Page 1


PIDATO PURNABAKTI KE SATU Hadirin yang saya hormati, Sejak dimulainya kegiatan dalam bidang Psikologi Perkembangan di Indonesia beberapa puluh tahun yang lalu, sampai saat ini kemajuannya dalam berbagai bidang kegiatan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, masih memprihatinkan. Laju perubahan yang terjadi tidak seiring dengan laju perubahan yang terjadi di masyarakat, seperti dinamika dan mobilisasi sosial yang sangat cepat naiknya, antara lain oleh pengaruh Pembangunan dalam segala bidang dan oleh pengaruh modernisasi, globalisasi serta kemajuan dalam era informasi. Juga tidak seiring dengan laju perubahan dan kemajuan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang dalam kenyataannya demikian pesat. Psikologi Perkembangan sebagaimana diketahui adalah pengetahuan yang mempelajari perubahan-perubahan dengan aspek-aspeknya sepanjang perjalanan hidup seseorang, maupun perubahan pada seseorang dibandingkan dengan orang lain, dalam kenyataannya masih terlalu memusatkan perhatian terhadap anak dan remaja. Di pihak lain masih terlalu sedikit menjamah proses-proses perkembangan dan perubahan perilaku pada tahapan perkembangan yang tergolong dewasa dan lanjut usia. Dalam menanti munculnya pribadi yang matang, terpadu dan produktif, yang nantinya akan membentuk keluarga, maka kualitas perubahan melalui proses-proses tumbuh dan berkembang, sejak dini harus diperhatikan. Jadi untuk memperoleh generasi penerus yang berkualitas, maka perlu memperhatikan proses perkembangan yang juga berkualitas, khususnya ketika masih dalam periode pembentukan (formative period) tipe kepribadian dasar (basic personality type).


Berbagai ciri kepribadian/karakterologis perlu mendapat perhatian khusus bagaimana lingkungan hidup memungkinkan terjadinya proses pertumbuhan yang baik dan bagaimana lingkungan hidup dengan sumber rangsangannya memberikan yang terbaik bagi perkembangan anak. Suatu konsep yang penting dipahami oleh berbagai pihak, khususnya keluarga, sebagaimana dinyatakan pada Preamble dari Convention on the Rights of the Child, yang telah disetujui oleh PBB pada tanggal 20 November 1989 dan telah diratifikasi oleh Pemerintah R.I. pada bulan Januari 1990, sebagai berikut : "Recognizing that the child, for the full and harmonious development of his or her personality, should grow up in a family environment, in an atmosphere of happiness, love and understanding." Apabila kita memperhatikan kenyataan yang ada, di satu sisi ada pengaruh yang positif, baik dari tulisan, uraian, pendapat para psikolog khususnya di media massa, atau buku ajar maupun panduan, kursus, ceramah, khususnya yang mendalami Psikologi Perkembangan, sehingga masyarakat menjadi akrab dengan berbagai konsep perkembangan. Namun di sisi lain muncul kenyataan bahwa yang konseptual baik ternyata masih mengalami berbagai kendala untuk dapat melaksanakannya secara baik dan benar. Berbagai istilah sudah cukup populer dan diketahui masyarakat, seperti : stimulasi kognitif/mental, stimulasi yang tepat (adequate stimuli), masa peka untuk memperoleh rangsangan (critical period), masa siap (maturity, law of readiness). perkembangan kepribadian seutuhnya (total personality development), dorongan berprestasi tinggi atau rendah (over-underachiever), kesulitan belajar (learning difficulties), IQ-inteligensi, fobia sekolah (school phobia), mogok sekolah (school refusal), gangguan makan (anorexia nervosa), somatisasi pada anak, orang tua pengganti (caregiver, substitute parent, significant other) untuk menyebut hanya sebagian saja. Pengetahuan dan pemahaman yang cukup baik, namun acapkali masih terperangkap dalam situasi konflik yang berkelanjutan, tanpa ada jalan keluar yang memuaskan. Tahu tetapi tidak berdaya untuk melaksanakan karena berbagai kendala yang dihadapi, apakah itu mengenai gizi, mengenai pendidikan formal, mengenai lingkungan pergaulan yang baik yang tidak dapat dilakukan atau lingkungan yang buruk yang tidak dapat dielakkan. Beberapa isu aktual yang mencuat ke permukaan dan menjadi tantangan bagi kita semua yang mendalami Psikologi Perkembangan, adalah : 1. Masih langkanya penelitian yang dilakukan sendiri dengan objek penelitian masyarakat kita sendiri. Kenyataan yang harus dihadapi dan ditanggulangi, karena yang terjadi adalah


