Issuu on Google+

BahanaMahasiswa SELAMA 9885 HARI. Selama 325 bulan. Selama 27 tahun. Tak pernah berhenti terbit. Dan, tetap Mengembangkan Tradisi Akademis yang Kritis. Februari 1990. Koran Bahana Mahasiswa Universitas Riau terbit. Edisi kali ini membuat pemerintah propinsi dan rektor Unri berang. Lantaran salah satu liputan Bahana bertajuk Budaya Melayu di Persimpangan Jalan? Demam Budaya, Demam Berdarah, dan Pekan Budaya Ha...Ha.. Isinya mengkritik helat Pekan Budaya Melayu Riau. Helat itu akan berlangsung bulan Maret. Abu Bakar Siddik—pimpinan redaksi—dan T Zulmizan Farinja Assagaf—sekretaris redaksi—dipanggil ke rektorat UR. Di ruang rektor ada Prof Bosman Saleh—rektor UR kala itu—Dekan, Humas Unri, dan Kolonel (TNI) Salam Herawanto—Kepala Direktorat Sosial Politik (Kadit Sospol) kantor gubernur Riau. Mereka disidang. Komandan itu bertanya, “Apa maksud Bahana mengeluarkan jenis liputan tajam, menghujam dan menyinggung perasaan?” “Kita ingin dana ini tak dilakukan dengan system pendekatan proyek. Harus diupayakan tepat sasaran. Kita ingin membuat persoalan ini mendapat perhatian masyarakat sebulan kedepan, apakah sebulan ke depan ada perubahan signifikan. Kita ingin melihat apa yang akan terjadi di lapangan nanti,” jawab Abu tegas. “Kalau begitu tujuan adik-adik mulia,” kata kolonel. “Itulah,” jawab Abu, “Yang kalian lihat miring terus pada mahasiswa.” Karena dianggap tak sopan di depan kolonel. Rektor UR, Bosman Saleh menarik Abu ke dalam ruangannya. “Kamu kecil-kecil begini itu kolonel,” hardik Bosman. Karena tak terima perlakuan kasar rektor, Zulmizan lebih dari rektor. Rektor tersinggung, lalu memerintahkan agar edisi BM yang heboh itu tak boleh beredar. “Padahal, sebagian besar sudah beredar,” kata Abu. Sisanya diamankan untuk barang bukti. “Di tengah jatuh bangunnya pers di Riau, keberadaan Bahana juga dikonsumsi khalayak umum sehingga pengaruhnya juga besar. Liputan Bahana tak lepas dari pantauan kekuasaan,” cerita Abu soal kondisi pers di Riau waktu itu. Karena sikap kritis itulah Abu dipecat rektor UR dari kepengurusan Bahana. Zulmizan turun jadi reporter. Ketika akan diberhentikan, Abu terang-terangan minta rektor mengeluarkan Surat Keputusan (SK) pemecatan atas dirinya. Rektor tak mau. Rupanya Abu dibela M. Diah, Pembantu Rektor III saat itu. “Jika Rektor mengeluarkan surat pemecatan itu, dia yang akan duluan berhenti. Karena itu saya tak bersikukuh mempertahankan jabatan Pemred itu,” kenang Abu yang memimpin Bahana hanya enam bulan. Kala itu tahun 1998. Rezim otoriter—era presiden Soeharto—runtuh. Banyak daerah ingin memisahkan diri dari NKRI. Misal Aceh dan Papua. Termasuk Riau. Alasannya sederhana, adanya sentralisme kekuasaan berlebihan. Hubungan pusat-daerah tak baik. Otonomi baru sebatas wacana. Pembagian hasil bumi tak layak jadi pemicu. Tokoh Riau saat itu—Tabrani Rab, Fauzi Kadir, Andi Yusran—getol bahas soal otonomi daerah khusus untuk Riau. Dana bagi hasil yang tak setimpal membuat Riau merasa dizalimi. Hasil bumi Riau dikeruk,

