Issuu on Google+

PENGALAMAN SEBAGAI GURU BP DALAM MENGATASI REMAJA Pada pertemuan pertama di tahun 1982 seorang remaja kelas 1 (satu) SMA berkata: "Naik atau tidak naik kelas saya akan keluar." Wah, galak juga ini anak, demikian penulis berkata dalam hati. Masalah apa yang dihadapi anak tersebut? Sebenarnya remaja tersebut tidak merasa memiliki masalah, yang merasakan adalah keluarganya. Ketika SMP, ia masih tinggal di Bogor bersama orang tuanya. Tetapi kakaknya melihat pergaulan adiknya tersebut di Bogor tidak baik dan kuatir terhadap hari depannya, maka ditawarkan untuk pindah ke Jakarta tinggal bersama kakaknya. Sedangkan si remaja sendiri sebenarnya menginginkan pindah ke Magelang. Kebetulan kakaknya adalah alumni SMA Kristen I Pintu Air maka adiknya ini juga dimasukkan pada sekolah tersebut. Karena sewaktu di SMP tidak menguasai pelajaran dengan baik, maka tidak dapat mengikuti pelajaran di SMAK I yang terkenal cukup berat. Untuk mengatasi frustrasinya, jalan yang dipilih adalah bolos sekolah. Berhubung cukup sering bolos, kepala sekolah melaporkan kepada pihak keluarga (kakaknya). Kabarnya, kakaknya waktu itu sampai sewa orang (detektif swasta?) untuk mengawasi tingkah laku adiknya. Terbukti, persoalan ini tidak sederhana. Syukurlah kesadaran kakaknya untuk meminta bantuan tenaga ahli tinggi sekali. Pada suatu hari ketika kakaknya sedang berbicara (sebagai wali murid) dengan Ibu Dumais (kepala SDK II waktu itu), masalah adiknya diceritakan. Karena penulis waktu itu masih sebagai staf Bidang BP untuk sekolah-sekolah BPK PENABUR KPS Jakarta, Ibu Dumais segera menelepon, memberitahukan bahwa ada orang tua murid SDK II yang ingin bertemu, berhubung adiknya di kelas I SMAK I sering membolos dengan alasan ada


kegiatan fotografi. Secara kebetulan waktu itu penulis mengajar ketrampilan Fotografi untuk siswa-siswa SMA Kristen BPK PENABUR KPS Jakarta. Dengan rasa heran dan terkejut, penulis terpaksa menerima keluhan orang tua murid tersebut. Setelah dilakukan pemeriksaan, ditemukan banyak faktor yang menyebabkan mengapa remaja tersebut membolos. Selain faktor pelajaran di sekolah yang terlalu berat sehingga tidak dapat mengikuti dengan baik, juga ada faktor keluarga. Faktor keluarga, ternyata kemudian tidak terlalu sulit untuk diatasi karena sikap keluarga sangat kooperatif. Orang tua bersedia datang dari Bogor untuk bertemu dengan penulis. Dari hasil pemeriksaan inteligensi ternyata taraf inteligensi remaja tersebut adalah superior, berarti potensi siswa ini cukup baik dan masih ada kemungkinan untuk tetap bertahan di SMAK I yang cukup berat. Kini harus diatur strategi agar senang pada sekolah. Timbullah ide untuk mengikatnya dengan fotografi. Begitulah, terapi-terapi yang diberikan kepadanya selalu diusahakan secara non-direct (tidak langsung) bahkan kadang-kadang lebih banyak ngomong fotografi dari pada memberikan nasehat. Waktu kenaikan kelas tiba, ternyata dia naik ke kelas II. "Bagaimana nih, dengan ancamannya?". Syukurlah masih tetap di SMAK I. Tahun berikutnya ketika naik ke kelas III ternyata juga masih tetap di SMAK I. Legalah sudah ketika melihat dia di Wisuda tahun 1985 di Gelanggang Olahraga Pluit. Tugas telah selesai! Tiba-tiba akhir tahun 1987 mendapat kartu Natal dari dia beralamatkan San Diego, USA. Benar-benar surprise! Bulan Januari 1988, datang lagi suratnya dengan cerita yang panjang lebar. Berhubung surat ini mungkin bermanfaat untuk remaja-remaja lain, maka siapa saja boleh baca. Inilah suratnya. San Diego, Jan 8 1988 Dengan Hormat, Surat Bapak baru saya terima hari ini. Saya senang sekali menerimanya karena sudah 