Page 1

Bimafika, 2011, 3, 272-278

KOMPOSISI DIATOM BENTIK PADA SEDIMEN DI EKOSISTEM LAMUN Anita Padang * Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Diterima 1-07-2010; Terbit 30-11-2011

ABSTRACT Diatoms or Bacillariophycea is single cell plants that is one class of phytoplankton that live in colonies or single cells with cell walls form and color pigmentation is typical among other microalgae. This study aims to identify types of diatom benthic organisms that live as endopelagic in sediments on seagrass ecosystems in the waters of Beach Village Suli. Benthic diatoms found as many as 86 species (74 species were identified and 12 unidentified species). The highest density of benthic diatoms was found at station III. 1 of 2.600 sel/cm3, while the lowest was found at station II, 3, II. 4 and II. 5 of 200 sel/cm3. Bray-Curtis similarity analysis shows the percentage of similarity of habitats ranging from 055% and the dendogram from cluster analysis obtained as many as five benthic diatom habitat groups. Keywords: Diatoms, Seagrass, Density, Bray-Curtis similarity.

Perairan pesisir di sepanjang pantai tropis khususnya di Indonesia, mempunyai komunitas khas daerah tropis seperti komunitas mangrove, lamun, makro alga, terumbu karang dan beraneka ragam ikan serta biota lainnya. Ekosistem pantai tropis yang termasuk dalam zona intertidal (pasang surut), merupakan bagian laut yang mempunyai potensi sumberdaya dan keanekaragaman hayati yang cukup besar. Hal ini disebabkan karena daerah pasang surut merupakan wilayah yang relatif subur karena adanya zat-zat hara yang diperoleh baik dari daratan maupun dari lautan. Daerah pasang surut merupakan bagian laut yang mungkin paling banyak dikenal dan dipelajari karena mudah dicapai manusia dengan berbagai kegiatan seperti kegiatan pengelolaan dan pemanfaatan dari wilayah pesisir itu sendiri, serta berbagai kegiatan budidaya terhadap biota/ organisme laut yang bernilai ekonomis penting. Lamun tubuh subur terutama di daerah terbuka pasang surut dan perairan pantai atau goba yang dasarnya berupa substrat lumpur, pasir, kerikil dan patahan karang (Dahuri, 2003). Di dalam substrat tersebut hidup juga diatom bentik yang merupakan salah satu kelas dari

fitoplankton (Round, 1971). Diatom terdistribusi secara luas di lingkungan air tawar, payau, laut, rawa, teresterial, sungai, danau dan bahkan pada permukaan sedimen (Maaruf, 2005). Diatom bentik memiliki peranan yang cukup penting seperti halnya diatom di kolom air, yaitu sebagai makanan bagi hewan-hewan bentik serta beberapa jenis zooplankton (Little, 2000; Maaruf, 2005). Diatom atau Bacillariophycea adalah tumbuhan sel tunggal yang merupakan salah satu kelas dari Fitoplankton (Levinton, 1995). Diatom dapat membentuk koloni maupun sel tunggal dengan bentuk dinding sel dan warna pigmentasi yang khas diantara mikroalga lain. Koloni diatom uniseluler bersama mikroalga lain hidup di permukaan substrat sedimen, pneumatofora (akar napas mangrove), dan berperan dalam proses fotosintesis dan merupakan produsen primer (Hogart, 1999 dalam Muslih, 2007) serta epifit pada daun lamun (Padang, 2011). Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis-jenis diatom bentik yang hidup sebagai

272


A.Padang / Bimafika, 2011, 3, 272-278

organisme endopelgic ekosistem lamun.

