan berkisar antara $150 hingga

onset yang tergolong lama yaitu 4-6 tahun

$275, terlepas dari jenis modalitas yang

dan hanya terjadi pada 3,6% pasien yang

digunakan.106,107 Adapun kelemahan dari

mengonsumsi

durasi

modalitas ini yakni waktu paruh Capsaicin

Kisaran harga terapi Aspirin

yang relatif singkat (Âą 24 jam), namun hal

tersebut.

104

Statin

dengan

selama satu bulan adalah Rp 30.000,00

tersebut

hingga Rp 100.000,00. Keunggulan dari

penambahan PEG sebagai stabilizer dan

terapi aspirin adalah kemampuannya untuk

PLGA yang meningkatkan waktu paruhnya

mengencerkan gumpalan darah, sehingga

hingga 28 hari.

dapat menghindari pasien dari risiko stroke

digunakan sebagai modalitas terapi yaitu

lebih lanjut namun beberapa kasus dapat

Capsaicin terdapat dalam genus Capsicum

menimbulkan pendarahan internal serta

sp. jenis tanaman lokal Indonesia yang

sindrom

relatif

Reye,

sehingga

tidak

boleh

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

dapat

108

murah,

ditanggulangi

dengan

Selain itu, substrat yang

mudah

didapat

serta

75


dibudidayakan,

sehingga

effectiveness

dapat

mengabaikan

efektivitas

prinsip

tercapai dan

costtanpa efikasi

PEG-MCOOH spesifik VCAM-1 berbasis capsaicin.

ini

penting,

mengingat

pengobatan konvensional belum mampu mengatasi

pemberian modalitas

Hal

permasalahan

kardiovaskuler

yang disebabkan oleh aterosklerosis.

3. SIMPULAN Konstruksi imunomicelle polimerik PLGAPEG-MCOOH spesifik VCAM-1 berbasis

DAFTAR PUSTAKA

senyawa Capsaicin terdiri dari preparasi

1. Navas-Acien A, Sharrett AR, Silbergeld

basis nanopartikel Micelle Polimerik yang

EK, et al., 2005, Arsenic Exposure and

dimodifikasi dengan PLGA, PEG, dan

Cardiovascular Disease: A Systematic

gugus MCOOH serta konjugasi antibodi

Review of The Epidemiologic Evidence,

VCAM-1, sintesis senyawa Capsaicin dari

Am J Epidemiol, 162:1037-1049.

enkapsulasi

2. Verschuren J, Trompet S, Wessels J, et

Capsaicin dan mengonjugasikan antibodi

al., 2012, A Systematic Reviw on

VCAM-1 pada segmen distal ampifilik

Pharmacogenetics

nanopartikel

Disease:

genus

Capsicum

spp,

yang

kemudian

Is

in

It

Cardiovascular

Ready

for

Clinical

diadministrasikan secara intravena. Setelah

Application?, European Heart Journal,

bertautan dengan reseptor,

modalitas

3:165-175.

terapi akan didegradasi oleh endosom

3. Frostegard

sehingga

menyisakan

MCOOH

yang

mengalami translokasi menuju SR-A1 dan

J,

Atherosclerosis

2013, and

Immunity,

Cardiovascular

Disease, BMC Medicine, 11:117. Organization,

2011,

menuju TRPV1 dan protein IkB dalam

Cardiovascular Disease Fact

Sheet,

menjalankan

World Health Organization, Geneva,

CD36 sedangkan senyawa Capsaicin akan

dengan

aksinya.

terapi

Statin,

Dibandingkan antiplatelet,

4. World

Health

Switzerland.

dan Dendritic Cell (DC), modalitas ini lebih

5. Alberts-Grill N, Denning TL, Rezvan A,

direkomendasikan secara teoritis meninjau

Jo H, 2013, The Role of The Vascular

dari efek terapi yang diberikan. Selain itu,

Dendritic

modalitas ini hanya memerlukan sekali

Atherosclerosis,

injeksi, lebih stabil, memberikan efek kuratif

Physiol, 305:C1-C21.

dan kardioproteksi yang memiliki tingkat keberhasilan

tinggi

serta

minim

efek

J Physiol

in Cell

6. Kim S, Park J, Kim K, et al., 2012, The Protective Effect of Apamin on LPS/FatBased Complementary and Alternative

4. SARAN

Medicine, 2012:1-10.

Gagasan kreatif dalam karya ilmiah ini masih memerlukan berbagai pengkajian dan penelitian lebih lanjut mengenai potensi dosis

Am

Network

Induced Atherosclerotic Mice, Evidence-

samping.

dan

Cell

mengenai

konsentrasi

penggunaan imunomicelle polimerik PLGA-

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

7. Habets K, Puijvelde G, Duivenvoorde LM, et al., 2010, Vaccination Using Oxidized Pulsed

Low-Density Dendritic

Atherosclerosis

in

Lipoprotein-

Cells

Reduces

LDL

Receptor-

76


Deficient

Cardiovascular

Mice.

insulin, and energy metabolism, Am J Clin Nutr, 84:63-9.

Research, 85:622-630. 8. Tuzcu EM, Kapadia SR, Tutar R, et al.,

16. Roche LD, Hernandez DA, 2012, New

2001, High Prevalence of Coronary

Alternatives

Atherosclerosis

Treatment

Teenagers

in

and

Asymptomatic Young

Adults,

for

Atherosclerosis Based

on

ISRN

Immunomodulation,

Vascular

Medicine, 1-6.

Circulation, 103:2705-2710. 9. Wang L, Bao Y, Yang Y, Wu Y, Chen X,

17. Baigent C, Keech A, Kearney PM, et al.,

Si S, Hong B, 2010, Discovery of

2005, Efficacy and safety of cholesterol-

Antagonists

Scavenger

lowering treatment: prospective meta-

Receptor CD36 via an ELISA-Like High-

analysis of data from 90,056 participants

Throughput Screening Assay, J Biomol

in 14 randomised trials of statins,

Screen, 15(3):239–250.

Lancet, 366:1267–1278.

for

Human

10. Ross R, 1999, Atherosclerosis – An Inflammatory England

The

Disease,

Journal

of

New

Effect of statins on risk of coronary

Medicine,

disease: a meta-analysis of randomized controlled trials, JAMA, 282:2340–2346.

340(2):115-126. 11. Itabe H, Obama T, Kato R, 2011, The Dynamics

of

Oxidized

LDL

during

Atherogenesis, Journal of Lipids, 1-9. 12. Hansson

18. LaRosa JC, He J, Vupputuri S, 1999,

GK,

2005,

19. Kushner FG, Hand M, Smith SC, et al., 2009, 2009 focused updates: ACC/AHA guidelines

for

the

management

of

Inflammation,

patients with ST-elevation myocardial

Atherosclerosis, and Coronary Artery

infarction (updating the 2004 guideline

Disease, N Engl J Med, 352:1685-95.

and

13. Schrijvers DM, De Meyer GR, Herman

2007

focused

ACC/AHA/SCAI

update)

guidelines

and on

AG, Martinet W, 2007, Phagocytosis in

percutaneous

atherosclerosis: Molecular mechanisms

(updating the 2005 guideline and 2007

and implications for plaque progression

focused

and stability, Cardiovasc Res, 73:470–

American

480.

Foundation/American Heart Association

14. Wesemann DR, Benveniste EN, 2003, STAT-1α and IFN-

in

update): College

a

intervention

report of

of

the

Cardiology

Task Force on Practice Guidelines, Circulation, 120:2271–2306.

macrophages:

20. Van de Werf F, Bax J, Betriu A, et al.,

regulation and functional implications of

2008, Management of acute myocardial

the TNF receptor 1:STAT-1α complex,

infarction in patients presenting with

Journal of Immunology, 171(10):5313–

persistent ST-segment elevation: the

5319.

Task Force on the Management of ST-

TNF-α

signaling

as modulators of

coronary

15. Ahuja KDK, Robertson IK, Geraghty DP, Ball

MJ,

2006,

Effects

of

chili

consumption on postprandial glucose,

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

Segment Elevation Acute Myocardial Infarction of the European Society of Cardiology, Eur Heart J, 29:2909–2945.

77


21. Pollack CV Jr, Braunwald E, 2008, 2007

27. Nordmann AJ, Hengstler P, Leimenstoll

update to the ACC/AHA guidelines for

BM, Harr T, Young J, Bucher HC, 2004,

the

Clinical Outcomes of Stents Versus

management

of

patients

with

unstable angina and non-ST-segment

Balloon

elevation

Coronary

myocardial

infarction:

implications for emergency department practice, Ann Emerg Med, 51:591–606. 22. Rapezzi C, Biagini E, Branzi A, 2008, Guidelines

for

the

diagnosis

and

Angioplasty Artery

In

Non-Acute European

Disease,

Heart Journal, 25:69-80. 28. Serruys P, Jaeger P, Kiemeneij F, et al., 1994,

A

Comparison

Expandable-Stent

of

Balloon-

Implantation

with

treatment of non-ST-segment elevation

Balloon Angioplasty In Patients with

acute coronary syndromes: the task

Coronary Artery Disease, The New

force for the diagnosis and treatment of

England

non-ST-segment

331(8):489-495.

elevation

acute

Journal

of

Medicine,

coronary syndromes of the European

29. Zhao J, Ching L, Kou YR, et al., 2013,

Society of Cardiology, Eur Heart J,

Activation of TRPV1 Prevents OxLDL-

29:277–278.

Induced Lipid Accumulation and TNF-α-

23. Shimokawa

T,

Smith

WL,

1992,

Induced Inflamation in Macrophages:

Prostaglandin endoperoxide synthase.

