Issuu on Google+

ISSN:0215-206X

STT:SK Menpen No.1147/SK/Ditjen PPG/STT/1987 Tgl.27 Oktober 1987

No. 265 /TH.XXIII/AGUSTUS/2010


2 BESTARI

JENDELA

No. 265/TH.XXIII/Agustus/2010

Salam Redaksi

Lebaran Sebentar Lagi Assalamu’alaikum wr. wb. Alhamdulilah, kita masih bisa menjumpai bulan puasa tahun 1431 H ini. Semoga rahmat Allah senantiasa menaungi pembaca Bestari semua. Amin. Pada edisi yang bertepatan dengan liburan kuliah ini, Bestari tetap setia menyapa dengan rubrik-rubriknya. Urgensi keberadaan dan pelaksanaan P2KK membuat kampus akhirnya mendirikan sebuah Unit Pelaksana Teknis (UPT) tersendiri. Berita selengkapnya bisa pembaca sekalian temukan di rubrik Serambi Kampus. Sementara itu, fenomena area perbelanjaan yang berdekatan dengan pendidikan coba diangkat di Laporan Utama. Rubrik lain, Pernik, mengajak jalan-jalan ke pasar buku Wilis Malang dengan pesan khusus “Teliti Sebelum Membeli”. Hal ini karena meski pasar tersebut masuk dalam peta wisata Kota Malang, namun ada indikasi kasus pembajakan. Selain itu, masih ada rubrik Suara Kampus yang berjuang “mati-matian” memburu berita di tengah rehatnya aktivitas perkuliahan mahasiswa. Redaksi juga mengucapkan selamat bagi tulisan-tulisan non reporter yang dimuat pada edisi ini. Bagi yang suka dengan ide bisa melihat kolom Opini. Sementara itu, fatwa pengharaman infotainment oleh MUI ditanggapi oleh mahasiswa lewat rubrik Kata Meraka. Tidak ketinggalan, pehobi baca bisa mengintip buku yang ditulis beberapa mahasiswa Jurusan Komunikasi UMM di kolom resensi. Sedangkan bagi penyuka fiksi, Bestari kali ini menyajikan cerpen singkat dari seorang mahasiswa Psikologi di rubrik Humaniora berjudul Aku, Uci, dan Seorang Lelaki. Tema yang diangkat cerpen ini sangat dekat dengan keseharian mahasiswa sendiri. Akhirnya, karena sebentar lagi Lebaran tiba, Redaksi mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H. Lebaran sendiri dalam bahawa Jawa berasal dari kata lebar yang berarti selesai dengan “e” dibaca seperti dalam kata lemas. Semoga saja Lebaran kali ini menjadi titik tolak pribadi baru yang lebih baik dari kita semua dan semoga saja tidak lebar, lebar sembarang kalire, selesai semua (baca: tidak puasa lagi, tidak sholat lagi, buka aurat lagi). Amin. Wassalamu’alaikum wr. wb. Redaksi

Dapur p Red Redaksi daks da k i

heni/Bestari

Waktu Senggang : Diskusi ringan dilakukan kru Bestari untuk bertukar pikiran di waktu senggan.

Cover Design: M. Zakiya Al Khalim

Foto: Heni Tri Novianti

zack/bestari

TERA

Perda Pajangan Carut-marutnya penataan aan ruang di Kota Malang sesungguhnya sudah menjadi perhatian berbagai pihak sejak lama. Namun Pemerintah Kota Malang seakan menutup mata dan cenderung melanggengkan penyimpangan-penyimpangan terkait tata ruang. Pertama, pembangunan Mall MATOS (Malang Town Square) dan @Mx di Jalan Veteran misalnya, selain mengganggu area pendidikan di sekitarnya, juga telah menggeser area yang seharusnya menjadi area RTH (Ruang Terbuka Hijau) dan tidak boleh dialih fungsikan dengan alasan apapun. Kedua, pembangunan apartemen pertama di Jalan Soekarno Hatta yang berada di bantaran sungai besar di kawasan Jalan Soekarno-Hatta pembangunan jelas sangat membahayakan baik secara ekologis maupun keselamatan jiwa dari masyarakat. Ketiga, pembangunan berbagai Ruko (Rumah Toko) seperti Ruko di Kawasan Sawojajar yang menyimpangi ketentuan Peraturan Daerah (Perda) Kota Malang Nomor 7 tahun 2001 terkait RTH akan berdampak bagi lingkungan. Ditambah lagi pembangunan lainnya yang baik masih direncanakan atau sudah dalam tahap pembangunan, namun mendapatkan perlawanan dari masyarakat mengingat pendiri belum memegang Izin Mendirikan Bangunan(IMB), belum mengantongi Advise Plan (AP), atau berpotensi merusak RTH. Lalu mengapa berbagai hal tersebut bisa terjadi dan bahkan berpotensi ter ulang lagi? Harus diakui bahwa keberadaan Perda RT/RW (Rencana Tata Ruang Wilayah) No. 7 Tahun 2001 hanya sekedar pajangan. Perda tersebut lebih banyak dilanggar daripada dipatuhi atau dijadikan acuan pembangunan. Dalam hal perizinan, sering kali terjadi pengaburan dalam pembagian antara lahan permukiman, lahan sosial, lahan industri, lahan perdagangan dan jasa serta Ruang Terbuka Hijau. Para investor yang hanya menempatkan keuntungan sebagai prioritas, sering kali mencari jalan pintas dalam mengurus perizinan.

Penyalahgunaan izin oleh investor inilah sesungguhnya penyebab utamanya. Terlebih lagi, hal ini diberi ruang oleh pemerintah (Dinas Perizinan) yang dengan sengaja memberikan izin kepada para investor meskipun area yang akan dibangun jelas-jelas melanggar Perda RTRW. Sangat disayangkan lagi ketika Wakil Rakyat yang duduk di DPRD seolaholah menutup mata, membiarkan hal tersebut terus terjadi tanpa pengawasan. Oleh karena itu, hendaknya penyalahgunaan demikian harus segera diakhiri. Penyalahgunaan wewenang aparat pemerintah harus diakhiri sehingga terwujud pemerintahan yang baik dan memberikan pengakuan aspek perlindungan daya dukung lingkungan (good environmental governance) . Adanya peraturan yang mengutamakan fungsi ekologi. Penegakan aturan hukum bagi para penjahat lingkungan. Melaksanakan pembangunan yang menghormati dan memenuhi hak-hak dasar (basic rights) masyarakat, hak hukum (constitusional rights) serta prinsip keadilan lingkungan (environmental justice) serta akses yang setara terhadap sumber-sumber kehidupan. Misalnya saja terkait dengan ruang atau kawasan sosial seperti area pendidikan, seharusnya tidak dialih fungsikan menjadi kawasan industri atau perdagangan. Guna mengoptimalisasikan Perda RTRW 2009-2029 Kota Malang, saat ini sedang terjadi proses pembuatan Perda RTRW 2009-2029 Kota Malang. Harapannya Perda RTRW ini mencakup berbagai macam aspek sebagai berikut Pembuatan perda harus melibatkan seluruh elemen masyarakat. Proses perumusan struktur ruang harus dilakukan dengan analisis yang cermat dan mendalam dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Pemerintah Daerah harus memperhatikan aspek eksternal RTRW Nasional dan RTRW Propinsi. Dalam UU No.26 tahun 2007 mengharuskan adanya RTH maka harus ada penegasan nama kawasan,jalan, kelurahan unit lingkungan.

pen Konsep penanganan banjir harus dilakukan secara sinergi antara rencana jaringan drainase , sumur resapan,sanitasi perkotaan,serta RTH. Pentingnya menciptakan konsep prasarana perkotaan yang manusiawi. Untuk memaksimalkan fungsi perda RTRW ini tentunya diperlukan beberapa tolok ukur untuk menilai apakah perda RTRW ini mendukung perwujudan pemerintahan yang baik dan memberikan pengakuan aspek perlindungan daya dukung lingkungan (good environmental governance) meliputi pemberdayaan masyarakat, tersedianya akses publik terhadap informasi dan masyarakat ikut dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, dan transparansi. Perda RTRW harus menjamin keterbukaan dalam pengelolaan SDA, desentralisasi yang demokratis termasuk pemberdayaan masyarakat lokal dan DPRD diakui dan difasilitasi peraturan perundangan, pengakuan terhadap keterbatasan daya dukung ekosistem dan berkelanjutan ,tidak terbatas pada pengakuan tekstual tetapi secara konsisten dijabarkan dalam peraturan untuk mencegah dan menanggulangi masalah lingkungan. Pengakuan hak masyarakat adat dan masyarakat setempat untuk mencegah terjadinya pelanggaran atas hak mereka. Konsistensi dan harmonisasi kesesuaian substansi antara satu pasal dengan pasal lainnya dalam satu produk hukum dan kesesuaian antara substansi perda rtrw dengan substansi dan semangat yang tercermin dalam konstitusi, kejelasan (clarity) untuk menjamin terwujudnya kepastian hukum dan mempengaruhi daya penegakannya, daya penegakan (enforceability) berupa ketersediaan sanksi yang menimbulkan efek jera, ketersediaan mekanisme pengaduan masyarakat dan penindaklanjutannya.

Cekli Pratiwi Sidang Redaksi

Penanggungjawab: Muhadjir Effendy. Pengarah: Mursidi, Sujono. Pemimpin Redaksi: Joko Widodo. Pemimpin Usaha: Agus Santoso. Wakil Pemimpin Redaksi: Nurudin. Sidang Redaksi: Santi Prastiyowati, Cekli Setya Pratiwi, Moch. Wakid, Warsono, Hany Handajani, Azhar Muttaqin, M. Salis Yuniardi, Nur Alif M, Djoni Djunaedi, Sugeng Puji Leksono, Indah Dwi Pratiwi. Redaksi Pelaksana: Nur Alifah, Devi Anggraini O., Silvia Ramadani, M. Zakiya Al Khalim Staf Redaksi/Reporter: Ropidin, Fibriana Eka C., Annisa Rosyidah, Nina Nurruwaida A.P., M. Rajab. Setting Lay-Out/Desain Grafis: M. Zakiya Al Khalim. Tata Usaha/Sirkulasi: Siswanto. Redaksi menerima tulisan para akademis Mahasiswa dan Praktisi melalui karya tulis secara bebas dan kreatif. Tulisan tidak selalu mencerminkan pendapat redaksi. Tulisan yang dimuat akan mendapatkan imbalan. Redaksi berhak menyunting tulisan yang akan dimuat tanpa merubah isi. Pengiriman tulisan Paling lambat tanggal 10 tiap bulan. Iklan baris Rp.5000/brs, maksimal 5

BESTARI

baris. Iklan Kolom: minimal 1/16 halaman Rp. 155.000 (bw). Ukuran lain, silahkan datang ke kantor Redaksi Bestari. Isi di luar tanggung jawab percetakan. Biaya ganti cetak Rp. 1.750/eks

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

ISSN:0215-206X

STT:SK Menpen No.1147/SK/Ditjen PPG/STT/1987 Tgl.27 Oktober 1987

Gedung Student Center Lt. 1 Kampus III UMM, Jl. Raya Tlogomas 246 Malang Telp. (0341) 464318 Psw. 199 Fax. (0341) 464320 e-mail: redaktur_bestari@yahoo.com, homepage: http://bestari.umm.ac.id


BESTARI No. 265/TH.XXIII/Agustus/2010

SERAMBI KAMPUS UPT P2KK untuk Mahasiswa Baru

3

Tekankan Keterampilan Berbicara, Membaca, dan Menulis

U

ntuk meningkatkan kinerja dan peforma Program Pembentukan Kepribadian dan Kepemimpinan (P2KK), UMM mendirikan Unit Pelaksana Teknis (UPT) baru, yaitu UPT P2KK yang diharapkan akan semakin memantapkan kepribadian dan kepemimpinan mahasiswa berdasarkan kaidah, norma, serta azas ber-Islam dan bermuhammadiyah. Menurut staf Kemahasiswaan, Heru Budiana, Pencetus UPT P2KK ini adalah pihak rektorat sendiri dengan berbagai pertimbangan berdasarkan pengalaman pelaksanaan P2KK tahun-tahun sebelumnya yang masih menggunakan sistem kepanitiaan. Akan tetapi, secara umum masih sama dengan sebelumnya. Pelaksanaan P2KK ditempuh pada semester pertama oleh mahasiswa baru program sarjana dan diploma, baik reguler, alih jenjang, maupun pindahan. Mereka semua wajib mengikuti P2KK selama tujuh hari yang bertempat di Rusunawa UMM dengan sistem asrama (menginap) sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Berdasarkan Kebutuhan Kegiatan P2KK merupakan bentuk ekivalen antara pembinaan kemahasiswaan dengan perkuliahan Al Islam dan Kemuhammadiyahan I (AIK I). AIK adalah mata kuliah sebanyak empat semester yang wajib diprogram oleh mahasiswa selama perkuliahannya di Kampus Putih. Karena P2KK difungsikan sebagai AIK I, maka mahasiswa yang lulus P2KK akan mendapatkan sertifikat kegiatan dan nilai mata kuliah AIK I yang merupakan mata kuliah wajib pada semester pertama. Bagi mahasiswa yang tidak lulus diwajibkan mengikuti P2KK pada tahun berikutnya sesuai dengan ketentuan

yang berlaku. Artinya, untuk semester berikutnya mahasiswa yang tidak lulus P2KK tidak bisa memprogram mata kuliah AIK II. Menurut Joko Widodo selaku Pembantu Rektor III, didirikannya UPT P2KK merupakan misi yang strategis untuk pembentukan kepribadian dan kepemimpinan bagi mahasiswa. Dari tahun ke tahun setelah dievaluasi P2KK memiliki peran yang sangat penting dalam pembinaan mahasiswa. “P2KK perlu ditangani secara khusus karena kalau hanya ditangani oleh kepanitian saja tidak akan ada kesinambungan ke depannya. Adanya unit ini akan mempermudah dalam mengelola, melaksanakan, dan mengorganisasikan pelaksanaan kegiatan dari awal sampai akhir,” terangnya. Lebih lanjut Joko menegaskan, universitas sangat fungsional dalam merintis suatu unit pelaksana dan perkembangannya. Jika suatu hal sifatnya sudah mendesak dan sasarannya memerlukan peningkatan lebih baik dari segi kualitas maupun kuantitas, maka akan segera dibentuk UPT. Demikian halnya dengan kegiatan P2KK. Joko menambahkan, tidak menutup kemungkinan nantinya juga akan dibentuk UPT baru lagi misalnya UPT Training dan UPT lain sesuai kebutuhan. “Intinya, apapun yang sifatnya reguler, berkelanjutan, dan dinilai memiliki misi yang strategis, maka saat itulah akan dibentuk UPT berdasarkan pertimbangan efisiensi dan efektifitas,” ujar pria yang juga menjadi dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UMM itu. Ada Materi Tambahan P2KK dilaksanakan dengan beragam variasi sehingga diharapkan mahasiswa tidak akan jenuh dan bosan. Pelaksanaannya sendiri menggunakan pendekatan experiential learning, yaitu pembelajaran dengan cara melakukan dan mengalami sendiri proses kegiatan sehingga memiliki pemahaman yang baik terhadap materi

deden/Bestari

Baru: UPT P2KK baru saja didirikan sebagai pelaksana program P2KK.

yang disampaikan. Metode yang digunakan juga beragam, mulai dari psikogame, role play, diskusi, studi kasus, pemutaran film, stadium general, ceramah, dan praktek lain yang dilaksanakan di dalam ruangan (indoor) maupun di luar ruangan (outdoor). Sementara itu, materi yang diberikan pada pelaksanaan P2KK meliputi; Kepribadiaan, yaitu pengenalan diri dan manajemen diri; Keterampilan Sosial untuk melatih empati, perilaku sosial, dan komunikasi interpersonal; Kepemimpinan Dasar yang mempelajari manajemen konflik interpersonal dan pengambilan keputusan; Budaya Perguruan Tinggi yang mempelajari strategi belajar, menulis kreatif, perilaku, penampilan di perguruan tinggi, dan materi sex dan narkoba.

“Pelaksanaan P2KK Lebih Tertata” Untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan P2KK yang selalu dilaksanakan setiap tahun, UMM pun membentuk sebuah unit khusus P2KK. Bagaimanakah unit tersebut berjalan? Berikut wawancara reporter Bestari, Dina Angelina, dengan Latipun, Kepala UPT P2KK. Apa manfaat lebih yang ingin Minggu selama satu tahun untuk didapatkan dengan dibentuknya UPT satu periodenya. baru ini? Sistem pelaksanaan P2KK Bagaimana dengan sistem penerimaan menjadi lebih tertata. Kami dapat pendamping dan trainer setelah menjalankan progam kegiatan dibentuknya UPT ini? secara teratur sesuai perencanaan. Untuk P2KK tahun ini kami Sistem yang baik ini akan merekrut 48 orang pendamping memberikan suatu manfaat yang yang telah menjalani tes rekrutmen maksimal dari program kegiatan dan telah diseleksi dari 126 orang P2KK itu sendiri. Ke depannya, pendaftar. Selain pendamping, ada kami juga merencanakan adanya 12 orang trainer yang diterima dari sistem tindak lanjut kegiatan 60 pelamar. Kami berharap dengan P2KK, misalnya dengan adanya pembentukan panitia khusus dan kegiatan semacam training diadakannya rekrutmen maka akan kepemimpinan dan ada sistem kerja yang maksimal yang lainnya. dalam penanganan kegiatan P2KK bagi mahasiswa baru. Bagaimana sistem kerja di UPT baru ini? Harapan Anda? Hampir sama UPT ini dapat menjalankan dengan UPT yang kegiatan P2KK dengan baik dan lain, tetapi kami lebih terencana. Kemudian, dengan beker ja seminggu sistem yang telah tersusun diharapkan penuh mulai hari kegiatan P2KK ini berjalan maksimal Senin hingga hari dan berkelanjutan.

Latipun

deden/Bestari

Selain itu, masih ada lagi materi Ibadah yang mengajarkan tata cara serta pelaksanaan ibadah wajib dan sunah dalam Islam, seperti tata cara bersuci, sholat, kewajiban terhadap jenazah, dan ibadah lainnya. Terakhir, ada materi Keislaman yang mengajarkan seputar aqidah dan akhlak. Joko menambahkan, pelaksanaan P2KK tahun ini akan lebih ditekankan pada keterampilan berbicara, membaca, dan menulis. Ini menjadi unsur tambahan materi untuk memperkuat kepribadian dan kepemimpinan mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa baru UMM memiliki karakteristik yang berbeda mulai dari beragamnya latar belakang budaya, adat istiadat, agama, sampai pada strata sosialnya. “Belajar di perguruan tinggi berbeda dengan belajar di jenjang pendidikan sebelumnya. Mahasiswa dituntut untuk lebih mandiri dan proaktif dalam menjalankan fungsi dan perannya. Dengan adanya P2KK ini diharapkan dapat melahirkan kaderkader terbaik untuk bangsa yang akan datang dan memiliki kepribadian kuat serta memiliki kepemimpinan yang tangguh,” harapnya. Lahirkan Harapan Positif Berdirinya UPT baru tahun ini melahirkan harapan positif dari berbagai pihak, salah satunya dari pendamping P2KK yang tiap tahunnya selalu diambil dari mahasiswa semester akhir. Secara teknis, P2KK tahun ini memiliki banyak perbedaan dari tahun sebelumnya. “Perbedaannya terletak pada strukturnya. Tentu, dengan adanya UPT ini diharapkan lebih terstruktur dibandingkan dengan sebelumnya,” ungkap Suma’rufa, mahasiswi Psikologi yang tahun ini kembali mendaftar untuk menjadi pendamping tersebut. Menurutnya, beberapa hal yang sedikit berat adalah pada teknis pelaksanaan, yaitu lebih membutuhkan kerja keras serta profesionalitas dari para pendamping. “Jika tahun sebelumnya dalam satu kelas peserta didampingi oleh empat pen-

damping, sekarang hanya dua. Akan tetapi pada dasarnya hal ini baik untuk melatih komitmen pendamping serta kedekatan emosional antara pendamping dan peserta,” ungkap mahasiswi asal Gresik itu. Sementara itu, sistem kerjanya juga berbeda dengan tahun sebelumnya seperti diungkapkan Hamka, mahasiswa asal Sambas, Kalimantan Barat. “Pada tahun 2008 dibentuk Tim Gerak Cepat (TGC) yang berfungsi bekerja cepat atau mengerjakan halhal yang harus langsung diselesaikan seperti fotokopi, membangunkan peserta, dan lainnya; empat orang kesekretariatan P2KK, dan tiga orang pendamping per kelasnya. Pada tahun 2009 ada Penanggung Jawab (PJ), koordinator pendamping, dan empat pendamping per kelas. Pada tahun 2010 ini hanya terdapat Staff Concept (SC) dan dua pendamping per kelas,” jelas mahasiswa yang tahun ini menjadi pendamping untuk ke tiga kalinya. Diterangkan Hamka, demikian pula halnya dengan pendaftaran dan pemilihan pendamping P2KK. Pada tahun 2008 yang diujikan adalah micro teaching, membaca Qur’an, dan tes tulis. Pada tahun 2009 yang diujikan adalah pembacaan Qur’an dan psiko tes. Kemudian, pada tahun 2010 yang diujikan adalah Focus Group Discussion (FGD) dan keislaman. FGD merupakan tes untuk melatih para pendamping agar bisa menghidupkan forum diskusi pada pelaksanaan P2KK. Selama menjadi pendamping P2KK, mahasiswa Psikologi tersebut mengaku senang dan terkesan. Baginya, bersosialisai dengan banyak orang memberikan beragam pengalaman. Ditambahkan pula oleh salah seorang staf UPT P2KK, Sandi Ardiyanto, sistem penerimaan tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya. Calon pendamping dan trainer harus melayangkan surat lamaran terlebih dahulu pada UPT P2KK. Setelah itu mereka harus mengikuti seleksi. “Yang dinyatakan diterima kemudian wajib mengikuti Training of Trainer (TOT),” ujarnya. nin/p_stw/ita/gel


BESTARI 4 Kongres, Seminar, dan Workshop KBI

SUARA KAMPUS

No. 265/TH.XXIII/Agustus/2010

Koordinasi Akademik Peserta Erasmus Mundus

Bioteknologi, Aktor Utama Abad 21

heni/Bestari

Beri Dukungan : Deputi menteri koordinator ekonomi bidang pertanian dan kelautan, Diah Maulida, hadir sebagai keynote speeker sekaligus membuka acara seminar.

Sebagai wujud kepeduliannya terhadap dunia bioteknologi, UMM menjadi tuan rumah Kongres V Konsorsium Bioteknologi Indonesia (KBI), Internasional Seminar on Biotechnology 2010, dan Workshop Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) se-Indonesia. Ketiga rangkaian acara tersebut dimulai dengan Kongres KBI V (27/7), sedang dua acara lainnya digelar keesokan harinya (28/7). Saidatul Idiyah yang menjabat Kepala Pusat Pengembangan Bioteknologi UMM sekaligus ketua pelaksana acara memaparkan kesempatan UMM menjadi tuan rumah Kongres KBI tersebut merupakan kali kedua, setelah Kongres II KBI pada 2002 lalu. Kongres yang berlangsung di Hotel UMM Inn tersebut membahas laporan kepengurusan lama, Anggaran Dasar (AD), Anggaran Rumah Tangga (ART) dan pemilihan kepengurusan yang baru. Acara dihadiri Ketua KBI Bambang Prasetya dan para anggota KBI seperti Yudoro Sudarsono dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Wisjnu Prapto dan

Aziz Darwis dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Kegiatan Seminar Internasional Bioteknologi 2010 dibuka langsung oleh Deputi Kementerian Koordinator Perekonomian Bidang Koordinasi Pertanian dan Kelautan RI, Diah Maulida. Ia menjelaskan saat ini para ilmuan dunia termasuk para ahli di bidang bioteknologi telah berlombalomba melakukan penelitian, pengembangan, dan perekayasaan untuk dijadikan modal membangun masyarakat yang berbasis pengetahuan. Menurut Diah, pada abad ke 21 bioteknologi akan menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia, setelah pada abad sebelumnya dikuasi oleh teknologi informasi. “Jika kita menengok ke belakang, pada abad ke18 pertanian menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia, abad ke19 industri, abad ke-20 dikuasai oleh teknologi informasi, dan pada awal abad 21 ini tidak terasa kita masuk pada bidang bioteknologi,” paparnya. Acara yang diikuti oleh peserta dari berbagai negara seperti Korea, Bangladesh, Kenya, Polandia, dan

Madagaskar tersebut mendatangkan beberapa pakar dari berbagai negara seperti Nao Tanaka (Jepang), Winai Dahlan (Thailand), Harvey L. Glick (Singapura), Wim Maaskant (Belanda), Francois Malherbe (Australia), Reynaldo V. Ebora dan Inez Hortenze S. Loedin (Filipina), Umar Anggara Jenie, Endang Sukara, dan Ferry Sandra (Indonesia). Winai Dahlan dalam kesempatannya membahas tentang organisasinya, The Halal Science Center. Organisasi tersebut melakukan penelitian terh a d a p b e r b agai produk dari negara-negara muslim di dunia termasuk Indonesia untuk diteliti kandungannya. Selanjutnya pihak yang berwenang dari negara tersebut yang berhak memberikan sertifikat halal atau tidak, seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang dimiliki Indonesia. Sedangkan Workshop PTM seIndonesia yang menjadi agenda akhir rangkaian kegiatan KBI membahas pengembangan jejaring penelitian dan pengabdian terhadap masyarakat. “Untuk itu, dosen-dosen PTM sebagai salah satu ujung tombak Perserikatan Muhammadiyah harus selalu aktif dan produktif menghasilkan karya ilmiah,” ujar Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi (Dikti), Nur Rahman Hajam. “Dalam tugas tersebut, para dosen membutuhkan informasi dan data-data yang menunjang penelitian mereka. Di di situlah fungsi jejaring tersebut,” lanjutnya. Selain itu, anggota jejaring ini tak hanya saling bertatap muka. Dengan teknologi informasi yang berkembang saat ini, memungkinkan mereka dapat lebih cepat mengakses data-data yang mereka butuhkan. Mereka dapat bertukar alamat e-mail, Facebook, blog, sampai halaman web untuk meng-upload maupun mendownload data,” jelas Nur Rahman Hajam. m_ros/p_fjr

Menjelang keberangkatan penerima beasiswa Erasmus Mundus pada akhir Agustus, Biro Kerja Sama Luar Negeri (BKLN) UMM menyelenggarakan “Koordinasi Akademik Erasmus Mundus”, bertempat di Ruang Sidang Rektor (4/8). Acara dibuka langsung oleh Pembantu Rektor I, Sujono. Jumlah penerima beasiswa Erasmus Mundus dari UMM adalah 31 orang, 26 orang diantaranya adalah mahasiswa, 3 orang dosen untuk program penelitian, dan 2 orang dosen untuk program S2. Negara yang dituju para penerima beasiswa tersebut adalah Turki, Spanyol, Portugal, Austria, Finlandia, dan Jerman. Di awal sambutannya, Sujono mengungkapkan rasa bangganya terhadap UMM yang mampu masuk sebagai satu-satunya perguruan tinggi swasta (PTS) dalam program Erasmus Mundus. Selain itu, pria lulusan S3 Kesehatan Ternak Universitas Airlangga itu berpesan kepada para penerima beasiswa agar mempersiapkan diri sebaik mungkin. “Anda semua memerlukan persiapan mental, fisik, dan materi sebelum diberangkatkan nanti. Setelah sampai di sana juga harus beradaptasi dengan lingkungan dan makanan. Belajar

makan makanan Eropa dulu lah di sini,” selorohnya. Kepala BKLN Suparto menjelaskan, jika nanti ada mata kuliah yang sama dengan mata kuliah di UMM, maka bisa dikonversikan. Namun jika mata kuliah di negara yang dituju berbeda, maka bisa dikoordinasikan dengan program studinya masing-masing. Selain membicarakan mengenai hal-hal akademik dan persiapan pemberangkatan, Suparto juga menyampaikan keharusan para penerima beasiswa untuk membuat surat perjanjian. Surat perjanjian tersebut berisi kesepakatan penerima beasiswa untuk kembali ke Indonesia dan UMM setelah masa studinya di Eropa selesai. “Karena kalau tidak ada surat perjanjian ditakutkan banyak yang tidak kembali lagi ke Indonesia,” tandasnya. Di akhir acara, Suparto menyampaikan pesan-pesan teknis tentang hal-hal yang harus dilakukan para penerima beasiswa saat sampai di negara tujuan. “Harus tahu alamat hotel dan nomor penerbangan saat pertama datang. Selain itu, boarding pass jangan sampai hilang karena akan dibuat laporan nantinya. Setelah sampai di kantor imigrasi, persiapkan visa dan undangan Erasmus Mundus,” urainya fasih. m_ros

fidha/Bestari

Dialog InterakƟf “Perubahan Iklim” – PSLK

Saatnya Realisasikan Pembangunan yang Ramah Lingkungan Rektor I UMM Sujono menyebut acara tersebut sebagai peran srategis dalam menekan dampak perubahan iklim. Di pa parkannya, beberapa daerah dekat pantai pada tahun 2012 akan tenggelam dikarenakan naiknya permukaan air laut. Oleh karena itu, ia berharap kerja sama heni/Bestari PSLK dan KLH Mata Air : Tanam pohon tiap maba merupakan upaya wariskan mata nantinya dapat air untuk anak cucu. menghasilkan kebijakan yang ramah Pusat Studi Lingkungan dan lingkungan untuk mengatasi global Kependudukan (PSLK) UMM warming. bekerjasama dengan Kementerian Acara yang diikuti perwakilan Lingkungan Hidup Republik Indo- instansi pemerintahan, pemerhati nesia mengadakan dialog interaktif lingkungan, sekolah se-Jawa Timur bertema “Peran Serta Masyarakat serta 250-an mahasiswa tersebut tidak dalam Menghadapi Dampak Peruba- hanya membahas bahaya pemanasan han Iklim” yang bertempat di Ruang global, melainkan juga beberapa Teater Dome (9/7). Hadir sebagai indikator perubahan iklim sebagai salah pemateri Ketua Dewan Nasional satu dampak dari pemanasan tersebut. Perubahan Iklim (DNPI) Amanda Hal itu disampaikan Amanda. Ia Katili Niode, Deputi Kementerian menjelaskan, emisi karbondioksida Lingkungan Hidup (KLH) Bidang yang meningkat, peningkatan suhu Tata Lingkungan Hermin Rosita, serta rata-rata bumi, mencairnya es di staf ahli Kementerian Lingkungan Kutub Selatan dan Utara, serta naikHidup Bidang Hukum dan Hubungan nya permukaan air laut yang berujung Antar Lembaga Najib Dahlan. pada hilangnya beberapa pulau kecil Dalam sambutannya, Pembantu adalah beberapa indikator perubahan

“Cross-check” Persiapan Lahir Batin

iklim. “Sekitar 115 pulau di Indonesia diprediksi akan menghilang pada tahun 2100 nanti,” ujarnya. Ia menambahkan, salah satu penyebab pemanasan yang berakibat pada perubahan iklim tersebut adalah deforestry (kerusakan hutan). “Indonesia merupakan negara yang hutannya mengalami deforestry terbesar sepanjang tahun 2000 sampai 2005,” jelas wanita asal Bandung tersebut. Terkait itu, Hermien Roosita berharap generasi muda seperti mahasiswa dapat berperan aktif dalam mengatasi permasalahan global. Baginya, perguruan tinggi merupakan kalangan akademisi yang dapat membantu pemerintah dalam mengambil keputusan tentang pembangunan yang ramah lingkungan. “Peranan dari perguruan tinggi dan mahasiswanya sungguh kami harapkan,” tegas wanita berkerudung itu dalam orasinya. Menanggapi hal tersebut, Ketua PSLK, Wahyu Prihanta mengungkapkan langkah antisipasi yang telah dilakukan UMM dalam menanggapi global warming. “...seperti konservasi tanaman langka, pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro, dan menanami setiap jengkal tanah yang ada di UMM,” paparnya. Ia juga berharap dialog dengan tokoh serta aktivis lingkungan tersebut dapat memberikan gambaran mengenai bahaya global warming pada mahasiswa. p_emy

Beri Pengarahan: Kepala BKLN Soeparto(kiri) berpesan kepada penerima Beasiswa Erasmus Mundus untuk segera beradaptasi dengan lingkuangan barunya (4/8).

