Page 1

Sunday, February 03, 2008

BANJIR DI TANJUNG DUREN

Foto ini dibuat pakai camera handphone merk Philips pada hari Jumat tanggal 1 Februari 2008, sekitar Pk. 17.00. Saat itu hujan sudah berhenti tetapi Jalan Tanjung Duren Raya di depan Apartemen Mediterania Garden Residence 1 yang berarti juga di depan kampus UKRIDA & BPK PENABUR, tidak dapat dilewati oleh mobil, begitu juga bus umum METRO MINI 91 yang melalui route ini lebih memilih parkir di depan Kantor Polisi Tanjung Duren yang lebih tinggi. Sejak pagi hari Jalan Slipi mulai dari Mal Taman Anggrek sampai Mal Ciputra macet total dan ini terus berlangsung sampai malam hari. Pk. 21.00 masih macet total dan suasana ramai sekali dengan penduduk yang

harus jalan kaki kembali ke rumah masing-masing. Bagi penulis, ini pengalaman kedua. Pertama pada tanggal 21 April 2004 ketika masih bekerja di BPK PENABUR dan berkantor di Gedung E UKRIDA, tidak bisa pulang karena banjir dan terpaksa menginap di kantor. Tanggal 1 Februari 2008 juga tidak bisa pulang maka terpaksa menginap di apartemen MGR1.


Semula sudah tidak ingat, tanggal berapa kejadiannya tidak bisa pulang karena banjir pertama kali. Tetapi syukurlah alamat ini masih bisa diakses walaupun sudah tidak ada linknya dari website BPK PENABUR 2008 yang baru, http://www1.bpkpenabur.or.id/pcc/20040421.htm

Penulis ingat betul karena ada acara MALAM PUJIAN JAKARTA CHILDREN OF PEACE pada tanggal 21 April 2004 di Tennis Indoor Senayan. Putri penulis yang kedua, Sophia, tidak bisa pulang setelah selesai membantu panitia malam itu. Daisy Imelda terpaksa nginap di rumah penulis karena terjebak macet total tidak bisa pulang ke Green Garden dari Alaydrus. Berangkat dari Alaydrus pk. 15.00 dan tiba di rumah penulis di Roxy pk. 21.00. Benar-benar pengalaman yang sulit untuk dilupakan.

Friday, February 08, 2008

ARIEF BUDIMAN YANG KUKENAL

Pada hari Kamis, 7 Februari 2007, Tien S Sada, yang tinggal di Amerika Serikat memberitahukan bahwa ada artikel di Jakarta Post, tentang Arief Budiman yang bekerja di Australia dan bisa dibaca pada alamat : http:// www.thejakartapost.com/detailfeatures.asp?fileid=20080206.W06&irec=4 Judulnya: Arief Budiman: Defying the Chinese stereotype Kelihatannya artikel ini dibuat untuk menyambut hari raya imlek 2008 yang telah menjadi hari libur nasional ketika Gur Dur jadi presiden. Setelah membaca segera diucapkan terima kasih kepada Tien untuk postingnya karena artikel tersebut menarik sekali. Selanjutnya saya tambahkan demikian. Jadi ingat waktu Arief masih pacaran dengan Leila, saya