Role of Liver X Receptor α, Mediators of

The aspirin acetylation region, J Biol

Inflammation, 2013:1-14. 30. Zhang LL, Liu DY, Ma LQ, et al., 2007,

Chem, 267:12387–12392. 24. Halushka MK, Walker LP, Halushka PV, 2003,

Genetic

variation

in

Activation of transient receptor potential vanilloid

type-1

channel

prevents

cyclooxygenase 1: effects on response

adipogenesis and obesity, Circ Res,

to aspirin, Clin Pharmacol Ther, 73:122–

100:1063–1070. 31. Ma L, Zhong J, Zhao Z, et al., 2011,

130. 25. Matetzky S, Shenkman B, Guetta V, et

Activation of TRPV1 reduces vascular

al., 2004, Clopidogrel resistance is

lipid

associated

atherosclerosis,

with

increased

risk

of

recurrent atherothrombotic events in patients with acute myocardial infarction, Circulation, 109:3171–3175. van der Bom JG, Jukema JW, Huisman 2007,

nonresponsiveness undergoing

Clopidogrel in

percutaneous

and

attenuates

Cardiovascular

Research, 92:504-513. 32. Sanatombi

K,

Sharma

GJ,

2008,

Capsaicin Content and Pungency of

26. Snoep JD, Hovens MM, Eikenboom JC, MV,

accumulation

patients coronary

intervention with stenting: a systematic

Different Capsicum spp. Cultivars, Not Bot Hort Agrobot Cluj, 36(2):89-90. 33. Bode AM, Dong Z, 2011, The Two Faces

of

Capsaicin,

Cancer

Res,

71:2809-2814. 34. Han

SS, Keum

YS, Seo

HJ, Chun

review and meta-analysis, Am Heart J,

KS, Lee SS, Surh YJ, 2001, Capsaicin

154:221–231.

suppresses

phorbol

ester-induced

activation of NF-kappaB/Rel and AP-1

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

78


transcription factors in mouse epidermis,

Gao J, 2009, Multifunctional Micellar

Cancer Lett, 164(2):119-26. 35. Seong-Su

Han, Young-Sam

Keum, Kyung-Soo

42. Blanco E, Kessinger CW, Sumer BD,

Chun, Young-Joon

Surh, 2002, Suppression of phorbol

Biol Med, 234(2):123-131. 43. Lewis DR, Kamisoglu K, York A, Moghe

by

PV, 2011, Polymer-Based Therapeutics:

human

Nanoassemblies and Nanoparticles for

promyelocytic leukemia cells, Archives

Management of Atherosclerosis, Wiley

of

Interdiscip

ester-induced Capsaicin

activation

Nanomedicine for Cancer Therapy, Exp

NF-κB in

Pharmacal

cultured Research,

Volume

25. Issue 4. pp 475-479. 36. Reyes-Escogido

Rev

Nanomed

Nanobiotechnol, 3(4):400-420.

M,

Gonzalez-

44. Kamaly, et al., 2012, Targeted polymeric

Mondragon EG, Vazquez-Tzompantzi E,

therapeutic

2011, Chemical and Pharmacological

development, and clinical translation,

Aspects

of

Molecules,

Capsaicin,

nanoparticles:

design,

Chem Soc Rev, 41(7):2971-3010. 45. Farokhzad OC, et al., 2006, Targeted

16:1253-1270. 37. Napoli C, Ignarro LJ. 2009. Nitric oxide

nanoparticle-aptamer bioconjugates for

and pathogenic mechanisms involved in

cancer chemotherapy in vivo, PNAS,

the development of vascular diseases.

103(16):6315-6320.

Arch Pharm Res. 32: 1103-8. D. J.

46. Jung T, Breitenbach A, Kissel T, 2000, J. Controlled Release, 67:157-169.

Preiss, 38. N. Sattar, 2007, Vascular cell adhesion

47. Blanco E, Kessinger CW, Sumer BD,

molecule-1: a viable therapeutic target

and Gao J, 2009, Multifunctional Micellar

for atherosclerosis?, Int J Clin Pract, pp

Nanomedicine for Cancer Therapy, Exp

697–701.

Biol Med (Maywood), 234(2):123-131.

39. Kathryn J. Moore, Ira Tabas, 2011,

48. Pandhair

V,

Sharma

S,

2008,

Macrophages in the Pathogenesis of

Accumulation of Capsaicin in Seed,

Atherosclerosis, Cell, 145 pp 1-5.

Pericarp and Placenta of Capsicum

40. Becker, L., Gharib, S.A., Irwin, A.D.,

annuum

L

Journal

Fruit,

Wijsman, E., Vaisar, T., Oram, J.F., and

Biochemistry

Heinecke, J.W., 2010, A macrophage

17(1):23-27.

and

of

Plant

Biotechnology,

to

49. Arora R, Gill N S, Chauhan G, Rana A

atherogenesis, Cell Metab, Vol 11. pp

C, 2011, An Overview about Versatile

125–135.

Molecule

sterol-responsive

network

linked

41. Iyer AK, Greish K, Seki T, Okazaki S, Fang J, Takeshita K, Maeda H, 2007, Polymeric protoporphyrin

micelles for

of

tumor

zinc targeted

Capsaicin,

Pharmaceutical

Int

Sciences

Jour

of

and

Drug

Bodhipadma

K.,

Research, 3(4): 280-286. 50. Noichinda

S.,

Lerksasen P., Ketsa S., 2012, Difference

delivery based on EPR effect and singlet

in

Capsaicin

Content

among

Thai

oxygen generation, J Drug Target, 15:

Capsicum, The Jour App Sci, 11(1):1-4.

496–506.

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

79


51. Sudhakar Johnson, T. and Racishankar,

57. Febbraio M, Sheibani N, Schmitt D,

G. A. and Venkataraman, L. V., 1991, In

Silverstein R, Hajjar D, Cohen P, et al.,

vitro

2000, Targeted disruption of the class B

Capsaicin

production

by

immobilized cells and placental tissues

scavenger

receptor

of Capsicum annuum L. grown in liquid

against

atherosclerotic

medium, Plant Science, 70(2):223-229.

development in mice, J Clin Invest,

52. Pepic et al., 2012, Polymeric Micelles in Ocular

Drug

Strategies

Delivery:

and

S.,

lesion

105:1095-1108. 58. Manning-Tobin JJ, Moore KJ, Seimon

Chem.

TA, Bell SA, Sharuk M, Alvarez-Leite JI,

Challenges,

2007,

protects

Rationale,

et al., 2009, Loss of SR-A and CD36

Biochem. Eng. Q., 26(4):365-377. 53. Gosk

CD36

VCAM-directed

activity reduces atherosclerotic lesion

immunoliposomes loaded with vascular–

complexity without abrogating foam cell

disrupting agents for selective targeting

formation

and occlusion of the tumor vasculature -

Arterioscler Thromb Vasc Biol, 29:19–

as

26.

a

novel

therapeutic

strategy,

Dissertation Universitaat Bonn, pp.39-

in

hyperlipidemic

mice,

59. Panyam J, Zhou WZ, Prabha S, Sahoo SK, Labhasetwar V, 2002, Rapid endo-

41. 54. Kang DI, Lee S, Lee JT, Sung BJ, Yoon

lysosomal escape of poly(DL-lactide-

JY, Kim JK, Chung J, Lim SJ, 2011,

coglycolide) nanoparticles: implications

Preparation and in vitro evaluation of

for drug and gene delivery, FASEB J,

anti-VCAM-1-Fab'-conjugated liposomes

16:1217–1226.

for the targeted delivery of the poorly water-soluble

drug

J

celecoxib,

Microencapsul, 28(3):220-7. 55. Xu

X, Wang

H, Luo

P, Zhao Z, Cao

Z, Zhong

J

et

al.,

60. Panyam

J,

Labasethwar

V,

2003, and

Dynamics

of

Endocytosis

Exocytosis

of

Poly(D,L-Lactide-co-

T, He

Glycolide) Nanoparticles in Vascular

2011,

Smooth Muscle Cells, Pharmaceutical

Activation of transient receptor potential

Research, 20(2):212-220.

vanilloid 1 by dietary Capsaicin delays

61. Chnari E, Jessica SN, Wang J, Uhrich

the onset of stroke in stroke-prone

KE, an Moghe PV, 2006, Engineered

spontaneously hypertensive rats, AHA

Polymeric Nanoparticles for Receptor-

Journal, 42(11):3245-51.

Targeted Blockage of Oxidized Low

56. Mulder WJM, Strijkers GJ, Briley-Saboe

Density

Lipoprotein

Uptake

KC, Frias JC, Aguinaldo JGS, Vucic E,

Atherogenesis

Amirbekian V, Tang C, Chin PTK,

Biomacromolecules, 7:1756-1805.

Nicolay K, Fayad ZA, 2007, Molecular

in

and

Macrophages,

62. Kunjathoor V, Febbraio M, Podrez E,

in

Moore K, Andersson L, Koehn S, et al.,

atherosclerotic plaques using bimodal

2002, Scavenger receptors class A-I/II

Magn

and CD36 are the principal receptors

imaging

of

PEG-micelles,

macrophages Reson

Med,

58(6):1164–1170.

responsible for the uptake of modified low density lipoprotein leading to lipid

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

80


loading in macrophages, J Biol Chem,

69. L.-C. Cheng, K.-H. Su, Y. R. Kou et al., 2011, α-Lipoic acid ameliorates foam

277:49982–49988. 63. K. C. Thomas, M. Ethirajan, K. Shahrokh

cell formation via liver X receptor α-

et al., 2011, Structureactivity relationship

dependent upregulation of ATP-binding

of Capsaicin analogs and transient

cassette transporters A1 and G1, Free

receptor potential vanilloid 1-mediated

Radical Biology andMedicine, vol. 50,

human

lung

no. 1, pp. 47–54.

Journal

of

epithelial

cell

toxicity, and

70. Joseph SB, Castrillo A, Laffitte BA,

Experimental Therapeutics, vol. 337, no.

Mangelsdorf DJ, and Tontonoz P, 2003,

2, pp. 400–410.

Reciprocal regulation of inflammation

Pharmacology

64. Almasi R, Szoke E, Bolcskei K, Varga A,

and

lipid

metabolism

by

liver

X

Riedl Z, et al., 2008, Actions of 3-methyl-

receptors, Nature Medicine, vol. 9, no. 2,

N-oleoyldopamine

pp. 213–219.

oleoyldopamine

and

on

4-methyl-N-

the

rat

TRPV1

71. Bischoff,E.D., Daige,C.L., Petrowski,M.,

receptor in vitro and in vivo, Life Sci, pp

Dedman,H.,

644–651.

Li,A.C. and Schulman,I.G., 2010, Non-

65. Zhong

B,

Wang

DH,

2008,

N-

redundant

Pattison,J., roles

for

Juliano,J.,

LXRalpha

and

oleoyldopamine, a novel endogenous

LXRbeta in atherosclerosis susceptibility

Capsaicinlike lipid, protects the heart

in

against ischemia-reperfusion injury via

knockout mice, J. Lipid Res.

activation of TRPV1, Am J Physiol Heart

low

density

66. Wang H, Wang DH, Galligan JJ, 2010,

receptor

72. Krasowski,M.D., Ni,A., Hagey,L.R. and Ekins,S.,

Circ Physiol, H728–735.

lipoprotein

2011,

promiscuous

Evolution

nuclear

of

hormone

P2Y2 receptors mediate ATP-induced

receptors: LXR, FXR, VDR, PXR, and

resensitization of TRPV1 expressed by

CAR, Mol. Cell. Endocrinol, 334:39–48.

kidney projecting sensory neurons, Am J

73. Nedumaran,B.,

Physiol Regul Integr Comp Physiol,

Yoon,Y.-S.,

R1634–1641.

Lee,Y.C.,

Kim,G.S.,

Hong,S.,

Kim,Y.-H., Koo,S.-H.

Lee,C.-H.,

and Choi,H.-S.,

67. Szallasi A, Cortright DN, Blum CA, Eid

2010, Orphan nuclear receptor DAX-1

SR, 2007, The vanilloid receptor TRPV1:

acts as a novel corepressor of liver X

10 years from channel cloning to

receptor alpha and inhibits hepatic

antagonist proof-of-concept, Nat Rev

lipogenesis, J. Biol. Chem, 285:9221–

Drug Discov, pp 357–372.