Pimnas XXIII, Bali

UMM Jadi Tim Favorit Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) berjudul Untic (Underwear Batik) Indonesia Go International, UMM mampu mengantarkan salah satu timnya menjadi Juara Favorit dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) XXIII di Universitas Mahasaraswati, Bali (20-23/7). Kompetisi nasional bertajuk “Kreativitas untuk Membangun Kemandirian Bangsa” itu dibuka langsung oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Mohammad Nuh. Selain itu, acara pembukaan juga dimeriahkan oleh penampilan 1650 penari Pendet yang sekaligus berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (Muri) Tim Untic UMM yang beranggotakan Dyah Ayu Shinta Ratnasari (mahasiswa Fakultas Kedokteran), Primawati (Bahasa Inggris) dan Deffri Maulana (Akuntansi) merupakan salah satu dari 11 tim yang mewakili UMM. Mereka bersaing dengan sekitar 350 tim yang berasal dari perguruan tinggi se-Indonesia. Dijelaskan Shinta, sapaan akrab Dyah Ayu Shinta, penilaian utama dalam seluruh rangkaian perlombaan adalah kreativitas dan inovasi terbaru yang dapat bermanfaat bagi hajat hidup orang banyak. Dia dan timnya mengaku mendesain sendiri pola Untic, sedangkan pengerjaannya diserahkan kepada penjahit. ”Semula

banyak peserta yang menertawakan, tapi tidak sedikit pula yang memuji dan mengagumi karya kami,” ungkapnya. “Karya yang kami tawarkan berbeda dari yang lain, serta kreatif dan inovatif,” ungkap Sinta saat mengungkapkan faktor pembawa kemenangan timnya sebagai juara favorit. Selama Pimnas berlangsung, hasil karya mereka mendapat apresiasi dari banyak universitas lain hingga produk yang mereka bawa habis terjual. “Banyak yang tertarik untuk membeli produk kami, tapi sayangnya kami hanya membawa stok sedikit dari Malang, jadi banyak yang tidak kebagian,” ujarnya. Untuk itu, ia berharap tahun depan tim UMM yang maju ke Pimnas mendapatkan pelatihan intensif dan berinovasi lebih baik lagi. ”Semoga pengalaman kami menjadi pembelajaran bagi tim berikutnya agar bisa menjadi lebih baik,” harap mahasiswa angkatan 2007 tersebut. Selain PKMK, bidang lain yang dilombakan pada Pimnas tersebut adalah bidang Pengabdian Masyarakat (PKMM), bidang ilmiah (PKMI), teknologi (PKMT) dan gagasan tertulis (PKMGT). Tahun 2010 ini, UMM menempati urutan ke-8 terbanyak skala nasional untuk program yang didanai Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti). p_zar


BESTARI No. 265/TH.XXIII/Agustus/2010

SUARA KAMPUS Tes Seleksi Camaba UMM

Pembukaan P2KK Angkatan I

5

Gelombang III Fasilitasi Antusiasme Camaba Belajar Mengembangkan Diri, No Smoking

Mendekati datangnya tahun akademik baru, UMM mengadakan Tes Tulis Calon Mahasiswa Baru (camaba) Gelombang III yang dilaksanakan di beberapa tempat, yakni Ruang Teater Dome, Aula Lt.1 Masjid A.R. Fachruddin, dan Aula BAU (16/8). Tes tulis itu diikuti sekitar 2900 camaba dari berbagai daerah di Indonesia. Materi yang diujikan adalah Bahasa Inggris dan UMM Scholastic Test atau tes Potensi Akademik. Rektor UMM Muhadjir Effendy meninjau langsung pelaksanaan tes tulis tersebut. Sedangkan para karyawan dan beberapa dosen bertugas mengkondisikan peserta, membacakan tata tertib ujian, dan membagikan soal. Menurut Wasis Suprayitno selaku Kepala Unit Pelaksana Teknis Penerimaan Mahasiswa Baru (UPT-PMB) UMM, demi pencapaian target mahasiswa baru yang lebih banyak dari tahun 2009 yakni 7300 mahasiswa, UMM mempunyai cara tersendiri yaitu dengan membuka gelombang III. “Biasanya gelombang III terkesan gelombang dadakan. Namun tahun ini penerimaan mahasiswa baru dilakukan agak berbeda dengan

heni/Bestari

Kesempatan Terakhir: Tes gelombang 3 merupakan kesempatan terakhir menjadi mahasiswa UMM periode 2010.

tahun-tahun sebelumnya. Jika tahun sebelumnya tidak ada gelombang III, tahun ini dibuka gelombang III,” paparnya. Berkenaan dengan hal itu, Wasis mengungkapkan dibukanya gelombang III dikarenakan majunya jadwal Ujian Nasional (UN) tahun ini menjadi bulan April. Dengan begitu, pendaftaran gelombang I dibuka lebih awal yaitu pada bulan Maret sampai dengan Mei. Sebelumnya, sekitar 3900 maha-

siswa telah diterima pada gelombang I dan II. Pada gelombang III, kuota penerimaan camaba sekitar 1400 mahasiswa. Melihat besarnya jumlah pendaftar pada tahun ini, Wasis mengaku bangga dengan pencapaian UMM yang mampu bersaing dengan PTN di Kota Malang. “Apa yang kita upayakan selama ini adalah bagaimana membangun image dan mempertahankan kualitas untuk menumbuhkan kepercayaan publik,” papar dosen Fakultas Hukum itu. p_raf

Dialog Ramadan BAU UMM

Sukses Dunia Akhirat Itu Gampang Seperti Ramadan-Ramadan sebelumnya, UMM menggelar Dialog Ramadan bagi para dosen, staf, dan karyawannya. Bertempat di Aula BAU UMM (19/8), para staf BAU dan karyawan Bagian Perlengkapan UMM mengikuti acara yang mengangkat tema “Agar Hidup Lebih Bermakna”. Abdul Haris selaku pembicara dalam pengajian tersebut menyampaikan bagaimana kiat-kiat memaknai kesuksesan hidup. Menurutnya, hal itu penting karena masih banyak orang yang salah dalam mengartikan kesuksesan karena kebanyakan orang memaknai sukses hanya untuk kehidupan duniawinya. “Padahal kesuksesan hidup yang benar adalah yang memberikan makna dan keuntungan untuk dunia dan akhirat. Kehidupan

di dunia itu untuk bekal hidup di akhirat,” tutur dosen Fakultas Agama Islam (FAI) tersebut. Haris menyampaikan lima ciri orang yang hidupnya diorientasikan untuk memperoleh kesenangan duniawi semata. “Mereka adalah orang yang semangat hidupnya hanya untuk menggapai kesenangan dunia semata, berambisi tinggi menambah kekayaan jika melihat orang lain lebih kaya, merasa puas dengan kenikmatan dunia yang telah dicapainya, merasa berat berjuang di jalan Allah, serta yang memandang dunia sebagai satusatunya kehidupan,” paparnya. “Seperti petani, jika bibit yang ditanam bagus dan tahan hama maka hasil panennya juga bagus. Begitu juga kita, jika ingin memperoleh hasil yang

baik di akhirat,” jelas Haris. Pria yang menjabat Kepala Divisi Timur Tengah Biro Kerjasama Luar Negeri (BKLN) UMM tersebut menambahkan, manusia harus bisa menyeimbangkan antara dunia dan akhirat agar bisa disebut manusia sukses. “Mencari keduanya (dunia dan akhirat. red) itu gampang,” tegasnya. “Ada tujuh jalan yang harus ditempuh agar manusia dapat menggapai kesuksesan ganda,” lanjutnya. Ketujuh jalan itu adalah beriman kepada Allah dan malaikat-Nya, melaksanakan salat, memiliki kepedulian sosial yang tinggi, meyakini adanya kehidupan akhirat, suka ber juang di jalan Allah, mengikuti petunjuk dan hukum Nabi, serta mampu mengendalikan hawa nafsu. p_lin

Sebanyak 213 mahasiswa baru (maba) UMM tahun ajaran 20102011 mengikuti Pembukaan Program Pembentukan Kepribadian dan Kepemimpinan (P2KK) Angkatan Pertama (2/8). Kegiatan wajib bagi maba itu tahun ini menerapkan konsep yang lebih matang, salah satunya dalam hal regulasi. “Kita ingin membentuk mahasiswa yang berkompetensi dengan kepribadian yang baik,” ujar Steering Committee (SC) P2KK, M. Shohib. Dipaparkannya, P2KK memiliki misi membentuk karakter maba dengan target utama membentuk mahasiswa berkepribadian. “Karena itu kegiatan yang berlangsung selama tujuh hari ini mempunyai tujuan membantu peserta mengenali diri, me-manage stress dan konflik, serta melatih dan mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki,” urainya. Senada dengan Shohib, Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) P2KK, Latipun, mengungkapkan bahwa tujuan P2KK adalah membentuk generasi berkarakter, yakni generasi yang berprestasi dan berkepribadian baik. “Program-program dalam

P2KK ini terdiri dari empat aspek, yakni akhlak, ibadah, pembentukan kepribadian, dan pembentukan kepemimpinan,” urainya saat menyampaikan sambutan. “Melalui pengembangan aspek-aspek tersebut, visi dan misi UMM dapat diimplementasikan,” tambahnya. Usai memberikan sambutan, Latipun berkesempatan membacakan beberapa peraturan baru yang harus ditaati selama menjalani P2KK. Salah satunya, tidak seperti tahun lalu, peserta tidak diperkenankan membawa telepon genggam, berambut gondrong (bagi peserta laki-laki) dan membawa rokok. Sedangkan regulasi bagi peserta perempuan sedikit lebih longgar karena mereka tidak lagi berkewajiban memakai jilbab seperti tahun-tahun sebelumnya. Selama satu minggu, para maba mendapatkan berbagai pendalaman materi tentang kepemimpinan, etika perguruan tinggi, keislaman, serta kepribadian. Selain itu, di hari terakhir P2KK dalam setiap angkatan akan diberikan penghargaan dan beasiswa kepada peserta terbaik. p_emy

deden/Bestari

Pembukaan: Sebanyak 213 mahasiswa baru mengikuti pembukaan P2KK angkatan I di rusunawa UMM.

Pengenalan Program Ma’had Abdurrahman bin ‘Auf

Kembangkan Roket, FT Saatnya Menjadi Pembelajar Istiqomah UMM Gandeng Lapan

fidha/Bestari

Pengenalan: Mahasiswa baru Lembaga Pendidikan Bahasa Arab ikuti Orientasi Pengenalan Program Ma'had Abdurrahman bin 'Auf.

Menyambut datangnya tahun akademik baru 2010-2011, Lembaga Pendidikan Bahasa Arab dan Studi Islam “Ma’had Abdurrahman bin ‘Auf ” (MAA), menggelar “Orientasi Pengenalan Program Ma’had Abdurrahman bin ‘Auf ” yang bertempat di Aula Lantai 2 Masjid A.R. Fachruddin (3/7). Menurut Sofyan Shofi selaku pimpinan MAA, terbentuknya program itu berawal dari keprihatinan sejumlah dermawan Uni Emirat Arab terhadap kemampuan bahasa Arab generasi muda Indonesia yang masih rendah, sedangkan Indonesia

merupakan negara muslim terbesar di dunia. “Maka dibentuklah MAA atas kerja sama Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui UMM dengan Asia Muslim Charity Foundation (AMCF) pada tahun 2004,” jelasnya. “Misi Ma’had Abdurrahman bin ‘Auf adalah membekali generasi muda dengan Bahasa Arab dan pengetahuan keislaman,” tutur alumni Universitas Islam Madinah itu di selasela sambutan. Ia juga menyampaikan keuntungan menjadi lulusan program pendidikan Bahasa Arab MAA yang hanya perlu ditempuh selama

dua tahun itu, yakni terbukanya kesempatan melanjutkan studi ke perguruan tinggi terkenal di Timur Tengah seperti Al-Azhar. Sementara itu, Dekan FAI Sunarto menjelaskan empat aspek orientasi dalam belajar bahasa, termasuk Bahasa Arab. “Ada empat aspek orientasinya, yakni keterampilan dan keahlian dalam mendengar, berucap, membaca, dan menulis,” paparnya. Selain itu, hal yang tak kalah penting menurutnya adalah konsistensi dalam belajar. “Saat ini sangat sulit menemukan orang-orang yang studi bahasa Arab dan agama dan tetap istiqomah. Oleh karena itu Anda semua harus istiqomah,” tuturnya berharap. Acara kemudian dilanjutkan penyampaian materi oleh Andri Kurniawan. Pria asal Banyuwangi itu berbicara tentang problematika dakwah di Indonesia yang dinilainya semakin kompleks. Ia kemudian menyampaikan salah satu hadis yang memerintahkan umat Islam untuk selalu mengajak pada kebaikan dan mencegah yang mungkar, serta untuk selalu ber-istiqomah. “Kalau kita terus ber-amar ma’ruf nahi mungkar dan ber-istiqomah, Allah akan memberi 50 amalan soleh sahabat Rasulullah,” tutur pria lulusan ITN Malang itu memotivasi. p_emy

Daya tarik UMM kembali mengundang kunjungan kampus lain. Beberapa waktu lalu (3/8), mahasiswa Jurusan Teknik Industri dan Teknik Otomotif Politeknik Negeri Banjarmasin (PNB) melakukan studi banding ke Kampus Putih. Dengan anggota rombongan berjumlah sekitar 20 orang, rombongan PNB diterima langsung oleh Pembantu Dekan III Fakultas Teknik (FT) UMM, Alik Ansyori Alamsyah, di Ruang Sidang Rektor. Alik berpendapat, FT UMM adalah salah satu fakultas terbaik di UMM. Selain sistem pembelajaranya yang sudah maju, FT UMM juga kerap menjuarai kompetisi tingkat regional maupun nasional. Selain itu, pria lulusan S1 Teknik Sipil UMM itu memaparkan bahwa saat ini FT UMM telah membentuk kerja sama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) serta Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam pengembangan roket. “Dalam kontes roket yang diselenggarakan di Jogja beberapa waktu lalu, kami menggandeng Lapan dan LIPI untuk turut mengembangkan roket bersama mahasiswa FT UMM,” paparnya. Pria yang telah 18 tahun mengabdi

di UMM itu menjelaskan, sebagai fakultas yang terus berkembang FT UMM sangat senang menerima kunjungan studi banding dari mahasiswa PNB. Ia mengharapkan kunjungan tersebut dapat membentuk kerja sama yang baik antara kedua belah pihak. Koordinator lapangan studi banding, Robi Octavianor, mengaku kelengkapan fasilitas dan sistem pembelajaran yang maju di UMM menjadi latar belakang dipilihnya FT UMM sebagai tujuan studi banding. “UMM memiliki fasilitas yang lebih lengkap dari institusi kami. Oleh karena itu, kami menjadikan FT UMM sebagai tempat studi banding,” ungkap Robi, sapaan akrabnya. Ia juga menuturkan bahwa dirinya akan segera mencoba mengaplikasikan sistem pengajaran yang telah ia pelajari di UMM sepulang dari kunjungan tersebut. Setelah diterima secara resmi, rombongan tersebut berkeliling UMM untuk mengetahui fasilitas-fasilitas yang dimiliki Kampus Putih. Plant tour tersebut dilakukan diantaranya dengan mengunjungi Laboratorium FT, Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), serta Gedung Student Center. p_fjr


6 BESTARI

SUARA KAMPUS

No. 265/TH.XXIII/Agustus/2010

Undip Berguru pada Perpustakaan Pusat UMM Mengusung predikat “Kampus Unggulan”, UMM dinilai unggul pula dalam pengelolaan dan pengembangan perpustakaannya. Hal itu diungkapkan mahasiswa dan dosen Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (Undip) Semarang yang melakukan kunjungan ke Perpustakaan Pusat Kampus Putih (27/7). Kunjungan tersebut merupakan serangkaian agenda tur Undip ke Jawa Timur dan Bali, sekaligus sebagai bagian dari program Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang diadakan Jurusan Ilmu Perpustakaan Undip setiap tahun. Setelah Jakarta dan Bandung pada tahun lalu, Perpustakaan Pusat UMM tahun ini dipilih sebagai tujuan kunjungan rutin tersebut. Menurut dosen pendamping rombongan Undip, Amin Taufiq, perpustakaan UMM dipilih karena memiliki

fasilitas lebih lengkap, ditambah adanya Digital Library (Digilib) dan Depot Video. ”Kami ingin menggali pengalaman dan informasi yang tidak mereka (mahasiswa. red) peroleh di bangku kuliah,” ujar Amin, sapaan akrabnya. Ditambahkan Amin, ia tidak menyangka UMM memiliki perpustakaan dengan fasilitas penunjang yang lengkap seperti American Corner dan Iran Corner. Untuk itu, dia ingin menggali pengalaman dan informasi mengenai hal-hal yang tidak diperoleh di kampusnya. Ke depan, pihaknya berharap dapat menjalin kerja sama antara Jurusan Ilmu Perpustakaan Undip dengan UMM. “UMM tidak bisa dipandang sebelah mata karena telah banyak prestasi dan pencapaian bagus yang diraihnya,” ujarnya. Amin berharap, kunjungan terse-

but dapat meningkatkan kualitas mahasiswanya. ”Apa yang diperoleh di sini nantinya dapat kami kembangkan di Undip, dengan harapan dapat meningkatkan kompetensi softskill mahasiswa,” harapnya. Selama kunjungan, mahasiswa Undip diajak berkeliling perpustakaan untuk mengetahui segala informasi mengenai sistem pelayanan, pengelolaan dan pengembangan perpustakaan UMM. Salah satu peserta kunjungan, Swadia Gandi, menyatakan kekagumannya pada Perpustakaan Pusat Kampus Putih. ”UMM memiliki perpustakaan yang lebih lengkap dari pada milik Undip, selain itu ruang perpustakaannya juga bagus. Kunjungan ini bisa menambah ilmu pengetahuan kami di bidang perpustakaan,” jelas mahasiswa asal Temanggung itu. p_zar

Pengajian I’Ɵkaf Ramadan

Waspadai Ahli Kitab Yahudi dan Nasrani Badan Pelaksana Harian (BPH) UMM menyelenggarakan Pengajian I’tikaf Ramadan (PIR) yang diikuti seluruh dosen dan karyawan putra UMM (14/8). Kegiatan tersebut dilaksanakan di Ruang Sidang Masjid A.R. Fachruddin. PIR merupakan bagian dari rangkaian kegiatan “Gema Ramadan in Campus” yang rutin diselenggarakan UMM tiap tahun. Program tersebut bertujuan meningkatkan wawasan keagamaan dan spiritualitas dosen dan karyawan UMM, terutama terkait tugas manusia sebagai khalifah Allah, serta meningkatkan ta’aruf dan ukhuwah islamiyah di antara karyawan dan dosen UMM. Ketua panitia, Rahmad Pulung Sudibyo menjelaskan, pelaksanaan PIR tersebut dilaksanakan dalam 3 gelombang. Gelombang pertama terbatas bagi peserta putra, mulai rektor, pembantu rektor, dekan, dosen, karyawan, tenaga kontrak dan part time, hingga petugas kebersihan putra. Pengurus Majelis Tarjih Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Mu’amal Hamidy, hadir dalam acara tersebut sebagai pembicara.

Pengajian I'tikaf Ramadan: Bertujuan untuk meningkatkan wawasan keagamaan dan spiritualitas dosen dan karyawan.

deden/Bestari

Sekretaris BPH, Wakidi, dalam sambutannya mengungkapkan jumlah peserta PIR tahun ini mengalami peningkatan. “Alhamdulilah peserta PIR kali ini lebih banyak dari tahun lalu. Hal ini dikarenakan semua karyawan tetap dan part time UMM diikutsertakan,” ungkap pria berkacamata itu. Sesi “Kuliah Ramadan” yang diisi Mu’amal Hamidy membahas tentang perbuatan amal soleh dengan ihya’ussunnah (menghidupkan sunah) demi eksistensi Islam. Seraya mengutip salah satu hadits Rasul yang diriwayatkan Bukhari dan Ahmad, ia menghimbau para peserta yang hadir

agar mewaspadai tiga perilaku ahli kitab Yahudi ataupun Nasrani. “Pertama, mengagung-agungkan (mengkultuskan) ulama atau pemimpinnya. Kedua, membuat bid’ah, yaitu dengan mengada-ada dalam masalah ibadah yang tidak sesuai ajaran Rasulullah, dan yang terakhir adalah mewaspada ajakan kompromi dari kedua bangsa tersebut,” tuturnya. “Perilaku itu telah masuk ke dalam kehidupan masyarakat kita. Tantangan berat bagi kita untuk mengembalikan mereka ke jalan yang benar, yaitu ke agama Allah yang fitri,” tandasnya mengakhiri. p_fjr

Lokakarya Kurikulum – Akuntansi

Pendidikan Profesi Akuntansi UMM Peringkat II Malang Untuk meningkatkan kompetensi lulusannya, Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi UMM menggelar lokakarya kurikulum di Laboratorium Akuntansi II (29/7). Kegiatan bertema “Aktualisasi Kurikulum Untuk Meningkatkan Kompetensi Lulusan” itu diikuti oleh 13 orang dosen Akuntansi UMM dan menghadirkan Thoufan Nur dari Kantor Akuntan Publik (KAP) Kota Malang sebagai pembicara. Dalam materinya, Thoufan menjelaskan tentang perkembangan dunia industri dan profesi bidang Akuntansi. Menurutnya, lulusan akuntansi harus bisa menjadi sosok harapan baru dan siap menghadapi tantangan maupun ancaman yang akan datang. “Seorang akuntan harus memiliki tiga hal; kemampuan konsep, kemampuan teknis, dan kemampuan softskill,” ujarnya. Ditambahkan Thoufan, dirinya memberikan apresiasi tinggi terhadap UMM yang melatih mahasiswanya untuk mengisi Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) pajak. “Perguruan tinggi yang lain belum ada yang melakukannya,” ujarnya. Selain itu, kekuatan lain alumni Akuntansi UMM menurutnya adalah memiliki modal pendidikan Islam yang menjadi

fidha/Bestari

Tingkatkan Mutu: Praktisi dari kantor Akuntan Publik Malang saat memberikan materi di lokakarya Program Studi Akuntansi FE UMM (29/7)

dasar tingkah laku mereka. “Citra Islami diperlukan untuk membentuk akuntan yang beretika. Hal ini bisa menjadi alat untuk menghadapi tantangan maupun ancaman yang siap menghadang di depan,” ujarnya. Bahkan, menurut data yang dimiliki Thoufan, UMM menduduki peringkat kedua se-Malang dalam pendidikan profesi akuntansi setelah Universitas Brawijaya. “Oleh karena itu, nilai akreditasi A yang disandang Akuntansi UMM diharapkan dapat meningkatkan jumlah alumni yang mengikuti pendidikan profesi,”

tandasnya. Ketua Jurusan Akuntansi UMM, Siti Zubaidah, menyebutkan lokakarya tersebut diadakan untuk beberapa tujuan, yakni memberikan muatan-muatan kurikulum yang disesuaikan dengan pangsa pasar saat ini, serta membuat komposisi kurikulum, distribusi kurikulum, dan peta Sumber Daya Manusia (SDM). “Akuntansi itu bersifat praktis, jadi perlu penyesuaian-penyesuaian. Apalagi, bidang Akuntansi saat ini mulai dimasuki oleh orang-orang non Akuntansi,” tegasnya. p_lin

deden/Bestari

Kunjungan: Para mahasiswa UNDIP mendapat penjelasan dari staf perpustakaan saat kunjungan ke Perpustakaan Pusat UMM.

TOEIC Segera Gusur ESP TOEIC akan benar-benar menjadi paradigma baru dalam pengajaran mata kuliah bahasa Inggris bagi mahasiswa tingkat awal UMM. Hal tersebut dibuktikan dengan kembali disosialisasikannya “Test Of English as International Communication (TOEIC)” oleh Language Center (LC) (23/7). “Program English for Spesific Purpose (ESP) yang dicanangkan sejak tahun 1992 itu telah kami evaluasi,” ungkap Kepala LC, Dwi Poedji Astuti saat memberikan sosialisasi di Ruang Sidang Rektor. Diungkapkan Poedji, sapaan akrabnya, program pengajaran bahasa Inggris yang disesuaikan dengan masing-masing fakultas itu mempunyai beberapa kelemahan. “Oleh karena itu, LC sebagai penanggung jawab bersiap mengenalkan pengajaran bahasa Inggris berbasis TOEIC sebagai pengganti ESP,” ujarnya. Poedji menerangkan, selama ini kurikulum pengajaran ESP yang terbagi ke dalam mata kuliah Reading, Writing, Listening, dan Speaking itu kurang sesuai dengan Test Of English Foreign Language (TOEFL). Hal itu telah dievaluasi selama bertahun-tahun secara internal oleh LC yang saat ini

tengah menggodok peraturan baru untuk sistem pengajaran TOEIC. “Kami (LC) juga men-training para dosen yang nantinya kami siapkan untuk mengajar TOEIC,” paparnya di hadapan Pembantu Rektor I, Sujono dan seluruh ketua serta sekretaris jurusan yang hadir. Lebih lanjut Poedji menjelaskan sistem dan silabus pengajaran program yang akan direalisasikan pada tahun ajaran 2011/2012 itu akan disesuaikan dengan soal-soal TOEIC, sehingga materi yang didapatkan di kelas tidak sia-sia karena bisa digunakan untuk menjawab soal tes. “Bagi mahasiswa yang telah memprogram program ESP, kurikulum lama ESP akan tetap berlaku,” jelasnya. Kepala Biro Kerjasama Luar Negeri (BKLN) UMM Soeparto menambahkan, TOEIC sangat berguna bagi mahasiswa yang berencana kerja setelah kuliah. Hal itu dikarenakan TOEIC lebih difokuskan ke arah dunia kerja serta mempunyai sertifikat internasional. “Dengan memiliki sertifikat TOEIC, mahasiswa bisa melamar kerja pada perusahaan-perusahaan luar negeri,” tandasnya. p_fjr

Pemantapan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan bagi Karyawan

Internalisasi Nilai Ibadah untuk Perbaikan Kinerja “Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) UMM harus terus ditingkatkan,” ujar Pembantu Rektor II UMM Mursidi dalam sambutannya pada Pelatihan Karyawan “Pemantapan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan” (31/71/8). Bertempat di Rusunawa UMM, sebanyak 69 karyawan UMM mengikuti kegiatan yang diselenggarakan Biro Administrasi Umum UMM itu. Mursidi menegaskan, UMM tidak boleh berhenti meningkatkan kualitas SDM-nya. Dengan adanya pelatihan tersebut, para karyawan UMM diharapkan dapat bekerja dengan cara yang Islami. Senada dengan pernyataan Mursidi, Wakidi selaku Sekretaris Badan Pelaksana Harian (BPH) UMM mengungkapkan para karyawan harus terus melakukan pembenahan dan perbaikan dalam meningkatkan kinerjanya. “Kita harus terus introspeksi dan tidak boleh putus asa,” tuturnya. Ia menambahkan, pelatihan karyawan tersebut dapat diibaratkan sebagai kegiatan sholat yang selalu dikerjakan setiap hari. “Begitu pula dengan kegiatan pelatihan karyawan, harus dilakukan secara rutin, harus mengikuti peraturan yang ada, serta bisa menambah pengetahuan,” tambahnya.

Selama pelatihan, para karyawan berada di dalam kelas yang terpisah antara perempuan dan laki-laki. Mereka menyimak materi yang disampaikan beberapa dosen Fakultas Agama Islam seperti Hadi Nur Taufik, Chusnul Hadi, Saiful Amin, serta Ketua Aisyiyah Kota Malang, Rukmini. Materi yang disampaikan antara lain tentang internalisasi nilai ibadah, akhlak dalam bekerja, kematian dan harapan, serta manhaj tarjih. Kepala Bagian Kepegawaian UMM, Isro’in, berharap kegiatan tersebut akan melahirkan sikap ikhlas dalam diri karyawan. “Saya berharap dengan adanya acara ini, semua orang, baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung, dapat bekerja dengan sungguhsungguh dan ikhlas, serta dengan cara yang baik dan islami,” ujarnya. Pria asal Malang itu menjelaskan, bekerja dengan cara islami adalah beker ja sesuai dengan kewajiban, sehingga antara hak dan kewajiban seimbang. “Seperti berangkat dan pulang tepat waktu misalnya. Sebagian beranggapan bahwa bekerja secara sugguh-sungguh atau biasa-biasa saja di UMM akan mendapat gaji yang sama besar. Dengan acara ini, anggapan tersebut diharapkan dapat disingkirkan,” tegasnya mengakhiri. p_emy


BESTARI No. 265/TH.XXIII/Agustus/2010

SUARA KAMPUS

Pengajian Jelang Ramadan Bersama Haedar Nasir

KompeƟsi Sepak Bola Divisi I Persema

PS UMM Lolos ke Divisi Utama

deden/Bestari

Top Skor: Iradat Taqwa (menggiring bola)menjadi top skor pada kompetisi divisi I Persema

Keberhasilan menempati posisi ke-3 dalam Kompetisi Sepak Bola Divisi I Persema tahun lalu tidak menjadikan tim Persatuan Sepak Bola (PS) UMM berpuas diri. Hal itu dibuktikan dengan semakin meningkatnya kualitas tim hingga mampu merebut Juara I pada kompetisi yang sama tahun ini. Kemenangan tersebut diperoleh dengan mudah setelah tim UMM mampu mengumpulkan 31 poin dari 11 kali pertandingan, dengan 10 kali menang dan 1 kali imbang. Artinya, selama pertandingan di divisi I, PS UMM tidak pernah kalah.

PS UMM akhirnya memetik kemenangan 3-1 atas Persatuan Sepak Bola Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Malangkucecwara (PS STIE-ABM) dalam pertandingan final di lapangan Universitas Negeri Malang (6/8). Tiga gol disumbangkan Tri Wahyu pada menit ke-8, Iradath Taqwa pada menit ke-47, dan Indra Purnama di menit 89. Kemenangan tersebut membawa PS UMM lolos ke divisi utama. “Alhamdulillah dari sebelas kali pertandingan, akhirnya kami (PS UMM. red) bisa menjadi juara tahun ini,” ujar Asisten Pelatih PS UMM, Novan Agus Suhendra

saat ditemui usai pertandingan. Pada babak pertama, skor 1-0 diciptakan pemain PS UMM, Tri Wahyu pada menit-menit awal. Banyak peluang yang diciptakan tim UMM untuk menjebol gawang lawan, namun tendangan para pemain PS UMM masih mudah dihalau oleh kiper lawan. Memasuki babak kedua, tensi permainan semakin meningkat karena kedua tim berlomba-lomba berebut tiket juara. Meski demikian, tim Kampus Putih tetap mendominasi pertandingan sehingga mampu mencuri peluang dengan mencetak gol pada menit ke-47 lewat tendangan Iradath Taqwa. Tim PS STIE-ABM tak mau memberikan peluang begitu saja pada tim UMM. Hal tersebut terlihat saat PS STIE-ABM berhasil mengambil kesempatan hingga pemainnya, Ahmad Pandi, mampu menembus jala tim UMM pada menit ke-83. Namun, hanya berselang 6 menit, Indra Purnama menambah gol yang merubah kedudukan menjadi 3-1 untuk PS UMM. Diungkapkan Pembina PS UMM, Yunan Syaifullah, tim UMM sudah optimis menang sejak sebelum pertandingan, terlebih melihat kekompakan pemain yang tinggi. “Kolektivitas menjadi strategi kami sehingga berhasil mencapai kemenangan. Semua sama bagus, tapi hanya tim yang bisa melihat dengan jeli yang dapat memanfaatkan peluang dengan baik,” jelasnya. p_zar

Lokakarya Konten Modul PrakƟkum – Akuntansi

Modul Praktikum Baru, Jawab Permintaan Pasar

Sebagai ujung tombak aktivitas non kurikuler, Laboratorium Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) UMM dituntut untuk selalu dapat membaca perkembangan lingkungan industri dan permintaan pasar. Untuk itu, Laboratorium Akuntansi FE UMM mengadakan Lokakarya Konten Modul (15/7) yang bertempat di Laboratorium Akuntansi. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh instruktur dan penyusun modul praktikum Laboratorium Akuntansi FE UMM. Menurut Kepala Laboratorium Akuntansi FE UMM, Ihyaul Ulum, acara tersebut bertujuan mengevaluasi dan memperbaiki konten modul praktikum, menghasilkan modul praktikum yang berorientasi pada perkembangan lingkungan industri,

serta menjalin kerja sama yang lebih baik dengan dunia praktik. “Oleh karena itu, kami mendatangkan praktisi langsung dari Kantor Akuntan Publik (KAP) dan industri,” ujarnya. Dipaparkannya, lokakarya tersebut penting karena mempertimbangkan tiga hal. Pertama, modul praktikum yang dimiliki Lab. Akuntansi saat ini disusun lebih dari empat tahun yang lalu, sehingga tidak sesuai lagi. Kedua, memberikan fasilitas kepada tim penyusun modul agar bisa berkomunikasi dengan para praktisi industri untuk memperkaya muatan modul praktikum. Ketiga, mempersiapkan praktikum pemeriksaan akuntansi (audit). Selain itu Ulum, sapaan akrabnya, mengungkapkan bahwa lulusan Akuntansi merupakan produk yang harus

siap diserap pasar, baik industri maupun sosial. “Untuk itulah diperlukan pembinaan yang baik sebelum mereka dilepas,” tuturnya. Salah satunya adalah dengan memperbanyak praktikum. Saat ini Laboratorium Akuntansi telah memiliki sembilan mata kuliah praktikum. “Jumlah itu sudah cukup banyak, mengingat di perguruan tinggi lain jenjang S1 Akuntansi tidak memiliki banyak praktikum,” ujarnya. Ulum yang juga dosen mata kuliah Perpajakan itu berharap dengan kegiatan tersebut akan lahir modul baru atau revisi yang berwawasan pasar dan sesuai dengan perkembangan permintaan kualitas lulusan. “Kalau begitu kan lulusan Akuntansi memiliki nilai tambah tersendiri,” tandasnya. p_lin

7

Selaraskan Spirit Akademik dan Spirit Keagamaan Menyambut Ramadan 1431 H, UMM menggelar “Pengajian Jelang Ramadan” bersama Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nasir. Bertempat di Masjid A.R. Fachruddin (31/7), pengajian yang menjadi pembuka kegiatan Ramadan di Kampus Putih itu diikuti ribuan sivitas akademika UMM. Haedar Nasir dalam materinya menyampaikan pentingnya penyelarasan spirit akademik intelektual dengan wawasan spirit keagamaan oleh seluruh sivitas akademika UMM. “Ketika kedua spirit tersebut selaras, maka Ramadan bagi individu tidaklah sia-sia,” jelasnya. Selain itu, Ketua PP Muhammadiyah yang terpilih dalam Muktamar Yogyakarta 7 Juli lalu itu menegaskan, momentum Ramadan dapat mempererat silaturahmi sivitas akademika, juga sebagai momen meningkatkan amal sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Lebih lanjut, Haedar dalam orasinya menerangkan bahwa potensi rohaniah manusia bersifat fluktuatif, kadang naik dan kadang turun. Hal itu dikarenakan kesibukan sehari-hari manusia sebagai insan modular (super sibuk, memiliki mobilitas tinggi, sebagai ciri manusia modern) tanpa memperhi-

tungkan keadaan. “Seperti anak kecil yang suka bermain komedi putar, ketika naik tidak bisa turun, sedangkan komedi putar itu terus berputar tak berhenti,” jelasnya mengilustrasikan. “Untuk itu, manusia perlu menyuburkan potensi rohani dalam dirinya,” tandasnya. Ia menambahkan, Ramadan merupakan momentum untuk melakukan penyegaran kembali rohani di tengah kehidupan. “Ramadan adalah wasilah (perantara) pencerahan rohani. Sudah menjadi keharusan kita untuk mengambil ma’rifat (kesempatan untuk memperoleh keridhoan Allah. red) dalam momen yang hanya sebulan itu,” terangnya. Selain itu, berpuasa menurut Haedar seharusnya tidak hanya terfokus pada hal-hal yang dilarang sebagaimana dalam rukun dan syarat puasa. “Puasa mengajarkan kepada manusia untuk merefleksi diri tentang fungsi dan perannya sebagai khalifah di muka bumi. Selain itu, lewat puasa kita bisa menahan diri. “Seperti pohon yang makin semakin kencang terpaan anginnya ketika ia makin tinggi, maka manusia yang makin tinggi mobilitasnya akan semakin tinggi pula godaan yang menerpanya,” tambahnya mengakhiri. m_rif

Fotografi, Tak Hanya tentang Teknik dan Seni Komunitas fotografi mahasiswa yang tergabung dalam Forum Komunikasi Fotografi Mahasiswa (Forkom FM) Malang menyelenggarakan Seminar Kritik Fotografi (23/7) di Aula BAU UMM. Seminar tersebut dihadiri pakar fotografi Seno Gumira Ajidarma dari Jakarta dan diikuti 300 peserta dari berbagai kota di Indonesia seperti Malang, Jakarta, Solo, Porwokerto, Yogyakarta, Lampung, dan Surabaya. Seno menyampaikan materi tentang konstelasi budaya fotografi. Menurutnya, dua perkara dalam fotografi yang selalu diperbincangkan adalah teknologi dan seni fotografi. Namun ia melihat hal-hal lain yang juga perlu dibicarakan seperti masalah sudut pandang, sejarah fotografi, dan sejarah sosial peranan fotografi. “Ketiga hal tersebut sangat perlu diperbincangkan, dan kalau terpaku pada dua perkara tadi (teknologi dan seni fotografi. red) sungguh membuat wacana fotografi terbatas,” papar pria yang pernah bekerja di majalah Jakarta Jakarta (JJ) itu.

Saat ditanya tentang kebebasan fotografi terkait foto erotis yang mengarah pada pornografi, pria berambut panjang itu menjelaskan bahwa hal tersebut bergantung pada tujuan pembuatan foto. ”Jadi yang membedakan apa foto itu mengarah pada foto erotis atau tidak adalah tujuan dibuatnya foto itu dan saya rasa kebebasan tergantung masyarakatnya,” jawabnya. Harris Kurniawan selaku ketua pelaksana kegiatan mengungkapkan, seminar tersebut dimaksudkan menjadi media silaturahmi komunitas dan kelompok fotografi mahasiswa serta mengangkat fotografi mahasiswa agar tidak dipandang sebelah mata oleh fotografi profesional. “Kita menunjukkan eksistensi fotografi mahasiswa kepada publik,” ungkap mahasiswa Komunikasi UMM tersebut. Lebih lanjut, aktivis Jurnalistik Fotografi Club (Jufoc) itu menerangkan, seminar tersebut merupakan rangkaian dari kegiatan tahunan Jambore Fotografi Mahasiswa ke-3 di Malang bertajuk “Malang Photo Festival 2010” (20-25/7). m_rif

Lokakarya Kurikulum – Manajemen

UMM Tuan Rumah Temu Alumni US Embassy Dosen Perlu Ubah Metode Mengajar Setelah selama ini dijadikan tempat bernaungnya American Corner (Amcor), UMM berkesempatan memfasilitasi temu alumni United States (US) Embassy se-Kota Malang. Bertempat di Ruang Sidang Rektor (5/8), acara yang dihadiri puluhan alumni tersebut bertujuan membina hubungan baik dan bertukar informasi antara para alumni dengan pihak US Embassy. US Embassy merupakan lembaga diplomatik resmi perwakilan dari Pemerintah Amerika di Indonesia. Selain itu, US Embassy juga merupakan tempat mengurus ijin berkunjung (visa) bagi warga Indonesia yang hendak pergi ke Amerika. Banyak warga Indonesia yang telah bersekolah atau bekerja di Amerika. Sebagian dari mereka tergabung dalam US Embassy Alumni Club Indonesia. Anggota yang tergabung dalam klub tersebut adalah mahasiswa, dosen, serta masyarakat umum yang pernah bersekolah atau bekerja di Amerika. Di Indonesia, jumlah alumni US Embassy mencapai 8000 orang, 140 di antaranya berasal dari Malang. “Kami memilih menggelar acara ini di UMM, karena selain memiliki Amcor, jumlah alumni US Embassy yang terbanyak berasal dari Malang.

deden/Bestari

Gathering: Chirstine Bower (tengah), konjen US Embassy Surabaya saat menghadiri US alumni gathering UMM.