suka antar Arief dengan sepeda motor saya merk DKW. Setiap diantar selalu melalui jalan yang lain, saya sampai bingung. Ketika ditanya, Arief bilang sambil bergurau: "Supaya kamu tidak bisa datang sendiri ke rumah Leila". Ada cerita lucu yang juga saya masih ingat yaitu ketika Leila cerita bahwa dia baru baca buku kecil (buku Kenari) yang bagus sekali isinya dan lalu diperlihatkan kepada Arief. Ternyata siapa penulisnya? Arief bilang ke Leila: "Mau saja lu dibodohin sama bapak gue". Penulisnya bernama Soe Lie Pit, papinya Soe Hok Djin. Kenangan lain ialah ketika memetik rambutan di kebunnya Leila, sayang sekali semua itu tidak ada fotonya. Mungkin waktu itu saya sendiri belum bisa foto karena saya baru mulai belajar foto ketika demonstrasi berkat kenal dengan D.A. Peransi melalui Arief Budiman. Beberapa menit kemudian, tanpa terduga ada e-mail masuk dari Arief Budiman sendiri, surprise sekali dan tertulis sbb: "Eh, Bambang, awas lu jangan buka rahasia gue yang dulu2 ... Nanti orang nggak ada yang respek lagi sama gue ... He, he, he ... Arief" Segera saya jawab sbb: "Tetapi saya tetap respek dengan Anda, jadi jangan kuatir. Terus terang saya banyak belajar dari Anda. Saya kenal dengan Anda dari Boen Liok yang punya cita-cita sejak SMA untuk masuk ke Fakultas Psikologi UI tetapi tidak diterima, malahan saya yang diterima. Mari kita tanya teman-teman yang lain, apakah dengan cerita saya dulu itu akan membuat mereka tidak respek lagi kepada Arief Budiman? Yang tidak respek lagi kepada Arief Budiman, silakan angkat tangan! Ada?" Memang Arief Budiman punya sense of humor yang tinggi, segera dibalasnya sbb: "Wah, kok semuanya pada angkat tangan ...Ini gara2 si Bambang nih .... Dasar brengsek ...." Syukurlah Kiki yang tinggal di Canada membantu saya sbb: "Beng, saya setuju dengan Anda. Biar bagaimanapun gurauan Arief, saya secara personal, selalu akan tetap respek Arief. Arief tokoh yang benarbenar ada 'isinya', nampak extremely humble (wah sorry sok Inggelis), bener-bener sederhana luar dan dalam (eh aku enggak lihat lho dalamnya), jadi ingat pepatah yang memakai kata-kata kalau padi menguning kan kelihatan seperti menunduk. Yang tegak-tegak gagah itu hanya gayah. Saya ragu-ragu apa Arief kenal saya ya? Mungkin harus dibilang, itu lho kiki yang hitam, mungkin paling hitam di kelas. Oh lupa, saingan saya ya satusatunya Wisnu dalam hal perkulitan. Nah sekian, salam kangeen sekali, apalagi di masa pensiun sekarang. Rumah terasa sepi, jadi terasa sepi pula jauh dari teman-teman yang menyenangkan. Warmest regards (eh sok Inggris lagi), Kiki Tamkei" Luar biasa Arief Budiman ini, e-mail Kiki di atas langsung dibalasnya sbb: Kiki, Saya masih ingat anda, si gadis kecil yang hitam manis ... (meski belum pernah dijilat ...) Cuma sudah lupa detail2nya .... Tapi kalau ketemu, pasti saya bisa cepat akrab lagi ... ini so pasti ... Iya, saya setuju usul si Bambang , supaya Kiki nulis otobiografi di blog ... Biar kita semua bisa bernostalgia. Tapi sebenarnya seruan ini berlaku buat kita semua, ya ... Ayo, siapa yang mau lebih dulu ..... Hup satu .. hup dua .. hup dua-


setengah .. (Awas, jangan sampai ketiga, ya) AB Terima kasih kepada Kiki dan AB untuk balasannya dan saya masih punya koleksi cukup banyak cerita tentang Arief Budiman. Sementara sekian dulu. Lain waktu akan disambung lagi sambil menanti autobiografinya Arief Budiman dan teman-teman yang lain. # posted by Bambang Gunawan @ 8:25 AM 0 comments

ES DUREN DI PURWOKERTO

Acara pertama wisata ke Jateng 2008 (Jumat, 7 Maret 2008) bersama rombongan dari GKI Samanhudi ialah makan es duren yang letaknya persis di depan GOR PURWOKERTO. Perhatikan foto di atas, walaupun ada rumah makan tetapi untuk bikin es duren tetap di dalam mobil unit yang telah dibuat khusus untuk hal ini. Selain rombongan kami yang dari Jakarta juga banyak yang datang naik motor untuk beli es duren tsb.


Sebagian besar anggota rombongan walaupun usia sudah tergolong manula alias lansia alias wulan, makan dengan lahapnya. Tidak ketinggalan Ibu Lety yang terkenal ahli bikin kue di GKI Samanhudi walaupun usia sudah 74 tahun tetap ikut serta tidak mau ketinggalan. Tetapi ketika baru makan setengah, tiba-tiba ingat ada yang kena stroke gara-gara makan duren maka langsung stop tidak dihabiskan. Penulis (Bambang Gunawan) yang sedang batuk terpaksa hanya bisa menelan ludah saja melihat teman-teman lain dengan nikmatnya menyantap es duren tsb. Ibu Nita, istri saya, walaupun tidak batuk tetap tidak berani karena selain pakai duren juga pakai susu. Jadi saya berdua istri hanya bisa nonton saja. Syukurlah ada teman, Ibu Kartika yang berasal dari yang berasal dari Gereja Presbyterian Orchard (GPO) menuliskan sbb: Pak Bambang, Saya tidak makan es duren krn perjalanan kita masih jauh jadi saya jaga kondisi:)) Selamat menikmati es duren di Purwokerto yang tertulis cabang dari Purbalingga. Foto-foto lain di es duren Purwokerto yang dibuat oleh Pak Kurniadi Suryapranata dapat dilihat pada: http://bg440507.multiply.com/photos/album/63

TANTE LETY YANG DINAMIS

Kenal dengan Tante Lety sudah lama. Pada tanggal 17 Juni 1978 ketika penulis menikah dengan Ibu Nita, kue pengantin dengan bentuk gedung gereja GKI Samanhudi yang buatkan adalah Tante Lety. Maka surprise sekali setelah 30 tahun dapat pergi bersama dengan Tante Lety ke Jawa Tengah dari tanggal 7 Maret 2008 sd 10 Maret 2008. Terima kasih Tuhan untuk kesempatan ini. Kekaguman mulai timbul ketika mengetahui bahwa Tante Lety kini telah berusia 74 tahun tetapi masih tetap lincah dan dinamis serta berani ikut tour ke Jateng sendirian tanpa ada anggota keluarganya yang ikutan. Tante Lety yang kini telah dikaruniai 6 (enam) cucu dari 3 (tiga) anaknya, tidak terlihat seperti oma-oma umumnya.


