__MAIN_TEXT__
feature-image

Page 1


Kata Pengantar

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu, shalom, om swastiyastu, namo buddhaya, salam kebajikan, dan salam sejahtera bagi kita semua! Semenjak kedatangan pandemi Coronavirus Disease 2019 atau COVID-19, dunia mengalami banyak sekali transformasi. Ada yang bersifat mayor seperti penghentian aktivitas ekonomi masyarakat, ada pula yang bersifat lebih minor seperti diberhentikannya terlebih dahulu kegiatan-kegiatan kemahasiswaan. Meski mungkin lebih bersifat minor, besar keyakinan saya bahwa mahasiswa yang sejatinya adalah entitas nan aktif perlu untuk menyuarakan hasrat kontributifnya pada hal-hal yang lebih positif. Menyambut tantangan pandemi ini, saya melihat banyak sekali mahasiswa di lingkungan Ikatan Keluarga Mahasiswa (IKM) FKUI yang tetap aktif, di antaranya dengan menjadi giat berolahraga, bercengkerama dengan orangtua, menjalankan misi kemanusiaan dengan menjadi relawan, hingga mengikuti pelbagai perlombaan dengan luaran luapan pikiran untuk melawan kondisi pandemi sekarang. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IKM FKUI, selaku wadah primer pergerakan dan kolaborasi mahasiswa di FKUI pun turut menyambut ini dengan mengadakan program Aliansi IKM FKUI Tanggap Corona. Bersama dengan badan-badan kelengkapan mahasiswa lainnya, kami bahumembahu mencari sumbangan, menyalurkan bantuan, dan mengajak orang-orang untuk aktif mengerjakan hal-hal positif. Salah satu dari sekian inisiatif baik tersebut adalah kerjasama penulisan esai-esai ilmiah sederhana ini. Dibantu oleh beberapa dokter dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo selaku pengulas, tiga organisasi kemahasiswaan di FKUI, yaitu BEM, badan pers Media Aesculapius (MA), dan Lembaga Penelitian dan Pengkajian (LPP), menghimpun sumber-sumber ilmiah termutakhir untuk dituangkan dalam model tulisan yang diharapkan mudah dan layak dibaca. Besar harapan saya, kontribusi kecil kami mahasiswa dapat terasa bagi para pembaca sekalian. Salam hangat, Reynardi Larope Sutanto Ketua BEM IKM FKUI 2020 FKUI! Satu Abdi, Satu Cita, Satu Keluarga, FK!

2


Daftar Isi 4

Efektivitas Penggunaan Diperpanjang, Penggunaan Ulang, dan Usaha Dekontaminasi Respirator N95: Sebuah Ulasan

Editor

10

Klorokuin, Hidroksiklorokuin, dan Azitromisin pada Pengobatan Coronavirus Disease 2019 (COVID-19)

Bekerja sama dengan Media Aesculapius dan Lembaga Pengkajian dan Penelitian

22

Kajian Berbagai Pendekatan Diagnosis Dini COVID-19 pada Fase Awal

30

Pemenang Nobel: COVID-19 akan Segera Usai, Benar atau Salah?

Athira Marsya Khairina

41 48

Usulan Konsolidasi untuk Donasi yang Lebih Terkoordinasi dan Terarah

Melawan COVID-19 Menggunakan Disinfektan

3


Efektivitas Penggunaan Diperpanjang, Penggunaan Ulang, dan Usaha Dekontaminasi Respirator N95: Sebuah Ulasan Nico Gamalliel1,*, Hansel Andita Kristiandi1, Fakhru Adlan Ayub1, Salsa Billa As’syifa1, Raisa Zalfa1, Fadlika Harinda1 1

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia

Abstrak Peningkatan jumlah kebutuhan alat pelindung diri (APD) di tengah pandemi Coronavirus Disease (COVID-19) harus berbenturan dengan terbatasnya jumlah APD yang tersedia di pasaran. Kurangnya ketersediaan APD, seperti respirator N95, mendorong timbulnya upaya modifikasi terhadap penggunaan respirator N95. Upaya modifikasi yang dimaksud antara lain penggunaan yang diperpanjang, penggunaan ulang, dan usaha dekontaminasi. Sampai saat ini, belum banyak penelitian yang secara khusus meneliti dampak dari upaya modifikasi tersebut. Dari penelitian yang ada, didapatkan kesimpulan bahwa usaha dekontaminasi dapat menyebabkan perubahan bentuk hingga penurunan kekuatan filtrasi respirator. Penggunaan respirator N95 secara ideal sesuai panduan penggunaan Kementerian Kesehatan RI serta lembaga kesehatan internasional tetap disarankan, jika keadaan memungkinkan. Adapun pada keadaan pasokan terbatas, upaya modifikasi yang mempertimbangkan dampak terhadap kualitas respirator, cara penggunaan serta penanganan yang paling efektif dan efisien perlu dipertimbangkan. Kata kunci: N95, COVID-19, penggunaan diperpanjang, penggunaan ulang, dekontaminasi

4


Pendahuluan Coronavirus Disease (COVID-19) adalah penyakit infeksius yang disebabkan oleh virus corona jenis baru, SARS-CoV-2. Sebagian besar orang yang terinfeksi akan mengalami gejala gangguan pernapasan. Virus ini menyebar melalui droplet dari orang yang terinfeksi saat orang tersebut batuk atau bersin. Sampai saat ini belum ada vaksin yang teruji klinis maupun obat pilihan untuk COVID-19 yang disarankan oleh organisasi kesehatan dunia. Namun, terdapat berbagai uji klinis di berbagai center yang sedang berlangsung untuk mencari tata laksana potensial. (World Health Organization (WHO), 2020) Di Indonesia, per 26 Maret 2020 pukul 15.30, terdapat 893 kasus terkonfirmasi dengan 78 kasus meninggal (8,7%). (Sub Direktorat Penyakit Infeksi Emerging, 2020) Tenaga kesehatan berisiko tinggi untuk tertular infeksi SARS-CoV-2 akibat adanya kontak erat dengan pasien COVID-19. Oleh karena itu tenaga kesehatan, terutama yang merawat pasoem COVID-19, perlu melakukan langkah pencegahan transmisi dengan alat pelindung diri (APD) seperti respirator. (World Health Organization (WHO), 2020b) Terdapat beberapa jenis respirator menurut kekuatan filtrasinya, antara lain respirator bedah, 95, 99, dan 100. Respirator nomor 95 memiliki kekuatan filtrasi minimal 95% partikel di udara sedangkan respirator nomor 99 memiliki kekuatan filtrasi minimal 99% dan respirator nomor 100 memiliki kekuatan filtrasi minimal 99,97% (mencapai 100%). Kategori N, R, dan P di awal nomor respirator diberikan berdasarkan proteksi respirator terhadap minyak yang dapat menyebabkan penurunan kemampuan filtrasi respirator. Kategori N berarti tidak resisten terhadap minyak (Not resistant to oil), kategori R berarti sedikit resisten terhadap minyak (Resistant to oil), dan kategori P berarti sangat resisten terhadap minyak (oil Proof). (National Personal Protective Technology Laboratory (NPPTL), 2012) Respirator jenis lain adalah respirator bedah yang sering ditemui di masyarakat. Respirator bedah memiliki kemampuan proteksi dan filtrasi yang

rendah terhadap partikel yang ditransmisikan melalui batuk, bersin, maupun prosedur medis tertentu. (U.S. Food and Drug Administration, 2020) World Health Organization (WHO) dan Centers for Disease Control (CDC) menyarankan penggunaan respirator dengan kekuatan filtrasi tinggi pada pandemi influenza atau SARS bagi orang yang berisiko tinggi untuk terinfeksi. Belum terdapat peraturan spesifik mengenai penggunaan diperpanjang atau penggunaan ulang sebuah respirator. (Chughtai et al., 2013) Penggunaan diperpanjang adalah penggunaan respirator yang sama selama kontak dengan beberapa pasien yang terinfeksi patogen yang sama dan mendapat perawatan di ruangan yang sama. Penggunaan ulang adalah penggunaan respirator yang sama untuk kontak dengan beberapa pasien di mana terdapat fase pelepasan (doffing) setelah kontak dengan setiap pasien dan penggunaan kembali (donning) ketika kontak dengan pasien berikutnya. (National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH), 2018) Implementasi penggunaan diperpanjang dan penggunaan ulang disarankan apabila terjadi pandemi atau kejadian luar bisa untuk menjaga ketersediaan respirator. Penggunaan ulang secara terbatas juga diterapkan ketika kontak dengan pasien tuberkulosis. Rekomendasi penerapan penggunaan diperpanjang dan penggunaan ulang pada sekelompok pasien harus mempertimbangkan karakteristik patogen (termasuk cara transmisi), prevalensi penyakit, tingkat keparahan gejala, jumlah ketersediaan respirator, dan kebijakan pemerintah. Kebijakan penerapan penggunaan diperpanjang dan penggunaan ulang juga harus dikonsultasikan dengan profesional yang mengelola respirator, baik pada rumah sakit maupun negara. (National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH), 2018) Di Indonesia sendiri, saat artikel ini ditulis, terjadi kekurangan APD untuk tenaga medis. Upaya modifikasi penggunaan seperti dekontaminasi yang aman dan efektif, penggunaan diperpanjang, maupun

5


penggunaan ulang respirator merupakan langkah potensial untuk mengatasi kurangnya pasokan respirator di tengah pandemi. (Mills et al., 2018) Ulasan ini akan menitikberatkan bahasan pada efektivitas penggunaan ulang dan dekontaminasi respirator N95 yang dikaitkan dengan pandemi COVID-19 yang sedang terjadi.

Pembahasan Beberapa studi telah dilakukan untuk meneliti perubahan pada respirator N95 setelah penggunaan ulang, penggunaan diperpanjang, maupun dekontaminasi. Penelitian oleh Lin T et al. menunjukkan bahwa dekontaminasi pada respirator N95 (menggunakan etanol 70%, isopropanol 100%, sodium hipoklorit 5%, autoklaf, dan penanak nasi) mengubah most penetrating particle size (MPS) sehingga menurunkan kekuatan filtrasi. Usaha dekontaminasi menggunakan autoklaf maupun penanak nasi juga membuat perubahan bentuk pada respirator N95 (Lin et al., 2017). Ulasan oleh Salter et al. menunjukkan bahwa metode dekontaminasi hidrogen peroksida 3%, sodium hipoklorit 6%, oksidan campur, dimetildioksiran, hidrogen peroksida uap, dan sinar ultraviolet 254 nm dan 302 nm menyisakan jumlah residu toksik pada respirator yang tidak signifikan. (Salter et al., 2010) Ultraviolet germicidal irradiation (UVGI) juga dapat menjadi pilihan pada dekontaminasi respirator N95. Penelitian oleh Mills et al. menunjukkan bahwa metode UVGI efektif untuk dekontaminasi respirator N95. Penggunaan UVGI dengan mempertimbangkan model, tipe, dan desain material respirator, secara signifikan menurunkan viabilitas virus influenza pada 12 dari 15 bagian wajah serta 7 dari 15 bagian tali. (Mills et al., 2018) Studi lain oleh Lindsley et al menunjukkan bahwa UVGI menyebabkan penambahan penetrasi partikel hingga 1,25% serta sedikit memengaruhi resistensi aliran. Dosis UVGI yang lebih tinggi dapat mengurangi kekuatan lapisan material respirator hingga >90%. Selain itu, pemberian UVGI pada dosis

6

2360 J/cm2 mengurangi kekuatan tali sebanyak 20-51%. (Lindsley et al., 2015) Keadaan pandemi kerap mendorong upaya penggunaan diperpanjang atau penggunaan ulang dari respirator N95 (Pillai et al., 2015). Fisher et al. mengatakan bahwa penggunaan respirator N95 diperpanjang lebih disarankan daripada penggunaan ulang terbatas (limited reuse). Penggunaan ulang terbatas respirator, meskipun memberikan waktu istirahat pada tenaga kesehatan dari penggunaan respirator dalam waktu lama, dapat menurunkan efektivitas respirator serta meningkatkan risiko transfer penyakit ke bagian tubuh yang lain pada orang yang sama (self-inoculation). (Fisher and Shaffer, 2014) Pemakaian dan pelepasan berulang respirator N95 juga berpengaruh terhadap kualitas respirator. Penelitian oleh Vuma et al. yang mengukur fit factors pada 25 tenaga kesehatan yang terlatih menggunakan respirator menunjukkan 48% subjek gagal sedikitnya pada satu fit test (uji kerekatan) setelah menggunakan ulang respirator N95. Hal tersebut mengindikasikan bahwa teknik penggunaan ulang yang baik perlu dipertimbangkan untuk menjamin kerekatan dari sebuah respirator setiap kali dipakai. (Vuma et al., 2019) Pemakaian dan pelepasan berulang pada penelitian lain yang dilakukan oleh Bergman et al. mengindikasikan bahwa lima penggunaan ulang dapat dilakukan sebelum respirator N95 mengalami penurunan fit factors. (Bergman et al., 2012) Penelitian lain oleh Roberge et al. menunjukkan bahwa terdapat penurunan kemampuan menahan beban pada respirator N95 setelah penggunaan ulang, di mana pengurangan paling signifikan terjadi pada pelepasan dan penggunaan kembali yang pertama kali. (Roberge et al., 2012) Penggunaan ideal sesuai panduan penggunaan respirator N95 dari Kemenkes RI serta lembaga kesehatan internasional tetap disarankan, jika keadaan memungkinkan. Penggunaan diperpanjang, penggunaan ulang, maupun usaha dekontaminasi perlu mempertimbangkan perubahan kualitas


respirator. Pada panduan pencegahan dan pengendalian COVID-19 revisi ke-3 (16 Maret 2020) Kemenkes RI memuat kewaspadaan transmisi airborne pada prosedur yang menimbulkan aerosol sebagai langkah pencegahan empiris tambahan pada kasus pasien dalam pengawasan dan terkonfirmasi COVID-19. Salah satu tindakan kewaspadaan airborne antara lain menggunakan respirator partikulat seperti N95 sertifikasi NIOSH, EU FFP2, atau setara, dengan selalu memeriksa kerekatan (fit test) ketika menggunakan respirator yang sifatnya sekali pakai (disposable). Dalam hal pengambilan spesimen, Kemenkes juga menganjurkan penggunaan respirator minimal jenis N95. (Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, 2020) Pada 2013, Chugtai et al. menyebutkan bahwa belum ada negara di dunia yang memiliki kebijakan yang jelas mengenai penggunaan ulang, penggunaan diperpanjang, atau penggunaan alternatif cloth masks. (Chughtai et al., 2013) Untuk mengoptimalkan efektivitas pemakaian, beberapa hal berikut dapat dilakukan, antara lain membuang respirator yang sudah rusak atau membuat sulit bernafas; mengikuti instruksi penggunaan termasuk melakukan user seal check; menyimpan respirator saat selang penggunaan; serta konsultasi dengan pembuat respirator dan mengikuti jumlah maksimum penggunaan (tidak lebih dari lima kali penggunaan jika tidak terdapat rekomendasi khusus dari pembuat respirator). (National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH), 2018) Dalam keadaan kekurangan pasokan N95, penggunaan alternatif respirator N95 juga dapat dipertimbangkan dengan diimbangi oleh edukasi yang adekuat agar tenaga kesehatan memahami karakteristik dari respirator tersebut. (Pillai et al., 2015) National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) lebih merekomendasikan penggunaan diperpanjang sendiri daripada penggunaan ulang. Pertimbangan utama dari pemilihan penggunaan diperpanjang

adalah untuk mempertahankan kerekatan dan fungsi filtrasinya. Catatan penting yang perlu diberikan ketika tenaga kesehatan menggunakan respirator dengan penggunaan diperpanjang, respirator harus dibuang bila rusak atau saat digunakan menyebabkan kesulitan bernapas. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengurangi transmisi kontak, antara lain setelah pelaksanaan prosedur yang menghasilkan aerosol (patogen menjadi dan dapat menyebar secara aerosol), respirator N95 harus dibuang; respirator N95 harus dibuang apabila terkontaminasi oleh darah atau cairan sekresi pernapasan dari pasien; menggunakan APD tambahan, seperti face shield; mencuci tangan dengan air dan sabun atau hand rub sebelum dan sesudah memegang respirator N95; dan membuang respirator N95 setelah keluar dari ruang perawatan pasien. (National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH), 2018)

Kesimpulan Penggunaan ulang dan dekontaminasi menyebabkan penurunan kualitas respirator. Usaha dekontaminasi dapat mengubah MPS, menurunkan kekuatan filtrasi, dan mengubah bentuk respirator N95. Metode dekontaminasi UVGI terbukti cukup efektif mendekontaminasi respirator, dengan tidak mengubah fungsi filtrasi dan bentuk secara signifikan dengan dosis yang optimal. Penggunaan diperpanjang respirator N95 lebih disarankan daripada penggunaan ulang karena risiko self-inoculation dan penurunan efektivitas respirator dalam hal kerekatan dan kemampuan menahan beban. Penggunaan ideal sesuai panduan penggunaan respirator N95 dari Kemenkes RI serta lembaga kesehatan internasional tetap disarankan. Dalam keadaan pasokan terbatas, upaya modifikasi yang mempertimbangkan dampak terhadap kualitas respirator, alternatif respirator, cara penggunaan dan penanganan yang paling efektif dan efisien perlu dipertimbangkan.

7


Referensi Bergman, M.S., Viscusi, D.J., Zhuang, Z., Palmiero, A.J., Powell, J.B., Shaffer, R.E., 2012. Impact of multiple consecutive donnings on filtering facepiece respirator fit. American Journal of Infection Control 40, 375–380. https://doi.org/10.1016/j.ajic.2011.05.003 Chughtai, A.A., Seale, H., MacIntyre, C.R., 2013. Availability, consistency and evidence-base of policies and guidelines on the use of mask andrespiratortoprotecthospitalhealthcareworkers:aglobalanalysis. BMC Res Notes 6, 216. https://doi.org/10.1186/1756-0500-6-216 Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI, 2020. Pedoman pencegahan dan pengendalian coronavirus disease (Covid-19) Revisi ke-3. Fisher, E.M., Shaffer, R.E., 2014. Considerations for Recommending Extended Use and Limited Reuse of Filtering Facepiece Respirators in Health Care Settings. Journal of Occupational and Environmental Hygiene 11, D115–D128. https://doi.org/10.1080/15459624.2014.902954 Lin, T.-H., Chen, C.-C., Huang, S.-H., Kuo, C.-W., Lai, C.-Y., Lin, W.Y., 2017. Filter quality of electret masks in filtering 14.6–594 nm aerosol particles: Effects of five decontamination methods. PLoS ONE 12, e0186217. https://doi. org/10.1371/journal.pone.0186217 Lindsley, W.G., Martin, S.B., Thewlis, R.E., Sarkisian, K., Nwoko, J.O., Mead, K.R., Noti, J.D., 2015. Effects of Ultraviolet Germicidal Irradiation (UVGI) on N95 Respirator Filtration Performance and Structural Integrity. Journal of Occupational and Environmental Hygiene 12, 509–517. https://doi.org/10.1080/15459624.2015.1018518 Mills, D., Harnish, D.A., Lawrence, C., Sandoval-Powers, M., Heimbuch, B.K., 2018. Ultraviolet germicidal irradiation of influenza-contaminated N95 filtering facepiece respirators. American Journal of Infection Control 46, e49–e55. https://doi.org/10.1016/j.ajic.2018.02.018 National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH), 2018. Recommended Guidance for Extended Use and Limited Reuse of N95 Filtering Facepiece Respirators in Healthcare Settings [WWW Document]. URL https:// www.cdc.gov/niosh/topics/hcwcontrols/ recommendedguidanceextuse.html (accessed 3.26.20). National Personal Protective Technology Laboratory (NPPTL), 2012. Understanding Respiratory Protection Against SARS [WWW Document]. Centers for disease control and prevention. URL https://www.cdc.gov/niosh/npptl/topics/ respirators/factsheets/respsars.html (accessed 3.26.20).

