Page 1

ISSN:0215-206X

STT:SK Menpen No.1147/SK/Ditjen PPG/STT/1987 Tgl.27 Oktober 1987

No. 269 /TH.XXIII/DESEMBER/2010


2 BESTARI

JENDELA

No. 269/TH.XXIII/Desember/2010

Salam Redaksi

Sambut Tahun Baru dengan BBM Non Subsidi Menyambut tahun baru 2011, berbagai hal dilakukan masyarakat tak terkecuali mahasiswa. Ada yang melewatkan pergantian tahun dengan menyaksikan pesta kembang api, ada pula yang lebih memilih berdiam diri di masjid. Seberapa penting makna datangnya tahun baru 2011 bagi para mahasiswa? Rubrik Polling kali ini akan membawa pembaca menelusuri fenomena tersebut. Meninggalkan Polling, Rubrik Laporan Utama (Laput) tidak ingin ketinggalan menyajikan liputan tentang “agenda tahun baru” pemerintah. Tepat di awal tahun, yakni pada tanggal 1 Januari 2011 rencananya program pembatasan Bahan Bakar Minyak (BBM) mulai diberlakukan. Sayangnya, belum diajun sudah tertarung. Belum sampai dilaksanakan, kebijakan tersebut mendapat berbagai reaksi dari masyarakat. Meski ada yang setuju, namun tidak sedikit pula yang menolaknya. Hal ini lantaran, pembatasan jumlah BBM hanya akan diberlakukan bagi masyarakat kelas menengah ke atas dengan teknis yang cukup merepotkan. Dua opsi pun diturunkan sebagai wacana yang hingga saat ini kepastiannya masih di ”godok” oleh pemerintah. Opsi pertama, penggunaan BBM bersubsidi “haram” hukumnya bagi para pemilik kendaraan produksi tahun 2005 ke atas. Sebagai gantinya, mereka dapat menggunakan Pertamax yang merupakan jenis BBM non subsidi. Sedangkan opsi ke dua, pemerintah akan memberlakukan kebijakan tersebut pada seluruh mobil plat hitam. Hal ini dilakukan lantaran jumlah konsumsi BBM di Indonesia terus meningkat dan subsidi BBM harus segera dikurangi untuk menekan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Lalu, bagaimana masyarakat menanggapi wacana ini? Mengapa lagi-lagi kebijakkan pemerintah terkesan buru-buru dan memberatkan? Meninggalkan Laput, Rubrik Pernik Malang siap mengajak pembaca “plesir” ke Singhasari dan menelusuri setiap lekuk keindahan Candi Sumberawan. Menurut sejarah, Candi Sumberawan dahulu merupakan kasunggrahan atau taman bidadari yang terkenal dalam kitab Negarakertagama. Salah satu artefak peninggalan kerajaan Singhasari ini, terdiri dari sebuah stupa yang pada masanya hingga saat ini digunakan sebagai tempat peribadatan umat Budha. Selain bangunan candi, pengunjung juga dapat menikmati kejernihan mata air di pemandian alami Ken Dedes dan Ken Arok. Konon, air yang mengalir pada kedua pemandian tersebut menjadi media transformasi untuk mensucikan diri (air amerta). Oleh sebab itu, masyarakat sekitar dan para pengunjung percaya air ini bermanfaat bagi kesehatan. Selain ketiga rubrik di atas, Rubrik Suka masih setia menyampaikan berbagai informasi kegiatan kampus, seperti seminar dalam rangka memperingati Hari AIDS sedunia, Gelaran Wisuda Periode IV, Liputan Bakti Sosial UMM ke Merapi, dan masih banyak lagi. Di akhir, kami segenap Kru Bestari mengucapkan Selamat Tahun Baru 2011. Semoga pergantian tahun ini dapat menjadi momen evaluasi diri agar kesalahan di tahun sebelumnya tidak terulang dan tahun berikutnya menjadi lebih baik. Redaksi Pelaksana

Dapur p Red Redaksi daksi

Kenang-kenangan: Kru bestari berfoto bersama usai gelaran upgrading 2010.

Cover Design: Zakiya Foto: Heni Tri Novianti.

riz / Bestari

TERA

Konsekuensi Pembatasan Subsidi BBM Rencana pemerintah melakukan pembatasan subsidi BBM, sebenarnya agak molor dari rencana semula yang ditargetkan berlaku mulai September 2010 ini. Ada dua opsi pembatasan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang diusulkan pemerintah kepada DPR, yang hasil keputusan akhirnya akan diimplementasikan secara efektif pada 1 Januari 2011. Opsi pertama, melarang semua kendaraan (roda empat) berpelat hitam menggunakan BBM bersubsidi, sedang opsi kedua melarang kendaraan berpelat hitam keluaran 2005 ke atas menggunakan BBM bersubsidi. Untuk kedua opsi ini, kendaraan umum, sepeda motor, kendaraan roda tiga, dan nelayan tetap diperkenankan mendapatkan BBM subsidi. Alasan utama yang mendasari pembatasan subsidi BBM adalah beban APBN yang dialokasikan untuk membelanjainya sudah terlalu besar selama 6 tahun terakhir. Sejak 2005 hingga Agustus 2010 beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk subsidi BBM rata-rata per tahunnya mencapai Rp 86,11 Triliun, khusus tahun 2010 subsidi BBM diperkirakan akan menembus Rp 100,00 Triliun. Dengan beban dana subsidi BBM sebesar ini tentunya berdampak terhadap pembiayaan pembangunan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam bidang lain, seperti pendidikan dan kesehatan. Di samping beban APBN yang relatif besar, peruntukan subsidi juga kurang tepat sasaran. Pemerintah memperkirakan bahwa sekitar 70% subsidi BBM justru dinikmati oleh anggota kelompok masyarakat mampu. Hal ini diperkuat dengan data proporsi konsumsi subsidi BBM untuk angkutan darat terbesar diduduki oleh kendaraan pribadi (53%) diikuti oleh sepeda motor (40%), angkutan umum (3%), dan sisanya sebesar 4% dikonsumsi oleh angkutan barang. Sampai akhir Desember 2010 jumlah penjualan mobil diperkirakan akan mencapai 700.000 – 740.000. Jika angka ini tercapai maka selama 2010 telah terjadi pertumbuhan penjualan mobil sebesar 50% dibanding tahun 2009. Dengan adanya rencana pengurangan subsidi BBM, di satu sisi diharapkan dapat mengurangi beban subsidi APBN, tetapi di sisi lain diharapkan dapat menurunkan jumlah mobil pribadi yang beroperasi, sehingga dapat menekan kemacetan lalu lintas. Pembatasan subsidi juga diarahkan untuk menekan penyelundupan BBM yang selama ini marak. Terjadinya disparitas harga antara BBM di Indonesia dengan harga BBM di beberapa negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, yang relatif tinggi selama ini menjadi salah satu penyebab maraknya

penyelundupan, di samping pengawasan aparat pemerintah yang kurang ketat. Dengan penyelundupan ini, pemerintah dirugikan dan pasokan BBM bagi masyarakat menjadi berkurang. Berdasar dua opsi pengurangan subsidi BBM yang akan diajukan oleh pemerintah, opsi pertama cenderung lebih implementatif dalam arti penerapannya lebih sederhana dan lebih mudah dibanding opsi kedua, walaupun tetap mengundang kritik. Pertama, alasan penurunan kemacetan lalu lintas, terutama di pulau Jawa dan Bali tidak selamanya dapat diterima mengingat faktor penyebab kemacetan lalu lintas di negeri ini sangat banyak dan kompleks. Di samping perilaku pengguna jalan yang kurang disiplin, penyebab kemacetan dan sekaligus kecelakaan lalu lintas akhir-akhir ini banyak disebabkan karena peningkatan jumlah sepeda motor yang tidak terkendali. Kedua, inflasi tahun depan kemungkinan besar akan meningkat. Tidak semua mobil berpelat hitam ditujukan untuk kepentingan konsumsi, tetapi cukup banyak yang digunakan untuk keperluan produktif. Dengan tujuan ini, jika harga BBM meningkat (sebagai dampak pembatasan subsidi BBM), maka harga-harga produk yang dihasilkannya akan cenderung meningkat. Sesuai dengan asumsi RAPBN 2011 bahwa inflasi tahun depan dipatok sebesar 5,3%, dengan pembatasan subsidi BBM ini, besaran inflasi tersebut akan meningkat. Ketiga, rencana pembatasan subsidi BBM merupakan kebijakan parsial. Jika harga minyak mentah dunia terus meningkat, maka beban subsidi BBM selain untuk mobil pribadi akan membengkak lagi. Dengan pembengkakan ini maka penurunan subsidi atau kenaikan harga BBM harus dilakukan kembali yang tentunya akan membawa konsekuensi baru, baik bagi masyarakat maupun pemerintah. Dengan harga minyak mentah dunia yang saat ini berada dalam level US$70 – 80 per barel tidak mustahil akan mengalami kenaikan di masa mendatang. Dengan demikian, di samping opsi pembatasan subsidi, kebijakan kenaikan harga secara bertahap perlu dipertimbangkan sebagai kebijakan alternatif. Keempat, peningkatan efisiensi operasi Pertamina. Dengan cadangan minyak dan gas yang relatif kecil, yaitu sebesar 0,33% dari cadangan minyak dan gas dunia, Indonesia sudah saatnya melaksanakan usaha efisiensi, baik dalam konsumsi maupun dalam produksinya. Konsumsi BBM masyarakat Indonesia dalam beberapa tahun terakhir sudah melebihi produksinya, atau dengan kata lain Indonesia sudah menjadi negara net importir. Dengan kondisi ini, wajar jika pada tahun 2005 Indonesia keluar dari

keanggotaan kelompok negara-negara pengekspor minyak (OPEC). Sebagai perusahaan pengilangan minyak nasional, Pertamina dituntut untuk dapat bekerja lebih efisien. Setiap kenaikan harga yang dilakukan bukannya untuk menutupi ketidakefisienan operasi Pertamina, tetapi hal itu dilakukan karena harga BBM dunia memang naik. Di samping itu, dengan semakin menipisnya cadangan minyak dan gas, pemerintah Indonesia dan Pertamina sudah saatnya untuk mengembangkan energi nonfosil, yaitu energi terbarukan yang bersumber dari bahan nabati. Terakhir, kesiapan implementasi kebijakan penurunan subsidi BBM dan antisipasi terhadap terjadinya penyelewengan. Dengan waktu persiapan yang relatif singkat, timbul keraguan atas kesiapan perangkat SPBU-SPBU yang ada untuk menjalankan kebijakan pembatasan subsidi BBM ini. Dengan argumen ini, maka opsi yang paling realistis untuk dijalankan adalah opsi pertama. Tindak pelanggaran yang bersumber dari disparitas harga BBM subsidi dan nonsubsidi perlu diantisipasi melalui pengawasan yang ketat. Salah satu kasus yang akan ditemukan berkaitan dengan penentuan harga untuk pengecer BBM, apakah menggunakan standar harga subsidi atau nonsubsidi? Fenomena ini akan menjadi salah satu contoh terjadinya praktik moral hazard. Dengan adanya pembatasan subsidi BBM untuk mobil berpelat hitam diperkirakan pemerintah akan dapat menghemat subsidi BBM sampai sebesar Rp27,00 triliun. Dengan dana sebesar ini, idealnya alokasi dana tersebut diprioritaskan pada alokasi untuk kepentingan sektor transportasi. Jika pemerintah menuntut pengurangan subsidi BBM dan menghendaki penurunan jumlah kendaraan pribadi yang beroperasi (sehingga kemacetan menurun), maka perlu mengadakan peningkatan kualitas infrastruktur transportasi. Dengan mengacu pada data pembengkakan subsidi energi (termasuk di dalamnya untuk BBM), pembatasan subsidi BBM (atau mungkin kenaikan harga secara bertahap) secara ekonomis layak dijalankan. Jika kebijakan ini tidak diberlakukan sejak sekarang, pembengkakan defisit APBN akan berdampak pada peningkatan utang pemerintah untuk mendanainya. Pemerintah sudah tidak saatnya lagi melakukan tebar pesona kepada rakyat tanpa mempertimbangkan kepentingan ekonomi jangka panjangnya. Warsono Sidang Redaksi Bestari

Penanggungjawab: Muhadjir Effendy. Pengarah: Mursidi, Sujono. Pemimpin Redaksi: Joko Widodo. Pemimpin Usaha: Agus Santoso. Wakil Pemimpin Redaksi: Nurudin. Sidang Redaksi: Santi Prastiyowati, Cekli Setya Pratiwi, Moch. Wakid, Warsono, Hany Handajani, Azhar Muttaqin, M. Salis Yuniardi, Nur Alif M, Djoni Djunaedi, Sugeng Puji Leksono, Indah Dwi Pratiwi. Redaksi Pelaksana: Nur Alifah, Silvia Ramadhani, M. Zakiya Al Khalim Staf Redaksi/Reporter: Ropidin, Fibriana Eka C., Annisa Rosyidah, M. Rajab. Setting Lay-Out/Desain Grafis: M. Zakiya Al Khalim. Tata Usaha/Sirkulasi: Siswanto. Redaksi menerima tulisan para akademis Mahasiswa dan Praktisi melalui karya tulis secara bebas dan kreatif. Tulisan tidak selalu mencerminkan pendapat redaksi. Tulisan yang dimuat akan mendapatkan imbalan. Redaksi berhak menyunting tulisan yang akan dimuat tanpa merubah isi. Pengiriman tulisan Paling lambat tanggal 10 tiap bulan. Iklan baris Rp.5000/brs, maksimal 5

BESTARI

baris. Iklan Kolom: minimal 1/16 halaman Rp. 155.000 (bw). Ukuran lain, silahkan datang ke kantor Redaksi Bestari. Isi di luar tanggung jawab percetakan. Biaya ganti cetak Rp. 1.750/eks

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

ISSN:0215-206X

STT:SK Menpen No.1147/SK/Ditjen PPG/STT/1987 Tgl.27 Oktober 1987

Gedung Student Center Lt. 1 Kampus III UMM, Jl. Raya Tlogomas 246 Malang Telp. (0341) 464318 Psw. 199 Fax. (0341) 464320 e-mail: redaktur_bestari@yahoo.com, homepage: bestari.umm.ac.id


BESTARI No. 269/TH.XXIII/Desember/2010

SERAMBI KAMPUS LSO Sanggar Alif

3

Bangun Jiwa Seni Bernafas Islami Sebagai universitas berazas Islam yang telah mempunyai nama, sudah selayaknya ada lembaga yang bergerak sekaligus mengembangkan kesenian Islam di lingkungan UMM. Untuk itu, pada tahun 2007 sebuah Lembaga Semi Otonom (LSO) Sanggar Seni Alif resmi dibentuk.

B

erawal dari keinginan untuk mewadahi kreatifitas mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) dalam berkarya seni, Galih Tri Widagdo, Ali Mutohirin, Hendri Oktavianus, dan Khusnul Ma’arif membentuk suatu organisasi yang bergerak di bidang seni. Mereka merasa perlu adanya suatu forum untuk mengembangkan kesenian di FAI, terutama kesenian yang bernuansa islami seperti kaligrafi dan nasyid. Menurut Galih, UKM seni di UMM hanya memberikan materi seni secara umum, namun seni islami tidak diberikan secara khusus. Hal tersebut memunculkan suatu kekhawatiran terhadap kemungkinan hilangnya seni dan budaya Islam di UMM. Ia merasa jika tidak ada aktor yang mau peduli dengan seni islam, maka kesenian islami tidak akan dilirik.

formal di tataran fakultas dan universitas. Lelaki yang saat ini menjabat sebagai Kepala Administrasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bekasi tersebut mengajukan proposal ke fakultas. Ia mengajukan usulan agar komunitas tersebut menjadi organisasi formal. Akhirnya, pada januari 2007, pembantu Dekan (PD) III FAI menyatakan bahwa komunitas pecinta kaligrafi itu resmi berdiri menjadi sebuah LSO kaligrafi. LSO tersebut diberi nama Alif, yang merupakan abjad pertama huruf hijaiyah yang membutuhkan ketajaman dan ketelitian dalam menggambarnya. “Menggambar Alif yang sempurna itu tidak mudah. Namun, jika huruf alif itu sudah sempurna, maka huruf selanjutnya akan lebih mudah. Begitu pula yang saya harapkan dari perintisan LSO ini,” ungkap Galih.

Berawal dari Komunitas Dengan berbekal kemampuan seni rupa, Galih dan beberapa mahasiswa angkatan 2005 yang mencintai kaligrafi awalnya membentuk sebuah komunitas di tingkat fakultas. Mereka mendeklarasikan berdirinya komunitas pecinta kaligrafi pada tahun 2006. Sejak saat itu, mereka aktif mengajarkan kesenian kaligrafi kepada teman sejawatnya hingga beberapa mahasiswa tertarik dan bergabung dalam komunitas tersebut. Dukungan dari beberapa dosen di FAI pun semakin membuat Galih yang kini telah menyandang gelar sarjanaHukum Islam itu bersemangat untuk mengembangkan komunitas tersebut. Ia ingin membuat komunitas pecinta kaligrafi tersebut menjadi organisasi

Pengembangan Bidang Berbuah Prestasi Setelah menjadi lembaga formal, waktu itu antusiasme mahasiswa terhadap seni kaligrafi justru mengalami kemerosotan. LSO kesenian Islam tersebut sempat vakum selama tahun 2007-2008. Untuk mengatasi hal tersebut, mulai tahun 2008 LSO Sanggar Seni Kaligrafi Alif mengalami perkembangan pada ruang lingkup bidang kesenian Islam. Kepengurusan LSO Sanggar Kaligrafi Alif mengembangkan beberapa cabang kesenian seperti bidang seni baca Al-Qur’an, seni tarik suara dan seni sinematografi. Karena pengembangan bidang dalam LSO tersebut, namanya pun berganti menjadi LSO Sanggar Alif. Dari pengembangan bidang tersebut, LSO Sanggar Alif bangkit

Heni/ Bestari

Paling diminati: Pembelajaran qiroah menjadi salah satu program unggulan yang ditawarkan LSO ini dalam menggaet penerusnya.

kembali dan mampu mencuri perhatian dari banyak mahasiswa di FAI. LSO tersebut juga aktif mempublikasikan diri dengan mengadakan berbagai kegiatan di tingkat universitas maupun kabupaten. Saat ini, LSO Sanggar Alif yang telah banyak mengadakan acara perlombaan dan pelatihan, seperti lomba Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) se-Malang Raya, pelatihan Qori’, pelatihan tartil, pelatihan kaligrafi, pelatihan pembuatan film atau sinematografi, serta pelatihan menggambar sederhana untuk masyarakat umum se-Malang Raya. Selain itu, anggota Alif juga kerap ikut serta pada acara-acara kesenian baik yang diadakan pada tataran kampus, lokal, maupun regional. Tidak sedikit dari mereka berhasil menorehkan prestasi membanggakan seperti Juara I kaligrafi Rektor Cup, Juara I tartil Rektor Cup, Lomba kaligrafi tingkat Jawa Timur di Jombang, MTQ tingkat nasional di Palembang, serta masih banyak pula prestasi lainnya yang pernah diraih oleh LSO Sanggar Alif.

Terus Lebarkan Sayap Sebagai Ketua Umum LSO Sanggar Alif, Choirul Umamah, terus berusaha merealisasikan visi LSO Sanggar Alif menjadi lembaga terkemuka dalam pengembangan kesenian berdasarkan nilai-nilai keislaman. Ia juga berharap terwujudnya seniman-seniman muda di kalangan mahasiswa yang ahli di bidang seni Islam. Oleh karena itu, dalam kepengurusannya tahun ini, Umamah berusaha menformulasikan kegiatan yang bermutu, seperti pagelaran seni, pembelajaran rutin, penumbuhan motivasi, dan penyelenggaraan kerja sama yang saling menguntungkan dengan pihak lain. Selain itu, untuk regenerasi, setiap tahunnya LSO tersebut mengadakan open recruitment. Pada Januari 2011 mendatang, LSO Sanggar Alif bahkan membuka pendaftaran untuk semua jurusan dan fakultas dan tidak membatasi anggota pada mahasiswa FAI saja. Hal tersebut ditujukan agar bakat dan kemampuan di bidang seni islami di UMM dapat terwadahi dengan baik. “Kegiatan ini akan

rutin dilaksanakan setiap tahun dalam rangka regenerasi,” terang Umamah. Melalui perluasan penjaringan anggota LSO Sanggar Alif tersebut, Umamah berharap LSO-nya semakin maju. Dengan men jaring anggota dari jurusan dan fakultas lain, ia berharap kemampuan kesenian yang tidak dimiliki mahasiswa FAI dapat terpenuhi. ”Saya berharap nantinya dari fakultas lain ada yang benarbenar bisa membagi ilmu yang dimilikinya, seperti sinematografi atau bermain musik,” tandasnya. Sementara itu, Rifa’i Azhar selaku salah satu pelatih di LSO Sanggar Alif menyatakan bahwa semangat dari teman-teman di sana layak untuk diacungi jempol. Kondisi lembaga yang sempat vakum tidak lantas membuat LSO tersebut mati. Kondisi itu justru telah mengantarkannya untuk berbenah diri dan menjadi semakin baik hingga kini benar-benar mampu berdiri tegak sesuai namanya, “Alif ”, yang merupakan huruf pertama dari susunan huruf bahasa Arab ini. m_phi/p_ tri

Seni untuk Syiar Kondisi LSO Sanggar Alif yang sempat sepi dari anggota tidak lantas membuatnya lenyap begitu saja. Berbagai cara dan inovasi ditelurkan untuk membuat kesenian Islam hidup kembali di UMM. Bagaimanakah proses dan wujud baru LSO Sanggar Alif ? Berikut wawancara reporter Bestari, Anita Wulansari, dengan Amir Rifa’i, penggerak LSO Sanggar Alif. Secara detail, apa sebenarnya yang membuat LSO Sanggar Alif sempat vakum? Ada beberapa faktor yang menyebabkan LSO ini sempat vakum. Faktor pertama, tidak adanya pengkaderan; faktor kedua, karena LSO baru jadi belum dikenal; ketiga, kurangnya mahasiswa yang berminat terhadap seni kaligrafi. Apa yang melatarbelakangi dibangkitkannya kembali Sanggar Alif ini? Niat untuk menghidupkan LSO Sanggar Alif berawal dari ayat Nun Walqolami Wama Yasturun, yang

artinya Demi pena dan apa-apa yang mereka tulis, dan Warattilil Qura’ana Tartila, yang artinya Dan bacalah AlQuran dengan tartil. Maksud dari ayat pertama di atas merupakan goresan pena yang dapat menghubungkan dengan ayat-ayat Al-Quran, yakni kaligrafi. Sedangkan ayat kedua itu merupakan perintah membaca AlQuran dengan lantunan nada yang tepat atau tartil yang merupakan salah satu program kerja yang baru. Di balik ayat Al-Quran itu tersimpan semangat mujahid dan mujahidah atau pejuang Islam untuk membangitkan kembali semangat sanggar Alif yang vakum. Oleh karena itu, saya bersama Agus Salim, Abror Ibrohim, Edi Sucipto, Rifa’i Azhar, Mustafa Romadhan, serta Choirul Umamah selaku Ketua Umum LSO Sanggar Alif, bekerjasama mendirikan kembali LSO sanggar Alif yang telah fakum dari tahun 2007-2008. Apa yang dilakukan untuk menghidupkan LSO Sanggar Alif ? Sanggar ini mulai berdiri kembali

pada akhir bulan November 2009 dengan diadakannya pengkaderan pada Diklat Alif Dasar (DAD) 1 yang diselenggarakan setiap setahun sekali. Kami mempublikasikan DAD tersebut melalui brosur atau selebaran yang dibagikan. Selain itu, kami menyediakan sarana pendaftaran yang berbeda yakni melalui sms dengan ketik nama dan kirim sesuai nomor handphone yang tercantum pada selembaran. Untuk program kegiatan kami tidak melakukan perubahan, melainkan penambahan. Dari yang semula hanya satu program, kini telah terdapat empat program yang terdiri dari kaligrafi, tarik suara yang dibagi atas tartil, qori’, dan nasyid, dan yang terakhir sinematografi. Apa yang menjadi harapan Anda ke depannya untuk LSO Sanggar Alif ? Mudah-mudahan LSO ini bisa lebih baik dari sebelumnya sehingga dapat menciptakan seniman Islam yang bisa menjunjung tinggi nilainilai keislaman lewat seni dan bisa terus berkarya untuk Islam.

Lewat kesenian itu pula saya berharap anggota LSO Sanggar Alif dapat mensyiarkan agama Islam, misalnya dengan seni tulisan yang indah dan penuh arti dan dari lantunan nada-nada kalam Ilahi yang mampu menyejukkan hati setiap pendengarnya. Selain itu, dengan adanya sinematografi, LSO ini akan mampu memproduksi film sendiri sehingga dapat menjadi media syiar Islam dan menunjukkan pada khalayak luas betapa indahnya agama akhir zaman ini.

deden / Bestari

Amir Rifa’i


4 BESTARI

SUARA KAMPUS

No. 269/TH.XXIII/Desember/2010

Dari UMM untuk Merapi Bencana meletusnya Gunung Merapi telah mengetuk hati seluruh sivitas akademika UMM. Senat Mahasiswa Universitas (SEMU) UMM yang mewakili seluruh sivitas akademika memberikan bantuan berupa kebutuhan pokok secara langsung ke warga pengungsian di Dusun Srumbung Ngisor, Kecamatan Srumbung, kabupaten Magelang (27/11). Selang dua pekan setelahnya rombongan kedua UMM yang dipelopori oleh Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial, D3 Keperawatan, dan Fakultas Kedokteran (FK) pada Selasa (7/12) juga melakukan bakti sosial (baksos) di Desa Polengan yang terletak di kecamatan yang sama. Ketua rombongan SEMU Aditya Meru Setiawan, secara langsung menyerahkan bantuan kepada koordinator pengungsi warga Dusun Srumbung Ngisor Muhroib. Menurut Meru, bantuan tersebut berasal dari lembaga intra kampus, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dan beberapa organisasi ekstra kampus. “Total sumbangan yang kami salurkan sekitar 10 juta rupiah,” ungkap mahasiswa Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan itu. Selain menyalurkan bantuan berupa bahan kebutuhan pokok, SEMU juga memberikan konsultasi psikologi untuk memulihkan mental warga. “Bantuan juga kami fokuskan kepada pemulihan kondisi psikologis warga. Oleh karena itu teman-teman

Berikan bantuan: Anggota SEMU memberikan bantuan logistik kepada korban bencana Merapi di Srumbung Ngisor, Magelang.

Kanak Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA). Pada kesempatan kali ini, UMM mendatangkan tim medis yang berasal dari empat mahasiswa D3 Keperawatan, lima mahasiswa FK, serta tiga dokter senior. Jumlah seluruh kupon pengobatan gratis yang dibagikan mencapai 80 lembar. Menurut salah satu dokter Medical Center UMM Yoyok Subagio, sebagian besar warga Lanjut Usia (Lansia) mengeluhkan rasa linu yang menyerang persendian. “Hal itu hanya karena faktor usia saja,” kata dokter yang akrab dipanggil Yoyok itu. Sementara itu, kondisi kesehatan anak-anak di pengungsian sebagian besar terserang batuk dan pilek. Selain kedua gangguan kesehatan atas, sejauh ini belum ditemukan gejala lain yang menunjukkan gangguan akibat letusan Gunung Merapi.ans/p_fjr

untuk mencetak kader tangguh yang mempunyai rasa memiliki terhadap Muhammadiyah. Senada dengan Joko, Direktur DPPM Bambang Widagdo menjelaskan, KKN memiliki misi strategis yang menguntungkan empat pihak, yakni mahasiswa, kampus, persyarikatan, dan masyarakat. Bagi kampus dan masyarakat, KKN merupakan bentuk pengabdian dan kontribusi nyata pada masyarakat, yaitu masyarakat dapat belajar, memperoleh informasi, dan menemukan problem solving. Bagi mahasiswa, KKN merupakan proses belajar untuk membangun kemampuan akademik, kecerdasan sosial, dan meningkatkan kecerdasan agama. Sedangkan bagi persyarikatan, melalui KKN PDM atau PCM dapat

membangun citra baik Muhammadiyah di tengah masyarakat. Di sisi lain, Kepala Divisi KKN DPPM Amir Syarifuddin memaparkan, DPL dan TPL memiliki tugas yang sama yakni pembimbingan dan pembinaan kepada peserta KKN. “DPL dan TPL harus AKURAT, yaitu aktif, kreatif, ulet, rajin, akrab, dan teliti,” harapnya. Tahun ini, sebanyak 1.460 peserta KKN serta 60 DPL dan TPL akan ditempatkan di 37 desa pada 13 kecamatan se-Malang Raya serta 10 desa di Tulungagung, Probolinggo, Jombang, Mojokerto dan Pasuruan. Sisanya ditempatkan di enam lokasi KKN Khusus, yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang sudah berkeluarga atau tenaga part time UMM yang ada di Malang.p_jam

Abdul Malik Fadjar:

“Indonesia Butuh Tiga Tipologi Kepemimpinan”

Tahun ini Himpunan Mahasiswa Ilmu Keperawatan (Himika) Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) UMM menjadi tuan rumah Latihan Kepemimpinan dan Manajerial Mahasiswa (LKMM) Nasional Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia (ILMIKI) yang ke-V. Bertempat di UMM Inn, acara yang berlangsung selama lima hari (7-11/12) itu diikuti oleh 71 peserta dari 30 universitas se-Indonesia. Dalam stadium general-nya, Ketua Badan Pengurus Harian (BPH) UMM A. Malik Fadjar mengungkapkan, Indonesia membutuhkan tiga tipologi kepemimpinan dalam kehidupan berbangsa. Pertama, kepemimpinan karismatis yang nampak melalui pancaran keilmuan dan kejiwaan. Kedua, kepemimpinan rasional. Terakhir kepemimpinan birokratik melalui kemampuan manajerial yang baik. Mengangkat tema “The Leadership of Ability, Revolusionist, Excellent, Morality and Authority to be Great Organization”, Dekan Fikes Tri Lestari Handayani menyampaikan materi mengenai teknik membangun jaringan. Menurutnya, strategi membangun jaringan adalah memahami visi dan misi, kelebihan

Niat dan Keberanian Bekal Berwirausaha

Deden/Bestari

dari Fakultas Psikologi juga kami libatkan,” ujar Meru. Kepala Dusun Srumbung Ngisor Saidi mengungkapkan tingkat kerusakan di dusun Srumbung terbilang parah. Empat rumah warga rata dengan tanah, dan 35 lainnya rusak berat. Selain itu hewan ternak banyak yang mati, ratusan hektar lahan pertanian dan perkebunan salak milik warga juga ludes. Untuk memulihkan kondisi perekonomian warga, lanjut Saidi, warga masih membutuhkan bantuan dari pihak lain. Sementara itu, bentuk kegiatan baksos yang dilakukan rombongan kedua UMM di Desa Polengan antara lain pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis, pemberian gizi dan nutrisi kepada anak-anak, serta pembagian alat-alat sekolah untuk anak-anak di Taman Kanak-

Misi Strategis di Balik KKN Bertempat di Aula Lantai 1 Masjid A.R. Fachruddin (14/12) Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) menggelar Lokakarya bagi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan Tim Pembimbing Lapangan (TPL) Kuliah Kerja Nyata (KKN) Semester Genap 2010/2011 UMM dengan dihadiri Pembantu Rektor III UMM Joko Widodo. “Ada misi yang sangat strategis yang perlu dipertahankan atas kerjasama UMM dengan PDM dan PCM,” ujar Joko di hadapan 54 peserta. Misi strategis yang dimaksud Joko adalah dakwah sebagai wujud kontribusi Muhammadiyah pada masyarakat. Menurutnya, KKN juga harus membekali mahasiswa tentang pemahaman ke-Muhammadiyah-an

Pelatihan Menghadapi Dunia Kerja & Entrepreneurship

Kongres Ilmiki: Malik Fadjar (kanan) memberikan materi mengenai kepemimpinan kepada para Peserta Kongres Ilmiki seIndonesia. Deden/Bestari

dan kekurangan organisasi, memahami kebutuhan terhadap jaringan, membuat perencanaan, membangun komunikasi, serta memelihara relationship. Sementara itu, Pembantu Dekan III Fakultas Ekonomi Susenohaji, mengupas tentang materi rekayasa organisasi. “Re-engineering (rekayasa. Red) merupakan fase keniscayaan dalam sebuah kehidupan. Ketika organisasi pada kondisi kejenuhan, maka re-engineering merupakan hal yang penting,” pungkasnya. Reengineerring yang dimaksud adalah proses perubahan struktur dan fungsi suatu sistem organisasi. Selain itu, pelatihan ini juga mem-

bahas materi tentang komunikasi efektif dan public speaking, problem solving dan decision making, pembangunan opini publik, manajemen isu dan advokasi, manajemen lobi dan negosiasi, manajemen aksi dan orasi, enterpreneurship, serta teknologi informasi yang disampaikan para dosen UMM yang berkompeten di bidangnya. Direktur Jenderal Kajian Strategis dan Advokasi ILMIKI Weni Widya Shari menuturkan, LKMM merupakan pengkaderan tingkat nasional yang diadakan dua tahun sekali. Tujuannya adalah menyiapkan kader yang akan menjadi pengurus harian nasional ILMIKI. p_jam

Deden/Bestari

Enterpreneur: Irwan Candra Abdullah memberikan pengetahuan mengenai dunia enterpreneur kepada para lulusan UMM.

Sebagai bentuk kepedulian UMM terhadap kualitas alumninya, Biro Kemahasiswaan UMM menggelar Pelatihan Menghadapi Dunia Kerja dan Entrepreneurship dengan menghadirkan beberapa pemateri yang ahli di bidangnya seperti Irwan Candra Abdullah, Manajer Madani Press Nurul Huda, dan Nurul Fajariany Avin Kepala HRP PT. Indofood. Bertempat di Teater Dome (29-30/11), pelatihan ini diikuti oleh 371 alumni UMM dari berbagai jurusan yang sehari sebelumnya telah diwisuda. Kepala Pengembangan Karir Mahasiswa dan Alumni UMM Dwi Eko Waluyo yang hadir mewakili Pembantu Rektor III (PR III) Joko Widodo mengungkapkan, pelatihan tersebut merupakan langkah awal bagi alumni dalam menghadapi dunia kerja dan menciptakan peluang kerja. “Kami memahami bagaimana dua konsep itu (dunia kerja dan peluang kerja. Red) akan dihadapi para alumni, terutama dalam menciptakan peluang kerja yang sedang digalakkan pemerintah saat ini. Oleh karena itu kami mengadakan pelatihan dengan membawa dua konsep tersebut,” ujarnya di sela sambutan. Mengawali materinya, Irwan Candra Abdullah menuturkan bahwa dunia wirausaha tidaklah susah seperti yang banyak dipersepsikan orang. “Bisnis itu tidak susah karena ilmunya bukan ilmu gaib. Ilmunya bisa kita dipelajari dengan bekal mental yang kuat,” ungkap Irwan yang juga alumni UMM. Irwan menuturkan, memulai bisnis harus diawali dari niat yang kuat dan keberanian.