Kekaguman lain timbul ketika di Dieng hujan turun dengan lebatnya tetapi Tante Lety tetap turun melihat candi, semburan lumpur Mini Lapindo dan telaga warna. Tentu saja harus beli jas hujan lebih dahulu serta sendal jepit. Luar biasa, sedang saya dan istri yang jauh lebih lebih muda hanya nongkrong di mobil saja takut kena hujan. Terima kasih kepada ibu Kartika yang berasal dari Gereja Presbyterian Orchard (GPO) yang khusus mengirimkan foto ini dari Singapore. Perkara belanjaan juga paling banyak bahkan sampai pohon dibelinya di Dieng. Bajunya juga selalu serasi dan ganti-ganti sehingga tidak pernah bosan melihat penampilan oma ini. Kelebihan lain dari Tante Lety ini ialah cepat dapat istirahat misalnya dalam bus yang sedang ramai maka Tante Lety bisa tidur dengan nyenyaknya. Pada hari terakhir, 10 Maret 2008, ketika sampai di GKI Samanhudi pukul 11 malam, Tante Lety tetap berani pulang sendirian dengan membawa barangnya yang begitu banyak hanya dengan naik taxi Blue Bird tanpa ada yang temanin. Luar biasa. Saya dan istri saya hanya bisa berdoa agar Tante Lety tiba dengan selamat di rumahnya di daerah Gunung Sahari dan semoga juga diberikan kekuatan agar bisa tetap sehat dan dinamis seperti Tante Lety tersebut. Amin.


Foto lain dari Tante Lety yang dikirimkan oleh Ibu Kartika dari Singapore. Berikut ini kesan Ibu Kartika selama mengikuti Wisata Jateng 2008 yang dilakukan oleh aktifis Komisi Wanita dan Komisi Lansia GKI Samanhudi: "Kesan saya selama Wisata ke Jateng, ini pertama kali saya ikut wisata di tanah air dan sangat mengesankan karena pesertanya sangat kompak dan bisa membuat suasana menjadi gembira, sampai sekarang kalau saya ingat saya suka tersenyum sendiri:)) Saya ada beberapa foto Tante Lety, semoga ini bisa dimasukan di web Pak Bambang. Salam, eskrim wrote on Mar 14 asik ya, udah lansia begitu tapi tetap energik dan bersemangat. aku juga pengen nanti begitu :

HOTEL DAN RESTORAN SELAMA WISATA JATENG 2008

Wisata Jateng 2008 ini yang diselenggarakan oleh aktifis Komisi Wanita dan Komisi Lansia GKI Samanhudi, butuh waktu 3 (tiga) malam menginap di hotel. Malam pertama di Queen Garden Hotel di Batu Raden, Kabupaten Banyumas, dengan tarif k.l. Rp. 300.000 semalam. Foto di atas memperlihatkan suasana di lobby Queen Hotel.


Malam kedua di HOTEL MANOHARA merupakan satu-satunya hotel yang terletak di dalam Taman Arkeologi Borobudur di mana candi Borobudur berdiri. Hotel ini terletak 20 meter di sebelah tenggara candi dan dapat dicapai dengan berjalan kaki selama 5 menit. Tarifnya k.l. Rp. 400.000 semalam.

