Page 1



      

       

            

  

  

  



 

 !  !!"  # $ !   %&'()*

+) ,- &.///0 /121 1%3456 %

6%5%%  33 

 +

   Selengkapnya Baca Halaman 2



 

       

balitravel_54_indonesia.indd 1

3/20/2013 12:49:53 AM


2

COVER STORY

BAHA

SA

INDO

N e w s p a p e r

NESIA

No. 54  25 Maret - 10 April 2013

Tradisi Mengusir ‘Buthakala’ SALAH satu tradisi budaya masyarakat Bali yang masih bertahan sampai kini adalah “tradisi Barong Bangkung”. Barong Bangkung adalah sejenis tarian lengkap dengan barong yang ditarikan oleh 2 orang didalamnya. Tarian ini diiringi dengan gong cenik dan biasanya dimainkan oleh anak-anak. Sebagai penari pengiring Barong Bangkung, mereka memakai aneka ragam topeng dan ikut menari pada saat gong cenik dibunyikan. Biasanya ‘pasukan’ Barong Bangkung ini menari dari satu desa ke desa-desa lainnya. Tradisi Barong Bangkung ini dapat kita jumpai pada se ap perayaan hari raya Galungan dan Kuningan. Tradisi Barong Bangkung bertujuan untuk mengusir ‘bhutakala’ yang ada di se ap pekarangan rumah maupun jalanan (hampir sama fungsinya dengan pawai Ogoh-ogoh yang dilakukan saat hari pengrupukan Nyepi). Oleh sebab itu, ‘pasukan’ Bar-

ong Bangkung ini ada yang mengelilingi areal rumah ke ka ada yang ‘memanggil’ mereka. Jadi, pasukan Barong Bangkung tersebut, selain menghibur, mereka juga melakukan ‘pembersihan’ pekarangan rumah dengan upah berupa uang seikhlasnya. Ngelawang diantara Galungan dan Kuningan Tradisi Barong Bangkung ini, termasuk tradisi ngelawang yang merupakan salah satu ritual tolak-bala bagi umat Hindu di Bali. Ngelawang dilakukan se ap 6 bulan sekali (210 hari) diantara hari raya Galungan (Rabu, 27/3) dan Kuningan (Sabtu, 6/4). Seper namanya Ngelawang yang ar nya lawang (pintu), yang berar bahwa pementasan dilakukan dari rumah ke rumah dan dari desa ke desa, pasar, bahkan di tengah-tengah jalan dan keramaian lainnya. Tarian pokoknya adalah Barong Bangkung yaitu barong berupa

Makna Galungan dan Kuningan KATA “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang ar nya menang atau bertarung. Galungan sama ar nya dengan Dungulan yang berar menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Agak sulit memas kan asal-usul hari raya Galungan ini. Kapan Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan Bali, khususnya. Drs. I Gus Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia. Dugaan ini didasarkan atas lontar berbahasa Jawa Kuna Kidung Panji Amalat Rasmi. Tapi, kapan tepatnya Galungan dirayakan, masih belum terjawab dengan pas . Namun di Bali, ada sumber yang memberikan k terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan: “Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya’. Ar nya: Perayaan (upacara) hari raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan pulau Bali bagaikan Indra Loka. Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Selama ga abad, entah apa dasar per mbangannya, tahun 1103 Saka perayaan Galungan dihen kan. Itu terjadi ke ka Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ke ka tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan dak dirayakan, konon musibah datang tak hen -hen . Umur para pejabat kerajaan konon menjadi rela f pendek. Ke ka Sri Dhanadi mangkat dan digankan Raja Sri Jayakasunu (tahun 1126 Saka), Galungan dirayakan kembali. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. Dalam lontar tersebut diceritakan Raja Sri

Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya, Raja Sri Jayakasunu melakukan tapa brata dan samadhi yang terkenal dengan is lah Dewa Sraya — ar nya mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata, Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau “bisikan religius” dari Dewi Durgha, sak dari Dewa Siwa. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek, karena dak merayakan Galungan. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan se ap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan). In pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan nega f (Bhutakala) dari diri manusia dan lingkungannya. Sejak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali. Makna Filosofis Galungan Galungan adalah upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia. Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan. Makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan: “Budha Kliwon Dungulan

Ngaran Galungan pa s ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep”. Ar nya: Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran. Jadi, in Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama ini, disimpulkan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan menangnya dharma melawan adharma. Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan. Sebelum Galungan ada perayaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Kata Jawa di sini sama dengan Jaba, ar nya luar. Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia. Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspa Wage Wuku Sungsang (21/3), enam hari sebelum Galungan. Pada hari Sugihan Jawa merupakan pasucian dewa kalinggania pamras sta batara kabeh (Penyucian Dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara). Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang (22/3): “Kalinggania amre sta raga tawulan” (Oleh karenanya menyucikan badan jasmani masing-masing). Karena itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. Kata Bali dalam bahasa Sansekerta berar kekuatan yang ada di dalam diri. Dan itulah yang disucikan. Pada Redite Paing Wuku Dungulan (24/3) diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung jñana, ar nya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan. Dalam lontar itu juga disebutkan nirmalakena (orang yang

sosok babi (bangkal) diiringi dengan gamelan bebarongan ataupun gamelan betel. Tujuannya, selain mengusir roh-roh jahat juga diharapkan dapat melindungi penduduk dari wabah/penyakit yang diakibatkan oleh rohroh (bhutakala) tersebut. Ngelawang berasal dari mitologi seorang Dewi Can k bernama Ulun Danu berubah wujud menjadi seorang raksasa yang berha baik dan membantu penduduk desa melakukan pengusiran roh jahat dan membagikan rtha amertha. Pada mulanya ritual ini adalah ritual sakral dan magis, sehingga Barong menjadi bendabenda keramat dan sakral seper Barong dan Rangda. Benda-benda sacral ini diusung mengelilingi desa ataupun banjar dengan tujuan melindungi penduduk secara niskala, kemudian bulu-bulu yang tercecer dari Rangda maupun Barong ini akan dipungut oleh warga dan dengan penuh keyakinan menjadikannya sebuah benda yang bertuah. Namun dalam perjalannya, dengan krea fitas masyarakat Bali, benda-benda sakral tersebut dibuatkan ruannya dan tradisi ngelawang menjadi tontonan seper banyak dipentaskan oleh anak-anak, kemudian mereka dibayar sekedarnya sebagai ucapan terima kasih.  BTNewspaper/net/ed pikirannya selalu suci) dak akan dimasuki oleh Butha Galungan. Pada hari Senin Pon Dungulan (25/3) disebut Penyajaan Galungan. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan (26/3) disebut Penampahan Galungan. Hari ini dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri. Kamis Umanis wuku Dungulan (28/3) disebut Manis Galungan. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya melampiaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria. Hari berikutnya adalah Sabtu Pon Dungulan disebut Pemaridan Guru (30/3). Hari ini melambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirghayusaan yaitu hidup sehat panjang umur. Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan ma rta gocara. Upacara tersebut bermakna, umat menikma waranugraha dewata. Jumat Wage Kuningan disebut Penampahan Kuningan (5/4). Dalam lontar Sundarigama dak disebutkan upacara yang mes dilangsungkan. Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan Sapuhakena malaning jnyana (lenyapkanlah kekotoran pikiran). Esok harinya, Sabtu Kliwon disebut Kuningan (6/4). Dalam lontar Sundarigama disebutkan, upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksanakan pada pagi hari dan hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. Mengapa? Karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara “diceritakan” kembali ke Swarga (Dewa mur mwah maring Swarga).