sebaliknya yakni masih menyandarkan dan mengandalkan hasil penelitian dari luar sebagai pedoman atau bahkan sebagai acuan. Dalam hal ini saya yakin bahwa minat disertai dengan keterampilan dan kemampuan untuk melakukan penelitian di kalangan kita sebenarnya ada, bahkan cukup besar. Namun kenyataannya masih terbentur pada banyak masalah karena minatnya harus berpaling pada minat-minat lain untuk mempertahankan kedudukannya sebagai pribadi yang bertanggung jawab yang menyita banyak waktu untuk memelihara dan menghidupi keluarga, disamping dana yang tidak mudah tersedia. 2. Standarisasi dari proses-proses perkembangan, seperti umur berapa anak Indonesia harus sudah dapat mengucapkan 3 suku kata. Atau umur berapa seorang anak sebaiknya mulai diajarkan membaca, menulis, sesuai dengan kematangan secara umum dan tidak memaksakan. Suatu patokan yang bisa berubah dan bergeser dari waktu ke waktu, mengikuti perubahan pesat dalam lingkungan hidup seseorang ( human ecology), karena perlu selalu diperbarui. Standarisasi melalui hasil-hasil penelitian sendiri juga diperlukan untuk menentukan berbagai tindakan, perlakuan, atau kebijaksanaan terhadap mereka yang berada pada tahapan perkembangan dewasa dan lanjut usia. 3. Berbagai hal yang berhubungan dengan tugas, kewajiban, peranan orang tua, meliputi tokoh ibu dan ayah terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, masih sering kabur, samar-samar. Sampai saat ini masih belum jelas mengenai ciri khusus pola asuh (rearing practice) yang ideal bagi anak. Tujuan mendidik, menumbuhkan dan memperkembangkan anak adalah agar ketika dewasa dapat menunjukkan adanya gambaran dan kualitas kepribadian yang matang ( mature, welintegrated) dan produktif baik bagi dirinya, keluarga maupun seluruh masyarakat, termasuk mereka yang hidup di daerah pedesaan dan kurang ada fasilitas ( under-priveleged). Peranan dan tanggung jawab orang tua terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak adalah teramat penting, karena anak adalah asset bangsa dan mereka masih "easily being moulded" yang seyogyanya dilakukan oleh orang tua. Apabila karena satu dan lain sebab orang tua tidak atau kurang dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai orang tua dalam keluarga yang ideal, maka perlu memperoleh


bantuan dari semua pihak. Masih dalam Preambule dari Convention on the Rights of the Child, dicantumkan. "Convinced that the family, as the fundamental group of society and the natural environtment for the growth and well-being of all its members and particularly children, should be afforded the necessary protection and assistance so that it can fully assume its responsibilities within the community." 4. Dari data statistik-kependudukan yang dikemukakan pada tahun 1997 diperoleh angka-angka yang perlu mendapat perhatian kita semua, khususnya mengenai jumlah anak yang justru diharapkan akan menjadi pemimpin bangsa di kemudian hari sebagai berikut: Dari sejumlah 201 juta penduduk Indonesia, terdapat 62 juta anak di bawah usia 14 tahun atau sebesar 31% dan terdapat 40 juta anak berusaha di bawah 9 tahun atau 19.9%. Suatu jumlah yang sungguh besar dan menjadi tantangan bagi kita semua, khususnya para ahli Psikologi Perkembangan bagaimana kita semua dapat berbuat sesuatu, menyumbangkan pemikiran dan saran agar proses pertumbuhan dan perkembangan pada anak yang begitu besar jumlahnya, dapat berlangsung sesuai dengan standar minimal yang ideal, yang meliputi berbagai aspek perkembangan dari ciri maupun gambaran kepribadian anak ( personality traits, personality make-up). Disamping berbagai upaya agar semua potensi yang dimiliki anak dapat muncul secara optimal (aktualisasi diri) dan tidak terbelenggu dalam lingkaran hidup yang mandul. 5. Dalam dunia pendidikan formal di sekolah, masih terbuka peluang bagi para ahli Psikologi Perkembangan untuk berperan serta dengan mengemukakan kaidah-kaidah perkembangan seperti dalam penyusunan kurikulum yang sesuai dengan usianya. Demikian pula dalam upaya melaksanakan program pengayaan (enrichment program) yang pada hakikatnya bukan penjejalan berlebihan terhadap proses-proses pendidikan yang harus memperhatikan adanya prinsip perbedaan perseorangan (individual differences) dan pendekatan terpusat pada anak (child-centered approach). Banyak sumber kesulitan belajar (school problems, learning difficulties ) ternyata membutuhkan keterampilan untuk mendiagnosisnya agar setelah diketahui, dapat diambil langkah-langkah untuk mengatasinya, seperti ketimpangan karena terlalu menekankan pada salah satu


aspek kepribadian saja atau terlalu menekan sesuai dengan standar dan keinginan subjektif orang tua (misalnya gejala over-expectation). 6. Lingkungan hidup meliputi rumah, sekolah dan lingkungan sosial, baik secara langsung maupun tak langsung mempengaruhi anak (sesuai dengan microsystem, mesosystem, exosystem dan macrosystem-nya Urie Bronfenbrenner) jelas merupakan sumber stimulasi yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak. Kita semua memahami bahwa sejak seseorang anak dilahirkan, sejak saat itu ia peka terhadap berbagai rangsangan dari lingkungan hidupnya. Manusia harus menghadapi dan memberikan respons terhadap lingkungan hidup yang langsung seperti rumah tinggal dengan perabotannya serta lingkungan fisik dengan ciri-cirinya. Hubungan antara manusia dengan lingkungannya, baik dalam arti sempit dalam keluarga, maupun dalam arti luas dengan lingkungan alamnya, akan berpengaruh terhadap kehidupan psikis. Sebagaimana Kurt Lewein beberapa puluh tahun yang lalu menjelaskan mengenai life space yang menjadi psychological field (dalam teorinya mengenai Field Psychology), berpengaruh terhadap aspek psikis seseorang dan menjadi cikal bakal dari pengeritan human ecology dewasa ini. Kondisi rumah dan pemukiman masih membutuhkan waktu lama untuk sampai pada kehidupan layak. Kondisi tidak laik huni masih mendominasi kehidupan masyarakat karena kait mengaitnya dengan faktor-faktor lain. Kepadatan penduduk misalnya di Jakarta yang mempunyai indeks kepadatan rata-rata sebesar 10.740 orang/ha, jauh melebihi standard ideal sebesar 300 orang/ha (1990). Padahal kepadatan penduduk mudah memicu konflik dan bentrokan dan karenanya perlu melakukan pengkajian melalui berbagai analisis data, misalnya alternatif pemecahan melalui kebijaksanaan "sentralisasi yang di desentralisasi". Kepadatan dalam keluarga sebagai akibat dari proses urbanisasi jelas berpengaruh besar terhadap hubungan antar pribadi dalam keluarga dan memudahkan munculnya masalah-masalah lain di mana lingkungan rumah dengan ruang gerak dan ruang bermainnya menjadi sangat sempit dan tidak menguntungkan bagi perkembangan kepribadian maupun perkembangan sosial anak. Interaksi yang semakin majemuk menimbulkan kesulitan