8


Pillai, S.K., Beekmann, S.E., Babcock, H.M., Pavia, A.T., Koonin, L.M., Polgreen, P.M., 2015. Clinician Beliefs and Attitudes Regarding UseofRespiratoryProtectiveDevicesandSurgicalMasksforInfluenza. Health Security 13, 274–280. https://doi.org/10.1089/hs.2015.0011 Roberge, R., Niezgoda, G., Benson, S., 2012. Analysis of Forces Generated by N95 Filtering Facepiece Respirator Tethering Devices: A Pilot Study. Journal of Occupational and Environmental Hygiene 9, 517–523. https://doi. org/10.1080/15459624.2012.695962 Salter, W.B., Kinney, K., Wallace, W.H., Lumley, A.E., Heimbuch, B.K., Wander, J.D., 2010. Analysis of Residual Chemicals on Filtering Facepiece Respirators After Decontamination. Journal of Occupational and Environmental Hygiene 7, 437–445. https://doi.org/10.1080/15459624.2010.484794 Sub Direktorat Penyakit Infeksi Emerging, 2020. COVID-19 [WWW Document]. URL https:// infeksiemerging.kemkes.go.id/ (accessed 3.26.20). U.S. Food and Drug Administration, 2020. N95 respirators and surgical masks (face masks) [WWW Document]. URL https://www.fda.gov/ medical-devices/personal-protectiveequipment-infection-control/n95-respiratorsand-surgical-masks-face-masks. (accessed 3.26.20). Vuma, C.D., Manganyi, J., Wilson, K., Rees, D., 2019. The Effect on Fit of Multiple Consecutive Donning and Doffing of N95 Filtering Facepiece Respirators. Annals of Work Exposures and Health 63, 930–936. https://doi.org/10.1093/annweh/wxz060 World Health Organization (WHO), 2020. Coronavirus [WWW Document]. World Health Organization. URL http://www.who.int/ immunization/policy/ummunization_tables/en/ (accessed 3.26.20). World Health Organization (WHO), 2020b. Rational use of personal protective equipment (PPE) for coronavirus disease (COVID-19).

9


Klorokuin, Hidroksiklorokuin, dan Azitromisin pada Pengobatan Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Gilbert Lazarus1, Azis Muhammad Putera1, William Nathaniel1, Aruni Cahya Irfannadhira1, Vincentius Juan Aryaputra1, Hansel Tengara Widjaja1 Faculty of Medicine, Universitas Indonesia, Indonesia

1

A. Abstrak Coronavirus disease 2019 (COVID-19) merupakan pandemi global yang menyebabkan sindrom pernapasan akut berat. Hingga kini, berbagai penelitian telah dan sedang dilakukan untuk mencari pengobatan dan vaksin spesifik untuk COVID-19, beberapa diantaranya adalah klorokuin, hidroksiklorokuin, azitromisin, dan masih banyak lagi. Namun, potensi kegunaan obat-obatan tersebut telah memunculkan berbagai spekulasi di masyarakat yang dapat memperburuk keadaan kesehatan dan ekonomi negara serta dunia. Artikel ini bertujuan untuk mengulas literatur-literatur yang meneliti kegunaan obat-obatan tersebut terhadap COVID-19 sehingga dapat menarik kesimpulan mengenai manfaat klinis dan keamanan obat-obat tersebut. Pencarian literatur dilakukan menggunakan berbagai database, mulai dari PubMed, Scopus, Cochrane Central Register of Controlled Trials (CENTRAL), Google Scholar, hingga mesin-mesin pencarian dan situs-situs terpercaya yang menampilkan isu-isu relevan. Berdasarkan pencarian literatur, baik klorokuin, hidroksiklorokuin, maupun azitromisinmemiliki potensi terhadap COVID-19 yang cukup baik. Klorokuin dan hidroksiklorokuin telah digunakan secara luas di beberapa negara, sementara azitromisin masih relatif minim diteliti, namun telah menunjukkan potensi yang baik apabila dikombinasikan dengan hidroksiklorokuin, ditunjukkan dengan laju konversi negatif virus yang lebih cepat apabila dibandingkan dengan hidroksiklorokuin sendiri maupun terapi konvensional. Meskipun penggunaan obat-obatan tersebut relatif aman dan telah mengantongi izin peredaran dari U.S. Food and Drug Administration, obat-obatan tersebut

10


memiliki potensi efek samping yang cukup fatal, khususnya pemanjangan durasi interval QT yang berpotensi menyebabkan henti jantung. Oleh karena itu, penggunaan obatobatan tersebut harus dimonitor secara ketat dan tidak selayaknya diedarkan secara bebas dan luas di masyarakat. Penelitian-penelitian lebih lanjut dengan bukti ilmiah yang lebih kuat dibutuhkan untuk mengonfirmasi temuantemuan yang ada. Kata kunci: COVID-19, hidroksiklorokuin, azitromisin

klorokuin,

B. Pendahuluan Coronavirus disease 2019 merupakan penyakit infeksi saluran napas akut yang disebabkan oleh severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Penyakit ini merupakan salah satu isu kesehatan global mengingat bahwa World Health Organization (WHO) telah mendeklarasikan penyakit ini sebagai pandemi global. (Yuen et al, 2020) Seiring dengan munculnya penyakit ini, berbagai institusi kesehatan dan negara telah berlomba-lomba untuk mencari obat dan vaksin spesifik terhadap virus ini. Tidak hanya itu, berbagai kalangan masyarakat juga melakukan spekulasi-spekulasi terhadap pengobatan dan pencegahan virus ini, yang seringkali menimbulkan keresahan masyarakat dan menimbulkan panic buying. Hal ini dibuktikan dengan melambungnya harga beberapa komoditas seperti rempahrempah dan suplemen yang dispekulasikan dapat mencegah/mengobati virus ini, hingga perlengkapan medis (contoh alat pelindung diri dan obat-obatan). (Parkinson & GauthierVillars, 2020) Hingga kini, berbagai penelitian untuk mencari regimen terapi optimal bagi COVID-19 telah dilakukan. Di antaranya, berbagai jenis obat muncul ke permukaan, seperti klorokuin, hidroksiklorokuin, azitromisin, oseltamivir, lopinavir/ritonavir, dan masih banyak lagi. (Centers for Disease Control and Prevention, 2020) Hal ini menimbulkan spekulasi di masyarakat yang berujung pada pembelian obat-obatan tersebut secara bebas

sehingga menimbulkan masalah kesehatan dan ekonomi yang lebih parah. Artikel ini bertujuan untuk mengulas studi-studi yang telah meneliti aspek klinis dan farmakologis obat-obatan tersebut untuk mengetahui dan menyimpulkan potensi obat-obat tersebut dalam menangani COVID-19. Pencarian literatur dilakukan melalui berbagai database ilmiah seperti PubMed, Scopus, Cochrane Central Register of Controlled Trials (CENTRAL), dan Google Scholar, hingga literatur-literatur lainnya via mesin pencarian Google (https://www.google. com/), situs-situs terpercaya (U.S. Food and Drug Administration, https://www.fda.gov/; Centers for Disease Control and Prevention, https://www.cdc.gov/; Badan Pengawas Obat dan Makanan, https://www.pom.go.id/; World Health Organization, https://www.who.int/; dll.), dan portal berita online terpercaya.

C. Pembahasan Klorokuin Klorokuin merupakan salah satu lini terapi malaria sejak puluhan tahun lalu. Belakangan ini, pandemi COVID-19 membuat obat ini menjadi populer karena studi-studi awal menunjukkan potensi klorokuin terhadap COVID-19 memiliki kegunaan yang signifikan secara klinis. Beberapa tenaga medis mengatakan bahwa kedua obat ini dapat digunakan untuk menangani pasien COVID-19 dengan prinsip bahwa mencoba alternatif pengobatan lebih baik daripada tidak mengobati.

1. Indikasi, Dosis, dan Aspek Klinis Bagian ini akan membahas mengenai indikasi dan dosis penggunaan klorokuin sebagai lini pengobatan terhadap COVID-19. Terdapat studi in vitro efek klorokuin menggunakan sel Vero E6 yang terinfeksi SARS-CoV-2 yang menunjukan klorokuin sangat efektif dalam mengurangi replikasi virus dengan (EC)90 senilai 6.90 ÎźM. Klorokuin sangat mudah menembus jaringan termasuk paru sehingga sangatlah mundah mencapai nilai

11


konsentrasi median efektif 90% (EC90) tersebut dengan dosis standar.(Cortegiani et al., 2020) Di Tiongkok, sebuah studi oleh Gao et al (2020) menyebutkan klorokuin fosfat dapat menghambat eksaserbasi pneumonia, meningkatkan prognosis temuan radiologis paru, mempromosikan konversi negatif virus, dan mempersingkat durasi penyakit lebih baik daripada terapi konvensional. Terlebih lagi, pada studi tersebut, tidak ditemukan efek samping berat pada penggunaan klorokuin fosfat terhadap populasi tersebut. Temuan tersebut membuahkan kesimpulan bahwa klorokuin fosfat memiliki aktivitas yang poten terhadap COVID-19. Konsensus ahli yang berasal dari the Department of Science and Technology of Guangdong Province beserta Health Commission of Guangdong Province merekomendasikan penggunaan tablet klorokuin fosfat 500 mg dua kali sehari selama 10 hari. Konsesus tersebut juga mengatakan perlu dilakukan pemeriksaan klinis berupa anamnesis, dan penunjang berupa pemeriksaan hematologi rutin dan elektrokardiografi untuk memantau progresi penyakit dan kondisi pasien. Konsesus tersebut juga merekomendasi pelarangan penggunaan obat yang memperpanjang durasi interval QT bersamaan dengan klorokuin. (Cortegiani et al., 2020) Konsensus tenaga medis di Korea Selatan merekomendasikan penggunaan klorokuin 500 mg dua kali sehari atau kombinasi lopinavir 400 mg/ritonavir 100 mg dua kali sehari pada pasien lanjut usia, pasien dengan komorbiditas, atau pasien kritis. Namun, penggunaan terapi antiviral tidak direkomendasikan pada populasi muda dengan gejala ringan dan tanpa penyakit komorbid. Apabila klorokuin tidak tersedia, mereka merekomendasikan penggunaan hidroksiklorokuin 400 mg sekali sehari per oral. (Smith & Prosser, 2020) Di Italia, Italian Society of Infectious and Tropical Disease merekomendasikan penggunaan klorokuin 500 mg dua kali sehari atau hidroksiklorokuin 200 mg/hari selama 10 hari sebagai pengobatan untuk pasien dengan

12

COVID-19, meskipun durasi pengobatan dapat bervariasi dari 5-20 hari tergantung pada berat ringannya kondisi klinis. Konsensus ini merekomendasikan penggunaan obat tersebut baik pada populasi pasien gejala ringan dengan komorbiditas hingga pasien dengan gagal pernapasan berat. Sementara itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan klorokuin untuk pasien dengan infeksi berat yang membutuhkan perawatan di unit perawatan intensif dan memerlukan terapi oksigen. Regimen pengobatan dimulai dengan basa klorokuin 600 mg dan dilanjutkan dengan basa klorokuin 300 mg setelah 12 jam. Kemudian, pada hari ke-2 sampai hari ke-5, pasien diberikan klorokuin 300 mg dua kali sehari per oral. CDC juga menyarankan untuk: (1) memberhentikan pengobatan pada hari kelima untuk mengurangi efek samping mengingat waktu paruh obat yang panjang (30 jam), dan (2) membedakan basa klorokuin dan klorokuin fosfat, yang mana basa klorokuin 300 mg ekuivalen dengan klorokuin fosfat 500 mg. (Cortegiani et al., 2020) Penggunaan klorokuin sebagai regimen terapeutik COVID-19 telah direkomendasikan oleh berbagai negara berdasarkan bukti studi in vitro, pengalaman klinis, dan studi non-acak. Belum terdapat studi acak yang membuktikan kegunaan klinis klorokuin menandakan bahwa perlu dilakukannya studi mendalam dengan bukti ilmiah yang lebih kuat untuk menunjang temuan dari studi-studi sebelumnya.

2. Efek Samping dan Kontraindikasi Penggunaan klorokuin pada dosis yang tepat jarang menimbulkan efek samping. Klorokuin tergolong obat keras yang berpotensi menimbulkan efek samping yang fatal apabila digunakan secara tidak rasional. Efek samping berat pada penggunaan klorokuin meliputi toksisitas ginjal, penurunan fungsi penglihatan (hingga kebutaan), diplopia, serta efek samping psikiatri seperti paranoid, halusinasi, dan munculnya ide bunuh diri. Selain itu, klorokuin juga dapat menyebabkan


manifestasi pada kulit seperti pruritus dan fotosensitivitas, retinopati, dan neuropati (seperti kejang). (Goel & Gerriets, 2019) Perlu ditekankan, obat ini juga menyebabkan efek samping pada sistem kardiovaskular, khususnya pemanjangan durasi interval QT, abnormalitas pada gelombang T, dan kardiomiopati. (CDC, 2020) Klorokuin telah terbukti aman digunakan untuk ibu hamil dan anak-anak. Namun, obat ini tidak direkomendasikan untuk diberikan kepada pasien dengan epilepsi atau myasthenia gravis dan harus digunakan secara hati-hati untuk pasien yang memiliki kelainan hematologi, neurologi, penyakit hati stadium lanjut, maupun penyakit gastrointestinal berat. Kontra indikasi absolut penggunaan klorokuin adalah riwayat alergi terhadap hidroksiklorokuin dan gangguan fungsi penglihatan/retina. (Goel & Gerriets, 2019) Penggunaan klorokuin pada pasien dengan porfiria kutanea tarda juga menunjukkan toksisitas yang signifikan, ditandai dengan adanya laporan kasus kematian akibat penggunaan obat ini. (Vinetz, 2018).

3. Regulasi Hingga kini, baik WHO, Centers for Disease Control and Prevention (CDC), dan U.S. Food and Drug Administration (FDA), belum ada pengobatan atau vaksin yang terbukti efektif dalam mengobati atau mencegah COVID-19, termasuk klorokuin. (Smith & Prosser, 2020)

4. Kesimpulan dan Rekomendasi Klorokuin telah digunakan sebagai salah satu lini terapi utama pada COVID-19 di banyak negara seperti Italia, Korea Selatan, dan Tiongkok, meskipun dengan bukti ilmiah yang masih minim. Konsensus di ketiga negara tersebut menyebutkan bahwa klorokuin memiliki kegunaan klinis yang signifikan terhadap pasien COVID-19. Namun, hingga kini, klorokuin belum disetujui oleh FDA untuk pengobatan spesifik COVID-19, sehingga penelitian-penelitian terbaru dengan bukti ilmiah yang lebih kuat sangat dibutuhkan untuk menunjang data-data yang ada. Perlu diingat,

penggunaan klorokuin perlu disertai dengan monitor pasien secara intensif, dan klorokuin tidak direkomendasikan untuk dijual secara bebas dan/atau digunakan secara luas oleh masyarakat untuk pencegahan/pengobatan COVID-19 mengingat risiko munculnya resistensi dan efek samping yang berat.

Hidroksiklorokuin Hidroksiklorokuin (HCQ) merupakan senyawa ekuivalen klorokuin. Perbedaan antara HCQ dan klorokuin adalah β-hidroksilasi pada gugus N-etil klorokuin. (Vinetz, 2018) Modifikasi gugus ini menyebabkan HCQ bersifat lebih mudah larut dibandingkan klorokuin. (Sahraei, 2020) Hidroksiklorokuin merupakan senyawa yang bersifat basa lemah, sehingga obat ini dapat masuk dan terkonsentrasi di dalam sel dalam bentuk tidak terionisasi (non-ionized). Obat HCQ dapat sedikit meningkatkan pH dalam lisosom makrofag, sehingga dapat menyebabkan perubahan pada pemrosesan antigen peptida serta mengurangi presentasi antigen tersebut ke permukaan sel sehingga interaksi antara makrofag dan sel T-helper berkurang. Hal inilah yang menjadi rasionalisasi penggunaan makrofag sebagai disease-modifying antirheumatic drugs, sebab penggunaan obat ini dapat menurunkan respons inflamasi. Selain itu, HCQ juga mengurangi aktivasi sel dendritik sebagai sel pemajan antigen dengaan menyekat reseptor sel T pada permukaan sel dendritik. (Waller & Sampson, 2018) Dari sudut pandang farmakokinetik, dengan pemberian per oral, bioavailabilitas HCQ berkisar antara 67-91%. Waktu paruh HCQ sangat panjang hingga mencapai 1056 jam (kisaran 624-1512 jam). Sekitar 27% HCQ akan diekskresikan lewat urine. Utamanya, HCQ dimetabolisme di hepar. (Vinetz, 2018)

1. Indikasi, Dosis, dan Aspek Klinis Penelitian sebelumnya telah membuktikan aktivitas hidroksiklorokuin terhadap SARS-

13


CoV-1. Baik HCQ maupun klorokuin dapat digolongkan sebagai obat imunomodulator. Hidroksiklorokuin dapat meningkatkan pH intraselular, menghambat aktivitas lisosom pada sel pemajan antigen (antigen presenting cells [APC] termasuk sel dendritik plasmasitoid dan sel B sehingga dapat mencegah pemrosesan (auto)antigen dan presentasi antigen oleh MHC-kelas II; hal ini akan menyebabkan penurunan aktivasi sel T, diferensiasi, dan ekspresi protein kostimulator serta sitokin yang diproduksi oleh sel T dan sel B seperti IL1, IL-6, dan TNF. HCQ juga mampu menyupresi jaras persinyalan tolllike receptor (TLR) melalui perubahan pH endosome serta gangguan ikatan antara TLR dengan ligan DNA/RNA-nya. Di sitoplasma, HCQ juga menghambat interaksi antara DNA sitosolik dengan sensor asam nuklear cGAMP sintase (cGAS). Akibat hambatan pada jaras persinyalan TLR dan jaras persinyalan STING (stimulasi gen-gen interferon oleh cGAS), persinyalan pro-inflamasi dan produksi sitokin seperti interferon tipe 1, IL-1, dan TNF mengalami atenuasi. Inilah yang mendasari hipotesis bahwa HCQ dapat menyupresi cytokineresponse syndrome (CRS) atau badai sitokin (cytokine storm) yang distimulasi oleh infeksi SARS-CoV 2. (Zhou, Dai and Tong, 2020) Selain memerankan peranan dalam modulasi sistem imun, baik HCQ maupun klorokuin dapat menghambat ikatan reseptor dan fusi membran yang memfasilitasi masuknya Coronavirus. Baik HCQ maupun klorokuin akan terkonsentrasi dalam organel dengan pH rendah seperti endosome, lisosom, dan vesikel golgi. Virus membutuhkan endosom sebagai perantara agar dapat masuk ke dalam sel, sehingga peningatan pH endosome akibat klorokuin dapat memberikanpengaruh negatif terhadap proses fusi virus dan endosom. Karena HCQ memiliki mekanisme molekuler yang serupa dengan klorokuin, kemungkinan besar HCQ juga akan memiliki efek serupa dengan klorokuin . Meski demikian, hal ini membutuhkan penelitian in vitro dan in vivo yang lebih lanjut. (Zhou, Dai, & Tong, 2020). Gambar 1 menggambarkan peran klorokuin dan hidroksiklorokuin terhadap COVID-19:

Gambar 1. Mekanisme kerja klorokuin (CQ) dan hidroksiklorokuin (HCQ) pada SARS-CoV-2 (Zhou, Dai and Tong, 2020).