Bersambung ke halaman 7

B-II.24-12

balitravel_54_indonesia.indd 2

3/20/2013 12:49:56 AM


TIPS CERDAS UNTUK SEHAT

BAHA

SA

INDO

N e w s p a p e r

NESIA

No. 54  25 Maret - 10 April 2013

3

Galungan….Makanan Berlimpah, Kesehatan Terjaga bahan baku air yang digunakan; peralatan, cara pengolahan, tempat dan lingkungan; dan higiene daging yang digunakan serta kesehatan pengolah lawar itu sendiri ( food handler). Selain lawar dan sate, pada saat Galungan dan Kuningan, kaum perempuan Bali akan membuat sesajen yang dilengkapi dengan buah-buahan dan bunga sebagai sarana persembahyangan, sehingga perayaan Galungan dan Kuningan ada berbagai macam jenis makanan khas Bali beserta buah-buahan. Pada saat itu, boleh dikatakan persediaan makanan cukup kompleks, mulai dari sayur-sayuran, lauk pauk, sampai buah-buahan. Akan tetapi, makanan yang banyak apabila dak diimbangi dengan olahraga akan berdampak dak baik bagi kesehatan. Olahraga merupakan suatu gerakan olah tubuh yang memberikan efek pada tubuh secara keseluruhan. Olahraga membantu merangsang otot-otot dan bagian tubuh lainnya untuk bergerak. Pen ngnya olahraga bagi tubuh dapat diilustrasikan seper mesin yang dak pernah digunakan/digerakkan. Banyak manfaat yang dihasilkan dengan berolahraga secara teratur. Selain bentuk tubuh menjadi lebih indah dan sehat, olahraga dipercaya membangun semangat untuk menjalani hari-hari yang sibuk. Apa saja manfaat lain dari olahraga?

Oleh: Ni Luh Gede Karyamitha, S.KM (Public Health Officer at Manu Waluya Public Health Service) M A R E T 2013, penuh dengan perayaan hari raya bagi umat Hindu. Setelah Nyepi (12/3) berlalu, Galungan pun akan ba. Galungan (27/3) dirayakan umat Hindu di Bali sebagai perayaan kemenangan dharma (kebaikan) atas adharma (kejahatan). Galungan, berdasarkan kalender Bali dirayakan se ap enam bulan sekali (210 hari) yang jatuh se ap hari Rabu. Galungan merupakan perayaan besar bagi umat Hindu di Bali. Selain itu, Galungan berkaitan erat dengan hari raya lainnya, yaitu Kuningan. Jaraknya hanya 10 hari. Oleh karena itu, biasanya cara mengucapkan selamat untuk orang yang merayakannya adalah dengan kalimat “Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan.” Beberapa daerah di Bali memiliki kekhasan sendiri saat perayaan Galungan dan Kuningan. Sehari menjelang Galungan disebut hari Penampahan Galungan. Pada hari itu, umat Hindu di Bali memotong babi dan membuat aneka makanan seper lawar dan sate. Lawar yang sebagai salah satu jenis makanan tradisional Bali yang saat ini makin populer dan makin luas konsumennya. Lawar telah menjadi budaya dari masyarakat Bali yang sulit dihilangkan karena disamping mempunyai fungsi sosial dan menjadi sarana dalam upacara-upacara adat dan keagamaan lawar juga mengandung zat gizi yang cukup. Lawar adalah sejenis lauk pauk yang dibuat dari campuran daging atau ikan dengan sayur mayur dan bumbu. Khasiat lawar bila dikaitkan dengan kandungan zat gizinya terutama karbohidrat, protein dan lemak adalah memperlancar proses fisiologis dalam tubuh karena zat gizi tersebut sebagai sumber energi. Kandungan senyawa non-gizi pada lawar belum banyak diketahui. Bahan baku, khususnya bumbu yang digunakan pada pembuatan lawar sangat beraneka ragam seper bawang pu h, bawang merah, cabai, lengkuas, jahe, kunir, lada dan lain-lainnya. Kandungan tersebut mengandung senyawa-senyawa non-gizi, seper minyak atsiri, an oksidan dan an mikroba yang berfungsi meningkatkan citarasa lawar, mencegah proses oksidasi dan menghambat atau membunuh mikroba sehingga lawar dalam jangka waktu tertentu aman untuk dikonsumsi. Keamanan lawar terutama bila dilihat dari aspek mikrobiologisnya, sangat tergantung pada sanitasi (kebersihan) dari

a.

Meningkatkan daya tahan tubuh dan mengurangi risiko berbagai macam penyakit. Olahraga yang dilakukan dengan teratur, akan meningkatkan fungsi hormon-hormon dalam tubuh di mana hormon-hormon ini mampu meningkatkan daya tahan tubuh.

b.

Meningkatkan fungsi otak. Berolahraga secara teratur dapat membantu meningkatkan konsentrasi, krea vitas, dan kesehatan. Dengan olahraga, jumlah oksigen di dalam darah akan meningkat sehingga memperlancar aliran darah menuju otak. Hal tersebut berperan dalam meningkatkan fungsi otak.

c.

Mengurangi stress. Stres dapat terjadi pada siapa saja. Berolahraga mampu membuat bahan kimia yang ada pada otak Anda menjadi lebih rileks dan merasa bahagia. Olahraga teratur juga akan membuat Anda lebih bugar dan lebih percaya diri sehingga terhindar dari depresi.

d.

Meningkatkan energy. Olahraga dapat memacu jantung lebih cepat memompa darah, sehingga darah yang membawa

oksigen dan nutrisi dapat sampai pada organ organ tubuh. e.

Menunda proses penuaan. Semakin bertambahnya usia, maka perubahan pada tubuh akan semakin terlihat, misalnya kerutan pada kulit. Dengan olahraga teratur, dapat meningkatkan produk vitas sel-sel sehingga dapat menunda proses penuaan terutama kerutan pada kulit.

f.

Membakar lemak. Olahraga sangat bermanfaat bagi anda yang ingin menurunkan berat badan atau melangsingkan tubuh. Gerakan-gerakan saat olahraga dapat membantu membakar lemak dalam tubuh.

g.

Menurunkan kolesterol. Saat olahraga, tubuh kita bergerak dan membantu tubuh membakar kalori yang ada sehingga menghasilkan energi yang dibutuhkan tubuh untuk bekerja. Olahraga yang teratur juga dapat membakar kolesterol LDL dan trigliserida serta meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL). Hal ini sangat membantu tubuh tetap fit dan mengurangi resiko darah nggi, stroke, kegemukan, dan penyakit jantung. Jenis olahraga yang dianjurkan untuk mengurangi kolesterol adalah jenis olahraga yang menggerakkan otot-otot pada paha, kaki, lengan, dan pinggul. Contohnya, senam aerobik, jalan kaki, joging, berenang, dan bersepeda.

Olahraga sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Dengan berolahraga metabolisme tubuh menjadi lancar sehingga distribusi dan penyerapan nutrisi dalam tubuh menjadi lebih efek f dan efisien. Yang pen ng diingat, olahraga yang teratur juga harus dibarengi dengan pola hidup sehat dengan menjaga pola makan yang baik, dak merokok, dan

cukup is rahat. Pada tahap awal, sebaiknya olahraga dilakukan dalam waktu singkat untuk memberikan pengenalan dan membiasakan tubuh. Awalnya, tubuh akan merasa sakit, pegal-pegal, dan nyeri karena otot belum terla h atau terbiasa. Disarankan kurang lebih 3 kali dalam seminggu dalam hari yang dak berurutan untuk melakukan olahraga untuk membantu agar otot-otot pulih dan dak terlalu berat berak vitas. Karena jika berlebihan, olahraga yang bermanfaat bagi tubuh malah dapat meningkatkan resiko cedera. Untuk usia lanjut, olahraga yang disarankan adalah olahraga yang dak memaksa kekuatan otot tetapi mela h otot tetap ak f misalnya berjalan kaki selama 30 menit dalam sehari, 3 kali seminggu. Yang pas , pilihlah olahraga yang sesuai keadaan tubuh, gunakan pakaian olahraga yang tepat- dak ketat dan menyerap keringat, dan jangan lupa melakukan pemanasan dan pendinginan dengan benar agar tubuh dak terlalu kaget karena ak vitas olahraga. Mari kita rayakan Galungan dan Kuningan dengan dak menghen kan ak vitas olahraga ru n yang kita lakukan. Dengan banyaknya makanan yang diimbangi dengan olahraga justru akan menjaga kesehatan tubuh kita agar tetap sehat dan bugar saat perayaan hari raya. 