untuk membina komunikasi yang harmonis antar pribadi dalam keluarga, khususnya antara orang tua dengan anak. Di luar rumah langkanya lapangan bermain ( paly ground) bagi anak membutuhkan pemikiran khusus baik mengenai dampaknya maupun upaya untuk mengatasinya, termasuk yang tinggal di apartemen dan "rumah toko" (ruko). Maka mudahlah menyimpulkan hal yang kedua ini dengan mendasarkan pada Social Learning Theory bahwa mereka dalam perkembangannya telah tanpa sengaja tercekoki dengan kehidupan dagang dan berwira-usaha dan terpola pula tujuan hidupnya yang tentunya tidak akan jauh dari dunia usaha. Apabila masalah lingkungan hidup diterapkan dalam kehidupan remaja, maka jelaslah lahan yang sempit tentu mudah menyulut munculnya ketegangan karena mudahnya terjadi persinggungan dan selanjutnya mudah pula dipahami akan menimbulkan perasaan tidak nyaman ( unpleasant feeling) dan tidak aman (insecurity, unsafe) dengan akibat mudah munculnya sikap dan tindakan tidak terkendali (uncontrolled behaviour) dan selanjutnya agresif. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas, yang pada hakikatnya adalah merupakan tantangan bagi kita semua, khususnya yang mendalami Psikologi Perkembangan, maka beberapa hal perlu direnungkan, dibahas dan diambil tindakan : 1. Psikologi Perkembangan sebagai ilmu yang terus berkembang, harus diikuti dan dipelajari terus seiring dengan derap lajunya perkembangan dan kemajuan di berbagai bidang. Dengan memperhatikan luasnya bidang cakup dalam Psikologi Perkembangan, maka perlu memusatkan perhatian dengan mendalami satu dua bidang yang lebih sempit. Hal ini akan mendorong munculnya bidang spesialistik yang lebih mendalam dan hal seperti ini tentu lebih baik daripada mengetahui lebih banyak tetapi tidak/kurang mendalam. Bidang spesialistik yang pernah dirintis pada tahun 1976 yang dinamakan Proyek Spesialisasi yang membina kerjasama dengan pihak Vrije Universiteit Amsterdam melalui Prof. Dr. Jan de Wit agaknya perlu diaktifkan kembali, sekalipun mungkin dalam bentuk dan program yang berbeda. 2. Masyarakat membutuhkan petunjuk dan acuan mengenai berbagai aspek dalam proses perkembangan, baik mengenai standard, maupun ciri-ciri khusus dalam sesuatu tahapan


perkembangan. Karena itu perlu dpikirkan kemungkinan mendirikan Pusat Studi Anak yang mempelajari berbagai seluk beluk kehidupan anak (Institute/Centre of Child Study) maupun Pusat Studi lain untuk mempelajari perkembangan manusia secara umum (Human Development Centre). Kerjasama antar berbagai instansi (interdisciplinary approach) maupun antara berbagai disiplin ilmu (multidisciplinary approach) sangat diperlukan. 3. Agar terbina kerjasama, saling belajar, tukar menukar informasi melalui berbagai media, pertemuan berkala, maka perlu ada organisasi yang mengkoordinasikan dan mempersatukan para psikolog yang mendalami Psikologi Perkembangan. Prakarsa yang pernah saya cetuskan beberapa tahun yang lalu, ternyata masih belum dapat direalisasikan. 4. Dalam Psikologi Perkembangan hendaknya kita membuka dan menyelaraskan diri terhadap semua perkembangan yang terjadi di dunia luar. Keikut sertaan dalam berbagai pertemuan Internasional mutlak diperlukan. Indonesia telah diakui oleh dunia luar, bukan saja di Asia tetapi juga di benua Eropa, Amerika dan Australia sebagai pencetus diadakannya pertemuan berkala yang dimulai sejak tahun 1978 dan yang sampai sekarang Pertemuan yang dinamakan Asian Workshop on Child and Adolescent Development, masih berlanjut dan perlu perhatian khusus. Senarai Kepustakaan : 1. 2. 3.

4. 5. 6.

Bronfenbrenner, U. & Mahoney, M.A (1981). Influences on human development. Hinsdale, III.: The Dryden Press. Koops, W. et al (1990) Developmental psychology behind the dikes. Delft: Uitgeverij Eburon. Miller, P.H. (1993). Theories of developmental psychology. N.Y.: W.H. Feeman & Co. Dokumen: Convention on the Rights of the Child. Unicef. Dokumen: Keadaan Sosial Ekonomi Penduduk DKI Jakarta 1990. Kantor Pusat Statistik Propinsi DKI Jakarta, 1990. Dokumen: 1998 Indonesian Health Profile, Attachement, Central Data of health, Department of Health of the Republic of Indonesia.