Malam ketiga di Hotel Ibiss yang letaknya di Jalan Malioboro dengan tarif k.l. Rp. 500.000 semalam. Dibandingkan dengan dua hotel sebelumnya, hotel ketiga ini terkesan paling mewah. Kemudian bagaimana dengan restoran selama perjalanan? Malam pertama makan di restoran yang cukup mewah dan besar di kota Purwokerto. Sebelum makan malam ada hiburan pertunjukan sulap. Hari kedua makan siang di restoran di kota Wonosobo, cukup lumayan, tidak sederhana dan tidak mewah. Makan malamnya disuatu restoran di kota Magelang. Hari ketiga di Yogyakarta makan siang di restoran ayam goreng Suharti. Malam harinya seharusnya cari makan sendiri-sendiri tetapi karena kebetulan ada yang ulang tahun maka ditraktir makan bakmi. Lumayan menghemat pengeluaran. Terima kasih kepada yang Ulang Tahun yaitu Ibu Mirna. Acara lain tentu saja belanja oleh-oleh alias shoping maklumlah dari 31 peserta hanya ada 6 pria jadi mayoritas wanita yang ikutan dalam wisata Jateng 2008 ini. Belanja pertama di salah satu toko di kota Sukaraja, belanja kedua di kota Wonosobo. Belanja ketiga di Yogya di pasar Beringharjo. Begitulah kalau ibu-ibu wisata pasti banyak belanjanya sehingga timbul kekuatiran apakah busnya masih muat untuk bawa barang belanjaan tsb. Tentu saja banyak cerita menarik selama hidup bersama 4 hari 3 malam ini. Karena mayoritas sudah manula alias lansia alias wulan ada yang 2 ibu jatuh tanpa sengaja, untung tidak parah. Dalam bus tidak ada toilet maka terpaksa supir dipaksa harus berhenti kalau ketemu pompa bensin. Terima kasih harus diucapkan kepada peserta yang secara sukarela mengisi waktu selama perjalanan dengan nyanyiannya, cerita lucu dan guyonannya. Kelihatannya yang paling sering tampil ialah Pak Daniel, Pak Wisnu dan Ibu Helena. Tentu saja tidak lupa diucapkan terima kasih kepada Tour Leader Ibu Loan yang masih lincah walaupun usia sudah setengah abad. Juga kepada ibu Meilan yang selalu rajin seperti strika mundar mandir bagi makanan kepada peserta. Suatu perjalanan yang sulit dilupakan pada usia yang sudah senja ini dan tidak mahal karena tiap peserta hanya iuran 1,25 juta saja.


PENGALAMAN UPLOAD WEBSITE TAHUN 1996 Mar 29, '08 7:22 AM

Pada tahun 1996 internet di Indonesia belum popular, belum banyak yang bisa. Tetapi Puji Tuhan, penulis sudah bisa membuatkan website untuk BPK PENABUR walaupun masih numpang hosting di University of Wisconsin di Amerika Serikat, dengan alamat: http://curie.ece.wisc.edu/bpkpenabur Tahun 1995 penulis mulai pakai e-mail. Kemudian pada tahun 1996 berkat dukungan pengurus BPK PENABUR Jakarta waktu itu, diperkenankan membuat website untuk BPK PENABUR. Segera cari informasi untuk sewa hosting. Ada penawaran masuk baik dari Australia maupun dari Amerika Serikat. Penawaran ini penulis konsultasikan kepada Jeffrey Rufinus, alumnus SMAK 1 BPK PENABUR Jakarta yang waktu itu sedang menyelesaikan S3 di University of Wisconsin. Nah, berkat jasa Reffrey Rufinus maka BPK PENABUR punya website pertama kali. Kemudian ada FORUM KOMUNIKASI untuk orang tua murid yang mau menyekolahkan anaknya di BPK PENABUR Jakarta dengan menyewa hall di Jakarta Fair dan penulis dapat tugas dari Pak Benjamin K. Gunawan (Ketua PSB waktu itu) untuk memperkenalkan website BPK PENABUR kepada orang tua murid tsb. Karena sudah memiliki camera digital Casio versi yang pertama, segera dibuat foto waktu Pdt Andar Ismail ceramah dan foto orang tua murid seperti di bawah ini.

Selesai kedua foto dibuat segera lari ke belakang pinjam telepon untuk FTP atau kirim foto tsb ke University of Wisconsin di Amerika Serikat. Setelah yakin bahwa foto-foto tsb bisa diakses dari Jakarta maka selesai Pdt Andar Ismail ceramah, penulis mengumumkan kepada orang tua murid bahwa BPK PENABUR sudah punya website dan kalau pulang dari pertemuan ini maka kedua foto di atas sudah bisa dilihat di rumah masing-masing. Pertemuan di atas selesai sekitar Pk. 16.00 dan tanpa terduga masuk e-mail sbb: Date: Sun., May 19th, 1996 17:23:16 From: Piauw Khoeng (pkhoeng(at)ibm.net) Name: Jenny Khoeng Sex: Female Age: 40-49 Organization: Taman Kedoya Baru F32 Comments: Just came back from your communication forum. Very impressive. Your internet page is equally impressive. Planning to send my son, Gary Prawira, to your school SMPK VII this year. He will be graduating from SD St.Ursula. Hope he will be one of your


students. Letak Jakarta Fair di Kemayoran dan rumahnya di Taman Kedoya Baru, waktu mengirimkan e-mail tsb Pk. 17:23:16 berarti begitu sampai rumah langsung orang tua murid ini buka komputer dan lihat foto-foto di atas. Kalau yang penasaran anak remaja adalah logis maka salut sekali karena yang penasaran ini sudah usia sekitar 40-49 tahun. Inilah pengalaman penulis yang tidak bisa dilupakan, semoga pengalaman ini bisa menjadi berkat untuk generasi muda karena jaman internet ini semuanya menjadi harus serba cepat kalau tidak mau ketinggalan. (BG).