Rubrik Manu Waluya MANU = Manusia WALUYA = Sehat, Sembuh, Selamat 2nd Floor RB. Permata Hati Jalan Teuku Umar Barat 71XX – Denpasar. P: 0361.3691289, 0361.486579 ext.117/118. E: info@eduhealthsmart.com

WISATA SPRIRITUAL

Gabriel Cousens: Ahli Spiritual Pengobatan untuk Mengurangi Penyakit Diabetes MENJALANI spiritual yang nggi dan juga memberikan ilmu yang posi f untuk mengurangi penyakit diabetes adalah visi dan misi dari Gabriel Cousens,M.D. Seorang ahli homeopa , dan penulis spiritual dengan praktek pengobatan holis c dari Patagonia, Arizona ini berkesempatan untuk memberikan ilmunya di Fivelements Puri Ahimsa, Mambal Bali. Ke ka ditemui Bali Travel Newspaper Kamis (7/3), Cousens memberikan penjelasan tentang misinya ini. “Kami melakukan puasa, dak hanya puasa makan tetapi juga

balitravel_54_indonesia.indd 3

puasa spiritual”, ujarnya yang ditemani oleh Chicco Tatriele, General Manager sekaligus owner dari Fivelements Puri Ahimsa yang terletak di Banjar Baturning Mambal Bali. Cousens juga mendukung terapi makan yang menurutnya bisa memberikan efek untuk mengurangi penyakit diabetes. “Terapi ini bisa memberikan penyembuhan 60 persen untuk penyakit diabetes”, ujar Cousens. Ditambahkan ada kemungkinan bahwa penyakit lainnya juga bisa disembuhkan. Cousens yang telah menulis buku

tentang wisata spiritual dan terapi makan sehat ini selalu mempromosikan ideidenya, dan menurutnya Bali sangat cocok sebagai tujuan wisata spiritual di dunia. “Bali adalah tempat yang baik selama saya menjalani tepai ini,” lanjutnya. Selama manjalankan tahapan spiritual di Fivelements, menurutnya sangat berkesan dan akan terus secara berkelanjutan akan membawa murid-muridnya di seluruh dunia. Dan pada kesempatan ini, sebanyak 11 murid dari seluruh belahan dunia ikut berpar sipasi.  BTNewspaper/Krisna

3/20/2013 12:49:57 AM


4

BAHA

N e w s p a p e r

INFO PRODUK

SA

INDO

NESIA

No. 54  25 Maret - 10 April 2013

K12-III.40-13

SPACE FOR YOUR ADS CALL (0361) 227610

Now Open at Beachwalk Kuta

Jl. Tamblingan Sanur 0361-289 361 Coffee – Cakes – Sandwiches - Light meals and Catering Bring this ad and get 10% off K12-IV.3-11

Pura Tanah Lot

Pura Pakendungan

Dewi Sinta Restaurant Tanah Lot, offers a wide rings of Balinese, Indonesian and Chinese food as well as seafood and European cuisine prepared by our experienced chef. Dewi Sinta hotel has 27 guest rooms of three Breakfast, Lunch and Dinner are available a different types: Standard, Deluxe and Suites. la carte or buffet style. Phone : +62 361 812933 Fax : +62 361 813956 E-mail : reservation@dewisinta.com Website : www.dewisinta.com

K12-I.43-13

K12-I.16-12

K12-III.26-12

K12-I.12-12

balitravel_54_indonesia.indd 4

K12-III.39-13

3/20/2013 12:49:59 AM


BAHA

INFO PRODUK

SA

INDO

N e w s p a p e r

NESIA

No. 54 ď Ź 25 Maret - 10 April 2013

K12-V.31-12

5

K12-VI.6-11

K12-I.15-12

balitravel_54_indonesia.indd 5

3/20/2013 12:50:03 AM


6

GENERAL INFO

BAHA

SA

INDO

N e w s p a p e r

NESIA

No. 54 ď Ź 25 Maret - 10 April 2013

Pers Jujur dalam Pilgub Bali 2013 PERANAN pers atau media massa yang menjadi salah satu pilar demokrasi bangsa, merupakan pencerahan bangsa untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap hal-hal yang terjadi dalam suatu kondisi. Media massa juga sangat menentukan dalam membentuk cara pikir masyarakat, sehingga terbentuklah opini publik. Oleh karena itu, memberikan informasi sehat kepada masyarakat akan membentuk cara berpikir masyarakat yang sehat, dan logis serta bere ka. Namun, bila sebaliknya, akan membentuk konflik di kalangan tertentu yang disebut kebohongan publik atau pembodohan massa pembacanya.

Untuk itu, Asosiasi Media Bali (AMB) menyelenggarakan Diskusi Akbar yang bertajuk “Pers Jujur dalam Pilgub Bali 2013â€?, Kamis (28/2) di Warung D’Cost, Jl. Puputan Renon 88 Denpasar. Dasar pemikirannya adalah rasa priha n terhadap peran pers di Bali yang mulai tak sehat pada putaran pemilihan Kepala Daerah (Pilgub Bali) yang dihelat 15 Mei mendatang. AMB yang diketuai oleh Wisnu Wardana dan 10 media lokal di Bali ini ingin membuka opini dan ruang diskusi terbuka terhadap peran pers yang jujur dan adil pada pilgub mendatang. “Pers apabila dak berimbang, tentunya bukan pers yang sehat,â€? ujar Wisnu Wardana. ď ś BTNewspaper/PR

Nyepi di Harris Riverview Kuta

Diskusi Tentang Perayaan Nyepi di Bali BERTEPATAN dengan hari raya Nyepi Tahun Baru Caka 1935 yang jatuh pada 12 Maret 2013, Wisnu Wardana selaku Ketua Yayasan Tri Hita Karana Bali, memberikan sosialisasi dan diskusi terhadap bagaimana perayaan Nyepi di Bali. Bertempat di Happy Room, dan langsung dipandu oleh General Manager Harris Riverview Kuta, Marija Tjie. Menurut Wisnu Wardana, Nyepi di Bali sesungguhnya mempunyai peranan yang pen ng dan memiliki nilai historis yang nggi. Oleh sebab itu, semua masyarakat Bali selalu ru n melaksanakannya dan juga terkenal melaksanakan catur brata penyepian yakni ama geni, ama karya, ama lelungan, dan ama lelanguan. “Catur brata penyepian ini wajib dilaksanakan, dan inilah yang merupakan esensi dari perayaan Nypi, atau tahun baru saka di Bali,� ujar Wisnu. Dalam acara yang berlangsung selama dua jam ini, daya tarik dari para wisatawan cukup nggi, apalagi merupakan salah satu tujuan dari berlibur di Harris Riverview bertepatan dengan hari raya Nyepi. Sehingga diskusi berjalan dengan lancer dan terarah. Ibu Marija Tjie mengungkapkan, bahwa memang pihaknya secara khusus menyiapkan

paket Nyepi dengan memberikan penjelasan kepada wisatawan, sehingga wisatawan sadar akan pen ngnya Nyepi di Bali. “Ini akan kami jadikan program tahunan, sehingga memang masyarakat tahu betul apa yang menjadi tujuan dari perayaan Nyepi di Bali,â€? ujarnya. Acara yang bertemakan sosialiasi bersama Yayasan Tri Hita Karana Bali tentang Nyepi ini diisi dengan pemaparan Nyepi di Bali, pemutaran film tentang Nyepi tempo dulu di Bali, pelaksanaan Nyepi di Bali dan tentang upacara medewasraya. Dan dilanjutkan dengan sesia diskusi tentang Nyepi. Selain acara diskusi ini, Harris Riverview Kuta juga menggelar berbagai acara diantaranya menghias cup cake untuk anak-anak, lomba tenis meja, dan lomba minum air kelapa bagi para wisatawan yang menginap. ď ś BTNewspaper/Krisna