PIDATO PURNABAKTI KE DUA Hadirin yang saya hormati, Kalau pada akhirnya saya berhasil menyusun naskah Pidato Akhir Jabatan ini, adalah hasil dari pergumulan saya yang berlarut-larut. Setiap kali saya berjanji terhadap diri sendiri akan memulai, setiap kali pula terasa ada beban besar yang menindih dan menghimpit saya dan yang menghambat saya untuk menulis. Kegigihan Panitia yang diwarnai oleh kesabaran dengan mengingatkan akan dead-line yang semakin dekat, tidak juga menyadarkan saya untuk mulai menulis. Padahal kegiatan menulis bagi saya adalah sesuatu yang cukup biasa, termasuk menyusun makalah atau mempersiapkan kata sambutan. Sebagai seorang yang pernah tercebur dalam padepokannya Psikonanalisis di Tavistock Institute, London selama satu tahun, saya mulai menerawang dalam upaya mengingat dan mengeluarkan kembali (recalling, reproduction) apa yang pernah saya pelajari sebelum saya akhirnya berhasil menyusun pidato ini. Mungkin inilah"unconscioulsy of myself" meniru "self-analysis" melalui "dream analysis"-nya Sigmund Freud, saya sebenarnya dilanda oleh "inner conflict" yang dalam kenyataannya sangat "tensioning". Jadi secara tidak sadar kalau digali dibawah alam kesadaran saya, ada dorongan (drive) yang menolak dan tidak rela untuk pensiun. Kenyataan bahwa lebih dari setengah umur saya sudah saya abdikan diri sebagai Pegawai Negeri dengan segala macam jungkir baliknya untuk mempertahankan kelangsungan hidup yang layak dan sekian lama syukur dapat dilalui, kalau tidak mau jujur mengatakan "karena sudah terbiasa". Namun di sisi lain sebagai pegawai negeri banyak menikmati kemudahan, memperoleh fasilitas disamping kebanggaan bahwa saya bukan saja boleh ikut mengabdi pada Almamater khususnya, namun juga bangsa dan negara pada umumnya. Sesuatu yang "unconsciously of myself" ingin terus langgeng, terus dipertahankan. Bukankah tidak berlebihan kalau sampai sekarang saya sudah mengoleksi 5 buah paspor dinas dan entah berapa puluh kali nama saya disebut di tengah-tengah masyarakat lain, negara lain dengan perkataan: "from Indonesia" ? Suatu kebanggaan tersendiri yang sekali lagi sulit diungkapkan. Karenanya tidak berlebihan kalau status sebagai pegawai negeri sebenarnya tidak terlalu rela untuk dilepas begitu saja. Hal lain yang menambah konflik pada saya adalah respons serempak yang menyentuh perasaan dan sungguh mengharukan dari rekan-rekan Bagian Psikologi Perkembangan dan mantan-mantan murid saya, tidak terkecuali rekan-rekan di luar negeri, ketika


gaung sudah ditabuh bahwa saya mau "lengser" dari Fakultas. Karenanya hati kecil saya memberontak dan berteriak: Mengapa dan sekali lagi mengapa saya harus meninggalkan Fakultas yang telah berbuat banyak dan pribadi-ribadi yang begitu baik yang puluhan tahun "dibesarkan" bersama ? Sementara dipihak lain saya merasa sudah saatnya harus mundur karena memang sudah matang untuk pensiun. Kata klise, tetapi sebenarnya kurang enak dirasakan, karena mengesankan saya yang dalam kenyataannya belum terlalu "loyo" tetapi "diloyokan" oleh berbagai kondisi yang tidak bisa dan tidak mungkin dihindari dan yang karenanya dengan berat hati sekarang ini harus berdiri dihadapan para hadirin yang saya hormati untuk secara resmi "pergi tampak punggung". Apabila pada kesempatan ini sekali lagi saya melakukan "self analysis" lantas muncul suatu hasil, apakah ini akibat dari terlalu cepatnya saya dimatangkan, karena pada usia 50 tahun 2 bulan saya sudah menduduki pangkat IV/e, pangkat tertinggi dan sudah mentok dan sebelumnya pada umur 45 tahun 8 bulan saya diangkat menjadi Guru Besar, seolah-olah tidak ada lagi tantangan untuk berkarya, mengejar dan mengumpulkan KUM. Padahal tantangan dalam bentuk apapun adalah faktor penting di mana seseorang bisa kalah, menjadi tidak berdaya dan menerima saja apa yang terjadi atau sebaliknya menang dan terus maju karena berhasil mengatasi tantangan tersebut. Hal yang kedua inilah yang menyebabkan seseorang maju terus sampai tentunya tidak ada tantangan lagi. Bukankah motto "man to be what he is made to be by his environment" jelas menunjukkan bahwa manusia terbentuk sepenuhnya oleh faktor yang ada di lingkungan ? Atau seperti yang dikemukakan oleh Thomas A. Edison bahwa keberbakatan seseorang ditentukan hanya 1% by inspiration sedangkan yang 99% by perspiration ? Suatu faktor yang tidak dapat diabaikan, apalagi pada masa-masa pembentukan (formative years) dan masa-masa kritis untuk memperoleh rangsangan dan tantangan dari luar. Apabila saya harus jujur bercerita, saya tidak segan-segan mengakui bahwa sebagian besar dari kehidupan saya dibentuk lingkungan hidup yang serba keras karena berbagai tantangan yang harus saya hadapi dan atasi. Dengan kata lain lingkungan hidup telah mencetak saya sehingga saya menjadi "sosok pribadi" seperti sekarang ini. Saya memang tidak mau "menerima nasib" tetapi diwarnai oleh N-Achievement-nya McClelland, saya harus "mengubah nasib", maju dan terus berjuang untuk "memperbaiki nasib". Dalam hal ini ternyata lingkungan olahraga tanpa saya sadari, telah saya jadikan arena tantangan di mana keinginan menang, harus hebat, menjadi juara adalah ciri khas yang menonjol. Berbagai cabang olahraga telah diikuti, semata-mata untuk menyalurkan gejolak ambisi untuk menonjol. Tidak ada hari tanpa melakukan kegiatan olahraga, agaknya mewarnai sebagian kehidupan saya sejak masih kecil. Sesuai dengan prinsip "olahraga mempengaruhi kepribadian dan kepribadian mempengaruhi penampilan dalam olahraga" (sport personology) maka kegiatan dalam olahraga sedikit banyak juga mempengaruhi ciri-ciri dan gambaran kepribadian saya sekarang ini.


