Page 1

1

REIMAGINASI “ARAB” DI INDONESIA


2

PENGANTAR REDAKSI Sebagai salah satu media yang diperuntukkan bagi perluasan penyebaran wacana seputar Biennale Jogja seri Equator, newsletter The Equator kini hadir di hadapan sidang pembaca. Newsletter edisi pertama ini menandai langkah kedua Biennale Jogja yang 2 tahun lalu telah berjumpa dengan negara India dan kini menuju ke negara-negara Arab. Pasca penyelenggaraan Biennale Jogja Equator #1, banyak kritik dan saran yang muncul dari berbagai pihak. Meski demikian harus diakui bahwa kritik dan opini tersebut (baik yang pro dan kontra) belum benar-benar muncul ke permukaan dan menjadi wacana, dalam artian kritik-kritik ini belum membangun dialog dua arah yang sehat, logis, bermutu dan produktif. Harapannya, newsletter The Equator dapat menjadi wadah bagi para apresiator seni, mulai dari mahasiswa, seniman, kurator, kolektor, dsb untuk turut berkontribusi menyumbangkan pikiran mereka demi perkembangan Biennale Jogja ke depan. Untuk edisi pertama ini, kami mengundang Alia Swastika untuk menuliskan refleksinya atas pengalaman menguratori Biennale Jogja Equator #1 bersama Suman Gopinath dari India. ST Sunardi memaparkan pemikirannya soal kemungkinankemungkinan pembacaan atas negara dan kebudayaan Arab di Indonesia. Di kolom “Dialog”, Syafiatudina mewawancarai ko-kurator Biennale Jogja Equator #2, Sarah Rifky. Sementara pada kolom tetap “Wawancara dengan Equator” kali ini Budi N.D. Dharmawan memberikan informasi geopolitis atas negara-negara Arab. Demikianlah, kami segenap tim redaksi The Equator berharap agar newsletter ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Salam hangat, Redaksi

Patung buraq dalam perayaan tabot di Padang Pariaman setiap bulan Muharram. Buraq adalah hewan mistis yang dipercaya sebagai tunggangan Nabi Muhammad SAW ketika menjalankan misi suci Isra’ Mi’raj. Interpretasi gambar Buraq di setiap kebudayaan sangat bervariasi, meski ada beberapa elemen yang selalu muncul, yaitu Buraq sebagai hewan berkaki empat, berkepala manusia dan memiliki sayap. Buraq berasal dari kata “barqu” yang berarti kilat. Ragam interpretasi makna simbol Buraq menunjukkan bagaimana mobilitas gagasan dan pertukaran makna begitu cair dalam perkembangan budaya. Foto oleh Ares Jonekson Saragi, sumber http://farm9. staticflickr.com/8327/8092684253_f327409ba0_z.jpg.

16 November 2013 - 6 Januari 2014

The Equator merupakan newsletter berkala setiap dua bulan diterbitkan oleh Yayasan Biennale Yogyakarta. Newsletter ini dapat diakses secara online pada situs: www.biennalejogja.org. Redaksi The Equator menerima kontribusi tulisan dari segala pihak sepanjang 600 - 800 kata dengan tema terkait hubungan IndonesiaArab dan wacana seputar biennale. Tulisan dapat dikirim via e-mail ke: the-equator@biennalejogja.org. Tersedia kompensasi untuk tulisan yang diterbitkan. Tentang Yayasan Biennale Yogyakarta Misi Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY) adalah: Menginisiasi dan memfasilitasi berbagai upaya mendapatkan konsep strategis perencanaan kota yang berbasis seni-budaya, penyempurnaan blue print kultural kota masa depan sebagai ruang hidup bersama yang adil dan demokratis. Berdiri pada 23 Agustus 2010. Alamat: Taman Budaya Yogyakarta Jl. Sri Wedani No.1 Yogyakarta
 Telp: +62 274 587712 E-mail: the-equator@biennalejogja.org Juni 2013, 1000 exp Penanggung jawab: Yustina Neni Redaktur: Brigitta Isabella Editor bahasa: Syafiatudina Editor Foto: Akiq AW Kontributor: Alia Swastika, ST Sunardi, Budi N. Dharmawan, Syafiatudina Distribusi: Sekretariat YBY Fotografi: Tim fotografi Biennale Jogja Desainer: Anang Saptoto Dukungan untuk Yayasan Biennale Yogyakarta dikirim ke: Yayasan Biennale Yogyakarta BNI 46 Yogyakarta No.rek: 224 031 615 Yayasan Biennale Yogyakarta BCA Yogyakarta No.rek: 0373 0307 72 NPWP: 03.041.255.5-541.000


Esai 3

POST SCRIPT BIENNALE JOGJA XI Alia Swastika Kurator Biennale Jogja XI

Ay Tjoe Christine, “….Today I Kill The First Layer and I Find Other Layer Living As Landscape, Landscape, Landscape…”, 2009-2010. Foto milik seniman.