Jumlahnya mencapai 140 orang, sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa UMM,” ungkap koordinator alumni US Embassy Alumni Club Indonesia, Dudi Irawan Sukendar. Konsulat Jenderal (Konjen) US Embassy Surabaya, Kristen Bauer mengungkapkan US Embassy Alumny Club Indonesia terbentuk atas dasar wujud kepedulian Pemerintah Amerika terhadap para alumninya. Ia berharap perkumpulan yang baru saja dibentuk itu dapat dimanfaatkan para alumni

sebagai sarana bertukar informasi serta memperluas networking. Tak hanya itu, pemerintah Amerika melalui US Embassy juga bersedia mengucurkan dana untuk merealisasikan program-program usulan dari alumni, dengan syarat alumni tersebut mempunyai organisasi berbadan hukum dan mengajukan proposal yang bagus. “Semuanya berawal dari proposal. Proposal yang mengandung substansi bagus dan melibatkan beberapa alumni pasti akan kami bantu,” pungkasnya. p_fjr

Dalam rangka meningkatkan kualitas lulusan, Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi (FE) UMM mengadakan Lokakarya Kurikulum bertema “Upaya Peningkatan Kualitas Lulusan Melalui Perbaikan Konten Kurikulum” (26-27/7). Acara yang rutin diadakan tiap semester tersebut diadakan di Laboratorium Manajemen I FE UMM. Seluruh dosen Jurusan Manajemen, khususnya tim penyusun kurikulum, ikut andil dalam acara tersebut. Menurut Pembantu Dekan I FE UMM, Sandra Irawati, lokakarya tersebut bertujuan meningkatkan mutu akademik serta mencermati dan memperbaiki konten kurikulum yang sudah ada. “Desain harus memenuhi standar Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK),” ujarnya. Hal serupa disampaikan Aniek Rumijati, Ketua Jurusan Manajemen FE UMM, saat menyampaikan materi bertajuk “Kompetensi Lulusan dan Desain Kurikulum Prodi Manajemen Berbasis KBK”. Menurutnya, kurikulum harus dibuat lebih detail dan rinci. “Dalam membuat Satuan Acara Perkuliahan (SAP), kompetensi harus utuh. Apalagi sejak konsentrasi berubah nama menjadi peminatan,” urainya. Lebih lanjut, ia berpendapat bukan

hanya perbaikan kurikulum yang dapat meningkatkan kualitas lulusan, melainkan juga proses pembelajaran yang berkesinambungan. Selain itu Aniek, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa semua dosen harus merubah sistem pengajarannya dari Teacher Centered Learning (TCL) menjadi Student Centered Learning (SCL). “Sudah tidak zamannya lagi dosen ‘menyetir’ mahasiswa,” pungkasnya. Aniek mengungkapkan dirinya masih sering menemukan dosen yang menggunakan metode TCL dalam mengajar. Dosen masih memosisikan diri sebagai satu-satunya sumber ilmu. “Padahal saat ini mahasiswa dituntut untuk bersikap kritis. Mereka berhak mengungkapkan pandangannya,” tandasnya. Sebaliknya, dalam sistem SCL, mahasiswalah yang dituntut untuk aktif. “Dosen tidak boleh men-judge (menghakimi) bahwa pendapat mahasiswa itu salah,” ujarnya. Mahasiswa bisa memperoleh ilmu dari manapun dan mendiskusikannya dengan dosen. “Perbaikan kurikulum dan perubahan sistem pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas lulusan yang berdaya saing tinggi di dunia kerja,” ujarnya. p_lin


BESTARI 8 Pengajian Ramadan PWM JaƟm

SUARA KAMPUS

No. 265/TH.XXIII/Agustus/2010

Launching Temuan Dosen UMM

Bangkitkan Kembali Jiwa Saudagar Umat Islam

Memasuki minggu ke-3 ke 3 Ramadan, Ramadan UMM ditunjuk Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur sebagai tuan rumah Pengajian Ramadan bertema “Mobilisasi Potensi Ekonomi Umat”. Bertempat di Hall Dome UMM (28-29/8), acara yang dihadiri lebih dari 1000 kader Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) serta Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) se-Jawa Timur tersebut mendatangkan mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, sutradara kondang Hanung Bramantyo, serta Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Selain itu, kegiatan rutin tahunan itu juga menghadirkan keynote speaker Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin dan Ketua PWM Jatim Syafiq Mughni. Din memaparkan pentingnya memobilisasi potensi ekonomi umat, sebagaimana diangkat dalam tema pengajian tersebut. “Tema yang diangkat ini sangat penting dan relevan dengan masalah yang kita hadapi baik untuk Muhammadiyah ataupun Islam. Saya harap di lima tahun ke depan tema yang diangkat adalah tema-tema sentral seperti tema kali ini,” paparnya. Sementara itu, Syafiq menuturkan bahwa warga Muhammadiyah perlu meningkatkan kualitasnya melalui inovasi. “Sesungguhnya kita ini punya potensi untuk berjalan lebih cepat dan menciptakan hal baru jika melihat kemampuan Bapak-Ibu (peserta pengajian. red). Saya yakin lima tahun ke depan PWM Jawa Timur bisa berubah menjadi lebih baik dari sekarang,” pungkasnya. Usai sambutan dari Syafiq, acara dilanjutkan dengan paparan mengenai Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Jawa Timur yang disampaikan Soekarwo. Menurut pria yang akrab dipanggil Pakde Karwo itu, makro ekonomi Jatim tahun 2009 mengalami peningkatan. “Makro ekonomi Jatim sama dengan Jakarta yaitu 5,01 persen.

“Bici” Go Public

heni/Bestari

Diskusi: Sejenak setelah menampaikan menyampaikan petuah-petuahnya pada pengajian Ramadan PMW Jatim, dari kiri Malik Fadjar, Jusuf Kalla, dan Muhadjir Effendy.

Padahal biasanya Jatim berada di bawahnya (Jakarta. red),” paparnya. “Pertemuan seperti ini sangat tepat untuk revitalisasi. Jika tidak, maka jati diri Muhammadiyah akan diambil orang lain,” tambahnya. Menjelang waktu berbuka, sutradara film Sang Pencerah, Hanung Bramantyo memutarkan trailer film yang menceritakan kehidupan K.H. Ahmad Dahlan itu. Pemeran dalam film tersebut, Zaskia Adya Mecca dan Lukman Sardi serta penulis novel Sang Pencerah, Akmal Nasery Basral juga hadir dalam pengajian tersebut. Hanung menjelaskan, ide untuk membuat film tersebut ada sejak 15 tahun lalu. “Tetapi baru terealisasikan tahun ini. Saya sendiri lahir di lingkungan K.H Ahmad Dahlan. Rumah saya jaraknya hanya 100 meter dari Langgar Ahmad Dahlan. Sosok Ahmad Dahlan sangat istimewa bagi saya karena berani melakukan perubahan dengan merubah arah kiblat di sebuah masjid yang dianggapnya salah. Hal itulah yang membuat saya tergerak untuk membuat film ini,” urainya.

Selanjutnya, dengan mengangkat tema “Membangkitkan Kembali Jiwa Saudagar Warga Muhammadiyah”, Jusuf Kalla berbicara didampingi Ketua Badan Pelaksana Harian (BPH) UMM, Abdul Malik Fadjar. Bagi Kalla, sejarah Islam maupun Muhammadiyah adalah berniaga. “Dulu Nabi Muhammad Saw, Khadijah, dan Abu Bakar berdagang. Muhammadiyah juga sama, Ahmad Dahlan dulu juga berdagang. Jadi kembalikanlah semangat ekonomi kita melalui berdagang,” ujarnya bersemangat. Menurutnya, berdagang tidaklah sulit dan bisa dilakukan semua orang karena yang dibutuhkan hanya keberanian untuk memulai dan menanggung resiko. “Berdagang itu seperti orang berenang, jika hanya belajar teori tidak akan berhasil,” ujar pria asal Makasar itu. Untuk itu, ia berharap warga Muhammadiyah mau mencoba mempraktikkannya. “Bidang dakwah, pendidikan dan kesehatan di Muhammadiyah sudah maju, hanya bidang ekonomi yang masih tertinggal jauh. Untuk itu, saya berharap kita semua bisa bersatu padu mengembangkan bidang ekonomi,” pungkasnya. m_ros

Setelah berhasil mengharumkan nama UMM dengan mencatatkan penemuan Biskuit Kelinci (Bici) pada Museum Rekor Indonesia (Muri), Fakultas Peternakan Perikanan (FPP) UMM secara resmi me-launching merk dan produk Bici. Launching tersebut dimeriahkan serangkaian acara pameran kelinci, lomba kelinci hias, dan lomba balap kelinci nasional di Lapangan Parkir UMM (7/8). Acara tersebut secara resmi dibuka oleh Wakil Direktur Direktorat Budidaya Ternak non Ruminansia Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian RI, Tri Maharani Rahayu. Menurut wanita berjilbab itu, hadirnya Bici menjadi angin segar bagi peternak kelinci. “Biskuit tanpa rumput itu terbukti dapat meningkatkan produksi daging kelinci sehingga secara tidak langsung para peternak akan ikut berpartisipasi dalam ‘Program Gerakan Makan Daging Kelinci’ yang digalakkan pemerintah,” ujarnya. “Dengan hadirnya Bici, diharapkan para peternak kelinci lebih giat mempromosikan daging kelinci kepada masyarakat,” tambah perempuan yang juga menjabat sebagai Vice President Asian Rabbbit Production Association (ARPA) itu. Menurut sang penemu, Muhammad Sobri, Bici merupakan pakan kelinci berbentuk biskuit dan dibuat

tanpa menggunakan rumput. Penemuan Bici tersebut merupakan penemuan pertama yang ada di Indonesia bahkan di dunia. Ia mengklaim biskuit temuannya mampu mendorong pertumbuhan kelinci dalam hal berat badan dan mampu menekan angka kematian. “Dulu sebelum ada pakan ini angka kematian anakan kelinci cukup tinggi, mencapai 60 persen. Tetapi setelah memakan Bici, angka kematian dapat ditekan hingga menjadi di bawah 10 persen,” ungkap Pembantu Dekan II FPP itu. Sementara itu, peserta yang ikut ambil bagian dalam lomba tersebut berasal dari beberapa daerah di Jatim, diantaranya Lumajang, Kediri, Jember, dan Batu. Kelinci-kelinci tersebut berlomba dalam enam kelas, yaitu: rex, angora, meat giant, lopp, bebas dan balap. Lomba-lomba tersebut memperebutkan hadiah berupa tropi dan piagam serta beberapa door prize. Dalam penyelenggaraan lombalomba tersebut, FPP UMM menggandeng Asosiasi Penggemar Kelinci (Aspek) Kota Batu. Ketua Aspek Kota Batu, Mahbob Ubaydi mengatakan bahwa para petani kelinci yang tergabung dalam kelompok tersebut sangat senang karena dilibatkan oleh FPP UMM dalam pengembangan Bici. Mahbob berharap kerja sama tersebut bisa berlanjut di waktu yang akan datang. p_fjr

Wisuda ke ke-57 57 Periode III Tahun 2010

Bangun Mentalitas Bangsa Melalui Parpol UMM sangat signifikan dan menggembirakan. “Kampus UMM adalah kampus besar, dan misi panjang kita adalah menjadi world class university (universitas kelas dunia. red),” ungkapnya bangga. Ia juga menjelaskan, UMM sengaja mengundang Anas bukan untuk sekedar menyampaikan orasi ilmiah, melainkan juga untuk menjadi inspirator wisudawan. “Anas Urbaningrum adalah tokoh muda yang sukses mencapai puncak prestasi. Semoga bisa menginspirasi alumni untuk menggapai prestasi seheni/Bestari ting gi-tingginya,” harapnya. Dalam kesempatannya, Malik Fadjar juga berpesan pada para wisudawan untuk senantiasa memanfaatkan waktu. “Kita harus berpacu dengan waktu, jangan menunggu waktu. Ini kunci sukses,” ujarnya. Selanjutnya, dalam orasi bertema “Peran Partai Politik dalam Proses Pembentukan Karakter Bangsa”, Anas berpendapat bahwa partai politik (parpol) sejati adalah partai yang memperjuangkan demokrasi. “Selain itu, parpol sejati memiliki solusi kritis untuk perjalanan bangsa ke depan, serta memiliki aktivis

Anas Urbaningrum UMM kembali menggelar perhelatan wisuda periode ketiga tahun ini (7/8). Wisuda tersebut kali ini mengukuhkan kelulusan 810 wisudawan Program Diploma III, Strata I dan Strata II. Selain dihadiri jajaran rektorat dan Ketua Badan Pelaksana Harian (BPH) UMM A. Malik Fadjar, momen yang digelar di Dome UMM tersebut mendatangkan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum. Rektor UMM, Muhadjir Effendy dalam pidatonya mengungkapkan, tingkat prestasi dan reputasi kampus

partai yang melakukuan otokritik ketika menjumpai hal-hal keliru,” tegasnya. Menurut pria asal Blitar tersebut, reformasi sebenarnya sudah berjalan di jalur yang benar, yakni mengoreksi pemerintahan Orde Baru. Akan tetapi, perjalanan demokrasi muda tersebut berbenturan dengan realitas yang ada. Pria yang pernah menjadi lulusan terbaik Ilmu Politik Universitas Airlangga itu kemudian menyebutkan karakter yang harus ditumbuhkan kembali dalam dinamika kehidupan masyarakat. Karakter itu, lanjutnya, harus dipelopori oleh parpol. Karakter pertama adalah mempraktekan budaya sportivitas. “Itu harus dilakukan jika menginginkan sportivitas tumbuh dalam masyarakat,” tekannya. Kedua, memberi contoh praktik politik yang baik. “Tidak korupsi, tidak bermain politik uang, karena pragmatisme posisi parpol hadir sebagai entitas dari gagasan atau ide besar yang berangkat dari pemikiran positif pragmatisme,” urai lulusan S2 Sains Ilmu Politik Universitas Indonesia itu. Selain orasi Anas, perhelatan wisuda tersebut juga diisi penyerahan secara simbolis produk makanan kelinci “Biskuit Kelinci” hasil temuan dosen muda FPP UMM, Mohammad Sobri, kepada Rektor UMM. Penerimaan secara simbolis oleh Muhadjir menandakan produk yang diberi merk BICI tersebut resmi di-launching dan siap diterjunkan ke pasaran. m_rif

deden/Bestari

Rekor Muri: Biskuit kelinci hasil penemuan M.Sobri mendapatkan rekor muri Penemu Pakan Kelinci Tanpa Rumput.

Peringkat UMM Versi Webometrics

Mantapkan Diri sebagai World Class University

Website UMM ditetapkan masuk pada urutan 2.310 dari 12.000 Perguruan Tinggi (PT) di seluruh dunia, urutan 17 tingkat PT se-Indonesia, urutan 4 tingkat PTS, dan urutan 1 tingkat PT Muhammadiyah (PTM) versi Webometrics Dunia pada Juli 2010. Prestasi itu melonjak tajam dibandingkan Januari lalu di mana UMM menduduki peringkat 4.729 perguruan tinggi se-dunia, urutan ke- 35 tingkat PT di Indonesia, serta posisi ke-4 di lingkungan PTM. Ketua Lembaga Informasi dan Komunikasi (Infokom) UMM Suyatno mengungkapkan, prestasi membanggakan tersebut tercapai berkat kerjasama dan kerja keras tim. “Semenjak Webometrics pertama kali dirilis tahun 2004, UMM belum masuk tingkat dunia, tetapi sekarang berbeda,” ujarnya bangga. Dijelaskan Suyatno, Webometrics merupakan sistem peringkat perguruan tinggi se-dunia berdasarkan website yang dimiliki masing-masing PT. Pelaksanaan penilaian dilakukan dua kali setahun, yakni pada bulan Januari dan Juli. Sedangkan kriteria penilaiannya didasarkan pada empat poin, yaitu website (segi ukuran atau size) yang meliputi: jumlah halaman dalam, jumlah domain dan subdomain. Kedua,

visibility (banyaknya jumlah pengguna di luar yang membuat link ke website UMM) yang memberi porsi penilaian hingga 50% dari total penilaian. Ketiga, rich file (seperti doc, pdf, ppt, ps, dan lain-lain). “Semakin banyak jumlah ekstensi akan membantu penambahan nilai,” jelas Syatno. Poin keempat adalah scholar, yakni banyaknya karya ilmiah UMM yang diakui sebagai sumber pustaka oleh Google. “Semula baru 39 karya ilmiah yang diakui, sedangkan sekarang per hari ini mencapai 7310 karya ilmiah. Semua itu bersumber dari hasil penelitian dosen dan skripsi mahasiswa,” tegas pria ramah itu. Ia optimis dalam periode depan rangking UMM akan semakin meningkat. “Untuk melakukan itu diperlukan perubahan paradigma. Kalau kita dulu banyak men-download maka sekarang kita yang harus yang banyak meng-upload file sebagai referensi ilmiah,” terangnya. Selain itu, pria paru baya itu melihat perlunya sinergitas dan kerja sama dari semua pihak.. “Dikarenakan ini adalah prestis tersendiri bagi UMM. Semakin tinggi rangking UMM di Webometrics, maka akan semakin memperbesar peluang masuk The Promoting University yang dicanangkan Dikti,” harapnya mengakhiri. m_rif


BESTARI No. 265/TH.XXIII/Agustus/2010

SKETSA

9

Sebuah Mimpi yang Terwujud Berkat Prestasi Kampus putih selayaknya cukup bangga atas prestasi yang telah dicapai oleh lajang bernama Ahmad Irawan. Mahasiswa Ilmu Hukum tersebut telah berhasil mengangkat nama baik UMM di pentas nasional dengan menjadi pemenang Lomba Penulisan Tingkat Nasional yang diselenggarakan di Universitas Diponegoro. Sosok yang akrab disapa Wawan itu mengaku bahwa dia tidak pernah mengikuti lomba atau kompetisi serupa sebelumnya, ajang penulisan yang membawanya meraih juara I itu adalah yang pertama kali baginya. Lomba yang diadakan di kota Atlas tersebut memang diperuntukkan bagi seluruh Fakultas Hukum dari semua PTN dan PTS se-Indonesia. Berduet dengan rekannya, Prahesti Sekar Kumandani, Wawan mengikuti lomba tersebut karena tema yang diangkat adalah hal yang amat diminati dan selama ini menjadi bidang kajian pribadinya yaitu mafia hukum. “Alhamdulillah selain untuk memenuhi amanah dari fakultas, materi lomba tersebut memang sesuai dengan fokus kajian saya yaitu mafia hukum dan kaitannya dengan banyak lembaga baru seperti Satgas,”aku pribadi yang mengidolakan Munir itu. Alhasil, buah karya keduanya berjudul Melewati Surga Mafioso Menuju Citra Negara Hukum mampu keluar sebagai pemenang. Awal ketertarikan Wawan pada dunia kepenulisan muncul sejak dirinya memilih menjadi aktivis dan mengikuti berbagai organisasi kemahasiswaan. Di organisasi itu, putra daerah asal Toli-Toli, Sulawesi

Tenggara tersebut menyadari akan pentingnya menulis bagi mahasiswa, khususnya aktivis seperti dirinya. “Saya sadar bahwa pena itu lebih tajam . Berbeda dengan kita berbicara dan berorasi di depan umum yang mudah dilupakan orang,” tutur sulung dari tiga bersaudara pasangan Hajaring dan Adawiyah tersebut. Bagi pria berkulit putih tersebut menulis lebih sering dilakukannya y ketika dia merasa bosan atau jenuh. h. Terlebih ketika selesai membaca buku. u. “Malah kalau waktu senggang, saya ya tidak bisa menulis. Jadi bergantung ng juga sama mood,” ujar mahasiswa yang gemar melahap berbgai jenis buku itu. Belum lama predikat juara disandang pria yang juga berdarah Makasar itu, Fakultas Hukum kembali menaruh amanah kepadanya untuk mewakili UMM dalam Lomba Debat Konstitusi. Wawan yang tak cukup puas atas prestasi yang diperolehnya, dengan senang hati menerima amanah tersebut. Dalam lomba ini dilakukan seleksi secara bertahap. Tim dari UMM mampu menjadi juara untuk tingkat regional IV mewakili wilayah Nusa Tenggara, Bali, Kalimantan Selatan, dan Jawa Timur setelah mengalahkan lawan dari Universitas Pelita Harapan dan Universitas Atmajaya. Lomba yang diadakan untuk memperingati HUT Mahkamah Konstitusi itu telah menjadi cambuk bagi Wawan dan kawan-kawan untuk meraih hasil yang lebih besar lagi. Berbagai persiapan dilakukan seperti mempelajari materi yang berkaitan dengan Pemerintahan Daerah, Pemilihan Umum, Pemilihan Kepala Daerah, Hukum Tata Negara, Hak

ilmu pengetahuan dan jaringan teman yang lebih luas selama di Jakarta. Selain itu, hal lain yang lebih penting bagi gubernur Fakultas Hukum ini adalah kompetisi ini mampu membukakan pintu bagi impiannya bertemu dengan para pakar hug kum Mahkamah k Konstitusi. “ImK pian saya untuk p bertemu dengan b Nama : Ahmad Irawan para pakar hukum TTL : Toli-Toli, 26 Oktober 1989 MA (Mahkamah Hobi : Membaca dan Menulis Konstitusi.Red.) Riwayat pendidikan: 1. SDN I Toli-Toli dan mendapat ke2. SMPN I Toli-Toli sempatan untuk 3. SMUN I Toli-Toli mengikuti sidang Pengalaman Organisasi : di Mahkamah 1.PPI Cabang Toli-Toli Konstitusi akhir2. Ketua BEM Fakultas Hukum (2010-2011) 3. Sekretaris Umum LSO Yudicial Watch nya mampu tercapai berkat lomPrestasi yang pernah diraih : ba ini,” ujarnya 1. Juara I Lomba Penulisan Tingkat Nasional bangga. 2. Juara I Lomba Debat Konstitusi Tingkat Regional Berbuat hal Cita-cita: yang bermanfaat Pakar Hukum atau Praktisi khususnya Hukum Tata itu menyeNegara nangkan, menjaMotto: di kompas hidup Student Today Leader Tomorrow dan motivasi yang selama ini Prinsip hidup: Berbuat hal yang bermanfaat itu menyenangkan menancap pada mahasiswa yang bercita-cita menjadi pakar hukum dan pengamat hukum dari sisi akademik itu. Rutinitas dan kesifinalis lomba tingkat nasional. Merasa telah mengerahkan segala bukannya sebagai mahasiswa Hukum untuk kemampuannya, Wawan sempat tak menghalangi niatanya kecewa dengan hasil yang didapat. me raih asa yan g di pe n damn ya Meski demikian, ia juga tak menampik s e masa ke cil . De mi me n dukung bahwa banyak manfaat berlimpah impiannya, Wawan pun aktif berorgadiperolehnya melalui Lomba Debat nisasi yang mampu mengembangkan Konstitusi itu, antara lain bertambahnya minatnya pada hukum. Sebagai Ketua Asasi Manusia, Hak Konstitusional, dan yang beberapa materi lain yang terkait. Tidak ada usaha yang sia-sia. Dengan kesungguhan tekad dan usaha keras, Wawan dan timnya berhasil menempati urutan ke-5 dari enam universitas yang lolos sebagai peserta Debat Konstitusi Tingkat Nasional. Meski di urutan ke-5, UMM menjadi satu-satunya yangg keluar sebagai y PTS y g

BIODATA

Ahmad Irawan fidha/Bestari

BEM Fakultas Hukum, ia bertekad untuk mengembangkan nuansa akademisi ke depannya dengan mengadakan diskusi dan telaah hal-hal yang berkaitan dengan hukum. “Saya ingin agar dengan berorganisasi, pengetahuan kita tentang bidang keahlian kita juga berkembang. Jadi organisasi bukan saja tempat ketrampilan sosial tapi juga menjadi instrument akademik yang matang,” pungkas pribadi yang juga aktif di LSO Judicial Watch tersebut. ans

Karyawan Berprestasi UMM 2010

Percaya “Dalang “Dalang Ndak Kelangan Lakon”

Miseri Untuk menggapai kedamaian hidup, bekal utama selain kerja keras adalah ikhlas. Hal yang perlu disadari untuk membesarkan amal usaha seperti Muhamadiyah adalah sebuah pengorbanan dan materi bukan menjadi orientasi utama. Itulah yang senantiasa menjadi pegangan hidup sosok bernama Miseri ini. Karyawan yang saat ini menduduki jabatan sebagai Kepala bagian Umum perlengkapan kampus I dan II UMM itu resmi menjadi bagian dari UMM pada tahun 1986. Kala itu, letak UMM masih berada di Lokasi Kampus II dan belum besar seperti saat ini. Selama 24 tahun

Miseri mengabdikan diri di UMM, tidak sedikit asam garam hidup ia rasakan. Sosok kelahiran Malang itu menuturkan pada tahun pertama ia bekerja sebagai karyawan, UMM pernah mengalami deposit. Gaji karyawan tidak terbayar selama 2 bulan. Namun, hal tersebut tidak lantas membuat ki pribadi yang memiliki uk motto “hiduplah untuk h. ibadah” itu menyerah. pu Sesuatu yang mampu la membuat ia bertahan kala itu adalah prinsip ikhlas. “Di sinilah, keikhlasan itu diuji betul, tapi anehnya saya malah mendapatkan kepuasan batin,” aku pria yang hobi berolahraga tersebut. Lebih jauh pria ffidha/Bestari i yang bedomisili di Perum Bestari itu menjelaskan kepuasan batin yang dimaksud adalah suasana kerja yang kondusif, jalinan silaturahmi, serta kerukunan dan perdamaian antar pegawai yang tinggi “Keadaan seperti itu malah menjadi orientasi utama hidup saya saat itu untuk tetap berada di sini,” tandas sarjana Hukum tersebut . Selain kesibukannya sebagai karyawan UMM, aktivitas pria yang mengaku ketagihan berorganisasi tersebut adalah melakukan dakwah dan pengabdian masyarakat melalui Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah dan Pemuda Muhammadiyah. Terhitung sudah 11 organisasi pernah diikutinya,

sebagian masih digerakkannya hingga saat ini. Salah satu bentuk pengabdian masyarakat yang ia geluti hingga saat ini adalah Yayasan Integritas Muslim (YIM), sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak memerangi pemurtadan di daerah terpencil di mana ia menjabat sebagai direktur sekaligus ketua. Pria yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Pemuda Muhammadiyah Kota Malang tersebut menyadari bahwa ia berasal dari masyarakat. Oleh karena itu, sudah sepatutnya

berada akan menjadi pelopor kebaikan,” tutur ayah empat putra tersebut. Pengabdian bungsu dari empat bersaudara itu selama di UMM sudah hampir seperempat abad. Hal tersebut tidak lantas membuat pria yang sempat bercita-cita menjadi prajurit TNI itu lelah dan mengeluh. Bagi Miseri, menduduki jabatan Kepala Bagian Umum Kampus itu juga tidak mudah. Berbagai kendala sering ia temui. Kendala yang pernah timbul adalah orientasi dan pandangan pegawai atau bawahan ya yang disadari memang b berbeda-beda, begitu p pula latar belakang d dan pendidikan yang Nama : H. Miseri, SH. tidak sama. Hal itu TTL : Malang, 25 Juni 1964 Alamat : Pondok Bestari Indah C.5/276 Landungsari Malang dirasakan Miseri Hobi : Olah raga amat mempengaruhi suasana kerja. NaRiwayat pendidikan : mun bagi mantan SMP Muhammadiyah I Malang lulus tahun 1982 STM Muhammadiyah I Malang lulus tahun 1985 aktivis Pelajar Islam Fakultas Hukum Univ. Brawijaya lulus tahun 1999 Indonesia itu solusi juga mudah diPengalaman Organisasi / Jabatan Struktural: Ketua Cabang Pemuda Muhammadiyah Lowokwaru temukan jika Sekretaris PD Pemuda Muhammadiyah Kota Malang mengetahui akar perSekretaris eksekutif PD Pemuda Muhammadiyah Kab. Malang masalahannya. “Kita Sekretaris PH bidang Kader PDM Kabupaten Malang mengupas lebih dulu Sekretaris Majelis Wakaf PDM Kabupaten Malang Majelis Wakaf PCM Dau, Kab. Malang inti masalah yang ada, Direktur / Ketua Lembaga Pembinaan Keluarga Muslim yang jangan sampai kita berdiri di bawah Yayasan Integritas Malang tidak tahu masalahnya Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Landungsari apa,” kisahnya saat Jabatan selama di UMM: ditemui Bestari diselaBiro administrasi Kemahasiswaan sebagai Kaur Adm. sela kesibukannya. Kemahasiswaan Demi perbaikan Perlengkapan sebagai Pjs. Kabag Umum Kp III Biro Adm. Umum sebagai Kabag Hukum dan Keamanan kinerja yang dilakuPerlengkapan sebagai Kepala Bag. Umum Kampus I dan II kannya, anak seorang pedagang buah Motto hidup: Hidup untuk ibadah tersebut tidak segan menerapkan strategi pula ia mengabdi kepada mereka jemput bola dalam karirnya. Jika (masyarakat). “Seseorang kalau ge- ada kesempatan bertemu dengan mar berorganisasi, di manapun ia atasan, ia akan meminta pendapat

BIODATA

dan masukan dari mereka tentang unit yang dipimpinnya. Sosok yang juga gemar menulis ini juga menekankan bahwa ia dan bawahan yang dipimpinnya harus mengetahui tujuan, visi dan misi pendidikan yaitu berperan sebagai suksesi penyelenggaraan pendidikan. Berkat keuletan selama pengabdiannya di UMM, suami dari Ida Rahmaniah Basyir itu berhasil mengantongi penghargaan sebagai Karyawan Berprestasi UMM 2010. “Saya tidak pernah menyangka bisa meraih penghargaan tersebut. Karena saya menyadari masih banyak karyawan lain yang lebih pantas menyandang gelar tersebut,” tukas pria yang gemar menonton wayang kulit tersebut. Kegemaran pria yang pernah dipercaya sebagai Koordinator Transportasi Mukatamar Muhammadiyah ke 45 di Malang, terhadap wayang kulit sempat menyusupkan filusuf kesenain tradisional itu dalam hidupnya. Ia percaya akan semboyan “Dalang ndak kelangan lakon”(Selama dirinya masih mau jadi penggerak, ia tidak akan berhenti berjuang). Kesuksesan yang ia raih saat ini tidak lepas dari dukungan dan do’a orang tuanya yang selalu mendorong agar keinginan anakanaknya tercapai, serta peran keluarga dan teman-teman. Di akhir Miseri berpesan bahwa kita hidup hendaklah berguna bagi sesama. “Hiduplah seperti lebah, di manapun kamu berada selalu bermanfaat untuk lingkungan dan sekitarmu. Kalau kamu tidak membawa manfaat lebih baik pindah saja,” pungkasnya ramah.


10 BESTARI

SUARA KAMPUS

No. 265 /TH.XXIII/Agustus/2010

Pelantikan Pengurus Lembaga Intra

Seminar PelaƟhan Dunia Kerja

Joko Widodo:

“Fungsionaris Harus Proaktif”

Sejumlah l h ffungsionaris baru b Senat Mahasiswa Universitas (Semu), Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU), dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) menjalani pelantikan (9/8) yang diselenggarakan Biro Kemahasiswaan UMM. Acara yang bertempat di Aula BAU itu di antaranya melantik Ketua Semu, Jefri Hari Akbar (mahasiswa Fakultas Hukum) dan Ketua BEMU, Salman Alfarisi (Ekonomi) yang terpilih pada Pemilu Raya Juni lalu. Selain dihadiri para fungsionaris lama dan baru, pelantikan juga dihadiri Kepala Biro Kemahasiswaan Atok Miftahul Huda yang mengawali acara dengan pembacaan Surat Keputusan tentang Pengesahan Fungsionaris Lembaga Intra periode 2010-2011. Selain itu, Pembantu Rektor II Mursidi PR III Joko Widodo juga hadir untuk mengikuti jalannya pelantikan. Dalam sambutannya, Joko Widodo mengucapkan selamat kepada seluruh fungsionaris terpilih serta berpesan agar mereka sebagai bagian dari sivitas akademika terus mempertahankan dan meningkatkan prestasi yang pernah diraih UMM. Ia juga berharap kemampuan sumber daya manusia di UMM bisa lebih

deden/Bestari

Dilantik: Perwakilan dari SEMU saat menandatangai surat peresmian kepengurusan baru lembaga intra, disaksikan oleh(dari kiri) PR III,PR II, dan Kepala Biro Kemahasiswaan.

dicermati agar potensi mahasiswa bisa digali dan diberdayakan. “Selain itu, harus mampu menjaga diri untuk mencapai UMM yang lebih dewasa. Karena semakin tinggi pohon menjulang, semakin besar angin menerpa,” tuturnya di sela-sela sambutan. “Menjadi fungsionaris lembaga intra berarti mampu menjadi tauladan yang baik,” tandas Joko. Ditegaskannya, UMM siap memfasilitasi segala hal yang dibutuhkan untuk menunjang pembentukan mahasiswa yang cerdas dan berkarakter. Untuk itu, Joko mewanti-wanti para

fungsionaris terpilih untuk menjadi mahasiswa yang proaktif, dengan cara mengasah kemampuan keterampilan berbahasa secara efektif, networking, dan meningkatkan kinerja lembaga dalam ketertiban administrasi. Selanjutnya, para fungsionaris tersebut mengikuti pembacaan ikrar pelantikan yang dipimpin oleh Joko Widodo dan disaksikan oleh Mursidi, Atok Miftahul Huda, serta para Pembantu Dekan III dari setiap fakultas. Kegiatan ditutup dengan acara keakraban makan siang bersama. p_raf

Wirausaha Tak Perlu Bakat Upaya Kampus Putih meningkatkan kesiapan lulusannya menghadapi persaingan kerja dibuktikan dengan pengadaan seminar pelatihan bagi para calon wisudawannya. Menjelang pelaksanaan Wisuda Sarjana Periode III, UMM melalui Biro Kemahasiswaan kembali menggelar kegiatan bertajuk “Pelatihan Kiat Sukses Menghadapi Dunia Kerja dan Entrepreneurship” di Ruang Teater Dome UMM (2-3/8), diikuti sekitar 500 calon wisudawan UMM. Pelatihan tersebut menghadirkan pemateri-pemateri berkompeten, yaitu Kepala HRD Indofood Pandaan Nurul Fajariyani Afin, Staf BRI Cabang Malang Yundha Megawati, serta Kepala Bagian Pengembangan Karir Mahasiswa dan Alumni (PKMA) UMM Dwi Eko Waluyo. Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Ekonomi Nazaruddin Malik mengungkapkan bahwa yang mampu bertahan dalam kondisi sulitlah yang mampu mendapatkan hal baru. “Dunia terus berubah dengan dinamika lingkungan yang luar biasa. Siapa yang mampu mengatasi persoalan-persoalan, dialah yang mampu membuka kunci terobosanterobosan baru,” paparnya.

Nurul Fajariyani mengatakan ada banyak orang ingin sukses tetapi tidak mau bertindak mewujudkannya. “Kalau Anda hanya duduk-duduk saja, tidak melakukan apa-apa, maka Anda tidak akan menjadi apa-apa dan mendapat apa-apa,” ungkapnya. Dalam materi praktik wawancara, Yundha Megawati yang juga alumni UMM berpesan pada peserta untuk tidak menunggu kesempatan melainkan mencarinya. ”Kalau ingin berhasil maka jadilah yang terbaik. Kalau tidak bisa, jadilah yang pertama atau terdepan. Kalau tetap tidak bisa, maka jadilah yang paling beda,” jelas wanita berkerudung tersebut. Sedangkan Dwi Eko Waluyo mengajak peserta mengenali dan menggali kemampuan yang ada dalam diri untuk dikembangkan. Setiap individu, menurutnya, mempunyai potensi yang harus dimaksimalkan termasuk untuk berwirausaha. Anggapan bahwa berwirausaha memerlukan bakat dibantahnya. ”Salah jika dikatakan bahwa untuk melakukan kegiatan usaha adalah bakat. Berwirausaha itu sebuah keterampilan yang semua orang sebenarnya bisa lakukan,” paparnya saat menyampaikan materi tentang praktik potensi diri. p_zar

Yudisium FH Sidik Sunaryo:

Berlatih Wirausaha : Terlihat salah satu kelompok sedang mengatur strategi pemasaran penjualan jus yang mereka produksi.