14


Hingga artikel ini ditulis, penulis menemukan 7 penelitian klinis acak yang terdaftar di https://clinicaltrials.gov/. (ClinicalTrials.gov, 2020) Memang, beberapa kepustakaan telah menunjukkan potensi HCQ sebagai agen terapi potensial untuk COVID-19. Sebagai contoh, penelitian in vitro dengan menggunakan sel Vero dari monyet hijau Afrika menunjukkan bahwa baik klorokuin maupun HCQ memiliki aktivitas antivirus yang baik. Dalam penelitian ini, konsentrasi median efektif 50% (EC50) untuk HCQ (EC50 = 0,72 ÎźM) lebih kecil dibanding klorokuin (EC50 = 5,47 ÎźM, sehingga HCQ memiliki aktivitas antivirus yang lebih baik dibandingkan klorokuin. Hasil ini kemudian dilanjutkan dengan pemodelan physiologically-based pharmacokinetic models (PBPK) dengan 5 regimen dosis sehingga didapat hasil akhir rekomendasi pemberian dosis muat (loading dose) HCQ 400 mg 2 kali sehari diikuti dengan maintenance dose 200 mg diberikan 2 kali sehari seama 4 hari direkomendasikan untuk infeksi SARS-CoV-2. (Yao et al., 2020)

status klinis pasien. Pasien dengan alergi atau kontraindikasi lain terhadap HCQ maupun klorokuin, ibu menyusui, dan ibu yang sedang hamil dieksklusi dari penelitian. Penelitian dilakukan dengan memberikan HCQ pada 26 pasien dan 16 pasien bertindak sebagai kontrol. Dalam perjalanan penelitian, 6 pasien dari kelompok perlakuan HCQ tidak masuk dalam proses follow-up karena penghentian dini terapi (1 orang pasien masuk ke ICU pada hari kedua pasca-inklusi, 1 orang pasien masuk ke ICU pada hari ketiga pasca-inklusi, 1 orang pasien masuk ke ICU pada hari keempat pasca-inklusi, 1 orang pasien meninggal pada hari ketiga pasca-inklusi, 1 orang pasien menghentikan pengobatan pada hari ketiga pasca-inklusi akibat mual, serta 1 orang pasien memutuskan meninggalkan rumah sakit pada hari ketiga pasca-inklusi). (Gautret et al., 2020)

Penulis menemukan satu penelitian studi pilot uji klinis acak yang dilakukan di Shanghai Public Health Clinical Center dengan melibatkan 30 pasien COVID-19 yang dibagi ke dalam dua kelompok perlakuan, yakni kelompok intervensi yang diberikan terapi konvensional + HCQ 400 mg per hari selama lima hari dibandingkan dengan kelompok kontrol yang hanya diberikan terapi konvensional. Setelah dilakukan pemeriksaan asam nukleat pada hari ketujuh perlakuan, hasil swab tenggorok menunjukkan hasil negatif pada 86,7% kasus pasien yang diberikan HCQ (13 pasien) serta pada 93,3% kasus pasien dengan terapi konvensional saja (14 pasien), dengan hasil yang secara statistik tidak signifikan (p>0,05). (Jun et al., 2020)

Kelompok dengan perlakuan HCQ diberikan HCQ oral 200 mg 3 kali sehari selama 10 hari. Enam orang pasien dari kelompok perlakuan HCQ juga mendapatkan azitromisin 500 mg pada hari pertama diikuti 250 mg per hari selama 4 hari berikutnya untuk mencegah superinfeksi bakteri. Hasilnya, pada hari ke-6 pasca-inklusi, 70% pasien sembuh secara virologis dibandingkan 12,5% pada kelompok kontrol (p=0,001). Semua pasien yang mendapatkan kombinasi HCQ dan azitromisin secara virologis dinyatakan sembuh pada hari ke-6 pasca inklusi dibandingkan dengan 57,1% pasien yang hanya diberikan HCQ dan 12,5% pasien kontrol. Meski demikian, perlu dipertimbangkan adanya 6 pasien loss-tofollow up pada kelompok perlakuan HCQ. Keterbatasan dari penelitian ini ialah jumlah sampel yang kecil, follow-up keluaran jangka panjang yang terbatas, serta 6 pasien yang dropout dari penelitian. (Gautret et al., 2020)

Adapun satu penelitian uji klinis non-acak (non-randomized) yang sempat menghebohkan masyarakat, yakni penelitian yang dilakukan di Prancis oleh Gautret et al. Penelitian ini dilakukan pada pasien yang sudah terkonfirmasi COVID-19, berusia di atas 12 tahun, dan hasil PCR SARS-CoV-2 positif terlepas dari

Hingga saat artikel ini ditulis, belum terdapat uji klinis acak (randomized clinical trial [RCTs]) skala besar yang dapat memberikan pedoman terkait penggunan, dosis, serta durasi pemberian HCQ sebagai profilaksis maupun pengobatan untuk SARS-CoV-2. Di Amerika, beberapa klinisi secara anekdotal

15


telah melaporkan penggunan HCQ untuk terapi SARS-CoV-2 dalam dosis yang berbedabeda, seperti 400 mg dua kali sehari pada hari pertama kemudian dilanjutkan dengan pemberian per hari selama 5 hari; 400 mg dua kali sehari pada hari pertama dan dilanjutkan dengan 200 mg dua kali sehari selama 4 hari, serta 600 mg dua kali sehari pada hari pertama dilanjutkan dengan 400 mg per hari pada hari ke-2 hingga ke-5. (CDC, 2020) Pedoman yang dikeluarkan oleh Surviving Sepsis Campaign (SSC) tidak merekomendasikan penggunaan hidroksiklorokuin, sebab belum ada bukti ilmiah yang cukup kuat hingga saat ini untuk mendukung penggunaan hidroksiklorokuin sebagai terapi COVID-19. (SSC, 2020) Lembaga Therapeutic Good Administration (TGA) dari Departemen Kesehatan Australia juga telah mengeluarkan pernyataan yang tidak mendukung (discourage) penggunaan HCQ selain dari indikasi yang telah disepakati saat ini, yakni untuk pengobatan malaria dan beberapa penyakit autoimun seperti rheumatoid artritis, kecuali dalam konteks uji klinis atau dalam terapi pasien penyakit berat di rumah sakit dalam lingkungan yang terkontrol. TGA juga menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada obat yang disetujui untuk terapi COVID-19, sehingga peresepan obat-obatan untuk terapi COVID-19 dapat dikategorikan sebagai penggunaan off-label. (Therapeutic Goods Administration, 2020)

2. Efek Samping dan Kontraindikasi Efek samping dari HCQ adalah nyeri kepala, mual, muntah, pusing, urtikaria, nyeri abdomen, urtikaria, dan pruritus. Pemberian harian HCQ dalam dosis tinggi (>250 mg) dengan total dosis kumulatif >1g/kg dapat menyebabkan retinopati ireversibel dan ototoksisitas (Vinetz, 2018). Toksisitas obat ini terhadap retina merupakan suatu masalah, sebab HCQ akan berikatan secara selektif pada sel fotoreseptor di makula serta mengganggu fungsi lisosom. Dalam dosis terapi normal, kejadian ini jarang terjadi; namun pemeriksaan

16

mata dianjurkan sebelum terapi dengan HCQ serta saat terapi dengan obat ini apabila terjadi perubahan visus atau keluhan penglihatan kabur pada pasien. Pemeriksaan mata juga dianjurkan apabila penggunaan obat ini berlanjut hingga lebih dari 5 tahun. (Waller & Sampson, 2018) Dibandingkan dengan klorokuin, HCQ memiliki toksisitas okular yang lebih rendah (Sahraei, 2020). Efek samping lain dari pemberian HCQ adalah kardiotoksisitas yang ditandai dengan pemanjangan durasi interval QT pada penggunaan berkepanjangan untuk pasien dengan gangguan fungsi hati atau ginjal. (CDC, 2020) HCQ aman untuk diberikan pada anak-anak dan ibu hamil. Obat ini dikontraindikasikan untuk pasien dengan gangguan retina atau perubahan lapang pandang, dan hipersensitivitas terhadap senyawa 4-aminokuinolin. Obat ini harus digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan gangguan fungsi hati. (Vinetz, 2018)

3. Kesimpulan dan Rekomendasi Berdasarkan paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa beberapa penelitian telah menunjukkan efektivitas HCQ secara anekdotal. Dalam pertimbangan profesional, HCQ dapat diberikan sebagai terapi COVID-19, namun temuan ilmiah yang ada harus ditunjang dengan penelitian-penelitian lebih lanjut yang memiliki bukti ilmiah yang lebih baik, mengingat bahwa hingga kini belum ada uji klinis acak skala besar yang menilai kegunaan HCQ pada COVID-19.

Azitromisin Azitromisin merupakan obat yang tergolong jenis antibiotik makrolid berupa turunan semisintetik dari eritromisin. Antibiotik makrolid banyak digunakan sebagai pengobatan infeksi traktus respiratorius yang disebabkan oleh patogen umum penyebab community-acquired pneumonia (CAP). Antibiotik makrolid termasuk agen bakteriostatik yang menginhibisi sintesis protein dengan cara berikatan dengan subunit ribosom 50S mikroorganisme. Azitromisin oral diabsorpsi dengan cepat


dengan bioavailibilitas 30%-40% dan terdistribusi secara luas di tubuh kecuali otak dan CSF. Azitromisin intravena memproduksi konsentrasi plasma sebesar 3-4 Îźg/mL setelah infus 500 mg dalam satu jam. Aspek farmakokinetik yang unik dari azitromisin adalah persebaran obat pada jaringan yang ekstensif dan konsentrasi obat yang tinggi dalam sel termasuk sel fagosit yang menyebabkan konsentrasi obat jauh lebih besar dalam jaringan atau sekresi dibandingkan konsentrasi serum. Hal ini juga menyebabkan eliminasi atau waktu paruh memanjang yaitu 40-68 jam. Metabolisme terjadi di hepar dengan rute eliminasi terbanyak melewati ekskresi bilier. Selain itu, hanya 12% obat yang tereksresikan lewat urin.

1. Indikasi, Dosis, dan Aspek Klinis Azitromisin umumnya digunakan sebagai terapi pada infeksi saluran napas atas dan bawah yang disebabkan oleh bakteri gram positif dan patogen atipikal, khususnya Chlamydia sp. Azitromisin digunakan dengan dosis awal 500 mg pada hari pertama, lalu dilanjutkan dengan 250 mg per hari pada hari ke-2 hingga hari ke-5 untuk pengobatan CAP, faringitis, maupun sinusitis. Penggunaan azitromisin sebagai regimen terapi pada penanganan COVID-19 belum banyak diteliti. Sebuah serial kasus oleh Wang et al (2020) menyebutkan bahwa penggunaan azitromisin sebagai regimen terapeutik terhadap 25 (18,1%) pasien COVID-19. Angka ini berada jauh di bawah obat-obatan lain seperti oseltamivir (124; 89,9%), moxifloxacin (89; 64,4%), glukokortikoid (62; 44,9%), maupun ceftriaxone (34; 24,6%). Hingga artikel ini ditulis, hanya terdapat satu penelitian yang membahas kegunaan azitromisin terhadap COVID-19. Penelitian tersebut, yaitu uji klinis non-acak open-label oleh Gautret et al (2020), menemukan bahwa kombinasi antara azitromisin dengan hidroklorokuin memberikan efek sinergis sebagai terapi pada pasien COVID-19 (Gambar 2). Dosis azitromisin yang diberikan yaitu sebanyak 500 mg pada hari pertama diikuti 250 mg per hari selama 4 hari berikutnya. Penelitian dibutuhkan lebih lanjut mengenai penggunaan kombinasi azitromisin dengan hidroklorokuin mengingat bahwa studi ini dilakukan hanya dengan 36 sampel. Selain itu, kombinasi ini berpotensi berperan sebagai terapi antivirus terhadap SARS-CoV-2 dan mencegah superinfeksi bakteri. Hal ini membuktikan bahwa azitromisinmungkin dapat diberikan pada kondisi klinis untuk mengobati pasien COVID-19, dengan catatan bahwa masih banyak regimen pengobatan lain yang telah diteliti secara lebih ekstensif dengan bukti ilmiah yang lebih konkret. Terlebih lagi, penggunaan azitromisinhanya direkomendasikan untuk digunakan pada pasien COVID-19 dengan gejala ringan apabila adanya infeksi bakteri tidak dapat dieksklusi. (Jin et al, 2020)

17


Gambar 2. Presentasi pasien sampel nasofaring PCR positif sejak inklusi hingga 6 hari setelahnya yang diberikan terapi tunggal, kombinasi, dan kontrol. Selain penelitian di atas, hingga kini, terdapat dua penelitian ongoing (NCT04322123 dan NCT04321278; https://clinicaltrials. gov/) yang mengevaluasi kegunaan azitromisin terhadap COVID-19, dan keduanya menggunakan azitromisinsebagai kombinasi terhadap hidroksiklorokuin.

2. Efek Samping dan Kontraindikasi Efek samping yang paling sering dilaporkan pada penggunaan azitromisin adalah gejala gastrointestinal ringan hingga sedang seperti mual, muntah, dan diare. Selain itu, azitromisinjuga diketahui dapat menyebabkan sakit kepala, insomnia, ruam, dan perubahan fungsi hati transien secara laboratorium, meskipun pada azitromisin ditemukanrisiko kejadian efek samping yang lebih sedikit dibanding amoksilin atau amoksiklav dengan RR 0.76 (95% CI 0.57-1.00, p=0,05). Perlu ditekankan, azitromisindapat menyebabkan toksisitas pada organ jantung dengan menyebabkan pemanjangan durasi interval QT. Efek samping ini dimediasi oleh efek azitromisinterhadap kanal ion kalium. Pada kondisi berat, pemanjangan durasi interval QT dapat menyebabkan aritmia torsades de pointes sehingga meningkatkan risiko henti jantung. Karena potensi efek samping berat pada penggunaan azitromisin, obat ini dikontraindikasikan pada pasien dengan gangguan saluran GI dan kardiovaskular. Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), azitromisinjuga dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal fungsi hati.

3. Regulasi Azitromisinsudah terdaftar dalam BPOM dengan ketentuan dosis sesuai indikasi dan kontraindikasi. Akan tetapi, hingga kini, belum terdapat regulasi mengenai penggunaan azitromisinsebagai

18


terapi COVID-19. Menurut CDC, kombinasi hydroxychloroquine dan azitromisinberkaitan dengan perpanjangan interval QT dan harus berhati-hati ketika diberikan pada pasien dengan penyakit kronis seperti gagal ginjal dan gangguan fungsi hati serta sedang menerima pengobatan lain yang dapat saling berinteraksi dan menyebabkan aritmia.

4. Kesimpulan dan Rekomendasi Sejauh yang ditemukan penulis, hingga kini, belum terdapat penelitian mengenai penggunaan azitromisin sebagai monoterapi untuk mengobati infeksi SARS-CoV-2. Penelitian lebih lanjut mengenai penggunaan azitromisinsebagai adjuvan terapi COVID-19 yang dikombinasikan dengan hidroksiklorokuin perlu dilakukan. Hal ini mengingat azitromisin dapat meningkatkan efektivitas obat dalam mengatasi infeksi virus tersebut dan sebagai pencegahan terjadinya superinfeksi bakteri pada saluran pernapasan. Namun, perlu diingat bahwa penggunaan azitromisin harus disertai dengan monitor ketat, mengingat bahwa obat ini memiliki berbagai efek samping yang berat, seperti pemanjangan interval QT.

juga tidak dianjurkan secara bebas dan luas di masyarakat, mengingat bahwa ketiga obat tersebut memiliki efek samping yang cukup berat, khususnya pemanjangan durasi interval QT yang dapat menyebabkan henti jantung. Kami merekomendasikan pemerintah dan institusi serta organisasi terkait untuk melaksanakan penelitian guna memastikan aplikabilitas temuan-temuan ilmiah yang telah ada terhadap populasi Indonesia, serta memberlakukan kebijakan ketat untuk mengontrol peredaran obat-obatan tersebut di kalangan masyarakat agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan ataupun ekonomi masyarakat.

D. Kesimpulan Baik klorokuin, hidroksiklorokuin, maupun azitromisin telah menunjukkan potensi yang baik terhadap COVID-19. Klorokuin dan hidroksiklorokuin telah digunakan secara ekstensif di berbagai negara dalam menangani pasien dengan COVID-19, khususnya pasien lanjut usia, pasien dengan komorbiditas, dan pasien dengan gejala berat hingga kritis. Di lain pihak, azitromisinbelum banyak digunakan, namun menunjukkan potensi yang baik sebagai terapi adjuvan pada hidroksiklorokuin. Ketiga obat tersebut memiliki efek samping yang secara umum dapat ditolerir, mengingat bahwa ketiga obat tersebut telah mengantongi izin dari FDA terhadap indikasinya masing-masing. Namun, penelitian lebih lanjut mengenai efek samping dan toksisitas ketiga obat tersebut pada penggunaan terhadap COVID-19 perlu dilakukan. Penggunaan ketiga obat tersebut

19


Referensi 1. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). [online] Available at: <https://www.cdc. gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/therapeutic-options.html#r6> [Accessed 26 March 2020]. 2. Centers for Disease Control and Prevention. 2020. Information for clinicians on therapeutic options for COVID-19 patients. [online] Available at: <https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/hcp/ therapeutic-options.html> [Accessed 2020 Mar 26]. 3. Clinicaltrials.gov. 2020. Home - Clinicaltrials.gov. [online] Available at: <https://clinicaltrials.gov/> [Accessed 26 March 2020]. 4. Cortegiani, A. et al. 2020. A systematic review on the efficacy and safety of chloroquine for the treatment of COVID-19, Journal of Critical Care. 5. Esicm.org. 2020. [online] Available at: <https://www.esicm.org/ wp-content/uploads/2020/03/SSC-COVID19-GUIDELINES.pdf> [Accessed 26 March 2020]. 6. Gao, J., Tian, Z., & Yang, X. 2020. Breakthrough: chloroquine phosphate has shown apparent efficacy in treatment of COVID-19 associated pneumonia in clinical studies. BioScience Trends. 7. Gautret, P., Lagier, J., Parola, P., Hoang, V., Meddeb, L., Mailhe, M., Doudier, B., Courjon, J., Giordanengo, V., Vieira, V., Dupont, H., HonorÊ, S., Colson, P., Chabrière, E., La Scola, B., Rolain, J., Brouqui, P. and Raoult, D., 2020. Hydroxychloroquine and azithromycin as a treatment of COVID-19: results of an open-label non-randomized clinical trial. International Journal of Antimicrobial Agents, p.105949 8. Goel, P., Gerriets, V. 2019. Chloroquine. [online] StatPearls. Available at: <https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK551512/> [Accessed 2020 Mar 26]. 9. Jin, Y., Cai, L., Cheng, Z., Cheng, H., Deng, T., Fan, Y., Fang, C., Huang, D., Huang, L., Huang, Q., Han, Y., Hu, B., Hu, F., Li, B., Li, Y., Liang, K., Lin, L., Luo, L., Ma, J., Ma, L., Peng, Z., Pan, Y., Pan, Z., Ren, X., Sun, H., Wang, Y., Wang, Y., Weng, H., Wei, C., Wu, D., Xia, J., Xiong, Y., Xu, H., Yao, X., Yuan, Y., Ye, T., Zhang, X., Zhang, Y., Zhang, Y., Zhang, H., Zhao, Y., Zhao, M., Zi, H., Zeng, X., Wang, Y. & Wang, X., 2020. A rapid advice guideline for the diagnosis and treatment of 2019 novel coronavirus (2019-nCoV) infected pneumonia (standard version). Military Medical Research, 7(1). 10. Jun C, Danping L, Li L, Ping L, Qingnian X, Lu X, et al. 2020. A pilot study of hydrochloroquine in treatment of patients with common coronavirus disease 19. Journal of ZheJiang University 11. Katzung, B. 2018. Basic and clinical pharmacology. 14th ed. New York: McGraw Hill Education, p.820. 12. Laopaiboon, M., Panpanich, R. and Swa Mya, K., 2015. Azithromycin for acute lower respiratory tract infections. Cochrane Database of Systematic Reviews 13. Parkinson, J., Gauthier-Villars, D. 2020. Trump claim that malaria

20


drugs treat coronavirus sparks warnings, shortages [online]. New York: Wall Street Journal. Available at: <https://www.wsj.com/ articles/trump-claim-that-malaria-drugs-treat-coronavirus-sparkswarnings-shortages-11584981897> [Accessed 2020 Mar 26] 14. Pionas.pom.go.id. 2020. AZITROMISIN | PIO Nas. [online] Available at: <http://pionas.pom.go.id/monografi/azitromisin> [Accessed 26 March 2020]. 15. Sahraei, Z., Shabani, M., Shokouhi, S. and Saffaei, A., 2020. Aminoquinolines against Coronavirus disease 2019 (COVID-19): chloroquine or hydroxycloroquine. International Journal of Antimicrobial Agents, p.105945. 16. Smith, P., Prosser, T. 2020. COVID-19 drug therapy â&#x20AC;&#x201C; potential options. [online] Elsevier, Inc. Available at: <https://www.elsevier. com/__data/assets/pdf_file/0007/988648/COVID-19-DrugTherapy_Mar-2020.pdf> [updated 2020 Mar 25; accessed 2020 Mar 26] 17. Therapeutic Goods Administration. 2020. New restrictions on prescribing hydroxychloroquine for COVID-19. [online] Available at: https://www.tga.gov.au/alert/new-restrictions-prescribinghydroxychloroquine-covid-19 [Accessed 26 March 2020]. 18. U.S. Food and Drug Administration. 2020. azithromycin (zithromax or zmax) and the risk of potentially fatal.... [online] Available at: <https://www.fda.gov/drugs/drug-safety-and-availability/fda-drugsafety-communication-azithromycin-zithromax-or-zmax-and-riskpotentially-fatal-heart> [Accessed 26 March 2020]. 19. Vinetz JM. 2018. Chemotherapy of malaria. In Brunton LL, Dandan RH, Knollman BC (eds). Goodman and Gilman Pharmacological Basis of Therapeutics. 13th ed. USA, McGraw-Hill Education. pp. 969-86 20. Waller DG, Sampson AP. 2018. Medical pharmacology and therapeutics. 5th ed. China, Elsevier; p 375 21. Wang, D., Hu, B., Hu, C., Zhu, F., Liu, X., Zhang, J., Wang, B., Xiang, H., Cheng, Z., Xiong, Y., Zhao, Y., Li, Y., Wang, X. & Peng, Z., 2020. Clinical characteristics of 138 hospitalized patients with 2019 novel coronavirusâ&#x20AC;&#x201C;infected pneumonia in Wuhan, China. JAMA, 323(11), p.1061. 22. Yao, X., Ye, F., Zhang, M., Cui, C., Huang, B., Niu, P., Liu, X., Zhao, L., Dong, E., Song, C., Zhan, S., Lu, R., Li, H., Tan, W. and Liu, D., 2020. In vitro antiviral activity and projection of optimized dosing design of hydroxychloroquine for the treatment of severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Clinical Infectious Diseases. 23. Yuen, K-S., Ye, Z-W., Fung, S-Y., Chan, C-P., & Jin, D-Y. 2020. SARSCoV-2 and COVID-19: the most important research questions. Cell Bioscience 24. Zhou, D., Dai, S. & Tong, Q. 2020. COVID-19: a recommendation to examine the effect of hydroxychloroquine in preventing infection and progression. Journal of Antimicrobial Chemotherapy

21


Kajian Berbagai Pendekatan Diagnosis Dini COVID-19 pada Fase Awal Hansel Tengara Widjaja1, Reynardi Larope Sutanto1, Ariestiana Ayu Ananda Latifa1, Christopher Christian1, Muhammad Salman Abbas1, Shafira Aurelia1 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

1

Abstrak SARS-CoV-2 merupakan virus korona jenis baru yang menyebabkan pandemi per 11 Maret 2020. Diagnosis COVID-19 meliputi riwayat epidemiologi, gejala klinis, radiografi thorax, pemeriksaan hematologi, RT-PCR, dan sekuensing genom. Pemeriksaan penunjang yang membuktikan adanya infeksi virus SARS-CoV-2 adalah RT-PCR, yang merupakan gold standard. Meskipun demikian, dengan adanya keterbatasan seperti hasil yang lambat diketahui, maka digagaslah metode tes cepat. Tes cepat yang telah dilakukan untuk mendeteksi virus SARS-CoV-2 antara lain adalah berbasis deteksi antigen virus, antibodi virus, serta RNA virus. Tes cepat yang telah dibeli oleh pemerintah Indonesia adalah pemeriksaan berbasis deteksi antibodi. Pemeriksaan ini tidak lebih sensitif dalam mendeteksi infeksi virus SARS-CoV-2 pada fase awal. Meskipun demikian, pemeriksaan ini dapat menunjang pemeriksaan baku emas (RT-PCR) dalam menegakkan diagnosis pada fase lanjut. Dengan demikian, penggunaan tes cepat harus disikapi dengan adanya pengetahuan mengenai perjalanan penyakit infeksi COVID-19 sehingga dapat diperoleh performa diagnosis yang optimal. Kata kunci: diagnosis, tes cepat, COVID-19, SARS-CoV-2.

