Page 5

budaya

BANGKA POS

hikayat

cerpen

Musem panes lah dateng, karet mulai becukor Geteh e semaken sikit, separo niduk nak dicelor Harge tambeh murah, mana nek mayar kridit mutor Kalok nak ne naseb, pacak badan teuyor-uyor Naseb jadi petani, banyek lah payah dari nyamen Idup tekiruk kiret, jauh dari tenterem Laok seari-ari dek jauh dari lempah bayem Anek cucuk mudah-mudahan dek mengalem

NAOMI, perempuan bercadar yang datang malam itu. Di tangannya ada belati penuh darah. Di matanya ada bara merekah serupa mawar merah rimbun di rusuk rumah. Dia menudingku sebagai latah. Pecundang yang memberinya nanah. Menidurinya bermalam-malam, lalu membuangnya sebagai sampah. Lalu duduk pula dia di sofa sambil menghempas tubuh yang lelah. Menselonjorkan kaki seperti reratu yang harus disembah. Hingga membuatmu muak, dan ingin membunuhnya dengan amarahku segunung bah. “Kenapa kau hai lelakiku yang tak tahu malu takut atas kehadiranku. Takut atas setiap benih kebencian yang kau tanam di benakku, sampai sekarang berujung dendam. Bukankah dulu kau lelaki gagah, menggagahiku sampai luluh-lantak? Membiarkanku bermalam-malam mengutuki perawan yang pecah di bilik. Di atas lapik kamar berseprei dekil dan bau amis. Kaulah Rahwana itu. Kaulah Sangkuriang yang tega meniduri ibunya sendiri. Seharusnya, perempuan kau jadikan kembang, bukan sebagai rokok—ketika habis terbuangbuang. Ke selokan, tong sampah, dan bercecer di jalan-jalan.” Aku terdiam. Secawan takutku menggelegak. Naomi telah menelanjangiku kini. Berbulan lalu, aku memang telah membuatnya menderita. Dia, perempuan kecil, gelandangan mungil yang bertemu aku di sebuah tempat tanpa nama sekian tahun lewat. Umurnya waktu itu sekitar sepuluh, hmm... tepatnya sebelas tahun. Aku kasihan kepadanya. Kuajak ke rumah kecilku, sebagai teman berbincang. Kuasuh seperti anakku sendiri. Sebab aku adalah lajang penyendiri. Seorang pengangguran yang suka melukis langit dengan khayal. Menggambar cita-cita andaikata suatu hari kelak aku menjadi pejabat negara. Presiden, atau apalah. Tapi sungguh aku takkan bisa meluluskan khayal itu. Kau tahu sendiri kan, aku hanya maling kecil? Yang sibuk menyatroni bis kota demi bis kota. Lelorong sepi pasar-pasar, demi berlembar uang. Untuk mengganjal perut, kemudian membeli berbotol mi-

Nek nua betanem, asel kebun harge e murah Mudel pon dek pati ade, cuma ngarep mana ade lah Yang sial e pulik, meli tambek semaken payah Ujong-ujong abis mudel, asel e dek dapet serpiah Pegi pagi pulang peteng, merdas bekais kek rejeki Nek nyarik lebih, mutong karet seari due kali Karena leteh, badan kutor penoh daki Ilang kerenyek nek ngelon bini Kadang-kadang ade asa iri kek pegawai negeri Pengasilan mantep, tiap bulan maken gaji Dek ngerawat karet becukor, ujan panes dek sangsi Gaji ke 13, malah lah nunggu dek lama lagi Mintak ampon mintak maaf, ukan maksod ati nek cerudik Setiap bidang mimang lah diator, ade yang seneng ade yang pelik Rakyat yang susah, jangen sampai dipandang picik Ikak jadi pegawai, kamen pon dek bejik Kalok duluk naseb mujur, renyek lah macem ikak Tapi sayeng, sekulah tinggi kemen dek pacak Ekonomi lemah, urangtua dek pati ngertak Dek apa cenoh, idup pon seirak-irak Naseb urang kecit, nak ne lah mimang Apa yang diarep, susah mengembang Setiap ari berandai bekarang Idup lah payah, agik diakal urang Ade kek dikicok, urang pon cak-cak simpati Serade bantuan dek cukop-cukop diberi Mintak ini mintak itu dikabul pasti Pacak ulik nek ngenyeneng ati Gawi lah selesai, janji pon tinggal janji Karet tengah becukor, dek sikok aben nek peduli Budak merdas ruso nek beli itu beli ini Tulonglah pak gubernur, tulonglah pak bupati (*) kelekak lukok, 12-13062009

kerenyek

laok lempah mana ade lah bekais kek rejeki musem panes mutong karet nak dicelor nek nua betanem niduk pacak ulik seirak-irak serade serpiah sial e pulik ruso