“Yang Disiplin, Yang Berhasil” Fakultas Hukum (FH) UMM menggelar acara yudisium bagi para wisudawannya. Acara tersebut mengukuhkan kelulusan 38 mahasiswa FH yang hadir memenuhi Hall Cokroaminoto Hotel UMM Inn (6/8). Pembantu Dekan (PD) I FH Catur Wido Haruni membacakan ke-38 nama mahasiswa calon sarjana tersebut usai membacakan Surat Keputusan Dekan No. E.6/313/FHUMM/VIII/2010. Ia juga mengumumkan namanama wisudawan peraih peringkat lima terbaik fakultas. Kelimanya adalah Rifka Fajrina Anastasia dengan IPK 3,54, Yudha Pratama Putra dan Mega Fandita Sari (IPK 3,50), Santi Rahayu dan Irmanzah Rianto (IPK

3,49), Handoko Tri Wicahyo (IPK 3,47), dan Fiki Teguh Nur Prasetyo (IPK 3,38). Dekan FH UMM Sidik Sunaryo menuturkan bahwa prestasi sebagai wisudawan yang berhasil diraih para mahasiswa tersebut merupakan hasil jerih payah mereka selama menempuh perkuliahan di FH UMM. “Mereka adalah para mahasiswa yang disiplin, dan layak mendapatkan predikat atas kerja kerasnya itu. Yudisium ini adalah bentuk apresiasi fakultas terhadap mereka,” ungkap dosen yang turut mengantarkan FH UMM memperoleh akreditasi B pada tahun 1998 itu. Tak ketinggalan, para orang tua wisudawan yang juga turut hadir

dalam acara mengaku bangga atas prestasi yang telah dicapai putra-putrinya itu. Hal tersebut disampaikan Syafi’ie Alailurrahman, orang tua Rifka Fajrina Anastasia, saat memberikan sambutannya mewakili para orang tua wisudawan. Di awal sambutannya, Syafi’ie menyampaikan ucapan terima kasih kepada para dosen FH UMM yang telah memberikan yang terbaik bagi putra-putri mereka. “Terima kasih kami ucapkan kepada para bapak dan ibu dosen, karena kesabaran dan dedikasi bapak dan ibu telah berhasil mengantarkan putra-putri kami menuju gerbang keberhasilan ini,” ungkap guru SMA asal Situbondo itu. p_fjr

Yudisium Periode III Tahun 2010 – FE

Ekonomi Syariah Bukan Alternatif

deden/Bestari

Penghargaan: Para mahasiswa dan mahasiswi terbaik FE mendapatkan penghargaan berupa cinderamata.

“Krisis ekonomi yang kerap terjadi ditengarai diakibatkan ulah ekonomi konvensional yang mengedepankan sistem bunga sebagai instrumen profitnya. Berbeda dengan yang ditawarkan sistem ekonomi syariah dengan instrumen profitnya, yaitu sistem bagi hasil,” urai Erna Retno Rahadjeng, dosen Jurusan Manajemen UMM saat mengisi orasi ilmiah dalam acara Yudisium Periode III Tahun 2010 Fakultas Ekonomi (31/7). Acara tersebut diikuti 229 calon wisudawan yang terdiri dari 66 mahasiswa Jurusan Manajemen, 129 mahasiswa Jurusan Akuntansi, 22 dari

Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP), serta 12 orang dari D3 Manajemen Keuangan dan Perbankan. Dalam orasinya, Erna memaparkan bahwa sistem ekonomi syariah sangat cocok dikembangkan di Indonesia, melihat banyaknya penduduk muslim di Indonesia. “Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar, seharusnya Indonesia tidak kehilangan momentum untuk memajukan pertumbuhan ekonominya,” paparnya. Ia menegaskan sistem ekonomi syariah bukan lagi sebagai jalan alternatif dalam permasalahan ekonomi,

melainkan sebuah solusi. “Konsep ekonomi berbasis syariah dinilai lebih tahan terhadap guncangan krisis global yang terjadi secara mendunia karena guncangan krisis ekonomi global terjadi akibat fundamental ekonomi yang dimiliki banyak negara tidak kuat,” tambahnya. Selain itu, Erna melihat ekonomi syariah sebagai sistem ekonomi yang mampu menegakkan akhlak dalam aktivitas bisnis. “Ekonomi Syariah mengajarkan tegaknya nilai-nilai keadilan, kejujuran, transparansi, anti korupsi, dan anti eksploitasi. Artinya, misi utamanya adalah menegakkan nilai-nilai akhlak dalam aktivitas bisnis individu, perusahaan, ataupun negara,” paparnya. Dalam momen tersebut, mahasiswa Jurusan IESP yang menjadi wisudawan terbaik Fakultas Ekonomi, Nila Tri Naning Lestari, berkesempatan menyampaikan kesan dan pesannya. “Sukses tidak identik dengan tercapainya keinginan material dan kekayaan. Sukses sejati merupakan sukses yang mampu membuat kita bersyukur dan mampu membawa kebahagiaan bagi sesama,” tuturnya menyemangati 228 wisudawan lain yang memenuhi Aula BAU saat itu. p_emy

Yudisium FISIP

Lulusan FISIP Terbaik Universitas

Bertempat di Aula BAU (5/8), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM melepas 108 calon wisudawannya dalam acara Yudisium FISIP Periode III tahun 2010. Kali ini, FISIP layak berbangga hati karena salah satu lulusannya berhak atas predikat “Lulusan Terbaik Universitas”. Yudisium tersebut dihadiri Dekan FISIP Wahyudi, Pembantu Dekan (PD) I FISIP Saiman, PD II Sulismadi, PD III Abdullah Masmuh, serta jajaran dosen FISIP. Dari total 108 calon wisudawan, lulusan terbanyak periode ini berasal dari Jurusan Ilmu Komunikasi (Ikom), yaitu 76 mahasiswa. Sisanya adalah 13 mahasiswa Hubungan Internasional (HI), 8 mahasiswa Ilmu Pemerintahan (IP), 6 mahasiswa Sosiologi, dan 5 mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial (Kesos). Dalam momen tersebut juga diumumkan lulusan terbaik masingmasing jurusan. Lulusan terbaik Kesos diraih Effendy Mochtar Saputro dengan IPK 3, 29, terbaik Ikom diraih Lifiya Sandra Erlina dengan IPK 3,63, Risang Andhi Kusuma sebagai lulusan terbaik Jurusan IP dengan IPK 3,37, dan Ingga Lepa Sari sebagai lulusan terbaik Sosiologi dengan IPK 3,56.

Sedangkan lulusan terbaik HI, Inggried Christiansend Purnomo, berdasarkan Surat Keputusan Dekan FISIP UMM No. E.2.C/731/FISIP/ UMM/VIII/2010 yang dibacakan Wahyudi, berhasil menjadi lulusan terbaik FISIP. Selain itu, dengan IPK nyaris sempurna yaitu 3,92, putri kedua pasangan Heru Purnomo dan Lasmi itu sekaligus berhasil menjadi lulusan terbaik universitas. Di awal sambutannya, Wahyudi menyampaikan ucapan selamat kepada para calon wisudawan karena dinilainya telah berhasil melalui satu tantangan kehidupan, yaitu bangku kuliah. Pria lulusan S3 Sosiologi Universitas Indonesia tersebut mengingatkan, mahasiswa akan menghadapi tantangan yang sesungguhnya setelah terjun ke dalam masyarakat. Untuk itu, ia berpesan agar para calon wisudawan dapat menemukan nilai dirinya, serta dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat di bangku kuliah untuk dibagi kepada masyarakat. ”Mahasiswa harus mempunyai nilai diri, patuh, dan bertindak sesuai prinsip yang baik. Dengan begitu, ilmu mereka bisa diaplikasikan kepada masyarakat,” pungkasnya. p_fjr

Yudisium: Sebanyak 108 mahasiswa FISIP mengikuti yudisum yang dilaksanakan di Auditorium 2.

deden/Bestari


BESTARI No. 265/TH.XXIII/Agustus/2010

SUARA KAMPUS

Layanan Pengobatan Gratis Berbuah Senyum Manis

fidha/Bestari

Satu bulan berbaur dengan masyarakat, kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 1 menggelar program sosial “Pengobatan Gratis” bagi warga tidak mampu (1/8). Dengan target 600 pasien, panitia membagi lokasi pengobatan di dua titik yaitu di SDN 03 Dusun Kebonsari Ngebruk dan SDN 04 Dusun Krajan Ngebruk Sumberpucung Malang. Kegiatan tersebut melibatkan tenaga medis dari Fakultas Kedokteran UMM yang tergabung dalam tim UMM Medical Center (UMC). Antusiasme warga membuat kedua

Pengobatan Gratis : Mahasiswi semester 3 FK UMM Salahuddin saat memeriksa pasien pengobatan gratis oleh peserta KKN kelompok 1 di Desa Sumber Pucung(1/8).

pos pengobatan ramai didatangi warga. Pasien pengobatan gratis yang didominasi warga berusia lanjut tersebut sebelumnya mendapatkan kartu yang dibagikan panitia melalui perangkat desa. Selain pengobatan, panitia juga menyediakan jasa penjemputan dengan menggunakan mobil ambulance UMC bagi warga yang rumahnya jauh, juga bagi warga yang dikarenakan sakitnya tidak bisa berjalan ke lokasi pengobatan. “Tujuan acara ini untuk meningkatkan kualitas kesehatan warga sekitar, terutama yang kurang mampu

dan belum tersentuh oleh pengobatanpengobatan yang ada di puskesmas,” ungkap ketua panitia, Muhammad Yusuf Ginanjar yang juga mahasiswa Fakultas Kedokteran UMM. Melihat animo masyarakat yang tinggi, salah satu anggota tim UMC, Anton, mengaku bangga. Ia berpendapat, pelayanan kesehatan perlu dimaknai dari hal yang paling mendasar, yaitu terjangkaunya masyarakat miskin, sehingga sehat tidak lagi menjadi sesuatu yang mahal. “Berbicara masalah penyakit adalah sesuatu holistik. Karenanya kita perlu melihatnya secara sosial ekonomi, budaya bisa, jadi kita melihat secara detail,” tandas. Warga merespon baik kegiatan sosial tersebut. Mereka mengakui mahasiswa KKN yang setiap tahun diterjunkan di Desa Ngebruk mampu memberikan manfaat yang bisa secara langsung dan nyata dirasakan warga. “Wonten KKN anak kulo purun diwuruki sinau, lare-lare seneng kaleh KKN (Ada KKN, anak saya jadi mau diajak belajar. Anak-anak senang dengan adanya KKN. red),” papar Lilik sambil tersenyum saat mendapatkan pengobatan gratis. p_raf

Berwisata, Belajar, Berbagi Keceriaan

Sebagai wujud pengabdian kepada masyarakat, Kuliah Kerja Nyata Khusus (KKN-K) UMM kelompok 70 A mengadakan kegiatan “Wisata Kampus” bagi anak-anak asuh Panti Asuhan Bina Sejahtera Aisyiyah Batu, di Kampus III UMM (20/7). Acara yang dikemas dalam bentuk outbound tersebut diikuti oleh 23 anak. “Tujuan kegiatan ini untuk mengasah kepercayaan diri anak-anak,” ungkap Ali Azzam Burhani selaku koordinator KKN-K Kelompok 70 A itu. Azzam, demikian ia disapa, menuturkan bahwa materi yang diberikan dalam outbound meliputi kekompakan, kom-

petisi secara sehat, serta kepercayaan diri. Dalam kegiatan tersebut, beberapa area di Kampus III UMM dijadikan pos-pos. “Selain itu, kami bekerjasama dengan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa. red) Dimpa (Divisi Mahasiswa Pecinta Alam. red) untuk mengadakan kegiatan arung jeram,” tambahnya. “Anak-anak juga akan kita ajak berkunjung ke Laboratorium Perikanan. Tujuannya untuk mengasah kemampuan budidaya perikanan serta menumbuhkan jiwa entrepreneurship mereka sejak dini,” jelasnya di selasela outbound. “Di panti kan juga ada kolam ikannya. Harapannya nanti

anak-anak bisa mengelolanya,” lanjut mantan ketua umum UKM Jamaah A.R. Fachruddin (JF) itu. Selain itu, Azzam mengungkapkan beberapa kegiatan lain yang juga menjadi program KKN-K kelompok 70 A, yakni program psikologi anak dan bimbingan ibadah. “Bimbingan psikologi anak dimaksudkan untuk memotivasi anak agar tidak memiliki rasa minder dan berani bercita-cita tinggi. Sedangkan bimbingan ibadah bertujuan mendorong mereka agar mampu menjalankan ibadah dengan benar, seperti membaca Alquran, solat, dan wudu,” jelasnya mengakhiri. m_rif

Sehat Tanpa Mahal, Warga Senang Menyadari pentingnya kesehatan bagi masyarakat, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 35 UMM mengadakan bakti sosial berupa pengobatan gratis bagi masyarakat sekitar Desa Waringinanom Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang (24/7). Tim medis yang didatangkan dalam kegiatan sosial tersebut terdiri dari empat mahasiswa semester IV Fakultas Kedokteran (FK) UMM dan satu dokter umum yang juga alumni FK UMM. Tingginya animo masyarakat terhadap aksi sosial tersebut dapat dilihat dari banyaknya warga yang mengantri sejak pengobatan dibuka pada pukul 11.00 WIB. Mereka yang datang untuk berobat

kebanyakan berusia lanjut. Sebelum diadakan pengobatan gratis itu, pantia pelaksana bekerjasama dengan Ketua Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) setempat melakukan survei untuk mengetahui jenis penyakit yang paling banyak diderita warga. “Setelah itu, panitia membagikan kupon sebagai undangan dalam program pengobatan gratis,” terang ketua kegiatan, Nikonang Sri Wersita Dewi. Wersita, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil survei tersebut penyakit yang paling banyak diderita masyarakat Desa Waringinanom adalah darah tinggi (hipertensi). “Jadi kami disini bersama

tim medis membantu masyarakat untuk mengecek tekanan darah dan keluhan penyakit yang mereka alami,” lanjutnya. Lebih jauh Wersita berharap melalui kegiatan pengobatan gratis tersebut kesehatan masyarakat bisa lebih terjamin. “Kita harapkan program ini tepat sasaran dan bermanfaat dalam menyehatkan masyarakat,” pungkasnya. Sugihariadi, salah satu warga Waringinanom tampak senang dan bersyukur dengan adanya pengobatan gratis itu. “Alhamdulillah dapat membantu, sehingga saya tidak perlu lagi bayar mahal ke rumah sakit,” ungkapnya tersenyum. m_mam

PelanƟkan Fungsionaris Mahasiswa FE

Empati dalam Kepemimpinan yang Peka Pelantikan para fungsionaris organisasi mahasiswa masa bakti 20102011 mengawali dimulainya tahun ajaran baru 2010-2011 di lingkungan Fakultas Ekonomi (FE) UMM. Nazarudin Malik selaku Dekan Fakultas Ekonomi secara resmi mengukuhkan para aktivis mahasiswa tersebut di Ruang Sidang Fakultas Ekonomi UMM (18/7). Dalam sambutanya Nazar memaparkan bahwa para fungsionaris organisasi intra FE UMM merupakan elit mahasiswa yang dapat dijadikan representasi kehidupan masyarakat mahasiswa di Kampus Putih. Kemampuan kepemimpinan mereka

akan diasah melalui program kerja organisasi. “Dalam setahun ke depan, mereka diharapkan menjadi pemimpin yang lebih mampu bersikap fleksibel dan mempunyai rasa empati yang tinggi, sehingga lebih peka terhadap lingkungan sekitar,” tandas pria berkacamata itu. Penyerahan Surat Keputusan (SK) secara simbolis dilakukan oleh Nazarudin Malik kepada Rhoma Dhona sebagai Gubernur Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Febrianto Hanafi sebagai Ketua Senat Fakultas (Sefa), serta para Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) dan Lembaga Semi Otonom

(LSO) FE UMM periode 20102011. Dalam sambutannya, Rhoma berterima kasih kepada segenap sivitas akademika FE UMM yang memberikannya kesempatan berperan aktif merangkul mahasiswa UMM, baik aktivis maupun non aktivis dalam upaya menunjukkan eksistensi mahasiswa sebagai agent of change. Ketua Komisi Pemilu Raya Fakultas (KPRF) Ekonomi, Fauzul Mubin menjelaskan, para aktivis yang dilantik merupakan mahasiswa yang telah terpilih secara sah dalam Pemilu Raya UMM 2010-2011 (14-15/6). p_fjr

11

Wacanakan Kesetaraan Pendidikan Lewat Lokakarya Menunjukkan kepeduliannya pada pendidikan masyarakat, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Khusus (KKN-K) UMM Kelompok 70 B menggelar Lokakarya Pelatihan Peningkatan Kualitas Pengelola dan Tutor Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Laboratorium Manajemen Fakultas Ekonomi UMM (28/7). Kegiatan yang mendapat dukungan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UMM dan Dinas Pendidikan Kota Malang itu dihadiri oleh 14 perwakilan PKBM seKota Malang. Dalam sambutannya, Wakil Direktur II Bidang Pengabdian kepada Masyarakat DPPM UMM, Adi Sutanto mengungkapkan kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya peningkatan mutu pendidikan. Pasalnya, tak lama lagi PKBM akan diakreditasi nasional. “Dengan begitu, nantinya PKBM bisa berkembang dan berdaya saing tinggi,” ujarnya. Kepala Bidang Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) Dinas Pendidikan Kota Malang, Siti Ratnawati menjelaskan bahwa saat ini PNFI telah bekerja sama dengan Universitas Negeri Malang untuk mengembangkan dan meningkatkan mutu PNFI. Ke depannya, PNFI berharap dapat bekerja sama den-

gan UMM untuk peningkatan program kesetaraan pendidikan di Kota Malang. “Minimal sebulan sekali ada pertemuan untuk melihat hal-hal yang dianggap kurang,” tandasnya. Ditambahkan Ratna, sapaan akrab Siti Ratnawati, di Kota Malang saat ini telah ada tujuh PKBM, yaitu PKBM Ki Hajar Dewantara, Srikandi, Kartini, Paramitha, Zam-zam, Kendedes, dan Sabilunnajah dengan total jumlah tutor mencapai 204 orang. Sementara itu, Kepala Seksi Kelembagaan PNFI Dinas Pendidikan Kota Malang, Heri Wiyono memaparkan bahwa Kota Malang akan dijadikan sentral institusi penyelenggara pendidikan informal. “Oleh karena itu, lembaga PKBM yang ada harus memiliki Nomor Induk Lembaga (Nilem) yang menjadi salah satu syarat akreditasi,” lanjutnya. Selain itu, pendidikan informal menurut Heri dapat melengkapi dan menambah apa yang didapat dari pendidikan formal. Direktur DPPM UMM, Bambang Widagdo dalam kegiatan tersebut berkesempatan memberikan kiat-kiat sukses melalui peningkatan efektivitas diri. “Ini jangan digunakan untuk mengukur orang lain, tapi untuk mengukur diri sendiri dulu,” ujarnya yang segera diamini peserta lokakarya. p_lin

fidha/Bestari

Kesetaraan Pendidikan: Kabid Pendidikan Informal Siti Ratnawati (kiri) dan Kasi Kelembagaan Pendidikan Informal Malang Hery Wiyono (kanan) saat memberi materi dalam Lokakarya Penelitian Kualitas Pengelola dan Tutor PKBM,(28/7).

Calistung dan Kewirausahaan untuk Para Buta Aksara Kegiatan yang digelar mahasiswa Kelompok 8 Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) UMM di Balai Desa Pagak (29/7) tampak serius. Para mahasiswa tersebut menyelenggarakan penyuluhan kewirausahaan sebagai kegiatan pendukung “Keaksaraan Usaha Mandiri” (KUM), program pemerintah di bawah naungan Direktorat Pendidikan Masyarakat Direktorat Jendral Pendidikan NonFormal dan Informal (PNFI) Kementerian Pendidikan Masyarakat (KPM). Program KUM menitikberatkan kegiatannya pada Warga Belajar (WB). Para peserta WB yang mayoritas buta aksara, selain diajarkan membaca, menulis, berhitung, berbicara, dan mendengarkan (calistungradeng) dengan baik, juga diberikan fasilitas penyuluhan kewirausahaan yang bekerjasama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Kabupaten Malang. Untuk itu, tak hanya mengundang penggerak PKK dan Karang Taruna, kegiatan tersebut juga mengikutsertakan masyarakat peserta program pendidikan nonformal WB tersebut. Subdit Kemitraan Direktorat Pendidikan Masyarakat Direktorat Jendral PNFI KPM, Rudi Miswanto mengharapkan kegiatan KUM tersebut dapat terus dikelola, mengingat tersedianya anggaran untuk program

pemberantasan buta aksara. “Warga biasanya mendapat dana segar dalam bentuk BLT, namun kini mereka dididik untuk dapat mengelola fasilitas usaha,” jelasnya saat melakukan monitoring di lokasi KKN. Kepala Desa Pagak, Mu’asan, berharap penyuluhan kewirausahaan tersebut dapat mengajarkan kemandirian terhadap warga melalui wirausaha. “Warga terbiasa bekerja tanpa menggunakan teori dan skill yang bagus. Dengan penyuluhan ini, masyarakat akan dapat meningkatkan perekonomiannya,” harapnya. Sementara koordinator desa, Chaidhir Bustomi mengungkapkan penyuluhan tersebut diharapkan dapat menggali kearifan lokal desa di bidang perekonomian. “Warga masih tergantung pada hasil perkebunan tebu, padahal masih banyak potensi desa yang belum dikelola dengan baik,” ujarnya. Ketua KKN-Pemberantasan Buta Aksara (PBA) UMM, Moch. Agus Krisno menegaskan kegiatan KKN bukan hanya sebagai bentuk pengabdian pada masyarakat, namun juga untuk memberikan solusi kepada masyarakat, khususnya yang masih terkendala buta aksara. “Sebagai leading sector dalam bidang PBA, kami terus berkomitmen untuk terus memberantas buta aksara melalui Gerakan Nasional Perguruan Tinggi Pemberantasan Buta Aksara (GNPTPBA),” pungkasnya. fbr


12 BESTARI

LAPORAN UTAMA

No. 265/TH.XXIII/Agustus/2010

Fenomena Pusat Perbelanjaan di Kawasan Pendidikan

Keberadaan Strategis, Efek Dilematis Kemajuan suatu wilayah bisa dilihat dari kemudahan akses terhadap fasilitas bagi masyarakatnya, salah satunya dalam bidang ekonomi misalnya akses terhadap pusat perbelanjaan. Namun, berdirinya pusat pembelajaan seperti mall di tengah kawasan yang dipenuhi lembaga pendidikan menjadikan dua ranah ini bergesekan. Dampak yang ditimbulkan pun beragam, ada yang negatif, tetapi tidak sedikit pula yang positif. Dari masyarakatnya sendiri ada yang pro dan ada pula yang kontra. Salah satu citra yang ditampilkan Kota Malang selama ini adalah Malang Kota Pendidikan. Ini tidak mengherankan karena Malang dipenuhi oleh berbagai sekolah, kampus perguruan tinggi (PT), lembaga pendidikan non formal atau tempattempat kursus, serta sejumlah pondok pesantren. Data yang tercatat dalam situs resmi Pemerintah Kota (Pemkot) Malang www.pemkot-malang.go.id menyebutkan setidaknya ada sebanyak 259 sekolah Taman KanakKanak (TK), 273 Sekolah Dasar (SD), 90 Sekolah Menengah Pertama (SMP), 48 Sekolah Menengah Atas (SMA), dan 52 PT. Tidak hanya itu, Malang juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang yang memadai untuk pendidikan seperti tempat pemondokan, toko buku, supermarket, plaza, pusat pelayananan kesehatan masyarakat, serta fasilitas penunjang lainnya. Yang tidak kalah penting adalah adanya angkutan umum (transpotasi) yang memiliki 25 jalur dan menghubungkan tiga terminal yang ada di Kota Malang, yaitu terminal Arjosari (arah Surabaya), terminal Gadang (arah Blitar), terminal Landungsari (arah Jombang da Kediri). Ada Pro-Kontra Namun, seakan ingin segera menjadi kota metropolitan, berbagai macam bangunan baru tumbuh subur di Malang termasuk pusatpusat perbelanjaan. Hanya saja, lokasi yang dipilih untuk mendirikan bangunan-bangunan ini justru dekat dengan pusat-pusat pendidikan seperti sekolah dan kampus. Ruang lingkup Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2001 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Malang Tahun 2001-2011 mencakup strategi dan kebijakan pengembangan wilayah Kota Malang; RTRW Kota Malang dan Ketentuan pemanfaatan dan pengendalian ruang. Kebijakan RTRW Kota Malang dimaksudkan untuk mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan antar wilayah serta keserasian antar sektor dan dijadikan acuan bagi instansi pemerintah dan masyarakat untuk mengarahkan lokasi dan memanfaatkan ruang daratan dan udara. Tujuan RTRW Kota Malang adalah pemanfaatan ruang wilayah untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan yang diwujudkan dalam RTRW yang berkualitas; terselenggaranya pemanfaatan ruang wilayah yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan sesuai dengan kemampuan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup serta kebijakan pembangunan nasional dan daerah; terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budi daya dan kawasan tertentu yang ada di daerah; terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia; dan terwujudnya kehidupan masyarakat yang sejahtera. Sebuah penelitian pernah dilakukan oleh seorang mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM terkait dengan pembangunan mall di dekat kawasan pendidikan di Malang pada 2005. Dari keseluruhan kajian studi dapat disimpulkan bahwa pembangunan salah satu mall di Jalan Veteran tidak sesuai dengan Peraturan Daerah No. 7 Tahun 2001 Tentang

deden/Bestari

Pro-Kontra: Pembangunan pusat perbelanjaan di Kota Malang sempat menimbulkan pro dan kontra dilingkungan tempat bangunan tersebut didirikan.

RTRW Kota Malang 2001-2011 yang telah ditetapkan karena di dalam RTRW tidak ditemukan dasar hukum yang dapat dijadikan legitimasi dalam pemberian izin pembangunan. Bertambahnya bangunan mall di kota Malang juga mengundang berbagai respon dari masyarakat, salah satunya dari kalangan mahasiswa. Merujuk berita yang dilansir detikNews.com (26/05/2005) pada awal pendirian mall, ada aksi yang dimotori mahasiswa bernama Nurhadi yang mengajak sesama mahasiswa untuk menolak pembangunan mall tersebut di kawasan pendidikan. Sementara itu, Ramadani Al Barauwi, mantan Aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMM yang saat itu juga ikut aksi demo bersama aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) sampai saat ini memilih tidak mengunjungi mall tersebut. “Saya sendiri menentang sifat konsumerisme, makanya saya tidak akan ke mall itu,” ungkapnya. Menurutnya ada tiga alasan yang membuatnya tidak setuju terhadap pembangunan mall yang diresmikan pada tahun 2005 tersebut. Pertama, di situ adalah kawasan pendidikan. Kedua, wilayah bangunan termasuk RTH. Ketiga, persoalan lingkungan sosial. Dani menambahkan, selain alasan yang telah disebutkan, di daerah yang sekarang tengah berdiri mall megah dulu banyak terdapat tempat untuk berdiskusi bagi mahasiswa sehingga banyak mahasiswa yang menentang pembangunannya. Alasan Pemerataan Pembangunan Sementara itu, Oong Ngoedijono selaku Kepala Sub Bidang Dinas Tata Ruang Kota Malang menjelaskan, tata ruang kota yang ideal adalah yang sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah yang telah ditentukan melalui pertimbangan-pertimbangan pihak yang berwenang dan melalui dinas-dinas terkait dan dalam proses perizinan yang panjang. ”Semua didasari prinsip pelayanan kepada masyarakat, bukan pelayanan pembangunan kota,” ungkapnya. Oong menambahkan, kota yang ideal harus memiliki sekurangkurangnya 30 persen daerah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Namun, iIa memberikan pengecualian bahwa

pengurangan RTH tidak menjadi Dinas Tata Ruang Kota Malang, masalah asalkan didasari pemerataan Ferry Andriono menambahkan, di pembangunan dan dapat menghindari dalam RTRW Kota Malang tidak kemacetan. ”Intinya, RTRW dibuat ada kawasan khusus karena akan untuk mengatur perkembangan kota berbenturan dengan pemerataan supaya tidak bertumpuk pada satu pembangunan. ”Secara peraturan wilayah, supaya orang tidak jauh- tata ruang, tata ruang kota harus jauh lagi untuk pergi belanja dan mencakup kebutuhan masyarakat luas mendapatkan pendidikan. Semuanya yang kriterianya adalah ekonomis, untuk pelayanan publik dan efektif, merata, mudah dijangkau, dan menghindari kemacetan,” urainya. ada transportasi,” ujarnya. Sedangkan untuk Sementara itu, wilayah pendidikan menurut salah satu Staf Kota yang ideal harus yang ideal, pria yang Bidang Tata Ruang memiliki sekurangbaru menjabat tiga Pemkot Malang yang kurangnya 30 persen bulan di Sub Bidang tidak mau disebutkan daerah Ruang Terbuka Dinas Tata Ruang identitasnya, pendirian Hijau (RTH), kecuali itu menjelaskan tidak mall di daerah Jalan didasari pemerataan ada kriteria tertentu Veteran tersebut bukan pembangunan dan untuk kawasan pada area pendidikan. dapat menghindari pendidikan. ”Semua Ia mengatakan bahwa kemacetan" kawasan pendidikan Pemkot Malang tidak diratakan di selumelakukan Oong Ngoedijono mungkin Kepala Sub Bidang Dinas Tata Ruang Kota Malang kekeliruan karena semua ruh kawasan kota Malang, bahkan pendirian bangunan yang akhir-akhir ini Pemkot Malang sedang ada di Malang ini telah melalui prosedur membangun sekolah internasional yang benar. “Pemkot tidak mungkin di kawasan timur Kota Malang. Hal gegabah. Semua mengikuti peraturan, itu membuktikan jika pemerataan selama itu tidak mengurangi RTH,” pembangunan menjadi pertimbangan ungkapnya. utama,” jelasnya. Menurut peta tata ruang yang ada Menanggapi isu yang berkembang sekarang, Kecamatan Sukun dan Kesejak tahun 2005 silam, yakni masalah dungkandang termasuk kawasan RTH pro kontra pembangunan salah pusat yang paling luas, sedangkan Kecamatan perbelanjaan di kawasan pendidikan dan Lowokwaru dan Klojen sebagai kawaRTH tersebut, Oong menanggapi, tidak san padat. Tata ruang di wilayah Kota ada yang salah dengan pembangunannya. Malang sendiri sudah merata, meskipun Ia menilai Pemkot setempat ketika memu- tidak ada kejelasan atau batasan antara tuskan sudah melalui beberapa pertim- kawasan pendidikan, kawasan industri, bangan dari pihak-pihak yang berwenang dan kawasan wisata. “Prinsipnya dan melalui dinas-dinas terkait dengan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah. Tata ruang yang sekarang ini proses yang panjang. ”Secara tata ruang pembangunan sudah ideal,” tegas staf tersebut. Disinggung mengenai pro kontra mall di daerah itu diizinkan. Jadi, yang salah bukan keberadaan mall, tetapi pada awal pendirian salah satu mall, permasalahannya adalah lahan parkir ia mengatakan bahwa hal itu memang mall tersebut yang kurang sehingga biasa terjadi, karena mall tersebut mengakibatkan kemacetan, sama juga adalah mall yang pertama kali seperti bangunan yang lain yang kurang didirikan di Kota Malang. “Pada awal pendirian mall misalnya, wajar saja persiapan lahan parkir,” tukasnya. Oong menegaskan bahwa ada demo. Namun, setelah mall itu semua kebijakan yang dibuat oleh berdiri dan berkembang, semua orang Pemkot pasti melalui pertimbangan mulai dari kalangan bawah hingga panjang dan ada aturan mainnya. kalangan atas turut menikmatinya, ”Semua pertimbangan adalah termasuk mahasiswa yang ikut untuk peningkatan Pinpoint Research berdemo kala itu,” ungkapnya. and Databases (PRD) kota yang diutamakan untuk kesejahteraan Kota Lolos Perizinan Pendirian sebuah bangunan publik Malang,” elaknya. Sependapat dengan Oong, staf pasti melalui proses perizinan. Di luar

"

yang kontra, pihak pro beralasan ini semua demi kepentingan ekonomi masyarakat banyak. Arif Hidayat, Kepala Bagian Pekerjaan Umum Pemerintah Kota Malang, mengatakan bahwa perizinan itu memiliki obyek tersendiri. “Izin itu masing-masing mempunyai obyek. Jika izinnya untuk mendirikan bangunan, obyeknya ya bangunan. Jika untuk keramaian obyeknya ya penyelenggaraan keramaian,” tuturnya. Arif juga menjelaskan, tugas dari Badan Perizinan dan Pelayanan Terpadu (BP2T) Kota Malang adalah sebagai alat instrumen negara yang mengurusi perizinan pembangunan. “Izin itu kan filosofinya adalah instrumen negara yang berfungsi sebagai alat pengatur, penata, dan pengendali. Jadi, masingmasing izin ada obyek yang akan diatur dan ditata,” ungkapnya. “Kalau izin yang dikeluarkan adalah izin berdagang roti misalnya, maka orang yang mengajukan harus jualan roti. Jika ada perubahan dari yang telah disepakati, otomatis izin tersebut tidak berlaku karena izin itu berlaku pada aktivitas yang sudah ditetapkan dalam Surat Keputusan,” ujarnya mengumpamakan. Menurutnya, syarat-syarat mendapatkan izin mendirikan bangunan di antaranya adalah legalisir fotokopi dokumen kepemilikan lahan, gambar, obyek bangunan, fotokopi Kartu Tanda penduduk (KTP) pemohon, advice planning yang harus dimintakan. Dalam hal pemberian sanksi kepada pihak yang terbukti melanggar perjanjian, Arif sendiri mengatakan, Dinas Perizinan tidak berhak untuk menjatuhkan sanksi kepada pihakpihak yang bersalah. “Yang berhak memberikan sanksi adalah Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Perizinan hanya bertugas memberikan permohonan, proses, dan menerbitkan jika memenuhi syarat. Jika tidak, ya tidak akan diterbitkan,” jelasnya. Ketika ditanyakan mengenai awal proses pendirian mall yang banyak menuai sikap kontra dari para aktivis lingkungan, Arif membantah jika kawasan yang saat ini sedang berdiri mall tersebut adalah kawasan RTH. “Jika memang sebuah kawasan sudah ditetapkan sebagai RTH, jelas itu tidak boleh difungsikan untuk kepentingan lain,” tegasnya. rjb/m_mam/ufa


BESTARI No. 265/TH.XXIII/Agustus/2010

LAPORAN UTAMA

13

Untung Rugi Dihitung Sendiri Semua sudah terjadi. Bangunan telah berdiri. Bagi beberapa pihak sekolah sendiri, mereka menerapkan aturan agar ekses negatif budaya yang ditularkan lewat gaya hidup konsumtif bisa diminimalkan atau paling tidak terkurangi. Sementara itu, selain bisa menikmati keberadaan fasilitas ini, masyarakat juga mendapatkan “harga” yang harus dibayar. Menurut Toni, Ketua RT 5, Desa Penanggungan yang kebetulan juga rumahnya tidak terlalu jauh dari salah satu mall di Malang mengungkapkan, berdirinya mall tersebut yang mengundang berbagai macam kalangan pergi kesana memberikan peluang terjadinya gangguan keamanan seperti pencurian dan penjambretan. Bahkan, Toni mengaku baru-baru ini menjumpai seorang pencuri perempuan yang mencuri barang di masjid samping mall. “Sebelum mall itu didirikan, tindakan melanggar hukum seperti itu jarang pernah terjadi,” ujarnya. Namun, meski dia tidak setuju dengan berdirinya mall tersebut di dekat lingkungan pelajar, dia menyatakan bahwa semua tergantung individunya. “Jika niat belajar, mereka tidak akan terpengaruh oleh hal semacam itu,” ucapnya. Perubahan lain yang dirasakan adalah akses kendaraan yang sering mengalami kemacetan, apalagi ketika ada bus pariwisata yang datang. Bus-bus pariwisata yang datang itu sering parkir dengan cara memotong jalan di ganggang lingkungan Desa Penanggungan. Hal ini juga akibat dari tidak adanya lahan parkir untuk bus di area parkiran mall. Ambil Manfaatnya Karena pendirian pusat perbelanjaan sudah menjadi fakta yang tidak bisa disembunyikan dari jangkauan pelajar, beberapa sekolah berusaha semaksimal mungkin agar siswanya tidak terpengarus dengan memanfaatkan semua tenaga yang ada. Sri Yulianto, misalnya. Pengajar SMKN 2 Malang itu mengungkapkan, sejak berdirinya pusat perbelanjaan di depan tempatnya mengabdi tersebut tidak terdapat pengaruh yang signifikan terhadap aktifitas pendidikan dan pembe-

deden/Bestari

Padat: Padatnya akses kendaraan di gang dekat pusat perbelanjaan menyebabkan warga merasa terganggu.

lajaran di sekolah. “Pihak sekolah memberlakukan adanya guru piket dan guru tata tertib untuk mengawasi siswa pada jam-jam pelajaran sehingga mereka tidak bisa membolos,” tegasnya lebih lanjut. Ia menambahkan bahwa memang terdapat dampak negatif dan positif dengan berdirinya mall di dekat sekolah, namun sekolah berusaha untuk mengambil manfaatnya saja. Ia mengaku adanya mall justru menjadi daya tarik tersendiri pada lingkungan pendidikannya. “Dengan adanya mall tersebut sekolah ini bisa mudah ditemukan,” ungkap wakil kepala sekolah SMKN 2 Malang itu. Pria yang sejak tahun 2000 ditempatkan di SMKN 2 itu mencontohkan, seringkali banyak masyarakat dari luar seperti Surabaya yang bertanya mengenai letak SMKN 2 Malang dan keberadaan mall tersebut menjadi petunjuk sehingga mudah untuk menemukannya. Selain itu, siswasiswanya bisa praktek magang di sana untuk mengembangkan bidang keahlian usaha jasa pariwisata, perhotelan, restoran, kesehatan, maupun sosial, dan

lain-lain. Sementara itu, Mubassyir, guru agama SMAN 8 Malang mengatakan, sebelum ataupun sesudah mall didirikan tidak memberikan pengaruh terhadap aktifitas pendidikan dan moralitas siswanya. Ia mengatakan kuncinya adalah lembaga pendidikan mampu memberi ‘benteng’ baik fisik maupun non-fisik kepada siswa. Ia menambahkan, pihak sekolah terus melakukan upaya preventif untuk membentengi sekolah dengan adanya satpam yang menjaga di pagar serta staf dan pengajar memberikan motivasi positif, menuntun pemikirannya, dan menasehati siswa. Pria yang sejak tahun 1981 bertugas di SMAN 8 tersebut mengakatan, upaya pencegahan tersebut juga dilakukan dengan tidak memberikan jam kosong kepada siswa. Pintu gerbang diupayakan selalu tertutup dan selalu ada penjagaan satpam. “Siswa sendiri juga merasa riskan untuk kesana (mall, red.), apalagi sekolah memiliki tata tertib yang wajib dipatuhi,” imbuhnya. Tidak jauh berbeda dengan

Mubassyir, Sukirman, guru agama di SMPN 4 Malang, juga menjelaskan bahwa berdirinya mall sejak 2005 dan juga mall yang sedang dibangun tidak berpengaruh terhadap aktifitas pengajaran dan belajar mengajar di SMP-nya. Program-program yang dilakukan pihak sekolah agar siswa tidak terpengaruh efek negatif yang mungkin timbul dengan adanya pusat perbelanjaan salah satunya adalah dengan mengaktifkan kegiatan keagamaan baik ekstra maupun intra serta membentuk tim pendampingan atau mentoring. Pria asli Malang tersebut mengungkapkan, tahun 2005 sebelum berdirinya mall di depan sekolah yang berlokasi di jalan Veteran 34 tersebut sebenarnya telah dimintai izin oleh pihak pengembang. Tapi untuk mall yang baru selesai dibangun di sebelahnya tidak meminta izin. Pria yang telah delapan tahun mengajar di SMPN 4 tersebut menambahkan, Peraturan Daerah memang melarang berdirinya mall di sekitar sekolah. “Tapi dengan permainan di kekuasaan semua kan bisa terjadi,” tukasnya.