1 minggu tidak menerima surat dari Jakarta. Mungkin Bapak mau dengar cerita saya kenapa saya sampai bisa ada di Amerika hari ini. Cerita saya bermula dari masa-masa SMA yang mungkin Bapak sudah tahu semua. Ketika tahun 1985 saya lulus dari SMAK I, saya berminat masuk ke Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada. Cita-cita itu hampir terpenuhi ketika saya diterima di Fakultas Sastra (Antropologi) UGM, tetapi setelah lama saya pikirkan akhirnya saya putuskan untuk masuk ke Fakultas Hukum Universitas Tarumanegara. Waktu itu saya sudah bercita-cita untuk sekolah di kota Gudeg. Saya korban perasaan, karena perjuangan saya sia-sia. Akhirnya dengan setengah semangat saya ikut test masuk di FH UNTAR dan diterima sebagai mahasiswa pada tahun itu. Pada saat saya mengikuti Posma di Untar, saya sempat membaca papan nama pada suatu ruangan Perhimpunan Fotografi Tarumanegara. Saya jadi ingin tahu. Sebulan kemudian saya menjadi anggota organisasi tersebut (PFT). Masih diliputi rasa kecewa karena gagal


pada cita-cita pertama, saya coba ikut kegiatan di PFT dan cocok karena kegiatankegiatannya positif serta anggotanya kompak. Pada suatu ketika saya terdorong untuk ikut lomba foto (Salon Foto Mahasiswa Indonesia 1986) di Surabaya, tetapi saya waktu itu masih belum pengalaman dan saya tidak dapat nomor apa-apa dari lomba foto. Tetapi ini tidak membuat saya jera, justru tambah tertarik. Kebetulan di UNTAR (PFT) kami mengadakan Pameran Foto dan saya ikut aktif membantu kegiatan tersebut. Ketua PFT waktu itu (sekarang jadi teman akrab saya, bahkan seperti saudara) tertarik akan cara kerja saya. Suatu hari di bulan Oktober 1986, PFT sesuai dengan program kerjanya, mengadakan lomba foto antara mahasiswa UNTAR. Dan tidak tahu kenapa, saya ditunjuk sebagai wakil ketua. Buat saya ini menjadi cambuk dan saya memberi ide untuk membuka lomba foto untuk semua mahasiswa se DKI. Dan kegiatan ini berhasil. Dari situ saya meraih 2 medali. Saya jadi tambah yakin pada kemampuan saya. Sebagai hadiah dari Rektor UNTAR, saya diangkat jadi juru foto di majalah "Berita Tarumanegara", majalah berita kampus yang terbaik di Indonesia (diakui oleh Depdikbud) dengan honor Rp. 50.000,--/3 bulan. Dilihat dari honor yang saya peroleh memang tiada artinya, tetapi saya saat ini masih ingat benar bahwa itulah titik awal saya menjadi seorang fotografer. Pengalaman demi pengalaman saya raih, lomba demi lomba saya ikuti dengan meraih beberapa medali dan sebuah tropy dari Menteri Penerangan. Kemudian saya mulai tertarik untuk menerima order foto pernikahan. Saya tiba-tiba jadi jutawan kecil. Dengan uang keringat sendiri ini saya bisa membeli peralatan kamera. Suatu saat saya ditugasi membuat foto dokumentasi Wisuda Sarjana Universitas Tarumanegara di Balai sidang. Ketika itu salah seorang dari anggota PFT yang sudah semi profesional dalam bidang fotografi juga diwisuda sebagai SH, tetapi perlu waktu kurang lebih 8 tahun untuk jadi sarjana karena kebanyakan motret. Waktu itu saya terbayang pada diri saya sendiri bagaimana jika saya juga seperti dia. Setelah berpikir selama tiga bulan saya akhirnya punya gagasan untuk sekolah fotografi di luar negeri, biar nggak tanggung-tanggung dan usul saya diterima dengan baik oleh keluarga. Langsung saya cari informasi tentang sekolah fotografi dan akhirnya saya urusurus ijin untuk ke USA. Dari lomba-lomba foto saya banyak mendapat teman-teman fotografer seperti Anwar Sanusi ARPS, Agus S. Leonardus, Oei Boen Bie, Darwis Triadi, dll. Dan saya gembira karena mereka merestui keberangkatan saya ke USA untuk belajar fotografi di Brooks Institute of Photography, Santa Barbara (mungkin Februari 1988 sudah mulai sekolah di sana). Kalau sekarang ada orang tanya kenapa saya bisa berubah dari seorang yang pesimis dan tiba-tiba optimis, wah jawabnya susah- susah gampang. Tetapi saya coba jawab. Saya bisa mengibaratkan saya ini seorang perajurit muda yang harus maju ke garis depan. Pada saat perajurit itu belum diturunkan dari pesawat atau belum naik pesawat, dia selalu mikir