Keberanian yang dimaksud adalah berani bermimpi, berani mencoba, berani merantau, dan berani gagal. Selain itu, jika ingin sukses seorang pengusaha harus jeli melihat peluang pasar dan menjadikan saingan sebagai mitra. “Harus kreatif menentukan peluang pasar. Kalau biasanya pentol itu bulat, buatlah usaha pentol kotak,” ujarnya disambut tertawa peserta. “Selain itu, jangan jadikan saingan Anda sebagai musuh, tapi jadikanlah mitra kerja,” tambahnya. Tak jauh berbeda dengan materi sebelumnya, Nurul Huda yang juga alumni UMM tahun 2000 itu mengungkapkan, hal mendasar yang harus dimiliki oleh pengusaha adalah kepribadian baik, motivasi tinggi, dapat dipercaya, berilmu, dan beriman. “Apabila semua hal itu bisa dipenuhi Insya Allah akan sukses,” ucapnya tegas Di sisi lain, Nurul Fajariany Avin selaku Kepala HRD PT. Indofood Pandaan dalam materinya mengungkapkan, banyak orang yang ingin menjadi sukses namun tidak mau bertindak untuk mewujudkannya. Menurutnya, dalam dunia kerja dibutuhkan orang-orang yang memiliki semangat tinggi dan tidak hanya diam di tempat. ”Kalau Anda hanya diam saja dan tidak melakukan apa-apa, maka Anda tidak akan bisa menjadi apa-apa dan mendapatkan apa-apa,” ungkapnya. Selain diisi dengan materi teori, pelatihan yang berlangsung selama dua hari itu juga diisi dengan simulasi berwirausaha, psikotes, serta praktik wawancara. m_ros

Sosialisasi Pengurusan dan Pemanfaatan HKI dalam Dunia Bisnis dan Pendidikan

Sosialisasi Sentra HKI UMM Sentra Hak Kekayaan Intelektual (HKI) UMM menggelar acara Sosialisasi Pengurusan dan Pemanfaatan HKI dalam Dunia Bisnis dan Pendidikan di Ruang Sidang Rektor UMM (3-4/12). Sekitar 20 peserta dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Sumatera Utara, dan pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) di sekitar Kota Malang hadir untuk mengikuti acara tersebut. Menurut Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) UMM Bambang Widagdo, HKI merupakan aset penting bagi individu, organisasi, maupun perusahaan yang harus dilindungi. “Oleh karena itu, penemuan-penemuan tersebut sebaiknya cepat dipatenkan. Karena dari segi ekonomi, pendapatan dari royalti HKI nilainya cukup besar,” ungkap Guru Besar Jurusan Manajemen itu. Sementara itu, Direktur Sentra HKI UMM Indah Prihartini memaparkan, langkah pertama yang harus dilakukan pemohon HKI adalah mengajukan surat permohonan ke kantor Direktorat Jenderal (Ditjen) HKI di Jakarta. Kemudian, dilanjutkan dengan

pengurusan dokumen hingga memperoleh perlindungan atas HKI yang memakan waktu minimal enam bulan. “Menurut peraturan Ditjen HKI, waktu minimal pengurusan adalah enam bulan. Tetapi kenyataanya ada yang mencapai dua tahun. Yang lama adalah proses pengecekan datanya,” ungkap dosen yang sudah 20 tahun mengabdi di UMM itu. Sentra HKI UMM membantu masyarakat dalam pengurusan enam jenis HKI, yakni hak paten, hak cipta, rahasia dagang, merek, desain industri dan sirkuit terpadu. Bentuk pelayanan yang diberikan Sentra HKI UMM adalah membantu mengurus permohonan pendaftaran, memberikan layanan penulisan dokumen, serta menyelenggarakan pelatihan atau konsultasi penulisan dokumen aplikasi. Sampai saat ini, Sentra HKI UMM telah membantu mematenkan 32 HKI yang di antaranya merupakan karya beberapa dosen UMM, yakni “Alat Penghitung Detak Jantung Manusia Menggunakan Sadapan Ujung Jari” karya M. Chasrun Hasrani dan “Mesin Penurun Kadar Air Madu Tipe Spray” karya Ahmad Fauzan.p_fjr


BESTARI No. 269/TH.XXIII/Desember/2010

SUARA KAMPUS Sosialisasi Biaya Studi Mahasiswa Tahun Akademik 2011/2012

Harapkan Fasilitas Imbangi Kenaikan Biaya Studi

Deden/Bestari

Sosilisasi Biaya Studi: Sosialisasi tentang kenaikan biaya studi dihadiri oleh para dosen dan pengurus lembaga intra kampus.

Menanggapi Surat Keputusan (SK) Rektor Nomor 31 Tahun 2010 tentang Pedoman Pembayaran Biaya Studi Mahasiswa Tahun Akademik 2011/2012, pihak universitas mengundang para fungsionaris lembaga intra dalam rangka mensosialisasikan SK tersebut. Bertempat di Aula BAU (15/12), acara dihadiri oleh Rektor UMM Muhadjir Effendy dan seluruh Pembantu Rektor beserta jajaran dekan dan dosen di masing-masing fakultas. Sosialisasi ini bertujuan agar para fungsionaris UMM dapat menyampaikan informasi tentang kenaikan

biaya studi mahasiswa kepada para mahasiswa baru tahun akademik 2011/2012. Menurut Muhadjir, biaya Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) dan dana Pengembangan Pendidikan (DPP) untuk tahun akademik 2011/2012 akan naik beberapa persen. Setelah Rektor membacakan surat keputusan, acara dilanjutkan dengan dialog dan pertanyaan oleh para fungsionaris lembaga intra yang terdiri dari anggota Senat Mahasiswa Universitas (SEMU) dan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU), ketua serta wakil Senat

Kalimas, Sejarah Multikultur di Surabaya

Fakultas (SEFA) dan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas(BEMFA), ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), serta ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Mengawali dialog, Ketua SEMU Jefri Hari Akbar menyampaikan unek-uneknya. Beberapa hal yang disampaikan oleh Jefri adalah pengelolaan parkir yang dinilai masih perlu diperbaiki, fasilitas hotspot yang menurutnya lambat, juga tentang buku-buku teks di perpustakaan yang kurang update. “Saya berharap agar kenaikan biaya studi turut diimbangi pula dengan peningkatan fasilitas dan mutu pendidikan di kampus,” kata mahasiwa asal Kediri itu. Menanggapi hal tersebut, Muhadjir mengatakan bahwa bukubuku teks memang sudah seharusnya di-update minimal lima tahun sekali. “Begitu juga dengan pengadaan buku-buku baru, memang perlu penambahan,” kata pria lulusan Universitas Airlangga Surabaya itu. sementara itu mengenai pengelolaan parkir, Muhadjir menuturkan bahwa sudah ada rencana untuk pembangunan lahan parkir bertingkat di UMM sebagai solusinya.p_idr

Workshop Strengthening International Relations Office-IRO

Kenalkan SOP pada Mahasiswa Asing UMM

Dalam rangka penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) mahasiswa asing di UMM dan mahasiswa atau dosen UMM di luar negeri, International Relations Office (IRO) sebagai jendela publikasi internasional UMM menggelar workshop Strengthening International Relations Office (Penguatan Kantor Hubungan Internasional. red) di Ruang Sidang Rektor (16/12). Acara yang dihadiri oleh 37 peserta dari dosen Language Center, Kursus Bahasa Asing (KBA), Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA), American Corner, mahasiswa Aminef, ACICIS serta Erasmus Mundus itu mengundang Kepala Sie (Kasi) Pelayanan dan Administrasi Dit. Intelkam Kepolisian Daerah Jawa Timur Nurhayati dan Kasi Status dan Keimigrasian (Statuskim) Perizinan Orang Asing Kantor Imigrasi Malang Mujiantoro sebagai pembicara. Dalam pemaparannya, Nurhayati menjelaskan mengenai keberadaan Warga Negara Asing (WNA). Menurutnya, WNA dibutuhkan untuk penanaman modal, alih teknologi, serta peningkatan devisa negara. Lebih lanjut jelasnya, orang asing di Indonesia wajib melaporkan keberadaannya pada kepolisian setempat.

deden/ Bestari

Workshop IRO: BKLN mengadakan workshop strenghtening internasional relations office guna penyusunan SOP mahsiswa asing dan dosen atau mahasiswa UMM di luar negeri.

Namun, ia menyayangkan banyaknya WNA yang masuk ke Indonesia secara ilegal. ”Indonesia sangat luas dan banyak pelabuhan ‘tikus’ yang minim pengawasan sehingga banyak orang asing yang masuk dengan ilegal,” ujar perwira berpangkat Iptu tersebut. Mengenai prosedur keimigrasian, dijelaskan Mujiantoro, setiap WNA wajib memiliki izin keimigrasian, paspor yang sah, visa, melewati tempat pemeriksaan imigrasi, serta mendapatkan tanda masuk dan keluar wilayah Indonesia. Sementara itu Sekretaris Lem-

baga Informasi dan Komunikasi (Infokom) UMM Muhammad Nasar menjelaskan peluang publikasi UMM secara internasional melalui internet. Nazar mengatakan, saat ini pengguna aktif internet di dunia sebanyak 28,7% yakni lebih dari 1,3 miliar penduduk bumi dan 12,3% yakni sekitar 30 juta penduduk Indonesia. Angka tersebut menempatkan Indonesia pada urutan kelima pengguna aktif internet di Asia. “Semoga jumlah ini dapat menjadi peluang lebih bagi UMM untuk melakukan publikasi,” harap Nasar.p_jam

Pembelajaran Bahasa Inggris Abad 21 American Corner (Amcor) UMM bekerja sama dengan Regional English Language Office (RELO) Jakarta mengadakan pelatihan internasional dengan tema “The ABCs of The 21st Century EFL Classroom” di Ruang Sidang Rektor (8/12). Mengundang pembicara Leslie Opp-Beckman dari Departemen Linguistik American English Institute, University of Oregon, acara tersebut diikuti sekitar 50 peserta dari guru-guru Bahasa Inggris SMA/SMK, SMP, dan SD seMalang Raya, serta dosen-dosen dari Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris dan Language Center UMM. Dalammaterinya,Lesliemenekankanbahwa fokuspembelajaranBahasaInggrisdikelasharusup todatedenganmenggunakankunciTheABSs. The ABCs yang dimaksud dalam pembelajaran Bahasa Inggris abad 21 tersebut adalah Ability to Both Collaborate and lead with Communicative Language Teaching and Critical Thinking/Problem Solving (kemampuan untuk memadukan dan membimbing melalui pengajaran bahasa yang komunikatif serta

Workshop: Leslie OppBeckman meminta salah satu peserta workshop menjelaskan hasil gambarnya. Suri/Bestari

berpikir kritis/pemecahan masalah. Red). Selain itu, ia juga menyampaikan, contoh pembelajaran yang up to date antara lain critical thinking and problem solving (berpikir kritis dan memecahkan masalah. red), selfdirected learning (pembelajaran mandiri. red), dan building online communities of practice (membangun komunitas online. red). Ia juga menyampaikan, penggunaan media online seperti email, facebook maupun blog merupakan bagian dari e-learning yang merupakan salah satu metode pembelajaran modern.

5

Seminar Akhir Hasil Penelitian Mahasiswa ACICIS UMM

Menurut Direktur American Corner UMM Masduki, tujuan diadakannya workshop itu adalah sebagai pembekalan bagi para dosen dan guru tentang perkembangan proses pembelajaran Bahasa Inggris yang up to date. “Ini juga terkait dengan rencana pemerintah untuk mendirikan Sekolah Berstandar Internasional, sehingga para guru bisa lebih siap serta mendapat pembekalan dengan adanya workshop seperti ini,” terang pria yang juga mengajar di Jurusan Bahasa Inggris itu.p_idr

Setelah sebelumnya melakukan penelitian di beberapa daerah di Jawa Timur, empat mahasiswa program Australian Consortium for In-Country Indonesian Studies (ACICIS) Program East Java Field Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM, Zainul Danny Arifien Fairhead, Brooke Nolan, Angharad Lodwick, dan Jessica Ann Rae melaporkan hasil penelitiannya di Ruang Sidang Pembantu Rektor I UMM (8/12). Danny, mahasiswa Jurusan Studi Asia Tenggara, Universitas Murdoch Australia itu meneliti masalah multikuluturalisme dan ekonomi masyarakat di Kalimas, Surabaya. Menurutnya, keragaman budaya yang luas pada kota besar yang menempati posisi kedua di Indonesia tersebut adalah aspek yang menarik dalam sejarah Indonesia. Kalimas pernah dianggap sebagai pelabuhan terbesar di Asia Tenggara pada abad ke-19. Dalam laporannya, Danny menemukan bahwa perekonomian telah memainkan peran besar dalam pembentukan multikulturalisme dan dampak pengaruhnya.

“Kalimas mempunyai keeratan hubungan sejarah panjang yang kuat dalam kehidupan rakyat Surabaya. Kalimas juga ikut membangun kehidupan multikultur di Surabaya,” ujar Danny dalam seminar akhir hasil penelitiannya itu. Sementara itu, tiga mahasiswa ACICIS lainnya, yakni Brooke Nolan melaporkan penelitiannya tentang Kehidupan Nelayan di Sendang Biru, Lodwick meneliti tentang Budaya Tato di Jawa Timur, dan Ann Rae melaporkan penelitiannya di Taman Nasional Meru Betiri dengan tajuk Reduce Emission from Deforestation and Forest Degradation. Menurut Koordinator Program ACICIS UMM M. Mas’ud Said, program ACICIS merupakan bentuk hubungan baik Indonesia dan Australia yang dimulai sejak September 1995 lalu. “Kehadiran mahasiswa Australia yang melakukan studi dan penelitian di Indonesia memberikan kekayaan intelektual bagi Indonesia dari perspektif luar," kata dosen Jurusan Ilmu Pemerintahan UMM tersebut.m_ros

Ciptakan Model Pengelolaan RTHP

Dalam rangka melaporkan hasil penelitiannya yang berjudul “Model Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Publik Berbasis Demokratisasi Sebagai Upaya Mewujudkan Kota Berkelanjutan di Malang”, Dosen Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM Tri Sulistyaningsih mempresentasikan hasil penelitiannya di Laboratorium Ilmu Pemerintahan UMM (10/11). Penelitian tersebut mendapatkan dana hibah bersaing dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti). Menurut Tri, penelitian yang dilakukan sejak tahun 2009 itu bertujuan menemukan model pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Publik (RTHP) untuk mewujudkan kota yang berkelanjutan. “Kota yang berkelanjutan adalah kota yang sesuai menurut ukuran secara ekonomi, sosial, dan lingkungan, yang salah satunya adalah RTHP,” tambah perempuan berjilbab itu. Dari hasil penelitian tersebut, secara tidak langsung Tri telah berkontribusi

kepada pemerintah Kota Malang dengan memberikan masukan tentang model pengelolaan RTHP berbasis demokratisasi para aktor, yang artinya melibatkan masyarakat, pemerintah, dan swasta dalam proses pembangunan. “Tahap pertama yang harus dibangun adalah menyatukan paradigma aktor (masyarakat, pemerintah, dan swasta.red) untuk berpihak pada pembangunan kota yang berkelanjutan,” ungkap Tri. “Selain itu, saya berharap Kota Malang ke depannya bisa menjadi kota yang sesuai dengan Tribina Cita (Kota Malang sebagai Kota Pendidikan, Pariwisata dan Industri. Red),” terangnya Tri. Diskusi yang dihadiri oleh Ketua Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan (PSLK) Wahyu Prihanta tersebut menghasilkan beberapa kesimpulan, diantaranya diperlukannya komitmen dari seluruh stakeholder dan paradigma yang sama dalam mengelola RTHP, serta harus terbangun hubungan yang egaliter antar aktor.m_mam

Temukan Model Pengelolaan RTHP yang Demokratis

Dalam rangka melaporkan hasil penelitian berjudul “Model Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau Publik (RTHP) Berbasis Demokratisasi Sebagai Upaya Mewujudkan Kota Berkelanjutan di Malang”, Dosen Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM Tri Sulistyaningsih mempresentasikan hasil penelitiannya di Laboratorium Ilmu Pemerintahan UMM (10/11). Penelitian tersebut mendapatkan dana hibah bersaing dari Direktorat Jenderal Pendidikan

Tinggi (Dikti). Menurut Tri, penelitian ini bertujuan menemukan model pengelolaan RTHP untuk mewujudkan kota yang berkelanjutan. “Kota yang berkelanjutan adalah kota yang sesuai menurut ukuran secara ekonomi, sosial, dan lingkungan, yang salah satunya adalah RTHP,” tambah perempuan berjilbab itu. Di akhir Tri menjelaskan, penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa diperlukan komitmen dan paradigma yang sama dari seluruh stakeholder dalam mengelola RTHP m_mam

Banyak Tempat, Banyak Ilmu Dalam rangka memenuhi Mata Kuliah (MK) wajib dan sebagai syarat kelulusan, sebanyak 165 mahasiswa Fakultas Hukum (FH) UMM angkatan 2007 mengikuti kegiatan studi klinis selama empat hari (21-24/11) di Jakarta. Kegiatan yang didampingi langsung oleh Pembantu Dekan I FH Catur Wido Haruni itu mengunjungi empat tempat, yakni Mahkamah Agung (MA), Mahkamah Konstitusi (MK), Komisi Yudisial, dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Catur Wido Haruni memaparkan, tujuan dari studi klinis adalah untuk memberikan pemahaman bagaimana kinerja lembaga-lembaga hukum di Indonesia secara langsung. “Mahasiswa harus mendapatkan kuliah secara langsung di lokasi, tidak hanya teori di kelas saja,” kata wanita berjilbab itu. Keputusan rombongan untuk mengunjungi empat tempat yang

berbeda, bukan tanpa alasan. Hal ini dilakukan sebagai upaya mendapatkan keberagaman ilmu dari masing-masing tempat yang dituju. Contohnya ketika mengunjungi MA, tujuannya adalah mengetahui prosedur putusan hakim. Sementara kunjungan ke Komisi Yudisial tujuannya adalah untuk memahami bagaimana proses menjalankan kewenangan dan menciptakan peradilan yang baik, dan di Komnas HAM kunjungan rombongan inni bertujuan untuk mengetahui pengaduan masyarakat, kedudukan hukum, dan kasus-kasus HAM. Di akhir Catur berharap, studi klinis tersebut dapat menambah wawasan mahasiswa dan menjadi bekal di masa yang akan datang. “Mahasiswa dapat menarik dan mengambil sisi positif dari studi klinis ini, yang terpenting adalah manfaat untuk kedepannya,” tegasnya.p_ngs


BESTARI 6 Workshop Nasional Produksi Televisi

SUARA KAMPUS

No. 269/TH.XXIII/Desember/2010

FISIP Gandeng Sutradara Nasional Sebagai upaya meningkatkan kualitas mahasiswanya di bidang produksi televisi, Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM mengadakan Workshop Nasional Produksi Televisi di Aula BAU (2628/11). Acara yang dihadiri oleh 210 peserta dari mahasiswa, guru, siswa SMK se-Malang Raya, dan masyarakat umum itu menghadirkan Ahmad Nawir Hamzah penulis sekaligus sutradara televisi nasional sebagai pemateri tunggal. Mengawali materi nya, Nawir sapaan akrabnya, me nyampaikan ke prihatinan nya ter hadap tayangan televisi saat ini yang lebih menitik beratkan nilai komersial. “Boleh jadi kereta pertelevisian kita ditumpangi oleh orang-orang yang salah jurusan, atau bahkan penumpang gelap yang tidak punya tiket. Karena itu, dengan workshop ini nantinya para peserta diharapkan dapat mengembalikan fungsi televisi,” terang Nawir. Selain itu, Nawir juga berpesan kepada peserta agar benarbenar memper timbangkan idenya

suri / Bestari

Sampaikan Pesan: Media telivisi harus bisa menghibur dan mendidik.

sebelum mem buat program acara agar dapat meng hasilkan program yang berkualitas. “Jangan mulai memproduksi jika Anda belum mem punyai gagasan,” kata pria kelahiran Makasar itu. Selama tiga hari, para peserta mendapat materi pengenalan program televisi, praktik produksi, editing, pemutaran hasil praktik produksi, serta evaluasi sebagai akhir rangkaian acara. Ketua pelaksana M. Himawan Sutanto mengatakan, acara workshop itu merupakan agenda

deden/ Bestari

rutin Jurusan Ilmu Komunikasi UMM. Ia mengharapkan workshop tersebut dapat membuka pikiran para peserta tentang dunia pertelevisian di dalam maupun luar negeri. “Peserta juga diharapkan dapat memperoleh pengetahuan konseptual serta bersikap kritis dalam membuat program televisi, mengingat banyaknya program televisi yang materinya justru berisi pembodohan yang tidak sehat dan tidak realistis,” jelas pria yang akrab dipanggil Him itu. p_idr

Tingkatkan Kualitas Penulisan, Agar Jurnal Tidak Asal-asalan Bertempat di Hall UMM Inn, Jurnal Publica Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM mengadakan seminar penulisan yang diikuti 30 dosen perwakilan dari 13 universitas se-Malang Raya (21/10). Seminar yang merupakan program dari Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti) itu menghadirkan dua pembicara, yakni Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Harun Joko Prayitno dan dosen Unesa Myrtati Dyah Artarita. Dalam materinya, Harun membahas gaya bahasa dan teknis penulisan jurnal ilmiah. Menurutnya, masih banyak dosen-

Untaian Kata dari Balik Penjara

dosen yang belum bisa membedakan antara menulis jurnal dengan makalah. “Seringkali dosen menulis jurnal seperti menulis makalah biasa. Padahal antara jurnal dan makalah itu sangat berbeda dari segi penulisannya,” urai Harun. Pada materi kedua, Myrtati berbicara tentang manajemen pengelolaan jurnal terakreditasi. Myranti mengungkapkan, para pengelola masih belum paham dalam hal manajemen jurnal. “Dengan adanya seminar ini, para penyunting bisa lebih meningkatkan kinerjanya, sehingga dapat meningkatkan atau menjaga mutu jurnalnya menurut rambu-rambu akreditasi Direktorat Jenderal Pendidikan

Tinggi (Ditjen Dikti) yang berlaku,” ujarnya. “Semakin banyak jurnal yang terakreditasi akan semakin meningkatkan kualitas penulis dan juga membawa nama baik universitasnya. Menurut ketua pelaksana Arief Hidayatullah, acara tersebut bertujuan meningkatkan kualitas penulisan jurnal dosen sesuai standar mutu dan tata kelola nasional. “Dengan diadakannya acara ini diharapakan para dosen tidak lagi menulis jurnal secara asal-asalan,” tuturnya. Ia menambahkan, semakin banyak dosen yang menulis jurnal sesuai mutu dan standardisasi, maka nilai akreditasi dosen dan kampus akan meningkat. p_yan

Dialog: Salah satu penulis buku Dibalik Teralis Besi sedang berdialog dengan para mahasiswa dan para penghuni Rutan Lowokwaru.

Sebagai bentuk pengabdian terhadap masyarakat, salah satu dosen Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial (Kesos) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM Sugeng Pujileksono menggelar diskusi dan bedah buku berjudul “Suara Hati dari Balik Terali Besi” (16/12). Bertempat di Aula Rumah Sakit Lembaga Pemasyarakatan (LP) Lowokwaru, acara ini dihadiri oleh Ketua Jurusan Ilmu Kesos Juli Astutik, Kepala LP Lowokwaru Wibowo Joko Harjono, serta puluhan mahasiswa Jurusan Ilmu Kesos dan warga binaan LP Lowokwaru. Buku setebal 356 halaman itu ditulis oleh 14 warga binaan LP Lowokwaru dan satu petugas sipir di LP Lowokwaru. Buku ini berisi curahan hati penulis selama berada di penjara, puisi cinta, surat untuk presiden, surat untuk keluarga, dan juga kumpulan tulisan humor. Sebelumnya, ke 15 penulis tersebut telah dibina dan dibimbing oleh Sugeng Pujileksono tentang bagaimana cara menulis. “Teman-teman ini (penulis. red) sempat pesimis apakah tulisannya bisa dijadikan buku dan diterbitkan. Tapi akhirnya sekarang terbit juga. Bahkan, ada angkatan ke-2 yang akan menyusul untuk menerbitkan buku,” kata Sugeng sapaan akrabnya. Salah satu penulis, Agung Darmawan

mengungkapkan, ia mendapatkan inspirasi menulis dari pengalamanpengalaman yang dialami di dalam LP. Pria asal Jakarta itu menuturkan, meskipun dirinya terkungkung di dalam penjara namun ia tak ingin kreativitasnya ikut terpenjara. “Meskipun berada di dalam penjara, tapi menulis harus tetap bisa. Menulis itu tidak ada batasan, di manapun dan kapanpun,” ungkap pria yang masuk penjara karena kasus perampokan itu. Kepala LP Lowokwaru Wibowo Joko Harjono membenarkan perkataan Agung. “Ide seseorang tidak bisa dibatasi. Meskipun sebenarnya ada teman-teman (petugas sipir. red) yang sempat menanyakan kenapa tulisannya begini. Saya menjawab, inilah kenyataan, jadi tidak bisa dibatasi,” ucap pria asal Yogyakarta itu disambut tepuk tangan peserta bedah buku. Suparman, salah satu penulis buku berharap, teman-teman di dalam LP Lowokwaru tetap bisa berkarya dalam kondisi apapun dan sesempit apapun. “Saya harap LP Lowokwaru ini menghasilkan orang yang kreatif,” ucap Suparman. “Dengan demikian saya harap orang-orang di luar sana tidak memandang sebelah mata pada kami,” tambah Agung Darmawan, salah satu penulis lainnya.m_ros

Desain Ulang Laboratorium IP

Peringatan Bulan Bahasa

FesƟval Puisi, Wadah Pengembangan Ilmu Sastra Kompetisi membaca puisi merupakan sarana yang tepat untuk mengeksplorasi bakat anak agar terbentuk sumber daya manusia yang unggul. Hal itu diungkapkan Walikota Malang Peni Suparto dalam sambutannya yang dibacakan oleh Sekretaris Umum Pemerintah Kota Malang Sugiharto dalam acara Festival Puisi SMA/SMK se-Malang Raya di Aula BAU UMM (21/12). Menurut Peni, membaca puisi juga dapat dijadikan kegiatan yang penting di sekolah. “Baca puisi dapat dijadikan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah karena anak-anak punya bakat dan talenta yang tak bisa dianggap remeh,” ujar Sugiharto saat membacakan sambutan Peni. Acara yang diikuti 32 peserta itu diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (HMJ) Bahtera Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dalam rangka memperingati Bulan Bahasa. Ketua Pelaksana Nuvanggit Riansyahzudhitya mengatakan, acara tersebut sebagai wadah bagi pelajar se-Malang Raya untuk menguji kemampuan mereka dalam membaca

Peserta: Muh. Ilham salah satu peserta dari SMU Al-Hidayah, membacakan puisi berjudul "padamu jua."

deden/ Bestari

Pengembangan Laboratorium: Jurusan Ilmu Pemerintahan mengadakan lokakarya dalam rangka pengembangan Laboratorium.

suri / Bestari

i l iinii jjuga puisi. Selain iitu, ffestival bertujuan mengembangkan ilmu sastra di kalangan remaja. Salah satu juri, Tutik Kusniarti menyebutkan, penilaian lomba mencakup beberapa hal, yakni intonasi, vokal, penghayatan dan penafsiran dari puisi yang dibacakan. “Peserta diharapkan menghayati isi puisi tersebut, sehingga dapat membuat pendengar ikut terbawa suasana yang digambarkan dalam puisi,” papar Tutik yang juga dosen UMM itu. Nur Chozimah, salah satu peserta dari SMK Muhammadiyah

d llegii menyatakan, k d 7 G Gondang dengan mengikuti lomba tersebut dirinya merasa semakin mencintai bahasa Indonesia. “Saya bisa mengungkapkan rasa nasionalisme saya melalui puisi,” ujar siswi kelas X Jurusan Perbankan itu. Total hadiah yang diberikan dalam festival itu sebesar 1,5 juta dan trofi. Selain itu, menurut ketua pelaksana, pemenang berkesempatan mendapatkan beasiswa dari UMM. Beasiswa berupa biaya masuk gratis bagi siswa yang mendaftar di Jurusan Bahasa Indonesia FKIP UMM.p_fjr

“Reorientasi Peran dan Fungsi Serta Kedudukan Laboratorium Ilmu Pemerintahan dalam Rangka Pengembangan Laboratorim Ilmu Pemerintahan” menjadi tema dalam Lokakarya Penguatan Kapasitas Laboratorium Ilmu Pemerintahan di UMM Inn (11/12). Acara ini menghadirkan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Malang Rudianto sebagai keynote speaker. Rudianto menyampaikan, Laboratorium Ilmu Pemerintahan (IP) harus mempunyai warna beda, karena laboratorium IP berperan sebagai pusat kajian yang harus memiliki komponen riset dan development (R&D), pemberdayaan, diklat, serta dokumentasi dan publikasi. “Pokok bahasannya meliputi scope of work (ruang lingkup kegiatan. Red), scope of areas (ruang lingkup area. Red), integrasi scope of work and scope of areas, serta rencana tindak lanjut dalam mewujudkan komponen laboratorium

itu,” jelasnya. Menanggapi perkataan Rudianto, Kepala Jurusan IP Tri Sulistyaningsih mengungkapkan, laboratorium IP memang sudah waktunya untuk dibenahi. “Kita perlu redesign (desain ulang. Red) laboratorium, baik secara internal dan eksternal,” paparnya. Wanita asal Pekalongan itu berharap agar laboratorium kelak menjadi pusat pengajaran dan kajian keilmuan, penelitian dan penyelenggara penelitian, publikasi serta pusat pengabdian. “Laboratorium bisa menjadi penyedia informasi dan sekaligus menjadi solusi untuk pemerintah daerah dan masyarakat,” tegasnya. Krishno Hadi, Kepala Laboratorium IP mengungkapkan bahwa rencana pengembangan laboratorium IP itu mendapat dukungan dari Program Hibah Kompetensi Institusi (PHKI), terutama dalam pengembangan perangkat lunak laboratorium.p_ngs


BESTARI No. 269/TH.XXIII/Desember/2010

SUARA KAMPUS

DP2M UMM Jalin Kerjasama dengan Industri dan Pemda

Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M) UMM mengadakan sosialisasi program Hi-Link DP2M Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) 2010, Rabu (27/10), dengan menghadirkan pembicara Kepala Divisi Publikasi, Jurnal dan Dokumentasi DP2M UMM Indah Prihartini. Acara yang berlangsung di Ruang Sidang Rektor tersebut dihadiri oleh beberapa dosen UMM dari berbagai disiplin ilmu. Program Hi-Link yang telah berlangsung sejak 2006 tersebut merupakan bentuk kerjasama antara perguruan tinggi dengan industri dan Pemerintah Daerah (Pemda).

