Page 1

Media Aesculapius Surat Kabar

Kedokteran dan Kesehatan Nasional Terbit Sejak 1970

Maret-April 2019 / Edisi 01 / Tahun XLVIII / ISSN 0216-4996

@MedAesculapius |

beranisehat.com |

KONSULTASI

KESMAS

RUBRIK DAERAH

Pahami Kondisi dan Penanganan pada Pasien TB hlm 3

Hindari Kanker dengan CERDIK hlm 5

Hakikat Seorang Dokter: Tangani Pasien Bukan Penyakitnya hlm 11

0896-70-2255-62

BPJS Kesehatan Berbayar: Untung atau Buntung? Di penghujung tahun 2018, peraturan sistem urun biaya peserta JKN-KIS disahkan dan disinyalir menjadi solusi menutup defisit yang dialami BPJS Kesehatan.

P

elaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Indonesia kembali menuai kendala. Belum lama ini, Kementerian Kesehatan RI menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 51 Tahun 2018 tentang pengenaan urun biaya dan selisih bayar program Jaminan Kesehatan NasionalKartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Peraturan ini menjelaskan pembebanan tarif tambahan kepada peserta dalam mengakses fasilitas kesehatan di luar iuran rutin yang dibayarkan. Hal ini tentunya menegaskan bahwa BPJS Kesehatan tidak lagi gratis. Sejumlah tanggapan terus mengalir dari berbagai kalangan. Banyak pihak yang mendukung, namun tak sedikit pula yang merasa bahwa peraturan ini cukup membebani masyarakat. Menilik Berbagai Aspek di Balik Urun Biaya Menanggapi pengesahan peraturan ini, M. Iqbal Anas Ma’ruf, Kepala Humas BPJS Kesehatan, memiliki pandangannya sendiri. “Dikatakan dalam Permenkes No. 51 Tahun 2018 Pasal 2, urun biaya bertujuan untuk mencegah penyalahgunaan BPJS Kesehatan,” tegas Iqbal. Penerapan urun biaya merupakan bentuk regulasi bagi masyarakat agar tidak menggunakan asuransi secara berlebihan. Regulasi ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai sistem rujukan yang tepat. Sejatinya, perancangan sistem urun biaya dan selisih bayar ini merupakan bentuk implementasi dari Perpres No. 82 Tahun 2018. “Jadi, kebijakan

ini tidak muncul tiba-tiba sebetulnya. Hanya saja sistem urun biaya ini belum pernah diimplementasikan hingga sekarang,” imbuh Iqbal. Berbagai studi literatur dan analisis data survei ikut mewarnai perjalanan sahnya peraturan ini. Berdasarkan data-data tersebut, kondisi finansial secara makro dan daya beli masyarakat tentunya menjadi pertimbangan utama penerapan kebijakan ini. Pengaplikasian A sistem jaminan /M an fi kesehatan di ar berbagai negara

lanjut, Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, Dr. PH., Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Kesehatan Indonesia menjelaskan tentang sistem urun biaya. Menurut Hasbullah, urun biaya secara teori mampu membatasi pemanfaatan layanan BPJS yang berlebihan dari para penggunanya. “Apabila seseorang terus diberi apapun yang dia inginkan, pasti ada kecenderungan dalam dirinya untuk menginginkan hal yang lebih dari seharusnya. Hal ini berlaku juga pada BPJS. Urun biaya ini bisa dijadikan rem untuk mencegah perilaku konsumtif tersebut,” terang Hasbullah.

arfian/MA

cenderung berbeda. Menurut Kepala Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan (AKK) FKM UI, Dr. Pujiyanto, S.KM., M.Kes., penerapan sistem jaminan kesehatan harus disesuaikan dengan ideologi negara, kondisi infrastruktur, dan tingkat kolektabilitas masyarakat. Pujiyanto menilai bahwa sistem urun biaya mencerminkan penerapan nilai gotong royong yang identik dengan keseharian masyarakat Indonesia. Lebih

Sayangnya, Hasbullah masih meragukan peran pemangku kebijakan yang nantinya akan bersinggungan langsung dengan sistem urun biaya ini. Hasbullah menuturkan bahwa iuran BPJS saat ini masih terkesan berat sebelah. “Iuran BPJS seorang PNS hanya dipotong dari gaji pokoknya yang besarannya relatif kecil. Padahal, PNS masih mendapat tambahan honor seperti gaji pokok dan tunjangan. Apabila mengacu pada prinsip gotong royong yang dibawa oleh Jaminan

Kaleidoskop Separuh Dekade BPJS Kesehatan Lima tahun berdirinya BPJS Kesehatan telah membawa dampak perubahan terhadap sistem kesehatan di Indonesia, namun apakah target telah tercapai?

C

ita-cita jaminan kesehatan semesta sudah ada sejak awal kemerdekaan. Akan tetapi, langkah nyata pemerintah untuk mencapai cita-cita tersebut baru terealisasi dengan beroperasinya BPJS Kesehatan pada 1 Januari 2014. Salah satu target besar yang diharapkan adalah mencapai universal health coverage (UHC) 2019. Per 1 Februari 2019, 217.549.455 jiwa tercatat sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). “Dalam waktu dekat ini, kami ingin meningkatkan jumlah kepesertaan hingga 95%,” ujar M. Iqbal Anas Ma’ruf. Selaras dengan hal tersebut, tahun ini BPJS Kesehatan juga meningkatkan jumlah penerima bantuan iuran jaminan kesehatan (PBI-JK) menjadi 96,8 juta jiwa dari sebelumnya 92,4 juta jiwa.

Selain jumlah kepesertaan, masih banyak parameter lain yang dapat menggambarkan pencapaian BPJS Kesehatan. “Salah satunya ialah tingkat kepuasan peserta yang telah meningkat dari 79,7% tahun lalu menjadi 85% dan tingkat pemahaman peserta yang mencapai 86%,” sebut Iqbal. Jumlah pemanfaatan pelayanan kesehatan di seluruh tingkat fasilitas layanan yang mencapai 233,8 juta (ratarata 640.765 per hari), menunjukkan bahwa masyarakat telah menuai manfaat program JKN-KIS secara optimal. Serangkaian pencapaian positif BPJS Kesehatan tersebut tak luput dari sejumlah kendala, salah satunya defisit keuangan. “Adanya defisit ini disebabkan oleh penetapan iuran yang salah oleh pemerintah dan mereka sadar akan

hal itu sejak awal,” ungkap Prof. dr. Hasbullah Thabrany. Hasbullah menuturkan, pemerintah belum bersikap realistis dan rasional dalam menetapkan besaran iuran JKN-KIS. Tetapi, Iqbal menjanjikan bahwa defisit keuangan tersebut tidak akan menghentikan BPJS Kesehatan untuk tetap beroperasi. Tidak dapat dipungkiri, BPJS Kesehatan memang belum sempurna. Akan tetapi, keberadaannya selama 5 tahun terakhir telah membawa sistem pelayanan kesehatan Indonesia ke arah yang lebih baik. Dalam mewujudkan UHC 2019, pemerintah harus terus berbenah dalam menyempurnakan sistem pelayanan kesehatan sebagai hak warga negara yang harus dipenuhi. elvan, billy, leo

Kesehatan Nasional (JKN), regulasi tersebut relatif tidak adil dan inkonsisten,” ungkap Hasbullah. Hasbullah berharap pemerintah juga berbenah diri dan proaktif meningkatkan kedisiplinan pelaksana kebijakan dalam konteks mematuhi aturan yang sudah dibuat. Urun Biaya dan Defisit BPJS Iqbal menegaskan bahwa urun biaya ini tidak bertujuan semata-mata untuk menutupi defisit yang dialami BPJS. “Untuk urun biaya sendiri hanya berkisar Rp10.000,00 untuk kelas C dan D, serta Rp20.000,00 untuk kelas A dan B. Saya rasa besaran tersebut belum mampu menutupi defisit BPJS Kesehatan saat ini,” jelas Iqbal. Urun biaya ini memang bertujuan untuk mengubah pola pandang dan perilaku masyarakat terkait penggunaan layanan BPJS. Menanggapi pernyataan tersebut, Hasbullah memiliki pandangan berbeda. Hasbullah berpendapat bahwa penerapan sistem urun biaya saat ini masih terlihat berorientasi untuk menutupi defisit BPJS Kesehatan saja. “Rancangan urun biaya BPJS ini seharusnya segera direvisi untuk memperjelas bahwa hasil urunannya menjadi hak bagi fasilitas kesehatan,” tegas Hasbullah. Saat ini, masih terdapat sejumlah kebutuhan medis di sistem pelayanan kesehatan yang tidak tertutupi oleh anggaran BPJS. Masalah ini harus segera diverifikasi dan dibenahi oleh BPJS beserta pemerintah. Defisit yang terjadi di BPJS Kesehatan tidak hanya disebabkan oleh minimnya kucuran dana yang bersambung ke halaman 11

SKMA untuk Anda! Mari bersama membuat SKMA menjadi lebih baik.

!

1. Apakah konten SKMA bermanfaat/ relevan dengan kondisi kesehatan saat ini? 2. Apakah anda masih membutuhkan SKMA edisi selanjutnya? Jawab dengan format: Nama-Umur_Kota/Kabupaten_Unit Kerja_ Jawaban 1_Jawaban 2 Contoh: Rudiyanto_43_Jakarta Pusat_RSCM_Ya_Ya Kirim melalui WhatsApp/SMS ke 0896-702255-62 atau mengisi formulir pada bit.ly/ surveyskma Lima orang pengisi survei yang beruntung akan mendapatkan cenderamata dari Media Aesculapius


Pembaca SKMA sekalian, saat ini merupakan awal tahun 2019. Terdapat banyak hal yang terjadi di awal tahun 2019. Dimulai dari ramainya riuh penyelenggaraan pesta demokrasi di Indonesia yang akan diselenggarakan pada 17 April 2019 ini hingga kontroversi lima tahun berjalannya BPJS yang telah mewarnai pemberitaan di Indonesia. Tak lekang oleh waktu, kami tetap setia dan teguh pendirian untuk menyebarkan berita-berita kesehatan yang akan membantu para tenaga kesehatan di seluruh pelosok Indonesia. Tak terasa lima tahun sudah Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) berjalan dan berikhtiar menanggung biaya kesehatan rakyat Indonesia. Berbagai capaian telah diraih dan telah dirasakan manfaatnya. Namun, tahun ini merupakan tahun yang telah ditargetkan BPJS Kesehatan untuk JKN menjadi Universal Health Coverage (UHC). Pertanyaannya, apakah hal itu telah tercapai? Dan bagaimana evaluasi kinerja JKN selama lima tahun terakhir? Simak ulasannya di rubrik Headline. Bahasan lain yang tidak boleh ketinggalan oleh pembaca sekalian adalah ulasan mengenai teknologi kedokteran yang semakin berkembang. Cara pemberian obat intravena mutakhir tanpa menggunakan jarum suntik sangat dibutuhkan terutama bagi pasien yang memiliki ketakutan terhadap jarum suntik. Apakah teknologi ini sudah dikembangkan? Jangan lupa membaca artikel menarik di rubrik Ilmiah Populer. Artikel yang tidak boleh ketinggalan juga dapat dilihat di rubrik Liputan. Banyak cerita-cerita menarik dari teman sejawat kita yang tengah bertugas menjadi garda terdepan dalam bidang kesehatan di pelosok negeri. Selain itu, acara-acara simposium dan kesehatan lainnya dalam bulan Maret – April ini juga telah dirangkum di rubrik ini. Akhir kata, selamat membaca dan tetap semangat dalam membangun negeri ini dengan karya!

Reyza Tratama Pemimpin Redaksi

MA FOKUS

Karut Marut Perjalanan JKN-KIS: Universal Health Coverage dan Defisit Biaya Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) diimplementasian sejak 1 Januari 2014. Tahun ini menandakan lima tahun sudah JKN berikhtiar dalam menjamin biaya kesehatan di Indonesia. Telah banyak capaian-capaian yang cukup memuaskan telah diraih oleh jaminan yang dikelola BPJS Kesehatan ini, selain juga manfaat yang telah dirasakan oleh banyak masyarakat Indonesia. Salah satu target besar yang seharusnya tercapai di 2019 ini adalah JKN mengimplementasikan universal health coverage (UHC). Data per 1 Februari 2019 menyebutkan bahwa 217.549.455 penduduk Indonesia telah menjadi peserta JKN-KIS. Namun di tengah capaian cukup memuaskan dan target yang telah dibuat oleh BPJS Kesehatan, tidak sedikit pula masalah yang masih menerpa dalam pelaksanaan JKN di Indonesia, terutama karut marut defisit anggaran yang dialami oleh BPJS Kesehatan selaku badan penyelenggara. Masalah defisit ini seakan-akan menjadi masalah kronik yang sangat sulit disembuhkan oleh BPJS Kesehatan. Terbitnya Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 51 Tahun 2018 tentang pengenaan urun dan selisih bayar program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (KIS) dipandang oleh banyak pihak sebagai solusi instan dalam menutup defisit yang telah bertahun-bertahun menjadi masalah kronik di BPJS Kesehatan. BPJS Kesehatan berdalih pembuatan peraturan ini telah melibatkan banyak pihak. Regulasi ini juga dianggap mampu meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai sistem rujukan yang tepat, sehingga masyarakat tidak menggunakan JKN-KIS secara berlebihan. Namun di lain pihak, peraturan ini dianggap semakin memberatkan rakyat. Iuran yang nantinya akan ditambahkan ini dianggap masih berat sebelah. Pembebanan sistem urun biaya ini seharusnya memerlukan kajian yang mendalam dan harus diikuti juga dengan tingkat kepatuhan masyarakat dalam membayar iuran.

reyza

MEDIA

AESCULAPIUS

MA KLINIK

Kenali GERD, Atasi Si Pembakar Ulu Hati

G

astroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan penyakit pada saluran cerna. Menurut definisi Montreal pada World Congress of Gastroenterology 2006, GERD adalah keadaan isi lambung yang berbalik arah (refluks). Gejala utama GERD adalah rasa panas seperti terbakar pada ulu hati (heartburn) dan regurgitasi isi lambung sehingga mulut terasa pahit. Manifestasi klinis GERD dapat berupa sindrom esofagus dan sindrom ekstraesofagus. Sindrom esofagus berupa heartburn dan regurgitasi yang dapat menimbulkan esofagitis erosif, Barrett’s esofagus, hingga adenokarsinoma. Sementara itu, sindrom ekstraesofagus dapat berupa erosi dental, asma, dan laringitis. Sindrom ini juga berkaitan dengan timbulnya faringitis, fibrosis pulmoner idiopatik, dan otitis media berulang. Data epidemiologi terbaru menunjukkan penderita GERD di Indonesia meningkat setiap tahun. Stres, obesitas, dan konsumsi alkohol menjadi penyebab peningkatan tersebut. Dalam penelitian yang dilakukan oleh FKUI pada sekelompok dokter dan telah dipublikasi dalam Makara Journal Health Research 2016, sebanyak 27,4 persen dari 515 responden mengalami GERD berdasarkan hasil kuesioner GERD (GERD-Q). Beberapa faktor risiko GERD yang ditemukan antara lain usia di atas 50 tahun, indeks massa tubuh (IMT) di atas 30 kg/m2, dan merokok. A