Sosialisasi THK Awards Aston Bali Beach Resort & Spa SENIN (4/3), Yayasan Tri Hita Karana Bali mensosialisasikan program THK Awards 2013 kepada Hotel Aston Bali Beach Resort & Spa yang berlokasi di Jl. Pratama, Tanjung Benoa-Bali. Tim THK yang dipimpin IGN. Wisnu Wardana diterima oleh Sales Manager, Sari Puspawa (Ms) didampingi beberapa staf dan management Aston Bali. Management Aston Bali nampak sangat antusian menerima dan mendengar pokok bahasan tentang tri hita karana. Hal ini, mengingat Aston Bali Beach Resort & Spa sudah pernah mengiku THK Awards & Accredita on pada tahun-tahun sebelumnya. Namun karena beberapa hal, mereka absen pada kegiatan THK Awards dalam program selanjutnya. Kegiatan itu bisa berlangsung saat wartawan Bali Travel Newspaper bertemu dengan Ibu Puspa panggilan dari Sari Puspawa pada acara Grand Opening Grand Benoa Resto, dimana Aston Bali ingin mendapatkan pengetahuan tambahan mengenai program THK Awards, mengingat ada perubahan mendasar tentang program tersebut. Konsep awal THK

Awards merupakan sebuah perlombaan, annual compe on yang kemudian menjadi akreditasi. Jadi, siapa saja boleh ikut akreditasi THK Awards untuk mengetahui sejauh mana mereka telah mengimplementasikan konsep tri hita karana di

lingkungan hotelnya. Tidak lagi mencari pemenang Juara I, II dan III. Puspa (Ms) mengatakan: “Kami sangat tertarik dengan program THK Awards ini, mengingat tahun-tahun sebelumnya sudah pernah ikut. Kami akan berdiskusi dengan management dan akan membentuk Tim THK di lingkungan hotel kami untuk mempersiapkan diri ikut THK Awards 2013,â€? jelas Puspa. ď ś BTNewspaper/AriekPW

Omed – Omedan Heritage Festival 2013

   

 

   

      

   

      

 

   !"                   

balitravel_54_indonesia.indd 6

RABU (13/3), sebuah tradisi unik kembali digelar oleh Sekaa Teruna-Teruni ‘Satya Dharma Ker ’ di Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar. Tradisi yang berlangsung se ap Ngembak Geni, sehari setelah Nyepi itu adalah prosesi OmedOmedan. Tradisi Omed-Omedan ini merupakan tradisi unik yang diwariskan secara turun temurun, sehingga keberadaanya sangat dikenal luas, baik di kalangan dalam negeri maupun manca negara. “Kami yakin, tradisi ini memiliki nilai sakral dan ada kaitanya dengan sesuhunan kami di Banjar Kaja, Sesetan, sehingga kami bertekad untuk terus melestarikan dan menjadikan sebagai alat pemersatu warga,� ungkap Ketua Pani a Omed-Omedan Heritage Fes val, I Kadek Sitrisna kepada wartawan. Omed-Omedan kali ini mengambil tema “Melalui Sesetan Heritage Omed-Omedan Fes val 2013, Kita Tingkatkan Par sipasi Sekaa Teruna-teruni dalam Melestarikan Budaya Menuju Kota Denpasar Berbasis Budaya, menuju Keharmonisan�. Tujuannya, untuk memeriahkan tahun Baru Caka 1935 dan berpar sipasi dalam menyemarakkan pariwisata budaya di kota Denpasar. “Selain itu, untuk menumbuh kembangkan jiwa kewirausahaan menuju ekonomi krea f dan meningkatkan kunjungan wisatawan, baik wisatawan nus-

antara maupun wisatawan manca negara ke Denpasar khususnya dan Bali pada umumnya,â€? ungkap ketua STT. Satya Dharma Ker , I Gede Bayu Surya Parwita. Acara Omed-omedan ini juga dirangkai dengan Pasar Rakyat yang lebih dikenal dengan nama “Pekenan Paiketan Krama Sesetanâ€?. Kemudian, ada parade seni dan band yang didukung Nanoe Briru dan Mr.Botax Tradisi Omed-Omedan (med-medan) berar tarik-menarik dalam bahasa Indonesia. Tapi, yang digelar di Banjar Kaja ini memiliki keis mewaan. Pesertanya, muda - mudi yang belum menikah, berumur antara 17-30 tahun. Mereka melakukan med-medan (tarikmenarik) diiku adegan berciuman antara satu pemuda dan pemudi. Prosesi ini hanya dilakukan pada hari menjelang sore, sekitar pukul 14.00 wita. Prosesi Omed-omedan diawali dengan acara persembahyangan bersama, kemudian dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok pemuda dan pemudi yang saling berhadapan, saling tarik-menarik, berpelukan dan berciuman. Mereka ditonton ribuan warga, dan bagi yang berhasil mencium pasangannya dihadiahi siraman air, sehingga menambah keriuhan suasana. ď ś BTNewspaper/Rudianto

3/20/2013 12:50:05 AM


GENERAL INFO

BAHA

SA

INDO

N e w s p a p e r

NESIA

No. 54  25 Maret - 10 April 2013

7

DTW Alas Kedaton Mulai Bangkit

SELASA, (12/2), Yayasan Tri Hita Karana Bali yang diwakili oleh Krisnayana menyerahkan sebuah penghargaan se nggi- ngginya kepada DTW (Daya Tarik Wisata) Alas Kedaton karena telah bekerjasama dengan Yayasan Tri Hita Karana Bali dan Bali Travel Newspaper. Penghargaan berupa sebuah frame yang berisikan desain DTW Alas Kedaton yang nan nya akan digunakan sebagain

cover depan dari Bali Travel Newspaper. Penghargaan diterima langsung oleh Manager Opera onal DTW Alas Kedaton, I Gus Bagus Suryawan di loby pintu masuk DTW. “Kami sangat berterima kasih atas apa yang telah diberikan oleh Bali Travel Newsapaper kepada DTW Alas Kedaton berupa penghargaan ini, semoga ke depannya kita dapat terus berkomunikasi dan saling bekerjasama dalam berbagai hal lain,” kata Pak Gus saat menerima penghargaan tersebut. DTW Alas Kedaton yang berada di Desa Kukuh Marga beberapa bulan ini mengalami peningkatan kunjungan. “Ya, lumayan lah, ada kunjungan ke objek kami dan kami tetap bersyukur, karena kami masih ada di ha para wisatawan,” tambah Pak Gus saat bincangbincang dengan wartawan Bali Travel Newspaper. DTW Alas Kedaton terus berusaha memperbaiki diri seper contoh perbaikan toilet, tempat is rahat bagi para tour-guide dan sopir, pembenahan taman, pembangunan aula/wan lan untuk pertunjukan, dll. Perbaikan ini mutlak dilakukan untuk menunjang kenyamanan dan memanjakan para wisatawan yang datang.  BTNewsapaper/AriekPW

Makna Galungan dan Kuningan Sambungan dari halaman 2 Macam-macam Galungan Berdasarkan sumber-sumber kepustakaan lontar dan tradisi, ada ga jenis Galungan yaitu: Galungan (tanpa ada embel-embel), Galungan Nadi dan Galungan Nara Mangsa. Galungan adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Lontar Sundarigama menyebutkan: “Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan” Ar nya, Galungan dirayakan se ap Rabu Kliwon wuku Dungulan, se ap 210 hari, karena yang dipakai dasar menghitung Galungan adalah Panca Wara, Sapta Wara dan Wuku.