Kerjasama tersebut berupa penerapan teknologi temuan perguruan tinggi hasil penelitian dosen pada industri mitra yang biayanya ditanggung Pemda. “Tujuan inti dari program ini adalah untuk penguatan kelembagaan perguruan tinggi, peningkatan kinerja industri, serta pemberdayaan masyarakat di suatu wilayah tertentu,” terang Indah. Lebih lanjut Indah ini menjelaskan, melalui program Hi-Link sudah banyak kerjasama yang telah dilakukan oleh UMM di bidang industri. “Contoh kerjasama yang sudah dilaksanakan oleh UMM adalah pengelolaan sampah di Kabupaten Malang, yang bekerjasama

dengan pemkab, pemerintah Belanda, juga dari pihak industri. Selain itu, UMM juga telah menggandeng beberapa industri untuk memproduksi hasil-hasil penelitian para dosen,” jelas Indah. Di akhir dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) UMM berharap, kerjasama yang telah terjalin bisa memberikan dampak positif bagi semua pihak secara berkelanjutan. “Kerjasama yang terjalin antara industri, perguruan tinggi dan pemda ini diharapkan dapat mengembangkan kelembagaan baik formal maupun non-formal secara berkelanjutan. Jadi, tidak berhenti saat program itu selesai, tetapi ada tindak lanjutnya,”pungkasnya.p_idr

Latihan Manajemen Lembaga Intra Fakultas Ekonomi UMM

AkƟvis adalah Inspirator Masyarakat “Aktivis adalah seorang inspirator. Mereka harus mampu menginspirasi hal-hal yang sederhana menjadi sesuatu yang berguna bagi masyarakat sekitarnya,” demikian diungkapkan Dekan Fakultas Ekonomi (FE) Nazarudin Malik dalam acara Latihan Manajemen Lembaga Intra FE UMM di Laboratorium Manajemen UMM (18/12). Acara tersebut diikuti oleh puluhan aktivis dan fungsionaris lembaga intra di lingkungan FE UMM, seperti Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMFA), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), dan Lembaga Semi Otonom (LSO). Nazarudin menuturkan, para aktivis diharapkan mempunyai keterampilan berbahasa yang baik dan efektif. “Kebanggaan warga FE adalah tidak hanya sekedar ngomong, tetapi juga bisa me-manage, dan menjalankan sebuah tanggung jawab dengan baik,” paparnya. Sementara itu, pemateri kedua Sandra Irawati menjelaskan tentang penentuan visi, misi, dan tujuan lembaga intra tersebut. Menurutnya,

Mantapkan Visi dan Misi: Para peserta pelatihan lembaga intra serius mengikuti materi yang diberikan. deden/ Bestari

syarat organisasi i i yang b baik ik adalah d l h bisa mengkomunikasikan visinya kepada semua anggotanya. Sandra menambahkan, visi merupakan angan-angan masa depan yang dikehendaki oleh organisasi dan sebagai pedoman organisasi untuk mencapai tujuan. Oleh karenanya, pengembangan visi dan misi tersebut harus memiliki kompetensi yang baik dengan kadar keislaman dan kemuhammadiyahan serta sosial budaya. Selain itu, sebuah organisasi diharapkan dapat membuat perencanaan yang baik dalam

penyusunan program k kerja j organisasi. i i “Organisasi harus bisa memilih prioritas program kerja,” papar dosen yang juga menjabat sebagai Pembantu Dekan I FE UMM itu. Ketua Pelaksana Kegiatan Rafis Muhatir menyatakan, dengan adanya pelatihan tersebut diharapkan peserta mampu memahaminya dan bisa mempraktikkannya. “Materi pelatihan yang menyangkut penentuan visi dan misi hingga pengelolaan aset dan keuangan organisasi itu diharapkan bisa dipahami dan dipraktikkan oleh peserta,” papar mahasiswa Jurusan Akuntansi tersebutp_fjr

Ciptakan Budaya Menulis di FISIP Bertempat di Aula GKB III UMM, lebih dari 300 mahasiswa baru (maba) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM mengikuti seminar bertemakan “Kompetisi Penalaran dan Penulisan” (27/11). Acara yang merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan Student Day FISIP tersebut bertujuan untuk menciptakan budaya menulis pada mahasiswa. Dosen Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Tri Sulistyaningsih yang hadir sebagai pembicara menyampaikan materi tentang penulisan karya ilmiah. Mengawali materinya, Tri sapaan akrabnya menyebutkan, ada tiga hal penting yang harus dimiliki mahasiswa. “Mahasiswa harus memiliki kemam-

puan untuk mendeskripsikan lingkungan sekitar, mampu menganalisa, misalnya menganalisa keadaan di Indonesia, dan yang terakhir adalah mampu berorganisasi,” jelasnya. Lebih lanjut, mengenai penulisan karya ilmiah, Tri menjelaskan, untuk membuat karya tulis ilmiah yang baik harus dibarengi juga dengan judul yang baik. “Judul untuk karya ilmiah haruslah judul yang menarik dan judul yang dapat mencerminkan karyanya,” ungkapnya. Selain itu, wanita berjilbab itu berharap agar mahasiswa tidak mudah menyerah dalam menulis. “Mahasiswa tidak boleh menyerah, baik tulisannya diterima atau pun tidak, karena proses

harus tetap berjalan,” pungkasnya. Acara ditutup dengan penyerahan penghargaan kepada para pemenang lomba karya tulis ilmiah yang diadakan sepekan sebelumnya. Sebagai juri, Nurudin mengungkapkan, ada beberapa kriteria penilaian lomba karya tulis ilmiah tersebut, antara lain adalah format makalah, kreativitas gagasan, tata bahasa yang benar, kesesuaian judul dengan tema, dan saran yang diberikan kepada pembaca. “Jangan biasakan malas! Sekali kita malas, maka malas itu akan menjadi kebiasaan,” pesan Nurudin yang juga menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi Koran Bestari kepada para pemenang dan peserta seminar.p_emy

Pemantapan Satuan Tugas (Satgas) BNK Malang

UMM Kampus Bebas Narkoba

Peredaran Narkotika (narkoba dan psikotropika) di kalangan mahasiswa Kota Malang cukup mengkhawatirkan. Namun, UMM dinilai berhasil melakukan pencegahan peredaran narkoba di kalangan mahasiswa dengan baik. Atas prestasi tersebut, pada tahun 2011 nanti UMM akan diusulkan sebagai kampus bebas Narkoba. Hal itu diungkapkan Ketua Pelaksana Harian Badan Narkotika Kota (BNK) Malang Bambang Andjar Supeno dalam acara Pemantapan Satuan Tugas (Satgas) BNK Malang di Aula BAU UMM (30/11). “Melihat kesuksesan tersebut, tidak menutup kemungkinan tahun depan kami akan mengusulkan UMM sebagai kampus bebas Narkoba,” ungkapnya. Menanggapi hal itu, Rektor UMM Muhadjir Effendy menyatakan bahwa

prestasi tersebut merupakan hasil dari penerapan peraturan yang tegas dan mengikat bagi mahasiswa, karyawan maupun dosen UMM. “Kami tidak segan-segan memecat mahasiswa atau dosen kami yang terbukti terlibat,” ujar Muhadjir. Muhadjir menambahkan, pencegahan juga dilakukan dengan memberikan pembekalan sejak dini kepada mahasiswa, kayawan maupun dosen. Salah satunya adalah pembekalan pengetahuan agama bagi mahasiswa baru melalui Program Pembentukan Kepribadian dan Kepemimpinan (P2KK). Kepala Satuan Reserse Khusus Narkoba Polresta Malang Sunardi Riyono mengungkapkan, selama tahun 2010 BNK Malang berhasil mengungkap 105 kasus dengan jumlah tersangka 115

orang. Jumlah barang bukti yang telah diamankan berupa sabu-sabu 559 gram, 9 kilogram ganja, 50 butir ekstasi dan 4383 butir obat keras berbahaya lainnya. Sunardi menambahkan, acara tersebut bertujuan membangun kedisiplinan dan kekompakan diantara para Satgas BNK Malang. Satgas terdiri dari berbagai lembaga pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan sepuluh universitas di Kota Malang. Sindikat Narkoba, lanjut Sunardi, merupakan jaringan yang memakai sistem yang sulit terdeteksi dan erat hubunganya dengan kejahatan pencucian uang (money laundry). “Oleh karena itu, kami mengharapkan kerjasama dari para Satgas. Supaya angka peredaran dan kejahatanya dapat ditekan seminimal mungkin,” ujarnya.p_fjr

Seminar Imu Pemerintahan

7

Birokrasi Indonesia Terburuk Kedua di Asia

Berangkat dari kekhawatiran birokrasi Indonesia yang masih buruk, Jurusan Ilmu Pemerintahan (IP) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) mengadakan seminar bertemakan “Reformasi Administrasi Pemerintahan” (20 /11). Acara yang dihadiri puluhan mahasiswa Jurusan IP tersebut digelar di UMM Inn dengan menghadirkan beberapa pembicara yang kompeten di bidangnya, antara lain Kepala Lembaga Administrasi Negara Asmawi Rewansyah, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Malang Syailendra, dan Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan Tri Sulistyaningsih. Menurut Rewansyah, dari data lembaga survei Political and Economic Risk Consultancy (PERC), Singapura dan Hongkong memiliki birokrasi paling efisien di Asia. Sementara birokrasi paling buruk ditempati Indonesia di posisi kedua setelah India. Rewansyah mengungkapkan, pemerintah di masa depan harus memiliki sistem manajemen yang responsif sesuai dengan tugasnya jika tidak ingin dianggap memiliki birokrasi buruk. Oleh karena itu, pemerintah harus meninggalkan pola lama dalam bekerja.

Perlu pengembangan dalam tiga bidang yaitu struktur pemerintahan, manajemen pemerintahan, dan pengembangan aparatur. “Pengembangan aparatur pemerintahan membutuhkan pendekatan terpadu dan butuh waktu lama, karena kompleksnya faktor yang melatarbelakanginya, baik dari segi nilai kualifikasi maupun lingkungannya,” jelasnya. Sementara itu, Syailendra menjelaskan, carut marutnya berbagai persoalan yang ada dalam sistem birokrasi Indonesia bisa disikapi dengan reformasi sistem birokrasi. Reformasi itu dapat diwujudkan dengan perubahan dari sistem birokrasi patrimonium (warisan dari ayah. Red) menuju sistem birokrasi yang rasional. “Sebab birokrasi rasional merupakan unsur pokok dalam rasionalisasi dunia modern,” tutur pria paruh baya tersebut. Lebih lanjut, Tri Sulistyaningsih mengungkapkan, perencanaan pembangunan daerah harus melibatakan semua unsur, baik pemerintah, masyarakat, dan swasta. Selain itu, juga banyak hal tentang birokrasi di Indonesia yang perlu dibenahi, mulai dari struktur pemerintahan sampai pada pelayanan masyarakat.p_zar

FE Rebut Dua Juara di KompeƟsi Futsal Kesungguhan tim futsal Fakultas Ekonomi (FE) UMM untuk lanjut ke babak semifinal dalam Kompetisi Futsal antar SMA dan Mahasiswa se-Malang Raya ternyata tidak main-main. Hal itu dibuktikan oleh tim berjuluk The Java tersebut dengan keberhasilannya merebut juara II dalam laga yang berlangsung di Lapangan Universitas Negeri Malang (UM) (01/11). Pada pertandingan sebelumnya, tim yang dimanajeri oleh Faturahman tersebut berhasil mengalahkan timtim dengan jam terbang tinggi di Kota Malang, seperti Persatuan Sepak Bola Metro dan tim Jurusan Olahraga UM. Dalam final, The Java dikalahkan oleh tim dari Fakultas Teknik UM dengan skor 3-2. “Dari 16 poin yang berhasil kami kumpulkan, gol paling banyak diciptakan oleh Septian Wahyu Wibowo,” urai Faturahman. Ia mengaku, kunci kemenangan tim FE terletak pada kekompakan tim dan skill masing-masing pemain. “Kami terus berusaha untuk menyatukan motivasi dan kekompakan karena itu adalah kunci kemenangan. Bukan hanya itu,

skill masing-masing pemain juga menjadi penentu kemenangan ini,” tambah mahasiswa Jurusan Manajemen tersebut saat diwawancarai. Tak mudah puas mengukir prestasi, selang seminggu setelah merebut juara II pada kompetisi tersebut, tim FE UMM kembali menunjukkan taringnya dengan merebut juara I pada laga Futsal Caesar Cup. Kompetisi yang diikuti sekitar 20 tim se-Malang Raya tersebut bertempat di Lapangan Futsal Dinoyo. Dalam pertandingan yang sengit, tim FE UMM mampu mengalahkan tim dari Universitas Merdeka Malang (Unmer) di semifinal dengan skor 6-5. Sementara pada babak final, The Java membabat habis tim Milanesti Kota Malang dengan skor7-5 yang akhirnya membawa The Java keluar sebagai juara pertama. Selain menjadi juara I, salah satu pemain The Java, Raditya Febrian juga menorehkan prestasi tambahan bagi timnya dengan menjadi top scorer (pencetak gol terbanyak. red). Atas kemenangannya dalam Futsal Caesar Cup, The Java mendapatkan hadiah berupa uang tunai sebesar 1,5 juta beserta tropi.p_zar

Cendikia diki Rekrutmen k Dasar ((Cerdas) d ) - FKIP

Bentuk Cendekiawan Muda, Dampingi “Aktor Utama” Bertempat di Aula Lantai II Masjid A.R. Fachruddin (24/10), Lembaga Semi Otonom (LSO) “Cendikia” Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) mengadakan Cendikia Rekrutmen Dasar (Cerdas). Dalam sambutannya, Pembantu Dekan (PD) III FKIP Nur Widodo mengatakan bahwa saat ini FKIP adalah aktor utama dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) UMM. “Sejak tahun 2006, FKIP tidak pernah absen mewakili universitas di ajang Pimnas (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional. red),” ujarnya. Nur pun berharap keberadaan Cendikia sebagai LSO yang berorientasi pada penalaran dapat mendampingi mahasiswa FKIP dalam mempertajam kemampuan analisisnya. Mengangkat tema “Optimalisasi Peran Insan Akademik dalam Upaya Mewujudkan Cendikiawan Muda yang Berkualitas dan Berprestasi”, kegiatan

tersebut menghadirkan tiga pembicara, yakni trainer dari Academic Motivation Training, Assofro Abiri serta dua dosen Biologi FKIP, Lise Chamsijatin dan Husamah. Mengawali materinya, Assofro Abiri memberikan motivasi kepada peserta tentang kiat mencapai prestasi. “Untuk mencapai prestasi harus berawal dari motivasi. Motivasi menjadi ruh penggerak dalam perjalanan meraih prestasi. Tanpa adanya motivasi, maka yang diharapkan akan sulit tercapai,” ujarnya. Berbeda dengan Assofro, Lise menjelaskan mengenai fungsi guru dalam membentuk karakter bangsa “Pembentukan karakter bangsa dimulai dari keluarga kemudian sekolah. Di sekolah, gurulah yang membentuk karakter siswa,” ungkapnya. Selanjutnya, Husamah menyuguhkan kiat-kiat How To Be a Competitive Person in Globalization. p_jam


8 BESTARI Wisuda Periode IV Tahun 2010

SUARA KAMPUS

No. 269/TH.XXIII/Desember/2010

Upgrading Bestari Tahun 2010

Wisudawan UMM Diharapkan “Chef dadakan dadakan” ” di Bisa Ciptakan Lapangan Kerja Upgrading Bestari

Setelah menempuh kuliah selama kurang lebih empat tahun, 879 mahasiswa UMM program Diploma 3 (D-3), Strata 1 (S-1), dan Strata 2 (S-2) dari berbagai jurusan melaksanakan prosesi wisuda di Hall UMM Dome (27/11). Prosesi wisuda kali ini dihadiri Ketua Badan Pelaksana Harian (BPH) UMM Abdul Malik Fadjar, Sekretaris Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Nizam, dan Majelis Dikti Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Mursidi. Rosita Agus Tining Tyas menjadi wisudawan terbaik jenjang S-1pada wisuda periode IV tahun 2010 ini. Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan itu lulus dengan IPK 3,80. Sementara wisudawan terbaik program D3 diraih oleh Meona Yestiani dari Prodi Keuangan dan Perbankan Fakultas Ekonomi dengan IPK 3,19 dan program S-2 diraih Lestari Aji dari Magister Agribisnis dengan IPK 3,85. Nizam, dalam orasi ilmiahnya menuturkan, saat ini masih banyak sarjana-sarjana di Indonesia yang menganggur. “Hal itu dikarenakan 83 persen sarjana Indonesia lebih suka jadi pekerja dan jadi buruh, hanya 6 persen sarjana yang menciptakan lapangan pekerjaan,” kata Nizam. Nizam bahkan mengungkapkan, orang yang menciptakan lapangan pekerjaan didominasi oleh orang-

suri / Bestari

Oleh-oleh: Nizam(Kiri) saat menerima cinderamata dari Rektor UMM pada wisuda periode IV tahun 2010

orang yang tidak mengenyam bangku kuliah seperti orang yang tidak tamat SD. “Karena tidak memiliki pendidikan yang tinggi, orang-orang yang tidak lulus SD malah bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Berbeda dengan sarjana yang berlomba-lomba mencari pekerjaan setelah lulus,” kata Nizam. Lebih lanjut, Nizam menuturkan, untuk membangun bangsa yang kuat maka dibutuhkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berjiwa wirausaha. “Inilah pentingnya berwirausaha, karena dari situ lahir bangsa yang kuat dan utuh. Oleh karenanya, diharapkan wisudawan UMM bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri,” ucapnya.

Sementara itu, Rektor UMM Muhadjir Effendy berpesan, alumni UMM harus bisa menjaga diri dengan baik karena di belakangnya selalu melekat almamater UMM. “Kalau tampil dengan baik, maka akan dipercaya masyarakat secara langsung maupun tidak langsung,” pesan Muhadjir. Selain itu, Abdul Malik Fadjar yang juga Mantan Menteri Pendidikan era Megawati menuturkan, alumni UMM harus menatap masa depan dengan penuh optimisme. Selain itu, ia berharap wisudawan UMM bisa menjadi generasi penerus bangsa yang tangguh. “Bangsa yang diisi dengan generasi tangguh akan menjadi bangsa yang maju,” kata Malik.m_ros

Seminar dan Talk Show Nasional AIDS 2010

1545 Warga Malang PosiƟf AIDS

Indonesia menduduki peringkat ke-3 di dunia sebagai negara penderita Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Di Jakarta, free sex dan pengguna narkoba adalah penyumbang virus HIV AIDS terbanyak. Meski demikian, tak menutup kemungkinan ibu-ibu rumah tangga juga banyak yang mengidap. Tidak diketahuinya data yang jelas mengenai jumlah ibu-ibu yang menderita AIDS karena ibu-ibu rumah tangga jarang yang memeriksakan ke rumah sakit. Itulah ungkapan dr. Boyke Dian Nugraha dalam acara Seminar dan Talk Show Nasional AIDS 2010 bertema “Save Our Live and Generations” di Hall Dome UMM (12/12). Seminar yang diadakan oleh Fakultas Kedokteran UMM tersebut diadakan dalam rangka memperingati Hari AIDS ke-21 yang jatuh pada tanggal 1 Desember. Dokter Boyke demikian sapaan akrabnya menuturkan, penutupan lokalisasi oleh pemerintah bukan langkah efektif untuk memberantas penyakit AIDS yang belum ada obatnya sampai saat ini itu. “Menutup lokalisasi itu langkah yang tidak bijak, karena kita tidak akan bisa memantau lagi para pekerja seks itu,” terangnya bapak tiga anak itu. Menurutnya, solusi yang baik untuk menjaga generasi penerus bangsa adalah dengan pendidikan seks sejak dini. “Sebenarnya dari dulu saya sudah mengusulkan pada pemerintah agar memasukkan sex education dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, tapi banyak pihak-pihak yang tidak mendukung,” tegas pria asal Bandung itu. “Seks itu bagian dari hidup kita, jadi sudah tidak tabu

deden/ Bestari

Cegah HIV/AIDS: Boyke Dian Nugraha memberikan pengetahuan mengenai pencegahan HIV/AIDS kepada para peserta seminar.

lagi dibicarakan,” tambahnya. Selain itu, ia juga berpesan kepada para mahasiswa yang merupakan generasi muda Indonesia agar selalu menjaga diri dan tidak terjerumus dalam pergaulan bebas. “50% remaja di Jakarta itu sudah pernah free sex. Jadi, kalian para calon dokter dan generasi penerus bangsa jaga baikbaik kesucian kalian,” pesan Dokter Boyke. “Saya melihat UMM ini adalah contoh universitas yang modern dan berpikiran maju karena mau berperan dalam memerangi AIDS. UMM ini bisa mendapatkan penghargaan tentang penanggulangan AIDS,” kata pria yang juga bekerja sebagai konsultan seks di Jakarta itu. Selain Dokter Boyke, Djoni Djunaedi Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam UMM hadir sebagai pemateri dalam acara yang diikuti sekitar 1400 peserta itu. Djoni sapaan akrabnya mengungkapkan, tidak ada provinsi

di Indonesia yang steril dari AIDS. “Secara nasional 8,15 % atau kirakira 100 ribu penduduk Indonesia mengidap AIDS,” kata Djoni pria asal Mojokerto itu. Lebih lanjut, Djoni mengungkapkan, pada tahun 2009 Jawa Timur menduduki peringkat ke-2 sebagai provinsi penyumbang AIDS terbanyak di Indonesia. Sementara di lingkup Jawa Timur, Kota Malang menduduki peringkat ke-2 setelah Surabaya. “Ini prestasi buruk Kota Malang. AIDS masuk Malang pada tahun 1997, sampai tahun 2008 ada 770 penderita AIDS dan 2010 ada 1545 yang positif,” tegasnya. “Kenapa di Indonesia itu penderita AIDS terus meningkat? Hal itu dikarenakan education yang kurang. Kalau kasus narkoba di Singapura itu dihukum gantung tapi kalau di Indonesia kasusnya yang digantung,” ucap Djoni disambut tawa peserta.m_ros

Lomba Memasak: Kekompakkan tiap kelompok diuji dalam rasa dan kreasi masakan.

D

unia wartawan biasanya identik dengan kegiatan tulis menulis, namun siapa sangka 30 repor ter koran kampus Bestari justru dituntut mampu membuat masakan nusantara di ajang lomba memasak dalam Upgrading Bestari 2010 di Vila Gandrung Kota Batu(3-5/12). Menurut salah satu Redaksi Pelaksana Bestari Nur Alifah, lomba yang berlangsung di hari terakhir Upgrading itu bertujuan untuk menjalin kebersamaan antar reporter. “Lomba ini kelihatanya sepele, tapi jangan dipandang sebelah mata. Ini bisa menjadi lem yang mujarab untuk reporter. Hasilnya, ternyata reporter laki-laki bisa menjadi 'chef dadakan' dengan hasil masakan yang luar biasa,” ujar mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris tersebut. Tak hanya itu, seluruh peserta juga diwajibkan mengikuti serangkaian acara yang telah diagendakan panitia. Beberapa diantaranya adalah materi jurnalistik, praktik peliputan berita di lapangan, serta kegiatan ramah tamah “berupa api” unggun. Dalam sesi api unggun, seluruh reporter yang terbagi dalam 7 kelompok menampilkan berbagai performance dan sharing tentang pengalaman peserta selama menjadi reporter Bestari untuk lebih mengakrabkan diri. Senada dengan Nur Alifah, Wakil Pemimpin Redaksi Bestari Nurudin menuturkan tujuan utama dari kegiatan upgrading adalah menjalin keakraban, kebersamaan, dan kekompakan antar peserta. “Kalau kualitas tulisan kan bisa dipelajari sambil jalan, tapi keakraban dan kebersamaan ini yang paling penting. Karena hanya dalam situasi yang kondusif seorang

reporter dapat menghasilkan tulisan berita yang baik,” ujarnya. Nurudin juga berharap kepada seluruh reporter agar semakin meningkatkan kualitas tulisan dan tidak berhenti menjadi reporter Bestari sebelum lulus. Sementara itu pada sesi materi, Suharto Suleman mantan wartawan Jawa Pos, menyampaikan materi tentang teknik peliputan berita. Dosen Luar Biasa Jurusan Ilmu Komunikasi UMM tersebut mengungkapkan, sebelum melakukan wawancara wartawan harus mempersiapkan pertanyaan, mencari biografi narasumber, dan terakhir menentukan waktu dan tempat wawancara. Suharto juga memberikan tips kepada peserta bagaimana menghadapi narasumber yang minta off the record (tidak menyiarkan informasi yang dikatakan oleh narasumber. red). “Jika sumber meminta off the record maka kita harus menghormatinya. Solusi permasalahan seperti ini adalah mencari narasumber lain yang mengetahui tentang informasi tersebut dan mau on the record,” jelas pria lulusan Staffordshire University England Department Broadcast Journalism itu. Sedangkan untuk meningkatkan kemampuan peliputan berita, peserta ditugaskan meliput halhal yang berkaitan dengan Kota Batu seperti kebudayaan, kesenian, makanan khas, dan pertanian yang ditulis dalam bentu features. “Waktu yang diberikan mulai dari pencarian hingga penulisan berita hanya dua jam. Hal ini dilakukan agar mereka terbiasa dengan pekerjaan reporter yang selalu dikejar-kejar deadline,”pungkas Muhammad Rajab Ketua Pelaksana Upgrading Bestari tahun 2010. m_ros/p_fjr

Tingkatkan Kualitas Tulisan: Muharto saah berbagi pengalamannya menjelajai dunia jurnalistik.


BESTARI No. 269/TH.XXIII/Desember/2010

SKETSA

9

Haruskan Diri Untuk Semangat Berkarya dan Bekerja Pendiam tapi ramah adalah kesan pertama saat menemui pria yang dikukuhkan sebagai dosen berprestasi 2010 ini, seorang dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang saat ini menjabat sebagai Dekan FPP sejak tahun 2009. Tidak ada sedikit pun terlintas dalam pikiran dosen kelahiran 46 tahun yang lalu ini bisa mendapat kesempatan untuk berkiprah dan

berkarya di UMM. Pada tahun 1988, Damat telah mengejar nasib hidupnya dengan mengikuti ikatan dinas dari Dinas Pertanian, namun ternyata takdir berkata lain, ayah dua anak ini ternyata lebih cocok untuk mengembangkan diri dan kemampuannya di UMM. Tepat pada Oktober 1989, pria yang gemar melahap tempe dan ikan asin ini resmi menjadi bagian dari UMM. “Alhamdulillah mulai awal masuk UMM sampai sekarang saya selalu dan masih dipercaya untuk mengisi jabatan struktural,” tutur pria yang mengagumi mantan Nama : Dr. Ir. Damat, MP Menteri Pendidikan era TTL : Malang, 28 Februari 1964 Alamat : Jl. Sumberdarmi No. 264, Tlekung, Junrejo, Presiden Megawati ini. Tepat satu tahun Batu yang lalu, Damat yang baru menyelesaikan Riwayat pendidikan: • S1: IPB Bogor Jurusan Teknologi Industri Pertanian, studi doktornya di salah • S2: UGM Yogyakarta, PS Teknologi Hasil Perkebunan satu universitas negeri • S3: UGM Yogyakarta, PS Ilmu dan Teknologi Pangan di Yogyakarta ini di pilih untuk menduduki Prestasi yang pernah diraih: • Tahun 1998: Terbaik II Lomba Karya Tulis Desa Binaan kursi dekan kembali. sebelumnya Daerah Jawa Timur, dari Gubernur Kepala Daerah Tk. Setelah pada tahun 1998 I Jawa Timur. • Tahun 2004: Ketua TPS Terbaik Tingkat Kecamatan dirinya sudah pernah Junrejo, Kota Batu, dari Wali Kota Batu. mengalungi tanggung • Tahun 2008: Tanda Kehormatan ”SATYALENCANA jawab ini. Bahkan KARYA SATYA X TAHUN” dari Presiden Republik penyematan tanggung Indonesia. jawabnya sebagai dekan • Tahun 2010: Dosen Berprestasi, Universitas kembali ini terjadi tepat Muhammadiyah Malang ketika ada peleburan antara Fakultas Karya yang pernah dihasilkan: • Pada tahun 2007 terpilih usulan pendaftaran paten Pertanian (FP) dan program ”UBER HKI” dari DIKTI dengan judul: Fakultas Peternakan ”Pati-Garut Butirat, Proses Sintesis dan Penggunaannya dan Perikanan sebagai Ingredient Bahan Pangan yang Menyehatkan” (Fapetrik) menjadi saat ini sudah didaftarkan patennya di Departemen Fakultas Pertanian dan Kehakiman, dan telah mendapatkan Nomor Peternakan (FPP). Pendaftaran Paten: P00200700554. Langkah pertama

Biodata

yang dilakukannya adalah konsolidasi internal untuk mengembangkan FPP. “Saya membangun komunikasi dan menyamakan persepsi tentang visi misi fakultas kepada semua rekan dosen,” ungkap putra ke enam dari delapan bersaudara ini. “Saya pun lebih suka menyebut penggabungan ini dengan istilah ‘integrasi’ dua fakultas karena ini akan membentuk sinergi positif yang luar biasa ke depannya,” tukas dosen yang pernah mendapat penghargaan Satya Lencana dari presiden ini. Selain itu, bentuk konsolidasi internal lainnya juga diupayakan Damat dengan cara menyinergiskan sumber daya manusia baik kalangan dosen maupun mahasiswa FPP. Berbekal kedua hal ini, tidak mustahil bagi FPP membangun citra positif di mata banyak pihak. Harapan inilah yang saat ini juga tengah diusahakan Damat. Langkah kedua yang ditempuh untuk memajukan FPP adalah mengadakan kerja sama dengan pihak luar. Sosok yang memperoleh gelar sarjananya dari salah satu universitas negeri di Bogor ini mengatakan, ”Penting kiranya melakukan ekspedisi ke luar dengan cara membangun kerja sama dan memperbaiki perform fakultas.” Berkah yang diperoleh dari ketulusan dan kerja kerasnya mengembangkan FPP dengan pihak luar juga terwujud dengan terjalinnya kerja sama antara FPP dengan perusahaan-perusahaan ternama di Indonesia yang bergerak di sektor pertanian dan peternakan seperti PT Bumi Tama Guna Jaya di Jakarta yang populer dengan pengelolaan sawit. PT Sentral Proteina Prima di Jakarta sebagai perusahaan yang

mengembangkan tambak udang pun turut berpartisipasi menggandeng FPP UMM. Baru-baru ini, FPP berhasil mengantongi MoU dengan PT Wonokoyo yang giat mengelola usaha unggas. Langkah terakhir yang dinilai pria bermotto “Berdoa, berusaha, ikhtiar, dan tawakal” ini penting dan mendasar adalah memperkuat university farm sebagai salah satu unit profit yang bernaung di bawah FPP. “Saya berpandangan adanya university farm ini tidak sekedar mendatangkan keuntungan saja tapi juga sebagai wadah untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa FPP,” papar sosok yang juga pernah diberi tanggung jawab sebagai Kepala Biro Administrasi Akademik ini. Padatnya kesibukan tak merintangi Damat untuk melakukan penelitian yang menjadi salah satu kewajibannya sebagai seorang dosen. Saat ini dosen yang Ketua Program Hibah Kompetisi Instansi ini tengah tekun meneliti pati garut yang akan dijadikannya pengganti tepung gandum atau yang biasa dikenal dengan tepung terigu, yang saat ini banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Semangat dan keharusannya untuk tidak pernah berhenti berkarya dan bekerja u n t u k mengembangkan inovasi di bidang pertanian tak luput dari terselipnya pesan dari sosok yang mendalami Ilmu dan Teknologi Pangan ini, “Kita tidak akan pernah tahu berjalannya

hidup manusia, karena sesungguhnya manusia hanya bisa merencanakan, akan tetapi yang menentukan adalah Allah SWT. Oleh karena ini langkah yang paling bijak adalah selalu berdoa, berusaha, iktiar dan tawakal,” pungkasnya. ans

Damat heni/Bestari

Ciptakan Hal Baru, Haram Meniru Ambisi dan ketekunannya dalam menggeluti dunia penulisan menjadikan Nur Afif Kadir meraih prestasi gemilang di berbagai ajang perlombaan menulis fiksi, baik cerpen maupun puisi. Prestasi yang baru-baru ini berhasil direbutnya antara lain menjadi juara I dan juara favorit pilihan dewan juri di ajang Lomba Menulis Cerpen Remaja (LMCR) 2010 yang digelar oleh PT Rohto Indonesia. Juara yang diperolehnya merupakan buah manis dari kerja keras pria kelahiran Makasar ini. “Saya sempat merasa apes, ada saja kejadian yang membuat saya bolak-balik karena tertinggal dan kurangnya kelengkapan persyaratan yang harus dicantumkan saat pengiriman naskah lomba,” ucapnya mengenang. Tepat ketika itu pula ayahnya dalam

kondisi sakit di Makasar. Keadaan tersebut mengharuskan pria yang aktif di Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Malang itu pulang ke Makasar. Di balik kemenangan Ai, sapaan akrab pria yang gemar membaca ini, terselip beberapa kisah menarik sebelum akhirnya berhasil mengantongi dua juara sekaligus dalam ajang LMCR tingkat nasional mengalahkan kurang lebih delapan ribu naskah dari seluruh Indonesia. Buah karyanya berupa cerpen bertajuk Sehadapan merupakan kisah yang terilhami dari sebuah kejadian kecil tak terduga yang tanpa sengaja dialaminya ketika berada di pasar. “Sebenarnya kisah tentang aborsi yang saya ceritakan di cerpen saya itu adalah hasil daya imajinasi saya. Ketika saya berada di pasar tibatiba seorang wanita tanpa sengaja

Biodata Nama TTL Alamat

: Nur Afif Kadir : Makasar, 23 April 1989 : Jln Raya Tlogomas Gang 15A nmr 8

Riwayat Pendidikan : SDN Pongtiku 1 Makasar MTS DDI Mangkoso MA Al-Khaira’at Makasar Pengalaman Organisasi: Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Malang Prestasi yang pernah diraih : Juara II Lomba Baca Cerpen se-kota Palu 2006 Juara I Cerdas Cermat Fikih Tingkat Kabupaten Palu tahun 2006 dan 2007 Juara I Lomba Cipta Puisi Rektor Cup tahun 2008 Juara I Kajur Cup “Story Telling” tahun 2010 Juara II Baca Puisi Kajur Cup tahun 2010 Juara Karya Favorit Dewan Juri LMCR 2009 PT Rohto Indonesia Juara I Lomba Cerpen LMCR 2010 PT Rohto Indonesia Motto Hidup Berkarya membuat imajinasi menemukan hal yang baru, bukan mengulang atau meniru.

menabrak saya, ketika saya amati lagi ternyata wanita itu sedang hamil. Dari sana muncul lah ide cerita aborsi itu,” terang pria bungsu dari empat bersaudara tersebut. Ide-ide dalam penulisannya pun dapat dia temukan di mana saja termasuk ketika berada di kamar mandi. Pria yang menempuh S1 Pendidikan Bahasa Inggris ini juga mengaku jika ketertarikannya pada dunia tulis menulis datang secara tidak sengaja. Menurut Ai, ide bisa muncul kapan dan di mana saja. Sebagai tipikal anak rumahan, Ai lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dari pada bermain di luar bersama teman-teman lainnya. Apalagi ketika bulan puasa tiba, Ai lebih memilih rutinitas ngabuburit sambil membaca. “Dulu waktu kecil kalau ngabuburit puasa, saya lebih suka menghabiskan waktu buat baca buku. Biasanya, baca buku bisa sampai tertidur. Nah ternyata pas bangun sudah tiba waktu buka puasa,” ucap pria berkulit putih ini tertawa kecil. Pria asal Makasar ini juga menuturkan kebiasaan disiplin dan rapi yang diajarkan oleh kedua orang tuanya sejak kecil tanpa sengaja memberikan perubahan cukup besar dalam pembentukan pribadi dirinya kini. Sosok yang berkali-kali menuai prestasi di bidang penulisan sastra tersebut juga mengaku bahwa dirinya termasuk pribadi yang anti membebek (suka meniru.Red). Segudang prestasi yang telah diukir oleh pria bercita-cita menjadi orang sukses ini tak luput dari tajamnya duri kegagalan. Keputusasaan sempat singgah dan menikam semangat dirinya hingga membuat pensil dan tumpukan kertas di kamarnya menjadi usang. “Saya

sering sekali memperoleh kegagalan, semua tulisan yang saya kirimkan ke media tak pernah ada yang dimuat. Saya sempat kesal juga dan patah semangat,” akunya. Namun berkat kegigihan dan kerja kerasnya, pria murah senyum ini terus membulatkan tekat untuk tidak pernah berhenti berkarya dan menciptakan hal baru. “Saya percaya setiap naskah atau tulisan sudah memiliki takdirnya, begitu juga dengan tulisan-tulisan saya. Jadi sekarang tinggal bagaimana cara kita mengantarkan tulisan kita pada takdirnya,” tegas pria yang menyukai buku Cari Aku di Canti ini. Kedua orang tua adalah motivasi lain yang juga membakar semangatnya dalam menghasilkan karya. “Waktu Ummi (ibu.Red) saya hamil, Ummi saya selalu berharap agar kelak saya mampu menjadi seperti ubi,” papar mahasiswa kelahiran 1989 ini. Filosofinya ada ketika kita mengupas ubi bukan warna gelap yang akan kita dapatkan seperti warna kulitnya, tetapi semakin kita kupas semakin teranglah warna yang kita dapatkan. “Ummi saya juga selalu bilang kalau jangan pernah mau meniru orang, tapi oranglah yang harus meniru saya,” tegas lajang yang mengidolakan penulis Wa Ode Wulan Ratno ini. Di akhir perbincangan, Ai menyelipkan sebuah kalimat harapan agar jangan pernah takut untuk menciptakan hal baru dan jangan pernah merasa minder karena dibesarkan dari universitas swasta. Universitas swasta pun

mampu menghasilkan cita rasa karya yang membuat universitas negeri lainnya menjadi iri hati. “Tak ada yang tidak bisa kita lakukan, selama kita berusaha,” tukasnya semangat. p.kis

Afif

heni/Bestari estar t heni/Bestari


10 BESTARI

SUARA KAMPUS

No. 269 /TH.XXIII/Desember/2010

Seminar Jurnalistik-HMJ Bahasa Inggris Progresio

Koruptor Semakin Cerdas Kelabui KPK

Bertempat di Aula BAU, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM mengadakan diskusi bertemakan ”Strategi Pemberantasan Korupsi di Indonesia” (20/12). Diskusi yang dilaksanakan untuk memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia tanggal 9 Desember tersebut mendatangkan tiga narasumber yakni Yudi Purnomo Harahap dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Jakarta, Zia’ Ulhaq dari Malang Corruption Watch (MCW), dan Mas’ud Said selaku guru besar Ilmu Pemerintahan FISIP UMM. Mengawali materinya Yudi Purnomo Harahap mengungkapkan, kasus korupsi di Indonesia itu sangat menarik karena sering terjadi adegan saling tangkap-menangkap. “Saling tangkap-menangkap antara pihak satu dengan yang lain itu sering terjadi. Contohnya ketika bupati yang korupsi diganti oleh wakilnya, tapi wakilnya juga korupsi,” kata Yudi. Ia menambahkan, ada tiga aspek yang mempengaruhi para koruptor melakukan korupsi yakni kebutuhan, kepentingan ranah sistem, dan ranah uang. “Namun belakangan ini ranah rakus (uang. red) lebih mendominasi,”

Menulis Bisa Membuat Perasaan Lebih Baik

suri / Bestari

Dari kanan: Zia' Ulhaq, Yudi Purnomo Harahap, Mas'ud Said saat diskusi antara mahasiswa dan KPK tentang menjamurnya korupsi.

