Page 1

Media Aesculapius Surat Kabar

Kedokteran dan Kesehatan Nasional Terbit Sejak 1970

Harga Rp3.000,00

No. 05 l XLVIII l September-Oktober 2017 ISSN No. 0216-4966 Artikel Bebas

Kolum

Konsumsi Daging Berlimpah: Apakah Baik? halaman 6

Kontak Kami

Rubrik Daerah Sepenggal Kisah dari Kota Tidore Kepulauan

Renungan Pagi Ini

halaman 8

@MedAesculapius beranisehat.com 082-229-229-362

halaman 10

Menuju Tahun 2020 Bebas Campak dan Rubela Campak dan rubela merupakan penyakit yang dapat menimbulkan komplikasi berat hingga kematian. Ironis, padahal penyakit ini dapat dicegah melalui pemberian imunisasi.

T

erhitung sejak Agustus 2017, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, mencanangkan imunisasi Measles Rubella (MR) sebagai bagian program imunisasi nasional. Keputusan ini diambil berdasarkan fakta bahwa angka penderita campak dan rubela di Indonesia masih tergolong tinggi dibandingkan negara lain, seperti Amerika, Kosta Rika, Iran, dan Korea Selatan yang sudah dinyatakan bebas dari penyakit ini. Tidak hanya itu, pencanangan program ini merupakan bentuk dukungan Indonesia terhadap program global untuk mengeradikasi campak dan rubela pada tahun 2020. Program imunisasi MR dikatakan berhasil jika cakupannya mencapai minimal 95% dari sasaran. “Jika cakupan mencapai 95%, secara langsung akan timbul herd immunity, berarti 5% masyarakat yang tidak diimunisasi akan terlindungi oleh 95% masyarakat yang diimunisasi,” jelas Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Dr. dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K), MTropPaed. Sasaran utama program imunisasi MR adalah anak-anak usia sembilan bulan sampai lima belas tahun karena memang burden of disease paling banyak dialami usia ini. Hal ini, terang Hindra, merupakan upaya untuk memastikan mereka yang berada dalam kelompok rentan tercakup seluruhnya. Harapannya, kekebalan masyarakat terhadap virus campak dan rubela meningkat secara cepat sehingga angka kesakitan akibat penyakit ini menurun. Persiapan Tampak telah Matang Sejak tahun lalu, Kementerian Kesehatan

RI telah menyusun buku pedoman pelaksanaan Kampanye Imunisasi MR. Kemudian, pemerintah membentuk Kelompok Kerja Nasional Eliminasi Campak dan Pengendalian Rubela/Congenital Rubella Syndrome yang melibatkan kerja sama berbagai pihak. Pencanangan program juga dilakukan langsung oleh Presiden Jokowi di Sleman agar masyarakat luas dapat digerakkan. Selain sosialisasi dan pelatihan tenaga kesehatan, setiap daerah diinstruksikan untuk melakukan pemetaan tenaga kesehatan, kader, serta sasaran. Melalui pemetaan ini, diharapkan semua sasaran kristian/MA imunisasi dapat dijangkau, termasuk yang berada di daerahdaerah terpencil. Menurut Ketua Bidang Hubungan Masyarakat dan Kesejahteraan Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K), seluruh ketua cabang IDAI telah dikumpulkan untuk mendapat sosialisasi dan mendeklarasikan dukungannya terhadap program ini. Seluruh anggota IDAI juga dikirimi e-mail berisi informasi mengenai imunisasi MR. Satuan Tugas Imunisasi IDAI sangat berperan dalam

mengedukasi masyarakat dan para anggota IDAI tentang pentingnya program ini melalui pelatihan vaksinologi. “Jangan sampai ada suara sumbang,” tegasnya. Hambatan Pelaksanaan Imunisasi MR Dalam pelaksanaannya, pemerintah maupun tenaga kesehatan masih menemukan beberapa kesulitan. Besarnya arus penyebaran informasi yang tidak tepat mengenai imunisasi menjadi penyebab utama orang tua enggan membawa anaknya diimunisasi. Padahal, imunisasi MR tergolong aman. “Mungkin akan timbul gejala, seperti demam, bintik-bintik kemerahan kurang lebih satu minggu pascaimunisasi dan bertahan 2-3 hari. Namun, hal tersebut biasa karena memang komponen imunisasi MR adalah virus yang dilemahkan sehingga dapat memunculkan gejala dalam skala ringan,” jelas Hindra. Hal senada juga disampaikan Hartono. Menurut beliau, masyarakat atau media sering kali menyimpulkan suatu peristiwa buruk yang terjadi pascaimunisasi sebagai akibat dari imunisasi tersebut tanpa mengusut dengan lebih jelas rangkaian peristiwanya. Hambatan lainnya adalah pelaksanaan pemberian vaksin MR tidak dapat diperuntukkan bagi satu individu saja.

“Satu vial vaksin MR dapat dibagi ke dalam sepuluh dosis dan setelah dicampur, vaksin ini hanya dapat bertahan kurang lebih selama enam jam. Oleh karena itu, agar vaksin dapat dimanfaatkan secara efisien, setidaknya ada delapan orang yang diimunisasi dalam satu kali penyelenggaraan,” tutur Hartono. Solusi dan Langkah ke Depannya Direktur Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr. H.M. Subuh, MPPM, bersama jajarannya sudah menyusun beberapa strategi. Pertama, melakukan pendekatan intensif kepada masyarakat dengan melibatkan tokoh-tokoh masyarakat dan para ahli. “Dalam menjangkau sasaran, kami banyak didukung oleh organisasi agama dan kemasyarakatan yang memiliki jejaring di daerah-daerah, salah satunya adalah PMI,” jelas Subuh. Strategi kedua adalah komunikasi yang melibatkan pihak media untuk meluruskan pemahaman masyarakat. Pemerintah mengadakan Temu Media yang dihadiri oleh jurnalis-jurnalis dari sekitar empat puluh media nasional. Tidak hanya media nasional, pemerintah juga memastikan penyebaran informasi di internet tidak menyimpang dengan melakukan Temu Blogger. Berbicara mengenai rumor bahwa imunisasi MR tidak halal, Corporate Secretary PT Bio Farma, Bambang Heriyanto, S.Si., Apt., MM. menyatakan bahwa sejauh ini, imunisasi MR sudah mempunyai prakualifikasi dari WHO dan izin edar dari Badan POM. Dalam waktu dekat, Kemenkes RI, MUI, dan Bio Farma berkomitmen bersambung ke halaman 11

Pasang Surut Imunisasi di Indonesia

SKMA Untuk Anda!

Menurunkan kematian anak, salah satunya melalui imunisasi, merupakan salah satu tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang tercantum dalam Millenium Development Goals (MDGs). Namun, bagaimanakah perjalanan program imunisasi selama ini?

Mari bersama membuat SKMA menjadi lebih baik.

tersebar di 125 negara. Sebuah program eradikasi yang dikenal dengan Eradikasi Polio (ERAPO) kemudian dicanangkan oleh WHO dengan strategi utama berupa vaksinasi polio. Dua belas tahun kemudian, kasus polio ditemukan menurun sebesar 99% menjadi kurang dari 3.000 kasus yang tersebar di enam negara berkat program ini. Selain polio, tetanus ibu dan neonatus (MNT) juga dinyatakan berhasil dieliminasi berkat program imunisasi. “Namun, tidak seperti cacar dan polio yang hanya membutuhkan manusia sebagai inangnya, MNT tidak dapat dieradikasi sepenuhnya karena memiliki banyak inang perantara yang sulit dikontrol penyebarannya,” terang Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K) selaku Ketua Bidang Hubungan Masyarakat dan Kesejahteraan Anggota Ikatan Dokter Anak

1. Apakah konten SKMA bermanfaat/ relevan dengan kondisi kesehatan saat ini? 2. Apakah anda masih membutuhkan SKMA edisi selanjutnya?

P

ada tahun 1980, World Health Organization (WHO) mendeklarasikan bahwa penyakit cacar telah berhasil diberantas dalam skala global. Keberhasilan tersebut diperoleh setelah melalui perjalanan panjang. Inisiasi untuk memberantas cacar sebenarnya sudah dicetuskan oleh WHO sejak tahun 1959, tetapi baru dilaksanakan serius pada 1967 melalui program vaksinasi intensif dan menuai kesuksesan pada tahun 1977. Sejak saat itu, program imunisasi mulai digalakkan di semua negara, termasuk Indonesia. Salah satu penyakit yang berhasil dieradikasi melalui program imunisasi di Indonesia adalah polio. Sebelum program eradikasi polio dicanangkan, pada tahun 1988 tercatat 350.000 kasus poliomielitis

Indonesia (IDAI). Lain halnya dengan campak. Meski telah menjadi program wajib, penyakit ini masih ditemukan. “Di RSCM sampai saat ini masih dijumpai, berarti kasus ini merupakan kejadian luar biasa yang menandakan cakupan imunisasi di Indonesia atau Jakarta masih rendah,” cetus Dr. dr. Hindra Irawan Satari, Sp.A(K), MtropPaed, Ketua Komnas Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Kemenkes RI. Padahal dengan prinsip di atas, Hartono menyatakan bahwa campak merupakan penyakit yang sangat mungkin dieradikasi sebab inang perantaranya hanya manusia. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama dari berbagai pihak untuk “menolak” masuknya kuman demi suksesnya program imunisasi. reyza, aisyah, tiffany

!

Jawab dengan format: Nama-Umur_Kota/Kabupaten_Unit Kerja_Jawaban 1_Jawaban 2

Contoh: Rudiyanto_43_Jakarta Pusat_RSCM_Ya_ Ya Kirim melalui WhatsApp/SMS ke 0822 229 229 362 atau mengisi formulir pada bit.ly/surveyskma Lima orang pengisi survei yang beruntung akan mendapatkan cenderamata dari Media Aesculapius


2

SEPTEMBER - OKTOBER 2017

JULI

DARI KAMI Salam sejahtera bagi kita semua, Sejak bulan Agustus 2017, Pemerintah Indonesia mulai menggalakkan imunisasi Measles-Rubella (MR) sebagai imunisasi wajib bagi anak yang berusia sembilan bulan hingga 15 tahun. Program ini dapat diperoleh gratis melalui puskesmas atau pun melalui Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Akan tetapi, masih banyak bagian masyarakat yang enggan membawa anaknya untuk diimunisasi, karena takut dapat menyebabkan dampak buruk pada anak. Tanggapan serta argumen mengenai hal ini menjadi topik utama pada edisi kali ini yang langsung disampaikan dari berbagai pihak, seperti Kementerian Kesehatan RI, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dan PT Bio Farma. Selain itu, semakin tingginya prevalensi strok di Indonesia meningkatkan kewaspadaan dari para tenaga kesehatan. Dokter umum sebagai lini terdepan harus dapat sigap dan tepat dalam menangani kegawatdaruratan neurologi ini untuk mencegah terjadinya komplikasi lanjut pascastrok. Mari simak pemaparan komprehensif mengenai peran dokter umum dalam menghadapi pasien strok yang tersaji dalam rubrik MA Info. Pemerintah terus berupaya menurunkan angka kematian terbesar di Indonesia akibat penyakit tidak menular, salah satunya dengan Gerakan Masyarakat Sehat (GERMAS). Hal ini menilik dari salah satu faktor risiko terbesar dari penyakit tidak menular adalah kurangnya aktivitas fisik. Ada tujuh poin yang dirumuskan dalam GERMAS dan mencakup seluruh lapisan masyarakat. Topik ini dikupas tuntas yang dapat Anda baca dalam rubrik Kesmas. Kesibukan dokter ternyata bukanlah alasan mutlak untuk tidak menekuni hobi, apalagi jika hobi tersebut melengkapi sisi empati seorang dokter. Dr. dr. J.M. Seno Adjie, Sp.OG(K), salah satu dokter yang menyalurkan hobi ngeband dan meraih banyak penghargaan. Kisah inspiratif ini dapat Anda nikmati dalam rubrik Senggang. Era globalisasi memudahkan pertukaran informasi dari berbagai penjuru dunia. Padahal, banyak informasi tersebut yang belum tentu benar adanya. Sayangnya, banyak masyarakat yang memanfaatkan profesi dokter untuk menipu masyarakat demi keuntungannya sendiri. Tahukah Anda apa sanksi yang diberikan jika melakukan hal tersebut? Jawabannya tersedia lengkap hanya untuk Anda di rubrik Suma. Akhir kata, kami mengucapkan selamat membaca edisi SeptemberOktober 2017 ini dan semoga bermanfaat!

Puspalydia Pangestu Pemimpin Redaksi

MA FOKUS Seberapa Efektifkah Vaksinasi Measles Rubella? Measles atau yang biasa dikenal sebagai campak adalah salah satu penyakit akibat virus yang dapat menyebabkan kematian dan kecacatan pada anak-anak secara global. Virus lainnya yang juga dapat menyebabkan kematian atau kecacatan pada bayi, terutama saat ibu sedang hamil, adalah virus rubella atau campak Jerman. Oleh karena itu, pemerintah mulai menggiatkan imunisasi Measles Rubella (MR) sebagai salah satu tindakan pencegahan infeksi campak atau pun rubella pada anak. Vaksinasi MR diketahui sangat aman dan efektif. Efek samping pascaimunisasi yang bersifat serius sangat jarang terjadi. Biasanya, keluhan yang mungkin timbul adalah demam ringan, ruam merah, bengkak ringan, maupun nyeri ditempat suntikan tetapi keluhan akan menghilang dalam 2-3 hari. Berdasarkan rekomendasi CDC, seorang anak minimal harus diberi vaksin MMR (mumps, measles, and rubella) sebanyak dua dosis. Efektivitas satu dosis vaksin MMR sebesar 93%, sementara dengan dua dosis sebesar 97%. Hal ini berarti dari seratus anak yang divaksin dua kali, hanya tiga anak yang masih dapat terinfeksi virus MR. Vaksin MR yang digunakan telah mendapatkan rekomendasi WHO dan izin dari BPOM. Vaksinasi MR ini juga telah digalakkan penggunaannya di lebih dari 141 negara di dunia. Pemerintah Indonesia sendiri baru menggalakkan imunisasi MR pada tahun ini dengan mempertimbangkan bahaya komplikasi MR yang lebih berat dan mematikan. Hal ini senada dengan misi WHO untuk memberantas angka kejadian campak dan rubella di dunia pada tahun 2020. Andaikan seratus persen anak di seluruh dunia telah divaksin MR, bukan tidak mungkin, penyakit campak dan rubella nantinya dapat dinyatakan musnah, seperti polio. Namun, perjalanan untuk mencapai impian tersebut masih panjang, apalagi disertai perjuangan dan perdebatan melawan pihak kontravaksin yang seakan tiada habisnya. Oleh karena itu, baik tenaga medis maupun berbagai petinggi di masyarakat harus mendukung dan membantu pemerintah menyukseskan program ini, meskipun membutuhkan waktu yang lama agar impian tersebut dapat terwujud.

