Issuu on Google+


SUSUNAN PENGURUS Penyunting Ahli Pelindung Sekretaris Jendral Persatuan Senat Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia (PSMKGI)

drg. Tetiana Haniastuti, M.Kes, Ph.D Universitas Gadjah Mada

Dr. drg. Widjijono, S.U. Universitas Gadjah Mada

drg. Lisdrianto Hanindriyo, MPH.

Penasehat drg. Retno Ardhani, M.Sc. Universitas Gadjah Mada

Universitas Gadjah Mada

drg. Margareta Rinastiti, M.Kes, Ph.D Universitas Gadjah Mada

drg. Christnawati, M.Kes, Sp.Ort Universitas Gadjah Mada

Pimpinan Umum Mutma Inna Universitas Gadjah Mada

Penyunting Pelaksana

Universitas Gadjah Mada

Septika Prismasari Universitas Gadjah Mada Apriliani Astuti Universitas Gadjah Mada Novi Atmania D. Universitas Gadjah Mada Inten Pratiwi Universitas Gadjah Mada Youvanka Arsy Winmirah Universitas Gadjah Mada

Sekretaris

Humas dan Promosi

Nanda Nur Andityas

Navilatul Ula Universitas Gadjah Mada Isti Noor Masita Universitas Gadjah Mada Muhammad Fahmi Alfian Universitas Gadjah Mada Nur Rahmawati Sholihah Universitas Gadjah Mada Diftya Twas Galih Atyasa Universitas Gadjah Mada Novaria Universitas Gadjah Mada

Pimpinan Redaksi Failasofia

Universitas Gadjah Mada

Bendahara Rika Putri S. Universitas Gadjah Mada

Tata Letak dan Layout Mika Cendy Permatasari Universitas Gadjah Mada Ratihana Nurul Indias Universitas Gadjah Mada Amalia Rachmawati S. Universitas Gadjah Mada Nur Amalia Puspitasari Universitas Gadjah Mada

i BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013


DAFTAR ISI

ISSN : 2302-6448

Susunan Pengurus................................................................................................................................... i Daftar Isi...................................................................................................................................................... ii Petunjuk Penulisan ‌‌......................................................................................................................... iii Sambutan Pimpinan Redaksi.............................................................................................................. ix

Research Hubungan Antara Durasi Hemodialisis Dengan Periodontitis Pada Pasien Dengan Gagal Ginjal Kronik (Kajian di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh) Dara Mauliza, Oki Tristanty .................................................................................................................................................................................................................................. 1

Aktivitas Antibakteri Tepung Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) terhadap Enterococcus faecalis secara In Vitro Dian R. Rinanda, Andi Y. Daulay .................................................................................................................................................................................................................................. 8

Literature Study Potensi Enzim Bromelin Pada Bonggol Nanas (Ananas comosus) Sebagai Bahan Anti Plak Dalam Pasta Gigi Muhammad A. Najib, Hendri J. Permana, Fatkhur Rizqi .................................................................................................................................................................................................................................. 16

Pentingnya Data Status Kesehatan Gigi dan Mulut Pada Kartu Menuju Sehat Ibu Hamil (Upaya Menunjang Program MDGS 2015) Irma Ariany Syam, Baiq Miftahul Fatia, Andi Fatima T .................................................................................................................................................................................................................................. 23

Ort-Card (Orthodontic Card) Sebagai Upaya Melindungi Masyarakat Terhadap Kesalahan Perawatan Akibat Pemasangan Kawat Gigi Ilegal Irma Ariany Syam, Akmalia Rosyada, Ayu Putri Djohan .................................................................................................................................................................................................................................. 30

Perawatan Apeksogenesis Dengan Mineral Trioxide Aggregate (MTA) Pada Gigi Permanen Muda Febrina Audina .................................................................................................................................................................................................................................. 36

Papain-Based Gel Sebagai Agen Chemo-Chemical Caries Removal Yang Ramah Lingkungan Dian R. Rinanda, Andi Y. Daulay .................................................................................................................................................................................................................................. 41

ii BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013


PETUNJUK PENULISAN Pedoman Penulisan Artikel Berkala Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia (BIMKGI) Indonesian Dental Student Journal

Berkala Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia (BIMKGI) merupakan publikasi ilmiah yang terbit setiap 6 bulan sekali setiap bulan maret dan September berada dibawah Dirjen Perguruan Tinggi. Dalam mempublikasikan naskah ilmiah dalam berkala ini, maka penulis diwajibkan untuk menyusun naskah sesuai dengan aturan penulisan BIMKGI. Ketentuan umum : 1. BIMKGI hanya memuat tulisan asli yang belum pernah diterbitkan oleh publikasi ilmiah lain. 2. Naskah dengan sampel menggunakan manusia atau hewan coba wajib melampirkan lembar pengesahan laik etik dari institusi yang bersangkutan. 3. Penulisan naskah : a. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dengan baik dan benar, jelas, lugas, serta ringkas. b. Naskah diketik menggunakan microsoft word dengan ukuran kertas A4, dua (2) spasi, kecuali untuk abstrak satu (1) spasi, dengan batas margin atas, bawah, kiri dan kanan setiap halaman adalah 2,5 cm. c. Ketikan diberi nomor halaman mulai dari halaman judul. d. Naskah terdiri dari minimal 3 halaman dan maksimal 15 halaman. 4. Naskah dikirim melalui email ke alamat redaksibimkgi@bimkes.org dengan menyertakan identitas penulis beserta alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Ketentuan menurut jenis naskah : 1

Penelitian asli: hasil penelitian asli dalam ilmu kedokteran gigi, kesehatan gigi masyarakat, ilmu dasar kedokteran. Format terdiri dari judul penelitian, nama dan lembaga pengarang, abstrak, dan isi (pendahuluan, metode, hasil, pembahasan/diskusi, kesimpulan, dan saran).

2

Tinjauan pustaka: tulisan naskah review/sebuah tinjauan terhadap suatu fenomena atau ilmu dalam dunia kedokteran dan kesehatan gigi, ditulis dengan memperhatikan aspek aktual dan bermanfaat bagi pembaca.

3

Laporan kasus: naskah tentang kasus yang menarik dan bermanfaat bagi pembaca. Naskah ini ditulis sesuai pemeriksaan, diagnosis, dan penatalaksanaan sesuai kompetensi dokter gigi dan dokter gigi muda. Format terdiri dari pendahuluan, laporan, pembahasan, dan kesimpulan.

iii BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013


4

Artikel penyegar ilmu kedokteran dan kesehatan gigi: naskah yang bersifat bebas ilmiah, mengangkat topik-topik yang sangat menarik dalam dunia kedokteran atau kesehatan gigi, memberikan human interest karena sifat keilmiahannya, serta ditulis secara baik. Naskah bersifat tinjauan serta mengingatkan pada hal-hal dasar atau klinis yang perlu diketahui oleh pembaca.

5

Editorial: naskah yang membahas berbagai hal dalam dunia kedokteran dan kesehatan gigi, mulai dari ilmu dasar, klinis, berbagai metode terbaru, organisasi, penelitian, penulisan di bidang kedokteran, lapangan kerja sampai karir dalam dunia kedokteran. Naskah ditulis sesuai kompetensi mahasiswa kedokteran gigi.

6

Petunjuk praktis: naskah berisi panduan diagnosis atau tatalaksana yang ditulis secara tajam, bersifat langsung (to the point) dan penting diketahui oleh pembaca (mahasiswa kedokteran gigi).

7

Advertorial: naskah singkat mengenai obat atau material kedokteran gigi dan kesimpulannya. Penulisan berdasarkan metode studi pustaka.

Ketentuan khusus : 1. Untuk keseragaman penulisan, khusus naskah Penelitian asli harus mengikuti sistematika sebagai berikut: a. Judul karangan (Title) b. Nama dan Lembaga Pengarang (Authors and Institution) c. Abstrak (Abstract) d. Isi (Text), yang terdiri atas: i. Pendahuluan (Introduction) ii. Metode (Methods) iii. Hasil (Results) iv. Pembahasan (Discussion) v. Kesimpulan vi. Saran vii. Ucapan terima kasih e. Daftar Rujukan (Reference) 2.

Untuk keseragaman penulisan, khusus naskah Tinjauan pustaka harus mengikuti sistematika sebagai berikut: a. Judul b. Nama penulis dan lembaga pengarang c. Abstrak d. Isi (Text), yang terdiri atas: i. Pendahuluan (termasuk masalah yang akan dibahas) iv

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013


ii. Pembahasan iii. Kesimpulan iv. Saran e. Daftar Rujukan (Reference) 3.

Judul ditulis dengan Sentence case, dan bila perlu dapat dilengkapi dengan subjudul. Naskah yang telah disajikan dalam pertemuan ilmiah nasional dibuat keterangan berupa catatan kaki. Terjemahan judul dalam bahasa Inggris ditulis italic.

4.

Nama penulis yang dicantumkan paling banyak enam orang, dan bila lebih cukup diikuti dengan kata-kata: dkk atau et al. Nama penulis harus disertai dengan institusi asal penulis. Alamat korespondensi ditulis lengkap dengan nomor telepon dan email.

5.

Abstrak harus ditulis dalam bahasa Inggris serta bahasa Indonesia. Panjang abstrak tidak melebihi 200 kata dan diletakkan setelah judul naskah dan nama penulis.

6.

Kata kunci (key words) yang menyertai abstrak ditulis dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Kata kunci diletakkan di bawah judul setelah abstrak. Tidak lebih dari 5 kata, dan sebaiknya bukan merupakan pengulangan kata-kata dalam judul.

7.

Kata asing yang belum diubah ke dalam bahasa Indonesia ditulis dengan huruf miring (italic).

8.

Tabel dan gambar disusun terpisah dalam lampiran terpisah. Setiap tabel diberi judul dan nomor pemunculan. Foto orang atau pasien apabila ada kemungkinan dikenali maka harus disertai ijin tertulis.

9.

Daftar rujukan disusun menurut sistem Vancouver, diberi nomor sesuai dengan pemunculan dalam keseluruhan teks, bukan menurut abjad.

Contoh cara penulisan daftar pustaka dapat dilihat sebagai berikut :

1. Naskah dalam jurnal i. Naskah standar Vega Kj, Pina I, Krevsky B. Heart transplantation is associated with an increased risk for pancreatobiliary disease. Ann Intern Med 1996 Jun 1;124(11):980-3. atau Vega Kj, Pina I, Krevsky B. Heart transplantation is associated with an increased risk for pancreatobiliary disease. Ann Intern Med 1996;124:980-3. Penulis lebih dari enam orang Parkin Dm, Clayton D, Black RJ, Masuyer E, Freidl HP, Ivanov E, et al. Childhood leukaemia in Europe after Chernobyl: 5 year follow-up. Br j Cancer 1996;73:1006-12. ii. Suatu organisasi sebagai penulis The Cardiac Society of Australia and New Zealand. Clinical exercise stress testing. Safety and performance guidelines. Med J Aust 1996;164:282-4.

v BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013


iii. Tanpa nama penulis Cancer in South Africa [editorial]. S Afr Med J 1994;84:15. iv. Naskah tidak dalam bahasa Inggris Ryder TE, Haukeland EA, Solhaug JH. Bilateral infrapatellar seneruptur hos tidligere frisk kvinne. Tidsskr Nor Laegeforen 1996;116:41-2. v. Volum dengan suplemen Shen HM, Zhang QF. Risk assessment of nickel carcinogenicity and occupational lung cancer. Environ Health Perspect 1994;102 Suppl 1:275-82. vi. Edisi dengan suplemen Payne DK, Sullivan MD, Massie MJ. Women`s psychological reactions to breast cancer. Semin Oncol 1996;23(1 Suppl 2):89-97. vii. Volum dengan bagian Ozben T, Nacitarhan S, Tuncer N. Plasma and urine sialic acid in noninsulin dependent diabetes mellitus. Ann Clin Biochem 1995;32(Pt 3):303-6. viii. Edisi dengan bagian Poole GH, Mills SM. One hundred consecutive cases of flap laceration of the leg in ageing patients. N Z Med J 1990;107(986 Pt 1):377-8. ix. Edisi tanpa volum Turan I, Wredmark T, Fellander-Tsai L. Arthroscopic ankle arthrodesis in rheumatoid arthritis. Clin Orthop 1995;(320):110-4. x. Tanpa edisi atau volum Browell DA, Lennard TW. Immunologic status of cancer patient and the effects of blood transfusion on antitumor responses. Curr Opin Gen Surg 1993;325-33. xi. Nomor halaman dalam angka Romawi Fischer GA, Sikic BI. Drug resistance in clinical oncology and hematology. Introduction. Hematol Oncol Clin North Am 1995 Apr;9(2):xi-xii.

2. Buku dan monograf lain i. Penulis perseorangan Ringsven MK, Bond D. Gerontology and leadership skills for nurses. 2nd ed. Albany (NY): Delmar Publishers; 1996. ii. Editor, sebagai penulis Norman IJ, Redfern SJ, editors. Mental health care for elderly people. New York: Churchill Livingstone; 1996. iii. Organisasi dengan penulis Institute of Medicine (US). Looking at the future of the Medicaid program. Washington: The Institute; 1992. vi BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013


iv. Bab dalam buku Philips SJ, Whisnant JP. Hypertension and stroke. In: Laragh JH, Brenner BM, editors. Hypertension: patophysiology, diagnosis, and management. 2nd ed. New York: raven Press; 1995.p.465-78. v. Prosiding konferensi Kimura J, Shibasaki H, editors. Recent advances in clinical neurophysiology. Proceedings of the 10th International Congress of EMG and Clinical Neurophysiology; 1995 Oct 1519; Kyoto, Japan. Amsterdam: Elsevier; 1996. vi. Makalah dalam konferensi Bengstsson S, Solheim BG. Enforcement of data protection, privacy and security in medical information. In: Lun KC, Degoulet P, Piemme TE, Rienhoff O, editors. MEDINFO 92. Proceedings of the 7th World Congress on Medical Informatics; 1992 Sep 6-10; Geneva, Switzerland. Amsterdam: North-Hollan; 1992.p.1561-5. vii. Laporan ilmiah atau laporan teknis a. Diterbitkan oleh badan penyandang dana/sponsor: Smith P, Golladay K. Payment for durable medical equipment billed during skilled nursing facility stays. Final report. Dallas (TX): Dept. of Health and Human Services (US), Office of Evaluation and Inspection; 1994 Oct. Report No.: HHSIGOEI69200860. b. Diterbitkan oleh unit pelaksana Field MJ, Tranquada RE, Feasley JC, editors. Helath services research: work force and education issues. Washington: National Academy Press; 1995. Contract no.: AHCPR282942008. Sponsored by the Agency for Health Care Policy and research. viii. Disertasi Kaplan SJ. Post-hospital home health care: the elderly/access and utilization [dissertation]. St. Louis (MO): Washington univ.; 1995. ix. Naskah dalam Koran Lee G. Hospitalizations tied to ozone pollution: study estimates 50,000 admissions annually. The Washington Post 1996 Jun 21;Sect A:3 (col. 5). x. Materi audiovisual HIV + AIDS: the facts and the future [videocassette]. St. Louis (MO): Mosby-Year book; 1995.

vii BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013


3. Materi elektronik i. Naskah journal dalam format elektronik Morse SS. Factors in the emergence of infectious disease. Emerg Infect Dis [serial online] 1995 Jan-Mar [cited 1996 Jun 5]:1(1):[24 screens]. Available from: URL: HYPERLINK http://www.cdc.gov/ncidod/EID/eid.htm ii. Monograf dalam format elektronik CDI, clinical dermatology illustrated [monograph on CD-ROM]. Reeves JRT, Maibach H. CMEA Multimedia Group, producers. 2nd ed. Version 2.0. San Diego: CMEA; 1995. iii. Arsip computer Hemodynamics III: the ups and downs of hemodynamics [computer program]. Version 2.2. Orlando (FL): Computerized Educational Systems; 1993.

viii BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013


SAMBUTAN PIMPINAN REDAKSI Assalamu’alaikum wr. Wb. Salam Sejahtera untuk kita semua. Menciptakan sebuah karya bukanlah hal yang mudah, dibutuhkan waktu dan proses yang panjang. Diawali dari ide yang cemerlang dan diikuti kemauan yang besar untuk merealisasikannya. Karya tulis merupakan salah satu bentuk realisasi dari ide-ide yang ada. Proses realisasi ini membutuhkan proses yaitu proses pembelajaran yang yang harus dilakukan agar mendapatkan hasil yang optimal. Mahasiswa Kedokteran Gigi saat ini dihadapkan pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat, sehingga pola berfikirnya pun dituntut untuk berkembang saling beriringan. Keadaan ini memicu munculnya ide-ide baru di dunia Kedokteran Gigi dari para mahasiswa. Banyak ide-ide yang sudah terealisasi melalui sebuah tulisan, namun masih sedikit yang muncul ke permukaan. BIMKGI inilah wadah bagi seluruh mahasiswa kedokteran gigi se-Indonesia untuk mempublikasikan karya terbaiknya. Publikasi karya ilmiah ini tidak hanya suatu usaha apresiasi dengan menampilkan karya tetapi juga suatu bentuk usaha ikut mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang Kedokteran Gigi. Selain itu, merupakan suatu usaha untuk berbagi ilmu pengetahuan bagi sesama. Proses pembelajaran dalam pe-nulisan, dari munculnya ide sampai terealisasikan menjadi sebuah karya tulis itu akan tersirat dan menjadi motivasi bagi yang lain untuk ikut berkontribusi. Banyak sekali ilmu yang dapat diambil dari seluruh karya yang dipublikasikan dalam BIMKGI baik. Seluruh artikel penelitian dan studi pustaka yang dipublikasikan dalam volume 2 edisi 1 ini dapat diakses oleh seluruh mahasiswa, praktisi, maupun masyarakat umum. Sebagai pimpinan redaksi saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pengurus BIMKGI atas ker-jasa dan kerja kerasnya sehingga dapat menerbitkan berkala ilmiah ini. Terima kasih dan apresiasi kepada seluruh penulis atas kerja keras yang dilakukan dalam usaha ikut mengembangkan ilmu pengetahuan, serta kepada Mitra Bebestari yang telah meluangkan waktu dan pikirannya untuk menilai karya ilmiah ini demi hasil yang terbaik.Semoga seluruh karya yang dipublikasikan dalam BIMKGI kali ini dapat memberikan man-faat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi , serta motivasi bagi seluruh mahasiswa kedokteran gigi untuk ikut berkontribusi dalam BIMKGI. Akhir kata, semoga seluruh harapan kami tercapai dan mohon maaf apabila terjadi kesalahan selama proses penyusunan hingga diterbitkannya Berkala Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia ini. Kritik dan saran sangat kami nantikan demi perbaikan diedisi selanjutnya. Together We Can, Together We Serve The Best! Wassalamu’alaikum wr.wb Yogyakarta, 5 Januari 2014 Failasofia

(Pimpinan Redaksi) ix BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013


Research

HUBUNGAN ANTARA DURASI HEMODIALISIS DENGAN PERIODONTITIS PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK (Kajian di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh) 1

Dara Mauliza , Oki Tristanty

1

1

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh Jln. Tgk. Tanoh Abee Kompleks FK Unsyiah Darussalam, Banda Aceh 23111 Email: t_qhey@yahoo.com

ABSTRAK Gagal ginjal kronik merupakan masalah kesehatan dunia, dengan jumlah penderita yang bertambah setiap tahun. Gagal ginjal kronik adalah penurunan fungsi ginjal secara perlahan yang berkaitan dengan penurunan laju filtrasi glomerulus. Pasien gagal ginjal kronik biasanya diberikan terapi hemodialisis untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, serta mengeluarkan produk sisa metabolisme.Pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisis sering terjadi periodontitis akibat kondisi kebersihan mulut yang buruk danmenjadi semakin parah seiring bertambahnya durasi hemodialisis yang dijalani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara durasi hemodialisis dengan periodontitis. Penelitian analitik cross sectional ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Subjek penelitian sebanyak 99 orang dengan usia 20-59 tahun. Pemeriksaan kedalaman poket periodontal dan pemeriksaan OHI-S dilakukan terhadap subjek penelitian.Berdasarkan hasil uji chi-squareÂŹÂŹ terdapat hubungan yang bermakna antara durasi hemodialisis dengan periodontitis (p < 0,05)sehingga pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara durasi hemodialisis dengan periodontitis. Katakunci: durasi hemodialisis, periodontitis, gagal ginjal kronik.

ABSTRACT Chronic renal failure is a worldâ&#x20AC;&#x2122;s health problem, with a number of patients growing rapidly each year. Chronic renal failure is a progressive decline in the renal function associated with a reduced glomerular filtration rate. Patients with chronic renal failure are usually treated by hemodialysis to maintain fluid and electrolyte balance and eliminate metabolic waste products. In chronic renal failure patients who are undergoing hemodialysis teraphy, they often experiencing periodontitis as a result of poor oral hygiene, and periodontitis can be more serious along with the increasing of undergoing hemodialysis duration. This study was aimed to analyze the relationshipbetween hemodialysis duration and periodontitis. This cross sectional study was done in Regional General Hospital dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. The subjects of this study was 99, aged between 20-59 years old.Subject was clinically examined in periodontal pocket depth and oral hygiene. Based on chi-square test, it found that there was significant relationshipbetween hemodialysis duration and periodontitis (p < 0,05). It can be concluded that in this study, there was significant relationship between hemodialysis duration and periodontitis. Keywords: hemodialysis duration, periodontitis, chronic renal failure.

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

1


1. PENDAHULUAN Gagal

diteliti di Banda Aceh. Berdasarkan hal tersebut, merupakan

peneliti tertarik untuk melihat hubungan antara

penurunan fungsi ginjal secara progresif dan

durasi hemodialisis dengan periodontitis pada

ireversibel yang berkaitan dengan penurunan laju

pasien gagal ginjal kronik di Rumah Sakit Umum

filtrasi glomerulus. Hipertensi kronik, diabetes

Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

melitus

ginjal

dan

kronik

glomerulonefritis

merupakan

penyebab paling sering dari gagal ginjal kronik.1 Hemodialisis menjadi salah satu terapi yang

2. METODE Jenis penelitian adalah penelitian analitik

sangat dibutuhkan oleh penderita gagal ginjal

cross sectional. Penelitian dilaksanakan pada

kronik

tanggal 25 Maret â&#x20AC;&#x201C; 8 April 2013.Subjek dalam

untuk

mengeluarkan

metabolisme dalam darah.

sisa-sisa

2

penelitian ini adalah pasien gagal ginjal kronik

Gagal ginjal kronik serta hemodialisis dapat

mempengaruhi

kondisi

rongga

yang menjalani terapi hemodialisis di Instalasi Hemodialisis Rumah Sakit Umum Daerah dr.

mulut.Diperkirakan 90% pasien gagal ginjal

Zainoel Abidin Banda Aceh yang memenuhi

kronik mengalami perubahan pada jaringan lunak

kriteria inklusi. Pengambilan subjek dilakukan

mulut

serta

manifestasi

3

tulang oral

rahang. Salah

yang

dapat

satu

timbuladalah

periodontitis.Periodontitispada penderita gagal

secara non probability sampling yaitu dengan purposive sampling. Kriteria Inklusinya yaitu bersedia menjadi

ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisis

subjek penelitian, usia 20-59 tahun dan memiliki

dapat disebabkan oleh produksi vitamin D yang

salah satu gigi insisivus sentralis di setiap

tidak adekuat pada ginjal sehingga terjadi

rahang, salah satu gigi insisivus lateralis di regio

resorbsi

dua dan empat, salah satu gigi premolar di regio

tulang,

keadaan

xerostomia,

dan

4

buruknya kebersihan mulut. Pasien cenderung

dua dan empat, dan gigi molar satu atau molar

lebih fokus terhadap penyakitnya dan terapi

dua di setiap regio.

hemodialisis yang sangat menyita waktu menjadi alasan kurangnya menjaga kesehatan mulut. Penelitian menunjukkan

Bayraktar

bahwa

Kriteria Eksklusinya yaitu sedang menjalani perawatan periodontal8, sedang

(2007)

mengkonsumsi antibiotik.8, pasien dengan

kedalaman

kondisi yang sangat lemah, sehingga tidak

dkk

perbedaan

5

poket periodontal signifikan pada pasien yang

memungkinkan dilakukan pemeriksaan, pasien

telah menjalani terapi hemodialisis kurang dari

yang memakai alat ortodonti cekat danpasien

tiga tahun dibandingkan dengan pasien yang

yang memiliki tambalan overhanging.

telah menjalani terapi lebih dari tiga tahun.