tambahnya di hadapan ratusan mahasiswa FISIP. Lebih lanjut Yudi menjelaskan KPK tidak menangani seluruh kasus korupsi, melainkan hanya kasus yang melibatkan dana di atas satu miliar dengan memproses aparat serta orangorang yang terlibat kasus tersebut. Mengulas dengan ringkas tentang sepak terjang para koruptor, Yudi mengakui bahwa tindakan para koruptor tidak kalah cerdik dengan KPK. “Untuk menghindari kejaran KPK, mereka bertransaksi di bank

luar negeri. Hal ini membuat KPK kesulitan untuk menangani,” jelasnya. Sementara itu, Zia’ Ulhaq menerangkan, korupsi zaman sekarang dengan dahulu sangat berbeda. Dahulu korupsi hanya untuk memenuhi kebutuhan bagi koruptor saja, sedangkan sekarang korupsi menjadi keserakahan. Zia’ Ulhaq juga menyarankan strategi untuk mengatasi korupsi di Indonesia. “Strateginya dengan peran aktif masyarakat dalam menangani kasus korupsi,”pungkasnya.m_ben

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bahasa Inggris English Student Association (ESA) Progresio menggelar acara Seminar Jurnalistik (19/12). Bertempat di Aula BAU, kegiatan tersebut mengusung tema “Reach Our Professionalism Through Journalism”. Seminar diikuti oleh 87 peserta dari Jurusan Bahasa Inggris serta menghadirkan pembicara dari media cetak Malang Post Anita Dwi Retnowati. Anita mengawali materinya dengan memotivasi peserta agar menjadi seorang penulis yang sukses. Menurut Anita, menulis itu mampu membuat perasaan lebih baik, seakanakan beban dalam pikiran sudah berpindah menjadi tulisan. “Aku menulis maka Aku ada,” terangnya. Ia beranggapan bahwa dengan menulis berarti telah menciptakan kebiasaan dalam mendokumentasikan hasil tulisan dari apa yang dipikirkan. Selain itu, dosen UMM Nurul Taufik yang juga hadir sebagai pemateri kedua menyampaikan materi bertemakan “The Rubrics in Magazine

and It’s Contents”, dilanjutkan dengan materi ketiga bertema “Do and Don’t Writing Publication” yang disampaikan oleh Eka Listianing Dosen English For Specifik (ESP). Diungkapkan Ketua Umum HMJ Progresio, seminar tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris. “Jangan pernah takut mencoba menulis, karena kita tidak akan pernah menorehkan karya tulis jika tidak mencobanya,” tegasnya. Sementara itu, ketua pelaksana Else Maya Irvayanti menjelaskan bahwa dilaksanakanya seminar ini didasarkan pada program kerja dari news and publication (salah satu divisi dalam HMJ Progresio yang mengurusi majalah Promag. red). Harapannya seminar itu dapat dijadikan sarana untuk menjembatani mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris dalam mengasah kemampuan menulisnya. “Semoga kita juga mempunyai bibit berkualitas yang dapat disalurkan ke Promag, mading, Reform atau yang lainnya,” jelanya.p_ngs

Indonesia, Banyak Fatwa tetapi Tidak Paham Maksudnya “Fatwa is not law and not punishment, but fatwa is an important element and opinion of islam law (fatwa bukan hukum dan hukuman, tetapi fatwa adalah unsur penting dan opini dari hukum islam. red),” ungkap Pradana Boy ZTF dalam acara diskusi yang diadakan oleh Pusat Studi Islam Filsafat (PSIF), bertempat di Kantor PSIF (3/12). Mengusung tema “Negotiating The State’s and Ulama’s Legal Authority; Fatwa In Indonesian Legal Sytem and Islamic Legal Theory” Pradana Boy yang kini sedang menempuh studinya di Jurusan Malay Studies National

University of Singapore (NUS) itu mengupas tentang esensi fatwa di Indonesia. Menurut pria yang juga menjabat sebagai Ketua Jurusan Syariah itu, fatwa bukanlah hukum melainkan opini dari hukum islam. Salah satu latar belakang pernyataannya adalah banyaknya fatwa yang dikeluarkan dan langsung diakui oleh public tanpa ada pemikiran dan pemahaman yang matang. Selain itu, tidak ada perbedaan opini antara orang yang berpendidikan dan orang awam mengenai fatwa. Dalam diskusinya, alumnus Faculty of Asian Studies Australian

National University Australia itu mengindikasikan bahwa dikeluarkannya fatwa di Indonesia masih diikuti masyarakat yang tidak paham betul mengenai esensi dari fatwa itu sendiri. “People still follow the fatwa, but isn’t to follow the Undang-Undang Dasar 1945, people also don’t understand about the purpose and the meaning about the fatwa (orang-orang masih mengikuti fatwa, tetapi tidak mengikuti UndangUndang Dasar 1945, orang-orang masih tidak memahami apa tujuan dan arti dari fatwa itu sendiri. red),” jelasnya. p_ngs

Seminar Reproduksi Remaja – Korps Suka Rela (KSR) PMI

Mahasiswa UMM Borong Juara di LKTIM

Mahasiswa UMM berhasil menyabet juara dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Mahasiswa (LKTIM) seJawa Timur Tahun 2010 di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) (16/12). Surahman dan Amalia Rahman berhasil menduduki peringkat II sedangkan Wawan Wahyudi, Zulaikhah Nuraini, dan Fitroh Nilla Pratiwi merebut juara III. Sebelumnya, kedua tim ini berhasil menyisihkan 50 proposal yang masuk ke panitia, diantaranya dari Unesa, Universitas Trunojoyo Madura, dan Universitas Brawijaya Malang. Dari 10 proposal yang lolos sebagai finalis, enam proposal diantaranya merupakan karya mahasiswa UMM. Pada LKTM kali ini, Surahman mempresentasikan karya berjudul “Implementasi Enterpreneurship dan ICT (Information and Communications deden/ Bestari Technology. red) pada Pendidikan Curhat: Nyonya "N" ketika memberikan testimoni tentang Kanker Cerviks yang pernah Tinggi Dalam Upaya Peningkatan dideritanya Sumber Daya Manusia”. Pria asal pakan beberapa contoh tindakan menyebutkan, ia bisa disembuhkan Madura itu mengaku, juri lomba pencegahan,” tambahnya. dengan operasi karena kanker yang memberikan apresiasi tinggi terhadap Setelah para peserta mendapatkan dideritanya masih dalam stadium slide presentasi miliknya. “Slide pengetahuan tentang penyakit kanker rendah. N pun menjalani operasi kami mendapat apresiasi tinggi cervix oleh Tri, seorang wanita serta beberapa kali kemoterapi hingga dari para juri, dan presentasi materi berinisial N yang pernah menderita kondisinya sehat seperti sekarang. merupakan salah satu poin penting kanker cervix menyampaikan testimo“Harapan saya semoga tidak dalam penilaian,” ujar mahasiswa asli niumnya. ada lagi korban-korban kanker cervix Madura itu. Wanita yang aktif mengajar lainnya, sebab sekarang sudah banyak Mahasiswa Jurusan Pendidikan di salah satu Sekolah Dasar di seminar-seminar tentang penyakit ini. Biologi itu berharap, mahasiswa Malang itu pada awalnya mengalami Kemudian, besarkanlah hati orang- UMM sering berdiskusi dengan pendarahan dan menstruasi yang tidak orang yang terkena kanker cervix, dosen dan mengikuti lomba agar bisa teratur. Setelah diperiksakan, dokter sebab kanker ini bisa disembuhkan mengekspresikan ide-idenya melalui menyatakan ia menderita kanker jika masih pada stadium awal,” karya tulis. ”Ide sering muncul karena cervix stadium II A. Keterangan dokter harapnya.p_idr

Celana Jeans Ketat Picu Kanker Serviks Sebagai bentuk kepedulian terhadap pengetahuan tentang kesehatan reproduksi wanita, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) KSR PMI UMM mengadakan Seminar Kesehatan Reproduksi Remaja bertema Kanker Cervix di Aula Lantai 1 Masjid A.R. Fachruddin (19/12). Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UMM Tri Lestari Handayani hadir sebagai pembicara dalam acara yang dihadiri 115 peserta itu. Mengawali penjelasannya tentang penyakit kanker yang menyerang leher rahim pada wanita, Tri Lestari Handayani mengatakan bahwa di Indonesia kanker cervix menempati posisi pertama penyakit kanker yang paling banyak menyebabkan kematian pada wanita. “Setiap 2 menit, ada 1 wanita yang meninggal karena Kanker Cervix,” terangnya. Namun, penyakit yang disebabkan karena terjadinya perubahan yang abnormal pada sel-sel leher rahim itu dapat dicegah dengan tindakan preventif seperti pemberian vaksinasi HPV (Human Papilloma Virus) sebelum aktifitas seksual. “Menjaga kebersihan organ reproduksi dengan menggunakan tisu antiseptik saat ke kamar mandi serta menghindari pemakaian celana jeans ketat meru-

deden/ Bestari

Jangan Menyerah: Redaktur Malang Post, Anita D. Rentnowati, memberikan motivasi kepada para peserta seminar.

diskusi dengan dosen. Selain itu, kemampuan kita akan semakin terasah dengan mengikuti lomba,” lanjutnya. Kepala Bagian Penalaran dan Keislaman Biro Administrasi Kemahasiswaan UMM Agus Santoso mengatakan dalam mempersiapkan mahasiswanya menghadapi LKTIM, pihak kampus memberikan pendampingan dan pengarahan dalam tata cara penulisan naskah yang baik dan benar. “Kami memberikan standar penulisan kepada mahasiswa. Setelah dari pendamping, naskahnya kami cek lagi sebelum dikirim. Kami juga mengajarkan cara pembuatan presentasi dalam power point dan teknik mempresentasikannya,” paparnya. Agus berharap tahun depan mahasiswa yang mengikuti LKTIM jumlahnya lebih banyak dari sekarang. Oleh karena itu, UMM akan terus mensosialisasikan informasi tantang lomba-lomba penulisan kepada mahasiswa. “Target UMM tahun depan adalah mempertahankan prestasi dalam LKTIM se-Jatim tersebut,” tandas pria yang telah 18 tahun mengabdi di Kampus Putih ini. Sementara itu, pada bulan November lalu, mahasiswa UMM Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Primawati juga menyabet dua juara sekaligus dalam LKTIM. Prima sapaan akrabnya, merebut Juara Harapan I LKTIM yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Jatim dan Juara III LKTIM yang diadakan oleh Dinas Pajak Wilayah Jatim III.m_fjr


BESTARI No. 269/TH.XXIII/Desember/2010

SUARA KAMPUS

Seminar Nasional Ekonomi Islam LSO-K FPED

Melalui Ekonomi Syariah, Indonesia Jadi Penguasa Dunia

Aries Muftie deden / Bestari

Bertemakan Menyikapi Kesiapan Indonesia dalam Momentum Kembalinya Kejayaan Ekonomi Islam, Lembaga Semi Otonom Kerohanian (LSO-K) Forum Pengkajian Ekonomi

Syariah dan Dakwah Islam (FPED) Fakultas Ekonomi UMM mengadakan Seminar Nasional Ekonomi Islam. Menghadirkan dua pemateri yakni Ketua Dewan Pakar Ekonomi Masyarakat Syariah Jakarta Aries Muftie dan Heri Pratikno dosen Universitas Negeri Malang , acara ini digelar di Teater Dome (24/11). Mengawali materinya Heri menuturkan, ekonomi Islam bersumber dari ajaran keilahian yang mengedepankan nilai akhlak luhur, menjunjung tinggi martabat kemanusiaan, dan bersikap seimbang antara duniawi dan ukhrawi (mengenai akhirat. red). “Falsafah ekonomi Islam itu ada empat pondasi, tiga pilar, dan satu tujuan,” ujarnya saat memberikan materi. Empat pondasi yang dimaksud Heri adalah bertindak dengan mengedepankan ukhuwah, syariah, akhlak, dan aqidah dalam menjalankan ekonomi Islam. Sementara itu tiga pilarnya adalah keadilan, keseimbangan, dan kemaslahatan yang melindungi umat beragama dalam aktivitas mengembangkan perekonomian Islam. Sedangkan falsafah satu tujuan yang dimaksud adalah kesejahteraan masyarakat yang harus dicapai baik secara materi maupun

11

Sarasehan Mahasiswa PTM se-Jawa Timur & Jawa Tengah

spiritual. ”Kesuksesan yang hakiki dalam berekonomi adalah tercapainya kesejahteraan yang mencakup kebahagiaan spiritual dan kemakmuran materi pada tingkatan individu dan masyarakat,” jelas pria asal Trenggalek itu. Di sisi lain, Aries Muftie mengutarakan, kekuatan ekonomi Amerika Serikat saat ini semakin menurun. “Sebelumnya Amerika Serikat menguasai pasar ekonomi dunia sebesar 35 persen, namun sejak krisis 2008 ekonomi AS mulai sempoyongan dan cenderung menurun,” jelas pria alumni Universitas Indonesia itu. Aries memprediksi, pada tahun 2020 nanti Indonesia akan menjadi penguasa ekonomi ke lima dunia dan China menjadi penguasa tertingginya. Dengan meng gunakan sistem ekonomi berbasis syariah, Aries berpendapat bahwa Indonesia siap mengembangkan ekonomi Islam di dunia. Hal ini mengingat ekonomi berbasis syariah sampai tahun 2010 ini memegang peranan cukup besar yaitu 46 persen. “Meskipun peran kita dalam pasar modal syariah lebih kecil dibandingkan Malaysia dan Singapura, namun kesiapan Indonesia cukup bagus,” jelasnya optimis.m_ros

UKM FDI Perluas Jaringan

Untuk menguatkan peran dan kualitas Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) bidang penalaran, UKM Forum Diskusi Ilmiah (FDI) UMM menggelar sarasehan mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) se-Jawa Timur & Jawa Tengah di Ruang Sidang Rektor (18/12). Sekitar 25 mahasiswa perwakilan dari PTM Surakarta, Purwokerto, Jember, Surabaya, Gresik, dan Semarang hadir untuk berpartisipasi dalam acara yang didanai Dirjen Kelembagaan Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Dikti) itu. Pembantu Rektor III (PR III) UMM Joko Widodo yang hadir untuk membuka acara mengungkapkan, saat ini Perguruan Tinggi Swasta (PTS) mulai menunjukkan kualitasnya dengan masuk ke dalam 10 besar pengumpulan proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) terbanyak nasional. “PTS harus bisa jadi yang tertinggi dalam PKM, agar PTN tidak meremehkan kita. Dengan kreativitas tinggi, mahasiswa PTS pasti bisa mengalahkan PTN,”ujar Joko menyemangati. Selain itu Pemimpin Redaksi Koran Kampus Bestari ini juga berharap, acara tersebut dapat memperluas jaringan dan

menjadi media untuk menggali potensi diri. Joko juga meninginkan sarasehan tersebut bisa diadakan tiap tahun agar silaturahmi antar PTS tetap terjaga. Acara dilanjutkan dengan uraian materi tentang strategi mendapatkan dana hibah yang disampaikan oleh salah satu tim reviewer PKM Dikti M. Agus Kresno. Menurutnya, membuat ide kreatif dalam PKM kuncinya adalah unthinkable (tidak terpikirkan. red) dan unpredictable (tidak terprediksi. red). “Seperti contoh ide PKMK (PKM Kewirausahaan. red) yang berjudul “Tokan” yaitu tato ikan non hias. Itu kan unthinkable dan unpredictable,” tegas Agus yang juga Dosen Jurusan Pendidikan Biologi UMM. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sharing dengan peserta. UMM yang menjadi tuan rumah acara tersebut mengawalinya dengan memperkenalkan UKM FDI yang dulunya sempat vakum. “Salah satu tugas anak FDI itu ya membuat PKM, karena kita bergerak di bidang penalaran karya tulis ilmiah. Bahkan, saya mewajibkan mahasiswa saya untuk menulis PKM,” kata Husamah selaku Pembina FDI. Acara kmeudian dilanjutkan dengan perkenalan dan sharing antar peserta.m_ros

Workshop PKM Himabio UMM

Kaderisasi Untuk Pertahankan Prestasi Mengingat pentingnya penulisan proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) untuk meningkatkan prestasi mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Biologi Himabio Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM mengadakan workshop PKM dengan tema “Membangun Sinergitas Akademika dan Penalaran Mahasiswa yang Berorientasi Kreatif dan Inovatif dengan Karya Tulis Ilmiah” (12/12) di Aula Lantai II Masjid A.R. Fachruddin. Menurut Ketua Himabio Bayu Ramandika Kurniawan, workshop yang membahas bagaimana cara

mencari ide dan menyusun Program Kreativitas Mahasiswa-Gagasan Tertulis (PKM-GT) bagi mahasiswa baru itu bertujuan untuk mencari bibit baru dalam meneruskan tradisi juara dalam bidang penulisan PKM. “Kami disini melakukan kaderisasi dalam bidang karya ilmiah, agar mahasiswa baru bisa mempertahankan prestasi-prestasi yang telah berhasil diraih oleh kakak tingkatnya,” ungkap Bayu. Salah satu pembicara Husamah menjelaskan, PKM-GT yang disusun harus mampu memberikan atau menawarkan solusi dari suatu masalah. “Selain itu, gagasan yang ditulis harus

mengacu kepada isu aktual yang dapat ditemukan di masyarakat dan memerlukan pemecahan masalahnya,” ungkap dosen Jurusan Biologi . Selain Husamah, hadir pula Ketua Jurusan Biologi Sri Wahyuni dan Pembantu Dekan III FKIP Nur Widodo yang memberikan motivasi penuh kepada mahasiswa baru untuk menyusun proposal PKMGT. “Selama ini, Jurusan Biologi telah menyumbang proposal PKM terbanyak, dan peserta Pimnas (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional. red) terbanyak yang dikirim ke Bali pada Juli yang lalu,” tutur Sri Wahyuni.m_mam

Workshop dan Pelatihan Kewartawanan Journalistic Club (JC)

Media Elektronik Jadi Idola Masa Kini Setelah beberapa minggu sebelumnya mengadakan rekrutmen anggota baru, Journalistic Club (JC) Jurusan Ilmu Komunikasi Fakutas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM menggelar workshop dan pelatihan kewartawanan di Aula Lantai I Masjid A.R. Fachruddin UMM, Sabtu (4/12). Acara bertemakan “I Wanna be a Journalist” itu menghadirkan koordinator Media Nusantara Citra (MNC) daerah Jawa Timur Solihin Bahari dan wartawan Radar Malang Neny Fitrin sebagai pembicara. Mengawali materi, Solihin membahas tentang reportase berita, pengambilan gambar, penulisan naskah televisi, serta on cam di layar televisi. “Dunia televisi dan online saat ini sedang menjadi idola. Mahasiswa jurnalistik mau tidak mau harus membidik dunia itu. Kuncinya harus banyak belajar dan berlatih terus menerus. Tidak ada wartawan yang dilahirkan secara instan,” kata Solihin memberikan motivasi.

Sementara itu, di bidang jurnallistik cetak Neny Fitrin menyebutkan, untuk menjadi wartawan dibutuhkan kemauan untuk mengeksplorasi potensi diri. “Kuliah itu tidak cukup untuk dijadikan bekal mencari kerja. Karena kuliah merupakan sarana pembentukan pola pikir. Oleh karena itu, kita harus mencari ilmu di jalan-jalan yang lain seperti workshop dan ikut serta dalam organisasi,” paparnya. Pembina JC Nurudin menuturkan, kegiatan semacam workshop dan pelatihan harus terus berjalan terus-menerus. “Saya berharap JC dapat konsisten dalam mengadakan acara-acara seperti ini dan JC tetap mengeluarkan karya-karya jurnalistik seperti buku yang mereka pernah tulis dan publikasikan. Karena ini sesuai dengan motto mereka yakni publikasikan atau menyingkirlah,” kata Nurudin. Dalam acara itu juga diputar hasil reportase praktik jurnalistik

heni / Bestari

Undang Kerabat: Perguruan Tinggi Muhammadiyah seJawa Tengah dan Jawa Timur hadiri sarasehan FDI.

Pertandingan Uji Coba UMM FC dengan Persiwa

Lagi, UMM FC Uji Coba Lawan Persiwa Hadang: Pemain belakang PS UMM mencoba menghadang penyerang Persiwa dalam pertadingan uji coba di stadion UMM.

deden/ Bestari

Solihin Bahari televisi dari para peserta yang kemudian dinilai dan diberikan hadiah. Rencana ke depan, JC akan membuat buku kumpulan novel sebagai kelanjutan dari program penerbitan buku. Sebelumnya, JC sudah menerbitkan dua buku yakni Menelanjangi Infotainment dan Media-Media Pembunuh Masyarakat.m_ros

Untuk kali kedua setelah bulan September lalu pernah dilaksanakan, Universitas Muhamadiyah Malang Football Club (UMM FC0) menggelar laga uji coba melawan Persatuan Sepak Bola Wamena (Persiwa) di Stadion UMM (16/12). Suharno, Pelatih Persiwa yang tidak menerjunkan semua pemain inti dalam permainan tersebut sempat merasa kebingungan dalam meracik pemain. “Tim persiwa belum full dan lengkap dalam pertandingan saat ini,” tegasnya. Namun dengan kejadian itu, Suharno mengaku mendapat pengalaman baru bagaimana mengantisipasi jika pemain inti tidak dapat berlaga dalam pertandingan nasional nanti. Setelah bermain selama 90 menit, tim Persiwa berhasil menekuk UMM FC dengan skor 2-0. Menurut Novan Agus Suhendra Asisten Pelatih UMM FC, timnya sudah bermain dengan cukup baik. Hal itu terbukti di menit-menit pertama UMM FC selalu melakukan

penyerangan pada Persiwa, meskipun akhirnya Novan harus mengakui kehebatan Persiwa yang berhasil menjebol gawang UMM FC dua kali. Menurutnya, skor tidaklah penting dalam uji coba tersebut. Pria asal Malang itu berharap, uji coba itu dapat membuat pemain UMM FC lebih siap lagi dalam menghadapi lawan-lawan yang levelnya setingkat Persiwa. “Persiwa adalah lawan bagus yang pernah berlaga di ISL (Indonesia Super League. red) yang levelnya jauh di atas kita. Hal ini dapat memotivasi UMM FC untuk memberikan yang terbaik,” kata Novan. “Jika tim lawan bagus, pemain pun akan tertantang dan berantusias,” tambahnya. Kapten UMM FC, Iradhat Takwa mengakui bahwa tim Persiwa adalah tim senior yang bagus. Menurutnya, permainan tersebut dapat menggugah semangat pemain dalam mempersiapkan strategi bagaimana bermain cepat dan konsentrasi. “Jarang-jarang bertemu tim sehebat ini,” ujarnya mengakhiri. p_ngs


BESTARI 12 Menyoroti Kebijakan Pembatasan Subsidi BBM

LAPORAN UTAMA

No. 269/TH.XXIII/Desember/2010

Kebijakan Baru, Masalah Baru Wacana pemerintah untuk membatasi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) bagi mobil keluaran 2005 ke atas kembali menuai polemik. Banyak pihak yang pesimis akan efektivitas kebijakan itu, namun ada juga sebagian masyarakat yang justru setuju. Seperti apakah tanggapan mereka mengenaii kebijakan tersebut? Berikut reportase Bestari. Antrean kendaraan bermotor pelaksanaan program itu, kamii mulai mengular. Beberapa pom masih belum tahu bagaimanaa bensin di Kota Malang malah sempat membedakan antara konsumen n mengalami kelangkaan BBM. Hal itu yang berhak mendapat subsidii terjadi bukan akibat adanya kenaikan dengan yang tidak,” tegass harga BBM layaknya kejadian Sukadi. n beberapa tahun silam. Kelangkaan Menurut penuturan kali ini lebih disebabkan akibat Sukadi, jika program inii adanya edaran pemerintah tentang hanya berpatokan pada upayaa n pembatasan subsidi premium dan melihat plat nomor kendaraan n pengurangan jumlah konsumsi BBM pasti akan menimbulkan yang memang semakin melonjak dari ketimpangan di masyarakat. n tahun ke tahun. Meskipun kebijakan Belum tentu pemilik kendaraan h pembatasan subsidi premium baru keluaran tahun 2005 ke bawah akan diberlakukan sesuai deadline-nya berasal dari ekonomi rendah,, yakni pada tanggal 1 Januari 2011, begitu juga sebaliknya. “Bisaa n namun dampaknya sudah mulai terasa saja dengan adanya kebijakan sejak pertengahan November 2010. ini, orang yang terlanjur kayaa k Opsi pertama kebijakan membeli mobil tua untuk ” pemerintah terkait pembatasan subsidi menipu kita (operator),” premium direncanakan hanya berlaku tuturnya. bagi mobil keluaran 2005 ke atas, namun kenyataannya justru pengguna Semua Ditangani Pemerintah Tujuan lain dikeluarkannyaa sepeda motorlah yang merasakan dampaknya sekarang ini. Sedangkan kebijakan penghapusan subsidii h konon adalah opsi kedua yaitu memberlakukan premium n kebijakan tersebut bagi seluruh untuk menekan Anggaran dan Belanja pengguna mobil plat hitam. Selain Pendapatan terkesan buru-buru, kebijakan tersebut Negara (APBN). Namun, apapun dipandang menyusahkan banyak dalih pemerintah, kebijakan itu tetap pihak, operator pom bensin misalnya. menuai polemik. Perihal pembatasan Menurut Yulianto, salah seorang tersebut, Pertamina sebagai Badan operator pom bensin, sampai saat Usaha Milik Negara (BUMN) tidak memberikan keterangan ini belum ada sosialisasi dalam banyak bentuk apapun dari Pertamina tentang wacana yang tengah menjadi terkait kebijakan baru tersebut. kontroversi itu. Aksi tutup mulut juga Pria yang akrab disapa Anto itu dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) juga menyarankan, jika memang depo Malang yang beralamat di Jl. ingin kebijakan itu berjalan lancar, Halmahera 13. Semakin tajamnya semestinya Pertamina atau pemerintah sorotan masyarakat terhadap masalah subsidi premium telah melakukan sosialisasi sejak jauh- penghapusan jauh hari. “Kalau segala sesuatu cepat membuat Pertamina makin enggan disosialisasikan tentu akan lebih enak. “melempar” komentar. Saat tim Laput Bestari mencoba Kita juga tidak merasa kebingungan nantinya,” ungkap bapak tiga anak mengorek keterangan dari Pertamina depo Malang, mereka malah tersebut. menyarankan A n t o a g a r menambahkan, “Sampai detik ini menghubungi d e n g a n belum ada kejelasan langsung tidak adanya Pertamina Unit sosialisasi yang bagaimana teknis Pemasaran matang, operator pelaksanaan program itu, ( U P M S ) pom akan Wilayah V merasa canggung kami masih belum tahu Surabaya dan bingung bagaimana membedakan u n t u k dalam melayani klarifikasi lebih konsumen. antara konsumen yang lanjut. Setelah P e r i s t i w a berhak mendapat subsidi berulang kali semacam itu dengan yang tidak,” menghubungi sempat terjadi ketika pertama operator pom bensin p i h a k Pertamina kali pemerintah Surabaya via menerapkan program pelayanan “Pasti Pas” pesawat telepon, akhirnya tim Laput beberapa tahun silam yang berhasil mendapatkan keterangan mengharuskan operator pom bensin dari Eviyanti, Manajer External untuk memberikan salam, senyum, Relation Pertamina Surabaya. Ia dan sapa kepada konsumen. Kala menjelaskan bahwa kewenangan itu sebagian besar operator pom untuk memberikan keterangan perihal bensin merasa sangat canggung dan kebijakan pembatasan subsidi BBM harus belajar lama agar terbiasa. sepenuhnya ada di tangan pemerintah. “Pemerintah harusnya berkaca dari “Kami di sini hanya menangani program terdahulu, jangan hanya asal masalah teknisi, bukan pengambil mengeluarkan program baru tanpa keputusan,” ungkap Eviyanti dengan adanya sosialisasi yang benar,” keluh nada meninggi. Eviyanti menambahkan, segala pria kelahiran Malang itu. Hal senada diungkapkan oleh sesuatu terkait masalah kebijakan sepenuhnya dipegang Sukadi, teman sejawat Anto, memang menurutnya program pemerintah kali oleh pemerintah pusat melalui ini tidak jauh berbeda dengan program kementrian Energi dan Sumber Daya lainnya. Selain waktu persiapan yang Mineral (ESDM). Hal tersebut telah sempit, tidak adanya sosialisasi yang diamanahkan lewat UU RI No.2 matang tentu akan menimbulkan Tahun 2001 tentang minyak dan gas kebingungan baik bagi operator pom bumi. Dalam undang-undang tersebut maupun konsumen. “Sampai detik ini diterangkan bahwa pemerintahlah belum ada kejelasan bagaimana teknis pemegang kuasa penuh mengenai

heni / Bestari

Antrian Bensin: Rumor yang tidak pasti menjadi kepanikan masyarakat kehabisan bahan bakar.

pertambangan. Disinggung masalah kelangkaan BBM beberapa waktu lalu, Evi, sapaan Eviyanti, memastikan bahwa kelangkaan yang terjadi bukan akibat menipisnya stok Pertamina. Kelangkaan yang terjadi diakuinya akibat keterlambatan pemasokan dari Surabaya menuju depo-depo di sekitar Jawa Timur. Menurutnya, Pertamina Surabaya masih memiliki stok untuk memasok sejumlah depo di Jawa Timur seperti, Malang, Lumajang, Kediri, dan Bojonegoro selama satu bulan ke depan. “Jadi, masih tergolong aman. Jumlah tersebut masih memadai untuk semua depo di wilayah kami,” ungkapnya. Untuk saat ini, Evi belum bisa memberikan keterangan yang lebih mendalam terkait kebijakan baru itu. Ia mengaku masih menunggu keputusan lebih lanjut dari pemerintah. Meskipun demikian, pihaknya mengaku telah siap untuk melaksanakan program itu sesuai deadline pemerintah yakni awal tahun depan. Evi juga berjanji, dengan keluarnya program baru itu pihaknya akan tetap mengedepankan kualitas pelayanan kepada konsumen. Pihak Pertamina tetap optimis bahwa dengan keluarnya kebijakan itu masyarakat tidak akan berpindah membeli premium produk asing seperti Shell maupun Petronas karena harga jualnya tidak jauh berbeda. Kalaupun ada perbedaan harga jual, Evi memastikan tidak akan lebih dari 50-100 rupiah. Dengan tetap menjaga kualitas dan layanan kepada konsumen, premium lokal sudah siap bersaing dengan premium impor. Salah satu cara yang akan ditempuh Pertamina untuk meningkatkan layanan yaitu dengan membuka outlet BBM non subsidi. Butuh Transparansi Meskipun masalah pembatasan subsidi BBM khususnya premium masih simpang-siur, sebagian masyarakat mengaku tidak keberatan dengan adanya kebijakan baru itu. Sebagai salah satu pengguna kendaraan bermotor, Erwin Qodariyah misalnya mengaku tidak keberatan asalkan ada transparasi

dari pemerintah tentang alokasi dana subsidi tersebut. Tidak adanya transparasi selama ini membuat masyarakat beranggapan miring terhadap kinerja pemerintah. “Subsidi BBM boleh saja dicabut kalau memang diperlukan, tapi nantinya harus ada keterbukaan tentang penggunaan dana tersebut,” ujar wanita yang juga berprofesi sebagai dosen itu. Hal senada juga diungkapkan oleh Marhan Taufik, Ketua Jurusan (Kajur) Matematika UMM. Menurutnya, jika dikalkulasi, subsidi yang dihapus berjumlah sangat besar. Untuk menghindari terjadinya kecurigaan masyarakat terhadap pemerintah, diperlukan transparasi dan keterlibatan berbagai elemen masyarakat untuk mengawasi penggunaan dana tersebut. “Jumlah dana subsidi yang dihapus sangatlah besar sehingga harus benar-benar diawasi penggunaannya. Jumlahnya berapa dan dipakai untuk apa saja, semuanya harus terbuka agar tidak saling curiga,” ungkap bapak satu anak tersebut. Marhan juga menambahkan, selama ini pemerintah terkesan mengabaikan aspirasi rakyat, dalam hal kenaikan harga BBM misalnya. Seharusnya, ketika hendak menaikkan harga harus ada keseimbangan yaitu dengan cara meningkatkan pendapatan masyarakat. Dengan demikian, sebesar apapun kenaikannya, masyarakat tidak akan protes. “Pemerintah harusnya belajar dari negara-negara tetangga. Sebelum menaikkan harga BBM, mereka naikkan dulu pendapatannya sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga,” pungkas Marhan. Makin Menyulitkan Masyarakat Layaknya kebijakan pemerintah terdahulu, pastilah ada pro dan kontra dari masyarakat dalam menanggapinya. Jika Erwin Qodariyah mengaku tidak keberatan dengan penghapusan subsidi BBM premium, lain halnya dengan para penjual bensin eceran. Menurut salah satu pengecer yang tidak mau disebutkan namanya, kebijakan pemerintah kali ini tidak jauh berbeda dengan kebijakan lainnya yang ujungujungnya bisa dipastikan menyusahkan rakyat kecil. Tujuannya memang bagi

mereka yang memiliki mobil keluaran di atas 2005, tapi pada akhirnya seluruh masyarakat juga terkena imbasnya. Salah satu contoh nyata akibat kebijakan baru itu adalah kelangkaan BBM yang sempat melanda Kota Malang. Akhirnya, beberapa penjual bensin eceran terpaksa menaikkan harga BBM eceran. Meskipun belum resmi berlaku, kebijakan tersebut sudah mulai membawa dampak bagi masyarakat. “Lha kalau seperti ini terus bisa bahaya. Kami yang miskin bisa makin miskin. Bagi orang kaya sih mungkin tidak masalah, tapi yang merasakan akibatnya kan bukan hanya mereka. Kami juga kena imbasnya,” keluh pria paruh baya tersebut. Keluhan yang sama juga dilontarkan oleh Muhammad Mansur, salah seorang operator pom bensin yang sehari-hari melayani para pengecer. Menurutnya, selama ini ia telah melihat begitu susahnya para pengecer mendapatkan jatah bensin. Jika kebijakan tersebut sudah diberlakukan, kesusahan mereka pasti akan bertambah. Pemerintah memang telah melarang petugas pom bensin untuk melayani konsumen yang menggunakan jerigen, tapi dengan alasan rasa kemanusiaan akhirnya pihak menejemen pom bensin membuat kebijakan sendiri. “Mereka kan juga butuh makan, jadi ya biarkan saja membeli untuk dijual kembali, asalkan tidak menimbun,” ungkap Mansur. Mansur berharap, kebijakan pemerintah kali ini tidak memberatkan salah satu pihak saja. Jika memang berlaku untuk mobil plat hitam maka harus seluruhnya kena, tidak ada pilih kasih. Dengan demikian, kerja operator pom bensin lebih dimudahkan karena tidak perlu memeriksa tahun keluaran mobil konsumennya. Hal itu juga berfungsi untuk menghindari terjadinya kecurangan konsumen yang membeli premium menggunakan mobil keluaran di bawah 2005, padahal untuk dijual kembali. “Sekarang ini kan pembeli makin pintar. Jika nantinya mereka membeli menggunakan mobil keluaran lama, padahal untuk dijual kembali, maka pada akhirnya kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tidak akan berjalan maksimal,” pungkasnya. p_ino/raf/yan