di

sedimen

pada

MATERI DAN METODE 1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan daerah intertidal Perairan Pantai Desa Suli yang memiliki 0 ’ ” 0 ’ ” posisi astrionomis 128 17 26 BT-128 18 15 0 ’ ” 0 ’ ” BT dan 03 37 00 LS-03 38 19 LS pada bulan Juli 2010. 2. Pengambilan Data a. Observasi di lokasi penelitian berupa : Pengambilan sampel diatom bentik pada sedimen dengan menggunakan sediment core berdiameter 2 cm. Sampel yang diperoleh dimasukan dalam botol sampel dan diberi formalin 4% yang telah ditambahkan boraks. Juga dilakukan pengukuran parameter lingkungan meliputi suhu dan salinitas sedimen bersamaan dengan pengambilan sampel diatom bentik setiap kotak pengamatan. b. Observasi di laboratorium berupa : Pemisahan diatom bentik dari sedimen dengan menggunakan cenrtifuge merk Orbital 300 clements pheonix yang dilakukan sebanyak empat kali dengan asumsi bahwa semua diatom bentik sudah terangkat. Selanjutnya sampel diendapkan selama 24 jam, diencerkan kemudian diidentifikasi dengan menggunakan mikroskop type NIKON SF pada pembesaran 400x dengan berpedoman pada buku identifikasi plankton : Yamaji (1966), Newel and Newel (1977), Tomas (1997) dan Van Heurck (1962). 3. Analisa Data Analisa data meliputi kepadatan diatom bentik pada sedimen didasarkan pada formula perhitungan kepadatan menurut Khouw (2008) dan analisa similarity Bray-Curtis menggunakan software PRIMER 5.2 HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Komposisi Jenis Diatom bentik ditemukan sebanyak 86 spesies (74 spesies teridentifikasi dan 12 spesies tidak teridentifikasi). Spesies yang

273

teridentifikasi terbagi atas dua kelas yaitu Diatom sebanyak 71 spesies dan Cyanophyceae sebanyak 3 spesies (Osicillatoria sp, Anabaenna sp dan Spirulina sp). Spesies diatom yang ditemukan digolongkan ke dalam 33 genera yaitu: Achnanthes, Amphora, Amphiphora, Auricula, Biddulphia, Chaetoceros, Champhylodiscus, Clymatopleura, Clymaschopenia, Closterium, Coconeis, Coscinodiscus, Cymbella, Diploneis, Eutonia, Fragilaria, Gramatophora, Gyrosigma, Hemiaulus, Licmophora, Melosira, Mestolgia, Navicula, Nitszchia, Pleurosigma, Rhabdonema, Rhizosolenia, Skeletonema, Surirella dan Thalassiosira, Thalasionema, Thalasiotrix, Triceratium. Genera diatom bentik yang dominan ditemukan adalah genera Navicula, Nitzschia, Amphora dan Diploneis, sebagaimana juga ditemukan Padang (2008) di Teluk Ambon Dalam, dimana.keempat genera ini merupakan diatom Pennales yang memiliki kemampuan melekat pada substrat serta toleran terhadap perubahan lingkungan (Muslih, 2007). Komposisi diatom bentik dapat dilihat pada Tabel 1. 2. Kepadatan Diatom Bentik Kepadatan diatom bentik tertinggi ditemukan pada stasiun III. 1 sebesar 3 2.600 sel/cm , sedangkan terendah ditemukan pada stasiun II. 3, II. 4 dan II. 5 sebesar 200 3 sel/cm . Kepadatan diatom bentik di sedimen lamun dapat dilihat pada Tabel 2. Rendahnya kepadatan diatom bentik pada sedimen ekosistem lamun di perairan Suli jika dibandingkan dengan kepadatan diatom bentik pada sedimen di Teluk Ambon Dalam 3 sebesar 1.481 – 33.766 sel/cm yang ditemukan pada bulan Juli-Agustus 2008 (Padang, 2008), hal ini dimungkinkan karena sedimen yang ada pada ekosistem lamun di perairan Suli tertutupi oleh rimpangan daun lamun, sehingga membatasi penetrasi cahaya matahari yang dibutuhkan oleh diatom bentik. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Kennish (1990) dalam Muslih (2007) bahwa sebagai organisme autotrof, diatom sangat tergantung pada cahaya dalam perairan, sehingga mereka hanya dapat hidup beberapa milimeter saja dari permukaan sedimen.


Bimafika, 2011, 3, 272-278 Tabel 1. Komposisi Diatom Bentik pada Berbagai Spesies No Urut