22


A. Pendahuluan SARS-CoV-2 adalah virus korona jenis baru yang pertama kali diidentifikasi di Wuhan, Tiongkok. Virus ini terutama menyerang saluran pernapasan dan dapat menyebabkan pneumonia yang kini disebut sebagai pneumonia COVID-19. SARS-CoV-2 sangat mudah menular antar manusia sehingga dalam waktu relatif singkat sudah menyebar ke seluruh dunia sehingga WHO menyatakan pandemi pada tanggal 11 Maret 2020. Indonesia menemukan pasien positf infeksi virus SARSCoV-2 pertama kali pada tanggal 2 Maret 2020 dan sampai tulisan ini diterbitkan angka tersebut terus menanjak secara eksponensial. (BNPB, 2020)

B. Pembahasan 1. Pendekatan Diagnosis COVID-19 Pada pendekatan diagnosis COVID-19, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menyatakan bahwa pendekatan diagnosis harus meliputi riwayat epidemiologi, gejala klinis, radiografi thorax, pemerikaan hematologi, RT-PCR, dan sekuensing genom.(Burhan et al., 2020) Diagnosis definitif COVID-19, yang merupakan suatu penyakit infeksi, pada dasarnya adalah untuk menemukan virus SARS-CoV-2 dalam saluran napas pasien. Deteksi virus ini dilakukan dengan real-time polymerase chain reaction (RT-PCR) yaitu menemukan fragmen RNA virus dari sampel saluran napas. Hal ini menjadi penting karena proses penularan virus antar manusia melalui droplet. Dengan ditemukannya fragmen virus dalam saluran napas seseorang maka orang tersebut dapat menularkan virus ke orang lain didekatnya. Langkah selanjutnya adalah usaha memutus rantai penularan dengan melakukan isolasi pada orang-orang yang sudah terinfeksi virus SARS-CoV-2 baik mereka yang memiliki gejala pernapasan ataupun yang tidak (asimptomatik).(Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, 2020)

2. Baku Emas Penegakan Diagnosis Infeksi SARS-CoV-2 Pada prinsipnya, diagnosis definitif untuk patogen penyebab penyakit infeksi adalah dengan mengidentifikasi patogen tersebut. Pada beberapa kasus, dapat dilakukan kultur patogen untuk membuktikan jenis patogen yang menyebabkan penyakit. Meskipun demikian, untuk kasus infeksi virus (COVID-19), hal tersebut amatlah sulit dilakukan, karena hasilnya yang membutuhkan waktu lama dan biaya yang sangat mahal. Oleh karena itu, metode deteksi patogen lainnya adalah dengan melakukan identifikasi asam nukleat patogen dengan metode polymerase chain reaction (PCR).(Hodinka dan Kaiser, 2013) Pemeriksaan RT-PCR yang dilanjutkan sekuensing genom merupakan baku emas dalam penegakkan diagnosis COVID-19 (Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, 2020) Meskipun demikian, terdapat keterbatasan pemeriksaan RT-PCR antara lain waktu yang lama untuk mendapatkan hasil, membutuhkan teknisi yang terlatih karena prosesnya yang rumit dan harus dikerjakan pada laboratorium bersertifikat dengan tingkat keamanan tertentu (biosecurity level). (Li et al., 2020) Selain itu, pada fase awal pandemi, pemerintah Indonesia memusatkan pemeriksaan di Litbangkes pusat sehingga dibutuhkan waktu transport dari lokasi pengambilan sampel pasien ke laboratorium.(Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, 2020) Hal ini berkontribusi pada lamanya mendapatkan hasil. Padahal, dalam kondisi pandemi, kecepatan pemeriksaan dan jumlah pasien diperiksa menjadi penting.

3. Pemeriksaan Rapid Test sebagai Alternatif terhadap Baku Emas Terhitung hari Minggu, 12 April 2020, jumlah pasien positif COVID-19 di Indonesia mencapai 3.842 kasus, dengan rincian 3.229 pasien dalam perawatan, 286 pasien sembuh, dan 327 pasien meninggal dunia (BNPB, 2020). Pemerintah mencoba berbagai cara untuk

23


menanggulangi wabah ini. Salah satu cara tersebut adalah dengan mendatangkan rapid test berbasis immunoglobulin assay, seperti yang disampaikan oleh Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Korona, Achmad Yurianto (Utama, 2020). Tes cepat atau rapid test merupakan tes penapisan untuk melakukan tahap pemeriksaan awal dengan mudah dan cepat. Tes ini berguna bagi negara yang memiliki keterbatasan fasilitas. Selain itu, tes cepat juga cocok digunakan dalam kondisi-kondisi darurat yang memerlukan penapisan awal yang cepat (WHO, 2014). Tes cepat ini diharapkan dapat membantu mengidentifikasi pasien positif infeksi SARS-CoV-2 lebih cepat. Terdapat tiga jenis rapid test yang digunakan untuk mendeteksi SARS-CoV-2, yaitu: 1. Berbasis deteksi antigen: mendeteksi antigen virus, diperkirakan dapat mendeteksi 2-3 hari setelah terinfeksi virus meskipun blm bergejala. Namun saat ini masih dalam studi 2. Berbasis antibodi: mendeteksi IgG/IgM terhadap virus SARS-CoV-2, diduga terbentuk 7-8 hari setelah terinfeksi. Umumnya muncul setelah seseorang ada gejala. Jika dilakukan pemeriksaan pada fase asimptomatik dapat menhasilkan negatif palsu karena antibodi belum terbentuk. 3. Berbasis tes molecular. prinsipnya deteksi virus langsung dengan rapid PCR. Hasil bisa didapatkan dalam 2-3 jam, lebih cepat dari RT PCR yang biasa, 2-3 hari. Tes cepat yang didatangkan oleh pemerintah Indonesia pada tanggal 20 Maret 2020 adalah tes berbasis antibodi yaitu yang dengan mendeteksi respons antibodi terhadap infeksi virus SARS-CoV-2. Sampel yang digunakan adalah sampel darah vena atau darah tepi. Pengambilan sampel ini relatif lebih mudah dibandingkan dengan pengambilan sampel swab nasofaring/orofaring. Tes tersebut untuk mendeteksi IgM dan IgG yang terbentuk setelah terjadi paparan SARS-CoV-2 yang menandakan bahwa telah terjadi infeksi pada diri seseorang (Utama, 2020). Saat ini, di Indonesia sedang dilakukan penerapan rapid test antibodi untuk melakukan pemeriksaan terhadap orang yang mengalami kontak dengan pasien positif, OTG (Orang Tanpa Gejala), ODP (Orang Dalam Pemantauan) dan PDP (Pasien Dalam Pengawasan) terutama bagi fasilitas kesehatan yang tidak memliiki sarana dalam melakukan RT-PCR. Setelah melakukan rapid test antibodi, hasil pemeriksaan akan tetap dilanjutkan pengecekan (konfirmasi) dengan menggunakan teknik RT-PCR (Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, 2020)

24


4. Kelebihan dan Kekurangan Setiap Jenis Rapid Test Untuk menilai kelebihan dan kekurangan masing-masing modalitas pemeriksaan, perlu diketahui bagaimana proses tubuh berespons terhadap patogen yang menginfeksi. Pada fase awal infeksi, tubuh masih belum dapat memproduksi antibodi terhadap patogen dalam jumlah yang terdeteksi, sedangkan marker RNA maupun antigen lain sudah dapat terdeteksi. Seiring dengan berjalannya waktu, maka jumlah antibodi yang dihasilkan oleh tubuh dapat sampai pada jumlah yang dapat terdeksi. Dengan meningkatnya respons imun tubuh terhadap patogen, kemungkinan ditemukannya patogen dalam bentuk antigen maupun RNA virus akan semakin kecil.(Liu et al., 2020)

Gambar 1. Dinamika serokonversi virus SARS-CoV-2 (Liu et al, 2020)

a. Pemeriksaan berbasis Deteksi Antigen Saat ini hanya ada 5 produk deteksi antigen yang masih dalam proses uji klinis. Adapun penulis tidak berhasil menemukan sensitivitas dan spesifisitas produk tersebut dibandingkan dengan baku emas. Sebagian besar merupakan produksi asal Korea Selatan.(WHO, 2020b)

b. Pemeriksaan berbasis Deteksi Antibodi Pemeriksaan yang bergantung dari keberadaan IgM dan IgG ini memiliki kendala dalam waktu dilakukannya pemeriksaan. Saat mengalami infeksi virus SARS-CoV-2, diasumsikan antibodi IgM akan terdeteksi pada darah pasien setelah 3-6 hari dan IgG dapat dideteksi setelah 8 hari setelahnya. Guo et al. (2020) juga menemukan bahwa median hari kemunculan antibodi adalah 5 hari untuk IgM serta 11 hari untuk IgG. Hal ini serupa dengan temuan Zhang et al. (2020) di Wuhan dan Lee et al. (2020) di Taiwan. Jeda waktu sejak pertama kali terinfeksi virus hingga sebelum terbentuknya imunoglobulin disebut juga dengan periode jendela (window period). Pasien yang dilakukan pemeriksaan saat ia mengalami periode ini berpotensi mendapatkan hasil negatif

25


palsu (Li et al., 2020). Tes cepat ini dinyatakan memiliki angka sensitivitas 88.66% dan spesifisitas 90.63%, didapatkan dari 525 kasus dengan 397 hasil positif RT-PCR. Meskipun demikian, tidak disebutkan pada hari ke berapa sampel diambil, sehingga keseragaman hasil tidak dapat ditentukan. (Li et al., 2020). Dengan demikian, sebenarnya nilai sensitivitas dan spesifitas untuk periode waktu yang jelas masih belum ditemukan dan nilai yang tertera sebelumnya merupakan akumulasi dari berbagai kasus suspek COVID-19 di Tiongkok. Pada penelitian Liu, et al, didapatkan bahwa hasil pemeriksaan antibodi hanya 55,6 persen menunjukkan hasil positif pada pasien terkonfirmasi dengan RT-PCR pada hari ke 0-5. Pada hari ke 6-10, hasil pemeriksaan antibodi hanya menunjukkan nilai positif pada 44% sampel yang diambil sampel pada hari ke 6-10. Barulah pada hari ke-11, ditemukan bahwa 93.3 persen pasien yang terkonfirmasi menujukkan hasil yang positif.(Liu, et al, 2020) Artinya, pemeriksaan antibodi baru menunjukkan sensitivitas yang tinggi setelah hari ke-10. Hal serupa juga nampak pada penelitian Zhao, et al, seperti pada Gambar 2.

Gambar 2. Sensitivitas dan spesifisitas berbagai metode diagnosis pada berbagai kelompok hari pengambilan sampel. Catatan: metode Ab merupakan metode deteksi antibodi dengan mengukur kuantitatif titer antibodi (tidak termasuk dalam definisi test cepat).(Zhao et al, 2020)

c. Pemeriksaan berbasis Deteksi RNA Di sisi lain, per tanggal 21 Maret 2020, FDA Amerika Serikat telah memberi izin penggunaan Genexpert sebagai salah satu metode rapid test untuk mendeteksi RNA virus. Genexpert sebelumnya telah banyak digunakan sebagai tes cepat molekular untuk mendeteksi mycobacterium tuberculosis. Pemerintah Indonesia juga telah melakukan distribusi alat diagnosis tersebut sejak tahun 2014 silam. Alat yang sama kini dapat digunakan untuk mendiagnosis COVID-19. Meskipun demikian, sejumlah 112.000 cartridge yang dipesan ke Cepheid masih mengalami masalah karena Amerika Serikat melarang ekspor produk

26


tersebut. (BBC Indonesia, 2020) Dengan metode diagnosis yang sama, ketepatan diagnosis COVID-19 dapat setara dengan baku emasnya, yaitu RT-PCR. Meskipun demikian, belum ada penelitian lebih lanjut yang ditemukan mengenai hasil penggunaan dengan metode ini.

5. Rekomendasi penggunaan di Indonesia Penggunaan rapid test di Indonesia yang merupakan wilayah dengan transmisi local, perlu menimbang prioritas populasi yang mendapatkan pemeriksaan, seperti yang telah disampaikan oleh WHO, yaitu: 1. Orang yang memiliki risiko penyakit berat dan populasi rentan (lansia, pasien dengan kondisi penyakit lainnya). 2. Petugas kesehatan yang memiliki gejala COVID-19 (baik petugas medis maupun non-medis) yang pernah berkontak dengan pasien kasus positif. 3. Kelompok bergejala yang tinggal dalam lingkungan tertutup (misalnya: sekolah, penjara, rumah sakit, apartemen) untuk pendeteksian cepat dan membatasi penyebaran,beserta individu yang berkaitan dengan kelompok tersebut (WHO, 2020a). Hal ini menjadi sangat penting terutama ketika tingkat transmisi telah melebihi kapasitas pemeriksaan tes cepat. Penegakan diagnosis infeksi SARS-CoV-2 dengan RT-PCR merupakan baku emas, terutama pada fase awal. Meskipun demikian, terdapat beberapa kendala, yaitu masalah logistik, kemampuan teknisi dan laboratorium. Masalah logistik muncul karena penggunaan RT-PCR kerap terbatas. Di Indonesia, dibutuhkan proses transportasi sampel yang kadang dapat berskala lintas pulau sehingga mampu mengurangi kualitas spesimen.

Dengan melihat harapan baru uji cepat berbasis deteksi RNA dengan memodifikasi alat genexpert, masalah terkait diperlukannya laboratorium khusus untuk dapat menyelenggarakan proses diagnosis berbasis RT-PCR dapat dimudahkan. Akan tetapi, dengan adanya keterbatasan pengadaan cartridge karena pembatasan ekspor dari Amerika Serikat, Pemerintah Indonesia dapat menggenjot produksi produk tersebut dalam negeri dengan membeli lisensi dari Perusahaan Cepheid. Selain itu, perlu juga diperhatikan bahwa sensitivitas alat deteksi berbasis antibodi baru akan menunjukkan hasil positif bukan pada fase awal, sehingga tetap diperlukan metode berbasis penemuan RNA virus untuk segera dapat mendeteksi infeksi SARS-CoV-2. Oleh karena itu, penulis merekomendasikan pemerintah untuk merevisi kebijakan mengenai penggunaan alat deteksi cepat tersebut dikarenakan pada fase awal, kemungkinan hasil berupa negatif palsu sangat mungkin terjadi. Oleh karena itu, rapid test berbasis deteksi antibodi dapat dikombinasikan dengan metode deteksi RNA virus untuk PDP yang berada pada fase lanjut, karena temuan deteksi RNA pada fase tersebut akan kurang sensitif dibandingkan dengan fase awal. Penggunaan rapid pada pasien asimtomatik juga masih belum terdapat bukti ilmiahnya. Oleh karena itu, rapid test belum direkomendasikan untuk digunakan pada orang tanpa gejala. Terkait dengan rekomendasi mengenai uji deteksi antigen masih minim dapat disimpulkan karena keterbatasan bukti-bukti ilmiah yang ada dan sedang melalui proses penelitian lebih lanjut. Poin rekomendasi berikutnya adalah mengenai implementasi di berbagai daerah serta faktor psikososial masyarakat di Indonesia. Alur diagnosis serta kontrol infeksi disinyalir belum seragam dan dapat laksana di seluruh daerah terjangkit di

27


Indonesia. Hal ini dapat terlihat di awal bulan Maret 2020 saat kontrol infeksi di berbagai lokasi berbedabeda (Dongoran, 2020). Selain itu, akibat dari pengumuman rapid test, masyarakat berbondong-bondong membeli peralatan tes cepat sendiri sehingga harganya sampai mencapai Rp900.000 (Idris, 2020). Padahal, interpretasi awam sangat besar kemungkinan salahnya sehingga malah dapat menjadi bumerang bagi kesehatan masyarakat Indonesia.

C. Kesimpulan Pemeriksaan baku emas dalam menegakkan diagnosis COVID-19 adalah RT-PCR. Terdapat tiga jenis modalitas tes cepat, yaitu berbasis deteksi antigen, deteksi antibodi, dan deteksi RNA virus SARS-CoV-2. Modalitas tes cepat yang sudah dibeli oleh pemerintah Indonesia adalah pemeriksaan berbasis deteksi antibodi. Antibodi umumnya baru dapat terdeteksi tidak pada fase awal infeksi SARS-CoV-2. Oleh karena itu, penggunaan tes cepat berbasis deteksi antibodi harus disikapi dengan pengetahuan yang baik mengenai modalitas pemeriksaan tes cepat tersebut. Tes cepat lainnya yang berpotensi untuk digunakan di Indonesia adalah berbasis deteksi RNA virus, meskipun saat ini pemerintah Indonesia masih belum dapat membeli cartridge dikarenakan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah Amerika Serikat. Oleh karena itu, masyarakat juga disarankan untuk tidak membeli tes cepat sendiri tanpa rekomendasi dokter yang memeriksa.

28

Referensi 1. BBC Indonesia (2020) Virus corona: Rencana gunakan alat deteksi TBC untuk Covid-19, pemerintah diminta tidak abaikan penyakit yang lebih mematikan [Online]. Available at: https://www.bbc.com/indonesia/ indonesia-52142678 (Accessed: 3 April 2020) 2. BNPB (2020) Situasi Virus Corona [Online]. Available at: https://www.covid19.go.id/situasi-virus-corona/ (Accessed: 12 April 2020). 3. Burhan, E., Isbaniah, F., Susanto, A.D., Aditama, T.Y., Soedarsono, Sartono, T.R., Sugiri, Y.J., Tantular, R., Sinaga, B.Y.M., Handayani, R.R.D., Agustin, H., 2020. COVID-19 diagnosis dan penatalaksanaan di Indonesia. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Jakarta. 4. CNN Indonesia (2020) Pemerintah Siapkan Satu Juta Rapid Test Virus Corona. Available at: https://www.cnnindonesia.com/nasion al/20200321173824-20-485636/pemerintahsiapkan-satu-juta-rapid-test-virus-corona (Accessed: 26 March 2020). 5. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, 2020. Pedoman kesiapsiagaan menghadapi coronavirus disease (COVID-19), 3rd ed. Kementerian Kesehatan RI, Jakarta. 6. Dongoran, H., 2020. Longgarnya Pemeriksaan Corona di Bandara Indonesia [WWW Document]. Tempo. URL https://majalah.tempo.co/read/laporanutama/159897/longgarnya-pemeriksaan-corona-dibandara-indonesia (accessed 3.27.20). 7. Guo, L., Ren, L., Yang, S., Xiao, M., Chang, D., Yang, F., Dela Cruz, C.S., Wang, Y., Wu, C., Xiao, Y., Zhang, L., Han, L., Dang, S., Xu, Yan, Yang, Q., Xu, S., Zhu, H., Xu, Yingchun, Jin, Q., Sharma, L., Wang, L., Wang, J., 2020. Profiling Early Humoral Response to Diagnose Novel Coronavirus Disease (COVID-19). Clin. Infect. Dis. https://doi.org/10.1093/cid/ciaa310 8. Hodinka, R. L., Kaiser, L., 2013. Is the Era of Viral Culture Over in the Clinical Microbiology Laboratory?. J Clin Microbiol 51, 2â&#x20AC;&#x201C;8. doi: 10.1128/JCM.02593-12 9. Idris, M., 2020. Harga Alat Tes Corona di Toko Online Mencapai Rp 900.000 [WWW Document]. Kompas. URL https://money.kompas.com/ read/2020/03/24/170024026/harga-alat-tes-coronadi-toko-online-mencapai-rp-900000 (accessed 3.27.20).