6

Alat penelitian yang digunakan yaitu kaca

Poket periodontal merupakan tanda klinis dari

mulut no. 4, prob periodontal UNC 15, pinset,

periodontitis.Metode yang dapat dilakukan untuk

autoklaf, medi pack, masker, sarung tangan,

mengetahui keberadaan poket periodontal serta

gelas plastik, kapas, ember kecil, tissue, alat

seberapa besar kedalamannya adalah dengan

tulis, lembar informed consent, lembar kuisioner

melakukan probing.

7

Penelitian mengenai kondisi periodontal khususnya periodontitis pada pasien gagal ginjal

seleksi subjek penelitian, lembar identitas subjek penelitian, lembar pemeriksaan poket periodontal dan lembar pemeriksaan OHI-S.

kronik yang menjalani hemodialisis belum pernah

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

2


Bahan yang digunakan yaitu

margin gingiva sampai ke dasar sulkus gingiva

Hemisealâ&#x201E;˘.Hemisealâ&#x201E;˘ adalah suatu bahan

atau poket periodontal.Hasilnya dicatat pada

hemostatik cair dengan komposisi feracrylum

formulir pemeriksaan. 4. Pemeriksaan OHI-S

(1%).

Pemeriksaan oral hygiene diperiksa

Cara kerja penelitian dilakukan dengan cara melihat daftar registrasi serta rekam medik

dengan menggunakan Oral Hygiene Index-

pasien termasuk diagnosis gagal ginjal, usia, dan

Simplified dari Green dan Vermilion

jenis kelamin. Kemudian dilakukan pengisian

(1964).Pengukuran dilakukan dengan cara

kuisioner seleksi subjek penelitian untuk

menjumlahkan Indeks Debris dan Indeks

menentukan pasien yang masuk ke dalam

Kalkulus.Pengukuran dilakukan pada gigi 16, 11,

kriteria inklusi dan eksklusi.

26, 36, 31, dan 46.

1. Informed Consent

5. Analisis Data Analisis statistik dengan uji chi-square

Pasien yang memenuhi kriteria inklusi akan diberikan informed consent serta dijelaskan

untuk melihat hubungan antara durasi

tujuan dan manfaat penelitian, prosedur

hemodialisis dengan periodontitis. 6. Masalah Etik

pemeriksaan, risiko, antisipasi terhadap risiko dan hak untuk berpartisipasi dalam penelitian ini.

Penelitian ini telah mendapat ijin dari berbagai

Pasien yang bersedia menjadi subjek penelitian

pihak terkait diantaranya Badan Etik Penelitian

kemudian diminta untuk menandatangani lembar

Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala,

persetujuan menjadi subjek penelitian dan

Program Studi Kedokteran Gigi Fakultas

kemudian dilakukan pemeriksaan klinis berupa

Kedokteran Universitas Syiah Kuala dan Rumah

kedalaman poket periodontal dan OHI-S.

Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin. Pada

2. Universal Precaution Peneliti menggunakan sarung tangan

pelaksanaan penelitian, seluruh subjek penelitian diberikan informed consent terlebih dahulu

dan masker pada saat melakukan pemeriksaan. Satu set peralatan yang dipakai untuk pemeriksaan, seperti kaca mulut, prob periodontal, dan pinset hanya dipakai sekali untuk satu orang pasien. Alat-alat tersebut telah

3. HASIL Tabel 1. Distribusi Frekuensi Subjek Penelitian Variabel

Jumlah

Persentase

(N)

(%)

<1

33

33,3

1â&#x20AC;&#x201C;3

33

33,3

>3

33

33,3

disterilisasi terlebih dahulu menggunakan autoklaf dengan suhu 1210C dan tekanan 15 psi

Durasi

(2 atm) selama 60 menit. 3. Pemeriksaan Poket Periodontal Pemeriksaan poket periodontal dilakukan pada bagian mesial gigi. Gigi yang akan diperiksa yaitu gigi 16, 21, 24, 36, 41, dan 44.4 Pemeriksaan dilakukan dengan memasukkan probe periodontal ke dalam sulkus gingiva gigi

Hemodialisis (tahun)

7

yang akan diperiksa. Kemudian diukur

Usia (tahun)

kedalaman poket periodontal, yaitu jarak dari

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

3


20 – 29

7

7,1

30 – 39

13

13,1

40 – 49

28

28,3

50 – 59

51

51,5

menderita diabetes melitus lebih banyak dibandingkan dengan yang menderita diabetes melitus, yaitu 77 subjek (77,8%). Jumlah subjek yang mengalami periodontitis parah lebih banyak dibandingkan dengan yang mengalami periodontitis moderat, yaitu 42 subjek (42,4%).

Jenis Kelamin Laki-laki

65

65,7

1. Tabulasi Silang Durasi Hemodialisis

Perempuan

34

34,3

dengan Periodontitis 25

Merokok Tidak merokok

0 99

0 100

Diabetes Melitus Diabetes Melitus

22

22,2

Tidak

77

77,8

Diabetes

Melitus

Tidak periodontitis

20

15 Periodontitis moderat

10 5 0 <1 1-3 > 3

Periodontitis parah

Durasi Hemodialisis (tahun) Gambar1. Diagram Batang Tabulasi Silang. Durasi Hemodialisis dengan Periodontitis. Keterangan: Tidak ada periodontitis = poket < 4 mm; Periodontitis moderat = poket 4-6 mm; Periodontitis parah = poket > 6 mm.

OHI-S Baik

0

0

Sedang

33

33,3

Buruk

66

66,7

Pada Gambar 1. terdapat hasil tabulasi silang antara durasi hemodialisis dengan periodontitis yang menunjukkan bahwa

Periodontitis Tidak

Jumlah Subjek

Merokok

periodontitis parah paling banyak dialami oleh 18

18,2

39

39,4

kelompok dengan durasi hemodialisis >3 tahun.

periodontitis Periodontitis

2. Tabulasi Silang Durasi Hemodialisis dengan OHI-S

Periodontitis

42

42,4

parah

Berdasarkan Tabel 1. di atas diketahui bahwa jumlah subjek untuk ketiga kelompok durasi hemodialisis adalah sama, yaitu sebanyak 33 subjek (33,3%) pada setiap kelompok. Seluruh subjek penelitian, yaitu 99 subjek (100%) tidak merokok. Jumlah subjek yang tidak

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

Jumlah Subjek

moderat

30 25 20 15 10 5 0

OHI-S baik OHI-S sedang OHI-S buruk < 1 1-3 > 3 Durasi Hemodialisis (tahun)

Gambar 2. Diagram Batang Tabulasi Silang Durasi Hemodialisis dengan OHI-S. Keterangan: OHI-S baik = skor 0,0-1,2; OHI-S sedang = skor 1,3-3,0; OHI-S buruk = skor 3,1-6,0. 4


diabetes melitus tidak dimasukkan dalam kriteria Pada Gambar 2. terdapat hasil

ekslusi.Oleh karena itu dilakukan uji analisis

tabulasisilang antara durasi hemodialisis dengan

hubungan

durasi

hemodialisis

dengan

OHI-S yang menunjukkan bahwa OHI-S buruk

periodontitis tanpa memasukkan subjek yang

paling banyak dialami oleh kelompok dengan

memiliki riwayat diabetes melitus dapat dilihat

durasi hemodialisis >3 tahun.

pada Tabel 4. Tabel 4. Analisis Hubungan Durasi Hemodialisis

3. Tabulasi Silang Periodontitis dengan OHI-S

dengan Periodontitis (2)

Tabel 2. Tabel Periodontitis dengan OHI-S

Variabel

Nilai p

Durasi hemodialisis â&#x20AC;&#x201C;

0,024*

Sedang

OHIS

Buruk

Jumlah

Persentase

Jumlah

Persentase

(N)

(%)

(N)

(%)

Periodontitis Keterangan: * = Uji chi-square, signifikansi: p < 0,05

Tidak 11

33,3

7

10,6

13

39,4

26

39,4

Berdasarkan hasil uji chi-square pada

Periodontitis

Tabel 3.dan Tabel 4. antara durasi hemodialisis

Periodontitis moderat

dengan periodontitis menunjukkan hubungan yang

bermakna

(p<0,05).

Maka

hipotesis

menyatakan

terdapat

Periodontitis 9

27,3

33

50,0

33

100

66

100

parah

penelitian

ini

yang

hubungan antara durasi hemodialisis dengan

Total

Pada Tabel 2. terdapat hasil tabulasi silang antara periodontitis dengan OHI-S yang

periodontitis, diterima. 4. PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian ini, subjek yang

menunjukkan bahwa periodontitis lebih banyak

mengalami periodontitis pada setiap kelompok

terjadi pada kelompok subjek dengan OHI-S

durasi hemodialisis adalah 72,8% untuk durasi

buruk dibandingkan kelompok subjek dengan

<1 tahun, 81,8% untuk durasi 1-3 tahun, dan

OHI-S sedang.

90,9% untuk durasi >3 tahunkarena perjalanan penyakit yang semakin kronik dan oral hygiene

Tabel 3. Analisis Hubungan Durasi Hemodialisis

yang semakin buruk seiring bertambahnya durasi

dengan Periodontitis (1)

hemodialisis.9,10

Variabel

Nilai p

Durasi hemodialisis â&#x20AC;&#x201C;

0,012*

moderat terbanyak terjadi pada kelompok

Keterangan: * = Uji chi-square, signifikansi: p < 0,05

Diabetes melitus merupakan faktor risiko sangat

terbanyak terjadi pada kelompok dengan durasi hemodialisis > 3 tahun, yaitu 52,4%, periodontitis

Periodontitis

yang

Pada penelitian ini, periodontitis parah

mempengaruhi

periodontitis, di pihak lain

terjadinya

diabetes melitus

merupakan salah satu etiologi tersering dari

dengan durasi hemodialisis 1-3 tahun, yaitu 41,0%, sementara subjek yang tidak mengalami periodontitis paling banyak terjadi pada kelompok dengan durasi hemodialisis < 1 tahun, yaitu sebesar 50,0%.

penyakit gagal ginjal kronik. Pada penelitian ini BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

5


Periodontitis dapat terjadi pada pasien

dikarenakan diabetes melitus merupakan

hemodialisis akibat kombinasi beberapa faktor,

penyebab paling sering dari gagal ginjal

yaitu produksi vitamin D yang tidak adekuat

kronik.Oleh karena itu,Diabetes melitus menjadi

akibat kerusakan ginjal yang dialami, kondisi

faktor pengganggu dalam penelitian ini. Riwayat

xerostomia, serta kondisi oral hygiene yang

diabetes melitus ditentukan dari diagnosis dokter

buruk.

4,11

Pada penderita gagal ginjal kronik,

bagian penyakit dalam di Rumah Sakit Umum dr.

terjadi penurunan produksi vitamin D, sehingga

Zainoel Abidin sebagaimana yang tertera pada

kelenjar paratiroid terstimulasi untuk mensekresi

rekam medik pasien. Dari 99 subjek terdapat 22

hormon paratiroid. Kadar vitamin D tidak dapat

subjek dengan riwayat diabetes melitus dan

bertambah karena kerusakan nefron yang

seluruhnya mengalami periodontitis.

dialami, akibatnya hormon paratiroid, TNF dan IL-I kemudian mengaktivasi terjadinya

15

Merokok juga merupakan salah satu faktor risiko dari periodontitis.Akan tetapi pada

12

penelitian ini ditemukan bahwa tidak ada subjek

Pada lain hal, kondisi xerostomia

yang memiliki kebiasaan merokok. Hal ini diakui

remodeling tulang.

berkontribusi terhadap terjadinya periodontitis

pasien bahwa mereka berhenti merokok

akibat penurunan kadar Imunoglobulin A pada

semenjak didiagnosis menderita gagal ginjal

saliva yang berfungsi sebagai pertahanan

kronik oleh dokter bagian penyakit dalam Rumah

terhadap mikroorganisme penyebab terjadinya

Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda

periodontitis.

13

Aceh.

Oral hygiene merupakan faktor penting dalam

Berdasarkan hasil uji chi-square, pada

terjadinya periodontitis.Pasien hemodialisis

penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat

memiliki prioritas yang rendah terhadap

hubungan yang bermakna antara durasi

kesehatan dan kebersihan rongga mulut, baik

hemodialisis dengan periodontitis pada pasien

dikarenakan oleh stres psikologis yang dialami

gagal ginjal kronik yang menjalani terapi

pasien maupun karena terapi hemodialisis yang

hemodialisis di Rumah Sakit Umum Daerah dr.

dijalani sangat menyita waktu.

9

Sebagaimana hasil penelitian ini yang

Zainoel Abidin Banda Aceh (p < 0,05). Pengujian dilakukan kembali dengan

menunjukkan bahwa tidak ada subjek yang

mengekslusikan subjek yang memiliki riwayat

memiliki OHI-S baik. Jumlah subjek terbanyak

penyakit diabetes melitus, kemudian didapatkan

adalah yang memiliki OHI-S buruk, yaitu 66,7%.

hasil yang serupa.Durasi hemodialisis dikaitkan

Kelompok yang memiliki OHI-S buruk terbanyak

dengan oral hygiene yang buruk sebagai salah

adalah kelompok dengan durasi hemodialisis > 3

satu faktor penyebab terjadinya periodontitis.Oral

tahun, yaitu 37,9%. Hal ini sesuai dengan

hygiene ditemukan semakin buruk seiring

penelitian yang 4,9,10

dengan bertambahnya durasi hemodialisis akibat

Diabetes melitus merupakan faktor risiko periodontitis, di sisi lain diabetes melitus

perilaku yang mengabaikan kebersihan rongga mulut pada pasien hemodialisis.4,6,9

merupakan salah satu etiologi dari gagal ginjal 14

kronik. Pada penelitian ini diabetes melitus tidak dimasukkan dalam kriteria eksklusi untuk menghindari kurangnya jumlah subjek penelitian

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

5.

SIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah

dilakukan dapat disimpulkan bahwa terdapat

6


hubungan antara durasi hemodialisis dengan periodontitis pada pasien gagal ginjal kronik di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.. 6. SARAN Bagi instansi kesehatan, diharapkan agar dapat mensosialisasikan penyakit periodontal sebagai salah satu penyakit yang berhubungan dengan gagal ginjal kronik, serta mengedukasi pasien agar dapat lebih menjaga kebersihan dan kesehatan rongga mulut. DAFTAR PUSTAKA 1. Proctor R, Kumar N, Stein A, Moles D, Porter S. Oral and dental aspect of chronic renal failure. Journal of Dental Research.2005; 84(3): 199-208. 2. Cerveró AJ, Bagán JV, Soriano YJ, Roda RP. Dental management in renal failure: patient on dialysis. Med Oral Patol Oral Cir Bucal.2008; 13(7): E41926. 3. DeRossi SS, Cohen DL. Renal Disease. In: Greenberg MS, Glick M, Ship JA, editors. Burket‟s Oral Medicine. 11th ed. Hamilton: BC Decker; 2008.p.363-65. 4. Bhatsange A, Patil SR. Assessment of periodontal health status in patients undergoing renal dialysis: a descriptive, cross-sectional study. Journal of Indian Society of Periodontology.2012; 16(1): 41 5. Gavalda C, Bgan JV, Scully C, Silvestre FJ, Milian MA, Jimenez Y. Renal Hemodialysis Patients: Oral, Salivary, Dental and Periodontal Findings in 105 adult cases. Oral Disease.1999; 5: 3001 6. Bayraktar G, Kurtulus I, Duraduryan A, Cintan S, Kazancioglu R, Yildiz A, et al. Dental and periodontal findings in hemodialysis patients. Oral Disease.2007; 13:395. 7. Eickholz P. Clinical Periodontal Diagnosis: Probing pocket depth, vertical attachment level and bleeding on probing. Perio.2004; (1): 75-80.

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

8. Marakoglu I, Gursoy UK, Demirer S, Sezer H. Periodontal status of chronic renal failure patients receiving hemodialysis. Yonsei Medical Journal.2003; 44(4): 648-52. 9. Sekiguchi RT, Pannuti CM, Silva HT, Pestana JO, Rumito GA. Decrease in oral health may be associated withlength of time since beginning dialyisis. Spec Care Dentist.2012; 32(1): 7-9. 10. Cengiz MI, Sumer P, Cengiz S, Yavuz U. The effect of the duration of the dialysis patients on dental and periodontal findings. Oral Disease.2009; 15: 339-340. 11. Akar H, Akar GC, Carrero JJ, Stenvinkel P, Lindholm B. Systemic consequences of poor oral health in chronic kidney disease patients. Clin J Am Soc Nephrol. 2011; 6: 218-26. 12. Little JW, Falace DA, Miller CS, Rhodus NL. Dental Management of Medically Compromised Patient. 6th ed. Missouri: Mosby; 2002.p.149. 13. Marcotte H, Lavole MC. Oral microbial ecology and the role of salivary immunoglobulin a. Microbiology and Molecular Biology Review.1998: 71. 14. Novak KF, Novak MJ. Risk Assessment. In: Newman MG, Takei HH, Klokkevold PR, Carranza FA, editors. Carranza’s Clinical Periodontology. 10th ed. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2006.p.602-4. 15. Mittal M, Teeluckdharry. Prevalence of Periodontal Disease in Diabetic and Non-diabetic Patients- A Clinical Study. Journal of Epidemiology.2011;10(1).

7


Research

AKTIVITAS ANTIBAKTERI TEPUNG CACING TANAH (Lumbricus rubellus) TERHADAP Enterococcus Faecalis SECARA IN VITRO Dian R. Rinanda1, Andi Y. Daulay1 1

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh Jln. Tgk. Tanoh Abee Kompleks FK Unsyiah Darussalam, Banda Aceh 23111 Email: t_qhey@yahoo.com

ABSTRAK Latar Belakang: Enterococcus faecalis adalah bakteri anaerob fakultatif yang dapat menyebabkan infeksi periapikal sekunder dan sangat resisten terhadap berbagai bahan antimikroba yang biasa digunakan pada perawatan saluran akar. Cacing tanah (Lumbricus rubellus) mengandung peptida antibakteri Lumbricin-1 dan diketahui dapat menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif, Gram negatif dan jamur, namun sangat jarang menyebabkan timbulnya resistensi. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk melihat aktivitas antibakteri tepung cacning tanah (Lumbricus rubellus) terhadap Enterococcus faecalis secara in vitro. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris yang bertujuan untuk melihat aktivitas antibakteri Lumbricin-1 dari tepung cacing tanah terhadap pertumbuhan E. faecalis secara in vitro. Enterococcus faecalis dikultur pada media CHROMagar VRE dan diinkubasi secara anaerob selama 24-48 jam pada suhu 37â °C. Bakteri diidentifikasi dengan melihat warna koloni bakteri yang tumbuh pada media CHROMagar VRE dan pewarnaan Gram, sementara uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram. Hasil Penelitian: Hasil analisis statistik dengan one way ANOVA dan uji Duncan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata (p < 0,05) antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan, namun tidak terdapat perbedaan yang nyata di antara masing-masing kelompok perlakuan. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tepung cacing tanah memiliki aktivitas antibakteri yang kuat terhadap pertumbuhan E. faecalis. Katakunci: Enterococcus faecalis, Lumbricus rubellus, peptida antibakteri, Lumbricin-1

ABSTRACT Background: Enterococcus faecalis is a facultative anerobic bacterium which can cause secondary periapical infection and is very resistant to numerous antimicrobial substances normally used during the root canal treatment. Earthworm (Lumbricus rubellus) possess antimicrobial peptide, known as Lumbricin-1 which is known to hinder the growth of Gram positive and Gram negative bacteria as well as fungi, but rarely caused resistance. Objectives: This study was conducted to observe the antibacterial activity of earthworm powder (Lumbricus rubellus) towards Enterococcus faecalis in vitro. Methods: This research was an experimental laboratory study conducted to observe the antibacterial activity of Lumbricin-1 contained in earthworm powder towards the growth of E. faecalis in vitro. Enterococcus faecalis was cultured on CHROMagar VRE media and incubated anaerobically for 2448 hours in the temperature of 37â °C. The bacterium was identified by observing the colour of the colony of the bacterium growing on the CHROMagar VRE medium and Gram staining, while antibacterial activity test was performed using disk diffusion method. Results: Statistical analysis using one way ANOVA and Duncan test showed that there was a significant difference (p < 0,05) between test and control group. Conclusion: The result of the study showed that earthworm powder possessed strong antibacterial activity towards the growth of Enterococcus faecalis. Keywords: Enterococcus faecalis, Lumbricus rubellus, antimicrobial peptide, Lumbricin-1 1. PENDAHULUAN Enterococcus faecalis merupakan bakteri Gram positif fakultatif anaerob dengan prevalensi

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

8


resistensi antibiotik yang semakin meningkat.1

Lumbricin-1 merupakan peptida antibakteri yang

Bakteri

infeksi

telah berhasil diidentifikasi dari cacing tanah

endodontik primer namun sering ditemukan

Lumbricus rubellus dan diduga bekerja dengan

dalam jumlah yang banyak pada gigi paska

cara melubangi dinding sel bakteri dan dapat

perawatan endodontik dengan lesi periapikal

mengakibatkan kematian bakteri. Peptida ini

ini

ditemukan

yang persisten.

17

pada

4-40%

Enterococcus faecalis memiliki

kemampuan untuk melekat di dinding saluran

terbukti mempunyai aktivitas antibakteri terhadap bakteri Gram negatif, Gram positif dan jamur.5

akar dan membentuk biofilm sehingga lebih resisten

terhadap

dan

(2012) membuktikan bahwa tepung cacing tanah

sebagai

(L. rubellus) dengan konsentrasi 5%, 10%, 20%,

penyebab kegagalan perawatan saluran akar, E.

40% dan 80% dalam pelarut akuades dapat

faecalis juga dikenal sebagai patogen bagi

menghambat pertumbuhan Shigella dysentriae.

manusia dan menjadi penyebab dari 80% infeksi

Biblio (2011) juga telah membuktikan bahwa

antibakteri

yang

fagositosis, diberikan.

2

antibodi

Penelitian yang dilakukan oleh Sandra

Selain

yang biasa disebabkan oleh Enterococci.

4

tepung

Prevalensi resistensi E. faecalis yang semakin tinggi telah menjadi suatu permasalahan serius

di

bidang

kedokteran,

menghambat

tanah

(L.

rubellus)

pertumbuhan

dapat bakteri

Staphylococcus aureus dan Salmonella typhii.9

khususnya

4

cacing

Penelitian

ini

dilakukan

untuk

kedokteran gigi. Tingginya jumlah E. faecalis

mengetahui aktivitas antibakteri tepung cacing

yang ditemukan pada

tanah (Lumbricus rubellus) terhadap E. faecalis.

saluran akar paska dikaitkan

Pemilihan tepung cacing tanah dari spesies L.

dengan kegagalan perawatan itu sendiri.3 Salah

rubellus sebagai bahan alam yang akan diuji

satu

berdasarkan pada teori adanya senyawa peptida

perawatan

endodontik

upaya

yang

telah

kerap

lama

dilakukan

untuk

mengatasi masalah tersebut adalah dengan

antibakteri

yaitu

melakukan penelitian mengenai bahan-bahan

antibakteri.