Spesies

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85

Achnanthes sp 1 Achnanthes sp 2 Achnanthes sp 3 Amphora sp 1 Amphora sp 2 Amphora sp 3 Amphora sp 4 Amphora sp 5 Amphiphora sp 1 Auricula sp 1 Biddulphia sp 1 Chaetoceros sp 1 Champhylodiscus sp 1 Closterium sp 1 Clymatopleura sp 1 Clymascophenia sp 1 Coconeis sp 1 Coconeis sp 2 Coconeis sp 3 Coconeis sp 4 Coscinodiscus sp 1 Cymb ella sp 1 Diploneis sp 1 Diploneis sp 2 Diploneis sp 3 Diplonenis sp 4 Diplonenis sp 5 Eutonia sp 1 Fragilaria sp 1 Gramatophora sp 1 Gyrosigma sp 1 Hemiaulus sp 1 Licmophora sp 1 Melosira sp 1 Melosira sp 2 Melosira sp 3 Mestolgia sp 1 Navicula sp 1 Navicula sp 2 Navicula sp 3 Navicula sp 4 Navicula sp 5 Navicula sp 6 Navicula sp 7 Navicula sp 8 Navicula sp 9 Navicula sp 10 Navicula sp 11 Navicula sp 12 Navicula sp 13 Nitzschia sp 1 Nitzschia sp 2 Nitzschia sp 3 Nitzschia sp 4 Nitzschia sp 5 Nitzschia sp 6 Nitzschia sp 7 Nitzschia sp 8 Nitzschia sp 9 Nitzschia sp 10 Nitzschia sp 11 Nitzschia sp 12 Pleurosigma sp 1 Rhab donema sp 1 Rhizosollenia sp 1 Skeletonema sp 1 Surirella sp 1 Thalassiosira sp 1 Thalasionema sp 1 Thalasiotrix sp 1 Triceriatum sp 1 Oscillatoria sp 1 Anab aena sp 1 Spirulina sp 1 Unidentified spesimen 1 Unidentified spesimen 2 Unidentified spesimen 3 Unidentified spesimen 4 Unidentified spesimen 5 Unidentified spesimen 6 Unidentified spesimen 7 Unidentified spesimen 8 Unidentified spesimen 9 Unidentified spesimen 10 Unidentified spesimen 11

I.1 + + + + + + + + + + -

I.2 + + + + + + + + + + + + + + + + + + -

Stasiun I I.3 I.4 + + + + + + + + + + + + + + + + + -

274

I.5 + + + + + + -

II.1 + + + + + + + -

Stasiun II II.2 II.3 II.4 + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + +

II.5 + + + + + + -

III.1 + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + -

Stasiun III III.2 III.3 III.4 + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + + -

III.5 + + + + + + + + + -


Bimafika, 2011, 3, 272-278 Tabel 2 Kepadatan Diatom Bentik No Urut 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86

I.1

I.2

Stasiun I I.3

I.4

I.5

II.1

II.2

Stasiun II II.3

II.4

II.5

III.1

III.2

Stasiun III III.3

III.4

III.5

S (sel/ml)

S (sel/ml)

S (sel/ml)

S (sel/ml)

S (sel/ml)

S (sel/ml)

S (sel/ml)

S (sel/ml)

S (sel/ml)

S (sel/ml)

S (sel/ml)

S (sel/ml)

S (sel/ml)

S (sel/ml)

S (sel/ml)

Achnanthes sp 1

0

100

25

0

50

0

0

0

0

0

50

0

0

0

0

Achnanthes sp 2

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

50

0

0

0

0

Achnanthes sp 3

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Amphora sp 1

0

50

0

0

0

25

0

0

0

0

0

0

0

0

25

Spesies

Amphora sp 2

50

0

0

0

50

0

25

0

0

0

100

25

25

0

0

Amphora sp 3

50

100

75

50

0

50

25

0

0

0

300

100

25

100

25

Amphora sp 4

150

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Amphora sp 5

0

0

0

0

0

0

0

0

0

25

0

0

0

0

0

Amphiphora sp 1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Auricula sp 1

0

100

50

0

50

0

0

25

0

0

100

25

0

0

0

Biddulphia sp 1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

100

0

0

0

0

Chaetoceros sp 1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

150

0

Champhylodiscus sp 1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Closterium sp 1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Clymatopleura sp 1

0

50

0

0

0

0

0

0

0

0

50

0

50

0

0

Clymascophenia sp 1

0

100

0

0

0

25

0

0

0

0

50

25

0

0

0

Coconeis sp 1

0

100

25

0

50

0

0

0

0

0

100

0

50

0

0

Coconeis sp 2

0

50

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

50

25

0

Coconeis sp 3

0

50

0

0

50

0

0

0

50

0

0

0

25

0

0

Coconeis sp 4

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Coscinodiscus sp 1

0

50

0

0

0

25

0

0

25

0

0

0

375

25

0

Cymbella sp 1

50

100

175

0

0

0

0

0

0

0

0

0

25

0

0

Diploneis sp 1

50

50

0

0

0

0

0

0

0

0

50

0

25

0

0

Diploneis sp 2

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

100

0

0

0

0

Diploneis sp 3

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Diplonenis sp 4

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

50

0

25

0

25

Diplonenis sp 5

0

0

0

0

0

0

0

0

25

0

0

0

0

0

25

Eutonia sp 1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Fragilaria sp 1

0

100

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Gramatophora sp 1

0

0

0

0

0

0

50

0

0

0

100

0

0

0

0

Gyrosigma sp 1

50

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Hemiaulus sp 1

0

0

0

0

0

0

125

0

0

25

50

25

0

25

50

Licmophora sp 1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Melosira sp 1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