DARI KAMI

KLINIK

re lia /M

MARET - APRIL 2019

au

2

Diagnosis GERD Diagnosis GERD memerlukan anamnesis yang cermat dan tepat. Pada saat anamnesis, perlu dicermati apakah terdapat tanda bahaya pada pasien. Tanda bahaya meliputi usia di atas 40 tahun saat mengalami GERD, berat badan turun, pucat tanpa sebab, muntah darah atau BAB hitam, sulit dan nyeri saat menelan, serta terdapat keluarga dengan riwayat kanker kerongkongan/lambung. Jika ditemukan tanda bahaya, pasien harus segera dirujuk untuk dilakukan endoskopi. Saat ini, GERD-Q dengan sistem skor telah dikembangkan untuk mempermudah diagnosis. Skor di atas 8 menunjukkan kecenderungan tinggi seseorang menderita GERD. GERD-Q saat ini sudah tersedia di Indonesia dalam bentuk aplikasi smartphone bernama GerdQ yang dapat diunduh oleh masyarakat biasa melalui Google Play. Standar baku emas diagnosis GERD adalah endoskopi saluran cerna bagian atas. Pemeriksaan ini bertujuan melihat keberadaan erosi pada sfingter esofagus bagian bawah. Tingkat erosi dinilai dengan klasifikasi Los Angeles yang terdiri atas 4 tingkat, yaitu A, B, C, dan D. Pembagian tingkat ini didasari oleh gambaran lesi, luas lesi, dan komplikasi lesi. Kemajuan teknologi saat ini mempermudah diagnosis GERD. Beberapa teknik diagnosis mutakhir yang telah dikerjakan di Indonesia adalah pemeriksaan pH-metri 24 jam dan manometri. Pemeriksaan ini bertujuan memantau

MEDIA AESCULAPIUS

terjadinya refluks, kandungan cairan refluks, dan gejala refluks selama 24 jam. Teknik lain yang dapat dilakukan adalah uji proton pump inhibitor (PPI) Narasumber Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPDuntuk menegakkan KGEH, MMB, FINASIM, FACP, FACG diagnosis pada Divisi Gastroenterologi, Departemen pasien dengan gejala Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM tipikal. Teknik ini dilakukan dengan memberikan PPI dosis ganda selama 1—2 minggu sebelum pemeriksaan endoskopi. Hasilnya dinyatakan positif jika gejala menghilang minimal 50 persen setelah pemberian PPI, tetapi timbul kembali jika pemberian PPI dihentikan. Teknik ini memiliki sensitivitas 80 persen dan spesifisitas 74 persen. Tata Laksana GERD Komprehensif Dalam penatalaksanaan GERD, terdapat 5 target yang ingin dicapai, yaitu mengatasi gejala, menyembuhkan lesi esofagus, mencegah kekambuhan, memperbaiki kualitas hidup, dan mencegah komplikasi. Penanganan yang menjadi perhatian utama adalah tata laksana nonfarmakologis, meliputi modifikasi berat badan, menaikkan posisi kepala saat tidur, berhenti merokok dan konsumsi alkohol, makan tidak terlalu kenyang, dan makan malam paling lambat 2 jam sebelum tidur. Diet yang dianjurkan adalah diet rendah lemak, menghindari makanan yang mengandung cokelat atau keju, mengurangi konsumsi makanan pedas dan asam, serta menghindari kopi, soda, atau minuman lain yang merangsang pengeluaran asam lambung. Obat pilihan untuk mengatasi gejala GERD adalah PPI. PPI terbukti lebih efektif dibandingkan dengan obat antagonis reseptor H2. Berdasarkan konsensus nasional GERD 2013, pasien dengan uji PPI positif dilakukan terapi dengan PPI selama 6—8 minggu. Pengobatan awal GERD menggunakan PPI dosis ganda per oral. Beberapa PPI yang tersedia di Indonesia adalah omeprazole (2 x 20 mg), lansoprazole (2 x 30 mg), pantoprazole (2 x 40 mg), rabeprazole (2 x 20 mg) dan esomeprazole (2 x 40 mg). Jika gejala tidak teratasi, pasien perlu dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam untuk dievaluasi lebih lanjut. Seiring dengan peningkatan prevalensi GERD, penanganan GERD menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Tata laksana utama GERD adalah menghilangkan gejala dan mencegah komplikasi dengan PPI dosis ganda. Terapi medikamentosa tersebut perlu diiringi dengan perubahan gaya hidup untuk mencapai keberhasilan terapi dan kesembuhan pasien. wira

Pelindung: Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis M. Met. (Rektor UI), Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP (Dekan FKUI) Penasihat: Dr. Arman Nefi, S.H., M.M. (Direktur Kemahasiswaan UI), dr. Affan Priyambodo Permana, SpBS(K) (Koordinator Kemahasiswaan FKUI) Staf Ahli: Seluruh Kepala Bagian FKUI/RSUPNCM, Prof. Dr. Ma’rifin Husein (CHS), dr. Muki Reksoprodjo, dr. Boen Setiawan, dr. Sudarso, dr. E. Oswari, DPH, Prof. Dr. Arjatmo Tjokronegoro, PhD, dr. Hapsara, DPH (Kemenkes RI), dr. Fahmi Alatas, Prof. dr. Marwali Harahap, SpKK, Prof. Dr. Umar Fahmi Achmadi, MPH Pembantu Khusus: Seluruh Alumni Aesculapius dan Media Aesculapius

Pemimpin Umum: Fadlika Harinda. PSDM: Irfan Kresnadi. Pemimpin Produksi: Kania Indriani. Tata Letak dan Cetak: Anthonius Yongko. Ilustrasi dan Fotografi: Fiona Muskananfola. Staf Produksi: Arfian Muzaki, Aurelia Maria Prajna Saraswati, Hannah Soetjoadi, Gita Fajri Gustya, Marthin Anggia Sirait, Mega Yunita, Sakinah Rahma Sari, Vina Margaretha Miguna, Devi Elora, Nathaniel Aditya, Anthonius Yongko, Irfan Kresnadi, Shafira Chairunnisa, Teresia Putri, Hansel T. Widjaja, Itsna Arifatuz Z., Skolastika Mitzy, Meutia Naflah G., Dewi Anggraeni. Pemimpin Redaksi: Reyza Tratama Audandi. Wakil Pemimpin Redaksi: Rayhan Farandy. Redaktur Senior: Veronika Renny Kurniawati, Renata Tamara, Tiffany Rosa, Afiyatul Mardiyah, M. Ilham Dhiya, Filbert Kurnia Liwang, Alexander Kelvyn. Redaktur Desk Headline: Nur Afiahuddin Tumpu. Redaktur Desk Klinik: Dina Fitriana. Redaktur Desk Ilmiah Populer: Farah Qurrota. Redaktur Desk Opini & Humaniora: Nathalia Isabella. Redaktur Desk Liputan: Yuli Maulidiya. Reporter Senior: Phebe Anggita Gultom, Clara Gunawan, Farah Vidiast, Maria Isabella, Joanna Erin, Fadlika Harinda, Vanessa Karenina, Aisyah Rifani, Stefanus Sutopo. Reporter Junior: Sheila Fajarina Safety, Mariska Andrea Siswanto, Kevin Wijaya, Jessica Audrey, Aughi Nurul Aqilla, Lidia Puspita Hasri, Billy Pramatirta, Jonathan Hartanto, Elvan Wiyarta, Wira Titra Dwi Putra, Prajnadiyan Catrawardhana, Leonardo Lukito Nagaria. Pemimpin Direksi: Andi Gunawan Karamoy. Finansial, Sirkulasi, dan Promosi: Kevin Tjoa, Gilbert Lazarus, Sean Alexander, Nur Zakiah Syahsah, Angela Kimberly, Koe Stella Asadinia, Tiara Grevillea, Ainanur Aurora, Agassi Antoniman, Yusuf Ananda, Safira Amelia, Syafira Nurlaila, Lowilius Wiyono, Jeremy Rafael, Iskandar Geraldi. Buku: Vincent Kharisma, Muhammad Izzatullah, Regan Edgary Jonlean, Husain Muhammad Fajar Surasno, Nadira Prajnasari Sanjaya, Roberto Bagaskara, Tiroy Junita, Indah Fitriani, Sabrina Tan, Gilbert Mayer C, Marie Christabelle, Bunga Cecilia. Alamat: Media Aesculapius BEM IKM FKUI. Gedung C lantai 4, Rumpun Ilmu Kesehatan, Kampus UI Depok. E-mail: medaesculapius@gmail.com, Rek. 157-0004895661 Bank Mandiri Cabang UI Depok, website: beranisehat.com Alamat Redaksi/Sirkulasi: Media Aesculapius PO BOX 4201, Jakarta 10042, Harga Langganan: Rp18.000,00 per enam edisi gratis satu edisi (untuk seluruh wilayah Indonesia, ditambah biaya kirim Rp. 5.000,00 untuk luar Jawa), fotokopi bukti pembayaran wesel pos atau fotokopi bukti transfer via Bank Mandiri dapat dikirim ke alamat sirkulasi. MA menerima kiriman naskah dari pembaca untuk rubrik MA Klinik (khusus untuk dokter dan staf pengajar), Asuhan Keperawatan (khusus untuk perawat dan mahasiswa keperawatan) Sepuki, Suma, Suduk, Kolum, Arbeb, Kesmas, Seremonia, dan Konsultasi (berupa pertanyaan). Kirimkan email permohonan penulisan ke redaksima@yahoo.co.id dan kami akan mengirimkan spesifikasi rubrik yang Anda minati.

Kirimkan kritik dan saran Anda:

redaksima@yahoo.co.id

Website Media Aesculapius

beranisehat.com

Dapatkan info terbaru kami: @MedAesculapius


MEDIA

KLINIK

AESCULAPIUS

MARET - APRIL 2019

3

KONSULTASI

Pahami Kondisi dan Penanganan pada Pasien TB Pertanyaan: Kasus tuberkulosis pada lingkungan kerja semakin meningkat akhir-akhir ini. Bagaimana cara melakukan skrining dan diagnosa TBC dengan benar, parameter apakah yang dapat digunakan untuk menilai TBC tidak menular, dan apakah ada efek samping dari pengobatannya? -dr. L, Jawa Timur

T

uberkulosis (TB) merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini dapat masuk ke paru-paru, membentuk granuloma dan mengalami fase dormansi. Granuloma dapat menjadi aktif dalam beberapa bulan atau tahun kemudian dan menyebabkan penyakit TB paru aktif. Penyakit ini dapat berkembang menjadi TB ekstraparu yang melibatkan organ selain paru seperti pleura, kelenjar getah bening, abdomen, kulit, tulang, dan meninges. Prevalensi TB, terutama di negara berkembang, masih tinggi. Penyakit ini juga merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak di dunia. Sebanyak 1,3 juta kematian yang disebabkan oleh TB non-HIV dan sebanyak 374.000 kematian pada pasien dengan HIV pada tahun 2016. Selain itu, ditemukan sebanyak 10,4 juta kasus TB pada tahun yang sama. Insiden TB mayoritas terjadi di Asia tenggara (45%), diikuti oleh Afrika (25%), dan Pasifik Barat (17%). Sementara itu, negara-negara dengan kasus TB terbanyak yaitu India, Cina, Indonesia, Filipina, dan Pakistan. Diagnosis pertama TB dilakukan pada pasien yang menunjukkan gejala TB dengan

pemeriksaan 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari dengan urutan sewaktu-pagi-sewaktu. Pada orang dewasa, diagnosis TB paru ditegakkan dengan ditemukannya bakteri TB pada pemeriksaan sputum basil tahan asam (BTA). Diagnosis TB tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan temuan pada pemeriksaan rontgen toraks karena foto toraks tidak selalu memberikan gambaran khas TB paru. Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian dan kekambuhan, memutuskan rantai penularan, dan mencegah terjadinya resistensi terhadap obat anti-tuberkulosis (OAT). Pemberian OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis obat dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai kategori. Kategori 1 diberikan gita pada pasien baru TB paru /MA dengan BTA positif, pasien TB paru dengan BTA negatif namun rontgen toraks positif TB, dan pasien TB ekstraparu. Sedangkan, kategori 2 diberikan pada pasien dengan BTA positif yang telah diobati sebelumnya seperti pasien kambuh, pasien gagal pengobatan, dan pasien dengan pengobatan setelah putus berobat. Selain itu, pengobatan TB diperlukan pengawasan langsung untuk menjamin kepatuhan pasien meminum obat (Directly Observed Treatment) oleh seorang pengawas minum obat (PMO). Pada tahap awal, pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi

secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat selama 2 bulan. Tahap selanjutnya, pasien mendapat obat lebih sedikit dengan jangka waktu lebih panjang yaitu 4 bulan. Efek samping pengobatan pada hampir seluruh OAT antara lain ikterus, bingung, dan muntah-muntah. Selain itu, obat rifampisin dapat menyebabkan warna urin kemerahan, purpura, dan syok. Obat streptomisin dapat menyebabkan tuli dan gangguan keseimbangan. Ada pula obat etambutol yang dapat menyebabkan gangguan penglihatan. Efek samping lainnya yang ringan seperti kesemutan juga dialami oleh pasien yang meminum obat isoniazid. Hal ini dapat diatasi dengan pemberian vitamin B6 100 mg per hari. Pasien dinyatakan sudah tidak menular jika keluhan yang membuat pasien berobat seperti batuk sudah tidak ada. Di samping itu, berat badan pasien mengalami kenaikan setelah memulai pengobatan. Parameter lainnya adalah hasil pemeriksaan sputum BTA pada bulan kedua dan setelah bulan kelima sudah negatif. Terakhir, hasil pemeriksaan rontgen toraks bulan kelima sudah normal. Tuberkulosis disebarkan melalui droplet di udara. Untuk mencegah penyebaran TB, pasien dapat menutup mulut dan hidung saat batuk, memakai masker, dan menghindari kontak dengan orang lain sampai dinyatakan sudah tidak menular. Pemberian nutrisi yang adekuat akan membantu seseorang memiliki imunitas yang lebih baik sehingga tidak mudah terjangkit TB.