9232.

68. R. Sorrentino, S. Morello, S. Chen, E.

74. Chinetti GG, Baron M, Bouhlel MA et al.,

Bonavita, and A. Pinto, 2010, The

2011, Human Atherosclerotic Plaque

activation of liver X receptors inhibits

Alternative Macrophages Display Low

toll-like receptor-9-induced foam cell

Cholesterol

formation,

Journal

of

Cellular

Physiology, vol. 223. no. 1. pp. 158–167.

Handling

Phagocytosis Activities

of

Because the

PPAR

but of

High Distinct

and

LXR

Pathways, Circ. Res, 108:985–995.

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

81


75. Jakobsson T, Venteclef N, Toresson G., Damdimopoulos AE., Ehrlund A, Lou,X,

reverse cholesterol transport, Journal of Lipid Research, Volume 36 pp 1-18.

KR,

82. Wang X, Collins HL, Ranalletta M, Fuki

Gustafsson,JA, and Treuter,E., 2009,

IV, Billheimer JT, Rothblat GH, Tall AR,

GPS2 is required for cholesterol efflux

Rader DJ, 2007, Macrophage ABCA1

by triggering histone demethylation, LXR

and ABCG1, but not SR-BI, promote

recruitment, and coregulator assembly

macrophage

at the ABCG1 locus, Mol. Cell., 34:510–

transport

518.

117:2216-2224.

Sanyal,S,

Steffensen

76. Laffitte, B.A. et al., 2001, LXRs control

in

reverse vivo,

J

cholesterol Clin

Invest,

83. El Bouhassani M, Gilibert S, Moreau M,

the

Saint-Charles F, Treguier M, Poti F,

apolipoprotein E gene in macrophages

Chapman MJ, Le Goff W, Lesnik P,

and adipocytes, Proc. Natl. Acad. Sci.

Huby T, 2011, Cholesteryl ester transfer

USA., 98:507–512.

protein expression partially attenuates

lipid-inducible

expression

of

77. Repa, J.J. et al., 2000, Regulation of

the adverse effects of SR-BI receptor

mouse sterol regulatory element-binding

deficiency on cholesterol metabolism

protein-1c

and

(SREBP-1c)

by

oxysterol

receptors LXR-α and LXR- , Genes

atherosclerosis,

J

Biol

Chem,

286:17227-17238. 84. Zhang Y, Da Silva JR, Reilly M,

Dev, 14:2819–2830. 78. Zhang Y, Zanotti I, Reilly MP, Glick JM,

Billheimer JT, Rothblat GH, Rader DJ,

2003,

2005, Hepatic expression of scavenger

Overexpression of apolipoprotein A-I

receptor class B type I (SR-BI) is a

promotes

positive

Rothblat

GH,

Rader

reverse

DJ, transport

of

regulator

of

macrophage

cholesterol from macrophages to feces

reverse cholesterol transport in vivo, J

in vivo, Circulation, 108:661-663.

Clin Invest, 115:2870-2874.

79. Yvan-Charvet, L., Pagler, T.A., Seimon,

85. Chen LW, Egan L, Li ZW, Greten FR,

T.A., Thorp, E., Welch, C.L., Witztum,

Kagnoff MF, Karin M, 2003, The two

J.L., Tabas, I., and Tall, A.R., 2010,

faces of IKK and NF-kB inhibition:

ABCA1 and ABCG1 protect against

Prevention of systemic inflammation but

oxidative

macrophage

increased local injury following intestinal

Circ.

ischemia-reperfusion, Nat Med, 9:575–

apoptosis

stress-induced during

efferocytosis,

Res, 106:1861–1869.

581.

80. Groen AK, Bloks VW, Bandsma RH,

86. Correa RG, Matsui T, Tergaonkar V,

Ottenhoff R, Chimini G, Kuipers F, 2001,

Rodriguez-Esteban C, Izpisua-Belmonte

Hepatobiliary cholesterol transport is not

JC, Verma IM, 2005, Zebrafish IkB

impaired in Abca1-null mice lacking

kinase 1 negatively regulates NF-kB

HDL, J Clin Invest, 108:843– 850.

activity, Curr Biol, 15:1291–1295.

81. Christopher J. Fielding; and Phoebe E.

87. Gadjeva M, Tomczak MF, Zhang M,

Fieldins, 1995, Molecular physiology of

Wang YY, Dull K, Rogers AB, Erdman SE, Fox JG, Carroll M, Horwitz BH,

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

82


2004, A role for NF-kB subunits p50 and p65

in

the

inhibition

lipopolysaccharide-induced

of J

shock,

Immunol, 173:5786–5793. 88. Mourad

Z, Yasuhiro

Naura, Chetan

I/HDL

infusion

therapy

stabilization-regression:

S.

Hans, Charles

for

plaque

a

novel

approach, Current

therapeutic

S, Amarjit

P.

94. Shah PK, et al., 2007, Apolipoprotein A-

Pharmaceutical Design, 13(10):1031– 1038.

Nichols, and Hamid B, 2008, Nuclear

95. Rubenstrunk A, Hanf R, Hum DW,

Translocation of p65 NF-kB is Sifficient

Fruchart JC, Staels B, 2007, Safety

for VCAM-1: Differential Requirement for

issues

PARP-1 Expression and Interaction, Cell

generations

Signal, 20(1): 186-194.

Biochim Biophys Acta, 1771(8):1065-81.

89. Bonizzi G, Karin M, 2004, The two NF-

96. Zinn

and

A,

prospects of

PPAR

Felson

S,

for

future

modulators, Fisher

E,

kB activation pathways and their role in

Schwartzbard A, 2008, Reassessing the

innate and adaptive immunity, Trends

cardiovascular risks and benefits of

Immunol, 25:280–288.

thiazolidindiones,

90. Nicole Iverson1, Nicole M. Plourde2, Sarah M. Sparks3 et al., 2011, Dual Use of

Amphiphilic

Macromolecules

As

Cholesterol Efflux Triggers and Inhibitors of

Macrophage

Athero-inflammation,

Biomaterials, 32(32):8319–8327.

Clinical

Cardiology,

31(9):397-403. 97. Staels B, 2005, Fluid retention mediate by renal PPAR- , Cell Metabolism, 2(2):77-78. 98. Jacobsson LT, Turesson C, Gulfe A, Kapetanovic MC, Petersson IF, Saxne

91. Liqun M, Jian Z, Zhigang Z et al., 2011,

T, Geborek P, 2005, Treatment with

Activation of TRPV1 reduces vascular

tumor

lipid

attenuates

associated with a lower incidence of first

Cardiovascular

cardiovascular events in patients with

accumulation

and

atherosclerosis, Research, 92:504–513.

necrosis

rheumatoid

92. Martin T, Tsagogiorgas C, Wedel J,

factor

arthritis,

J

blockers

is

Rheumatol,

32:1213–1218.

Hottenrott M, Schneider MO, Binzen U,

99. Emsley HC, Smith CJ, Georgiou RF,

et al., 2012, N-octanoyl-Dopamine Is an

Vail A, Hopkins SJ, Rothwell NJ, Tyrrell

Agonist

at

Receptor

PJ, 2005, A randomised phase II study

TRPV1

and

Chemia-

of interleukin-1 receptor antagonist in

the

Capsaicin

Mitigates

Is

stroke

patients,

J

Neurol

Induced Acute Kidney Injury in Rat,

acute

PLoS ONE, 7(8): e43525.

Neurosurg Psychiatry, 76:1366–1372.

93. Lewington S, Whitlock G, Clarke R et al.,

100. Kim SY, Solomon DH, 2010, Tumor

2007, Blood cholesterol and vascular

necrosis factor blockade and the risk of

mortality

viral infection, Nat Rev Rheumatol,

by

age,

sex,

and

blood

pressure: a meta-analysis of individual data from 61 prospective studies with 55,000

vascular

deaths,

Lancet,

6(3):165-74. 101. Prinz

JC,

2011,

Autoimmune-like

syndromes during TNF blockade: does

370(9602):1829–39.

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

83


infection

have

a

role?,

Nat

Rev

105. Jeremy

S,

Paikin,

and

John

Eikelboom, 2012, Aspirin, Circulation,

Rheumatol, 29;7(7):429-34. 102. Kamaly N, Xiao Z, Valencia PM, Radovic-Moreno AF, Farokhzad OC,

125:e439-e442. 106. Torchilin,

Vladimir

P,

2012, Targeted Polymeric Therapeutic

Immunomicelles:

Nanoparticles: Design, Development,

Pharmaceutical

and Clinical Translation, Chem Soc

Soluble

Rev, 41(7):2971-3010.

National Academy of Science.

103. Pinto-Alphandary

H,

Andremont

A,

107. Peters,

Carriers

al.,

2009,

atherosclerosis

antibiotics

and

multifunctional

and

106(24):9815-9819.

nanoparticles:

liposomes research

applications, Int J Antimicrob, 13:155168.

for

Proceeding

Drugs, et

2003, Targeted

Couvreur P, 2000, Targeting delivery of using

W.

by

Poorly of

the

Targeting

using

modular,

micelles,

PNAS,

108. Ravivarapu HB, Burton K, De Luca PP, 2000,

Polymer

and

microsphere

104. Schuffhan et al., 2006, The cost

blending to alter the release of a

effectiveness of Fluvastatin in Hungary

peptide from PLGA microsphere, Eur J

Following Succesfull PCI, Cardiovasc

Pharm Biopharm, 50:263-70.

drugs ther, 13(4):309-317.

