Issuu on Google+

KAJIAN RASIONAL TERHADAP AJARAN TEOLOGIS Ahmad Fadhil

Pendahuluan Ajaran Islam bisa dibagi menjadi dua bagian. Pertama, ajaran tentang dasar-dasar agama. Kedua, ajaran tentang cabang-cabang agama. Dasar-dasar agama (us}u>l al-di>n), akidah, fondasi agama, atau pandangan dunia. Meyakini bagian ini merupakan kemestian agar seseorang bisa disebut sebagai muslim. Hal-hal yang termasuk us}u>l al-di>n adalah meyakini keesaan Allah, hari Akhir, dan kenabian Nabi Muhammad saw. Yang kedua biasa disebut furu>‘ al-di>n, yaitu serangkaian tugas, taklif, tanggung jawab, perintah dan larangan yang dibebankan Allah kepada manusia. Cabang agama terbagi menjadi tiga bagian, yaitu akhlak, ibadah, dan hukum/undang-undang non ibadah (muamalah/interaksi sosial). Pada serial diskusi kita semester ini, kita akan mendiskusikan ajaran-ajaran us}u>l aldi>n tersebut.

Urgensi pembahasan akidah Apa yang akan Anda lakukan jika seseorang yang Anda percaya berkata kepada Ada bahwa ada korsleting listrik di rumah Anda yang dapat menyebabkan kebakaran? Apa yang akan Anda lakukan jika seseorang berkata bahwa di kantor Anda ada bahan peledak? Walaupun kemungkinan benarnya berita itu kecil sekali, tentu saja Anda akan langsung memeriksa rumah dan kantor Anda sampai Anda yakin bahaya tersebut tidak ada. Begitu juga jika seseorang mengatakan kepada Anda bahwa mati bukan akhir dari segalanya dan ada aturan yang jika dipatuhi maka akan menyebabkan kesengsaraan yang abadi. Seperti manusia lain, Anda pasti akan memperhatikan hal-hal tersebut walaupun Anda sebenarnya berpikir bahwa kemungkinan benarnya kata-kata itu sangat kecil. Ini fitrah. Sebab, apa yang dikatakan orang tersebut sangat penting dan bernilai. Itulah yang mendorong manusia untuk terus mencari dan menggali hakikat mengenai hal-hal tersebut sampai dia mendapatkan kesimpulan yang meyakinkan, terlepas dari positif atau negatifnya kesimpulan yang dia peroleh.1 1

Mengenal Usuluddin, Husayn Wahid Khurasani, terj. Tim Pustaka Nabi dari Muqaddimah fi> Usu>l alDi>n wa Yali>ha> Minha>j al-S}a>lihi>n, Jakarta: Pustaka Nabi, cet. I, Mei 2010, h. 9-10.


Keengganan mengkaji akidah Pembahasan masalah-masalah akidah, misalnya masalah ketuhanan, sering dianggap sebagai pembahasan yang sulit, lebih sulit daripada pembahasan masalah-masalah praktis. Jika dalam pengetahuan praktis yang sederhana saja manusia sering berbeda pendapat, maka di dalam pengetahuan yang rumit ini perbedaan lebih mungkin terjadi. Ini ada benarnya. Karena itu, menurut al-‘Aqqad, tidak aneh jika usaha manusia untuk mengetahui hakikat ketuhanan lebih sulit dan lebih lama daripada upaya mengetahui masalah sains dan keterampilan praktis.2 Sayangnya, kesulitan ini membuat sebagian orang menjadi tidak mau mempelajari masalah-masalah mendasar dalam agama ini. Penolakan ini ada empat macam. Pertama, penolakan karena motif malas dan ingin hidup berbuat seperti ini menganggap belajar agama akan kesenangan, dan kebebasan mereka, karena agama mereka hal yang berat dan tidak mereka senangi, serta melarang senangi.

bebas. Orang-orang yang mengurangi kenikmatan, anggap menyuruh banyak banyak hal yang mereka