KLINIK

MEDIA

AESCULAPIUS

MA KLINIK

Tepat Cegah Komplikasi Hepatitis B Infeksi hepatitis B seringkali datang tanpa memberikan gejala apapun, sehingga pasien sering datang ke dokter dengan komplikasi yang sudah melanjut. Adakah solusi mencegah datangnya komplikasi?

V

irus hepatitis B (HBV) hingga kini telah menginfeksi hampir tiga ratus juta orang di seluruh dunia ini. Virus ini merupakan salah satu penyebab tersering dari munculnya penyakit dan keganasan di hati. Virus ini sendiri digolongkan ke dalam family Hepadnaviridae, yang mempunyai materi genetik dalam bentuk DNA. DNA ini kemudian dapat terintegrasi ke dalam genom sel inang dan memiliki keunikan dalam replikasinya. Hal ini membuat virus dapat bertahan di sel yang diinfeksinya. Apabila HBV menginfeksi manusia, manifestasi klinis yang ditimbulkan beragam, mulai dari hepatitis akut hingga kronik, sirosis, dan karsinoma sel hati (hepatoseluler). Virus ini dapat menular antarmanusia dalam dua cara, yaitu secara vertikal dan horizontal. Penularan vertikal terjadi melalui ibu ke anak saat persalinan atau saat masih dalam masa kandungan. Sementara itu, penularan secara horizontal dapat terjadi melalui transfusi darah, transplantasi organ, dan jarum suntik tercemar. Pasien yang terinfeksi HBV dan mengalami infeksi akut biasanya tidak memberikan manifestasi klinis yang khusus dan cenderung bersifat asimtomatik. Namun, pada sepertiga kasus infeksi akut HBV, mulai muncul gejala klinis dan tanda hepatitis ringan, seperti gejala mual dan kelelahan, hingga gejala yang lebih berat, seperti ikterik. Apabila pasien sudah masuk ke dalam tahap infeksi kronik, gejala-gejala yang dapat ditimbulkan akan lebih parah, seperti splenomegali, asites, edema perifer, dan lain sebagainya. Gejalagejala yang ditimbulkan tersebut biasanya menandakan adanya sirosis hati yang sudah melanjut. Infeksi hepatitis B sendiri dapat ditata laksana pada fase imun klirens atau imun yang terreaktivasi. Di luar fase tersebut, konsensus penatalaksanaan hepatitis B di Indonesia merekomendasikan untuk observasi terlebih dahulu tanpa tindakan apa pun. Terapi yang ada saat ini adalah golongan imun modulator dan golongan antivirus, berupa analog nukleosida. Kedua terapi ini dapat bekerja secara sinergis dan simultan. Terapi hepatitis B ini cenderung bersifat seumur hidup. Hingga saat ini, obatobatan yang ada masih belum bisa mengeradikasi seratus persen virus dari sel hepatosit manusia. Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) RI tahun 2013 serta uji saring darah donor Palang Merah Indonesia (PMI), diperkirakan sekitar sepuluh dari seratus penduduk Indonesia telah terinfeksi hepatitis B atau C sehingga saat ini terdapat 28 juta penduduk Indonesia yang terinfeksi hepatitis B atau C. Di antara 28 juta penduduk tersebut, 14 juta orang berpotensi untuk berlanjut ke tahap infeksi kronik dan 1,4 juta di antaranya berpotensi untuk menderita kanker hati.

MEDIA AESCULAPIUS

Melihat banyaknya masalah dan komplikasi yang dapat ditimbulkan Narasumber: oleh virus hepatitis dr. Chyntia Olivia Maurine B, deteksi dini Jasirwan, PhD, SpPD menjadi salah satu Divisi Hepatobilier langkah solutif Departemen Ilmu untuk mengurangi Penyakit Dalam morbiditas dan FKUI-RSCM mortalitas akibat infeksi virus hepatitis B. Sejak antigen hepatitis B ditemukan pada tahun 1970 oleh Dane dkk, upaya deteksi virus ini makin berkembang. Upaya deteksi dini hepatitis B secara rutin pada populasi umum di Indonesia memang masing belum dilakukan, seperti di luar negeri. Namun, pada populasi khusus yang berisiko terpajan, seperti tenaga kesehatan pada saat medical checkup atau saat A penerimaan pegawai, sudah M / n iru sering dikerjakan. Cara deteksi hepatitis B yang cepat dan banyak dikerjakan adalah pemeriksaan antigen surface hepatitis B yang disebut juga HBsAg. Pemeriksaan HBsAg dapat dilakukan menggunakan rapid test atau secara enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Di Indonesia sendiri, pemeriksaan HBsAg bersifat cepat, cukup efektif, dan feasible dilakukan. Hasil pemeriksaan ini dapat diperoleh dalam waktu yang tidak begitu lama, yakni berkisar antara 1-2 jam. Meskipun mudah dan cepat dilakukan, kemungkinan terjadinya hasil positif palsu masih bisa saja terjadi. Setelah dilakukan pemeriksaan HBsAg, perlu dilakukan pemeriksaan HBV DNA untuk menentukan viral load dari virus hepatitis B. Deteksi dini perlu dilakukan menyeluruh pada seluruh populasi, bukan hanya pada kelompok berisiko tinggi, tetapi juga pada populasi umum, karena kenyataannya, insidensi hepatitis B pada populasi umum pun cukup besar. Masalah ini diperparah dengan kejadian hepatitis B biasanya tidak bergejala sehingga sering kali pasien datang dalam kondisi yang sudah sangat terlambat. Deteksi dini juga harus dilakukan untuk mencegah progresivitas penyakit dan memutus rantai penularan secara horizontal ke orang sekitar atau pun secara vertikal dari ibu ke janin. Hepatitis B kronik nantinya dapat berlanjut menjadi sirosis hati dan karsinoma hepatoseluler. Oleh karena itu, upaya deteksi dini dapat menjadi upaya surveilans yang baik. Dengan demikian, angka mortalitas dan morbiditas akibat infeksi hepatitis B dapat ditekan.

Pelindung: Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis M. Met. (Rektor UI), Dr. dr. Ratna Sitompul, SpM(K) (Dekan FKUI) Penasihat: Dr. Arman Nefi, S.H., M.M. (Direktur Kemahasiswaan UI), dr. Akhmadu Muradi, Sp.B(K)V, Ph.D (Koordinator Kemahasiswaan FKUI) Staf Ahli: Seluruh Kepala Bagian FKUI/RSUPNCM, Prof. Dr. Ma’rifin Husein (CHS), dr. Muki Reksoprodjo, dr. Boen Setiawan, dr. Sudarso, dr. E. Oswari, DPH, Prof. Dr. Arjatmo Tjokronegoro, PhD, dr. Hapsara, DPH (Kemenkes RI), dr. Fahmi Alatas, Prof. dr. Marwali Harahap, SpKK, Prof. Dr. Umar Fahmi Achmadi, MPH Pembantu Khusus: Seluruh Alumni Aesculapius dan Media Aesculapius

Pemimpin Umum: Aisya Aminy M. PSDM: Gabriella Juli Lonardy, Clara Gunawan, Elizabeth Melina, Herlien Widjaja. Pemimpin Produksi: Skolastika Mitzy Benedicta. Wakil Pemimpin Produksi: M. Idzhar Arrizal. Tata Letak dan Cetak: Dewi Anggraeni Kusumoningrum. Ilustrasi dan Fotografi: Meutia Naflah Gozali. Staf Produksi: Irfan Kresnadi, Teresia Putri, Hansel T. Widjaja, Itsna A. Z., Shafira Chairunissa, Kristian Kurniawan, Kelvin Gotama, Bagus Radityo Amien, Arlinda Eraria Hemasari, Robby Hertanto, Anyta Pinasthika, Gabriella Juli Lonardy, Herlien Widjaja, Aditya Indra, Nobian Andre, Vanya Utami Tedhy, Zharifah Fauziyyah, Dhiya Farah, Kartika Laksmi, Dinarda Ulf Nadobudskaya, Fatira Ratri Audita, Dinda Nisapratama. Pemimpin Redaksi: Puspalydia Pangestu. Wakil Pemimpin Redaksi: Farah Vidiast. Redaktur Senior: Andy William, Elva Kumalasari, Nadia Zahratus Sholihat, Ferry Liwang, Rifka Fadhilah, Shierly Novitawati, Irma Annisa, Hiradipta Ardining, Tommy Toar. Redaktur Desk Headline: Veronika Renny Kurniawati. Redaktur Desk Klinik: PClara Gunawan. Redaktur Desk Ilmiah Populer: Phebe Anggita Gultom. Redaktur Desk Opini & Humaniora: Levina Putri Siswidiani. Redaktur Desk Liputan: Farah Vidiast. Reporter Senior: Jimmy Oi Santosos, Fidinny Izzaturahmi Hamid, Sukma Susilawati, Yasmina Zahra Syadza, Teuku Abdi Zil Ikram, Salma Suka Kyana Nareswari, Camilla Sophi Ramadhanti. Reporter Junior: Joanna Erin, Fadlika Harinda, Abdillah Y Wicaksono, Aisyah Rifani, Maria Isabella, Nadhira Najma, Renata Tamara, Reyza Tratama, Stefanus Sutopo, Tiffany R, Vannessa Karenina. Pemimpin Direksi: Roberto Bagaskara. Finansial, Sirkulasi, dan Promosi: Koe Stella Asadinia, Al Syarif Hidayatullah, Tiara Grevillea, Felix Kurniawan, Elizabeth Melina, Faya Nuralda Sitompul, Jevi Septyani Latief, Heriyanto Khiputra, Tania Graciana, Novitasari Suryaning Jati, Rahma Maulidina Sari, Aisyah Aminy Maulidina, Catharina Nenobais, Hardya Gustada, Dyah Ayu, Wilton Wylie Iskandar, Fahmi Kurniawan, Ainanur Aurora, Yusuf Ananda, Agassi Antoniman, Alice Tamara, Angela Kimberly Tjahjadi, Safira Amelia, Trienty Batari. Buku: Husain Muhammad Fajar Surasno, Nadira Prajnasari Sanjaya, Indah Lestari, Laksmi Bestari, Apri Haryono Hafid, Fadhli Waznan, Tiroy Junita, Indah Fitriani, Reganedgary Jonlean, Sabrina Tan, Gilbert Mayer C. Alamat : Media Aesculapius BEM IKM FKUI. Gedung C lantai 4, Rumpun Ilmu Kesehatan, Kampus UI Depok. E-mail: medaesculapius@gmail.com, Rek. 157-0004895661 Bank Mandiri Cabang UI Depok, website: beranisehat.com Alamat Redaksi/Sirkulasi : Media Aesculapius PO BOX 4201, Jakarta 10042, Harga Langganan: Rp 18.000,00 per enam edisi gratis satu edisi (untuk seluruh wilayah Indonesia, ditambah biaya kirim Rp. 5.000,00 untuk luar Jawa), fotokopi bukti pembayaran wesel pos atau fotokopi bukti transfer via Bank Mandiri dapat dikirim ke alamat sirkulasi. MA menerima kiriman naskah dari pembaca untuk rubrik MA Klinik (khusus untuk dokter dan staf pengajar), Asuhan Keperawatan (khusus untuk perawat dan mahasiswa keperawatan) Sepuki, Suma, Suduk, Kolum, Arbeb, Kesmas, Seremonia, dan Konsultasi (berupa pertanyaan). Kirimkan email permohonan penulisan ke redaksima@yahoo.co.id dan kami akan mengirimkan spesifikasi rubrik yang Anda minati.

Kirimkan kritik dan saran Anda:

redaksima@yahoo.co.id

Website Media Aesculapius

beranisehat.com

Dapatkan info terbaru kami: @MedAesculapius


MEDIA

KLINIK

AESCULAPIUS

KONSULTASI

JULI

SEPTEMBER - OKTOBER 2017

3

Pemberian Sukralfat pada Dispepsia, Bermanfaatkah? Yuk, kupas tuntas dispepsia beserta tata laksananya berikut ini!

Pertanyaan: Apakah pemberian sukralfat bermanfaat dalam mengatasi atau meringankan sindrom dispepsia, terutama untuk dispepsia tanpa bahaya? Pada praktik lapangan sering kali terjadi pemberian sukralfat pada kasus dispepsia, padahal pada guideline hanya disarankan untuk menggunakan PPI atau antagonis reseptor H2. – dr. P, di Probolinggo, Jawa Timur Jawaban: erdasarkan Konsensus Nasional Penatalaksanaan Dispepsia dan Infeksi Helicobacter pylori, dispepsia merupakan rasa tidak nyaman yang berasal dari daerah abdomen bagian atas. Nyeri epigastrium, rasa terbakar di epigastrium, rasa penuh setelah makan, cepat kenyang, rasa kembung pada saluran cerna atas, mual, muntah, dan sendawa merupakan beberapa gejala yang dapat menyebabkan rasa tidak nyaman tersebut. Dispepsia merupakan keluhan yang sering dijumpai pada praktik klinis seharihari. Prevalensinya dalam pelayanan kesehatan mencakup lima puluh persen pelayanan dokter spesialis gastroenterologi dan tiga puluh persen pelayanan dokter umum. Dispepsia yang telah diinvestigasi terdiri atas dispepsia organik dan dispepsia fungsional. Pada dispepsia organik, terjadi kerusakan organ yang nyata, sedangkan pada dispepsia fungsional, tidak ada kerusakan organ yang nyata, tetapi pasien merasakan rasa tidak nyaman pada daerah abdomen bagian atasnya. Dispepsia organik yang diidentifikasi dapat berupa ulkus