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

84


Artikel Penyegar

POTENSI PEMANFAATAN GREEN TEA-DERIVED POLYPHENOLS (GTPS) TEH HIJAU (CAMELLIA SINENSIS) SEBAGAI INOVASI PENGEMBANGAN TERAPI ADJUVAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS 1

Surya Wijaya 1

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Email: suryawijaya_102@yahoo.com

ABSTRAK Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan global yang mengkhawatirkan Setiap tahun, tercatat 2 juta penduduk dunia meninggal akibat tuberkulosis. Penyebab utama kekurangefektifan terapi adalah karakteristik M. tuberculosis yang mampu menghindari sistem pertahanan tubuh manusia. Melalui beberapa mekanisme green tea-derived polyphenols (GTPs) yang tidak dimiliki oleh obat antituberkulosis first-line saat ini, diharapkan dapat menjadi terapi adjuvan tuberkulosis baru yang lebih aman dan efektif. Potensi imunomodulator GTPs akan merangsang respon imun seluler dengan meningkatkan produksi maupun aktivitas dari beberapa sitokin penting, seperti IL-12, IFN- γ, dan TNF-α. GTPs juga berpotensi untuk menurunkan kerusakan jaringan paru permanen yang terjadi akibat proses infeksi dengan menghambat respon imunopatologis dari TNF-α, histamin, ROS dan RNI. Selain itu, GTPs terbukti mampu menghambat Sp1, yang merupakan faktor transkripsi yang paling berperan dalam ekspresi gen TACO, molekul host-protein yang paling berperan dalam kemampuan M. tuberculosis untuk hidup di dalam makrofag, Oleh karena itu, GTPs berpotensi untuk diaplikasikan sebagai terapi adjuvan pada pasien tuberkulosis karena memiliki efek imunomodulator, antioksidan kuat, dan penghambatan transkripsi gen TACO. Namun, masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengoptimalkan potensi tersebut sekaligus meminimalkan efek samping yang mungkin terjadi. Kata kunci: polifenol, tuberkulosis, Mycobacterium tuberculosis, immunomodulator, antioksidan, gen TACO ABSTRACT Tuberculosis becomes a worrying global health problem. Approximately 2 million people die because of tuberculosis every year. The main cause of ineffectiveness of therapy is the ability of M. tuberculosis to avoid human immune system. Through several mechanisms which first-line antituberculosis drugs do not have, green tea-derived polyphenols can be a new adjuvant therapy for tuberculosis. The immunomodulation effect of GTPs can stimulate cellular immune system by enhancing various cytokine production and activity, such as IL-12, IFN-γ, and TNF-α. GTPs also can decrease infection-related permanent lung tissue destruction by inhibiting immunopathology response of TNF-α, histamine, ROS, and RNI. In addition, GTPs can down-regulate Sp1, host-protein molecule which has an important role for M. tuberculosis survival in macrophage. Therefore, GTPs has a great potency of an adjuvant therapy for tuberculosis patient because it has an immunomodulation, potent antioxidant, and TACO gene transcription inhibitor. Nevertheless, a future research is needed to hold for optimizing this potency and minimizing adverse effects. Keywords: polyphenol, tuberculosis, Mycobacterium tuberculosis, immunomodulation, antioxidant, TACO gene 1. PENDAHULUAN mengenai organ tubuh lainnya. Sumber Mengenal Lebih Dekat Tuberkulosis

penularan adalah pasien TB BTA positif. Pada

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular

waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan

langsung yang disebabkan oleh kuman TB

kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak

(Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar

(droplet nuclei).

1

kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

85


menjadi

merupakan diagnosis utama. Pemeriksaan lain

sekunder.

seperti foto toraks, biakan, dan uji kepekaan

Tuberkulosis primer terjadi ketika seseorang

dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis

yang belum pernah terpajan M. tuberculosis

sepanjang sesuai dengan indikasinya.

Tuberkulosis tuberkulosis

dibagi

primer

dan

5

menghirup bakteri tersebut melalui inhalasi.2 Bila menetap di jaringan paru, kuman akan

2. Pembahasan

membentuk sarang primer (fokus Ghon). Dari

2.1 Menilik Lebih Dalam Permasalahan di

sarang primer, akan timbul limfangitis lokal

Balik Momok Tuberkulosis Tuberkulosis hingga detik ini dianggap

yang diikuti dengan limfadenitis regional yang membentuk

kompleks

primer

(Ranke).

sebagai

masalah

kesehatan

dunia

yang

Kompleks primer ini selanjutnya dapat sembuh

penting. Diperkirakan lebih kurang 1,9 milyar

sempurna,

atau

sedikit

sembuh

bekas

dengan meninggalkan

penduduk

dunia

terinfeksi

M.

3

dan

tuberculosis. Setiap tahun terjadi sekitar 9 juta

secara per kontinuitatum,

penderita baru TB dengan angka kematian

atau

menyebar, baik

1/3

berkomplikasi

hematogen

mencapai 2 juta orang. Pada tahun 2011,

tergantung pada tingkat imunitas individu yang

diperkirakan terdapat 8,7 juta kasus baru TB

terpapar kuman TB.3 Tuberkulosis paru primer

aktif di seluruh dunia dengan angka kematian

biasanya asimtomatik. Sekitar 5% kasus yang

1,4 juta orang.6 Di Indonesia, TB merupakan

bermanifestasi sebagai penyakit ringan mirip

masalah

flu.2

Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-

bronkogen,

limfogen

maupun

utama

kesehatan

masyarakat.

Tuberkulosis sekunder dapat terjadi

3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina

pasien

telah

dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total

yang

jumlah pasien TB di dunia. Pada tahun 2011,

dorman pada tuberkulosis primer dapat muncul

dijumpai 316.562 kasus baru TB dengan

bertahun-tahun

reinfeksi

194.780 kasus TB aktif di Indonesia.7 Selain

(infeksi ulang) atau reaktivasi (akibat kondisi

itu, TB menduduki urutan ke-4 untuk angka

imunosupresi). Kondisi reaktivasi lebih sering

kesakitan dan menduduki urutan ke-5 sebagai

terjadi

penurunan

penyebab kematian yang menyerang sebagian

penggunaan

besar kelompok usia produktif dari kelompok

maligna, diabetes, AIDS,

sosioekonomi lemah di Indonesia. Angka

2,3

kematian karena infeksi TB berjumlah sekitar

menimbulkan

300 orang per hari dan terjadi >100.000

pada

mengalami

infeksi

pada

imunitas

yang

sebelumnya

primer.

kemudian

pasien

akibat

alkohol, penyakit

2

Kuman

akibat

dengan

malnutrisi,

gagal ginjal atau pemberian kortikosteroid. Tuberkulosis

paru

sekunder

gejala klinis, seperti batuk kronis yang disertai hemoptisis, penurunan berat badan yang nyata, demam ringan, dan berkeringat pada malam hari.

3,4

1

kematian per tahun.8 Tuberkulosis tidak hanya menimbulkan dampak medis,

tetapi

juga menimbulkan

dampak ekonomi. Sekitar 75% pasien TB

Diagnosis TB paru pada orang dewasa

adalah kelompok usia yang paling produktif

ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB

secara ekonomis (15-50 tahun). Diperkirakan

(BTA). Pada program TB nasional, penemuan

seorang pasien TB dewasa akan kehilangan

BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis

rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

86


kehilangan

Masalah lain yang dihadapi adalah

pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar

resistensi obat. MDR (multidrugs resistant

20â&#x20AC;&#x201C;30%. pendapatannya sekitar 15 tahun.

tuberculosis) adalah bakteri yang resisten

Selain merugikan secara ekonomis, TB juga

terhadap lini pertama pengobatan TB dan XDR

memberikan dampak buruk lainnya secara

adalah

sosial berupa stigma dan pengucilan oleh

terhadap pengobatan primer dan sekunder.

tersebut

berakibat

masyarakat.

pada

1

bakteri

TB

yang

sudah

resisten 3

Menurut WHO (2008), telah ditemukan 0,5 juta

Walaupun WHO telah mencanangkan

kasus MDR-TB dengan tuberkulosis kasus

Stop Tuberculosis Strategy dengan strategi

baru MDR 23.353 kasus. Pada tahun 2003,

utama Directly Observed Treatment Short

WHO menyatakan insidensi MDR-TB akan

Course Strategy (DOTS) yang merupakan

terus meningkat 4.3% di seluruh dunia dan

program

mengontrol

lebih dari 200 ribu kasus baru akan terjadi di

tuberkulosis yang telah diterapkan oleh WHO

dunia. Apabila pasien terinfeksi oleh bakteri ini,

sejak 1995, sampai hari ini belum ada satu

waktu pengobatan akan bertambah panjang

negara pun di dunia yang telah bebas

dan biaya semakin meningkat.

tuberkulosis paru. Setelah angka tuberkulosis

pemberian

telah berhasil diturunkan di beberapa negara

memberikan efek negatif berupa adverse drug

maju, belakangan ini angka tersebut naik lagi

reactions (ADRs).10

pendekatan

sehingga

untuk

tuberkulosis

reemerging disease.

1,3

disebut

penyakit ini belum pernah menurun jumlahnya, 8

membutuhkan

OAT

waktu

meningkatakan

Selain itu,

anti-tuberkulosis

Pengobatan

sebagai

Sementara di Indonesia

obat

9

risiko

first

line

lama munculnya

juga

yang akan ADRs

bahkan terus meningkat. Cakupan program

maupun MDR-TB. Oleh karena itu, saat ini

DOTS pun hanya mencapai 28% dari 206.000

sangat perlu dilakukan penelitian terhadap

juta penduduk, dengan hasil pengobatan yang

upaya pengendalian infeksi tuberkulosis yang

1,3

lebih tepat dan efektif. Pengembangan juga

Pengobatan TB yang digunakan luas

dibutuhkan untuk mempercepat penyembuhan

di Indonesia adalah obat kemoterapi kombinasi

dan mengurangi kerusakan jaringan paru

lini

permanen akibat proses infeksi yang terjadi

masih belum memuaskan.

pertama,

piranizamid, Namun,

yakni

isoniazid,

etambutol,

yang

dan

menjadi

rifampisin, streptomisin.

kendala

pada pasien tuberkulosis.9 Salah satu terapi tuberkulosis yang

adalah

pemakaian obat yang terlalu lama. Pasien

saat

diharuskan minum sekitar 6 obat dalam sehari

imunoterapi. Penggunaan imunoterapi dalam

selama

pengobatan pasien tuberkulosis, baik yang

6

bulan

untuk

mencegah

ini

sedang

dikembangkan

perkembangan resistensi obat. Aturan ini

non-resisten

kadang membuat pasien tidak patuh sehingga

mempercepat penyembuhan dan mengurangi

kebanyakan pasien tidak mau menyelesaikan

relaps. Penggunaan modulator imunitas juga

pengobatan

akibatnya

penting untuk menghambat kerusakan jaringan

adalah resitensi dan kemungkinan relaps yang

pulmonal lebih lanjut akibat proses inflamasi

tinggi.

sampai

akhir

dan

maupun

MDR-TB

adalah

akan

yang berlebihan.11

3

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

87


Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari

beratnya. Teh hijau mengandung senyawa

200 juta jiwa, memiliki lebih kurang 30.000

polifenol yang terdiri dari flavonol, flavandiol,

spesies

di

flavanoida dan asam fenolat yang diperkirakan

antaranya termasuk tumbuhan berkhasiat (180

30% dari berat kering daun teh. Senyawa

spesies telah dimanfaatkan oleh industri jamu

polifenol yang terdapat dalam teh hijau adalah

tradisional) merupakan potensi pasar obat

kelompok

herbal dan fitofarmaka. Kemandirian bangsa

catechins. Senyawa polifenol (polyphenolic-

Indonesia

based compounds)

tumbuhan

yang

dan

kaya

940

akan

spesies

bahan

obat

flavonol

yang

dikenal

sebagai

teh hijau terdiri

dari

untuk

catechins (30â&#x20AC;&#x201C;42%) dan unsur-unsur lain.

nature

Catechins berdasarkan ikatan hidroksil dan

Salah

gugus ester gallate mempunyai derivat dengan

satu tanaman herbal yang dapat dimanfaatkan

konsentrasi yang berbeda di dalam green tea,

sebagai imunoterapi TB adalah teh hijau.

yaitu epicatechin (EC) 8,01%, epigallocatechin

tradisional

mendorong

memanfaatkan

masyarakat

program

back

to

sebagai pengobatan herbal alternatif.