Narasumber dr. Gurneet Singh, SpPD-KP Divisi Pulmonologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSCM-FKUI

Semua anggota keluarga yang tinggal berdekatan dengan pasien TB harus dilakukan skrining. Skrining TB diberikan pada kelompok orang yang memiliki risiko lebih tinggi. Kelompok tersebut terdiri dari orang yang berkontak dekat dengan pasien TB, pasien dengan HIV, individu dengan kondisi medis yang meningkatkan risiko untuk terkena infeksi, petugas kesehatan, anak yang terlahir di negara endemik TB, dan populasi berpendapatan rendah yang sulit mendapatkan akses perawatan medis. Metode skrining dapat dilakukan dengan tes Mantoux, rontgen toraks, dan tes molekular seperti Xpert MTB/RIF assay. mariska Kirimkan pertanyaan Anda seputar medis ke redaksima@yahoo.co.id Pertanyaan Anda akan dijawab oleh narasumber spesialis terpercaya.

TIPS DAN TRIK

Sigap Tangani Tersedak dengan Manuver Heimlich

M

anuver Heimlich merupakan salah satu tindakan kegawatdaruratan yang dilakukan ketika ada orang yang tersedak benda asing. Tindakan ini disebut juga sebagai abdominal thrust. Sesuai dengan namanya, manuver ini dilakukan dengan menekan diafragma untuk menaikkan tekanan di dalam rongga dada. Harapannya, sumbatan benda asing dapat dikeluarkan dengan aman. Tersedak merupakan hal yang terlihat sepele, tetapi dapat terjadi kapan saja dan berpotensi menghalangi jalur napas hingga menyebabkan kematian. Maka dari itu, pertolongan pertama harus diberikan secepat mungkin. Banyak orang yang spontan meminum air jika tersedak dengan tujuan membuat sumbatan—yang biasanya berupa makanan—tertelan ke esofagus. Namun, hal ini sebenarnya dapat membuat keluhan semakin parah. Sebagai gantinya, manuver Heimlich merupakan metode yang cepat dan praktis karena tidak memerlukan

Mudah dan aman menghadapi kondisi tersedak keterampilan khusus dan dapat dilakukan untuk menangani kasus tersedak yang tiba-tiba. Sebelum melakukan manuver Heimlich, kenali terlebih dahulu tanda-tanda dari tersedak itu sendiri. Jika hanya sumbatan ringan, cukup rangsang penderita untuk batuk sembari terus observasi. Apabila sumbatan berat, biasanya ditandai dengan korban tidak bisa bicara, batuk-batuk, sulit bernapas, dan wajahnya memucat. Korban juga sering memegang leher atau dadanya agar orang lain mengerti atau bisa ditanyakan langsung kepada korban. Jika sudah yakin, lakukan tindakan untuk mendorong sumbatan ke luar. Manuver Heimlich dimulai dengan berdiri di belakang korban A dan melingkarkan M / h na kedua lengan di n ha bagian atas perut korban. Setelah mencondongkan korban ke depan, letakkan satu kepalan tangan di antara perut dan tulang rusuk korban. Genggam

kepalan tersebut dengan tangan lainnya, lalu tarik kepalan ke atas dan dalam secara tiba-tiba sebanyak lima kali. Ulangi metode ini hingga sumbatan berhasil keluar atau sampai korban kehilangan kesadaran. Lakukan manuver ini hanya jika korban masih sadar. Manuver ini juga dapat dilakukan bergantian dengan pukulan punggung. Biasanya pukulan punggung (back blow) dan manuver Heimlich dilakukan masing-masing lima kali, berulang, dan bergantian sampai benda asing keluar. Jika jalur napas tidak kunjung aman dan korban kehilangan kesadaran, segera lakukan resusitasi jantung paru dan hubungi layanan gawat darurat. Akan tetapi, tidak semua kasus korban tersedak dapat dilakukan manuver Heimlich. Pada ibu hamil misalnya, tindakan abdominal thrust akan diganti dengan chest thrust. Prinsipnya sama seperti abdominal thrust, hanya saja kepalan tangan diletakkan di dada korban. Lalu, pada anak-anak, penggunaan manuver Heimlich masih diperdebatkan karena dapat memunculkan komplikasi seperti fraktur iga dan perforasi lambung ataupun esofagus. Jika ingin melakukan manuver ini pada anak-anak, berhati-hatilah dalam menggunakan tenaga untuk menghindari komplikasi. catra

JASA PEMBUATAN BUKU Media Aesculapius menyediakan jasa penyusunan buku yang sangat fleksibel baik dalam hal desain cover dan isi, ukuran dan tebal buku, maupun gaya penulisan termasuk menyunting tulisan anda. Tak terbatas hingga penyusunan saja, kami siap melayani distribusi buku anda. Adapun buku yang pernah kami buat: buku biografi tokoh, buku pemeriksaan fisik berbagai departemen, buku jurnal, dan Kapita Selekta Kedokteran.

Hubungi Hotline MA: 0896-70-2255-62 (SMS/WhatsApp)


4

KLINIK

MARET - APRIL 2019

MEDIA

AESCULAPIUS

MA INFO

Tangani Glomerulonefritis Akut Pasca Streptokokus: Siapa Takut! Cepat dan tepat hadapi glomerulonefritis akut pasca streptokokus pada anak

rth i

n/M

A

akut, yaitu mampu membuat diagnosis klinik, memberikan terapi pendahuluan, serta menentukan rujukan yang tepat pada keadaan bukan gawat darurat.

ma

G

lomerulonefritis akut merujuk kepada kumpulan penyakit ginjal yang ditandai dengan adanya inflamasi dan proliferasi sel pada glomerulus akibat proses imunologis ataupun idiopatik. Secara umum, glomerulonefritis akut dapat dibedakan menjadi glomerulonefritis akut pasca streptokokus (GNAPS) dan nonstreptokokus, sedangkan yang paling sering terjadi pada anak adalah GNAPS. GNAPS sendiri terjadi setelah infeksi bakteri Streptococcus beta-hemolyticus grup A dan memiliki manifestasi klinis berupa sindrom nefritik akut, yaitu sekumpulan gejala klinik yang terdiri dari meningginya senyawa nitrogen pada darah (azotemia), oligouria, hematuria, proteinuria masif, dan hipertensi yang terjadi secara akut. Secara epidemiologi, GNAPS lebih banyak terjadi pada laki-laki usia 4-14 tahun serta jarang menyerang anak di bawah usia dua tahun. Angka kejadian pasti dari GNAPS sulit ditentukan karena lebih banyak dijumpai dalam bentuk yang asimtomatik dibandingkan simtomatik. Akan tetapi, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) memperkirakan bahwa 470.000 kasus GNAPS terjadi setiap tahun dengan 5000 nyawa meninggal setiap tahunnya secara global. Dari semua kasus tersebut, sekitar 97 persen terjadi di negara-negara dengan status sosioekonomi yang rendah. Menurut Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI), dokter umum harus memiliki kemampuan 3A untuk glomerulonefritis

Diagnosis GNAPS Sebuah ciri khusus yang dapat mengarahkan diagnosis kepada GNAPS adalah adanya riwayat infeksi streptokokus. Dalam anamnesis, dapat ditanyakan apakah pasien pernah mengalami infeksi kulit, seperti impetigo, atau infeksi saluran pernapasan atas ,seperti faringitis. Di

samping terdapatnya infeksi tersebut, terdapat juga periode laten, yaitu periode yang berada di antara timbulnya sebuah gejala klinis dengan infeksi streptokokus. Umumnya, lama periode ini bervariasi berdasarkan infeksi yang timbul di mana infeksi kulit seperti impetigo memiliki periode laten selama 1-2 minggu dan faringitis selama 3 minggu. Selanjutnya, secara umum, diagnosis GNAPS dapat ditegakkan secara klinik apabila dijumpai kondisi full blown case, yakni kasus yang menunjukkan semua gejala khas dari GNAPS. Gejala yang dijumpai pada kondisi ini adalah hipertensi, edema, hematuria, dan oligouria. Hematuria dan oligouria dapat ditemukan melalui anamnesis dengan menanyakan warna urin pasien. Urin yang berwarna coklat kemerahan seperti teh menandakan adanya hematuria makroskopik. Adanya penurunan produksi urin kurang dari 350ml/hari menandakan oligouria yang terjadi ketika fungsi ginjal mengalami penurunan. Edema merupakan gejala yang paling sering ada

pada pasien GNAPS dan dapat terlihat pada pemeriksaan fisik. Edema paling sering terdapat pada daerah periorbital maupun tungkai, tetapi juga dapat timbul di daerah perut sebagai asites. Hipertensi dijumpai pada 60-70 persen dari kasus GNAPS dan umumnya dijumpai dalam keadaan hipertensi ringan, yakni dengan tekanan diastolik berkisar pada 80-90 mmHg. Tata Laksana GNAPS GNAPS dapat sembuh dalam 1-2 minggu apabila tidak ada komplikasi. Dengan demikian, terapi yang dapat diberikan mencakup terapi konservatif dan simtomatik. Istirahat di tempat tidur disarankan hingga fase akut selesai. Apabila tidak ada komplikasi, pasien dapat dipulangkan setelah 10-14 hari perawatan dengan observasi lanjut ketika berobat jalan jika masih ditemukan kelainan pada hasil laboratorium urin. Selama dirawat, pemberian garam dibatasi sebanyak 0.5-1 g/hari pada edema ringan dan makanan tanpa garam pada edema berat. Hipertensi pun dapat ditangani dengan istirahat yang cukup dan pembatasan cairan yang baik pada hipertensi ringan, pemberian kaptopril per oral 0,3-2 mg/kgBB/hari pada hipertensi sedang atau berat tanpa gejala serebral, atau klonidin per oral sebanyak 0.002-0.006 mg/KgBB pada hipertensi dengan gejala serebral. Dengan mengetahui cara diagnosis dan tatalaksananya, tentunya GNAPS dapat ditangani dengan baik. jonnhar

ASUHAN KESEHATAN

Cermat Hadapi DBD pada Anak Kenali fase DBD pada anak, tangani dengan cepat

D

emam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi oleh salah satu dari 4 jenis virus dengue yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Penyakit ini seringkali menyerang anak-anak terutama saat musim hujan. DBD pada anak dapat menjadi berbahaya karena respon imun yang dimiliki anak masih belum cukup kuat untuk melawan virus dengue. Terdapat 3 fase gejala klinis DBD, yaitu fase demam, fase kritis, dan fase penyembuhan. Fase demam berlangsung selama 3 hari di mana anak dapat mengalami dehidrasi karena biasanya anak sulit makan dan minum, terlihat flushing (muka kemerahan), tampak sakit berat, dan tanpa disertai batuk atau pilek. Fase kritis ditandai dengan demam mulai turun pada hari ke-4 dan ke-5. Orang tua akan menganggap anak sudah sembuh, padahal fase ini merupakan fase yang berbahaya karena terjadi perembesan plasma darah. Kemudian, pada fase penyembuhan, perembesan plasma darah akan berhenti dan demam dapat meningkat kembali, tetapi tidak begitu tinggi. Tata laksana untuk DBD pada anak disesuaikan dengan fase perjalanan penyakit DBD tersebut. Pada fase demam. dapat

diberikan pengobatan simtomatik dan suportif. Untuk mengatasi demam, antipiretik lini pertama menjadi pilihan, yaitu parasetamol dengan dosis 10 mg/kgBB per oral. Parasetamol dapat diberikan dengan selang waktu 4 jam o apabila demam >38 C. Antipiretik ini berfungsi untuk memperpendek durasi demam, bukan untuk mengurangi suhu demam. Selain itu, penanganan suportif dilakukan dengan pemberian oralit, susu, jus buah, dan lain-lain. Apabila terlihat tanda dehidrasi disertai muntah hebat, tangani dehidrasi terlebih dahulu. Setelah penanganan fase demam, anak harus terus dipantau kondisi kesehatannya. Meskipun demam mega/MA mulai turun setelah pemberian antipiretik atau pengobatan suportif pada fase demam, gejala lain seperti perdarahan bermakna dan penurunan kesadaran perlu diperhatikan. Hal ini menandakan anak sedang dalam fase kritis. Penanganan pada fase ini harus dilakukan dengan tepat agar tidak terjadi syok yang membuat kondisi lebih berat. Pada fase ini juga dilakukan pemeriksaan darah rutin. Cairan intravena dapat diberikan jika terjadi peningkatan hematokrit 10-20%. Cairan yang dibutuhkan setara dengan dehidrasi sedang. Jika

JASA TERJEMAHAN Kabar Gembira! Media Aesculapius menyediakan jasa terjemahan IndonesiaInggris dan Inggris-Indonesia dengan waktu pengerjaan singkat (3 x 24 jam) serta hasil terjamin. Tidak hanya jasa terjemahan, kami juga menyediakan jasa pembuatan slide presentasi dan poster ilmiah sesuai kebutuhan Anda. Lidia Puspita Hasri Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Tingkat II telah terjadi syok, cairan diberikan sebanyak 10-20 mL/kgBB atau tetesan lepas dalam 10-15 menit sampai terukur tekanan darah dan nadi, lalu diturunkan menjadi 10 mL/kg/jam. Pada fase penyembuhan, hati-hati terhadap kondisi kelebihan cairan. Tetesan cairan intravena harus disesuaikan dengan terus memperhatikan tanda vital, kondisi klinis, dan hasil pemeriksaan darah rutin. Pemantauan dan tata laksana sesuai fase sangat penting dalam menangani DBD pada anak untuk mencegah komplikasi lanjutan yang tidak diinginkan. lidia

Hubungi Hotline MA: 0896-70-2255-62 (SMS/Whatsapp)


MEDIA

ILMIAH POPULER

AESCULAPIUS

MARET - APRIL 2019

5

KESMAS

Hindari Kanker dengan CERDIK Kanker telah menjadi beban ekonomi dan sosial yang sangat besar bagi negara. Akankah kita tetap diam?