B

gaster, ulkus duodenum, gastritis erosif, membaik, perlu dilakukan endoskopi. gastritis, duodenitis, dan proses keganasan. Sukralfat merupakan obat golongan Di sisi lain, penegakan diagnosis dispepsia mukoprotektor yang bekerja dengan fungsional, menggunakan kriteria Roma IV. meningkatkan faktor defensif pada lambung. Menurut kriteria Roma IV, dispepsia Obat ini bersifat superfisial, di mana merupakan sebuah penyakit yang berkaitan hanya menempel dan melapisi permukaan dengan gangguan pada gastroduodenal dan lambung secara sementara. Pemberian memiliki satu atau lebih gejala, meliputi sukralfat diindikasikan pada pasien-pasien rasa cepat kenyang, rasa penuh atau tidak yang diduga mengalami dispepsia organik, nyaman setelah makan, rasa terbakar di seperti pada kasus gastritis erosif akibat epigastrium, dan nyeri penggunaan NSAID epigastrium. Gejala atau mengonsumsi yang dirasakan oleh makanan yang terlalu pasien setidaknya sudah pedas. Pada kasus ini, berlangsung selama sukralfat diberikan tiga bulan terakhir bersamaan dengan dengan awitan gejala PPI, di mana PPI enam bulan sebelum bertugas untuk diagnosis ditegakkan. menekan produksi Berbeda dengan asam lambung. dispepsia yang Saat ini, banyak telah diinvestigasi, sekali kasus nyeri dispepsia yang epigastrium yang belum diinvestigasi ditata laksana dengan merupakan pemberian sukralfat. idzhar/MA kumpulan gejalaAkan tetapi, langkah gejala yang belum ini kurang tepat. diperiksa lebih lanjut. Algoritma Pemberian PPI atau antagonis tata laksana untuk dispepsia reseptor H2 akan lebih yang belum diinvestigasi, meringankan gejala. Jika pasien terutama untuk kasus tanpa tanda bahaya, hanya mengalami nyeri yang tidak parah, dimulai dengan pemberian terapi empiris. pemberian antasida pun sudah cukup. Selain Obat anti-asam (seperti PPI atau antagonis itu, sukralfat juga tidak dapat bekerja secara reseptor H2) dan antasida merupakan dua efektif ketika pH lambung sudah tinggi (pH kelompok obat yang digunakan dalam > 6). Obat ini hanya bisa menempel pada pengobatan empiris. Terapi empiris ini mukosa lambung dalam kondisi asam (pH 1 dijalankan selama 2-4 minggu dan dievaluasi. atau 2). Oleh karena itu, sukralfat tidak akan Jika membaik, terapi dilanjutkan. Jika tidak efektif lagi jika diberikan kepada pasien yang

Narasumber: DR. Dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, K-GEH, MMB, FINASIM, FACP Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM telah berulang kali mengonsumsi PPI, sebab pH lambung telah meningkat. Selain itu, karena sukralfat ini hanya bersifat sementara, penggunaannya hanya diindikasikan untuk kondisi akut. Mukoprotektor yang selanjutnya digunakan untuk menggantikan sukralfat adalah rebamipid atau teprenon. Kedua mukoprotektor ini tidak hanya melapisi mukosa lambung, tetapi juga memberikan efek anti-inflamasi, meningkatkan mukus, dan meningkatkan faktor defensif lambung lainnya. Hal yang tak kalah penting untuk diingat adalah efek samping dari sukralfat. Di samping rasanya yang manis dan efek nyaman yang sangat cepat, penggunaan sukralfat secara terus menerus dapat menyebabkan sembelit. Oleh karena itu, penting untuk menggunakan obat dengan tepat guna dan tepat sasaran. erin Kirimkan pertanyaan Anda seputar medis ke redaksima@yahoo.co.id. Pertanyaan Anda akan dijawab oleh narasumber spesialis terpercaya.

TIPS DAN TRIK

Cegah Kebodohan dengan Deteksi Dini Hipotiroidisme Kongenital Hipotiroidisme kongenital adalah salah satu penyebab gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dapat dicegah dengan deteksi lebih dini. Bagaimana tips dan trik mendeteksi kelainan tersebut?

D

eteksi dini hipotiroidisme kongenital yang menetap. Gondok mungkin dapat dapat dilakukan dengan terjadi meskipun cukup sulit ditemukan anamnesis, pemeriksaan dengan perabaan. Dismorfologi dan fisik, dan pemeriksaan murmur jantung yang mengarah penunjang. Beberapa hal pada kelainan jantung bawaan yang dapat ditanyakan saat juga merupakan gejala yang sering anamnesis, antara lain dikaitkan dengan hipotiroidisme riwayat kehamilan kongenital. berkepanjangan, Pemeriksaan penunjang keadaan bayi (panjang yang dapat dilakukan dan berat badan lahir adalah uji kadar tirotropin besar, hipotonia, atau dan T4 bebas. Pada sulit makan), riwayat hipotiroidisme kongenital kelainan tiroid pada primer, kadar tirotropin tinggi, ibu, dan riwayat keluarga sementara pada hipotiroidisme (kelainan tiroid pada kongenital sekunder (yang keluarga, riwayat sepuluh kali lebih langka), konsanguinitas kadar tirotropin tertekan. orangtua, atau etnis Setelah memenuhi kriteria tertentu). patut dicurigai, dan dengan meutia/MA Saat pemeriksaan kerjasama dari keluarga, fisik, bayi pasien harus didiagnosis dengan hipotiroidisme kongenital dapat dan ditata laksana lebih lanjut. menunjukkan beberapa tanda, seperti Pemeriksaan penunjang lain yang fontanel besar, makroglosia, kulit kering dan dapat dilakukan adalah pencitraan natrium berbercak, hernia umbilikalis, dan kuning perteknetat. Pemeriksaan ini dilakukan

JASA PEMBUATAN BUKU Media Aesculapius menyediakan jasa penyusunan buku yang sangat fleksibel

24 jam setelah hasil screening yang mencurigakan. Pada pencitraan ini, bayi sebaiknya diberi makan untuk mencegah akumulasi zat radioaktif pada kelenjar saliva, sekaligus membuat bayi lebih nyaman di bawah kamera. Tiroid ektopi sublingual juga dapat terlihat dalam pencitraan. Tidak adanya asupan perteknetat dapat mengindikasikan ketiadaan hormon tiroid, baik sementara (antibodi inaktif reseptor tirotropin, kelebihan iodida akut), maupun permanen (inaktivasi reseptor tirotropin, mutasi simporter natrium/iodida). Alat bantu lain yang dapat digunakan untuk mendeteksi gondok adalah ultrasonografi. Namun, USG kurang berguna dibandingkan skintigrafi tiroid karena sangat bergantung pada operator dan mudah mengalami hasil palsu akibat artefak pergerakan alat (movement artifact). Tidak adanya kedua epifisis lutut pada foto polos anteroposterior pada bayi yang lahir sesuai waktu juga dapat mengindikasikan hipotiroidisme sejak prenatal, dan memiliki nilai prognostik yang terkait dengan perkembangan neurokognitif. stefanus

baik dalam hal desain cover dan isi, ukuran dan tebal buku, maupun gaya penulisan termasuk menyunting tulisan anda. Tak terbatas hingga penyusunan saja, kami siap melayani distribusi buku anda. Adapun buku yang pernah kami buat: buku biografi tokoh, buku pemeriksaan fisik berbagai departemen, buku jurnal, dan Kapita Selekta Kedokteran.

Hubungi Hotline MA: 082-229-229-362 (SMS/WhatsApp)


4

SEPTEMBER - OKTOBER 2017

MA INFO

JULI

KLINIK

MEDIA

AESCULAPIUS

Menengok Peran Dokter Umum dalam Menghadapi Pasien Strok Dihadapkan pada pasien yang dicurigai strok di Instalasi Gawat Darurat (IGD), apa saja tindakan yang dapat dilakukan dokter umum?

S

trok merupakan suatu kegawatdaruratan neurologi yang memerlukan penanganan segera untuk mencegah kecacatan dan kematian. Strok masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama di dunia. Menurut data Global Burden of Disease (GBD) Study 2013, terdapat 25.7 juta pasien strok (71% diantaranya merupakan strok iskemik), 11.3 juta orang mengalami kecacatan akibat strok, dan 6.5 juta orang meninggal akibat strok. Berdasarkan data Riskesdas 2013, prevalensi strok di Indonesia meningkat dari 8.3% (2007) menjadi 12.1% (2013). Strok didefinisikan sebagai serangan otak. Sebagai organ vital, otak memerlukan suplai oksigen dan nutrisi secara kontinu. Saat aliran darah ke salah satu area otak berkurang atau terhenti, sel otak akan segera mati. Hal inilah yang terjadi pada strok iskemik. Selain itu, strok hemoragik (perdarahan) terjadi saat pembuluh darah otak pecah sehingga darah tersebut akan menekan jaringan otak di sekitarnya. Akibat kedua jenis strok tersebut, pasien menunjukkan gejala defisit neurologis, seperti kelumpuhan pada satu atau kedua sisi tubuh, gangguan keseimbangan, penghidu, penglihatan, pendengaran, somatik sensoris, kognitif (atensi, memori, bicara verbal, dan

lainnya), dan kesadaran. menunjukkan ketiga hal abnormal tersebut, Sebelum tiba di rumah sakit, skala kemungkinan strok >85%. Keadaan seperti strok Cincinnati dapat digunakan untuk ini harus diperiksa lebih lanjut oleh dokter di mengidentifikasi apakah seseorang rumah sakit. mengalami strok atau tidak. Pertama, amati Dalam kurun waktu sepuluh menit sejak wajah dengan meminta pasien tersenyum kedatangan pasien di IGD, dokter umum atau menunjukkan giginya. Bukanlah hal yang sedang berjaga sudah harus melakukan normal apabila salah atau kedua sisi wajah konfirmasi diagnosis strok, pemeriksaan pasien tidak umum, dan pemeriksaan neurologis. bergerak. Pertama, lakukan penilaian Kedua, amati Airway-Breathinglengan dengan Circulation (ABC) dan meminta evaluasi tanda vital. pasien menutup Pemberian oksigen mata sambil dilakukan ketika mengangkat saturasi oksigen kedua lengan. <94% (hipoksemia). Jika salah satu Setelah jalur lengan tidak intravena bergerak atau terpasang, sampel salah satu lengan darah dapat diambil lebih rendah dari yang lain, hal untuk hitung darah lengkap, mitzy/MA tersebut menunjukkan sesuatu yang pemeriksaan koagulasi, dan kadar tidak normal. Ketiga, amati kemampuan glukosa. Satu ampul dekstrosa 50% bicara dengan meminta pasien mengucapkan diberikan secara intravena jika kadar glukosa kalimat sederhana. Hasil tidak normal jika <60 mg/dL, sedangkan insulin diberikan jika pelafalan kurang jelas atau tidak dapat kadar glukosa >300 mg/dL. berbicara. Seseorang yang memiliki salah Selain mencatat waktu pasien tiba di satu dari tiga tanda tersebut, kemungkinan IGD, dokter menanyakan kapan mulai stroknya sebesar 72%. Ketika seseorang timbul gejala strok. Anamnesis dilakukan

untuk mengetahui apakah terjadi penurunan kesadaran mendadak, kelemahan pada salah satu atau kedua sisi tubuh, berbicara pelo, gangguan bahasa (afasia, motorik, sensorik,atau global), mulut mencong, atau gangguan menelan. Selanjutnya, lakukan pemeriksaan neurologis dengan mengacu pada National Institute of Health Stroke Scale (NIHSS). Skala ini terdiri atas sebelas kriteria, dengan skor yang menggambarkan keadaan atau kemampuan pasien. Pemeriksaan ini dilakukan secara cepat, dengan langsung mencatat jawaban selagi melakukan pemeriksaan serta tidak meminta pasien mengulangi tindakan dengan usaha lebih. Klasifikasi skor total dapat berupa nol (tanpa strok), 1-4 (strok minor), 5-15 (strok sedang), 15-20 (strok sedang/berat), dan 21-42 (strok berat). Selanjutnya, segera lakukan pemeriksaan CT scan otak tanpa kontras. Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan EKG 12 lead perlu dilakukan untuk mengetahui adanya infark miokardium akut atau aritmia sebagai penyebab strok emboli. Tindakan-tindakan tersebut dapat dilakukan oleh dokter umum yang sedang berjaga. Tahap selanjutnya akan diambil alih oleh dokter spesialis saraf. renata

ASUHAN KESEHATAN

Merawat Bayi Berat Lahir Rendah Tanpa Inkubator

B

JASA TERJEMAHAN

Banyak cara untuk merawat bayi dengan berat lahir rendah yang lebih murah, efektif, dan efisien. Penasaran?

ayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram. BBLR tidak hanya terjadi pada bayi prematur tetapi dapat juga terjadi pada bayi yang lahir cukup bulan yang mengalami gangguan akis/MA pertumbuhan dan perkembangan selama masih dalam kandungan. Di Indonesia, kelahiran BBLR merupakan penyebab kematian nomor dua pada bayi baru lahir usia 0-7 hari. Hal ini terjadi karena tujuh hari pertama pada BBLR merupakan periode kritis dimana bayi harus melalui berbagai penyesuaian kehidupan di luar kandungan. Masalah lain yang muncul pada BBLR adalah bayi menjadi rentan mengalami hipotermia karena lemak subkutan yang sangat tipis sehingga suhu tubuh mudah dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada BBLR, suhu tubuh bayi harus selalu dipantau dan dijaga sejak lahir karena bayi mudah sekali kehilangan

panas tubuhnya. Akan tetapi, pada daerah terpencil di Indonesia, perawatan BBLR menggunakan inkubator sulit dilakukan, karena selain jumlahnya yang terbatas, biaya perawatannya cukup tinggi. Dengan perkembangan penelitian, telah ditemukan cara alternatif untuk mencegah bayi kehilangan panas. Cara pertama adalah mengeringkan seluruh tubuh bayi segera setelah lahir untuk mencegah hilangnya panas melalui penguapan cairan ketuban, kecuali bagian tangan yang dibersihkan tanpa menghilangkan verniks. Selanjutnya, menyiapkan kantung plastik atau pembungkus polietilen untuk membungkus ekstremitas bayi. Cara ketiga adalah metode kontak kulit ke kulit dengan meletakkan bayi di dada ibu paling sedikit satu jam sekaligus melakukan inisasi menyusui dini (IMD). Selama proses ini, suhu tubuh ibu akan menyesuaikan suhu yang dibutuhkan bayi. Cara lainnya adalah melindungi kepala bayi dengan menggunakan topi agar bayi tidak kehilangan panas melalui paparan aliran udara dan menggunakan selimut

Kabar Gembira! Media Aesculapius menyediakan jasa terjemahan IndonesiaInggris dan Inggris-Indonesia dengan waktu pengerjaan singkat (3 x 24 jam) Angun Frida Mahasiswi Fakultas Keperawatan Universitas Indonesia Tingkat 4 untuk melingkupi punggung bayi saat IMD. Penundaan untuk memandikan bayi hingga enam jam setelah lahir berguna untuk mencegah penyerapan panas oleh benda sekitar. Ketika memindahkan BBLR menuju ruang perawatan, gunakan selimut penghangat atau plastik. Metode lain yang dapat digunakan adalah perawatan metode kanguru (PMK). Ajarkan ibu untuk melakukan PMK minimal satu jam setiap hari meskipun sudah di rumah. PMK memiliki banyak manfaat. Selain dapat mencegah bayi kehilangan panas, berat badan bayi bertambah karena frekuensi menyusui yang lebih sering, serta meningkatkan bonding attachment antara anak dan ibu Dengan metode ini, keterbatasan alat inkubator tidak lagi menjadi penghalang bagi BBLR untuk dapat bertahan hidup dan mencapai kondisi sehat.

serta hasil terjamin. Tidak hanya jasa terjemahan, kami juga menyediakan jasa pembuatan slide presentasi dan poster ilmiah sesuai kebutuhan Anda.