Orang yang mempunyai anggapan seperti ini akan ditimpa berbagai keburukan akibat rasa malas dan kesombongannya tersebut. Lebih dari itu, mereka pun terancam oleh siksa yang abadi. Mereka lebih bodoh daripada anak kecil yang sakit yang menolak diajak berobat ke dokter lantaran takut disuntik atau takut meminum obat yang pahit, karena anak itu belum mencapai tingkat kesadaran yang dapat memebedakan mana yang berguna dan manaya yang berbahaya. Kedua, penolakan dengan disertai sikap merendahkan kajian dalam masalah agama karena menganggap kajian seperti ini sudah tidak diperlukan oleh manusia modern. Orang-orang ini membanggakan diri sebagai orang modern dan pembela akan yang sejati. Mereka mengatakan bahwa periode mitologis, filsafat, dan agama adalah fasefase yang sudah dilewati dan ditinggalkan manusia yang telah mencapai fase saintifik. Doktrin mereka adalah akal sama sekali tidak patut diminta untuk mengkaji masalah agama, karena agama sudah tidak diperlukan. Al-Quran menyebut kedua jenis manusia ini sebagai orang-orang yang lebih buruk daripada binatang (QS. Al-A‘raf: 179 dan al-Anfal: 22). Ketiga, penolakan dengan alasan akal manusia itu terbatas. Berdasarkan anggapan ini, mereka mengatakan bahwa akal, energi, dan waktu manusia seharusnya digunakan untuk memikirkan masalah yang dapat dipecahkan dan dirasakan hasilnya secara nyata. 2

Alla>h, ‘Abbas Mahmud al-‘Aqqad, Kairo: Nahdah Misr, 1994, h. 6.


Harapan dan kemungkinan ini tidak dapat dipenuhi dalam kajian terhadap masalahmasalah agama. Jawaban untuk orang jenis ketiga ini, menurut Misbah al-Yazdi adalah sebagai berikut: pertama-tama kita katakan bahwa kemungkinan dan harapan terpecahkannya masalahmasalah agama tidak lebih kecil daripada masalah-masalah sain. Para ilmuwan pun baru dapat memecahkan masalah-masalah saintifik setelah mengerahkan segala upaya dan dalam waktu yang lama. Lalu, kita katakan bahwa berharganya suatu usaha tidak diukur dengan kadar peluang keberhasilannya saja, tapi juga dengan kadar keuntungannya. Jika bisnis A peluang berhasilnya 10 persen sedang bisnis B 5 persen, tapi laba bisnis A Rp. 1.000.000, maka bisnis B layak dilakukan karena lebih menguntungkan. Jadi, mengingat keuntungan dari kajian tentang masalah-masalah agama tidak terbatas besarnya, maka ia lebih berharga dari kajian apa pun yang hasilnya sedikit dan terbatas.3 Keempat, penolakan dengan alasan masalah-masalah agama bukan wilayah kajian rasional. Menurut orang-orang ini, dalam urusan agama orang tidak perlu melakukan kajian rasional, melainkan harus patuh dan taat secara mutlak. Tidak ada tempat untuk kajian kritis dalam wilayah agama karena agama bukan wilayah akal. Mereka biasa disebut sebagai Kaum Salafi. Doktrin mereka adalah agama sama sekali tidak patut dikaji dengan akal dan berpikir bukanlah kewajiban agama. Kelompok ini menurut Jawadi Amuli menyebabkan redupnya Ilmu Makrifatullah di kalangan mayoritas dunia Islam. Dengan alasan menyelamatkan al-Quran dari perubahan dan penyelewengan, kelompok yang telah lama mendominasi pola pikir mayoritas umat Islam ini baik secara sengaja atau tidak telah mengasingkan pengajaran filsafat dan hikmah dari lembaga-lembaga pendidikan Islam dan mengabaikan banyak sekali ayat al-Quran yang menyerukan naz}r, ta‘aqqul, tadabbur, dan yang semacamnya.4

Manfaat mempelajari akidah Peran akidah dalam kehidupan agama sangat vital. Pertama, akidah Islam adalah pembentuk kepribadian muslim. Pandangan manusia terhadap kehidupan dan alam semesta, juga pikirannya tentang berbagai aspek, bahkan perasaannya, berputar pada poros akidah yang dia yakini. Dengan kata lain, akidah sangat berperan dalam bangunan pemikiran dan akhlak seseorang, serta mengarahkan energinya pada upaya membangun dan mengubah sesuatu menjadi lebih baik. 3

Iman Semesta, Muhammad Taqi Misbah al-Yazdi, terjemahan Ahmad Marzuki Amin dari Amuzesye Aqayed, Jakarta: Penerbit al-Huda, cet. I, 2005, h. 10-13. 4

Nazariyyah al-Ma‘rifah li al-Qur’a>n al-Kari>m, Jawadi Amuli, Qum: Dar al-Isra’ li al-Tahqiq wa alNashr, 1428 H., h. 18.