K

anker masih menjadi ancaman yang menakutkan bagi kesehatan dunia. Pada tahun 2018, World Health Organization (WHO) mengestimasi adanya 18,1 juta kasus kanker baru dan sekitar 9,6 juta orang meninggal akibat kanker. Indonesia sendiri berada pada urutan ke-8 negara dengan prevalensi kanker terbanyak di Asia Tenggara, dengan angka kejadian kanker yang mencapai 136,2 jiwa per 100.000 penduduk. Kanker payudara merupakan kanker dengan prevalensi tertinggi di Indonesia. Belum lagi, banyaknya kasus kanker yang baru terdiagnosis pada stadium lanjut menimbulkan beban ekonomi yang cukup memberatkan, yaitu sebesar 905 miliar rupiah pada tahun 2014, dan diperkirakan akan terus meningkat. Menariknya, sekitar 30-50% kasus kanker sebenarnya dapat dicegah, dan inilah yang menjadi target utama program Union for International Cancer Control (UICC) pada tahun ini. Memperingati Hari Kanker Sedunia pada tanggal 4 Februari, UICC kembali mengajak masyarakat untuk turut aktif dalam meningkatkan kepedulian terhadap pencegahan dan penanggulangan kanker. Beberapa strategi telah direncanakan untuk tiga tahun ke depan meliputi, peningkatan kesadaran dan pengetahuan masyarakat

mengenai kanker beserta pencegahan dan faktor risikonya, pembuatan kebijakan pemerintah yang efektif, dan pelayanan kanker yang adil dan terjangkau. Selain itu, pengetahuan tenaga kesehatan tentang kanker juga perlu ditingkatkan, agar mereka dapat memberikan pelayanan kanker yang bukan hanya memperhatikan kesembuhan fisik, tetapi juga aspek mental dan emosional pasien. Sejak tahun 2014, Kementerian Kesehatan RI telah membentuk A M h/ Komite a n ki Penanggulangan sa Kanker Nasional (KPKN) yang bertujuan menanggulangi kanker secara terintegrasi yang melibatkan unsur pemerintah, swasta, dan masyarakat untuk dapat menekan angka morbiditas dan mortalitas kanker

di Indonesia. Kemenkes juga telah mempromosikan gaya hidup sehat untuk dapat mencegah kanker yang disingkat “CERDIK�, yaitu cek kesehatan rutin, enyahkan asap rokok, rajin beraktivitas fisik, diet seimbang, istirahat cukup, dan kelola stres dengan baik. Penyuluhan serta edukasi tentang deteksi dini kanker juga terus digencarkan. Sayangnya, pelayanan kanker di Indonesia masih belum ideal. Layanan terapi kanker yang berbelit-belit kerap kali menyulitkan pasien yang ingin berobat. Meskipun pengobatan kanker kini dijamin BPJS, sering kali pasien harus menunggu lama untuk mendapatkan terapi. Hal ini disebabkan oleh jumlah tenaga kesehatan yang tidak seimbang dengan tingginya jumlah

penderita kanker di Indonesia. Akibatnya, tak jarang pasien memilih untuk merogoh kocek pribadi demi kesembuhannya. Namun, pengobatan kanker yang begitu mahal tidak terjangkau oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Reformasi sistem BPJS sangat dibutuhkan demi terwujudnya pelayanan kanker yang memadai. Penanggulangan kanker merupakan masalah kompleks yang membutuhkan kerja sama dari setiap elemen masyarakat, baik pemerintah, rumah sakit, bahkan keluarga dan individu sekalipun. Program deteksi dini kanker, terutama kanker payudara dengan metode Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS) dan kanker serviks dengan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA), masih terus dikembangkan pemerintah. Upaya pencegahan kanker dapat dimulai dengan menerapkan pola hidup sehat dan senantiasa waspada terhadap gejala kanker. Penyebaran informasi terkait kanker juga dapat dilakukan melalui berbagai media sosial. Dengan maraknya sosialisasi ini, diharapkan setiap individu menyadari peran yang dapat diambil dalam pencegahan dan pengendalian kanker, meyakinkan bahwa perlawanan terhadap penyakit ini bukanlah sesuatu yang mustahil. jessica

INFO OBAT

Warfarin: Si Antagonis Penghancur Gumpalan Darah Menjadi antagonis dari vitamin tidak selamanya buruk

W

arfarin merupakan salah satu obat antikoagulan jenis antagonis vitamin K. Sifat ini membuat warfarin memiliki kemampuan menghambat penggumpalan darah. Dalam kerjanya, vitamin K akan mengaktivasi berbagai faktor koagulasi, seperti protrombin (faktor II), faktor VII, faktor IX, faktor X, dan protein antikoagulan C dan S sehingga terjadi aglutinasi. Vitamin K yang telah dipakai untuk mengaktifkan faktor koagulasi akan teroksidasi menjadi bentuk epoksida yang inaktif. Warfarin bekerja dengan menginhibisi vitamin K epoxide reductase complex 1 (VKORC1), enzim penting untuk mereduksi epoksida vitamin K dan mengaktifkannya kembali. Dihambatnya reaktivasi vitamin K ini akan pula menghambat penggumpalan darah. Sejarah warfarin bermula dari ditemukannya aktivitas prothrombin yang berkurang pada sapi ternak yang ternyata berasal dari tanaman Melilotus alba. Zat ini akhirnya dibuat secara sintetis dan dipakai pada tahun 1952 sebagai pembasmi tikus. Warfarin baru digunakan sebagai obat untuk manusia pada tahun 1954. Hingga kini, warfarin tersedia dalam bentuk tablet oral dengan berbagai dosis sebagai natrium warfarin. Obat ini merupakan obat yang memerlukan resep untuk pengambilannya. Warfarin diberikan per oral dan memiliki daya absorpsi yang baik dan cepat di usus. Selain itu, bioavailabilitas warfarin hampir sempurna mendekati 100%. Dalam darah, sebagian besar rasemat warfarin terikat pada albumin dan sedikit dalam bentuk bebas. Hal ini

tidak lagi terpengaruh dan hanya berpengaruh terhadap lama kerja obat. Pengaturan dosis harus diperhatikan dengan saksama

A

i/M

v de

menyebabkan volume distribusinya kecil dan waktu paruhnya panjang di plasma (sekitar 20-60 jam; rata-rata 36 jam). Sebagian besar warfarin akan diekskresikan sebagai metabolit melalui urin. Antagonis vitamin K ini memiliki onset yang cukup lama karena faktor-faktor koagulasi aktif harus dikosongkan dari sirkulasi darah supaya kadarnya menurun secara signifikan. Dosis awal warfarin yang lebih besar dapat mempercepat timbulnya efek antikoagulan. Namun, pada capaian dosis tertentu, onset

agar tidak timbul efek toksik. Efek samping dari penggunaan obat antikoagulan yang paling sering adalah perdarahan. Perdarahan mayor dapat terjadi di bagian tubuh seperti intrakranial, saluran cerna, kulit, saluran kemih, dan intraokular. Oleh karena itu, pasien harus diedukasi mengenai efek samping tersebut dan dibantu untuk menanganinya. Efek samping lain berupa mual, muntah, nyeri perut, kembung, dan perubahan pengecapan. Warfarin, sebagai antikoagulan, digunakan untuk mencegah dan mengobati berbagai penyakit tromboemboli seperti trombosis vena, emboli paru, dan komplikasi dari fibrilasi atrium atau penggantian katup jantung. Warfarin juga efektif untuk mengurangi risiko kematian pada infark berulang, kejadian tromboemboli pascainfark miokardium, dan sebagai pencegahan sekunder untuk stroke rekuren dan serangan iskemik transien. Banyak kondisi yang merupakan kontraindikasi pemberian warfarin. Beberapa kondisi tersebut meliputi perdarahan sistem

organ, kelainan pembekuan darah (e.g., defisiensi vitamin K, gangguan hepar, dan gangguan ginjal), kelainan vaskular (e.g., aneurisma), dan kerentanan perdarahan (e.g., hipertensi malignan). Kasus-kasus tertentu juga tidak memungkinkan pemberian warfarin seperti preeklampsia dan hipersensitivitas terhadap warfarin. Pada kehamilan, warfarin dapat menembus sawar darah-plasenta sehingga dapat menyebabkan kelainan hemoragik pada janin. Protein yang memiliki residu gama-karboksiglutamat dapat terganggu oleh warfarin, sehingga pembentukan tulang menjadi abnormal. Nekrosis kulit karena berkurangnya aktivitas protein C juga dapat terjadi pada minggu pertama pengobatan. Mekanisme yang sama dapat menyebabkan infark pada payudara, jaringan lemak, usus, dan ekstrimitas, serta dapat terjadi trombosis vena. Selain warfarin, terdapat obat antikoagulan oral lain dengan mekanisme kerja yang berbeda. Warfarin bekerja sebagai antagonis vitamin K, sementara itu rivaroxaban merupakan antikoagulan inhibitor faktor Xa. Menurut Hyung Ki Jeong, et al. pada Chonnam Medical Journal, Januari 2019, rivaroxaban menurunkan kejadian perdarahan stroke hemoragik, rasio kematian, dan kejadian perdarahan manapun. Meskipun efikasinya mirip dengan warfarin, rivaroxaban lebih aman dan memiliki keuntungan klinis yang lebih baik. Akan tetapi, belum dapat dipastikan keunggulan rivaroxaban ini sehingga diperlukan pengujian klinis skala besar. catra


6

ILMIAH POPULER

MARET - APRIL 2019

MEDIA

AESCULAPIUS

ARTIKEL BEBAS

Saluran Pencernaan Sehat dengan Kuman Probiotik dan prebiotik sering dikonsumsi di masyarakat. Lalu, apakah keduanya benar menjadi solusi untuk masalah kesehatan?

D

i dunia yang tengah dihadapkan pada masalah kesehatan karena makanan ini, pengetahuan mikroba saluran cerna menjadi penting. Seringkali seseorang tidak sadar bahwa makanan merupakan faktor yang dapat memodifikasi keseimbangan mikroba. Probiotik dan prebiotik disinyalir menjadi solusi untuk masalah ini. Lalu, apa itu probiotik? Apakah sama dengan prebiotik? Probiotik: Kuman Baik di Saluran Cerna Di dalam tubuh manusia, terdapat bakteri yang hidup sebagai flora normal. Flora normal ini berperan dalam memerangi bakteri patogen. Oleh karena itu, keberadaannya berdampak positif bagi kesehatan. Kondisi-kodisi tertentu dapat menyebabkan berkurangnya flora normal sehingga pejamu rentan terserang bakteri patogen. Probiotik berperan dalam menyeimbangkan kondisi agar bakteri patogen tidak berkembang di usus terutama saat kadar flora normal turun. Probiotik dapat ikut terbuang melalui saluran cerna sehingga bisa ditemukan dalam tinja manusia sehat. Beberapa bakteri yang dapat berperan sebagai probiotik adalah Lactobacillus dan Bifidobacterium. Probiotik dapat ditemukan dalam produk makanan seperti yogurt, kefir, tempe, acar, kimchi. Selain makanan tersebut, beberapa probiotik disediakan dalam bentuk suplemen. Di Indonesia, probiotik terdapat dalam produk fermentasi, pangan olahan kering dalam bentuk bubuk, dan pangan olahan cair non fermentasi. Memiliki kemampuan menyerang bakteri patogen, probiotik berperan positif pada berbagai penyakit digestif. Lactobacillus sering berperan

dalam penyakit diare. Pada pasien dengan diare akut, tata laksana utama seperti rehidrasi dan suplemen seng dapat ditambahkan dengan probiotik. Probiotik juga dapat digunakan untuk penyakit sistem pencernaan lainnya seperi Inflammatory Bowel Disease (IBD), Irritable Bowel Syndrome (IBS), dan intoleransi laktosa. Probiotik bekerja menyerang bakteri patogen melalui empat mekanisme. Pertama, berperan sebagai antagonis bakteri patogen karena probiotik dapat memproduksi substansi antimikroba. Kedua, probiotik melakukan kompetisi dengan bakteri patogen dalam upaya menempel pada epitel saluran cerna dan

Peran probiotik dalam terapi pasca antibiotik adalah pengembalian komposisi flora normal usus dan merupakan terapi profilaksis terhadap bakteri patogen. Prebiotik: Makanan Probiotik Prebiotik adalah nutrisi probiotik. Prebiotik bekerja agar bakteri tumbuh dengan baik dan optimal bagi kesehatan. Pada umumnya, prebiotik berupa karbohidrat yang tidak dicerna dan diserap. Contohnya adalah laktulosa, inulin, Fruktosa Oligo Sakarida (FOS), dan Galakto Oligo Sakarida (GOS). Prebiotik juga secara alami ditemukan dalam biji-bijian, sayuran, dan buah-buahan seperti pisang, apel, dan nanas. Selain itu, prebiotik ditemukan dalam ASI. Hal ini dapay menjelaskan alasan bayi dengan ASI eksklusif memiliki ketahanan lebih baik untuk penyakit sistem /MA adit pencernaan. Menariknya, terdapat kombinasi antara probiotik dan prebiotik yang dikenal sebagai sinbiotik. Penggabungan ini dilakukan karena secara alami belum ada makanan yang mengandung keduanya secara bersamaan. Kombinasi ini masih diteliti dalam berbagai studi untuk menunjukkan manfaat

mendapatkan nutrisi. Ketiga, imunomodulasi pejamu agar lebih baik. Keempat, inhibisi produksi toksin bakteri patogen. Penyakit saluran cerna biasanya terjadi apabila ada gangguan keseimbangan antara flora normal usus dengan pejamu. Pada penyakit infeksi, penggunaan antibiotik dapat merusak keseimbangan flora normal usus sehingga terjadi manifestasi yang tidak diinginkan. Antibiotik menyebabkan “kevakuman mikroba� sehingga dapat diisi oleh bakteri patogen atau oportunis.

lebih untuk kesehatan. Kegunaan probiotik dan prebiotik untuk penyakit di luar saluran cerna juga masih dalam penelitian. Terbuktinya manfaat probiotik dan prebiotik bagi kesehatan saluran cerna tidak perlu membuat seseorang rutin mengonsumsi suplemen probiotik dan prebiotik. Pada kondisi normal, seseorang telah mendapatkan probiotik dari makanan yang dikonsumsinya. Namun, beberapa hal juga perlu diperhatikan dalam penggunaan probiotik dan prebiotik. Pertama, walaupun probiotik baik untuk kesehatan, bukan berarti dengan minum probiotik dan prebiotik dapat menjadi alasan menunda konsultasi ke dokter saat sakit. Kedua, dosis probiotik bervariasi bergantung pada strain dan kondisi kesehatan seseorang. Ketika akan menggunakan suplementasi probiotik, perlu melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Perlu diingat pula efek samping dari probiotik dapat berupa mual, konstipasi, muntah, pusing, bahkan ruam. Setiap orang memiliki efek samping yang berbeda. Apabila efek samping berlebihan, penanganan segera oleh dokter harus dilakukan. aughinurul Referensi 1. Peraturan Kepala BPOM RI No. 13 tahun 2016 tentang pengawasan klaim pada label dan iklan pangan olahan. BPOM RI;2016. 2. Islam SU. Clinical use of probiotics. Medicine;2016. 95(5):1-5 3. Slizewska K, Makowiak P. Effect of probiotics, prebiotics, and synbiotics on human health. Nutrients;2017.

