Page 4

4

keluarga

MINGGU 14 JUNI 2009

BANGKA POS

Cinta tak Pernah Padam Awalnya aku berjuang keras menentang keputusan ibu dan ayah. Ini bukan zaman Siti Nurbaya atau kisah Munaf dan Maimun yang harus dikawin paksa oleh kedua orangtua mereka. Walhasil, saban hari, rumah yang aku diami tak ubahnya neraka...

jerhat

PERTEMUAN ku dengan Deni berlangsung kebetulan. Sore itu, aku berkunjung ke rumah nenek, pria tampan dengan tangan berlumur hitam penuh oli bekas itu, sedang memperbaiki sepeda motornya yang mogok persis di persimpangan depan rumah nenek. Ketika aku lewat di sampingnya, Deni malah sempat menggoda. “Selamat sore ibu guru,” sapanya dengan nada ramah yang dibuat-buat. Ah, ia memanggilku demikian, mungkin karena tulisan SPG di belakang kaos yang aku pakai sore itu. Aku masa bodoh, bete dan purapura tak mendengar. “Somsek ya,” godanya lagi. Aku hanya sempat menoleh sekilas. “Waww. Tampan juga,” gumamku. Entah kenapa, pertemuan kilat tadi meninggalkan sesuatu yang menindih. Hati dag dig dug, terkadang zig zag, meremas-remas seperti purnama yang kadang timbul tenggelam dibalut awan. Akupun jadi salah tingkah, bahkan sengaja mencuri perhatian Deni dengan pura-pura membersihkan daun-daun kemuning dalam pot depan rumah nenek. Pohon kemuning kebanggaan kakek itu, sesekali aku gerayangi sembari membuang rantingrantingnya yang tua dan mati. Sesekali aku juga melirik ke arah pemuda yang nyaris rampung memperbaki sepeda motornya itu. Ternyata diam-diam dia juga memperhatikan aku. Ada guncangan hebat yang tibatiba berdetak dalam dada tatkala tanpa sengaja kami saling beradu pandang. Tak ku sangka, pemuda itu nekad juga rupanya. Selesai memperbaiki motornya ia malah mendekati aku. Meminta seember air berikut sabun untuk membersihkan

tangannya yang dilumuri oli bekas. “Ah dasar mencuri kesempatan,” gerutu ku dalam hati. Tapi diam-diam aku senang juga bisa lebih dekat dengan dia. Bukankah tadi, kehadiran aku di halaman rumah nenek memang untuk mencuri perhatian dia? “Cihui, pria tampan ini diam-diam memperhatikan aku,” lagi-lagi aku bergumam. Deni lebih tua satu tingkat dengan aku, pelajar kelas III sebuah sekolah kejuruan di Pangkalpinang. Ia tinggal di kota itu, yang berjarak kurang lebih 15 kilometer dari kampung nenek. Perkenalan sore itu meninggalkan kenangan dan benih kasmaran yang mengharum. Persis seperti harumnya bunga kemuning di pelataran rumah nenek. Ah, begitu mudah aku terjerat. Terlebih tatkala Deni menawarkan pertemuan untuk kali kedua, malam Minggu, di rumah nenek. Tanpa pikir, aku mengangguk saja. “Serius nich?” “Ha, ah. Suwer dech!” Malam Minggu yang dijanjikan Deni menjadi kenyataan, dia datang membawa sejuta cerita dan harapan. Malam itu menjadi kenangan yang sangat indah. Sejak itu pula aku dan Deni semakin akrab, tak hanya sebatas teman biasa. Benih-benih cinta bersemi dalam pelataran hati kami. Tetapi, tak selamanya cinta harus terajut indah. Rintangan terkadang mengganjal. Belum genap satu tahun, aku dan Deni harus berpisah. Ia melanjutkan pendidikan di universitas ternama di Jakarta. Pernah suatu hari Deni meminta pendapatku untuk menerima atau menolak kesempatan emas itu, tapi