4

Penyelenggaraan Biennale Equator #1: “Perjumpaan Indonesia dan India” pada 2011 lalu menandai babak baru dalam sejarah Biennale di Indonesia. Tidak saja berkaitan dengan perihal keorganisasian--yang dirintis oleh Yayasan Biennale Yogyakarta, lebih jauh lagi, Biennale ini membawa angin segar bagi dinamika penyelenggaraan Biennale di Asia khususnya, bahkan dunia internasional umumnya. Sebagaimana yang digarisbawahi dalam konsep khatulistiwa (Equator), Biennale Jogja berupaya untuk memberikan tawaran baru dalam penyelenggaraan peristiwa seni internasional, di mana konsep geopolitis dikaji ulang dan diformulasikan kembali. Selain itu, penyelenggaraan yang berfokus pada satu negara mitra, memberikan kemungkinan untuk melihat ulang hubungan dengan satu negara lain dalam dimensi yang lebih kompleks dan multi-perspektif. Selama enam bulan, saya bekerja secara intens dengan kurator mitra dari India, Suman Gopinath, berfokus pada tema “Shadow Lines: Spiritualitas, Religiusitas dan Keberagaman”. Dengan masa persiapan yang cukup singkat, dan pertemuan saya yang juga tak terlalu panjang dengan Suman, mempersiapkan hajatan besar dan penting seperti Biennale Jogja ini tentu saja bukan perkara mudah. Sejak lama, saya sudah tertarik pada karyakarya seniman India, yang dalam kacamata saya menunjukkan trajektori antara Barat dan Timur, formalisme dan konseptual, dalam pendekatan dan model presentasi yang kuat dan unik. Akan tetapi, bekerja secara langsung dengan mereka memberikan pengalaman yang berbeda ketimbang sekadar mengamati dan mempelajari karya mereka. Menariknya lagi, bagi Suman (juga bagi sebagian besar seniman yang pada akhirnya terlibat), pengalaman bersama Biennale Jogja merupakan kerja pertamanya di wilayah Asia Tenggara. Tentu hal ini merupakan fenomena yang patut ditelusuri lebih lanjut, mengapa relasi budaya dari dua jazirah ini kemudian nyaris terputus, mengingat di masa lalu, keterkaitan antara keduanya sangatlah erat? Jika pada masa lalu

relasi keduanya terutama ditumbuhkan oleh penaklukan negeri baru, perdagangan dan misi agama, bukanlah dalam dunia yang serba terhubung seperti sekarang situasi pertukaran itu seharusnya berlangsung lebih intensif? Apakah kondisi pasca-kolonialisme masa kini tidak memberi ruang untuk masuknya kerjakerja budaya bahkan dari negara-negara yang sekarang disebut sebagai masa depan ekonomi dunia? Meski muatan pertukaran dalam Biennale Jogja XI lalu sangatlah terbatas, tetapi justru di sinilah titik awal dari peran penting peristiwa semacam Biennale. Meretas jalan pada upaya lain yang lebih besar; untuk menulis kembali sejarah kita sendiri. Makna kata ‘perjumpaan’ yang tercantum pada tajuknya “Perjumpaan Indonesia dan India”, merupakan sebuah upaya memetakan kembali silang pertemuan dan jejak dari yang lampau, saling melemparkan tanya dan perasaan ingin tahu, serta mencoba melihat kembali konteks hubungan yang relevan pada masa sekarang. India dan Indonesia berbagi situasiyang kurang lebih sama, dengan sejarah pasca-kolonialnya yang pekat, dan pada masa kini menghadapi pula tantangan ‘pseudo-demokrasi’ yang tak mudah diatasi, terutama pada situasi-situasi yang menyulut dan menantang toleransi atas perbedaan. Memang seperti ada kesan bahwa seolah kategori “seni rupa Indonesia” dan “seni rupa India” hanya dihadap-hadapkan dan belum masuk ke situasi kolaborasi. Tetapi keterbatasan waktu membuat kami berpikir bahwa saling bertandang dan berkenalan merupakan langkah awal yang patut pula diberi ruangnya sendiri, karena kolaborasi merupakan sebuah konsep yang kompleks dan perlu waktu panjang untuk mencapai situasi yang seimbang, apalagi, ideal. Saya dan Suman baru bertemu ketika saya dan Mella Jaarsma melakukan kunjungan survey ke India pada Februari 2011, sehingga kami membutuhkan banyak penyesuaian untuk