Senyawa

alami yang bersifat antibakteri. Cacing tanah

menghambat pertumbuhan E. faecalis secara in

(Lumbricus rubellus) merupakan salah satu

vitro,

bahan alam yang diketahui memiliki aktivitas

penelitian-penelitian selanjutnya.

sehingga

Lumbricin-1

dapat

ini

yang

diharapkan

dikembangkan

bersifat dapat pada

antibakteri. Hal ini telah dibuktikan oleh enelitian yang dilakukan Cho et al. pada tahun 1998 telah berhasil

mengisolasi

peptida

antibakteri dari cacing tanah.

yang

bersifat

5,6

2. METODE Bahan dan alat yang digunakan adalah tepung cacing tanah dari spesies Lumbricus

tanah

rubellus yang didapatkan dari LIPI Yogyakarta,

sebagian besar disebabkan oleh adanya peptida

kultur bakteri Enterococcus faecalis ATCC 29212

antibakteri yang berfungsi untuk melindungi

yang berasal dari Laboratorium Mikrobiologi

cacing tanah dari mikroorganisme patogen yang

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia,

hidup di lingkungan yang sama dengannya.

media CHROMagar VRE, media MHA, akuades,

Peptida antibakteri merupakan substrat yang

NaCl 0,9%, perangkat warna Gram, asam asetat

sangat penting karena antibodi yang ada pada

50%, Chlorhexidine (CHX) 2%, air steril, alkohol

cacing tanah tidak cukup untuk mempertahankan

70%, kertas cakram, anaerogen, timbangan

7,8

analitik, gelas ukur, cawan petri, tabung reaksi,

Aktivitas

antibakteri

cacing

diri dari serangan mikroorganisme patogen.

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

9


jarum ose, labu Erlenmeyer, pipet Eppendorf,

mikropipet dan dipindahkan ke tabung reaksi

lampu spiritus, autoklaf, sterilisator, inkubator,

steril lainnya. Supernatan dicampurkan dengan

kaleng, kapas lidi steril, vortex, jangka sorong

4,5 ml air steril dengan tujuan normalisasi asam

Kultur

dan

identifikasi

E.

faecalis

asetat 50% hingga mencapai konsentrasi 1%.

dilakukan pada media CHROMagar VRE.14 Kultur

E.

faecalis

bakteri

yang

telah

diukur

dengan

kekeruhannya tadi diswab dengan menggunakan

(streaking).

kapas lidi steril secara merata pada media MHA

Goresan diambil dari biakan murni dengan jarum

dan didiamkan selama 5 menit. Kertas cakram

ose yang sebelumnya telah dipijarkan di atas

berdiameter 6 mm yang telah disediakan masing-

lampu

telah

masing direndam dalam 1 ml larutan tepung

mengandung biakan lalu digoreskan secara zig-

cacing tanah, CHX 2% dan asam asetat 1%

zag di atas media CHROMagar VRE. Cawan

selama Âą30 menit lalu diletakkan di atas media

petri yang telah digoreskan bakteri dimasukkan

MHA dengan menggunakan pinset steril. Kertas

ke dalam kaleng yang sebelumnya telah diisi

cakram

dengan

dalam

digunakan sebagai kontrol positif, sementara

15,16

kertas cakram yang direndam dalam asam asetat

menggunakan

dilakukan

Suspensi

18

teknik

spiritus.

goresan

Jarum

anaerogen,

ose

lalu

yang

diinkubasi

inkubator selama 24 jam pada suhu 37â °C.

Koloni E. faecalis akan tampak berwarna biru toska

di

atas

Langkah

media

identifikasi

dengan pewarnaan Gram. Pembuatan

direndam

digunakan

dalam

sebagai

CHX

kontrol

2%

negatif.

10

Selanjutnya media dimasukkan ke dalam kaleng

dilakukan

yang sebelumnya telah diisi dengan anaerogen,

CHROMagar selanjutnya

1%

yang

VRE.

21,22,23

lalu diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37â °C. faecalis

Setelah 24 jam, zona terang yang terbentuk akan

dilakukan dengan memindahkan 1-2 ose koloni

diukur dengan menggunakan jangka sorong.

E. faecalis dari cawan petri ke dalam tabung

Perlakuan

reaksi

berisi

suspensi

larutan

NaCl

E.

0,9%

dengan

menggunakan jarum ose. Selanjutnya kekeruhan

akan

sebanyak 4 kali.

dilakukan

pengulangan

6,16,17,18

Hasil

pengukuran

yang

didapat

suspensi diukur menggunakan spektrofotometer

dinyatakan dalam satuan milimeter (mm) dan

dengan panjang gelombang 625 nm dan nilai

diinterpretasikan

absorbansi

dengan

hambat antibakteri menurut Davis dan Stout.19,20

McFarland 0,5 atau 1,5x10 colony forming unit

Data yang diperoleh dari penelitian ini akan

0,08-0,1

atau

setara

8

(CFU)/ml.

15,17

berdasarkan

kategori

daya

dianalisis menggunakan one way ANOVA yang

Pembuatan larutan tepung cacing tanah

kemudian akan dilanjutkan dengan uji Duncan.

21

dilakukan dengan menambahkan 300 mg, 400 mg, 500 mg dan 600 mg dimasukkan dalam tabung reaksi steril. Sebanyak 2,5 ml asam

3. HASIL Hasil

uji

aktivitas

antibakteri

asetat 50% ditambahkan pada tiap-tiap tabung

menunjukkan bahwa tepung cacing tanah pada

lalu dihomogenkan dengan vortex selama 8

konsentrasi 300mg/5ml, 400mg/5ml, 500mg/5ml

menit. Berikutnya ditambahkan lagi 2,5 ml asam

dan 600mg/5ml dalam pelarut asam asetat 50%

asetat 50% pada setiap tabung dan divortex lagi

dapat menghambat pertumbuhan E. faecalis.

selama 7 menit. Supernatan pada permukaan

Berdasarkan

larutan

diameter zona hambat yang terbentuk dari

diambil

sebanyak

0,1

ml

dengan

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

klasifikasi

Davis

dan

Stout,

10


larutan

tepung

300mg/5ml,

cacing

400

tanah

mg/5ml,

konsentrasi

500mg/5ml

dan

Tanah dengan Pelarut Asam Asetat 50% dan Kelompok Kontrol terhadap Enterococcus faecalis.

600mg/5ml dengan pelarut asam asetat 50% termasuk dalam kategori kuat dengan rata-rata diameter zona hambat 11,25 mm, 13 mm, 12,25 mm dan 11,75 mm.

Data pada Gambar 2 menunjukkan ratarata diameter zona terang terbesar terdapat pada konsentrasi 400mg/5ml yaitu 13 mm, dan ratarata

diameter

konsentrasi

zona

terang

300mg/5ml

yaitu

terkecil

pada

11,25

mm,

sedangkan pada kontrol negatif (asam asetat 1%) tidak terbentuk zona hambat. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Statistical Gambar 1. Hasil Uji Larutan Tepung Cacing

Package for the Social Sciences (SPSS), hasil uji normalitas menunjukkan sebaran data pada

Tanah terhadap E. faecalis

keseluruhan konsentrasi larutan tepung cacing

X

Perlakuan

P0 (Asam asetat 0,1%) P1 (Larutan tepung cacing tanah konsentrasi 300mg/5ml) P2 (Larutan tepung cacing tanah konsentrasi 400mg/5ml) P3 (Larutan tepung cacing tanah konsentrasi 500mg/5ml) P4 (Larutan tepung cacing tanah konsentrasi 600mg/5ml)

± SD

0,00a ± 0,00 11,25b ± 1,26

normal.

Selain

itu

pada

hasil

uji

homogenitas diperoleh nilai Sig. 0,077 yang berarti nilai p > 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data tersebut homogen. Hasil uji one way ANOVA menunjukkan

13,00b ± 0,82

bahwa nilai Fhitung sebesar 172,655 lebih besar daripada nilai Ftabel yang bernilai 3,06 sehingga

b

12,25 ± 0,96

dapat disimpulkan bahwa hipotesis diterima. Dengan kata lain tepung cacing tanah memiliki

11,75b ± 0,50

aktivitas antibakteri yang nyata terhadap E. fecalis. Hasil uji Duncan penelitian ini dapat

c

P5 (CHX 2%)

tanah

26,25 ± 2,50

dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Perbandingan Aktivitas Antibakteri

Rata-rata Zona Hambat Enterococcus faecalis Pada Berbagai Perlakuan

10

dengan Uji Duncan pada Taraf Kritis 5% Keterangan: Superscript huruf yang berbeda

26.25

30 20

Tepung Cacing Tanah terhadap E. faecalis

11.25

13

menunjukkan perbedaan yang nyata. 12.25 11.75 0

0

Tabel 1. menunjukkan bahwa semua konsentrasi uji menunjukkan perbedaan yang nyata dengan kontrol negatif (yang ditunjukkan dengan superscript yang berbeda). Hal ini

Gambar 2. Diagram Batang Zona Hambat

menunjukkan bahwa kontrol negatif mampu

Berbagai Konsentrasi Larutan Tepung Cacing

menekan heterogenitas galat dan terlihat jelas

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

11


bahwa larutan tepung cacing tanah dalam

penelitian digunakan pelarut yang bersifat asam,

berbagai konsentrasi memiliki aktivitas antibakteri

yaitu asam asetat.22

terhadap E. faecalis. Larutan tepung cacing tanah

konsentrasi

500mg/5ml aktivitas

300mg/5ml,

dan

600mg/5ml

antibakteri

yang

400mg/5ml, menunjukkan

sama.

Aktivitas

antibakteri yang paling kuat ditunjukkan oleh kontrol positif, yaitu CHX 2%.

Hidrofobisitas Lumbricin-1 menentukan aktivitas antibakteri yang dimilikinya, karena hidrofobisitasnya

akan

berhubungan

secara

langsung dengan cara pelarutannya. Lumbricin-1 merupakan bersifat

peptida

yang

22%

5

Peptida

hidrofobik.

molekulnya yang

hidrofobisitasnya <25% biasanya akan larut 4. PEMBAHASAN

dalam air.

Kemampuan (Lumbricus

tepung

rubellus)

dalam

cacing

22

Penelitian yang dilakukan oleh

tanah

Ekasari dkk. (2012) mengenai daya antibakteri

menghambat

tepung cacing tanah terhadap Vibrio harveyi

pertumbuhan E. faecalis menunjukkan bahwa

menggunakan

cacing tanah L. rubellus mengandung Lumbricin-

penelitian ini tidak menemukan adanya zona

1 yang bersifat antibakteri.

5,6

Hasil tersebut juga

hambat

air

sebagai

terbentuk.11

yang

pelarut,

Hal

namun

ini

dapat

menunjukkan bahwa konsentrasi larutan tepung

disebabkan oleh muatan positif yang dimiliki

cacing

selalu

Lumbricin-1, sehingga asam asetat 50% tetap

menghasilkan diameter zona hambat yang besar

merupakan pilihan yang lebih baik dibandingkan

pula. Pada konsentrasi 300mg/5ml tepung cacing

dengan air. Selain itu, agar peptida yang ada

tanah yang digunakan lebih sedikit dibandingkan

larut dengan sempurna, untuk cara pelarutannya

yang lain, begitu juga peptida yang terlarut

digunakan metode drop wise, dimana pelarut

sehingga aktivitas antibakterinya lebih sedikit

yang berupa asam asetat ditambahkan ke tepung

dibandingkan yang lain. Aktivitas antibakteri

cacing tanah secara bertahap, dan masing-

meningkat pada konsentrasi 400mg/5ml, namun

masing

tanah

yang

tinggi

tidak

tahap

diikuti

kembali menurun pada konsentrasi 500mg/5ml

menggunakan vortex.

dan

ditambahkan

600mg/5ml.

Penurunan

aktivitas

ini

ke

16

dengan

Selanjutnya air steril

dalam

larutan

konsentrasi

terlalu tinggi dibandingkan dengan pelarutnya,

Pengenceran ini dilakukan karena asam asetat

sehingga larutan menjadi jenuh dan sulit untuk

konsentrasi

larut.

1%

asetat

mencapai

hingga

disebabkan oleh kadar tepung cacing tanah yang

6

asam

pelarutan

merupakan

1%.

konsentrasi

normalisasi dimana tidak lagi ditemukan efek lisis Kelarutan peptida sangat bergantung

pada faktor karakteristik pelarut dan zat terlarut merupakan

faktor

penting

yang

harus

terhadap sel.17 Aktivitas bergantung

peptida

pada

antibakteri

sangat

kemampuannya

untuk

diperhatikan. Lumbricin-1 adalah peptida yang

memasuki membran sel. Peptida antibakteri dan

bermuatan +1 yang dibentuk dari 10 asam amino

membran sel bakteri harus memiliki interaksi

bermuatan positif dan 9 asam amino yang

elektrostatik yang hanya akan terjadi bila ada

bermuatan

negatif.

7

Peptida

yang

memiliki

perbedaan

muatan

antara

keduanya.

8,12,13,24

muatan +1 atau lebih hanya akan larut dalam

Dinding sel bakteri Gram positif seperti E.

larutan yang bersifat asam. Oleh sebab itu pada

faecalis mengandung 90% peptidoglikan serta lapisan tipis asam teikoat dan asam teikuronat

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

12


yang bermuatan negatif, sedangkan peptida antibakteri,

khususnya

muatan positif.

5,8,25

Lumbricin-1

memiliki

Perbedaan muatan ini akan

menyebabkan peptida tertarik ke sel hingga akhirnya memasuki membran sel bakteri. Penelitian

sebelumnya

5,8,12,13

menyimpulkan

bahwa peptida antibakteri dapat membunuh mikroorganisme dengan membuat lubang-lubang kecil, meningkatkan permeabilitas dan merusak membran sel. Setelah berhasil memasuki sel,

Gambar 6. Prolin pada Struktur Asam Amino

peptida antibakteri akan mengikatkan dirinya

Lumbricin-1

pada

DNA

sel

makromolekul

dan dan

menghambat DNA

menyebabkan kematian sel.

sel

sintesis

Sampai saat ini telah banyak ditemukan

sehingga

peptida antibakteri dari berbagai sumber yang

5,24

kaya akan prolin, seperti apidaecin, drosocin,

Karakteristik lainnya yang dimiliki oleh

metchnikowin, bactenecin dan PR-39. Semua

Lumbricin-1 adalah kandungan asam amino

peptida antibakteri ini bermuatan positif dan

prolinnya yang sangat tinggi, dimana

memiliki kandungan prolin yang tinggi, namun

dari 62

asam amino yang dimiliki oleh Lumbricin-1, 15%

memiliki

diantaranya merupakan prolin, seperti yang

Apidaecin, bactenecin dan PR-39 hanya memiliki

5

aktivitas antibakteri yang berbeda.

ditunjukkan oleh Gambar 6.1. Prolin memiliki

aktivitas antibakteri terhadap bakteri Gram positif.

kemampuan untuk mengubah bentuk rantai

Drosocin memiliki aktivitas antibakteri terhadap

peptida dan menutupi bagian yang dikenali

bakteri Gram positif dan Gram negatif, namun

sebagai antigen oleh sel bakteri. Saat memasuki

tidak aktif terhadap jamur. Metchnikowin aktif

membran sel, peptida akan dikenali sebagai

terhadap bakteri Gram positif dan jamur, namun

bagian dari sel bakteri, bukan suatu benda asing

tidak

sehingga peptida antibakteri tidak akan diserang

Lumbricin-1

oleh

antibakteri terhadap bakteri Gram positif, Gram

sel.

aktivitas

Mekanisme membranolitik

ini

dapat

bakteri

diketahui

Gram

memiliki

negatif. aktivitas

negatif dan jamur. Hal ini menunjukkan bahwa

peptida antibakteri dapat menetukan target dan

Lumbricin-1 memiliki mekanisme yang berbeda

menyerang sel dengan leluasa. Hal inilah yang

dengan peptida antibakteri kaya-prolin yang lain,

menyebabkan Lumbricin-1 dapat menyerang

namun sayangnya sampai saat ini mekanisme

berbagai

kerja

bakteri

toksisitas sel pejamu.

tanpa

bakteri

terhadap

sampai

sel

sel

mencegah

aktif

menyebabkan

5,12

Lumbricin-1

dalam

menghambat

pertumbuhan bakteri dan jamur belum diketahui dengan pasti.5,15 5. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan disimpulkan

bahwa

(Lumbricus

rubellus)

hasil

penelitian

dapat

cacing

tanah

tepung dapat

menghambat

pertumbuhan Enterococcus faecalis. Hal ini

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

13


disebabkan

karena

tepung

cacing

tanah

5.

Cho JH, Park CB, Yoon YG, Kim SC.

mengandung peptida Lumbricin-1 yang bersifat

Lumbricin

antibakteri.

antimicrobial peptide from the earthworm:

Penelitian aktivitas

ini

antibakteri

(Lumbricus

menunjukkan tepung

rubellus)

cacing

berasal

dari

I,

a

novel

proline-rich

bahwa

purification, cDNA cloning and molecular

tanah

characterization. Biochimica et Biophysica

peptida

antibakteri yang dimilikinya, yaitu Lumbricin-1.

Acta 1998; 1408: 67-76. 6.

Julendra

H,

Sofyan

A.

Uji

in

vitro

Berdasarkan hasil tersebut, perlu dilakukan

penghambatan aktivitas Escherichia coli

penelitian

dengan tepung cacing tanah (Lumbricus

aktivitas

lanjutan

untuk

antibakteri

Enterococcus

mengoptimalkan

Lumbricin-1

faecalis

rubellus). Media Peternakan 2007; 30: 41-7.

terhadap

dan

berbagai

7.

dilakukan

agar

potensi

Lumbricin-1

8.

Soil

Biology:

biology

of

Tasiemski

A.

Antimicrobial

peptides in

annelids. ISJ 2008; 5: 75-82.

sebagai bahan antibiotik baru yang non-resisten dan non-toksik serta mudah disintesis dapat

A.

earthworms. Berlin: Springer, 2011. p. 1.

mikroorganisme resisten lainnya. Hal ini penting untuk

Karaca,

9.

Sandra M. Uji efektivitas tepung cacing

dikembangkan dengan baik di masa yang akan

tanah

Lumbricus

rubellus

datang.

menghambat pertumbuhan bakteri Shigella dysenteriae

secara

DAFTAR PUSTAKA

Fakultas

Kedokteran

1.

Hidron AI, Edwards JR, Patel J, Horan TC,

Pembangunan Nasional “Veteran”, 2012. p.

Sievert DM, Pollock DA, et al. Antimicrobial-

6-7.

resistant

pathogens

healthcare-associated

associated infections:

with annual

3.

Jakarta:

Universitas

10. Kayaoglu G, Orstavik D. Virulence factors of Enterococcus

faecalis:

relationship

to

endodontic disease. Crit Rev Oral Biol Med

healthcare safety network at the Centers for

2004; 15: 308-20. 11. Ekasari, Tjahjaningsih W, Cahyoko Y. Daya

2008; 29: 996-1010.

antibakteri tepung cacing tanah (Lumbricus

Matthew S, Boopathy T. Enterococcus

rubellus) terhadap pertumbuhan bakteri

faecalis: an endodontic challenge. KSR

Vibrio harveyi secara in vitro. Jurnal Ilmiah

2011; 33-7.

Perikanan dan Kelautan 2012; 4: 1-6.

Stuart CH, Schwartz SA, Beeson T J, Owatz

12. Yeaman MR, Yount NY. Mechanism of

CB. Enterococcus faecalis: Its role in root

antimicrobial peptide action and resistance.

canal treatment failure and current concepts

Pharmacol Rev 2003; 55: 27-55.

in retreatment. J Endod 2006; 32: 93-8. 4.

vitro.

summary of data reported to the national Diseases Control and Prevention. CDC

2.

in

dalam

13. Zasloff

M.

Antimicrobial

peptides

of

Portenier I, Waltimo TMT, Haapasalo M.

multicellular organisms. Nature 2002; 415:

Enterococcus

389-95.

survivor

and

faecalis: “star”

the in

root

canal

post-treatment

14. Anonymous. CHROMagar VRE. Access on:

disease. Endodontic Topics 2003; 6: 135-

http://chromagar.com/fichiers/1259769034IF

59.

U_CHROMagar_VRE.pdf, Oktober 2012.

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

14


15. Brown

Bensonâ&#x20AC;&#x2122;s

AE.

Microbiological

Applications: laboratory manual in general th

microbiology. 9

ed. New York: McGraw-

Hill, 2005. p. 73, 96. teknik

Fremont: EGT Group, 2008. p. 1-2. 24. Park CB, Kim HS, Kim HC. Mechanism of action of the antimicrobial peptide buforin II:

16. Hadioetomo RS. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek:

23. AnaSpec Inc. Peptide Solubility Guidelines.

dan

prosedur

dasar

buforin

II

microorganisms

by

penetrating the cell membrane and inhibiting

laboratorium. Jakarta: Gramedia, 1985. hal.

cellular

32.

Biophysical

17. Vandepitte J, Verhaegen J, Engbaek K,

kills

functions. Research

Biochemical

and

Communications

1998; 1: 253-257.

Rohner P, Piot P, Heuck CC. Basic Laboratory

Procedures nd

Bacteriology. 2

in

Clinical

ed. Geneva: World Health

Organization, 2003. p. 84, 86-9. 18. Rinanda

T,

25. Madigan MT, Martinko JM, Parker J. Brock th

Biology of Microorganism. 10

ed. Illinois:

Southern Illinois University, 2003. p. 110.

Hidayaturrahmi,

Juwita.

Karakterisasi SDS-Page lumbricin-1 serta uji aktivitas antibakteri tepung cacing tanah (Lumbricus rubellus) terhadap isolat klinis Pseudomonas ciprofloxacin

aeruginosa dan

resisten

meropenem.

Fakultas

Kedokteran Universitas Syiah Kuala, 2012. hal. 25. Laporan Hasil Penelitian Dosen Muda. 19. Marsa, RD. Efek antibakteri ekstrak lerak dalam pelarut etanol terhadap Enterococcus faecalis

(penelitian

Fakultas

in

Kedokteran

vitro). Gigi

Medan:

Universitas

Sumatera Utara, 2010. hal. 19. Skripsi. 20. Dharmawati IG. Efek ekstrak mengkudu dalam

menghambat

pertumbuhan

Streptococcus mutans penyebab dental plak secara

in

vitro.

Program

Studi

Ilmu

Kedokteran Biomedik Universitas Udayana, 2011. hal. 4. Tesis. 21. Dahlan, MS. Statistika untuk Kedokteran dan Kesehatan. ed.4. Jakarta: Salemba Medika; 2009. hal. 83-95. 22. ProImmune. Peptide solubility. Access on: http://www.thinkpeptides.com/peptidesolubili ty.html, Desember 2012.