Galungan Nadi. Galungan yang dirayakan oleh umat Hindu di Bali, berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa adalah Galungan yang jatuh pada sasih Kapat (Kar ka) tanggal 15 (purnama) tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada bulan Oktober. Disebutkan dalam lontar itu, bahwa pulau Bali saat dirayakan Galungan pertama itu bagaikan Indra Loka. Ini menandakan betapa meriahnya perayaan Galungan pada waktu itu. Galungan Nara Mangsa jatuh bertepatan dengan lem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. Dalam lontar Sundarigama disebutkan: “Yan Galungan nuju sasih Kapitu, Tilem Galungan, mwang sasih kesanga, rah 9, tenggek 9, Ga-

C2-III-13

balitravel_54_indonesia.indd 7

Apresiasi DTW Ulun Danu Beratan dan Tanah Lot BALI Travel Newspaper dan Yayasan Tri Hita Karana, yang diwakilkan oleh Krisnayana dan Ariek PW memberikan apresiasi kepada Daya Tarik Wisata (DTW) Ulun Danu Beratan dan Tanah Lot Bali, berbarengan dengan DTW Alas Kedaton, Selasa (12/2) lalu. “Ini merupakan bentuk apresiasi, agar DTW Ulun Danu Beratan, Tanah Lot dan Alas Kedaton untuk terus berkiprah di pariwisata Bali dan kami juga akan memberikan hal yang sama kepada DTW Sangeh,” ujar Krisnayana. Pihak DTW Ulun Danu Beratan yang diwakili Wayan Parwata menyampaikan rasa terima kasih dan bertekad untuk selalu terus menjaga keasrian Pura Ulun Danu Beratan, sehingga tetap menjalankan konsepkonsep tri hita karana (THK). “Kami selalu belajar dan terus mengembangkan diri,”

lungan Nara Mangsa ngaran.” Ar nya: Bila Wuku Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu, Tilem Galungannya dan bila bertepatan dengan sasih Kesanga rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa namanya. Sementara lontar Sanghyang Aji Swamandala menyebutkan: “Nihan Bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali, poma haywa lali elingakna. Yan tekaning sasih Kapitu, anemu wuku Dungulan mwang lem ring Galungan ika, tan wenang ngegalung wong Baline, Kala Rau ngaranya yan mengkana. Tan kawasa mabanten tumpeng. Mwah yan anemu sasih Kesanga, rah 9 tenggek 9, tunggal kalawan sasih Kapitu, sigug ya mengaba gering ngaran. Wenang mecaru wong Baline pabanten caru ika, nasi cacahan maoran keladi, yan tan anuhut ring Bhatara ring Dalem

ungkap Parwata yang mengaku juga akan membuka koperasi karyawan yang sudah diagendakan dan minta saran dari assessor/ m penilai THK Awards saat melakukan evaluasi tahun 2012 lalu. DTW Tanah Lot Di tempat terpisah, Ketut Toya Adnyana sebagai manager operasional DTW Tanah Lot saat menerima apresiasi yang berupa frame yang berisikan cover Tanah Lot pada Bali Travel Newspaper mengungkapkan terima kasihnya. “Kami mewakili manajemen Tanah Lot mengungkapkan terima kasih kepada Bali Travel Newspaper yang merupakan partner se a kami,” ujarnya. Ditambahkan bahwa DTW Tanah Lot ke depan selalu memberikan yang terbaik kepada pengunjungnya.  BTNewspaper/Opik

yanya manurung, moga ta sira kapereg denira Balagadabah”. Ar nya: Inilah petunjuk Bhatara di Pura Dalem (tentang) kotornya hari (hari buruk) bagi manusia, semoga dak lupa, ingatlah. Bila ba sasih Kapitu bertepatan dengan wuku Dungulan dan Tilem, pada hari Galungan itu, dak boleh merayakan Galungan, Kala Rau namanya, bila demikian dak dibenarkan menghaturkan sesajen yang berisi tumpeng. Dan bila bertepatan dengan sasih Kasanga rah 9, tenggek 9 sama ar nya dengan sasih kapitu. Tidak baik itu, membawa penyakit adanya. Seyogyanya orang mengadakan upacara caru yaitu sesajen caru, itu nasi cacahan dicampur ubi keladi. Bila dak mengiku petunjuk Bhatara di Pura Dalam (maksudnya bila melanggar) kalian akan diserbu oleh Balagadabah. 

C1-III-13

3/20/2013 12:50:07 AM


8

BAHA

N e w s p a p e r

SEPUTAR BALI

SA

INDO

NESIA

No. 54 ď Ź 25 Maret - 10 April 2013

OBYEK WISATA

Piagam Penghargaan Donor Darah PALANG Merah Indonesia (PMI) Provinsi Bali dibawah Pimpinan I Gus Bagus Alit Putra, SH.,S.Sos., M.Si dan Unit Donor Darah PMI Kabupaten Karangasem dibawah Pimpinan Dr. Handojo memberikan Piagam Penghargaan Nomor 04/UDD/2012 dan Nomor 63/UDD/2012 kepada management Bali Palms Resort atas nama Yesaya O. Bail yang dengan sukarela telah menyumbang darahnya sebanyak 50 kali dan I Nengah Sariada sebanyak 10 kali. Piagam penghargaan diberikan di sela-sela kegiatan donor darah pada Jumat (1/3) yang dilaksanakan oleh Bali Palms Resort dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1935 beberapa waktu yang lalu. ď ś BTNewspaper/AriekPW

DESA KUKUH, MARGA TA B A N A N - B A L I TELP. (0361) 814155 K12-I.14-12

K12-V.30-12

balitravel_54_indonesia.indd 8

3/20/2013 12:50:10 AM


BAHA

INFO PRODUK

SA

INDO

N e w s p a p e r

NESIA

No. 54  25 Maret - 10 April 2013

9

PT. RUSDI MEDIKA

Pedagang Besar Alat-alat Kesehatan dan Kedokteran

Jl. Pulau Buton No. 19 Denpasar - Bali Telp. (0361) 743815, 223803 Fax. (0361) 226687 email : rusdi_dr@yahoo.co.id

PT. AMANAH PRIMA INDONESIA Bali Principal : 0361 966 7600 K12-VI.10-11

K12-IV.2-11

a tropical retreat... Bali Tropic Resort & Spa, an exclusive beach hotel in Bali is built in a subtle blend of Balinese's and modern architecture and offers a marvelous ambiance for a truly wonderful and relaxing beach vacation. A beautiful setting among frangipani and Bougainville with the most breath taking views of the warm and wonderful Indian Ocean. Very centrally on the world famous Tanjung Benoa Beach on the south coast of Bali Island.

SUPPLIER ADDRESS : Jl. Danau Tamblingan No. 216, Sanur Denpasar 80228, Bali - Indonesia Phone. +62 (361) 281745 Fax. +62 (361)289549 E-mail : widiani_bali@yahoo.com

K4-II.21-12

B12-I.25-12

SPACE FOR YOUR ADS CALL (0361) 227610

Jl. Pratama 34A, PO Box 41, Nusa Dua, Tanjung Benoa, Bali 80363, Indonesia Ph. +62 361 772130 | Fax. +62 361 772131 E-mail : hotel@balitropic-resort.com | Website : www.balitropic-resort.com K12-II.5-11

K12-III.28-12

K12-VIII.38-12

For further information, please contact: SENTOSA PRIVATE VILLAS AND SPA, BALI Jl. Pura Telaga Waja, Petitenget, Seminyak, Bali 80361, Indonesia • Phone: +62 361 730 333 • Fax: +62 361 737 111 E-mail: sales@balisentosa.com • Website: www.balisentosa.com K12-VI.10-11

balitravel_54_indonesia.indd 9

3/20/2013 12:50:13 AM


10

SEPUTAR BALI

BAHA

SA

INDO

N e w s p a p e r

NESIA

No. 54  25 Maret - 10 April 2013

Travel Agent On-line DISKUSI ‘Selasa Pariwisata’ diselengarakan di kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah III Bali-Nusra, Selasa (12/2). Tampil sebagai pembicara adalah Pakar Reservasi Online dari Agoda, Gede Gunawan dan Eddy Putra dari DPD ASITA Bali. Acara itu dimoderatori oleh Dr. Nyoman Madiun. Eddy mengatakan, kehadiran OTA (On-line Travel Agent) telah membuat tata niaga kepariwisataan

menjadi amburadul. Hal ini disebabkan karena para pelaku bisnis OTA kurang mengedepankan e ka dan hanya mengejar keuntungan ekonomis semata. “Asita Bali memiliki catatan khusus tentang hal ini,” katanya. Sementara Gede Gunawan mengatakan, ada beberapa faktor yang menjadi pemicu makin banyak mengunakan fasilitas transaksi online. Pertama tersedianya berbagai perangkat

teknologi (gadged) untuk bertransaksi maupun sisitem pembayarannya. Dengan merangkum pendapat narasumber dan penanya dalam seminar bertajuk “dot.com VS Travel Agent” itu moderator, Dr. Nyoman Madiun berharap, pemerintah selaku regulator seyogyanya mampu membuat regulasi dengan menciptakan iklim usaha yang kondusif dan fair.  BTNewspaper/Rudi