ZODI

demi masa depan Deni dan keluarganya aku berusaha meyakinkan Deni untuk tetap menerima tawaran itu, karena kesempatan tidak akan pernah datang dua kali, walaupun sebenarnya hati kecilku berontak, karena aku takut kehilangan orang yang aku cintai. Hari keberangkatan Deni pun tiba, hujan air mata di antara kami tak terbendung. Aku betul-betul tak sanggup berpisah dengan Deni, genggaman erat tangan Deni merupakan bahasa isyarat bahwa Deni pun sebenarnya tak sanggup berpisah denganku. “Aku tak akan pernah melupakan mu. Selalu merindukanmu,” bisik Deni tatkala meninggalkan Dermaga Pangkalbalam siang itu. Lambaian tangan Deni siang itu terus mengusik jiwa. Tembang Kereta Senja pun menjadi lagu pavorit sepeninggalan Deni ke Pulau Jawa. Sejak keberangkatan Deni, hari-hari ku jalani terasa hampa, malam panjang yang biasa kami lalui bersama kini tinggal kenangan, bayangan wajah Deni tak mampu hilang dari benakku. Hanya untaian kata-kata indah dari Deni yang mampu membangkitkan semangat ku untuk belajar lebih giat. Aku belajar dengan tekun dan rajin berharap mendapatkan prestasi yang lebih baik, agar bisa menyusul Deni ke Pulau Jawa. Setelah kelulusan, aku mendapatkan nilai baik, tetapi sayang beasiswa ikatan dinas mulai tahun itu sudah ditiadakan untuk sekolah guru. Pupuslah harapanku untuk selalu dekat dengan Deni. Setelah kelulusanku aku mulai jadi ibu guru, dan sebagai gadis remaja tentunya aku banyak dilirik laki-laki lain. Sebagai

K minggu ini

ARIES (21 Maret-19 April) Akan ada seorang teman yang mengajak bertemu dan memberikan penawaran satu kesempatan baik. Kalau memang berguna, kenapa kamu ragu? Biar aja ada suara sumbang, yang penting hal itu positif dan membuatmu bisa mendapat pelajaran berharga.

TAURUS (20 April-20 Mei) Kamu lagi suka banget dengan aktivitasmu saat ini. Beruntungnya, kamu dikelilingi sama orang yang mendukungmu dan juga rela memberikan bantuan kapan saja. Syukuri keadaan ini dan jangan lengah. Selama kamu punya niat baik dan memberikan manfaat buat ornag banyak, akan ada hadiah manis yang terus menantimu.

GEMINI (21 Mei-21 Juni) Pekerjaan yang cukup menumpuk membuatmu ingin bergegas menyelesaikan. Apalagi akan datang tawaran mengisi waktu di akhir pekan dengan kegiatan yang sudah lama kamu nantikan. Coba fokuskan dulu menyelesaikan tugas, biar besok kamu udah bisa sepenuhnya menikmati akhir pekanmu.

CANCER (22 Juni-22 Juli) Adanya rencana untuk bepergian dengan sekelompok orang yang nggak terlalu dekat denganmu nampaknya harus kamu waspadai. Banyak perbedaan yang akan muncul, terutama dalam hal kebiasaan yang nggak bisa kamu tolerir. Lebih baik diam dan bersabar daripada memunculkan konflik besar.cuek aja.

LEO (23 Juli-22 Agustus) Hari ini kamu bakal banyak menghabiskan waktu di luar ruangan. Perhatikan keadaan cuaca dan siapkan payung sebelum hujan. Kondisi badan yang lagi nggak fit membuatmu bisa tertular penyakit ringan dari sekitarmu. Kecuali kalau kamu membekali dirimu dengan baik dan jangan sepelekan jam makan yang teratur.

VIRGO (22 Agustus-22 September) Semangat dalam dirimu yang sedang menggebu sebaiknya nggak kamu rasakan sendiri. Tapi ini merupakan waktu yang baik untuk bisa ditularkan pada tim kerjamu. Engak begitu, kamu juga akan mendapatkan keuntungan ganda. Tugasmu banyak terbantu dan kamu dapat banyak belajar bagaimana mengarahkan orang lain.

LIBRA (23 September-23 Oktober)

Banyaknya hal yang seseuai dengan harapanmu membuatmu jadi sering mengeluh. Kamu sadar nggak sih, justru dengan mengeluh itu kamu akan terjerumus dengan masalah berikutnya. Karena apa yang sebenarnya nggak negatif, jadi kamu tangkap sebagai hal yang mengesalkan. Coba memandangnya lebih positif.

SCORPIO (24 Oktober-21 November) Kamu lagi dikelilingi sama orang yang punya ambisi besar meraih prestasi. Dengan begitu, sisi baiknya kamu ikut terpacu. Tapi di lain pihak, aroma persaingan pun semakin ketat. Hati-hati, kalau nggak bisa menempatkan diri, bisa berujung pada konflik dan persaingan nggak sehat.