Hubungi Hotline MA: 082-229-229-362 (SMS/Whatsapp)


MEDIA

Ilmiah Populer JULI

SEPTEMBER - OKTOBER 2017

AESCULAPIUS

5

KESMAS

Hadapi Tantangan Penyakit Tidak Menular Melalui Gerakan Masyarakat Sehat

G

Penyakit Tidak Menular (PTM) telah menggeser penyakit infeksi sebagai penyebab kematian terbesar di dunia. Lantas, bagaimana Gerakan Masyarakat Sehat (GERMAS) dapat menurunkan angka PTM di Indonesia?

lobal Burden of Disease pada tahun 2014 menyebutkan bahwa sepuluh penyakit yang menduduki peringkat teratas penyebab mortalitas dan morbiditas terbesar adalah PTM. Statistik Indonesia juga menunjukkan adanya pergeseran penyebab kematian tertinggi masyarakat Indonesia dalam tiga puluh tahun terakhir. Pada era ical/MA 1990-an, penyakit menular atau penyakit infeksi menjadi penyebab terbesar morbiditas dan mortalitas di Indonesia, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), tuberkulosis (TB), dan diare. Namun, dalam tiga puluh tahun terakhir, penyebab kesakitan dan kematian tertinggi di Indonesia sudah bergeser menjadi PTM dengan stroke sebagai penyebab kematian utama disusul hipertensi, diabetes, kanker, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

INFO OBAT

Sebanyak tujuh dari seratus orang di Indonesia menderita penyakit jantung dan stroke. Tak hanya mortalitas, PTM juga merenggut sebagian besar proporsi biaya jaminan kesehatan. Seperti yang disampaikan oleh Menteri Kesehatan RI, Nila F. Moeloek, dana yang dikeluarkan untuk membiayai beban penyakit tidak menular mencapai 6,9 triliun pada tahun 2016. Sebenarnya, PTM dapat dicegah melalui upaya preventif dan promotif serta kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan melalui penerapan gaya hidup yang baik. Seperti yang telah disebutkan, faktor risiko terbesar dari penyakit tidak menular adalah gaya hidup yang tidak sehat, seperti kurangnya aktivitas fisik dan kurangnya konsumsi buah dan sayur. Karena beban penyakit tidak menular begitu besar di Indonesia, pemerintah Indonesia mencanangkan sebuah program sebagai

upaya promotif dan preventif terhadap PTM, yaitu GERMAS. Gerakan ini dibuat agar masyarakat dapat berperilaku sehat sehingga produktivitas diharapkan meningkat, biaya berobat berkurang, dan kesehatan terjaga. GERMAS adalah suatu gerakan yang harus dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama harus dimulai dari keluarga, sebab keluarga merupakan bagian terkecil dari masyarakat di mana kepribadian seseorang dibentuk dan pada akhirnya menghasilkan suatu kebiasaan. Bentuk kegiatan GERMAS dirumuskan menjadi tujuh poin, yaitu melakukan aktivitas fisik, mengonsumsi sayur dan buah, tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol, memeriksa kesehatan secara rutin, membersihkan lingkungan, dan menggunakan jamban. Aktivitas fisik dapat dilakukan di mana saja asalkan minimal dilakukan selama tiga puluh menit dalam sehari. Sayuran dan buah-buahan dianjurkan tersedia dalam menu makanan seharihari. Pemeriksaan kesehatan juga penting untuk dilakukan setiap enam bulan sekali,

meliputi pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, lingkar perut, tes darah lengkap laboratorium, serta untuk wanita, dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan dini kanker leher rahim. Seluruh kegiatan GERMAS dapat dimulai dari diri sendiri sejak saat ini juga, serta tidak memerlukan biaya yang besar. GERMAS diharapkan dapat membangkitkan kesadaran seseorang bahwa sehat dimulai dari diri sendiri. Mengubah kebiasaan lama bukanlah hal mudah. Namun, penerimaan program GERMAS dalam kalangan masyarakat merupakan hal yang terpenting. Penerimaan harus diawali dengan sosialisasi. Hingga saat ini, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui gerakan ini. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita mulai GERMAS dari diri kita sendiri dan kemudian menularkannya pada lingkungan terdekat di sekitar kita. Sebab dengan GERMAS, Indonesia pasti bisa menurunkan beban global akibat kejadian penyakit tidak menular. erin

Nebivolol: Si Antihipertensi yang Multifungsi Penyekat reseptor beta sudah tidak asing lagi digunakan pada pasien hipertensi. Namun, tahukah Anda bahwa ada beta blocker yang memiliki efek vasodilator secara langsung dan juga sebagai antioksidan?

H

ipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyakit tidak menular (PTM) yang masih sering dijumpai di Indonesia. Berdasarkan JNC VIII, seseorang dikatakan hipertensi jika memiliki tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih. Ada berbagai macam penyebab hipertensi, faktor genetik dan lingkungan turut berperan dalam perkembangan penyakit ini. Salah satu obat yang digunakan untuk pasien hipertensi adalah penyekat reseptor beta. penyekat reseptor beta bekerja dengan cara menghambat adenoreseptor beta yang salah satu jenisnya, yakni beta-1, terdapat di jantung. Nebivolol merupakan golongan obat beta-1 bloker yang paling selektif dan memiliki kekuatan 320 kali lebih besar untuk berikatan dengan reseptor beta-1 daripada reseptor beta-2, sehingga fungsinya bagi jantung sangat signifikan. Efek dari penghambatan reseptor beta-1 ini adalah penurunan denyut dan kerja pompa jantung, serta tekanan darah sistolik dan diastolik. Berbeda dengan obat golongan beta-1 bloker lainnya, Nebivolol juga memiliki efek vasodilator secara langsung. Efek vasodilator ini disebabkan oleh kemampuan nebivolol dalam mengaktivasi reseptor beta-3 sehingga menstimulasi enzim nitric oxide synthase pada endotel untuk menghasilkan nitrit oksida yang akan menyebabkan vasodilatasi. Selain itu, nitrit oksida yang diproduksi juga berfungsi sebagai antioksidan serta berguna dalam menghambat proses inflamasi pada

endotel. Karena fungsinya yang berbeda dari golongan beta-1 bloker lainnya, nebivolol dapat dikategorikan ke dalam golongan beta bloker generasi ketiga. Nebivolol digunakan pada pasien dengan hipertensi esensial/primer, yakni hipertensi yang sebabnya masih belum diketahui secara pasti. Di Amerika, nebivolol digunakan hanya sebagai antihipertensi, sedangkan nebivolol di Eropa telah mulai digunakan juga sebagai obat gagal jantung. Meskipun penggunaannya tidak masuk dalam pedoman tata laksana hipertensi, nebivolol terbukti dapat menurunkan resistensi pembuluh darah tepi dengan efek samping yang minimal. Pada studi yang membandingkan nebivolol dengan atenolol dan metoprolol, te re terbukti bahwa nebivolol sia /M memiliki risiko yang lebih rendah A dalam menyebabkan gangguan kardiovaskular lebih lanjut. Akan tetapi, nebivolol tidak masuk dalam terapi lini pertama untuk pengobatan hipertensi primer walaupun efeknya sebanding dengan

ACE inhibitor, angiotensin receptor blocker, dan calcium channel blocker dalam menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi ringan dan sedang. Nebivolol dapat diberikan oral kepada pasien dan umumnya diabsorpsi dengan sangat cepat. Di dalam tubuh, sekitar 98% dari obat ini terikat dengan protein dan dimetabolisme di dalam hati. Tak hanya obatnya, metabolit obat ini juga berfungsi dalam menghambat reseptor beta1. Nebivolol diekskresikan melalui urin sebanyak 35% dan feses sebanyak 44% pada pasien dengan metabolisme normal. Efek samping dari nebivolol yang biasa ditemukan, antara lain pusing, sakit kepala, mual, diare, sembelit, serta sesak napas. Walaupun demikian, insidensi efek samping akibat nebivolol lebih rendah dibandingkan penyekat reseptor beta lainnya. Sebuah studi meta-analisis yang membandingkan antara nebivolol dan losartan, antagonis kalsium, serta obat penyekat beta dan antihipertensi lainnya membuktikan bahwa nebivolol memiliki efek samping yang lebih sedikit dengan

kekuatan efek yang sama. Studi lain yang membandingkan nebivolol dengan penyekat reseptor beta lainnya menunjukkan bahwa disfungsi erektil yang biasanya sering dijumpai pada pengguna penyekat reseptor beta terjadi pada frekuensi yang lebih rendah apabila menggunakan nebivolol. Oleh karena itu, nebivolol aman digunakan bagi pasien hipertensi dengan disfungsi erektil. Meskipun terbilang cukup aman, nebivolol harus dihindari oleh pasien dengan gangguan hati berat serta pasien dengan hipersensitivitas terhadap obat ini. Anak dan remaja serta ibu menyusui juga tidak direkomendasikan untuk mengonsumsi nebivolol. Bagi ibu hamil, nebivolol sebaiknya tidak digunakan karena dapat mengakibatkan efek berbahaya bagi janin. nadhira Nama generik : Nebivolol Nama dagang : Nebilet ÂŽ Indikasi : hipertensi esensial Kontraindikasi : hipersensitivitas, gangguan hati, anak dan remaja Cara pemberian : Satu tablet (5 mg) sehari bersama dengan makan pada waktu yang sama setiap hari, di atas 65 tahun dan gagal ginjal 2,5 mg/hari, dapat ditingkatkan menjadi 5 mg/hari Sediaan : tablet


6

SEPTEMBER - OKTOBER 2017

I

JULI lmiah

Populer

MEDIA

AESCULAPIUS

ARTIKEL BEBAS

Konsumsi Daging Berlimpah: Apakah Baik? Konsumsi daging, telur, dan produk hewani lainnya memang dapat memenuhi kebutuhan protein sehari-hari. Namun, apa yang terjadi jika konsumsinya berlebihan?

Seperti karbohidrat dan lemak, protein merupakan salah satu makronutrien dengan berbagai fungsi yang harus dikonsumsi oleh manusia setiap hari. Selain menyusun berbagai enzim dan hormon serta menjadi bagian dari membran sel, ia juga berperan dalam antibodi tubuh serta protein kontraktil pada otot. Protein-protein tertentu, seperti hemoglobin, transferrin, dan albumin memiliki peran khusus pada darah, dan terdapat pula nukleoprotein yang menstabilkan struktur RNA dan DNA. Protein disusun oleh asam amino, yang kebanyakan disusun oleh dua puluh asam amino. Asam amino diklasifikasikan sebagai esensial dan nonesensial, karena tidak seluruh asam amino dapat disintesis dalam tubuh. Asam amino esensial, seperti fenilalanin, triprofan, dan metionin harus diperoleh dari diet sehari-hari. Protein yang mengandung seluruh asam amino esensial disebut sebagai high biological value protein dan dapat diperoleh melalui seluruh protein hewani kecuali gelatin. Jika tidak mengandung asam amino esensial yang lengkap, ia dianggap memiliki low biological value, seperti tempe yang termasuk protein nabati. Oleh karena itu, orang-orang dengan jenis diet vegetarian atau vegan yang tidak mengonsumsi produk hewani harus memastikan bahwa ia memperoleh asam amino yang cukup setiap harinya dengan mengonsumsi berbagai jenis makanan nonhewani yang mengandung protein. Menurut World Health Organization (WHO), protein yang dikonsumsi setiap hari harus mencukupi 10-15% dari total energi. Rekomendasi konsumsi protein per hari untuk dewasa adalah 0,8 gram/

SEGAR

kg/hari. Orang yang banyak berolahraga membutuhkan 1,1-1,4 gram/kg/hari, sedangkan atlet profesional dapat membutuhkan 1,2-1,4 gram/kg/hari. Angka tersebut dapat dipenuhi dengan mengonsumsi daging ayam, ikan, hingga susu dan telur, dengan kandungan protein yang berbeda-beda. Bayi dan anak-anak, yang masih dalam masa pertumbuhan, serta ibu hamil atau menyusui memiliki kebutuhan protein yang lebih tinggi sehingga jumlah protein yang dikonsumsi dalam diet harus disesuaikan. Atlet-atlet yang berada dalam masa pemulihan dari cedera serta orang yang ingin membangun otot dengan latihan banyak mengonsumsi protein dalam diet hariannya. Selain dari makanan, banyak orang yang menggunakan suplemen atau bubuk protein. Beberapa bentuk umumnya adalah protein whey, kasein, dan kedelai. Whey paling sering digunakan karena ia merupakan protein susu yang larut dalam air dan mengandung seluruh asam amino esensial yang dibutuhkan. Tentunya mengonsumsi protein berdampak positif bagi tubuh. Namun, apa yang akan terjadi jika konsumsinya

terlalu banyak? Diet tinggi protein melebihi angka rekomendasi konsumsi harian menghasilkan banyak asam pada cairan tubuh. Ginjal merespon kondisi ini dengan mengekskresikan asam, sedangkan tulang memberikan dapar melalui resorpsi aktif tulang. Akibatnya, terjadi kehilangan kalsium yang berlebihan. Pada suatu studi metabolik, peningkatan konsumsi protein menyebabkan penurunan retensi kalsium dan peningkatan kalsium pada urin. Hiperkalsiuria yang diinduksi oleh protein tersebut terjadi karena peningkatan laju filtrasi glomerulus (LFG) dan reabsorbsi kalsium tubular renal yang lebih rendah. Studi prospektif lain menemukan bahwa protein diasosiasikan dengan itsna/MA peningkatan risiko fraktur tangan pada wanita yang mengonsumsi 95 gram protein/hari dibandingkan wanita yang mengonsumsi kurang dari 68 gram/hari. Protein yang dikonsumsi berlebihan juga berakibat buruk jika diiringi dengan konsumsi air yang kurang. Hiperkalsiuria yang terjadi karena protein dapat menyebabkan pembentukan batu ginjal kalsium. Selain itu, protein hewani juga merupakan sumber utama purin,

prekursor asam urat. Hal ini diasosiasikan dengan hiperurikosuria, yaitu kondisi yang ditemukan pada sebagian penderita batu asam urat. Kelarutan asam urat ditentukan oleh pH urin. Jika pH turun di antara 5.5-6.0, solubilitas asam urat menurun sehingga ia terpresipitasi bahkan tanpa hiperurikosuria. Sekitar delapan puluh persen kasus kanker payudara, prostat, dan usus memiliki kaitan dengan konsumsi makanan. Terdapat asosiasi positif antara kasus-kasus tersebut saat dikaitkan dengan diet tinggi daging. Asosiasi tersebut lebih konsisten ditemukan pada kanker kolorektal dengan daging merah atau daging yang diproses. Diet tinggi daging/protein juga dapat menimbulkan gangguan fungsi hati dan progresi terhadap penyakit arteri koroner yang diduga akibat peningkatan deposisi lipid dan jaras koagulasi serta inflamasi. Hiperalbuminemia serta transaminase yang meningkat juga telah diasosiasikan dengan kondisi diet tinggi protein. Meskipun diet tinggi protein jangka pendek dapat dibutuhkan pada beberapa kondisi patologis seperti sarkopenia dan malnutrisi, tetapi jumlah protein yang terlalu banyak dalam diet sehari-hari tidak berarti baik bagi seseorang. Protein yang berlebihan tidak digunakan secara efisien oleh tubuh dan dapat menimbulkan beban metabolik pada hati, ginjal, dan tulang. Hal tersebut juga telah diasosiasikan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner karena kandungan kolesterol dan lemak tersaturasi. Oleh karena itu, tiap orang sebaiknya menyesuaikan dietnya sehari-hari dengan kondisi dan kebutuhan tubuh serta rekomendasi asupan yang ada. tiffany