Jamsostek Bali Songsong BPJS Ketenagakerjaan Berkelas Dunia “SESUAI amanat Undang-Undang Nomor 24 tahun 2011, PT. Jamsostek (Persero) terhitung 1 Januari 2014 menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan,” kata Kepala Kantor Wilayah VI, PT. Jamsostek, Ellias Manuhutu, di Denpasar, Jumat, (22/2). Dalam tranformasi menuju BPJS Ketenagakerjaan, sebagai Badan Penyelenggara PT. Jamsostek (Persero) tantangannya lebih berat. Maka, perlu persiapan matang untuk mencapai visi baru PT. Jamsostek yang sudah dicanangkan Direksi. “Kita harus siap menjadikan perusahaan ini sebagai BPJS Ketenagakerjaan Kelas Dunia, Terpecaya, Bersahabat dan unggul dalam operasional dan pelayanan,” katanya. Tentu niatan ini tak hanya sebatas slogan, sehingga diperlukan kerja keras dan kesungguhan dalam mewujudkannya. Dalam perjalanannya Jamsostek jauh-jauh hari menanamkan tagline terpecaya, bersahabat dan unggul dalam operasional menjadi kiblat dalam ber ndak. Ini semua dilakukan dalam melayani peserta, sehingga benar-benar memenuhi harapan

BEYOND BALI

Perayaan Nyepi di Yogya:

 Media & Travel Partner Fam Trip

”Bidik Wisatawan Asia Pasifik” TRAVEL Three bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Daerah Is mewa Yogyakarta (DIY) menggelar Media & Travel Partner Fam Trip, 28 Februari – 3 Maret 2013 di Yogyakarta. Komisaris PT. Lima Pilar Pariwisata, Be y Aryani mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan Yogyakarta ke Asia Pasifik sebagai salah satu tujuan wisata di Indonesia. “Kami dak mau muluk-muluk. Untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Yogyakarta, sementara ini kami bidik wisatawan di sekitar Indonesia dulu. Seper wisatawan dari Asia Pasifik,” ungkapnya ke-

pada wartawan dalam konferensi pers di Bolo Resto, Minggu (2/3) malam. Lanjut Be y, kunjungan wisatawan mancanegara ke Yogyakarta masih minim, yakni 200 ribu orang per tahun. Ada beberapa kendala yang menyebabkan minimnya wisatawan berkunjung ke Yogyakarta, misal pengemasan atau promosi wisata yang monoton. Oleh karena itu, pihaknya bekerjasama dengan travel agent online, Travel Three menawarkan paket wisata menarik ke Yogyakarta. Wisatawan bisa memesan paket yang ditawarkan dengan mengklik www. travel-three.com yang berpusat di Amerika Serikat dan Malaysia ini. Pada tahap awal, PT. Lima Pilar Wisata bersama Dinas Pariwisata DIY, perhotelan

balitravel_54_indonesia.indd 10

sebagai pengemban amanah bagi kesejahteraan pekerja di tanah air. Tinggal landas menuju BPJS Ketenagakerjaan Berkelas Dunia, tentu bukanlah persoalan mudah bagi PT.Jamsostek (Persero). Se daknya, ada 4 (empat) pilar yang harus dilaksanakan dengan baik sehingga target kepesertaan meningkat signifikan. Empat pilar tersebut adalah Manfaat, Delivery, Edukasi dan Kemitraan. Kalau empat pilar ini berjalan kokoh, maka ekselerasi perluasan bisa berhasil. Dalam mewujudkan visi PT.Jamsostek tersebut, salah satu upaya yang dilakukan oleh PT. Jamsostek Cabang Bali adalah menggandeng Insan Pers yang dilaksanakan dalam bentuk kegiatan “Jamsostek & Pers Gathering”. Ini diharapkan dapat meningkatkan kerjasama dengan Insan Pers sebagai partner, sekaligus media informasi kepada masyarakat, pekerja serta pengusaha di wilayah Propinsi Bali, khususnya dan Indonesia pada umumnya, dalam mempromosikan ak vitas Jamsostek.  BTNewspaper/AriekPW

dan insan restoran DIY mengundang 15 jurnalis dari media Malaysia, Singapore dan Taiwan untuk mengunjungi beberapa objek wisata di Yogyakarta. “Kami op mis sepanjang tahun ini bisa menggaet wisatawan mancanegara 400 – 600 ribu orang, dan 2014 bisa mencapai 1 juta orang,” tegasnya. Be y menambahkan, selama empat hari, 15 jurnalis tersebut telah mengunjungi beberapa objek pariwisata di Yogyakarta, seper Candi Ratu Boko, Candi Prambanan, Candi Borobudur, Sendratari Ramayana, Dieng, Keraton, Taman Sari, Malioboro, Pantai Parangtri s dan Museum Ullen Sentalu. Kepala Dinas Pariwisata DIY, Tazbir Abdullah sangat mendukung kegiatan yang diselenggarakan oleh Travel Three. “Semoga dengan datangnya media dari Malaysia, Singapore dan Taiwan, Yogyakarta bisa semakin dikenal sebagai salah satu tujuan wisata di Indonesia,” ungkapnya. Ketua Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Pramuwisata Indonesia Kota Yogyakarta, Wowon mengatakan, 15 peserta sangat senang bisa mengenal dan mengunjungi Yogyakarta. “Mereka awalnya awam tentang pariwisata Yogyakarta, namun setelah keliling selama empat hari, mereka ternyata sangat kagum akan keindahan objek pariwisata Yogyakarta,” tuturnya. Salah satu peserta, Direktur Holis c Path Holidays Malaysia, Ong Oon Lai mengatakan ini sudah kelima kalinya datang ke Yogyakarta. “Dari lima kali tersebut, empat kalinya saya selalu membawa rombongan berwisata agama ke Yogyakarta. Masih banyak potensi budaya yang bisa digali di Yogyakarta,” ungkap Ong semangat.  BTNewspaper/Titah

Ribuan Umat Hindu Padati Candi Prambanan WALAU diguyur hujan sejak pagi, ribuan umat Hindu tetap khusuk mengiku jalannya upacara mecaru pancakelud yamaraja dirgayusabumi di pelataran kompleks Wisata Candi Prambanan, Yogyakarta, Senin (11/3). Upacara ini dipimpin oleh lima sulinggih yakni Ratu Bhagawan Putra Manuaba, Ida Pandita Sira Mpu Putra Giri Natha dari Jogja, Ketua Dharma Adyaksa Sabha Pandita Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat, Ida Pedanda Gde Sebali Tianyar Arimba, Ida Pedanda Gede Purwa Gautama (Pedanda Budha) dan Ida Pedanda Gde Putra Dalem Keniten. Ketua Pani a Peringatan Hari Raya Nyepi Daerah Is mewa Yogyakarta (DIY), Gede Bayu Supartha, mengatakan upacara ini bertujuan untuk menciptakan harmonisasi ulang bagi umat manusia dengan alam lingkungannya. “Lewat upacara ini, kami berupaya menghaturkan puja dan puji kami kepada Tuhan,” ungkapnya. Perayaan Nyepi tahun ini mengambil tema Kanthi Luhuring Budi, Umat Hindu Memetri Budaya Ngudi Raharjaning Praja, yang berar dengan keluhuran budi, umat Hindu melestarikan kebudayaan luhur guna pencapaian kesejahteraan bangsa dan negara. Dalam kesempatan itu, hadir Menteri Agama, Suryadharma Ali. Dalam sambutannya menyatakan, perayaan Nyepi dalam tataran sosial perlu dimaknai oleh sebagai pencerah jiwa dan pendorong semangat untuk menata sikap dan perilaku serta meningkatkan pengendalian hawa nafsu. “Sikap pengendalian hawa nafsu itu perlu dilakukan di tengah kondisi bangsa yang diwarnai dengan perilaku buruk seper korupsi, penyalahgunaan narkoba, pornografi hingga kasus kejahatan lainnya yang dapat mengancam tatanan sosial masyarakat,” katanya. MelasƟ hingga Ogoh-Ogoh Malam hari sebelum Nyepi digelar pawai