: benci : anak : usil : apa lacur : tak satu/seorang pun : tak mengalami : masa bodoh, tidak peduli : tidak begitu berada : tidak begitu mempedulikan : dibohongi : ada maunya : kalau begini : kami : musim daun karet gugur, disebut juga dengan musim pacekliknya para petani karet: sebab saat seperti ini produksi getah karet menurun 50 hingga 60 persen : kemauan, keinginan, berasa

tambek tekiruk kiret teuyor-uyor

5

Rifan Nazhif

Perempuan Bercadar

Karet Becukor

bejik budak cerudik dek apa cenoh dek sikok aben dek mengalem dek ngerawat dek pati ade dek pati ngertak diakal dikicok kalok nak ne kamen karet becukor

MINGGU 14 JUNI 2009

: lauk : gulai : seadanya sajalah merdas : selalu sibuk mencari rejeki : musim kemarau : menyadap karet : seperti dicelor : mau rajin menanam : beku : bisa lagi : tersia-sia, terlantar : setiap, semua, apa saja : satu rupiah : sialnya lagi : rewel, ngamuk, banyak maunya (tingkahanak-anak) : pupuk : sekarat, susah hidup : mati tidak hidup pun tidak

numan keras. Sayang, setelah tiga tahun mengasuh Naomi, kulihat tubuhnya mulai ranum. Ibarat buah, dia adalah semangka masak. Merah, dan mengundang dahaga ingin mencicip. Entah setan darimana yang membisik, kubesut hasratnya. Kubiarkan dia menangis pada setiap kenikmatan, yang menurut-

erti monyet tersiram hujan. “Kenapa kau datang lagi ke mari? Lalu, darah apa yang ada di belati itu?” tanyaku terbata. Nyali premanku seketika lindap tertelan hawa dendamnya. “Ini darah bayi yang kau suruh digugurkan dulu,” geramnya. Cadarnya terjatuh, sehingga aku leluasa melihat wajahnya

nya adalah penyiksaan. Berulang malam, berulang siang. Seolah dia adalah jajanan pasar yang tak membuatku bosan. Belum pernah membuatku insyaf, meskipun dia selalu kuiming-imingi dengan sejumput kain sarung dan sajadah. Kukatakan aku akan menikahinya. Padahal tidak. Dia hanya anggur pemabukan bagiku. Maka, ketika perutnya membalon, dia sengaja kutendang. Dia tak mau menggugurkan kandungannya, jadi lebih lemak dibuang. Aku tak ingin disusahkan oleh bayi yang membrojol dari perutnya kelak. Bukan karena malu akan aib tentunya, melainkan aku tak mau mengurus bayi menjengkelkan. Pasti akan banyak biaya keluar atas kehadirannya. Harus beli susu, makanan-makanan bergizi, juga rutinitas ke dokter anak. Seteleh menendangnya keluar rumah, kuharap dia tak akan kembali. Tapi harapku ternyata harus digantung di awan. Naomi sekarang berada tepat di depanku. Dia membawa sebuntal amarah. Belati berdarah di tangannya seolah berbicara; kubunuh kau Parbosi! Hingga aku bergidik. Menyempil di sudut dinding sep-

yang penuh carut-marut. “Kau membunuhnya?” “Tak mungkin aku membunuhnya, sebab dia sudah mati ketika aku melahirkannya. Tepatnya ini adalah darah ari-arinya. Aku ingin belati ini menembus jantungmu. Agar darahnya tahu bagaimana nikmatnya membunuh seorang bapak yang tak bertanggungjawab. Bagimana legitnya ruh seorang pembejad sepertimu.” Dia berdiri. Belati itu terhunus. Aku bergegas menghindar. Berlari ke kamar, lalu melompat dari jendela. Namun Naomi tetap mengejar. Belati berdarah itu diacung-acungkannya. Beberapa orang melihat kelakuan kami. Anehnya tak seorang pun berhasrat menolongku. Mereka malahan mengelu-elukan Naomi. “Bunuh lelaki preman itu! Bunuh lelaki pendosa itu! Syukurlah, ternyata preman sepertimu hanya dapat dikalahkan seorang perempuan.” “Tolong! Tolong!” jeritku. “Tak ada yang perlu menolong. Kau terlahir dari rahim seorang perempuan. Jadi, kelasmu memang lebih rendah dari perempuan.” Mereka tertawa. Mereka