hanya untuk pembangunan di Jawa. Gerakan Pers Kampus (GPK), dimotori Zulmizan, ikut membangun gerakan ini. Fauzi Kadir diudang dalam acara diskusi di BM pada 7 Maret 1999. Setelah itu berbagai diskusi soal menuntut hak selayaknya untuk Riau sering ditaja di BM. Bahkan deklarasi Riau Merdeka dilakukan di sekre BM. Darulhuda, kru BM, pengetik konsep naskah Riau Merdeka yang dibuat Tabrani Rab. BM jadi saksi munculnya gerakan Riau Merdeka. BM MUNCUL TAHUN 1982. Saat itu, di UR, muncul ide agar kampus punya media informasi tingkat universitas. Meski, saat itu ada media di masing-masing fakultas: Estuaria (Fakultas Perikanan dan Kelautan), Politea (Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik), Gaung (Fakutlas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Ekonomika (Fakultas Ekonomi), dan Beta (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam). Pihak rektorat kumpulkan perwakilan mahasiswa tiap fakultas sebanyak 30 orang dengan kriteria sederhana: bisa menulis. Meliputi, pengurus media tingkat fakultas, aktifis kampus yang tergabung dalam Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK), perwakilan Senat Mahasiswa (Sema) dan Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM). Rapat pembentukan koran kampus perdana ditaja. Dipimpin Pembantu Rektor (PR) III, (Almarhum) Anwar Syair. Rapat menyetujui, nama medianya Surat Kabar Kampus Bahana Mahasiswa. Nama itu diberikan langsung (almarhum) Muchtar Luthfi, rektor UR saat itu. Bahana bermakna gema, gaung atau siponggi. Tanggal 9 September 1982, BM disahkan lewat Surat Keputusan (SK) Rektor Unri No.368/PT.22/0.1982 tentang Penerbitan surat kabar kampus mahasiswa. Fakhrunnas MA Jabbar dipilih secara alamasi jadi Pemimpin Redaksi (Pemred) pertama. Per¬timbangan seder¬hana—ia punya pengalaman sebagai wartawan umum. Pimpinan Umum langsung di bawah kendali PR III UR. Syarat formil selanjutnya segera diurus—setelah mendapat SK dari rektor. Usaha diteruskan mengurus rekomendasi ke Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Departemen Penerangan Provinsi Riau. Setelah dapat rekomendasi, PR III UR, berangkat ke Jakarta bersama W.E Tinambunan. Mereka urus izin ke Menteri Penerangan RI. Akhirnya, terbitlah STT dari Menteri Penerangan RI dengan No 1013/SK/Ditjen PPG/STT/1983 tanggal 30 Mei 1983. Tanggal 17 Juli 1983 edisi perdana BM terbit sebanyak 16 (enam belas) halaman dengan jumlah tiras 5000 eksemplar. Tanggal itu dijadikan ulang tahun BM. Dan BM pun mulai berproses menapakai jalan panjang dan berliku. Sebuah kawah candradimuka wartawan Riau telah lahir. Kreatif, Juga Kritis Generasi Fakhrunnas MA Jabbar peletak pondasi dasar BM. Selain kondisi kru yang hanya punya kemauan menulis, juga soal dana cetak. Kru BM, terus cari akal agar BM tak “mati suri” karena cekak dana. BM menghadap PR III. BM usul agar dana cetak dianggarkan dalam Persatuan Orang Tua Mahasiswa (Potma). Usulan diterima di rapat senat universitas. Dan satu masalah krusial—dana cetak—melegakan kru BM.

Mulanya, liputan BM angkat soal lembaga mahasiswa. Lambat laun mulai berani mengkritik semua kebijakan UR. BM dipanggil Rektor. “Koran kampus ini tempat latihan, kalau mau mengkritik kami (rektorat) silakan bicarakan dulu dengan kami baru diterbit-kan,” kata rektor kala itu. Tiga edisi rektor melakukan penyensoran secara intensif. Rektor me¬nyuruh liputan BM seputar kampus. Tanggal 11-15 April 1985 BM helat Latihan Pers Kampus Tingkat Pengelola se-Sumatra di UR. Para peserta belajar kepada BM cara mengelola rubrikasi. Atas keberha¬silan itu, BM menjadi kebanggaan. Juni 1987-Agustus 1989. Tampuk kepemimpinan BM diemban Bahtiar. Isu luar kampus jadi isu pokok. Peningkatan mutu SDM ditingkatkan. Periode ini, BM mengundang tokoh pers dan penulis kaliber nasional seperti Mahbub Junaidi dan Arswendo Atmowiloto. Selain itu, BM juga gelar seminar sehari bertajuk Men¬dambakan Harian Daerah pada tanggal 17 September 1987. Sebagai bukti kerisauan mereka ter¬hadap minimnya koran harian di Riau. Inspiratif memang. Empat tahun kemudian baru lahir surat kabar harian Riau Pos sebagai ukuran besar pertama yang terbit harian di Riau. Usai Bahtiar, kepemimpinan diemban Abu Bakar Siddik. Lazimnya pers yang kritis masa itu, misal TEMPO yang dibredel, BM pun tak luput dari pembredelan kekuasaan. Gara-gara edisi Februari BM tahun 1990. Abu generasi ketiga di Bahana. Generasi ini dikenal kritis suarakan aspirasi mahasiswa dan masyarakat. Liputan mereka seputar kasus sosial dan politik. Di era serba Soehartoisme itu, kritik terhadap penguasa haram hukumnya. Generasi ini juga sempat mengundang Parni Hadi, wartawan senior, berdiskusi tingkatkan sumberdaya BM. Dari Abu pucuk pimpinan BM sempat pindah ke Riva Muzamri. Saat itu BM terkesan patuh pada perintah rektor. Sebab sebelum cetak harus disensor lagi. Ketika Tengku Zulmizan Farinja Assagaf dipercaya jadi Pemred gantikan Riva, perubahan dilakukan. Liputan-liputan BM kembali kritis. Nah, generasi Zulmizan inilah BM benar-benar inde¬penden—lepas dari intervensi rektor. Generasi sebagai generasi perubahan. Motto BM Mengawal Almamater Nusan¬tara di ubah menjadi Me¬ngembangkan tradisi aka¬demis yang kritis. “Kita mau meluruskan lagi fungsi BM itu sebagai apa, bukan sebagai humas. Kalau wawasan nusantara dika¬wal-kawal terlalu besar. Dan itu nonsen. Kita mengarahkan BM sebagai Lembagar Pers Mahasiswa yang kritis. Jika salah katakan salah, jika benar katakan benar, lalu menjadi peduli terhadap lingku¬ngan,” ujarnya tegas. Perubahan yang me¬narik juga saat Pemimpin Umum BM saat itu langsung dipegang mahasiswa. “Kita me¬lakukan kudeta tak berdarah. M. Diah yang menjabat rektor baru membuka ruang per¬gerakan BM,” ujarnya mengenang. Peralihan ini dipilihlah Zulmizan sebagai Pimum perdana merangkap Pemred. Sejak saat itu BM menjadi lembaga kritis yang menjalankan ini: Pers mahasiswa adalah pertembungan dua arus: idealisme sebagai maha¬siswa dan idealisme sebagai wartawan. Dan melahirkan independensi. Pada 2002, BM mengalami masa puncak. Generasi itu dikomandoi M. Rizal. Struktur BM berubah. Tiga Lembaga Semi Otonom (LSO) dibentuk. Meliputi, Bahana Press (BP), Bahana Production House (BPH), dan Bahana Online (BO). BPH intens menjalin kerjasama dengan televise daerah untuk menagadakan acara. BO melahirkan website BM yang masih eksis hingga kini. Juga BP, menerbitkan delapan buku; Menuju Riau 2020, Bentruan Ideologi karya Cecep Suryadi, Dari Gerakan Pembelaan menuju Pemberdayaan karya Ihsan Yus, Dari Unri Menebar Karya, Menjadi Wirausaha Handal dan Pemasaran