SEGAR

Obat yang Mempunyai Metabolit Aktif Cari 10 golongan obat di bawah ini yang menghasilkan metabolik aktif!

mariska/MA

K I Q S P G S O F V S J P X K

O E H P R O P O X Y P H E N E

L M K A O Y G I D S I X B U Y

L I B Z C E L O L O G N Q T K

O X K C A N O E S E O B X P M

N A O O I I L N F U Q Y R A O

I T R U N A O I R N D B R I R

R O T O A C N D J N R N Y T P

U F W X M O A I P R L N M B H

P E L K I R R R W I G L O C I

O C X H D P P E L Z L G Z L N

L S V O E W O P P S X X K J E

L J P X L G R E I K F A D V Y

A Q T X D T P M P G C J P F G

Kunci: acebutolol, allopurinol, clofibrate, cefotaxime, meperidine, midazolam, morphine, procainamide, propoxyphene, propranolol

O V D L E T A R B I F O L C M


MEDIA

ILMIAH POPULER

AESCULAPIUS

IPTEK

ESWL: Teknologi untuk Batu Ginjal di Era Modern Sinar X teknologi terkini, terbukti efektif dan efisien menangani batu ginjal

B

atu ginjal adalah salah satu dari penyakit sistem perkemihan yang paling sering terjadi di masyrakat selain infeksi saluran kemih (ISK) dan pembesaran prostat. Batu tersebut terbentuk dari endapan kalsium, fosfat, sistin, asam urat, bakteri, maupun obat-obatan yang dikonsumsi.Batu saluran kemih memiliki prevalensi yang lebih tinggi pada pria, terutama pada pria dengan rentang usia 20-50 tahun dan terdapat riwayat pada keluarga. Namun, terjadinya batu saluran kemih ini juga dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti suhu lingkungan, konsumsi makanan, dan aktivitas fisik. Kondisi lingkungan yang panas, konsumsi garam yang tinggi, dan kurangnya asupan cairan serta aktivitas fisik yang dilakukan merupakan penyebab yang cukup dominan dalam pembentukan batu saluran kemih ini. Terjadinya batu saluran kemih dapat menyebabkan gangguan pada aliran urin dari ginjal, seperti aliran urin yang tidak lancar, rasa tidak puas setelah buang air kecil, tidak bisa keluarnya urin saat buang air kecil, hingga refluks urin kembali ke ginjal. Refluks urin dapat menyebabkan komplikasi yang cukup serius, seperti hidronefrosis. Batu saluran kemih juga tidak jarang menimbulkan perdarahan sehingga dapat ditemukan adanya urin yang bercampur darah dan rasa nyeri saat buang air kecil. Selain itu, batu saluran kemih seringkali menyebabkan mual, muntah, dan rasa nyeri pada area punggung dan perut bagian bawah. Manifestasi klinis yang terjadi pada pasien batu saluran kemih dapat mengganggu aktivitas dan mempengaruhi kualitas hidup secara signifikan. Penatalaksanaan batu saluran kemih

dilakukan berdasarkan ukuran dan lokasi dari batu. Batu berukuran kurang dari 1 cm tidak memerlukan tindakan pembedahan dan hanya membutuhkan konsumsi obat selama 4-6 minggu. Namun, jika batu berukuran lebih besar, obat-obatan dinilai kurang efektif dan perlu dilakukan tindakan pembedahan. Salah satu bentuk prosedur pembedahan untuk batu saluran kemih yang sering digunakan saat ini adalah ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy). ESWL melibatkan gelombang kejut (shock wave) yang ditargetkan pada batu saluran kemih sehingga batu akan hancur. Gelombang tersebut berupa gelombang elektromagnetik yang dihasilkan oleh mesin bernama lithotripter yang menembakkan sinar X menuju batu. Gelombang elektromagnetik yang berasal dari sinar X akan menembus kulit dan jaringan tubuh hingga akhirnya sampai pada batu yang ditargetkan. Batu kemudian dipecah menjadi fragmenfragmen kecil yang akan dapat keluar bersama urin. Sebelum prosedur dilakukan, pasien dianastesi ringan untuk meringankan nyeri. Kemudian, lithotripter akan diatur agar batu target tepat A a/M sebagai sasaran. Frekuensi fion gelombang yang ditembakkan

disesuaikan dengan kebutuhan. Hal ini mengacu prinsip mengupayakan maksimalisasi pemecahan batu dengan minimalisasi luka. Frekuensi gelombang yang berlebihan justru menimbulkan kerusakan ginjal dan organ sekitar. Metode ESWL ini hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam dan memiliki tingkat keberhasilan hingga 90%. Selain itu, metode ini juga terbukti efektif dalam mengatasi batu saluran kemih. Ada beberapa komplikasi yang kemungkinan dapat terjadi setelah dilakukan prosedur ESWL, antara lain pasien dapat merasakan nyeri ataupun mengalami perdarahan akibat proses pengeluaran fragmen kecil pecahan batu. Selain rasa nyeri, fragmen tersebut juga dapat menghambat aliran urin dan menyebabkan gangguan berkemih. Hambatan akibat fragmen batu juga dapat menyebabkan infeksi pada saluran kemih. Prosedur ESWL ini memiliki beberapa kontraindikasi. Beberapa pasien seperti pasien dengan ukuran batu yang terlalu besar, ibu hamil, pasien dengan infeksi ginjal kronik, pasien dengan obstruksi saluran kemih, dan pasien ganggguan fungsi ginjal tidak dapat dilakukan prosedur ini. Hal tersebut disebabkan oleh pengeluaran fragmenfragmen kecil batu akan sulit untuk dilakukan jika terdapat gangguan dalam proses ekskresi urin. kevin

ADVERTORIAL

Penyuntikan tanpa Jarum, Mungkinkah?

I

njeksi atau penyuntikan merupakan metode penghantaran obat yang lazim digunakan. Walaupun demikian, metode ini masih memiliki beberapa kekurangan, baik dari segi keamanan (efek samping dan penularan penyakit melalui tusukan) maupun kenyamanan. Dengan berkembangnya ilmu teknik biomedis, berbagai teknologi telah dikembangkan untuk memperbaiki metode injeksi, salah satunya berupa teknologi injeksi bebas jarum. Teknologi ini memungkinkan obat yang berbentuk cair menembus kulit dalam bentuk jet berkecepatan tinggi, yakni 150 m/s. Diameter arus yang sangat kecil, bahkan kurang dari 300 Îźm, memungkinkannya berperan sebagai “jarum virtualâ€? yang dapat melakukan penetrasi di jaringan kulit. Sebuah perangkat injeksi bebasjarum (PIBJ) memiliki tiga komponen meliputi alat injeksi, mulut pipa (nozzle), dan sumber tekanan. Alat injeksi terbuat dari plastik dan memiliki ruang untuk obat serta syringe plastik tanpa jarum. Ketika tombol pada PIBJ ditekan, komponen sumber tekanan akan menghasilkan gaya yang mendorong obat pada alat injeksi untuk keluar melalui lubang pada mulut pipa yang berkontak dengan kulit. Berdasarkan mekanisme komponen sumber tekanannya, PIBJ dapat dibedakan menjadi dua, yaitu alat injeksi berkekuatan pegas dan berkekuatan gas. Alat injeksi berkekuatan pegas bekerja dengan memanfaatkan sebuah pegas yang ditekan secara paksa. Ketika tombol pada PIBJ ditekan, pegas ini akan terlepas dan memantul sehingga menghasilkan gaya pegas yang selanjutnya akan turut mendorong obat

Suntik lebih aman dan nyaman tanpa jarum sehingga terbentuklah aliran deras seperti jet. Sedangkan, alat injeksi berkekuatan gas memanfaatkan tabung berisi gas yang akan ditembak keluar melalui sistem piston dan perpipaan sehingga membentuk arus obat yang deras. Tentunya, teknologi ini memiliki berbagai keuntungan. PIBJ memiliki efek samping yang minimal pada kulit seperti tidak adanya pendarahan, lebam, dan respons kulit yang berlebihan. Selain itu, proses injeksi pun tergolong cepat, kurang dari setengah detik sehingga mengurangi nyeri yang dirasakan. Tidak adanya jarum A /M juga memiliki beberapa nia ka keuntungan bagi tenaga kesehatan seperti mengurangi kemungkinan tertusuk jarum serta potensi transmisi infeksi yang menular dari darah. Selain itu, hal ini juga memiliki efek baik terhadap pasien yaitu akan mengeliminasi efek ketakutan terhadap jarum suntik dan memungkinkan dilakukannya administrasi obat secara mandiri oleh pasien. Walaupun demikian, terdapat pula kekurangan dari PIBJ yakni penggunaannya hanya memungkinkan untuk rute intradermal, intramuskular, dan subkutan sehingga tidak dapat digunakan untuk penyuntikan melalui rute intravena.

Studi oleh Kojic dkk telah membandingkan penggunaan PIBJ untuk injeksi subkutan dengan jarum ukuran 27 G. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa PIBJ dapat mengurangi nyeri secara signifikan karena waktu penetrasi lebih cepat dibandingkan injeksi konvesional, yakni kurang dari setengah detik pada PIBJ dan 3-4 detik pada injeksi konvensional. 60% subjek penelitian lebih memilih injeksi dengan PIBJ dibandingkan konvensional. Pada tahun 2012 dan 2013, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama dengan PATH (suatu organisasi non-profit di bidang kesehatan) telah melaksanakan uji klinis terhadap penggunaan PIBJ di Kuba, Pakistan, Gambia, dan Kamboja untuk membandingkan efikasi penggunaan PIBJ dengan injeksi konvensional. Uji klinis ini juga menunjukkan bahwa penggunaan PIBJ memakan waktu yang lebih cepat. Selain itu, vaksin yang dibutuhkan lebih sedikit dibandingkan injeksi konvensional. Atas dasar ini, WHO kini memanfaatkan PIBJ dalam pelaksanaan vaksinasi polio, influenza, gondong, campak, dan rubella. Di samping untuk vaksinasi, penggunaan klinis PIBJ dapat berupa injeksi anestesia lokal, injeksi berbagai protein terapeutik seperti human growth hormone, serta injeksi berbagai macam obat seperti triamsinolon, bleomisin, dan kortikosteroid. jonnhar

MARET - APRIL 2019

7

JOURNAL READING

Rokok Elektrik vs Terapi Pengganti Nikotin, Mana yang Lebih Efektif ?

P

enggantian rokok biasa menjadi rokok elektrik diperkirakan mampu mengurangi risiko gangguan kesehatan. Namun, risiko dan manfaat penggunaan rokok ini masih banyak dipertanyakan. Pertanyaan klinis terpenting rokok elektrik adalah efektivitasnya dalam upaya menghentikan kebiasaan merokok, terutama jika dibandingkan dengan terapi pengganti nikotin. Penelitian acak dilakukan untuk mengevaluasi efikasi penggunaan rokok elektrik dibandingkan dengan terapi pengganti nikotin selama satu tahun. Penelitian dilakukan pada orang dewasa yang datang ke layanan berhenti merokok di United Kingdom (U.K.) National Health Service. Pemilihan sampel dilakukan secara acak pada subjek yang memilih metode berhenti merokok dengan produk pengganti nikotin atau rokok elektrik. Semua subjek penelitian juga mendapatkan terapi dukungan perubahan perilaku secara tatap muka setiap minggu selama setidaknya empat minggu. Hasil utama dari penelitian ini adalah subjek yang berhenti merokok setelah satu tahun dan divalidasi dengan pemeriksaan biokimia untuk mengukur kadar karbon monoksida dalam tubuh. Subjek yang tidak ter-follow up atau tidak mengikuti validasi biokimia dianggap gagal berhenti merokok. Hasil lain yang bisa diamati dari penelitian ini adalah gejala gangguan saluran pernapasan dan efek samping penggunaan rokok elektrik dan produk pengganti nikotin. Sebanyak 886 subjek dari total 2.045 orang masuk dalam penelitian ini setelah dilakukan pemilihan sampel acak. Sebanyak 439 subjek masuk ke kelompok rokok elektrik dan 447 lainnya masuk ke kelompok terapi pengganti nikotin. Dua orang subjek meninggal dunia saat penelitian berlangsung. Laju berhenti merokok setelah satu tahun adalah 18,0% pada kelompok dengan rokok elektrik dan 9,9% pada kelompok dengan terapi pengganti nikotin. Pada subjek yang tidak berhasil berhenti merokok sepenuhnya, didapatkan penurunan validasi karbon monoksida setidaknya sebesar 50%. Hasil lain yang didapatkan yaitu iritasi oral banyak terjadi pada kelompok rokok elektrik dan mual lebih banyak terjadi pada kelompok pengganti nikotin. Penurunan insidensi batuk dan dahak lebih banyak terjadi pada kelompok rokok elektrik. Tidak ada perbedaan signifikan pada perubahan insidensi mengi dan sesak napas pada kedua kelompok. Kesimpulannya, rokok elektrik lebih efektif digunakan untuk terapi berhenti merokok daripada terapi pengganti nikotin pada percobaan acak. Pada penelitian ini, tingkat keberhasilan berhenti merokok dipengaruhi oleh terapi dukungan secara tatap muka dan pemilihan produk rokok elektrik yang digunakan oleh subjek. Rokok elektrik juga lebih efektif dalam meringankan gejala withdrawal tembakau, seperti konstipasi, ulkus oral, dan peningkatan berat badan. safety Referensi: Hajek P, Phillips-Waller A, Przulj D, Pesola F, Myers Smith K, Bisal N, et al. A randomized trial of e-cigarettes versus nicotine-replacement therapy. N Engl J Med. 2019 Feb 14;380(7):62937.


8

MARET - APRIL 2019

OPINI & HUMANIORA

MEDIA

AESCULAPIUS

SUARA MAHASISWA

Simbiosis Mutualisme Pengabdian Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Puskesmas Bagaimana mungkin kegiatan pengabdian mahasiswa kedokteran berjalan selaras dengan program-program pemerintah?

