Issuu on Google+

Bimafika, 2011, 3, 299-303

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERFIKIR SAINS SISWA KELAS VIII MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD PADA KONSEP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN DI SMP NEGERI 1 PALLANGGA KAB. GOWA

Muhammad Rizal * Staf Pengajar FakultasTarbiyyah Institut Agama Islam Negeri Ambon Diterima 21-07-2011; Terbit 30-11-2011

ABSTRACT This watchfulness is class action watchfulness (classroom action research) that cover four execution stages that is: planning, action, observation/evaluation and reflection. Factors that canvassed in this watchfulness that is: model co-operative study student teams achievement devision (STAD) and ability thinks class student science VIII at SMP country 1 PallanggaGowa. Instrument that worn in this watchfulness ability test thinks science in the form of double and observation sheet to measures student activity in course of learn to teach. Result that got furthermore analyzed by using qualitative descriptive statistics analysis and quantitative. watchfulness result shows that ability averagevalue thinks science that is got class student VIII SMP country 1 Pallangga, before learn growth concept and development 49,74. Average value thinks highest science that is got student that follow biology study passes type co-operative study model STAD in cycle I is 70,54 and in cycle II 77,69. Keywords: classroom action researced, co-operative study student teams achievement devision (STAD)

Perubahan kurikulum juga membawa implikasi pada terjadinya perubahan penilaian. Perubahan penilaian yang dimaksud adalah dari penilaian pendekatan norma ke penilaian yang menggunakan acuan kriteria dan standar, yaitu aspek yang menunjukkan seberapa kompeten peserta didik menguasai materi yang diajarkan. Penilaian merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengukur dan menilai tingkat pencapaian kurikulum dan berhasil tidaknya proses pembelajaran. Penilaian juga digunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan yang ada dalam proses pembelajaran, sehingga dapat diadakan dasar untuk pengambilan keputusan. Oleh sebab itu, disamping kurikulum yang cocok dan proses pembelajaran yang benar, perlu ada sistem penilaian yang baik dan terencana. Salah satu metode mengajar yang dimaksud adalah metode pengajaran kooperatif. Metode ini mengajarkan kepada siswa berbagai macam keterampilan, kerjasama yang baik dan bagaimana cara berkolaborasi serta memberikan

peluang kepada siswa dengan latar belakang dan kondisi yang berbeda untuk saling menolong atau membantu satu sama lain dalam menyelesaikan tugas secara bersama atau berkelompok. Metode ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan diskusi dengan teman kerja kelompoknya untuk memecahkan suatu masalah berdasarkan tingkat kemampuan dan latar belakang yang berbeda. Melalui kerjasama antara siswa akan mempermudah bagi siswa memperoleh pemahaman terhadap suatu konsep sains biologi yang pada akhirnya mampu meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil observasi pada proses belajar mengajar di SMP Negeri 1 Pallangga, khususnya di kelas VIII, diketahui bahwa pada umumnya guru mengajar dengan menggunakan metode ceramah, sehingga cukup sulit untuk mengaktifkan siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Hal ini mengakibatkan motivasi belajar siswa

* Korespondensi : rijal_rijal82@yahoo.co.id

299

1


M. Rizal / Bimafika, 2011, 3, 299 - 303

1 berkurang, dimana siswa hanya cenderung mendengar dan menulis materi yang diterangkan oleh guru.

a. Kesiapan, kesungguhan, dan keaktifan siswa selama mengikuti proses belajar mengajar dan bagaimana kelengkapan alat pelajarannya. b. Pertanyaan, tanggapan, atau komentar yang diajukan siswa. c. Keaktifan siswa dalam kelompok selama diskusi berlangsung. d. Kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal LKS atau tugas maupun dalam menyelesaikan kuis yang diadakan setiap pertemuan. e. Keberanian siswa untuk tampil di depan teman-temannya. f. Implementasi pembelajaran kooperatif di kelas. 2. Melakukan refleksi Pelaksanaan tindakan setiap siklus mengikuti langkah-langkah skenario sebagai berikut : Siklus I : -Merancang tindakan siklus I - Melaksanakan tindakan - Memantau tindakan yang dilaksanakan (observasi) - Mengevaluasi hasil observasi - Mengadakan refleksi I