10. Kwon, K.T., Ko, J.H., Shin, H., Sung, M., Kim, J.Y., 2020. DriveThrough Screening Center for COVID-19: a Safe and Efficient Screening System against Massive Community Outbreak. J. Korean Med. Sci. 35, e123. https://doi.org/10.3346/jkms.2020.35. e123 11. Lee, N.-Y., Li, C.-W., Tsai, H.-P., Chen, P.-L., Syue, L.-S., Li, M.C., Tsai, C.-S., Lo, C.-L., Hsueh, P.-R., Ko, W.-C., 2020. A case of COVID-19 and pneumonia returning from Macau in Taiwan: Clinical course and anti-SARS-CoV-2 IgG dynamic. Journal of Microbiology, Immunology and Infection. https://doi. org/10.1016/j.jmii.2020.03.003 12. Li, Z., Yi, Y., Luo, X., Xiong, N., Liu, Y., Li, S., Sun, R., Wang, Y., Hu, B., Chen, W., Zhang, Y., Wang, J., Huang, B., Lin, Y., Yang, J., Cai, W., Wang, X., Cheng, J., Chen, Z., Sun, K., Pan, W., Zhan, Z., Chen, L., Ye, F., 2020. Development and Clinical Application of A Rapid IgM-IgG Combined Antibody Test for SARS-CoV-2 Infection Diagnosis. J. Med. Virol n/a. https://doi.org/10.1002/ jmv.25727 13. Liu, L., Liu, W., Wang, S. and Zheng, S., 2020. A preliminary study on serological assay for severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) in 238 admitted hospital patients. 14. Utama, F. (2020) Rapid Test Virus Korona, Pemerintah Siapkan 1 Juta Kit Alat [Online]. Available at: https://www.inews.id/news/ nasional/rapid-test-virus-korona-pemerintah-siapkan-1-juta-kitalat (Accessed: 26 March 2020). 15. WHO (2014). Simple / Rapid tests. Available at: https://www.who. int/diagnostics_laboratory/faq/simple_rapid_tests/en/ (Accessed: 26 March 2020). 16. WHO (2020a). Laboratory testing strategy recommendations for COVID-19: Interim guidance. https://www.who.int/emergencies/ diseases/novel-coronavirus-2019/technical-guidance/laboratoryguidance (Accessed: 26 March 2020). 17. WHO (2020b). National laboratories. Available at: https:// www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/ technical-guidance/laboratory-guidance (Accessed: 26 March 2020). 18. Zhao, J., Yuan, Q., Wang, H., Liu, W., Liao, X., Su, Y., Wang, X., Yuan, J., Li, T., Li, J., Qian, S., Hong, C., Wang, F., Liu, Y., Wang, Z., He, Q., Li, Z., He, B., Zhang, T., Fu, Y., Ge, S., Liu, L., Zhang, J., Xia, N., Zhang, Z., 2020. Antibody responses to SARS-CoV-2 in patients of novel coronavirus disease 2019. Clin Infect Dis. doi: 10.1093/cid/ciaa344. 19. Zhang, W., Du, R.-H., Li, B., Zheng, X.-S., Yang, X.-L., Hu, B., Wang, Y.-Y., Xiao, G.-F., Yan, B., Shi, Z.-L., Zhou, P., 2020. Molecular and serological investigation of 2019-nCoV infected patients: implication of multiple shedding routes. Emerg Microbes Infect 9, 386â&#x20AC;&#x201C;389. https://doi.org/10.1080/22221751.2020.1729071

29


Pemenang Nobel: COVID-19 akan Segera Usai, Benar atau Salah? Bari Ahmad Adhyasta1, Mutiara Auliya F1, Aldithya Fakhri1, Nathaniel Gilbert Dyson1, Teshalonica Mellyfera Irania1, Hansel Tengara Widjaja1 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

1

A. Abstrak Coronavirus disease 2019 (COVID-19) adalah sebuah penyakit yang mengakibatkan sebuah sindrom pernapasan dan merupakan sebuah pandemi global pada tahun 2020 ini. Puluhan negara sudah mengalami kasus terkonfirmasi dan sedang mengalami pertumbuhan kasus COVID-19 secara eksponensial. Banyak peneliti beranggapan bahwa jumlah kasus baru COVID-19 ini baru akan mengalami pengurangan dan mencapai titik stabil pada beberapa bulan, bahkan tahun yang akan datang. Berbeda dengan anggapan yang umum saat ini, seorang peraih penghargaan nobel di bidang kimia beranggapan berbeda, bahwa COVID-19 akan segera tuntas dalam hitungan minggu atau beberapa bulan yang akan datang. Hal tersebut didasari oleh bagaimana sebuah penyakit akan mengalami model perubahan pertumbuhan dari model eksponensial menuju model logistik. Artikel ini akan membahas mengenai prediksi Levitt serta kondisi COVID-19 untuk mengevaluasi apakah prediksi Levitt ini benar atau tidak, dan apakah prediksi ini dapat berlaku di Indonesia. Metode yang digunakan untuk menguji hipotesis Levitt adalah dengan cara membaca literatur-literatur yang ada, data-data kependuduan negara-negara, dan melihat data pertumbuhan kasus COVID-19 pada beberapa negara tertentu. Berdasarkan hasil pencarian literatur dan data, diketahui bahwa pada beberapa negara, kasus COVID mulai mengalami penurunan jumlah pertumbuhan kasus baru dan hipotesis Levitt mengenai laju mortalitas dan kasus baru dipengaruhi oleh jumlah populasi usia tertentu dan interaksi antar penduduk cukup sesuai dengan data persebaran COVID-19. Mengenai kasus COVID-19 di Indonesia, Indonesia memiliki kepadatan penduduk urban yang lebih tinggi dibandingkan contoh-contoh negara yang ada serta kebijakan yang diambil juga terdapat perbedaan, sehingga sulit untuk dikatakan apakah kasus COVID-19 di Indonesia akan segera usai seperti yang diprediksikan Levitt. Kata kunci: COVID-19, Levitt, laju pertumbuhan

30


B. Pendahuluan Selama dua dekade terakhir, penduduk dunia telah dibuat resah dengan kemunculan infeksi akibat virus Corona sebanyak tiga kali. Kemunculan kasus pertama yaitu Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) pada tahun 2003 dilanjutkan dengan Middle East Respiratory Syndrome (MERS) pada tahun 2012, dan yang paling baru dan sedang hangat diperbincangkan saat ini adalah COVID-19 yang disebabkan oleh SARS-CoV-2. Berdasarkan data, infeksi akibat SARS-CoV-2 telah mencapai angka yang yang jauh lebih tinggi dibandingkan kedua penyakit yang serupa sebelumnya. Hal ini membuktikan bahwa virus SARS-CoV-2 lebih efektif dalam hal penularannya. Beberapa jurnal dan penelitian bahkan memprediksi bahwa angka penularan yang disebabkan virus ini meningkat menurut deret eksponensial. Pernyataan tersebut didukung oleh fakta bahwa virus ini memiliki Ro antara 2 hingga 3.5 yang berarti laju penularan penyakit ini yaitu dari satu orang terinfeksi kepada 2 hingga 3 orang yang sehat (Guarner, 2020). Namun, beberapa waktu lalu, dalam sebuah kesempatan, Michael Levitt, seorang professor Biologi dari Stanford University, sekaligus penerima hadiah Nobel 2019 bidang Kimia, menyampaikan sebuah prediksi yang kontradiktif. Sebelumnya, beliau pernah menyampaikan bahwa menurut hasil penelitiannya, Tiongkok diprediksi akan mengalami dan mampu bertahan dalam krisis infeksi COVID-19 terburuknya. Beberapa saat setelahnya, prediksi Levitt terbukti benar dan Tiongkok pun dapat bertahan dari infeksi tersebut. Selanjutnya, Levitt juga sempat memprediksi bahwa jumlah kasus infeksi COVID-19 di Amerika Serikat akan mengalami penurunan dalam waktu dekat. Hal ini bertentangan dengan prediksi dari para peneliti dan organisasi kesehatan lainnya yang menyatakan bahwa penyakit ini akan bertambah buruk dan bahkan akan bertahan selama beberapa bulan dan bahkan tahun. Levitt

menyampaikan dua alasan yang mendukung pernyataannya tersebut.(Coronavirus: Nobel Prize winner predicts US will get through crisis sooner than expected | The Independent, no date) Pertama, prediksi bahwa laju penularan akan meningkat secara eksponensial dapat dibantahkan karena asumsi tersebut hanya berlaku apabila seorang yang terinfeksi selalu bertemu dengan seorang yang sehat setiap harinya. Faktanya, Levitt menjelaskan bahwa sebagian besar orang dalam lingkaran interaksi sosialnya akan bertemu dengan orang yang sama setiap hari. Kedua, Levitt juga menyampaikan bahwa meskipun belum terbukti secara klinis, namun beberapa hasil analisis data yang ia lakukan menunjukkan bahwa kemungkinan ada sekelompok orang yang secara alami memiliki imunitas tertentu terhadap penyakit ini. Sebagai contoh, kasus COVID-19 yang terjadi di Wuhan, Tiongkok, sebagai lokasi sumber penyebaran virus, hanya menginfeksi sekitar 3% dari keseluruhan populasi. Contoh lainnya, yaitu pada kasus Diamond Princess, sebuah kapal pesiar yang beberapa penumpangnya telah terindikasi COVID-19 memiliki angka infeksi yang relatif rendah, tidak mencapai 20%. Berdasarkan hasil analisis Levitt, kasus infeksi ini akan segera berakhir sehingga yang kita perlukan saat ini adalah mengendalikan kepanikan di masyarakat dan mengikuti setiap anjuran, termasuk social distancing dengan baik dan taat. Namun, sebenarnya bagaimanakah model penyebaran yang diperoleh Levitt? Apakah ada yang bisa kita pelajari dari kasus serupa yang telah terjadi di masa lalu untuk membantu mengatasi kasus infeksi COVID-19? Dalam makalah ini akan dibahas mengenai model penyebaran infeksi COVID-19, khususnya di Tiongkok, termasuk perbandingannya dengan beberapa kasus akibat virus serupa yang pernah terjadi sebelumnya.

31


C. Pembahasan 1. Prediksi Levitt, Model Penelitian, dan Evaluasinya Mengapa Levitt memprediksikan bahwa Amerika Serikat akan melewati krisis pandemi yang terjadi lebih cepat dibandingkan perkiraan yang telah ada sebelumnya? Untuk menjawab terkait hal ini ada baiknya kita menganalisis terlebih dahulu bagaimana prediksi algoritma matematis dari suatu penyakit infeksius diperkirakan. Secara epidemiologi, sebuah penyebaran penyakit pada tahap awal akan mengalami sebuah pertumbuhan jumlah kasus. Pertumbuhan ini pada umumnya mengikuti kurva pertumbuhan eksponensial dimana jumlah kasus dapat mengalami kelipatan setiap waktu tertentu. Tetapi pada suatu titik, kurva pertambahan kasus akan mengalami suatu pelandaian dan tidak lagi mengikuti kurva pertumbuhan eksponen dikarenakan faktor-faktor tertentu.

Gambar 1. Kurva Pertumbuhan COVID-19 pada beberapa negara di Eropa Dari gambar tersebut, dapat dilihat bahwa pada awal-awal masa infeksi, suatu penyakit akan mengalami pertambahan jumlah kasus yang sangat signfikan. Setelah penyakit mencapai titik tertentu maka jumlah pertumbuhan kasus baru akan mulai menurun. Negara-negara seperti Jerman, Spanyol, Perancis, dan Belanda pada masa awal kasus infeksi memiliki jumlah pertumbuhan kasus baru sebesar 35% dan dua minggu sebelum 25 Maret mulai menunjukkan penurunan jumlah pertambahan kasus baru, yaitu mulai mendekati grafik pertumbuhan sebesar 22%. Pertanggal 25 Maret, Perancis dan Spanyol kembali mengalami penurunan dalam pertambahan kasus baru yaitu 13%. Dari perlambatan kasus-kasus baru ini, pada durasi waktu tertentu sebuah penyakit akan mengalami perubahan kurva pertumbuhan dari model eksponensial menjadi model logistik. Pada beberapa negara, kasus COVIDâ&#x20AC;&#x201C;19 dapat diprediksikan

32


menggunakan Logistic Model yang secara umum digunakan dalam memprediksikan epidemiologi suatu penyakit infeksius di suatu daerah. Logistic Model umumnya digunakan untuk mengeksplorasi faktor risiko suatu penyakit tertentu dan memprediksikan probabilitas kejadian penyakit berdasarkan faktor risikonya. Secara kasar, kita dapat memprediksikan perkembangan dan pola transmisi penyakit melalui analisis regresi logistic model.

Qt adalah kasus kumulatif terkonfirmasi (kematian), a adalah jumlah maksimum terprediksi dari kasus terkonfirmasi (kematian), b dan c adalah koefisien. t adalah jumlah hari sejak kemunculan kasus pertama. t0 adalah waktu ketika kasus pertama terjadi. Berdasarkan hasil analisis statistik insidensi kasus COVID-19 yang terjadi di Wuhan, ditemukan bahwa jumlah kasus yang terjadi akan mengalami penurunan insidensi seiring dengan bertambahnya waktu. Penurunan insidensi kasus ini terprediksi oleh Logistic Model yang digunakan untuk memprediksi kasus epidemiologi ini.

Model Logistic menunjukkan prediksi yang akurat terkait penurunan insidensi kasus COVIDâ&#x20AC;&#x201C;19 perharinya. Logistic Model inilah yang menjadi dasar prediksi adanya penurunan insidensi COVID â&#x20AC;&#x201C; 19 pada suatu daerah. Pada dasarnya, memang benar pandemi ini akan mangalami penurunan insidensi infeksi dalam jangka waktu tertentu, namun laju infeksi dan waktu titik infleksi grafik epidemiologi (puncak tertinggi apocalypse yang dipengaruhi oleh laju infeksi) akan berbeda pada daerah satu dengan daerah lainnya. Laju infeksi akan berkaitan pula dengan durasi pandemi di suatu daerah. Menurut Levitt, hal tersebut dipengaruhi oleh faktor interaksi sosial, dan imunitas yang dimiliki oleh populasi terjangkit.

33


Lalu, hal apa yang menyebabkan perubahan model dari eksponensial menjadi model logistik? Mengapa Levitt tidak sepakat dengan prediksi penyebaran COVID-19 saat ini? Menurut Levitt, kesalahan prediksi jangka waktu prevalensi COVID-19 ini terjadi ketika individu dalam suatu populasi diasumsikan melakukan interaksi dengan orang yang baru setiap hari. Apabila seorang individu terjangkit kasus melakukan interaksi dengan orang baru setiap harinya, tentunya akan terjadi peningkatan laju infeksi secara signifikan dan berpengaruh terhadap tinggi titik infleksi grafik. Namun, apabila seorang individu membatasi interaksinya dengan individu lain dalam suatu populasi, tentunya laju infeksi tidak akan meningkat secara tajam.

2. Model Penyebaran COVID-19 2.1. Analisis Penyebaran Infeksi COVID-19 di Tiongkok Sejak pertama kali dilaporkan terjadi di Kota Wuhan pada pertengahan Desember 2019, kasus infeksi COVID-19 telah mengalami tiga fase penyebaran: local outbreak, community transmission, dan large-scale transmission. Fase pertama, yaitu local outbreak merupakan fase saat penularan virus SARS-CoV-2 didapatkan dari paparan langsung host yang diduga terdapat di pasar seafood di Kota Wuhan, Tiongkok. Fase kedua adalah pada saat penularan mulai terjadi pada antarkelompok masyarakat sehingga tidak lagi membutuhkan paparan langsung dengan hewan host. Fase ketiga adalah ketika penyebaran infeksi melewati batas wilayah dan bahkan batas negara karena mobilitas yang tinggi dari orang yang telah terinfeksi.(Jia et al., 2020) Berdasarkan data yang tercatat, pada awal kemunculan infeksi, jumlah pasien yang terdeteksi menderita COVID-19 di Kota Wuhan mengalami peningkatan yang sangat drastis. Pada Gambar 1, terlihat bahwa jumlah kasus infeksi COVID-19 pada kisaran bulan Januari hingga Februari mengalami pertumbuhan yang sangat cepat.

Gambar 1. Grafik menunjukkan jumlah kasus infeksi COVID-19 di berbagai provinsi di Tiongkok (per 20 Februari 2020)

34


Namun, seperti yang kita ketahui, pemerintah Tiongkok mengambil langkah tegas dan sigap dengan cara melakukan lockdown penuh di Kota Wuhan terhitung sejak tanggal 23 Januari 2020. Apabila kita melihat data lain, Gambar 2, mengenai jumlah pertambahan kasus baru, terjadi tren penurunan jumlah kasus baru sejak tanggal 5 Februari 2020. Tidak hanya di Kota Wuhan, tren yang hampir sama juga terjadi di beberapa kota lain di Tiongkok yang awalnya memiliki laju penularan yang tinggi.

Gambar 2. Grafik menunjukkan jumlah pertambahan kasus baru per hari mulai 23 Januari 2020 hingga 20 Februari 2020 Secara umum, dapat disimpulkan bahwa dalam kurung waktu sekitar 14 hari (satu periode inkubasi) sejak pemerintah memberlakukan kebijakan lockdown, jumlah pertambahan kasus baru infeksi COVID-19 cenderung mengalami penurunan. Bahkan, dalam kurung waktu sekitar 28 hari (dua kali periode inkubasi), jumlah pertambahan kasus baru mengalami penurunan drastis menjadi satu digit saja. Berdasarkan hasil kajian diatas, dapat kita simpulkan bahwa pemerintah Tiongkok telah berhasil mengendalikan penyebaran virus SARS-CoV-2 dengan kebijakan lockdown. Dengan berlakunya kebijakan tersebut, semua fasilitas transportasi publik dihentikan, seluruh kota dikarantina dan diawasi secara ketat. Setelah percobaan lockdown di Kota Wuhan membuahkan hasil, pemerintah juga memberlakukan kebijakan ini untuk beberapa kota lainnya di Provinsi Hubei, yakni kota-kota yang berdekatan dengan Kota Wuhan.(Lin et al., 2020)

2.2. Analisis Penyebaran Infeksi COVID-19 di Italia Italia mengalami kasus pertamanya pada tanggal 15 Febuari 2020 dengan jumlah kasus sebanyak 3 kasus terkonfirmasi. Dalam waktu tujuh hari dari kasus pertama, Italia melaporkan jumlah terkonfirmasi sebanyak 79 kasus, dalam waktu 14 hari kasus terkonfirmasi mencapai angka 1,128 kasus. Model pertumbuhan kasus COVID-19 di Italia masih mengikuti model eksponensial meskipun jumlah pertumbuhannya mengalami penurunan. Per tanggal 15 Maret, jumlah kasus

35


terkonfirmasi diprediksi akan mengalami kelipatan setiap empat hari sekali. Pada tanggal 9 Maret 2020, pemerintah Italia memberlakukan lockdown skala nasional untuk memerangi COVID-19, dapat dilihat bahwa empat belas hari dari tanggal 9 Maret, yaitu pada tanggal 23 Maret, mengikuti model pada Wuhan, kasus baru di Italia mengalami penurunan. Merujuk pada grafik pada Gambar 1, ada kemungkinan bahwa dalam beberapa minggu kedepan Italia akan mengalami puncak kasus yang terkonfirmasi sebelum mengalami penurunan jumlah kasus.