100

0

0

0

0

Melosira sp 2

150

0

0

0

0

0

100

0

0

0

200

0

0

0

0

Melosira sp 3

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

25

0

0

Mestolgia sp 1

0

50

25

50

0

0

25

25

0

0

50

0

0

0

0

Navicula sp 1

100

100

125

50

50

25

50

25

0

75

200

50

25

0

0

Navicula sp 2

0

0

25

0

0

0

0

0

0

25

50

25

0

0

0

Navicula sp 3

0

0

25

0

0

0

0

0

0

0

0

0

25

0

25

Navicula sp 4

100

50

0

50

0

0

0

50

0

0

100

0

0

0

0

Navicula sp 5

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

50

0

0

25

Navicula sp 6

0

0

25

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Navicula sp 7

0

0

0

0

0

0

0

0

0

25

0

0

0

0

25

Navicula sp 8

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Navicula sp 9

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Navicula sp 10

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Navicula sp 11

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Navicula sp 12

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Navicula sp 13

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Nitzschia sp 1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Nitzschia sp 2

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

25

0

Nitzschia sp 3

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Nitzschia sp 4

0

0

0

0

0

25

0

0

0

0

100

0

50

0

0

Nitzschia sp 5

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Nitzschia sp 6

0

0

0

0

0

0

0

25

0

0

0

0

0

0

0

Nitzschia sp 7

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Nitzschia sp 8

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Nitzschia sp 9

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Nitzschia sp 10

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Nitzschia sp 11

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Nitzschia sp 12

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Pleurosigma sp 1

0

0

25

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Rhabdonema sp 1

0

50

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Rhizosollenia sp 1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

25

0

0

0

0

0

Sk eletonema sp 1

0

0

0

0

0

0

0

0

25

0

0

0

0

25

25

Surirella sp 1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Thalassiosira sp 1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Thalasionema sp 1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

100

0

0

0

Thalasiotrix sp 1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Triceriatum sp 1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

25

Oscillatoria sp 1

550

900

200

100

0

50

25

50

50

0

350

0

25

75

0

Anabaena sp 1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Spirulina sp 1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Unidentified spesimen 1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Unidentified spesimen 2

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Unidentified spesimen 3

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Unidentified spesimen 4

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Unidentified spesimen 5

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Unidentified spesimen 6

0

0

0

0

0

0

25

0

0

0

0

0

0

0

0

Unidentified spesimen 7

0

0

0

0

0

0

0

0

25

0

0

0

0

0

0

Unidentified spesimen 8

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

50

0

0

0

0

Unidentified spesimen 9

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Unidentified spesimen 10

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Unidentified spesimen 11

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Unidentified spesimen 12

J UMLA H

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

1300

2150

800

300

300

225

450

200

200

200

2600

275

825

475

250

275


A.Padang / Bimafika, 2011, 3, 272-278

3. Pengelompokan Hasil analisis similarity Bray-Curtis memperli-hatkan persentase kesamaan habitat berkisar antara 0-55%. Dendogram (Gambar 1) dari analisa cluster diperoleh sebanyak lima kelompok habitat diatom bentik, seperti pada Tabel 3.

dimana kedua stasiun ini memiliki kesamaan jenis plankton Diploneis sp 5 dan Skeletonema sp 1. Kelompok B terdiri dari stasiun III1, I2 dan I5 dimana ketiga stasiun ini memiliki kesamaan plankton jenis Achnanthes sp 1, Amphora sp 3, Auricula sp 1, Coconeis sp 1, Mestolgia sp 1, Navicula sp 1 dan Oscillatoria sp 1. Kelompok C yang terdiri dari stasiun I4, I2, II2 dan II 3 ternyata keempat stasiun ini dikelompokan karena memiliki kesamaan plankton jenis Navicula sp 1 dan Oscillatoria sp 1. Kelompok D yang terdiri dari stasiun III3, III4 dan II1 dengan kesamaan memiliki plankton jenis Amphora sp 1, Coscinodiscus sp 1 dan Oscillatoria sp 1. Kelompok E terdiri dari stasiun I5, II5 dan III2, ternyata ketiga stsaiun ini memiliki kesamaan pada satu jenis spesies saja yaitu jenis Navicula sp 1. 4. Parameter Lingkungan