Ogoh-ogoh di sepanjang jalan Pura Jagatnatha Banguntopo Plumbon Banguntapan, Bantul. Ratusan masyarakat dari berbagai penjuru tumpah ruah dan rela berdesak-desakan untuk menyaksikan pawai yang hanya bisa ditonton setahun sekali tersebut. Pengempon Pura Jagatnatha, Budi Sanyoto mengatakan Ogoh-ogoh merupakan lambang sifat buruk dari manusia, maka setelah diarak keliling kampung kemudian dibakar. Ogoh-ogoh tersebut dipikul oleh puluhan pemuda dan mahasiswa dari berbagai perguruan nggi se DIY (Daerah Is mewa Yogyakarta). Salah seorang penonton, Wicaksono merasa kagum dengan Ogoh-ogoh yang diarak keliling pura. “Ini baru kali pertama saya menonton pawai Ogoh-ogoh. Luar biasa!,” tukas mahasiswa ini girang. Sancaya yang mengarak Ogoh-ogoh mengungkapkan, dirinya sangat senang bisa berpar sipasi dalam pawai Ogoh-ogoh tahun ini. Ia berharap setelah Ogoh-ogoh dibakar bisa menghilangkan semua sifat buruk yang ada di dalam diri sendiri, dan juga menghilangkan segala keburukan yang ada di dunia. Sebelumnya, Sabtu (9/3) dilaksanakan ritual Melas di Pantai Parangkusumo. Prosesi Melas diawali dengan doa di kawasan Cepuri Parangkusumo Parangtri s yang dipimpin oleh Ida Ratu Bagawan Putra Manuaba.  BTNewspaper/Titah

3/20/2013 12:50:17 AM


OPINI

BAHA

SA

INDO

N e w s p a p e r

NESIA

No. 54  25 Maret - 10 April 2013

ASOSIASI MEDIA BALI

11

Potret Budaya Bali dalam Enam Dekade Oleh: Stefan Fenanlampir*) MELALUI tulisan ini, selaku pemerha budaya Bali dan Tri Hita Karana, saya ingin berbagi pengalaman dan pendapat tentang pembangunan Bali yang berkelanjutan dalam perspek f budaya Bali dengan landasan filosofi yang hidup Tri Hita Karana. Saya mencoba untuk memberikan ulasan ini berdasarkan pengamatan saya selama ga dekade yang lalu, satu dekade yang sedang berjalan dan visi serta proyeksi saya untuk dua dekade yang akan datang. Dekade 1980’an Pertama kali saya menginjakkan kaki di tanah pulau Dewata Bali pada 1980, sepulang dari program pertukaran pemuda ASEAN-JEPANG, namun dak banyak yang dilihat karena hanya transit. Tahun 1981, saya kembali ke Bali untuk mengiku kursus/pela han “Manajemen Pariwisata” selama ga bulan, suatu proyek kerjasama Pemerintah Indonesia dengan UNDP. Saat membuka kursus tersebut, Gubernur Bali, Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, secara gamblang memaparkan visi dan misi pembangunan pariwisata Bali yang berkelanjutan berlandaskan budaya Bali dengan filosofi Tri Hita Karana. Beliau adalah sosok pemimpin yang sangat visioner, khususnya dalam mempertahankan dan melestarikan budaya Bali. Selama ga bulan selain mengiku kursus tersebut bersama rekan-rekan, kami melakukan survey dan kunjungan ke berbagai kawasan di Bali seper di kawasan Nusa Dua, kawasan bukit Jimbaran, kawasan Kuta Legian, Sanur, dan berbagai objek wisata dan sentra-sentra kerajinan di Ubud, Gianyar. Pada dekade ini, pariwisata Bali belum begitu maju. Kawasan Nusa Dua baru memulai pembangunan kawasan BTDC. Hotel yang ada hanya hotel Bualu. Di kawasan Kuta hanya terlihat hotel Pertamina Co age dan beberapa penginapan kecil. Di Seminyak hanya ada hotel Oberoi. Di Sanur, Hotel Bali Beach yang megah dan beberapa penginapan. Yang jelas terlihat pada dekade ini adalah bahwa Bali merupakan sebuah pulau nan indah, asri, damai dan tenteram. Nuansa kehidupan masyarakat Bali yang berlandaskan agama Hindu sangat homogen, dan pilar-pilar kebudayaan Bali masih sangat kokoh antara lain seni, ritual keagamaan, adat is adat/kekerabatan, arsitektur, busana, makanan/minuman, dan bahasa. Pendek kata pada decade 80’an budaya Bali masih lestari dan belum ada distorsi yang berar . Sementara pembangunan Daerah Bali masih bertumpu pada sektor pertanian dengan system subaknya. Dekade ini masih merupakan “lampu hijau”. Dekade 1990’an Dekade ini seiring dengan gencarnya pembangunan nasional, maka k tumpu pembangunan daerah Bali dak lagi pada sektor pertanian melainkan pada sektor pariwisata yang menjadi sektor unggulan pembangunan ekonomi daerah Bali. Investasi di bidang ini sangat pesat. Para investor, baik dalam negeri maupun mancanegara mulai membanjiri Bali dan berlomba-lomba membangun sarana dan fasilitas pariwisata antara lain hotel, biro perjalanan, res-

balitravel_54_indonesia.indd 11

taurant/café, pub/night club, sarana rekreasi dan hiburan, dan sebagainya. Sejalan dengan membanjirnya investor, terjadi pula eksodus besarbesaran para pekerja dari luar Bali dengan berbagai latar belakang etnis dan budaya. Sebagai konsekuensinya terjadilah distorsi pada kebudayaan Bali. Kebudayaan Bali yang tadinya homogen berubah menjadi heterogen dengan masuknya nilai-nilai budaya Barat, budaya Jawa, budaya Islam, budaya Kristen, budaya Timor, budaya Sunda, budaya Mandarin, budaya Jepang, dan sebagainya. Pada dekade 1990’an ini awal terjadinya proses asimilasi budaya Bali dengan budaya luar yang masuk ke Bali. Proses asimilasi ini berjalan dengan sangat mulus karena didukung dengan sikap keterbukaan, toleransi dan welcome masyarakat Bali yang begitu nggi. Dekade ini sudah berubah dari lampu hijau ke lampu kuning. Dekade 2000’an dan 2010 Dekade ini seiring dengan kebijakan Pemerintah Daerah Bali yang lebih meni kberatkan pembangunan di bidang ekonomi, maka pembangunan sektor pariwisata sebagai handalan pertumbuhan ekonomi, semakin dak terkendali. Masuknya investor asing dan nasional ke Bali dak terbendung. Tata ruang semakin dak jelas. Jumlah hotel dan villa semakin dak terkontrol dan sudah menyalahi hukum ekonomi supply and demand. Tanah-tanah masyarakat Bali habis terjual ke investor asing. Migrasi manusia ke Bali dak dapat terbendung lagi. Jumlah orang asing dari berbagai negara yang datang ke Bali semakin banyak dan dak terkontrol pemerintah. Mereka membangun hotel, villa, rumah kost, café, restoran, laundry, warteg, dan sebagainya. Ladang usaha kecil pun sudah dirambah mereka. Lalu pertanyaannya masyarakat lokal mau dibawa kemana? Pilar-pilar budaya Bali semakin terkikis digan dengan budaya asing yang dak jelas. Pembangunan sektor ekonomi, memang mengalami kemajuan yang sangat pesat, tetapi dak dibarengi dengan pembangunan di sektor sosial budaya, akibatnya pengangguran meningkat, angka kriminalitas meningkat, hedonisme, materialisme, egoisme, sex bebas, perdagangan narkoba, dan sebagainya. Pada dekade ini, budaya Bali berada pada k yang sangat kri s alias lampu merah. Dekade 2020’an sampai 2030’an Bila pada dekade 1980’an hingga 2010’an yang lalu, budaya Bali mengalami perubahan yang sangat dahsyat dan tak terkendali, maka pertanyaannya adalah apa yang akan terjadi dengan budaya Bali pada dekade-dekade yang akan datang? Bagaimana wujud dan bentuk budaya Bali pada dua dekade ke depan? Sebelum saya memberikan jawabannya saya mencoba menganalisa se ap