3. Penerapan Model Prediksi Levitt bagi Kasus COVID-19 di Indonesia Secara umum, prediksi Michael Levitt menunjukan ada dua parameter penting yang perlu ditinjau dalam upaya menurunkan jumlah penyebaran dan laju mortalitas pasien yang terinfeksi virus corona, yaitu presentase orang lanjut usia dan dinamika kebudayaan setempat yang memungkinkan adanya interaksi antarmanusia yang tinggi (Coronavirus: Nobel Prize winner predicts US will get through crisis sooner than expected | The Independent, no date). Jika ditinjau dari angka harapan hidup, angka harapan hidup yang dimiliki oleh Italia adalah 81,9 tahun untuk pria dan 86,0 tahun untuk wanita, sedangkan untuk angka harapan hidup di Tiongkok adalah 75,4 tahun untuk pria dam 79,7 tahun untuk wanita. Sekilas jika dilihat memang angka harapan hidup di Italia lebih tinggi dibandingkan di Tiongkok yang memungkinkan presentase orang lanjut usia di Italia akan lebih tinggi dibandingkan di Tiongkok. Jumlah mortalitas pasien COVID-19 di Italia sampai tanggal 26 Maret 2020 mencapai 7.503 jiwa dari 74.386 kasus, sedangkan di Tiongkok mencapai 3.287 jiwa dari 81.285 kasus. Pada data ini, dapat dilihat bahwa Italia, dengan jumlah kasus yang lebih sedikit dibandingkan Tiongkok, memiliki jumlah mortalitas yang lebih tinggi. Hal bisa dikaitkan dengan presentase orang lanjut usia yang lebih tinggi di Italia dibandingkan di Tiongkok. Indonesia memiliki angka harapan hidup yang lebih rendah dibandingkan Tiongkok dan Italia, yaitu sebesar 70,1 pada pria dan 74,6 pada wanita. Ketiga

36


negara ini memiliki angka harapan hidup yang meningkat dari tahuntahun sebelumnya, tetapi dapat menjadi gambaran bahwa setiap negara memiliki persentase jumlah orang dalam kelompok lanjut usia sehingga hal ini dapat menjadi pembeda mengenai tingkat mortalitas pada ketiga negara.(China Demographics 2020 (Population, Age, Sex, Trends) - Worldometer, no date; Italy Demographics 2020 (Population, Age, Sex, Trends) - Worldometer, no date) Interaksi antar penduduk di masing-masing negara juga akan mempengaruhi besarnya laju penyebaran virus corona karena kepadatan penduduk yang tinggi akan meningkatkan kemungkinan untuk satu orang dengan orang lainnya berinteraksi. Jika ditinjau dari kepadatan penduduk, Italia memiliki kepadatan penduduk sebesar 206 warga per km2, sedangkan Tiongkok memiliki kepadatan penduduk sebesar 153 warga per km2. Selain itu untuk mengetahui persebaran penduduk keduanya, 69,5% populasi Italia masuk dalam kategori penduduk urban sedangkan Tiongkok memiliki 60,8% penduduk yang masuk dalam kategori urban. Meskipun demikian, jumlah populasi Tiongkok yang masuk dalam kategori urban adalah 875 juta jiwa sedangkan Italia hanya sebesar 42 juta jiwa, hal ini belum tentu menggambarkan kondisi kepadatan penduduk urbannya. Tetapi apabila membandingkan daerah terpadat Tiongkok dengan Italia, kepadatan penduduk tertinggi di Tiongkok adalah daerah Heilongjiang dengan kepadatan sebesar 5,476 jiwa per tiap kilometer persegi, sedangkan daerah Milan saja memiliki kepadatan penduduk sebesar 7,551 jiwa per tiap kilometer persegi. Sejauh ini perbandingan Italia dengan Tiongkok sesuai dengan prediksi Levitt dimana jumlah penduduk tua yang lebih banyak serta interaksi antarmanusia mempengaruhi laju pertumbuhan kasus serta laju mortalitas. Berikut ini disajikan grafik jumlah kasus infeksi virus corona di Italia dan Tiongkok.(Italy Coronavirus: 74,386 Cases and 7,503 Deaths - Worldometer, no date; Coronavirus Update (Live): 492,034 Cases and 22,175 Deaths from COVID-19 Virus Outbreak - Worldometer, no date) Grafik 1. Jumlah kasus infeksi coronavirus terhadap tanggal

Keterangan: Grafik pada negara Italia (kiri) dan Tiongkok (kanan)

37


Lalu bagaimana dengan Indonesia? Indonesia memiliki kepadatan penduduk sebesar 151 warga per km2. 56,4% dari total penduduk Indonesia masuk dalam kategori penduduk daerah urban, yaitu 154 juta jiwa. Angka ini tentu lebih rendah dibandingkan dengan Italia dan Tiongkok, akan tetapi berbeda dengan Italia dan Tiongkok, daerah paling padat di Indonesia yaitu Daerah Khusus Ibukota dan Jawa Barat kepadatan penduduk yang sangat tinggi yaitu 14,464 jiwa per tiap kilometer persegi untuk daerah Jakarta dan sekitarnya, dua kali lipat dari kepadatan penduduk tertinggi daerah di Tiongkok ataupun Italia, sehingga memungkinkan sebuah kasus dimana Indonesia mungkin saja tidak akan sesuai dengan model atau prediksi Levitt bahwa COVID-19 akan segera usai dalam hitungan minggu. (China Demographics 2020 (Population, Age, Sex, Trends) - Worldometer, no date; Italy Demographics 2020 (Population, Age, Sex, Trends) - Worldometer, no date) Menurut Levitt, keputusan Italia dan Tiongkok untuk memberlakukan lockdown merupakan hal yang sangat tepat untuk mengurangi penyebaran virus corona ini. Namun, hal ini dimungkinkan bagi kedua negara tersebut, dengan menimbang nilai Produk Domestik Bruto (PDB/GDP) per kapita mereka yang lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Italia dan Tiongkok memiliki nilai PDB per kapita mencapai $32,038 dan $8,612 berturut-turut, sedangkan Indonesia meiliki nilai PDB per kapita sebesar $3,837 yang dapat memengaruhi stabiltas ekonomi, penghidupan serta kehidupan jutaan penduduk Indonesia apabila diberlakukan lockdown. Apabila lockdown akan diberlakukan, perlu dilakukan pertimbangan dari segi ekonomi dan sosial juga. (Gross Domestic Product (GDP) Worldometer, no date)

4.

Perbandingan Penyebaran SARS 2003 dan COVID-19

4.1.

Perbandingan profil kasus

Kajian yang akan dibandingkan adalah jumlah kasus terinfeksi dan persentase fatalitasnya.

38

Terdapat 1.072 kasus SARS yang dilaporkan pada tahun 2003 dengan perbandingan pasien pria dan wanita 1:1,26; tingkat mortalitas mencapai 4,01%, sedangkan pada kasus COVID-19 terdapat laporan sebanyak 346 kasus dengan rasio pria dan wanita 1:1,07; tingkat mortalitas 0,29%. Berdasarkan data tersebut, dapat kita simpulkan bahwa jumlah kasus infeksi COVID-19 yang terjadi di Kota Guangzhou lebih rendah dibandingkan infeksi SARS tahun 2003, dengan tingkat mortalitas yang jauh lebih rendah. Namun, dalam hal ini terdapat kemungkinan kesalahan yang disebabkan tidak seimbangnya perbandingan jumlah kasus infeksi antara keduanya di kota tersebut. Meskipun demikian, data mortalitas dapat menjadi salah satu acuan yang menunjukkan bahwa tingkat fatalitas akibat infeksi COVID-19 lebih rendah dibandingkan akibat infeksi SARS.

4.2.

Perbandingan karakteristik virus

Kasus SARS pertama yang dilaporkan di Kota Guangzhou terjadi pada tanggal 2 Januari 2003 dan mencapai puncak peningkatan dalam hal jumlah kasus infeksinya pada hari ke37, dimana terdapat 41 kasus baru pada hari tersebut (8 Februari 2003). Namun, setelah itu, kasus tersebut menunjukkan penurunan dan mencapai angka 0 kasus pada hari ke-129 (11 Mei 2003). Di sisi lain, kasus infeksi COVID-19 pertama di Kota Guangzhou terjadi pada tanggal 21 Januari 2020 dan mencapai puncak peningkatan jumlah pasien terinfeksi pada hari ke-11 (1 Februari 2020) dengan jumlah kasus baru sebanyak 38 kasus. Pada hari ke-35 (25 Februari 2020), kasus infeksi ini telah mencapai titik 0 kasus baru. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa durasi penyebaran infeksi COVID-19 di Kota Guangzhou lebih singkat dibandingkan infeksi SARS pada tahun 2003. Hal ini dapat diduga sebagai akibat dari kebijakan pemerintah Tiongkok yang melakukan lockdown pada Kota Wuhan dan beberapa kota di sekitarnya sehingga menekan jumlah penambahan kasus baru dalam jangka


waktu yang lebih singkat.

4.3.

Perbandingan karakteristik usia

Laporan kasus infeksi SARS pada tahun 2003 di kota Guangzhou menunjukkan bahwa ratarata usia pasien yang terinfeksi adalah 38 tahun dengan median 35 tahun. Komposisi terbesar berada dalam rentang usia 20-39 tahun (sekitar 56,72%). Di sisi lain, rata-rata usia pasien yang terinfeksi COVID-19 adalah 46 tahun dengan median 48 tahun. Berdasarkan kajian perbandingan yang telah dibahas di atas, dapat disimpulkan bahwa kasus infeksi COVID-19 sebenarnya telah mendapat penanganan dan kontrol yang jauh lebih baik daripada SARS 2003. Hal ini terbukti dari berbagai aspek yang menunjukkan bahwa, baik dalam hal jangka waktu penyebaran, maupun jumlah infeksi, COVID-19 memerlukan waktu yang lebih singkat dan jumlah infeksi yang lebih sedikit. Dengan demikian, Tiongkok, sebagai negara yang telah berhasil melawan virus Corona ini, dapat menjadi contoh bagi negara-negara lainnya yang saat ini masih berjuang keras melawan penyebaran infeksi ini.

penduduk sangat tinggi apabila dibandingkan dengan kasus yang ada (Tiongkok dan Italia), serta perbedaan pengambilan kebijakan oleh pemerintah, masih akan sulit untuk diprediksi kapan jumlah pertambahan kasus akan mencapai titik puncaknya. Saat ini Indonesia masih dalam tahap model pertumbuhan eksponensial, dengan perbedaan-perbedaan tadi dapat dikatakan bahwa permasalahan COVID-19 di Indonesia masih jauh dari titik akhirnya. Belum akan mengalami penyelesaian dalam beberapa minggu atau bulan, seperti yang diprediksikan oleh Levitt. Belajar dari kasus yang sudah ada, baru melihat hanya dari kondisi kepadatan penduduk, belum dari aspek kemampuan fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan dan ketahanan kesehatan nasional, perlu segera diambil kebijakan atau langkahlangkah yang lebih berdampak apabila kasus COVID-19 ini ingin segera dituntaskan.

D. Kesimpulan Prediksi Levitt mengenai kasus COVID-19 yang akan segera usai masih belum dapat dipastikan karena masih banyak variabel yang dapat mempengaruhi pertumbuhan COVID-19, tetapi sejauh ini secara global pertumbuhan jumlah kasus baru mengalami penurunan atau perubahan model dari model eksponensial menjadi model logistik pada negara-negara dengan jumlah kasus yang sudah cukup besar. Selain itu, faktor persentase populasi lanjut usia dan tingkatan interaksi antar penduduk yang dinilai dari kepadatan penduduk, cukup menggambarkan kondisi dari laju mortalitas dan laju pertumbuhan kasus baru COVID-19, dengan salah satu bentuk pembatasan interaksi yaitu lockdown, terbukti mengakibatkan pengurangan kasus COVID-19 baru. Indonesia, terutama daerah Jakarta dan Jawa Barat yang memiliki kepadatan

39


Referensi 1. China Demographics 2020 (Population, Age, Sex, Trends) - Worldometer (no date). Available at: https://www. worldometers.info/demographics/china-demographics/ (Accessed: 26 March 2020). 2. Coronavirus: Nobel Prize winner predicts US will get through crisis sooner than expected | The Independent (no date). Available at: https://www.independent.co.uk/news/world/ americas/coronavirus-michael-levitt-china-italy-a9422986. html (Accessed: 26 March 2020). 3. Coronavirus Update (Live): 492,034 Cases and 22,175 Deaths from COVID-19 Virus Outbreak - Worldometer (no date). Available at: https://www.worldometers.info/coronavirus/ (Accessed: 26 March 2020). 4. Gross Domestic Product (GDP) - Worldometer (no date). Available at: https://www.worldometers.info/gdp/ (Accessed: 26 March 2020). 5. Guarner, J. (2020) ‘Three Emerging Coronaviruses in Two Decades’, American Journal of Clinical Pathology, pp. 420– 421. doi: 10.1093/ajcp/aqaa029. 6. Italy Coronavirus: 74,386 Cases and 7,503 Deaths - Worldometer (no date). Available at: https://www. worldometers.info/coronavirus/country/italy/ (Accessed: 26 March 2020). 7. Italy Demographics 2020 (Population, Age, Sex, Trends) - Worldometer (no date). Available at: https://www. worldometers.info/demographics/italy-demographics/ (Accessed: 26 March 2020). 8. Jia, L. et al. (2020) ‘Prediction and analysis of Coronavirus Disease 2019’, (December). Available at: http://arxiv.org/ abs/2003.05447. 9. Li, X. Q. et al. (2020) ‘Comparison of epidemic characteristics between SARS in2003 and COVID-19 in 2020 in Guangzhou’, Zhonghua liu xing bing xue za zhi = Zhonghua liuxingbingxue zazhi. doi: 10.3760/cma.j.cn112338-20200228-00209. 10. Lin, B. et al. (2020) ‘Epidemiological Trends of Coronavirus Disease 2019 in China’, medRxiv, 2019, p. 2020.03.13.20035642. doi: 10.1101/2020.03.13.20035642. 11. Yuan DF, Ying LY, Dong CZ. Research progress on epidemic early warning model. Zhejiang Preventive Medicine. 2012;8:20-24. China University of Geoscience. Beijing: 2019.

40


Usulan Konsolidasi untuk Donasi yang Lebih Terkoordinasi dan Terarah Aditya Parawangsa1, Angelina Patricia Candra1, Angelica Riadi Alim Suprapto1, Fadlika Harinda1, Kelvin Kohar1, Nabila Yulianingrum Adella Visco1 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

1

Abstrak Tenaga medis menjadi garda terdepan negara dalam menghadapi pandemi COVID-19. Di samping harus bekerja lebih keras, tenaga medis juga dihadapkan dengan berbagai keterbatasan seperti kurangnya ketersediaan alat pelindung diri (APD) dan nutrisi, serta dibatasinya interaksi dengan keluarga karena protokol isolasi yang wajib diikuti selama merawat pasien di tengah pandemi. Hal ini mendorong berbagai kalangan di Indonesia untuk menggalang donasi untuk membantu tenaga medis. Adanya penggalangan dana masif ini belum terkoordinasi dengan baik. Penggalang dana tidak jarang kurang mempunyai perencanaan yang matang mengenai alokasi donasi. Pemerintah melalui kementerian terkait dinilai lamban dalam menanggapi fenomena ini. Padahal dengan koordinasi yang terpusat, alokasi dana dapat dilakukan lebih merata dan terkoordinasi lebih baik. Oleh karena itu, melalui artikel ini kami mendesak pemerintah untuk segera melakukan upaya konsolidasi donasi agar hasil donasi lebih terkoordinasi, terarah, dan tepat sasaran sesuai dengan kebutuhkan. Kata kunci: COVID-19, Konsolidasi donasi, koordinasi

41


Pendahuluan Kasus COVID-19 pertama di Indonesia tercatat terkonfirmasi pada tanggal 2 Maret 2020. Saat itu Presiden Joko Widodo mengumumkan dua kasus pertama warga negara Indonesia (WNI) yang positif terinfeksi virus SARS-CoV2. Selanjutnya, jumlah kasus positif COVID-19 meningkat secara eksponensial. Per tanggal 27 Maret 2019, angka kasus COVID-19 di seluruh indonesia telah mencapai 1046 kasus dengan diperkirakan masih akan terus bertambah. Pemerintah Indonesia sudah mengeluarkan kebijakan untuk membantu tenaga kesehatan melalui Kementerian Kesehatan. Meskipun demikian, penanganan COVID-19 pada saat ini mencerminkan ketidaksiapan pemerintah akibat upaya antisipasi yang kurang memadai. Kurangnya antisipasi ini terlihat melalui minimnya edukasi dini yang memadai mengenai upaya pencegahan transmisi virus SARS-CoV2 kepada masyarakat. Kementerian Kesehatan mulai membawa topik SARS-CoV2 melalui akun media sosial sejak 18 Januari 2020. Sayangnya, guideline resmi dari Kementrian Kesehatan baru dirilis pada tanggal 16 Maret 2020, di mana pada kasus COVID-19 di Indonesia sudah mencapai 134 kasus terkonfirmasi positif dengan lima kasus meninggal dunia. Kurangnya edukasi dini yang memadai serta menyeluruh, membuat edukasi masyarakat kini harus dilakukan secara ekstra di tengah status kegawatan nasional. Edukasi pentingnya social distancing pun menjadi salah satu edukasi yang masih harus dilakukan karena pemahaman masyarakat yang belum merata, bahkan setelah kasus COVID-19 di Indonesia berada di tingkat penyakit dengan transmisi lokal. Padahal, social distancing bersifat fundamental bagi limitasi transmisi virus SARS-CoV2. Hal ini mencerminkan tidak efektifnya tindakan preventif yang dilakukan oleh pemerintah.

42

Pemerintah harus lebih fokus dalam penanganan pandemi COVID-19. Ketidakfokusan pemerintah terhadap pandemi dicerminkan dengan kebijakan-kebijakan baru yang dikeluarkan oleh pemerintah yang tidak terkait pandemi ini. Salah satu contohnya adalah omnibus law yang memicu kontroversi di masyarakat dan menurunkan fokus pemerintah terhadap pandemi COVID-19. Selain itu, minimnya antisipasi pemerintah menambah beban dalam penanganan COVID-19 kini. Pemerintah dinilai kewalahan dalam mencukupi pasokan alat kesehatan yang diperlukan untuk penanganan COVID-19. Hal ini dapat dilihat dengan kurangnya supply alat pelindung diri (APD) bagi tenaga kesehatan dan fasilitas isolasi bagi pasien. Tenaga kesehatan bagaikan berada di medan perang melawan COVID-19 tanpa dibekali senjata dan pelindung diri yang memadai. Edukasi dini di tahap awal penyebaran virus yang kurang memadai berkontribusi terhadap fenomena panic buying APD seperti masker, hand glove, dan hand-sanitizer di masyarakat. Tajamnya peningkatan permintaan yang dihadapkan dengan stok yang terbatas menyebabkan lonjakan harga APD. Sebagai imbasnya, penyediaan APD bagi tenaga kesehatan membutuhkan anggaran ekstra di tengah jumlah stok yang kian menipis. Keadaan kemudian diperkeruh dengan adanya pihak tidak bertanggung jawab yang menjual APD dengan harga yang tidak masuk akal untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Seiring bertambahnya kasus COVID-19 di Indonesia, berbagai pihak mulai menggalang donasi untuk membantu pemerintah mengatasi situasi ini. Namun, banyaknya aksi penggalangan donasi tersebut kerap tidak diikuti dengan perencanaan alokasi yang jelas sehingga rawan terhadap penyalahgunaan. Selain itu, dari pihak pemerintah sendiri belum memberikan kebijakan yang mengatur konsolidasi penggalangan dana dari pihak-pihak terkait sehingga pihak penggalang dana bekerja secara mandiri, tidak terkait satu sama lain, meskipun secara umum


memiliki tujuan yang sama. Oleh karena itu, Pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas dinilai perlu untuk melakukan konsolidasi donasi untuk mengkoordinasi dana yang telah terkumpul dan mengatur penggalangan dana kedepannya agar lebih terarah dan tepat sasaran.

Pembahasan 1. Pembentukan Alur Konsolidasi dan Distribusi Donasi yang Jelas oleh Pemerintah Bila kita melakukan benchmarking, Pemerintah Britania Raya mempunyai komisi tersendiri yang mengatur alur dana sosial dengan membuat portal daring terpadu. Alur satu pintu ini memudahkan masyarakat untuk memulai penggalangan donasi dan mengecek kredibilitas penggalang bagi calon donatur. Bahkan, dalam portal tersebut juga terdapat tempat pengaduan terhadap penggalangan dana yang dirasa mencurigakan. Pada sistem ini, pemerintah dipercaya mampu mengelola donasi dengan baik di mata masyarakat.