bisa mati kena bom atau ditembak. Dia waktu itu tidak mau melihat kenyataan bahwa negaranya harus dibela, tetapi waktu dia harus terjun dan menapak di tanah dia sadar dirinya terancam dan karena tidak mau mati konyol maka diapun berlari kencang, berlindung, mengatur siasat dan maju berperang. Setelah menembak musuhnya, dia jadi tambah berani dan maju menyerang sampai akhirnya mencapai markas musuhnya dan merebutnya. Tapi nggak sampai di situ perjuangannya, dia masih harus menjaga dan mempertahankan apa saja yang baru direbutnya. Waktu saya masih SMA saya selalu takut kepada apa yang belum terjadi sehingga selalu bikin saya kecewa dan frustrasi, ditambah lagi dengan problem di sekolah yang saya hadapi tapi waktu itu saya nggak pernah berpikir bagaimana caranya memerangi kesulitan ini, saya nggak bisa mendapatkan sesuatu yang bisa membuat saya menjadi orang yang dikenal (identitas diri). Akhirnya pelariannya bolos, dll. Tapi masih untung waktu itu saya punya satu hobby yang akhirnya karena saya coba menyibukkan diri dengan hobby tersebut, saya jadi manusia yang nggak kekurangan akal dan mau kerja keras melawan kesulitan yang ada. Sedikit demi sedikit saya berusaha mengumpulkan identitas diri melalui hobby tadi dan saya berhasil. Sekarang bangga karena saya dapat membuat diri saya terkenal karena karya-karya saya (paling enggak di UNTAR saya dikenal sebagai wartawan "Pos Kota" karena setiap hari selalu bawa-bawa kamera ha...ha...ha...ha...) dan bukan karena tingkah laku yang aneh atau menjadi pecandu narkotik dan sebangsanya. Di sini, lewat lomba foto di kota Los Angeles, saya meraih juara III dengan foto tentang Indonesia, saya bangga karena bisa membawa nama "kampung" saya di kampung orang lain. Ha...ha...ha...ha... Berkat pengalaman di atas, saya kadang-kadang prihatin kalau melihat anak-anak SMA yang nongkrong di plaza-plaza di Jakarta. Mereka bergerombol, mengganggu orang yang ada di sekitarnya, berkelahi, jadi morphinis, dll hanya untuk melupakan kesulitan atau keluar dari kesulitan tanpa mau berpikir menghadapinya dan mencari identitas diri sebagai remaja jagoan. Saya kadang-kadang ingin berdiskusi tentang masalah ini dengan rekan-rekan di Indonesia. Terus terang saya bangga dengan apa yang hari ini saya terima dari pengalaman saya sebelumnya. Sebenarnya apa yang kita takuti kadang-kadang belum tentu terjadi dan masalah sebenarnya yang ada di depan kita, kita nggak pedulikan. Sepertinya saya ini baru bangun tidur dari mimpi-mimpi buruk. Waktu saya bangun dan cuci mata, saya tahu diri saya siapa. Tentu saja di sini saya juga kadang-kadang/selalu menghadapi problem dari yang berat sampai ringan. Terutama karena bahasa yang berbeda, jadi komunikasi dengan teman-teman lain bangsa agak sulit. Saya selalu bersemangat dan optimis menghadapinya, karena di luar dari kesulitan-kesulitan yang saya hadapi ini, masih ada semilyar keberhasilan/sukses yang harus saya raih melalui kesulitan-kesulitan itu. Rasanya sekarang, semua kesulitan cuma bersifat sementara dan harus cepat diatasi dengan berpikir. Enam bulan saya di sini, saya merasa jadi tambah tua 6 tahun karena setiap bulan dengan anggaran yang harus saya hemat saya berpikir untuk hidup dan lepas dari kesulitan