Interaktif karya Edyanus Herman Halim, Riak Politik Legislatif Riau karya Azam Awang, dan Komunitas Adat Terpencil. Ketiga LSO tetap berjalan. Empat tahun kemudian, Desember 2006 BM menerbitkan satu buku bertajuk Sayap Emas dari Unri. 23 alumni Unri, boleh dikatakan sukses, hadir dalam buku ini. BM terus berkreasi. Tahun 2007, selain rutin sekali sebulan, BM juga terbitkan majalah. Ini majalah perdana dalam sejarah BM. Liputan utamanya mengangkat soal peran mahasiswa. Hingga kini, menerbitkan majalah jadi tradisi tiap tahun. TANGGAL 17 JULI 2088. BM genap berumur 25 tahun. Kami menyebutnya generasi perak. Saat itu, pimpinan umum dijabat Suprapto. Diusia ini, kami sadar, begitu banyak BM melahirkan alumni. Alumni jadi bagian penting BM. Mereka senantiasa berikan kritikan jika BM melenceng. Semata-mata untuk BM tetap eksis, dan selalu berikan kontribusi bagi kampus, juga Riau. Melihat fungsi ini, September 2008, momen Ramadhan, BM menabalkan Ikatan Alumni Bahana Mahasiswa (IKA-BM). Fakhrunnas didaulat jadi ketua. Fakhrunnas adalah budayawan, sastrawan Riau. Sehari-hari bekerja sebagai vice president PT Riau Andalam Pulp Paper. Kreasi tak sampai disitu. Liputan yang tersaji tetap kritis. Tahun 2009, dibawah kepemimpinan Made Ali, BM mengubah ‘wajah’. Rentang terbit, dari sekali sebulan diubah jadi dwi mingguan. Dari 24 halaman dirampingkan jadi 16 halaman. Ukuran kertaspun berubah, dari semula A3 diperkecil hampir seukuran Koran TEMPO. Alasannya, selain kritikan mahasiswa yang mengatakan BM basi, juga mengirit dana. Karena mandeknya kucuran dana Persatuan Orang Tua Mahasiswa (POTMA) dari rektorat. Kini, tahun 2010, 17 Juli lalu BM berusia 27 tahun. Bukan tanpa prestasi, buku Secuil Kisah 26 Alumni Bahana hadir. Setiap generasi punya masalah dan prestasi tersendiri. Tekanan penguasa, kritikan pembaca, sudah lazim bagi BM. Namun, BM akan selalu menggaung dengan motto, Mengembangkan Tradisi Akademis yang Kritis.*** Suwanto - Minggu, Mei 22, 2011 at 09:09 Kalian tau gak kenapa cuma Abu Bakar dan Zulmizan saja yang kena sanksi. Kenapa rekan2 lain di BM gak diberi sanksi. Padahal kala itu ada Wapremred, Redpel, dan redaktur2. Mohon sejarah jangan dilencengkan. Jangan mendapatkan sumbernya sepihak.


Sejarah Bahana Mahasiswa