pilar budaya yang telah mengalami distorsi tersebut. Pilar 1: Bahasa. Coba tanyakan kepada generasi sekarang apakah mereka selaku orang tua berbicara bahasa Bali dengan anak-anaknya ke ka berada di rumah. Pas jawabannya ya dan dak. Banyak orangtua generasi sekarang lebih memacu anaknya untuk belajar bahasa asing antara lain bahasa Inggeris, Perancis, Rusia, Jepang, Korea, Mandarin dan sebagainya. Di rumah pun mereka berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Bahkan walaupun bahasa Bali masuk dalam kurikulum pendidikan banyak anak Bali yang mendapatkan nilai merah di raportnya. Bahasa Bali dianggap kolot, kuno dan dak ada lagi manfaatnya. Kalau kondisi ini terus berlanjut, maka proyeksi saya pada dekade 2030’an, bahasa Bali yang merupakan salah satu pilar budaya Bali akan hilang. Untuk itu dalam berbagai kesempatan pela han dan seminar saya selalu mengingatkan para orangtua Bali untuk mengingat pesan saya berikut: “Bahasa Bali itu jiwamu/ rohmu. Orang akan ma kalau kehilangan roh/jiwanya. Sedangkan bahasa Indonesia itu ibumu. Orang yang dak berbahasa Indonesia ibarat anak si Maling Kundang yang mendapat kutuk karena menyangkal ibunya. Sementara bahasa asing (Inggeris, Jepang, Mandarin, Korea, dsb) adalah kesejahteraanmu. Dengan berbahasa asing orang memiliki kesempatan lebih baik dalam karir, bisnis, dan sebagainya”. Itu berar generasi muda Bali jangan pernah sekali-kali kehilangan bahasa Bali karena itu adalah jiwa/rohnya. Pilar 2: Seni. Berapa banyak orang tua yang masih peduli dengan kesenian Bali dengan mengirimkan anaknya belajar gamelan, tari Bali, seni lukis, seni ukir, seni pahat, dan sebagainya? Banjar-banjar yang dulunya dipenuhi anak-anak terunateruni belajar gamelan, tarian, dsb, kini terlihat sepi. Generasi muda kini lebih menggandrungi seni kontemporer barat, mandarin, dan sebagainya. Maka kesimpulan saya pada dua dekade yang akan datang kesenian Bali akan terdegradasi ke k yang paling rendah, apabila kesadaran generasi sekarang untuk membenahinya mulai luntur.

enangan diri sendiri), dan sebagainya. Alhasil, pilar ini pun akan terdegradasi ke k terendah di dua dekade yang akan datang. Pilar 5: Kuliner/Makan/Minuman. Seiring dengan hadirnya berbagai hotel dan restoran bertaraf internasional, maka lebih dominan disajikan masakan Eropa, Amerika, Jepang, China, Korea, dan sebagainya. Sementara peran mereka untuk mempromosikan masakan khas Bali sangat kurang. Belum lagi muncul warung-warung lokal dari berbagai daerah yang menghiasi se ap ruas jalan di Bali hal mana dak lagi mencerminkan kekhasan budaya Bali. Tanpa disadari Bali sudah menjadi surga bagi wisata kuliner bernuansa non-Bali. Maka pada dua dekade yang akan datang pilar ini pun akan hilang.

saya anggap masih kokoh karena berhubungan dengan keyakinan masyarakat Bali yang memegang teguh agama Hindu. Walaupun kokoh pilar ini juga mengalami sedikit degradasi karena berbaurnya masyarakat dari berbagai etnis dan agama, perkawinan campur, sedikit banyaknya juga berpengaruh terhadap pilar ini.

Pilar 6: Busana. Busana Bali sangat berhubungan erat dengan adat is adat dan upacara keagamaan. Busana Bali memiliki kekhasan yang sangat unik dan indah dipandang mata. Wanita Bali kelihatan sangat can k dan anggun bila berbusana tradisional Bali. Begitu juga dengan kaum pria Bali yang kelihatan gagah dan tampan bila berbusana tradisional Bali. Tetapi sangat disayangkan, busana Bali hanya terlihat bila ada upacara keagamaan dan pentas keseniaan belaka. Alangkah indahnya apabila busana Bali bisa dipakai dalam se ap kesempatan, entah di kantor, di rumah, di banjar, di tempat kerja, di sekolah, dsb. Pada dua dekade yang akan datang pilar ini pun akan terdegradasi.

Kesimpulan Dari paparan singkat terhadap pilar-pilar kebudayaan di atas dapat saya simpulkan bahwa pada dua dekade yang akan datang (dekade 2020’an hingga 2030’an) budaya Bali akan terlahir kembali (reinkarnasi) dalam wujud yang lain sebagai budaya modern, budaya heterogen, budaya hedonism, dan budaya minimalis tanpa iden tas yang jelas. Bila demikian, maka langkahlangkah apa yang harus kita lakukan bersama untuk mengans sipasi agar dak terjadi kehancuran budaya Bali yang pada akhirnya dapat merugikan kita semua. Pada kesempatan ini saya mau mengajak semua elemen masyarakat baik pemerintah, swasta, pemuka agama, pemuka adat dan para pemangku kepen ngan untuk merenungkan hal ini dan mengambil langkah-langkah an sipa f, konkrit dan strategis untuk melestarikan budaya Bali. Sehingga apapun perubahan dan dinamika yang terjadi dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, budaya Bali tetap memiliki iden tas yang jelas, iden tas yang tetap bertumpu dan berlandaskan filosofi Tri Hita Karana yang memiliki nilai universal (universal values) yang sempurna. Semoga!

Pilar 7: Agama/Ritual Keagamaan. Dari keseluruhan pilar yang telah saya uraikan di atas pilar ke-7 ini

*)Penulis, nggal di Nusa Dua dan sebagai pemerha budaya Bali dan konsep hidup Tri Hita Karana.

Pilar 3: Arsitektur Bali. Tak dapat dipungkiri arsitektur Bali yang merupakan salah satu pilar kebudayaan Bali juga mengalami degradasi yang signifikan. Saat ini pembangunan hotel, villa, ruko, mini market, rumah nggal, restoran, café, dan sebagainya telah berorientasi pada “konsep minimalis”. Hampir dak kelihatan lagi arsitektur Bali bahkan sentuhan interior designnya pun dak lagi bernuansa Bali. Saya melihat bahwa dalam dua dekade ke depan arsitektur Bali terlahir kembali menjadi arsitektur “minimalis”. Pilar 4: Adat isƟadat. Pilar ini juga mengalami degradasi yang sangat signifikan. Hubungan kekerabatan yang begitu kokoh di banjar-banjar mulai rapuh sehubungan dengan konsentrasi masyarakat yang hanya tertuju pada kepen ngan materi/ ekonomi. Awig-awig desa yang dulu sangat ditaa dak lagi mendapat perha an. Lebih konyol lagi bila generasi muda menganggap adat is adat itu kuno dan terlalu mengekang kebebasan. Mereka lebih condong pada budaya barat seper hedonism (kes-

3/20/2013 12:50:19 AM


12

BAHA

SA

INDO

N e w s p a p e r

NESIA

INFO PRODUK

No. 54 ď Ź 25 Maret - 10 April 2013

K6-V.32-12

balitravel_54_indonesia.indd 12

3/20/2013 12:50:20 AM


Bali Travel Newspaper Vol. III No. 54  

Official Tri Hita Karana Awards Newspaper, your guide to Bali island

Advertisement
Read more
Read more
Similar to
Popular now
Just for you