BESTARI No. 269/TH.XXIII/Desember/2010

LAPORAN UTAMA

YLKM: ”Ini Bukan Jalan Keluar yang SoluƟf”

13

Meski belum ada kepastian, rencana pemerintah membatasi subsidi dan pemakaian premium menuai penolakan dari berbagai pihak, salah satunya dari Soemito, Ketua Yayasan Layanan Konsumen Malang (YLKM). Dia melihat kebijakan yang akan diberlakukan awal 2011 tersebut tidak efektif dan akan merugikan masyarakat. Ketidakefektifan kebijakan pemerintah soal pembatasan subsidi premium bersumber pada belum jelasnya ketentuan siapa yang berhak atau tidak membeli bensin bersubsidi. Masih belum dipastikan apakah larangan pemakaian premium terbatas pada kendaraan pribadi di atas tahun 2005 atau diperuntukkan bagi seluruh kendaraan plat hitam. “Kebijakan itu sesungguhnya belum pasti dan masih menjadi wacana. Lagipula saya tidak sependapat dengan pembatasan subsidi karena secara teknis akan sangat sukar dilaksanakan dan bisa terjadi banyak penyelewengan,” ungkap Soemito saat ditemui di Jalan Bendungan Tangga No.6 Malang, kediamannya sekaligus bengkel kerja YLKM. Menurutnya, jika kebijakan tersebut diberlakukan, akan sulit mengidentifikasi mana mobil atau kendaraan di atas tahun 2005 dan mana yang bukan. “Bagaimana petugas pom bensin sendiri bisa membedakan? Hal itu juga seharusnya dipikirkan pemerintah. Tentu akan butuh sosialisasi secara luas,” tutur ayah satu anak tersebut. Penyelewengan-penyelewengan pun akan mungkin dihindari. Ia mencontohkan penyelewengan sederhana yaitu kendaraan plat kuning (angkutan umum) atau kendaraan roda dua membeli premium bersubsidi dengan harga murah lantas menjualnya secara eceran. Kemungkinan kejadian semacam itu sangat perlu dihindari dan dicari cara pencegahannya oleh pemerintah. Menanggapi latar belakang munculnya kebijakan pembatasan subsidi premium tersebut, Soemito mengaku tak bisa mengerti alasan-alasan yang dikemukakan pemerintah. “Selama ini subsidi tidak tepat sasaran, begitu dalih yang

if Eksklus Wacana pemerintah tentang pembatasan subsidi premium tahun depan masih meninggalkan banyak permasalahan. Sebagai ujung tombak pendistribusian BBM, Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak Bumi dan Gas (Hiswana Migas) pun merasa kerepotan dengan kebijakan tersebut. Berikut wawancara ekslusif Ropidin bersama Ir. Teuku Rizal Pahlevi, M.M, Ketua DPC Hiswana Migas Malang. Bisa dijelaskan, seperti apa dan bagaimana organisasi Hiswana Itu? Hiswana adalah mitra kerja Pertamina dalam pendistribusian BBM. Pertamina yang menyediakan stok BBM dan setelah dari depo, baru Hiswana y a n g bertugas

diungkapkan pemerintah. Orang kaya dianggap juga menikmati hasil subsidi. Lantas mengapa tidak dari dulu saja subsidi dikurangi, mengapa baru sekarang?” tanyanya retoris. Tak Harus Ikut Harga Internasional Dasar pemikiran YLKM menolak pembatasan subsidi premium tersebut berangkat dari prinsip pokok yang cukup menarik dan rasional. Indonesia adalah salah satu negara yang kaya sumber minyak baik di darat maupun laut. Maka, semestinya Indonesia tidak perlu menyesuaikan harga minyak dengan harga internasional jika dipakai untuk keperluan dalam negeri. “Keadaan itu seperti mempertinggi pendapatan negara dengan cara merugikan masyarakat,” ucapnya. Lebih jauh, bagi Soemito, selama ini subsidi pemerintah membantu menurunkan harga BBM hanyalah fiktif belaka. Kenyataannya, secara praktis pemerintah tidak memberi bantuan menurunkan harga. Ini karena Indonesia memiliki sumber minyak sendiri, tidak seperti Singapura misalnya yang harus mengimpor minyak dari negara lain. Pria asal Surabaya tersebut beribarat, “Ini umpamanya membandingkan rumah yang memakai air PDAM dan yang menggunakan air sumur. Otomatis, yang lebih murah adalah jika pakai air sumur karena air berasal dari sumber sendiri. Sementara pengguna air PDAM harus membayar biaya nimbo (menimba, bahasa Jawa, red.). Maka, kita sudah selayaknya bisa menikmati harga BBM yang murah.” Selain itu, akibat kebijakan tersebut, konsumen juga akan dirugikan karena harga kebutuhan pokok akan ikut naik. “Terkait kepentingan konsumen, semua harga bahan pokok pasti akan naik. Kita

heni / Bestari

Kebijakan Baru: Pembatasan subsudi oleh pemerintah menuai polemik di masyarakat.

tidak mau itu jadi hal yang dibiasakan. Pemerintah seolah selalu beranggapan ‘wajar harga naik’. Kenapa tidak punya alternatif lain selain harga yang terus naik? Saya tidak bisa mengerti kebijaksanaan pemerintah yang seperti itu. Pemerintah sebenarnya ingin menaikkan, tetapi memakai kata mengurangi subsidi,” terang pria berusia 75 tahun tersebut. Kebijakan pengurangan subsidi premium tersebut rencananya akan mulai dilaksanakan pada Januari 2011 di daerah Jabodetabek dan Juli 2011 di Jawa Timur. Pada dasarnya, keberhasilan kebijaksanaan bergantung sepenuhnya pada pemerintah. “Efektif atau tidak, tergantung pada pemerintah sendiri. Apabila ada kerancuan pelaksanaan dan sebagainya, yang salah tentu yang mengatur,” ucap lelaki yang mendirikan YLKM pada tanggal 2 Mei 1999 itu. Jika akhirnya kebijakan tersebut benar-benar dilaksanakan, Soemito pesimis kepentingan masyarakat selaku konsumen bisa diperjuangkan. Meski menurut UU No.8 Tahun 1999 tentang hak konsumen telah disebutkan bahwa salah satu hak konsumen adalah didengar pendapat dan keterangannya. Namun, undang-undang tersebut

belum mampu mengakomodasi hak konsumen yang dirugikan. Selama ini, jika terjadi pro dan kontra antara rakyat dengan pemerintah, pastilah ujungnya pemerintah yang menang. “Sebagai sebuah organisasi yang melindungi hak konsumen, yang bisa kami lakukan hanyalah sebatas mempengaruhi kebijakan-kebijakan pemerintah agar tidak terlalu merugikan konsumen. Salah satu cara yang ditempuh yaitu dengan mengadakan forum terbuka dan dialog,” pungkas pria yang kerap menjadi pembicara dalam forum diskusi dan seminar tersebut. Harus Mencari Solusi Lain Sependapat dengan Soemito, Akhmad Fahrurizal, salah seorang mahasiswa Hukum di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Malang juga merasa tidak setuju dengan adanya kebijakan tersebut. Selain akan menambah peluang terjadinya korupsi dan penyelewengan, teknis pelaksanaan kebijakan tersebut tidaklah bisa dipersiapkan hanya dalam waktu singkat. Untuk mempersiapkan program semacam itu, harusnya pemerintah telah mempersiapkan dan menggodoknya matang-matang sejak awal 2010. “Saya merasa ada

yang aneh dengan kebijakan ini. Kok pemerintah seperti terburu-buru sekali. Jika segala sesuatu hanya bersifat instan, hasilnya jangan harap akan maksimal,” ungkap pemuda 21 tahun itu. Kurangnya persiapan pemerintah jelas terlihat dari belum adanya sosialisasi tentang teknis pelaksanaan program itu, Bahkan, ada rumor yang mengatakan tentang penggunaan kartu kendali. Ada pula sejumlah kabar yang mengatakan hanya berpatokan pada plat nomor saja. Apapun opsi yang digunakan pemerintah, nyatanya belum ada sosialisasi yang matang terkait hal itu. Jika memang menggunakan kartu kendali maka pemerintah harus mengeluarkan biaya ekstra untuk proses survai dan pendataan, sedangkan jika berpatokan hanya pada plat nomor, maka perlu adanya bimbingan yang serius bagi para operator pom bensin. Rizal menambahkan, seharusnya pemerintah menyiapkan solusi lain yang lebih efektif sebagai cadangan jika program itu tidak berhasil. “Namun, berdasarkan berita yang saya baca di media, hal semacam itu masih belum ada sampai saat ini,” ucapnya kesal. rpd/p_asr

“Kebijakan, Jangan Sekadar Ujicoba” menyalurkan dan memasarkan baik itu kepada masyarakat maupun ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Itu bentuk pembagian kerjanya.

Adakah sosialisasi kepada Hiswana tentang pembatasan subsidi BBM? Hiswana pasti selalu dilibatkan dalam setiap kebijakan pemerintah terkait masalah BBM, termasuk menyangkut kebijakan pembatasan subsidi BBM. Sebelum keluarnya kebijakan, kami sudah diajak bicara oleh pemerintah. Waktu itu pemerintah mewacanakan pembatasan hanya berlaku bagi kendaraan keluaran tahun 2005 ke atas, tapi kami menolak karena tentu s a j a

bestari / ropidin

kebijakan tersebut akan menyulitkan tidak berhak menggunakan premium. kerja kami di lapangan. Menurut Bapak, sudah tepatkah Lantas, seperti apa teknis pelaksanaan kebijakan tersebut? kebijakan tersebut nantinya? Bagi kami jujur saja kebijakan Itulah permasalahannya. tersebut sangat merepotkan. Kami Sampai sekarang masih belum ada akan lebih senang jika tidak ada lagi keputusan. Masih ada dua opsi yang kebijakan-kebijakan yang berubah menjadi pertimbangan. Pertama, karena bagaimanapun pasti usaha kebijakan berlaku bagi mobil plat yang kami geluti akan terkena dampak hitam. Artinya, seluruh mobil yang kebijakan tersebut. Namun memang berplat hitam tidak diperkenankan harus diakui, selama ini APBN kita lagi menggunakan premium. Mau lebih banyak digunakan untuk subsidi, tidak mau mereka dipaksa pindah ke entah itu BBM maupun PLN yakni pertamax. Sedangkan alternatif kedua sekitar Rp 100 triliun. Jadi, salah satu yaitu berdasarkan tahun keluaran jalan untuk melakukan penghematan mobil. Opsi manapun yang akan yaitu dengan menghilangkan subsidi dilaksanakan, DPR telah meminta dan digunakan untuk kepentingan kami untuk mempersiapkan segalanya lain yang jauh lebih bermanfaat. secara matang. Sejujurnya, kerja kami di lapangan akan lebih mudah jika Adakah solusi yang lebih tepat? opsi pertama yang berlaku. Sebenarnya ada solusi yang Namun, jika nantinya justru jauh lebih efektif jika dibandingkan opsi kedua yang diberlakukan, maka dengan menghilangkan subsidi akan butuh persiapan yang benar- secara langsung. Untuk menekan benar matang. Salah satu jalan pembengkakan APBN yang yang ditempuh mungkin dengan digunakan untuk subsidi, pemerintah memberikan stiker bagi kendaraan bisa menerapkan cara bertahap yang berhak menggunakan pengurangan subsidi pada minyak premium. Dengan tanah. Misalnya, jika sekarang adanya stiker pemerintah mensubsidi harga minyak pembeda, kerja tanah sebesar tiga ribu rupiah, tahun operator pom depan dikurangi menjadi dua ribu bensin akan lebih rupiah saja, dan tahun depannya lagi mudah untuk menjadi seribu rupiah. membedakan Dengan cara seperti itu, k kendaraan mana pemerintah tetap dapat merealisasikan y yang berhak dan program pengurangan subsidi

Teuku Rizal Pahlevi

sementara masyarakat juga merasa tidak terlalu diberatkan karena mereka bisa menyesuaikan dengan kondisi ekonomi. Dengan berlakunya kebijakan tersebut, ada kemungkinan perusahaan asing akan mulai berkembang. Apa persiapan Pertamina? Memang kebijakan ini akan memancing bermunculannya perusahaan asing untuk menjual BBM di Indonesia. Untuk itu, jauhjauh hari Pertamina sudah melakukan persiapan di antaranya yaitu dengan program Pertamina away. Tujuan program ini yaitu meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat baik dari segi fasilitas, kualitas BBM, maupun layanan, sehingga diharapkan nantinya dapat bersaing dengan perusahaan asing yang akan bermunculan. Apa harapan Bapak jika kebijakan itu mulai berlaku? Sebagai pengusaha, kami hanya bisa berharap semuanya bisa berjalan dengan normal, tidak ada gejolak ataupun kecurangan. Jika memang pemerintah mempunyai program maka jalankanlah dengan tegas, jangan setengah-setengah apalagi hanya sekadar untuk uji coba. Selama ini pemerintah terkesan kurang tegas dalam menjalankan kebijakannya sehingga pendiriannya bisa cepat berubah dengan adanya gejolak di masyarakat.


14 BESTARI

Polling o

No. 269/TH.XXIII/Desember/2010

Jumlah Responden

Populasi

Taraf Signifikasi

Taraf Kesalahan

300

Mahasiswa

97,33 %

2,67 %

Sampel Area: UMM, Polinema, UNITRI, UM, ABM, UB, UWIKA, UWIGA, UNIGA, Poltekes, ITN, STIKI, UNIGA, UNMER, UIN, UNISMA, UNIKAN.

akar

Budaya Populer Masyarakat Dunia Setiap tahun baru Masehi masyarakat di dunia selalu menyambutnya dengan pesta perayaan, tak terkecuali di Indonesia. Perayaan ini beragam, mulai dari pesta hingga kegiatan sifatnya evaluasi dan refleksi diri. Menurut Sugeng Pujileksono, perayaan tahun baru bergantung kepada siapa yang menganut tahun itu. “Tahun Hijriah jelas umat Islam, Masehi umat Nasrani, tahun Cina pengikutnya orang Cina, tahun Saka agama Hindu Budha,” papar pria kelahiran 1965 itu. Peneliti di Lembaga Permasyarakatan (LP) Lowokwaru itu menjelaskan, perayaan tahun baru masehi merupakan fenomena lintas budaya yang tidak mengenal perbedaan negara, suku, agama, ras, maupun warna kulit. Perayaan ini dan sudah menjadi budaya massa. “Non Nasrani pun ikut merayakan tahun baru, ini seolah menjadi budaya populer,” jelasnya. Menurut penulis buku Kumpulan Tulisan Napi; Suara Hati dari Balik Kawat Trelali Besi itu, perayaan tahun baru bisa menyebabkan terjadinya kenaikan perputaran ekonomi. Hal itu tidak lain karena seluruh masyarakat baik di kota besar maupun pelosok desa ikut merayakan dengan berbagai bentuk kegiatan yang mengeluarkan uang. “Dengan sekedar membeli kembang api saja sudah menunjukkan adanya perputaran ekonomi,” papar pria ramah itu. Berdasarkan tingkat ekonomi, lanjut pria berdomisili di Malang itu, individupa individu dalam merayakan tahun baru dapat diklasifikasikan menjadi beberapa ri, macam, pertama, individu kelas atas maka akan memilih pergi ke luar negeri, n, kedua, ekonomi menengah biasanya memilih melakukan konvoi turun ke jalan, mi atau sekedar menyalakan kembang api, ketiga, individu dengan tingkat ekonomi npas-pasan lebih memilih di rumah atau hanya sekedar berkumpul bersama temania temannya. “Meski demikian semua individu tersebut tetap merasakan euforia an kegembiraan tahun baru yang sama, walau dengan penyikapan dan perayaan berbeda,” ujarnya. Lebih dari itu, pria yang sedang mengerjakan Disertasi berjudul Pemahaman Sipir dan Napi Tentang Negosieted Order di Lembaga Permasyarakatan itu mengatakan perayaan tahun baru sebaiknya dimaknai sebagai tahun refleksi dan evaluasi diri. “Hal itu untuk melakukan perenungan, apa target yang belum dicapai dan apa yang akan dilakukan satu tahun ke depan,” terangnya Ketika disodori pertanyaan tentang bentuk refleksi dan eveluasi diri yang tepat, pria santun itu mengatakan, tergantung siapa yang melakukan refleksi dan evaluasi diri. Perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat (LSM), atau lembagalembaga lain, akan melakukan evaluasi kegagalan, prestasi yang sudah diraih, dan menentukan program satu tahun ke depan. “Untuk individu bisa mengevaluasi dan merefleksi diri tentang kegagalan, kesenangan, kedukaan yang dihadapi,” tambahnya. Sugeng menambahkan, masyarakat boleh saja merayakan tahun baru asal tidak berlebihan. “Islam sendiri tidak mentradisikan hura-hura, bahkan cenderung melarang umatnya berlebih-lebihan, jadi rayakan tahun baru sekedarnya saja, apalagi kondisi negeri ini sedang memprihatinkan baik karena bencana alam maupun terjadinya konflik horizontal. Selain itu banyak masyarakat kita yang miskin dan menderita,” pesannya mengakhiri. m_rif

Tahun baru Hijriah 1932 H baru saja dirayakan oleh sebagian umat Islam, disusul dengan datangnya tahun baru Masehi 2011. Pandangan masyarakat khususnya mahasiswa dalam memaknai awal tahun sangat beragam. Berbagai macam kegiatan juga dilakukan oleh mahasiswa dalam menyambut tahun baru tersebut.

Sugeng Pujileksono

Apa makna pergantian tahun menurut Anda? 35,33% 32%

Berdasarkan hasil polling Bestari, diketahui Sebanyak 32 % dari 300 responden memaknai tahun baru sebagai sebuah momen atau waktu untuk melakukan perbaikan diri. Salah satunya adalah Evi Nurul. Menurut mahasiswi kelahiran Jambi tersebut, setiap manusia selalu mengalami perubahan dan perkembangan. “Tahun baru adalah momen untuk mengoreksi diri demi perbaikan ke depan,” jelas mahasiswi Matematika Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim tersebut. Sementara 35,33 % responden memahami tahun baru sebagai momen untuk mengevaluasi aktivitas tahun sebelumnya. Reza Hardi, mahasiswa asal Bangkalan mengatakan, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan karena kesalahan merupakan sifat dasar manusia. “Untuk itu perlu evaluasi agar bisa menjadi lebih baik,” ujar pria kelahiran 1990 tersebut. Pilihan Reza diperkuat oleh Wiwit Sitiaji. Menurut Mahasiswa Teknik Mesin UMM itu, evaluasi merupakan sesuatu yang penting untuk dilakukan demi perbaikan diri. “Tahun baru adalah momen yang tepat untuk evaluasi tersebut,” ungkap pria asal Pandaan tersebut. Berbeda dengan Reza, Slamet Rudianto mengatakan, tahun baru merupakan awal memulai hidup baru. “Segala aktivitas kita dimulai dengan semangat baru,” ungkap mahasiswa Teknik Mesin UMM tersebut mewakili 14,67 % responden. Bagi 59 % responden, antara tahun baru berbeda dengan hari-hari di tahun sebelumnya. Seperti halnya yang diakui oleh Desi Ratnasari. Menurut mahasiswi Jurusan Matematika UMM tersebut, tahun baru seperti jiwa yang baru. “Jadi sebagai ajang merubah diri menjadi yang lebih baik,” ungkap wanita kelahiran Balikpapan tersebut. Demikian halnya dengan Lestari, mahasiswi Bimbingan Konseling (BK) Universitas Kanjuruhan Malang. Ia mengatakan, tidak sama antara hari di awal tahun baru dengan hari-hari sebelumnya. Sedangkan menurut 37 % mengaku sama antara hari-hari di awal-awal tahun baru. Ika Reto Wahyuningtias, mahasiswi Jurusan Bimbingan Konseling Universitas Kanjuruhan, merasa tidak ada perbedaan antara hari di antara keduanya. “Biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa,” jelas wanita kelahiran 1992 itu. rjb

14.67%

Momen untuk mengevaluasi 4.33% aktivitas tahun Waktu untuk sebelumnya melakukan perbaikan diri Awal memulai

Menurut Anda, adakah perbedaan antara harihari di awal tahun baru dengan hari-hari di tahun sebelumnya?

7.33% 3.67%

hidup baru

Model: Dendy Noviandita Foto: Heni Tri Novianti Grafis:Zack

Lainnya Sekedar pesta kembang api dan terompet

Abstain

Ada 59%

Tidak 37%

Abstain 1,33%

Cukup di Kos-kosan Bersama Teman-teman Menghadapi pergantian tahun, berbagai macam aktivitas dilakukan mahasiswa. Ada yang menyambutnya dengan istimewa, ada pula yang menganggapnya biasa-biasa saja. Dari hasil polling Bestari diketahui sebanyak 72 % responden mengaku pernah merayakan tahun baru. Salah satunya adalah Samsul Ma’arif, mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. “Datangnya awal tahun biasanya saya rayakan dengan Pernakah Anda merayakan tahun baru?

zack/Bestari

berkumpul di rumah teman,” ungkapnya. Sementara 22,67 % mengaku tidak pernah merayakan datangnya pergantian tahun. Berbagai kegiatan yang dilakukan mahasiswa dalam menyambut tahun baru juga beragam. Berdasarkan hasil polling Bestari diketahui sebanyak 15,74 % responden mengaku menghabiskan malam tahun barunya dengan pergi ke tempat pesta kembang api di gelar. Sedangkan 11.11 % responden yang lain memilih jalan-jalan putar kota untuk menikmati kemeriahan datangnya detik pergantian tahun. Sementara 7,41 % lainnya memilih mengunjungi tempat hiburan. Mementingkan nilai kebersamaan,

29,63 % responden ternyata memilih untuk menghabiskan malam tahun barunya dengan berkumpul bersama teman-teman. Misalnya, Muhammad Arifuddin, mahasiswa UMM asal Sidoarjo. Baginya berkumpul bersama keluarga pada malam tahun baru lebih bermakna dari pada buang-buang waktu dengan berkeliaran di jalan. “Saya berkumpul dengan teman-teman dan mengadakan sharing agar perayaan tahun baru lebih bermanfaat,” papar mahasiswa berusia 24 tahun itu. Senada dengan Arifuddin, May Shinta, mahasiswa asal Malang, juga memilih berkumpul di rumah teman pada saat malam tahun baru tiba. “Saya tidak mau buang-buang waktu

dengan hura-hura,” papar mahasiswi Politeknik Kesehatan (Poltekes) Malang tersebut. Selain perayaan yang berbeda, tempat merayakan tahun baru pun bermacam-macam. Berdasarkan hasil polling Bestari, sebanyak 14% responden mengaku menyambut datangnya tahu baru di sepanjang jalan. Misalnya Lina Nuraini, mahasiswi Jurusan Gizi Poltekes Malang. “Saya lebih senang berputarputar kota sambil melihat keramaian jalan di malam pergantian tahun,” ungkapnya mewakili. Selain sepanjang jalan, sebagian besar mahasiswa juga memilih koskosan sebagai tem,pat perayaan datangnya tahun baru. Adapun sebanyak 42,33 % memilih selain pilihan di atas. Seperti Citra Mulia Setiawan. Mahasiswa Teknik Mesin UMM tersebut memilih merayakan tahun baru di rumah.

“Saat tahun baru saya lebih senang berkumpul dengan keluarga,” ujarnya p_awi

Kegiatan apa yang Anda lakukan dalam rangka merayakan tahun baru tersebut? Pergi ke tempat pesta kembang api digelar 15,74%, Jalan-jalan putar kota 11,11% Pergi ke tempat hiburan 7,41% Berkumpul di rumah teman 29,63% Lainnya 31,48% Abstain 4,63%


Polling o

BESTARI No. 269/TH.XXIII/Desember/2010

Perbaiki dengan Doa Tahun baru merupakan momen merupakan hal yang sia-sia. “Tidak ada yang dapat dimaknai dengan berbagai yang perlu dievaluasi dari diri saya, karena kegiatan. Salah Pernahkah Anda melakukan evaluasi diri hingga saat ini semua satunya adalah ketika memasuki tahun baru? yang saya lakukan kegiatan evaluasi adalah yang terbaik,” diri. Menurut hasil polling jelas mahasiswa Politeknik Negeri Bestari sebanyak 74,33 Malang itu. % responden mengaku Sementara bentuk evaluasi pernah melakukan diri yang dilakukan oleh evaluasi diri ketika mahasiswa sangat beragam. tahun baru. Salah Berdasarkan hasil polling Bestari satunya adalah Evi, sebanyak 12,60 % responden mahasiswa Universitas memilih untuk merenung di Negeri Malang (UM). tempat yang jauh dari keramaian. Menurut Evi, datangnya Sedangkan sebanyak 18,70 % tahun baru menjadi waktu yang responden memilih membuat daftar tepat untuk mengevaluasi diri. kesuksesan dan kegagalan di tahun Senada dengan ungkapan Evi, Hendra sebelumnya. Ade Maulana mengatakan, sudah menjadi Rista, mahasiswi Jurusan Fisika sebuah keharusan mengevaluasi diri ketika Universitas Islam Negeri (UIN) tahun baru datang. “Untuk memulai tahun Malang mengaku lebih memilih untuk yang baru, yang harus kita lakukan adalah curhat dengan teman sebagai wujud evaluasi untuk perbaikan diri kita,” jelas evaluasi diri. “Dengan curhat kepada mahasiswa jurusan Teknik Mesin UMM teman, saya memiliki saksi untuk tersebut. perubahan sikap yang saya lakukan,” Pernyataan berbeda diungkapkan 20 ujarnya mewakili 8,01 % responden . % responden yang mengaku tidak pernah Memperbaiki kualitas keimanan melakukan evaluasi diri ketika tahun baru. menjadi pilihan utama pada saat evaluasi Salah satunya adalah Winda Lila. Menurut diri. Sebanyak 38,17% responden memilih wanita asli Malang itu, evaluasi diri berdoa seperti salat, mengaji, dan

memperbanyak ibadah, sebagai bentuk evaluasi diri mereka. Salah satunya adalah Allen Septya Jashinta. “Sebagai wujud evaluasi diri di tahun baru, saya memperbanyak membaca buku-buku Islam dan bergaul dengan orang-orang saleh, guna memperbaiki kualitas ibadah saya,” jelas mahasiswa Jurusan Pendidikan Sastra Indonesia UM tersebut. Luluk, mahasiswa Manajemen UM mengungkapkan, meningkatkan ibadah dapat menghilangkan berbagai penyakit hati. Sementara itu, 13,74% responden melakukan evaluasi dengan berbagai cara lainnya. p_emy

zack/Bestari

Jadwalkan Target Keberhasilan

Tahun 2011 menjadi awal bagi para mahasiswa untuk memperbaiki diri, baik itu perbaikan sikap, perilaku, agama, maupun kecerdasan. Berdasarkan hasil poling Bestari, diketahui 16,33% responden lebih mengutamakan memperbaiki kualitas agama pada tahun depan. Salah satunya adalah Qoyyimatul Himmah, mahasiswi Universitas Gajayana Malang yang mengaku paling ingin memperbaiki kualitas agama. “Pada tahun ini saya merasa keimanan saya masih kurang, jadi tahun depan saya ingin memperbaiki agama saya,” ujar mahasiswa asal Banyuwangi ini. Hal yang sama disampaikan Elly, mahasiswa asal Palu. “Semakin lama usia kita semakin tua, agar nantinya khusnul khotimah lebih baik agama kita yang diberbaiki,” tuturnya. Sedangkan sebanyak 13,67% responden

mengaku lebih mengutamakan perbaikan sikap untuk tahun depan, misalnya Rima Setia Rini. Menurut mahasiswa Poltekes ini, sikap di tahun yang akan datang harus lebih baik daripada tahun sebelumnya. “Dari tahun ketahun umur kita selalu bertambah, sudah selayaknya kita memperbaiki diri supaya lebih dewasa,” ungkapnya. Sementara itu sebanyak 12,33% responden menjadikan perbaikan perilaku sebagai prioritas utama di tahun depan, salah satunya Aloysius Oktavius Joys. Mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang ini menyatakan, perbaikan perilaku perlu dilakukan agar mendapatkan banyak teman. “Apabila perilaku kita semakin baik, otomatis teman kita semakin banyak,”ungkapnya. Alasan berbeda dikemukakan oleh Ogilvei Miguel Suarez, yang menyatakan kecerdasan adalah poin utama yang perlu diperbaiki di tahun depan. “Supaya cepat selesai kuliahnya,” pungkas mahasiswa Universitas Gajayana ini mewakili 10% responden.

Mendominasi jumlah suara, 29,67% responen mengutamakan perbaikan semua aspek di tahun depan. Salah satunya adalah Fajar, mahasiswa Teknik Arsitektur ITN Malang yang mengatakan percuma jika hanya memperbaiki diri pada satu aspek saja. “Banyak yang harus diperbaiki pada diri kita, seharusnya perbaikan itu dilakukan secara menyeluruh,” tuturnya. Disinggung mengenai apa yang harus dilakukan mahasiswa untuk perbaikan pada tahun depan, para mahasiswa mempunyai berbagai cara yang berbeda. Raehul Janah mengatakan akan membuat jadwal yang berisi tentang target keberhasilan sebagai bentuk kontrol perbaikan yang dilakukan. “Dengan membuat jadwal dan menepatinya dengan disiplin yang tinggi, makaevaluasi pencapaian dapat dilakukan dengan baik,” ujar mahasiswa UIN Malang tersebut. Lain halnya dengan Dwi Yuda P, mahasiswa STIKI Malang ini mengaku akan memperbaiki agamanya dengan cara beribadah. “Akan saya perbaiki dengan melaksanakan seluruh perintah agama karena saya yakin jika agama baik, maka segala hal yang perlu diperbaiki juga akan tercapai dengan baik,”pungkasnya. p_fir

Perayaan-nya Lekat dengan Maksiat Pandangan mahasiswa dalam memaknai tahun baru sangat beragam. Di antara mereka ada yang menganggap tahun baru sebagai hari istimewa dengan perayaan yang penuh dengan kesenangan dan hura-hura, tetapi ada juga yang memaknainya seperti hari biasanya. Bagi sebagian lainnya, tahun baru dan momen untuk introspeksi diri. Ana Ahsanul Huda, mahasiswa jurusan Syari’ah Fakultas Agama Islam (FAI) UMM memilih untuk tidak merayakan tahun baru. Menurutnya perayaan tahun baru deden/Bestari yang identik dengan

Ana Ahsanul Huda

hura-hura itu merupakan perkara syubhat. “Jadi saya lebih memilih jalur amannya saja, yakni dengan tidak merayakannya. Saya lebih cenderung introspeksi diri dan membuat perencanaan ke depan,” paparnya. Pria asal Malang itu mengatakan, perayaan tahun baru telah menjadi adat atau kebiasaan masyarakat Indonesia dan lebih identik dengan kegiatan hura-hura. “Di Indonesia, datangnya tahun baru selalu disambut meriah oleh masyarakat. Biasanya perayaan tersebut identik dengan hura-hura,” jelasnya. Menurut mahasiswa yang aktif sebagai anggota Corporation Mubaligh Muhammadiyah (CMM) itu, ada dua pandangan umum untuk meninjau fenomena perayaan

15

Simpul Koreksi Diri Jangan Hanya Setahun Sekali Datangnya tahun baru 2011 merupakan momentum yang menyimpan berbagai makna tersendiri lantaran kehadirannya begitu eksklusif bagi masyarakat, khususnya mahasiswa. Oleh karena itu tidak sedikit mereka yang merayakan tahun baru tersebut. Selain perayaannya, hal lain yang lebih penting dari tahun baru adalah kesempatan untuk melakukan evaluasi diri demi perbaikan di tahun Abdul Haris deden/Bestari selanjutnya. Abdul Haris, salah satu pengajar di Fakultas Agama Islam (FAI) UMM mengatakan tahun baru adalah awal perubahan yang baik untuk ke depan. “Itu adalah hal yang bagus karena ada upaya perbaikan diri,” paparnya menanggapi pilihan mahasiswa yang mayoritas setuju datangnya tahun baru sebagai momen evaluasi. “Akan tetapi tidak hanya sebatas evaluasi di awal tahun saja karena evaluasi bisa kapan saja dilakukan,” ujar dosen ramah itu. Haris mencontohkan, salah satu bentuk evaluasi yang dapat dilakukan tanpa menunggu datangnya tahun baru adalah setiap selesai salat. Menurut Haris, semestinya ada perenungan sejenak mengenai apa yang telah kita lakukan, untuk itu umat Islam sangat dianjurkan untuk berzikir setelah salat. “Jadi evaluasi tidak harus menunggu setahun sekali,” ungkap alumni Khartoum International Institute, Sudan tersebut. Mayoritas responden mengaku menghabiskan waktu malam tahun barunya dengan mengadakan kegiatan di rumah teman. Menurut Haris, kegiatan yang dilakukan boleh apa saja dan di mana saja atau bahkan di tempat keramaian asalkan mengandung nilai positif. ”Boleh saja berkumpul di rumah teman dengan mengadakan evaluasi bersama,” ujarnya. Mengenai bentuk evaluasi, menurut pria pengampu mata kuliah Bahasa Arab itu hanya persoalan teknis, jadi boleh saja dilakukan dengan cara merenung di tempat sepi, curhat kepada teman, maupun berdoa di masjid. “Evaluasi itu terserah dengan cara apa saja yang penting esensi evaluasinya terwujud. Demikian juga dengan masalah apa yang perlu dievaluasi,” ujarnya. Menanggapi prioritas mahasiswa yang menyatakan agama adalah hal yang paling penting untuk di evaluasi, Ketua Divisi Timur Tengah membenarkannya. Menurutnya agama adalah induk, demikian juga dengan intelektualitas. “Tuhan akan memudahkan jalan hambanya yang beriman dan bertakwa dalam menuntut ilmu,” katanya. Di akhir penjelasannya, Haris berharap agar masyarakat terutama mahasiswa sering mengevaluasi diri dan tidak harus menunggu momentum tertentu seperti ulang tahun atau tahun baru, karena evaluasi bisa dilakukan kapan saja dengan cara apa saja. “Yang penting perbanyak evaluasi,”tegasnya mengakhiri. p_awi

tahun baru. “Pendapat yang yang pertama mengharamkan kegiatan tersebut, karena miliknya orang kafir, serupa dengan orang kafir, penuh dengan maksiat, dan bid’ah. Pendapat yang kedua adalah mubah, yang mengatakan bahwa semua itu tergantung pada niatnya. Sedangkan saya pribadi, jika untuk mengultuskan hal tersebut, maka itu haram jika perayaannya hanya hura-hura. Tetapi jika untuk mengintrospeksi diri sangat baik,” jelasnya. Laki-laki murah senyum tersebut menjelaskan bahwa pada suatu hari Nabi Muhammad datang ke Madinah, lalu ada kaum yang sedang mengultuskan sebuah hari. Lalu Nabi bertanya mengapa mereka mengultuskan hari itu. Kaum tersebut lantas menjawab, saya melakukannya karena pada masa jahiliah hal tersebut dilakukan. "Nabi pun kembali menjawab, bagi kaum yang mengultuskan hari selain hari yang ada pada agama Islam seperti Idul Fitri dan Idul Adha akan berlalu seperti tidak bermakna bagi orang-orang seperti itu, ” ungkapnya.