Di sisi lain, tidak mungkin saya mengingkari kenyataan bahwa oleh banyak orang saya digolongkan sebagai pribadi yang terlalu kaku terhadap peraturan, disiplin berlebihan, ketus, sangat ambisius dan cenderung menjadi "overachiever". Agaknya ini sesuai dengan paham pendekatan organismik dengan doktrin epigenetik-nya yang dapat diterapkan untuk saya bahwa "man develops to be what he makes himself by his own actions". Kalau saya mengambil hikmahnya, agaknya dua pendekatan kontroversial di atas, antara nature vs. nurture, antara native endowment vs. environmentalism, antara maturation vs. learning processes, atauantara inborn vs. acquired, semua dapat diterapkan pada diri saya. Agaknya di satu sisi saya serupa dengan hasil penelitian E.G. Garrison (1987) yang menyimpukan bahwa disamping ada hal-hal yang negatif pada anak yang mengalami banyak perlakuan negatif atau kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan akan menghasilkan seseorang dengan kepribadian yang tangguh (resilient). Agaknya ini analog dengan toughmindedness yang dihubungkan dengan trait factor theory di satu sisi dan pada sisi lain karena pengaruh kehidupan sesuai dengan pandangan environmentalisme/empiricism sebagai sumber stimulasi dalam kehidupan yang harus keras, apabila tidak mau dilanda oleh derasnya arus kehidupan, pasrah dan terima nasib. Dengan demikian pada saya terpeta dengan jelas paham interactionistnya Jean Piaget dan contextualist-nya Lev Vygostsky. Apabila saya merenungkan perjalanan hidup saya, maka awal dari "pemberontakan" saya dan sikap tidak mau "nrimo" begitu saja, dan sebaliknya memberontak terhadap kehidupan yang membelenggu dan mengungkung saya, artinya saya tidak mau menjadi bagian dari "alam" (lingkungan), yakni pasrah, tetapi sebaliknya, saya mau "menguasai alam" (dalam arti lingkungan hidup) adalah ketika pada tanggal 18 Agustus 1953 saya meninggalkan kota kelahiran saya dan hijrah ke Jakarta. Berbekal ijasah SMP dengan nilai yang cukup baik, berbekal tekad yang kuat dan dorongan kuat untuk "memperbaiki dan menyongsong nasib yang lebih baik", saya sudah menjadi "bonek" sebelum istilah tersebut merebak akhir-akhir ini. Sampai di Jakarta saya harus mencari-cari sekolah sendiri. Mencari sekolah sendiri bukanlah kiasan tetapi secara harfiah memang demikian keadaannya, karena segalanya harus diurus dan mengurus sendiri. Itulah awal dari kegiatan "by his own actions", sesuai dengan "self regulatory system"-nya Coleridge, "self organizing being"-nya Immanuel Kant atau "self regulatory system"-nya A.R. Luria. Ketika saya masuk ke kelas I SMA, saya dikejutkan oleh kenyataan, bahwa banyak teman sekelas saya ternyata berusia 3 a 4 tahun di bawah saya. Kenyataan lain yang saya hadapi adalah bahwa saya baru menyelesaikan dan memperoleh ijasah SMA pada umur 22 tahun, umur yang pada umumnya sudah menduduki tingkat 4 atau tingkat 5 di Perguruan Tinggi, meskipun selama bersekolah saya tidak pernah tinggal