Parameter lingkungan yang terukur selama penelitian adalah parameter suhu dan salinitas perairan, yang terlihat pada Tabel 4. Gambar 1. Dendogram Bray-Curtis Diatom Bentik

I. 1 I. 2 I. 3 I. 4 I. 5 II. 1 II. 2 II. 3 II. 4 II. 5 III. 1 III. 2 III. 3 III. 4 III. 5

I. 1

I. 2

I. 3

I. 4

I. 5

II. 1

II. 2

II. 3

II. 4

II. 5

III. 1

III. 2

III. 3

III. 4

44.672 38.565 52.346 19.548 34.599 46.394 39.943 17.162 11.470 44.038 27.154 35.865 21.226 7.295

54.838 43.282 35.609 45.536 26.543 40.239 24.965 7.682 48.392 29.757 49.296 28.488 11.582

51.092 37.503 37.814 34.610 45.875 16.143 21.086 44.220 41.126 34.206 23.538 16.452

17.807 50.385 45.299 70.956 20.395 18.125 38.418 34.645 20.590 32.134 12.874

13.860 22.948 30.479 16.815 16.945 29.335 42.389 28.656 0.000 0.000

31.546 31.603 31.603 14.081 35.848 43.102 38.913 39.569 23.401

33.075 9.943 27.141 46.162 43.899 23.985 27.096 22.841

19.248 15.496 33.546 28.034 13.112 15.111 0.000

0.000 9.888 0.000 25.353 34.769 24.497

16.023 43.551 6.597 9.898 25.715

40.064 38.116 25.544 15.314

19.125 25.575 23.337

28.074 17.488

28.462

Pengelompokan habitat diatom bentik ini didasarkan atas tingkat similarity, dimana terjadi kesamaan jenis-jenis plankton ditemukan. Kelompok A terdiri dari stasiun II4 dan III5

Suhu selama penelitian berkisar antara 29ď‚°C-30ď‚°C. Kisaran suhu yang diperoleh ini merupakan kisaran suhu yang baik bagi pertumbuhan diatom yaitu sebesar

276


A.Padang / Bimafika, 2011, 3, 272-278

20C-30C (Haslam, 1995 dalam Effendi, 2003). Selanjutnya Basmi (2000) dalam Amrul (2007); Werner (1977) dalam Muslih (2007) mengemukakan bahwa suhu berperan penting dalam proses metabolisme dan laju fotosintesis organisme

fitoplankton yang merupakan makanan bagi hewan bentos. Perubahan suhu akan berpengaruh terhadap pola kehidupan organisme perairan termasuk diatom bentik yang sangat mikroskopis. Diatom bentik hanya dapat hidup pada kisaran suhu yang dapat ditolerirnya, dimana suhu tanah sangat berpengaruh. Selanjutnya Odum (1996) menyatakan bahwa suhu memberikan pengaruh langsung terhadap aktivitas organisme seperti pertumbuhan maupun metabolismenya bahkan dapat menyebabkan kematian. Sedangkan pengaruh tidak langsung adalah meningkatnya daya akumulasi berbagai zat kimia dan menurunnya kadar oksigen dalam perairan (Effendi, 2003). Tabel 4. Parameter Lingkungan Parameter Lingkungan Stas iun

Salinitas (ppm)

Suhu

I. 1

29

29

I. 2

29

29

I. 3

30

29

I. 4

30

30

I. 5

26

29

II. 1

28

30

II. 2

28

30

II. 3

29

30

II. 4

30

29

II. 5

27

30

III. 1

27

29

III. 2

26

29

III. 3

21

30

III. 4

27

30

III. 5

14

30

(°C)