M

ahasiswa kedokteran merupakan generasi penerus yang memegang peranan penting dalam mewujudkan Indonesia sehat berkeadilan dan mandiri. Namun, gerakan pengabdian mahasiswa kedokteran saat ini belum terarah dan selaras dengan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) sebagai salah satu program pemerintah. Kurangnya sinergisme antara gerakan pengabdian mahasiswa kedokteran dan puskesmas sangat disayangkan karena keduanya bertujuan sama namun bergerak terpisah. Puskesmas adalah penyedia kesehatan masyarakat yang berfokus pada upaya promotif, preventif, dan kuratif. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2017, terdapat sebanyak 9.825 puskesmas yang tersebar di 34 provinsi. Setiap puskesmas memiliki berbagai program dalam rangka pemenuhan berbagai target indikator kesehatan. Program-program tersebut menjadi ladang potensi besar bagi mahasiswa kedokteran untuk turut berperan. Indonesia memiliki 83 fakultas kedokteran (FK) yang umumnya memiliki kegiatan pengabdian masyarakat yang dijalankan oleh organisasi mahasiswa. Kegiatan pengabdian merupakan bentuk aktualisasi dan kontribusi mahasiswa kedokteran dalam mewujudkan Indonesia yang sehat. Sayangnya, gerakan pengabdian tersebut seringkali tidak terpusat dan tanpa koordinasi yang baik. Salah satu penyebab macetnya sinergisme program puskesmas dan pengabdian mahasiswa adalah kurangnya keterlibatan mahasiswa kedokteran dalam program puskesmas. Padahal,

kerjasama antara mahasiswa kedokteran dan puskesmas menyimpan potensi hubungan mutualisme. Keterlibatan mahasiswa kedokteran ini juga bisa membantu puskesmas yang kerap kali kekurangan sumber daya manusia. Gerakan yang tidak sinergis dan selaras ini berdampak pada rendahnya cakupan program serta program menjadi tidak berkepanjangan dan terarah. Sampai saat ini, masih sangat sedikit peluang yang tersedia bagi mahasiswa kedokteran untuk terlibat dalam program puskemas. Oleh sebab itu, puskesmas seharusnya bisa membuka kesempatan bagi mahasiswa kedokteran untuk terlibat dalam pelaksanaan program-programnya. Keterlibatan mahasiswa kedokteran ini dapat dimulai dari pengenalan program puskesmas kepada mahasiswa kedokteran dan sebaliknya. Pengenalan tersebut harus dilakukan agar kedua pihak dapat saling memahami potensi kerja sama di antara mereka. Setelah saling mengenal, langkah selanjutnya adalah menyelaraskan program dan kerja sama antara puskesmas dan mahasiswa kedokteran. Contoh beberapa kegiatan puskesmas yang dilaksanakan setiap minggunya adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN),

Ketuk Pintu Layani Dengan Hati (KPLDH), pembinaaan Unit Kesehatan Sekolah (UKS), dan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Pada program-program tersebut, mahasiswa dapat berkontribusi secara langsung dalam pelaksanaannya. Langkah lainnya yang dapat dilakukan adalah menempatkan mahasiswa tahap preklinik di puskesmas untuk periode waktu tertentu. Penempatan ini dapat dilaksanakan sebagai bagian dari kurikulum wajib ataupun sebagai pilihan ketika mahasiswa kedokteran berada dalam masa liburan. Selama masa penempatan, mahasiswa akan mengikuti dan membantu pelaksanaan seluruh kegiatan puskesmas secara hannah/MA langsung. Upaya sinergisme lain dapat berupa kampanye kreatif melalui media sosial untuk mengubah persepsi masyarakat terkait tujuan dan program puskesmas. Hal ini didukung dengan pengaruh bervariasinya media sosial yang dipakai oleh mahasiswa kedokteran dan tingkat penggunaan media sosial di Indonesia yang sangat tinggi. Kampanye kreatif juga dapat menjadi wadah untuk menginformasikan pentingnya partisipasi masyarakat dalam program-program tersebut. Melalui re-branding

Angga Wiratama Lokeswara Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 2015 Tingkat III Mahasiswa Berprestasi Utama UI 2018 yang dilakukan mahasiswa kedokteran, diharapkan puskesmas akan memiliki citra yang lebih baik di masyarakat dan meningkatkan partisipasi masyarakat untuk menunjang pencapaian target-target puskesmas. Melihat besarnya potensi hubungan mutualisme antara gerakan pengabdian mahasiswa kedokteran dan program puskesmas, maka langkah optimalisasi sinergisme kedua elemen ini harus segera diterapkan untuk dapat puskesmas mencapai Indonesia sehat berkeadilan. Mari bersama wujudkan Indonesia sehat berkeadilan! safety

KO L U M

Kacamata Orang Lain Saat bibir lebih mudah menyalahkan, mungkin mata perlu lebih terbuka X

“Acara kemarin gagal. Acara dimulai terlambat dan konsumsinya nggak enak. Banyak panitia seperti kurang persiapan. Katanya, dana juga masih kurang. Ketua kita nggak inisiatif untuk memberlakukan rencana cadangan. Ketuanya nggak beres, sih. Kalau dia jadi ketua lagi, aku nggak bakal jadi panitianya.” Y

“Acara kemarin mencapai sebagian tujuan yang ingin dicapai. Tapi iya sih, acara berjalan kurang lancar. Konsumsinya tidak enak karena masalah internal dari kateringnya. Aku sudah berusaha bikin banyak rapat koordinasi dan mencoba untuk follow up mereka. Namun, rapat selalu sepi, mereka juga nggak responsif. Aku sudah inisiatif untuk mempersiapkan rencana cadangan, tetapi aku lupa untuk mendelegasikan karena mereka juga nggak pernah ada yang mengingatkan.”

I

lustrasi di atas merupakan contoh dua sudut pandang yang berbeda terhadap suatu permasalahan yang sama. Sudut pandang ini diambil dari sudut orang yang menyalahkan dan disalahkan. Sadar atau tidak, aku atau mungkin kamu sering memosisikan diri sebagai X—pihak yang menyalahkan. Bentuk kritik yang disampaikan tidak jarang berujung pada suatu penghakiman terhadap orang lain. Menyalahkan tanpa mengapresiasi

terlebih dahulu terjadi pada banyak kasus antara pemimpin dan yang dipimpin. Tokoh di dalam ilustrasi di atas mengatakan bahwa sang pemimpin tidak bekerja dengan baik. Namun, sempatkah terbesit sedikit untuk mengingatkan pemimpinnya? Inisiatif pemimpin dipertanyakan, tetapi yang menjadi pertanyaan sesungguhnya adalah “apakah inisiatif harus berasal dari pemimpin?”. Lagi-lagi, seseorang tidak sadar bahwa dia tengah menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dia lakukan MA pula. in/ rth a m Kepada diriku sendiri, menyalahkan adalah hal yang mudah. Namun tidak dapat dipungkiri, menjadi pihak yang disalahkan bukan perkara mudah. Ada hati yang diam-diam merasakan sakitnya disalahkan. Ada rasa pahit yang tiba-tiba muncul ketika dibicarakan dengan buruk atas sesuatu yang telah diperjuangkan sebaik mungkin. Jika aku tetap berkutat pada sudut pandangku sendiri, aku akan selalu membuat label pembenaran atas penghakiman tersebut. Tidak bisa dipungkiri, aku—sebagai manusia—cenderung untuk menghakimi orang lain untuk setiap hal buruk yang terjadi. Sebuah

penelitian menunjukkan bahwa otak manusia bereaksi lebih emosional pada hal negatif yang dilakukan orang lain. Hal ini membuat manusia memilih untuk menyalahkan jauh lebih cepat daripada memberi pujian. Namun, ini bukan menjadi alasan bagiku untuk selalu mencari kesalahan orang lain, kan? Kepada diriku sendiri, mungkin aku tidak pernah sadar jika kebiasaan menyalahkan ini juga memiliki dampak buruk bagi diri sendiri. Hal ini menghambat proses pendewasaan diri. Saat masih kecil, aku tidak perlu repot-repot untuk mencari penyebab kesalahan untuk menyelesaikan masalah. Aku hanya perlu mencari orang untuk menerima limpahan kesalahan. Layakkah hal ini dilakukan orang dewasa? Kepada diriku sendiri, aku sadar aku butuh meminjam “kacamata” orang lain supaya setidaknya aku bisa merasakan bagaimana rasanya disalahkan tanpa diapresiasi. Mungkin aku akan sadar bahwa apa yang aku butuhkan adalah saran, bukan harmoni penghakiman. Saat aku meminjam “kacamata” teman, aku berharap bisa merasakan bagaimana pahitnya menerima

Aughi Nurul Aqiila Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Tingkat II

sesuatu yang dengan susah payah diperjuangkan justru mendapat cemooh dari orang lain. Ini bukan kisah menyalahkan diri sendiri. Aku hanya sedang mengingat bahwa sebuah karya ilmiah saja tidak akan menghasilkan kesimpulan sebelum ada dasar teori dari banyak referensi. Sementara itu, aku tidak terbiasa mengumpulkan fakta dari banyak sumber. Satu sumber yang aku percaya, aku jadikan bahan untuk cepat-cepat membuat kesimpulan. Jadi, mungkin saat itu bukan maksud ingin menyalahkan, aku atau (mungkin) kamu hanya terlalu cepat menarik kesimpulan. lila


MEDIA

AESCULAPIUS

OPINI & HUMANIORA

MARET - APRIL 2019

9

SUKA DUKA

Prof. dr. Menaldi Rasmin, Sp.P(K): Harapan dan Kepercayaan Belajar nilai kehidupan dari sosok dokter dengan segudang prestasi dan pengalaman di posisi pentingi dunia kedokteran Indonesia.

P

rof. dr. Menaldi Rasmin, Sp.P(K) lahir di Jakarta pada tahun 1955. Menaldi merupakan salah satu guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Anak pertama dari dua bersaudara ini sempat menjalankan pendidikan di Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FFUI) selama satu tahun sebelum memutuskan hijrah ke FKUI. Alih-alih menyesali pengalamannya sempat berkuliah di FFUI, Menaldi malah bersyukur karena telah bertemu dengan banyak senior-senior dari FFUI yang berkontribusi besar dalam membantu beliau saat berada di dunia profesi kedokteran. Setelah lulus menjadi dokter, Menaldi mengabdikan dirinya di Sumatera Barat. Di puskesmas tempatnya melayani masyarakat ini, Menaldi sadar pentingnya mengelola dan menghidupkan komunitas sehat melalui pelayanan kesehatan primer. Hal inilah yang menimbulkan semangat membara di diri Menaldi untuk menggerakkan puskesmas, termasuk sumber daya manusianya. Upaya Menaldi tentu tidak mudah karena Menaldi harus menghadapi pegawai-pegawai puskesmas yang sudah senior, pejabat-pejabat sekitar, polisi, pasien, dan keluarga pasien. Namun, semangat Menaldi tidak padam begitu saja. Beliau percaya bahwa ini adalah kesempatannya untuk belajar. Nilai yang bisa diambil bukan hanya tentang bagaimana mengelola sumber daya manusia saja, tetapi Menaldi juga belajar bagaimana mengelola diri sendiri, melakukan komunikasi efektif,

RESENSI

“R

dan menggerakan masyarakat. Setelah mengabdi di Sumatera Barat, Menaldi melanjutkan pendidikan dokter spesialis pulmonologi di FKUI. Tidak pernah menjadi aktivis selama menempuh pendidikan dokter umum, Menaldi terpapar pada dunia kemahasiswaan saat menjalani program pendidikan dokter spesialis ini. Menaldi pernah menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dari tahun 19941999 kemudian dilanjutkan menjadi dekan FKUI pada tahun 2004-2008. Selama mengemban jabatan ini, Menaldi menjadi semakin mengetahui masalah-masalah yang dihadapi oleh mahasiswa dan berusaha membantu mahasiswa yang membutuhkan bantuan.

Setelah jabatan dekan, Menaldi mengemban jabatan Ketua Konsil Kedokteran Indonesia pada tahun 20092014. Selain itu, beliau juga pernah menjabat sebagai Dewan Pengawas Rumah Sakit di Jawa Barat, Ketua Komite Penelitian dan Pengembangan RS Persahabatan, dan Ketua Kaji Etik Kesehatan. Sejak November 2018, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menempatkan beliau sebagai Ketua Dewan Konsil Kedokteran Indonesia. Semua jabatan tersebut beliau jalankan dengan sebaik-baiknya dengan harapan dunia kesehatan yang lebih baik ke depannya. Keberhasilan Menaldi tidak pernah lepas dari dukungan keluarga. Tidak jarang Menaldi meminta pendapat dari keluarga mengenai halhal yang akan beliau lakukan. Semua jabatan yang pernah Menaldi emban dijalankan sebagai

bentuk rasa hormat beliau terhadap kepercayaan orang-orang sekitar atas dirinya Seperti sebuah roda kehidupan, Menaldi tidak luput dari masalah. Menaldi pernah mengalami masalah kesehatan yang cukup berat berupa cedera saraf di batang leher. Pilihan tindakan operasi yang harus dijalankan terus menjadi pergumulan batin bagi dirinya. Meski terbesit ketidakpercayaan dan kekhawatiran dari pihak keluarga dan orang-orang di sekitar beliau, Menaldi akhirnya memutuskan untuk menjalankan operasi di tanah air tercinta. Hal ini beliau lakukan karena nilai altruisme yang membuat beliau tidak ingin menyibukkan pihak keluarga. Selain itu, keputusan Menaldi ini juga merupakan wujud kepercayaan beliau terhadap dokter-dokter Indonesia yang kualitasnya tidak kalah dari dokter-dokter di luar negeri. Dari keputusannya ini, Menaldi menunjukkan bahwa dokter-dokter yang beliau sahkan bukanlah dokter yang sembarangan, melainkan dokter yang benar-benar berkualitas di bidangnya masing-masing. Kehidupan Menaldi mengajarkan bahwa di dalam setiap tanggung jawab pasti ada harapan. Kuncinya adalah rasa percaya bahwa seluruh tanggung jawab tersebut bisa selesai dengan baik asalkan kita memiliki nilai dan tujuan yang baik pula. Di dalam hati, harapan dan kepercayaan tidak boleh sirna. Selain itu, dukungan dari keluarga atau kerabat terdekat juga merupakan salah satu cara agar tetap bertahan, termasuk di saat semua terasa sulit. kevin

Romantic Doctor Teacher Kim: Idealisme vs Kekuasaan Di dunia yang didominasi uang dan status, dapatkah idealisme profesi dokter bertahan?