12

(EGC) 27,65%, epicatechin gallate (ECG) 3. ISI

12,48%, dan epigallocatechin gallate (EGCG)

3.1 Teh Hijau, Tanaman Penuh Khasiat

51,86%.15

Teh merupakan

hijau

(Camelia

Potensi antioksidan dari green tea-

sinensis)

perdu yang biasanya dipangkas

derived

polyphenols

(GTPs)

telah

diteliti

bila dibudayakan untuk dipanen daunnya.

secara in vitro dan diketahui bahwa GTPs

Tanaman ini memiliki akar tunggang yang

dapat

kuat, bunga kuning-putih berdiameter 2,54 cm,

menurunkan kadar zat kimia lain. Potensi

dan daun hijau dengan panjang sekitar 4,5 cm

antioksidan

dan lebar 2,5 cm. Daun dengan umur yang

dibandingkan

berbeda

yaitu 10 kali lebih besar dari vitamin C dan 100

berbeda

menghasilkan pula.

kualitas the

Tanaman

ini

yang

banyak

menangkap dari

radikal

bebas

dan

GTPs jauh lebih

dengan

antioksidan

besar lainnya,

kali lebih besar dari vitamin E dan carotene.14

dibudidayakan di Asia Tenggara sebagai

Penelitian mengenai GTPs sudah banyak

bahan minuman dan baku pembuatan obat

dilakukan pada kasus kanker. Senyawa ini

tradisional (herbal medicine).

13

mampu

Sampai saat ini di dunia kurang lebih

menghambat

proses

tumorigenik

dengan beberapa proses, seperti antioksidatif, 16

terdapat 1.500 jenis teh yang berasal dari 25

antiproliferatif, dan efek proapoptosis.

negara yang berbeda. Salah kelompok utama

juga diketahui memiliki efek yang signifikan

teh adalah teh hijau. Teh hijau dibuat melalui

terhadap

inaktivasi enzim polifenol oksidase di dalam daun

teh

segar

yang

dilakukan

penghambatan

infeksi

EGCG

HIV

dan

multidrug-resistant Staphylococcus aureus.

17,18

melalui

pemanasan (udara panas) dan penguapan

3.2 Potensi Green Tea-Derived Polyphenols

(uap air) tanpa proses fermentasi. Kedua

(GTPs) dari Teh Hijau (Camellia sinensis)

metode itu berguna untuk mencegah terjadinya

sebagai

oksidasi enzimatis katekin. Teh

hijau

14

memiliki

Inovasi

Pengembangan

Terapi

Adjuvan pada Pasien Tuberkulosis kandungan

senyawa polifenol antara 15-30% dari total

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

Green tea-derived polyphenols (GTPs) memiliki

potensi

sebagai

terapi

adjuvan

88


terhadap

OAT

karena

memiliki

efek

atau monosit yang telah terinfeksi. Sel NK

metabolisme yang tidak dapat dilakukan oleh

teraktivasi

OAT first line saat ini. Efek metabolisme GTPs

aktivitas mikobakterisidal dari makrofag yang

meliputi efek imunomodulator, antioksidan, dan

terinfeksi mikobakterium. Sel ini sendiri juga

penghambatan

memproduksi IFN-γ.22

ekspresi

gen

tryptophan-

aspartate containing coat protein (TACO).

IL-2

Dalam

juga

kasus

dapat

merangsang

tuberkulosis,

TNF-α

Dari hasil beberapa penelitian, GTPs

dalam kadar terlalu tinggi sangat berperan

terbukti mampu meningkatkan respon imun

dalam respon imunopatologis dan menjadi

seluler. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari

faktor utama yang menyebabkan kerusakan

tingginya

kadar

dan

IFN-γ

aktivitas fagosit sel makrofag.

19,20

peningkatan

jaringan

Sekresi IFN-

menekan efek toksisitas dari TNF-α sehingga

γ yang tinggi terbukti akan memperbesar

pulmonal.

GTPs

terbukti

kerusakan jaringan paru dapat dicegah.

dapat 24

kemampuan mikrobisidal dari makrofag. IFN-γ

Penghambatan histamin oleh GTPs

dan IL-12 merangsang diferensiasi sel Th0-

diketahui juga dapat meningkatkan aktivitas

menjadi Th1-CD4 . IFN-γ juga akan

Th1 dan menurunkan imunopatologi. Selain

meningkatkan produksi dan aktivitas sitolisis

itu, penghambatan histamin tersebut juga akan

dari sel Tc-CD8+ maupun sel NK, inhibisi

menurunkan jumlah mikobakterium yang hidup

replikasi mikobakterium dan meningkatkan

secara signifikan.25

+

CD4

+

ekspresi

reseptor

IL-2

growth factor untuk sel T). Selain

itu,

(yang

Potensi lain yang dimiliki GTPs dalam

merupakan

21

terapi pasien tuberkulosis adalah potensi

GTPs

juga

dapat

menurunkan produksi IL-10 dan meningkatkan 20

antioksidan mampu

tersebut bertanggung jawab pada penurunan

dengan

aktivitas

pembentuk

IL-12

secara

makrofag

signifikan.

maupun

penurunan

lebih

kuat

dan

efektif

daripada α-tochoperol dan vitamin C. GTPs

IL-10

produksi

yang

menghalangi

pembentukan

ROS

beberapa

enzim

menghambat ROS

dan

menghambat

produksi IL-12 dan IFN-γ oleh sel T. IL-12

phospholipase

adalah aktivator paling kuat untuk sel NK.

tersebut bekerja dengan cara melepaskan satu

Produksi IFN-γ oleh limfosit Th1 dan NK juga

atom

akan meningkat akibat efek induksi dari IL-12.

superoksida maupun pada hidroksil, alkoxyl

Selama terjadi infeksi intraseluler, IL-12 akan

dan

merangsang aktivasi makrofag.

22

Selain itu, IL-

12 dan IFN-γ secara sinergis juga merangsang makrofag untuk melepaskan TNF-α. Ketiga sitokin tipe 1 tersebut, yaitu IL-12, IFN-γ, dan penting

hidrogen/elektron radikal

peroxyl

C.

Antioksidan

pada dengan

anion demikian

melindungi lipoprotein maupun DNA terhadap kerusakan.27 Tambahan

pula,

GTPs

terbukti

memiliki efek yang sangat besar pada regulasi gen. EGCG, polifenol paling poten dari green

imunitas seluler terhadap infeksi intraseluler

tea mampu memodulasi sinyal transduksi dari

dari mikobakterium.

sangat

dan

dalam

TNF-α

berperan

A2

26

23

beberapa faktor transkripsi, seperti Sp1, NF-κB

Peningkatan sel NK akan terjadi akibat

dan AP-1. Sp1 merupakan faktor transkripsi

rangsangan dari IFN-γ dan IL-12. Sel NK

yang paling berperan dalam ekspresi gen

secara langsung dapat melisiskan patogen

TACO. Ikatan hidrogen dari polifenol terbukti

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

89


mampu

mengganggu

pengenalan

sequence yang bertanggung jawab terhadap ekspresi TACO.

28

Dengan

DNA

Molekul ini terbentuk dari

mengkonsumsi

kapsul

polifenol ekstrak teh hijau 800 mg dan EGCG 800 mg per hari selama seminggu pada orang 30

membran plasma saat makrofag memfagosit

sehat, belum dijumpai efek samping.

M. tuberculosis. Dengan mekanisme yang

samping dari konsumsi GTPs yang telah

belum

diketahui

diketahui,

M.

tuberculosis

mampu

saat

ini

adalah

Efek

gangguan

menahan molekul TACO tersebut untuk tetap

penyerapan zat besi non-heme. Namun hal ini

berikatan dengan fagosom dan menghambat

dapat diatasi dengan dosis yang tepat dan

penghantarannya pada lisosom. Selain itu,

pengaturan waktu konsumsi.

32

Ketersediaan bahan baku menjadi

molekul ini juga akan menghambat asidifikasi dan

faktor utama yang berperan penting dalam

menurunkan signaling dari TLR yang berfungsi

produksi obat-obatan. Bahan baku yang tidak

(pengasaman)

di

dalam

makrofag

untuk mengaktifkan respon imun seluler.

29

memadai akan menyebabkan produksi obat

Belakangan diketahui bahwa penghambatan

tidak dapat memenuhi

gen

TACO

oleh

meningkatkan

juga

akan

terhadap obat tersebut dan mengakibatkan

fagosom

yang

harga obat menjadi sangat tinggi.31

polifenol

asidifikasi

kebutuhan pasien

mengandung M. tuberculosis hidup. Kondisi ini

Teh hijau merupakan sumber GTPs mudah

akan mempermudah transfer maupun fusi

didapatkan, bahkan kandungan GTPs teh di

fagosom tersebut dengan lisosom sehingga

Indonesia 1,34 kali lebih tinggi dibandingkan

terjadi kematian M. tuberculosis. Efek EGCG

dengan negara lainnya berkisar antara 7,02-

pada makrofag terinfeksi M. tuberculosis hidup

11,6%.33 Tanaman ini umumnya terdapat di

menunjukkan tidak ada M. tuberculosis yang

daerah beriklim tropis, termasuk Indonesia

tetap hidup pada colony counts setelah 12 jam

dengan ketinggian antara 200-2.000 m di atas

infeksi.

0

30

permukaan laut (dpl) dengan suhu 14-25 C.

14

Selama ini Indonesia merupakan salah satu 3.3

Analisis

Pemanfaatan

Tea-

negara produsen utama teh dunia. Produksi

Derived Polyphenols (GTPs) dari Teh Hijau

teh di Indonesia jika dibandingkan dengan

(Camellia

Inovasi

negara lain hanya menempati urutan kelima

Pasien

setelah India sebesar 665,3 ribu ton, Cina

sinensis)

Pengembangan

Green

sebagai

Terapi

pada

Tuberkulosis

sebesar 665 ribu ton, Kenya sebesar 284,6

Selain fitofarmaka, toksisitas suatu zat

ribu ton dan Srilangka sebesar 280,6 ribu

menjadi salah satu hal yang diperhitungkan

ton.33,34 Perkebunan teh di Indonesia tersebar

dalam pembuatan suatu obat menggunakan

secara merata. Salah satu adalah perkebunan

zat tersebut. Banyak dari zat-zat kimiawi yang

teh di Kecamatan Cikalong Welan, Jawa Barat

memiliki potensi untuk digunakan sebagai

seluas 835 ha dengan tingkat produksi teh

modalitas terapi, namun tidak dapat diproduksi

mencapai 1.306,8 t atau rata-rata tingkat

dan digunakan pada manusia karena memiliki

produktivitas 1.000 kg/ha/tahun.33 Selain itu,

toksisitasnya

tanaman

efektifnya.

yang

tinggi

pada

31

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

dosis

murah.

ini

dijual

dengan

harga

relatif

14

90


4. PENUTUP

5. Tim Kelompok Kerja TB Paru. 2007. Diagnosis

Green tea-derived polyphenols (GTPs) dari teh

TB Paru. Dalam: Pedoman Nasional dan

hijau (Camellia sinensis) berpotensi untuk

Penatalaksanaan Tuberkulosis di Indonesia.

diaplikasikan sebagai terapi adjuvan pada

Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia;

pasien

h. 15-25.

tuberkulosis

karena

memiliki

mekanisme yang tidak dimiliki obat antituberkulosis

first-line

imunomodulator,

berupa

antioksidan

potensi

kuat,

dan

6. Zumla A, Mario R, Richard H. 2013. Current concepts: Tuberculosis. N Engl J Med; 36(8): 745-755.

TACO.