Gambar 1. Tampilan depan laman Charity Commision (Sumber: https://www.gov.uk/government/organisations/ charity-comission) Indonesia sendiri telah memiliki beberapa produk hukum terkait penggalangan uang dan barang untuk kepentingan sosial, antara lain Undang-undang Nomor 9 Tahun 1961 tentang Pengumpulan Uang atau Barang dan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1980 tentang Pelaksanaan Pengumpulan Sumbangan. Kasus COVID-19 didefinisikan sebagai bencana non alam menurut Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Dalam kedua produk hukum terkait penggalangan dana sosial tersebut tercantum bahwa penggalangan dana untuk bencana nonalam dapat dilakukan tanpa perlu mengurus izin terlebih dulu dan tetap

43


bertanggung jawab kepada menteri. Menurut Peraturan Pemerintah tersebut, menteri berperan untuk menunjuk organisasi pelaksana penggalangan dana. Namun, hingga saat ini, belum ada peraturan jelas yang mengatur alur koordinasi terpusat mengenai bagaimana seharusnya sumbangan ini dialokasikan dan didistribusikan. Dengan produk hukum yang ada, pemerintah tentunya harus segera menunjuk organisasi yang bertugas untuk mengkonsolidasi penggalangan dan distribusi donasi. Pemerintah juga perlu mengeluarkan kebijakan baru yang mengatur fungsi pengawasan terhadap organisasi tersebut. Hal yang perlu diawasi oleh pemerintah terutama adalah mengenai bagaimana organisasi ini mendata dan mengimbau pihak-pihak yang melakukan penggalangan dana terkait suatu musibah (yang dalam konteks ini pandemi COVID-19), memastikan kredibilitas penggalang dana, mengaudit rekapitulasi donasi dari semua penggalang donasi, melakukan konsolidasi bagi pihak-pihak terlibat, baik dalam penggalang, supplier barang, distributor, atau pihak lainnya, dan membuka pusat aduan bagi masyarakat untuk melaporkan masalah yang berkaitan dengan penggalangan dana yang ada.

2. Pelaksanaan Kebijakan Konsolidasi Donasi yang Diiringi Pemantauan Pemerintah dan Pendataan Kebutuhan yang Jelas di Setiap Daerah Poin kedua yang ingin ditekankan adalah mengenai alur distribusi yang perlu dirinci dan dilaksanakan segera setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan konsolidasi donasi tersebut. Kebijakan harus bersifat konkret, berupa langkah yang akan diambil secara rinci oleh pemerintah dalam mendistribusikan donasi yang terkumpul sesuai dengan kebutuhan di setiap daerah. Distribusi donasi ini harus mempertimbangkan dua aspek, yaitu daerah dan kebutuhan.

44

Dari aspek daerah, setiap wilayah terjangkit COVID-19 di Indonesia yang menjadi titik persebaran COVID-19 ini harus mendapatkan pertolongan pemerintah. Realita yang terjadi saat ini adalah sebagian besar distribusi donasi masih terbatas pada lingkup yang sempit, karena banyaknya penggalang dana yang berdomisili di kota besar seperti Jakarta. Saat ini kasus terkonfirmasi COVID-19 memang banyak ditemukan di wilayah kota Jakarta dan sekitarnta sehingga wajar bila banyak bantuan yang disalurkan ke Rumah Sakit Rujukan COVID-19 di wilayah tersebut. Akan tetapi, terdapat banyak rumah sakit yang tersebar di tiap daerah terjangkit lainnya yang juga membutuhkan bantuan donasi tersebut, terutama bantuan Alat Pelindung Diri (APD). Dari aspek kebutuhan, saat ini belum terdapat pendataan kebutuhan yang jelas di setiap rumah sakit. Bila pemerintah mampu melakukan pendataan kebutuhan tersebut, pemenuhan kebutuhan tersebut dapat dilakukan secara merata melalui sistem konsolidasi donasi yang dilakukan oleh berbagai instansi maupun individu seperti social influencer. Jika kedua aspek telah ditangani dengan baik oleh pemerintah, sebagai upaya penyaluran konsolidasi donasi untuk tenaga kesehatan, pemerintah juga perlu memperhatikan beberapa hal berikut, antara lain: â&#x20AC;˘

â&#x20AC;˘

â&#x20AC;˘

Penyediaan konsumsi tenaga kesehatan yang seringkali terlupakan di tengah kesibukan melayani pasien yang begitu banyak, Penyaluran dana untuk penelitian COVID-19 dan vaksinnya, bila memungkinkan Pengadaan fasilitas kesehatan sesuai kebutuhan penanganan pasien COVID-19 yang jumlahnya meningkat secara eksponensial, seperti ruang isolasi, supply peralatan medis, APD, maupun perangkat uji diagnosis untuk deteksi infeksi SARS-CoV2 yang memadai


3. Pembangunan Kepercayaan Donatur dengan Alur Distribusi dan Laporan Keuangan yang Transparan Organisasi yang akan ditunjuk pemerintah sebagai penggalang dana perlu membangun kepercayaan agar pihak donatur dapat merasa yakin bahwa bantuan dana yang diberikan benar tersalurkan secara tepat. Pembangunan kepercayaan dapat diupayakan melalui laporan keuangan yang jelas. Laporan keuangan tersebut berisi perputaran dana yang dilaksanakan oleh pihak penggalang dana tersebut. Cara tersebut telah dilaksanakan oleh beberapa pihak penggalang dana, seperti: AMSA (Asian Medical Students Association), COHOPE, Nutrisi Garda Terdepan (NGT) yang memberikan laporan keuangan harian melalui platform media sosial yang bersangkutan. Laporan tersebut berisi rincian penerimaan dan pengeluaran dana. Laporan keuangan yang dibagikan di media sosial dapat mempermudah akses data oleh masyarakat sehingga mampu menjadi bukti konkret transparansi. Bila telah terdapat organisasi resmi yang ditunjuk oleh Kementerian Sosial, pihak-pihak tersebut dapat dikonsolidasi. Selain itu, kepercayaan juga dapat dibangun melalui adanya bukti bahwa donasi tersebut tersalurkan secara tepat sasaran. Bukti tersebut dapat berupa foto penyerahan barang, waktu, lokasi, surat tanda penyerahan barang, dan sebagainya. Untuk menarik kepercayaan donatur, organisasi konsolidasi penggalangan dana yang ditunjuk pemerintah dapat melakukan publikasi melalui berbagai media. Publikasi ini bertujuan untuk mengkonfirmasi kredibilitas suatu penggalangan dana yang sedang berlangsung. Banyak masyarakat yang ingin terlibat dalam upaya pemerintah mengatasi pandemi COVID-19 di Indonesia. Hal tersebut mendatangkan munculnya berbagai donatur, dimulai dari tingkat individu, kelompok, hingga perusahaan yang bersifat bebas dan tidak terbatas. Oleh karena itu, sebagai koordinator dana, suatu penggalang dana membutuhkan kredibilitas yang terkonfirmasi dan memberikan

laporan keuangan secara transparan sebagai bentuk tanggung jawab atas kepercayaan yang telah diberikan sekaligus membangun kepercayaan bagi donatur lainnya.

4. Peran Mahasiswa dalam Konsolidasi Donasi COVID-19 pada Skala Nasional Peran mahasiswa adalah sebagai agent of change, yakni agen perubahan. Mahasiswa diharapkan mampu memotivasi, mendorong, dan mempelopori terjadinya suatu perubahan serta pembaharuan yang positif pada suatu kebijakan pemerintah. Mahasiswa mempunyai peluang untuk berinteraksi dan bertukar pendapat dengan masyarakat. Bila hal ini digabungkan dengan keilmuan yang dimiliki, mahasiswa sangat berpotensi memberikan masukan yang baik untuk pemerintah. Dengan demikian, mahasiswa mempunyai tanggung jawab yang besar, dalam memberi masukan untuk membantu pemerintah dalam membuat kebijakan terutama di tengah pandemi COVID-19. Dalam melaksanakan peran tersebut, mahasiswa tidak jarang menemui banyak hambatan dan rintangan untuk mewujudkan usulan kebijakan yang tepat dan dapat didengar oleh pemerintah. Oleh karena itu, perlu adanya kerja sama antara mahasiswa dengan berbagai pihak termasuk masyarakat umum. Pemerintah terutama melalui Kementerian terkait harus terbuka dengan pendapat dari mahasiswa dan pakar agar dapat membentuk kebijakan yang lebih menguntungkan bagi semua pihak. Dalam hal ini, mahasiswa memiliki peran untuk menyampaikan aspirasi dan mengajukan solusi untuk memperbaiki kondisi sosial sebagai bentuk kepekaan terhadap kebijakan pemerintah. Dengan memiliki pemikiran yang kritis dalam analisis suatu kebijakan serta rasa semangat yang tinggi, mahasiswa dapat membangun usulan pembaharuan dalam kebijakan yang dapat didengar dan diterima oleh pemerintah. Pergerakan mahasiswa dapat diinisiasi dan dikoordinasi oleh ISMKI

45


sebagai organisasi kemahasiswaan kedokteran terbesar di Indonesia yang saat ini telah bekerja sama bersama dengan Kemendikbud untuk menggiring relawan dalam membantu garda terdepan, baik relawan medis maupun non-medis.

5. Standar APD dan Bahan APD Sebagai Donasi Untuk Tenaga Kesehatan Secara umum, terdapat beberapa prinsip yang harus dipenuhi terkait dengan APD, yaitu: a. Mampu memberikan perlindungan terhadap bahaya spesifik / bahaya yang dihadapi (percikan, baik kontak langsung maupun tidak langsung) b. Seringan mungkin agar nyaman c. Fleksibel (reuse atau disposable) d. Tidak menimbulkan bahaya tambahan e. Tidak mudah rusak f. Memenuhi ketentuan standar yang ada g. Pemeliharaan mudah h. Tidak membatasi gerak APD yang diperlukan oleh kesehatan dalam menghadapi COVID-19 adalah:

tenaga wabah

a. Masker, berupa: masker bedah; masker N95. Alternatif lain yang dapat digunakan adalah Elastomeric respirator dan Powered Air-Purifying Respirators (PAPR). Masker N95 dapat dibuka dan dipasang kembali sebanyak 5 kali selama 8 jam, kecuali jika masker N95 telah digunakan untuk tindakan aerosol. b. Pelindung wajah (face shield/ facemask) dengan menggunakan bahan plastik jernih transparan yang bersifat kedap air dan menutup hingga ke bawah dagu. c. Pelindung mata (goggles) yang harus mampu disegel ketat di sekitar hidung dan mata. Alternatif lain yang dapat digunakan adalah kacamata renang atau kacamata sekali pakai (disposable), yang dapat digunakan

46

kembali (reusable) setelah desinfeksi. d. Apron dengan menggunakan bahan plastik sekali pakai atau bahan plastik dengan kualitas tinggi yang dapat digunakan kembali (reusable). e. Jubah/gown, dengan menggunakan bahan synthetic fiber, seperti: polypropylene, polyester, polyethylene (sekali pakai); atau bahan 100% katun/100% polyester/ kombinasi keduanya (dapat digunakan berulang maksimal 50 kali tanpa kerusakan). Alternatif lain yang dapat digunakan adalah jubah laboratorium atau jas hujan sekali pakai (disposable) yang dikombinasikan dengan apron panjang. f. Sarung tangan yang ideal harus mampu tahan robek, tahan bocor, biocompatibility (tidak toksik), dan pas di tangan. Bahan yang dapat digunakan yaitu: lateks karet, polyvinyl chloride (PVC), nitrile, polyurethane. Alternatif lain yang dapat digunakan adalah sarung tangan rumah tangga yang tebal. g. Penutup kepala, dengan menggunakan bahan: tahan terhadap cairan, tidak mudah robek, dan ukuran pas di kepala. Alternatif lain yang dapat digunakan adalah surgical hood, topi renang, dan topi hiking. h. Sepatu pelindung yang mampu menutupi seluruh kaki hingga betis (apabila gaun tidak mampu menutup hingga bawah). Bahan yang dapat digunakan yaitu: karet, bahan tahan air, atau dilapisi dengan kain tahan air. Alternatif lain yang dapat digunakan adalah sepatu kets tertutup dengan pelindung sepatu/shoe covers. Catatan: Alternatif APD tidak berlaku di luar masa krisis.


Kesimpulan Meskipun telah banyak gerakan penggalangan donasi kepada tenaga medis yang berada di garis depan mengobati pasien COVID-19, penggalangan donasi tetap perlu dikoordinasi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Di sini kami mendesak pemerintah untuk memimpin koordinasi melalui organisasi yang ditunjuk pemerintah melalui Menteri Sosial dan memberikan fungsi pengawasan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan baru. Organisasi tersebut harus mampu mendata, mengecek, dan mengaudit semua pihak yang terlibat dalam penggalangan dana untuk memastikan seluruh donasi terarah dan tepat sasaran. Selain itu, konsolidasi dan distribusi donasi harus dilakukan secara proporsional dan menggandeng pihak yang sudah terlanjur turun ke lapangan. Adapun bentuk donasi yang disalurkan bila berupa barang seperti APD haruslah menyesuaikan dengan standar yang ada agar pemanfaatannya optimal. Mahasiswa sebagai agen perubahan yang membawa sebagian pesan masyarakat bisa menjadi teman diskusi bagi pemerintah untuk membuat kebijakan baru ini bersama pakar di bidangnya.

Referensi 1. Berman, K., 2013. Students as Agents of Change. Third Text, 27(3), pp.387-399. 2. CNN Indonesia. 2020. Jokowi: Stok Terbatas, Butuh 3 Juta APD Sampai Akhir Mei. [online] Available at: <https:// w w w. c n n i n d o n e s i a . c o m / n a s i o n al/20200330152259-20-488318/jokowistok-terbatas-butuh-3-juta-apd-sampaiakhir-mei> [Accessed 10 April 2020]. 3. GOV.UK. 2020. The Charity Commission. [online] Available at: <https://www.gov. uk/government/organisations/charitycommission> [Accessed 27 March 2020]. 4. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2020. Petunjuk Teknis Alat Pelindung Diri (APD). Jakarta: Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 1980 tentang Pelaksanaan Pengumpulan Sumbangan. Lembaran Negara RI Tahun 1980 No.49. Sekretariat Negara, Jakarta. 6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1961 tentang Pengumpulan Uang atau Barang. Lembaran Negara RI Tahun 1961 No. 214. Sekretariat Negara, Jakarta. 7. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Lembaran Negara RI No. 66. Sekretariat Negara, Jakarta. 8. Setya, D., 2020. Salut! Netizen Patungan Kirim Makanan Untuk Para Perawat Dan Dokter. [online] detikfood. Available at: <https://food.detik. com/info-kuliner/d-4950323/salutnetizen-patungan-kirim-makananuntuk-para-perawat-dan-dokter?_ ga=2.95087263.206965244.15853269591890232528.1582193530> [Accessed 27 March 2020]. 9. Sholekan, M., 2020. NGT Beri Bantuan Makanan Dan Minuman Bergizi Untuk Rumah Sakit Rujukan Virus Corona Di Semarang - Tribun Jateng. [online] Tribun Jateng. Available at: <https://jateng. tribunnews.com/2020/03/27/ngt-beribantuan-makanan-dan-minuman-bergiziuntuk-rumah-sakit-rujukan-virus-corona-disemarang> [Accessed 27 March 2020]. 10. Widiyanto, A., 2020. Donasi APD Kepada Relawan Co Hope. [online] mediaindonesia.com. Available at: <https://m.mediaindonesia.com/galleries/ detail_galleries/13737-donasi-apdkepada-relawan-co-hope> [Accessed 27 March 2020]. 11. Iqbal M. 2020. Update Covid-19 16 Maret: 134 Positif, 5 Meninggal, 8 Sembuh. [online] CNBC Indonesia. Available at: <https://www.cnbcindonesia.com/ news/20200316173143-4-145283/ update-covid-19-16-maret-134-positif-5meninggal-8-sembuh

47


Melawan COVID-19 Menggunakan Disinfektan Bagas Ariffandi1, Eko Ngadiono1, Lyanna Azzahra1, Kevin Tjoa1, Reyza Tratama1, Hansel Tengara Widjaja1 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia

1

A. Abstrak Proses disinfeksi berperan penting dalam mencegah penularan COVID-19. Berbagai zat disinfektan dapat digunakan untuk membunuh virus SARS-CoV-2 dengan konsentrasi dan aktivitas virusidal berbeda. Penggunaan bahan pembersih rumah tangga yang mengandung natrium hipoklorit pada konsentrasi tertentu dapat menjadi alternatif disinfektan, tetapi harus diiringi dengan penggunaan alat pelindung diri (APD) yang tepat . Masyarakat yang terpaksa harus bekerja di luar rumah diharapkan untuk dapat mengakses kamar disinfektan. Penggunaan bilik disinfeksi atau penyemprotan disinfektan tidak direkomendasikan karena berbagai efek samping yang ditimbulkannya. Mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun tetap menjadi metode disinfeksi yang paling direkomendasikan. Kata kunci: disinfektan, bilik disinfeksi, natrium hipoklorit, cuci tangan

48


B. Pendahuluan Saat ini, dunia sedang digemparkan oleh sebuah penyakit yang disebabkan virus SARSCoV-2 atau lebih dikenal sebagai Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Penyakit ini dengan cepat menjadi masalah pandemi yang belum diketahui kapan akan berakhir. Berbagai langkah telah dilakukan oleh pemerintah di banyak negara terjangkit, mulai dari lockdown (menutup rapat akses masyarakatnya untuk keluar), physical distancing (menjaga jarak fisik yang aman), meminta masyarakat menghindari pusat keramaian, hingga berbagai langkah dekontaminasi dan disinfeksi massal. Namun demikian, jumlah pasien terjangkit dan angka kematian hingga kini belum menunjukan penurunan yang berarti. Beberapa waktu lalu beredar kabar di jejaring media sosial tentang upaya masyarakat untuk melakukan proses disinfeksi secara mandiri, antara lain menggunakan bahan pemutih baju sebagai bahan aktif disinfeksi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dikabarkan telah menyetujui metode tersebut. Benarkah bahan pemutih baju dapat digunakan sebagai agen disinfeksi? Lalu apakah masyarakat dapat melakukan proses disinfeksi tersebut di rumah? SARS-CoV-2 merupakan virus RNA yang ditularkan terutama melalui droplet pasien terinfeksi, yaitu percik renik atau ‘cipratan’ saluran napas pasien yang dikeluarkan pada saat batuk, berbicara, atau bersin. Individu yang berkontak erat dalam jarak 6 kaki atau 1,8 meter dengan pasien dapat terkena langsung droplet, sehingga terjadilah proses penularan. Penelitian terbaru menunjukan SARS-CoV-2 dapat bertahan selama jangka waktu tertentu pada permukaan benda tertentu. Virus ini sangat stabil di permukaan plastik dan stainless steel selama 72 jam, dapat bertahan hingga 4 jam pada benda yang terbuat dari tembaga, serta 24 jam pada permukaan kardus (van Doremalen et al., 2020). Beberapa jenis virus Corona dilaporkan mampu bertahan pada permukaan benda mati dan tetap infeksius hingga 9 hari (Kampf et al, 2020). Kemampuan

SARS-CoV-2 untuk bertahan hidup pada kondisi tersebut berperan penting dalam proses penularan. Individu yang tidak memiliki riwayat kontak langsung dengan pasien, dapat juga tertular akibat berkontak dengan benda terkontaminasi virus yang masih hidup. Kondisi itu menyebabkan masyarakat seolah tidak memiliki pilihan, selain melakukan disinfeksi mandiri dengan bahan yang tersedia.

C. Pembahasan Apa Sebenarnya Disinfektan?

yang

Dimaskud

Disinfeksi merupakan proses untuk menghilangkan mikroorganisme penyebab penyakit pada benda mati, kecuali spora bakteri (WHO, 2014, 2020). Disinfektan merupakan bahan kimia yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme penyebab penyakit, dengan tujuan untuk menghilangkan atau mengurangi jumlah mikroorganisme tersebut (CDC, 2019). Proses disinfeksi seringkali dikaitkan dengan istilah ‘antisepsis’, ‘asepsis’, maupun ‘sanitizer’. Adapun istilah ‘antiseptik’ diartikan sebagai pengurangan jumlah mikroba pada jaringan atau makhluk hidup. Pada halnya penggunaan hand sanitizer sebagai perilaku antiseptik, penggunaan disinfektan umumnya menggunakan cairan kimia germisidal yang terlalu berbahaya untuk diaplikasikan ke jaringan dikarenakan efek korosif dan toksisitasnya (Sandle, 2016). Berbeda dengan ‘sterilisasi’, disinfektan tidak bersifat membunuh spora (sporosidal) sehingga hanya mengeradikasi sebagian kecil spora bakteri. Adapun sterilisasi merupakan proses menghilangkan atau mematikan seluruh bentuk dari kehidupan mikroba. Disinfeksi dan sterilisasi digunakan beriringan dalam praktik klinis di dunia kesehatan (CDC, 2016).