36 TAHUN BEKERJA DI BPK PENABUR Apr 5, '08 8:43 AM Sebenarnya tidak ada minat untuk menuliskannya tetapi karena http://bg.penabur.org sudah tidak bisa diakses maka terpaksa dituliskan kembali. Untuk menuliskan semua kembali tentu butuh waktu lama, jadi terpaksa hanya diambil intronya saja dari masa kerja di BPK PENABUR dari 1970 s/d 2006. Mulai akhir 2006 penulis membantu di Ora et Labora secara part time. Demikianlah intro yang diambil dari http://bg.penabur.org Hallo, nama saya Bambang Gunawan. Saya bekerja di BPK Penabur Jakarta sejak tgl. 1 Januari 1970. Mula-mula sebagai guru ilmu ukur di SMPK V, Jl. Pembangunan III No. 1A, Jakarta Pusat. Tidak ada minat sama sekali menjadi guru. Kebetulan waktu itu SMPK V butuh guru, Pak Eka Susanto (kini guru SMPK II) menawarkan mengajar dengan alasan: "Kamu punya bakat jadi guru". Karena tidak mengganggu kuliah maka tawaran tersebut diterima dengan syarat hanya mau ngajar ilmu ukur. Yang dibutuhkan sebenarnya guru Aljabar, terpaksa guru ilmu ukur yang lama digusur disuruh mengajar Aljabar. Aneh tapi nyata. Ketika mulai mengajar, kepala sekolahnya yang mana tidak tahu. Waktu itu Pak S. Kristiadji (Kepala SMPK V) sedang sakit di Wonosobo. Bikin surat lamaran juga nggak, apa lagi ikut psikotes seperti sekarang ini. Setelah dua tahun mengajar tiba-tiba dipanggil oleh Prof. Dr. Singgih D. Gunarsa di Fakultas Psikologi U.I. Diminta berhenti jadi guru ilmu ukur dan disuruh pindah profesi jadi psikolog walaupun waktu itu belum lulus. Karena yang minta adalah dosen maka terpaksa tugas baru diterima. Pengalaman menarik terjadi pada tahun 1982 ketika menangani kasus bolos siswa SMAK I. Honornya dibayar dengan mobil Unit Media Keliling. Pada tahun 1995 di Universitas Tarumanagara kasus ini ditayangkan pada seminar dengan judul "Pengalaman Sebagai guru BP Dalam Mengatasi Remaja". Yang unik, walaupun sudah berpisah selama 13 tahun, mantan murid SMAK I tersebut mau datang waktu seminar tersebut sebagai saksi hidup. Tidak pernah bercita-cita jadi guru, jadi psikolog juga demikian. Daftar ke F.Psi.U.I. hanya karena mengantarkan teman yang sudah bercita-cita lama jadi psikolog, tetapi anehnya dia tidak diterima.


Tahun 1975 karena punya hobby fotografi maka mendapat tugas bikin slide untuk guruguru. Sejak itulah Bidang Media Pembelajaran mulai berkembang. Juga pernah menjadi guru keterampilan fotografi untuk siswa-siswa SMAK I, II dan III sampai tahun 1985. Tahun 1984 dikirim ke Photokina di Jerman. Saat itu terlihat komputer sudah mulai mempengaruhi fotografi dan dunia. Segera belajar dan bergaul dengan komputer hingga sekarang. Istri: Dra. Julianita S. Gunawan, putri pertama: Alvina Gunawan dan putri ke dua: Sophia Gunawan. Hello, my name is Bambang Gunawan. I worked for BPK Penabur KPS Jakarta since January 1, 1970. At the beginning I was a geometry teacher in SMPK V, Jl. Pembangunan III No. 1A, Central Jakarta. I have no interest to be a teacher at all. Coincidently at that time SMPK V needs a teacher, Mr. Eka Susanto (now vice principal of SMPK II) asked me to teach with a reason: "You have a talent to be a teacher". Because it didn't disturb my study, I accepted it, only if I would be assigned to teach geometry. Actually what they needed was an algebra teacher, so the old geometry teacher was forced to teach algebra. Believe it or not. When I started teaching, I didn't even know who was the principal. At that time Mr. S. Kristiadji (principal of SMPK V) was ill in Wonosobo. I didn't make an application, even I wasn't psycho-tested like they do nowadays. After two years teaching, suddenly I was called by Prof. Dr. Singgih D. Gunarsa from the Faculty of Psychology of the University of Indonesia. I was asked to quit teaching geometry and becoming a psychologist although I hadn't graduated yet at that time. Because the one who asked me was a lecturer so I was forced to accept the new assignment. An interesting experience happened in 1982 when I handled a SMAK I student's skip school case. I was paid with a Mobile Media Unit car. In 1995 this case was brought to public at Tarumanagara University, titled "Experience as Consultation Teacher in Handling Teenagers". Uniquely, although I was separated 13 years, the ex-SMAK I student was willing to attend the seminar as a live witness. I've never dream to become a teacher or a psychologist. I enrolled to the Faculty of Psychology of the University of Indonesia only because I wanted to take a friend who has waiting so long to become a psychologist, but strangely he wasn't accepted. In 1975 because I have a hobby of photography, I was assigned to make slides for teachers. Since then Education Media Division started to develop. I had also ever become a teacher of photography skill for students of SMAK I, II, and III until 1985. In 1984 I was sent to Photokina in Germany. Since then computers were seem to start affecting photography and the world. I started learning and participating in computers till now. MAJALAH BERITA PENABUR JAKARTA, AGUSTUS 2000, menulis tentang Bambang Gunawan “Pemberian Penghargaan Satya Karya kepada guru/karyawan BPK PENABUR sangatlah bagus dan perlu terus dilakukan,� kata Bapak Bambang mengenai kesan-kesannya terhadap perhatian BPK PENABUR ini. Bapak yang hobi segala macam yang berhubungan dengan teknologi komputer (internet, email, home page) tersebut, telah bekerja di BPK PENABUR sejak 1 Januari 1970 sebagai