selama sebulan itu. Kalau tantangan sih di mana-mana selalu ada, yang penting kita bisa mikir dengan tenang bagaimana mengatasi tantangan itu. Bukan sekedar omong kosong kalau saya pulang nanti, saya bisa mendirikan studio foto. Walaupun ini cuma baru impian, tapi saya berniat membuktikannya. Bolos, ngganja, pokoknya yang bersifat kriminal memang pelarian yang paling gampang dan jadi gejala di mana-mana. Di sinipun demikian, remaja-remaja pengungsi Vietnam yang rata- rata berusia 15 - 20 tahun banyak yang drop out dari sekolah dan lari ke obat bius, prostitusi, perampokan dll. Mereka kebanyakan masih dibayangi kekacauan di negaranya, sebagian dari mereka kehilangan orang tua dan saudara, dan yang lebih parah lagi mereka juga menghadapi "culture shock". Sebelumnya ketika masih di kamp-kamp pengungsi mereka berharap bisa ke Amerika dan menjadi orang-orang berhasil, tapi lain kenyataan yang mereka terima di sini dan reaksi orang-orang Amerika terhadap mereka juga kadang-kadang buruk (diskriminasi). Mereka selalu menghadapi problem pekerjaan, keluarga, dll, dan akhirnya mereka lari dari keluarga dan masuk ke dunia kejahatan. Sekarang dengan menyandang gelar "Hay Choi" (Black Boy) mereka bangga karena bisa berbuat semaunya. Masalah ini dijadikan diskusi di antara psikolog, polisi, penegak hukum dan badan-badan lain di Amerika. Ini dipandang sebagai suatu proses identitas diri yang salah di antara remaja-remaja Vietnam tadi. Saya bersyukur karena negara kita bukan Vietnam dan rasanya moral remaja kita nggak serusak mereka. Kalau Bapak bilang, riwayat hidup saya menarik, bukan cuman Bapak saja yang berpendapat demikian, saya juga merasakannya. Kadang-kadang saya ketawa sendiri kalau mengingat masa-masa SMA. Saya senang sekali kalau Bapak bisa menceritakan cerita tentang saya ini pada rekan-rekan remaja di Indonesia. Saya tidak berharap bisa jadi idola remaja, tapi dengan pengalaman ini saya ingin membantu mereka menghadapi kesulitan-kesulitan itu dengan berpikir positif. Saya juga berterima kasih pada Bapak yang pertama mendorong saya untuk hobby fotografi, sehingga akhirnya fotografi menjadi berarti buat hidup saya. Fotografi bukan saja jadi sarana mencari nafkah, tapi lebih dari itu, buat saya fotografi juga jadi alat komunikasi/informasi ide-ide atau perasaan yang nggak bisa saya ungkapkan lewat mulut. PFT UNTAR mempunyai moto: "Mata adalah jendela hati dan foto kami adalah pengungkapnya". Saya rasa itu benar. Biarpun saya disini tapi hubungan batin sama klub saya di UNTAR tetap ada, saya nggak bisa lupa, karena dari situ saya jadi punya kepercayaan dan bisa membawa saya ke sini. Waktu saya pergi, saya benar-benar merasa kehilangan mereka. Saya ninggalin Papa yang sudah 69 thn (tahun ini 70 thn), teman-teman satu klub, pekerjaan dll. Pak, rasanya saya sudah panjang lebar cerita nih. Nanti saya sambung lagi deh kalau sudah mulai sekolah fotonya. Sekali lagi terima kasihnya ya. Cerita saya ini terbuka untuk umum koq, ha...ha...ha..ha.. Kalau ada waktu saya mau minta tolong teman saya merekam suara saya di kaset, saya mau cerita pengalaman saya buat didengar sama rekan-rekan remaja Indonesia, psikolog, orang tua, guru-guru dll. Nanti saya kirim rekamannya ke Bapak. Kirim salam buat yang di rumah. Yours,