omantic Doctor Teacher Kim� adalah sebuah drama serial dari Korea Selatan yang menceritakan perjuangan tiga dokter dalam mempertahankan idealisme kedokteran di tengah konflik politik rumah sakit yang penuh dengan kolusi dan korupsi. Drama ini berhasil memadukan konflik kekuasaan, kasus medis yang menegangkan, serta filosofi hidup yang menyentuh. Tidak heran jika drama ini berhasil meraih segudang penghargaan pada tahun 2016. Serial ini diawali dengan kisah masa kecil seorang dokter yang bernama Kang Dong Joo. Suatu hari, ia dan ibunya membawa ayahnya yang kritis ke IGD RS Geodae. Namun, tidak ada yang melayani ayahnya karena tim dokter memprioritaskan operasi seorang pejabat hingga akhirnya nyawa ayahnya tidak dapat tertolong. Kenangan pahit itu membuat dirinya bertekad untuk menjadi dokter yang dapat menegakkan keadilan agar tidak ada pasien yang diperlakukan seperti ayahnya. Sayangnya, perjalanan menjadi dokter bukanlah suatu hal yang mudah. Ketika berhasil menjadi dokter bedah di RS Geodae, idealisme yang dulu ia pegang kuat perlahan memudar. Ia mulai dipengaruhi oleh kepentingan jabatan dan kekuasaan. Tanpa sadar, ia berubah menjadi sosok dokter yang dulu ia benci. Kisah demi kisah berlanjut sampai suatu saat ia secara tidak adil dipindahkan

ke RS Doldam. Di rumah sakit kecil ini, ia bertemu dengan Dr. Yoon, seorang spesialis kegawatdaruratan medik dan Dr. Kim, seorang ahli bedah legendaris. Dr. Kim sesungguhnya dulu merupakan seorang ahli bedah legendaris di RS Geodae, nama aslinya adalah Boo Yong Joo. Rasa iri hati dari teman-teman sejawatnya yang menghasilkan berbagai fitnah akhirnya membuat Dr. Kim dipecat dari RS Geodae. Masih merasa kesal harus dipindahkan secara tidak adil, Dr. Kang membenci dan meremehkan segala sesuatu tentang RS Doldam. Ia bertekad untuk berbuat apa pun agar dapat kembali ke RS Geodae. Namun, setelah menyadari keahlian bedah Dr. Kim, ia pun memutuskan untuk tinggal dan mulai belajar darinya. Sebagai seorang mentor, Dr. Kim mengajarkan lebih dari sekedar ilmu medis kepada Dr. Kang dan Dr. Yoon. Ia memberi teladan kepada kedua muridnya tentang bagaimana seharusnya dokter mengabdi dan memberikan yang terbaik bagi pasien tanpa peduli statusnya. Hal ini perlahan memulihkan kembali idealisme Dr. Kang yang telah tercoreng gelapnya konflik kekuasaan di dunia rumah sakit. RS Doldam yang awalnya sangat ia benci, kini berubah menjadi rumah tempat ia belajar tentang filosofi hidup dan makna profesi dokter. Meskipun alur kisah dan perkembangan setiap karakternya sangat nyata, drama ini

menggunakan banyak istilah-istilah medis yang mungkin cukup sulit dipahami oleh orang awam. Di sisi lain, banyaknya kasus medis yang diceritakan justru membuat drama ini lebih hidup. Banyaknya pesan moral yang dapat dipetik dari serial ini membuatnya sangat layak ditonton, baik oleh kalangan medis maupun orang awam.

JASA PEMBUATAN SYMPOSIUM HIGHLIGHT

Jessica

Media Aesculapius menyediakan jasa pembuatan Symposium Highlight. Symposium highlight adalah peliputan sebuah seminar atau simposium, yang kemudian hasilnya akan dicetak dalam sebuah buletin, untuk dibagikan pada peserta seminar. Simposium yang telah kami kerjakan antara lain PIT POGI 2010, ASMIHA 2011, ASMIHA 2016, dokumen penerbit

Judul

  

: Romantic Doctor Teacher Kim

Genre

: Medis, Melodrama

Tahun Rilis

: 2016

Jumlah episode

: 20+1 episode spesial

Aktor

: Han Suk Kyu, Yoo Yeon

Seok, Seo Hyun Jin

Sutradara

: Yoo In Shik

Bahasa

: Korea

ASMIHA 2017, JiFESS 2016, JiFESS 2017, dan lain-lain. Hubungi Hotline MA: 0896-70-2255-62 (SMS/Whatsapp)


10

LIPUTAN

MARET - APRIL 2019

MEDIA

AESCULAPIUS

R UBRIK DAERAH

Sepenggal Kisah dari Perbatasan Mengupas sisi lain dunia kesehatan di penjuru negeri.

T

erinspirasi oleh sekelompok anak muda yang menjelajahi keindahan Indonesia, saya membulatkan tekad untuk mengawali karier profesional sebagai seorang dokter di sisi timur negeri ini. Di tahun 2015 lalu, saya telah menamatkan pendidikan di Universitas Indonesia. Tahun pertama setelah kelulusan, saya melalui masa internship di kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur. Tidak puas, dua tahun berikutnya, saya lanjutkan pengabdian sebagai dokter PTT di Kabupaten Alor, daerah perbatasan dengan Timor Leste. Pengalaman terakhir inilah yang hendak saya bagikan dengan teman sejawat sekalian. Dinas Kesehatan Kabupaten Alor menempatkan saya di Puskesmas Buraga. Sebuah puskesmas dengan kriteria sangat terpencil (ST). Puskesmas ini berada di Desa Tribur dengan jarak yang cukup dekat dari Ibu Kota Kalabahi (+25 km). Akan tetapi, dibutuhkan waktu sekitar 1-11/2 jam untuk mencapai lokasi. Hal tersebut dikarenakan jalan yang harus dilalui cukup sempit, berbatu, berlubang, membelah perbukitan serta memiliki tanjakan yang curam. Dibutuhkan nyali dan keahlian berkendara untuk bisa tiba di lokasi. Kondisi jalanan yang demikian membuat lokasi puskesmas sangat terisolasi. Tantangan lain ialah adanya 7-8 buah anak sungai tanpa jembatan penyeberangan yang harus dilewati untuk mencapai lokasi puskesmas. Pada musim hujan, debit air pun meningkat sehingga jalanan

tidak dapat dilalui. Proses rujukan pasien sering kali terkendala akibat hal ini. Hanya ada satu provider akses telekomunikasi dengan jaringan yang acap kali

hilang timbul. Syukur, listrik masih dapat dinikmati meskipun durasinya terbatas, ===yakni dari pukul 17.00-

24.00. Desa ini terkenal sebagai penghasil sayur dan ikan yang melimpah. Tidak jarang, masyarakat datang membawa sendiri hasil panen atau tangkapannya ke puskesmas. Namun, saya harus mengolahnya sendiri karena tidak ada warung makan sama sekali. Puskesmas ini melayani 6 desa dengan cakupan 5500 jiwa, pun baru melaksanakan akreditasi tahun 2018 lalu dan lulus dengan kriteria dasar. Sebagai dokter umum satusatunya di tempat ini, saya bertanggung jawab dalam pelayanan pasien rawat jalan dan rawat inap. Saya pun turut andil dalam kegiatan kemasyarakatan seperti penyuluhan, imunisasi, kunjungan rumah, dan screening kesehatan. Di luar aktivitas kesehatan, saya bekerja sama dengan seorang guru untuk membuka taman baca dan bimbingan belajar. Sejauh ini, sudah ada 8 anak yang lulus dengan beasiswa penuh di perguruan tinggi negeri terbaik di NTT. Karakter, kemandirian, tanggung jawab, keikhlasan, dan kesederhanaan merupakan proses pembelajaran alami yang saya dapatkan. Mata saya A kini terbuka setelah melihat M / nia langsung permasalahan sekaligus ka keistimewaan dari daerah perbatasan. Tampaknya isolasi merupakan akar permasalahan yang paling nyata. Di sisi lain, terdapat potensi daerah yang dapat dikembangkan seperti kekayaan alam dan sektor

dr. Andreas S Haloho Dokter Umum UPT Puskesmas Buraga E-mail

: andreasshaloho@gmail.com

pariwisata. Saya sangat merekomendasikan sejawat yang baru lulus untuk terjun langsung ke daerah melayani masyarakat sebagai dokter PTT. Bagi sejawat yang sudah terjebak dalam rutinitas pelayanan, ada baiknya mengalihkan pandangan sejenak. Tengok penjuru negeri yang sedang membutuhkan solusi atas permasalahan yang ada. Akhir kata, mari bersama-sama membuka mata untuk membangun negeri kita ini, Indonesia tercinta.

SEPUTAR KITA

Bijak Gunakan Antibiotik pada Terapi Sepsis “Penggunaan antibiotik yang bijak dalam terapi sepsis merupakan salah satu kunci terpenting untuk menanggulangi masalah resistensi antibiotik.�

S

aat ini, fenomena resistensi bakteri terhadap antibiotik sudah merajalela, tak terkecuali di Indonesia. Fenomena ini tak lain disebabkan oleh penggunaan antibiotik yang tidak bijak. Selain itu, penerapan kewaspadaan standar yang tidak benar di fasilitas pelayanan kesehatan mendukung fenomena ini. Sering kali antibiotik digunakan tanpa memerhatikan indikasi yang tepat. Hal tersebut disampaikan oleh dr. Mulya Rahma Karyanti, SpA(K), MSc dalam presentasinya yang berjudul “Prudent Antibiotic Use for Sepsis in Pediatric�. Presentasi tersebut disampaikan pada acara simposium kedokteran dengan topik sepsis. Simposium ini diadakan di Gedung IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, pada tanggal 1-2 Maret 2019. Simposium ini diselenggarakan oleh ILUNI FKUI 1994 dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-69 Universitas Indonesia. Sampai saat ini, terdapat berbagai jenis antibiotik yang telah diproduksi dan digunakan untuk mengobati infeksi bakteri. Beberapa contoh jenis antibiotik tersebut ialah golongan beta-laktam, penisilin, sefalosporin, tetrasiklin, aminoglikosida, dan masih banyak lagi. Setiap jenis antibiotik memiliki mekanisme kerja yang berbeda-beda. Setiap jenis antibiotik juga memiliki efek samping yang beragam. Mulai dari reaksi alergi berupa ruam kulit, serum sickness,

mega/MA

drug fever, hingga anafilaksis. Pemberian antibiotik yang tidak tepat juga dapat memicu terjadinya kematian flora komensal yang hidup di tubuh kita. Akibatnya, muncul peluang terjadinya superinfeksi oleh bakteri. Prinsip dasar pemilihan antibiotik adalah bernilai guna bagi pasien. Artinya, antibiotik diberikan hanya kepada pasien yang diduga kuat mengalami infeksi oleh bakteri. Selanjutnya, prinsip pemilihan antibiotik harus diikuti

dengan penentuan jenis, dosis, rute pemberian, frekuensi, dan durasi pemberian. Selain itu, perlu diperhatikan pula aspek farmakokinetik, farmakodinamik serta efek samping dari antibiotik yang akan diberikan. Oleh karena itu, sebelum melakukan pemberian terapi antibiotik, penilaian klinis perlu dilakukan. Penilaian klinis dilakukan untuk menentukan lokasi infeksi dan memperkirakan patogen penyebab infeksi. Selanjutnya, perlu diperhatikan pula hal lain

seperti aspek epidemiologi, riwayat penyakit, dan riwayat terapi pasien. Fenomena resistensi antibiotik merupakan masalah kesehatan yang bersifat global. Sayangnya, fenomena ini tidak dapat dicegah. Meskipun demikian, progresivitas dari fenomena ini masih dapat dihambat. Hal yang dapat dilakukan ialah menggunakan antibiotik secara bijak serta mengevaluasi terapi antibiotik yang diberikan. Setidaknya terdapat empat strategi yang dapat dilakukan untuk menghambat progresivitas resistensi antibiotik. Pertama, hindari penggunaan antibiotik untuk mengobati bakteri kontaminan. Kedua, berikan antibiotik dengan spektrum sempit ketika patogen penyebab infeksi telah diketahui secara pasti. Ketiga, berikan antibiotik dengan dosis yang benar, pastikan pasien menghabiskan antibiotik yang diberikan sesuai petunjuk. Keempat, berikan antibiotik dengan durasi terpendek yang masih efektif memberikan efek terapeutik. Terdapat peran dari berbagai pihak dalam terjadinya fenomena resistensi antibiotik ini. Oleh karena itu, untuk menghambat progresivitas fenomena ini diperlukan kerja sama dari berbagai pihak. Mulai dari pemerintah, instansi kesehatan, dokter, apoteker, dan pasien. Mari bersama hambat progresivitas fenomena resistensi antibiotik yang ada. kevin


MEDIA

AESCULAPIUS

MARET - APRIL 2019

11

SEPUTAR KITA

Genetic Engineering : Semakin Maju dengan Teknologi Baru

G

Teknologi semakin berkembang dari waktu ke waktu, bagaimanakah dengan Genetic Engineering utamanya DNA sequencing?

enetic Engineering atau rekayasa genetika merupakan suatu metode yang dapat digunakan untuk membentuk kombinasi genetik baru. Kombinasi genetik tersebut nantinya dapat direplikasi menggunakan bioteknologi. Dalam bidang kedokteran, genetic engineering ini bermanfaat dalam membuat vaksin, terapi gen, dan lainlain. Untuk menambah wawasan mahasiswa, terutama mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengenai hal tersebut, FKUI mengundang Prof. Dr. HansJurgen Magert dalam Kuliah Umum Guru Besar (KGB). KGB ini dilaksanakan pada hari Kamis, 28 Februari 2019 di Auditorium Rumpun Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia. Dalam KGB ini, Hans membawakan materi dengan judul “Progress in DNA Sequencing and Genetic Engineering”. Hans yang merupakan Adjunct Professor FKUI menyempatkan diri dari Hochschule Anhalt, Jerman datang ke Universitas Indonesia untuk menyampaikan topik tersebut. Di zaman serba canggih seperti saat ini, telah banyak teknologi yang dikembangkan dalam hal genetic engineering. Sebagian besar genetic engineering yang telah berkembang membutuhkan pengetahuan mengenai susunan DNA yang akan dihasilkan atau digunakan. Proses untuk mengetahui susunan DNA tersebut dikenal dengan istilah DNA sequencing.