5

“Mengapa relasi budaya dari dua jazirah ini kemudian nyaris terputus, mengingat di masa lalu, keterkaitan antara keduanya sangatlah erat?” menyamakan visi dan mengatasi perbedaanperbedaan persepsi. Perbedaan sistem seni dan pengalaman masyarakat seni India membuat proses penyesuaian ini tidak mudah. Begitupun berkaitan dengan memahami konsep dan konteks karya dari masingmasing negara. Akan tetapi, saya kira, hal-hal semacam itulah yang berharga dari proses bekerja bersama. Selain memahami lebih baik dari mitra seniman, dan menyelami konteks dan sistem seni yang lain, proyek-proyek pertukaran macam ini juga berharga untuk menggali kembali situasi-situasi dalam ranah praktik kita sendiri. Karya-karya seni yang dipamerkan dalam “Shadow Lines” memberikan gambaran yang menarik atas perbedaan cara lihat antar bangsa dan antar generasi terhadap situasisituasi masa kini. Meskipun menggarisbawahi pada tema yang spesifik, tetapi saya menikmati kelapangan cara pandang yang ditawarkan para seniman; interpretasi yang luas akan isu spiritual--karya-karya sublim yang mengantarkan kita pada refleksi yang mendalam atas diri dan semesta, representasi kode dan bahasa visual yang beragam, mulai dari simbol yang berakar pada teks religius yang sakral, serta penggunaan ikon budaya populer yang meriah, atau bahkan kode visual yang sangat minimal, nyaris diam. Saya dan Suman terutama berfokus pada bagaimana tarik ulur dari berbagai oposisi

biner ini diberi panggung dan didiskusikan bersama, dilempar menjadi wacana bersama untuk banyak orang. Barangkali, bagi publik sendiri, tidak mudah untuk langsung menghubungkan kode visual ini dengan isu-isu tertentu atau narasi besar yang mendasari, tetapi pengalaman untuk bertemu dengan konteks baru dalam pameran ini, saya kira akan memberikan satu bekal untuk terus berpetualang dalam labirin seni kontemporer, yang menawarkan kompleksitas dan jarak, memungkinkan lahirnya refleksi dan pemikiran kritis ketimbang kemudahan dan kedekatan yang dengan segera membawa kita pada yang klise. Dua kurator Biennale Jogja mendatang tampaknya juga melihat bagaimana makna “pertemuan” itu sendiri perlu untuk dieksplorasi dan diformulasi setiap saat dalam konteks yang berbeda-beda. Agung Hujatnika dan Sarah Rifky melihat bahwa kolaborasi-dalam pemahaman kerja bersama dalam ruang penciptaan--menjadi sesuatu yang perlu digarisbawahi dan diwujudkan sebagai upaya menciptakan sebuah pengalaman bersama. Saya kira, eksperimentasi mereka berharga untuk melihat Biennale Jogja dalam berbagai posisi yang berbeda, membaca dengan jeli konteks lokal, tetapi pada saat yang sama mengaitkannya dengan diskursus politik dan kebudayaan yang lebih besar. ***


Esai 6

REIMAGINASI “ARAB” DI INDONESIA St. Sunardi Pengajar di Program Magister Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Wayang golek menak Jayengrana koleksi Tropen Museum, Belanda. Berbentuk boneka kayu yang diyakini muncul pertama kali di daerah Kudus pada tahun 1717. Sumber cerita induk Kitab Menak berasal dari Persia, menceritakan kisah permusuhan Amir Hamzah, paman Nabi Muhammad SAW yang dengan Prabu Nursewan yang belum memeluk agama Islam. Di Jawa, nama Amir Hamzah berubah menjadi Amir Ambyah. Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:COLLECTIE_ TROPENMUSEUM_Houten_wajangpop_Amir_Hamza_alias_Menak_ alias_Jayengrana_voorstellend_TMnr_6148-5-4a.jpg

Ketika saya belajar bahasa Arab sekitar dua puluh tahun lalu saya heran karena begitu banyak kata-kata bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab. Sebelumnya memang sudah dengar tentang informasi ini. Akan tetapi ketika mendalami bahasa Arab, saya tidak menduga bahwa begitu banyak kata-kata Arab yang mengindonesia. Mulai dari kata-kata yang masih terasa bau Arab seperti solat, nafsu, hawa sampai dengan kata yang tidak terlalu kelihatan seperti nalar. Dengan gaya sok seperti jagoan filologi saya berseloroh pada teman saya bahwa barangkali lima puluh persen kata-kata Indonesia datang dari bahasa Arab! Teman saya spontan menyahut: “Ya tidak mungkin!”. Saya tidak bisa membuktikan, dia juga tidak bisa membuktikan. Namun di balik jawaban itu ada hal yang menarik perhatian saya: dia seakan tidak rela bahwa budaya (secara khusus bahasa Indonesia) ini begitu “berhutang” alias “meminjam” bangsa

Arab. Diajak bicara pengaruh budaya Arab di Indonesia saja tidak mau apa lagi diajak untuk mengakui bahwa pengaruhnya itu begitu kuat. Kalau saya lihat kembali – apa lagi dalam kacamata sekarang – saya bisa memaklumi respon teman saya tersebut. Respon itu barangkali mewakili sikap sejumlah orang dan bahkan mungkin sejumlah besar orang-orang Indonesia, yaitu sikap ambigu. Maksudnya, dari satu sisi kita tahu bahwa kontak penduduk di Nusantara ini dengan orang-orang Arab sudah terjadi begitu lama. Bahkan dari sejarah yang kita pelajari di SMA dulu kita tahu bahwa berkat para saudagar Arab-lah bahasa Melayu ini menjadi lingua franca atau bahasa pengantar di Nusantara. Selain lewat lingua franca, pengaruh itu tentu saja lewat bahasa keagamaan Islam. Singkatnya, jejak-jejak Arab sudah mengalir dalam nadi-nadi budaya kita.