kelas. Keadaan tersebut agaknya menjadi hikmah bagi saya karena saya semakin terdorong, semakin terpacu untuk meraih dan terus meraih prestasi setinggi-tingginya. Hadirin yang saya hormati, Pada kesempatan yang indah ini, saya ingin mengungkapkan rasa syukur saya kepada Tuhan Y.M.E. karena saya merasakan berkat-Nya selalu melimpah dalam hidup saya. Saya mohon maaf kalau pada kesempatan ini saya tidak mungkin menyebutkan satu persatua semua orang yang telah berjasa dan mempengaruhi hidup saya sehingga dapat mengakhiri tugas saya di Fakultas Psikologi yang saya cintai ini dan selanjutnya apabila usulan diterima akan berstatus Guru Besar Emeritus. Namun, izinkan saya menyebut hanya beberapa nama yang tidak mungkin saya lewatkan Pertama-tama terima kasih saya sampaikan setulus-tulusnya kepada Prof. Dr. S.C.U. Munandar, karena beliaulah yang merekrut saya menjadi asisten mahasiswa pada tahun 1960, jauh sebelum saya lulus menjadi sarjana. Dari beliaulah saya secara tersembunyi meniru (ternyata saya telah melakukan proses imitation terhadap tokoh model) bagaimana menyusun kata yang baik dan benar, yang menerapkan prinsip "the art of talking" dan "the art of listening", dan yang selalu saya pergunakan dalam melaksanakan kegiatan konseling dan psikoterapi. Oleh beliaulah saya diberi kesempatan dan diusulkan menjadi Pegawai Negeri yang diangkat t.m. tanggal 1 Oktober 1961 segera setelah menyelesaikan studi Sarjana Muda saya dengan pangkat E/II. Tokoh lain yang tidak mungkin saya lupakan dan saya harus mengucapkan terima kasih adalah Prof. Dr. Slamet I. Santoso. Beliaulah yang "menahan" dan "memantapkan tekad" saya untuk tidak meninggalkan Fakultas segera setelah saya lulus sebagai Sarjana pada tahun 1963. Juga kepada Prof. Dr. Fuad Hasan saya harus mengucapkan terima kasih karena saya menemukan tokoh model dari profil seorang psikolog idaman saya dan kesemuanya terjadi secara benar-benar disadari, namun sebenarnya lebih banyak melalui hal-hal yang tidak disadari yakni melalui apa yang oleh Albert Bandura disebut sebagai "unconscious object learning". Pada kesempatan ini pula tidak mungkin saya tidak menyebut seorang tokoh di luar negeri yang telah begitu banyak berbuat bukan saja untuk saya pribadi, tetapi juga teman-teman di Fakultas. Beliaulah yang menarik dan mendorong saya untuk menceburkan diri di dunia Internasional. Beliau adalah Prof. Dr. Jan de Wit, Guru Besar Emeritus dari Vrije Universiteit, Amsterdam dan mantan Direktur Paedologisch Instituut. I really don't know how to express my grateful to him. In fact he has done a


lot not only to me but also to the other colleagues from the Department of Developmental Psychology. We all really appreciate of what he has done to us. Hadirin yang saya hormati, Ketika pemikiran untuk mengadakan upacara sederhana ini dikemukakan kepada rekan-rekan di Bagian Psikologi Perkembangan, mereka menyambutnya dengan cukup enthusias. Sangat mengharukan, karena di tengah-tengah kesibukan dan pekerjaan sehari-hari, mereka masih mau menyisihkan waktu untuk melakukan sesuatu khususnya untuk saya, sebagaimana terlihat jelas pada kegiatan mereka sejak dari persiapan sampai pelaksanaan hari ini yang sama-sama kita rasakan sekarang ini. Terima kasih setulusnya kepada Ibu Hera Lestari Ph.D. dengan kerabat kerjanya atas segala apa yang telah diberikan sehingga upacara sederhana ini dapat berlangsung dengan baik. Tidak lupa pula saya pada kesempatan yang baik ini, menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada seluruh hadirin, juga kepada rekan-rekan baik di dalam maupun di luar negeri, mantan atasan, mantan senior saya, mantan murid, atas kehadiran dan terlebih pula atas tulisan dan kesan yang telah disampaikan yang akan saya jadikan Buku Kenangan yang sangat berharga. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Keluarga Besar Fakultas Psikologi, Pimpinan Fakultas khususnya Prof. Dr. Sarlito W. Sarwono selaku Dekan dan tidak lupa pula kepada para staf pengajar, para karyawan dan pensiunan karyawan/karyawati yang telah bekerja dan mendarma-baktikan dirinya di Fakultas Psikologi UI tanpa pamrih. Hadirin yang saya hormati, Bila dalam perjalanan hidup saya, saya memperlihatkan ciri-ciri kepribadian tertentu, mudah-mudahan banyak positifnya, maka saya teringat kedua orang tua saya yang telah mewariskan saya dengan berbagai ciri kepribadian yang sebagian besar telah saya aktualisasikan dalam kehidupan nyata, antara lain dalam meniti karier sampai di batas ujung masa pengabdian saya. Juga kepada saudara-saudara kandung, saudara ipar, ketiga anak dan ketiga menantu, serta sekarang ketiga cucu, dengan modal kasih sayang, kalian telah banyak berbuat untuk saya, karena tidak lupa saya mengucapkan terima kasih. Bila ada seseorang yang selalu mendampingi, khususnya dalam menghadapi suasana duka atau suasana prihatin. Bila ada seseorang yang memberi dorongan pada saat kekuatan mulai melemah, mulai putus asa yang sewaktu-waktu muncul tanpa diduga.