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

15


Literature Study

POTENSI ENZIM BROMELIN PADA BONGGOL NANAS (Ananas comosus) SEBAGAI BAHAN ANTI PLAK DALAM PASTA GIGI 1

1

1

Muhammad A. Najib, Hendri J. Permana, Fatkhur Rizqi 1

Fakultas Kedokteran Gigi Correspondence : Universitas Jember Jalan Kalimantan no. 37, Jember-Jawa Timur Email:dent.ainun@gmail.com

ABSTRAK Pembentukan plak diawali dari adanya proses kolonisasi bakteri yang berinteraksi dengan pelikel pada permukaan gigi. Pembentukan pelikel pada dasarnya merupakan proses perlekatan protein dan glikoprotein saliva pada permukaan gigi. Bakteri melekat pada pelikel dengan bantuan suatu molekul spesifik pada permukaanya. Penggunaan pasta gigi dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut lazim digunakan dalam masyarakat. Penambahan zat aktif pada pasta gigi sudah banyak dilakukan oleh para ahli. Bonggol nanas merupakan limbah dari buah nanas yang jarang dimanfaatkan. Bonggol nanas mengandung enzim bromelin yang merupakan suatu enzim proteolitik. Kajian ini bertujuan untuk membahas manfaat enzim bromelin sebagai bahan anti plak yang ditambahkan ke dalam dalam pasta gigi. Kandungan asam amino yang terbanyak dalam pelikel adalah arginin dan glutamin. Enzim bromelin dapat memecah ikatan asam amino antara arginin-alanin dan glutamine-alanin yang digunakan bakteri sebagai media perlekatan, sehingga dapat menghambat perlekatan antara bakteri dengan pelikel. Selain itu, enzim bromelin pada bonggol nanas sudah teruji biokompabilitas terhadap jaringan rongga mulut, sehingga aman pada saat pemakaiannya. Berdasarkan kajian di atas, dapat disimpulkan bahwa enzim bromelin pada bonggol nanas berpotensi sebagai bahan anti plak melalui mekanisme penguraian media perlekatan bakteri pada permukaan gigi. Kata kunci: bonggol nanas,bromelin, anti plak.

ABSTRACT Early plaque formation begins of colonizing bacteria which interact with surface pellicle tooth. Pellicle formation is essentially a process of attachment of salivary proteins and glycoproteins on the tooth surface. Bacteria attached to the pelikel with the help of specific molecules on the surface. Generally, the people use dentrifrice to keep healthy teeth and mouth. The addition of active ingredient in dentrifrice has been caried out by the experts. Pineapple hump is a waste product rarely used. Hump pineapple contains the enzyme bromelain which is a proteolytic enzyme. This study aims to discuss enzyme bromelain as an anti-plaque material can be added in toothpaste. The highest amino acid content in pellicle are arginine and glutamine. The enzyme bromelain can break the bond between the amino acids (arginin-alanine and glutamine-alanine ) for bacterial attachment, so that it can inhibit the attachment of bacteria to pellicle. In addition, the enzyme bromelain in pineapple lamp test the biocompatibility of the oral tissues, so it is safe when used. Based on this study can conclude that the enzyme bromelain in pineapple hump as anti-plaque material, which really through decomposition mechanism of bacterial attachment on tooth surfaces. Keywords: Pinnaple hump, bromelain, anti-plaque.

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

16


1. PENDAHULUAN

berfungsi

Nanas (Ananas comosus) merupakan

sebagai

antisenisitivitas

dan

antibakteri,

antiplak,

antiinflamasi.

Tujuan

tanaman yang tumbuh subur didaerah yang

penambahan komponen aktif tersebut adalah

beriklim

menghambat

tropis

termasuk

indonesia.

Nanas

terbentuknya

plak

sehingga

mengandung enzim proteolitik yaitu bromelin

dampaknya dapat mengurangi berbagai penyakit

yang lebih banyak terdapat pada bonggolnya.

gigi dan mulut lainya.

Enzim tersebut dapat mengurai atau memecah

Pemanfaatan

protein.

1,2

komponen

aktif

bahan

dalam

herbal

pasta

gigi

sebagai mulai

Enzim bromelin dapat memecah ikatan

dikembangkan dalam kedokteran gigi seiring

protein termasuk glutamin-alanin yang digunakan

dengan semangat back to nature saat ini. Bahan

bakteri sebagai media perlekatan, sehingga

herbal dianggap masyarakat relatif lebih aman

dapat menghambat perlekatan antara bakteri

dibanding bahan-bahan sintetis. Oleh karena itu,

dengan pelikel. Pelikel merupakan selapis tipis

pencarian

glikoprotein yang mengawali terbentuknya plak.

kemampuan

Plak adalah faktor yang mendasari terjadinya

sangat populer. Bahan herbal seperti enzim

3,4,5,6

bromelin dari bonggol nanas yang telah terbukti

karies dan berbagai penyakit periodontal.

Populasi mikroba dalam plak sekitar 72-102 juta/mg berat

basah setelah 24 jam

dan

hari.

setara

biokompatibilitasnya

herbal

yang

memiliki

dengan

bahan

sintesis

diduga

efektif

bahan aktif antiplak dalam pasta gigi.

meningkat menjadi 80-132 juta/mg setelah 3 7

bahan

sebagai

2

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis ingin mengkaji potensi enzim bromelin

Pencegahan

pembentukan

plak

merupakan hal penting dalam menghindari karies

pada bonggol nanas (Ananas comosus) sebagai bahan antiplak pada pasta gigi.

gigi. Pada dasarnya pembersihak plak dapat dilakukan dengan alat-alat mekanis dan kimiawi.

2. TINJAUAN PUSTAKA

Pembersihan

2.1 Enzim Bromelin pada Bonggol Nanas

mekanis

dimaksudkan

dapat

menghilangkan plak secara psikomotorik oleh

Nanas merupakan tanaman buah berupa

pasien dengan bantuan alat khusus seperti sikat

semak yang berasal dari Brasilia (Amerika

8,6

yang

Selatan) dan memiliki nama ilmiah Ananas

mempengaruhi terbentuknya plak yaitu diet,

comosus. Buah nanas mengandung satu enzim

gigi

dan

dental

floss.

Faktor

faktor saliva dan karakteristik permukaan gigi.

9

Penggunaan pasta gigi dilakukan untuk menambah

pembersihan

Enzim bromelin merupakan enzim hidrolase yang

ketika

aktif pada protein. Berdasarkan sumbernya,

menggosok gigi. Perkembangan komposisi pasta

enzim protease ada bermacam-macam yaitu

gigi terus mengalami perubahan, sejalan dengan

papain, ficin, dan bromelin yang merupakan

kemajuan di dunia kedokteran gigi. Efek yang

protease asal tanaman; tripsin yang merupakan

menguntungkan

enzim protease dari pankreas; pepsin dan renin

dari

mekanis

yang penting yang dikenal dengan bromelin.2

pasta

gigi

sangat

bergantung pada frekuensi, cara menyikat dan komponen yang terkandung didalamnya.

10

yang

merupakan

protease

dari

persit.

11

Pada

Berdasarkan sifat-sifat kimia dari lokasi aktif,

dasarnya komponen pasta gigi terdiri dari basis

maka enzim bromelin termasuk dalam golongan

pasta dan komponen aktif. Komponen aktif

enzim protease sulfihidril, yang artinya memiliki

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

17


residu sulfidril (sistenil dan histidil) pada lokasi

keaktifan enzim lebih rendah karena energi

aktif. Susunan asam amino yang mengandung

kinetik molekul substrat maupun enzim menjadi

gugus sistein pada sisi aktifnya sebagai berikut :

rendah sehingga kecepatan reaksi

-Cys – Gly – Ala – Cys – Trp –Asn – Gly – Asp –

rendah.

Pro – Cys – Gly – Ala – Cys – Cys – Trp.

12

menjadi

d. Konsentrasi dan waktu

Konsentrasi enzim bromelin pada bagian bonggol

Konsentrasi enzim yang berlebih dan

nanas lebih tinggi dibandingkan dengan daging

waktu yang lebih lama akan mengakibatkan

13

nanas.

kecepatan

Tabel 1. Kandungan Enzim Bromelin pada 13

Tanaman Nanas

Persen (%)

enzim

menurun,

karena

konsentrasi substrat efektif untuk tiap molekul enzim.

Bagian

katalis

Bertambahnya

menyebabkan

daya

molekul kerja

enzim

enzim

akan

sebagai

katalisator menjadi lebih lama yang tergantung

Tanaman Buah utuh masak

0,060 – 0,080

Daging buah masak

0,080 – 0,125

Kulit buah

0,050 – 0,075

Tangkai

0,040 – 0,060

Batang

0,100 – 0,600

Buah utuh mentah

0,040 – 0,060

Daging buah mentah

0,050 – 0,070

Aktifitas enzim bromelin dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu :

pula dengan konsentrasi yang ada.12 2.2 Plak Gigi Acquired

pellice

merupakan

lapisan tipis, amorf, translusen, halus, tidak berwarna,

tidak dijumpai adanya bakteri dan

apabila dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron akan tampak aseluler, afibriler, dan merupakan masa yang homogen. Acquired pellice terbentuk dalam waktu singkat

a. Kematangan buah

suatu

yaitu

dalam beberapa menit setelah gigi dibersihkan

Semakin matang buah nanas, maka

dan belum tampak adanya bakteri. 5,13,14

keaktifan enzim bromelin dalam buah tersebut

Protein merupakan komponen utama

semakin berkurang. Hal ini disebabkan pada

dari acquired pellice. Pembentukan acquired

waktu pematangan buah terjadi pembentukan

pellice pertama kali disebabkan adanya adsorbsi

senyawa tertentu, dalam hal ini enzim mungkin

selektif dari Ca , F , HPO4 , dan protein saliva

ikut terpakai dalam senyawa tersebut sehingga

termasuk

sebagian struktur enzim akan rusak, akibatnya

dipermukaan enamel. Dalam hal ini kelompok

keaktifan berkurang.

fungsional yang terlibat pada interaksi hidroksi

b. pH

2+

-

2-

glikoprotein

pada

hidroksi

apatit

apatit protein adalah kelompok asam yang Aktivitas optimal dari enzim ini adalah

bermuatan negatif, antara lain seperti karboksil

pada derajat keasaman (pH) sebesar 6,5. Nilai

(COO-), fosfat (H2PO4 dan HPO42-) dan kelompok

pH

sulfat (HSO4-) dan kelompok amino (NH3+) yang

terlalu

tinggi

atau

rendah

akan

mengakibatkan terjadinya beberapa perubahan

bermuatan

yaitu

bermuatan negatif dapat langsung terikat pada

denaturasi

protein

dengan

kecepatan

katalisa menurun.

asam

yang

jembatan kalsium pada ion sulfat yang terdapat

Suhu yang paling baik adalah 30°C, suhu dan

Kelompok

ion kalsium atau secara tidak langsung melalui

c. Suhu

diatas

positif.

dibawah

30°C

pada permukaan hidroksi apatit. Sebaliknya,

mengakibatkan

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

18


kelompok basa yang bermuatan positif dapat

menahan bakteri pada permukaan gigi dengan

terikat

daya

langsung

pada

permukaan mineral. terbanyak

di

15

sulfat

Komposisi protein yang

kelenjar

submandibular

kelompok

saliva

terdiri

parotis dari

dan asam

kohesi

bakteri.

Dengan

demikian,

terbentuklah plak gigi, dimana akan terjadi kolonisasi yang lebih lanjut dengan bakteri yang akan membentuk lingkungan bakteri baru.

17

glutamat/glutamin dan tirosin. Selain itu, pada kelenjar arginin.

parotis juga terdapat

histidin

dan

2.3 Pasta gigi

16

Pengendalian

plak

adalah

upaya

Setelah terbentuknya acquired pellice

membuang dan mencegah penumpukan plak

maka mulai tampak adanya koloni bakteri pada

pada permukaan gigi. Upaya tersebut dapat

permukaan gigi.

13,14

Perlekatan bakteri terbentuk

dilakukan secara mekanis maupun kimiawi.

melalui proses kimia (non spesifik) ataupun

Pembuangan

proses interaksi fisiologis antar bagaian pada

metoda yang efektif dalam mengendalikan plak

permukaan sel bakteri sebagai adhesin dan

dan inflamasi gingiva. Pembuangan mekanis

reseptor spesifik yang terdapat pada enamel

dapat meliputi penyikatan gigi dan penggunaan

pelikel.

secara

mekanis

merupakan

benang gigi (dental floss).18

17

Ikatan pada pelikel dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu :

Bahan antiplak sering terdapat dalam pasta gigi dan obat kumur. Setiap pasta gigi

a. Afinitas tinggi (spesifik) yang melibatkan

mengandung bahan-bahan yang penting seperti

rantai sisi hidrat arang glikoprotein saliva

bahan abrasif, fluoride, air, bahan pemberi rasa,

sebagai reseptor. Beberapa rantai sisi hidrat

bahan pemanis, pemadat, dan deterjen.

arang glikoprotein saliva diketahui sebagai

Tabel 2. Komposisi Pasta Gigi

reseptor terhadap mikroorganisme rongga

Komposisi Bahan

mulut

tertentu,

seperti

asam

merupakan reseptor untuk galaktosa

merupkan

S.

sialat,

tempat

rendah ikatan

(non ini

disebabkan

(%) 20 â&#x20AC;&#x201C; 40

untuk Air

20 â&#x20AC;&#x201C; 40

reseptor

spesifik),

Pembasah

dimana Deterjen/foaming agent adanya Pengikat

interaksi hidrofobik yang tidak memerlukan Pengharum adnanya reseptor spesifik pada glikoprotein Pemanis saliva.15 Setelah proses awal kolonisasi, maka selapis

sel

akan

berproliferasi

dekatnya. Pada proses proliferasi bakteri akan mekanisme

20 â&#x20AC;&#x201C; 40 1â&#x20AC;&#x201C;2 >2 >2 >2

Pewarna & pengawet

<1

Zat Aktif

>5

keseluruh

permukaan dan bergabung dengan bakteri di

membutuhkan

Persentase

sanguis, Abrasif

Actinomycoses viscosus dan lain-lain. b. Afinitas

1

retensi

untuk

membentuk timbunan pada permukaan gigi yang melekat antara satu dengan lainnya. Matriks dari glikokaliks bakteri dan glikoprotein saliva akan

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

Pasta gigi juga mengandung bahan aktif yang dapat mencegah terjadinya penyakit gigi dan mulut. Di bawah ini adalah tabel mengenai kandungan bahan aktif yang biasa diaplikasikan ke dalam pasta gigi:

19


Tabel 3.

Kandungan dan Fungsi Bahan Aktif

dalam Pasta Gigi

19

Enzim

bromelin

termasuk

dalam

golongan enzim protease sulfihidril, yang artinya

Kandungan Bahan

Fungsi

memiliki residu sulfidril (sistenil dan histidil) pada

Mengurangi

lokasi

sitrat, stronsium klorida

hipersensitivitas

mengandung gugus sistein pada sisi aktifnya.

dentin

Pemutusan atau pembentukan ikatan kimia

Pirofosfat, triklosan, zinc

Mengurangi plak

citrate

dan kalkulus

aktif.

12

Potassium nitrat, sodium

Susunan

asam

amino

yang

didahului dengan pembentukan ikatan dengan substrat, seperti reaksi berikut. E+S

supragingiva

ES

E+P

E adalah enzim, S merupakan substrat, Triklosan, fluor

Mengurangi

ES

inflamasi gusi

berupa

kompleks enzim-substrat, dan P

adalah produk yang terbentuk.

Peroksida, sodium

Mengurangi

tripolifosfat, sodium

pewarnaan pada

amino

heksaametafosfat

permukaan gigi

mengakibatkan terbentuknya asam amino lain

Adanya ikatan sistein dengan asam

yang 3. PEMBAHASAN

yang dapat mengurai atau memecah molekul komplek

(arginin

menyebabkan

dan

putusnya

glutamin)

rantai

media

perlekatan bakteri. Dengan demikian fungsi

Enzim bromelin sebagai enzim proteolitik

protein

pelikel

menjadi

senyawa

lebih

penambahan zat aktif enzim bromelin pada pasta gigi dapat mencegah terbentuknya plak.22 Begitu pentingnya pencegahan plak pada

sederhana yaitu ikatan peptida dan asam

permukaan gigi

amino.20 Penambahan enzim bromelin dalam

memadukan upaya secara mekanis maupun

pasta gigi berperan sebagai zat aktif antiplak.

kimiawi.

Sifat proteolitik enzim bromelin mampu memecah

tentang peralihan penggunaan bahan sintetis ke

molekul protein komplek menjadi senyawa lebih

bahan alami atau herbal semakin menguat. Uji

sederhana yaitu ikatan peptida dan asam amino

biokompabilitas

yang ada pada pelikel yang digunakan sebgai

jaringan rongga mulut menunjukkan prosentase

media perlekatan bakteri.21

jumlah sel hidup sel BHK-21 antara 95,22%-2-

sehingga dalam

Perubahan

paradigma

enzim

kontrolnya

masyarakat

bromelin

terhadap

Plak merupakan awal dari timbulnya

16% dengan kosentrasi enzim bromelin 10%-

karies gigi dan penyakit periodontal lainnya.

40%. Sel BHK-21 merupakan jenis sel fibroblas

Pembentukan plak diawali dari adanya proses

penyusun jaringan ikat gingiva dan ligamen

kolonisasi

periodontal.23

mikroorganisme

yang

berinteraksi

dengan pelikel pada permukaan gigi. Pelikel akan mengadsorpsi protein saliva secara selektif bersama dengan ion-ion Ca2+, F-, HPO42-,

4. SIMPULAN Berdasarkan

kajian

di

atas,

dapat

sehingga dapat melekat kuat pada permukaan

disimpulkan bahwa enzim bromelin pada bonggol

gigi. Setelah adanya pelikel yang melapisi

nanas berpotensi sebagai bahan antiplak pada

permukaan gigi, maka mikroorganisme akan

pasta gigi melalui mekanisme penguraian media

melekat pada reseptor spesifik protein saliva dan

perlekatan bakteri pada permukaan gigi.

membentuk koloni.

17

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

20


DAFTAR PUSTAKA

10. Prahasti,

1. Harris, NO. dan Garcia-Godoy, F. 2004. Primary

Preventive

Dentistry.

New

Jersey: Pearson Education, Inc. h.123-

C.

Pengaruh

Penggunaan

Pasta Gigi Zinc Citrate/triclosan terhadap Pembentukan Plak pada Gigi. Maj. Ked. Gigi (Dent J). 2004; 37(4):154-156. 11. Reed, G. 1975. Enzymes in Food

127. 2. Pujiastuti,

Peni.

1997.

Uji

Biokompatibilitas Ekstrak Bonggol Nanas Sebagai

Obat

Pascasarjana,

Kumur.

Universitas

Tesis., Airlangga.

Surabaya.

Processing

2

nd.

Ed.

New

York:

Academic Pres. h.146-148. 12. Tokkong, M.H. 1979. Proses Pelarutan Protein

Ikan

Secara

Enzymatis.

Bandung: Institut Teknologi Bandung.

3. Caranza, FA. dan MG. 1990. Newman.

13. Chairunnisa, H. 1987. Isolasi Enzim

Clinical periodontology. Philadelpia: WB.

Bromelin Kasar dari Bonggol Nanas

Sauders Co.

dalam Biproses dalam Industri Pangan.

4. Lehner,

T.

1995.

Imunologi

pada

Penyakit Mulut (Immunology of Oral Diesease) Edisi 3. Jakarta: EGC.

Periodonti

(diterjemahkan:

Anastasia) Ed. Ke-2, Jakarta: Hipokrates. 6. Sadoh, D. R., et al. Effect of Two Toothcleaning Periodontal

Status

Patients

M.

G.,

Takei,

H.

H.,

Klokkevold, P.R., Carranza, F. A. 2006. Clinical

Periodontology.

Missouri:

Saunders Elsevier. h.137,140,732-733. 15. Amerogen, A.V.N. 1991. Ludah dan

on

Kelenjar Ludah bagi kesehatan gigi

with

(diterjemahkan Abyono R). Yogyakarta:

Frequencies in

dan Liberty. h.319-325. 14. Newman,

5. Manson, J.D. dan B.M. Elley. 1993. Buku Ajar

Yogyakarta: PAU Pangan dan Gizi UGM

Advance Periodontitis. Jurnal Of Clinical Periodontology. 2004; 31: 470-474.

Gajah Mada University Press. h. 95-125. 16. Jensen, J.L., M.S. Lamkin and F.G

7. Freeman, B. A. 1985. Oral Microbiology,

Openhaim. Adsorbtion of human salivary

dalam Textbook of Microbiology. Ed 22.

protein to hidroksiapatit:a comprasion

Philadelphia: WB Saunders Co. h. 711-

Between Whole Saliva and Glandula

714.

Salivary Secretion.. J Dent RES. 1992.

8. Ruhadi, I. Efektifitas Pasta Gigi yang

17. Sorensen,

J.A.

A

rationale

for

Mengandung Bahan Bubuk Kayu Siwak

comparison

dalam Mengahambat Pembentukan Plak

properties of crown system. J. Prosth.

Gigi. Maj. Ked. Gigi (Dent J). 2004;

Dent. 1989; 62: 264-269.

of

plaque

retaining

18. Cowley, M. T. 1981. Essentials Of

37(1):24-27. 9. Dahan M, Timmermen

MF,

Van

Wilnkehoff AJ, Van der Velden U. The

Periodontology

And

Periodontics.

London: Geoffrey. h.143.

effect of periodontal treatment on the

19. Nield-Gehrig, J. S dan Willmann, D. E.

salivary bacterial load and early plaque

2008. Foundation Of Periodontics For

formation.

The

J.Clin

Periodontal.

2004;

31:972-977.

Dental

Hygienist.

Philadelphia:

Lippincott Williams & Wilkins, a Wolters Kluwer Business. h.345.

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

21


20. Winarno, F. G. 1983. Enzim Pangan. Jakarta: Gramedia. h.25-26. 21. Suhermiyati, Sri dan S. J. Setyawati. 2005. Potensi Limbah Nanas Untuk Peningkatan Tonggkol

Kualitas sebagai

Limbah Bahan

Ikan Pakan

Unggas.Purwokerto: Animal Production. h.174-178. 22. Heinicke, R. M. dan W.A. 1857. Gartner. Stem

Bromelin

Preparation

A

From

New

Protease

Pineapple

Plants.

Economic Botany. 23. Maduratna, E. 1997. Biokompatibilitas Gel

Tetrasiklin

Pengaruhnya

Hidroklorida

terhadap

dan

Terlepasnya

Lapisan Smir pada Permukaan Akar. Tesis.