Dia juga menambahkan bahwa perayaan tahun baru adalah salah satu cara kristenisasi. “Saya pernah berkunjung ke salah satu daerah di Malang dan 88 % penduduknya adalah umat Nasrani. Pada saat hari raya Idul Fitri masyarakat di sana mengucapkan ‘Selamat Hari Raya Idul Fitri’, dan pada Tahun Baru mereka mengajak kaum muslim yang ada di wilayah itu untuk merayakannya bersama-sama,” ungkap pria yang aktif di Jamaah AR. Fahcrudin tersebut. Dia menganggap bahwa perayaan tahun baru sebagai hari libur biasa. “Seperti hari Jumat atau hari Minggu,”akunya. Sampai saat ini ia belum pernah merayakan tahun baru. Laki-laki yang kerap dipanggil Ana itu menuturkan, dia lebih senang berada di rumah untuk introspeksi diri, meskipun terkadang dia berkeliling kota Malang, hanya untuk melihat kegiatan yang dilakukan masyarakat Malang dalam menyambut tahun baru. “Sebaiknya tahun baru itu tidak usah dirayakan, karena biasanya perayaan tahun baru tidak lepas dari maksiat,”pungkasnya. p_emy


16 BESTARI

PERNIK MALANG

No. 269/TH.XXIII/Desember/2010

Stupa Budha di Singosari

Sumberawan, Wujud Toleransi Keberagamaan Candi dengan panorama alam dan memiliki sumber air alami sangat jarang ditemukan di Jawa Timur. Namun, ada satu candi berbentuk stupa yang bisa dijumpai di Malang dan mempunyai karakteristik ini. Berikut reportase Tim Pernik, Bestari.

C

andi Sumberawan berada di Desa Sumberawan Kecamatan Singosari Kabupaten Malang. Lokasi Candi Sumberawan ini berjarak 8 km dari pusat Kota Malang atau kurang lebih 6 km arah barat laut dari Kecamatan Singosari Kabupaten Malang. Dari Jalan Raya Malang-Surabaya, pengunjung bisa menemukan lokasi candi ini di dekat pasar tradisional di Singosari sekitar 8,5 km sebelah barat Markas Komando Divisi Infantri 2 Kostrad. Pengunjung yang menggunakan angkutan bus antar kota (Malang-Surabaya), biasanya menyambung perjalanan dengan memanfaatkan jasa ojek yang ada di pangkalan ojek “Songsong”, Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Malang. Untuk menuju ke Candi Sumberawan ini, banyak rambu dan papan penunjuk yang bisa mengarahkan pengunjung ke lokasi. Sekitar 400 m menuju candi, sarana jalan tidaklah sebesar yang mungkin diharapkan. Kondisi jalannya masih berupa tanah basah bercampur batu. Lebar jalan setapaknya cukup sempit yakni tidak lebih dari setengah meter. Pengunjung sebaiknya menyusurinya dengan berjalan kaki. Pemandangan menuju candi didominasi dengan pepohonan sehingga ruas jalan cukup teduh. Sementara itu, bagi yang membawa kendaraan bisa menitipkannya di rumah penduduk setempat. Termasuk Kategori Stupa Candi Sumberawan terletak sekitar satu kilometer dari gerbang Candi Singosari yang merupakan candi umat Hindu. Candi ini dibangun pada ketinggian 650 m di atas permukaan laut. Salah satu artefak sejarah peninggalan Kerajaan Singosari ini berada di sisi selatan kaki bukit Gunung Arjuna. Daerah di sekitar stupa yogi agung merupakan hutan pinus.

Meski lokasi dekat dengan candi Hindu, Candi Sumberawan sendiri merupakan salah satu candi Budha di Jawa Timur. Situs ini diidentifikasi sekitar akhir abad ke-14 atau awal abad ke-15. Kitab Negarakertagama menyebut situs ini dengan sebutan Kasurangganan atau “taman surgawi nimfa” yang bermakna “tempat para Dewa”. Candi ini juga pernah

deden / Bestari

Candi Sumberawan: Salah satu Candi peninggalan agama Budha yang berada di Malang, bangunan candi tersebut disinyalir dibuat pada awal abad ke-15.

dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk dari Majapahit pada tahun 1359. Dilihat dari bentuk teknisnya, Candi Sumberawan ini digolongkan sebagai stupa yang berdiri sendiri namun berkelompok. Pada stupa Sumberawan, masing-masing bagian masih berupa bentuk yang lengkap. Bentuk teknis stupa seperti ini dapat dijumpai pada candi Dadi (Tulungagung), Muara Takus (Sumatera), dan stupa Sumberawan itu sendiri. Candi ini terbuat dari batu kali yang disusun hingga menyerupai sebuah stupa. Candi ini dibuat dari batu andesit dengan ukuran panjang 6,25 m, lebar 6,25 m, dan tinggi 5,23 m. Stupa Sumberawan termasuk golongan bangunan yang bentuknya

candi juga memiliki penampil pada keempat sisinya. Di atas kaki candi berdiri stupa yang terdiri atas lapik bujur sangkar dan lapik berbentuk segi delapan dengan bantalan padma (berbentuk teratai/seroja) sebagai lambang kahyangan. Sedangkan, bagian atas berbentuk genta (stupa) yang puncaknya telah hilang. Diduga, dulu pada puncak stupa ada sebuah “pucuk”. Pada saat pemugaran tahun 1937, bagian teratas tubuh candi terpaksa tidak dipasang kembali dengan payung atau chattra karena sisa-sisanya tidak ditemukan sama sekali. Candi yang merupakan satusatunya stupa yang ditemukan di Jawa Timur ini tidak memiliki tangga naik atau sesuatu yang lain yang menunjukkan ba bahwa bangunan itu dapat dinaiki. Selanjutnya penyelidikan m memberi kepastian ba bahwa bidang b e r b e n t u k ge genta itu tidak m memiliki ruangan di dalamnya ya yang biasanya di digunakan untuk menyimpan ca carira atau benda su suci. Jadi, hanya be bentuk luarnya sa saja yang berupa stu stupa, tetapi fu fungsinya tidak se seperti lazimnya stu stupa yang se sesungguhnya. deden / Bestari

terkadang menyempatkan diri untuk mandi di kolam ini. Di dekat lokasi Candi Sumberawan juga terdapat dua tempat pemandian untuk mensucikan diri sebelum bermeditasi. Lokasi pemandian itu pun terpisah dan sampai saat ini masih terpelihara. Mata air ini hingga kini masih dimanfaatkan untuk keperluan hidup penduduk sekitar dengan mengalirkannya melalui pipa-pipa maupun untuk mengairi sawah. Air sumber itu sekarang juga dimanfaatkan untuk air minum oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Malang. Meski candi Budha, tidak hanya umat Budha yang melakukan sembahyang di sana. Sekali waktu dapat ditemui pengikut Hindu yang juga melakukan hal serupa. Kondisi toleran semacam ini konon peninggalan kebijakan tolerasi atas keberagaman oleh Raja Singosari, Kertanegara. Menurut sejarah, tempat ini dulunya juga sering dikunjungi Prabu Hayam Wuruk dimasa kejayaan Majapahit. Diperkirakan, candi ini dahulu memang didirikannya untuk pemujaan. Setiap Waisak, Candi Sumberawan banyak dikunjungi umat Budha. Mereka biasanya bermeditasi di malam hari. Di dekat telaga, tepatnya di barat daya Candi Sumberawan juga terdapat semacam rumah kecil yang di dalamnya ada altar khusus tempat bersemedi. Bila dilihat ke dalam, ada semacam tempat dupa, silsilah rajaraja di Indonesia, bahkan ada bendera Merah Putih serta lambang negara Indonesia yaitu Garuda Pancasila.

sederhana. Candi umat Budha ini membentuk patung tanpa aksesori. Tubuh candi berbentuk persegi panjang dan mengandung dua bagian. Pada batur (bangunan di atas tingkat yang posisinya paling bawah) candi berdenah bujur sangkar, tidak memiliki tangga naik dan polos tidak berelief. Pada batur candi yang tinggi terdapat selasar. Kaki

Tempat Meditasi Dulunya, candi ini sebenarnya berada di tengah-tengah telaga dengan sumber air besar. Namun sekarang, kapasitas air di telaga menyusut sehingga tampak telaga berada di sisi selatan candi saja. Warga setempat mengatakan bahwa air kolam Sumberawan memiliki energi besar bagi kesehatan. Beberapa pengunjung

Masih Perlu Dibenahi Sementara itu, salah satu warga Desa Sumberawan yang berhasil Bestari jumpai di sana menyatakan biasanya pengunjung ramai pada hari libur saja. “Kalau hari biasa cenderung sepi. Untuk turis asing paling hanya sesekali,” ungkap pria yang sehari-harinya berprofesi sebagai petani itu.

Dari pengunjung lain, Faizza yang asal Malang mengatakan bahwa lokasi Candi Sumberawan masih alami, berada di tengah-tengah hutan, dan belum ada polusi. “Di sini saya bisa menenangkan diri dengan menikmati suasana yang masih alami,” ungkapnya. Hal senada diakui Yani. Wanita asal Malang itu mengungkapkan suasana di Candi Sumberawan cocok sebagai tempat menikmati waktu akhir pekan bersama keluarganya. “Udaranya masih sangat sejuk,” ujarnya. Lain Yani, lain Novita Sari. Salah satu pengunjung asal Comboran itu bahkan mengungkapkan dia sering sekali mandi di kolam Candi Sumberawan. Dia termasuk yang percaya bahwa air sumber akan memberikan banyak manfaat. “Setiap saya ke sini saya menyempatkan untuk mandi di sumber air ini,” tutur wanita yang akrab disapa Novi itu. Meski begitu, ada pula pengunjung yang mengeluhkan tentang fasilitas. Bagi beberapa di antara mereka, fasilitas yang ada di candi itu dirasa masih kurang. Menurut Dimas, salah satu pengunjung asal Malang, akses jalan yang hanya setapak dengan batu-batu terjal ke depannya perlu segera dibenahi. “Selain itu, fasilitas kamar mandi masih kurang memadai dan tampak kotor. Sebenarnya, pengunjung juga membutuhkan adanya warung penjual makanan di sekitar lokasi,” harapnya. Terkait dengan promosi, sebenarnya Malang Tourist Information Center (MTC) telah memperkenalkannya pada wisatawan yang berkunjung ke Malang. Namun, menurut Roni Wijaya yang merupakan salah satu staf MTC, sejauh ini sebagian besar para turis banyak yang lebih memilih wisata alam. “Semoga suatu waktu nanti para turis dan pendatang dari luar Malang akan lebih tertarik untuk berwisata ke situs candi-candi yang merupakan ciri khas kebudayaan yang ada di Malang,” harapnya. fbr/m_ ihe/p_hmd/ben


BESTARI No. 269/TH.XXIII/Desember/2010

PERNIK MALANG

17

Sejak 1937 Belum Ada Pemugaran Lagi Nama Sumberawan diduga berasal dari nama desa lokasi candi, Sumberawan. Akan tetapi, ada juga yang menganalisis bahwa nama Sumberawan berasal dari kata sumber (mata air) dan rawan (rawa-rawa atau telaga). Hal ini karena di dekat stupa tersebut banyak sumber air yang terkumpul membentuk rawan. Dulu, penduduk sekitar menyebutnya sebagai candi Rawan. Sementara itu, para ahli purbakala memperkirakan Candi Sumberawan dulunya bernama Kasurangganan atau “taman bidadari”, sebuah nama yang terkenal dalam kitab Negarakertagama. Tempat tersebut telah dikunjungi Hayam Wuruk pada tahun 1359 Masehi sewaktu ia mengadakan perjalanan keliling. Dari bentuk-bentuk yang tertulis pada bagian batur dan dagoba (stupa), dapat diperkirakan bahwa bangunan Candi Sumberawan didirikan sekitar abad 14 sampai 15 Masehi yaitu pada periode Majapahit. Bentuk stupa pada Candi Sumberawan ini menunjukkan latar belakang keagamaan yang bersifat Buddisme. Candi Sumberawan pertama kali ditemukan pada tahun 1904 oleh penduduk pribumi setempat. Kemudian, keberadaan candi ini dilaporkan kepada pemerintahan Hindia Belanda sehingga pada tahun 1904 baru disebut-sebut oleh orang Eropa (Belanda). Mulai tahun 1928, candi ini mendapat perhatian yang akhirnya mengarah pada upaya penggalian. Setelah itu, dilakukan perencanaan dan pembangunan kembali. Pada tahun 1935, Candi Sumberawan kembali dikunjungi oleh peneliti dari Dinas Purbakala. Pada tahun 1937, diadakan pemugaran pada bagian kaki candi, sedangkan sisanya direkonstruksi secara darurat. Pemugaran pada tahun tersebut dipimpin oleh seorang ahli

USIF L K S EK Mendengar nama Candi Sumberawan, bisa jadi tidak akan banyak bedanya dengan candi lainnya. Namun, candi pun ternyata memiliki ciri khusus yang membedakan apakah ia merupakan p e n i n gga l a n s u a t u

purbakala dari jawatan purbakala Hindia Belanda yaitu Ir. Van Rosomonoh. Sampai sekarang belum ada pemugaran untuk yang kedua kalinya. Berdasarkan penelitian dan penggalian pada 1935-1937 tersebut, tidak ditemukan benda apapun di dalam bangunan stupanya maupun di bawah tanah. Memang, di tubuh stupa itu tidak didapatkan rongga atau ruang di dalamnya. Dengan demikian, fungsinya tidak dapat dikatakan sebagai tempat penyimpanan tulang belulang dan abu jenazah para bhiksu atau tidak dapat disebut sebagai datugarbha (stupa). Para peneliti tersebut menduga fungsi Stupa Sumberawan adalah sebagai lambang suci agama

deden / Bestari

Simbol Religius: Tempat pemujaan umat beragama Budha pada jaman dahulu yang terletak di komplek candi Sumberawan.

B dh yang di b h d Budha dianggap bertuah dan memiliki kekuatan gaib. Simbol Religius Dalam perkembangannya di Jawa, bangunan-bangunan suci agama Hindu maupun Budha fungsinya seringkali disesuaikan dengan kebutuhan setempat. Umumnya fungsi tersebut berkenaan dengan hal-hal yang bersifat religius ataupun magis. Pembagian dhatu pada stupa Sumberawan (termasuk pada Candi Borobudur di Magelang) berkonsep pada gambaran stupa secara teknis yang mempunyai bentuk dari bawah ke atas antara lain kamadhatu, rupadhatu dan arupadhatu. Kamadhatu digambarkan dengan

ba bangunan paling dasar berbentuk segi da em empat. Bangunan ini be bermakna alam bawah at atau alam dunia yang m masih dikuasai oleh ke keinginan-keinginan yang rendah, yaitu dunia manusia biasa. Rupadhatu digambarkan bangunan berbentuk segi delapan. Bangunan ini bermakna dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari ikatan nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Dalam hal ini adalah dunianya orang suci dan merupakan alam antara yang memisahkan alam atas dengan alam bawah. Sementara itu, arupadhatu yang digambarkan bangunan berbentuk lingkaran bermakna alam atas atau nirwana yaitu tempat kebebasan mutlak telah tercapai. Makna bebas dari keinginan dan bebas dari ikatan bentuk dan rupa ini digambarkan dengan tidak adanya relief. Inti makna dari tingkatan

bangunan stupa adalah menuju kepada kesempurnaan hidup dan bersatu dengan zat yang tanpa awal dan tanpa akhir (digambarkan dalam bentuk lingkaran). Menurut pengelola sekaligus juru kunci Candi Sumberawan, Nuryadi, ada dua tempat di wilayah situs yang melambangkan tempat beribadatan agama Budha tersebut, yakni pemandian Ken Dedes dan Ken Arok. Lokasi pemandian yang terpisah itu sampai saat ini masih terpelihara. Menurut Nuryadi, air tersebut dijadikan sebagai alat atau media transformasi untuk mensucikan atau air amerta. Amerta dalam bahasa Sansekerta diartikan sebagai air yang tidak mati. Konsep ini diambil dari India yang pada jaman duhulu menurut cerita terdapat Gunung Mandara dan Samudra Mantana yang menjadi perpaduan air amerta yang diperebutkan para Dewa. Konon katanya, siapa saja yang meminum air amerta itu tidak akan bisa mati atau kekal selama-

lamanya sehingga Candi Sumberawan diibaratkan sebagai Gunung Mandara dan sumber airnya diibaratkan sebagai Samudra Mantana. Oleh karena itu, air tersebut memberi sumber penghidupan seperti pertanian, kebutuhan air minum, dan juga sebagai sarana beribadah. “Sumber air ini yang terbesar di sini dan 90% digunakan masyarakat daerah Singosari,” ungkapnya. Setiap Waisak, pemeluk agama Budha berkunjung ke Candi Sumberawan untuk melakukan ritual kelahiran kehidupan Sang Budha. “Akan tetapi agama Hindu juga pernah melakukan ritual di candi dan orang kejawen pun hampir setiap hari dan malam suro melakukan ritual di sini. Bentuk pemujaan orang Budha disebut paradaksina yaitu mengelilingi candi sebanyak tiga kali, sedangkan pada orang kejawen bentuk pemujaannya biasa disebut ngelilingi jagat sebanyak tujuh kali dan membawa dupa serta bunga,” tambahnya di sela-sela menerima tamu yang lain. fbr/p_stw

Sebisa Mungkin Perlu Direvitalisasi agama dan kepercayaan tertentu. Berikut hasil wawancara reporter Bestari, Isna Hidayati Effendi dengan salah satu sejarawan Malang, Drs. Ismail Lutfi. Seberapa jauh latar belakang didirikannya Candi Sumberawan dapat ditelisik sejarawan? Para sejarawan belum bisa memastikan apa yang melatarbelakangi terbangunnya Candi Sumberawan. Namun, menurut informasi dalam kitab Negarakertagama candi ini pernah dikunjungi Hayam Wuruk, raja keempat Kerajaan Majapahit, pada abad ke-14 M. Berarti perkiraan pembangunan Candi Sumberawan sekitar abad 13 M atau sebelum itu. Pada periode Singosari, masyarakatnya menganut agama Budha dan Siwa (Hindu). Jadi, tidak mengherankan jika dibangun sebuah candi yang

deden / Bestari

Ismail Lutfi

berbentuk stupa sebagai tempat peribadatan. Pada waktu itu Kerajaan Singosari mencapai puncak kejayaan yang ditandai dengan banyaknya tempat peribadatan umat Budha dan Hindu. Hal itu terbukti dengan berdirinya candi-candi sebagai pusat kegiatan keagamaan. Itu pula yang mendorong masyarakat kala itu untuk menghasilkan seni pahat berupa arca-arca. Bahkan, arca-arca tersebut juga dikirim ke Melayu seperti arca Paramitha dan Bairawa. Bagaimana cerita ditemukannya candi kembali? Awal mula ditemukan kembali berupa reruntuhan. Saat itu Indonesia masih di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Setelah diteliti oleh Dinas Purbakala ternyata candi tersebut berbentuk stupa tunggal yang menandakan latar belakang keagamaan Budha. Restorasi yang berarti pembangunan kembali ke bentuk semula dilakukan sekitar abad ke 20 M. Namun restorasi tersebut tidak penuh karena banyak batu yang belum ditemukan sehingga sejauh ini upaya yang dilakukan hanya sebatas pemeliharaan dan penjagaan. Kalau dari bentuknya, bagaimana struktur Candi Sumberawan? Ada empat komponen stupa. Stupa sendiri merupakan simbol dari kehadiran Sang Budha yakni Sidharta Gautama. Komponen tertinggi disebut chattra yang bermakna payung

Sang Budha. Komponen kedua bernama harmika yang menunjukkan tongkat Sang Budha, komponen di bawahnya disebut anda menunjukkan tempurung yang dipakai sebagai alat makan Sang Budha. Sementara itu, komponen paling bawah dinamakan pelipit atau dasar sebagai simbol alas Sang Budha. Sejauh ini, bagaimana Bapak melihat peran pemerintah? Kabupaten Malang memiliki 20 situs purbakala, dengan 13 candi, satu museum, dan enam situs lain. Kabupaten Malang tidak ada konsentrasi pengembangan dan pelestarian situs seperti halnya yang ada di Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Perhatian pemerintah daerah sendiri saat ini sangat minim. Sebenarnya, pemerintah memandang Candi Sumberawan sebagai aset wisata budaya. Sayangnya, pandangan tersebut belum diimbangi dengan peran maksimal pemerintah terhadap peninggalan sejarah tersebut. Sampai sejauh ini, belum ada perhatian khusus kecuali saat ada hari-hari besar. Namun, perhatian justru datang dari Balai Penyelamat dan Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan Mojokerto yang notabene memiliki wilayah gerak untuk area Jawa Timur. BP3 tersebut mengirim juru pelihara yang senantiasa menjaga dan memelihara daerah Candi Sumberawan.

Bagaimana dengan Bapak sendiri selaku sejarawan? Candi Sumberawan masih menjadi teka-teki yang belum terjawab bagi sejarawan. Keberadaan Candi Sumberawan yang tidak jauh dari Candi Singosari yang berlatar belakang Siwa (Hindu) dapat menjadi petunjuk bahwa dua ajaran tersebut terdapat harmoni. Teka-teki lain yakni mengapa Candi Sumberawan letaknya jauh di daerah pegunungan sedangkan Candi Singosari berada di daerah pemukiman. Di samping itu, dengan keberadaan candi tersebut kita bisa melihat tingkat keberagamaan masyarakat pada zaman kuno yang dikenal sebagai bangsa religius. Candi tersebut tidak mungkin terbangun tanpa ada motivasi keagamaan yang tinggi, seperti halnya motivasi yang tinggi dalam mendatangkan batu ke atas bukit yang jauh dari pemukiman. Apa harapan Bapak? Sebisa mungkin dilestarikan dan bisa direvitalisasi. Candi Sumberawan dipandang sebagai sarana peribadatan umat Budha dan salah satu bentuk toleransi antar umat beragama sehingga bisa menjadi simbol dan menjauhkan dari hal-hal yang bersifat merusak.


BESTARI 18 Pro Kontra Kebijakan kan UMM Tentang Stiker Parkir Sepeda Motor

POLEMIK

No. 269/TH.XXIII/Desember/2010

Kurang DiminaƟ SƟker Parkir Pun MaƟ Untuk meminimalisasi antrean panjang saat parkir dan juga demi meningkatkan keamanan kendaraan, semester lalu Kampus Putih telah berupaya memberi solusi dengan pengadaan stiker parkir berlangganan. Namun, ternyata pemberlakuan stiker belum bisa menjawab problematika tersebut. Sebagian besar mahasiswa setuju, namun tak sedikit pula yang menolak adanya kebijakan itu. Sehingga pemberlakuan stiker dua semester ini telah ditiadakan. Padahal tidak sedikit mahasiswa yang sudah membayar biaya stiker selama satu semester. Jelas, hal ini menimbulkan kekecewaan. Sebenarnya, apa alasan pro dan kontra mahasiswa serta ditiadakannya kebijakan tersebut?

K

ebijakan kampus mengenai penggunaan stiker parkir yang pernah diterapkan kepada mahasiswa, kini sudah tidak ada kabarnya lagi. Meskipun sebagian mahasiswa mengharapkan kehadirannya kembali, tapi sampai sekarang masih belum ada kabar mengenai pemberlakuan kebijakan tersebut. Heri Apit Yuli salah satunya, mahasiswa angkatan 2009 tersebut mengatakan bahwa penggunaan stiker lebih bagus dibandingkan dengan penggunaan karcis. “Stiker memudahkan kita untuk masuk lokasi parkir. Kita tidak perlu berhenti dulu untuk mengambil karcis dan membayarnya,” ungkap mahasiswa jurusan Teknik Informatika tersebut. Anggapan di atas justru bertolak belakang dengan yang diutarakan oleh Firman Suhardiyanto, mahasiswa Biologi angkatan 2008. Menurutnya, tidak ada perbedaan antara menggunakan dan tidak menggunakan stiker. “Sama saja, meskipun sepeda saya memakai stiker, tapi saya tetap ikut antre panjang, sebab pintu masuk parkiran yang pakai stiker dan tidak ternyata melalui pintu yang sama. Usulan saya pintu keluar masuknya harus dibedakan agar tidak antre lagi,” ujar Firman yang pernah terlambat kuliah gara-gara harus mengantre masuk parkiran. Sedangkan mengenai harga stiker yang dikenakan sebesar Rp 35 ribu per semester, Maretta Tiara Sari, aktivis Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra mengatakan lebih murah dibandingkan dengan membayar Rp 200 setiap kali masuk parkiran. “Saya masuk kampus bisa dua sampai tiga kali dalam sehari,

jadi lebih enak menggunakan stiker parkir yang dulu pernah diterapkan oleh pihak kampus,” tutur Tiara yang mengharapkan agar stiker parkir diadakan lagi. Hal senada jugaa disampaikan oleh h Yeni Widayanti, iaa berharap agar kampuss menerapkan kembalii stiker karena ternyataa stiker dirasa lebih h menguntungkan. “Kalau bisa dii adakan lagi, karenaa sistem parkiran n yang menggunakan n karcis lebih mahall dan ribet. Disinii (kampus II. Red) tidak k menggunakan stikerr lagi karena kampuss k III juga sudah tidak m e n g g u n a k a n ya . Selain itu saya juga berharap agar Jukirnya lebih ramah lagi dalam menjalankan tugasnya,” ungkap mahasiswi Kedokteran semester tiga tersebut. Untuk memecahkan masalah di atas, ada beberapa solusi yang ditawarkan oleh mahasiswa, salah satu di antaranya Ivan Abdullah. Menurutnya, sistem parkiran di UMM sudah semestinya menggunakan software seperti di perpustakaan. “Tidak perlu dengan stiker, memakai software layaknya di perpustakaan saja. Jadi semua motor milik mahasiswa UMM harus terdaftar, ketika keluar tinggal menunjukkan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa, Red.),” saran mahasiswa Jurusan Teknik Informatika semester lima tersebut. Lebih Murah dan Menguntungkan Menyikapi berbagai keluhan

Pakai Karcis : Tampak antrian sepeda motor mahasiswa mengantri masuk area parkir.

heni / Bestari

mahasiswa mengenai ditiadakannya stiker parkir berlangganan, beberapa tanggapan dilontarkan oleh beberapa pihak yang berwenang. Salah satunya Edy Purwanto, Komandan Satuan Keamanan UMM, yang mengatakan bahwa tujuan awal diberlakukan stiker parkir hanya untuk menghindari antrean panjang kendaraan saat masuk tempat parkiran. “Jika memakai sistem lama yang menggunakan karcis, antrean akan cukup memakan waktu lama. Sehingga akibatnya banyak mahasiswa yang akan terlambat masuk kelas,” ujarnya. Tak hanya itu, kendaraan yang ditempeli stiker juga akan lebih terjaga keamanannya. Karena dalam stiker tersebut sudah tertera nomor seri yang berbeda-beda antara kendaraan satu dan lainnya.

Permasalahannya, mereka mengira biaya m yang dikeluarkan untuk y stiker parkir jauh lebih mahal. “Padahal, merem ka menghitung biaya k ttersebut hanya untuk sekali masuk kampus. Kenyataannya, dalam K sehari mereka bisa dua sampai tiga kali masuk kampus. Kalau dihitung k llebih teliti, sebenarnya h harga stiker jauh lebih murah,” ujar sarjana m p pendidikan ini. Untuk meredam perdebatan yang terjadi di kalangan mahasiswa tersebut, sebenarnya pihak kampus sudah melakukan berbagai hal. Salah satunya menaikkan ongkos parkir kendaraan bagi kendaraan yang tidak memakai stiker. Kebijakan ini disampaikan kepada mahasiswa dalam bentuk penyebaran spanduk-spanduk di seputar kampus. “Kami memasang tujuh spanduk di seputar kampus, untuk memudahkan mahasiswa menjalankan kebijakan ini,” papar Edy. Hal itu terbukti cukup ampuh, karena mahasiswa lebih cepat bergerak untuk membeli stiker yang harganya lebih murah, daripada membayar ongkos parkir yang sudah dinaikkan tersebut. Namun, lagi-lagi kebijakan ini mendapat protes dari para mahasiswa. Mereka menganggap kampus mencari untung tersendiri

dan terlalu memaksakan kebijakan. Padahal menurut Edy, tidak ada paksaan dari pihak kampus. “Kalau masalah mereka mau pakai stiker atau tidak itu ya terserah mereka. Kalau hal tersebut dianggap pemaksaan ya tidak bisa. Karena tidak ada sanksi buat mereka yang tidak pakai stiker,” jelasnya. Memang Ada Kelemahannya Slamet Pujiono, kepala Jukir UMM, mengungkapkan, parkir berlangganan UMM tidak berjalan lagi karena kelemahan. “Dengan menggunakan stiker, mahasiswa yang parkir tidak memiliki karcis bukti parkir, sehingga penjaga tidak bisa mengidentifikasi sepeda sebenarnya di parkir di parkiran masjid, pusat, atau di tempat lain. Di samping itu sepeda juga nggak selalu keluar masuk lewat satu pintu,” papar Slamet. Slamet berharap, sebagai pihak yang pernah mengusulkan program parkir berlangganan, Bagian Keuangan bisa memberikan solusi yang bisa memberikan kenyaman dan kemudahan bagi pengendara maupun petugas. “Jadi, saya berharap, jika bagian keuangan mengeluarkan lagi kebijakan parkir berlangganan, harapannya program tersebut bisa memecahkan permasalahan dan nggak ribet. Solusi yang mudah dan tidak terkesan boros, pengeluaran pun bisa ditekan,” paparnya. m_mam/fik/p_ lin/ria

Butuh Kerja Sama Dari Mahasiswa

Keberadaan stiker parkir diharapkan menjadi solusi terhadap antrean panjang pada saat masuk parkiran. Namun saat ini stiker tersebut ternyata sudah tidak diberlakukan lagi. Sebenarnya apakah penyebab utama dihapuskannya stiker tersebut? Berikut wawancara reporter Bestari, Fika Andriyani dengan Kepala Biro Admi nistrasi Umum, L u k i t o P r a s e t yo , Ir, MT.

Lukito Prasetyo

Bagaimana kelanjutan stiker yang beberapa semester lalu pernah diberlakukan? Stiker kan ada batas waktunya. Nah, sekarang ini stiker sudah habis batas waktunya. Oleh karena itu saat ini kembali lagi memakai karcis. Padahal sebenarnya tingkat kebocoran bisa di minimalisasi. Masalahnya, mahasiswa itu tidak mau membeli stiker. Jika seluruh mahasiswa bersedia membeli, maka stiker bisa diberlakukan kembali. Karena pada dasarnya stiker lebih ngirit waktu. Permasalahannya, kurang ada respons dari mahasiswa sendiri.

Bagaimana solusi agar stiker diminati dan terjamin keamanannya? Sebenarnya tidak ada paksaan dalam penggunaan stiker, namun jika dihitung-hitung, stiker itu kan lebih murah dari pada karcis. Bahkan kemacetan dalam hal antrean juga bisa di minimalisasi. Sedangkan heni/ Bestari

mengenai keamanan, pada dasarnya mahasiswa juga harus mampu menjaga sepedanya sendiri dengan cara dikunci setir saja. Bahkan jika ada unsur keteledoran dari pemilik sepeda seperti kuncinya ketinggalan, maka akan memberi kontribusi kendaraan untuk dapat dicuri orang lain. Oleh karena itu ketika terjadi kehilangan seperti beberapa bulan yang lalu bukan karena managemen pihak parkiran, akan tetapi keteledoran mahasiswa sendiri. Lantas bagaimana dengan usulan mahasiswa yang menyarankan agar diberlakukan software seperti di perpustakaan atau barcode? Mungkin saran tersebut bisa diterima dan akan dipertimbangkan. Namun, software tersebut harganya sangat mahal dan tidak kurang dari 100 juta. Terkadang adik-adik berpikir bahwa kartu bisa dibawa ke mana-mana oleh pemiliknya, akan tetapi lagi-lagi keteledoran mereka sendiri bisa membahayakan sepeda. Seperti tertinggalnya kartu atau dipinjamkan kepada teman yang tidak dapat dipercaya. Sebenarnya jika ingin benar-benar aman itu

menggunakan karcis plus sehingga akan minim bahayanya.

stiker sekali

Selama ini salah satu penyebab antre panjang adalah karena pintu masuk parkiran hanya satu. Bagaimana pihak BAU menanggapinya? Ya bisa juga ada opsi penambahan jumlah pintu masuk, tapi kita ada keterbatasan lahan. Sebenarnya sudah ada banyak tempat parkir namun tetap antre karena memang ada peak season (kondisi jam puncak). Seharusnya mahasiswa juga berpikir dan punya rencana untuk berangkat lebih awal agar tidak mengantre karena memang ada jam puncaknya. Nah, bagaimana kita bisa menggeser peak season tersebut pada margin yang sempit sehingga jumlah antreannya kecil. Sedangkan kasus yang terpenting adalah masalah budaya Indonesia yang tidak disiplin. Ya memang jumlah orang dan lahan bisa dipertimbangkan, tetapi jika budaya untuk disiplin bisa ditegakkan, maka insya Allah semua bisa terkurangi. Bukan bagaimana mekanismenya dari pihak kampus, tapi bagaimana persiapan mahasiswa untuk menuju tempat parkiran,

Untuk mengurangi antre panjang tersebut, bagaimana jika pintu masuk parkiran ditambah lagi? Semua itu butuh waktu dan jika pintu ditambah, maka konsekuensinya juga harus menambah jumlah pegawai dan gaji. Sekarang saja hasil parkir hanya untuk gaji Jukir dan jika harus menambah personil lagi maka akan devisit dan pasti akan memotong gaji pihak-pihak lain. Ilustrasinya, bayar murah saja mau eksklusif. Jadi agar parkiran nyaman, cepat dan, aman maka bayarnya juga harus dinaikkan dan disamakan dengan biaya parkir kampus lain. Lantas, apakah ada perencanaan bahwa stiker akan diberlakukan lagi? Kami masih menunggu kajian lebih lanjut. Jika memang nanti mahasiswa banyak yang berminat dengan adanya stiker lagi maka mengapa tidak?. Karena kalau yang berminat hanya sedikit dan tidak sampai separo persen, maka pihak kampus akan rugi. Selama ini sudah ada rencana untuk menaikkan harga karcis, namun masih butuh persetujuan dari berbagai pihak termasuk PR II.