Iswanto Soerjanto 2444 30th St #26 SAN DIEGO CA 92104 USA Demikianlah sebuah surat yang panjang lebar dari seorang remaja yang suka bolos. Bagaimana keadaan remaja tersebut sekarang? Moga-moga jawabannya dapat diperoleh pada tgl. 22 April 1995, di ruang Auditorium, Blok M Lt. VIII, Universitas Tarumanegara. Benar mantan remaja tersebut datang. SARAN: Untuk remaja. Contoh soal dari pengalaman remaja yang suka bolos di atas adalah baik sekali untuk ditiru. Selain faktor inteligensi, faktor minat atau hobby yang terarah dan positif banyak membantu pengembangan kepribadian sehingga menentukan suksesnya di kemudian hari. Untuk orang tua. Kesadaran untuk meminta bantuan tenaga ahli dan tidak malu sehingga tidak menutupi masalah yang berada di dalam keluarganya adalah kunci keberhasilan untuk mengatasi masalah remaja. Untuk guru BP. Kreatifitas dalam menangani masalah remaja memang diperlukan selain faktor kesabaran dan ketekunan. 4 Comments eskrim wrote on Nov 7, '07 saya senang bacanya. selama ini banyak orang tua berpikir nilai akademis harus selalu bagus. padahal dari hobby dan minat juga bisa dikembangkan menjadi sesuatu yang bernilai. makasih ya :D mtourista wrote on Nov 7, '07 jadi ingat masa remaja saya :)). Saat saya menempuh SMP kelas 2 dan kelas 3 di Jakarta Timur tahun 1984/1985. waktu kelas 3 SMP, bisa dibilang saya bolos lebih dari 50% jumlah hari sekolah yang mengakibatkan saya tidak lulus SMP. Padahal sekolah saya hanya berjarak +/- 300 Meter dari rumah. Pada saat itu sampai-sampai wali kelas saya datang ke rumah hampir setiap hari untuk menjemput saya pergi ke sekolah. Waktu itu saya merasa bahwa pelajaran sekolah saya begitu membosankan, banyak hal yang saya sudah ketahui sebelumnya, sehingga lebih baik saya mengisi waktu saya dengan yang lain (alias tidur :D). Faktanya adalah pada saat kelas 2 SMP, saya dipindahkan oleh orang tua saya dari Bandung (tinggal bersama kakak, yang masih SMA), ke Jakarta (ikut orang tua yang pindah ke jakarta dari Purwakarta). Sebetulnya saya tidak mau untuk pindah ke Jakarta, tetapi karena orang tua saya mulai khawatir saya tidak bisa mengurus diri dan prestasi belajar yang menurun, maka saya dipindahkan ke Jakarta. Fakta lainnya adalah, Orang


tua saya pegawai negeri yang berpindah-pindah kota, perlu diketahui bahwa saya menempuh pendidikan SD - SMA dalam 13 tahun di 13 sekolahan yang berbeda-beda (ada sekolah yang saya hanya masuk beberapa bulan saja!). Sayangnya pada saat itu penanganan kasus saya tidak semulus seperti apa yang diceriatkan dalam kasus Pak Bambang. Setelah tidak lulus, saya sempat sekolah di sekolah yang sama akan tetapi tidak betah, karena guru-guru sudah tidak bersimpatik kepada saya, yang akhirnya saya drop out dari sekolah dan menjadi pengangguran..............Semakin tidak memiliki masa depan. Seperti apa selanjutnya, saya sampaikan di komentar pada artikel "Setelah 13 Tahun menangani kasus Bolos" sprinklesprinkle wrote on Feb 20 gw kuliah serink bolos..ahhaa

SETELAH 13 TAHUN MENANGANI KASUS BOLOS Guru-guru BPK PENABUR pasti tahu bahwa pada tahun 1980-an Bidang Media Pendidikan memiliki mobil unit Media Keliling karena banyak melayani sekolah-sekolah untuk memutar slide atau video. Bagaimana caranya mobil tersebut diperoleh? Mobil tersebut merupakan honor konsultasi seorang guru BP yang berhasil menangani sebuah kasus. Honor konsultasi tidak dibayar dengan uang tetapi dengan mobil unit Media Keliling. Suatu malam pada bulan Februari 1995 tiba-tiba berdering telepon dari Prof. Dr. Singgih D. Gunarsa yang meminta penulis untuk menyampaikan ceramah pada simposium sehari