Pascasarjana,

Universitas

Airlangga, Surabaya

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

22


Literature Study

PENTINGNYA DATA STATUS KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA KARTU MENUJU SEHAT IBU HAMIL (UPAYA MENUNJANG PROGRAM MDGS 2015) 1

1

Irma Ariany Syam , Baiq Miftahul Fatia , Andi Fatima T

1

1

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin Makassar Correspondence: Universitas Hasanuddin Kampus Tamalanrea, Jalan Perintis Kemerdekaan km. 10, Makassar No.Hp:085255817617 Email: irma.ariany@gmail.com

ABSTRAK Tujuan keempat Millenium Development Goals (MDGs) adalah menurunkan angka kematian anak dengan membuat strategi perbaikan kesehatan dan gizi ibu hamil. Kesehatan gigi dan mulut memberi peran penting dalam menentukan kesehatan bayi yang akan dilahirkan. Terdapathubungan antara infeksi periodontal dengan kejadian bayi berat lahir rendah kurang bulan (BBLR). Upaya mengurangi terjadinya BBLR dan prematur dapat dicegah dengan pemantauan kesehatan gigi dan mulut ibu hamil dengan penambahan data status kesehatan gigi dan mulut pada Kartu Menuju Sehat (KMS) ibu hamil. Tujuan yang ingin dicapai dalam studi pustaka ini yaitu untuk mengetahui pentingnya data status kesehatan gigi dan mulut pada Kartu Menuju Sehat (KMS) ibu hamil sebagai upaya meningkatkan kesehatan ibu hamil agar melahirkan bayi yang normal dan sehat. Data status kesehatan gigi dan mulut yang dimaksud adalah tingkat kebersihan gigi dan mulut (Oral Hygiene).Secara klinis, tingkat kebersihan mulut dinilai dengan kriteria Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S) dari Greene dan Vermilliont.Studi pustaka ini dapat dilakukan melalui tahap rancangan dan pembahasan, tahap realisasi, tahap sosialisasi dan pelatihan, tahap pelaksanaan di masyarakat. Penambahan data status kesehatan gigi dan mulut pada KMS Ibu hamil diharapkan dapat menurunkan angka kematian anak di Indonesia dengan membuat strategi peningkatan kesehatan gigi dan mulut ibu hamil. Katakunci: Millenium Development Goals, status kesehatan gigi dan mulut , Wanita hamil, BBLR

ABSTRACT The fourth objective of the Millennium Development Goals (MDGs) is reducing child mortality rate by making an improvement strategy of health and nutrition in pregnant women. Oral health provides an important role in determining the health of newborn babies that will be born. There is a relationship between periodontal infections with an incidence of preterm low birth weight babiesâ&#x20AC;&#x2122; (LBW). Efforts to reduce the occurrence of low birth weight and prematurity can be prevented by monitoring the oral health of pregnant women with the addition of data on oral health status in the KM) of pregnant women. The aim of this study was to know the importance of data on oral health status in the KMS pregnant women as an effort to improve the health of pregnant women to birth normal and healthy babies. Data of oral health status used in this card is the level of oral hygiene. Clinically, the level of oral hygiene was assessed by criteria Simplified Oral Hygiene Index (OHI - S) of Greene and Vermilion. This literature study can be done through the design and discussion stage, the realization phase, socialization and training phase, the implementation phase in the community.

Keywords: Millennium Development Goals, oral health status, pregnant women, Low Birth Weight

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

23


1. PENDAHULUAN

tercantum mengenai status kesehatan gigi dan

Millenium Development Goals (MDGs)

mulut.

Padahal,

penyakit

gigi

dan

mulut

merupakan komitmen nasional dan global dalam

merupakan salah satu faktor risiko yang dapat

upaya lebih menyejahterakan masyarakat. Saat

menganggu kesehatan ibu hamil dan akan

ini, tersisa waktu sekitar 2 tahun bagi negara

berdampak pada bayi yang akan dilahirkan.

berkembang anggota PBB termasuk Indonesia untuk

menyelesaikan

mengupayakan

peran penting dalam berbagai penyakit baik lokal

pencapaian delapan tujuan pembangunan MDGs

maupun sistemik. Status kesehatan gigi dan

mencakup: (1) Menanggulangi Kemiskinan dan

mulut yang kurang dapat menyebabkan penyakit

Kelaparan; (2) Mencapai Pendidikan Dasar untuk

jaringan periodontal dan karies. Pada ibu hamil,

Semua; (3) Mendorong Kesetaraan Gender dan

penyakit periodontal yang sering diderita adalah

Pemberdayaan Perempuan; (4) Menurunkan

gingivitis

Angka

Kematian

dan

Kesehatan gigi dan mulut mempunyai

Anak;

(5)

Meningkatkan

dengan

prevalensi

60-70%

periodontitis dengan prevalensi 30%.

dan

4

Kesehatan Ibu; (6) Memerangi HIV/AIDS, Malaria

Offenbacher (1996) yang dikutip dalam

dan Penyakit Menular lainnya; (7) Memastikan

Murthy (2012) melaporkan hubungan antara

Kelestarian

(8)

infeksi periodontal dengan kejadian bayi berat

untuk

lahir rendah kurang bulan (BBLR). Pada ibu

Lingkungan

Membangun

Hidup;

Kemitraan

Pembangunan.

dan

Global

1

hamil dengan kebersihan gigi dan mulut yang

Tujuan

adalah

kurang, rentan terkena infeksi. Perubahan pH

dengan

saliva, pH cairan gingiva dan aktivitas hormon ibu

membuat strategi perbaikan kesehatan dan gizi

hamil dalam cairan gingiva akan mempengaruhi

ibu hamil.

di

perkembangan dan pertumbuhan bakteri rongga

Status

mulut utamanya bakteri gram negatif yang dapat

kesehatan dan gizi ibu hamil memberi peran

menjadi faktor risiko terjadinya bayi berat lahir

penting dalam menentukan berat lahir dan masa

rendah

menurunkan

Indonesia

keempat

angka

MDGs

kematian

anak

Status kesehatan ibu hamil tergolong

masih

rendah.

2

(BBLR).

Wanita

hamil

dengan

depan kesehatan bayi. Selain status gizi dan

periodontitis 3,58 kali berisiko melahirkan bayi

kesehatan umum, kesehatan gigi dan mulut juga

dengan berat rendah.5

memberi

peran penting dalam menentukan

kesehatan bayi yang akan dilahirkan. World

Health

Para

dokter

menyatakan

bahwa

pencegahan penyakit gigi dan mulut, diagnosis (WHO)

dan penanganan awal terhadap masalah gigi dan

merancang Kartu Menuju sehat (KMS) ibu hamil

mulut ibu hamil berpotensi menurunkan risiko

untuk

bayi

memberi

Organization

jalan

sederhana

menentukan

adanya

faktor

mengontrol

kesehatan

ibu

dalam

berat

lahir

rendah

(BBLR)

dan

4

risiko

dalam

premature. Upaya mengurangi terjadinya BBLR

hamil.

Tujuan

dan prematur dapat dicegah dengan pemantauan

utamanya yaitu membuat para tenaga kesehatan

kesehatan gigi dan mulut ibu hamil dengan

menyadari bahwa beberapa faktor risiko tinggi

penambahan data status kesehatan gigi dan

dapat dirujuk segera dan pemeriksaan yang

mulut pada Kartu Menuju Sehat (KMS) ibu hamil.

sesuai

mencegah

Ini merupakan ide yang sederhana namun

komplikasi kehamilan lebih lanjut. Namun, isi dari

bersifat aplikatif dalam meningkatkan kesehatan

segera

dilakukan

untuk 3

Kartu Menuju sehat (KMS) pada ibu hamil tidak

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

24


ibu hamil sebagai strategi menurunkan angka kematian anak di Indonesia.

Kartu menuju sehat ibu hamil adalah sebagai alat penyuluhan ibu hamil dan alat

Berdasarkan latar belakang diatas, maka

komunikasi antar pemberi pelayananantenatal.

perlu dilakukan studi pustaka untuk mengetahui

KMS membantu dalam mendeteksi Pre-eklamsi,

pentingnya data status kesehatan gigi dan mulut

anemia dan resiko tinggi kehamilan lainnya.

pada Kartu Menuju Sehat (KMS) ibu hamil

Kartu menuju sehat ibu hamil adalah suatu

sebagai upaya meningkatkan kesehatan ibu

bentuk kartu yang disimpan oleh ibu sendiri yang

hamil agar melahirkan bayi yang normal dan

memberikan

sehat.

seorang wanita sebelum kehamilan pertama,

informasi

tentang

6

kesehatan

Manfaat dari studi pustaka ini yaitu: (1)

selama kehamilan, persalinan, masa nifas dan

meningkatkan pengetahuan penulis mengenai

masa antara kehamilan berikutnya serta status

masalah gigi dan mulut pada ibu hamil yang akan

keluarga berencana.7

berdampak pada bayi yang akan dilahirkan

KMS ibu hamil terdiri atas; Identitas ibu

sehingga menstimulus penulis untuk turut serta

dan kotak untuk memberikan tanda dengan huruf

dalam memberikan solusi terhadap masalah

â&#x20AC;&#x153;Râ&#x20AC;? bagi ibu beresiko tinggi (dibagian kanan atas

yang ada; (2) meningkatkan derajat kesehatan

halaman muka); pemantauan kehamilan; kurva

gigi dan mulut

ibu hamil; (3) meningkatkan

KMS ibu hamil; catatan bagi petugas kesehatan;

peranan dokter gigi dalam mencegah dan

dan bahan penyuluhan untuk ibu.KMS ibu hamil

memperbaiki taraf kesehatan gigi masyarakat,

bermanfaat

khususnya ibu hamil; (4) menunjang program

kesehatan ibu hamil, gizi, pertumbuhan ibu hamil,

pemerintah dalam pencapaian target Millennium

berat badan, tekanan darah, denyut jantung

Developmental Goals (MDGs)

janin, hemoglobin (Hb). Pemberian tablet Fe,

sebagai

alat

untuk

memantau

pemberian Tetanus Toxoid (TT), letak janin 2. TINJAUAN PUSTAKA

sebagai cacatan bagi petugas kesehatan dan

2.1 Kartu Menuju Sehat Ibu Hamil

juga

Ide membuat Kartu Menuju Sehat (KMS)

bermanfaat

kesehatan ibu.

sebagai

alat

penyuluhan

8

ibu hamil berasal dari Kartu Menuju Sehat anak yang telah diterima dengan baik dan terbukti cukup berhasil sebagai alat bantu kesehatan.

2.2 Penyakit Periodontal pada Ibu Hamil Penyakit

periodontal

adalah

infeksi

Beberapa adaptasi lain di berbagai negara yang

bakteri gram negatif anaerob dalam rongga mulut

berbeda

keterangan

yang mengakibatkan kerusakan pada jaringan

tentang imunisasi, keluarga berencana, dan

pendukung gigi. Penyakit periodontal dapat

perkembangan

terbukti

menyebabkan inflamasi intra uterin dan kelahiran

monitoring.World

premature.9 Wanita hamil dengan periodontitis

Health Organization (WHO) merancang Kartu

3,58 kali berisiko melahirkan bayi dengan berat

Menuju Sehat (KMS) ibu hamil ini untuk memberi

rendah.5

telah

kegunaannya

mencantumkan

psikososial untuk

telah

tujuan

jalan sederhana dalam menentukan adanya

Kebersihan gigi dan mulut rendah dapat

faktor risiko dalam mengontrol kesehatan ibu

menimbulkan infeksi pada gigi maupun pada

hamil.Kartu ini diisi oleh bidan terlatih, perawat

jaringan periodontium seperti gingivitis maupun

atau asisten tenaga kesehatan.

3

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

periodontitis. Infeksi dapat menyebar secara

25


sistemik

dan

mediator

proinflamasi

mempengaruhi bulan.

menyebabkan

10

peningkatan

Penelitian

di

akan

dan peningkatan kadar sitokinin IL-1β, TNF-ι, IL-

BBLR kurang

6 dan PGE2. Kadar interleukin menyebabkan

yang

kejadian bayi

ikat tubuh, merangsang respon inflamatori lokal

bidang

epidemiologi

perubahan

pada

bentuk

plasenta

terutama

menunjukkan infeksi oral seperti gingiva dan

daerah yang berfungsi dalam pertukaran zat gizi

periodontitis merupakan sumber infeksi dan

antara ibu dan janin. Sebagai akibatnya, terjadi

inflamasi yang signifikan selama kehamilan dan

kerusakan struktur jaringan ikat tubuh dan sistem

menyatakan bakteri anaerob gram negatif dapat

organ

menyebabkan

bakterimia

yang

menginduksi

janin

sehingga

dapat

gangguan perkembangan janin.

menyebabkan

10

komplikasi kehamilan seperti prematur dan bayi berat lahir rendah.11 Perubahan komposisi plak subgingiva selama kehamilan disebabkan oleh lingkungan mikro

subgingiva

yang

berubah

akibat

meningkatnya akumulasi progesteron aktif yang metabolismenya berkurang selama kehamilan. Rasio bakteri anaerob meningkat dibanding

Gambar 1. Grafik Hubungan Status

bakteri aerob, dalam hal ini adalah Bacteroides

Periodontal Ibu dengan Kejadian BBLR.9

melaninogenicus dan Prevotella intermedia.5

Gambar 1. Grafik Hubungan Status Periodontal

Pada kehamilan trimester kedua terjadi

Ibu dengan Kejadian BBLR.9

peningkatan jumlah bakteri anaerob gram negatif pada plak gigi.Pada saat kondisi oral hygiene

3. PEMBAHASAN

kurang baik, bakteri periodontal berakumulasi di

Upaya yang dilakukan oleh pemerintah

daerah servikal gigi dan membentuk suatu

dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan

struktur yang dikenal sebagai â&#x20AC;&#x153;bacterial biofilmâ&#x20AC;?.

gigi dan mulut pada ibu hamil yaitu dengan

Patogen

memiliki

melakukan upaya promotif dan preventif melalui

hubungan dengan berat lahir rendah kurang

program Dental Health Education (DHE) baik

bulan

denticola,

pada Kartu Menuju Sehat (KMS) ibu hamil

Porphyromonas gingivalis, Bacteriodes forsythus

maupun buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)

periodontal

yang

adalah

diduga

treponema

dan actinobacillus actinomycetemcomitans. Keberadaan

menjaga pola makan. Akan tetapi, kesehatan

darah akan merangsang host membentuk respon

gigi dan mulut ibu hamil tidak dapat dikontrol

inflamatori menciptakan

memungkinkan meningkatnya

dalam

berupa menyikat gigi dua kali sehari dan

sirkulasi

secara

bakteri

12

sistemik.

daerah

rentan

terjadinya produksi

Hal

ini

akan

dengan baik karena tidak ada data yang

bakteri

dan

menunjukkan status kesehatan gigi dan mulut,

dan

hanya menyarankan menjaga kesehatan gigi

infeksi

sitokinin

inflamatori.

dan mulutnya.

Bakteri periodontal dan sitokinin inflamatori akan

Data status kesehatan gigi dan mulut

melewati plasenta dan masuk ke sirkulasi janin.

merupakan suatu hal yang penting ditambahkan

Jika janin tidak dapat mengontrol infeksi ini, akan

pada Kartu Menuju Sehat (KMS) Ibu hamil

terbuka akses untuk bakteri ke berbagai jaringan

dengan mempertimbangkan bahwa penyakit

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

26


periodontal pada ibu hamil merupakan risiko

Tabel 1. Kriteria Debris Index Simplified (DI-S)

terjadinya BBLR dan prematur.Hal ini dapat

oleh Green dan Vermillion

meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut

Skor

Kondisi

ibu hamil sehingga masalah kesehatan gigi dan

0

Tidak ada debris atau stain.

mulut dapat dikontrol dengan adanya data pada

1

Plak menutup tidak lebih dari 1/3

KMS tersebut.

permukaan servikal, atau terdapat

Data status kesehatan gigi dan mulut

stain ekstrinsik di permukaan yang

yang dimaksud adalah tingkat kebersihan gigi dan mulut (Oral Hygiene).Secara klinis, tingkat

diperiksa. 2

Plak menutup lebih dari 1/3 tapi

kebersihan mulut dinilai dengan kriteria Oral

kurang dari 2/3 permukaan yang

Hygiene Index Simplified (OHI-S) dari Greene

diperiksa

dan Vermillion. Kriteria ini dinilai berdasarkan

3

Plak

keadaan debris dan kalkulus Pada kartu menuju

menutup

lebih

dari

2/3

permukaan yang diperiksa.

sehat ditambahkan kolom data sebagai berikut: Tabel 2. Kriteria Calculus Index Simplified(CI-S) oleh Green dan Vermillion

Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S)

Skor

Kondisi

0

Tidak ada kalkulus.

1

Kalkulus supragingiva menutup tidak lebih dari 1/3 permukaan

Gambar

2.

Data

OHI-S

servikal yang diperiksa.

(Tingkat

Kebersihan Gigi dan Mulut) pada KMS Ibu Hamil

2

Kalkulus supragingiva menutup tidak lebih dari 1/3 tapi kurang dari

Data tersebut diisi oleh tenaga kesehatan

permukaan

diperiksa,

gigi (dokter gigi, perawat gigi atau asisten dokter

atau

ada

yang bercak-

bercak kalkulus subgingiva di

terlatih) dengan tata cara pengisian sebagai

sekeliling servikal gigi.

berikut: 1. Pada

2/3

tiap

kolom

DI-S

(Debris

Index

Simplified) maupun CI-S (Calculus Index Simplified)

dilakukan pemeriksaan pada

tiap gigi berikut: Gigi 16 pada permukaan bukal

3

Kalkulus supragingiva menutup lebih dari 2/3 permukaan atau ada kalkulus subgingiva yang kontinu

disekeliling

servikal

gingiva.

Gigi 11 pada permukaan labial Gigi 26 pada permukaan bukal

2. Setelah

mengisi

data

pada

kolom.

Gigi 36 pada permukaan lingual

Selanjutnya adalah menjumlahkan

data

Gigi 31 pada permukaan labial

OHI-S diperoleh dari penjumlahan Debris

Gigi 46 pada permukaan lingual

Index (DI) dan Calculus Index (CI), sehingga perolehan nilai tersebut dapat ditulis dengan

Kolom diisi berdasarkan kriteria angka yang tertera dalam tabel berikut: BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

rumus sebagai berikut: OHI-S = Debris Index (DI) + Calculus Index (CI) 27


3. Selanjutnya mengisi kriteria pada data dengan kriteria sebagai berikut:

dan mulut pada KMS ibu hamil yaitu melalui tahap-tahap berikut:

Kriteria OHI-S (jumlah dari debris score

1. Tahap Rancangan dan Pembahasan

dengan calculus score) mengikuti ketentuan

Rancangan

dan

pembahasan

mengenai

sebagai berikut:

penambahan data kesehatan gigi dan mulut pada

Baik: Jika nilainya antara 0,0 â&#x20AC;&#x201C; 1,2

KMS ibu hamil di stakeholder departemen

Sedang: Jika nilainya antara 1,3 â&#x20AC;&#x201C; 3,0

kesehatan.

Buruk: Jika nilainya antara 3,1 â&#x20AC;&#x201C; 6,0 Implementasi

gagasan

ini

2. Tahap Realisasi

dibutuhkan

dukungan dari berbagai pihak, diantaranya:

Pencetakan Kartu Menuju Sehat (KMS) Ibu hamil yang baru.

1. Kementrian Kesehatan Keterlibatan

3. Tahap Sosialisasi dan Pelatihan

pemerintah

khususnya

Sosialisasi dan pelatihan

kepada tenaga

kementerian kesehatan dengan mengelurkan

kesehatan mengenai adanya penambahan data

kebijakan penambahan status kesehatan gigi

kesehatan gigi dan mulut pada KMS ibu hamil

dan mulut pada KMS ibu hamil di Indonesia

dan pelatihan cara mengisi data tersebut.

sehingga Ibu hamil mengetahui pentingnya

4. Tahap Pelaksanaan di Masyarakat

kesehatan gigi dan mulut dalam menjaga

Pelaksanaan

di

masyarakat

diwujudkan

kesehatan janin dan kesehatan ibu hamil itu

dengan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut

sendiri.

oleh

2. Dinas Kesehatan

tenaga

kesehatan

hamilsehingga

Keterlibatan Dinas Kesehatan dalam

dapat

terhadap

meningkatkan

ibu

derajat

kesehatan ibu hamil secara keseluruhan.

implementasi gagasan ini adalah sebagai badan sosialisasi mengenai pentingnya kesehatan gigi

5. SIMPULAN

dan mulut ibu hamil yang diimplematasikan

Studi pustaka yang diajukan

adalah

dengan menambah status kesehatan gigi dan

penambahan data kesehatan gigi dan mulut

mulut pada KMS ibu hamil ke tenaga kesehatan

khususnya tingkat kebersihan gigi dan mulut (oral

pada daerah kerja dinas kesehatan masing-

hygiene) pada Kartu Menuju Sehat (KMS) Ibu

masing.

hamil

3. Rumah

dan

menunjang

program

Development

Puskesdes, dan Posyandu

Gagasan ini

bertujuan untuk meningkatkan

Rumah sakit, puskesemas, puskesdes,

derajat kesehatan gigi dan mulut ibu hamil

pemeriksaan

Puskesemas,

upaya

Millennimum

posyandu

Sakit,

sebagai

merupakan

maka

perlu

tempat-tempat

instansi

tersebut

Goals

(MDGs).

sehingga dapat melahirkan bayi yang normal dan sehat.

mengetahui pentingnya kesehatan gigi dan mulut

Teknik

implementasi

yang

dilakukan

ibu hamil sehingga tenaga kesehatan yang

untuk mewujudkan studi pustaka ini dilakukan

bekerja

dalam beberapa tahap yaitu: tahap rancangan

pada

instansi

tersebut

dapat

melaksanakan pemeriksaan kesehatan gigi dan

dan

mulut ibu hamil.

sosialisasi dan pelatihan, tahap pelaksanaan di

Langkah yang harus ditempuh dalam

pembahasan,

tahap

realisasi,

tahap

masyarakat.

mewujudkan penambahan data kesehatan gigi

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

28


Penambahan data status kesehatan gigi dan mulut pada Kartu Menuju Sehat (KMS) Ibu hamil diharapkan dapat menurunkan angka

Belgaum,

India.

GJMEDPH

2012;1(4):42-8. 21. DepKes RI. Penilaian Risiko Antenatal

kematian anak di Indonesia dengan membuat

Dan

strategi peningkatan kesehatan gigi dan mulut

Keenam. Jakarta: Dep. Kes. RI; 1999.

ibu hamil.

Pengobatan,

22. DepKes

RI.

Modul

11,

Pedoman

Edisi

Pelayanan

Antenatal di Tingkat Pelayanan Dasar, 6. SARAN

Edisi ke Delapan. Jakarta: Dep. Kes, RI;

Perlu

dilakukan

penelitian

mengenai

penggunaan Kartu Menuju Sehat pada beberapa instansi Kesehatan.

1996. 23. DepKes

RI.

Pemantauan

Wilayah

Setempat Kesehatan Ibu Dan Anak (PWS- KIA) dalam modul. Pendidikan

DAFTAR PUSTAKA

dan

16. BAPPENAS. Pedoman penyusunan

Pelatihan

Jarak

Jauh

Bidan.

Jakarta: Dep. Kes, RI; 1998.

rencana aksi percepatan pencapaian

24. Sumidarti A. Hubungan kadar endotelin-

tujuan MDGs di daerah (RAD MDGs);

1 (ET-1) dengan interleukin (IL-1) di

2010 Hal. 3. [Diakses pada 6 Januari

dalam tali pusat dan cairan krevikular

2013]. Available from:

gingiva pada ibu yang melahirkan bayi

http://gizi.depkes.go.id/wp-

bert lahir rendah. M.I.Kedokteran Gigi

content/uploads/2011/10/ped-

2008; 23(3):103-6.

pencapaian-RAD-MDGs.pdf

25. Santono O, Wildam ASR, Dwi R. Hubungan

17. BAPPENAS. tujuan

Peta

jalan

pembangunan

percepatan

milenium

di

Indonesia; 2-1- Hal.139. [diakses pada 15

Januari

2013].

Availablefrom:

http://www.bappenas.go.id/node/118/28 14/peta-jalan-percepatan-pencapaiantujuan-pembangunan-milenium-di-

menuju sehat ibu hamil: penuntun untuk pengembangan, adaptasi, dan evaluasi. Jakarta: EGC; 1996. al.

Health

during

2008;77(8): 1140-4. S,

gingivitis ibu hamil terhadap kejadian bayi berat badan lahir rendah kurang bulan di RSUP Dr.Kariadi Semarang dan

jejaringnya.

M

Med

Indones

2009;43(6):288-93. 26. Lopez

NJ, Smith

PC, Gutierrez

J.

Women with Periodontal Disease: A Randomized

Controlled

Trial,

J

Periodontol 2002; 73: 911-924. 27. Ervina

Oral

pregnancy. American Family Physician 20. Murthy

dan

Risk of Preterm Low Birth Weight in

18. WHO. Alih bahasa: Agnes Kartini. Kartu

et.

mulut

Periodontal Therapy May Reduce the

indonesia/

19. Hugh,

kebersihan

I,

Ellisa

W.