Tetap Ada Pengaruh Jika pihak sekolah merasa sistem yang dibangunnya sudah cukup membentengi siswa, bagi pelajar keberadaan pusat perbelanjaan yang menawarkan segalanya mulai dari kebutuhan terhadap barang hingga hiburan menjadi tantangan tersendiri. Diakui Chalim Khaffa, palajar MAN 3 Malang, berdirinya mall di lingkungan pelajar membuat konsetrasi belajarnya sedikit terpecah. Begitu juga dengan teman-temannya. Misalnya ketika hari Sabtu pelajar MAN 3 Malang sering menonton film bioskop di mall. “Jaraknya juga dekat, jadi lebih mudah untuk pergi ke sana,” ujarnya. Senada dengan Chalim, Arif Rahman Hakim Polinggappo, ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi salah satu universitas di Malang, mengatakan bahwa pendirian mall di lingkungan pendidikan tidak dapat dibenarkan. Menurutnya, hal tersebut mendorong perubahan kondisi lingkungan sosial masyarakat baik pada sikap, perilaku, maupun interaksi. Arif menambahkan, iklim pendidikan yang kondusif akan sulit dibangun dengan maksimal. Artinya, baik pelajar maupun mahasiswa akan sangat tergiur menghabiskan waktu dalam keramaian pusat perbelanjaan. Pria kelahiran Gorontallo tersebut juga menyatakan gaya hidup pelajar atau mahasiswa yang sering ke mall tentu berdampak pada keseriusan mereka dalam menuntut ilmu. “Pada intinya beridirnya mall tersebut di kawasan pendidikan dapat merusak iklim pendidikan,” jelasnya. Ungkapan yang tidak jauh beda juga disampaikan Muhammad Choirudin Joyo Negoro, alumni salah satu universitas di Malang, yang kemudian menghimbau para pelajar dan mahasiswa agar dapat mengatur waktu dengan baik dan memanfaatkannya dengan kegiatan yang bermanfaat. Joyo menambahkan, pelajar yang lebih suka menghabiskan waktunya di mall cenderung bepikiran apatis dengan kondisi lingkungannya. ”Mereka tidak peka terhadap kondisi sekitar mereka, bersikap acuh, dan mempunyai egoisitas tinggi,” komentarnya. p_ino/jam/ben

Mall Mulai Menjamur Kota Malang, sebuah Kota di Propinsi Jawa Timur, Indonesia, ini berada di dataran tinggi yang cukup sejuk, terletak 90 km sebelah selatan Kota Surabaya dengan wilayah dikelilingi Kabupaten Malang. Seperti halnya kebanyakan kotakota lain di Indonesia pada umumnya, Kota malang mulai tumbuh dan berkembang setelah hadirnya pemerintah kolonial Belanda, terutama ketika mulai dioperasikannya jalur kereta api pada tahun 1879. Berbagai kebutuhan masyarakat pun semakin meningkat terutama ruang gerak untuk melakukan berbagai kegiatan. Akibatnya, terjadilah perubahan tata guna tanah, daerah yang terbangun bermunculan tanpa kendali. Perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat, seperti dari fungsi pertanian menjadi perumahan dan industri. Dalam pembangunannya, Malang sekarang terindikasikan mengembangkan sektor bisnis. Malang Town Square (Matos), misalnya. Inilah mall yang cukup besar yang berdiri tahun 2005 di Malang. Matos terletak di kawasan Malang kota, dekat dengan kampus Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang, tepatnya

di Jalan Veteran. Sebagaimana mall umumnya, Matos menawarkan berbagai macam fasilitas hiburan dan barang. Selain gedung bioskop, Matos juga dilengkapi dengan tempat bermain anak-anak Time Zone, dan berbagai macam gerai, mulai dari makanan dan minuman, fashion, perhiasan, tas, elektronik, kamera, dan sport. Setelah Matos berdiri, tiga tahun kemudian disusul dengan berdirinya Mall Olympic Garden (MOG) pada 2008 yang terletak di area stadion Gajayana Malang. Kehadiran MOG semakin menunjukkan betapa pesatnya perkembangan di kota dingin Malang. MOG juga dapat dipastikan sebagai salah satu mall terbesar dan terluas di kota Malang saat ini yang lokasinya pun masih berada di pusat kota. Dua tahun berselang, sebuah mall baru berbanderol nama MX berdiri tepat di samping Matos. Keduanya sangat berdekatan dengan kawasan pendidikan yang mana dua jalan di sekitar kawasan itu yaitu Jalan Veteran dan Jalan Bandung berjejer sekolahsekolah dan universitas. Di Jalan Bandung misalnya, terdapat Taman Pendidikan al-Quran at-Taqwa, Madrasah Tsanawiyah Negeri 1

Malang, Madrasah Ibtidaiyah Negeri Deputy General MOG, Jufri Naz, berbeda. Mall yang berdekatan 1 Malang, Madrasah Aliyah Negeri berdasarkan siklus tahunan, trafik dengan kampus dan sekolah ini 3 Malang. Sementara itu, di Jalan pengunjung di bulan Januari mengaku mengalami penurunan pada Veteran berdiri Sekolah Menengah menurun. Dari rata-rata pengunjung saat mahasiswa dan pelajar kembali rutinitas akademik. Pertama Negeri 4 Malang, Sekolah MOG sebanyak 40.000 per hari menjalani Menengah Atas Negeri 8 Malang, menjadi hanya berkisar pada angka Pengunjung Matos per hari rata-rata Sekolah Menengah Kejuruan 2 35.000 per hari. Itu untuk pengunjung 25.000, sedangkan pada hari Sabtu Malang dan Taman Kanak-kanak di hari Senin hingga Jumat. Kalau dan Minggu melonjak hingga 40.000 Samuphahita Malang. Sabtu Minggu bisa sampai 90.000 perhari. Namun, pada saat rutinitas Perguruan tinggi yang berdekatan pengunjung per hari. (www.malang- sekolah kembali normal, terjadi penurunan sebanyak 1000 orang dengan mall tersebut adalah Univer- post.com) Sedangkan di Matos tak jauh hingga 2000 orang per hari. sitas Brawijaya yang beralamat di Jalan Veteran, Tabel Lembaga Pendidikan di Sekitar Mall Matos dan MX Universitas Negeri Malang (UM) dan NO NAMA NA AMA LEMBAGA LEMBAG GA ALAMAT ALAM AL LA AT Politeknik Negeri Malang. MTs N 1 Malang Maalaang M ng Jl.. Ba B Bandung ndun nd ungg No un N No.. 7 D Malang Maala M lang ngg 1 Sementara itu, usai liburan akhir 2 M MI N 1 Malang Mala Mal Ma lang angg Jl.. Band Jl B Ba and ndun ung No un No 7 Ma No. M ala laang ng ng MIN Bandung Malang tahun dan kemM MA AN 3 Malang M la Ma lang ngg JJl.. B Jl and ndungg No No.. 077 M alan al a g an MAN Bandung Malang bali normalnya 3 aktivitas sekolah 4 SM MPN PN 4 Malang Mal a an ang Jl. V Ve etera ete ran N ra ran No o. 377 M aalllan a g an SMPN Veteran No. Malang berimbas pada jumlah pengunjung 5 SM MAN 8 Malang Mal alan an ng JJl l. Ve ete terraan No tera N o. 37 37 M Mal alaan al ang SMAN Jl. Veteran No. Malang mall di Malang. SMKN SM KN 2 Malang Mal alan anngg Jll. Ve Jl. etteera era ran No. No. 117 No 7M alan al alan ang Veteran Malang Para pengelola mall 6 mengaku mengala7 Univ Un iver ersi sita tas Ne N geeri M geri Mal alan al ang Jl.. Vete Jl V Ve ete tera tera r n No N o. 1 M Ma allaang Universitas Negeri Malang Veteran No. Malang mi penurunan trafik pengunjung berkisar 8 U Un iver iv ersi sita tass Br Bra awijjay aw ya Ma alaang Jl Jl. Ve Jl. V Vet ete tera tera r n Ma M Mal ala lang ng Universitas Brawijaya Malang Veteran Malang antara 10 persen Po oliteknik Mal lan angg Jl. Ka Jl K amp mp puss B rawi ra w jaayaa M wi alan al a g Politeknik Malang Kampus Brawijaya Malang dari kondisi normal. 9 M e n u r u t Data diolah Oleh Marhamatul Khairiyah


14 BESTARI

Polling o

No. 265/TH.XXIII/Agustus/2010

Jumlah Responden

300

Lahan Para Calon Pemimpin Ditempa Setiap individu memaknai puasa dengan pemahaman yang berbeda-beda. Pemaknaan tersebut akan berpengaruh pada perilaku atau aktivitas individu dalam menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadan. Pembantu Dekan III Fakultas Agama Islam UMM, Muhammad Syarif mengungkapkan bahwa esensi puasa adalah melatih ketangguhan mental bagi yang menjalankannya. Disamping itu, menurut Syarif, hakikat Muhammad Syarif puasa tersebut ibarat kawah heni/Bestari Chandradimuka, lahan penggemblengan mental dan ujian hidup. “Panasnya kawah dengan berbagai cobaan itu dapat menempa diri dan pada akhirnya terjadi pembentukan karakter pada dirinya,” tutur dosen Jurusan Syari’ah tersebut. Khusus bagi mahasiswa, menjalankan puasa harus benar-benar mampu dimaknai di dalam diri. Misalnya berbentuk perilaku dalam menyikapi hadirnya bulan Ramadan, mahasiswa dapat mengkaji agama Islam agar lebih paham. Ketika terjadi pemahaman agama, maka menjalankan ibadah puasa tidak akan menjadi aktivitas yang hanya sekedar rutinitas. “Puasa tidak saja menahan hawa nafsu, jika seorang mahasiswa mampu memahaminya. Maka puasa juga menjadi sarana membentuk kedisiplinan, tanggung jawab, amanah dan lain sebagainya. Itulah karakter yang dibutuhkan seorang pemimpin,” jelas ayah tiga putra tersebut. Banyak sekali pilihan kegiatan untuk meningkatkan ibadah yang kita temui di bulan Ramadan. Diantaranya shalat tarawih berjama’ah yang diadakan di masjid-masjid, kajian Islam dan pesantren kilat yang biasanya diadakan oleh lembaga keagamaan atau pendidikan dan lain sebagainya. Menurut anggota majelis tarjih Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang tersebut, sebagai agent of change, seorang mahasiswa harus mampu memanfaatkan waktunya dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat terlebih lagi seorang mahasiswa harus mampu mengadakan kegiatan untuk diikuti masyarakat luas dalam rangka peningkatan ibadah. “Membuka kelompok-kelompok studi untuk mengkaji Islam, dan menjadi fasilitator agar masyarakat tertarik dalam mengkaji Islam merupakan salah satu kegiatan yang bisa dilakukan mahasiswa sebagai agent of change,” paparnya. Pria yang juga menjabat sebagai anggota Korps Mubaligh Muhammadiyah itu juga berharap pada kalangan mahasiswa agar mampu mengisi waktu semaksimal mungkin dengan hal-hal positif di bulan Ramadan karena belum tentu dapat dipertemukan kembali di tahun-tahun berikutnya. Disamping itu, mahasiswa harus terus memperluas pemaknaan ibadah sehingga proses dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadan mampu membawa mereka ke akibat yang berimbas pada dua dimensi, yakni dimensi kekinian dan dimensi yang akan datang. “Dimensi kekinian yakni manfaat yang dapat kita peroleh saat di dunia seperti pembentukan karakter disiplin. Dan dimensi akan datang yaitu manfaat yang diperoleh saat di akhirat kelak,” pungkasnya mengakhiri. m_ihe

grafis:ZACK

Ramadan merupakan bulan yang penuh berkah bagi sebagian masyarakat. Kehadiannya bagai seorang tamu istimewa, selalu ditunggu untuk kemudian dijamu. Hal ini nampak dari hasil polling Bestari, yang memperlihatkan sebanyak 96,91% responden mengaku senang ketika Ramadan tiba. Salah satunya Ririm Mega, mahasiswi Universitas

Taraf Signifikasi

Taraf Kesalahan

Mahasiswa

97,00 %

3,00%

Sampel Area: Unisma, Poltekes, Uniga, UIN, Uwiga, ABM, Polinema, Unikan, STIKI, Unmer, UB, UM, ITN, UMM

Marhaban ya Ramadan. Bulan suci penuh berkah telah datang. Jutaan umat muslim di seluruh dunia menyambutnya dengan gegap gempita. Bagi masyarakat Indonesia, hadirnya bulan Ramadan membawa beragam aktivitas “khas”, termasuk kalangan mahasiswa. Lalu, apa sajakah kegiatan mereka yang berubah di bulan Ramadan? Bagaimana pula cara mereka menyambut bulan suci ini? Berikut penelusuranTim Polling Bestari.

akar

Apakah Anda merasa senang ketika memasuki Bulan Ramadan?

Populasi

Batal Puasa karena Teman “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”[Al Baqarah:183]. Ayat ini yang kemudian Pernahkan Anda membatalkan puasa mewajibkan seluruh umat muslim berpuasa di bulan Ramadan. Demikian pula dengan para pengejar ilmu yakni kalangan sebelum waktu berbuka datang? mahasiswa. Benar saja, meski disibukkan dengan berbagai aktivitas, sebesar 98,97% responden mengaku menjalankan ibadah puasanya selama Ramadan. Sebut saja Maya mahasiswi D3 Keperawatan UMM yang mengaku puasa adalah kewajiban umat Islam di bulan Ramadan. “Ramadan adalah bulan yang penuh hikmah dan berkah. Jadi, kita harus menyambutnya dengan menjalankan ibadah puasa satu bulan penuh. Itu adalah salah satu wujud syukur terhadap Allah SWT,” tandas Maya. Pernyataan serupa juga diungkapkan Raff yang mengaku menjalankan puasa dengan hati yang ikhlas. “Dengan ikhlas, saya bisa berpuasa sebulan penuh selama bulan Ramadan,” tandas mahasiswa Keperawatan UMM. Disi lain, pernyataan Raff berseberangan dengan 1,03% responden yang mengaku tidak berpuasa. Seperti yang diungkapkan Jayeng, mahasiswa Politeknik Kesehatan Negeri Malang yang mengaku tidak berpuasa disaat dia tidak sahur, karena khawatir akan sakit. “Saya tidak kuat jika harus puasa tanpa melakukan sahur. Itu yang membuat saya sering tidak berpuasa disaat Ramadan,” grafis:ZACK ujar mahasiswa keperawatan semester empat tersebut. Pernyataan Jayeng nyatanya menguatkankan pendapat apat 54,98%, responden yang mengaku lebih sering membatalkan lkan puasanya sebelum waktu berbuka tiba dengan alasan n n Saat Ramadan tiba, apakah Anda menjalankan tertentu. Dwi Wiyono mengaku sering membatalkan puasanya lantaran terpengaruh lingkungan yangg mengajaknya untuk membatalkan puasa. “Puasaa ibadah puasa? saya sering batal bukan hanya karena disibukan n dengan berbagai kegiatan. Justru godaan makanan n n dan faktor lingkungan khususnya teman-teman yang menyebabkan saya mudah membatalkan n puasa sebelum waktu berbuka tiba,” ujar mahasiswaa Universitas Islam Malang itu. Pernyataan berbeda diungkapkan 45,02% n responden yang mengaku tidak pernah membatalkan puasa sebelum waktu berbuka tiba. “Kita puasa hanyaa satu bulan setiap tahunnya. Sayang sekali jika harus membatalkan puasa sebelum waktunya. Apalagi jikaa harus membatalkan puasa untuk hal-hal yang kurangg n baik,” ungkap Dian mahasiswi Politeknik Kesehatan grafis:ZACK Negeri Malang. p_hmd

Perbanyak Pahala dan Mohon Ampunan

Islam Negeri (UIN) Malang yang mengaku sangat senang ketika Ramadan datang. “Saya merasa lebih tenang beribadah saat bulan Ramadan. Selain itu, di bulan Ramadan saya juga bisa menambah amalan ibadah karena pahala dilipatgandakan,” ungkapnya. Berkaitan dengan kegiatan di bulan Ramadan, sebanyak 15,41% responden menyatakan bahwa bulan Ramadan adalah momen memperbanyak ibadah. Seperti yang diungkapkan Bagoes Sudrajad, mahasiswa jurusan UMM) yang mengisi waktunya selama Ramadan dengan beribadah. “Saya selalu menyempatkan diri untuk solat berjama’ah di masjid,” tukasnya. Menurut mahasiswa semester tiga itu, bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah dan ampunan, sehingga dia merasa inilah kesempatannya untuk

memperbanyak pahala dan memohon ampun. Ibadah lain juga dilakukan oleh Permata Hati yang mewakili 21,87% responden. Mahasiswa asal Kalimantan yang akrab dipanggil Erma itu, menjalankan ibadah sholat tarawih di bulan Ramadan untuk menambah amal dan menyempurnakan puasanya. “Solat tarawih seperti bonus yang tidak bisa saya dapatkan di bulan lainnya,” tutur wanita berparas cantik itu. Ada pula yang menyambut bulan Ramadan dengan cara yang berbeda, seperti yang diakui Wati Itara yang mewakili 6,55%, responden lainya. Wati menyambut bulan Ramadan dengan selalu berbusana muslim. Dia merasa bulan Ramadan adalah bulan yang harus dihormati dengan berpakaian muslim. “Saya mau memperbaiki penampilan saya dulu, baru perilaku saya,” terang mahasiswa Universitas Gajayana (Uniga) itu. p_sur

Apakah kebiasaan tersebut terus diterapkan pada bulan berikutnya


Polling o

BESTARI No. 265/TH.XXIII/Agustus/2010

Meriahkan Ramadan dengan Berbisnis

Disamping bulan yang penuh berkah dan ampunan, Ramadan juga dimanfaatkan segenap kaum muslim untuk memaksimalkan ibadahnya kepada Allah. Sebesar 55,19 % responden mengaku merasakan keistimewaan bulan suci ini sehingga lebih termotivasi untuk beribadah lebih khusyu’ dari pada bulan biasanya. Rulian Hendra mengaku Ramadan adalah bulan eksklusif dari pada bulan biasanya. “Kita juga punya waktu yang lebih banyak untuk beribadah karena ada ibadah tambahan seperti tarawih, tadarusan dan ibadah-ibadah lain,” lanjut mahasiswa Perbankan Syariah Universitas Widyagama itu. Pendapat senada juga diutarakan Sina Masyithoh yang mengaku banyak keuntungan yang didapatkan di bulan Ramadan. “Lebih khusyu’ beribadah sudah pasti, karena bulan suci ini kan penuh hikmah dan

barokah,” ungkap mahasiswa Politeknik Negeri Malang Dengan datangnya bulan Ramadan, (Polinema) itu. Sina merasa keuntungan apa yang anda dapatkan? 55,19% bersyukur karena masih bisa Lebih khusyu’ beribadah 9,79% berjumpa dengan Ramadan Aktivitas berkurang 24,93% kali ini. “Bentuk konkret dari Berkumpul dengan keluarga 2,08% rasa syukur kita itu adalah Lahan bisnis terbuka lebih lebar 4,15% senantiasa memaksimalkan Lainnya, 3,86% momentum yang sangat Abstain berharga ini,” tandasnya. gaku menjual makanan dan minuman Sedangkan 24,93 % responden merasa waktu berkumpul dengan selama bulan puasa. “Selama saya mengkeluarga menjadi semakin maksimal di geluti bisnis takjil, lumayan buat nambah bulan Ramadan. “Kita bisa sahur dan uang saku,” papar Muksalmina mahabuka puasa bareng keluarga. Diluar siswa asli Lamongan itu. Alasan berbeda diungkapkan Riya bulan puasa, kita banyak disibukan dengan kegiatan masing-masing,” ungkap Afiva yang justru memilih menjual baju Rina Wahyunigsih mahasiswi Akutansi lebaran dari pada berbisnis takjil. Menurut mahasiswi Teknik Elektronika PoPolinema asal Kepanjen itu. Selain waktu yang tepat untuk lebih giat linema itu, berbisnis baju lebaran lebih beribadah, sejumlah responden yang men- menguntungkan. “Laba yang diperoleh ggaku mendapatkan lebih banyak dari pada jualan takjil,” paBisnis apa yang digeluti kkeuntungan di bulan par wanita asal Karangploso itu. Sementara itu, 13,16% responden R Ramadan karena saat bulan ramadan? m manggeluti bisnis. Ber- mengaku lebih memilih berbisnis buku b bagai macam bisnis agama. Aldil Nikita P, perempuan asli d dilakukan tidak hanya Blitar itu mengaku menjual buku-buku u untuk mengisi keme- agama karena masyarakat lebih memirriahan bulan suci Ra- natinya terutama saat bulan suci Ramam madan, namun juga dan. “Buku yang paling laris adalah yang aalasan finansial yakni membahas tentang tuntunan puasa, keum mendapatkan tam- tamaan Ramadan dan amalan-amalan b bahan uang saku. Ini sunnah dalam bulan ramadan,” ujar tterbukti dari 50,88% mahasiswi semester enam akuntansi Pografis:ZACK r responden yang men- linema tersebut. p_nbw

Bulan Penuh Kesan Bulan Ramadan ternyata tidak hanya bulan yang penuh hikmah, tapi juga bulan yang penuh kesan. Sebut saja Akhmad Riza, mahasiswa Tata Lingkungan Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang yang mengaku suasana religi di bulan Ramadan yang berbeda dengan bulan-bulan yang lain membuatnya sangat menantikan datangnya kembali bulan tersebut. “Di bulan Ramadan, saya bisa merasakan lebih khusyu’ beribadah dan lebih tenang melakukan berbagai aktivitas baik aktivitas organisasi maupun perkuliahan,” terang pria asal Malang itu. Sama halnya dengan Cicilia, mahasiswa Universitas Negeri Malang yang mengaku bisa melakukan i’tikaf (berdiam diri di dalam masjid.Red.) hanya di bulan Ramadan. “Suasana di bulan Ramadan bisa memotivasi saya untuk terus berlomba-lomba dalam kebaikan. Baik itu bersodaqoh, sholat tarawih berjamaah, maupun tilawah

bersama saudara dan teman-teman,” ungkap mahasiswa semester lima itu. Pernyataan serupa juga diamini Ovi Sulaiman yang mengaku bisa patrol sahur dan ngabuburit (menghabiskan waktu menjelang adzan Maghrib) hanya di bulan Ramadan. “Selain itu juga bisa makan sahur bersama keluarga, ngabuburit dengan cara bertadarus Al-Quran dan buka puasa bersama teman-teman,” ujar mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya itu. Tak jauh berbeda dengan pernyataan Ovi, Dyah Ayu Putri Utami juga mengaku setiap tahunnya menanti bulan Ramadan agar bisa buka puasa bersama keluarga besar dan teman-teman di daerah asalnya. “Makan bersama keluarga merupakan kebahagiaan tersendiri bagi saya yang jarang bertemu orang tua,” ungkap mahasiswi asal Blitar itu. Pendapat berbeda juga terungkap dari beberapa responden Bestari yang

mengaku sangat menantikan bulan Ramadan agar dapat mengais rejeki di bulan penuh rahmat itu. Sebut saja Toni, mahasiswa Universitas Brawijaya itu mengaku dapat mengais rejeki lebih banyak di bulan Ramadan lantaran berjualan takjil. “Pendapatan berjualan jajanan ini lebih besar diperoleh di bulan Ramadan dibanding bulan-bulan yang lain,” ungkap mahasiswa asal Medan itu. Ada pula yang berpendapat bahwa hanya di bulan Ramadan, wisata kuliner menjadi lebih berkesan dibanding bulan-bulan yang lain. “Ngabuburit bareng teman-teman sekaligus mencari tempat berbuka yang mantap di lidah jadi berbeda di bulan Ramadan. Selain mendapatkan suasana kebersamaan, kita juga lebih bisa merasakan aneka rasa masakan yang dipesan untuk disantap bersama,” ungkap Wahyu Eko Sasmito mahasiswa Universitas Negeri Malang itu. fbr

15

Simpul Pahami Makna Sebenarnya n Ramadan adalah bulan yang penuh pahala bagi sebagi-an besar masyarakat, sehinggaa banyak yang berlomba-lombaa khususnya dalam beribadah.. Berdasarkan hasil polling,, mayoritas mahasiswa meng-n aku mempunyai kegiatan selama bulan Ramadan yangg berkaitan dengan Ibadah.. Kegiatan yang dipilih mahasis-wa pun beragam, mulai darii n tadarus, hingga menjalankan usaha di bulan Ramadan. Choirul Amin Setiyadii memaknai Ramadan sendirii sebagai adalah proses men-Choirul Amin Setiyadi n capai kesucian. “Dalam bulan heni/Bestari Ramadan, kita mendapatt pendidikan jasad, pendidikan fikir, dan pendidikan hawa nafsu,” terang kepala sekretariat Badan Pesemakmuran Masjid (BPM) Masjid AR Fachruddin. Pria yang akrab disapa Didi itu juga menegaskan, tujuan dari Ramadan itu sendiri adalah agar mencapai predikat la’allakum tattaqun atau orang-orang yang bertaqwa. Didi juga menambahkan bahwa puasa juga bertujuan agar pada 1 Syawal nantinya semua yang menjalankan ibadah puasa kembali fitri (suci/bersih, pen) dan agar lebih baik pada sebelas bulan kedepan. Kegiatan mahasiswa di bulan Ramadan seperti menjalankan bisnis menjual makanan atau minuman, menurut pria yang memiliki dua gelar sarjana ini, sebaiknya juga tidak meninggalkan sholat maghrib apabila waktunya telah tiba. “Tidak baik juga jika jualan terus, tanpa memikirkan ibadah. Kegiatan dunia dan akhirat itu harus sejalan,” paparnya. Berkaitan dengan jumlah prosentase tarawih pada urutan pertama sebagai kegiatan mahasiswa selama bulan Ramadan, pria kelahiran 1965 itu menjelaskan bahwa akan lebih baik jika banyak mahasiswa yang tetap istiqomah sholat tarawih. “Seperti janji Allah, Barang siapa yang memakmurkan masjid, baik itu secara organisasi atau individual, Allah akan memberikan pahala yang tiada henti,” tuturnya. Menanggapi fenomena mahasiswa yang membatalkan puasa sebelum waktunya, pria yang menyelesaikan sarjana administrasi di Universitas Brawijaya ini mengutarakan bahwa hal tersebut terjadi karena kurangpahamnya mahasiswa terhadap makna puasa.“Itulah fungsi tadarus di bulan Ramadan, tentunya dengan memahami artinya juga. Al-qur’an berfungsi sebagai petunjuk manusia selama hidup di dunia, kalau tidak membaca petunjuk, maka jalannya pun akan tersesat,” jelasnya. Menurut Didi, membaca Al-Qur’an beserta artinya, dapat membuat mahasiswa memahami makna puasa serta ibadahibadah lainnya, baik di bulan Ramadan maupun bulan berikutnya, sehingga memiliki iman yang kuat. Selain pembatalan puasa sebelum waktu berbuka tiba, pria lulusan Sarjana Hukum Universitas Teknologi Surabaya (UTS) itu sangat menyayangkan sedikitnya mahasiswa yang mengikuti pesantren kilat ketika Ramadan. “Pesantren kilat akan sangat bermanfaat untuk pembentukan kualitas diri mahasiswa,” tandasnya. Menurut Didi, dengan mengikuti pesantren kilat, mahasiswa bisa diajarkan disiplin dalam menjalankan ibadah. p_sur

Ajang Introspeksi dan Berempati

Yulizar Kasiri zack/Bestari

Seringkali kita tidak melakukan persiapan dalam menyambut bulan Ramadan sehingga kedatangan bulan yang istimewa ini, justru disambut dengan sikap yang sama seperti halnya bulan-bulan biasa lainnya. Terkait hal tersebut, Muhammad Yulizar Kasiri, mahasiswa Jurusan Teknik Informatika UMM memaparkan kondisi bulan puasa saat ini cukup banyak orang yang membatalkan puasanya karena masalah sepele. “Tergantung seberapa besar kemampuan kita untuk meningka tkan keimanan. Banyak godaan datang di saat bulan puasa, misalnya tidak puasa karena bangun kesiangan, karena lapar ataupun haus,” ungkap pria yang akrab disapa Yulizar itu. Lebih lanjut, mantan ketua Rayon IMM Teknik Informatika UMM ini juga mengungkapkan bahwa perkembangan pergaulan yang semakin bebas justru memperkecil tingkat keimanan seorang. “Mungkin karena gaya hidup dan tingkat tanggung jawabnya

kurang. Perlu adanya persiapan agar dapat melakukan amaliyah di bulan Ramadan secara optimal dan maksimal. Tidak sekedar merasa senang dan gembira dengan datangnya Ramadan, sebaiknya kita juga sudah mempersiapkan sematang mungkin untuk berlomba-lomba dalam aktifitas kebajika,”ujarnya. Lebih lanjut, pria ini juga menjelaskan bahwa mahasiswa jangan menyia-nyiakan bulan Ramadan dengan tidak berpuasa. Sepatutnya, kita harus menyambutnya dengan hati gembira dan memposisikan Ramadan sebagai bulan untuk mendekatkan diri pada Allah SWT.,” imbuhnya. Yulizar juga menjelaskan, saat bulan puasa banyak kebiasaan baik yang sering dilakukan orang seperti berempati dan mengkoreksi diri. Ramadan juga momen yang sangat mendukung untuk saling berbagi rejeki. “Misalnya dengan mengadakan buka bersama orang yang tidak mampu hingga kegiatan ceramah agama dan tadarus setiap

malam. Kita tidak hanya menahan lapar dan dahaga tetapi juga menahan diri untuk melihat pakaian "peragawati-peragawati" dadakan yang kurang sesuai dengan aqidah Islam dan norma yang ada di masyarakat,” tandasnya. Mahasiswa mantan anggota BEM Fakultas Teknik UMM itu juga mengaku bahwa suasana di bulan Ramadan sangat berbeda jika dibandingkan dengan suasana di bulan yang lain. “Di negeri ini mayoritas beragama Islam sehingga sebagian besar orang merasakan perbedaan bulan Ramadan jika dibanding bulan yang lainnya. Ini adalah keberkahan tersendiri di bulan penuh rahmat. Kita dapat mengambil banyak manfaat di bulan Ramadan. Misalnya, kita dapat mempererat tali silaturahmi, dengan mengadakan buka puasa bersama keluarga dan teman-teman. Hal ini pula yang membuat Ramadan sangat berkesan jika dibandingkan bulan-bulan yang lain,” ungkap pria yang juga bekerja di salah satu stasiun

televisi lokal di Kota Batu itu. Menurut lajang asal Kota Gresik ini, momen Ramadan juga dimanfaatkan banyak orang sebagai ajang intropeksi diri khususnya mengenai tingkah laku. “Merenungi jalan hidup selama satu tahun ini dan tentunya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Alangkah lebih baiknya jika kita bisa saling menghormati dan saling menahan diri di negara berideologi Demokrasi Pancasila ini,” terangnya. Yulizar juga mengharapkan terciptanya suasana islami yang benarbenar bisa menciptakan suasana kondusif khususnya di UMM. “Bukan hanya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) saja. Tapi pemahaman nilai-nilai agama dan moralitas bisa lebih di tingkatkan. Disamping itu, momen Ramdhan adalah moment yang tepat untuk memulai halhal baik itu, khususnya untuk temanteman mahasiwa agar tidak hanya sekedar kuliah tapi bisa menemukan jati dirinya dengan mengkaji Islam lebih dalam,” harapnya. p_hmd