7

Dari sisi lain, kita juga tahu bahwa karena satu dan lain hal banyak orang di Indonesia enggan menjadikan “Arab” sebagai “liyan” dengannya kita melakukan identifikasi. Satu dan lain hal itu pertama-tama karena datang dari situasi sosial politik dan ekonomi yang membuat “Arab” menjadi “liyan” yang seringkali membuat kita merasa tidak aman dan bahkan agresif. Dinamika kehidupan beragama di Indonesia, misalnya, membuat “Arab” menjadi dilematis. Ada kelompok-kelompok yang dianggap sedang meng-Arab-kan Islam di Indonesia sedemikian rupa sehingga mereka malah tidak menghormati budaya sendiri. Sering kali kita mendengar kasus-kasus kekerasan yang menimpa sejumlah TKW di “Arab” (walaupun sebenarnya kebanyakan di Saudi Arabia). Selain itu, dalam masyarakat global ini “Arab” sudah menggendong stereotype negatif. Oleh karena itulah lama kelamaan “Arab” yang sesungguhnya sudah mengalir dalam nadi budaya di Nusantara ini seringkali ditempatkan dalam posisi yang ambigu. Arab itu dekat tapi jauh. Last but not least, “reformasi” politik yang terjadi di

sejumlah negara Arab akhir-akhir ini (dan bahkan masih berlangsung sampai hari ini, dan masih akan terjadi di kemudian hari), seakan membuka apa yang dipersepsikan orang tentang negara-negara Arab selama ini, yaitu negara-negara yang tertutup, tidak demokratis, suka dengan kekerasan, dan sebagainya. Situasi sebagaimana digambarkan di atas pasti akan sangat menantang bila dikaitkan dengan Biennale Jogja seri Equator #2 yang sedang menjelah sampai sejumlah negara Arab. Seperti judul tulisan ini, bisakah event ini menjadi salah satu momen untuk melakukan reimaginasi tentang Arab dalam arti seluasluasnya? Reimaginasi ini saya anggap penting supaya hubungan antara kawasan ini dengan kawasan Timur Tengah benar-benar bisa saling memperkaya. Paling tidak ada dua hal yang perlu dipertimbangkan untuk memperluas horison kita supaya reimaginasi ini betul-betul terjadi dan tidak dipaksakan secara superfisial.

Serat Menak Sarehas, 44 x 29 x 13 cm Manuskrip ini adalah koleksi Museum Sonobudoyo Yogyakarta yang ditulis bukan dengan aksara Jawa melainkan huruf Arab. Serat ini mengisahkan petualangan Amir Hamzah, paman Nabi Muhammad yang berasal dari Persia (Iran) dan berpetualang dari negara ke negara untuk menyebarkan ajaran Islam. Teks dalam serat ini dibingkai oleh lukisan bunga dan figur naga yang tampak memiliki wajah seorang manusia. Sumber: http://nga.gov.au/CrescentMoon/details/141444.cfm


8

“Arab itu dekat, tapi jauh� a. Satu hal yang sering dilupakan atau kurang disadari oleh orang kebanyakan di Indonesia adalah kenyataan bahwa sejumlah negara Arab seperti Mesir, Libia (dan negara-negara yang terletak di pantai utara Afrika) serta tentu saja Libanon merupakan bagian dari negara-negara Mediterania. Kalau kita bicara Mediterania tentulah kita langsung ingat peradaban di sana yang dulunya mengalir dari Yunani. Iskandaria (Alexandaria), Cleopatra adalah contoh indeks yang mengingatkan kita akan peradaban tersebut. Apa artinya semuanya ini? Sudah dengan sendirinya negara-negara Arab itu mewarisi (paling tidak mempunyai sedimentasi) budaya Mediterania yang di kemudian hari berkembang pesat di Eropa, dan dari sanalah berkembang apa yang disebut modernisme dan sebagainya. Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau di kawasan itu selalu ada perdebatan tentang budaya apakah yang hendak dikembangkan. Kontak dengan budaya dari wilayah itu, menurut hemat saya, akan sangat menarik kalau bisa merasakan pergolakan dinamis tersebut. Dengan kata lain, Arab adalah sebuah entitas kultural yang selalu in the making. Kontak dalam artian inilah yang bisa saling memperkaya. Inilah Arab yang hidup – living Arab. Jadi secara historis negara-negara Arab itu begitu menarik karena memiliki berbagai lapisan sedimentasi kultural. Asosiasi “Arab� dengan agama belaka