7. Ditjen PP & PL Depkes RI. 2012. Hasil

Tambahan pula, teh hijau (Camellia sinensis)

Cakupan Penemuan Kasus Penyakit TB Paru

sebagai sumber GTPs terbukti aman karena

Menurut Provinsi Tahun 2011. Dalam: Profil

tidak

efek

Data Kesehatan Indonesia Tahun 2011.

samping, mudah didapat, dan harganya relatif

Jakarta: Departemen Kesehatan Republik

murah.

Indonesia; h. 84-85.

penghambatan

transkripsi

menimbulkan Namun,

gen

toksisitas penelitian

dan lebih

lanjut

mengenai jenis sediaan dan dosis optimal dari

8. Djojodibroto RD. 2009. Tuberkulosis Paru.

green tea-derived polyphenols sebagai terapi

Dalam: Respirologi (Respiratory Medicine).

adjuvan pada pasien tuberkulosis.

Jakarta: EGC; h. 151-154. 9. Soepandi PZ. 2008. Diagnosis dan Faktor

DAFTAR PUSTAKA

yang Mempengaruhi Terjadinya TB-MDR.

1. Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkulosis.

2006.

Permasalahannya.

Tuberkulosis Dalam:

dan

Pedoman

Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Edisi

Jakarta: Departemen Pulmonologi & Ilmu Kedokteran

Respirasi

FKUI-RS

Persahabatan; h. 1-7. 10. Gholami K, Kamali E, Hajiabdolbagh Mi,

2. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik

Shalviri

Indonesia; h. 3-4.

tuberculosis induced adverse reactions in

2. Maitra A, Vinay K. 2007. Tuberkulosis Paru. Dalam: Huriawati H, editor. Buku Ajar Patologi Volume 2. Edisi 7. Jakarta: EGC; h. 544-551.

G.

2006.

Evaluation

hospitalized patients.

of

anti-

Pharmacy Practice;

4(3): 134-138. 11. Achkar JM, Casadevall A, Glatman-Freedman

3. Amin Z, Asril B. 2006. Tuberkulosis Paru.

A. 2007. Immunological options for the

Dalam: Aru WS, Setiyohadi B, Alwi I,

treatment of tuberculosis: evaluation of novel

Simadibrata MK, Setiadi S, editor. Buku Ajar

therapeutic approaches [Abstract]. Expert Rev

Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Edisi 4. Jakarta:

Anti Infec Ther; 5(3): 461-474.

Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam

Fakultas

Kedokteran

Universitas

Indonesia; h. 988-994. 4. Price SA, Mary PS. 2006. Tuberkulosis Paru.

12. Arief,

N.

2012.

Herbal

pada

Penyakit

Metabolik. Dalam: Makalah Simposium Actual Comprehensive

Database:

Therapies,

Regulation

And

Invention, on

Herb

Dalam: Huriawati H, editor. Patofisiologi:

Medicines. Tanggal 11 November 2012; h.

Konsep

64-65.

Klinis

Proses-proses

Penyakit

Volume 2. Edisi 6. Jakarta: EGC; h. 852-860.

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

91


13. Yang CS, Landau JM. 2010. Effects of tea consumption on nutrition and health. Journal

Salmonella typhimurium. Med J Indones; 113(1): 1-7. 21. Oppenheim JJ, Ruscetti FW. 2003. Cytokines.

of Nutrition; 130(10): 2409-2412. 14. Marudut PS. 2006. Optimalisasi Ekstraksi Polifenol Teh Hijau Berdasarkan Ukuran Butir, Nisbah Bahan Baku-Pelarut, dan Waktu.

Medical Immunology; 10: 148-164. 22. Alamelu R. 2004. Immunology of tuberculosis. Indian J Med Res; 120; 213-224.

Fakultas

23. Xing Z, Zganiacz A, Santosuosso M. 2010.

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Role of IL-12 in macrophage activation during

Institut Pertanian Bogor; h. 1-5.

intracellular infection: IL-12 and mycobacteria

Bogor:

Departemen

Kimia

15. Silalahi J. 2002. Senyawa polifenol sebagai

synergistically release TNF-α and nitric oxide macrophages

from

Maj Kedokt Indon; 52(10): 361-364.

Journal of Leukocyte Biology. 68: 897- 902. 24. Zeeshan

F,

Saif

via

induction.

komponen aktif yang berkhasiat dalam teh.

H,

IFN-γ Najmul

I.

2012.

16. Fassina G, Vene R, Morini M, Minghelli S,

Epigallocatechin-3-gallate (EGCG), a green

Benelli R, Noonan DM, Albini A. 2004.

tea polyphenol suppresses bacilli-induced

Mechanisms

augmented expression of

of

inhibition

of

tumor

Mycobacterium

angiogenesis and vascular tumor growth by

tuberculosis 85B and proinflammatory TNF-α

epigallocatechin-3-gallate.

in human monocytes. International Journal of

Clinical

Cancer

Scientific and Research Publications; 2(2): 1-

Research; 10(14): 4865–4873. 17. Nance CL, Shearer WT. 2003. Is green tea good for HIV-1 infection? Journal of Allergy

6. 25. Carlos D, Fremond C, Samarina A, et.al.

and Clinical Immunology; 112(5): 851–853.

2009. Histamine plays an essential regulatory

18. Stapleton PD, Shah S, Anderson JC, Hara Y,

role in lung inflammation and protective

Hamilton-Miller

JM,

Modulation

beta-lactam

of

Taylor

PW.

2004.

resistance

in

Staphylococcus aureus by catechins and gallates. International Journal of Antimicrobial

immunity

in

Mycobacterium

the

acute

phase

tuberculosis

of

infection.

Infection and Immunity: 5359–5368. 26. Bing T, Zongtao S, Zhenjian X, Yuejin H. 2007. Chemiluminescence analysis of the

Agents; 23(5): 462–467. 19. Johan JB. 2007. The effect of green tea

prooxidant

and

antioxidant

effects

of

polyphenols to the IFN-γ production capacity

epigallocatechin-3-gallate. Asia Pac J Clin

by peripheral blood mononuclear cells as a

Nutr;16 (Suppl 1):153-157.

result of a radiotherapy to the nasopharyngeal carcinoma

patients.

Semarang:

Skripsi

27. Hanaoka K, Sun D, Lawrence R, Kamitani Y, Fernandes G. 2004. The mechanism of the

Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro;

enhanced

h.1-8.

superoxide anion radicals of reduced water

20. Ratnaningsih T, Asmara W, Sismindari. 2004. Polyphenols extracted from the green tea

antioxidant

effects

against

produced by electrolysis. Biophys Chem; 107(1): 71-82

(Camelliasinensis) augments the protective

28. Park AM, Dong Z. 2003. Signal transduction

immune responses in mice challanged with

pathways: targets for green and black tea

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

92


polyphenols. Journal of Biochemistry and Molecular Biology; 36: 66–77. 29. Tanigawa K, Suzuki K, Kimura H, et.al. 2009. Tryptophan aspartate-containing coat protein (CORO1A)

suppresses

Toll-like

receptor

signalling in Mycobacterium leprae infection. Clin Exp. Immunol; 156(3): 495-501. 30. Anand PK, Kaul D, Sharma M. 2006. Green tea

polyphenol

tuberculosis

inhibits

Mycobacterium

survival

within

human

macrophages. The International Journal of Biochemistry & Cell Biology; 38: 600–9. 31. Elin Yulinah Sukandar. 2004. Tren dan Paradigma Dunia Farmasi: Industri-KlinikTeknologi Kesehatan [internet]. [diakses 10 Nov

2013].

Diunduh

dari:

http://www.itb.ac.id/focus/focus_file/orasiilmiah-dies-45.pdf 32. Louise IM, Ron W, Catherine BP, Augustin S. 2005.

Risks

and

safety

of

polyphenol

consumption. Am J Clin Nutr; 81(suppl): 326S–9S. 33. Herawati

H,

Agus

Nurawan.

2007.

Peningkatan Nilai Tambah Produk The Hijau Rakyat

di

Kecamatan

Cikalong

Wetan-

Kabupaten

Bandung.

Semarang:

Balai

Pengkajian

Teknologi

Pertanian

Jawa

Tengah; h. 1-9. 34. Badan Pusat Stastistik. 2006. Statistik Teh Indonesia 2006.

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

93


Petunjuk Praktis

PEDOMAN DIAGNOSIS BRONKIOLITIS AKUT Surya Wijaya1 1

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Email: suryawijaya_102@yahoo.com

ABSTRAK Bronkiolitis akut merupakan infeksi saluran pernapasan bagian bawah yang sering terjadi pada bayi. Kasus ini menimbulkan tingkat perawatan di rumah sakit, morbiditas, dan mortalitas yang cukup tinggi. Namun, diagnosis bronkiolitis akut sering kali salah didiagnosis sebagai asma atau bronkopneumonia. Pengetahuan tentang diagnosis bronkiolitis penting untuk diketahui untuk mencegah kejadian tersebut. Pada anamnesis, anak pernah terpajan dengan anggota keluarga yang menderita infeksi virus beberapa minggu sebelumnya. Gejala awal berupa gejala infeksi respiratorius atas akibat virus, seperti pilek ringan, batuk, dan demam; dapat disertai dengan sesak napas. Pemeriksaan fisik pada anak yang mengarah ke diagnosis bronkiolitis adalah adanya takipnea, takikardi, peningkatan suhu di atas 38,5°C, napas cuping hidung dan retraksi interkostal ekspirasi memanjang hingga wheezing pada auskultasi paru. Pemeriksaan penunjang pada kasus disesuaikan dengan kebutuhan berupa pemeriksaan darah rutin, saturasi oksigen, dan analisis gas darah.Kriteria bronkiolitis terdiri dari (1) wheezing pertama kali, (2) umur 24 bulan atau kurang, (3) pemeriksaan fisik sesuai dengan gambaran infeksi virus misalnya batuk, pilek, demam dan (4) menyingkirkan pneumonia atau riwayat atopi yang dapat menyebabkan wheezing. Diagnosis banding kasus adalah asma dan bronkopneumonia. Oleh karena itu, diagnosis bronkiolitis akut dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisis, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan penunjang lainnya. Kata kunci: bronkiolitis akut, diagnosis ABSTRACT Acute bronchiolitis is a common lower respiratory tract infection in infant. This case has high admission, morbidity, and mortality. Nevertheless, diagnosis of acute bronchiolitis is often misdiagnosed as asthma or bronchopneumonia. Information about diagnosis of acute bronchiolitis is important to prevent this disease. In history, the infant was exposed to family member who suffered from viral infection several weeks ago. Prodromal symptom is symptoms viral upper respiratory tract infection, such as coryza, cough, and fever; often along with dyspnea. In physical examination, there is tachypnea, tachycardia, elevated temperature (> 38.50C), intercostal retraction, prolonged expiration and wheezing in auscultation in acute bronchiolitis patient. Additional examinations, such as complete blood examination, oxygen saturation, and blood gas analysis are performed on necessary. The criteria of acute bronchiolitis consist of (1) first episode of wheezing, (2) infant â&#x2030;¤ 24 month, (3) physical examination is suitable with viral infection symptoms, such as cough, coryza, and fever; (4) exclusion of pneumonia and history of atopic disease. Differential diagnosis of acute bronchiolitis is asthma and bronchopneumonia. Moreover, diagnosis of acute bronchiolitis is made by anamnesis, physical examination, and additional examination (if needed) Keywords: acute bronchiolitis, diagnosis

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

94


1.