tetang SEKS, PERGAULAN PADA REMAJA DAN PERANAN ORANG TUA yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara pada hari Sabtu, tgl. 22 April 1995. Tema yang diberikan kepada penulis adalah, "PENGALAMAN SEBAGAI GURU BP DALAM MENGATASI REMAJA". Wah, bingung juga karena kini penulis tidak menjadi guru BP alias sudah alih profesi. Tetapi karena yang minta Pak Singgih, mantan bos, terpaksa tidak menolak. Pengalaman yang menarik terjadi pada tahun 1982 ketika menangani siswa SMAK I yang suka bolos. Untuk melengkapi dan membuktikan bahwa pengalaman ini merupakan kisah nyata, segera mantan tukang bolos penulis hubungi untuk ikut serta pada acara simposium. Kini jabatannya sebagai fotografer profesional yang pada tahun 1993 mengadakan pameran foto di Plaza Indonesia. Sesuai dengan profesi penulis saat ini sebagai Kepala Bidang Media Pendidikan maka media presentasi segera disiapkan dengan menggunakan komputer. Kalau menggunakan slide, sudah jenuh karena media itulah yang penulis pakai untuk mengajar fotografi pada tahun 70-an. Kalau pakai OHP sudah tidak unik lagi karena hampir semua penceramah biasanya menggunakan media OHP. Benar saja, Prof. Dr. Singgih D. Gunarsa, Dra. Shinto B. Adelar, M.Sc. dan Prof. Dr. Sarlito W. Sarwono menggunakan OHP. Sedangkan Prof. Dr. Jaumil A. Achir, Dra. Pia Alisyahbana, Dra. Iesje L. Sampurnaatmadja dan Rano Karno tanpa menggunakan media. Jadi penulis adalah satusatunya yang menggunakan peralatan yang paling canggih yaitu komputer notebook merk Compal, OHP ELMO type SOLAR yang sinarnya sangat terang seperti matahari dan LCD Panel berwarna merk PROXIMA. Semuanya barang pinjaman dari Albert Iskandar. Terima kasih Albert atas peran serta Anda, kalau sewa dibutuhkan dana minimal setengah juta rupiah. Satu hari menjelang hari presentasi adalah hari yang paling menegangkan. Ruang Auditorium Universitas Tarumanegara Gedung Blok M Lt. 8, di Jln. Let. Jend. S. Parman No. 1, masih digunakan untuk lomba karaoke sehingga peralatan tidak dapat dipersiapkan. Malam harinya yaitu Jumat malam ada rapat dengan Kompartemen Pendidikan di Jalan Tanjung Duren. Kesempatan satu-satunya hanya pagi-pagi sebelum acara dimulai. Malam Sabtu penulis tidak dapat memejamkan mata karena rasa gelisah dan tidak tenang. Tubuh terasa tegang seakan-akan menghadapi ujian. Syukurlah Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, semua dapat berjalan sesuai kehendak-Nya. Hanya sayang proyektor SUPER DATA merk SONY milik program pasca sarjana UNTAR yang telah disediakan panitia tidak jadi digunakan karena tidak cocok dengan notebook COMPAL pinjaman. Kelebihan dari media komputer ialah animasi. Gambar pertama ialah panggung dengan layar tertutup. Gambar berikutnya ialah layar ditarik ke kiri dan ke kanan kemudian ada profesor masuk ruangan lalu menunjuk ke layar dan keluarlah tulisan "PENGALAMAN SEBAGAI GURU BP DALAM MENGATASI REMAJA OLEH DRS. BAMBANG GUNAWAN". Semua ini sebenarnya hanya simulasi di dalam komputer. Tetapi berkat animasi penonton langsung tertawa ketika melihat profesor masuk ruangan. Sengaja ditampilkan profesor karena pada simposium ini ada tiga profesor yang bicara maka penulis tidak mau kalah, juga punya profesor tetapi di dalam komputer. Ha..ha..ha. Gambar berikutnya menceritakan proses anamnese dari kasus bolos


tersebut. Kemudian proses bagaimana kasus tersebut jatuh ke tangan penulis dan berikutnya ialah faktor-faktor apa saja yang membuat kasus tersebut berhasil diatasi dengan baik. Faktor yang pertama dan yang utama ialah dia dibuat tertarik pada bidang studi ketrampilan Fotografi. Fotografilah yang membuat dia sembuh dari penyakit bolosnya. Presentasi ditutup dengan pertanyaan "DIMANAKAH SISWA TERSEBUT KINI?". Siswa tersebut kini berada di Ruang Auditorium Universitas Tarumanegara. Iswan Soerjanto diminta untuk berdiri memperkenalkan diri. Dia saksi hidup. Tetapi ada faktor yang jauh lebih