sangatlah memiskinkan kawasan itu, asosiasi Arab dengan kekekarasan terlalu kejam bagi negara-negara itu. Asosiasi-asosiasi ini justru memiskinkan kita sehingga kita tidak mempunyai kesempatan untuk saling belajar dari kawasan itu. b. Negara-negara Arab menarik karena konon (dan memang begitu kenyataannya) dalam masyarakat yang semakin terbuka ini kita umat manusia semakin dikompres baik secara ruang dan waktu, yaitu semakin menyatu. Dengan kata lain, kita bertemu semakin intens. Hal ini tidak terkecuali dengan bangsa maupun penduduk Arab dengan penduduk di Indonesia. Akan tetapi kita juga tahu bahwa dalam komunikasi global ini juga sering kali terjadi inequality dengan akibat terjadi kekerasan dalam representasi. Semua orang tahu bahwa bangsa Arab termasuk bangsa yang mengalami ini. Ketidakadilan dalam komunikasi ini sering kali membuat kita tidak bisa mengimainasikan sendiri tentang pendudukan, bangsa, dan budaya Arab. Saya sendiri tidak tahu bagaimana orang-orang di Indonesia yang berada di sini, tidak di sana, bisa melakukan reimaginasi itu. Tapi ajakan saya, beranilah mereimaginasikan Arab sendiri! ***

(Kiri) Penggambaran buraq di Bombay atau Mathura, India tahun 1990-an. Sumber: http://www.harekrsna.de/artikel/islam-al-buraq.htm (Kanan) Lukisan buraq di Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang Jawa Tengah. Sumber: http://tua-tradisionil.blogspot.com/2012/01/buraq-semarang-jateng.html


Dialog 9

PERCAKAPAN TENTANG RUANG RESPONS: WAWANCARA DENGAN SARAH RIFKY Foto kunjungan kurator ke studio-studio seniman Yogyakarta. Foto oleh Arief Sukardono, tim forografi Biennale Jogja.

Syafiatudina

Peneliti di Kunci Cultural Studies Center, Yogyakarta.

Pada kesempatan kali ini editor The Equator, Syafiatudina, bercakap-cakap dengan Sarah Rifky, kokurator Biennale Jogja XII (BJ XII). Dalam pertemuan pertama mereka yang dimediasi oleh teknologi digital, selain untuk mengenal lebih jauh Sarah dan pengalaman praktik kuratorialnya selama ini, tercetus pula perbincangan soal kontribusi seni dalam perubahan sosial dan strategi-strategi pembacaan konsep mobilitas untuk mengeksplorasi pertemuan Indonesia dengan negara-negara Arab.


10

Syafiatudina (S): Bisa ceritakan bagaimana awal pertemuan anda dengan tim BJ XII dan bagaimana proses kerja sama dan kolaborasi yang terbangun sejauh ini? Potensi apa yang anda bayangkan akan muncul dalam kerja kolaborasi ini? Sarah Rifky (SR): Tahun 2010 saya bertemu dengan Farah Wardani (Direktur Artistik BJ XII) dalam konferensi “Speak Memory�, sebuah simposium tentang arsip di Kairo. Akhir November 2012, saya menerima surat dari Farah yang mengabarkan rencana kunjungan riset tim BJ XII ke Kairo. Dalam kunjungan ini saya bertemu dengan Farah, Agung dan Neni ketika mereka mampir ke kantor Beirut. Kami membicarakan beragam hal yang sangat menarik tentang seni, sejarah dan praktik kuratorial. Sejauh ini, dengan tempo yang cukup ketat, pengalaman bekerja dengan tim BJ XII dipenuhi kemungkinan-kemungkinan yang tampaknya berharga. Pengalaman ini memperkenalkan saya pada langkah-langkah dan gaya berbeda dalam bekerja yang kemudian mendorong pertukaran-pertukaran gagasan yang lebih mendalam. (S): Selain kolaborasi kurator antara anda dan Agung Hujatnika, Beirut, ruang inisiatif seni yang anda gagas menjadi salah satu partner organisasi pendamping dalam penyelenggaraan BJ XII. Bisa cerita lebih banyak tentang Beirut? (SR): Beirut dimulai pada musim semi, 2012. Saya mendirikan Beirut bersama dengan seorang teman baik dan kolega saya, Jens Maier-Rothe. Kami bertemu pada tahun 2007, di Swedia, tempat kami sama-sama menempuh pendidikan. Kami menemukan ruang ini -atau mungkin ruang ini menemukan kami!-yang lokasinya di sebuah area yang

sangat tenang namun tidak jauh dari pusat kota Kairo. Secara teknis, kami berada di Giza, di bagian barat Sungai Nil. Tempat ini sangat ideal dan cocok untuk berpikir reflektif. Bangunan ini merupakan rumah bergaya 1940-an, dikelilingi taman dan ada dua pohon mangga dan palem. Ketika pertama kali memasuki ruang yang sempat kosong selama beberapa bulan ini, ada beberapa pertanyaan yang muncul di kepala kami tentang fungsi seni saat ini Apa yang ingin kami lakukan di momen perubahan ini? Apa arti perspektif seni dalam membaca situasi politik? Apa arti demokrasi? Apa arti menginstitusikan sesuatu? Kami berupaya untuk membuat karya yang tidak bersifat dokumenter melainkan lebih membentuk ruang reflektif melalui praktik kesenian. Beirut menyasar berbagai audiens, menghubungkan internasional dengan lokal, menjadi tuan rumah bagi seniman dan institusi dan membuka kemungkinan alternatif untuk kolaborasi. Di Beirut kami menanyakan diri kami setiap hari: seperti apakah hubungan antara seniman, karya seni, dan masyarakat? (S): Dalam situs Beirut (http://beirutbeirut. org) saya membaca bahwa salah satu tujuan didirikannya Beirut adalah untuk menyediakan ruang respons di tengah perubahan sosial yang begitu cepat di Mesir dan daerah-daerah lainnya. Apa urgensi menciptakan sebuah ruang baru? Apa yang dimaksud dengan respons dalam konteks kontribusi seni bagi masyarakat? (SR): Di tengah situasi yang terus-menerus berubah, orang-orang mulai lelah dan semakin menderita. Khususnya dalam lingkaran pergerakan politik, proses perubahan ini justru semakin membatasi gerak. Beirut adalah sebuah tempat yang menyediakan ruang jeda untuk sejenak beristirahat dari segala keriuhan