guru Ilmu Ukur di SLTPK 5, Jalan Pembangunan III No. 1A, Jakarta Pusat. Pada waktu itu, ia masih kuliah di UI, Fakultas Psikologi. Setelah dua tahun mengajar, tiba-tiba ia dipanggil Prof. Dr. Singgih D. Gunarsa, dosen Fakultas Psikologi UI, untuk beralih profesi menjadi psikolog walaupun kuliahnya belum lulus. Pengalaman menarik menjadi psikolog terjadi pada tahun 1982 ketika menangani kasus bolos siswa SMAK 1. Honornya dibayar dengan mobil Unit Media Keliling. Pada tahun 1995, kasus ini diseminarkan di Universitas Tarumanegara dengan judul Pengalaman Sebagai Guru BP Dalam Mengatasi Remaja . “Uniknya, mantan murid SMAK 1, mau datang dalam seminar sebagai saksi hidup, walaupun sudah berpisah selama 13 tahun,” tutur Bapak kelahiran Teluk Betung, 7 Mei 1944 tersebut. Oleh karena hobi fotografi, maka ia mendapat tugas membuat slide untuk guru-guru pada tahun 1975. Selanjutnya ia menjadi guru Keterampilan Fotografi di SMAK 1, 2 dan 3 sampai tahun 1985. Pada tahun 1984, ia dikirim ke Photokina, Jerman. Pada waktu itu, komputer sudah mulai mempengaruhi fotografi dan dunia, sehingga ia mulai belajar dan bergaul dengan komputer sampai sekarang. Bapak yang kini menjadi Kabid. Media Pendidikan tersebut, senang bekerja di BPK PENABUR. Ia begitu terkesan ketika seorang mantan murid SDK 1 kelas 5 masih ingat kepadanya walaupun sudah 27 tahun. “Ini hanya bisa terjadi karena saya telah bekerja selama 30 tahun,” tuturnya. Pria yang bertempat tinggal di Jalan Makian, Jakarta 10150 tersebut berharap BPK PENABUR terus maju baik Iman, Ilmu dan Pelayanan maupun bidang Teknologi Informasi. Ia bersama dengan istrinya, Julianita S. Gunawan (Staf Terapi Edukatif), telah dikaruniai Tuhan dua orang putri: Alvina (mahasiswi Fak. Psikologi UNTAR) dan Sophia (mahasiswi FISIP UPH). From: "Anne Lies Ranti" Date: Thu, 2 May 2002 09:19:34 +0200 Bang, Wah saya baru baca sebagian web-bg, banyak pengalamannya yang menarik - merupakan rangkaian kisah hidup dan kerja. Pantas juga jadi buku seperti bukunya Pak Uripto terutama untuk dibaca oleh mereka yang masih baru dan sedang bekerja ( semua jajaran ) di BPK Penabur untuk memberikan semangat kerja dan rasa memiliki, partisipasi dll dalam kegiatan di BPK Penabur tanpa pamrih dan sama rata. Bagaimana dengan kesehatan Anda ?. Take care !. Salam, Anne. Date: Thu, 2 May 2002 18:42:29 -0700 (PDT) From: vitriyani pryadarsina Pak Bambang, saya jadi tertarik untuk lihat web Anda. Mungkin pengurus yg skrg juga perlu lihat yah agar paradigmanya berubah. he he he Salam, Vitri Date: Fri, 9 May 2003 20:49:57 -0700 (PDT) From: Tien Sada Yes, with all your articles in your website, I agree with the person (Anne), you can compile them into a book. Furthermore, you might even write a whole new biography book. I wish you the best of luck.