Pengaruh

periodontitis terhadap kesehatan bayi yang dilahirkan. Dentika Dental Journal 2012;15(1):79-81.

Mubashir

A,

Kodkany.

Pregnancy periodontitis and low birth weight:

A

cohort

study

in

Rural

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

29


Literature Study

ORT-CARD (ORTHODONTIC CARD) SEBAGAI UPAYA MELINDUNGI MASYARAKAT TERHADAP KESALAHAN PERAWATAN AKIBAT PEMASANGAN KAWAT GIGI ILEGAL 1

1

1

Irma Ariany Syam, Akmalia Rosyada, Ayu Putri Djohan 1

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin Makassar Correspondence: Universitas Hasanuddin Kampus Tamalanrea, Jalan Perintis Kemerdekaan km. 10, Makassar Email: irma.ariany@gmail.com / No.Hp:085255817617

ABSTRAK Kawat gigi/ Kawat ortodonti merupakan alat dalam kedokteran gigi yang dipakai untuk merapikan susunan gigi dan memperbaiki hubungan antara gigi di rahang atas dan rahang bawah. Kawat gigi yang semula berfungsi untuk merapikan susunan gigi, saat ini bisa dipakai untuk fashion. Maraknya penggunaan kawat gigi menyebabkan merajalelanya tempat-tempat praktik ilegal pemasangan kawat gigi di masyarakat, baik yang menamakan diri sebagai tukang gigi, ahli gigi, ahli behel, maupun di salon-salon kecantikan. Hal ini dapat merugikan masyarakat karena tindakan yang dilakukan tidak sesuai prosedur medis. Tingginya minat masyarakat dalam pemasangan kawat ortodonti serta alat dan bahan yang dijual bebas merupakan dua hal yang menimbulkan pengaruh negatif terhadap menjamurnya praktik-praktik ilegal. Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan karya tulis ini adalah melindungi masyarakat terhadap kesalahan perawatan akibat pemasangan kawat ortodonti ilegal. Penulis mengajukan usulan untuk membatasi penjualan dan pemasaran alat dan bahan ortodonti dengan menggunakan Ort-Card (Orthodontic Card). Orthodontic Card merupakan syarat mutlak dalam pembelian alat dan bahan ortodonti sehingga yang tidak memiliki kartu tersebut, tidak berhak membeli alat dan bahan ortodonti sehingga tidak ada lagi kesempatan berlangsungnya praktik ilegal. Diharapkan derita masyarakat akibat kesalahan pemasangan yang dilakukan oleh praktik pemasangan kawat ortodonti ilegal dapat diatasi.

Katakunci: Kawat ortodonti, praktik illegal, Orthodontic Card ABSTRACT Braces / orthodontic wire are a tool used in dentistry to straighten the teeth and improve relations between upper teeth and lower teeth. Which initially serves braces to straighten the teeth, this time can be used for fashion. Widespread use of braces causing widespread illegal practice places pairs of braces in the community, both calling themselves the handyman teeth, dental specialists, experts stirrup, and in beauty salons. This can be detrimental to the community because of the actions taken are not appropriate medical procedures. High public interest in the installation of orthodontic wire and the tools and materials available commercially are two things that cause a negative effect on the proliferation of illegal practices. The aim in writing this paper is to protect the public against errors orthodontic treatment due to illegal wiring. The author proposes to restrict sales and marketing tools and orthodontic materials using Ort - Card (Orthodontic Card). Orthodontic Card is an absolute requirement in the purchase of tools and materials so that orthodontic not have the card, do not have the right to buy orthodontic tools and materials so that no chance the course of an illegal practice. It is expected that people suffer due to mounting errors committed by the illegal practice of orthodontic wiring can be overcome

Keywords: Wire orthodontic, illegal practices, orthodontic Card

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

30


1. PENDAHULUAN Kawat

gigi

pernah ada yang merasa keberatan secara atau

kawat

ortodonti

hukum.

Tujuan

yang

ingin

dicapai

dalam

merupakan alat kedokteran gigi yang digunakan

penulisan karya tulis ini adalah melindungi

untuk merapikan susunan gigi dan memperbaiki

masyarakat

hubungan antara gigi-geligi rahang atas dan

akibat pemasangan kawat gigi ilegal.

rahang bawah. Hubungan gigi-geligi antara

terhadap

kesalahan

perawatan

Manfaat penulisan ini bagi pemerintah

rahang atas dan rahang bawah yang tidak baik

adalah

akan mempengaruhi fungsi pengunyahan dan

diterapkan untuk mengurangi pemasangan kawat

selanjutnya akan berdampak pada gangguan

ortodonti

pencernaan.

masyarakat,

Kawat gigi yang semula berfungsi untuk

sebagai oleh

terhadap

solusi bukan

dapat

baru ahli

yang medis.

melindungi

kesalahan

dapat Bagi

masyarakat

perawatan

akibat

merapikan susunan gigi, saat ini bisa dipakai

pemasangan kawat gigi ilegal. Bagi penulis,

untuk fashion khususnya di kawasan negara-

dapat melatih berpikir kritis dalam menanggapi

negara Asia (Thailand, China, dan Indonesia).

permasalahan yang terjadi di masyarakat.

Behel atau kawat gigi dianggap sebagai bagian dari fashion yang trendi1. Pengguna kawat gigi

2. PEMBAHASAN

atau dalam istilah kedokteran gigi disebut kawat

Behel atau kawat gigi adalah alat yang

ortodonti semakin banyak dan memasyarakat,

dipakai untuk memperbaiki hubungan gigi geligi

apalagi di kalangan anak-anak dan remaja. Maraknya menyebabkan praktik

penggunaan

merajalelanya

pemasangan

kawat

2

kawat

dan rahang yang tidak harmonis. Manfaat gigi

tempat-tempat gigi

ilegal

di

pemasangan kawat gigi adalah memperbaiki hubungan

gigi-geligi

memperbaiki

yang

tidak

pengunyahan,

stabil,

memperbaiki

masyarakat, baik yang menamakan diri sebagai

pengucapan, dan mendapatkan keseimbangan

tukang gigi, ahli gigi, ahli behel, asisten dokter

otot, serta estetika3. Tujuan utama pemasangan

gigi, maupun di salon-salon kecantikan. Hal ini

kawat ortodonti adalah untuk mengevaluasi dan

tentu

mencatat yang akan datang jika terjadi maloklusi

akan

masyarakat

membahayakan sehingga

dan merugikan

memperparah

kondisi

susunan gigi-geligi. Tingginya minat masyarakat

(kelainan penguyahan) dalam mempersiapkan perawatan jika diindikasikan.

4

dalam pemasangan kawat gigi serta alat dan

Perawatan ortodonti cekat atau yang

bahan yang dijual bebas merupakan dua hal

lebih dikenal di masyarakat pemasangan kawat

yang menimbulkan pengaruh negatif terhadap

gigi harus dipasang oleh dokter gigi spesialis

menjamurnya praktik-praktik ilegal. Apabila tidak

ortodonti (ortodontis). Ortodontis adalah dokter

dilakukan penanganan terhadap pemasangan

gigi yang telah melanjutkan kuliah di bidang ilmu

kawat ortodonti oleh bukan ortodontis maka

ortodonti yaitu ilmu yang mempelajari bagaimana

tindakan ini bisa dianggap benar, hal ini sejalan

memperbaiki susunan gigi-gigi yang tidak teratur

dengan kaidah hukum die normative de craft des

dan memperbaiki oklusi (hubungan gigi rahang

factisien. Sebagai contoh adalah pembuatan gigi

atas dan rahang bawah). Dokter gigi umum

tiruan oleh tukang gigi yang tidak akan bisa lagi

hanya

dipidanakan karena telah berlangsung secara

ortodonti

diperbolehkan lepasan

melakukan

bukan

perawatan

ortodonti

cekat

terus-menerus di masyarakat sejak lama tanpa

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

31


dikarenakan

pada

tahap

strasa

1

hanya

mempelajari perawatan ortodonti lepasan.

prosedur

medis.

Adapun

bahaya

yang

ditimbulkan yakni: Pemasangan alat ortodonti

Dalam hal praktik ilegal pemasangan

cekat (behel) dengan tujuan untuk variasi tanpa

kawat gigi, beberapa alumni perawat gigi telah

adanya

berani membuka tempat praktik sendiri dengan

diindikasikan dan tanpa melakukan rontgen foto

memberikan jasa pemasangan kawat gigi. Lebih

sebelum

parah lagi, pemasangan kawat gigi dilakukan

kawat

oleh tukang gigi yang tidak memiliki bekal ilmu

menyebabkan sariawan, keracunan timbal (dari

kedokteran gigi terutama ortodonti cekat yang

bahan kawat), dan gangguan saraf.

sesuai

dengan

medis,

pencabutan 7

perawatan . gigi

menurut

gigi

padahal

Bahaya

pemasangan

Gustaaf

Kusno

bisa

1

keterampilan

Menurut drg. Zaura Rini, pemasangan

tukang gigi hanya didapat secara turun menurun.

behel oleh praktisi yang tidak berkompeten dapat

Tukang gigi juga tidak memiliki ijazah atau surat

menyebabkan infeksi baik dari infeksi ringan

izin yang resmi dari departemen kesehatan untuk

sampai berat, misalnya infeksi terjadi di jaringan

membuka praktik.

kaidah

suatu

5

mulut yang menyebar ke tulang gigi sehingga

Tindakan pemasangan alat

ortodonti

menyebabkan

pembengkakan.

Infeksi

parah

cekat oleh bukan tenaga medis populer disebut

dapat terjadi pada ibu hamil yang menggunakan

pasang behel. Pemasangan behel atau kawat

behel oleh dokter gigi yang berkompeten yaitu

gigi oleh tenaga yang tidak ahli semakin marak

kelahiran prematur dan bayi lahir dengan berat

akhir-akhir ini. Banyak iklan pemasangan dan

badan

penjualan kawat gigi dengan harga yang murah

mengkhawatirkan lagi, alat-alat ortodonti dari

di berbagai tempat bahkan di jejaring sosial. Hal

pasien yang sudah selesai dirawat tersebut

ini menunjukkan semakin banyaknya orang-

dilepas dan dapat dijual kembali. Kondisi barang

orang

dalam

bekas dengan mudahnya diperjualbelikan. Hal ini

pemasangan perawatan ortodonti cekat. Hal ini

tentu menimbulkan resiko yang sangat tinggi

merupakan

yaitu alat tidak steril.9

yang

tidak

masalah

bertanggung besar

karena

banyak

rendah8.

Bahkan

yang

lebih

masyarakat yang memilih pemasangan kawat

Kawat gigi yang dipasang tidak sesuai

gigi ke tukang gigi atau orang yang tidak

prosedur akan menjadi penyebab gigi bergeser

berkompeten lainnya dibanding datang ke dokter

tidak sesuai dengan posisinya dan menimbulkan

gigi karena biaya pemasangan yang relatif lebih

berbagai penyakit. Prosedur pemasangan kawat

murah.

gigi

Keadaan

tersebut

tentu

amat

yang

dipasang

bukan

oleh

dokter

membahayakan masyarakat yang ternyata belum

berkompeten belum tentu memenuhi standar.

paham, termasuk aparat

Pemasangan kawat gigi yang tidak dilakukan

kepolisian, bahwa

pemasangan alat ortodonti cekat adalah suatu

dengan

tindakan medis yang hanya boleh dilakukan oleh

pergeseran gigi yang tidak diinginkan, gangguan

dokter gigi spesialis ortodonti.

6

benar

akan

berakibat

terjadinya

penguyahan, dan dapat menimbulkan radang gusi.10

Bahaya pemasangan kawat gigi Ilegal Pemasangan

baik

lama dilakukan. Adanya "tindakan perawatan

tukang gigi, ahli gigi, dan ahli behel akan sangat

gigi" oleh bukan dokter gigi merupakan alasan

berbahaya

Belanda mendirikan STOVIT di Surabaya karena

karena

kawat

gigi

dilakukan

ilegal

Pemberantasan tukang gigi sudah sejak

tidak

sesuai

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

32


tindakan para Tandmeester (tukang gigi) yang

menawarkan sebuah solusi yakni pengadaan

membahayakan

Ort-Card (Orthodontic card/ Kartu Ortodonti).

masyarakat.

Masalah

ini

kemudian menjadi salah satu agenda perjuangan awal PDGI yang dipimpin Prof. Soeria Soemantri,

Ort-card (Orthodontic card)

sampai akhirnya berhasil mendesak Departemen

Orthodontic Card merupakan gagasan

Kesehatan RI untuk mengeluarkan Permenkes

baru yang ada di Indonesia. Gagasan ini didesain

No.

sebagai solusi untuk melindungi masyarakat

53/DPK/69

tentang

Pendaftaran

dan

Perizinan Tukang Gigi yang isinya adalah

terhadap

menghilangkan profesi tukang gigi secara alami

pemasangan kawat gigi ilegal dengan melakukan

6

kesalahan

perawatan

akibat

dengan cara tidak memberi izin tukang gigi baru .

pembatasan penjualan dan pemasaran alat dan

Cara ini tidak efektif karena saat ini tukang gigi

bahan

semakin banyak dan perawatan yang dilakukan

kesempatan berlangsungnya praktik ilegal atau

semakin berkembang seperti pemasangan kawat

yang menamakan diri sebagai ahli gigi, ahli

gigi yang saat ini sedang populer.

behel, atau di salon-salon kecantikan untuk

Peringatan-peringatan telah di lakukan

ortodonti

Ketua

Persatuan

Indonesia (PDGI) drg.

Dokter

ada

lagi

Ortodontic mutlak

dalam

Card

pembelian

merupakan alat

dan

syarat bahan

Matram

ortodonti. Bagi mereka yang tidak memiliki kartu

menuntut pengawasan dan tindakan yang lebih

ini, tidak berhak untuk membeli alat dan bahan

tegas dari pemerintah terhadap profesi tukang

ortodonti. Pembuatan kartu Ort-Card ini dibuat

gigi yang bertindak di luar batas kewenangan.

oleh Dinas Kesehatan dengan menunjukkan

Akhirnya pemerintah mengeluarkan Peraturan

identitas sebagai spesialis ortodonti dan surat

Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor

izin

1871/Menkes/Per/IX/2011 tentang pencabutan

mendukung. Dengan adanya kartu ini dapat

peraturan

nomor

mengurangi pemakaian alat dan bahan ortodonti

pekerjaan

secara ilegal sehingga derita masyarakat akibat

tukang gigi yang menyebutkan bahwa tukang gigi

kesalahan perawatan ortodonti yang dilakukan

hanya berwenang membuat sebagian/seluruh

oleh praktik kawat gigi ilegal dapat berkurang.

menteri

Zaura Rini

Gigi

tidak

memasang kawat gigi.

oleh para dokter gigi namun tidak pernah dipedulikan.

sehingga

kesehatan

339/menkes/per/v/1989

tentang

praktik

dan

beberapa

berkas

yang

gigi tiruan lepasan dari akrilik; dan memasang gigi tiruan lepasan.9 Di tengah kehidupan masyarakat yang fashionable dalam hal pemasangan kawat gigi menuntut masyarakat untuk memasang kawat gigi, baik untuk perawatan maupun hanya untuk gaya. Hal ini menyebabkan menjamurnya praktik ilegal ditambah lagi alat dan bahan yang mudah diperoleh di pasaran. Masalah ini memicu mahasiswa

untuk

berpikir

menanggapi

kondisi yang dapat merugikan

masyarakat

ini.

Oleh

karena

kritis itu,

Gambar 1. Contoh desain Ort-card tampak depan

dalam penulis

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

33


Melalui dinas kesehatan, baik dinas kesehatan propinsi maupun kota berperan dalam mensosialisasikan ort-card ini kepada profesi kedokteran gigi dan kepada masyarakat serta toko-toko penjualan alat dan bahan kedokteran gigi, serta mengawasi jalannya program tersebut. Gambar 2. Contoh Desain Ort-Card tampak belakang

Jika terjadi pelanggaran, maka akan dilaporkan ke pihak yang berwenang. Dinas kesehatan juga perlu melakukan sosialisasi kepada masyarakat

Bahan dan alat ortodonti yang dijual secara

bebas

dipasaran

memudahkan

berlangsungnya praktik kawat gigi ilegal di

bahwa pemasangan kawat gigi bukan pada ahli medis akan membahayakan kesehatan. 3. Lembaga Dokter Gigi

masyarakat baik yang menamakan diri sebagai

Lembaga

dokter

gigi

ini

meliputi

tukang gigi, ahli gigi, ahli behel maupun salon-

Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan

salon. Hal ini tentu akan merugikan masyarakat.

Ikatan

Selain kerugian materi karena harus melakukan

bekerjasama dengan Dinas Kesehatan dalam

perawatan ulang ke dokter gigi jika terjadi

mengawasi jalannya program ort-card demi

kesalahan perawatan, praktik ilegal juga akan

terciptanya kesehatan gigi dan mulut masyarakat

berakibat pada kesehatan masyarakat sehingga

yang lebih baik.

Ortodontis

Indonesia

(IKORTI)

hal ini memerlukan suatu penanganan. Ort-Card (orthodontic card) merupakan salah satu bentuk

Langkah-langkah strategis yang dapat

solusi. Pengadaan Ort-Card perlu mendapat

ditempuh dalam implementasi karya tulis ini

dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak,

yaitu:

diantaranya:

a. Pemasaran alat dan bahan ortodonti

1. Instansi Pemerintah Dalam pemerintah membuat

harus dibatasi hanya pada toko-toko

implementasi

berperan suatu

sangat

peraturan

gagasan penting atau

ini,

resmi

untuk

kedokteran

larangan

pasaran

terutama

menteri

kesehatan.

dan

untuk

bahan

melindungi

akibat pemasangan kawat gigi ilegal. b. Sosialisasi kepada profesi kedokteran

Pemerintah harus membatasi pemasaran alat dan bahan ortodonti, dengan ini pemasaran alat

gigi

alat

masyarakat dari kesalahan perawatan

penjualan alat dan bahan ortodonti secara bebas di

penjualan

gigi melalui lembaga dokter gigi. c.

Sosialisasi kepada masyarakat tentang

dan bahan harus betul-betul pada perusahaan

adanya program ort-card

atau

dalam

Pengadaan ort-card ini membutuhkan

penjualan alat dan bahan kedokteran gigi.

pengorbanan dari pemerintah untuk menentukan

Apabila ada toko yang berani menjual alat dan

pilihan karena banyaknya toko-toko yang menjual

bahan kedokteran gigi secara ilegal maka sudah

alat dan bahan kedokteran gigi tanpa izin,

jelas toko tersebut melakukan pelanggaran dan

sehingga

akan dikenakan sanksi.

pekerjaan seseorang, oleh karena itu perlu

toko-toko

yang

bersifat

resmi

2. Dinas Kesehatan

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

adanya

dapat timbal

menghilangkan balik

yang

lapangan

diberikan

oleh

34


pemerintah.

Pemerintah juga

harus gencar

mensosialisasikan program ini. Hal ini tentunya sangat memerlukan bantuan dari berbagai pihak.

Februari

2012].

Available

from:

http://gigi.klikdokter.com 6. Pemasangan Behel Oleh Bukan Dokter Gigi Ancam Keselamatan Masyarakat. Jurnal Dentamedia okt â&#x20AC;&#x201C; des 2010; 4

3. SIMPULAN Ort-card merupakan suatu karya tulis gagasan untuk melindungi masyarakat

dari

(14). 7. Tukang

Gigi

Makin

Membahayakan

kesalahan perawatan akibat pemasangan kawat

Masyarakat. Jurnal Dentamedia Jan-

gigi ilegal dengan cara membatasi penjualan alat

Mar 2007; 1 (11).

dan bahan hanya pada dokter gigi spesialis

8. Mikail, Bramius. Tukang Gigi dan Resiko

ortodonti sehingga yang tidak memiliki kartu ini

Infeksi; 2011. [diakses 25 Februari

tidak berhak untuk membeli alat dan bahan

2012]. Avalable from: www.pdgi.or.id.

ortodonti.

9. Joni.

Prihatin:

Second; 2010. 4. SARAN

2012].

Perlu mengenai

dilakukan

penelitian

keefektifan

dalam

lanjutan

penggunaan

Ortodontic Card.

Jual

Beli

Ortodonti

[Diakses 26 Februari Available

from:

www.medicalera.com

10. Nauval

E.

pemasangan

PDGI kawat

Palembang: penyebab

gigi

bergeser. Indonesian News No.584. September 15th 2011

DAFTAR PUSTAKA 1. Gustaaf

K. Trend Kawat Gigi untuk

â&#x20AC;&#x17E;Fashionâ&#x20AC;&#x;; 2011. [diakses 17 Februari 2012]

Available

from:

http://kesehatan.kompasiana.com/medis /2011/04/06/trend-kawat-gigi-untukfashion/)/ 2. Kusuma Y. Kawat Gigi: Trend atau Perawatan. Kiat Sehat. Edisi 4 oktoberdesember; 2008. 3. Erwansyah E. Menyempurnakan Bentuk Wajah

Dengan

Kawat

Gigi;

2012.

[Diakses tanggal 24 Febriari 2012] Available

from:

www.orthodontic-

eka.com. 4. Mitchell

L.

Orthodontics

An 2nd

Introduction Edition.

to

Inggris:

Oxford University Press; 2001. 5. Mozartha M . Pilih Dokter Gigi atau Tukang

Gigi?;

2010.

[Diakses

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

27

35


Literature Study

PERAWATAN APEKSOGENESIS DENGAN MINERAL TRIOXIDE AGGREGATE (MTA) PADA GIGI PERMANEN MUDA Febrina Audina1 1

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Sumatera Utara. Email : pepyey@rocketmail.com

ABSTRAK Dalam praktiknya, keadaan gigi muda dengan pulpa vital yang perkembangannya belum sempurna, tidak jarang ditemui. Hal tersebut dapat disebabkan karena karies yang meluas ataupun karena traumatic injuri. Apeksogenesis merupakan suatu prosedur yang melibatkan pulpa yang terinflamasi pada gigi yang perkembangannya belum sempurna. Tujuan apeksogenesis adalah mempertahankan jaringan pulpa vital sehingga perkembangan akar pada gigi permanen muda dapat menutup dengan sempurna. Bahan yang biasa digunakan dalam prosedur apeksogenesis adalah Mineral Trioxide Aggregate (MTA). MTA dibentuk dengan sifat fisik yang baik, ciri yang memadai serta yang diperlukan dalam suatu material medikamen yang ideal. Kata Kunci : perkembangan gigi tidak sempurna, apeksogenesis, Mineral Trioxide Aggregate (MTA).

ABSTRACT In clinical practice it is not uncommon to find incompletely developed teeth that require some form of endodontic intervention due to extensive caries or traumatic injury. Apexogenesis is a procedure that addresses the shortcomings involved with capping the inflamed dental pulp of an incompletely developed tooth. The goal of apexogenesis is the preservation of vital pulp tissue so that continued root development with apical closure may occur. Material used in apexogenesis is Mineral Trioxide Aggregate (MTA). MTA was originally formulated to provide the physical properties, setting requirements and characteristics necessary for an ideal repair and medicament material. Keywords : incompletely develop teeth, apexogenesis, Mineral Trioxide Aggregate (MTA).

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

36


1. PENDAHULUAN Dalam praktik klinis, keadaan pada gigi muda dengan pulpa vital yang perkembangannya belum sempurna tidak jarang ditemui, biasanya disebabkan karena karies yang meluas atau luka traumatik. Pada kasus seperti ini, diperlukan perawatan endodontik agar perkembangan gigi muda tersebut dapat berlanjut hingga menjadi gigi permanen seutuhnya. Tes vitalitas pulpa dan derajat perkembangan gigi sangat dibutuhkan untuk merencanakan suatu perawatan yang sesuai supaya gigi dapat bertahan lama.1 Pada gigi permanen muda, penutupan apeks

Gambar 1. (A) Gambaran radiografi pada karies simptomatik

2

terekspos pada gigi premolar kedua rahang bawah sebelum

gigi

belum

terbentuk

dengan

sempurna.