Bila ada seseorang yang setia menunggui pada saat-saat sang suami harus bekerja keras sampai larut malam. Bila ada seseorang yang senang berkorban bagi sang suami. Bila ada seseorang yang paling berjasa dalam membantu dan mendorong upaya mencapai karier, hadirin sekalian, seseorang itu adalah istri saya. Jakarta, 21 Agustus 1999


DATA PRIBADI SINGKAT Nama : Singgih Dirgagunarsa (Singgih D. Gunarsa) Tempat dan Tanggal lahir : Sokaraja, Banyumas, 21 Agustus 1934 Agama : Kristen Protestan Istri : Dra. Ny. Yulia Suryanggana Anak : 1. dr. Sefanya Astamurdina - Ir. Irianto Sutanto 2. Dra. Natanelya Anindita - Ir. Alfred Charlex 3. dr. Ralph Girson Manuel - Ir. Elsa Caroline Sugiarta Cucu : 1. Michael Yulian Sutanto 2. Gabriella Christina Sutanto 3. Harold Jefferson Matthew Alamat : Jl. Daksinapati Barat II / 6, Kampus UI, Rawamangun, Jakarta 13220 Tel. : 4894033, 4705076 E-mail : gunarsa@rad.net.id, singgihd@indo.net.id Riwayat Pendidikan :

1. 2. 3. 4.

SD Kristen Sokaraja : tamat 1950. SMP Kristen Purwokerto : tamat 1953. SMA Kristen - Pintu Air, Jakarta : tamat 1956. Fakultas Psikologi U.I. : Sarjana Muda : 1961. Sarjana : tamat 1963. 5. Akademi Pendidikan Pekerjaan Sosial, Departemen P dan K : Bacalaureat, 1968, 6. Gelar/Promosi Doktor U.I. : 12 Januari 1974.


Riwayat Jabatan / Pangkat di Fakultas Psikologi U.I.

1. Asisten Mahasiswa t/m : 1/11 1960 S.K. No. : 1439/F.K./U.P. ttgl. : 9 - 12 - 1960 2. Asisten Perguruan Tinggi t/m : 1/10 1961 S.K. No. : 7235/UP/II/61 Gol. E / II ttgl. : 7 - 10 - 1961 3. Asisten Ahli t/m : 1/10 1963 S.K. No. : 11493/UP/II/63 Gol. F / II ttgl. : 6 - 11 - 1963 4. Lektor Muda t/m : 1/10 1964 S.K. No. : 3916/Educ/BUP/65 Gol. F / III ttgl. : 26 - 4 - 1965 5. Lektor t/m : 1/ 3 1967 S.K. No. : 3693/Educ/BUP/67 Gol. F / IV ttgl. : 3 - 7 - 1967 6. Lektor Kepala t/m : 1/ 4 1973 S.K. No. : 0602/C/DEPK Th 1973 Gol. IV / b ttgl. : 28 - 9 - 1977 7. Lekto Kepala t/m 1/ 4 1977 S.K. No. : 8/K/Tahun 1980 Gol. IV / c ttgl. : 30 - 7 - 1977 8. Guru Besar t/m : 1/ 4 1980 S.K. No. : 24/K/Tahun 1980 Gol. IV / d ttgl. : 29 - 11 - 1980 9. Guru Besar t/m : 1/10 1984 S.K. No. : 4/K-1985 Gol. IV / e ttgl. : 22 - 4 - 1985 Pendidikan Tambahan di Luar Negeri :

1. Tavistock Institute, London, Inggris : 1969 - 1970. 2. University of Hawaii, Amerika : 1972. 3. Vrije Universiteit, Amsterdam, Belanda : 1980. Jabatan Penting di Fakultas Psikologi U.I. :

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Wali Tingkat Persiapan : 1963 - 1969. Kepala Bagian Psikologi Anak & Perkembangan : 1967 - 1976. Ketua Post Graduate Course I : 1971. Ketua Penataran Psikologi Anak & Perkembangan : 1976. Koordinator Proyek Spesialisasi Bidang Psikologi Anak & Perkembangan : 1976. Pembantu Dekan I : 1976 - 1980. Ketua (Chairman) Asian Workshop on Child & Adolescent Development : 1978. Kepala Laboratorium Remaja : 1982 - 1990. Ketua Bidang Kekhususan Psikologi Perkembangan, Program Pascasarjana U.I. : 1989 - 1998.


Jabatan Penting Lain :

1. Direktur Akademi Sosial Kristen Widuri : 1965 - 1969. 2. Kepala Bidang Bimbingan dan Penyuluhan, P4 KPS Jakarta BPK Penabur : 1974 - 1988. 3. Kepala Pusat Konsultasi Psikologi, P4 KPS Jakarta - BPK Penabur : 1974 - 1988. Jabatan Utama Sekarang :

1. Guru Besar dengan pangkat IV/d, t/m 1 April 1980. Pengukuhan : 11 April 1981 2. Guru Besar dengan pangkat IV/e, t/m 1 April 1985. 3. Guru Besar pada Program Pascasarjana Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 1983 - sekarang 4. Guru Besar pada Program Pascasarjana U.I. 1985 - sekarang. 5. Guru Besar pada Program Studi Ilmu Kedokteran Olahraga, F.K. - U.I., 1990 - sekarang 6. Guru Besar pada Program Pascasarjana I.K.I.P. Jakarta, 1985 1996. Guru Besar Tamu di Luar Negeri :

1. Vrije Universiteit, Amsterdam : 1980. 2. Mahidol University, Bangkok, Thailand : 1980. 3. Srinakharinwirot University, Bangkok Thailand : 1994, 1996, 1997. 4. Penguji Luar (external examiner) All-India Institute of Medical Sciences, Ansari Nagar, New Delhi, India, 1978. Jabatan Lain :

1. Anggota Badan Pimpinan Yayasan Tarumanagara : 1979 1983. 2. Wakil Ketua III Badan Pimpinan Yayasan Tarumanagara : 1983. 3. Wakil Ketua II Badan Pimpinan Yayasan Tarumanagara : 1984 1992. 4. Wakil Ketua I Badan Pimpinan Yayasan Tarumanagara : 1992 sekarang. 5. Ketua Koordinatorat Pembinaan dan Pengembangan Akademik Yayasan Tarumanagara : 1984 - sekarang.