Jenis dan Kandungan Disinfektan Berbagai jenis disinfektan dapat diklasifikasikan berdasarkan sifat kimia, mekanisme kerja, atau efek mikrostatik-

49


mikrosidal terhadap mikroorganisme yang ditargetkan. Klasifikasi utama disinfektan adalah kelompok pengoksidasi dan bukan pengoksidasi. Disinfektan kelompok pengoksidasi bekerja dengan cara mengoksidasi membran sel atau lapisan pembungkus mikroba yang akan menghancurkan struktur mikroba dan menyebabkan lisis (pecah) dan mati. Disinfektan yang termasuk ke dalam kategori ini antara lain: alkohol, campuran amonium kuartener, dan fenol. Disinfektan bukan pengoksidasi memiliki mekanisme kerja lebih spesifik, tergantung pada zat aktif yang digunakan, sehingga kemampuannya juga lebih terbatas. Disinfektan yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah halogen, asam perasetat, dan hidrogen peroksida (Sandle, 2016). Selain menggunakan zat kimia, disinfeksi juga dapat dilakukan dengan cara lain, misalnya penggunaan metal mikrobisidal, radiasi UV, pasteurisasi, sampai disinfector berbasis air. Pada praktik kesehatan, disinfektan dapat digunakan secara tunggal atau dengan kombinasi. Kombinasi disinfektan dapat mengandung alkohol, klorin atau campuran klroin, formaldehid, glutaraldehid, ortoftalaldehid, hidrogen peroksida, iodoform, asam perasetat, fenol, serta campuran amonium kuartener. Formulasi kombinasi disinfektan harus disesuaikan dengan tujuan dan sifat dari masing-masing komposisinya demi keamanan dan efisiensi pemakaian (CDC, 2016).

Mekanisme Kerja Disinfektan dalam Membasmi Virus Target mekanisme kerja disinfektan pada virus meliputi amplop/selubung virus, kapsid/ pembungkus materi genetik virus, serta genom virus. Pelepasan materi genetik virus dari lapisan pelindungnya serta penghancuran kapsid merupakan mekanisme terpenting untuk mematikan virus. Hal itu terjadi karena sebagian besar materi genetik virus akan menjadi inaktif ketika terlepas dari kapsid. Inaktivasi virus baru akan sempurna apabila materi genetik virus juga dihancurkan (Mcdonnell and Russell, 1999).

50

Setiap famili virus memiliki sensitivitas yang bervariasi terhadap disinfektan. Famili virus yang memiliki amplop biasanya lebih sensitif terhadap disinfektan (Mclachlan and Dubovi, 2017). Resistensi virus terhadap disinfektan berkaitan dengann sifat alamiahnya, yaitu sifat lipofilik (larut lemak) atau hidrofilik (larut air). Virus dengan struktur lipofilik akan lebih sensitif terhadap disinfektan yang juga berjenis lipofilik. Struktur virus yang larut dengan disinfektan menyebabkan virus terlepas dari benda yang didisinfeksi, kemudian dihancurkan sehingga virus akan terinaktivasi. Dengan cara inilah transmisi virus dapat dihentikan. (Mcdonnell and Russell, 1999)

Disinfeksi Mandiri di Rumah, Perlukah? Center for Disease Control and Prevention (CDC) sendiri telah mengeluarkan rekomendasi terkait disinfeksi dan dekontaminasi mandiri yang dapat dilakukan di rumah. Proses disinfeksi mandiri ini dilakukan apabila terdapat anggota keluarga yang telah menjadi minimal orang dalam pemantauan (ODP). Untuk rumah tangga yang anggota keluarganya belum dinyatakan ODP, langkah disinfeksi mandiri sebenarnya belum diperlukan. Proses disinfeksi dapat dilakukan pada benda-benda yang berhubungan langsung atau dipakai oleh anggota keluarga yang menjadi ODP. Proses ini dapat dilakukan oleh anggota keluarga lain dengan memperhatikan standar keselamatan utama, misalnya menggunakan alat pelindung diri (APD) yang direkomendasikan. Apabila disinfeksi dilakukan pada benda yang terlihat kotor, maka sebelumnya harus dilakukan langkah pembersihan terlebih dahulu menggunakan sabun atau deterjen dengan air mengalir. Sebelum dan setelah melakukan disinfeksi, cuci tangan harus dilakukan dengan baik dan benar. (CDC, 2020).

Efektivitas Berbagai Jenis Disinfektan Masa inkubasi SARS-CoV 2 pada setiap permukaan juga berbeda-beda. Benda yang sering disentuh atau berkontak dengan pasien dapat menjadi sarana penularan SARS-CoV


2 secara tidak langsung. Penyemprotan disinfektan menjadi salah satu cara untuk mengurangi laju transmisi virus di lingkungan. Selain etanol, terdapat berbagai zat aktif lain yang memiliki kemampuan menginaktivasi mikroorganisme sehingga dapat dimanfaatkan sebagai disinfektan. Setiap jenis disinfektan memiliki tingkat virusidal (kemampuan membunuh virus) yang berbeda. Aktivitas virusidal berbagai jenis disinfektan dapat dilihat pada Tabel 1 (Kampf et al, 2020). Tabel 1. Inaktivasi Human Coronavirus (HCoV) dan Severe Acute Respiratory Syndrome - related Coronavirus (SARS-CoV) dengan berbagai tipe disinfektan dalam tes suspensi. Disinfektan

Konsentrasi

Virus

Strain/ isolat

Lama Paparan

Pengurangan Infektivitas (log10)

Etanol

95%

SARS-CoV

Isolat FFM-1

30 detik

≥ 5,5

85%

SARS-CoV

Isolat FFM-1

30 detik

≥ 5,5

80%

SARS-CoV

Isolat FFM-1

30 detik

≥ 4,3

78%

SARS-CoV

Isolat FFM-1

30 detik

≥ 5,0

100%

SARS-CoV

Isolat FFM-1

30 detik

≥ 3,3

75%

SARS-CoV

Isolat FFM-1

30 detik

≥ 4,0

70%

SARS-CoV

Isolat FFM-1

30 detik

≥ 3,3

45% dan 30%

SARS-CoV

Isolat FFM-1

30 detik

≥ 4,3

SARS-CoV

Isolat FFM-1

30 detik

≥ 2,8

2-Propanol

2-Propanol dan 1-Propanol

Benzalkonium klorida

70%

HCoV

ATCC VR-759

10 menit

0

Hidrogen peroksida

0,5%

HCoV

Strain 229E

1 menit

> 4,0

Formaldehid

1%

SARS-CoV

Isolat FFM-1

2 menit

> 3,0

0,7%

SARS-CoV

Isolat FFM-1

2 menit

> 3,0

2,5%

SARS-CoV

Hanoi strain

5 menit

> 4,0

0,5%

SARS-CoV

Isolat FFM-1

2 menit

> 4,0

1%

SARS-CoV

Hanoi strain

1 menit

> 4,0

0,47%

SARS-CoV

Hanoi strain

1 menit

3,8

0,25%

SARS-CoV

Hanoi strain

1 menit

> 4,0

0,23%

SARS-CoV

Hanoi strain

1 menit

> 4,0

0,23%

SARS-CoV

Isolat FFM-1

15 detik

≥ 4,4

Glutardialdehid

Povidone iodine

51


Penurunan infektivitas virus dinilai dalam tabung suspensi dan dinyatakan dalam log10. Etanol (78-95%), 2-propanol (70-100%), kombinasi 2-propanol 45% dan 1-propanol 30%, glutardialdehid (0,5-2,5%), formaldehid (0,7-1%), dan povidone iodine (0,23-7,5%) mampu menekan infektivitas virus Corona melebihi 4 log10 sehingga dapat digunakan sebagai disinfektan lingkungan di tempat-tempat umum (Tabel 1). Natrium hipoklorit efektif pada konsentrasi minimal 0,21%, sedangkan hidrogen peroksida efektif pada konsentrasi 0,5% selama setidaknya 1 menit. Disinfektan lain, misalnya benzalkonium klorida dan klorheksidin diglukonat, dinilai tidak cukup efektif dalam menurunkan infektivitas virus Corona (Kampf et al, 2020).

a. Proses Disinfeksi dengan Produk Rumah Tangga Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia telah mengeluarkan daftar bahan aktif yang dapat digunakan untuk disinfeksi SARS-CoV 2 (Tabel 2). Beberapa bahan aktif tersebut dapat ditemukan di dalam produk rumah tangga sehari-hari dan mampu menurunkan infektivitas virus (LIPI, 2020). Tabel 2. Daftar bahan aktif sebagai disinfektan SARS-CoV 2 menurut LIPI No.

Bahan Aktif

Konsentrasi

1

Hidrogen peroksida

0,5%

2

0,05%

3

Benzalkonium klorida/Amonium kuartener Kloroksilenol

4

Etanol/Etil alkohol

62-71%

5

Iodin in iodofor

50 ppm

6

Isopropanol/2-propanol

7

Pine oil (minyak pinus)

8

Povidone iodine

9

Natrium hipoklorit

10

Natrium klorit

11

Natrium dikloroisosianurat

0,12%

50% 0,23% 1% 0,05-0,5% 0,23% 0,1-0,5%

Bahan aktif tersebut tersedia dalam berbagai produk pembersih rumah tangga. Pembersihan permukaan benda di dalam rumah menggunakan air dan sabun atau deterjen lain dapat dilakukan sebagai pencegahan umum. Disinfektan dapat digunakan untuk

52


pencegahan yang lebih baik. Penggunaan disinfektan ini sangat disarankan jika terdapat orang yang terjangkit COVID-19 di rumah. Di sisi lain, potensi bahaya setiap produk juga harus diwaspadai. Beberapa produk memerlukan pengenceran untuk mencapai konsentrasi aman sebelum dapat digunakan. Pengenceran dapat dilakukan dengan formula volume larutan awal = (konsentrasi akhir yang diinginkan x volume larutan akhir) / konsentrasi awal produk. Jumlah air yang harus ditambahkan disesuaikan dengan volume larutan akhir yang harus dibuat (LIPI, 2020).

Bahan Pemutih Baju Dapat Menjadi Salah Satu Solusi Salah satu bahan aktif yang direkomendasikan untuk menjadi disinfektan adalah natrium hipoklorit (Fukuzaki, 2006). Natrium hipoklorit merupakan zat aktif yang secara signifikan memiliki daya bunuh luas karena mampu mengeliminasi virus, bakteri, dan jamur. Kelemahan bahan aktif ini adalah tidak efektif untuk membunuh endospora bakteri dan prion. Natrium hipoklorit dapat ditemukan dalam bahan pemutih baju. Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan natrium hipoklorit sebagai disinfektan adalah kadar/ konsentrasinya. Natrium hipoklorit 5000 ppm atau setara dengan 0,5% dapat digunakan untuk disinfeksi benda rumah tangga secara umum. Apabila benda tersebut terpajan cairan biologis yang memiliki kandungan bahan organik tinggi, misalnya darah, protein atau lemak, maka dibutuhkan natrium hipoklorit dengan kadar 1.000 ppm atau setara dengan 0,1% (UWO, 2015). Bahan pemutih baju yang ditemukan sehari-hari memiliki kadar natrium hipoklorit sebesar 5 - 6%, sehingga penggunaannya sebagai bahan disinfeksi dapat direkomendasikan. Penggunaan bahan pemutih baju sebagai disinfektan memerlukan pengenceran untuk menghasilkan konsentrasi yang sesuai. Pengenceran disinfektan untuk permukaan benda rumah tangga dilakukan

dengan perbandingan bahan pemutih dan pelarut sebesar 1:10. Proses disinfeksi pada benda yang terpajan cairan biologis memerlukan pengenceran bahan pemutih dengan perbandingan yang lebih besar, yaitu 1:5. Hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan bahan pemutih baju sebagai disinfektan adalah memastikan bahwa bahan pemutih tersebut mengandung natrium hipoklorit dengan konsentrasi yang sesuai. Selain kadar konsentrasinya, waktu kontak antara bahan disinfektan dengan permukaan benda juga menjadi faktor yang mempengaruhi daya bunuh natrium hipoklorit. Untuk mencapai daya germisidal yang efektif, waktu minimal kontak antara disinfektan dengan permukaan benda adalah 1 menit. Untuk itu perlu dipastikan bahwa disinfeksi di rumah dilakukan sesuai prosedur dan mampu menjaga kadar natrium hipoklorit tetap sama selama 1 menit.

Bukan Tanpa Risiko Natrium hipoklorit merupakan zat kimia yang bersifat korosif dan toksik. Apabila tidak memakai alat pelindung yang sesuai, larutan ini dapat bersifat iritatif untuk lapisan mukosa atau epitel tubuh, terutama epitel kulit dan mukosa mata. Pengenceran bahan pemutih sebagai larutan disinfeksi serta proses disinfeksi harus dilakukan dengan hati-hati dan jauh dari jangkauan bayi atau anak-anak. Sebagai kesimpulan, bahan pemutih baju dapat digunakan sebagai larutan disinfeksi apabila diencerkan dengan kadar konsentrasi yang sesuai dan digunakan dengan hati-hati. Penggunaan larutan disinfeksi ini juga dapat dilakukan secara mandiri di rumah. Namun, perlu diingat bahwa rekomendasi disinfeksi mandiri di rumah adalah untuk rumah tangga yang anggota keluarganya berstatus minimal orang dalam pengawasan (ODP), sehingga belum diperlukan serta direkomendasikan untuk seluruh rumah tangga.

53


b. Proses Disinfeksi Mencuci Tangan

54

dengan

c. Bagaimana dengan Bilik Disinfeksi (Disinfection Chamber)?

Cara termudah untuk menghambat penularan virus selain metode disinfeksi yang telah disampaikan di atas adalah dengan mencuci tangan. Proses mencuci tangan dapat dilakukan menggunakan air mengalir dan sabun, maupun dengan produk berbasis alkohol. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) lebih merekomendasikan mencuci tangan menggunakan air dan sabun jika memungkinkan karena lebih efektif dalam mengurangi berbagai mikroba dan zat kontaminan pada telapak tangan. Produk hand-sanitizer berbasis alkohol juga mampu menurunkan jumlah mikroba di tangan secara cepat, tetapi tidak dapat mengeliminasi setiap jenis mikroba maupun beberapa senyawa berbahaya seperti pestisida atau logam berat. Dengan demikian, mencuci tangan menggunakan air dan sabun tetap menjadi rekomendasi utama. Jika air dan sabun tidak tersedia, maka hand sanitizer dengan konsentrasi etanol setidaknya 60% dapat digunakan sebagai disinfektan alternatif (CDC, 2020). Etanol dengan konsentrasi mulai dari 42,6% dapat membunuh beberapa virus dengan lapisan selubung lemak (envelope), termasuk SARS-CoV dan MERSCoV, pada pemakaian setidaknya 30 detik. Pada konsentrasi lebih dari 80%, etanol aktif terhadap berbagai virus ber-envelope (Kampf, 2018). Proses disinfeksi tangan menggunakan hand sanitizer berbasis alkohol dapat menjadi cara alternatif dalam menurunkan transmisi SARS-CoV 2. Namun demikian penggunaannya harus dilakukan secara bijak, tidak boleh dijadikan sebagai pilihan utama. Hal itu ditujukan untuk menjamin ketersediaan bahan baku alkohol yang sering digunakan sebagai disinfektan bagi pihak lain yang lebih membutuhkan, termasuk untuk kepentingan berbagai tindakan medis di rumah sakit atau fasilitas layanan kesehatan.

Berbagai jenis bahan disinfektan yang telah dibahas di atas, terbukti dapat menurunkan infektivitas virus pada berbagai permukaan benda mati, sehingga dapat digunakan dalam mencegah transmisi SARSCoV-2 di lingkungan. Namun demikian, bahan disinfektan tersebut tidak direkomendasikan untuk digunakan pada tubuh manusia. Penyemprotan disinfektan secara langsung berpotensi menyebabkan iritasi pada kulit, mata, maupun saluran pernapasan (OSHC, 2007). Bahan disinfektan semestinya digunakan untuk disinfeksi permukaan benda-benda mati yang sering disentuh, sesuai instruksi yang ada. Bilik disinfeksi biasanya menggunakan bahan disinfektan yang serupa dengan kandungan hand-sanitizer yaitu alkohol. Bilik disinfeksi sempat dianggap sebagai â&#x20AC;&#x2DC;solusiâ&#x20AC;&#x2DC; bagi masyarakat yang tidak dapat bekerja dari rumah atau tidak dapat melakukan physical distancing. Meskipun demikian, hingga kini masih belum ditemukan publikasi resmi terkait komposisi bahan disinfektan yang digunakan, maupun efektivitas metode disinfeksi tersebut. Walaupun tergolong jenis disinfektan yang relatif aman, penggunaan alkohol dalam konsentrasi yang tidak sesuai tetap dapat merusak struktur lemak pada permukaan kulit dan menyebabkan dermatitis. Selain itu, inhalasi uap alkohol terkonsentrasi dapat mengiritasi saluran napas dan memengaruhi sistem saraf pusat (OSHC, 2007). Kesadaran masyarakat tentang pencegahan infeksi harus terus ditingkatkan, salah satunya dengan cara membersihkan diri sepulang dari luar rumah untuk mengurangi risiko penularan.

D. Kesimpulan Pemerintah harus menginstruksikan masyarakat untuk tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), terutama mencuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun dengan cara yang benar. Penggunaan alkohol atau hand-sanitizer hanya merupakan alternatif apabila tidak tersedia air dan sabun.


Meskipun bahan pembersih rumah tangga dapat digunakan dalam proses disinfeksi, penggunaannya harus dilakukan secara tepat serta menggunakan APD yang sesuai agar tidak menimbulkan efek samping berbahaya. Pembuatan disinfektan secara mandiri hanya digunakan secara terbatas bagi rumah tangga yang memiliki riwayat kontak erat dengan kasus terduga atau terkonfirmasi COVID-19. Untuk mencapai efektivitas maksimal, setiap bahan disinfektan harus digunakan pada kadar konsentrasi dan waktu pajanan yang tepat. Penggunaan bilik disinfeksi atau penyemprotan disinfektan tidak direkomendasikan karena berpotensi menimbulkan iritasi pada kulit, mata, dan saluran napas, serta belum ditemukan bukti ilmiah terpercaya.

Referensi 1. CDC. (2016) ‘Guideline for disinfection and sterilization in healthcare facilities’, CDC, [online]. Tersedia pada: https:// www.cdc.gov/infectioncontrol/guidelines/ disinfection/introduction.html (Diakses tanggal 26 Maret 2020). 2. CDC. (2020). ‘When & how to use hand sanitizer in community settings’, CDC, [online]. Tersedia pada: https://www.cdc. gov/handwashing/show-me-the-sciencehand-sanitizer.html. (Diakses tanggal 26 Maret 2020). 3. CDC. (2020) ‘Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) - Environmental Cleaning And Disinfection Recommendations’, CDC, [online]. Tersedia pada: https://www.cdc. gov/coronavirus/2019-ncov/prepare/ cleaning-disinfection.html (Diakses tanggal 26 Maret 2020). 4. Fukuzaki, S., (2006). ‘Mechanisms of actions of sodium hypochlorite in cleaning and disinfection processes’. Biocontrol Science, 11(4), pp.147-157. 5. Kampf, G. (2018). ‘Efficacy of ethanol against viruses in hand disinfection’, Journal of Hospital Infection, 98(4): 331-8. 6. Kampf, G, Todt, T, Pfaender, S, & Steinmann E. (2020). ‘Persistence of coronaviruses on inanimate surfaces and their inactivation

with biocidal agents’. Journal of Hospital Infection, 104(3):246-51. 7. LIPI. (2020). Daftar sementara bahan aktif dan produk rumah tangga untuk disinfeksi virus corona penyebab COVID-19. http:// lipi.go.id/berita/Daftar-Sementara-BahanAktif-dan8. P r o d u k - R u m a h - Ta n g g a - u n t u k Disinfeksi-V irus-Corona-PenyebabCOVID-19/21979. Diakses tanggal 26 Maret 2020. 9. Mcdonnell, G. and Russell, A. D. (1999) ‘Antiseptics and disinfectants: Activity, action, and resistance’, Clinical Microbiology Reviews. American Society for Microbiology (ASM), pp. 147–179. doi: 10.1128/cmr.12.1.147. 10. Mclachlan, N. J. and Dubovi, E. J. (2017) ‘Epidemiology and Control of Viral Diseases’, Fenner’s Veterinary Virology, pp. 131–153. doi: 10.1016/b978-0-12-8009468.00006-4. 11. Occupational Safety and Health Council. (2007). ‘Chemical Safety in the Workplace: Guidance Notes on Safe Use of Chemical Disinfectants’, OSHC, [online]. Tersedia pada: https://www.labour.gov.hk/eng/ public/os/C/Disinfectants.pdf 12. Sandle, T. (2016) ‘Cleaning and disinfection’, Pharmaceutical Microbiology, pp. 185–197. doi: 10.1016/b978-0-08100022-9.00015-3. 13. University of Western Ontario. (2015). ‘Guidelines for Using Sodium Hypochlorite as A Disinfectant for Biological Waste’, Ontario: City-Wide Occupational Health & Safety and Workplace Health. 14. van Doremalen, N., Bushmaker, T., Morris, D., Holbrook, M., Gamble, A., Williamson, B., Tamin, A., Harcourt, J., Thornburg, N., Gerber, S., Lloyd-Smith, J., de Wit, E. and Munster, V., (2020). Aerosol and Surface Stability of SARS-CoV-2 as Compared with SARS-CoV-1. New England Journal of Medicine.

55


Profile for Berani Sehat

Serba Serbi Covid-19  

Advertisement