Comments ibuseno wrote on Apr 5 Selamat ya Om Bambang, 36 Tahun bukan waktu yang singkat, apalagi sebagai pekerjaan sebagai pendidik begitu mulia. Smeoga Tuhan memberkati. tikkysuwantikno wrote on Apr 6 Apa yang dilakukan pak Bambang sangat inspiratif, bahwa PORTOFOLIO itu sangat penting untuk dpat menelusuri jejak-jejak sejaragh kehidupan kita dari masa ke masa. Terus berkarya ya pak...... tetaplah jadi "virus" yang baik.......

IDE AWAL BUKU URIPTO WIDJAJA Apr 22, '08 10:44 AM

Karena ada Ibadah Syukur untuk Kawin Emas Bapak dan Ibu Uripto Widjaja yang diadakan pada hari Minggu,1 Oktober 2000, inilah ide awal dari buku "INSPIRASI DARI SEORANG URIPTO WIDJAJA". Penulis tidak diundang tetapi maksa datang hanya untuk bikin dokumentasi. Esok harinya segera foto-foto dipasang di website BPK PENABUR dan mengirimkan e-mail pemberitahuan sekalian minta kesan dan pesan untuk Pak Uripto Widjaja karena banyak guru-guru BPK PENABUR yang dapat kado payung menjelang Ibadah Syukur tsb. Hasilnya ada 26 e-mail yang masuk memberikan kesan dan pesannya. Segera dipasang di website BPK PENABUR sebagai kado dari warga BPK PENABUR kepada Bapak dan Ibu Uripto Widjaja. Karena tulisan dalam kesan dan pesan tersebut banyak yang menarik maka timbul usulan untuk dibuatkan buku dan kemudian disetujui oleh Pak Uripto Widjaja. Segera dibentuk tim yang terdiri dari Bambang Gunawan dan Yuli Kwartolo yang dapat tugas khusus untuk keliling menginterview tokoh-tokoh yang tidak bisa menyampaikan kesan dan pesannya melalui e-mail. Kemudian Ibu Hanna Wangsasaputera juga diikutsertakan untuk memperbaiki bahasa Indonesia yang digunakan dalam buku tersebut. Proses bikin buku ini ternyata butuh waktu 3 (tiga) tahun mulai dari ide awal sampai dengan peluncuran yang dilakukan di Aula Lantai 7 Gedung E UKRIDA, Jalan


Tanjung Duren Raya No. 4, Jakarta Barat pada hari Sabtu, tanggal 26 Juli 2003, serta penggalangan dana untuk beasiswa BPK PENABUR dan UKRIDA. Puji Tuhan, telah diperoleh laporan bahwa dana yang sudah masuk sampai dengan tanggal 3 Desember 2003 sebesar Rp.234,183,553.96 Lima tahun kemudian, tahun 2008, buku "INSPIRASI DARI SEORANG URIPTO WIDJAJA" menjadi barang yang langka karena sudah tidak ada persediaan lagi untuk dibagikan. Tetapi surprise sekali, berkat buku tersebut Pak Uripto Widjaja mendapat penghargaan khusus karena pengabdiannya di dunia pendidikan, pada tahun 2007 dari UKDW di Yogyakarta dan pada tahun 2008 dari Sekolah Terpadu PAHOA di Gading Serpong, Tanggerang. Foto dan video di Sekolah Terpadu PAHOA di Gading Serpong, Tanggerang, dapat dilihat pada alamat: http://pahoa.multiply.com sedangkan foto-foto dan tulisan yang menjadi ide awal dari buku "INSPIRASI DARI SEORANG URIPTO WIDJAJA" yang semula dapat diakses pada alamat http://uw.penabur.org sejak Maret 2008 sudah tidak bisa diakses. Sayang sekali. Bambang Gunawan, 22 April 2008.

DR HERMAN KALIGIS (K.S. LIE) YANG SAYA KENAL bg440507 pada June 07 ...:19:36

Ketemu jarak jauh tapi belum kenal dengan dr Herman kaligis (K.S. Lie) terjadi pada hari Minggu, tanggal 16 Maret 2008, jadi belum lama. Waktu itu dr Herman Kaligis mendapat tugas sebagai MC pada acara Perayaan Peringatan HUT 107 THHK dan Peresmian Berdirinya Sekolah Terpadu PAHOA. Pada foto di bawah ini, yang sebelah kiri adalah dr Herman Kaligis.

Sampai saat tulisan ini dibuat antara penulis dengan dr Herman Kaligis (K.S. Lie) belum pernah ketemu muka tetapi ketemu di dunia cyber hampir tiap hari. Ketika membaca "Surat Pembaca" pada majalah Pionir Edisi Khusus Grand Reuni 2008 terkesan penulisnya yaitu dr Herman Kaligis (K.S. Lie) di satu pihak cukup "galak" karena


menurunkan kata-kata "lupa ingatan", "amatiran" dsb sedang di pihak lain terkesan sebagai type yang perfectionist, ingin baik dan ingin sempurna. Berikut ini kutipannya pada foto Surat Pembaca Pionir 6.