mengepungku. Puntung-puntung rokok disundutkan ke tubuhku. Kemudian Naomi tiba. Belati itu dihunjamkan dalam-dalam ke perutku. Sehingga kurasakan ususku terburai. Darah segar menyembur-nyembur, sampai akhirnya aku sekarat dan mati. *** Ketika tersadar, ternyata aku masih tertidur di sebuah kamar perempuan sundal. Telah terbayar nafsuku semalam-malaman. Perempuan yang rela kubayar dan tiduri itu sekarang usai mandi. Dia berdiri di depanku dengan tubuh terbalut handuk. Aku meringis. Ternyata beberapa menit lalu aku hanya bermimpi. Tak ada seorang perempuan bernama Naomi yang berhasil membunuhku. Dia sudah kubuang jauh-jauh dari kehidupanku. “Wajahmu pucat, Parbosi. Kenapa? Apakah aku kelihatan menakutkan?” Tawa perempuan sundal itu pecah. Aku hanya melengos sambil menyeka keringat di kening. Sewaktu ingin meraih minuman di meja, tiba-tiba mataku melihat bayangan kaki di sela pintu bagian bawah. “Siapa di luar?” tanyaku kepada perempuan sundal itu. “Tak ada siapa-siapa?” Dia membelakangiku. Kemudian membuka pintu lebar-lebar. Memang di belakang pintu tak ada siapa-siapa. Aneh sekali! Padahal tadi aku melihat jelas ada bayangan kaki di situ. Oleh rasa penasaran, akhirnya aku berdiri di ambang pintu. Kulihat ke arah kiri dan kanan. Tapi semua kosong. Tatkala hendak berbalik, mendadak sebuah benda dingin menusuk ulu hatiku. Perempuan sundal itu menjerit, lalu pingsan. Sementara aku hanya terpana melihat orang yang sudah menusukku. Dia adalah perempuan dengan cadar meutup wajah. Belati berbalut darah hitam mengental, bersarang benar di tubuhku. “K..kau, Naomi?” jeritku tertahan. Matanya tersenyum mengejekku. Dia seolah berbicara, “Aku telah membalaskan sakit hati itu, Parbosi. Dan aku puas!” (*)

Selamat &Sukses

Atas Dilantiknya HENDRIK PALIT Sebagai Ketua SAMSIR AHMAD Sebagai Sekretaris

Dewan Pimpinan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Belitung Oleh Sekjen HKTI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Ir. KEMAS ARFANI RAHMAN Jumat, 12 Juni 2009

SAHANI SALEH, BA

Pimpinan, Staf dan Karyawan

CV. BELITUNG TIN INDUSTRI Jl. Dusun Perawas II Buluh Tumbang

Dewan Pimpinan

HKTI

HIMPUNAN KERUKUNAN TANI INDONESIA PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

CV. SEIRAMA Tony Irawan Direktur

Ketua, Sekretaris, Beserta segenap pengurus

PERSATUAN SEPAKBOLA SELURUH INDONESIA

(PSSI)

Direksi beserta staff & karyawan

KABUPATEN BELITUNG

PT. BILLITIN MAKMUR LESTARI

Edy Kodry

Jl. Tengah Manggar KM 29 Desa Bangek Belitung Timur

Ketua

Meyediakan Aneka Snack Melayani Penjualan Tiket & Kargo

PERSATUAN PENGGEMAR BONSAI INDONESIA (PPBI) CABANG BELITUNG

Ayie Gardiansyah Jl. Sriwijaya No. 31 Tanjungpandan - Belitung Telp (0719) 21460

Benny Andrian Ketua

Pimpinan dan Karyawan

PT. ASTIKA MURNI UTAMA Devan Astika Direktur Utama

Segenap Pimpinan, Staf dan Karyawan/ti

PT. BABEL SURYA ALAM LESTARI Jl. Jend. Sudirman No. 37 Tanjungpandan Telp. (0719) 25133

Spirit Baru Negeri Serumpun Sebalai

Jl. Pilang No. 219 Telp (0719) 25582, 24302 Fax (0719) 24271 Tanjungpandan-Belitung

Spirit Baru Negeri Serumpun Sebalai

Harian Pagi Bangka Pos Edisi 14 Juni 2009  
Harian Pagi Bangka Pos Edisi 14 Juni 2009  

Harian Pagi Bangka Pos Edisi 14 Juni 2009

Advertisement