Sistem Ekskresi Manusia

MENDATAR 1. Penyebab tersering nefritis 5. Banyak CO2 tertahan dalam tubuh 8. Jenis kelenjar keringat 9. Bentuk transportasi CO2 paling banyak 11. Penampung urin sementara 13. Kandungan batu ginjal 14. Zat warna urin 15. Antibiotik yang dikontraindikasikan pada pasien gagal ginjal 17. Unsur organik sedimen urin 18. Tahapan dalam pembentukan urin 19. Modalitas observasi batu urat 20. Organ berpasangan dengan bentuk seperti kacang

MENURUN 2. Lokasi kerja ADH 3. Regulasi molalitas urin pada tubulus henle 4. Unit filtrasi pada korteks renal 6. Infeksi yang didukung penyempitan pada tubulus ginjal 7. Urin sedikit 10. Bau indikasi bakteri dalam urin 12. Indikasi gagal ginjal 16. Zat eksogen untuk mengukur clearance ginjal

lika/MA


MEDIA

Ilmiah Populer JULI

SEPTEMBER - OKTOBER 2017

AESCULAPIUS

JOURNAL READING

IPTEK

Menguak Sumber Alami DHA, Si Pencerdas Otak

D

DHA sudah lama diketahui akan manfaatnya dalam perkembangan otak. Tahukah Anda sumber lain selain ikan laut yang juga kaya akan DHA?

ocosahexaenoic acid atau yang akrab (Puntius sophore), juga tidak kalah kandungan disebut DHA adalah sebuah asam DHA-nya dibandingkan ikan tuna. Ikanlemak rantai panjang omega-3 ikan dari Amerika Selatan, seperti Brycon yang memiliki beragam dampak baik bagi cephalus dan peacock bass (Cichla ocellaris), tubuh. DHA memiliki efek anti-inflamasi juga merupakan beberapa jenis ikan air dan memengaruhi perkembangan otak dan tawar yang mengandung kadar DHA yang retina. Salah satu sumber dari DHA yang tinggi (masing-masing 21.73% dan 25.42%). terkenal adalah ikan laut dalam, Beragam jenis ikan ini memiliki keuntungan seperti salmon, tuna, dan kod, karena ikan-ikan tersebut lebih terjangkau atau beragam jenis lumut dan dapat diternakkan di (alga). Namun, kedua Indonesia. sumber ini seringkali Sebenarnya, Indonesia sulit terjangkau, sendiri memiliki potensi khususnya oleh akan fauna yang masyarakat kaya akan dengan status DHA dalam ekonomi jumlah yang menengah ke fantastis. bawah. Selain itu, Beragam jenis penangkapan massal ikan yang terdapat di kristian/MA ikan-ikan ini dapat Indonesia ternyata mengakibatkan kerusakan memiliki kandungan DHA ekosistem biota laut. Oleh yang tinggi. Salah satu jenis ikan karena itu, sampai saat lokal yang kaya akan DHA adalah ini masih terus dilakukan ikan siro (Amblygaster sirm) dan tembang pencarian sumber lain yang lebih terjangkau (Sardinella gibbosa). Kadar DHA pada tubuh yang kaya akan DHA ini. ikan siro adalah sekitar 21,32%, sementara Ikan tuna, yang selama ini diketahui pada ikan tembang secara umum sekitar sebagai sumber DHA konvensional, 12,18%. mengandung kadar DHA sebesar 24,56%. Bukan hanya produk hewani, tetapi Selain ikan tuna, ada beragam ikan lain produk nabati ternyata juga dapat yang juga disebut kaya akan DHA. Di menghasilkan DHA. Terdapat beberapa India, misalnya, ikan laut, seperti ikan hilsa tanaman yang secara alami mampu (Tenualosa ilisha), lemuru (Sardinella longiceps), menyintesis asam lemak tak jenuh (polydan kurisi (Nemipterus japonica), atau ikan air unsaturated fatty acid/PUFA) yang mudah tawar, seperti shad (Gudusia chopra) dan barbir diubah menjadi DHA. Kemampuan tersebut

juga dapat direkayasa melalui bioengineering. Contoh produk nabati tersebut, yakni minyak dari tanaman Echtum yang mengandung asam stearidonat dan lebih mudah diubah menjadi DHA. Minyak ini dapat digunakan sebagai suplementasi pakan ternak. Tanaman kedelai dan tembakau tertentu juga sudah dapat direkayasa supaya memiliki kadar DHA yang cukup tinggi dalam minyaknya. Suplementasi DHA saat ini kebanyakan berasal dari biji lenan (Linseed atau Linum usitatissimum L.). Walaupun tidak mengandung DHA, tumbuhan ini mengandung asam alfa-linolenat. Asam lemak ini dapat diubah menjadi DHA dalam tubuh manusia melalui bantuan enzim elongase dan desaturase. Konsumsi minyak ini terbukti dapat meningkatkan kadar asam alfa-linolenat, asam eikosapentanoat, dan DHA secara signifikan. Sayangnya, klaim kesehatan bagi zat ini tidak disetujui secara resmi oleh Uni Eropa karena kurang didukung bukti ilmiah. Secara umum, asam alfa-linolenat sebenarnya tidak efisien sebagai suplemen DHA, karena kadar yang diubah menjadi DHA sangat sedikit. Pencarian akan DHA pada sumbersumber biologis kini berkembang ke arah sintesis pada jasad renik. Pencarian akan mikroorganisme yang tepat untuk membuat DHA secara massal, baik yang alami maupun yang direkayasa, masih terus diteliti. Dengan keanekaragaman sumber-sumber DHA di atas, diharapkan DHA semakin mudah dijangkau oleh berbagai kalangan masyarakat. stefanus

ADVERTORIAL

Wireless Pacemaker untuk Jantung yang Lemah Alat pacu jantung berbasis nirkabel yang yang ini disebut efektif dan aman untuk digunakan pada beberapa pasien dengan kelainan jantung.

B

7

eberapa tahun terakhir para ahli mencoba mengembangkan wireless pacemaker atau alat pacu jantung nirkabel. Perangkat ini telah dipresentasikan di European Society of Cardiology congress di London. Alat ini dapat ditanam secara langsung ke dalam jantung tanpa melalui pembedahan. Sebelum adanya wireless pacemaker, pacemaker konvensional telah digunakan dan dioperasikan menggunakan baterai. Alat ini ditanam di bawah kulit dada atau abdomen dan dimasukkan melalui sayatan dan berfungsi untuk mengontrol irama jantung yang abnormal. Pengguna alat ini adalah mereka dengan detak jantung yang sangat lemah. Pacemaker konvensional berkerja dengan mengirimkan hantaran energi listrik rendah pada denyut jantung secara terus menerus agar dapat berdetak secara teratur dengan kecepatan yang tepat. Alat ini terdiri atas dua baterai yang dikelilingi kotak logam tipis, generator komputerisasi, dan kabel dengan sensor di ujungnya yang disebut elektroda. Kabel berfungsi menghubungkan generator ke jantung dan elektroda untuk mendeteksi aktivitas listrik jantung dan mengirimkan data melalui kabel ke komputer di dalam generator. Jika irama jantung pasien tidak normal, komputer akan langsung merangsang generator untuk mengirimkan hantaran listrik ke jantung pasien melalui kabel. Baterai dapat bertahan antara 5-15 tahun (rata-rata 6-7 tahun) bergantung pada aktifnya alat ini. Namun, kabel pada alat pacu konvensional dapat menyebabkan infeksi.

Selain itu, perangkat ini dapat menyebabkan bengkak, perdarahan, memar, kolaps paru, bahkan infeksi di daerah pacemaker ditempatkan. Walaupun relatif aman, pasien harus menghindari tempattempat yang berkontak langsung dengan perangkat listrik atau perangkat yang memiliki lapangan magnet yang kuat, seperti handphone, MP3 player, peralatan rumah tangga seperti microwave, kabel bertegangan tinggi, detektor logam, generator listrik, MRI, dan perangkat keamanan bandara. Benda-benda tersebut dapat mengganggu alat pacu jantung konvensional bahkan dapat menghentikan persinyalan listrik pada perangkat tersebut. Salah satu jenis pacemaker iru konvensional n/M A adalah Cardiac Resynchronisation Therapy (CRT) devices. CRT digunakan pada pasien dengan gagal jantung di mana dinding ventrikel kiri dan kanan tidak bekerja bersamaan sehingga ventrikel tidak dapat berkontraksi beriringan. Oleh sebab itu, peneliti berusaha untuk mengembangkan alat pacu jantung yang baru. Perangkat ini merupakan wireless pacemaker yang dimasukkan melalui kateter dari vena kaki ke ventrikel kanan jantung. Alat ini

lebih kecil dibandingkan dengan pacemaker konvensional yakni hanya sebesar enam milimeter. Semua komponennya bersifat otomatis. Para peneliti telah menganalisis tiga ratus pasien yang menggunakan perangkat ini selama enam bulan. Alat ini ditemukan efektif 90% dan aman dari komplikasi serius sekitar 93%. Alat pacu jantung berbasis nirkabel ditujukan untuk sebagian kecil pasien yang memiliki persistent atrial fibrillation jangka panjang ditambah detak jantung yang lambat. Selain itu, indikasi lainnya adalah sindrom bradikardi-takikardi atau disfungsi nodus sinus. Namun, alat ini dikontraindikasikan pada pasien yang memiliki perangkat implan lainnya seperti penyaring vena cava inferior, katup trikuspid mekanik, atau perangkat implan jantung yang menyediakan terapi jantung aktif sehingga dapat memengaruhi kerja alat ini. Kontraindikasi lainnya yaitu pasien dengan anatomi vena femoralis yang tidak dapat dilewati oleh kateter sebesar 7,8 mm akibat obstruksi, pasien dengan obesitas karena dapat mencegah perangkat implan tersebut memperoleh komunikasi telemetri sebesar <12,5 cm, atau pasien dengan intoleransi terhadap bahan-bahan perangkat pacu jantung wireless ini. Komplikasi yang dapat terjadi adalah reaksi alergi, pembengkakan, takikardia, infarkmiokard, perforasi jantung, efusi perkardial, dan embolisasi perangkat. aisyah

Liraglutide dan Efeknya pada Ginjal pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2

P

asien diabetes mellitus (DM) tipe 2, terutama dengan kelainan kardiovaskular, berisiko tinggi mengalami penyakit ginjal kronik. Melalui kontrol kadar gula darah, risiko kejadian nefropati diabetik dapat berkurang. Salah satu obat penurun gula darah adalah liragulitide, sebuah analog glucagon-like peptide 1 (GLP-1). Obat ini memiliki efek menguntungkan terhadap gangguan ginjal dalam model eksperimental. Liraglutide juga dapat menurunkan risiko infark miokard nonfatal, stroke nonfatal, hingga kematian. Akan tetapi, efek jangka panjang liraglutide pada ginjal masih belum diketahui. Sebuah studi oleh Mann dkk. membandingkan efek pada ginjal antara liraglutide dan plasebo (1:1) secara randomized controlled trial pada 9.340 pasien DM tipe 2 yang berisiko tinggi mengalami gangguan kardiovaskular dengan follow-up selama 3,5-5 tahun (rata-rata 3,84 tahun). Pasien rata-rata berusia 64 tahun, tekanan darah 136/77 mmHg, laju filtrasi glomerulus (LFG) 80 ml/ menit. Dalam penelitian itu ditemukan 26,3% pasien mengalami mikroalbuminuria dan 10,5% mengalami makroalbuminuria. Secara umum, efek liraglutide pada ginjal lebih baik dibandingkan plasebo [268 vs 337 pasien dengan HR 0,78; 95% CI 0,67-0,92; p=0,003]. Hasil ini dipengaruhi kejadian makroalbuminuria persisten onset baru yang lebih rendah pada liraglutide [HR 0,74; 95% CI 0,60-0,91; p=0,004]. Beberapa studi menyatakan makroalbuminuria dengan awitan baru berhubungan dengan risiko gagal ginjal stadium akhir dan peningkatan dua kali lipat kadar kreatinin serum serta merupakan faktor risiko kejadian kardiovaskular. Akan tetapi, risiko kenaikan kadar serum kreatinin dan gagal ginjal stadium akhir tidak berbeda signifikan pada kedua kelompok. Pada pasien dengan mikroalbuminuria atau makroalbuminuria, LFG < 60 ml/menit, ataupun kombinasi keduanya, liraglutide menunjukkan efek yang lebih rendah pada ginjal walaupun tidak berbeda signifikan. Penurunan LFG dalam 36 bulan lebih rendah pada liraglutide [7.44 vs 7.82 ml/menit; estimated trial group ratio, 1.02; 95% CI 1.00-1.03; P 0.01]. Peningkatan rasio albumin-kreatinin juga lebih rendah pada liraglutide [1.8 vs 6.3 mg albumin/gr kreatinin; estimated trial group ratio, 0.83; 95% CI 0.79-0.88; P < 0.001]. Studi ini membuktikan bahwa liraglutide memberikan efek yang lebih rendah pada ginjal, terutama pada kejadian makroalbuminuria persisten awitan baru pada pasien DM tipe 2. Walaupun belum diketahui mekanisme secara pasti, efek liraglutide yang lebih baik ini kemungkinan akibat sifat anti inflamasinya. Beberapa keterbatasan studi ini, antara lain tidak dapat memantau efek regimen pada jangka waktu lebih panjang ataupun memastikan apakah obat aktif, kontrol glukosa, atau faktor lain (obat lain yang digunakan bersamaan) yang memengaruhi hasil. renata Referensi: Mann JFE, Orsted DD, Frandsen KB, Marso SP, Poulter NR, Rasmussen S, et al. Liraglutide and renal outcomes in type 2 diabetes. N Engl J Med. 2017;3779839-48