16 BESTARI

PERNIK MALANG

No. 265/TH.XXIII/Agustus/2010

Wilis, Pasar Buku yang Selalu Laris

Wisata Pasar Buku uku Malang

Pasar selama ini identik dengan tempat berjualan kebutuhan sehari-hari. Namun, pasar yang satu ini lain. Di sana tidak akan dijumpai beras dan sayur-mayur, namun tumpukan berbagai jenis buku sesuai dengan namanya, pasar buku Wilis. Jika berkunjung ke Kota Malang, ada baiknya mengunjunginya sekadar untuk mencuci mata atau membeli koleksinya. kiosnya. Jika tidak memiliki persediaan, mereka biasanya akan berusaha mencarikannya ke kios lain. Sementara itu, bagi pengunjung yang tidak ingin membeli tetapi justru menjual bukunya juga dilayani. Caranya? Jika memiliki bukubuku bekas, tinggal tawarkan saja ke pemilik kios yang ada. Buku yang bisa dijual pun beragam, mulai dari buku pelajaran sampai bacaan ringan. Ahmad Sultoni, remaja yang kini kelas dua SMA, mengaku sudah beberapa kali menjual buku-buku bekasnya di Wilis. Harga yang disepakati pemilik kios biasanya tergantung pada kondisi buku yang dijual. “Saya sudah beberapa kali menjual buku-buku bekas SMP pada pedagang di sini. Hasilnya lumayan. Selain bisa membersihkan rumah dari tumpukan barang tak terpakai, hasil penjualan juga bisa untuk membeli buku pelajaran baru,” ungkapnya. Sementara itu, untuk bacaan ringan seperti komik, heni/Bestari biasanya pemilik kios menghargainya antara empat Diburu : Gudang buku murah menjadi buruan masyarakat. Terlihat dari anak-anak hingga dewasa menjadikan Wilis sebagai referensi tempat sampai enam ribu rupiah per mencari buku. buahnya tergantung pada kondisi, jenis, dan kategorinya, am masih menunjukkan Jalan Majapahit. Pemerintah sengaja Buku-buku lama yang kelihatan pukul delapan pagi ketika mencari lokasi yang lebih dekat dengan sudah lusuh bisa disulap menjadi apakah baru atau lama. Hal itu dibenarkan Asri Muriani. tim Pernik menyusuri selasar sekolah dan kampus. Tujuannya jelas, buku bersampul menarik dengan pasar buku Wilis, mencari kios-kios yaitu untuk meningkatkan transaksi tangan-tangan terampil mereka. Jika Ibu tiga anak itu sudah beberapa kali yang mungkin sudah buka. Memang, buku di pasar tersebut. beruntung, buku-buku langka second menjual koleksi komik milik ketiga ada beberapa pedagang yang mulai Wilis dibangun pada 2003 silam hand yang sudah tidak beredar lagi di anaknya. Menurutnya, daripada terus tampak sibuk menata dagangannya, dengan jumpal kios sebanyak 68. pasaran juga bisa dijumpai di sana. menumpuk dan tidak termanfaatnamun sebagian besar kios lainnya Namun, jumlah sekian itu diakui Kuncinya hanya satu yaitu telaten kan, lebih baik komik-komik tersebut dijual lagi. “Ketiga anak saya memang masih tutup. Chadir tidak cukup untuk merelokasi mencari ke tiap kios di sana. Setelah menunggu sekitar satu seluruh PKL dari Jalan Majapahit, Layaknya di pasar tradisional hobi mengoleksi komik, tapi setelah setengah jam, barulah pasar mulai sehingga beberapa pedagang buku yang menjual aneka kebutuhan besar, mereka akhirnya bosan. Dariterasa “hidup”. Satu dua pengunjung tetap menjajakan bukunya di Jalan rumah tangga sehari-hari, di Wilis pada terus menumpuk, bingung mau mulai terlihat. Pedagang mulai me- Majapahit dan sebagian lagi di pindah pengunjung juga bisa “perang” harga dikemanain, lebih baik saya jual di nawarkan buku-buku di kiosnya pada ke daerah Sawojajar. dengan menawar harga semurah- sini. Hasilnya kan lumayan,” ujarnya. setiap mereka yang lewat. Sementara Menurut Chadir, Pemerintah murahnya. Jika ingin berbelanja di itu, beberapa orang juru parkir juga Kota (Pemkot) pun mencoba untuk Wilis, namun tidak lihai menawar, Tersedia Buku Baru Selain menjual buku-buku bekas tampak sibuk menata kendaraan meningkatkan minat beli buku dengan ada baiknya mengajak teman yang pengunjung. membuat pasar buku Wilis senyaman bisa membantu menawar. Semakin dan buku edisi lama yang rata-rata Kondisi tadi mungkin sangat ber- mungkin, rapi, dan bersih. Pedagang pandai menawar, niscaya harga yang sudah tidak beredar di pasaran, beberapa kios ternyata juga menjual beda dengan pasar-pasar pada umum- di sana hanya perlu membayar uang diperoleh pun semakin miring. bu buku-buku baru. Menurut Dahlia, nya. Jika pasar tradisional biasa terasa sewa kios sebagai bentuk ntuk b buku-buku baru tersebut dibeli h. lebih ramai pada pagi hari, Wilis retribusi kepada pemerintah. llangsung dari agen. justru akan terasa ramai pada siang iLangkah lain yang diTiap beberapa hari sekali, hari. Benar saja, saat jam sudah me- tempuh untuk menarik minat at Sebagai ibu rumah tangga, saya aada agen-agen buku yang nunjuk angka sebelas, pengunjung pengunjung yaitu dengan n merasa diuntungkan sekali dengan m menawarkan buku-buku baru mulai ramai berdatangan. Rata-rata terus berusaha menjadikan n p pada pemilik kios. Buku yang k. memakai kendaraan roda dua meski kondisi fisik pasar layak. adanya pasar buku Wilis. Dengan ditawarkan pun bermacamd sekali dua kali juga terlihat mobil Misalnya saja, pembersihan n harga yang murah, saya bisa menm macam jenisnya, ada buku pembeli parkir di halamannya. lantai porselen secara berkalaa pelajaran, novel, majalah, ataup Sebagian pengunjung terlihat dan perbaikan atap yangg dapatkan buku pelajaran untuk p pun buku-buku resep memasak. masih berusia belasan dan masih me- bocor. anak saya. Harapannya, mudah-Setelah itu, biasanya pemilik k ngenakan seragam sekolah. Sebagai salah satu obyek kios bebas memilah-milah buku k Sebagian yang lain lebih terlihat yang terdaftar dalam petaa mudahan Wilis bisa terus bery yang akan diambilnya. Pada ot seperti usia mahasiswa. Wajar, Wilis wisata Malang, Pemkot tahan,” ssaat menjelang tahun ajaran mmemang terkenal menjadi tujuan para tampaknya memang mem b baru, biasanya pedagang lebih n pembeli buku dari berbagai jenjang perhatikan keberadaan m memilih buku-buku pelajaran. i, umur. Menjelang akhir pekan, tak pasar buku Wilis. Terbukti, jarang pula terlihat beberapa turis tiap beberapa bulan sekali Pemkot Berjalan-jalan di Wilis juga bisa Namun, pada hari-hari biasa, pemilik mancanegara berjalan-jalan di sana. melakukan pengecekan kondisi fisik dijadikan “rekreasi” menguji ingatan kios biasanya lebih tertarik memberli pasar dengan tujuan menjaga keindah- para penjual di sana. Jika di toko buku buku-buku fiksi seperti novel ataupun Dekat Lokasi Pendidikan an fisik bangunan. Kalaupun ada pada umumnya, komputer bisa mem- komik “Kalau untuk buku-buku Letaknya di dalam kota, tepatnya kerusakan, dengan segera pemerintah bantu mencari apakah suatu judul bekas, kita memang beli langsung dari di Jalan Wilis. Itulah kenapa sebutan- melakukan perbaikan. buku tersedia atau tidak, di Wilis orang yang kulakan. Sedangkan bukunya pun mengikuti nama jalanpengunjung hanya cukup menyebut- buku baru, kita beli dari agen yang nya. Dari berbagai arah, lokasinya Terima Buku Bekas kan nama penerbit atau judul buku- datang ke sini, nawarin ke kios-kios,” mudah dijangkau. Bagi yang ingin Berjalan-jalan di Wilis bisa nya saja. Jawaban akan segera me- ungkap perempuan yang akrab disapa menggunakan jasa angkutan umum, jadi merupakan hiburan yang me- luncur apakah mereka memilikinya Lia tersebut. Hal senada juga disampaikan dengan menyebut nama Wilis sopir nyenangkan, apalagi bagi para pe- atau tidak. akan mengerti tujuan yang dimaksud. nikmat buku. Berbagai jenis buku Jika tersedia, dengan cekatan pe- Fernati. Menurutnya, dengan adaMenurut Abdur Chadir, salah satu ada di sana. Untuk pencari buku- milik kios akan mencarikan buku nya tambahan buku-buku baru, penstaf pengawas pasar buku Wilis, ke- buku lama, jika ada yang sampulnya yang dimaksud. Waktu yang di- dapatan kios bisa meningkat dua kali beradaan pasar buku Wilis berawal sudah rusak dan pengunjung berniat butuhkan pun relatif singkat karena lipat, yakni berkisar antara 300 sampai dari keinginan pemerintah setempat membelinya, tinggal meminta pemilik mereka seolah sudah tahu persis di 500 ribu rupiah. Buku-buku baru untuk menata dan menertibkan kios untuk memperbaikinya. mana posisi buku tersebut di antara biasanya dipatok harga minimal 25 Pedagang Kaki Lima (PKL) dari ruas Hasilnya pun sangat menakjubkan. jejeran dan tumpukan buku di ribu rupiah, sedangkan buku pelajaran

J

bekas berkisar lima ribu sampai lima puluh ribu rupiah, tergantung kategori dan kondisi buku. “Namanya juga pasar buku, Mas. Jadi, wajar kalau ada yang bekas, ada juga yang baru. Kalau hanya menjual buku bekas, ntar malah jadi pasar loak,” dalihnya sembari tersenyum. Murahnya harga yang dipatok tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Reni Setyawati contohnya. Ia mengaku senang dengan keberadaan pasar buku Wilis. Disaat semua harga perlengkapan sekolah sedang meroket, Wilis mampu menjadi alternatif berbelanja kebutuhan sekolah. “Sebagai ibu rumah tangga, saya merasa diuntungkan sekali dengan adanya pasar buku Wilis. Dengan harga yang murah, saya bisa mendapatkan buku pelajaran untuk anak saya. Harapannya, mudah-mudahan Wilis bisa terus bertahan,” ungkap ibu dua anak tersebut. Berbeda dengan Reni, Munawar Khalil, seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di kota Malang menuturkan, dalam membeli buku ia lebih mementingkan isinya daripada harga. Ia mengaku beberapa kali merasa kecewa ketika berbelanja buku di Wilis. Dari luar sampulnya terlihat bagus dan masih dibungkus dengan plastik, tetapi setelah dibuka ternyata isinya tidak layak baca. Dari pengalaman itulah akhirnya Munawar lebih memilih membeli buku di toko-toko buku yang menurutnya lebih terpercaya. “Awalnya saya tertarik untuk membeli buku di Wilis karena iming-iming harga yang murah. Namun, ketika melihat kondisi bukunya, saya lebih memilih membeli baru sehingga lebih tahan lama nantinya,” ungkapnya. Omzet Menggiurkan Wilis boleh saja ramai menjelang tengah hari. Namun, siapa yang menyangka di balik itu pedagang mampu meraup keuntungan melimpah. Menurut salah seorang pedagang buku yang biasa dipanggil Meron, masing-masing kios bisa mencapai omzet sekitar 10 juta per bulannya dengan pemasukan rata-rata per hari sekitar 400 ribu rupiah. Itupun dalam kondisi sepi pengunjung. Saat menjelang tahun ajaran baru, pendapatan masing-masing kios bisa berkali-kali lipat. Hal tersebut tentu menjadi berkah tersendiri bagi para pedagang. Untuk mengantisipasi membludaknya pengunjung, menjelang awal tahun ajaran baru biasanya pemilik kios membuka kiosnya lebih pagi dari hari-hari biasanya. “Ya, walaupun tempatnya sederhana, kami sebagai pedagang sangat senang karena apa yang kami jajakan pasti laku. Jika dibanding dengan lokasi yang dulu, di sini jelas lebih menguntungkan,” papar pria usia empat puluhan tersebut. Perasaan yang sama juga dirasakan Susmita. Wanita yang akrab disapa Mita tersebut merasa senang bisa ber jualan di pasar buku Wilis. Selain bebas menentukan harga, pemilik kios juga diberi wewenang untuk membuka kios kapan saja, bahkan sampai larut malam. “Mau pasang harga berapa, buka jam berapa, tutup jam berapa, semuanya terserah pedagang saja. Tapi kan kita capai kalau harus ber jualan dari pagi sampai malam. Makanya, kami biasanya buka siang dan tutup sekitar jam delapan malam,” ungkapnya sambil tersenyum. rpd/m_phi/p_adi/kha/ yan


BESTARI No. 265/TH.XXIII/Agustus/2010

PERNIK MALANG

Ada Permintaan , Ada Barang

Jika dilihat sekilas, tidak ada yang berbeda antara tumpukantumpukan buku di pasar buku Wilis dengan tumpukan buku di toko. Namun, dengan sedikit kejelian dan keberanian juga, telitilah secara seksama buku-buku tersebut. Dari sekian banyak buku, pasti ada beberapa buku yang terlihat “aneh�. Sampul yang digunakan memang sama persis dengan buku aslinya, tetapi ketika membuka halaman demi halaman, beberapa gambar yang semestinya berwarna justru hanya tercetak dengan tinta hitam. Buku-buku tersebut memang telah digandakan alias dibajak. Memprihatinkan memang. Di tengah gencarnya sorotan mata dunia terhadap Indonesia yang dikenal sebagai negara pembajak terbesar kedua di dunia, ternyata hal semacam itu terus terjadi di sekitar kita. Sama-sama Tahu Pembajakan buku di pasar buku Wilis sebenarnya bukan sesuatu yang baru, bahkan sudah tidak bisa lagi dikatakan sembunyi-sembunyi. Pedagang maupun pembeli samasama mengetahui hal tersebut. Ironisnya, justru kadang buku-buku bajakanlah yang memang sengaja dicari, tentu dengan alasan harga yang lebih murah. Sebut saja Arum (bukan nama sebenarnya, red.). Mahasiswa jurusan Sastra Inggris tersebut mengaku sengaja datang ke Wilis untuk mencari buku bajakan. Menurutnya, bukubuku kuliah yang disarankan oleh dosennya dibandrol dengan harga yang mahal. Dalam keterbatasan ekonomi, Arum mengaku tidak mampu membelinya. Kamus bahasa Inggris berlabel Oxford misalnya, harga yang dipatok oleh toko buku mencapai 300-an ribu rupiah. Namun, dengan membeli versi bajakan, Arum mengaku bisa mendapatkannya hanya dengan harga 60 ribu rupiah. Hal senada juga diungkapkan Titik. Wanita muda yang juga tidak mau disebutkan nama aslinya

IF

US L K EKS

17

tersebut bersama teman-temannya sudah beberapa kali membeli buku di Wilis. Tujuan awalnya untuk mencari buku bekas, tetapi melihat buku bajakan yang dipatok dengan harga miring, ia pun tergiur dan membelinya. “Kalau saya sih tidak peduli asli atau bajakan. Yang penting murah dan bisa dibaca,� ungkapnya beralasan. Ketika tim Pernik menelusuri kios-kios buku di pasar buku Wilis dan melihat beberapa judul yang telah diketahui versi aslinya, ternyata memang banyak buku “beda sedikit dari yang asli� yang dijual di sana. Di rak sebuah kios bahkan ada bertumpuk-tumpuk buku bajakan. Mas’udin, salah satu pedagang buku di pasar buku Wilis membenarkan hal itu. Dirinya mengemukakan alasannya menjual buku-buku bajakan karena banyaknya permintaan pembeli. Ia tidak ingin melepaskan peluang menguntungkan heni/Bestari itu. Jika dilihat dari luar, buku bajakan Berderet Rapi : Banyak lapak yang berjajar rapi di Pasar Wilis menperdagangkan berbagai jenis buku. tidak terlalu jauh berbeda dengan dagang bukunya disegel. Namun, buku asli. Namun, ketika pembeli langganan penerbit buku bajakan. bajakan dengan buku asli. Selain masalah harga, biasanya setelah itu di pasar buku Wilis belum membuka isi buku, cetakan dalam Ketika para pembeli banyak yang buku bajakan terkadang kabur dan menanyakan suatu buku, dengan buku bajakan juga menjadi pilihan pernah ada razia lagi sampai sekarang. Beredarnya buku bajakan di Wilis jelek. Dari jenis kertas, buku bajakan mudah ia memesan buku itu. Pria karena penerbitnya sudah tidak juga tidak selalu sama dengan buku tersebut menambahkan, penerbit mencetaknya lagi. Untuk mendapatkan kadang dimanfaatkan juga oleh para asli. Kadang kertasnya terlihat lebih buku bajakan bukan hanya mengirim- buku bajakan seperti itu, pembeli harus pedagang. Tidak jarang pembeli yang kan buku sesuai pesanan pedagang memesannya terlebih dahulu. Dalam tidak pandai melihat kualitas cetakan bagus, terkadang lebih jelek. Pria asli Kota Malang itu buku, tetapi tidak jarang menitipkan jangka waktu dua minggu, pemilik kios “diakali� oleh para pedagang dengan sudah mampu mendatangkan buku mengklaim bahwa buku tersebut asli mengungkapkan, pentingnya sebuah buku bajakannya di pasar itu. Mas’udin menjelaskan, jenis buku bajakan yang dipesan pembeli. sehingga tetap mematok harga tinggi. buku adalah untuk bisa dibaca, yang dibajak di sana Hal itu diakui Kamal Hamsa, sehingga pihaknya sangat beragam, Pernah Dirazia salah satu pembeli buku Wilis. Ia merasa sah-sah Untuk mendapatkan buku mulai dari buku Kendati buku bajakan banyak mengaku awalnya tidak mengetahui saja menjual buku bajakan, ia mengaku telah panduan sholat, terjual di pasar itu, akan tetapi bebe- adanya buku bajakan di Wilis bajakan. “Buku ini mempunyai langganan buku sekolah, hing- rapa pedagang ada yang tetap lebih sehingga ia percaya saja pada para pekalau beli di toko ga buku-buku ku- memilih untuk menjual buku bekas dagang tersebut. Akan tetapi menurut penerbit buku bajakan. bisa sampai 60 atau 100 ribuan. Ketika para pembeli banyak liah. Namun, yang dan buku baru yang asli. Riski misal- Kamal, adanya pembajakan tersebut paling banyak ada- nya, salah satu pedagang di sana, merupakan imbas mahalnya harga Daripada habis yang menanyakan suatu lah kamus dan mengaku hanya menjual buku-buku buku. “Seharusnya pemerintah tidak segitu banyaknya, buku, dengan mudah ia novel-novel best bekas dan beberapa buku baru. Ia tinggal diam. Salah satu caranya kan lebih baik memesan buku itu seller, seperti trilogi mengaku tidak menjual buku bajakan mungkin bisa dengan pembuatan untuk beli yang Laskar Pelangi, karena takut ada razia. regulasi untuk menurunkan harga lain. 15 ribuan novel Bumi Cinta, 5 Razia buku bajakan memang buku sehingga bisa dijangkau oleh sisanya barulah cm, kamus Oxford, dan berbagai jenis pernah dilakukan di pasar buku Wilis semua kalangan. Dengan demikian, untuk beli buku,� dalih Mas’udin. Untuk mendapatkan buku baja- buku mahal lainnya. Untuk mensiasati tahun 2007 silam. Pada saat itu, bebe- saya yakin tidak ada lagi pembajakan kan, ia mengaku telah mempunyai razia, ia sengaja mencampur buku rapa pedagang tertangkap dan kios buku,� harapnya. rpd/m_phi/p_adi

“Razia, Perlu Laporan dari Penerbit�

Penjualan buku bajakan merupakan salah satu pelanggaran terhadap UU No. 19 Tahun 2002. Kendati demikian, pembajakan buku tetap marak terjadi di masyarakat. Lalu, sejauh mana aparat kepolisian sebagai penegak hukum turut terlibat aktif mencegahnya? Berikut wawancara eksklusif Delfia Yana Resandy dengan Wachid Syamsuri Arif, Penyidik Pembantu pada razia buku bajakan yang pernah terjadi di Pasar Buku Wilis.

Bagaimana tanggapan Bapak mengenai maraknya pembajakan buku khususnya di Malang? Sebenarnya hal seperti ini tidak seharusnya terjadi karena ada pihak yang dirugikan dalam pembajakan. Pihak penerbit yang seharusnya mendapat royalti dari penjualan bukunya, akhirnya tidak mendapatkan royalti karena bukunya dibajak.

Namun, pembajakan buku ini memang kami rasa cukup dilematis. Kepolisian tidak dapat turun langsung untuk merazia buku-buku bajakan tanpa adanya laporan dari pihak penerbit. Lain halnya dengan VCD. Pihak kepolisian telah memiliki perjanjian dengan pihak produsen VCD untuk secara langsung merazia VCD bajakan. Hal tersebut karena membedakan VCD asli dan bajakan lebih mudah dibanding dengan membedakan buku asli dan bajakan.

Untuk menggandeng pihak kepolisian dalam razia, prosedur seperti apa yang harus dilakukan? Untuk dapat melakukan razia, kepolisian harus menerima laporan dari pihak penerbit terlebih dahulu. Biasanya, pihak penerbit telah melakukan survei terlebih dahulu sebelum melaporkan ke Polresta. Setelah itu, laporan yang kami terima diajukan ke kejaksaan. Itu memakan waktu sekitar 2 bulan. Intinya, dari pengaduan penerbit, kita limpahkan ke kejaksaan, lalu diperlukan waktu 19 hari untuk meneliti berkas itu apakah sudah sempurna atau belum. Dalam waktu 19 hari itu, pihak kepolisian bersama penerbit merazia tempat-tempat yang diduga mengedarkan buku-buku bajakan. Kepolisian juga melakukan penyidikan lebih lanjut guna pemeriksaan kesempurnaan berkas laporan pengaduan pidana pembajakan.

Usaha apa saja yang telah dilakukan oleh kepolisian untuk menanggulanginya? Sebenarnya, pihak kepolisian telah melakukan sosialisasi undang-undang hak cipta. Namun, pembajakan ini merupakan masalah yang berawal dari penyakit dan adat dari masyarakat itu sendiri. Masyarakat sebenarnya sudah tahu bahwa pembajakan itu merupakan pelanggaran hukum dan dapat merugikan pihak lain. Namun, masyarakat kita sudah terbiasa untuk mendapatkan barang yang sama namun dengan harga murah. Dengan banyaknya konsumen yang mencari, Penerbit mana saja yang sudah melamaka pedagang dan kukan pengaduan? Sampai saat ini, penerbit yang meheni/Bestari produsen menyediakan.

Wachid Syamsuri Arif heni/Bestari

Hal itu menjadi suatu lingkaran setan yang membuat pembajakan terus terjadi. Sosialisasi yang dilakukan pihak kepolisian pun menjadi sia-sia.

laporkan pembajakan bukunya masih satu penerbit, yaitu PT. Salemba. Itulah yang mendasari kami bisa melakukan razia pada 2007 silam. Pihak penerbit mengadukan buku terbitannya yang dibajak dengan macam-macam judul. Waktu itu, PT. Salemba merasa penjualan bukunya tidak optimal, lalu penerbit tersebut mendatangi pasar buku Wilis. Ternyata dari hasil survei, penerbit menemukan bahwa buku-bukunya terbitannya dijual dengan harga murah. Ketika diteliti, ternyata buku itu memang buku bajakan. Melihat banyaknya buku PT. Salemba yang dibajak dan diperjualbelikan di pasar buku Wilis, maka pihak penerbit melaporkannya ke Polresta dan kita bersama-sama kesana. Kapi pun mengamankan pedagang yang tertangkap memamerkan dan menjual buku-buku fotokopian itu. Sejauh mana efektivitasnya? Razia yang kami lakukan merupakan suatu langkah penegakan undang-undang dan hukum. Razia tersebut dapat memberikan efek jera terhadap penjual-penjual buku bajakan. Sayangnya buku yang dapat kami razia hanya sesuai dengan penerbit yang melapor saja. Buku bajakan milik penerbit lain tidak dapat kami razia

karena tidak ada laporan. Maka dari itu, mungkin masih banyak buku bajakan lain yang beredar. Dari razia di pasar buku Wilis kemarin pun, kami hanya dapat menangkap penjual buku yang didapati memamerkan dan menyebarluaskan buku bajakan. Penyidikan secara menyeluruh masih cukup sulit kami lakukan karena pada saat itu pedagang buku mengaku mendapatkan buku dari distributor yang tidak mereka ketahui identitas dan asalnya. Sehingga penangkapan hanya dilakukan pada penjual buku saja. Apa harapan Bapak? Pembajakan tentu sangat merugikan pemilik hak cipta. Untuk menghilangkan pembajakan itu, perlu adanya kesadaran dari pembeli agar tidak membeli buku bajakan dan juga dari penjual sehingga pembajakan akan hilang dengan sendirinya. Saya berharap semua pihak mengintrospeksi diri masingmasing. Kalau tidak ada pembeli buku bajakan, maka tidak akan ada penjual buku bajakan. Kalau penjualnya tidak ada, maka tidak ada produsennya.


BESTARI 18 Menilik Problema KRS Online

POLEMIK

No. 265/TH.XXIII/Agustus/2010

Sistem Canggih, Kenapa Harus Antri? Sebagai pendidikan tinggi yang berbasis Information Teknologi (IT), UMM selalu berinovasi, memelihara dan mengembangkan diri dalam rangka mewujudkan slogan “The Real University”. Salah satu perwujudan dari slogan tersebut, kampus putih menyediakan fasilitas teknologi modern yaitu Kartu Rancangan Studi (KRS) online. Akan tetapi, seiring berjaannya waktu, KRS online dirasa tidak efektif serta kurang kondusif. Apakah menyebabkan problematika tersebut muncul dikalangan mahasiswa? Mengapa teknologi yang digunakan justru terasa menyulitkan?

fidha/Bestari

Antri: suasana "KRS Online" yang rutin dilakukan mahasiswa UMM setiap semester

KRS Online merupakan sistem yang berfungsi mempermudah pemrograman mata kuliah yang akan ditempuh dalam satu semester kedepan tanpa harus repot memadukan jadwal dan mencari dosen pembimbing. Namun bukan berarti lahirnya KRS online merupakan jawaban dari masalah sebelumnya dan tidak memunculkan masalah baru. Ramadana, mahasiswi jurusan Ilmu

Komunikasi mengatakan adanya sistem KRS online cukup bagus, akan tetapi masih memiliki banyak kekurangan yang perlu diperbaiki lagi sehingga keberlangsungan KRS online dapat benar-benar berjalan secara efektif. Ungkapan senada dituturkan Linda Yulian Firdaus, mahasiswi jurusan Ilmu Hukum, Linda, demikian sapaan akrabnya mengungkapkan, sistem yang

diterapkan kurang kondusif dan efesien. “Antriannya terlalu panjang karena laboratorium yang digunakan terlalu minim. Selain itu sering juga terjadi miscommunication antar biro terutama mengenai keuangan. Bahkan saya sudah bayar dan ada bukti kuitansi, tapi tidak tertera sebagai mahasiswa UMM padahal sebelumnya tidak seperti itu,” ungkap gadis yang mempunyai usaha sandal boneka tersebut. Sementara itu cerita searah juga disampaikan Arna, mahasiswi jurusan Akuntansi yang menuturkan bahwa terganggunya jaringan internet juga menyebabkan tidak efektifnya proses KRS online. “Bukan hanya jaringan internet yang bermasalah, minimnya komputer yang digunakan untuk KRS online juga menyebabkan antrian yang menumpuk hingga kegiatan KRS online tampak tidak kondusif dan kurang efektif, ” ujarnya mengadu. Tak jauh berbeda dengan Arna, mahasiswi Matematika dan Komputasi, Latifah, mengatakan bahwa waktu seminggu yang telah disediakan untuk KRS-an terlalu singkat. Selain itu jumlah laboratorium yang digunakan terlalu minim, padahal masih ada laboratorium komputer lain di UMM belum terpakai. “Usulan saya mending waktu KRS diperpanjang kira-kira dua mingguan. Dan untuk laboratorium yan digunakan seharusnya jangan hanya tiga, tapi ditambah lagi,” ujar aktivis kelahiran Sampang Madura tersebut. Terus Tingkatkan Kualitas Menyikapi berbagai macam keluhan dan persepsi mahasiswa mengenai kekurang efektifan KRS online, Sujono, Pembantu Rektor I mengungkapkan bahwa KRS Online awalnya diterapkan dengan tujuan agar proses KRS lebih cepat, efisien dan akurat. Konsep tersebut pada dasarnya lebih instant jika dibandingkan dengan sistem KRS manual sebelumnya yang lebih rumit dan membutuhkan waktu kurang lebih dua hari. “Sistem manual yang dulu prosesnya lama, karena mahasiswa harus menunggu perwalian dulu kemudian laporan ke BAA. Proses seperti ini juga dapat selesai dalam satu atau dua hari saja,” ungkap Guru Besar Bidang Produksi Sapi Perah tersebut. Dalam menunjukkan keseriusannya memperbaiki sistem, UMM pada tahun

2010 ini juga telah meterapakan model Manajemen Administrasi Akademik (MAA) yang baru, dimana kode Program Studi (Prodi), kode Mata Kuliah serta Nomor Induk Mahasiswa (NIM) akan berbeda dengan yang lama. "Penerapan model seperti itu digunakan dalam rangka pembenahan dan penyesuaian MAA. Di samping itu mahasiswa UMM yang semakin banyak kuantitasnya tidak memungkinkan lagi menggunakan metode yang lama. Dengan model MAA yang baru, memasukkan kode Prodi juga menjadi lebih mudah, karena kodenya tidak akan habis,” tambah pria yang telah menuntaskan pendidikan S2 dan S3 di Universitas Airlangga. Selain sistem KRS yang on line, sistem pembayaran pun sudah on line, sehingga untuk dapat melakukan KRS on line, pembayaran administrasi mahasiswa harus fix, atau dengan kata lain mahasiswa harus mempunyai nol persen tanggungan. “Mungkin beberapa mahasiswa yang kesulitan kemarin, masih kurang pembayarannya sehingga tidak bisa online. Memang sistemnya demikian, KRS online tidak dapat diproses kalau administrasinya belum selesai. Mahasiswa yang bersangkutan harus ke bagian keuangan dulu untuk melengkapi kekurangannya,” tukas pria yang pernah menjabat sebagai kepala Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPPM) UMM sebelum menjadi PR I tersebut. Sedangkan, untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan KRS online, tahun 2009 lalu UMM telah meningkatkan bandwidth-nya menjadi 10 Mbps. Dengan bandwidth yang lebih besar, waktu yang diperlukan mahasiswa untuk KRS online menjadi lebih cepat. “Jika tahun lalu tiap mahasiswa membutuhkan waktu hingga 10 menit, maka dengan besarnya bandwidth yang baru mahasiswa hanya memerlukan waktu antara dua sampai tiga menit saja,” terang dosen Fakultas Pertanian dan Peternakan UMM tersebut. Mahasiswa Tak Tepat Jadwal Mengenai ketidakefektifan KRS Online, sekretaris Lembaga Informasi dan Komunikasi (Infokom), Muhammad Nasar mengungkapkan KRS Online sebenarnya baru dirancang online untuk wilayah intra kampus

UMM saja. “Sistem aplikasi KRS Online saat ini belum bisa online sebagaimana mestinya, dalam arti bisa diakses publik dimana pun berada. Saat ini kami sedang mengusahakannya,” ungkap alumni Jurusan Teknik Elektro itu. Ketika Bestari menanyakan kapan program yang baru mampu terealisasi, Nasar demikian sapaan akrabnya, mememberikan jawaban ketika proses integrasi link antara Biro Administrasi Keuangan dengan Biro Administrasi Akademik atau Biro yang terkait dengan pelaksanaan herregistrasi sudah terintegrasi maka tidak menutup kemungkinan tahun 2011 sudah terealisasi. “Insya Allah tahun 2011 nanti sudah terintegrasi,” jelas pria yang pernah Training Of Trainer (TOT) Tenaga Pengajar Perpustakaan se-Jatim ini Lebih lanjut, menurut laki-laki ramah itu, integrasi link antar biro penting dilakukan karena akan mempermudah pelaksanaan KRS Online. “Jadi ketika mahasiswa melakukan pembayaran tidak perlu lagi menunjukkan kuitansi pembayaran ke Biro Keuangan, selain itu akan mempermudahkan dalam urusan lain misalkan mau pinjam buku tinggal tinggal ketik NIM nya,” tambahnya. Terkait persiapan pelaksanaan KRS Online yang dapat diakses dari luar kampus, pria yang bekerja di Infokom sejak tahun 2009 itu menjelaskan sampai saat ini pihak Infokom selaku pengelola dan pemelihara aplikasi mempersiapkan baik secara teknis maupun non teknis. “Kita menyiapkan software maupun hardware yang mendukung, dan tentunya juga harus diimbangi juga dengan mempersiapkan sumber daya manusiannya,” tukasnya. Sedangkan mengenai masalah perbanyakan jumlah laboratorium, Nasar mengatakan bahwa sebenarnya jumlah laboratorium online sudah cukup banyak. “Pada dasarnya antri dan desak-desakan ketika KRSan bukan karena kurangnya laboratorium. Tapi karena mahasiswa yang tidak mau KRS-an sesuai jadwal. Akibatnya semua angkatan campur baur dan tidak terkondisikan. Padahal sudah terjadwal masing-masing angkatan,” ungkapnya mengahiri.m_fik/p_idr/p_kis

Butuh Kerjasama Semua Pihak Menjelang pergantian semester, mahasiswa UMM mulai sibuk mengurus keperluan daftar ulang. Salah satu alur registrasi ulang yang vital yaitu memprogram Kartu Rencana Studi (KRS) secara online di kampus. Banyak terdengar suara mahasiswa beranggapan bahwa pelaksanaan KRS online kurang efektif, sebab kerap menimbulkan antrian panjang dan tidak bisa diakses dari luar kampus meski disebut ‘online’. Bagaimana Biro Administrasi Akademik (BAA) UMM menanggapi dalam hal tersebut? Berikut penelusuran reporter Bestari Shelbi Asrianti dengan Kepala BAA UMM, Drs. Khozin, M.Si. Apa tanggapan Anda mengenai keluhan mahasiswa terhadap pelaksanaan KRS online yang tidak efektif karena tidak bisa diakses dari luar kampus dan terkesan semrawut? KRS online itu kan memprogram mata kuliah secara online yang penggunaannya memang dibatasi aksesnya hanya di lingkungan kampus saja (intranet). Hal ini karena, pada dasarnya KRS online itu difungsikan demi kebaikan dan kepentingan mahasiswa. Jangankan KRS online, bahkan website kita saja bisa di-hacker orang. Jadi pertimbangannya adalah keamanan untuk nilai mahasiswa sendiri. Berbeda dengan KHS yang memang sengaja di-publish agar bisa dilihat dari luar kampus. Soal semrawut, adanya jadwal tiap angkatan itu sebenarnya untuk menghindari

antrian yang panjang. Maka semestinya mahasiswa memprogram KRS sesuai jadwal. Lantas bagaimana anda menanggapi keluhan mahasiswa yang ingin KRS di luar kampus? Secara pribadi, saya bergantung pada tim IT (Information Teknology) BAA. Kalau tim saya mengatakan “Oke, Pak. Aman.” Ya sudah. Kalau tim IT-nya mengatakan “Masih belum bisa diamankan, Pak”, jelas saya kukuh dengan kebijakan jangan dibuka aksesnya untuk online di luar. Apalagi untuk melakukan KRS online, mahasiswa kan harus konsultasi ke dosen wali untuk mengambil sajian mata kuliah. Jika akses dari luar atau daerah masing-masing, lalu bagaiana dengan konsultasinya?

Perbaikan apa saja yang sudah dilakukan pihak BAA? Sekarang software untuk KRS online menggunakan software baru. Meskipun belum sempurna betul, tetapi dibuat lebih bisa mengakomodasi kepentingan jurusan, program studi, dan kepentingan mahasiswa. Pokoknya kita lakukan perubahan untuk melayani kebutuhan program studi, jurusan, dan mahasiswa. BAA ini untuk mahasiswa, karenanya apapun keluhan mahasiswa akan kita respon, kita perbaiki asalkan dibicarakan. Jangan hanya bicara di belakang, karena nggak akan bisa selesai. Jika ada keluhan, kita akan segera melakukan evaluasi. Apa saran Anda agar pelaksanaan KRS online dapat berjalan dengan efektif ? KRS online bisa ber jalan baik jika ada kerjasama dari semua pihak. Pertama, kerjasama yang baik dari dosen dalam menyerahkan nilai tepat waktu. Ingat bahwa tidak semua dosen disiplin menyerahkan nilai. Padahal apabila

tidak segera mengumpulkan, nilsi tidak bisa diolah. Kemudian kerjasama antara pihak jurusan dengan BAA harus baik, dalam artian jurusan menyerahkan sajian mata kuliah tepat waktu. Jangan lagi terlambat. Kerjasama dari mahasiswa, melakukan KRS sesuai jadwal yang telah dicantumkan. Selain itu, jika ada keluhan-keluhan bisa ditulis atau disampaikan.