Genetic engineering seringkali bertujuan untuk menghasilkan sekuens DNA baru. Oleh karena itu, genetic engineering dan DNA sequencing sangat erat kaitannya. DNA sequencing dalam metode Sanger dilakukan dalam sekuens fluorosensi otomatis oleh elektroforesis zona kapiler. Prinsip yang digunakan adalah menggunakan polimerase DNA dengan suhu stabil. Selanjutnya dilakukan pengurutan dalam beberapa siklus menggunakan Automatic DNA Fluorescent 8-Capillary Sequencer. Kapasitas sequencer ini dapat mencapai hingga hampir 100.000 nukleotida dalam sekali sequencing. Metode DNA sequencing setelah metode Sanger mulai dikembangkan sejak tahun 2004. DNA sequencing dalam perkembangan selanjutnya menggunakan prinsip nanoteknologi. Genom secara langsung diurutkan berdasarkan molekul tunggal. Generasi baru dibuat dengan perangkat lunak redundansi tinggi. Terdapat dua metode DNA sequencing yang cukup baru, yaitu Roche/454 dan Nanopore Sequencing. Teknik yang digunakan pada metode Roche/454 ini adalah teknik psyrosequencing. Teknik pyrosequencing merupakan teknik yang menggunakan emulsi PCR (Polymerase Chain Reaction). Kemudian dilakukan pendeteksian molekul pirofosfat yang dilepaskan selama sintesis DNA. Di sisi lain, pada nanopore sequencing, DNA diurutkan dengan cara memasukkannya melalui pore mikroskopis

pada membran untuk memengaruhi ion yang mengalir dari satu sisi membran ke sisi yang lain. Perkembangan DNA sequencing ini berdampak pada biologi sintetik, seperti rekayasa metabolik, deteksi polutan kimia, dan bioremediasi. Selain itu, DNA sequencing juga dapat memengaruhi proses diagnosis dan pengobatan penyakit. Biologi sintetik sering kali membutuhkan penggabungan biobricks dalam jumlah besar dengan urutan yang benar. Hal ini dapat dicapai dengan fusion PCR.

sakinah/MA

Di akhir penjelasannya, Hans menyatakan bahwa dengan meningkatnya jumlah informasi sekuens genom baru dapat memudahkan analisis bioinformatik. Baik dari gen, produk gen, dan segmen genom lain. “This will lead to great progress in synthetic biology”, ucap Hans. Selain berdampak baik dalam bidang medis, perkembangan DNA sequencing dan genetic engineering juga bermanfaat dalam produksi makanan, teknik lingkungan, dan produksi industri. lidia

R UBRIK DAERAH

Hakikat Seorang Dokter: Tangani Pasien, Bukan Penyakitnya Pentingnya memahami kondisi pasien secara menyeluruh

Desi Melia Utami FKUI angkatan 2012 Jabatan: Dokter internship RS HL Manambai Abdulkadir Alamat rumah: Petakawan, Kalijaga, Aikmel, Lombok Timur, NTB Kontak: hp 081918417848 / line @desimu48 / Ig @dmdm9932 Email: meliad48@gmail.com

D

ampak gempa bumi Lombok yang terjadi pada bulan Juli 2018 dirasakan di beberapa pulau seperti Pulau Lombok, Bali, dan Sumbawa. Salah satu rumah sakit yang terkena dampak gempa tersebut adalah RS HL Manambai Abdulkadir (RSMA) yang terletak di Kabupaten Sumbawa. Gempa yang dirasakan memang tidak separah dan sesering di Lombok, tetapi gempa tersebut mampu membuat beberapa ruang rawat inap dan ICU tidak dapat digunakan selama beberapa waktu. RSMA terletak di daerah perbukitan, sepi, dan cukup jauh dari pusat kota. Suatu ketika saat sedang berjaga di IGD, datang pasien anak lakilaki berusia belasan tahun. Pasien ditemani oleh

orang tuanya. Tampak adanya pembengkakan yang terasa nyeri di paha kiri pasien. Pasien mengatakan tidak dapat menggunakan paha kirinya sejak satu hari sebelumnya. Setelah dilakukan pemeriksaan, dicurigai pasien mengalami fraktur pada femur kiri setelah terjatuh dari pohon. Sebelumnya, orang tua pasien membawa pasien ke tukang urut. Tukang urut tersebut melakukan pemasangan bidai di kaki pasien, tetapi bidai tersebut tidak dipasang di tempat yang benar. Saat datang ke RSMA, kondisi pasien stabil dan telah dilakukan pemeriksaan laboratorium lengkap serta foto rontgen. Pasien kemudian direncanakan untuk dirujuk ke Rumah Sakit Umum Provinsi Nusa Tenggara Barat (RSUP NTB) di Mataram karena kurangnya kelengkapan alat serta tidak adanya dokter spesialis ortopedi di RSMA. Setelah dilakukan penjelasan dan informed consent tentang rujukan kepada orang tua pasien, masalah baru muncul. Orang tua pasien merasa bingung terkait pembiayaan yang harus ditanggung meskipun pasien sudah terdaftar sebagai peserta BPJS. Kebingungan tesebut bertambah setelah orang tua pasien mengetahui kemungkinan dilakukannya operasi. Ibu pasien bercerita bahwa untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka hanya bergantung dari penghasilan suaminya. Suaminya adalah penjual pentol bakso yang hanya mendapatkan untung Rp25.000,00— Rp50.000,00 setiap harinya. Kekhawatiran ibu

pasien bertambah karena mereka tidak memiliki keluarga di sekitar RSUP NTB. Mereka bingung di mana mereka dapat menginap sementara. Kasus di atas mungkin tampak biasa saja, tetapi kasus ini mengingatkan kita pada sebuah kutipan yang berbunyi, “don’t treat the disease, treat the patient.” BPJS memang fiona/MA dapat membantu biaya perawatan, namun akomodasi dan biaya hidup pasien dan keluarganya juga perlu dipertimbangkan saat menangani pasien. Aspek sosial dan ekonomi

pasien seringkali luput dari perhatian ketika sedang menangani pasien. Padahal, kedua aspek tersebut berpengaruh terhadap kepatuhan pasien dalam melakukan terapi untuk upaya kesembuhan. Pelajaran lain yang dapat diambil dari kasus tersebut adalah pentingnya mengetahui kondisi masyarakat sekitar bagi seorang dokter. Masyarakat di sekitar RSMA mayoritas berasal dari kalangan menengah ke bawah dan cenderung memilih pengobatan tradisional. Sebagai seorang dokter, penting untuk meluangkan waktu agar dapat memberikan edukasi yang tepat kepada pasien. Seorang dokter juga harus mampu berempati dan mendengarkan apa masalah pasien. Mungkin tampak sepele, namun tidak semua orang bisa melakukan hal tersebut dan perlu waktu untuk menerapkannya. safety

BPJS Kesehatan... digelontorkan, tetapi juga sistem manajemen keuangan yang minim efisiensi. Terkadang, dana yang turun dari pemerintah tidak mampu dialokasikan secara efisien. Pengelolaan dana yang kurang baik ini kemudian berimbas pada pengadaan alat dan pelayanan kesehatan yang tidak optimal. Penyempurnaan Sistem Urun Biaya Pujiyanto merasa penerapan sistem urun biaya ini memerlukan kajian yang mendalam. Kajian tersebut harus mencakup tingkat kepatuhan masyarakat dalam membayar iuran dan kepuasan masyarakat terhadap pelayanan BPJS Kesehatan. “Hal itu diperlukan untuk menghasilkan nilai cost sharing yang paling tepat, bukan sekadar angka yang diberikan tanpa dasar yang jelas,” ungkap Pujiyanto.

sambungan dari halaman 1

Selain itu, sosialisasi penerapan sistem urun biaya ini harus direncanakan dengan matang agar masyarakat mengetahui dengan pasti kebijakan yang akan diterapkan. Tak lupa, imbauan untuk seluruh fasilitas kesehatan mitra BPJS dalam meningkatkan pelayanan kesehatan yang diberikan harus terus digaungkan. “Diharapkan dengan adanya sistem ini, pemerintah daerah bisa mendorong peningkatan pelayanan di puskesmas setempat,” pungkas Iqbal. Hingga saat ini, sistem urun biaya masih berada dalam tahap pengkajian sehingga belum disosialisasikan secara meluas. Kebijakan ini ditargetkan rampung dalam waktu dekat dan segera disosialisasikan pascapemilihan umum berlangsung untuk menepis isu- simpang siur yang bermunculan di masyarakat. elvan, billy,

leo


12

MARET - APRIL 2019

LIPUTAN

MEDIA

AESCULAPIUS

SEREMONIA

FKUI Membangun Negeri: Dies Natalis ke-69

Rare Disease Day 2019 :

Mengenal Penyakit Langka

lila/MA

dokumen penyelenggara

P

emotongan tumpeng oleh dr. Diantha Soemantri, M.Med.Ed., Ph.D yang didampingi oleh Dr. dr. Yeva Rosana, MS, Sp.MK(K) secara resmi membuka perayaan Dies Natalis Universitas Indonesia ke-69. Acara ini berlangsung di Auditorium Rumpun Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia. Ikatan

Alumni Universitas Indonesia (ILUNI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) 1994 menjadi penyelenggara perayaan tahun ini. Doa bersama, makan bersama, dan pembagian cinderamata turut dilaksanakan dalam perayaan ini catra

M

inggu, 24 Februari 2019, RSCM, IMERI, Yayasan MPS & Penyakit Langka Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI mengadakan peringatan Rare Disease Day 2019 di depan Landmark Dukuh Atas, Jakarta. Berbagai kegiatan seperti fun walk, cek kesehatan gratis,

talkshow dengan Dr. dr. Damayanti R. Sjarif, SpA(K), dan tari zumba diadakan untuk memeriahkan acara tersebut. Pasien dengan penyakit langka yang menginspirasi turut dihadirkan dalam acara yang dilaksanakan saat Car Free Day ini. lila

SENGGANG

Bahagia dan Bugar dengan Bersepeda Tidak hanya bugar, bersepeda juga dapat mendatangkan kebahagiaan

S

ehat adalah dambaan setiap orang. Hal inilah yang mendorong dr. Pramita Gayatri Dwipoerwantoro, SpA(K) untuk menjaga kesehatannya dengan giat bersepeda. Kesibukan sebagai seorang dokter tidak menyurutkan niatnya menggenjot sepeda secara rutin. Sejak duduk di bangku sekolah, Mita –sapaan akrabnya– sudah sangat dekat dengan bidang olahraga. Mita tergabung dalam tim basket sejak SMP hingga kuliah. Kebiasaan Mita berolahraga mulai berubah ketika berkarier. Selama bertahun-tahun menjadi dokter, ia tidak menemukan olahraga yang tepat bagi dirinya. Bermula dari ajakan untuk bersepeda oleh beberapa temannya sewaktu SMA, Mita mulai tertarik dengan olahraga ini. Mita pernah mengelilingi Universitas Indonesia dengan bersepeda di bulan Juli 2016 bersama temannya. Tak disangka, pengalaman itu menjawab kebutuhan yang selama ini ia cari. “Ternyata ini dia yang selama ini aku tunggu-tunggu,” ungkapnya sambil tersenyum. Meskipun baru menggeluti hobi bersepeda selama 3 tahun, Mita sudah mengelilingi berbagai tempat dengan bersepeda. Mita minimal bersepeda satu kali setiap minggu. Kawasan Jabodetabek adalah tempat bersepeda paling sering ia jelajahi. Selain itu, ia juga telah

Tidak hanya di Indonesia, Mita juga pernah bersepeda di beberapa kota di mancanegara, seperti Las Vegas, Tokyo, Miami, dan Jenewa. Pengalaman bersepeda membuat Mita dapat melihat berbagai pemandangan yang tidak diperoleh saat berwisata dengan cara lain. Dengan bersepeda, ia dapat menikmati keindahan alam sekaligus berinteraksi dengan warga dan budaya setempat. Oleh karena itu, Mita merasa setiap tempat yang ia kunjungi memiliki keindahannya masingmasing. Selain pengalaman yang menyenangkan, Mita juga pernah mengalami hal buruk saat beraksi dengan sepedanya. Saat bersepeda di Swiss, ia pernah terjatuh sehingga helm yang dikenakan retak. Beruntung, Mita hanya mengalami luka kecil. Selain itu, ia juga bercerita bahwa terdapat beberapa kecelakaan yang hampir mengancam jiwa saat bersepeda bersama. Oleh sebab itu, Mita berprinsip bahwa persiapan sebelum bersepeda sangat penting. Mita juga menceritakan dua dokumen pribadi pengalaman unik saat bersepeda. Beberapa waktu lalu, Mita mengikuti suatu acara mengikuti berbagai acara bersepeda yang kedokteran di Bali. Mita membawa sepedanya, diadakan di berbagai kota di Indonesia, seperti tetapi tidak dapat mengendarainya. “Sampai Bali, Yogyakarta, Makassar, dan Bandung. di sana saya baru sadar kuncinya tertinggal,” Rute bersepeda terjauh yang pernah dilalui ungkap Mita. Pengalaman lain yang tak Mita adalah Makassar – Bira yang berjarak terlupakan adalah ketika ia bersepeda di Kebun sekitar 200 km dengan waktu tempuh 11 jam.

dr. Pramita Gayatri Dwipoerwantoro, SpA(K) Jabatan : Kepala Program Studi Spesialis-2 Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCMFKUI Ketua Tim CPD (Continuing Professional Development) Ikatan Dokter Anak Indonesia Alamat Email : pramitagd@gmail.com

Raya Bogor. Saat itu, ia bertemu presiden dan berfoto dengannya. Selain pengalaman yang telah diceritakan, Mita mengungkapkan bahwa bersepeda sangat bermanfaat baginya. Mita merasa kebugarannya meningkat. Sejak rutin bersepeda, Mita tidak merasa mudah lelah meski disibukkan dengan berbagai aktivitas yang dapat berjalan hingga larut malam. Lebih lanjut, Mita menjelaskan bahwa bersepeda adalah modal untuk sehat dan bahagia. Sebagai dokter, Mita berprinsip bahwa kesehatan dan kebahagiaan dapat diperoleh dengan berolahraga dan menjaga asupan nutrisi. Ia juga mendorong semua orang untuk menjaga kesehatan, salah satunya dengan bersepeda. “Jadi, gowes itu untuk bugar dan jangan lupa, juga untuk bahagia,” tuturnya. wira

Profile for Berani Sehat

Surat Kabar Media Aesculapius (SKMA) edisi Maret-April 2019  

Surat Kabar Media Aesculapius (SKMA) edisi Maret-April 2019  

Advertisement