Penutupan apeks kira-kira terjadi selama 3 tahun

perawatan. (B) Gambaran radiografi setelah perawatan pulpotomi dengan

setelah erupsi. Akar yang belum sempurna

MTA dan direstorasi

dengan resin

komposit. (C) Setelah 2,7 tahun menunjukkan kelanjutan

memiliki lubang apeks yang lebih besar. Dinding

pertumbuhan akar (apeksogenesis). (D) Pasca 3,4 tahun

saluran akar dari akar yang belum sempurna

menunjukkan gigi lebih respon dengan tes pulpa.

dengan apeks terbuka adalah lebih tipis daripada akar yang tumbuh normal.3 Jika gigi yang belum matang tersebut terkena trauma sedikit saja, maka

pulpanya

dapat

terbuka.

Agar

pembentukan normal dentin pada akar dapat terus

berlangsung,

pulpotomi

dilakukan

yang

perawatan

tujuannya

untuk

mempertahankan vitalitas pulpa bagian akar. Kebanyakan

gigi

yang

belum

sempurna

pertumbuhannya dan mengalami fraktur mahkota dengan pulpa yang terbuka, pulpanya vital dan inflamasi

terbatas

pada

makalah ini adalah mengemukakan pentingnya suatu perawatan pulpa vital pada gigi yang belum terbentuk sempurna agar pembentukan dentin dan penutupan apeksnya dapat terus berjalan. Dengan kata lain, perawatan ini menjaga supaya pulpa radikuler tetap vital.

3

2. PEMBAHASAN 2.1. Apeksogenesis Apeksogenesis adalah suatu prosedur

pulpa

pada pulpa yang telah terinflamasi dan masih

saja.sedangkan pada gigi yang terkena karies,

vital pada gigi yang perkembangannya belum

perawatan juga bisa dilakukan pada pulpa yang

sempurna atau sering disebut dengan gigi

terbuka sedikit, keberhasilannya tergantung pada

permanen muda.1 Apeksogenesis dapat juga

luasnya kerusakan pulpa dan layak atau tidaknya

disebutkan sebagai suatu perawatan pulpa vital

gigi tersebut direstorasi.

permukaan

Maka dari itu, maksud dan tujuan dari

2

pada gigi yang akarnya belum tumbuh sempurna, untuk memberi kesempatan pada akar melanjutkan pertumbuhan dan menutup apeksnya. Perawatan ini dilakukan dengan cara

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

37


mempertahankan pulpa vital atau menyingkirkan pulpa yang terinflamasi reversibel supaya pembentukan akar dan pematangan apeks dapat dilanjutkan.

2

Indikasi dilakukannya apeksogenesis adalah untuk gigi yang dalam masa pertumbuhan dengan foramen apikal yang belum tertutup sempurna, adanya kerusakan pada pulpa koronal sedangkan pulpa radicular dalam keadaan sehat. Tetapi apeksogenesis merupakan suatu kontraindikasi pada gigi yang telah mengalami avulsi dan replantasi, gigi yang sangat goyang, Gambar 2. Gambaran radiografi periapikal pada gigi 21

gigi yang mengalami fraktur mahkota, gigi

dengan perkembangan akar yang belum sempurna.

dengan fraktur akar yang horizontal yang berada

2.1. Mineral Trioxide Aggregate (MTA)

dekat dengan gingival, serta gigi karies yang tidak dapat direstorasi lagi.

1

Telah

banyak

material-material

dalam

kedokteran gigi yang telah berkembang, salah 2.2.

Morfologi Gigi Permanen Muda

satunya Mineral Trioxide Aggregate (MTA). MTA

Gigi permanen muda merupakan gigi

merupakan

salah

satu

bahan

yang

baru

permanen yang baru saja erupsi dan ada bagian-

berkembang

bagian dari gigi itu sendiri yang belum sempurna

keberhasilan

pertumbuhan dan perkembangannya. Misalnya

mengatakan, MTA sebagai suatu bahan yang

pada gigi permanen dewasa, gigi tersebut telah

sangat serbaguna dalam kedokteran gigi. Hal itu

mempunyai perkembangan akar yang lengkap

dikarenakan oleh sifat-sifat fisik MTA yang baik

sedangkan pada gigi permanen muda masih

dan

mempunyai ruang pulpa yang besar dan apeks

regenerasi jariangan serta respon pulpa yang

yang terbuka. Sehingga pada gigi permanen

baik.5

dan

menunjukkan

yang

kemampuannya

muda lebih reaktif terhadap invasi bakteri dan

bagus.

untuk

tingkat Beberapa

merangsang

2.1.1. Isi Bahan MTA

rasa sakit. Karena distribusi syaraf pada gigi

MTA merupakan suatu percampuran dari

sulung berakhir di odontoblas, oleh karena itu

semen Portland dan bismuth oksida serta ada

persyarafan di gigi sulung kurang sensitif. Beda

juga

dengan gigi permanen yang distribusi syarafnya

beberapa elemen seperti SiO2, CaO, MgO,

di dalam odontoblas sampai pre dentin, sehingga

K2SO4, dan Na2SO4. Komponen utama adalah

lebih sensitif.4

dilaporkan

bahwa

MTA

terdiri

dari

semen Portland tersebut yang merupakan campuran dari dikalsium silikat, trikalsium silikat, gypsum, dan tetrakalsium aluminoferit.6 2.1.2. Sifat MTA MTA mengeras kira-kira 3 sampai 4 jam,

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

38


kekuatannya kurang dari amalgam. Kekuatan

kekuatan yang lebih dibandingkan MTA abu-

MTA dalam 24 jam kira-kira 40 MPa dan naik

abu.

menjadi 67.3 MPa setelah 21 hari. MTA bersifat

8

2.1.4. Manipulasi Kerja MTA

radiopak sehingga lebih mudah dilihat dalam

Dalam penggunaan MTA sebagai bahan

radiografi. MTA tidak mempunyai sifat anti

material, dilakukan beberapa tahap kerja yaitu

mikroba, tetapi Enterococcus faecalis dan

sebagai berikut,

Streptococcus

sanguinis tidak dapat hidup

dalam MTA. MTA

1. Mixing:

MTA

abu-abu

dan

MTA

putih

dicampur dengan air bersih dengan rasio 3:1 tidak

bereaksi

dengan

bahan

sesuai dengan petunjuk pabrik. Dalam hal ini

restorasi lainnya. Tes genetoksik menunjukkan

susah dimanipulasi sehingga pada saat

pada MTA tidak ada bersifat merusak DNA.

insersi MTA agak sulit.

MTA juga dapat bersifat aktivasi sementoblas dan produksi sementum. Pada beberapa kasus, MTA

juga

bersifat

bone

healing.

5

MTA

memproduksi lebih banyak dentinal bridge lebih

2. Insersi:

ultrasonic-assisted

condensation

lebih efisien daripada hand-condensation. 3. Ketebalan: 5mm MTA yang tersedia lebih baik untuk resistensi microleakage.

signifikan dibandingkan Calsium Hidroksida

4. Lakukan radiografi.

dalam waktu yang lebih cepat serta memiliki

5. Kapas yang lembab diletakkan diatas MTA,

sedikit

inflamasi

nekrosis

dan

pulpa.

MTA

mengurangi juga

resiko

dilaporkan

kemudian dilakukan restorasi sementara. (Setting time MTA 3-4 jam setelah mixing).

mempunyai ukuran partikel yang kecil, toksik

Pasien control kembali setelah 24 jam untuk

yang sedikit, dan working time yang lama. Oleh

obsturasi & lakukan penggantian restorasi

sebab itu, perawatan dengan MTA telah

menjadi permanen. Isi saluran akar dengan

menjadi standard pada perawatan dengan

guta perca & restorasi resin komposit.8

apeks terbuka. 7 2.1.3.

Tipe MTA

3. KESIMPULAN

MTA pertama kali disebutkan dalam literature

pada

tahun

1993.

Ketika

MTA

Daun MTA merupakan bahan material yang baik karena kualitas dan keidealannya.

diperjualbelikan, terdapat warna abu-abu dari

MTA juga berhasil dalam pembentukan dentin

MTA (gray MTA). Kemudian pada tahun 2002,

bridge dengan sedikit efek samping dan

MTA putih pertama kali dikenalkan. MTA abu-

kerugian. Sifat-sifat dari MTA cocok digunakan

abu berisi aluminoferit yang menyebabkan

sebagai bahan untuk apeksogenesis pada gigi

diskolorisasi pada gigi dan jaringan gingiva.

permanen muda. Apeksogenesis dilakukan pada

MTA abu-abu juga memproduksi 43% kristal

gigi permanen muda karena apeks pada gigi

hidroksiapatit

permanen muda belum menutup secara

pada

permukaan,

dan

juga

5

menginduksi pembentukan dentin lebih efisien

sempurna sehingga perlu dilakukan suatu

(reparative dentin). Sedangkan pada MTA putih

perawatan. Setelah erupsi, diperlukan sekitar 3

(white MTA) menyebabkan pewarnaan juga

tahun untuk gigi dengan apeks yang menutup

pada gigi tetapi hal itu tergantung pada

sempurna.2 Sehingga pulpa radikuler tetap vital.3

kandungan Fe2O3.

. Perawatan apeksogenesis ini dilakukan dengan

MTA putih mempunyai

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

39


cara mempertahankan pulpa vital atau

aggregate material use in endodontic treatment:

menyingkirkan pulpa yang terinflamasi reversibel

A review of the literature. Dental Materials (24)

supaya pembentukan akar dan pematangan

2008. 149-164

2

apeks dapat dilanjutkan. Banyak sekali

8. Hussein, Ahmad Mustofa. Apexification &

keuntungan yang diperoleh jika kita

Apexogenesis. 10 April 2012.

menggunakan MTA sebagai bahan material,

http://www.slideshare.net/ahmedmostafahussei

namun MTA mempunyai setting time yang lama

n/apexification-ahmad-mostafa

yaitu sekitar 3-4 jam setelah mixing serta harga yang mahal. Namun hal itu dapat terbayar dengan sifat fisik MTA yang sangat baik sehingga MTA sering digunakan dalam berbagai perawatan contohnya apeksogenesis.

DAFTAR PUSTAKA 1. Barrington C. Apexogenesis in an Incompletely Developed Permanent Tooth with Pulpal Exposure. 1 Februari 2003. http://www.endoexperience.com. 23 Oktober 2013. 2. Walton RE. Prinsip & Praktik Ilmu Endodonsi (Edisi Kedua). Alih Bahasa. Sumawinata dkk. Jakarta: EGC, 1998: 489 – 491. 3. Walton RE. Prinsip & Praktik Ilmu Endodonsia (Edisi Ketiga). Alih Bahasa. Sumawinata N, Juwono L. Jakarta: EGC, 2008: 435 – 437. 4. USU OpenCourse Ware. Pedodonsia Terapan. http://ocw.usu.ac.od/course/detail/pendidikandokter-gigi-s1/611-PEDODONSIATERAPAN.html. 25 Oktober 2013. 5. Arathy Rao, dkk. Mineral Trioxide Aggregate – A review. The Journal of Clinical Pediatric Dentistry Volume 34, Number 1/2009 6. Camp, H. Joe. Diagnosis Dilemmas in Vital Pulp Therapy: Treatment for the Toothache is Changing, especially in Young, Immature Tooth. Journal of Endodontics. July 2008, Volume 34, Number 7S. 7. Howards W. Roberts, dkk. Mineral trioxide

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

40


Literature Study

PAPAIN-BASED GEL SEBAGAI AGEN CHEMO-MECHANICAL CARIES REMOVAL YANG RAMAH LINGKUNGAN 1

1

1

Nasriana S. Manurung , Aninda K. Dewi , Agung Prabowo Dhartono 1

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia Email: nsrnstephanie@hotmail.com

ABSTRAK Penatalaksanaan karies gigi saat ini masih menggunakan teknik konvensional yaitu dengan pengeboran (drilling) gigi untuk selanjutnya dilakukan restorasi gigi. Prosedur pengeboran gigi umumnya menggunakan handpiece dan bur untuk membersihkan jaringan karies dan menyiapkan kavitas gigi. Prosedur tersebut tentunya akan meningkatkan pemakaian energi listrik dan tidak ramah lingkungan. Belakangan ini dikembangkan suatu teknik dalam perawatan gigi untuk mengurangi halhal tersebut, yaitu chemo-mechanical caries removal menggunakan papain-based gel. Studi pustaka ini bertujuan untuk mengetahui papain-based gel sebagai agen chemo-mechanical caries removal. Papain-based gel mengandung enzim papain yang diekstraksi dari getah daun pepaya dan buah pepaya hijau. Enzim yang ada pada papain-based gel ini terdiri atas endoprotein yang serupa dengan enzim pepsin pada manusia yang bersifat antibakteri, antiinflamasi, dan mempercepat proses penyembuhan luka. Penggunaan papain-based gel sangat membantu proses preparasi cavitas sebelum penumpatan, memberikan rasa nyaman bagi pasien, serta lebih mempertahankan jaringan sehat di sekitar kavitas gigi. Keunggulan lain dari papain-based gel yaitu manipulasinya yang mudah, sederhana, dan harga yang terjangkau. Papain-based gel dapat digunakan sebagai agen chemomechanical caries removal yang ramah lingkungan. Katakunci: Papain-based gel, chemo-mechanical caries removal, eco-friendly dentistry

ABSTRACT Treatment to dental caries nowadays is still using the conventional technique which is drilling, and followed by the tooth restoration. The procedures of drilling generally use handpiece and drill to get rid of the carious tissues and to prepare the cavity. This procedure will increase the usage of electricity and is not environmentally-friendly. Lately, a technique in tooth restoration is being developed to lessen those disadvantages, which is chemo-mechanical caries removal using papain-based gel. This literature review was aiming to acknowledge papain-based gel as a chemo-mechanical caries removal agent. Papain-based gel contained papain enzyme which is extracted from the latex and fruits of the green adult papaya. Enzyme that was found in this papain-based gel contained endoprotein which is similar to pepsin enzyme found in humans with characteristic of antibacterial, anti-inflammatory, and could accelerate wound-healing process. Using papain-based gel greatly helped the cavity preparation process before the fillings, comfortable to the patient, and could preserve more healthy tissues around the cavity. Other advantages of papain-based gel were easy to manipulate, simple, and affordable. Papain-based gel could be used as a chemo-mechanical caries removal agent that is environmentallyfriendly. Keywords: Papain-based gel, chemo-mechanical caries removal, eco-friendly dentistry

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

41


1. PENDAHULUAN Karies

gigi

dieskavasi untuk menghilangkan lesi masih

merupakan

salah

satu

menjadi tantangan, seperti

penyakit oral yang umum dijumpai dan masih

seharusnya

menjadi masalah utama bagi dokter gigi.

penyingkiran karies.3

Penyakit

ini

merupakan

suatu

proses

digunakan

Pembersihan

kriteria yang

untuk

karies

memandu

dengan

metode

demineralisasi yang progresif pada jaringan

konvensional ini biasanya dikaitkan dengan

keras permukaan mahkota dan akar gigi yang

persepsi pasien bahwa tindakan pengeboran

ditandai dengan rasa nyeri dan rusaknya

tidak menyenangkan, membuat rasa cemas

jaringan. Rusaknya jaringan

dan

permukaan

gigi,

dimulai dari

anak-anak,

pemberian

anestesi yang dibutuhkan, pengeboran yang

enamel, dentin, hingga meluas ke arah pulpa.

menyebabkan efek termal dan tekanan pada

Salah satu tindakan yang dianjurkan dokter

pulpa, serta penggunaan handpiece yang

gigi untuk mengatasi hal tersebut adalah

dapat mengakibatkan pembuangan dentin

tindakan restorasi gigi.1

tidak

atau

sehat

sehingga

mengakibatkan hilangnya jaringan gigi yang

langkah penting sebelum tindakan restorasi

sehat. Hal-hal ini yang menjadi kelemahan

gigi untuk menghentikan perkembangan karies

utama dalam prosedur pengeboran. Selain hal

gigi. Jika karies tidak dihentikan, gigi akan

itu, prosedur tersebut juga meningkatkan

kehilangan struktur, fungsi estetik, mastikatori

pemakaian energi listrik dan tidak ramah

dan

lingkungan.4,5

karies gigi

biologisnya. yang

menggunakan dengan

merupakan

terinfeksi

suatu

fungsi

kavitas

mineral

pada

dari

Preparasi

hilangnya

takut

biasa

teknik

pengeboran

Penatalaksanaan dilakukan masih

konvensional (drilling)

gigi

yaitu untuk

Mengingat konvensional alternatif

kelemahan tersebut,

untuk

dari

prosedur

maka

diperlukan

mengurangi

Salah

selanjutnya dilakukan restorasi gigi. Prosedur

konvensional.

pengeboran gigi sebelum dilakukan restorasi

dikembangkan untuk mengatasi kekurangan

umumnya menggunakan handpiece dan bur

tersebut

untuk membersihkan jaringan karies serta

Metode

menyiapkan kavitas gigi. Metode ini dapat

teknik

membuang karies dengan cepat dan efisien.2

dentin yang terinfeksi melalui suatu agen

berupa

satu

metode

kemo-mekanis non-invasif

metode

teknik

kemo-mekanis.

karies

dengan

yang

merupakan

menghilangkan

Proses menyingkirkan jaringan karies gigi

bahan kimia dan mampu melestarikan jaringan

memainkan peran penting dalam pendekatan

sehat di sekitarnya.Selain itu, metode ini lebih

restorasi gigi. Tujuan utama dari proses ini

memberikan rasa nyaman bagi pasien karena

mengeliminasi jaringan infeksi, mengontrol

bunyi yang ditimbulkan oleh bur.5 Pada

perkembangan dari lesi dan penyingkiran

metode ini menggunakan bahan kimia dibantu

jaringan nekrotik, dan melunakkan dentin,

dengan kekuatan mekanik atraumatik untuk

untuk memungkinkan dukungan yang tepat

menghilangkan struktur lunak dentin yang

pada saat penumpatan. Meskipun kehadiran

terinfeksi.4 Salah satu bahan yang digunakan

bahan

berupa papain-based gel.5

adhesif

telah

memungkinkan

perkembangan dalam desain kavitas yang

Aplikasi papain gel pada jaringan yang

minimal, jumlah jaringan karies yang butuh

mengalami karies gigi merupakan alternatif

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

42


dari tindakan bur . Hal ini menyebabkan

intervensi

metode

intervention) untuk merestorasi gigi.

ini membuat tindakan restorasi

menjadi atraumatis dan ramah lingkungan

minimal

(concept

of

minimal

Intervensi minimal dalam merestorasi gigi

karena tidak memerlukan listrik serta berasal

merupakan

dari

Papain

mengkombinasikan pengetahuan mengenai

memiliki

prinsip pencegahan, remineralisasi lesi karies,

karakteristik bakterisida, bakteriostatik dan

dan perkembangan bahan tumpat adesif.

antiinflamasi.

Intervasi

alam

yakni

merupakan

daun

enzim

pepaya.4

proteolitik,

Papain

bertindak

sebagai

sebuah

minimal

filosofi

merupakan

yang

tindakan

sebuah debridement antiinflamasi yang tidak

pencegahan pada lesi nonkavitasi, deteksi dini

merusak jaringan sehat. Papain memfasilitasi

karies, remineralisasi, dan preparasi minimal

pembersihan jaringan nekrotik dan sekresi,

untuk restorasi langsung dengan tumpatan

sehingga

waktu

adesif bila perawatan di indikasikan. Salah

diperlukan untuk pemulihan jaringan. Pepaya

satu tujuan dari konsep intervasi minimal

ini mengandung aktivitas anti bakteri yang

adalah mengatasi kerusakan jaringan gigi

menghambat pertumbuhan organisme gram

akibat

positif dan gram negatif.6,7 Oleh sebab itu,

meminimalkan tindakan invasif yaitu dengan

penulis tertarik dengan inovasi dari papain-

mempertahankan dentin dan email yang sehat

based gel sebagai agen kemokanikal, bahan

melalui terai remineralisasi juga dengan upaya

ini yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai

menyisakan dentin demieralisasi yang dalam

pengganti alternatif dari penggunaan bur untuk

untuk menghindari terbukanya pulpa sehingga

preparasi

vitalitas pulpa dapat dipertahankan.9

dapat

mempercepat

kavitas

dalam

menghilangkan

karies.

karies

dengan

mengurangi

atau

Intervensi minimal dalam penumpatan gigi sangat berkaitan erat dengan disain preparasi

2. TINJAUAN PUSTAKA

kavitas minimal, alat-alat preparasi modern,

2.1 Intervensi Minimal Eco-dentistry

penggunaan

merupakan

tumpat

adesif

serta

atau

peminimalan siklus restorasi. Salah satu disain

realisasi dalam kedokteran gigi yang bertujuan

preparasi kavitas minimal yang menganut

mengurangi limbah dan polusi, menghemat

intervensi minimal berupa teknik preparasi

air, energi, dan biaya, dengan menggunakan

mikro. Hal tersebut dikarenakan, pada teknik

berbagai inovasi. Penggunaan bahan dan alat

preparasi

yang berlebihan dan tidak efektif dalam

mendapatkan akses ke kavitas seminimal

praktek klinis dapat mencemari lingkungan

mungkin, tanpa banyak membuang jaringan

dan berkontribusi dalam pemanasan global.

gigi. Teknik preparasi mikro ini melibatkan

Oleh karena itu, kesadaran dalam praktek

sejumlah instrumen modern, diantaranya bur

klinis kedokteran gigi perlu ditingkatkan untuk

micro-preparation

menjaga

mengurangi

preparasi

ultrasonik

Salah satu tindakan

abrasion,

dental

lingkungan

pemanasan global.

8

dan

praktik

bahan

mikro

9

dalam

dan

prosedurnya

fissurotomy,

alat

(sonoabrasion),

air

laser

dan

metode

dalam praktik kedokteran gigi yang menganut

kemomekanikal.

falsafah eco-dentistry atau green dentistry

bila melakukan penumpatan dengan intervensi

adalah

minimal, diantaranya sisa jaringan gigi tetap

dengan

menggunakan

konsep

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

Keuntungan yang didapat

43


kuat,

cidera

terhadap

pulpa

minimal,

pengembalian bentuk anatomi lebih mudah

adalah harus diaplikasikan oleh operator yang terlatih dan memerlukan instrumen khusus.10

sehingga estetika lebih terjamin, sehingga pekerjaan dokter gigi menjadi lebih baik, mudah, cepat, dan lebih ramah lingkungan.

9

Teknik

yang

2.2 Chemo-Mechanical Caries Removal

non-invasif

untuk

konvensional.

Metode

ini

dapat

menyebabkan rasa sakit dan tidak nyaman

Chemo-mechanical caries removal (CMCR) tindakan

digunakan

menghilangkan jaringan karies adalah dengan metode

adalah

biasanya

pembuangan

bagi

pasien.

mechanical

Oleh

karena

caries

itu,

chemo-

removal

(CMCR)

jaringan keras gigi dengan cara melunakkan

dikembangkan sebagai salah satu teknik

jaringan menggunakan bahan kimia kemudian

alternatif

diikuti tindakan ekskavasi jaringan yaang

Metode CMCR ini disebut patient-and-user

rusak.

pada

friendly karena dapat mendegradasi kolagen

penelitian yang dilakukan oleh Goldman dan

yang tidak terdegradasi sempurna di dalam

kronman di Amerika ppada tahun 1970-an,

dentin yang terinfeksi tanpa merusak jaringan

yaitu efek sodiuum hipoklorit bersifat toksik

dentin yang normal.6

Prinsip

dan

dapat

disekitarnya.