Khozin fidha/Bestari


BESTARI No. 265/TH.XXIII/Agustus/2010

IPTEK

19

Rendam Dulu, Baru Digoreng B

uah-buahan sering kali dikonsumsi dalam bentuk segar, namun buahbuahan termasuk komoditas yang mudah rusak. Diperkirakan 35% buah-buahan dan sayur-sayuran banyak yang rusak atau tidak bisa dikonsumsi lagi disebabkan karena pada saat panen jumlahnya berlimpah sedangkan penanganan atau pemanfaatan belum memadai, dan juga pemanfaatan buah-buahan yang kurang maksimal. Salah satu jenis buah-buahan yang mudah rusak adalah Buah Mangga. Mangga begitu sangat digemari masyarakat. Bentuk, ukuran, warna dan cita rasa buah mangga begitu beragam. Dari segi gizi semuanya hampir tidak jauh berbeda. Mangga ranum segar mengandung air sekitar 82%, Vitamin C 41 mg dan energi/ kalori 73 Kal/100 gram. Pada setiap 100 gram mangga muda terkandung air lebih kurang 84%, Vitamin C 65 mg dan energi 66 Kal. Energi dalam mangga muda rendah karena lebih banyak mengandung zat pati, yang akan berubah menjadi gula dalam proses pematangan. Sebagian besar energi mangga berasal dari karbohidrat berupa gula, yang membuatnya terasa manis. Kandungan gula ini didominasi oleh gula golongan sukrosa. Kandungan gula dalam mangga berkisar 7-12%. Namun, jenis mangga manis dapat mencapai 16-18 persen. Mangga yang muda biasanya diawetkan dengan kadar gula tinggi menjadi manisan baik dalam bentuk basah atau kering dan juga bisa dimanfaatkan menjadi keripik mangga. Buah Mangifera foetida Lour (Mangga Pakel) umumnya disukai masyarakat karena aromanya yang harum dan tajam serta rasanya yang khas, namun Buah Mangga Pakel mempunyai kelemahan seperti serat buah yang kasar dan banyak getahnya sehingga dapat membuat gatal di mulut saat dikonsumsi dalam keadaan segar. Oleh karena itu pemanfaatan Buah Mangga Pakel menjadi keripik mangga merupakan salah satu alternatif produk olahan sehingga mangga pakel bisa dikonsumsi tidak hanya dalam keadaan masak.

Dengan pemanfaatan mangga pakel menjadi keripik mangga tersebut selain dapat meningkatkan nilai ekonomis mangga pakel juga menjadikan mangga sebagai produk pangan yang lebih menarik dan memiliki nilai jual. Buah Mangga Pakel yang segar dan matang mengandung kadar pektin 2,1% dan tingkat keasaman dengan pH 3,2. Keripik merupakan hasil olahan bahan pangan yang dibuat dengan cara pengeringan atau penggorengan. Syarat yang harus dipenuhi pada produk keripik agar dapat diterima dan disenangi oleh konsumen adalah warna coklat kekuning-kuningan, renyah (krispness), permukaan halus dan rata serta enak rasanya. Keripik merupakan makanan kering yang banyak digemari masyarakat selain karena harganya yang ekonomis keripik pada penyimpanan dan pengolahan yang tepat bisa disimpan dalam waktu yang lama. Masalah yang dihadapi dalam pembuatan keripik mangga pakel ini adalah mangga pakel yang dalam keadaan segar mempunyai getah yang banyak dan rasanya yang asam. Penggunaan garam dapur dan gula pada pembuatan keripik mangga dapat mengurangi tingkat keasaman mangga sehingga meningkatkan kualitas keripik dan juga perlu adanya konsentrasi garam dapur dan gula yang tepat di dalam pengolahan keripik mangga. Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti berusaha untuk membuktikan pengaruh perendaman buah mangga pakel dalam berbagai larutan gula pasir, dan garam dapur terhadap perbedaan kualitas keripik mangga pakel. Peneliti berharap hasil penelitiannya dapat mendorong perkembangan ilmu-ilmu biologi khususnya bidang pangan dan gizi tentang pengaruh berbagai konsentrasi garam dapur dan gula pasir yang tepat untuk menghasilkan kualitas keripik mangga pakel yang terbaik. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 hari bertempat di Laboratorium Pangan dan Gizi dan Laboratorium Kimia Universitas Muhammadiyah Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah Buah

zack/Bestari

Mangga Pakel yang diperoleh dari pasar Bojonegoro yang kondisinya masih baik dengan kematangan 70%. Sampel diambil secara random yang diambil sedemikian rupa sehingga setiap anggota populasi mempunyai peluang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan eksperimen sungguhan (True Experiment) yang menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat dengan cara mengenakan satu atau lebih kondisi perlakuan kepada satu atau lebih kelompok eksperimental dan membandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakuan. Jenis gula yang digunakan adalah gula pasir warna putih dengan konsentrasi perendaman gula yang digunakan 200 gram/liter pelarut, 500 gram/liter pelarut, 800 gram/ liter pelarut. Begitu juga dengan garam yang digunakan adalah garam dapur dengan konsentrasi perendaman garam yang digunakan 20 gram/liter pelarut, 50 gram/liter pelarut dan 80 gram/liter pelarut. Tahap pelaksanaan dalam penelitian ini adalah pertama, pemilihan bahan baku yaitu pemilihan buah mangga sesuai dengan ukuran serta ada tidaknya kerusakan atau cacat. Kedua, pengupasan untuk menghilangkan kulit yang tidak dikehendaki dalam proses dengan menggunakan pisau

Liburan Lancar, Ibadah Jalan Bulan suci Ramadan adalah bulan yang penuh berkah untuk umat islam di dunia. Tak jarang semua umat islam berbondong-bondong untuk beribadah demi memaknai bulan Ramadan itu sendiri. Berbagai persiapan dilakukan baik fisik maupun mental. Bulan Ramadan kali ini bertepatan dengan liburan yang lumayan panjang, namun tak menyurutkan semangat dalam melakukan ibadah. Bulan suci Ramadan tidak menjadi alasan untuk bersikap bermalasmalasan saat liburan. Puasa pun bukan juga menjadi alasan untuk menghalangi aktivitas liburan dengan keluarga ataupun teman. Ada beberapa kegiatan yang bisa menjadi alternatif liburan sesuai dengan atmosfer bulan penuh berkah ini. Pertama, liburan tidak melulu pergi ke suatu tempat. Liburan juga bisa dinikmati di rumah dengan mengundang teman dan saudara untuk sharing bersama atau bedah buku seputar dunia islam insyallah merupakan aktivitas liburan yang bermanfaat. Kedua, berbelanja bersama keluarga untuk kebutuhan puasa dan persiapan lebaran.

Berbelanja dimanapun tidak k akan menjadi penghalang, yangg terpenting dapat menikmatii n aktivitas tersebut. Lebih nyaman lagi jika berbelanja di pusat-pusatt perbelanjaan modern sehinggaa tidak perlu berpanas-panasan. h Ketiga, biasanya sejumlah komunitas islami menggelar pro-gram-program wisata Ramadan.. Sambil liburan Anda juga bisaa menambah amalan dan pahalaa pada bulan suci Ramadan.. Keempat, jalan-jalan di ruangg publik saat ngabuburit. Ngabuburitt atau menunggu datangnya waktu u berbuka puasa. Kelima, berkunjung ke toko buku. Toko buku kerap dijadikan pilihan banyak orang untuk menghabiskan waktu pada bulan puasa. Tidak harus membeli buku. Banyak toko buku yang memperbolehkan pengunjung untuk membaca di tempat. Keenam, bagi cewek saat liburan adalah kesempatan untuk menyalurkan hobi yang mungkin banyak tertunda karena kesibukan kuliah. Membuat kue dan memasak untuk persiapan buka puasa. Ketujuh, bersih-bersih rumah untuk

zack/Bestari

menyambut b d datangnya h harii raya Id Idull Fitri. Dapat mempercantik tampilan rumah untuk menyambut datangnya hari kemenangan. Membersihkan rumah bersama keluarga kiranya dapat menjadi aktivitas yang menyenangkan. Semoga ketujuh tips tersebut dapat membantu mengisi aktivitas di bulan Ramadan ini. Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga semua dapat memaknai bulan suci ini dan mendapat berkah dari Allah SWT. Disunting oleh: Rina Ngesti A dari Harian Kompas

yang tajam. Ketiga, pencucian untuk menghilangkan kotoran yang melekat pada Buah Mangga Pakel dengan menggunakan air mengalir. Keempat, pengirisan untuk mengambil daging Buah Mangga Pakel dan membuang bijinya lalu mengiris tipis daging buah dengan ketebalan 0.5 cm dengan bentuk dan ukuran sesuai selera. Kelima, perendaman dalam air garam dan gula pasir secara dikombinasikan dengan konsentrasi garam dapur 20 gram/liter pelarut, 50 gram/liter pelarut dan 80 gram/liter pelarut dan konsentrasi gula pasir 200 gram/ liter pelarut, 500 gram/liter pelarut dan 800 gram/liter pelarut selama 2 jam. Setiap rendaman berisi 250 gram irisan Buah Mangga Pakel. Keenam, penirisan dan pencucian yaitu meniriskan mangga pakel yang telah direndam dalam kombinasi larutan garam dapur dan gula pasir dalam wadah berlubang lalu mencuci dengan air mengalir, kemudian memasukkan tiap sampel ke dalam plastik. Ketujuh, pembekuan yaitu untuk menambah tingkat kerenyahan yang dihasilkan dan juga untuk mengurangi pengerutan dengan memasukkan tiap sampel yang sudah dimasukkan dalam plastik ke dalam kulkas selama 12 jam. Kedelapan, penggorengan dengan menggunakan Vacuum Frying pada suhu 90°C selama 50 menit. Kesembilan, penirisan setelah selesai melakukan penggoreng irisan mangga pakel lalu memasukkan dalam spiner untuk mengurangi kandungan minyak dalam keripik mangga pakel. Penirisan dengan spiner ini dilakukan selama 3 menit. Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan mengenai pengaruh perendaman dalam berbagai konsentrasi garam dapur dan gula pasir terhadap kualitas keripik mangga pakel, didapatkan data bahwa konsentrasi garam dapur dan gula pasir memberikan pengaruh dari warna keripik, kerenyahan, rasa, aroma dan tekstur keripik mangga. Hasil pengaruh kombinasi konsentrasi gula pasir dan garam dapur terhadap kualitas keripik mangga pakel ditunjukkan dari:

• Gula reduksi mencapai nilai optimal pada Penambahan konsentrasi gula pasir 800 gram/ liter pelarut dan garam dapur 80 gram/liter pelarut yaitu 1600 gram gula pasir + 160 gram garam dapur dalam 2 liter air. • Kadar air mencapai nilai optimal pada penambahan konsentrasi gula pasir 800 gram/liter pelarut dan garam dapur 80 gram/liter pelarut yaitu 1600 gram gula pasir + 160 gram garam dapur dalam 2 liter air. • Nilai organoleptik kerenyahan mencapai nilai optimal pada penambahan konsentrasi gula pasir 800 gram/liter pelarut dan garam dapur 50 gram/liter pelarut yaitu 1600 gram gula pasir + 100 gram garam dapur dalam 2 liter air, dengan tingkat kesukaan panelis rata-rata 4.17 atau berada pada kisaran netral (biasa). • Nilai organoleptik rasa mencapai nilai optimal pada penambahan konsentrasi gula pasir 800 gram/ liter pelarut dan garam dapur 50 gram/liter pelarut yaitu 1600 gram gula pasir + 100 gram garam dapur dalam 2 liter air, dengan tingkat kesukaan panelis rata-rata 3.1 atau berada pada kisaran netral (biasa). • Nilai organoleptik aroma mencapai nilai optimal pada penambahan konsentrasi gula pasir 800 gram/ liter pelarut dan garam dapur 80 gram/liter pelarut yaitu 1600 gram gula pasir + 160 gram garam dapur dalam 2 liter air, dengan tingkat kesukaan panelis rata-rata 4.17 atau berada pada kisaran netral (biasa). • Nilai organoleptik tekstur mencapai nilai optimal pada penambahan konsentrasi gula pasir 500 gram/ liter pelarut dan garam dapur 80 gram/liter pelarut yaitu 1000 gram gula pasir + 160 gram garam dapur dalam 2 liter air, dengan tingkat kesukaan panelis rata-rata 4.5 atau berada pada kisaran netral (biasa). Kelebihan dari penelitian ini nampak jelas bahwa kombinasi konsentrasi dari gula pasir dan garam dapur dapat meningkatkan kualitas keripik dari Buah Mangga Pakel. Data diolah oleh: Rina Ngesti A

Biodata Penelitian Judul penelitian

Nama peneliti Fakultas/jurusan Dosen Pembimbing Tahun penelitian

: Pengaruh Perendaman dalam Berbagai Konsentrasi Garam Dapur dan Gula Pasir Terhadap Kualitas Keripik Mangga Pakel (Mangifera foetida Lour). : Yunita Purniawati : FKIP / Jurusan Pendidikan Biologi : 1. Drs. H. Ainur Rofieq, M. Kes 2. Drs. H. Atok Miftahul Huda, M.Pd

: 2010


20 BESTARI

KATA MEREKA

No. 265/TH.XXIII/Agustus/2010

c

Pro-Kontra Fatwa MUI atas acara Infotainment

MUI Hanya Simbol Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang disahkan beberapa hari yang lalu, tepatnya dalam pleno Musyawarah Nasional (Munas) MUI di jakarta, selasa (27/7/2010) menggemparkan dunia hiburan Indonesia. Pasalnya, MUI mengeluarkan Fatwa haram infotainment baik bagi yang menayangkan maupun bagi yang menyaksikan atau menonton. Sebenarnya yang diharamkan oleh MUI bukanlah program infotainmentnya, tetapi kontennya yang didominasi pemberitaan dan komentar tentang aib orang lain. Hal ini berdasarkan salah satu dari tujuh fatwa baru yang dihasilkan oleh MUI pada Munas yaitu mengharamkan pemberitaan, penyiaran dan penayangan aib orang. Pengecualian hanya demi kepentingan umum seperti penegakan hukum. Memang, jika diperhatikan, sebagaian besar infotainment membicarakan aib para artis atau selebritis. Prestasi dan kesuksesan jarang diangkat, sedangkan kasus perselingkuhan, perceraian, dan perseteruan di-blow up. Bahkan, ada kesan infotainment mengadu domba antar pihak sehingga yang awalnya hanya kasus biasa dan sederhana menjadi lebih besar dan bertambah runyam. Tidak jarang pula yang berakhir ke meja hijau. Jika mengamati pemberitaan infotainment, ada dua hal yang menjadi pusat perhatian yaitu ghibah dan namimah. Ghibah yaitu membicarakan keburukan orang lain yang jika orang lain itu tahu tidak akan menyukainya, sedangkan namimah yaitu adu

Oleh:

Retno Dewi Alganingrum Pendidikan Bahasa Inggris 2009

domba. Keduanya dan semua kegiatan mengorek aib orang lain sehingga mengganggu, menyinggung, mencemarkan dan menjatuhkan martabat orang lain diharamkan dalam Islam. Bagi umat muslim, ghibah tidak perlu menunggu untuk difatwakan karena sudah jelas. Nah, yang menjadi persoalan di sini adalah selama ini MUI telah banyak mengeluarkan fatwa, tapi fatwa-fatwa tersebut sering kali tidak digubris oleh masyarakat. Mengapa? Secara hukum, fatwa hanya berhenti pada urusan hukum saja. Faktanya tidak terdapat pelaksanaan yang nyata di lapangan. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memandang bahwa fatwa adalah salah satu dari sekian alternatif hukum, jika cocok bisa digunakan dan jika tidak cocok bisa ditinggal begitu saja. Hal inilah yang menyebabkan kesenjangan. MUI hanya menjadi simbol yang dilihat ketika dibutuhkan saja. Jika seperti ini, maka fatwafatwa MUI yang berhubungan dengan aspek kehidupan yang sebenarnya urgen seperti kasus ghibah ini menjadi bias karena tidak memiliki kekuatan hukum. Jadi, selain MUI tidak perlu mengeluarkan fatwa terhadap hal-hal

yang sudah jelas hukumnya dalam Al-Quran dan hadis, fatwa MUI juga harus didukung oleh penerapan syariat Islam secara menyeluruh di

yang berisikan bermacam informasi tentang dunia selebritis yang dinilai MUI banyak berisikan fitnah, ghibah, dan namimah. Fatwa haram lahir karena banyaknya desakan dari sebagian masyarakat yang melihat penayangan infotainment sudah jauh dari kebaikan. Sebenarnya ini tidak masuk dalam plan pembahasan pleno MUI. Namun, melihat hal tersebut, perkara ini akhirnya juga dimasukkan dalam plan pembahasan, termasuk kasus salah satu figur publik yang tersandung video porno. Kasusnya saja sampai sekarang bahkan belum selesai. Tampaknya peran wartawan dan media yang menayangkannya juga sangat besar

Oleh:

Moh. Rasyid Ridho Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2010

untuk terus membesarbesarkan dan berusaha memperpanjang kasus ini. Akhirnya, terjadi banyak dampak negatif terhadap masyarakat seperti pelecehan seksual dan perbuatan tak senonoh anak bawah umur terhadap temannya sendiri lantaran meniru idolanya yang berita kasusnya sering dipertontonkan. Sebenarnya keharaman infotainment ini terletak pada isinya yang mengandung tiga hal tersebut, bukan pada programnya sendiri. Seandainya program tersebut menampilkan tayangan selebritis tentang kebaikannya dengan tujuan agar masyarakat bisa mengikutinya tentu tidak masalah. Namun, realitanya lebih banyak insan pertelevisian latah dengan yang sudah menjadi tren terlebih dahulu. Jika ada kasus perceraian artis misalnya X, maka semua infotainment dari channel A sampai Z mengulasnya habis-habisan. Kontroversi pun terjadi antara ulama dan pers (wartawan). Namun, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menyambut fatwa ini dengan baik. Menurut mereka, ini adalah masalah infotainment yang sejak lama sudah menimbulkan pro-kontra terkait dengan pengakuan terhadapnya sebagai karya jurnalistik. Bahkan, Sekretaris Dewan PWI Pusat, Ilham Bintang, pernah memberikan pernyataan bahwa hanya infotainment yang

Kepada Yth. Pengelola kampus Sebagai mantan mahasiswa yang baru diwisuda, saya merasa sangat bahagia akhirnya perjuangan saya di kampus putih tercinta ini selesai juga. Namun ada hal yang membuat saya kurang senang,pelayanan bagi kami seelah lulus guna mendapatkan ijasah yang seharusnya menjadi hak kami kug sangan berbelit-belit. Untuk mengurus pernyaratannya harus berpindah-pindah gedung, itu hanya yang di kampus 3, sedangkan yang berada dikampus 2 bagaimana nasibnya?? harus muter-muter kampus 2-kampus 3 yang jaraknya tidaklah dekat dan juga ditambah lagi dengan jalanan yang pasti macet. Untuk itu saya sangat berharap kepada pengelola kampus untuk bisa membenahi alur tersebut agar kami bisa mengurus keperluan kami tersebut. terima kasih AM Alumni UMM 05

Informasi Kerja buat Alumni Belum Sepenuhnya Terintegrasi dengan Web UMM

setiap aspek kehidupan. Jika hanya dalam satu aspek saja seperti saat ini, maka fatwa mengenai apapun tidak akan diindahkan oleh masyarakat. Contohnya saja konten infotainment ini. Harus ada hubungan yang sinergis dari berbagai pihak yang berhubungan dengannya baik pemerintah, lembaga penyiaran, MUI, dan pihak-pihak lain, termasuk kontrol dari masyarakat juga diperlukan. Nah, sinergi ini hanya bisa terwujud melalui penerapan Islam karena Islam adalah rahmatan lil ‘alamiin.

Penguatan Fatwa Memerlukan Kerjasama Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali mengeluarkan fatwanya tentang haramnya infotainment, sebug y g ah p program tayangan di televisi

Mungkinkah Pelayanan Mahasiswa Satu Atap?

tunduk kepada Undang-Undang No 40/1999 tentang Pers dan taat Kode Etik Jurnalistik (KEJ) yang dapat diakui sebagai karya jurnalistik. Sehingga, infotainment tentang berita bohong, isapan jempol, dan bersifat membuka aib orang di media massa baik cetak ataupun media elektronik tidak dianggap sebagai karya jurnalistik. Fenomena yang menjadi polemik saat ini adalah media massa dan media elektronik masih saja menampilkan dan menayangkan program yang dari segi muatan berita tergolong dalam fatwa haram. Tidak ada respon sama sekali terhadap apa yang telah difatwakan. Lalu, bagaimanakah nasib fatwa tersebut? Apakah kemudian nasibnya akan sama dengan fatwa Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tentang haramnya infotainment tahun 2006 lalu yang awalnya santer, tetapi perlahan hilang tidak ada bekasnya? Seharusnya ada sebuah kerja sama antara MUI sebagai perwakilan ulama yang menjadi rujukan masyarakat dengan insan pertelevisian ataupun insan yang berada dalam media cetak. Kerja samanya bisa dengan membuat pengontrol gabungan dari ulama dan orang dari lembaga sensor tentang konten yang akan ditayangkan dalam infotainment. Jika layak maka bisa ditayangkan, sedangkan jika tidak baik maka harus ditahan penayangannya. Jadi, walau ini cukup berat, apalagi jika nanti dikaitkan dengan kebebasan pers, tetapi harus ada upaya ke sana jika fatwa tersebut benar-benar ingin ditaati atau paling tidak “terpaksa” ditaati. Jangan sampai fatwa tersebut hanya cetusan tanpa greget belaka dan berakhir sama seperti fatwa pendahulunya. Wallahu’alam.

Kepada Bagian PKMA Sebelumnya saya berterima kasih atas pelayanannya yang mendukung kami agar segera mendapatkan pekerjaan maupun berwirausaha. Namun saya ada usulan agar setiap informasi mengenai dunia kerja khususnya lowongan pekerjaan bisa dikabarkan kepada kami para alumni melalui SMS, minimal yang sesuai dengan jurusan kami. Bukankah kampus ini sudah berbasis IT??? atau jika terlalu rumit bisa juga dengan memasukkan informasi tersebut di web UMM, sehingga kami bisa dengan mudah mengetahuinya. Semoga usulan saya bisa di tidak lanjuti, terimakasih. Kha Alumni FPP '05

Pasang CCTV di Masjid Kepada Yth. Pihak Keamanan Kampus UMM Saya kecewa dengan pengamanan di Masjid AR. Fachruddin UMM. Sudah sering kali saya mendengar adanya kehilangan sepatu atau sandal saat Sholat Jum’at. Saya sendiri juga pernah mengalaminya. Selain itu, teman-teman lain juga sering menjadi korban. Saya harap di masjid AR. Fachruddin dipasang CCTV untuk menekan kasus pencurian tersebut. Meskipun sebenarnya sudah ada loker untuk menyimpan sepatu, tapi hal itu tidak bisa menampung semua alas kaki jamaah sholat. Jadikanlah wilayah kampus UMM aman dari pihak-pihak luar maupun dalam kampus yang tidak bertanggungjawab. Terima kasih sebelumnya saya ucapkan kepada para jajaran Security UMM. SC FT UMM 2008

INFO BESTARI Tema Kata Mereka Edisi September 2010:

Musim Mahasiswa Baru sudah datang, kebanyakan dari mereka pasti masih bingung dengan gaya anak perkuliahan. Berikan pesan atau kiat Anda kepada para mahasiswa baru dalam meraih mimpi mereka selama mereka dibangku perkuliahan Naskah diterima di kantor redaksi bestari atau melalui email: redaktur_bestari@yahoo. com. Pengiriman paling lambat tanggal 12 Juli 2010, dengan jumlah karakter 3000 karakter. Naskah yang dimuat akan mendapatkan imbalan. Redaksi

PENGUMUMAN PENGAJUAN PROPOSAL PKM TAHUN 2010

Telah dibuka kesempatan bagi segenap mahasiswa UMM untuk mengajukan proposal PKM ke DP2M Ditjen Dikti dengan persyaratan administratif sbb: 1. Peserta program Kreativitas Mahasiswa (PKM) adalah kelompok mahasiswa yang sedang mengikuti program pendidikan S1 atau Diploma secara aktif. 2. Seorang mahasiswa hanya diperkenankan masuk maksimal 2 (dua) usul proposal PKM, yaitu sebagai ketua dan anggota atau kedua-duanya sebagai anggota pada usul proposal berbeda. 3. Setiap usul proposal dibuat rangkap 3 (tiga) jilid langsung (PKM-P warna PUTIH; PKM-T warna BIRU; PKM-M warna MERAH; PKM-K warna KUNING) sertakan soft copy file MS-Word tersebut pada CD yang ditempeli label dengan format DOC atau RTF dan batas waktu pengajuan usulan proposal Tahap II selambat-lambatnya tanggal 2 Oktober 2010 diserahkan ke Bagian Penalaran Biro Kemahasiswa Gedung Student Center Lantai 1 Kampus III UMM. KRITERIA PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA (PKM)

No

KRITERIA

1.

4.

JENIS KEGIATAN PKMT *) PKMK

PKMM *)

Inti Kegiatan

Karya kreatif, inovatif dalam penelitian

Materi Kegiatan

Sesuai bidang ilmu, lintas bidang ilmu

Karya kreatif, inovatif dalam menciptakan karya teknologi Sesuai bidang ilmu, lintas bidang dianjurkan

Jumlah Anggota

3 – 5 orang

3 – 5 orang

3 – 5 orang

3 – 5 orang

Alokasi Pendanaan Maksimal

Biaya Maks Rp. 10 juta

Biaya Maks Rp. 10 juta

Biaya Maks Rp. 10 juta

Biaya Maks Rp. 10 juta

Luaran

Artikel, paten

Paten, model desain, piranti lunak, jasa

Barang dan jasa komersial

Jasa, desain, barang

2.

3.

PKMP

5.

Karya kreatif, inovatif dalam membuka peluang usaha Semua bidang ilmu atau yang relevan

Karya kreatif, inovatif dalam membantu masyarakat Semua bidang ilmu atau yang relevan

Catatan:

*) Wajib menyertakan Surat Pernyataan Kesediaan (dengan materei yang berlaku Rp. 6.000,-) dari pihak mitra yang disebutkan Malang, 4 Agustus 2010 Pembantu Rektor III, Drs. Joko Widodo, M.Si.


BESTARI No. 264/TH.XXIII/Agustus/2010

KONSULTASI

Biro

Konseling

Nurani Meraih Kemenangan

Homesick Mulai Mengganggu

Assalamualaikum wr.wb Nama saya RS, saya seorang mahasiswi baru di salah satu perguruan tinggi di Kota Malang. Usia saya saat ini 18 tahun, Saya bukan berasal dari Kota Malang dan di sini saya atas kemauan orang tua saya untuk menempuh studi. Sebelumnya saya tidak pernah keluar kota atau bahkan tinggal jauh dari orang tua. Tapi sekarang saya di sini tinggal sendirian dan ngekos di dekat kampus. Di sini saya sering merasa kesepian dan saya sendirian, mungkin saya orang yang lambat dalam bergaul jadi saya sering di kamar dan kadang-kadang saya menangis karena ingat sama keluarga di rumah. Rasanya saya tidak tahan berada jauh dari orang tua, tapi saya juga tidak mau mengecewakan mereka yang meminta saya untuk menempuh studi di sini. Awalnya saya ingin masuk perguruan tinggi di kota saya saja tapi orang tua saya menyarankan saya untuk ke luar kota karena menurut mereka di sini kualitas pendidikannya lebih bagus. Saya akhirnya memutuskan untuk setuju, tapi setelah saya beberapa bulan di sini saya meresa kesepian dan selalu teringat akan mereka di sana . Saya jadi tidak konsen kuliah karena kurang sreg dengan keadaan seperti ini tapi di lain sisi saya tidak mau orang tua saya kecewa pada saya. Mbak/mas kirakira apa yang seharusnya saya lakukan ? Wassalamu'alaikum Salam, Wr. Wb Jawab: Wa'alaikum Salam, Wr, Wb. Begini mbak RS, mungkin apa yang dialami mbak RS adalah sesuatu yang wajar karena itu adalah salah satu proses penyesuaian diri terhadap lingkungan yang baru yang sekarang mbak RS tinggal. Kalau mbak RS orang yang lambat dalam bergaul, mungkin ini kesempatan mbak RS untuk lebih bisa bergaul apalagi kalau dikos mbak RS banyak orang-orang yang berbeda daerah. Begitu juga di kampus, mungkin mbaknya bisa coba berbincang-bincang dengan teman satu kelasnya atau diskusi. Apa yang mbak alami itu merupakan proses dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan baru, nanti lama kelamaan mbak akan terbiasa dan mempunyai banyak teman sehingga tidak merasa kesepian lagi dan mulai bisa menikmati keadaan di lingkungan yang baru tersebut. Atau bisa juga mbak mencari kegiatan tamba-

BKBH Assalamualaikum. Wr.Wb. Pengasuh Rubrik Konsultasi Hukum yang saya hormati. Saya Ikbal dari Surabaya, Saya ingin menanyakan permasalahan yang menimpa keluarga saya. Istri saya berselingkuh dengan seorang pria bernama AG, Saya mulai mencurigai perselingkuhan tersebut sejak 7 bulan yang lalu. Awalnya saya curiga istri saya sering pulang kantor terlambat. Kemudian saya pernah memergoki istri saya menelepon AG dan gaya bicara yang mesra. Saya juga pernah diam-diam membuka daftar SMS di Hp istri saya. Alangkah terkejutnya saya ketika melihat banyak SMS dari AG yang sangat tidak pantas kepada istri saya. Beberapa kali saya menanyakan masalah ini kepada istri saya, tapi dia selalu mengelak dan beralasan bahwa AG hanya teman biasa. Puncak perselingkuhan istri saya terjadi pada pertengahan bulan Juli lalu. Ketika itu istri saya pamit kepada saya ingin menghadiri seminar di Kota Malang, Saya curiga istri saya berbohong. Saya kemudian memutuskan mengikuti istri saya, dengan mengajak teman saya. Setelah sampai di Malang, dugaan saya terbukti. Istri saya bertemu dengan AG di salah satu Café. Setelah beberapa jam di Café, mereka kemudian berangkat menuju salah

21

han dengan mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa atau organisasi yang mbak sukai di kampus. Kalau permasalahan orang tua mbak menyarankan masuk perguruan tinggi di luar kota, mungkin orang tua mbak menginginkan pendidikan yang terbaik, selain itu karena mbak tidak pernah jauh dari orang tua sehingga mungkin orang tua berharap agar mbak bisa b e l a j a r mandiri wa l a u p u n jauh dari orang tua. W a l a u bagaimanapun mbak R S , tidak ada satu orang tua pun yang tidak menginginkan anaknya menjadi yang terbaik baik, baik itu bagi diri anak itu sendiri, orang tua dan juga lingkungan sekitarnya. Nah mungkin dengan dulunya kebiasaan mbak yang selalu dekat orang tua, lambat bergaul , dan lain-lain. Mulai sekarang adalah saatnya untuk mencoba merubah kebiasaan tersebut, mungkin itu yang diharapkan orang tua mbak. Kalau mbak kangen dengan mereka, mbak bisa menggunakan alat komunikasi seperti telepon, itu salah satu cara untuk mengurangi rasa kerinduan terhadap seseorang yang jauh dari kita. Jadi mbak harus semangat dan jangan putus asa, buatlah orang tua mbak bangga. Apabila kita tidak mencoba sesuatu yang baru untuk perkembangan atau kebaikan maka hal tersebut sama dengan menghilangkan kesempatan kita untuk menjadi seseorang yang lebih baik dari sebelumnya. Pengorbanan dalam perubahan yang lebih baik adalah sesuatu hal yang akan membawa seseorang meraih kesuksesan di kemudian hari. Tim UPT BK Masjid AR Fachruddin Lantai I Kampus III UMM Penanggungjawab : Hudaniah, M.Si.,P.Si konseling_bk@yahoo.com Telp : 0341-464318 ext 180

di Hari yang Fitri

Idul fitri bagi sebagian orang identik dengan pakaian baru, kendaraan baru, rumah dengan cat baru dan seterusnya yang serba baru. Bagi kelompok ini idul fitri mesti dirayakan dengan biaya tertentu agar segala penampilannya terlihat baru. Akan tetapi apakah demikian yang diharapkan muncul dalam idul fitri? Secara harfiah idul fitri berarti kembali kepada fitrah setelah selama satu bulan penuh di bulan Ramadan orang-orang yang beriman berusaha menerpa diri dengan berbagai macam aktivitas kebaikan dan menghindari kemaksiatan. Selama satu bulan itu, dengan suka rela orang-orang yang beriman tidak makan dan minum serta melakukan aktivitas seksual dengan suami atau istri di siang hari meskipun tidak ada seorangpun yang mengontrol mereka. Selama itu pula dengan rajin mereka memperbanyak salat sunah, membaca Alquran, sedekah, Itikaf, dan mengekang diri untuk tidak menyakiti orang lain baik dengan ucapan maupun dengan tindakan. Masjid-masjid menjadi penuh dengan jamaah, suara lantunan Alquran terngiangngiang hampir di semua tempat, suasana religius menyelimuti hampir semua sektor kehidupan termasuk media-media elektronik yang selama ini sering kali menampilkan tayangan-tayangan yang tidak layak menjadi konsumsi umat Islam berubah wajah menampilkan acara-acara yang bertemakan keagamaan. Di bulan yang penuh ampunan dan kasih sayang Allah itu kepedulian orangorang yang beriman untuk mendekatkan diri kepada Allah semakin meningkat sebagaimana kepedulian mereka terhadap sesama manusia juga semakin tinggi. Puasa di bulan Ramadan pada dasarnya telah memberikan latihan untuk membangun tradisi mulia dan menumbuhkembangkan nilai-nilai luhur sebagai manifestasi manusia yang berkualitas di sisi Allah; manusia yang sukses melepaskan diri dari kekangan hawa nafsunya dan mampu mengembalikan diri kepada fitrahnya yang semula yakni fitrah dalam arti asal kejadian yang bersih dari dosa seperti tersebut dalam hadis "Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), orang tuanyalah yang menjadikan

ia Yahudi, Nasrani, atau Majusi"(HR. Bukhari), dan fitrah dalam arti cenderung mengikuti agama Allah yang lurus seperti disebut dalam Alquran:"Maka hadapkanlah mukamu ke agama Allah dengan lurus. Yaitu fitrah Allah yang Dia ciptakan. Tidak ada perubahan dalam ciptaan Allah akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (Q.S Al Ruum: 30) Orang yang ber-Idul Fitri adalah orang yang mampu memosisikan diri sebagai hamba yang kembali kepada fitrah dalam makna tersebut. Oleh karena itu merayakan idul fitri tidaklah identik dengan hal-hal yang serba baru secara fisik akan tetapi adalah mewujudkan kepribadian baru yang mengarah pada perwujudan diri yang suci dari dosa dan cenderung untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kepribadian baru yang demikian itu adalah dampak positif dari rangkaian aktivitas menjalankan puasa dan amal saleh yang lain selama bulan Ramadan yang disertai dengan pengendalian nafsu yang sungguh-sungguh untuk menghindari halhal yang kurang berguna meskipun halal dilakukan dan hal-hal yang dilarang oleh agama Islam. Mereka yang mampu mewujudkan kepribadian seperti ini adalah mereka yang telah meraih kesuksesan dalam menjalani proses ibadah selama bulan Ramadan dan mereka inilah yang sebenarnya ber-Idul fitri dalam arti yang sebenarnya meskipun pakaiannya tidak baru, kendaraannya tidak baru, cat rumahnya tidak baru, dan seterusnya. Perwujudan kepribadian baru yang positif seperti ini yang seharusnya dimunculkan tatkala orang merayakan idul fitri sehingga idul fitri tidak menjadi tempat berhura-hura, memboroskan harta benda, mengumbar nafsu dan kesenangan, akan tetapi idul fitri menjadi momentum penting untuk menjadi titik tolak dalam mengarungi kehidupan baru yang lebih baik, lebih bermakna, dan lebih bermanfaat. Semoga kita termasuk kelompok manusia yang ber-Idul fitri dalam arti yang sebenarnya. (Wallahu a’lam) Abdul Haris Dosen Fakultas Agama Islam UMM