penting dalam proses mengatasi kasus bolos tersebut ialah kakaknya Iswan yaitu Ibu Budi Hartono yang juga hadir. Segera Ibu Budi Hartono diminta berdiri dan diminta untuk menceritakan kiatnya sehingga berhasil mengatasi adiknya yang tukang bolos itu. Menurut Ibu Budi Hartono kiatnya adalah kerja sama dengan sekolah yang begitu baik yang menjadi faktor kunci sukses. Setelah Ibu Budi Hartono berbicara, Iswan juga diminta berbicara untuk mengenang masa lalunya. Wah, apa yang dikemukakan baik oleh Ibu Budi Hartono maupun oleh Iswan walaupun hanya beberapa menit saja tidak kalah menariknya dengan program komputer penulis yang membutuhkan waktu berhari-hari dalam mempersiapkannya. Terima kasih kepada Ibu Budi Hartono dan Iswan yang telah meluangkan waktu untuk hadir. Sebagai penutup dari presentasi yang canggih ini moderator Dra. Niniek L. Karim teringat pada film DISCLOSURE dengan ELECTRONIC MAIL yang terdapat dalam film tersebut. Mentang-mentang bintang film maka referensinya juga dari film. Tgl. 26 April 1995, Drs. Bambang Gunawan 2 Comments mtourista wrote on Nov 7, '07, edited on Nov 7, '07 Saya akan melajutkan kisah saya yang telah saya sampaikan di artikel Pak Bambang "Pengalaman sebagai Guru BP dalam Mengatasi Remaja". Setelah tidak lulus SMP dan menjadi penganguran hampir 1 tahun, saya iri dengan rekan2 saya yang sudah mengenakan celana panjang jika bersekolah. Saya ingin melanjutkan sekolah saya, tapi tidak mau menggunakan celana pendek lagi (baca: SMP). Jalan keluarnya saya mengikuti ujian Persamaan SMP (sekarang disebut Kejar Paket B). Alhamdulillah saya bisa lulus ujian tersebut, walau pada saat ujian, mengerjakan soal sambil merokok :)).Kemudian saya meneruskan SMA di jakarta timur dan lulus SMA di Bandung dengan menyandang predikat lulusan terbaik dari sekolah swasta yang tidak terlalu terkenal di Bandung. Pada saat SMA, saya kadang masih suka bolos sekolah, tapi hanya sekali-sekali, yang mungkin wajar ukurannya untuk anak remaja. Jadi apa saya saat ini? Saat ini saya baru selesai menempuh pendidikan S2 saya yang saya tempuh sambil bekerja dengan beasiswa dari kantor saya bekerja waktu awal saya menempuh S2 saya. S1 saya, ditempuh di perguruan tinggi negeri di Malang. pada saat saya kuliah S1, secara bersamaan saya juga kuliah program Diploma di universitas yang sama (beda jurusan). setelah melampai kasus sebagai remaja yang sulit, saya justru mencintai sekolah. senang


belajar segala sesuatu, bahkan jika masih ada sponsornya, saya masih ingin sekolah lagi :). Di dunia yang lebih nyata, dunia pekerjaan, saat ini saya bekerja di salah satu perusahaan asing, pernah mengalami pasang surut dalam berkarir di perusahaan yang berbeda-beda (mostly perusahaan asing). Well... at least saya merasa diri saya cukup berhasil untuk ukuran saya. :). Alhamdulillah. Dari pengalaman saya, saya merasa bahwa remaja bermasalah dalam sekolahnya, maka bukan berarti anak tersebut akan gagal pada saat dewasa. Saya setuju dengan pendapat Pak Bambang, bahwa remaja bermasalah membutuhkan dukungan yang komprehensif dari lingkungannya, baik keluarga, sekolah dan teman-temannya. sebaiknya lingkungan juga jangan memvonis bahwa remaja bermasalah adalah remaja yang gagal (sulis sekali melepaskan diri dari predikat "orang gagal" pada saat itu - baik pandangan dari sekolah, keluarga besar dan teman-teman). Harus disadari bahwa remaja seperti itu adalah remaja dengan kebutuhan khusus, yang membutuhkan perhatian yang lebih dan kerja sama yang baik dari lingkungan. bg440507 wrote on Nov 7, '07 Terima kasih untuk sharingnya, menarik sekali.


(1982) TULISAN BG 1982