6. Ketua Dewan Penyantun UKRIDA, berakhir tahun 1991. 7. Anggota Dewan Pembina Prasetiya Mulia - berakhir 1992. 8. Anggota Yayasan Dharma Bakti Kalbe : 1992 - sekarang. 9. Ketua Umum Ikatan Alumni Pusat BPK Penabur, berakhir 1995. 10. Ikatan Alumni Pusat BPK Penabur, Penasihat, 1995 sekarang. 11. Chairman of the Advisory Board, Christian Children's Fund (CCF) Indonesia Representative : 1976 - sekarang. 12. Ketua Yayasan Anak Indonesia (YAI) : 1990 - sekarang. 13. Anggota Dewan Nasional IMKA/YMCA Indonesia - 1967 sekarang. 14. Anggota Dewan Kehormatan ISPSI Pusat - berakhir 1995. 15. Anggota Dewan Kehormatan ISPSI Cabang Jakarta berakhir 1998. 16. Psikolog PB PBSI - 1967 - 1998. 17. Konsultan di Menpora. 18. Konsultan di KONI Pusat. 19. Anggota Dewan Pembina POR Djarum, Kudus. 20. Psikolog/Konsultan di R.S. Husada : 1964 - 1998. 21. Anggota Dewan Penasihat UKRIDA - 1999. Jabatan di Dunia Internasional :

1. Sebagai Area Representative (Chair) ICP (International Council of Psychologists) : 1976 - 1980. 2. Anggota Executive Committee, International Society for the Study of Behavioural Development : 1977 - 1983. 3. Anggota Executive Committee, Asia Alliance of the YMCA's (Hong Kong) : 1983 - sekarang 4. Chairman/Coordinator of the Asian Workshop on Child and Adolescent Development : 1978 - sekarang. Penghargaan Penting :

1. Dari Pemerintah R.I. : Piagam Tanda Kehormatan R.I. : "Satya Lancana Karya Satya Kelas I" pada tanggal 25 Juli 1989. 2. Dari Pemerintah R.I. : "Adimanggalya Krida" pada tanggal 4 September 1995. 3. Dari PB - PBSI : "Satya Karya Kelas I" pada tanggal 5 Mei 1996. 4. Internasional : Dari Christian Children's Fund, Richmond, Amerika : "Meritorious Service" pada tanggal 1 Agustus 1993


5. Nasional : Dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI Pusat) : Piagam Penghargaan : "Pelopor Psikologi Olahraga di Indonesia" pada tanggal 24 Juli 1999. Karya Tulis Dalam Bentuk Buku :

1. 2. 3. 4.

Psikologi Pendidikan (co-author) : Dep. P & K, 1972 / 1973 Psikologi Perkembangan : BPK Gunung Mulia, 1972. Pengantar Psikologi : Mutiara, 1975. Psikologi Untuk Keluarga (co-author) : BPK Gunung Mulia, 1977. 5. Psikologi Untuk Muda-mudi (co-author), BPK Gunung Mulia, 1978. 6. Psikologi Remaja (co-author) : BPK Gunung Mulia, 1979. 7. Psikologi Untuk Membimbing (co-author) : BPK Gunung Mulia, 1980. 8. Dasar dan Teori Perkembang Anak : BPK Gunung Mulia, 1981. 9. Psikologi Perkembangan : Anak dan Remaja (co-author) : BPK Gunung Mulia, 1983. 10. Masihkah Benih Tersimpan ? (co-author) : BPK Gunung Mulia, 1990. 11. Intelligensi, Bakat dan Test IQ (co-author) : Gaya Favorit Press, 1986. 12. Psikologi Perawatan (co-author) : BPK Gunung Mulia, 1986. 13. Psikologi Olahraga (editor) : BPK Gunung Mulia, 1989. 14. Psikologi Praktis; Anak, Remaja dan Keluarga (co-author) : BPK Gunung Mulia, 1991. 15. Konseling dan Psikoterapi, BPK Gunung Mulia, 1992. 16. Masalah Kesulitan Belajar (editor) : UPT Penerbitan, Tarumanagara, 1994. 17. Reorientasi Perkembangan dan Prospek Profesi Psikologi di Indonesia : UPT Penerbitan, Tarumanagara, 1995. 18. Psikologi Olahraga : Teori dan Praktik (editor) : BPK Gunung Mulia, 1996. KUNJUNGAN KE LUAR NEGERI DALAM RANGKA MENGIKUTI PERTEMUAN INTERNASIONAL : SEMINAR, KONGRES, KONPERENSI, KERJASAMA, DLL. :

1. Singapore


2. Malaysia 3. Thailand 4. Philippina 5. Hong Kong 6. Taiwan 7. Korea Selatan 8. Jepang 9. India 10. Australia 11. RRC 12. Amerika 13. Canada 14. Itali 15. Perancis 16. Jerman 17. Swedia 18. Belanda 19. Inggris 20. Denmark 21. Brunei Darussalam

PIDATO PURNABAKTI PROF SINGGIH DI FPSI UI  

Tepat pada tanggal 21 Agustus 1999, ketika HUT 65, Prof. Dr. Singgih D. Gunarsa pidato ilmiah purnabakti.

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you