SAGITARIUS (23 November-21 Desember) Saat ini kamu lagi berada di tengah kedua pihak yang sama-sama membutuhkan dukunganmu. Justru karena mereka masing-masing nggak tahu kalau kamu pun tahu rahasia pihak lain, mereka semua mempercayakan padamu. Jangan sampai kamu mengadu domba ya. Sebaiknya tetap netral dan nggak usah ikut campur terlalu jauh.

CAPRICORN (22 Desember-18 Januari) Hari ini kamu cukup tergesa-gesa dalam menyelesaikan beberapa tugas. Padahal kamu punya cukup waktu kok kalau mau sedikit rileks mengerjakannya. Hanya saja kamu yang nggak mau terlihat lambat sama orang lain. Coba deh tempo kerja disesuaikan secukupnya biar hasil juga oke. Kesehatan: Lagi rajin berolahraga.

AQUARIUS (18 Januari-18 Februari) Kamu lagi punya tekad yang kuat untuk dapat meraih suatu hal. Tapi ada baiknya juga kamu mengetahui seluk beluknya sebelum mulai melaksanakan. Jadi saat nanti di tengah jalan menemukan kesulitan, kamu sudah tahu gambarannya dari sekrang dan nggak kaget lagi. Kesehatan: Perbanyak makan buah-buahan.

PISCES (18 Februari-20 Maret) Adanya salah saorang teman yang membawa trend baru membuatmu ingin mengikutinya. Padahal kalau mau jujur, itu hanya sekedar gaya aja, tapi nggak banyak manfaatnya. Coba tahan diri dan nggak usah takut dibilang ketinggalan jaman.

manusia biasa aku merasa kesepian, aku ingin mencintai dan dicintai. Jarak yang memisahkan aku dan Deni terkadang membuat aku pada dua pilihan yang teramat sulit untuk ditentukan. Aku butuh kasih sayang, perhatian, dan orang yang bisa berbagi cerita suka dan duka setiap waktu, dan bisa melindungi ku. Sementara di satu sisi aku teramat mencintai Deni. Seiring berjalannya waktu,

hadir Romi yang selalu setia menemani malam-malam panjang ku. Tetapi jujur, Romi bagiku tak lebih dari teman biasa, ia lebih pantas menjadi kakakku ketimbang pacar mengingat hubungan kekerabatan di antara kami boleh dibilang masih dekat. Tetapi, kebaikan pribadi dan kesopanan Romi berhasil mencuri hati ibuku, juga ayah. Tak heran jika kemudian ibu dan ayah dengan berbagai cara berupaya menjodohkan

aku dengan Romi. Awalnya aku berjuang keras menentang keputusan ibu dan ayah. Ini bukan zaman Siti Nurbaya atau kisah Munaf dan Maimun yang harus dikawin paksa oleh kedua orangtua mereka. Walhasil, saban hari, rumah yang aku diami tak ubahnya neraka. Aku mulai berani menentang ibu dan ayah. Aku tak bisa menghianati cinta tulus Deni dengan menerima Romi yang dijodohkan ibu dan ayah. Namun, sekuat-kuatnya menahan badai, rapuh juga layar terkembang. Serateratnya menggenggam bara, melupuh juga tangan. Itulah kenyataan yang harus aku hadapi, aku tak mau jadi anak durhaka, lamaran Romi terpaksa aku terima. “Cinta akan datang sendirinya,” bisik ibu seraya menghapus air mataku saat menjelang pernikahan aku

dengan Romi. Kabar pahit ini ku sampaikan kepada Deni. Deni pun berada pada posisi yang teramat sulit. Tentunya ia tidak rela jika aku harus menjadi milik orang lain, tetapi ia pun tidak mungkin segera melamarku, karena Deni baru menginjak tahun ke tiga di bangku kuliahnya. Bak menelan si malakama, Deni menyerahkan segala keputusan kepada ku. Kini, dua dasa warsa berlalu. Kenangan pahit itu belum pernah berbuah manis. Nyatanya, kendati kehidupan aku dan Deni telah dibatasi tembok pernikahan, cinta ku kepadanya ternyata tak pernah padam. Terkadang, cumbuan biologis Romi sebagai suami, selalu aku khayal sebagai Deni. Tuhan, berdosakah aku...! (seperti diceritakan Odi kepada wartawan Bangka Pos Group gia)

Harian Pagi Bangka Pos Edisi 14 Juni 2009  
Harian Pagi Bangka Pos Edisi 14 Juni 2009  

Harian Pagi Bangka Pos Edisi 14 Juni 2009

Advertisement