CMCR

didasarkan

merusak

jaringan

sehat

10

terhadap

Chemo-mechanical merupakan

Perkembangan

selanjutnya

sodium

metode

mengeliminasi

konvensional.

caries

teknik

removal

non-invasif

dentin

yang

yang terinfeksi

hipoklorit digabung dengan Sorensens Buffer

menggunakan agen kimiawi. Proses ini tidak

untuk mengurangi toksisitas. Formula tersebut

hanya

terdiri dari glisin, sodium klorit, dan sodium

namun juga menjaga struktur gigi yang sehat,

hipoklorit yang dikenal dengan nama GK 101.

mencegah

Kekurangan

proses

ketidaknyamanan pasien. Metode ini tidak

pembuangan jaringan keras sangat lambat.

menggunakan teknik pengeboran dan dibantu

Selain itu, penggunaan bahan restorasi yang

oleh

GK

101

adalah

bersifat adesif belum dikenal pada saat itu. Caridex

dikembangkan

10

menghancurkan

iritasi

gaya

jaringan

pada

mekanikal

terinfeksi,

pulpa

yang

dan

atraumatik

menggunakan eskavator untuk menghilangkan

berdasarkan

struktur lunak karies.5

formula N-monokloroglosin dan asam amino

Beberapa agen chemo-mechanical caries

butirat. Caridex dapat memecah kolagen pada

removal sudah dikembangkan. Pada 1975,

jaringan keras sehingga lebih memudahkan

larutan

pembuangan jaringan. Kelemahan Caridex

hypochlorite

secara

mahal,

menyingkirkan jaringan karies. Larutan ini

memerlukan pompa reservoir, jumlah larutan

disebut GK-101 atau N-monochloroglycine

yang diperlukan sangat banyak, dan masa

yang juga mengandung natrium hidroksida

klinis

simpan

bahan

diperkenalkan

yaitu

pendek. Carisolv

harganya

10

di

Akhir-akhir Eropa

ini

untuk

yang

mengandung (NaOCl)

5%

digunakan

natrium untuk

(NaOH), natrium klorida (NaCl), glycine.4 Kemudian larutan ini dimodifikasi

menjadi

menyaingi Caridex. Carisolv lebih efektif dan

lebih effisien dengan menambahkan grup etil

mudah manipulasinya tapi kekurangannya

sehingga namanya diubah menjadi GK-101E atau

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

N-monochloro-D,L-2-aminobutyrate.

44


Larutan baru ini diberi merek bernama Caridex dan aplikasinya menggunakan teknik yang sama dengan GK-101. sudah

efektif,

7

dan

dengan

demikian

penyingkiran jaringan.

memfasilitasi

3

Meskipun Caridex

masih

ada

beberapa

2.3.2 Sumber Enzim Papain

baru

Nama latin pepaya adalah Carica papaya

tujuan

L. Tanaman ini berasal dari daerah tropis di

mengeliminasi kerugian dari Caridex.Produk

Amerika, Meksiko bagiang selatan, yang

ini bernama Carisolv dan mengandung tiga

kemudian menyebar ke berbagai negara tropis

asam amino; lysine, leucine, dan glutamic

lainnya. Pepaya mempunyai manfaat yang

acid.Ketiga asam ini menetralkan sifat agresif

cukup beragam, baik dalam makanan dan

NaOCl pada jaringan mulut yang sehat.

minuman

Namun, penggunaan carisolv membutuhkan

adalah tanaman herba yang memiliki batang

training

tidak berongga, biasanya tidak bercabang dan

keterbatasannya dikembangkan

yang

professional

sehingga di

Eropa

extensif

serta

produk dengan

dan

alat-alat

pendaftaran khusus

yang

menyebabkan carisolv tidak dapat digunakan 4

dapat

maupun

industri

mencapai

merupakan

10

daun

obat.

meter.

tunggal,

Pepaya

Daunnya

besar

dan

oleh banyak orang. Pada 2003, sebuah gel

bercangap. Pepaya memiliki tiga jenis bunga,

dikembangkan di Brazil. Gel ini terbuat dari

yaitu bunga jantan, bunga betina dan bunga

enzim papain, kloramin, dan toluidin biru dan

sempurna.

disebut â&#x20AC;&#x153;PapacĂĄrieâ&#x20AC;? yang berarti â&#x20AC;&#x153;memakan

mengandung getah yang bersifat enzimatis,

kariesâ&#x20AC;?. Gel ini diaplikasikan pada dentin yang

yaitu dapat memecah protein.Enzim ini disebut

terkontaminasi dan khasiat proteolitik, klorinasi

enzim

dan oksidasinya akan bereaksi pada kolagen

digunakan di berbagai industri seperti industri

gigi karies tanpa merusak dentin bagian

makanan dan minuman, kosmetik, farmasi,

dalam.

7

Batang,

papain.

bunga

Enzim

dan

buahnya

papain

banyak

tekstil, dan penyamak. Enzim endoprotein ini memiliki sifat bakterisidal, bakteriostatik, nontoksik, dan beraksi sebagai antiinflamasi.6

2.3 Papain-based gel 2.3.1 Kandungan Papain-based gel Papain-based gel atau Papacarie adalah

2.3.3 Manfaat Enzim Papain Enzim papain digunakan di berbagai

gel yang mengandung enzim papain, kloramin, toluidin biru, garam, dan zat pengental yang

industri

bersama-sama

menguntungkan.Pada bidang kedokteran gigi

memberi

karakterisik

bakterisidal, bakteriostatik dan antiinflamasi.

4

karena

sifat-sifatnya

yang

dapat

enzim papain dimanfaatkan karena enzim ini

Papain bereaksi hanya pada jaringan yang

bekerja hanya pada jaringan yang terinfeksi,

terinfeksi

memberantas

karena

sifat

khusus

enzimnya.

bakteri

(bakterisida),

Kloramin membantu untuk melarutkan jaringan

mencegah

karies dentin dengan mengklorinisasi kolagen

(bakteriostatik).

gigi karies yang tidak terdegradasi dengan

pepsin di tubuh manusia papain bertindak

sempurna.

sebagai agen debridant antiinflamasi yang

Mekanisme

ini

mempengaruhi

struktur kolagen, melarutkan ikatan hydrogen

tidak

merusak

pertumbuhan

dan

Selain

itu,

jaringan

bakteri

seperti

enzim

sehat

dan

mempercepat proses penyembuhan luka.

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

45


Papain

mendorong

pembersihan

titik kontak tidak berubah sehingga dapat

kimiawi pada luka, granulasi dan pembentukan

menjaga lengkung gigi; dan (4) memperbaiki

jaringan

penampilan.2,11

epitel,

serta

menstimulasi

daya

rentang luka Papain hanya bereaksi pada

Usaha yang pertama dilakukan untuk

jaringan yang terinfeksi karena pada jaringan

membuat preparasi kavitas dalam rangka

tersebut tidak ada protease antiplasmatik

pembuangan jaringan gigi yang rusak adalah

(alpha-1-antitrypsin) yang menghambat aksi

dengan

proteolitik enzim papain. Alpha-1-antitrypsin

penggunaan hand drill. Tahun 1871 James

hanya

Morrison

ada

dalam

jaringan

sehat

dan

metode

konvensional

mengembangkan

menjadi

yaitu high

menghambat penghancuran protein. Tidak

speed drill yang digunakan sampai sekarang.

adanya Alpha-1-antitrypsin dalam jaringan

Kekurangan

yang terinfeksi memperbolehkan papain untuk

ditimbulkan dapat mengganggu kenyamanan

menguraikan molekul kolagen yang belum

pasien terutama anak-anak serta diperlukan

terdegradasi dengan sempurna.

4

alat

ini

adalah

bunyi

yang

Sehingga

anestesi lokal. Pengeboran gigi juga dapat

enzim papain digunakan dalam papain-based

menimbulkan panas yang membahayakan

gel untuk menghilangkan jaringan karies pada

vitalitas pulpa serta pembuangan jaringan gigi

gigi .

sehat yang berlebihan.5,12,13 Di lain pihak, ternyata prosedur konvensional meningkatkan

3 . PEMBAHASAN 3.1

pemakaian energi listrik yang tidak ramah

Perkembangan

Metode

Preparasi

lingkungan.

Pengeboran

dalam

teknik

Kavitas Menuju Teknik Kedokteran Gigi

konvensional

Ramah Lingkungan (Eco-Dentistry)

penggunaannya yang tidak benar dan efektif

Preparasi

kavitas

merupakan

suatu

menyebabkan

membutuhkan

pemakaian

listrik

listrik

serta

yang

langkah penting sebelum tindakan restorasi

berlebihan. Limbah cair yang dihasilkan dari

gigi.

proses

Restorasi

gigi

merupakan

tindakan

preparasi

kavitas

menimbulkan

penggantian jaringan keras gigi yang rusak

pencemaran jika tidak ditangani dengan tepat.

dengan bahan restorasi, yang sebelumnya

Oleh sebab itu, diperlukan alternatif lain yaitu

dilakukan

praktik kedokteran gigi yang ramah lingkungan

preparasi

kavitas

dengan

tujuanmembuang enamel dan dentin yang

(eco-dentistry).

kavitas

Eco-dentistry merupakan praktik atau

sedemikian rupa sehingga bahan tumpatan

realisasi dalam kedokteran gigi yang bertujuan

dapat

secara

mengurangi limbah dan polusi, menghemat

Tahapan yang perlu dilakukan

air, energi, dan biaya, dengan menggunakan

terkena

karies

diletakkan

sempurna. dalam

dan

2

merestorasi

membuang

membentuk

di

gigi,

jaringan

dalamnya

antara karies

lain:

(1)

berbagai inovasi. Penggunaan bahan dan alat

dengan

yang berlebihan dan tidak efektif dalam praktik

pengeboran agar karies tidak meluas ke

klinis

jaringan pulpa; (2) mengembalikan gigi yang

berkontribusi dalam pemanasan global. Eco-

karies dengan bahan restorasi yang sesuai

dentistry yaitu cara untuk memikirkan ulang

supaya dapat berfungsi dengan baik; (3)

proses dan prosedur tindakan kedokteran gigi,

mengembalikan morfologi gigi agar oklusi dan

administrasi dan desain klinik kedokteran gigi

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

dapat

mencemari

lingkungan

dan

46


yang menggunakan prinsip green dentistry

diterima oleh jaringan tubuh, hanya agak

sebagai

mahal dan larutan yang digunakan dalam

panduan

seperti

berikut:

(a)

banyak.4 Selanjutnya,

mengganti ke penggunaan lain untuk kontrol

jumlah

infeksi dan produk sterilisasi; (b) penggunaan

sebuah gel CMCR dikembangkan di Brazil.

handuk reusable untuk mengurangi limbah,

Gel ini terbuat dari enzim papain, kloramin,

menghentikan penggunaan barang disposable

dan toluidin biru dan disebut â&#x20AC;&#x153;PapacĂĄrieâ&#x20AC;? yang

dan

(c)

berarti â&#x20AC;&#x153;memakan kariesâ&#x20AC;?. Gel ini diaplikasikan

kertas

pada dentin yang terkontaminasi dan khasiat

(paperless) dan memaksimalkan peralatan

proteolitik, klorinasi, dan oksidasinya akan

elektronik

bereaksi pada kolagen gigi karies tanpa

menggunakan

penggunaan

barang

rekam

untuk

reusable;

medis

tanpa

mengurangi

penggunaan

kertas dan limbah kertas; (d) menggunakan pencitraan

digital

(bukan

merusak dentin bagian dalam.7 Metode CMCR merupakan teknik non-

menggunakan aromaterapi karena beberapa

invasif yang hanya mengeliminasi dentin yang

pasien

alergi/sensitif

terinfeksi menggunakan agen kimiawi. Proses

kimia;

(f)

terhadap

penggunaan

X);

2003

(e)

biodegradable,

sinar

pada

bau-bauan

cairan

sterilisasi

yang biasa dipakai

ini

tidak

hanya

menghancurkan

jaringan

untuk

terinfeksi, namun juga menjaga struktur gigi

setelah

yang sehat, mencegah iritasi pada pulpa dan

pemeriksaan pasien; dan (g) menggunakan

ketidaknyamanan pasien. Setelah jaringan

lampu dan sumber daya yang hemat energi di

karies diberi agen kimia, struktur lunak karies

klinik.8

disingkirkan menggunakan eskavator atau alat

membersihkan

Pada suatu

dental

tahun

teknik

baru

chair

1980-an

dikembangkan

perawatan

gigi

yaitu

hand instrument khusus.5 Metode CMCR mempunyai

beberapa

keunggulan

atraumatic restorative treatment (ART) yang

dibandingkan pengeboran tradisional, antara

hanya

tangan.

lain: (a) persepsi pasien akan rasa nyeri

Teknik ini dapat mengurangi rasa takut

berkurang dan lebih nyaman; (b) kurangnya

terhadap perawatan gigi yang menggunakan

ketakutan

bor dan pembuangan jaringan sehat tidak

ketidaknyamanan

berlebihan. Keberhasilan teknik ART terbatas

pasien anak (c) menyingkirkan hanya lapisan

pada karies satu permukaan dan kavitas yang

yang terinfeksi dan tidak merusak jaringan

kecil.

13

sudah

menggunakan

instrumen

Namun sebelumnya, sejak tahun 1975 digunakan

pasien

mengurangi

terutama

pada

lain; (d) tidak menyebabkan iritasi pulpa; (e) cocok untuk pengobatan gigi desidui dan

pembuangan jaringan karies yang dikenal

pasien yang mempunyai phobia; (f) sangat

dengan chemo-mechanical caries removal

membantu ketika melakukan tindakan caries

(CMCR). Bahan yang pertama kali digunakan

removal pada pasien yang kurang kooperatif;

adalah

(g) berguna untuk pasien cacat fisik dan

sodium

kimia

kecemasan

untuk

5%

bahan

dan

hipoklorit,

tetapi

ditinggalkan karena bersifat toksik terhadap

pasien yang infektif.

jaringan sehat. Perkembangan selanjutnya

5

Kehadiran metode CMCR menjadi salah

adalah N-monokloroaminobutirat (NMAB) yang

satu

dipasarkan dengan nama dagang Caridex dan

menerapkan eco-dentistry. Hal ini dikarenakan

Carisolv. Kedua produk tersebut lebih dapat

metode CMCR menggunakan agen kimiawi

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

cara

yang

dapat

digunakan

untuk

47


daripada

pengeboran

untuk

jaringan dentin yang terinfeksi seperti yang ada

pada

teknik

Pada papain-based gel, juga terdapat

mengambil

konvensional.

5

Selain

bahan

tambahan

memiliki

sifat

berupa

bakterisida

kloramin dan

yang

merupkan

menerapkan prinsip green dentistry dengan

disinfektan. Kloramin dapat melunakan dentin

menggunakan

karena

karies sehingga mudah menyingkirkan bagian

menggunakan enzim papain yang diekstrak

tersebut dengan eskavator. Selain itu, toluidin

dari

tanaman pepaya dan juga mampu

biru juga terkandung dalam papain-based gel.

mengurangi penggunaan energi listrik serta

Toluidin biru digunakan sebagai agen pewarna

air.

dan sangat efektif melawan Streptococcus

bahan

alam

3.2 Mekanisme Kerja Papain-Based Gel sebagai Agen Chemo-mechanical Caries

mutans. Pigmen yang photosensitif ini dapat berikatan dengan membran bakteri.5 Mekanisme

Removal Pada papain-based gel sebagai agen CMCR, kandungan papain memiliki peran penting dalam menghilangkan jaringan karies. Papain merupakan enzim yang diekstraksi dari getah daun pepaya dan buah pepaya hijau. Enzim ini adalah endoprotein yang serupa dengan enzim pepsin pada manusia yang bersifat anti bakteri, anti inflamasi, dan bekerja sebagai agen debriding yang mengangkat debris. Enzim ini tidak merusak jaringan sehat, mempercepat

proses

penyembuhan

luka,

memecahkan molekul kolagen yang rusak sebagian karena karies, mencerna sel-sel mati, dan mengeliminasi lapisan fibrin yang terbentuk pada proses karies. Aksi proteolitik papain hanya bekerja pada jaringan karies karena tidak ada plasmatic protease inhibitor, alpha-1-antitrypsin. Jaringan yang sehat tidak terpengaruh

karena

terdapat

penghambat

protease, alpha-1-antitrypsin di dalamnya.5 Selain itu, terdapat keunggulan penggunaan papain-based gel, sebagai berikut: (a) tidak membutuhkan peralatan khusus; (b) aman untuk digunakan dan bikompatibel untuk jaringan mulut; (c) mudah untuk dimanipulasi; (d) cepat bereaksi dan bekerja; (e) memiliki konsistensi yang ideal dan (f) biaya terjangkau serta efektif.6

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

aksi

papain-based

gel

sebagai agen CMCR dalam mendegradasi jaringan dentin yang terinfeksi (karies) dapat dijelaskan berdasarkan komposisi jaringan gigi yang terdiri dari email dan dentin. Dentin terdiri dari mineral (70%), air (10%) serta matriks organik (20%). Matriks organik dentin terdiri dari 18% kolagen dan 2% non kolagen. Kolagen merupakan protein yang banyak mengandung prolin dan 1/3 asam aminonya mengandung glisin.

Rantai

polipeptidanya

membentuk tripel heliks yang disebut unit tropokolagen. Unit tripokolagen akan saling berhadapan membentuk fibril. Ikatan kovalen antara rantai polipeptida dari unit tropokolagen berbentuk

ikatan

silang

yang

dapat

menstabilkan fibril kolagen. Struktur fibril dalam dentin membentuk rangkaian padat tidak beraturan yang termineralisasi (Gambar 4.1).

6

Plak gigi merupakan penyebab awal terjadinya karies karena mengandung bakteri yang menghasilkan asam melalui fermentasi karbohidrat. Keasaman pH plak menyebabkan pelarutan mineral email. Paparan asam yang berlangsung lama dan terus menerus terhadap email

akan

menyebabkan

proses

demineralisasi berlanjut sehingga mencapai dentin.14 Apabila terjadi demineralisasi, maka

48


kolagen dan komponen matriks yang lain

molekuler (panah merah), (c) Unit

menjadi rentan terhadap degradasi protein

tropokolagen yang membentuk kolagen fibril.5

oleh enzim yang dihasilkan bakteri dan enzim hidrolase. Degradasi kolagen pada lesi dapat

4 SIMPULAN

dibedakan menjadi 2 zona yaitu lapisan dalam

Metode

Chemo-Mechanical

(inner layer) dan lapisan luar (outer layer).

Removal

Inner

yang

mengeliminasi kekurangan-kekurangan teknik

mengalami demineralisasi sebagian, tetapi

konvensional pada tindakan restorasi gigi.

masih dapat mengalami remineralisasi dan

Metode

struktur fibril kolagennya masih utuh. Outer

berbentuk

layer merupakan daerah yang fibril kolagennya

mengandung enzim papain. Papain-based gel

telah mengalami degradasi sebagian serta

ini berfungsi menghilangkan jaringan karies

tidak dapat mengalami remineralisasi. Bahan

pada gigi tanpa merusak jaringan yang sehat.

CMCR dapat menyebabkan degradasi lebih

Selain itu, penggunaan gel ini mengurangi

lanjut

layer

merupakan

terhadap

ini gel

dikembangkan

menggunakan bernama

untuk

agen

yang

papacarie

yang

yang

telah

pemakaian listrik dan air yang berlebihan

dengan

cara

sehingga teknik ini lebih ramah lingkungan dan

pemutusan rantai polipeptida dalam struktur

dapat diterapkan sebagai salah satu cara

terdegradasi

tripel heliks.

kolagen

daerah

(CMCR)

Caries

sebagian

5

untuk menciptakan eco-dentistry.

5 SARAN Saran dari studi pustaka ini berupa penelitian yang harus dilakukan lebih lanjut (in vivo) agar mendapatkan hasil yang lebih baik, serta perlu produksi yang lebih di Indonesia secara

masal

agar

membuktikan

bahwa

harganya murah dan terjangkau. DAFTAR PUSTAKA 1. Angela, A., 2005, Pencegahan Primer pada Anak yang Berisiko Karies Tinggi, Dentistry Journal, 38 (3): 130-134. 2. Kidd, E. A. M., Bechal, S. J., 1992, DasarDasar Gambar 1.1 Struktur kolagen dentin. (a) Rantai polipeptida. Tempat bahan chemomechanical carries removal dalam mendegradasi glisin atau hydroxyproline (panah merah), (b) Triple helix. Tempat dimana terjadi degradasi ikatan silang intra-

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

Karies

Penyakit

dan

Penanggulangannya, EGC, Jakarta. 3. Piva, E., Ogliari, F.A., Maroes, R.R., Cara, F., Henn.

S., Sabrinho, L.C.,

2008,

Papain-based gel for biochemical on microtensile bond strength to dentin, Braz Oral Res, 22(4):364-268

49


4. Bussadori, S. K., Castro, L. C., Galvao, A.

Approach to Control Dental CariesWHO

C., 2005, Papain Gel: A New Chemo-

Collaborating

Mechanical Caries Removal Agent, J Clin

Services

Pediatr Dent, 30 (20): 115-120.

Groningen, Netherlands.

5. Ganesh,

M.,

Parikh,

Research,

for

Oral

Health

University

of

2011,

13. Banerjee, A., T.F Watson, E.A.M Kidd.,

Removal

2000, Dentine Caries Excavation : a

(CMCR) Agents: Review and Clinical

Review of Current Clinical Techniques,

Application in Primary Teeth, Journal of

British Dental Journal, 188 (9): 476-82.

Chemomechanical

D.,

Centre

Caries

Dentistry and Oral Hygiene, 3 (3): 34-45. 6. Kumar,

M.

P.,

Nandakumar,

14. Beeley, J. A., Yip, H. K., Stevenson, A. G.,

K.,

2000, Chemochemical Caries Removal: A

Sambashivarao, P., Sandhya, P. S., 2011,

Review of The Technique and latest

Chemo Mechanical Caries Removal â&#x20AC;&#x201C; A

Developments, British Dental Journal, 188

New Horizon, Indian Journal of Dental

(8): 427-430.

Advancement, 3 (4): 668-672. 7. Lopes, M. C., Mascarini, R. C., Garcia da Saliva, B. M. C., Florio, F. M., Basting, R. T., 2007, Effect of a Papain-based Gel for Chemomechanical Caries 8. Gharla, B. K., 2013, Green Dentistry: Ecofriendly Patients,

Dentistry: Benefical

Benefical

for

for

Environment,

Annals and Essencens of Dentistry, 4 (1): 72-74. 9. Permatasari, R., 2009, Concept of minimal intervention

in

restorative

dentistry,

th

proceedings of the 15 scientific meeting and

refresher

course

in

dentistry,

University of Indonesia 10. Gartika, M., Satari, M. H., 2010, ChemoMechanical

Caries

Removal

dengan

Hipoklorit Sebagai Alternatif Pembuangan Jaringan Karies Dentin pada Gigi Sulung, Proceedings

Dies

Natalis

Universitas

Padjajaran ke-52. 11. Qualtrough, A., Satterthwaite, J., Morrow, L.,

Brunton,

P.,

2005,

Principles

of

Operative Dentistry, Blackwell Publishing, Edinburgh 12. Frencken J.E., 1997, Manual of the Atraumatic

Restorative

Treatment

BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

50


BIMKGI Volume 2 No.1 | Juli- Desember 2013

51


BIMKGI Volume 2 Edisi 1