PENDAHULUAN Bronkiolitis akut adalah peradangan

umum harus mampu membuat diagnosis klinik

pada bronkiolus yang ditandai oleh sesak

dan memberikan terapi pendahuluan pada

1

keadaan gawat darurat demi menyelamatkan

Bronkiolitis akut merupakan infeksi respiratorik

nyawa atau mencegah keparahan dan/atau

akut bagian bawah (IRA-B) yang sering pada

kecacatan pada pasien. Dokter umum mampu

bayi. Sekitar 20% anak pernah mengalami

menentukan rujukan yang paling tepat bagi

satu episode IRA-B dengan mengi pada tahun

penanganan pasien selanjutnya. Dokter juga

napas,

mengi,

pertama.

dan

hiperinflasi

paru.

2,3

mampu menindaklanjutisesudah kembali dari

Bronkiolitis akut merupakan salah satu

rujukan.6 Pada petunjuk praktis ini, penulis

penyebab utama rawat inap pada bayi. Angka

memfokuskan pembahasan tentang diagnosis

kejadian rawat inap IRA-B tiap tahun berkisar

bronkiolitis

4

akut

untuk

menambah

antara 3000 sampai 50.000-80.000 bayi. Di

pengetahuan dokter umum dalam menangani

Amerika Serikat, angka rawat inap meningkat

kasus bronkiolitis akut yang sering dijumpai

secara dramatis (239%) dari tahun 1980 ke

dalam

tahun 1996. 120.000 pertahun.

3

bayi

Di Amerika Serikat sekitar dirawat

dengan

masyarakat

sesuai

dengan

kompetensinya.

bronkiolitis

5

2. PEMBAHASAN

Bronkiolitis merupakan

salah

satu

2.1.

Penegakan Diagnosis

penyebab utama morbiditas dan mortalitas

Diagnosis dapat ditegakkan melalui

pada bayi. Pasien bronkiolitis akut berat

anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan

mempunyai risiko mengalami mengi berulang

laboratorium, dan pemeriksaan penunjang

2

atau asma. Sekitar 23% bayi dengan riwayat

lainnya. Anak umumnya pernah terpajan

bronkiolitis berkembang menjadi asma pada

dengan anggota keluarga yang menderita

usia 3 tahun. Bayi yang dirawat dengan

infeksi virus beberapa minggu sebelumnya.5

bronkiolitis pun mempunyai kecenderungan

Gejala awal berupa gejala infeksi respiratori-

mengalami penurunan fungsi paru pada usia 7

atas akibat virus, seperti pilek ringan, batuk,

3

tahun. Kematian akibat bronkiolitis pada bayi

dan demam. Satu hingga dua hari kemudian

4

timbul batuk yang disertai dengan sesak

sekitar 2/100.000 bayi. Namun,

dalam

praktik

sehari-hari,

napas.

8

penegakan diagnosis bronkiolitis akut sering kali salah ditegakkan sebagai asma atau bronkopneumonia. Padahal tatalaksana kasus bronkiolitis

akut

cukup

berbeda

dengan

penatalaksanaan asma dan bronkiolitis.3,7,8 Oleh karena, pengetahuan tentang penegakan diagnosis bronkiolitis penting untuk diketahui oleh dokter umum. Sebagai dokter umum, penanganan kasus bronkiolitis berada pada level kompetensi 3B. Pada level ini, dokter JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

2.1.1. Anamnesis Pada

anamnesis,

perlu

dilakukan

identifikasi faktor risiko dari bronkiolitis akut. Adapun faktor risiko bronkilitis akut adalah sebagai berikut.

3,7,9-16

1. Jenis kelamin laki-laki Bronkiolitis terjadi 1,25 kali lebih banyak pada

anak

perempuan.

3,7

laki-laki

daripada

anak

Hal ini dihubungkan dengan 95


kaliber saluran respiratorik yang relatif lebih sempit pada anak laki-laki dibanding perempuan.

9

4. Vaksinasi BCG Vaksin BCG merupakan salah satu vaksin hidup yang dilemahkan, diduga dapat

2. Bayi yang tidak mendapatkan air susu ibu

merangsang produksi IFN-Îł.

15

Linehan,

Bayi yang minum air susu ibu (ASI)

dkk pada penelitian kohort retrospektif

memiliki risiko lebih rendah mengalami

melaporkan

bronkiolitis akut dibandingkan bayi yang

mengurangi kejadian mengi {RO 0,68

tidak minum ASI. Hal ini dihubungkan

(IK95% 0,53;0,87)}.16 Adanya rangsangan

dengan ASI mempunyai antibodi terhadap

pembentukan IFN-Îł oleh BCG pada awal

respiratory syncytial virus (RSV) termasuk

kehidupan mengakibatkan keseimbangan

imunoglobulin (Ig)G, IgA, interferon- Îł

Th1/Th2 mengarah ke Th1, walaupun

(IFN-Îł),

pada usia selanjutnya terjadi rangsangan

serta

mempunyai

aktivitas

2,10

Penelitian

netralisasi melawan RSV. Bachrach

mendapatkan

bahwa

ASI

eksklusif selama 4 bulan mengurangi risiko rawat inap akibat infeksi respiratorius akut bawah.

10

bahwa

pembentukan merupakan

Th2

imunisasi

oleh

RSV

penyebab

bronkiolitis akut.

BCG

yang

terbanyak

15,16

5. Riwayat atopi Atopi merupakan salah satu faktor yang diduga sebagai predisposisi bronkiolitis

3. Bayi perokok pasif Kemungkinan kejadian bronkiolitis pada

akut. Hal ini didasari karena pasien

anak dengan ibu perokok lebih tinggi

bronkiolitis akut berat sering mengalami

dibandingkan pada anak dengan ibu yang

mengi berulang atau berkembang menjadi

tidak merokok. Asap rokok yang terdiri

asma.2

dari asap utama dan asap sampingan

peningkatan risiko bronkiolitis akut sebesar

mengandung tar, nikotin, dan poliaromatik

1,52 (IK95% 1,26;1,87) bila ibu menderita

hidrokarbon. Paparan asap rokok baik

asma.

2

prenatal

maupun

mempengaruhi

pascanatal

dapat

morfogenesis

paru

maupun perkembangan sistem imunologis anak.

11

Satu

penelitian

mendapatkan

bahwa perokok pasif meningkatkan risiko

Carroll,

dkk

mendapatkan

13

6. Cuaca Di negara dengan 4 musim, bronkiolitis banyak

terdapat

pada

musim

dingin

sampai awal musim semi, di negara tropis pada musim hujan.

8

infeksi RSV dengan rasio odd (RO) 3,87.12

Faktor risiko lain terjadinya bronkiolitis

Strachan dan Cook melaporkan rasio odd

adalah status sosial ekonomi rendah, faktor

(RO) terinfeksi RSV 1,72 bila ibu merokok.

mekanis (diameter saluran napas), kepadatan

Carroll

kohort

rumah (jumlah anggota keluarga yang besar),

retrospektif mendapatkan RR 1,19 (IK95%

berada pada tempat penitipan anak atau ke

dkk,

pada

penelitian

1,08;1,31) bila ibu perokok. lainnya

melaporkan

13

prevalensi

Peneliti infeksi

respiratorius atas akut meningkat dari

tempat-tempat rendahnya RSV.

umum

antibodi

yang

ramai,

maternal

dan

terhadap

2,3,7

81,6% menjadi 95,2% pada bayi jika hanya ayah yang merokok.14

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

96


pada bayi berusia <6 minggu. 2.1.2. Pemeriksaan Fisik mengarah ke diagnosis bronkiolitis adalah adanya takipnea, takikardi, dan peningkatan suhu di atas 38,5째C.3,7 Obstruksi saluran respiratori-bawah akibat respons inflamasi akan

menimbulkan

gejala

ekspirasi

memanjang hingga wheezing. Pada kasus yang berat mengi dapat terdengar tanpa stetoskop.

5

Usaha-usaha pernapasan untuk

mengatasi obstruksi akan menimbulkan napas cuping

hidung

Sianosis

dapat

dan

retraksi

terjadi,

Kriteria

bronkiolitis terdiri dari: (1) wheezing pertama

Pemeriksaan fisik pada anak yang

akut

3,7

dan

interkostal. bila

gejala

kali, (2) umur 24 bulan atau kurang, (3) pemeriksaan fisik sesuai dengan gambaran infeksi virus misalnya batuk, pilek, demam dan (4) menyingkirkan pneumonia atau riwayat atopi yang dapat menyebabkan wheezing.8 Untuk menilai kegawatan penderita dapat dipakai skor Respiratory Distress Assessment Instrument (RDAI), yang menilai distres napas berdasarkan

2

variabel

respirasi

yaitu

wheezing dan retraksi. Bila skor lebih dari 15 dimasukkan kategori berat, bila skor kurang 3 dimasukkan dalam kategori ringan.

17

menghebat, dapat terjadi apnea, terutama Tabel 1. Respiratory Distress Assessment Instrument (RDAI)17

2.1.3.