Pada level pemikiran, akidah Islam mengeluarkan manusia dari dunia khurafat dan kebodohan, membimbing tangannya ke dunia ilmu dan cahaya, membangkitkan energienergi yang tersimpan pada dirinya untuk merenungi dan mengambil pelajaran dari dalil-dalil dan ayat-ayat Allah. Akidah Islam juga menghilangkan taklid dalam akidah dan mengaitkan ilmu dengan keimanan. Kedua, akidah Islam adalah unsur kekuata di dalam peradaban dan kebudayaan Islam. Pada aspek sosial, akidah Islam mampu mengangkat ikatan sosial dari pondasi kesukuan, ras, dan harta kepada pilar-pilar mental yang mewujud pada takwa, keutamaan, dan persaudaraan umat manusia, sehingga umat Islam mampu membentuk umat terbaik yang pernah disaksikan umat manusia padahal sebelumnya mereka adalah komunitas yang tercerai-berai. Pada aspek moral, akidah Islam menumbuhkan motif internal yang berbasis pada keimanan terhadap pengawasan Allah terhadap setiap gerak dan diamnya manusia serta pahala dan siksa sebagai implikasinya. Hal ini telah menyeimbangkan naluri-naluri manusia dan menumbuhkan akhlak mulia serta menjadikannya sebagai elemen penting dalam seluruh hukum Islam.5 Ketiga, akidah Islam berperan dalam memenuhi kebahagiaan. Berkat akidah yang benar, orang akan mendapat pengetahuan tentang hakikat, memiliki nilai spiritual, dan mampu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Ilmu pengetahuan berpengaruh secara langsung pada jiwa manusia dan mengantarkannya kepada kesempurnaan. Ali bin Abu Talib, sebagaimana dikutip oleh Amini dari Kitab Biha>r al-Anwa>r, mengatakan, Wahai kaum Mukminin, ilmu dan adab adalah nilai bagi jiwa kalian. Karena itu, kerahkanlah semua usahamu untuk mencari ilmu. Setiap kali ilmu dan adabmu bertambah, maka kedudukan dan nilaimu juga juga bertambah karena engkau akan terbimbing menuju Tuhanmu. Dengan adab yang engkau miliki, engkau dapat melayani Tuhan dengan lebih baik. Hamba yang beradab layak untuk menjadi kekasih Allah dan meraih kedekatan dengan-Nya. Terimalah nasihat ini agar engkau selamat dari siksa Allah.6

Daftar Pustaka Al-‘Aqqad, ‘Abbas Mahmud, Alla>h, Kairo: Nahdah Misr, 1994. Al-Yazdi, Muhammad Taqi Misbah, Iman Semesta, terjemahan Ahmad Marzuki Amin dari Amuzesye Aqayed, Jakarta: Penerbit al-Huda, cet. I, 2005. Amini, Ibrahim, Alfabet Islam. 5

Dawr al-‘Aqi>dah fi> Bina>’ al-Insa>n, ....

6

Alfabet Islam, Ibrahim Amini, h. 10.


Amuli, Jawadi, Nazariyyah al-Ma‘rifah li al-Qur’a>n al-Kari>m, Qum: Dar al-Isra’ li al-Tahqiq wa al-Nashr, 1428 H.. Khurasani, Husayn Wahid Mengenal Usuluddin, terj. Tim Pustaka Nabi dari Muqaddimah fi> Usu>l al-Di>n wa Yali>ha> Minha>j al-S}a>lihi>n, Jakarta: Pustaka Nabi, cet. I, Mei 2010. Dawr al-‘Aqi>dah fi> Bina>’ al-Insa>n, ....


Kajian Rasional Terhadap Ajaran Teologis