METODE Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pallangga Kab. Gowa Tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 35 orang. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) yang meliputi empat tahap pelaksanaan yaitu: perencanaan, tindakan, observasi / evaluasi, dan refleksi. Faktor-faktor yang diteliti dalam penelitian ini yaitu pembelajaran kooperatif model Student Teams Achievement Division (STAD) dan Kemampuan Berfikir Sains siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pallangga Kab. Gowa. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) diawali dengan refleksi awal yang dilakukan oleh peneliti yang berkolaborasi dengan partisipan mencari informasi lain untuk mengenali dan mengetahui kondisi awal atau mencari masalah yang ada pada tempat yang akan dijadikan objek penelitian.Secara umum penelitian tindakan kelas memiliki desain dengan tiga langkah utama, yaitu rencana tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, refleksi dan evaluasi. 1. Mengidentifikasi keadaan siswa dan implementasi pembelajaran kooperatif selama proses belajar mengajar berlangsung di dalam kelas untuk mencatat hal-hal berikut:

Siklus II:

HASIL DAN PEMBAHASAN

- Merancang tindakan siklus II berdasarkan pengalaman siklus I - Melaksanakan tindakan perbaikan - Memantau tindakan yang dilaksanakan (observasi) - Mengevaluasi hasil observasi - Mengadakan refleksi

memperlihatkan bahwa nilai kemampuan berfikir sains tertinggi yang diperoleh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pallangga yang mengikuti pembelajaran Biologi melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siklus II adalah 95; nilai terendah 70; dan nilai rata-rata 77,69. Nilai kemampuan berfikir sains secara keseluruhan yang diperoleh siswa saat pree test, siklus I, dan siklus II yang dikelompokkan ke dalam lima kategori menurut Sudjana (2002) menurut distribusi frekuensi, dan persentase serta kategori kemampuan berfikir sains siswa

Data hasi lpenelitian memperlihatkan bahwa nilai kemampuan berfikir sains tertinggi yang diperoleh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pallangga, sebelum belajar konsep pertumbuhan dan perkembangan (pree test) adalah 60; nilai terendah 25; dan nilai rata-rata adalah 49,74. Nilai kemampuan berfikir sains tertinggi yang diperoleh siswa yang mengikuti pembelajaran Biologi melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD padasiklus I adalah 84; nilai terendah 50; dan nilai rata-rata 70,54. Data ini juga

300


M. Rizal / Bimafika, 2011, 3, 299 - 303

1 kelas VIII SMP Negeri 1 Pallangga, melalui model pembelajaran Kooperatif tipe STAD pada siklus I, menunjukkan rata-rata kemampuan berfikir sains yang lebih rendah bila dibandingkan dengan kemampuan berfikir sains yang diperoleh siswa pada siklus II. Untuk lebih jelasnya, distribusi dan frekuensi kemampuan berfikir sains siswadapatdilihatpadaTabel1.

dikategorikanrendahdan 0% dikategorikansangatrendah. Sedangkandari 35 siswa yang mengikutipembelajaranBiologimelalui model pembelajarankooperatiftipe STAD padasiklus II yaitu 2,86% dikategorikansangattinggi; 71,43% dikategorikantinggi; 25,71% dikategorikansedang; 0%

Ket: P S1 S2

dikategorikanrendahdan dikategorikansangatrendah. Hasil di atas

= Pree Test = Siklus I = Siklus II

Tabel 2 dan Gambar 1 menunjukkan bahwa kemampuan berfikir sains saat pree test dari 35 siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pallangga sebelum belajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terdapat 0% siswa yang memperoleh nilai pada kategori sangat tinggi; 0% dikategorikan tinggi; 25,71 dikategorikan sedang; 71,43% dikategorikan rendah; dan 2,86% siswa yang memiliki nilai pada kategori sangat rendah. Persentase kemampuan berfikir sains siswa yang mengikuti pembelajaran Biologi melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada siklus I terdapat 0% siswa yang memperoleh kemampuan berfikir sains yang berada pada kategori sangat tinggi; 37,14% dikategorikan tinggi; 60% dikategorikan sedang; 2,86%

0% menunjukkan

bahwakemampuan berfikir sains siswa yang belajar melalui model pembelajaran kooperatif tipe STAD mengalami peningkatan dari pree test, siklus I sampai kepada siklus II. Hal ini dapat dilihat dari nilai kemampuan berfikir sains rata-rata kelas yang diperoleh siswa sebelum belajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu 49, 74; pada siklus I 70,54; dan pada siklus II naik menjadi 77, 69. Pembahasan Hasil analisis data yang telah diuraikan di atas, maka secara deskriptif hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa kemampuan berfikir sains siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Pallangga sebelum mengikuti pembelajaran konsep