BESTARI No. 269/TH.XXIII/Desember/2010 19

IPTEK

Zat Pewarna Bahaya Untuk Tubuh

Negara Indonesia dikenal sebagai negara agraris tropis yang menghasilkan berbagai produk pertanian di antaranya berupa buahbuahan. Jenis buah yang dihasilkan sangat beragam dan tergolong ke dalam jenis buah tropis. Jenis buah tersebut sangat mudah dijumpai di seluruh tanah air terutama di Kota Malang sebagai sentra komoditi buahbuahan. Buah tersebut ada yang dijual dalam bentuk segar dan ada pula yang dijual dalam bentuk produk olahan lain seperti produk olahan berupa sari buah, sehingga berkembanglah industri-industri rumah tangga di daerah sentra buah-buahan tersebut. Sari buah didefinisikan sebagai cairan yang diperoleh dengan memeras buah, baik disaring ataupun tidak, yang tidak mengalami fermentasi dan dimaksudkan untuk minuman segar yang langsung dapat diminum. Sari buah merupakan salah satu minuman yang cukup disukai di pasaran karena enak, praktis dan menyegarkan serta bermanfaat bagi kesehatan mengingat kandungan vitaminnya yang secara umum tinggi. Industri rumah tangga yang mengelola aneka macam sari buah dalam jumlah besar biasanya memerlukan suatu Bahan Tambahan Makanan (BTM) atau Food Aditif. Penggunaan bahan tambahan makanan (BTM) yang sering digunakan dalam membuat sari buah selain zat pemanis dan pengawet makanan adalah zat pewarna makanan. Zat pewarna pada makanan dibedakan menjadi tiga, yaitu zat pewarna alami, identik alami dan sintetis. Batas penggunaan zat pewarna sintetis sudah ditetapkan dalam SK Menteri Kesehatan RI N o. 2 3 9 / M e n k e s / Pe r / V / 1 9 8 5 , karena merupakan bahan berbahaya sehingga apabila melebihi dosis akan menimbulkan efek negatif bagi konsumen. Sementara proses pembuatan zat warna sintetis biasanya melalui perlakuan pemberian asam sulfat atau asam nitrat yang sering kali terkontaminasi oleh arsen (unsur kimia yang paling berbahaya buat manusia. Red) atau logam berat lainnya yang bersifat racun. Pada pembuatan zat pewarna organik sebelum mencapai produk akhir harus melalui senyawa antara lebih dahulu yang kadangkadang berbahaya dan sering kali tertinggal dalam hasil akhir atau

terbentuk senyawasenyawa baru yang berbahaya. Efek negatif pewarna sintetis kemungkinan disebabkan oleh pewarna makanan sintetis yang dimakan dalam jumlah kecil namun berulang. Adapun dampak yang dapat ditimbulkan oleh zat pewarna antara lain; Tartrazine menyebabkan reaksi alergi, asma, dan hiperaktif pada anak, Erythrosine menyebabkan reaksi alergi pada pernapasan, hiperaktif pada anak, tumor tiroid pada tikus, dan efek kurang baik pada otak dan perilaku, Fast Green FCF menyebabkan reaksi alergi dan produksi tumor, Sunset Yellow menyebabkan radang selaput lendir pada hidung, sakit pinggang, muntah-muntah, dan gangguan pencernaan, Rhodamin B (warna merah) dan methanil yellow (kuning). Keduanya biasa digunakan sebagai pewarna tekstil. Dampaknya, bisa memicu berbagai gangguan, mulai keracunan, alergi, sampai kanker. Berdasarkan uraian di atas, peneliti berusaha membuktikan dan melihat pentingnya dalam memilih bahan makanan dan minuman yang aman dan sehat, maka peneliti melakukan analisa zat pewarna pada minuman berlabel sari buah yang diproduksi oleh industri rumah tangga yang beredar di pasar besar kota Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah minuman berlabel sari buah dari hasil produksi industri-industri rumah tangga yang dijual di Pasar Besar di kota Malang. Sedangkan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah minuman berlabel sari buah yang didapat dari Pasar Besar Malang sebanyak 50 ml untuk tiap merek sari buah yang diteliti. Begitu juga mengenai prosedur kerja yang meliputi pertama, tahap persiapan yang meliputi persiapan alat dan bahan. Kedua, tahap pelaksanaan yang meliputi penentuan lokasi penelitian, penentuan pengambilan sampel, pengambilan sampel, pelabelan sampel, uji kandungan pewarna sintetik.

Raih h Dana Da a ana a Hib Hibah H Hi Dikti Dikt 2011

Selama penelitian ini yang diidentifikasi dari sari buah yang mereknya Fansi, Brosem, jawara, Panorama, Josiee, Oishii, Disuka, Fibtos, Flamboyan, Kusuma Agrowisata di antaranya: Jenis zat pewarna Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kesepuluh merek minuman berlabel sari buah ini mengandung zat pewarna sintetis yaitu, jenis pewarna Brilliant Blue FCF, Chocolate Brown HT, Allura red AC, Tatrazine, Indigotine dan Sunset Yellow FCF adalah jenis zat pewarna yang di ijinkan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 722/ Menkes/PER/IX/88 tentang Bahan Tambahan Makanan, berdasarkan ADI (Acceptable Daily Intake), yaitu tidak menimbulkan bahaya jika dikonsumsi oleh manusia dengan dasar perhitungan yaitu per kilogram berat badan. Penggunaan pewarna sintetis pada tiap merek minuman sari buah yang sudah diteliti tidak dicantumkan jenis pewarna pada kemasan minumannya. Kadar Zat Warna Berdasarkan hasil analisis kadar pewarna yang terkandung pada tiap jenis pewarna pada tiap merek minuman sari buah adalah sebagai berikut : Kadar Brilliant Blue FCF Kadar brilliant blue FCF pada minuman berlabel sari buah Fansi sebesar 56,063 ppm, penggunaan zat warna ini diduga karena pemakaian biru berlian memang dibutuhkan sedikit untuk memberi warna hijau dari campuran warna merah seperti halnya zat warna Tartrazine yang menjadi warna primer. Zat warna ini termasuk triphenylmethane dye,

merupakan tepung yang berwarna ungu perunggu. Kadar Chocolate Brown HT Kadar Chocolate Brown HT pada minuman berlabel sari buah terdapat pada beberapa merek antara lain; Brosem sebesar 83.315 ppm, Jawara sebesar 202.337 ppm, Panorama sebesar 62.120 ppm, dan Flamboyan riz / Bestari sebesar 56,063 ppm. Chocolate brown HT disebut juga Brown HT/nomor E 155 merupakan pewarna sintetik diazo. Zat warna ini biasa digunakan sebagai pengganti kakao atau pewarna karamel dalam makanan atau minuman. Kadar Allura red AC Kadar Allura Red AC pada minuman sari buah Josiee sebesar 210.941ppm. Pemakaian zat warna ini pada minuman sari buah tersebut cukup banyak karena hampir mendekati batas maksimal penggunaan zat warna yaitu sebesar 30 ppm. Zat warna ini termasuk zat warna azo dye yang berwarna merah. Berbentuk serbuk dengan titik lebur pada suhu 3000C. Komponen zat warna ini terdiri atas unsur disodium sulfonat yang dapat larut dalam air dan ethanol. Bila dilarutkan dalam air akan menghasilkan warna merah. Kadar Tatrazine Kadar tartrazine 106.004 ppm, kadar tartrazine dibawah ambang batas yang telah ditentukan oleh SNI-01-2895-1992, yaitu 200 ppm. Sama halnya dengan carmoisine, Tartrazine merupakan tepung yang berwarna kuning jingga yang mudah larut dalam air dengan larutannya berwarna kuning keemasan. Biodata Penelitian : Judul Penelitian

Peneliti Fakultas Tahun Penelitian Dosen Pembimbing

Kadar Sunset Yellow FCF Kadar Sunset Yellow FCF pada minuman sari buah Disuka sebesar 598.665ppm dan Kusuma Agrowisata sebesar 466.015ppm. Sunset Yellow termasuk golongan monazo, berupa tepung berwarna jingga, sangat mudah larut dalam air dan menghasilkan larutan jingga kekuningan. Ketahanan terhadap cahaya dan oksidator hampir sama dengan tartrazine. Pemakaian alat-alat tembaga akan menyebabkan warna menjadi cokelat gelap, opaque dan keruh. Dengan adanya Al, warna larutannya hanya sedikit berubah menjadi kemerahan. Minuman sari buah Disuka memiliki warna yang kuat, hal ini di duga oleh adanya perpaduan 2 warna yang terkandung di dalamnya yaitu zat warna carmoisine dan zat warna Sunset Yellow. Kadar Indigotine Kadar Indigotine pada minuman sari buah Fibtos sebesar 45.571ppm. Kadar zat warna berada dalam jumlah yang sedikit jika dibandingkan dengan standar SNI yang diizinkan dalam penggunaannya yaitu sebesar 300 ppm. Nilai Ambang Batas (NAB) Kandungan zat pewarna yang beredar ternyata ada yang melebihi ambang batas yaitu, Sunset Yellow FCF pada merek Disuka 598.665 ppm dan merek Kusuma Agrowisata sebesar 466.015 ppm. Peneliti menyimpulkan dari penelitian yang telah dilakukan bahwa jenis zat pewarna yang terkandung pada berbagai merek minuman sari buah ternyata mengandung berbagai kadar. Penggunaan bahan tambahan pangan atau zat pewarna dapat merugikan kesehatan apabila tidak sesuai dengan kadar yang telah ditentukan oleh pemerintah. Jadi untuk lebih amannya adalah menggunakan berbagai kandungan kadar yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Data diolah oleh: Rina Ngesti A

: Analisis Kandungan Zat Pewarna Sintetis pada Berbagai Macam Merk Minuman Berlabel Sari Buah yang Diproduksi Oleh Industri Rumah Tangga yang Beredar di Pasar Besar Kota Malang : AH. FAUZI : FKIP Jurusan Pendidikan Biologi : 2010 : 1. Dra. Elly Purwanti, M.P 2. Drs. Poncojari, M.Kes

UMM PEDULI MERAPI Bencana yang melanda Indonesia akhir-akhir ini membuat segenap sivitas akademika UMM tergugah harinya untuk memberikan sedikit kebahagian dan rizkinya kepada para korban bencaan alam, khususnya para korban Gunung Merapi. Tidak hanya bantuan bahan makanan, UMM juga memberikan penobatan gratis dan pemberian terapi psikologis untuk mengurangi efek trauma yang diderita para korban

Ajukan Naskah h Pro Proposal: Pro • Program Pr P Kreativitas Mahasisw Mahasiswa isw G Gagasan tertulis (PKM-GT) (PKM M M-GT) • Program Prog Prog Kreativitas eativitas Mahasiswa Mah Maha h Artikel Ilmiah (PKM-AI)

umam / Bestari

Panduan PKM dapat diakses di:

www.dikti.go.id/dmdocuments/pkm2010_ uments/pkm2010_ ments/pkm2010_ ments/pkm201 eents/pkm2010_ REVISI02.pdf Naskah dikumpulkan rangkap 3 (tiga) ( aa)) dan soft copyy di CD, format file RTF dan PDF Waktu: 27 Desember 2010 - 27 januari 2011 Tempat: Bagian Penalaran-Biro Kemahasiswaan UMM Gedung Student Center lt. 1 Kampus III

umam / Bestari

Tertanda Kepala Bagian Penalaran-Biro Kemahasiswaan UMM

Agus Santoso, S.Sos umam / Bestari d d deden ded de en / B Bestari esta est tar arrii ari


20 BESTARI

KATA MEREKA

No. 269/TH.XXIII/Desember/2010

Hitam PuƟh Kebijakan Pemerintah Kesadaran dan pemahaman, itulah seharusnya ideologi yang tertanam rapi dalam diri masyarakat Indonesia. Sebagai negara berkembang, negeri kita mudah tergoyang oleh hentakan kebijakan negara maju yang setiap saat selalu berinovasi sebagai perwujudan persaingan dunia kapitalis. Jadi, sangat wajar jika produk teknologi yang baru keluar pasti diperdagangkan di Indonesia yang akan selalu konsumtif terhadap kecanggihan teknologi serba instan. Fenomena di masyarakat saat ini yaitu belum terpenuhnya kebutuhan primer sebagai pondasi pokok, tetapi sudah mengutamakan kebutuhan sekunder dengan rela mengorbankan kebutuhan yang lebih utama. Hal ini terlihat jelas dari bagaimana kendaraan bermotor beroperasi di tengah-tengah kegelisahan ekonomi masyarakat. Bahkan, yang lebih menyedihkan mereka rela mengurangi anggaran belanja keluarga demi mendapatkan kredit kendaraan bermotor. Sejauh ini, sikap Indonesia terhadap korporasi asing agaknya memang berbeda dibandingkan dengan negara-negara lain, misalnya negara-negara Petro Dolar. Negaranegara di Timur Tengah bisa kaya

Oleh:

Marjuki*

karena sistem pemerintah di kawasan tersebut sangat progresif. Mereka mengundang korporasi minyak dan pertambangan dari Amerika, Inggris, Belanda, dan Prancis untuk melakukan kegiatan pertambangan, tetapi dalam production-sharing dan profit-sharing, negara-negara Timur Tengah cerdas dengan berani meminta bagian yang lebih masuk akal. Hal

ini berbeda dengan di Indonesia. Negara kita selalu tunduk, merunduk, bahkan tiarap berhadapan dengan korporasi asing yang mengedepankan ideologinya “memaksimalkan kekayaan dengan segala cara”. Kini, adanya pembatasan bahan bakar jenis premium untuk kendaraan bermotor justru merangsang masyarakat Indonesia melakukan perlawanan sehingga timbul konflik sosial terhadap kebijakan tersebut. Akhirnya, bukan solusi yang didapat melainkan kegelisahan. Maka, akar permasalahan perlu ditemukan. Membludaknya kendaraan bermotor yang memicu kebijakan pembatasan bahan bakar jenis premium di Indonesia bukan merupakan akar permasalahan. Namun, tidak adanya filter terhadap masuknya produk kendaraan ke Indonesialah yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah. Dengan begitu, bahan bakar minyak jenis apapun dengan sendirinya terkurangi tanpa harus menurunkan kebijakan yang bias menimbulkan konflik baru dari masyarakat.

Oleh:

Muhammad Habibi*

riset yang dilakukan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), hasil menunjukkan bahwa “pengguna mobil pribadi ratarata menikmati subsidi BBM Rp 1 juta setiap bulannya”. Ini sangat jauh berbeda dengan subsidi yang diberikan kepada masyarakat miskin yang hanya Rp 100 ribu per bulannya. Sementara itu, kebijakan pembatasan BBM bersubsidi yang direncanakan untuk diberlakukan

Kurangnya Pelayanan dan KeteliƟan BAA

Kepada pihak yang bertanggung jawab, Assalamualaikum wr.wb, Sebagai Mahasiswa UMM khususnya jurusan Hubungan Internasional (HI), saya sangat apresiasi, sehubungan dengan adanya pembagian Kartu Hasil Studi (KHS) setelah mendapatkan hasil ujian saya seringkali mendapatkan kesalahan pada nama orangtua saya, untuk memperbaiki kesalahan pada KHS diberikan pada pihak BAA, bukan hanya sekali atau dua kali akan tetapi saya sering mengalami perbaikan, berkali-kali pihak BAA melakukan kesalahan yang sama dalam menulis nama orang tua saya. Hal ini membuat saya kesal setiap kali mendapatkan KHS, setiap semesternya terjadi kesalahan pada KHS saya, pelayanan yang kurang memuaskan pun terjadi, layanan yang kurang baik dari BAA mulai dari petugas BAA yang kurang memuaskan, sering sekali mereka tidak melayani dengan sopan, terhadap keluhan Mahasiswa, serta kurang telitinya pihak BAA untuk tidak terjadi kesalahan yang sama, sehingga menyebabkan komplain dengan kasus yang sama pada tiap semesternya. Semoga dengan keluhan ini pihak BAA bisa memperbaiki dan menjadikan pelajaran untuk kedepannya, supaya lebih teliti dalam menangani kesalahankesalahan yang ada. Terimakasih. Riska Mhs 08

Jangan Suka Ganti Jadwal Seenaknya Jurusan Sosiologi UMM 2009

“Malas TerƟndas, Lamban TerƟnggal, BerhenƟ MaƟ” Negeri kita telah mengalami krisis moneter yang menyebabkan harga sembako dan harga-harga keperluan lain melonjak drastis. Krisis berkepanjangan ini menyebabkan semakin bertambahnya tingkat pengangguran di Indonesia. Berbagai bentuk kejahatan berupa perampokan, pembunuhan, bahkan aksi bunuh diri yang disebabkan alasan ekonomi dan susahnya mencari lapangan pekerjaan pun banyak terjadi. Sekarang, setelah dinyatakan bahwa minyak dunia mengalami kelangkaan, warga pun menjadi resah. Hal itu karena apabila produksinya mulai berkurang, minyak akan mengalami ketidakstabilan harga. Aspek ini akan berimbas pada naiknya harga kebutuhan lainnya. Di Jakarta, pada 12 Mei 2010 yang lalu, ratusan mahasiswa dan LSM bergerak dari bundaran Hotel Indonesia menuju Istana Merdeka untuk melakukan demontrasi terhadap rencana kenaikan harga BBM. Sementara itu, di Bali, ratusan mahasiswa juga melakukan pawai unjuk rasa dari kampus Universitas Udayana ke gedung DPRD Bali (BCC Indonesia). Pada saat itu, kenaikan BBM juga diimbangi dengan penyaluran Bantuan Tunai Langsung (BLT) yang diberikan pemerintah kepada setiap warga masyarakat miskin yang ada di Indonesia ini. Sejalan dengan

c

awal tahun 2011 hanya mengurangi penggunaan premium, namun tidak mengurangi konsumsi BBM secara keseluruhan. Ini menimbulkan kesalahpahaman masyarakat yang mengira pengurangan BBM dilakukan secara keseluruhan. Oleh karena itu, jalan tengah untuk mengurangi tingkat persoalan yang ditimbulkan oleh permasalahan BBM, pemerintah perlu membuat sistem transportasi yang cocok dan ideal bagi masyarakat. Selain itu, pemerintah juga seharusnya melakukan sosialisasi pada pengelola angkutan umum yang ada di setiap daerah, serta membuat kebijakan fiskal berupa peningkatan pajak kendaraan yang telah berumur tua karena memiliki tingkat polusi yang lebih tinggi di banding dengan mobil dengan tahun lebih muda. Di beberapa negara maju, penggunaan kendaraan tua ini sudah dilarang karena dapat menimbulkan angka polusi yang tinggi. Oleh karena itu, kita sebagai mahasiswa seyogyanya memilki inisiatif yang cerdas untuk menemukan bahan bakar alternatif karena minyak yang dihasilkan bumi lama-lama akan terkikis dan habis. Maka, mahasiswa perlu paham dan memegang hal berikut: “Malas Tertindas, Lamban Tertinggal, Berhenti Mati”. Jurusan Teknik Mesin 2010

Kepada yang terhormat dosen MATKOM yang saya hormati. Saya merasa tidak nyaman sama sekali dengan salah satu dosen statistika deskriptif di jurusan matematika kerena dosen yang bersangkutan sering sekali merubah jadwal perkuliahan secara tiba-tiba. Hal ini sangatlah membuat saya jengkel, selain itu dalam perubahan jadwal kuliah dilakukan secara sepihak. Saya memaklumi kesibukan seorang dosen tapi sesibuk apapun janganlah bersikap seperti demikian. Hal ini merugikan bagi saya karena saya pada saat yang sama ada mata kuliah yang bentrok dengan mata kuliah lain yang sama-sama penting. Selain itu, mahasiswa juga mempunyai jadwal kesibukan sendiri-sendiri. leeta MATKOM 09

ASLAB, harap paham akan waktu Assalamu'alaikum... Kepada yth.Asisten Lab Informatika yang saya cintai dan hormati. Saya tidak meragukan kinerja asisten lab (ASLAB) yang tidak menyukai akan keterlambatan alias tepat waktu. Namun perlu diketahui bahwasanya tidak ada waktu terpenting kecuali waktu untuk salat. Saya merasakan bahwasanya ASLAB disini kurang menghargai waktu dispensasi untuk salat. Kalau memang waktu Lab seharusnya masuk pada jam 15.15, perlu diketahui adzan ashar di UMM saat ini adalah pukul 15.00 wib. Perjalanan untuk menuju LAB dari masjid saja memerlukan waktu yang tidak sebentar, paling tidak ada toleransi untuk keterlambatan yang memang alasannya rasional. Ataukah kami harus sholat Asar di dalam Lab. sebelum kami melakukan praktikum? saya harap ASLAB dapat mengerti akan masalah ini. wans mahasiswa informatika 09

INFO BESTARI Tema Kata Mereka Edisi Januari 2011:

Nasionalisme dan Sepak Bola Sebuah Bangsa Naskah diterima di kantor redaksi bestari atau melalui email: redaktur_ bestari@yahoo.com. Pengiriman paling lambat tanggal 12 Juli 2010, dengan jumlah karakter 3000 karakter. Naskah yang dimuat akan mendapatkan imbalan. Redaksi

RALAT Pada edisi 268/November/2010: • Rubrik Suara Kampus terdapat kesalahan foto. Foto tersebut berada pada berita yang berjudul "Kreativitas Berfikir, Andalan Ilmu Jurnalis", foto tersebut seharusnya untuk acara LSO Cendikia. •

Pada daftar nama wisudawan, terdapat nama salah satu wisudawan yang belum tercantum. Adapun nama yang bersangkutan adalah Nina Nuruwaida A. P. dari Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Atas kesalahan tersebut, segenap redaksi menyampaikan permohonan maaf. Redaksi Pelaksana


BESTARI No. 269/TH.XXIII/Desember/2010 21

KONSULTASI

Biro

Konseling

S

Teman dan Pengaruh Kebiasaan Buruknya

aya adalah seorang mahasiswi di sebuah perguruan swasta di kota Malang. Saya adalah pendatang di Kota Malang ini. Pada awal perkuliahan saya mulai dekat dengan teman sekelas saya namanya anggap saja Ida, dia juga seorang pendatang. Selain itu, saya juga mempunyai sahabat perempuan yang juga dekat dengan Ida. Pada awal pertemuan kami, saya masih rajin dalam kegiatan perkuliahan berbeda dengan sahabat dan teman saya yang jarang masuk kuliah. Namun tanpa saya sadari, lama-lama saya pun jadi terpengaruh dan ikut-ikutan jadi malas kuliah. Sampai suatu hari Ida terkena masalah dan harus dipindahkan ke tempat asalnya, otomatis saya dan sahabat saya kehilangan kontak dengan Ida. Pada saat saya kehilangan komunikasi dengan Ida, saya dengan sahabat saya itu kembali rajin dan bersemangat berkuliah. Tapi, setelah beberapa semester, saya dan sahabat saya bertemu lagi dengan Ida. Dia ternyata masih meneruskan kuliahnya di kampus yang sama dengan saya. Saya dan sahabat saya sudah sepakat untuk tetap rajin kuliah meskipun kami dekat lagi dengan teman saya tersebut. Kami tidak ingin seperti dulu lagi meskipun dekat tapi masih bisa jaga jarak dan tidak terlalu dekat. Saya dan sahabat saya mulai sering datang ke tempat Ida untuk bersilaturahmi lagi, kebetulan sahabat saya pada waktu itu sedang memiliki masalah yang cukup berat dan membuatnya terbebani. Sebenarnya sahabat

saya membutuhkan sesuatu yang dapat mengalihkan perhatiannya dan membuat dia melupakan sejenak akan masalahnya tersebut. Kami bertiga serasa kembali seperti dulu lagi, bercanda tawa, bersenang-senang bersama dan intinya kami bahagia. Tapi, di satu sisi, saya merasa ada yang salah dengan semua ini karena sahabat saya dan teman saya tersebut selalu mengharapkan kehadiran saya untuk selalu bersamasama. Padahal saya mempunyai tanggung jawab kuliah dan tidak selalu bisa menemani mereka. Perkuliahan dan tugas-tugas saya yang semakin padat, membuat saya tidak memiliki banyak waktu luang. Permasalahannya lagi, sahabat saya sekarang sudah mulai jarang masuk kuliah lagi. Saya bingung mau seperti apa, saya ingin tetap bersama dengan sahabat saya tetapi saya juga tidak ingin tanggung jawab saya sebagai mahasiswi terbengkalai. Saya ingin menasihati sahabat saya, tetapi saya takut untuk menyinggung perasaannya. Tolong nasihatnya ya... saya bingung mesti berbuat apa dan memilih mana yang tepat bagi saya. ~ Icha ~ Jawaban: Terima kasih Mbak Icha sebelumnya sudah mau membagi cerita dengan kami. Kami bisa merasakan apa yang Mbak rasakan, dan sangat paham sekali dengan apa yang Mbak alami saat ini. Dilema antara dua pilihan itu sangatlah wajar. Terkadang dalam hidup ini, kita memang akan dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang sulit. Karena, kembali lagi, hidup memang sebuah pilihan. Begitu juga dengan masalah yang Mbak Icha hadapi saat ini,

BKBH Assalamu’alaikum, Wr.Wb. Pengasuh rubrik Konsultasi Hukum yang saya hormati, saya Hendri dari Surabaya. Saya ingin menanyakan permasalahan yang saat ini sedang saya hadapi. Saat ini saya sedang terlibat dalam sengketa perdata di pengadilan. Dalam menghadapi perkara tersebut, saya didampingi oleh seorang pengacara, sebut saja MB. MB mengurus perkara saya hingga tingkat kasasi di Mahkamah Agung. Saya memenangkan perkara di semua tingkat pengadilan tersebut. Namun karena ketidaksepakatan masalah pembayaran, MB minta mundur sebagai pengacara saya. Awalnya saya merasa tidak ada persoalan, karena saya pikir toh perkara saya sudah selesai dan saya menang. Namun alangkah terkejutnya saya ketika mengetahui MB berbalik menjadi lawan saya dan mengajukan peninjauan kembali atas perkara tersebut. Saya tentu saja marah dan kecewa atas tindakan MB tersebut, selama ini saya benar-benar percaya sepenuhnya kepada MB. Pengasuh yang saya hormati, sebagai orang awam saya ingin bertanya tentang etika pengacara.

Secara tersirat Mbak Icha sudah mengutarakan jalan keluar dari masalah yang Mbak hadapi, yaitu; fokus pada kuliah, dan akan tetap menjalin silaturahmi dengan teman-teman mbak. Nah, apa yang Mbak pusingkan. Sekarang coba kita ulas bersama, awal masuk menjadi mahasiswa, komitmen dan harapan Mbak Icha apa? Mbak sudah punya komitmen terhadap diri mbak dan teman Mbak, untuk tetap fokus kuliah. Sekarang adalah saatnya mbak untuk memantapkan komitmen yang sudah Mbak buat. Utamakan hal terpenting terlebih dahulu, Saatnya Mbak untuk menentukan prioritas utama. Sekarang kita bahas hubungan anda dengan teman anda. Pada dasarnya setiap manusia juga membutuhkan orang lain, namun dengan melihat permasalahan Mbak, sebenarnya Mbak dapat membagi waktu pertemuan anda agar sahabat-sahabat anda tidak merasa kehilangan. Dengan adanya waktu untuk saling berbagi, meskipun sedikit, kami yakin mereka merasa masih memiliki Mbak. Pada saat teman Mbak dalam situasi sulit, wajar apabila kita ingin membantunya, tapi bukan berarti menuruti semua kemauannya. Selain itu dengan melihat Anda kembali rajin kuliah, kemungkinan juga anda memberi inspirasi pada mereka untuk kembali aktif kuliah dan mengingatkan prioritas mereka kembali. Tapi semua kami kembalikan ke Mbak Icha lagi, Semoga jawaban kami bisa membantu. Tetap semangat. Tim UPT BK Masjid AR Fachruddin Lantai I Kampus III UMM Penanggungjawab : Hudaniah, M.Si.,P.Si konseling_bk@yahoo.com Telp : 0341-464318 ext 180

Nurani

Seberapa Baik Kinerja Kita?

Beberapa hari lagi kita akan sampai di penghujung 2010, yang berarti beberapa hari lagi kita akan memasuki tahun 2011. Sudahkah kita merancang apa yang akan dilakukan dan apa yang seharusnya kita peroleh setahun ke depan? Sebelum merancang hal tersebut, ada baiknya jika kita melihat kembali ke belakang. Apa saja yang telah kita lakukan selama satu tahun? Sekaranglah waktu yang tepat untuk refleksi diri, seberapa baik kinerja kita selama ini? Apa lebih banyak manfaatnya bagi orang lain atau lebih banyak menyengsarakannya? Seberapa banyak kita menolong orang lain atau seberapa banyak kita menyakiti orang lain? Seberapa banyak amal saleh yang kita lakukan atau seberapa banyak kejahatan dan dosa yang kita lakukan? Semua itu bisa kita ketahui jika kita mau evaluasi diri. Sebagaimana diisyaratkan oleh Allah SWT dalam firmannya surat al-Hasyr (59 : 18) yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu sekalian kepada Allah, dan hendaklah setiap diri, mengevaluasi kembali apa yang telah dilakukan untuk menata hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kamu sekalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan”. Dari ayat tersebut dapat diambil poin-poin penting evaluasi diri, yakni dengan evaluasi diri, kita dapat mengetahui apa saja yang telah kita lakukan, seberapa baik kita melakukan. Orang yang pandai (sukses) adalah yang mengevaluasi dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematiannya. Ungkapan sederhana ini sungguh menggambarkan sebuah visi yang harus dimiliki seorang muslim. Sebuah visi yang membentang bahkan menembus dimensi kehidupan dunia, yaitu visi hingga kehidupan setelah kematian. Sebaliknya orang yang gagal, dikatakan Rasulullah sebagai orang yang lemah memiliki dua ciri mendasar yaitu orang yang mengikuti hawa nafsunya dan memiliki banyak angan-angan dan khayalan, membiarkan hidupnya tidak memiliki visi, tidak memiliki perencanaan, tidak ada action dari planingnya, terlebih memuhasabahi perjalanan hidupnya. Untuk menata masa depan Cermin yang paling baik adalah masa lalu, setiap individu memiliki masa lalu yang baik ataupun buruk, dan sebaik-baik manusia adalah selalu mengevaluasi dengan bermuhasabah diri dalam setiap perbuatan yang telah ia lakukan. Jika kita sudah evaluasi diri, selanjutnya adalah menata hari esok. Sebagai manusia tentunya kita hanya bisa merencanakan atas segala sesuatu yang kita inginkan, setelah

itu kita harus berusaha keras dan berdoa untuk mencapai apa yang telah kita rencanakan. Sekarang di akhir tahun 2010 ini, tentunya bagi kita yang telah mempunyai rencana apa saja yang harus dilakukan oleh diri kita, ada baiknya kita melakukan evaluasi terhadap realisasi pencapaiannya. Mungkin ada sebagai dari kita, dalam hal akan melakukan sesuatu terbiasa dengan membuat rencana jangka pendek, jangka menengah ataupun jangka panjang. Ibaratnya itu sebagai suatu tangga untuk mencapai apa yang kita inginkan dan impikan, tentunya harus dilakukan secara bertahap namun pasti. Ada beberapa hal yang perlu kita sadari, bahwa untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan tentunya harus mempunyai tekad yang kuat melalui kerja keras (strive), yang dilakukan selama ingin mencapai sesuatu yang diinginkan. Kemudian kita harus melihat posisi dan kemampuan yang dimiliki oleh kita saat ini (positioning). Dan jangan lupa pula, kita harus tetap berdoa untuk menjalani itu semua, sehingga pada saatnya kita diberikan kemudahan dalam mencapai sesuatu yang kita inginkan. Lakukanlah refleksi akhir tahun kita secara sederhana, sehingga paling tidak kita dapat mengetahui sejauh mana pencapai yang telah dicapai di tahun 2010, dan kita dapat membuat suatu rencana atau keinginan yang lebih besar lagi di tahun 2011. Dengan melakukan sedikit evaluasi terhadap yang telah dilakukan dan dengan melakukan perencanaan terhadap yang akan kita lakukan pada tahun 2011, diharapkan hidup kita dapat lebih terarah dan terencana dengan tujuan yang telah kita buat. Sebagaimana pesan Umar bin Khottob: “ Evaluasilah (Hisablah) dirimu sebelum kalian dihisab di hadapan Allah kelak”. Muhasabah diri dilakukan terhadap semua perbuatan, tingkah laku dan tindakan kita, baik yang berhubungan dengan ibadah atau muamalah. Contohnya, adalah menjadi kewajiban bagi seseorang untuk selalu bertanya kepada dirinya sendiri dengan beberapa pertanyaan, kemudian mengingat dasar-dasar pengajaran daripada Alquran dan Sunah. Dan sebaik-baik manusia adalah yang dapat mengambil hikmah dari apa yang telah ia lakukan, lalu menatap hari esok yang lebih baik. Sebagaimana Dalam sebuah ungkapan yang sangat terkenal Rasulullah Saw bersabda, yang artinya : “Barang siapa yang hari ini, tahun ini lebih baik dari hari dan tahun yang lalu, dialah orang yang sukses, tapi siapa yang hari dan tahun ini sama hari dan tahun kemarin maka dia orang yang tertipu (rugi), dan siapa yang hari dan tahun ini lebih buruk daripada hari dan tahun kemarin maka dialah orang yang terlaknat” Endang Dwi Wahyuni Kepala Dana Pensiun UMM

Pengacara yang Berkhianat Apakah tindakan MB sebagai seorang pengacara ini dilegalkan? Adakah ketentuan yang mengatur tentang besarnya insentif dan mekanisme pembayaran insentif tersebut atas jasa pengacara? Selanjutnya adakah upaya hukum yang dapat saya tempuh atas tindakan MB tersebut? Demikian, atas jawaban dan saran pengasuh saya ucapkan terima kasih. Jawaban : Wa’alaikum Salam. Wr.Wb. Saudara Hendri yang kami hormati, kami turut prihatin atas permasalahan yang anda hadapi. Sebagai Advokat, kami juga prihatin atas tindakan MB yang tidak profesional dalam menjalankan profesinya, dan tentu saja berpotensi merugikan anda. Perlu anda ketahui bahwa Pengacara/Advokat (UU 18 Tahun 2003) dalam menjalankan profesinya untuk membela perkara yang menjadi tanggung jawabnya berpegang pada kode etik profesi dan peraturan perundang-undangan. Dalam Kode Etik Advokat ditegaskan bahwa profesi advokat adalah profesi terhormat (Officium Nobile), yang dalam menjalankan profesinya berada di bawah

perlindungan hukum, undang-undang dan kode etik, memiliki kebebasan yang didasarkan pada kehormatan dan kepribadian Advokat yang berpegang teguh kepada kemandirian, kejujuran, kerahasiaan, dan keterbukaan. Oleh karena itu setiap Advokat harus menjaga citra dan martabat serta kehormatan profesinya. Dalam ketentuan pasal 26 ayat (2) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat disebutkan bahwa “Advokat wajib tunduk dan mematuhi kode etik profesi advokat dan ketentuan tentang Dewan Kehormatan Organisasi Advokat”. Dalam permasalahan yang anda hadapi, tindakan MB yang sebelumnya mewakili anda dalam suatu perkara, kemudian yang bersangkutan mundur sebagai kuasa hukum anda dan berbalik menjadi kuasa hukum bagi lawan beperkara anda pada kasus yang sama. Tindakan tersebut adalah tindakan yang tidak dibenarkan secara etik. Dengan menjadi kuasa hukum lawan anda untuk kasus yang sama, maka secara logika MB sangat berpotensi untuk menggunakan halhal berupa informasi atau data terkait perkara tersebut, yang dia ketahui

atau peroleh dari anda, saat ia menjadi kuasa hukum anda. Informasi dan data yang seharusnya dia rahasiakan tersebut, tentu saja sangat berpotensi akan digunakan untuk keuntungan klien barunya dan pastinya merugikan kepentingan anda. Oleh karena itu tindakan MB jelas melanggar ketentuan mengenai kewajiban menjaga rahasia klien sebagaimana tersebut di atas. Berdasarkan ketentuan di atas, maka jelas MB telah melakukan pelanggaran Kode Etik. Dalam Pasal 6 Undang-Undang Advokat disebutkan bahwa “Advokat dapat dikenai tindakan dengan alasan (d) berbuat hal-hal yang bertentangan dengan kewajiban, kehormatan, atau harkat dan martabat profesinya”. Adapun upaya yang dapat anda lakukan terhadap tindakan MB adalah mengajukan pengaduan kepada Dewan Kehormatan Organisasi Advokat. Dalam Pasal 26 ayat (5) Undang-Undang Advokat disebutkan bahwa “Dewan Kehormatan Organisasi Advokat berwenang memeriksa dan mengadili pelanggaran kode etik profesi Advokat berdasarkan tata cara Dewan Kehormatan Organisasi Advokat”. Jika dalam sidang Dewan Kehormatan

terbukti advokat tersebut melanggar kode etik, maka yang bersangkutan dapat dijatuhi tindakan mulai dari sanksi teguran, pemberhentian sementara, atau pemberhentian tetap dari profesi Advokat (Pasal 7 dan pasal 8 UU Advokat). Mengenai besarnya insentif dan mekanisme pembayaran insentif atas jasa Advokat, diatur dan ditetapkan berdasarkan kesepakatan antara Advokat dan klien. Hal itu sebagaimana ketentuan dalam Pasal 21 ayat (1) Undang-Undang Advokat yang menyatakan bahwa “Advokat berhak menerima honorarium atas jasa hukum yang telah diberikan kepada kliennya” kemudian dalam ayat (2) ditegaskan pula bahwa “Besarnya honorarium atas jasa hukum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan secara wajar berdasarkan persetujuan kedua belah pihak”. Demikian jawaban kami, semoga dapat menambah wawasan dan menyelesaikan permasalahan anda. Wassalamu’alaikum Wr.Wb. Tim UPT BKBH Masjid AR Fachruddin Lantai I Kampus III UMM bkbh_unmuh@yahoo.com Telp : 0341-464318 ext 193