Pada tanggal 6 Mei 2008, dr Herman Kaligis menulis e-mail sbb: Pak Bambang yang baik, Saya usul selain rubrik komentar di website PAHOA ini, bagaimana kalau dibuka juga milis PAHOA sehingga bisa jadi ajang informasi di antara anggota milis, bisa menjadi tempat ngobrol baik tentang cerita yang ringan-ringan atau cerita masa-masa sekolah dulu, kalau sudah jalan akan tambah ramai lagi hubungan di antara sesama alumni. Segera usul tsb dilaksanakan dan hasilnya bisa dilihat pada foto Milis PAHOA di bawah ini.

Dengan penuh rasa tanggungjawab dr Herman Kaligis membuat seruan sbb: Teman-teman sealmamater, saya adalah Herman K atau dulu dikenal dengan nama Lie


Guo Xiang. Alumnus PH Bld th 65. Saya himbau teman-teman yang suka buka internet/email bisa daftarkan diri di milis PAHOA ini. Mari kita ramaikan milis ini, banyak diantara teman-teman yang suka ngobrol ngalor ngidul, nah inilah tempatnya untuk bercerita banyak, selain itu kita juga ikut meramaikan semangat berdirinya kembali almamater kita yang sama-sama kita cintai. Karena belum kenal maka penulis sempat bingung, seperti apa wajah dari dr Herman Kaligis ini. Syukurlah pada majalah Pionir halaman 16 ada foto dr Herman Kaligis tetapi tertulis dengan nama K.S. Lie maka terpaksa minta konfirmasi dan inilah jawabannya.

Yth, Pak Bambang Gunawan, Betul yang terpampang di atas adalah foto saya tapi itu masa saya muda dulu, jadi kalau sekarang wajah saya sudah seperti kakek-kakek tua. Terima kasih atas tanggapannya tentang pendapat saya di Pionir terbitan terakhir yang saya terima. Mudah-mudahan dengan bertambahnya orang kuat seperti pak Bambang Gunawan, Pionir yang akan datang nanti akan lebih baik. Mudah2an redaksi Pionir akan tambah orang-orang berdedikasi tinggi dan profesional dalam bidangnya. Saya acungkan jempol untuk website PAHOA yang dibidani oleh pak Bambang Gunawan ini, semoga website PAHOA ini akan bergema ke seantero pelosok dunia. Viva PAHOA. Selanjutnya tiap hari dr Herman Keligis mengirimkan foto, berikut ini foto kelasnya yaitu foto thhk.jpg

Yth, Pak Bambang, rupanya pak Bambang sulit utk mengenali sdr. Soeseno di foto di bawah ini. Baiklah saya akan jelaskan di mana ketika itu sdr. Soeseno berdirinya : dia berdiri di baris ke 2 dari belakang dan orang no. 8 dihitung dari kiri. Sedangkan saya berdiri di baris paling belakang dan no. 11 dihitung dari sebelah kiri atau no. 8 dihitung dari sebelah kanan. Nama2 teman-teman yang ada difoto itu saya tidak hafal semua banyak yang lupa selain itu banyak teman yang tinggal kelas dan banyak pindah sekolah sehingga sehingga karena waktu yang begitu lama banyak yang tidak saya ingat lagi mungkin dengan bantuan beberapa teman masih bisa mengingat-ingat kembali. Kemudian K.S. Lie (Herman Kaligis) mengirimkan foto di Pelabuhan Ratu dan menerangkan sbb:


Pastinya saya juga kurang tahu tahun berapa ke dua foto tersebut dibuat (maksudnya foto di Pelabuhan Ratu atau foto 002a.jpg dan foto kelas), mungkin sekitar th 1962. foto kelas (thhk.jpg) adalah foto di depan sekolah sedangkan foto 002a.jpg adalah waktu darmawisata ke Pelabuhan Ratu Sukabumi, waktu itu saya masih ingat setibanya di Pelabuhan Ratu, Presiden Soekarno mendarat di pantai Pelabuhan Ratu dengan pesawat helikopter dan melakukan peletakan batu pertama dalam memulai pembangunan Hotel Samudra Beach. Selain dikenal sebagai dokter ternyata dr Herman Kaligis adalah perwira ABRI dan bertugas pada Korp Marinir. Lihat foto di Mako KORMAR (Korps Marinir), tgl. 17 Agustus 1983 sebagai komandan upacara.

Selamat kepada dr Herman Kaligis (K.S. Lie), tentu semua ini menjadi kebanggaan bukan hanya untuk pribadi tetapi juga untuk Sekolah Terpadu PAHOA yang baru berdiri kembali. (BG, 20080607)


(2008) PDF: TULISAN BG 2008  

Kumpulan tulisan Bambang Gunawan tahun 2008.