301


M. Rizal / Bimafika, 2011, 3, 299 - 303

1 pertumbuhan dan perkembanagan dengan model kooperatif tipe STAD termasuk ke dalam kategori rendah, pada saat siklus I termasuk dalam kategori sedang, dan pada siklus II menunjukkan adanya peningkatan nilai kemampuan berfikir sains yang berada pada kategori tinggi. Hasil analisis data, memperlihatkan adanya perbedaan kemampuan berfikir sains siswa sebelum belajar konsep pertumbuhan dan perkembangan, setelah belajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (siklus I dansiklus II). Hal ini menunjukkan bahwa penelitian tindakan kelas mampu meningkatkan kemampuan berfikir sains belajar siswa, karena dalam pelaksanaannya akan diadakan tindakan jika ada masalah yang ditemukan sebelum dan setelah berlangsungnya kegiatan pembelajaran. Selama pelaksanaan penelitian tindakan kelas, guru dituntut untuk kreatif dalam mengajar dan selalu melakukan terobosan-terobosan baru dalam bidang pendidikan, dengan tujuan agar kemampuan berfikir sains yang dicapai oleh siswa secara optimal. Hasil temuan di lapangan memberikan gambaran bahwa nilai rata-rata kemampuan berfikir sains siswa sebelum belajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (nilai tes awal) sangat rendah, di mana masih didapatkan siswa yang memiliki nilai pada kategori rendah dan sangat rendah, dan tak satu pun siswa yang memiliki nilai pada kategori sangat tinggi atau tinggi. Kesimpulan sementara yang dapat diambil mengenai kemampuan berfikir sains siswa adalah rendah, sehingga diperlukan suatu tindakan pembelajaran sehingga hasil belajar siswa dapat ditingkatkan.Langkah konkret yang diambil oleh guru (peneliti) adalah dengan memberikan pengajaran kepada siswa dengan menggunakan model kooperatif tipe STAD. Sebelum menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini, rata-rata kemampuan berfikir sains siswa berada pada kategori rendah, dan setelah menerapkan model ini, didapatkan hasil belajar yang mengalami peningkatan dari sebelumnya, bahkan kemampuan berfikir sains dari siklus I ke siklus II

juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan, dimana pada siklus II tidak didapatkan lagi siswa yang memiliki kemampuan berfikir sains pada kategori rendah dan sangat rendah. Jadi, dapat dikatakan bahwa model pembelajaran kooperatif sangat baik diterapkan di sekolah sebagai alternatif metode mengajar yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. KESIMPULAN 1. Kemampuan berfikir sainssiswakelas VIII SMP Negeri 1 Pallanggamelalui model pembelajarankooperatiftipe STAD siklus I beradapadakategorisedangdengannilai ratarata kelasadalah 70,54. 2. Kemampuan berfikir sainssiswakelas VIII SMP Negeri 1 Pallanggamelalui model pembelajarankooperatiftipe STAD siklus II beradapadakategoritinggidengannilai ratarata kelasadalah 77,69. 3. Ada peningkatankemampuan berfikir sainssiswaBiologimelalui model pembelajarankooperatiftipe STAD siswakelas VIII SMP Negeri 1 Pallanggadarisiklus I kesiklus II. DAFTAR PUSTAKA Depdikbud. 2003. Kurikulum 2004 SMP, Mata Pelajaran Sains. Dirjen Pendidikan Menengah. Jakarta. Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta. Jakarta. Ibrahim. M, dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. UNESA University Press. Surabaya. Lie Anita. 1999. Metode Pembelajaran Gotong Royong. Universitas Kristen Petra Surabaya. Surabaya. Nur, M. 2000. Strategi-Strategi Belajar. UNESA University Press. Surabaya. Poerwadarminta, W.J.S. 1996. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Balai pustaka Jakarta Sardiman, A.m 2001. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor Yang mempengaruhinya. RinekaCipta. Jakarta. Slavin. 1995. Cooperative Learning Second Edition. Boston. Allin and Bacon.

302


M. Rizal / Bimafika, 2011, 3, 299 - 303

1 Sudjana, N. 2002. Penilaian Hasil Belajar Mengajar. Remaja Rosdakarya. Bandung.

303


PENINGKATAN KEMAMPUAN BERFIKIR SAINS SISWA KELAS VIII MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD