Page 1

Trowulan Art

Homo Mojokertensis Hadi Sucipto, Joni Ramlan, Iskandar, Ribut Sumiyono

Penulis : Abdul Malik Kris Budiman Putu Sutawijaya

21 Maret - 3 April 2012 Sangkring Art Project


Kata Pengantar Pameran Seni Rupa yang bertajuk ‘Trowulan Art : Homo Mojokertensis’ adalah satu gagasan yang diinisiasikan oleh Sangkring Art Project (SAP) kepada para seniman yang lahir dan berkarya di daerah Mojokerto, Jawa Timur atas segenap pencapaian artistik mereka selama ini. Keempat seniman yang diundang oleh Sangkring diantaranya adalah Hadi Sucipto, Iskandar, Joni Ramlan, dan Ribut Sumiyono. Mereka adalah para perupa yang lahir dan besar dari ‘tlatah’ Mojokerto, ibukota Majapahit pada masa kejayaannya. Bolehlah dikatakan mereka adalah pewaris tanah dari negeri yang mewarisi semangat kejayaan nusantara ini. Sebagai seniman asli Mojokerto, kebanyakan dari karya-karya mereka adalah ungkapan syukur, kekaguman, apresiasi dan interpretasi diri atas nilainilai sejarah sejarah masa lalu yang masih terlihat dan terkenang hingga masa kini. Pameran Seni Rupa ‘Trowulan Art : Homo Mojokertensis’ ini digelar oleh Sangkring Art Project (SAP) sebagai satu bagian dari upaya kami memberikan ruang yang memungkinkan para perupa dan publik seni melakukan kerja kesenian yang lebih eksploratif berikut produksi pengetahuan dan wacana baru. Spirit pameran ini sekaligus menjadi satu kerja dari visi kami membangun jembatan antara semangat lokal untuk membangun jaringan di kancah global. Untuk itu kami ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh seniman yang telah terlibat dalam pameran ini, ketiga penulis yang telah memberikan pembacaan atas proses kerja kreatif ini, Padepokan Selo Adji, Mojokerto, Jawa Timur, Sangkring Art project, Manajemen Sangkring Art Space beserta seluruh kru yang terlibat. Kami ucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada setiap pembaca dan pemirsa yang menghadiri dan mengapresiasi pameran ini. Terimakasih. Manajemen Sangkring Art Project

2

Trowulan Art


Kenapa Affandi dulu tak Singgah ke Trowulan.....??? Pernah di suatu siang, aku jagongan dengan Putu Sutawijaya, perupa dan pendiri Sangkring Art Space, Yogyakarta. Tempatnya di taman Museum Majapahit, Trowulan. Saat itu, Pak Liong (begitu sedulur Samuel Indratma memanggil akrab Putu Sutawijaya), bersama keluarga dalam perjalanan dari Bali menuju Yogyakarta. Transit di Trowulan. Nyantai sejenak... Ngobrol  dengan  Pak Liong sungguh mengasyikkan. Rendah hati, terbuka dan punya selera humor yang maknyus.“Pak Malik, kenapa ya Affandi dulu tak singgah ke Trowulan dalam perjalanan melukis dari Bali ke Yogyakarta?” “Maaf Pak Liong saya tidak tahu”. Pertanyaan Pak Liong membuatku tercenun­­g. Kok konco konco perupa Mojokerto gak tahu mbahas soal iku yo.   Di rumah  aku mulai membuka catatan memoriku:­­­ Sejak kapan ya aku mulai intens terlibat dalam jejaring kebudayaan di Yogya? (rileks..kaki selonjor..nyruput kopi nya mbah mo yang mantap itu.dan .mulai mendengarkan lagu lagunya  Krisna Encik Widyanto)   Plung ! Satu nama mulai muncul : Samuel Indratma. Dia suka menyingkat namanya dengan: S.M.L kalau mengirim pesan pendek.  Kontakku dengan Pak Sam, begitulah teman-teman di Yogja menyapanya, karena [aikon !] . Media gratisan yang ramah lingkungan itulah yang membawaku datang ke rumah beliau di Langernarjan Lor 29 Yogya. Aku sempat jagongan dengan dengan mbak Ade Tanesia, istri beliau. Pulang dari rumah Pak Sam, aku membawa tumpukan [aikon !].  Aku begitu girang saat itu, dapat bertemu dan jagongan dengan orang yang biasa nulis dan membuat ilustrasi di [aikon !]. Ada hasrat yang terpenuhi. Puas. Lega. Aku melindungi tumpukan [aikon !] dari hujan deras saat itu, sampai sampai seseorang disampingku cemburu: oh, lebih sayang pada  [aikon!] ya dari pada aku? Itu sekitar 11 tahun silam.    Pertengahan tahun 2007 aku balik ke Yogya. “Cak Malik, ayo dolan nang omahe koncoku kuliah. Jenenge Liong. Nang Nitiprayan. Situne bisa bantu bantu nyebarno informasi soal Sangkring Art Space nang konco konco Jawa Timur, .” .  “ Monggo Pak Sam. Saya makmum saja.” Homo Mojokertensis

3


Naik sepeda motor dengan kecepatan  40 km per jam. Sampai juga di rumah Pak Liong. ”Minum apa Sam, minum apa Pak Malik? Sudah makan siang nih”.  Dengan sigap Pak Liong membuatkan kopi dan minta tolong crew Sangkring untuk membeli nasi bungkus. Inilah pertemuan pertamaku dengan Putu Sutawijaya. Kita jagongan tentang apa saja di “warung kopi” depan Sangkring Art Space.  Aku dapat hadiah buku pameran tunggal Pak Liong di Malaysia dengan tanda tangan dan  sket wajahku di dalamnya. Pertemuan yang berkesan. Sungguh.   Aku kembali ke Yogya (lagi). Biennale Jogja  2007 digelar mulai 28 Desember 2007 hingga 28 Januari 2008. Sangkring Art Space menjadi salah satu venue.  Aku “residensi“  di rumah S.M.L sekitar 3 minggu. Salah satu hasilnya: makin akrab dengan Pak Liong.   Pertengahan tahun 2009 ke Yogya lagi. Ternyata Samuel Indratma menjadi salah satu kurator Biennale Jogja. “Cak Malik, konco konco perupa Mojokerto akan diundang ke Biennale Jogja , Desember 2009. Situne bantu bantu ya..Undangan segera dikirim.” Berangkatlah Mojokerto Art Club (Pak Cip, Joni Ramlan, Nanang, Rachmat Widadi, Alfie Fauzie, dan beberapa pelukis cilik,  dibantu Arief Hariyanto) ke Biennale Jogja. Mobil   Mojokerto Art Club ‘diparkir’ di Taman Budaya Yogya, 11 Desember 2009 hingga 10 Januari 2011. Seusai Biennale Jogja 2009, mobil Mojokerto Art Club  sempat ‘parkir’ di Sangkring Art Space 2 selama beberapa minggu.   (teh panas manis yang kubungkus tadi  ndilalah kok  ketinggalan di warung…)   Menurutku, Samuel Indratma dan Putu Sutawijaya adalah dua sosok “kurator” dan “ahli strategi kebudayaan” dalam pertukaran kebudayaan Yogyakarta-Mojokerto. Keduanya mendesain program kebudayaan   dengan rileks…sambil minum ngopi, ngrokok. Pokoknya bikin orang lain senang dan berbahagia. “Strategi kebudayaan” Samuel Indratma dan Putu Sutawijaya seringkali muncul dalam bentuk hal-hal yang sederhana. Semisal tawaran  dari  Putu Sutawijaya kepada Teguh,  putra Pak Cip (Drs Hadi Sucipto), yang saat itu  baru diterima sebagai mahasiswa Jurusan Musik  di ISI Yogya,  untuk “residensi” di Sangkring Art Space. Ketika Teguh terpilih sebagai peserta“ residensi”  di Sangkring Art Space, mau tidak mau  maka Pak Cip, selaku“utusan khusus Mojopahit ” akan lebih sering hadir dalam pembukaan pameran yang diadakan di Sangkring Art Space. Tentu dengan membawa oleh oleh kopi bubuk “made in” Bu Cip yang tersohor itu.Hemm...  

4

Trowulan Art


Putu Sutawijaya pun mulai memasukkan Trowulan sebagai salah satu tempat “transit” dalam perjalanan dari Yogya ke Angseri, Bali. Atau sebaliknya. Beliau menyempatkan isirahat sebentar di rumah Pak Cip, makan soto ayam depan Klenteng Mojosari, atau rawon  & pecel di  Pasar Legi Mojosari. Nglesot di lesehan atau makan di warung soto pinggir jalan tetaplah nikmat. Minumnya ya tetap kopi “made in” Bu Cip. Selain menjalin hubungan baik dengan Pak Cip, Bli Putu Sutawijaya juga membuka diri  bersilaturahmi ke rumah Alfie Fauzie dan Joni Ramlan, dua pelukis yang tinggal di Mojosari.  Di rumah Awik, panggilan akrab Alfie Fauzie di Panjer maupun di rumah dan studio Joni Ramlan di Seduri  dan Pungging, Bli Putu tetap enjoy jagongan soal apa saja. Kostumnya pun seringkali hanya celana pendek, kaos dan topi laken.  Sebuah kerendahhatian sekaligus dedikasi total pada seni. Aku teringat tulisan di jendela kaca studio Joni Ramlan: Total dedication to art is a way of life, Rather than a mere means of livelihood which is limited to its material aspect   Suatu hari, Putu Sutawijaya sekeluarga berkunjung lagi ke Mojokerto. Kali ini Pak Cip “merekom” untuk menginap di Padepokan Selo Adji milik pematung batu Ribut Sumiyono. Tepatnya di Jl. Raya Jatisumber Dusun  Jatisumber 11 Desa Watesumpak Kecamatan Trowulan. Untuk ukuran Bli Putu Sutawijaya menginap di Hotel Sativa Pacet yang bersuasana Mojopahit, tentu bukanlah persoalan besar. Mengapa memilih Padepokan Selo Adji? Menurutku ini juga sebentuk kerendahhatian dari Bli Putu Sutawijaya. Akibatnya: Cak Ribut  Sumiyono sekeluarga dan Bli Putu Sutawijaya sekeluarga pun makin akrab. He ..he ...he.   Pada beberapa momen khusus, mereka berusaha untuk hadir. Pak Cip dan Cak Ribut sekalian, hadir dalam pembukaan pameran Gesticulation, pameran tunggal  Bli Putu Sutawijaya di Bentara Budaya Bali. Bli Putu Sutawijaya sekalian + pak Kris Budiman secara khusus hadir dalam pernikahan Rinjia Mayexa, putri Cak Ribut Sumiyono di Padepokan Selo Adji, Trowulan.  (maaf istirahat dulu ya…perut lapar..makan nasi rawon depan Klenteng Mojokerto)   Pameran Majapahit Dalam Seni Rupa sebagai rangkaian Festival Bulan Purnama Majapahit digelar tanggal 20-27 Nopember 2011 di Pusat Informasi Majapahit/ Museum Trowulan. Dalam kapasitas sebagai Wakil Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto, Pak Cip mengundang Putu Sutawijaya sebagai salah satu peserta. Bli Putu Sutawijaya menyambut gembira tawaran tersebut. Beliau pun hadir bersama Komunitas Hitam Manis (Maslihar Panjul, Nyoman Adiana, Robert Khan, Nyoman Agus Wijaya, Putu Sutawijaya). Keikutsertaan Bli Putu Sutawijaya dalam pameran seni rupa di Mojokerto mau tak mau ikut “mengatrol” publikasi geliat perupa Homo Mojokertensis

5


Mojokerto. Super Hero 2012  adalah judul karya Komunitas Hitam Manis yang digantung di langit-langit Museum Trowulan. Terbuat dari cor metal, selintas mirip tokoh komik Batman yang bersiap mendarat ke Tlatah Mojopahit.   Selama kegiatan berlangsung, tim Hitam Manis menginap di Padepokan Selo Adji. Tali silaturahmi pun makin akrab. Disela-sela pameran, Putu Sutawijaya tetap bersemangat  “nyambut gawe kejar setoran ”. Kali ini melukis on the spot di Candi Bangkal, Kecamatan Ngoro.   Bli Putu Sutawijaya dengan jitu membidik obyek lukisan candi candi terbuat dari bata. Bersama Komunitas Bol Brutu, beliau telah melukis on the spot Candi Wringin Lawang, Candi Bajang Ratu, Candi Brahu. “Candi Bangkal sungguh menarik, Candi Brahu paling sulit dilukis, ” komentar Bli Putu Sutawijaya. “Sudah ada 7 lukisan candi candi di Tlatah Mojopahit.” Puji syukur, Bli. Atas lobby Pak Cip lah, lukisan Candi Wringin Lawang Bli Putu Sutawijaya dapat menjadi cover Antologi Cerpen Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan 2010 yang diterbitkan Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto. (Sekali lagi terima kasih Soft copy pdf nya masih saya simpan dengan baik)   Ketika Putu Sutawijaya beberapa kali blusukan ke  Tlatah  Mojopahit  bersama Bol Brutu, (GeromBOLan PemBuRU BaTU), menurutku ini juga “strategi kebudayaan yang ciamik.”  Dari Cak Ribut Sumiyono, Pak Cip dan Arief ‘Gopar” Budi,  Bli  Putu Sutawijaya mendapatkan banyak informasi tentang peninggalan Mojopahit yang jarang terpublikasikan ke media.. Beberapa pegiat Bol Brutu pun semakin giat mendokumentasikan peninggalan  Mojopahit. Sederetan nama terekam dengan baik dalam benak warga  Mojopahit: Pak Kris Budiman, Cuk Riomandha, Erson Padapiran, Maslihar Panjul, Antonio Carlos, Apriadi Udjiarso, Ida Fitri, Bun Mada, Feintje Likawati, Ninuk Retno Raras, Muhammad Aswin, Zumrotul Mufidah, Mahatma Anto, Ateng, Tantra..... Mereka mendokumentasikan Blusukan ke  Tlatah  Mojopahit  dalam bentuk puisi, slide, foto, video, sketsa, catatan perjalanan. (Terima kasih sedulur kabeh. Anda semua telah menjadi pemandu wisata yang ampuh untuk peninggalan Mojopahit di Trowulan dan sekitarnya. Lemah teles Gusti Alloh sing mbales).   Minggu, 20 November 2011 Dalam perjalanan dari Malang menuju Mojokerto dengan Honda Beat warna merah. sms dari Pak Cip masuk: Mengharap hadirnya sampeyan siang nanti

6

Trowulan Art


di Seloaji jam 12.30an.rekan rekan perupa yogja 25 orang mampir dirumah mas ribut..ayo bung rame rame..gabung? (sms pak cip, 20.11.2011 pkl 09.05 wib) Wah...bakalan ketemu Samuel Indratma iki.. Sekitar jam 2 siang, bis Eddy Transport yang memuat para perupa Yogya sampai di Padepokan Selo Adji. Parkir di Pusat Perkulakan Sepatu Terpadu (PPST). Perupa yang ikut: Samuel Indratma, Yuswontoro Adi, Bambang Heras, Putu Sutawijaya, Ivan Sagito, Nasirun, Sigit Santosa, Bayu Wardana, All Bara, Komoroden Haro, Si Nick, Tarman, Maman Rahman, Pandu, Pande Ketut Taman, Melodia, Agung Sukindra, Enggar Yuwono, Encik dan BG (musisi). (sumber data: Putu Sutawijaya). Nama nama perupa tersebut, sebagian pernah ketemu di Yogya, sebagian hanya kubaca di katalog pameran. Mereka kini hadir di depan mata. Jagongan guyub rukun dengan Cak Ribut Sumiyono + istri, Pak Cip + istri , Arief “Gopar” Budi + istri, dan Cak A Hadi Mas Oed.  “Kami diundang Pak Sunaryo dari Sampoerna melukis bersama dan menginap ndik Taman Dayu Pandaan selama 4 hari...”, Bli Putu Sutawijaya menjelaskan dengan singkat.   Kunjungan semakin asoy dengan hadirnya Rektor Folk Mataraman Institute (FMI, nama group di facebook): Krisna Encik Widyanto. (Terima kasih untuk 8 lagu di album Mimpi dan sejumlah video klip indie: Song For Gus Dur, Negeri Para Keparat, Sajak Putih-nya  Chairil Anwar  dengan vokal  Mbak Ade Tanesia) dan   Pesan Romo Sindhunata untuk FMI. Hadirnya formasi lengkap Trio Kirik (Yuswantoro Adi, Samuel Indratma, Bambang Heras), yang biasanya tampil dalam pembukaan pameran di Sangkring Art Space,  tentu tak perlu diragukan lagi dalam hal mengocok perut.   “Sewaktu aku blusukan barang antik ke Trowulan kok gak menemukan Selo Adji ya..” kata Pak Ivan Sagito. “Ada sepotong surga seperti ini kok aku gak dibangunkan sih, Sam”, Pak Yus sedikit protes. Segelas kopi telah tersedia di depan beliau.... (Pak Yus, saya suka kaos hijau yang sampeyan pakai. Ada tulisan besar JAZZ, dan ada tulisan kecil: eat-drink-sleepawake...Barter yuuk). “Cak Ribut, saya pengin beli rumah limasan seperti di Padepokan Selo Adi.   Nanti dibantu ya..kan kita saudara kembar”, celetuk Pak Sam yang siang itu nampak lebih muda dan  fresh, Menjelang pulang, Pak Sigit Santosa bertanya,  “Apakah rumah A Hadi Mas Oed jauh dari sini?”. Nasib baik. Pas kutelpon Cak Oed segera menjawab dan bersedia Homo Mojokertensis

7


meluncur ke Selo Adji. (nb: Cak Oed pernah kuliah di Seni Rupa ISI Yogya angkatan 84). “Selo Adji, art space yang menarik.,” kata Pande Ketut Taman.    Setelah sedulur perupa Yogya pulang dari Padepokan Selo Adji sekitar jam 4 sore, aku semakin yakin bahwa Bli Putu Sutawijaya sedang menjawab pertanyaannya sendiri. “Kenapa Affandi dulu tidak pernah singgah ke Trowulan dalam perjalanan melukis dari Bali ke Yogyakarta?.”   Di pelataran Padepokan Selo Adi, Bli Putu Sutawijaya berbisik  ,“Pak Malik, kami undang kawan-kawan perupa Mojokerto pameran di Sangkring Art Space bulan Maret 2012 ya”.  Proposal yang telah dikirim sejak dua tahun lalu ke Sangkring Art Space, akhirnya mendapat jawaban.   Sejarah  kebudayaan telah ditorehkan oleh Bli Putu Sutawijaya, Samuel Indratma dan kawan-kawan dari Yogya.   Bagaimana dengan kawan-kawan di Mojokerto? Pameran seni rupa   Trowulan Art: Homo Mojokertensis di Sangkring Art Project adalah sebuah jawaban sederhana. Selamat mengapresiasi, dulur..   (kopi buatan mbah mo tinggal sak sruputan lagi habis. sungguh nikmat)

Abdul Malik Lahir di Surabaya. Tanggal dan bulannya sama dengan Pak Samuel Indratma. Kini bekerja sebagai Redaktur Seni dan budaya ( www.gerbangnews.com) email : filantrophi@gmail.com

8

Trowulan Art


Hadi Sucipto

Candi Arimbi #1 40 x 54 cm acrylic on paper 2012

Hadi Sucipto

Candi Arimbi # 2 40 x 54 cm acrylic on paper 2012

Homo Mojokertensis

9


Hadi Sucipto

Ganesha #1

40 x 27 cm I acrylic on paper I 2012

Hadi Sucipto

Ganesha #3

40 x 27 cm I acrylic on paper I 2012

10

Trowulan Art

Hadi Sucipto

Ganesha #2

40 x 27 cm I acrylic on paper I 2012

Hadi Sucipto

Ganesha #4

40 x 27 cm I acrylic on paper I 2012


Hadi Sucipto

Naga Yoni Gambar

40 x 27 cm I acrylic on paper I 2012

Homo Mojokertensis

11


Iskandar

Hindu, Islam & Nasionalis 90 x 60 cm print on board

Iskandar

Hardjono WS, sastrawan 30 x 45 cm print on board

12

Trowulan Art


Iskandar

Obong Quenn 1 60 x 90 cm print on board

Homo Mojokertensis

13


Joni ramlan

Nyanyian Jaman 130 x 150 cm I acrylic on canvas I 2012

14

Trowulan Art


Joni ramlan

Guitar on a Bed 150 x 160 cm I acrylic on canvas I 2012

Homo Mojokertensis

15


Joni ramlan

Jalan Menuju Tuhan II 130 x 140 cm I acrylic on canvas I 2012

16

Trowulan Art


Ribut Sumiyono

Saraswati

60 x 55 x 180 cm Batu Andesit 2012

Homo Mojokertensis

17


Ribut Sumiyono

Ganesha

50 x 32 x 120 cm Batu Andesit 2012

18

Trowulan Art


Empat Homo Mojokertensis dengan Empat Butir Negasi 1 Semenjak saya bertemu dan berkenalan dekat dengan Pak Ribut Sumiyono dan Pak Hadi Sucipto beberapa tahun lalu, telah terjadi perubahan yang drastis atas sebagian besar komponen dan keseluruhan lanskap imajiner saya tentang Mojokerto, terutama Trowulan. Sebelum itu, bahkan jauuuh... sebelumnya— setidak-tidaknya, seingat saya, sejak pertengahan dekade 1980-an—imajinasi tersebut melukiskan suatu kawasan yang mungkin mengesankan semacam kenaifan sekaligus ke-lebay-an saya: Trowulan adalah sebuah kota kuno yang sejauh mata memandang tinggal berupa dataran luas yang dipenuhi oleh puing-puing bata merah, reruntuhan bangunan, serpih-serpih gerabah, serta bekas-bekas saluran air dan kanal-kanal kotor yang menampakkan pola-pola suatu pemukiman urban di masa lalu yang jauh. Tak ada kehidupan insani di sana. Hanya bongkah-bongkah berlumut dan angin kering yang mempermainkan reranting walikukun serta bunga-bunga rumput liar. Akan tetapi, kini—setelah berkali merambahi dataran Trowulan sambil berbincangbincang dengan Pak Ribut Sumiyono, Pak Hadi Sucipto, Putu Sutawijaya, serta kawankawan lain—lanskap itu betul-betul telah berubah. Tentulah masih cukup banyak tersisa bebongkah bata merah di sana, candi-candi ramping nan seksi, dan aura masa lalu yang magis—tanpa hal-hal ini saya takkan tertarik melakukan perjalanan ke sana. Imajinasi saya memang tidak remuk total, namun sekarang saya jelas-jelas tahu bahwa Mojokerto, Trowulan khususnya, adalah sebuah kota yang (masih dan akan terus) hidup, berdenyut-denyut, mengisyaratkan sebuah vitalitas kultural di dalamnya. Terlebih lagi dengan kehadiran figur-figur semacam mereka, bukannya mal atau jalan tol. 2 Sudah sejak satu-dua tahun lalu Putu Sutawijaya mengemukakan sebuah ide kepada saya: bahwa Pak Ribut dan Pak Cip—demikianlah kami biasa menyapa keduanya— pada suatu saat akan berpameran di Sangkring. Kini saat itu pun tibalah. Keduanya, ditemani oleh Iskandar dan Joni Ramlan, pun jadi berpameran. Pak Ribut mengusung Homo Mojokertensis

19


Sebagai tajuk pameran, mereka berempat bersetuju memilih frase Homo Mojokertensis. Homo Mojokertensis ditemukan pertama kali pada 1936 oleh G.H.R. von Koenigswald di Mojokerto. Fosil ini diduga merupakan tengkorak dari seorang kanak-kanak balita. Di kemudian hari Homo Mojokertensis dinamakan juga sebagai Pithecantropus Mojokertensis. Berikut ini saya ingin mengajukan beberapa negasi, penyangkalan atas identitas saintifik yang sejak hampir seabad yang lalu ditempelkan oleh von Koenigswald ini, tentu dengan mengambil batas-batas bingkai Pameran “Homo Mojokertensis” di Sangkring Art Project kali ini (21 Maret – 3 April 2012). Negasi #1: Homo Mojokertensis bukan fosil, apalagi fosil tengkorak, melainkan manusia-manusia hidup yang masih lengkap-utuh-padu. Mereka adalah manusia berdarah-daging, berindra, dan berkesadaran, sehingga masih memiliki kompetensi estetik untuk mencipta karya. Negasi #2: Homo Mojokertensis sama sekali tidak tergolong sebagai Pithecantropus, melainkan Homo Sapiens Sapiens, yakni manusia modern yang berbahasa, mampu menciptakan dan menggunakan tanda-tanda. Dengan demikian, mereka berkecerdasan untuk mencipta makna-makna. Negasi #3: Homo Mojokertensis tidak ditemukan oleh siapapun. Tidak diperlukan jasa seorang von Koenigswald untuk menemukan mereka berempat, sebab mereka sendiri telah/masih mencari dan menemukan diri, terus-menerus membangun identitas diri masing-masing dan bersiasat dengannya tanpa pernah selesai. Proses pencarian dan penemuan inilah yang menempa Pak Ribut—bak seorang empu dari sebuah padepokan—sebagai seorang master meditasi batu: “Saraswati”nya telah menyihir saya semenjak pertama kali bertemu tiga tahun lalu; sedangkan Pak Cip, dengan serangkaian sketsa candi dan arca, adalah seorang master meditasi garis: betapa saya dan kawan-kawan penggemar sketsa merasa sekaligus cemburu dan jatuh hati kepada sketsa-sketsa “Ganesha” dan “Candi Bangkal”-nya. Dua figur Homo Mojokertensis berikutnya, yakni Joni Ramlan dan Iskandar, pun tiada jauh. Sudah pasti Joni Ramlan berhasil menggoda saya dengan sensualitas asosiatif melalui gitar sebagai metafora (tubuh) feminin di atas sebuah ranjang dalam lukisannya, “Guitar on A Bed”; sementara itu, dengan karya-karya foto jurnalistiknya, Cak Iskandar menyentuh dimensi religio-libidinal saya melalui foto garudapuja “Hindu. Islam, dan Nasionalis” yang sinkretis dan (terutama) seri foto the androgynous “Obong Queen I & II” yang seductive.

20

Trowulan Art


Negasi #4: Homo Mojokertensis bukan (lagi) balita, melainkan manusia yang telah matang (mature) atawa dewasa. Bahkan, saking matangnya, mereka “telah lama bukan kanak lagi,” ujar penyair kita Chairil Anwar, dan makin “tambah jauh dari cinta sekolah rendah.” [Nyuwun pangapunten, Pak Cip....]

Kris Budiman Seorang esais dan novelis yang sehari-harinya bekerja sambilan mengajar kajian budaya dan semiotika di Sekolah Pascasarjana UGM, Program Studi S-2 Sosiologi UGM, Program Pascasarjana ISI Yogyakarta, dan FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Kesibukan lainnya belakangan ini adalah menjadi pemandu amatir wisata candi bagi para bening di Bol Brutu (geromBOLan pemBuRU baTU)

Homo Mojokertensis

21


Ruang Bergeser Melewati jalan padat dan cepat tidak memberi kesempatan untuk berhenti, menancap gas yang dalam dan punya target cepat sampai di kota tujuan. Dua kota Bali dan Yogyakarta memang tujuan yang sesungguhnya. Saat separuh jalan, biasanya kita beristirahat untuk makan di Ngawi ketika kita pulang ke Bali atau sebaliknya ketika menuju Jogja kita beristirahat di Probolinggo. Dalam ingatan saya hanya ada kota kecil: Trowulan yang setiap enam bulan sekali kita lewati. Bisa dilewati dengan trasportasi bus kota (ketika kuliah) maupun dengan mobil pribadi, pengalaman 20 tahun lalu tak pernah terbersit bahwa saya telah melewati Trowulan. Sebuah kota yang menyimpan banyak cerita sejarah dan peninggalan kerajaan besar dimasa lalu yang bernama Majapahit. Belum ada ketertarikan tentang Trowulan saat itu, hanya jalur yang saya lewati saat pulang menuju Yogyakarta ataupun Bali. Jalur yang padat dan tidak ramah membuat saya tidak tergerak untuk berhenti di Trowulan. Mungkin keterbatasan orientasi berpuluh-puluh tahun itulah yang membuat saya tidak ngeh dan selalu lewat begitu saja. Tahun 2007 adalah awal perjumpaan dengan pak Hadi Sucipto (kita biasa memanggil Pak Cip) yaitu saat berpameran dengan Made Sumadiyasa di Surabaya. Saat perkenalan dengan pak Cip itulah nama Trowulan mulai akrab di telingan saya, kemudian menimbulkan keinginan untuk singgah kesana ketika pulang ke Jogja esok harinya. Sesaaat sampai disana, berhentilah saya didepan Pendopo Agung. Menikmati, mulai curiga dan penasaran sembari menelusuri kota peradaban Majapahit. Setelah itu, kami melanjutkan ke Candi Tikus bersama istri saya Jenni Vi, Nyoman Adiana, Zhengkang, Zhenxin yang saat itu berumur 3 tahun, dan juga Wahyudin. Selain tempat bersejarah itu, kami tertarik untuk mengunjungi SMA Gondang tempat Pak Cip mengajar, meskipun saat itu Pak Cip yang kami cari sudah pulang, namun hal itu tidak membuat kami kecewa karena kami merasa bahwa Mojokerto, Trowulan sangat istimewa dan ada kami berkeinginan untuk singgah lagi suatu saat nanti. Tahun 2009 saat itu saya sedang bersantai di warung Sangkring, datanglah tamu yang diantar oleh Samuel Indratma mereka adalah Cak Malik dan Pak Cip beserta anaknya Teguh, tujuan mereka datang adalah untuk meminjam efek gitar untuk ujian masuk ISI Yogyakarta Teguh yang saat ini juga tinggal di Sangkring Art Space. Pertemanan dan perjumpaan kami mengalir begitu saja, tidak hanya sekali dua kali, tetapi berkalikali kami berjumpa menbuat kami lebih dekat dan terasa tak ada batas. Biennale Jogyakarta juga makin menambah kedekatan kita semua.

22

Trowulan Art


Tahun 2010, saya mendapatkan undangan pameran seni rupa di Surabaya. Kami berangkat menuju Emmitan CA Gallery dengan semua tim yang komplit ada Nyoman Adiana, Tantra, Maslihar Panjul dan Zhengkang. Setelah acara usai, kami menemui Pak Cip yang mengharapkan kami untuk menginap di Trowulan. Inilah pertemuan kali pertama dengan pak Ribut yang saat itu memberi tempat menginap dan menjamu kami layaknya keluarga. Saat itu kami datang mengganggu kesunyian malamnya dan disambut kemeriahan pagi dengan bunyi tatah berceloteh bebatuan distudio Selo Adji. Pertemuan dengan Cak Ribut menambah keistimewaan Trowulan dimata saya. Ternyata banyak cerita yang bisa dibangun dan ditelaah dari Majapahit masa kini yang membuat kita memaknai sebagai jembatan cerita diantara bebatuan situs yang berpuing-puing dan mulai menatanya sebagai alat untuk menemukan pokok cerita yang hampir sama. Keterbukaan yang tidak ditutup-tutupi membuat saya menikmati jalan yang lapang dan terbuka, untuk mempelajari ruang baru, mengenali bahwa Trowulan memang layak untuk di jadikan tempat belajar. Kelas itu di buat luas dan terbuka oleh Pak Cip, Pak Ribut, Mas Bayu, Cak Malik, Cak Jabbar dll. Tahun 2010 kami datang lagi dengan pasukan Bol Brutu ketika itu semua menjadi lebih mudah untuk mendapatkan tempat istirahat karena keterbukaan dan keramahan Selo Aji menyambut kehadiran Kris budiman, Erson Padapiran juga tempat bertemu Carlos dan Putri. Disini merupakan awal sebuah ruang terbuka yang mempermudah kami mengenal Trowulan. Meski banyak tempat pendukung untuk yang memudahkan kami mengakses Trowulan telah kami ketahui, tetapi bagi saya pribadi Selo Aji merupakan tempat yang penting. Selain sebagai tempat kami untuk singgah, disana juga terdapat studio yang sangat terbuka cara kerjanya, terus menambah daya kreatifnya dan tidak hanya berhenti di masa lalu. Ternyata kita bisa mengenal bahwa kesenian terus berlanjut ditangan para pekerja dan pelaku kesenian di Trowulan. Ruang ini akhirnya mengenalkan bahwa ada banyak pelaku dan aktifis yang berhubungan dengan dunia kesenian sesungguhnya. Sampai saat ini kita masih selalu menjadikan Selo Aji menjadi tujuan utama kalau mau melakukan kegiatan jalan-jalan entah dari penggemar kesenian, kampus, wisata ritual Bol Brutu maupun kunjungan keluarga dll. Banyak harapan kedepan kegiatan kesenian bertumpu kepada ruang-ruang alternatif yang dibuat oleh pelaku kesenian itu sendiri. Kegiatan berkesenian telah terbukti sangat hidup di Mojokerto, dimana ada aktifitas seni rupa, pertunjukan, sastra dll. Kedepan untuk dunia kesenian peran Selo Aji makin terbuka dan tentu akan sangat diharapkan perannya makin baik dengan jejaring yang telah dimiliki. Secara pribadi saya melihat betapa alam itu indah. Situs-situs merupakan ruang belajar dalam aktifitas berkesenian. Banyak situs yang bisa dijadikan kebanggaan untuk mengasah kemampuan dalam olah rupa dan menjadi guru yang tiada nilainya, betapa banyak memberi inspirasi. Kalau di cermati, sesungguhnya masa lalu bukanlah sesuatu yang di anggap lapuk tetapi bagaimana kita melihat masa lalu adalah sebuah Homo Mojokertensis

23


kekuatan yang mewarnai masa kini, maka saya menjawab pertanyaan Kris Budiman “untuk apa melukis on the spot di setiap candi…………..?” jawabannya adalah “untuk memperbaiki nyali”. Karena banyaknya kemudahan bekerja di studio, dan keinginan sebagai perupa yang menikmati keringat bercucuran mungkin akan membawa saya menikmati bahwa semua proses adalah keringat dan waktu. Saya menghargai lingkungan Trowulan dan juga di wilayah ikatan emosi yang absrud, karena cerita orang bali mereka yang datang ke Bali adalah atas desakan kondisi perubahan yang ada di Majapahit jaman dulu. Melihat Candi batu merah yang besar, kokoh, menyisakan memori dan secara langsung merasa adanya ikatan secara arsitektur dan isi relief sampai ke pola-polanya. Memang ada yang berubah mungkin dari sisi kondisi Bali yang alam dan lingkungannya terasa dekat dengan apa yang ada. Sampai kini saya selalu ingat proses ketika mengenali seni rupa, dimana lebih banyak belajar di pura atau tempat suci yang banyak mewariskan budaya visual sehingga ketika melihat candi bagai melihat lukisan jadi di lingkaran alam yang indah. Dengan gamblang bahwa Trowulan adalah sekolah untuk belajar visual yang sudah jadi dan tentu menghasilkan karya yang semestinya diharapkan, karena peradaban sesungguhnya ada di Trowulan. Seandainya perupa mempunyai masalah tentang visual, boleh dong kami bertanya kenapa menjadi masalah? mengapa tidak memanfaatkan lingkungan yang jelas sangat mendukung, mengapa warisan yang berhubungan dengan budaya visual disingkirkan begitu saja. Trowulan dan sekitarnya tetaplah menjadi wilayah yang selalu memberi pertanyaan, sehingga menimbulkan keinginan datang lagi untuk mencari pertanyaan, agar imajinasi kita bisa dirawat dengan kegelisahan. Proses yang terus-menerus adalah jawaban dari sebuah pertanyaan besar dengan tujuan yang tidak membutuhkan jawaban, akan tetapi membutuhkan semangat kreatif agar tetap hidup berdampingan. Hadirnya empat perupa, tiga orang diantaranya berproses di Mojokerto dan satu berproses di Jakarta menjadi awal yang baik untuk lebih mengenalnya di dunia seni rupa yang hidup di lingkungan Mojokerto. Sangkring Art Project memilih Ribut Sumiyono, seorang pematung yang telah berproses lama dengan bahan dari batu, bahan yang telah di olah ribuan tahun di dunia seni rupa dan sampai saat ini masih tetap menarik. Ribut Sumiyono berproses dengan budaya yang ditanamkan dimemori terbatasnya, andai ada yang dilupakan dia akan kembali ke situs yang menjadi acuannya untuk mengamati apa yang dilupakan dalam proses penggarapan sebuah karya. Hadi Sucipto seorang guru yang mempunyai dedikasi menarik didunia seni rupa dimana kita bisa menilai dari aktifitas wajib seorang guru tetapi masih melakukan perjalanan dunia kreatif berkesenian. Pergaulannya dengan Samuel Indratma serta keunikan bersama siswanya yang banyak mendokumentasikan kegiatan berkarya langsung di tempat juga menarik kalau diamati, pak Cip merupakan guru yang punya semangat unik mengingat pergaulannya yang selalu segar. Saat ini kegiatan yang sedang dilakukannya adalah mengeksplorasi media kertas, yang menunjukan salah satu kekuatan garisnya dengan mencatat lingkungan sekitar yang sangat

24

Trowulan Art


dekat dengan warisan masa lalu dan mengeksplorasi batik. Joni Ramlan seorang perupa yang banyak mengalami proses kreatif menarik, dimana publik mengenalnya ketika dia sangat fasih menyampaikan kegelisahannya saat melukis lingkungan kota surabaya dengan garis warna yang sangat identik dengan suasana kota semrawut. Joni merupakan pekerja seni yang kuat dan termasuk nama yang diperhitungkan dalam kancah seni rupa saat ini. Iskandar, saya merasa memahami dunia keseniannya dahulu ketika dia aktif di Mess 56 dan merupakan teman seperjuangan Angki. Dunia foto yang digeluti telah membawanya terlibat dengan berbagai media. Saat seorang Iskandar melihat dan menampilkan situs-situs kehidupan sebagai bagian yang ada dan sangat mewarnai Mojokerto mereka yang hidup dan terhapus didunianya, mungkin itulah kegelisahan yang ingin disampaikan. Semoga apa yang menjadi kegelisahan dan kesepakatan untuk menyampaikan ini merupakan bagian kecil dari mereka yang ada di dunia seni rupa dan dapat menjadi kajian bersama. Kegelisahan yang nyata adalah ruang yang memberi pergeseran nilai untuk bisa kita nikmati bersama, dan ternyata kekuatan mereka sama kuatnya dengan keunikan yang ditawarkan. Sangkring Art Project menjadi tempat untuk menyampaikan kegelisahan mereka. Tanpa berlebihan ternyata Mojokerto adalah bagian dari kekuatan yang unik untuk dikorelasi di dunia seni rupa di Jawa Timur yang berwarna-warni, seandainya ruang terbuka bisa memberi presentasi betapa kaya dan terbukanya mereka di dunia seni rupa. Semoga proses awal ini bisa memberi tantangan buat pekerja seni rupa Trowulan untuk membuat program yang lebih menantang berikutnya. Awal yang baik ini bisa dijadikan sebagai semangat bagi perupa untuk tidak takut dan kuatir tapi justru ruang ini dibangun sebagai bagian dari tali silaturahmi untuk mengakomodasi kegelisahan yang lebih baik dan bersifat terbuka supaya dapat menyajikan potensi dan kretifitas yang dimiliki. Kami turun dari bus Surabaya-Yogyakarta, saya, Samuel Idratma, Zhengkang dijalur yang padat dan selalu kami lewati begitu saja dulu. Waktu itu kami begitu mudah dan hafal dimana harus turun dari bus tepat di depan Selo Adji. Tanpa beban kami menuju dan mengetuk pintu, kemudian disambut ramah oleh pemilik rumah. Kita tidak kuatir tentang kemalaman apalagi masalah ingin mengisi kebutuhan makan. Bergesernya orentasi sebagai jalan untuk menuju tujuan tentu juga terpengaruh dikehidupan saya sekarang. Seperti obrolan dirumah Pak Sumiyono dengan Samuel Indratma sebelum menuju soto yang enak dipasar Mojosari untuk bertemu Pak Cip, ini satu kekuatan yang akan meramaikan dunia seni rupa dan itulah salah satu tujuan sebuah ruang Sangkring Art Project, bisa mengabarkan bahwa di Trowulan ada keunikan. Di stasiun Mojokerto kami di antar dengan penuh canda tawa, dan semua berjalan lancar sesuai rencana, sekarang mau naik kereta api, bus kota atau mobil pribadi, ada satu kota tujuan baru “Trowulan� untuk menambah energi. Putu Sutawijaya Pekerja seni rupa yang tinggal di Yogyakarta

Homo Mojokertensis

25


Hadi Sucipto Lahir : Mojokerto, 08 Oktober 1963 Alamat : Jln. A. Yani 34 Ds. Belahan Tengah Kec. Mojosari Kab. Mojokerto Jawa Timur 61382 Email : chak_chip@yahoo.com

Iskandar Lahir Email

Penghargaan - Mahasiswa Berprestasi Juara I Tingkat Fakultas & Juara III Tingkat Institut, Institut Seni Indonesia, Jogjakarta, 1997

Aktifitas Pameran

26

2011

- Pameran Seni Rupa Pekan Seni Guru Tahun 2011

2009

- Biennnale Yogja dalam kelompok Mojokerto Art Club Biennnale Jatim III

2007

- Festival Guru Seni Internasional ‘Art For Teacher’ di PPPG Kec Sleman Yogyakarta - Pameran bersama ‘Virus Abstrak’ di Balai Pemuda Surabaya

2006

- Peserta Festival Seni Surabaya di Balai Pemuda Surabaya

2005

- Peserta Gelar Akbar Seni Rupa Jawa Timur

Trowulan Art

: Mojokerto, 22 Agustus 1974 : iskandar.foto@gmail.com

-

Karya Foto Terbaik Dies Natalis XIII, Institut Seni Indonesia, Jogjakarta, 1997

-

Juara I Lomba Foto Festival Kesenian VIII Jogjakarta, 1996

-

Juara Harapan Lomba Foto MSD Jogjakarta, 1997

Public Collections - CCCL, Pusat Kebudayaan Perancis, Surabaya -

Sika Contemporary Art Gallery, Ubud,Bali

-

Gallery Foto Jurnalistik Antara, Jakarta

-

Museum der Kulturen Basel, Swiss

Pameran Tunggal 2005 ‘Beauty’ di Q Bar, Seminyak, Bali 2002 ‘ Babahan Howo Songo’ di Institut Seni Indonesia, Jogjakarta dan Gedung Pewayangan TMII, Jakarta 1999 ‘Spectatogram’ di Galeri Lembaga Indonesia Perancis, Jogjakarta dan di CCCL Pusat Kebudayaan Perancis, Surabaya


Joni Ramlan Lahir : Sidoarjo, 19 Juni 1970

Ribut Sumiyono

Award : - Finalist of Indonesia Art Award at National Gallery Jakarta, 2008 - Radar Mojokerto Award in 2007, - National Painting Competition Art Award., 2006

Padepokan "Selo Adji" Jl.Raya Jatisumber Dusun Jatisumber 11, Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto Telp/fax 0321- 496171. Hp. 081 232 79 716

Aktifitas pameran 2011 - “ E(art)H  Project : Sun City “, Galeri Nasional Indonesia Jakarta - “N U D E” ,  Andis & Semarang Galeri, Jakarta 2010 - “A Visual Art Exibition “Art preneurship”, Ciputra World Jakarta - Pameran Tunggal II “Subsiding Memories” , Pure Art Space – Jakarta Art District (JAD),  Grand Indonesia Jakarta. - “Bazaar Art”, Jakarta, Grand Indonesia, Jakarta - “Silent Victim” , Selasar Sunaryo Bandung - Korea International Art Fair, Seoul, South Korea - “Art Expo Malaysia” , Menara Matrade  Kuala Lumpur Malaysia 2009 -  “C-Art Show”, Grand Indonesia, Jakarta - Pameran Tunggal, “Menggantung Masa Lalu” di Orasis Gallery Surabaya - “Bazaar Art” Jakarta di Pasific Place Ritz Carlton Hotel Jakarta - “Art Expo Malaysia”, Menara Matrade Kuala Lumpar Malaysia

Ribut Sumiyono atau yang biasa dipanggil Cak Ribut, lahir di Mojokerto, 6 Juni 1963. Belajar membuat patung batu sejak kelas 4 SD dibawah bimbingan (Alm) Bapak Harum dan Bapak Wagiran. Pada tahun 1986, ia mulai membuka usaha pembuatan patung batu dengan bendera "Selo Adji" . Nama Selo Adji diambil dari kata ‘selo’ (bhs Jawa) yang berarti ‘batu’ dan ‘adji’ yang berarti ‘berharga’. Dalam melakukan eksplorasi karya patungnya Cak Ribut banyak melakukan studi gambar, dan riset kaecil tentang karyakarya patung purbakala. Mulai dari objek patung di sekitaran Trowulan, Mojokerto, hingga Candi Panataran di Blitar, Jawa Tengah. Selain berkarya dan mengawasi puluhan pekerjanya, Cak Ribut masih menyempatkan diri untuk merawat dan mengkoleksi motore besar dan motor antic. Hingga saat ini, Cak Ribut tergabung dalam MACI (Motor Antik Club Indonesia) dan HDCI (Harley Davidson Club Indonesia).

Homo Mojokertensis

27


Ucapan terima kasih kepada : Tuhan Yang Maha Kuasa Keluarga besar Bapak Putu Sutawijaya dan Sangkring Art Project Bapak Kris Budiman Bapak Ir. Mahatmanto MT Bapak Drs.H.Eko Edy Susanto, Msi, Ketua Umum Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto dan Pimpinan Ludruk Karya Budaya Mojokerto Cak Abdul Malik & sedulur www.gerbangnews.com Keluarga Bapak Arif Budi Jl. Empu Nala Kota Mojokerto Keluarga besar Bol Brutu Keluarga Bapak Samuel Indratma Krishna Encik dan Low Budget Accoustic Teguh Joyo Santiko and friends Keluarga Bapak I Nyoman Adiana, Ibu Adin Mas Wahyu Tantra (sipit), dan Maslihar Panjul Bapak Hendra Himawan Trio Kirik (Yuswantoro Adi, Bambang Herras, Samuel Indratma) Teman-teman dan seluruh pihak yang telah membantu penyelenggaraan pameran Trowulan Art, Homo Mojokertensis 2012

This catalogue is published as a supplement for Trowulan Art Homo Mojokertensis at Sangkring Art Project, Yogyakarta - Indonesia 21 March - 3 April 2012 Organiser Sangkring Art Project Writer Abdul Malik, Kris Budiman, Putu Sutawijaya Cataloq Desaign Wahyu Tantra (sipit) Photography wahyu tantra, artist Edition 500 eksemplar

28

Trowulan Art


Padepokan "Selo Adji" Jl.Raya Jatisumber 11 Dusun Jatisumber Desa Watesumpak, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto Jawa Timur Telp/fax 0321- 496171 Hp 081 232 79 716 Email: Ribut.Sumiyono@gmail.com

Sangkring Art Project Nitiprayan Rt. 1 Rw.20 no. 88 Ngestiharjo, Kasihan Bantul, Yogyakarta, 55182 Telp/Fax. (0274) 381032 INDONESIA e : sangkring@gmail.com w: www.sangkringartspace.net Jam buka senin - sabtu 10.00 - 18.00 WIB Minggu dan hari besar nasional TUTUP


Trowulan Art

Homo Mojokertensis Hadi Sucipto, Joni Ramlan, Iskandar, Ribut Sumiyono

Katalog Trowulan Art, Homo Mojokertensis,  
Katalog Trowulan Art, Homo Mojokertensis,  

Katalog Trowulan Art, Homo Mojokertensis,Hadi Sucipto, Joni Ramlan, Iskandar, Ribut Sumiyono, Penulis : Abdul Malik , Kris Budiman, Putu Sut...

Advertisement