Memenjarakan Istri yang Selingkuh hotel dan check in di hotel tersebut. Darah saya seperti mendidih melihat kejadian tersebut. Saya kemudian segera minta bantuan ke kantor polisi terdekat untuk menggerebek mereka. Seperti dugaan saya, AG dan istri saya berada di dalam kamar. AG duduk di tempat tidur, sedangkan istri saya baru keluar dari kamar mandi, dan memakai pakaian tidur. AG dan istri saya kemudian langsung dibawa ke kantor Polisi untuk diperiksa dengan tuduhan perzinaan. Saat ini penyidikan perkara tersebut masih berlangsung. Saya mendapat kabar dari penyidik, bahwa penyidik kesulitan untuk memproses kasus ini karena kurangnya barang bukti yang dimiliki Penyidik. Dan dari hasil penyidikan istri saya dan juga AG, mereka mengatakan bahwa di dalam kamar hotel tersebut mereka hanya ngobrol biasa dan tidak melakukan hal-hal yang terlarang. Kemudian hasil visum dokter terhadap istri saya juga menyatakan bahwa tidak ada tanda-tanda baru saja melakukan persetubuhan. Yang menjadi pertanyaan saya adalah bagaimana bila tidak ada saksi yang melihat istri saya melakukan perzinaan dengan AG. Apakah ia akan bebas dari jerat hukum? Apakah tidak ada pasal lain yang bisa dikenakan kepada istri saya dan AG atas perbuatan mereka? Terus

terang saya dendam dan sakit hati atas perselingkuhan istri saya dan saya ingin memberikan pelajaran kepada mereka berdua. Demikian pertanyaan saya, atas jawaban pengasuh, saya sampaikan terima kasih. Wassalamualaikum, Wr.Wb. Jawaban: Waalaikumsalam, Wr.Wb. Saudara Ikbal yang kami hormati, kami turut prihatin atas permasalahan yang menimpa anda. Perlu kami sampaikan bahwa tindak pidana perzinaan (Overspel) masuk dalam kategori delik aduan. Delik perzinaan tergolong unik karena pembuktiannya yang sulit. Begitu juga dengan kasus yang menimpa anda. Dari kronologis kasus yang anda uraikan, sangat sulit untuk menjerat istri anda dan AG dengan sangkaan tindak pidana Perzinaan. Hal ini disebabkan tidak adanya alat bukti yang mendukung sangkaan tersebut. Tindak pidana Perzinaan diatur dalam pasal 284 KUHP. Dalam penjelasan pasal tersebut dijelaskan definisi zina adalah “persetubuhan yang dilakukan oleh laki-laki atau perempuan yang telah kawin dengan perempuan atau laki-laki yang bukan istri atau suaminya. Kemudian yang dimaksud dengan persetubuhan adalah peraduan antara anggota kemaluan laki-laki dan perempuan

yang biasa dijalankan untuk mendapatkan anak. Jadi anggota lakilaki harus masuk ke dalam anggota perempuan, sehingga mengeluarkan air mani”. Untuk dapat dikatakan telah terjadi tindak pidana perzinaan, unsur-unsur di atas harus terpenuhi. Dan tentu saja harus dikuatkan dengan minimal 2 alat bukti. Alat bukti tersebut bisa dari keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, atau keterangan terdakwa. Namun demikian anda tidak usah khawatir. Istri anda tetap bisa dijerat dengan hukum, yaitu melakukan tindak pidana percobaan. Dalam hal ini percobaan perzinaan. Dalam pasal 53 ayat (1) KUHP disebutkan bahwa “percobaan untuk melakukan kejahatan terancam hukuman, bila maksud si pembuat sudah nyata dengan dimulainya perbuatan itu dan perbuatan itu tidak jadi sampai selesai hanyalah lantaran hal yang tidak bergantung dari kemauannya sendiri”. Kemudian pada ayat (2) disebutkan ”maksimum hukuman utama yang diadakan bagi kejahatan, dikurangkan dengan sepertiganya, dalam hal percobaan”. Agar pelaku bisa dikenakan tindak pidana percobaan, ada tiga unsur yang harus terpenuhi, yaitu: a. ada niat/kehendak dari pelaku; b. ada permulaan pelaksanaan dari niat/kehendak itu;

c. pelaksanaan tidak selesai semata-mata bukan karena kehendak pelaku. Nah pada kasus anda, semua unsur di atas telah terpenuhi. Istri anda jelas secara sadar memiliki niat dan berkehendak untuk menemui AG yaitu dibuktikan dengan telah diaturnya pertemuan dengan AG sedemikian rupa. Kemudian permulaan pelaksanaan niat/ kehendak itu juga telah terjadi, dibuktikan dengan keberangkatan istri anda ke Malang, kemudian bertemu dengan AG di kafe, selanjutnya check in di hotel. Ditambah lagi ketika digerebek, istri anda memakai pakaian tidur. Selanjutnya unsur ketiga juga telah terpenuhi, yaitu di mana pelaksanaan niat itu tidak selesai bukan karena kehendak istri anda dan AG, tapi karena digrebek/tertangkap tangan polisi. Hasil visum dokter justru bisa menjadi bukti kuat unsur ini. Karena berdasarkan hasil visum bisa diasumsikan mereka memang belum sempat melakukan perzinaan. Demikian jawaban kami, semoga dapat membantu menyelesaikan permasalahan anda. Wassalamualikum. Wr. Wb. Tim UPT BKBH Masjid AR Fachruddin Lantai I Kampus III UMM bkbh_unmuh@yahoo.com Telp : 0341-464318 ext 193


22 BESTARI

OPINI

No. 265/TH.XXIII/Agustus/2010

Corak

Perayaan Perayaan. Jika kita mendengar atau membaca kata itu, maka yang terlintas di pikiran akan erat kaitannya dengan segala sesuatu hal yang sifatnya menyenangkan. Yang menyenangkan biasanya dirayakan. Begitulah. Lihat saja, tahun baru dirayakan, ulang tahun dirayakan, pernikahan dirayakan. Sementara itu, kesedihan; bangkrut, sakit, apalagi meninggal tidak pernah (ingin) dirayakan. Ahlan wa sahlan ya sahru romadhon. Bulan puasa kembali menyapa, mendatangi setiap muslim setelah satu tahun pergi untuk menjanjikan pengampunan bagi mereka yang memintanya—tentu dengan catatan masih hidup. Allohuma barikhlana fii rojaba wa sya’bana wa balighna romadhon. Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadan. “Sampaikanlah”, doanya saja sampai demikian karena pentingnya bulan yang di dalamnya bertebar ampunan, rahmat, maghfiroh, dan pengabulan doa ini karena bisa jadi kita mati sebelum Ramadan. Dengan demikian, sudah selayaknya Ramadan dirayakan. Lalu, bagaimana merayakannya? Apakah dengan menyalakan kembang api, meniup terompet, membunyikan jlegar-jlegur mercon? Bisa jadi, bisa pula tidak. Semua tergantung dari siapa yang memaknainya. Sebagai negara muslim terbesar di dunia (semoga tidak seperti judul sinetron yang ditayangkan salah satu stasiun televisi swasta bahwa Islam hanya nama yang tertera di KTP saja, tidak lebih) Indonesia memiliki satu bulan tiap tahunnya yang mengharuskan umat Islam yang beriman di tanah air ini berpuasa. Namun, begitu mendekati Ramadan dan menjelang lebaran, ada satu fenomena yang selalu terjadi: naiknya harga-harga kebutuhan pokok. Bagi keluarga kelas menengah ke atas mungkin hal ini tidak menjadi masalah, tetapi bagi ibu-ibu rumah tangga kelas bawah, bulan puasa bisa jadi terasa menakutkan. Padahal, di negeri ini kalangan atas tidak lebih banyak dari kalangan bawah. Bulan puasa yang seharusnya menjadi perayaan justru terasa memberatkan, sebuah ironi di negeri yang label mayoritas justru menjadi milik umat muslim ini. Siapa yang bertanggung jawab? Apakah pemerintah, sistem, pedagang, pengusaha, rakyat sendiri, atau siapa? Entahlah. Terlalu pelik menelusuri dan mengurai benang yang sudah uwet-uwetan di negara ini. Yang terpenting adalah bagaimana umat Islam sendiri menyikapinya. Maka, merayakan Ramadan bisa dengan banyak cara. Yang tidak pernah sholat belajar sholat; yang tidak puasa, ikut puasa; yang puasanya bolongbolong, ditutupi; yang tidak pernah menginjak masjid, ikut sholat tarawih, yang tidak pernah sedekah ya bersedekah meski hanya goceng. Itu saja dulu kalau belum bisa yang lain karena puasa yang dimensinya lebih tinggi—menahan amarah, nafsu, ego, dan hal-hal yang sifatnya abstrak lain—bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Maka, perayaan adalah bagaimana kita merasa senang dan berusaha semampunya melakukan yang terbaik minimal bagi diri kita. Itulah perayaan, dan bukan tentang bagaimana bulan puasa ini bisa makan enak-enak, minum kolak, dan masak-masak. Bahkan, kadang itu belum cukup. Mendekati Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri umat Islam yang seharusnya disibukkan dengan ik'tikaf atau berdiam diri di masjid ini (tentu bukan hanya untuk tidur) justru memiliki kesibukan baru. Karena Lebaran hanya setahun sekali, gengsi jika tidak memiliki kuekue. Karena Lebaran hanya setahun sekali, maka baju baru juga perlu dibeli. Itu belum sandalnya, antinganting, cincin, sarung, kopyah, dan embel-embel tubuh yang lain sehingga di hari yang fitri semua tampak gemebyar. kalau di Malang saja--ini contohnya--orang akan berduyun-duyun ke pusat-pusat perbelanjaan yang tersebar di seluruh kota dan tinggal memilih yang mana mulai dari Malang Town Square (Matos)yang terkenal itu, Mall Olympic Garden (MOG), Matahari, Ramayana, hingga MX yang masih baru (karena masih baru, pelanggan berdo'a saja semoga geraigerainya sudah buka dan ada penghuninya. Mumpung masih Ramadan, doa-doa dikabulkan). Maka, mungkin—ini mungkin lho ya—selain bisa jadi karena ada yang “bermain” (tetapi karena bulan puasa dilarang su’udzon, pemikiran ini ditiadakan), mungkin naiknya harga-harga menjelang dan selama bulan puasa juga disebabkan umat Islam sendiri yang ternyata menjadi gemar berbelanja. Ada permintaan ada barang, permintaan tinggi harga ikut tinggi. Begitu kira-kira bahasa ekonomi. Yang salah? Ah, pembaca lebih bisa bertanya pada dirinya sendiri.

Nur Alifah Redaktur Pelaksana

Ramadan dan Kemerdekaan Dalam bulan Agustus tahun 2010 ini, ada dua momentum “sakral” yang akan dilewati dan dijalani oleh masyarakat Indonesia dan ummat muslim pada khususnya. Momentum pertama adalah hadirnya bulan Ramadan 1431 Hijriyah, yang bertepatan dengan tanggal 11 Agustus 2010 Masehi, sedangkan momentum kedua adalah bulan dimana Indonesia mendapatkan kemerdekaannya. Ada beberapa kesamaan dan saling keterkaitan dari kedua peristiwa penting ini yang menarik untuk kita perbincangkan lebih lanjut. Pertama, sebagaimana telah disinggung diawal bahwasanya keduanya sama-sama merupakan sesuatu yang sakral bagi masyarakat Indonesia. Sakralitas bulan Ramadan bagi negara yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam ini terlihat dengan adanya bentuk penghormatan yang agak berbeda dibandingkan bulan-bulan lain. Ini lantaran bulan Ramadan merupakan bulan paling mulia bagi umat muslim, masa dimana pahala dari semua ibadah umatnya dilipatgandakan. Serta terdapat ibadah wajib yang memang khusus dilaksanakan dalam bulan Ramadan saja yaitu puasa. Tidak heran apabila kemudian pada bulan Ramadan dari pelosok desa sampai perkotaan ada suasana yang terlihat berbeda. Simbolsimbol religiusitas keislaman terlihat sedikit lebih menonjol, mulai dari masjid-masjid, pesantren, jalan raya, bahkan juga berbagai macam program televisi penuh dengan nuansa religius. Meskipun kadang disadari atau tidak semua itu menjadikan perayaan tersebut hanya sebagai seremoni tanpa makna. Disisi lain, bulan Agustus adalah bulan dimana bangsa Indonesia pertamakali di deklarasikan oleh Bung Karno tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945 silam. Bulan yang tentunya dianggap sangat sakral dalam sebuah proses lahirnya sebuah negara. Sayangnya, perayaan ini juga seringkali berbentuk seremoni dan refleksi dalam berbagai macam bentuk, mulai dari pengibaran bendera disetiap sudut desa dan kota sampai lomba dan seminar seputar makna dan pencapaian kemerdekaan

Oleh:

Ibnun Hasan Mahfud yang sudah diraih. Kedua, bahwasanya bulan Ramadan dan kemerdekaan Republik ini mempunyai hubungan historis yang t a k terlupakan. Tepatnya pada hari Jum’at Legi, 17 Agustus 1945 pagi jam 10.00 WIB di kediaman Bung Karno, kemerdekaan bangsa ini di deklarasikan, dimana pada waktu itu juga bertepatan dengan 17 Ramadan 1362. Sehingga meskipun dalam masa dan zaman yang sudah jauh berbeda, akan tetapi saat ini merupakan waktu yang sangat tepat untuk kembali mengingat dan membayangkan bagaimana peristiwa titik balik dari lahirnya negeri kita dikumandangkan. Ketiga, baik Ramadan maupun 17 agustus adalah dua momentum yang bertemu dalam satu titik yang sama yakni kemerdekaan yang keduanya sama-sama memiliki makna “pembebasan”. Dalam konteks 17 agustus pembebasan tersebut tentunya adalah pembebasan dari segala macam bentuk penjajahan kolonialisme. Hal ini nampak sebagai kebebasan fisik yang berorientasi pada bagaimana kita tidak lagi ditindas dan dijajah oleh bangsa asing, bagaimana kekayaan alam kita tidak lagi dikuras oleh bangsa penjajah, bagaimana rakyat Indonesia bisa sejahtera, mempunyai sandang, pangan dan papan yang layak dan seterusnya. Semua itu adalah cermin dari kemerdekaan fisik yang meskipun sampai sekarang kemerdekaan itu masih bersifat

prosedural dan belum menyentuh pada dimensi substansial. Terkait dengan Ramadan pada hakekatnya juga mencerminkan spirit kemerdekaan. Namun kemerdekaan yang diusung oleh puasa adalah kemerdekaan jiwa, ruh dan mentalspiritual. Puasa pada hakekatnya adalah liberating power (kekuatan pembebas) dari belenggu penjajahan. Bentuk penjajahan dalam konteks puasa ini adalah hal-hal yang masuk dalam kategori penyakit ruhani, misalnya suka berbohong, berkhianat, suka korupsi, suka maling, arogan, sombong, mau menang riz / Bestari sendiri, anarkis, suka bertindak sewenang-wenang dan sebagainya. Makna yang kemudian dapat kita ambil dari hadirnya momentum Ramadan kali ini yang berbarengan dengan peringatan 17 Agustus adalah seruan kepada masyarakat Indonesia pada umumnya dan ummat Islam pada khususnya untuk menuju kemerdekaan yang menyeluruh, atau kata Muhibuddin (2008) kemerdekaan sempurna dan holistik. Kemerdekaan holistik ini kita aktualisasikan dalam bentuk pengendalian diri sebagai bukti bahwa kita tidak hanya dapat mengalahkan penjajah namun juga mampu mengendalikan hawa nafsu yang merupakan musuh terbesar bagi jiwa manusia. The last but not least, kesalahpahaman yang seringkali kita lakukan dalam memaknai kemerdekaan sebagai sesuatu yang hanya bersifat fisik harus segera kita perbaiki, kemerdekaan ruhani yang selalu kita abaikan harus segera kita lengkapi untuk mencapai kemerdekaan yang sejati, sebelum momentum bersejarah ini berlalu begitu saja tanpa makna yang tersisa. *Mahasiswa Ilmu Pemerintahan 2006

Uang….Oh…..Uang Dua puluh tahun yang lalu keluarga kami punya kenalan seseorang yang bernama Pak Sabil (bukan nama sebenarnya). Kami bertemu saat bapak yang kurang beruntung tersebut menunggui putranya di sebuah rumah sakit karena kecelakaan kereta api. Luka yang dialaminya cukup fatal sehingga diperkirakan akan memakan biaya yang lumayan besar untuk operasi, perawatan dan pemulihan. Pak Sabil yang kehidupan ekonominya sangat paspasan hanya dapat menghela nafas panjang seolah menyesali keadaan yang menimpanya. Dengan agak berat hati Pak Sabil menceritakan keadaan keuangan kepada dokter yang akan menangani operasi putranya, “Saya ini orang miskin Pak Dokter, kalo saya menandatangani operasi ini, bagaimana dengan administrasinya (keuangannya)?”. Dokter itupun hanya tersenyum dan mengucapkan kalimat pendek, “Sabar ya Pak,” kata dokter itu seakan menenangkan. Keesokan harinya pak Sabil mendapat kabar yang mengejutkan bahwa putra yang dicintainya dan yang sedang diusahakan kesembuhannya itu meninggal. Tiga bulan setelah penguburan putranya, situasi dan aktivitas keluarga Pak Sabil kembali berjalan normal, hanya saja kali ini tanpa kehadiran putranya yang biasanya sangat ceria. Keluarga kamipun sebagai kenalan Pak Sabil sudah tidak pernah lagi membicarakan kejadian tersebut. Hingga suatu hari saya dikejutkan oleh pengakuan teman saya (sebut saja dr. Yunita) seorang dokter yang baru lulus dan memilih untuk mengabdikan diri sepenuhnya di desa terpencil serta menolong masyarakat yang kurang beruntung. Tekadnya yang bulat membuat dia harus melewati jaring perlawanan yang ditebarkan oleh keluarganya. Saya mencoba menanyakan kepada dr. Yunita, mengapa mengabdi didaerah terpencil menjadi pilihan hidupnya? Teman dokter tadi menjelaskan bahwa dia sudah menyembunyikan sesuatu yang membuat dirinya tersiksa seumur hidup. Mengabdikan

Oleh:

Dwi Poedjiastutie

diri dengan jalan membantu masyarakat miskin adalah satu-satunya cara agar dia bisa menebus beban yang ditanggungnya. Singkat kata, dr. Yunita menceritakan beberapa bulan yang lalu pada saat dia assisten dokter (co-as) semasa menjalankan pendidikan profesi, dia tidak dapat menolak permintaan dokter senior, yang meminta menyetop suplai oksigen seorang pasien. Pasien-pasien yang keluarganya tidak sanggup menyelesaikan biaya pengobatan, dianggap beberapa oknum dokter tidak perlu dilanjutkan tindakan medis dan perawatannya. Dengan perasaan yang tidak menentu teman saya terpaksa melakukan apa yang diminginkan oleh dokter seniornya tersebut. Tangannya sangat gemetaran dan keringat dingin mulai menyerbu tubuhnya karna dia tidak mengira dan tidak membayangkan bahwa saat ini dia harus melakukan hal yang sangat bertentangan dengan hati nuraninya. Saya mencoba menganalisa apa yang telah dilakukan oleh dr. Ankia. Banyak sekali kasuskasus yang mirip dan mungkin dalam bidang pekerjaan yang lain, bahwa dalam mengemban tanggung jawab seseorang lebih dimotivasi oleh uang bukan panggilan hati. Semua orang pasti pernah merasakan hal tersebut dan tidak dapat kita pungkiri bahwa tujuan kita bekerja memang salah satunya agar kita survive. Dan untuk itu kita membutuhkan uang dan itu bukan merupakan keinginan yang salah. Tetapi apabila motivasi untuk mendapatkan uang jauh lebih besar daripada panggilan hati maka sudah banyak contoh-contoh mereka yang kariernya harus pupus ditengah jalan. Gayus Tambunan, Anggodo Wijoyo,Syahril Djohan, Hakim Asnun, Kompol Arofat adalah beberapa nama yang kita bisa jadikan contoh. Jika uang adalah motivasi mulai dari pembuat kebijakan konversi minyak tanahgas sampai distributor yang paling kecil, maka mereka tidak akan peduli berapa banyak rakyat kecil yang menjadi korban ledakan tabung-

tabung gas, karena konversi minyak tanah-gas semata hanya dipandang dari segi keuntungan bisnis tanpa mempertimbangkan apakah rakyat yang menjadi sasaran konversi memiliki pengetahuan yang memadai. Jika uang adalah motivasi para dokterdokter atau mereka yang ada dibidang kesehatan, betapa uang dapat membutakan nurani dan mereka tidak segera bertindak demi menyelamatkan nyawa pasiennya yang sedang sekarat. Jika uang menjadi motivasi jajaran para akademisi, maka mereka tidak akan dapat menangkap potensi generasi bangsa yang sesungguhnya. Anak-anak berprestasi dari kalangan tidak mampu akan tersisih dan terkalahkan oleh mereka yang berduit dan mengantongi katabelece atau memo dari segelintir pejabat tertentu. Tidak hanya itu! Jika uang menjadi motivasi siapapun dalam jenis bidang pekerjaan apapun, maka nyata sekali keniscayaan yang dituai, yaitu rusaknya mental masyarakat bangsa ini dalam segala bidang. Sebuah penelitian menunjukan bahwa orang-orang yang semata-mata memusatkan perhatiannya pada uang dan kemewahan hidup, ternyata 78% selalu merasa cemas dan gelisah dalam hidupnya. Sebaliknya, orang-orang yang senantiasa memusatkan perhatian pada upayaupaya pengembangan dirinya dan peduli akan nasib keadaan orang lain, 68% lebih fokus untuk mencapai prestasi dalam bidang yang mereka tekuni. (Luthar & Zigler, 1997). “Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung dari niatnya, dan setiap perbuatan yang telah dilakukan seseorang itu mencerminkan niatnya”, demikian dalam sebuah riwayat hadits Buchori. Renungkanlah, apakah kita sudah berbuat jauh melampaui batas hanya untuk uang? Apakah kebahagiaan itu hanya bisa diukur dengan banyaknya uang yang kita miliki? Apakah banyaknya uang yang kita peroleh menjadi ukuran prestasi kerja kita? Penulis adalah Ka-LC dan staf pengajar di Jurusan Bahasa Inggris UMM.


BESTARI

HUMANIORA

No. 265 /TH.XXII/Agustus/2010

Aku, Uci, dan Seorang Lelaki Patah hati itu seperti minum jamu. Pahit sih, tapi menyehatkan! Kalau ada orang yang berani mengatakan wanitawanita jaman sekarang itu maunya hanya dengan laki-laki yang ganteng dan kaya saja, orang itu harus berhadapan denganku! Aku duduk di kantin bercat hijau belakang kampus dengan sepiring nasi campur di hadapanku yang tiba-tiba saja menjadi tidak terlalu menarik lagi. Di depanku persis, duduk dengan gaya penuh minat pada nasi campurnya, si Uci, teman sekaligus patner paling asyik untuk diskusi. Aku memelototi Uci: Ga boleh! Anak ini ga boleh makan sebelum ceritanya tuntas tas tas! Batinku. Aku ngotot. “Beneran Ci, Mas Arif mau nikah?! Kamu tahu darimana?” Uci mulai menyendok nasinya pelan-pelan. “Iya Dhi, Mas Arif beneran mau nikah. Aku dapat infonya langsung dari narasumber terpercaya,” jawab si kecil-kecil cabe rawit itu. “Siapa yang ngomong ke kamu? Siapa narasumbernya? Dia ngomongnya gimana? Ceritain sampe detil til til,” pintaku. “Ya masnya sendiri yang ngomong ke aku, Dhi. Kemarin waktu ketemu, aku berani-beraniin nanya langsung. Dan masnya cerita, katanya dalam waktu dekat ini insya Allah jadi nikah.” Uci tidak mengalihkan pandangannya dari piring nasi campur. Aku melengos. Yah.. Patah sudah hatiku.. Hiks hiks. “Sama siapa..?” tanyaku masih pantang menyerah, sekalipun hati sudah babak belur. “Kalo itu aku ga bisa ngasih tau,

RESENSI

Di luar negeri, sebuah kotak surat hampir bisa dipastikan menghiasi tiap depan rumah tidak peduli apakah rumah mewah atau biasa. Di Australia misalnya, kotak surat menjadi barang yang wajib dipasang di setiap muka rumah. Ini beda dengan di Indonesia. Meski mayoritas orang tidak memiliki kotak surat, tetapi ada kotak yang “wajib” dipasang di tiap rumah bernama televisi. Kalau penduduk Australia mencoba membatasi informasi yang mereka terima di kotak surat mereka dengan menuliskan “No junk mail”, maka pembatasan yang seharusnya bisa dilakukan penduduk Indonesia untuk membatasi informasi dari “kotak” mereka adalah dengan menulisakan “No junk mail” tersebut dalam otaknya. Pertanyaannya, sudahkan masyarakat Indonesia menerapkan itu? Sikap masyarakat yang selalu membutuhkan informasi dan hiburan, membuat media berkreasi dengan berbagai cara, salah satunya dengan menciptakan infotainmen. Program acara yang menyuguhkan berita ringan seputar kehidupan selebriti ini dengan cepat dapat mengambil hati masyarakat. Tidak jarang berita dari tontonan ini menjadi bahan obrolan berbagai jenjang usia, mulai bu-ibu rumah tangga hingga bahkan kalangan akademisi seperti mahasiswa. Besarnya peluang infotainmen dalam meraup keuntungan material, membuat beberapa production house mengesampingkan kode etik jurnalistik dalam mengelola pemberitaannya. Kendati demikian, informasi hiburan ini tetap ditunggu masyarakat yang seolah tidak mau tahu. Tingginya animo masyarakat menonton infotainmen membuat stasiun televisi berlomba-lomba menayangkannya. Persis seperti ketika ada seseorang sukses berjualan nasi

Dhi. Aku janji sama masnya untuk ga ngasih tau siapa-siapa tentang calonnya. Pokoknya kita tunggu aja. Dalam waktu dekat ini pasti ada kabarnya lagi kok.” Huaa.., rasanya aku pengen teriak aja kalo ga inget ini di kantin! Orangorang baik itu kok nikahnya mesti duluan sih.. Kan kasian yang kayak aku.. Selalu ga kebagian. Tiba-tiba Uci yang mungil itu mengangkat wajahnya dari makanan di hadapannya dan memandangku. “Hhh, bayangkan gimana hancurnya hatiku. Aku yang ngefans banget sama mas itu dan tiap hari ketemu di organisasi, harus denger cerita langsung dari orangnya kalo bentar lagi dia mau nikah!” Haduh! Aku dan Uci ternyata patah hati dengan orang yang sama! Aku garuk-garuk jilbab. Iya juga sih, mestinya yang lebih patah hati itu si Uci yang tiap hari ketemu sama orangnya. Bukannya aku, yang baru seminggu kenal aja langsung ngefans dan minggu berikutnya langsung patah hati setelah dengar kabar mas Arif mau menikah. Huaa! Perkenalan sebentar tentang siapa sebenarnya mas Arif ini. Aku akan memulainya dengan sedikit deskripsi tentangnya. Silakan bayangkan seorang lakilaki usia sekitar 23-an, masih kuliah jurusan matematika. Perawakannya agak kurus, tidak terlalu tinggi, hitam manis, berkacamata, wajahnya ramah

Biarkan aku jelaskan sebentar dari kalangan mana saja fansnya mas Arif ini, mulai dari cewek paling cuek dan dan selalu tersenyum, ketika berbicara acuh di fakultasku, sampai yang rada santun sekali, suka memanggil orang “endhel” dan berjilbab rapi. Mulai lain dengan sebutan “panjenengan” dari yang gayanya nge-punk, sampai (meskipun bukan orang Jawa, tapi aku yang hobi pake baju bunga-bunga. tahu istilah panjenengan itu sudah Mulai dari yang tiap hari berinteraksi yang paling tinggi kastanya dibanding dengan orangnya, sampai yang baru “sampeyan” apalagi “kon”), biasa seminggu ketemu langsung ngefans juga ada. Pasti ada yang bertanyatanya, apa sih yang membuat orang kurus item manis kacamata itu bisa sebegitu ngetopnya? Apa sih yang membuat banyak perempuan ngefans padanya? Apa dia kaya? Kemana-mana bawa Honda Jazz? Laptopnya merk Toshiba Luna Maya? HP ganti tiap 3 bulan sekali? Tidak, saudara-saudara. Sama sekali tidak. Cakep dan kaya itu tidak ada sama sekali dalam diri mas Arif. Dia malah harus bekerja selama kuliah untuk menopang biaya hidup keluarga. Tapi kalau ada yang tanya padaku kenapa banyak yang suka padanya, aku tahu pasti alasannya. Mas Arif itu orang yang baik. Santun sekali. Dan sangat menghargai perempuan. Aku pun diperlakukannya alif/Bestari dengan baik sekali seperti itu, sama seperti dia memperlakukan menunjuk menggunakan jempol semua perempuan dan laki-laki yang (hellow, hari gini masih ada orang ditemuinya. Subhanallah... Jarangyang sopannya kayak gitu!), dan karang aku temukan ada orang baik sama semua orang. Tentang yang seperti itu. Seumur-umur, bisa wajahnya, sejujurnya biasa saja. Tidak kupastikan ada kurang dari lima secakep Nicholas Saputra atau Afgan orang manusia baik seperti itu yang pastinya. Tapi tentang fansnya... pernah aku kenal sehingga akhirnya g g p Ngalah-ngalahin pak rektor! Oleh:

Alysa S.K. Damanik*

23

aku jadi punya satu teori sendiri tentang keberadaan orang-orang baik: “Orang-orang baik itu tidak dibesarkan di planet bumi! Mereka pasti dibesarkan di suatu tempat di langit sana yang isinya juga hanya orang-orang baik. Dan orangorang baik itu ditakdirkan tidak untuk melirik orang-orang seperti aku” (yang kalau makan suka berantakan, yang kalau habis mandi jarang sisiran, yang kalau jalan kayak preman, yang bajunya sering tidak matching, yang hobinya bersendawa, dan yang-yang yang lainnya, yang pastinya tidak akan membuatku menjadi orang yang pantas dilirik oleh orang-orang baik, hufhh..). Jadi begitulah, info tentang akan menikahnya mas Arif ini sudah menyebar kemana-mana tanpa orangnya sendiri tahu siapa yang sudah menyebarkan. Dan pastinya, info tersebut menyebar dengan bebasnya di kalangan para penggemar. Banyak yang patah hati... Banyak yang tadinya keburu ge-er karena menyangka perlakukan santun mas Arif itu hanya ditujukan untuk dirinya seorang dan bukannya untuk semua orang, akhirnya patah hati juga... Dan si Uci temanku yang baik itu kemudian berujar: “Aku masih ga nyangka Mas Arif jadi menikah..” Aku nyengir. Cengiran orang yang lagi patah hati. Tenang aja Ci, kamu ga sendiri kok.. Kan aku juga.. *Penulis adalah mahasiswa Psikologi 2006 dan saat ini aktif di Forum Lingkar Pena (FLP) Malang

MenanƟ Kembalinya Hiburan yang BerhaƟ Nurani pecel, akan l tetangga sebelahnya b l h k segera ikut-ikutan menjual nasi yang sama. “Penyakit” bangsa Indonesia ini tampaknya juga menjangkiti para pemegang kebijaksanaan di tiap stasiun televisi terkait dengan program apa yang akan ditayangkannya. Seolah tidak ingin ditinggalkan pemirsa, maka tayangan infotainmen dibuat sedemikian rupa sehingga lebih “hot” dari stasiun TV lain. Semua dilakukan demi membuat pemirsa jatuh cinta dengan tayangan yang disuguhkannya. Buku yang ditulis oleh 13 mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM ini memaparkan, jumlah jam penayangan infotainmen sedikitnya mencapai angka 85 seminggunya di tahun 2009. Jika menengok ke awal perkembangannya, maka era reformasi menjadi awal lahirnya infotainmen ini. Dengan munculnya UU Pers No. 40 Tahun 1999, pers yang sebelumnya dikekang selama 32 tahun mulai bergeliat bangun. UU tersebut memberikan angin segar bagi para pengusaha untuk secara bebas mengembangkan media massa baik elektronik maupun cetak. Pada era itu muncullah Sistem Pers Reformasi yang melahirkan subsistem pers bebas, subsistem pers independen, investigasi, infotainmen, dan subsistem pers lainnya. Pada awal kemunculannya, infotainmen masih benar-benar menyajikan info yang sifatnya hiburan atau ringan, sesuai namanya. Namun, atas nama kebebasan pers, pemberitaan infotainmen mulai kebablasan. Lama-lama, pemberitaan kehidupan pribadi para public figure yang lebih pantas menjadi aib dimakan (baca: ditonton) bersamasama dan dikomentari sedemikian rupa seolah tanpa dosa. Dengan semakin bebasnya pemberitaan yang mengesampingkan

area privasi dan semakin i i seseorang d ki terbiasanya masyarakat dipapari tayangan ini, lambat laun infotainmen bermetamorfosa. Secara kasat mata, perubahan tersebut terlihat dari judul program infotainmen itu sendiri. Yang semula namanya lebih lembut seperti Kabar-Kabari, Cek & Ricek, dan Kisah Seputar Selebtiti (Kiss) berubah menjadi lebih sensasional seperti Kasak-kusuk, Was-was, Hot Shot, dan nama-nama serupa. Hasilnya, pemberitaan mengenai orang-orang terkenal yang seringnya didominasi selebriti menjadi overload. Persaingan yang ketat antar produsen pun terjadi. Secara perlahan, infotainmen mulai melampaui hakikat aslinya. Infotainmen yang sejatinya merupakan informasi yang disajikan dengan nuansa hiburan, tetapi sekarang unsur hiburan menjadi hal utama untuk disajikan. Pertanggungjawaban atas kebenaran berita menjadi nomor dua. Rumah produksi berlomba mengutamakan kesensasionalan berita sehingga bisa meraih rating tinggi. Namun, di balik kesuksesan tersebut, sebagian masyarakat yang kritis mulai angkat bicara. Wacana mempertanyakan apakah wartawan infotainmen layak disebut insan pers sampai pada wacana yang mengarah pada ranah keyakinan (agama) mengemuka. Hal ini misalnya yang datang dari MUI. Majelis Ulama Indonesia itu sampai mengeluarkan fatwa haram terhadap infotainmen. Fatwa itu bukan tanpa sebab. Isi pemberitaan selebriti yang semakin lama dianggap semakin berlebihan dan tidak memberikan manfaat bagi masyarakat—bahkan justru dinilai memberikan efek negatif—membuat MUI memberikan label pada infotainmen sebagai tayangan yang tidal layak dipertontonkan. Selain dikategorikan sebagai tayangan yang

mempertontonkan aib k ib orang llain i juga dinilai bisa menjerumuskan masyarakat pada gaya hidup hedonis, membuang-buang waktu, dan beberapa efek buruk lainnya. Buku ini mengupas tuntas permasalahan seputar infotainmen, mulai dari hakikatnya, perkembangannya, pelanggaran jurnalistik yang dilakukan, hingga bahasan dari segi sosial, budaya, dan aspek lainnya. uku ini, penulis penulis Lewat buku penulis-penulis muda yang ng mengatasnamakan meng me ngat atas asna nama maka kan n dirinya Kanfas anfas Katik mencoba alikan keidealan mengembalikan infotainmen en sebagai media informasi yang menghibur, bukan media informasi yang justru u memprovokasi dan tidak mengindahkan urnalistik. kode etik jurnalistik. Bagi pembaca tarik dalam yang tertarik bidang jurnalistik, buku ini layak ayak untuk dijadikan referensi arena di bacaan karena dalamnya terdapat endalam kajian mendalam ssisi isii is mengenai kejurnalisan infotainmen. Idealisme amam yang disamngpaikan dengan bahaasa yangg lugas dan an pemaparan n beberapa contoh kasus membuat buku ini layak dibaca oleh semua Judul Buku Penulis Cetakan Tebal Buku Penerbit Peresensi

kalangan. Sikap k kritis k l Sik i i dan lebih bijak dalam memilih tayangan di media massa coba dibangun penulis lewat pembacanya sehingga tercipta tayangan-tayangan yang berbobot dan berkualitas. Harapannya, informasiinformasi yang diterima masyarakat pun bukan lagi berita-berita ‘sampah’ yang tidak bermutu. Selamat membaca dan jadilah masyarakat yang kritis berwacana.

: Menelanjangi Infotainmen : Kanfas Batik (Karya dan Nafas dalam Jurnalistik) : 2010 : xvii + 86 halaman : Litera Buku : Delfia Yana Resandy (Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2008)


Gelaran Pra-Pesmaba UMM 2010

Antrian: maba melakukan registrasi di loket

Yel-yel: setiap proses pra pesmaba selalu di iringi dengan meneriakkan slogan masing-masing

deden/Bestari

Stand Pesmaba: setelah proses registrasi di loket, maba melanjutkan prosesnya di stand fakultas untuk penjaringan minat

deden/Bestari

Daftar dulu: sebelum masuk ke acara pra persmaba, maba di haruskan mandaftar di stand biar mereka dapat terurus dengan baik.

Goyang dulu: tidak hanya yel-yel, terdapat pula "tarian" khas yang disiapkan panitia sebelum masuk ke ruangan.

deden/Bestari

deden/Bestari

deden/Bestari


bestari edisi 265