22 BESTARI

OPINI

No. 269/TH.XXIII/Desember/2010

Corak

Anatomi Pembatasan BBM Bersubsidi

Antara Dongeng, Kebaikan, dan Keburukan “Entek,entek, bedugul paten-no no. Ojo di, ojo di, ojo di dolor tuwo. Malati, malati... Bener... Bener... ” (Jari manis: Kelingking,kelingking, bunuhlah jari tengah! Jari telunjuk: Jangan, jangan, dia adalah saudara tua kita.Nanti Kualat, kualat... Jari jempol: Benar,benar...) Meski tidak pernah menyebutkan judulnya dengan pasti, namun saya pribadi memberi nama tembang itu sebagai kisah lima jari (yang konon—dalam dongeng— katanya bisa saling bercakap-cakap). Kelima jari itu adalah jari jempol, jari telunjuk, jari tengah, jari manis, dan jari kelingking. Masih dalam dongeng yang sama, diceritakan bahwa kelima jari kita adalah saudara kandung yang masingmasing memiliki berbagai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Suatu saat, si jari manis memandang jari tengah dengan mendongak dan penuh perasaan iri. Dalam hatinya tersirat suatu kecemburuan, mengapa dirinya tak setinggi jari tengah, padahal jika tinggi kedua jari ini sama, si jari manis yakin, ia akan jauh lebih indah ketimbang kakak tertuanya (jari tengah). Terlintas niat jahat , jika si jari manis berhasil menyingkirkan jari tengah, ia akan menjadi yang tertinggi diantara saudara-saudaranya. Lebih dari itu, ia juga akan menjadi saudara paling tua yang mendapatkan hak paling banyak. Tak kuat menahan rasa cemburu dan amarah, si jari manis mencoba memanfaatkan adiknya yakni jari kelingking untuk mendapatkan keinginannya,”Kelingking, kelingking, bunuhlah jari tengah!” Mendengar perkataan jari manis, jari telunjuk—yang dikisahkan sebagai sesorang yang cukup bijaksana— mengingatkan, “Jangan, jangan. Dia saudara tua kita,”. Jelasnya sambil menggeleng-geleng. “Jika kamu melakukannya, nati kualat. Kualat...,”ujarnya menegaskan. Mendengar pembicaraan saudara-saudaranya, jempol yang dikisahkan pendiam namun memiliki keagungan hati yang luar biasa membenarkan perkataan jari telunjuk.”Benar...Benar...,”ucapnya sambil menganggukangguk. Kisah di atas merupakan salah satu dari beberapa dongeng yang dahulu sering diceritakan nenek (alm) ketika saya masih duduk di kelas dua Sekolah Dasar (SD). Entah mengapa, mungkin karena intensitas saya bertemu orang tua cukup terbatas, neneklah yang menjadi sahabat baik saya. Meski memiliki kamar yang berbeda, saya lebih memilih tidur bersama nenek sambil mendengarkan beberapa dongeng yang seingat saya hanya terdiri dari lima judul yang selalu diulang silih beganti. Kelimanya adalah dongeng percakapan lima jari (di atas), Ande-ande Lumut dan Yuyu Kangkang, Timun Mas, Kacil Nyolong Timun, serta kisah pohon padi yang pergi ke puncak gunung dan menjelma sebagai pohon gadung. Bertutur dalam Bahasa Jawa yang pada saat itu cukup sulit saya pahami, nenek sungguh pandai mendeskripsikan cerita lengkap beserta soundtrack masing-masing. Bukan hanya itu, cara janda berumur 70-an tahun ini (kala itu) menyampaikan filosofi di balik masing-masing kisah sungguh tak dapat dilupakan. Salah satunya tentang perebutan “kekuasaan” lima jari di atas. Kebiasaan mendongeng saat ini telah luntur di masyarakat Indonesia. Para orang tua, akan lebih memilih untuk mendongengkan cerita kehidupan yang didominasi tentang pertengkaran dan perebutan kekuasaan melalui layar televisi, yang justru sangat tidak mendidik. Padahal, jika mau menurunkan “ilmu” yang di dapatnya dari para leluhur tentang berbagai cerita daerah , kecerdasan anak akan lebih terasah karena kemampuan mengembangkan imajinasi dan penalaran lebih besar. Bukan hanya itu, dongeng khas bangsa Indonesia bisa dipastikan selalu sarat makna. Berbagai pesan moral disampaikan melalui cerita-cerita yang mengangumkan hingga memilukan. Lihat saja bagaimana Malin Kundang mengisahkan akibat yang akan diperoleh seorang anak yang durhaka, Ande-ande Lumut yang mengajarkan tentang ketulusan, kerendahatian, hingga kesucian, dan Bawang Merah dan Bawang Putih yang mengajarkan tentang kesabaran dan keikhlasan. Semuaya membuat kita paham dan mampu menerjemahkan apa itu kebaikan dan keburukan. Oleh karenanya, sebagai sosok yang dibesarkan dalam bangsa yang kaya budaya, selayaknya kita mampu menjadi orang tua maupun kakak yang bijak memilih media untuk mengajarkan makna kehidupan, menjelaskan tentang kebaikan dan keburukan. Dongeng dapat menjadi salah satu alternatifnya. Redaktur Pelaksana Silvia Ramadhani

Jangan disebut BBM jika tidak Bikin Bingung Masyarakat. Belum sirna dampak naiknya harga BBM beberapa periode lalu, kini masyarakat kembali akan dihadapkan pada permasalahan baru yakni pembatasan penggunaannya walaupun hanya pada jenis yang disubsidi saja. Pembatasan subsidi BBM sebenarnya merupakan wujud implementasi amanat UURI-P Nomor 2 Tahun 2010 pasal 7 butir 2 yang menyebutkan bahwa pengendalian anggaran subsidi BBM dapat dilakukan melalui beberapa cara, yakni efisiensi terhadap biaya distribusi dan margin usaha (alpha), serta melakukan kebijakan penghematan konsumsi BBM bersubsidi. Ada dua pilihan kebijakan pembatasan BBM bersubsidi yang telah disodorkan ke meja DPR. Pertama, subsidi hanya untuk kendaraan plat kuning dan kendaraan roda dua atau tiga. Kedua, subsidi untuk kendaraan plat kuning, kendaraan roda dua atau tiga, dan kendaraan plat hitam yang dibuat di bawah tahun 2005. Logika Subsidi Dalam politik anggaran negara, subsidi tidak sesederhana seperti yang dipahami masyarakat awam, walaupun secara substansi sama. Secara awam, subsidi dipahami tidak lebih sebagai potongan harga suatu produk. Pada politik anggaran negara, subsidi dihitung berdasarkan selisih harga antara harga jual yang ditetapkan pemerintah dengan harga patokan tertentu yang digunakan. Ini dihitung tiap bulan berdasarkan rata-rata Mid Oil Platt’s Singapore (MOPS) yang tidak lain adalah harga transaksi jual beli bursa minyak di Singapura ditambah biaya distribusi dan marjin. Berhubung patokannya MOPS, maka harga BBM di Indonesia sangat bergantung pada naik turunnya harga minyak di bursa Singapura. Dengan demikian, besarnya subsidi BBM tidak semata-mata ditentukan oleh volume, namun lebih disebabkan fluktuasi harga di bursa minyak. Inilah yang mengundang kritik bahwa subsidi BBM bukan merupakan subsidi yang senyatanya. Problema Anggaran Subsidi adalah salah satu komponen penting Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Besarnya subsidi untuk energi pada APBN tahun 2010 menurut UURI-P No

Oleh:

Widayat* 2 tahun 2010 pasal 7 butir 1 sekitar Rp 88,89 triliun yang meliputi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM), Bahan Bakar Nabati (BBN) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG). Sementara subsidi BBM dipatok dengan volume BBM bersubsidi sebesar 36,5 juta kl. Besaran angka tersebut dihitung berdasarkan volume kebutuhan nasional dalam waktu satu tahun anggaran dengan menggunakan asumsi harga minyak sesuai dengan asumsi makro APBN, yakni sebesar US$80,0 per barel dan nilai tukar Rp 9.200,00/US$. Bagaimana jika harga minyak yang diasumsikan tidak sesuai? Sudah tentu ini akan berdampak pada realisasi besarnya subsidi. Pada UURI-P No 2 tahun 2010 Pasal 7 butir 3, dijelaskan bahwa bilamana perkiraan harga rata-rata minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price = ICP) dalam 1 (satu) tahun mengalami kenaikan lebih dari 10% dari harga yang diasumsikan, pemerintah diberikan kewenangan melakukan penyesuaian harga BBM bersubsidi. Penyesuaian dengan jalan menaikkan harga BBM bersubsidi tidak mudah. Selain akan berhadapan dengan berbagai komponen masyarakat, eksesnya akan cenderung memperburuk kondisi perekonomian. Maka, sebagai upaya preventif perlu dilakukan pengendalian anggaran yang salah satunya melakukan kebijakan penghematan konsumsi BBM bersubsidi. Persoalan penghematan subsidi BBM dapat diurai dengan melibatkan keterkaitan komponen-komponen yang mempengaruhinya. Pertama, melihat sifat hubungan antara kendaraan dan bahan bakarnya. Secara ekonomi hubungan dua barang dapat bersifat substitusi (saling menggantikan) atau komplementer (saling melengkapi). Kendaraan bermotor dan bahan bakarnya bersifat komplementer, sehingga naik turunnya jumlah kendaraan bermotor akan berdampak pada naik turunnya jumlah penggunaan BBM. Dengan melihat hal itu, kebijakan pengurangan jumlah konsumsi BBM dapat ditempuh dengan mengurangi jumlah penggunaan kendaraan bermotor atau menekan laju pertumbuhannya. Namun,

hal ini tidak mudah. Selain karena Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) memiliki bargaining power yang kuat pada elit penguasa, kebijakan tersebut berimplikasi pada hilangnya penerimaan pemerintah dari pajak kendaraan sehingga memperkecil pula kemampuan pemerintah membiayai pengeluarannya. Selain itu, jika jumlah kendaraan dibatasi, sama artinya dengan membatasi jumlah produksi yang berimplikasi pada peningkatan jumlah pengangguran. Jika kebijakan tersebut ditempuh, pemerintah juga harus menyediakan sarana transportasi publik pengganti kendaraan pribadi. Sayangnya, sekali lagi ini juga bukan pekerjaan mudah. Penghalang seringkali muncul dari adanya konflik kepentingan antara pemilik modal swasta dengan pemerintah. Kedua, melihat hubungan antara jenis kendaraan yang satu (roda dua yang hemat bahan bakar) dengan kendaraan yang lain (roda empat yang boros bahan bakar). Hubungan keduanya lebih bersifat saling menggantikan. Dari sisi ini, kebijakan dapat ditempuh dengan jalan mengalihkan penggunaan BBM bersubsidi pada jenis kendaraan yang dipandang lebih hemat bahan bakar (roda dua). Terakhir, mencermati sifat hubungan antara kendaraan pribadi dengan transportasi publik. Hubungan keduanya dapat ditempatkan pada ranah ekonomi maupun sosiologi. Dari sudut pandang ekonomi, keduanya lebih bersifat substitusi normal atau bersubstitusi sebagai barang inferior. Jika hubungannya bersifat substitusi inferior, ketika pendapatan meningkat barang yang satu akan ditinggalkan. Ini ditandai dengan kecenderungan menggunakan kendaraan pribadi dan meninggalkan kendaraan umum yang dipandang inferior. Inferioritas ini akan hilang jika transportasi publik didesain sedemikian rupa sehingga aman, nyaman, tepat waktu, dan harga terjangkau. Sementara itu, secara sosiologis, keberadaan kendaraan pada lapisan masyarakat tertentu juga merupakan simbol status. Keyakinan semacam ini menjadi penghambat upaya pemerintah untuk mendorong penggunaan roda dua atau transportasi publik sehingga akhirnya kebijakan semacam itu pun sulit memberikan pengaruh yang signifikan. *Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang

Mewujudkan Kesejahteraan Sosial Pasar Tradisional Setelah sempat meredup selama beberapa pekan, rencana renovasi Pasar Dinoyo dan Pasar Blimbing Malang kembali mencuat. Tentu hal ini juga akan mengembalikan semua konstruksi opini pro kontra masyarakat Malang terutama Dinoyo, Blimbing, dan sekitarnya. Sepertinya, berbagai peristiwa beberapa waktu terakhir yang membuat emosi beradu dengan harapan untuk bisa segera membaik, misalnya mulai dari bencana alam di Wasior, letusan Merapi, Tsunami di Mentawai, hingga ancaman Gunung Bromo yang mensinyalkan erupsi, tak membuat Pemerintah Kota Malang (Pemkot) melupakan rencana tersebut. Rencana yang telah banyak menyulut protes keras dan perlawanan ini rupanya masih teragendakan oleh Pemkot Malang. Berbagai macam bentuk harapan masyarakat agar akan ada hearing antara Pemkot dan ‘penghuni’ pasar yang kemudian menimbulkan simbiosis mutualisme tak kunjung terpenuhi. Tak mustahil jika nantinya kondisi ini akan bisa mengerucut pada anarkisme. Tentu kita tidak mengharapkan riot semacam yang terjadi pada rencana penggusuran Makam Mbah Priok di Tanjung Priok yang memakan banyak korban dari penduduk dan Satpol PP terulang kembali. Apalagi, pembelaan dan beberapa protes keras telah disampaikan oleh pihak-pihak yang merasa keberatan secara lantang dan terangterangan. Harusnya ini menjadi bahan pertimbangan yang krusial bagi Pemkot Malang. Ini karena tak hanya ancaman prediksi anarkisme saja yang bisa terjadi, akan tetapi juga rusaknya struksur sosial yang sudah lama terbangun di dalamnya. Hubungan interaksi sosial, tindakan sosial, dan komunikasi politik yang dilakukan antar semua penghuni pasar; penjual, pembeli, distributor barang, pengelola pasar hingga tukang becak, dan supir angkot akan terpengaruh. Fungsi Sosiologis Pasar UMM sebagai salah satu lembaga pendidikan terbesar di Malang juga turut memberikan sikap terhadap keputusan sepihak

Oleh:

M. Hamim Arifin* rencana renovasi pasar tradisional ini. Bersama MCW, DPRD, dan wakil Paguyuban Pedagang Pasar Dinoyo, PKSP (Pusat Kajian Sosial dan Politik) FISIP UMM mengadakan Diskusi Pakar bertemakan “Kapitalisasi Pasar DinoyoBlimbing”. Diskusi yang diadakan pada akhir Oktober lalu ini memberikan pandangan agar membentuk gerakan untuk membela rencana renovasi ini dari tokoh masyarakat. Kegiatan ini jelas menjadi rekomendasi bagi Pemkot Malang agar lebih terukur dalam melakukan kebijakan. Apalagi jika ini harus melibatkan banyak pihak yang akibatnya akan meruntuhkan sistem sosial yang sudah terbangun sejak lama. Pasar sebagaimana dijelaskan di awal memiliki sendi-sendi yang tak bisa dipungut begitu saja dari dunia luar sistem sosial pasar itu sendiri. Dalam keberlangsungan praksis hidupnya, pasar memiliki banyak rutinitas sosial yang tak terhindarkan. H. Bonner dalam bukunya Social Psychology memberikan rumusan interaksi sosial sebagai berikut “interaksi sosial adalah suatu hubungan antara individu atau lebih, di mana kelakuan individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya”. Transformasi behavioral yang merupakan konsekuensi dari interaksi sosial ini berbaur dengan sendirinya di antara para penghuni pasar. Memiliki fungsi ekonomi, pasar adalah suatu tempat di mana transaksi ekonomi terjadi yang ditandai dengan kegiatan membeli dan menjual barang dan jasa pada sebuah harga yang mengarah pada titik keseimbangan serta kesepakatan kedua belah pihak. Sementara itu, tempat yang digunakan sebagai area sementara bagi para penghuni pasar tradisional Blimbing adalah Desa Laok Padas, Kelurahan Pandanwangi. Namun, dengan kondisi penempatan yang

‘disingkirkan’-nya jauh ke belakang bangunan membuat para pedagang tak merasakan fungsi ekonomi itu. Selain itu, sebagai pemilik fungsi budaya, pasar juga merupakan tempat pergaulan antara individu satu dengan individu yang lain, atau antar satu kelompok dengan kelompok yang lain dalam suatu masyarakat sehingga terjadi komunikasi dan respon di antara lintas budaya mereka. Keadaan itu tak akan sepenuhnya terlihat lagi ketika kedua pasar tradisional tersebut harus membenturkan diri pada redundansi tempat yang dilakukan Pemkot Malang dengan apartemen, mal, pasar tradisional, dan ruko. Tidak hanya penghuni pasar murni yang akan timpang melangkah, namun juga mempengaruhi kebijakan pihak-pihak yang berada di luar bingkai pasar. Di Blimbing misalnya, para lembaga pemberi jasa kredit, yaitu perbankan dan perusahaan sewa guna usaha (leasing) mulai keberatan menyalurkan kredit kepada pedagang pasar. Yang lebih dikhawatirkan, kesenjangan ini juga akan memicu reduksi sentuhan dan kepercayaan para konsumen pada pedagang pasar yang dalam hal ini adalah produsen. Pada kenyataannya, mencabut satu baut struktur dalam pasar akan merobohkan pilar tatanan kecil lainnya yang nantinya merubah fungsi pasar sebagai salah satu media interaksi. Apalagi, renovasi pasar ini tidak hanya menepikan satu peran saja dalam pasar, akan tetapi rekonstruksi semua lini yang terdapat di dalamnya. Membayangkan pasar semacam Pasar Tradisional Dinoyo dan Blimbing tanpa fungsi-fungsi di atas hanya memunculkan suasana hidup yang tak nyaman bagi penghuninya. Ditambah lagi, bahwa pelaku pasar tak hanya ‘pribumi’, yaitu juga berasal dari luar area Dinoyo dan Blimbing, membuat kesenjangan ini sangat berdampak pada hampir semua masyarakat Malang yang kesejahteraannya menjadi tanggung jawab oleh Pemkot ini. *Mahasiswa Ilmu Konunikasi 2008


HUMANIORA

Aku. Pikiranku mulai terbebani. Aku mulai memikirkan tentang hal-hal pemenuhan hajat hidup yang dulu tak pernah kuhiraukan. Kamar, selimut, toilet, teh hangat, sebungkus roti, terlebih nasi goreng dan bakmi Jawa. Semuanya kini telah menjelma bintang-gemintang yang bertaburan di langit kelam karena sekarang aku berada di antara himpitan dan tumpukan orang-orang yang rumah serta seluruh isinya diambil alih oleh bermilyar-milyar wedus gembel yang turun berlarian dari puncak Merapi. Kami bercampur baur antara laki-laki dan perempuan—tua dan muda. Sekarang, kamilah yang bagai kambing-kambing di pasar hewan, menunggu perputaran nasib menjadi lebih baik atau mungkin lebih buruk. Sehari setelah Merapi meletus, ketika pertama berada dalam barakbarak pengungsian, aku berharap kegetiran ini akan berlangsung sebentar saja seperti mimpi buruk dalam malam sepi yang ketika aku terjaga segalanya telah berakhir Di sini tidak ada cermin, bedak, lipstick, blush-on, parfum, dan perlengkapan rias lainnya yang bersifat pribadi. Semuanya menjadi milik bersama. Semuanya milik umum yang boleh dipakai siapa saja. Bagi perempuan, segala tetek bengek itu tidak akan pernah bisa dipisahkan dan keberadaannya bahkan lebih dekat dari siapapun. Mungkin sebagian orang akan tanya-tanya apakah ada orang yang mau berdandan di tengahtengah musibah seperti ini. Maka jawabannya, mungkin saja. Salah satunya aku, seorang anak perempuan yang baru memasuki masa gadis, masa bersolek untuk pembuktian diri kepada para lelaki muda. Seorang gadis yang jika ditakdirkan mati di tengah-tengah musibah ini berharap minimal bisa mati dalam keadaan cantik karena baru selesai berdandan

RESENSI Perkembangan teknologi yang begitu pesat memberikan dampak yang signifikan pada kehidupan masyarakat khususnya dalam hal penyampaian pesan. Salah satu perkembangan bidang teknologi tersebut adalah munculnya blog. Dalam blog, user atau pengguna bisa menulis apa saja yang mereka inginkan, termasuk kejadian-kejadian di sekitar atau sekadar mengeluarkan uneg-uneg terhadap suatu kejadian. Kegiatan masyarakat yang menginformasikan suatu kejadian dalam bentuk tulisan di blog ini sama halnya dengan apa yang dilakukan oleh seorang wartawan. Bedanya, di sini m a s ya r a k a t meliput, menulis, mengedit, dan

memublikasikannya sendiri. Inilah yang disebut dengan kegiatan citizen journalism yang tidak memandang status, kemampuan, dan umur. Melalui blog, mereka bisa menyalurkan uneg-uneg, ketidakpuasan, dan mengomentari ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya secara bebas. Fakta-fakta itu jelas menjadi

BESTARI

Malam Itu Tak Ada Mimpi

dan berharap Tuhan bisa tersenyum kepadanya.

Aku yang lain. Aroma laut yang tertinggal di hamparan tanah desa ini telah bercampur dengan berbagai aroma mayat manusia dan bangkai hewan yang telah membusuk karena tidak ditemukan tim SAR. Rumah-rumah yang serata tanah, pohon-pohon yang terangkat akarnya, rongsokan barangbarang yang dulu berharga kini menjadi sampah bercampur lumpur. Ya, sekali lagi manusia berurusan dengan lumpur—sekali lagi manusia menjadi lumpur. Badai masih mengganas, hujan masih terus berjatuhan dengan keras. Siapa yang tak takut pada dingin? Siapa yang tak takut pada sedih? Siapakah yang tak takut pada takut? Siapa yang tak takut pada maut? Di sini, di tanah Mentawai ini, semuanya telah begitu dekat dan begitu rapat sehingga tidak dapat lagi dibedakan mana takut, mana sedih, mana dingin, mana maut, dan mana diri sendiri. Sekitar 15.353 jiwa—ya, aku mampu menghitung dan mengingatnya dengan cermat— berela hati meninggalkan tanah kelahirannya, meninggalkan semua baris-baris kenangan yang telah terpahat di semua sudut kampung halamannya dalam batas waktu yang tak diketahui ujung masanya. Mereka merela diri hidup bersekat tenda di alam terbuka menunggu belas kasih, kemurahan hati, dan bantuan dari orang lain. Di antara 15.353 jiwa itu ada aku, seorang gadis yang baru berusaha mengejar dan memaknai kehidupan sesungguhnya. Aku, seorang gadis yang baru mau membuat kamar pribadi, kamar rahasia yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang, kamar tempat bercerita, mengadu, dan merancang cita-cita. Kenyataannya, sekarang aku

hidup tanpa kamar, tanpa ibu, tanpa ayah, dan tanpa sanak saudara. Aku menggeletar seorang diri dalam dingin dan ketakutan di tengah ramainya isak pilu orang-orang sependeritaan dalam barak pengungsian. Sekarang aku hidup seperti ikan dalam aquarium. Semua yang kulakukan begitu jelas terlihat orang lain. Batas hidup dengan kematian begitu tipis dan transparan. Bahkan, aku bisa melihat tangan kematian itu melambai-lambai di luar barak pengungsian. Namun, jika aku diberi kesempatan oleh Tuhan untuk hidup lebih lama, aku akan segera membuat kamar pribadi yang sangat bagus dan sangat rahasia sehingga aku dapat dengan mudah menggambar kehidupan dan bercanda dengan Tuhan. Aku juga akan segera membuat tembok besar dan ribuan beton pemecah gelombang. Selain itu, aku akan membuat pendeteksi tsunami super canggih hingga ketika tsunami datang aku sempat menyampaikan rasa cintaku yang dalam kepada ibu, bapak, kakak, dan semua kerabat tercinta sebelum nantinya mati juga dihantam kekuatan alam. Bukankah tidak ada sesuatu pun yang bisa mengalahkan Tuhan? Namun, minimal usaha tadi mampu memberikan kesempatan kepada lensa mataku untuk menyimpan wajah ibu dalam rekamannya yang terakhir. Aku, di tempat yang lain. Ketika kubuka mata, dedaunan pohonan di hutan begitu dekat dengan wajahku. Sejenak aku berpikir apakah aku yang meninggi atau pepohonan itu yang merendah. Nyatanya, sekarang aku berada di antara ribuan batang kayu glondongan hasil penebangan liar yang mengapung beberapa meter dari tanah. Tubuhku terhimpit batang-batang kayu itu. Dengan sekuat tenaga aku mencoba mendorong batang-batang itu untuk membuat celah. Setelah berhasil lepas,

No. 269 /TH.XXII/Desember/2010

aku memandang sekeliling, seluruh tubuhku terasa lumpuh tak bertulang. Semuanya. Ya, semuanya telah terendam air dan menjadi lumpur. Tiba-tiba dingin menyerbu otakku. Ketika kubuka mata, atap tenda berwarna orange menjadi langit pertama yang kulihat. Beberapa lakilaki muda yang kuketahui belakangan sebagai relawan tersenyum ke arahku. Aku justru mulai terbebani ketika telingaku kembali berfungsi. Begitu riuh, ribuan; tangisan dan ratapan luka mendalam kehilangan. Kupahami ratapan dalam tangis itu dalam-dalam. Mengalirlah air dari mataku yang asinnya terecap di lidahku. Kupahami ratapan itu, kupahami lagi hidupku. Kupahami bahwa kini aku telah terlahir kembali dalam kesendirian. Ayah, ibu, serta sanak kerabatku telah mengalir ke laut melewati sungai bersama lumpur, ternak-ternak, bongkol-bongkol pohon yang telah lama kehilangan pokok dan daunnya. Aku mencoba memahami, tetapi tetap tak terpahami. Dalam sepiku bermunculan tanya. Nanti setelah ini, jika hidup masih di ragaku apakah bumi Papua— tanah Wasior ini masih milik kami, masih mengenali kami sebagai anakanaknya? Lalu ke mana kami akan kembali? Aku. Lebih dari dua pekan sudah aku berada di barak pengungsian. Kadang aku berpikir lebih memilih mati. Namun, sebuah ucapan dari orangorang baik hati yang menolong kami kembali mengiang, “Seberapa besar harapan yang mekar di hati dalam keterpurukan merupakan rahmat dari Tuhan agar kita mampu melihat dalam gelap dan berjalan dalam lumpur sebab di seberang ini ada rencana hidup yang teramat indah untuk kita dari Tuhan”. Alam masih saja mengamuk. Jumlah pengungsi pun mulai meningkat drastis. Barak-barak yang sudah

23

hampir penuh membuat kami terpaksa bertumpuk-tumpuk dan bercampur baur. Malam itu udara begitu dingin karena bermilyar-milyar uap air dan angin telah sepakat bersekutu. Listrik padam karena tiang-tiangnya ikut tersapu. Penerangan seadanya semakin membuat kami terhanyut dalam nestapa. Malam semakin larut, sedangkan tampaknya seluruh alam sepakat untuk beristirahat. Malam itu sangat sepi. Sunyi, hanya suara dengkur para pengungsi yang berlarian menjemput pagi. Tibatiba, di antara sadar dan tidak aku merasakan sesuatu menyeruak masuk ke dalam bajuku; ke dadaku, ke perutku, ke sekujur tubuhku. Sekuat tenaga aku mencoba tersadar dengan mengalahkan rasa kantuk di mataku dan kemudian aku mendapati sepasang tangan laki-laki berada di bawah bajuku, tidak memberiku kesempatan untuk melakukan perlawanan diri. Mendadak bumi dan badanku terasa berguncang. Aku berteriak, tetapi teriakanku hanya sampai sebatas tenggorokan yang seret dan haus. Tiba-tiba, para TKW Indonesia di Arab Saudi dan Malaysia yang tidak akan pernah lagi dapat melihat kampung halamannya bertebaran di setiap sudut ruang pengungsian dan melambai ke arahku yang kini hampir tak dapat bernafas. Lalu aku bermimpi. Dalam mimpiku itu aku tertidur dan bermimpi tentang negara yang tertidur. Dalam tidurnya, negara itu bermimpi tentang mimpi dalam mimpi, tetapi semua bencana yang telah terjadi dan malam itu bukanlah mimpi. Malang Oktober-November 2010 Supriyadi Hamzah Salah satu tenaga pengajar di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan-UMM

Tren Penggunaan Blog sebagai Media CiƟzen Journalism

fenomena baru dalam proses penyebaran berita. Melalui blog pula, masyarakat memiliki alternatif lain dalam mengonsumsi berita selain dari saluran resmi yang sering kali justru telah mengalami banyak “sensor” (kepentingan media, pemerintah, pemilik saham, atau aturan-aturan resmi). Dengan kata lain, blog bisa menjadi media kontrol sosial masyarakat. Inilah revolusi baru penyebaran pesan. Selama ini, kontrol sosial hanya bisa dilakukan media massa ‘resmi’ baik cetak maupun elektronik dan menutup kesempatan bagi warga negara biasa untuk melakukan kontrol sosial secara bebas terhadap adanya ketidakpuasan yang terjadi di sekitarnya. Jika media massa penuh d e n g a n kepentingan ( p e m i l i k m o d a l , kapitalis, pemerintah), citizen journalism justru sebaliknya. Ia adalah fenomena kontrol sosial tanpa sensor. Artinya, tidak ada orang lain yang mengontrol informasi yang disebarkannya. Dengan kata lain, blogger (pengguna blog) bebas menyalurkan uneg-

unegnya melalui blog yang dimilikinya. Di sini, orisinalitas pemikiran warga negara bisa dilihat dan ini sesuai dengan yang dibutuhkan iklim demokratisasi. Jika ada kritik, maka itu adalah kritikan yang asli, bukan yang dititipkan pada media massa dengan pengaruh kepentingan media massa yang bersangkutan ataupun pihak-pihak lain. Buku yang berjudul Citizen Journalism sebagai Katarsis Baru Masyarakat ini berasal dari sebuah penelitian. Buku ini mengungkap tentang fenomena menarik berkaitan dengan pemanfaatan blog sebagai media katarsis baru masyarakat sehingga konteks pembahasan buku ini lebih pada penggalian fenomena citizen journalism yang sedang mewabah di era cyberspace. Penulis memilih blogger ngalam (para pengguna blog Malang) sebagai subjek penelitiannya karena mereka dianggap representatif mewakili praktek citizen journalism di dunia maya. Bagian akhir buku ini menyatakan bahwa dalam jangka panjang, perkembangan citizen journalism akan memunculkan tantangan tersendiri bagi mainstream media untuk melakukan kebijakan ulang berkaitan dengan penyebaran pesan dan informasinya. Saat ini saja, tidak sedikit dari mereka yang mulai memunculkan rubrik atau tayangan “citizen journalism” versi mainstream media.

Selain itu, buku ini juga mengkritiki teori uses and gratification yang selama ini hanya berbicara tentang dampak media saja. Penulis mengemukakan bahwa teori tersebut telah mengalami pergeseran. Teori itu menekankan bahwa audiens adalah mereka yang aktif memilih media mana yang bisa memuaskan kebutuhannya. Namun, dalam dunia blogger, kepuasan kebutuhan tidak hanya ada pada diri audiens, tetapi juga pada diri komunikator. Seorang blogger awalnya adalah seorang konsumen media yang aktif memilih mana media yang bisa memuaskan kebutuhannya. Selanjutnya, sebagai citizen journalist ia kemudian juga menjadi komunikator yang mencoba berbagi cerita dengan khalayak ramai mengenai peristiwaperistiwa yang terjadi. Dengan cara berbagi cerita itu citizen journalist melakukan katarsis sehingga ia mengalami kelegaan emosional dan terpuaskan kebutuhannya. Jadi. dapat ditarik kesimpulan bahwa teori uses and gratification

mengalami pengayaan kajian, tidak lagi hanya berfokus pada audiens (citizen journalist sebagai konsumen media), tetapi juga komunikator (citizen journalist sebagai penyebar informasi). Maka, buku ini patut dibaca masyarakat khususnya para pengguna blog, praktisi media, hingga akademisi yang sedang mengamati dan mempelajari perkembangan media massa sekarang ini. Penyampaian yang lugas dengan pemilihan diksi yang cermat dan studi kasus yang dekat dengan kehidupan kita (blog), buku ini dapat dengan mudah dipahami. Selain itu, adanya glosarium di halaman depan buku ini membuat pembaca tidak kesulitan memahami istilah-istilah ilmiah dan asing yang ada di dalamnya. Yang tidak kalah penting, penelitian yang dituangkan dalam buku ini dapat menambah khasanah keilmuan kita tentang komunikasi di era modern dan dari sisi jurnalistik media massa.

Biodata Buku Judul buku Penulis Tahun Terbit Tebal Buku Penerbit Peresensi

: Citizen Journalism sebagai Katarsis Baru Masyarakat : Nurudin, S.Sos., M.Si. : Oktober, 2010 : XVII+120 halaman : Buku Litera : Ditalia I. Mufrida


calendar design by. zack

Bestari Edisi 269/Desember/2010  

Bestari Edisi 269/Desember/2010

Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you