dan volume air tawar yang masuk langsung ke dalam laut melalui aliran sungai. Selanjutnya Effendi (2003) mengemukakan bahwa pada perairan pesisir, salinitas sangat dipengaruhi oleh masukan air tawar dari sungai dan Nybakken (1988) menyatakan bahwa pola gradien salinitas estuari bervariasi tergantung pada musim, topografi estuari, pasang surut dan jumlah air tawar. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Adapun kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini, yaitu : 1. Komposisi diatom bentik ditemukan sebanyak 86 spesies (74 spesies teridentifikasi dan 12 spesies tidak teridentifikasi). 2. Kepadatan diatom bentik tertinggi ditemukan 3 pada stasiun III.1 (2.600 sel/cm ), sedangkan terendah ditemukan pada stasiun 3 II. 3, II. 4 dan II. 5 (200 sel/cm ). 3. Similarity Bray-Curtis memperlihatkan persentase kesamaan habitat berkisar antara 0-55%. 4. Salinitas yang diperoleh selama penelitian berkisar antara 14-30 ppm dan suhu selama penelitian berkisar antara 29-30C. Saran Diharapkan adanya penelitian lanjutan tentang keberadaan diatom bentik pada ekosistem mangrove dan terumbu karang. DAFTAR PUSTAKA

Salinitas yang diperoleh berkisar antara 14-30 ppm, tergolong mixohaline dengan kisaran sebesar 0,5-40 (Segerstrale, 1964 dalam Supriharyono, 2000). Rendahnya salinitas pada stasiun III.5 yaitu sebesar 14 ppm, hal ini disebabkan adanya rembesan air tawar yang masuk ke perairan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Nontji (1987) bahwa perubahan salinitas sangat dipengaruhi oleh pola sirkulasi air laut, besar penguapan, curah hujan

Amrul, H.M.Z.N. 2007. Kualitas Fisika-Kimia Sedimen Serta Hubungannya Terhadap Struktur Komunitas Makrozoobentos di Estuari Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang. Tesis Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (tidak dipublikasikan). 96 hal. Dahuri,

R., 2003. Keanekaragaman Hayati Laut. Aset Pembangunan berkelanjutan Indonesia. PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta. Jakarta.

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan

277


A.Padang / Bimafika, 2011, 3, 272-278

Tomas,

Lingkungan Perairan. Penerbit Kanisius Yogyakarta. 255 hal.

C.R. 1997. Identifying Phytoplankton. Academic Press

Marine

Khouw. 2008. Metode dan Analisa Kuantitatif Dalam Bioekologi Laut. 346 hal.

Van H. H. 1962. Wheldon & Wesley, LTD and Verlag J. Cramer.

Levinton, J. S. 1995. Marine Biology : Function, Biodiversity, Ecology, Oxford University Press. 420 pp.

Yamaji, E. E. 1966. The Ilustration of Marine Plankton of Japan Hoikusha, Osaka, Japan, Third edition. 536 pp.

Liitle, C. 2000. The Biology of Soft Shores and Eustuarie, Biology of Habitat, Oxford University Press. 252 pp. Maaruf, 2005. Mengenal Diatom. http:// maaruf. wordpress. com / 2005 /12 /22/ mengenal.diatom. Muslih. 2007. Struktur Komunitas Diatom Bentik di Muara Sungai Tapak Semarang. Skripsi Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro (tidak Dipublikasikan), Semarang. 68 hal. Newel, G.E and R.C. Newel. 1977. Marine Plankton a partical guide. Fifth Editon. Hutchinson Education. 244 pp. Nontji,

A. 1987. Plankton Laut. LIPI Press Jakarta. 331 hal.

Odum, E.P. 1996. Dasar-Dasar Ekologi. Edisi Ketiga. Gadjah Mada University Press. 697 hal. Padang, A. 2008. Struktur Komunitas Diatom Bentik dalam Hubungannya dengan Karakteristik Sedimen di Teluk Ambon Dalam. Tesis Pasca Sarjana Ilmu Kelautan Universitas Pattimura (tidak dipublikasikan). ______ 2011. Struktur Komunitas Diatom Bentik yang Epifit pada Daun Lamun. Jurnal Bimafika Volume 3 No 1 Hal 225-229 Round, F.E. 1971. Benthic Marine Diatoms. Oseanography and Marine Biology an Annual Review, 9 : 83.139. Supriharyono, M.S. 2000. Pelestarian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. Gramedia Pustaka Utama Jakarta.

278

KOMPOSISI DIATOM BENTIK PADA SEDIMEN DI EKOSISTEM LAMUN  

Diatoms or Bacillariophycea is single cell plants that is one class of phytoplankton that live in colonies or single cells with cell walls...