8

SEPTEMBER - OKTOBER 2017

O

JULIPINI

& HUMANIORA

MEDIA

AESCULAPIUS

SUARA MAHASISWA

Bijak Bertukar Informasi di Era Globalisasi

P

erkembangan teknologi yang demikian pesat mempermudah penyebaran informasi. Siapa pun dapat membuat konten dan menyebarkannya melalui media sosial. Sayangnya, informasi yang dapat mencapai berbagai pihak tersebut tidak selalu benar. Beberapa waktu lalu, masyarakat Indonesia sempat dihebohkan dengan cuplikan video dari acara talkshow di televisi mengenai seorang ahli pengobatan tradisional dari klinik herbal yang melakukan pembacaan hasil Magnetic Resonance Imaging (MRI). Ia juga menjelaskan beberapa istilah medis, seperti cisterna basalis, craniopharyngioma, dan intrasella. Hal ini tentu tidak tepat karena interpretasi hasil pemeriksaan radiologi seharusnya dilakukan oleh dokter dengan gelar spesialis radiologi. Video tersebut menuai kecaman dari berbagai pihak, mulaidari mahasiswa kedokteran, para dokter, hingga Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Kementerian Kesehatan. IDI pun memberikan pernyataan bahwa seharusnya urusan terkait hal tertentu diserahkan hanya pada ahlinya. Kementerian Kesehatan bersama dengan Dinas Kesehatan Jakarta dan Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan pun melakukan inspeksi mendadak terhadap klinik ahli herbal tersebut, serta memberikan teguran keras pada pihak yang bersangkutan. Kementerian Kesehatan juga mengadukan beberapa iklan produk kesehatan tradisional kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) karena dianggap menyesatkan publik. KPI lalu memanggil beberapa stasiun televisi swasta yang

KOLUM

A

lkisah di suatu pagi di lantai dua gedung rawat inap sebuah rumah sakit pendidikan, saya mendengar sebuah ide yang mengantarkan saya membuat tulisan yang ngalor ngidul ini: “Mereka mempunyai ide untuk mengembangkan chip yang akan dipasang di bawah kulit punggung tangan, dan chip itu akan dapat mendeteksi apabila orang tersebut sakit dan memerlukan pengobatan.” Ide yang terdengar mustahil tersebut terlontar dari mulut seorang profesor, yang beliau dengar dari seorang kawan beberapa waktu yang lalu. Pada awalnya, mungkin Anda—dan saya pula saat itu— bergumam, “Wow, keren!”, tetapi kemudian menganggap ide tersebut sebagai angin lalu karena kita berpikir tidak mungkin akan ada alat seperti itu. Namun, tidakkah perkembangan teknologi masa kini awalnya berasal dari ide-ide yang dulunya dianggap mustahil? Pikiran saya terbang ke ingatan tentang acara televisi zaman dulu dan barang yang ada di kantong snelli saya, dan kantong kebanyakan orang era informatika ini, yakni

Jangan sebarkan informasi menyesatkan jika Anda tidak mau dipidanakan!

menayangkan iklan tersebut. Menurut PP No. 103 tahun 2014 mengenai Pelayanan Kesehatan Tradisional dan Permenkes No. 61 tahun 2016, Penyehat Tradisional dan Panti Sehat dilarang memublikasikan dan mengiklankan Pelayanan Kesehatan Tradisional Empiris yang diberikan. Selain itu, Pasal 5 Permenkes No. 1787 tahun 2010 mengenai Iklan dan Publikasi menjelaskan bahwa sebuah iklan yang memublikasikan obat, alat, atau pun teknologi pelayanan kesehatan baru/ nonkonvensional yang belum diterima oleh masyarakat kedokteran dan/atau kesehatan tidak boleh disebarluaskan. Hal ini dikarenakan manfaat dan keamanannya masih diragukan atau belum terbukti. Kementerian Kesehatan pun melakukan usaha untuk meningkatkan pengawasan iklan kesehatan, mulai dari hansel/MA tahap pra-produksi hingga penayangan, dengan membentuk gugus tugas pengawasan iklan kesehatan. Pengawasan tersebut dilakukan bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan

(BPOM), Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo), Lembaga Sensor Film (LSF), serta pihak lain yang terkait. Klaim yang menyesatkan kerap kali ditemukan di dunia kesehatan. Tidak hanya klinik-klinik pengobatan alternatif yang menjamin dapat menyembuhkan segala macam penyakit dengan obat tertentu, tetapi juga oknumoknum yang membuka klinik kesehatan dan berpraktik sebagai dokter tanpa izin, atau dokter yang menggunakan gelar palsu saat ia berpraktik. Untuk dapat berpraktik di Indonesia, setiap dokter wajib memiliki surat tanda registrasi (STR) dan surat izin praktik (SIP). STR yang diterbitkan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) tersebut dapat diperoleh dengan beberapa persyaratan, di antaranya ijazah dokter atau dokter spesialis, sertifikat kompetensi, serta pernyataan bahwa ia akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi. Selain itu, Surat Izin Praktik (SIP) dikeluarkan oleh pejabat kesehatan yang berwenang di daerah tempat ia hendak berpraktik, di mana satu SIP berlaku untuk satu tempat praktik dan paling banyak berjumlah tiga. Seseorang yang dengan sengaja menimbulkan kesan bahwa seolah-olah yang

Tiffany Rosa Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Tingkat 3

bersangkutan adalah dokter dengan STR atau SIP dapat dipenjara paling lama lima tahun atau didenda hingga 150 juta rupiah. Di sisi lain, dokter yang menggunakan gelar akademik atau sebutan profesi yang bukan haknya untuk kepentingan pribadi dan melanggar disiplin profesional dokter dan dokter gigi dapat dipidanakan. Hal ini sesuai dengan Pasal 3 Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia No. 4 tahun 2011. Masih banyak orang yang percaya dengan klinik pengobatan alternatif atau oknum tertentu dengan berbagai macam klaim yang tidak berdasar. Padahal, setelah uang dan waktu yang dikeluarkan, tidak ada jaminan kesembuhan, bahkan terdapat kasus yang semakin parah. Oleh karena itu, sebaiknya saat menerima informasi jangan langsung percaya dan konfirmasi terlebih dahulu kebenarannya pada orang yang sesuai dengan kompetensinya.

Renungan Pagi Ini Sebuah kontemplasi ke sana kemari mengenai teknologi kesehatan dan nurani.

telepon genggam pintar. Telepon genggam pintar, atau lebih akrab disebut smartphone, yang ramai beredar kini hanya berupa layar sentuh, dan dapat dipakai hampir untuk segala kegunaan. Padahal, hingga lima puluh tahun lalu, desain layar pintar ini hanyalah sebuah fantasi di acara televisi mengenai petualangan makhluk hidup berbagai spesies menjelajahi sudut antariksa yang belum pernah terjamah. Selain itu, hanya beberapa dekade dewi/MA sebelum itu, “komputer pertama” yang konon digunakan Inggris untuk memecahkan sandi perang Jerman, diciptakan. Begitu cepatnya manusia memunculkan ide yang di luar norma saat itu. Lalu ide tersebut terwujud dalam bentuk awal, dan bentuk awal itu melahirkan ide baru yang lebih mustahil, kemudian “voila!”tiba-tiba ide tersebut pun terwujud. Bahkan, jika kita tengok berita di media sosial, candu termutakhir abad ke-21 ini, akhir-akhir ini beredar berita bahwa telah ada negara pertama yang didirikan di luar angkasa! Mungkin pembuat acara televisi yang saya sebutkan tadi cenayang.

Selanjutnya, pikiran saya melanglang buana ke beberapa tahun yang lalu, ketika saya pertama kali mampu memeriksa tekanan darah orang menggunakan sfigmomanometer dengan cara yang baik dan benar. Jujur, saat itu saya merasa cukup bangga. Memeriksa orang dengan stetoskop dan alat yang sulit sekali disebutkan namanya itu, rasanya saya selangkah lebih dekat dengan tujuan saya menjadi seorang dokter. Beberapa tahun kemudian, saya melihat alat baru bernama sfigmomanometer elektronik, alat yang hanya pasang-tekanselesai. Keren sekali! Namun, rasa kagum itu tidak bertahan lama, karena segera tergantikan rasa kesal. Kesal, karena sia-sia sudah saya membiasakan diri memeriksa tekanan darah orang dengan sfigmomanometer manual. Kesal, karena saya tidak lagi merasa keren bisa memeriksa tekanan darah orang. Berkurang pula kesempatan saya mencari dana sukarela untuk acara mahasiswa lewat usaha periksa tekanan darah dekat tempat olahraga. Lucunya, sekarang saya senang sekali dengan sfigmomanometer elektronik itu, karena mempermudah dalam memonitor pasien ketika jaga malam saya sedang mendapat pasien “berlimpah.” Sfigmomanometer elektronik itu juga sangat mempermudah pasien yang memang perlu untuk memonitor rutin tekanan darahnya sendiri di rumah. Pikiran saya pun kembali lagi ke sesaat setelah mendengar ide chip tadi. Saya menatap punggung tangan saya baik-baik.

Aisyah Aminy Maulidina Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Tingkat 5 Sungguh, kini saya tidak lagi merasa ide tersebut mustahil, bahkan sangat mungkin terjadi di era ketika teleportasi, pada batas tertentu, sudah bisa dilakukan ini. Namun, jika datang saatnya nanti perkembangan teknologi dapat melebihi kemampuan saya yang (semoga saat itu sudah menjadi) seorang dokter, apakah saya akan bersyukur atas orang-orang yang dapat diselamatkannya, atau akankah saya menggerutu karena keberadaannya mengambil lahan kerja saya? Saya segera melepas diri dari lamunan itu. “Ah, paling baru terjadi abad depan.”


MEDIA

AESCULAPIUS

JULI OPINI & HUMANIORA

SEPTEMBER - OKTOBER 2017

9

SUKA DUKA

Perintis Studi Spesialis Parasitologi Klinik: Prof. dr. Agnes Kurniawan, PhD., SpParK Walau melenceng dari tujuan awal, ia tetap menekuni bidang studinya, bahkan menjadi pelopor berdirinya spesialis parasitologi pertama di Indonesia.

P

Nama Lengkap Prof. dr. Agnes Kurniawan, PhD., SpParK Pendidikan • 1981: Dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia • 1987: Biologi-Imunologi di Imperial College, Inggris • 2004: Spesialis Parasitologi Klinik di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jabatan • 2013-sekarang: Profesor Bidang Parasitologi • 2015-2018: Kepala Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Publikasi Terakhir • Darlan DM, Wibowo H, Kurniawan A (2015). The relation between immunecompromised status & Strongyloides stercoralis infection: case-control study. Tropical Biomedicine 32(4): 644–9.

rof. Agnes Kurniawan, PhD., SpParK atau akrab dipanggil Agnes lahir pada tanggal 4 Mei 1962. Setelah lulus pendidikan menengah atas pada tahun 1981, awalnya Agnes mendambakan menjadi seorang ahli bahasa atau ahli kimia. Namun, takdir berkata lain. Agnes ternyata diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pada tahun 1981. Meskipun tidak sesuai dengan apa yang awalnya ia impikan, Agnes tetap melanjutkan studinya dan bertekad menjadi dokter yang baik dan berguna bagi masyarakat. “Karena sudah diterima di FKUI yang merupakan fakultas kedokteran nomor satu di Indonesia, saya bersungguh-sungguh menjadi dokter yang baik dan berguna bagi masyarakat. Saya sadar bahwa uang kuliah di FKUI berasal dari dana masyarakat. Uang kuliah yang kami bayarkan sangat kecil dan tak ada artinya dengan uang kuliah satu bulan di SMA swasta saat itu,” ujarnya. Merintis Pendidikan Spesialisasi Parasitologi Klinik Setelah lulus menjadi seorang dokter pada tahun 1987, Agnes kemudian melanjutkan pendidikannya di Imperial College, Inggris, dan memperoleh gelar PhD di bidang imunologi. Sekembalinya ke negeri tercinta ini, wanita yang sekarang menjabat menjadi Ketua Departemen Parasitologi Klinik RSCM-FKUI turut serta mengembangkan program studi spesialisasi parasitologi klinik. “Program studi

spesialisasi parasitologi klinik ini sebelumnya tidak ada. Sayalah yang merintis dan mengembangkannya,” terangnya. Dengan gigih, Agnes memperjuangkan pendirian spesialisasi program studi spesialisasi parasitologi klinik. Ia melihat bahwa penyakit akibat parasit tidak ditangani dengan semestinya dan tidak disadari oleh para klinisi. Hal ini menyebabkan diagnosis penyakit ini menjadi tidak tepat dan berujung pada penanganan yang tidak sesuai. “Oleh karena itu, saya yang telah menyelesaikan PhD di Inggris bergabung untuk mengembangkan program studi spesialisasi parasitologi klinik, yang dalam kurikulum mencakup infeksi parasit dan jamur. Lulusan diharapkan mampu menangani penyakit parasit dan jamur dengan lebih baik sehingga penyakit-penyakit parasit dan jamur dapat terdiagnosis dengan tepat,” ungkapnya. Pada akhirnya, usulan pembentukan program studi tersebut disetujui oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan UI sehingga program studi spesialisasi parasitologi klinik pertama akhirnya dibuka di FKUI. Perjalanan dan Mimpi yang Belum Tercapai Bagi wanita yang menjadi profesor di FKUI pada tahun 2013 ini, perjalanan karir sebagai dokter tidak membawa duka sama sekali. Agnes selalu merasa senang dengan karir yang sudah ditempuhnya selama ini. “Saya selalu melakukan yang terbaik dengan senang hati, materi bukanlah yang utama.” Agnes ternyata masih memiliki mimpi

yang belum tercapai. Masih aktif menjadi anggota Komite Ahli Pengobatan Filariasis atau KAPFI, ia ingin agar orang Indonesia dapat melakukan secara baik penanganan serta riset penyakit parasit yang terjadi di negara sendiri. “Mimpi saya adalah parasitologi klinik bisa menjadi tuan di rumah sendiri, artinya penanganan dan riset penyakit parasit dilakukan secara baik oleh orang kita sendiri. Infeksi parasit merupakan infeksi yang umum di Indonesia, tapi terabaikan dan kurang dikenal oleh tenaga medis kita sehingga WHO melabelnya sebagai Neglected Tropical Disease,” tegasnya. Ia juga menambahkan, “Dampak dari infeksi parasit secara umum tidak dirasakan seketika tapi kerugian yang terjadi dirasakan setelah penyakit menjadi kronis, seperti kaki gajah, gangguan tumbuh kembang, anemia kronis, dan tidak merespons terhadap vaksinasi, atau pada kondisi imunokompromis seperti HIV/AIDS, sebagai infeksi oportunistik yang memperberat perjalanan penyakit penderita HIV.” Pesan untuk Teman Sejawat Menurut Agnes, ilmu parasitogi klinik masih sangat kurang dikenal karena promosi yang minim. Oleh karena itu, wanita yang saat ini menjadi chairperson PDSPARKI berpesan, “Kenalilah infeksi parasit khas Indonesia dan edukasi masyarakat untuk pencegahan agar tidak terinfeksi atau menjadi sumber infeksi/penular.” reyza