Pemeriksaan Peunjang Dokter

umum

biasanya

keparahan penderita. Saturasi oksigen < 95% tidak

membutuhkan pemeriksaan penunjang dalam penegakan

diagnosis

bronkiolitis

merupakan tanda terjadinya hipoksia dan merupakan indikasi untuk rawat inap. Pemeriksaan

akut.

darah

8

rutin

kurang

Diagnosis bronkiolitis akut ditegakkan secara

bermakna karena jumlah leukosit biasanya

klinis. Pemeriksaan penunjang, seperti pulse

normal, demikian pula dengan elektrolit.

oxymetry,

Pada

pemeriksaan

laboratorium,

dan

beberapa

kasus,

bronkiolitis 5

3,7

dapat

pemeriksaan radiologi dapat dilakukan bila

disertai dengan limfopenia.

diagnosis banding belum dapat disingkirkan,

dengan

pasien dengan sindrom pernapasan akut

didominasi oleh sel polimorfonuklear (PMN)

berat, dan berisiko tinggi terhadap penyakit

dan

peningkatan

bentuk

batang.

Pada pasien

lekosit 8

Kim

biasanya dkk

(2003)

18

mendapatkan bahwa ada subgrup penderita

Pulse oximetry merupakan alat yang

bronkiolitis dengan eosinofilia.

tertentu.

19

tidak invasif dan berguna untuk menilai derajat

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

97


Analisa

gas

darah

dapat

pengukuran titer antibodi pada fase akut dan

menunjukkan adanya hipoksia akibat V/Q

konvalesens.3,7

mismatch dan asidosis metabolik jika terdapat

pemeriksaan di atas sangat jarang dilakukan.

dehidrasi.

8

Analisis

gas

darah

Walaupun

demikian,

(AGD)

diperlukan untuk anak dengan sakit berat,

2.2. Diagnosis Banding

khususnya

Asma bronkial merupakan diagnosis banding

mekanik.

yang

membutuhkan

ventilator

3,7

yang tersering. Bronkiolitis harus dibedakan

Pada foto rontgen toraks, didapatkan

dengan asma pada anak usia di bawah 2

gambaran hiperinflasi dan infiltrat (patchy

tahun. Kecurigaan bronkiolitis apabila kejadian

infiltrates), tetapi gambaran ini tidak spesifik

sesak merupakan pertama kali, sedangkan

dan dapat ditemukan pada asma, pneumonia

pada asma selain tanpa disertai demam

viral atau atipikal, dan aspirasi. Dapat pula

kejadian seperti ini merupakan kejadian yang

ditemukan gambaran atelektasis, terutama

berulang. Gambaran sugestif asma bronkial

pada saat konvalesens akibat sekret pekat

adalah serangan berulang, riwayat asma

bercampur sel-sel mati yang menyumbat, air

bronkial

trapping, diafragma datar, dan peningkatan diameter antero-posterior.

8

dan

penyakit

keluarga serta eosinofilia.

3,7

Selain

asma,

alergi

lain

dalam

20

pneumonia

karena

toraks,

bakteri pun kadang-kadang sulit dibedakan

kita

apabila disertai dengan sumbatan respiratorik

mendapatkan: siluet jantung yang menyempit,

karena kaliber saluran yang masih kecil.8

jantung terangkat, diafragma lebih rendah dan

Gambaran

mendatar,

berupa demam â&#x2030;Ľ 37,8 C (100 F), neutrofilia,

Pada dikatakan

pemeriksaan hyperaerated

diameter

foto apabila

anteroposterior

dada

sugestif

pneumonia 0

bertambah, ruang retrosternal lebih lusen, iga

dan

horisontal,

pembuluh darah paru tampak

Sebaliknya, bronkiolitis biasanya tidak disertai

Namun,

demam dengan kadar leukosit normal20

tersebar.

8

ada

kecenderungan

opasitas pada

bakterial

0

foto

rontgen

toraks.

Diagnosis banding lain dari bronkiolitis

ketidaksesuaian antara gambaran klinis dan menentukan

adalah aspirasi benda asing, sistik fibrosis,

penyebab bronkiolitis, dibutuhkan pemeriksaan

dan gagal jantung. Gejala respirasi persisten

gambaran

radiologis.

Untuk 8

8

aspirasi atau bilasan nasofaring. Pemeriksaan

atau berulang dan jangka panjang disertai

serologis RSV dapat dilakukan secara cepat,

gagal tumbuh mengarahkan diagnosis ke arah

di negara maju pemeriksaan ini menjadi

sistik fibrosis. Aspirasi benda asing diperkuat

pemeriksaan rutin apabila dicurigai adanya

dengan manifestasi klinis berupa onset gejala

infeksi

RSV.

5

Untuk

menemukan

RSV

yang tiba-tiba, riwayat episode batuk atau

dilakukan kultur virus, rapid antigen detection

tersedak,

tests (direct immunofluoresence assay dan

suara.

enzyme-linked immunosorbent assays, ELISA)

dengan murmur, gagal tumbuh, edema atau

atau polymerase chain reaction (PCR), dan

riwayat gejala yang muncul perlahan.

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

wheezing ekspirasi, dan hilang

Gagal

jantung

kongestif

ditandai 18

98


Tabel 2. Perbedaan antara pneumonia, asma dan bronkiolitis20 Parameter

Pneumonia

Asma

Bronkiolitis

100%

100%

100%

0%

0%

67,1%

Tidak mau makan

22%

18,7%

44,1%

Sianosis

4%

0%

0%

Viseroptosis

0%

25%

58,8%

Krepitasi

100%

31,2%

100%

Leukositosis

72%

0%

0%

Neutrofilia

100%

0%

0%

Limfositosis

0%

0%

5,8%

Eosinofilia

0%

68,7%

0%

Batuk Riwayat infeksi saluran pernapasan atas

3. SIMPULAN

laboratorium, dan pemeriksaan penunjang

Diagnosis bronkiolitis dapat ditegakkan melalui

lainnya.

anamnesis, pemeriksaan fisis, pemeriksaan DAFTAR PUSTAKA

5. Supriyanto B. 2006. Infeksi Respiratorik

1. Paediatric Society of New Zealand. 2005. Best Practice Evidence Based Guideline. Wheeze and chest infection in infants

Bawah Akut pada Anak. Sari Pediatri; 8 (2): 100-106. 6. Konsil

Kedokteran

Indonesia.

2012.

under 1 year [internet]. [cited 2013 Jun 21].

Standar

Available

Konsil Kedokteran Indonesia; h. 31-32, 40.

from:

http//www.paediatrics.org.nz B.

2009.

Faktor-Faktor

Dokter.

Jakarta:

7. Kolegium Ilmu Kesehatan Anak Indonesia.

2. Subanada IB, Darmawan BS, Bambang S, Imam

Kompetensi

yang

Berhubungan dengan Bronkiolitis Akut. Sari Pediatri;10(6):392-396.

2008. Bronkiolitis Akut. Dalam: Modul Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Anak. Jakarta: Kolegium IKA IDAI; h.1649-1651. 8. Landia S, Retno AS, Makmuri MS. 2013.

3. Zain MS. 2010. Bronkiolitis. Dalam: Buku

Tatalaksana

Bronkiolitis (Treatment

of

Ajar Respirologi Anak Edisi Pertama.

Bronchiolitis). Naskah Lengkap Continuing

Jakarta. Badan Penerbit IDAI; h. 333-347.

Education Ilmu Kesehatan XXXV Kapita

4. Wohl

MEB.

2006.

In:

Selekta Ilmu Kesehatan Anak IV Hot

Chernick V, Boat TF, Wilmott RW, Bush A,

Topics in Pediatrics. Surabaya: Fakultas

editors. Kendigâ&#x20AC;&#x2122;s Disorder of Respiratory

Kedokteran

Tract in Children. 7

Bronchiolitis.

th

Ed. Philadelphia:

Saunders; p. 423-432.

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

Dipresentasikan

Universitas pada

Airlangga. tanggal

3-4

September 2013; h.1-21.

99


9. Watts KD, Goodman DM. 2007. Wheezing in infants: bronchiolitis. In: Kliegman RM,

Th2-type responsiveness. Am J Respir Cell Mol Biol; 27:244-9.

Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF,

16. Linehan MF, Frank TL, Hazell ML, et al.

th

2007. Is the prevalence of wheeze in

editors. Nelson Textbook of Pediatrics. 18

Ed. Philadelphia: Saunders; p. 1773-1777.

children

altered

10. Bachrach VR, Schwarz E, Bachrach LR.

vaccination?

2003. Breastfeeding and the risk of

119:1079-85.

J

by

neonatal

Allergy

Clin

BCG

Immunol;

hospitalization for respiratory disease in

17. Klassen TP. 1997. Recent advances in the

infancy: a meta-analysis. Arch Pediatr

treatment of Bronchiolitis and Laryngitis.

Adolesc Med; 157:237-243.

Pediatr Clin of North Am; 44:249-58.

11. Sanchez DD, Rumold R, Gong H. 2006.

18. Monash

Health

Foundation.

2012.

Challenge with environmental tobacco

Evidence-Based Guideline for Diagnosis

smoke exacerbates allergic airway disease

and Management of Infants and Children

in human beings. J Allergy Clin Immunol;

with

118:441-6.

Internet]. [cited May 14 2013]. Available

12. Strachan DP, Cook DG. 2007. Health effect

of

passive

smoking:

parental

Bronchiolitis

GP

Summary

[the

from: http://www.monashhealth.org/icms_docs/2

smoking and lower respiratory illness in

194_Bronchiolitis_-

infancy and childhood. Thorax; 52:905-14.

_guideline_highlights_for_GPs.pdf

13. Carroll KN, Gebretsadik T, Griffin MR, et

19. Kim CK, Kim SW, Park CS, Kim BI, Kang

al. 2007. Maternal asthma and maternal

H, Koh YY. 2003. Bronchoalveolar lavage

smoking are associated with increase risk

cytokine profiles in acute asthma and

of bronchiolitis during infancy. Pediatrics;

acute

119:1104-12.

Immunol;112: 64-71.

14. Shiva F, Basiri M, Sadeghi B, Padyab M.

bronchiolitis.

J

Allergy

Clin

20. Kumar N, Singh N, Locham KK, Garg R,

passive smoking on

Sarwal D. 2002. Clinical Evaluation of

common respiratory symptoms in young

Acute Respiratory Distress and Chest

children. Acta Paediatr; 92:1394-7.

Wheezing in Infants. Indian Pediatrics;

2003. Effect of

15. Hylkema MN, Timens W, Luinge M, van

39:478-483.

der Werf N, Hoekstra MO. 2002. The effect of Bacillus Camette-Guerin immunization depends on the genetic predisposition to

JIMKI Volume 2 No.2 | Januari- Mei 2014

100


www. bi mk e s . o r g

Or gan i z e dB y :

I k at anS e n at B adanAn al i s i sdan h as i s waKe do k t e r an P e n ge mban ganI l mi ah Ma I n do n e s i a Nas i o n al I S MKI

S u ppo r t e dB y :

Un i v e r s i t as Uday an a

Di r e k t o r at J e n dr al P e n di di k anT i n ggi

Jimki vol 2 no 2  

Berkala Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Indonesia | www.bimkes.org

Jimki vol 2 no 2  

Berkala Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Indonesia | www.bimkes.org

Advertisement