11

“Bagaimana cara menciptakan pameran seni yang relevan dengan kondisi perubahan?�

ini. Lokasi Beirut yang tenang memberi suasana nyaman untuk berkontemplasi, menciptakan kebersamaan yang berkualitas. Beirut menyediakan ruang untuk berimajinasi dan menciptakan ide-ide dan energi baru. Meski demikian kami juga terus memformulasikan gagasan tentang bagaimana cara menciptakan pameran seni yang relevan dengan kondisi perubahan? Amatlah penting untuk selalu mengkontekstualisasikan situasi sosial dengan ide-ide dalam karya seni. (S): Tema kuratorial yang anda ajukan bersama dengan Agung Hujatnika menjadikan mobilitas sebagai tema kunci BJ XII. Tema ini memiliki jangkauan yang sangat luas sekaligus kompleks, mulai dari perpindahan secara fisik sampai penyebaran pengetahuan. Apa ada isu spesifik yang akan anda gali lebih jauh? (SR): Karya seni akan menjadi poin awal untuk memulai dialog ini. Pameran ini dengan berbagai cara akan mengambil inspirasi dari migrasi manusia dan benda, juga menelisik sejarah serta pertukaran yang terjadi di Indonesia dan wilayah Arab. Kami telah memutuskan untuk memperluas cakupan Biennale ini, dengan tidak hanya memperlihatkan karya seniman dari wilayah Indonesia dan Arab (berdasarkan paspor/

kewarganegaraan), tapi juga menyertakan karya yang membahas migrasi dan pertukaran-tidak hanya masyarakat, tenaga kerja, benda atau sumber daya, tapi juga juga bahasa dan bentuk-bentuk lainnya. Arus dan pertukaran kapital telah mengubah pandangan kita atas alam dan bagaimana kita menghadapi realitas pergerakan, menjadi mobile serta mengubah persepsi kita atas benda-benda. Kami akan mencoba untuk bekerja menuju pengembangan jalur pertemuan kolaborasi dan pertukaran - dengan karya seni, seniman dan ide. Layaknya sebuah percakapan, pameran ini tidak digerakkan oleh sebuah tema, melainkan oleh karya-karya yang membentuknya. Pergerakan gagasan mengenai tanah air, diaspora, migrasi, perjalanan, sirkulasi ekonomi dan karya seni telah memproduksi, mereproduksi, mereplikasi dan menransformasi karya seni sehingga ia menjadi sebuah situs sinkretisme. Saya juga tertarik untuk berbicara mengenai Yogyakata sebagai sebuah kota dalam pemahaman linguistik-artinya mendeskripsikannya dalam formasi politik dan budaya, di mana identitas politik tergantikan oleh identitas bentuk, identitas morfologi yang berbeda, serta identitas bahasa dan pengalaman seniman/pengarang. ***


Wawancara dengan Equator 12

MENENGOK KE BARAT, MELIHAT TIMUR TENGAH Budi N.D. Dharmawan Fotografer dan penulis lepas Kita tentu kerap mendengar istilah Timur Tengah, atau Middle East. Adalah konflik Israel-Palestina yang tidak kunjung usai, salah satu sebab kita mengakrabi istilah ini, melalui berita di televisi. Memasuki dasawarsa kedua abad kedua puluh satu, sebutan Timur Tengah semakin kita akrabi melalui berita kerusuhan dan revolusi yang terjadi di negara-negara Semenanjung Arab dan sekitarnya: Mesir, Libya, Tunisia, Yaman, Bahrain, dan Siria, serta Aljazair, Iraq, Jordania, Kuwait, Maroko, juga Sudan dan sejumlah negara lain. Revolusi ini kita kenal pula dengan istilah Arab Spring, atau Musim Semi Arab. Kembali ke soal sebutan Timur Tengah. Mengapa kita menyebutnya Timur Tengah jika pada kenyataannya negara-negara tersebut berada di sebelah barat, jika dilihat dari Indonesia? Mengapa istilah Barat (dengan ‘B’ besar) hanya mengacu kepada negara-negara Eropa dan Amerika, meskipun di sebelah barat kita ada banyak negara lain, seperti India? Jawaban sederhana yang bisa kita bayangkan: Timur Tengah adalah sebutan yang diberikan oleh Barat. Untuk memahami muasal sebutan ini, mari kita simak ulasan pendek berikut. Sudah sejak sekitar abad kedua belas, para penjelajah Eropa membagi wilayah geopolitik menjadi tiga: Timur Dekat,