RESENSI

Dokter dan Tentara: Kontradiksi Profesi, Satu Tujuan Mulia

D

escendant of The Sun adalah drama fenomenal tahun 2016 yang diangkat dari kisah fiktif seorang dokter dan tentara yang menjadi relawan di wilayah fiktif di Timur Tengah bernama Urk. Disiarkan di stasiun televisi Korea Selatan sepanjang 24 Februari – 14 April 2016, drama ini berhasil memecahkan rekor rerata penonton saat itu dengan menembus angka 38.8% secara nasional. Tak hanya popular di negaranya, Descendant of The Sun juga berkibar di mancanegara. Drama ini dikemas dalam enam belas episode disertai

tiga episode spesial tambahan yang disiarkan sepanjang 20 – 22 April 2016. Kisah Descendant of The Sun dimulai ketika dua pribadi idealistis, yakni kapten pasukan khusus Tentara Angkatan Darat Korea Selatan bernama Yoo Si Jin yang diperankan aktor Song Joong Ki dan dokter Kang Mo Yeon yang diperankan aktris Song Hye Kyo bertemu di negera Urk. Negera tersebut diceritakan sebagai negera kecil di wilayah perbatasan perang di mana pasukan Kapten Yoo Si Jin dikirim sebagai salah satu tim tentara perdamaian di sana. Selain itu, tim kesehatan yang dikepalai Dokter Kang Mo Yeon juga dikirim oleh Korea Selatan untuk memberikan pertolongan bagi penduduk Urk. Sepanjang kisahnya, penonton disuguhi suka duka kedua profesi dalam menjalankan aksi kemanusiaan. Rentetan bencana alam hebat yang mengguncang negeri Urk, isu wabah penyakit mematikan, dan aksi gencatan senjata tiba-tiba, harus dihadapi oleh para relawan demi kemanusiaan. Situasi mencekam, penuh bahaya, rasa takut, khawatir, dan rindu akan keluarga di negeri halaman sangat kental tergambar di setiap perjalanan cerita. Di balik suguhan kisah menarik, terselip konten yang cukup viral di kalangan masyarakat yakni wabah virus mematikan M3. Adanya nama baru virus

M3 ini ternyata sempat menimbulkan kehebohan di masyarakat dunia nyata setelah episode tersebut disiarkan. Dalam menanggapi rasa was-was masyarakat dan mencegah berkembangnya rumor, berbagai civitas kesehatan melalui media sosial pun memberikan penjelasan bahwa hal tersebut merupakan muatan fiktif dan kebenaran bahwa virus M3 tidak tercatat dalam daftar virus teridentifikasi oleh WHO. Descendant of The Sun memberi pesan bahwa setiap dari kita memiliki cara yang berbeda dalam berbuat baik untuk kemanusiaan, dengan mengangkat sudut pandang dokter dan tentara. Tentara menghilangkan nyawa untuk menyelamatkan banyak nyawa lainnya, sementara dokter berjuang untuk mempertahankan nyawa manusia yang begitu berharga, tanpa batas negara, ras, atau gender. Keduanya sebenarnya memiliki tujuan yang sama meskipun dengan cara yang bertolak belakang. Ada pun chemistry luar biasa yang ditampilkan antara aktor dan aktris tersebut nyatanya tidak hanya berhenti sampai penghujung layar kaca, melainkan hingga ke dunia nyata. Pasangan aktor dan aktris Descendant of The Sun telah menyampaikan kabar bahagia terkait pernikahan keduanya yang akan berlangsung bulan Oktober ini. Selamat! fadlika

JASA PEMBUATAN SYMPOSIUM HIGHLIGHT Media Aesculapius menyediakan jasa pembuatan Symposium Highlight. Symposium highlight adalah peliputan sebuah seminar atau simposium, yang kemudian hasilnya akan dicetak dalam sebuah buletin, untuk dibagikan pada peserta seminar. Simposium yang telah kami kerjakan antara lain PIT POGI 2010, ASMIHA 2011, ASMIHA 2016, ASMIHA 2017, JiFESS 2016, JiFESS 2017, dan lain-lain. Hubungi Hotline MA: 082-229-229-362 (SMS/Whatsapp)


10

SEPTEMBER - OKTOBER 2017

JULI

Liputan

MEDIA

AESCULAPIUS

RUBRIK DAERAH

Sepenggal Kisah dari Kota Tidore Kepulauan K

Tidore Kepulauan (RSD Tikep) patut diapresiasi. Puskesmas telah terbiasa untuk menelepon dan melaporkan kondisi pasien sebelum merujuk. Hal ini membantu tim di IGD RS untuk mempersiapkan sumber daya yang dibutuhkan. Selain itu, saya juga melihat semangat yang tinggi dari para petugas dan tenaga kesehatan di rumah sakit tipe C ini untuk terus mengembangkan pelayanan. Salah satunya dapat dilihat dari tersedianya CT scan. Rumah sakit rujukan tipe B bahkan sesekali mengirim pasiennya ke Tidore untuk melakukan pemeriksaan di sini. Tidak hanya itu, RSD Tikep juga satu-satunya rumah sakit yang memiliki ambulans terlengkap dan terbaik di Maluku Utara. Masyarakat Tidore hingga kini masih memegang kuat nilai

A itsna/M

ota Tidore Kepulauan terletak di Provinsi Maluku Utara. Kota yang sudah delapan kali menerima Piala Adipura ini tidak hanya terdiri dari satu pulau, tetapi juga mencakup beberapa pulau kecil di sekitarnya, bahkan hingga sebagian daratan dari Pulau Halmahera. Seperti kebanyakan daerah di Indonesia, Tidore juga memiliki pesona alamnya sendiri. Suatu kebahagiaan bagi saya ketika melangkah dari rumah dinas dan mendapati hijaunya Gunung Kie Matubu serta Laut Halmahera dalam satu sapuan pandang. Sebagai kota kepulauan dengan luas lautan mencapai sepertiga dari seluruh wilayahnya, Tidore memiliki keindahan alam bawah laut yang menarik bagi penyelam dalam dan luar negeri. Akan tetapi, perairan ini pula yang membawa konsekuensi berupa sulitnya akses masyarakat terhadap layanan kesehatan, terutama rumah sakit satusatunya yang berlokasi di pusat Pulau Tidore. Jika ombak sedang tidak bersahabat, tidak jarang speedboat menolak membawa pasien rujukan dari Halmahera. Meskipun demikian, sistem rujukan di Rumah Sakit Daerah

budaya dari para pendahulunya. Selain Kesultanan Tidore yang masih berperan besar di masyarakat yang mayoritasnya muslim, masih banyak budaya lain yang dilakukan sehari-hari, salah satunya adalah “tiup-tiup”. Pernah datang seorang ibu yang baru saja tertabrak motor dan kemungkinan mengalami patah tulang. Di tengah pemeriksaan, sang suami meminta izin dari saya untuk “meniup” lengan ibu yang saat itu sudah mengalami deformitas. Tidak lagi tertegun seperti saat pertama kalinya dimintai izin seperti itu, saya segera bergeser dan mempersilakan pai tua (panggilan untuk laki-laki yang dihormati) tersebut untuk melakukannya. “Tiup-tiup” di Tidore adalah kebiasaan yang sering dilakukan pada orang sakit. Setelah membaca doa tertentu, bagian yang sakit akan ditiup dengan harapan penyakitnya segera sembuh. Dukun beranak atau di Tidore lebih dikenal dengan mama biang, juga masih cukup dipercaya untuk membantu persalinan, terutama di daerah yang jauh

dr. Adlina Karisyah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Angkatan 2011 dari pusat kota. Hebatnya, di sini telah dibuat kesepakatan resmi antara mama biang dan bidan desa untuk selalu membantu persalinan bersama-sama. Hidup di salah satu pulau di daerah timur Indonesia bukanlah bagian dari impian saya. Namun, melihat diri saya hari ini, pilihan saat itu mungkin adalah salah satu keputusan paling tepat yang pernah saya ambil. Saya selalu berharap Tidore bisa terus berkembang dan sekuat sosoknya berabadabad lalu. Jangan lupakan pesan para orangtua, “Ure se jaga laha, sung sigado ngo” yang artinya kesehatan adalah modal yang harus dipelihara. Sukur dofu-dofu!

SEPUTAR KITA

Mengenali Lebih dalam Mengenai Peripheral Arterial Disease (PAD) Seolah tak ingin kalah dengan hipertensi dan penyakit jantung, kemunculannya di Puskesmas juga patut diperhitungkan.

A

terosklerosis bukan hanya menyerang pembuluh darah jantung atau otak, tetapi juga melibatkan pembuluh darah di seluruh tubuh, tidak terkecuali pada ekstremitas bawah. Sirkulasi darah pada ekstremitas bawah yang mengalami aterosklerosis dapat menimbulkan Peripheral Arterial Disease (PAD). Topik mengenai PAD disampaikan oleh dr. Suci Indriani, SpJP yang dibawakan dengan judul Peripheral Vascular Disease pada Symposium in Clinical Cardiology and ECG Course (SYMCARD). Simposium ini merupakan rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Pelantikan Lulusan Dokter (PLD) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada tanggal 3 September 2017 di Auditorium lantai 9 Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, Jakarta Barat. Penyakit ini menyerang lebih dari dua puluh persen pasien yang berusia di atas enam puluh tahun. Akibat ateroskelerosis, pembuluh darah arteri menjadi sempit sehingga aliran darah menurun. Arteri-arteri yang tersumbat pada PAD, meliputi arteri femoralis, arteri tibialis anterior, atau arteri tibialis posterior. “Spektrumnya sangat luas, mulai dari yang tidak bergejala tetapi sudah ada gangguan fungsi, hingga ulkus dan sepsis yang dapat mengancam nyawa,” ungkap Suci. Karena spektrumnya yang luas ini, terdapat dua sistem yang digunakan

untuk mengklasifikasikan PAD, yaitu klasifikasi Fontaine dan Rutherford. Klasifikasi Fontaine membagi PAD menjadi empat kelas. Kelas I belum menunjukkan gejala (asimtomatik) sementara di kelas II sudah timbul klaudikasio (keluhan nyeri pada kaki) pada saat berjalan. Pada penderita kelas III, klaudikasio akan muncul bahkan saat kaki diistirahatkan, misalnya saat tidur. Terakhir, adanya temuan ulkus atau gangren merupakan ciri dari pasien PAD kelas IV. Berdasarkan data koalisi amputasi pada 2013, penyebab amputasi tertinggi adalah PAD (54%) yang diikuti oleh trauma akibat kecelakaan dan kanker. Faktor risikonya sama dengan penyakit-penyakit jantung lainnya yang disebabkan oleh aterosklerosis, yaitu jenis kelamin, usia, komorbiditas diabetes, kebiasaan merokok, hipertensi, dan dislipidemia. Berdasarkan rekomendasi TransAtlantic Inter-Society Consensus (TASC) II pada tahun 2007, pasien-pasien yang perlu dilakukan screening PAD adalah pasien yang memiliki keluhan pada kaki, berusia 50-59 tahun dengan faktor risiko kardiovaskular, diabetes melitus, merokok, dan semua pasien di atas tujuh puluh tahun (meskipun tidak memiliki faktor risiko), serta memiliki skor risiko Framingham sebesar 10-20%. “Dalam mendiagnosisnya, diperlukan riwayat pasien untuk mengetahui adanya faktor risiko, penyakit vaskular lain, klaudikasio, nyeri yang memburuk di malam hari atau pada

tiffany/MA

posisi supinasi, dan adanya ulkus yang tidak dapat disembuhkan,” papar Suci. Pada pemeriksaan fisik, pada kaki penderita PAD akan tampak gejala-gejala khas, seperti hilangnya rambut, atrofi otot, kulit yang dingin, pucat, atau adanya ulkus. Selain itu, yang terpenting adalah melakukan pemeriksaan nadi pada kaki kanan dan kiri, termasuk membandingkan kekuatan denyutnya serta memeriksa kemungkinan adanya bruit. Untuk mendiagnosisnya, diperlukan alat khusus, seperti Ankle Brachial Index (ABI), Segmental Blood Pressure/analisis waveform, pemeriksaan tekanan darah di kaki, TcPO2, Sonografi dupleks, CTA-MRA, dan Angiografi/DSA.

Angiografi/DSA merupakan gold standard dalam mendiagnosis penyakit ini. Gambaran pembuluh darah akan terlihat dengan jelas pada alat ini karena menggunakan kateter dan zat kontras yang dimasukkan ke pembuluh darah sehingga gambaran yang dihasilkannya akurat. Kelemahan alat ini adalah bersifat invasif, menggunakan radiasi, dan harganya mahal. Pengobatan PAD dimulai dengan memodifikasi faktor risiko penderitanya, seperti menghentikan kebiasaan merokok, memperbaiki kadar LDL (<100 mg/dL) dan HBA1c (<7%), serta memberikan terapi antiplatelet. aisyah


MEDIA

Liputan

AESCULAPIUS

JULI

SEPTEMBER - OKTOBER 2017

11

SEPUTAR KITA

Dermatitis Kontak Iritan dan Alergik: Serupa tetapi Berbeda Berbagai macam iritan dan alergen dapat menimbulkan dermatitik kontak iritan dan alergik. Bagaiman membedakan keduanya?