Timur Tengah, dan Timur Jauh. Orang Eropa kala itu menjelajah ke arah timur karena takut mengarungi Samudera Atlantik di sebelah barat daratan Eropa. Mereka yakin di sana banyak monster besar yang dapat melahap kapal mereka. Pun jika selamat dari mulut para


13 Reproduksi erdapfel (globe) Martin Behaim, 1492. Foto: http://en.wikipedia.org/wiki/File:MartinBehaim1492.png

barat serta Asia di ujung timur. Perlu diingat pula, Benua Amerika belum ada pada peta sebelum pelayaran Christopher Columbus yang terkenal itu. Globe tertua yang masih selamat hingga kini, Erdapfel buatan Martin Behaim pada 1492, menggambarkan lautan kosong di antara Cipangu (Jepang) dan Eropa; Benua Amerika baru diumumkan setelah Columbus kembali pada Maret 1493. Wilayah Timur Dekat meliputi negaranegara Balkan dan wilayah Kekaisaran Ottoman Turki, di utara berbatasan dengan Kekaisaran Romawi sampai Yaman dan Eritrea di selatan, dari Aljazair di barat sampai Azerbaijan di timur. Wilayah Timur Jauh membentang dari Samudera Pasifik barat hingga Samudera Hindia timur, dari Rusia bagian timur hingga Asia Tenggara, termasuk China, Jepang, Formosa (Taiwan), Korea, dan Hong Kong. Sementara itu, Timur Tengah adalah wilayah di antara keduanya, termasuk Asia Tengah dan Asia Selatan bagian barat laut, termasuk Iran, Afghanistan, dan Kaukasus. Batasan-batasan ini tidaklah mutlak dan terus berubah. Setelah Kekaisaran Ottoman goyah pada abad kesembilan belas dan akhirnya runtuh pada awal abad kedua puluh, wilayah Timur Dekat dan Timur Tengah kerap dianggap sama.

monster, kapal mereka nantinya akan jatuh ke jurang yang dalam jika melewati ujung dunia. Perlu diingat, pada masa lalu orang tidak meyakini Bumi bulat, melainkan berbentuk cakram datar, dengan Eropa berada di ujung

Istilah Timur Tengah sendiri kian lazim digunakan sejak awal abad kedua puluh. Pakar strategi kelautan Amerika, Alfred Thayer Mahan menggunakan istilah Timur Tengah pada 1902, untuk merujuk wilayah di antara Arabia dan India, yang pusatnya adalah Teluk Persia. Pada akhir 1930-an Inggris mendirikan Komando Timur Tengah yang berbasis di Kairo, Mesir, sebagai pusat kegiatan militernya di wilayah itu.


14

“Orang Eropa kala itu menjelajahi ke arah timur karena takut mengarungi Samudera Atlantik... Mereka yakin di sana banyak monster besar yang dapat melahap kapal mereka.” Pemerintah Amerika Serikat kali pertama menggunakan istilah Timur Tengah secara resmi pada 5 Januari 1957 di dalam Doktrin Eisenhower, yang menyoal situasi krisis Terusan Suez. Menteri Dalam Negeri A.S. John Dulles waktu itu menjelaskan Timur Tengah sebagai wilayah yang membentang dari dan terdiri dari Libya di barat sampai Pakistan di timur, Siria dan Iraq di utara sampai Semenanjung Arab di selatan, ditambah Sudan dan Ethiopia. Pada 1958, Departemen Dalam Negeri A.S. mengubah batasan wilayah Timur Tengah menjadi hanya terdiri dari Mesir, Siria, Israel, Lebanon, Jordania, Iraq, Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, dan Qatar. Atlas dunia yang diterbitkan oleh National Geographic pada 2012 menyebut Turki, Siprus, Siria, Lebanon, Israel, Jordania, Mesir, Iraq, Iran, dan negaranegara Semenanjung Arab merupakan jantung wilayah Timur Tengah. Entri Timur Tengah pada situs Wikipedia memiliki daftar batasan tradisional kawasan Timur Tengah, yang terdiri dari Bahrain, Siprus, Mesir, Iran, Iraq, Kurdistan-Iraq, Israel, Jordania, Kuwait, Lebanon, Siprus Utara, Oman, Palestina, Qatar, Arab Saudi, Siria, Turki, Uni Emirat Arab, dan Yaman, serta daftar negara-negara yang termasuk kawasan Timur