Dermatitis kontak merupakan gangguan kulit yang akan sering sekali dihadapi.” Kalimat tersebut diutarakan oleh dr. Rinadewi Astriningrum, SpKK di awal presentasinya mengenai “Dermatitis Kontak: Diagnosis dan Tata Laksana Terkini pada Pelayanan Kesehatan Primer” pada hari Sabtu, 26 Agustus 2017 di Auditorium RSCM Kirana Jakarta Pusat dengan dr. Githa Rahmayunita, SpKK sebagai moderator. Simposium tersebut merupakan bagian dari acara DEVICE (A holistic approach to: Dermatovenereology in Everyday Clinical Practice) 2017 yang diadakan oleh Panitia Pelantikan Lulusan Dokter (PLD) FKUI Periode 2018 dan berlangsung selama satu hari. Dermatitis merupakan peradangan pada lapisan dermis dan epidermis yang disebabkan oleh faktor endogen dan/ atau eksogen. Dermatitis endogen dapat berupa dermatitis atopik, sklerotik, hingga seborrhoid. Sementara itu, dermatitis eksogen yang disebut juga sebagai dermatitis kontak dibagi lebih jauh menjadi dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergi. Efloresensi dari dermatitis bersifat polimorfik dengan gejala gatal. Dermatitis kontak disebabkan oleh bahan yang menempel pada kulit dan dapat terjadi di berbagai lokasi tubuh, seperti wajah, tangan, hingga tungkai. Awitan yang

terjadi dapat bersifat akut, subakut, dan kronik. Terdapat berbagai faktor risiko pada lingkungan kerja yang dapat menimbulkan dermatitis kontak, seperti bahan kimia/ iritan serta faktor mekanis. Inflamasi yang terjadi pada kulit dipengaruhi oleh faktor eksogen, seperti struktur kimia, pH, durasi pajanan, jumlah iritan, solubilitas, faktor mekanis, seperti tekanan dan abrasi, serta suhu. Terdapat pula faktor endogen, seperti sensitivitas kulit, etnis, usia, atau underlying disease. “Perlu diingat bahwa dermatitis kontak iritan merupakan reaksi peradangan kulit nonimunologis,” tegas Rinadewi. Secara global, dermatitis jenis ini paling banyak ditemukan pada penyakit kulit akibat kerja. Kerusakan kulit terjadi tanpa proses sensitisasi dan gambaran lesi akan sesuai dengan daerah kontak serta berbatas tegas dengan tampilan klinis yang bermacammacam. Iritan yang menjadi pencetus dapat bersifat kuat, seperti asam atau basa yang kuat, atau iritan lemah seperti deterjen, air, pelarut organik, atau debu yang lamakelamaan dapat menyebabkan dermatitis kontak iritan kronik. Zat-zat tersebut dapat masuk ke kulit melalui jalur interseluler, trans-seluler, dan apendiks kulit. Dermatitis kontak alergik dipicu oleh pajanan terhadap hapten yang berasal dari alergen kontak dan berikatan dengan protein

tiffany/MA

sehingga menjadi kompleks antigen lengkap dan dapat memicu reaksi hipersensitivitas tipe empat. Proses yang disebut sebagai fase sensitisasi ini diikuti oleh fase elisitasi yang terjadi saat seseorang terpajan kembali dengan alergen yang sama. Manifestasi klinis dapat berupa rasa gatal, dengan lesi, seperti edema, papul, plak eritematosa, vesikel, hingga skuama, likenifikasi, dan berbatas difus pada kasus kronik. Penting untuk mengidentifikasi penyebab dari dermatitis kontak tersebut dan mengedukasi pasien untuk menghindari

zat pencetus. Pencegahan dapat dilakukan dengan penggunaan alat pelindung diri. Terapi topikal dapat berupa pemberian kompres, lotion/salep/krim, pelembab, dan kortikosteroid. Terapi sistemik diberikan apabila lesi berukuran luas atau berada di area yang sulit dijangkau. “Kompetensi dari dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergik adalah 4A dan 3A,” pungkas beliau. Oleh karena itu, penting bagi para dokter untuk memahami penyakit ini. aisyah

RUBRIK DAERAH

Asam Garam Kehidupan Koas di Semarang Segudang cerita tentang suka duka seorang koas di perantauan. Apakah Anda juga mengalami hal yang sama?

Nisa Ayu Thayalisha Hadi Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Dipenogoro

M

enjalani kehidupan sebagai mahasiswa kedokteran memang bukan hal yang mudah, apalagi jika sudah memasuki fase klinik atau coassistant (koas). Tak terkecuali dengan Nisa Ayu Thayalisha Hadi, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, yang sedang menjalani hari-harinya sebagai koas di RSUP Dr. Kariadi dan beberapa rumah sakit jejaring lainnya. Nisa, begitu biasanya ia disapa, lahir dan tinggal di Cirebon sebelum ia merantau ke Semarang untuk mempersiapkan diri menjadi seorang dokter. Berbeda dengan fase praklinik, fase klinik memiliki sistem pembelajaran yang

lebih menarik dan menantang. Alih-alih berkutat dengan buku, koas harus langsung berkutat dengan pasien. Menurut Nisa, ada beberapa stase yang tidak menyelenggarakan kuliah wajib. Jadi, koas harus menyempatkan waktu sendiri untuk belajar langsung dari residen. “Hampir semua stase yang ada jaga malamnya, kita harus melaporkan tentang pasien yang datang malam itu pada keesokan paginya kepada residen. Nah, saat laporan jaga itulah kita pasti akan diberikan pertanyaan-pertanyaan sekaligus diajari oleh residennya. Dari situlah kita mendapat ilmunya,” ujarnya. Tak hanya ilmu saja yang didapat, berbagai pengalaman tak terlupakan pun kerap ia alami selama menjadi koas. Salah satu pengalaman lucu yang ia bagikanadalah ketika ia sedang menjalani stase kebidanan di salah satu rumah sakit jejaring. Menurut Nisa, rumah sakit tersebut memang terkenal dengan pasien ibu hamilnya yang banyak. Terbukti dalam satu hari bisa sampai ada lima ibu yang melahirkan. Pada suatu waktu, ia sedang mendapat giliran jaga bersama temannya. Kebetulan, ada dua ibu yang hendak melahirkan. Jadi, ia bersama temannya serta bidan pun membantu dua ibu ini untuk melahirkan. Di tengah-tengah proses persalinan, tiba-tiba ada ibu ketiga yang juga ingin melahirkan. Akan tetapi, karena sudah terlalu sibuk mengurusi dua pasien sebelumnya, yang bayinya sudah hampir keluar, akhirnya ibu ketiga itu pun terabaikan. “Eh, pas kita sudah mau membantu ibu ketiga itu, bayinya ternyata

sudah keluar! Kita semua kaget, tetapi untung bayi dan ibunya selamat,” ujar Nisa sambil tertawa. Banyak pengalaman lain yang dialaminya selama menjadi koas. Namun, tentu saja tak semua pengalaman tersebut menyenangkan. Ia juga menceritakan pertama kalinya melihat pasien meninggal di depan matanya sendiri. Saat itu, ia sedang mendapat giliran jaga IGD anak ketika datang seorang pasien berumur sekitar tujuh tahun dipangku ibunya. Anak tersebut sudah didiagnosis menderita acute lymphoblastic leukemia dan ketika tiba di IGD, pasien tersebut menunjukkan tanda-tanda pre-syok. Pada bagian luar mulut pasien

tersebut terdapat krusta berwarna hitam. Ibunya menyatakan bahwa krusta tersebut juga ada hingga ke dalam mulut sehingga anaknya tidak bisa membuka mulut, terlebih lagi untuk makan karena rasa sakit yang ditimbulkan. Selang dua jam kemudian, tiba-tiba pasien tersebut mengalami henti napas. “Kita langsung sibuk RJP, bagging, dan lain-lain, tetapi akhirnya tidak bisa tertolong. Setelah itu, keluarganya masuk semua dan menangis dengan kencang. Aku tidak bisa menahan tangis dan akhirnya ikut menangis juga,” ujarnya. Meskipun sekarang sudah lebih terbiasa dalam menghadapi pasien yang meninggal, kejadian tersebut ia akui tetap melekat dalam memorinya.

Menuju Tahun 2020...

sambungan dari halaman 1

menyertifikasi imunisasi ini sehingga masyarakat tidak perlu ragu. Beberapa strategi di atas penting guna mendukung terlaksananya program dalam jangka panjang. Selama masa kampanye imunisasi MR, semua anak berumur sembilan bulan hingga lima belas tahun akan divaksinasi. Tahap pertama program ini dilakukan di seluruh provinsi di Pulau Jawa, sisanya akan dilakukan tahun depan. Setelah masa ini selesai, imunisasi MR direncanakan masuk ke jadwal imunisasi rutin dan hanya diberikan pada anak usia 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD/sederajat. Pemberian di sekolah akan dilaksanakan melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Dalam rangka menyukseskan kampanye ini, pemerintah berharap tenaga kesehatan dapat mengikuti standard operating procedure pemberian imunisasi. Pemerintah juga berpesan agar tenaga kesehatan melibatkan kepala daerah dan pihak lintas sektor dalam melakukan pendekatan ke masyarakat. Apabila program imunisasi MR sukses, niscaya pada tahun 2020 tidak ada lagi kematian akibat campak dan rubela. abdillah, isabella, vannessa


12

SEPTEMBER - OKTOBER 2017

Liputan

JULI

MEDIA

AESCULAPIUS

SEREMONIA

Memecah Keheningan,

Pelatihan Bantuan Hidup Dasar:

Menumbuhkan Empati

Tanggap Kegawatdaruratan!

stefanus/MA

I

nstruktur BISINDO dari GERKATIN sedang mengajarkan bahasa isyarat dengan bersemangat. Hari Minggu (3 dan 10 September 2017), di kampus RIKUI, Depok, CIMSA-UI (Center for Indonesian Medical Students’ Activity Universitas Indonesia) dan GERKATIN (Gerakan Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia) mengadakan

pelatihan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dengan tajuk “Breaking The Silence”. Pada hari pertama, peserta diajarkan BISINDO umum dan medis. Selanjutnya, setelah penyegaran, peserta memeriksa kesehatan anggota-anggota GERKATIN. stefanus

D

ilaksanakan pada 21 September 2017 di Rumah Peduli Nurul Fikri Depok, acara pelatihan bantuan hidup dasar ini dihadiri oleh hampir seratus peserta dengan latar belakang beragam, mulai dari mahasiswa kedokteran, mahasiswa kebidanan, dokter

gigi, hingga masyarakat umum. Acara ini diadakan oleh Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Jakarta Raya dengan tujuan untuk meningkatkan kesigapan masyarakat dan tenaga kesehatan dalam menghadapi kondisi gawat darurat sehari-hari yang mungkin terjadi. fadlika

SENGGANG

Melodi Lengkapi Seorang Dokter “Dokter adalah seorang seniman, jangan lupakan itu.”

dokumen pribadi

Nama Lengkap Dr. dr. J.M. Seno Adjie, Sp. OG(K) Tempat, Tanggal Lahir Pekanbaru, 27 April 1965 Email jmseno@hotmail.com

B

ermula dari kecintaanya terhadap dunia seni, Seno mulai menggeluti dunia musik sejak duduk di bangku SMA. Awalnya, ia memainkan instrumen

gitar tetapi karena vokalis tergolong langka di sekolahnya, Seno mulai mengisi kekosongan posisi tersebut. Sejak saat itu, Seno mulai aktif bermain band dan mengikuti beberapa kejuaraan. Menggeluti karier kedokteran tidak menghentikannya dalam bermusik, justru menjadi wadah bagi dirinya untuk bisa menyalurkan hobi seni dan memfasilitasi residen serta konsulen lain dalam bermusik. Band O&G yang baru saja meraih juara 1 dalam kejuaraan antar civitas akademika FKUI-RSCM 2015/2016 ternyata merupakan band dari Departemen Obsgyn RSCM. “Band ini sudah ada dari pertama kali saya

masuk PPDS di tahun 1993,” tutur Seno, “Namun, untuk nama O&G sendiri memang baru tercetus kemarin saat akan mendaftar kejuaraan antar-civitas akademika FKUIRSCM,” lanjut vokalis band O&G ini. Tak hanya tampil pada acara lokal, band Obsteric and Ginecology yang akrab dipanggil O&G ini juga sering tampil pada acara-acara POGI Jaya. “Kita punya banyak sekali pemusik andal di Departemen Obsgyn. Semua lagu yang kita tampilkan itu adalah karya aransemen dari para peserta PPDS dan konsulen Obsgyn sendiri,” tutur Ketua In Alarm POGI itu. Menurut Seno, musik dan seni berguna untuk pengembangan otak kanan. Orangorang yang bekerja di dunia kedokteran cenderung hanya fokus pada bidang eksakta. Padahal, jika diingat kembali, pekerjaan dokter adalah melayani pasien. Dalam melakukan pelayanan, aspek eksakta saja jelas tidak cukup. Aspek pengembangan kepribadian juga perlu dikuasai oleh seorang dokter. Di sinilah seni bermain peran. Pada zaman penjajahan Belanda, profesi kedokteran dikatakan sebagai ar, karena memang dalam praktis sehari-hari, pengambilan keputusan dan berkomunikasi dengan pasien memerlukan seni. Meskipun banyak media seni lain selain musik, Seno tetap memilih musik karena menurutnya, musik adalah media yang paling bisa mengemas segala hal. Saat ditanya mengenai suka dan dukanya dalam bermusik, Seno dengan lantang menyampaikan bahwa tidak ada

dukanya sama sekali. “Saya pikir bermusik itu kan fun ya, kalau ada dukanya, ya jadi tidak fun dong,” jelas pecinta seni yang ternyata juga menggeluti bidang fotografi ini. Menurutnya, hal yang paling menantang dalam menggeluti hobi bermusik di tengah karier sebagai dokter adalah waktu untuk latihan. Bersama-sama dengan dokter Obsgyn yang lain, Seno baru bisa mulai latihan band di studio jam sepuluh malam, tidak bisa kurang dari itu, sebab semua personilnya juga sedang menjalani praktik Obsgyn di berbagai tempat. Selain itu, yang menjadi tantangan adalah, dalam berseni, kita perlu menyesuaikan pembawaan lagu dengan kondisi audience. Kadang kala, jika membawakan lagu lama, yang junior tidak akan mengerti, sedangkan jika membawakan lagu modern, yang senior yang tidak mengerti. Walau band O&G sudah meraih begitu banyak penghargaan, sebagai salah satu pencetus O&G, Seno menegaskan bahwa O&G tidak bercita-cita menjadi sesuatu yang lebih besar, tetapi band ini dibentuk agar menjadi sarana bagi peserta PPDS atau siapa pun yang berada di Departemen Obsgyn untuk mengembangkan keterampilannya di bidang musik. “Untuk menjadi seorang dokter yang baik dan full-package, tak hanya dibutuhkan kemampuan akademis, melainkan juga kemampuan noneksakta yang juga harus dikembangkan karena kita adalah pemberi services. Seni adalah salah satu sarana untuk mengembangkan kemampuan noneksakta kita,” pesannya. erin

SKMA Edisi September-Oktober 2017  
Advertisement