Tengah Raya, yang terdiri dari Afghanistan, Aljazair, Armenia, Azerbaijan, Komoro, Djibouti, Georgia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Libya, Mauritania, Maroko, Pakistan, Somalia, Sudan, Tajikistan, Tunisia, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Sahrawi. Demikianlah sedikit ulasan geografi dan sejarah soal penyebutan dan batasan wilayah Timur Tengah. Jelas tergambar, batasan wilayah Timur Tengah tidaklah kaku, melainkan berubah-ubah dan berbeda-beda. Malahan, sejak peristiwa Musim Semi Arab, media berita mulai memperkenalkan istilah baru: Middle East and North Africa (MENA), atau Timur Tengah dan Afrika Utara. Mana yang benar dan mana yang salah tentu juga tidak dapat dijawab dengan batasan yang kaku pula. Penyebutan negara-negara Arab ketimbang “Timur Tengah” di event Biennale Jogja XII merupakan usaha kritis untuk mempertimbangkan dan memetakan ulang relasi geopolitis dua negara ini. Pertemuan kesenian Indonesia dengan tiga negara Arab yakni Mesir, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang diinisiasi oleh Biennale Jogja XII kali ini juga ingin menelusuri sejarah pertukaran dan pengaruh dua budaya untuk mempertanyakan batas-batas yang terlanjur diterima begitu saja. ***


Berita Equator

SEGERA DIMULAI, PROGRAM MAGANG PENULISAN SENI DAN KEWARTAWANAN Pada pertengahan Juni 2013, akan dimulai Program Magang Penulisan Seni dan Kewartawanan (PMPSK) yang diselenggarakan oleh Yayasan Biennale Yogyakarta. Program ini terbuka untuk umum, bersifat tanpa biaya dan berdurasi 6 bulan. Secara umum, PMPSK ingin membuka kesempatan bagi siapapun yang tertarik dan berkomitmen untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan menulis tentang seni. Tujuan utamanya tentu saja untuk meningkatkan apresiasi dan kepedulian masyarakat terhadap seni, sebab sampai saat ini jumlah penulis seni di Indonesia belum sebanding dengan jumlah seniman dan aktivitas-aktivitas seni yang semakin menjamur. Model ajar PMPSK merupakan gabungan pengetahuan teori berupa kelas diskusi dengan pemerhati seni dan wartawan profesional (antara lain Mikke Susanto, Jayadi Kastari, Sunarko, Amiruddin Zuhri, Raihul Fadjri, Heru Prasetya, dll), serta praktik langsung meninjau kantor redaksi media massa cetak di Yogyakarta serta bertemu dan mewawancarai para pelaku seni. Telah terdaftar 16 peserta magang dari berbagai macam latar belakang, tulisan-tulisan mereka kelak akan dipilih dan diterbitkan sebagai bagian dari newsletter The Equator. Kita tunggu saja sepak terjang para penulis-penulis muda ini di edisi berikutnya! Program ini terlaksana berkat kerjasama dan dukungan dari Harian Jogja, Kedaulatan Rakyat, Koran TEMPO, Tribun Jogja, dan Radar Jogja.

BERPROSES BERSAMA DALAM WORKSHOP PARALLEL EVENT Pada tanggal 5-6 Juni 2013 diadakan workshop presentasi program Parallel Event (PE) Biennale Jogja XII. Parallel Event adalah program pengiring yang sejak BJ XI kemarin menjadi salah satu bagian penting dalam penyelenggaran Biennale Jogja. Tahun ini ada 15 kelompok yang lolos seleksi administrasi, mereka adalah ARKOM JOGJA, Colliq Pujie, Daun Singkong, Deka –Exi(S), Habitus dan Ainun, HIDE PROJECT, INSIGNIA INDONESIA, Kandang Jaran, Kaneman Forum, Kelompok Belajar 345, Knyt Somnia, Komunitas Pang Lima, Makcik Project, O2 dan PEREK. Dalam workshop kemarin, 15 kelompok ini dibagi menjadi 3 kelas berdasarkan tema yang dipilih masing-masing kelompok, yaitu Kelas A “isu-isu seputar hubungan Indonesia dan 3 Negara Arab, Kelas B “Mobilitas dan isu-isu seputar hubungan Indonesia dan 3 Negara Arab” dan Kelas C “ Mobilitas dan isu-isu seputar Khatulistiwa”. Workshop ini dimoderatori oleh Tim Jaringan Komunitas Lokal yang terdiri dari Heru Prasetya, Kusen Alipah Hadi, dan Subkhi Ridho,bertujuan untuk menjadi ruang diskusi untuk saling menajamkan gagasan dan berbagi saran tentang metode kerja.

15


16 Penyelenggara

Pendukung utama

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta Dinas Kebudayaan

Partner penyelenggara

Partner media

OUTLET PENYEBARAN: Jakarta: Ruangrupa, IFI Jakarta, Komunitas Salihara, Dewan Kesenian Jakarta, dia.lo.gue Bandung: Selasar Sunaryo Art Space, Common Room, IFI Bandung, Galeri Soemardja, Tobucil Yogyakarta: IVAA, Kedai Kebun, IFI Jogjakarta, Cemeti Art House, Via Via Cafe, Sangkring Art Space Surabaya: c2o, D:buku Denpasar: Taman 65, Kopi Kultur

Newsletter Edisi Juni 2013 Biennale Jogja XII  

The Equator merupakan newsletter berkala setiap dua bulan diterbitkan oleh Yayasan Biennale Yogyakarta. Newsletter ini dapat diakses secara...